The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rita.dewantara, 2023-02-22 02:37:06

EKSIS, NO 11 NO 1, APR 2016

Volume 11 Nomor 1 April 2016

EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 47 laporan tertulis berupa laporan audit baku. Isi laporan audit baku terikat pada format yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Laporan audit baku terdiri dari tiga paragraf, yaitu paragraf pengantar (introductory paragraph), paragraf lingkup (scope paragraph), dan paragraf pendapat (opinion paragraph). Paragraf pertama adalah paragraf pengantar laporan audit baku. Di dalam paragraf pengantar terdapat tiga fakta yang diungkapkan oleh auditor : (1) tipe jasa yang diberikan oleh auditor, (2) objek yang di audit, (3) pengungkapan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan tanggung jawab auditor atas pendapat yang diberikan atas laporan keuangan berdasarkan hasil audit. Pada paragraf ini terdapat tiga kalimat, yaitu kalimat pertama menjelaskan laporan keuangan yang menjadi objek sasaran audit, kalimat kedua menjelaskan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan, dan kalimat ketiga menjelaskan tanggung jawab auditor atas pendapat yang dinyatakan pada laporan audit. Going Concern IAI (2011:341.2) mendefinisikan going concern sebagai Kesangsian kemampuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama periode waktu yang pantas, yaitu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan auditan. Opini dengan Paragraf Penjelas Going Concern Laporan audit dengan modifikasi going concern merupakan suatu indikator bahwa dalam penilaian auditor terdapat resiko auditee tidak dapat bertahan dalam bisnis dari sudut pandang auditor, keputusan tersebut melibatkan beberapa tahap analisis. Auditor harus mempertimbangkan hasil dari operasi, kondisi ekonomi yang mempengaruhi perusahaan, kemampuan membayar utang, dan kebutuhan likuiditas di masa yang akan datang. Karena menurut Koh dan Tan, pemberian status going concern bukanlah tugas yang mudah (Surbakti: 2011). Jika auditor menyimpulkan keragu-raguan atas kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya, pendapat wajar dengan pengecualian dengan paragraf penjelas perlu dibuat, terlepas dari pengungkapan dalam laporan keuangan. PSA 30 mengijinkan tetapi tidak menganjurkan pernyataan tidak memberikan pendapat karena adanya kesangsian atas kelangsungan hidup. Mc Keown et al berpendapat bahwa auditor mungkin saja gagal untuk memberikan pendapat tentang adanya indikasi kebangkrutan pada suatu perusahaan yang ternyata mengalami kebangkrutan dalam beberapa tahun ke depan atau mendatang. Hal ini disebabkan karena perusahaan tersebut sedang dalam posisi ambang batas antara kebangkrutan dengan kelangsungan usaha (Surbakti : 2011) Model Penelitian Audit Tenure (X3) Reputasi Auditor (X4) Opini dengan Paragraf Penjelas Going Concern (Y) Kondisi Keuangan (X1) Pertumbuhan Perusahaan (X2 ) X1 X2 X3 X4 Gambar 1: Model Penelitian


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 48 Hipotesis H1 : Kondisi keuangan perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern H2 : Pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern H3 : Audit tenure terhadap berpengaruh penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern H4 : Reputasi auditor berpengaruh terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern C. Metode Penelitian Penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif yang menguji pengaruh variabel independen, yaitu kondisi keuangan, pertumbuhan perusahaan, audit tenure dan reputasi auditorterhadap variabel dependen, yaitu opini audit dengan paragraf penjelas going concern. Pengujian terhadap keempat variabel tersebut menggunakan analisis data regresi logistik. Hasil dari analisis data tersebut akan menjadi dasar untuk membuat sebuah kesimpulan. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dalam teknik pengambilan sampel. Adapun kriteria-kriteria yang digunakan dalam penentuan sampel adalah sebagai berikut: Tabel 1: Kriteria Sampel dengan Metode Purposive Sampling No. Keterangan Jumlah 1 Perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2010-2014 131 2 Perusahaan yang delisting selama tahun pengamatan (6) 3 Data perusahaan tidak lengkap (19) 4 Perusahaan yang tidak menggunaka mata uang rupiah dalam laporan keuangan (40) Jumlah perusahaan sampel 66 Tahun pengamatan 5 Jumlah sampel selama tahun pengamatan 330 Sumber: Data diolah, 2016 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Adapun operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Variabel Bebas (X). Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel penyebab. (Arikunto, 2013 : 162). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Kondisi Keuangan Perusahaan (X1). Kondisi keuangan perusahaan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam melanjutkan kelangsungan hidupnya. Buruknya kondisi keuangan dapat menyebabkan besarnya peluang perusahaan untuk menerima opini audit dengan paragraf penjelas going concern. b. Pertumbuhan Perusahaan (X2). Perusahaan disebut tumbuh jika perusahaan tersebut misalnya berhasil meningkat volume penjualan, besarnya pasang pasar yang dikuasai, besarnya laba yang diperoleh, wilayah pemasaran yang dijangkau, ragam produk yang dihasilkan, harta kekayaan yang dioperasikan, penguasaan teknologi, jumlah karyawan dan ukuran lain yang ditetapkan. c. Audit Tenure (X3). Masa jangka waktu perikatan yang terjalin antara KAP dengan auditee yang sama. Tenure KAP diukur dengan menghitung tahun dimana KAP yang sama telah melakukan perikatan dengan auditee dalam


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 49 batas regulasi yang telah ditentukan oleh pemerintah. d. Reputasi Auditor (X4). Reputasi auditor selalu dikaitkan dengan terdaftarnya KAP dalam kelompok big4. Masuk dalam kelompok big4 2. Variabel Terikat (Y). Variabel terikat adalah variabel akibat atau disebut juga variabel bergantung. (Arikunto, 2013 : 162). Variabel terikat dari penelitian ini adalah opini audit dengan paragraf penjelas going concern yang diterima oleh perusahaan. Going concern adalah kesangsian kemampuan perusahaan dalam mempertahankan hidupnya selama periode waktu yang pantas, yaitu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan auditan diterima. Sedangkan paragraf penjelas going concern adalah penjelasan tambahan yang diberikan oleh auditor kepada auditee yang disangsikan dapat mempertahankan hidupnya. Pengukuran Variabel Bebas a. Kondisi Keuangan Perusahaan (X1). Kondisi keuangan perusahaan biasanya diukur menggunakan rasiorasio analisa laporan keuangan. Namun dalam penelitian ini, kondisi keuangan perusahaan diukur menggunakan model prediksi kebangkrutan Z Score yang dikembangkan oleh Altman. Hal itu dikarenakan rasio-rasio analisa laporan keuangan dihitung secara terpisah-pisah, sedangkan model Altman Z Score, menggabungkan rasio-rasio analisa laporan keuangan ke dalam suatu persamaan. b. Pertumbuhan Perusahaan (X2). Dalam penelitian ini, variabel pertumbuhan perusahaan diproksikan dengan menggunakan rasio pertumbuhan laba. Maka rasio pertumbuhan laba adalah sebagai berikut: ℎ ℎ ℎ ℎ c. Audit Tenure (X3). Variabel audit tenure dalam penelitian ini menggunakan skala interval sesuai dengan lama hubungan KAP dengan perusahaan. Audit tenure diukur dengan menghitung jumlah tahun dimana KAP yang sama telah melakukan perikatan audit terhadap auditee. Tahun pertama perikatan dimulai dengan angka 1 dan ditambah dengan satu untuk tahun-tahun berikutnya. Pengukuran ini diambil dari jurnal milik Knechel dan Vanstraelen pada tahun 2007 yang dialihbahasakan oleh Pratiwi pada tahun 2013. d. Reputasi Auditor (X4). Reputasi auditor dalam penelitian ini diproksikan dengan klasifikasi audit yang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu auditor big4 dan auditor non big4. Variabel reputasi auditor menggunakan variabel dummy. Jika sebuah perusahaan diaudit oleh audit big four maka diberikan nilai 1. Sedangkan jika sebuah perusahaan diaudit oleh audit non big four, maka diberikan nilai 0 Pengukuran Variabel Terikat Variabel ini merupakan variabel dummy yang diukur dengan angka 0 bila perusahaan menerima Going Concern Audit Opinion (GCAO) dan angka 1 bila menerima opini Non Going Concern Audit Opinion (NGCAO) (Junaidi dan Hartono, 2010). Analisis Regresi Logistik Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi logistik. Regresi logistik adalah sebuah pendekatan untuk membuat model prediksi seperti halnya regresi linear atau yang biasa disebut dengan istilah Ordinary Least Squares (OLS) regression. Perbedaannya adalah pada regresi logistik, peneliti memprediksi


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 50 variabel terikat yang berskala dikotomi. Skala dikotomi yang dimaksud adalah skala data nominal dengan dua kategori, misalnya: ya dan tidak, baik dan buruk atau tinggi dan rendah. Apabila pada OLS mewajibkan syarat atau asumsi bahwa error varians (residual) terdistribusi secara normal. Sebaliknya, pada regresi logistik tidak dibutuhkan asumsi tersebut sebab pada regresi logistik mengikuti distribusi logistik. Model regresi logistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut: GC = a + b1KEU + b2GRO + b3TENURE + b4REPUT + e Keterangan: GC = opini going concern (variabel dummy, 0 jika opini going concern, 1 jika opini non going concern) KEU = kondisi keuangan perusahaan menggunakan model prediksi kebangkrutan menggunakan persamaan Altman Z-score GRO = pertumbuhan perusahaan menggunakan rasio pertumbuhan laba TENURE = jumlah tahun perikatan audit dengan KAP yang sama. REPUT = reputasi auditor (variabel dummy, 1 jika melakukan termasuk big4, 0 jika tidak termasuk big4) a = konstanta e = kesalahan residual Uji Kelayakan Model Regresi Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test. Tabel Hosmer and Lemeshow Test digunakan untuk menguji kesesuaian model (goodness of fit), atau dengan kata lain untuk menguji apakah model yang menggunakan empat variabel independen (kondisi keuangan, pertumbuhan perusahaan, audit tenure dan reputasi auditor) sudah sesuai dengan data empiris atau tidak. Hipotesis dari uji kelayakan model regresi ini adalah sebagai berikut : H0 : Model telah cukup menjelaskan data (fit) H1 : Model tidak cukup menjelaskan data (tidak fit) Kriteria uji tolak hipotesis nol jika nilai probabilitas lebih kecil atau sama dengan taraf signifikansi yang telah ditetapkan (α ≤ 0,05). Menilai Model Fit (Overall Model Fit Test) Tujuan menilai model fit adalah untk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama (overall) telah fit di dalam model atau tidak dengan menggunakan fungsi Likelihood. Hipotesisnya adalah sebagai berikut: H0 : β1 = β2 =....= βp = 0 tidak ada pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap overall model H1 : β1 = β2 =....= βp ≠ 0 ada pengaruh paling sedikit satu variabel bebas terhadap overall model / fit Kriteria uji tolak hipotesis nol adalah tingkat signifikansi 0,00 < 0,05 atau terjadi penurunan nilai fungsi likelihood. Dari hipotesis tersebut maka H0 harus ditolak agar overall model fit dengan data. Statistik yang digunakan berdasarkan fungsi Likelihood. Likelihood L dari model adalah probabilitas bahwa model yang dihipotesiskan berdasarkan data input. Untuk menguji H0 dan alternatif, L ditransformasikan menjadi -2LogL. Koefisien Determinasi Besarnya nilai koefisien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan dengan nilai Nagelkerke R Square (R2), yaitu pengujian yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 51 kemampuan independen mampu menjelaskan dan mempengaruhi variabel dependen (Ghozali, 2006). Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1, dimana bila nilai R2 kecil maka kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen terbatas. Sedangkan jika R2 mendekati 1 berarti variabel independen mampu memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen. Untuk regresi dengan variabel bebas lebih dari 2 maka digunakan adjusted R2 sebagai koefisien determinasi. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t) Uji parsial yang digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji t-test ini pada dasarnya untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variable penjelas / independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2007). Uji t-test digunakan untuk menemukan pengaruh yang paling dominan antara masing-masing variabel independen untuk menjelaskan variasi variabel dependen dengan tingkat signifikansi 5 %. Hipotesis yang dikembangkan dari uji t adalah sebagai berikut : H0 : β1 = 0 variabel x tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel y H1 : β1 ≠ 0, variabel x berpengaruh signifikan terhadap variabel y Kriteria uji tolak H0 adalah jika nilai sig ≤ α = 0,05, artinya jika nilai sig kurang dari sama dengan 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima begitu pula sebaliknya. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik-F) Uji statistik f pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama- sama terhadap variable dependen/terikat (Ghozali, 2007). Hipotesis dari uji f adalah sebagai berikut : H0 : tidak ada variabel x yang signifikan mempengaruhi variabel y H1 : minimal ada satu variabel yang signifikan mempengaruhi variabel y Kriteria uji tolak H0 adalah jika nilai sig ≤ α = 0,05, artinya jika nilai sig kurang dari sama dengan 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima begitu pula sebaliknya. D. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2: Statistik Deskriptif N Min Max Mean Std. Deviation GC 330 0,00 1,00 0,92 0,27 Finance 330 -4,82 21,22 3,97 3,75 Growth 330 -71,49 1369,53 3,88 75,68 Tenure 330 1,00 5,00 2,60 1,38 Reputasi 330 0,00 1,00 0,40 0,49 Valid N (listwise) 330 Sumber : Hasil Uji SPSS 16 Berdasarkan Statistik Deskriptif tersebut peneliti dapat mengetahui nilai min, max, mean dan standar deviasi dari sampel yang diteliti. Penjelasan dari tabel tersebut adalah sebagai berikut : 1. Hasil statistik deskriptif terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern menunjukkan nilai minimum sebesar 0, nilai maksimum sebesar 1 dengan mean


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 52 0,92 dan standar deviasi 0,27. Nilai mean menunjukkan bahwa data sampel sebanyak 330 terdiri dari 303,6 tidak mendapat opini dengan paragraf going concern, sedangkan sisanya sebanyak 27,4 mendapat opini dengan paragraf penjelas going concern. 2. Hasil statistik deskriptif terhadap kondisi keuangan perusahaan menunjukkan nilai minimum sebesar - 4,82; nilai maksimum sebesar 21,22 dengan mean 3,97 dan staundar deviasi 3,75. Nilai mean menunjukkan bahwa rata-rata Z-Score adalah 3,97 yang artinya kondisi keuangan perusahaan termasuk dalam kriteria tidak bangkrut karena lebih dari angka 2,99. 3. Hasil statistik deskriptif terhadap pertumbuhan perusahaan menunjukkan nilai minimum sebesar - 71,49; nilai maksimum sebesar 1369,53 dengan mean 3,88 dan standar deviasi 75,68. Nilai mean menunjukkan bahwa rata-rata sampel mengalami pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan pertumbuhan laba sebesar 3,88 setiap tahunnya. 4. Hasil statistik deskriptif terhadap audit tenure menunjukkan nilai minimum sebesar 1, nilai maksimum sebesar 5 dengan mean 2,6 dan standar deviasi 1,38. Nilai mean menunjukkan bahwa rata-rata sampel melakukan perikatan audit selama 2,6 tahun. 5. Hasil statistik deskriptif terhadap reputasi auditor menunjukkan nilai minimum sebesar 0, nilai maksimum sebesar 1 dengan mean 0,40 dan standar deviasi 0,49. Nilai mean menunjukkan bahwa data sampel sebanyak 330 terdiri dari 132 perusahaan diaudit oleh KAP yang berafiliasi dengan Big4 , sedangkan sisanya sebanyak 198 perusahaan diaudit oleh KAP yang tidak berafiliasi dengan Big4. Hasil Uji Multikolinieritas Tabel 3: Correlation Matrix Constant x1 x2 x3 x4 Step 1 Constant 1.000 -.428 .161 -.707 -.215 x1 -.428 1.000 -.332 -.121 .206 x2 .161 -.332 1.000 .052 -.062 x3 -.707 -.121 .052 1.000 -.119 x4 -.215 .206 -.062 -.119 1.000 Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Model regresi yang baik adalah regresi dengan tidak adanya gejala korelasi yang kuat di antara variabel bebasnya. Pengujian ini menggunakan matriks korelasi antar variabel bebas untuk melihat besarnya korelasi antar variabel independen. Tabel Correlation Matrix menunjukkan nilai koefisien korelasi antar variabel dependen tidak ada yang melebihi 0,8 artinya tidak ada gejala multikolinieritas antar variabel dependen. Dengan demikian dapat disimpulkan tidak ada korelasi yang serius antar variabel dependen sehingga model regresi dalam penelitian ini termasuk model regresi yang baik.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 53 Hasil Uji Matriks Klasifikasi Tabel 4: Classification Tablea Observed Predicted Penerimaan Opini Percentage Correct Step 1 Penerimaan Opini 0 17 10 63.0 1 5 298 98.3 Overall Percentage 95.5 a. The cut value is ,500 Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Matriks klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan perusahaan menerima opini dengan paragraf penjelas going concern. Hal itu ditujukkan dalam tabel Classification Tablea yaitu tabel klasifikasi, nilai percentage correct adalah nilai kekuatan prediksi tersebut. Pada tabel dapat diketahui bahwa pengklasifikasian penerimaan opini audit going concern pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah akurat pada tingkat 95,5% yang menunjukkan tingkat akurasi tergolong tinggi. Berdasarkan tabel diketahui bahwa dari 27 perusahaan yang diobservasi menerima opini dengan paragraf penjelas going concern, 17 diantaranya diprediksi menerima opini dengan paragraf penjelas going concern dengan persentase keakuratan sebesar 63% (17/27*100%). 10 diantaranya diprediksi menerima opini tanpa paragraf penjelas going concern. Terdapat 303 perusahaan yang diprediksi menerima opini non going concern dengan persentase keakuratan sebesar 98,3% (298/303*100%) atau sebanyak 298 perusahaan. Sisanya 5 perusahaan diprediksi menerima opini dengan paragraf penjelas going concern. Secara keseluruhan dari 330 perusahaan sampel terdapat 315 perusahaan (17+298) yang diprediksikan sesuai dengan observasinya dengan prosentase keakuratan sebesar 95,5% (315/330*100%). Dapat disimpulkan bahwa model regresi logistik dalam penelitian ini memiliki tingkat keakuratan yang tinggi dalam memprediksi penerimaan opini audit going concern pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil Uji Kelayakan Model Regresi Tabel 5: Hosmer and Lemeshow Test Step Chi-square df Sig. 1 2.100 8 .978 Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Dari tabel Hosmer and Lemeshow’s Test ditunjukkan bahwa nilai Chi-Square sebesar 2,100 dengan nilai signifikansi sebesar 0,978 > 0,05, sehingga H0 diterima dan Ha ditolak, kesimpulannya model telah cukup menjelaskan data. Artinya tidak ada perbedaan antara model dengan data. Model dinyatakan fit dengan data. Model logistik yang dihasilkan pada penelitian ini mampu memprediksi nilai observasinya, sehingga model dapat diterima. Hasil Uji Model Fit (Overall Model Fit Test) H0 : β1 = β2 =....= βp = 0 tidak ada pengaruh variabel bebas secara


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 54 bersama-sama terhadap overall model H1 : β1 = β2 =....= βp ≠ 0 ada pengaruh paling sedikit satu variabel bebas terhadap overall model / fit Kriteria uji tolak hipotesis nol adalah jika terjadi penurunan nilai fungsi likelihood. Tabel 6: Iteration Historya,b,c (Block 0: Beginning Block) Iteration -2 Log likelihood Coefficients Constant Step 0 1 203.879 1.673 2 187.676 2.246 3 186.907 2.406 4 186.904 2.418 5 186.904 2.418 a. Constant is included in the model. b. Initial -2 Log Likelihood: 186,904 c. Estimation terminated at iteration number 5 because parameter estimates changed by less than ,001. Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Dari Tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai -2 LogLikehood adalah sebesar 186,94. Nilai ini adalah nilai block number awal atau block 0, dimana dalam pengujiannya variabel independen belum dimasukkan. Untuk mengetahui apakah overall model dalam penelitian ini sudah fit dengan data, maka harus membandingkan terlebih dahulu nilai block 0 dengan nilai block 1. Nilai block 1 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 7: Iteration Historya,b,c,d (Block 1: Method = Enter) Iteration -2 Log likelihood Coefficients Constant x1 x2 x3 x4 Step 1 1 186.325 1.105 .097 .000 .088 -.117 2 141.780 .844 .299 .000 .199 -.243 3 109.159 .094 .700 -.002 .270 -.196 4 88.873 -.579 1.233 -.004 .296 .088 5 79.957 -1.065 1.796 -.009 .295 .449 6 77.725 -1.328 2.222 -.013 .276 .724 7 77.541 -1.407 2.385 -.014 .264 .818 8 77.540 -1.414 2.402 -.014 .263 .826 9 77.540 -1.414 2.403 -.014 .263 .826 a. Method: Enter b. Constant is included in the model. c. Initial -2 Log Likelihood: 186,904 d. Estimation terminated at iteration number 9 because parameter estimates changed by less than ,001.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 55 Tabel 7: Iteration Historya,b,c,d (Block 1: Method = Enter) Iteration -2 Log likelihood Coefficients Constant x1 x2 x3 x4 Step 1 1 186.325 1.105 .097 .000 .088 -.117 2 141.780 .844 .299 .000 .199 -.243 3 109.159 .094 .700 -.002 .270 -.196 4 88.873 -.579 1.233 -.004 .296 .088 5 79.957 -1.065 1.796 -.009 .295 .449 6 77.725 -1.328 2.222 -.013 .276 .724 7 77.541 -1.407 2.385 -.014 .264 .818 8 77.540 -1.414 2.402 -.014 .263 .826 9 77.540 -1.414 2.403 -.014 .263 .826 a. Method: Enter b. Constant is included in the model. Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Berdasarkan tabel Iteration History block 1 dapat diketahui bahwa nilai block 1 adalah sebesar 77,540. Hal itu menunjukkan ada penurunan nilai antara block 0 dan block 1 yaitu sebesar 109,4. Angka 109,4 juga terdapat dalam tabel Omnibust Test dengan tingkat signifikansi 0,00 < 0,05. Kesimpulannya H0 ditolak dan H1 diterima, artinya overall model telah fit dengan data. Overall model regresi penelitian ini sudah baik dan fit dengan data. Hasil Uji Koefisien Determinasi Nagelkerke R Square (R2) Tabel 8: Model Summary Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square 1 77.540a .282 .652 a. Estimation terminated at iteration number 9 because parameter estimates changed by less than ,001. Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Besarnya nilai koefisien determinasi pada model regresi logistik dipergunakan untuk menjelaskan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Berdasarkan Tabel model summary dibawah ini, nilai Nagelkerke R Square sebesar 65,2%, yang berarti variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar persentase tersebut, sedangkan sisanya sebesar 34,8% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar model penelitian. Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t) Tabel 9: Variables in the Equation B S.E. Wald df Sig. Exp(B) 95,0% C.I.for EXP(B) Lower Upper Step 1 a x1 2.403 .455 27.852 1 .000 11.051 4.528 26.972 x2 -.014 .012 1.334 1 .248 .986 .962 1.010


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 56 x3 .263 .262 1.005 1 .316 1.300 .778 2.173 x4 .826 .782 1.115 1 .291 2.283 .493 10.570 Constant -1.414 .672 4.422 1 .035 .243 a. Variable(s) entered on step 1: x1, x2, x3, x4. Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa x1 atau variabel kondisi keuangan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,00 < 0,00 yang artinya H0 ditolak dan H1 diterima sehingga disimpulkan bahwa variabel kondisi keuangan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern. Sedangkan variabel x2, x3 dan x4 masing-masing nilai signifikansinya adalah 0,248; 0.316; 0,291. Ketiga variabel tersebut nilai signifikansinya lebih besar dari 0,005 yang artinya H0 diterima sedangkan H2, H3 dan H4 ditolak sehingga dapat disimpulkan variabel pertumbuhan perusahaan, audit tenure dan reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern. Ditolaknya H2, H3 dan H4 bukan berarti variabel pertumbuhan perusahaan, audit tenure dan reputasi auditor tidak berpengaruh sama sekali, tetapi ketiganya dapat mempengaruhi penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern, namun sangat kecil. Tabel tersebut juga dapat menjelaskan urutan variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi variabel dependen yaitu dengan melihat nilai exp(B), nilai yang paling besar merupakan paling dominan dalam mempengaruhi. Begitu pula sebaliknya nilai yang paling kecil berarti paling kecil pengaruhnya. X1 11,051 > X4 2,283 > X3 1,300 > X2 0,986 merupakan urutan masing-masing variabel yang paling dominan pengaruhnya. Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik f) Tabel 10: Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square df Sig. Step 1 Step 109.364 4 .000 Block 109.364 4 .000 Model 109.364 4 .000 Sumber : Data Primer diolah dengan SPSS 16 Tabel Omnibus Tests of Model Coefficients adalah hasil dari uji f untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan. Dari Tabel tersebut dapat diketahui bahwa nilai signifikansinya 0,00 < 0,005 yang artinya H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulannya Minimal ada satu variabel x yang signifikan mempengaruhi variabel y. E. PENUTUP Penelitian ini menguji empat faktor yang diprediksi menjadi faktor sebuah perusahaan mendapatkan opini audit dengan paragraf penjelas going concern. Melalui prosedur penelitian yang benar, maka hasil akhir dari penelitian ini merupakan simpulan yang sudah teruji secara empiris. Variabel kondisi keuangan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern, variabel pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan rasio pertumbuhan laba merupakan faktor yang tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern, variabel audit


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 57 tenure merupakan faktor yang tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern dan variabel reputasi auditor yang diproksikan dengan reputasi auditor merupakan faktor yang tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern. Jika dilihat dari komposisi variabel tersebut terdiri dari 2 (dua) variabel dari sudut pandang perusahaan dan 2 (dua) variabel dari sudut pandang auditor. Kesimpulannya adalah opini audit dengan paragraf penjelas going concern itu dikeluarkan atau tidak belum tentu tergantung pada kondisi perusahaan tetapi kemungkinan karena independensi auditornya. Dari simpulan diatas, maka disarankan kepada pihak perusahaan agar mendeteksi sejak dini sinyal-sinyal tidak mampunya perusahaan dalam mempertahankan hidup sangat diperlukan bagi perusahaan agar dapat langsung mengambil tindakan pencegahan agar tidak benar-benar mengalami kebangkrutan dan tidak mendapatkan opini dengan paragraf penjelas going concern. Audit internal perusahaan sebaiknya tidak hanya menilai kinerja perusahaan apakah sudah dilaksanakan secara efektif dan efisien, tetapi juga mengenali tanda-tanda keraguan atas going concern perusahaan. Selian itu, sebaiknya perusahaan memberikan perhatian penuh pada kondisi keuangan perusahaan dikarenakan pengaruhnya terhadap kemampuan perusahaan dalam mempertahankan hidupnya sangat besar. Sedangkan untuk para investor, pengambilan keputusan investasi saat ini sebaiknya tidak hanya berdasarkan laporan keuangan, melainkan juga menganalisis opini audit yang diterima oleh perusahaan tersebut. Latar belakang penerimaan opini, reputasi dan independensi auditor dalam memberikan opini bisa sangat membantu dalam ketepatan keputusan investasi. Selain pengetahuan tentang keuangan perusahaan, investor sebaiknya menambah pengetahuan tentang audit. Penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, Untuk variabel pertumbuhan perusahaan dengan proksi rasio pertumbuhan laba yang hasilnya tidak berpengaruh secara signifikan, pada penelitian selanjutnya sebaiknya perlu memakai proksi lain yang lebih tepat dalam menggambarkan pertumbuhan perusahaan. Kedua, Untuk variabel reputasi auditor dengan proksi auditor dengan afiliasi big4 yang hasilnya tidak berpengaruh secara signifikan, pada penelitian selanjutnya sebaiknya perlu memakai proksi lain yang lebih tepat dalam menilai reputasi auditor. Selain itu, pada penelitian-penelitian terdahulu belum ada yang mengungkapkan hasil dari faktor-faktor yang paling mendominasi pengaruhnya terhadap penerimaan opini dengan paragraf penjelas going concern. Dalam penelitian ini hanya empat faktor yang diurutkan dominasi pengaruhnya. Untuk itu pada penelitian selanjutnya, sebaiknya beberapa faktor lain hasil uji statistik yang memperlihatkan dominasi pengaruh setiap faktor juga dijelaskan. Beberapa perusahaan yang mendapatkan opini dengan paragraf penjelas going concern tidak dapat dijadikan sampel dikarenakan penyajian laporan keuangannya menggunakan mata uang dolar. Hal itu dikarenakan peneliti tidak mampu menemukan data kapitalisasi pasar ekuitas sampel dalam mata uang dolar, oleh karena itu pada penelitian selanjutnya sebaiknya mengikutsertakan laporan keuangan dengan mata uang dolar. Sebaiknya dilakukan penelitian kembali tetapi dengan objek penelitian yang berbeda, yakni sektor selain manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 58 DAFTAR PUSTAKA Aamir, Suhaib, dan Umar Farooq. 2011. Auditor client relationship and audit Quality : The effects of longterm auditor client relationship on audit quality in SMEs. Tesis Dipublikasikan. Umeå School of Business. Swedia: Umeå University. Agoes, Sukrisno. 2014. Auditing, Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan Oleh Akuntan Publik Buku 1 Edisi 4. Jakarta: Salemba Empat Almutairi, Ali., Dunn, Kimberly., & Skantz, Terrance. 2009. Audit Tenure, Auditor Specialization, and Information Asymmetry. Manajerial Accounting Journal Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Badera dan Rudyawan. 2009. Opini Audit Going Concern:Kajian Berdasarkan Model Prediksi Kebangkrutan, Pertumbuhan Perusahaan, Leverage, dan Reputasi Auditor. Jurnal Akuntansi dan Bisnis.Vol.4.No.2 Elder, Randal J, M.S. Beasley, A.A Arens, dan A.A Jusuf. Auditing and Assurance Service An Integrated Approach An Indonesian Adaptation. Singapore: Pearson Education Fanny, Margaretha, dan Saputra, S. 2005. Opini Going Concern: Kajian Berdasarkan Model Prediksi Kebangkrutan, Pertumbuhan Perusahaan, dan Reputasi Kantor Akuntan Publik (Studi pada Emiten Bursa Efek Jakarta). .Simposium Nasional Akuntansi 08, tanggal 15- 16 September, Solo. Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Ghozali, Imam. 2007. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). 2011. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Jakarta: Salemba Empat. Januarti, Indira. 2009. Analisis Pengaruh Faktor Perusahaan, Kualitas Auditor, Kepemilikan Perusahaan Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern (Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Bursa Efek Indonesia). Simposium Nasional Akuntansi 12 , tanggal 4-6 November, Palembang. Junaidi, dan Jogiyanto Hartono. 2010. Faktor Non Keuangan Pada Opini Going Concern. Simposium Nasional Akuntansi 13, tanggal 13- 15 Oktober. Purwokerto. Kartika, Andi. 2012. Pengaruh Kondisi Keuangan dan Non Keuangan terhadap Penerimaan Opini Going Concern pada Perusahaan Manufaktur di BEI. Dinamika Akuntansi Keuangan dan Perbankan, Vol. 1 No.1, Mei 2012. Knechel, W.Robert dan AnnVanstraelen. 2007. The Relationship between Auditor Tenure and Audit Quality Implied by Going Concern Opinions. Auditing: Ajournal of Practice & Theory. Vol. 26 No. 1, Mei 2007 Muhammad, Suwarsono. 2008. Manajemen Strategik (Konsep dan Kasus) Edisi Keempat. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Mulyadi. 2011. Auditing Buku 1 Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat Muttaqiena, A. 2015. PMI Manufaktur Indonesia Buruk, Inflasi Naik Lagi. 01 Juni. www.seputarforex.com Nazir, M. 2011. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 59 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik. Pratiwi, Karina Aningdita. 2013. Pengaruh Audit Tenure, Reputasi Kap, Disclosure, Ukuran Perusahaan Klien, dan Opini Audit Sebelumnya terhadap Opini Audit Going Concern : (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Tahun 2007-2011). Skripsi Dipublikasikan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Primadita, Indria. 2012. Pengaruh Tenure Audit dan Auditor Spesialis terhadap Informasi Asimetri. Skripsi Dipublikasikan. Fakultas Ekonomi. Depok: Universitas Indonesia Priyetno, Muh Agus. 2014. Analisis Pengaruh Financial Distress, Leverage, Solvabilitas, Profitabilitas, Audit Delay dan Disclosure Level terhadap Opini Going Concern pada Perusahaan LQ 45 yang Terdaftar pada Bei Tahun 2011-2012. Skripsi Dipublikasikan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Makassar: Universitas Hasanuddin. Puspitasari, Elen dan Anggraeni Nurmala Sari. 2012. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Lamanya waktu Penyelesaian Audit (Audit Delay) Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Auditing. Vol.9 No. 1. Santosa, Arga Fajar, dan Linda Kusumaning Wedari. 2007. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecenderungan Penerimaan Opini Audit Going Concern. Jurnal Ilmiah Akuntansi. Vol. 11 No 2, Desember. Semarang. Sawir 2005 Agnes Sawir. (2005). Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka. Setyarno, Budi Eko, dan Indira Januarti, dan Faisal. 2006. Pengaruh Kualitas Audit, Kondisi Keuangan Perusahaan, Opini Audit Tahun Sebelumnya, Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Opini Audit Going Concern. Simposium Nasional Akuntansi 9, tanggal 23- 26 Agustus. Solo. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Sulistya, A Febri dan Sukartha Pt D Yaniartha, 2013. Pengaruh Prior Opinion, Pertumbuhan dan Mekanisme Corporate Governance pada Pemberian Opini audit Going Concern. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana. ISSN: 2302- 8556, Vol 5 No.1 Hal 17-32. Sunyoto, Danang. 2013. Metodologi Penelitian Akuntansi. Bandung: Refika Aditama Surbakti, Meliyanti Yosephine, 2011. Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Opini Audit Going Concern. Skripsi Dipublikasikan. Fakultas Ekonomi. Semarang: Universitas Diponegoro. Triseptya N., Ghaliyah. 2014. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Audit Going Concern: Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur, dan Perusahaan Perdagangan, Jasa dan Investasi di Bursa Efek Indonesia 2009-2012. Skripsi Dipublikasikan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Semarang: Universitas Hasanuddin.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Rahyu Purbowati & Langgeng P Utomo 60 Tuanakotta, Theodorus M. 2013. Auditing Berbasis ISA (International Standards on Auditing). Jakarta: Salemba Empat Ulya, Alfaizatul. 2013. Opini Audit Going Concern: Analisis Berdasarkan Faktor Keuangan Dan Non Keuangan. Accounting Analysis Journal. ISSN: 2252- 6765, Vol 1 No.1


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 61 PENGARUH KARAKTERISTIK PEKERJAAN,KEPUASAN KERJA, DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA KARYAWAN BRI KEDIRI Writer: Restin Meilina Correspondence: [email protected] Institution: Universitas Nusantara PGRI Kediri EKSIS Vol XI No 1, 2016 ISSN: 1907-7513 http://ejournal.stiedewantara.ac.id / Abstract Organizational Citizenship Behavior (OCB) is the contribution of the individual exceeds the demands of his role in the workplace and reward performance gains, is expected to be a source of increased quality of employees. The purpose of this study was to determine the effect of job characteristics on job satisfaction and organizational commitment, the direct effect characteristic of the work of the OCB, the effect of job satisfaction on OCB, the influence of organizational commitment on OCB, and the indirect effect of job characteristics on OCB through employee satisfaction BRI branch office Kediri, BRI do with vision who wants to become a leading commercial bank and prioritizing customer satisfaction. This type of research is explanatory research. Samples taken are employees of BRI branch office Kediri many as 103 respondents. Data collection techniques used are questionnaires and interviews and data analysis techniques using path analysis (path analysis). The results showed that there was a direct and significant influence of: 1) the characteristics of the job to job satisfaction; 2) the characteristics of the work of the OCB, and 3) job satisfaction on OCB. The research also showed that, there was not a direct and significant effect of job characteristics on OCB through employee satisfaction and last, there was no significant effect of job characteristics on organizational commitment. Keyword: Organizational Citizenship behaviour (OCB), Job Chracteristic, Job Satisfaction, Organizational Commitment Abstrak Organizational Citizenship Behavior (OCB)merupakan kontribusi individu melebihi tuntutan perannya di tempat kerja dan reward perolehan kinerja, diharapkan dapat menjadi sumber peningkatan kualitas karyawan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karakteristik pekerjaan terhadap kepuasan kerja dan komitmen organisasi, pengaruh langsung karakterisik pekerjaan terhadap OCB, pengaruh kepuasan kerja terhadap OCB, pengaruh komitmen organisasi terhadap OCB, dan pengaruh tidak langsung karakteristik pekerjaan terhadap OCB melalui kepuasan kerja karyawan BRI kanca Kediri, berkaitan dengan visi BRI yang ingin menjadi bank komersial yang terkemuka dan mengedepankan kepuasan nasabah. Jenis penelitian adalah explanatory research. Sampel yang diambil merupakan karyawan BRI Kanca Kediri sebanyak 103 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara dan teknik analisa data menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh langsung dan signifikan dari: 1) karakteristik pekerjaan terhadap kepuasan kerja; 2) karakteristik pekerjaan terhadap OCB, dan 3) kepuasan kerja terhadap OCB.Selain itu, ada pengaruh tidak langsung dan signifikan karakteristik pekerjaan terhadap OCB melalui kepuasan kerja karyawan dan terakhir, tidak ada pengaruh signifikan karakteristik pekerjaan terhadap komitmen organisasi. Kata Kunci: Organizational Citizenship behaviour (OCB), Karakteristik Pekerjaan, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 62 A. PENDAHULUAN Sumber daya manusia (SDM) adalah aset yang sangat penting bagi perusahaan. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup padat, hal ini berarti bahwa Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang berlimpah. Sumber daya manusia yang berlimpah tersebut bisa menjadi keuntungan jika produktivitasnya tinggi, namun akan menjadi suatu permasalahan bila sumber daya tersebut tidak produktif. Salah satu upaya meningkatkan produktivitas SDM adalah melalui penerapan OCB (Organizational Citizenship Behavior). OCB merupakan perilaku sukarela dari seorang karyawan untuk mau melakukan tugas atau pekerjaan diluar tanggung jawab dan kewajibannya demi kemajuan atau keuntungan perusahaan (Garay, 2006). Beberapa contoh OCB adalah perilaku membantu teman sekerja yang mengalami kesulitan dalam pekerjaan, mencegah terjadinya ancaman bahaya yang dapat merugikan perusahaan, perilaku menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat kerja, patuh terhadap aturan dan prosedur-prosedur di tempat kerja, atau menyelesaikan pekerjaan melebihi standar yang dituntut, bahkan menjadi volunteer untuk tugas-tugas ekstra. Dengan OCB, karyawan memberikan kontribusi yang mendalam melebihi tuntutan perannya di tempat kerja dan reward perolehan kinerja. Perilaku OCB bisa melampaui indikator kinerja yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan dalam deskripsi pekerjaan formal (Mohammad et al. 2011). Bagi perusahaan, sangat penting untuk memiliki karyawan yang menunjukkan OCB karena dapat diharapkan untuk mempertahankan dan mempromosikan organisasi (Odoch and Nangoli, 2013).OCB memiliki lima dimensi perilaku yaitu: (1) Altruism: Perilaku membantu karyawan lain dalam tugastugas perusahaan tanpa ada paksaan. (2) Civic Virtue: Menunjukkan partisipasi sukarela dan dukungan terhadap fungsifungsi perusahaan baik secara profesional maupun sosial alamiah. (3) Conscientiousness: Kinerja dan prasyarat peran yang melebihi standar minimum. (4) Courtesy: Perilaku meringankan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang dihadapi orang lain. (5) Sportmanship: Pantangan-pantangan membuat isu-isu yang merusak nama baik perusahaan meskipun merasa jengkel. Podsakoffet al, (dalam Garay, 2006) menjelaskan ada empat faktor yang mendorong munculnya OCB yaitu karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, karakteristik organisasional dan perilaku pemimpin. Dalam organisasi terdapat bermacam-macam jenis pekerjaan yang mempunyai sifat berbeda antara jenis pekerjaan yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik pekerjaan merupakan faktor-faktor yang berkaitan dengan bagaimana cara karyawan menilai tugastugas yang ada dalam pekerjaannya (Pangabean; 2004: 118). Griffin (2004: 326) menyatakan bahwa karakteristik pekerjaan adalah spesialisasi pekerjaan yang memperhitungkan sistem kerja dan preferensi kerja. Untuk meningkatkan produktivitas dan hasil kerja karyawan secara optimal, perusahaan perlu menetapkankarakteristik pekerjaan dan mengembangkan berbagai cara agar sumber daya manusia yang mereka punya dapat diintegrasikan secara efektif. Karyawan akan menekuni bidang pekerjaan tersebut dengan konsentrasi dan tanggung jawab yang disertai perasaan senang sampai diperoleh hasil yang memuaskan dan berkualitas. Menurut Janecek, et.al. (2010) karakteristik pekerjaan berkorelasi positif dengan kepuasan kerja. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengusahakan agar karyawan dapat mempunyai pandangan yang baik terhadap karakteristik pekerjaan yang dilakukan agar karyawan merasakan kepuasan dalam bekerja.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 63 Karakteristik pekerjaan memiliki lima dimensi yaitu: (1) Keanekaragaman Keterampilan: Keragaman pekerjaan yang menuntut sejumlah keterampilan dan bakat yang berbeda. (2) Identitas tugas (Task Identity): penyelesaian tugas secara utuh dilihat dari tingkat pemahaman prosedur kerja dan tingkat keterlibatan kerja. (3) Arti Tugas (Task Significance): dampak pekerjaan pada kehidupan atau pekerjaan orang lain, atau dampak pekerjaan terhadap karyawan lain dalam satu departemen dan lain departemen. (4) Otonomi (Autonomy): kebebasan, ketidaktergantungan, dan keleluasaan yang cukup besar kepada individu dalam menjadwal dan menyelesaikan pekerjaan itu. (5) Umpan Balik (Feed back): karyawan memperoleh informasi yang langsung dan jelas mengenai keefektifan kinerjanya. Kepuasan kerja merupakan suatu ungkapan emosional yang bersifat positif atau menyenangkan sebagai hasil dari penilaian terhadap suatu pekerjaan atas pengalaman kerja. Kepuasan kerja terdiri dari kedua unsur yaitu kognitif (penilaian dari pekerjaan seseorang) dan afektif (keadaan emosi). Kepuasan kerja yang didapatkan oleh karyawan akan meningkatkan komitmen organisasional. Seorang karyawan yang semula kurang memiliki komitmen berorganisasi, namun setelah bekerja ternyata mendapat imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka akan merasakan ada hal-hal yang menarik dan memberi kepuasan. Hal itu akan memupuk berkembangnya komitmen berorganisasi. Namun juga sebaliknya, jika dalam perusahaan tersebut imbalan kurang menunjang, misalnya fasilitas kurang, hubungan kerja kurang harmonis, jaminan sosial, dan keamanan kurang maka komitmen organisasi kerja makin luntur. Sehingga dalam penelitiannya (Franek and Vecera, 2008) mengungkapkan bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh positif signifikan terhadap komitmen organisasi. Ada empat indikator kepuasan kerja, yaitu: (1) Kepuasan Terhadap Pekerjaan Itu Sendiri: pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan baik oleh karyawan karena dianggap menarik dan menyenangkan oleh mereka. (2) Kepuasan Terhadap Gaji: Sistem penggajian yang adil dapat membuat karyawan senang dalam melakukan pekerjaan. (3) Kepuasan Terhadap Supervisi: supervisi dari manajemen yang baik, membuat karyawan merasa senang dan semangat dalam menyelesaikan pekerjaannya. (4) Kepuasan Terhadap Rekan Kerja: Rekan kerja yang baik, ramah, dan mendukung akan menghasilkan kepuasan kerja yang tinggi dalam melakukan pekerjaannya Persoalan komitmen organisasi merupakan persoalan yang tidak bisa diabaikan dalam organisasi. Untuk dapat bekerjasama dan berprestasi dengan baik, seorang karyawan harus mempunyai komitmen yang tinggi pada organisasinya. Komitmen organisasional dapat tumbuh jika harapan kerja dapat terpenuhi oleh organisasi dengan baik. Selanjutnya dengan terpenuhinya harapan kerja ini menimbulkan kepuasan kerja (Tranggono dan Kartika, 2008).Komitmen organisasional mencerminkan kekuatan dari keterlibatan dan kesetiaan karyawan terhadap organisasi. Seorang karyawan yang memiliki komitmen terhadap organisasi yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula (Sopiah, 2008: 166). Komitmen organisasional memiliki tiga dimensi, yaitu: (1) Continuance commitment: keterikatan karyawan secara psikologis pada organisasi karena biaya yang dia tanggung sebagai konsekuensi jika keluar organisasi. (2) Normative Commitment: keterkaitan anggota secara psikologis dengan organisasi karena kewajiban moral untuk memelihara hubungan dengan organisasi. (3) Affective commitment: tingkat keterkaitan


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 64 secara psikologis dengan organisasi berdasarkan kenyamanan, keamanan, dan manfaat lain yang dirasakan dalam suatu organisasi. BRI Kanca Kediri sebagai tempat yang diteliti merupakan perusahaan jasa keuangan, memiliki kesadaran dan kewajiban untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam upaya mewujudkan visi dan misi yang dimiliki perusahaan yaitu ingin menjadi bank komersial yang terkemuka dan mengedepankan kepuasan nasabah. Komitmen karyawan terhadap pencapaian tujuan perusahaan dapat menjadi faktor pendorong yang sangat efektif menuju tahap-tahap kemajuanBRI Kanca Kediri. Karyawandiharapkan tidak hanya bekerja sesuai dengan imbalan yang diperolehnya, tetapi juga mampu untuk bekerja melebihi apa yang seharusnya dia lakukan (Organizational Citizenship Behavior). Hal ini akan berpengaruh secara langsung terhadap kualitas kerja dan kepuasan nasabah sebagai pengguna jasa. Sehingga sangat penting untuk mengatur karakteristik pekerjaan sebaik mungkin, sehingga karyawan merasakan kepuasan kerja dan memiliki komitmen tinggi kepada perusahaan, yang akhirnya bersedia melaksanakan OCB. Jika hal ini terjadi, maka kepuasan nasabah akan kualitas pekerjaan karyawan BRI Kanca Kediri akan cukup tinggi. Berdasarkan uraian diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Apakah karakteristik pekerjaan berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan kerja pada karyawan BRI Kanca Kediri; 2) Apakah karakteristik pekerjaan berpengaruh positif signifikan terhadap komitmen organisasional pada karyawan BRI Kanca Kediri; 3) Apakah karakteristik pekerjaan berpengaruh positif signifikan terhadap OCB pada karyawan BRI Kanca Kediri; 4) Apakah kepuasan kerja berpengaruh positif signifikan terhadap OCB pada karyawan BRI Kanca Kediri Kediri; 5) Apakah komitmen organisasional berpengaruh positif signifikan terhadap OCB pada karyawan BRI Kanca Kediri; 6) Apakah karakteristik pekerjaan secara tidak langsung berpengaruh positif signifikan terhadap OCB melalui kepuasan kerja pada karyawan BRI Kanca Kediri. B. Metode Penelitian Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitianexplanatory research dengan pendekatan kuantitatif. Dilakukan dengan menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis pada data yang sama untuk mengetahui hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Populasi danSampel Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan tetap BRI Kanca Kediri sebanyak 134 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling yaitu pengambilan sampel yang tidak memberi peluang sama bagi anggota populasi untuk dipilih sebagai sampel (Sugiyono, 2007:77). Tabel 1: Jumlah Karyawan No. Divisi Bagian Jumlah Karyawan 1 Fungsi Pemasaran 37 2 Fungsi Operasional 45 3 Fungsi Layanan 15 4 Fungsi Kas 20 5 Fungsi Penunjang Bisnis 9 6 Fungsi Bisnis Mikro 5 Total 134 Sumber: BRI Kanca Kediri, 2016


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 65 Penentuan sampel penelitian menggunakan rumus slovin yang memasukkan unsur kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir. Sesuai dengan rumus Slovin adalah sebagai berikut: 2 1 N N n = ( ). , =103,07 dibulatkan menjadi 103 Keterangan: n = Ukuran sampel, N = Ukuran populasi α = Toleransi ketidaktelitian 0,05 (dalam persen) Teknik pengumpulan data Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan yang ditetapkan diperlukan beberapa metode pengumpulan data. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner,dan wawancara.Kuesioner yang digunakan harus diuji validitas dan reliabilitasnya dan dipastikan sudah valid dan reliabel. Teknik analisa data Data yang sudah dikumpulkan dianalisis dengan model Analisis jalur (path Analysis), dilakukan uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. C. Hasil dan Pembahasan Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 2: Klasifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Pendidikan Terakhir Jumlah Persentase 1 Diploma 21 20,38% 2 Sarjana 76 73,78% 3 Magister 6 5,82% Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel di atas, pegawai dengan tingkat pendidikan terakhir Diploma yang menjadi responden adalah sebanyak 21 orang atau 20,38% dari 103 responden. Sedangkan pegawai dengan tingkat pendidikan terakhir Sarjana yang menjadi responden adalah sebanyak 76 orang atau 73,78% dari 103 responden. Kemudian pegawai dengan tingkat pendidikan terakhir Magister yang menjadi responden adalah sebanyak 6 orang atau 5,82% dari 103 responden. Jumlah responden berdasarkan jenis kelamin Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 3: Klasifikasi RespondenBerdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Persentase 1 Laki-laki 59 57,28% 2 Perempuan 44 42,71% Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pegawai laki-laki yang menjadi responden sebanyak 59 orang (57,28 %). Sedangkan pegawai perempuan yang menjadi responden berjumlah 44 orang (42,71%) dari total 103 responden. Jumlah responden berdasarkan masa kerja Dari hasil penelitian yang dilakukan, jumlah responden berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada tabel berikut:


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 66 Tabel 4: Klasifikasi Responden Berdasarkan Masa kerja No. MasaKerja (tahun) Jumlah Persentase 1 < 5 tahun 12 11,65% 2 5 – 10 tahun 34 33% 3 > 10 tahun 57 55,33% Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pegawai dengan masa kerja 0-5 tahun yang menjadi responden adalah sebanyak 12 orang atau sebesar 11,65% dari 103 responden. Untuk pegawai dengan masa kerja 5-10 tahun yang menjadi responden adalah sebanyak 34 orang atau sebesar 33 % dari 103 responden. Sedangkan pegawai dengan masa kerja > 10 tahun yang menjadi responden adalah sebanyak 57 orang atau sebesar 55,33% dari 103 responden. Karakteristik Pekerjaan Karakteristik Pekerjaan ini diukur dengan menggunakan 5 indikator, yaitu ragam keahlian, identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi tugas, dan umpan balik yang kemudian dikembangkan menjadi 10 pertanyaan. Berdasarkan data yang telah terkumpul diperoleh skor tertinggi 47 dan skor terendah 23,disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 5: Distribusi Frekuensi Variabel Karakteristik Pekerjaan No. Klasifikasi Interval Frekwensi Prosentase 1 Jelek 23-27 5 4,85% 2 Kurang Baik 28-32 2 1,94% 3 Cukup Baik 33-37 14 13,59% 4 Baik 38-42 30 2,91% 5 Sangat Baik 43-47 52 50,48% Total 103 100% Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa terdapat 5 (lima) responden dengan presentase 4,85% menjawab jelek, 2 (dua) responden dengan prosentase 1,94% menjawab kurang baik, 14 responden dengan prosentase 13,59% menjawab cukup baik, dan 30 responden dengan prosentase 2,91% menjawab baik, dan 52 responden dengan prosentase 50,48% menjawab sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menjawab karakteristik pekerjaan yang terdiri dari ragam keahlian, identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi tugas dan umpan balik dalam perusahaan sangat baik. Kepuasan Kerja Kepuasan kerja ini diukur dengan menggunakan 4 indikator, yaitu kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap rekan kerja, kepuasan terhadap pekerjaan, dan kepuasan terhadap supervisor yang kemudian dikembangkan menjadi 8 pertanyaan. Disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 6: Distribusi Frekuensi Variabel Kepuasan Kerja No. Klasifikasi Interval Frekwensi Prosentase 1. Tidak Puas 16-20 8 9,71% 2. Kurang Puas 21-25 14 13,59% 3. Cukup Puas 26-30 39 37,86% 4. Puas 31-35 39 37,86% 5. Sangat Puas 36-40 3 2,91% Total 103 100% Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa terdapat 8 (delapan) responden (9,71%) menjawab tidak puas, 14 responden (13,59%) menjawab kurang


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 67 puas, 39 responden (37,86%) menjawab cukup puas, 39 responden (37,86%) menjawab puas dan 3 responden (2,91%) menjawab sangat puas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menjawab puas atas kepuasan kerja yang meliputi kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap rekan kerja, kepuasan terhadap pekerjaan, dan kepuasan terhadap supervisor. Komitmen Organisasional Komitmen organisasional ini diukur dengan menggunakan 3 indikator, yaitu komitmen berkelanjutan, komitmen normatif, komitmen afektif yang dikembangkan menjadi 6 pertanyaan. Disajikan pada tabel berikut: Tabel 7: Distribusi Frekuensi Variabel Komitmen Organisasional No. Klasifikasi Interval Frekwensi Prosentase 1. Sangat Rendah 18-20 12 11,65 % 2. Rendah 21-22 25 24,27 % 3. Cukup Tinggi 23-25 39 37,86 % 4. Tinggi 26-27 14 13,59 % 5. Sangat Tinggi 28-30 13 12,62 % Total Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa terdapat 12 responden dengan presentase 11,65% menjawab sangat rendah, 25 responden dengan prosentase 24,27% menjawab cukup tinggi, 39 responden dengan prosentase 37,86% menjawab cukup tinggi, dan 14 responden dengan prosentase 13,59 % menjawab tinggi, dan 13 responden dengan prosentase 12,62% menjawab sangat tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menjawab tinggi atas komitmen organisasi yang meliputikomitmen berkelanjutan, komitmen normatif, komitmen afektif. Organizational Citizenship Behavior (OCB) Organizational Citizenship Behavior ini diukur dengan menggunakan 5 (lima) indikator, yaitu altruism, conscientiousness, sportmanship, courtesy, dan civic virtue yang dikembangkan menjadi 24 pertanyaan. Disajikan pada tabel berikut ini: Tabel 8 : Distribusi Frekuensi Variabel Organizational Citizenship Behavior No. Klasifikasi Interval Frekwensi Prosentase 1 Tidak Baik 68-77 19 9,71% 2 Kurang Baik 78-86 17 0,00% 3 Cukup Baik 87-96 20 24,27% 4 Baik 97-105 29 31,06% 5 Sangat Baik 106-115 18 34,95% Total 103 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa terdapat 10 responden dengan presentase 9,71% menjawab tidak baik, 25 responden dengan prosentase 24,27% menjawab cukup baik, 32 responden dengan prosentase 31,06% menjawab baik, dan 36 responden dengan prosentase 31,06% menjawab baik dan 36 responden dengan prosentase 34,95% menjawab sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menjawab sangat baik Organizational Citizenship Behavior yang terdiri dari altruism, conscientiousness, sportmanship, courtesy, dan civic virtue dalam perusahaan.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 68 Uji Normalitas Dari hasil olah data menggunakan SPSS, diketahui bahwa data tersebar secara diagonal mengikuti garis histogram sehingga data penelitian memenuhi asumsi normalitas Uji Heteroskedastisitas Dari hasil olah data menggunakan SPSS, diketahui bahwa titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk suatu pola yang jelas, menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y, maka data variabel pada penelitian ini tidak terjadi heterokesdastisitas Analisis jalur: Pengaruh Karakteristik Pekerjaan Terhadap Kepuasan Kerja Tabel 9: Rekapitulasi Hasil Analisis Pengaruh Karakteristik Pekerjaan Terhadap Kepuasan Kerja Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) 13.885 3.077 4.513 .000 X .410 .075 .478 5.472 .000 a. Dependent Variable: Z1 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .478a .229 .221 4.13524 a. Predictors: (Constant), X Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh langsung dan signifikan variabel karakteristik pekerjaan terhadap kepuasan kerja. Hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien beta standarisasi variabel karakteristik pekerjaan (X) sebesar 0,478. Koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,229 berarti bahwa pengaruh karakteristik pekerjaan terhadap kepuasan kerja sebesar 22,9% sedangkan sisanya 77,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Nilai sig= 0,000 (nilai signifikan<0,05) maka hipotesis yang menyatakan bahwa karakteristik pekerjaan berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap kepuasan kerja dapat diterima. Hal ini berarti bahwa pengaturan karakteristik pekerjaan pada BRI kanca Kediri sangat berpengaruh pada kepuasan kerja karyawan. Jika karyawan merasa karakteristik pekerjaan yang ditetapkan sesuai dengan preferensi dan kemampuan mereka, maka kepuasan kerja akan diperoleh. Sebaliknya, jika karakteristik pekerjaan dirasa kurang tepat, maka mereka tidak akan mendapatkan kepuasan dalam bekerja. Pengaruh Karakteristik Pekerjaan Terhadap Komitmen Organisasi Tabel 10: Rekapitulasi Hasil Analisis Pengaruh Karakteristik Pekerjaan Terhadap Komitmen Organisasi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Std. Error Beta T Sig. 1 (Constant) 21.238 2.129 9.976 .000 X .058 .052 .110 1.111 .269 a. Dependent Variable: Z2


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 69 Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .110a .012 .002 2.86139 a. Predictors: (Constant), X Sumber: Data primer diolah, Berdasarkan tabel di atas, nilai sig= 0,269 (nilai signifikan>0,05) maka hipotesis yang menyatakan bahwa karakteristik pekerjaan berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap komitmen organisasi ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat pengaruh variabel karakteristik pekerjaan terhadap komitmenorganisasi. Hal ini berarti bahwa karakteristik pekerjaan pada BRI kanca Kediri, tidak terlalu berpengaruh pada komitmen organisasi karyawan. Artinya, sesuai ataupun tidak karakteristik pekerjaan yang ditetapkan, dan puas atau tidak karyawan dalam bekerja, komitmen organisasi karyawan tidak jauh berbeda. Dapat dikatakan pula, karyawan BRI kanca Kediri sudah memiliki komitmen yang kuat pada perusahaan walaupun ada kondisi yang berubah dan mempengaruhi karakteristik pekerjaan. Pengaruh Karakateristik Pekerjaan, Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenship Behavior Tabel 11: Rekapitulasi Hasil Analisis Pengaruh Karakateristik Pekerjaan, Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi Terhadap OCB Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 17.162 11.627 1.476 .143 X .596 .222 .254 2.684 .009 Z1 .813 .260 .297 3.130 .002 Z2 1.113 .375 .248 2.965 .004 a. Dependent Variable: Y Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .565a .319 .299 10.74559 a. Predictors: (Constant), Z2, X, Z1 Sumber: data primer diolah Berdasarkan tabel diatas diperoleh model sebagai berikut: Y = 0,297Z1 + + 0,248Z2 + 0,254X + e Tabel diatas menunjukkan ada pengaruh secara langsung dan signifikan karakteristik pekerjaan (X) terhadap OCB (Y) ditunjukkan dengan koefisien beta standarisasi sebesar 0,254 dan dengan nilai signifikansi jalur 0,009 (<0.05). Ada pengaruh secara langsung dan signifikan kepuasan kerja (Z1) terhadap OCB (Y)ditunjukkan dengan koefisien beta standarisasi sebesar 0,297 dengan nilai signifikansi jalur 0,002 (<0,05). Selanjutnya ada pengaruh secara langsung dan signifikan komitmen organisasi (Z2) terhadap OCB (Y) ditunjukkan dengan koefisien beta standarisasi sebesar 0,248 dengan nilai signifikansi jalur 0,004 (<0,05). Hal ini berarti, ada pengaruh antara karakteristik pekerjaan terhadap OCB. Jika karakteristik pekerjaan sesuai dengan preferensi karyawan, maka OCB karyawan juga akan tinggi, sebaliknya jika karakteristik pekerjaan tidak sesuai bagi karyawan, maka OCB nya juga rendah. Selanjutnya, kepuasan kerja juga berpengaruh pada OCB, hal ini


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 70 berarti semakin puas karyawan dalam bekerja maka OCB nya juga akan semakin tinggi, sebaliknya jika karyawan tidak puas dalam bekerja maka OCB nya rendah. Komitmen organisasi juga berpengaruh terhadap OCB, hal ini berarti pada BRI kanca Kediri, semakin tinggi atau kuat komitmen organisasi yang dimiliki karyawan, maka perilaku OCB nya akan semakin tinggi, sebaliknya jika komitmen organisasi karyawan tidak kuat, OCB karyawan juga rendah. Pengaruh Tidak Langsung dan Total dari Jalur Penelitian Setelah mengetahui pengaruh secara langsung dari masing-masing variabel bebas terhadap vaiabel terikat, selanjutnya dihitung pengaruh tidak langsung dan total dari variabel bebas karakteristik pekerjaan (X) terhadap variabel terikat OCB (Y) melalui variabel intervening kepuasan kerja (Z1) dan komitmen organisasi (Z2). Model lintasan dalam analisis jalur: Gambar 1: Hasil Analisa Jalur Tabel 12: Pengaruh Langsung, Tidak Langsung dan Total dari Jalur Penelitian No. Keterangan Jalur Pengaruh Langsung Tidak Langsung Total 1. Karakteristik Pekerjaan ke kepuasan kerja 0,478 0,478 2. Karakteristik pekerjaan ke komitmen organisasi 0,110 0,110 3. Kepuasan kerja ke OCB 0,297 0,297 4. Komitmen organisasi ke OCB 0,248 0,248 5. Karakteristik pekerjaan ke OCB 0,254 0,254 6. Karakteristik pekerjaan ke OCB 0,254 Melalui kepuasan kerja (0,478x0,297) = 0,142 0,396 Sumber: gambar 1 Dari hasil penelitian tampak bahwa kepuasan kerja sebagai variabel intervening memperkuat pengaruh tidak langsung karakteristik pekerjaan terhadap OCB dengan nilai beta 0,142. Hal ini berarti pada BRI kanca Kediri, pengaruh karakteristik pekerjaan yang ditetapkan Kepuasan kerja (Z1) Karakteristik pekerjaan (X) OCB (Y) Komitmen Organisasi (Z2) β1= 0,478 (0,000) β2= 0,297 (0,002) β4= 0,248 (0,004) β3= 0,110 (0,269) β5= 0,254 (0,009) e1 = 0,878 e3 = 0,825 e2 = 0,993 OCB


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 71 terhadap OCB akan semakin besar jika kepuasan karyawan juga semakin besar. Koefisien Determinasi (R2 ) Total Pengujian Goodness of Fit model menggunakan koefisien determinasi total. Total keragaman data yang dapat dijelaskan oleh model diukur dengan rumus: Rm 2 = 1-Pe1 2 . Pe2 2 ... Pep2 Sehingga diperoleh koefisien determinasi total adalah sebagai berikut: Rm2 = 1- (0,878)2 x (0,825)2 Rm2= 1- (0,770 x 0,680) Rm2= 0,4764 atau 48% Hasil tersebut menunjukkan bahwa keragaman data yang dapat dijelaskan oleh model sebesar 48%. Dengan kata lain informasi yang terkandung dalam data sebesar 48% yang dapat dijelaskan oleh model tersebut. Sedangkan 52% dijelaskan oleh variabel lain (yang belum terdapat dalam model). E. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) Karakteristik pekerjaan berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan BRI Kanca Kediri; 2) Karakteristik pekerjaan tidak berpengaruh positif signifikan terhadap komitmen organisasi karyawan BRI Kanca Kediri; 3) Karakteristik pekerjaan berpengaruh positif signifikan terhadap OCB karyawan BRI Kanca Kediri; 4) Kepuasan kerja berpengaruh positif signifikan terhadap OCB karyawan BRI Kanca Kediri; 5) Komitmen organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap OCB karyawan BRI Kanca Kediri; 6) Karakteristik pekerjaan secara tidak langsung berpengaruh positif signifikan terhadap OCB melaui kepuasan kerja karyawan BRI Kanca Kediri. Berdasarkan simpulan diatas maka disarankan agar perusahaan berusaha menetapkan karakteristik pekerjaan seefektif mungkin, meningkatkan kepuasan karyawan, dan meningkatkan komitmen organisasi karyawan karena Karakteristik pekerjaan, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi berpengaruh terhadap OCB karyawan. Hal ini dimaksudkan agar karyawan BRI kanca Kediri memiliki OCB yang tinggi. Selanjutnya, bagi peneliti yang akan melakukan penelitian serupa, diharapkan memperluas variabel dengan meneliti variabel di luar penelitian ini karena berdasarkan hasil koefisien determinasi total, hanya 48% keragaman data yang dapat dijelaskan oleh model, masih ada 52% variabel lain diluar penelitian yang bisa menjelaskan model ini. DAFTAR PUSTAKA Franek & Vecera. 2008. Personal Characteristics And Job Satisfaction. Ekonomika A Management, (Online), (www.google.com), diakses 20 Agustus 2014 Garay, H.D.V.2006. Kinerja Extra-Role dan Kebijakan Kompensasi. Sinergi Kajian Bisnis dan Manajemen.Vol 8, No 1, 33-42 Ghozali,Imam.2007. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Griffin, Ricky,W.2004. Manajemen. Edisi 7, jilid 2. Jakarta:Erlangga Janecek, et al. 2010. The Relationship of Feedback and Autonomy with Job Satisfaction, (Online), (www.google.com), diakses 18 Agustus 2014 Mohammad, et.al. 2011. Job Satisfaction And Organisational Citizenship Behaviour: An Empirical Study At Higher Learning Institutions. (Online) Asian Academy of Management Journal, Vol. 16, No. 2, 149–165(www.google.com) , diakses 18 Agustus 2014


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Restin Meilina 72 Odoch,Hojops & Nangoli,S. 2013. Organizational Citizenship to Job Satisfaction. Unique Journal of Business Management Research. Vol 1(4) , 049-054 Panggabean. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bogor: Ghalia Indonesia Sopiah. 2008. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Andi Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alfabeta Tranggono & Kartika. 2008. Pengaruh Komitmen Organisasional dan Profesional Terhadap Kepuasan Kerja Auditor dengan Motivasi Sebagai Variabel Intervening, (Online). Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE) Vol. 15, No.1. (www.google.com), diakses 10 September 2014


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 73 PENGARUH UPAH MINIMUM DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI MANUFAKTUR DI PULAU SUMATERA TAHUN 2012-2015 Writer: Imam Buchari Correspondence: [email protected] Institution: Universitas Negeri Jakarta EKSIS Vol XI No 1, 2016 ISSN: 1907-7513 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/ abstract: This study aims to determine whether the minimum wages and education level have an impact on Labor absorbtion on Manufacturing industry in Sumatera Island year on year 2012- 2015. The research method used in this study is shaped Time Series of the 2012-2015 and the cross section amounts to 10 provinces in Sumatera Island, with ex post facto method. The data presented each year obtained from BPS (Central Bureau of Statistics) and Ministry of Labour. This study uses panel data regression model Fixed effect. Based on the results of simultaneous analysis, minimum wages and education level significantly affect Labor Absorbtion on Manufacturing industry in Sumatera Island. Based on the results of the analysis Minimum wages have negative coefficient but minimum wages is not giving impact partially and not significant to labor absorbtion. the education level giving impact significantly positive on Labor Absorbtion. Keywords: Minimum Wages, Education Level, Labor Absorbtion. abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah upah minimum dan tingkat pendidikan berdampak pada penyerapan tenaga kerja di Industri manufaktur di Pulau sumatera tahun 2012- 2015. Metode penelitian yang digunakan Time Series dari 2012-2015 yang terdiri dari 10 provinsi di Pulau Sumatera, dengan metode ex post facto. Data yang disajikan setiap tahun yang diperoleh dari BPS (Biro Pusat Statistik) dan Departemen Tenaga Kerja. Penelitian ini menggunakan model regresi data panel efek tetap. Berdasarkan hasil analisis secara simultan, upah minimum dan tingkat pendidikan secara signifikan mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri manufaktur di Pulau Sumatera. Berdasarkan hasil analisis upah minimum memiliki koefisien negatif tapi upah minimum tidak memberikan dampak secara parsial dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. tingkat pendidikan pemberian dampak signifikan positif pada Penyerapan Tenaga Kerja. Kata kunci: Upah Minimum, Tingkat Pendidikan, Penyerapan Tenaga Kerja


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 74 A. PENDAHULUAN Pertumbuhan sektor industri manufaktur masih tergolong rendah. Saat ini pertumbuhan sektor industri manufaktur di Indonesia lebih rendah daripada Vietnam yakni hanya sebesar 4,6%. Ada dua subsektor yang mengalami perlambatan yang cukup parah yakni industri farmasi dan industri barang kimia. Selain itu impor barang modal juga menurun, pada periode januari-april 2016 impor barang modal sebesar 11.88% sementara pada periode Januari-Mei 2016 impor barang modal sebesar 9.31%. makin rendahnya impor barang modal dapat mengindikasikan bahwa industri manufaktur belum mampu mengolah modal fisik secara optimal sehingga yang terjadi adalah penurunan kebutuhan barang modal fisik untuk menghasilkan output industri manufaktur. Apabila modal fisik yang dibutuhkan turun. Maka output yang dihasilkan otomatis akan mengalami penurunan dan masalah ini kelak bisa berpotensi menurunkan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data yang peneliti akses dari Badan Pusat Statistik (BPS), peneliti menemukan penurunan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor industri manufaktur di Pulau Sumatera dari suatu periode jika dibandingkan periode tahun sebelumnya (Year on Year). di Bulan Februari tahun 2014 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur dibandingkan Bulan Februari 2013 adalah Provinsi Sumatera Utara yakni turun dari 414.322 orang menjadi 399.619 orang (turun sebesar 3,53%), Provinsi Sumatera Barat juga terjadi penurunan dari 186.029 menjadi 157.035 (turun sebesar 15,59%), Provinsi Jambi juga terjadi penurunan dari 52.323 menjadi 43.971 (turun sebesar 15,96%), Provinsi Sumatera selatan juga terjadi penurunan dari 191.939 menjadi 179.676 (turun sebesar 6,39%), Provinsi Bengkulu juga terjadi penurunan dari 37.197 menjadi 35.886 (turun sebesar 3,52%), Provinsi Kepulauan Riau juga terjadi penurunan dari 127.528 menjadi 126.575 (turun sebesar 0,75%). pada periode Agustus 2014 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur adalah Provinsi Bangka belitung yakni dari 36.525 menjadi 35.500 (turun sebesar 2,81%), Provinsi Kepulauan Riau juga mengalami penurunan dari 213.916 menjadi 201.241 (turun sebesar 5,95%). Pada periode Februari 2015 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur adalah Provinsi Riau yakni dari 146.622 menjadi 136.067 (turun sebesar 7,20%). Pada periode Agustus 2015 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur adalah provinsi Sumatera utara yakni turun dari 461.372 menjadi 450.455 (turun sebesar 2,37%), Provinsi Sumatera barat turun dari 149.483 menjadi 146.076 (turun sebesar 2,28%), Provinsi Riau turun dari 163.941 menjadi 152.471 (turun sebesar 7%), Provinsi Sumatera Selatan turun dari 186.597 menjadi 173.890 (turun sebesar 6.81%), Provinsi Bangka Belitung turun dari 35.500 menjadi 35.225 (turun sebesar 0,77%). Dalam memproduksi output barang dan jasa yang diperlukan, perusahaan akan membutuhkan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja. sedangkan upah merupakan salah satu biaya produksi yang harus dikeluarkan produsen sebagai balas jasa atas kegiatan produksi yang dilakukan tenaga kerja. semakin tinggi tingkat upah yang berlaku maka tenaga kerja yang digunakan oleh produsen akan semakin sedikit.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 75 Tabel 1: Upah Minimum Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2012-2015 (Dalam Rupiah) Provinsi Upah minimum provinsi 2012 2013 2014 2015 Aceh 1400.000 1550.000 1750.000 1900.000 Sumatera Utara 1200.000 1375.000 1505.850 1625.000 Sumatera Barat 1150.000 1350.000 1490.000 1615.000 Riau 1238.000 1400.000 1700.000 1878.000 Jambi 1142.500 1300.000 1502.300 1710.000 Sumatera Selatan 1195.220 1630.000 1825.000 1974.346 Bengkulu 930.000 1200.000 1350.000 1500.000 Lampung 975.000 1150.000 1399.037 1581.000 Kep Bangka Belitung 1110.000 1265.000 1640.000 2100.000 Kep Riau 1015.000 1365.087 1665.000 1954.000 Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014 Tingginya upah minimum provinsi tentunya merupakan salah satu faktor potensial yang dapat menurunkan penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera. menurut data yang dilansir oleh Badan Pusat statistik tahun 2014 upah minimum provinsi terendah di pulau sumatera adalah provinsi Bengkulu dengan nilai sebesar 1350.000 rupiah sedangkan 9 provinsi sisanya memiliki tingkat upah yang lebih tinggi. Sedangkan jika dibandingkan dengan Pulau Jawa, hampir seluruh provinsi di pulau Jawa memiliki nilai yang kecil yakni provinsi Banten hanya 1325.000 rupiah, Jawa Timur sebesar 1000.000 rupiah, DI Yogyakarta sebesar 988.500 rupiah, Jawa Tengah sebesar 910.000 rupiah dan Jawa Barat sebesar 1000.000 rupiah. kecenderungan penurunan penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera dikarenakan dengan meningkatnya upah minimum maka produsen akan berusaha melakukan efisiensi untuk menutupi pembengkakan biaya produksi. Terlebih lagi apabila peningkatan upah minimum tidak disertai dengan peningkatan produktifitas. Data statistik diatas, terlihat bahwa seluruh provinsi di Pulau Sumatera memiliki upah minimum yang lebih besar daripada beberapa provinsi di Pulau Jawa seperti Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DI Yogyakarta.Dengan tingkat upah yang lebih besar di Pulau Sumatera daripada Pulau Jawa. Maka peneliti menduga hal ini akan menyebabkan kecenderungan penurunan penyerapan tenaga kerja industri manufaktur di Pulau Sumatera. Terutama provinsi-provinsi yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja dan memiliki upah minimum cukup besar pada periode pertengahan (Bulan Agustus) tahun 2014 yakni Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Bangka belitung yakni dari 36.525 menjadi 35.500 (turun sebesar 2,81%), Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan dari 213.916 menjadi 201.241 (turun sebesar 5,95 %). Pada periode yang sama laju pertumbuhan upah minimum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan yang tertinggi pertama (Yakni 33%) dan Provinsi Kepulauan Riau memiliki laju pertumbuhan upah minimum tertinggi kedua (yakni 22%) di Pulau Sumatera. Faktor Lainnya yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah tingkat pendidikan. Masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di sektor industri manufaktur akan menyebabkan rendahnya kuantitas dan kualitas output yang diproduksi oleh produsen dan secara langsung akan berdampak pada rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 76 Tabel 2: Jumlah Penduduk Yang Bekerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan Diploma Dan perguruan Tinggi Provinsi Diploma dan perguruan tinggi 2012 2013 2014 2015 Aceh 1.933 4.214 3.378 5.960 Sumatera Utara 25.458 22.009 25.497 25.048 Sumatera Barat 5.559 6.722 9.042 5.413 Riau 7.432 10.805 6.456 9.185 Jambi 1.920 3.682 3.659 4.476 Sumatera Selatan 8.582 5.746 9.283 7.316 Bengkulu 627 715 434 2.428 Lampung 7.061 10.799 8.863 9.250 Bangka-Belitung 846 730 1.321 1.322 Kepulauan Riau 19.396 20.565 14.798 17.373 Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014 Berdasarkan data diatas, Provinsi Aceh dari 91.132 jiwa penduduk yang bekerja sektor industri hanya 1.755 jiwa yang mencapai pendidikan diploma (1,92%) dan hanya 1.623 jiwa (1,78%) yang mencapai pendidikan DIV/Universitas. Di Provinsi Sumatera Utara dari 461.372 jiwa penduduk yang bekerja di sektor industri manufaktur, hanya 5987 jiwa (1,29%) yang mencapai pendidikan hingga tingkat diploma dan hanya 19.510 jiwa (4,22%) jiwa penduduk yang mencapai pendidikan hingga tingkat universitas. Di Provinsi Sumatera Barat dari 149.483 jiwa yang bekerja di sektor industri manufaktur, hanya 4954 (0,88%) orang yang memiliki pendidikan diploma dan 4088 jiwa (3,05%) yang memiliki pendidikan hingga jenjang universitas. Di provinsi Sumatera Selatan dari 186.597 jiwa yang bekerja di Sektor industri manufaktur hanya 9283 jiwa (4,97%) yang memiliki pendidikan hingga jenjang diploma dan universitas. Kemudian di provinsi Bengkulu dari 26.922 jiwa penduduk yang bekerja di sektor industri manufaktur hanya 434 jiwa (1,06%) yang memiliki pendidikan diploma/perguruan tinggi. Di Provinsi Lampung dari 292.237 jiwa penduduk yang bekerja di industri manufaktur hanya 8863 jiwa (3,03%) yang memiliki pendidikan diploma/perguruan tinggi. Di Provinsi Bangka Belitung dari 35.500 jiwa yang bekerja di industri manufaktur hanya 1321 (3,72 %) yang memiliki pendidikan diploma/universitas. Di Provinsi Kepulauan Riau dari 201.241 jiwa penduduk yang bekerja di indutri manufaktur hanya 3309 jiwa (1,64%) yang memiliki pendidikan Diploma dan 11489 jiwa (5,7 %) yang memiiki pendidikan universitas. Menurut menteri perindustrian Saleh Husin menuturkan bahwa pertumbuhan industri manufaktur sangat dipengaruhi nilai investasi yang masuk. Beberapa investor fokus pada kompetensi pekerja sehingga investor lebih tertarik berinvestasi di tempat yang memiliki kualitas SDM yang mumpuni. Jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang terdapat di pulau sumatera, hal ini menjadi masalah yang krusial karena tingkat pendidikan tinggi yang masih jauh dari mencukupi untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dan mampu menyerap tenaga kerja.tingkat pendidikan tinggi hanya berada di bawah 5% di setiap provinsi. Tentunya dengan tingkat pendidikan yang rendah mencerminkan kualitas human capital yang belum memiliki kapabilitas maksimal.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 77 B. KAJIAN TEORETIK Konsep Industri Manufaktur Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa industri manufaktur adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar menjadi mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi dan/atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat dengan pemakaian akhir.Termasuk dalam kegiatan ini adalah jasa industri dan pekerjaan perakitan. Dari definisi tersebutmaka kegiatan manufaktur akan menghasilkan output berupa barang jadi dengan berdasarkan proses yang bersifat mekanis, kimia ataupun handmade. Dalam industri manufaktur output yang diciptakan cenderung barang-barang yang sifatnya siap dikonsumsi konsumen. Konsep Penyerapan Tenaga Kerja Payaman Simanjuntak (1985) memiliki suatu konsep mengenai penyerapan tenaga kerja yaitu penduduk yang terserap, tersebar di berbagai sektor perekonomian. Sektor yang mempekerjakan banyak orang umumnya menghasilkan barang dan jasa yang relatif besar. Setiap sektor mengalami laju pertumbuhan yang berbeda. Demikian pula dengan kemampuan setiap sektor dalam menyerap tenaga kerja.Perbedaan laju pertumbuhan tersebut mengakibatkan dua hal. Pertama, terdapat perbedaan laju peningkatan produktivitas kerja di masing-masing sektor. Kedua, secara berangsur-angsur terjadi perubahan sektoral, baik dalam penyerapan tenaga kerja maupun dalam kontribusinya dalam pendapatan nasional. Perbedaan laju Pertumbuhan pendapatan nasional dan kesempatan kerja menunjukan perbedaan elastisitas masing-masing sektor untuk penyerapan tenaga kerja. Menurut Mankiw (2003) upah senantiasa menyesuaikan diri demi terciptanya keseimbangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.Tingkat upah dan kuantitas tenaga kerja telah menyesuaikan diri guna menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Ketika pasar berada dalam kondisi ekuilibrium, masing-masing perusahaan “membeli” tenaga kerja dalam jumlah yang menguntungkannya, berdasarkan harga atau upah ekuilibrium itu berarti setiap perusahaan telah merekrut pekerja dalam jumlah dimana nilai produk marjinal sama dengan upah. N Gregory mankiw (524, 2003) Gambar I: Penyerapan Tenaga Kerja pada Titik Keseimbangan Konsep Upah Minimum Dalam Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi No. 7 tahun 2013 juga menyatakan mengenai upah minimum yaitu upah bulanan terendah yang ditetapkan oleh gubernur sebagai jaring pengaman.Besarnya upah minimum didasarkan pada kebutuhan hidup layak (KHL) dengan memperhatikan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 78 N Gregory mankiw (152, 2003) Gambar 2: Dampak Penetapan Upah Minimum Pada Pasar Tenaga Kerja Efek yang paling terasa dari kebijakan penetapan upah minimum adalah tingkat upah yang makin tinggi yang dikarenakan perusahaan harus menaati kebijakan pemerintah. Sehingga otomatis perusahaan akan mengurangi jumlah pekerjanya (menurunkan permintaan tenaga kerja) disisi lain para pencari kerja akan menjadi lebih bersemangat untuk mencari pekerjaan dikarenakan tingkat upah yang diberikan akan lebih tinggi sehingga yang terjadi adalah excess supply labor.Efek lainnya adalah meningkatnya pengangguran dikarenakan pengusaha harus mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Konsep Tingkat Pendidikan Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) menjelaskan pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan kerja pada calon luaran. Kemudian khusus pada tingkat perguruan tinggi Mankiw memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja tersebut. Perusahaan manufaktur memproduksi barang dan jasa yang kelak akan dikonsumsi dan investasi dalam modal fisik. Universitas memproduksi faktor produksi yang disebut dengan ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan oleh kedua sektor yakni fungsi produksi dalam perusahaan manufaktur yang di notasikan denganY=F(K,(1-u)EL) dan fungsi produksi universitas riset yang dinotasikan dengan ∆E=g(u)E. ketika perguruan tinggi, angkatan kerja, dan perusahaan industri manufaktur memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Angkatan kerja yang memiliki pendidikan hingga tahap universitas dan bekerja di industri manufaktur kelak akan memiliki kapabilitas dalam mengembangkan industri manufaktur dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk meningkatkan output. output yang meningkat akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja Kerangka Teoretik Payaman simanjuntak (1985) dalam bukunya menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja merupakan derived demand dari permintaan tenaga kerja. yakni permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari output yang diproduksi. Dengan kata lain secara fungsional Produk marjinal tenaga kerja merupakan turunan dari output yang dihasilkan. Teori pertumbuhan endogen yang dikemukakan oleh Romer disebutkan bahwa faktor-faktor yang mampu meningkatkan output adalah modal manusia (H), modal fisik (C), riset dan pengembangan (R) maka dapat dituliskan sebagai berikut: MPL=∆Q/∆L dan Q= f(R,H,C) (B.I) Jika digunakan suatu bentuk fungsional dan nilai Q diubah menjadi EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 78 N Gregory mankiw (152, 2003) Gambar 2: Dampak Penetapan Upah Minimum Pada Pasar Tenaga Kerja Efek yang paling terasa dari kebijakan penetapan upah minimum adalah tingkat upah yang makin tinggi yang dikarenakan perusahaan harus menaati kebijakan pemerintah. Sehingga otomatis perusahaan akan mengurangi jumlah pekerjanya (menurunkan permintaan tenaga kerja) disisi lain para pencari kerja akan menjadi lebih bersemangat untuk mencari pekerjaan dikarenakan tingkat upah yang diberikan akan lebih tinggi sehingga yang terjadi adalah excess supply labor.Efek lainnya adalah meningkatnya pengangguran dikarenakan pengusaha harus mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Konsep Tingkat Pendidikan Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) menjelaskan pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan kerja pada calon luaran. Kemudian khusus pada tingkat perguruan tinggi Mankiw memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja tersebut. Perusahaan manufaktur memproduksi barang dan jasa yang kelak akan dikonsumsi dan investasi dalam modal fisik. Universitas memproduksi faktor produksi yang disebut dengan ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan oleh kedua sektor yakni fungsi produksi dalam perusahaan manufaktur yang di notasikan denganY=F(K,(1-u)EL) dan fungsi produksi universitas riset yang dinotasikan dengan ∆E=g(u)E. ketika perguruan tinggi, angkatan kerja, dan perusahaan industri manufaktur memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Angkatan kerja yang memiliki pendidikan hingga tahap universitas dan bekerja di industri manufaktur kelak akan memiliki kapabilitas dalam mengembangkan industri manufaktur dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk meningkatkan output. output yang meningkat akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja Kerangka Teoretik Payaman simanjuntak (1985) dalam bukunya menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja merupakan derived demand dari permintaan tenaga kerja. yakni permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari output yang diproduksi. Dengan kata lain secara fungsional Produk marjinal tenaga kerja merupakan turunan dari output yang dihasilkan. Teori pertumbuhan endogen yang dikemukakan oleh Romer disebutkan bahwa faktor-faktor yang mampu meningkatkan output adalah modal manusia (H), modal fisik (C), riset dan pengembangan (R) maka dapat dituliskan sebagai berikut: MPL=∆Q/∆L dan Q= f(R,H,C) (B.I) Jika digunakan suatu bentuk fungsional dan nilai Q diubah menjadi EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 78 N Gregory mankiw (152, 2003) Gambar 2: Dampak Penetapan Upah Minimum Pada Pasar Tenaga Kerja Efek yang paling terasa dari kebijakan penetapan upah minimum adalah tingkat upah yang makin tinggi yang dikarenakan perusahaan harus menaati kebijakan pemerintah. Sehingga otomatis perusahaan akan mengurangi jumlah pekerjanya (menurunkan permintaan tenaga kerja) disisi lain para pencari kerja akan menjadi lebih bersemangat untuk mencari pekerjaan dikarenakan tingkat upah yang diberikan akan lebih tinggi sehingga yang terjadi adalah excess supply labor.Efek lainnya adalah meningkatnya pengangguran dikarenakan pengusaha harus mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Konsep Tingkat Pendidikan Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) menjelaskan pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan kerja pada calon luaran. Kemudian khusus pada tingkat perguruan tinggi Mankiw memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja tersebut. Perusahaan manufaktur memproduksi barang dan jasa yang kelak akan dikonsumsi dan investasi dalam modal fisik. Universitas memproduksi faktor produksi yang disebut dengan ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan oleh kedua sektor yakni fungsi produksi dalam perusahaan manufaktur yang di notasikan denganY=F(K,(1-u)EL) dan fungsi produksi universitas riset yang dinotasikan dengan ∆E=g(u)E. ketika perguruan tinggi, angkatan kerja, dan perusahaan industri manufaktur memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Angkatan kerja yang memiliki pendidikan hingga tahap universitas dan bekerja di industri manufaktur kelak akan memiliki kapabilitas dalam mengembangkan industri manufaktur dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk meningkatkan output. output yang meningkat akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja Kerangka Teoretik Payaman simanjuntak (1985) dalam bukunya menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja merupakan derived demand dari permintaan tenaga kerja. yakni permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari output yang diproduksi. Dengan kata lain secara fungsional Produk marjinal tenaga kerja merupakan turunan dari output yang dihasilkan. Teori pertumbuhan endogen yang dikemukakan oleh Romer disebutkan bahwa faktor-faktor yang mampu meningkatkan output adalah modal manusia (H), modal fisik (C), riset dan pengembangan (R) maka dapat dituliskan sebagai berikut: MPL=∆Q/∆L dan Q= f(R,H,C) (B.I) Jika digunakan suatu bentuk fungsional dan nilai Q diubah menjadi


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 79 bentuk differensial akan membentuk hubungan seperti berikut: MPL=∆Q/∆L=∆H (B.II) MPL=∆Q/∆L=Ht-H(t-1) (B.III) Maka dapat disimpulkan bahwa marginal produk yang dihasilkan akan tergantung kepada elastisitas dari modal manusia itu sendiri. Jika terjadi peningkatan pada modal manusia pada suatu periode dibandingkan periode sebelumnya.Maka itu adalah salah satu faktor yang mampu menjelaskan terjadinya kenaikan output.Modal manusia yang dimaksud disini adalah tingkat pendidikan. Kemudian jika persamaan disusun ulang dengan cara masing-masing ruas dikalikan dengan 1/W untuk mencapai kondisi keseimbangan (MR=MC) agar tercipta pengaruh tingkat pendidikan dan upah minimum secara bersama-sama maka perhatikanlah persamaan berikut ini: DL = MR=VMPL=MC ........ (B.IV) MPLxP = MC ............................ (B.V) MPLxP = W/MPL .................................. (B.VI) MPLxPxW-1 = 1/MP ....................................... (B.VII) Maka PTK = MR = MPLxPxW-1 ..... B.VIII) Nilai MPL dalam membentuk output juga dipengaruhi oleh human capital yakni tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan yang lebih baik akan meningkatkan produktifitas tenaga kerja sehingga akan membuat nilai MPL menjadi lebih besar dan berpengaruh positif bagi penyerapan tenaga kerja. kemudian tingkat upah minimum merupakan komponen pengeluaran yang berarti akan berdampak negatif terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan pangkat minus 1 pada persamaan penyerapan tenaga kerja (PTK). Sehingga hal ini dapat menyatakan bahwa setiap kenaikan tingkat upah minimum akan mengurangi penyerapan tenaga kerja. kemudian persamaan tersebut akan ditulis dalam bentuk fungsional sebagai berikut: PTK = f(Hβ1,W-β2) logPTK = α - β1logW + β2logH Dikarenakan W adalah tingkat upah sementara variabel penelitian adalah upah minimum provinsi maka dapat diubah menjadi UMP.Kemudian pendidikan merupakan salah satu bentuk human capital. Maka dapat ditulis kembali menjadi pendidikan (PEND) logPTK = α - β1logUMP + β2logPEND atau PTK=f(UMP- β1,PENDβ2 ) Hipotesis Penelitian Berdasarkan uraian kerangka teoretik diatas. Dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh negatif upah minimum terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya semakin tinggi upah minimum maka semakin rendah jumlah tenaga kerja yang terserap. 2. Terdapat pengaruh positif tingkat pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja. artinya semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi jumlah tenaga kerja yang terserap. C. METODE PENELITIAN Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang tepat, valid dan dapat dipercaya (dapat diandalkan atau reliable) tentang: 1. Pengaruh Upah Minimum terhadap Penyerapan Tenaga Kerja sektor Industri manufaktur di Pulau Sumatera 2. Pengaruh Tingkat pendidikan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja sektor Industri manufaktur di Pulau Sumatera 3. Pengaruh Upah Minimum dan Tingkat Pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor Industri manufaktur di Pulau Sumatera Jenis Dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 80 mengenai upah minimum, tingkat pendidikan dan penyerapan tenaga kerja.Data tersebut diperoleh selama 4 (empat) tahun yaitu dari tahun 2012 hingga 2015.Sumber data diperoleh dari Pusat Data dan Informasi Kementrian Ketenagakerjaan Indonesia dan Badan Pusat Statistik. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis data panel yakni Chow test, hausman test Kemudian uji asumsi klasik. Kemudian menguji Hipotesis (uji F dan uji t).bentuk persamaan dari analisis regresi logarimik adalah sebagai berikut: logPTK = - β1logUMP + β2 logPEND + e Keterangan PTK = Penyerapan tenaga kerja sektor Industri manufaktur (Variabel terikat) UMP = Upah Minimum (Variabel bebas) PEND = Pendidikan (variabel bebas) a = Konstanta b = koefisien regresi log = logaritma e = error skotastik D. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pemilihan Model Regresi terbaik Nilai probability (p-value) Cross-section- F sebesar0.0000 < 0.05, maka Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya model terbaik yang digunakan antara common effect dengan fixed effect adalahmodel fixed effect. Tabel 3: Hasil Uji Chow Effects Test Statistic d.f. Prob. Cross-section F 71.618959 (9,28) 0.0000 Cross-section Chi-square 127.156105 9 0.0000 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Tabel 4: Hasil Uji Hausman Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob. Cross-section random 41.701303 2 0.0000 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Nilai p – value cross section random (0.0000) < alpha (0.05), sehingga dapat diambil keputusan untukmenolak H1 dan menerima Ho, dengan kesimpulan model fixed effect lebih baik jikadibandingkan dengan model Random effect. Uji Normalitas Dari hasil pengolahan data menggunakan alat bantu SPSS diketahui bahwa nilai Jarque-Bera sebesar 0.19 < Chi-Square (5.99) dan probabilitas 0.90>0.05 maka eror berdistribusi normal. Uji Heterokedastisitas Berdasarkan metode Park yang dilakukan pada model Log(resid2 ) terhadap variabel independen menunjukan p-valuet-statistics pada seluruh variabel independen adalah diatas 0,05 atau tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi masalah heterokedastisitas pada data.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 81 Uji Multikolinieritas Dari hasil pengolahan data menggunakan alat bantu SPSS diketahui bahwa Hasil korelasi antar independen memiliki korelasi dibawah 0.7 yakni hanya sebesar 0.17 maka dapat dikatakan bahwa data tidak mengalami masalah multikolinieritas. Hasil Uji T Dari hasil perbandingan antara thitungdengan ttabelterlihat bahwa thitung(- 0.18) dan ttabel(-1.68) apabila peneliti mengambil nilai mutlaknya maka thitung(0.18) dan ttabel(1.68) dikarenakan thitung<ttabel dan hasil uji t sebelum dimutlakkan menunjukkan angka negatif maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak jadi upah minimum provinsitidak memiliki pengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja secara parsial. Selain itu jika dilihat dari nilai probabilitas signifikannya dengan tingkat signifikansi 5% atau (0.05), maka nilai signifikan dari UMP adalah (0.8572) < (0.05)Sehingga ditarik kesimpulan, yaitu secara parsial upah minimum provinsitidak berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur. Tabel 5: Hasil Uji T Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C 4.690716 0.431069 10.88158 0.0000 LOG_UMP -0.013606 0.074927 -0.181594 0.8572 LOG_PEND 0.125680 0.043873 2.864625 0.0078 Sumber: Data primer diolah, 2016 Dari hasil perbandingan antara thitungdengan ttabelterlihat bahwa thitung(2.86) > ttabel(1.68) yang berarti Ho ditolak dan H1 diterima maka jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi memiliki pengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Selain itu jika dilihat dari nilai probabilitas signifikannya, maka nilai signifikan dari jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi adalah (0.0078) < (0.05), maka Hoditolak. Sehingga ditarik kesimpulan, yaitu secara parsial jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur Hasil Uji F Tabel 6: Hasil Uji F Kriteria yang diuji Nilai F-Hitung (F-statistic) 435.0384 Prob F-statistic 0.0000 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan perhitungan Eviews.8.0diketahui bahwa Fhitung (435.0384) > Ftabel (3.25). Selain itu, dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi adalah sebesar 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan kedua hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan yaitu terdapat pengaruh signifikan secara bersama-sama upah minimum provinsi dan tingkat pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hasil Uji Koefisien Determinasi Tabel 7: Hasil Uji R2 Kriteria yang di uji Nilai R-Squared 0.994 Adjusted R-Square 0.991 Sumber: Data primer diolah, 2016 Dari hasil analisis koefisien determinasi berdasarkan output Eviews.8.0diperoleh nilai R2 sebesar 0,99 maka dapat dinyatakan bahwa seluruhvariabel bebas mampu menjelaskan keragaman nilai pada variabel Penyerapan Tenaga Kerja


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 82 sebesar 99%, Sedangkan 1% sisanya adalah eror skotastik atau gangguan stokastik. Pembahasan Peneliti menggunakan estimasi model fixed effectsebagai model terbaik dan persamaan regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: LogPTK = 4.69– 0.013 Log_UMP + 0.12 Log_Pend + e Hasil persamaan regresi di atas memiliki konstanta sebesar 4.69 yang dapat diinterpretasikan bahwa ketika upah minimum provinsi dan jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi (diploma dan perguruan tinggi) adalah konstan, maka nilai penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur sebesar 4.69 persen. Nilai koefisien LN_UMP yaitu -0.013 yang dapat dinterpretasikan bahwa apabila upah minimum provinsi naik sebesar 1% dengan asumsi cateris paribus, maka penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur akan turun sebesar 0.013%. Apabila dikonversikan ke dalam bentuk antilog(-0.013) maka didapatkan angka sebesar 1.03. maka dapat diartikan bahwa setiap kenaikan upah minimum provinsi sebesar 1 rupiah akan menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja sebesar 1.03%. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang negatif antara upah minimum provinsi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur. Nilai koefisien LOG_PEND yaitu sebesar 0.12 yang dapat diinterpretasikan apabila jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi (diploma dan perguruan tinggi) naik 1% dengan asumsi cateris paribus, maka penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur akan naik sebesar 0.12%. Apabila dikonversikan ke dalam bentuk antilog, maka peneliti mendapatkan angka antilog (0.12) sebesar 1.31 yang berarti setiap penambahan tenaga kerja yang memiliki pendidikan diploma dan perguruan tinggi sebanyak 1 orang maka akan berdampak pada pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur sebesar 1.31% Maka dapat peneliti simpulkan bahwa adanya pengaruh positif antara tingkat pendidikan Diploma dan perguruan tinggi dengan penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur. Hasil perhitungan thitung pada upah minimum provinsi (UMP) sebesar -0.18 dan ttabel(-1.68) apabila diambil nilai mutlaknya maka didapatkan bahwa thitung sebesar 0.18 dan ttabel sebesar 1.68. dikarenakan thitung<ttabel maka UMP secara parsial tidak memiliki pengaruh kepada penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur di pulau sumatera. Hasil penelitian diatas didukung oleh teori yang diungkapkan Mankiw yakni teori upah efisiensi.Upah minimum tidak memiliki dampak penurunan penyerapan tenaga kerja dikarenakan ketika tingkat upah naik maka pekerja mampu memenuhi kebutuhan hidup lebih tinggi dari angka kebutuhan hidup layak. Ketika nutrisi para pekerja lebih baik maka mereka akan memiliki produktifitas yang lebih tinggi dan dampaknya akan meningkatkan output. Tingginya produktifitas karryawan dalam menghasilkan output dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan sehingga tidak terjadi pengurangan penyerapan tenaga kerja. jadi meskipun marginal cost yakni tingkat upah naik namun hal tersebut tidak berdampak dikarenakan marginal product of labor (MPL) juga mengalami kenaikan sehingga kondisi laba keseimbangan MC=MR atau W=MPLxP tetap terjaga dengan baik. kemudian upah yang lebih tinggi menjadi tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dikarenakan upah yang lebih tinggi meningkatkan upaya pekerja, perusahaan bisa mengurangi masalah kejahatan


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 83 moral dengan membayar upah yang lebih tinggi, semakin tinggi upah maka semakin tinggi biaya pekerja apabila mereka dipecat dari perusahaan. Dengan membayar upah yang lebih tinggi maka pekerja akan meningkatkan produktifitas dan tidak akan bermalas-malasan dan dengan demikian meningkatkan produktifitas mereka Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Arif Budiarto dan Made Heny Urmila Dewi dalam Jurnalnya.Penelitiannya menyatakan bahwa upah minimum provinsi secara parsial tidak memiliki pengaruh dan memiliki koefisien negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.Dalam penelitiannya dikatakan bahwa kenaikan upah minimum provinsi setiap tahunnya tidak banyak mempengaruhi dalam permintaan tenaga kerja.menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa upah minimum berpengaruh negatif terhadap jumlah pengangguran. Jadi naiknya upah minimum regional dapat menekan jumlah pengangguran.Ketika upah minimum meningkat maka dorongan seseorang untuk mencari pekerjaan semakin tinggi dan menyebabkan supply of labor meningkat. Dengan meningkatnya penawaran tenaga kerja akan mendorong pengurangan jumlah pengangguran. Namun meskipun upah minimum tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja pemerintah harus tetap bijaksana dalam menentukan upah minimum pada tahun-tahun selanjutnya.Hal tersebut untuk menjaga agar kondisi pasar tenaga kerja tetap pada stabilitas yang baik. Hasil perhitungan thitung pada tingkat Pendidikan sebesar 2.86 dan ttabel(1.68) dikarenakan thitung<ttabel maka Pendidikan secara parsial memiliki pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur di pulau sumatera. Dalam teori pertumbuhan endogen dijelaskan bahwa penelitian, modal fisik dan modal manusia memiliki kontribusi positif terhadap output yang dihasilkan. Menurut fungsi produksi bila input yang digunakan naik maka outputyang dihasilkan akan naik, input yang digunakan dalam faktor produksi menurut David Romer adalah penelitian, modal fisik dan modal manusia. Produsen selalu memiliki tujuan untuk meningkatkan laba dan output yang diproduksi. Oleh karena itu ketika output yang diproduksi meningkat maka produsen akan berusaha meningkatkan lebih banyak output agar meningkatkan laba yang diperoleh dengan cara menyerap tenaga kerja di sektor industri manufaktur. Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Fuad Kadafi yang dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja pada Industri konveksi di kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai koefisien determinan (R2 ) diperoleh sebesar 0.99. Namun taksiran nilai R-Squared ataupun Adjusted R-Squared tidak bisa dijadikan patokan utama dikarenakan terjadinya bias pada model fixed effect. Menurut Gujarati Nilai R-Square yang sangat tinggi merupakan konsekuensi matematis dikarenakan jika menggunakan fixed effectakan terjadi penambahan dummy fixed effect variable dan akan muncul dummy variable trap sehingga konsekuensi matematisnya adalah nilai R-Square akan menjadi sangat tinggi. Karena landasan itulah maka nilai R- Square menjadi tidak dapat dipercaya dan tidak dapat mencerminkan kontribusi variabel upah minimum dan tingkat pendidikan mempengaruhi variabel penyerapan tenaga kerja.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 84 E. PENUTUP Berdasarkan hasil pembahasan, diketahui bahwa upah minimum provinsi memiliki arah koefisien negatif. Namun secara parsial upah minimum tidak memiliki pengaruh secara tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor Industri manufaktur di Pulau Sumatera periode 2012-2015. Sedangkan tingkat pendidikan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur di pulau sumatera periode 2012-2015. Upah Minimum provinsi dan tingkat pendidikan memiliki pengaruh secara simultan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur di pulau sumatera tahun 2012-2015. Meskipun kenaikan upah minimum ternyata tidak berdampak pada penurunan penyerapan tenaga kerja namum disarankan kepada pekerja untuk tidak menuntut upah minimum terlalu tinggi karena upah minimum harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup layak, tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah sesuai dengan PP No.78 tahun 2015 tentang pengupahan. Selian itu, perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan dan penelitian diharapkan lebih gencar lagi dalam melakukan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan teknologi. Hal ini dikarenakan Pekerja tamatan perguruan tinggi memiliki kontribusi terhadap penyerapan Tenaga kerja sektor industri manufaktur di Pulau Sumatera. Perbaikan kompetensi lulusan harus lebih ditingkatkan lagi agar sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja sesuai dengan perpres No.8 tahun 2013 tentang kerangka kualifikasi nasional indonesia. Pihak pengusaha harus mencari alternatif untuk agar dampak kenaikan upah minimum provinsi di setiap tahunnya dapat ditekan sehingga menghindari penurunan tenaga kerja dengan cara meningkatkan pendidikan karyawannya. Penyediaan beasiswa untuk para karyawan yang telah bekerja dan meningkatkan kualifikasi pada saat recruitmentakan sangat membantu perusahaan untuk meningkatkan output produksi dan menyerap tenaga kerja lebih banyak. DAFTAR PUSTAKA Hartono,Toni.Mekanisme Ekonomi dalam Konteks Ekonomi Indonesia.Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006 Jhigan, M.L. Ekonomi Pembangunan dan perencanaan.Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada, 2007 Kuncoro, Mudrajad. Ekonomika Industri Indonesia,menuju negara industri baru 2030?.Yogyakarta: Penerbit Andi, 2007 Laily, Nur dan Pristyadi Budiyono.Teori ekonomi . Yogyakarta: graha ilmu, 2013 Lipsey,Richard G., Peter O Steiner dan Doughlas D Purvis, Pengantar makro Ekonomi Edisi Kedelapan,Jakarta: Erlangga, 1991 Mankiw, Gregori N ,Pengantar Ekonomi edisi kedua jilid ke 1. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003 Simanjuntak, Payaman. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: LPFE-UI, 1985 Subri,Mulyadi.Ekonomi sumber daya manusiaJakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000 Sukirno,Sadono.Teori Pengantar Mikro Ekonomi Edisi ketiga.Jakarta: Rajagrafindo, 2003 Sumodiningrat, Gunawan. Ekonomertrika pengantar.Yogyakarta: BPFE, 2007 Tirtaraharadja, Umar dan LA Sulo.Pengantar pendidikan(edisi revisi) Jakarta: PT Rineka Cipta,2005


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 85 Tjiptoherijanto,Prijono.Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan Nasional.Jakarta: LPFE UI, 1996 Winarno,Wing Wahyu.Analisis Ekonomertrika dan Statistika dengan Eviews.Yogyakarta, UPP STIM YKPN,2009 Budiarto,Arif dan Made Heny Urmila Dewi “Pengaruh PDRB dan Upah Minimum Provinsi terhadap Penyerapan Tenaga Kerja melalui mediasi Investasi di Provinsi Bali”.E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol.4 No.10, Oktober 2015, p.1219-1246 Fuad Khadafi ,Muhammad.“Analisis Faktor Yang mempengaruhi Penyerapan Tenaga kerja pada Industri konveksi Kota Malang”. JIMFEB UB, Vol.1 No.2 Semester Genap. 2012/2013


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 73 PENGARUH UPAH MINIMUM DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI MANUFAKTUR DI PULAU SUMATERA TAHUN 2012-2015 Writer: Imam Buchari Correspondence: [email protected] Institution: Universitas Negeri Jakarta EKSIS Vol XI No 1, 2016 ISSN: 1907-7513 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/ abstract: This study aims to determine whether the minimum wages and education level have an impact on Labor absorbtion on Manufacturing industry in Sumatera Island year on year 2012- 2015. The research method used in this study is shaped Time Series of the 2012-2015 and the cross section amounts to 10 provinces in Sumatera Island, with ex post facto method. The data presented each year obtained from BPS (Central Bureau of Statistics) and Ministry of Labour. This study uses panel data regression model Fixed effect. Based on the results of simultaneous analysis, minimum wages and education level significantly affect Labor Absorbtion on Manufacturing industry in Sumatera Island. Based on the results of the analysis Minimum wages have negative coefficient but minimum wages is not giving impact partially and not significant to labor absorbtion. the education level giving impact significantly positive on Labor Absorbtion. Keywords: Minimum Wages, Education Level, Labor Absorbtion. abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah upah minimum dan tingkat pendidikan berdampak pada penyerapan tenaga kerja di Industri manufaktur di Pulau sumatera tahun 2012- 2015. Metode penelitian yang digunakan Time Series dari 2012-2015 yang terdiri dari 10 provinsi di Pulau Sumatera, dengan metode ex post facto. Data yang disajikan setiap tahun yang diperoleh dari BPS (Biro Pusat Statistik) dan Departemen Tenaga Kerja. Penelitian ini menggunakan model regresi data panel efek tetap. Berdasarkan hasil analisis secara simultan, upah minimum dan tingkat pendidikan secara signifikan mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri manufaktur di Pulau Sumatera. Berdasarkan hasil analisis upah minimum memiliki koefisien negatif tapi upah minimum tidak memberikan dampak secara parsial dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. tingkat pendidikan pemberian dampak signifikan positif pada Penyerapan Tenaga Kerja. Kata kunci: Upah Minimum, Tingkat Pendidikan, Penyerapan Tenaga Kerja


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 74 A. PENDAHULUAN Pertumbuhan sektor industri manufaktur masih tergolong rendah. Saat ini pertumbuhan sektor industri manufaktur di Indonesia lebih rendah daripada Vietnam yakni hanya sebesar 4,6%. Ada dua subsektor yang mengalami perlambatan yang cukup parah yakni industri farmasi dan industri barang kimia. Selain itu impor barang modal juga menurun, pada periode januari-april 2016 impor barang modal sebesar 11.88% sementara pada periode Januari-Mei 2016 impor barang modal sebesar 9.31%. makin rendahnya impor barang modal dapat mengindikasikan bahwa industri manufaktur belum mampu mengolah modal fisik secara optimal sehingga yang terjadi adalah penurunan kebutuhan barang modal fisik untuk menghasilkan output industri manufaktur. Apabila modal fisik yang dibutuhkan turun. Maka output yang dihasilkan otomatis akan mengalami penurunan dan masalah ini kelak bisa berpotensi menurunkan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data yang peneliti akses dari Badan Pusat Statistik (BPS), peneliti menemukan penurunan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor industri manufaktur di Pulau Sumatera dari suatu periode jika dibandingkan periode tahun sebelumnya (Year on Year). di Bulan Februari tahun 2014 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur dibandingkan Bulan Februari 2013 adalah Provinsi Sumatera Utara yakni turun dari 414.322 orang menjadi 399.619 orang (turun sebesar 3,53%), Provinsi Sumatera Barat juga terjadi penurunan dari 186.029 menjadi 157.035 (turun sebesar 15,59%), Provinsi Jambi juga terjadi penurunan dari 52.323 menjadi 43.971 (turun sebesar 15,96%), Provinsi Sumatera selatan juga terjadi penurunan dari 191.939 menjadi 179.676 (turun sebesar 6,39%), Provinsi Bengkulu juga terjadi penurunan dari 37.197 menjadi 35.886 (turun sebesar 3,52%), Provinsi Kepulauan Riau juga terjadi penurunan dari 127.528 menjadi 126.575 (turun sebesar 0,75%). pada periode Agustus 2014 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur adalah Provinsi Bangka belitung yakni dari 36.525 menjadi 35.500 (turun sebesar 2,81%), Provinsi Kepulauan Riau juga mengalami penurunan dari 213.916 menjadi 201.241 (turun sebesar 5,95%). Pada periode Februari 2015 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur adalah Provinsi Riau yakni dari 146.622 menjadi 136.067 (turun sebesar 7,20%). Pada periode Agustus 2015 provinsi yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang bekerja sektor industri manufaktur adalah provinsi Sumatera utara yakni turun dari 461.372 menjadi 450.455 (turun sebesar 2,37%), Provinsi Sumatera barat turun dari 149.483 menjadi 146.076 (turun sebesar 2,28%), Provinsi Riau turun dari 163.941 menjadi 152.471 (turun sebesar 7%), Provinsi Sumatera Selatan turun dari 186.597 menjadi 173.890 (turun sebesar 6.81%), Provinsi Bangka Belitung turun dari 35.500 menjadi 35.225 (turun sebesar 0,77%). Dalam memproduksi output barang dan jasa yang diperlukan, perusahaan akan membutuhkan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja. sedangkan upah merupakan salah satu biaya produksi yang harus dikeluarkan produsen sebagai balas jasa atas kegiatan produksi yang dilakukan tenaga kerja. semakin tinggi tingkat upah yang berlaku maka tenaga kerja yang digunakan oleh produsen akan semakin sedikit.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 75 Tabel 1: Upah Minimum Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2012-2015 (Dalam Rupiah) Provinsi Upah minimum provinsi 2012 2013 2014 2015 Aceh 1400.000 1550.000 1750.000 1900.000 Sumatera Utara 1200.000 1375.000 1505.850 1625.000 Sumatera Barat 1150.000 1350.000 1490.000 1615.000 Riau 1238.000 1400.000 1700.000 1878.000 Jambi 1142.500 1300.000 1502.300 1710.000 Sumatera Selatan 1195.220 1630.000 1825.000 1974.346 Bengkulu 930.000 1200.000 1350.000 1500.000 Lampung 975.000 1150.000 1399.037 1581.000 Kep Bangka Belitung 1110.000 1265.000 1640.000 2100.000 Kep Riau 1015.000 1365.087 1665.000 1954.000 Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014 Tingginya upah minimum provinsi tentunya merupakan salah satu faktor potensial yang dapat menurunkan penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera. menurut data yang dilansir oleh Badan Pusat statistik tahun 2014 upah minimum provinsi terendah di pulau sumatera adalah provinsi Bengkulu dengan nilai sebesar 1350.000 rupiah sedangkan 9 provinsi sisanya memiliki tingkat upah yang lebih tinggi. Sedangkan jika dibandingkan dengan Pulau Jawa, hampir seluruh provinsi di pulau Jawa memiliki nilai yang kecil yakni provinsi Banten hanya 1325.000 rupiah, Jawa Timur sebesar 1000.000 rupiah, DI Yogyakarta sebesar 988.500 rupiah, Jawa Tengah sebesar 910.000 rupiah dan Jawa Barat sebesar 1000.000 rupiah. kecenderungan penurunan penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera dikarenakan dengan meningkatnya upah minimum maka produsen akan berusaha melakukan efisiensi untuk menutupi pembengkakan biaya produksi. Terlebih lagi apabila peningkatan upah minimum tidak disertai dengan peningkatan produktifitas. Data statistik diatas, terlihat bahwa seluruh provinsi di Pulau Sumatera memiliki upah minimum yang lebih besar daripada beberapa provinsi di Pulau Jawa seperti Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DI Yogyakarta.Dengan tingkat upah yang lebih besar di Pulau Sumatera daripada Pulau Jawa. Maka peneliti menduga hal ini akan menyebabkan kecenderungan penurunan penyerapan tenaga kerja industri manufaktur di Pulau Sumatera. Terutama provinsi-provinsi yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja dan memiliki upah minimum cukup besar pada periode pertengahan (Bulan Agustus) tahun 2014 yakni Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Bangka belitung yakni dari 36.525 menjadi 35.500 (turun sebesar 2,81%), Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan dari 213.916 menjadi 201.241 (turun sebesar 5,95 %). Pada periode yang sama laju pertumbuhan upah minimum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan yang tertinggi pertama (Yakni 33%) dan Provinsi Kepulauan Riau memiliki laju pertumbuhan upah minimum tertinggi kedua (yakni 22%) di Pulau Sumatera. Faktor Lainnya yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah tingkat pendidikan. Masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di sektor industri manufaktur akan menyebabkan rendahnya kuantitas dan kualitas output yang diproduksi oleh produsen dan secara langsung akan berdampak pada rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 76 Tabel 2: Jumlah Penduduk Yang Bekerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan Diploma Dan perguruan Tinggi Provinsi Diploma dan perguruan tinggi 2012 2013 2014 2015 Aceh 1.933 4.214 3.378 5.960 Sumatera Utara 25.458 22.009 25.497 25.048 Sumatera Barat 5.559 6.722 9.042 5.413 Riau 7.432 10.805 6.456 9.185 Jambi 1.920 3.682 3.659 4.476 Sumatera Selatan 8.582 5.746 9.283 7.316 Bengkulu 627 715 434 2.428 Lampung 7.061 10.799 8.863 9.250 Bangka-Belitung 846 730 1.321 1.322 Kepulauan Riau 19.396 20.565 14.798 17.373 Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014 Berdasarkan data diatas, Provinsi Aceh dari 91.132 jiwa penduduk yang bekerja sektor industri hanya 1.755 jiwa yang mencapai pendidikan diploma (1,92%) dan hanya 1.623 jiwa (1,78%) yang mencapai pendidikan DIV/Universitas. Di Provinsi Sumatera Utara dari 461.372 jiwa penduduk yang bekerja di sektor industri manufaktur, hanya 5987 jiwa (1,29%) yang mencapai pendidikan hingga tingkat diploma dan hanya 19.510 jiwa (4,22%) jiwa penduduk yang mencapai pendidikan hingga tingkat universitas. Di Provinsi Sumatera Barat dari 149.483 jiwa yang bekerja di sektor industri manufaktur, hanya 4954 (0,88%) orang yang memiliki pendidikan diploma dan 4088 jiwa (3,05%) yang memiliki pendidikan hingga jenjang universitas. Di provinsi Sumatera Selatan dari 186.597 jiwa yang bekerja di Sektor industri manufaktur hanya 9283 jiwa (4,97%) yang memiliki pendidikan hingga jenjang diploma dan universitas. Kemudian di provinsi Bengkulu dari 26.922 jiwa penduduk yang bekerja di sektor industri manufaktur hanya 434 jiwa (1,06%) yang memiliki pendidikan diploma/perguruan tinggi. Di Provinsi Lampung dari 292.237 jiwa penduduk yang bekerja di industri manufaktur hanya 8863 jiwa (3,03%) yang memiliki pendidikan diploma/perguruan tinggi. Di Provinsi Bangka Belitung dari 35.500 jiwa yang bekerja di industri manufaktur hanya 1321 (3,72 %) yang memiliki pendidikan diploma/universitas. Di Provinsi Kepulauan Riau dari 201.241 jiwa penduduk yang bekerja di indutri manufaktur hanya 3309 jiwa (1,64%) yang memiliki pendidikan Diploma dan 11489 jiwa (5,7 %) yang memiiki pendidikan universitas. Menurut menteri perindustrian Saleh Husin menuturkan bahwa pertumbuhan industri manufaktur sangat dipengaruhi nilai investasi yang masuk. Beberapa investor fokus pada kompetensi pekerja sehingga investor lebih tertarik berinvestasi di tempat yang memiliki kualitas SDM yang mumpuni. Jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang terdapat di pulau sumatera, hal ini menjadi masalah yang krusial karena tingkat pendidikan tinggi yang masih jauh dari mencukupi untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dan mampu menyerap tenaga kerja.tingkat pendidikan tinggi hanya berada di bawah 5% di setiap provinsi. Tentunya dengan tingkat pendidikan yang rendah mencerminkan kualitas human capital yang belum memiliki kapabilitas maksimal.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 77 B. KAJIAN TEORETIK Konsep Industri Manufaktur Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa industri manufaktur adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar menjadi mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi dan/atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat dengan pemakaian akhir.Termasuk dalam kegiatan ini adalah jasa industri dan pekerjaan perakitan. Dari definisi tersebutmaka kegiatan manufaktur akan menghasilkan output berupa barang jadi dengan berdasarkan proses yang bersifat mekanis, kimia ataupun handmade. Dalam industri manufaktur output yang diciptakan cenderung barang-barang yang sifatnya siap dikonsumsi konsumen. Konsep Penyerapan Tenaga Kerja Payaman Simanjuntak (1985) memiliki suatu konsep mengenai penyerapan tenaga kerja yaitu penduduk yang terserap, tersebar di berbagai sektor perekonomian. Sektor yang mempekerjakan banyak orang umumnya menghasilkan barang dan jasa yang relatif besar. Setiap sektor mengalami laju pertumbuhan yang berbeda. Demikian pula dengan kemampuan setiap sektor dalam menyerap tenaga kerja.Perbedaan laju pertumbuhan tersebut mengakibatkan dua hal. Pertama, terdapat perbedaan laju peningkatan produktivitas kerja di masing-masing sektor. Kedua, secara berangsur-angsur terjadi perubahan sektoral, baik dalam penyerapan tenaga kerja maupun dalam kontribusinya dalam pendapatan nasional. Perbedaan laju Pertumbuhan pendapatan nasional dan kesempatan kerja menunjukan perbedaan elastisitas masing-masing sektor untuk penyerapan tenaga kerja. Menurut Mankiw (2003) upah senantiasa menyesuaikan diri demi terciptanya keseimbangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.Tingkat upah dan kuantitas tenaga kerja telah menyesuaikan diri guna menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Ketika pasar berada dalam kondisi ekuilibrium, masing-masing perusahaan “membeli” tenaga kerja dalam jumlah yang menguntungkannya, berdasarkan harga atau upah ekuilibrium itu berarti setiap perusahaan telah merekrut pekerja dalam jumlah dimana nilai produk marjinal sama dengan upah. N Gregory mankiw (524, 2003) Gambar I: Penyerapan Tenaga Kerja pada Titik Keseimbangan Konsep Upah Minimum Dalam Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi No. 7 tahun 2013 juga menyatakan mengenai upah minimum yaitu upah bulanan terendah yang ditetapkan oleh gubernur sebagai jaring pengaman.Besarnya upah minimum didasarkan pada kebutuhan hidup layak (KHL) dengan memperhatikan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 78 N Gregory mankiw (152, 2003) Gambar 2: Dampak Penetapan Upah Minimum Pada Pasar Tenaga Kerja Efek yang paling terasa dari kebijakan penetapan upah minimum adalah tingkat upah yang makin tinggi yang dikarenakan perusahaan harus menaati kebijakan pemerintah. Sehingga otomatis perusahaan akan mengurangi jumlah pekerjanya (menurunkan permintaan tenaga kerja) disisi lain para pencari kerja akan menjadi lebih bersemangat untuk mencari pekerjaan dikarenakan tingkat upah yang diberikan akan lebih tinggi sehingga yang terjadi adalah excess supply labor.Efek lainnya adalah meningkatnya pengangguran dikarenakan pengusaha harus mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Konsep Tingkat Pendidikan Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) menjelaskan pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan kerja pada calon luaran. Kemudian khusus pada tingkat perguruan tinggi Mankiw memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja tersebut. Perusahaan manufaktur memproduksi barang dan jasa yang kelak akan dikonsumsi dan investasi dalam modal fisik. Universitas memproduksi faktor produksi yang disebut dengan ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan oleh kedua sektor yakni fungsi produksi dalam perusahaan manufaktur yang di notasikan denganY=F(K,(1-u)EL) dan fungsi produksi universitas riset yang dinotasikan dengan ∆E=g(u)E. ketika perguruan tinggi, angkatan kerja, dan perusahaan industri manufaktur memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Angkatan kerja yang memiliki pendidikan hingga tahap universitas dan bekerja di industri manufaktur kelak akan memiliki kapabilitas dalam mengembangkan industri manufaktur dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk meningkatkan output. output yang meningkat akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja Kerangka Teoretik Payaman simanjuntak (1985) dalam bukunya menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja merupakan derived demand dari permintaan tenaga kerja. yakni permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari output yang diproduksi. Dengan kata lain secara fungsional Produk marjinal tenaga kerja merupakan turunan dari output yang dihasilkan. Teori pertumbuhan endogen yang dikemukakan oleh Romer disebutkan bahwa faktor-faktor yang mampu meningkatkan output adalah modal manusia (H), modal fisik (C), riset dan pengembangan (R) maka dapat dituliskan sebagai berikut: MPL=∆Q/∆L dan Q= f(R,H,C) (B.I) Jika digunakan suatu bentuk fungsional dan nilai Q diubah menjadi EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 78 N Gregory mankiw (152, 2003) Gambar 2: Dampak Penetapan Upah Minimum Pada Pasar Tenaga Kerja Efek yang paling terasa dari kebijakan penetapan upah minimum adalah tingkat upah yang makin tinggi yang dikarenakan perusahaan harus menaati kebijakan pemerintah. Sehingga otomatis perusahaan akan mengurangi jumlah pekerjanya (menurunkan permintaan tenaga kerja) disisi lain para pencari kerja akan menjadi lebih bersemangat untuk mencari pekerjaan dikarenakan tingkat upah yang diberikan akan lebih tinggi sehingga yang terjadi adalah excess supply labor.Efek lainnya adalah meningkatnya pengangguran dikarenakan pengusaha harus mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Konsep Tingkat Pendidikan Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) menjelaskan pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan kerja pada calon luaran. Kemudian khusus pada tingkat perguruan tinggi Mankiw memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja tersebut. Perusahaan manufaktur memproduksi barang dan jasa yang kelak akan dikonsumsi dan investasi dalam modal fisik. Universitas memproduksi faktor produksi yang disebut dengan ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan oleh kedua sektor yakni fungsi produksi dalam perusahaan manufaktur yang di notasikan denganY=F(K,(1-u)EL) dan fungsi produksi universitas riset yang dinotasikan dengan ∆E=g(u)E. ketika perguruan tinggi, angkatan kerja, dan perusahaan industri manufaktur memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Angkatan kerja yang memiliki pendidikan hingga tahap universitas dan bekerja di industri manufaktur kelak akan memiliki kapabilitas dalam mengembangkan industri manufaktur dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk meningkatkan output. output yang meningkat akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja Kerangka Teoretik Payaman simanjuntak (1985) dalam bukunya menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja merupakan derived demand dari permintaan tenaga kerja. yakni permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari output yang diproduksi. Dengan kata lain secara fungsional Produk marjinal tenaga kerja merupakan turunan dari output yang dihasilkan. Teori pertumbuhan endogen yang dikemukakan oleh Romer disebutkan bahwa faktor-faktor yang mampu meningkatkan output adalah modal manusia (H), modal fisik (C), riset dan pengembangan (R) maka dapat dituliskan sebagai berikut: MPL=∆Q/∆L dan Q= f(R,H,C) (B.I) Jika digunakan suatu bentuk fungsional dan nilai Q diubah menjadi EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 78 N Gregory mankiw (152, 2003) Gambar 2: Dampak Penetapan Upah Minimum Pada Pasar Tenaga Kerja Efek yang paling terasa dari kebijakan penetapan upah minimum adalah tingkat upah yang makin tinggi yang dikarenakan perusahaan harus menaati kebijakan pemerintah. Sehingga otomatis perusahaan akan mengurangi jumlah pekerjanya (menurunkan permintaan tenaga kerja) disisi lain para pencari kerja akan menjadi lebih bersemangat untuk mencari pekerjaan dikarenakan tingkat upah yang diberikan akan lebih tinggi sehingga yang terjadi adalah excess supply labor.Efek lainnya adalah meningkatnya pengangguran dikarenakan pengusaha harus mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Konsep Tingkat Pendidikan Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) menjelaskan pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan kerja pada calon luaran. Kemudian khusus pada tingkat perguruan tinggi Mankiw memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja tersebut. Perusahaan manufaktur memproduksi barang dan jasa yang kelak akan dikonsumsi dan investasi dalam modal fisik. Universitas memproduksi faktor produksi yang disebut dengan ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan oleh kedua sektor yakni fungsi produksi dalam perusahaan manufaktur yang di notasikan denganY=F(K,(1-u)EL) dan fungsi produksi universitas riset yang dinotasikan dengan ∆E=g(u)E. ketika perguruan tinggi, angkatan kerja, dan perusahaan industri manufaktur memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Angkatan kerja yang memiliki pendidikan hingga tahap universitas dan bekerja di industri manufaktur kelak akan memiliki kapabilitas dalam mengembangkan industri manufaktur dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk meningkatkan output. output yang meningkat akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja Kerangka Teoretik Payaman simanjuntak (1985) dalam bukunya menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja merupakan derived demand dari permintaan tenaga kerja. yakni permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari output yang diproduksi. Dengan kata lain secara fungsional Produk marjinal tenaga kerja merupakan turunan dari output yang dihasilkan. Teori pertumbuhan endogen yang dikemukakan oleh Romer disebutkan bahwa faktor-faktor yang mampu meningkatkan output adalah modal manusia (H), modal fisik (C), riset dan pengembangan (R) maka dapat dituliskan sebagai berikut: MPL=∆Q/∆L dan Q= f(R,H,C) (B.I) Jika digunakan suatu bentuk fungsional dan nilai Q diubah menjadi


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 79 bentuk differensial akan membentuk hubungan seperti berikut: MPL=∆Q/∆L=∆H (B.II) MPL=∆Q/∆L=Ht-H(t-1) (B.III) Maka dapat disimpulkan bahwa marginal produk yang dihasilkan akan tergantung kepada elastisitas dari modal manusia itu sendiri. Jika terjadi peningkatan pada modal manusia pada suatu periode dibandingkan periode sebelumnya.Maka itu adalah salah satu faktor yang mampu menjelaskan terjadinya kenaikan output.Modal manusia yang dimaksud disini adalah tingkat pendidikan. Kemudian jika persamaan disusun ulang dengan cara masing-masing ruas dikalikan dengan 1/W untuk mencapai kondisi keseimbangan (MR=MC) agar tercipta pengaruh tingkat pendidikan dan upah minimum secara bersama-sama maka perhatikanlah persamaan berikut ini: DL = MR=VMPL=MC ........ (B.IV) MPLxP = MC ............................ (B.V) MPLxP = W/MPL .................................. (B.VI) MPLxPxW-1 = 1/MP ....................................... (B.VII) Maka PTK = MR = MPLxPxW-1 ..... B.VIII) Nilai MPL dalam membentuk output juga dipengaruhi oleh human capital yakni tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan yang lebih baik akan meningkatkan produktifitas tenaga kerja sehingga akan membuat nilai MPL menjadi lebih besar dan berpengaruh positif bagi penyerapan tenaga kerja. kemudian tingkat upah minimum merupakan komponen pengeluaran yang berarti akan berdampak negatif terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan pangkat minus 1 pada persamaan penyerapan tenaga kerja (PTK). Sehingga hal ini dapat menyatakan bahwa setiap kenaikan tingkat upah minimum akan mengurangi penyerapan tenaga kerja. kemudian persamaan tersebut akan ditulis dalam bentuk fungsional sebagai berikut: PTK = f(Hβ1,W-β2) logPTK = α - β1logW + β2logH Dikarenakan W adalah tingkat upah sementara variabel penelitian adalah upah minimum provinsi maka dapat diubah menjadi UMP.Kemudian pendidikan merupakan salah satu bentuk human capital. Maka dapat ditulis kembali menjadi pendidikan (PEND) logPTK = α - β1logUMP + β2logPEND atau PTK=f(UMP- β1,PENDβ2 ) Hipotesis Penelitian Berdasarkan uraian kerangka teoretik diatas. Dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh negatif upah minimum terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya semakin tinggi upah minimum maka semakin rendah jumlah tenaga kerja yang terserap. 2. Terdapat pengaruh positif tingkat pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja. artinya semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi jumlah tenaga kerja yang terserap. C. METODE PENELITIAN Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang tepat, valid dan dapat dipercaya (dapat diandalkan atau reliable) tentang: 1. Pengaruh Upah Minimum terhadap Penyerapan Tenaga Kerja sektor Industri manufaktur di Pulau Sumatera 2. Pengaruh Tingkat pendidikan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja sektor Industri manufaktur di Pulau Sumatera 3. Pengaruh Upah Minimum dan Tingkat Pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor Industri manufaktur di Pulau Sumatera Jenis Dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 80 mengenai upah minimum, tingkat pendidikan dan penyerapan tenaga kerja.Data tersebut diperoleh selama 4 (empat) tahun yaitu dari tahun 2012 hingga 2015.Sumber data diperoleh dari Pusat Data dan Informasi Kementrian Ketenagakerjaan Indonesia dan Badan Pusat Statistik. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis data panel yakni Chow test, hausman test Kemudian uji asumsi klasik. Kemudian menguji Hipotesis (uji F dan uji t).bentuk persamaan dari analisis regresi logarimik adalah sebagai berikut: logPTK = - β1logUMP + β2 logPEND + e Keterangan PTK = Penyerapan tenaga kerja sektor Industri manufaktur (Variabel terikat) UMP = Upah Minimum (Variabel bebas) PEND = Pendidikan (variabel bebas) a = Konstanta b = koefisien regresi log = logaritma e = error skotastik D. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pemilihan Model Regresi terbaik Nilai probability (p-value) Cross-section- F sebesar0.0000 < 0.05, maka Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya model terbaik yang digunakan antara common effect dengan fixed effect adalahmodel fixed effect. Tabel 3: Hasil Uji Chow Effects Test Statistic d.f. Prob. Cross-section F 71.618959 (9,28) 0.0000 Cross-section Chi-square 127.156105 9 0.0000 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Tabel 4: Hasil Uji Hausman Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob. Cross-section random 41.701303 2 0.0000 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Nilai p – value cross section random (0.0000) < alpha (0.05), sehingga dapat diambil keputusan untukmenolak H1 dan menerima Ho, dengan kesimpulan model fixed effect lebih baik jikadibandingkan dengan model Random effect. Uji Normalitas Dari hasil pengolahan data menggunakan alat bantu SPSS diketahui bahwa nilai Jarque-Bera sebesar 0.19 < Chi-Square (5.99) dan probabilitas 0.90>0.05 maka eror berdistribusi normal. Uji Heterokedastisitas Berdasarkan metode Park yang dilakukan pada model Log(resid2 ) terhadap variabel independen menunjukan p-valuet-statistics pada seluruh variabel independen adalah diatas 0,05 atau tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi masalah heterokedastisitas pada data.


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 81 Uji Multikolinieritas Dari hasil pengolahan data menggunakan alat bantu SPSS diketahui bahwa Hasil korelasi antar independen memiliki korelasi dibawah 0.7 yakni hanya sebesar 0.17 maka dapat dikatakan bahwa data tidak mengalami masalah multikolinieritas. Hasil Uji T Dari hasil perbandingan antara thitungdengan ttabelterlihat bahwa thitung(- 0.18) dan ttabel(-1.68) apabila peneliti mengambil nilai mutlaknya maka thitung(0.18) dan ttabel(1.68) dikarenakan thitung<ttabel dan hasil uji t sebelum dimutlakkan menunjukkan angka negatif maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak jadi upah minimum provinsitidak memiliki pengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja secara parsial. Selain itu jika dilihat dari nilai probabilitas signifikannya dengan tingkat signifikansi 5% atau (0.05), maka nilai signifikan dari UMP adalah (0.8572) < (0.05)Sehingga ditarik kesimpulan, yaitu secara parsial upah minimum provinsitidak berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur. Tabel 5: Hasil Uji T Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C 4.690716 0.431069 10.88158 0.0000 LOG_UMP -0.013606 0.074927 -0.181594 0.8572 LOG_PEND 0.125680 0.043873 2.864625 0.0078 Sumber: Data primer diolah, 2016 Dari hasil perbandingan antara thitungdengan ttabelterlihat bahwa thitung(2.86) > ttabel(1.68) yang berarti Ho ditolak dan H1 diterima maka jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi memiliki pengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Selain itu jika dilihat dari nilai probabilitas signifikannya, maka nilai signifikan dari jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi adalah (0.0078) < (0.05), maka Hoditolak. Sehingga ditarik kesimpulan, yaitu secara parsial jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur Hasil Uji F Tabel 6: Hasil Uji F Kriteria yang diuji Nilai F-Hitung (F-statistic) 435.0384 Prob F-statistic 0.0000 Sumber: Data Primer diolah, 2016 Berdasarkan perhitungan Eviews.8.0diketahui bahwa Fhitung (435.0384) > Ftabel (3.25). Selain itu, dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi adalah sebesar 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan kedua hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan yaitu terdapat pengaruh signifikan secara bersama-sama upah minimum provinsi dan tingkat pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hasil Uji Koefisien Determinasi Tabel 7: Hasil Uji R2 Kriteria yang di uji Nilai R-Squared 0.994 Adjusted R-Square 0.991 Sumber: Data primer diolah, 2016 Dari hasil analisis koefisien determinasi berdasarkan output Eviews.8.0diperoleh nilai R2 sebesar 0,99 maka dapat dinyatakan bahwa seluruhvariabel bebas mampu menjelaskan keragaman nilai pada variabel Penyerapan Tenaga Kerja


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 82 sebesar 99%, Sedangkan 1% sisanya adalah eror skotastik atau gangguan stokastik. Pembahasan Peneliti menggunakan estimasi model fixed effectsebagai model terbaik dan persamaan regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: LogPTK = 4.69– 0.013 Log_UMP + 0.12 Log_Pend + e Hasil persamaan regresi di atas memiliki konstanta sebesar 4.69 yang dapat diinterpretasikan bahwa ketika upah minimum provinsi dan jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi (diploma dan perguruan tinggi) adalah konstan, maka nilai penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur sebesar 4.69 persen. Nilai koefisien LN_UMP yaitu -0.013 yang dapat dinterpretasikan bahwa apabila upah minimum provinsi naik sebesar 1% dengan asumsi cateris paribus, maka penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur akan turun sebesar 0.013%. Apabila dikonversikan ke dalam bentuk antilog(-0.013) maka didapatkan angka sebesar 1.03. maka dapat diartikan bahwa setiap kenaikan upah minimum provinsi sebesar 1 rupiah akan menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja sebesar 1.03%. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang negatif antara upah minimum provinsi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur. Nilai koefisien LOG_PEND yaitu sebesar 0.12 yang dapat diinterpretasikan apabila jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan tinggi (diploma dan perguruan tinggi) naik 1% dengan asumsi cateris paribus, maka penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur akan naik sebesar 0.12%. Apabila dikonversikan ke dalam bentuk antilog, maka peneliti mendapatkan angka antilog (0.12) sebesar 1.31 yang berarti setiap penambahan tenaga kerja yang memiliki pendidikan diploma dan perguruan tinggi sebanyak 1 orang maka akan berdampak pada pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur sebesar 1.31% Maka dapat peneliti simpulkan bahwa adanya pengaruh positif antara tingkat pendidikan Diploma dan perguruan tinggi dengan penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur. Hasil perhitungan thitung pada upah minimum provinsi (UMP) sebesar -0.18 dan ttabel(-1.68) apabila diambil nilai mutlaknya maka didapatkan bahwa thitung sebesar 0.18 dan ttabel sebesar 1.68. dikarenakan thitung<ttabel maka UMP secara parsial tidak memiliki pengaruh kepada penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur di pulau sumatera. Hasil penelitian diatas didukung oleh teori yang diungkapkan Mankiw yakni teori upah efisiensi.Upah minimum tidak memiliki dampak penurunan penyerapan tenaga kerja dikarenakan ketika tingkat upah naik maka pekerja mampu memenuhi kebutuhan hidup lebih tinggi dari angka kebutuhan hidup layak. Ketika nutrisi para pekerja lebih baik maka mereka akan memiliki produktifitas yang lebih tinggi dan dampaknya akan meningkatkan output. Tingginya produktifitas karryawan dalam menghasilkan output dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan sehingga tidak terjadi pengurangan penyerapan tenaga kerja. jadi meskipun marginal cost yakni tingkat upah naik namun hal tersebut tidak berdampak dikarenakan marginal product of labor (MPL) juga mengalami kenaikan sehingga kondisi laba keseimbangan MC=MR atau W=MPLxP tetap terjaga dengan baik. kemudian upah yang lebih tinggi menjadi tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dikarenakan upah yang lebih tinggi meningkatkan upaya pekerja, perusahaan bisa mengurangi masalah kejahatan


EKSIS Volume XI No 1, April 2016 Imam Buchari 83 moral dengan membayar upah yang lebih tinggi, semakin tinggi upah maka semakin tinggi biaya pekerja apabila mereka dipecat dari perusahaan. Dengan membayar upah yang lebih tinggi maka pekerja akan meningkatkan produktifitas dan tidak akan bermalas-malasan dan dengan demikian meningkatkan produktifitas mereka Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Arif Budiarto dan Made Heny Urmila Dewi dalam Jurnalnya.Penelitiannya menyatakan bahwa upah minimum provinsi secara parsial tidak memiliki pengaruh dan memiliki koefisien negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.Dalam penelitiannya dikatakan bahwa kenaikan upah minimum provinsi setiap tahunnya tidak banyak mempengaruhi dalam permintaan tenaga kerja.menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa upah minimum berpengaruh negatif terhadap jumlah pengangguran. Jadi naiknya upah minimum regional dapat menekan jumlah pengangguran.Ketika upah minimum meningkat maka dorongan seseorang untuk mencari pekerjaan semakin tinggi dan menyebabkan supply of labor meningkat. Dengan meningkatnya penawaran tenaga kerja akan mendorong pengurangan jumlah pengangguran. Namun meskipun upah minimum tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja pemerintah harus tetap bijaksana dalam menentukan upah minimum pada tahun-tahun selanjutnya.Hal tersebut untuk menjaga agar kondisi pasar tenaga kerja tetap pada stabilitas yang baik. Hasil perhitungan thitung pada tingkat Pendidikan sebesar 2.86 dan ttabel(1.68) dikarenakan thitung<ttabel maka Pendidikan secara parsial memiliki pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri manufaktur di pulau sumatera. Dalam teori pertumbuhan endogen dijelaskan bahwa penelitian, modal fisik dan modal manusia memiliki kontribusi positif terhadap output yang dihasilkan. Menurut fungsi produksi bila input yang digunakan naik maka outputyang dihasilkan akan naik, input yang digunakan dalam faktor produksi menurut David Romer adalah penelitian, modal fisik dan modal manusia. Produsen selalu memiliki tujuan untuk meningkatkan laba dan output yang diproduksi. Oleh karena itu ketika output yang diproduksi meningkat maka produsen akan berusaha meningkatkan lebih banyak output agar meningkatkan laba yang diperoleh dengan cara menyerap tenaga kerja di sektor industri manufaktur. Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Fuad Kadafi yang dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja pada Industri konveksi di kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai koefisien determinan (R2 ) diperoleh sebesar 0.99. Namun taksiran nilai R-Squared ataupun Adjusted R-Squared tidak bisa dijadikan patokan utama dikarenakan terjadinya bias pada model fixed effect. Menurut Gujarati Nilai R-Square yang sangat tinggi merupakan konsekuensi matematis dikarenakan jika menggunakan fixed effectakan terjadi penambahan dummy fixed effect variable dan akan muncul dummy variable trap sehingga konsekuensi matematisnya adalah nilai R-Square akan menjadi sangat tinggi. Karena landasan itulah maka nilai R- Square menjadi tidak dapat dipercaya dan tidak dapat mencerminkan kontribusi variabel upah minimum dan tingkat pendidikan mempengaruhi variabel penyerapan tenaga kerja.


Click to View FlipBook Version