The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nicosmpn1talun, 2022-01-03 06:56:51

Modul PAH KLS 7 (1)

Modul PAH KLS 7 (1)

tinggi maupun lebih lebih rendah daripadanya dalam berpikir dan bertindak agar perilaku yang
semula mungkin individualistik dan egosentrik berubah menjadi perilaku organisasional.

Menyimak pengertian di atas maka terkait dengan kepemimpinan ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan. Pertama, kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikut.
Kedua, dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara
pemimpin dan yang dipimpin. Ketiga, kepemimpinan merupakan kemampuan menggunakan
bentuk-bentuk kekuatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Keempat, kepemimpinan
adalah suatu nilai (values), suatu proses kejiwaan yang sulit diukur.

Kepemimpinan adalah proses memimpin, memanage, mengatur, menggerakkan dan
menjalankan suatu organisasi, lembaga, birokrasi, dan sebagainya. Kepemimpinan juga
bermakna suatu values atau nilai yang sulit diukur karena berhubungan dengan proses
kejiwaan, hal ini berhubungan dengan kepemimpinan sebagai kewibawaan. Hindu
mengajarkan dalam Kautilya Arthasastra tentang tujuan proses kepemimpinan sebagai berikut.
“Apa yang membuat raja bahagia bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat
sejahtera itulah yang harus menjadi kebahagiaan seorang Raja.” Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam Kauṭilya Arthaśāstra 1.19.34 berikut:

प्रजा सुखे सुखं राज्ञः प्रजािां च हििे हििर्् । िात्महप्रयं हििं राज्ञः प्रजािां िु हप्रयं हििर्् ॥
prajā sukhe sukhaṁ rājñaḥ prajānāṁ ca hite hitam, nātmapriyaṁ hitaṁ rājñaḥ prajānāṁ
tu priyaṁ hitam.
Terjemahan:
Dalam kebahagiaan rakyat terletak kebahagiaan raja; dan kesejahteraan rakyat juga
berarti kesejahteraan rajanya. Apa yang tidak menyenangkan hati rakyatnya maka itu
juga harus menjadi hal yang tidak menggembirakan bagi sang Raja.
C. Kepemimpinan Hindu
Dalam agama Hindu, banyak ditemukan istilah yang menunjuk pada pengertian
pemimpin. Ajaran atau konsep kepemimpinan (leadership) dalam Hindu dikenal dengan istilah

51

अतिपत्ं य (adhipatyam) atau नयकत्ं व (nayakatvam). Kata ‘adhipatyam’ berasal dari kata ‘adhipati’
yang berarti ‘raja tertinggi’ (Wojowasito,1977:5). Sedangkan ‘nayakatvam’ dari kata ‘nayaka’
yang berarti ‘pemimpin, terutama, tertua, kepala’ (Wojowasito,1977:177). Di samping kata
adhipati dan nayaka yang berarti pemimpin terdapat juga beberapa istilah atau sebutan untuk
seorang pemimpin dalam menjalankan dharma negaranya yaitu: rāja, mahārāja, prabhu,
kṣatriya, swamin, iśwara dan natha. Di samping istilah-istilah tersebut di Indonesia kita kenal
istilah ratu atau datu, sang wibhuh, murdhaning jagat dan sebagainya.

Jika dikaji kembali kata NaYa (naya) yang artinya pemimpin berasal dari akar kata iNa (ni)
yang artinya’di bawah’. Ini menunjukkan bahwa seorang nayaka (pemimpin) harus berasal atau
bermula dari bawah. Pemimpin yang baik adalah yang berasal rakyat. Selanjutnya terkait
dengan hal ini Hindu menjelaskan bahwa adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat atau catur
warṇa (brahmana, kṣatriya, waiśya, dan sudra) dalam istilah Hindu, itu terkait dengan guṇa dan
karma masing-masing, bukan karena keturunannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam
Bhagawad Gītā IV.13:

चािुवमर्ण्यं र्या सषृ ्ं ट गुणकर्महवर्ागशः । िस्य किारर्हि र्ां हवद्ध्यकिारर्व्ययर्् ॥
cāturwarṇyaṁ mayā sṛṣṭaṁ guṇakarmawibhāgaśaḥ, tasya kartāram api māṁ widdhy
akartāram awyayam.
Terjemahan:
Menurut guṇa dan karma yang ada hubungannya dengan sifat-sifat itu, empat bagian
masyarakat manusia diciptakan oleh-Ku. Walaupun Akulah yang menciptakan sistem ini,
hendaknya engkau mengetahui bahwa Aku tetap sebagai yang tidak berbuat, karena Aku
tidak dapat diubah.

Hal ini adalah sejalan dengan bakat dan kemampuan atau profesi seseorang yang dalam
bahasa Sanskerta disebut dengan warṇa. Kata warṇa berasal dari akar kata v* (wṛ) yang artinya

52

pilihan bakat dan kemampuan dari seseorang (Titib,1995:10). Tentunya yang dimaksudkan di
sini adalah benar-benar memiliki kualifikasi atau kemampuan seseorang.

Bila bakat kepemimpinannya yang menonjol dan mampu memimpin sebuah organisasi
dengan baik disebut kṣatriya, karena kata kṣatriya artinya yang memberi perlindungan.
Demikian pula yang memiliki kecerdasan yang tinggi, senang terjun di bidang spiritual, ia
adalah seorang brahmana. Demikian pula profesi-profesi masyarakat seperti pedagang,
saudagar, petani, nelayan, dan sebagainya. Jadi sesungguhnya seorang kṣatriya atau pemimpin
itu bukan dilahirkan tetapi diraih dengan upaya dan kemampuan yang keras. Selanjutnya
Manawa Dharmaśāstra VII.35 menyebutkan:

स्वे स्वे धर्म हिहवष्टािां सवेषार्िुवमशः । वणािार्श्रर्ाणां च राजा सषृ ्टो ‘तर्रक्षििा
swe swe dharma niwiṣṭānāṁ sarweṣām anurwaśaḥ, warṇānām aśramāṇāṁ ca rājā sṛṣṭo
‘bhirakṣitā.
Terjemahan:
Raja/pemimpin telah diciptakan untuk melindungi warṇa dan aturannya yang semuanya
itu menurut tingkat kedudukan mereka melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka.
Dalam sejarah Hindu, banyak contoh pemimpin yang bisa dijadikan suri teladan. Di
setiap zaman dalam sejarah Hindu selalu muncul tokoh yang menjadi pemimpin. Setiap tokoh
ada masanya dan setiap masa ada tokohnya. Sebut saja mulai dari Kudungga, Mulawarman,
Purnawarman, Sanjaya, Ratu Sima, Airlangga, Ken Arok, Jayabhaya, Kertanegara, Raden
Wijaya, Tribhuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Siliwangi, hingga Dalem
Denpasarr Enggong. Di era sekarang pun, banyak tokoh Hindu yang juga dapat dijadikan
sebagai panutan/pimpinan seperti: Mahatma Gandhi, Svami Vivekananda, Svami Rāmakṛṣṇa,
Svami Dayananda Saraswatī, Sri Satya Sai, Śrila Prabupada, dan sebagainya.
Di samping itu contoh kepemimpinan Hindu yang ideal dapat ditemukan dalam kisah-
kisah Itihasa dan Purana. Banyak tokoh dalam cerita tersebut yang diidealkan menjadi

53

pemimpin Hindu, misalnya: Dasaratha, Śrī Rāma, Wibhisana, Arjuna Sasrabahu, Śantanu, Śrī
Kṛṣṇa, Māharāja Pāṇḍu, Yudiṣṭhira, dan lain-lain.

Dalam konsep Hindu, tidak boleh ada dualisme kepemimpinan. Ibarat matahari, hanya
ada satu yang menyinari bumi, maka pemimpin pun juga demikian. Sebuah perahu jika banyak
yang menahkodai, maka perahu tersebut tidak akan sampai pada tujuannya. Negara atau
organisasi jika dipimpin oleh banyak orang, maka organisasi tersebut akan sulit mencapai cita-
citanya. Selain itu akan menjadi dilema tersendiri dalam setiap pengambilan kebijakan dan
roda organisasi akan sulit berjalan hingga nantinya akan menemui kehancurannya
(Misra,2007:58-59). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Śukra Nīti 3.241:

र्ात्यके िायकं हित्ं य हिर्महुिायकर््
bhātyekanāyakaṁ nityaṁ nirbahunāyakam
(Selama masih ada satu pucuk pimpinan, dan bukan banyak yang memimpin, negara
atau organisasi akan tetap jalan dan bersinar)
Walaupun demikian seorang pemimpin tidak boleh diktator. Ia masih membutuhkan
penasehat. Dalam cerita Itihasa dan Purana, antara pemimpin (Raja) tidak bisa dipisahkan
dengan Pandita sebagai Purohito (penasehat Raja). Brahmana ksatriya sadulur artinya
penguasa dan pendeta sejalan. ‘Raja tanpa Pandita lemah, Pandita tanpa Raja akan musnah.”
Misalnya: Bhatara Guru dalam memimpin Kahyangan Jonggring Salaka dibantu oleh Maharsi
Narada sebagai penasehatnya, Maharaja Dasaratha ketika memimpin Ayodya dibantu oleh
Maharsi Wasistha, Maharaja Pāṇḍu dalam memimpin Astina dibantu oleh Krpacharya dan
sebagainya. Kemudian dalam perkembangan Zaman banyak tokoh bermunculan untuk
memajukan Hindu baik itu di Indonesia maupun di negara lain.
D. Tipologi Kepemimpinan Hindu
Dalam konsep kepemimpinan Barat yang lebih banyak dijadikan dasar adalah sikap dan
tingkah laku dari para pemimpin-pemimpin besar di dunia. Oleh kerena itu mereka banyak
mengemukakan jenis-jenis kepemimpinan yang sesuai dengan tokoh personalnya, seperti:

54

Karismatik, Paternalistik, Maternalistik, Militeristik, Otokrasi, Lassez Faire, Populistik,
Eksekutif, Demokratik, Personal, Sosial dan masih banyak lagi lainnya.

Lain halnya dengan konsep kepemimpinan Hindu. Selain dasar tersebut, yang terutama
sekali kepemimpinan Hindu bersumber dari kitab suci Weda dan diajarkan oleh para orang-
orang suci. Kepemimpinan Hindu juga banyak mengacu pada tatanan alam semesta yang
merupakan ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Berikut ini konsep-konsep Kepemimpinan
Hindu yang banyak diajarkan dalam śāstra dan suśāstra Hindu.

untuk memahami Tipologi kepemimpinan Hindu silahkan kalian membaca artikel
berikut ini:

https://handayani054.wordpress.com/2015/01/15/konsep-konsep-kepemimpinan-hindu/

D. Ringkasan

Pemimpin adalah unsur penting dalam sebuah komunitas, perkumpulan, organisasi masyarakat
dan lain-lain. Selalu ada satu orang yang dituakan untuk memimpin suatu komunitas.

Istilah pemimpin berasal dari kata dasar ‘pimpin’ yang dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) diartikan sebagai ‘bimbing atau tuntun’. Kata kerja dari kata dasar ini, yaitu
‘memimpin’ yang berarti ‘membimbing atau menuntun’. Dari kata dasar ini pula lahirlah istilah
‘pemimpin’ yang berarti ‘orang yang memimpin’ (Tim Penyusun,2005:874).Kata pemimpin
mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris ‘leader’.

Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan untuk mengkoordinir dan mengerahkan
orang-orang serta golongan-golongan untuk tujuan yang diinginkan (Tim Penyusun,2004:78).

55

Contoh kepemimpinan Hindu yang ideal dapat ditemukan dalam kisah-kisah Itihasa dan Purana.
Banyak tokoh dalam cerita tersebut yang diidealkan menjadi pemimpin Hindu, misalnya: Dasaratha,
Śrī Rāma, Wibhisana, Arjuna Sasrabahu, Śantanu, Śrī Kṛṣṇa, Māharāja Pāṇḍu, Yudiṣṭhira, dan lain-
lain.

Adapun Tipologi Kepemimpinan Hindu adalah :
1. Saḍ Warṇaning Rājanīti
2. Catur Kotamaning Nṛpati
3. Tri Upaya Sandhi
4. Pañca Upaya Sandhi
5. Aṣṭa Brata
6. Nawa Natya
7. Pañca Daśa Pramiteng Prabhu
8. Sad Upaya Guṇa
9. Pañca Satya

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Guru).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Siswa).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Miswanto. (2018). Bhagawad Gìtà dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Malang: Giri
Sastra.

Miswanto. (2015). Kakawin Nitisastra: Teks Terjemahan dan Komentar. Surabaya: Paramita
Miswanto. (2017). Niti Sang Natha, Untaian Ajaran Kepemimpinan Hindu. Malang: Giri

Sastra
Video Materi Kepemimpinan Hindu https://www.youtube.com/watch?v=uEZU4Con5-8

diakses pada hari Kamis, 25 Nov 2021

56

F. Evaluasi

Untuk memahami materi Kitab suci silahkan kalian mencoba menjawab beberapa pertanyaan
berikut ini!

1. Sebutkan dan jelaskan istilah pemimpin dalam Hindu?
2. Siapakah tujuh orang maharsi penghimpun kitab suci weda ?

LAMPIRAN

soal pemimpin.pdf

57

MODUL 3

Semester 2 Kode Bahan Ajar No 3

PANCA YAJNA

58

A. Panca Yadnya

Pada bagian ini anda akan mempelajari:
1. Pengertian Panca Yadnya
2. Bagian-bagian Panca Yadnya
3. Contoh Pelaksanaan Panca Yadnya
4. Syarat dan Kualitas Yadnya

B. Pengantar

Dalam keyakinan Hindu setiap manusia yang lahir kembali pada dasarnya mengalami
punarbhawa atau yang juga disebut sebagai saṁsara. Hakikatnya mereka belum bisa mencapai
kelepasan (mokṣa) dan masih harus menjalani saṁsara atau penderitaan. Untuk membebaskan
diri dari saṁsara tersebut maka manusia harus bisa terlepas dar hutang-hutang semasa
hidupnya. Hutang yang dimaksud adalah tiga hutang dasar manusia yang dikenal sebagai Tri
Ṛṇa.

Dalam Mahābhārata dikisahkan bagaimana Bhīṣma sebelum mencapai
pembebasannya, ia harus membayar hutang terlebih dahulu kepada Ambā yang hadir sebagai
wujud Śikhaṇḍi. Intinya selama manusia masih punya hutang baik di kehidupan yang lampau
maupun yang sekarang, maka dia tidak akan bisa mencapai mokṣa. Manawa Dharmasastra
VI.35 menegaskan:

ṛṇāni trīṇyapākṛtya mano mokṣe niweśayet |anapākṛtya mokṣaṁ tu sowamano
wrajatyadhaḥ ||
Terjemahan:
Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya kepada Tuhan, para leluhur atau orang
tua dan para ṛṣi, hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai pembebasan.
Dia yang mengejar kelepasan itu tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan
tenggelam ke alam bawah.

59

Karena adanya hutang inilah dalam ajaran agama Hindu diharapkan dapat dibayar
dengan melaksanakan Pañca Yajña. Bagian Pañca Yajña terdiri dari Dewa Yajña, Pitra Yajña,
Rsi Yajña, Manusa yajña dan Bhuta Yajña

C. Materi

1. Pengertian Panca Yadnya
Secara etimologi, kata ‘yajña’ berasal dari akar kata Sansekrta यज् (yaj) yang berarti

‘persembahan, pemujaan, penghormatan, dan korban suci’. Tradisi persembahan kepada Tuhan
dan menyembahnya dalam pengorbanan makanan dan bahan lainnya ini telah menjadi dasar
agama Hindu sejak agama ini ada. Orang-orang Zoroastrian juga mengikuti praktik serupa yang
mereka sebut yasna.

Pengertianyajña adalah kegiatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan untuk
melakukan persembahan kepada Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang pada pelaksanaan
di dalamnya mengandung unsur karya (perbuatan), śreya (tulus ikhlas), budhi (kesadaran), dan
bhakti (persembahan). Yajña dapat dilakukan secara lahiriah dalam bentuk ritual untuk
menyenangkan para dewa atau dapat dilakukan secara batin dan mental dalam pikirannya
sendiri. Secara simbolis dan spiritual semua tindakan dilakukan sebagai yajña.
Weda menyebutkan lebih dari 400 yajña, yang sebagian besar sudah ada lagi saat ini. Dalam
sejarah Hindu yajña tersebut sudah dilakukan sejak zaman Brahmana. Para brahmana membuat
persembahannya kepada Sang Hyang Agni dan kepada para dewa yang lain. Menurut Weda
tujuan yajña adalah untuk kesejahteraan dunia. Melalui yajña, manusia bisa mendapatkan
anugerah dari para dewa untuk memenuhi keinginan mereka.

Dalam kosakata bahasa Sanskerta, cara melakukan upacara yajña
adalahयजति(yajati). Tindakan atau pekerjaan yang dilakukan pada saat pengorbanan atau

60

yajña tersebut dikenal sebagai यजनं (yajanaṁ). Penyelenggara dari suatu yajña disebut disebut
यजमान(yajamāna). Formula yajña yang digunakan dalam pengorbanan itu disebut
यजुस(् yajus). Seorang brahmin yang membuat api suci dari yajña disebut यजत्र(yajatra). Setiap
yajña memiliki bagian yang disebut यज्ञाङ्ग(yajñāṅga). Masing-masing yajñāṅga ini dikelola
oleh brahmin atau kelompok brahmana tertentu. Bagian yajña yang diberikan kepada masing-
masing Dewa disebut यज्ञांश(yajñāṁśa). Tempat pelaksanaan yajña tersebut dikenal
sebagaiयज्ञशाल (yajñaśālā)

2. Bagian-bagian Panca Yadnya
Dalam ajaran Hindu dikenal 5 macam jenis yajña yang disebut sebagai pañca yajña.

Adapun bagian-bagian dari pañca yajña ini adalah: Deva yajña, Pitṛ yajña atau Pitra yajña,
Ṛṣi yajña, Manuṣa yajña, dan Bhūta yajña.

Untuk memahami bagian-bagian Panca Yadnya silahkan anda menyimak video dengan
terlebih dahulu kalian Scan barcode berikut ini:

61

3. Contoh Pelaksanaan Panca Yadnya
Pelaksanaan yajña yang berkaitan dengan Tri Ṛṇa dikelompokkan menjadi 5 yang

disebut dengan Pañca yajña. Pelaksanaan Yadnya terbagi menjadi dua yaitu secara Naimitika
Karma dan Nitya Karma. Untuk lebih memahaminya silahkan anda membaca artikel berikut
ini:

http://kb.alitmd.com/pengertian-jenis-jenis-dan-contoh-panca-yadnya/

4. Syarat dan Kualitas Yadnya
Agar pelaksanaan yajña lebih efisien, maka syarat pelaksanaan yajña perlu mendapat

perhatian, yaitu:Śāstra (harus berdasarkan Weda);Śraddha (harus dengan keyakinan);Laścarya
(keikhlasan menjadi dasar utama yajña);Dakṣiṇa (memberikan dana kepada pandita);Mantra
(puja, dan gita wajib ada pandita atau pinandita);Nāsmita(tidak untuk pamer); Anna śewanam
(pelayanan kepada masyarakat dengan cara mengundang untuk makan bersama).

Adapun kualitas dan tinglayan Yadnya sebagai berikut:
1. Kualitas Yajña

Ada tiga kualitas yajña, menurut Bhagawadgītā XVII. 11, 12, dan 13, yakni:
a. Sattwika Yajña

Sattwika yajña adalah yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat yang
telah ditentukan. Syarat-syarat yang dimaksud, antara lain:

1) Yajña harus berdasarkan sastra. Tidak boleh melaksanakan yajña sembarangan, apalagi
didasarkan pada keinginan diri sendiri karena mempunyai uang banyak. Yajña harus
melalui perhitungan hari baik dan buruk. Yajña harus berdasarkan sastra dan tradisi
yang hidup dan berkembang di masyarakat.

2) Yajña harus didasarkan keikhlasan. Jangan sampai melaksanakan yajña ragu-ragu.
Berusaha berhemat pun dilarang di dalam melaksanakan yajña. Hal ini mengingat arti

62

yajña itu adalah pengorbanan suci yang tulus ikhlas. Sang Yajamana atau
penyelenggara yajña tidak boleh kikir dan mengambil keuntungan dari kegiatan yajña.
Apabila dilakukan, maka kualitasnya bukan lagi sattwika namanya.
3) Yajña harus menghadirkan Sulinggih yang disesuaikan dengan besar kecilnya yajña.
Kalau yajñanya besar, maka sebaiknya menghadirkan seorang Sulinggih Dwijati atau
Pandita. Tetapi kalau yajñanya kecil, cukup dipuput/diselesaikan oleh seorang
Pemangku atau Pinandita saja.
4) Dalam setiap upacara yajña, Sang Yajamana harus mengeluarkan dakṣina. Dakṣina
adalah dana uang kepada Sulinggih atau Pinandita yang muput yajña. Jangan sampai
tidak melakukan itu, karena daksina adalah bentuk dari Ṛṣi yajña dalam Pañca yajña.
5) Yajña juga sebaiknya menghadirkan suara genta, gong atau mungkin Dharmagita. Hal
ini juga disesuaikan dengan besar kecilnya yajña. Apabila biaya untuk melaksanakan
yajña tidak besar, maka suara gong atau Dharmagita boleh ditiadakan

b. Rajasika Yajña
Rajasika yajña adalah kualitas yajña yang relatif lebih rendah. Walaupun semua

persyaratan dalam Sattwika yajña sudah terpenuhi, namun apabila Sang Yajamana atau yang
menyelenggarakan yajña ada niat untuk memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya atau
hanya sekedar ingin pamer saja maka nilai yajña itu menjadi rendah. Oleh karenanya suatu
upacara yajña yang besar atau uttamaning uttama, akan menjadi tercela manakala tidak ada
keikhlasan dari sang yajamana.

c. Tamasika Yajña
Tamasika yajña adalah yajña yang dilaksanakan dengan motivasi agar mendapatkan

untung. Kegiatan ini sering dilakukan sehingga dibuat Panitia yajña dan diajukan proposal
untuk melaksanakan upacara yajña dengan biaya yang sangat tinggi. Akhirnya yajña jadi

63

berantakan karena Panitia banyak mencari untung. Bahkan setelah yajña dilaksanakan,
masyarakat mempunyai hutang di sana sini. Yajña semacam ini sebaiknya jangan dilakukan
karena sangat tidak mendidik.

2. Tingkatan Yajña
Tingkatan yajña dalam hal ini hanya berhubungan dengan tingkat kemampuan dari

umat yang melaksanakan yajña. Yang terpenting dari yajña adalah kualitasnya. Namun
demikian, Weda mengakomodir perbedaan tingkat sosial masyarakat.

Bagi mereka yang kurang mampu, dipeṛṣilakan memilih yajña yang lebih kecil, yaitu
madyama atau kanista. Tetapi bagi umat yang secara ekonomi mampu, tidak salah untuk
mengambil tingkatan yajña yang lebih besar yang disebut utama.

Adapun tingkatan-tingkatan yang dimaksud, yaitu:
a. Kaniṣṭha, yajña dengan sarana yang sederhana atau minim.
b. Madyama, yajña dengan sarana menengah, tetapi disesuaikan dengan kemampuan Sang

Yajamana; dan
c. Utama, yajña yang dilakukan dengan sarana lengkap, besar, megah, dan cenderung

mewah. Biasanya dilakukan oleh mereka yang mampu secara ekonomi.

D. Ringkasan

Panca Yadnya adalah lima macam yadnya atau persembahan suci, yaitu sebagai
pelengkap dari ajaran Bhakti Marga / Bakti Yoga. Karena selain diri kita sendiri, alam semesta
ini juga berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna. Sehingga tidak
hanya manusia yang memiliki tingkatan - tingkatan spiritual, tapi alam sekitar lingkungan kita
juga. Ketika kita melakukan persembahan, vibrasi sattvam yang muncul dari persembahan akan
mengurai vibrasi unsur rajas-tamas di alam semesta ini. Upacara Panca Yadnya terdiri dari :

64

1. Dewa Yadnya, persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha
Esa dan para dewa sebagai manifestasi Beliau.

2. Rsi Yadnya, rasa hormat pada para rsi / guru.
3. Manusa Yadnya, penyucian secara spiritual terhadap manusia.
4. Pitra Yadnya, persembahan pada leluhur.
5. Bhuta Yadnya, persembahan untuk menjaga keseimbangan, keharmonisan dan

kelestarian alam semesta ini.

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Guru).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sugita, I. M. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII (Buku Siswa).
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Miswanto. (2018). Widyakara Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas VII. Surabaya:
MGMP PAH SMP Provinsi Jawa Timur

F. Evaluasi

untuk memahami materi Karmaphala silahkan kalian mencoba menjawab beberapa
pertanyaan berikut ini!

1) Berikan contoh pelaksanaan pañca di rumah dan sekolah!
2) Jelaskan mengenai tingkatan-tingkatan yajña dalam agama Hindu dan bagaimana

implementasinya di masyarakat!
3) Jelaskan mengapa umat Hindu wajib melaksanakan upacara Panca Yadnya?

LAMPIRAN

Latihan Soal Latihan Soal Panca Yadnya.docx

65


Click to View FlipBook Version