Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020 ISSN 2654-4326
JMD JURNAL RISET MANAJEMEN DAN BISNIS DEWANTARA VOLUME 3 NO 2, JULI-DESEMBER 2020
JMD JURNAL RISET MANAJEMEN DAN BISNIS DEWANTARA Diterbitkan oleh LP2KI STIE PGRI Dewantara Jombang Terbit 2 (dua) kali setahun (Juli dan Desember). ISSN 2654-4326 berisi tentang hasil pelaksanaan penelitian dalam bidang riset akuntansi dan keuangan Dewan redaksi Ketua Redaksi : Rita Mutiarni Redaksi Pelaksana Rahmat Rahmat Yuliawan, Universitas Airlangga Surabaya Mirna Indriani, Universitas Syiah Kuala, Aceh Andri Putra Kesmawan, Universitas Airlangga Surabaya Nuri Purwanto, STIE PGRI Dewantara, Indonesia Alamat Redaksi dan Tata Usaha: LP2KI STIE PGRI Dewantara Jombang Jln. Prof. M.Yamin No 77 Jombang, telp (+62 321 – 865180) Fax (+62 321 – 853807)
DAFTAR ISI JMD : Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis Dewantara Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020 Penulis Judul Halaman Indah Triwahyuni, Siti Zuhroh Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Loyalitas Pelanggan Yang Dimediasi Oleh Kepuasan Pelanggan 93-100 Uli Ultni Manalu, Francis Hutabarat Peran Intellectual Capital Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Perbankan 101-108 Sabil Sabil, Ihwan Wahyudi, Suhartono Suhartono, Amin Setio Lestiningsih, Dwiyatmoko Puji Widodo, Teni Agustina, Lukman Hakim Pengaruh Pelaksanaan Pajak Penghasilan Nomor 23 Terhadap Pajak Penghasilan Pasal 4 Ayat (2) Pada Lembaga Sertifikasi Profesi Broker Properti Indonesia 109-114 Deni Widyo Prasetyo, Imam Ahya Uddin The Role Of Individual Characteristics And Labor Characteristics Toward Employee Productivity 115-120 Nunuk Supraptini, Andhi Supriyadi Pengaruh Fasilitas, Transportasi Dan Akomodasi Terhadap Kepuasan Wisatawan Dikabupaten Semarang 121-131 Indra Kurniawan Pengaruh Orientasi Kewirausahaan, Orientasi Pasar, Lingkungan Eksternal Bisnis dan Kapasitas Penyerapan Terhadap Kinerja Bisnis 132-147 Kristin Juwita, Erminati Pancaningrum Dilema Keseimbangan Kehidupan Kerja Guna Mewujudkan Profesionalitas Kerja Pada Dosen Tetap Wanita Pada Perguruan Tinggi di Indonesia 148-159 Tarmizi Tarmizi, Nur Hilal Keputusan Memilih Produk Tabungan Emas: Efek Promosi Dan Kualitas Layanan di PT. Pegadaian (persero) Cabang Palu Timur 160-170
Indah T & Siti Z Halaman 93 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Loyalitas Pelanggan Yang Dimediasi Oleh Kepuasan Pelanggan Indah Triwahyuni, Siti Zuhroh STIE PGRI Dewantara Jombang Korespondensi: [email protected] Dikirim: 5 Mei 2020, Direvisi: 3 Juni 2020, Diterima: 22 Juni 2020 abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh experiential marketing terhadap loyalitas pelanggan yang dimediasi oleh kepuasan pelanggan terhadap pelanggan Emery cafe dan bistro Jombang. Populassi pada penelitian ini adalah pelanggan Emery cafe dan bistro Jombang dengan sampel yang diambil sebanyak 100 orang. Data primer diperoleh melalui angket yang diukur menggukan skala Bipolar. Analisis data yang digunakan dengan menggunakan metode analisis deskriptif dengan bantuan WarpPLS 05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan; 2) experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap terhadap kepuasan pelanggan; 3) kepuasan pelanggan berpengaruh signifikan terhadap terhadap loyalitas pelanggan; 4) experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap terhadap loyalitas pelanggan yang dimediasi oleh kepuasan pelanggan, terhadap pelanggan Emery cafe dan bistro Jombang. Kata kunci: experiential marketing, kepuasan pelanggan, loyalitas pelanggan. abstract This study aims to determine the effect of experiential marketing on customer loyalty mediated by customer satisfaction with Emery cafe customers and Jombang bistros. Populassi in this study are customers of Emery cafe and Jombang bistro with samples taken as many as 100 people. Primary data obtained through a questionnaire measured using the Bipolar scale. Analysis of the data used by using descriptive analysis method with the help of WarpPLS 05. The results showed that 1) experiential marketing had a significant effect on customer loyalty; 2) experiential marketing has a significant effect on customer satisfaction; 3) customer satisfaction has a significant effect on customer loyalty; 4) experiential marketing has a significant effect on customer loyalty mediated by customer satisfaction, to customers Emery cafe and Jombang bistro. Keywords: experiential marketing, customer satisfaction, customer loyalty. A. PENDAHULUAN Perkembangan bisnis di Indonesia semakin berkembang pesat belakangan ini. Semakin berkembangnya bisnis, menyebabkan persaingan yang sangat ketat. Para pengusaha dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bisnisnya. Para pengusaha berlomba-lomba mengatur strategi agar dapat menarik pelanggan sekaligus agar dapat mempertahankan pelanggan tersebut. Salah satu hal yang harus dilakukan untuk menarik pelanggan baru dan dapat mempertahankannya adalah dengan berfokus pada pelanggan. Perusahaan harus mempunyai suatu hal yang berbeda dari kebanyakan pesaing yang ada untuk menciptakan kepuasan pelanggannya karena pelanggan yang puas dengan produk atau jasa perusahaan akan kembali lagi dan akan menjadi pelanggan yang loyal. Perusahaan perlu mempertahankan loyalitas karena loyalitas penting bagi perusahaan. Ada beberapa poin mengenai pentingnya loyalitas pelanggan menurut Aaker (1991). Pertama, pentingnya loyalitas yaitu untuk mengurangi biaya pemasaran. Kedua yaitu trade laverage. Ketiga yaitu untuk menarik pelanggan baru. Keempat yaitu time to respond to competitive threats. Halaman 93 - 100 ISSN : 2654 - 4326
Indah T & Siti Z Halaman 94 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Jadi dapat dikatakan bahwa jika sebuah perusahaan telah memiliki pelanggan loyal yang amat banyak, maka dapat diperkirakan keuntungan yang didapat perusahaan dan biaya yang dihemat akan sangat banyak. Perusahaan yang menargetkan untuk mendapatkan pelanggan yang loyal, maka perusahaan harus memiliki sesuatu yang mampu menarik perhatian dan terus berlanjut membuat pelanggan tetap memilih produk perusahaan tersebut yang membuat pelanggan merasa puas karena pengalamnnya yang telah menggunakan produk maupun jasa tersebut. Pengalaman yang baik yang dirasakan konsumen akan membuat konsumen menjadi pelanggan yang loyal. Dalam penelitian sebelumnya experiential marketing memiliki pengaruh yang mendominasi terbentuknya pelanggan loyal (Marisa & Rowena, 2017). Experiential marketing menjadi salah satu strategi bagi perusahaan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Pernyataan tersebut diperkuat dengan penelitian sebelumnya dari Marisa (2017) bahwa experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Pada penelitian lain menunjukkan hasil yang berbeda yaitu menurut Dimyati (2012). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa experiential marketing berpengaruh tidak signifikan terhadap loyalitas pasien. Dari penelitian lain yaitu dari Samuel & Dharmayanti (2013) menyatakan bahwa customer experience tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan, dengan ini kepuasan pelanggan secara tidak langsung dan menjadi mediasi yang berpengaruh untuk meningkatkan loyalitas pelanggan terhadap perusahaan tersebut. Experiential marketing merupakan faktor yang dapat dirasakan konsumen berdasarkan pengalaman yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan. Dalam penlitian Sari, Rachma, & Priyono (2017) menyatakan bahwa experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan dan kepuasan pelanggan juga berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Terciptanya kepuasan pelanggan merupakan langkah awal perubahan dalam membangun hubungan baik dengan para pelanggannya. Kepuasan pelanggan dapat menguntungkan bagi perusahaan karena pelanggan yang merasa puas akan membuat pelanggan menjadi loyal ke perusahaan. Emery Cafe and Bistro Jombang adalah salah satu cafe yang terkenal di kota Jombang. Emery cafe menawarkan konsep kenyamanan cafe yang berbeda dari kebanyakan cafe yang ada di kota Jombang. Emery cafe mempunyai tiga konsep ruangan yaitu ruangan indoor, ruang outdor dan ruang atas yang berada di lantai. Ruangan indor cafe Emery didesin sangat menarik dengan tatanan ruang yang instagrameble di setiap sudutnya. Terdapat meja panjang dengan kursi menghadap jendela depan cafe yang menyajikan pemandangan dari luar. Desain dinding juga dibuat sangat menarik dengan memeberikan beberapa frime foto yang di tempelkan di sana untuk menambah kesan eksotik. Di ruang indor juga dilengkapai AC, televisi dan akses free Wifi sehingga pelanggan merasa nyaman dan betah berlama-lama berada di sana. Desain ruangan yang berada di lantai dua juga sangat menarik. Terdapat sofa dari rotan yang cantik serta tatanan mini payung yang didesain seperti di pantai serta pemandangan dari atas gedung yang eksotis. Pada ruangan outdor didesain lebih santai dengan dilengkapi mini garden yang menambah kesan fresh. Tatanan kursi yang rapi serta tambahan inerior bunga di setiap meja dan di dinding menambah kesan menarik dan nyaman. Tedapat panggung untuk menikmati live musik dan perlengkapan karaoke untuk pengunung, juga terdapat spot foto untuk kalangan remaja dengan desain yang fresh. Dari pengamatan awal yang dilakukan peneliti di Emery Cafe dan Bistro Jombang, konsumen yang datang mayoritas adalah pelanggan. Hal ini, menunjukkan bahwa Emery Cafe mampu membuat konsumennya loyal sehingga melakukan kunjuang secara berulang ke Emery Cafe dan Bistro Jombang.
Indah T & Siti Z Halaman 95 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Dari latar belakang yang telah disampaikan, peneliti mengemukakan rumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini. Pertama, apakah experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan Emery Cafe dan Bristo Jombang. Kedua, Apakah experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan Emery Cafe dan Bristo Jombang. Ketiga, Apakah kepuasan pelanggan berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan Emery Cafe dan Bristo Jombang dan Keempat, Apakah kepuasan pelanggan menjadi mediasi pengaruh antara experiensial marketing terhadap loyalitas pelanggan Emery Cafe dan Bristo Jombanng. Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat, khususnya bagi pihak manajemen Emery Cafe dan Bristo Jombang B. LANDASAN TEORI 1. Loyalitas Pelanggan Menurut Tjiptono (2014), loyalitas pelanggan adalah suatu komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko, dan pemasok, berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian yang di lakukan secara berulang. Loyalitas pelanggan secara umum dapat diartikan sebagai kesetiaan seseorang atas suatu produk, baik barang maupun jasa tertentu. Selain itu pelanggan yang memiliki komitmen tinggi akan loyalitasnya tidak akan terpengaruh oleh bentuk-bentuk pemasaran produk atau jasa yang diberikan perusahaan lain dan akan terus memilih produk dan jasa yang mereka pilih sebelumnya. Konsumen yang loyal mempunyai ciri ciri yaitu mengatakan hal positif tentang produk yang dikonsumsi, melakukan pembelian berulang, mereferensikan pada orang lain dan tidak beralih pada produk lain. Menurut Aaker (2004) loyalitas pelanggan sangat penting bagi perusahaan. Pentingnya loyalitas perusahaan sendiri diantaranya adalah: 1. Untuk mengurangi biaya pemasaran. Dana yang digunakan untuk menarik pelanggan baru jauh lebih besar daripada mempertahankan pelanggan lama. Ini dikarenakan pelanggan baru kurang mempunyai motivasi untuk beralih produk atau jasa yang dipakai sebelumnya. Mereka tidak mau mengambil resiko besar untuk beralih ke produk lain, sehingga perusahaan perlu usaha ekstra untuk menarik pelanggan baru tersebut. Hal tersebut akan mengeluarkan biaya yang lebih banyak di banding dengan mempertahankan pelanggan lama. 2. Trade Laverage. Pelanggan yang loyal tidak akan terpengaruh oleh tawaran dari perusahaan lain. Pelanggan yang loyal sudah memilik list brand nya sendiri sehingga jika pelanggan ingin membeli suatu produk, mereka akan langsung menuju brand atau produk yang ada dalam listnya. 3. Untuk menarik pelanggan baru. Konsumen yang sudah loyal terhadap suatu merek perusahaan adalah konsumen yang sudah merasa puas dengan produk atau jasa yang di tawarkan perusahaan. Konsumen yang puas akan mereferensikan produk atau jasa tersebut kepada orang orang disekitarnya dengan menceritakan ha-hal positif tentang produk atau jasa yang dipakai. Dengan adanya review dari pelanggan yang loyal akan membuat pelanggan lain tertarik untuk mencoba produk atau jasa tersebut. 4. Time to Respond to Competitive Threats. Pelanggan yang loyal akan menunggu perkembangan produk dari brand yang disukainya. Apabila brand lain mengeluarkan produk terbaru, pelanggan yang loyal tidak serta merta untuk beralih produk ke brand lain melainkan akan menunggu brand yang disukainya untuk mengeluarkan produk terbarunya atau bahkan pelanggan yang loyal akan memberi dukungan perusahaan agar dapat segera mengeluarkan produk terbarunya yang bahkan bisa lebih baik dari produk pesaing. 2. Kepuasan Pelanggan
Indah T & Siti Z Halaman 96 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Dalam upaya memenuhi kepuasan pelanggan, perusahaan memang dituntut kejeliannya untuk mengetahui pergeseran kebutuhan dan keinginan konsumen yang hampir setiap saat berubah. Pembeli akan bergerak setelah membentuk persepsi terhadap nilai penawaran, kepuasan sesudah pembelian tergantung dari kinerja penawaran dibandingkan dengan harapannya. Kotler & Arstrong (2010) menyatakan bahwa kepuasan merupakan hasil evaluasi antara harapan dan kinerja produk yang diekspresikan dengan perasaan senang atau kecewa. Kepuasan pelanggan juga merupakan perilaku dinamis dan relative. Dari beberapa konsep di atas, dari penerapan serta pengimplementasian dari kepuasan pelanggan mempunyai beberapa manfaat yang dikemukakan oleh Tjiptono (2014). Beberapa manfaat dari kepuasan pelanggan tersebut antara lain: 1) Reaksi terhadap produsen biaya rendah, 2) Manfaat ekonomik retensi pelanggan versus perpetual prospecting, 3) Nilai kumulatif dari relasi berkelanjutan, 4) Daya persuasif dari mulut ke mulut (word of mouth), 4) Reduksi sensitivitas harga dan 5) Kepuasan pelanggan sebagai indikator kesuksesan bisnis di masa depan. 3. Experiential Marketing Experiental marketing merupakan suatu pendekatan pemasaran yang melibatkan emosi dan perasaan konsumen dengan menciptakan pengalaman-pengalaman yang positif dan tak terlupakan sehingga konsumen mengkonsumsi dan fanatik terhadap produk tersebut (Schmitt, 1999). Schmitt (1999) mengemukakan bahwa experiential marketing mempunyai lima dimensi diantaranya adalah: 1. Sense marketing. Sense marketing merupakan tipe pengalaman yang muncul untuk meciptakan suatu pengalaman pelanggan yang bisa dirasakan melalui pancaindra seperti mata, kulit, hidung, telinga, dan lidah. Sense marketing juga merupakan strategi perusahaan untuh menyentuh emosi pelangggan melalui panca indranya. 2. Feel marketing. Feel marketing adalah tipe experience yang menyentuh emosi dan perasaan pelanggan agar mendapatkan pengalaman yang berbeda dari yang lain. Feel marketing dapat berupa pelayan yang baik, karyawan yang sopan, ramah, tingkat cekatan keryawannya baik dan lain sebagainya. 3. Think Marketing. Think marketing merupakan tipe experience yang bertujuan untuk menciptakan kognitif, pemecahan masalah yang mengajak konsumen untuk berfikir kreatif. Think marketing adalah salah satu cara yang dilakukan perusahaan untuk mengubah komoditi menjadi experience dengan melakukan customization secara terus menerus. 4. Act Marketing. Act marketing merupkan tipe experience yang mempunyai maksud untuk mempengaruhi perilaku, emosional, gaya hidup, dan interaksi dengan konsumen. Act marketing dapat di katakan sebagai cara perusahaan untuk membentuk persepsi pelanggan mengenai produk atau jasa yang bersangkutan. Act marketing didesain untuk menciptakan pengalaman konsumen dalam hubungannya dengan physical body, lifestyles, dan interaksi dengan orang lain. 5. Relate marketing. Relate marketing merupakan tipe experience yang biasa digunakan perusahaan untuk mempengaruhi konsumen serta dapat menggabungkan 4 elemen lainnya seperti sense, feel, think, dan act serta dapat memberikan positionning yang positif di mata konsumen. Berdasarkan latar belakang dan landasan teori yang telah disampaikan diatas maka kerangka konseptual pada penelitian ini adalah:
Indah T & Siti Z Halaman 97 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Gambar 1: kerangka konsep penelitian H1 : Semakin positif experiential marketing maka akan semakin tinggi loyalitas pelanggan. H2 : Semakin positif experiential marketing maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan pelanggan. H3 : Semakin tinggi tingkat kepuasan pelanggan maka akan semakin tinggi loyalitas pelanggan. H4 : Semakin positif experiential marketing maka akan semakin tinggi tingkat loyalitas pelanggan yang dimediasi kepuasan pelanggan. C. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian Explanatory yaitu penelitian yang dirancang untuk menentukan pengaruh antara variabel independen yaitu experiential marketing (X) terhadap variabel dependen yaitu loyalitas pelanggan (Y) melalui variabel mediasi yaitu kepuasan pelanggan (Z). Subjek penelitian ini adalah konsumen Emery Cafe and Bistro Jombang. Sedangkan, objek dari penelitian ini adalah pengaruh experiential marketing terhadap loyalitas pelanggan yang dimediasi kepuasan konsumen Emery Cafe and Bistro Jombang. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelanggan Emery cafe dan bistro Jombang sedangkan sampel yang dijadikan responden dalam penelitian ini sebanyak 100 orang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang berupa kuesioner untuk pelanggan Emery Cafe and Bistro Jombang. Data-data tersebut diukur dengan menggunakan teknik skala Bipolar Abjective. Untuk alat analisa, peneliti menggunakan teknik analisi SEM-PLS, dimana SEM-PLS merupakan salah satu bagian dari SEM. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan alat analisis WarpPLS 5.0. SEM-PLS mengidentivikasi variabel laten sebagai linear agregat dari indikatornya, dimana metode estimasi bobot variabel laten dilakukan dengan membangun inner model dan outer model. Untuk menghasilkan hasil analisis data yang dapat dipertanggungjawabkan, maka perlu dilakukan pengujian Goodness of Fit (Solimun, 2017). Experiential Marketing Kepuasan Pelanggan Loyalitas Pelanggan
Indah T & Siti Z Halaman 98 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 D. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil analisis data dengan menggunakan WarpPLS 5.0, maka diperoleh hasil sabagai berikut: Tabel 1: Square Roots of AVEs Latent variables Square Roots of VEs X 0,641 Z 0,644 Y 0,755 Sumber: data diolah, 2019 Tabel 2 : Composite Reliability & Cronbach’s Alpha Coefficients Latent Variables Composite Reliability Cronbach’s Alpha Coefficients X 0,912 0,896 Z 0,779 0,645 Y 0,913 0,891 Sumber: data diolah, 2019 Discriminant Validity terpenuhi dengan melihat nilai Square Roots of AVEs pada tabel 2, di mana nilainya lebih besar dari korelasi antarvariabel laten pada kolom yang sama (Sholihin dan Ratmono, 2014). Kemudian pada tabel 2, dapat dilihat bahwa Composite Reliability Coefficients untuk masing-masing variabel laten lebih besar dari 0,7, sehingga Composite Reliability terpenuhi (Solimun, 2017). Untuk Reliabilitas Internal Konsistensi juga terpenuhi, dengan melihat tabel 2, pada Cronbach’s Alpha Coefficients untuk masing-masing variabel memiliki nilai lebih besar dari 0,6 (Solimun, 2017). Gambar 2: koefisien jalur Tabel 3: Path Coeficients Kriteria Variabel X Z Y Path Coeficients X Z 0,605 Y 0,679 0,208 P-value X Y <0,001 Z <0,001 0,015 Sumber: data diolah, 2019 Tabel 4: R Square X Z Y 0,366 0,697
Indah T & Siti Z Halaman 99 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Sumber: data diolah, 2019 Pada tabel 3 (tiga) diketahui bahwa nilai semua P value adalah dibawah 0,05 jadi dapat disimpulkan bahwa semua hipotesis yang diajukan dapat diterima. Pada tabel 4 uji hipotesis P value of indirect effects for paths with two segmen, maka dapat diketahui hipotesis dalam penelitian ini adalah experiential marketing berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas pelanggan yang dimediasi oleh kepuasan pelanggan Emery cafe dan bistro Jombang. Untuk mengetahui apakah mediasi dalam penelitian ini adalah mediasi penuh atau parsial, dapat dilihat dari gambar 2 (dua). Pada gambar 2 (dua) diketahui bahwa semua Pvalue dibawah 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa mediasi dalam penelitian ini adalah mediasi parsial. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa experiential marketing dapat mendorong secara langsung terhadap loyalitas pelanggan. Hal ini menujukkan bahwa pengalaman baik yang dirasakan pelanggan mampu membuat pelanggan menjadi loyal. Selain itu, pada hasil pengujian terlihat bahwa experiential marketing yang dilakukan di Emery cafe dan bistro Jombang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Pengalaman baik yang dirasakan konsumen dengan cara menyentuh emosional konsumen akan menjadikan konsumen menjadi puas dan akan berkujung kembali Kertajaya (2005). Pengalaman yang baik di Emery cafe sesuai dengan apa yang dipresepsikan pelanggan. Suasana yang nyaman, konsep cafe yang menarik, desain interior dan tatanan tempat duduk di Emery cafe unik dan berbeda dengan yang lain menjadi daya tarik sendiri bagi konsumen untuk datang berkunjung ke Emery cafe dan bistro Jombang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan dapat mendorong secara langsung terhadap loyalitas pelanggan di Emery cafe dan bistro Jombang. Dalam hal ini pada variabel kepuasan pelanggan semua indikator memiliki nilai yang baik. Adanya suasana nyaman yang disajikan Emery cafe dan bistro Jombang menjadikan kepuasan tersendiri sehingga membuat pelanggan menjadi loyal. . Experiential marketing adalah strategi perusahaan dalam memasarkan produknya dengan cara bukan hanya dengan mengedepankan sense namun juga membuat pelanggan Emery cafe merasa tersentuh secara emosional sehingga pelanggan merasa fanatik. Suasana nyaman yang disajikan, pelayanan ramah yang diberikan, menu-menu yang ditawarkan, serta alunan musik yang disajikan mambuat pelanggan menjadi puas untuk berkujung ke Emery cafe dan bistro Jombang. Pengalaman baik yang disajikan, mampu membuat pelanggan mempersepsikan bahwa apa yang didapatkan sesuai dengan yang diekspektasikan sehingga pelanggan menjadi puas. Pelanggan yang puas dengan strategi yang diberikan Emery cafe mampu membuat pelanggan menjadi loyal dan ingin berkujung lagi ke Emery cafe dan bistro Jombang. E. PENUTUP Dari hasil penelitian yang telah disampaikan dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, experiential marketing mampu mendorong loyalitas pelanggan langsung sehingga pelanggan menjadi loyal. Kedua, experiential marketing mampu mendorong kepuasan pelanggan secara langsung di Emery cafe dan bistro Jombang. Ketiga, kepuasan pelanggan mampu mendorong loyalitas pelanggan secara langsung di Emery cafe dan bistro Jombang dan yang terakhir, kepuasan pelanggan mampu menjadi pemediasi atara experiential marketing terhadap loyalitas pelanggan Emery cafe dan bistro Jombang. Dari hasil simpulan tersebut diatas, maka disarankan kepada pihak manajamen Emery cafe dan bistro Jombang untuk meningkatkan layanannya. Selain itu, Emery cafe dan Bistro Jombang perlu mencoba konsep tertentu yang tematik, misalnya pada saat momen tertentu atau hari-hari besar, sehingga pelanggan akan merasa penasaran dengan even yang diadakan dan konsep suasanana yang disajikan.
Indah T & Siti Z Halaman 100 dari 100 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, diharapkan hasil penelitian ini bisa menjadi referensi dan apabila akan melakukan penelitian dengan tema yang sama, diharapkan penelitian selanjutnya bisa menggunakan variabel di luar penelitian ini, seperti keputusan untuk berkunjung kembali. DAFTAR PUSTAKA Aaker, D. (2004). Building a brand: The Saturn story. California Management Review, 114- 133. Aaker, D. A. (1991). Managing Brand Equity. New York: THE FREE PRESS. Baron, M., & Kenny, D. (1986). The Mediator-Mediator Variabel Distintion in Social Psychological Research: Conceptual, Strategis, and Statistical Consideration. Journal of Personality and Social Psychology, 1173-1182. Dewanthi, P. A., & Wulandari, N. M. (2017). Peran Kepuasan KOnsumen dalam Memediasi Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Loyalitas Pelanggan. E-Jurnal Manajemen Unud, Vil.6, No. 1, 1-31. Dimyati, M. (2012). Peranan Experiential Marketing dan Kepuasan Pasien dalam Menciptakan Loyalitas Pasien Rumah Sakit Ftimah Banyuwangi. ISSN: 1412-5366, 14-30. Ferdinand, A. (2014). Metode Penelitian Manajemen: Pedoman Penelitian untuk Skripsi Tesis dan Disertai Ilmu Manajemen. Semarang: Universitas Diponegoro. Kertajaya, H. (2005). Empathy Has Signifikan Contribution In Service Study Kasus pada Spa Martha Tilaar. Jurnal Martha Tilaar Group, 27-28. Khasanah, I. (2015). Analisis Pengaruh Nilai Pelanggan, Experiential Marketing, dan Rasa Kepercayaan Terhadap kepuasan Pelanggan. Jurnal Study Manajemen & Organisasi 12, 10-20. Kotler, P., Armstrong, G., & Tait, M. (2010). Principles Of Marketing. South Africa: Global and Souther. Mahfud Sholihin, P., & Ratmono, D. (2013). Analisis SEM-PLS dengan WarpPLS 3.0. Yogyakarta: ANDI OFFSET. Marisa, O., & Rowena, J. (2017). Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Terhadap Loyalitas Konsumen. Converence on Management and Behavioral Studies, 410-420. Samuel, H., & Dharmayanti, D. (2013). Pengaruh Customer Experience Quality Terhadap Customer Satisfaction dan Customer Loyalty di Kafe Excelso Tunjangan Plaza Surabaya. Jurnal Manajmen Pemasaran Petra Vol.1, No. 1, 1-15. Schmitt, B. (2015). Experiential Marketing. A New Framework for Design and Communication, 19-26. Solimun. (2017). Penguatan Confirmatory Research: Pemodelan Persamaan Struktural Pendekatan WarpPLS. Malang: Universitas Brawijaya. Sudari, S. A., Tarofder, A. K., Khatibi, A., & Tham, J. (2019). Measuring the critical effect of marketing mix on customer loyalty through customer satisfaction in food and beverage products. Management Science Letters, 9(9), 1385–1396. Sugiono. (2013). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: ALFABETA. Tjiptono, F. (2004). Manajemen Strategik. Yogyakarta: ANDI.
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 101 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Peran Intellectual Capital Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Perbankan Uli Ultni Manalu1 , Francis Hutabarat2 Universitas Advent Indonesia, Bandung Koerspondensi: [email protected] Dikirim: 16 Juli 2020, Direvisi: 25 Agustus 2020, Diterima: 30 September 2020 Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Intellectual Capital terhadap Profitabilitas dengan Rentabilitas sebagai variabel mediasi pada perusahaan subsector Perbankan pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2018. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan alat analisa menggunakan aplikasi SPSS. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan subsector perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017 – 2018, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 15 perusahaan. Penelitian ini menggunakan Intellectual Capital sebagai variabel independen dan Proftabilitas dengan menggunakan rasio Return On Equity (ROE) sebagai variabel dependen dan Rentabilitas dengan menggunakan rasio Non Performing Loan (NPL) sebagai variabel mediasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara langsung, Intellectual Capital tidak berpengaruh siginfikan terhadap Profitabilitas, namun dengan adanya mediasi dari Rentabilitas, Intellectual Capital berpengaruh terhadap profitabilitas. Kata kunci : Intellectual Capital, Profitabilitas, Rentabilitas, Non Performing Loan, Return On Equity. Abstract The purpose of this study was to determine the effect of Intellectual Capital on Profitability with Rentability as a mediating variable in the Banking subsector company on the Indonesia Stock Exchange in 2017-2018. This research used descriptive analysis with analysis tools using the SPSS application. The population in this study was the banking subsector companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2017 - 2018, while the sample used is 15 companies. This study used Intellectual Capital as the independent variable and profitability using the Return on Equity (ROE) ratio as the dependent variable and Profitability using the Non-Performing Loan (NPL) ratio as the mediating variable. The results of the analysis showed that Intellectual Capital did not have a significant effect on profitability directly, but with the mediation of Profitability, Intellectual Capital had an effect on profitability. Keywords: Intellectual Capital, Profitability, Non-Performing Loan, Return On Equity. A. PENDAHULUAN Era industri saat ini, dengan segala kebebasan tanpa ada batasan telah meningkatkan suatu perubahan yang semula terbatas pada mdal dan barang yang di perdagangkan yang sekarang meluas kepada tenaga kerja dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Dengan demikian ,pola bisnis yang awalnya berdasarkan dasar tenaga kerja mengalami perubahan yang menuju kepada pola bisnis berdasarkan pengetahuan dimana ilmu pengetahuan menjadi fokus utamanya (Sawarjuwono & Kadir, 2003). Ilmu pengetahuan dalam perusahaan sering juga diidentikkan dengan Intellectual Capital. Dengan demikian, Intellectual Capital dapat diartikan sebagai asset tak berwujud seperti hak cipta, paten,dsb yang dapat menambah atau memberikan nilai pada masyarakat atau perusahaan. Modal Intelektual pada suatu perusahaan dapat dilihat dari modal manusia,structural dan pelanggan. Perusahaan yang memiliki kemampuan lebih dalam bidang pengetahuan dan teknologi akan memperoleh competitive advantage, dimana dengan manusia dan teknologi yang dimilikinya dapat memberikan kekuatan untuk bersaing dengan ISSN : 2654 - 4326 Halaman 101 - 108
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 102 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 perusahaan lainnya. Jika perusahaan mampu bersaing dalam memasarkan produknya , besar kemungkinan perusahaan tersebut mampu untuk menghasilkan laba yang besar. Kemampuan suatu perusahaan menghasikan laba dapat dilihat melalui tingkat profitabilitasnya.Dengan demikian probabilitas mengarah kepada kemampuan suatu perusahaan untuk mengelola kepunyaannya atau asset yang dimiliki perusahaan tersebut (Sawir, 2004). Oleh sebab itu, jika perusahaan memiliki Intellectual Capital yang besar dan produktif, maka akan berdampak terhadap rasio profitabilitas yang besar, begitu juga sebaliknya, jika perusahaan hanya memiliki sedikit , maka rasio profitabilitas perusahaan tersebut juga akan kecil. Dalam praktiknya, organisai atau perusahaan yang profitabilitasnya dipengaruhi oleh intellectual Capital adalah perusahaan yang padat akan praktik intelektual capital, seperti perusahaan subsektor perbankan. Contohnya pada kasus Bank BNI dalam majalah Kontan (kontan.co.id), dimana Bank BNI menggunakan strategi dengan penerapan digitalisasi. Penerapan ini otomatis akan menambah Capital Intellectual dari perusahaan ini, dan juga akan menurunkan kebutuhan Bank tersebut akan Sumber Daya Manusia. Dengan demikian akan berpengaruh pada Profitabilitas pada Bank BNI, dimana pengeluaran akan biaya gaji berkurang sehingga dapat menaikkan profitabilitas. Namun, bukan hanya intellectual Capital saja yang mempengaruhi Profitabilitas perusahaan perbankan. Rentabilitas dengan berbagai rasionya yang digunakan sebagai alat ukur, juga dapat dijadikan faktor penentu profitabilitas pada bank. Salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat kemacetan kredit perbankan adalah rasio Non Performing loan (NPL) yang dinyatakan oleh Septiani & Lestari (2016). Oleh sebab itu, yang harus menjadi perhatian bagi pihak manajemen perbankan selah satunya adalah besarnya persentase Non Performing loan (NPL) karena kredit yang bermasalah akan berdampak buruk pada kesehatan bank. Semakin besar Non Performing loan (NPL) maka akan menunjukkan semakin tidak profesionalnya perusahaan tersebut dalam mengelola kreditnya dan berdampak pada kerugian bank. Non Performing loan (NPL) bisa merusak laba perusahaan. Kasus terkait fenomena tersebut dialami oleh PT Bank Sinarmas Tbk. Diliput dari majalah Kontan pada Rabu 20/12 (Kontan.co.id),dimana PT Bank Sinarmas Tbk hanya mampu mengantongi laba bersih Rp 10,54 milliar dimana merosot sebanyak 98,5% dari kuartal sebelumnya yang dapat meraup net profit senilai Rp. 256,09 milliar. Penurunan tersebut diakibatkan oleh Non Performing Loan ( NPL) yang meningkat dimana NPL gross perseroan yang mulanya4,47% menjadi 7,48% dan Non Performing Loan menjadi 3,78% dari sebelumnya hanya dari 2,37%. Hal ini mengisyaratkan tingginya NPL berpengaruh buruk terhadap Profitabilitas perusahaan. Berdasarkan latar belakang serta fenomena tersebut diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh Intelektual Capital terhadap Profitabilitas dengan rentabilitas sebagai variable mediasi di perusahaan sektor perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2017-2018. B. LANDASAN TEORI 1. Intellectual Capital Intelektual kapital (intelectual capital) menjadi faktor penting dalam perusahaan. menyatakan bahwa Intellectual Capital memiliki arti : (1) Modal Intelektual adalah kalkulasi kemampuan sumber daya manusia, yang menciptakan dan menambah nilai bersaing perusahaan.(2)Modal Intelektual adalah sumber bahan pengetahuan akan sebuah informasi (intellectual information) , HAKI (Hak Kekayaan Intelektual), serta
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 103 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 kemampuan berharga yang digunakan untuk meningkatkan kekayaan (Stewart, 1998). Edvinson dan Malone (2007) mengklasifikasikan bahwa intelektual capital dibentuk berdasarkan 3 bentuk dasar yaitu structural capital ,human capital,dan customer capital Rachmawati (2012) menyatakan bahwa untuk penghitungan Intellectual capital dilakukan dengan metode VAICTM, yaitu dengan menghtung penambahan nilai yang tercipta melalui penjumahan VACA, VAHU, serta STVA sebagai hasil akhir yang sering disebut VAIC™. Dengan demikian VAIC™ dihitung melalui tiga tahapan yaitu: a. VACA. VACA adalah pembagian dari pertambahan nilai (VA) dengan modal pekerja secara fisik (Capital Employed). Rasio ini menampilkan adanya keterlibatan yang dilakukan oleh setiap modal pekerja terhadap pertambahan nilai dalam sebuah organisasi atau perusahaan. VACA dapat dihasilkan dari formula sebagai berikut. Keterangan : Capital Employed = Total asset – Current Liabillities Value Added = OUTPUT-INPUT OUTPUT = Laba bunga netto + ∑pendapatan operasional lainnya INPUT = ∑beban operasional lain-lain – Beban Personalia(gaji) b. VAHU. VAHU adalah pembagian dari pertambahan nilai terhadap modal manusia yang menampilkan keterlibatan terhadap pertambahan nilai melalui setiap rupiah investasi pada modal manusia (Human Capital) pada suatu perusahaan, atau pengaruh antara pertambahan modal (value added) dan modal manusia (human capital) yang menampilkan pengaruh modal manusia dalam menambah nilai dalam perusahaan. Adapun formula VAHU dapat dituliskan sebagai berikut : Keterangan: Human Capital (HC) = Beban gaji dan tunjangan(personalia) c. SCTVA. SCTVA merupakan rasio modal struktural pada pertambahan nilai dimana menampilkan banyaknya modal struktural yang diperlukan dalam menghasilkan penambahan value added dalam setiap rupiahnya .STVA menjadi indikator untuk mengukur kemampuan modal struktural dalam menciptakan nilai pada perusahaan. Secara formula cara menghitung SCTVA adalah sebagai berikut Keterangan : Structural Capital = Value Added – Human Capital Apabila ketiga rumus tersebut sudh ditemukan hasilnya,maka dapat kita peroleh VAICTM yang merupakan indikator dalam mencari modal intelektual pada suatu perusahaan. Adapun formula penghitungan VAICTM dapat ditampilkan sebagai berikut:
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 104 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Peneliti terdahulu telah melakukan penelitian mengenai Intelectual Capital terhadap Proitabilitas.(Wijaya, 2012) membuktikan bahwa Intelectual capital memiliki pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas, khususnya dengan menggunakan indikator ROE. Pandangan ini juga didukung oleh hasil pengujian (Afandi, 2017) melalui penelitiannya dengan hasil yang sama. Namun (Andriana, 2014) menemukan hasil yang berbeda dimana Intellectual Capital tidak berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. H1 : Intellectual Capital berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. 2. Profitabilitas Setiap perusahaan menjalankan usaha pasti memiliki tujuan untuk menciptakan keuntungan. Hal tersebut diidentikan dengan profitabilitas. Menurut (Zaharruddin, 2006) Profitabilitas merupakan suatu ukuran untuk megukur kemampuan suatu organisai/perusahaan perorangan ataupun badan(lembaga) untuk menghaslkan pendapatan dengan mempertimbangkan modal yang dipakai oleh sebuah organisasi/perusahaan. Ada berbagai cara untuk mengukur rasio profitabilitas, namun pada penelitian ini penulis menggunakan Return on Equity (ROE). Earnings avaliable for common stockholder’s diidentikkan dengan rasio Return On Equity (ROE) dimana ROE merupakan kemampuan modal perusahaan untuk kemudian dikelola untuk menghasilkn keuntungan yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Adapun formula dalam menghitung ROE dapat dituliskan sebagai berikut: 3. Rentabilitas. Ada berbagai cara untuk mengukur rasio rentabilitas. Pada peneltian ini penulis menggunakan Non Performing Loan (NPL). Non Performing Loan (NPL) merupakan jumlah tingkat kredit bermasalah yang dibandingkan pada total keseluruhan dari kredit beredar dalam bentuk persentase (Barus & Erick, 2016). Ismail (2010) juga menyatakan bahwa Non Performing Loan (NPL) merupakan kredit yang tidak mampu dibayar dengan usia melebihi tiga bulan atau kurang lebih Sembilan puluh hari. Non Performing Loan (NPL) dibagi dalam tiga klasifikasi, yaitu kredit diragukan ,kredit kurang lancar serta kredit macet. Antara total kredit yang bermasalah dengan total kredit yang diberikan kepada debitur dapat di temukan perbandingan yang sering juga di terjemahkan sebagai Non Performing Loan. Semakin besar NPL maka akan semakin tinggi resiko pengembalian laba yang akan berdampak pada rasio profitabilitas perusahaan yang semakin kecil (Saputri & Oetomo, 2016). Penelitian yang dilakukan Wati (2011) dan Mashita (2014) menunjukkan bahwa NPL berpengaruh terhadap Profitabilitas dengan indikator Return On Equity (ROE). Adapun penelitian (Hermina, 2014) berbanding terbalik dengan penelitian sebelumnya, dimana Non Performing Loan (NPL) tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas. H2: Intellectual berpengaruh siginifikan terhadap profitabilitas dengan mediasi dari rentabilitas.
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 105 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 C. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Populassi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2017 – 2018, sedangkan sampel pada penelitian sebayak 15 perusahaan. Variabel independen pada penelitian ini adalah Intellectual Capital (IC), Variabel dependennya adalah Profitabilitas dengan menggunakan indikator Return On Equity (ROE) dan Rentabilitas dengan menggunkan indikator Non Performing Loan (NPL) sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan analisis statistik data yaitu deskriptif statistik, koefisien determinasi ,signifikan test, regresi analisis. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengolahan data sekunder dengan alat bantu SPSS, diperoleh hasil analisa descriptive sebagai berikut: Sumber :Hasil perhitungan SPSS (2019) Tabel diatas menunjukkan bahwa Variabel Intellectual ( VAICTM) pada sektor perbankan memiliki rata rata 3.65, nilai minimum -24.84 dan nilai maximum 96.85. Secara umum, kinerja Inttelectual Capital pada perusahaan perbankan di Indonesia tahun 2017 - 2018 dapat dikategorikan sebagai “common performers”. Menurut Kamath (2007), suatu perusahaan perbankan dapat dikategorikan sebagai “top performers” apabila mampu mencapai nilai VAICTM di atas 5.00. Perusahaan perbankan yang dikategorikan sebagai “good performers” memiliki nilai VAICTM pada rentang 4.00 - 5.00. Perusahaan perbankan yang dikategorikan sebagai “common performers” memiliki nilai VAICTM pada rentang 2.5 - 4.00, dan perusahaan perbankan yang dikategorikan sebagai“bad performers” memiliki nilai VAICTM di bawah 2.5. Variabel ROE memiliki nilai minimum -22.73 dan nilai maximum 20.49. Hal ini menunjukkan rata-rata perusahaan perbankan menggunakan hutang sebagai sumber pendanaannya. Rata rata yang ditunjukkan adalah 12% dan standar deviasinya adalah 9.28, dimana standar deviasi yang ditunjukkan lebih kecilapabila dibandingkan dengan nilai rata ratanya. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi nilai Debt to Equity Ratio (DER) yang kecil pada perusahaan perbankan yang menjadi sampel. Nilai minimum NPL sebesar 0.67 dan maksimum adalah 9.92. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya NPL perusahaan perbankan di Indonesia karena perusahaan sun sektor perbankan tersebut tidak mampu mempertahankan kreditnya seesuai dengan yang ditetapkan Bank Indonesia yaitu <5%.
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 106 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 2. Koefisien Determinasi Untuk mengetahui seberapa besar variabel bebas serta variabel mediasi mempengaruhi nya, yang tampak pada table berikut: Sumber: Data sekunder diolah (2019) Dari tabel diatas tampak bahwa jika dilihat dari model 1, nilai R-Square adalah sebesar .000 yang berarti bahwa kontribusi Intellectual Capital terhadap perubahan pada kinerja ROE adalah sebesar 0%. Namun jika dilihat pada model 2, dengan mediasi NPL maka didapati kontribusi Intellectual Capital dan Non Performing Loan terhadap perubahan pada ROE menjadi sebesar 48%. Sedangkan sisanya dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti pada studi kali ini. 3. Significant Test Untuk mengetahui pengaruh simultanitas variabel yang digunakan dalam penelitian, dapat dilihat pada uji F (F-test) yang tampak pada table berikut: Sumber: Data sekunder diolah (2019) Dari tabel diatas tampak bahwa pada model 1, Intellectual Capital dan ROE tidak berpengaruh signifikan karena nilai signifikan 0.953 atau lebih besar dari α = 0.05 atau 5%. Sedangkan pada model 2, didapati bahwa dengan adanya mediasi NPL maka didapati pengaruh Intellectual Capital terhadap ROE adalah signifikan karena nilai signifikan yang lebih rendah dari α = 0.05 atau 5% 4. Regression Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau untuk menguji hipotesis yang diajukan, dapat digunakan Uji – T, yang tampak pada tabel berikut:
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 107 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Sumber : Data sekunder diolah (2019) Dari tabel diatas tampak bahwa pada model 1 (satu), tidak ada pengaruh signifikan variable Intellectual Capital terhadap Profitabilitas (ROE). Hal ini tampak dari nilai signifikan 0.953 yang lebih besar dari α 5%. Sedangkan pada model 2 (dua), dengan adanya mediasi dari rentabilitas (NPL) terdapat pengaruh signifikan dari Intellectual capital terhadap profitabilitas (ROE). Hal ini tampak dari nilai signifikansi sebesar 0.000 yang lebih kecil dari α 5%. Dengan demikian keberadaan NPL sepenuhnya memediasi pengaruh Intellectual Capital terhadap ROE. Berdasarkah hasil penelitian yang telah di lakukan, maka hipotesa pertama menunjukkan Intellectual Capital berpengaruh siginifikan terhadap Profitabilitas tidak terbukti (ditolak). Hal ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Andriana (2014) Namun, dengan adanya Net Performing Loan sebagai variabel mediasi , Intellectual Capital mamiliki pengaruh signifikan. Dengan demikian keberadaan NPL sepenuhnya memediasi pengaruh Intellectual Capital terhadap ROE. E. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa secra langsung Intellectual Capital tidak berpengaruh signifikan pada profitabilitas perusahaan subsektor perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2017-2018. NAmun dengan adanya mediasi dari rentabilitas dengan indikator Non Performing Loan (NPL) maka Intellectual Capital (IC) berpengaruh signifikan pada profitabilitas perusahaan subsektor perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2017-2018. DAFTAR PUSTAKA Afandi, C. D. (2017). Pengaruh Intelektual Capital Terhadap Kinerja Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi.V.9.No.7.1- 16. Andriana, D. (2014). Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Perusahan. Jurnal Riset Akutansi dan Keuangan.V.2.No.1.251-260. Barus, A. C.& Erick. (2016). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Non Performing Loan pada Bank Umum di Indonesia. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil.V.6.No.2.113-122 Edvinsson, L., & Malone, M. S. (2007). Intellectual capital. HarperBusiness,. Hermina, R. & Suprianto,E. (2014). Analisis Pengaruh CAR,NPL,LDR,dan BOPO terhadap Profitabilitas(ROE) pada Bank Umum Syariah. Jurnal Akutansi Indonesia.V.3.No.2.129-142. Ismail. (2010). Bank : Teori dan Aplikasi dalam Rupiah. Jakarta: Prenadamedia Group.
Uli U Manalu &Francis Hutabarat Halaman 108 dari 108 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Mashita, F. (2014). Pengaruh Risiko Usaha Terhadap Return On Equity pada Bank Umum Swata Nasional Devisa. Artikel Ilmiah. Rachmawati, D. A. (2012). Pengaruh Intelektual Capital Terhadap Return On Asset (ROA). Jurnal Nominal .V.1.No.1.34-40. Saputri, S. F., & Oetomo, H. W. (2016). Pengaruh CAR,BOPO,NPL,dan FDR Terhadap ROE Pada Bank Devisa Jurna Ilmu dan Riset Manajemen.V.5.No.5.1-19. Sawarjuwono, T., & Kadir, A. P. (2003). Intellectual Capitall : Perlakuan,Pengukuran dan Pelaporan (Sebuah Library Reaserch). Jurnal Akutansi dan Keuangan , V.5 No.1.1-23 Sawir, A. (2004). Kebijakan Pendanaan dan Restrukturisasi Perusahaan . Jakarta: Gramedia. Septiani, R., & Lestari, P. V. (2016). Pengaruh NPL dan LDR terhadap Profitabilitas dengan CAR Sebagai Variabel Mediasi pada PT BPR Pasarraya Kuta. E-Jurnal Manajemen Unud, V.5.No.293-324. Stewart, T. A. (1998). Modal Intelektual: Kekayaan Baru Organisasi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Ulum, I. (2008). Intellectual Capital Performance Sektor Perbankan di Indonesia. Jurnal Akuntansi Keuangan Perusahaan.V.10.No.2.77-84. Wati, E. (2011). Analisis Pengaruh BOPO,NIM,GWM,LDR,PPAP,dan NPL Terhadap ROE pada Bank Go Public dan Non Go Public di Indonesia Periode Tahun 2007-2009.Universitas Diponegoro.V.2.No.1.1-17. Wijaya, N. (2012). Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Keuangan dan Nilai Pasar Perusahaan Perbankan dengan Metode Value Added Intellectual Coefficient . Jurnal Bisnis dan Akuntansi.V.14.No.3.157-180. Zaharruddin, H. (2006). Menggali Potensi Wirausaha. Bekasi: CV Dian Anugrah Prakasa. Dewi, H K.(2019).Ini Strategi BNI hadapi Perubahan Kebutuhan SDM Imbas Digitalisasi. Kontan.diambil dari :https://keuangan.kontan.co.id/news/inistrategi-bni-hadapi-perubahan-kebutuhan-sdm-imbas-digitalisasi. Hutahuruk, D M.(2019).Laba Bank Sinarmas Tergerus 95,8% Akibat Tertekan NPL Tinggi.Kontan.diambil dari: https://keuangan.kontan.co.id/news/laba-banksinarmas-tergerus-958-akibat-tertekan-npl-tinggi
Sabil, et.al Halaman 109 dari 114 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Pengaruh Pelaksanaan Pajak Penghasilan Nomor 23 Terhadap Pajak Penghasilan Pasal 4 Ayat (2) Pada Lembaga Sertifikasi Profesi Broker Properti Indonesia Sabil*, Ihwan wahyudi, Suhartono, Amin Setio Lestiningsih, Dwiyatmoko Puji Widodo, Teni Agustina, Lukman Hakim Universitas Bina Sarana Informatika Jakarta *Korespondensi : [email protected] Dikirim: 16 Agustus 2020, Direvisi: 25 September 2020, Dipublikasikan: 13 Nopember 2020 Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti pengaruh pelaksanaan pajak penghasilan nomormor 23 terhadap pajak penghasilan pasal 4 (2). Populasi pada penelitian ini adalah laporan pajak pada lembaga sertifikasi properti broker properti Indonesia dan yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah realisasi penerimaan pajak tahun 2016-2018. Data yang digunkan adalah data sekunder yang diperoleh dari bagian administrasi lembaga sertifikasi profesi broker properti Indonesia. Jenis penelitian ini adalah eksplanatori riset dengan pendekatan kuantitatif. Alat analisa menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajak penghasilan nomor.23 tahun 2018 mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap pajak penghasilan pasal 4 (2). Kata kunci: pajak penghasilan 23 tahun 2018, pajak penghasilan pasal 4 (2) Abstract The puRpose of this study was to examine the effect of the implementation of income tax number 23 on income tax article 4 (2). The population in this study is the tax report on the Indonesian property brokerage property certification agency and the sample in this study is the realization of tax revenue in 2016-2018. The data used is secondary data obtained from the administration section of the Indonesian property brokerage professional certification body. This type of research is explanatory research with a quantitative approach. The analysis tool uses multiple linear regression. The results showed that income tax number 23 of 2018 has a significant positive effect on income tax article 4 (2). Keywords: income tax 23 of 2018, income tax article 4 (2) A. PENDAHULUAN Pajak adalah salah satu sumber penerimaan negara yang digunakan negara untuk membiaya pembangunan di Indonesia. Salah satu potensi terbesar dalam penerimaan negara yang berasal dari sektor pajak adalah pajak penghasilan. Peraturan yang mengatur pajak penghasilan di Indonesia adalah undang-undang 36 tahun 2008. Menurut undang-undang Republik Indonesia tahun 2008 pajak penghasilan dibagi menjadi dua kelompok yaitu pajak penghasilan yang bersifat final dan pajak penghasilan bersifat tidak final. Untuk memaksimalkan penerimaan pajak, pemerintah bertanggungjawab untuk menghimpun penerimaan pajak agar tercapai target penerimaan pajak dari berbagai sektor. Sektor usaha swasta sangat berperan penting dalam perekonomormian Indonesia. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk memaksimalkan penerimaan pajak dari sektor usaha swasta yaitu dengan menerbitkan pajak penghasilan 46 tahun 2013 yang berlaku 1 Juli 2013. Pemerintah menyatakan bahwa wajib pajak yang memiliki pendapatan dibawah Rp 4,8 miliar selama setahun, pajaknya 1% dari pendapatan perbulan. Selanjutnya pemerintah mengesahkan peraturan pemerintah nomor. 23 tahun 2018 yang mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 2018 yaitu pembebanan pajak 0,5% dan bersifat final untuk wajib pajak orang pribadi, badan, koperasi, CV, firma, dan PT yang pendapatannya maksimal 4,8 milyar setahun. ISSN : 2654 - 4326 Halaman 109 - 114
Sabil, et.al Halaman 110 dari 114 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Suryani, Maslichah & Junaidi (2019) menyatakan bahwa pertumbuhan wajib pajak tidak menunjukkan peningkatan setelah pengalihan pajak penghasilan nomor 46 tahun 2013 berubah menjadi pajak penghasilan nomor 23 tahun 2018. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh yang signifikan atas pelaksanaan pajak penghasilan nomormor 23 terhadap pajak penghasilan pasal 4 (2) pada Lembaga Sertifikasi Profesi Broker Properti Indonesia. B. LANDASAN TEORI Menurut Mardiasmo (2018) yang dimaksud dengan pajak yaitu iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Menurut (peraturan menteri keuangan nomor 99/PMK.03/ 2018) pada pasal 2 (1), wajib pajak yang mempunyai pendapatan dan terkena pajak penghasilan final, yaitu: a) wajib pajak orang pribadi dan b) wajib pajak badan berbentuk koperasi, persekutuankomanditer, firma, atau perseroan terbatas. Yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp 4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) tahun pajak. Penjelasan terkait peredaran bruto adalah: a) besarnya peredaran bruto tertentu merupakan jumlah peredaran bruto dalam 1 (satu) tahun dari tahun pajak terakhir sebelum tahun pajak bersangkutan dan b) untuk wajib pajak pasangan suami istri yang memiliki kesepakatan terpisah pendapatannya atau isteri yang mau membayar pajaknya sendiri. Pajak penghasilan final adalah pajak penghasilan yang pengenaannya sudah final (berakhir), sehingga tidak dapat dikreditkan (dikurangkan) dari total pajak penghasilan terutang pada akhir tahun pajak. Penghasilan yang telahdikenakan pajakpenghasilan final tidak perlu digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang dikenakan pajakpenghasilan yang bersifattidak final. Penghasilanyang dikenakan pajakpenghasilan yang bersifatfinal diatur dalam: 1) pajak penghasilanh pasal 4 (2), 2) pajak penghasilanh pasal 15, 3) pajak penghasilanh pasal 19 Objek pajak penghasilanfinal pada pasal 4 (2) dikenakan pada jenis tertentu dari penghasilan atau pendapatan, dan berupa: 1) hasil transaksi penjualan saham pemilik, 2) bunga, 3) hadiah, 4) sewa tanah, 5) jasa dalam bidang konstruksi, 6) pengalihan hak tanah. Wajib pajak atas penghasilan peredaran bruto tertentu adalah: 1) wajib pajak pribadi/badan kecuali badan usaha tetap, 2) untuk semua cabang dalam satu tahun pajak, 3) jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, meliputi hal-hal berikut: a) tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas seperti pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai dan aktuaris, b) musikus, master of ceremony, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintan iklan, sutradara, kru film, fotomodel, peragawan atau peragawati, pemain drama, dan penari, c) olahragawan penasihat, d) agen asuransi, e) distributor perusahaan pemasaran berjenjang/penjualan langsung dan kegiatan sejenis lainnya. Hipotesis yang dikemukakan pada penelitian ini adalah: diduga pelaksanaan pajak penghasilan nomormor 23 berpengaruh terhadap pajak penghasilan pasal 4 ayat (2) C. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah eksplanatori riset dengan pendekatan kuantitatif. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pelaksanaan pajak penghasilan nomor. 23 dan variabel
Sabil, et.al Halaman 111 dari 114 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 terikatnya adalah pajak penghasilan pasal 4 (2). Populasi pada penelitian ini adalah laporan pajak pada lembaga sertifikasi properti broker properti Indonesia dan yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah realisasi penerimaan pajak tahun 2016-2018. Data yang digunkan adalah data sekunder yang diperoleh dari bagian administrasi Lembaga Sertifikasi Profesi Broker Properti Indonesia. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Data penelitian Dari hasil pengolahan data sekunder diperoleh data realisasi penerimaan pajak penghasilan pasal 4 (2) di lembaga sertifikasi profesi broker properti Indonesia sebagaimana yang tampak pada table berikut: Tabel 1: Realisasi Penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) Lembaga Sertifikasi Profesi Broker Properti Indonesia Tahun Bulan Realisasi 2016 Jan Rp 117.500.000 Feb Rp 100.200.000 Mar Rp 83.500.000 Apr Rp 90.550.000 Mei Rp 80.300.000 Jun Rp 95.000.000 Jul Rp 87.350.000 Agst Rp 82.200.000 Sept Rp 66.800.000 Okto Rp 104.050.000 Nomorv Rp 79.000.000 Des Rp 91.850.000 Total Rp 1.079.000.000 2017 Jan Rp 77.350.000 Feb Rp 7.350.000 Mar Rp 84.700.000 Apr Rp 62.300.000 Mei Rp 76.650.000 Jun Rp 84.700.000 Jul Rp 51.800.000 Agst Rp 38.500.000 Sept Rp 40.100.000 Okto Rp 65.450.000 Nomorv Rp 53.900.000 Des Rp 59.150.000 Total Rp 768.100.000 2018 Jan Rp 91.300.000 Feb Rp 95.200.000 Mar Rp 80.500.000 . Apr Rp 88.200.000 Mei Rp 99.050.000 Jun Rp 113.750.000
Sabil, et.al Halaman 112 dari 114 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Jul Rp 120.750.000 Agst Rp 161.700.000 Sept Rp 110.600.000 Okto Rp 117.250.000 Nomorv Rp 125.300.000 Des Rp 114.450.000 Total Rp 1.318.050.000 Sumber: data sudah diolah (2020) Selanjutnya, dari data tersebut diatas dilakukan analisa statistik dengan hasil yang tampak pada tabel berikut: Tabel 2: hasil uji koefisien kolerasi Correlations Penerapan pajak penghasilan nomor. 23 Pajak penghasilan pasal 4 (2) Penerapan pajak penghasilan nomor. 23 tahun 2018 Pearson correlation 1 1000** Sig(2-tailed) ,000 N 36 36 Pajak penghasilan pasal 4 (2) Pearson correlation 1,000** 1 Sig. (2-tailed) ,000 N 36 36 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Sumber: data diolah (2019) Hasil dari uji koefisien korelasi adalah menunjukkan angka 1,000. Hal ini menunjukkan hubungan yang tinggi atau sangat kuat. Hubungan kedua variabel positif (tanpa negatif pada 1,000) memperlihatkan bahwa tarif pajak penghasilan nomor. 23 tahun 2018 berdampak pada jumlah pajak penghasilan pasal 4 (2) yang harus dibayar oleh lembaga sertifikasi profesi broker properti Indonesia. Tingkat signifikansi koefiesien dari output sig.(2-tailed) diukur dari probabilitas menghasilkan angka 0,000atau lebih kecil dari 5% (0,000<0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang kuat antara penerapan pajak penghasilan dengan pajak penghasilan pasal 4 (2). Untuk menguji hipotesis yang diajukan, dilakukan uji t, sebagaimana yang tampak pada table berikut: Tabe4: hasil uji t coeffici entsa Model Unstandardized coefficients Standardized coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (constant) 5,287 ,029 182,747 ,000 Penerapan pajak penghasilan nomor. 23 tahun 2018 1,001 ,002 1,000 448,085 ,000 A. Dependent variable: pajak penghasilan pasal 4 (2) Sumber: data diolah (2019) Dari tabel diatas tampak bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 < dari 0,05 sebagaimana yang disyaratkan. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan yaitu
Sabil, et.al Halaman 113 dari 114 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 pelaksanaan pajak penghasilan nomor. 23 beRpengaruh signifikan terhadap pajak penghasilan pasal 4 (2) dapat diterima. Sedangkan untuk mengetahui persamaan yang terbentuk, dapat dilihat dari hasil uji persamaan regresi linear sederhana sebagaimana yang tampak pada tabel berikut: Tabel 5: hasil uji persamaan regresi linier sederhana Coeffici entsa Model Unstandardized coefficients Standardized coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (constant) 5,287 ,029 182,747 ,000 Penerapan pajak penghasilan nomor. 23 tahun 2018 1,001 ,002 1,000 448,085 ,000 A. Dependent variable: pajak penghasilan pasal 4 (2) Sumber: data diolah (2019) Dari persamaan diatas maka persamaan regresi yang terbentuk adalah: Y = 5,287 +1,001X Dengan persamaan tersebut maka dapat diartikan bahwa apabila tidak ada pelaksanaan pajak penghasilan nomor. 23 maka perolehan pajak penghasilan pasal 4 (2) adalah sebesar 5,287. Koefisien pelaksanaan pajak pajak penghasilan nomor. 23 bernilai positif, artinya adalah apabila ada peningkatan pelaksanakaan pajak penghasilan nomor. 23 maka perolehan pajak penghasilan pasal 4 (2) juga akan meningkat dan demikian pula sebaliknya. Hasil penelitian ini menolak penelitian yang dilakukan oleh suryani, maslichah, & junaidi (2019) yang menyatakan bahwa pertumbuhan wajib pajak tidak menunjukkan peningkatan setelah pengalihan pajak penghasilan nomormor 46 tahun 2013 berubah menjadi pajak penghasilan nomormor 23 tahun 2018 E. PENUTUP Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanakaan pajak penghasilan nomor. 23 terbukti berkontribusi secara signifikan terhadap perolehan pajak penghasilan pasal 4 (2). Untuk itu disarankan kepada pihakpihak yang berkepentingan agar memberikan perhatian dan pembinaan kepada wajib pajak agar taat membayar pajak tepat waktu demi ikut serta mendukung suksesnya pembangunan. DAFTAR PUSTAKA Fauzan, M. (2014). Analisis Penerimaan PAJAK penghasilanh Pasal 4 Ayat (2) Sebelum dan Sesudah Penerapan Peraturan Pemerintah Nomormor 46 Tahun 2013 (Studi Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pamekasan). Jurnal Akuntansi Muhammadiyah Universitas Madura, 8(1). Hasanah, U. (2018). Analisis Perbandingan PAJAK PENGHASILAN Tahun 2013 Dan PAJAK PENGHASILAN Tahun 2018 Pada UMKM. Jurnal Manajemen Dan Bisnis Universitas Tjut Nyak Dhien, 6(2), 16–27.
Sabil, et.al Halaman 114 dari 114 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Mardiasmo. (2018). PeRpajakan. Yogyakarta: ANDI. Nomormor 23 Tahun 2018, P. P. R. I. Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Nomormor 99 / PMK.03 / 2018, P. M. K. R. I. Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomormor 23 Tahun 2018 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Pemerintah, P. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomormor 46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. , (2013). Resmi, S. (2016). PeRpajakan: Teori dan Kasus. In 1 (8th ed.). Jakarta: Salemba Empat. Suryani, W., Maslichah, & Junaidi. (2019). Pengaruh Pengalihan PAJAK PENGHASILAN 46 2013 Menjadi PAJAK PENGHASILAN 23 2018 Terhadap Tingkat Pertumbuhan Wajib Pajak UMKM dan Penerimaan PAJAK penghasilanh Pasal 4 Ayat (2) di KPAJAK PENGHASILAN PRATAMA Pasuruan. E-JRA, 8(2), 32–41. Undang-Undang Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomormor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomormor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan. , (2008).
1 Deni W Prasetyo & Imam A Udin Page 1 of 120 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/ The Role Of Individual Characteristics And Labor Characteristics Toward Work Productivity Deni Widyo Prasetyo Imam Ahya Uddin* STIE PGRI Dewantara Jombang *Correspondence: [email protected] Posted: September 2, 2020, Revised: October 15, 2020, Published: November 15, 2020 Abstract This research was conducted to analyze the role of individual characteristics and job characteristics on productivity at PT. Sinar Niaga Sejahtera Mojagung. This type of research was explanatory research with a quantitative approach. The population in this study were 40 employees of PT. Sinar Niaga Sejahtera Mojagung and the samples used in the study were all population. The data used were primary in the form of a questionnaire. The analysis tool was a multiple linear regression with SPSS tools. The results showed that individual characteristics and company characteristics have a role in increasing employee productivity. Keywords: individual characteristics, job characteristics, work productivity A. INTRODUCTION Every organization is required to optimize the management of human resources for the achievement of organizational goals. Employees are one of the organization's main assets and have a strategic role in the organization, namely as thinkers, planners, and control of organizational activities. With this important role, the company must provide the right policies for increasing its employees' work productivity. Sutrisno (2009) states that work productivity is a condition in which employees of a company can work optimally so that the company's results are determined. Therefore, companies must recognize and understand each individual's characteristics and abilities (employee) in the company. Hurriyati (2005) argues that individual characteristics are a psychological process that affects individuals in obtaining, consuming, receiving goods and services, and high experiences to achieve good work results. individual characteristics are a workforce that supports work such as abilities, attitudes, and expertise. Apart from individual characteristics, another thing that also plays a role in improving employee performance is job characteristics. Job characteristic is a model description that shows a job design. The design includes a process that determines the tasks to be carried out, the methods used to carry out this task, and how the work being carried out can be related to other jobs in an organization according to their respective expertise (Rivai, 2005). PT. Sinar Niaga Sejahtera is a company engaged in the snack industry by relying on human labor in its production process. Employees who work so far are skilled and experienced workers. However, there are times when companies use a less skilled and experienced workforce to complete work. This happens especially when the company is chasing a job completion target. The company only provides employees with work guidelines (standard operating procedures) that have been set by the company. This is also supported by the company's condition, which prioritizes the completion of targets at the expense of quality. So that sometimes the work completed by workers is not part of what it should be. Besides, unclear job identities and frequent task changes also lead ISSN : 2654 - 4326 Page 115 - 120
Deni W Prasetyo & Imam A Udin Page 2 of 120 2 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/ to decreased employee productivity. Other things that are thought to have contributed to this situation are the foreman's lack of assertiveness in controlling workers and a lack of motivation and feedback from the leadership on the workers' work. This condition is also supported by individual characteristics, namely the attitude of employees who continue to carry out work even though they are not following their expertise. Employees who work are also considered to lack creativity because they tend to work in old and static ways. This assumption is based on the results of various previous studies that state that individual characteristics and job characteristics contribute to employee work productivity (Eva L, et al., 2014; Ananda, S. S., & Sunuharyo, B. S .; 2018; Setiono, B. A. (2018). Based on the description that has been conveyed, the purpose of this study is to determine and analyze more deeply the role of individual characteristics and job characteristics on employee work productivity. B. LITERATURE REVIEW 1. Employee Productivity Sutrisno (2009) states that work productivity is a condition in which employees of a company can work optimally to achieve the production results as determined by the company. There are several indicators to measure work productivity, among others, expressed by Simamora (2004). First, the quantity of work. This is defined as the results achieved by a certain number of employees compared to existing standards or those set by the company. Second, work quality is a standard related to the quality of a product produced by employees in completing a technical job with a comparison of the company's standards. The third is punctuality. This is defined as an activity completed at the beginning of a predetermined time and can maximize the time available for other activities. Timeliness is measured from employees' perceptions of activity provided initially until it becomes the output. 2. Individual Characteristics According to Jex (2002), individual characteristics are the special characteristics of a person. Humans have individual characteristics that vary from one another. The future of an individual in the organization does not depend on work productivity alone. Managers also use subjective measures that are considerations of what the appraisers perceive as good or bad employee character or behavior will affect the assessment, in this case, according to Hurriyati (2005) that individual characteristics are a psychological process that affects individuals in obtaining, consuming, receive goods and services as well as high experience to achieve good work results. According to the Path-Goal theory expressed by Evans (1970) and House (1971), several indicators measure individual characteristics, among others. First is an ability, namely intellectual ability and physical ability. Intellectual ability is the ability of an individual to perform certain mental activities related to reasoning (inductive/deductive), fluency in expression, oral understanding, etc. The second is attitude. Attitude tends to respond to someone or something in the environment positively or negatively. A person's attitude will be reflected in his behavior tendency in dealing with related environments, such as other people, subordinates, superiors, or the environment. The third is expertise, namely compensation related to the implementation of a task, such as filing documents and expertise related to physicality, including body
Deni W Prasetyo & Imam A Udin Page 3 of 120 3 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/ coordination, stamina, body flexibility, etc. 3. Job Characteristics Job characteristics are a description of a model that shows a job design. This includes the process that determines the tasks to be carried out, the methods used to carry out these tasks, and how the work being carried out can be related to other jobs in an organization according to their respective expertise (Rivai, 2005). Hackman & Oldham (1975) revealed several indicators of job characteristics. First is the variety of skills, namely the number of skills an employee needs to complete a job, using several individual skills and talents. Second is the task's identity, which is a task that can be identified by looking at the involvement and opportunities of employees in carrying out work. The third is the significance of tasks, namely the importance of a job and a substantial impact on others' life or work, both within the scope of the internal and external organization. This includes interests for the organization, interests for other parties, and influence for other parties. The fourth is the autonomy of duties, namely the freedom given to individual workers, substantially, independence and discretion to plan work and determine the procedures used to complete it. And lastly is feedback, namely the level of implementation of activities to obtain clear and fast input from a job by individuals, so that clear information is obtained about the effectiveness of its performance. Based on the theoretical basis and previous research that has been submitted, the hypotheses proposed in this study are: H1 : It is assumed that individual characteristics have a significant effect on the work productivity of PT employees. Sinar Niaga Sejahtera Mojoagung. H2 : It is assumed that job characteristics have a significant effect on the work productivity of PT employees. Sinar Niaga Sejahtera Mojoagung. C. RESEARCH METHOD Research conducted at PT Sinar Niaga Sejahtera was explanatory with a quantitative approach, namely the type of research that explains the relationship between variables through hypothesis testing, formulated as explanatory research (Singarimbun and Effendi; 2006). This case is to determine the effect of individual characteristics and job characteristics on employee work productivity. So in this study, it is stated that the independent variables are individual characteristics (X1) and job characteristics (X2), and the dependent variable is employee work productivity (Y). The research subjects or population in this study were employees of the production department at PT. Sinar Niaga Sejahtera Mojoagung, Jombang Regency, totaling 40 people. The sample taken is the entire population, so it is called a saturated sample. Sugiyono and Hair (1998) said that if the number of research subjects is less than 100, it is better to take all of them so that the research is a population study. Research objects are individual characteristics, job characteristics, and employee productivity. The data used were primary data that came from questionnaires distributed to employees. The questionnaire contains several statements containing answer options ranging from very positive to very negative. The measurement scale uses a Likert scale 5 (five). Furthermore, the data is tested for validity through validity and reliability tests. From the test results, all data were declared valid. It was feasible to carry out the next stage of data processing, namely using multiple linear regression analysis, which was processed using SPSS. Testing using multiple linear regression is carried out after testing the Classical Assumption Test, Normality Test, Multicollinearity Test, Autocoleration Test, and Heteroscedasticity Test. The t-test
Deni W Prasetyo & Imam A Udin Page 4 of 120 4 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/ is carried out with the required significance level of 5% to test the hypothesis. D. RESULTS AND DISCUSSION From the results of the descriptive analysis of the individual characteristics variable (X1), it can be seen that as a whole, it has a total average of 3.32. This falls under sufficient criteria. The highest rank is in the statement that they can work under pressure. Besides, respondents also stated that they could not finish their work on time. Meanwhile, from the descriptive analysis of the job characteristics variable (X2), it can be seen that as a whole, it has a total average of 3.30. This also falls within the criteria of being sufficient. For the results of the descriptive analysis of work productivity (Y), work productivity has an average score of 2.44, including low criteria, meaning that work productivity has not met the predetermined quantity of work, less able to provide an increase in better work results, and the lack of maintaining punctuality for the sake of perfection of work results. Furthermore, to determine the relationship between variables and to predict the results of the effect of the independent variable on the dependent variable, multiple linear regression analysis was carried out with the following results: Table 1: Multiple linear regression analysis Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Std. Error Beta T Sig. 1 (Constant) 7,669 3,232 2,373 ,023 Individual ,717 ,195 ,306 3,674 ,001 Job 2,017 ,243 ,690 8,298 ,000 a. Dependent Variable: productivity source: primary data (2019) Based on the results of the regression analysis in the table above, the following equation is obtained: Y = 7,669 + 0.717 X1 + 2,017 X2 From the regression equation, it can be interpreted that there is a positive and significant relationship between individual characteristics and job characteristics with employee work productivity. This means that the better the individual characteristics and the clearer the job characteristics, the employee work productivity increases. Furthermore, to test the hypothesis that has been proposed, the T-test is carried out. In this test, a significance level of 5% is set. If the sig value is more than 5%, the hypothesis is rejected, but the sig value. Less than 5%, then the hypothesis is accepted. From data processing, the following results were obtained: Table 2: Test Results - T No Variabel T Sig 1 Individual characteristics, 3,674 0,001 2 job characteristics 8,298 0,000 Source: primary data (2019)
Deni W Prasetyo & Imam A Udin Page 5 of 120 5 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/ From table 2 (two) above, it appears that the significance value is smaller than required (5%), so that it can be concluded that all of the proposed hypotheses can be accepted. This means that individual characteristics have a positive and significant effect on employee performance. Likewise, job characteristics have a positive and significant effect on employee performance. To determine the magnitude of the influence of the independent variable on the dependent variable, the coefficient of determination (R2) was tested with the following results: Table 3: Coefficient of Determination (R2) Model R R square Adjusted R square Std. Error of the estimasi Durbinwatson 1 ,860a ,739 ,725 1,781 1,804 a. Predictors: (Constant), Job char, individual Char b. Dependent Variable: work productivity Source: Primary data (2019) From the table above, it is obtained the R-Square value of 0.739. This value means that 74% of the variability regarding Work Productivity at PT. Sinar commercial prosperity can be explained by the independent variables in the model (individual characteristics and job characteristics), while the remaining 26% is influenced by other variables not present in this study. Based on the analysis, results show that individual characteristics contribute to employees' work productivity at PT. Sinar commercial prosperous mojoagung jombang. This can be proven from the respondents' statements regarding individual characteristics, which fall into the sufficient category. This means that respondents realize that they have not maximized the use of their abilities and skills. So that this also contributes to the assessment of employee work productivity, which shows low scores. Productivity and individual characteristics have a close relationship; when employees work productively, they can make a big contribution to the company and generate big profits. So there is a unidirectional relationship, namely, the better the individual characteristics, the better the employee's work productivity. This is following the results of previous research, which states that there is a positive and significant influence between individual characteristics on work productivity (Eva L, et al., 2014; Ananda, SS, & Sunuharyo, B. S.; 2018; Sultraeni, W, 2018 ) Job characteristics are also proven to contribute to the work productivity of employees at PT. Sinar commercial prosperous mojoagung jombang. This can be proven from the respondents' answers to the questionnaire, which stated that employees gave sufficient appraisals to their statements. This can be interpreted that the employee has not worked optimally. This means that employees do not fully understand the division of work, responsibilities that have not been fully resolved, and employees have not received an evaluation of their work. This is what causes low employee productivity. From the research results, the descriptive analysis of employees' work productivity falls into the poor category. Job characteristic is a model description that shows a job design. The design includes a process that determines the tasks to be carried out, the methods used to carry out this task, and how the work being carried out can be related to other jobs in an organization according to their respective expertise (Rivai, 2005). This is following the
Deni W Prasetyo & Imam A Udin Page 6 of 120 6 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/ results of previous research, which states that there is a positive and significant influence between job characteristics on work productivity (Eva L, et al., 2014; Ananda, SS, & Sunuharyo, B. S.; 2018; Sultraeni, W, 2018; Setiono, BA (2018). E. CONCLUTION Based on the research and discussion results above, it can be concluded that individual characteristics and job characteristics are proven to have a significant effect on employee work productivity at PT. Sinar Commerce is . The better the individual and job characteristics, the better the employee's work productivity. With the above conclusions, it is suggested to PT. Sinar Niaga Sejahtera should pay more attention and guide matters related to individual characteristics and job characteristics, such as increasing employees' abilities and skills, giving clear main tasks and functions, and motivation from the leadership (foreman) and still prioritizing quality even though deadlines are being pursued time. For other researchers who are interested in developing this research, they can add other variables that have not been studied, including work discipline and leadership style, so that it is hoped that the results of future studies will be more perfect. BIBLIOGRAPHY Ananda, S. S., & Sunuharyo, B. S. (2018). Pengaruh Karakteristik Individu Dan Karakteristik Pekerjaan Terhadap Kinerja Karyawan Dengan Variabel Mediator Motivasi Kerja Karyawan (Studi Pada Karyawan PT Petrokimia Gresik). Jurnal Administrasi Bisnis, 58(1), 67-76. Bangun, W. (2006). pengaruh karakteristik pekerjaan terhadap kepuasan kerja dan komitmen organisasi serta dampaknya pada produktivitas kerja karyawan . Hackman, J. R., & Oldham, G. R. (1975). Development of The Job Diagnostic. Hanafiah, M. A., Rasyid, W., & Purwoko, A. (2013). Hubungan karakteristik motivasi terhadap produktivitas kerja. Jackson, E. 1. (1996). Manajemen Sumber Daya Manusia Menghadapi. Rivai, V. (2005). Manajemen Sumberdaya Manusia untuk Perusahaan: Dari Teori ke Praktik. Murai Kencana. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Sutrisno, Edi. 2009. Managemen sumber daya manusia edisi pertama. Jakarta: kencana prenada media group Hurriyati, Ratih (2005) managemen sumber daya manusia, bandung Alfabeta Rivianto (1991), managing human resaurce, productivity, quality of work life, 5th jakarta Edy , sutrisno (2011). Managemen sumber daya manusia. Penerbit: jakarta, kencana Serdamayanti, M.pd,. APU, 2009, sumber daya manusia dan produktivitas kerja, bandung : penerbit mandar maju Simamora, henry, 2004. Managemen sumber daya manusia. Yogyakarta: STIE YKPN. Jex, steve M. 2002. Organizational psycology: A scientis-prationer APPROACH jhon wily and sons inc. Peoni, herianus, 2014. Pengaruh karakteristik individu dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan manado. Skripsi ilmu administrasi bisnis. Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas lampung. Universitas sam ratulagi, manado. R.J. house, “A path-goal theory of leader effectiveness, “ admnistrative science quarterly 16” Ghozali, Imam. 2012. Aplikasi Analisis Multivariate dengan progam IBM SPSS, Yogyakarta: universitas Diponegoro. Setiono, B. A. (2018). Pengaruh Budaya Organisasi, Karakteristik Individu, Karakteristik Pekerjaan Terhadap Kinerja Karyawan PT. Pelindo III Surabaya. Jurnal Aplikasi Pelayaran dan Kepelabuhanan, 6(2), 128-146.
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 121 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Pengaruh Fasilitas, Transportasi Dan Akomodasi Terhadap Kepuasan Wisatawan Dikabupaten Semarang Nunuk Supraptini1 , Andhi Supriyadi2* Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI, STIE PARI Semarang Korespondensi*: [email protected] Dikirim: 16 Oktober 2020, Direvisi: 30 November 2020, Dipublikasikan: 13 Desember 2020 Abstract Tourism in Semarang district growth by availability of facilities, transportation and accommodation in every tourism objects. To fulfill satisfaction of traveller and to invite more of traveller, tree of the variable were needed. This research discussed the effects of facilities, transportation and accommodation to satisfy of traveller. Kottler (2005) facility is physically equipment which provided by service seller to customer’s comfortable. Fidel Miro (2005) transportation is to move or shift object from one to other location by transportation equipment and accommodation is goods which provided to fulfill someone need while traveller. This research do descriptive quantitative on associative research. There 100 of traveller be respondents, used questioner to collect data. Validity and reliability test use as instruments test. Simple correlation and multiple, simple linear regression and multiple, determination (adjusted R square) t test and F test used for analytical technique. The Result show that facilities, transportation and accommodation able to descript of tourism satisfaction on tourism object at Semarang district. By t test of facilities, transportation and accommodation positively effect and significant to tourism satisfaction. By F test shown that facilities, transportation and accommodation positively effect to tourism satisfaction Key words : facilities, transportation, accommodation and tourism satisfaction. Abstrak Pariwisata di Kabupaten Semarang dapat berkembang karena ketersediaan akan fasilitas, transportasi dan akomodasi di setiap obyek wisata. Agar kepuasan wisatawan dapat diwujudkan dan dapat mengundang wisatawan lebih banyak lagi, ketiga variable tersebut diperlukan. Dalam penelitian ini permasalahan yang diangkat adalah adakah pengaruh fasilitas, transportasi dan akomodasi terhadap kepuasan wisatawan yang datang berkunjung. Kotler (2007) menyatakan fasilitas adalah segala sesuatu yang bersifat peralatan fisik yang disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung kenyamanan konsumen. Fidel Miro (2005) mengatakan transportasi merupakan usaha untuk memindahkan atau menggerakkan objek dari suatu lokasi ke lokasi yang lain dengan menggunakan alat tertentu dan akomodasi adalah segala sesuatu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan seseorang ketika berwisata. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Responden sebanyak 100 orang wisatawan, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk uji instrumen. Korelasi sederhana dan berganda, regresi linier sederhana dan berganda, determinasi (adjusted R square), uji t dan uji F digunakan untuk teknik analisa. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa variabel fasilitas, transportasi dan akomodasi dapat menjelaskan kepuasan wisatawan terhadap obyek wisata di Kabupaten Semarang. Dari uji t atas variabel fasilitas, transportasi dan akomodasi diperoleh bahwa variabel fasilitas, transportasi dan akomodasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. ISSN : 2654 - 4326 Halaman 121 - 131
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 122 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Untuk uji F diperoleh bahwa fasilitas transportasi dan akomodasi bersama sama berpengaruh positif terhadap kepuasan wisatawan Kata kunci : Fasilitas , Transportasi, Akomodasi dan Kepuasan wisatawan A. Pendahuluan Sektor pariwisata menjadi semakin penting untuk perkembangan daerah dan perekonomian karena sektor ini dapat memberikan kontribusi kepada pendapatan daerah. Sektor pariwisata menumbuhkan perekonomian melalui terciptanya dan adanya peluang kesempatan kerja sehingga dapat mengurangi kemiskinan. Kabupaten Semarang dengan kekayaan alam dan budayanya berupaya menjadi salah satu prioritas tujuan wisata. Hal itu terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan sampai tahun 2019 sebesar 10%. Peningkatan ini terus diupayakan dengan pertemuan agen perjalanan wisata Jawa –Bali guna mendukung pencapaian jumlah frekwensi kunjungan dan bertambahnya jumlah wisatawan. Fasilitas yang tersedia menjadi faktor pertama dalam penelitian ini, menurut Sammeng (2001), salah satu hal yang penting dalam pengembangan pariwisata adalah melalui fasilitas. Fasilitas wisata berpengaruh dalam persepsi dan harapan konsumen. Penambahan fasilitas diharapkan dapat menambah minat wisatawan untuk berkunjung, sehingga perlu kiranya diperhatikan fasilitas yang meliputi agen perjalanan, pusat informasi, fasilitas kesehatan, pemadam kebakaran, hydrant, TIC (Tourism Information Center), guiding (pemandu wisata), papan informasi. Penelitian yang dilakukan Gretzel,et al., (2014) di Illionis Amerika didapatkan bahwa pelayanan personal pariwisata merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan volume jumlah wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata dan dikuatkan oleh penelitian dari Bursan (2014) dimana obyek wisata dan sarana prasarana wisata berpengaruh terhadap kepuasan wisatawan Faktor jarak dan waktu sangat berpengaruh pada keinginan orang untuk melakukan perjalanan wisata. Di sini peran transportasi menjadi sangat penting dalam sistem kepariwisataan, transportasilah yang membawa wisatawan dari asal wisatawan menuju tujuan wisatawan. Berdasarkan kondisi geografi, Kabupaten Semarang merupakan daerah berbukit bukit dan lokasi tujuan wisata yang terpencar. Hal ini membuat faktor transportasi menjadi bagian penting. Penelitian yang dilakukan oleh Sudiarta (2015) di Desa Sarangan Bali mendapatkan bahwa akses transportasi dapat meningkatkan perkembangan wisata dan peningkatan jumlah wisatawan karena akses menjadi semakin mudah dan biaya yang menjadi semakin murah. Dan yang harus diperhatikan adalah alat-alat pendukung yang digunakan untuk proses transportasi harus cocok dan sesuai dengan objek, jarak, dan maksud objek, baik dari segi kualitasnya maupun dari segi kualitasnya (Fidel Miro, 2005). Faktor akomodasi juga menjadi pertimbangan wisatawan ketika membuat keputusan untuk mengunjungi suatu lokasi wisata karena akomodasi berkaitan dengan ketersediaan akan tempat. Setzer Munavizt (2009), mengatakan bahwa akomodasi dapat berupa tempat menginap, beristirahat, makan, minum, mandi. Akomodasi biasanya disediakan oleh agen trevel dan dipilihkan yang berdekatan dengan lokasi serta disesuaikan dengan tarif wisatanya. Sirait (2015) akomodasi/penginapan adalah tempat untuk menginap atau beristirahat dengan fasilitasnya. Jika fasilitas, transportasi dan akomodasi
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 123 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 semakin baik maka akan menambah kepuasan bagi wisatawan. Hal ini sesuai dengan pendapat ( Gatut L Budiono ), Kepuasan wisatawan adalah, keberhasilan suatu kegiatan pariwisata yang sangat ditentukan oleh tingkat kualitas pelayanan yang diberikan kepada wisatawan. Menurut Zeithaml, et al. (2006) kepuasan konsumen dapat di definisikan sebagai evaluasi pelanggan dari produk atau jasa telah memenuhi kebutuhan pelanggan dan ekspektasi konsumen. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh fasilitas, transportasi dan akomodasi secara parsial maupun simultan berpengaruh tehadap kepuasan wisatawan di Kabupaten Semarang. B. TINJAUAN TEORI Konsep Pengertian Pariwisata Kata “pariwisata” untuk pertama kali diusulkan oleh bapak Prof. Priyono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di zaman Presiden Soekarno. Pada Munas Tourisme II di Tretes, Jawa Timur pada tanggal 12-14 juni 1958. sebelumnya untuk menyatakan pariwisata digunakan kata “Tourisme”, sementara secara etimologi kata “pariwisata” berasal dari kata sansekerta yaitu kata pari dan wisata, masing-masing mempunyai arti (Pitana dan Diarta, 2009): Pari berarti banyak, berkali, berputar-putar dan Wisata berarti perjalanan, berpergian. Menurut pendapat dari Spillane (1987: 25) mengemukakan bahwa pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas. Konsep Perilaku Wisatawan Hasan (2013), dan Amirullah (2002) menjelaskan bahwa kekuatan yang mempengaruhi keputusan membeli atau menggunakan jasa konsumen dapat dibagi dua kekuatan, yaitu: a) kekuatan internal, seperti pengalaman belajar, kepribadian dan konsep diri, motivasi dan keterlibatan, sikap dan keinginan; b) kekuatan eksternal, seperti: faktor budaya, sosial, lingkungan dan bauran pemasaran. Konsep Kepuasan Wisatawan Kepuasan pelanggan tidak mudah didefinisikan. Ada berbagai macam pengertian yang di berikan oleh para ahli (Tjiptono , 2012): Day dalam Tse dan Wilton (1988:204), kepuasan pelanggan adalah respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang di rasakan anatara harapan sebelumnya ( atau norma kinerja lainnya ) dan kinerja actual produk yang di rasakan setelah pemakaiannya. Kotler (2000), kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan di bandingkan dengan harapannya. Menurut Sunarto (2003), kepuasan pelanggan merupakan perasaan senang atau kecewa setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 124 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 kinerja/harapan.Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika melebihi harapan, pelanggan amat puas. PJ. Johnson dalam Purwoko (2000) mengemukakan kepuasan seorang pelanggan dapat terlihat dari tingkat penerimaan pelanggan yang didapatkan. C. Metode Penelitian Metode deskriptif kuantitatif digunakan dalam penelitian dengan jenis penelitian asosiatif. Data primer diperoleh dari wisatawaan yang berkunjung dilokasi wisata Kabupaten Semarang berjumlah 100 orang wisatawan, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Variable fasilitas, transportasi, akomodasi sebagai variable bebas, sedangkan variable terikatnya adalah kepuasan wisatawan. Uji validitas dan reliabilitas digunakan sebagai uji instrumen. Teknik analisa data menggunakan korelasi sederhana dan berganda, regresi linier sederhana dan berganda, determinasi (adjusted R square), uji t dan uji F. D. Hasil Penelitian dan Pembahasan Korelasi Sederhana Tabel 1. Hasil Perhitungan Analisis Korelasi Sederhana Variabel Koefisien Korelasi Pearson terhadap Variabel Kepuasan Wisatawan Signifikansi Keterangan Fasilitas (X1) 0,830 0,000 Sangat Kuat Transportasi (X2) 0,716 0,000 Kuat Akomodasi (X3) 0,672 0,000 Kuat Dari Tabel 1 dapat diketahui nilai korelasi sederhana variabel fasilitas adalah 0,830 dengan kriteria hubungan sangat kuat, transportasi adalah 0,716 dengan kriteria hubungan kuat dan akomodasi adalah 0,672 dengan kriteria hubungan kuat terhadap kepuasan wisatawan. Korelasi Berganda Table 2. Analisis Korelasi Berganda Variabel Koefisien Korelasi Pearson terhadap Variabel Kepuasan Wisatawan Keterangan fasilitas (X1) dan transportasi (X2) 0,859 Sangat Kuat fasilitas (X1) dan akomodasi (X3) 0,848 Sangat Kuat transportasi (X2) dan akomodasi (X3) 0,806 Sangat Kuat fasilitas (X1), transportasi (X2), dan akomodasi (X3) 0,872 Sangat Kuat
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 125 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Pada Table 2 di atas didapatkan nilai korelasi berganda sebesar 0,872 yang diartikan semua variabel secara simultan memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap kepuasan wisatawan Regresi Linier Sederhana variable Fasilitas Tabel 3. Hasil Analisis Regresi linier sederhana variabel Fasilitas. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s B Std. Error Beta t Sig. (Constant) 1 4.938 .864 5.717 .000 X1 .727 .049 .830 14.729 .000 Dari model analisis regresi sederhana didapatkan koefisien regresi untuk variabel fasilitas sebesar 0,727 dan bertanda positif. Diartikan adanya pengaruh positif antara variabel fasilitas terhadap kepuasan wisatawan Regresi Linier Sederhana variable Transportasi Tabel 4. Analisis Regresi Linier Sederhana Variabel Transportasi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardi zed Coefficie nts B t Sig. Std. Error Beta 1(Const ant) 5.401 1.202 4.492 .000 X2 .677 .067 .716 10.155 .000 Dari model analisis regresi sederhana didapatkan bahwa koefisien regresi untuk variabel transportasi sebesar 0,677 dan bertanda positif. Diartikan adanya pengaruh positif antara variabel transportasi terhadap kepuasan wisatawan.
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 126 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Regresi Linier Sederhana variable akomodasi Tabel 5. Analisis Regresi Linier Sederhana Variabel Akomodasi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardize d Coefficient s B Std. Error Beta t Sig. 1(Consta nt) 9.182 .944 9.730 .000 X3 .509 .057 .672 8.978 .000 Dari model analisis regresi sederhana didaptakan bahwa koefisien regresi untuk variabel akomodasi sebesar 0,509 dan bertanda positif. Diartikan adanya pengaruh positif antara variabel akomodasi terhadap kepuasan wisatawan. Regresi Berganda Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficien ts B t Sig. Std. Error Beta 1(Consta nt) 2.566 .899 2.855 .005 X1 .451 .068 .515 6.665 .000 X2 .260 .064 .275 4.089 .000 X3 .153 .050 .202 3.061 .003 Y = 2,566 + 0,451 X1 + 0,260 X2 + 0,153 X3+ ε a. Koefisien regresi konstanta 2,566 artinya apabila variabel bebas dalam hal ini Fasilitas, Transportasi dan Akomodasi dianggap tetap maka nilai variabel terikat yaitu Kepuasan Wisatwan sebesar 2,566. b. β1 (Nilai Koefisien regresi X1) variabel Fasilitas diketahui sebesar 0,451 dan bernilai positif berarti semakin tinggi tingkat Fasilitas yang diberikan maka semakin meningkatnya Kepuasan Wisatawan. c. β2 (Nilai Koefisien regresi X2) variabel Transportasi diketahui sebesar 0,260 dan bernilai positif berarti semakin baik transportasi yang diberikan maka semakin meningkatnya Kepuasan Wisatawan. d. β3 (Nilai Koefisien regresi X3)variabel Akomodasi diketahui sebesar 0,153 dan bernilai positif berarti semakin baik akomodasi yang diberikan maka semakin meningkatnya Kepuasan Wisatawan.
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 127 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Determinasi (Adjusted R Square) Tabel 7. Uji Determinasi R Square Model Summary M od el R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .872a .760 .753 1.379 a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1 Perhitungan regresi mendapatkan bahwa koefisien determinasi (adjusted R2 ) yang diperoleh sebesar 0,760. Hal ini berarti 76 % Kepuasan Wisatawan dapat dijelaskan dari 3 variabel yang terdiri dari Fasilitas, Transportasi dan Akomodasi . Sedangkan sisanya 24 % dipengaruhi oleh variabel yang lain. Uji Hipotesis Uji t (Parsial) Tabel 8. Hasil Uji Hpotesis Parsial (Uji t) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardize d Coefficient s t Sig. B Std. Error Beta 1 (Consta nt) 2.566 .899 2.855 .005 X1 .451 .068 .515 6.665 .000 X2 .260 .064 .275 4.089 .000 X3 .153 .050 .202 3.061 .003 Pengujian Hipotesis 1 (Ada pengaruh Fasilitas terhadap Kepuasan Wisatawan Hasil pengujian pengaruh Fasilitas (X1) terhadap Kepuasan Wisatawan diperoleh nilai t = 6,665 > t tabel sebesar 1,985 dengan signifikansi (p < 0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, didapatkan bahwa hipotesis H1 diterima sedangkan Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa Fasilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Pengujian Hipotesis 2 (Ada pengaruh Transportasi terhadap Kepuasan Wisatawan) Hasil pengujian pengaruh Transportasi (X2) terhadap Kepuasn Wisatawan diperoleh nilai t = 4,089 > t tabel sebesar 1,985 dengan signifikansi (p < 0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperoleh bahwa hipotesis H2 diterima sedangkan Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa Transportasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan.
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 128 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Pengujian Hipotesis 3 Hasil pengujian pengaruh Akomodasi (X3) terhadap kepuasan wisatawan diperoleh nilai t = 3,061 > t tabel sebesar 1,985 dengan signifikansi (p < 0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperoleh bahwa hipotesis H3 diterima sedangkan Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa Akomodasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Uji F Statistik Untuk menguji model regresi dari pengaruh variabel bebas secara bersama-sama diuji dengan menggunakan uji F. Table 9. Hasil Uji Hipotesis Simultan (Uji F) ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1Regressi on 580.069 3 193.356 101. 610 .000b Residual 182.681 96 1.903 Total 762.750 99 Uji statistik F digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel bebas (Fasilitas, Transportasi, Akomodasi ) yang dimasukkan dalam model secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat (Kepuasan wisatawan ). Untuk menguji apakah model linier tersebut sudah tepat atau belum, maka dilihat dengan membandingkan probabilitas dari hasil perhitungan uji F. Jika menunjukkan nilai probalitas < 0.05 maka model dalam regresi tersebut merupakan model yang Fit. Dengan melihat hasil di atas nilai F hitung sebesar 101,610 > F Tabel sebesar 2,70 dengan signifikansi 0,000 < 0.05 sehingga dapat dikatakan bahwa hasil uji menunjukkan model yang fit (Goodness of Fit). Pembahasan Dari hasil penelitian didapatkan bahwa hipotesis H1 diterima dapat diartikan bahwa ada pengaruh Fasilitas (X1) terhadap Kepuasan wisatawana diperoleh nilai t hitung t = 6,665 > t tabel sebesar 1,985 dengan signifikansi (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa Fasilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Hasil penelitian ini menguatkan penelitian yang dilakukan oleh Munggar (2013) dan Nugraha (2013) yang mendapatkan bahwa adanya pengaruh secara parsial yang signifikan antara fasilitas wisata terhadap kepuasan konsumen. Dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa fasilitas yang maksudkan oleh wisatawan untuk mendapatkan kepuasan adalah adanyat fasilitas yang lengkap, dengan kondisi yang bersih dan terawat. Tak kalah pentingnya adalah terdapatnya fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan atau mengakomodir kegiatan-kegiatan wisatawan di dalam objek wisata. Dilihat secara menyeluruh fasilitas yang tedapat di obyek wisata di Kabupaten Semarang memnuhi kriteria diatas, sehingga kebutuhan wisatawan
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 129 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 yang datang dan berkunjung dapat terpenuhi dan berimbas dengan adanya kepuasan wisatawan. Dari penelitian didapatkan bahwa H2 diterima artinya ada pengaruh Transportasi (X2) terhadap Kepuasan Wisatawan diperoleh nilai t hitung t = 4,089 > t tabel sebesar 1,985 dengan signifikansi (p < 0,05). Hal ini berarti bahwa Transportasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Hasil penelitian ini bersesuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudiarta (2015) di Desa Sarangan Bali, yang mendapatkan bahwa akses transportasi dapat mengembangkan wisata serta penambahan jumlah wisatawan, hal ini dikarenakan akses menuju objel wisata menjadi semakin lancar dan biayanya semakin murah. Hal ini juga berdampak positif ini terhadap ekonomi masyarakat dengan munculnya kafe-kafe dan pusat pembelanjaan. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk menambah jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata di Kabupaten Semarang, salah satunya dengan memperbaiki sistem transportasi dengan perbaikan jalan, penambahan angkutan umum dan perluasan lahan parkir. Dari penelitian didapatkan H3 diterima artinya ada pengaruh Akomodasi (X3) terhadap Kepuasan Wisatawan diperoleh nilai t hitung t = 3,061 > t tabel sebesar 1,985 dengan signifikansi (p < 0,05). Hal ini berarti bahwa Akomodasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Hasil penelitian ini membenarkan penelitian yang dilakukan oleh Sirait (2015). Dimana akomodasi/penginapan adalah tempat dimana wisatawan dapat menginap maupun beristirahat dengan penyediaan fasilitas yang baik dengan pelayanan makanan dan minuman maupun maupun tanpa pelayan. Adanya sarana akomodasi ini, mendorong wisatawan untuk berkunjung dan menikmati objek dan daya tarik wisata dalam waktu yang relatif lebih lama. Informasi akomodasi ini berpengaruh pada penilaian wisatawan terhadap pilihan jenis akomodasi yang akan dipilih, seperti jenis fasilitas dan pelayanan, tingkat harga, jumlah kamar yang tersedia dan sebagainya.Wisatawan yang datang dan berkunjung ke suatu objek wisata, menginginkan dapat menikmati perjalanan wisatanya, dalam hal ini pelayanan akan makanan dan minuman menjadi kebutuhan penting bagi wisatawan yang tidak membawa bekal. Penambahan akomodasi di disetiap obyek wisata, tersedianya hotel, guest house, motel dan berbagai jenis penginapapan menjadi suatu indikator bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan. Dari penelitian didapatkan pengaruh fasilitas (X1), transportasi (X2), dan akomodasi (X3) terhadap Kepuasan wisatawan (Y) dengan nilai F hitung sebesar 101,610 > F tabel sebesar 2,70 dengan signifikansi 0,000 < 0.05, dapat dikatakan bahwa fasilitas (X1), transportasi (X2), dan akomodasi (X3) berpengaruh positif terhadap Kepuasan wisatawan (Y) Menurut Zeithaml, et al. (2006), mendefinisikan kepuasan konsumen sebagai evaluasi pelanggan pada produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dan ekspektasi konsumen. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen diasumsikan sebagai ketidakpuasan atas
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 130 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 layanan produk atau jasa. Pada dasarnya, kepuasan dan ketidak puasan konsumen atas produk atau jasa akan mempengaruhi pada pola perilaku selanjutnya (Lupiyoadi,2013). Apabila konsumen merasa puas, mereka besarnya kemungkinan kembali membeli produk atau jasa yang sama. Dengan adanya penambahan dan perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah daerah, dalam hal ini dengan perbaikan dan penambahan sarana dan prasarana fasilitas umum, akses transportasi yang semakin mudah serta tersedianya berbagai macam akomodasi yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen diharapkan akan mempengaruhi peningkatan jumlah pengunjung serta kepuasan yang dirasakan oleh wisatawan. D. PENUTUP Dari hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: Hasil korelasi antara fasilitas (X1) dengan kepuasan wisatawan (Y) dengan nilai koefisien korelasi 0,830 dan signifikansi 0,000 <0,005 ada hubungan sangat kuat antara fasilitas dengan kepuasan wisatawan, nilai regresi Y = 4,938+0,727X1+ε menunjukan nilai positif, Hasil uji t parsial H1 t hitung =6,665 > 1,985 t tabel dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Artinya Fasilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Hasil korelasi antara Transportasi (X2) dengan Kepuasan wisatawan (Y) dengan nilai koefisien korelasi 0,716 dan signifikansi 0,000 <0,005 ada hubungan kuat antara Transportasi, dengan Kepuasan wisatawan, nilai regresi (Y) Y = 4,938+0,677+ε menunjukan nilai positif, Hasil uji t parsial H2 t hitung = 4,809 > 1,985 t tabel dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Artinya Transportasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Hasil korelasi antara akomodasi (X3) dengan kepuasan wisatawan (Y) dengan nilai koefisien korelasi 0,672 dan sinifikansi 0,000 <0,005 ada hubungan kuat antara akomodasi dengan kepuasan wisatawan, nilai regresi (Y) Y = 4,938+0,509+ε menunjukan nilai positif, Hasil uji t parsial H3 t hitung = 3.061 > 1,985 t tabel dengan signifikansi 0,003 (p < 0,05). Artinya Akomodasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Wisatawan. Hasil koefisien Determinasi (adjusted R2 ) diperoleh nilai 0,760 berarti 76% kepuasan wisatawan dipengaruhi oleh variabel fasilitas, transportasi dan akomodasi sedangkan sisanya 24% dipengaruhi variabel lain. Hasil Uji F menunjukkan bahwa variabel bebas (fasilitas, transportasi dan akomodasi) yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat (kepuasan wisatawan), menunjukkan nilai probalitas < 0.05. Dengan hasil nilai F hitung 101.610> F Tabel 2,70 dengan signifikansi 0,000 < 0.05 sehingga dapat dikatakan bahwa hasil uji menunjukkan model yang fit (Goodness of Fit).
Nunuk Supraptini & Andhi Supriyadi Halaman 131 dari 131 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Daftar Pustaka. Bursan, Rinaldy. 2006. “Analisis Pengaruh Dimensi Wisata Terhadap Loyalitas Wisatawan; Studi Kasus di Provinsi Lampung”. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 3 nomor 1. Fidel Miro. 2005. Perencanaan Transportasi.Padang: Erlangga. Gatut L Budiono,2010, KepuasanWisatawan. ANDI , Yogyakarta. Gretzel,et al., 2014, Pelayanan Personal Pariwisata. Birmingham, AL: Legal Classics Library Freundlien. Kotler. 2007 “ Manajemen Pemasaran Edisi 12, Jilid 1” Jakarta: Penerbit PT. Indeks. Lupiyoadi, Rambat. (2013), Manajemen Pemasaran Jasa. Jakarta : Salemba Empat Munggar, Pinkan Nidya Putri. (2013). Kontribusi Fasilitas Wisata terhadap Kepuasan Wisatawan di Wana Wisata Ranca Upas Kabupaten Bandung. Antologi Manajemen Resort and Leisure Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, 1 (1) : 1 39. Nugraha, Sabila Mualina. (2013). Pengaruh Fasilitas Wisata terhadap Tingkat Kepuasan Berkunjung di Kawasan Wisata Situ Gede Kota Tasikmalaya. Antologi Manajemen Resort and Leisure Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. 1 (2) : 1-12. Sammeng, Andi Mappi. 2001. Cakrawala Pariwisata. Jakarta:Balai Pustaka. Setzer Munavizt 2009,PengertianAkomodasi,GramediaPustakaUtama, Jakarta. Simamora, Bilson. (2004), Riset Pemasaran (falsafah, teori dan aplikasi). Jakarta : Gramedia Sirait SM. 2015. Kajian Daya Dukung Lingkungan Kegiatan Wisata Bahari di Resort Pengelolaan Wilayah Pulau Harapan Taman Nasional Kepulauan Seribu [Tesis]. Bandung (ID): Universitas Padjajaran Sudiarta, M., 2005, “Dampak Fisik, Ekonomi, Sosial Budaya Terhadap Pembangunan Pariwisata di Desa Serangan Denpasar Bali”, Jurnal Manajemen Pariwisata Vol.4 no. 2, pp. 111- 129. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Zeithaml, Valerie A, Mary Jo Bitner, Dwayne D Gremler. (2006), Services Marketing : Integrating Customer Focus Across the Firm (4th edition). Singapore : Mcgraw Hill. .
Indra Kurniawan Halaman 132 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Pengaruh Orientasi Kewirausahaan, Orientasi Pasar, Lingkungan Eksternal Bisnis dan Kapasitas Penyerapan Terhadap Kinerja Bisnis Indra Kurniawan STIE PGRI Dewantara Jombang Korespondensi: [email protected] Dikirim: 12 Oktober 2020, Direvisi: 30 November 2020, Dipublikasikan: 13 Desember 2020 Abstract The purpose of this study was to determine and explain whether entrepreneurial orientation, market orientation, external environment and performance delivery capacity had a significant effect on business performance, using this type of quantitative research with an explanatory research approach, with respondents in this study being actors/ owners / managers of SME sector decision makers. However, the results of this study indicate that Entrepreneurship Orientation has a significant effect on Business Performance, the Entrepreneurship Orientation variable has a significant effect on Market Orientation.The Entrepreneurial Orientation variable has a significant effect on Absorption Capacity, the Entrepreneurial Orientation variable has a significant effect on the External Business Environment, the Market Orientation variable has a significant effect on Performance, Variables Absorption Capacity, has no significant effect on Business Performance. Business External Environment Variables have a significant effect on Business Performance. Keywords: Entrepreneurship Orientation, Market Orientation, Business External Environment and Absorption Capacity, Business Performance. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan apakah orientasi kewirausahaan, orientasi pasar, lingkungan eksternal dan kapasitas penyerahan kinerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis, menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatory research, dengan responden dalam penelitian ini adalah pelaku/pemilik/manajer pengambil keputusan UKM sektor kerajinan, hasil penelitian ini menujukan Orientasi Kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis, variabel Orientasi Kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap Orientasi Pasar Variabel Orientasi Kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap Kapasitas Penyerapan, Variabel Orientasi Kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap Lingkungan Eksternal Bisnis, Variabel Orientasi Pasar berpengaruh signifikan terhadap Kinerja, Variabel Kapasitas Penyerapan, berpengaruh tidak signifikan terhadap Kinerja Bisnis, Variabel Lingkungan Eksternal Bisnis berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis. Kata kunci: Orientasi Kewirausahaan, Orientasi Pasar, Lingkungan Eksternal Bisnis dan Kapasitas Penyerapan, Kinerja Bisnis. A. PENDAHULUAN Kajian secara menyeluruh telah dilakukan oleh para akademisi terkait dengan orientasi kewirausahaan dalam meningkatkan kinerja bisnis, terlepas dari objek mana pembuktian itu diambil, sebagai contoh seperti perusahaan multinasional (Qu & Zhang, ISSN : 2654 - 4326 Halaman 132-147
Indra Kurniawan Halaman 133 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 2015), perusahaan milik pemerintah (Entebang, Harrison, & Run, 2010) (Diefenbach, 2012), perusahaan jasa (Mat, 2017), bahkan UMKM (Moreno & Casillas, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh para ahli tersebut menghasilkan temuan yang beragam, dimana pada satu objek yang sama memperoleh hasil yang berbeda. Sebagian menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan berpengaruh secara langsung terhadap kinerja (Wiklund & Shepherd, 2003) (Coulthard, 2007) (Lumpkin & Dess, 1996a) (Andreas Rauch, Johan Wiklund, G.T. Lumpkin, 2004), namun masih ada sebagian yang menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan tidak berpengaruh secara langsung terhadap kinerja (Hermann, Kessler, & Fink, 2010) (Stam & Elfring, 2008) diperlukan strategi yang fleksibel untuk memenagkan persiangan (Kurniawan Indra, Salim Ubud, Setiawan Margono, 2019) serta memperhatikan lingkungan eksternal (Kurniawan, Salim, Setiawan, & Rahayu, 2019). Seperti telah diketahui bahwa konsep orientasi kewirausahaan telah berkembang sedemikian rupa oleh para ahli seperti (Garrett, Covin, & Slevin, 2009) (Lumpkin & Dess, 2001) (Zahra & Covin, 1995) dengan menentukan dimensi orientasi kewirausahaan tersebut menjadi tiga dimensi diantaranya risk-taking, proactive, dan inovatif. Dalam perkembangannya konsep orientasi kewirausahaan setelah dilakukan pengukuran dan selanjutnya berkembang menjadi lima dimensi diantaranya, autonomy, risk-taking, proactive, innovativeness, dan competitive aggressiveness (Lumpkin & Dess, 1996a) (Lumpkin & Dess, 2001). Perbedaan hasil pada pengujian orientasi kewirausahaan terhadap kinerja, dari beberapa sarjana mengisyaratkan bahwa masih banyak celah untuk membuktikan bahwa konsep orientasi kewirausahaan ini patut untuk dilakukan pengukuran dan pengujian secara terus menerus. Pandangan terkait dengan orientasi kewirausahaan banyak disandingkan dengan ketepatan unit analisisnya, mengingat pandangan tersebut lebih tepat dilakukan pada objek terdidik yang memiliki wawasan luas dan kompetensi yang jelas. Pandangan kami mungkin bisa berbeda, karena kami melihat bahwa orientasi kewirausahaan bukanlah sekedar aspek kompetensi dan wawasan saja, tetapi bagaimana mereka berani mengambil keputusan yang berdampak pada risiko yang besar bagi perusahaan. Para pelaku bisnis dengan latar belakang Pendidikan yang tinggi banyak yang sukses (Cho & Lee, 2018), (Bernoster, 2018), kondisi persaingan yang ketat, tetapi segmen yang dibidik memang tidaklah besar, namun didukung dengan keuletan dalam menjalankan bisnisnya membuat bisnis bisa eksis dan berkembang. Risiko dalam bisnis seperti halnya dua sisi mata uang, antara berhasil atau gagal, dan itu merupakan keniscayaan dalam bisnis. Bagi para sarjana kegagalan atau keberhasilan merupakan akhir dari sebuah proses bisnis, yang perlu mendapatkan perhatian adalah proses bisnis itu sendiri. Bagaimana seorang pemimpin atau pemilik perusahaan mengelola perusahaannya dengan baik, mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Keputusan yang diambil tersebut telah diperhitungkan dampak resiko
Indra Kurniawan Halaman 134 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 yang bakal terjadi pada perusahaan, dan juga memperhitungkan langkah antisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak menguntungkan perusahaan. Pelaku bisnis juga harus selalu proaktif dalam mencari peluang, informasi dan secepatnya mengeksekusi peluang tersebut, karena siapa yang bertindak lebih dulu maka keuntungan akan dia dapat terlebih dulu. Melihat kesempatan peluang yang dapat dimanfaatkan tersebut tanpa ragu untuk mengambil keputusan bagaimana memenagkan persaingan, keberanian secara agresif untuk bersaing dengan pesaing potensialnya. Fakta yang terjadi pada dunia bisnis saat ini memang yang lebih diterima baik oleh pasar adalah perusahaan yang selalu inovatif terhadap produk yang ditawarkan kepada konsumen. Inovasi merupakan kunci keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan kinerja bisnisnya. Inovasi yang baik dapat diciptakan melalui pemberian otonomi yang luas bagi entitas dalam perusahaan. melalui pemberian otonomi setiap individu dalam perusahaan akan mampu berkreasi dalam menciptakan inovasi. Pada penelitian sebelumnya berdampak pada hasil yang tidak mendukung dimana, orientasi kewirausahaan tidak memengaruhi kinerja tetapi yang unik adalah perlakuan dalam meningkatkan kinerja diperlukan perlakuan dengan memasukkan beberapa variabel yang memiliki relevansi dengan orientasi kewirausahaan sesuai dengan grand theory yang dijadikan landasan pembuktian empirik. Penelitian ini mengangkat orientasi pasar (Migliori, Pittino, Consorti, & Lucianetti, 2017) (Dutta, Gupta, & Chen, 2016), lingkungan eksternal (Milovanović, Primorac, & Kozina, 2016), dan kapasitas penyerapan sebagai pemediasi (Zhang, 2009) (Yoo, Sawyerr, & Tan, 2015) dalam meningkatkan kinerja perusahaan. B. TINJAUAN PUSTAKA Teori Kontingensi Dalam Konteks Orientasi Kewirausahaan Teori yang menjadi landasan dalam penelitian ini adalah Teori Kontingensi atau sering disebut teori situasional karena teori ini mengemukakan bahwa kepemimpinan tergantung pada situasi (Lumpkin & Dess, 1996a). Model atau teori kontingensi Fiedler melihat bahwa kelompok efektif tergantung pada kecocokan antara gaya pemimpin yang berinteraksi dengan subordinatnya sehingga situasi menjadi pengendali dan berpengaruh terhadap pemimpin. Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan. Pendekatan kontingensi ini dimaksudkan untuk menjembatani jurang perbedaan yang ada antara teori dan praktek. Pendekatan kontingensi memasukkan variabel-variabel lingkungan dalam analisanya, karena perbedaan kondisi lingkungan sehingga memerlukan aplikasi konsep dan teknik manajemen yang berbeda pula. Pendekatan kontingensi muncul sebagai tanggapan atas ketidakpuasan terhadap anggapan universalitas, dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai variabel lingkungan ke dalam teori dan praktek manajemen.
Indra Kurniawan Halaman 135 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Orientasi Kewirausahaan Orientasi kewirausahaan merupakan konsep matang yang telah beberapa kali dilakukan pengujian untuk membuktikan bahwa teori tersebut tepat digunakan untuk meningkatkan kinerja. Penulis memandang bahwa tinjauan secara historis munculnya teori orientasi kewirausahaan berawal dari sebuah pengembangan dari teori gaya kepemimpinan. Merujuk dari penggagas sekaligus pencetus orientasi kewirausahaan (G. Covin, Slevin, & P., 1988) sebelumnya melakukan sebuah penelitian dengan judul “The Influence of Organization Structure on the Utility Entrepreneurial Top Management Style” yang membuktikan bahwa adanya pengaruh yang positif gaya kepemimpinan kewirausahaan dengan kinerja perusahaan. Teori sebelumnya belum secara eksplisit mengembangkan dimensi-dimensi dari orientasi kewirausahaan, dan sebatas pada sebagian konsep saja (Miller, 1983). Bahkan dalam penelitian tersebut (G. Covin et al., 1988) menyatakan bahwa manajer puncak jangan terlalu banyak diatur secara struktural termasuk pembatasan melakukan kreasi, karena mereka cenderung merespon ketidakpastian dengan melakukan langkah-langkah strategis. Pembuktian berikutnya adalah bahwa gaya kepemimpinan yang konservatif mencapai kinerja yang rendah. Orientasi Pasar Grinstein, (2008) memandang orientasi pasar sebagai salah satu elemen perusahaan dalam memandang perilaku dan budaya yang mengimplementasikan orientasi konsumen. Banyak perusahaan yang telah berusaha meningkatkan orientasi pasar dalam bisnisnya (Jaworski & Kohli, 1993) akan tetapi muncul argumen baru yang menyatakan bahwa orientasi pasar saja tidak cukup untuk meningkatkan kinerja organisasi, dan kemampuan organisasi untuk belajar lebih cepat dibandingkan pesaing mungkin merupakan salah satu sumber keunggulan bersaing (Narver & Slater, 1990) (Han, 2015) (Jogaratnam, 2017). Penelitian menguji pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja organisasi pada umumnya dilakukan pada perusahaan swasta besar baik yang profit oriented (Narver & Slater, 1990) (Kohli, 1993) maupun yang non profit oriented (Kara, Spillan, & DeShields, 2005) (Ho, Nguyen, Adhikari, Miles, & Bonney, 2017) , sedangkan yang menguji pada Industri Kecil dan Menengah (IKM) (Sidik, 2012) (Davis, Babakus, Englis, & Pett, 2010) (Jorge & Correia, n.d.). Terbatasnya penelitian mengenai orientasi pasar pada perusahaan kecil juga dikemukakan oleh (Lekmat & Selvarajah, 2018) (Aminu, 2018) yang menyatakan bahwa meskipun usaha kecil memiliki konstribusi yang besar terhadap perekonomian akan tetapi pada umumnya penelitian pada bidang pemasaran dan manajemen masih lebih difokuskan pada perusahaan besar. Slater & Narver, (1994) juga menyatakan bahwa para peneliti selama tiga dekade terakhir telah berhasil membangun teori mengenai anteseden dan konsekuensi dari orientasi pasar dan telah mampu menciptakan pengukuran yang valid serta telah
Indra Kurniawan Halaman 136 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 berhasil menguji pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja organisasi namun demikian mereka masih mengabaikan penelitian empiris dengan menggunakan teori tersebut pada sampel usaha kecil. Lingkungan Eksternal Bisnis Lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada diluar organisasi (Robbins, 1994:226). Menurut Smircich dan Stubbart, (1985); Mansfield, (1990) dalam Brooks dan Weatherston (1997:4), definisi lingkungan memiliki masalah intelektual, sehingga para peneliti mengkategorikannya dengan pendekatan yang berbeda. Dalam konteks manajemen strategi, lingkungan didefinisikan berdasarkan dekat dan jauhnya lingkungan dari organisasi atau langsung dan tidak langsungnya lingkungan memengaruhi organisasi. Lingkungan yang paling dekat dengan organisasi atau disebut juga task environment, industry environment (Hitt et al., 2001:22; Pearce & Robinson, 2000:71), specific environment (Robbins, 1994:231) yaitu lingkungan yang langsung memengaruhi strategi, mencakup pesaing, pemasok, pelanggan dan serikat dagang. Selanjutnya lingkungan yang secara tidak langsung memengaruhi strategi atau disebut juga general environment (Hitt et al., 1995; Robbins,1997), remote environment (Pearce dan Robinson, 2000). Kinerja Bisnis Kinerja merupakan serangkaian kegiatan manajemen yang memberikan gambaran sejauhmana hasil yang sudah dicapai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam akuntabilitas publik baik berupa keberhasilan maupun kekurangan yang terjadi. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan, sementara untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan, seseorang sepatutnya memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan mengerjakannya. Kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan (Veithzal :2004). Kinerja adalah prestasi yang dicapai perusahaan pada periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan. Lee et al. (2001) membagi kinerja berdasarkan: 1) Kinerja kualitas (quality performance) yang terdiri atas persentase produk rusak, pengembalian dan jaminan, barang rusak dan pengolahan kembali dan sebagainya, 2) Kinerja operasi (operating performance) yang terdiri atas rata-rata tingkat perputaran tahunan dan laba bersih tahun lalu, 3) Kinerja keuangan yang diukur dengan ROA (Return On Assets), 4) Kinerja pemasaran yang diukur dengan prosentase market share tahunan, dan, 4) Kinerja penjualan yang diukur dengan peningkatan jumlah persentase penjualan.
Indra Kurniawan Halaman 137 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 C. METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatory research, yakni bertujuan untuk menguji hubungan antar variabel satu dengan yang lainnya. Tahapan dalam penelitian ini dimulai dari kajian dari beberapa jurnal penelitian dengan menemukan hasil yang tidak konsisten, lokasi sebagai objek kajian yang terbatas membuat tertarik untuk melakukan pengujian pada teori yang sama. Melakukan survei untuk mendapatkan data melalui kuesioner yang telah disusun, melakukan tabulasi data, pengujian dan analisis serta menyusun laporan akhir hasil penelitian. Didalam tahapan tersebut terdapat tahapan analisis data, dalam penelitian ini menggunakan analisis SEM-PLS mengingat model yang digunakan dalam penelitian ini adalah struktural. Populasi dalam penelitian ini adalah pelaku/pemilik/manajer pengambil keputusan UKM sektor kerajinan dengan jumlah riil belum diketahui secara pasti, sehingga sampel yang dibutuhkan adalah 5 kali jumlah parameter yang digunakan. D. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahapan setelah dilakukannya pengujian terhadap instrumen sebagai pedoman untuk melanjutkan pada proses analisis data, maka berikutnya dilakukan analisis data. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah model persamaan struktural atau Structural Equation Modelling berbasis partial least square atau SEM-PLS dengan menggunakan SmartPLS 3 yang bertujuan untuk menguji konsep yang ditawarkan dalam penelitian ini, apakah pisau analisis yang digunakan mampu terbukti secara signifikan meningkatkan kinerja bisnis. Untuk mengetahui hal tersebut berikut terlebih dulu dipaparkan hasil pengukurannya. Uji Model Struktural (Inner Model) Pengujian Inner Model dapat dilakukan melalui tiga cara analisis antara lain, uji R2 , Q2 /Blindfolding, dan f2 . Analisis R2 menunjukkan tingkat determinasi variabel eksogen terhadap variabel endogen, jika nilai R2 semakin besar maka menunjukkan tingkat deternasi semakin baik. Table 1. Nilai R2 R Square Kapasitas Penyerapan 0.021 Kinerja Bisnis 0.443 Lingkungan Eksternal Bisnis 0.485 Orientasi Pasar 0.588 Sumber: lampiran olahan data
Indra Kurniawan Halaman 138 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Berdasarkan hasil penghitungan nilai R2 seperti terpapar pada Tabel 4.3 maka dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi rendah untuk variabel Kapasitas Penyerapan (KP) dengan nilai 0.021, sementara itu untuk variabel Kinerja Bisnis (KB), Lingkungan Eksternal Bisnis dan Orientasi Pasar (OP) dengan rentang nilai 0.443 dan 0.485 serta 0.588 dapat dikatakan memiliki nilai koefisien determinasi yang cenderung moderat. Nilai Q2 /Blindfolding dalam pengujian struktural menggunakan SEM PLS bertujuan untuk menunjukkan nilai predictive relevance. Penghitungan dengan menggunakan Blinfolding untuk mengetahui predictive relevance dapat dilihat pada Tabel 4.4 dibawah: Table 2. Construct Crossvalidated Redundancy SSO SSE Qï½ (=1-SSE/SSO) Kapasitas Penyerapan 450.000 448.085 0.004 Kinerja Bisnis 2,025.000 1,620.457 0.200 Lingkungan Eksternal Bisnis 900.000 631.211 0.299 Orientasi Kewirausahaan 900.000 900.000 Orientasi Pasar 900.000 555.100 0.383 Sumber: lampiran olahan data Table 3. Construct Crossvalidated Communality SSO SSE Q (=1-SSE/SSO) Kapasitas Penyerapan 450.000 369.155 0.180 Kinerja Bisnis 2,025.000 1,438.123 0.290 Lingkungan Eksternal Bisnis 900.000 547.333 0.392 Orientasi Kewirausahaan 900.000 511.032 0.432 Orientasi Pasar 900.000 520.441 0.422 Sumber: lampiran olahan data Semua nilai Q2 dalam penghitungan melalui Blindfolding diperoleh nilai lebih besar dari 0 (> 0), sehingga dapat dikatakan bahwa model telah memiliki predictive relevance. 1. Analisis f 2 (Effect Size) Evaluasi model struktural dilakukan dengan menggunakan R-Square untuk konstruk dependen, Stone-Geisser Q-Square test untuk predictive relevance dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural (Ghozali, 2014). Model PLS dapat dinilai dengan melihat R-Square nya untuk setiap variabel dependennya. Perubahan nilai R-Square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel