Indra Kurniawan Halaman 139 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah memiliki pengaruh yang substantif. Table 4 Hasil f 2 untuk Effect Size Kapasitas Penyerapan Kinerja Bisnis Lingkungan Eksternal Bisnis Orientasi Kewirausahaan Orientasi Pasar Kapasitas Penyerapan 0.033 Kinerja Bisnis Lingkungan Eksternal Bisnis 0.122 Orientasi Kewirausahaan 0.026 0.017 0.950 1.435 Orientasi Pasar 0.031 Sumber: lampiran olahan data Berdasarkan pada hasil penghitungan effect size diperoleh hasil seperti pada Tabel 4 diatas, sehingga dapat dinyatakan sebagai berikut: 1) Pengaruh Kapasitas Penyerapan (KP) terhadap Kinerja Bisnis (KB) memiliki effect size (f2 ) sebesar 0.033 sehingga dapat dikatakan lemah. 2) Pengaruh Lingkungan Eksternal Bisnis (LEB) terhadap Kinerja Bisnis (KB) memiliki (f2 ) effect size (0.122) lemah. 3) Pengaruh Orientasi Kewirausahaan (OK) terhadap Kapasitas Penyerapan (KP) memiliki (f2 ) effect size (0.026) lemah. 4) Pengaruh Orientasi Kewirausahaan (OK) terhadap Kinerja Bisnis (KB) memiliki effect size (f2 ) sebesar 0.017 sehingga dapat dikatakan lemah. 5) Pengaruh Orientasi Kewirausahaan (OK) terhadap Orientasi Pasar (OP) memiliki effect size (f2 ) sebesar 1.435 sehingga dapat dikatakan besar. 4) Pengaruh Orientasi Pasar (OP) terhadap Kinerja Bisnis (KB) memiliki effect size (f2 ) sebesar 0.031 sehingga dapat dikatakan lemah. 5) Pengaruh Orientasi Kewirausahaan (OK) terhadap Lingkungan Eksternal Bisnis (LEB) memiliki effect size (f2 ) sebesar 0.950 sehingga dapat dikatakan besar. Hasil Analisis Analisis menggunakan SEM PLS pengujian setiap hubungan dilakukan menggunakan simulasi dengan metode bootstrapping terhadap sampel. Pengujian ini dilakukan untuk meminimalkan masalah ketidaknormalan data penelitian. Hasil pengujian analisis SEM PLS dengan metode Bootstrapping seperti pada gambar 4.7 di bawah,
Indra Kurniawan Halaman 140 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Gambar 1. Hasil Analisis Hasil penghitungan untuk menggambarkan nilai pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, dan pengaruh total, seperti Tabel dibawah: Table 5. Nilai Pengaruh Langsung Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T Statistics (|O/STDEV|) P Values Kapasitas Penyerapan -> Kinerja Bisnis -0.137 -0.135 0.056 2.458 0.014 Lingkungan Eksternal Bisnis -> Kinerja Bisnis 0.381 0.382 0.068 5.572 0.000 Orientasi Kewirausahaan -> Kapasitas Penyerapan 0.159 0.168 0.074 2.155 0.031 Orientasi Kewirausahaan -> Kinerja Bisnis 0.160 0.161 0.085 1.897 0.058 Orientasi Kewirausahaan -> Lingkungan Eksternal Bisnis 0.698 0.702 0.031 22.270 0.000 Orientasi Kewirausahaan -> Orientasi Pasar 0.768 0.770 0.026 29.852 0.000 Orientasi Pasar -> Kinerja Bisnis 0.213 0.219 0.082 2.587 0.010 Sumber: lampiran olahan data Table 6. Nilai Pengaruh Tidak Langsung Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T Statistics (|O/STDEV|) P Values Orientasi Kewirausahaan -> Kinerja Bisnis 0.408 0.414 0.068 5.982 0.000 Sumber: lampiran olahan data
Indra Kurniawan Halaman 141 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Hasil penghitungan diatas dapat dinyatakan sebagai berikut: 1) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.058 < 0.05. 2) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) berpengaruh signifikan terhadap Orientasi Pasar (OP) dengan nilai p-value 0.000 < 0.05. 3) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) berpengaruh signifikan terhadap Kapasitas Penyerapan (KP) dengan nilai p-value 0.031 < 0.05. 4) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) berpengaruh signifikan terhadap Lingkungan Eksternal Bisnis (LEB) dengan nilai pvalue 0.000 < 0.05.5) Variabel Orientasi Pasar (OP) berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.010 < 0.05. 6) Variabel Kapasitas Penyerapan (KP) berpengaruh tidak signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.014 < 0.05.7 )Variabel Lingkungan Eksternal Bisnis (LEB) berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.000 < 0.05. Pada Tabel 6 diatas menunjukkan hasil penghitungan melalui PLS yang menyatakan pengaruh tidak langsung antar variabel. Pembuktian ada tidaknya pengaruh tidak langsung dapat dilihat apabila nilai p-value < 0.05 dan dikatakan tidak terdapat pengaruh secara tidak langsung apabila > 0.05. Berdasarkan penghitungan diatas maka: Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.000 < 0.05. Table 7. Nilai Pengaruh Total Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T Statistics (|O/STDEV|) P Values Kapasitas Penyerapan -> Kinerja Bisnis -0.137 -0.135 0.056 2.458 0.014 Lingkungan Eksternal Bisnis -> Kinerja Bisnis 0.381 0.382 0.068 5.572 0.000 Orientasi Kewirausahaan -> Kapasitas Penyerapan 0.159 0.168 0.074 2.155 0.031 Orientasi Kewirausahaan -> Kinerja Bisnis 0.568 0.575 0.047 12.117 0.000 Orientasi Kewirausahaan -> Lingkungan Eksternal Bisnis 0.698 0.702 0.031 22.270 0.000 Orientasi Kewirausahaan -> Orientasi Pasar 0.768 0.770 0.026 29.852 0.000 Orientasi Pasar -> Kinerja Bisnis 0.213 0.219 0.082 2.587 0.010 Sumber: lampiran olahan data Berdasarkan Tabel 7 diatas dapat dinyatakan sebagai berikut: 1) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) secara total berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.000 < 0.05. 2) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) secara total berpengaruh signifikan terhadap Orientasi Pasar (OP) dengan nilai p-value 0.000 < 0.05. 3) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) secara total berpengaruh signifikan
Indra Kurniawan Halaman 142 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 terhadap Kapasitas Penyerapan (KP) dengan nilai p-value 0.031 < 0.05. 4) Variabel Orientasi Kewirausahaan (OK) secara total berpengaruh signifikan terhadap Lingkungan Eksternal Bisnis (LEB) dengan nilai p-value 0.000 < 0.05. 5) Variabel Orientasi Pasar (OP) secara total berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.010 < 0.05. 6) Variabel Kapasitas Penyerapan (KP) secara total berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.014 < 0.05. 7) Variabel Lingkungan Eksternal Bisnis (LEB) secara total berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Bisnis (KB) dengan nilai p-value 0.000 < 0.05. Model pengujian mediasi 1 (Kapasitas Penyerapan) Pengujian model pertama untuk membuktikan apakah kapasitas penyerapan terbukti sebagai pemediasi dari hubungan antara orientasi kewirausahaan terhadap kinerja bisnis. Jika dilihat dari nilai estimasi (original sample) dari hubungan antara Orientasi Kewirausahaan terhadap Kapasitas Penyerapan sebesar 0.159 sementara nilai standard error nya sebesar 0.074. Nilai original sample Kapasitas Penyerapan terhadap Kinerja Bisnis sebesar -0.137 sementara nilai standard error nya sebesar 0.056 dan nilai original sample Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Bisnis sebesar 0.768 sementara itu nilai signifikansinya sebesar 0.000 sehinggaa diperoleh nilai Sobel tes sebesar -1.614 sehingga dengan demikian Kapasitas Penyerapan bukan menjadi pemediasi dari pengaruh Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Bisnis. Model Pengujian Mediasi 2 (Lingkungan Eksternal Bisnis) Pengujian model pertama untuk membuktikan apakah Lingkungan Eksternal Bisnis terbukti sebagai pemediasi dari hubungan antara orientasi kewirausahaan terhadap kinerja bisnis. Jika dilihat dari nilai estimasi (original sample) dari hubungan antara Orientasi Kewirausahaan terhadap Lingkungan Eksternal Bisnis sebesar 0.698 sementara nilai standard error nya sebesar 0.031. Nilai original sample Lingkungan Eksternal Bisnis terhadap Kinerja Bisnis sebesar 0.381 sementara nilai standard error nya sebesar 0.068 dan nilai original sample Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Bisnis sebesar 0.768 sementara itu nilai signifikansinya sebesar 0.000 sehinggaa diperoleh nilai Sobel tes sebesar 5.437 sehingga dengan demikian Lingkungan Eksternal Bisnis menjadi pemediasi dari pengaruh Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Bisnis yakni mediasi penuh (full mediation). Model Pengujian Mediasi 3 (Orientasi Pasar) Pengujian model pertama untuk membuktikan apakah Orientasi Pasar terbukti sebagai pemediasi dari hubungan antara orientasi kewirausahaan terhadap kinerja bisnis. Jika dilihat dari nilai estimasi (original sample) dari hubungan antara Orientasi Kewirausahaan terhadap Orientasi Pasar sebesar 0.768 sementara nilai standard error nya sebesar 0.026. Nilai original sample Orientasi Pasar terhadap Kinerja Bisnis sebesar 0.213 sementara nilai standard error nya sebesar 0.082 dan nilai original
Indra Kurniawan Halaman 143 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 sample Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Bisnis sebesar 0.768 sementara itu nilai signifikansinya sebesar 0.000 sehinggaa diperoleh nilai Sobel tes sebesar 2.588 sehingga dengan demikian Orientasi Pasar menjadi pemediasi dari pengaruh Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Bisnis yakni mediasi penuh (full mediation). Pembahasan Pengaruh Orientasi Kewirausahaan Terhadap Kinerja Bisnis Yang Dimediasi Kapasitas Penyerapan Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah orientasi kewirausahaan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja bisnis khususnya di UMKM, dari hasil analisis diperoleh hasil yang cukup rendah pengaruhnya. Keadaan ini menunjukkan bahwa secara empiris para pelaku kurang menerapkan dengan baik prinsip-prinsip orientasi kewirausahaan dalam menjalankan atau mengoperasionalkan bisnisnya. Jika dilihat dari hasilnya yang tidak mampu membuktikan berpengaruh signifikan terhadap kinerja, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Frank dan Fink (2010). Penelitian ini juga mencoba membuktikan bahwa untuk meningkatkan kinerja bisnis melalui orientasi kewirausahaan diperlukan variabel lain yang berkedudukan sebagai pemediasi, yakni variabel kapasitas penyerapan. Sesuai dengan teori aslinya yang dikembangkan oleh Cohen dan Levinthal (1995), Lane dan Lubatkin (2001) dan Mendez (2016) bahwa secara originalitas kapasitas penyerapan adalah kemampuan dalam menggali informasi dari eksternal baik berupa peluang maupun eksplorasi secara teknis informasi akan produk kemudian kemampuan melakukan transformasi dari hasil informasi tersebut menjadi sebuah produk. Berikutnya adalah kemampuan melakukan eksploitasi dimana perusahaan atau unit dalam perusahaan atau entitas dalam perusahaan membuat produk yang komersil dan dapat diterima dengan baik oleh pasar. Melihat hasil pengujian dalam penelitian ini, bahwa UMKM belum mampu berfungsi sebagai riset dan pengembangan (R&D) dengan melihat hasil pengujian bahwa kapasitas penyerapan belum mampu menjadi variabel mediasi. Kondisi ini mengartikan bahwa kapasitas penyerapan belum mampu menjadi pendongkrak meningkatkan kinerja bisnis UMKM. Seperti diketahui bersama bahwa UMKM di Indonesia memang belum memiliki unit R&D khususnya yang usaha mikro dan kecil sedangkan yang menengah hanya Sebagian saja yang memiliki unit tersebut. Pada prinsipnya hasil ini menjelaskan bahwa kemampuan UMKM dalam membuat produk inovasi masih bersifat imitasi belum berdasarkan hasil identifikasi pasar yang jelas dan inovasi yang dihasilkan masih bersifat hasil intuisi. Hasil ini juga mengisyaratkan bahwa menempakan teori ini pada setting latar UMKM yang belum memiliki unit R&D adalah kurang tepat, karya inovasi UMKM banyak dihasilkan dari pemilik hasil imitasi maupun intuisi.
Indra Kurniawan Halaman 144 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Pengaruh Orientasi Kewirausahaan Terhadap Kinerja Bisnis Yang Dimediasi Lingkungan Eksternal Bisnis Pengujian berikutnya adalah menempatkan lingkungan eksternal bisnis sebagai mediasi dari hubungan antara orientasi kewirausahaan dengan kinerja bisnis, dalam penelitian ini dihasilkan bahwa lingkungan eksternal bisnis menjadi mediasi. Hasil ini menjelaskan bahwa akan terjadi peningkatan kinerja bisnis yang signifikan manakala lingkungan eksternal bisnis ditempatkan sebagai mediasi dalam kaitan hubungan antara orientasi kewirausahaan dengan kinerja bisnis.Lingkungan eksternal bisnis sebagai sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh UMKM tersebut mengharuskan para pelaku usaha senantiasa menyesuaikan dengan perubahan yang ada baik secara politik/hukum, ekonomi, sosial/budaya maupun teknologi. Seluruh aspek tersebut merupakan kondisi diluar kemampuan perusahaan sehingga selalu mengikuti perkembangan yang ada menjadi kunci utama kelangsungan hidup perusahaan. Secara empiris hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku UMKM telah mampu menyesuaikan dengan perkembangan yang ada, sehingga mereka mampu bertahan (survive) dalam menghadapi kondisi yang dinamis dan tak menentu. Secara statistik kedudukan lingkungan eksternal bisnis dalam penelitian ini menjadi mediasi penuh (full mediation). Hal ini terjadi karena orientasi kewirausahaan sendiri berpengaruh secara signifikan terhadap lingkungan eksternal bisnis, dan lingkungan eksternal bisnis juga berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja bisnis. Pengaruh Orientasi Kewirausahaan Terhadap Kinerja Bisnis Yang Dimediasi Orientasi Pasar Pengujian berikutnya adalah menempatkan orientasi pasar sebagai mediasi dari hubungan antara orientasi kewirausahaan dengan kinerja bisnis, dalam penelitian ini dihasilkan bahwa orientasi pasar menjadi mediasi. Hasil ini menjelaskan bahwa akan terjadi peningkatan kinerja bisnis yang signifikan manakala orientasi pasar ditempatkan sebagai mediasi dalam hubungan antara orientasi kewirausahaan dengan kinerja bisnis. Dalam penelitian ini hubungan antara orientasi kewirausahaan terhadap orientasi pasar juga berpengaruh secara signifikan, sementara itu hubungan orientasi pasar terhadap kinerja bisnis juga berpengaruh secara signifikan sehingga dapat dikatakan bahwa orientasi pasar menjadi mediasi penujh (full mediation). Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa kinerja bisnis secara maksimal akan dicapai perusahaan apabila UMKM memiliki orientasi pasar yang baik. Hasil penelitian dalam konteks orientasi pasar ini menunjukkan bahwa secara empiris UMKM telah menjalankan strategi yang baik dalam mengoperasionalkan bisnisnya, artinya mereka sudah berorientasi pada pelanggannya, berorientasi pada pesaingnya dan melakukan koordinasi yang baik di dalam perusahaan. elemen kunci dari strategi bersaing yang baik melalui cara yang tepat dalam mengahadapi pesaing.
Indra Kurniawan Halaman 145 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 E. PENUTUP Penelitian ini menghasilkan temuan yang bermanfaat bagi pengembangan keilmuan terutama bidang marketing (major) atau secara spesifik dalam konteks orientasi kewirausahaan. Orientasi kewirausahaan dalam penelitian ini belum mampu memberikan kontribusi yang efektif dalam mengingkatkan kinerja bisnis UMKM, sehingga diperlukan aspek lainnya. Mengingat tingkat Pendidikan yang heterogen sehingga belum memiliki orientasi yang baik dalam diri mereka. Temuan yang berikutnya adalah ternyata kapasitas penyerapan juga belum mampu menjadi trigger dalam meningkatkan kinerja UMKM terkait hubungannya dengan orientasi kewirausahaan terhadap kinerja bisnis. Sehingga dengan demikian kapasitas penyerapan tidak terbukti menjadi mediasi dari hubungan antara orientasi kewirausahaan terhadap kinerja bisnis. Diperlukan faktor lain dalam rangka meningkatkan kinerja bisnis UMKM seperti halnya memasukkan orientasi pasar yang terbukti mampu meningkatkan kinerja bisnisnya. Selain itu perhatian UMKM pada faktor lingkungan eksternal bisnis menjadi sangat penting mengingat faktor tersebut diluar kendali perusahaan. Selalu memperhatikan kebutuhan pelanggan menjadi dasar keunggulan dalam persaingan (customer maintain), selain itu memperhatikan perkembangan pesaing juga menjadi dasar perencanaan strategis dengan melihat keunggulan pesaing dengan tetap melihat celah kelemahan yang dapat dimanfaatkan perusahaan. Koordinasi lintas fungsi dalam organisasi bisnis UMKM juga penting dilakukan, mengingat rentang kendali yang pendek dan tidak memiliki struktur yang jelas menjadi kelemahan sekaligus kekuatan untuk senantiasa fleksibel dalam mengoperasionalkan bisnisnya. DAFTAR PUSTAKA Aminu, SA., 2018. Market Orientation and Small Medium Enterprises’ (SMEs) Performance in Nigeria: A review, Ilorin Journal of Marketing, 3(1), 122-132. Benito, Oscar Gonzales, Javier Gonzales Benito, and Pablo A. Munoz-Gallego. 2009. Role of Entrepreneurship and Market Orientation in Firms’ Succes. European Journal of Marketing. Vol. 43, No. 3/4, pp. 500-522. Bernoster, et.al., 2018. The role of affect in entrepreneurial orientation, Small Business Economics, 6 November Brownhilder, Neneh, 2016. Examining the Moderating Effect of Environmental Hostility on the Entrepreneurial Orientation Performance Relationship, Journal of Economics and Behavioral Studies (ISSN: 2220-6140) Vol. 8, No. 6, pp. 6- 18 Brooks, Ian, Weatherston, and Jamie, 1997, Business Environment: Challenges and Changes, Prentice Hall
Indra Kurniawan Halaman 146 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Castro Barroso, et. al., 2006. Consequences of market orientation for customers and employees, European Journal of Marketing, Vol. 39 Iss 5/6 pp. 646 675 Cohen, WM., and Levinthal, DA., 1990. Absorptive Capacity: A New Perspective on Learning and Innovation, Administrative Science Quarterly, Vol. 35, No. 1 Covin, et.al., 2005. Strategic Process Effects on the Entrepreneurial Orientation-Sales Growth Rate Relationship, Academy of Management, pp.1-6 Dutta, Gupta, and Chen, 2016. A Tale of Three Strategic Orientations: A ModeratedMediation Framework of the Impact of Entrepreneurial Orientation, Market Orientation, and Learning Orientation on Firm Performance, Journal of Enterprising Culture Vol. 24, No. 3, 313–348 Flatten, T. Adams, D. and Brettel, M. 2014. Fostering Absorptive Capacity Through Leadership: A Cross-Cultural Analysis, Journal of World Business, 703. p. 16 Hill C.W.L., and Jones G. R., 2012. Essential of Strategic Management, 3rd edition, South-Western Cengage Learning Hitt M.A., Ireland R.D., and Hoskisson R.E., 2009. Strategic Management: Concept and Case, South-Western Cengage Learning Jain Sanjay K. and Manju Bhatia, 2007. Market Orientation and Business Performance: The Case of Indian Manufacturing Firms, The Journal of Business Perspective. Kedia, B.L., Bhagat, R.S., 1988. Cultural constraints on transfer of technology across nations: Implications for research in international and comparative advantage. Acad. Manag. Rev. 13, 559–571 Kirca, A. H., Jayachandran S., Bearden, W., 2005. Market Orientation: a MetaAnalytic Review and Assessment of Its Antecedents and Impact on Performance. Journal of Marketing, April, 24-41 Kirca, A. H., Jayachandran S., Bearden, W., 2011. Forms of market orientation and firm performance: A complementary approach, Academy of Marketing Science Review, December. Lane Peter J., Koka Balaji R. and Pathak Seemantini, 2006. The Reification of Absorptive Capacity: A Critical Review and Rejuvenation of the Construct, The Academy of Management Review, Vol. 31, No. 4, pp. 833-863 Lee D Y and Tsang E W K., 2001. The Effect of Entrepreneurial Personality, Background and Network Activities on Venture Growth, Journal of Management Studies 38-4 pp 583-602. Lee, jangwoo., & Andy Miller., 1996. Strategy, Environment and Performance in two technological Contexs: Contingency theory in Korea. Organizations Studies, 17/5, pp. 729-750 Lekmat Laddawan, et.al., 2018. Relationship between Market Orientation, Entrepreneurial Orientation, and Firm Performance in Thai SMEs: The
Indra Kurniawan Halaman 147 dari 147 JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Mediating Role of Marketing Capabilities, International Journal of Business and Economics, 2018, Vol. 17, No. 3, 213-237 Migliori, et.al., 2017. The relationship between Entrepreneurial Orientation, Market Orientation and Performance in University Spin-Offs, International Entrepreneur Management Journal. Milovanovic, et.al., 2016. Two-Dimensional Analysis of the Influence of Strategic Networking on Entrepreneurial Orientation and Business Performance Among SMEs, Tehnicki vjesnik 23, (1), 247-255. Minbaeva, D., Pedersen, T., Björkman, I., Fey, C.F., Park, H.J., 2003. MNC knowledge transfer, subsidiary absorptive capacity, and HRM. J. Int. Bus. Stud. 34, 586– 599. Todorova, G., and Durisin, B., 2007. Absorptive Capacity: Valuing a Reconceptualization, Academy of Management Review, Vol. 32, No. 3, 774- 786. Usman Muliati and Mat Norsiah, 2017. Assesing The Importance of Entrepreneurial Orientation on Innovation in Service Sector, International Journal of Business and Management Invention, Vol.6 Issue 7, pp. 35-39. Venkatraman, N., 1989. Strategic orientation of business enterprises: The construct, dimensionality, and measurement. Management Science, 35, 942–962. doi:10.1287/mnsc.35.8.942.CrossRefGoogle Scholar Wheelen T.L., and Hunger J.D., 2012. Strategic Management and Business Policy, Pearson Education inc., Publishing as Prantice Hall Yoo et.al., 2015. The impact of exogenous and endogenous factors on external knowledge sourcing for innovation: The dual effects of the external environment, Journal of High Technology Management Research 26 14–26 Yun Hee Cho, Joo-Heon Lee, 2018. Entrepreneurial orientation, entrepreneurial education and performance, Asia Pacific Journal of Innovation and Entrepreneurship, Vol. 12 Issue: 2, pp.124-134, Zahra, S.A., George, G., 2002. Absorptive capacity: a review, and extension. Acad. Manag. Proc. 27 (2), 185–203 Zhang David Di, 2009. Absorptive capability and its mediating effect on the learning and market orientations’ influences on performance, International Journal Technology Marketing, Vol. 4, Nos. 2/3.
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 148 dari 159 Halaman 148 dari 159 Dilema Keseimbangan Kehidupan Kerja Guna Mewujudkan Profesionalitas Kerja Pada Dosen Tetap Wanita Pada Perguruan Tinggi di Indonesia Kristin Juwita1* , Erminati Pancaningrum2 STIE PGRI Dewantara Jombang Korespondensi*: [email protected] Dikirim: 16 Oktober 2020, Direvisi: 30 November 2020, Dipublikasikan: 13 Desember 2020 Abstract This study aims to examine the effect of work-life balance on the performance of female lecturers through work-family conflict and family-work conflict as mediating variables. This research uses explanatory research. The population in this study were permanent lecturers throughout Indonesia. The sampling technique is done by purposive sampling. The analysis technique uses descriptive and structural equation modeling (SEM). The results of the analysis show that work-life balance can affect work-family conflict, family-work conflict, and the performance of female lecturers. However, work-family conflict does not affect the performance of female lecturers. Whereas family work conflict can affect the performance of female lecturers. Work-family conflict is not able to mediate the effect of work-life balance on the performance of female lecturers, but family work conflict can mediate work-life balance that affects the performance of female lecturers Keywords: work life balance, work family conflict, family work conflict, job performance Abstrak Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (work life balance) pada kinerja dosen wanita melalui work family conflict and family work conflict sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian penjelasan (explanatory research). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah dosen tetap di seluruh Indonesia. Adapun teknik penentuan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Teknik analisis menggunakan deskriptif dan stuctural equation modelling (SEM). Adapun hasil analisis menunjukan bahwa work life balance mampu mempengaruhi work family conflict, family work conflict, dan kinerja dosen wanita. Namun, work family conflict tidak berpengaruh pada kinerja dosen wanita. Sedangkan family work conflict dapat berpengaruh pada kinerja dosen wanita. Work family conflict tidak mampu memediasi pengaruh work life balance terhadap kinerja dosen wanita, namun family work conflik dapat memediasi work life balance yang mempengaruhi kinerja dosen wanita. Kata kunci: work life balance, work family conflict, family work conflict, job performance A. Pendahuluan Berbagai organisasi saat ini banyak melibatkan wanita untuk berpartisipasi, mulai dari perusahan jasa, perusahaan manufaktur, sekolah, perguruan tinggi, koperasi, bank, dan usaha kecil menengah. Jika dulu laki laki berperan paling dominan, namun dalam perkembangannya cenderung tidak ada perbedaan gender sehingga peran laki laki dan wanita memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja. Seiring adanya peningkatan ekonomi keluarga, pergeseran budaya, dan kebutuhan beraktualisasi diri serta kebutuhan sosial (Nilakusmawati,D. P. E, 2009) membuat mayoritas wanita turun berpartisipasi ISSN : 2654 - 4326
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 149 dari 159 dalam dunia kerja sebagai wanita karir. Fenomena ini paling mudah terlihat dalam perusahaan manufaktor pada karya, dimana mayoritas karyawan adalah wanita. Sebagian besar wanita karir berperan menjadi seorang ibu atau istri yang seringkali mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan peran, baik peran di kehidupan dalam keluarga, pekerjaan, maupun untuk waktu pribadi. Dalam beberapa tahun ini terdapat peningkatan tekanan pekerjaan dalam upaya memberikan hasil atau pelayanan berkualitas sehingga berdampak pada keluarga dan kehidupan karyawan, (Uzeochi dan Babatunde, 2012). Pencapaian keseimbangan kehidupan kerja yang baik dapat diciptakan dengan budaya kejujuran dan percaya dimana para staf dapat terbuka tentang adanya permasalahan di rumah dan mendapatkan dukungan perusahaan, (Maxwell dan McDougall,2004). Keseimbangan pekerjaan keluaga sebagai pemenuhan peran antara pekerjaan dengan keluarga berdasarkan kesepakatan bersama, (Grzywacz, J.G.,&CarlosDS, 2007). Keseimbangan kehidupan kerja adalah pandangan individu tentang aktifitas kerja dan kehidupan yang mendorong kemajuan sesuai dengan prioritas kehidupan individu saat ini, (Kalliath, T., & Brough, P, 2008). Robbins and Timothi (2009) menjelaskan karyawan yang telah menikah saat ini biasanya merupakan pasangan yang berkarir rangkap. Hal ini semakin mempersulit karyawan yang telah menikah untuk mencari waktu bagi keluarga. Jika organisasi tidak membantu orang-orang mereka mencapai keseimbangan kehidupan kerja, akan mendapat banyak kesulitan untuk menarik dan mempertahankan karyawan yang paling handal. Sedangkan keseimbangan pekerjaan kehidupan membutuhkan keterlibatan peran individu dalam pekerjaan dan keluarga yang memberikan kepuasan yang sama, (Greenhaus, J. H., Collins, K. M., & Shaw, J. D., 2003) Keseimbangan kehidupan kerja merupakan hal yang penting sehingga hal ini menjadi beban yg berat bagi wanita karir. Menyeimbangkan dua peran sekaligus antara kehidupan dan pekerjaan akan berdampak pada work family conflict (Greenhaus;Keren;Jason,2003), baik dalam keluarga, atau dengan pekerjaannya. Mayoritas wanita cenderung mengalami konflik pekerjaaan keluarga dibanding laki laki. Wanita bekerja yang sudah menikah harus melakukan perannya sebagai ibu rumah tangga yaitu menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengurus keluarga, sehingga kondisi tersebut membuat wanita kesulitan mencapai keseimbangan kehidupan kerja, (Handayani, A.,afiati, T., & Adiyati, M. G. (2015). Keseimbangan kehidupan-kerja dalam penelitian ini dikhususkan pada wanita karir yang bekerja di perguruan tinggi sebagai dosen tetap. Mayoritas dosen yang bekerja di lembaga perguruan tinggi adalah wanita dengan tugas utamanya yaitu melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Banyak dosen tetap wanita yang menduduki jabatan baik struktural maupun fungsional sehingga para dosen harus membuat rencana prioritas yang seimbang. Berdasarkan fenomena pada beberapa perguruan tinggi, sering kali dosen memprioritaskan pekerjaan, memiliki kinerja yang lebih baik dan tingkat konflik dengan pekerjaan rendah, namun peluang konflik dengan kehidupan khususnya konflik keluarga akan meningkat, karena mayoritas waktu banyak digunakan untuk bekerja. Begitupun sebaliknya, jika dosen cenderung
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 150 dari 159 memprioritaskan kehidupanya, akan berdampak pada meningkatnya potensi konflik pekerjaan dan terjadi penurunan kinerja. Keseimbangan kehidupan kerja dapat berjalan dengan baik jika ada dukungan baik dari organisasi maupun dari keluarga. Work family conflict dapat di artikan sebagai konflik tuntutan peran antar pekerjaan dan keluarga secara bersama sama yang tidak dapat di capai dalam beberapa hal (Frone, M. R., 2000). Frone, Rusell & Cooper (1992) mendefinisikan konflik pekerjaan keluarga adalah gangguan salah satu peran akibat pemenuhan peran lain dimana individu dituntut memenuhi semua peran secara utuh baik dalam pekerjaan dan keluarga. Greenhaus, Collins & Shaw (2003) menyatakan bahwa adanya keseimbangan waktu antara keterlibatan dalam pekerjaan dan keluarga akan mengurangi konflik kerja-keluarga dan stres, sehingga meningkatkan kualitas individu hidup. Menurut G. Delina dan Raya (2013) menyatakan bahwa wanita karir cenderung mengalami kesulitan menyeimbangkan urusan kerja dan kehidupan terlepas dari berapa usia mereka, jumlah anak, dan profesi pasangan. Adanya ketidak seimbangan kehidupan kerja dapat menimbulkan konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keseimbangan kehidupan kerja terhadap kinerja dosen tetap wanita melalui konflik pekerjaan keluarga (work family conflict) dan konflik keluarga pekerjaan (family work conflict). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi institusi dalam mempertimbangkan pengembangan sistem kerja yang fleksibel sehingga dapat membantu mencapai keseimbangan kehidupan kerja dosen tetap wanita. B. Model Penelitian Adanya keseimbangan kehidupan kerja dosen tetap wanita diharapkan memperkecil peluang terjadinya work family conflict dan family work conflict serta dapat membantu meningkatkan kinerja dosen tetap lebih maksimal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat model penelitian sebagai berikut: Gambar 1. Model Penelitian Work Family Kinerja Dosen Keseimbang an Family Work
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 151 dari 159 Hipotesis Berdasarkan model penelitian diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut: H1: Terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara keseimbangan kehidupan kerja terhadap work family conflict H2 : Terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara keseimbangan kehidupan kerja terhadap family work conflict H3 : Terdapat pengaruh positif dan signifikan keseimbangan kehidupan kerja terhadap kinerja dosen wanita H4 : Terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara work family conflict terhadap kinerja dosen wanita H5 : Terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara family work conflict terhadap kinerja dosen wanita H6 : Work family conflict memediasi pengaruh antara keseimbangan kehidupan kerja terhadap kinerja dosen wanita H7 : Family work conflict memediasi pengaruh antara keseimbangan kehidupan kerja terhadap kinerja dosen wanita C. Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan jenis explanatory research. Dalam penelitian ini, hipotesis yang telah dirumuskan akan diuji untuk mengetahui pengaruh antar variabel dalam penelitian mengenai keseimbangan kehidupan-kerja dan konflik kehidupan-kerja terhadap kinerja dosen tetap wanita. Pengukuran data menggunakan skala likert dan pengumpulan data diperoleh melalui penyebaran angket. Responden dalam penelitian ini adalah dosen yang menjalani dua tuntutan peran sekaligus sehingga menggunakan teknik purposive random sampling dengan ketentuan dosen tetap, wanita, dan sudah menikah. Populasi penelitian ini tidak diketahui pasti jumlahnya sehingga digunakan rumus Lameshow untuk mendapatkan besarnya sampel. Dalam rumus lameshow terdapat n yaitu jumlah sampel, p adalah proporsi populasi, Z adalah skor Z pada derajat kepercayaan 95% (1,96), p= maksimal estimasi 30% dan d= sampling eror (10%). Jadi jumlah sampel menurut rumus Lemeshow sebesar 81 responden. Data penelitian dari angket online yang sudah masuk akan dilanjutkan pada proses analisis data. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang bertujuan memberikan penjelasan tentang karakteristik responden dan melihat respon dari hasil isian angket yang telah diisi oleh responden. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan structural equation model (SEM) menggunakan bantuan sofware Wrap PLS, dengan tujuan untuk menguji pengaruh antar variabel endogen dan eksogen serta menguji peran dari variabel mediasi secara bersamaan.
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 152 dari 159 D. Hasil dan Pembahasan Karakteristik responden Tabel 1. Tingkat Pendidikan Strata 2 (S2) Strata 3 (S3) Jumlah 68 13 81 Berdasarkan tabel 1 menunjukkan mayoritas responden adalah dosen tetap wanita yang mayoritas dengan tingkat pendidikan Strata 2. Hal tersebut sesuai dengan syarat akademik minimal seseorang menjadi dosen pada perguruan tinggi. Tabel 2. Usia 25-30 31-35 36-40 41-45 >40 Jumlah 5 25 16 14 21 81 Berdasarkan tabel 2 terlihat mayoritas responden adalah dosen tetap wanita yang mayoritas usianya antara 31-35 yaitu 25 orang. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar dosen masih muda dan aktif dalam bekerja. Namun tidak dipungkiri, ada 21 dosen yang usianya lebih dari 40 tahun yang dapat dikatakan senior dan dirasa sudah memiliki pengalaman kerja yang baik dibidangnya. Hasil Analisis Deskriptif Berdasarkan data yang telah diperoleh, setelah dilakukan analisis maka diperoleh skor jawaban rata-rata variabel yang dapat memberikan gambaran kondisi keseimbangan kehidupan kerja, work family conflict dan family work conflict, serta kinerja dosen tetap wanita yang dapat dilihat dalam tabel 3. Tabel 3. Hasil Analisis Deskriptif Variabel Skor ratarata Kategori Keseimbangan Kehidupan Kerja (X) 3.67 Tinggi Work Family Conflict (M1) 3.17 Cukup Family Work Conflict (M2) 2.59 Rendah Kinerja (Y) 3.41 Tinggi Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja yang di rasakan oleh dosen tetap wanita yang baik. Dosen tetap wanita merasa sudah seimbang dalam hal pembagian waktu, keterlibatan, dan kepuasan dalam karier dan kehidupan yang dicapai. Selain itu, work family conflict yang dirasakan oleh dosen tetap wanita cukup tinggi dalam hal kesibukan dan tekanan kerja yang terjadi sehingga terkadang memicu konflik dalam keluarga karena kurangnya waktu untuk berkumpul bersama keuarga. Namun sebaliknya, family work conflict yang dirasakan dosen tetap wanita ternyata rendah atau jarang terjadi. Hal ini menunjukan bahwa walaupun terjadi konflik dalam keluarga, tidak dibawa ke dalam pekerjaan sehingga tidak memicu konflik dalam pekerjaan. Adapun kinerja dosen tetap wanita dalam
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 153 dari 159 kategori tinggi atau baik. Hal ini berarti dosen tetap mampu bekerja secara profesional memenuhi tri dharma perguruan tinggi dan tugas penunjang lainya. Hasil Uji Outer Model (validitas dan reliabilitas) a. Hasil uji validitas dengan outer model dapat dilihat pada tabel 4 berikut: Tabel 4. Square Root Of AVEs Sumber: Data diolah (WarpPLS 5.0) Berdasarkan tabel 4, diketahui bahwa nilai root of AVEs setiap variabel dari 81 responden lebih besar dari korelasi antar variabel laten pada kolom yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa discriminant validity dapat diterima. Hasil Uji Reliabilitas Tabel 5. Composite Reliability dan Cronbach’s Alpha Coefficient Variabel Composite reliability coefficients Cronbach's alpha coefficient X 0,883 0,849 M1 0,868 0,807 M2 0,859 0,792 Y 0,869 0,841 Sumber: Data diolah (WarpPLS 5.0) Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa nilai composite reliability coefficients dan Cronbach’s Alpha Coefficient lebih dari 0,7 sehingga reliabilitas internal konsistensi dinyatakan reliabel. Hasil Uji Model fit X M1 M2 Y X 0,68 - 0,485 - 0,547 0,263 M1 - 0,485 0,755 0,634 - 0,039 M2 - 0,547 0,634 0,746 0,001 Y 0,263 - 0,039 0,001 0,528
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 154 dari 159 Tabel 6. Model fit and quality indices No Model fit and quality indices Kriteria Fit Indeks Keterangan 1 Average path coefficient (APC p < 0.05 0.340, P<0.001 Terpenuhi 2 Average R-squared (ARS) p < 0.05 0.217, P=0.010 Terpenuhi 3 Average adjusted R-squared (AARS) p < 0.05 0.199, P=0.015 Terpenuhi 4 Average block VIF (AVIF) acceptable if <= 5, ideally <= 3.3 1.148 Terpenuhi 5 Average full collinearity VIF (AFVIF) acceptable if <= 5, ideally <= 3.3 1.618 Terpenuhi 6 Tenenhaus GoF (GoF) small >= 0.1, medium >= 0.25, large >= 0.36 0,318 Terpenuhi, kategori medium 7 Sympson's paradox ratio (SPR) acceptable if >= 0.7, ideally = 1 0,8 Terpenuhi 8 R-squared contribution ratio (RSCR) acceptable if >= 0.9, ideally = 1 0,955 Terpenuhi 9 Statistical suppression ratio (SSR) acceptable if >= 0.7 1,0 Terpenuhi 10 Nonlinear bivariate causality direction ratio (NLBCDR) acceptable if >= 0.7 1,0 Terpenuhi Berdasarkan hasil analisis yang disajikan pada tabel 6 diperoleh model memenuhi seluruh kriteria fit, sehingga dapat dilanjutkan pada tahap pengujian selanjutnya. Hasil Uji SEM WrapPLS Model dan hasil uji analisis mediasi pada penelitian ini ditunjukkan dengan gambar 2 yang memperlihatkan pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel yang diteliti. Sedangkan besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung ditunjukkan oleh nilai koefisien jalur pada tabel 7.
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 155 dari 159 Gambar 2. Direct effect dan indirect effect Tabel 7. Path coefficient Kriteria Variabel WLB WFC FWC Kinerja Path coefficient WLB WFC -0,495 FWC -0,548 Kinerja 0,301 0,136 0,221 P values WLB WFC <0,001 FWC <0,001 Kinerja 0,002 0,104 0,018 Effect sizes for path coefficient WLB WFC 0,245 FWC 0,3 Kinerja 0,086 0,033 0,053 Indirect Effect WLB->WFC->Kinerja dengan β (-0,067) dan p value (0,217) WLB->FWC->Kinerja dengan β (-0,121) dan p value (0,046) Pembahasan Pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap work family conflict Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap work family conflict, yang berarti hipotesis diterima. Secara riil, dosen tetap wanita mampu menyeimbangkan waktu untuk urusan pekerjaan dan kehidupan, keseimbangan
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 156 dari 159 keterlibatan peran dalam pekerjaan dan kehidupan, dan adanya keseimbangan kepuasan atas capaian yang diperoleh dalam pekerjaan dan kehidupan. Adanya keseimbangan kehidupan kerja (WLB) dapat menurunkan work family conflict karena sudah terbiasa dengan ritme pekerjaan tri dharma setiap semester. Dosen tidak merasa tertekan dengan tuntutan pekerjaanya. Kesibukan kerja masih dalam batas wajar walaupun kadang ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan. Selain itu, jarang terjadi konflik dalam keterlibatan peran di kehidupan/keluarga dengan tanggungjawab kerjanya. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari keluarga dan sudah memahami resiko memiliki pasangan yang menjadi wanita karir. Pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap family work conflict Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap family work conflict, yang berarti hipotesis diterima. Dapat dijelaskan, dosen tetap wanita mampu membagi waktu yang seimbang untuk pekerjaan dan keluarga, mampu menyeimbangkan keterlibatan peran dalam pekerjaan dan kehidupan, dan merasakan keseimbangan kepuasan dalam kehidupan dan pekerjaan. Adanya keseimbangan kehidupan kerja (WLB) berdampak pada rendahnya family work conflict. Dosen tetap wanita tidak merasa terbebani dengan tanggungjawabnya sebagai orang tua, mendapatkan dukungan dari pasangan untuk tetap berkarir, dan masih dapat meluangkan waktu menemani anak dan pasangan di rumah, serta pekerjaan yang terkadang dibawa pulang ke rumah dirasa tidak terlalu mengganggu hubungan dengan keluarga. Jika terdapat konflik dalam keluarga, dosen jarang membawa permasalahannya dalam pekerjaanya. Pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap kinerja dosen tetap wanita Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap kinerja dosen tetap wanita, yang berarti hipotesis diterima. Adanya keseimbangan peran dalam kehidupan dan pekerjaan mampu meningkatkan kinerja dosen tetap wanita. Keberadaannya ada saat dibutuhkan keterlibatanya dalam pekerjaan dan kehidupannya, serta merasa puas atas dukungan yang selama ini telah diberikan oleh keluarga dan instansi kerja. Sehingga berdampak pada peningkatan kinerja dosen tetap wanita yaitu terlaksananya tugas tridharma mulai dari mengajar, penelitian, dan pengabdian, tugas penunjang dan atau tugas struktural yang harus diselesaikan dosen setiap semester dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengaruh work family conflict terhadap kinerja dosen tetap wanita Hasil penelitian menunjukkan bahwa work family conflict tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja dosen tetap wanita, yang berarti hipotesis ditolak. Dapat dijelaskan walaupun ada tekanan kerja yang tinggi, banyaknya pekerjaan yang seringkali harus di selesaikan bersamaan, dan perannya yang sama-sama dibutuhkan oleh keluarga dan pekerjaan sehingga terkadang memicu konflik dengan keluarga saat dosen harus mengorbankan waktu bersama keluarga agar segera dapat menyelesaikan pekerjaan. Namun, hal ini tidak berdampak pada kinerja dosen. Pekerjaan tetap dapat diselesaikan
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 157 dari 159 secara profesonal sesuai dengan program kerja dan rencana kegiatan setiap semester. Pengaruh family work conflict terhadap kinerja dosen tetap wanita Berdasarkan hasil analisis dapat dijelaskan bahwa family work conflict berdampak pada penurunan kinerja dosen tetap wanita, yang berarti hipotesis diterima. Saat terjadi konflik dalam keluarga terkait kurangnya waktu bersama keluarga jika harus lembur kerja atau dinas luar kota, sering membawa pekerjaan ke rumah, dan besarnya beban sebagai orangtua dalam mendidik anak, dapat menurunkan kinerja dosen tetap wanita. Bagaimanapun, wanita adalah seorang istri dan ibu yang perannya sangat penting bagi keluarga. Sehingga jika terjadi konflik dengan keluarga, biasanya mereka cenderung kurang bersemangat bekerja baik dalam hal mengajar, meneliti atau melakukan kegiatan akademik lain yang akhirnya penyelesaiannya terlambat dari program kerja atau bahkan tidak terlaksana penuh. Peran work family conflict dalam memediasi pengaruh antara keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap kinerja dosen tetap wanita. Hasil penelitian menunjukan work family conflict tidak mampu memediasi pengaruh keseimbangan kehidupan kerja terhadap kinerja dosen tetap wanita, yang berarti hipotesis ditolak. Hal ini berarti, saat terjadi ketidakseimbangan pada salah satu peran akan berdampak langsung pada kinerja dosen. Dalam bekerja, dosen pasti membutuhkan keseimbangan dukungan dari kedua pihak yaitu keluarga dan instansi tempatnya bekerja. Jika dalam bekerja namun pikiran tertuju pada keluarga maka kinerjnya tidak akan maksimal. Waktu libur yang seharusnya untuk keluarga, dialihkan untuk dinas luar kota membuat dosen tetap wanita merasa bersalah, sehingga cenderung kurang semangat bekerja atau bahkan mereka memilih tidak melaksanakan tugas tersebut. Peran family work conflict dalam memediasi pengaruh antara keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap kinerja dosen tetap wanita. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa family work conflict mampu memediasi secara parsial pengaruh antara keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap kinerja dosen tetap wanita, yang berarti hipotesis diterima. Dapat dijelaskan bahwa dengan adanya ketidakseimbangan waktu, peran, dan keterlibatan dosen dalam pekerjaan dan kehidupan akan mempengaruhi family work conflict dan berdampak lanjut pada penurunan kinerja. Saat waktu yang seharusnya untuk bekerja, cenderung sering digunakan untuk kepentingan keluarga, maka akan berdampak pada konflik di pekerjaan baik oleh rekan kerja atau atasan karena pekerjaan dosen tidak hanya mengajar saja. Bagi dosen yang menjabat struktural bahkan memiliki beban kerja lebih sehingga sering membutuhkan koordinasi dengan rekan kerja dan atasan. Adanya konflik dalam pekerjaan akan berkontribusi dalam penurunan kinerja individu tersebut. Kinerja tridharma bisa tidak tercapai dan jika dosen wanita menjabat struktural, maka program kerjanya dapat tersendat atau tidak sepenuhnya terlaksana.
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 158 dari 159 E. PENUTUP Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa adanya keseimbangan kehidupan kerja (WLB) berkontribusi pada penurunan work family conflict , dan family work conflict, serta peningkatan kinerja dosen tetap wanita. Selain itu, work family conflict yang terjadi ternyata tidak berdampak pada kinerja dosen. Namun, family work conflict yang terjadi berdampak langsung pada menurunya kinerja dosen karena konflik dengan keluarga menyebabkan dosen kurang semangat kerja. Adapun work family conflict ternyata tidak mampu memediasi pengaruh keseimbangan kehidupan kerja terhadap kinerja dosen. Sedangkan, family work conflict mampu memediasi secara parsial pengaruh antara keseimbangan kehidupan kerja (WLB) terhadap kinerja dosen tetap wanita. Dari hasil penelitian dapat berikan saran pada perguruan tinggi terkait jam kerja dosen yang fleksibel sebaiknya dapat diimplementasikan lebih baik lagi. Dosen tidak perlu setiap hari ke kantor karena mereka bukan tenaga kependidikan yag bekerja dibidang administratif, asalkan seluruh tugas dosen dapat terselesaikan dengan baik. Hal ini diperlukan untuk mendukung implementasi keseimbangan kehidupan kerja dan kinerja dosen yang lebih baik lagi. Saran bagi dosen tetap wanita adalah pentingnya membuat schedule kerja dan rencana capaian yang harus diselesaikan setiap minggu atau bulan, agar dosen dapat menyesuaikan waktu agar dapat berkumpul dengan keluarga. Adapun saran untuk peneliti selanjutnya dapat mengungkap hasil peneliitan sejenis yang menjadi research gap faktor yang berdampak pada kinerja dosen. Karena hasil penelitian ini menunjukkan work family conflict tidak mampu memediasi pengaruh keseimbangan kehidupan kerja terhadap kinerja dosen. DAFTAR PUSTAKA European Agency for Safety and Health at Work - http://osha.europa.eu. Diakses pada: 12 Januari 2016. http://portalhr.com/people-management/manager-wanita-lebih-tenang-dalammenghadapi-konflik/. Kamis, 22 Januari 2015 - 1:50 WIB. Diakses 18 Maret 2016 http://portalhr.com/human-interest/life-balanced/pekerja-muda-lebihmemperhatikan-work-life-balance/. Senin, 18 Mei 2015 - 11:22 WIB. Diakses 18 Maret 2016. Ferdinand, A. 2002. Structural Equation Modelling dalam Penelitian Manajemen, Aplikasi Model-Model Rumit dalam Penelitian untuk Tesis S-2 dan Disertasi S-3. Semarang. BP Universitas Diponegoro. Delina, G dan Raya, Dr. R. Prabhakara. 2013. A study on Work-Life Balance in Working Women. IRACST – International Journal of Commerce, Business and Management (IJCBM), ISSN: 2319–2828 Vol. 2, No.5, October 2013 Jackson, John .H., and Mathis, Robert. L. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi 10. Angelica, Diana (penterjemah). Salemba Empat, Jakarta Moorhead and Griffin. 2013. Perilaku Organisasi (Manajemen Sumber Daya Manusia dan Organisasi) Edisi 9. Jakarta: Salemba Empat
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Kristin Juwita , Erminati Pancaningrum Halaman 159 dari 159 Riduwan. 2004. Metode & Teknik Menyusun Tesis. Bandung: CV Alfabeta Rivai, Veithzal. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari Teori ke Praktek. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa Robbins, Stephen. 2003. Perilaku Organisasi. Atmaja, Haryana Puja (penterjemah). Jakarta: . PT. Prenhallindo Robbins 2006. Perilaku Organisasi. Atmaja, Haryana Puja (penterjemah). Jakarta: . PT. Prenhallindo Robbins, P. Sthepen dan Judge, A Timothy. 2008. Perilaku Organisasi ( Organizational Behavior) Buku 2 Edisi 12. Jakarta: Salemba Empat Robbins, P, Sthepen., Judge, A Timothy A. 2009. Perilaku Organisasi (Organizational Behavior) Buku 1 Edisi 12. Jakarta: Salemba Empat Sekaran. Uma. 2006, Research Methods for business, diterjemahkan oleh Kwan Men Yon, Edisi Keempat, Jilid 1 dan 2, Salemba Empat. Jakarta ang, Chen, Choi, & Zou, 2000. Sources of Work-Family Conflict: A SINO-U.S Comparison of The Effect of Work and Family Demands. Academy of Management Journal 2000, Vol. 43, No. 1, 113-123. Fisher, Gwenith G.; Bulger, Carrie A; and Smith, Carlla S. 2009. Beyond Work and Family: A Measure of Work/Nonwork Interference and Enhancement. Journal of Occupational Health Psychology , Vol. 14, No. 4, 441–456 Kim, Hye Kyoung. 2014. Work-Life Balance and Employees’ Performance: The Mediating Role of Affective Commitment. Global Business and Management Research: An International Journal Vol. 6, No. 1 (2014) Greenhaus, Jeffrey H; Collins, Karen M ; and Shawc, Jason D. 2003. The relation between work–family balance and quality of life. Journal of Vocational Behavior 63 (2003) 510–531 Friedman, Stewart D and Greenhaus, Jeffrey H. 2000. Work and Family- Allies or Enemies?. Oxford University Press
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 160 dari 170 Halaman 160 dari 170 Keputusan Memilih Produk Tabungan Emas: Efek Promosi Dan Kualitas Layanan di PT. Pegadaian (persero) Cabang Palu Timur Tarmizi1* , Nur Hilal 2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Panca Bhakti Palu, Indonesia1,2 *Korepondensi: [email protected] Dikirim: 2 Desember 2020, Direvisi: 19 Desember 2020, Dipublikasikan: 28 Desember 2020 Abstract This study aims to determine and analyze the effect of promotion and service quality on the decision to choose. The variables in this study are Promotion and Service Quality and Decision to Choose which can solve the problems experienced by PT. Pegadaian (Persero) East Palu Branch. The findings in the study show that the value felt by customers is still low, if the results of the interview are associated with the mean value obtained in the questionnaire which shows that it is still low. on the contrary, when based on the results of the t-count and the P-value, it does not mean that the results are better, in this case the PT. Pengadaian (Persero) Palu Timur Branch needs to increase its sales promotion and dimensions of service quality more intensely and touch the hearts of customers by frequently providing information about pawnshop products through social media, one of which is WhatsApp. This study uses a survey research design and is verification in nature. The data source is primary data, namely data collected through questionnaires and documentation studies related to this research. The analysis method used is multiple linear regression analysis. The results showed that simultaneously promotion and service quality had a significant effect on decision making with an R Square value of 0308 or 308%. Keywords: Service Quality Promotion and Choosing Decisions Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis efek promosi dan kualitas pelayanan terhadap keputusan memilih. Variabel dalam penelitian ini adalah Promosi dan Kualitas Pelayanan serta Keputusan Memilih yang dapat menyelesaikan masalah yang di alami oleh PT. Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur. Hasil temuan dalam penelitian terdapat dari nilai yang dirasakan oleh pelanggan masih rendah, apabila hasil wawacara dikaitkan dengan nilai mean yang diperoleh dalam kuesioner yang menunjukkan masih rendah. sebaliknya ketika didasar hasil dari t-hitung dan Pvalue menunjukkan hasil yang signifikan bukan berarti menjukkan hasil lebih baik, dalam hal ini pihak PT. Pengadaian (Persero) Cabang palu Timur perlu meningkatkan sales promosinya dan dimensi kualitas layanannya dengan lebih intens dan menyentuh hati pelanggan dengan sering memberikan informasi tentang produk pengadaian melalui media sosial salah satunya whatsapp. Penelitian menggunakan desain penelitian survei dan bersifat verifikatif. Sumber data berupa data primer yaitu data yang dikumpulkan melalui kuesioner serta studi dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian ini. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan promosi dan kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan dengan nilai R Square sebesar 0308 atau 308%. Kata Kunci: Promosi Kualitas Pelayanan dan Keputusan Memilih A. PENDAHULUAN Keadaan pasar yang berubah sangat cepat mengakibatkan konsumen sangat sensitif terhadap harga dan kualitas yang ditawarkan produsen. Berbagai faktor lingkungan mempengaruhi perkembangan sektor jasa seperti konsumen, kompetitor baru, saluran distribusi, sosial budaya, dan saluran komunikasi baru ISSN : 2654 - 4326
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 161 dari 170 yang semakin canggih. Pengembangan suatu produk perlu dilakukan untuk menarik konsumen. Persaingan dalam industri jasa gadai saat ini sudah cukup banyak dan mudah ditemui diberbagai tempat, hal ini berpotensi mengurangi penjualan produk suatu perusahaan dalam industri. Semakin ketatnya persaingan, perusahaan dituntut untuk selalu memberikan layanan terbaik dan termudah kepada nasabah agar perusahaan tetap dapat mempertahankan pangsa pasarnya dalam industri gadai dan investasi emas. PT. Pegadaian (Persero) merupakan perusahaan BUMN di Indonesia yang usaha intinya adalah bidang jasa penyaluran kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai. Sebagai suatu badan usaha yang terus berkembang, PT. Pegadaian (Persero) dituntut untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam industri gadai. Salah satu produk yang ditawarkan PT. Pegadaian (Persero) Tabungan emas yang melayani pembelian dan penjualan emas murni dengan fasilitas titipan dengan harga yang sangat terjangkau. Produk tabungan emas ini diluncurkan dengan tujuan untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin membeli emas dengan modal seminimal mungkin. Berbeda dengan kredit emas di perbankan, tabungan emas bisa didapat dengan modal yang sangat kecil, tidak ada jangka waktu untuk angsuran, dan tidak menggunakan jaminan apapun. Kenyataan yang ada bahwa PT. Pegadaian (Persero) cabang Palu Timur memiliki kelemahan dalam hal promosi karena tidak ada bagian pemasaran tersendiri, sehingga kegiatan pemasaran belum bisa dilakukan dengan maksimal. Promosi yang dilakukan PT. Pegadaian (Persero) cabang Palu Timur hanya berupa iklan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat seperti literasi atau sosilisasi saja, belum semua aspek promosi digunakan. Iklan yang dilakukan PT. Pegadaian (Persero) area Palu masih melalui radio. Dimana pada saat ini, tidak semua orang menggunakan radio sehingga, promosi menggunakan radio kurang efektif. Selain itu, penjualan personal dilakukan lebih banyak kepada masyarakat yang menggunakan jasa gadai di Pegadaian tersebut maupun kerabat pegawai PT. Pegadaian (Persero) cabang Palu Timur. Karena itu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang produk tabungan emas. Hal ini di ikuti masih rendah layanan yang diberikan kepada pelanggan sepertinya masih kurang responbility dalam melayani pelanggan. Pertumbuhan perusahaan jasa harus diikuti dengan kualitas pelayanannya. Prinsipnya definisi kualitas jada berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan (Tjiptono, 2011). Pelayanan jasa dari tahun ke tahun harus mengalami peningkatan karena kepuasan pelanggan pada perusahaan jasa menjadi salah satu aspek dalam memilih suatu produk pada suatu perusahaan. Persepsi kualitas yang baik diperoleh bila kualitas yang dialami (experienced quality) memenuhi harapan pelanggan (Gro¨nroos, 1990; Mangold and Babakus, 1991). Bila harapan pelanggan tidak sesuai, maka persepsi kualitas total akan rendah, walaupun kualitas yang dialami baik (Tjiptono, 2011). Kualitas pelayanan yang stagnan dan tidak ada perubahan dalam melayani pelanggan dapat
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 162 dari 170 mengakibatkan konsumen akan pindah dari suatu perusahaan ke perusahaan lain. Pelayanan yang diberikan oleh Pegadaian kepada pelanggan dalam memengaruhi masyarakat untuk memilih tabungan emas tidak berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan yang menggunakan jasa produk gadai lainnya. Pelayanan khusus untuk nasabah tabungan emas dalam menarik pelanggan, sebaiknya pihak pegadaian memberikan pelayanan yang terbaik serta promosipromosi yang menarik agar masyarakat tertarik memilih tabungan emas. Setiap negara dalam menerapakan dimensi kulitas menjadi sebuah sesuatu yang penting dalam meningkatkan kinerja perusahaan, hal ini teramat amat penting untuk dicatat bawah konsumen dari berbagai negara dapat melihat dan mengevaluasi layanan dimensi kualitas dan nilai yang dirasakan secara berbeda (Carrilat et al. 2007). Memang beberapa studi manajemen telah mengidentifikasi kurangnya studi empiris yang mengeksplorasi pertanyaan yang sama di negara yang berbeda (Byon et al. 2013; Murray dan Howat 2002). Begitu pula studi penelitian ini bahwa dalam satu negara memiliki banyak daerah yang budaya, geografis, dan demograsi yang berdeda. Meski demikian penelitian dapat dilakukan dengan mengakaji lebih mendalam tentang promosi yang ditawarkan bersama dengan tingginya dimensi kualitas layanan yang merupakan dasar teori dari perilaku (Theodorakis, N.D., et.al., (2009) yang teramat amat penting untuk memajukan dan memperkaya pengetahuan teori perilaku konsumen mengingat temuan yang sering bertentangan di konteks perilaku konsumen. Oleh karena itu sebuah studi ini menguji dimensi kualitas layanan yang menjadi dasar perilaku dalam memutuskan dengan niat untuk melakukan pembelian produk akan dikonsumsi dan dirasakan (Murray dan Howat, 2002). sehingga penelitian ini mengembangkan dalam model untuk diteliti antara hubungan promosi dan kualitas layanan dengan nilai yang dirasakan dan niat perilaku dalam memutuskan untuk membeli produk yang ditawarkan. Studi ini dapat memberikan cahaya baru di area jasa pemasaran di bidang manajemen pemasaran baik secara teori maupun praktek. B. TINJAUAN PUSTAKA Promosi Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu produk, apabila konsumen belum pernah mendengarkannya dan tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan pernah membelinya. Adapun definisi dari promosi menurut para ahli adalah sebagai berikut: Menurut Sutisna (2001:267), menyatakan bahwa: “Promosi adalah usaha untuk menyampaikan pesan kepada publik terutama konsumen sasaran mengenai keberadaan produk di pasar”. Menurut Alma (2002:135), mengemukakan bahwa: “Promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa”. Semua usaha dalam kegiatan promosi dilakukan melalui komunikasi yang menggunakan kombinasi peralatan promosi yang disebut dengan bauran promosi.
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 163 dari 170 Menurut Kotler dan Armstrong (2004:600), menyatakan bahwa bauran promosi terdiri dari: 1) Advertising (periklanan) Yaitu setiap bentuk persentasi dan promosi non-personalyang memerlukan biaya tentang gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor yang jelas. 2) Sales Promotion (promosi penjualan) Yaitu insentif-insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan sebuah produk atau jasa. 3) Public Relation and Publicity (hubungan masyarakat dan publisitas) Yaitu membangun hubungan baik dengan berbagai public perusahaan dengan sejumlah cara supaya memperoleh publisitas yang menguntugkan, membanguin citra perusahaan yang bagus, dan menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang tidak menguntugkan. 4) Personal Selling (penjualan secara pribadi) Yaitu persentasi personal oleh tenaga penjualan sebuah perusahaan dengan tujuan menghasilkan transaksi penjualan dan membangun hubungan dengan pelanggan. 5) Direct Marketing (pemasaran langsung) Yaitu hubungan-hubungan langsung dengan masing-masing pelanggan yang dibidik secara seksama dengan tujuan baik untuk memperoleh tanggapan segera, maupun untuk membina hubungan dengan pelanggan yang langgeng. Kualitas Pelayanan Menurut Zeithhaml, Parasuraman & Berry (2001:46) untuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan secara nyata oleh konsumen, kualitas pelayanan yang terletak pada lima dimensi, yaitu: 1) Tangibles (berwujud) : kualitas pelayanan berupa sarana fisik perkantoran, komputerisasi administrasi, ruang tunggu, tempat informasi. 2) Realibility (kehandalan) : kemampuan dan keandalan untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya. 3) Responsivess (ketanggapan) : kesanggupan untuk membantu dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap keinginan konsumen. 4 )Assurance (jaminan) : kemampuan dan keramahan serta sopan santun pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. 5) Emphaty (Empati) : sikap tegas tetapi penuh perhatian dari pegawai terhadap konsumen. Keputusan Memilih Keputusan konsumen menurut Kotler dan Keller (2009) adalah proses psikologis dasar yang memainkan peran penting dalam memahami bagaimana konsumen benar-benar membuat keputusan pembelian mereka. Kotler dan Keller (2009) mengemukakan tahapan dalam keputusan pembelian yang terdiri dari: 1. Pengenalan masalah Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan.kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Dengan rangsangan internal, salah satu dari kebuuhan normal seseorang naik ke tingkat maksimum dan menjadi dorongan, atau kebutuhan bisa timbul akibat rangsangan eksternal. Pemasar harus mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen mereka kemudian dapat menyusun strategi pemasaran yang mampu memicu minat konsumen. Terutama untuk pembelian fleksibel seperti barangbarang mewah, paket liburan, dan pilihan hiburan, pemasar mungkin harus meningkatkan motivasi konsumen sehingga pembelian potensial mendapat pertimbangan serius.
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 164 dari 170 2. Pencarian Informasi Konsumen sering mencari jumlah informasi yang terbatas. Keadaan pencarian yang lebih rendah disebut perhatian tajam. Pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih reseptif terhadap informasi aktif dengan mencari bahan bacaan, menelpon teman, melakukan kegiatan online mengunjungi toko untuk mempelajari produk tersebut. Melalui pengumpulan informasi, konsumen mempelajari merek pesaing dan fitur mereka. Dari total kumpulan merek yang tersedia, konsumen perorangan hanya akan mengetahui sebagian merek, yang disebut dengan kumpulan kesadaran. Kemudian dalam kumpulan pertimbangan, beberapa merek akan memenuhi kriteria pembelian awal. Ketika konsumen mengumpulkan lebih banyak informasi, hanya beberapa kumpulan pilihan yang menjadi calon kuat dan konsumen membuat pilihan akhir dari kumpulan ini. 3. Evaluasi alternatif Evaluasi alternatif merupakan cara konsumen memproses informasi merek kompetitif dan melakukan penilaian nilai akhir. Beberapa konsep dasar yang dapat membantu memahami proses evaluasi konsumen, yaitu: a) Konsumen berusaha memahami sebuah kebutuhan. b) Konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk. c) Konsumen melihat masing-masing produk sebagai sekelompok atribut dengan berbagai kemampuan untuk menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan. Konsumen akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang menghantarkan manfaat yang memenuhi kebutuhan dan dapat mesegmentasikan pasar suatu produk berdasarkan atribut yang penting bagi kelompok konsumen. Di tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk maksud untuk membeli merek yang paling disukai. Dalam melaksanakan maksud pembelian, konsumen bisa membentuk lima sub keputusan, yaitu merek, penyalur, kuantitas, waktu, dan metode pembayaran. Konsumen tidak harus menggunakan satu jenis aturan pilihan saja. Terkadang mereka menerapkan strategi keputusan bertahap yang menggabungkan dua pilihan atau lebih. 4. Perilaku Setelah Pembelian Konsumen mungkin mengalami konflik setelah membeli, hal ini dikarenakan melihat fitur menghawatirkan tertentu atau mendengar hal-hal yang menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Komunikasi pemasaran seharusnya memasok keyakinan dan evaluasi yang memperkuat pilihan konsumen dan membantunya merasa nyaman tentang merek tersebut. Karena itu tugas pemasar tidak berakhir dengan pembelian. Pemasar harus mengamati kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian, dan penggunaan produk pasca pembelian. C. METODE PENELITIAN Sesuai dengan tujuan penelitian ini, yakni untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh promosi dan kualitas pelayanan terhadap keputusan memilih produk tabungan emas di PT. Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur, maka penelitian ini merupakan penelitian survei. Populasi dalam penelitian ini adalah nasabah tabungan emas pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur yang berjumlah 542. (Sumber : www.mis.pegadaian). Sampel penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau regresi ganda misalnya),
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 165 dari 170 maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 3 (independen ditambah dengan dependen), maka jumlah anggota sampel = 10 x 3 = 30. (Sugiyono, 2017:103). Dalam penelitian ini digunakan metode analisis regresi linier berganda. Penggunaan analisis regresi linier berganda ini, dikarenakan data yang diperoleh dianggap sebagai data populasi dan berdistribusi normal serta antara variabel independen dan dependen terdapat hubungan linier. Untuk meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen, bila dua atau variabel independen sebagai faktor dimanipulasi (di naik turunkan nilainya) dengan formulasi sebagai berikut (Sugiyono, 2017:218) D. ANALISI DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Analisis regresi linear berganda adalah merupakan salah satu alat analisis statistik non parametrik yang berfungsi menganalisis keterkaitan dan keterhubungan diantara dua atau lebih variabel penelitian yang berbeda, yaitu variabel dependen dan variabel independen dengan membutuhkan data terdiri dari beberapa kelompok hasil observasi atau pengukuran.Berdasarkan hasil olah data dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows diperoleh hasil analisis regresi berganda pada tabel berikut : Tabel 1. Hasil Perhitungan Regresi Linear Berganda Sumber : Data Primer yang diolah, 2018 Dari hasil analisis regresi berganda pada tabel diatas, kemudian dimasukkan ke dalam model persamaan regresi berganda dengan formulasi berikut : Persamaan regresi linear berganda di atas menunjukkan bahwa variabel independen (promosi dan kualitas pelayanan) memiliki arah positif terhadap variabel dependen (keputusan memilih). Hasil perhitungan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Nilai konstanta sebesar 6,323 menyatakan bahwa jika variabel bebas yaitu promosi (X1) dan kualitas pelayanan (X2) tetap atau bernilai nol maka keputusan memilih produk tabungan emas yang dihasilkan akan bernilai 6,323. 2) Koefisien regresi variabel promosi (X1) sebesar 0,392 dan bertanda positif menyatakan bahwa setiap terjadi peningkatan satu satuan variabel promosi (X1) akan meningkatkan keputusan memilh produk tabungan emas (Y) sebesar 0,392 jika apabila variabel lain dianggap konstan. 3) Koefisien regresi variabel kualitas No. Variabel Independen Variabel Dependen (Keputusan Memilih) Koef. Regresi (B) Hasil Uji t Sig. t t Parsial 1. Constanta (a) 6.323 2.609 0.011 2. Promosi (X1) 0.392 3.908 0.000 0.416 3. Kualitas Pelayanan (X2) 0.089 2.373 0.020 0.253 Multiple Regresi = 0.555 F hitung = 15.379 R Square = 0.308 F tabel = 3.12 Adjusted R Square = 0.288 t tabel = 1.667 α = 0,05 Signifikansi F = 0.000 Y = 6,323 + 0,392 X1 + 0,089 X2
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 166 dari 170 pelayanan (X2) sebesar 0,089 dan bertanda positif menyatakan bahwa setiap terjadi peningkatan satu satuan variabel kualitas pelayanan (X2) akan meningkatkan keputusan memilih produk tabungan emas (Y) sebesar 0,089 jika apabila variabel lain dianggap konstan Pengaruh Promosi dan Kualitas Pelayanan Secara Simultan Berpengaruh Signifikan terhadap Keputusan Memilih Produk Tabungan Emas. Berdasarkan hasil persamaan regresi yang diperoleh dan telah diuraikan sebelumnya, diketahui nilai koefisien regresi kedua variabel independen bernilai positif, yang menujukkan bahwa terdapat pengaruh searah antara promosi, kualitas pelayanan, dan keputusan memilih produk tabungan emas. Sehingga dari hasil persamaan tersebut dapat diketahui jika promosi dan kualitas pelayanan ditingkatkan maka jumlah nasabah yang memutuskan untuk memilih produk yang dihasilkan dapat meningkat pula. Kualitas pelayanan yang diberikan oleh PT. Pegadaian (Persero) membuat nasabah merasa yakin dan percaya untuk bertransaksi membuka tabungan emas karena nasabah merasa tabungan emas merupakan alternatif terbaik dalam berinvestasi emas dalam hal keamanan dan biaya yang ditawarkan serta transaksi pembelian minimal 0,01 gram atau setara dengan Rp.6.000, -an. Promosi merupakan kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperkenalkan produk atau jasa yang dimilikinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Promosi yang dilakukan Pegadaian kepada masyarakat harus memberi informasi yang tepat dimana komunikasi berperan penting, dalam hal ini promosi akan menjadi sesuatu yang berharga. Komunikasi merupakan karakter penting dalam membangun hubungan dengan diadakan promosi maka masyarakat dapat mengetahui apa saja yang diberikan oleh perusahaan serta menambah minat masyarakat untuk menggunakan produk. Promosi berupa iklan di media cetak atau elektronik, kegiatan yang bersifat sosial, pemberian hadiah atau souvenir, dan penjualan personal yang di lakukan karyawan Pegadaian akan meningkatkan jumlah nasabah yang bertransaksi untuk membuka tabungan emas. Ketika masyarakat telah memiliki informasi yang telah didapat maka tindakan selanjutnya untuk menjadi nasabah dengan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan. Kualitas pelayanan akan mendapatkan peran penting dimana kualitas pelayanan yang diterima oleh konsumen menjadi penilaian atas pelanggan (Hasan, 2009:88). Pelayanan yang dilakukan oleh PT. Pegadaian merupakan upaya yang dilakukan agar memberikan keyakinan dan kenyamanan kepada nasabah sehingga nasabah tersebut akan memilih bertransaksi menggunakan produk-produk yang ditawarkan oleh PT. Pegadaian salah satunya adalah produk tabungan emas. Kualitas pelayanan yang baik akan mendorong nasabah untuk bertransaksi menggunakan produk yang ditawarkan oleh pihak PT. Pegadaian. Variabel promosi dan kualitas pelayanan merupakan faktor yang dapat memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan memilih suatu produk seperti dalam teori Blackbox yang dipaparkan Kotler. Hal ini dibuktikan pada penelitian ini di mana variabel promosi dan kualitas pelayanan bersama-sama memengaruhi keputusan dalam memilih produk yaitu tabungan emas Pegadaian. Hasil penelitian ini mendukung oleh penelitian terdahulu Hesti, Nurlina, dan Elly (2017), Dewa (2015) dan Weenas (2013). Promosi dan Kualitas Pelayanan dapat memberikan pengaruh positif bagi Keputusan Memilih Produk Tabungan
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 167 dari 170 Emas PT. Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur, sehingga menjadi lebih optimal dalam pencapaian tujuan organisasi. Pengaruh Promosi Berpengaruh Signifikan terhadap Keputusan Memilih Produk Tabungan Emas. Promosi merupakan suatu hal yang penting dalam memasarkan seluruh produk atau jasa yang dimiliki oleh perusahaan dalam menentukan keputusan nasabah untuk memilih suatu produk atau jasa. Semakin banyaknya promosi yang dilakukan oleh perusahaan maka semakin besar tingkat keputusan nasabah untuk menabung, begitu pula sebaliknya semakin rendah promosi-promosi yang dilakukan oleh perusahaan maka semakin rendah tingkat keputusan nasabah untuk bertransaksi. Promosi yang dilakukan oleh PT. Pegadaian (Persero) sebagai tindakan menginformasikan atau mengingatkan nasabah mengenai suatu produk atau jasa yang dimiliki, informasi yang didapatkan oleh nasabah baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui media cetak dan elektronik) akan mempengaruhi pengambilan keputusan nasabah untuk menggunakan produk tabungan emas PT. Pegadaian (Persero) khususnya Cabang Palu Timur. Promosi yang dilakukan juga harus memberi edukasi bagi masyarakat mengenai kegunaan dan manfaat menabung khususnya tabungan emas karena emas merupakan logam mulia yang tiap tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga baik dijadikan sebagai alternatif investasi selain tanah atau properti. Nasabah yang puas akan produk tabungan emas nantinya akan memberi rekomendasi produk tabungan tersebut kepada kerabat dan orang sekitar mereka sehingga bisa menarik keluarga atau kerabat nasabah tersebut untuk membuka tabungan emas khususnya di Pegadaian Cabang Palu Timur. Promosi yang dilakukan oleh PT. Pegadaian perlu dioptimalkan khususnya menggunakan media sosial dimana media ini bisa jadi alternatif yang lebih murah dibandingkan dengan media iklan seperti televisi atau media cetak seperti majalah. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Dewa (2015) dan Weenas (2013) yang melakukan penelitian tentang promosi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengaruh positif dan signifikan promosi terhadap keputusan pembelian. Pengaruh Kualitas Pelayanan Berpengaruh Signifikan terhadap Keputusan Memilih. Kualitas pelayanan berupa jasa yang diberikan kepada nasabah sangat berpengaruh terhadap keputusan nasabah untuk memilih menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan dalam hal ini produk tabungan emas pada PT. Pegadaian (persero), artinya apabila kualitas pelayanan tersebut ditingkatkan, maka akan berpengaruh terhadap peningkatan keputusan nasabah untuk membuka tabungan. Begitupun sebaliknya apabila kualitas pelayanan yang diberikan kurang maksimal maka jumlah nasabah yang memutuskan untuk membuka tabungan emas akan berkurang. Umumnya nasabah memilih pemasar yang dirasa nyaman dalam berkomunikasi bahkan pada saat adanya pertanyaan-pertanyaan dari nasabah yang ingin mencari tahu lebih detail tentang produk yang akan dipilihnya. Ramah, santun, bersahabat, siap melayani, dan mampu memberikan informasi merupakan
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 168 dari 170 sikap yang dibutuhkan nasabah dari perusahaan sehingga tindakan ini mampu mendorong nasabah untuk melakukan transaksi. Pelayanan yang dibutuhkan bukan hanya berupa perilaku tetapi bagaimana perusahaan mampu memberikan jaminan atas produk yang akan dibeli dalam hal ini nasabah sudah yakin untuk bertransaksi mengingat PT. Pegadaian (Persero) adalah perusahaan milik negara yang diawasi langsung oleh otoritas jasa keuangan (OJK). Pelayanan yang sesuai standar operasional perusahaan (SOP) sangat perlu diperhatikan misalnya waktu pelayanan 15 menit untuk satu orang nasabah untuk membuka tabungan emas. Apabila pelayanan yang diberikan belum maksimal karena adanya kendala seperti terjadi gangguan pada jaringan internet atau kerusakan pada mesin maka karyawan wajib memberi penjelasan kepada nasabah. Perusahaan juga perlu melakukan penambahan unit komputer dan petugas khusus yang melayani transaksi tabungan emas agar proses transaksi bisa dilakukan dengan cepat. Kualitas pelayanan yang baik akan mendorong nasabah untuk menjalin hubungan yang erat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang hal ini akan memungkinkan perusahaan untuk memahami kebutuhan dan harapan nasabahnya. Kualitas pelayanan yang diberikan oleh Pegadaian Cabang Palu Timur sudah cukup baik dan memenuhi harapan nasabah sehingga nasabah tertarik untuk membuka tabungan emas Pegadaian dan nasabah yang merasakan manfaat produk akan memberi rekomendasi ke kerabat mereka. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Hesti, Nurlina, dan Elly (2017) dan Weenas (2013) menyatakan bahwa kualitas pelayanan berfungsi sebagai jalan yang tepat untuk meningkatkan keputusan pembelian suatu produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. E. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya, peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut : 1) Promosi dan kualitas pelayanan berpengaruh signifikan secara simultan terhadap keputusan memilih produk tabungan emas PT.Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur. 2) Promosi berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih produk tabungan emas PT.Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur. 3) Kualitas pelayanan memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan memilih produk tabungan emas PT.Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur. Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang berkaitan dengan penelitian ini, serta pengalaman dan pengetahuan yang peneliti dapatkan selama proses penelitian, maka direkomendasikan saran-saran sebagai berikut: 1) Bagi PT. Pegadaian (Persero) Cabang Palu Timur, kualitas pelayanan yang diberikan sudah cukup baik, namun perlu di buatkan loket khusus serta karyawan khusus yang bertugas untuk melayani nasabah yang akan bertransaksi tabungan emas. Promosi yang dilakukan bisa dioptimalkan khususnya di media elektronik dan media sosial sehingga masyarakat bisa mengetahui adanya produk tabungan emas. Promosi masih dilakukan di loket oleh bagian frontline sehingga adanya keterbatasan waktu dan informasi yang diberikan, sehingga perlu penambahan karyawan khususnya costumer service dan bagian pemasaran yang khusus menangani pemasaran produk tabungan emas ini. 2) Bagi para karyawan diharapkan mengembangkan potensi
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 169 dari 170 dalam diri mereka salah satunya dengan memperdalam pengetahuan akan produk serta bisa bekerja sama dengan rekan kerjanya sehingga akan terjadi peningkatan kualitas pelayanan. Apabila hal tersebut terlaksana maka akan membantu organisasi untuk mencapai tujuannya. 3) Bagi peneliti selanjutnya agar hasil yang dicapai bisa lebih baik lagi, diharapkan bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperluas penelitian dengan melakukan observasi dan studi pustaka agar dapat memberikan gambaran secara umum dan nyata mengenai promosi, kualitas pelayanan dan keputusan memilih. Masih terdapat variabel-variabel lain yang mempengaruhi variasi dalam variabel keputusan memilih yang belum tergali dalam penelitian ini mengingat nilai R square yang kecil yaitu 30,8% untuk variabel promosi dan 8,9% untuk variabel kualitas pelayanan. DAFTAR PUSTAKA Alma, Buchari. 2002. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung : CV. Alfabeta. Berry, L. L., Parasuraman, A., & Zeithaml, V. A. (2001). Service Quality Can Often Make The Difference Between a Business's Success and Failure. But What Causes Problems, and What Can Business Do To Eliminate Them? The Answers Are Here. Journal of Marketing, 35-43. Byon, K.K., Zhang, J.J. and Baker, T.A. (2013), “Impact of core and peripheral service quality on consumption behavior of professional team sport spectators as mediated by perceived value”, European Sport Management Quarterly, Vol. 13 No. 2, pp. 232-263. Craven, D.W. 2011. Pemasaran Strategis, (terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga. Dewa Bagus Nugraha Windusara dan A.A Gede Agung Artha Kusuma.2015. Pengaruh Bauran Promosi terhadap Keputusan Pembelian OPPO Smartphone. E-Jurnal Manajemen Unud. Vol 4, No.12 2015. 4160-4185. Hasan, Ali. 2009. Marketing. 2009. Yogyakarta. Andi. Hesti Mayasari, Nurlina, dan Elly Wardiningsih. 2017. Pengaruh Motivasi dan Kualitas Pelayanan terhadap Keputusan Menabung di Bank Sinarmas Syariah Padang. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Volume 8, Nomor 2, Mei 2017 ISSN 2086-5031. Kotler,Phlilip & Gary Armstrong. 2004. Dasar-Dasar Pemasaran. Jakarta : PT. Indeks. Kotler, Philip & Gary Amstrong. 2008. Prinsip-prinsip Pemasaran. Jakarta: Penerbit Erlanga. Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2009. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Edisi 12. Jakarta: Indeks. Murray, D. and Howat, G. (2002), “The relationships among service quality, value, satisfaction, and future intentions of customers at an Australian sports and leisure centre”, Sport Management Review, Vol. 5 No. 1, pp. 25-43. M. Nazir, 2003. Metode Penelitian, Cetakan Keempat, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. Sugiyono, 2017. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. Sutisna. 2001. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya
JMD: Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara Vol 3 no 2, Juli 2020 http://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD/issue/view/51 Tarmizi, Nur Hilal Halaman 170 dari 170 Theodorakis, N.D., Koustelios, A., Robinson, L. and Barlas, A. (2009), “Moderating role of team identification on the relationship between service quality and repurchase intentions among spectators of professional sports”, Managing Service Quality, Vol. 19 No. 4, pp. 456-473. Tjiptono, Fandy. 2011. Service, Quality, & Satisfaction. Yogyakarta: Andi Offset. Weenas, Jacson R.S. 2013. Kualitas Produk, Harga, Promosi, dan Kualitas Pelayanan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Spring Bed Comforta. Jurnal EMBA Vol. 1 No.4 Desember 2013, Universitas Sam Ratulangi Manado.