- - 101 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 pabrik mengingat banyaknya buruh wanita di sana, yang umumnya punya anak-anak kecil. Anak anak ini pagi hari dititipkan di sana dan sore hari dijemput kembali oleh orang tuanya. Di TPA anak anak ini dikelompokkan sesuai usia, yang balita dirawat sesuai usianya, yang lebih besar disekolahkan. Semua dilakukan tanpa membedakan atau adanya label agama, suku, ras, dsb. WKRI DPD Jakarta juga mengelola Taman KanakKanak Indriasana bertempat di Matraman l Program penjualan kacamata murah bagi masyarakat. Program ini diawali dengan mengumpulkan kebutuhan di tiap-tiap Ranting, kemudian dikoordinasikan ke cabang. Lokasi pemeriksaan mata disepakati di GKP lantai 4. Terdata sejumlah 128 peminat, dibagi dalam dua sesi pemeriksaan yaitu pagi dan siang. Kegiatan ini bekerjasama dengan optik Samudra, dengan harga kacamata mulai dari Rp. 150.000. Kegiatan pemeriksaan dilaksanakan tanggal 13 Oktober 2023 dan pengambilan pada tanggal Penjualan kacamata murah - [Foto : dok. WKRI] Penandatanganan kesepakatan kerjasama untuk program stunting daerah Rawabuaya - [Foto : dok. WKRI] Kunjungan ke Panti Yayasan Sosial Tangan Kasih - [Foto : dok. WKRI] 15 November 2023. l Bekerjasama dengan kelurahan untuk mengatasi masalah stunting dilingkungan Rawabuaya. Kegiatan diawali dengan pertemuan dengan walikota Jakarta Barat, ketua PKK Jakarta Barat, ibu Lisniawati, Lurah Rawabuaya beserta jajarannya, dengan istilah deklarasi penanggulangan stunting daerah Rawabuaya. Sebagai tuan rumah paroki Santo Thomas Rasul, Romo Sridanto, PSE, Komsos Sathora dan Wanita Katolik. Undangan sejumlah 150 orang, termasuk anakanak yang mendekati stunting. Paroki ambil bagian memberikan makanan penuh gizi selama 14 hari, dimulai tanggal 1 Des 2023. makanan ini di drop di Kelurahan. l Mengunjungi panti Yayasan Sosial Tangan Kasih yang berlokasi di Kunciran Indah jalan Gurita blok D no 167/168, RT004 RW 06 untuk berbagi berkat. Tercatat ada 70 anak penghuni panti, yang tertua lahir tahun 1999. l Tanda Kasih kepada karyawan gereja. Telah dibagikan tanggal 19 Desember 2023 Kami menyadari banyak hal hal yang belum dicapai dalam menjalankan misi organisasi, dukungan dari ibu-ibu Katolik, maupun OMK sangat diharapkan, dengan bergabung dalam organisasi ini, bahu-membahu mewujudkan misi dan melaksanakan ajaran sosial gereja. Ditulis oleh : Bid.Humas WKRI Sathora Pemberian tanda kasih kepada karyawan gereja - [Foto : dok. WKRI] - - 101 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
- - 102 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 LIPUTAN LIPUTAN WKRI Lima menit berjalan kaki dari lapangan Santo Petrus, terdapat kandang Natal yang unik. Kandang itu tersembunyi di halaman yang dikelilingi oleh bangunan tempat tinggal. Dibangun pada tahun 1972 oleh Giuseppe Ianni, seorang tukang sampah yang bekerja untuk layanan sanitasi perkotaan Roma (AMA), bangunan ini diharapkan meniru Palestina pada saat kelahiran Yesus dan menyebarkan pesan perdamaian. Ketika Giuseppe memasang batu pertama, dia tidak pernah menduga bahwa bahwa palungannya akan menjadi terkenal di seluruh dunia. Sejak tahun 1972 Kandang Natal ini telah dikunjungi oleh berbagai macam orang, termasuk Bunda Teresa, politisi Italia, dan Yohanes Paulus II, yang mengunjunginya setiap tahun pada tanggal 6 Januari, dari tahun 1979 hingga 2002. Meskipun Giuseppe meninggal pada bulan Juni 2022, karya dan imannya tetap hidup di dalam Kandang Natalnya, yang terus menjadi bukti bahwa Kristus dapat dilahirkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun. “Ayah saya akan selalu membuat perbandingan bahwa sebagai petugas kebersihan membersihkan jalan sehingga palungan tersebut dapat membersihkan jiwa-jiwa, tak peduli apapun kepercayaannya.” Salvatore Ianni, 61 tahun, salah satu anak dari keenam anak Giuseppe menceritakan kepada Aleteia dalam sebuah wawancara pada tanggal 20 Desember 2023. “Kandang Natal ini adalah anak ketujuh ayah saya,” dia berkelakar, sambil menunjuk ke palungan rumit yang terbentang di belakangnya. Kandang Natal ini terbuat dari 2234 buah batu, 350 buah diantaranya dibawa oleh orang-orang Katolik dari seluruh penjuru dunia yang ingin berkontribusi. Replika kandang natal tersebut termasuk 100 buah rumah, sejumlah jalan yang berkelokkelok sepanjang lebih dari 170 kaki, 3 buah sungai, 7 buah jembatan, dan 4 buah saluran air. Semuanya dengan air yang mengalir. Figur orang-orang desa yang berwarna warni, para gembala, dan lain-lain tersebar dan memenuhi struktur batu tersebut. Permulaan yang Rendah Hati Tempat penitipan anak ini dibangun pada tahun 1972 ketika Giuseppe meminta izin kepada atasannya untuk membangun sebuah replika kandang natal di sebuah kantor cabang AMA tempat ia bekerja, dekat dengan kota Vatikan. Dia mengumpulkan bantuan keuangan dari temantemannya untuk membeli bahan bangunan, batu api dan batu vulkanik keras, dan mulai memahat kota Betlehem pada waktu luangnya di dalam kamarnya dimana petugas kebersihan lainnya menyimpan truk dan mesin pembersih mereka. “Dia memutuskan untuk membawa tempat bayi itu ke tempat yang sederhana dia juga berpikir tempat itu juga dapat menjadi tempat pertemuan yang baik untuk orangorang di sekitar tempat itu.” kata Salvatore. Pada saat itu, “tampaknya tukang sampah termasuk yang terakhir dalam Kandang Natal yang Dikunjungi Yohanes Paulus II Setiap Tahun, dan Kreator Kejutannya LIPUTAN MANCANEGARA Yohanes Paulus II mengunjungi kandang Natal yang dibuat oleh seorang pekerja sanitasi setiap tahun selama masa kepausannya. Sampai sekarang palungan yang unik ini masih menarik banyak pengunjung. Coba Anda lihat foto-fotonya! [Sumber : aleteia.org]
- - 103 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 kehidupan masyarakat.” “Kandang natal tersebut lahir dari sebuah tindakan iman.” Salvatore menjelaskan. “Dan imannya pulalah yang mendorongnya untuk menulis surat kepada Paus, mengundangnya untuk datang ke replika kandang natal dan para petugas kebersihan.” Yang menjadi kejutan bagi Giuseppe, Paus saat itu, Paulus IV, menerimanya, dan menjadi paus pertama yang berkunjung kesana pada tahun 1974. Giuseppe kemudian mengulangi gestur ini pada saat hari Natal di tahun 1978, beberapa bulan setelah Paus Yohanes Paulus II terpilih menjadi paus. Sebuah Tradisi bagi Paus Yohanes Paulus II Paus Yohanes Paulus II, seperti pendahulunya, setuju dan ketika dia sampai disana, Giuseppe memutuskan untuk bertanya kepada paus dari Polandia tersebut apakah ia akan datang ke tempat para petugas kebersihan dan palungan. Paus Yohanes Paulus II menyetujuinya dan pada 24 tahun berikutnya, sampai pada tahun 2003 ketika kesehatannya terlalu lemah. “Saya ingat kunjungan pertamanya dengan sangat baik, ada rasa ingin tahu yang besar menyelimuti Paus asing itu. Dia adalah pembawa perubahan. Sikapnya sebenarnya adalah tentang kontak; ini adalah hal yang luar biasa,” ingat Salvatore, yang pada saat itu berusia 16 tahun pada saat Paus Yohanes Paulus II berkunjung untuk pertama kalinya. Hari itu, Giuseppe bukan satu-satunya orang yang mengajukan sebuah pertanyaan kepada paus baru itu. Ketika Paus Yohanes Paulus II mendekati putri tertua Giuseppe, Vittoria yang pada saat itu berusia 21 tahun, dia mengambil tangan paus itu dan memberitahunya bahwa dia akan menikah beberapa bulan lagi. Kemudian Vittoria bertanya kepada paus apakah ia akan merayakannya atau tidak. “Seperti jawaban ‘ya’ yang biasa ia berikan atas permintaan kunjungan ke replika kandang natal, paus itu menjawab ‘ya’ pada permintaan kakak perempuannya yang memberitahukan permintaannya dengan berani dan agak kurang sopan kesannya. “Itu merupakan permintaan yang sangat spontan.” kata Salvatore. Paus Yohanes Paulus II menikahkan Vittoria dan suaminya pada tanggal 25 Februari 1979. Paus Yohanes Paulus II adalah salah satu dari berbagai tokoh terkenal yang mengunjungi replika kandang natal itu, dan dialah yang tokoh yang paling sering berkunjung ke tempat itu. Bunda Teresa juga mengunjungi tempat itu pada tahun 1996, Perdana Menteri Italia Giulio Andreotti di tahun 1991, Paus Benediktus XVI pada tahun 2006, dan Presiden Italia Giorgio Napolitano pada tahun 2007. Seiring dengan kepopuleran replika kandang natal yang terus bertumbuh, AMA memutuskan untuk mendedikasikan seluruh ruangan pada replika kandang natal itu, mereka menempatkan mesin-mesin pembersih mereka di tempat lain, dan mengizinkan orang-orang untuk mengunjungi tempat itu secara gratis. AMA memperkirakan 1000 orang datang kesana setiap tahunnya. Replika Kandang Natal untuk Perdamaian “Kekudusan-Mu diterima diantara kami para pemulung sampah. Kami berdoa untuk perdamaian dunia,” tertulis di sepanjang salah satu dinding di dalam kamar yang berisikan replika kandang natal. Lahir pada tahun 1935, Giuseppe telah mengalami banyak perjuangan dan trauma pada saat Perang Dunia Kedua di dalam hidupnya. Dia sudah kehilangan kedua orangtuanya [Sumber : aleteia.org] [Sumber : aleteia.org]
- - 104 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 LIPUTAN di usia 9 tahun dan terpisah dengan saudara kandungnya hingga dia beranjak remaja. Karena dia telah hidup di masa-masa penuh trauma seperti ini, tidaklah mengherankan bahwa di dalam pikirannya replika kandang natal ini ia dedikasikan untuk perdamaian dunia. Salvatore menunjuk pada sebuah bingkai yang menyimpan selembar kertas besar dengan tulisan memudar di dalamnya: “Jangan menawarkan uang, tapi berdoalah bagi perdamaian dunia.” yang menandatangani “para petugas kebersihan” “Ayah saya menolak segala bentuk bantuan keuangan yang dapat diberikan orang. Uang tidak seharusnya datang ke tempat ini, palungan tersebut hanya didedikasikan untuk perdamaian dunia.,” kata Salvatore. Sebagai gantinya, orang-orang mulai membawa batu-batu besar dan kecil dari negara asal mereka, yang pertama kali disatukan oleh Giuseppe pada replika kandang natal. Namun ketika sudah tidak ada tempat lagi, mereka mulai menaruh batu-batu itu di sepanjang dinding di ruangan tersebut. Batu-batu tersebut ada yang berasal dari Kroasia, Kolumbia, Amerika Serikat, dan bahkan ada sebuah sepihan batu dari bulan, menghiasi replika kandang natal itu dan sekitarnya. Laki-Laki yang Penuh Iman dan Terus Belajar Sebuah daftar nama yang menelusuri silsilah keluarga Kristus, dari Abraham hingga Yusuf dan Maria, mengular di samping replika kandang natal itu menuntun kita kepada tokoh-tokoh dalam keluarga kudus yang terletak di sebuah gua kecil yang terang. Salvatore menjelaskan bahwa ayahnya mempelajari dengan rajin Kitab Suci karena dia menginginkan replika kandang natal itu memiliki sebuah “kebenaran sejarah”. Kenyataannya, ketika ditanya bukti apa yang dia percaya, ayahnya dan kandang natalnya bawa hingga saat ini, Salvatore menjawab dengan tiga unsur: “Iman, Ilmu Pengetahuan, dan Harapan.” “Iman ayah saya bukanlah sesuatu yang kosong atau ajaib,” anak laki-lakinya menjelaskan. “Iman tersebut berdasarkan fakta kehidupan yang konkret.” “Replika kandang natal itu milik AMA, seperti yang selalu diinginkan oleh ayah saya,” kata Salvatore. “Kami hanya butuh membawa kesaksiannya sebagai pengamat dari luar. Kandang Natal adalah ini, sebetulnya, yang terpenting [Sumber : aleteia.org] bukanlah tempatnya secara fisik, melainkan pesan spiritual yang dibawanya.” Penulis: Isabella H. de Carvalho Penerjemah: Albert Santoso Sumber: Aleteia [Sumber : aleteia.org] [Sumber : aleteia.org]
- - 105 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
- - 106 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
- - 107 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
SANTO - SANTA - - 108 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 Martir Remaja Penjaga Kesucian St. Maria Goretti Keluarga Goretti kecewa berat. Terlebih bagi Luigi Goretti, sang kepala keluarga. Ia merasa dibohongi oleh temannya, Bracceschi. Katanya, keberuntungan akan lebih mudah diperoleh di daerah Colle Gianturco didekat kota Paliano, karena tanah pertaniannya sangat subur, dan iklimnya bersahabat. Sedangkan lahan pertanian yang sedang digarapnya di Corinaldo, kota kecil di propinsi Ancona, Italia Tengah relatif kecil. Hasilnya tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Demi masa depan keempat anaknya yang beranjak dewasa, Luigi Goretti dan istrinya, Assunta Carlini sepakat berimigrasi ke Colle Gianturco pada bulan Oktober 1896. Nyatanya, tanah pertanian di Colle Gianturco juga tidak subur. Maka Luigi dan tetangganya, Giovanni Serenelli bekerja pada Senator Scelsi sebagai petani penggarap, dengan kesepakatan kontrak kerja bagi hasil. Namun hidup mereka justru semakin sulit dan menderita. Selama dua tahun lebih mereka hanya makan roti jagung dan bubur jagung (polenta). Padahal, di tempat semula, Corinaldo, keluarga petani Goretti menjalani hidup lebih tenang dan bahagia. Akan tetapi, kemiskinan tak menghalangi mereka untuk hidup bahagia dan bersyukur. Mereka percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Memiliki banyak anak tidak dirasakannya sebagai beban yang memberatkan, atau menjadikannya pusing dan emosional. Tak ada alasan untuk tidak hidup harmonis, karena diyakini bahwa anak adalah anugerah besar dari Tuhan yang harus dirawat. Problema anak-anak yang tak dapat bersekolah karena tidak cukup biaya, tidak membuat mereka putus asa. Orang tua dapat memberikan pendidikan moral dan agama secara sederhana namun mendalam kepada anak-anak. Iman Katolik mereka tekankan dengan mantap dan otentik. Para tetangga menghargai mereka sebagai keluarga harmonis yang baik budi, tulus, jujur, suka menolong dan sangat religius. Miskin secara duniawi namun kaya secara rohani. Dalam lingkungan keluarga religius demikianlah Maria Goretti, atau akrab dipanggil Marietta yaitu Maria Kecil dilahirkan pada 16 Oktober 1890 di Corinaldo. Ia dibaptis di gereja paroki St. Fransiskus, Corinaldo, sebelum 24 jam setelah kelahirannya, dengan nama Maria Teresa. Maria adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Sebelum berimigrasi ke Colle Gianturco, Maria yang masih berusia enam tahun dan kakaknya Angelo yang berusia delapan tahun (kakak sulungnya meninggal ketika masih bayi), menerima Sakramen Krisma di gereja [sumber : facebook.com]
- - 109 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 yang sama pada 4 Oktober 1896 oleh Uskup Senigallia, Mgr.Giulio Boschi. Dispensasi khusus diberikan kepada Maria yang belum cukup umur setelah lolos test dari Pastor Paroki. Untuk pertama kalinya Maria menerima Sakramen Tobat. Sia-sia saja keluarga Goretti bersabar untuk bertahan hidup di Colle Gianturco demi perubahan nasib yang lebih baik. Rupanya hal itu tak akan terjadi. Gara-gara ulah teman kerjanya, Giovanni Serenelli yang bertabiat keras, pemarah, gemar minuman keras, bertengkar dengan atasannya, Senator Scelsi. Akibatnya Giovanni dan Luigi dipecat dari pekerjaannya. Untung Luigi dan keluarganya mendapat pekerjaan lagi di perkebunan Conte Mazzoleni di Conca, wilayah Paludi Pontine. Ini berkat info dari tetangga lama, Mario Cimarelli, yang bekerja di tempat tersebut. Kali ini imigrasi diikuti oleh keluarga Serenelli, yaitu Giovanni dan putrinya Lucia serta putra bungsunya, Alessandro. Mereka adalah keluarga yang tidak harmonis. Saat itu, di Paludi Pontine yang berupa daerah rawarawa, sedang berjangkit wabah malaria. Ketika pertama kali tiba di Ferriere Conca, bulan Februari 1899, Maria belum genap berusia sembilan tahun. Mereka lega. Karena selain mendapat kontrak kerja bagi hasil dari Conte Mazzoleni, mereka juga disediakan sebuah rumah besar berdinding batu bata. Rumah tua dari abad 17 bekas gudang penyimpanan gandum itu mempunyai jendela-jendela besar. Rumah itu dinamakan “Cascina Antica.” Untuk alasan praktis, keluarga Goretti dan keluarga Serenelli tinggal bersama di lantai atas dengan menaiki 20 buah anak tangga. Keluarga Goretti menempati sayap kiri dan keluarga Serenelli di sayap kanan. Malam harinya mereka diundang makan malam oleh keluarga Cimarelli yang tulus dan baik hati. Mereka optimis akan harapan masa depan yang menjanjikan, ketika hasil panen pertama sangat berlimpah karena kesuburan tanahnya. Keinginan besar keluarga Goretti untuk menyekolahkan anak-anaknya muncul kembali. Namun situasi sekarang ternyata masih belum memungkinkan. Di kawasan itu tak ada sekolah maupun gereja. Misa Kudus setiap hari Minggu atau Hari Raya, tetap wajib diikuti oleh keluarga Goretti walaupun jarak tempuh ke gereja cukup jauh. Terpicu oleh keberhasilan panen, semangat Luigi semakin membara. Ia bekerja tanpa kenal lelah maupun waktu. Sampai pada suatu ketika di bulan Maret 1900, ia merasakan ketidaknyamanan yang aneh pada tubuhnya. Ini merupakan sinyal dari Tuhan bahwa ia perlu beristirahat dan memeriksakan kesehatannya. Tetapi Luigi yang ulet tak mau berhenti bekerja, sampai akhirnya ia demam tak kunjung reda. Tubuhnya semakin lemah. Dokter yang dipanggil oleh Conte, mendiagnosa bahwa Luigi terjangkit komplikasi malaria, tifus, pneumonia (radang paru-paru) dan meningitis yang sangat berbahaya. Maria beberapa kali mencari obat di Conca. Tak hentihentinya ia berdoa bersama keluarga. Luigi berpesan kepada istrinya, bila ia dipanggil Tuhan, sebaiknya keluarganya kembali ke Corinaldo. Entah apa alasannya. Tubuh Luigi yang kekar semakin tak berdaya. Tanggal 6 Mei 1900, ia meninggal dunia dan dimakamkan di sebuah pemakaman kecil di Le Ferriere Conca. Assunta yang baru berusia 34 tahun itu sudah menjadi janda. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di Ferierre [sumber :marian.ie]
SANTO - SANTA - - 110 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 Conca beserta anak -anaknya yang kini sudah berjumlah enam orang. Maria yang berhati lembut, walaupun usianya belum genap 10 tahun, dengan penuh iman kerap menghibur ibunya yang bekerja keras di ladang memikul tanggungjawab keluarga. Maria selalu ingat akan hal-hal surgawi. Kata-katanya seakan keluar dari mulut orang dewasa yang matang. Para tetangga menamakan Marietta seperti malaikat. Namun yang masih mengganjal hatinya ialah bahwa ia belum bisa menerima Komuni Pertama karena belum berusia 12 tahun. Kerinduan yang begitu mendalam akan diri Yesus dalam Perayaan Ekaristi hampir tak pernah dijumpai pada gadis seusianya. Kendala tidak dapat membaca dan menulis tidak menghalanginya untuk mempelajari iman Katolik. Ia mengandalkan kekuatan pikirannya untuk menghafalkan doa-doa. Ibunya berkata bahwa Maria harus belajar terlebih dahulu untuk memahami dengan benar ajaran-ajaran gereja. Karena Gereja Paroki letaknya jauh sekali, akhirnya Maria dan kakaknya, Angelo, hampir tiap hari belajar agama kepada Ibu Elvira Schiassi, seorang karyawan gudang pakaian milik keluarga Mazzoleni di Conca. Dengan sabar dan telaten Ibu Elvira mengajar kedua anak buta huruf itu yang hanya mengandalkan ingatannya. Akhirnya setelah sebelas bulan, ibu Elvira dengan sangat antusias menyatakan bahwa kedua anak itu telah cukup memahami Katekismus dan ajaran gereja lainnya. Maria yang belum berusia 12 tahun diberi dispensasi khusus oleh Pastor Paroki, Temistocle Signori untuk berhak menerima Komuni Pertama karena lulus test. Setelah sehari sebelumnya kedua bersaudara itu menerima Sakramen Tobat, pada 16 Juni 1901, mereka menerima Komuni Pertama di Gereja Basilius Morganti di Conca. Rupanya wejangan dari Pastor Basilius Addolorata sungguh merasuk sangat dalam di hati Maria. Pastor berkata bahwa sekarang Yesus akan tetap tinggal di hati kita. Kita harus berperang melawan setiap dosa sekalipun mengorbankan nyawa. Saat menerima Tubuh Kristus, Maria membatin,” Yesus, aku lebih baik mati daripada melawan-Mu.” Kepada ibunya ia berjanji,”Ibu, aku akan menjadi anak yang lebih baik.” Menjelang usia duabelas tahun, Maria Goretti tumbuh menjadi seorang gadis cantik dengan tinggi badan melebihi teman-teman sebayanya. Rambutnya lebat panjang berwarna kecoklatan. Kulit wajahnya sedikit kemerahan, dan tatapan matanya tajam namun lembut. Akan tetapi, ia rendah hati dan tak mau menonjolkan keelokannya. Pernyataan-pernyataannya menunjukkan kedewasaan imannya. “Lebih baik aku mati seribu kali daripada berbuat dosa satu kali.” “Jika aku tergoda dan disiksa oleh banyak kesengsaraan, aku tak ‘kan takut karena rahmatMu besertaku. Dia-lah kekuatanku, yang memberiku pertolongan dan nasihat. Dia lebih kuat dari semua musuh. Karena itu kita tak usah putus asa bila mendapat cobaan. Hendaknya kita lebih banyak berdoa ke hadirat Tuhan agar Dia sudi membantu kita di dalam segala cobaan.” Bagi Mama Assunta, kekhawatiran yang terbesar saat itu adalah hubungannya dengan keluarga Serenelli. Setelah kematian Luigi, sikap Giovanni dan anaknya, Alessandro mulai berubah. Mereka bersikap kasar, keras, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadap keluarga Goretti. [sumber : catholicnewsagency.com]
- - 111 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 Giovanni tak segan-segan menggertak kasar Mama dan anak-anaknya hanya karena satu hal sepele. Alessandro juga mulai bersikap lain. Ia membebani Maria dengan pekerjaan dari keluarga Serenelli. Kesucian jiwa Maria mengusik setan merasuki Alessandro yang selalu dihormati Maria seperti kakaknya sendiri. Alessandro, adalah pemuda yang kehilangan kehangatan cinta kasih keluarga karena kurang harmonis. Ia tak pernah merasakan kasih sayang ibunya, Cecilia Mangoni, yang meninggal dunia di sebuah panti jompo khusus untuk penderita penyakit syaraf, beberapa bulan setelah kelahirannya. Giovanni, ayahnya, kurang peduli kepada putra bungsunya itu. Pendidikannya hanya sampai kelas dua sekolah dasar. Alessandro bergaul dengan orang-orang tak terpuji. Buku bacaannya adalah majalah orang dewasa yang kontroversial dengan tulisan dan gambar porno yang vulgar. Kecantikan Maria Goretti menimbulkan daya tarik bagi pemuda berusia 19 tahun itu. Ia menyimpan hasrat buruk terhadap Maria. Ketika Maria bekerja di ladang, Alessandro mencoba merayunya dengan kata-kata manis untuk berbuat tak senonoh dengannya. Maria kaget, dan tak menggubrisnya. Merasa muak, dengan tegas ia menolak Alessandro, lalu pergi. Alessandro kecewa dan sakit hati. Setan yang telah menguasai jiwanya, membujuknya untuk mencoba lagi pada kesempatan lain. Kira-kira setahun kemudian, awal Juni 1902, Alessandro menggoda Maria. Kali ini iapun masih tidak berhasil menaklukkan hati Maria. Maria ketakutan dan ngeri, lalu lari sambil menangis.Alessandro berteriak mengancam, “Jika kamu memberitahu ibumu, akan kubunuh kau!” Rasa penasaran dan kemarahannya berkobar, membuatnya dendam pada gadis itu. Sejak saat itu hari-hari Maria bagaikan mimpi buruk yang penuh tekanan. Namun ia memendam kekhawatirannya seorang diri. Sikap Alessandro terhadap dirinya semakin keras dan seenaknya. Semata untuk mempermalukan Maria, ia selalu mempersalahkan Maria untuk hal kecil bahkan tanpa alasan yang jelas. Sayang, ibunya tak peka akan perubahan perilaku putrinya. Tibalah masa panen pada bulan Juli 1902. Suasana pesta meriah di Cascina Antica dipenuhi orang-orang yang lalu-lalang bekerja mengirik atau merontokkan berkas gandum, kemudian mengeringkan biji gandum dan memasukkannya ke dalam karung. Giovanni Serenelli hanya bekerja sebentar karena merasa tak sehat. Ia lalu beristirahat di tumpukan gandum di kaki tangga rumah. Angelo dan Alessandro masing-masing mengendarai sebuah gerobak yang ditarik sepasang sapi, menggilas berkas-berkas gandum yang terhampar di halaman rumah. Mama Assunta dan lainnya dengan tongkat garpu membolak-balikkan berkas-berkas gandum supaya menyebar. Suatu ketika Alessandro meminta Mama Assunta untuk menggantikannya mengendalikan gerobaknya. Ia hendak pulang ke rumah sebentar untuk suatu urusan mendadak. Alessandro tiba di rumah, menyapa ayahnya sambil lalu. Ia naik tangga, melewati Maria di teras yang sedang menidurkan adiknya,Teresa, sambil memperbaiki kemeja [sumber : churchsupplies.com]
SANTO - SANTA - - 112 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 Alessandro. Ia masuk ke rumah. Sesaat kemudian ia keluar, dan perlahan-lahan menghampiri Maria. Dia meminta Maria masuk ke dalam rumah, tapi tak digubris. Kemarahan pemuda itupun meledak. Ia memaksa Maria tapi Maria gigih bertahan. Alessandro yang kalap menyeret Maria ke dalam dan menghempaskannya di ruang utama. Ditendangnya daun pintu hingga terkunci. Maria berseru, “Tidak, tidak! Tuhan tidak mau hal seperti itu. Jika kau melakukannya, kamu akan masuk neraka!” Alessandro gelap mata dan nekad. Ia mengambil pisau yang disembunyikannya di sudut dapur, lalu mengancam gadis itu. Rupanya Maria tidak takut. Alessandro yang sudah kesetanan menusuk-nusuk Maria di berbagai bagian tubuhnya. Maria berteriak-teriak minta pertolongan ibunya dan memohon, “Tuhan, Tuhan, aku mati. Ibu, ibu...” Namun suara hiruk-pikuk pengirikan di luar lebih keras. Maria berteriak, “Alessandro, apa yang kau lakukan? Kau pergi ke neraka!” Namun Alessandro semakin brutal membabi-buta. Setelah puas, ia membuang pisaunya di balik lemari lalu bergegas masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Teresa kecil tiba-tiba terbangun dan menangis. Maria yang bermandikan darah dengan sisa tenaganya merangkak, berusaha membuka pintu. Dengan suara lemah ia memanggil Giovanni yang berada di bawahnya. Melihat keadaan Maria, Giovanni memanggil Mama Assunta dan Mario Cimarelli. Tangisan Teresa semakin keras. Mama Assunta curiga lalu menyuruh Mariano memeriksanya. Mario Cimarelli membaringkan Maria yang pingsan di tempat tidur. Mama semula menduga putrinya telah dinodai Alessandro. Akan tetapi kenyataannya lebih mengerikan. Ia menjerit lalu pingsan. Suatu mukjizat! Walaupun Maria dipenuhi luka 14 tusukan dan kehilangan banyak darah, namun ia masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Teresa Cimarelli merawat Maria. Sementara itu Maria berbicara sendiri, “Alessandro, betapa malangnya engkau. Kau akan pergi ke neraka.” Dalam waktu singkat, berita itu menyebar ke seluruh daerah Paludi Pontine. Puluhan orang pergi ke Cascina Antica. Polisi Nettuno dan polisi Cisterna membekuk Alessandro. Dia diselamatkan dari amukan para petani yang membawa senapan dan garpu rumput. Ketika dibawa dengan kereta tahanan menuju kantor polisi Nettuno, para petani di rawa-rawa Paludi Pontine mengutuki pemuda itu. Giovanni akhirnya dipecat oleh Conte. Ia kembali ke Paterno, tempat kelahirannya. Maria dibawa bersama ibunya dengan kereta ambulan ke Rumah Sakit Fatebenefratelli di Nettuno. Ketika kereta lewat para petani melepaskan topi mereka. Di perjalanan ke Nettuno ini terjadi peristiwa unik. Di tengah jalan kereta ambulan bertemu dengan kereta tahanan yang sedang membawa Alessandro ke penjara Regina Coeli di Roma. “Itulah si pembunuh.” seru Mama Assunta. Di rumah sakit, operasi dilakukan untuk mengobati luka-luka Maria tanpa anestesi. Kondisi Maria sangat parah. Namun Maria tetap tenang dan memiliki jiwa yang jernih. Keesokan harinya Maria demam tinggi. Ia merasa haus. Dengan suara lemah ia minta minum kepada ibunya. Dengan sedih ibunya memberitahukan bahwa itu tak diizinkan dokter karena akan [sumber : passionistnuns.org] membahayakan dirinya.
- - 113 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 Mama minta agar Maria bersabar demi cinta Yesus di kayu salib yang pasti lebih haus. Melihat kondisinya, Maria menerima Sakramen Perminyakan Orang Sakit dan Viatikum atau Komuni Orang Sakit. Sebelumnya, Pastor Temistocle Signori memberi permenungan singkat tentang pengampunan Yesus di kayu salib. Kemudian Pastor bertanya apakah Maria juga mau mengampuni Alessandro. Dengan cepat Maria menjawab, “Ya tentu, demi cinta Yesus, aku mengampuni dia. Aku mau supaya kelak dia berada di Sorga bersamaku.” Persis ketika Maria mengucapkan kata-kata pengampunan itu, lewatlah iringan kereta tahanan yang membawa Alessandro untuk dipindahkan ke penjara di Noto. Setelah menerima Komuni Suci, Maria menundukkan kepalanya beberapa saat, tinggal dalam keheningan percakapan intim dengan Yesus. Kondisinya semakin memburuk, sering pingsan dan mengigau. Dia mendapat penampakan Bunda Maria. Akhirnya wajah Maria sedikit berubah dan berseru memanggil Teresa Cimarelli. Ia mencondongkan kepalanya di atas bantal, dengan tenang menghadap Yang Terkasih pada 6 Juli 1902. Ketika Maria dimakamkan di pemakaman umum di Nettuno, Mama Assunta tak bisa hadir karena harus kembali ke keluarganya yang tinggal di rumah keluarga Cimarelli. Setelah sidang pidana terhadap Alessandro yang dijatuhi hukuman 30 tahun penjara berakhir, barulah Mama Assunta beserta anak-anaknya kembali ke Corinaldo pada tahun 1903. Tanggal 28 Juli 1929 jenazah Maria Goretti dipindahkan ke Santuario Madonna delle Grazie di Nettuno dengan upacara meriah. Mama Assunta hadir bersama Mariano dan Teresa Cimarelli. Pada tahun keempat di penjara Noto, Alessandro si keras kepala bermimpi Maria Goretti yang cantik berpakaian putih memberikan beberapa bunga lily sambil tersenyum kepadanya. Itulah awal kebangkitan Alessandro dalam pertobatannya. Kemudian ia mohon bimbingan Mgr. Giovanni Blandini, Uskup Noto. Sesudah memperoleh grasi tahun 1929, pada hari Natal tahun 1934 ia berlutut mohon pengampunan kepada Mama Assunta di Corinaldo. Mama berkata, “Jika Marietta telah mengampunimu, dan Tuhan telah mengampuni, maka aku juga mengampunimu.” Alessandro membaktikan sisa hidupnya di biara Kapusin Ascoli Piceno sebagai tukang kebun dan penjaga pintu sampai akhir hidupnya pada usia 88 tahun. Beatifikasi Maria Goretti tanggal 27 April 1947 oleh Paus Pius XII dihadiri oleh Mama Assunta bersama Mariano, Erselia dan si bungsu yang telah menjadi Sr. Teresa dari Fransiskanes Misionaris Maria. Tanggal 24 Juni 1950 Maria Goretti dikanonisasi sebagai Santa oleh Paus yang sama. Di lapangan St.Petrus, Roma, Mama Assunta yang sudah renta dan sakit-sakitan dalam usia 84 tahun, melambaikan tangannya sambil tersenyum di balkon kehormatan kepada 500.000 orang yang hadir. Ia hadir bersama Angelo dan lainnya. Mama Assunta tutup usia di Carinado pada usia 88 tahun. Belum pernah terjadi dalam sejarah Gereja, pada upacara kanonisasi seorang kudus, bisa dihadiri oleh Ibu dan saudara-saudaranya. Peringatan St.Maria Goretti dirayakan setiap tanggal 6 Juli. Ekatanaya, dari berbagai sumber. [sumber : catholicsaintmedals.com]
- - 114 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
- - 115 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
KESAKSIAN IMAN - - 116 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 keselamatan, anak, cucu, menantu dan juga orang lain. Mereka juga bisa menjadi “penghangat” bagi keluarganya. Dan yang tak kalah pentingnya, dapat menjadi “perekat” pemersatu antar anggota keluarganya. Hari-hari dalam hidup lansia dapat diisi dengan kegiatankegiatan agar fisik serta mentalnya tetap sehat (misalnya dengan mengerjakan hobi, berolahraga ringan, bersosialisasi atau pun dengan pelayanan). Saya termasuk orang yang dikaruniai Tuhan anugerah bonus usia sebesar sepuluh tahun pada saat ini, yaitu tengah menjalani usia ke delapanpuluh tahun. Pada tanggal 29 Oktober 2023, saya mengikuti kegiatan lingkungan Fransiskus Xaverius Bumi Menteng Asri paroki BMV Katedral Bogor. Yaitu ziarah ke “Goa Maria Fatima Sawer Rahmat”, di Cisantana, Cigugur, Kuningan. Salah satu acaranya adalah Devosi Jalan Salib, yaitu permenungan dari kisah sengsara Yesus Kristus sampai pemakaman-Nya. Mendengar nama “Sawer Rahmat,” terbayang saat saya berumur empatpuluhan tahun pernah berziarah ke tempat tersebut yaitu sebelum direnovasi seperti sekarang. Kontur tanah yang naik-turun tajam terhampar di area yang sangat luas dan ketika itu masih dengan fasilitas seadanya. Anak tangga dari batu alam yang licin bila musim hujan dengan reiling darurat dari bambu. Tinggi anak tangga tidak beraturan, rata-rata di atas normal. Apakah setelah sekarang direnovasi masih bisa Anugrah Tuhan di Usia Bonus “BELI 3 , DAPAT 4.” Tawaran memikat itu terpampang menyolok di depan suatu produk yang dipajang dalam gerai di mal. Bonus gratisan tersebut bukan berarti bahwa benda itu adalah barang buangan yang tidak berharga, melainkan sama mutunya dengan barang yang ditawarkannya. Tujuannya agar produk tersebut cepat diborong sampai habis. Soal “bonus” pun rupanya terdapat pula dalam dunia usia. Pemazmur mengatakan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, jika kami kuat, delapan puluh tahun.” (Mazmur 90 : 10 a). Ini pun bukan berarti sisa “kuota” umur yang berupa bonus anugerah Tuhan itu, sudah tak penting lagi atau sekedar waktu luang dalam menantikan datangnya “panggilan” dari Sang Maha Kuasa. Karena banyak orang berpendapat bahwa lansia itu sudah tak berguna, tidak ada artinya lagi, dan tidak diperhitungkan lagi. Melainkan Tuhan memberikan umur panjang karena suatu tujuan. Setidaknya lansia dapat menjadi pendoa bagi Oleh : Ekatanaya A. Jalan Salib menurun, Jalan Salib mendaki - [Foto-foto : dok. pribadi]
- - 117 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 ditempuh oleh orang-orang setua saya? Saya ragu-ragu. Oleh panitia ziarah disarankan bagi lansia yang merasa tidak sanggup, boleh tinggal saja di hotel. Saya masih mempertimbangkannya, sebab acara ke Goa Maria Sawer Rahmat tersebut baru akan dilaksanakan pada keesokan harinya. Sungguh - dengan hanya membayangkannya saja , mental saya sudah jatuh. Seram... Betapa tidak - menurut data sesudah tempat itu direnovasi, di situ terdapat 464 buah anak tangga dan sebagian lagi jalan datar. Jumlah jarak yang ditempuh kira-kira sejauh 2.20 km dengan ketinggian medan sekitar 700 m di atas permukaan air laut. Sungguh miris! Dan terpikir oleh saya untuk mundur saja. Namun …. Keesokan harinya ….. Aneh …. Tiba-tiba saya menjadi mantap dan tak ragu lagi untuk ikutan Jalan Salib! Tapi itu bukan karena saya telah menjadi seorang pemberani. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba pemikiran itu tercetus begitu saja di dalam otak. Saya yakin, itu bukan hasil pemikiran saya sendiri tapi sebuah petunjuk Roh Kudus. Saya seakan disadarkan bahwa bukankah perjalanan Jalan Salib itu terbagi-bagi menjadi beberapa perhentian atau stasi? Jadi bukan non-stop berjalan dari awal sampai akhir. Jadi janganlah memikirkan betapa jauh dan sukarnya seluruh perjalanan tersebut, tapi cukup hanya berkonsentrasi pada rute dari satu stasi ke stasi berikutnya saja. Bagaimana saya dapat menyelesaikan perjalanan tersebut. Ketika tiba di stasi baru, anggaplah seakan itu sebagai akhir perjalanan dari stasi sebelumnya. Setelah ibadat pada perhentian tersebut selesai, selanjutnya mulai lagi dengan perjalanan baru menuju stasi selanjutnya. Demikianlah selanjutnya. Setiap kali ibadat di suatu stasi, resapkanlah apa yang diderita Yesus pada segmen tersebut melalui materi renungan pada saat itu. Hayati dan dalami penderitaan Kristus saat itu, seakan saya ikut “mengalami” penderitaan fisik dan mental-Nya. Bandingkanlah dengan hanya ketidaknyamanan fisik saja yang sekarang saya alami. Tak ada sebutir debu pun dibandingkan dengan sengsara yang dialami Yesus non stop dimulai dari Taman Getsemani kemudian disiksa, lalu memikul salib dari benteng Antonia sampai bukit Kalvari, disalibkan dan wafat. Mungkin Dia tak mengecap nikmatnya tidur. Sedangkan saya cuma menempuh perjalanan yang jauh lebih pendek dan cuma sepotong saja, masakan tak kuat? Akhirnya saya dapat menuntaskan seluruh perjalanan Jalan Salib tersebut. Haleluyaaa…..!! Jalanan terus menanjak sampai stasi ke duabelas, (“Yesus wafat”), setelah itu mulai menurun sampai ke Goa Maria. Jalan Salib - [Foto : dok. pribadi] Gua Maria Sawer Rahmat - [Foto : dok. pribadi]
KESAKSIAN IMAN - - 118 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 Dengan berjalan didampingi anak saya, puji Tuhan lutut serta jantung saya tak bermasalah. Hanya kadang-kadang nafas sedikit tersengal, namun cepat pulih kembali ketika sedang beribadat. Segi positif dari pengalaman itu ialah gula darah saya pasti turun dan menaiki tangga konon dapat memperkuat otot jantung. Sungguh tak terbilang kasih dan anugerah Tuhan dalam kehidupan saya. Terbukti nyata sejak saya baru dilahirkan, kalau bukan karena kemurahan Tuhan, saya tak akan berada di dunia ini. Sebagai bayi yang baru dilahirkan, saya tidak menangis. Artinya paru-paru saya tidak bekerja, saya dalam keadaan tidak bernafas! Puji Tuhan, dengan tepukan di pantat oleh dokter membuat saya menangis dan paru-paru saya mengembang. Tapi bukan hanya sampai di situ saja pertolongan Tuhan dalam hidup saya. Masa kanak-kanak saya diwarnai dengan sakit-penyakit. Tubuh saya lemah sekali karena over-proteksi dari kakek, nenek serta ibu saya mengingat saya adalah anak tunggal yang sudah menjadi yatim sejak usia dua tahun. Padahal orangtua saya baru mendapatkan saya setelah tujuh tahun menikah. Yang membuat miris keluarga adalah saya mengalami pingsan sampai tujuh kali di berbagai tempat. Syukur kepada Tuhan, saya tidak menjadi seorang anak idiot dan saya dimampukan dapat mengejar ketertinggalan mata pelajaran sekolah walaupun terpaksa sering tak masuk sekolah karena sakit. Puncaknya adalah ketika baru saja hendak mulai memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saya terpapar penyakit typhus, yaitu penyakit yang dulu merenggut nyawa ayah saya. Saya dirawat selama berminggu-minggu. Lagi-lagi saya mendapat jamahan Tuhan dan mendapat karunia kesembuhan. Kekhawatiran keluarga saya pupus. Puji syukur saya dapat menyesuaikan diri dalam mempelajari mata pelajaran sekolah yang masih baru bagi saya. Seiring dengan bertumbuh menjadi dewasa, fisik sayapun menjadi semakin kuat ketika mulai bersekolah di luar kota, yaitu di Cirebon dan kuliah di Jakarta. Kembali Tuhan ikut campur tangan ketika saya terjangkit wabah pandemi Covid-19 pada tahun 2021. Penyakit tersebut beresiko sangat tinggi bagi kesehatan saya, karena saya termasuk golongan komorbid sebagai penderita penyakit Diabetes Melitus (DM). Syukur kepada Tuhan karena saya terpapar Covid dengan tanpa gejala, kondisi tubuh saya biasa saja, tak ada perubahan. Setelah menjalani isolasi mandiri, saya sembuh total. Sungguh anugerah Tuhan yang sangat besar sehingga saya dapat mencapai usia lanjut, sempat bergaul dengan cucu-cucu dan melihat mereka tumbuh semakin dewasa. Dan tentunya dapat mengikuti ziarah ini sampai selesai. Ucapan syukur dan terima kasih saya kepada-Nya sangatlah tidak cukup dibandingkan besarnya cinta Tuhan kepada saya. JALAN SALIB dalam bahasa Latin yaitu “ Via Crucis” atau “Via Dolorosa” artinya Jalan Penderitaan. Karena dosa-dosa kitalah Kristus mengalami penderitaan yang terlalu hebat. Jalan Salib mengajak kita untuk menyesali dosa-dosa kita serta bertobat. Karena itu, Jalan Salib merupakan pengganti “Ungkapan Tobat” dalam Ritus Pembuka pada Perayaan Ekaristi (Saya mengaku), namun bukan sebagai pengganti Ibadat Sabda. Melalui Jalan Salib, kita diajak untuk bersyukur kepada Kristus, karena dengan salib suci-Nya Dia telah menebus dunia. Semoga kita pun dapat peka menolong sesama seperti Veronica, serta solider dengan penderitaan orang lain seperti Simon dari Kirene. Menghibur yang berduka dan mengampuni siapa pun tanpa kecuali, seperti yang telah diteladankan Yesus Kristus, Sang Penebus dan Penyelamat umat manusia. Permenungan jalan salib Yesus - [Foto : dok. pribadi]
SERBANEKA - - 119 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024 Yesus Sang Cahaya Sejati Memasuki bulan Desember, kita, Katolik dan seluruh umat Kristen sedunia serentak melangkahkan pikiran dan hati untuk menyongsong dan mempersiapkan kedatangan Kristus, Tuhan sang Juru Selamat manusia. Khusus bagi umat Katolik, memasuki masa-masa Adven berarti masa penantian akan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya dengan penuh harap, sukacita (Gaudete) dan kegembiraan menyambut kelahiran Yesus (Natal). Diawali dengan masa pertobatan, mati-raga, dan berdoa sehingga pantas di hadapan Allah dan Dia yang dimuliakan. Tema Natal bersama Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2023 adalah “Kemuliaan Bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi”. Tema ini terinspirasi oleh Injil Lukas 2 : 14 berbunyi : “Kemuliaan bagi Allah di Tempat Yang Maha Tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-nya.” Ada dua perikop Injil Lukas 2 : 1-20, perikop pertama adalah berita tentang kelahiran atau kedatangan Yesus. Dan perikop kedua adalah seorang malaikat memberitakan kabar sukacita dan keselamatan bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan. Ketika Maria mengandung Yesus, Kaisar Agustus mengeluarkan perintah, agar semua orang di seluruh dunia untuk mendaftarkan dirinya. Kirenius, seorang Wali-Negeri di Siria yang pertama kali mengadakan pendaftaran agar semua orang datang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian Yusuf pergi dari Kota Nazaret di Galilea ke Yudea, Kota Daud yang bernama Betlehem, kota asal Yusuf dan keluarganya yang keturunan Daud. Beliau mendaftarkan dirinya bersama Maria, tunangannya yang sedang mengandung. Ketika mereka di Betlehem, tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan melahirkan seorang anak lakilaki, anaknya yang sulung. Lalu bayi itu di bungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Saat itu berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat para gembala. Kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Mereka sangat ketakutan. “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu “ Kesukaan besar untuk seluruh bangsa, hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud.” Tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar Bala Tentara Sorga yang memujimuji Allah, katanya : “Kemuliaan Bagi Allah di Tempat Yang Maha Tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Yesus lahir dalam sejarah yang sangat berdampak bagi dunia karena perintah dan tindakan kasih-Nya yang tanpa batas bagi yang mempersiapkan dirinya dan menerima kedatangan-Nya di hari Natal yang kudus. Warta kelahiran Yesus pertama kali didengar oleh para gembala, kaum yang lemah dan terpinggirkan. Mereka dikenal sulit menaati aturan ritual agama yang sangat mementingkan kebersihan dan ketaatan waktu seperti yang dilakukan bangsa Yahudi. Selain itu para gembala juga dituduh sebagai orang jahat karena ternaknya merusak tanaman para petani. Yesus setia kawan dengan mereka yang mendengarkan firman-Nya. Ia senang bergaul dengan warga masyarakat yang lemah, terpinggirkan dan yang dianggap tidak beres di hadapan Allah, serta memberi setiap orang menuju kepenuhan hidup. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobatan.” (Lukas 5 : 32) Mari kita bersukacita, bergembira dan bersyukur atas kedatangan-Nya yang mengusir kegelapan, sengsara, putus-asa terutama bagi kita, orang-orang berdosa. Dengan berpuasa, bertobat, berdoa dan beribadah kepada-Nya, kita menyambut kelahiran Yesus sebagai Sang Cahaya Sejati, dan Juru Selamat umat manusia. Selamat Natal 25 Desember 2023 Tuhan Memberkati Oleh Raymundus Susanto [Sumber : Freepik.com]
- - 120 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
- - 121 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024
- - 122 MERASUL EDISI 44 # Oktober - Januari 2024