Oki Oktami Yuda & Eko Priyo Purnomo, Implementasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Limbah Cair
PENDAHULUAN jumlah limbah cair hotel yang dibuang ke
Seiring dengan pertumbuhan
sungai sangat lah besar. Hal ini akan tetap
ekonomi dan penduduk, jenis dan menimbulkan pencemaran sungai, apalagi
kuantitas limbah akan menjadi pelik dan jumlah hotel yang kian bertambah
menjadi masalah besar di masa depan, hal
tersebut terjadi karena ketidakpedulian (WALHI, 2014). Menurut (BLH, 2015),
pelaku ekonomi dan masyarakat terhadap hotel merupakan penyebab utama
kaidah pelestarian lingkungan, sosial pencemaran sungai.
budaya dan hukum (Eris, 2009). Kota
Yogyakarta merupakan kota budaya dan Tabel 1.
wisata yang banyak dikunjungi oleh Jenis Sumber Pencemar Daerah Aliran Sungai
wisatawan domestik maupun luar negeri,
banyaknya jumlah wisatawan mendorong Jenis Sumber Pencemar Jumlah
kebutuhan akan akomodasi yaitu hotel, hal
tersebut membuat pembangunan hotel Pelayanan Kesehatan 62
yang terus bertambah setiap tahunnya di Industri Batik 11
Kota Yogyakarta. Industri Percetakan 38
70 Industri Kulit 6
Laundry 45
Hotel Berbintang dan Melati 204
60
50 Sumber: (BLH, 2015) Provinsi Daerah
40 Pemerintah
30 Istimewa Yogyakarta mengeluarkan
Peraturan Gubernur DIY Nomor 7 tahun
20 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah yang
10 bertujuan untuk membatasi kadar bahan
0 Tahun Tahun Tahun Tahun pencemar yang dihasilkan oleh aktivitas-
Jumlah Hotel 2013 2014 2015 2016
aktivitas industri dan sejenisnya.
43 57 59 62 Menurut (DLH, 2016), Sungai Code
yang ada di Kota Yogyakarta tercemar oleh
Grafik 1. Jumlah Hotel di Kota Yogyakarta
Sumber: (BPS, 2017), data diolah limbah dengan kadar yang melebihi batas
yang ditentukan. Berdasarkan pantauan
Pada sisi lain bertambahnya jumlah yang dilakukan (Yuliana, 2012) didapatkan
hotel di Kota Yogyakarta berakibat pula
pada meningkatnya permasalahan bahwa air di beberapa sungai di Derah
lingkungan utamanya pencemaran limbah Istimewa Yogyakarta kotor, tercium aroma
cair (Hardjanto, 2016). Limbah cair sampah yang menyengat, air sungai
perhotelan menurut (Mallongi, 2017)
adalah limbah dalam bentuk cair yang tampak keruh berwarna hijau kehitaman,
dihasilkan oleh kegiatan hotel yang dan agak sedikit berbusa.
dibuang ke lingkungan dan diduga dapat Tabel 2. Bahan Pencemar Sungai Code
menurunkan kualitas lingkungan, kondisi
tersebut disebabkan karena aktivitas yang Parameter Batas Tahun
ada di hotel relatif sama dengan seperti
pada pemukiman dan fasilitas tambahan 20144 20155 2016
lainnya.
Ph 6-8.5 7.2 7.8 7.9
Limbah cair yang dihasilkan hotel di
olah dengan menggunakan Instalasi TSS 50 182∗ 29 15
Pengolahan Limbah (IPAL) yang kemudian
dibuang ke sungai. Walaupun setiap hotel TDS 1000 123 148 192
diwajibkan memiliki IPAL, akan tetapi BOD 3 10.5∗ 7.5∗ 11.83∗
COD 25 27.4∗ 13.9 16
Detergen 200 300∗ 291.8 329.7∗
Sumber: (DLH, 2016)
∗(Tidak memenuhi baku mutu)
Jika dilihat dari tabel 2 diatas, maka
dapat diketahui Sungai Code dicemari oleh
164
Jurnal Administrasi Publik (Administration Public Journal), 8 (2) Desember 2018: 163-171
bahan pencemar yang tidak memenuhi tugas dan wewenang dalam mengelola
batas baku mutu per tiap tahunnya. lingkungan hidup daerahnya.
Pencemaran tersebut dapat terjadi
disebabkan oleh lambannya birokrasi Meski upaya kebijakan pengendalian
menangangi masalah yang rutin terjadi pencemaran limbah cair hotel telah
diterapkan akan tetapi masih adanya
(Purnomo, 2016). limbah cair hotel yang tidak sesuai dengan
baku mutu yang telah ditetapkan.
Menurut penelitian yang dilakukan Berdasarkan hasil pengujian kualitas
oleh (Bahruddin, 2015), kondisi IPAL di limbah cair hotel berbintang yang
beberapa hotel di Kota Yogyakarta tidak dilakukan (Bahruddin, 2015) di
bekerja secara maksimal dikarenakan laboratorium hidrologi dan kualitas air
beban limbah yang terlalu banyak Fakultas Geologi UGM Yogyakarta
(overload) sehingga limbah mengendap diketahui bahwa limbah cair di beberapa
dan mengakibatkan penyaringan limbah hotel berbintang di kawasan Kota
menjadi tidak maksimal, akibatnya zat-zat Yogyakarta menunjukan parameter bahan
berbahaya dari limbah cair hotel pencemar BOD pada hotel berbintang ada
mencemari sungai. yang mencapai angka 12,7 g/L, untuk COD
sangat tinggi ada yang mencapai 38.3 g/L
Limbah hotel memiliki karakteristik dan TSS ada yang mencapai 85 g/L. Hal
yang berbeda dengan limbah cair rumah tersebut mengindikasikan bahwa limbah
tangga, karena potensi limbah tersebut cair hotel yang ada di Kota Yogyakarta
tidak hanya berasal dari kegiatan dapur, masih ada yang tidak sesuai dengan baku
tetapi juga kegiatan kantor, kamar hotel, mutu yang telah ditetapkan.
kolam renang dan laundry (Elystia, 2012).
Bila permasalahan ini terus dibiarkan
Adanya limbah cair yang mengaliri maka kerusakan lingkungan dan
daerah aliran sungai maka menyebabkan pencemaran akibat limbah cair hotel akan
pencemaran lingkungan, akibatnya daur semakin meluas dan mengganggu
materi lingkungan hidup mengalami ekosistem alam maupun makhluk hidup di
ketidakseimbangan struktur dan fungsinya Kota Yogyakarta.
maka akan berbahaya bagi makhluk hidup
(Faisal, 2012). Berdasarkan hal diatas yang menarik
dijadikan penelitian adalah apakah
Limbah cair hotel yang mencemari pencemaran limbah cair industri hotel
sungai memberikan efek yang negatif yang terjadi di Kota Yogyakarta tersebut
terhadap ekosistem dan kesehatan karena belum optimalnya implementasi
manusia. Penyakit yang ditimbulkan akibat kebijakan pengendalian pencemaran
sungai yang tercemar oleh limbah cair limbah cair hotel oleh Dinas Lingkungan
hotel yaitu: diare, tipus, hepatitis, disentri, Hidup Kota Yogyakarta selaku pemegang
kholera (Mallongi, 2017). otoritas perumus dan pelaksana kebijakan
bidang lingkungan hidup di wilayahnya.
Sehubungan dengan itu, Pemerintah Maka dari itu, rumusan masalah dalam
Kota Yogyakarta telah melakukan upaya penelitian ini adalah untuk mengetahui
preventif untuk meminalisir pencemaran bagaimana implementasi kebijakan
yang disebabkan oleh limbah cair hotel pengendalian pencemaran limbah cair
dengan melalui kebijakan pengendalian hotel di Kota Yogyakarta pada tahun 2017.
pencemaran limbah cair hotel. Kebijakan Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
tersebut dilakukan oleh pemerintah sebelumnya adalah dalam analisis proses
melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota implementasi kebijakan pengendalian
Yogyakarta sebagaimana tercantum dalam pencemaran limbah cair hotel berdasarkan
pasal 63 ayat 3 Undang-Undang Nomor 32 teori (Nugroho, 2017) yaitu 6 indikator
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa
pemerintah Kabupaten/Kota memiliki
165
Oki Oktami Yuda & Eko Priyo Purnomo, Implementasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Limbah Cair
penilaian keberhasilan suatu kebijakan. HASIL DAN PEMBAHASAN
Enam indikator penilaian keberhasilan Standar dan Sasaran Kebijakan
dalam suatu kebijakan tersebut adalah (1)
standar dan sasaran kebijakan, (2) sumber Upaya yang dilakukan Dinas
daya, (3) karakteristik organisasi Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta dalam
pelaksana, (4) komunikasi antar mengendalikan pencemaran yang
komunikasi dan kegiatan-kegiatan diakibatkan limbah cair hotel dengan
pelaksanaan, (5) sikap para pelaksana dan melalui 3 langkah yaitu, pengendalian,
(6) lingkungan eksternal. pengawasan dan pembinaan.
Pengendalian dilakukan untuk menilai dan
METODE PENELITIAN memeriksa dokumen izin lingkungan agar
Penelitian ini merupakan jenis rekomendasi izin lingkungan hotel dapat
diterbitkan, serta untuk mengetahui secara
penelitian kualitatif dengan menggunakan detil rancangan perencanaan hotel mulai
metode deksriptif. Penelitian ini dari tahapan pra konstruksi sampai tahap
dilaksanakan di Dinas Lingkungan Hidup operasional. Pengawasan dilakukan untuk
Kota Yogyakarta karena merupakan mengawasi ketaatan perusahaan terhadap
otoritas pemerintah penanggung jawab izin lingkungan, mengawasi pengelolaan
kebijakan bidang lingkungan hidup. Jenis dan pemantauan lingkungan hidup hotel
dan sumber data yang digunakan dalam serta mengawasi ketaataan pihak
penelitian ini ada 2 macam, yaitu (1) Data manajemen hotel terhadap izin
primer yang diperoleh dari wawancara perlindungan dan pengelolaan lingkungan
secara langsung ke subjek penelitian yang hidup. Pembinaan dilakukan untuk
dipilih dengan teknik purposive sampling mensosialisasikan baku mutu cair kepada
yaitu atas dasar orang-orang yang terlibat pihak manajemen hotel agar dapat
langsung pada pelaksanaan kebijakan mengelola limbah cairnya sesuai dengan
pengendalian pencemaran limbah cair baku mutu yang telah ditetapkan beserta
hotel yaitu Kepala Pengembangan sistematika pelaporannya. Pembinaan
Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas dilakukan apabila limbah cair hotel belum
Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta (2) sesuai dengan baku mutu yang belum taat
Data sekunder adalah data yang diperoleh dokumen lingkungan baik disengaja atau
yang digunakan sebagai penunjang dalam belum mengetahui sistematika pelaporan
menganalisa masalah penelitian yang dokumen lingkungan Tahapan tersebut
berupa peraturan perundang-undangan, juga memberikan saran dan arahan kepada
literatur, dokumen, laporan, dan arsip pihak manajemen hotel agar dapat
yang dikeluarkan oleh pemerintah yang melakukan pengelolaan limbah cair hotel
berkaitan dengan permasalahan yang secara tepat dan benar dengan adanya
diteliti adapun data sekunder dalam pembinaan diharapkan pihak manajemen
penelitian ini adalah Renstra dan Lakip hotel dapat mengelola limbah cair sesuai
Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta dengan baku mutu yang telah ditetapkan.
serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun Kebijakan pengendalian pencemaran
2009 tentang Perlindungan dan limbah cair hotel.
Pengolahan Lingkungan Hidup. Setelah
data diperoleh kemudian dilakukan teknik Adapun indikator kinerja sasaran
analisis data dengan mereduksi data, dari kebijakan pengendalian pencemaran
penyajian data dan penarikan kesimpulan. limbah cair hotel pada tahun 2017
mencapai 99,60%, dimana dari target
Indikator Kualitas Air (IKA) sebesar 50,20
dapat tercapai IKA sebesar 50,00. Dengan
capaian tahun 2017 ini juga menunjukkan
keberhasilan capaian atas target akhir
166
Jurnal Administrasi Publik (Administration Public Journal), 8 (2) Desember 2018: 163-171
Renstra sebesar 97,66%. Meskipun belum menunjukkan keberhasilan pencapaian
dapat mencapai target 100%, namun target kinerja yang baik
capaian tersebut sudah dapat dikatakan Sumber Daya
cukup baik karena tingkat capaian kinerja
lebih dari 80%. Sumber daya merupakan faktor
penting dalam penyelenggaran sebuah
Tabel 3. Capaian Indikator Kinerja Sasaran kebijakan, maka dari itu diperlukan
sumber daya yang cukup baik dari segi
Sasaran Indikat Targ Capai % jumlah (kuantitas) maupun kompetensi
(kualitas). Sumber daya dapat dibedakan
or et an Capai menjadi dua jenis yaitu sumber daya
manusia (staff) dan non manusia (sarana
Kinerja 2017 2017 an prasarana dan anggaran).
Sasara Sumber daya manusia yang
dimaksud dalam pelaksanaan kebijakan
n pengendalian pencemaran limbah cair
hotel adalah pegawai, tenaga teknis dan
Pencemaran Indeks 50,2 50,00 99,60 tenaga bantuan (NABAN). Per 31
dan Kualita 0% %% Desember 2017, secara umum Dinas
kerusakan s Air Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta
lingkungan memiliki 299 pegawai yang terdiri dari
hidup 280 orang laki laki (93%) dan perempuan
terkendali sebanyak 19 orang (7%).
Sumber: (DLH, 2017b) Kebijakan pengendalian pencemaran
limbah cair hotel di ampu oleh bidang
Berdasarkan hasil pengambilan Penataan dan Pengendalian Dampak
Lingkungan (PPDL) dan bidang
sampel dan pengujian parameter kualitas Pengembangan Kapasitas Lingkungan
air sungai yang dilakukan Dinas Hidup (Bangtas). Adapun jumlah SDM
Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta bidang PPDL dan Bangtas sebagai berikut:
menunjukan peningkatan kualitas air Tabel 5. Jumlah SDM
sungai dari tahun 2016 ke tahun 2017,
dimana pada tahun 2016 tidak ditemukan
adanya parameter kualitas air sungai yang
memenuhi ambang batas baku mutu
kualitas air, sedangkan pada tahun 2017
terjadi peningkatan, dimana sebesar 2%
dari sampel memenuhi ambang batas baku
mutu kualitas air.
Tenaga Tenaga Jumlah
Tabel 4. Data Kualitas Sungai Bidang PNS Bantuan Teknis (orang)
Status Tahun % Tahun %
Mutu Air 2016 2017 PPDL 11 6 - 17
Memenuhi 0 01 2 Bangtas 10 9 8 27
Ringan 12 100 46 96
Sedang 0 01 2 Sumber: (DLH, 2017b)
Berat 0 00 0 Jumlah sumber daya manusia yang
ada pada bidang Bangtas masih kurang,
Jumlah 12 48 dilain sisi jumlah hotel yang diawasi tiap
50.20 tahun relatif meningkat, sedangkan jumlah
ISnadmepkesl 50.00 pegawai, naban, tenaga teknis yang
ditugaskan untuk melakukan pengawasan
Kualitas Air memerlukan tiga sampai lima orang. Hal
tersebut mengakibatkan pelaksanaan
Sumber: (DLH, 2017b) pengawasan menjadi terkendala. Upaya
yang dilakukan untuk mengatasi
Keberhasilan pencapaian kinerja kekurangan sumber daya manusia dengan
untuk indeks kualitas air ditunjang oleh menambah keterampilan aparatur melalui
kebijakan pengendalian pencemaran
limbah cair hotel dan kegiatan yang lain
seperti pengendalian pencemaran dan
limbah B3, optimalisasi sumber daya
lingkungan hidup. Dukungan dari
kebijakan dan kegiatan tersebut
167
Oki Oktami Yuda & Eko Priyo Purnomo, Implementasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Limbah Cair
keikutsertaan dalam berbagai pendidikan Tabel 7. Sarana dan Prasarana Dinas
Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta
dan pelatihan.
Alokasi yang dianggarkan dalam
kebijakan pengendalian pencemaran No Sarana dan Prasarana Jumlah
limbah cair hotel senilai 4.233.288.799, 1. Komputer 8 unit
anggaran tersebut tidak hanya digunakan 2. Kendaraan Roda 2 2 unit
5 unit
dalam pelaksanaan kebijakan 3. Kendaraan Roda 3 2 unit
1 unit
pengendalian limbah cair hotel, akan tetapi 4. GPS 3 unit
1 unit
digunakan juga dalam kegiatan-kegiatan 5. Borehole Camera 1 unit
1 unit
lain yang dilakukan bidang PPDL dan 6. Sumur Pantau + AWLR 1 unit
1 unit
Bangtas. Anggaran yang dialokasikan 7 Mobil Laboratorium 1 unit
1 unit
sebagai berikut: 8. Mobil Pemantauan
9. Atomic Absorbtion
Program Target Realisasi % 10. SLpemecatrroi fAostaommetry (AAS)
PPDL Keuangan Keuangan 90.86
11. BOD Incubator
1.758.204.230 1.597.502.664
12. Alat Uji Emisi Gas Buang
13. Alat Pengujian Kualitas Emisi
Bangtas 2.475.084.560 2.373.587.772 95.90 14. Peralatan pengujian kualitas
air pada Laboratorium
Lingkungan
Tabel 6. Penggunaan Alokasi Anggaran 15. Peralatan pengujian kualitas
udara pada Laboratorium
Sumber: (DLH, 2017b) Lingkungan
Anggaran yang dialokasikan untuk Sumber: (DLH, 2017a)
pelaksanaan kebijakan pengendalian
pencemaran yang disebabkan oleh limbah
cair sudah mencukupi. Dari hasil analisis Karakteristik Organisasi Pelaksana
Karakteristik organisasi pelaksana
efisiensi penggunaan sumber daya
tersebut dapat dikatakan bahwa meliputi Standard Operating Procedure
(SOP) dan Fragmentasi. SOP pengendalian
pencapaian indikator kinerja sasaran dilakukan dengan menilai dan membahas
dilakukan dengan penggunaan sumber dokumen izin lingkungan yang telah
daya yang efisien, karena capaian kinerja diajukan pihak manajemen hotel, adapun
dokumen izin lingkungan berupa AMDAL
menunjukkan persentase keberhasilan dan UKL-UPL. Dokumen AMDAL wajib
yang lebih tinggi daripada prosentase disesuaikan dengan karakteristik hotel
realisasi penggunaan dana. yang akan dibangun apabila hotel memiliki
skala kegiatan yang besar maka
Sarana dan prasarana yang ada di diwajibkan AMDAL apabila skala kegiatan
Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta relatif kecil maka tidak wajib AMDAL dan
sudah mencukupi sehingga pelaksanaan menggunakan UKL-UPL.
kegiatan-kegiatan pengendalian, Fragmentasi adalah tekanan-tekanan
pengawasan maupun pembinaan dapat dari luar unit-unit birokrasi seperti
berjalan dengan lancar. komite-komite legislatif, kelompok
kepentingan pejabat-pejabat eksekutif dan
sifat kebijakan yang mempengaruhi
organisasi birokrasi pemerintah. Tekanan-
tekanan dari luar agen pelaksana dapat
menghambat pelaksanaan kebijakan
sehingga hasil dari sebuah kebijakan
menjadi gagal. Adapun hambatan atau
168
Jurnal Administrasi Publik (Administration Public Journal), 8 (2) Desember 2018: 163-171
tekanan pelaksanaan kebijakan berasal dan pembinaan bersama terhadap pihak
dari lembaga swadaya masyarakat hotel.
khususnya WALHI yang menyatakan
pencemaran limbah cair hotel salah Sikap Para Pelaksana
satunya disebabkan oleh pembangunan Dinas Lingkungan Hidup Kota
hotel yang selalu meningkat pertahunnya,
hal tersebut mengakibatkan jumlah limbah Yogyakarta dalam melaksanakan
cair hotel juga meningkat walaupun diolah kebijakan pengendalian pencemaran
melalui IPAL akan tetapi karna jumlah limbah cair hotel berpedoman kepada
limbah cair hotel juga banyak maka limbah semua peraturan serta SOP yang ada
cair tetap berpotensi mencemari sungai. kemudian dilaksanakan dengan ketat.
Pengawasan yang tidak dapat dilakukan
Komunikasi Organisasi Terkait secara rutin karena keterbatasan SDM di
Adapun komunikasi yang dilakukan kompensasi dengan membuat jadwal rutin
dan melakukan kerjasama dengan instansi
Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta terkait. Adapun pelanggaran yang
adalah dengan memonitor pihak dilakukan oleh pihak manajemen hotel
manajemen hotel yang kesulitan dalam yang limbah cairnya tidak sesuai baku
mentaati aturan yang berlaku dengan mutu, diprioritaskan untuk dibina
memberikan informasi dan saran, dibanding membuat surat rekomendasi
kemudian mengundang pihak manajemen kepada walikota.
hotel untuk mensosialisasikan tentang
baku mutu dan sistematika pelaporan Lingkungan Eksternal
limbah cair. Dinas Lingkungan Hidup Kota Dinas Lingkungan Hidup Kota
Yogyakarta melakukan koordinasi dengan
Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Yogyakarta sebagai fasilitator dan
(BKPRD) dalam urusan tata ruang karena mediator antara pihak masyarakat dengan
apabila tidak ada rekomendasi maka DLH pihak manajemen hotel dan memberi
Kota Yogyakarta kesulitan dalam ruang kepada masyarakat untuk
memberikan izin lingkungan. Dalam menyampaikan keluhan, sehingga
pelaksanaan pengawasan, DLH Kota penyelesaian masalah dapat dilakukan
Yogyakarta bersama dengan Dinas dengan musyawarah. Keluhan yang
Ketertiban, Dinas Perizinan, Dinas berkaitan dengan perizinan dapat
Pariwisata dan dengan pihak PHRI disampaikan melalui UPIK, keluhan terkait
(Perhimpunan Hotel dan Restoran tentang kasus lingkungan yang
Indonesia), mengadakan kerjasama. diakibatkan limbah dapat disampaikan
Adanya kerjasama dengan dinas-dinas melalui pengaduan masyarakat di bidang
terkait baik dalam peninjauan dokumen Bangtas.
lingkungan atau pengawasan dapat
menindak secara tegas jika keadaan di Dengan adanya lingkungan eksternal
lapangan tidak sesuai dengan perencanaan berupa keluhan secara tidak langsung
pada dokumen lingkungan. mendukung proses pelaksanaan kebijakan.
Hal tersebut terjadi karena masyarakat
Koordinasi dengan instansi lain turut serta berpartisipasi dalam
dilakukan agar dapat mendukung pelaksanaan kebijakan dengan melalui
pelaksanaan tugas tidak hanya secara pengaduan-pengaduan yang disampaikan
administratif tetapi juga secara teknis. dan Dinas Lingkungan Hidup Kota
Selain itu Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta merespon aduan tersebut
Yogyakarta juga bekerjasama dengan dengan bertindak sebagai mediator atau
Badan Lingkungan Hidup Daerah Istimewa fasilitator antara masyarakat dan pihak
Yogyakarta untuk melakukan pengawasan manajemen hotel, sehingga pelaksanaan
kebijakan pengendalian pencemaran
169
Oki Oktami Yuda & Eko Priyo Purnomo, Implementasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran Limbah Cair
limbah cair hotel dapat berjalan dengan manajemen hotel secara tegas jika keadaan
baik.
di lapangan tidak sesuai dengan
perencanaan pada dokumen lingkungan.
Faktor Pendukung dan Penghambat Adapun hambatan dalam
Kebijakan pelaksanaan kebijakan pengendalian
Pertama, faktor sarana dan prasarana pencemaran limbah cair adalah adanya
yaitu alat penunjang dalam menjalankan ketidakseimbangan antara jumlah kegiatan
kebijakan yang sudah mencukupi baik dari usaha (hotel) yang harus dipantau dengan
jenis alatnya maupun jumlahnya. Pada jumlah aparatur pelaksana pemantauan,
tahun 2017 laboratorium Dinas hal tersebut menyebabkan kegiatan
Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta sudah pengawasan menjadi terkendala.
terakreditasi oleh Komite Akreditasi
Nasional (KAN) yang mempunyai SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
Dokumen Mutu/SOP sesuai dengan ISO
17025:2008. Adanya laboratorium yang pembahasan yang telah dilakukan dapat
terakreditasi memudahkan Dinas diketahui implementasi kebijakan
pengendalian pencemaran limbah cair oleh
Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta dalam Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta
menguji kualitas limbah, sehingga limbah pada tahun 2017 terlaksana dengan baik,
yang diuji hasilnya dapat akurat dan hal tersebut dapat dilihat capaian kinerja
yang hampir memenuhi target capaian
membuat pengujian limbah menjadi kinerja, penggunaan anggaran yang efisien,
efisien karna sebelumnya Dinas sarana dan prasarana yang sudah
Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta mencukupi untuk operasional, kejelasan
standar operasional prosedur dalam
menggunakan laboratorium UGM pelaksanaan kebijakan, adanya tekanan
Yogyakarta. yang bersifat dorongan dari lembaga
Kedua, komunikasi yang dilakukan swadaya masyarakat terhadap isu isu
limbah cair yang kemudian disampaikan
Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta kepada birokrasi, komunikasi yang
dalam pelaksanaan kebijakan informatif kepada pihak hotel dalam
pengendalian pencemaran limbah cair urusan hak dan kewajiban pihak hotel
terutama masalah limbah cair, adanya
hotel dengan melakukan koordinasi koordinasi dengan pihak stakeholder
bersama Badan Koordinasi Penataan terkait dalam urusan penegakan hukum,
Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta
Ruang Daerah (BKPRD) dalam urusan tata bertindak sebagai mediator antara pihak
ruang. DLH Kota Yogyakarta akan masyarakat yang dirugikan akibat limbah
kesulitan dalam memberikan izin cair hotel dengan pihak manajemen hotel.
Dalam pelaksanaan kebijakan tersebut
lingkungan kepada pihak manajemen hotel masih ada kendala yang berupa kurangnya
apabila tidak ada rekomendasi dari sumber daya manusia, sehingga dalam
BKPRD. Pada pelaksanaan pengawasan pelaksanaan kegiatan pengawasan
menjadi terhambat.
DLH Kota Yogyakarta berkerjasama
dengan Dinas Ketertiban, Dinas Perizinan,
Dinas Pariwisata dan dengan pihak PHRI
(Perhimpunan Hotel dan Restoran
Indonesia). Selain itu Dinas Lingkungan
Hidup Kota Yogyakarta juga bekerjasama
dengan Badan Lingkungan Hidup Daerah
Istimewa Yogyakarta untuk melakukan
pengawasan dan pembinaan bersama
UCAPAN TERIMA KASIH
terhadap pihak hotel. Dengan adanya Penulis haturkan terima kasih kepada
kerjasamadengan dinas-dinas terkait baik
dalam peninjauan dokumen lingkungan Bapak Very Tri Jatmiko Kepala
Pengembangan Kapasitas Lingkungan
atau pengawasan dapat menindak pihak Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota
170
Jurnal Administrasi Publik (Administration Public Journal), 8 (2) Desember 2018: 163-171
Yogyakarta selaku narasumber dalam Faisal. (2012). Validasi Metode AANC Untuk
penelitian ini, penulis haturkan terima
kasih kepada Bapak Eko Priyo Purnomo Pengujian Unsur Mn, Mg dan Cr Pada
yang telah membimbing dalam penelitian Cuplikan Sedimen di Sungai Gajahwong.
ini, dan penulis juga haturkan terima kasih
kepada tim reviewer Jurnal Administrasi Jurnal Iptek Ganendra, 13, 27-36.
Publik Universitas Medan Area.
Hardjanto. (2016). Pelaksanaan Tugas Badan
DAFTAR PUSTAKA Lingkungan Daerah Dalam Bidang
Bahruddin, A. (2015). Penerapan Strategi Badan
Pengawasan Dan Pengendalian Limbah Cair
Lingkungan Hidup dalam Pengendalian
Pencemaran Limbah Cair Hotel di Kota Di Kabupaten Tangerang Menurut Uu No. 32
Yogyakarta (S1), Universitas Negeri Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan
Yogyakarta, Yogyakarta.
BLH. (2015). Data Sumber Pencemar Tahun 2015. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Law Journal
Yogyakarta. Diponegoro, 5, 1-10.
BPS. (2017). Statistik Daerah Kota Yogyakarta 2017.
Yogyakarta: Badan Pusat Statistik Mallongi, A. (2017). Dampak Limbah Cair Dari
Yogyakarta.
DLH. (2016). Basis Data Lingkungan Hidup Kualitas Aktivitas Industri Dan Industri. Yogyakarta:
Air. Yogyakarta: Dinas Lingkungan Hidup Gosyen Publishing.
Kota Yogyakarta.
DLH. (2017a). Buku Profil Dinas Lingkungan Hidup Nugroho, R. (2017). Public Policy. Jakarta: PT Elex
Kota Yogyakarta. Yogyakarta.
DLH. (2017b). Laporan Kinerja Dinas Lingkungan Media Komputindo.
Hidup Kota Yogyakarta Tahun 2017. Purnomo, E. P., P.B. Anand & Jin-Wook Choi (2018)
Yogyakarta.
Elystia. (2012). Efisiensi Metode Multi Soil Layering The complexity and consequences of the
(MSL) Dalam Penyisihan COD Dari LImbah policy implementation dealing, with
Cair Hotel (Studi Kasus Hotel "X" Padang).
Jurnal Teknik Lingkungan, 9, 121-128. sustainable ideas, Journal of Sustainable
Eris, F. R. (2009). Penanganan Masalah
Persampahan Dan Limbah Cair Di Propinsi Forestry, 37:3, 270-285, DOI:
Banten Agroekotek, 1 (1), 36-45. 10.1080/10549811.2017.1406373
WALHI. (2014). Walhi Berharap Pembangunan
Hotel di Yogyakarta Terukur. Retrieved from
http://www.beritasatu.com/kesra/211319-
walhi-berharap-pembangunan-hotel-di-
yogya-terukur.html
Yuliana. (2012). Pengaruh Program Kali Bersih
Terhadap Kesehatan Kawasan Lingkungan
Sungai. Jurnal lmu Pengetahuan dan
Rekayasa.
Peraturan Gubernur DIY Nomor 7 tahun 2016
tentang Baku Mutu Air Limbah
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
171
Chem. Prog. Vol. 9. No. 1, Mei 2016 29
PENGARUH LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU TERHADAP
KUALITAS AIR SUNGAI PAAL 4 KECAMATAN TIKALA
KOTA MANADO
Sepriani1, Jemmy Abidjulu1, Harry S.J. Kolengan1
1Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sam Ratulangi Manado
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian untuk menentukan tingkat pencemaran air sungai Paal 4 di Tikala Manado hasil
pembuangan limbah cair tahu. Parameter yang diukur adalah pH, nitrit (NO2-), nitrat (NO3-), amonium, total
padatan terlarut (TDS), total padatan tersuspensi (TSS), oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen kimiawi (COD)
dan kebutuhan oksigen biokimiawi (BOD). Hasil penelitian menunjukan hampir semua parameter yang diukur
yaitu pH (4,95), Nitrat (232,6082 mg/L), Amonium (0,6533 mg/L), TDS (3510 mg/L), DO (0,83 mg/L), BOD (370
mg/L) dan COD (420 mg/L) melebihi standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam PP No. 28 thn 2001.
Hal ini mengindikasikan bahwa air sungai ini berada pada kondisi sangat tercemar.
Kata kunci: Limbah cair tahu, kualitas air
ABSTRACT
A research had been conducted to determine the pollutan level of Paal 4 river water in Tikala Manado, as a
results of tofu liquid waste discharging. The measured parameters are pH, nitrite (NO2-), nitrate (NO3-),
ammonium, total dissolved solids (TDS ), total suspended solids (TSS), dissolved oxygen (DO), chemical oxygen
demand (COD) and biochemical oxygen demand (BOD). The results showed that almost all of measured
parameters, that is pH (4.95), nitrate (232.6082 mg/L), ammonium (0.6533 mg/L), TDS (3510 mg/L), DO (0.83
mg/L), BOD (370 mg/L) and COD (420 mg/L), exceed the requirement set by government in PP No. 82, 2001.
This indicates that the river water is in a highly polluted condition.
Keywords: Tofu liquid waste, water quality
PENDAHULUAN Adanya bahan anorganik yang tinggi membuat
mikroba dalam perairan menjadi makin aktif dan
Tahu merupakan salah satu makanan dari dapat menguraikan bahan organik tersebut
olahan kedelai. Kota Manado merupakan salah sehingga dapat menghasilkan senyawa-senyawa
satu kota yang banyak ditemukan industri yang dapat merusak kualitas air. Pencemaran
pengolahan tahu, salah satunya pabrik tahu Pasal limbah pabrik tahu merupakan salah satu
4 yang ada di jalan Daan Mogot Paal 4, Kec. penyebab kerusakan lingkungan hidup dan dapat
Tikala, Manado. Proses pengolahan tahu banyak menyebabkan munculnya penyakit pada manusia.
menghasilkan limbah yang berasal dari proses Sehingga diperlukan metode pengujian fisika dan
pencucian, perendaman sampai pencetakan. kimia untuk mengetahui tingkat pencemaran
Limbah yang dihasilkan berupa limbah cair yang terhadap kualitas air sungaiyang ada di Paal 4,
langsung dibuang ke sungai yang mengalir di diantaranya dengan pengujian pH, Biochemical
sekitar pemukiman yang padat penduduk. Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen
Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), nitrat
Limbah cair adalah limbah yang (NO3-), nitrit NO2-), amonia (NH3), Total
mempunyai sifat cair yang mengandung bahan Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolved Solid
organik, anorganik dan lainnya. Bahan organik (TDS). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
dan anorganik adalah bahan yang dapat menentukan konsentrasi pencemaran limbah cair
mengalami degradasi oleh mikroorganisme industri tahu terhadap kualitas air sungai Paal 4.
sehingga dapat mencemari kualitas air sungai.
* Korespondensi :
Telepon: +62 811-430-008
E-mail: [email protected]
DOI: https://doi.org/10.35799/cp.9.1.2016.13910
30 Chem. Prog. Vol. 9. No. 1, Mei 2016
BAHAN DAN METODE diukur absorbansinya pada spektrofotometer λ
543 nm (SNI 01- 3554-2006).
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
Baristand Industri Manado, pada bulan Mei-Juni Penentuan nitrat
2016. Sampel air diambil dari sungai yang berada Sampel sebanyak 50 mL ditambahkan 1
di Paal 4, Kec. Tikala, Manado dengan lima titik
pengambilan. Titik pertama (T1) dan titik kedua mL larutan HCl 1N, diaduk selanjutnya diukur
(T2) terletak pada 25 m dan 10 m sebelum pipa absorbansinya pada spektrofotometer λ 275 nm
pembuangan limbah. Titik Ketiga (T3) terletak (SNI 01- 3554-2006).
pada pipa pembuangan limbah, sedangkan titik
keempat (T4) dan titik kelima (T5) terletak pada Penentuan amonia
10 m dan 25 m sesudah pipa pembuangan limbah. Sampel sebanyak 25 mL, ditambahkan 1
Bahan dan alat mL larutan fenol, 1 mL larutan natrium nitro
Bahan-bahan yang digunakan dalam prusida dan 2,5 mL larutan pengoksidasi.
Selanjutnya contoh ditutup dan di biarkan selama
penelitian ini adalah sampel air sungai, aquades, 1 jam dan diukur absorbansinya λ 640 nm (SNI
larutan asam sulfanilat, larutan naftil etilendiamin 01- 3554-2006).
dihidroklorida, larutan asam klorida 1 M, larutan
fenol, larutan natrium nitro prusida, larutan Penentuan TDS
mangan sulfat, larutan alkaliiodida azida, asam Sebanyak 50 mL sampel disaring dengan
sulfat pekat, larutan natrium tiosulfat 0,025 M,
larutan kalium permanganate 0,033 M, larutan kertas saring. Kertas saring dipindahkan ke dalam
asam oksalat 0,05 M, asam sulfat 0,01 M. cawan. Selanjutnya, diuapkan sampai kering.
Cawan yang berisi padatan terlarut yang sudah
kering dimasukan ke dalam oven pada suhu 180
⁰C selama 1 jam,didinginkan dalam desikator dan
ditimbang (SNI 06-6989. 27-2005).
Penentuan TSS
Sebanyak 50 mL sampel disaring dengan
kertas saring menggunakan cawan Gooch.
Setelah semua contoh tersaring, cawan Gooch
yang berisi kertas saring dan residu dimasukkan
kedalam oven dan dikeringkan selama 1 jam pada
suhu 103oC-105 oC. Setelah itu cawan
dikeluarkan dari dalam oven, didinginkan dalam
desikator dan ditimbang (SNI 06-6989.3-2004).
Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel Penentuan DO
Sebanyak 50 mL sampel, ditambahkan 1
Peralatan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah spektrofotometer UV-Vis, pH meter, mL MnSO4 dan 1 mL alkali iodida azida, 1 mL
oven, neraca analitik, cawan Gooch, kertas saring H2SO4, dihomogenkan, dititrasi dengan
dengan ukuran pori 0,45 µm dan peralatan gelas Na2S2O3(SNI 06-6989.14-2004).
kimia.
Penentuan BOD
Penetuan pH Sampel dimasukan ke dalam botol winkler,
Sampel dimasukan ke dalam wadah dan
kemudian diinkubasi pada suhu 20 oC. 100 mL
dibaca pada pH meter (SNI 01-3554-2006). contoh ke dalam Erlenmeyer, ditambahkan 1 mL
MnSO4 dan 1 mL alkali iodida azida,1 mL H2SO4
selanjutnya dititrasi dengan Na2S2O3 (SNI
6989.72.-2009).
Penentuan Nitrit Penentuan COD
Sampel sebanyak 50 mL ditambahkan 1 Sebanyak 50 mL sampel ditambahkan 0,5
mL asam sulfanilat dan 1 mL larutan naftil mL asam sulfat 0,02 N, 1 mL Kalium
etilendiamin dihidroklorida, diaduk selanjutnya permanganat 0,1 N, dipanaskan. Didiamkan
danditambahkan larutan asam oksalat 0,1N
Chem. Prog. Vol. 9. No. 1, Mei 2016 31
sebanyak 1 mL. Contoh dititrasi dalam keadaan cair ini menghasilkan zat organik yang mudah
panas dengan larutan kalium permanganat 0,1 N dioksidasi oleh mikroorganisme yang ada di
perairan sehingga menghasilkan amonia. Kadar
hingga larutan berwarna merah muda. amonia yang tinggi akan mengganggu
pertumbuhan ikan dan biota perairan lainnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perubahan konsentrasi TDS dapat
Hasil pengukuran pH pada lima titik di berbahaya karena kepadatan air menentukan
aliran air masuk dan keluar dari sel-sel
perairan sungai Paal 4 yang dialiri buangan organisme. Nilai konsentrasi TDS yang tinggi
akan mengurangi kejernihan air dan berakibat
limbah cair pabrik tahu mempunyai kisaran nilai buruk pada tanaman air untuk melakukan
fotosintesis.Berdasarkan PP RI No. 82 Tahun
yang bervariasi. Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 tentang Kualitas Air Sungai, total padatan
terlarut (TDS) maksimum adalah 1000 mg/L.
2001 tentang pengolahan kualitas air dan Dari hasil analisa sampel air di lima titik ada satu
titik yang mengandung kadar nilai TDS sangat
pengendalian pencemaran air menetapkan nilai tinggi yaitu 3510 mg/L. Hal ini disebabkan oleh
hasil pembuangan limbah cair industri tahu yang
baku air berada pada kisaran pH 6-9. Dari hasil mengandung bahan organik dan nitrogen. Untuk
titik lainnya masih berada di bawah standar baku
penelitian yang dilakukan pada lima titik mutu sesuai dengan PP No. 82 tahun 2001.
pengambilan sampel menunjukan penurunan dari Dari hasil pengujian parameter TSS pada
setiap titik pengambilan sampel, titik T2 dan T3
titik T1 ke T3 dengan nilai T1 sebesar 6,65, T2 memiliki nilai paling tinggi dibandingkan dengan
tiga titik lainnya yaitu 20 mg/L, untuk titik T1,
6,67 dan T3 sebesar 4,95. T3 merupakan satu titik T4 dan T5 yaitu 10 mg/L. Keseluruhan untuk
nilai hasil analisa, semua masih berada pada
yang tidak memenuhi baku mutu dengan nilai pH standar baku mutu berdasarkan PP No. 82 tahun
2001 yaitu 50 mg/L. Hal ini menunjukan bahwa
dibawah 6 yaitu 4,95. Hal ini disebabkan oleh limbah yang dibuang ke sungai tidak
mengandung padatan yang dapat mempengaruhi
buangan limbah cair dari pabriktahu tersebut. kualitas air sungai tersebut. Dilihat dari hasil
analisa yang dilakukan konsentrasi total padatan
Limbah tersebut mengandung senyawa organik yang tersuspensi pada semua titik masih berada
dibawah standar baku mutu.
yang dapat menurunkan nilai pH sehingga air
Berdasarkan Tabel 1, hasil pengukuran
sungai akan bersifat asam. Selain bersifat asam, oksigen terlarut (DO) di lima titik memiliki
rentang nilai 0,83 mg/L sampai 8,78 mg/L,
rendahnya nilai pH ini akan menurunkan kadar dengan nilai DO yang terendah berada pada T3
yaitu pada pipa pembuangan limbah dengan nilai
oksigen terlarut dalam perairan yang akan 0.83 mg/L. Nilai ini tidak memenuhi standar baku
mutu untuk DO yaitu 6 mg/L. Berdasarkan
mengakibatkan kematian pada biota yang ada di penelitian yang dilakukan Wardhana, 2004 dalam
Ali dkk. (2013) menyatakan bahwa air yang telah
perairan tersebut. tercemar kandungan oksigennya sangat rendah,
makin banyak bahan buangan organik di dalam
Berdasarkan hasil yang diperoleh, air makin sedikit sisa kandungan oksigen yang
terlarut di dalam air. Penurunan kadar DO ini
kandungan nitrit dalam perairan ini masih stabil disebabkan oleh banyaknya zat organik yang
dihasilkan dari limbah cair pabrik tahu yang
dan belum mencemari perairan tersebut. Hal ini langsung dibuang ke perairan. Rendahnya nilai
oksigen terlarut dalam air akan berdampak buruk
karena nitrit segera dioksidasi menjadi nitrat. bagi kehidupan biota yang ada di dalam perairan
tersebut.
Prinsip pengukuran nitrit berdasarkan
pembentukan warna ungu kemerahan yang
terbentuk pada larutan contoh yang mengandung
nitrit ditambahkan dengan asam sulfanilat dan N-
(1-naftil etilendiamin-dihidroklorida) pada pH
2,0–5,2. Panjang gelombang yang digunakan
adalah 543 nm.Jika kadar nitrat dalam perairan
tinggi atau lebih dari 0,2 mg/L, dapat
mengakibatkan terjadinya eutrofikasi yang dapat
merangsang pertumbuhan fitoplankton dengan
cepat (blooming). Tingginya kadar nitrat ini akan
mempengaruhi kehidupan organisme dalam
perairan.
Berdasarkan tabel kadar amonia pada air
sungai Paal 4 mengandung kadar amonia berbeda
di lima titik pengambilan sampel. Dari ke lima
titik ini, ada satu titik yang mengandung kadar
amonia paling tinggi dan melampaui syarat baku
mutu air, yaitu pada titik T3 dengan nilai 0,6533
mg/L, sedangkan berdasarkan baku mutu air,
kadar amonia tidak boleh lebih dari 0.5 mg/L.
Tingginya kadar amonia pada T3 disebabkan oleh
buangan limbah cair industri tahu yang dibuang
ke perairan tempat pengambilan sampel. Limbah
32 Chem. Prog. Vol. 9. No. 1, Mei 2016
Tabel 1. Hasil analisis kualitas air sungai Paal 4, Kecamatan Tikala, Manado
No Parameter BM Titik 1 Titik2 Titik 3 Titik 4 Titik 5
6.65 6.67 4.95 6.55 6.66
1. pH 6-9 -0.0071 0.0105 0.0484 0.0253 0.0055
2. Nitrit (mg/L) 0,06
4.2927 4.4273 232.6082 4.543 3.9919
3. Nitrat (mg/L) 10 0.0336 0.0381 0.6533 0.0634 0.0491
4. Amonium (mg/L) - 220 230 3510 200 210
10 20 20 10 10
5. TDS (mg/L) 1000
8.78 8.56 0.83 8.62 8.49
6. TSS (mg/L) 50
48.6 52 371 56.4 51
7. DO (mg/L) 4 78 89 420 90 75
8. BOD (mg/L) 3
9. COD (mg/L) 25
Sumber: Data primer (2016), baku mutu air mengacu pada PP No. 82 tahun 2001
BOD adalah jumlah oksigen terlarut yang disebabkan oleh buangan limbah cair yang
dibutuhkan oleh bakteri pengurai untuk bersumber dari industri tahu yang membuang
menguraikan bahan pencemar organik dalam air. limbah langsung ke perairan tanpa melalui
Makin besar konsentrasi BOD suatu perairan, proses pengolahan yang baik.
menunjukan konsentrasi bahan organik di dalam
air juga tinggi (Yudo, 2010 dalam Ali dkk., KESIMPULAN
2013). Semua titik memiliki konsentrasi BOD
yang tinggi melampaui standar baku mutu air Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan
yang ditetapkan berdasarkan PP No. 82 tahun bahwa kualitas air sungai Paal 4 telah
2001 tentang kualitas air sungai. Dari ke lima mengalami penurunan kualitas air bagi
titik tersebut, titik T3 memiliki kadar peruntukannya. Penurunan kualitas ini dilihat
konsentrasi BOD paling tinggi. Hal ini dari beberapa pengujian parameter fisika dan
disebabkan karena kandungan limbah organik kimia yang menunjukan kadar pH, Nitrit (NO2-),
yang dihasilkan dari pembuangan limbah cair nitrat (NO3-), amonia, total padatan terlarut
industri tahu. Tarigan dkk., (2013) menyatakan (TDS), oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen
bahwa perairan yang mengandung BOD lebih kimiawi (COD) dan kebutuhan oksigen
dari 10 mg/L berarti perairan ersebut telah biokimiawi (BOD) yang memiliki nilai
tercemar oleh bahan organik, sedangkan apabila melampaui baku mutu yang ditetapkan sesuai
dibawah 3 mg/L berarti perairan tersebut masih pada PP No. 82 tahun 2001. Pencemaran ini
cukup bersih. Nilai BOD dari T1, T2, T3, T4 disebabkan oleh kandungan bahan organik dan
dan T5 yaitu 48,6 mg/L, 52 mg/L, 371 mg/L, anorganik yang berasal dari limbah cair industri
56,4 mg/L dan 51 mg/L. Semua titik tersebut tahu yang dibuang ke perairan tanpa melalui
memiliki kadar BOD yang tidak memenuhi pengolahan yang baik.
standar baku mutu air yang telah ditetapkan
pada PP No. 82 tahun 2001 yaitu 2 mg/L. Hal ini DAFTAR PUSTAKA
menunjukan bahwa perairan tersebut telah
tercemar dan tidak sesuai lagi untuk Adack, J. 2013. Dampak pencemaran limbah
peruntukannya. pabriktahu terhadap lingkungan hidup.
Jurnal Lex Administratum. 1(3), 78-87.
Berdasarkan data nilai COD yang terbesar
berada pada T1 78 mg/L, T2 89 mg/L, T3 423 Agustira, R., Kemala, S.L. & Jamilah. 2013.
mg/L, T4 90 mg/L dan T5 75 mg/L. Dalam PP Kajian karakteristik kimia air, fisika air
RI No. 82 Tahun 2001 nilai maksimum COD dan debit sungai pada kawasan DAS
yang diperbolehkan adalah 10 mg/L. Semua Padang akibat pembuangan limbah
nilai pada titik pengambilan contoh tidak ada tapioka. Jurnal Agroekoteknolog. 1 (2),
yang memenuhi syarat baku mutu. Tingginya 615-625.
kadar COD ini mengindikasikan semakin
besarnya tingkat pencemaran yang terjadi. Ali, A., Soemarno & Mangku P. 2013. Kajian
Peningkatan nilai COD yang sangat tinggi ini kualitas air dan status mutu air sungai
Chem. Prog. Vol. 9. No. 1, Mei 2016 33
metro di Kecamatan Sukun Kota Malang. Anonim. SNI 06-6989.14-2004. Cara uji oksigen
Jurnal Bumi Lestai. 13(2): 265-274. terlarut (Modifikasi Azida). Badan
Anonim. SNI 01-3554-2006. Cara uji pH. Badan Stadardisasi Nasional.
Stadardisasi Nasional.
Anonim. SNI 01-3554-2006. Cara uji nitrit. Anonim. SNI 6989.72.-2009. Cara uji
Badan Stadardisasi Nasional. biochemical oxigen demand. Badan
Anonim. SNI 01-3554-2006. Cara uji nitrat. Stadardisasi Nasional.
Badan Stadardisasi Nasional.
Anonim. SNI 01-3554-2006. Cara uji amoniak. Menteri Negara KLH. 1991. Keputusan Menteri
Badan Stadardisasi Nasional. Negara Kependudukan dan Lingkungan
Anonim. SNI 06-6989. 27-2005. Cara uji total Hidup No. Kep- 03/MENKLH/II/1991,
disolved solid. Badan Stadardisasi tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu
Nasional. Lingkungan, Jakarta.
Anonim. SNI 06-6989.3-2004. Cara uji total
suspensi solid. Badan Stadardisasi Tarigan, A., Markus T. L. & Sandra O.T. 2013.
Nasional. Kajian kualitas limbah cair domestik di
beberapa sungai yang melintasi Kota
Manado dari aspek bahan organik dan
anorganik. Jurnal Pesisir dan Laut
Tropis.1(1), 55-62.
Reka Lingkungan ©Teknik Lingkungan Itenas | No.2 | Vol.1
Jurnal Institut Teknologi Nasional [OKtober 2013]
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan
pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4)
serta Pemanfaatannya
ULUM MUNAWAROH1, MUMU SUTISNA1, KANCITRA PHARMAWATI1
1. Jurusan Teknik Lingkungan (Institut Teknologi Nasional
Bandung)
Email : ([email protected])
ABSTRAK
Limbah cair tahu mengandung berbagai jenis pencemar lingkungan, misalnya BOD5,
COD, TSS dan pH. Pembuangan limbah cair tahu ke badan air tanpa proses
penanganan yang baik akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan,
sehingga diperlukan suatu pengolahan limbah cair, salah satunya dengan EM4.
Penelitian ini menggunakan prinsip reaktor batch dengan cara mencampurkan
reaktan dalam suatu reaktor selama waktu tertentu. Reaktor yang digunakan
berkapasitas 8 Liter dengan volume operasional 6 Liter. Variasi perlakuan pada
penelitian ini yaitu tanpa EM4 (P1), menggunakan EM4 sebanyak 300 mL (P2) dan
600 mL EM4 (P3). Parameter yang diukur BOD5, COD, TSS, pH, N, P, dan K dengan
waktu kontak selama 20 hari. Hasil penelitian P2 menunjukan pengolahan limbah
cair tahu menggunakan EM4 mampu menurunkan nilai BOD5 97%, COD 96% di hari
ke-5, P 0,001231% di hari ke-20, serta meningkatkan pH menjadi 7,26 di hari ke-
15, TSS 1.545 mg/L di hari ke-20, N 1,12% di hari ke-20 dan K2O 0,2% di hari ke
20. Selain itu hasil uji terhadap Capsicum frutescens L menunjukan P2 berpotensi
sebagai nutrisi tanaman dengan laju pertumbuhan 25,3% dan tumbuhnya bakal
cabang dalam waktu kontak 12 hari.
Kata kunci: Limbah Cair Tahu, EM4, Sistem Batch.
ABSTRACT
Tofu liquid waste is containing a lot of environment polluters such as BOD5, COD,
TSS, and pH. The exile of tofu liquid waste in water without a good treatment have
decreasing of environment quality, so it needs a liquid waste treatment, there was
using EM4. The research concept is using the principle of a batch reactor with
combining the reactants in a reactor during a specific time.The reactor have 8 liters
capacity with 6 liters operational volume. There was some variations of the
treatment, such us : without EM4 (P1); use the EM4 with different volume 300 mL
(P2) and 600 mL EM4 (P3). The parameters measured are BOD5, COD, TSS, pH, N,
P, and K with contact time for 20 days. Results of P2 showed that liquid waste
treatment using EM4 has reduced the value of BOD5 to 97%, COD to 96% on day
5th, the value of P 0,001231% on day 20th, and has increased pH value to 7,26 on
day 10th, TSS to 1.545 mg/L on day 20th, N to 1,12% on day 20th and K2O to 0.2%
day 20th. The result of research which also in Capsicum frutescens L showed that P2
is potential as a plant nutrient with growth up to 25.3% and the branch has growth
up within 12 days.
Keywords: Tofu liquid waste, EM4, Batch system.
[Reka Lingkungan] – 93
Ulum Munawaroh, Mumu Sutisna, Kancitra Pharmawati
1. PENDAHULUAN
Setiap tahapan proses pembuatan tahu umumnya menggunakan air dengan jumlah yang relatif
banyak. Proses akhir dari pembuatan tahu selain memproduksi tahu juga dapat menimbulkan
limbah cair sebanyak 1,5-2 m3/hari (Nurhasan dan Pramudyanto, 1991). Limbah cair tahu
(Whey) mengandung banyak senyawa organik seperti protein 40-60%, karbohidrat 25-50%,
dan lemak 10% (Fitriyah, 2011). Sebagian besar industri tahu masih belum memiliki instalasi
pengolahan limbah cair, sehingga para pengusaha industri tahu membuang limbah cairnya ke
badan perairan yang apabila melebihi daya dukung lingkungan dapat menurunkan kualitas
lingkungan (Nurhasan, 1997). Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dilakukan penelitian
untuk menurunkan parameter pencemar lingkungan menggunakan Efektif Mikroorgnisme 4
(EM4) dengan sistem batch. EM4 merupakan kultur campuran mikroorganisme yang bersifat
fermentatif (peragian) terdiri dari bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas sp.), jamur
fermentasi (Saccharomzyces sp.), bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.), Actinomycetes,
ragi/yeast yang berfungsi untuk menurunkan parameter pencemar dan meningkatkan unsur
hara. (Fitria, 2008). Penelitian mengenai penggunaan EM4 dalam mengolah limbah cair tahu
sebelumnya pernah dilakukan oleh Noviana tahun 2009 dan Jasmiayati tahun 2011 dengan
efisiensi penyisihan BiochemicalOxygen Demand (BOD5) sebesar 95,9% dan 93,6%. Sedangkan
efisiensi untuk Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 93,2% dan 97,8%. Sehubungan
dengan kedua penelitiantersebut hanya sampai pada efisiensi penurunan parameter BOD5 dan
COD, oleh karena itu maksud dari penelitian ini diharapkan dapat menurunkan parameter
pencemar, selain itu juga hasil akhir dari proses degradasi senyawa organik oleh bakteri yang
terdapat pada EM4 diharapkan dapat menetralkan pH dan meningkatkan unsur hara yang
bermanfaat bagi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penurunan yang
optimum dari parameter pencemar lingkungan, dan peningkatan yang optimum pada pH,
Nitrogen (N), Fosfor (P) dan Kalium (K). Selain itu juga mengetahui penggunaan hasil degradasi
limbah cair tahu menggunakan EM4 pada tanaman Capsicum frutescens L (Cabe Rawit).
2. METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan wadah plastik (reaktor)
berkapasitas 8 Liter dengan diameter 26 cm dan tinggi 21 cm , bahan yang digunakan untuk
mengolah limbah cair tahu yaitu EM4. Sampel operasional yang digunakan pada setiap
perlakuan sebanyak 6 Liter. Sistem yang digunakan pada penelitian ini yaitu sistem batch.
Secara garis besar prinsip dari reaktor batch yang digunakan yaitu reaktor diisi dengan reaktan
dan disimpan selama waktu tertentu yang kemudian dilihat perubahan kualitasnya pada selang
waktu tertentu. Tahapan penelitian yang dilakukan terdiri dari penelitian pendahuluan,
penelitian inti dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan yaitu proses
pencampuran/pengenceran EM4 dengan aquades menggunakan perbandingan 1/20 (5%) yang
kemudian didiamkan (difermentasikan) selama 5-7 hari di suhu ruang. Proses tersebut
bertujuan untuk mengembangbiakan mikroorganisme dan mengaktifkan mikroorganisme yang
ada pada EM4 dari kondisi dorman, sehingga mikroorganisme dapat bekerja dengan efisien dan
optimal pada saat dicampurkan kedalam limbah cair. EM4 yang sudah aktif kemudian digunakan
pada penelitian utama sebagai bahan dasar pencampuran limbah cair tahu. Penelitian utama
dilakukan selama 20 hari dengan variasi perlakuan (P1) limbah cair tahu 6.000 mL, (P2) limbah
cair tahu 5.700 mL+300 mL {5%} EM4 dan (P3) limbah cair tahu 5.400 mL+600 mL {10%}
EM4. Penggunaan 5% EM4 pada limbah cair tahu mengacu kepada dosis optimum pada
penelitian sebelumnya (Jasmiyati dkk. 2010), sedangkan penggunaan 10% mengacu kepada
prosedur penggunaan EM4 untuk pengolahan limbah
Reka Lingkungan – 94
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatanya
cair organik. Pengukuran analisa BOD5, COD, TSS dan pH dilakukan setiap 5 hari sekali
sedangkan untuk mengetahui peningkatan unsur hara dilakukan pengukuran parameter N,
P2O5, K2O sebelum pengolahan (hari ke-0), di pertengahan (hari ke-10) dan di akhir
pengolahan (hari ke-20), tujuannya untuk melihat perubahan kualitas pada selang waktu
tertentu. Metode yang digunakan untuk pengukuran analisa masing-masing parameter
yaitu titrasi Winkler, repluks tertutup, gravimetri, pHmeter, reduksi katalis Kjeldahl,
spektrofotometri, Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Secara umum bagan alir metode
penelitian terdapat pada Gambar 1.
Mulai
Studi Literatur
Tahap Persiapan :
• Sampling
• Persiapan Alat da Bahan
Penelitian Pendahuluan :
• Pengecekan pH EM4
• Pengaktifan EM4 (EM4 dicampurkan dengan
Aquades menggunakan perbandingan 1/20 (5%)
kemudian difermentasikan selama 5-7 hari
Penelitian Inti
• Perlakuan P1 (Limbah cair tahu saja sebagai Kontrol)
• Perlakuan P2 (Limbah cair tahu + EM4 dengan perbandingan
1/20 {5%})
• Perlakuan P3 (Limbah cair tahu + EM4 dengan
perbandingan 1/10{10%})
• Pengukuran parameter BOD, COD dan pH per 5 hari
(0, 5, 10, 15, 20) dan parameter N, P, dn K per 10 hari (0, 10, 20)
Pengolahan Data dan dipilih kondisi optimum
Penelitian Lanjutan
• Perlakuan P1 (Penyiraman tanaman uji dengan air bersih)
• Perlakuan P2 (Penyiraman tanaman uji dengan limbah cair hasil
perlakuan yang optimum dilihat dari nilai NPK setiap 1 minggu
sekali)
• Perlakuan P3 (Penyiraman tanaman uji dengan pupuk anorganik
setiap 1 minggu sekali)
• Pengamatan terhadap tanaman meliputi (tinggi batang, ∑ daun)
Analisis dan Pembahasan
Selesai
Gambar 1 Bagan Alir Metodologi Penelitian
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatannya – 95
Ulum Munawaroh, Mumu Sutisna, Kancitra Pharmawati
3. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1 Penelitian Pendahulan
Penelitian pendahuluan merupakan proses pengaktifan EM4 dengan cara
diencerkan/dicampurkan dengan aquades menggunakan perbandingan 1/20 (5%) yang
kemudian didiamkan (difermentasikan) selama 7 hari di suhu ruang. Kondisi EM4 yang
sudah aktif ditandai dengan adanya peningkatan pH pada EM4 yaitu pH > 4, berbau sedap
(bau glukosa) serta terdapat lapisan putih diatas permukaan larutan EM4 (Isa, 2008). Hasil
penelitian pendahuluan yaitu nilai pH pada EM4 mengalami kenaikan dari 2,9 menjadi 4,17
yang ditandai dengan adanya lapisan putih di atas permukaan. Hal ini menunjukan bahwa
EM4 sudah siap untuk digunakan dalam penelitian.
3.2 Penelitian Utama
Sebelum dilakukan penelitian menggunakan EM4 terlebih dahulu dilakukan pengukuran
karakteristik limbah cair industri tahu pada hari ke-0 berdasarkan Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No 51 Tahun 1995. Hasil pengukuran yang diperoleh ditampilkan
dalam Tabel 1
Tabel 1 Karakteristik Awal Limbah Cair Industri Tahu
No Parameter Satuan Hasil Pengujian Baku Mutu*
1 BOD5 mg/L 7.800ˆ 150
2 COD mg/L 9.256ˆ 300
3 TSS mg/L 330 400
4 pH 4,19ˆ 6,0 sampai 9,0
Sumber : Hasil Pengukuran 2013
Keterangan : ˆ tidak memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan
*KepMenLH no 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Untuk Limbah Cair Industri
Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa parameter yang tidak memenuhi baku mutu yaitu
BOD5 (7.800 mg/L), COD (9.256 mg/L) dan pH 4,19, oleh karena itu diperlukan suatu
pengolahan limbah cair agar tidak membahayakan lingkungan. Parameter TSS pada Tabel 1
masih memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan, akan tetapi pada penelitian ini tetap
dilakukan pengukuran parameter TSS tujuannya untuk melihat pengaruh pengolahan yang
dilakukan pada limbah cair tahu terhadap konsentrasi TSS.
3.2.1 Analisa BOD5(Biochemical Oxygen Demand)
Hasil perhitungan analisa BOD5 dan hasil perhitungan efisiensi penyisihan BOD5 selama
proses pengolahan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Analisa Pengukuran BOD5
Hari Konsentrasi BOD5 (mg/l) Baku Efesiensi Penyisihan (ŋ) %
Ke- P1 P2 P3 mutu P1 P2 P3
mg/l
0 7.800,0^ 7.800,0^ 7.800,0^ 0 00
5 690,8^ 252,8^ 543,4^ 91 97 93
10 402,9^ 273,5^ 311,2^ 150 95 96 96
15 402,8^ 283,5^ 308,2^ 95 96 96
20 401,0^ 381,1^ 379,0^ 95 95 95
Sumber : Hasil Penelitian, 2013
*Standar Baku Mutu KepMenLH no 51 Tahun 1995Tentang Baku Mutu Kegiatan Industri lampiran C.
ˆ tidak memenuhi standar baku mutu yang dipersyaratkan
Keterangan :
0 hari = Kondisi eksisting sebelum pengolahan
P1 I = limbah cair tahu (kontrol)
P2 II = limbah cair tahu+ 5% EM4 (300 ml)
P3 III = limbah cair tahu+ 10% EM4 (600 ml)
Berdasarkan Tabel 2 penurunan konsentrasi BOD5 pada hari ke-5 untuk P1 yaitu 690,8 mg/L
dengan efisiensi penyisihan 91%. Hal ini menujukan karena proses dekomposisi senyawa
Reka Lingkungan – 96
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatanya
organik terjadi secara alamiah dalam limbah, sehingga nilai BOD5 juga menurun selama
proses pengolahan. Konsentrasi BOD5 pada hari ke-5 untuk P2 dan P3 cenderung lebih
cepat dibanding dengan P1, yaitu 252,8 mg/L untuk P2 dan 543,4 mg/L untuk P3 dengan
efisiensi sebesar 97% dan 93%. Hal ini menujukkan adanya aktivitas dari bakteri asam
laktat (Lactobacillus sp.) yang terdapat dalam EM4 pada perlakuan P2 dan P3. Bakteri
tersebutmemfermentasikan bahan organik limbah cair tahu menjadi senyawa asam laktat
yang berfungsi untuk mempercepat perombakan bahan organik (Isa, 2008). Selain itu
adanya kerjasama antara bakteri asam laktat yang terkandung dalam EM4 dengan jamur
fermentasi (Saccharomzyces sp) yang juga terkandung dalam EM4 dalam memfermentasi
bahanorganik menjadi senyawa-senyawa organik yang lebih sederhana sehingga
cenderung lebih cepat dibanding dengan proses dekomposisi senyawa organik alamiah
dalam limbah cair tahu. Mekanisme penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme yaitu
(Takwayana,2012) :
COHNS + O2 + mikroorganisme CO2 +NH3 + C5H7NO2 + produk lain ........................(1)
(Sel bakteri baru)
Berdasarkan reaksi (1) tersebut mikroorganisme merombak bahan organik menjadi
senyawa organik yang lebih sederhana seperti CO2 dan NH3(Takwayana, 2012), dengan
adanya penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana secara tidak
langsung dapat menurunkan nilai BOD5(Avlenda, 2009). Sama halnya dengan hari ke-5, P1
(limbah cair tahu) pada hari ke-10 juga mengalami penurunan konsentrasi BOD5 yaitu
402,9 mg/L dengan efisiensi penyisihan sebesar 95%. Hal ini menunjukan bahwa
kemampuan pengolahan berkaitan dengan lamanya pemberian perlakuan maka semakin
lama limbah cair tahu diperlakukan semakin besar pula penurunan BOD5, akan tetapi
penurunan konsentrasi BOD5 pada hari ke-15 sampai dengan hari ke-20 cenderung
stasioner yang nantinya dilanjut pada fase kematian mikroorgaisme. Beda halnya dengan
P1, pada hari ke-10 konsentrasi BOD5 untuk P2 mengalami peningkatan menjadi 273,5
mg/L. Hal ini menunjukan bahwa penguraian bahan organik berlangsung lambat akibat
mikroorganisme yang terkandung dalam EM4 mengalami kejenuhan akan nutrient sehingga
konsentrasi BOD5 meningkat dan efisiensi menurun menjadi 96%.
Menurut Effendi (2003) dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap.
Tahap pertama bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik, sedangkan tahap kedua
bahan anorganik yang tidak stabil dioksidasi menjadi bahan anorganik yang stabil, misalnya
ammonia menjadi nitrit dan nitrat (Nitrifikasi). Pada penentuan nilai BOD, yang berperan hanya
tahap pertama sedangkan tahap kedua yaitu oksidasi bahan anorganik dianggap sebagai
pengganggu karena proses oksidasi amnoia juga memerlukan oksigen. Kondisi tersebut
diperkuat dengan penelitian pada hari ke-15 sampai dengan hari ke-20 konsentrasi BOD5
meningkat sehingga penguraian bahan organik berlangsung lambat karena pada hari ke-15 dan
hari ke-20 pH pada limbah cair mengalami peningkatan yaitu 7,26 dan 8,17 serta menimbulkan
bau busuk oleh gas amoniak. Adanya peningkatan pH serta ditandai dengan adanya bau gas
amonia di hari ke-15 dan hari ke-20 menunjukan bahwa proses yang berlangsung merupakan
proses oksidasi ammonia yang dianggap sebagai pengganggu. Berbeda halnya dengan P2
konsentrasi BOD5 pada hari ke-10 untuk P3 mengalami penurunan yaitu 311,2 mg/L dengan
efisiensi penyisihan 96% dan hari ke-15 konsentrasinya menjadi 308,2 mg/L dengan efisiensi
penyisihan 96%. Hal ini menunjukan bahwa bertambahnya waktu kontak dalam proses
bioremediasi maka konsentrasi BOD5 semakin menurun karena tempat kontak antara
mikroorganisme dan limbah cair tahu tersedia cukup banyak, sehingga interaksi antara EM4
dengan limbah cair tahu berlangsung dengan baik (Jasmatiyi dkk. 2010). Hari ke-20 konsentrasi
BOD5mengalami peningkatan menjadi 379,0mg/L dengan efisiensi penyisihan 95%, hal ini
menunjukan jumlah bahan organik/nutrient dalam limbah cair mulai berkurang sehingga
populasi mikroorganisme menjadi berkurang.
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatannya – 97
Ulum Munawaroh, Mumu Sutisna, Kancitra Pharmawati
Perlakuan yang cukup baik dalam menurunkan parameter BOD5 yaitu P2 dengan efisiensi
penyisihan 97% di hari ke-5, tetapi konsentrasi akhir BOD5 masih melebihi baku mutu yang
dipersyaratkan oleh KepMenLH no 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Untuk
Kegiatan Industri. Hal ini karena suplai oksigen kurang baik sehubungan dengan pada saat
penelitian, oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri dalam mendegradasi senyawa organik
hanya memanfaatkan oksigen yang terdapat di atmosfer karena bakteri yang terdapat pada
EM4 merupakan bakteri aerob yang membutuhkan oksigen bebas (Jasmiyati dkk. 2010).
Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya diperlukan suplai oksigen yang secara terus
menerus tujuannya untuk mengoptimalkan proses pengolahan, sehingga konsentrasi BOD5
dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Akan tetapi pengolahan limbah cair tahu
menggunakan EM4 dapat dikatakan memiliki efisiensi pengolahan yang cukup baik karena
mampu menyisihkan BOD5 sebanyak 97% pada hari ke-5.
3.2.2 COD (Chemical Oxygen Demand)
Angka COD menunjukkan jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan organik yang
terdapat pada limbah cair dapat teroksidasi secara kimia baik yang dapat didegradasi oleh
mikroorganisme maupun yang sukar terdegradasi (Mulyadi, 1994). Mekanisme penguraian
bahan organik secara kimia yang dapat didegradasi oleh mikroorganisme maupun sukar
didegradasi yaitu (Takwayana, 2012) :
CxHyOz + Cr2O72- + H+ CO2 + H2O + Cr3+.............................................................. (2)
Berdasarkan reaksi (2) bahan buangan organik dioksidasi oleh kalium bikromat menjadi gas
CO2 dan H2O serta sejumlah ion krom. Kalium bikromat (K2Cr2O 7) digunakan sebagai
penyuplai oksigen (oxidizing agent). Jumlah oksigen yang diperlukan untuk reaksi oksidasi
terhadap bahan buangan organik sama dengan jumlah kalium bikarbonat yang digunakan
pada reaksi oksidasi (Takwayana, 2012). Hasil perhitungan analisa COD tidak berbeda jauh
dengan hasil penurunan kadar BOD5, kondisi tersebut dapat dilihat pada Tabel 3
Tabel 3 Analisa Konsentrasi COD
HARI Konsentrasi COD (mg/l) Baku Efesiensi Penyisihan (ŋ) %
KE- mutu* P1 P2 P3
P1 P2 P3
mg/l
0 9.256^ 9.256^ 9.256^ 00 0
5 760^ 360^ 600^ 92 96 94
10 520^ 360^ 400^ 300 94 96 96
15 640^ 400^ 360^ 93 96 96
20 640^ 480^ 440^ 93 95 95
Sumber : Hasil Penelitian, 2013
*Standar Baku Mutu KepMenLH no 51 Tahun 1995Tentang Baku Mutu Kegiatan Industri lampiran C
Berdasarkan Tabel 3 penurunan konsentrasi COD pada hari ke-5 untuk P1 yaitu 760 mg/L
dengan efisiensi penyisihan 92%. Hal ini karena proses dekomposisi senyawa organik terjadi
secara alamiah dalam limbah, sehingga nilai COD juga menurun selama proses pengolahan.
Konsentrasi COD pada hari ke-5 untuk P2 dan P3 cenderung lebih cepat dibanding dengan P1
yaitu 360 mg/L untuk P dan 600 mg/L untuk P3 dengan efisiensi penyisihan sebesar 96% dan
94%. Hal ini menujukkan karena aktivitas dari bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.) yang
terdapat dalam EM4 pada P2 dan P3 memfermentasikan bahan organik limbah cair tahu
menjadi senyawa asam laktat yang berfungsi untuk mempercepat perombakan bahan organik
(Isa, 2008). Selain itu adanya bantuan enzim protease yang dihasilkan oleh berbagai jenis
mikroba yang terdapat pada EM4 mulai dari bakteri, kapang dan khamir. Protease merupakan
enzim yang berperan dalam reaksi yang melibatkan pemecahan protein diantaranya menjadi
amonia, nitrit, nitrat, CO2, H2O (Fitria, 2008). Adanya proses pemecahan atau penguraian
senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana secara
Reka Lingkungan – 98
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatanya
tidak langsung dapat menurunkan nilai COD (Avlenda, 2009). Sama halnya dengan hari ke-5, P1
(limbah cair tahu) pada hari ke-10 juga mengalami penurunan konsentrasi COD yaitu 520 mg/L
dengan efisiensi penyisihan sebesar 94%. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan pengolahan
berkaitan dengan lamanya pemberian perlakuan maka semakin lama limbah cair tahu
diperlakukan semakin besar pula penurunan COD, akan tetapi penurunan konsentrasi COD pada
hari ke-15 sampai dengan hari ke-20 cenderung stasioner yang nantinya dilanjut pada fase
kematian mikroorgaisme. Konsentrasi COD untuk P2 pada hari ke-15 sampai dengan hari ke-20
mengalami peningkatan dari 400 mg/L menjadi 480 mg/L, hal ini menunjukan bahwa
penguraian bahan organik berlangsung lambat akibat mikroorganisme yang terkandung dalam
EM4 mengalami kejenuhan akan nutrient yang ditandai dengan penurunan efisiensi penyisihan
di hari ke-20 yaitu 95%. Konsentrasi COD untuk P3 menurun di hari ke-15 yaitu 360 mg/L
karena bakteri Pseudomonas yang terdapat pada EM4 berperan dalam menguraikan senyawa
organik menjadi senyawa yang lebih sederhana secara tidak langsung dapat menurunkan nilai
COD (Avlenda, 2009).
Perlakuan yang cukup baik dalam menurunkan parameter COD yaitu P2 (limbah cair
tahu+5% EM4) dengan efisiensi penyisihan 96% di hari ke-5. Hal ini menunjukan bahwa
pemberian EM4 pada limbah cair tahu memberikan pengaruh terhadap penurunan
konsentrasi COD akan tetapi konsentrasi akhir COD masih melebihi baku mutu yang
dipersyaratkan oleh KepMenLH no 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Untuk
Kegiatan Industri.
3.2.3 pH
Salah satu faktor yang mempengaruhi aktivitas mikroorganisme di dalam media penguraian
bahan organik adalah pH. pH optimum untuk proses penguraian bahan organik menurut
Sutanto (2002) antara 5-8. Hasil pengukuran awal pada penelitian ini pH limbah cair tahu
yaitu 4,19. Perubahan nilai pH yang terjadi selama penguraian bahan organik dapat dilihat
pada Tabel 4.
Tabel 4 Analisa Pengukuran pH Limbah Cair
Hari Perlakuan I pH Perlakuan Baku
Ke- III mutu*
Perlakuan
II
0 4,19 4,19 4,19
5 4,21 4,58 4,39
10 4,92 5,75 5,39 6-9
15 6,88 7,26 6,69
20 8,06 8,17 7,98
Sumber : Hasil Penelitian, 2013
*Standar Baku Mutu KepMenLH no 51 Tahun 1995Tentang Baku Mutu Kegiatan Industri.
Berdasarkan Tabel 4 nilai pH disetiap perlakuan pada limbah cair tahu mengalami peningkatan
selama proses pengolahan. Kenaikan pH dari asam hingga netral pada limbah cair tahu,
diperkirakan oleh aktivitas mikroorganisme baik yang terdapat pada limbah cair tahu maupun
yang terdapat dalam EM4. Proses penguraian berjalan sempurna apabila nilai pH mendekati 7.
Adapun salah satu ciri dari penguraian bahan organik ini antara lain menghasilkan gas berbau
seperti amonia (NH3) (Fitria, 2008). Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian dihari ke-15
nilai pH pada limbah cair tahu disetiap perlakuan mengalami peningkatan yaitu 6,88 untuk
perlakuan I (Kontrol), 7,26 untuk perlakuan II (Limbah cair tahu + 1/20 EM4) dan 6,69 untuk
perlakuan III (limbah cair tahu + 1/10 EM4). Sedangkan pada hari ke-20 untuk perlakuan I pH
menjadi 8,06, perlakuan II pH menjadi 8,17 serta untuk perlakuan III nilai pH menjadi 7,98.
Selain dari nilai pH yang mendekati netral pada hari ke-15 dan hari ke-20 juga timbul bau busuk
dari gas amonia hasil dari pemecahan protein oleh mikroba. Pada lingkungan basa, NH3 akan
dilepas ke atmosfir sehingga dapat
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatannya – 99
Ulum Munawaroh, Mumu Sutisna, Kancitra Pharmawati
tercium bau gas ammonia. Mekanisme mikroorganisme pada proses dekomposisi bahan
organik yang terdapat pada limbah cair tahu dapat dilihat pada reaksi sebagai berikut
(Effendi, H. 2003) :
CxHyOzN2S + Bakteri + O2 CO2 + H2O + NH3 + CxHyOzN……......................................(3)
(Senyawa Organik) (Sel Baru)
Berdasarkan persamaan reaksi (3) menunjukan bahwa lingkungan bersifat basa karena
terbentuk ammonia, apabila reaksi yang terbentuk berupa NH4+ maka lingkungan bersifat
asam (Effendi, 2003). Kondisi tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.
selama pengolahan P1 (LCT)
Laju peningkatan pH
8 P2 (LCT+5% EM4)
6 P3 (LCT+10% EM4)
4 batas minimum baku
mutu
2 batas maksimum baku
0 mutu
0 10 20 Waktu (Hari)
Gambar 2 Peningkatan Nilai pH Setelah Perlakuan
Berdasarkan KEP-51/MENLH/10/1995 baku mutu limbah cair lampiran C untuk kegiatan
industri, pH yang dipersyaratkan berkisar antara 6-9. Dengan demikian parameter pH yang
diperoleh menunjukan bahwa ketiga perlakuan memenuhi persyaratan selama 15-20 hari
pengolahan.
3.2.4 TSS
Parameter TSS pada saat kondisi eksisting (hari ke-0) masih memenuhi baku mutu yang
dipersyaratkan, akan tetapi pada penelitian ini tetap dilakukan pengukuran parameter TSS
tujuannya untuk melihat pengaruh treatment yang dilakukan pada limbah cair tahu terhadap
konsentrasi TSS. Salah satu sumber TSS pada industri tahu yaitu bakteri, karbohidrat dan zat
anorganik lainnya. Hasil analisa pengukuran TSS dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Analisa Pengukuran TSS
HARI Konsentrasi TSS Baku
KE- P1 P2 P3 Mutu
mg/L
0 330 330 330
5 432^ 424^ 404^
10 510^ 405^ 454^
15 748^ 3146^ 1078^ 400
20 1881^ 1546^ 2811^
Sumber : Hasil Penelitian, 2013
*Standar Baku Mutu KepMenLH no 51 Tahun 1995Tentang Baku Mutu Kegiatan Industri
Berdasarkan Tabel 5 menunjukan dengan adanya penambahan EM4 pada limbah cair tahu tidak
menyebabkan perbedaan dalam menurunkan kandungan TSS dengan kontrol (P1). Kondisi
tersebut ditunjukan dengan konsentrasi TSS untuk semua perlakuan mengalami peningkatan.
Hal ini menunjukan bahwa senyawa-senyawa nitrogen yang terdapat dalam limbah cair tahu
terbentuk dalam bahan tersuspensi, selain itu juga ammonia dapat terserap ke dalam bahan-
bahan tersuspensi sehingga mengendap di dasar perairan (Effendi, 2003). Berdasarkan hasil
penelitian di dasar bak terdapat endapan serta timbul bau gas NH3 pada
Reka Lingkungan – 100
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatanya
hari ke-15 sampai hari ke-20, kondisi tersebut kemungkinan yang menyebabkan TSS meningkat.
Selain itu juga volume air limbah yang semakin lama semakin berkurang, maka jarak air limbah
dengan endapan di dasar bak semakin dekat yang secara otomatis terjadi pengadukan pada
saat pengambilan sampel akibatnya endapan yang terangkat terukur sebagai TSS yang dapat
meningkatkan konsentrasi TSS. Menurut Puspita (2008) zat tersuspensi merupakan 40% bagian
zat padat total dalam keadaan terapung, zat padat tersuspensi dapat mengembang dan dapat
membentuk tumpukan lumpur yang berbau bila dibuang. Berdasarkan hasil penelitian terdapat
zat padat total dalam keadaan terapung yang berasal dari sisa gumpalan tahu yang terbawa
pada limbah cair tahu sehingga mengembang dan membentuk tumpukan lumpur yang secara
otomatis meningkatkan konsentrasi TSS. Berdasarkan KEP-51/MENLH/10/1995 baku mutu
limbah cair lampiran C untuk kegiatan industri, konsentrasi TSS yang dipersyaratkan yaitu 400
mg/L dengan demikian konsentrasi TSS yang diperoleh masih melebihi baku mutu sehingga
untuk penelitian selanjutnya diperlukan bak pengendap dan adanya penyaringan sebelum
pengolahan sehubungan dengan karakteristik dari limbah cair tahu yang masih mengandung
sisa gumpalan tahu yang berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi TSS. Selain itu volume
operasional selama penelitian perlu diperhatikan sehingga tidak mengganggu proses yang
berlangsung, minimal volume operasional yang tersedia sebanyak 60% dari volume total.
3.3 Unsur Hara Pada Limbah Cair
Tahu 3.3.1 Nitrogen (N)
Nitrogen merupakan salah satu unsur kimia yang terkandung pada limbah cair tahu.
Sumber utama nitrogen yaitu berasal dari kacang kedelai yang merupakan salah satu
bahan baku dalam produksi tahu. Nitrogen merupakan unsur penyusun yang penting dalam
sintesa protein. Sebagian besar dari nitrogen total dalam air dapat terikat sebagai nitrogen
organik, yaitu dalam bahan-bahan berprotein (Fitria, 2008). Bentuk utama nitrogen di air
limbah adalah meterial protein yang dipecah oleh bantuan enzim proteinase menjadi
ammonia, nitrat dan nitrit. Senyawa-senyawa nitrogen terdapat dalam bentuk terlarut atau
sebagai bahan tersuspensi. Jenis nitrogen di air meliputi nitrogen organik, amonia, nitrit,
dan nitrat (Saeni 1989). Nitrogen dapat berperan sebagai pembentukan zat hijau
daun/klorofil padatumbuhan. Oleh karena itu dilakukan pengukuran konsentrasi nitrogen
pada limbah cair tahu, baik yang tidak ditambahkan EM4 atau yang ditambahkan EM4.
Hasil analisa pengukuran nitrogen dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Analisa Pengukuran Nitrogen (N)
Hari Ke- Konsentrasi NTK (%) P3
P1 P2 0,25
1,12
0 0,25 0,25 1,05
10 1,47 1,61
20 0,98 1,12
Sumber : Hasil Penelitian, 2013
Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan konsentrasi nitrogen pada setiap perlakuan mengalami
peningkatan pada hari ke-10. Hal ini menunjukan bahwa bahan makanan/nutrisi untuk bakteri
dalam keadaan cukup sehingga aktivitas mikroorganisme terdapat dalam EM4 bekerja dengan
efektif dalam menambah unsur hara. Kadar nitrogen pada hari ke-20 mengalami penurunan
karena nitrogen yang berada dalam air limbah mula-mula berasal dari nitrogen organik dalam
bentuk protein, dengan bertambahnya waktu kadar nitrogen organik berkurang karena
dikonversi menjadi ammonia yang kemudian terlepas ke udara dalam bentuk ammonia bebas
sehingga konsentrasi nitrogen yang terukur menjadi berkurang (Effendi, 2003). Konsentrasi
nitrogen untuk semua perlakuan di hari ke-10 dan hari ke-20masih lebih dari 0,4% artinya
limbah cair tersebut baik yang tanpa ditambahkan EM4
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatannya – 101
Ulum Munawaroh, Mumu Sutisna, Kancitra Pharmawati
maupun yang ditambahkan EM4 berpotensi untuk bisa digunakan langsung pada tanaman
sebagai nutrisi yang diperlukan untuk tanaman. Syarat kadar nitrogen dalam pupuk
menurut SNI 19-7030-2004 minimum 0,4%.
3.3.2 Fosfor (P)
Fosfor merupakan salah satu bahan kimia yang sangat penting bagi makhluk hidup. Fosfor
yang terdapat di alam terbagi kedalam dua bentuk yaitu senyawa fosfat organik dan
senyawa fosfat anorganik. Senyawa fosfat organik terdapat pada tumbuhan atau hewan.
Sedangkan senyawa fosfat anorganik terdapat pada air dan tanah, dimana fosfat tersebut
tidak larut dalam air yang kemudian terkikis dan mengendap disedimentasi (Jeffries
danMills, 1996). Hasil analisa pengukuran fosfor dalam bentuk P2O5dapat dilihat pada
Tabel 7.
Tabel 7 Analisa Pengukuran Fosfor
Hari Ke- P1 Konsentrasi P2O5(%) P3
P2 0.029497
0.000147
0 0.029497 0.029497 0.000730
10 0.000166 0.00005
20 0.000844 0.001231
Sumber : Hasil Penelitian, 2013
Berdasarkan Tabel 7 kadar P pada limbah cair tahu baik yang tidak ditambahkan EM4 maupun
yang ditambahkan EM4 mengalami penurunan dari hari ke-10 sampai dengan hari ke-20. Hal ini
disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Mikroorganisme selain merombak P organik menjadi
P anorganik juga menggunakan unsur P untuk aktivitas metabolisme hidupnya
(Notohadiprawiro, 1999) sehingga mengurangi kandungan P tersedia dalam limbah cair. Selain
itu kemungkinan kandungan fosfor yang terkandung pada limbah cair terkikis dan mengendap
sehingga pada saat pengukuran sebagian kadar P tidak terukur karena mengendap di dasar
bak. Hasil dari penelitian di dasar reaktor terdapat endapan/lumpur yang kemungkinan kadar P
mengendap dalam lumpur dan terukur sebagai TSS. Berdasarkan standar SNI 19-7030-2004
kadar P dalam pupuk yang diperbolehkan minimum 0,1% sehingga kadar P yang terdapat
dalam limbah cair tahu baik yang ditambahkan dengan EM4 maupun yang tidak ditambahkan
EM4 masih belum memenuhi standar.
3.3.3 Kalium (K)
Pada dasarnya limbah cair tahu mengandung kadar kalium (K) yang berasal dari kacang
kedelai, sehingga pada penelitian ini dilakukan pengukuran kadar kalium pada limbah cair
tahu, baik yang tidak ditambahkan EM4 atau yang ditambahkan EM4. Bakteri yang terdapat
pada EM4 selama proses penguraian unsur hara membentuk asam organik yang dapat
meningkatkan K+ sehingga dapat berpotensi untuk digunakan langsung pada tanaman
sebagai nutrisi yang diperlukan untuk tanaman (Fitria, 2008). Hasil analisa pengukuran
kalium dalam bentuk K2O dapat dilihat pada tabel 8
Tabel 8 Analisa Pengukuran Kalium (K2O)
Hari Ke- Konsentrasi K2O (%)
P1 P2 P3
0 0,00021 0,00021 0,00021
10 0,14097 0,15989 0,12710
20 0,21208 0,20883 0,19276
Sumber : Hasil Penelitian, 2013
Berdasarkan Tabel 8 kadar Kalium untuk P1 dan P2 di hari ke-20 cukup berpotensi untuk
dimanfaatkan kembali sebagai nutrisi untuk tanaman karena memenuhi syarat SNI 19-
7030-2004 dalam pupuk minimum 0,2%. Kadar Kalium pada P3 di hari ke-20 masih belum
memenuhi syarat SNI- SNI 19-7030-2004 dalam pupuk minimum yang diperbolehkan yaitu
Reka Lingkungan – 102
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatanya
0,2% sehingga P3 tidak digunakan dalam penelitian lanjutan terhadap uji coba terhadap
tanaman Capsicum frutescens L. P2 (LCT+ 5% EM4) yang dianggap berpotensi untuk diuji
cobakan pada tanaman Capsicum frutescens L, sehubungan dengan pertimbangan analisis
sebelumnya, bahwa kandungan nitrogen dan fosfor yang tersedia lebih besar dibanding
dengan P1 dan P3.
3.4 Hasil Akhir Penelitian
Pengamatan terhadap pengaruh dari hasil penambahan limbah cair tahu terhadap uji coba
tanaman cabe rawit yang dilakukan selama 30 hari dapat dilihat pada Gambar 3
Laju pertumbuhan Cabe 70 Keterangan
rawit (%)
60
P1
50
P2
40
P3
30
20 Hari ke‐
10 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30
0
0
Gambar 3. Laju Pertumbuhan Capsicum frutescens L selama 30 hari.
Berdasarkan Gambar 3 menunjukan bahwa P2 berpotensi sebagai nutrisi tanaman dengan
rata-rata laju pertumbuhan 36% dan tumbuhnya bakal cabang dalam waktu kontak 12 hari.
Persentasi tersebut menunjukan bahwa pemupukan menggunakan limbah cair tahu+EM4
(P2) dapat meningkatkan tinggi tanaman Capsicum frutescens L karena limbah cair tahu
mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman terutama unsur N, P dan K. Unsur
N, P, dan K dibutuhkan untuk suplai energi pada pembelahan sel dan kekuatan jaringan
terutama dinding primer pada jaringan batang dan daun (Salibury dan Ross 1995). Unsur
hara yang terdapat pada pupuk organik cair ini akan diserap oleh tanaman
Capsicumfrutescens L. Tanaman Capsicum frutescens L tumbuh dengan baik karena
kebutuhanhidupnya dapat terpenuhi dan proses-proses metabolismenya berjalan dengan
lancar, tetapi dilihat pada Gambar 3 laju pertumbuhan untuk setiap perlakuan tidak
berbeda jauh karena umur tanaman relatif muda sehingga perbedaanya tidak terlihat cukup
jauh tetapi pada hari ke-12 tanaman Capsicum frutescens L untuk P2 tumbuh bakal cabang
yang menunjukan perkembangan yang cukup cepat dan bakal cabang tersebut
menunjukkan bakal tumbuhnya bunga/buah (Nurohman,2011). P3 di hari ke-24 mengalami
penurunan karena tanaman mati karena gangguan eksternal yaitu adanya hama. Penelitian
hanya sampai pada tinggi batang, jumlah daun, dan bakal cabang. Oleh karena itu untuk
penelitian selanjutnya diperlukan pengamatan terhadap buah cabe (produksi cabe), serta
diperlukan pengolahan lebih lanjut mengenai pemanfaatan sebagai pupuk cair organik
tanaman yang sesuai dengan SNI 19-7030-2004 dan Permentan no 70 tahun 2011
sehingga potensi dari limbah cair tahu sebagai pupuk cair organik dapat diaplikasikan.
4. KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukan pengolahan limbah cair tahu menggunakan EM4 pada perlakuan P2
mampu menurunkan nilai BOD5 sebesar 97%, COD sebesar 96% di hari ke-5, nilai P
0,001231% di hari ke-20. Serta meningkatkan nilai pH menjadi 7,26 di hari ke-15, TSS sebesar
1546 mg/L di hari ke-20, nilai N 1,12% di hari ke-20 dan nilai K2O 0,2% di hari ke
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan
Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatannya – 103
Ulum Munawaroh, Mumu Sutisna, Kancitra Pharmawati
20. Selain itu hasil uji coba terhadap tanaman Capsicum frutescens L menunjukan bahwa
P2 cukup berpotensi sebagai nutrisi terhadap tanaman yang ditandai dengan batang utama
tanaman lebih tinggi sementara daun lebih banyak dibanding dengan penggunaan pupuk
NPK (P3) dan tanpa adanya pemupukan (P1) selain itu batang utama tanaman lebih kuat
dan pertumbuhannya lebih cepat dengan rata-rata laju tinggi pertumbuhan tanaman 36%
serta tumbuhnya bakal cabang dalam waktu kontak 12 hari.
DAFTAR RUJUKAN
Avlenda, E. (2009). Penggunaan Tanaman Kangkung (Ipomoea aquatica) Forsk.) Dan
Genjer(Limnocharis flava (L.) Buch.) Dalam Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa
Sawit.Bandung: Tesis Pascasarjana Biologi Institut Teknologi Bandung.
Badan Standar Nasional Indonesia no 19-7030-2004 . 2004. Standar kualitas pupuk
organik. Jakarta: SNI 19-7030-2004
Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
LingkunganPerairan. Yogyakarta: Kanisius.
Fitria, Y. (2008). Pembuatan Pupuk Organik cair dari Limbah Cair Industri
PerikananMenggunakan Asam Asetat dan EM4 (Effective Microorganisme 4). Bogor :
Program StudiTeknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Fitriyah, N R.( 2011). Studi Pemanfaatan Limbah Cair Tahu untuk Pupuk Cair
Tanaman(Studi Kasus Pabrik Tahu Kenjeran). Surabaya : Teknik Lingkungan.
Isa, M. (2008). Pengaruh Pemberian Dosis EM4, Cacing Lumbricus Rubellus dan
CampuranKeduanya Terhadap Lama Waktu Pengomposan Sampah Rumah Tangga.
Semarang :Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Jasmiyati, sofia,Thamrin, A. (2010). Bioremediasi Limbah Cair Industri Tahu
MenggunakanEffective Microorganisme 4 (EM4). Riau: Program Studi Ilmu Lingkungan
PPS.
Jeffries, M. dan Mills, D. (1996). Freshwater Ecology, principles and Aplication. UK : John
Wiley and Sons, chishester.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup. 1995. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri
Jakarta: KEP- 51/MENLH/10/1995.
Mulyadi. (1994) Pupuk dan cara pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta
Notohadiprawiro,T. (1999). Tanah dan Lingkungan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan
Nurhasan dan Pramudyanto, BD. (1991). Penanganan air Limbah Pabrik tahu. Semarang :
Yayasan Bina Karya Lestari.
Nurhasan, A. dan B. B. Pramudyanto. (1997). Pengolahan Air Buangan Tahu. Semarang :
Yayasan Bina Karta Lestari dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
Nurohman, T. (2011). Budidaya Tanaman Cabe dalam polybag. Yogyakarta: Andi.
Puspita, D. (2008). Penurunan Konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) Pada
LimbahLaundry dengan Reaktor Activated Carbon. Yogyakarta : Program Studi Sarjana
FakultasTeknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam
Indonesia.
Saeni MS . (1989). Kimia Lingkungan. Bogor : Departernen Pendidikan dan Kebudayaan
Dirjen Pendidikan Tinggi PAU. IPB
Salibury FB dan Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbzihan. ITB Press. Bandung
Sutanto, R. (2002). Penerapan Pertanian Organik Pemasyarakatan dan Pengembangan.
Yogyakarta : Kanisius.
Takwayana, H. P. (2012). PT. Tiga Manunggal Synthetic Industries. Dipetik Febuari 05,
2012 dari http://herapoezzpietha.blogspot.com
Reka Lingkungan – 104