Volume 2 Nomor 2, Juli-Desember 2019 ISSN 2654-4326
JMD JURNAL RISET MANAJEMEN DAN BISNIS DEWANTARA VOLUME 2 NO 2, JULI-DESEMBER 2019
JMD JURNAL RISET MANAJEMEN DAN BISNIS DEWANTARA Diterbitkan oleh LP2KI STIE PGRI Dewantara Jombang Terbit 2 (dua) kali setahun (Juli dan Desember). ISSN 2654-4326 berisi tentang hasil pelaksanaan penelitian dalam bidang riset akuntansi dan keuangan Dewan redaksi Ketua Redaksi : Rita Mutiarni Redaksi Pelaksana Rahmat Rahmat Yuliawan, Universitas Airlangga Surabaya Mirna Indriani, Universitas Syiah Kuala, Aceh Andri Putra Kesmawan, Universitas Airlangga Surabaya Nuri Purwanto, STIE PGRI Dewantara, Indonesia Alamat Redaksi dan Tata Usaha: LP2KI STIE PGRI Dewantara Jombang Jln. Prof. M.Yamin No 77 Jombang, telp (+62 321 – 865180) Fax (+62 321 – 853807)
DAFTAR ISI JMD : Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis Dewantara Volume 2 Nomor 2, Juli-Desember 2019 Penulis Judul Halaman Shintia Fitri Febriani, Nuri Purwanto Pengaruh Shopping Lifestyle Dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Pada Konsumen Hijab Butik Rabbani Jombang 63-62 Murni Rahmawati, Kristin Juwita Pengaruh Komitmen Organisasi Dan Implementasi Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Bank Syariah Lantabur 63-72 Ni Puspa Ningsih, Made Pratiwi Dewi, Ni Made Yuliati Determinasi Faktor-Faktor Ekonomi Pada Risiko Investasi Di Industri Pertanian 73-80 Ibnu Harris Kehebatan Situs Belanja Daring dalam Mempengaruhi Emosi dan Kepercayaan Pembeli 81-88 Joni Budiarto, Erminati Pancaningrum Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Xiaomi 89-98 Kristin V Pasaribu, Yuliawati Yuliawati Pengaruh Dimensi Electronic Word Of Mouth Terhadap Keputusan Berkunjung dan Kepuasan Konsumen 99-112 Ratna Dwi Jayanti, Siti Khomaroh Putri Pengaruh Citra Merek Dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Vario 113-123
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 53 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Pengaruh Shopping Lifestyle Dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Pada Konsumen Hijab Butik Rabbani Jombang Shintia Fitri Febriani, Nuri Purwanto STIE PGRI Dewantara Jombang Korespondensi : [email protected] abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya hidup belanja dan keterlibatan fashion terhadap pembelian impulsif konsumen hijab butik Rabbani Jombang. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian korelasional, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif . Populasi dalam penelitian ini adalah semua konsumen yang belum pernah membeli jilbab di butik Rabbani sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 100 orang yang diambil dengan menggunakan teknik Accidental sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan alat statistik SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup belanja dan keterlibatan mode secara signifikan mempengaruhi pembelian impulsif. Kata kunci: Gaya Hidup Berbelanja, Keterlibatan Fashion, Pembelian Impulsif abstract This study aims to determine the influence of shopping lifestyle and fashion involvement on impulsive purchases of Rabbani Jombang boutique hijab consumers. This type of research is a type of correlational research, using a quantitative approach. The population in this study were all consumers who had never bought a headscarf in Rabbani boutique while the sample in this study were 100 people taken using Accidental sampling technique. The technique of collecting data using a questionnaire. The method of data analysis in this study used multiple linear regression analysis with SPSS 20 statistical tools. The results showed that shopping lifestyle and fashion involvement significantly affected impulsive purchases. Keywords: Shopping Lifestyle, Fashion Engagement, Impulsive buying A. PENDAHULUAN Dewasa ini berbelanja merupakan kegiatan yang sulit dilepaskan dari manusia, baik laki-laki maupun wanita, walaupun terkadang berbelanja lebih banyak dilakukan oleh wanita, mulai dari berbelanja kebutuhan hidup, belanja kebutuhan pribadi dan lain-lain, termasuk salah satunya berbelanja produk fashion terlebih lagi dengan dukungan perkembangan internet yang semakin memancing minat beli, memudahkan konsumen untuk memilih serta melakukan pembelian secara online (Arisandi, D., & Pradana, M. N. R, 2018). Apalagi jika produk tersebut direkomendasikan oleh teman dekat melalui iklan dari mulut ke mulut yang lebih dikenal dengan istilah word of mouth (Rohim, A., & Arvianto, S, 2017). Fashion selalu mengalami perubahan setiap tahunnya. Aspek-aspek fashion menyentuh dalam kehidupan sehari-hari dan mempengaruhi seseorang. Begitu pun setiap wanita ingin berpenampilan menarik, sehingga produk fashion dan wanita merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena produk fashion berpengaruh terhadap penampilan fisik dan gaya hidup (Polhemus & Procter, 2011). Seperti halnya dengan trend fashion muslim, di era modern sekarang ini fashion muslim khususnya hijab juga mengalami perkembangan setiap tahunnya dengan tidak melanggar aturan agama Islam. Kini hijab menjadi salah satu fashion yang diminati, khususnya oleh wanita muslim. Halaman 53 - 62 E-ISSN: 2654-4326
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 54 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Hal ini dikarenakan semakin tingginya tingkat kesadaran wanita muslim untuk mengenakan hijab (Sidang, 2016). Melihat fenomena tersebut para produsen berlomba-lomba berinovasi untuk membuat model hijab yang sedang diminati oleh kalangan wanita berhijab saat ini (Hadi, 2015). Hijab bukan hanya suatu kewajiban bagi wanita muslim untuk menutup aurat namun sudah menjadi kebutuhan dan penunjang penampilan wanita. Kemunculan para produsen hijab yang semakin tinggi membuat ketatnya persaingan para pelaku bisnis produsen hijab. Setiap produsen memiliki berbagai model hijab yang mempunyai keunggulan tersendiri terhadap produknya masing-masing (Fury, 2016). Berikut ini hasil penelitian merek hijab di Indonesia menurut Top Brand dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1: Top Brand’s Index Hijab 2015-2017 2015 Merek TBI Top 2016 Merek TBI Top 2017 Merek TBI Top Rabbani 15.9 % Top Dannis 8.1 % Zoya 8.0 % Azka 5.7% Almadani 5.1 % Shafira 5.0 % Zoya 25.3% Top Rabbani 17.9% Top Dannis 7.2% Elzatta 7.1 % Rabbani 16.0% Top Zoya 10.2% Top Elzatta 5.4% Al- Mia 4.6% Almadani 3.4% Sumber : (Top Brand Award) Salah satu pangsa pasar yang dituju sebagian besar adalah para wanita muslim. Mereka berpendapat bahwa berbelanja hijab sudah menjadi bagian gaya hidup. Ketika fashion involvement sudah menjadi trend di kalangan wanita muslim, mereka akan rela membeli berbagai jenis-jenis hijab tersebut bisa berada di butik, toko atau gerai hijab lainnya dengan pelayanan, model serta kualitas hijab yang ditawarkan akan membuat pengunjung membeli produk yang diinginkan. Kecenderungan perilaku seperti ini merupakan peluang yang ditangkap para pemilik butik atau toko untuk menjual hijab yang mereka senangi. Ketika ketertarikan akan produk fashion sudah menjadi trend di kalangan muslimah dan melihat produk yang sulit dicari ditemukan, maka ia akan membeli produk tersebut meskipun ia tidak merencanakan pembelian sebelumnya, yang sering disebut dengan impulse buying (Wijaya, Hufron, & Slamet, 2017). Di Jombang sendiri terdapat butik-butik hijab yang menawarkan hijab bermerek salah satunya merek hijab Rabbani. Rabbani dikenal dengan tagline profesor kerudung Indonesia, dimana Rabbani merupakan salah satu perusahaan kerudung instan pertama dan terbesar di Indonesia dengan mengeluarkan produk andalan berupa krudung instan dan produk lain yang juga telah dikembangkan yaitu busana muslim baik untuk wanita maupun pria, selain itu terdapat berbagai macam aksesoris juga yang disediakan. Maka berangkat dari uraian diatas, peneliti ingin menganilisis pengaruh Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying pada konsumen Hijab Di Butik Rabbani Jombang. Rumusan Masalah yangdiangkat dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah terdapat pengaruh shopping lifestyle terhadap impulse buying hijab, 2) Apakah terdapat pengaruh fashion involvement terhadap impulse buying hijab serta 3) Apakah terdapat pengaruh shopping lifestyle dan fashion involvement terhadap impulse buying hijab. Diharapkan, hasil dari penelitian ini bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 55 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD perusahaan Rabbani dapat digunakan sebagai masukan atau informasi bagi pengelola perusahaan untuk mengetahui pengaruh shopping lifestyle dan fashion involvement terhadap impulse buying serta dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah dan kebijakan perusahaan menghadapi perilaku konsumen. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Shopping Lifestyle Menurut Levy & Weitz (2009) shopping lifestyle adalah gaya hidup yang mengacu pada bagaimana seseorang hidup, bagaimana mereka menghabiskan waktu, uang, kegiatan pembelian yang dilakukan, sikap dan pendapat mereka tentang dunia dimana mereka tinggal. Gaya hidup seseorang dalam membelanjakan uang tersebut menjadikan sebuah status sosial, sifat dan karakteristik baru bagi seorang individu. Gaya hidup juga digunakan segmentasi pasar karena telah menyediakan pandangan kehidupan sehari-hari dari konsumen secara luas (Aziz & V, 2015). Jika diperhatikan kebanyakan para konsumen lebih cenderung berbelanja fashion. Fashion kini sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup bagi hampir sebagian individu di dunia. Orang yang memiliki gaya hidup yang tinggi mereka lebih cenderung menyukai produk fashion yang bermerek dengan kualitas terbaik. Karena penampilan yang menawan, yang sejuk dipandang menjadi prioritas untuk menilai karakteristik individu. 2. Pengertian Fashion Involvement dan Impulse Buying Menurut Bernard (2011) etimologi kata fashion berasal dari bahasa latin yaitu “factio” yang artinya “membuat”. Fashion (mode) adalah proses sosial dimana beberapa kelompok konsumen mengunakan gaya baru. Sedangkan involvement menurut O’Cass (2004) adalah motif yang membuat seseorang tertarik atau ingin membeli suatu produk atau mengkonsumsi jasa yang ditawarkan karena dipajang maupun karena situasi yang memungkinkan. Fashion involvement adalah persepsi konsumen akan pentingnya fashion pakaian (O'cass, 2001). Pendapat ini juga sesuai pada konsep penelitian yang dikemukakan oleh Kim (2005) dalam penelitian ini fashion involvement didefinisikan sebagai ketertarikan perhatian pelanggan pada kategori fashion. Fashion involvement pada pakaian berhubungan sangat erat dengan karakteristik pribadi (yaitu wanita dan kaum muda) dan pengetahuan fashion, yang mana pada gilirannya mempengaruhi kepercayaan konsumen di dalam membuat keputusan pembelian. Impulse buying adalah pembelian yang dilakukan di luar daftar belanja yang sudah ada tanpa direncanakan sebelumnya oleh konsumen secara spontan dan tanpa memikirkan resiko (Ratnasari, Kumadji, & Kusumawati, 2015). Pembelian implusif bisa dikatakan suatu desakan hati secara tiba-tiba dengan penuh kekuatan, bertahan dan tidak direncanakan untuk membeli sesuatu secara langsung, tanpa banyak memperhatikan akibatnya, pendapat ini sesuai dengan konsep penelitian yang dikemukakan oleh Engel, et al (1995) dalam Japarianto & Sugiharto, (2011) mendefinisikan impulse buying sebagai tindakan pembelian hijab yang dibuat tanpa direncanakan terlebih sebelumnya atau keputusan pembelian dilakukan pada saat berada di dalam toko atau butik hijab. 3. Hubungan Shopping Lifestyle dengan Impulse Buying Berhijab bukan lagi halangan bagi muslimah yang ingin tetap tampil modis. Kini sudah banyak busana muslim yang fashionable namun tetap berpegang teguh pada aturan-aturan berpakaian yang diperintahkan dalam ajaran agama Islam. Hijab dapat diartikan kain yang menutupi kepala untuk menegaskan identitas sebagai seorang muslimah. Di era modern ini berbelanja hijab sudah menjadi gaya hidup yang
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 56 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD digemari semua kalangan muslimah, untuk memenuhi gaya hidup ini mereka rela mengorbankan sesuatu demi mencapainya meskipun tidak merencanakan pembelian sebelumnya dan hal tersebut cenderung mengakibatkan impulse buying. Pendapat ini sesuai dengan penelitian Japariyanto (Japarianto & Sugiharto, 2011), shopping lifestyle berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Shopping menjadi salah satu lifestyle yang paling digemari, untuk memenuhi lifestyle ini masyarakat rela mengorbankan sesuatu demi mencapainya dan hal tersebut cenderung mengakibatkan impulse buying (Prastia, 2013). 4. Hubungan Fashion Involvement dengan Impulse Buying Fashion involvement adalah keterlibatan seseorang dengan suatu produk pakaian karena kebutuhan, kepentingan, ketertarikan dan nilai terhadap produk tersebut. Seo dalam penelitiannya menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat fashion involvement dan pembelian pakaian dimana konsumen dengan fashion involvement yang tinggi lebih memungkinkan membeli pakaian (Seo, Hathcote, & Sweaney, 2001). Konsumen dengan fashion involvement yang lebih tinggi memungkinkan terlibat dalam pembelian impulsif yang berorientasi fashion (Park, Y, & C, 2006). Menurut Japariyanto (2011) fashion sangat terkait dengan karakteristik pribadi dan pengetahuan tentang fashion, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh keyakinan konsumen dalam membuat keputusan pembelian. Selain itu, hubungan yang positif antara tingkat keterlibatan dan mode pembelian pakaian adalah konsumen dengan fashion involvement lebih menyukai kepada pembelian pakaian.Oleh karena itu, diasumsikan bahwa konsumen dengan fashion involvement lebih menyukai menggunakan impulse buying. 5. Kerangka Konseptual Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yang akan diteliti, yaitu shopping lifestyle dan fashion involvement variabel independen dan impulse buying sebagai variabel dependen, kerangkan konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Gambar 1: Kerangka konseptual Hipotesis H1 : Semakin tinggi shopping lifestyle maka akan semakin kuat tingkat impulse buying di Butik Rabbani Jombang. H2 : Semakin tinggi fashion involvement maka akan semakin kuat tingkat impulse buying di Butik Rabbani Jombang. C. METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian Shopping Lifestyle (X1) Impulse Buying (Y) Fashion Involvement (X2)
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 57 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Desain dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sempel tertentu (Sugiyono, 2013). Teknik pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini adalah pembeli di Butik Rabbani Jombang yang jumlahnya tidak diketahui. Metode pengambilan sampel adalah dengan menggunakan metode Non Probability Sampling dengan teknik Accidental Sampling yaitu dengan cara pengumpulan data yang hanya mengambil sebagian elemen populasi atau karakteristik yang ada dalam populasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, angket, dan dokumentasi. Skala pengukuran menggunakan skala pengukuran likert yaitu digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena. Skala likert yang digunakan terdapat 5 (lima) poin kriteria jawaban mulai dari sangat positif (skor lima) hingga sangat negatif (skor satu) 2. Uji Instrumen Uji instrumen yang digunakan yaitu uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil uji validatas dan uji reliabilitas mengenai disetiap indikator variabel penelitian, untuk uji validitas dapat diketahui bahwa nilai korelasi (r hitung) lebih besar dari r tabel (0,05) dan untuk melihat reliabilitasnya dapat diketahaui dari nilai cronbach’calpha lebih besar dari 0,06 sehingga dapat disimpulkan semua item pertanyaan semua indikator variabel dinyatakan valid dan reliabel dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. 3. Teknik Analisi Data Tahap teknik analisa data pada penelitian ini yang pertama adalah analisa deskriptif. Analisis Deskriptif digunakan untuk menggambarkan frekuensi masingmasing item variabel dengan kategori rata-rata skor dari responden. Untuk mengetahui atau menentekan kategori jawaban responden dari masing-masing variabel tergolong tinggi, sedang atau rendah maka ditentukan skala intervalnya dengan cara sebagai berikut: Nilai skor tertinggi- Nilai skor terendah Jumlah kategori = 5 – 1 5 = 0,8 Sehingga dengan demikian dapat diketahui kategori jawaban responden masingmasing variabel yaitu : a. Skor untuk kategori sangat tinggi : 4,2 - 5,00 b. Skor untuk kategori tinggi : 3,4 - 4,2 c. Skor untuk kategori cukup : 2,6 - 3,4 d. Skor untuk kategori rendah : 1,8 - 2,6 e. Skor untuk kategori sangat rendah : 1,00 - 1,8 Selanjutnya, digunakan analisa Regresi. Analisis regresi ini digunakan untuk mengetahui pengaruh shopping lifestyle (X1) dan fashion involvement (X2) terhadap impulse buying (Y). Analisis dalam penelitian ini menggunakan alat bantu program statistik SPSS for windows.
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 58 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Selain itu, untuk mengji hipotesis yang telah diajukan, dilakukan uji Hipotesis (Uji – T) dan Uji Determinasi yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variable independen terhadap variable dependen, yang dihitung dengan rumus: KD = r² x 100% Keterangan : KD = Koefisien Determinasi R² = Koefisien Korelasi D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari hasil peneitian dan pengolahan data serta melalui titahapan pengujian antara lain uji validitas, reliabilitas dan heterokedaktivitas, dinyatakan bahwa seluruh instrument layak dan bisa dilanjutkan ke tahapana analisa selanjutnya, yaitu analisis regresi berganda. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui variabel yang ada dalam shopping lifestyle (X1) dan fashion involvement (X2) terhadap impulse buying (Y) dan membuat persamaan regresinya. Hasil perhitungan analisis berganda diolah dengan menggunakan SPSS versi 20.0 for windows. Hasil regresi dapat dilihat pada tabel 2 (dua) dibawah ini: Tabel 2: Hasil Regresi Linier Berganda Variabel Standardized Coefficients t Sig Ket (Constant) 2.882 2.879 .041 Signifikan Shopping Lifestyle (X1) .461 5.804 .000 Signifikan Fashion Involvement (X2) R 2 .818 F : 217.957 sumber : data primer yang diolah, tahun 2018 Berdasarkan diatas menunjukkan bahwa nilai sig. di variabel independen lebih kecil dari α (0,05), maka dapat dinyatakan model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependent. Selanjutnya, untuk menguji hipotesis yang diajukan, dilakukan uji-t (T-Test). Hasil dari pengolahan data menggunakan alat bantu SPSS tampak pada tabel berikut: Tabel 3: Hasil Uji-T Variabel T-test Signifikansi Keterangan Shopping Lifestyle(X1) 5.804 0,000 Signifikansi Fashion Involvement (X2) 5.941 0,000 Signifikansi Sumber : Data Primer Yang Diolah, Tahun 2018 Berdasarkan tabel diatas hipotesis yang pertama mengenai adanya pengaruh shopping lifestyle terhadap impulse buying, hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000 sehingga terdapat pengaruh antara shopping lifestyle terhadap impulse buying. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima. Hipotesis kedua adanya pengaruh fashion involvement terhadap impulse buying, hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000 sehingga terdapat pengaruh antara shopping lifestyle terhadap impulse buying. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua dalam penelitian ini diterima.
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 59 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, dilakukan analisis /Uji Determinasi. Hasil Analisis/Uji Determinasi (R2 ) tampak pada tabel 4 (empat) berikut: Tabel 4: Hasil uji R2 Model R R Square Adjusted R Std. Error of the Estimate Durbin Watson 1 .904a .818 .814 1.11189 1.528 Sumber : Data Primer Yang Diolah, Tahun 2018 Dari hasil perhitungan diperoleh nilai R Square sebesar 0,818 Hal ini berarti bahwa shopping lifestyle dan fashion involvement berperan baik dalam mempengaruhi konsumen untuk menentukan impulse buying di butik Rabbani yaitu sebesar 81% sedangkan sisanya sebesar 19% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini. H1 = Pengaruh Shopping Lifestyle Terhadap Impulse Buying Shopping lifestyle memiliki pengaruh terhadap impulse buying hal ini ditunjukkan dari mayoritas respon yang disampaikan oleh responden terhadap item pertanyaan yang mendukung shopping lifestyle hijab Rabbani menunjukan respon yang positif dari konsumen hijab Rabbani terhadap impulse buying mengenai perubahan gaya hidup yang terus berkembang menjadikan konsumen ingin selalu mengikuti perkembangannya. Kebutuhan konsumen sangat berpengaruh pada gaya hidup atau lifestyle, kegiatan berbelanja menjadi salah satu tempat yang paling digemari oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Putra mengenai pengaruh shopping lifestyle terhadap konsumen produk fashion (Survey pada konsumen produk fashion di Malang Town Square (MATOS) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa shopping lifestyle memiliki pengaruh terhadap impulse buying (Putra, 2018) H2 = Pengaruh Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Fashion involvement merupakan keterlibatan konsumen terhadap suatu produk fashion yaitu pakaian (busana) yang didorong oleh kebutuhan dan ketertarikan terhadap produk tersebut atau dengan kata lain ketertarikan perhatian pelanggan pada produk fashion. . Orang yang memiliki tingkat keterlibatan dengan fashion yang tinggi mereka mempunyai lebih banyak produk fashion dan mereka memiliki pengetahuan akan setiap produk fashion yang dibeli. Hubungan yang positif antara tingkat keterlibatan dan mode pembelian pakaian adalah konsumen dengan fashion involvement lebih menyukai kepada pembelian pakaian. Oleh karena itu, diasumsikan bahwa konsumen hijab di butik Rabbani lebih menyukai impulse buying. Hasil ini juga mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Wijaya mengenai pengaruh fashion involvement terhadap pembelian hijab pada mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Malang (Wijaya, et al., 2017) E. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas diperoleh kesimpulan, yaitu Shopping lifestyle memiliki pengaruh positif terhadap impulse buying karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000. Selain itu Fashion involvement juga terbukti memiliki pengaruh positif terhadap impulse buying karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000. Peneliti menilai variabel shopping lifestyle dan fashion involvement mempunyai pengaruh yang positif dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang mempengaruhi terjadinya impulse buying
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 60 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD hijab Rabbani faktor lain seperti usia, gender, hedonisme, matrealisme dalam membentuk impulse buying. Berdasarkan simpulan diatas, maka disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menambah variabel bebas lainnya serta untuk perusahaan diharapkan menambah beragam model terbaru hijabnya karena penilaian dari responden masih dalam rentang “cukup” dan belum “tinggi”, agar produknya mampu lebih menarik perhatian para pelanggan. DAFTAR PUSTAKA Amiri, F., Jalal, J., Mohsen, S., & Tohid, A. (2012). “Evaluation of Effective Fashionism Involvement Factors on Impulse Buying of Costumers and Condition of Interrelation between These Factor.” Journal of Basic and Applied Scientific Research, 9413-9419. Arisandi, D., & Pradana, M. N. R. (2018). Pengaruh Penggunaan Social Media Terhadap Brand Awareness Pada Objek Wisata Di Kota Batam. JMD: Jurnal Riset Manajemen & Bisnis Dewantara, 1(2), 109-116. Aziz, & V, A. R. (2015). "Pengaruh Persepsi Risiko dan Gaya Hidup Terhadap Keputusan Pembelian Pakaian Secara Online Melalui Blackberry Messenger". eJournal Psikologi, 5. Azwar, S. (2011). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cobb, C. J., & Hoyer, D. W. (1986). "Planned versus impulse purchase behaviour". Journal of Retailing, 62, 384-409. Deviana, N. P., & Kt.Giantar, I. A. (2016). "Pengaruh Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Behaviour Masyarakat di Kota Denpasar". Manajemen Unud, 5, 5248-5249. Engel, F. J., Roger D, B., & Miniard, P. (2000). Perilaku Konsumen,Jilid 1,Edisi keenam. Jakarta: Binarupa Aksara. Fury, F. R. (2016). "Keputusan Pembelian Produk Hijab (Studi Kasus Pada Toko Online MiuLan di Semarang)". Manajemen, 1. Ghani, Usman, & A, J. F. (2011). "An Exploratory Study of the Impulse Buying Behaviour of Urban Consumers in Peshawar". International Conference on Business ad Economics Research, 157-159. Ghozali, I. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.Cetakan Keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Ghozali, I. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Ghozali, I. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS. .Yogyakarta: Universitas Diponegoro. Hadi, R. N. (2015, June 17). Dipetik April 14, 2015, “Dari Hijab,Trend dan Aturan”: https://www.kompasiana.com/rizkinurismarinihadi/hijab-trend-danaturan_555476657397733a14905529 Japariyanto, E., & Sugiharto, S. (2011). "Pengaruh Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Behavior Masyarakat High Income kota Surabaya". Jurnal Manajemen Pemasaran, 6(1), 32-41. Kim, H. (2005). "Consumer profiles of apparel product involvement and value". Journal of Fashion Marketing and Management, 9, 2.
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 61 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Kosyu, D. A. (2014). Pengaruh Hedonic Shopping Motives Terhadap Shopping Lifestyle dan Impulse Buying,. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB). Kotler, P. (2004). Manajemen Pemasaran, Edisi milenium. Jakarta: PT. Indeks Kelompok Gramedia. Kotler, P., & Amstrong. (2007). Manajemen Pemasaran Jilid Pertama. Jakarta: PT. Indeks. Kusumandaru, A. V. (2017). "Pengaruh Price Discount, Bonus Pack, dan Instore Display Terhadap Impulse Buying Matahari". Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen, 6, 5. Levy, M., & Weitz, A. B. (2009). Retailing Manajemen.7Ed. New York: Mc Graw Hill. Ma'ruf, H. (2006). Pemasaran Ritel. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Mowen, J., & Minor. (2002). Prilaku Konsumen jilid 2. Jakarta: Erlangga. Nawari. (2010). Analisis Regresi dengan MS Excel 2007 dan SPSS. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Nugroho, S. J. (2003). Perspektif Kontemporer pada Motif, Tujuan, dan Keinginan Konsumen Edisi Revisi,Cetakan Kelima. Dalam Perilaku Konsumen (hal. 9). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. O’Cass, A. (2004). "Fashion clothing consumption antecedents and consequences of fashion clothing involvement". Journal of Marketing, 38, 869-882. Park, Jihye, & Lennon, S. J. (2006). "Psychological and Environmental Antecedents of Impulse Buying Tendency in The Multichannel Shopping Context". Journal of Consumer Marketing, 23(2), 58. Park, J. E., Y, K. E., & C, F. J. (2006). "A structural model of fashion-oriented impulse buying behaviour". Journal of fashion marketing and management, 10, 433-446. Peter, Paul, J., & Olson, J. C. (2002). Consumer Behavior and Marketing Strategy 6th Edition. New York: Mc Graw Hill. “Pengertian Hipotesis”. (2013, Juni). Dipetik April 28, 2018, dari http://www.temukanpengertian.com/2013/06/pengertian-hipotesis.html Prastia, E. F. (2013). "Pengaruh Shopping Lifestyle, Fashion Involvement dan Hedonic Shopping Value Terhadap Impulse Buying Behaviour Pelanggan Toko Elizabeth Surabaya". Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, 7. Purnama, Y. (2015, October 17). “Makna Hijab, Khimar dan Jilbab”. Diambil kembali dari https://muslim.or.id/26725-makna-hijab-khimar-dan-jilbab.html Putra, F. K. (2018). Pengaruh Shopping Lifestyle, Usia dan Gender Terhadap Impulse Buying Produk Fashion (Survey Pada Konsumen Produk Fashion di Malang Town Square (MATOS)). 9. Rabbani News. (2017, Juli 25). Dipetik Juni 27, 2018, “Dari Fashion News dan Trends Rabbani Raih Penghargaan Indonesia Original Brand”: https://rabbani.co.id/page/artikel-Rabbani-Raih-Penghargaan-IndonesiaOriginal-Brand-2017-6-48.html Ratnasari, A. V., Kumadji, S., & Kusumawati, A. (2015, Januari 1). "Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Hedonic Shopping Value Dan Impulse Buying". Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 1, 3. Riadi, M. (2018, April 27). “Pengertian, Jenis, Indikator dan Faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup”. Dipetik Maret 3, 2018, dari
Shintia Fitri Febriani , Nuri Purwanto Halaman 62 dari 62 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Desember 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD https://www.kajianpustaka.com/2018/03/pengertian-jenis-indikator-dan-faktoryang-mempengaruhi-gaya-hidup.html Rohim, A., & Arvianto, S. (2017). Pengaruh Customer Perceived Value Terhadap Word Of Mouth Dengan Customer Loyalty Sebagai Variabel Mediasi (Study Kasus Di CV Putra Putri). Eksis: Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis, 12(1). Rook, D., & Fisher, R. (1995). Normative Influences on Impulsive Buying Behavior. Oxford University: Press, 22. Saefuddin, A. (2010). Statistik Dasar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Santoso, S. (2000). Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT Flex Media Komputindo. Santoso, S. (2003). Mengatasi Berbagai Masalah Statistik dengan SPSS versi 11.5. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Seo, J., Hathcote, M. J., & Sweaney, L. A. (2001). "Casualwear shopping behavior of college menin Georgia". Journal of Fashion Marketing and Management, 5, 208-222. Sidang, N. K. (2016). "Fenomena trend fashion jilbab dalam keputusan pembelian jilbab". jurnal ekonomi islam, 1-2. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta. Sumarwan, U. (2011). Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemaasaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Sunarto, K. (2000). Pengantar sosiologi. Edisi kedua. Depok: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tendai, M., & Chipunza, C. (2009). "In-store environment and impulsive buying". African Journal of Marketing Management, 1, 102-108. Tirmizi, Ali, M., Shaif, M. I., & Saif, M. I. (2009). "An empirical Study of consumer impulse buying behaviour in local markets". European journal of scientific research., 28, 522-532. Top Brand Award. (t.thn.). “Top Brand Award”. Dipetik April 13, 2018, dari http://www.topbrand-award.com/ Tribun Bisnis. (2014, Mei 20). Dipetik Juni 1, 2018, dari “Fatin Ikut Dongkrak Penjualan Kerudung Rabbani Hingga Capai Rp 500 Miliar”: http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/05/20/fatin-ikut-dongkrak-penjualankerudung-rabbani-hingga-capai-rp-500-miliar Utami, O., & Rastini, N. (2015). "Pengaruh variabel demografi, kualitas layanan, atmosfer toko pada Impulse Buying Di Hypermart Mall". E-Jurnal Manajemen Unud, 4(5), 1229-1237. Utami, W. C. (2010). Manajemen Ritel: Strategi dan Implementasi Ritel Modern. Jakarta: Salemba Empat. Utami, W. C. (2012). Manajemen Ritel. Jakarta: Salemba Empat. Wijaya, A. M., Hufron, M., & Slamet, A. R. (2017). "Pengaruh Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement (Studi Kasus Pembelian Hijab Pada Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Malang)". Riset Manajemen, 3.
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 63 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Pengaruh Komitmen Organisasi Dan Implementasi Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Bank Syariah Lantabur Murni Rahmawati, Kristin Juwita STIE PGRI Dewantara Jombang Korespondensi: [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komitmen organisasi dan implementasi budaya organisasi terhadap kinerja karyawan PT. BPRS Lantabur. Jenis penelitian ini adalah verifikatif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan bagian funding dan lending PT. BPRS Lantabur dengan sampel yang berjumlah 30 orang dan menggunakan teknik sampel jenuh. Pengumpulan data menggunakan angket sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis linear regresi berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen organisasi yang tinggi mampu meningkatkan kinerja karyawan PT. BPRS Lantabur dan implementasi budaya organisasi yang baik mampu meningkatkan kinerja karyawan PT. BPRS Lantabur. Kata kunci: Komitmen Organisasi, Implementasi Budaya Organisasi, Kinerja Karyawan. Abstract This study aims to determine the effect of organizational commitment and implementation of organizational culture on the performance of employees of PT. BPRS Lantabur. This type of research is verification using a quantitative approach. The population in this study were all employees of the funding and landing section of PT. BPRS Lantabur with a sample of 30 people and using a saturated sample technique. Data collection uses questionnaires while data analysis is done using linear multiple regression analysis. The results of this study is high organizational commitment can improve the performance of employees of PT. BPRS Lantabur and the implementation of a good organizational culture can improve the performance of employees of PT. BPRS Lantabur. Keywords: Organizational Commitment, Organizational Culture Implementation, Employee Performance. A. PENDAHULUAN Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuan organisasi tidak lepas dari karyawan karena kinerja karyawan berdampak pada peningkatan kinerja organisasi. Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas di bandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah di tentukan terlebih dahulu dan telah di sepakati bersama. Komitmen karyawan merupakan salah satu kunci yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuannnya (Bey, M. T., & Dewi, R. C. K, 2018). Mathis dan Jackson dalam Sasono (2004) mendefinisikan Komitmen Organisasional sebagai derajat dimana karyawan percaya dan mau menerima tujuan – tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasinya. Karyawan yang mempunyai komitmen pada organisasi cenderung menunjukkan sikap kerja yang penuh perhatian terhadap tugasnya, mereka bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas – tugas serta loyal terhadap perusahaan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Ferryansyah (2013) menyatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan, tetapi menurut penelitian yang di lakukan oleh Marsoit et al (2017) menunjukkan bahwa komitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Selain itu menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Mekta (2017) menyatakan bahwa komitmen organisasi justru berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan. Halaman 63 - 72 E-ISSN: 2654-4326
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 64 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan selain komitmen organisasi adalah budaya organisasi. Menurut Robbins (2006), Budaya organisasi merupakan sistem nilai bersama dalam suatu organisasi yang menentukan tingkatan bagaimana para karyawan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi. Penerapan budaya organisasi yang baik akan memperlancar kinerja karyawan. Oleh sebab itu, budaya organisasi sangat penting, karena merupakan kebiasaan – kebiasaan yang ada dalam organisasi. Pada hakikatnya semua organisasi memiliki budaya, namun tidak semua budaya organisasi sama kuatnya dalam mempengaruhi perilaku dan tindakan para karyawan. Dalam hal ini jelaslah bahwa budaya yang tertanam dan dilaksanakan dalam organisasi memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Menurut Pratiwi (2012) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa budaya organisasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan, akan tetapi penelitian yang dilakukan oleh Maabuat (2016) menyatakan bahwa budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja. Selain itu dalam penelitian Sriekaningsih (2017) menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan. Ketika karyawan memahami nilai – nilai yang ada dalam organisasi, maka akan mempengaruhi cara bekerja bekerja karyawan tersebut. PT Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Lantabur merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan yang telah berdiri selama 12 tahun .Fenomena yang terjadi dalam perusahaan ini yaitu kinerja dari karyawan bagian funding (penghimpunan dana) dan lending (penyaluran dana) yang bekerja di kantor tersebut sudah bagus, hal tersebut dapat di lihat dari kualitas kerja karyawan PT BPRS Lantabur bagian funding dan lending mampu bekerja semaksimal mungkin demi kemajuan perusahaan. Karyawan mampu bekerja sesuai dengan standar yang di tentukan oleh perusahaan seperti bersikap ramah dan sopan terhadap nasabah serta pelayanan yang memuaskan. Pada tahun 2012 – 2017,secara berturut - turut bagian keuangan mendapat penghargaan sebagai kinerja keuangan terbaik dalam level BPR dari info bank ([email protected]). Hal ini tidak lepas dari peran karyawan funding dan lending atas kinerjanya. Penghargaan tersebut tentunya memacu karyawan untuk bekerja lebih baik. Kinerja karyawan yang baik tidak lepas dari implementasi budaya organisasi dan tingginya komitmen kerja karyawan terhadap organisasi. Budaya Organisasi di PT BPRS Lantabur berjalan dengan baik, seperti yang tercermin pada perusahaan tersebut yaitu sebelum melakukan pekerjaan masing – masing, setiap pagi perusahaan menerapkan evaluasi kinerja dan doa bersama seluruh karyawan. Selain itu pada setiap hari jum’at legi karyawan PT BPRS Lantabur Tebuireng melakukan khataman qur’an ( Waqi’ah ) dan mengadakan pengajian dengan mengundang salah satu ulama untuk menjadi penceramah. Sikap fleksibel dan familiar karyawan terhadap nasabah serta kedekatan mereka terhadap semua kalangan nasabah membuat mereka disenangi oleh banyak orang. Perusahaan juga menerapkan budaya sholat secara berjamaah di mushola, dalam hal ini pimpinan dan karyawan bergantian mengimami sholat. Komitmen kerja karyawan dalam bekerja sangat tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa karyawan funding dan lending, sebagian besar karyawan sudah merasa nyaman dalam bekerja dan tidak berkeinginan untuk bekerja di tempat lain, mereka beranggapan bahwa perusahaan tersebut sangat membantu kehidupan para karyawan yang bekerja diperusahaan tersebut. Dari uraian yang telah disampaikan, maka rumusn masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah: 1) Apakah komitmen organusasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan? Dan 2) Apakah implementasi budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. BPRS Lantabur ?. Diharapkan, dari hasil penelitian ini berguna sebagai bahan
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 65 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD masukan bagi pihak manajemen khususnya dan pihak lain yang tertarik kajian tentang budaya organisasi, komitmen organisasi dan kinerja karyawan. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Komitmen Organisasi Menurut Robbins dan Judge (2007), Komitmen organisasi merupakan suatu keadaan dimana seseorang memihak organisasi serta tujuan – tujuan dan keinginan nya untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi. Sedangkan Mathias dan Jackson (2009) mendefinisikan komitmen organisasional sebagai derajat dimana karyawan percaya dannmau menerima tujuan – tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasinya. Allen dan Meyer (1997) menyatakan bahwa komitmen organisasional merupakan identifikasi pegawai terhadap persetujuan untuk mencapai misi unit atau misi perusahaan. Jadi dapat di jelaskan bahwa Komitmen organisasi ialah sikap kesediaan diri seseorang untuk sepenuhnya membantu perusahaan mencapai tujuan. Meyer, Allen (1997) mengemukakan ada tiga komponen tentang komitmen organisasi baik itu melibatkan karyawan maupun pimpinan yaitu : a. Affective commitment ( Komitmen Afektif ), terjadi apabila karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi karena adanya ikatan emosional. Berikut merupakan indikator komitmen afektif : 1. Keinginan berkarir di organisasi. 2. Rasa percaya terhadap organisasi. 3. Pengabdian kepada organisasi. b. Continuance commitment ( Komitmen Berkelanjutan ) muncul apabila karyawan tetap bertahan pada suatu organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan – keuntungan lain, atau karena karyawan tersebut tidak menemukan pekerjaan lain. Komitmen berkelanjutan di bagi menjadi beberapa indikator, yaitu : 1. Kecintaan pegawai kepada organisasi. 2. Keinginan bertahan dengan pekerjaannya. 3. Bersedia mengorbankan kepentingan pribadi. 4. Keterikatan pegawai kepada pekerjaan. 5. Tidak nyaman meninggalkan pekerjaan saat ini. c. Normative commitment (Komitmen Normatif ), timbul dari nilai – nilai dalam diri karyawan. Karyawan bertahap menjadi anggota organisasi karena adanya kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan hal yang seharusnya dilakukan. Berikut merupakan indikator dari komitmen normatif : 1. Kesetiaan terhadap organisasi. 2. Kebahagiaan dalam bekerja. 3. Kebanggaan bekerja pada organisasi. 2. Implementasi Budaya Organisasi Robbins (2006) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan system nilai bersama dalam suatu organisasi yang menentukan tingkatan bagaimana para karyawan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi. Wirawan (2007) berpendapat Budaya Organisasi merupakan norma, nilai – nilai, asumsi, kepercayaan, filsafat, kebiasaan organisasi dan sebagainya yang di kembangkan dalam waktu yang lama oleh pendiri, pemimpin, dan anggota organisasi yang disosialisasikan dan diajarkan kepada anggota baru serta diterapkan dalam aktivitas organisasi sehingga pengaruh pola pikir, sikap, dan perilaku anggota organisasi dalam melayani konsumen dan mencapai tujuan organisasi. Kreitner dan Kinicki (2005), menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan nilai dan keyakinan bersama yang mendasari identitas organisasi yang berfungsi sebagai pemberi rasa
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 66 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD identitas kepada anggota, mempromosikan komitmen, kolektif, meningkatkan stabilitas sistem sosial, dan pengendalian perilaku para organisasi. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat di jelaskan budaya organisasi merupakan suatu nilai yang di yakini oleh seluruh anggota dan dijadikan pedoman untuk melakukan kegiatan dalam organisasi. Budaya organisasi menurut PT BPRS Lantabur yaitu sebagai berikut : 1. Menjalankan nilai – nilai budaya yang berlandaskan syariah Islam. 2. Fleksibel dan familiar karyawan terhadap nasabah. Hal tersebut dapat di artikan sebagai sikap seseorang yang luwes atau mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar serta mudah akrab dengan seseorang. 3. Evaluasi kinerja karyawan. Di gunakan untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan dan juga untuk mengetahui posisi perusahaan dan tingkat pencapaian sasaran perusahaan, terutama untuk mengetahui bila terjadi keterlambatan atau penyimpangan supaya segera di perbaiki, sehingga sasaran atau tujuan tercapai. 3. Kinerja Karyawan Pabundu (2010) menyatakan bahwa kinerja adalah hasil – hasil fungsi pekerjaan / kegiatan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu. Hasibuan (2010) mengemukakan kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas – tugas yang dibebankan kepadanya yang di dasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu. Sedangkan menurut Edison (2016), Kinerja adalah hasil dari suatu proses yang mengacu dan diukur selama periode waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan yang telah di tetapkan sebelumnya. Kinerja merupakan hasil kerja karyawan secara kualitas dan kuantitas yang di capai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang di berikan kepadanya. Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat dijelaskan kinerja adalah hasil kerja individu atau tim dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya. Mangkunegara (2006) menyatakan bahwa kinerja karyawan dapat diukur dengan: 1. Kualitas kerja, yaitu kerapian, ketelitian, dan keterkaitan hasil kerja dengan tidak mengabaikan volume pekerjaan. Dengan adanya kualitas kerja yang baik dapat menghindari tingkat kesalahan dalam penyelesaian suatu pekerjaan serta produktivitas kerja yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan. 2. Kuantitas kerja, yaitu volume kerja yang dihasilkan dibawah kondisi normal. Kuantitas kerja menunjukkan banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan dalam satu waktu sehingga efisiensi dan efektivitas dapat terlaksana sesuai dengan tujuan perusahaan. 3. Tanggung jawab, yaitu menunjukkan seberapa besar karyawan dapat mempertanggung jawabkan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang dipergunakan serta perilaku kerjanya. 4. Inisiatif, yaitu menunjukkan seberapa besar kemampuan karyawan untuk menganalisis, menilai, menciptakan dan membuat keputusan terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi. 5. Kerja sama, yaitu merupakan kesediaan karyawan untuk berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain secara vertical atau horizontal didalam maupun luar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan semakin baik. 4. Kerangka Konseptual Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka maka dapat digambarkan rumusan hipotesis sebagai berikut:
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 67 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Gambar 1 Kerangka Konseptual Hipotesis H1 : Diduga Komitmen Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. H2 : Diduga Implementasi Budaya Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. C. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian verifikatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji kebenaran melalui pengumpulan data dilapangan (Arikunto, 2006). Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu metode penelitian yang berlangsung pada filsafat positivisme bisa digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Skala pengukuran menggunakan skala Likert, Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu responden diminta mengisi beberapa pernyataan dalam bentuk angket. Sedangkan sampel yang diambil adalah karyawan Bank Syariah PT.BPRS Lantabur bagian funding dan lending yang berjumlah 30 orang karyawan. Penelitian ini menggunakan uji instrumen yaitu uji validitas dan uji reliabilitas, uji asumsi klasik. Serta menggunakan uji hipotesis yaitu uji t dan koefisien determinasi (R2 ) dengan bantuan program SPSS 24. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Uji Validitas dan Reliabilitas Uji Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Menurut Ghozali (2013) suatu kuesioner dapat dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas pada penelitian ini menggunakan rumus Pearson Product Moment. Perhitungan uji validitas tersebut menggunakan bantuan SPSS 16. Bila hasil uji kemaknaan untuk r menunjukkan r-hitung >0,3 dinyatakan valid (Sugiyono, 2007). Hasil dari pengolahan data primer tampak seperti tabel berikut: Tabel 1: Hasil Pengujian Validitas No Item Variabel r hitung r kritis keterangan 1 Komitmen 0,779 0,30 Valid 2 0,733 0,30 Valid 3 0,841 0,30 Valid Komitmen organisasi (X1) Implementasi budaya organisasi(X2) Kinerja karyawan (Y)
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 68 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD 4 Organisasi ( X1) 0,789 0,30 Valid 5 0,769 0,30 Valid 6 0,828 0,30 Valid 7 0,847 0,30 Valid 8 0,753 0,30 Valid 9 0,771 0,30 Valid 1 Budaya Organisasi (X2) 0,772 0,30 Valid 2 0,818 0,30 Valid 3 0,914 0,30 Valid 4 0,735 0,30 Valid 1 Kinerja Karyawan (Y) 0,730 0,30 Valid 2 0,841 0,30 Valid 3 0,744 0,30 Valid 4 0,671 0,30 Valid 5 0,711 0,30 Valid Sumber: Data Primer yang diolah, 2018 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa semua variabel penelitian memiliki nilai korelasi lebih besar dari r kritis sehingga semua item pernyataan penelitian yang digunakan dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Reliabilitas menunjukkan pada suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut adalah sudah baik (Arikunto, 2006). Reliabilitas untuk masing – masing variabel diringkas pada tabel 2 (dua) berikut : Tabel 2: Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Alpha Koefisien α Keterangan Komitmen Organisasi (X1) 0,922 0,60 Reliabel Budaya Organisasi (X2) 0,822 0,60 Reliabel Kinerja Karyawan (Y) 0,773 0,60 Reliabel Sumber: Data Primer yang diolah, 2018 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa semua variabel penelitian memiliki nilai koefisiensi alpha lebih besar dari 0,6 sehingga semua item dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. 2. Analisis Regresi Berganda Analisis regresi berganda dilakukan untuk mengetahui variabel komitmen organisasi (X1) dan implementasi budaya organisasi (X2) terhadap kinerja karyawan (Y). Hasil regresi dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 3: Hasil Analisa Regresi Linear Berganda Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) 6.907 2.525 2.735 .011 X1 .182 .058 .434 3.112 .004 X2 .486 .148 .458 3.285 .003 Sumber : lampiran output SPSS, 2018 Berdasarkan hasil analisa regresi yang disajikan dalam tabel 3 (iga) tmaka didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 6,907 + 0,182 (X1) + 0,486 (X2)
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 69 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Persamaan regresi menunjukkan bahwa adanya komitmen organisasi dan implementasi budaya organisasi memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan, artinya semakin tinggi komitmen organisasi dan implementasi budaya organisasi, maka kinerja karyawan juga akan mengalami peningkatan, begitu juga sebaliknya. 3. Pengujian Hipotesis Dengan Uji T Uji-T digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Hasil nilai signifikan masing-masing variabel dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4: Hasil Uji-T No. Variabel t hitung Signifikan Keterangan 1. Komitmen organisasi (X1) 3,112 0,004 Signifikan 2. Implementasi Budaya Organisasi (X2) 3,285 0,003 Signifikan Sumber : Data primer yang diolah, 2018 Berdasarkan tabel 4 (empat) diatas maka dapat dijelaskan bahwa : 1. Pengujian hipotesis pertama (H1) Variabel komitmen organisasi (X1) memiliki t hitung = 3,112 dan signifikan sebesar 0,004 karena nilai tsig = 0,004 < α = 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. H1 diterima. 2. Pengujian hipotesis kedua (H2) Variabel implementasi budaya organisasi (X2) memiliki thitung = 3,285 dan signifikan sebesar 0,003 karena nilai tsig =0,003 >α = 0,05. Dengan demikian dapat di nyatakan bahwa implementasi budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja kayawan. H2 diterima. 4. Pengujian Koefisiensi Determinasi (R2 ) Untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dari besarnya nilai R, sebagaimana yang tampak pada tabel berikut: Tabel 5: Nilai determinasi (R2 ) Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .741a .549 .516 1.669 1.758 a. Predictors: (Constant), X2, X1 b. Dependent Variable: Y Sumber : lampiran output SPSS, 2018 Nilai Adjusted R2 sebesar 0,516 artinya kinerja melalui penilaian ini dipengaruhi oleh variabel komitmen organisasi dan implementasi budaya organisasi sebesar 51,6 %, dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini yaitu 100% - 51,6% = 48, 4% seperti kepuasan kerja dan lingkungan kerja. 5. Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Karyawan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen organisasi yang tinggi dapat meningkatkan kinerja karyawan funding dan lending. jadi jika semakin baik komitmen organisasi karyawan maka akan meningkatkan kinerja karyawan pada PT. BPRS Lantabur. Hal ini didukung jawaban responden yang menunjukkan bahwa komitmen tinggi. Komitmen organisasi merupakan sikap kesediaan diri seseorang untuk sepenuhnya membantu perusahaan mencapai tujuan. Semakin tinggi keterlibatan karyawan dalam pekerjaan akan mendorong karyawan untuk memberikan kontribusi yang lebih baik. Hal tersebut dapat terlihat dari sikap ketersediaan karyawan funding dan lending untuk bersedia
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 70 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD bekerja sampai masa pensiun di PT. BPRS Lantabur. Karyawan funding dan lending juga percaya terhadap operasional kerja seperti pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan. Karyawan bersedia memberikan tenaga dan ide - ide untuk kemajuan PT. BPRS Lantabur. Selain itu karyawan bertahan untuk bekerja di PT. BPRS Lantabur tanpa berkeinginan untuk pindah ke tempat lain dan bersedia mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan PT. BPRS Lantabur. Karyawan memiliki perasaan keterikatan terhadap pekerjaan dan setia bekerja di PT. BPRS Lantabur. Karyawan juga merasa senang untuk bekerja di PT. BPRS lantabur. Komitmen yang tinggi akan mampu mempengaruhi kinerja karyawan untuk bekerja lebih giat terlihat dari mampu bekerja sesuai standar dan mencapai target, karyawan mampu bekerjasama dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Putra (2015) yang menunjukkan bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan serta penelitian yang dilakukan Mutiarni, R., & Hidayati, N. (2018) yang menyatakan bahwa Pengaruh Kepuasan Kerja Dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) 6. Pengaruh Implementasi Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi budaya organisasi dapat meningkatkan kinerja karyawan funding dan lending pada PT. BPRS Lantabur. hal ini didukung dari jawaban responden yang menunjukkan bahwa implementasi budaya organisasi berjalan dengan baik seperti karyawan funding dan lending menjalankan nilai – nilai budaya yang sudah ditetapkan oleh oleh PT. BPRS Lantabur seperti waqi’ah, sholat berjama’ah. Karyawan funding dan lending juga mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan tempat mereka bekerja. Karyawan funding dan lending juga merasa akrab terhadap semua kalangan nasabah serta selalu melakukan evaluasi kinerja bersama – sama setiap pagi sebelum mereka melaksanakan pekerjaan masing – masing. Hal ini menunjukkan bahwasanya implementasi budaya organisasi yang baik maka kinerja karyawan juga akan semakin tinggi, terlihat dari karyawan mampu bekerja sesuai standar serta mampu mencapai target kerja yang di tetapkan oleh perusahaan, karyawan juga mampu bekerjasama dengan baik. Implementasi budaya organisasi merupakan suatu nilai yang diyakini oleh seluruh anggota dan dijadikan pedoman untuk melakukan kegiatan dalam organisasi. Hasil penelitian yang mendukung penelitian ini adalah Sutrisno (2017) yang menjelaskan bahwa implementasi budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. E. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disampaikan, maka dapat disimpulkan bahwa Komitmen organisasi serta Implementasi yang tinggi dapat meningkatkan kinerja karyawan funding dan lending pada PT. BPRS Lantabur. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan pada awal penelitian telah terbukti. Dari hasil penelitan tersebut, disarankan kepada pihak manajemen PT. BPRS Lantabur untuk memperhatikan sikap karyawan. Perusahaan tidak harus melakukan perubahan besar dalam menyikapi karyawan, hanya saja karyawan perlu mempertahankan niatnya bersedia bekerja sampai masa pensiun di PT. BPRS Lantabur serta meningkatkan kepercayaan tentang operasional kerja dalam perusahaan tersebut. Selain itu karyawan funding dan lending juga lebih meningkatkan kesediaan mereka untuk memberikan tenaga dan ide - ide demi kemajuan PT. BPRS Lantabur. Karyawan funding dan lending sebaiknya bertahan bekerja di perusahaan tersebut guna mencapai tujuan perusahaan serta perlu mengutamakan pekerjaan terlebih dahulu dibanding kepentingan pribadi, apabila kepentingan tersebut dirasa kurang begitu penting bagi karyawan maka di sarankan untuk lebih mendahulukan pekerjaan karyawan tersebut. Selain itu, karyawan funding dan lending perlu
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 71 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD mempertahankan niatnya untuk setia bekerja pada PT. BPRS Lantabur. Karyawan funding dan lending juga perlu meningkatkan keterikatan mereka terhadap pekerjaan dengan lebih bersemangat lagi dalam bekerja untuk tercapainya tujuan dan keberhasilan PT. BPRS Lantabur serta meningkatkan kesenangan mereka dalam bekerja di lapangan. Karyawan juga perlu meningkatkan lagi inisiatif terhadap permasalahan yang terjadi dalam pekerjaan, sehingga masalah yang dihadapi cepat terselesaikan serta mempertahankan hasil pencapaian target yang sudah melebihi batas target yang ditentukan oleh PT. BPRS Lantabur. Karyawan juga perlu meningkatkan tanggung jawab atas hasil dari pekerjaan yang di lakukan di PT. BPRS Lantabur serta bekerjasama dengan tim kerja masing – masing untuk mencapai tujuan perusahaan. Bagi peneliti selanjutnya yang hendak melakukan penelitian sejenis disarankan untuk mempertimbangkan variabel – variabel lainnya yang berpengaruh terhadap kinerja karyawan seperti kompensasi, kepuasan, motivasi serta kompetensi, sehingga kinerja karyawan yang diharapkan dapat mencapai titik optimal. DAFTAR PUSTAKA Allen, N. J. & J. P. Meyer. ( 1997 ). Commitment in The Workplace Theory Research And Application. California : Sage Publications. Arikunto, Suharsimi . (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik ( Edisi Revisi VI ). Jakarta : PT Asdi Mahasatya, Bey, M. T., & Dewi, R. C. K. (2018). Pengaruh Budaya Organisasi Dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Jombang. JMD: Jurnal Riset Manajemen & Bisnis Dewantara, 1(1), 37-48. Ferryansyah, M. F., (2013). PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN ( Studi kasus pada PPPA DARUL QUR’AN ) ( Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ). Ghozali, Imam. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan program IBM SPSS 21. Edisi 7. Semarang : Universitas Diponegoro. Hasibuan, Malayu SP, (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi Cetakan Ke – 12. Jakarta, Penerbit : Sinar Grafika Offset http://infobanknews.com/category/kumpulan-berita-bank-hari-ini/ Kneiter, Robert, Angelo Kinicki,. (2005). Perilaku Organisasi 2, Edisi 5. Jakarta : Salemba Empat. Maabuat, S. E. (2016). Pengaruh Kepemimpinan, Orientasi Kerja, Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai (Studi Pada Dispenda Sulut UPTD Tondang. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi. Vol 16 No. 1. Hlm 219-231. Mangkunegara, A.P. (2006). Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia. Jakarta : Refika Aditama. Marsoit, P. Sendow, G. Rumokow. (2017). Pengaruh Pelatihan, Displin Kerja Dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan PT. Asuransi Jasa Indonesia. Jurnal EMBA. Vol 5. No. 3. Hlm. 4285-4294. Mathis, Robert, L. dan Jackson, John H. (2009). Human Resource Management Edisi ke – 10, Jakarta : Salemba Empat. Mekta, Q. H & Siswanto (2017). Pengaruh Kepuasan Kerja Dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan PT. Indra Kelana Yogyakarta. Jurnal Profita Edisi 2. Mutiarni, R., & Hidayati, N. (2018). Pengaruh Kepuasan Kerja Dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) Di Kantor Kecamatan Wilayah
Murni Rahmawati, Kristin Juwita Halaman 72 dari 72 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Utara Brantas, Kabupaten Jombang. JMD: Jurnal Riset Manajemen & Bisnis Dewantara, 1(1), 25-36. Pratiwi, Putri. (2012). Pengaruh Budaya Organisasi dan Pemberdayaan terhadap Komitmen Organisasional dalam Meningkatkan Kinerja. Jurnal Ekonomi. Vol. 14 No.1 Hal 41 – 52. Putra, S. W. (2015). “ Pengaruh Komitmen Organisasi, Budaya Organisasi, Gaya Kepemimpinan dan Lingkungan terhadap Kinerja Karyawan pada Industri Kecil ”. Jurnal Ekonomi Modernisasi, 11(1), 62-77. Robbins, Stephen P. (2006). Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia. Robbins, Stephen P. dan Judge, Timothy A. (2008). Perilaku organisasi Edisi ke – 12, Jakarta: Salemba Empat. Sasono, Eko. (2004). “ Mengelola Stress Kerja, Jurnal Fokus Ekonomi “. Vol III No. 2 hal 48 – 56. Sriekaningsih, A. (2017). Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Organisasi, Dan Lingkungan Kerja Serta Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Wilayah Kecamatan Kota Tarakan. Jurnal Borneo Administrator. Vol 13. No. 1. Hlm.57-71. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Bisnis. CV Alfabeta, Bandung Sutrisno, H. E ( 2017 ). Pengaruh Budaya Organisasi, Stress Kerja dan Komitmen Terhadap Kinerja Karyawan CV. Bintang Karya Putra di Surabaya. EKUITAS ( Jurnal Ekonomi dan Keuangan ), 14 (4), 460-477 Tika, Pabundu. (2010). Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan. Jakarta: PT Bumi Aksara . Wirawan. (2007). Budaya dan Iklim Organisasi. Jakarta : Salemba Empat.
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 1 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Determinasi Faktor-Faktor Ekonomi Pada Risiko Investasi Di Industri Pertanian Ni Luh Anik Puspa Ningsih1*, Made Pratiwi Dewi2 , Ni Made Yuliati3 Universitas Warmadewa Korespondensi: [email protected] Abstrak Industri pertanian merupakan salah satu sektor yang menopang perkembangan perekonomian serta memiliki tingkat pertumbuhan keluaran dan daya saing global komoditas pertanian yang potensial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan faktor-faktor ekonomi terhadap risiko investasi di industri pertanian. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan dalam industri pertanian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014 – 2018 dan sampel yang terlobat dalam penelitian ini sebanyak 16 perusahaan. Penelitian ini berjenis kuantitatif, dengan menggunakan alat analisa regresi linier berganda, Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor ekonomi makro yang diwakili oleh tingkat suku bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadap risiko investasi, sementara korelasi antara nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika ditemukan negatif signifikan terhadap risiko investasi saham. Faktor ekonomi mikro yaitu struktur modal, ditemukan pola hubungan positif signifikan antara struktur modal dan risiko investasi, serta pola negatif tidak signifikan ditemukan dalam hubungan likuiditas terhadap risiko investasi di industri pertanian. Kata Kunci : Struktur Modal, Likuiditas, Tingkat Suku Bunga, Nilai Tukar Abstract The agricultural industry is one of the sectors that sustain economic development and has a potential growth rate and global competitiveness of agricultural commodities. The purpose of this study is to examine the relationship of economic factors to the risk of investment in the agricultural industry. The population in this study were companies in the agricultural industry listed on the Indonesia Stock Exchange in the period 2014-2019 and the samples that were treated in this study were 16 companies. This research is a quantitative type, using multiple linear regression analysis. From the results of the study it is known that macroeconomic factors represented by interest rates have a positive and significant effect on investment risk, while the correlation between the rupiah exchange rate against the US dollar is found to be significantly negative on investment risk stock. Microeconomic factors, namely the capital structure, found a pattern of significant positive relationships between capital structure and investment risk, as well as a non-significant negative pattern found in the relationship of liquidity to the risk of investment in the agricultural industry. Keywords: Capital Structure, Liquidity, Interest Rate, Exchange Rate A. PENDAHULUAN Sektor pertanian memiliki potensi sebagai penghasil komoditi ekspor nasional yang cukup potensial. BPS (2018) mencatat dalam perlambatan ekspor nasional, namun sektor pertanian mampu mencatat peningkatan sebesar 6.11% atau meningkat sebesar 7.38% dari tahun sebelumnya. Sumbangan sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mengalami penurunan sejak awal tahun 2019. Kontrasnya, bursa efek indonesia mencatat indeks saham sektor ini masih memberikan return positif sebesar 1,79%. Bahkan dalam top 10 besar saham emiten sektor ini menunjukkan nilai transaksi yang tinggi, mencapai 48 milyar rupiah. (www.idx.co.id, 2018) Investasi pada sektor pertanian memiliki potensi cukup baik. Harga saham pada sektor pertanian tercatat mengalami peningkatan harga sebesar 2.87 poin dalam laporan harian perdagangan pada bursa efek indonesia. Rata-rata tingkat keuntungan yang diperoleh investor E-ISSN: 2654-4326 Halaman 73 - 80
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 74 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD mencapai 3.58% per hari. Setiap keuntungan memiliki potensi risiko. Sektor pertanian memiliki potensi risiko yang harus dihadapi investor. Bursa mencatat kerugian (loss) yang dialami sektor pertanian rata-rata sebesar 2.26% per hari (idx quarterly statistic 4th quarter 2018) Sesuai dalil high risk high return dijelaskan bahwa semakin tinggi tingkat risiko maka semakin besar tingkat keuntungan yang disyaratkan. Faktanya, investor menyukai risiko yang rendah dengan tingkat keuntungan yang optimal. Oleh karena itu investor harus mampu melakukan pengelolaan terhadap risiko. Analisa terhadap faktor yang berpengaruh terhadap risiko investasi penting dilakukan. Secara umum risiko investasi dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi makro dan mikro (Rizal, 2016). Faktor ekonomi makro diantaranya tingkat suku bunga dan nilai tukar (rupiah terhadap dolar Amerika). Faktor mikro yaitu struktur modal, tingkat likuditas perusahaan, leverage, dividen. Berbagai penelitian terkait hubungan antara faktor ekonomi makro dan mikro dengan hasil yang berbeda, memperkuat argumentasi interaksinya terhadap risiko investasi. Penelitian Pola hubungan antara tingkat suku bunga terhadap risiko investasi sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Makaryanawati dan Ulum (2011), Rahmadani (2012), Yanti (2015), Aprianti (2016) serta Pramana dan Badera (2017) yang menemukan hasil tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi. Interaksi antara komponen faktor ekonomi makro yang lain yaitu nilai tukar terhadap risiko investasi juga dikaji oleh Mustika et al (2015) yang menyatakan bahwa nilai tukar atau kurs ditemukan berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi. Hasil ini dikonfirmasi oleh Ismawati (2013), Wijaya (2014), Pramana dan Badera (2017) nilai tukar ditemukan tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi Tidak hanya faktor ekonomi makro, faktor ekonomi mikro juga berpengaruh terhadap risiko investasi. Struktur modal merupakan salah satu faktor ekonomi mikro yang mempengaruhi risiko investasi. Hubungan ini dibuktikan oleh Oktaviana (2014), Pramana dan Badera (2017) yang menemukan struktur modal berpengaruh positif signifikan terhadap risiko investasi.. Ketidakkonsistenan hasil ditemukan dalam penelitian Andrianik (2013) bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara sturktur modal terhadap risiko investasi. Deswira (2013) yaitu struktur modal yang diproksikan dengan long term debt to equity tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap risiko investasi saham. Espireh (2013) dalam penelitiannya di Bursa Efek Teheran juga menemukan tidak ada pengaruh signifikan antara struktur modal yang diproksikan dengan long term debt to equity terhadap risiko investasi saham. Faktor lain selain struktur modal yaitu likuiditas. Likuiditas dibuktikan berpengaruh positif signifikan terhadap risiko investasi dalam penelitian Nugraha (2011), Rahmadani (2012), Yanti (2015) dan Diana (2014). Ketidakkonsistenan hasil ditemukan pada penelitian Nugraha (2011), Deswira (2013), Pramana dan Badera (2017) ditemukan bahwa likuiditas perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi. Berdasarkan fenomena dan perbedaan hasil dari penelitian sebelumnya, maka permasalahan yang diuji dalam penelitian ini adalah apakah faktor ekonomi makro dan mikro berpengaruh terhadap risiko investasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna bagi pihak-pihak yang tertaik dengan kajian serupa. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Risiko Investasi Risiko merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Investasi. Secara sederhana, Brigham and Houston (2014) menjelaskan bahwa risiko merupakan berbagai probabilitas terjadinya kondisi yang kurang mengguntungkan. Perbedaan antara yang diharapkan dengan yang diterima, merupakan bagian dari risiko. Risiko investasi merupakan kondisi dimana
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 75 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD tidak tercapainya return (tingkat keuntungan) yang diharapkan atau terjadinya pernyimpangan antara harapan atas return yang diterima dengan kenyataannya (Jogiyanto, 2012) Apabila dikaitkan dengan investasi, investasi dapat dibedakan menjadi investasi jangka pendek (secure investment) dan investasi jangka panjang (unsecure investment). Risiko jangka pendek dapat berupa instrumen pasar uang. Risiko jangka panjang berupa investasi pada instrumen pasar modal seperti saham dan obligasi. Risiko merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu investasi. Sesuai dengan hukum ”high risk high return” investor akan mensyaratkan tingkat keuntungan tertentu pada tingkat risiko tertentu pada suatu investasi (Yanti, 2015). Menurut Jogiyanto (2012) risiko Investasi diklasifikasikan menjadi risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi (risiko pasar dan risiko umum atau risiko sistematis) dan risiko yang dapat dihilangkan melalui diversifikasi (risiko perusahaan atau unsystematic risk). Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap risiko. Risiko Sistematis dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tingkat bunga, tingkat inflasi, kurs valuta asing (nilai tukar) dan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi. 2. Tingkat Suku Bunga Tingkat suku bunga menjadi pertimbangan bagi pengambil keputusan pada perusahaan dan investor. Investor saham mengharapkan hasil investasi yang lebih besar. Investor menjadikan tingkat suku bunga sebagai setandar pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Apabila tingkat suku bunga tinggi maka investor akan menyimpan dananya di bank, sementara jika tingkat suku bunga turun maka investor akan memilih investasi saham. Bagi perusahaan tingkat suku bunga menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan investasi pada proyek baru atau perluasan usaha dengan berbagai kemungkinan risiko yang akan dihadapi (Puspopranoto, 2010) Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga dalam rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek yang diperjualbelikan dengan sistem diskonto. Kenaikan suku bunga SBI dapat mendorong harga saham ke bawah. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan beban bunga emiten, sehingga perolehan laba menurun. Selain itu, pada saat suku bunga tinggi, biaya produksi meningkat, harga produk menjadi lebih mahal, dan konsumen akan menunda pembelian, akibatnya penjualan perusahaan menurun. Penurunan penjualan dan penurunan laba ini akan menekan harga saham sehingga mempengaruhi risiko investasi saham. Makaryanawati dan Ulum (2011) menemukan hasil tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi. Secara spesifik pada hasil penelitian Rahmadani (2012) dijelaskan tingkat suku bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadap risiko investasi saham pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index. Riantani (2013) juga menemukan hasil yang sama yaitu tingkat suku bunga bepengaruh positif signifikan terhadap risiko investasi. Pola arah berbeda ditemukan dalam penelitian Yanti (2015) dan Aprianti (2016) dimana tingkat suku bunga memiliki pola negatif signifikan terhadap risiko investasi. Pramana dan Badera (2017) juga menemukan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap risiko investasi. Berdasarkan kajian diatas, maka hipotesis pertama yang berlaku pada penelitian ini adalah: H1 : Tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap Risiko Investasi 3. Nilai Tukar Nilai tukar rupiah adalah harga terhadap mata uang Negara lain hubungan nilai tukar mata uang ini dinyatakan dalam hubungan harga antara lain mata uang tersebut dan hal ini tergantung dari permintaan dan penawaran antar kedua valuta asing yang bersangkutan. Menurunnya kurs akan meningkatkan biaya impor bahan baku dan peralatan yang dibutuhkan oleh perusahaan sehingga akan meningkatkan biaya produksi dan akan menurunkan laba
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 76 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD perusahaan, sehingga pada akhirnya akan menurunkan profitabilitas perusahaan. Hal ini tentunya akan berdampak terhadap menurunnya harga pasar saham yang diperdagangkan dan meningkatnya risiko terhadap investasi. Nilai tukar atau lazim disebut kurs juga ditegaskan berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi (Mustika et al, 2015). Hubungan yang lebih khusus diklarifikasi oleh Yanti (2015 dan Aprianti (2016) yang menemukan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika berpengaruh negatif terhadap risiko investasi saham. Berdasarkan kajian diatas, maka hipotesis kedua yang berlaku pada penelitian ini adalah: H2 : Nilai Tukar berpengaruh signifikan terhadap Risiko Investasi 4. Struktur Modal Pada kondisi semua dana digunakan untuk mendanai aktiva perusahaan berasal dari pemilik dalam bentuk saham biasa, perusahaan tidak terikat pada kewajiban tetap berupa bunga. Bunga adalah biaya tetap keuangan yang harus dibayar dan ditambahkan pada biaya tetap keuangan yang harus dibayar. Jadi, suatu perusahaan yang menggunakan utang dalam berinvestasi akan lebih berisiko dari pada perusahaan tanpa utang, karena selain mempunyai risiko bisnis, perusahaan yang menggunakan utang mempunyai risiko keuangan (Arifin, 2012). Perusahaan yang menggunakan utang jangka panjang dalam jumlah besar mempunyai risiko kegagalan yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan utang jangka panjang yang lebih kecil. Beban bunga yang harus ditanggung oleh perusahaan akan mengurangi jumlah laba yang tersedia bagi pemegang saham sehingga risiko bagi pemegang saham akan meningkat (Brigham and Daves). Kajian terkait korelasi antara struktur modal dan risiko investasi dilakukan oleh Oktaviana (2014), Diana (2014), Aprianti (2016) Pramana dan Badera 2017) menemukan hasil terdapat pola pengaruh positif signifikan antara struktur modal dan risiko investasi. Ketidakkonsistenan hasil ditemukan dalam penelitian Andrianik (2013) bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara sturktur modal terhadap risiko investasi Berdasarkan kajian diatas, maka hipotesis ketiga yang berlaku pada penelitian ini adalah: H3 : Struktur Modal berpengaruh signifikan terhadap Risiko Investasi 5. Likuiditas Perusahaan Likuditas perusahaan merupakan salah satu tolak ukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (hutang) jangka pendek yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat likuditas maka semakin kecil risiko kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek. (Brigham and Houston, 2014). Secara empiris hubungan antara likuditas perusahaan dan risiko investasi diteliti oleh Rahmadani (2012) menemukan tingkat likuiditas perusahaan yang diproksikan dengan current ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap risiko investasi saham pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index. Penelitian Yanti (2015) menemukan hasil terdapat pengaruh positif dan signifikan antara likuiditas perusahaan yang diproksikan dengan current ratio terhadap risiko investasi saham. Hasil berbeda ditemukan Aprianti (2016) yang menemukan bahwa tidak ada pengaruh signifkan antara likuiditas perusahaan terhadap risiko investasi saham. Berdasarkan kajian diatas, maka hipotesis keempat yang berlaku pada penelitian ini adalah: H3 : Likuiditas berpengaruh signifikan terhadap Risiko Investasi C. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam explanatory research dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan emiten (perusahaan) industri pertanian periode 2014-2018 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah populasi sebanyak 21 emiten perusahaan industri pertanian. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 16 perusahaan
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 77 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD yang ditentukan dengan metode purposive sampling. Obyek dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan industri pertanian. Penelitian ini mempergunakan data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan oleh pihak lain, peneliti hanya mempergunakan atau menganalisis data tersebut. Sugiyono (2016) menjelaskan data sekunder merupakan data dalam bentuk angka atau data jenis kualitatif yang dikuantitaifkan atau dirubah menjadi angka. Pada penelitian ini daya yang digunakan adalah data sekunder berupa laopran keuangan perusahaan sampel yang diakses melalui resmi www.idx.co.id dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Adapun variabel dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel bebas (Independent Variable) Yang termasuk dalam variable bebas pada penelitian ini adalah: a. Faktor Ekonomi Makro, terdiri dari X1 : Tingkat Suku Bunga diproksikan dengan tingkat suku bunga SBI sebagai tingkat kenaikan bunga bebas risiko. SBI dalam penelitian ini adalah SBI tahunan periode 2014-2018 X2 : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, Diproksikan dengan kurs tengah tahunan, yaitu rata-rata antara kurs jual dan kurs beli periode 2014-2018 b. Faktor Ekonomi Mikro X3 : Struktur Modal, diproksikan dengan long term debt to equity (LTDER) pada industri pertanian di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2014-2018 X4 : Likuditas perusahaan, diproksikan dengan current ratio (CR) pada industri pertanian di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2014-2018 2. Variabel Terikat (Dependent Variable) Yang termasuk dalam variable bebas pada penelitian ini adalah Risiko Investasi Saham (Y1), diproksikan dengan variansa tau standar deviasi dari tingkat pendapatan saham pada perusahaan industri pertanian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Pengujian asumsi klasik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam analisis ini terdiri dari (uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas) dengan tujuan analisis regresi linier berganda memberikan manfaat dengan benar (Ghozali, 2013 : 143). Analisis ini bertujuan untuk menguji hubungan antara variabel terikat (Y) dan variabel bebas (X). Sugiyono (2012 : 277) yaitu tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika, struktur modal dan likuiditas perusahaan terhadap risiko investasi. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari hasil analisis regresi linear berganda dari data primer, diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 1: Analisis regersi linear berganda Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 80,610 57,750 1,396 ,167 X1 24,852 9,907 ,337 2,509 ,014 X2 -,018 ,006 -,377 -2,801 ,006 X3 ,345 ,075 ,485 4,627 ,000 X4 -,028 ,042 -,069 -,663 ,509 a. Dependent Variable: Y Sumber: Data Primer diolah, 2018
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 78 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD 1. Pengaruh Tingkat Suku Bunga terhadap Risiko Investasi Saham Dari tabel 1 (satu) diatas tampak bahwa nilai signifikansi variable X1 sebesar 0,014< 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan pada korelasi tingkat suku bunga terhadap risiko investasi saham. Temuan ini bermakna tingkat suku bunga menjadi ukuran investor untuk melakukan pembelian saham pertanian di Bursa Efek Indonesia dengan segala risiko yang menyertainya. Nilai positif menjelaskan apabila tingkat suku bunga meningkat akan diikuti oleh meningkatnya risiko investasi saham. Hal ini disebabkan karena walaupun risiko yang diakibatkan lebih besar dengan kenaikan tingkat suku bunga, namun para investor tetap melakukan investasi saham untuk mengejar tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahmadani (2012) dan Riantani (2013) yaitu tingkat suku bunga bepengaruh positif signifikan terhadap risiko investasi saham. Pengaruh Nilai Tukar Rupiah pada Dollar Amerika terhadap Risiko Investasi Saham Dari tabel 1 (satu) diatas tampak bahwa nilai signifikansi variable X2 sebesar 0,006 < 0,05, menunjukkan ada pengaruh yang negatif dan signifikan antara nilai tukar rupiah pada dolar Amerika Serikat terhadap risiko investasi saham. Hal ini bermakna bahwa nilai tukar rupiah pada dolar Amerika Serikat menjadi tolak ukur investor dalam melakukan pembelian saham perusahaan Industri Pertanian di Bursa Efek Indonesia dengan segala risiko yang menyertainya. Nilai negatif menjelaskan apabila nilai tukar rupiah pada dolar Amerika Serikat meningkat akan diikuti oleh menurunnya risiko investasi saham. Hasil penelitian konsisten dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yanti (2015) dan Aprianti (2016) yang menemukan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika berpengaruh negatif terhadap risiko investasi saham. Pengaruh Struktur Modal terhadap Risiko Investasi Saham Dari tabel 1 (satu) diatas tampak bahwa nilai signifikansi variable X3 sebesar 0,000 < 0,05, menunjukkan ada pengaruh yang positif dan signifikan antara struktur modal terhadap risiko investasi saham. Hasil ini dapat dijelaskan maknanya apabila struktur modal meningkat maka akan diikuti oleh meningkatnya risiko investasi saham. Tingkat long term debt to equity yang tinggi menunjukkan komposisi total utang jangka panjang semakin besar apabila dibandingkan dengan total modal sendiri, sehingga hal ini akan berdampak pada semakin besar pula beban perusahaan terhadap pihak eksternal (para kreditur). Semakin besar beban perusahaan maka semakin tinggi tingkat risiko perusahaan tersebut. Pola korelasi ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Oktaviana (2014), Diana (2014), Aprianti (2016), Pramana dan Badera 2017 yaitu struktur modal berpengaruh positif signifikan terhadap risiko investasi saham. Pengaruh Likuiditas Perusahaan terhadap Risiko Investasi Saham Dari tabel 1 (satu) diatas tampak bahwa nilai signifikansi variable X4 sebesar 0,509 > 0,05), menunjukkan ada pengaruh yang negatif dan tidak signifikan antara likuiditas perusahaan terhadap risiko investasi saham. Peningkatan likuditas perusahaan tidak berpengaruh terhadap risiko Investasi saham. Hasil ini menunjukkan bahwa investor dalam menilai risiko investasi saham tidak dicermati dari likuditas perusahaan. Likuiditas perusahaan dianggap tidak terlalu mencerminkan risiko investasi secara nyata. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian Aprianti (2016) yang menemukan bahwa tidak ada pengaruh signifkan antara likuiditas perusahaan terhadap risiko investasi saham. E. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor ekonomi makro, secara spesifik yaitu tingkat suku bunga ditemukan berpengaruh positif siginifikan terhadap risiko investasi saham. Faktor makro lain yang dikaji dalam penelitian ini yaitu nilai tukar (rupiah terhadap dollar Amerika) dtemukan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap risiko
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 79 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD investasi. Sedangkan untuk faktor ekonomi mikro dalam penelitian ini yaitu struktur modal dan likuditas perusahaan. Ditemukan hubungan likuditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap risiko investasi. Pola yang berbeda terdapat pada pengaruh likuditas perusahaan terhadap risiko investasi yaitu negatif tidak signifikan. Berdasarkan simpulan diatas, disarankan kepada investor hendaknya memperhatikan faktorfaktor ekonomi seperti struktur modal, likuiditas, suku bunga dan nilai tukar dalam keputusan investasi di Industri Pertanian di Bursa Efek Indonesia. Pemerintah juga diharapkan dapat mempertahankan stabilitas ekonomi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, dan lebih berperan dalam proses deregulasi moneter dalam kebijakan menaikkan ataupun menurunkan suku bunga dan meningkatkan nilai tukar sehingga iklim investasi yang kondusif tetap dapat terwujud. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik meneliti tentang kajian sejenis, diharapkan meneliti faktor ekonomi lainnya seperti ukuran perusahaan dan Inflasi. Ukuran perusahan yang semakin besar maka mencerminkan semakin tinggi tingkat risiko yang dihadapi investor, sedangkan Inflasi merupakan indikator tingkat pencapaian ekonomi suatu negara adalah tingkat inflasi. Semakin tinggi inflasi makan semakin rendah tingkat pendanaaan dari luar investor karena semua peningkatan harga atas suber daya. DAFTAR PUSTAKA Arifin, Ali. 2012. Membaca Saham Panduan Dasar Seni Berinvestasi dan Teori Permainan Saham, Penerbit Andi, Yogyakarta. Andrianik. 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Resiko Investasi Saham pada Perusahaan Farmasi yang Go Public di Bursa Efek Indonesia, Jurnal Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Gunadarma Jakarta. Aprianti, Ni Nyoman Ayu Tyas. 2016. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Investasi Saham pada Industri Otomotif dan Komponen di Bursa Efek Indonesia, Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa Denpasar. Atmadja, A. T., & Saputra, K. A. K. (2018). Determinant Factors Influencing the Accountability of Village Financial Management. Academy of Strategic Management Journal. Vol. 17. Issue 1. Atmadja, A. T., Saputra, K. A. K., & Koswara, M. K. (2018). The Influence Of Village Conflict, Village Apparatus Ability, Village Facilitator Competency And Commitment Of Local Government On The Success Of Budget Management. Academy of Accounting and Financial Studies Journal, 22(1), 1-11. Brigham, Eugene F and Joel F. Houston. 2014. Fundamentals of Financial Management, 14th Edition. Mason : South-Western Cengange Learning Deswira, Tita. 2013. Pengaruh Likuiditas, Struktur Modal dan Ukuran Perusahaan terhadap Risiko Investasi Saham yang terdaftar di Jakarta Islamic Index. Jurnal Akuntansi. Available at e-journal.unp.ac.id Diana, Ni Wayan Arisma Gangga Putri. 2014. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Investasi Saham pada Industri Telekomunikasi yang Go Public di PT Bursa efek indonesia, Jurnal Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa Denpasar. Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program IBM SPSS 21, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Ismawati, Linna. 2013. Pengaruh Kurs Mata Uang RUpiah atas Dollar AS, Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia dan Tingkat Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Jurnal Ekono Insentif Kopwil, 7 (2) :1-13 Jogiyanto, (2012), Teori Portofolio dan Analisa Investasi, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Ni Luh AP Ningsih, Made P Dewi, Ni M Yuliati Halaman 80 dari 80 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Markaryanawati dan Misbachul Ulum. 2011. Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Likuditas Perusahaan terhadap Risiko Investasi Saham yang Terdaftar pada Jakarta Islamic Index. Jurnal Ekonomi Bisnis, 14 (1) : 49-60 Mustika, Candra., Umiyati, Etik dan Achmad, Erni. 2015. Analisis Pengaruh Ekspor Neto terhadap Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Jurnal Paradigma Ekonomika, Vol.10, No.2. Nugraha, I Gede Budi. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Investasi Saham pada Industri Farmasi yang Go Public di PT.Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Udayana Denpasar. Pramana, I. B. Nyoman dan Badera, I Dewa Nyoman. 2017 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Investasi Saham. E-jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.18.3. Maret 2017 : 1860-1887 Puspopranoto, Sawaldjo. 2010. Keuangan Perbankan dan Pasar Keuangan (Konsep, Teori dan Realita). Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia Rahmadani, Rochmad Furi. 2012. Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Likuiditas Perusahaan terhadap Risiko Investasi Saham yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) 2009-2010. Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang : 1-15 Rizal, M. 2016. Analisis Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas terhadap Return Saham Syariah dengan Risiko Investasi sebagai Variabel Intervening (Studi Empiris pada. Rrepository.unej.ac.id Saputra, K. A. K., Anggiriawan, P. B., & Sutapa, I. N. (2018). Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa Dalam Perspektif Budaya Tri Hita Karana. Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis Airlangga, 3(1). Sugiyono, (2016), Metode Penelitian Bisnis, Penerbit Alfabeta, Bandung. Deswira, Tita. 2013. Pengaruh Likuiditas, Struktur Modal dan Ukuran Perusahaan Terhadap Risiko Investasi Saham yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index, Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang: 1-15. Wijaya, Trisnadi. 2014. Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. Jurnal STIE MDP, 8 (3) : 1-8 Yanti, Ni Putu Ayu Dewi, (2015), Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Investasi Saham pada Perusahaan Telekomunikasi, Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali.
Ibnu Harris Halaman 81 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Kehebatan Situs Belanja Daring dalam Mempengaruhi Emosi dan Kepercayaan Pembeli Ibnu Harris Universitas Universal, Batam - Indonesia Korespondensi: [email protected] Abstrak Hampir semua generasi muda khususnya generasi Y (Gen Y) di Indonesia saat ini telah mengenal dan melakukan pembelian barang dan jasa secara daring (online). Hal ini tak lepas dari kemampuan situs belanja daring untuk menarik konsumen melalui berbagai promosi dan iklannya yang menjanjikan berbagai kelebihan belanja daring dibanding belanja secara konvensional, sehingga mampu menggugah emosi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor emosi (X1) dan kepercayaan (X2 ) terhadap orientasi belanja daring (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah anak muda di kota Batam belanja daring dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 246 responden yang diambil secara acak (random sampling). Pengujian dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM) dengan teknik Generalize Least Square (GLS). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa emosi dan kepercayaan terbukti sangat berpengaruh terhadap orientasi belanja daring khususnya bagi konsumen dikalangan muda. Kata Kunci: emosi, kepercayaan, orientasi belanja daring, SEM, GLS Abstract Almost all young people, especially students in Indonesia, now know and purchase goods and services online. This is inseparable from the ability of online shopping sites to attract consumers through various promotions and advertisements that promise various advantages of online shopping compared to conventional shopping, so as to arouse consumer emotions. This study aims to examine emotional factors (X1) and trust (X2) towards online shopping orientation (Y). The population in this study were online shopping consumers in Batam city, and the samples in this study were 246 respondents who were taken randomly. Tests are carried out using the Structural Equation Modeling (SEM) method with the Generalize Least Square (GLS) technique. The results of this study indicate that emotions and trust proved to be very influential on the orientation of online shopping especially for consumers among young people. Keywords: emotions, trust, online shopping orientation, SEM, GLS A. PENDAHULUAN Hinggga kini, para pemasar sudah umum menggunakan insentif moneter untuk meningkatkan peluang rekomendasi, sehingga memberikan motivasi eksternal bagi pembeli (Reimer & Benkenstein, 2018). Perubahan dalam hal bagaimana, ketika, dan di mana dibalik motif komunikasi pemasaran bentuk customer-to-business dan customer-to-customer terbentuk bersamaan dengan diusulkannya bentuk definisi baru tentang WOM (word-ofmouth) dan UGC (user generated content) yang muncul di pasar (Naylor, 2016). Orientasi belanja seseorang terhadap suatu situs belanja dalam jaringan (daring/online) bisa seketika berubah jika diketahui terdapat persepsi tidak baik pada perusahaan. Seseorang membeli barang yang hanya berdasarkan insentif moneter atau yang lebih dikenal dengan promo memberikan rasa kecurigaan terhadap kualitas barang atau malah terhadap perusahaan yang menjual. Ini sangat mungkin mempengaruhi kepercayaan calon pembeli. Motif lain seseorang memberi rekomendasi agar membeli secara daring adalah kepuasan konsumen dengan produk atau jasa, sehingga memberikan imbalan kepada perusahaan berupa keinginan membantu untuk merekomendasikan kepada orang lain (Sundaram, Mitra, & Webster, 1998). Keadaan ini juga bisa menjadi faktor emosi yang E-ISSN: 2654-4326 Halaman 81 - 88
Ibnu Harris Halaman 82 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD mendorong seseorang untuk kembali membeli secara daring pada situs belanja yang sudah memberinya kepuasan. Seiring dengan itu maka orientasi seseorang akan dapat diarahkan dalam melakukan belanja sesuai rekomendasi orang yang sudah pernah terpuaskan oleh situs tertentu tanpa berpikir bahwa kejadiannya bisa sangat berbeda jika yang membeli berbeda orang atau berbeda kepentingan. Konsumen muda atau remaja adalah pasar potensial untuk belanja daring. Hal ini karena segmen muda paling sensitif terhadap perkembangan teknologi yang menyentuh setiap aktivitasnya, termasuk dalam hal pembelian barang dan jasa. Hal ini karena secara psikologis, remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa (Rumini, S., & Sundari, S. (2004). Pada masa ini, remaja paling mudah untuk disentuh dan diarahkan emosinya untuk melakukan sesuatu termasuk belanja secara daring. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan penulis bermaksud menguji apakah faktor emosi dan faktor kepercayaan cukup untuk mendorong orang memiliki orientasi belanja terhadap suatu situs belanja daring tertentu. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pemanfaatan Internet di Kota Batam Kota Batam adalah sebuah kota terbesar di Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulaupulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka. Batam merupakan salah satu kota dengan letak yang sangat strategis. Selain berada di jalur pelayaran internasional, kota ini memiliki jarak yang sangat dekat dan berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Sebagai kota terencana, Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia. Hal ini juga membuat gaya hidup masyarakatnya menjadi peniru pertama budaya yang ada di negara tetangganya yang lebih cepat maju perekonomiannya. Gaya modern masyarakat Batam tidak lepas dari penggunaan telepon seluler yang menjadi sangat diminati untuk mengakses internet. Pemakaian dan pengaksesan internet membawa keuntungan yang banyak kepada pemakai internet seperti produktivitas pekerjaan, pendidikan, pengaksesan informasi, memperbaharui teknologi, persatuan sosial dan profesional, serta keuntungan bagi pembeli (Harris & Fitriansyah, 2018). Perkembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di kota Batam juga menunjukkan angka yang signifikan (Putra, 2014). Pemerintah kota Batam menyadari bahwa apabila dibina dan diperhatikan, UKM di Batam akan dapat berperan maksimal. Karena itu, pemerintah setempat menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pembangunan Daerah Berbasis Daya Saing Melalui Inovasi dan Kompetensi, inisiatif untuk meningkatkan daya saing UKM dengan berbagai program perlu dilakukan. Selain melakukan sertifikasi produk, hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing adalah dengan optimalisasi pemanfaatan Teknologi Informasi (TI). Pemanfaatan teknologi telah terbukti mampu meningkatkan kinerja organisasi termasuk UKM (Mutiarni, R, 2017) Perkembangan UKM yang sangat baik tersebut, juga direspon baik oleh para konsumen, khususnya generasi muda. Berbagai produk barang dan jasa yang dihasilkan pelaku UKM di Batam, ternyata mampu menarik minat konsumen khususnya anak muda untuk membeli. Hanya dengan berbekal telepon pintar dan jaringan internet yang handal, bisnis yang mulanya hanya dipasarkan secara konvensional, saat ini mampu dipasarkan dan dijual secara daring, sehingga makin meningkatkan perekonomian di Batam.
Ibnu Harris Halaman 83 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD 2. Penggolongan Usia Remaja Dan Dewasa Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Dalam arti yang lebih luas lagi dewasa ini mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua (Deswita, 2006: 192) Penggolongan remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini terbagi atas 3 (tiga) yaitu 1. 12 – 15 tahun adalah masa remaja awal 2. 15 – 18 tahun adalah masa remaja pertengahan 3. 18 – 21 tahun adalah masa remaja akhir. Monks, Knoers, dan Haditono (2002) membedakan masa remaja menjadi empat bagian yaitu 1. Masa pra-remaja 10 – 12 tahun 2. Masa remaja awal 12 – 15 tahun 3. Masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun 4. Masa remaja akhir 18 – 21 tahun Diatas kategori umur diatas, sudah termasuk dalam kategori usia dewasa. Secara umum usia dewasa adalah antara 20-40 tahun (Hurlock, E. B. 2001). Saat ini, muncul istilah anak muda yang disebut generasi Y (Gen Y). Secara umum, gen Y adalah generasi yang tumbuh di tengah-tengah perkembangan teknologi nirkabel, akrab dengan internet dan aktif di media sosial dan cenderung suka unjuk diri. Hal ini ikut memengaruhi kepekaan gen Y terhadap perubahan, yang dicirikan dengan tidak takut perubahan namun sering kali tak sabar melalui proses menuju perubahan itu. Namun demikian, generasi ini memiliki sikap kreativitas tanpa batas dan menyukai lingkungan kerja yang santai penuh hura-hura yang menampung kreativitas mereka. Mereka bekerja tidak terlalu serius, karena bekerja bukan untuk kehidupan atau menghidupi keluarga seperti yang dilakukan generasi sebelumnya. Generasi ini sangat techno-minded dan berinteraksi lebih banyak melalui gadget (Skype, Whatsapp, Twitter, Facebook) meskipun dengan lingkungan yang sangat dekat (Mucharom, L, dalam Suryadi, B, 2015) 3. Hubungan Emosi dan Kepercayaan Pendekatan secara psikologis pada konsumen dilakukan agar mempelajari lebih fokus mengenai faktor budaya, demografik, motivasi, dan orientasi belanja seseorang (Dennis, Merrilees, Jayawardhena, & Wright, 2009; Zhou, Dai, & Zhang, 2007). Sehingga untuk mencari tahu faktor yang paling sederhana dalam menerka kebiasaan konsumen dalam membeli secara daring, penelitian ini harus mempelajari paling tidak 4 faktor tersebut di atas. Namun menurut Vajjhala & Strang, (2018) kebahagiaan konsumen dan kepuasan konsumen memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap keinginan membeli melalui internet. Kemudian membantu orang lain, menyakiti orang lain, membantu diri sendiri sambil membantu orang lain, semua itu memberikan motif palsu atau motif yang dibesar-besarkan UGC (user generated content) (Naylor, 2016). Ini membuat kepercayaan menjadi satu faktor yang dapat dibentuk untuk mempengaruhi kepercayaan seseorang terhadap situs daring digital. Sehingga dikatakan juga oleh Naylor, (2016) bahwa konsumen sangat mempercayai nilai numerik yang diberikan pada rating yang bisa saja diberikan oleh reviewer yang dibayar, kecuali apabila konsumen tersebut memang membaca feedback yang ada. Dengan
Ibnu Harris Halaman 84 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD sangat meyakinkan, telah ditunjukkan bahwa perilaku para pembeli daring secara kompleks dipengaruhi oleh nilai-nilai internal pembelanjaan dan juga isyarat-isyarat eksternal dari atmosphere yang diberikan oleh situs daring (Prashar, Vijay, & Parsad, 2017). Menonjolkan rancangan yang dapat menjawab kebutuhan hedonis dan fungsionalitas yang tanpa cela merupakan hal penting dalam usaha mendapatkan loyalitas dari pelanggan Gen Y (Bilgihan, 2016). Hedonis merupakan salah satu penyusun faktor emosi. Dari latar belakang serta tinjauan pustaka yang telah disampaikan maka hipotesis yang diangkat pada penelitian ini adalah: H1 : Emosi konsumen mempengaruhi orientasi belanja pada situs belanja daring. H2 : Kepercayaan konsumen mempengaruhi orientasi belanja pada situs belanja daring. C. METODE PENELITIAN Penelitian ini berjenis explanatory research dengan pendekatan kuantitative. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja di kota Batam yang pernah melakukan pembelian daring menggunakan media internet, aplikasi, maupun situs web. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sejumlah 246 responden. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel secara tidak acak, dimana informasi menggunakan pertimbangan tertentu (Indriantoro & Supomo, 2002). Horison waktu yang digunakan adalah studi cross sectional. Studi cross sectional merupakan studi untuk mengetahui hubungan komparatif beberapa subyek yang diteliti. (Indriantoro & Supomo, 2002). Data yang digunakan adalah data primer yang bersumber langsung dari responden, yang diperoleh melalui kuisioner . Selanjutnya , dari data yang masuk diolah dengan menggunakan aplikasi program Structural Equation Modelling (SEM). Model persamaan struktural, SEM adalah sekumpulan teknik-teknik statistikal yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif “rumit”, secara simultan. Kesesuaian model dievaluasi melalui telaah terhadap berbagai kriteria model fit Index. Teknik yang digunakan adalah Generalize Least Square (GLS). D. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Statistik Deskriptif Responden yang didapat adalah 296 orang yang kemudian dilakukan pemilahan terhadap isian yang tidak lengkap dan tidak jelas. 246 data yang lengkap digunakan sebagai sampel penelitian yang memiliki deskripsi sebagai berikut: Tabel 1: Deskripsi Responden Keterangan Jumlah Jenis Kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 101 orang 145 orang Usia a. 10 – 15 tahun b. 16 – 21 tahun c. 22 – 27 tahun b. 28 – 33 tahun d. 33 tahun atau lebih Tidak ada 182 orang 48 orang 10 orang 6 orang
Ibnu Harris Halaman 85 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Tempat belanja a. Tokopedia b. Lazada c. Blanja.com d. Shopee e. Bukalapak f. Lainnya 33 orang 18 orang 2 orang 165 orang 5 orang 23 orang Penghasilan / bulan ≥ 1jt rupiah sampai dengan 50jt rupiah Sumber: Data Primer diolah, 2018 Tabel 2: Deskripsi Statistik Jumlah Minimum Maksimum Rerata Faktor Emosi 246 2 4 2,41 Faktor Kepercayaan 246 2 4 2,99 Orientasi Belanja 246 1 4 2,79 Sumber: Data primer diolah, 2018 Berdasarkan tabel Deskripsi Statistik dapat diambil pemahaman bahwa dari seluruh responden telah menyatakan setuju secara rerata terhadap semua pertanyaan responden yang diberikan. Selanjutnya, dari data primer yang masuk dilakukan uji ketepatan model. Model penelitian menggunakan 2 variabel tidak terikat, yaitu: Faktor Emosi (E) dan Faktor Kepercayaan (T) terhadap variabel terikat Orientasi Belanja (PO). Gambar 1: Model Penelitian Untuk memastikan penggunaan model penelitian yang tepat, uji model of fitness dilakukan menggunakan IBM® SPSS® AMOS berdasarkan asumsi CMIN/DF (the minimum sample discrepancy function/degree of freedom) ≤ 2. Uji ini menghitung chisquare dibagi dengan degree of freedom. Teknik yang digunakan adalah Generalize Least Square (GLS). Tabel 3: Model Fit Summary Model NPAR CMIN DF P CMIN/DF Emosi dan Kepercayaan thdp Orientasi Belanja 49 430,536 227 ,000 1,897 Saturated model 276 ,000 0 Independence model 23 650,923 253 ,000 2,573 Zero model 0 2817,500 276 ,000 10,208 Sumber: Data primer diolah, 2018
Ibnu Harris Halaman 86 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Selanjutnya, untuk menganalisis hipotesis yang diajukan, peneliti menguji 3 (tiga) variabel yang dinilai berdasarkan indikator yang diberikan pada setiap variabel yang digunakan. Berikut rincian dari indikator yang digunakan: Tabel 4: Indikator Pertanyaan Faktor Emosi No. Indikator Pernyataan 1 Saya merasa tenang jika sedang melakukan belanja online 2 Saya selalu memiliki harapan yang terbaik jika sedang melakukan belanja online 3 Saya merasa penuh semangat jika sedang melakukan belanja online 4 Saya merasa bangga jika melakukan belanja online 5 Saya merasa frustasi jika melakukan belanja online 6 Saya merasa khawatir dalam melakukan belanja online 7 Saya merasa tertekan jika sedang melakukan belanja online 8 Saya merasa dipermalukan jika melakukan belanja online Faktor Kepercayaan No. Indikator Pernyataan 1 Situs perbelanjaan online yang biasa saya gunakan adalah situs yang terpercaya dan jujur 2 Situs perbelanjaan online yang biasa saya gunakan adalah situs yang menepati janji dan kewajibannya 3 Informasi yang diberikan oleh situs perbelanjaan online yang biasa saya gunakan sangat banyak dan memadai 4 Infrastruktur dari situs perbelanjaan online yang saya gunakan dapat diandalkan 5 Situs perbelanjaan online yang biasa saya gunakan menawarkan pengamanan privasi pribadi 6 Menurut saya situs perbelanjaan online yang biasa saya gunakan terus menjadi situs online yang terbaik 7 Dibandingkan dengan situs perbelanjaan online lain, situs perbelanjaan online yang biasa saya gunakan aman dapat diandalkan 8 Situs perbelanjaan online yang saya gunakan tidak akan berperilaku opurtunis (misalnya, mendapatkan keuntungan secara 86lterna) 9 Situs perbelanjaan online yang biasa saya gunakan memenuhi harapan saya Orientasi Belanja Online No. Indikator Pernyataan 1 Saya lebih suka membeli produk/jasa melalui situs perbelanjaan online 2 Penting bagi saya untuk membeli produk/jasa secara online 3 Sering kali saya menemukan produk/jasa yang saya butuhkan di situs perbelanjaan online 4 Tersedianya produk/jasa yang berkualitas tinggi yang ditawarkan oleh situs perbelajaan online sangat penting bagi saya 5 Saya menemukan kualitas produk/jasa yang lebih baik ketika berbelanja online 6 Saya mempunyai standar dan harapan yang tinggi terhadap produk/jasa yang saya beli secara online Sumber: Data primer, 2018 Dalam SEM (structural equation modelling) ukuran sampel menjadi salah satu faktor yang penting. Ukuran sampel dalam metode-metode penelitian lainnya menjadi dasar untuk mengestimasi kesalahan sampling. Dengan jumlah responden antara 200-500 orang, maka pada penelitian ini digunakan teknik GLS. Uji model menghasil kesimpulan bahwa faktor Emosi dan Faktor Kepercayaan secara bersamaan dapat mempengaruhi Orientasi Belanja daring seseorang sebesar 62%. Berikut adalah rancangan uji model yang digunakan:
Ibnu Harris Halaman 87 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Gambar 2: Hasil uji Model Masing-masing faktor Emosi mempengaruhi sebesar 30% dan faktor Kepercayaaan sebesar 32%, sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dengan faktor kesalahan sebesar 9%.Hipotesis alternatif yang diusulkan dalam penelitian ini semuanya dapat diterima E. PENUTUP Dari hasil penbelitian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor emosi dan faktor kepercayaan seseorang cukup untuk memprediksikan Orientasi Belanja seseorang secara daring (online). Ini ditunjukkan dengan nilai persen sebesar 62% yang dihasilkan oleh uji SEM. Dengan hasil ini diusulkan bagi pengelola pasar daring (online marketplace) agar bisa lebih fokus untuk mengelola dan menjaga kedua faktor tersebut lebih baik lagi dibandingkan faktor lainnya yang hanya punya konstribusi 38%. Model yang rancang juga memiliki fitness yang baik dalam memprediksi orientasi belanja yang diinginkan sehingga bisa diasumsikan bahwa hubungan 3 variabel di atas mampu memberikan generalisasi. Kontribusi dari penelitian ini adalah menjelaskan bahwa emosi dan kepercayaan sangatlah penting untuk diperhatikan jika ingin mendapatkan pelanggan muda. Melihat jumlah responden yang mayoritas berusia 16 – 21 tahun ini mengkategorikan pelanggan dari kalangan Gen Y. Berdasarkan peneltian yang dilakukan di India oleh Bilgihan, (2016) website yang terpercaya akan lebih banyak dikunjungi dan akan membangkitkan tingkat loyalitas pelanggan dari golongan Gen Y. Sehingga membangun website yang menarik secara kaidah keindahan dapat memberikan motivasi Gen Y menjadi loyal dalam konteks daring. Loyalitas biasanya dicerminkan dengan kemauan dalam membeli secara berulang pada pasar daring yang sama. DAFTAR PUSTAKA Bilgihan, A. (2016). Gen Y Customer Loyality in Online Shopping: An Integrated Model of Trust, User Experience and Branding. Computers in Human Behavior, 61, 103- 113. Error factor
Ibnu Harris Halaman 88 dari 88 JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Dennis, C., Merrilees, B., Jayawardhena, C., & Wright, L. T. (2009). E-Consumer Behavior. European Journal of Marketing, 42(9), 1121-1139. Harris, I., & Fitriansyah, A. (2018). Pengaruh Efektivitas Diri Dan Spesifik Internet Terhadap Tingkat Ansietas Pengguna Internet. JMD: Jurnal Riset Manajemen & Bisnis Dewantara, 1(2), 97-108. Hurlock, E. B. (2001). Developmental psychology. Tata McGraw-Hill Education Indriantoro, N., & Supomo, B. (2002). Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta. Monks, F. J., & Knoers, A. M. P. Siti Rahayu Haditono. 2002. Psikologi Perkembangan; Pengantar dalam berbagai bagiannya. Mutiarni, R. (2017). Implementasi Electronic Data Processing Pada Koperasi Wanita. Eksis: Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis, 12(2), 135-148. Naylor, G. S. (2016). Complaining Complimenting And Word-Of-Mouth in The Digital Age: Typology and Terms. https://www.researchgate.net/publication/313036749 (ss. 131-142). ResearchGate. Prashar, S., Vijay, T. S., & Parsad, C. (2017). Effect of Online Shopping Values and Website Cues on Purchase Behaviour: A Study Using S-O-R Framework. The Journal of Decision Makers, 42(1), 1-18. Reimer, T., & Benkenstein, M. (2018). Not just for the recommender: How eWOM incentives influence the recommendation audience. Journal of Business Research, 86(January), 11-21. doi:10.1016/j.jbusres.2018.01.041 Rumini, S., & Sundari, S. (2004). Perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Rineka Cipta. Sundaram, D. S., Mitra, K., & Webster, C. (1998). Word-Of-Mouth Communications: a Motivational Analysis. NA - Advances in Consumer Research, 25, 527-531. Suryadi, B. (2015, May). Generasi y: karakteristik, masalah, dan peran konselor. Seminar dan Workshop Internasional MALINDO 4 di Bali, 22-23 Mei 2015. Diselenggarakan oleh Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN)Vajjhala, N. R., & Strang, D. K. (2018). Examining Internet Behavior of young Technology-Literate Consumers in India. Twenty-fourth Americas Conference on Information Systems. New Orleans. Wu, W.-Y., Ke, C.-C., & Nguyen, P.-T. (2018). Online Shopping Behavior in Electronic Commerce: An Integrative Model form Utilitarian and Hedonic Perspectives. International Journal of Entrepreneurship, 22(3). Zhou, L., Dai, L., & Zhang, D. (2007). Online Shopping Acceptance Model - A Critical Survey of Consumer Factors in Online Shopping. Journal of Electronic Commerce Research, 8(1), 41-62.
JMD: Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis Dewantara Vol 2 No 2, Juli 2019 ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JMD Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Xiaomi Joni Budiarto1 , Erminati Pancaningrum2 STIE PGRI Dewantara Jombang Korespondensi: [email protected] Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh semakin besarnya nama perusahaan Xiaomi di dalam pasar smartphone khususnya di Indonesia. Experiential marketing adalah salah satu strategi pemasaran yang saat ini digunakan oleh banyak perusahaan termasuk Xiaomi. Strategi pemasaran yang tidak sekedar menawarkan produk saja, tetapi juga dengan melakukan pendekatan pengalaman dengan memerhatikan unsur (sense, feel, think, act dan relate). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh dari sense, feel, think, act dan relate terhadap keputusan pembelian smartphone Xiaomi. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa pengguna smartphone Xiaomi di STIE PGRI Dewantara Jombang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 85 mahasiswa yang diambil dengan teknik accidental sampling. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel sense, feel, think, act dan relate berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin kuat variabel experiential marketing (sense, feel, think, act dan relate) yang dirasakan konsumen terhadap smartphone Xiaomi, maka akan semakin baik pengaruhnya terhadap keputusan pembelian smartphone. Kata Kunci: Experiential Marketing, Sense, Feel, Think, Act, Relate, Keputusan Pembelian Abstract This research is motivated by the increasing name of Xiaomi company in the smartphone market, especially in Indonesia. Experiential marketing is one of the marketing strategies currently used by many companies including Xiaomi. A marketing strategy that does not merely offer products, but also approaches the experience by paying attention to elements (sense, feel, think, act and relate). This study is intended to find out and analyze the influence of the sense, feel, think, act and relate to the purchasing decisions of Xiaomi smartphones. The population in this study were students of Xiaomi smartphone users at STIE PGRI Dewantara Jombang. The sample in this study amounted to 85 students taken by accidental sampling technique. Data analysis method in this study uses multiple linear analysis. The results of this study indicate that the variables sense, feel, think, act and relate have a significant positive effect on purchasing decisions. The conclusion of this study is that the stronger the experiential marketing variable (sense, feel, think, act and relate) that consumers feel towards Xiaomi smartphones, the better the effect will be on smartphone purchasing decisions. Keywords: Experiential Marketing, Sense, Feel, Think, Act, Relate, Purchase Decision A. PENDAHULUAN Teknologi yang berkembang dan semakin modern berpengaruh secara luas terhadap berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah aspek komunikasi. Teknologi komunikasi adalah teknologi yang memiliki perkembangan cukup signifikan. Smartphone adalah salah satu dari beberapa teknologi di bidang komunikasi yang mengalami perkembangan sangat pesat. Hampir di setiap kalangan masyarakat telah mengenal smartphone. Organisasi bisnis saat ini juga telah memanfaatkan smartphone untuk mengenalkan produknya khususnya untuk pemasaran secara online (Febriyantoro, M. T., & Arisandi, D. 2018), sehingga hal ini semakin membuat peran smartphone semakin penting bagi masyarakat. Zaman yang semakin canggih memaksa produsen smartphone untuk mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi sebagai bentuk respon terhadap E-ISSN: 2654-4326 Halaman 89 - 98
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 90 dari 88 permintaan pasar yang semakin kompleks. Hal ini penting bagi kelangsungan perusahaan smartphone agar tetap mampu bersaing di pasar yang kompetitif. Salah satu merek smartphone yang sedang diminati saat ini adalah Xiaomi. Xiaomi adalah salah satu vendor smartphone yang berasal dari Tiongkok dan saat ini telah memiliki banyak peminat di pasar smartphone salah satunya di Indonesia. Smartphone yang sedang digemari ini semakin menaiki peringkat dalam pasar yang kompetitif. Dikatakan dalam laporan riset pasar dari Canalys untuk kuartal 1 (satu) tahun 2018 bahwa Xiaomi berada di posisi kedua dari 5 (lima) vendor terbesar di pasaran Indonesia pada kuartal 1 tahun 2018. Tabel 1 Market Analysis 2018 Indonesia Smartphone Market – Top 5 Vendors Rank Vendor Q1 2017 Q12018 Growth Share 1 SAMSUNG 2.0 million 2.3 million 17.2% 25.5% 2 XIAOMI 107.000 1.7 million 1455% 18.3% 3 OPPO 1.5 million 1.5 million 5.2% 16.8% 4 VIVO 510.000 600.000 16.7% 6.5% 5 SMARTFREN 780.000 520.000 -34.0% 5.6% Sumber: Canalys estimates, Smartphone Analysis, May 2018 Dari tabel 1 (satu) di atas tercatat market share Xiaomi sebesar 18,3% pada kuartal I (satu) tahun 2018, dengan mengalami kenaikan sebesar 1455%. Sepanjang triwulan I (satu) tahun 2018 Xiaomi telah mengirimkan 1,7 juta unit perangkat smartphone-nya ke berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini dapat dikatakan sebagai peningkatan pesat mengingat pada periode yang sama tahun lalu Xiaomi hanya mampu mengirimkan 107.000 perangkat smartphone. Pada era kompetisi yang semakin ketat ini strategi pemasaran tradisonal yang berfokus pada kualitas dan kegunaan produk (feature and benefit) tidaklah cukup. Keberhasilan menciptakan nilai positif di benak konsumen adalah faktor yang penting dalam kesuksesan penjualan suatu produk (Rini, E. S, 2009). Penyampaian atau pengkomunikasian suatu produk dengan cara menyentuh sisi emosional konsumen perlu dilakukan. Salah satu konsep marketing modern yang sering digunakan oleh banyak perusahaan saat ini adalah experiential marketing. Experiential marketing merupakan konsep strategi pemasaran dengan melakukan pendekatan secara emosional kepada konsumennya dengan tujuan menciptakan pengalaman-pengalaman positif terhadap produk. Experiential marketing terdiri dari sense, feel, think, act dan relate (Schmitt, B. 1999). Dengan experiential marketing suatu perusahaan dapat memberikan pemahaman dan gambaran baru kepada konsumen berkaitan dengan produk sehingga timbul pengalaman positif terhadap produk dan merangsang konsumen untuk menggunakan produk tersebut. Teori tentang experiential marketing telah banyak di kembangkan dalam beberapa penelitian seperti penelitian yang dilakukan oleh Bernd Schmitt yang berjudul Experiential Marketing (2010). Penelitian lainnya dilakukan oleh Balakumar dan Swarnalatha dengan konsep sikap konsumen yang dikaitkan dengan perilaku pembelian. Penelitian yang dilakukan oleh Dzakirah (2012) menjelaskan experiential marketing dari reputasi yang dimiliki jasa penyedia paket umrah mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sehingga berpengaruh dalam keputusan pembelian. Penelitian lain yang dilakukan oleh Wicaksono (2015) yang mengaitkan experiential marketing dengan rumah
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 91 dari 88 makan Raminten. Rumah makan Raminten menerapkan elemen-elemen experiential marketing sehingga mampu memberikan konsumen pengalaman positif terhadap rumah makan tersebut. Experiential marketing merupakan strategi yang juga diterapkan oleh Xiaomi. Xiaomi selalu meningkatkan kekuatan mereknya dengan memberikan pengalaman tentang produk smartphone-nya kepada konsumen melalui pendekatan emosional. Salah satunya, Xiaomi memberikan pengalaman kepada konsumennya melalui smartphone dengan memiliki kualitas bagus, fitur yang lengkap serta adanya spesifikasi yang dapat di pilih sehingga konsumen dapat menyesuaikan dengan gaya hidupnya. Selain itu Xiaomi juga menyediakan forum yang digunakan untuk berdiskusi bagi para pengguna smartphone Xiaomi sebagai media interaksi tentang berbagai informasi mengenai smartphone. Di dalam forum tersebut pengguna smartphone Xiaomi mampu berinteraksi satu sama lain dan saling bertukar pengalaman mulai dari permasalahan yang dihadapi saat menggunakan smartphone hingga solusi serta informasi-informasi tentang hal baru dari Xiaomi seperti adanya pembaruan sistem di waktu yang akan datang. Dari latar belakang yang telah disampaikan diatas dengan didukung oleh penelitian terdahulu, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah experiential marketing berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Hasil dari penelitian ini, diharapkan akan menjadi masukan serta bahan kajian bagi pihak-pihak terkait. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Experiential Marketing Kertajaya (2006) mendefinisikan experiential marketing sebagai sebuah konsep pemasaran yang tujuannya adalah membentuk loyalitas pelanggan dengan pendekatan emosi pelanggan dengan pengalaman-pengalaman positif serta memberikan suatu feeling yang positif terhadap produk dan jasa. Menurut Schmitt (1999) experiential marketing merupakan suatu proses penawaran produk dan jasa oleh pemasar kepada konsumen dengan perangsang emosi konsumen yang menghasilkan berbagai pengalaman bagi konsumen. Menurut Schmitt dalam experiential marketing terdapat experiential modules (SEMs) mendeskripsikan lima tipe pengalaman pelanggan yang merupakan dasar dari experiential marketing. Kelima tipe tersebut adalah: 1) sense, 2) feel, 3) think, 4) act, dan 5) relate. 1. Sense (Panca Indera). Tipe pengalaman yang bertujuan untuk menciptakan pengalaman kepada konsumen melalui panca indera. Merupakan pengalaman yang dirasakan konsumen terhadap Xiaomi melalui panca indera. Sense dapat di ukur dengan indikator (Schmitt dalam Hamzah): a. Penglihatan, Pengalaman yang muncul berkaitan dengan pandangan konsumen terhadap fisik dari produk smartphone Xiaomi meliputi bentuk, warna dan keadaan fisik lainnya. b. Pendengaran, Pengalaman yang muncul berkaitan dengan kemampuan produk Xiaomi dalam aspek pendengaran seperti memberikan kualitas atau karakter suara dari smartphone Xiaomi. c. Peraba, Pengalaman yang muncul berkaitan dengan sentuhan, perasaan konsumen saat memegang smartphone Xiaomi. 2. Feel (Perasaan). Merupakan pengalaman yang ditujukan pada perasaan serta emosi konsumen dan bertujuan mempengaruhi pengalaman mulai dari suasana hati sampai dengan emosi yang kuat terhadap kenangan dan kebanggaan pada produk smartphone Xiaomi. Feel dapat di ukur dengan indikator (Schmitt dalam Hamzah):
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 92 dari 88 a. Kebanggaan atau kesenangan. Pengalaman yang dirasakan konsumen ketika menggunakan produk Xiaomi yang berhubungan dengan perasaan senang atau bangga dalam benak konsumen. b. Hubungan konsumen dengan produk. Kondisi yang menghubungkan produk Xiaomi dengan konsumen dan dapat mempengaruhi perasaan konsumen terhadap produk Xiaomi. 3. Think (Pikiran). Merupakan tipe pengalaman dengan tujuan menciptakan sebuah kognitif, pemecahan masalah yang mampu mengajak konsumen untuk berfikir secara kreatif dan merupakan kemampuan perusahaan untuk membangkitkan keterlibatan konsumen melalui rasa ingin tahu dan ketertarikan konsumen tentang produk smartphone Xiaomi. Think dapat di ukur dengan indikator (Schmitt dalam Hamzah): a. Surprise. Merupakan dasar penting untuk memikat konsumen untuk berfikir sebagai akibat ketika konsumen merasa mendapatkan sesuatu yang melebihi ekspektasi sehingga timbul kepuasan. b. Intriguing. Intriguing membangkitkan rasa ingin tahu konsumen dengan melibatkan konsumen secara langsung namun tergantung pada tingkat pengetahuan, kesukaan, dan pengalaman konsumen itu sendiri. c. Provocation. Provocation mampu menimbulkan diskusi atau perdebatan. Pemasar dapat menggunakan strategi ini dengan melakukan promosi yang unik dengan tujuan mempengaruhi konsumen sehingga akhirnya memutuskan untuk melakukan pembelian. 4. Act (Tindakan). Merupakan jenis pengalaman yang bertujuan mempengaruhi perilaku, gaya hidup dan interaksi dengan konsumen. Act mengarah pada kemampuan perusahaan Xiaomi untuk mempengaruhi perilaku, gaya hidup dan interaksi konsumen melalui produknya. Act dapat di ukur dengan indikator (Schmitt dalam Hamzah): a. Varian atau keaneka ragaman. Bentuk atau pelayanan yang diberikan oleh Xiaomi kepada konsumennya berupa kelonggaran untuk memilih berbagai produk yang sesuai dengan keinginan konsumen. b. Gaya hidup. Pengalaman yang di berikan oleh Xiaomi sebagai gambaran dari gaya hidup konsumen. c. Interaksi. Pengalaman yang berkaitan dengan tindakan atau aktivitas dari Xiaomi untuk menunjukkan pelayanannya terhadap konsumen. 5. Relate (Hubungan). Merupakan pengalaman yang digunakan untuk mempengaruhi konsumen dengan menggabungkan seluruh aspek (sense, feel, think dan act) dan menitik beratkan pada penciptaan presepsi positif di mata konsumen. Relate memberikan pengalaman konsumen yang terkait dengan sense, feel, think, dan act dalam mengaitkan produk smartphone Xiaomi dengan dirinya sendiri. Relate dapat di ukur dengan indikator (Schmitt dalam Hamzah): a. Hubungan dengan orang lain. Pengalaman konsumen dengan Xiaomi yang timbul dan menciptakan hubungan dengan konsumen lain. b. Komunitas. Bentuk keterlibatan konsumen dengan pengembang produk Xiaomi dalam sebuah kelompok diskusi yang disediakan oleh Xiaomi sebagai timbal balik atau masukan untuk Xiaomi. 2. Keputusan Pembelian Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian terhadap produk yang
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 93 dari 88 ditawarkan oleh penjual. Konsumen akan melalui tahapan-tahapan sebelum menentukan untuk membeli smartphone Xiaomi. indikator dari keputusan pembelian yaitu (Kotler, 2009): 1. Pengenalan Masalah, Tahap dimana konsumen menyadari akan kebutuhannya terhadap suatu produk dari smartphone Xiaomi. 2. Pencarian Informasi, Kegiatan konsumen dalam mengumpulkan informasi tentang produk Xiaomi sebagai pemenuhan rasa ingin tahu konsumen terhadap produk Xiaomi. 3. Evaluasi Alternatif, Konsumen menentukan alternatif pilihan dari informasi yang didapatkan tentang produk Xiaomi sebagai pertimbangan. 4. Keputusan Pembelian, Keputusan konsumen untuk melakukan pembelian produk Xiaomi. 3. Kerangka Konseptual Penelitian Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah disampaikan diatas, maka kerangka penelitian ini adalah: 4. Hipotesis Penelitian yang dilakukan oleh Artika (2015) menunjukkan hasil bahwa elemen experiential marketing yang terdiri dari sense, feel, think, act dan relate memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Untuk itu, hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah: H1 : Semakin kuat sense maka semakin baik pengaruhnya terhadap keputusan pembelian smartphone Xiaomi pada mahasiswa STIE PGRI Dewantara Jombang. Penelitian yang dilakukan oleh Dzakirah (2012) menunjukkan bahwa variabel feel berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Feel yang dirasakan konsumen terhadap penyedia jasa paket umroh mampu meningkatkan keputusan pembelian konsumen. Untuk itu, hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah: H2 : Semakin kuat feel maka semakin baik pengaruhnya terhadap keputusan pembelian smartphone Xiaomi pada mahasiswa STIE PGRI Dewantara Jombang. Penelitian yang dilakukan oleh Northee (2015) hasil menunjukkan bahwa variabel think berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian mobil Suzuki. Dengan fitur serta kualitas yang diberikan oleh Suzuki mampu memberikan kejutan untuk konsumen sehingga memberikan pengalaman yang positif terhadap keputusan pembelian. Untuk itu, hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah: Sense (X1) Feel (X2) Think (X3) Relate (X5) Keputusan Pembelian (Y) Act (X3) H1 H2 H3 H4 H5 Gambar 1: Kerangka Penelitian
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 94 dari 88 H3 : Semakin kuat think maka semakin baik pengaruhnya terhadap keputusan pembelian smartphone Xiaomi pada mahasiswa STIE PGRI Dewantara Jombang. Penelitian yang dilakukan Maulina et al (2014) menunjukkan bahwa act berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian pecel lele di kota Padang. Tersedianya varian menu yang ada pecel lele Lela memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih menu sesuai selera. Untuk itu, hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah: H4 : Semakin kuat act maka semakin baik pengaruhnya terhadap keputusan pembelian smartphone Xiaomi pada mahasiswa STIE PGRI Dewantara Jombang. Penelitian yang dilakukan Khaerudin (2015) hasil menunjukkan bahwa relate berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan untuk mengunjungi tempat wisata Agrowisata Kaligua. Adanya pengalaman yang positif kepada setiap pengunjung yang melakukan kunjungan wisata serta menjaga erat hubungan antara pengelola serta hubungan antara pengunjung denga pegawai. Untuk itu, hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah: H5 : Semakin kuat relate maka semakin baik pengaruhnya terhadap keputusan pembelian smartphone Xiaomi pada mahasiswa STIE PGRI Dewantara Jombang. C. METODE PENELITIAN Penelitian ini berjenis explanatory research, yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel penelitian dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya (Singarimbun dan Masri, 2006) dengan pendekatan kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa aktif STIE PGRI Dewantara Jombang yang menggunakan smartphone Xiaomi, sedangkan sampel yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 85 responden yang diambil dengan teknik accidental sampling. Data yang digunakan adalah data primer yang didapat melalui kuisioner yang disebar kepada responden yang terkait variabel independen yaitu Sense (X1), Feel (X2), Think (X3), Act (X4), Relate (X5) dan satu variabel dependen yaitu Keputusan Pembelian (Y). Metode analisis data yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda dengan alat analisis SPSS V.25 serta melakukan uji hipotesis berupa uji instrumen, uji asumsi klasik dan uji hipotesis. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Deskripsi Responden Dari hasil pengolahan data, diketahui bahwa deskripsi responden pengguna smartphone Xiaomi adalah sebagai berikut: sebanyak 67 berasal dari program studi Manajemen dan 18 berasal dari program studi Akuntansi. Sebanyak 85 responden terdiri dari 41 laki-laki dan 44 perempuan. Sebanyak 41 responden bergabng dengan komunitas Mi-fans dan 39 tidak bergabung dengan komunitas, sisanya sebanyak 5 responden tidak tahu tentang komunitas tersebut. 2. Pengukuran Validitas dan Reliabilitas Sebuah item dikatakan valid jika r-hitung > r-tabel, artinya bila harga korelasi setiap item instrumen di bawah 0.30, maka dapat dikatakan bahwa butir instrumen tersebut tidak valid, sehingga harus diperbaiki atau dibuang (Sugiyono, 2012). Sebuah instrumen dinyatakan reliabel atau handal jika koefisien alpha cronbach > 0,6 (Sugiyono, 2012). Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa hasil pengukuran validiatas dan reliabilitas variabel tampak sebagai berikut:
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 95 dari 88 Tabel 2 Hasil Pengukuran Validitas dan Reliabilitas Variabel Item Pertanyaan r hitung Alpha Cronbach Sense (X1) X1.1 0,650 0,789 X1.2 0,820 X1.3 0,870 X1.4 0,801 Feel (X2) X2.1 0,761 X2.2 0,845 0,658 X2.3 0,714 Think (X3) X3.1 0,488 0,669 X3.2 0,721 X3.3 0,832 X3.4 0,780 Act (X4) X4.1 0,694 X4.2 0,810 0,639 X4.3 0,780 Relate (X5) X5.1 0,877 X5.2 0,911 0,855 X5.3 0,893 Keputusan Pembelian (Y) Y1.1 0,548 0,648 Y1.2 0,801 Y1.3 0,774 Y1.4 0,500 Y1.5 0,584 Sumber: Data diolah, 2018 Pada tabel 2 (dua) diatas, dapat dilihat bahwa nilai r-hitung setiap variabel seluruhnya lebih besar dari 0,30 maka dapat disimpulkan semua variabel dikatakan valid. Pada kolom alpha cronbach dapat dilihat bahwa setiap nilai dari masing-masing variabel menunjukkan nilai yang lebih dari 0,60, maka dapat dikatakan bahwa semua instrumen pada penelitian ini dinyatakan reliabel. 3. Hasil Perhitungan Regresi Berganda Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan program SPSS. Maka diperoleh hasil olahan seperti tabel 3 (tiga) berikut: Tabel 3: Hasil Uji Regresi Linier Berganda Variabel Koefisien Regresi t Hitung P-Value Signifikasi Sense 0,297 2,569 0,012 Signifikan Feel 0,363 3,356 0,001 Signifikan Think 0,292 3,013 0,003 Signifikan Act 0,239 2,105 0,038 Signifikan Relate 0,157 2,167 0,033 Signifikan Konstanta R R Square : 2,259 : 0,736a : 0,542 F Hitung Sig. : 18,729 : 0,000b Sumber: data diolah 2018 Berdasarkan hasil analisa regresi yang disajikan dalam tabel 3 (tiga) diatas maka didapatkan persamaan sebagai berikut: Ŷ = 2,259 + 0,297 + 0,363 + 0,292 + 0,239 + 0,157 Dari persamaan diatas diketahui bahwa koefisien regresi seluruh variabel bernilai positif, maka dapat diartikan bahwa semakin semakin kuat seluruh variabel yang meliputi variabel sense (X1), feel (X2), think (X3), act (X4), relate (X5) akan semakin baik
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 96 dari 88 pengaruhnya terhadap keputusan pembelian. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh hipotesis yang diajukan dapat diterima. 4. Uji Koefisien Determinasi (R2 ) Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar varian dari variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen (Ghozali, 2013). Berdasarkan tabel 5 di atas diperoleh nilai R2 sebesar 0,542. yang dapat disimpulkan bahwa 54,2 % variasi keputusan pembelian dijelaskan oleh faktor experiential marketing yang terdiri dari sense, feel, think, act dan relate, sementara sisanya 45,8 % dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dari hasil pembahasan diatas semakin menguatkan penelitian yang dilakukan oleh Artika (2015), yang menemukan bahwa elemen experiential marketing yang terdiri dari sense, feel, think, act dan relate mampu memberikan peningkatan keputusan pembelian mobil Suzuki. Hal ini juga selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Wicaksono (2015), peneliti menemukan bahwa feel berkontribusi terhadap keputusan pembelian di rumah makan Raminten Yogyakarta. Konsumen merasakan pengalaman feel melalui service yang bagus seperti keramahan pelayanan yang baik sebagai pengalaman positif yang berdampak terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap rumah makan tersebut. Khaerudin (2015) yang meneliti tentang peran experiential marketing terhadap keputusan mengunjungi tempat wisata, juga menyatakan bahwa bahwa relate mampu memberikan dorongan terhadap keputusan konsumen untuk mengunjungi tempat wisata Agrowisata Kaligua. Agrowisata Kaligua mampu memberikan pengalaman yang positif kepada setiap pengunjung yang melakukan kunjungan wisata serta menjaga erat hubungan antara pengelola serta hubungan antara pengunjung denga pegawai. E. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel yang meliputi variabel sense (X1), feel (X2), think (X3), act (X4), relate (X5) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y). Oleh karena itu disarankan kepada pihak manajemen smartphone Xiaomi hendaknya memperhatikan dimensi-dimensi experiential marketing meliputi sense, feel, think, act dan relate karena terbukti aspek-aspek ini memiliki kontribusi yang baik terhadap keputusan pembelian. Pada item “saya bergabung ke dalam komunitas Mi-Fans karena tertarik dengan komunitas tersebut” mendapat nilai terendah yaitu 3,1. Xiaomi harus lebih memperhatikan komunitas Mi-fans agar lebih dikenal konsumennya dengan mengadakan event misalnya seperti melakukan challenge dan giveaway. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mengembangkan hasil penelitian ini, dapat mengembangkan model penelitian agar lebih baik dengan menambahkan variabel lain seperti emotional marketing. DAFTAR PUSTAKA Andreani, F. (2007), Experiential Marketing (Sebuah Pendekatan Pemasaran), Jurnal Manajemen Pemasaran, Erlangga. Jakarta. Andreani. F. (2007). Experiental Marketing. Jurnal Manajemen Pemasaran.Vol. 2. No. 1. p. 18 Atina Arlia Wardani (2011). Experiential Marketing. Jurnal manajemen pemasaran, Badan penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 97 dari 88 Dzakirah N (2012). Analisis Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Pembelian Paket Umrah di PT Saibah). Skripsi, Febriyantoro, M. T., & Arisandi, D. (2018). Pemanfaatan Digital Marketing Bagi Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Pada Era Masyarakat Ekonomi Asean. JMD: Jurnal Riset Manajemen & Bisnis Dewantara, 1(2), 61-76. Ferdinand, Agusty. (2006). Metode Penelitian Manajemen (Pedoman Penelitian untuk Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi Ilmu Manajemen). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Hamzah, Amir (2007), Analisis Experiential Marketing, Emotional Branding dan Brand Trust Terhadap Loyalitas Merek Mentari, USAHAWAN No. 06 Th XXXVI Juni p. 22-8. Hermawan Kartajaya. (2002). Hermawan Kartajaya On Marketing. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Hermawan Kartajaya. 2004. Positioning, Diferensiasi, dan Brand. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. https://tekno.kompas.com/read/2018/05/15/08274587/survei-canalys-xiaomi-vendorponsel-terbesar-ke-2-di-indonesia. [Accessed 5 April 2018] Kartajaya, Hermawan, (2007) “ ciptakan great Experience” swa sembada, No. 15/ XXIII 12- 25 Juli. Kartajaya, Hermawan. (2006), Hermawan Kartajaya on Marketing. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Kotler, P & Amstrong, J. (2003). Dasar-dasar pemasaran. (9th ed.). Jakarta: PT. Index Kelompok Gramedia Kotler, P. (2000). Manajemen Pemasaran di Indonesia. Salemba. Jakarta Kotler, P., dan Amstrong, J. (2003). Dasar-dasar Pemasaran. Edisi kesembilan. PT Index Kelompok Gramedia. Jakarta. Kotler, Philip (2009). Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT.Indeks Kotler, Philip. & Kevin, Keller. (2009). Manajemen Pemasaran. Edisi Ketiga Belas Jilid Satu, Penerbit PT Gelora Aksara Pratama. Kumala Dkk. (2011). Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Kepuasan Pelanggan. (Survei Pada Pelanggan KFC Warga JL. Jendral Basuki Rachmad RW. 02 Kelurahan Kauman Kecamatan Klojen Kota Malang). Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Kustini. (2007). Penerapan Experiential Marketing. Jurnal Riset Ekonomi Bisnis. Rini, E. (2009) “Menciptakan Pengalaman Konsumen dengan Experiential Marketing.” Jurnal Manajemen Bisnis, Vol. 2, No. 2, h. 15-20. Rini, E. S. (2009). Menciptakan pengalaman konsumen dengan experiential marketing. Schmitt, B. (1999). Experiential marketing. Journal of marketing management, 15(1-3), 53-67. Schmitt, B. (2009), Experiential Marketing: How to Get Your Customers to Sense, Feel, Think, Act, and Relate to Your Company and Branda. The Free Press. New York. Schmitt, Bernd (1999), Experiential Marketing. The Free Press Now York. Sugiyono, (2007), Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta. Wardani A.A. (2011). Analisis Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Derajat Celcius). Skripsi, Program Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang. Wicaksono (2015). Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Keputusan Pembelian di Rumah Makan Raminten di Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah. Purworejo.
Joni Budiarti , Erminati Pancaningrum Halaman 98 dari 88 Yulianto, Ade. (2010). “Dampak Experiential Marketing Terhadap Loyalitas Pelanggan Resort Kampoeng Legok Lembang”. Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia. Yuniati T. dan Soecharno A.D. (2015) Analisis Pengaruh Elemen Experiential Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Mobil Suzuki Umc Surabaya. Skripsi, program sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, Surabaya