The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nicosmpn1talun, 2022-01-03 06:56:51

Modul PAH KLS 7 (1)

Modul PAH KLS 7 (1)

1

KATA PENGANTAR

Puja dan puji astuti mari kita panjatkan kepada Ida Sanghyang Parama Kawi,
Tuhan Yang Maha Kuasa atas ilmu pengetahuan, akhirnya Modul Pembelajaran
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII akhirnya dapat terselesaikan
dengan baik.

Modul Pembelajara ini disusun sebagai salah satu media pendamping supaya
peserta didik lebih mudah memahami pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekerti Kelas VII.

Kami menyadari betul bahwa modul pembembelajaran ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu saya mohon masukan dan saran dari bapak/ibu
Instruktur untuk perbaikannya serta teman-teman dan para pembaca. Semoga Sang
Hyang Widdhi Wasa senantiasa memberikan limpahan waranugraha-Nya kepada kita
semua.

Penyusun

2

DAFTAR ISI 2

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI
Kitab Suci Weda 7
Pengantar
Materi Kitab Suci Weda 7

Pengertian 7
Sifat-sifat Veda 7
Fungsi Veda 8
Para Ṛṣi Penerima Wahyu Veda 8
Kodifikasi Veda 8
Nilai-nilai yang Terkandung dalam Veda 9
Ringkasan 10
Bahan bacaan/Daftar pustaka
Evaluasi 11
LAMPIRAN
Sradha (Avatara, Deva dan Bhatara) 11
B. Pengantar
C. Materi Sradha 12

A. Pengertian Sraddha 12
B. Avatara, Deva, dan Bhaṭ ara
14
1. Pengertian Avatara
2. Pengertian Deva 14
C. Perbedaan Avatara, Deva, dan Bhaṭ ara
D. Ringkasan 14
14
3 15
15
18
19

20

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka 20
F. Evaluasi
LAMPIRAN 21
A.Karmaphala
B. Pengantar 21
C. Materi
23
Pengertian Karmaphala
Surga dan Neraka 23
Jenis-jenis Karmaphala
Cerita terkait Karmaphala 23
D. Ringkasan 23
E. Bahan bacaan/Daftar pustaka 23
F. Evaluasi 24
LAMPIRAN 25
Judul sub bab
Pengantar 27
Materi
Pengertian Karmaphala 27
Bagian-bagian Sad Atatayi
Upaya Menghindari Sad Atatayi 28
Ringkasan
Bahan bacaan/Daftar pustaka 28
Evaluasi
LAMPIRAN 30
Kepemimpinan dalam Agama Hindu
Pengantar 30

4 31
31
31
40

44

45

45

45

47

47

Materi 48
A. Pendahuluan 48
B. Pemimpin dan Kepemimpinan 50
C. Kepemimpinan Hindu 51
D. Tipologi Kepemimpinan Hindu 54

Ringkasan 55

Bahan bacaan/Daftar pustaka 56

Evaluasi 57

LAMPIRAN 57

Panca Yadnya 59

Pengantar 59

Materi 60
Pengertian Panca Yadnya 60
Bagian-bagian Panca Yadnya 61
Contoh Pelaksanaan Panca Yadnya 62
Syarat dan Kualitas Yadnya 62

Ringkasan 64

Bahan bacaan/Daftar pustaka 65

Evaluasi 65

LAMPIRAN 65

5

MODUL 1

Semester 1 Kode Bahan Ajar No 1 kls 7

KITAB SUCI WEDA

6

A. Kitab Suci Weda

Memahami Kitab Suci Veda sebagai tuntunan hidup
1) Pengertian
2) Sifat-sifat Veda
3) Fungsi Veda
4) Para Ṛṣi Penerima Wahyu Veda
5) Kodifikasi Veda

B. Pengantar

Setelah membaca serangkaian bahan ajar dan mengerjakan soal latihan ini diharapkan siswa
dapat menjelaskan pengertian kitab suci weda, menjelaskan sifat-sifat weda, fungsi Weda,
menyebutkan secara urut sapta Rsi penerima wahyu suci serta dapat, menyusun Kodifikasi
Veda.

C. Materi Kitab Suci Weda

A. Pengertian
Veda adalah kitab suci umat Hindu. Kata "Veda" berasal bahasa Sanskerta "wid (id()"

yang artinya "tahu". Veda berarti pengetahuan. Jika huruf a dalam kata "veda" ditulis dengan
aksara dirghā (panjang) "wedā", maka akan berarti "kata-kata yang diucapkan dengan aturan-
aturan tertentu atau dilagukan". Oleh karena itu di Bali ada istilah meweda bagi para sulinggih
yang sedang melakukan surya sewana. Veda merupakan kumpulan mantra-mantra suci yang
diwahyukan kepada para mahaṛṣi. Bahasa yang digunakan dalam Veda adalah "daivivak" yang
berarti bahasa dewa. Belakangan, sekitar 200 tahun SM Daiwiwak ini dikenal sebagai Bahasa

7

Sanskerta. Namun menurut perkiraan para ahli, Veda mulai disusun sekitar 2500 – 1500 tahun
SM.

B. Sifat-sifat Veda
Veda mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

● Anādi artinya tidak berawal karena Veda sebagai sabda suci yang telah ada sebelum
alam diciptakan oleh-Nya.

● Ananta artinya tidak berakhir karena ajaran Veda berlaku sepanjang masa.
● Apauruseyam artinya bukan berasal dari manusia karena Veda adalah Sabda Suci

yang langsung berasal dari Sang Hyang Widdhi Wasa
● Sanatana artinya Veda bersifat abadi
● Nutana artinya mempunyai keluwesan dan bisa mengikuti perkembangan jaman

C. Fungsi Veda
Veda mempunyai fungsi sebagai berikut :

● Sebagai sumber kebenaran bagi umat Hindu
● Sebagai kitab suci dan penuntun bagi pemeluk agama Hindu
● Sebagai jaminan keselamatan makhluk hidup
● Sebagai dasar keimanan dan keyakinan umat Hindu
● Sebagai ajaran etika dan tingkah laku

D. Para Ṛṣi Penerima Wahyu Veda
Veda merupakan wahyu yang diterima oleh para mahāṛṣi yang disebut sebagai Saptaṛṣi.

Adapun nama-nama Saptaṛṣi tersebut adalah:
● Gṛtsamada (terkait dengan turunnya mantra Ṛgveda
Maṇḍala II)
● Wiśwāmitra (terkait dengan mantra Ṛgveda Maṇḍala III)

8

● Wamadewa (terkait dengan mantra Ṛgveda MaṇḍalaIV)
● Atri (terkait dengan mantra Ṛgveda Maṇḍala V)
● Bharadwāja (terkait dengan mantra Ṛgveda MaṇḍalaVI)
● Wasiṣṭha (terkait dengan mantra Ṛgveda MaṇḍalaVII)

dan
● Kaṇwa (terkait dengan mantra Ṛgveda Maṇḍala VIII).
Selain itu juga ada Saptaṛṣi lainnya yang terkait denga turunnya wahyu Veda, seperti: Gosukti,
Aswasukti, Pustigu, Bhṛgu, Manu, Waiwastha dan Nipatithi, serta masih banyak lagi Saptaṛṣi
lainnya.

E. Kodifikasi Veda
Setelah Veda diterima dalam bentuk wahyu, kemudian Veda dikodifikasikan oleh

Mahāṛṣi Wyāsa (yang juga penyusun Mahābharata). Beliau dibantu oleh keempat muridnya,
yakni: Pulaha, Jaimini, Sumantu dan Waisampayana. Secara garis besar Veda dibagi atas dua
macam yakni: Veda Śruti dan Veda Smṛti. Śruti Mantra Saṁhitā, (terdapat 20.416 mantra)
yang dibagi atas 4 kitab mantra saṁhita (catur veda saṁhitā) yakni: Ṛgveda (10.589 mantra),
Yajurveda (1975 mantra), Sāmaveda (1875 mantra) dan Atharwaveda (5977 mantra). Untuk
lebih jelasnya anda dapat melihat video berikut :

Kitab Suci Weda

Veda adalah ilmu yang terbuka untuk dikaji dan diuji oleh para ilmuwan. Semua boleh
mempelajari dan meneliti tentang kebenaran Veda dengan tidak memandang dari golongan
apa. Sebagai umat Hindu kita harus menjadi pelopor dalam mempelajari dan mengamalkan

9

ajaran suci Veda. Jangan sampai di rumah tangga umat Hindu tidak ada satu pun kitab suci
Veda. Walaupun ada Kitab Suci Veda, tetapi hanya disakralkan untuk diberikan sesajen saja.
Kitab Suci Veda seperti menjadi monumen mati karena tidak pernah dibaca. Cara ini sungguh
amat salah.

Veda memberikan solusi dalam rangka mengembangkan ajaran sucinya. Masyarakat
umat Hindu melalui media kesenian telah dengan sangat bijaksana menyampaikan ajaran
suci Veda. Ada beberapa seni budaya yang selalu dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan
suci Veda. Adapun yang dimaksud, antara lain:

❖ Kesenian wayang
❖ Seni utsawa Dharmagita, mewirama dan kekawin
❖ Sinetron bernuansa religiusitas Hindu
❖ Seni pertunjukan arja
❖ Seni pertunjukan topeng
❖ Darmatula dalam paruman di bale banjar
❖ Acara mimbar agama Hindu di radio, televisi dan media cetak, dan sebagainya.
F. Nilai-nilai yang Terkandung dalam Veda
Veda sebagai wahyu Tuhan mengandung nilai-nilai universal yang bisa berlaku di mana saja,
kapan saja, dan terhadap siapa saja. Nilai adalah ukuran tingkah laku yang ideal harapan
masyarakat. Adapun nilai yang terkandung di dalam Veda, antara lain sebagai berikut.

1. Kemurahan hati (daksina) 12. Kebajikan (bradah) 23. Kesehatan/kesatuan(yu
2. Sedekah, punia (dana) ga)
3. Menghindari judi 13. Usaha (kertih)
24. Bhakti (bhakti)
(aksa/nita) 14. Jasa baik (yasa) 25. Perkawinan (vivaha)
4. Kemuliaan (suati 26. Pendidikan (siksa vidya)
15. Keramah tamahan 27. Bahasa (bhasya)
partham)
(sream)

16. Persaudaraan (maetri)

17. Keamanan (abhayam)

10

5. Keharmonisan 18. Tugas dan kewajiban 28. Seni budaya (kala
(samjnanam) (swadarma) gurnita)

6. Keindahan (sundaram) 19. Keberanian (wiram) 29. Ekonomi (varita)
7. Persatuan (samantu) 20. Profesi (warna) 30. Pengobatan (ayur veda)
8. Anti kekerasan (akroda) 21. Tahapan hidup (asrama) 31. Fisika/astronomi
9. Kewaspadaan (jagra) 22. Kecerdasan (pradnya)
10. Kesucian hati (daksina) (Jyostisa)
11. Kemakmuran (jagaditha) 32. Matematika (ganita)
33. Ilmu panah (danur veda)
34. Ilmu dan cabang filsafat

D. Ringkasan

Veda adalah kitab suci umat Hindu. Kata "Veda" berasal bahasa Sanskerta "wid"
yang artinya "tahu". Veda berarti pengetahuan. Jika huruf a dalam kata "veda" ditulis
dengan aksara dirghā (panjang) "wedā", maka akan berarti "kata-kata yang diucapkan
dengan aturan-aturan tertentu atau dilagukan". Oleh karena itu di Bali ada istilah
meweda bagi para sulinggih yang sedang melakukan surya sewana. Veda merupakan
kumpulan mantra-mantra suci yang diwahyukan kepada para mahaṛṣi.

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Guru).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Siswa).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

11

Pudja, Gde. (2004). Bhagavad Gìtà (Pañcama Veda). Surabaya: Paramita.
Miswanto. (2018). Bhagawad Gìtà dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Malang:

Giri Sastra
Miswanto. (2018). Widyakara Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas VII.

Surabaya: MGMP PAH SMP Provinsi Jawa Timur
Video Kitab Suci https://youtu.be/KUgOVf1VWQk diakses pada hari Kamis 18 nov 2021

F. Evaluasi

Untuk memahami materi Kitab suci silahkan kalian mencoba menjawab beberapa pertanyaan
berikut ini!

1. Apa yang kamu ketahui tentang sifat-sifat weda?
…………………………………………………………………………………………………..

2. Siapakah tujuh orang maharsi penghimpun kitab suci weda ?
…………………………………………………………………………………………………..

LAMPIRAN

Jawaban pertanyaan berikut ini:
soal kitab suci.pdf
https://drive.google.com/file/d/1pcYP0x8-
K0upqfvqcFssGH0msAddH90U/view?usp=sharing

12

MODUL 2

Semester 1 Kode Bahan Ajar No 2 kls 7

SRADHA

13

A. Sradha (Avatara, Deva dan Bhatara)

Pada bagian ini anda akan mempelajari:
1. Pengertian Sraddha
2. Avatara, Deva, dan Bhaṭara
3. Perbedaan Avatara, Deva, dan Bhaṭara

B. Pengantar

Setelah membaca serangkaian bahan ajar dan mengerjakan soal latihan ini diharapkan siswa
dapat menjelaskan Sradha, menjelaskan masing-masing bagian-bagian Avatara, Deva dan
Bhaṭara dalam agama Hindu, menunjukkan ciri-ciri Avatara, Dewa dan Bhaṭara, menjelaskan
persamaan dan perbedaan Avatara, Deva dan Bhatara.

C. Materi Sradha

A. Pengertian Sraddha
Secara alamiah, setiap umat manusia mempunyai naluri untuk mengikuti suatu

kepercayaan. Kepercayaan dengan kualitas yang lebih tinggi disebut keyakinan. Jenis
keyakinan ini terbagi menjadi dua, yaitu keyakinan yang menyesatkan dan keyakinan yang
memberikan motivasi atau dorongan untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Contoh kepercayaan yang menyesatkan adalah percaya kepada hantu, tenung atau
ramalan, dan sebagainya. Contoh keyakinan yang memberikan motivasi adalah keyakinan
tentang keberadaan Sang Hyang Widhi atau Tuhan, keyakinan akan adanya para dewa,
keyakinan akan kemampuan diri sendiri, dan sebagainya. Keyakinan yang dimaksud dapat
bermanfaat untuk dijadikan pegangan hidup yang akan memberikan ketentraman lahir dan
batin. Dalam bahasa Sanskerta, keyakinan itu disebut srad. Lalu diadopsi ke dalam bahasa
Jawa Kuno atau bahasa Kawi menjadi sraddha yang berarti keyakinan. Yang dimaksud dengan
Sraddha dalam hal ini adalah keyakinan yang kuat. Sraddha atau keyakinan ini dapat dipakai

14

sebagai motivasi, pegangan hidup, dan penghiburan dalam menjalani kehidupan yang
terkadang sangat menyenangkan namun terkadang sangat menyiksa.

Umat Hindu secara khusus diwajibkan untuk mempunyai sraddha atau keyakinan. Ada
lima sraddha yang harus diyakini oleh umat Hindu. Kelima sraddha itu disebut Pañca Sraddha
yang terdiri dari:

● Brahman adalah keyakinan terhadap keberadaan Tuhan dengan segala sifat-sifat dan
kemahakuasaan-Nya. Tuhan disebut juga Sang Hyang Widhi.

● Atman adalah keyakinan terhadap adanya energi terkecil dari Brahman yang ada di
dalam setiap makhluk hidup. Atman menyebabkan semua makhluk bisa lahir, hidup,
berkembang, dan mati. Atman juga merupakan sumber hidup dari semua makhluk
yang ada di Bumi ini.

● Karmaphala adalah keyakinan terhadap adanya hukum karma. Hukum karma mutlak
berlaku terhadap semua makhluk dan semua yang ada di dunia ini.

● Punarbhawa adalah keyakinan akan adanya kelahiran yang berulang-ulang sesuai
dengan karma wasana.

● Mokṣa adalah keyakinan akan adanya kebahagiaan abadi, bersatunya Atman dengan
Brahman, sehingga terbebas dari pengaruh punarbawa dan hokum karmaphala.

B. Avatara, Deva, dan Bhaṭara
1. Pengertian Avatara

Dalam Kamus Istilah Agama Hindu, Avatara berasal dari kata ava artinya bawah dan
tara/tra artinya menyebrang atau menjelma. Jadi, Avatara berarti Perwujudan Sang Hyang
Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa turun ke dunia untuk menegakkan dharma dari tantangan
adharma dengan perwujudan tertentu untuk menyelamatkan umat manusia dari ancaman
bahaya. Avatara biasanya ditandai dengan turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang turun
ke dunia untuk menyelamatkan manusia dengan manifestasi sebagai Deva Visnu turun ke dunia

15

dengan mengambil wujud tertentu. Dalam kitab Bhagavadgita IV.7 dengan jelas disebutkan
sebagai berikut :

यदा यदा हि धर्मस्य ग्लाहिर्मवति र्ारि । अभ्युत्थािर्धर्मस्य िदात्मािं सजृ ाम्यिर्् ॥
yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata | abhyutthānam adharmasya
tadātmānaṁ sṛjāmyaham ||
(Sesungguhnya manakala dharma berkurang kekuasaanya dan tirani hendak merajalela,
wahai Ārjuna, saat itu Aku ciptakan diri-Ku sendiri)

Dalam Viṣṇu Purana dikenal sepuluh perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa dalam
menyelamatkan dunia, yaitu: Matsya, Kurma, Varaha, Narasimha, Wamana, Parasurama,
Rama, Kṛṣṇa, Buddha, dan Kalki Avatara. Sebelum memahami kesepuluh bagian Awatara
silahkan kalian melihat Video berikut ini:

Untuk lebih memudahkan memahami bagian-bagian dari Avatara di atas, dapat dibaca melalui tabel
berikut ini:

No. Avatara Sang Hyang Widhi Wasa yang turun/bereinkarnasi ke bumi dengan
mengambil wujud tertentu sebagai berikut:

1 Matsya Avatara Ikan yang Maha besar, muncul pada zaman Satya Yuga bertujuan untuk
menyelamatkan benih manusia yang terancam punah.

16

2 Kurma Avatara Kura-kura raksasa, muncul pada zaman Satya Yuga yang bertujuan
untuk menahan gunung Mandaragiri supaya tidak tenggelam.

3 Varaha Avatara Badak Besar, muncul pada zaman Satya Yuga.

4 Narasimha Manusia berkepala singa membunuh Raja Hiranyakasipu sebagai tokoh
Avatara adharma saat itu muncul pada zaman Satya Yuga.

5 Wamana Orang kerdil yang membunuh raja Bali sebagai tokoh adharma, muncul
Avatara pada Treta Yuga.

6 Parasurama Pandita yang selalu membawa kapak, memberi kesadaraan kepada
Avatara kesatria untuk mengendalikan dharma atau kepemimpinan dengan
sebaik-baiknya muncul zaman Treta Yuga.

7 Rama Avatara Putra Prabu Dasarata, guna membela adharma yang dipimpin oleh
Rahwana yang pasukannya terbasmi muncul zaman Treta Yuga.

8 Krishna Avatara Putra Prabu Wasu Deva dengan Dewi Devaki menghancurkan Raja
Kangsa dan jasrasanda golongan adharma pada saat itu, muncul pada
zaman Dwapara Yuga.

9 Buddha Avatara Putra prabu Sudodana dengan Dewi Maya bertugas menyadarkan
manusia, agar bebas dari penderitaan melalui jalan tengah di antara
kedelapan cakram (putaran hidup), muncul pada zaman Kali Yuga.

10 Kalki Avatara Avatara yang ke-10, menurut keyakinan Agama Hindu beliau akan
datang nanti pada akhir zaman Kali Yuga, bila adharma sudah betul-
betul merajalela.

17

2. Pengertian Deva
Kata Deva berasal dari kata Div artinya sinar/bersinar. Deva artinya sinar suci dari Sang

Hyang Widhi, fungsinya untuk menyinari semua makhluk hidup di alam semesta ini untuk
berintegrasi antara satu dengan yang lainnya sehingga bisa berkembang. Kita banyak mengenal
sebutan Deva, seperti Deva Brahma, Deva Visnu, Deva Siva, Deva Isvara, Deva Maheswara,
Deva Rudra, Deva Samkara, Deva Sambhu. Bila kita umpamakan matahari itu adalah Shang
Hyang Widhi, Deva adalah Sinarnya. Dalam perkembangan lebih lanjut Esa (Sang Hyang
Widhi), sehingga Deva itu sesungguhnya adalah yang Esa itu sendiri dalam aspek tertentu.

3. Pengertian Bhaṭ ara
Bhaṭara berasal dari kata “bhatr” yang berarti pelindung. Bhaṭara berarti “pelindung.”

Jadi Bhaṭara adalah aktivitas Sang Hyang Widhi sebagai pelindung ciptaan-Nya. Dalam
pandangan agama Hindu, semua hal di alam semesta ini dilindungi oleh Sang Hyang Widhi
dengan gelar Bhaṭara. Ada begitu banyak nama-nama Bhaṭara sesuai dengan tempat, fungsi,
dan ke dudukan nya. Sebagaimana dikutip dalam ajaran Siva Tatwa dalam agama Hindu, Sang
Hyang Sapuh Jagat apabila beliau menjaga pertigaan, Sang Hyang Catus Pata/Catur Loka Pala
apabila beliau berkedudukan di perempatan jalan, Sang Hyang Bairawi apabila beliau
berkedudukan di kuburan, Sang Hyang Tri Amerta apabila beliau berkedudukan di meja
makan. Beberapa contoh nama Bhaṭara di atas hanyalah contoh kecil dari sekian banyak nama
Bhaṭara yang enandakan sifat Sang Hyang Widhi yang wyapi wyapaka atau ada di mana-mana.

Hubungan Avatara, Deva, dan Bhaṭara dengan Sang Hyang Widhi sangat erat dan
menyatu malah tidak dapat dipisahkan karena:

1) Avatara, Deva, dan Bhaṭara sumbernya dari Sang Hyang Widhi (seperti sinar matahari
bersumber dari matahari).

18

2) Avatara, Deva, dan Bhaṭara merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi.
3) Avatara, Deva, dan Bhaṭara sama-sama sebagai pelindung.
4) Avatara, Deva, dan Bhaṭara merupakan kekuatan dari Sang Hyang Widhi.
5) Avatara, Deva, dan Bhaṭara maha kasih dan penyayang.

C. Perbedaan Avatara, Deva, dan Bhaṭara
Selain terdapat persamaan, antara Avatara, Deva, dan Bhaṭara juga terdapat perbedaan,

antara lain:
1) Avatara adalah perwujudan Tuhan yang menjadikan diri-Nya berbagai jenis atau
bentuk menurut kehendak-Nya dan yang selalu dekat serta dikasihi akan kembali pada-
Nya.
2) Para Deva memiliki sifat yang lebih rendah karena roh yang sampai pada Deva akan
kembali lagi sebelum bersatu dengan-Nya.
3) Roh leluhur lebih rendah tingkatannya dengan Deva, roh yang suci kedudukannya
setingkat dengan Bhaṭara sehingga lebih dekat dengan kehidupan.
4) Avatara adalah turunnya kekuatan Sang Hyang Widhi ke dunia sebagai Deva Visnu
dengan mengambil suatu bentuk tertentu untuk menyelamatkan dunia beserta isinya
dari kehancuran yang disebabkan oleh sifat-sifat Adharma.
5) Deva berasal dari kata Div yang berarti sinar. Jadi, Deva memiliki arti atau makna sinar
yang menunjukkan sebagai sinar sucinya Tuhan Yang Maha Esa.
6) Bhaṭara berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata Bhatr, yang artinya Pelindung. Jadi
Bhaṭara adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas
kesucian dirinya sehingga mampu menjadi Manawa ke Madawa atau setingkat Bhaṭara
yang dapat melindungi kesejahteraan umat manusia.

19

MATERI ONLINE :
https://docs.google.com/presentation/d/10yD1llTfy2jfejgvXz1ycIXDtU7eQcyB/edit?usp=sh
aring&ouid=113398225730891514659&rtpof=true&sd=true

D. Ringkasan

Sradha artinya keyakinan Umat Hindu secara khusus diwajibkan untuk mempunyai
sraddha atau keyakinan. Ada lima sraddha yang harus diyakini oleh umat Hindu. Kelima
sraddha itu disebut Pañca Sraddha.

Avatara berarti Perwujudan Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa turun ke
dunia untuk menegakkan dharma dari tantangan adharma dengan perwujudan tertentu untuk
menyelamatkan umat manusia dari.

Kata Deva berasal dari kata Div artinya sinar/bersinar. Deva artinya sinar suci dari Sang
Hyang Widhi, fungsinya untuk menyinari semua makhluk hidup di alam semesta ini untuk
berintegrasi antara satu dengan yang lainnya sehingga bisa berkembang.

Bhaṭara adalah aktivitas Sang Hyang Widhi sebagai pelindung ciptaan-Nya. Dalam
pandangan agama Hindu, semua hal di alam semesta ini dilindungi oleh Sang Hyang Widhi
dengan gelar Bhaṭara.

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Guru).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

20

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Siswa).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Miswanto. (2018). Bhagawad Gìtà dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Malang: Giri
Sastra

Miswanto. (2018). Widyakara Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas VII. Surabaya:
MGMP PAH SMP Provinsi Jawa Timur

Video Dashavatara, Deva and Devi in Hindu, Rāmāyana, Māhabharata

F. Evaluasi

Untuk memahami materi Sradha silahkan kalian mencoba menjawab beberapa pertanyaan
berikut ini!

1. Siapa sajakah Dasa awatara itu ?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

2. Apa yang kamu ketahui tentang panca sradha?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

LAMPIRAN

Latihan Soal Awatara.pdf

21

MODUL 3

Semester 1 Kode Bahan Ajar No 3 Kelas 7

KARMAPHALA

22

A.Karmaphala

Pada bagian ini anda akan mempelajari:
1. Pengertian Karmaphala
2. Surga dan Neraka
3. Bagian-bagian Karmaphala
4. Cerita Karmaphala

B. Pengantar

Setelah membaca serangkaian bahan ajar dan mengerjakan soal latihan ini diharapkan siswa
dapat menjelaskan pengertian Karmaphala, menyebutkan bagian-bagian Karmaphala,
menjelaskan ciri-ciri surga dan neraka, menceritakan Karmaphala.

C. Materi

1. Pengertian Karmaphala
Karma adalah perbuatan, phala artinya hasil. Jadi, karmaphala artinya hasil perbuatan.

Karmaphala disamakan artinya dengan rta atau hukum alam yang abadi. Hukum karma ini
juga bersifat mutlak, berlaku kepada apa saja, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Cara
kerja hukum karmaphala ini sangat rahasia, ajaib, dan tak terpikirkan oleh akal manusia.
Bukan itu saja, hukum karma ini adalah hakiki yang tidak terbantahkan.

2. Surga dan Neraka
Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam hidup ini akan melekat pada

badan halus (Suksma Sarira). Bekas ini disebut Karma Wasana. Bekas perbuatan baik
disebut Subha Karma Wesana yang dapat mengantarkan roh masuk surga dan bila lahir
kembali disebut Surga Cyuta. Surga Cyuta adalah kelahiran dari surga yang hidupnya penuh

23

dengan kebahagiaan. Sebaliknya bekas perbuatan buruk disebut Asubha Karma Wesana.
Bila seseorang meninggal, Asubha Karma Wesana menghantarkan rohnya menuju Neraka,
jika lahir kembali disebut Neraka Cyuta. Dapat dinyatakan bahwa bahagia atau
menderitanyaseseorang pada saat mengalami Reinkarnasi (Punarbhawa) sangat ditentukan
oleh Karma Wesana orang tersebut.

Kutipan Kitab Slokantara menyebutkan:
Ciri-ciri dari manusia yang lahir dari alam surga loka adalah, bagi yang wanita akan
terlahir cantik, bagi yang laki akan terlahir tampan. Bukan itu saja, ciri lainnya adalah
cerdas, pemberani, berwibawa, baik hati, bijaksana, dermawan, sehat lahir batin,
tenang, suka belajar, lemah lembut, berbudi pekerti luhur, tidak iri hati, tidak dengki, tidak
sombong, dan menyabar.

3. Jenis-jenis Karmaphala
1) Sancita Karmaphala
Sancita Karmaphala adalah hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang
belum habis pahalanya dinikmati dan masih merupakan sisa yang menentukan
kehidupan kita sekarang. Contoh, di kehidupan yang lalu, mungkin kita korupsi, namun
karena sedang berkuasa atau pintar berkelit, pahalanya belum sempat dinikmati,
kelahiran sekaranglah dinikmati buah/ hasilnya, misalnya, hidup jadi sengsara, atau
menjadi perampok sehinggadihukum penjara.
2) Prarabdha Karmaphala
Prarabdha Karmaphala adalah hasil perbuatan kita pada kehidupan sekarang yang
pahalanya diterima habis dalam kehidupan sekarang juga. Sekarang korupsi, kemudian
tertangkap langsung dihukum bertahun-tahun. Jadi antara perbuatan dan akibatnya
lunas. jenis karmaphala ini biasa disebut Karmaphala cepat.

24

3) Kriyamana Karmaphala
Kriyamana Karmaphala adalah hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada
waktu kehidupan sekarang, namun dinikmati pada waktu kehidupannya yang akan
datang. Misalnya, dalam kehidupan sekarang korupsi, tapi entah bagaimana kejahatan
itu tidak berhasil dibuktikan karena kelicikannya, lalu meninggal dunia. Dalam
kehidupan yang akan dating pahalanya akan diterima, namun orang tersebut akan lahir
jadi orang yang hina. Sebaliknya, dalam kehidupan sekarang kita berbuat baik, saleh,
santun, taat pada keyakinan, suka menolong, dan sebagainya, namun meninggal dunia
dalam kesederhanaan. Dalam kehidupan yang akan datang, kita akan dilahirkan
menjadi orang yang bahagia, atau dilahirkan di keluarga orang terhormat dan kaya, di
mana tak ada penderitaan yang dialami.

4. Cerita terkait Karmaphala
Dalam salah satu Purana, ada dikisahkan seekor burung bangau yang jahat mengaku

dirinya sudah menjadi pendeta. Sambil menangis dia menipu ikan dan udang dengan
mengatakan bahwa telaga itu akan kering. Satu-persatu ikan dipindahkan ke tempat lain,
padahal ikan tersebut dimakannya dengan lahap hingga tersisa seekor kepiting di telaga itu.
Bangau mengatakan hal yang sama kepada kepiting. Singkat cerita kepiting bersedia di
pindahkan namun di tengah perjalanan kepiting melihat duri-duri ikan bertebaran di atas
tanah. Melihat hal tersebut kepiting sadar bahwa bangau juga berniat untuk memakannya.
Akhirnya si bangau jahat ini kena hukum karma, ia mati dijepit lehernya oleh si kepiting. Si
bangau pun mati karena kejahatannya, pesan dari cerita ini adalah agar kita menghindari
perbuatan jahat dan memperbanyak kebaikan. Selain itu kita juga harus membantu orang
yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan. Untuk membuktikan kebenaran
karmaphala, salah satu cara yang dapat dikaji adalah pelaku koruptor atau pencuri uang
rakyat yang sering ditayangkan di televisi maupun media masa. Akibat dari kejahatan

25

korupsi ini sungguh luar biasa, karena korupsi merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa
dan bernegara. Para koruptor yang sudah kaya raya, masih saja tega mencuri uang rakyat.

Uang rakyat yang seharusnya dipakai untuk mengentaskan kemiskinan, membangun
fasilitas sekolah, memperbaiki infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya para
pengemis di pinggir jalan, dimakan secara serakah oleh para koruptor. Andaikan saja uang
rakyat tidak dicuri, maka kita sudah tidak pernah lagi melihat orang miskin di pinggir jalan
sebagai pengemis atau pengamen untuk bisa bertahan hidup. Hukum karmaphala dalam
konteks ini mutlak berlaku. Satu per satu para koruptor pencuri uang rakyat dihadapkan ke
Pengadilan Tipikor oleh KPK. Mereka dijatuhi hukuman dengan dimasukkan ke dalam
penjara dan denda ratusan juta rupiah. Apabila dikaji dari sisi keadilan masyarakat,
hukuman itu nampak ringan, terlebih lagi bila dibandingkan dengan uang rakyat yang dicuri
mencapai puluhan milyar. Para koruptor yang sudah di penjara ini memberikan bukti bahwa
hukum karmaphala itu berlaku.

Saat ini para koruptor di Indonesia boleh bernafas lega karena hukumannyaringan dan
dendanya sedikit. Akan tetapi, kelak setelah mati rohnya akan masuk ke neraka loka.
Menurut keyakinan umat Hindu, kelak ia bisa lahir kembali menjadi pohon mangga. Pohon
mangga hanya bisa memberikan buahnya saja tanpa bisa melawan ketika buahnya diambil.
Menurut keyakinan hokum karmaphala, roh pohon mangga itu membayar hutang karena
ganjaran penjara dan dendanya sedikit.

Hukum karma akan memberikan pahala dua kali lipat bagi mereka yang menanam
kebaikan. Apabila kita tulus meringankan beban makhluk lain, sesungguhnya kita
melakukan dua kali hal yang sama untuk diri kita sendiri. Itulah esensi dari hukum
karmaphala.

Selain dengan membaca materi diatas, kalian bisa memahami ajaran Karmaphala
dengan melihat video dari link berikut ini:

KARMAPHALA PART 1

26

D. Ringkasan

Karma adalah perbuatan, phala artinya hasil. Jadi, karmaphala artinya hasil
perbuatan. Karmaphala disamakan artinya dengan rta atau hukum alam yang abadi. Hukum
karma ini juga bersifat mutlak, berlaku kepada apa saja, siapa saja, di mana saja, dan kapan
saja. Cara kerja hukum karmaphala ini sangat rahasia, ajaib, dan tak terpikirkan oleh akal
manusia. Bukan itu saja, hukum karma ini adalah hakiki yang tidak terbantahkan. adapun
jenis-jenis Karmaphala antara lain:
1) Sancita Karmaphala adalah hasil perbuatan terdahulu yang belum habis nikmati pada

kehidupan yang sekarang
2) Prarapda Karmaphala adalah hasil perbuatan sekarang habis dinikmati pada

kehidupan saat ini
3) Kriyamana Karmaphala adalah hasil perbuatan sekarang belum sempat dinikamati

dan akan di nikmati pada kehidupan yang akan datang

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Siswa).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Miswanto. (2018). Widyakara Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas VII. Surabaya:
MGMP PAH SMP Provinsi Jawa Timur

27

Video Karmaphala https://youtube.com/watch?v=_Xt2sPX4J6A&feature=share diakses pada
hari 25 Nopember 2021

F. Evaluasi

untuk memahami materi Karmaphala silahkan kalian mencoba menjawab beberapa
pertanyaan berikut ini!

1) Apa yang dimaksud dengan Karmaphala ?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

2) Sebut dan jelaskan jenis-jenis Karmaphala!
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

3) Bagaimana letak keadilan Tuhan pada hukum Karmaphala? Jelaskan
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

LAMPIRAN

Latihan Soal Latihan Soal Karmaphala.docx

28

MODUL 1

Semester 2 Kode Bahan Ajar No 1

Sad Atatayi

29

A. Sad Atatayi

Pada bagian ini anda akan mempelajari:
1. Pengertian Sad Atatayi
2. Bagian-bagian Sad Atatayi
3. Upaya menghindari Sad Atatayi

B. Pengantar

Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan cinta dan kasih sayang Tuhan.
Kelahiran manusia di dunia ini juga berasal dari cinta dan kasih sayang kedua orang tua. Cinta
dan kasih sayang ini mesti dimiliki oleh setiap manusia mengingat ia ada karena cinta dan kasih
sayang tersebut. Cinta dan kasih sayang ini juga menjadi esensi dari kemanusiaan. Artinya jika
manusia tidak mampu mengembangkan cinta dan kemanusiaan ini dalam dirinya maka
sesungguhnya dia telah kehilangan hakekatnya sebagai manusia.

Cinta dan kasih sayang dalam diri manusia akan membuat manusia menjadi welas asih
dan jauh dari kebencian yang berujung pada anarkhisme. Sayangnya, anarkhisme atau
kekerasan akhir-akhir ini menjadi hal yang biasa dilakukan oleh manusia. Banyak kasus-kasus
kekerasan baik secara fisik maupun mental yang dilakukan dan dialami oleh manusia.
Kekerasan yang berujung pembunuhan pun menjadi sesuatu biasa terjadi di zaman sekarang.

Dalam ajaran Hindu, perilaku anarkhis semacam ini adalah larangan yang tidak boleh
dilakukan atau dipikirkan oleh umatnya. Perilaku anarkhis yang berujung pembunuhan
sebagaimana disebutkan di atas dalam Hindu disebut Ṣad Ātatāyi. Perilaku ini harus dihindari
oleh semua umat Hindu karena ini merupakan larangan dalam agama Hindu.

Dalam Sarasamuścaya 141 disebutkan:
wadhabandhaparikleṣān prāṇino na karoti yah |
sa sarwasya hitaṁ prepsuḥ sukhamatyantamaṣnute ||
Terjemahan:

30

Orang yang perilakunya tidak pernah menyakiti makhluk lain, tidak mengikatnya, tidak
membunuhnya, melainkan hanya menyenangkan makhluk lain, orang yang demikian itu,
memperoleh, kebahagiaan yang tertinggi.

C. Materi

1. Pengertian Karmaphala
Secara harfiah kata ṣad ātatāyi berasal dari bahasa Sanskerta. Kata ini dibentuk dari

dua yaitu ‘ṣaṭ yang artinya ‘enam’ dan ‘ātatāyin’ yang artinya ‘berusaha membunuh seseorang,
seorang pembunuh, (dalam teks Manusmṛti dan Mahābhārata, sering diartikan sebagai
pembakar, pemerkosa, pencuri)” (Monier-William,1899:134). Dalam Wilson Sanskrit-English
Dictionary (1832) disebutkan kata ātatāyi ini berasal dari kata ‘ātatāyitā’ yang artinya
‘mencuri, menganiaya, membunuh, menghancurkan’.

Secara terminologi ṣad ātatāyi dapat diartikan sebagai enam macam upaya
pembunuhan yang dilarang dalam Hindu. Keenam upaya pembunuhan ini merupakan perilaku
anarkhis yang dilakukan baik itu secara fisik maupun mental. Biasanya alasan seseorang
melakukan tindakan anarkhis semacam ini karena motif dendam, marah, iri, dan sebagainya.
Karena tidak dimanage dengan baik maka motif tersebut bisa menghasilkan perilaku anarkhis
yang dilakukan terhadap orang lain.

Dalam beberapa dekade ini perilaku anarkhis ini suatu trend yang sulit untuk dihindari.
Beberapa pakar ilmu-ilmu sosial menyebutkan bahwa kasus-kasus anarkhisme tersebut terjadi
karena krisis global yang melanda berbagai bidang kehidupan sosial termasuk di dalamnya
krisis dalam dimensi intelektual, moral dan spiritual. Ironisnya anarkhisme ini telah
“melembaga” dan terkondisikan ke dalam suatu bentuk tradisi budaya masyarakat pada masa
sekarang yang notabene merupakan masa pasca abad pencerahan (Capra, 2000:3,38).
2. Bagian-bagian Sad Atatayi

Hindu sangat melarang keras terjadinya tindakan anarkhis yang hanya semata-mata
karena emosional belaka sebagaimana yang sering terjadi belakangan ini. Untuk itu umat

31

Hindu dianjurkan untuk selalu bertindak secara arif dan bijak dengan mengedepankan dasar
hukum universal yaitu cinta kasih dan kemanusiaan (Miswanto,2004:7-9). Oleh karenanya
maka tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan selain menghindari ṣad ātatāyi ini.

Hindu sangat melarang keras terjadinya tindakan anarkhis yang hanya semata-mata
karena emosional belaka sebagaimana yang sering terjadi belakangan ini. Untuk itu umat
Hindu dianjurkan untuk selalu bertindak secara arif dan bijak dengan mengedepankan dasar
hukum universal yaitu cinta kasih dan kemanusiaan (Miswanto,2004:7-9). Oleh karenanya
maka tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan selain menghindari ṣad ātatāyi ini.

Adapun bagian-bagian dari ṣad ātatāyi antara lain: agnida, wiṣada, atharwa,
ṣastraghna, dratikrama, dan raja piśuna. Berikut penjelasannya.

1. Agnida

Agnida adalah kata Sanskerta artinya ‘pemberi api’.

Kata dasarnya adalah agni yang berarti ‘api, atau Agni’

(Monier-William,1899:5). Agnida adalah upaya membunuh

atau melakukan kekerasan terhadap seseorang dengan cara

memberi api atau membakarnya. Upaya membakar tersebut

dilakukan dengan cara membakar langsung tubuhnya atau bisa

juga melalui sarana lain seperti rumah yang ditempatinya,

kendaraan yang dinaikinya, dan sebagainya. Upaya itu semua

termasuk agnida. Upaya pembunuhan semacam ini tentu

sangat tidak manusiawi, oleh karenanya Hindu sangat

melarangnya.
Dalam sejarah Hindu perilaku agnida juga bisa ditemukan dalam Mahābhārata pada
Ādiparwa adhyaya 134 sampai 137. Di sini dikisahkan mengenai upaya pembunuhan Kunti
dan Pāṇḍawa di Wāraṇāwata dengan cara menghanguskannya. Saat itu Śakuni (dalam

pewayangan Jawa disebut Sengkuni), paman dari Kauwara membujuk Pāṇḍawa supaya

32

mewakili raja untuk menghadiri Dūrgapūja di Wāraṇāwata mengingat Yudiṣṭhira (saudara tua
Pāṇḍawa) sudah diangkat sebagai putra mahkota. Śakuni memang sudah merencanakan untuk
membunuh Pāṇḍawa dengan cara membakarnya saat di Wāraṇāwata.

Dengan licik, Śakuni dibantu Purocana membangun sebuah istana megah dan indah di
Wāraṇāwata, tetapi bahannya terbuat dari kardus. Istana kardus ini dipersiapkan untuk
menginap Pāṇḍawa ketika mengikuti upacara Dūrgāpūja. Pada hari yang sudah ditentukan,
berangkatlah rombongan Panca Pāṇḍawa ini ke tempat dilaksanakan upacara. Semua berjalan
lancar, tidak ada yang aneh dan tidak ada kendala yang dihadapi.

Yudiṣṭhira sebelumnya sudah diberikan semacam isyarat oleh Widura bahwa mereka
harus hati-hati saat di Wāraṇāwata. Dan ternyata isyarat itu benar. Saat mereka menginap di
istana kardus, mereka menemukan banyak kejanggalan. Salah satunya bahan yang digunakan
untuk membuat istana tersebut adalah bahan yang mudah terbakar. Hanya ada satu pintu dan
tidak ada jendela pada istana tersebut. Jika terbakar maka seisi istana tersebut tidak akan bisa
meloloskan diri. Dan saat tengah malam, istana tersebut memang benar-benar dibakar oleh
orang suruhan Śakuni.

Namun atas isyarat dan bantuan Pamannya Widura, maka Pāṇḍawa bersama Kunti bisa
menyelamatkan diri dari kebakaran tersebut melalui terowongan yang telah dipersiapkan oleh
Widura. Sementara di bekas istana kardus tersebut juga ada 6 jenasah yang sebenarnya adalah
para pelayan dan Kaurawa mengira bahwa jenasah tersebut adalah jenasah para Pāṇḍawa.

Dalam Ādiparwa 137 śloka 9-12 disebutkan: “Di sana di Kerajaan Dhṛtarāṣṭra (Astina),
kabar kematian Pāṇḍawa beserta Purocana yang terbakar api sudah tersebar. Mendengar kabar
kematian putra-putra Pāṇḍu tersebut Raja Dhṛtarāṣṭra amatlah bersedih. Setelah kematian Raja
Bhārata Paṇḍu tentu amatlah sulit bagi Raja Dhṛtarāṣṭra menerima kematian para putranya
yang terbakar dilalap api. Akhirnya sang Raja pun segera pergi menuju Wāraṇāwata untuk
melihat langsung jenasah Kunti dan putra-putranya”.

33

Di era sekarang pun masih ada upaya pembunuhan yang dilakukan dengan cara
membakar korbannya. Misalnya di awal tahun 2017 lalu ada seorang yang diduga sebagai
pencuri amplifier di salah satu tempat ibadah di Bekasi akhirnya dibakar hidup-hidup.
Sebelumnya juga sudah pernah terjadi hal serupa di mana seorang maling yang ketahuan
dibakar oleh massa. Hal ini sebagaimana diberitakan di laman merdeka.com.

2. Wiṣada
Wiṣada adalah kata Sanskerta artinya ‘menghasilkan racun, beracun’.

Kata dasarnya adalah wiṣa yang berarti ‘racun’ (Monier-William,1899:995).
Wiṣada adalah upaya membunuh orang lain dengan cara memberikan racun
atau meracuni. Upaya wiṣada ini biasanya dilakukan dengan mencampurkan
racun dalam makanan atau minuman kemudian diberikan kepada orang lain.
Hal ini adalah merupakan perbuatan dosa sebab perbuatan ini sangat
bertentangan dengan hakekat hidup yang beradab.
Dalam suśāstra Hindu banyak kisah mengenai pembunuhan dengan wiṣada ini. Salah
satunya adalah kisah upaya pembunuhan Bhīma oleh Kaurawa dengan menggunakan racun.
Dalam Adiparwa 119 śloka 39 disebutkan:

bhojane bhīmasenasya punaḥ prākṣepayad wiṣaṁ | kālakūṭaṁ nawaṁ tīkṣṇaṁ saṃbhṛtaṁ
lomaharṣaṇaṁ ||
Terjemahan:
Lalu pada makanan yang dimakan oleh Bhima dicampur racun yang efeknya sembilan kali
racun Kālakūṭa yang bisa berakibat sangat berbahaya.

Persaingan antara Pāṇḍawa dan Kaurawa ini memang sudah terjadi sejak masa
kecilnya. Kaurawa selalu berusaha melenyapkan para Pāṇḍawa. Bhīma yang merupakan adik
dari Yudiṣṭhira juga pernah menjadi sasaran upaya pembunuhan dari Kaurawa. Sebagaimana
disebutkan dalam śloka di atas, Bhīma sempat diracun oleh para Kaurawa.

34

Waktu itu Bhīma dan beberapa Kaurawa berenang di Sungai Gangga, setelah selesai
berenang mereka bersantap. Tidak tahunya makanan Bhīma telah diracuni oleh Kaurawa. Letih
dan ditambah keracunan makanan membuat Bhīma terbaring lemas tidak berdaya. Melihat hal
itu Duryodhana, sepupu Bhīma segera mengikat sepupunya itu dengan ranting-ranting pohon
berduri dan menutupi tubuhnya dengan daun-daun gatal. Kemudian mereka melemparkan
Bhīma ke papan lebar yang dipasangi paku-paku tajam beracun. Mereka memperkirakan, jika
Bhīma jatuh di atas papan itu, ia pasti akan binasa tertusuk paku-paku beracun itu.

Tetapi Bhīma tidak jatuh di atas papan itu. Dia jatuh ke dalam Sungai Gangga. Segera
oleh ular-ular penghuni Sungai Gangga yang sangat berbisa mematuki tubuh Bhīma. Belum
jauh dihanyutkan, Bhīma dihempaskan oleh pusaran air ke tepian seberang sungai. Dengan
gembira, Duryodhana dan saudara-saudaranya yang mengira telah membinasakan Bhīma
pulang ke istana. Namun Bhīma selalu dalam lindungan dewata, racun-racun ular bukan
membunuh Bhīma malah membantu melawan racun makanan Duryodhana sehingga racun di
tubuh Bhīma menjadi sirna. Tidak hanya sirna malah membuat Bhīma kebal akan segala racun.

Contoh perilaku wiṣada ini juga ditemukan pada zaman sekarang. Contohnya adalah
kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin oleh Jessica Kumala Wongso. Dalam proses
peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jessica diputus bersalah karena melakukan
pembunuhan berencana dengan meracuni Mirna melalui kopi bercampur racun sianida yang
diminum oleh korban. Atas perbuatannya itu Jessica pun diganjar dengan hukuman penjara 20
tahun (https://nasional.tempo.co diakses 29 September 2017 jam 21.45 WIB). Kasus ini adalah
contoh upaya pembunuhan dengan racun atau Wiṣada. Kasus serupa juga terjadi pada Munir,
salah satu aktivis HAM.

35

3. Atharva
Atharwa (अथर्)व adalah kata Sanskerta arti

sebenarnya adalah ‘salah satu nama dari Catur Weda
Saṁhita, pendeta yang menyelesaikan segala sesuatu
dengan api, orang yang biasa dimintai bantuan untuk
menyembuhkan penyakit atau membebaskan diri dari
bencana’ (Monier-William,1899:17). Awalnya seorang
atharwa hanya dimintai bantuan untuk membebaskan
seseorang dari penyakit namun lama kelamaan banyak orang yang juga meminta bantuan untuk
menyakiti orang lain. Dalam ṣad ātatāyi ini, atharwa diartkan sebagai upaya membunuh atau
menyakiti orang lain dengan menggunakan ilmu hitam (black magic) atau ilmu sihir.
Ilmu hitam atau ilmu sihir ini dikenal oleh masyarakat dari berbagai belahan bumi. Di
Jawa dikenal beberapa istilah ilmu hitam misalnya santet, susuk, pelet, gendam, tumbal,
pesugihan, tenung dan lain-lain. Di Sunda dikenal dengan istilah teluh. Di Aceh dikenal dengan
istilah balum beude, beuno, burong tujoh, sane, dan geunteut. Bagi suku Anak Dalam di
Sumatra, mereka mengenal istilah santet sebagai buhul cacing abing. Di Jambi dikenal dengan
stilah pancung mata. Di Bali dikenal dengan istilah leak, cetik, dan rangda. Di kalangan suku
Minahasa disebut sebagai pandoti atau tapenawoy. Di kalangan suku Dayak Kalimantan
dikenal dengan istilah kuyang, amot, pelesit matimang. Di kalangan masyarakat Bulukumba,
Sulawesi Selatan, dikenal dengan istilah kajang amma toa. Di Maluku dikenal ada perahu doti.
Di Papua dikenal dengan istilah suanggi. Di seluruh dunia pun juga dikenal beberapa istilah
yang identik atau terkait dengan santet, misalnya: nuestra señora de la santa muerte (Meksiko);
ku (China); saiyasat dan kuman thong (Thailand); amulets (Laos); kulam (Filipina); macumba
(Brazil); sihr (Arab); heka (Mesir); kabbalah (Yahudi); mayong (India); dan masih banyak lagi
yang lain.

36

Atharwa ini biasanya dilakukan karena motif dendam atau iri. Biasanya pelaku
meminta bantuan orang ‘pintar’ (dukun) untuk membalaskan sakit hatinya. Lalu dengan
bantuan dukun tersebut ia melancarkan serangkan-serangan secara supranatural. Korban bisa
dibuat gila, sakit, hingga meninggal dunia. Cara-cara semacam ini tentu sangat dilarang dalam
semua ajaran agama.
4. Ṣastraghna

Ṣastraghna adalah kata Sanskerta yang dibentuk dari dua kata yaitu ‘ṣastra (zñ)’ yang
berarti ‘pedang, pisau, belati, senjata apapun’ dan ‘ghna’ yang berarti ‘membunuh,
menghancurkan’ (Monier-William,1899:379,1060). Ṣastraghna dapat diterjemahkan
membunuh dengan menggunakan senjata apapun, artinya apapun yang dipegang atau

ditemukan bisa digunakan untuk membunuh.
Secara terminologi ṣastraghna adalah upaya

membunuh dengan cara membabi buta atau
mengamuk. Ṣastraghna tidak mengenal sasaran atau
alasan, baginya yang penting bisa membunuh
semuanya. Ṣastraghna ini mirip tragedi holocaust
seperti yang terjadi pada masa Perang Dunia II. Di era
sekarang pernah juga terjadi pembunuhan secara brutal dan membabi butal. Pada 1 Oktober
2015, setidaknya 10 orang tewas dan 20-an luka-luka dalam penembakan massal di Umpqua
Community College di Oregon, Amerika Serikat. Kepolisian setempat menyatakan pelaku
penembakan brutal itu hanya satu orang pemuda berusia 20 tahun. Motif penembakan itu juga
tidak jelas, karena dia mengarahkan tembakannya itu secara membabi buta
(http://www.misterianeh.com/2015/10/11-penembakan-paling-brutal-di-amerika.html diakses
30 September 2017 jam 02.00 WIB).

5. Dratikrama

37

Kata ‘dratikrama’ sebenarnya berasal dari kata Sanskerta daratikāma (दरतिकाम), karena
ada perubahan bunyi dan diadaptasikan kedalam bahasa Jawa Kuna kemudian menjadi
dratikrama. Kata ini merupakan gabungan dari kata ‘darati (दरति)’ yang artinya ‘membelah,
melanggar, merusak’ dan kata ‘kāma (काम)’ yang artinya ‘nafsu, cinta, seks, kesenangan’
(Monier-William,1899:252,470). Jika digabung kata daratikāma bisa diterjemahkan
‘melanggar cinta, merusak dengan nafsu seks’.

Secara terminologi dratikrama adalah membunuh dengan cara melakukan perbuatan
memperkosa, biasanya kaum perempuan. Perbuatan ini bisa menghancurkan masa depan si
korban. Orang yang menjadi korban dratikrama bisa mengalami trauma yang tidak akan pernah
terlupakan seumur hidupnya. Dratikrama ini juga bisa merusak tatanan nilai yang hidup di

masyarakat. Agama sangat melarang perbuatan keji
semacam ini.

Dalam kisah Mahābharata diceritakan bagaimana
Duryodhana berusaha melecehkan wanita dari bangsa
pemburu saat ia sedang berburu ke hutan. Di tengah hutan
saat ia mabuk ia berusaha menodai wanita dari kelas
rendahan. Namun ia bisa ditangkap dan diringkus oleh
keluarga dari bangsa pemburu tersebut. Dan saat dia diadilli dan akan dihukum mati oleh
bangsa pemburu tersebut, beruntung Bhīma dan Arjuna menyelamatkannya atas perintah
Yudiṣṭhira.
Menurut ajaran Hindu dratikrama ini sama halnya dengan perbuatan paradārā
(memperkosa wanita) dan ini menyebabkan umurnya pendek. Hal ini sebagaimana disebutkan
dalam Sarasamuścaya 153:

38

paradārā na gantawyāh sarwawarṇesu karhicit |na hīdṛṣamanāyuṣyam
yathānyastrīniṣewaṇam ||
Terjemahan:
Menggoda/memperkosa wanita, sengaja usaha curang jangan dilakukan; pun jangan
melakukan segala sesuatunya yang berakibatkan umur pendek.
6. Raja Pisuna

Raja Piśuna adalah bahasa Jawa Kuna yang artinya
memfitnah. Kata ini merupakan gabungan dari 2 kata yakni raja
dan piśuna. Kata ‘raja (रज)’ berarti ‘pimpinan, emosional’.
Sementara kata ‘piśuna’ berarti ‘fitnah’ (Monier-
William,1899:624). Raja piśuna artinya fitnah keji yang digunakan
untuk membunuh karakter seseorang.
Fitnah atau raja piśuna adalah perkataan yang tidak memiliki nilai-nilai kebenaran,
kemudian disebarluaskan sebagai berita untuk menjerumuskan seseorang hingga menderita.
Sarana komunikasi massa kini bisa menjadi sarana untuk fitnah yang lebih luas. Media sosial
yang ada seperti twitter, facebook, whatsapp, telegram, dan sejenisnya bisa menjadi mesin
ampuh untuk melakukan fitnah. Dalam sekejap fitnah itu bisa menyebar bagai berita nasional.
Begitu menakutkannya fitnah ini, hingga ada pepatah lama yang yang mengatakan a slader is
more dangerous than murder atau kalau diindonesiakan menjadi “fitnah lebih kejam dari
pembunuhan” (Tim Jogja Bangkit,2014:195).
Mereka yang melakukan fitnah bisa membunuh karakter korban. Si korban akan
terganggu emosionalnya hingga bisa menyebabkannya meninggal dunia. Orang yang
melakukan hal ini maka kelak setelah mati, rohnya akan terlempar ke Neraka Niraya yaitu
neraka yang sangat panas menyiksa. Kelak setelah lahir kembali ke dunia, maka kelahirannya
akan menjadi binatang anjing. Kalaupun masih mempunyai sisa karma baik dan dapat kembali

39

terlahir menjadi manusia, maka sepanjang hidupnya akan selalu mendapat hinaan. Bukan itu
saja, sepanjang hidupnya akan selalu dalam keadaan susah dan menderita.

Suśāstra Hindu sangat melarang tindakan ini. Dalam Sarasamuścaya 75 disebutkan:
asatpralāpam pārusyam paicunyamanṛtaṁ tathā | watwāri wācā rājendra
najalpennānucintayet ||
Terjemahan:
Perkataan jahat, perkataan kasar menghardik, perkataan memfitnah, perkataan; itulah
keempatnya harus disingkirkan dari perkataan, jangan dipikiran akan diucapkan.

3. Upaya Menghindari Sad Atatayi
Ṣad ātatāyi adalah perilaku kejam yang melanggar norma hukum baik hukum agama

maupun hukum negara. Dalam hukum negara, jelas sekali bahwa perilaku pembunuhan
semacam ini dapat diganjar dengan hukuman penjara. Lebih-lebih jika pembunuhan tersebut
dilakukan secara terencana, hukumannya bisa 20 tahun penjara hingga hukuman mati. Hal ini
sebagaimana disebutkan pada pasal 340 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang
berbunyi:

Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa
orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan hukuman mati
atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.

Menurut hukum agama Hindu perbuatan membunuh termasuk himsakarma dan Weda
melarangnya. Manawa Dharmaśāstra VIII.381 menyebutkan:

ि
na jātu brāhmaṇaṁ hanyātsarwaṣwapi sthitam |rāṣṭrādenaṁ bahiḥ kuryat
samagradhanam akṣatam ||
Terjemahan:

40

Hendaknya seseorang tidak membunuh apalagi seorang brahmana, kendatipun ia
melakukan kemungkinan macam-macam perbuatan jahat. Ia harus dihukum dibuang untuk
yang bersalah semacam ini dengan badan terluka dan membiarkan semua hartanya (Pudja
Sudharta,2002:515).

Selanjutnya dalam Sarasamuścaya 76 disebutkan:
prāṇatipātam stainyam ca paradārānathāpi wā |trīni pāpāni kāyena sarwatah
pariwarjawet ||
Terjemahan:
Membunuh, mencuri, berbuat zina; ketiganya perbuatan dosa itu jangan hendaknya
dilakukan terhadap siapapun.

Merujuk pada suśāstra Hindu tersebut, jelas sekali bahwa membunuh adalah perbuatan
yang berakibat dosa. Dan untuk itu si pendosanya akan mendapat penderitaan baik di duni
maupun di neraka nantinya. Bahkan setelah lahir kembali pun ia akan sulit terlahir menjadi
manusia, kalaupun terlahir kembali menjadi manusia kelahirannya akan menjadi orang yang
hina dan umurnya tidak panjang.

Ada banyak alasan orang mau atau berani melakukan kejahatan pembunuhan. Tetapi
secara umum teridentifikasi penyebab pembunuhan itu karena menyimpan dendam, cemburu
baik karena cinta ataupun yang lainnya, motivasi harta atau uang terutama dalam kasus
perampokan, motivasi politik, menderita kelainan jiwa dan membela diri. Untuk alasan yang
terakhir karena membela diri dan tidak sengaja ini maka hukumannya tidak seberat yang lain.

Agar terhindar dari segala macam akibat buruk karena melakukan himsakarma, maka
setiap orang harus menghindari perbuatan ṣad ātatāyi ini. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan
umat Hindu agar terhindar dari perilaku ṣad ātatāyi ini, antara lain (Sugita,2016:65-67):

1. Senantiasa mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi, para dewa, dan leluhur melalui
berbagai upacara keagamaan. Puja Tri Sandhya setiap hari jangan diabaikan karena
akan dapat menghapuskan kegalauan hati akibat banyaknya masalah dalam kehidupan.

41

Mencurahkan keresahan hati di dalam doa sambil melantunkan lagu-lagu pujian secara
hikmat dan khusuk. Semua ini akan dapat mengurangi rasa dendam, putus asa, dan
mencegah niat untuk membunuh.
2. Serius mendengarkan, memahami, dan melaksanakan ajaran Guru, terutama Guru
Rupaka, Guru Pengajian, dan Guru Wisesa. Bagi mereka yang berani melawan guru,
maka akan mendapatkan ganjaran atau balasan berupa kesulitan sepanjang hidupnya.
Contohnya, bila seorang anak wanita yang berani melawan ibu kandungnya, bisa
kesulitan saat melahirkan anaknya di kemudian hari. Untuk itu, jangan marah kepada
guru sehingga niat untuk membunuh menjadi hilang.
3. Rajin mengikuti kegiatan keagamaan, seperti latihan Dharmagita, latihan tarian
keagamaan Hindu, latihan gamelan, Dharmawacana atau Dharmatula. Dengan latihan
seni upacara keagamaan seperti menari dan menabuh gamelan, maka akan terasah rasa
estetika yang ada di dalam diri. Budi akan semakin halus, perilaku akan semakin
berkarakter karena otak kanan kita terlatih baik. Dengan mengikuti latihan kehalusan
budi, maka keraguan akan keberadaan Sang Hyang Widhi dan hukum Karmaphala
sama sekali tidak ada. Kalau sudah yakin dengan hukum karma, maka niat untuk
membunuh dengan cara apapun akan hilang dengan sendirinya sehingga akan terhindar
dari akibat buruk Ṣad ātatāyi.
4. Perhatikan teman dekat kita. Hindari bergaul dengan para pemabuk, penjudi, pencuri,
apalagi dengan pembunuh. Pergaulan itu sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan
kita. Apabila lingkungan kita buruk, maka perilaku kita akan mempunyai
kecenderungan buruk. Kalau bergaul dengan pencuri dan pembunuh, maka cepat atau
lambat akan terpengaruh untuk menjadi pencuri dan pembunuh. Begitu juga sebaliknya,
kalau bergaul dengan orang-orang sukses, maka kita akan sukses. Dengan kata lain,
bergaul dengan orang baik akan terhindar dari niat untuk membunuh orang lain
sehingga terhindar juga dari akibat buruk melakukan pembunuhan.

42

5. Olah raga dan istirahat secara teratur. Di dalam tubuh yang sehat akan bersemayam
juga jiwa yang sehat. Jangan mengabaikan kesehatan tubuh, karena dengan tubuh yang
sehat penampilan nampak prima dan diperhatikan orang lain. Hal ini juga dapat
mencegah niat untuk melakukan pembunuhan.

6. Lakukan tapa, brata, yuga, dan samadi dengan tertib. Tapa artinya pengendalian diri,
brata artinya puasa mengendalikan makan dan minum, sedangkan samadi artinya
konsentrasi pikiran. Sebagaimana seekor ulat yang bertapa di dalam kepompong,
kemudian bisa terbang menjadi kupu-kupu. Begitu juga manusia, setelah melakukan
tapa, brata dan samadi dengan baik, maka diharapkan kecerdasannya akan bertambah,
kharisma dan wibawanya menjadi terpancar. Bagi yang wanita, kecantikannya dari
dalam akan muncul. Orang-orang sukses adalah mereka yang selalu melakukan tapa,
brata, dan samadi dari zaman ke zaman. Dengan demikian, niat untuk membunuh
menjadi tidak ada dan merasa sia-sia.

7. Latihan melakukan kebaikan. Hal ini nampaknya sederhana, tetapi melakukan kebaikan
harus dilatih dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar. Mulai dari mematikan
kran setelah memakai air, membuang sampah di tempatnya, membantu orang yang
memerlukan pertolongan, dan menyumbang darah ketika ada korban perlu darah dalam
peristiwa bencana alam.

8. Dalam Kitab Sarasamuscaya dinyatakan, mereka yang selalu melakukan kebaikan akan
terhindar dari bencana walaupun berada di atas tebing yang curam, berada di hutan
belantara ataupun di dalam perang. Hal ini terjadi karena investasi atau tabungan karma
baiknya itu yang memberikan perlindungan secara ajaib ketika musibah
mengancamnya. Ini adalah cara agar terhindar dari niat untuk melakukan pembunuhan.

9. Hidup harus sejahtera dan Weda sangat menganjurkan umat Hindu dan umat manusia
pada umumnya untuk selalu hidup makmur, damai, dan sejahtera. Artinya, agama
Hindu sama sekali tidak menyukai kemiskinan dan kebodohan. Weda diturunkan untuk

43

menuntun manusia agar tidak bodoh, karena kebodohan adalah sumber bencana yang
sesungguhnya. Weda menganjurkan umat manusia rajin belajar agar pandai. Weda
juga menganjurkan agar umat manusia hidup hemat agar bisa kaya, karena kekayaan
menjadikan kita bahagia. Kita dapat membantu orang yang memerlukan bantuan
dengan kekayaan baik berupa harta benda maupun uang. Ini merupakan tabungan
karma baik yang kelak pasti berbuah manis.

D. Ringkasan

Hindu sangat melarang keras terjadinya tindakan anarkhis yang hanya semata-mata
karena emosional belaka sebagaimana yang sering terjadi belakangan ini. Untuk itu umat
Hindu dianjurkan untuk selalu bertindak secara arif dan bijak dengan mengedepankan dasar
hukum universal yaitu cinta kasih dan kemanusiaan (Miswanto,2004:7-9). Oleh karenanya
maka tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan selain menghindari ṣad ātatāyi ini.

Adapun bagian-bagian dari ṣad ātatāyi antara lain: agnida, wiṣada, atharwa,
ṣastraghna, dratikrama, dan raja piśuna. Berikut penjelasannya :

1. Agnida adalah upaya membunuh atau melakukan kekerasan terhadap seseorang dengan
cara memberi api atau membakarnya

2. Wisada adalah upaya membunuh orang lain dengan cara memberikan racun atau
meracuni

3. Atharva adalah upaya membunuh atau menyakiti orang lain dengan menggunakan ilmu
hitam (black magic) atau ilmu sihir

4. Sastraghna adalah upaya membunuh dengan cara membabi buta atau mengamuk.
Ṣastraghna tidak mengenal sasaran atau alasan, baginya yang penting bisa membunuh
semuanya.

5. Dratikrama adalah membunuh dengan cara melakukan perbuatan memperkosa,
biasanya kaum perempuan. Perbuatan ini bisa menghancurkan masa depan si korban.

44

Orang yang menjadi korban dratikrama bisa mengalami trauma yang tidak akan
pernah terlupakan seumur hidupnya.
6. Raja Pisuna adalah fitnah keji yang digunakan untuk membunuh karakter seseorang.

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Guru).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Siswa).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Miswanto. (2018). Widyakara Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas VII. Surabaya:
MGMP PAH SMP Provinsi Jawa Timur

Sudharta, Tjokorda Rai dan Ida Bagus Oka Punia Atmaja. Upadeúa tentang Ajaran-ajaran
Agama Hindu. Surabaya: Pàramita, 2001.

Pudja, Gde. (2004). Bhagavad Gìtà (Pañcama Veda). Surabaya: Paramita.
Miswanto. (2018). Bhagawad Gìtà dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Malang: Giri

Sastra.

F. Evaluasi

Untuk memahami materi Sad Atatayi silahkan kalian mencoba menjawab beberapa
pertanyaan berikut ini!

1) Apa yang dimaksud dengan Sad Atatayi ?
2) Sebut dan jelaskan Bagian-bagian Sad Atatayi!
3) Jelaskan bagiamana upaya menghindarkan diri dari perilaku Sad Atatayi?

LAMPIRAN

Latihan Soal Latihan Soal Sad Atatayi.docx

45

MODUL 2

Semester 2 Kode Bahan Ajar No 2 kls 7

KEPEMIMPINAN

46

A. Kepemimpinan dalam Agama Hindu

Pada bagian ini anda akan mempelajari
1. Pendahuluan
2. Pemimpin dan Kepemimpinan
3. Kepemimpinan Hindu
4. Tipologi Kepemimpinan Hindu

B. Pengantar

Setelah membaca serangkaian bahan ajar dan mengerjakan soal latihan ini diharapkan siswa
dapat menjelaskan pengertian pemimpin dan kepemimpinan,, menjelaskan Tipologi
kepemimpinan Hindu

47

C. Materi

A. Pendahuluan
Pemimpin adalah unsur penting dalam sebuah komunitas, perkumpulan, organisasi,

masyarakat dan lain-lain. Selalu ada satu orang yang dituakan untuk memimpin suatu
komunitas. Bahkan dalam komunitas hewan sekali pun yang tidak memiliki undang-undang
tertulis, selalu ada seekor di antaranya yang tampil sebagai pemimpin. Bedanya, kalau
pemimpin dalam komunitas manusia, prosesnya dilalui dengan musyawarah atau pemilihan,
meski terkadang prosesnya pun tidak manusiawi. Sementara, dalam komunitas binatang,
pemimpin itu muncul setelah melalui proses adu fisik. Kelompok binatang yang lemah jangan
pernah berharap bisa jadi pemimpin. Itulah hukum rimba yang menang berkuasa yang kalah
diperdaya. Dan di alam binatang tidak mengenal lobi-lobi politik apalagi toleransi.

Pemimpin dan komunitas yang dipimpin sebenarnya memiliki hubungan yang tak dapat
dipisahkan. Analoginya seperti singa sebagai pemimpin dan komunitas hutan sebagai yang
dipimpin yang menjadi tempat tinggalnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Kakawin
Nītiśāstra Sargaḥ I pupuh10 berikut:

Singhā rakṣakaning halas halas ikang rakṣéng harīnityaśa, Singhā mwang wana tan
patūt paḍa wirodhāngdoh tikang kéśari, Rug brāṣṭa ng wana dénikang jana tinor
wrêkṣanya śirṇapaḍang, Singhānghöt ri jurang nikang têgal ayūn sāmpun dinon durbala
Terjemahan:
Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan
hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu meninggalkan hutan. Hutannya dirusak
binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang, singa yang lari
bersembunyi dalam curah, di tengah-tengah ladang, diserbu dan dibinasakan.
Singa dan hutan adalah dua unsur yang saling membutuhkan. Singa bisa menjaga hutan
dari manusia yang ingin mengeksploitasi kayu atau pohon yang ada di hutan. Begitu juga
dengan hutan yang menjadi tempat persembunyian singa bagi para pemburu yang ingin

48

menangkap singa. Jika hutan dirusak dan menjadi gundul maka tidak ada lagi tempat
persembunyian bagi singa si raja hutan. Saat para pemburu mengejarnya, maka singa pun akan
dapat dengan mudah di tangkap. Kalau pun dia keluar dari hutan dan masuk perkampungan
penduduk maka para warga pasti akan menangkapnya.

Seperti halnya antara raja dan negara. Negara ada bukan untuk raja, tetapi raja ada untuk
negara. Selain itu negara ada sebelum raja ada. Oleh karena itu raja harus bisa melindungi
negara dan rakyatnya. Jika tidak maka rakyatnya tidak akan simpatik kepadanya. Mereka bisa
saja melakukan pemberontakan kepadanya. Seperti peribahasa Indonesia yang menyebutkan,
“Raja benar raja dijulang, raja lalim raja disolang; raja adil raja disembah, raja tak adil raja
disanggah”. Selain itu jika seorang raja tidak bisa menjaga negaranya dengan baik, lalu negara
yang telah menjadi tumpuan hidupnya itu hancur, maka tak akan ada lagi wilayah yang bisa
ditempatinya. Untuk itulah dibutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan kepemimpinan
yang baik sehingga mampu membawa orang yang dipimpinnya mencapai kesejahteraan baik
lahir maupun batin.

Sebelum kita membahas lebih lanjut terkait Kepemimpinan, silahkan kalian melihat
video berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=uEZU4Con5-8

49

B. Pemimpin dan Kepemimpinan
Istilah pemimpin berasal dari kata dasar ‘pimpin’ yang dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI) diartikan sebagai ‘bimbing atau tuntun’. Kata kerja dari kata dasar ini, yaitu
‘memimpin’ yang berarti ‘membimbing atau menuntun’. Dari kata dasar ini pula lahirlah istilah
‘pemimpin’ yang berarti ‘orang yang memimpin’ (Tim Penyusun,2005:874). Kata pemimpin
mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris ‘leader’.

Sementara itu kata ‘pemimpin’ mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kata
‘kepemimpinan’. Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki dari seorang pemimpin.
Dengan kata lain, kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memimbing
dan menuntun seseorang. Jika tadi kata pemimpin mempunyai padanan kata dalam Bahasa
Inggris ‘leader’, maka kepemimpinan juga mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris
yaitu leadership. Kata ini berasal dari kata dasar ‘lead’ yang dalam Oxford Leaner’s Pocket
Dictionary (Manser, et all.,1995:236) diartikan sebagai ‘show the way, especially by going in
front’. Sementara itu kata ‘leadership’ diartikannya sebagai ‘qualities of a leader’.

Secara umum, kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan untuk mengkoordinir dan
mengerahkan orang-orang serta golongan-golongan untuk tujuan yang diinginkan (Tim
Penyusun,2004:78). Menurut William H.Newman (1968) kepemimpinan adalah kegiatan
untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik
perorangan maupun kelompok. Bahasan mengenai pemimpin dan kepemimpinan pada
umumnya menjelaskan bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik, gaya dan sifat yang
sesuai dengan kepemimpinan serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki oleh seorang
pemimpin yang baik.

Siagian (1986:12) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah keterampilan dan
kemampuan seseorang mempengaruhi perilaku orang lain, baik yang kedudukannya lebih

50


Click to View FlipBook Version