- - - - 99 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024 EDISI 45 # Februari - April 2024 Lagu-lagu Taylor adalah lagu Country, kemudian perlahan beralih seiring usianya ke arah pop. Type Elegi dalam syair lagunya bercerita tentang kesedihannya, kegundahannya, patah hati, tetapi ada juga lagu-lagu yang berkisah tentang meraih kejayaannya kembali. Kejayaan tidak terbentuk dalam satu hari! Ada sebuah keputusan penting yang dibuat Taylor. Ternyata itu menjadi titik balik yang menghasilkan impact luar biasa. Tahun 2018, ketika menerima piala Grammy di atas panggung, penyanyi rap Kanye West sekonyong-konyong naik ke panggung dan mengambil mic yang dipegang Taylor. Dengan arogannya, menyatakan bahwa yang lebih pantas menerima piala itu adalah Beyonce. Benar-benar hal yang tidak pantas dilakukan seorang penyanyi senior terhadap penyanyi yang baru berusia 19 tahun itu. Tetapi reaksi Taylor tetap positif. Dia tetap tenang dan tidak tenggelam mengasihani diri sendiri atau sibuk menyalahkan orang lain. Pernah suatu ketika label recordnya secara sepihak menjual albumnya kepada orang lain, kemudian ia diharuskan membeli kembali dengan harga yang fantastis. Taylor tidak menyerah! Ia memilih untuk membuat ulang album dengan versinya sendiri (Taylor’s Version). Dia melawan dengan cara yang sangat positif. Tahukah apa yang dilakukannya? Dia memilih untuk datang dan bekerja lebih keras untuk membuat album-album yang lebih baik. Besok… dan besoknya lagi, pokoknya dia tidak menyerah! Antara tahun 2018 sampai tahun 2022 adalah tahuntahunnya yang sangat produktif. Taylor menciptakan album-albumnya dan selalu menjadi hit serta berhasil memenangkan banyak penghargaan. Ada dua pelajaran hidup yang bisa kita petik dari kisah ini. Pertama, jangan pernah menunggu termotifasi, karena hal itu mungkin tidak pernah datang. Yang terpenting adalah seperti yang dilakukan Taylor, TAKE ACTION FIRST… SHOW UP! Pelajaran kedua. Walaupun orang yang berbakat seperti Swift dan sehebat dia, sukses tidak akan datang begitu saja. Kesuksesan tersebut hanya dapat diraih dengan memenangkan hari demi hari, menjalani usaha selangkah demi selangkah. Setiap hari dan pantang menyerah! Rangkaian Eras Tour ke berbagai negara telah membuktikan hasil kerja kerasnya itu. Taylor telah menunjukkan nilai dirinya yang jauh lebih baik dari pada sekedar balas dendam. Inilah reputasi seorang anak muda yang sudah teruji. Tetap rendah hati, tetap menjadi baik, dan tidak menyianyiakan talenta yang sudah diberikan Tuhan! Taylor….you go girl! Penulis : Venda Tanoloe (Dari berbagai sumber) [Sumber : Google.com] [Sumber : Google.com]
- - 102 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024
- - 103 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024
CERPEN - - 104 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024 SEPATU Oleh Ekatanaya. A. Adik-adikku terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Perayaan Paskah bukan sekedar perayaan wajib umat Kristiani saja, namun hendaknya dapat mengubah diri kita menjadi pribadi baru yang lebih baik serta lebih beriman. Mari kita simak kisah di bawah ini. Soni adalah seorang anak yang senang berhemat, walaupun ia masih duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Sisa uang jajan dan uang transport pergi - pulang ke sekolah dari ibunya ditabungnya. Dia lebih suka berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Bukan karena pelit. Menurutnya, selain uang transport dapat ditabung, berjalan kaki juga menyehatkan tubuh dan memicu semangat. Lagi pula melatih diri agar menjadi tidak manja dan cengeng. Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh, walau pun juga tidak dekat. Lama-kelamaan sepatu yang dipakainya semakin usang. Ia berniat untuk membeli sepasang sepatu baru dengan memakai uang tabungannya. Sebenarnya Soni bisa saja minta kepada ayahnya untuk dibelikan sepatu baru. Pasti dikabulkan. Ayahnya adalah seorang karyawan yang cukup berhasil dan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Tetapi Soni merasa prihatin. Ia tak mau membebani ayahnya yang harus juga menanggung ketiga adiknya yang masih kecil-kecil. Jadi, lebih baik ia menabung. Siapa tahu suatu saat ia membutuhkan sesuatu. Hari itu ia berjalan kaki pergi ke toko sepatu dengan membawa uang tabungannya. Agar lebih cepat sampai, Soni mengambil jalan pintas dengan melewati rumahrumah petak di gang. Tiba-tiba ia mendengar suara gaduh dari jendela terbuka sebuah rumah yang terpencil. Kedengaran jelas seperti suara pertengkaran, karena suasana saat itu sepi. Eh...rasanya Soni mengenali salah satu suara itu, malahan seperti akrab di telinganya. Suara lainnya adalah suara wanita setengah baya. Karena penasaran, Soni berhenti berjalan. Kemudian ia ingat, suara itu adalah suara Margo, teman sekelasnya. Tapi ada yang aneh. Suara Margo seperti orang yang sedang putus asa dan agak meratap. Ini seperti bukan Margo yang ia kenal di sekolah. Karena ia anak yang sombong, pongah, penuh percaya diri. Yang tak dapat dilupakan Soni adalah ejekan sinisnya yang kerap dilontarkannya di sekolah. Itu dilakukannya karena Soni yang pintar di kelas tak mau bergabung dengan kelompok Margo. “Hahaha, aku juga rugi kalau mempunyai teman seperti kamu. Naik angkot saja tidak mampu sampaisampai pergi-pulang ke sekolah saja jalan kaki.” sindirnya. Soni yang berpenampilan sederhana dan rendah hati diam saja walaupun hatinya mendongkol dan sakit. Pikirnya, tak ada gunanya bertengkar dengan anak sombong yang mau menang sendiri itu. Margo memang senang menonjolkan dirinya sebagai [Ilustrasi : Jessica]
- - 105 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024 anak dari keluarga elit. Ia sering memamerkan tas sekolahnya yang bagus dan sering gonta-ganti. Kotak bekal makanan dan botol minumnya juga mahal. Soni jadi bertanya-tanya, ada masalah apa yang menimpanya? Betapa kagetnya dia, ketika mendengar bahwa Margo hendak dikeluarkan dari sekolah karena menunggak uang sekolah selama dua bulan dan besok harus sudah lunas. Ia mendengar suara wanita, yang ternyata ibunya , “ Margo, aku kan selalu memberikanmu uang sekolah setiap bulan, kemana uang itu? Hayo jawab!” Dengan suara lemah akhirnya Margo mengaku bahwa uang itu dipakainya untuk membeli tas, kaos, botol minum, kotak bekal dan mentraktir teman- temannya ketika berulang tahun. Ibu Margo berteriak, “Kamu tega ya memeras ibumu! Aku kan janda, siang-malam mesti banting tulang. Pagipagi buta sudah harus jualan kue-kue di pasar dan di perumahan-perumahan. Malam hari kerja di restoran. Bagaimana aku bisa dapat uang yang harus dilunasi besok?” Suaranya terdengar pasrah. Pahamlah Soni. Ternyata keadaan Margo sebenarnya terbalik dengan apa yang ditampilkannya di sekolah. Oh.. jadi itu semua cuma kompensasi belaka. Mendengar semua itu, hati Soni tergerak oleh belas kasihan karena ia seorang yang berhati lembut. Namun Soni bimbang. Di satu sisi hati nuraninya ingin menolong temannya, tapi di sisi lain pikirannya melarang karena ia masih membenci Margo yang melukai hatinya. Akhirnya hati nuraninyalah yang menang. Ia bisa menolong Margo sekarang juga. Soni mengetuk pintu rumah Margo. Margo tercengang melihat Soni berada di hadapannya. Apakah Soni mau balas dendam? Hatinya ciut karena badan Soni lebih besar darinya. Tapi Soni tersenyum. Sapanya,” Halo, apa kabar Margo? Aku kebetulan lewat rumahmu, jadi sekalian ingin menengokmu apakah kamu sakit. Kan beberapa hari ini kamu tidak masuk sekolah. “ Margo ternganga, tapi hatinya lega. Ia merasa malu, dengan tersipu menjawab,”Aku baik-baik saja. Thank you. Hayo masuk.” Kata Soni, “ Syukurlah, puji Tuhan. Biar aku di sini saja. Sebenarnya aku sudah lama berdiri di depan rumahmu, tapi tak berani mengetuk pintu. Sorry lho, aku jadi dengar semuanya sampai tahu persoalannya.” Mendengar itu Margo merah mukanya , ia semakin lesu karena malu. Namun kelihatannya Soni tidak mengejeknya. Ibu Margo bergegas keluar dan menyapa Soni. Soni berkata kepada ibu Margo, “Bu, kalau Ibu berkenan, saya berniat membantu Margo apa adanya.” Belum sempat ibu Margo menjawab, Soni mengeluarkan amplop dari dalam tote-bagnya yang berisi uang yang sedianya untuk membeli sepatu. Disodorkannya amplop itu kepada Margo. Margo bengong, ragu-ragu menerimanya . Kata Soni, “ Ini ada uang. Barangkali bisa sedikit menolong untuk membayar uang sekolahmu. Ya, mungkin tidak cukup tapi paling tidak dapat meringankan beban ibumu.” Margo dan ibunya kaget sekali. Cepat-cepat Margo menyodorkan balik amplop itu kepada Soni. Dengan tergagap berkata,” Ja...jangan...ini uangmu...” Tapi Soni menampiknya. Katanya, “Ambillah, Margo. Aku tulus memberikannya kepadamu. Kamu kan dalam keadaan gawat dan aku senang dapat membantu seorang kawan, ambillah.” Soni berpikir bahwa sepatu dapat dibeli di lain kesempatan, tapi Margo sekarang sedang menghadapi problema yang tak dapat ditunda. Masih terpana, Margo dengan terbata-bata mengucapkan terima kasih , “T...thank you , Son...a... aku sering menyakitimu, sorry...sorry ya. Ternyata kamu satu-satunya sahabat sejatiku...” Ibu Margo mengusap air matanya, mengucapkan terima kasih kepada Soni sambil bersyukur kepada Tuhan. Hati Margo luluh. Dengan terisak ia memeluk Soni. Momen ini mengubah perangainya. Bukan itu saja, ia juga memperoleh seorang sahabat sejati. Kini Margo memulai hidup baru . Kisah ini mencerminkan Semangat Paskah, yaitu: pengampunan, penyangkalan diri, pengorbanan, pertobatan serta amal kasih. Adik - adikku tercinta... Rahmat pembebasan Paskah adalah sebuah anugerah Allah, namun kita sendirilah yang harus mengusahakannya... Selamat Paskah...
- - 106 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024 SERBANEKA Memberdayakan Umat Menuju Keselamatan Oleh Raymundus Susanto [Sumber : pinterest.com] Dalam masa pra-Paskah 2024, kita diajak untuk merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus. Diawali Misa Rabu Abu, berpuasa, pantang, dan berderma, kemudian bernapak tilas perjalanan sengsara Yesus ke bukit Golgota, akhirnya wafat di kayu salib. “Kita diharapkan dapat melakukan berbagai langkah kreatif dalam memberdayakan sesama sebagai langkah nyata Solidaritas dan Subsidiaritas umat KAJ.” Demikian pesan Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup dari Keuskupan Agung Jakarta. Kreativitas pemberdayaan umat baik pribadi, keluarga, kelompok kategorial di Paroki bertujuan memberi ruang untuk pribadi, keluarga, dan kelompok kategorial agar karya pelayanan bisa berkembang bagi diri sendiri dan sesama. Kita harus hargai dan menghormati ide kreatif yang muncul dari seseorang sebagai akar rumput. Ibarat uang logam bernilai 100, 200, 500.dan 1.000 Rupiah, kadang kala uang tersebut jatuh dan hilang. Apabila uang logam itu dimasukkan ke dalam celengan, dan dilakukan serentak oleh banyak orang, maka jumlah uang celengan itu pasti akan cukup besar sehingga dapat membantu kalangan prasejahtera. Menabung juga memberdayakan kreativitas para penabungnya karena mereka peduli dan berbelarasa . Memasukkan uang logam ke dalam celengan sudah lama dilakukan seseorang, keluarga bahkan dalam lingkungan besar seperti paroki. Begitu pula bagi kelompok lainnya seperti kelompok kategorial pendidikan. Kelompok ini membantu memberi pendidikan agama Katolik kepada para siswa yang belajar di sekolah negeri, karena mereka tidak menerima pelajaran agama Katolik. Kita yang menyediakan diri menjadi tenaga pendidik mereka, secara tidak langsung telah diberdayakan dan memberdayakan pihak lain yakni para siswa dalam perkembangan imannya. Tentunya masih banyak ide dan karya kreatif lainnya yang dapat kita lakukan sebagai kepedulian Gereja. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku (Matius 25 : 35- 36). Dengan demikian semangat solidaritas dan subsidiaritas yang bersumber pada Ajaran Sosial Gereja bisa terwujud. Ajaran Sosial Gereja secara umum menitik beratkan upaya, panggilan, dan ajakan Gereja guna menghadirkan kesejahteraan bersama bagi semua pihak. Kemandirian dan kepedulian bagi sesama baik di dalam maupun di luar Gereja merupakan subsidiaritas yang sesuai prinsip dalam konteks Ajaran Sosial Gereja. Tema Arahan Dasar (ARDAS) KAJ tahun 2024, dipahami sebagai kebebasan atau kemerdekaan, tidak adanya intervensi dari kelompok yang tingkatannya lebih tinggi. Contohnya negara tidak perlu ikut campur dalam menentukan urusan yang dapat diputuskan sendiri oleh pribadi, keluarga, atau kelompok yang tingkatannya lebih rendah. Semangat yang nampak dalam prinsip subsidiaritas adalah pengakuan atas kekayaan dan ciri khas masingmasing akar rumput dalam berkontribusi untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama. Selamat Paskah, Tuhan Memberkati
- - 107 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024 SOSOK UMAT Maria Fransisca Puji Rahayu NAMANYA Maria Fransisca Puji Rahayu. Biasa dipanggil Bu Puji. Umat Yosef 3 ini adalah kelahiran 30 April 1965, dari Randu Blatung Lasem, Jateng. Orang tidak akan percaya kalau ia sakit komplikasi. Mengidap diabetes sejak lama, penyakit turunan katanya. Namun ia penuh sukacita. Suara dan tawanya menggelegar melebihi orang yang sehat. Bu Puji pernah aktif di Kerahiman, misa pagi, Karismatik dan lain-lain. Namun sekarang semua itu ditinggalkannya. Suaminya bernama Haris Arnoldus Supeno. Mereka mempunyai 2 anak laki-laki, dan 1 perempuan. Semuanya tidak tinggal serumah, karena sudah berkeluarga dan kerja di lain kota. Baru lewat 40 hari lalu, anak lelakinya yang di Manado meninggal dunia karena kecelakaan. Terpaksa bu Puji tidak bisa hadir di pemakaman anaknya karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan. Damai di surga ananda Bu Puji. Amin. Melewati hari-hari dengan diabetes, syaraf kejepit dan pengapuran tulang. Jantung yang bermasalah dan lain-lain. Semua dilewatinya dengan syukur, pasrah dan masa bodoh. Maksudnya, dia tidak fokus pada penyakitnya melainkan fokus ke hal lain yang lebih berguna. Delapan tahun yang lalu sempat harus dioperasi. Tapi mujizat Tuhan terjadi! Tanpa operasi sampai hari ini diberi sehat. Meski akhirnya, sekarang pun dia harus operasi tulang dan jantung. Tapi dia tidak pikirkan lagi. Kapanpun Tuhan panggil dia sudah siap pulang. Bu Puji menyikapinya dengan pasrah dan berserah. Berobat tetap jalan terus, begitu juga minum herbal seduhan sendiri. Kondisinya sudah susah berjalan. Berdiri dan berjalanpun sudah tidak kuat. Baru beberapa langkah Sang Perangkai Rosario sempoyongan dan keringat dingin mengucur deras. Karena diabetesnya, pipisnyapun sangat banyak sehingga membutuhkan banyak pampers. Sambil duduk di kasur, tiap hari Bu Puji merangkai manik-manik menjadi sebuah rosario. Di setiap rosario ada lantunan doa salam Maria yang didaraskan dalam hatinya. Rosario ini yang menjadi salah satu tumpuan keluarga Bu Puji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama suami dan adiknya yang bernama Haryanto. Mereka bertiga bersama membuat rosario. Suaminya yang memasarkan. Adiknya mendampinginya di rumah dan berobat ke Rumah Sakit. Satu kata. Salut buat Bu Puji. Tidak ada kata menyerah, ia terus mengisi hidupnya dengan hal yang berguna. Semoga mukjizat nyata, bu Puji bisa berjalan lagi. Tuhan pulihkan. Amin. Novi Bagi yang membutuhkan Rosario untuk sendiri atau berbagi...yukkk pesan di Bu Puji. Bisa hubungi Haryanto 0857-7730-3379. Bisa request jenis manik-maniknya juga lho. Buat yang mau berbagi kasih, boleh juga memberikan pampers buat Bu Puji, karena dia rutin memakai pampers. Tuhan berkati. #solidaritas #subsidiaritas #orangbaik
- - 108 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024
- - 109 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024
- - 104 MERASUL EDISI 45 # Februari - April 2024