| VOL 3, NO. 2, JUNI 2014; 132-141
Uji Pengaruh pH dan Konsentrasi mengadsorpsi Cr (total) dan juga disebabkan
Kitosan yang Melapisi Arang Aktif karena peran arang aktif tempurung kelapa
TempurungKelapa terhadapJumlah Cr yang menyerap apa saja yang berinteraksi
(total) Teradsorpsi dengan arang aktif menyebabkan ion logam
berat (Cr total) ditarik oleh karbon aktif dan
Interaksi antara logam Cr (total) dengan melekat pada permukaan arang aktif dalam
kitosan yang melapisi arang aktif tempurung kombinasi dari daya fisik kompleks dan
kelapa merupakan interaksi kimia melalui reaksi kimia. Jadi gugus-gugus aktif yang
pembentukan ikatan kimia logam dengan dapat mengikat ion logam Cr (total) tidak
gugus-gugus fungsional kitosan yang hanya berasal dari situs-situs aktif pada
melapisi arang aktif sehingga adsorpsi kitosan saja, tetapi juga dari arang aktif
logam oleh kitosan yang melapisi arang aktif tempurung kelapa. Hasil analisis pengaruh
dipengaruhi oleh pH. Untuk mengetahui pH dan konsentrasi kitosan yang melapisi
pengaruh pH terhadap adsorpsi, maka arang aktif terhadap Cr (total) teradsorpsi
larutan Cr (total) diinteraksikan dengan dapat dilihat pada Gambar 1.
adsorben A (K1A1), adsorben B (K2A1),
dan adsorben C (K3A1) pada beberapa Gambar 1
variasi pH yaitu pH 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan pH Pengaruh pH dan Konsentrasi Kitosan yang
7. Variasi pH pada adsorpsi Cr (total) dalam Melapisi Arang Aktif terhadap Jumlah Cr (total)
larutan merupakan faktor yang berpengaruh
pada adsorpsi Cr (total) oleh Kitosan yang Teradsorpsi
melapisi arang aktif. Hal ini sesuai dengan
hasil uji statistik Oneway. Variabel Cr (total) Pengaruh pH dan Konsentrasi
signifikan pada 0,05 (p<0,05), maka variasi Kitosan yang Melapisi Arang Aktif
pH berpengaruh terhadap penurunan Cr terhadap Jumlah BOD Teradsorpsi.
(total) limbah cair industri penyamakan kulit.
Adanya perbedaan penurunan Cr(total) Untuk mengetahui pengaruh pH
dapat dilihat pada Gambar 1. Terlihat bahwa terhadap jumlah adsorpsi oleh kitosan
adsorpsi Cr (total) semakin meningkat pada yang melapisi arang aktif tempurung
pH 4 sampai 5. Hal ini disebabkan pada pH kelapa, maka sampel limbah penyamakan
4 dan pH 5 jumlah ion H+ dalam larutan kulit yang mengandung bahan organik
semakin berkurang sehingga adsorpsi Cr maupun anorganik diinteraksikan dengan
(total) lebih mudah terjadi dan Cr (total) adsorben A, adsorben B, dan adsorben C
yang teradsorpsi semakin meningkat pada beberapa variasi pH yaitu pH 1, 2, 3,
jumlahnya. Adsorpsi Cr (total) oleh kitosan 4, 5, 6, dan pH 7. Variasi pH pada adsorpsi
yang melapisi arang aktif terlihat bahwa BOD dalam larutan merupakan faktor
pada pH 4 jumlah Cr (total) yang teradsorpsi yang berpengaruh pada adsorpsi BOD oleh
cenderung naik dari 87,8,%; 90,6%; 91,9% kitosan yang melapisi arang aktif tempurung
(adsorben A, adsorben B, dan Adsorben kelapa. Hal ini sesuai dengan hasil uji
C). Sesuai dengan penelitian Nomanbhay statistik Oneway Anova. Variabel BOD
dan Palanisamy, 2005 menyatakan bahwa
pH optimum adalah pH 4 untuk adsorpsi
Cr(VI). Pada adsorben A (K1A1) adsorpsi
Cr (total) lebih kecil dibandingkan dengan
adsorben B (K2A1) dan adsorben C (K3A1).
Hal ini disebabkan pada adsorben B dan
adsorben C kitosan yang melapisi arang
aktif lebih banyak sehingga lebih banyak
138
Musrowati L., Suwarno, Hadisusanto, Salahudin D. T., dan Kamiso H. N. e
ADSORPSI PENCEMARAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT OLEH ...
signifikan pada 0,05 (p<0,05) maka variasi Pengaruh pH dan Konsentrasi
pH berpengaruh terhadap penurunan BOD Kitosan Melapisi Arang Aktif
limbah cair industri penyamakan kulit. Hasil Tempurung Kelapa terhadap Jumlah
analisis BOD yang teradsorpsi disajikan pada COD Teradsorpsi.
Gambar 2. Terlihat bahwa pada pH 5 dan pH
6 terjadi peningkatan efisiensi penurunan Untuk mengetahui pengaruh pH
BOD, dimana BOD yang teradsorpsi semakin terhadap jumlah adsorpsi COD oleh kitosan
tinggi sebesar 99,3%; 99,4% dan 99,5% yang melapisi arang aktif tempurung kelapa,
(adsorben A, adsorben B, dan adsorben C). maka sampel limbah cair penyamakan kulit
Peningkatan adsorpsi BOD oleh kitosan yang mengandung bahan organik maupun
yang melapisi arang aktif tempurung anorganik diinteraksikan dengan adsorben A,
kelapa disebabkan kitosan dengan Derajat adsorben B, dan adsorben C dengan beberapa
Deasetilasi yang tinggi dan memiliki gugus variasi pH, yaitu pH 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan pH 7.
amino sehingga bersifat polikationik yang Variasi pH pada adsorpsi COD dalam larutan
mempunyai kemampuan untuk mengikat merupakan faktor yang berpengaruh pada
logam, protein, dan zat warna (Zakaria et adsorpsi COD. Hal ini sesuai dengan hasil
al, 2002), menurut Marganof, 2003 kitosan uji statistik Oneway Anova. Variabel COD
dapat dijadikan sebagai koagulan dalam signifikan pada 0,05 (p<0,05), maka variasi
proses penanganan limbah cair baik organik pH berpengaruh terhadap penurunan COD
maupun anorganik dan juga karena adanya limbah cair industri penyamakan kulit. Hasil
arang aktif tempurung kelapa sebagai analisis COD teradsorpsi pada kitosan yang
substrat menempelnya kitosan yang mem melapisi arang aktif tempurung kelapa dapat
punyai daya serap yang tinggi dan memiliki dilihat pada Gambar 3. Terlihat bahwa pada
luas permukaan yang besar (Hadi., 2011). pH 1 terjadi peningkatan efisiensi penurunan
Oleh karena itu, adsorpsi BOD oleh kitosan COD, di mana COD yang teradsorpsi lebih
yang melapisi arang aktif tempurung kelapa besar dibandingkan dengan pH yang lain.
menjadi lebih efektif sebagai adsorben Hal ini disebabkan adanya bahan kimia yang
karena kombinasi kitosan dengan arang aktif tahan terhadap oksidasi biokimia, tetapi
tempurung kelapa. tidak tahan terhadap oksidasi kimia. Seperti
yang dikemukakan oleh Fardiaz, 1992 bahwa
Gambar2 uji COD pada dasarnyamenghasilkan nilai
Pengaruh pH dan Konsentrasi Kitosan Arang kebutuhan oksigen yang lebih tinggi daripada
Aktif TempurungKelapa terhadap Jumlah BOD uji BOD karena adanya bahan-bahan yang
stabil terhadap reaksi biokimia dapat ikut
Teradsorpsi teroksidasi dalam uji COD. Pada pH 6 dan
pH 7 terjadi peningkatan efisiensi penurunan,
hal ini disebabkan pada pH yang rendah
kitosan tidak optimum untuk menyerap zat-
zat organik karena gugus amina terprotonasi
menjadi bentuk NH4+ sehingga kurang
efektif untuk mengadsorpsi zat-zat organik
yang ada pada limbah cair penyamakan
kulit. Hasil analisis adsorpsi COD terhadap
perbedaan konsentrasi adsorben, terlihat
bahwa perbedaan konsentrasi berpengaruh
pada efisiensi penurunan adsorpsi COD
pada adsorben A, adsorben B, dan adsorben
C. Hal ini disebabkan pada adsorben C lebih
139
| VOL 3, NO. 2, JUNI 2014; 132-141
banyak konsentrasi kitosan dibandingkan Davis, M. L and Masten, S. J. , 2004. Principles
dengan adsorben A dan adsorben B yang of Environmental Engineering and
mempengaruhi adsorpsi COD menyebabkan Science. Singapore; Mc Graw Hill
kitosan yang memiliki gugus amino yang Higher Education.
dikandungnya dan bersifat polikationik
mampu mengikat protein sisa penyamakan Effendi, H. , 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
kulit. Menurut Marganof, 2003 kitosan dapat Pengelolaan Sumber Daya Dan Ling
sebagai koagulan dalam proses penanganan kungan Perairan. Penerbit Kanisius
limbah cair baik organik maupun anorganik Yogyakarta.
sehingga mempengaruhi adsorpsi COD.
Fardiaz, S. , 1992. Polusi Air dan Udara.
Gambar 3. Diterbitkan dalam kerjasama dengan
Pengaruh pH dan Konsentrasi Kitosan yang Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi IPB Bogor. Penerbit Kanisius
Melapisi Arang Aktif Tempurung Kelapa Yogyakarta.
terhadap Jumlah COD Teradsorpsi
Griffon, D. J. , Sedighi, M. R. , Schaeffer, D. V. ,
SIMPULAN Eurell, J. A. , and Johnson, A. L. , 2006.
Dari hasil penelitian dan pembahasan Chitosan scaffolds: Interconnective pore
size and cartilage engineering, Acta.
dapat disimpulkan sebagai berikut:Pertama, Biomaterialia.
karakteristik parameter kualitas limbah cair
dengan IPAL maupun Tanpa IPAL melampaui Hadi, R. , 2011. Sosialisasi Teknik Pembuatan
Baku Mutu Limbah Cair Penyamakan Kulit Arang Aktif Tempurung Kelapa
Peraturan Gubernur DIY No 7 Tahun 2010. Dengan Pembakaran Sistem Suplai
Kedua, Kitosan yang melapisi arang aktif Udara Terkendali. Buletin Teknik
tempurung kelapa lebih efektif menyerap Pertanian.
logam berat Cr (total) pada pH 4, lebih efektif
menyerap BOD pada pH 6 dan lebih efektif Jost. P. D. T., 1990. Solid Waste Generated
meyerap COD pada pH 1. Ketiga, Sedangkan By Ranning Industry, Handling and
Konsentrasi kitosan yang melapisi arang aktif Management. Pertemuan Teknis Indus
tempurung kelapa pada adsorben C (K3A1) tri Kulit. BBKKP. Yogyakarta.
lebih efektif menyerap logam Cr (total), BOD,
dan COD dibandingkan dengan adsorben A Kaim W and Schwederski B., 1994. Bioinor
(K1A1) dan adsorben B (K2A1). ganic Chemistry: Inorganic Elements
in the Chemistry of Life, John Wiley &
DAFTAR PUSTAKA Sons.
APCC (Asian Pacific Coconut Community). ,
Marganof. , 2003. Potensi Limbah Udang
2007. Negeri Berjuta Cocos. Trubus 469 Sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal,
(Desember 2008 / XXXIX): 32. Kadmium dan Tembaga) di Perairan.
http://rudyct. topcities. com/pps.
marganof htm.
Nomanbhay, S. M and Palanisamy, K. , 2005.
Removal of Heavy Metal From Industrial
Wastewater Using Chitosan Coated Oil
Palm Shell Charcoal. Electronic Journal
of Biotechnology, 8 (1) :48.
Ohtake, H and Silver, S. , 1994. Bacterial
Detoxification Of Toxic Chromate In
Biological Degradation and Bioreme
140
Musrowati L., Suwarno, Hadisusanto, Salahudin D. T., dan Kamiso H. N. e
ADSORPSI PENCEMARAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT OLEH ...
diation Of Toxic Chemical, Firth edition, Sawyer, C. N. , McCarty, P. L. , and Parkin, G.
Chapman and Hall, London. F. , 2003. Chemistry for Environmental
Engineering and Science. Fifth ed. New
Onar, N and Sarisik, M. , 2002. Using and York: Mc. Graw Hill.
Properties Biofibers Based on Chitin and
Chitosan On Medical Application. Textile Zakaria, M. B. , M. J. Jais. , Wan-Yaacob Ahmad. ,
Engineering Department, Turkey. Mohd Rafidi Othman dan Z. A. Harahap.
, 2002. Penurunan Kekeruhan Efluen
Palar, H. , 1994. Pencemaran dan Toksikologi Industri Minyak Sawit (EIMS) Oleh
Logam Berat, Rineka Cipta, Jakarta. Koagulan Konvensional Dan Kitosan.
Prosiding Seminar Bersama UKM-ITB
Palar, H. , 2008. Pencemaran dan Toksikologi ke-5. Universitas Kebangsaan Malaysia.
Logam Berat, Rineka Cipta, Jakarta. Malaysia.
Rodriguez. , Reinoso, F. , 1998. The Role Of Car
bon Materials In Heterogeneous Cata
lysis. Carbon. Volume 36, No 3.
141
Dewa, et al. 35
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Daya Tampung Sungai Gede Akibat PencemaranLimbah Cair Industri
Tepung Singkong di Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri
Capacity of Gede’s River Caused by Liquid Waste Disposal from Cassava
Flour Industry in Ngadiluwih, Kediri
Charista Dewa1, Liliya Dewi Susanawati2*, Bambang Rahadi Widiatmono2
1Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Brawijaya, Jl Veteran Malang 65145
2Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran malang 65145
*Email Korespondensi : [email protected]
ABSTRAK
Salah satu permasalahan lingkungan adalah pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran
sungai oleh bahan pencemar, salahsatunya Sungai Gede yang mengalami pencemaran akibat
limbah cair industri tapioka. Penelitian ini bertujuan menganalisi kondisi kualitas air sungai,
menghitung daya tampung dan status mutu air Sungai Gede berdasakan kesesuaian terhadap
baku mutu air sesuai peruntukannya. Analisis kualitas air sungai dilakukan dengan menguji
dan membandingkan parameter sebelum (T1) dan setelah (T3) mendapatkan masukan limbah
(T2) dengan parameter yang digunakan yaitu BOD, COD, TSS, pH dan suhu. Pengambilan dan
pengukuran sampel untuk parameter debit, suhu, pH, BOD, COD dan TSS dilakukan pada T1
dan T2, untuk T3 hanya dilakukan pengukuran suhu saja. Perhitungan daya tampung didapat
dari selisih antara baku mutu air sungai dengan konsentrasi air pada T3 menggunakan metode
neraca massa. Perhitungan status mutu air menggunakan metode indeks pencemaran. Hasil
penelitian T3 sudah melampaui daya tampung untuk parameter BOD, COD dan TSS namun
parameter Suhu dan pH belum melampaui daya tampung. Hasil penelitian menunjukan bahwa
T1 dan T3 mengalami pencemaran ringan dan T2 mengalami pencemaran sedang, Penurunan
pencemaran pada T3 terjadi karena mengalami pengenceran dan self purification sungai.
Kata Kunci : Analisis Sungai, daya tampung, status mutu, Sungai Gede
Abstract
One of the environmental problems is environmental pollution. River pollution caused by pollutant was
also occurred, at Gede River pollution due to tapioca industrial wastewater. This study aims to analyze
the water quality of the river, calculating river capacity to receive pollutant and water quality status of
Gede River compared to the water quality standard. Analysis of water quality was done by testing and
comparing parameters before (T1) and after (T3) the waste discharge (T2). The parameters used are BOD,
COD, TSS, pH and temperature. Parameters such as debit, temperature, pH, BOD, COD and TSS was
performed at T1 and T2, while T3 was only for temperature. Calculation of the river capacity was
obtained at T3 using a mass balance method. The determination of the water quality status at T1, T2 and
T3 were using pollution index. The results showed that T3 has exceeded the river capacity on parameters
such as BOD, COD and TSS. While temperature and pH, was not. T1 and T3 categorized as light
polluted and T2 was moderate polluted, the pollution declining in T3 occurred was due to dilution and
self purification of the river
Keywords: River analysis, assimilative capacity, quality status, Gede’s River
Dewa, et al. 36
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
PENDAHULUAN perikanan, peternakan dan pertanian
(Peraturan Gubernur, 2010). Sungai
Peningkatan penduduk dan perkembangan memiliki kemampuan untuk pulih kembali,
kawasan menyebabkan permasalahan sungai juga memiliki kemampuan untuk
lingkungan. Permasalahan akan terus menerima masukan limbah tanpa
muncul selama penduduk tidak segera menyebabkan air pada sungai tersebut
memikirkan dan mengupayakan tercemar yang disebut daya tampung (KLH,
keselamatan dan keseimbangan lingkungan. 2001). Tingkat pencemaran suatu sungai
Salah satu permasalahan lingkungan adalah dapat mempengaruhi daya tampung sungai
pencemaran lingkungan, khususnya semakin tinggi tingkat pencemaran maka
pencemaran sungai oleh bahan pencemar, dapat mengurangi daya tampung sungai
baik dari industri ataupun domestik. bahkan melebihi daya tampung sungai yang
Pencemaran di hulu sungai menimbulkan telah ditentukan.
biaya sosial di hilir dan pelestarian di hulu
akan memberikan manfaat di hilir (Azwir, Sungai diklasifikasikan menjadi empat
2006). kelas. Kelas satu, air yang peruntukannya
dapat digunakan untuk air baku air minum,
Keberadaan sungai dapat memberikan dan atau peruntukan lain yang
manfaat baik pada kehidupan manusia mempersyaratkan mutu air yang sama
maupun pada alam. Manfaat atas dengan kegunaan tersebut. Kelas dua, air
keberadaan sungai ini dikenal dengan yang peruntukannya dapat digunakan
fungsi sungai. Fungsi sungai terhadap untuk sarana dan prasarana rekreasi air,
kehidupan manusia antara lain sebagai pembudidayaan ikan air tawar, peternakan,
penyedia air dan wadah air untuk dan air untuk mengair pertanaman. Kelas
memenuhi kebutuhan rumah tangga, tiga, air yang peruntukannya dapat
sanitasi lingkungan, pertanian, industri, digunakan untuk pembudidayaan ikan air
pariwisata, olah raga, pertahanan, tawar, peternakan, air untuk mengairi
perikanan, pembangkit tenaga listrik, pertanaman, dan atau peruntukan lain yang
transportasi, dan kebutuhan lainnya mempersyaratkan mutu air yang sama
(Agustining, 2012). dengan kegunaan tersebut. Kelas empat, air
yang peruntukannya dapat digunakan
Pencemaran air dapat terjadi akibat untuk mengairi pertanaman (KLH, 2001).
adanya unsur atau zat lain yang masuk ke
dalam air, sehingga menyebabkan kualitas Berdasarkan latar belakang di atas,
air menjadi turun (Salmin, 2005). Sungai maka tujuan penelitian penelitian ini adalah
Gede yang terletak di Kabupaten Kediri menganalisi kondisi kualitas air sungai,
merupakan salah satu sungai yang diduga menghitung daya tampung dan status mutu
mengalami pencemaran dan juga air Sungai Gede berdasakan kesesuaiannya
merupakan salah satu anak dari sungai terhadap baku mutu air sesuai
yang arah alirannya menuju Sungai Brantas. peruntukannya.
Pembuangan limbah cair tepung tapioka
pada Sungai Gede di Kecamatan Ngdiluwih BAHAN DAN METODE
kabupaten Kediri ini dilakukan sebanyak 3
hingga 4 kali pembungan dalam satu Area Studi
minggu tergantung jumlah bahan yang Penelitian ini merupakan penelitian
didapat. Limbah cair yang merupakan hasil diskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan
pencucian singkong dan pengendapan di Sungai Gede Desa Dukuh Kecamatan
langsung mempunyai karakteristik Ngadiluwih Kabupaten Kediri (Gambar 1).
cenderung keruh. Desa Dukuh berada pada 07054'11,4 '' LS dan
112001'11,9 '' BT pada tanggal 15 Februari
Sungai Gede mengalami pencemaran 2015.
tepatnya pada Desa Dukuh yang berada di
Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Pengambilan sampel dilakukan pada 2
diamana terdapat beberapa industry tepung titik dengan jarak antar titik ±800 m. pada
tapioka. Sungai Gede digolongkan kedalam masing-masing titik dilakukan tiga kali
kelas II yang digunakan sebagai pemenuhan pengulangan, dengan pengambilan sampel
sarana prasarana wisata perairan, dilakukan di tepi kiri dan kanan dengan
Dewa, et al. 37
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
jarak 1 m dari dinding sungai serta pada dipantau, sampel ini hanya
tengah sungai. Titik pengambiulan sampel menggambarkan karakteristik air pada saat
sungai dibagi menjadi tiga titik Titik 1 pengambilan sampel. Pengambilan sampel
adalah titik Sungai Gede yang terletak air sungai dilakukan dengan menggunakan
sebelum terkena masukan limbah cair metode SNI No. 57 Tahun 2008 tentang
tepung tapioka dengan koordinat 07054'11,4 '' pengambilan contoh air permukaan, dimana
LS dan 112001'11,9 '' BT. Titik 2 merupakan air diambil secara langsung dengan
titik Sungai Gede yang berjarak 5 m dari memasukkan botol kedalam sungai dengan
tempat bercampurnya air sungai dengan air arah berlawanan arus kemudian
limbah cair tepung tapioka hasil keluaran menutupnya di dalam agar tidak
pabrik tepung tapioka, dengan koordinat tekontaminasi udara luar. Pengambilan
titik 07054'12,7” LS dan 112000'50,8” BT. Data sampel dilakukan sebanyak 3 kali ulangan
yang didapat dari T1 dan T2 akan dalam satu titik dengan ukuran 1,5 L yang
digunakan untuk memperkirakan kualitas, ditempatkan pada botol air mineral dan
daya tampung dan status mutu air pada T3. kemudian disimpan pada coolbox untuk
Titik 3 adalah titik Sungai Gede yang pengawetan sampel. Pengukuran pH
merupakan lokasi hilir atau outlet Sungai menggunakan pH meter dan pengukuran
Gede atau titik sesudah terjadi pencemaran, suhu menggunakan thermometer.
dengan koordinat titik 07054'13,4” LS dan
112000'21,6” BT. Gambar 1. Peta titik pengambilan sampel
Pengumpulan Data Keterangan : Pemukiman, Sawah,
Pengumpulan data dilakukan beberapa Sungai, Limbah Industri Tepung Tapioka,
tahap, tahap pertama pengumpulan data Titik Pengambilan Sampel, T1 : Sebelum
primer dan sekunder. Data sekunder berupa
peta penggunaan lahan, peta administrasi Pencemaran, T2 : Waktu Pencemaran atau
dan peraturan peraturan yang berhubungan Bercampurnya Limbah dengan Air Sungai, T3 :
dengan pembuangan limbah, yang Setelah Pencemaran .
kemudian digunakan untuk menentukan
titik lokasi. Titik koordinat diambil dengan Setelah dilakukan pengambilan sampel
menggunakan GPS. air pada setiap titik, perlu dilakukan
dilakukan penangan sampel sesuai standart
Data debit air diperoleh dari data yaitu pelabelan sampel dan pengawetan
primer. data debit di dapat dari hasil kali penyimpanan sampel menggunakan
pengukuran kecepatan menggunakan coolbox dan kemudian dimasukkan dalam
current meter dengan luas sungai freezer sebelum dibawa ke laboratorium
menggunakan pendekatan luas trapesium. agar tidak terjadi perubahan beberapa
Luas sungai di dapat dari hasil pengukuran parameter.
lebar dan panjang menggunakan meteran.
Titik pengambilan data debit dapat dilihat Analisis Sampel
pada Gambar 1. Sampel yang diuji terdapat beberapa
parameter yaitu pH, Suhu, TSS, BOD, dan
Pengambilan sampel untuk analisis air
sungai dilakukan pada T1 dan T2 dengan
parameter debit, suhu, TSS, pH, BOD, dan
COD untuk T3 hanya dilakukan
pengukuran Kecepatan arus sungai dan
lebar sungai. Pengambilan sampel
dilakukan pada tanggal 15 Februari 2015
tepatnya pada pukul 07.00 WIB dimana
pada waktu itu terjadi aktivitas
pembuangan limbah cair tepung tapioka.
Pengambilan sampel menggunakan metode
grab sample. Menurut effendi (2003), Grab
sample adalah sampel yang diambil secara
langsung dari badan air yang sedang
Dewa, et al. 38
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
COD. Pengujian parameter dilakukan di Dimana Lij = Konsentrasi parameter
kualitas air yang dicantumkan dalam baku
laboratorim IIP (ilmu-ilmu perikanan) mutu peruntukan air (j), Ci = Konsentrasi
parameter kualitas air (i) (mg/L atau 0C), PIj
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan = Indeks pencemaran bagi eruntukan (j),
(Ci/Lij)M = Nilai Ci/Lij maksimum,
Universitas Brawijaya Malang. Pengukuran (Ci/Lij)R = Nilai Ci/Lij rata-rata (KLH,
2003).
pH menggunakan pH meter, sedangkan
Penentuan kualitas air dan daya
suhu menggunakan thermometer. tampung sungai dilakukan dengan
mendiskripsikan kondisi Sungai Gede yaitu
Pengujian TSS yang digunakan dengan membandingkan hasil pengujian
laboratorium dan hasil perhitungan daya
laboratorium IIP FPIK UB yaitu tampung dengan baku mutu standart kelas
II yaitu digunakan sebagai sarana prasarana
menggunakan metode gavimetri wisata air atau pemandian yang ditetapkan
oleh Peraturan Gubernur No. 61 Tahun
menggunakan system penyaringan dan 2010. Penentuan status mutu air sungai
berdasarkan hasil perhitungan Indeks
pemanasan menggunakan oven dengan Pencemaran ini dapat menunjukan tingkat
ketercemaran Sungai Metro dengan
suhu antara 103-105oC selama 1 jam, membandingkannya dengan baku mutu
sesuai kelas air yang ditetapkan
kemudian didinginkan menggunakan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI
Nomor 82 Tahun 2001. Sehingga dapat
destikator untuk kemudian dilakukan diperoleh informasi dalam menentukan
dapat atau tidaknya air sungai dipakai
perhitungan konsentrasi (TSS Persamaan untuk peruntukan tertentu sesuai kelas air.
Tabel criteria dapat dilihat di Tabel 1.
1).
TSS = (1)
Analisa BOD ditentukan berdasarkan Tabel 1 Kriteria Indeks Pencemaran (Pij)
metode yang telah dilakukan (Anggraeni,
2014). Nilai BOD diukur dengan penentuan Nilai IP Mutu Perairan
selisih DO5 terhadap DO1. Analisa COD
menggunakan metode SNI No. 2 Tahun 0 -1.0 Kondisi Baik
2009 yaitu menggunakan spektrofotometer
dengan panjang gelombang 600 nm. 1.0 – 5.0 Cemar Ringan
Analisis Data 5.0 – 10.0 Cemar Sedang
Analisi daya tampung dilakukan pada T3,
setelah mendapatkan masukan yang berasal
dari limbah cair industri tepung tapioka.
Perhitungan daya tampung menggunakan
metode neraca massa (persamaan 2).
>10.0 Cemar Berat
CR= = (2) Ket : Kep- MENLH No. 115 Tahun 2003
Dimana CR = konsentrasi rata-rata HASIL DAN PEMBAHASAN
aliran gabungan (mg/L atau 0C), Ci =
Konsentrasi konsituen pada aliran ke-i Kondisi Wilayah
(mg/L atau 0C), Qi = Debit alirin ke-i dan Mi Sungai Gede ada penelitian ini terletak di
= Massa konstituen pada aliran ke-i (m3/s) Desa Dukuh Kecamatan Ngadiluwih
(KLH, 2003) Kabupaten Kediri, Sungai Gede merupakan
sungai yang melewati beberapa desa di
Sedangkan penentuan status mutu air kecamatan ngadluwih yaitu Desa Dukuh,
sungai dalam penelitian ini dilakukan Purwokerto dan Desa Ngadiluwih sendiri.
dengan menggunakan metode Indeks Desa Ngadiluwih berbatasan dengan
Pencemaran. Rumus perhitungan dengan Kecamatan Kras, Kandat, Mojo, Pesantren
metode Indeks Pencemaran (persamaan 3). dan Kecamatan kota Kediri. Sungai Gede
pada Kecamatan Wates merupakan hulu
Pij= (3) sungai, Kecamatan Kandat bagian tengah
sungai dan Kecamatan Ngadiluwih ini
merupakan hilir sungai dari aliran
keseluruhan Sungai Gede.
Dewa, et al. 39
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Desa Ngadiluwih memiliki 1. Debit
Hasil pengukuran debit pada setiap
kepandatan penduduk ± 71.111 jiwa, Sungai
titik yaitu 3.82 m3s-1 untuk T1, 1.89 m3s-
Gede digunakan warga sebagai pengairan 1untuk T2 dan 5.71 m3s-1untuk T3. Jika di
bandingkan dengan baku mutu kelas II
sawah namun menurut Peraturan Gubernur berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82
Tahun 2001 yaitu keadaan alamiahnya,
No. 61 Tahun 2010, Sungai Gede masuk maka kondisi kualitas air masih memenuhi
baku mutu sesuai dengan peruntukannya.
dalam Kelas II dimana digunakan sebagai
Debit air sungai merupakan jumlah air
Sarana Prasarana reereasi air, perikanan, yang mengalir di dalam saluran ungai per
satuan waktu, pengukuran debit air
peternakan dan pertanian. Mata memiliki banyak fungsi, salah satunya
adalah dalam menentukan kualitas air
pencaharian penduduk sektar Desa sungai. Fluktuasi debit air terjadi
disebabkan perbedaan kecepatan aliran
Ngadiluwih adalah wirasasta, swasta, sungai. Nilai kecepatan aliran sungai pada
T1 sebesar 1.71 m3s-1 dan pada T2 sebesar
pegawai PNS, perkebunan, perikanan, dan 0.66 m3s-1, kecepatan pada T1 lebih besar
dari pada T2 disebabkan pada saat menuju
pertanian dan industri. Industri di Desa aliran T2 terdapat banyaknya sampah dan
ranting pohon bambu yang berasal dari
Ngadiluwih yaitu industri kecil sebanyak aktivitas manusia disekitar sungai dan
dapat menghambat laju aliran air.
±1804 dan industri besar sebanyak ± 2.
2. Suhu
Industri tepung tapioka masuk dalam Berdasarkan hasil pengujian sampel air
industry kecil (Pemerintah Kabupaten, Sungai Gede pada masing-masing titik
menunjukkan suhu berkisar 270C-28.50C
2013). (Gambar 2). Pada T1 suhu sebesar 270C, T2
sebesar 280C, T3 sebesar 27.50C. Jika
Karakteristik limbah cair tepung tapioka dibandingkan dengan baku mutu kelas II
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82
Tabel 2 merupakan konsentrasi rata-rata Tahun 2001 yaitu deviasi 3 dari keadaan
alamiahnya, maka kondisi kualitas air masih
dari karakteristik limbah cair industry memenuhi baku mutu sesuai dengan
peruntukannya.
tepung tapioka. Parameter pH, TSS, BOD
dan COD tidak memenuhi baku mutu yang
ditentukan Peraturan Menteri LH RI No. 5
tahun 2014 tentang baku mutu air limbah
buangan. Parameter suhu saja yang masih
memenuhi baku mutu yang ditentukan.
Tabel 2. Karakteristik limbah tepung tapioka
(T0)
Parameter Rata-rata Baku mutu
Suhu (0C) 27 NA
TSS (mgL-1) 6321 100
pH 4.98 6-9
BOD (mgL-1) 225.373 150
COD (mgL-1) 1489.333 300
NA : Not Available
Analisis kualitas air
Analisis kualitas air Sungai Gede dilakukan
untuk mengetahui kesesuaian air sesuai
peruntukan dengan membandingkan baku
mutu air sesuai kelas air. Berdasarkan
peruntukannya Sungai gede termasuk
dalam kelas II, maka hasil pengamatan
parameter fisika TSS, Suhu, Debit dan
parameter kimia BOD, COD, pH
dibandingkan dengan baku mutu kelas II
yang terdapat pada Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Timur No. 2 Tahun 2008.
tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air, Hasil analisa
dapat dilihat sebagai berikut :
Dewa, et al. 40
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Tinggi rendah suhu air sungai Menurut Tarigan dan Edward (2003)
dipengaruhi oleh suhu udara sekitarnya dan TSS (Total Suspendes Solids) semua zat padat
intensitas paparan sinar matahari yang (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel-
masuk ke badan air, intensitas sinar partikel yang tersuspensi dalam air dan
matahari dipengaruhi oleh penutupan dapat berupa komponen hidup (biotik)
awan, musim dan waktu dalam hari, seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri,
semakin banyak intensitas sinar matahari fungi, ataupun komponen mati (abiotik).
yang mengenai badan air maka akan Tinggi TSS pada T1 diduga disebabkan
membuat suhu air sungai semakin tinggi adanya masukan limbah domestik yang
(Agustining, 2012). masuk sebelum T1 dan pada T2 nilai TSS
turun disebabkan berkurangnya laju aliran
3. TSS (Total Suspended Solids) air sehingga sebagian TSS terendapkan dan
Berdasarkan pemantauan dari setiap debit aliran air berkurang.
titik pengamatan di Sungai Gede 4. Derajat Keasaman (pH)
menunjukakan besarnya konsentrasi pada Hasil pemantuan parameter pH pada
masing masing titik sebesar 234.67 mgL-1
untuk T1, 158.67 mgL-1 untuk T2 dan 209. 51 setiap titik pengamatan menunjukkan
mgL-1 untuk T3. Sehingga jika dibandingkan terjadinya peningkatan pada T1 ke T2 dan
dengan baku mutu kelas II berdasarkan terjadi penurunan ada T2 ke T3. Besarnya
Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 pH pada T1 sebesar 6.4, pada T2 sebessar
yaitu 50 mgL-1, maka kondisi kualitas air 6.46 dan T3 sebesar 6.42 (Gambar 4). Apabila
Sungai Gede untuk parameter TSS melebihi dibandingkan dengan baku mutu kelas II
baku mutu yangditetapkan atau tidak sesuai berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82
dengan peruntukannya (Gambar 3). Tahun 2001 menunjukkan bahwa parameter
pH masih dalam baku mutu atau sesuai
dengan peruntukan sungai kelas II.
Fluktuasi nilai pH dipengaruhi oleh
adanya buangan limbah organik dan
anorganik ke sungai (Yuliastuti, 2011).
Peningkatan nilai pH pada T2 disebabkan
karena adanya masukan limbah cair tepung
tapioka dan penurunan pH pada T3 terjadi
karena terjadi pengenceran dengan air
sungai. Untuk parameter pH masih sesuai
dengan peruntukan yang ditentukan kelas II
yaitu pH berkisar antara 6-7.
Dewa, et al. 41
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
5. Biological Oxygen Demand (BOD) Angka COD yang tinggi,
Berdasarkan hasil pemantauan mengindikasikan semakin besar tingkat
pencemaran yang terjadi (Yudo, 2010).
parameter BOD menunjukan bahwa terjadi Peningkatan kadar COD pada Sungai Gede
kenaian kadar BOD pada T1 ke T2 dan disebabkan adanya masukan limbah cair
Terjadi penurunan pada T2 keT3. Besar nilai industri tapioka pada T2. Nilai BOD pada
BOD pada T1 14.99 mgL-1, pada T2 sebesar perairan yang tidak tercemar biasanya
30.89 mgL-1, pada T3 sebesar 20.25 mgL-1 kurang dari 20 mgL-1 (Ali, 2013). Kualitas
(Gambar 5). Jika dibandingkan dengan baku Sungai Gede dengan parameter COD tidak
mutu kelas II berdasarkan Peraturan dapat mendukung penyedia air sebagai
Pemerintah No. 82 Tahun 2001 yaitu 3 mgL- sarana prasarana rekreasi air.
1, parameter BOD pada T1, T2 dan T3 tidak
sesuai dengan peruntukan atau melebihi Analisis daya tampung Sungai Gede
baku mutu kelas II. Hasil perhitungan daya tampung beban
pencemaran dengan metode neraca massa
Menurut Rahmawati (2011) bahan menghasilkan daya tampung pada titik 3
buangan organik umumnya berupa limbah untuk setiap parameter. Hasil dari
yang dapat membusuk atau terdegradasi perhitungan daya tampung tersebut
oleh mikroorganisme, sehingga bila dibuang kemudian akan dibandingkan dengan baku
ke perairan akan menaikkan BOD. Kenaikan mutu perairan untuk kelas II pada
kadar BOD pada T2 disebabkan masuknya Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001
limbah cair industri tapioka ke badan dapat dilihat pada Tabel 3. Analisis
Sungai Gede. Kualitas Sungai Gede dari dilakuakan berdasarakan Keputusan
hulu ke hilir menunjukkan tidak sesuai Menteri LH No 110 Tahun 2003 dengan
dengan peruntukan kelas II dan perlu upaya metode indeks pencemaran.
pengelolaan.
Tabel 3. Daya tampung Sungai Gede
6. Chemical Oxygen Demand (COD)
Hasil pengamatan menenjukkan Lokasi Pengambilan sampel
bahwa parameter COD pada T1 ke T2 Parameter T1 T2 Baku T3
mengalami peningkatan kadar COD dan Mutu
pada T2 ke T3 mengalami penurunan. Nilai
kada COD pada T1 sebesar 93.55 mgL-1, T2 Debit (m3s-1) 3.82 1.89 NA 5.71
sebesar 370.44 mgL-1, dan T3 sebesar 185.2
mgL-1. Jika dibandingkan dengan baku TSS(mgL-1) 234.7 158.7 50 209.5*
mutu kelas II berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 82 Tahun 2001 yaitu 25 COD(mgL-1) 93.6 370.4 25 185.2*
mgL-1, parameter COD pada semua titik
telah melebihi baku mutu dan tidak sesuai BOD(mgL-1) 14.9 30.9 3 20.25*
dengan peruntukan kelas II.
pH 6.4 6.42 6-9 6.46
Suhu (0C) 27 28 NA 28.5
NA : Not available
* : Melampaui Baku Mutu
Ket : PP No. 82 tahun 2001
Dewa, et al. 42
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Tabel 3 merupakan hasil perhitungan Tabel 4 merupakan tabel perhitungan
daya tampung Sungai Gede pada titik outlet
atau T3, menunjukkan bahwa pada daya indeks pencemaran untuk menentukan
tampung Sungai Gede pada T3 untuk
parameter TSS, COD dan BOD melebihi status mutu Sungai Gede. Hasil perhitungan
baku mutu kelas II pada Peraturan
Pemerintah No. 82 Tahun 2001 dan sudah menunjukan bahwa semua titik mengalami
tidak memiliki daya tampung lagi. Pada
parameter suhu dan debit masih memiliki pencemaran tetapi berbeda tingkat
daya tampung atau masih dalam standarat
baku mutu yang telah ditetepkan karena pencemarannya. T1 dan T3 mengalami
pada parameter suhu dan debit tidak
terdapat baku mutu sehingga sesuai dengan pencemaran ringan dan T2 mengalami
keadaan alaminya. Parameter pH masih
sesuai dengan baku mutu berkisar pada pH pencemaran sedang. T2 mengalami
6-9. Jika terdapat masukan limbah selain
limbah cair tepung singkong dan diantara pencemaran sedang karena pada T2
titik T1 dan T2 maka limbah tersebut tidak
boleh memiliki kadar BOD, COD dan TSS merupakan tempat bercampurnya limbah
yang tinggi dan tidak juga menyebabkan
kenaikan maupaun penurunan juga cair tepung tapioka dengan air sungai. T1
peningkatan pH yang menyebabkan tidak
sesuai pada baku mutu kelas II yang mengami pencemaran diduga terdapat
ditetapkan di Sungai Gede.
masukan limbah domestik sebelum T1 dan
juga banyaknya padatan atau erosi yang
masuk dalam sungai sebelum titik T1. T3
mengalami pencmaran ringan karena
dampak dari T1 dan T2 yang menyebabkan
pada titik outlet menjadi tercemar ringan.
Pada T2 ke T3 mengalami penurunan angka
dan tingkat pencemaran dikarenakan
sungai mempunyai kemampuan self
purification atau memulihkan dirinya sendiri
dari bahan pencemar (Agustining, 2012).
Berdasarkan hasil analasis karakteristik
limbah cair tepung tapioka menunjukkan
Analisis status mutu Sungai Gede telah melebihi baku mutu yang ditetapkan
Menurut Ali (2013), Status mutu air
mencerminkan kondisi mutu air yang yaitu Peraturan Menteri LH No. 5 Tahu
menunjukan tingkat pencemaran suatu
sumber air dalam waktu tertentu, 2014. Hasil analisi kualitas air Sungai Gede
dibandingkan dengan baku mutu air yang
ditetapkan. Suatu sungai dikatakan terjadi pada T1, T2 dan T3 un tuk parameter suhu
penurunan kualitas air, jika air tersebut
tidak dapat digunakan sesuai dengan status dan pH tidak melebihi baku mutu kelas II
mutu air secara normal. Pada penelitian ini
parameter yang digunakan untuk menurut Peraturan Pemerintah No. 82
menentukan besarnya status mutu air
sungai gede adalah BOD, COD, TSS dan pH. Tahun 2001, namun untuk parameter BOD,
Sedangkan baku mutu yang digunakan
yaitu baku mutu kelas II berdasarkan PP RI COD dan TSS telah melebihi baku mutu
No. 82 Tahun 2001 dapat dilihat pada Tabel
3. Analisis dilakukan berdasarkan yang ditetapakan.
Keputusan Menteri LH No 115 Tahun 2003
dengan metode indeks pencemaran. Berdasarkan perhitungan daya
tampung pada T3 sudah tidak memeliki
daya tampung lagi untuk parameter BOD,
COD dan TSS namun untuk parameter pH
dan suhu masih dalam batas baku mutu,
sedangkan perhitungan indeks pencemaran
untuk menentukan status mutu air
menunjuukan semua titik mengalami
pencemaran namun berbeda tingkatan pada
masing-masing titik. Oleh sebab itu perlu
Tabel 4. Status mutu air Sungai Gede adanya pengolahan limbah cair tepung
Lokasi Status Mutu Air tapioka untuk menurunkan kadar pencmar
Pengambilan Nilai PIj Berdasarkan seperti TSS, BOD, COD dan pH agar tidak
Sampel Kelas II mencemari sungai selainitu juga
Titik 1 (T1) 4,25 Cemar ringan memerlukan pengkajian ulang tentang
Titik 2 (T2) 5,91 Cemar sedang limbah yang masuk sebelum titik yang
Titik 3 (T3)* 4,89 Cemar ringan ditentukan sebagai objek penelitian dan
* : Merupakan titik setelah terjadi pencemaran perlu adanya upaya pengelolaan sungai
atau outlet agar kondisi sungai tetap baik.
Dewa, et al. 43
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
DAFTAR PUSTAKA Rahmawati, D. 2011. Pengaruh Kegiatan
Industri Terhadap Kualitas Air Diwak
Agustiningsih, D. 2012. Kajian Kualitas Air di Bergas Kabupaten Semarang dan
Sungai Blukar Kabupaten Kendal Upaya Pengendalian Pencemaran Air
dalam Upaya Pengendalian Sungai. Tesis. Universitas
Pencemaran Air Sungai. Tesis. Diponegoro, Semarang.
Universitas Diponegoro. Semarang.. Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan
Ali, A. Soemarno dan Purnomo, M. 2013. Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)
Kajian Kualitas Air dan Status Mutu Sebagai Salah Satu Indikator Untuk
Air Sungai Metro di Kecamatan Menentkan Kualitas Perairan. Jurnal
Sukun Kota Malang. Tesis. Universitas Oseana, 30. 21-26.
Brawijaya. Malang. Standar Nasional Indonesia (SNI
Azwir. 2006. Analisa Pencemaran Air 6889.57:2008) tentang Metoda
Tapung Kiri oleh Limbah Industri Pengambilan Contoh Air Permukaan.
Kelapa Sawit PT.Peputra Masterindo Tarigan, M.S. and Edward. 2003. Kandungan
di Kabupaten Kampar. Tesis. Progam Total Zat Padat Tersuspensi (Total
megister ilmu lingkungan. Universitas Suspended Solids) di Perairan Raha
Diponegoro. Semarang Sulawesi Tenggara. Jurnal Sains, Vol
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi 7(3) : 110-111.
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Yudo, S. 2010. Kondisi Kualitas Air Sungai
Lingkungan Perairan. Penerbit Ciliwung di Wilayah DKI Jakarta
Kanisius. Yogyakarta. ditinjau dari Parameter Organik,
KLH, 2001. Peraturan Pemerintah Republik Amoniak, Fosfat, Detergen dan
Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Bakteri Coli. Jurnal Akuakultur
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Indonesia, Vol. 6(1) : 34-36.
Pendendalian Pencemaran Air. Yuliastuti, E. 2011. Kajian Kualitas Air
KLH, 2003. Keputusan Menteri Negara Sungai Ngringo Karanganyar dalam
Lingkungan Hidup Nomor 110 Tahun Upaya Pengendalian Pencemaran Air.
2003 tentang Pedoman Penetapan Tesis. Universitas Diponegoro,
Daya Tampung Beban Pencemaran Semarang.
Air Pada Sumber Air.
KLH, 2003. Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun
2003 tentang Pedoman Penentuan
Status Mutu Air.
KLH, 2010. Peraturan Gubernur Nomor 61
Tahun 2010 Penetapan Kelas Air Pada
Air Sungai.
KLH, 2014. Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup Rebuplik Indonesia Nomor 5
Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air
Limbah.
Pavita, K. D. 2014. Studi Penentuan Daya
Tampung Beban Pencemaran Kali
Surabaya Dengan Menggunakan
Metode Neraca Masa. Skripsi.
Universitas Brawijaya. Malang.
TINGKAT PENCEMARAN LIMBAH CAIR DOMESTIK
DI PERAIRAN PESISIR KECAMATAN TANJUNGPINANG BARAT
KOTA TANJUNGPINANG PROVINSI KEPULAUAN RIAU
DOMESTIC WASTE WATER POLLUTION LEVELS
IN COASTAL WATERS WEST DISTRICT TANJUNGPINANG
CITY TANJUNGPINANG RIAU ISLANDS PROVINCE
WINARNO¹, WINNY RETNA MELANI, M.Sc², T. SAID RAZA’I, MP³
Programme Study Of Aquatic Resource Management
Marine Science and Fisheries Faculty, Maritime Raja Ali Haji University
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingakat Pencemaran limbah cair domestik di perairan
pesisir Kecamatan Tanjungpinang Barat Kota Tanjungpinang, Adapun manfaat dari penelitian
ini di harapkan dapat dijadikan sebagai salah satu dasar untuk pengelolaan wilayah pesisir
Kecamatan Tanjungpinang Barat berwawasan lingkungan. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa kandungn TSS di dalam perairan berkisar 1,04 mg/l – 1,37 mg/l Ph 8,91 mg/l – 9,27 mg/l,
BOD5 8,33 mg/l – 10,17 mg/l lemak dan minyak 20,07 mg/l – 61,13 mg/l. Kondisi ini jika
mengacu kepada baku mutu KEPMEN LH NO 122 TAHUN 2003 masih dalam kisaran toleransi
(kondisi baik) kecuali derajat keasaman (pH) dan kandungan lemak dan minyak perairan di atas
ambang baku mutu, ini di duga karena pada daerah penelitian ini merupakan daerah reklamasi
dan daerah pemukiman masyarakat yang sudah pasti terdapat buangan limbah rumah tangga
berupa daging, minyak sisa masakan, cucian dapur, serta alat pemanggang dimana menyumbang
limbah domestik yang lebih tinggi.
Keyword: Perairan pesisir, Pencemaran, Kecamatan Tanjungpinang Barat
ABSTRAK
This study aims to determine the Tertiary domestic wastewater pollution in the coastal waters of
West Tanjungpinang Tanjungpinang District, The benefit of this study is expected to be used as a
basis for the management of coastal district of West Tanjungpinang environmentally sound.
Results of this study indicate that kandungn TSS in the water ranged from 1.04 mg / l - 1.37 mg /
l pH 8.91 mg / l - 9.27 mg / l, BOD5 of 8.33 mg / l - 10.17 mg / l fats and oils 20.07 mg / l -
61.13 mg / l. This condition refers to the quality standard if KEPMEN LH NO 122 OF 2003 is
still in the range of tolerance (good condition) unless the degree of acidity (pH) and fat content
and oil waters above the threshold standards, this is thought to have on the study area is an area
of reclaimed and residential areas there are definitely people who have household waste such as
meat, leftover cooking oil, laundry kitchen and grill which accounts for the higher domestic
waste.
Keyword: coastal waters, pollution, District of West Tanjungpinang
PENDAHULUAN
Kota Tanjungpinang merupakan Tabel 1. Luas wilayah kecamatan
pusat Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Kecamata Luas Penduduk Kepadatan
yang terletak pada posisi 00.51-00.59 Bukintn 69,0 61.k092 88n5
Lintang Utara dan 104.023-104.034 Bujur TBPesItTariimur 83,5 73.193 877
Timur dengan luas wilayah sebesar 239,50 TPI Kota 52,5 23.974 457
KM2 atau 23.950 Ha. Secara adminitrasi
kota Tanjungpinang terdiri dari 4 TPI Barat 34,5 62.117 1800
kecamatan, yaitu: Kecamatan Jumlah 239, 220.376 920
Tanjungpinang Barat 3.450 Ha, Kecamatan Sumber : Dinas 5Kependudukan dan Catatan
Tanjungpinang Kota 5.250 Ha, Kecamatan Sipil Kota Tanjungpinang (2009)
Bukit Bestari 6.900 Ha dan Kecamatan
Tanjungpinang Timur 8.360 Ha. Tingginya aktifitas dan
Berdasarkan laporan tahunan pemanfaatan wilayah pesisir sebagai bentuk
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota
Tanjungpinang, menunjukan bahwa Perkembangan pembangunan kota
Kecamatan Tanjungpinang Barat memiliki
tingkat kepadatan penduduk yang cukup Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi
tinggi bila dibandingkan dengan kecamatan
yang ada di Sekitarnya, dimana dengan luas Kepualauan Riau di khawatirkan akan
wilayah 34,5 KM2 terdapat 62.117 jiwa
dengan Tingkat Kepadatan penduduk memberikan pengaruh pada lingkungan
sebesar 1.800 Jiwa/KM2 yang tersebar di
berbagai kelurahan. Walaupun jumlah sekitarnya. Perubahan lingkungan secara
penduduk belum merata pada setiap
kelurahan tetapi kepadatan penduduk di perlahan akan memberikan efek secara
daerah pesisir cukup tinggi, untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. langsung maupun tidak langsung kepada
biota-biota perairan dan manusia sebagai
pengkonsumsinya.
Kondisi tersebut juga bisa terjadi
pada Kecamatan Tanjungpinang Barat yang
merupakan salah satu kecamatan yang
memiliki tingkat kepadatan penduduk yang
cukup tinggi serta memiliki berbagai bentuk
usaha di daratan maupun lautannya.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik
Kota Tanjungpinang pada tahun 2009,
Kecamatan Tanjungpinang Barat memiliki
usaha mikro kecil dan menengah berupa Tabel 2 alat dan bahan
makanan dan non makanan sebanyak 625 NO Alat dan bahan
usaha, memiliki 12 penginapan berupa hotel 1 Kamera Digital
berbintang 3, berbintang 1 dan penginapan 2 Alat Tulis
kelas melati dan memiliki 3 tempat wisata 3 Multi parameter testing kit
kuliner serta usaha kecil lainnya. 4 Botol sampel
5 Formalin 4%
Padatnya penduduk dan banyaknya 6 Secchi Disk
aktivitas atau kegiatan yang terjadi akan 7 Turbidi Meter
menghasilkan limbah yang tidak sedikit 8 Spektrofotometer
,baik berupa limbah organik, anorganik 9 Kuisioner
maupun fecal coliform, sehingga 10 Kapal pompon / speed boad
menyebabkan terjadinya penurunan kualitas
perairan dari tahun ke tahun. Sehingga perlu Metode yang digunakan dalam
diketahui Tingkat pencemaran limbah cair penelitian adalah metode penelitian survey
domestik untuk dasar dalam membuat atau observasi lansung ke lapangan dengan
tindakkan preventif untuk menjaga menggabungkan penelitian fisik dan
kelestarian biota-biota perairan. penelitian sosial, dimana untuk data Tingkat
pencemaran Limbah cair domestik
Dengan demikian tujuan dari dilakukan penelitian fisik terhadap
penelitian ini adalah untuk mengetahui parameter kimia, fisika dan biologi,
Tingakat Pencemaran limbah cair domestik sedangkan untuk data prilaku masyarakat
di perairan pesisir Kecamatan menggunakan penelitian sosial melalui
Tanjungpinang Barat Kota Tanjungpinang. kuisioner.
Adapun manfaat dari penelitian ini Prosedur kerja
di harapkan dapat dijadikan sebagai salah
satu dasar untuk pengelolaan wilayah pesisir Sampel diambil dilokasi titik
Kecamata Tanjungpinang Barat berwawasan pengambilan sampel dengan 2x ulangan
lingkungan waktu pagi anatara pukul 6-8 dan sore antara
pukul 16-18. Adapun cara kerja
METODE PENELITIAN pengambilan sampel air laut meliputi :
1. Ambil sampel dengan menggunakan
Waktu dan Tempat
botol Van Dorn. Adapun cara
Penelitian dilaksanakan dari bulan pengambilannya menurut Hariyadi et
Januari 2013 sampai dengan bulan Agustus al (1992) sebagai berikut :
2013 diperairan pesisir Kecamatan Van Dorn dalam posisi terbuka
Tanjungpinang Barat provinsi Kepulauan
Riau. dimasukkan tegak lurus ke
dalam perairan sampai ke
Alat dan Bahan kedalaman yang dikehendaki
Kemudian dengan meluncurkan
Penelitian ini akan menggunakan pemberat, maka kedua tutup
alat dan bahan sebagaimana disajikan karet di kedua ujung tabung
pada Tabel 2. akan menutup tabung Van Dorn
Air contoh dalam tabung siap
diangkat ke permukaan.
Pengeluaran air dalam tabung dari 4 Stasiun 12 Titik yang menjadi
dilakukan dengan membuka parameter utama dalam penelitian ini dapat
penjepit pada selang dilihat pada gambar 1
pengeluaran pada bagian bawah
dan selang pengudaraan di 80 Stasiun TSS
bagian atas. 3
60 pH
2. Lalu air dimasukkan kedalam botol
sampel. 40 BOD5
3. Kemudian dilakukan pengawetan 20 Lemak dan
sampel air, dengan cara memberikan Minyak
penambahan formalin 4% 0
Stasiun
4. Setelah itu sampel dimasukan kedalam 1
ice box. Kemudian dibawa ke
laboratrium. Gambar 1Grafik Pengukuran Parameter
Utama
Pengambilan kuisioner
Teknik Penetapan sampel kuisioner Berdasarkan gambar 1 dapat
diketahui bahwa kandungn TSS di dalam
di lakukan dengan metoda Simple Random perairan berkisar 1,04 mg/l – 1,37 mg/l Ph
terbilang 30 kepala keluarga yang di anggap 8,91 mg/l – 9,27 mg/l, BOD5 8,33 mg/l –
mampu memberikan jawaban keterwakilan 10,17 mg/l lemak dan minyak 20,07 mg/l –
dari jumlah penduduk. Cara pengambilan 61,13 mg/l. Kondisi ini jika mengacu kepada
sampel ini, dengan memilih sub grup dari baku mutu KEPMEN LH NO 122 TAHUN
populasi sedemikian rupa sehingga sampel 2003 masih dalam kisaran toleransi (kondisi
yang di pilih mempunyai sifat yang sesuai baik) kecuali derajat keasaman (pH) dan
dengan sifat-sifat populasi. kandungan lemak dan minyak perairan di
atas ambang baku mutu, ini di duga karena
Metode Analisa pada daerah penelitian ini merupakan daerah
reklamasi dan daerah pemukiman
Data yang diperoleh dari hasil masyarakat yang sudah pasti terdapat
pemeriksaan laboratrium disajikan dalam buangan limbah rumah tangga berupa
bentuk tabel distribusi dan pembahasannya daging, minyak sisa masakan, cucian dapur,
dilakukan secara deskriptif Kemudian hasil serta alat pemanggang dimana menyumbang
analisisnya dibandingkan dengan baku mutu limbah domestik yang lebih tinggi.
berdasarkan keputusan menteri Negara
lingkungan hidup No. 112 Tahun 2003 Total Suspended Solid (TSS)/Total
tentang baku mutu air laut selanjutnya data Padatan Tersuspensi
didukung dengan menunjukan hasil dari
quizsioner kemudian data penelitian TSS merupakan salah satu
dianalisis secara deskriptif. parameter yang dapat menghambat penetrasi
cahaya dimana mampu menurunkan
HASIL DAN PEMBAHASAN aktivitas fotosintesis. Menurut Erlina et al
(2011) bahwa kadar tertentu padatan
Hasil pengukuran terhadap tersuspensi akan dapat menghambat
parameter fisika-kimia perairan yang diukur penetrasi cahaya ke dalam perairan yang
berakibat terhadap menurunnya aktivitas
fotosistensis. Hasil penelitian diperoleh nilai
TSS berkisar 1,04 – 1,37 mg/l. Untuk lebih
jelasnya dapat di lihat pada gambar 2
TSS TSS kepentingan perikanan, karena menurut
Efendi (2003) kategori TSS <5 tidak
1.5 berpengaruh bagi kehidupan perikanan.
1
pH
0.5 pH merupakan derajat keasaman
0
yang memiliki arti penting untuk
Gambar 2 Perbedaan nilai TSS pada Setiap menentukan nilai guna bagi perikanan. pH
Stasiun Pengamatan. air bervariasi tergantung beberapa faktor
seperti suhu, alkalinitas, Do, dan kandungan
Berdasarkan Gambar 2 dapat di anion serta kation. Hal ini juga diungkapkan
ketahui kandungan TSS pada perairan, oleh Pescod (1973) menyatakan bahwa
dimana pada stasiun 2 kandungan TSS 1,37 toleransi jasad perairan terhadap pH air
mg/l sedangakan pada stasiun lainya hanya bervariasi tergantung beberapa faktor antara
mencapai 1,14 mg/l hal ini di duga daerah lain suhu, kandungan oksigen terlarut,
tersebut merupakan daerah pemukiman alkalinitas dan adanya berbagai anion dan
padat penduduk sehingga kontribusi limbah kation.
domestik dari aktifitas masyarakat menjadi
tinggi seperti limbah cucian pakaian, Dari hasil penelitian diperoleh nilai
pembuangan tinja, serta kondisi daerah yang pH berkisar 8,91 – 9,27. Berdasarkan nilai
masih berbatasan dengan daratan yang tidak tersebut pH pada lokasi pengamatan lebih
menuntut kemungkinan pengikisan tanah bersifat alkalis. Untuk parameter pH ini,
pada badan air. Kondisi ini sesuai yang di nilai tersebut diatas baku mutu perairan,.
kemukakan Efendi (2003) bahwa Padatan Karena menurut Efendi (2003) bahwa Air
tersuspensi total (Total Suspended Solid normal yang memenuhi syarat untuk suatu
atau TSS) adalah bahan-bahan tersuspensi kehidupan mempunyai pH berkisar antara
yang terdiri atas lumpur dan pasir halus serta 6,5 – 7,5. Untuk lebih jelas nilai pH antar
jasad-jasad renik yang terutama disebabkan stasiun dapat dilihat pada Gambar 3.
oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang
terbawa ke perairan. pH pH
Akan tetapi mengacu kepada 9.4
standar baku mutu KEPMEN LH NO. 112 9.2
TAHUN 2003 kondisi perairan ini msih
dikatakan baik, meskipun secara fisik dan 9
kasat mata kondisi perairan tersebut sudah 8.8
tidak layak. Hal ini sesuai dengan hasil 8.6
kuisioner terhadap responden masyarakat
mengatakan kondisi perairan sudah tidak Gambar 3 Perbedaan nilai pHpada Setiap
layak (kotor), dimana 83,3 % mengatakan Stasiun Pengamatan.
kotor, 6,6 % mengatakan bersih dan 10%
mengatakan tercemar. Berdasarkan Gambar 3 dapat
Dengan kisaran nilai TSS 1,04 – dilihat nilai pH tertinggi berada pada stasiun
1,37 mg/l masih tidak berpengaruh bagi
1 yang berada pada daerah reklamasi. Hal
ini juga di dukung oleh intensitas
masyarakat dalam keseharianya
menggunakan sabun mandi, shampoo, bahan organik, karena pada stasiun 2 itu
pewangi pakaian, deterjen, pemutih pakaian berada pada daerah permukiman yang
berlebihan sehingga mempengaruhi pH mengandung bahan organik dari
perairan. pembuangan limbah domestik masyarakat
sekitar, hal ini sesuai dengan hasil kuisioner
BOD5 masyarakat pemukiman dalam proses
pembuangan tinja tanpa melalui daur ulang
BOD merupakan oksigen yang atau spitenk melainkan langsung di buang
keperairan. Dimana penduduk masyarakat
dibutuhkan mikroba aeraob untuk pesisir hanya 6,6 % yang rumahnya
memiliki WC dengan septinktank, 16,6 %
mengoksidasi bahan organik, sehingga WC dirumah lalu lalu dialirkan kesungai
atau pantai dan sebanyak 76,6 % maryarakat
menunjukkan jumlah oksigen yang pesisir hanya memiliki WC “cemplungan’.
Hal ini didukung oleh pendapat Efendi
dikonsumsi untuk respirasi. Sesuai dengan (2003) bahwa Limbah cair yang dihasilkan
oleh rumah tangga banyak mengandung
pendapat Davis and Cornwell (1991). BOD bahan organik yang dicirikan dengan
tingginya nilai BOD pada air yang tercemari
merupakan kadar bahan organik, yaitu limbah ini.
jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh Lemak dan Minyak
mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan Lemak dan minyak merupakan
salah satu limbah cair domestik yang umum
organik menjadi bahan karbondioksida dan terdapat dari hasil pembungan dari sampah
rumah tangga masyarakat. Limbah cair
air . Sedangkan Boyd (1988) menyatakan domestik pada umum menghasilkan
senyawa organik. Menurut Fakhrizal (2000)
bahwa BOD menunjukan jumlah oksigen Limbah cair domestik ini menghasilkan
senyawa organik berupa, protein,
yang di konsumsi oleh proses respirasi karbohidrat, lemak dan asam nukleat
mikroba aerob yang terdapat dalam botol Dari hasil penelitian kisaran nilai
lemak dan minyak yaitu 20,07 – 61,13 mg/l.
BOD yang diinkubasi pada suhu 20ºC Dengan kisaran nilai lemak dan minyak
seperti itu, lokasi penelitian telah mengalami
selama lima hari, dalam keadaan tanpa pencemaran, dimana jika dibandingkan
dengan baku mutu air laut untuk biota laut
cahaya. berdasarkan Kepmenlh No. 112 Tahun 2003
jauh diatas ambang baku mutu yaitu sebesar
Kisaran BOD5 pada hasil penelitian 10 mg/l. Untuk melihat nilai lemak dan
yaitu 8,33 – 10,17 mg/l, dimana minyak pada lokasi penelitian dapat dilihat
masih pada Gambar 5.
dapat mendukung kehidupan biota laut, Pada Gambar 5 menjelaskan bahwa
nilai lemak dan minyak yang tertinggi
karena berdasarkan Kepmenlh No.51 terdapat pada Stasiun 1 sedangkan tertinggi
Tahun 2003, baku mutu untuk BOD5
maksimal 20 mg/l.
BOD5
20
10
0
BOD5
Gambar 4 Perbedaan Nilai BOD5 pada
Setiap Stasiun Pengamatan.
Pada Gambar 4 dapat dilihat nilai
BOD5 tertinggi berada pada Stasiun 2
dimana bernilai 10,17 mg/l. Hal ini diduga
karena pada stasiun itu banyak mengandung
ke dua berada pada Stasiun 2, dimana KESIMPULAN
masing-masing bernilai 61,13 mg/l dan
51,60 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian kondisi
Lemak & Minyak perairan pesisir Tanjungpinang Barat,
100 Tingakat pencemaran perairan pesisir
50
Kecamatan Tanjungpinang Barat
0 Lemak &
Minyak berdasarkan Baku Mutu limbah Cair
Gambar 5 Perbedaan Nilai Lemak & Domestik KEPMEN LH NO 112 TAHUN
Minyak pada Setiap Stasiun.
2003 nilai pH, BOD, TSS, Minyak dan
Tingginya nilai lemak dan minyak
pada satsiun 1 dan 2 diduga karena pada Lemak meningkat, Hal ini diduga karena
daerah tersebut merupakan daerah reklamasi
dan daerah pemukiman, dimana pada daerah tersebut banyak terdapat jasad-
menyumbang limbah domestik yang lebih
tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya. jasad renik dari pembuangan limbah rumah
Pada daerah reklamasi tersebut diduga
terjadi pencucian alat berat, adanya daerah tangga, serta daerah ini masih berbatasan
perkantoran, tempat rekreasi masyarakat
yang dapat menyumbang kandungan lemak dengan daratan yang tidak menutup
dan minyak di dalam perairan, selain itu
pada daerah tersebut juga terdapat restaurant kemungkinan terjadi pengikisan oleh tanah
yang juga menyumbang bertambahnya
lemak dan minyak diperairan dengan yang terbawa ke badan air.
dibuangnya sisa-sisa masakan, sedangkan
stasiun 2 merupakan daerah permukiman SARAN
masyarakat yang sudah pasti terdapat
buangan limbah rumah tangga berupa Diharapkan dengan hasil penelitian
daging, minyak sisa masakan, cucian dapur,
serta alat pemanggang. Hal tersebut ini, memberi inpirasi kepada masyarakat
didukung oleh pendapat Hendrawan (2008)
yang menyatakan bahwa Sumber minyak untuk lebih menjaga kebersihan dan
dan lemak di perairan diduga berasal dari
kegiatan rumah tangga, bengkel, restaurant lingkungan pesisir Kecamatan
yang bersumber dari kegiatan domestik
rumah tangga, kantor, hotel, restaurant, Tanjungpinang Barat.
tempat hiburan, pertokoan dan rumah sakit.
Pemerintah juga hendaknya
mensosialisasikan kepada masyarakat
tentang pentingnya spitank, karna
masyarakat pesisir kecamatan
Tanjungpinang barat pada umumnya tidak
mempunyai spitank.
UCAPAN TERIMAKASIH
1. Ibu Winny Retna Melani, SP, M.Sc
2. Bapak Tengku Said Raza’I, S.Pi, MP
3. Ibu Diana Azizah, M.Si
4. Bapak Andi Zulfikar, MP
5. Bapak Dr.Ir. Bustami, M.Sc
6. Ayah (alm) dan Ibunda tercinta yang tiada
henti-hentinya mendo’akan ananda
hingga detik ini hingga dapat menempuh
pendidikan yang layak.
7. Istriku tercinta Marlinda,S.Pd.I yang slalu
memberi motifasi baik moril maupun
materil.
8. Terkhusus buat Kakandaku Sunandar
(alm) semoga allah swt menrima amal
ibadahnya amin.
9. Buat sahabat, mas, mbak, kakak, adik yg
slalu mendoakan.
10. Rosnah,S.pi dan Tri Febrianto, S.Pi yang
telah banyak berkorban tenaga dan waktu
dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Hariyadi,. S., Suryadiputra, Widigdo, B.
1992. Metoda Analisa Kualitas Air.
Laboratrium Limnologi. ITB Press. Bogor
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
258 p.
Keputusan Mentri Lingkungan Hidup
Nomor 112 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu
Limbah Cair Domestik
Dinas Kelautan Dan Perikanan. 2007.
Laporan Akhir Studi Kelayakan
Pemanfaatan Bekas Galian Pasir Untuk
Usaha Budidaya Air Tawar. Kabupaten
Bintan
http://www.kepriprov.go.id dan www.dprd-
kepriprov.go.id
http://bitskelelawar.blogspot.com/2010/04/fi
sika-perairan.html
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services. 4(1), 45-50, 2020
URL: https://jurnal.uns.ac.id/prima/issue/view/41228
DOI: https://doi.org/10.20961/prima.v4i1.41228
Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik sebagai Upaya Rehabilitasi
Pesisir di Desa Malangrapat, Kabupaten Bintan
Ginanjar Pratama1, Itok Dwi Kurniawan2*, dan Aidil Fadli Ilhamdy3
1Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
2Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret
3Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim
Raja Ali Haji
*Corresponding Author: [email protected]
ABSTRAK
Desa Malangrapat merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang sangat menjanjikan di wilayah
Kabupaten Bintan. Banyaknya wisatawan yang datang tiap tahun membuat daerah tersebut
mengalami penurunan kualitas lingkungan pantai akibat buangan sampah domestik. Hal itu terlihat
dari banyaknya sampah yang berada di bibir pantai dan berkurangnya tangkapan nelayan. Upaya
awal dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir yaitu dengan cara sosialisasi tentang
pengendalian limbah domestik di daerah tersebut. Peran serta masyarakat untuk menjaga daerah
wisata di Desa Malangrapat sangat berpengaruh, mengingat sebagian besar masyarakat berprofesi
sebagai nelayan. Tujuan kegiatan ini adalah mengedukasi masyarakat nelayan agar mengetahui cara
mengendalikan cemaran limbah domestik. Tahapan kegiatan ini yaitu, tahap persiapan (koordinasi
dengan Kepala Desa), field study (survei limbah domestik di pesisir pantai dan survei pengetahuan
masyarakat tentang limbah domestik), dan yang terakhir adalah sosialisasi-evaluasi (sosialisasi
tentang pengendalian pencemaran limbah domestik dan evaluasi pengujian baku mutu air). Hasil
yang diperoleh dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman masyarakat tentang cara
mengendalikan cemaran limbah domestik.
Kata kunci: limbah domestik, nelayan, pencemaran, pesisir, wisata pantai
ABSTRACT
Malangrapat Village is one of the tourism destinations in the Bintan Regency area. The tourists who
come every year makes the area experience a decrease in the quality of the environment due to
domestic waste disposal. This can be seen from the amount of waste, and the reduction in fishing
catches. The initial effort in preserving the coastal environment was the socialization of domestic
waste control in the area. The role of the community to protect the tourism area in Malangrapat
Village was very influential, considering that most of the people work as fishermen. The objective of
this study was to educate the fishing community so that they know how to control the pollution of
domestic waste. The stages of this study were the preparatory (coordination with the Head Village),
a field study (a survey of domestic waste on the coast and survey of community knowledge about
domestic waste), and the last was socialization-evaluation (the socialization about controlling
domestic waste pollution and evaluation of water quality test). The results obtained from this study
are increased public understanding of how to control domestic waste pollution in the area.
Keywords: beach tourism, coast, fishermen, domestic waste, pollution
PENDAHULUAN integral dari lingkungan hidup manusia yang
relatif banyak dipengaruhi oleh berbagai macam
Perkembangan aktifitas manusia yang kegiatan manusia serta dapat dijadikan sebagai
terjadi di sekitar wilayah pesisir akan pedoman untuk kerusakan lingkungan (Muchtar,
memberikan dampak adanya pencemaran 2012). Salah satu dampaknya adalah aktivitas
perairan. Ekosistem perairan merupakan bagian sosial-ekonomi yang menurun di wilayah pesisir
Copyright © 2020 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services 45
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 4(1), 2020 e-ISSN 2579-5074 46
(Suriadarma, 2011). Pencemaran lingkungan yang dapat merusak ekosistem pesisir.
menyebabkan kualitas lingkungan menjadi Pencemaran laut akibat wisata sebenarnya relatif
menurun sehingga akan berdampak pada sektor lebih kecil dibandingkan dengan limbah
wisata dan penangkapan di wilayah pesisir. domestik (Laapo et al., 2009). Elyazar et al.
Pencemaran bahan organik berdasarkan (2007) menyatakan bahwa aktivitas hotel dan
sumbernya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu restoran, pemukiman dan nelayan berpotensi
limbah domestik, limbah industri dan limbah menghasilkan limbah terbesar yang bersumber
pertanian (Tchobanoglous et al., 2003). dari aktivitas rumah tangga.
Limbah domestik umumnya mengandung Terkait dengan permasalahan tersebut
lima sifat utama yaitu mengandung bakteri, maka diperlukan solusi untuk mengatasinya.
parasit dan kemungkinan virus, dalam jumlah Salah satu solusi yang dapat diberikan untuk
banyak sering mengkontaminasi dalam tubuh pengendalian limbah domestik adalah
kerang-kerangan dan areal mandi di pesisir laut, mengedukasi tentang bahaya dan dampak yang
mengandung bahan organik dan padatan ditimbulkan dari pencemaran kepada
tersuspensi sehingga BOD5 tinggi, padatan masyarakat. Adapun sasaran edukasinya adalah
organik akan terurai secara biologis, sehingga di Desa Malangrapat, Kabupaten Bintan. Desa
akibatnya kandungan oksigen berkurang, Malangrapat merupakan salah satu destinasi
kandungan unsur hara terutama fosfor dan wisata di Pulau Bintan karena memiliki banyak
nitrogen tinggi sehingga menyebabkan terjadi pantai yang indah. Keindahan pantai di Desa
eutrofikasi, mengandung bahan terapung berupa Malangrapat semakin hari semakin tergerus oleh
bahan-bahan organik dan anorganik dalam banyaknya aktivitas wisata dan rumah tangga
bentuk tersuspensi (Sawyer et al., 1994). Limbah akibat adanya limbah domestik. Hal ini yang
domestik yang paling dominan adalah jenis menjadi fokus utama dalam kegiatan pengabdian
organik yang berupa kotoran manusia dan ini untuk mengedukasi masyarakat yang
hewan. Jenis limbah domestik yang lain adalah sebagian besar adalah nelayan. Adapun tujuan
limbah domestik anorganik yang diakibatkan kegiatan ini adalah mengedukasi masyarakat
oleh plastik serta penggunaan deterjen, sampo, nelayan agar mengetahui cara mengendalikan
cairan pemutih, pewangi dan bahan kimia cemaran limbah domestik.
lainnya (Yudo, 2010). Limbah domestik jenis ini
relatif lebih sulit untuk dihancurkan. Jika METODE
kuantitas dan intensitas limbah domestik ini
masih dalam batas normal, alam masih mampu Kegiatan pengabdian ini dilakukan
melakukan proses kimia, fisika, dan biologi dengan tiga tahapan metode yaitu tahap
secara alami (Laapo et al., 2009). Namun, persiapan, field study (survei) dan sosialisasi-
peningkatan populasi manusia telah evaluasi (Rijati et al., 2012).
menyebabkan peningkatan kuantitas dan 1. Tahap persiapan dilakukan dengan cara
intensitas pembuangan limbah domestik
sehingga membuat proses penguraian limbah berkoordinasi dengan Kepala Desa
secara alami menjadi tidak seimbang (Hindriani Malangrapat Kabupaten Bintan. Tahap ini
et al., 2013). Selain itu, limbah domestik jenis dilakukan untuk merencanakan kegiatan
plastik sangat berpengaruh terhadap kesehatan yang akan dilakukan bersama dengan mitra
manusia karena dapat mengakibatkan timbulnya yang dituju. Rencana ini kemudian disusun
penyakit kanker dan kerusakan jaringan pada sesuai dengan kesepakatan bersama dengan
tubuh manusia (karsinogenik) (Karuniastuti, mitra kegiatan.
2013). 2. Tahap field study (survei) di bagi menjadi dua
yaitu tentang limbah domestik di pesisir
Aktivitas wilayah pesisir di Kabupaten pantai dan tentang pengetahuan masyarakat
Bintan setiap tahunnya mengalami peningkatan, terhadap limbah domestik di pesisir. Pada
hal itu dapat dilihat dari banyaknya hotel, rumah tahap pertama dilakukan survei keadaan
makan dan perumahan penduduk yang limbah domestik di pesisir Desa
dibangun. Jumlah hotel dan rumah makan di Malangrapat. Pada tahap kedua dilakukan
Kabupaten Bintan pada tahun 2014 naik dari 10 survei pengetahuan masyarakat tentang
menjadi 35 hotel dan untuk rumah makan dari sumber bahan pencemar, cara pengelolaan
350 menjadi 550 selama 5 tahun terakhir (BPS, limbah, dan dampak pencemaran terhadap
2015). Pencemaran yang terjadi akibat limbah perairan kepada 30 orang responden yang
domestik sejatinya merupakan ancaman nyata mewakili Desa Malangrapat. Tahap ini
Copyright © 2020 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 4(1), 2020 e-ISSN 2579-5074 47
dilakukan untuk mengumpulkan data tentang styrofoam dan plastik bekas deterjen (Gambar 3
pengetahuan responden tentang bahaya dan 4). Limbah tersebut sangat berbahaya
limbah domestik terhadap perairan. mengingat akan berdampak pada kelestarian
3. Pada tahap sosialisasi-evaluasi diperkenalkan sumberdaya dari biota perairan. Limbah plastik
tentang sumber bahan pencemar, cara jika masuk ke dalam perairan semakin lama akan
pengelolaan limbah, dan dampak semakin terkikis dan akhirnya menjadi
pencemaran terhadap perairan. Pelaksanaan mikroplastik. Mikroplastik diketahui sangat
sosialisasi ini diberikan kepada 30 orang berbahaya bagi organisme akuatik karena
responden yang telah melalui tahap survei bersifat toksik sehingga dapat menghambat laju
pengetahuan sebagai perwakilan masyarakat pertumbuhan dan menyebabkan kematian jika
dari Desa Malangrapat. Pada tahap evaluasi masuk ke dalam sel (Jovanovic, 2017). Selain
akhir diberikan petunjuk tentang pengujian limbah plastik, limbah lain berupa deterjen dan
baku mutu perairan dengan sampel air bahan kimia dari rumah tangga akan
menggunakan test-kit sehingga dapat menyebabkan kondisi kimia perairan akan
diketahui perbedaan mendasar tentang menjadi terganggu jika terus menerus masuk ke
kandungan kimia di suatu perairan. dalam perairan (Laapo et al., 2009). Salah satu
contohnya adalah blooming algae yang
HASIL DAN PEMBAHASAN menyebabkan organisme lain tidak mendapatkan
ruang hidup sehingga menyebabkan kematian
Kegiatan pengabdian masyarakat diawali massal (Elyazar et al., 2007).
dengan menemui Kepala Desa Malangrapat
sebagai pelaksanaan koordinasi awal (Gambar
1). Kegiatan tersebut dilakukan dengan cara
memberikan gambaran tentang kegiatan yang
akan dilakukan oleh tim peneliti. Selanjutnya
dipaparkan tahapan-tahapan yang dilakukan
dalam kegiatan pengabdian ini.
Gambar 2. Pantai Trikora di Desa Malangrapat
Gambar 1. Koordinasi dengan Kepala Desa
Malangrapat
Hasil dari koordinasi awal didapatkan Gambar 3. Limbah domestik masyarakat
bahwa untuk pelaksanaan survei limbah
domestik akan didampingi oleh perwakilan dari Tahap selanjutnya dari kegiatan ini adalah
desa, sedangkan untuk survei pengetahuan survei pengetahuan dan sosialisasi pengendalian
masyarakat dan sosialisasi-evaluasi dilaksana- pencemaran limbah domestik (Gambar 5).
kan di Balai Desa Malangrapat. Kegiatan ini dilakukan di Balai Desa
Malangrapat, dengan tahapan survei awal
Pada tahap kedua dilakukan survei ke kepada perwakilan masyarakat sebanyak 30
daerah pesisir Desa Malangrapat, salah satu orang.
pantai yang dikunjungi adalah Pantai Trikora
(Gambar 2) yang merupakan destinasi andalan di
wilayah tersebut. Berdasarkan hasil survei
ditemukan beberapa limbah domestik berupa
Copyright © 2020 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 4(1), 2020 e-ISSN 2579-5074 48
Gambar 4. Limbah domestik yang berada di Pada survei ini diberikan beberapa
perairan pertanyaan mengenai limbah domestik yang
meliputi jenis pencemaran, sumber pencemaran,
bahaya pencemaran, penyakit akibat
pencemaran dan cara pengelolaan sampah. Hasil
survei didapatkan untuk pertanyaan tentang
penyakit akibat pencemaran sebanyak 25
responden menjawab mengetahui sedangkan
sisanya kurang paham, sedangkan untuk
pertanyaan cara mengelola sampah 27 responden
menjawab mengetahui dan sisanya kurang
paham. Hasil ini mengindikasikan bahwa
sebagian besar masyarakat mengetahui tentang
bahaya yang ditimbulkan dari limbah domestik
(Tabel 1).
Tabel 1. Survei pengetahuan pencemaran limbah domestik
No. Pertanyaan Mengetahui Kurang Paham
30 -
1. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang jenis-jenis 30 -
cemaran? 30 -
25 5
2. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang sumber-sumber 27 3
cemaran?
3. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang bahaya akibat
pencemaran pada lingkungan perairan?
4. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang penyakit akibat
pencemaran?
5. Apakah Bapak/Ibu mengetahui cara mengelola sampah?
Gambar 5. Survei pengetahuan masyarakat pertumbuhan lambat, inflammatory dan
tentang limbah domestik sebagainya). Poin terakhir adalah tentang cara
mengelola limbah domestik yaitu pengenalan
terhadap teknologi 3R (reuse, reduce, recycle)
sehingga diharapkan dapat dikembangkan
menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Selanjutnya dilakukan test-kit peraga untuk
mengetahui kualitas suatu perairan sesuai aturan
baku mutu perairan dengan cara
membandingkan sampel air minum, sampel air
laut di sekitar dan sampel air yang diberi deterjen
(Gambar 7).
Kegiatan sosialisasi dilakukan setelah Gambar 6. Sosialisasi pengendalian
tahapan survei, kegiatan ini dilakukan dengan pencemaran limbah domestik
metode pembelajaran tanya jawab (Gambar 6).
Adapun poin-poin utama dalam sosialisasi ini
adalah tentang jenis-jenis pencemar (cemaran
air, tanah, udara) dan sumber-sumber pencemar
(kimia organik, kimia anorganik biologis dan
fisik) yang diakibatkan oleh limbah domestik.
Selanjutnya adalah tentang bahaya pencemaran
terhadap lingkungan perairan (coral bleaching,
blooming alga, mikroplastik, kematian massal
biota) dan kesehatan manusia (keracunan,
Copyright © 2020 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 4(1), 2020 e-ISSN 2579-5074 49
Gambar 7. Penjelasan uji test-kit kualitas air Alat peraga ini dapat mengukur
kandungan pH, nitrat, nitrit dan sulfat dalam
suatu perairan. Hasilnya didapatkan untuk
sampel air minum dan sampel air laut masih
dalam aturan baku mutu suatu perairan,
sedangkan untuk sampel air yang diberi deterjen
hasilnya berada diambang batas baku mutu
perairan. Kegiatan ini dapat mengedukasi secara
langsung masyarakat. Hal itu terlihat dari hasil
evaluasi pengetahuan warga setelah mengetahui
cara mengendalikan limbah domestik yang
berada di perairan (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil Evaluasi Pengetahuan Pencemaran Limbah Domestik setelah Sosialisasi
No. Pertanyaan Mengetahui Kurang Paham
1. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang jenis-jenis 30 -
cemaran?
2. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang sumber-sumber 30 -
cemaran?
3. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang bahaya akibat 30 -
pencemaran pada lingkungan perairan?
4. Apakah Bapak/Ibu mengetahui tentang penyakit akibat 30 -
pencemaran?
5. Apakah Bapak/Ibu mengetahui cara mengelola sampah? 30 -
KESIMPULAN 0dd72c85dd4a/kepulauan-riau-dalam-ang
ka-2014.html
Kegiatan pengabdian ini telah Elyazar, N., Mahendra, M., & Wardi, I. (2007).
dilaksanakan kepada masyarakat dan diperoleh Dampak Aktivitas Masyarakat terhadap
kesimpulan bahwa secara umum peserta Tingkat Pencemaran Air Laut di Pantai
sosialisasi sebanyak 30 warga yang mewakili Kuta Kabupaten Badung serta Upaya
Desa Malangrapat mendapatkan wawasan dan Pelestarian Lingkungan. Ecotrophic:
pengetahuan mengenai pengelolaan limbah Jurnal Ilmu Lingkungan (Journal of
domestik. Hal ini terlihat dari meningkatnya Environmental Science), 2(1), 1–18.
pemahaman peserta tentang cara mengendalikan Retrieved from https://ojs.unud.ac.id/
cemaran limbah domestik dari hasil evaluasi. index.php/ECOTROPHIC/article/view/2
Selanjutnya diharapkan warga yang telah paham 468
cara mengendalikan limbah domestik dapat Hindriani, H., Sapei, A., Surihatin, & Machfud.
mengembangkannya menjadi produk yang (2013). Pengendalian Pencemaran Sungai
memiliki nilai jual serta menularkannya kepada Ciujung berdasarkan Daya Tamping
masyarakat yang lain. Beban Pencemaran. Jurnal Sumber Daya
Air, 9(2), 169–184. Retrieved from
UCAPAN TERIMA KASIH https://jurnalsda.pusair-pu.go.id/index.ph
p/JSDA/article/view/157
Penulis menyampaikan banyak terima Jovanovic, B. (2017). Ingestion of Microplastics
kasih kepada Kepala Desa Malangrapat, by Fish and Its Potential Consequences
Kabupaten Bintan atas dukungan dan from A Physical Perspective. Integrated
dedikasinya terhadap kegiatan pengabdian ini. Environmental Assesment and
Management, 13(3), 510–515. https://doi.
DAFTAR PUSTAKA org/10.1002/ieam.1913
Karuniastuti, N. (2013). Bahaya Plastik terhadap
BPS. (2015). Kepulauan Riau dalam Angka Kesehatan dan Lingkungan. Forum
2014. Badan Pusat Stastistik Kepulauan Teknologi, 3(1), 6–14. Retrieved from
Riau. Retrieved from https://kepri.bps.go. http://ejurnal.ppsdmmigas.esdm.go.id/sp/
id/publication/2014/12/23/c9d8d53c23d0 index.php/swarapatra/article/view/43#:~:t
Copyright © 2020 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 4(1), 2020 e-ISSN 2579-5074 50
ext=BAHAYA%20PLASTIK%20TERH 5
ADAP%20KESEHATAN%20DAN%20 Sawyer, C., McCarty, P., & Parkin, G. (1994).
LINGKUNGAN,-Nurhenu%20Karunias
tuti&text=Menurut%20penelitian%2C%2 Chemistry For Environmental
0penggunaan%20plastik%20yang,pada% Engineering. New York: McGraw-Hill
20tubuh%20manusia%20(karsinogenik). Education
Laapo, A., Fahrudin, A., Bengen, D., & Damar, Suriadarma, A. (2011). Dampak Beberapa
A. (2009). Pengaruh Aktivitas Wisata Parameter Faktor Fisika Kimia terhadap
Bahari terhadap Kualitas Perairan Laut di Kualitas Lingkungan Perairan Wilayah
Kawasan Wisata Gugus Pulau Togean. Pesisir Karawang-Jawa Barat. Jurnal
Jurnal Ilmu Kelautan, 14(4), 215–221. Riset Geologi dan Pertambangan, 21(2),
Retrieved from https://ejournal.undip.ac. 21–36. http://dx.doi.org/10.14203/risetge
id/index.php/ijms/article/download/1619/ otam2011.v21.43
1382 Tchobanoglous, G., Burton, F., Stensel, H.,
Muchtar, M. (2012). Distribusi Zat Hara Fosfat, Metcalf, & Eddy, I. (2003). Wastewater
Nitrat dan Silikat di Perairan Kepulauan Engineering: Treatment and Reuse (4th
Natuna. Jurnal Ilmu dan Teknologi Edition). Boston: McGraw-Hill.
Kelautan Tropis, 4(2), 304–317. Retrieved from https://www.academia.
Retrieved from http://lipi.go.id/publikasi/ edu/36512973/Wastewater_Engineering_
distribusi-zat-hara-fosfat-nitrat-dan-silika Treatment_and_Reuse_Fourth_Edition
t-di-perairan-kepulauan-natuna/1657 Yudo, S. (2010). Kondisi Kualitas Air Sungai
Rijati, S., Intan, T., & Subekti, M. (2012). Ciliwung di Wilayah DKI Jakarta Ditinjau
Sosialisasi Daur Ulang Sampah Sebagai dari Parameter Organik, Amoniak, Fosfat,
Upaya Pengembangan Eko-Budaya di Deterjen dan Bakteri Coli. Jurnal Air
Lingkungan Desa Sayang Jatinangor, Indonesia, 6(1), 34–42. Retrieved from
Kabupaten Sumedang. Jati Emas, 1(2), http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JAI/ar
29–34. https://doi.org/10.36339/je.v1i2.4 ticle/view/2452
Copyright © 2020 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
STUDI PENCEMARAN LIMBAH CAIR DENGAN PARAMETER BOD5
DAN PH DI PASAR IKAN TRADISIONAL DAN PASAR MODERN DI
KOTA SEMARANG
M.T Oktafeni Atur Pamungkas
Email : [email protected]
Abstract
Because of its location at the coast, most of the population at Semarang city have
a profession as fishermen. Demand for marine products consumption, especially
fish have led to a flow of trade between fishermen and buyers. Production process
of fish industry requires extensive water thus resulting large amount of
wastewater discharged into the surrounding environment. The waste water is
contaminating because it contains harmful chemicals, organic and inorganic
compounds, either dissolved or suspended and additional compounds that are
formed during the production process. Preliminary study of wastewater inspection
at the Traditional Fish Market obtained BOD5 level at 1098.25 mg / l. The result
exceeds the quality standard established by Central Java Local Regulation
Number 5 on 2012, thus further study of fish waste water contamination is
needed. The purpose of this study is to determine BOD5 and pH differences at
traditional fish market and modern market in Semarang City. The research type is
descriptive analytic with purposing sampling method. Sample in this study are
waste water from the traditional fish market and modern fish market in Semarang
City. Statistical analysis uses Wilcoxon and Mann Whitney test. The result shows
there is significant difference between the mean values of BOD5 waste water in
the traditional fish market and modern market (p=0,043). There are 10 samples at
the traditional market that exceed the BOD5 level of waste water standard quality.
For the modern market, there are 6 samples that exceed the BOD5 level of waste
water standard quality. The waste water pH level at both market are all still
conform the standard quality. Traditional fish market and modern fish market
merchants should process the waste water in order not to cause pollution in the
surrounding environment.
Keywords : pollution, BOD5, pH, traditional market, modern market
Pendahuluan kawasan pesisir pantai utara Jawa. Kota
Industri perikanan di Indonesia kini Semarang yang berada di pesisir pantai ini
menempatkan sebagian penduduknya
telah mengalami perkembangan yang memiliki profesi sebagai nelayan.
sangat pesat dan tersebar di berbagai Kebutuhan akan konsumsi produk laut,
daerah di Indonesia seperti Jawa Timur, khususnya ikan telah memunculkan suatu
Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, serta alur perdagangan antara nelayan dan
beberapa daerah lainnya di luar pulau pembeli. Kegiatan ini merupakan bagian
Jawa. Semarang merupakan ibu kota dari perekonomian kota.(1) Lokasi
Provinsi Jawa Tengah yang berada pada
166
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
perdagangan ikan di daerah pesisir pantai nilai nitrat dan amoniak yang cukup tinggi.
utara kota Semarang sekarang ini berpusat Proses ini akan menyebabkan turunnya
di Tambak Lorok yang terletak di Sungai kandungan oksigen terlarut dalam air,
Banger, Kelurahan Tanjung Mas. Salah sehingga ketersediaan oksigen bagi
satu tempat perdagangan ikan segar di organisme di lingkungan tersebut
Kota Semarang yang sifatnya tradisional berkurang, bahkan dapat menyebabkan
terdapat di pasar Rejomulyo yang kematian bagi organisme tersebut.(4)
masyarakat mengenalnya dengan nama Limbah perikanan, khususnya
Pasar Kobong. Lokasi perdagangan ikan limbah cair biasanya langsung dibuang ke
yang ada tersebut masih bersifat lingkungan, dalam hal ini adalah sungai.
tradisional, becek karena drainase yang Limbah tersebut dapat menyebabkan
buruk, serta tidak higienis dari segi tempat pencemaran atau gangguan lingkungan
penjualan. Saluran yang seringkali mampat seperti merancang pertumbuhan tanaman
karena tersumbat oleh limbah ikan, pengganggu, muncul toksisitas terhadap
menjadikan citra kumuh di pasar ikan kehidupan air, menurunkan kadar DO
tradisional Rejomulyo.(2) Seiring dengan (oxygen demand) pada lingkungan
berkembangnya waktu, pasar modern juga perairan, membahayakan kesehatan
menyediakan tempat untuk penyediaan dan masyarakat, serta dapat menimbulkan bau
pengolahan ikan segar. Pengolahan ikan di yang mengganggu estetika lingkungan.(5)
pasar modern sangat dijaga kebersihannya Seperti yang terjadi pada Pasar ikan
karena berkaitan dengan standar mutu Rejomulyo Semarang, limbah cair ikan
produk. dari kegiatan yang dilakukan di pasar
Bahan organik yang terkandung tersebut sehari-harinya langsung dibuang
dalam limbah cair dapat menghabiskan melalui saluran kecil menuju ke Sungai
oksigen terlarut dalam limbah, serta Pengampon tanpa pengolahan terlebih
menimbulkan bau yang tidak sedap, dan dahulu. Berdasarkan permasalahan yang
akan berbahaya apabila bahan tersebut dikemukakan oleh Kepala Pasar
merupakan bahan yang beracun.(3) Rejomulyo tahun 2009 hingga sekarang,
Terjadinya proses oksidasi bahan organik bahwa saluran di Pasar Rejomulyo secara
oleh mikroorganisme dalam air limbah, umum kondisinya sangat memprihatinkan,
akan mengakibatkan air limbah berubah air tidak bisa mengalir dengan maksimal.
warna menjadi coklat kehitaman atau Kondisi Pasar Rejomulyo sekarang lebih
berbau busuk. Apabila air limbah ini rendah kurang lebih 40cm dari jalan raya
meresap ke dalam tanah yang dekat Pengapon. Pada saat turun hujan, pada saat
dengan sumur, maka sumur akan air laut pasang atau ROB genangan air
berpotensi tercemar. Sedangkan apabila mencapai ketinggian 40cm.(6)
limbah ikan cair ini dialihkan ke sungai Parameter BOD5 merupakan
parameter utama untuk mengetahui jumlah
maka akan menimbulkan penyakit gatal, oksigen yang diperlukan oleh
diare, dan pencemaran lingkungan.(3)
Setiap operasi pengolahan ikan akan mikroorganisme untuk menguraikan bahan
menghasilkan cairan yang berasal dari organik yang terlarut dan tersuspensi
proses pemotongan, pencucian, dan dalam air buangan secara biologi, dan
pengolahan ikan atau produk lainnya. dinyatakan dengan BOD5 hari pada suhu
Cairan ini banyak mengandung darah, 20oC dalam mg/liter atau ppm.(7)
potongan daging ikan, kulit serta isi perut. Menurut Peraturan Daerah Provinsi
Limbah cair yang mengandung banyak Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012 tentang
protein dan lemak ini akan mengakibatkan baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau
167
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
kegiatan pengolahan hasil perikanan yang Pencemaran Air, beban pencemaran adalah
melakukan lebih dari satu jenis kegiatan jumlah suatu unsur pencemaran yang
terkandung dalam air atau air limbah.(10)
pengolahan, kadar pH maksimum yang
diijinkan adalah 6,0 – 9,0 mg/l. Kadar Tabel 2.1 Baku Mutu Limbah Cair
BOD5 limbah cair maksimum yang Industri Ikan
diijinkan adalah 100mg/l. Berdasarkan
No Parameter Kadar Maksimal (mg/l)
hasil observasi secara langsung di lokasi 1. TSS 100
2. Sulfida 1
dan hasil pengukuran yang telah dilakukan
sebelumnya melalui studi awal 3. Amonia 5
pendahuluan, diketahui kadar BOD5 yang 4. Klor bebas 1
melebihi kadar maksimum yang telah
5. BOD5 100
ditetapkan yaitu sebesar 1098,25 mg/L. 6. COD 200
Kadar BOD5 dan pH yang tinggi akan 7. Minyak Lemak 15
mempengaruhi kualitas dan kualitas air di
8. pH 6,0-9,0
sekitarnya, sehingga perlu adanya studi Sumber : Perda Jateng No 5 Tahun 2012.(10)
tentang pencemaran limbah cair ikan.(8)
C. Biological Oxygen Demand (BOD5)
. BOD5 dapat mencerminkan tingkat
Tinjauan Pustaka pencemaran suatu badan air oleh buangan
A. Tinjauan Tentang Limbah organik, semakin tinggi nilai BOD5 berarti
Air limbah industri cenderung semakin besar tingkat pencemaran.
mengandung zat-zat berbahaya bagi Pemeriksaan BOD5 diperlukan untuk
lingkungan, oleh karena itu harus dicegah menentukan beban pencemaran akibat air
agar tidak dibuang sembarangan ke saluran buangan penduduk atau industri, serta
umum. Dibuangnya limbah ke lingkungan untuk mendesain sistem-sistem
air menyebabkan terjadinya pencemaran. pengolahan biologis yang tepat untuk air
Limbah cair industri perikanan yang tercemar tersebut. Penguraian zat
mengandung banyak protein dan lemak, organik merupakan peristiwa ilmiah, jika
sehingga mengakibatkan nilai nitrat dan sewaktu-waktu badan air dicemari oleh zat
amonia yang cukup tinggi. Produk organik maka bakteri dapat menghabiskan
perikanan, sebagaimana produk pertanian, oksigen terlarut dalam air selama proses
mudah membusuk disebabkan oleh oksidasi tersebut, yang dapat
dekomposisi protein, lemak, dan mengakibatkan kematian pada ikan-ikan
karbohidrat jaringan tubuh biota perikanan dalam air dan keadaan menjadi anaerobik
oleh bakteri pengurai (dekomposer). dan dapat menimbulkan bau busuk pada
air tersebut.(28)
Bagian atau organ tubuh biota perikanan
yang paling cepat membusuk adalah D. Derajat Keasaman (pH)
insang dan jeroan.(25) Sisa-sisa makanan
Secara umum nilai pH air
dan kotoran ikan dari perikanan juga dapat menggambarkan keadaan seberapa besar
tingkat keasaman atau kebasaan suatu
menimbulkan masalah di dalam perairan perairan. Perairan dengan nilaii pH=7
berarti kondisi air bersifat netral, pH<7
khususnya dapat menyebabkan berarti kondisi air bersifat asam,
sedangkan pH>7 berarti kondisi air
eutropikasi.(24) bersifat basa.(30)
B. Beban Pencemaran
Berdasarkan Peraturan Pemerintah
No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian
168
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
E. Pasar ikan yaitu pasar tradisional dan pasar modern.
Pasar merupakan tempat dimana Variabel terikatnya adalah parameter kadar
BOD5 dan pH. Sedangkan variabel
pembeli dan penjual tertentu dan pengganggunya adalah suhu. Pengumpulan
berfungsi, barang atau jasa bersedia untuk data primer diperoleh dari hasil pemeriksaan
dijual, dan terjadi perpindahan hak milik. kadar BOD5 dan pH sampel air limbah yang
Menurut Jaya WK (1994), pasar terdiri dilakukan di Laboratorium BPIK Semarang.
atas satu kelompok penjual dan pembeli Analisis data yang digunakan dalam penelitian
yang mempertemukan barang dapat ini yaitu analisis univariat dan analisis bivariat
disubstitusikan. Dibedakan dari jenisnya menggunakan softare SPSS. Analisis data
yaitu pasar tradisional dan pasar modern. dalam penelitian ini menggunakan uji
Wilcoxon dan uji Mann Whitney.
(31)
Hasil
F. Industri Ikan Wilayah Pesisir
Dalam pola pemasaran produk 1. Ada perbedaan rerata nilai BOD5 yang
bermakna pada limbah cair antara titik
perikanan berdasarkan tingkat pembelinya, perendaman dan setelah pencucian di
seorang pengusaha perikanan seperti pasar ikan tradisional. (p=0,043)
nelayan atau pembudidaya ikan dapat
menjual hasil panennya ke berbagai 2. Ada perbedaan rerata nilai BOD5 yang
tingkat pedagang. Pertama, pedagang bermakna pada limbah cair di titik
pengecer, umumnya memasarkan barang- setelah pencucian dan titik effluent di
barang yang dibelinya di pasar-pasar lokal pasar ikan tradisional. (p=0,043)
yang masih dalam satu kabupaten. Kedua,
pedagang pengumpul, baik pengumpul 3. Ada perbedaan rerata nilai BOD5 yang
lokal maupun pengumpul antar kabupaten. bermakna pada limbah cair di titik
Ketiga, pedagang pengumpul besar. perendaman dan titik effluent di pasar
Penjualan ke pedagang pengumpul besar ikan tradisional. (p=0,043)
dapat dilakukan oleh pembudidaya bila
volume hasil panennya cukup besar. 4. Ada perbedaan rerata nilai BOD5 yang
Keempat, institutional market. Kelima, bermakna pada limbah cair antara titik
pasar swalayan, yang berfungsi sebagai perendaman dan setelah pencucian di
pedangang eceran.(33) pasar modern. (p=0,043)
Metode 5. Ada perbedaan rerata nilai BOD5 yang
bermakna pada limbah cair di titik
Metode yang digunakan dalam setelah pencucian dan titik effluent di
penelitian ini adalah metode observasi pasar modern. (p=0,043)
dengan jenis penelitian observasional
analitik dan rancangan penelitian cross 6. Ada perbedaan rerata nilai BOD5 yang
sectional. Sampel dalam penelitian ini bermakna pada limbah cair di titik
adalah limbah cair ikan dari pasar ikan perendaman dan titik effluent di pasar
tradisional dan limbah cair ikan dari salah modern. (p=0,043)
satu pasar modern di Kota Semarang.
7. Tidak ada perbedaan rerata nilai
Pengambilan sampel dilakukan di BOD5 yang bermakna pada limbah
daerah sebelum ada kegiatan yang cair antara titik perendaman di pasar
memberikan beban pancemaran yaitu 3 titik di ikan tradisional dan pasar modern.
titik perendaman, di titik setelah pencucian, (p=0,175)
dan di titik effluent dengan 5 kali pengulangan
sehingga didapatkan 30 sampel. Variabel 8. Ada perbedaan rerata nilai BOD5 yang
bebas dalam penelitian ini adalah jenis pasar bermakna pada limbah cair antara titik
setelah pencucian di pasar ikan
169
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
tradisional dan pasar modern. tradisional dan pasar modern.
(p=0,021) (p=0,347)
9. Tidak ada perbedaan rerata nilai
BOD5 yang bermakna pada limbah Pembahasan
cair antara titik effluent di pasar ikan
tradisional dan pasar modern. 1. Biological Oxygen Demand (BOD5)
(p=0,090) Berdasarkan Peraturan Daerah
10. Tidak ada perbedaan rerata nilai pH
yang bermakna pada limbah cair Propinsi Jawa Tengah No. 5 Tahun 2012
antara titik perendaman dan setelah tentang baku mutu air limbah cair ikan,
pencucian di pasar ikan tradisional. hasil analisa laboratorium mengenai
(p=0,138) kualitas BOD5 limbah cair di pasar ikan
11. Tidak ada perbedaan rerata nilai pH tradisional dari 3 titik sampel dengan 5
yang bermakna pada limbah cair kali pengulangan menunjukkan bahwa 15
antara titik setelah pencucian dan titik sampel yang diambil terdapat 10 sampel
effluent di pasar ikan tradisional. yang melebihi nilai baku mutu dan 5
(p=0,686) sampel lainnya berada dibawah nilai baku
12. Tidak ada perbedaan rerata nilai pH mutu. Sedangkan hasil analisa
yang bermakna pada limbah cair laboratorium mengenai kualitas BOD5
antara titik perendaman dan titik limbah cair di pasar modern dari 3 titik
effluent di pasar ikan tradisional. sampel dengan 5 kali pengulangan
(p=0,138) menunjukkan bahwa 15 sampel yang
13. Tidak ada perbedaan rerata nilai pH diambil terdapat 6 sampel yang melebihi
yang bermakna pada limbah cair baku mutu dan 9 sampel lainnya berada
antara titik perendaman dan setelah dibawah nilai baku mutu.
pencucian di pasar modern. (p=0,686)
14. Tidak ada perbedaan rerata nilai PH Hasil analisa juga menunjukkan
yang bermakna pada limbah cair bahwa kadar BOD5 pada setiap sampel
antara titik setelah pencucian dan titik yang diambil menunjukkan perbedaan, hal
effluent di pasar modern. (p=0,345) tersebut dipengaruhi oleh banyaknya ikan
15. Tidak ada perbedaan rerata nilai PH ada dalam produksi untuk proses
yang bermakna pada limbah cair pencucian maupun proses perendaman.
antara titik perendaman dan titik Faktor-faktor lain yang mempengaruhi
effluent di pasar modern. (p=0,893) nilai BOD5 meliputi: jenis limbah, suhu
16. Tidak ada perbedaan rerata nilai PH air, derajat keasaman (pH) dan kondisi air
yang bermakna pada limbah cair secara keseluruhan. Kandungan senyawa
antara titik perendaman di pasar ikan organik yang tinggi pada air limbah
tradisional dan pasar modern. menyebabkan terjadinya peningkatan nilai
(p=0,600) zat padat tersuspensi.(21) Hal itu
17. Tidak ada perbedaan rerata nilai PH ditunjukkan pada hasil pemeriksaan yang
yang bermakna pada limbah cair menghasilkan kandungan BOD tinggi.
setelah pencucian antara pasar ikan
tradisional dan pasar modern. Menurut penelitian yang dilakukan
(p=0,076) oleh Deazy Rahmawati pada tahun 2011,
18. Tidak ada perbedaan rerata nilai PH hasil analisa kegiatan industri terhadap
yang bermakna pada limbah cair di kualitas air sungai Diwak Bergas
titik effluent antara pasar ikan Kabupaten Semarang, menunjukkan
konsentrasi BOD5, pH, COD dan TSS
170 masih melebihi baku mutu.(36) Pada
penelitian Rosidah tahun 2000
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
menunjukkan p<0.05 yang menunjukkan mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi
ada perbedaan yang bermakna pada kadar beberapa bahan di dalam air. Rata-rata
BOD5 di sungai daerah industri dengan nilai pH pada pemeriksaan sampel air
sungai daerah pemukiman Kotamadya dan limbah di pasar ikan tradisional didapatkan
Kabupaten Semarang.(37) Ari Rubianto hasil 7,28 di titik perendaman, 7,12 di titik
tahun 2009 menunjukkan nilai BOD5 pada setelah pencucian, dan 7,08 setelah titik
air limbah tempe sebesar 9200 mg/l.(38) effluent. Sedangkan rata-rata nilai pH pada
Uji pendahuluan yang dilakukan oleh pemeriksaan sampel air limbah di pasar
Widya Pangesti di tahun 2009 pada modern didapatkan hasil 7,28 di titik
limbah industri batik menunjukkan nilai perendaman, 7,35 di titik setelah
BOD5 sebesar 202,9 mg/l.(39) Penelitian pencucian, dan 7,24 setelah titik effluent.
yang dilakukan Suyata pada tahun 2005
menunjukkan nilai BOD5 sebelum diolah Berdasarkan Peraturan Daerah
berada diatas baku mutu.(40) Propinsi Jawa Tengah No. 5 Tahun 2012
tentang baku mutu air limbah cair ikan,
Jenis limbah akan menentukan besar hasil analisa laboratorium mengenai
kecilnya BOD5, jenis limbah cair yang kualitas pH limbah cair di pasar ikan
dihasilkan dari proses produksi ikan di tradisional dan di pasar modern, dari 3 titik
pasar ikan tradisional maupun di pasar sampel dengan 5 kali pengulangan
modern mempunyai bahan organik yang menunjukkan bahwa kadar pH dari 30
cukup tinggi sehingga mudah membusuk. sampel yang diambil semua masih sesuai
Nilai BOD5 dipengaruhi oleh faktor baku mutu, baik di pasar ikan tradisional
lingkungan yang mempengaruhi aktifitas maupun di pasar modern.
mikro-organisme itu sendiri, untuk itu
maka sebelum uji BOD5 dilakukan Menurut penelitian yang dilakukan
identifikasi terhadap limbah yang diduga oleh Estri Aurorina pada tahun 1996, nilai
mengandung bahan toxic.(41) Semakin pH pada limbah pemotongan RPH
mudah terjadi pembusukan/ dekomposisi, Semarang sebesar 6,7-7,1 dan masih
maka nilai BOD5 akan semakin besar. memenuhi baku mutu Perda Jateng nomor
Proses dekomposisi bahan organik dalam 5 tahun 2012.(42) Penelitian Komariah
limbah cair sangat dipengaruhi oleh suhu tahun 2011 terhadap limbah lateks pada
air karena aktivitas mikroorganisme industri karet menunjukkan nilai pH 3,5-
semakin tinggi pada suhu yang semakin 4,5 yang menunjukkan tidak memenuhi
meningkat. Limbah cair yang dihasilkan baku mutu Perda Jateng nomor 5 tahun
pasar ikan tradisional langsung dibuang 2012.(43)
ke badan sungai tanpa adanya pengolahan
limbah terlebih dahulu. Limbah yang Uji statistik yang digunakan yaitu uji
berada dalam kondisi terbuka dan terkena Wilcoxon pada sampel berpasangan dan uji
paparan sinar matahari memungkinkan Mann Whitney pada sampel tidak
suhu air limbah tinggi sehingga aktivitas berpasangan. Hasil penghitungan dengan
mikroorganisme semakin meningkat dan uji Wilcoxon pada tabel 4.24, tabel 4.26,
terjadi proses dekomposisi bahan organik tabel 4.28, tabel 4.30, tabel 4.32, dan tabel
secara cepat. 4.34 menunjukkan tidak ada perbedaan
rerata nilai pH yang bermakna pada limbah
2. Derajat Keasaman (pH) cair di pasar ikan tradisional dan pasar
modern. Sedangkan hasil perhitungan
Pengukuran pH ini sangat penting dengan uji Mann Whitney pada tabel 4.36,
sebagai parameter kualitas air karena bisa tabel 4.38, dan tabel 4.40 juga
menunjukkan tidak ada perbedaan rerata
171
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
nilai pH yang bermakna pada limbah cair mengukur parameter suhu, TSS, COD, dan
parameter-parameter lainnya. Terbatasnya
di pasar ikan tradisional dan pasar modern. informasi mengenai kualitas air yang ada
di pasar ikan tradisional maupun yang ada
Pengukuran pH ini sangat penting di pasar modern, termasuk diantaranya
belum adanya pemeriksaan kualitas air
sebagai parameter kualitas air karena bisa sumur artetis di pasar ikan tradisional,
pemeriksaan kualitas limbah cair tidak
mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi dilakukan secara terus-menerus terutama
pada pasar ikan tradisional, dan dari sekian
beberapa bahan di dalam air. Hasil analisa banyak pasar modern di Kota Semarang
hanya satu tempat yang dijadikan satu
laboratorium terhadap kualitas air pada lokasi pengambilan sampel, serta data
mengenai jumlah pedagang ikan basah di
saluran pembuangan di lokasi Industri ikan pasar ikan tradisional yang tidak/belum
terdaftar sebagai pedagang aktif.
pada semua titik pengambilan sampel
Proses perizinan yang lama dan tidak
menunjukkan pH suatu perairan yang mudah, seperti pengajuan surat izin
penelitian, penyerahan proposal penelitian
bersifat netral yaitu antara 7,0-8,0. terutama di pasar modern. Selain faktor
diatas, keterbatasan waktu dan dana juga
Perairan dengan nilai pH=7 bersifat netral, mempengaruhi pengambilan hasil dan
sampel dari penelitian ini, karena peneliti
pH<7 dikatakan kondisi perairan bersifat membatasi jumlah sampel dengan kriteria
kapasitas besar, dengan asumsi bahwa di
asam, sedangkan pH>7 dikatakan kondisi lokasi tersebut menghasilkan limbah cair
lebih banyak dan berpotensi memiliki
perairan bersifat basa. Setiap spesies kontribusi lebih tinggi terhadap
pembuangan limbah ke lingkungan.
memiliki toleransi yang berbeda terhadap
Kesimpulan
pH. Nilai pH ideal bagi kehidupan
a) Rata-rata nilai BOD5 di pasar ikan
organisme akuatik termasuk plankton pada tradisional didapatkan hasil 39,66 mg/l
umumnya berkisar 7 sampai 8,5.(44) Derajat di titik perendaman, 664,20 mg/l di titik
setelah pencucian, dan 6.134,37 mg/l di
keasaman (pH) pada kondisi alkalinitas titik effluent. Sedangkan rata-rata nilai
BOD5 pada pemeriksaan sampel air
tinggi > 9 dapat menyebabkan aktifitas limbah di pasar modern didapatkan
mikroorganisme meningkat. (45) hasil 16,96 mg/l di titik perendaman,
110,57 mg/l di titik setelah pencucian,
Derajat keasaman mempunyai dan 3.014,47 mg/l di titik effluent.
pengaruh yang besar terhadap tumbuh- b) Rata-rata nilai pH di pasar ikan
tradisional didapatkan hasil 7,28 di titik
tumbuhan dan hewan air, sehingga sering perendaman, 7,12 di titik setelah
pencucian, dan 7,08 di titik effluent.
digunakan untuk menyatakan baik Sedangkan rata-rata nilai pH pada
buruknya keadaan air. Adanya karbonat,
bikarbonat dan hidroksida akan menaikkan
kebasaan air, sementara adanya asam-asam
mineral bebas dan asam karbonat
menaikkan keasaman suatu perairan.
Limbah buangan industri dan rumah
tangga dapat mempengaruhi nilai pH
perairan. Derajat keasaman (pH) air akan
sangat menentukan aktivitas
mikroorganisme, pada pH antara 6,5-8,3
aktivitas mikroorganisme sangat baik.
Pada pH yang sangat kecil atau sangat
besar, mikroorganisme tidak aktif, atau
bahkan akan mati.(44)
3. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini belum sempurna,
karena dalam penelitian ini masih
didapatkan adanya keterbatasan.
Keterbatasan tersebut adalah peneliti tidak
172
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
pemeriksaan sampel air limbah di pasar industri ikan terhadap kelestarian
modern didapatkan hasil 7,28 di titik sungai dan laut, serta melakukan
perendaman, 7,35 di titik setelah penelitian lebih lanjut mengenai
pencucian, dan 7,24 di titik effluent. dampak limbah cair industri ikan
c) Berdasarkan Perda Jateng No.5 Tahun terhadap kualitas air tanah.
2012, hasil analisa parameter BOD5
pada semua sampel di pasar ikan Daftar Pustaka
tradisional maupun di pasar modern
masih melebihi baku mutu. Pada pasar 1. Mudzakir AK. Laporan Hasil
ikan tradisional terdapat 10 sampel
yang melebihi baku mutu yaitu dari Penelitian Analisis Potensi dan
saluran akhir dan ketika proses
produksi. Sedangkan kualitas BOD5 di Upaya Pengembangan Sumberdaya
Pasar Modern terdapat 6 sampel yang
masih melebihi baku mutu. Hasil Perikanan. Jawa Tengah: 2003
analisa pH dari sampel yang diambil
dari pasar ikan tradisional dan pasar 2. Rahmanditya T. Pasar Ikan
modern semua sesuai baku mutu.
d) Industri ikan di Pasar ikan tradisional Higienis Kota Semarang. 2011.
maupun di pasar modern berpotensi
tinggi dalam pencemaran air sebab (Online).
sebagian besar konsentrasi BOD5
melebihi baku mutu. (http://eprints.undip.ac.id/33528/
Saran diakses pada tanggal 22 Maret
1. Untuk pengelola di Pasar Ikan 2014)
Tradisional maupun di Pasar modern
sebaiknya melakukan pengolahan 3. Sugiharto. Dasar-dasar
terlebih dahulu terhadap air limbah
yang dihasilkan agar tidak Pengelolaan Air Limbah. UI-Press:
menimbulkan pencemaran di
lingkungan sekitar lokasi produksi. 1987
2. Untuk pemerintah, UPT / Dinas Pasar 4. Anonim. Penanganan Limbah
merencanakan instalasi pengolahan air
limbah, melakukan pengawasan dan Hasil Perikanan secara
pemeriksaan kualitas limbah cair yang
berada di wilayah industri ikan secara Mikrobiologis. 2009. (Online)
berkala serta mengontrol kadar
pencemaran dari limbah cair industri (www.scribd.com/doc/43617742
ikan sesuai kebijakan/peraturan yang
ada. diakses pada tanggal 22 Maret
3. Untuk peneliti selanjutnya yaitu dengan 2014)
membuat suatu desain pengolahan air
limbah yang efektif, melakukan 5. Rahayu W.P dan Jennie.
penelitian lebih lanjut mengenai
evaluasi pencemaran limbah cair Penanganan Limbah Industri
Pangan, Pusat Antar Universitas
Pangan dan Gizi IPB. Bogor:
Penerbit Kanisiun,184 halaman,
1993.
6. Barodin. Profil Permasalahan
Pasar Rejomulyo Semarang.
Semarang: 2009
7. Ginting. Sistem Pengelolaan
Lingkungan dan Limbah Industri,
cetakan ke tiga. Bandung: Yrama
Widya, 2007
8. Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Tengah Nomor 5 Tahun 2012
tentang Baku Mutu Air Limbah
bagi Kegiatan Industri.
9. Kristianto, P. Ekologi industri.
Yogyakarta, Penerbit ANDI, 2004.
10 Kementrian Lingkungan Hidup.
173
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
Peraturan Pemerintah Republik Draft Final Sekretariat Tkpsda.
Indonesia Nomor 82 tahun 2001 Jakarta, 2003
Tentang Pengelolaan Kualitas Air 24. Asmadi dan Suharno. Dasar-dasar
dan Pengendalian Pencemaran Air. Tekologi Pengelolaan Air Limbah.
Jakarta: 2002 Pontianak: Gosyen Publishing,
11. Ginting, Perdana. Mencegah Dan 2012
Mengendalikan Pencemaran 25. Effendi I dan Wawan. Manajemen
Industri. Jakarta, Pustaka Sinar Agribisnis Perikanan. Jakarta:
Harapan, 1992. Penebar Swadaya, 2006
12. Ryadi, Slamet. Pencemaran Air. 26. Effendi, Hefni. Telaah Kualitas Air
Surabaya, Karya Anda, 1984. Bagi Pengelolaan Sumber Daya
13. Arya Wardhana, Wisnu. Dampak dan Lingkungan Perairan.
Perencanaan Lingkungan (Edisi Yogyakarta: Kanisius, 2003
Revisi). Yogyakarta: ANDI offset. 27. Raharjo Mursid. Manajemen
2001 Kesehatan Lingkungan.
14. Sary. Manajemen Kualitas Air. Departemen Pendidikan Nasional
Politehnik vedca. Cianjur. 2006 Universitas Diponegoro Lembaga
15. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Pusat Penelitian
Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Kependudukan dan Kebijakan
Rineka Cipta, 2010 Publik: 2010
16. Thcobanoglous. G. Theisen. H dan 28. Alaerts. Sri Sumestri. Metoda
Vigil. S.A. Integrated Solid Waste Penelitian Air. Surabaya: Usaha
Management. Engineering Nasional, 1984
Principles and Management Issues. 29. Notoatmodjo S. Metodologi
New York: McGraw-Hill Penelitian Kesehatan. Jakarta:
International Edition, 1993 Rineka Cipta, 2010
17. Azwar A. Pengantar Ilmu 30. Effendi, Hefni. Telaah Kualitas Air
Kesehatan Lingkungan. Cetakan ke Bagi Pengelolaan Sumber Daya
empat. Jakarta: Mutiara Sumber dan Lingkungan Perairan, Penerbit
Widya, 1989 Kanisius, Yogyakarta. 2003
18. Keputusan Menteri Negara 31. Nursanyoto, H. Ilmu Gizi, Zat Gizi
Lingkungan Hidup No. 51 Tahun Utama. PT Golden Terayon Press,
1995 Tentang Baku Mutu Limbah Jakarta. 1992.
Cair Bagi Kegiatan Industri 32. Riawan, S. Kimia Organik. Bina
19. Keputusan Gubernur Kepala Rupa Aksara. Jakarta. 1990.
Daerah Tingkat I Jawa Tengah No. 33. Rahardi, Regina dan Nazaruddin.
660.1/02/1997 Agribisnis Perikanan. Jakarta:
20. Daryanto. Masalah Pencemaran. Penebar Swadaya, 2006
Bandung: Tarsito, 1995 34. Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun
21. Tebbut. TH. Principles of Water 2002 yang mengatur mengenai
Quality Control (4rd edition). perizinan
Oxford: Pergamon Press, 251p; 35. SNI 6989.72:2009. Air dan Air
1992 Limbah – Bagian 72: Cara Uji
22. Palar, H. Pencemaran dan Kebutuhan Oksigen Biokimia
Toksikologi Logam Berat. Rineke (BOD/ Biological Oxygen Demand)
Cipta: Jakarta. 2008 36. Rahmawati Deazy. Pengaruh
23. Direktorat Pengairan Dan Irigasi. Kegiatan Industri Terhadap
174
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 2, April 2016 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
Kualitas Air Sungai Diwak di pH dan Jumlah Bakteri pada
Bergas Kabupaten Semarang dan Daging Sapi Hasil Pemotongan
Upaya Pengendalian Pencemaran RPH Semarang dengan
Air Sungai. Tesis. Semarang: Pemotongan Bukan RPH Semarang
Universitas Diponegoro. 2011 yang Dijual di Wilayah Kodya
37. Rosidah. Studi Tentang Perbedaan Semarang. Skripsi. Semarang:
Kadar Biochemical Oxygen Universitas Diponegoro. 1996
Demand (BOD) dan Total 44. Komariah. Pengaruh Isolat Fungsi
Dissolved Solid (TDS) di Sungai Trichoderma sp Terhadap Kadar
Daerah Industri dengan Sungai di COD dan BOD Limbah Lateks
Daerah Pemukiman Kotamadya dan pada Industri Karet.
Kabupaten Semarang. Skripsi. 45. Junaidi, Bima dan Patria Dwi
Semarang: Universitas Diponegoro. Hatmanto. Analisis Teknologi
2000 Pengolahan Limbah Cair Pada
38. Rubianto Ari. Efisiensi Penggunaan Industri Tekstil Studi Kasus PT
Reaktor Anaerobik Biofilter dalam Iskandar Indah Printing Textile
Penurunan Kadar BOD5 Air Surakarta. Tesis. Semarang:
Limbah Tempe. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro, 2006
Universitas Diponegoro. 2009
39. Pangesti Widya. Efektivitas Metode
Elektrokoagulasi dengan Berbagai
Variasi Jumlah Lempeng Besi
dalam Menurunkan Kandungan
BOD5, COD dan TSS pada Air
Limbah Industri Batik “CV Batik
Indah Raradjonggrang”
Yogyakarta. Skripsi. Semarang:
Universitas Diponegoro. 2009
40. Suyuta,dkk. Penurunan BOD dan
COD Limbah Cair Industri Tapioka
di kabupaten Purbalingga dengan
Metode Pelapisan Tanah Berganda.
Jurnal MIPA Unsoed. 2006.
(Online) diakses pada tanggal 14
Maret 2016
41. Soetrisno, Yudhi. Uji BOD
Indikator Kekuatan Limbah yang
Masih Bermasalah. Jurnal Teknik
Lingkungan. Januari 2000. (Online)
diakses pada tanggal 14 Maret 2016
42 Medawaty, Ida. Sanitasi Taman
Salah Satu Alternatif Sistem
Pengolahan Air Limbah. Jurnal
Pemukiman Volume 4 No. 1 Mei
2009. (Online) diakses pada tanggal
14 Maret 2016
43. Aurorina Estri. Pemeriksaan warna,
175
Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume 5, Nomor 1, Januari 2013 Hal. 36-47
ISSN: 2085-1227
Strategi Penurunan Pencemaran Limbah Domestik di Sungai Code DIY
Widodo B.1); Kasam 1); Ribut L2)dan Ike A.3)
1) Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia;
2) Pusat Studi Perubahan Iklim dan Kebencanaan (PuSPIK), UII
3) Fakultas Psikologi, UII
Email: [email protected]; [email protected]
Abstrak
Kualitas air sungai terutama yang terletak di kawasan urban saat ini kondisinya semakin memprihatinkan. Upaya
mengatasi permasalahan pencemaran air yang paling efektif adalah mencegah masuknya bahan pencemaran ke dalam
badan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pencemaran limbah dometik, menganalisis potensi
pencemar air yang masuk ke Sungai Code, serta menganalisis strategi pengelolaan Sungai Code untuk menurunkan
beban pencemaran yang masuk dari sumber domestik. Pengambilan sampel air limbah untuk uji laboratorium dari
sumber pencemar domestik untuk 12 IPAL komunal. Parameter yang dianalisis antara lain COD, TSS, dan NH3.
Penentuan responden didasarkan pada pendekatan penentuan sampel secara acak pada wilayah tertentu (area random
sampling). Analisis Data terdiri dari analisa pencemaran limbah domestik, analisis potensi sumber pencemar, serta
analisis strategi penurunan bebab pencemaran. Hasil penelitian menunjukkan kondisi yang baik, dimana konsentrasi
outlet lebih rendah daripada inlet antara lain untuk COD di titik 2,3,4, dan 8, TSS di titik 2,3,4,5,6,11, dan 12 serta
untuk NH3 di titik 2,3,4,8, dan 9. Artinya, IPAL pada titik selain itu perlu dicek kembali optimalisasi fungsinya. Strategi
sosial penurunan pencemaran limbah domestik antara lain dengan pemberdayaan masyarakat, penguatan komunitas
lokal, serta optimalisasi kelembagaan formal.
Kata Kunci : Limbah Domestik, Strategi Penurunan, Sungai Code, Yogyakarta
1. PENDAHULUAN
Semakin meningkatnya aktivitas pembangunan ekonomi, perubahan tata guna lahan dan
meningkatnya pertumbuhan penduduk mengakibatkan tingginya tekanan terhadap lingkungan.
Sungai sebagai bagian lingkungan hidup saat ini kondisinya memprihatinkan, terjadi kecenderungan
perubahan ekosistem sungai yang ditunjukkan dengan degradasi kuantitas dan kualitas air.
Hampir sebagian besar daerah aliran sungai di Indonesia mengalami kerusakan, dari 82 sungai besar
di Indonesia 62 diantaranya tergolong dalam sungai yang kritis (BBWS Serayu Opak, 2008).
Sebagian besar kerusakan sungai diakibatkan oleh aktivitas manusia yang mengibaratkan sungai
sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah gratis. Segala macam limbah dan kotoran dibuang
ke sungai tanpa ada pengolahan lebih dahulu. Sungai-sungai yang melewati kota besar pada
umumnya kualitas airnya tercemar oleh limbah baik dari industri, rumah tangga, perikanan, dan
pertanian. Dampak yang ditimbulkan dari segi kesehatan sangat berbahaya, karena air sungai masih
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari baik mandi, mencuci ataupun untuk air minum. Polusi air
juga akan mengancam habitat ikan di sungai. Sungai yang tercemar dari segi estetika juga tidak
nyaman, selain berwarna hitam, banyak sampah yang terapung, juga baunya menyengat.
Volume 5 Nomor 1 Januari 2013 Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan 37
Sungai Code menjadi pusat perhatian banyak pihak dan memiliki tingkat kemendesakan dalam
pengelolaannya. Sungai Code melintasi Kota Yogyakarta dan berdekatan dengan beberapa tempat
strategis, seperti Malioboro, Tugu, Kraton, dan lainnya. Sungai Code melintas pada kawasan
pemukiman yang cukup padat di kiri kanan sungai serta kondisinya menunjukkan kecenderungan
makin memburuk dari tahun ke tahun.
Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk kawasan Sungai Code pun menjadi
sasaran untuk dijadikan daerah permukiman. Akibatnya permasalahan di daerah aliran Sungai Code
pun menjadi sangat kompleks. Mulai terjadinya pencemaran air sungai, penyempitan badan sungai,
tingginya erosi dan sedimentasi, hingga berujung pada seringnya terjadi banjir di daerah aliran
Sungai Code. Sungai Code menunjukkan kualitas air terburuk, dibandingkan sungai lainnya yang
melintas di Kota Yogyakarta, karena bakteri Coliform Tinja terdeteksi paling tinggi dan kandungan
oksingen terlarut paling rendah.
Upaya mengatasi permasalahan pencemaran air yang paling efektif adalah mencegah masuknya
bahan pencemaran ke dalam badan air. Sebagai langkah awal merumuskan upaya tersebut,
informasi tingkat pencemaran, potensi sumber pencemar serta kondisi karakteristik psikologi dan
sosial penduduk perlu tersedia secara baik dan komprehensif. Penelitian ini akan menganalisis
berdasarkan data-data tersebut guna merumuskan strategi penurunan beban pencemar yang optimal
sesuai dengan karateristik penduduk di kawasan Sungai Code.
2. METODE PENELITIAN
Pengambilan sampel air limbah untuk uji laboratorium dari sumber pencemar domestik untuk 12
IPAL komunal. Parameter yang dianalisis antara lain COD, TSS, dan NH3. Pengambilan sampel
air dilakukan untuk dianalisis baik secara langsung di lapangan maupun di laboratorium
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010
tentang Tata Laksana Pengendalian Pencemaran Air. Penentuan responden didasarkan pada
pendekatan penentuan sampel secara acak pada wilayah tertentu (area random sampling). Lokasi
sampel responden ditentukan di daerah Cokrodiningratan RT 37 RW 08 dengan jumlah responden
21 KK (dari 43 KK yang ada).
Analisis Data terdiri dari analisa pencemaran limbah domestik, analisis potensi sumber pencemar,
serta analisis strategi penurunan bebab pencemaran. Pertama, Analisis Pencemaran Limbah
38 Widodo, Kasam, Ribut L, Ike A Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan
Domestik dilakukan dengan pengukuran dan uji laboratorium air limbah domestik untuk parameter
COD, TSS, dan NH3. Sampel dilakukan pada titik inlet dan outlet limbah. Hasil uji laboratorium
selanjutnya dianalisis dengan baku mutu serta membandingkan nilai antara inlet dan outlet. IPAL
dinyatakan efektif jika konsentrasi pada outlet sudah lebih rendah dibandingkan inlet untuk suatu
parameter. Kedua, Analisis potensi sumber pencemar didasarkan pada hasil pengolahan data
kuesioner serta laporan pemantauan dari instansi terkait. Analisis mencakup aspek besaran,
frekuensi, proyeksi, jenis serta faktor yang mempengaruhinya. Ketiga Analisis strategi Penurunan
Beban Pencemar dilakukan dengan deskriptif. Analisis deskriptif didasarkan pada hasil pengolahan
data kuesioner, studi konseptual, studi kebijakan, serta kondisi eksisting. Rekomendasi berupa
strategi diletakkan atas prinsip partisipatif dan untuk kepentingan lingkungan.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Beban dan Sumber Pencemaran Limbah Domestik
Beban pencemaran adalah jumlah suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau limbah.
Besarnya beban pencemaran ini sangat mempengaruhi kualitas air dan dapat menjadi indikator
tercemar atau tidaknya suatu perairan. Limbah domestik terdiri dari sampah dan limbah cair.
Limbah domestik di DAS Code dibagi menjadi dua kategori yaitu limbah domestik potensial dan
riil. Limbah domestik potensial adalah limbah rumah tangga yang limbahnya dibuang pada saluran
pembuangan dalam batas DAS sungai, sedangkan limbah domestik riil adalah limbah rumah tangga
yang limbahnya dibuang secara langsung ke sungai utama atau melalui saluran air yang langsung
mengarah ke sungai utama. Hasil pengukuran terhadap konsentrasi limbah domestik pada inlet dan
outlet IPAL sebagaimana tersaji pada gambar berikut.
Gambar 1. Perbandingan Konsentrasi COD pada Inlet dan Outlet
Volume 5 Nomor 1 Januari 2013 Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan 39
Gambar 2. Perbandingan Konsentrasi TSS pada Inlet dan Outlet
Gambar 3. Perbandingan Konsentrasi NH3 pada Inlet dan Outlet
Berdasarkan grafik di atas kondisi yang baik, dimana konsentrasi outlet lebih rendah dari pada inlet
antara lain untuk COD di titik 2,3,4, dan 8, TSS di titik 2, 3, 4, 5, 6, 11, dan 12 serta untuk NH3 di
titik 2,3,4,8, dan 9. Artinya IPAL pada titik selain itu perlu dicek kembali optimalisasi fungsinya.
Bahan pencemar domestik dari Sungai Code dapat dibedakan secara umum menjadi beberapa
kelompok, yaitu :
1. Bahan pencemar organik, baik yang dapat mengalami penguraian oleh mikroorganisme maupun
yang tidak dapat mengalami penguraian.
2. Bahan pencemar anorganik, dapat berupa logam-logam berat, mineral (garam-garam anorganik
seperti sulfat, fosfat, halogenida, nitrat)
3. Bahan pencemar berupa sedimen/endapan tanah atau lumpur.
Berdasarkan data survei identifikasi sumber pencemar air dari BLH Provinsi DIY terdapat 214
sumber pencemar di Sub DAS Code yang dapat dilihat rinciannya di Tabel 1.
40 Widodo, Kasam, Ribut L, Ike A Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan
Tabel 1. Jumlah dan Jenis Sumber Pencemar di Sub DAS Code
No Jenis Sumber Jumlah Parameter Pencemar
Pencemar
20 BOD,COD,TSS,NH3,PO4,Minyak
1. Pelayanan Kesehatan 68 Minyak dan Lemak, pH, Detergen
2. Bengkel/Cuci Motor 1 BOD,COD,TSS,Minyak,pH
3. Industri Batik 1 BOD,COD,TSS,Phenol,CR,
4. Industri Tekstil Amoniak,Sulfida,pH,Minyak
BOD,COD,TSS,Sulfida,pH
5. Industri Tahu Tempe 4 Pb,biru Metilen,Minyak,pH
6. Industri Percetakan 15 BOD,COD,TSS,CR,NH3,Sulfida,
7. Industri Kulit 3 Minyak,pH
BOD,TSS,Detergen,Minyak dan
8. Hotel/Restoran/Mall 90 Lemak,pH
Minyak
9. SPBU/Stasiun KA 10 BOD,COD,TSS,Sulfida,
10. Peternakan 2 Amoniak,pH
Sumber: BLH Provinsi DIY Tahun 2012
Sumber pencemar yang mendominasi di Sub DAS Code adalah Hotel/Restoran/Mall, diikuti
dengan bengkel/cuci motor dan pelayanan kesehatan. Dari 10 (sebelas) jenis pencemar terdapat 7
sumber pencemar yang menyumbangkan parameter pencemar BOD, COD, TSS. Hal inilah yang
menyebabkan hasil BOD, COD melebihi baku mutu. Selain itu dengan keberadaan Industri
Percetakan maka ancaman logam berat berpotensi terjadi. Untuk parameter pencemar minyak
terdapat di 8 dari 10 jenis pencemar.
Strategi Penurunan Limbah Domestik
Pencemaran air sungai sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga, kemudian industri/usaha.
Sistem pengelolaan air limbah dan sanitasi dapat dilakukan dengan :
a) Pengembangan jaringan air limbah komunal, off side, dan on side.
b) Perbaikan sarana sanitasi dasar permukiman, yaitu dengan membuat SPAL (saluran
pembuangan air limbah) yang meliputi tanki septik dan sumur peresapan.
c) Pembangunan jamban keluarga maupun komunal termasuk tanki septik komunal, MCK dan
WC umum.
d) Pengembangan sistem pengumpulan dan pengolahan lumpur tinja, untuk melayani masyarakat
dalam menguras tanki septik.
Volume 5 Nomor 1 Januari 2013 Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan 41
e) Perbaikan sarana pengolahan air limbah peternakan dan industri. Air kotor hasil dari limbah
peternakan, industri, bengkel, dan sejenisnya harus ditreatment terlebih dahulu sebelum dibuang
ke saluran drainase.
Konsep pembuangan air limbah yang onsite dapat dikombinasikan dengan sistem jaringan drainase
dan air hujan dalam satu saluran. Sebelum dibuang ke saluran, air limbah diolah melalui Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) terutama limbah dari rumah sakit, industri, dan limbah lain yang
bisa mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia.
Pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan hendaknya memiliki dimensi ekologi, ekonomi dan
sosial (Zulkifli, 2003 dalam Widodo et al, 2005). Dimensi ekologi lebih menekankan pada
pentingnya upaya-upaya untuk mencegah terganggunya fungsi dasar ekosistem sungai sehingga
tidak akan mengurangi fungsi layanan ekologi. Dimensi ekonomi menekankan bahwa pertumbuhan
dan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam harus diupayakan secara terus menerus. Dimensi
sosial mencakup isu-isu yang berkaitan dengan distribusi kekayaan/pemerataan secara adil serta
penghapusan kemiskinan. Berdasarkan konsepsi tersebut maka secara umum pengelolaan Sungai
Code dapat dilakukan dengan 3 strategi, yaitu:
a. Pemberdayaan Sosial – Budaya
Ada beberapa isu yang penting diperhatikan dalam pengembangan sektor sosial - budaya yakni
(1) upaya meningkatkan kualitas sosial-budaya dalam berkehidupan, (2) mengembangkan
konsep pembangunan sosial – budaya yang partisipatif, dan (3) kegiatan pembangunan sosial –
budaya merupakan proses pembangunan yang berkelanjutan.
b. Pendekatan Politis
Strategi politis lebih dititikberatkan pada institution building. Beberapa hal yang diperlukan
dalam strategi politis adalah: (1) Kesiapan aparat pemerintah dalam pembangunan dan
pengendalian, baik dari segi kebijaksanaan, dukungan personalia maupun administratif; (2)
Kesiapan pihak - pihak lain dalam menghadapi kemungkinan adanya hambatan dan dukungan;
dan (3) Kesiapan masyarakat setempat.
c. Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Strategi pengembangan ekonomi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni (1) faktor
ketersediaan sumber daya yang ada di kawasan ini, baik sumber daya lokal (tanah, informasi,
42 Widodo, Kasam, Ribut L, Ike A Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan
teknologi, energi,dan kreativitas) maupun sumber daya manusia, termasuk proses pengolahan
sumber daya tersebut, (2) tingkat pendapatan dan pola konsumsi masyarakat, (3) faktor
ketersediaan infrastruktur untuk produksi dan distribusi barang dan jasa, (4) faktor
suprastruktur yang ada, yakni peraturan dan kebijakan pemerintah setempat, dan (5) faktor
kondisis sosial-budaya. Bentuk spesifik dan konkrit yang dapat direkomendasikan adalah
pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi ekowisata.
Salah satu IPAL komunal yang ada di bantaran Sungai Code adalah di Cokrodiningratan RT 37 RW
08. Hasil survei kuesioner menunjukkan 99% warga memanfaatkan IPAL komunal, hanya 1 KK
yang diputus. Partisipasi besar dari warga ini selain kesadaran dan tuntutan lingkungan, juga faktor
ekonomi dimana pembangunan dan pemasangan instalasinya dibiayai penuh pemerintah, sedangkan
untuk operasionalisasi dan pemeliharaan hanya dikenakan iuran Rp. 2000/KK/bulan. Berdasarkan
kondisi ini maka strategi penanganan pencemaran yang paling utama adalah menggerakkan
partisipasi masyarakat hingga secara sistematis mengoptimalkan kelembagaan maupun komunitas
lokal.
Salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan sungai adalah penggunaan konsep community-
based development. Pembangunan berbasis masyarakat dapat dimaknai sebagai co-management
(pengelolaan bersama), yakni pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan
pemerintah setempat, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam
kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pembangunan dan pengelolaan. Community
development adalah suatu upaya perubahan terencana (planned change) yang dilakukan secara
sadar dan sungguh-sungguh melalui usaha bersama masyarakat untuk memperbaiki keragaan sistem
kemasyarakatan (Chambers, 2006).
Pendekatan ini perlu ditempuh karena masyarakat lokal adalah orang-orang yang paling tahu
kondisi sosial budaya setempat. Setiap kegiatan pembangunan harus memperhatikan nilai-nilai
sosial budaya pembangunan. Setiap langkah keputusan perencanaan harus mencerminkan keaktifan
masyarakat lokal yang ikut terlibat di dalamnya. Pelibatan masyarakat sejak awal akan lebih
menjamin kesesuaian program pengembangan dengan aspirasi masyarakat karena adanya rasa
memiliki yang kuat. Konsep pendekatan ini dalam jangka panjang akan memungkinkan tingkat
kontinuitas yang tinggi. Pengembangan masyarakat lokal perlu didasarkan pada kriteria sebagai
berikut (Law dan Hartig, J.H, 1993):
memajukan tingkat hidup masyarakat sekaligus melestarikan identitas dan budaya lokal
Volume 5 Nomor 1 Januari 2013 Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan 43
meningkatkan pendapatan secara ekonomis sekaligus mendistribusikan merata pada
penduduk lokal
berorientasi pada pengembangan usaha berskala kecil dan menengah dengan daya serap
tenaga besar dan berorientasi pada teknologi tepat guna
mengembangkan semangat kompetisi serta koperasi
memanfaatkan pariwisata seoptimal mungkin sebagai agen penyumbang tradisi budaya
dengan dampak seminimal mungkin
Tata kelola sungai juga perlu melibatkan berbagai pihak: pemerintah daerah, akademisi dan
masyarakat pinggir sungai sebagai pemangku. Dalam konteks community development, ada tiga hal
yang perlu mendapat penekanan yaitu partisipasi publik, community education, dan keberlanjutan.
Banyak pihak memberi perhatian terhadap agenda pengelolaan Sungai Code, baik dari pemerintah,
perguruan tinggi , masyarakat maupun kalangan LSM. Pada tahun 2003 tujuh perguruan tinggi di
Yogyakarta telah membentuk konsorsium bagi pengelolaan kawasan sungai yang berada di
Yogyakarta. Berbagai kelompok masyarakat lokal yang peduli Sungai Code juga telah
bermunculan dengan membawa agenda masing-masing, misalnya Gerakan Cinta Code (GCC) di
Suryatmajan, Team Komunitas Pinggiran Sungai (TKPS) di Gondolayu, Forum Masyarakat Code
Utara (FMCU) dan Masyarakat Peduli Winongo di Badran. Beberapa komunitas telah berkoordinasi
dalam Forum Pemerti Kali Code. Permasalahan mendasarnya adalah pihak-pihak terkait tersebut
belum terkoordinasi secara terpadu dan program penataannya juga belum sistematis.
Masyarakat selama ini secara kreatif telah berinisiatif melakukan kegiatan, seperti upacara Merti
Code, lomba kebersihan lingkungan, pembuatan jalan, juga tamanisasi pinggir sungai. Berbagai
kegiatan, program, studi, dan aktivitas lainnya menyangkut pengembangan Sungai Code oleh
beberapa pihak masih terkesan sporadis dan belum menyentuh sisi manajemen yang berkelanjutan.
Berdasar pada pola keruangan dan kecenderungan masyarakat yang terbiasa dengan kenyamanan
dan komunalitas, maka pemberdayaan harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Code sebagai
kawasan wisata, Code sebagai laboratorium pengolahan air, dan kampung Code yang ditata Romo
Mangun dan dilukis oleh para pembuat mural, sudah dilakukan dan memperindah kawasan ini.
Kawasan Sungai Code membutuhkan perubahan budaya yang tentunya membutuhkan waktu dan
membutuhkan bukti keberhasilan, yakni tercapainya kehidupan yang lebih baik. Posisi pedagang
44 Widodo, Kasam, Ribut L, Ike A Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan
VCD, penjual burjo, atau pun karyawan toko membuat mereka terpatri pada aktivitas hariannya.
Jika tidak ada kebutuhan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, maka masyarakat akan
berkutat dalam rutinitas dan tidak memikirkan perubahan, karena perubahan berarti merubah
tatanan yang terlanjur nyaman. Maka dalam hal ini, yang dibutuhkan adalah perubahan cara
pandang, bahwa hidup bukan hanya untuk mendapat uang namun perubahan gaya hidup yang
peduli dengan lingkungannya.
Proses perubahan sosial akan lebih efektif jika didorong oleh faktor dari dalam yang sering disebut
sebagai immanent change, dimana perubahan dikarenakan oleh ditemukannya berbagai inovasi baru
dalam masyarakat itu sendiri. Perubahan semacam ini tidak membutuhkan berbagai macam
penyesuaian sosial masyarakat karena berasal dari masyarakat itu sendiri. Sementara itu, perubahan
yang dikarenakan oleh berbagai program pembangunan dari luar masyarakat dan dibawa oleh agen
pembangunan disebut sebagai direct contact change. Perubahan semacam ini membutuhkan
berbagai macam penyesuaian, baik program yang ditawarkan maupun masyarakat penerima
program.
Masyarakat Yogyakarta sangat menyukai simbol dan mencintai budaya. Budaya yang perlu
ditanamkan perlu dilakukan secara simultan sejak dini dan didukung oleh keluarga dan contoh/role
model. Role model ini bukan hanya dilihat dari tokoh formal, namun juga insan terdidik dari Sungai
Code yang tergerak membangun kampungnya. Perubahan ini bisa dimulai dengan mengajak warga
untuk melakukan perubahan, bahwa Yogyakarta merupakan salah satu tolok ukur kedewasaan di
Indonesia. Sungai Code di Yogyakarta dapat menjadi role model bagi penataan sungai di
Indonesia. Padatnya pemukiman di Sungai Code bukan menjadi halangan untuk melakukan
perubahan gaya hidup dan etos kerja. Dan itu dimulai dari segala sisi, pemerintah, akademisi,
lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat itu sendiri. Pemerintah tentu memiliki kuasa untuk
melakukan penataan dan mengeluarkan kebijakan terkait penataan wilayah. Terlebih lagi komunitas
dan lembaga sosial yang secara khusus menangangi pendidikan dan kesenian. Upaya ini dapat terus
dilakukan bersama sehingga Sungai Code ke depan menjadi percontohan pengelolaan sungai di
Indonesia dengan masyarakat sebagai aktor perubahannya. Pancingan dan dukungan dari luar tentu
diperlukan untuk mempercepat proses ini.
Saluran komunikasi antar warga dan partisipasi hanya dapat dilakukan dengan proses
institusionalisasi (pelembagan). Tujuan utamanya adalah menjaring pendapat dan usulan,
Volume 5 Nomor 1 Januari 2013 Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan 45
melakukan klarifikasi, kategorisasi hingga verifikasi usulan, dan akhirnya melakukan langkah-
langkah riil. Integrasi kekuatan dalam sebuah lembaga merupakan salah satu wujud masyarakat
modern, dimana tatanan sosial mempunyai payung hukum serta langkah-langkah operasional
berdasarkan planning yang jelas dalam menggapai tujuan. Berbeda dengan komunitas yang
mempunyai sanksi sosial berdasarkan pranata tanpa tujuan “keuntungan” yang jelas. Sifat dari
komunitas adalah komunal dengan mengandalkan pemimpin yang kharismatik, namun sering
melupakan kapasitas intelektul. Hal ini yang diharapkan berkembang dengan terwujudnya lembaga
untuk masyarakat Sungai Code.
Integrasi kekuatan di Sungai Code adalah modal sosial masyarakat Code untuk mengatur diri
mereka sendiri, untuk mewujudkan wilayah sungai yang khas Yogyakarta. Wilayah sungai Code
akan menjadi wilayah self design yang dapat di rekayasa masyarakat setempat sesuai budaya relasi
manusia dengan Sungai Code itu sendiri. Komunikasi yang terbangun melalui lembaga nantinya
diharapkan dapat menjadi social relationship menuju harapan-harapan seluruh warga Code atas
perbaikan kehidupan yang berbasis pada lingkungan sungai. Oleh karena itu yang terpenting dari
lembaga tersebut adalah pola komunikasi. Pola komunikasi inilah yang akan disepakati dengan
terbentuknya lembaga masyarakat yang menaungi keseluruhan warga masyarakat yang ada
dibantaran Sungai Code, apakah utara, tengah maupun selatan. Sebagai embrio telah terbentuk
lembaga Forum Pemerti Kali Code, meskipun prinsip keterwakilan dan kelangkapannya masih
belum memenuhi.
Kelembagaan yang ada nantinya harus benar-benar disepakati, mewakili kepentingan masyarakat,
dan bersifat semi otonom. Kesepakatan dapat dilakukan dengan proses penjaringan aspirasi serta
kordinasi antar komunitas yang ada, seperti unsut lembaga pemerhati, unsur pemerintahan, dan
komunitas sosial budaya lainnya. Pelembagaan ini haruslah didukung oleh pemerintah daerah, oleh
karena itu pembentukan lembaga disahkan dengan Surat Keputusan Walikota atau sejenisnya.
Keberadaan AD/ART dan akte notaris juga mutlak diperlukan pada tahap berikutnya untuk
memenuhi kelengkapan lembaga formal. Bagaimanapun proses pengorganisasian masyarakat,
apalagi dalam skala cukup besar rentan terhadap potensi konflik sosial. Proses ini haruslah benar-
benar berorientasi pada keterlibatan penuh masyarakat secara sistematis dan simultan.
Pengembangan komunitas lokal selain dipengaruhi kebutuhan dan aspirasi / kehendak publik lokal,
juga tergantung oleh kebijakan publik pada herarki birokrasi lebih atas. Proses penguatan
46 Widodo, Kasam, Ribut L, Ike A Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan
komunitas lokal dengan demikian tidak lepas dari kemauan politis pemerintah. Oleh karena itu,
pemerintah dan legislatif harus benar-benar ‘rela’ memberikan keenangan pengelolaan melalui
komunitas nantinya. Lembaga yang terbentuk harus menyentuh pada semua elemen (institusi)
publik hingga level paling bawah dimana arah pengembangannya diorientasikan pada penguatan
partisipasi masyarakat. Lembaga tersebut harus memenuhi keterwakilan pemerintah, swasta, dan
unsur lainnya, namun porsi terbesar dan peran strategis tentu harus berada pada komunitas lokal.
Beberapa hal yang diperlukan dalam strategi pengembangan kelembagaan lokal, antara lain:
Kesiapan pemerintah dalam pembangunan dan pengendalian, baik dari segi
kebijaksanaan, dukungan personalia,anggaran maupun administratif.
Kesiapan masyarakat setempat.
Kesiapan pihak - pihak lain (swasta) dalam menghadapi kemungkinan adanya hambatan
dan dukungan.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, pilihan strategi sudah seharusnya mempertimbangkan dan
menyentuh pada tiga hal tersebut di atas. Dalam hal ini, pengembangan kelembagaan perlu
dipertegas sebagai upaya untuk mengatur berbagai aspek agar dapat mengantisipasi berbagai
hambatan dan benturan yang diperkirakan akan terjadi di masa datang.
Kelembagaan pada ranah formal juga perlu mendapat perhatian untuk dibenahi. Peran pemerintah
yang terdiri dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Opak-Oyo-Progo di bawah Kementerian
Kehutanan, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak di bawah Kementerian Pekerjaan Umum,
Dinas PUP-ESDM Provinsi DIY, Bappeda, Badan Lingkungan Hidup, dan Dinas terkait di bawah
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam membangun kebersamaan menjadi
sangat penting. Pemahaman terhadap peta kelembagaan di wilayah DAS Code diperlukan untuk
melakukan analisis kelembagaan yang bertujuan untuk menentukan lembaga manakah yang paling
tepat untuk melakukan Koordinasi, Intergrasi, Sinergitas, Sinkronisasi pengelolaan lingkungan di
sub DAS Code . Penguatan kelembagaan diharapkan dapat mengoptimalkan peran aktif para pihak
yang terkait dalam pengelolaan lingkungan di wilayah DAS Code. Kaitannya dengan pengendalian
dan pengelolaan kualitas lingkungan, seperti air limbah, sampah, dan lainnya.
Volume 5 Nomor 1 Januari 2013 Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan 47
4. KESIMPULAN
Hasil dan pembahasan di atas akhirnya memberikan kesimpulan sbb:
1. Pada inlet, konsentrasi NH3 melampaui baku mutu di semua titik, konsentrasi TSS belum
melampui semua, dan COD yang sudah melampui antara lain di titik 2, 3, dan 8.
2. Pada outlet, konsentrasi NH3 melampaui baku mutu di semua titik, konsentrasi TSS belum
melampui semua, dan COD juga sudah melampui semua.
3. Konsentrasi limbah pada outlet lebih rendah daripada inlet antara lain untuk COD di titik 2,
3, 4, dan 8, TSS di titik 2, 3, 4, 5, 6, 11, dan 12 serta untuk NH3 di titik 2, 3, 4, 8, dan 9.
4. Sumber pencemar air di Sub DAS Code berjumlah sekitar 214 sumber pencemar.
5. Strategi teknis penurunan pencemaran limbah domestik antara lain dengan pengembangan
dan optimalisasi IPAL komunal serta pengelolaan sampah terpadu.
6. Strategi sosial penurunan pencemaran limbah domestik antara lain dengan pemberdayaan
masyarakat, penguatan komunitas lokal, serta optimalisasi kelembagaan formal.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis ucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM)
UII yang telah membiayai penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. 2008. Revitalisasi Sungai Code dan Anak Sungainya
Provinsi DIY. Laporan Akhir Penelitian. Yogyakarta : BBWS Serayu Opak Departemen
Pekerjaan Umum.
Chambers, Robert. 2006. Participatory Rural Appraisal : Memahami Desa Secara Partisipatif.
Yogyakarta : OXFAM - Penerbit Kanisius.
Law dan Hartig, J.H. 1993. Public Participation in Great Lakes Remedial Action Plan. Plan
Canada. March : 31-5.
Seyhan, Ersin, 1977, The Watershed as An Hydrologic Unit, Utrecht : Geografisch Instituut
Rijkuniversiteit.
Widodo, 2005, Managing Water Resources in Yogyakarta Region, Germany : Kalsruhe University.
Jurnal Administrasi Publik (Public Administration Journal), 8 (2) Desember 2018
ISSN 2088-527X (Print) ISSN 2548-7787 (Online), DOI: 10.31289/jap.v8i2.1906
Jurnal Administrasi Publik
(Public Administration Journal)
Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/jap
Implementasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Limbah
Cair Hotel di Kota Yogyakarta Tahun 2017
Implementation of Liquid Waste Pollution Control Policy in
Yogyakarta City 2017
Oki Oktami Yuda*1) & Eko Priyo Purnomo** 1) 2)
1) Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Indonesia
2) Departement of Governmental of Studies and a fellow at Jusuf Kalla’s School (JKSG), Indonesia
Diterima: Oktober 2018; Disetujui: Desember 2018; Dipublish: Desember 2018
Coresponding *E-mail: [email protected]
** E-mail: [email protected]
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi kebijakan pengendalian pencemaran
limbah cair hotel di Kota Yogyakarta tahun 2017. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif
dengan teknik pengambilan data melalui wawancara staff Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta
dan dokumentasi. Hasil dari analisis data diketahui implementasi kebijakan dilaksanakan melalui 3
kegiatan yaitu pengendalian, pengawasan dan pembinan. Adapun hasil dari implementasi kebijakan
pengendalian pencemaran limbah cair hotel terlaksana dengan baik, hal tersebut dapat dilihat dari
sasaran utama capaian kinerja tahun 2017 mencapai 99.60%, penggunaan anggaran yang efisien,
sarana dan prasarana yang sudah memadai, Standard Operating Procedure (SOP) yang jelas serta
adanya dorongan dari lembaga swadaya masyakarat yang secara tidak langsung membantu dalam
proses pelaksanaan, komunikasi yang informatif kepada pihak manajemen hotel, adanya koordinasi
dengan stakeholder terkait, Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta bertindak sebagai mediator
antara masyarakat dan pihak hotel. Kendala yang terjadi dalam pelaksanaan kebijakan pengendalian
masih minimnya sumber daya manusia sehingga pelaksanaan kegiatan pengawasan menjadi
terhambat.
Kata Kunci: Implementasi, Kebijakan Pemerintah, Pengendalian Limbah Cair Hotel.
Abstract
The aims of this study are to determine the implementation of the policy of pollution control for hotel
wastewater in Yogyakarta in 2017. This study applies a type of a qualitative research, data collection
techniques through interviews with Yogyakarta City Environmental Service staff and documentation
analysis. The results of the data analysis show that policy implementation is carried out through 3
activities, namely control, supervision and supervision, while the results of the implementation of the policy
are implemented well as seen from the main targets of performance achievement in 2017 which reached
99.60%, efficient use of budget, adequate facilities and infrastructure, Clear Standard Operating Procedure
SOPs and encouragement from Non Governmental Organization (NGOs) that indirectly help in the
implementation process, informative communication to hotel management, coordination with relevant
stakeholders, Yogyakarta City Environment Agency acts as a mediator between the community and the
hotel. Constraints that occur in the implementation of control policies are still lacking in human resources
so that the implementation of supervisory activities becomes hampered.
Keywords: Implementation, Government Policy, Hotel Liquid Waste Control.
How to Cite: Yuda, O.O. & Purnomo, E.P. (2018). Implementasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Limbah Cair
Hotel di Kota Yogyakarta Tahun 2017. Jurnal Administrasi Publik (Administration Public Journal). 8 (2): 163-171
163