EKSIS JURNAL RISET EKONOMI DAN BISNIS VOLUME 11 NO 1, APRIL 2016
EKSIS: Jurnal Riset Ekonomi Dan Bisnis Diterbitkan oleh Lembaga Publikasi Dan Penerbitan Karya Ilmiah (LP2KI) STIE PGRI Dewantara Jombang Terbit 2 (dua) kali setahun (April dan Oktober). ISSN: 1907 – 7513 berisi tentang hasil penelitian, kajian dan aplikasi teori dalam bidang ilmu ekonomi dan bisnis Penanggung Jawab Yuniep Mujati Suaidah, Ketua STIE PGRI Dewantara Jombang, Indonesia Ketua Dewan Editor Langgeng Prayitno Utomo, STIE PGRI Dewantara Jombang Dewan Penyunting: Nur Anisa, STIE PGRI Dewantara Jombang Lilik Pujiati, STIE PGRI Dewantara Jombang Dwi Ermayanti Susilo, STIE PGRI Dewantara Jombang Nuri Purwanto, STIE PGRI Dewantara Jombang Penyunting Kehormatan: Sri Endah Nurhidayati, Universitas Airlangga Rahmat Yuliawan, Universitas Airlangga Ardi Gunardi, Universitas Pasundan Bandung Edi Subiyantoro, Universitas Merdeka Malang Harianto Respati, Universitas Merdeka Malang Mirna Indriani, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Alamat Redaksi dan Tata Usaha Gedung Business Center Jln. Prof. M.Yamin No 77 Jombang, telp (+62 321 – 865180) Fax (+62 321 – 853807)
EKSIS: JURNAL RISET EKONOMI DAN BISNIS SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PGRI DEWANTARA JOMBANG VOLUME 11 NOMOR 1, APRIL 2016 DAFTAR ISI Ardi Surya Satria Sikap Ibu Rumah Tangga Terhadap Emas Di Kecamatan Kutoarjo 1-21 Nurul Hidayati, Dewi Trisnawati Pengaruh Kepuasan Kerja Dan Stress Kerja Terhadap Turnover Intentions Karyawan Bag. Marketing Pt. Wahana Sahabat Utama 22-37 Diah Ayu Septi Fauji Rancangan Penilaian Kinerja Organisasi Nirlaba 38-43 Rachyu Purbowati, Langgeng Prayitno Utomo Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pada Penerimaan Opini Dengan Paragraf Penjelas Going Concern 44-60 Restin Meilina Pengaruh Karakteristik Pekerjaan,Kepuasan Kerja, Dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenship Behavior Pada Karyawan Bri Kediri 61-72 Imam Buchari Pengaruh Upah Minimum Dan Tingkat Pendidikan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Manufaktur Di Pulau Sumatera Tahun 2012-2015 73-85 Asmaul Aziz Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah ( Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota Di Jawa Timur ) 86-101 Yuniep Mujati S, Meida Dzulqodah Pengaruh Earning Per Share Dan Price Earning Ratio Terhadap Debt To Equity Ratio Dan Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Makanan Dan Minuman Di Bursa Efek Indonesia 102-123
SIKAP IBU RUMAH TANGGA TERHADAP EMAS DI KECAMATAN KUTOARJO Writer: Ardi Surya Satria Correspondence: [email protected] Institution: Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga EKSIS Vol XI No 1, 2016 ISSN: 1907-7513 [email protected] Abstract This research is purposed to understand housewives attitude for deciding the best choice between gold bars or jewelry, to know the period housewives in hold for gold and to identify risk & advantages comprehensive between both of gold types. Sample data was collected from 100 housewives in Kutoarjo as the respondents. The data that collected from interview, site record, and other methods will be tested with validity and reliability tests before be used in descriptive statistics for each variable. Based on the research ,the conclusion are: (1) Housewives s tend to think that gold as an investment because the price tends to rise. However, some of the housewives tend to think gold as a protection of some unpredictable future situation. Furthermore, housewives who think gold as a pride don't have significant number.(2) The housewives hold for gold the average more than a year, made gold as protection and investment. (3) Almost all housewives in Kutoarjo understand the purpose of decision to buy and resell gold and also the risks of the decision. Keywords: gold, housewife, devision, risk, advantage abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memahami sikap ibu rumah tangga dalam memutuskan pilihan terbaik antara emas batangan atau perhiasan serta untuk mengetahui ibu rumah tangga periode terus untuk emas dan untuk mengidentifikasi risiko & keuntungan yang komprehensif antara kedua jenis emas. Data sampel yang dikumpulkan dari 100 ibu rumah tangga di kutoarjo sebagai responden. Selanjutnya, data yang dikumpulkan dari wawancara, catatan situs, dan metode lainnya akan diuji dengan uji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan dalam statistik deskriptif untuk setiap variabel. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa: 1) Ibu rumah tangga cenderung berpikir bahwa emas sebagai investasi untuk karena harga cenderung naik. Selain itu, ibu rumah tangga juga cenderung berpikir emas sebagai perlindungan beberapa situasi tak terduga. Sedangkan ibu rumah tangga yang berpikir emas sebagai sebuah kebanggaan tidak menunjukkan jumlah yang signifikan, 2) Para ibu rumah tangga menyimpan emas rata-rata lebih dari satu tahun, menggunakan sebagai alat perlindungan dan investasi, 3) Hampir semua ibu rumah tangga di kutoarjo memahami tujuan keputusan untuk membeli dan menjual kembali emas dan juga risiko keputusan. Kata kunci: emas, ibu rumah tangga, devision, risiko, keuntungan
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 2 A. PENDAHULUAN Dalam berinvestasi, investor tentu akan mencari instrumen yang dianggap mampu mengompensasi risiko yang ada. Maka investor mulai beralih pada investasi asset riil seperti emas. Pada kondisi yang dikatakan extreme emas akan selalu menjadi bentuk yang utama untuk pembayaran didunia karena walaupun uang flat mungkin tidak diterima tetapi berbeda dengan emas yang selalu diterima (investasiemasid.com). Dengan kondisi demikian, sekarang peran wanita di dalam keluarga memiliki peran yang berbeda yaitu berkarir diberbagai bidang dan harus mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik. Di masyarakat khususnya ibu rumah tangga cerdas dalam mengelola pendapatan dan keuangan agar dapat tepat guna sesuai dengan peruntukannya kelak. Inilah yang mendasari selain menabung, ibu rumah tangga juga memikirkan bagaimana nantinya hasil pendapatan yang diperoleh selain memenuhi jangka pendek seperti kebutuhan primer, juga merencanakan bagaimana memenuhi kebutuhan lainnya termasuk berinvestasi. Untuk itu, sesuai dengan teori portofolio, investor perlu menempatkan sejumlah aset dalam portofolionya untuk meminimalisasi risiko. Adapun yang ideal menurut Morley (2014) adalah menempatkan aset-aset yang saling tidak berkorelasi positif dalam satu portofolio. Selain itu, juga diperlukan aset yang berkarakteristik sebagai safe haven, atau dengan kata lain menjadi “tempat yang aman” ketika terjadi guncangan terhadap aset lainnya dalam portofolio. Terdapat beberapa alternatif investasi yang dianggap sebagai safe haven, salah satunya adalah emas. Bahkan kalangan investor menilai bahwa dengan berinvestasi emas, nilai dari kekayaan mereka akan tetap terjaga (Apriyanti 2011). Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan harga emas yang tidak terlalu mengalami fluktuasi selama 10 tahun terakhir. Gambar 1: Grafik 1. Harga Emas 2006-2014 Pada tahun 2006-2008 harga emas terus mengalami kenaikan (odnv.co.id). Dalam perkembangan terbarunya, peran emas telah bergeser dan kini emas memiliki fungsi sebagai salah satu instrumen investasi (Kusnandar 2010). Menurut Gunawan dan Wirawati (2013) emas sekarang dijadikan instrumen investasi dikarena dalam investasi emas dinilai cenderung stabil dan hampir tidak terpengaruh oleh adanya inflasi (zero inflation). Selain itu beberapa kelebihan lain dalam investasi pada emas yaitu harga emas tidak tergantung oleh situasi
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 3 politik dunia, perubahan kurs mata uang asing, tidak bergantung pada suatu pemerintahan dan perbankan atau institusi di bagian dunia manapun. Kelebihan emas yaitu bebas pajak (tax free) di Indonesia, karena emas batangan dimasukkan sebagai komoditi produksi yang tidak dikenakan pajak. Sehingga jika berinvestasi pada emas batangan, maka dapat diindikasikan telah berinvestasi pada aset bebas pajak. Kekurangan emas adalah terbatasnya tempat penyimpanan, tetapi dapat diatasi dengan menyewa safe deposit box di bank. Selain sebagai aset yang memiliki kinerja yang bagus, emas juga dianggap sebagai safe haven asset. Safe haven asset adalah jenis investasi yang mampu menjaga nilainya atau bahkan mengalami kenaikan pada saat kondisi ekonomi mengalami goncangan (Baur 2009). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Baur dan Lucey (2009), didapati bahwa emas merupakan safe haven dari saham- saham yang terdaftar di indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada tahun 1995-2005. Tidak hanya sebagai safe haven asset, emas juga dianggap oleh investor sebagai hedging asset. Hedging Asset menurut Lucey (2009) adalah instrumen yang memiliki korelasi nol atau negative dalam portofolio pada saat kondisi rata-rata. Karakteristik emas sebagai hedging asset telah dibuktikan dalam beberapa penelitian.Vesiania et al., (2014), dalam periode pengamatan 2008-2012 menemukan bahwa karakteristik emas sebagai safe haven dan hedge asset terhadap saham dan dolar di Indonesia. Melihat kondisi demikian, kenaikan permintaan emas setiap tahun oleh masyarakat semakin menunjukkan bahwa emas masih banyak digemari masyarakat sebagai salah satu bentuk proteksi, investasi, suatu bentuk kebangaan dan sebagainya. Menurut Dewantara (2014) konsumen kebanyakan membeli emas karena memiliki emas dilihat memiliki nilai jual yang tinggi, berbagai variasi bentuk yang beragam untuk perhiasan, lebih mudah jika ingin menjualnya kembali di berbagai tempat serta nilai jual yang selalu memiliki kestabilan (tidak merugi). Menurut Nurdiyana (2013) perhiasan emas banyak disenangi masyarakat karena dengan membeli perhiasan emas adalah salah satu bentuk investasi dimana nilainya relatif stabil dan cenderung meningkatkan harganya, oleh karena itu perdagangan perhiasan emas tidak lagi dipandang sebagai jual beli transaksional namun telah berkembang menjadi pemasaran relasional. Menurut Yulianti dan Silvy (2013) bahwa banyak individu yang memang kurang memiliki kecakapan finansial baik pengetahuan dasar apalagi yang lebih kompleks. Literasi keuangan menjadi sebuah hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seseorang karena literasi keuangan merupakan alat yang berguna untuk membuat keputusan keuangan dalam menentukan instrumen investasi yang akan diambil, namun dari pengalaman-pengalaman di berbagai negara masih menunjukkan relatif kurang tinggi. Sehingga masyarakat lebih memilih emas sebagai instrumen investasi karena emas merupakan salah satu investasi terpercaya yang memberikan keuntungan secara finansial serta risiko yang lebih kecil dibanding instrumen lainnya (Tyson 2011). Dalam penelitian ini memilih obyek secara spesifik yaitu ibu rumah tangga dikarenakan berdasarkan informasi dari Kepala Divisi Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Lasmaida S mengatakan ibu rumah tangga menjadi salah satu sasaran utama sebagai obyek survei berbasis investasi, dengan alasan kedudukan sebagian besar ibu rumah tangga adalah sebagai pengatur pergerakan rode kehidupan rumah tangga
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 4 yang termasuk di dalamnya menentukan dan mengelola keuangan di dalam rumah tangga tersebut (http://merdeka.com/). Didukung dengan hasil penelitian Multifah (2002) menunjukkan bahwa alasan yang telah dikemukakan responden yaitu ibu rumah tangga untuk bekerja atau tidak bekerja meliputi alasan sosial dan alasan keluarga. Perbedaan sumber pendapatan pada rumah tangga oleh ibu rumah tangga tersebut dapat menjadikan perbedaan dalam pola alokasi pendapatan rumah tangga yang dilakukannya. Oleh karena dengan status pendapatan yang merupakan hasil pekerjaannya sendiri membuat ibu rumah tangga menjadi lebih leluasa untuk menggunakannya, tidak terkecuali untuk membeli emas baik itu perhiasan ataupun batangan. Selain itu, wanita yang telah menikah mempunyai peran dalam keluarga sebagai istri serta sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Dengan didasari pola pikir yang lebih terbuka pada ibu rumah tangga, sangat menentukan dalam pengambilan keputusan berinvestasi (Ananda 2013). Namun, masih ada faktor demografis yang mempengaruhi ibu rumah tangga dalam berinvestasi seperti status pendidikan, usia dan pendapatan (Robb dan Sharpe 2009). Anwar (2005) menyatakan asumsi rasionalitas selama ini menjadi arus utama dalam menjelaskan pengambilan keputusan individual mulai menuai berbagai kritikan karena beberapa penelitian empiris menunjukkan bahwa individu tidak hanya menggunakan unsur rasio dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi melainkan juga menggunakan unsur emosi dan perilaku. Beberapa penelitian mengenai sikap telah banyak dilakukan berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB). Penelitian Aldhuhayyan dan Rahman (2012) menyampaikan hasil penelitiannya bahwa rumah tangga antara pekerja dan bukan pekerja memiliki tipe perencanaan keuangan yang berbeda karena dipengaruhi oleh pengetahuan keuangan mereka. Sementara itu, penelitian lain menemukan tingkat literasi keuangan yang tinggi mempengaruhi perencanaan keuangan yang baik (Lusardi dan Mitcell 2011). Penelitian sebelumnya yang dilakukan Sholeh (2013) mengenai emas sebagai instrumen investasi yang aman pada saat instrumen lain mengalami peningkatan risiko, penelitian ini yang membedakan dari penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini obyek yang digunakan lebih spesifik yaitu pada ibu rumah tangga dengan melihat sikapnya terhadap emas sebagai instrumen investasi. Penelitian ini akan mengambil obyek ibu rumah tangga yang berada di wilayah Kecamatan Kutoarjo. Ada 3 (tiga) persoalan yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu: 1) Bagaimana sikap ibu rumah tangga terhadap emas, 2) Berapa lama jangka waktu ibu rumah tangga memegang emas, 3) Apakah ibu rumah tangga memahami keuntungan dan risiko investasi emas. Manfaat yang dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui sikap ibu rumah tangga dalam menentukan pilihan yang tepat ketika memiliki emas baik batangan ataupun perhiasan, 2) Mengetahui jangka waktu ibu rumah tangga dalam memegang emas dengan dilihat dari tujuannya, baik untuk kebanggaan, investasi atau proteksi, 3) Mengidentifikasi akan pemahaman risiko dan kelebihan dari emas yang dimiliki ibu rumah tangga baik batangan ataupun perhiasan serta 4) Membantu penjual emas dalam meningkatkan penjualan dan memenuhi harapan konsumennya dilihat dari sikap ibu rumah tangga terhadap emas, ketika bertujuan memenuhi kebutuhan konsumen yang menjadikan emas sebagai kebanggaan maka pengusaha bisa menyediakan emas
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 5 dengan bentuk perhiasan berbagai variasi. Untuk konsumen yang menjadikan emas sebagai investasi atau proteksi maka penjual emas bisa menyediakan emas dengan bentuk batangan. B. TINJAUAN PUSTAKA Theory of Planned Behavior Tiap individu memiliki sikap yang berbeda. Ajzen menyempurnakan Theory Of Reasoned Action (TRA) dengan menambahkan Perceived Behavior Control sebagai Antecedent dari niat melakukan suatu sikap dan menjadi suatu kerangka baru yang disebut Theory of Planned Behavior (Dharmmesta 1999). Theory of Planned Behavior adalah teori yang meramalkan pertimbangan perilaku karena perilaku dapat dipertimbangkan dan direncanakan. Kemudian teori ini dikembangkan lagi oleh beberapa peneliti (Ajzen 1991; Wong et al. 1992; Sharma et al. 2003). Sharma et al. (2003) menyatakan bahwa Theory of Planned Behavior memiliki keunggulan dibandingkan teori keperilakuan serta sikap yang lain, karena Theory of Planned Behavior merupakan teori tentang perilaku serta sikap yang dapat mengidentifikasikan keyakinan seseorang terhadap pengendalian atas sesuatu yang akan terjadi dengan hasil, sehingga yang membedakan antara perilaku seseorang yang berkehendak dan yang tidak berkehendak. Dalam hal ini, Theory Of Planned Behavior teori yang merupakan pengembangan dari Theory Of Reasoned Action. Sejalan dengan hal tersebut, Ajzen (1991) menyebutkan bahwa Theory Of Planned Behavior turunan dari Theory Of Reasoned Action, tetapi perbedaannya yaitu dengan ditambahkannya variabel Perceived Behavior Control pada kerangka penelitian. Gambar 2: The Theory of Planned Behavior Sumber: Ajzen, 2004 The Theory of Planned Behavior menjelaskan minat berperilaku seseorang yang dipengaruhi oleh tiga faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku persepsian. Sikap terhadap suatu perilaku (attitude) mengacu pada tingkat seseorang dalam mengevaluasi suatu perilaku itu baik atau tidak baik, dan dapat pula dikatakan penelitian seseorang terhadap suatu perilaku. Sikap terhadap suatu perilaku (attitude toward behavior) ditentukan oleh keyakinan terhadap suatu perilaku (behavior beliefs) dan biaya atau keuntungan dari perilaku tersebut (Ajzen 1991). Sikap yang dimaksud termasuk perasaan tentang sesuatu yang ingin dicapai dari perilaku yang dia lakukan (Sharma et al. 2003). Sikap Terhadap Emas Menurut Gustina (2013) investasi emas merupakan investasi paling aman dibandingkan jenis investasi lain. Bahkan juga membuka peluang bahwa investasi emas bisa memberikan imbal hasil (keuntungan) melebihi investasi high risk jika saja situasi dan kondisi memungkinkan, seperti lonjakan inflasi yang amat tinggi dan naiknya harga emas dunia. Pada umumnya banyak orang memilih berinvestasi emas guna memperoleh keuntungan dalam waktu jangka panjang. Emas juga dapat dijadikan koleksi dan perhiasan. Investasi emas juga dapat dibilang praktis karena dapat dilakukan oleh semua golongan mulai dari ibu rumah tangga, pekerja
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 6 bergaji pas-pasan atau orang professional karena emas dapat dibeli mulai 1 (satu) gram. Ada beberapa nilai internal yang dimiliki emas, yaitu: 1. Emas sebagai kebanggaan, karena memiliki prestise tersendiri saat digunakan sebagai aksesoris (salah satu tujuan investasi emas adalah untuk perhiasan/ aksesoris). Investasi ini menunjukkan kemakmuran. 2. Emas sebagai investasi merupakan harga emas yang mengalami kecenderungan naik. Tidak dipungkiri bahwa tren naiknya harga emas dapat dipicu oleh naiknya permintaan yang selalu melebihi jumlah yang tersedia (sangat terbatas) serta emas dapat digunakan untuk mempertahankan kekayaan karena ketika disimpan nilai tukarnya akan tetap sama, bahkan cenderung naik bila dipertukarkan dengan mata uang lain (investasi emas dalam bentuk emas batangan). 3. Emas sebagai proteksi. Emas dapat digadaikan jika darurat dan banyak tempat yang mau menerima gadai emas, seperti kantor pegadaian maupun bank syariah. Sedangkan menurut Rosnia (2010) bahwa emas merupakan logam mulia yang diminati banyak orang guna memperoleh keuntungan dalam jangka waktu panjang. Emas dapat dijadikan sebagai perhiasan, investasi dan koleksi. Ada beberapa alasan yang menjadikan investasi emas banyak diminati banyak orang, diantaranya: 1. Keamanan (security). Uang akan menghilang perlahan oleh karena biaya administrasi, biaya lain-lain, pajak bunga, tingkat suku bunga dan terbatas serta jaminan pemerintah (LPS) yang terbatas. Pada investasi lainnya dikenakan biaya broker, biaya administrasi, pajak dan sebagainya (Santosa 2009). 2. Perlindungan (protection). Inflasi dan deflasi merupakan masalah klasik yang sudah berabad-abad namun secara perlahan akan mengorosi asset. Semakin tinggi laju inflasi maka harga semakin tinggi. Seluruh dunia mengalami inflasi rata-rata 2-3 persen per tahun, di Indonesia 5-6 persen per tahun (Rosnia 2010). Nilai emas selalu lebih tinggi dari rata-rata inflasi. Artinya daripada menyimpan uang, maka lebih baik menyimpan emas. 3. Mudah dicairkan (likuiditas tinggi). Instrumen investasi emas mudah dicairkan di ribuan toko emas dan nilainya mengikuti pasaran internasional yang terus menguat (Irfani 1999). Dimanapun berada, pertukaran emas dapat dilakukan. Nilai intrinsik emas tetap dan standar, sehingga mudah diuangkan di mana saja. 4. Menguntungkan (profitable). Harga emas itu stabil dan cenderung meningkat. Emas cocok untuk disimpan jangka menengah dan jangka panjang. Oleh karenanya banyak investor yang tertarik untuk menanamkan dana lebihnya pada emas baik dalam jangka waktu panjang maupun dalam jangka pendek (Makaryanawati 2009). Alasan lain mengapa harus berinvestasi emas adalah karena emas merupakan logam yang tahan lama dan kebal pengaruh fisika, seperti: suhu udara, tekanan udara dan reaksi dengan logam lainnya. Sebab hal tersebut maka penyimpanan emas lebih mudah dan tidak membuat pemiliknya khawatir akan turunnya kualitas emas. Maka emas perawatannya cukup mudah, dibandingkan dengan investasi berupa bangunan. Emas juga memiliki umur yang panjang dan diterima dari generasi ke generasi. Sehingga sangat jelas emas dapat diwariskan. 5. Risiko rendah (low risk). Emas tidak ada penyusutan nilai, hanya beban untuk biaya kotak buat menyimpan
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 7 emas yang sudah dibeli. Nilai emas untuk jangka pendek berfluktuasi namun sejak 7 tahun terakhir nilainya terus meningkat. Risiko terburuk investasi emas yaitu hilang jika proses menyimpannya tidak baik atau dirampok namun hal ini kemungkinan kecil terjadi. Emas merupakan investasi yang menarik (Gustina 2013). Horison Investasi Menurut Sembel dan Kartajaya (2009) bahwa horison investasi adalah kurun waktu yang diperkirakan merupakan kurun waktu yang diperlukan oleh investor untuk mencapai tujuan investasinya. Bahwa dalam berinvestasi di emas khususnya ibu rumah tangga perlu memahami waktu yang dipilih untuk berinvestasi baik itu jangka pendek ataupun jangka panjang. Untuk emas tidak disarankan berinvestasi dalam jangka waktu pendek (satu tahun atau kurang) karena lebih banyak biayanya dibandingkan hasilnya (Tanuwidjaja 2009). Dalam kenyataannya disampaikan Joko (2012) bahwa mayoritas keluarga keuangannya langsung dikelola oleh ibu rumah tangga dan berinvestasi pada instrumen investasi tradisional termasuk membeli perhiasan/emas sebagai investasi yang dipilih, namun sebagian besar ibu rumah tangga pun kurang memahami terkait jangka waktu untuk berinvestasi emas yang tepat. Sikap Ibu Rumah Tangga Terhadap Emas Menurut Nurdiyana (2013) perhiasan emas banyak disenangi masyarakat, tidak terkecuali ibu rumah tangga karena dengan membeli perhiasan emas adalah salah satu bentuk investasi dimana nilainya relatif stabil dan cenderung meningkat harganya. Selain sebagai investasi maka emas digunakan sebagai proteksi dan gaya hidup. Berdasarkan Nabila (2014) bahwa perhiasan emas banyak digemari perempuan karena tingkat permintaan yang tinggi sehingga baik untuk proteksi aset dari gerusan inflasi dan kepentingan berjaga-jaga, sedangkan menurut Octavia (2009) berdasarkan tren yang muncul sejak tahun 2009 untuk jenis perhiasan perempuan, yang banyak digemari adalah jenis perhiasan emas putih menduduki peringkat kedua setelah berlian. Banyak pencinta perhiasan dengan mayoritas yaitu kaum perempuan yang beralih membeli emas putih, disamping sebagai alternatif investasi dengan menggunakan emas putih dianggap lebih fresh, elegan dan tidak mencolok. Perilaku pembelian emas putih tidak terlepas menjadikan perhiasan emas dari gaya hidup. Menurut Tjiptono (2007), emas selain digunakan untuk mempercantik diri bagi penggunanya khususnya bagi kaum wanita, ternyata emas digunakan sebagai alat investasi jangka pendek maupun jangka panjang. Serta emas digunakan sebagai proteksi karena emas dapat digadaikan jika darurat dan banyak tempat yang mau menerima gadai emas, seperti kantor pegadaian maupun bank syariah. Menurut penelitian sebelumnya seperti yang diungkapkan Imaad (2000) bahwa persepsi ibu rumah tangga terhadap perhiasan/emas selalu melihatnya sebagai investasi yang terpercaya dan banyak menawarkan keuntungan finansial yang baik serta menurut Tyson (2001) tingkat perkembangan perekonomian saat ini menjadikan emas dinilai sebagai sarana untuk meningkatkan nilai maupun jumlah dari harta yang dimiliki. Dengan investasi pada emas, diyakini harta akan meningkat jumlahnya apa lagi dalam kurun waktu jangka panjang harga emas relatif meningkat. Kelebihan dan Risiko Memiliki Emas Pada tahun 1927, Harry M. Markowitz menggunakan teori portofolio yang pertama kali dikemukakannya. Teori portofolio memberikan penjabaran
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 8 bagaimana investor mengkombinasikan asetnya berkaitan dengan estimasi investor terhadap ekspektasi risiko dan return. Husnan (2001) menggambarkan portofolio sebagai kepemilikan dari instrumen investasi yang disusun dengan perencanaan yang matang untuk pencapaian hasil yang optimal melalui penyebaran risiko. Jogiyanto (2003) berpendapat bahwa portofolio adalah sekumpulan investasi baik aset riil atau aset keuangan. Menurut Apriyanti (2011) dalam berinvestasi di emas memiliki perbedaan dengan investasi lainnya. Investasi emas sendiri dinilai memiliki beberapa kelebihan dan risiko dibandingkan dengan investasi lain, antara lain: Kelebihan dalam berinvestasi di emas adalah 1. Dengan emas kekayaan yang anda simpan akan terbebas dari nilai inflasi dan harga emas akan cenderung naik, bukan karena USD tapi karena supply/demand. 2. Investasi emas tergolong investasi yang low-risk, karena harga emas dalam jangka panjang selalu naik. 3. Investasi dalam bentuk emas tidak dikenai biaya lain-lain dan ongkos pembuatan saat membelinya (kecuali emas perhiasan). 4. Investasi dalam bentuk emas lebih liquid dari pada investasi dalam bentuk lain (mudah dicairkan ke dalam bentuk uang bila diperlukan). Namun demikian ada beberapa risiko dalam berinvestasi dengan emas (Gustina 2013): 1. Kebanyakan toko emas sedikit tertutup untuk memberikan keterangan atau pengarahan kepada konsumen secara terbuka masalah harga dan pertimbangan investasi sehingga pemilik emas mengalami kebingungan ketika menjual emas. 2. Investasi Emas dalam jumlah banyak misalnya diatas 1kg, akan memerlukan keamanan khusus biasanya beberapa orang memilih menggunakan brankas kecil untuk menyimpan, tapi cara lain yang lebih aman lagi adalah dengan menyewa safe deposit box dibank. 3. Emas lebih baik untuk investasi jangka panjang dibandingkan jangka pendek karena tingkat risiko kerugian dan keuntungan yang tidak dapat diketahui secara pasti karena tingkat fluktuatif harganya yang berbeda- beda. Pemahaman Ibu Rumah Tangga Terhadap Risiko dan Kelebihan Emas Kalangan ibu rumah tangga memiliki pengetahuan yang berbeda-beda akan risiko dan kelebihan dari emas. Pengetahuan akan instrumen investasi, menurut Lewellen et al., (1977) selain dipengaruhi financial literacy, faktor demografi juga berpengaruh terhadap pengetahuan akan suatu instrumen investasi. Faktor demografi meliputi jenis kelamin, pendapatan, usia dan pendidikan. Berdasarkan penelitian dari Ariadi et al., (2015) faktor pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi investor dalam pemahaman akan risiko dan kelebihan dari suatu instrumen investasi. Menurut Redja (2007) bahwa profil risiko merupakan hal awal yang seharusnya diketahui seseorang sebelum melakukan investasi yang cocok untuk diri sendiri terutama yang menyangkut dengan harta pribadi. Dikarenakan kurang pahamnya dengan risiko investasi seringkali risiko dianggap remeh investor ketika akan berinvestasi, sehingga ketika sudah terlanjur berinvestasi terjadilah keresahan karena jenis investasi yang dipilih tidak cocok dengan profil risikonya. Apabila dilihat dari penelitian yang ada sebelumnya menunjukkan bahwa investor termasuk ibu rumah tangga belum sepenuhnya paham terhadap risiko dan kelebihan dari suatu jenis investasi yang dipilih misalnya emas baik itu
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 9 batangan ataupun perhiasan. Emas sebagai logam mulia tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan masyarakat dan emas dalam bentuk perhiasan merupakan yang paling diminati, karena emas perhiasan selain untuk mempercantik diri bisa digunakan sebagai alat investasi jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, ternyata emas perhiasan dipilih kalangan ibu rumah tangga karena dirasa harga emasnya yang terus meningkat, emas mudah dibeli, dan mudah pula ketika hendak menjualnya. Tak heran jika pada saat ini masyarakat dipedesaan maupun perkotaan berbondong-bondong untuk membeli emas. Namun, ternyata untuk emas dalam bentuk perhiasan dikenakan ongkos pembuatan, berbeda dengan emas dalam bentuk batangan yang tidak dikenakan ongkos pembuatan. Sehingga hal tersebut yang sering membuat harga emas menurun ketika dijual kembali. Disimpulkan bahwa dalam berinvestasi ada berbagai macam tingkat imbal hasil yang diikuti pula dengan tingkat risikonya, sehingga perlu dilihat pemahaman ibu rumah tangga tentang risiko dan kelebihannya dalam melakukan pembelian emas. C. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo dengan pertimbangan sesuai dengan masalah dan tujuan yang hendak dicapai, kemudahan pengumpulan data, faktor efisiensi waktu dan biaya. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Adapun ibu rumah tangga tersebut dipilih karena dalam upaya melihat sikap ibu rumah tangga terhadap emas. Jenis data yang digunakan adalah data primer. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersumber dari wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan cara teknik sampel purposive sampling. Teknik ini adalah teknik pengambilan sampel yang menggunakan kriteria tertentu dan digunakan sebagai sampel (Sugiyono 2011). Adapun kriterianya adalah: 1. Kriteria ibu rumah tangga (perempuan yang sudah menikah) dan tinggal di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. 2. Perempuan yang memiliki income baik dari bekerja atau dari suami. 3. Memiliki investasi emas atau sudah pernah membeli emas. Berdasarkan pada uraian tersebut maka jumlah sampelnya adalah 100 responden ibu rumah tangga di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Jenis dan Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yakni data yang diperoleh langsung dari penelitian lapangan. Selanjutnya metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan cara menyebarkan kuesioner secara personal untuk mengetahui pendapat atau persepsi responden yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan variabel-variabel yang diteliti (Supramono dan Utami 2004). Kuesioner terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama berupa identitas responden, bentuk investasi emas yang dipilih, dan pertanyaan yang berkaitan dengan variabel penelitian. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, kuesioner penelitian didistribusikan langsung ke ibu-ibu rumah tangga yang berlokasi di Kecamatan Kutoarjo. Total keseluruhan kuesioner yang terdistribusikan berjumlah 100 kuesioner
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 10 untuk ibu rumah tangga di Kecamatan Kutoarjo. Teknik Analisa Data Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lainnya, sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Sugiyono 2011). Teknik analisa data menggunakan analisis deskriptif, yaitu teknik analisis menggunakan bahasa verbal untuk menguraikan hasil temuan di lapangan dan menggunakan uji statistik hipotesis. Data yang telah dikumpulkan, selanjutnya dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas. Setelah melakukan uji validitas dan reliabilitas, maka selanjutnya membuat statistik deskriptif dari masing – masing variabel. Sebelum dilakukan analisis data, maka diperlukan pengujian menggunakan pilot test dengan melakukan penyebaran kuisioner terhadap 20 responden. Kemudian dilakukan Uji reliabilitas dan Uji validitas. Selanjutnya untuk menentukan rentang skala likert kategori dari nilai rata-rata jawaban responden maka dapat menggunakan rumus (Santosa 2009): = 2 Dari uraian diatas dapat diperoleh kategori tingkat variabel sebagai berikut: Tabel 1: Tingkat Kategori Variabel Range Keterangan 1,00-3,00 Rendah >3,00-5,00 Tinggi Analisis data untuk penelitian ini menggunakan analisis deskriptif berusaha menggambarkan atau menjelaskan berbagai karakteristik data seperti mean, varians, serta distribusi frekuensi (Situmorang et al., 2010) Tabel 2: Tabel Pengukuran Konsep Konsep Definisi Konsep Indikator Sikap terhadap Emas Investasi emas merupakan investasi paling aman dibandingkan jenis investasi lain (Gustina 2013), sehingga investasi emas dapat dilakukan oleh semua golongan termasuk ibu rumah tangga - Emas sebagai kebanggaan - Emas sebagai investasi - Emas sebagai proteksi - Emas sebagai kebanggaan Saya membeli emas untuk membuat diri saya menjadi lebih dihormati. Saya menggunakan emas saat momen tertentu seperti saat hari raya, acara keluarga, dsb. - Emas sebagai investasi Saya yakin harga emas mengalami kecenderungan naik. Saya membeli emas untuk jangka panjang. Saya membeli emas untuk jaminan hari tua. - - Emas sebagai proteksi Saya membeli emas digunakan untuk mempertahankan kekayaan. Saya membeli emas karena dapat digadaikan jika darurat. Horison Investasi Menurut Sembel dan Kartawijaya (2012) bahwa horison waktu adalah kurun waktu yang diperkirakan merupakan kurun waktu yang diperlukan oleh investor untuk mencapai tujuan investasinya. Jangka waktu Jangka pendek (satu tahun atau kurang) Jangka panjang (lebih dari satu tahun)
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 11 Kelebihan dan risiko dalam berinvestasi emas Menurut Apriyanti (2011:2) bahwa kelebihan investasi adalah keuntungan yang diperoleh dari suatu investasi, untuk risiko investasi bisa diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara return aktual dengan return yang diharapkan. Perbedaan emas dibanding investasi lain terkait dengan kelebihan dan risiko yang dimiliki. Kelebihan berinvestasi di emas adalah Emas terbebas dari nilai inflasi dan harga emas akan cenderung naik. Investasi emas low-risk. (Risikonya hampir tidak ada, selain kehilangan) Saat membeli emas tidak dikenai ongkos pembuatan pada emas batangan. Investasi emas mudah dicairkan dalam bentuk uang saat dibutuhkan. Risiko berinvestasi di emas adalah Kebanyakan toko emas sedikit tertutup kepada konsumen masalah harga. Investasi emas dalam jumlah banyak perlu keamanan khusus. Emas lebih baik untuk investasi jangka panjang dibandingkan jangka pendek. Hasil Uji Validitas Hasil pengujian validitas dapat dilihat pada Lampiran. Berdasarkan data pada tabel tersebut, diketahui bahwa untuk nilai r hitung (corrected item total correlation) masing - masing pertanyaan kuesioner sikap ibu rumah tangga terhadap emas (total 7 pertanyaan kuesioner) output ini menjelaskan tentang hasil uji validitas item. Dalam hal ini yang dibaca cukup korelasi antara skor tiap item. Dalam hal ini yang dibaca cukup korelasi antara skor tiap item dengan skor total (item total). Berdasarkan data pada tabel dilampiran, diketahui bahwa korelasi A1 dengan total sebesar 0,565 dengan signifikansi 0,004. Menurut Sekaran (1992) untuk mudahnya dalam menentukan kevalidan item tersebut, maka dapat dilihat pada nilai signifikansi. Jika signifikansi <0,05 maka item valid, tetapi jika signifikansi >0,05 maka item tidak valid. Dari output dapat dilihat bahwa semua item memiliki signifikansi <0,05 sehingga semua item ini dinyatakan valid. Hasil Uji Reliabilitas Berdasarkan data pada hasil pengujian reliabilitas, berdasarkan data pada tabel terlampir bahwa output tersebut sebagai hasil dari analisis reliabilitas dengan teknik Cronbach Alpha. Diketahui nilai Cronbach Alpha 0,724. Menurut Sekaran (1992), reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima, dan di atas 0,8 adalah baik. Karena nilainya adalah 0,724, maka hasilnya dapat diterima. Sedangkan jumlah item (N) adalah 7 item pertanyaan. Karakteristik Reponden Sebanyak 100 responden ibu rumah tangga yang telah memenuhi kriteria sebagai sampel dan bersedia untuk mengisi daftar pertanyaan atau kuesioner penelitian dengan lengkap sehingga telah memenuhi persyaratan penelitian. Sebelum menguji hipotesis, perlu diketahui, karakteristik responden terlebih dahulu. Karakteristik responden
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 12 tersebut meliputi alamat, usia, status, tingkat pendidikan, memperoleh pendapatan, rata-rata pendapatan per bulan, emas yang dimiliki, waktu pembelian emas terakhir, momen saat membeli emas, lama memegang emas dan paling cepat dalam menjual emas. Kemudian dari data yang telah terkumpul diolah dan dilakukan analisis frekuensi dalam tabel berikut: Tabel 3: Berdasarkan Usia, Status, Tingkat Pendidikan Karakteristik Responden Jumlah Persentase 20-29 31 31% 30-39 19 19% 40-49 21 21% 50-59 22 22% >60 7 7% Total 100 100% Status Jumlah Persentase Menikah 85 85% Janda 15 15% Total 100 100% Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase SD 17 17% SMP 24 24% SMA 41 41% S1 13 13% Lainnya 5 5% Total 100 100% Sumber: Hasil Olahan Data Primer (2015) Berdasarkan analisis menggunakan metode deskriptif frekuensi, maka usia 100 responden bervariasi dari usia 20 tahun hingga 65 tahun. Dilihat berdasarkan usia maka rentang 18 – 45 tahun masuk dalam kategori produktif bekerja, karena pada usia tersebut dimana manusia sudah matang secara fisik dan biologis (Nurhasikin 2013). Oleh karena itu, mayoritas ibu rumah tangga yang menjadi responden berada pada rentang 20-29 tahun berjumlah 31 persen yang berada di usia muda dan produktif, selain itu ibu rumah tangga berusia produktif lain berada di rentang usia 30-39 tahun dan 40-49 tahun jumlahnya tidak kalah banyak masing-masing 19 persen dan 21 persen. Untuk usia pensiun berdasarkan undang-undang yang mengatur tentang batas usia pensiun, menurut UU No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun bahwa hak atas manfaat pensiun dengan catatan batas usia pensiun normal adalah 55 tahun dan batas usia manfaat pensiun wajib maksimum 60 tahun, dilihat dari seluruh responden menunjukkan untuk usia pensiun dari usia 50-59 tahun berjumlah 22 persen dan usia > 60 tahun hanya berjumlah 7 persen. Menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia produktif pada rentang usia 20-49 tahun berjumlah 71 persen. Terkait dengan mayoritas responden ibu rumah tangga yang memiliki tingkat pendidikan adalah tamatan SMA/SMK. Tingkat pendidikan SMA/SMK dengan persentase 41% dari seluruh jumlah responden maka diketahui
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 13 bahwa kebanyakan pekerjaan responden seperti sebagai pegawai toko, buruh pabrik dan sebagainya. Selain karena tingkat pendidikan responden mayoritas SMA/SMK, lokasi yang dekat dengan kawasan pertokoan dan industri membuat mayoritas responden bekerja pada sektor tersebut. Kemudian tidak dipungkiri bahwa era globalisasi sebagian besar lapangan pekerjaan mensyaratkan pelamar yang minimal adalah SMA/SMK atau bahkan ada mensyaratkan Sarjana S1 sebagai pelamarnya. Namun, masih ada 17 responden ibu rumah tangga yang merupakan tamatan SD saja. Sedangkan beberapa responden yang memilih pilihan lainnya, ada 5 responden ibu rumah tangga yang merupakan lulusan program D3. Kemudian berdasarkan karakteristik responden juga menyangkut status pernikahan menunjukkan ada 85 respoden yang sebagian besar berstatus menikah dan 35 responden berstatus janda. Dalam hal ini, sebagian besar responden berstatus janda jika memperoleh pendapatan melalui bekerja dikarenakan tidak ada sumber pendapatan lainnya. Untuk ibu rumah tangga yang memiliki peran ganda yaitu bekerja dan mengurus rumah tangga, karena sebagian berpikir mengenai keadaan ekonomi untuk mencukupi kebutuhan anak karena di masa kini biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Selain itu, ibu rumah tangga yang bekerja dengan pendidikan diatas SMA memiliki pengetahuan yang lebih luas dari hasil bersosialisasi dengan kerabat-kerabatnya membuat ibu rumah tangga lebih mengerti metoda untuk membeli emas sebagai investasi. Tabel 4: Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan, Penghasilan per Bulan, Emas yang Dimiliki Pekerjaan Jumlah Persentase Bekerja 65 65% Tidak Bekerja 35 35% Total 100 100% Penghasilan per Bulan Jumlah Persentase < 1.200.000 53 53% 1.200.000 - 2.400.000 27 27% 2.400.000 - 3.600.000 4 4% 3.600.000-4.800.000 8 8% > 4.800.000 8 8% Total 100 100% Emas yang Dimiliki Jumlah Persentase Perhiasan 81 81% Keduanya (Perhiasan dan Batangan) 19 19% Total 100 100% Sumber: Hasil Olahan Data Primer (2015) Dilihat dari penghasilan per bulan oleh mayoritas ibu rumah tangga mayoritas di Kecamatan Kutoarjo dari 100 responden menunjukkan mayoritas tingkat penghasilan < Rp 1.250.000 dikarenakan sebagian besar bekerja sebagai pegawai toko, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya. Oleh karena
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 14 Kecamatan Kutoarjo aksesnya yang dekat dengan lokasi baik pasar, perumahan, pertokoan serta daerah kawasan pabrik sehingga memungkinkan ibu rumah tangga untuk menjalankan peran gandanya di sela kesibukan. Selain itu, banyak ibu rumah tangga yang bekerja menjadi seorang wirausahawati seperti membuka toko, memproduksi makanan, dan lain sebagainya. Pekerjaan tersebut menjadi sasaran banyak kalangan ibu rumah tangga dengan alasan pekerjaan-pekerjaan tersebut ibu rumah tangga dapat menjalankan peran ganda dengan maksimal. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Beauregard (2008) dimana wanita yang menikah, terutama mereka yang sudah memiliki anak harus mengambil pekerjaan yang tidak menuntut waktu banyak dalam rangka untuk berhasil menggabungkan pekerjaan serta tanggung jawab di dalam rumah tangga mereka. Selain itu, alasan lain yang membuat ibu rumah tangga bekerja dengan membuka usahanya sendiri dan dengan modal terbatas adalah membuat sebuah usaha yang menghasilkan pendapatan cukup besar. Akan tetapi, dengan status perannya yang ganda membuat ibu rumah tangga tidak dapat bekerja dengan fokus sehingga penghasilan yang diperoleh tidak terlalu tinggi. Namun, terdapat pula responden ibu rumah tangga yang bisa dibilang penghasilan suami yang terbilang tinggi ataupun yang tidak diperbolehkan oleh suaminya bekerja. Sehingga ada beberapa kemungkinan yang mendorong ibu rumah tangga untuk tidak bekerja dan hanya mengandalkan pemasukan dari penghasilan suaminya. Dengan perbedaan jumlah penghasilan dari masing-masing ibu rumah tangga yang membuat perlakuan yang berbeda dalam mengalokasikan penghasilan untuk memiliki emas. Dikarenakan jumlah penghasilannya tiap bulan mayoritas ibu rumah tangga yang < Rp 1.200.000,- maka sebagian ibu rumah tangga memilih memiliki emas perhiasan dikarenakan dilihat dari harganya yang lebih terjangkau dibandingkan harga emas batangan. Untuk ibu rumah tangga yang memiliki emas dalam bentuk keduanya (perhiasan dan batangan) menunjukkan bahwa responden yang diamati memang memiliki penghasilan lebih dibandingkan responden lain serta pengetahuan yang lebih baik tentang emas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu responden yang memiliki emas dalam bentuk perhiasan dan batangan bahwa emas perhiasan dimanfaatkan sebagai aksesoris dan emas batangan sebagai investasi karena harganya yang terus mengalami kenaikan dan tidak dikenakannya ongkos pembuatan. Bisa dikatakan emas perhiasan dipilih mayoritas ibu rumah tangga karena bisa dijadikan investasi serta aksesoris. Tabel 5: Saat Membeli Emas, Waktu Pembelian Saat Membeli Emas Jumlah Persentase Saat mendapatkan gaji ke-13 3 3% Saat mendapatkan THR 20 20% Saat mendapatkan arisan 47 47% Lainnya 30 30% Total 100 100% Waktu Pembelian Jumlah Persentase < 1 tahun 22 22% 1-2 tahun 20 20%
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 15 > 2 tahun 58 58% Total 100 100% Sumber: Hasil Olahan Data Primer (2015) Untuk momen yang dipilih ibu rumah tangga untuk membeli emas, mayoritas membeli emas saat mendapatkan arisan mencapai 47 persen responden ibu rumah tangga karena di momen tersebut ibu rumah tangga sebagai merasa bahwa mendapatkan dana lebih yang bisa dialokasikan untuk membeli emas serta memenuhi kebutuhan lainnya. Namun, sebagian ada yang membeli emas saat mendapatkan gaji ke-13 dan mendapatkan THR khususnya untuk ibu rumah tangga yang bekerja di pabrik ataupun di kantor. Untuk lainnya beberapa responden membeli emas dari tabungan yang sudah dikumpulkan sebelumnya. Ibu rumah tangga yang menjadi responden mencapai 58 persen yang membeli emas terakhir sudah > 2 tahun maka hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden di akhir-akhir ini sudah jarang mengalokasikan penghasilannya untuk membeli emas, mungkin dikarenakan faktor lain seperti kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak sekolah, dan sebagainya. Sedangkan sebagian responden menunjukkan < 1 tahun dan 1-2 tahun baru saja membeli emas kemungkinan dikarenakan saat momen tersebut memiliki dana lebih yang bisa digunakan untuk membeli emas. Tabel 6: Sikap Ibu Rumah Tangga terhadap Emas No. Konsep Skor Rata-rata 1 Emas sebagai kebanggaan 2.99 2 Emas sebagai investasi 3.93 3 Emas sebagai proteksi 3.25 Sumber: Hasil Olahan Data Primer (2015) Sikap ibu rumah tangga ini dilihat dari semakin tingginya rata-rata skor semakin menunjukkan ibu rumah tangga yang setuju pernyataan tersebut. Kemudian jika dilihat dari sikap ibu rumah tangga terhadap emas di dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa ibu rumah tangga yang dijadikan responden dengan skor yang tinggi yaitu 3,93 melihat emas sebagai investasi dengan motif mencari keuntungan dan melihat harga emas yang mengalami kecenderungan naik. Meskipun begitu diurutan kedua, ibu rumah tangga yang dijadikan responden dengan skor rata-rata 3,25 melihat emas untuk dijadikan proteksi sebagai motif berjaga-jaga yang dapat digunakan sewaktu-waktu. Selanjutnya untuk emas sebagai kebangaan hanya memperoleh skor rata-rata 2,99 menunjukkan bahwa responden yang menjadikan emas sebagai kebanggaan. Menurut Baur (2009) emas merupakan jenis investasi yang mampu menjaga nilai nilainya atau bahkan mengalami kenaikan pada saat kondisi ekonomi mengalami goncangan, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Baur (2009) emas didapati bahwa merupakan safe haven. Maka melalui rata-rata skor memang menunjukkan bahwa hasil di lapangan sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan kalau emas dijadikan sebagai investasi dan proteksi, namun tetap ada sebagian responden yang menjadikan emas sebagai kebangaan. Apabila dilihat dari lamanya memegang emas maka rata-rata
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 16 responden memegang emas sudah lebih dari 1 tahun, menunjukkan bahwa sebagian besar ibu rumah tangga memegang emas untuk disimpan dalam jangka panjang. Sehingga ketika dilihat dari waktu memegang emas menunjukkan bahwa mayoritas ibu rumah tangga menjadikan emas sebagai sarana investasi. Namun apabila dilihat dari cepatnya menjual kembali emas yang dimiliki maka rata-rata responden > 1 bulan dari waktu pembelian emas tersebut. Sebagian besar responden apabila tidak benar-benar membutuhkan uang/dana maka emas yang dimiliki tidak akan segera dijual. Sehingga ketika dilihat dari waktu menjual kembali emas yang dimiliki menunjukkan bahwa mayoritas ibu rumah tangga menjadikan emas sebagai sarana proteksi. Dari ratarata persentase emas yang dimiliki oleh responden menunjukkan bahwa tujuan memiliki emas dari masing-masing ibu rumah tangga berbeda-beda meliputi sebagai kebangaan, investasi, dan proteksi. Gambaran Ibu Rumah Tangga Terhadap Kelebihan dan Risiko Memiliki Emas Tabel 7: Kelebihan dan Resiko Memiliki Emas Kelebihan Emas Jumlah Persentase Harga emas cenderung naik dan emas sebagai simpanan 81 81% Emas mudah dijual di toko-toko emas terdekat 19 19% Total 100 100% Resiko Emas Jumlah Persentase Kehilangan 90 90% Harga turun 10 10% Total 100 100% Sumber: Hasil Olahan Data Primer (2015) Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui wawancara terbuka terhadap 100 responden terkait pengetahuan akan kelebihan dan resiko memiliki emas menunjukkan bahwa pengetahuan ibu rumah tangga terkait dengan kelebihan emas sebanyak 81 responden menjawab dengan melihat emas memiliki kecenderungan harga naik dan emas cocok dijadikan simpanan karena bisa memberikan keuntungan di masa yang akan datang. Selain itu, ada 19 responden yang menyampaikan lain bahwa kemudahan emas dijual di tokotoko emas terdekat yang menjadikan responden lebih melihat sisi kelebihan dari emas. Untuk risikonya 90 responden lebih melihat risiko kehilangan masih menjadi risiko yang dianggap utama jika memiliki emas dikarenakan kemudahannya untuk dijual tersebut dan risiko yang dianggap penting juga untuk diperhatikan menurut 10 responden berikutnya adalah risiko harga turun saat menjual kembali pada emas perhiasan. Berdasarkan dari hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa ibu rumah tangga menjadikan emas sebagai sebuah investasi yang memiliki keuntungan lebih menarik, baik dilihat dari tingkat harganya yang prospektif, resiko ataupun dari hasil dibandingkan dengan yang diperoleh dari investasi lain. Sehingga dilihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan ini disimpulkan bahwa sebagian besar ibu rumah tangga di Kecamatan Kutoarjo telah memiliki pemahaman tentang tujuan dalam
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 17 melakukan pembelian dan menjual kembali emas yang dimiliki serta terhadap kelebihan dan resiko dari memiliki emas dilihat dari definisi konsep yang ada. Untuk sikap terhadap emas, ibu rumah tangga yang menjadi responden lebih menjadikan emas sebagai investasi, selanjutnya diikuti dengan menjadikan emas sebagai proteksi dan kebanggan. E. PENUTUP Berdasarkan hasil pengujian dan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, dengan mempertimbangkan karakteristik responden menunjukkan bahwa sikap ibu rumah tangga terhadap emas di mayoritas ibu rumah tangga yang dijadikan responden melihat emas sebagai investasi dengan motif mencari keuntungan dan melihat harga emas yang mengalami kecenderungan naik. Meskipun begitu di urutan berikutnya menunjukkan ibu rumah tangga melihat emas untuk dijadikan proteksi sebagai motif berjagajaga yang dapat digunakan sewaktu- waktu dan hanya sebagian kecil responden yang menjadikan emas sebagai kebangaan. Kedua, ibu rumah tangga memegang emas rata-rata lebih dari satu tahun dan menjadikan emas sebagai proteksi sekaligus investasi. Ketiga, mayoritas ibu rumah tangga di Kecamatan Kutoarjo memiliki pemahaman tentang tujuan dalam melakukan pembelian dan menjual kembali emas yang dimiliki serta terhadap kelebihan dan resiko dari memiliki emas dilihat dari definisi konsep yang ada. Perencanaan yang matang merupakan suatu hal penting yang dapat membantu kita untuk mengambil berbagai keputusan termasuk keputusan keuangan. Untuk itu disarankan kepada ibu rumah tangga melakukan perencanaan yang baik ketika akan melakukan pembelian dan penjualan kembali terhadap emasnya. Selain itu, ibu rumah tangga sebaiknya memperhatikan kelebihan dan risikonya ketika akan melakukan pembelian dan penjualan kembali emasnya. Untuk peneliti berikutnya, sebaiknya menggunakan kuesioner yang lebih sederhana yang sesuai dengan karakteristik ibu rumah tangga sehingga mudah dimengerti oleh responden. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menambahkan variabel lain untuk melihat sikap ibu rumah tangga terhadap emas dalam model penelitian. Membuat mapping dengan mengkategorikan ibu rumah tangga berdasarkan profile ataupun dengan mengelompokkan antara ibu rumah tangga yang bekerja dan tidak bekerja dengan melihat pengaruhnya pada sikap terhadap emas. DAFTAR PUSTAKA Ajzen, Icek. 1991. The theory of planned behavior. Organizational behavior and human decision processe.Vol. 50. Ajzen, Icek., et al. 2004. Explaining the Discrepancy Between Intentions and Actions: The Case of Hypothetical Bias in Contingent Valuation. University of Massuchuselts. Amherst. Aldhuhayyan, Munirah Saleh S., dan Rahman, Prince Nora B. 2012. The Effectiveness of an Indicative Program on Financial Income Planning for a Group of Housewives in Riyadh City. The International Journal of Interdisciplinary Social Sciences Vol. 6, Issue 8, (2012) Ananda, M. R. 2013. Self Esteem Ibu Rumah Tangga Yang Bekerja Dengan Yang Tidak Bekerja. Ejournal Universitas
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 18 Muhammadiyah Malang. Vol. 01, No. 01, halaman 40-54 Antam. 2015. Historis Harga Emas Antam, dari http://www.antam.com diakses pada 24 Maret 2015 pukul 19.55 WIB Anwar, A.A. 2005. Perilaku Konsumen, Edisi revisi. Bandung: PT. Refika Aditama. Apriyanti. 2011. Anti Rugi Dengan Berinvestasi Emas. Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Ariadi, R., Malelak, M. I, dan A. Dewi. 2015. Analisa Hubungan Financial Literacy dan Demografi Dengan Investasi, Saving dan Konsumsi. FINESTA Universitas Kristen Petra. Vol.3 No.1, 7-12. Baur, D. G. (2009). Is Gold a Hedge or a Safe Haven? An Analysis of Stocks, Bond and Gold. Beauregard, T.A, 2008, Family Influences on the Career Life Cycle, LSE Research Online Edward Elgar Press pp. 101-125. Dewantara, I. H. 2014. Pengaruh Perceived Value Terhadap Keputusan Pembelian Emas 22% di Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo (Studi pada Toko Pusaka Mas). Skripsi. Malang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Dharmmesta, B., dan Khasanah, U. 1999. Theory of Planned Behavior: An Application to Transport Service Consumer. Gajah Mada International Journal of Business. Vol 1. Dirgantara, Andhika. 2011. Berapakah Rata-rata Kenaikan Harga Emas Per Tahun. Diunduh 25 April 2015, dari http://odnv.co.id Grafik Emas. 2015. Grafik Harga Emas. Diunduh tanggal 1 Maret 2015, dari http://grafikhargaemas.com Gunawan, I. A., & Wirawati, N. G. P. 2013. Perbandingan Berinvestasi Antara Logam Mulia Emas Dengan Saham Perusahaan Pertambangan Emas. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 4.2: 406-420 Gustina. 2013. Investigasi Investasi: “Sebuah Kajian Teoritis Tentang Alternatif Pilihan”. Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Padang. Husnan, Suad. 2001. Dasar-dasar Teori Portofolio. Edisi Ketiga. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, Yogyakarta. Imaad A. Moosa. 2000. Foreign Direct Investment Theory, Evidence And Practice. Investasi Emas. 2015. Grafik Harga Emas Dunia, http://investasiemasid.com diakses pada 27 Mei 2015 pukul 20.05 WIB Iramani dan Wulandari, Dewi. 2014. Studi Experienced Regret, Risk Tolerance, Overconfidence dan Risk Perception pada Pengambilan Keputusan Investasi Dosen Ekonomi. Journal of Business and Banking. Vol.4 No.1, 55-66. Irfani, Agus. 1999. Bagaimana Australia mengatasi krisis ekonominya?, Jakarta: P3M Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, Panutan Bisnis, Vol 1, Nomor 1, Juli, halaman 40-55. Jogiyanto. 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Ketiga. BPFE, Yogyakarta Joko, Agus. 2012. Pola Konsumsi, Investasi dan Proteksi Sebagai Indikator Perencanaan Keuangan Keluarga (Studi Pada Masyarakat Kabupaten Sidoarjo). Surabaya: Universitas Widya Mandala Surabay, Media Mahardika, Vol 10, Nomor 2, Januari, halaman 44- 66.
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 19 KBBI. 2015. Ibu. Diunduh tanggal 8 Mei 2015 dari http://kbbi.web.id/ibu Kusnandar, R. (2010). Cara Cerdas Berkebun Emas. Jakarta: Trans Media. Lengkey, L. N. A., dan Taroreh, Rita. 2014. Kualitas Pelayanan dan Bauran Pemasaran Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Logam Mulia pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Manado Timur. Jurnal EMBA. Vol.2 No.4, 154- 166. Lewellen, Wilbur, Lease, R. C., and Schlarbaum. (1977). Pattern of Investment Strategy and Behavior among Individual Investors. The Journal of Business, 296 – 332. Lista, R., L. Silvya, dan S. Agus. 2014. Citra Merek, Harga dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Perhiasan Emas pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Manado Utara. Jurnal EMBA. Vol.2 No.2, 1222-1232. Lucey, B. M. (2009). Hedges and Safe Haven : An Examination of Stocks, Bond, Oil and Exchange Rates. Lusardi, dan Mitchell, O, S. 2007. Baby Boomer retirement security: The roles of planning, financial literacy, dan housing wealth. Journal of Monetary Economics 54 (2007) 205-224 Lusardi, A dan Mitchell, O. 2011. Financial Literacy and retirement planning an the United States. Journal of Pension Economics and Finance. 10(4) : 509-525 Makaryanawati. 2009. Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Likuiditas Perusahaan terhadap Risiko Investasi Saham yang Terdaftar pada Jakarta Islamic Index. Universitas Negeri Surabaya. Mohamad Ardyan. Sebagai Menteri Keuangan Keluarga, Peran Ibu Rumah Tangga Besar. http://www.merdeka.com/uang/seb agai-menteri-keuangan-keluarga- peran-ibu-rumah-tangga-besar.html diakses pada 23 Mei 2015 pukul 22.25 WIB Morley, C. (2014). Is Gold a Safe Haven for Equity Investor? A VAR- GARCH Analysis. Multifiah. (2002). Analisis kompetensi alokasi waktu dan produktifitas wanita pekerja di pedesaan dan perkotaan. Jurnal Tropika vol. 10 Nabila, A. I. 2014. Strategi Penanganan Risiko Kerugian Cicil Emas Pada Bank Syariah. Skripsi. Jakarta: Program Sarjana UIN Syarif Hidayatullah. Nicki, et al. 2009. Financial Management Practices and Money Attitudes as Determinants of Financial Problems and Dissatisfaction in Young Male Australian Workers. Journal of Financial Counseling and Planning. Volume 20, Issue 2. Nurdiyana, Siti. 2013. Membeli Perhiasan Emas Pada Toko Emas Jaya di Samarinda. Skripsi. Samarinda: Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945. Nurhasikin, Penduduk Usia Produkti dan Ketenagakerjaan, http://kepri.bkkbn.go.id/Lists/Artik el/DispForm.aspx?ID=144 diakses pada 18 Agustus 2015 pukul 19.06 WIB Octavia, A. 2009. Gaya Hidup dan Perilaku Pembelian Emas Putih di Kota Jambi. Jurnal Manajemen Pemasaran Modern. Vol.1 No.1, 28-34. Ojk, Merencanakan Keuangan: Mengapa Diperlukan, http://sikapiuangmu.ojk.go.id/ diakses pada 1 Agustus 2015 pukul 21.00 WIB Ojk, Perencanaan Keuangan Ibu Rumah Tangga, http://sikapiuangmu.ojk.go.id/id/art
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 20 icle/150/perencanaan-keuanganibu-rumah-tangga- pdf,http://sikapiuangmu.ojk.go.id/p ublic/content/files/buku- perencanaankeuanganirt.pdf diakses pada 8 Agustus 2015 pukul 21.40 WIB Rasubala, M. A., dan Mandey, S. 2014. Analisis Perilaku Pelanggan terhadap Tawaran Produk Perhiasan Emas pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Manado Utara. Jurnal EMBA. Vol.2 No.3, 797-806. Rahayu, et al. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kontribusi Pendapatan Ibu Bekerja Terhadap Pendapatan Keluarga (Studi Kasus Desa Kersikan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi). Jurnal Sosial. Vol.11 No.1, 95-110. Redja, G. (2007). Risk management and insurance. (International edition). USA: Pearson Education Inc. Robb, Cliff: Deanna L Sharpe. 2009. Effect of Personal Financial Knowledge on College Student’s Credit Card Behavior. Journal of Financial and Planning, vol. 20. Rosnia, Rindy Antika. 2010. Investasi Berkebun Emas. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Santosa, Antonius Heru. 2009. “Analisis Risiko Investasi Saham Pada Sektor Properti Di Bursa Efek Indonesia Periode 2003-2008”. Universitas Gunadarma. Sekaran, Uma.1992. Research Methods for Business, A Skill Building Approach, 2nd edition. New York : John Wiley n Sons Sembel, & Kartajaya, Hermawan. (2009). Reksadana Solusi Perencanaan Investasi di Era Modern. Jakarta: Gramedia Setiawan, S. F. 2014. Alokasi Pendapatan, Conscientiousness, dan Faktor Demografis terhadap Impulsive Buying. Skripsi. Salatiga: Program Sarjana Universitas Kristen Satya Wacana. Sharma, et al. 2003. Predictors Of Satisfication With The Succession Process In Family Firms. Journal of Business Venturing. Vol 667- 687. Sholeh, Mohammad. 2013. Emas Sebagai Instrumen Investasi yang Aman pada Saat Instrumen Investasi Keuangan Lain Mengalami Peningkatan Risiko. Skripsi. Surabaya: Program Sarjana Universitas Negeri Surabaya. Siti Nurdiyana. 2013. Membeli Perhiasan Emas Pada Toko Emas Jaya di Samarinda. Fakultas Ekonomi, Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Samarinda. Indonesia. Situmorang, Syafrizal Helmi dan Muslich Lufti. 2012. Analisis Data untuk Riset Manajemen dan Bisnis, Edisi 2. Medan : Usu Press Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung. Supramono, S., & Sugiarto, I. R. (1993). Statistika. Yogyakarta : Andi Offset. Supramono, Kaudin, A., Mahastanti, A. M., dan Damayanti, T. W. 2010. Desain Penelitian Keuangan Berbasis Perilaku. Salatiga: Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW Supramono, & Utami, I. 2004. Desain Proposal Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset Tanuwidjaja, W. (2009). Cerdas Investasi Emas. Yogyakarta : MedPress. Tjiptono, Fandy, 2007, Pemasaran Jasa, edisi pertama, cetakan ketiga, Bayumedia publising, Malang Tyson, E. 2011., Investing for Dummies 6th Ed, John Wiley & Sons, Hoboken.
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Ardi Surya Satriawan 21 Vesiania, J., B. Sautma, dan R. Shanti. 2014. Karakteristik Emas sebagai Safe Heaven dan Hedge Asset terhadap Saham dan Dolar di Indonesia. FINESTA Universitas Kristen Petra. Vol.2 No.1, 67-70. Wong, B., McReynolds, S., Wong, W., 1992. Chinese family firms in the San Fransisco bay Areas. Family Review 5, 355-372. Yulianti, N & Silvy, M. 2013. Sikap Pengelola Keuangan dan Perilaku Perencanaan Investasi Keluarga di Surabaya. Journal of Business and Banking. Vol 3, No.1, 57-68
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 22 PENGARUH KEPUASAN KERJA DAN STRESS KERJA TERHADAP TURNOVER INTENTIONS KARYAWAN BAG. MARKETING PT. WAHANA SAHABAT UTAMA Writer: Nurul Hidayati Dewi Trisnawati Correspondence: [email protected] [email protected] Institution: STIE PGRI Dewantara Jombang EKSIS Vol XI No 1, 2016 ISSN: 1907-7513 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/ abstract This research: aims 1) to determine whether job satisfaction negative influence and significant against turnover intention of employees 2) to determine whether job stress influence positively and significantly against turnover intention of employees and 3) to determine whether satisfaction and job stress affect Operates simultaneously against turnover intention of employees. The study included research essentially testing truth verification through data collection in the field. The method used in the research is explanatory by involving 35 employees. The data was analyzed by using Multiple Linear Regression. The research indicate that 1) job satisfaction is negatively and significant influence against turnover intentions of the employees PT.Wahana Sahabat Utama, 2) Work stress is a positively and significant influence against turnover intentions of the employees PT. PT.Wahana Sahabat Utama and 3) job satisfaction and job stress effect are positively and significant influence against turnover intentions of the employees PT.Wahana Sahabat Utama. Keywords: turnover intentions, job stress, job satisfaction abstrak Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mengetahui apakah kepuasan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention karyawan 2) Untuk mengetahui apakah stress kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention karyawan Dan 3) Untuk mengetahui apakah kepuasan dan stress kerja berpengaruh secara simultan terhadap turnover intention karyawan. Penelitian ini menggunakan metode explanatory survey, sampel penelitian sejumlah 35 karyawan bagian marketing yang merupakan sampel jenuh. Teknik analisa data dengan menggunakan metode statistik Regresi Linier Berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kepuasan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama, 2) Stres kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama dan 3) Kepuasan kerja dan stres kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama. Kata Kunci : turnover intention, stress kerja, kepuasan kerja
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 23 A. PENDAHULUAN Salah satu aset berharga yang perlu dipertahankan perusahaan adalah sumber daya manusia, karena sumber daya manusia merupakan aspek penting yang menentukan keefektifan suatu perusahaan. Untuk itu perusahaan perlu senantiasa melakukan investasi untuk merekrut, menyeleksi, dan mempertahankan sumber daya manusianya. Disisi lain, perusahaan perlu untuk mempertahankan sumber daya yang potensial agar tidak berdampak pada perpindahan karyawan (employee movement). Tingkat turnover intentions yang tinggi akan menimbulkan dampak negatif bagi perusahaan, seperti menciptakan ketidakstabilan terhadap kondisi tenaga kerja dan peningkatan biaya sumber daya manusia. Hal tersebut menjadikan perusahaan tidak efektif karena perusahaan kehilangan karyawan yang berpengalaman dan perlu melatih kembali karyawan baru. Kinerja suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku karyawan yang dimiliki perusahaan tersebut. Fenomena yang sering terjadi adalah kinerja suatu perusahaan yang telah sedemikian bagus dapat dirusak, baik langsung maupun tidak langsung oleh berbagai perilaku karyawan yang sulit dicegah. Salah satu bentuk perilaku karyawan tersebut adalah keinginan untuk berpindah (turnover intentions) yang berujung pada keputusan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya. Turnover intentions diukur dengan empat tindakan penarikan diri (withdrawal cognition) yang meliputi adanya pikiran untuk keluar, keinginan untuk mencari lowongan pekerjaan, mengevaluasi kemungkinan menemukan pekerjaan lain, dan adanya keinginan untuk berpindah (Abelson, 1987). Turnover intentions harus disikapi sebagai suatu fenomena dan perilaku manusia yang penting dalam kehidupan organisasi dari sudut pandang individu maupun sosial, mengingat bahwa tingkat keinginan berpindah karyawan tersebut akan mempunyai dampak yang cukup signifikan bagi perusahaan dan individu yang bersangkutan (Suartana, 2000). Pada kasus yang terjadi di PT. Wahana Sahabat Utama, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan otomotif di daerah Jombang. Pada perusahaan ini terdeteksi mengalami tingkat Turnover Intention yang relatif cukup tinggi, pada setiap tahun didapatkan data keluar sekitar 2-4 orang karyawan. Masalah kepuasan kerja merupakan hal mendasar, yang dirasakan dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk keluar dari tempat kerjanya dan mencoba untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik dari tempat kerja sebelumnya. Setiap karyawan marketing pada PT Wahana Sahabat Utama masing-masing memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda- beda satu dengan yang lainnya. Namun pada dasarnya mereka yang mempunyai minat untuk berpindah kerja dikarenakan mereka tidak puas dengan hasil dari pekerjaan mereka yang berupa gaji yang mereka dapatkan setiap bulannya. Namun tidak hanya gaji yang dipermasalahkan, adanya konflik dengan rekan kerja atau senior yang membuat mereka tidak betah bertahan di perusahaan, mereka yang beranggapan senior akan merasa bahwa dirinyalah yang paling berkuasa, semua yang dilakukan atau strategi yang dilakukan dalam mencari konsumen harus dengan persetujuan senior, jika ada yang melangar maka konsekuensinya akan dikucilkan dan semua itu merupakan tekanan bagi mereka sebagai jenior dan akan membuat mereka tidak betah lalu memutuskan untuk pindah kerja. Permasalahan kepuasan kerja yang terjadi di PT. Wahana Sahabat Utama
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 24 utama adapun masalah stres yang dialami oleh karyawan disana. Hal ini perlu menjadi perhatian perusahaan karena perilaku stres kerja tidak hanya berpengaruh pada individu, namun juga terhadap perusahaan itu sendiri. Stres kerja yang dihadapi karyawan juga merupakan salah satu alasan untuk mencari alternatif pekerjaan lain. Stres kerja diduga menjadi salah satu faktor terpenting diantara faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi turnover karyawan. Stres muncul saat karyawan tidak mampu memenuhi apa yang menjadi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Pada tahuntahun belakangan ini, perusahaan PT. Wahana Sahabat Utama mengalami penurunan penjualan, semakin tahun minat beli konsumen semakin sedikit, sehingga ini juga berdampak pada karyawan marketing. Mereka sudah berupaya keras, menjalankan strategi untuk menarik minat beli konsumen. Namun hasilnya tidak memuaskan, banyaknya karyawan marketing di perusahaan tidak dapat memberikan hasil yang signifikan terkait tentang sales program yang mereka lakukan. Setiap hari diadakan briefing dan pimpinan menuntuk agar tim marketing berusahasa lebih keras lagi untuk mendaptkan hasil maksimal, mereka masing-masing diharuskna mencapai target dalam setiap bulannya. Apabila dalam sebulan mereka tidak mencapai target maka gaji yang mereka dapatkan sangatlah minim tanpa ada insentif. Maka dari itu karyawan marketing PT. Wahana Sahabat Utama mengalami stress dan tekanan dari atasan untuk mencapai target padahal semakin tahun minat beli konsumen semakin menurun. Selain tekanan dari pimpinan atau manajemen, adanya konflik dengan rekan kerja juga membuat mereka tidak nyaman lagi untuk tinggal lebih lama pada perusahaan. Berdasarkan latar belakang masalah, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah kepuasan dan stress kerja berpengaruh terhadap turnover intention karyawan. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah pada karyawan bagian marketing PT. Wahana Sahabat Utama. Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi banyak pihak, baik sebagai referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu manajemen dan menambah kajian ilmu manajemen khususnya ilmu manjemen sumber daya manusia untuk mengetahui penyebab karyawan melakukan turnover intentions, dan khususnya bagi perusahaan tentang penerapan sikap yang sesuai untuk dapat mempengaruhi bawahannya. B. TINJAUAN TEORITIS Pengertian Kepuasan Kerja Menurut Locke (1976) dalam Ali Turkyilmas dkk (2009) mengartikan kepuasan kerja sebagai pernyataan emosi yang positif sebagai hasil dari pengakuan terhadap pekerjaan atau pengalaman dalam bekerja. Robbins (2008) mengistilahkan kepuasan kerja sebagai sikap umum seseorang individu terhadap pekerjaannya, selanjutnya dijelaskan pula bahwa seseorang dengan kepuasan kerja yang tinggi menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan itu, sebaliknya seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap yang negatif terhadap pekerjaan itu. Handoko (2001) menyebutkan bahwa kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Lebih jauh dikatakan bahwa kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, yang dapat terlihat dari sikap positif pekerja terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi pada lingkungan kerja.
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 25 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Kepuasan kerja sangat diperlukan bagi karyawan karena dengan adanya kepuasan kerja karyawan dapat meningkatkan produktivitas. Hezberg dalam Noor (2001) menyatakan bahwa hubungan seorang individu dengan kerjanya merupakan hubungan dasar yang dapat menentukan sukses tidaknya individu yang bersangkutan. Dikatakan pula bahwa dalam bekerja ada faktorfaktor yang dapat menimbulkan kepuasan atau sebaliknya yang disebutnya sebagai faktor motivasi dan ada faktor-faktor yang tidak menyebabkan terjadinya kepuasan tetapi hanya berfungsi sebagai faktor pemelihara kepuasan yang disebut faktor higienis. Faktor-faktor tersebut adalah: a. Faktor Motivasi : prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kemajuan dan pertumbuhan; b. Faktor Higienis : kebijakan administrasi perusahaan, penyeliaan, hubungan dengan penyelia, kondisi kerja, gaji, hubungan denga rekan kerja, hubungan dengan bawahan, status dan keamanan. Pengertian Stress Kerja Stres dapat didefinisikan sebagai suatu respon yang dibawa oleh berbagai peristiwa eksternal dan dapat berbentuk pengalaman positif atau pengalaman negative. Selain itu, Fontana (1989) mendefinisikan stres sebagai suatu tuntutan yang muncul karena adanya kapasitas adaptif antara pikiran dan tubuh atau fisik manusia. Definisi lain tentang stres kerja dikemukakan oleh Selye (1976) yang mengartikan stres kerja sebagai tanggapan atau respon yang tidak spesifik dari fisik manusia terhadap tuntutan (demand) yang timbul. Dalam hubungannya dengan stres, Robbins (2003) membagi tiga kategori potensi penyebab stres (stressor) yaitu lingkungan, organisasi, dan individu. Ketidakpastian lingkungan mempengaruhi dalam perancangan struktur organisasi. Ketidakpastian itu juga mempengaruhi tingkat stres di kalangan para karyawan dalam suatu organisasi. Lebih lanjut Robbins (2003) berpendapat bahwa struktur organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan diambil. Aturan yang berlebihan dan kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada karyawan merupakan potensi sumber stres. Selanjutnya Robbins (2003) memaparkan bahwa survei yang dilakukan secara konsisten yang telah dilakukan menunjukkan bahwa orang menganggap hubungan pribadi dan keluarga sebagai suatu yang sangat berharga. Kesulitan pernikahan retaknya hubungan, dan kesulitan disiplin anak merupakan contoh masalah hubungan yang menciptakan stres bagi karyawan dan dapat terbawa ke tempat kerja. Masalah ekonomi yang dialami oleh individu merupakan perangkat kesulitan pribadi lain yang dapat menciptakan stres bagi karyawan. Banyak faktor dalam lingkungan kerja yang ditandai dengan tingginya tingkat persaingan, keterbatasan waktu, adanya faktor-faktor yang tidak terkontrol, keterbatasan ruang, perkembangan teknologi yang terjadi terus menerus, adanya konflik kepentingan dari stakeholder organisasi (Hall dan Savery), meningkatnya peran partisipasi manajemen dan adanya komputerisasi (Murray dan Forbes, 1986), semakin meningkatnya ketidakpastian dan hal-hal lain dapat menimbulkan semakin tingginya tingkat stres ditempat kerja. Stres dapat disebabkan oleh lingkungan, organisasi dan variabel individu
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 26 (Mattesan dan Ivancevich, 1999, Cook dan Hunsaker, 2001). Faktor-faktor organisasional diketahui mempengaruhi stress karyawan ditempat kerja (Greenhaus dan Beutell, 1985). Faktorfaktor ini biasanya disebut sebagai penyebab stress organisasional karena faktor-faktor ini sebagai salah satu pemicu berbagai reaksi akan munculnya stres (Van Onciul, 1996). Dari berbagai sumber stres organisasional, terdapat lima variabel yang merupakan sumber stres yaitu konflik, tersendatnya karir (blocked career), persaingan (alientation), kelebihan beban kerja (work overload) dan lingkungan kerja yang tidak kondusif. Konflik peran (role conflict) mempunyai hubungan yang positif dengan stress kerja (Roberts et al, 1997). Foot dan Venne (1990)) berpendapat bahwa ada hubungan positif antara terghalangnya karir dengan stres kerja. Ketika karyawan merasa tidak mempunyai peluang karir, karyawan mungkin merasakan ketidakpastian tentang masa depannya di dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat menimbulkan dan mempengaruhi tingkat stres. Lebih lanjut Thoits (1995) mengemukakan bahwa persaingan (alienation) mempunyai hubungan positif dengan stres kerja. Kelebihan beban kerja (work overload) baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif mempunyai hubungan empiris dengan fisiologi, psikologi dan stres (Beehrdan Newman, 1978). Faktor Penyebab Timbulnya Stres Menurut Robbins (2006) ada beberapa penyebab stres dalam pekerjaan, yaitu : a. Faktor Lingkungan (Ketidakpastian ini meliputi ketidakpastian ekonomi, ketidakpastian politis, ketidakpastian teknologis) b. Faktor Organisasi (tuntutan tugas, tuntutan peran dan tuntutan antar pribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi dan tingkat hidup organisasi) c. Faktor Individual (isu keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik kepribadian yang intern). Pengertian Keinginan Berpindah (Turnover Intentions) Turnover merupakan masalah tersendiri yang dihadapi organisasi, karena berkaitan dengan jumlah individu yang meninggalkan atau keluar dari organisasi pada periode tertentu, sedangkan turnover intention diartikan sebagai keinginan berpindah kerja yang mengacu pada hasil evaluasi individu mengenai kelangsungan hubungan dengan organisasi dan belum terwujud dalam tindakan pasti untuk meninggalkan organisasi (Suwandi dan Indriantoro,1999:176). Tinggi rendahnya turnover karyawan pada organisasi mengakibatkan tinggi rendahnya biaya perekrutan, seleksi, dan pelatihan yang harus ditanggung organisasi. Hal tersebut dapat mengganggu efisiensi operasional bila karyawan yang meninggalkan organisasi memiliki pengetahuan dan pengalaman, sehingga memerlukan persiapan dan biaya untuk penggantinya. Dampak positif turnover jika menimbulkan kesempatan untuk menggantikan individu yang berkinerja tidak optimal dengan individu yang berketrampilan dan bermotivasi tinggi. Kategori Turnover Mobley et al. (1979) mengelompokkan berhentinya karyawan dari perusahaan berdasarkan siapa yang memunculkan inisiatif untuk berhenti kerja, dalam 2 (dua) kategori : a. Turnover yang terjadi sukarela (Voluntary turnover), terjadi apabila karyawan memutuskan baik secara personal ataupun disebabkan oleh alasan profesional lainnya untuk menghentikan hubungan kerja dengan perusahaan, misalnya karyawan berkeinginan untuk mendapatkan
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 27 pekerjaan dengan gaji yang lebih baik ditempat lain . b. Turnover yang dipisahkan (Involuntary turnover), terjadi apabila pihak manajemen / pemberi kerja merasa perlu untuk memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya dikarenakan tidak ada kecocokan atau penyesuaian harapan dan nilai-nilai antara pihak perusahaan dengan karyawan yang bersangkutan atau mungkin pula disebabkan oleh adanya permasalahan ekonomi yang dialami perusahaan. Dalam penelitian ini, pergantian tenaga kerja lebih difokuskan pada voluntary turnover, yaitu yang terjadi secara sukarela berdasarkan keinginan dari dalam diri karyawan itu sendiri. Alasannya, jenis turnover tersebut dianggap merugikan perusahaan sehingga perlu diusahakan pengendaliannya. Menurut Dalton et al. (1981) voluntary turnover dapat dibedakan atas dasar sifatnya menjadi 2 (dua): avoidable voluntary turnover (dapat dihindarkan) dan unavoidable voluntary turnover (tidak dapat dihindarkan). Avoidable voluntary turnover timbul karena alasan upah yang lebih baik di perusahaan lain, kondisi kerja yang lebih baik di organisasi lain, prestasi kerja yang lebih baik di perusahaan lain, masalah dengan pimpinan/administrasi yang ada, serta adanya alternatif tempat pekerjaan lain. Unavoidable voluntary turnover timbul karena alasan pindah ke daerah lain karena mengikuti pasangan, perubahan arah karir individu, tinggal di rumah mengasuh anak, kehamilan. Dalam studi yang dilakukan, variabel ini digunakan dalam cakupan luas meliputi keseluruhan tindakan penarikan diri (withdrawal cognitions) yang dilakukan karyawan. Tindakan penarikan diri menurut Abelson (1987) terdiri atas beberapa komponen yang secara simultan muncul dalam individu berupa adanya pikiran untuk keluar, keinginan untuk mencari lowongan pekerjaan, mengevaluasi kemungkinan menemukan pekerjaan di tempat lain, dan adanya keinginan untuk berpindah. Pada dasarnya turnover dapat menjadi fungsional apabila karyawan yang mengundurkan diri adalah karyawan yang kurang berprestasi dalam arti tidak potensial, sehingga akan terbuka kesempatan bagi masuknya para pekerja yang lebih kompeten. Tetapi turnover menjadi tidak fungsional jika dengan keluarnya karyawan, perusahaan justru mengalami kerugian, antara lain kerugian yang disebabkan oleh munculnya biaya-biaya pergantian karyawan yaitu biaya yang berhubungan dengan pesangon, hilangnya efisiensi karyawan sebelum terjadi pelepasan dan biaya karena adanya jabatan yang lowong selama pencarian seorang pengganti serta biaya-biaya perekrutan untuk mendapatkan karyawan baru. Jadi dapat dikatakan pula turnover akan memberikan efek beruntun yang akan terus berlangsung sampai organisasi mendapatkan pengganti yang sepenuhnya menguasai untuk mengganti posisi karyawan yang melakukan turnover tersebut. Hubungan antara Kepuasan Kerja dangan Turnover Intentions Handoko (1998), menyatakan bahwa salah satu tujuan-tujuan administrasi kompensasi dalam hal ini penggajian adalah untuk mempertahankan karyawan yang ada, bila kompensasi tidak kompetitif dan tidak memenuhi prinsip keadilan, maka akan berimplikasi banyaknya karyawan yang baik akan keluar. Kepuasan dan ketidakpuasan atas gaji yang diterima adalah fungsi dari ketidakcocokan antara apa yang dirasakan akan diterima oleh seseorang dengan berapa banyak yang diterima seseorang.
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 28 Kepuasan gaji dapat memprediksi tingkat absensi dan turnover karyawan. Banyak peneltian yang menyimpulkan bahwa hubungan antara kepuasan gaji dengan intensi keluar adalah negatif (Motowildo,1983 pada Lum et al., 1998; Yuyetta, 2002). Model kepuasan gaji merupakan kelanjutan konsep equity theory. Teori equity rnenekankan bahwa kepuasan gaji disebabkan oleh perasaan yang berhubungan dengan rasa keadilan atas gaji yang dibayarkan. Pekerja yang tidak terpuaskan dengan pekerjaannya cenderung untuk melakukan cara yang dapat mengganggu kinerja organisasi: turnover yang tinggi, tingkat absensi yang tinggi, kelambanan dalam bekerja, keluhan atau bahkan mogok kerja. Malthis dan Jackson (2006) mengidentifikasi bahwa masuk-keluar (turnover) tenaga kerja berhubungan dengan ketidakpuasan kerja Hubungan antara Stres Kerja dengan Turnover Intention NIOSH Research (Widhiastuti, 2002) berpendapat bahwa stres kerja merupakan keadaan respon fisik dan emosi yang muncul ketika persyaratan- persyaratan kerja tidak sesuai dengan kapabilitas, sumber daya atau kebutuhan dari karyawan. Pendapat ini didukung oleh Beehr dan Newman (Nuzulia, 2005) bahwastres kerja merupakan suatu interaksi antara kondisi kerja dengan sifat-sifat pekerja yang mengubah fungsi fisik maupun psikis yang normal. Muchinsky (Nurhayati, 2005) mengungkapkan bahwa individu dalam suatu organisasi akan selalu berinteraksi dengan lingkungannya, akan tetapi interaksi tersebut tidak selalu menguntungkan. Interaksi yang sesuai antar komponen kerja akan menghasilkan performansi tinggi, serta tingkat stres yang rendah. Sedangkan, apabila interaksi tidak harmonis maka akan mengakibatkan performansi rendah dan tingkat stres menjadi tinggi. Dampak stres dalam pekerjaan menyebabkan menurunnya efisiensi kerja dan produktivitas kerja, dengan gangguan mood dan emosional, serta kehilangan gairah kerja (Kompas, 2001). Penurunan kinerja yang mengakibatkan stres juga dapat menjadikan perusahaan menghadapi fleksibilitas karyawan yang tinggi. Fleksibilitas karyawan ditandai dengan berpindahnya karyawan dari satu fungsi ke fungsi lain dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya atau dari satu negara ke negara yang lainnya. Model penelitian Gambar 1: Model penelitian KEPUASAN KERJA (X1) STRESS KERJA (X2) TURNOVER INTENTIONS (Y) H1 H2 H3
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 29 Hipotesis Hipotesis yang diangkat pada penelitian ini adalah : H1 : Kepuasan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan. H2 : Stress kerja yang dialami berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan. H3 : Kepuasan kerja dan stress kerja berpengaruh secara simultan terhadap turnover intentions karyawan. C. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini merupakan penelitian verifikatif. Menurut Arikunto (2006) Penelitian verifikatif pada dasarnya ingin menguji kebenaran melalui pengumpulan data di lapangan. Berdasarkan rancangan penelitiannya, yakni verifikatif yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan, maka metode penelitian yang akan digunakan adalah metode explanatory survey. Definisi Operasional Variabel Tabel 1: Operasionalisasi Variabel VARIABEL INDIKATOR ITEM Kepuasan Kerja (X1) Locke (1976) dalam Turkyilmas (2009) 1. Pekerjaan itu sendiri (Work it self), 1. Menarik dan menyenangkan 2. Sesuai dengan pendidikan, kemampuan dan keahlian 2. Gaji (Pay) 1. Gaji yang sesuai dengan harapan 2. Gaji sesuai dengan kontribusi 3. Supervisi 1. Pimpinan selalu membantu jika ada kesulitan 2. Kebebasan dalam menyelesaikan tugas 4. Hubungan dengan teman sekerja (Co-workers) 1. Hubungan yang kurang baik 2. Saling support antar rekan kerja 5. Kesempatan promosi (Promotion opportunities) 1. Peluang pengembangan karir banyak 2. Kebijakan karir yang baik 6. Tuntutan tugas 1. Tugas yang berat 2. Mudah cemas saat pekerjaan belum selesai/salah 7. Konflik peran 1. Keluarga yang kurang mendukung 2. Ada urusan lain yang sama pentingya dengan pekerjaan, sehingga bingung dalam memilih STRESS KERJA (X2) (Ashar Sunyoto Munandar, 2008), 1. Ambiguitas peran 1. Pekerjaan yang banyak 1. Tugas menumpuk dan harus selesai diwaktu yang sama 2. Pengembangan karier 1. Tidak ada pengembangan karir 3. Hubungan kerja 1. Fikiran yang tidak sejalan dengan rekan kerja 2. Dibuli teman 3. Bekerja diluar jam kantor TURNOVER INTENTIONS (Y) Chen & Francesco (2000) 1. Pikiran untuk keluar 1. Mencari pekerjaan baru 2. Segera berhenti dari pekerjaan 3. Melihat peluang lain 2.Keinginan untuk men-cari lowongan peker-jaan lain 1. Mencari informasi pekerjaan lain 2. Menghubungi teman
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 30 3. Mengirimkan lamaran ke tempat lain 4. Bolos untuk wawancara 5. Melihat pengumuman pekerjaan lain 3.Adanya keinginan untuk meninggalkan organisasi dalam bebe-rapa bulan mendatang 1. Keluar untuk beberapa bulan ke depan 2. Segera keluar dalam waktu dekat Pengukuran Variabel Skala pengukuran yang digunakan untuk mengukur masing-masing variabel adalah dengan menggunakan Skala Likert, dengan bobot nilai jawaban: Sangat Setuju (SS) skor 5 (lima), Setuju(S) skor 4 (empat), Netral (N) skor 3 (tiga), Tidak Setuju (TS) skor 2 (dua), dan Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1 (satu) Populasi Dan Sampel Populasi dan sample dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT.Wahana Sahabat Utama yang berjumlah 35 orang, sehingga disimpulkan bahwa teknik samplingnya adalah sampling jenuh (Sugiyono, 2008:85) Jenis Dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, berupa data yang dikumpulkan secara langsung dari responden dengan memberikan angket berupa peryataan. Selian itu, untuk melengkapi dokumen yang dibutuhkan, juga digunakan data sekunder yang bersumber dari data perusahaan. Teknis Analisis Data Teknik analisa data menggunakan analisa deskriptif dan uji asumsi klasik. Analisa deskripsi digunakan untuk menggambarkan frekuensi masing masing item variabel dengan skala pengukuran satu sampai lima, untuk mengetahui kategori rata-rata skor menggunakan perhitungan sebagai berikut: − ℎ ℎ = = 0,8 Sehingga interpretasi skor yang diperoleh adalah: a) 1,0 – 1,8 = Buruk sekali, b) 1,9 - 2,6 = Buruk, c) 2,7 - 3,4 = Cukup, d) 3,5 – 4,2 = Baik dan e) 4,3 - 5,0 = Sangat Baik (Sudjana, 2001) Uji Asumsi Klasik terdiri dari: 1) Uji Normalitas, 2) Uji Multikolinearitas, 3) Uji Autokorelasi dan 4) Uji Heteroskedastisitas Sedangkan untuk Metode Analisis Kuantitatif, digunakan: a) Analisis Regresi Berganda, b) Uji Hipotesis yang terdiri dari Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) dan Uji Signifikansi Parsial (Ujit) dan c) Pengujian Determinasi (R2 ) D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian PT. Wahana Sahabat Utama ( Dealer Resmi Suzuki ) yang beralamat di Jalan Raya Keplaksari No. 60 Peterongan Jombang telah berdiri pada tanggal 27 Desember 2006. Merupakan dealer resmi Suzuki dibawah naungan PT. Suzuki Indomobile Sales ( PT. SIS ) yang melayani penjualan sepeda motor merk Suzuki baik Cash ataupun Kredit. Kegiatan PT. Wahana Sahabat Utama juga menyediakan jasa service yang ditangani oleh mekanik-mekanik yang profesional karena sudah lulus training dan mendapatkan sertifikat resmi. Selain itu, PT. Wahana Sahabat Utama juga memasarkan Suzuki Genuine Oil yang pelumas resmi mesin Semua Motor Suzuki Analisa Deskritif
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 31 Deskripsi Hasil Jawaban Kepuasan Kerja Karyawan (X1) Tabel 2: Rekapitulasi jawaban responden variabel Kepuasan Kerja Karyawan (X1) Variabel Item STS TS N S SS F % F % F % F % F % Mean X1.1 5 14.3 14 40 15 42.9 1 2.9 0 0 2.34 X1.2 4 11.4 13 37.1 18 51.4 0 0 0 0 2.40 X1.3 5 14.3 14 40.0 16 45.7 0 0 0 0 2.31 X1.4 5 14.3 15 42.9 15 42.9 0 0 0 0 2.29 Kepuasan X1.5 7 20 13 37.1 15 42.9 0 0 0 0 2.23 Kerja X1.6 4 11.4 21 60 10 28.6 0 0 0 0 2.17 (X1) X1.7 10 28.6 19 54.3 6 17.1 0 0 0 0 1.89 X1.8 8 22.9 19 54.3 8 22.9 0 0 0 0 2.00 X1.9 10 28.6 21 60 4 11.4 0 0 0 0 1.83 X1.10 11 31.4 17 48.6 7 20 0 0 0 0 1.89 Total Rata-rata 2,13 Sumber: Data Primer Diolah, 2015 Berdasarkan tabel diatas, dijelaskan bahwa Kepuasan Kerja Karyawan dalam peluang pengembangan karir perusahaan sangat sulit, selain itu tingkat pendidikan karyawan dengan kemampuan serta keahlian karyawan juga dirasa masih kurang sehingga perlu dilakukan pelatihan. Sebaiknya perusahaan mengkaji kebijakan tentang pengembangan karir khususnya bagi karyawan yang mempunyai kinera yang bagus. Deskripsi Hasil Jawaban Stres kerja (X2) Tabel 3: Rekapitulasi jawaban responden variabel Stres kerja (X2) Variabel Item STS TS N S SS F % F % F % F % F % Mean X2.1 0 0 1 2.9 17 48.6 16 45.7 1 2.9 3,49 X2.2 1 2.9 1 2.9 15 42.9 15 42.9 3 8.6 3,51 X2.3 1 2.9 3 8.6 18 51.4 8 22.9 5 14.3 3,37 X2.4 3 8.6 16 45.7 16 45.7 12 34.3 4 11.4 3,49 Stres Kerja X2.5 1 2.9 8 22.9 7 20 13 37.1 6 17.1 3,43 (X2) X2.6 2 5.7 6 17.1 13 37.1 11 13.4 3 8.6 3,2 X2.7 0 0 2 5.7 19 37.1 13 37.1 1 2.9 3,37 X2.8 1 2.9 3 8.6 12 34.3 17 48.6 2 5.7 3,46 X2.9 1 2.9 5 14.3 13 37.1 14 40 2 5.7 3,31 X2.10 0 0 7 20 12 34.3 11 31.4 5 14.3 3,40 Total Rata-rata 3,40 Sumber: Data Primer Diolah, 2015 Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan Stres Kerja menunjukkan karyawan merasa mudah cemas saat pekerjaan yang belum selesai/salah, dan
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 32 juga saat tugas menumpuk dan harus selesai diwaktu yang sama, hal ini menjadikan karyawan merasakan stres kerja. Tuntutan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan dirasa cukup sulit bagi karyawan untuk memenuhinya terlebih disaat kondisi akhir-akhir ini menurun. Deskripsi Hasil Jawaban Turnover Intentions (Y) Tabel 4: Rekapitulasi jawaban responden variabel Turnover Intentions (Y) Variabel Item STS TS N S SS F % F % F % F % F % Mean Y.1 0 0 2 5.7 12 34.3 19 54.3 2 5.7 3,60 Y.2 0 0 1 2.9 15 42.9 14 40 5 14.3 3,66 Y.3 0 0 1 2.9 14 40 18 51.4 2 5.7 3,66 Y.4 0 0 3 8.6 9 25.7 20 57.1 3 8.6 3,77 Turnover Y.5 0 0 1 2.9 10 28.6 20 57.1 4 11.4 3,57 Intentions Y.6 0 0 2 5.7 12 34.3 20 57.1 1 2.9 3,63 (Y) Y.7 0 0 1 2.9 16 45.7 13 37.1 5 14.3 3,77 Y.8 0 0 2 5.7 6 17.1 25 71.4 2 5.7 3,71 Y.9 0 0 1 2.9 15 42.9 12 34.3 7 20 3,71 Y.10 1 2.9 8 22.9 6 17.1 13 37.1 7 20 3,49 Total Rata-rata 3,65 Sumber: Data Primer Diolah, 2015 Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan Turnover Intentions karyawan yang mengalami penurunan dalam kepuasan kerja dan stres kerja yang tinggi mereka akan menghubungi teman untuk mencari pekerjaan lain, dan juga melihat pengumuman pekerjaan baru, akan tetapi ada juga beberapa karyawan yang memutuskan akan segera keluar dalam waktu dekat. Analisa Regresi Linier Berganda Analisa regresi linear berganda dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel kepuasan kerja (X1) dan stres kerja (X2) terhadap Turnover Intention (Y) dan membuat persamaan regresinya. Dari Hasil perhitungan menggunakan alat bantu SPSS didapat persamaan: Ŷ = 19,385 - 0,243 X1+ 0,654X2 Persamaan regresi menunjukkan hubungan negatif antara kepuasan kerja dengan Turnover Intention, artinya semakin merasa tidak kepuasan kerja karyawan, maka Turnover Intention juga mengalami peningkatan, begitu sebaliknya, semakin karyawan merasa puas dengan kerja, semakin menurun Turnover Intention. Persamaan regresi juga menunjukkan hubungan positif antara stres kerja dengan Turnover Intention, artinya semakin tinggi stres kerja karyawan, maka Turnover Intention juga mengalami peningkatan, begitu sebaliknya, semakin rendah tinggi stres kerja karyawan, semakin menurun Turnover Intention Pengujian Hipotesis dengan uji t Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Derajat signifikan yang digunakan adalah 5% atau 0,05. Jika nilai signifikan lebih kecil dari derajat signifikan maka hipotesa alternatif diterima. Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan alat bantu analisa SPSS dipeoleh hasil sebagai berikut:
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 33 Pengujian Hipotesis Pertama (H1). Variabel pelatihan (X1) memiliki nilai t hitung -2,083 dan signifikansi sebesar 0,045, karena nilai t sig = 0,045 < α = 0,05, Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Kepuasan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama. Pengujian Hipotesis Kedua (H2). Variabel stres kerja (X2) memiliki nilai t hitung 4,731 dan signifikansi sebesar 0,000, karena nilai t sig = 0,000 < α = 0,05, Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Stress kerja yang dialami berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama. Pengujian Hipotesis Ketiga (H3). Pengujian hipotesis ketiga menguji secara simultan dengan menggunakan uji f, dengan ketentuan jika F sig ≤ α = 0,05, maka hipotesis diterima dan jika F sig > α = 0,05, maka hipotesis ditolak. Dari hasil pengolahan data pengolahan data dengan menggunakan alat bantu analisa SPSS dipeoleh hasil variabel Kepuasan kerja dan stress kerja memiliki nilai f hitung 13,263 dengan signifikansi sebesar 0,000, karena nilai f sig = 0,000 < α = 0,05, Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Kepuasan kerja dan stress kerja berpengaruh secara simultan terhadap turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama. Koefisien diterminasi (R2 ) Dari hasil olah data dengan menggunakan alat bantu SPSS diperoleh nilai R2 sebesar 0,453 artinya turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama melalui penelitian ini dipengaruhi oleh variabel Kepuasan kerja dan stress kerja sebesar 45,3%, dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini yaitu 100% - 45,3% = 54,7 %. Berdasarkan hasil penelitian variabel kepuasan kerja terhadap turnover intentions dapat disimpulkan bahwa Kepuasan kerja dapat meningkatkan turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama. Hal ini berarti bahwa apabila karyawan merasa tidak puas dengan pekerjaannya maka turnover intentions karyawan akan meningkat, sesuai dengan tanggapan responden mengenai Kepuasan kerja yang mencakup: a) Pekerjaan itu sendiri (Work it self), b) Gaji (Pay), c) Supervisi, d) Hubungan dengan teman sekerja (Co- workers), dan e) Kesempatan promosi (Promotion opportunities). Hasil tanggapan responden menunjukkan total skor rata-rata variabel kepuasan kerja karyawan sebesar 2,13 termasuk kriteria buruk, hal ini yang menunjukkan peluang pengembangan karir dan kebijakan karir yang masih kurang jelas. Karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya cenderung untuk melakukan cara yang dapat mengganggu kinerja organisasi: turnover yang tinggi, tingkat absensi yang tinggi, kelambanan dalam bekerja, keluhan atau bahkan mogok kerja. Malthis dan Jackson (2006) mengidentifikasi bahwa masuk-keluar (turnover) tenaga kerja berhubungan dengan ketidakpuasan kerja Menurut Handoko (1998), menyatakan bahwa salah satu tujuantujuan administrasi kompensasi dalam hal ini penggajian adalah untuk mempertahankan karyawan yang ada, bila kompensasi tidak kompetitif dan tidak memenuhi prinsip keadilan, maka akan berimplikasi banyaknya karyawan yang baik akan keluar. Kepuasan dan ketidakpuasan atas gaji yang diterima adalah fungsi dari ketidakcocokan antara apa yang dirasakan akan diterima oleh seseorang dengan berapa banyak yang diterima seseorang. Khususnya hubungan antar karyawan yang kurang baik, kurangnya peluang pengembangan karir dan tidak ada promosi kebijakan karir
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 34 yang menjadikan karyawan merasa tidak puas dalam bekerja. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Agung Aws Aspodo, Nurul Chotimah Handayani, Widya Paramita, 2013 dengan judul pengaruh kepuasan kerja dan stres kerja terhadap turnover intention pada karyawan PT. Unitex di Bogor. Hasil penelitian secara parsial Kepuasan kerja memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention. Dari hasil analisa pengaruh stres kerja terhadap turnover intentions dapat disimpulkan bahwa stres kerja dapat meningkatkan turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama. Hal ini berarti apabila semakin tinggi karyawan merasakan stres dalam bekerja akan meningkatkan turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama, hal ini berdasar tanggapan responden tentang stres kerja, antara lain: a) Tuntutan tugas, b) Konflik peran, c) Ambiguitas peran, d) Pengembangan karier, e) Hubungan kerja, f) Tuntutan di luar pekerjaan Masih banyak tugas menumpuk karena pengembangan karir yang kurang, selain itu dalam hal ini terget penjualan karyawan bagian marketing belum mencapai target sehingga karyawan merasa cemas karena insentif karyawan tidak dapat diberikan oleh perusahaan. NIOSH Research (Widhiastuti, 2002) berpendapat bahwa stres kerja merupakan keadaan respon fisik dan emosi yang muncul ketika persyaratan- persyaratan kerja tidak sesuai dengan kapabilitas, sumber daya atau kebutuhan darikaryawan. Pendapat ini didukung oleh Beehr dan Newman (Nuzulia, 2005) bahwa stres kerja merupakan suatu interaksi antara kondisi kerja dengan sifat-sifat pekerja yang mengubah fungsi fisik maupun psikis yang normal. Muchinsky (Nurhayati, 2005) mengungkapkan bahwa individu dalam suatu organisasi akan selalu berinteraksi dengan lingkungannya, akan tetapi interaksi tersebut tidak selalu menguntungkan. Interaksi yang sesuai antar komponen kerja akan menghasilkan performansi tinggi, serta tingkat stres yang rendah. Sedangkan, apabila interaksi tidak harmonis maka akan mengakibatkan performansi rendah dan tingkat stres menjadi tinggi. Dampak stres dalam pekerjaan menyebabkan menurunnya efisiensi kerja dan produktivitas kerja, dengan gangguan mood dan emosional, serta kehilangan gairah kerja (Kompas, 2001). Penurunan kinerja yang mengakibatkan stres juga dapat menjadikan perusahaan menghadapi fleksibilitas karyawan yang tinggi. Fleksibilitas karyawan ditandai dengan berpindahnya karyawan dari satu fungsi ke fungsi lain dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya atau dari satu negara ke negara yang lainnya. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori Handoko (2002) yang mengemukakan bahwa insentif adalah perangsang yang ditawarkan kepada para karyawan untuk melaksanakan kerja sesuai atau lebih tinggi dari standar - standar yang telah ditetapkan. Serta sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ahsan, Alimin Maidin, Indrianty Sudirman dengan judul Pengaruh Kepuasan Kerja, Stress Kerja, Variabel Organisasi Dan Kepemimpinan Terhadap Turnover Intention Karyawan Pada Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial terdapat Variabel kepuasan kerja memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap turnover intention karyawan Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. Penelitian terhadap pengaruh variabel pengaruh kepuasan kerja dan stres kerja terhadap turnover intention,
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 35 dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja dan stres kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui semakin tinggi ketidak puasan dan sters kerja, akan mampu meningkatkan turnover intentions karyawan. Turnover merupakan masalah tersendiri yang dihadapi organisasi, karena berkaitan dengan jumlah individu yang meninggalkan atau keluar dari organisasi pada periode tertentu, sedangkan turnover intention diartikan sebagai keinginan berpindah kerja yang mengacu pada hasil evaluasi individu mengenai kelangsungan hubungan dengan organisasi dan belum terwujud dalam tindakan pasti untuk meninggalkan organisasi (Suwandi dan Indriantoro,1999:176). Dikhawatirkan apabila turnover intentions tinggi akan mengganggu kinerja organisasi secara keseluruhan, walaupun dilakukan rekrutmen dan pelatihan justru akan menambah biaya perusahaan. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan Agung Aws Aspodo, Nurul Chotimah Handayani, Widya Paramita, 2013 dengan judul pengaruh kepuasan kerja dan stres kerja terhadap turnover intention pada karyawan PT. Unitex di Bogor. Hasil penelitian mwnunjukkan bahwa Kepuasan kerja dan stres kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap turnover intention karyawan ini dijelaskan oleh kepuasan kerja dan stres kerja sebesar 45,1% dan sisanya sebesar 54,9% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. E. PENUTUP Dari penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa Kepuasan kerja (X1) dan Stress kerja (X2) berpengaruh terhadap tingkat turnover intentions karyawan PT.Wahana Sahabat Utama, baik secara parsial maupun simultan. Untuk itu disarankan kepada perusahaan memperhatikan kepuasan kerja karyawan agar tingkat turnover intention dapat diminimalisir khususnya pada hubungan kerja antar karyawan yang kurang baik, dengan cara pemberian informasi, peluang pengembangan karir dan kebijakan karir yang terbuka dengan kriteria yang telah disepakati. Selain itu, pihak perusahaan perlu memberikan perhatian pada karyawan agar karawan tidak mudah cemas saat pekerjaan belum selesai/salah dengan mengkaji ulang kebijakan tentang target penjualan sehingga karyawan dapat bekerja dengan tenang, mengingat bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa stress kerja juga berpengaruh terhadap tingkat turnover intentions karyawan . DAFTAR PUSTAKA Abelson, M. A. 1987, Examination of Avoidable and Unavoidable Turnover. Journal of Allied Phsychology Agung Aws Aspodo, Nurul C.H, et al (2013), Pengaruh Kepuasan Kerja dan Stress Kerja Terhadap Turnover Intention pada Karyawan PT. Unitex Bogor, Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) | Vol. 4, No. 1, 2013, hal 99 Andini, R. 2006. “Analisis Pengaruh Kepuasan Gaji, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasional Terhadap Turnover Intention (Studi Kasus pada Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang). Tesis. Semarang : Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro DIPONEGORO JOURNAL OF MANAGEMENT Volume 1,
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 36 Nomor2, Tahun 2012, Halaman 145—157 Gama D.S, (2011), “Analisi Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Turnover Intention Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Karyawan (Study pada Hotel Horison Semarang). Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Hal 25-32 Gibson, Ivancevich, 1987. Organisasi: Proses Struktur Perilaku. Edisi Lima, Jakarta: Erlangga. Gibson, Ivanicevich, dan Donnely. 1995. Organisasi: Perilaku, Struktur, dan Proses. Jakarta: Erlangga Gulsen Akman, Coskun Ozkan, Zbigniew Pastuszak and Ali Turkyilmaz(2011), Emperical Study of Public Sector Employee Loyalty and Satisfaction, Industrial Management & Data System, 111.5 : P 675-696 Handoko, T. H.(2001), Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. BPFE, Yogjakarta Hasibuan, M., 2007, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Indonesia Jakarta, hal. 202 Hermita. 2011. “Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Semen Tonasa (PERSERO) Pangkep”. Skripsi. Makassar : Universitas Hasanuddin. Jagaratnam, Giri dan Polly Buchanan, 2004, “Balancing the demands of school and work:stress and employed hospitality students”, International Journal of Contemporary Hospitally Management, Vol. 16, No.4,pp.237-245 Judge, T.A., and Locke, E.A. 1993. Effect of Dysfunctional Thought Processes on Locke, E.A, 1976, The Nature and Causes of Job Satisfaction, NewYork: John Wiley and Sons. Mobley W.H, dkk, (1979) Review And Conceptual Analysis of The Employee Turnover Process, Psychological Bulletin, Vol. 86 PP 493-522 Mona T.M, Intan R, (2012), Analisis Pengaruh Stress Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap Turnover Intention Karyawan (Study pada STIKES Widya Husada Semarang), Nasrudin, A.M dan S. Kumaresan, “Organisatinal Stressor”. Singapore Management Review, Vol 27, No.2. Hal 64 Noe, R. A. , et all, 2006, Human Resources Management, Mc Graw- Hill, New York, hal. 436 R.M. Ardian Avrianto Handoyo 2004, Pengaruh Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi dan Kepuasan Gaji Terhadap Turnover Intention Auditor, Perpustakaan Unika, hal 1-2 Robbins, S. 2006. Perilaku Organisasi. (Organizatonal Behaviour). Jakarta : PT.Prehalindo. Robbins, Stephen P dan Judge, Timothy A, 2008, Perilaku Organisasi (Organizational Behavior), Buku I Edisi Keduabelas, Jakarta, Penerbit Salemba Empat Robbins, Stephen P, 2003. Perilaku Organisasi, Jilid 2, PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta. Robbins, Stephen P. (1991). Organizational Behavior: Concept, Controvercies, Aplications. New Jersey: Prentice Hall International, Inc. Robbins, S.P., and T.A., Judge, 2009, Organizational Behavior, Pearson Prentice Hall, United State Of America, New York, hal. 113
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Nurul Hidayati & Dewi Trisnawati 37 Robert L. Mathis & John H. Jackson. 2006. Human Resources Management. Edisi sepuluh, Penerbit Salemba Empat Suartana, I. W.(2000). “Anteseden dan Konsekuensi Job Insecurity dan Keinginan Berpindah pada Internal Auditor”, TesisS2. UGM. Sudjana. 2001. Metode Statistika. Bandung: Tarsito Subjective Well-Being and Job Satisfaction. Journal of Applied Psychology. Wexley, K.N., & Yukl, G. (1977). Organizational Behavior and Personnel sychology. Richard D. Irwin: Home wood, Illinois.
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Diah Ayu Septi Fauzi 38 RANCANGAN PENILAIAN KINERJA ORGANISASI NIRLABA Writer: Diah Ayu Septi Fauji Correspondence: [email protected] Institution: Universitas Nusantara PGRI Kediri EKSIS Vol XI No 1, 2016 ISSN: 1907-7513 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/ abstract The goal in this study were: 1) to design the method of measuring the performance of PT is based on the Balanced Scorecard concept, and 2) defines and describes the relevant strategy maps based on the Balanced Scorecard method in the UN PGRI Kediri especially the Faculty of Economics.The types and sources of data used in this study include primary and secondary data. Data were analyzed using qualitative and quantitative analysis. Qualitative and quantitative analysis translated in tabular form descriptive, evaluative and descriptive ratio. Based on the translation of the vision, mission and strategy FE UN PGRI on four perspectives of the Balanced Scorecard. The strategic goal FE UN PGRI are: 1) financial perspective, 2) customer perspective (students, 3) internal business process perspective and 4) learning and growth perspective. Keywords: Performance Appraisal, Balanced Scorecard abstrak Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) merancang metode pengukuran kinerja PT berdasarkan konsep Balanced Scorecard, dan 2) merumuskan dan menggambarkan peta strategi yang relevan berdasarkan metode Balanced Scorecard pada UN PGRI Kediri khusunya Fakultas Ekonomi. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dan kuantitatif diterjemahkan dalam bentuk tabulasi deskriptif, deskriptif evaluatif dan rasio. Berdasarkan penerjemahan visi, misi dan strategi FE UN PGRI pada keempat perspektif Balanced Scorecard. Sasaran strategis FE UN PGRI adalah :1) perspektif keuangan, 2) Perspektif pelanggan (mahasiswa), 3) Perspektif proses bisnis internal dan 4) perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Kata Kunci : Penilaian Kinerja, Balanced ScoreCard
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Diah Ayu Septi Fauzi 39 A. PENDAHULUAN Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam setiap organisasi baik organisasi laba ataupun nirlaba untuk menilai keberhasilan organisasi. Kinerja organisasi merupakan sesuatu yang dihasilkan organisasi dalam periode tertentu dengan mengacu kepada standart yang ditetapkan oleh perusahaan tersebut. Kinerja organisasi hendaknya merupakan hasil yang dapat diukur yang menggambarkan keadaan organisasi yang sebenarnya. Pengukuran kinerja yang baik oleh pihak manajemen dapat menentukan tingkat keberhasilan dari suatu strategi umum yang sudah ditetapkan sebelumnya. Organisasi juga harus memperhatikan kendala terbesar dari ketidakberhasilan suatu strategi umumnya yang sudah ditetapkan sebelumnya. Konsep strategi telah tepat namun tidak mampu diterapkan dalam tindakan nyata bisa saja terjadi. Kegagalan tersebut dapt disebabkan oleh kurang pahamnya strategi, kurangnya komunikasi internal, kelemahan manajemen eksekutif puncak dan faktor – faktor lainnya. Namun kesalahan yang paling umum dilakukan sebuah organisasi adalah tidak melakukan manajemen dan pengendalian strategi yang tepat. Menurut Kaplan dan Norton (2000), Balanced Scorecard merupakan Contemporary management tool yang digunakan untuk mngukur kinerja perusahaan dengan menterjemahkan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategi organisasi kedalam empat perspektif yaitu perspektif finansial, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif proses pembelajaran dan pertumbuhan. Keempat perspektif ini akan memberi keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang serta hasil yang diinginkan dengan faktor pendorong tercapainya hasil tersebut. Balanced scorecard memiliki kelebihan sebagai sistem pengukuran kerja yang komprehensif, koheran, terukur dan seimbang. Universitas Nusantara PGRI (UN PGRI) Kediri merupakan universitas swasta yang besar di Kota Kediri. Namun , pada perjalanannya UN PGRI Kediri sempat di non – aktifkan oleh DIKTI karena rasio dosen dan mahasiswa yang tidak sesuai aturan. Oleh karena itu, sejak UN PGRI Kediri diaktifkan kembali, seluruh pihak manajemen perlu memperbaiki sistem penilaian kinerja. Dan menarik bagi penulis untuk mengangkat topik tersebut dalam penulisan artikel ini. Adapun permasalahan yang diangkat pada tulisan artikel ini adalah bagaimana rancangan Balaced scorecard sebagai instrumen manajemen strategi dalam pengembangan kinerja UN PGRI Kediri. Dengan adanya rancangan tersebut diharapkan kinerja FE UN PGRI akan lebih baik dari sebelumnya. B. KAJIAN TEORI Kinerja Menurut Mahsun (2009), kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/ program / kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi suatu organisasi yang tertuang dalam perencanaan strategic planning suatu organisasi. Secara umum knerja diartikan sebagai tingkat pencapaian hasil atau sejauhmana tujuan organisasi dapat dicapai dan tujuan organisasi dapat dijalankan, sehingga dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atau tingkat pencapaian tujuan yang dalam hal ini
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Diah Ayu Septi Fauzi 40 dilihat dari pelaksanaan fungsi – fungsi dan pelaksanaan tugas dan pekerjaan. Indikator Kinerja Indikator kinerja seringkali disamakan dengan ukuran kinerja, namun sebenarnya meskipun keduanya merupakan criteria pengukuran kinerja, tetapi terdapat perbedaan arti dan maknanya (Moeheriono,2009). Indikator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, yaitu hal hal yang hanya merupakan indikasi indikator kinerja saja sehingga cenderung kualitatif atau tidak dapat dihitung, sedangkan ukuran kinerja adalah criteria yang mengacu pada penilaian kinerja secara llangsung sehingga lebih bersifat kuantitatif atau dapat dihitung. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja telah dilakukan jauh sebelum Kaplan dan Norton memperkenalkan Balanced Scorecard, namun dengan cara – cara yang masih sangat sederhana. Ukuran – ukuran kinerja yang digunakan umumnya memberikan informasi yang sangat terbatas. Spitzer (2007) mengemukakan karakteristik dari ukuran kinerja yang baik adalah mudah dimengerti, terhubung dalam rantai sebab – akibat, sering dimutakhirkan, dapat diakses, menggunakan data dengan hati – hati, kuantitatif dan mencrminkan objektivitas, dan disfungsional. Dan dapat juga diartikan sebagai syarat dengan criteria SMART-C yaitu Spesific, Measurable,Agreeble, Realistic, Time Bound, Continously Improve. Pengukuran kinerja dilakukan sebagai sarana pembelajaran untuk kinerja dimasa yang akan dating. Penerapan system pengukuran kinerja dalam jangka panjang bertujuan untuk membentuk budaya berprestasi (achievement culture) didalam organisasi. Budaya kinerja atau budaya berprestasi dapat diciptakan apabila system pengukuran kinerja mampu menciptakan atmosfir organisasi yang dalam penciptaannya diperlukan perpuasan kinerja secara terus menerus sehingga setiap orang dalam organisasi dituntut untuk berprestasi. C. METODE PENELITIAN Dalam kerangka ini, Balanced Scorecard yang dihasilkan perusahaan setelah tahapan perumusan strategi yaitu analisis terhadap lingkungan internal eksternal dan lingkungan makro perusahaan. Informasi yang telah di peroleh kemudian dijabarkan ke dalam sasaran strategis berdasarkan ke empat perspektif Balanced Scorecard. Kemudian data - data tersebut diterjemahkan menggunakan metode Balanced Scorecard melalui empat perspektif. Setelah semua sasaran strategis perusahaan diketahui, selanjutnya dibuat peta strategis yang memuat seluruh sasaran startegis. Sasaran strategis ini berupa pernyataan kualitatif mengenai kondisi yang berusaha diwujudkan oleh perusahaan di masa depan. Selanjutnya adalah menentukan ukuran strategi berupa indikator hasil dari setiap strategi yang terdapat dalam peta strategi. Indikator hasil yang digunakan merupakan ukuran terpilih yang mencerminkan penilaian terhadap sasaran strategis tersebut. Untuk mengetahui suatu pengukuran, maka dilakukan pembobotan terhadap perspektif pengukuran, sasaran startegis, dan indikator hasil. Metode yang digunakan dalam pembobotan adalah paired comparison. Metode ini merupakan sebuah proses untuk mengkuantitatifkan ukuran yang bersifat kualitatif. Hasil pengukuran dianalisis dengan mempertimbangkan, hasil yang di peroleh dari pengukuran kinerja dengan metode yang biasa digunakan selama ini oleh organisasi. Hasil analisis yang didapat akan
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Diah Ayu Septi Fauzi 41 digunakan sebagai landasan untuk memberikan sebuah rekomendasi strategi peningkatan kinerja kepada organisasi guna pengembangan bisnis selanjutnya. Berdasarkan itu, perusahaan dapat melihat secara objektif kinerja perusahaannya dan mengambil manfaat sebesar - besarnya bagi pengembangan organisasi selanjutnya. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejarah Pendirian Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara PGRI Kediri Sejarah berdirinya fakultas ekonomi jga tidak dapat terlepas dari berdirinya induk organisasi yaitu Universitas Nusantara PGRI Kediri. Berawal dari berdirinya STIE Kediri dibawah naungan PPLP PT PGRI Kediri pada tanggal 20 april 1993. Pada tanggal 13 oktober 2006 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republi Indonesia nomor 241/D/O/2006 seluruh lembaga Pendidikan Tingi dibawah naungan PPLP PT PGRI Kediri yaitu : IKIP PGRI Kediri, STIE Kediri, STT PGRI Kediri, AKPER PGRI Kediri bergabung menjadi Universitas Nusantara PGRI Kediri. Dan sejak saat itulah, STIE Kediri berubah nama menjadi Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara PGRI dengan Program studi S-1 Akuntansi dan S-1 Manajemen. Visi, Misi Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri 1. Visi. Visi Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri adalah: “Menjadi fakultas yang menghasilkan sumber daya manusia professional, menguasai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang ekonomi, akuntansi,manajemen dengan berbasis etika, kesadaran ketuhanan,kemanusiaan, lingkungan, dan berjiwa wirausaha serta berdaya saing” 2. Misi. Misi Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri adalah: a. Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan lulusan yang memiliki keunggulan iman, taqwa, ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan sehingga mempunyai daya saing. b. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang ekonomi, manajemen dan akuntansi penelitian berkualitas, berbasis etika. Berkesadaran ketuhanan, kemanusiaan, lingkungan dan berjiwa wirausaha serta berdaya saing. c. Memberikan pengabdian kepada seluruh masyarakat dan pemakai jasa melalui layanan akademik. d. Menyelenggarakan kerjasama dibidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat dengan berbagai instansi dalam maupun luar negeri. Arah Pengembangan dan Rencana Strategis Universitas Nusantara PGRI Kediri Merespon status aktif kembali Universitas Nusantara PGRI Kediri khusunya Fakultas Ekonomi yang diperoleh sejak november 2015, seluruh civitas akademika semakin termotivasi untuk mewujudkan obsesi besarnya menjadian kampus sebagai Center of Excellence yang bertumpu pada kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan. Salah satu bentuk kuatnya motivasi ini tercermin dalam usahanya untuk menyusun rencana strategis pengembangan Fakultas Ekonomi 5 tahun kedepan. Rencana strategis jangka pendek (2015- 2020) Masa pengembangan jangka pendek Universitas Nusantara PGRI merupakan masa pemantapan kelembagaan dan penguatan akademik yang memberikan landasan untuk
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Diah Ayu Septi Fauzi 42 berkembang sebagai universitas terkemuka ditingkat regional. Pada akhir masa pengembangan jangka pendek, Universitas Nusantara PGRI Kediri khususnya Fakultas Ekonomibisa menyelenggarakan perkuliahan untuk 2003 mahasiswa secara layak. Kebijakan umu pengembangan jangka pendek diarahkan pada pemenuhan kelayakan dan baku mutu universitas unggulan sehingga memberi peluang untuk dikenal sebagai universitas dengan reputasi regional. Sembilan bidang yang menjadi fokus pengembangan fakultas ekonomi meliputi : pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, ketenagaan, kemahasiswaan, kelembagaan, kerjasama,sarana dan prasarana, dan keuangan. Lembaga Penjaminan Mutu di Universitas Nusantara PGRI Kediri Dalam melaksanakan penjaminan mutu, UN PGRI Kediri membentuk lembaga Penjaminan Mutu Akademik yang bertanggung jawab kepada Rektor dan Pembantu Rektor. Lembaga Penjaminan Mutu Akademik melaksanakan proses Sistem Penjaminan Mutu mulai dari perencanaan Sistem, pembuatan dokumen, implementasi dan pelaksanaan audit internal dilingkungan universitas. Di setiap unit pelaksanaan teknis, dibentuk Komite Penjaminan Mutu. Rancangan Balanced Scorecard Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri 1. Perspektif keuangan. Penilaian kinerja keuangan FE UN PGRI Kediri yang sesuai dengan kondisi fakultas yaitu menghitung pertumbuhan penerimaan organisasi yang terdiri dari : volume peningkatan jumlah mahasiswa 2. Perspektif Pelanggan. Perspektif pelanggan berfokus pada bagaimana perusahaan memperhatikan kebutuhan pelanggannya (mahasiswa) agar tercapai. Dalam lingkungan yang kompetitif , produk dan jasa yang dihasilkan oleh fakultas hanya akan dipilih oleh mahasiswa, jika produk dan jasa tersebut memiliki nilai tambah. Kelompok ukuran utama dalam perspektif pelanggan terdiri dari : a. Kepuasan pelanggan : menilai tingkat kepuasan atas kinerja tertentu didalam proporsi nilai. b. Retensi pelanggan : mengukur kemampuan organisasi dalam mempertahankan dan memelihara hubungan yang telah tercipta dengan pelanggannya. c. Akuisis pelanggan : mengukur tingkat dimana organisasi mampu menarik dan memenangkan pelanggan atau bisnis baru. d. Pangsa pasar : pengukuran ini mencerminkan bagian yang telah dikuasai organisasi atas keseluruhan pasar yang ada. e. Profitabilitas pelanggan : mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari pelanggan atau segmen tertentu setelah menghitung berbagai pengeluaran yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pengukuran terhadap kinerja perspektif pelanggan FE UN PGRI yang dilakukan adalah : tingkat perbandingan biaya perkuliahan sejenis dibandingkan kompetitor, pangsa pasar, tingkat kepercayaan masyarakat akan mutu dan layanan FE UN PGRI, survey kepuasan mahasiswa. 3. Perspektif proses bisnis internal. Untuk mendapatkan ukuran yang tepat dalam perspektif proses bisnis internal, harus diketahui terlebih dahulu proses mana yang paling kritikal bagi pencapaian misi organisasi. Rantai nilai proses bisnis internal terdiri dari tiga proses bisnis utama yaitu : inovasi, operasi, layanan purna jual ( layanan kepada mahasiswa alumni)
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Diah Ayu Septi Fauzi 43 4. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan memungkinkan organisasi untuk menjamin adanya pembaruan kapasitas dalam jangka panjang, suatu prasyarat bagi kelangsungan organisasi dimasa datang. Perspektif ini memfokuskan pengukuran terhadap ketiga kategori utama yaitu : kapabilitas pekerja, kapabilitas sistem informasi, motivasi, pemberdayaan dan keselarasan. Kategori kapabilitas pekerja secara umum mempunyai tigfa ukuran utama yaitu kepuasan pekerja, retensi dan produktivitas. Tolok ukur dalam perspektif pembelajaran dan pertumbuhan yang digunakan untuk menilai Fakultas Ekonomi adalah : a. Produktivitas Dosen dan karyawan b. Tingkat kepuasan Dosen dan karyawan c. Tingkat kehadiran Dosen dan karyawan E. PENUTUP Rancangan Balanced Scorecard tidak hanya bisa diterapkan pada organisasi laba, tetapi juga dimungkinkan bisa diterapkan oleh organisasi nirlaba seperti Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri. Penilaian kinerja dengan Balanced Scorecard dapat mengetahui barometer keberhasilan suatu program kerja. Berdasarkan penerjemahan visi, misi dan strategi FE UN PGRI pada keempat perspektif Balanced Scorecard. Sasaran strategis FE UN PGRI adalah :1) perspektif keuangan yaitu peningkatan jumlah mahasiswa ekonomi; 2) Perspektif pelanggan (mahasiswa) terdiri dari tiga sasaran strategis yaitu tingkat kompetitif biaya kuliah, penguatan citra fakultas dan layanan,serta kepuasan mahasiswa; 3) Perspektif proses bisnis internal terdiri dari pengembangan akademik melalui program khusus kewirausahaan, kerjasama bagi pengembangan kelembagaan keseluruhan, kerjasama dengan berbagai lembaga ditingkat regional, nasional dan internasional; 4) perspektif pembelajaran dan pertumbuhan terdiri dari pengembangan pengukuran dan tujuan untuk mendorong organisasi agar berjalan dan tumbuh, bertambahnya jumlah pendaftar mahasiswa baru, pertumbuhan jumlah karyawan dan dosen, retensi pegawai UN PGRI yang rendah. DAFTAR PUSTAKA Djumadi, Adi. 2008. Rancangan Balanced Scorecard Sebagai Instrumen Manajemen Strategi Dalam Pengembangan Kinerja PT Puspeta Agronusa. Skripsi .Naskah dipublikasikan. FP IPB. Gasperzs, Vincent.2005. Sistem Manajemen Kinerja Terintegrasi Balanced Scorecard dengan Six Sigma Untuk Organisasi Bisnis dan Pemerintah. Gramedia, Jakarta. Kaplan,R.S., and Norton,D.P.(1996). Balanced Scorecard: Menerapkan Strategi Menjadi Aksi. Penerbit Erlangga.Jakarta Mahsun,M. 2009. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. BPFE. Yogyakarta Moeheriono.2009. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Ghalia Indonesia. Bogor. Rahmani, Rezma Hadi.2010. Analisis Pengukuran Kinerja Organisasi Nirlaba Dengan Metode Balanced Scorecard ( Studi Pada Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Skripsi. FE UIN Maulana Malik Ibrahim. Malang.Naskah dipublikasikan
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 44 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PADA PENERIMAAN OPINI DENGAN PARAGRAF PENJELAS GOING CONCERN Writer: Rachyu Purbowati Langgeng Prayitno Utomo Correspondence: [email protected] [email protected] Institution: STIE PGRI Dewantara Jombang EKSIS Vol XI No 1, 2016 ISSN: 1907-7513 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/ abstract This study aims to determine the factors that influence a company that receives the opinions with the going concern a explanatory paragraph, those are: 1)financial condition, 2) growth companies,3)audit tenure and 4) auditor reputation. This research is quantitative research with the object of research is manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange 2010-2014 period with samples obtained by purposive sampling method. Data analysis technique used is the technique of logistic regression analysis. Partial test results showed that financial conditions are proxied by bankruptcy prediction model Altman Z Score significantly affect the disclosure of audit opinion with a going concern explanatory paragraph. The company's growth is proxied by the ratio of earnings growth, audit tenure and auditor reputation proxied by affiliates KAP big4 no significant effect on the disclosure of an audit opinion with a going concern explanatory paragraph. Simultaneous testing results indicate that these four factors affect the acceptance of opinion with a going concern explanatory paragraph and the most dominant factor is the financial condition. Keywords: financial conditions, growth companies, audit tenure, reputation abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi suatu perusahaan sehingga menerima opini dengan paragraf penjelas going concern, yaitu: kondisi keuangan, pertumbuhan perusahaan, audit tenure dan reputasi auditor. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan objek penelitian perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010- 2014 dengan sampel yang diperoleh dengan metode purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi logistik. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa kondisi keuangan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Altman Z Score secara signifikan berpengaruh pada pengungkapan opini audit dengan paragraf penjelas going concern. Pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan rasio pertumbuhan laba, audit tenure dan reputasi auditor yang diproksikan dengan afiliasi KAP big4 tidak berpengaruh secara signifikan pada pengungkapan opini audit dengan paragraf penjelas going concern. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa keempat faktor tersebut berpengaruh terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern, dan faktor yang paling dominan pengaruhnya adalah kondisi keuangan. Kata Kunci : kondisi keuangan, pertumbuhan perusahaan, audit tenure, reputasi
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 45 A. PENDAHULUAN Setiap perusahaan didirikan dengan harapan bahwa perusahaan tersebut akan terus beroperasi sampai pada batas waktu yang tidak ditentukan. Ekspektasi setiap perusahaan adalah dapat terus mempertahankan kelansungan hidup usahanya, tumbuh dan berkembang serta memenangkan persaingan agar tetap eksis dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itulah, aspek kelangsungan hidup perusahaan menjadi poin penting dalam paragraf penjelas opini atas laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit. Terancamnya kelangsungan hidup perusahaan menjadi fakta yang selalu dihindari baik oleh perusahaan maupun investor dan stakeholder lainnya. Laporan audit merupakan sarana komunikasi pekerjaan audit dan temuan audit secara komprehensif kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas laporan keuangan yang diaudit. Penerbitan laporan audit merupakan keharusan bagi perusahaan yang telah terdaftar di pasar modal (Puspita,2012). Keterbatasan akses dari investor terhadap perusahaan merupakan salah satu alasan dilakukannya sebuah audit laporan keuangan. Dikarenakan investor tidak dapat mengetahui secara keseluruhan aktivitas perusahaan dalam menjalankan bisnisnya dan kondisi keuangan terutama yang menyangkut kelangsungan hidup perusahaan. Investor masih harus menganalisis laporan keuangan tersebut sebelum menentukan keputusan investasinya. Ketepatan sebuah keputusan akan sangat tergantung pada kualitas laporan keuangan yang disajikan. Kenyataannya, ada banyak kepentingan yang melatarbelakangi penyajian laporan keuangan. Apapun kemungkinan kelangsungan hidup perusahaan, pihak manajemen perusahaan pasti menginginkan investor tetap menginvestasikan dananya. Sedangkan investor harus memastikan terlebih dahulu kelangsungan hidup perusahaan sebelum memutuskan investasinya. Karena kebangkrutan perusahaan merupakan resiko terburuk yang harus dihadapi oleh investor atas dana investasinya. Oleh karena itulah opini yang dikeluarkan oleh auditor harus sesuai dengan fakta yang ada, obyektif dan independen. Persepsi pengguna laporan keuangan telah terdoktrin bahwa laporan keuangan auditan lebih dapat dipercaya dan tidak menyesatkan sehingga menghasilkan keputusan investasi yang tepat. Dari sudut pandang ini, peneliti berfokus pada penetapan auditor dalam memberikan sebuah opini kepada klien. Faktor-faktor yang mempengaruhi auditor dalam memberikan opini menjadi menarik untuk diteliti. Menurut ICPA yang dikutip oleh Januarti (2009) mensyaratkan bahwa auditor harus mengemukakan secara eksplisit apakah perusahaan klien akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya sampai satu tahun kemudian setelah pelaporan. Syarat itu diberlakukan atas dasar banyaknya kasus manipulasi data laporan keuangan auditan perusahaan besar dalam skala internasional yaitu Enron, Worldcom, Xerox dan lainnya. McKeown et al dalam Fanny dan Saputra (2005) memperkuat fakta kasus tersebut dengan sebuah studi Amerika Serikat yang menemukan hampir mendekati 50% perusahaan tidak menerima kualifikasi going concern sebelum mereka bangkrut. Dengan demikian laporan keuangan dengan opini wajar tanpa pengecualian sekalipun masih belum bisa dipercaya sepenuhnya sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Menurut Paquette dan Skender dalam Fanny dan Saputra (2005) mengemukakan bahwa penetapan
EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 46 masalah going concern merupakan suatu proses yang kompleks. Pemberian opini dengan paragraf penjelas going concern bukanlah suatu perkara yang mudah karena kondisi ini serba dilematis dihadapi oleh auditor. Di satu sisi, jika auditor memberikan opini dengan kualifikasi going concern pada suatu perusahaan maka hal itu dapat mempercepat kebangkrutan perusahaan, karena kualifikasi tersebut akan menurunkan kepercayaan investor untuk menanamkan dananya kepada perusahaan. Dari apa yang di uraian diatas maka rumusan masalah dari penelitian ini, apakah kondisi keuangan perusahaan, pertumbuhan perusahaan, audit tenure dan reputasi auditor berpengaruh pada penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern ? dan variabel apakah yang paling dominan dalam mempengaruhi penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern? Penelitian ini dimaksutkan untuk melakukan analisis dalam rangka untuk Untuk mengetahui pengaruh kondisi keuangan perusahaan, pertumbuhan perusahaan, audit tenure dan reputasi auditor pada penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern, dan untuk mengetahui variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern. B. LANDASAN TEORI Konsep Dasar Teori Keagenan (agency theory) Teori agensi merupakan salah satu dasar yang digunkan untuk menjelaskan hubunga yang terjadi pada praktek bisnis modern, yakni hubungan keagenan (agency relationship) antara prinsip sebagai pemilik perusahaan dan agen sebagai peneglola perusahaan. Pada perusahaan besar saat ini, pemilik perusahaan direpresentasikan secara langsung oleh pemegang saham dan pengelola adalah manajemen perusahaan. Dari hubungan inilah seluruh seluruh asumsi menegenai teori agensi dibagun. Auditing Auditing menurut Arens, Elder, Beasley, dan Jusuf (2009:4) adalah: pengumpulan dan penilaian bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. Sedangkan pengertian auditing menurut Agoes (2014:4) adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Standar Audit Standar audit berkenaan dengan kriteria atau ukuran mutu pelaksanaan audit serta dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai. Standar auditing merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggungjawab profesionalnya. Standar ini meliputi pertimbangan kualitas profesional auditor, seperti keahlian dan independensi, persyaratan pelaporan dan bahan bukti. Standar auditing terdiri dari sepuluh standar yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan (SPAP, 2011:150.1). Laporan Audit Laporan audit adalah media yang digunakan auditor untuk berkomunikasi dengan pengguna laporan keuangan (Surbakti, 2011). Auditor menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan auditan di dalam laporan audit. Pendapat auditor disajikan dalam suatu