belum semuanya kenal. Masih malu-malu ceritanya. Setelah itu
dilanjutkan dengan bersih-bersih kamar yang akan kami tempati selama
sebulan. Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan di hari pertama,
karena kami sampai di sana pun hari sudah sore. Hari demi hari berlalu
saya merasa semakin mengenal sifat-sifat teman-teman KKN saya. Tak
kenal maka tak sayang. Ya istilah itu memang benar. Semakin kenal,
saya semakin nyaman dengan mereka, sepuluh kepala, dengan sepuluh
pemikiran yang berbeda dipersatukan. Punya sifat-sifat dan karakter
yang berbeda, namun, semuanya dapat teratasi dengan kekompakan
kami sebagai sebuah tim. Semuanya asyik untuk diajak kerja sama, tidak
mementingkan ego sendiri-sendiri, saling menolong dan membantu satu
sama lain, itulah yang terpenting dalam sebuah kelompok. Rasa saling
memiliki harus selalu terjalin untuk menciptakan kebersamaan diantara
satu sama lainnya.
Minggu pertama di desa belum banyak hal yang kami lakukan.
Hanya sekedar rapat koordinasi dan silaturahmi ke warga desa untuk
membuat kami kenal satu sama lainnya. Warganya begitu hangat,
sangat menerima kedatangan kami. Mereka selalu menyambut kami
dengan senyuman dan tidak lupa menyuruh kami mampir kerumah
mereka. Senang rasanya ketika bisa berbaur dengan warga Desa Banyu
Resmi. Minggu kedua kami mulai sibuk dengan kegiatan dan program
kerja kami. Setiap pagi biasanya kami sarapan nasi uduk yang harganya
Rp.1.000,-. Selesai sarapan biasanya kami pergi mengajar di SD Banyu
Resmi 01 dan SD Cikawung 02. Sesuai jadwal yang sudah disepakati
bersama. Kebetulan, saya kebagian mengajar di SD Banyu Resmi 01.
Sangat miris melihat keadaan pendidikan di sana. Jauh dari kata baik.
semua serba seadanya. Bahkan murid-murid tidak punya buku paket
untuk belajar di kelas. Lebih miris lagi ketika saya melihat kenyataan
ada anak-anak yang sudah menduduki kelas 4 SD, namun, mereka
belum lancar membaca bahkan ada yang belum bisa membaca. Sungguh
sangat memprihatinkan melihat pendidikan seperti ini. Bahkan banyak
diantara anak-anak Desa Banyu Resmi yang ketika sudah lulus Sekolah
Dasar tidak melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang selanjutnya.
Banyak alasan yang membuat mereka tidak melanjutkan pendidikan
mereka, diantaranya karena faktor biaya dan karena di Desa Banyu
Resmi sendiri belum ada Sekolah Menengah Pertama. Jika mereka ingin
126 | KKN ILVIL 009 2016
melanjutkan sekolah, mereka harus pergi ke desa sebelah sementara
desa sebelah jaraknya lumayan jauh dari Desa Banyu Resmi, dan yang
membuat saya lebih merasa miris ketika mereka tidak pernah
melaksanakan upacara bendera setiap senin pagi. Alhamdulillah kami
bisa membantu sekolah tersebut dengan membuat tiang bendera di
sekolah mereka. Setidaknya mereka harus merasakan bagaimana
upacara bendera untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air pada diri
mereka. Teman-teman saya dengan sangat antusias melatih mereka
untuk baris-berbaris. Sedikit kesusahan untuk mengajar mereka karena
mereka memang belum pernah melaksanakan upacara bendera, tetapi,
dengan sabar teman-teman saya mengajari dan membimbing mereka.
Sampai tiba dimana saatnya untuk pertama kalinya sekolah ini
melaksanakan uapacara bendera dengan keterbatasan yang ada. Haru
rasanya ketika melihat langsung. Potret kehidupan siswa-siswi Banyu
Resmi yang jauh dari kata cukup apalagi baik. Mereka sangat
bersemangat untuk pergi ke sekolah. Bahkan harus ada yang berjalan
kaki berkilo-kilo meter mendaki gunung, banyak bebatuan bahkan licin
ketika sedang hujan. Tetap salut dengan mereka yang tetap semangat
untuk pergi sekolah walaupun harus berjalan kaki berkilo-kilo meter.
Bahkan ketika sedang hujan pun mereka tetap semangat untuk pergi ke
sekolah.
Kegiatan yang dilakukan di sana begitu banyak. Sampai-sampai
waktu tak terasa begitu cepat berlalu, dari pagi, selesai shalat subuh
biasanya kami sudah memulai kegiatan-kegiatan kami. Baik itu kegiatan
individu, maupun kegiatan kelompok. Biasanya, buat perempuan yang
lagi tidak ada kegiatan diisi dengan memasak di dapur. Ya masak
seadanya pastinya. Setiap hari ketemunya tidak jauh-jauh dari tahu,
tempe dan telor. Alhamdulillah tetap disyukuri dan tetap terasa nikmat.
Alasanya, selain menghemat pengeluaran, di sini tidak ada pasar yang
menjual sayur-sayuran. Biasanya kami membeli di tukang sayur yang
selalu berjualan di pos ronda desa. Jadi, tukang sayur langganan selama
sebulan. Punya kelompok yang laki-lakinya bisa masak itu rasanya luar
biasa. Bahkan masakannya gak kalah enak sama yang perempuan. Kalau
yang perempuan lagi ada kegiatan, seperti saat pengajian kamis pagi,
biasanya anak laki-lakilah yang bekerja di dapur. Saling mengisi
kekosongan sebagai sebuah tim, dari pagi, biasanya kami mengajar di
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 127
sekolah yang sudah ditentukan jadwalnya. Siangnya, jika ada kegiatan
kelompok maka diisi dengan kegiatan kelompok sampai sore, dan jika
malam hari, biasanya diisi dengan shalat magrib berjama’ah. Biasanya
yang perempuan shalatnya berjamaah dan selesai shalat kami biasanya
duduk bercengkrama di ruang tamu rumah Abah sambil membahas
program kerja atau hanya sekedar bersenda gurau. Rasanya bahagia
banget saat bisa bersenda gurau dengan mereka. Selalu ada saja yang bisa
dibikin jadi bahan ketawa. Rasa capek seharian jadi hilang.
Minggu ketiga di desa kegiatan kami disibukkan dengan
menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua pihak
terlihat sangat antusias. Mulai dari anak-anak kecil, bahkan sampai
lanjut usia. Mereka terlihat sangat terhibur dengan perlombaan yang
diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa KKN. Senyum mereka adalah
kebahagiaan kami. Itulah yang terpenting buat kami. Tak peduli seletih
apapun, ketika melihat masyarakat Banyu Resmi tersenyum dan
terhibur bahagia membuat rasa letih kami pun seketika hilang. Banyak
perlombaan yang kami adakan. Mulai dari lomba kelereng, balap
karung, memasukkan belut ke dalam botol, lomba makan kerupuk,
panjat pinang, tarik tambang. Perlombaan yang sederhana tapi terlihat
meriah. Semua warga terlihat sangat menikmati setiap lomba yang ada
apalagi anak-anak. Sepulang sekolah, bahkan mereka sudah rela
mengantri di balai desa untuk sekedar daftar nama mereka untuk ikut
lomba yang mereka sukai. Satu perlombaan bahkan bisa 50 anak yang
ikut. Bukan hanya anak-anak, ibu-ibu bahkan bapak-bapak pun sangat
antusias mengikuti perlomban yang ada. Melihat antusias mereka kami
menjadi lebih semangat lagi. Kelompok ILVIL juga sempat mengadakan
barbeque. Barbeque di sini bukannya bakar-bakar daging, tetapi barbeque di
sini memiliki arti “barang bekas berkualitas”. Kami menjual barang-
barang kami khususnya baju yang sudah kami kumpulkan jauh-jauh
hari sebelum KKN untuk dijual dengan harga yang murah. Rp.1.000,-
sampai Rp10.000,- untuk setiap baju. Bagian menjual adalah tugas yang
perempuan. Kami membuka lapak kami di pos ronda yang biasanya
setiap sorenya banyak warga yang berkumpul dan bercengkrama di
sana. Pertama kali jualan, warga langsung berdatangan dan berebutan
buat mencari baju yang mereka sukai. Sempat kewalahan tapi
128 | KKN ILVIL 009 2016
senengnya ketika warga antusias itu tidak bisa digambarkan. Suara
habis terik-teriak, harus melayani ibu-ibu yang kebanyakan
menawarnya. Namanya juga ibu-ibu. Uang yang kami dapat dari
menjual barang bekas berkualitas kami kumpulkan untuk santunan
anak yatim yang diadakan di malam penutupan.
Minggu keempat kami mulai sibuk dengan persiapan tabligh
akbar dan santunan anak yatim. Satu hal yang membuat saya salut
dengan warga Banyu Resmi adalah soal keagamaan mereka yang masih
sangat kental dan terjaga. Hampir setiap hari selalu ada pengajian di
desa ini. Biasanya sudah dijadwalkan hari apa dan di kampung apa.
Begitu terus selama seminggu. Kami juga biasanya mengikuti pengajian
rutin setiap hari kamis pagi bagi yang perempuan, dan malam bagi yang
laki-laki. Persiapan tabligh akbar sudah mulai ditetapkan jauh-jauh
hari, karena ini penutupan, maka harus dipersiapkan sebaik mungkin.
Mulai dari tenda, sound system sampai konsumsinya. Semua berjalan
dengan lancar dan dimudahkan alhamdulillah. Hal yang paling membuat
saya terkesan ketika sedang ngadain ngeliwet bareng warga setiap malam
minggu. Makan seadanya, tapi kalo bersama jadi terasa nikmat. Selalu
dibantu oleh ibu-ibu di sana untuk mempersiapkan makanan buat
ngeliwet bareng warga. Makasih Umi, ibu RT, teteh-teteh semuanya yang
udah bantuin kita selama ini. Setiap kali mengadakan ngeliwet selalu saja
ada cerita seru dan mengesankan. Kami biasanya melakukan ngeliwet
seminggu sekali, walaupun makan seadanya, namun terasa sangat
nikmat karena dilakukan dengan ikhlas dan secara bersama-sama.
Biasanya, ngeliwet dilakukan pada malam hari, dan pagi harinya kami
sudah berkonsultasi dengan ibu-ibu desa untuk menanyakan bahan-
bahan apa saja yang perlu kami beli. Warga desa senantiasa membantu
kami dalam keadaan apapun. Hal itu yang membuat kami merasa
mereka seperti keluarga kami sendiri. Ketika sore hari, biasanya kami
mulai mengumpulkan ibu-ibu desa untuk ikut memasak bersama kami.
Bahakan biasanya tanpa kami bilang pun mereka akan senantiasa
datang untuk membantu kami, dan ketika malam hari biasanya yang
laki-laki mempersiapkan proyektor untuk nonton bareng bersama warga
sambil menunggu masakan siap untuk dimakan. Maka dari itu, tak
jarang ketika malam minggu suasana desa menjadi sangat ramai dan
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 129
meriah. Sungguh kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan dalam
hidup saya.
Saya sangat bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka.
Kami berusaha untuk menutupi kekurangan satu sama lainnya. Kami
berusaha untuk melakukan apapun secara bersama dan tidak
mementingkan ego masing-masing. Setiap permasalahan yang ada, kami
selesaikan secara kekeluargaan. Satu bulan terasa sangat sebentar dan
memiliki banyak kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan semur
hidup saya.
Banyu Resmi Punya Cerita
Desa Banyu Resmi, ya ketika mendengar nama itu mungkin akan
terasa asing. Bahkan mungkin banyak yang tidak mengenal desa dengan
begitu banyak keindahan di dalamnya ini. Banyu Resmi adalah sebuah
nama desa yang berada di Cigudeg, Bogor. Desa yang memiliki alam
yang masih begitu asri. Hamparan kebun teh yang begitu luas dan sejuk
dapat kita jumpai sepanjang perjalanan kita menuju Banyu Resmi.
Ditambah lagi dengan udara pegunungan yang masih sangat asri.
Membuat saya ingin kembali lagi dan lagi ke desa ini. Udara yang
mungkin tidak akan pernah didapatkan ketika tinggal di perkotaan.
Penduduk Desa Banyu Resmi sendiri terbilang banyak. Meskipun jarak
rumah mereka tidak berdekatan satu sama lainnya, dari kampung satu
ke kampung lainnya memiliki jarak yang tidak begitu dekat. Hal ini
pula yang membuat kami sedikit kesulitan untuk menjangkau
keseluruhan kampung yang ada di Desa Banyu Resmi.
Penduduk Desa Banyu Resmi sangat ramah dan murah senyum.
Mereka sangat kekeluargaan bahkan mereka menganggap kami seperti
bagian dari keluarga mereka. Hal ini pula yang membuat saya merasa
seakan-akan saya berada di rumah sendiri bukan di tempat asing.
Mereka sangat suka berkumpul sekedar untuk bercengkrama bersama
tetangga, dan satu hal yang paling membuat saya salut adalah penduduk
desa yang masih sangat kental kegiatan keagamaannya. Hampir setiap
hari selalu ada pengajian di Desa Banyu Resmi. Pengajian ibu-ibu
biasanya diadakan pada pagi hari. Sedangkan pengajian bapak-bapak
biasanya diadakan pada malam hari. Kami juga senantiasa mengikuti
setiap kegiatan keagamaan yang ada di Desa Banyu Resmi. Warga di
130 | KKN ILVIL 009 2016
sini senantisa mengajarkan kami akan banyak hal. Terutama tentang
kebersamaan yang mereka bangun dengan begitu kental.
Dalam hal pendidikan, Banyu Resmi masih jauh dari kata baik.
hal ini dapat dilihat dari kondisi sekolah-sekolah yang ada di desa ini.
Masih jauh dari kata layak untuk disebut sebagai sekolah. Bangunan
dan kegiatan sekolah hanya dibuat seadanya. Padahal, tekad anak-anak
di sini untuk bersekolah sangat besar. Meskipun anak-anak Banyu
Resmi harus berjalan kaki untuk sampai ke sekolah, namun mereka
terlihat sangat bersemangat. Begitu banyak pembelajaran yang saya
dapatkan ketika saya berada di Banyu Resmi. Terutama tentang
pembelajaran hidup, mandiri dan hidup apa adanya. Sungguh pelajaran
yang tidak akan saya dapatkan di bangku kuliah. Sebuah desa yang
sederhana namun makna kehidupan di dalamnya sangat luar biasa.
Thanks Banyu Resmi
Benar-benar waktu sebulan yang tidak terasa. Begitu cepat hari
demi hari berlalu. Keharuan saat pamitan pun tak dapat dihindarkan.
Rasanya sedih, haru, semauanya jadi satu. Sedih harus meninggalkan
desa yang warganya memberikan saya banyak pengalaman hidup.
Pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya berada
dirumah. Pengalaman yag tidak akan bisa dibeli dan akan terus saya
kenang sampai kapanpun. Disambut dengan senyuman, dan dilepas
dengan keharuan oleh warga desa. Perpisahan hanya untuk sementara,
karena, desa ini membuat saya ingin untuk terus kembali dan kembali
lagi. Begitu banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan di Desa
Banyu Resmi. Tidak akan saya dapatkan jika saya tidak KKN. Tidak
akan saya dapatkan jika saya tidak tinggal di sini. Masih banyak
kenangan indah yang terukir selama saya tinggal di Banyu Resmi. Tidak
ada habisnya jika diceritakan. Terkhusus teman-teman ILVIL, jaga terus
silaturahmi kita sampai kapan pun. KKN berakhir bukan berarti
pertemanan pun berakhir.
Spesial ucapan terima kasih untuk Abah dan Umi yang sudah
kami anggap sebagai orang tua kami sendiri, yang sudah mau rela
membagi rumahnya untuk kami tinggal, yang sudah mau berbagi air di
kamar mandi walaupun susah untuk kami mandi, yang sudah mau kami
repotkan selama sebulan kami di sana dan tidak pernah mengeluh
terhadap kami. Kami banyak belajar dari sosok Abah dan Umi selama ini.
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 131
Kebaikan Abah dan Umi akan selalu kami ingat sampai kapan pun.
Terima kasih buat semua masyarakat Banyu Resmi, sudah mengajarkan
kita makna kehidupan yang sebenarnya, untuk kebaikan mereka yang
luar biasa. Punya sedikit tapi tetap ikhlas memberi. Selalu mau
membantu kegiatan kami dengan ikhlas, karena tanpa mereka, kami
tidak akan bisa melakukan apa-apa. Kebahagiaan mereka adalah
kebahagian kami. Ketika mereka bahagia kami akan lebih bahagia.
Harapan kami semoga Desa Banyu Resmi semakin maju lagi dari tahun
ketahun, karena Desa Banyu Resmi begitu kaya dengan alamnya dan itu
seharusnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di sana.
132 | KKN ILVIL 009 2016
6
PENGALAMAN BARU YANG BERHARGA
Puja Ahmad Habibi
Kegelisahan Sebelum KKN
Nama saya Puja Ahmad Habibi, biasa dipanggil Habibi. Saya
adalah mahasiswa semester 7 dari Fakultas Sains dan Teknologi,
Jurusan Teknik Informatika. Di sini saya akan menceritakan tentang
pengalaman saya tentang persepsi saya tentang KKN sebelum ke lokasi,
kendala terbesar yang saya bayangkan sebelum menghadapi KKN dan
persepsi saya setelah melalui KKN. Sebelumnya, saya hanya mengetahui
bahwa KKN itu kita berada di suatu desa terpencil dimana kita harus
membuat atau melakukan sesuatu yang dapat membantu warga desa.
Hal yang saya takutkan adalah hal apa yang akan saya lakukan ketika di
desa, dan sesuatu apa yang akan saya berikan ketika saya di desa
dimana sesuatu tersebut dapat membantu warga desa sana atau
bermanfaat bagi warga desa, karena berdasarkan informasi yang saya
dapatkan dari senior, yang pernah KKN, kebanyakan dari mereka
kegiatannya adalah mengajar anak SD. Jujur saya adalah orang yang
sangat pemalu untuk tampil di depan umum, apalagi saya akan
menghadapi anak kecil. Di samping itu pula saya tidak tahu mau
mengajari mereka apa. Jika saya mendapatkan desa yang kurang maju,
terpecil dan minim akan pengetahuan tentang komputer tentu akan
susah, apalagi tidak ada fasilitas yang mendukung. Jadi, saya mencari
informasi dari senior saya dan meminta saran dari mereka sebaiknya apa
yang harus saya lakukan untuk membuat kegiatan di desa nanti.
Selain itu, saya juga takut bahwa nanti ketika KKN saya akan
mendapatkan desa yang tidak bagus seperti, kesusahan air, dimana
persepsi saya ketika KKN saya tidak akan mandi selama 1 bulan penuh.
Selain itu, saya pernah mendengar cerita dari senior atau kakak
mahasiswa, baik dari UIN ataupun dari kampus lain yang pernah
merasakan KKN bahwa, kebanyakan ketika di desa, ada anggota
kelompok mereka yang kehilangan barang berharga seperti laptop,
motor, dan lain-lain. Ada juga kelompok KKN yang sampai memiliki
konfilk atau ribut dengan warga desa di sana, sehingga mereka
mendapatkan nilai yang tidak memuaskan, tetapi, ada juga yang bilang
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 133
bahwa KKN itu adalah hal yang menyenangkan, namun cukup sekali
saja terjadi dalam hidup, karena mereka beranggapan bahwa KKN itu
berarti kita sedang berlibur di desa. Tidak hanya itu saja, kendala saya
ketika akan menghadapi KKN yaitu, saya tidak tahu bagaimana saya
dapat teman kelompok KKN saya. Saya takut bahwa saya akan
mendapatkan teman KKN yang tidak enak, tidak membuat saya
nyaman, dan yang paling penting tidak ada dari teman kelompok KKN
saya yang bisa masak, karena, saya kira di desa bakal kesulitan untuk
mencari makanan, karena, makan merupakan kebutuhan pokok
manusia untuk dapat bertahan hidup. Terlebih lagi kalau soal makanan,
saya adalah orang yang sangat pemilih dalam hal makanan. Jadi, saya
akan makan makanan yang hanya saya sukai saja. Kendala lain ketika
saya akan menghadapi KKN yaitu, sulitnya untuk mendapatkan sinyal
karena lokasi desa yang tidak bisa dijangkau oleh sinyal, sehingga
sangat sulit untuk berkomunikasi dengan telepon genggam atau
membuat panggilan melalui telepon, dan juga untuk keperluan yang
menggunakan jaringan internet seperti mengakses sosial media,
mengakses internet, dan lain-lain.
Terakhir dan paling penting, kendala terbesar yang ada di pikiran
saya yaitu saya bingung dan tidak punya ide program kerja apa yang
akan saya terapkan di desa nanti. Ketika KKN mahasiswa juga harus
punya program kerja individu yang nanti akan diterapkan di desa,
untuk hal ini, saya tidak memiliki sama sekali ide tentang program kerja
apa yang akan saya terapkan di desa nanti, dan juga akan bermanfaat
untuk desa yang akan saya datangi tentunya. Selain itu, karena saya
hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang IT dan
komputer, saya hanya memikirkan program kerja apa yang bisa saya
lakukan yang berguna untuk warga desa nanti yang berhubungan
dengan komputer. Lalu, bagaimana jika di desa tersebut kurangnya
fasilitas yang berbau teknologi seperti komputer, handphone, internet,
dan lain-lain. Akhirnya, untuk menghilangkan rasa kebingungan saya
tersebut, saya berkonsultasi dan bertanya pada senior saya yang
Jurusannya sama dengan saya. Banyak dari mereka melakukan program
kerja seperti, penyediaan website untuk desa, dan pelatihan Microsoft
Office untuk warga desa baik itu anak sekolah, maupun warga desa yang
bekerja di kantor desa. Pada akhirnya, di dalam pikiran saya timbul
134 | KKN ILVIL 009 2016
bahwa, mungkin saya juga akan membuat program kerja yang kurang
lebih sama dengan mereka.
Teman Baru dan Pengalaman Baru
Sebelumnya saya sempat bercerita bahwa saya akan kesusahan
untuk menemukan teman kelompok KKN yang membuat saya nyaman
dan akan melancarkan serta membantu saya ketika KKN, karena saya
adalah orang yang kurang suka untuk bersosialisasi atau kurang
berbaur dengan orang banyak seperti tidak mengikuti kegiatan
organisasi. Lalu, pihak PPM yang menyelenggarakan kegiatan KKN ini
akhirnya membuat kebijakan baru dimana kelompok KKN nanti
mereka yang menentukan, dengan kebijakan tersebut, masalah saya
untuk mencari teman kelompok KKN terselesaikan dan saya hanya
berharap bahwa saya ditempatkan di kelompok yang anggotanya
menyenangkan dan mau diajak bekerja sama, kemudian saya dan teman
kelompok KKN saya dipertemukan pada acara pembekalan KKN yang
diadakan di Auditorium Harun Nasution. Di sana, tidak hanya
mempertemukan anggota kelompok KKN, tetapi juga dari pihak PPM
memberikan nasihat dan tugas yang harus dilakukan untuk
menghadapi KKN nanti. Teman kelompok KKN saya Herisfina Fauziah
(Risfi), Rahmawati Rahayu N. (Ayu), Muhammad Nu'man (Nu’man),
Muhammad Fajar Khamil (Fajar), Patimah Batubara (Patimah), Ahmad
Fachri (Fachri), Erna Putri Lestari (Erna), Afifah Azmi Sholihati
(Afifah), Badru Hawasi (Badru), dan Umar Abdul Aziz (Umar).
Pada awalnya saya dan teman kelompok KKN saya agak canggung
karena kami pertama kali untuk bertemu. Pertama, kami
memperkenalkan diri masing-masing, mendiskusikan siapa yang akan
menjadi ketua kelompok. Awalnya, Umar adalah ketua kelompok kami,
namun, hari-hari berikutnya dia tidak pernah datang ketika kami
mengadakan rapat bahkan dia juga tidak mengikuti kegiatan KKN.
Tidak ada yang tau dia kemana dan akhirnya kami pun memutuskan
untuk mengganti ketua kelompok kami yaitu Nu’man. Sekitar 2 hari
setelah acara pembekalan, pihak PPM memberikan pengumuman di
website UIN tentang pembagian desa. Kelompok saya mendapatkan Desa
Banyu Resmi, yang terletak di Bogor. Kelompok saya mendapatkan
tempat yang sama dengan kelompok 008. Hari-hari berikutnya kadang
tiap minggu kami mengadakan rapat untuk membahas apa saja yang
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 135
akan dilakukan ketika KKN nanti, dan kapan akan melakukan survei ke
desa, dan lain lain. Sayangnya, setiap kali teman saya mau pergi
melakukan survei ke desa, saya tidak bisa ikut berpartisipasi karena ada
halangan yang harus saya hadapi seperti ujian, presentasi, dan
mengikuti kegiatan di luar. Untungnya teman saya memaklumi akan hal
itu, walaupun saya merasa tidak enak pada mereka, kemudian, saya
bertanya kepada teman saya yang melakukan survei tentang apa saja
informasi yang mereka dapatkan. Kelompok saya pada awalnya agak
kesulitan dalam mencari nama kelompok KKN yang bagus, tetapi pada
akhirnya kami mendapatkan nama kelompok yang pas, dan tetapi
menurut saya agak aneh namanya kalau disingkat. Nama kelompok
KKN kami yaitu Insieme Fiil Village atau disingkat (ILVIL) yang artinya
kebersamaan di desa.
Kemudian datanglah hari dimana kami semua berangkat menuju
lokasi KKN bersama-sama. Selama keberangkatan, saya diiringi dengan
perasaan deg-degan apakah saya mampu bertahan dan dapat
mejalankan berbagai kegiatan selama KKN, tetapi, saya berharap dan
berdo’a kepada Allah Subhanahuwata’ala, semoga pada KKN ini saya
mendapatkan hikmah, manfaat, dan diberikan kelancaran ketika saya
menjalankan KKN ini. Pada tanggal 25 Juli 2016, semua kelompok
peserta KKN dikumpulkan di halaman parkir Student Center (SC) UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus menghadiri acara pelepasan oleh
pihak kampus. Setelah acara pelepasan, seluruh kelompok
diperbolehkan untuk meninggalkan kampus dan pergi menuju lokasi
KKN masing-masing. Saya dan kelompok saya berangkat menuju lokasi
desa bersama kelompok 008, karena kelompok 008 dan kelompok 009
lokasi KKN-nya di desa yang sama. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu
perjalan yang ditempuh untuk sampai ke Desa Banyu Resmi, akhirnya
kami sampai di Desa Banyu Resmi dengan selamat.
Setelah sampai di desa, kami langsung menuju rumah yang kami
tempati di Desa Banyu Resmi selama KKN dan merapikan barang-
barang bawaan yang kami bawa, baik keperluan pribadi maupun
keperluan kelompok. Setelah semua barang-barang dirapikan, kami
beristirahat sejenak. Kami mendapatkan tempat tinggal di salah satu
rumah tokoh desa di Banyu Resmi yang dekat dengan kantor desa yang
bernama Pak Jumhari atau dengan panggilan akrabnya Mang Jum.
136 | KKN ILVIL 009 2016
Sesudah shalat maghrib, kami bersilaturahmi dengan pemilik rumah,
agar bisa terjalin komunikasi dan interaksi yang lancar. Setelah itu,
kami dengan kelompok 008 mengadakan rapat bersama untuk
mendiskusikan tentang acara pembukaan KKN yang akan diadakan
pada hari besoknya atau hari ke-2 kegiatan KKN, karena kelompok 008
dan 009 berada pada satu lokasi yang sama, maka kami pun
mengadakan acara pembukaan bersama, karena selain tujuannya sama
dan berasal dari lembaga universitas yang sama, juga untuk
meminimalisir pengeluaran biaya dari tiap kelompok. Pada saat rapat
tersebut, kami membicarakan kapan waktu yang tepat untuk
diadakannya acara pembukaan KKN, bagaimana konsep untuk acara
pembukaan tersebut, membuat divisi serta menentukan tugasnya dari
masing-masing divisi, menentukan siapa saja yang akan mengisi acara
pada saat acara pembukaan berlangsung, dan mempersiapkan segala
keperluan untuk acara pembukaan tersebut. Tujuan diadakannya acara
pembukaan KKN agar masyarat mengetahui dan mengenal mahasiswa
yang mengikuti KKN dan juga agar kami, mahasiswa, dapat berbaur
dengan masyarakat. Setelah rapat selesai kami kembali ke tempat
tinggal masing-masing untuk beristirahat dan tidur agar acara
pembukaan besok bisa berjalan dengan lancar.
Kemudian, besok paginya, kami pun datang ke rumah warga
sekitar untuk menginformasikan kepada warga untuk menghadiri acara
pembukaan KKN kami yang akan diselenggarakan di kantor desa pada
puku 20.00 setelah shalat isya. Pada akhirnya, ketika tiba waktunya
untuk acara pembukaan, acara pun berjalan dengan lancar dan meriah,
diikuti dengan antusiasme dari warga yang datang ke acara pembukaan
tersebut. Acara pembukaan KKN pun diakhiri dengan pemotongan pita
dan menyalakan kembang api.
Pada hari ke-3 KKN, saya beserta teman kelompok saya dengan
kelompok 008 melakukan rapat bersama lagi pada pagi harinya untuk
mendiskusikan tentang program kerja apa saja yang kira-kira memiliki
kesamaan program kerja baik dari kelompok saya, kelompok 009,
maupun dari kelompok 008, sehingga program kerja tersebut bisa
dikerjakan secara bersama-sama. Program kerja yang sama yaitu,
pembuatan batas desa, mengajar di sekolah dasar, gotong-royong, dan
makan bersama dengan warga. Setelah dirundingkan, kami
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 137
memutuskan untuk menjalani semuanya secara bersama tanpa adanya
konflik antar kelompok.
Hari demi hari pun kami lewati bersama-sama. Satu per satu
kegiatan dan program kerja yang kami selenggarakan di desa dapat
kami laksanakan dan berjalan dengan lancar, dari situ pula terlihat rasa
kekeluargaan di dalam kelompok seperti makan bersama-sama,
bercanda dan tertawa bersama-sama, masak sama-sama, dan tidur
bersama-sama, dari situ pula saya mulai mengetahui sifat dari masing-
masing teman kelompok saya. Ada yang senang berbaur dengan warga,
senang bermain dengan anak-anak yang ada di desa, senang memasak,
dan ada juga yang bisa membuat suasana menjadi menyenangkan
karena lawakan dan candanya. Itulah yang menyebabkan kami menjadi
cepat akrab, padahal bisa dibilang saya dan teman kelompok saya yang
lain belum kenal begitu lama. Kami selalu sarapan bersama-sama setiap
hari, dan bernyanyi bersama di malam hari, bahkan hampir setiap
malam. Itulah yang bikin saya tidak bisa lupa dengan momen-momen
yang terjadi di KKN ini. Menurut saya bisa dibilang kelompok kami
tidak ada konflik karena jika ada masalah biasanya kami ungkapkan
dan kami diskusikan bagaimana penyelesainnya.
Pada hari terakhir KKN perasaan saya sedih campur bahagia.
Sedihnya karena pengalaman yang saya lalui bersama teman kelompok
saya mengajarkan banyak hal tentang bekerja sama, menyelesaikan
masalah sama-sama, menumbuhkan jiwa sosial yang ada di dalam diri
saya, dan tidak menjadi pribadi yang egois. Senangnya yaitu, karena hal
yang saya takutkan terhadap KKN dapat saya lalui dan saya hadapi
dengan lancar. Ternyata memang benar apa yang orang lain katakan
tentang KKN, bahwa KKN adalah hal yang menyenangkan tetapi cukup
sekali saja terjadi di dalam hidup. Setelah KKN ini berakhir, kami harus
kembali ke kampus untuk melanjutkan dan menyelesaikan tugas dan
kewajiban perkuliahan yang kami miliki. Saya berharap, semoga kita
semua menjadi orang yang sukses dan dapat menjadi orang yang
bermanfaat bagi orang banyak.
Sebelum saya menempati Desa Banyu Resmi, saya sebelumnya
tidak pernah mengikuti survei bersama teman kelompok saya karena
ada saja halangan yang membuat saya untuk tidak bisa ikut survei.
Menurut info yang saya dapatkan dari teman KKN saya bahwa sejauh
138 | KKN ILVIL 009 2016
ini untuk mencari bahan makanan cukup mudah, dan air di sana cukup
lancar, dan di sana ada sinyal walaupun cuma kartu XL saja yang bisa
beroperasi di sana. Lalu saya punya rencana kegiatan untuk mengajari
orang kantor desa tentang komputer dan pengadaan pelatihan Microsoft
Office agar mereka lebih mengerti dan dapat menyelesaikan pekerjaan
kantor mereka dengan cepat, tetapi, kebanyakan pegawai kantor desa
di sana tidak tau cara mengoperasikan komputer atau laptop, dan juga
yang mempunyai laptop dan mengerti cara mengoperasikannya hanya
satu orang yaitu sekretaris desa. Hal itu membuat saya berpikir ulang
dan memutar otak saya untuk membuat suatu kegiatan yang
berhubungan dengan komputer atau teknologi yang bisa
diselenggarakan di desa sana. Kondisi lingkungan di Desa Banyu Resmi
lumayan bersih. Hal ini karena masyarakat di sana cukup peduli
terhadap kebersihan lingkungan di tempat tinggal mereka, namun
sayangnya kurangnya fasilitas tempat sampah di sekitar wilayah tempat
tinggal mereka. Halaman teras kantor balai desa, terdapat seperti
halaman parkir, kondisinya agak kurang bersih karena banyak debu
yang tidak dibersihkan di halaman teras tersebut.
Kebersamaan Bersama Warga Desa Bayu Resmi
Masyarakat di Desa Banyu Resmi sangat ramah, dan baik
terhadap sesama warganya, namun, kepala desanya tidak pernah
berinteraksi sama sekali dengan warga, sehingga, kepala desanya
kurang mengetahui kondisi dari warganya dan masalah yang di hadapi
oleh warganya. Selain itu, banyak juga program kerja kami yang dibantu
oleh warga sekitar seperti pembangunan untuk membuat batas desa,
membuat tiang gawang di sekolah, membantu memasak makanan
untuk acara makan malam bersama, persiapan untuk acara 17 Agustus,
dan pemasangan serta mendekorasi tenda bersama warga untuk acara
penutupan KKN. Terkadang, saya dan teman saya makan nasi uduk di
warung dekat rumah yang kami menginap. Terkadang, pada malam
hari, kami ikut berkumpul dengan warga, terutama bapak-bapak,
sambil bercerita, bersenda gurau, dan meminum kopi bersama di pos
ronda. Setiap malam minggu kami kelompok 008 dan kelompok 009
selalu makan bersama warga sekitar dengan menggunakan alas daun
pisang yang disusun memanjang. Di sana banyak sekali pemandangan
yang indah seperti gunung dan sawah yang mungkin akan jarang sekali
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 139
untuk ditemukan di daerah perkotaan. Tidak hanya itu, banyak juga
pemandangan sawah yang dapat ditemui di sana yang dapat
menyejukkan mata. Tidak terasa hari demi hari pun kami lalui bersama
warga. Semakin lama kami menjadi mulai semakin akrab dengan warga
yang ada di Desa Banyu Resmi. Tidak terasa acara penutupan tiba.
Acara penutup, kami menyelenggarakan acara tabligh akbar
bersama warga sekaligus acara penutup. Acara penutup pun
berlangsung diiringi dengan turunnya hujan, untuk kata sambutan
terakhir diwakili oleh teman saya Badru. Dia menyampaikan kata-kata
yang mewakili perasaan kami semua dan mengucapkan terima kasih
karena sudah menerima kami di desa dan membantu kami dalam
menjalankan program kerja kami. Pengalaman KKN ini menjadi
pengalaman berharga bagi saya dan juga memberikan saya banyak
pelajaran untuk peduli dan saling membantu antar sesama manusia.
Saya rasa, setelah mengikuti KKN ini, dapat menimbulkan jiwa sosial
saya sehingga saya dapat berkontribusi bagi warga sekitar, bagi negara
saya, dan bagi dunia.
Empati Saya Terhadap Desa Resmi
Saya sangat berempati terhadap warga yang memiliki semangat
tinggi untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan juga
memiliki antusias untuk memajukan dan memakmurkan desanya,
khususnya di bidang teknologi atau dapat menyelesaikan suatu
permasalahan di desa dengan teknologi, dengan pendidikan, mereka
dapat banyak peluang untuk memakmurkan, mensejahterakan, dan
mencerdaskan warga desa di tempat mereka tinggal, sedangkan dengan
teknologi, mereka dapat mengakses informasi dengan mudah, sehingga
mereka dapat mengetahui perkembangan yang ada baik di Indonesia
maupun di seluruh dunia. Selain itu, dengan teknologi pula banyak ilmu
pengetahuan yang bakal mereka dapat. Bahkan, dengan teknologi
mereka juga dapat menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.
Saya berharap, pemerintah dapat memperhatikan dan membenahi desa-
desa yang terpencil dan tertinggal.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang banyak dan sumber
daya manusia yang memiliki pontensial yang bagus, terutama di Desa
Banyu Resmi. Namun sayangnya, warga di Desa Banyu Resmi kadang
menganggap remeh terhadap teknologi dan pengetahuan baru.
140 | KKN ILVIL 009 2016
Kebanyakan dari mereka menolak untuk mempelajari hal yang baru
karena rasa ingin tahu mereka yang rendah. Hal itulah yang membuat
saya berempati dan prihatin terhadap kondisi warga di desa. Merubah
pola pikir warga desa untuk mau belajar hal baru dan menumbuhkan
minat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi itu adalah hal cukup sulit
untuk dilakukan. Apabila hal tersebut bisa diatasi, saya yakin,
masyarakat di desa akan menjadi masyarakat yang maju dan modern
seperti orang yang tinggal di kota. Selain itu, mereka juga dapat
memecahkan masalah yang mereka hadapi di desa mereka dan dapat
membuat lapangan pekerjaan baru, sehingga, warga desa dapat bekerja
dan menghidupi keluarganya, dengan kata lain, perekonomian warga di
Desa Banyu Resmi dapat meningkat dan penduduknya akan hidup
makmur. Selain itu, masih banyak juga lahan kosong yang terdapat di
Desa Banyu Resmi yang bisa digunakan untuk lahan pertanian,
pertenakan, dan lainnya.
Mungkin itu saja yang saya dapat ceritakan tentang pengalaman
saya sebelum dan sesudah menghadapi KKN. Semoga pembaca yang
membaca pengalaman saya, khususnya yang belum merasakan kegiatan
KKN atau kegiatan sosial mengabdi ke desa, dapat terinspirasi dan
tertarik untuk berkontribusi membantu dalam membantu
pembangunan desa, karena di negara kita yang kita cintai ini, Indonesia,
masih banyak penduduk yang belum merasakan akses pendidikan,
kurangnya lapangan kerja, dan hidup susah. Kalau bukan kita yang
melakukan perubahan yang positif untuk negeri kita, siapa lagi yang
akan kita lakukan. Banyak hal yang akan kalian dapatkan ketika
mengabdi untuk masyarakat. Itulah pengalaman yang dapat saya bagi
selama saya menjalankan aktivitas KKN saya di Desa Banyu Resmi.
Salam dari saya Puja Ahmad Habibi dari kelompok 009 Insieme Fiil Village
(ILVIL) dan juga saya mengucapkan terima kasih.
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 141
7
DAHSYATNYA KKN DI BANYU RESMI
Patimah Batubara
KKNku, Harapanku
KKN (Kuliah Kerja Nyata) merupakan bentuk pengabdian
mahasiswa kepada masyarakat sehubungan dengan pelaksanaan Kuliah
Kerja Nyata sebagai salah satu syarat yang harus di tempuh untuk
mendapat gelar sarjana S1. Kuliah Kerja Nyata memberikan pengalaman
belajar kepada Mahasiswa/i untuk hidup di tengah-tengah lingkungan
masyarakat dengan mengadakan beberapa program kuliah kerja bagi
masyarakat. Kuliah Kerja Nyata dilaksanakan oleh mahasiswa-
mahasiswi di dalam masyarakat di luar Universitas dengan maksud
meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan perkembangan dan
kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut saya, kuliah kerja nyata menjadikan suatu pengalaman
belajar yang baru untuk menambah pengetahuan dalam mengambil
sikap, kemampuan dan kesadaran hidup bermasyarakat.
Pada awalnya saya masih bingung, “saya kelompok berapa ya?
kelompok saya ditempatkan di desa mana ya? kira-kira teman-teman
kelompok saya orangnya asyik gak ya, baik laki-laki dan perempuannya?
terus bagaimana dengan saya sendiri untuk mengadaptasikan diri
dengan mereka (beda orang pasti berbeda juga karakternya)”. Di
pikiran saya benar-benar sudah full tanda tanya nih. Lahaula wala kuw wata
illa billah.
Sebelumnya teman-teman di kelas saya kebanyakan sibuk buka
AIS, bahkan teman-teman sekelas saya sendiri sudah pada baca nama-
nama dari kelompoknya tersebut. Di antara teman-teman saya ada satu
orang yang paling pertama bertanya kepada saya namanya Umi. “Kamu
kelompok berapa Patimah?”, sementara saya belum buka AIS waktu itu,
untuk itu, saya langsung cepat-cepat buka AIS uinjkt.ac.id. Saya melihat
bahwa saya bagian dari kelompok 009, terdiri dari 11 orang. Adapun
laki-laki terdiri dari 6 orang diantaranya: Umar Abdul Aziz, Puja
Ahmad Habibi, Muhammad Nu’man, Muhammad Fajar Khamil, Ahmad
Fachri, Badru Hawasi, dan Perempuannya terdiri dari 5 orang
diantaranya Patimah Batubara, Rahmawati Rahayu N, Herisfina
142 | KKN ILVIL 009 2016
Fauziah, Erna Putri Lestari, Afifah Azmi Sholihati. Teman-teman dari
kelompok KKN saya ini tiap orang beda prodi dan tiap perFakultas
yang sama diambil 2 orang saja, contohnya: Patimah Batubara (Prodi
SKI/FAH) dan Muhammad Nu’man (Prodi BSA/FAH).
Kelompok saya ditempatkan di Desa Banyu Resmi, Kecamatan
Cigudeg, Bogor. Semua tempat bagi setiap anggota kelompok KKN yang
mau melaksanakan KKN ditentukan oleh Pengurus KKN selaku UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Kita hanya bisa menerima dengan lapang
dada, entah dimana pun kita ditempatkan baik itu yang bersifat
pedesaan maupun perkotaan.
Waktu terus berjalan, saya dan kelompok saya mengadakan rapat
dengan tujuan untuk menyusun program kerja KKN. Awalnya rapat
KKN kami ini mau diadakan rutinitas hari Jum’at sore, Teman-teman
kelompok saya semuanya pada fix karena mereka pada masuk kampus
berhubung mereka juga ada jadwal mata kuliah. Saya sedikit keberatan,
alasannya karena hari Jum’at saya tidak ada mata kuliah atau libur.
Kemudian saya minta toleransi dari Ketua KKN kami, Muhammad
Nu’man. Alhasil rapat ini diadakan rutinitas setiap hari Kamis sore
(setelah selesai shalat Ashar) dan kalaupun ada rapat dadakan biasanya
hari Minggu. Kenapa rapat KKN ini diadakan rutinitas hari Kamis,
karena semua anggota kelompok KKN kami jam mata kuliahnya sudah
selesai dan tidak ada lagi jam bentrok rapat KKN dengan mata kuliah
masing-masing. Tujuannya, supaya tidak ada mata kuliah yang
tertinggalkan atau absen dan bisa fokus untuk membahas program kerja
KKN.
Waktu yang terbatas, rapat pun berjalan dengan lancar, tapi
keakraban sesama teman-teman masih kurang dekat lebih banyak
seriusnya dibandingkan bercanda. Ketika rapat berlangsung saya masih
malu-malu sama teman-teman kelompok KKN saya, mau bicara saja
gugup, masih sungkan dan takut ada yang tersinggung, ujung-ujungnya
terjadi kesalahpahaman satu sama lain. Kenapa saya malu-malu, soalnya
saya belum tahu karakter teman-teman saya.
Tepatnya hari Minggu pagi di Sevel lantai II, saya dan teman-
teman kelompok KKN mengadakan rapat. Rapat ini menyangkut
dengan pemberian nama kelompok 009. Lambat-laun masing-masing
teman mengeluarkan pendapatnya untuk pemberian nama kelompok
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 143
009. Beberapa jam kemudian, peresmian nama KKN telah ditemukan
dengan kesepakatan bersama yaitu Kelompok KKN 009 ILVIL (Insieme
fii Village).
Asal usul peresmian nama KKN 009 ILVIL (Insieme Fii Village) ini
terdiri dari tiga bahasa, yaitu Insieme dari bahasa Italia, Fii dari bahasa
Arab, dan Village dari bahasa Inggris. Jadi, arti dari ILVIL (Insieme Fii
Village) bila digabungkan adalah pengabdian di desa.
Hal-hal yang saya lakukan untuk mengadaptasikan diri dengan
teman-teman saya adalah pertama, saya mengikuti kegiatan rapat
berulang-ulang, disini baru sedikit kelihatan karakternya masing-
masing, ada yang pendiam, ada yang suka bercanda, ada yang benar-
benar serius bangat untuk membicarakan rencana program kerja, tapi,
masih saja kayak mengambang belum jelas, dan belum kelihatan banget
karakter aslinya, namun, menurut saya, laki-laki dan peremuannya
asyik juga kok, buktinya lagi serius nih ngomongin program kerja KKN,
tiba-tiba anak laki-laki ngelawak otomatis saya dan teman-teman
perempuan lainnya tertawa, sebab lawakannya lucu banget. Anak laki-laki
dari kelompok saya pada koplak semua, hehe.
Kendala besar yang saya bayangkan diantaranya yaitu bayangan
sebelum melaksanakan kuliah kerja nyata, saya merasa tidak akan betah
di Desa Banyu Resmi karena saya takut tidak bisa beradaptasi dengan
warga masyarakat dan iklim yang kurang mendukung, kadang panas dan
kadang dingin, dan teman kelompok KKN saya. Akses jalan yang sedikit
rusak, cukup jauh dari pusat kota, dan alat transportasi yang sangat
sulit. Jaringan signal yang terjangka sebagai sarana untuk berkomunikasi
kepada orang lain terutama keluarga. Bagaimana cara saya untuk
mengajar siswa-siswi supaya betah dan tidak bosan atas apa yang saya
ajarkan kepada mereka, karena saya belum berpengalaman mengajar
layaknya seorang guru di sekolah. Mempersiapkan bahan ajar, dengan
tujuan untuk membagikan ilmu, menambah wawasan kepada siswa-
siswi Banyu Resmi serta membangkitkan semangat siswa-siswi untuk
melanjutkan sekolah ke jenjang yang tinggi.
Bayangan saya bertolak belakang dengan apa yang telah saya
jalani, meskipun kondisi jalanan yang kecil sedikit rusak dan mencari
144 | KKN ILVIL 009 2016
kebutuhan pokok susah selama kuliah kerja nyata, namun suasana Desa
Banyu Resmi membuat saya betah, karena suasananya damai, sejuk
serta keramahan masyarakatnya yang merespon positif, sopan santun
warga dan semangat belajar anak-anak Desa Banyu Resmi membuat
saya betah dan mampu menyelesaikan kuliah kerja nyata selama
sebulan.
Teman Senasib Seperjuangan
Jujur, sebelumnya saya belum pernah merasakan jauh dari
jangkauan orang tua, sejak SD, SMP, MAN saya di Medan (tinggal
bersama dengan orang tua), selalu pulang pergi setelah sekolah selesai,
juga belum pernah merasakan yang namanya mondok, asrama, dan ngekos.
Setelah masuk di perkuliahan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun
2013, baru saya jauh dari jangkauan orang tua, tinggal bertiga dengan
kakak kandung saya, dari sini saya belajar hidup mandiri tanpa campur
tangan orang tua. Mencari biaya kuliah bersama dengan kakak saya
lewat hasil dagang, namun, bagi saya jauh dari jangkauan orang tua,
bukan problem yang besar karena saya ingin melanjutkan cita-cita saya
dan membuat orang tua saya bangga atas kesuksesan yang saya raih.
Sebagaimana kata pepatah “jauh di mata tapi dekat di hati”, yang membuat
saya tetap semangat adalah do’a dari kedua orang tua saya yang selalu
memberikan motivasi dan support serta tak lupa nasihat untuk selalu
bersifat tawaduk.
Selanjutnya, tahun 2016 saya mengikuti kegiatan KKN. Hidup
bersama kelompok KKN selama sebulan penuh rasanya jauh sangat
berbeda, disini saya jauh dari jangkauan orang tua dan kakak saya,
namun, ada banyak moment yang tidak dapat saya lupakan, diantaranya
memasak bersama, ngaji yasiin bersama malam Jum’at (laki-laki dan
perempuan), rapat bersama mengenai persiapan program kerja, curhat-
curhatan, kalau makan pakai baskom berlima sama anak-anak cewek,
minum pakai gelas secara bergantian, mandi sekali sehari berebutan
sampai ngantri, mencuci pakaian di pemandian umum bersama-sama,
beli sayuran bersama-sama dan shalat Maghrib berjama’ah.
Memasak bersama sudah jelas, apalagi kalau pagi, sudah menjadi
rutinitas kami bagi anak-anak cewek, yang paling sering masak di
kolompok kami adalah saya dengan Risfi, saat memasak kadang kami
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 145
suka menyetel musik tapi, yang paling sering kami nyanyi-nyanyi sambil
memasak, hahaha... udah kaya “konser”, namun, tidak pernah kalah
meskipun sebagian anak cewek (Erna, Afifah,dan Ayu) tidak bisa masak
mereka tetap ikut membantu kami memotong-motong sayuran, dari
sinilah kami mulai mengenal karakter masing-masing.
Moment memasak yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika
waktu pagi saya memasak lima kaleng Sarden ABC yang besar plus tiga
batang tempe, bahan-bahannya sudah saya siapkan selengkap mungkin,
tinggal masak nih, ketika saya memasak ternyata ada yang kurang, apa
coba? Asem Jawa (berfungsi untuk menghilangkan bau amis), kemudian
saya minta tolong kepada teman saya (Afifah) untuk menjaga sekalian
bilang diaduk perlahan-lahan. Saya pun pergi sebelah dekat rumah sih,
ketika saya kembali, tiba-tiba masakan saya sudah gosong (lupa ngecilin
apinya). Saya panik sekali, saya cepat-cepat mematikan kompor gas.
Saatnya untuk mencoba masakan tadi, tau gak rasanya seperti apa?
Baunya tidak enak, kuahnya pahit, ikan-ikannya hancur semua, dan
yang paling parahnya lagi kuali yang sebelumnya putih mengkilat
berubah menjadi warna hitam karena dilumuri kerak (kuah santan yang
kosong tadi nempel di kuali) untuk menghilangkan kerak yang
menempel tadi, akhirnya, saya merendam kwalinya. Beberapa jam
kemudian, saya cuci untuk menghilangkan kerak yang menempel di
kuali dengan menggunakan sendok makan stainles supaya cepat bersih.
Makan pakai baskom, dan minum pakai gelas secara bergantian,
yeah!!! baru saya rasakan tepatnya pada saat KKN berlangsung,
Sebelumnya saya belum pernah kayak gini, di rumah saya makan di piring
dan minum pakai gelas sendiri. Subhanallah, meskipun demikian asyiiik
juga ya menurut saya, ini benar-benar moment yang paling menyenangkan
bagi saya. Tidak salah lagi kebersamaan itu memang indah tiada duanya.
Rasanya saya tidak ingin moment indah ini terlewatkan.
Adapun menu yang paling sering kami masak setiap hari adalah
Tahu, Tempe, Sarden, sama Indomie, dan yang tidak pernah kami masak
adalah Ikan Laut dan Ayam. Kelompok kami makan ayam seminggu
sekali, itupun karena ngeliwet bareng dengan masyarakat Banyu Resmi
dan kalau ada dari salah satu orang tua teman kelompok KKN kami
146 | KKN ILVIL 009 2016
yang berkunjung ke tempat kami KKN. Jangan salah, meskipun
demikian, ada juga dari kelompok KKN kami yang berat badannya
bertambah, hehehe.
Mandi sekali sehari di rumah Abah Jumhari, Ya Allah dingin banget
kalau pagi. Saya sendiri tidak kuat memasak dulu, setelah rapi memasak
saya menunggu sunrise dulu supaya tidak dingin. Hal inilah yang
membuat kami berebutan untuk mandi, ngantri lagi, sudah kayak “ibu-
ibu yang lagi ngantri berebutan sembako”, yang paling parahnya lagi,
kadang-kadang kami anak–anak cewek pis dulu, udah kayak bocah nih, hahaha.
Yaampuuun!!!, saya hampir lupa nih, pokoknya siapa yang paling cepat
bangun pagi gak bakalan berani mandi duluan, kecuali karena terpaksa
ada jadwal pagi untuk mengajar di SDN Banyu Resmi.
Terakhir nih, perhatian dari teman kelompok KKN saya yang
tiada bandingnya. Kenapa saya berkata demikian, karena, ketika KKN
mau berjalan minggu ke-2 saya merasa sedih sekali sampai teman
kelompok KKN saya heran, katanya saya selalu diam, suka menyendiri,
dan diajak bercanda pun tidak mau, bahkan ada yang ngelawak dari salah
satu teman saya, tetap saja saya tidak tertawa. Akhirnya saya masuk ke
kamar mengambil bantal dengan posisi tiduran, secara spontan air mata
saya ke luar, saya menangis dengan ketiadaan bersuara, air mata saya
pun berjatuhan ke bantal hingga kerudung saya basah, sedangkan
Afifah di sebelah saya sendiri tidak tahu kalau saya sedang menangis.
Beberapa menit kemudian, Risfi masuk kamar, suara tangisan saya
mulai terdengar olehnya. Dia pun menyapa “say, kamu kenapa Patimah
kok nangis?” Saya tidak meresponnya. Risfi keluar dari kamar dan
memberi tahu kepada Erna kalau saya sedang menangis, Erna pun
masuk ke kamar (sambil menepuk-nepuk punggung saya perlahan-
lahan) dan bertanya, “kok Patimah nangis, ada apa Pat?, cerita dong sama
kita, mana tahu kita bisa bantu.” Saya jawab (dengan nada suara yang
sedikit serak) kalau saya lagi rindu sama orang tua saya. Ketika saya
sudah diam, Erna pun kembali bertanya, dan mengajak saya cerita. “kok
bisa gitu Pat?” Saya terharu Erna, waktu pagi kan saya mengajar di SDN
Cikawung, tiba-tiba seorang siswa bertanya kepada saya, katanya
kakak cerita dong tentang pengalaman hidup kakak di kampung? Saya
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 147
langsung mengalihkan pertanyaannya dan kembali mengajak siswa/i
untuk melanjutkan mata pelajaran. “Oh begitu ya Pat” kata Erna, sambil
menawarkan HP-nya kepada saya dengan tujuan agar saya menelpon
orang tua saya. Perlahan saya menolak dan bilang kepadanya kalau saya
menelpon orang tua saya, rasa rindu saya semakin menjadi-jadi, ujung-
ujungnya orang tua saya pun ikut sedih. Erna tetap mengajak saya
ngobrol, akhirnya dia mengajak untuk jalan-jalan ke perkebunan teh
sekitar Desa Banyu Resmi. Tapi tidak jadi, kami (semua cewek-cewek)
hanya pergi ke warung untuk jajan Ice Cream dan ditraktir oleh Erna. So
Sweet!!! Erna emang baik dan selalu perhatian sama teman-temannya
yang lain, rajin lagi selalu mengutamakan program kerja kegiatan KKN
kami, sampai-sampai dia tidak sempat meluangkan waktunya untuk
mencuci pakaian. Semangat terus ya Erna.
Bagi saya teman KKN yang laki-laki semuanya baik, rajin untuk
melaksanakan Proker KKN sampai tuntas, dan semuanya asyik selalu
meramaikan suasana yang sunyi jadi ramai, buktinya pada suka bikin
humor terutama Fajar dan Fachri, mereka selalu berdua terus, ibarat
buku dengan pulpen. Apalagi Nu’man, dia sangat jago memasak, kalau
anak cewek tidak memasak maka dia turun tangan, pokoknya dia cocok
jadi Master Chef. Ayo dong Nu’man dieksplor hobby memasaknya. Badru dia
orangnya pintar tentang masalah ideologi agama, pandai ceramah lagi,
kami sering memanggilnya dengan julukan Kyai Badru, tapi, kalau
Habibi dia orangnya pendiam namun rajin shalat jama’ah ke masjid.
Pesan saya, bagi adik-adik yang yang kebagian lokasi di Desa
Banyu Resmi, jangan sampai mengeluh tetap berikan semangat dan
motivasi untuk siswa-siswi di sana. Benefitnya untuk melanjutkan
pendidikan sampai kejenjang yang tinggi. Kalau perlu tetap adakan
seminar bersifat edukasi yang ditujukan kepada orang tua dengan
tujuan agar mereka tetap memberikan motivasi belajar kepada anak-
anaknya, karena pendidikan itu penting untuk masa depan yang dapat
menuntun kita ke jalan yang jauh lebih baik.
Keramah-tamahan Masyarakat Banyu Resmi
Persepsi saya mengenai desa yang saya tinggali baik kondisi
lingkungan maupun masyarakat di antaranya dari kondisi lingkungan
alam tepatnya daerah pegunungan, di sekitar Desa Banyu Resmi masih
148 | KKN ILVIL 009 2016
sangat sejuk, asri, polusi udara yang tidak tercemari oleh asap
kendaraan, pagi, dingin, siang, panas. Desa yang alamiah sekali di
sepanjang jalan banyak pepohonan, berbagai macam tanam-tanaman,
contohnya sawah dan perkebunan karet dan teh, tapi, sayang sekali,
perkebunan teh ini (milik orang Taiwan), warga Banyu Resmi di
posisikan hanya sebagai pekerja pengurus kebun teh, dari segi
keagamaan di Desa Banyu Resmi sangat kuat, dengan adanya Pesantren,
dimana setiap hari Rabu pagi (06:30-09:30) pengajian khusus Ibu-ibu di
sertai ceramah dari Ustadz Agus setempat (majelis taklim), dua minggu
sekali tiap malam Jum’at khusus Bapak-bapak, pengajian bulanan
dengan desa lain sebulan sekali, dan pengajian Anak-anak tiap hari
setelah Ashar kecuali hari Jum’at (libur).
Berbicara tentang masyarakat Desa Banyu Resmi ini yang saya
inginkan, kenapa? karena masyarakatnya rukun, damai, tentram, baik,
ramah tamah, suka menyapa mahasiswa/i KKN dan mau diajak untuk
kerja sama, dari segi pendidikan (TPA, SDN Banyu Resmi 01 dan SDN
Cikawung 02), jujur saya sendiri merasa sangat terharu, terutama SDN
Banyu Resmi sarana dan prasarana sekolah yang kurang memadai,
siswa-siswi tidak memegang buku paket sendiri (IPA, IPS, PAI dan
Matematika), tidak adanya tiang bendera. Jadi, selama beberapa tahun
sekolah ini tidak mengadakan upacara. Alhamdulillah, berkat hasil kerja
keras mahasiswa/i KKN ILVIL tiang bendera sudah berdiri tegak dan
siswa-siswi di sekolah tersebut sudah melaksanakan upacara bendera
setiap hari Senin dan baris-berbaris ikut lomba baris-berbaris pada 17
Agustus 2016 (dibantu dan dilatih oleh sebagian Mahasiswa/i KKN),
dan yang lebih menyedihkan lagi menurut saya siswa/i kebanyakan
untuk ke sekolah harus jalan kaki menempuh beberapa kilometer.
Kalau musim hujan jalanan licin (berupa tanjakan dan turunan) karena
baru sebagian jalan diaspal di sana, dan yang lebih parahnya lagi setelah
lulus SD kebanyakan anak-anak di sana melangsungkan pernikahan dan
tidak melanjutkan sekolah lagi, hal ini terjadi karena kondisi
perekonomian masyarakat lemah. Saya mendapatkan informasi ini
setelah wawancara dengan penduduk desa saat survei kedua.
Kebanyakan masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani.
Awalnya, mayoritas masyarakat di sana bertani dan bercocok tanam,
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 149
namun, setelah ditemukannya tambang emas, mengkibatkan minimnya
minat masyarakat bertani dan bercocok tanam, sehingga menyebabkan
hasil panen masyarakat berkurang, karena ketergantungan masyarakat
terhadap tambang emas maka kondisi perekonomian di sana menjadi
lemah.
Selalu Semangat, Meskipun Situasi Semakin Sulit
Setiap hari Selasa pagi (06:30-sampai 09:30) saya dan teman cewek
kelompok KKN selalu mengikuti pengajian Ibu-ibu (majelis taklim) di
Kampung Lemah Beureum Desa Banyu Resmi. Sebelum pengajian di
mulai sebagian ibu-ibu nyanyi-nyanyi berupa sholawatan dan puji-pujian
sambil menunggu ibu-ibu yang lain untuk berkumpul.
Adapun tata cara pengajian ibu-ibu di sini menggunakan bahasa
Arab dan menerjemahkannya kedalam bahasa Sunda. Awalnya saya
merasa aneh ketika baru mendengar bahasa Sunda. Contohnya, ketika
membaca surah Al-Fatihah dari ayat pertama sampai terakhir masih
saya ikuti, namun ketika di pertengahan ayat saya berhenti, karena
menggunakan bahasa Sunda berhubung saya tidak mengerti bahasa
Sunda apalagi mengucapkannya susah sekali, tapi, sebagian teman-
teman saya juga tidak bisa bahasa Sunda hanya sedikit dari kami yang
bisa berbahasa Sunda (Badru Hawasi) namun, ada dari salah satu teman
saya yang mengerti bahasa Sunda, tapi dia kesulitan untuk
mengucapkannya (Risfi).
Setelah acara ngaji selesai, dilanjutkan dengan Qira’ah al-Qur’an
tujuannya untuk mengharapkan ridha dan keberkahan ngaji dari Allah
Subhanahuwata’ala supaya berjalan lancar. Sebelumnya, pembacaan ayat
suci al-Qur’an ini dilantunkan oleh ibu-ibu warga masyarakat Banyu
Resmi secara bergantian, karena adanya mahasiswi KKN maka ibu-ibu
di sana memperkenankan salah satu dari kami untuk membacakannya.
Alhamdulillah selama sebulan penuh pengajian tetap kami ikuti dan saya
selalu diperkenankan oleh ibu-ibu untuk membacakan ayat suci al-
Qur’an. Jujur, Bukannya saya mau membanggakan diri saya juga merasa
belum bisa banget ngaji dan suara saya tidak terlalu bagus.
Pak Ustadz Agus pun tiba, kami dan ibu-Ibu siap untuk
mendengarkan ceramah. Sambil mendengarkan ceramah, saya dan
teman-teman saya selalu ditempatkan oleh ibu-ibu duduk di posisi
150 | KKN ILVIL 009 2016
bagian depan dan selalu disuguhkan makanan. Nah, pada saat ceramah
berlangsung pak Ustadznya kebanyakan menggunakan bahasa Sunda
sedikit bahasa Indonesia. Inilah yang membuat saya semakin bingung
seperti orang asing, giliran ibu-ibunya tertawa saya sendiri diam,
kadang saya ikut tertawa juga sih pura-pura mengerti padahal dalam
hati tidak mengerti, daripada bikin malu, hehehe. Kadang saking
penasarannya saya mencolek ibu yang dekat di sebelah saya tentang apa
yang barusan dibilang oleh Pak Ustadz yang menyebabkan semua ibu-
ibu ikut tertawa serentak, eh pas saya dikasih tau saya juga ikut tertawa,
tapi belakangan sih, hehehe. Ya ampun, saya baru sadar kalau Indonesia
itu memiliki berbagai ragam ras, suku bangsa, tradisi, seni, dan bahasa
daerah yang berbeda-beda yang membuat mancanegara tercengang dan
takjub. Setiap ceramah berlangsung, alhamdulillah paling tidak saya bisa
mengambil kesimpulan dan tujuan dari hasil ceramah Pak Ustadz Agus.
Akhirnya, saya dan teman-teman saya banyak mendapatkan ilmu
terutama dari segi keagamaan. Meskipun saya dan teman saya tidak
terlalu paham bahasa Sunda kami tetap semangat mengikuti pengajian.
Hari demi hari kami jalani hingga kegiatan KKN selama sebulan penuh
berjalan dengan lancar dan pengetahuan kami pun tentang bahasa
Sunda sedikit demi sedikit bertambah.
Partisipasi dari warga Desa Banyu Resmi yang selalu ikut
membantu kami dan mau diajak untuk kerja sama demi kelancaran
kegiatan KKN ILVIL, diantaranya ketika pertama kalinya saya dan
teman Kelompok KKN mengadakan kegiatan ngeliwet bareng warga
dengan antusias ibu-ibu dan bapak-bapak disana ikut membantu.
Padahal, saya dan teman kelompok KKN belum dekat dengan
masyarakat. Salah satu tujuan dari ngeliwet bareng ini adalah untuk
beradaptasi, mengakrabkan diri, dan mempererat silaturahmi.
Apalagi Umi dan Abah (pemilik rumah yang kami tempati), saya
dan teman kelompok KKN selalu merepotkannya tapi Umi dan Abah
selalu bilang “tidak apa-apa Neng”. Kebaikan Umi dan Abah selalu saya
ingat, setiap Umi memasak sesuatu selalu menyisihkannya kepada kami,
begitu pula dengan kami. Pokoknya saya sudah menganggap Abah dan
Umi sebagai orang tua Kandung saya sendiri. I Love You Umi and Abah.
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 151
Hari selasa pagi saya ada jadwal mengajar SDN Banyu Resmi 02,
sebelum ngajar biasanya saya sarapan dulu di warung Bi Moneng. Beli nasi
uduk Rp2.000,- disertai gorengan 3 biji Rp2.000,-. YaAllah, sungguh
berkahnya dapat dengan total jajanan Rp4.000,- perut sudah kenyang.
Saya pun masuk ke kelas V mengajar bahasa Indoesia. Setelah
pelajaran bahasa Indonesia selesai, saya ada tambahan ngajar Mulok
(Muatan Lokal) berhubung gurunya tidak masuk kelas. Pertama, saya
ngajar tentang rukun-rukun shalat serta bacannya, untuk mengisi
kejenuhan siswa-siswi saya mengajak mereka untuk menyanyikan
beberapa lagu kebangsaan dan daerah. Kami menyanyi bersama, yang
paling lucunya adalah ketika sedang menyanyikan lagu daerah ”sayo
nara”. Beberapa kali kami menyanyikan lagu daerah tersebut ujung-
ujungnya apa coba, dengan kompaknya semua siswa menyanyikan “sayo
nara” dengan mengganti kata “sayur nangka”. Saya diam sejenak sambil
tertawa hahaha. YaAllah ini siswa ada-ada saja. Rasa lelah saya tiba-tiba
hilang yang tadinya haus jadi tidak haus. Saya terus diajak bercanda
oleh siswa/i, giliran istirahat sudah tiba sebagian siswinya tidak mau
istirahat dan mengurung diri di dalam kelas dan bercerita-cerita dengan
saya.
Ketika perpisahan dengan warga masyarakat Banyu Resmi
rasanya saya tidak ingin jauh-jauh dari mereka seolah-olah untuk
melangkahkan kaki terasa tidak sanggup untuk berdiri tegak selalu
teringat akan kebaikan mereka yang menerima kami dengan senang hati
untuk mengadakan kegiatan KKN di Desa Banyu Resmi dan
pengorbanan mereka kadang-kadang kami melibatkan mereka untuk
mengikuti kegiatan sebagian proker KKN kami.
Waktu salam-salaman dengan mereka, khususnya Umi dan Abah.
Ketika salaman dengan Umi saya memeluknya dengan erat secara
spontan air mata jatuh dan menangis dengan tangisan yang luar biasa,
sampai kerudung saya basah, saking sedihnya dan kelamaan nangis
menyebabkan kepala saya pusing. Begitu melihat warga, dengan
ekspresi mereka yang ikut sedih dan terharu, mereka berkata, “sering
main kesini ya, dengan lapang dada kita akan tetap membuka pintu
lebar-lebar untu kalian”. Saya pun menjawab “InsyaAllah ibu/bapak
152 | KKN ILVIL 009 2016
kalau ada waktu luang kita akan main kesini.” Pokoknya perpisahan
bukan akhir dari segalanya, namun, perpisahan itu terpisahkan karena
ruang dan waktu, tanpa adanya pertemuan tidak akan pernah terjadi
perpisahan.
Adapun pembelajaran yang saya dapatkan selama KKN sebulan
penuh baik dari masyarakat maupun teman kelompok KKN ILVIL
diantaranya yaitu bisa mengucapkan bahasa Sunda sedikit, bisa
membuat masakan tradisi Sunda, berpengalaman mengajar di SD dan
TPA, mengetahui bagaimana cara bersosialisasi dengan baik terhadap
masyarakat, mendapatkan teman-teman kelompok KKN yang baik dan
asyik.
Bila saya menjadi bagian dari penduduk Desa Banyu Resmi dan
berempati dengan pengalaman hidup mereka, yang akan saya lakukan
adalah mengubah mindset (pola pikir) masyarakat bahwa pendidikan itu
penting buat anak-anak masa kini terutama untuk menghadapi MEA,
memberikan motivasi kepada anak-anak untuk tetap melanjutkan
sekolah sampai jenjang tinggi, memberantas nikah muda karena nikah
muda itu dilarang dalam UU Negara RI, yang sudah saya lakukan
untuk memberdayakan mereka adalah berbagi ilmu dengan cara
mengajar di TPA, SDN Banyu Resmi 01, SDN Cikawung 02 (yang
merupakan bagian dari wilayah Banyu Resmi juga). KKN (Kali-Kali
Ngangenin) kangen sama teman kelompok KKN dan masyarakat.
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 153
8
CERITA PENGABDIAN BERSAMA KKN ILVIL
Rahmawati Rahayu
Arti KKN
KKN bisa diartikan Kuliah Kerja Nyata, mendengar kata kata
KKN awalnya saya antusias sekali dengan KKN karena mendengar
cerita dari senior-senior yang sebelumnya KKN bebas memilih teman
kelompok dan desa yang ingin ditempati. Saking semangatnya saya dan
teman teman seangkatan saya yang kebetulan adalah sahabat saya
langsung cepat-cepat membuat group KKN di WhatsApp dengan
menamainya KKN 2016, singkat cerita group itu digunakan untuk
koordinasi untuk KKN yang akan dilaksanakan akhir Juli 2016 kemarin,
dengan beranggotakan yang mayoritas semua adalah teman-teman
sewaktu saya SMA dulu, sengaja saya memilih teman-teman sekolah
SMA saya dulu karena menurut saya, saya sudah mengenal mereka lebih
lama jadi tidak perlu beradaptasi kembali satu sama lain. Hari demi hari
berlalu sampai tiba saatnya kabar-kabar yang kurang mengenakan
tentang peraturan KKN terbaru di tahun 2016 ini, kabar yang tadinya
hanya sebuah isu bahwa KKN tahun ini pihak yang mengatur kelompok
dan desa adalah PPM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sontak kabar
itu mengagetkan saya bahkan bukan hanya saya saja mungkin satu
angkatan mahasiswa/i 2013 kaget mendengar isu tersebut ternyata
benar terjadi. Kelompok dan desa pun ditentukan oleh PPM, dan
akhirnya group KKN 2016 yang beranggotakan teman-teman SMA saya
pun akhirnya bubar dan merasakan kekecewaan akibat peraturan baru
tersebut.
Hari berganti hari bulan berganti bulan. Tepat pada bulan Mei
2016 saya lupa tanggal berapa, di sanalah pembagian nama-nama
kelompok dibagikan. Saya langsung mengunduh file yang sudah disebar
oleh teman-teman saya. Saya melihat nama saya ada di kelompok 009,
wah depan sekali nama saya. Setelah pembagian nama nama kelompok,
pihak PPM mengumpulkan kita semua di Auditorium Harun Nasution
untuk pembekalan KKN sekaligus perkenalan sama anggota baru KKN.
Singkat cerita, perkenalan pun dimulai, semua orang yang berada di
154 | KKN ILVIL 009 2016
dalam Auditorium pada berkumpul bersama kelompok KKN-nya, baju
saya yang dilabeli nomer 009 mencari dimana teman-teman kelompok
saya, akhirnya bertemu juga dengan teman-teman kelompok 009. Di
sana kami yang beranggotakan 11 orang saling berkenalan satu sama lain
dengan menyebutkan Fakultas dan Jurusan apa yang sedang ditempuh
sekarang, dari 11 anggota di kelompok 009 terdapat 5 perempuan dan 6
laki-laki. 5 perempuan itu bernama saya sendiri Rahmawati Rahayu,
teman saya yang lain Herisfina Fauziah, Erna Putri Lestari, Afifah Azmi
Sholihati, Patimah Batubara, dan 6 orang laki laki diantaranya Fahri,
Nu'man, Fajar, Badru, Habibi, dan Umar. Kita semua dari Fakultas yang
berbeda beda ada yg dari Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ekonomi,
Fakultas Adab, Fakultas Ushuludin, Fakultas Komunikasi dan terakhir
Fakultas Sains Teknologi. Perkenalan di hari pertama pun selesai kami
semua meninggalkan nomor handphone untuk bisa berkomunikasi lebih
lanjut menggunakan media sosial seperti WhatsApp. Hari demi hari pun
berlalu, kita semua lebih sering berkumpul sehabis jam kuliah di taman
Auditorium untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Rapat demi
rapat kita lalui sampai pada akhirnya kita semua memutuskan nama
kelompok yang mungkin agak aneh untuk didengar tetapi unik-unik
dalam pengartiannya, maka KKN 009 dengan sepakat kami beri nama
kelompok ILVIL atau KKN ILVIL 009. Memang asing atau aneh bagi
yang baru pertama kali mendengar nama kelompok kami, akan tetapi
ILVIL bukanlah nama asal yang tak punya arti ILVIL gabungan dari 3
bahasa yaitu bahasa Italy, bahasa Arab dan bahasa Inggris. ILVIL
kepanjangan dari Insieme (Italy) yang artinya kebersamaan, Fii (Arab)
yang artinya di dan yang terakhir adalah Village (Inggris) yang artinya
desa, maka dari situlah kami artikan ILVIL sebagai Insieme Fill Village.
Waktu pun cepat berlalu, dan pihak PPM mengumumkan desa dimana
tempat kami akan tempati. PPM menyediakan beberapa kecamatan,
yang pertama Kecamatan Cigudeg, yang kedua Kecamatan Gunung
Sindur, yang ketiga Kecamatan Jasinga, yang keempat adalah
Kecamatan Rumpin dan lain-lain. Hasil pengmuman yang diberikan
oleh pihak PPM bahwa kelompok 009 atau KKN ILVIL 009 ditempat di
Kecamatan Cigudeg Desa Banyu Resmi. Bulan demi bulan pun terlewati
hingga pada akhirnya hari KKN itu tiba.
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 155
Warna Hidup Pengabdian
Minggu Pertama, tanggal 25 Agustus 2016, saya dan teman-teman
kelompok saya berkumpul di Lapangan Student Center UIN untuk
melaksanakan pelepasan KKN yang dilaksanakan pada pukul 08.00,
tetapi sangat disayangkan saya terlambat datang waktu pelepasan
karena perjalanan dari rumah menuju Ciputat sangatlah macet sekali
jadi saya tidak bisa datang tepat pukul 08.00. Setelah selesai acara
pelepasan saya dan teman teman kelompok saya berkumpul untuk
membicarakan keberangkatan menuju Desa Banyu Resmi, desa dimana
nanti akan kita tempati sebagai sebuah pengabdian seorang mahasiswa
selama satu bulan lebih. Hasil diskusi pun telah selesai teman teman
saya berangkat ke desa terutama yang wanita semua kecuali saya dan
Erna berangkat menggunakan mobil milik salah satu anggota kelompok
saya sedangkan yang laki laki berangkat menggunakan motor pribadi
mereka masing masing. Saya sengaja memisahkan diri dari yang lain
karena saya harus pulang dulu kerumah mengambil beberapa barang
yang tertinggal. Sampai di desa, saya dan teman teman kelompok saya
datang kerumah singgah yang akan kita tempati selama sebulan di
rumah Bapak Jumhari atau yang biasa kami sebut Abah. Setiba di sana
kita semua berkenalan dengan pemilik rumah yang ternyata dulunya
adalah seorang Aparatur Desa setempat. Suatu kebanggan tersendiri
karena bisa menimba ilmu bersama Abah Jumhari lebih banyak lagi.
Selesai perkenalan saya dan yang lainnya pun berkemas-kemas untuk
merapikan barang-barang bawaan ke kamar masing-masing. Saya yang
hanya membawa 1 koper langsung menyelinap masuk kamar yang sudah
dipilih oleh teman wanita yang sekamar dengan saya di bagian depan
dekat ruang tamu. Kesan di hari pertama saya adalah cukup takjub
dengan keindahan alam Desa Banyu Resmi yang masih asri banyak
pepohonan di sekitar, dingin dan sejuk. Meskipun akses yang dilalui
untuk mencapai Desa Banyu Resmi cukup sulit dan cukup jauh
dijangkau dari jalan raya atau jalan utama Kecamatan Cigudeg tapi
semua itu terbayar dengan keindahan alamnya disini. Hari kedua, saya
masih belum melakukan banyak aktifitas disini hanya berkenalan dan
bersosialisasi bersama para warga di Desa Banyu Resmi ini sambil
memberitahukan bahwa kelompok saya dan kelompok 008 akan
mengadakan acara pembukaan KKN di balai desa ba’da Isya. Mereka
156 | KKN ILVIL 009 2016
sangat senang dengan kedatangan kami semua di desa ini, warga di sini
sangat baik dan cukup ramah terhadap saya dan teman-teman
kelompok saya yang lain, dan warga di sini antusias dan beramai ramai
datang ke acara pembukaan KKN ILVIL 009 dan KKN ASA 008.
Alhamdulillah atas izin Allah acara kemlompok 009 dan 008 pun
terlaksana dengan baik. Hari ketiga sampai hari ke enam kami masih
belum melakukan aktifitas apa-apa melainkan hanya bersosialisasi
terhadap warga sekitar Desa Banyu Resmi diantaranya adalah Kampung
Leumah Beurem dimana tempat kami tinggal.
Minggu kedua, tanggal 1 Agustus 2016, saya dan teman-teman
yang lain mulai mendatangi sekolah yang dekat dengan kantor kepala
desa yaitu SDN Banyu Resmi 01. Kedatangan saya pertama kali ke SD
tersebut disambut baik oleh guru-guru serta murid-murid yang ada di
sekolah SDN Banyu Resmi 01. Saya berkenalan dengan guru-guru
pengajar di sana, serta berkenalan juga dengan murid-murid yang ada di
sana. Hari pertama di minggu kedua kami belum mengajar di SDN
Banyu Resmi 01 karena baru mendapatkan jadwal pelajaran. Siang pun
berganti malam, pada malam hari saya dan teman-teman kelompok saya
mengadakan rapat untuk membahas dan mencocokan program kerja
apa yang akan dilaksanakan bersama di Desa Banyu Resmi, yang
pertama kali dibahas adalah program kerja belajar mengajar, saya
kebagian mengajar PAUD dan kelas 4 & 5 di SDN banyu Resmi 01
tersebut, kebetulan PAUD di Desa Banyu Resmi berada pada satu
gedung atau bangunan yang sama dengan SDN Banyu Resmi 01. Pada
hari kedua saya mulai mengajar di SD kelas 4. Ketika saya masuk kelas 4
murid-murid di sana senang sekali dengan memanggil “kakak Ayu ngajar
di kelas 4 yaa?” ucap mereka yang beberapa sudah kenal saya karena
saya tinggal di dekat rumah salah satu murid tersebut. Saya sangat
senang mengajar kelas 4 ini karena muridnya yang banyak dan cukup
berisik sehingga saya kewalahan untuk mengajar sendiri dan akhirnya
di bantu oleh salah satu rekan teman saya. Saya mengajarkan pelajaran
matematika di kelas 4 ini, saya mengajarkan sesuai sama apa yang ada di
buku paket yang sudah disediakan oleh sekolah, ketika saya mulai
memberikan soal perkalian matematika, miris sekali hanya sebagian
bahkan hanya beberapa saja yang sudah pandai perkalian atau hafal
perkalian dari perkalian 1-10, dari sinilah saya berinisiatif untuk
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 157
memberikan perkalian dari 5-10 untuk di hafal, alhamdulillah murid
murid kelas 4 pun bersemangat untuk mengahafalnya. Sayang sekali
pendidikan di SDN Banyu Resmi 01 ini kurang displin dan rapih karena
banyak sampah-sampah berserakan di sekitar halaman sekolah, anak-
anak murid yang sekolahnya menggunakan sandal jepit karna beralasan
tidak memiliki sepatu atau sepatunya basah. Selesai mengajar di sana
ketika saya ingin kembali ke rumah abah jumhari untuk beriistirahat
sejenak tiba-tiba salah satu guru di SDN Banyu Resmi 01 meminta saya
untuk mengajari latihan upacara di sekolah tersebut, karna dari
informasi yang saya dapat sekolah tersebit jarang bahkan hampir tidak
pernah melaksanakan kegiatan upacara di hari Senin. Maka dari situ
hati saya langsung tergerak untuk melakukan pelatihan upacara secara
singkat dan alhamdulillah tepat di hari senin acara pengibaran bendera
berjalan dengan rapi dan lancar meskipun ada beberapa kendala yang
terjadi. Hari ketiga dan seterus di minggu ke dua saya di Desa Banyu
Resmi masih berpaut pada pendidikan di SDN Banyu Resmi 01, masih
banyak murid-murid baik kelas 4 dan 5 masih banyak yang belum bisa
membaca, sedih sekali melihat kondisi yang seperti itu, sudah kelas
yang cukup tinggi di sekolah dasar tetapi masih ada yang belum bisa
membaca, dari situlah saya mulai mengajarkan kembali cara membaca
terutama ke anak kelas 4. Selesai mengajar saya dipanggil kembali oleh
salah satu guru yang ada di sana, namanya Bapak Ngadirin beliau
meminta saya untuk mengajarkan latihan baris-berbaris sebagai
perbekalan mereka nanti kedepannya untuk upacara bendera. Maka
dari itulah, ketika Bapak Ngadirin meminta saya untuk mengajarkan
pelatihan baris-berbaris dengan semangat saya langsung meng-iyakan
keinginan bapak untuk mengajarkan pelatihan baris-berbaris di sekolah
tersebut. Hari-hari pun berlalu latihan demi latihan kita lewati.
Ternyata ada perlombaan di hari 17 Agustus yang diadakan oleh
Kecamatan Cigudeg, kebetulan sekali kami sudah banyak latihan.
Akhirnya diputuskan untuk SDN Banyu Resmi 01 mengikuti
perlombaan tersebut, namun sangat disayangkan kami kalah oleh
peserta-peserta dari sekolah lain karena costum kami juga kurang
menarik untuk dinilai oleh juri, tapi tidak apa rasanya saya bangga bisa
158 | KKN ILVIL 009 2016
mengajarkan sedikit pelatihan baris-berbaris yang dimana disitu
terdapat unsur kedisiplinan.
Hari minggu tanggal 14 Agustus 2016 saya dan kelompok saya
mengadakan Workshop Ekonomi Kreatif yakni tentang daur ulang
sampah dimana dalam workshop tersebut yang dituju adalah para ibu-ibu
dan anak remaja ada di Desa Banyu Resmi yang dilaksanakan di balai
desa. Workshop tersebut memberitahukan kepada para warga terutama
ibu-ibu dan anak muda bahwa sampah bisa dan bahkan mampu
menghasilkan uang yang cukup lumayan untuk membantu penghasilan
mereka sehari-hari, sebelum para ibu-ibu diajarkan bagaimana cara
mengolah sampah menjadi uang mereka diberi pembekalan terlebih
dahulu oleh pembicara kita yakni Kak Edy selaku pembicara dari
workshop tersebut. Setelah diberi pembekalan para ibu-ibu dan anak
muda pun langsung mempraktikkan cara mendaur ulang sampah yakni
sampah plastik baik snack ataupun minuman sachetan dikumpulkan dan
dibersihkan lalu dibuat menjadi tas, dompet, tempat pensil dan lain-
lain, sedangkan saya sendiri membantu para adik-adik untuk membuat
gantungan kunci ikan dari sampah plastik tersebut, alangkah
senangnya melihat adik-adik semangat sekali membuat gantungan dari
sampah plastik tersebut, ada beberapa adik-adik yang berhasil dan ada
juga yang merengek minta dibuatkan oleh saya karena mereka tidak
bisa, hehehe. Acara pun selesai maghrib, selesai acara saya pun langsung
beres-beres balai desa tempat acara workshop dilaksanakan.
Minggu ketiga ini saya mulai rapat gabungan dengan kelompok
sebelah yakni kelompok 008, kami membahas masalah 17 Agustus yang
akan dilaksanakan di desa ini. Rapat kami lakukan hampir di setiap
malam demi mencapai kesuksesan di acara 17 Agustus. Saya ditugaskan
menjadi penanggung jawab upacara 17an dan menjadi penanggung
jawab perlombaan balap karung. Aktifitas saya di setiap pagi setelah
bangun tidur dari minggu pertama sampai sekarang yakni selepas shalat
shubuh saya membeli sarapan nasi uduk di warung dekat rumah Abah
yakni warungnya Bi Moneng biasanya disebut seperti itu oleh warga
sekitar. Harga nasi uduk di sana lumayan murah dan cukup kenyang
bagi saya hanya seribu rupiah saja sudah dapat nasi uduk satu bungkus.
Ketika saya tidak ada kegiatan apapun biasanya saya mengajak teman-
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 159
teman wanita di kelompok saya untuk mencuci pakaian bersama di
tempat pemandian umum, hehe lumayan kalo jalan karena saya tidak
mungkin cuci pakaian di kamar mandi tempat saya tinggal karena di
Desa Banyu Resmi masih cukup kekurangan air maka dari situ jika
ingin mencuci pakaian saya harus berjalan terlebih dahulu menuju
tempat pemandian umum, biasanya ketika saya mencuci pakaian
banyak warga-warga yang sering lewat ada yang menggotong air dari
tempat pemandian umum ke rumah mereka masing-masing ada juga
yang sedang mencuci baju di tempat tersebut. Ternyata seru juga bisa
melakukan bersama-sama.
Kisah di Banyu Resmi
Waktu pun cepat berlalu, selepas kegiatan sehari-hari dan
kegiatan belajar mengajar terlewati tepat tanggal 17 Agustus pun tiba,
saya bersama rekan saya mengatur barisan upacara yang pesertanya
adalah anak murid SDN Banyu Resmi itu sendiri. Saya yang kebetulan
adalah penanggung jawab upacara 17an mengatur barisan dan mengatur
para pengibar bendera agar bersikap siap dan rapih supaya upacara 17an
ini berjalan dengan baik. Pelaksanaan upacara bendera pun selesai
meskipun tidak sesuai dengan yang saya harapkan tapi setidaknya saya
sudah berterimakasih kepada para petugas upacara terutama petugas
pengibar bendera sudah mau menjalankan amanahnya dengan baik.
Sebelum tanggal 17 Agustus saya dan kelompok gabungan sudah
melaksanakan perlombaan terlebih dahulu yakni dilaksanakan pada
tanggal 16 Agustus 2016, lomba tersebut terdiri dari lomba masukin
belut, lomba balap karung, dan lomba tarik tambang sedangkan pada
tanggal 17 Agustus merupakan perlombaan ini yakni panjat pinang.
Panjat pinang ini kebanyakan bahkan mayoritas yang mengikuti adalah
bapak-bapak dan anak-anak muda cowok, mereka semua senang dan
antusias dengan perlombaan-perlombaan tersebut, dan yang terakhir
adalah perlombaan yang dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2016
disini merupakan acara perlombaan terakhir yakni lomba futsal daster
untuk laki-laki dan lomba joget balon. Futsal daster yang pesertanya
adalah laki-laki mereka semua didandani layaknya seperti wanita, yang
lucu dan paling romantis adalah pasangan ibu RT dan pak RT mereka
sangat romantis sekali mengantarkan sang suami kelapangan membawa
payung akan tetapi pak RT datang dengan wajah yang rias didandani
160 | KKN ILVIL 009 2016
oleh ibu RT itu sendiri. Perlombaan futsal daster pun berjalan dengan
baik. Ketika ada tambahan futsal wanita nama saya disebut oleh salah
satu panitia di sana untuk mengikuti lomba futsal tersebut, mau tidak
mau saya harus ikut berpartisipasi mengikuti perlombaan tersebut, seru
becek dan licin sekali lapangan yang saya gunakan untuk bermain futsal
tetapi tim saya pun akhirnya menang juara 1 dalam perlombaan futsal
wanita, hore rasanya senang sekali. Setelah saya selesai bermain futsal
tiba-tiba ada yang melempar saya telor dari belakang wah rasanya sakit
sekali pundak saya. Ternyata saya dikerjai oleh teman saya dengan
diceploki telur dan kasih lumpuran tanah, saya tidak sendiri diceplok
teman saya Erna juga ikut diceplok pakai telur dan sama seperti saya
telor tersebut mendarat di punggungnya. Maka dari situlah terjadi
saling lempar telur satu sama lain, seru sekali meskipun kesal tapi acara
penutupan perlombaanya cukup berwarna karena hampir semua
panitia terkena ceplokan telur hehehe. Acara perlombaan 17an pun selesai,
malamnya kami semua berkumpul untuk mengevaluasi acara tersebut
dan makan makan bersama.
Perpisahan KKN
Minggu-minggu terakhir ini saya akan membahas semua kegiatan
keseharian saya dan teman-teman saya. Kebiasaan yang kami lakukan
ketika makan bersama adalah makan di baskom katanya sih biar hemat
piring, hemat piring atau males cuci piring ya hehehe. Yap di sanalah kami
belajar saling berbagi satu sama lain, mulai makan di baskom secara
bersamaan yang cewek dan cowok dipisah. Masak pun kadang bergiliran
ketika anak cewek sedang malas-masak dan anak cowok yang
menggantikan. Di sela-sela makan bersama biasanya kami sering
berkumpul di ruang tamu, biasanya kami lebih sering bercanda karena
untuk menghindari rasa penat dan bosan dalam kegiatan KKN, saya
bersyukur dikasih teman kelompok seperti mereka humoris, baik
meskipun kadang-kadang suka egois hehe. Disamping kegiatan tersebut
setiap malam minggu saya dan teman-teman kelompok saya
mengadakan ngeliwet bareng warga acara ini rutin kami lakukan di setiap
malam minggu. Acara ngeliwet ini dibantu oleh ibu-ibu sekitar dan saya
membantu para ibu-ibu memasak. Makanan favorit kampung ini adalah
jengkol, hampir setiap ngeliwet selalu ada jengkol saya sangat tidak suka
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 161
sekali akan tetapi saya menghargai yang lain. Hari demi hari pun berlalu
sampai pada akhirnya tepat pada tanggal 23 Agustus 2016 saya dan
teman kelompok saya membuat acara perpisahan penutupan KKN
ILVIL dan KKN ASA di balai desa sekaligus pembagian hadiah
perlombaan serta tabligh akbar yang diisi oleh dosen saya sendiri. Acara
tersebut diawali dengan pembukaan marawis. Rasanya saya sedih saat
acara pentupan ini dilaksanakan karena tidak menyangka KKN telah
berakhir dan saya harus berpisah dengan warga sekitar demi
melanjutkan pendidikan di kampus tercinta. Acara penutupan pun
selesai. Pada tanggal 24 Agustus 2016 saya dan teman-teman saya
melaksanakan silaturahim kembali kepada warga sekitar sebagai salam
perpisahan, sedih dan haru rasanya. Abah yang sudah saya anggap
sebagai orang tua kedua saya harus berpisah, di sana saya menangis
ketika berpamitan dengan Abah begitu pula sebaliknya. Saya sangat
sayang kepada Abah layaknya seorang anak sayang kepada bapaknya.
Karena Abah sering membantu saya dan sering memberi masukan
kepada saya sehingga itu yang membuat saya merasa berat
meninggalkan Abah. Tepat pada tanggal 25 Agustus 2015 kami semua
pun berpisah dan pergi meninggalkan Desa Banyu Resmi dan kembali
pulang kerumah masing masing. Terima kasih Desa Banyu Resmi
engkau telah memberiku banyak cerita indah di sana.
162 | KKN ILVIL 009 2016
9
MENCARI ARTI KEHIDUPAN
Badru Hawasi
Makna Kuliah Kerja Nyata
Tidak pernah terpikirkan saya akan berada dimana saya akan
memulai fase Kuliah Kerja Nyata. Selama ini, saya hanya mendengarkan
saja pengalaman senior-senior saya tentang bagaimana indahnya
melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mendengarkan cerita dan
pengalaman mereka sungguh membuat saya ingin secepatnya
melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), karena, di sana nantinya saya
akan mengetahui apa itu makna kehidupan yang sebenarnya. Sungguh
akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan. Hari berganti hari
begitu cepat, hingga saatnya pembagian kelompok oleh Pusat
Pengbdian kepada Masyarakat (PPM). Ada sedikit rasa takut dibenak
saya akan mendapatkan kelompok yang susah untuk bekerja sama.
Namun, kekhawatiran saya menghilang ketika pertama kali saya
berkenalan dengan kelompok saya yaitu kelompok sembilan. Kami
mulai memeperkenalkan diri kamai masing-masing. Ada Nu’man, Fajar,
Fahri, Habibi, Erna, Ayu, Afifah, Patimah, Risfi. Mereka terlihat sangat
bersahabat, walaupun di pertemuan pertama kami terlihat sedikit
canggung, mungkin dikarenakan kami baru saja mengenal satu sama
lainnya, dan sebelumnya kami belum pernah dipertemukan dan
mengenal.
Semakin hari kami terlihat semakin akrab dan semakin mengenal
karakter kami masing-masing. Ada yang memiliki karakter yang
humoris, ada yang memiliki karakter yang pendiam, ada yang memiliki
karakter yang cuek dan masih banyak lagi karakter yang kami miliki,
tetapi, perbedaan itu yang membuat semuanya menjadi indah. Hampir
setiap minggu kami berkumpul untuk membuat kami semakin
mengenal satu sama lainnya, walaupun ketika berkumpul, sangat sulit
untuk bisa berkumpul secara utuh dikarenakan kesibukan kami
masing-masing. Hari berganti begitu cepat, tidak terasa saatnya
penentuan nama desa yang akan kami tempati selama sebulan.
Keluarlah nama Desa Banyu Resmi yang terletak di daerah Bogor, Jawa
Barat. Sebelumnya, kami sempat bingung karena, nama desa ini asing di
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 163
telinga kami semua, namun, dengan bantuan internet yang semakin
canggih kami dapat mengetahui letak desa ini yang berada di Cigudeg
tepatnya. Kami semakin antusias untuk cepat-cepat berada di sana.
Kami mulai sibuk mempersiapkan program kerja apa saja yang akan
kami buat di sana.
Kenangan Terindah
Hari demi hari berganti begitu cepat. Kuliah Kerja Nyata pun
akan tiba waktunya sebentar lagi. Berbagai kegiatan telah kami siapkan
dengan begitu matang. Mulai dari program kerja selama di sana,
peralatan apa saja yang perlu dibawa, dan masih banyak lagi yang
lainnya. Tiba saatnya dimana saya mulai melakukan survei ke lokasi
Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami yaitu di Desa Banyu Resmi, Cigudeg
Bogor. Begitu pertama kali menginjakkan kaki di sana, saya sangat
kagum dengan keindahan alam di sana. Desa yang masih sangat asri dan
memiliki masyarakat yang sangat ramah tamah. Membuat kami merasa
seperti berada dirumah kami sendiri. Begitu sampai di lokasi, kami
langsung menemui warga setempat untuk mencari tempat tinggal
untuk kami selama sebulan. Bertemulah kami dengan Abah Jumhari
panggilan akrabnya sehari-hari. Sosok laki-laki yang sudah berumur
dan ramah. Beliau menyambut kami dengan suka cita. Terlihat senyum
ikhlas di wajahnya ketika menyambut kedatangan kami. Abah Jumhari
pun senantiasa mengizinkan kami untuk tinggal di rumah miliknya
yang sederhana. Tanpa sungkan, abah rela membagi kegidupannya yang
sederhana kepada saya dan teman-teman. Abah Jumhari hanya tinggal
bersama istrinya saja, sedangkan anak-anaknya sudah berkeluarga
sehingga tinggal di tempat yang berbeda-beda.
Tak terasa 25 Juli 2016. Tiba saatnya pelaksanaan Kuliah Kerja
Nyata (KKN) dimulai. Saya dan teman-teman mulai mempersiapkan
segala kebutuhan yang kami perlukan selama di sana. Baang-barang
kami sebelumnya sudah berada di desa satu hari sebelum kami ke sana,
sehingga, pada tanggal 25 Juli kami tidak membawa banyak barang lagi.
Kami pergi secara terpisah ada yang pergi dengan kendaraan sepeda
motor dan ada juga yang pergi menggunakan mobil pribadi. Sebelum
magrib, saya dan teman-teman sudah berada di Desa Banyu Resmi.
Kedatangan kami disambut hangat oleh penduduk desa setempat.
164 | KKN ILVIL 009 2016
Meeka sangat antusias dengan kedatangan kami semua. Senyum ikhlas
terlihat di wajah mereka. Kami pun merasa sngat senang dengan
penyambutan mereka. Ketika datang, saya langsung membereskan
semua perlengkapan yang kami bawa, dan istri abah memberitahu kami
tempat untuk kami istirahat selama di sana. Hari pertama kami di sana
hanya kami habiskan untuk bersih-bersih dan berkenalan dengan
keluarga Abah Jumhari. Abah Jumhari dan Istri sudah menganggap saya
dan teman-teman sebagai anak mereka sendiri. Kekeluargaan begitu
terasa ketika kami tinggal di rumah abah.
Hari selanjutnya, saya dan teman-teman mulai sibuk merancang
untuk membuat pembukaan KKN di Desa Banyu Resmi. Saya mendapat
tugas untuk membagikan surat kepada tokoh masyarakat setempat, dan
saya juga mendapat bagian untuk mengisi acara ketika pembukaan. Hal
ini dikarenakan di antara kelompok saya, hanya saya yang bisa
berbahasa Sunda, dan rata-rata penduduk di Desa Banyu Resmi
menggunakan bahasa Sunda dalam berbicara sehari-hari. Pembukaan
dilaksanakan pada malah hari sesudah shalat isya. Pembukaan dihadiri
oleh tokoh masyarat setempat, perwakilan kepala desa dan seluruh
masyarakat Banyu Resmi yan sangat antusias. Pembukaan KKN kami
dilaksanakan di balai desa tidak jauh dari tempat kami tinggal. Tujuan
diadakannya pembukaan ini adalah untuk mengenalkan anggota
kelompok dan untuk memberitahu kepada seluruh masyarakat tujuan
kami datang ke Desa Banyu Resmi. Hari selanjutnya ketika pembukan
selesai, saya dan teman-teman mulai sibuk dengan program kerja kami.
Kami memulai program kerja dengan mengajar di sekolah-sekolah yang
terjagkau yang berada di Desa Banyu Resmi. Saya mendapat bagian
mengajar di SDN Cikawung 02. Pertama kali mengajar di sana, saya
mengajarkan anak-anak SDN Cikawung 02 untuk baris-berbaris. Saya
mengajak mereka untuk ke lapangan dan melatih mereka baris-berbaris.
Mereka terlihat sangat tertib dan antusias selama latihan. Saya berusaha
membangkitkan semangat mereka untuk terus belajar dan terus
menuntut ilmu setinggi-tingginya, karena, kebanyakan anak-anak di
sini hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), dan selesai dari SD kebanyakan
dari mereka tidak melanjutkan pendidikannya. Sungguh sangat miris
melihat kenyataan pendidikan seperti ini, ketika jam istirahat tiba, saya
habiskan waktu untuk bercengkrama dengan guru-guru yang ada di
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 165
sana. Mereka sangat ikhlas memberikan ilmu yang mereka punya
walaupun dengan gaya yang jauh dari cukup. Bagi mereka, yang
terpenting anak-anak semangat dalam belajar dan menuntut ilmu.
Sungguh hal yang sangat perlu diapresiasi.
Pendidikan di desa ini masih sangat memprihatinkan. Banyak dari
anak-anak desa yang putus sekolah dikarenakan banyak faktor. Mulai
dari faktor ekonomi dan juga dikarenakan kebiasaan yang sudah
melekat dan turun-temurun bahwa kebanyakan dari mereka yang hanya
lulusan Sekolah Dasar (SD). Di desa ini hanya terdapat 2 Sekolah Dasar
(SD) yaitu SDN Banyu Resmi 01 dan SDN Cikawung 02. Letak sekolah
ini lumayan jauh satu sama lainnya. Jika dibandingkan anatar keduanya,
SDN Cikawung jauh lebih baik. Disiplin di sekolah ini mulai diterapkan
dan guru-guru yang mengajarkan pun disiplin, namun, semangat dari
muris-murid di dua sekolah ini sanat luar biasa dan perlu untuk
diapresiasi. Banyak dari mereka yang tinggal jauh dari sekolah. Bahkan
kebanyakan mereka berjalan kaki menuju sekolah. Hal ini tidak
memutuskan semangat mereka untuk pergi ke sekolah guna menuntut
ilmu. Di sekolah SDN Banyu Resmi 01 memiki murid yang banyak. Saya
lebih sering mengajar di sekolah ini dikarenakan lokasinya yang tidak
jauh dari tempat tinggal saya. Di sekolah ini belum ada tiang bendera
sehingga ketika senin pagi murid-murid disini tidak mengikuti upacara
bendera seperti sekolah-sekolah lainnya, karena hal itu, saya dan
teman-teman berusaha mewujudkan impian dari guru-guru dan siswa
di sini dengan membuatkan tiang bendera agar mereka bisa mengikuti
upacara bendera seperti sekolah yang lainnya. Saya dan teman-teman
bergotong-royong membuat tiang bendera secepatnya, dan ketika tiang
bendera selesai dibuat, tidak lupa kami mengajarkan latihan baris-
berbaris kepada siswa, dan tibalah waktu dimana pelaksanaan upacara
dimulai. Rasanya haru meyaksikan uapacara bendera yang mereka
lakukan pertama kali, walaupun masih banyak kekurangan, tetapi saya
bangga pada mereka. Mereka yang sangat antusias dan sangat senang
akan melaksanakan upacara untuk pertama kalinya di sekolah mereka.
Momen-momen seperti ini sangat membuat saya haru dan sedih.
Melihat sendiri fenomena pendidikan di sini yang masih jauh dari kata
layak. Diharapkan ada bantuan dari pemerintah untuk sekolah ini
kedepannya, karena sejatinya, pendidikan merupakan aset bangsa. Oleh
166 | KKN ILVIL 009 2016
sebab itu, perlu dibantu dari segala aspeknya. Hal yang tidak kalah haru
adalah ketika anak-anak desa meminta saya dan teman-teman
membuatkan gawang untuk mereka. Anak-anak Desa Banyu Resmi
memang suka bermain bola di sekitar lapangan sekolah, namun
sayangnya, mereka tidak memliki gawang untuk mereka bermain. Atas
dasar itu, dengan perlengkapan seadanya, saya dan teman-teman
berusaha mewujudkan impian mereka dengan membuatkan gawang
dari bambu dan tali rafia supaya anak-anak bisa bermain bola dengan
semangat. Tidak perlu waktu yang lama untuk kami membuat gawang.
Cukup bermodalkan bambu yang kami ambil tidak jauh dari sekolahan
dan tali rafia gawang pun jadi dalam waktu sehari dan siap untuk
dipakai. Anak-anak terlihat sangat senang dan antusias. Membuat kami
juga merasakan kesenangan yang mereka rasakan.
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat. Saya merasa semakin
dekat dengan teman-teman kelompok saya. Berbeda-beda karakter
tetapi kami berusaha saling menjaga kekompakan kami dan
menghindari pertengkaran sekecil apapun. Biasanya, tingkah dari Fajar
dan Fahri selalu bisa mencairkan suasana, karena mereka memiliki sisi
humor yang lebih dan dapat menghibur siapapun. Habis magrib, kami
habiskan waktu untuk bercengkrama dengan pemilik rumah yaitu abah
Jumhari. Abah sangat senang berkumpul dengan kami karena abah jadi
tidak merasa sendiri, dan ketika ada rapatpun kami tidak melakuknnya
secara serius, karena kelompok kami memmang tidak bisa dengan
suasana yang serius. Kegiatan saya selanjutnya yaitu mengisi pengajian
ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di Desa Banyu Resmi, dengan modal
ilmu agama yang saya miliki, saya berusaha untuk memberikan sedikit
ilmu yang saya punya untuk berceramah mengisi acara pengajian yang
memang rutin diadakan di Desa Banyu Resmi, karena sebagian dari
penduduk di sini menggunakan bahasa Sunda, saya berceramah dengan
menggunakan bahasa Sunda agar lebih mudah dipahami oleh
masyarakat setempat. Saya sangat salut dengan penduduk di sini yang
masih kental dengan unsur kekeluargaan dan keagamaan. Hampir
setiap malam selalu ada pengajian dari kampung ke kampung, dan saya
berkeliling untuk berceramah di sana. Mereka sangat antusias ketika
ada mahasiswa yang datang dan selalu menyapa dengan senyuman.
Ketika azan berkumandang, mushola ramai dengan penduduk yang
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 167
akan melaksanakan shalat. Penduduk Desa Banyu Resmi sangat suka
berkumpul, sehingga, ketika ada mahasiswa yang lewat mereka selalu
mempersilahkan kami untuk mampir dan memberikan apa yang mereka
punya, walaupun tidak seberapa, namun itu sangat membuat kami
bahagia karena itu menunjukkan pehatian mereka dan kesenangan
mereka dengan kedatangan kami. Sungguh hal yang tidak bisa dibayar
dan diganti dengan apapun. Kegiatan saya yang lainnya adalah
memasak, walaupun saya laki-laki, tetapi saya sangat suka memasak.
Ketika anak-anak perempuan sibuk mengikuti pengajian setiap hari
kamis, biasanya yang memasak di dapur adalah saya dan teman saya
Nu’man. Masakan saya dan Nu’man juga disukai oleh kelompok saya.
Kami berusaha untuk saling menutupi satu sama lainnya, dan berusaha
untuk terus menjalin keakraban. Ketika waktu makan tiba, kami tidak
makan sendiri-sendiri melainkan makan bersama-sama menggunakan
baskom besar, walaupun hanya mkan seadanya, namun kami tetap
merasa nikmt dan bahagia karena dilakukan secara bersama-sama.
Hal yang paling mengesankan menurut saya adalah ketika
pelaksanaan 17 Agustus di Desa Banyu Resmi. semua perlombaan dibuat
oleh mahasiswa dan diikuti oleh seluruh warga masayarakat. Kami
mempersiapkan segala perlengkapan dan acara dengan sangat matang.
Mulai dari mengajarkan anak-anak untuk latihan baris-berbaris, sampai
mempersiapkan hadiah-hadiah bagi para pemenang lomba. Perlombaan
yang kami buat diantaranya adalah lomba makan kerupuk, lomba tarik
tambang, lomba joget balon, lomba footsal daster, lomba balap karung
menggunakan helm, lomba memasukkan belut kedalam botol dan masih
banyak lagi yang lainnya. Saya dan teman-teman mengadakan lomba di
balai desa agar mudah terjangkau oleh setiap warga. Kami sangat
antusias dikarenakan hampir setiap lomba banyak yang mengikuti.
Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak terlihat sangat menikmati
setiap lomba yang kami buat. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan
kami juga. Senyum lepas dari mereka sudah sangat membuat kami
bahagia dan menghilangkan rasa capek kami. Tak terasa waktu begitu
cepat berlalu, hingga pada saatnya penutupan pelaksanaan KKN.
Penutupan kami adakan dengan mengadakan Tabligh Akbar sekaligus
santunan anak yatim dan jompo. Santunan ini kami dapatkan dari hasil
sumbangan kami dan hasil jualan baju kami yang sudah kami
168 | KKN ILVIL 009 2016
kumpulkan. Dalam acara ini, saya terlibat sebagai bagian acara sekaligus
penceramah. Acara Tabligh Akbar sudah kami susun dengan rapi
supaya hasilnya memuaskan dan dapat memberi kesan pada seluruh
masyarakat Desa Banyu Resmi. Sehari sebelum acara, saya dan semua
teman laki-laki dibantu oleh warga mulai memasang tenda dan sound
system. Kami sangat berterima kasih atas segala bantuan warga Desa
Banyu Resmi. Hampir setiap acara yang kami buat, dengan suka rela
mereka membantu kami. Ketika penyampaian ceramah, tak terasa air
mata saya mengalir. Begitu berharganya desa dan warga Banyu Resmi
membuat saya dan teman-teman merasa berat untuk meninggalkan desa
dengan begitu banyak kenangan di dalamnya.
Banyu Resmi Bagiku
Tidak pernah terbayangkan sama sekali di benak saya akan
menginjakkan kaki di desa ini. Desa Banyu Resmi dengan segala
keindahalan alam yang dimilikinya. Membuat siapapun ingin datang
lagi dan lagi ke tempat ini. bukan hanya keindahan alam yang dimiliki,
namun juga keramahan warga desanya yang membuat saya betah berada
di sini. Mereka yang tidak mengenal saya sama sekali tetapi ketika saya
dan teman-teman datang, mereka menganggap kami sebagai keluarga
mereka. Bahkan mereka memberikan apapun yang mereka punya
kepada kami meskipun mereka juga kekurangan. Keikhlasan begitu
terlihat jelas di wajah warga Desa Banyu Resmi.
Desa Banyu Resmi dengan segala kekurangannya, namun memiliki
potensi yang besar untuk menjadi desa yang unggul dan maju. Hal ini
dapat dilihat dari banyaknya tersimpan kekayaan alam yang ada di desa
ini. Kebun teh, tanah yang subur dan masih banyak lagi yang
sebenarnya bisa sangat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk
membangun perekonomian mereka. Sayangnya, masih banyak
masyarakat yang belum sadar akan hal itu. Masyarakat Banyu Resmi
terkenal dengan pekerjaan mereka sebagai penambang emas. Hampir
setiap warga di sini bekerja sebagai penambang emas. Tidak begitu
banyak yang bekerja sebagai petani. Padahal, tanah di sini sangat subur
dan berhamburan dan bisa dimanfaatkan untuk perekonomian mereka.
Satu hal yang salut dari desa ini adalah kekeluargaan yang mereka
bangun dengan sangat baik. Mereka sangat memuliakan tamu yang
datang, dan keagamaan mereka juga sangat bagus dan patut untuk
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 169
dicontoh. Hampir setiap hari mereka mengadakan pengajian rutin dan
selalu penuh oleh warga desa, dan ketika shalat pun, musholla penuh
dengan warga desa yang melaksanakan shalat 5 waktu. Sungguh hal-hal
positif yang harus dicontoh, karena pada zaman sekarang sudah sulit
ditemukan terutama di perkotaan. Warga desanya sangat ramah dan
santun. Mereka menganggap kami sebagai bagian dari mereka, sehingga
membuat kami merasa tidak canggung berinteraksi dengan warga
Banyu Remi. Sebulan berada di Banyu Resmi sangat tidak terasa.
Waktu berlalu begitu cepat. Masih ingin rasanya untuk tetap tinggal
disana dan berinteraksi dengan warganya yang ramah. Mereka selalu
membantu kami dengan ikhlas, ketika selesai acara apapun yang kami
buat, mereka membantu kami merapihkan Balai Desa walalupun tanpa
kami minta. Ingin rasanya untuk kembali dan kembali lagi ke Desa
Banyu Resmi.
Kami Datang Untuk Kembali
Tidak terasa sebulan sudah kami berada di Banyu Resmi. Begitu
banyak cerita yang tidak akan mungkin saya lupakan dalam hidup saya.
Pengalaman berharga penuh suka, duka, canda, tawa. Perpisahan
bukanlah akhir dari segalanya. Setiap ada pertemuan pasti akan ada
yang namanya perpisahan. Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya.
Tak bisa dibendung air mata ini melihat wajah-wajah tulus dari mereka.
Ketika perpulangan tiba, masyarakat desa Banyu Resmi berkumpul di
rumah Abah Jumhari untuk mengantarkan kami. Tak terasa air mata ini
mengalir melihat kami yang sudah begitu dekat dan sudah seperti
keluarga. Terutama kepada Abah Jumhari dan Umi. Tanpa mereka, kami
buka apa-apa. Abah yang dengan ikhlas mau mengizinkan kami untuk
tinggal tanpa mengharapkan apapun. Abah dan Umi juga memberikan
kami arti kehidupan yang sebenarnya. Abah selalu mengajarkan kami
tentang banyak hal dalam hidup dan menganggap kami sebagai anak-
anaknya sendiri. Begitu berat rasanya meninggalkan abah dan umi.
Warga desa yang apa adanya, selalu tersenyum ketika kami datang ke
rumah mereka, dan anak-anak desa yang selalu menghibur kami di kala
kami merasa letih. Sungguh pengalaman hidup yang luar biasa, dan
tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Terima kasih Desa Banyu
Resmi.
170 | KKN ILVIL 009 2016
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Adi, Isbandi Rukminto. Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat
Sebagai Upaya Masyarakat. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. 2008.
Mardikanto, Totok dan Poerwoko Soebianto. Pemberdayaan Masyarakat
Dalam Prespektif Kebijakan Publik. Bandung: Penerbit Alfabeta. 2014.
Nugraha, Eva. Panduan Penyusunan Buku Laporan Hasil KKN-PpMM. Jakarta:
Pusat Pengabdian kepada Masyarakat. 2016.
Nugraha, Eva dan Farid Hamzen. Pedoman Pelaksanaan Pengabdian Kepada
Masyarakat oleh Mahasiswa. Jakarta: PPM UIN Jakarta. 2013.
Suwarna, Handoko. Strategi Membentuk Masyarakat Madani. Yogyakarta:
Pusaka Abadi Press. 1998.
Suharto, Edi. Membangun Masyarakat Membangun Rakyat. Bandung: Rafika
Aditama. 2009.
Wrihatnolo, Randy R. 2007. Manajemen Pemberdayaan: Sebuah Pengantar dan
Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT Elex
Komputindo. 2007.
Jurnal
Al-Arif, M Nur Rianto. “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Wakaf
Uang”. Jurnal Asy-Syir’ah. Vol. 44, No. II. 2010.
Hatu, Rauf A. “Pemberdayaan dan Pendampingan Sosial dalam
Masyarakat: Suatu Kajian Teoritis”. Jurnal INOVASI, Vol. 7, No. 4.
2010.
Husna, Nurul. “Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial”. Jurnal Al
Bayan. Vol. 20, No. 29 (Januari-Juni 2014).
Tatong, La dkk. “Hubungan Intervensi Pekerja Sosial dengan Perubahan
Perilaku Sosial Penyandang Cacat dalam Beradaptasi Sosial”.
Analisis Vol. 1, 1 (Juni 2012).
171
Sumber Lain
Catatan Observasi Lapangan, “Hasil Survei Lokasi KKN PpMM 2016 Desa
Banyu Resmi”, pada 15 Mei 2016
Nugraha, Eva. “Beberapa Catatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) PpMM
2016”. Seminar Pembekalan Awal KKN PpMM 2016, disampaikan di
Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada
hari Rabu, 13 April 2016
“Banyu Resmi, Cigudeg, Bogor” diakses pada tanggal 20 Januari 2017
http://www.maps7.com/id/Banyu%20Resmi,%20Cigudeg,%20Bogo
r,%20Jawa%20Barat,%20Indonesia.html#.WNns-mslHIU
“Demografi Desa Banyu Resmi”, diakses pada 07 September 17.00 pada
https://kecamatancigudeg.bogorkab.go.id/index.php/multisite/deta
il_desa/313
172 | KKN ILVIL 009 2016
SHORT BIO
Muchammad Nu’man merupakan
mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora,
Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Pria ini
biasa dipanggil Nu’man. Lahir di Jakarta 23
tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 15
September 1993. Jalur pendidikannya
terakhirnya, di Ponpes Daarul Rahman
selama 6 tahun. Kemudian, Ia mengabdikan
dirinya di Pondok Pesantren al-Wasilah
daerah Jakarta Barat. Ia merupakan salah
satu mahasiswa yang mendapat beasiswa Bidik Misi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Di luar kegiatan kuliah, Ia juga aktif di organisasi
PMII komisariat Adab dan Humaniora (KOMFAKA).
085691559312 / [email protected]
Erna Putri Lestari merupakan
mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Jurusan Perbankan Syariah. Wanita yang
biasa dipanggil Erna ini sekarang tinggal di
Pamulang 2. Lahir di Tangerang 21 tahun
yang lalu, tepatnya pada tanggal 29
September 1995. Pendidikan menengahnya,
Ia habiskan di SMK Waskito Jurusan
Perbankan. Di luar kegiatan kuliah, Erna
aktif di beberapa organisasi intra kampus
seperti HMJ dan LSO. Selain itu, wanita ini
juga memiliki kesibukan lain seperti mengajar les privat murid SD dan
SMP di kisaran Pamulang.
083877226472 / [email protected]
173
Ahmad Fachri merupakan
mahasiswa Fakultas Ekonomi dan
Bisnis, Jurusan Ekonomi Syariah. Pria
yang biasa dipanggil Fachri ini tinggal di
daerah Cinere, Depok bersama
keluarganya. Lahir di Jakarta 21 tahun
yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Maret
1995. Fachri merupakan anak kedua dari
dua bersaudara yang dilahirkan dari
seorang ibu bernama Latifah dan ayah
bernama Muhammad Najib. Fachri memiliki satu orang saudara
perempuan. Jalur pendidikan terakhirnya adalah SMA Negeri 97
Jakarta. Fachri pun sering melakukan travelling ke beberapa daerah di
Indonesia.
081280653500 / [email protected]
Puja Ahmad Habibi merupakan
mahasiswa Fakultas Sains dan
Tekhnologi, Jurusan Teknik Informatika.
Pria ini biasa dipanggil Habibi. Lahir di
Jambi 20 tahun yang lalu, tepatnya pada
tanggal 26 Maret 1996. Habibi
merupakan anak tunggal yang dilahirkan
dari seorang ibu bernama Lizawati dan
ayah bernama Zainuddin. Saat ini, Habibi
ngekos dan terpisah dengan orang tua di
Pesanggrahan, Ciputat. Jalur pendidikannya dimulai TK Ar-Rifqi Bogor,
lalu SDIT Nurul Ilmi Jambi, kemudian SMPN 8 Kota Jambi, kemudian
di SMAN 4 kota Jambi.
082374643636 / [email protected]
174 | KKN ILVIL 009 2016
Badru Hawasi merupakan
mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah,
Jurusan Dirasat Islamiyah. Pria ini biasa
dipanggil Badru. Lahir di Lebak 21 tahun
yang lalu, tepatnya pada tanggal 19 Januari
1995. Badru merupakan anak ketiga dari
sembilan bersaudara yang dilahirkan dari
seorang ibu bernama Kokom Komariyah
dan ayah bernama Hasanudin. Badru
memiliki tujuh orang saudara perempuan
dan satu orang saudara laki-laki. Saat ini
Badru tinggal di Pondok Pesantren Daar El-Hikam. Jalur pendidikan
terakhirnya di SMAN 2 Rangkasbitung selama 3 tahun.
085777421964 / [email protected]
Herisfina Fauziah merupakan
mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan
Keguruan, Jurusan Manajemen
Pendidikan. Wanita ini biasa dipanggil
Risfi. Lahir di Tangerang 21 tahun yang
lalu, tepatnya pada tanggal 14 Maret 1995.
Risfi merupakan anak ketiga dari empat
bersaudara yang dilahirkan dari seorang
ibu bernama Emi Suhaemi dan ayah
bernama Heryadi. Risfi memiliki dua
orang kakak perempuan dan satu orang
adik laki-laki. Saat ini, Risfi dan keluarga tinggal di Cisauk, Tangerang.
Jalur pendidikan terakhirnya di Pondok Pesantren Daar El Qolam 3
(Tangerang).
08881906512 / [email protected]
Pesona Senja Kebahagiaan Desa Banyu Resmi | 175