Volume 4, Nomor 1, Juni 2021 ISSBN: 2654-4369
JAD JURNAL RISET AKUNTANSI DAN KEUANGAN DEWANTARA VOLUME 4 NO 1, JUNI 2021
JAD JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN DEWANTARA Diterbitkan oleh LP2KI STIE PGRI Dewantara Jombang Terbit 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). ISSN 2654-4369 berisi tentang hasil pelaksanaan penelitian dalam bidang Akuntansi dan Keuangan Dewan redaksi Ketua Redaksi : Yuniep Mujati Suaidah Redaksi Pelaksana Rahmat Yuliawan, Universitas Airlangga Surabaya Mirna Indriani, Universitas Syiah Kuala, Aceh Agus Taufik, STIE PGRI Dewantara, Jombang Abd Rohcim, STIE PGRI Dewantara, Jombang Anisa Nusron, STIE Yadika, Bangil Suseno Haji, Universitas Brawijaya, Malang Ni Made Purnomi, Universitas Udayana, Bali Alamat Redaksi dan Tata Usaha: LP2KI STIE PGRI Dewantara Jombang Jln. Prof. M.Yamin No 77 Jombang, telp (+62 321 – 865180) Fax (+62 321 – 853807)
DAFTAR ISI JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Volume 4 Nomor 1, Juni 2021 Penulis Judul Halaman Iqbal Firmani, Slamet Haryono Pengaruh Kinerja Perusahaan Dan Laverage Terhadap Manajemen Laba Di Bank Umum Syariah Indonesia 1-11 Hadi Sucipto, Umi Zulfa Pengaruh Good Corporate Governance, Financial Distress Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba 12-22 Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Studi Fenomenologi Model Implementasi CSR Berkelanjutan Di Kampung Warna-Warni Jodipan 23-35 Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Pengaruh Risiko Kredit Dan Risiko Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada Bank BUMN 36-45 Nur Anisah, Hizkia Franzias Crisnata Analisis Tingkat Literasi Keuangan Pengguna Fintech Payment OVO 46-58 Rachyu Purbowati Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Tax Avoidance (Penghindaran Pajak) 59-73 Dwi Ermayanti Susilo Peranan Audit Internal Pada Pembiayaan Kelompok Mikro Perempuan Dalam Upaya Pencegahan Frauding 74-84 Lusy Lusy, Vincentia Devina Analisa Cost and Benefit atas Sustainability Reporting 85-94
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 1 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Pengaruh Kinerja Perusahaan Dan Laverage Terhadap Manajemen Laba Di Bank Umum Syariah Indonesia Iqbal Firmani1*, Slamet Haryono2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. *Korespondensi: [email protected] Dikirim: 13 Januari 2021, Direvisi: 20 Januari 2021, Dipublikasikan: 2 Februari 2021 Abstract This study aims to analyze earning management in sharia commercial banks in Indonesia (priode 2015-2019), while the method of earningt management analysis used is Modified Jones Model. Through Random Sampling technique, 8 sharia commercial banks (BUS) are used as sempel, the banks are: BNI Syariah, BRI Syariah, Mandiri Syariah, BCA Syariah, BTPN Syariah, Bank Muamalat, Bank Mega Syariah and Bank Syariah Bukopin. The results of the Modified Jones Model profit management account show that the majority of Sharia commercial banks tend to make profit management by reducing the value of their profits. Through the regression panel data conducted analysis of the influence of company performance and leverage on profit management, regression results through t-tests showed that the company's performance and laverage did not have a significant influence on earning management. keywords: earnings management, company performance, leverage Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis manajemen laba pada bank umum syariah yang ada di indonesia (priode 2015-2019), adapun metode analisis manajemen laba yang digunakan ialah Modified Jones Model. Melalui tehnik Random Sampling, digunakan 8 bank umum syariah (BUS) sebagai sempel, bank tersebut antara lai: BNI Syariah, BRI Syariah, Mandiri Syariah, BCA Syariah, BTPN Syariah, Bank Muamalat, Bank Mega Syariah dan bank Syariah Bukopin. Hasil perhitungabn manajemen laba Modified Jones Model menunjukkan bahwa mayoritas bank umum Syariah cenderung melakukan manajemen laba dengan mengurangi nilai labanya. Melalui regresi data panel dilakukan analisis pengaruh performa perusahaan dan leverage terhadap manajemen laba, hasil regresi melalui uji-t menunjukkan bahwa performa perusahaan dan laverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Kata kunci: manajemen laba, performa perusahaan, laverage. A. PENDAHULUAN Penelitian ini membahas tentang manajemen laba (earning managemen) melalui diskresi akrual. Melalui diskresi akrual dapat diketahui ada atau tidaknya kebijakan manajer dalam melakuakan manipulasi pelaporan laba perusahaan. Manajemen laba merupakan suatu kebijakan menejer untuk mengatur sedemikian rupa laporan keuangan dalam mencapai tujuan tertentu. Manajemen laba sebagai Halaman 1 dari 11
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 2 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 isu global banyak dibahas diberbagai negara, diamana secara etik manajer sebagai pihak yang memegang otoritas pelaporan kondisi perusahaan bertanggung jawab atas reliabilitas informasi yang diterima oleh investor (Belgasem, 2019). Manupulasi laporan keuangan memiliki konsekuensi besar bagi pihak pemegang saham atau investor. Efek negatif dari manajemen laba ialah informasi menyimpang tentang laporan keuangan yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi, hal ini dikarenakan pengambilan keputusan investasi yang tidak tepat (Uyar, 2019). Investor melaui respon pasar sangat dipengaruhi oleh pengumuman laba yang dilaporkan perusahaan (William, 2019). Semakin menyimpang pelaporan laba perusahaan, maka pergerakan harga saham dan volume perdagangan dibursa bergerak tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Manipulasi laporan keuangan juga membuat pergerakan harga saham perusahaan menjadi bergerak tidak sesuai dengan kondisi riil perusahaan. (Wali, 2019) telah melakukan penelitian tentang pengaruh manajemen laba pada harga saham perusahaan di Jerman dan Belanda, penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki nilai maksimal diskresi akrual memiliki pengaruh pada income, stock retn dan fiture cash flow-nya. Hal ini menunjukkan bahwa manipulasi laporan keuangan dapat digunakan manajer sebagai motiv untuk meningkatkan kinerja perusahaannya dimasa yang akan datang. Indonesia sebagai salahsatu negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan memiliki mayoritas penduduk beragama muslim, memiliki sektor perbankan yang terus berkembang. Hal ini merupakan potensi bagi lembaga keuangan Islam, hususnya perbankan Islam untuk semakin maju dan berkembang. Menutrut laporan (OJK, 2020), asset perbankan syariah di Indonesia pada tahun 2020 telah mencapai Rp545,39 Triliun atau tumbuh sebesar 9,22 % dibanding tahun sebelumnya. Namun hal ini tidak berarti perbankkan syariah di Indobnesia terbebas dari masalah manajemen laba. Oleh karena itu pada penelitian ini kita fokuskan kajian tentang manajemen laba pada Perbankan Islam di Indonesia.
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 3 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Berbagai metode tentang pendeteksian adanya manajemen laba telah diterapkan pada literature sebelumnya, khususnya mengenai pendeteksian diskresi akrual. Diaantara model-model tersebut antara lain: Healy’s Model, DeAngelo’s Model, Jones Model, dan Modified Jone’s Model (Uyar, 2019). Dari kesekian model yang digunakan untuk mengukur adanya manajemen laba disuatu perusahaan, model yang paling umum digunakan adalah Modified Jone’s Model, model ini merupakan perhitungan manajemen laba melalui agregat akrual. Penelitian tentang manajemen laba pada lembaga keangan syariah seperti bank dan asuranmsi Islam telah dilakukan baru-baru ini oleh (Salem, 2020) dan (Saleh, 2020). Untuk mencegah atau mengurangi potensi menajer dalam melakukan manipulasi laporan keuangan melalui earning manajemen, terdapat beberapa variable-variabel yang dapat diteliti. Pada literatur-literatur sebelumnya dapat kita temui variable-variabel yang dapat mempengaruhi tidkan manajemen laba, variabel tersebut antaralain; performa perusahaan (Mustafa, 2019), kualitas audit (Salem, 2020), faktor keuangan (Saleh, 2020), dan laverage (Asim, 2019). Asim (2019) pada penelitiannya tentang manajemen laba, menguji hubungan antara leverage dengan manajemen laba. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa leverage memiliki hubungan positif terhadap manajemen laba perusahaan-perusahaan manufaktur yang ada di Pakistan. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardison, yang pada simpulan penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan siknifikan antara leverage dengan manajemen laba persahaan yang ada di Brazil (Ardison, 2008). Masih minimnya literature yang memuat analisis manajemen laba di bank syarih menjadi alasan penulis ingin melakukan investigasi terkait menejemen laba di Bank Syariah yang ada di Indonesia melalui Modified Jone’s Model. Dengan data ter-update selanjutnya dilakukan analisis tentang bagaimana pengaruh kinerja perusahaan dan leverage terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor perbankan Islam di Indonesia. Oleh karena itu kebaruan penelitian ini dapat dilihat dari objek dan data yang digunakan.
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 4 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 B. LANDASAN TEORI Manajemen laba ialah kebijakan manajer untuk mengatur sedemikian rupa pelaporan akuntansi untuk mencapai tujuan tertentu (Scott, 2003). Manajer sebagai agen dalam perusahaan yang dipercaya oleh stake holder adalah pihak yang memegang penuh informasi terkait kinerja dan kondisi perusahaan. Informasi inilah yang kemudian dibutuhkan oleh share holder atau investor untuk mengambil keputusan investasi dalam suatu perusahaan. Untuk menganalis manajemen laba disuatu perusahaan dapat dilihat dari 3 model pengukuran; model yang berbasis agregat akrual, model yang berbasis spesifik akrual dan model yang berbasis pada distribusi laba setelah dilakukan perlakuan tertentu (Prajoso, 2018). Pada penelitian ini digunakan model yang berbasis agregat accrual, melalui Modified Jones Model yang menggunakan akrual diskresionary sebagai proksi manajemen laba. Manajemen laba yang dilakukan oleh manajer bisa positif juga bisa negatif. Perusahaan yang memiliki kinerja tinggi berpotensi melakukan manajemen laba secara negative, dalam arti mengurangi pelaporan laba pada laporan akuntansinya, hal ini dilakukan manejer agar pajak yang dibayar oleh perusahaan tidak terlalu tinggi (Mustafa, 2019). Untuk menarik minat investor agar bersedia menanamkan modal di perusahaannya, posisi rasio hutang perusahaan harus dalam kondisi yang sehat. Dimana perusahaan yang memiliki rasio laverage yang tinggi menunjukkan bahwa nilai hutang atau proporsi hutang perusahaan tersebut lebih tinggi dibandingkan aktiva yang dimilikinya. Oleh karena itu manajer melalui pelaporan keuangan berpotensi melakukan manipulasi laba untuk membentuk informasi yang positif bagi investor (Prajoso, 2018). C. METODOLOGI Berdasarkan jenisnya, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, Penelitian kuantiti merupakan penelitian yang bersifat objektif dengan menggunakan data berupa angka yang dikumpulkan dan kemudian dianalisis melalui metode pengujian statistik (Hermawan, 2017). Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi laporan
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 5 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 keuangan tahunan oleh masing-masing bank. Adapun data yang diambil ialah akunakun yang digunakan untung menghitung manajemen laba (melalui Modified Jones Model) seperti: total asset, arus kas, piutang, laba tahun berjalan, asset tidak lancer dll. Selain itu untuk mendapatkan angka yang digunakan sebagai perhitungan leverage diambil akun total labilitas dan asset. Variabel kinerja perusahaan diproksikan dengan variabel dummy, berdasarkan niali arus kas, angka 1 untuk aruskas bernilai positif dan angka 0 untuk aruskas bernilai negatif. Sempel penelitian ini diambil dengan tenik random sampling, yangmana daripopulasi 12 Bank Umum Syariah yang ada di Indonesia pada priode penelitian (2015-2019) diambil 8 bank sebagai sempel (secara acak), antara lain; BNI Syariah, BRI Syariah, Mandiri Syariah, BCA Syariah BTPN Syariah, Bank Muamalat, Mega Syariah dan bank syariah bukopin. Untuk mengetahui hubungan antar variable pada 14 bank Syariah pada priode 2015-2019, digunakan tehnik analisis regresi data panel. Adapu persamaan yang dibentuk sebagai berikut: Dimana EM melambangkan manajemen laba, DCF melambangkan variabel dummy aruskas (1 aruskas yang bernilai positif, dan 0 untuk negative), LVR melambangkan laverage (yang dihitung dari rasio libilitas dibagi asset). Lambang i sebagai perusahaan(bank) ke i dan t sebagai tahun ke-t. Data panel merupakan gabungan antara data cross section dan time series (Juanda, 2012). Dalam analisis regresi data panel terdapat 3 model (Common Effect Model, Fix Effect Model dan Random Effect Model), dimana untuk mendapatkan model terbaik yang akan digunakan dalam menginterpreasi hasil penelitian harus dilakukan pengujian model melalui uji chow dan uji Hausman dan uji lagrange multiplier. = + + +
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 6 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Sebelum melakukan analisis regresi data panel, untuk mengukur adanya manajemen laba melalui diskresi akrual dilakukan pengujian dengan modified jones model. Model ini merupakan model pengukuran manajemen laba berdasarkan akrual diskresioner, adapun langkah-langkah perhitungannya sebagai berikut (Dechow, 1995): a. Menghitung total akrual (TA): Keterangan ; = Net Income perusahaan (bank) i pada priode t = Cash Flow Operation perusahaan (bank) i pada priode t Selanjutnya TA diestimasi menggunalan OLS, dengan persamman; Keterangan: = Total Accrual perusahaan i pada periode t = total asset perusahaan (bank) i pada periode t △ = pendapatan perusahaan (bank) i pada tahun t dikurangi pendapatan perusahaan I pada tahun t-1 = asset tidak lancar perusahhan (bank) i pada tahun t b. Menghitung Non diskresionary akrual; Keterangan; = Non Diskresionary Akrual perusahaan (bank) i pada periode tahun t △ = piutang usaha perusahaan (bank) i pada tahun t dikurangi pendapatan perusahaan pada tahun t-1 c. Diskresionary Akrual (DA), sebagai penentu ukuran manajemen laba; Dari hasil perhitungan Diskresionary (DA) akrual dapat dilihat bahwa bank yang tidak melakukan manajemen laba memiliki hasil DA senili 0. Jika hasil DA kurang dari 0 maka bank tersebut terindikasi manajemen laba dengan cara menurunkan = − = 1 + △ + + = − = 1 + △ − △ + +
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 7 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 pelaporan tingkat laba. Begitu juga, jika nilai DA lebih dari 0 maka bank tersebut terindikasi melakukan manajemen laba dengan cara meningkatkan pelaporan laba melalui manipulasi laporan keuangan dari sisi akrualnya. D. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan perhitungan manajemen laba dengan pendekatan modified Jone’s model dapat dinyatakan bahwa semua bank umum syariah melakukan manajemen laba, adapun praktik manajemen laba yang dilakukan berbeda-beda. Terdapat bank dengan nilai manajemen laba yang cenderung positif disetip tahunnya (dalam periode penelitian), seperti bank BNI Syariah di tahun 2015-2018. Hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan modified jones model BNI syariah cenderung melakukan manajemen laba dengan meningkatkan pelaporan nilai labanya. Tabel 1. Manajemen laba Sumber: data perbankan syariah Terdapat juga bank dengan angka manajemen laba negatif di setiap tahunnya (pada periode penelitian), seperti Bank Muamalat. Nilai manajemen laba yang negatif menunjukkan bahwa Bank Muamalat melakukan manajemen laba dengan cara melakukan manipulasi pada pelaporan labanya dengan angka yang lebih kecil dibanding laba sesungguhnya. Pelaporan laba yang dimanipulasi oleh manajer tentunya memiliki alasan-alasan tertentu, untuk melakukan investigasi, maka selanjutnya pada penelitian ini akan dilakukan analisis regresi yang menganalisis hubungan kinerja perusahaan (yang diproksikan dengan arus kas) dan leverage terhadap nilai manajemen laba di setiap bank syariah. Statistik deskriptif berdasarkan data yang diolah dalam penelitian ini dapat dilihat pada table 2. Rata-rata nilai manajemen laba 8 Bank Umum Syariah pada No Bank Tahun Manajemen Laba 1. BNI Syariah 2015 0.0107 2. BNI Syariah 2016 0.0058 3. BNI Syariah 2017 0.0025 4 BNI Syariah 2018 0.0003 5 BNI Syariah 2019 -0.0023 6 Bank Muamalat 2015 -0.0101 7 Bank Muamalat 2016 -0.0475 8 Bank Muamalat 2017 -0.0217 9 Bank Muamalat 2018 -0.0129 10 Bank Muamalat 2019 -0.0369
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 8 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 periode penelitian adalah -0,013, dengan nilai media -0,018. nilai tertinggi manajemen laba ialah yang dilakukan oleh BTPN syariah di tahun 2017, yang mana BTPN Syariah melakukan manipulasi dengan meningkatkan laporan keuangannya sebesar 0,0129. Sementara nilai manajemen laba yang bernilai negatif paling rendah yaitu sebesar -0,047, angka tersebut terdapat pada nilai manajemen laba Bank Muamalat tahun 2017. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bank muamalat melakukan pengurangan nilai laba pada laporan keuangannya sebesar 0,047. Tabel 2. Statistik deskriptif Sumber: data diolah Rata-rata nilai laverage pada pengamatan data ialah sebesar 0,17, dengan nilai tengah sebesar 0,1600. Laverage tertinggi ialah 0,35 yang mana terdapat pada BTPN syariah periode 2019. Sementara nilai laverage terkecil ada pada bank muamalat, yaitu periode tahun 2015-2016, dengan nilai laverage sebesar 0,06. Berdasarkan table 2, data kinerja perusahaan yang diproksikan dengan variabel dummy arus kas pada penelitian ini memiliki nilai rata-rata 0,71. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bank syariah dalam penelitian ini memiliki nilai arus kas yang positif, dimana nilai arus kas yang positif disimbolkan dengan angka 1, sedangkan 0 untuk nilai aruskas yang negatif. Tabel 3. Pemilihan model terbaik Sumber: data diolah Setelah mendapatkan data lengkap dari masing-masing variabel, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis regresi, yang digunakan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Langkah awal dalam melakukan regresi data panel ialah memilih model terbaik yang akan digunakan sebagai alat analisis. Pemilihan model terbaik dilakukan dengan 3 tahap No Variabel Rata-rata Median Maksimum Minimum 1. Manajemen laba -0.0132 -0.0108 0.0129 -0.0475 2. Leverage 0.1744 0.1600 0.3500 0.0600 3. Dummy Arus kas 0.710526 1 1 0 obs 40 40 40 40 40 Pengujian Probabilitas 1. Uji Chow 0.0308 2. Uji Hausman 0.0008 3. UJI Lagrang Multiplier 0.6494
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 9 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 pengujian, antara lain uji chow, uji hausman dan uji lagrang multiplier. Hasil uji pemilihan model dapat kita lihat pada table 3. Berdasarkan uji pemilihan model pada table 3, dapat diputuskan bahwa model terbaik diantara model CEM, FEM dan REM adalah fix effect model. Pada table 4, dapat kita lihat hasil regresi data panel dengan pendekatan model fix effect. Hubungan antar variabel independen dengan variabel dependen secara individu dapat kita lihat pada hasil uji. Hasil uji pada variabel dummy arus kas menunjukkan nilai probabilitas 0,45 dan pada variabel leverage memiliki nilai probabilitas 0,92. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dummy arus kas dan variabel leverage secara individu tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap adanya earning manajemen di bank umum syariah. Hasil penelitian ini memiliki kesamaan hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardison (2008), yang mana pada penelitiannya menyimpulkan tidak ada pengaruh yang signifikan antara leverage dengan manajemen laba. Sementara Mustafa (2019) yang dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa manajemen laba dipengaruhi oleh performa perusahaan yang diproksikan dengan arus kas, dimana perusahaan dengan performa yang tinggi cenderung mengurangi pelaporan labanya untuk menghindari pajak, namun hal itu tidak terjadi pada Bank Syariah di Indonesia. Tabel 4. Fix Effect Model Sumber: data diolah Untuk melihat bagaimana pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama, dapat kita lihat pada hasil uji f. uji f pada table 4 menunjukkan nilai 0,002, yang mana kurang dari alfa 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel dummy arus kas dan leverage berpengaruh secara signifikan terahap adanya manajemen laba di Bank Umum Syariah. Sementara kemampuan model dalam menjelaskan variabel dependen adalah Variabel Coefficient Std Ero t-Statistoc Prob C -0.011047 0.010128 -1.090736 0.2847 Dummy Arus Kas -0.004422 0.005846 -0.756353 0.4558 Laverage 0.005203 0.054157 0.096079 0.9241 R-squared 0.551700 Prob(F-statistic) 0.002967
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 10 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 sebesar 55%, selebihnya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian, seperti dapat kita lihat pada nilai R-squared sebesar 0,5517. Variabel arus kas secara individu tidak memiliki pengaruh terhadap manajemen laba di 8 Bank Umum Syariah, namun jika dilihat dari nilai koefisien determinasi yang menunjukkan angka negatif, performa perusahaan memiliki hubungan yang negatif dengan manajemen laba. Mengacu pada penelitian terdahulu, pada (Mustafa, 2019) mengemukakan bahwa perusahaan dengan performa tinggi (yang diproksikan dengan arus kas yang positif) cenderung melakukan manajemen laba dengan mengurangi nilai laba. Hal ini di lakukan agar pembayaran pajak yang disetor oleh perusahaan dapat diminimalisir. Begitu juga dengan variabel rasio hutang atau laverage, yang pada hasil ujuit menunjukkan bahwa leverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Asim, 2019). Namun, hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Ardison, 2008), rasio hutang yang semakin meningkat akan mengurangi pengeluaran diskresioner manajer, hal ini lah yang kemudian akan mengurangi kemungkinan adanya manajemen laba akrual. E. PENUTUP Manajemen laba dapat diukur melalui pendekatan discretional akrual, Salah satu pendekatan perhitungan discretional akrual ialah modified jones model. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada bank umum Syariah dapat diketahui bahwa seluruh manajer Bank Umum Syariah pada periode penelitian (2015-2019) terindikasi manajemen laba, dengan angka negative dan positif. Rata-rata indikasi manajemen laba pada Bank Umum Syariah ialah negatif, hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan yang dilakukan oleh manajer bank umum syariah ialah melaporkan laba dengan angka yang lebih kecil dibanding angka sebenarnya. Sementara variabel performa perusahaan yang diproksikan dengan variabel dummy arus kas secara individu tidak memiliki pengaruh terhadap manajemen laba, begitu pula dengan variabel
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 11 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Laverage. Sedangkan secara bersamaan melalui uji f, dapat disimpulkan bahwa variabel performa perusahaan dan leverage memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba bank syariah. Penelitian ini terbatas hanya melihat manajemen laba dari perhitungan akrual modified jones model, serta menggunakan variabel kinerja perusahaan dan leverage sebagai variabel yang mempengaruhi manajemen laba. Untuk penelitian selanjutnya dapat melakukan analisis determinasi manajemen laba di bank syariah dengan menambahkan model perhitungan lain atau variabel independen yang lebih beragam lagi, sehingga dapat dilakukan investigasi mendalam tentang determinasi manajemen laba di bank syariah yang ada di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Ardison, K. M. (2008). The Effect of Laverage on Earning Management in Barazil. Science and Applied Accounting. Asim, A. I. (2019). Impact of Laverage on Earning management: Empirical Evident from the Manufacturing Sector on Pakistan. Journal of Finance and Accounting Research. Belgasem, A. A. (2019). Earning Manajeman as an Ethical Issue in View of Kohlber's Theory ogf Moral Reasoning. Journal of Financial crime. Dechow, P. e. (1995). Detecting Earning management. The Acounting Reviw, 70. Hermawan, A. Y. (2017). Penelitian Bisnis Pendekatan Kuantitatif. Kencana. Juanda, B. J. (2012). Ekonometrika Deret Waktu, Teori dan Aplikasi. IPB press. Mustafa, W. e. (2019). Firm Performance and Earning Manajement. academy of Accounting and Financial Stidies Journal. OJK. (2020). OJK.go.id. Retrieved 11 monday, 2020, from https://www.ojk.go.id/ Prajoso, F. (2018). Pengaruh Kinerja Perusahaan Terhadap Praktik Manajeman Lanba Pada Emiten Indeks Saham SyariahIndonesia. Akuntabilitas, Voi.11 No.1. Saleh, I. e. (2020). Financial Factor Affecting Earnings Manajeman and Earning Quality: New Evidance from an Emerging Market . Journal of Finance and Risk Prespectives. Salem, R. e. (2020). Loan Loss Provisions and Audit Qality: Evidence of MENA Islamic and Conventional Bank. Journal Pre-Proof. Scott, W. R. (2003). Financial accounting Theory, Third Edition. unuvercity of Waterloo. Uyar, S. (2019). Contemporary Approaches in Bussines. IJOPEC PUblication.
Iqbal Firmani, Slamet Haryono Halaman 12 sampai 12 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Wali, e. (2019). The Causes and Effect of Earning Management on Stock Price. Journal of Economic and Administrative Scince. William, H. B. (2019). Increased Market Response to Earning Announcement in the 21st Centur: An Empirical Investigation. Journal of accounting and Economic.
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 13 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Pengaruh Good Corporate Governance, Financial Distress Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Hadi Sucipto1*, Umi Zulfa2 STIE PGRI Dewantara Jombang, Indonesia *Korespondensi: [email protected] Dikirim: 13 Januari 2021, Direvisi: 20 Januari 2021, Dipublikasikan: 2 Februari 2021 Abstract This study aims to determine the effect of Good Corporate Governance, Financial Distress and Company Size on earnings management calculated using discretionary accruals. This type of research is a quantitative description research. This research uses purposive sampling method as a method of selecting samples. The population in this study were all 10 pharmaceutical companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). Based on predetermined criteria, there are 7 companies with an observation period of 5 years from 2015-2019. Hypothesis testing in this study uses multiple regression analysis techniques. The results of this study indicate that Good Corporate Governance has no significant effect on earnings management, financial distress has no significant effect on earnings management and firm size has no significant effect on earnings management. Keywords : Earnings Management, Good Corporate Governance, Financial Distress, Company Size. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Good Corporate Governance, Financial Distress dan Ukuran Perusahaan terhadap manajemen laba yang dihitung dengan menggunakan discretionary accrual. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kuantitatif. Penelitiaan ini menggunakan metode purposive sampling sebagai metode pemilihan sampel. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan farmasi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) berjumlah 10 perusahaan. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, ada 7 perusahaan dengan periode pengamatan selama 5 tahun dari tahun 2015-2019. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan tekhnik analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini bahwa Good Corporate Governance tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, Financial distress tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Kata Kunci : Manajemen Laba, Good Corporate Governance,Financial Distress,Ukuran Perusahaan. A. Pendahuluan Semakin ketatnya persaingan bisnis, perusahaan selalu ingin menampilkan kinerja perusahaan dengan performa yang baik. Salah satu indikator kinerja adalah laba, manajemen melalukan pengelolaan terhadap laba perusahaan dan tindakan ini disebut dengan manajemen laba. Laba dapat dikelola secara oportunis maupun efisien yang akan mencerminkan kinerja dan performa perusahaan. Maksud dari laba dapat dikelola secara efisien adalah laba dapat ditingkatkan untuk memberikan informasi yang informatif, sedangkan laba sebagai oportunis adalah laba yang Halaman 13-22
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 14 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 dikelola sehingga mampu meningkatkan laba yang diinginkan oleh kepentingan pihak terkait (widyaningsih, 2017). (Eka putra & kusumaningtias, 2019) menyatakan laba adalah informasi akuntansi sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan investor. Manajer biasanya menggunakan laba untuk rekayasa, ini yang disebut manajemen laba. Good Corporate Governance disebut sebagai proses transparan dalam melakukan penentuan pencapaian, tujuan perusahaan dan penilaian kinerjanya. Ketika dijalankan dengan benar dari visi perusahaan akan mampu meminimalisasi manajemen laba sehingga iklim perusahaan tidak mengalami kerusakan. Komite Nasional Kebijakan Governance, 2006 (dalam Sukrisno Agoes, 2011:101) menyatakan bahwa terdapat lima prinsip Good Corporate Governance harus dilakukan untuk aspek bisnis di perusahaan antara lain transparency, accountability, responsibility, independence dan Fairness. Good Corporate Governance suatu perusahaan yang mempunyai laba akan berjalan dengan baik jika tertata, tidak menutup kemungkinan adanya Financial Distress yang mempengaruhi perubahan laba. Kesulitan keuangan adalah kondisi bermasalah dalam keuangan perusahaan yang terjadi sebelum perusahaan bangkrut karena tidak bisa memenuhi kewajiban akibat kekurangan dana dalam melanjutkan usaha. Ditandai dengan tertunda nya pengiriman barang, menurunnya kualitas produk sert tertunda nya pembayaran. Masalah kondisi keuangan bisa menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan keuangan, maka, dibutuhkan tata kelola suatu perusahaan dengan baik. Kegiatan manajemen laba sering dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai ukuran kecil dibanding perusahaan besar. Hal ini lebih memperlihatkan kondisi perusahaan yang berkinerja baik supaya investor berminat. Perusahaan besar akan diperhatikan masyarakat sehingga melaporkan laporan keuangannya dengan berhati-hati agar kondisinya lebih akurat. Menurut (Agoes & Ardana, 2018) pada ukuran perusahaan kecil cenderung lebih besar kemungkinan melakukan manajemen laba karena ingin terlihat lebih baik. Dengan harapan agar investor tergerak untuk melakukan penanaman modal. Namun perusahaan besar yang lebih hati-hati dalam pelaporan nya, karena lebih mengutamakan keakuratan dan ketepatan. Berdasarkan penelitian terdahulu (Chairunesia, Sutra, & Wahyudi, 2018) Dengan judul “Pengaruh Good Corporate Governance dan Financial Distress terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Indonesia Yang Masuk Dalam ASEAN Corporate Governance Scorecard” ditemukan Good Corporate Governance serta Financial Distress berpengaruh pada manajemen laba. Di dalam perusahaan yang bergerak dalam bidang kesehatan di Indonesia saat ini belum mengalami perkembangan yang baik dimana banyak produsen obat dalam negeri mengalami penurunan kinerja. Hal ini dapat dilihat dari Kinerja dan
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 15 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 pertumbuhan industri farmasi Indonesia menurut International Pharmaceutical Manufactures Grup (IPMG) pada tahun 2018 yang mengalami perlambatan sebesar 8% dengan nilai transaksi sekitar Rp 56 triliun. Kondisi tersebut disebabkan rendahnya belanja obat dan kesehatan masyarakat. Pada PT Kimia Farma Tbk adanya penggelembungan laba bersih pada laporan keuangan tahun 2001. Penggelembungan itu senilai Rp. 32.668 milyar. Laporan keuangan yang seharusnya Rp. 99.594 milyar ditulis Rp. 132 milyar. Kasus kesalahan dalam laporan keuangan PT Kimia Farma ini telah menjadi perkara pidana karena sudah termasuk kategori pernyataan yang menyesatkan. Dari kasus ini tidak dapat dipungkiri setiap perusahaan juga menerapkan praktik manajemen laba namun dalam praktiknya perusahan tersebut masih berada di dalam batas yang wajar, penelitian ini diaharapkan mampu mengetahui factor-faktor yang berpengaruh terhadap praktik manajemen laba di perusahaan dalam bidang kesehatan. Teori Keagenan (Agency Theory Menurut (Pagalung, 2011) dalam Amelia dan Hernawati (2016) teori keagenan dikenalkan pada tahun 1976 oleh Jensen dan Mekling,yang kemudian dijadikan dasar dalam memahami tata kelola suatu perusahaan. Teori keagenan menjadi dasar dalam melakukan bisnis, dimana ketika pemilik perusahaan memberikan tanggung jawab kepada pihak lain. Dimana hal ini bisa menjadi adanya konfiks diantara orang yang memiliki (principal) dan orang yang mengelola (agent) yaitu konflik agensi. Chairunesia et al., (2018) dalam teori ini, keagenan ada karena kontrak dari pihak yang memberikan perintah kepada pihak yang diberikan perintah melaksanakan tugasnya. Di dalam perusahaan principal merupakan seseorang yang menanamkan modal atau biasa disebut investor sedangkan agent merupakan manajemen yang menjalankan perusahaan. Pemegang saham mengukur baik buruknya kinerja manajer melalui laba yang dihasilkan. Sedangkan manajer melakukan usaha dalam rangka pencapaian laba yang maksimal demi memuaskan keinginan para pemegang saham. Sehingga besar kemungkinan manajer melakukan tindakan manipulasi kepada pemegang saham ketika melakukan pelaporan kondisi perusahaan agar terlihat baik dimata para pemegang saham meskipun hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi perusahaan yang ada. Titik berat dalam teori keagenan adalah menetapkan kontrak agar hubungan pemegang saham dan manajemen berjalan secara optimal. Lebih tepatnya teori keagenan memberikan solusi penyusunan kontrak dengan tujuan agar konflik yang timbul diantara pemegang saham dan manajemen dapat ter minimalisir (Chairunesia et al., 2018). Salah satu contoh konflik yang timbul diantara pemegang saham dan manajemen adalah adanya asimetri informasi yaitu keadaan ketika manajemen memiliki informasi yang lebih dibandingkan pemegang saham terkait kondisi dalam perusahaan dan tujuan pada masa yang akan datang (Mahawyahrti, Ayu, & Budiasih, 2016).
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 16 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Kondisi ini yang dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk menyampaikan informasi yang tidak sebenarnya kepada pemegang saham, dengan tujuan untuk memaksimalkan keuntungan pribadinya. Good Corporate Governance Good Corporate Governance merupakan sebuah aturan yang mengatur hubungan diantara pihak-pihak yang berkepentingan terkait atas hak dan kewajibannya, serta system yang mengendalikan dan mengarahkan perusahaan oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia. Dalam arti lain menurut (Sulistyanto, 2018) Good Corporate Governance adalah sistem pengendalian internal untuk mengelola risiko melalui pengamatan asset serta investasi pemegang saham untuk waktu jangka Panjang bisa meningkat. Ermayanti Dwi (2016) Good governance bisa berarti sebuah tata kelola dalam perusahaan yang baik melalui sifat terbuka, adil serta bisa dipertanggungjawabkan untuk mencapai tujuan suatu perusahaan. Semisal, adanya pemisahan tugas dan fungsi dalam manajemen puncak dan personel lain dalam suatu perusahaan dimana pemegang saham harus dipisahkan dengan komisaris serta direksi, apabila komisaris dipisah dengan direksi pemegang saham tidak boleh merangkap jabatan dengan komisaris atau direksi serta tidak boleh mempunyai hubungan istimewa. Financial Distress Perusahaan yang berjalan tidak lepas dari masalah Financial Distress dimana ini ditandai menurunnya kondisi keuangan dalam peusahaan sebelum kebangkrutan itu terjadi menurut (Fathonah, 2017). Menurut (Ermayanti, 2011) aspek penting dalam proses analisis laporan keuangan adalah sebagai ramalan kelangsungan hidup perusahaan. Hal penting dari prediksi kelangsungan hidup untuk manajemen dan pemilik perusahaan apabila ada kemungkinan kebangkrutan harus diantisipasi. Sastiana dan Fuad, (2013) Perusahaan dikatakan mengalami kesulitan keuangan bila 2 tahun secara berturun mengalami laba bersih yang negatif atau minus serta perusahaan tersebut tak mampu memenuhi jadwal pembayaran hutangnya kepada kreditur yang sudah jatuh tempo melalui ketidakmampuan perusahaan dalam membayar kewajiban keuangannya maka perusahaan akan mengalami bangkrut. financial distress merupakan suatu masalah keuangan perusahaan serta tahapan ketiga dalam kebangkrutan dalam financial distress bisa menjadi nyata jika perusahaan telah bangkrut yang sesungguhnya. Dalam memprediksi financial distress hingga kebangkrutan bisa dengan cara model Altman’s Z-score, ini merupakan model untuk memberikan rumus sebagai penilai kapan perusahaan mengalami kebangkrutan yang menggunakan rasio keuangan sehingga diketahui angka tertentu sebagai prediksi perusahaan akan mengalami kebangkrutan ini adalah financial distress paling buruk.
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 17 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Ukuran Perusahaan Ciri sebuah perusahaan yang ada kaitannya dengan capital structure bisa diartikan sebagai ukuran sebuah perusahaan. Dimana bisa menggambarkan perusahaan dilihat dari jumlah asetnya, seberapa besar penjualannya, serta besarnya pasar. Semakin besar jumlah asetnya, besar penjualannya, serta mempunyai pangsa pasar yang banyak bisa dikatakan ukuran perusahaannya juga akan semakin besar. Di dalam asset yang besar ada modal besar di dalamnya, semakin besar tingkat penjualan berarti bahwa perputaran uangnya pun semakin besar sehingga kapitalisasi perusahaan bertambah menjadi besar (Sulistyanto, 2018). pengukuran perusahaan bisa menggunakan total aset perusahaan baik besar ataupun perusahaan kecil. Perusahaan besar punya jumlah aset yang besar. Oleh karenanya, perusahaan besar akan hati-hati dan bersifat efisien kaitannya dengan pengelolaan laba perusahaan (Hidayat , 2017). Ini sesuai dengan pendapat Reviani dan Sudantoko (2012) ukuran perusahaan adalah penilaian untuk mencerminkan kondisi sebuah perusahaan bisa diketahui dari total asset dan penjualan. Total asset yang besar dan penjualan menandakan perusahaan itu mempunyai ukuran besar. Manajemen Laba Perusahaan tidak lepas dari manajemen laba. Sulistyanto (2018) dalam manajemen laba secara umum dapat diartikan sebagai upaya manajemen dalam membuat pengaruh pada informasi yang ada di laporan keuangan, dimana untuk memberikan gambaran kepada pihak-pihak yang mempunyai kepentingan untuk menambah informasi terkait kinerja perusahaan dan kondisinya. Manajemen laba bisa dilakukan saat manajer mengambil sebuah keputusan terkait laporan keuangan dengan cara perubahan di transaksi yang dilaporkan, yang pada akhirnya bisa membuat sesat pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut khususnya kepada pihak yang ingin mengetahui kinerja ekonomi perusahaan. Hal ini menunjukan hal biasa yang dilakukan manajer didalam membuat laporan keuangan, dalam penelitian (Ermayanti, 2016). Menurut Scout (2015) manajemen laba merupakan pemilihan kebijakan oleh manajer atas SAK yang dilakukan agar dapat meningkatkan nilai pasar perusahaan dengan tujuan untuk menyesatkan stakeholder. Sehingga kegiatan manajemen laba dipercaya mampu mengurangi kredibilitas suatu laporan keuangan dan merupakan suatu tindakan yang mengganggu pemakai laporan keuangan karena manajemen dengan sadar mempengaruhi laporan keuangan agar terlihat lebih baik. Good Corporate Gonernance berpengaruh dengan manajemen laba, Good Corporate Gonernance digunakan untuk mengendalikan perusahaan agar bisa jalan sesuai tujuan yang ditetapkan, Hubungan signifikan dalam suatu tata kelola keuangan perusahaan dapat dilihat dari Financial Distress sehingga dapat mengetahui pengaruh Manajemen laba di suatu perusahaan dalam ukuran tertentu besar atau kecilnya melalui kegaalan dalam Financial Distress. Perusahaan baik,
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 18 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 adalah mempunyai pengelolaan perusahaan yang baik pula, GCG dilaksanakan dengan baik, melalui penjagaan hubungan antara perusahaan dengan semua pihakpihak yang mempunyai kepentingan telah konsisten dijaga (Sulistyanto, 2018). Dengan kata lain, GCG bisa mempuunyai arti sebagai sistem yang digunakan untuk mengelola perusahaan sehingga dapat berjalan dengan baik dimana ini sesuai dengan tujuan yaitu memperoleh laba yang sebesar-besarnya. Good corporate governance baik, dimana perusahaan menyampaikan semua informasi yang akurat, relevan, tebuka dan tepat waktu apalagi berkaitan dengan laba ini akan membuat investor percaya. Hipotesis H1: Good Corporate Governance berpengaruh terhadap Manajemen Laba.. H2: Financial Distress berpengaruh terhadap Manajemen Laba. H3: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Manajemen Laba. C. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis deskriptif kuantitatif, populasi penelitian ini merupakan perusahaan dalam bidang farmasi yang terdaftar di BEI, yang perusahaan dalam bidang farmasi yang memiliki keuntungan atau laba selama tahun 2015 – 2019. Sampel dalam penelitian ini berupa neraca dan laporan lab/rugi per tahun mulai tahun 2015 sampai 2019 (5 tahun terakhir) dilakukan dengan cara purposive sampling. Analisa data menggunakan model persamaan regresi linier berganda untuk menguji hipotesis yang telah di ajukan. D. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan indikator penelitian dari variabel Good Corporate Governance, Financial Distress, Ukuran Perusahaan dan Manajemen Laba. Selanjutnya, data-data tersebut diolah sesuai dengan teknik analisis data yang dibutuhkan untuk menjawab setiap rumusan masalah diperoleh hasil Analisis Regresi Linier Berganda Tabel 1 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleranc e VIF (Constant) -,028 ,135 -,205 ,839 1 Good Corporate Governance -,157 ,202 -,203 -,779 ,442 ,408 2,453 Financial Distress ,034 ,054 ,160 ,618 ,541 ,414 2,414 Ukuran Perusahaan ,006 ,003 ,303 1,721 ,095 ,892 1,121 a. Dependent Variable: Manajemen Laba
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 19 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Sumber: Output SPSS 21.0 yang diolah, 2020 Metode analisis data pada penelitian ini adalah Regresi berganda, dimana diketahui persamaan yang terbentuk: Y =α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + e Y = -0,28-0,157 X1 + 0,034 X2 + 0,006 X3 + e Berdasarkan persamaan diatas, maka bisa dipahami bawasanya: 1) Konstanta bernilai negatif sebesar 0,028 yang berarti pada saat Good Corporate Governance, Financial Distressdan Ukuran Perusahaan bernilai tetap maka Manajemen Laba menurun 0,028 dengan asumsi variabel lain dalam persamaan regresi dianggap. 2) etap. 3) Untuk variabel Good Corporate Governance (X1) memiliki koefisien regresi negatif sebesar 0,157. Artinya pada saat Good Corporate Governance (X1) mengalami penurunan satu satuan maka Manajemen Laba(Y) akan meningkat 0,157 dengan asumsi variabel lain dalam persamaan regresi dianggap tetap. 4) Untuk variabel Financial Distress (X2) mempunyai hasil koefisien regresi positif sebesar 0,034. Artinya pada saat Financial Distress (X2) mengalami peningkatan maka Manajemen Laba (Y) akan meningkat0,034 dengan asumsi variabel lain dalam persamaan regresi dianggap tetap. 5) Untuk variabel Ukuran Perusahaan (X3) memiliki koefisien regresi 0,006. Artinya pada saat Ukuran Perusahaan (X3) mengalami peningkatan maka Manajemen Laba (Y) akan meningkat 0,006 dengan asumsi variabel lain dalam persamaan regresi dianggap tetap. Uji Hipotesis Tabel 2 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2 ) Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,375a ,141 ,057 ,07218 2,249 a. Predictors: (Constant), Ukuran Perusahaan, Financial Distress, Good Corporate Governance b. Dependent Variable: Manajemen Laba Sumber : Output SPSS 21.0 yang diolah, 2020 Berdasarkan table Model Summary diatas, diperoleh nilai R sebesar 0,375 dan Adjusted R Square sebesar 0,057. Dari nilai Adjusted R Square diperoleh nilai Koefisien Determinasi sebesar 0,057. Artinya 5,7% variabel Manajemen Laba dipengaruhi oleh variabel Good Corporate Governance (X1), Financial Distress (X2), Ukuran Perusahaan (X3), sedangkan 94,3 % dipengaruhi oleh variabel lain. Uji t dengan tingkat signifikansi 5% (probability =0,05) digunakan pada penelitian ini dengan aplikasi SPSS 21.0 untuk menguji seberapa besar Pengaruh variabelGood Corporate Governance (X1), Financial Distress (X2), Ukuran Perusahaan (X3) terhadap Manajemen Laba (Y) secara parsial.
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 20 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Tabel 3 HasilUji Koefisien Regresi secara Parsial (Uji t) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardize d Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleranc e VIF (Constant) - ,028 ,135 -,205 ,839 1 Good Corporate Governance - ,157 ,202 -,203 -,779 ,442 ,408 2,453 Financial Distress ,034 ,054 ,160 ,618 ,541 ,414 2,414 Ukuran Perusahaan ,006 ,003 ,303 1,721 ,095 ,892 1,121 a. Dependent Variable: Manajemen Laba Sumber : Output SPSS 21.0 yang diolah, 2020 Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa :1) Variabel Good Corporate Governance memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,442 > 0,05. Dapat disimpulkan variabel Good Corporate Governance tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Manajemen Laba. 2) Variabel Financial Distress memiliki nilai signifikansi t sebesar0,541 > 0,05. Dapat disimpulkan variabel Financial Distress tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Manajemen Laba. 3) Variabel Ukuran Perusahaan memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,095> 0,05. Dapat disimpulkan variabel Ukuran Perusahaan tidak mampu mempengaruhi secara signifikan pada Manajemen Laba. Pembahasan Variabel Good Corporate Governance terhadap manajemen laba memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,442 > 0,05 dengan koefisien regresi bernilai -0,157. Sehingga, hipotesis pertama penelitian ini ditolak sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa GCG berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Manajemen Laba. Melalui hasil penelitian tersebut bisa diketahui bahwa semakin meningkat nilai Good Corporate Governance maka Manajemen Laba akan semakin menurun. Good Corporate Governance berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Manajemen Laba dikarenakan nilai koefisien determinasi yang diperoleh
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 21 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 sangat kecil adalah sebesar 0,057. Hal ini berarti bahwa Manajemen Laba hanya dapat dijelaskan oleh variabel Good Corporate Governance, Financial Distress, dan Ukuran Perusahaan sebesar 5,7%, sedangkan 94,3% sisanya dijelaskan oleh variabel lain. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu (Chairunesia et al., 2018) Good Corporate Governance tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian (Melania, 2019) yang menyebutkan bahwa Good Corpoate Govenance memiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadinya Manajemen Laba dapat dipengaruhi oleh penerapan Good Corporate Governance yang kurang baik, akan tetapi tidak selalu dipengaruhi oleh hal tersebut. Adanya faktor internal dan eksternal lain juga dapat memengaruhi manajemen dalam melakukan praktik manajemen laba. Maka adanya penerapan Good Corporate Governance bukanlah faktor utama yang dapat memengaruhi terjadinya praktik manajemen laba. Hasil uji hipotesis penelitian ini menunjukkan bahwa variabel akuntansi Financial Distress terhadap manajemen laba memiliki nilai signifikansi tsebesar 0,541> 0,05 dengan koefisien regresi bernilai positif 0,034. Dengan demikian, hipotesis kedua dalam penelitian ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa Financial Distress berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Manajemen Laba. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Financial Distress maka Manajemen Laba juga akan semakin naik. Financial Distress tidak berpengaruh signikan terhadap Manajemen Laba dikarenakan nilai Adjusted R Square atau koefisien determinasi yang diperoleh sangat kecil yaitu sebesar 0,057. Hal ini berarti bahwa Manajemen Laba hanya dapat dijelaskan oleh variabel Good Corporate Governance, Financial Distress, dan Ukuran Perusahaan sebesar 5,7%, sedangkan 94,3% sisanya dijelaskan oleh variabel lain. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian (Chairunesia et al., 2018) bahwa financial distress berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Begitu pula menurut penelitian dari (Ariesanti, 2014) dan (Saraswati et al., 2016) yang menyebutkan bahwa tedapat hubungan signifikan antara financial distress dengan manajemen laba. Berdasarkan penelitian (rifka, 2017) menyatakan bahwa perilaku earnings management (manajemen laba) meningkat seiring meningkatnya financial distress perusahaan. Artinya financial distress berpengaruh secara positif terhadap manjemen laba. Sehingga jika disimpulkan, faktor financial distress bukan merupakan faktor utama yang memengaruhi manajemen dalam melakukan praktik manajemen laba namun sebagian kecil juga dapat memengaruhi terjadinya praktik manajemen laba. Hasil uji hipotesis penelitian menunjukkan pengaruh ukuran Perusahaan terhadap manajemen laba memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,095> 0,05 dengan koefisien regresi bernilai positif 0,006. Dengan demikian, hipotesis ketiga dalam penelitian ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Ukuran Perusahaan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Manajemen Laba. Dari hasil
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 22 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 tersebut menunjukkan bahwa semakin besar Ukuran Perusahaan maka kemampuan untuk melakukan Manajemen Laba juga akan semakin tinggi. Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Manajemen Laba dikarenakan nilai Adjusted R Square atau koefisien determinasi yang diperoleh sangat kecil yaitu sebesar 0,057. Hal ini berarti bahwa Manajemen Laba hanya dapat dijelaskan oleh variabel Good Corporate Governance, Financial Distress, dan Ukuran Perusahaan sebesar 5,7%, sedangkan 94,3% sisanya dijelaskan oleh variabel lain. Hal ini berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh (Agustia, 2018) dan (Kurnia & Suaidah, 2019) yang menyebutkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap terjadinya manajemen laba. Adanya kesamaan dan ketidaksamaan dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa ukuran perusahaan bukan faktor utama yang memengaruhi adanya praktik manajemen laba. Artinya praktik manajemen laba dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, tergantung dengan kebutuhan perusahaan. E. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data yang telah dilakukan oleh peneliti, pada perusahaan manufaktur sub sektor perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. diperoleh kesimpulan bahwa variabel Good Corporate Governance tidak mampu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Manajemen Laba, dalam Financial Distress pun tidak berpengaruh secaara signifikan terhadap variabel Manajemen Laba, selanjutnya Ukuran Perusahaan tidak mampu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Manajemen Laba. Melalui hasil ini bisa disimpulkan bahwa Good Corporate Governance, Financial Distress dan ukuran perusahaan bukan faktor utama yang memengaruhi adanya kegiatan manajemen laba. Artinya kegiatan manajemen laba dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, tergantung dengan kebutuhan perusahaan. DAFTAR PUSTAKA Agoes, S., & Ardana, I. C. (2009). Good Corporate Governance (GCG). Etika Bisnis Dan Profesi, 104. Antikasari, T. W. (2017). Memprediksi Financial Distress Dengan Binary Logit Regression Perusahaan Telekomunikasi. 21(040), 265–275. Ariesanti, dahniar dwi. (2014). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance Dan Financial Distress Terhadap Manajemen Laba (Studi Kasus Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2014). https://doi.org/10.1038/132817a0 Chairunesia, W., Sutra, P. R., & Wahyudi, S. M. (2018). Pengaruh Good Corporate Governance Dan Financial Distress Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Indonesia Yang Masuk Dalam Asean Corporate Governance Scorecard.JurnalProfita,11(2),232.https://doi.org/10.22441/profita
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 23 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 2018.v11.02.006 Eka Putra, F., & Kusumaningtyas, R. (2019). Pengaruh Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Dasar Dan Kimia Periode 2013- 2016. Jurnal Akuntansi Unesa, 7(1). Ermayanti, D. (2011). Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Kondisi Keuangan. Akuntansi. Retrieved from rasio-keuangan-dalam- memprediksi-kondisikeuangan/ Ermayanti, D. (2016). Pengungkapan sosial, diversifikasi perusahaan, dan kompensasi bonus terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur di bei. XX(01), 70–85. Fathonah, A. N. (2017). Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Financial Distress. Jurnal Ilmiah Akuntansi, 1(2), 133–150. https://doi.org/10.23887/jia.v1i2.9989 Kurnia, F. E., & Suaidah, Y. M. (2019). Pengaruh Praktik Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan Dan Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba. Mahawyahrti, P. T., Ayu, I. G., & Budiasih, N. (2016). Perusahaan Pada Manajemen Laba Asymmetry Information , Leverage And Firm Size On Earning Management. 11(2), 100–110. Melania, V. (2019). Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. 1–15. Retrieved from https://osf.io/preprints/inarxiv/ejvfa/ Nuryana, Y., & Surjandari, D. A. (2019). The Effect of Good CorporateNuryana, Y., & Surjandari, D. A. (2019). The Effect of Good Corporate Governance. Jurnal Ekonomi, 19(1), 26–39. Governance. Jurnal Ekonomi, 19(1), 26– 39. Pagalung. (2011). Terhadap Manajemen Laba Perusahaan Manufaktur Indonesia. Terhadap Manajemen Laba Perusahaan Manufaktur Indonesia, 8(1), 43– 54. Saraswati, R., Sulistyo, S., & Mustikowati, R. (2016). Pengaruh Good Corporate Governance dan Financial Distress Terhadap Manajemen Laba (Studi Kasus pada Perbankan yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2011- 2014). Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi Unikama, 4(1). Suaidah, Yuniep Mujati, dan L. P. U. (2016). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance dan Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba. The New Oxford Shakespeare: Modern Critical Edition, 20(2), 2448–2453. https://doi.org/10.1093/oseo/instance.00209156 Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif , Kualitatif , Dan R&D. Bandung: ALFABETA. Sulistyanto, S. (2018). Manajemen Laba Teori dan Model Empiris (II; A. Listyandari, Ed.). JAKARTA: PT Grasindo.
Hadi Sucipto, Umi Zulfa Halaman 24 sampai 24 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Wayan, N., Arwinda, K., Kt, N., & Merkusiwati, L. A. (2014). Pengaruh Mekanisme Corporate Governance , Likuiditas , Leverage , Dan Ukuran Perusahaan Pada Financial Distress. 1, 93–106. widyaningsih. (2017). Analisis Pengaruh Corporate Governance Terhadap. Jurnal Nominal, 2, 1–11.
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 24 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Studi Fenomenologi Model Implementasi CSR Berkelanjutan Di Kampung Warna-Warni Jodipan Erif Nurhuda1 , Satia Nur Maharani2 , Ridoni Fardeni Harahap3* Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Malang *Korespondensi: [email protected] Dikirim: 13 Desember 2021, Direvisi: 20 Januari 2021, Dipublikasikan: 22 Februari 2021 Abstract Effective implementation of CSR programs is expected to provide long-term benefits and is continuous. The purpose of this research is to formulate a model for implementing a sustainable CSR program. This study uses a descriptive method with a qualitative transcendental phenomenological approach that aims to, obtain in-depth and pure information from the object of research related to the implementation model of sustainable CSR programs. The results of this study show the implementation model of sustainable CSR programs that continuously provide benefits to the community and the company. Building a sustainable CSR program is carried out through the implementation of appropriate programs against targets and targets, directed at community problems. The alignment of the program model given with problems in the community and can touch the root of these problems directly. He considered every triple bottom line element in the program implementation. The sustainability of the CSR program indirectly involves the active participation of the community and the company carries out a series of directed, systematic and planned management activities. Moreover, sustainable CSR programs cannot be separated from interference or support from the government and universities. Keyword: CSR, Sustainable, Management Abstrak Pelaksanaan program CSR yang efektif diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan model pelaksanaan program CSR yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan fenomenologi transendental kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang mendalam dan murni dari objek penelitian terkait model implementasi program CSR berkelanjutan. Hasil penelitian ini menunjukkan model implementasi program CSR berkelanjutan yang terus menerus memberikan manfaat bagi masyarakat dan perusahaan. Membangun program CSR yang berkelanjutan dilakukan melalui pelaksanaan program yang tepat sasaran dan sasaran, diarahkan pada permasalahan masyarakat. Penyelarasan model program diberikan dengan permasalahan yang ada di masyarakat dan dapat menyentuh akar permasalahan tersebut secara langsung. Ia mempertimbangkan setiap elemen triple bottom line dalam pelaksanaan program. Keberlanjutan program CSR secara tidak langsung melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan perusahaan melakukan rangkaian kegiatan pengelolaan yang terarah, sistematis dan terencana. Apalagi, program CSR yang berkelanjutan tidak lepas dari campur tangan atau dukungan pemerintah dan perguruan tinggi. Kata Kunci: CSR, Berkelanjutan, Manajemen A. PENDAHULUAN Pembangunan secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan menuju kearah yang lebih baik. Proses pembangunan daerah dalam rangka mewujudkan Halaman 24 samapi 36
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 25 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 masyarakat yang sejahtera bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi harus berkerjasama dan memperoleh dukungan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan, serta tujuan yang sama seperti sektor swasta maupun masyarakat itu sendiri. Sektor swasta (perusahaan) didirikan dengan tujuan untuk mencari keuntungan (profit). Berdirinya perusahaan dimungkinkan juga akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, pihak swasta wajib untuk menangani permasalahan-permasalahan yang negatif muncul pada lingkungan sekitarnya, seperti halnya memberi kompensasi atau dana bantuan dan ikut serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kepedulian perusahaan terhadap lingkungan atau masyarakat sebagai rasa bertanggung jawab sekaligus kewajiban atas dampak negatif yang timbul dari didirikannya perusahaan tersebut biasa dikenal dengan istilah tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility). Menurut Carroll (2017) menjelaskan CSR sebagai pertimbangan dan tindakan manajer atau organisasi secara serius atas dampaknya terhadap masyarakat, yang dilakukan sebagai bentuk perlindungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat bersama dengan kepentingan bisnis. Kota Malang merupakan salah satu kota yang dikenal dengan potensi wisata alamnya yang menajubkan serta udaranya yang sangat sejuk, dimana tepat wisata menjadi sumber perekonomian dan pertumbuhan pembangunan kota Malang. Objek wisata yang cukup viral dan banyak diperbincangkan baik didunia maya maupun kehidupan nyata, adalah wisata kampung Jodipan atau yang lebih dikenal dengan kampung warna-warni Jodipan. Awal mula terbentuknya kawasan wisata kampung warna-warni Jodipan adalah dari sebuah tugas kuliah lapangan (praktikum event public relations) mahasiswa jurusan ilmu komunikasi salah satu perguruan tinggi swasta di Malang yang tergabung dalam sebuah kelompok bernama Guys-pro dan bertugas di kampung Jodipan tersebut. Melihat kondisi lingkungan yang terbilang kumuh dan perilaku buruk masyarakat yang acuh atau kurang peduli terhadap lingkungan dengan membuang sampah sembarangan pada kawasan tersebut, para mahasiswa ini akhirnya berfikiran untuk mengatasi permasalahan pada lingkungan kampung Jodipan. Berkat ide kreatif dari para mahasiwa tersebut dengan menggandeng program corporate social responsibility bersama PT Indana Paint, perusahaan pemilik cat merk Decofresh, sekarang permasalahan pada kampung Jodipan sudah dapat diatasi. Keberadaan dan peresmian kampung warna-warni Jodipan ini telah membuat perubahan atau membawa dampak yang cukup positif bagi warga di pemukiman tersebut. Selain memperbaiki kualitas lingkungan, adanya program CSR di kampung Jodipan secara tidak langsung telah mengangkat perekonomian warga dan disertai dengan berkurangnya jumlah pengangguran. Pengembangan dan pengelolaan kota yang kreatif inovatif dalam kerangka CSR yang berkelanjutan diharapkan dapat mendorong pemerataan pembangunan daerah serta melalui akselerasi pertumbuhan pusat-pusat perekonomian dengan menggali potensi, mutu dan keunggulan daerah. Beranjak dari uraian diatas maka peneliti ingin menangkap model berkelanjutan (sustainable) CSR yang diimplementasikan di kampung warna-warni Jodipan menggunakan studi fenomenologi peneliti akan mengidentifikasi kerangka konseptual fenomena berupa model implementasi CSR yang berkelanjutan pada
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 26 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 kampung warna-warni. Beranjak dari hal tersebut maka judul penelitian ini adalah ”studi fenomenologi model implementasi CSR berkelanjutan di kampung warnawarni Jodipan”. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana model implementasi program CSR berkelanjutan di kampung warna-warni Jodipan?” dengan tujuan untuk menganalisis lebih dalam model implementasi program CSR berkelanjutan di kampung warna-warni Jodipan. B. TINJAUAN PUSTAKA Management Sustainability and Human Factor Pengelolaan (management) pada dasarnya memiliki makna yang sangat beragam karena setiap individu mempunyai sudut pandang dan persepsi yang berbeda-beda, dimana beberapa individu meninjau pengelolaan dari segi benda, fungsi, kelembagaan atau organisasi dan sebagai suatu kesatuan, akan tetapi semua itu pada dasarnya memiliki satu tujuan yang sama. Pengelolaan berkelanjutan (management sustainability) merupakan kemampuan dalam mengelola, mengatur, menjaga dan meningkatkan nilai dari suatu bisnis dengan harapan tetap memberi keuntungan untuk jangka waktu panjang, di masa yang akan datang serta berkesinambungan. Menurut definisi dari Karakoc (2008) manajemen berkelanjutan sebagai manajemen yang berfokus pada nilai berdasarkan visi menciptakan usaha berkelanjutan dalam masyarakat yang berkelanjutan. Sustainability atau keberlanjutan merupakan strategi dan praktik bisnis dalam menciptakan peluang bagi mereka (pebisnis) untuk dapat berdaya lebih kuat dari waktukewaktu. Pengelolaan atau manajemen secara berkelanjutan untuk menciptakan suatu bisnis yang kuat sesuai apa yang telah dicita-citakan tidaklah terjadi dalam waktu yang singkat, akan tetapi memerlukan proses pengelolaan dalam waktu yang cukup panjang dan dilakukan berulang-ulang. Senada dengan Ulus dan Hatipoglu (2016) mengingat bahwa menjadi entitas bisnis yang berkelanjutan tidak terjadi dalam satu hari, organisasi harus melakukan pencapaian keberlanjutan dalam jangka waktu yang panjang. Sebagai kunci keberhasilan dari suatu bisnis yang memiliki sistem atau manajemen berkelanjutan selain dapat menghantarkan kearah tujuannya disisi lain memberikan banyak sekali manfaat lebih dari apa yang mereka ekspektasikan. Dari hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Bantacut (2012) memberikan kesimpulan bahwa dengan prinsip bisnis berkelanjutan akan memberikan banyak keuntungan jauh melampaui imajinasi manusia. Limawandoyo & Simanjutak (2013) menyebutkan sumber daya manusia merupakan suatu hal yang penting dalam kegiatan usaha apapun, karena kualitas dari hal tersebut menentukan kinerja dari suatu bisnis. Secanggih apapun teknologi apabila sumber daya manusia kurang mumpuni, maka juga akan mempengaruhi akselerasi tingkat keberhasilan sebuah usaha ataupun bisnis. Lebih dari itu, dilain sisi sumber daya manusia perlunya suatu pengembangan yang terencana dengan baik agar dapat menciptakan individu-individu yang tangguh dan berkompeten nantinya. Sejalan dengan pendapat Wakerkwa (2016)
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 27 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 yang mengatakan pengembangan sumber daya manusia ditujukan untuk mewujudkan manusia pembangunan berbudi luhur, tangguh cerdas dan terampil, mandiri dan memiliki rasa kesetiakawanan, bekerja keras, produktif, kreatif, inovatif, disiplin dan orientasi ke masa depan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Peran Masyarakat sebagai Penerima CSR Secara fenomena banyak sekali dijumpai bahwa program CSR sangat kurang diterima dengan baik oleh masyarakat, hal ini dilatar belakangi oleh permasalahan dua pihak antara masyarakat dan perusahan. Pertama, perusahaan yang kurang selaras dalam menempatkan CSRnya terhadap kebutuhan masyarakat. Widokarti (2014) program-program yang dilaksanakan seringkali kurang menyentuh akar permasalahan komunitas yang sesungguhnya, dan seringkali perusahaan beranggapan bahwa dirinya merupakan pihak yang paling memahami kebutuhan komunitas, sedangkan komunitas dianggap sebagai kelompok pinggiran yang menderita menderita sehingga membutuhkan bantuan dari perusahaan. Permasalahan kedua, kurang pahamnya masyarakat dalam memahami program CSR. Masyarakat menganggap CSR hanyalah sekedar bantuan semata dan kurang menyadari manfaatnya, dilain sisi tingkat partisipasi masyarakat sangat rendah terhadap CSR bilamana bersifat empowerment. Bahlian (2017) menjelaskan permasalahan yang datang dari masyarakat, kadangkala masyarakat belum siap diajak mengimplementasikan CSR terutama bila sifatnya partisipatif, dimana masyarakat tidak mau diajak berubah, hanya ingin mendapatkan bantuan saja berupa kucuran dana (filantropi) serta cultur dan terkadang capacity building ketika masyarakat tidak bisa menyerap keinginan perusahaan. Tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR merupakan salah satu penerapan pemberdayaan atau pengembangan masyarakat (community development). Ife (1995) dalam Muhdar et al. (2014) salah satu prinsip community development adalah partisipasi. Partisipasi dalam bentuk pemberdayaan dan pengembangan masyarakat harus menciptakan keterlibatan secara aktif bagi semua orang untuk berperanserta dalam pada proses kegiatan tersebut. Dimana hal ini sejalan dengan pendapat Rahmawati dan Sumarti (2011) yang mengungkapkan bahwa partisipasi semua pihak dalam program pengembangan masyarakat, dalam hal ini CSR, sangat menentukan keberhasilan program tersebut, terlebih partisipasi masyarakat sebagai sasaran program. Corporate Social Responscibility Konsep tanggung jawab sosial perusahaan kini telah bergeser, dimana perusahaan tidak lagi berorientasi terhadap tanggung jawab single bottom line yang pada hakikatnya perusahaan hanya berpijak dalam kondisi finansial saja akan tetapi, dihadapkan pada triple bottom line. Global Reporting Initiative 2006 dalam Jackson et al. (2011) menyebutkan terdapat tiga fokus utama dari triple bottom line (3P) yaitu people, planet dan profit. Konsep pendekatan triple bottom line dipopulerkan oleh John Elkington 1997 dimana yang menjadi sebuah pilar untuk mengukur nilai kesuksesan bagi bisnis dengan memperhatikan bottom line-nya. Rosyidah (2017) mengungkapkan bahwa perusahaan yang baik adalah perusahaan yang akan memperoleh tiga unsur tersebut yaitu keuntungan, kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. C. METODE PENELITIAN
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 28 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan ingin memberikan hasil penelitian yang mendalam terhadap topik permasalahan penelitian. Mason (2002) mengatakan penelitian kualitatif bertujuan untuk menghasilkan pemahaman bulat dan kontekstual atas dasar kaya, bernuansa dan data terperinci. Jenis penelitian kualitatif yang digunakan adalah dengan pendekatan fenomenologi. Hirsch (2015) karakteristik utama dari penelitian fenomenologi adalah deskripsi yang kaya dan terperinci tentang fenomena yang sedang diselidiki. Peneliti memilih metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi transendental. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data dikumpukkan secara langsung melalui observasi, wawancara baik secara terstruktur maupun tidak terstruktur serta dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat tahap, yaitu epoche, reduksi fenomenologi, variasi imajinasi, serta sintetis makna dan esensi. Proses analisis atau penyusunan data dilakukan agar data dapat ditafsirkan serta ditarik kesimpulan. Gambar 1. Kerangka Analisis Data
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 29 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 D. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian PT Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana) adalah perusahaan yang bergerak pada bidang painting dan coating, di kota Malang. Program CSR PT Indana banyak diarahkan kepada masjid, panti asuhan, pondok pesantren yang rata-rata berlokasi di Kabupaten Malang, dengan bentuk bantuan berupa cat sekaligus tenaga pengecatannya. Situs dari CSR tersebut beralamatkan di jalan Ir. H. Juanda, kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Implementasi CSR di Jodipan merupakan ide atau gagasan yang dikemukakan oleh Guys pro dalam menyelesaikan praktikum kuliah lapangan dengan menggandeng PT Indana sekaligus membantu memecahkan masalah atas tidak efektifnya program CSR yang selama ini diberikan. Hal tersebut dilakukan dengan mengarahkan CSR kepada pihak atau sasaran yang lebih tepat (membutuhkan) dan dilaksanakan sesuai konsep 3P yang berlaku. Sebagai harapan dengan diberikannya CSR tersebut ke Jodipan selain membawa manfaat atau nilai lebih bagi warga dan perusahaan juga dapat mencegah terjadinya ketidakefektivan pelaksanaan CSR seperti sebelumnya. Pengelolaan CSR di Jodipan 1) Pengelolaan Fisik CSR Secara teknisnya model pengelolaan CSR di Jodipan tersebut dilakukan oleh dua pihak yaitu antara perusahaan atau pihak pemberi dan warga sebagai pihak penerima. Namun secara orientasinya dari pengelolaan kedua belah pihak tersebut pada intinya semua mengarah kepada pengelolaan secara fisik atau maintainance (perawatan). Kegiatan atau bentuk dari pengelolaan CSR di Jodipan meliputi perawatan cat atau pengecatan ulang, pembaharuan dan inovasi mural atau lukisan, perbaikan sarana dan prasarana, penambahan ataupun mengganti-ganti aksesoris guna memperindah kampung dan lain-lain. Pada dasarnya pengelolaan CSR dilakukan atas motif dari kedua belah pihak. Kegiatan pengelolaan tersebut dilakukan oleh PT Indana dengan diberikannya kontrak perjanjian kepada kampung Jodipan selama dua tahun dan selalu diperbaharui jika habis masanya. Kegiatan pengelolaan CSR dilakukan rutin dari tahun-ketahun secara berkesinambungan. 2) Pengelolaan pendapatan asli kampung warna-warni Jodipan Pasca adanya CSR dan setelah diresmikannya kampung Jodipan menjadi destinasi wisata di kota Malang secara tidak langsung membawa pendapat bagi kampung sendiri. Terdapat tiga pos pendapatan di kampung warna-warni Jodipan yaitu parkir, toilet dan tiket masuk. Ketiga pos pendapatan tersebut nantinya akan dialokasikan kembali untuk mendanai kebutuhan kampung dan mensejahterakan masyarakat. 3) Pelaporan dan Pencatatan Pencatatan keuangan di kampung warna-warni Jodipan dilakukan dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan dokumen fisik. Metode pencatatan dilakukan menggunakan bentuk double entry bookeeping yang berisikan debit dan kredit atau pemasukan serta pengeluaran. Kegiatan pencatatan dilakukan setiap satu sampai dengan tiga bulan sekali. Hasil pencatatan keuangan tersebut akan dilaporkan kepada seluruh pengurus setiap agenda pertemuan atau rapat kampung warna-warni Jodipan.
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 30 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Pendampingan dari Pihak Eksternal Pada dasarnya aktivitas pengelolaan CSR di kampung Jodipan selain dilakukan oleh pihak perusahaan dan warga juga mendapatkan pendampingan, pengarahan serta dukungan secara khusus dari pihak eksternal yaitu kampus UMM dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Kegiatan pengarahan meliputi pembenahan sumber daya manusia, pengarahan fisik (perawatan CSR), dan keuangan. Pembahasan Gambar 2. Model Implementasi CSR Berkelanjutan Studi Kelayakan Target (Lokasi) CSR Bowen et al. (2009) studi kelayakan digunakan untuk menentukan, menilai dan menguji lebih lanjut relevansi atau kelayakan terhadap suatu ide. Studi kelayakan memiliki peran yang sangatlah penting dan menjadi landasan utama yang kuat dalam implementasi program CSR serta dapat meminimalisir terjadinya halhal yang tidak diinginkan. Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Purba (2018) agar penyaluran dana CSR tersebut tepat sasaran maka perlunya perusahaan melakukan langkah penyeleksian. Proses studi kelayakan dilakukan untuk menelusuri sejauh mana isu-isu atau permasalahan di masyarakat tersebut cocok untuk diberikan program CSR. Ambadar (2008) menjelaskan bahwa proses implementasi program CSR dimulai dengan melihat, menilai serta mengidentifikasi kebutuhan atau permasalahan yang terdapat di masyarakat sekitar kemudian dicarikan solusi yang sesuai. Berdasarkan data lapangan menunjukan proses studi kelayakan dilaksanakan bersama pihak atau partner eksternal (public reliations) dengan melakukan riset secara online terkait informasi atau berita-berita yang beredar dan diterbitkan oleh
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 31 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 pemerintah melalui pusat data statistik. Disamping itu juga dilaksanakannya survei langsung di masyarakat mencari isu-isu permasalahan yang dialami, riil atau nyata dan sedang berlangsung. Proses menentukan masalah untuk implementasi program CSR dilakukan dengan menilai seberapa luas (geografis ataupun demografis) yang terkena dan dirugikan, sedalam apa masalah mempengaruhi dimensi kehidupan dan siapa pihak yang bertanggung jawab sepenuhnya atas hal tersebut. Lebih dari itu dilakukan analisis serta proyeksi masalah, untuk masa kedepan akankah menjadi semakin parah dan kompleks dengan dibiarkannya atau justru sebaliknya. Singkronisasi Implentasi CSR dengan Permasalahan Masyarakat Diberikannya program CSR haruslah selaras atau sesuai dengan permasalahan yang dialami oleh masyarakat. Sehingga dalam tahap ini diperlukan langkah berupa singkronisasi antara program CSR yang diimplementasikan atau diberikan dengan permasalahan masyarakat. Pada hakikatnya tujuan dilakukannya singkronisasi adalah untuk mencegah dan meminimalisir terjadinya ketidak konsistenan atas implementasi program CSR tersebut. Kao et al. (2014) dalam membuat keputusan, strategi yang tepat serta melaksanakan program secara efektif, bisnis perlu mempertimbangkan jenis masalah sosial yang membutuhkan bantuan. Penyusunan model program CSR dilakukan oleh pihak public reliations yang kemudian diarahkan kepermasalahan pada situs penelitian. Penyelerasan program CSR dilakukan dengan menyesuaikan antara bentuk program yang akan diberikan dengan permasalahan yang dialami oleh masyarakat. Dalam proses penyusunan model program tersebut dilakukan dengan kegiatan sosialiasi serta melibatkan seluruh warga masyarakat bermusyawarah secara bersama. Kegiatan sosialisasi, koordinasi dan musyawarah bersama masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan secara informal (masyarakat diberi kebebasan berpendapat secara penuh) untuk mengetahui kebutuhan dan merumuskan program yang tepat sesuai permasalahan mereka. Roza (2014) menjelaskan tahap perencanaan atau perancangan CSR dilakukan oleh perusahaan secara terintegrasi dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk menciptakan program yang efektif. Implementasi CSR Berdasar pada Konsep Triple Bottom Line Secara idealnya perusahaan dituntut untuk melakukan seluruh kegiatan triple bottom line bagi para stakeholders-nya. Menurut Ri’aeni (2016) bahwa kebijakan CSR diarahkan secara berkesinambungan dengan menitikberatkan program pengembangan sosial, lingkungan dan ekonomi. Senada dengan Henderson (2011) manajemen perlu membuat keputusan dalam memprioritaskan elemen triple bottom line dari planet, people dan profit. Dalam konsep tersebut memberikan sebuah isyarat kepada perusahaan untuk memperhatikan 3P dalam operasi bisnisnya. Sesuai dengan konsep 3P yang meliputi planet, people dan profit implementasi program CSR di situs penelitian diarahkan untuk memenuhi ketiga aspek tersebut, sebagai berikut. 1) Planet Planet merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap bumi. Anatan (2009) yang menyebutkan bahwasannya planet adalah bentuk kepedulian terhadap
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 32 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pelaksanaan program penghijauan lingkungan, penyediaan sarana air bersih, perbaikan pemukiman, pengembangan pariwisata. Sejalan dengan aspek planet, pelaksanaan program CSR pada situs penelitian adalah dilakukannya perbaikan pemukiman atau lingkungan, tempat dimana masyarakat itu tinggal. Program bantuan CSR tersebut diberikan berupa material sekaligus tenaga pengerjaannya (teknisi). Kegiatan ini dilakukan dengan memperbaiki lingkungan yang pada awalnya terlihat kotor dan kusam menjadi lebih bersih, asri serta indah. 2) People Sopyan (2014) menjelaskan bahwasannya people merupakan kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat dapat dimanifestasikan melalui program pendidikan atau edukasi, kesehatan dan capacity building masyarakat lokal. Kegiatan aspek people pada intinya lebih mengarah dalam pelaksanaan konsep community development. Charolinda (2006) pengembangan masyarakat (community development) merupakan kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki maupun meningkatkan kualitas masyarakat dari segi sosial, ekonomi serta kehidupan yang lebih baik dari pembangunan sebelumnya, dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu dan berkesinambungan. Berdasarkan infomasi pada situs penelitian aspek people sejalan dengan makna pengembangan, pemberdayaan, pengarahan dan edukasi. Aspek ini dilaksanakan dengan diberikannya pengarahan serta bimbingan kepada masyarakat melalui sosialisasi terkait pentingnya menjaga ekosistem atau kelestarikan lingkungan sekitar. Tujuan dari aspek ini adalah untuk memperbaiki kualitas pola fikir (mindset) serta perilaku masyarakat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kegiatan ini dilaksanakan saat sebelum dan pasca implementasi atau diberikannya program CSR. 3) Profit Perera dan Chaminda (2013) menyebutkan pelaksanaan program CSR memberikan pengaruh secara signifikan terhadap brand perusahaan serta daya beli dari konsumen. Lebih dari itu selain dapat mendongkrak brand dan daya beli produk juga akan membuat perusahaan perusahaan eksis lebih lama. Menurut Putra (2013) berpendapat bahwa implementasi CSR memiliki tujuan yang beragam mulai dari pembangunan kapasitas masyarakat, pembentukan image, hingga sebagai media promosi. Melalui informasi yang diperoleh menunjukan, bahwasannya sebagai imbal balik atas implementasi program CSR pada situs penelitian adalah diperolehnya ruang publikasi bagi perusahaan secara gratis. Berdasarkan realitas yang ada selain ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat dan konservasi lingkungan tujuan implementasi program CSR juga sebagai langkah untuk strategi promosi bagi perusahaan. Ditambah dengan kondisi geografis pada situs penelitian yang strategis dan mendukung, secara tidak langsung menjadi nilai tambah dan mempermudah perusahaan dalam memperkenalkan produk-produknya kepada masyarakat secara lebih luas. Konsep Pengelolaan CSR yang Berkelanjutan Handayati dan Rochayatun (2019) bahwa program CSR berkelanjutan diharapkan dapat menciptakan suatu ekosistem yang menguntungkan bagi semua pihak dan disinergi secara terus menerus. Menurut pendapat Michel dan Buler (2016) CSR
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 33 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 berkelanjutan membantu menciptakan pembentukan modal berkaitan dengan keuangan atau kekayaan, manusia, sumber daya alam dalam jangka panjang. CSR berkelanjutan atau program yang secara kontinyu memberikan manfaat kepada kedua belah pihak, baik penerima maupun pemberi pada dasarnya tidak akan berjalan optimal tanpa adanya serangkaian aktivitas pengelolaan atau manajemen. Aktivitas pengelolaan atau manajemen pada dasarnya dijalankan dalam waktu yang relatif cukup panjang, dari waktu ke waktu dan secara kontinyu. Starik dan Kanasihro (2013) keberlanjutan merupakan kapasitas untuk bertahan dan beradaptasi terkait dengan sesuatu yang harus dipertahankan. Sehingga dengan prinsip atau pengelolaan berkelanjutan akan membuat bisnis menjadi lebih kuat sekaligus bertahan untuk generasi mendatang. Praktik pengelolaan program CSR pada situs penelitian telah nampak dilakukan secara kontinyu oleh dua sisi yaitu perusahaan dan masyarakat. Kegiatan pengelolaan tersebut bertujuan agar program senantiasa tetap memberikan manfaat dari masa-kemasa. Pengelolaan CSR dilakukan dengan model kerjasama antara perusahan dan masyarakat serta saling memberikan keuntungan ataupun menjaga kepentingan dari masing-masing. Adanya program CSR di jodipan dan diresmikannya kampung sebagai destinasi wisata secara tidak langsung membawa penghasilan atau pendapatan dimana hal tersebut dikelola secara baik untuk berbagai kepentingan kampung seperti biaya pengelolaan CSR dan dipergunakan untuk mensejahterakan masyarakat. Tidak hanya dikelola saja keungan tersebut juga dikendalikan dengan baik oleh masyarakat guna meminimalisir terjadinya kecurangan seperti dibuatnya sistem otorisasi, pencatatan dan penyimpanan. Keterlibatan Pihak Eksternal dalam Mendukung Implementasi CSR Sustainable Aktivitas pengelolaan program CSR secara berkelanjutan pada dasarnya tidak terlepas dari campur tangan pihak eksternal baik dari pemerintah maupun perguruan tinggi. Keterlibatan perguruan tinggi dan pemerintah telah menjadi jembatan keberhasilan implementasi program CSR dimasyarakat. Vveinhardt et al. (2018) dalam memainkan peran sebagai agen pembangunan, perusahaan perlu melibatkan badan pemerintahan terkait implementasi CSR untuk membantu pengembangan masyarakat. Selain itu mengingat bahwa perguruan tinggi atau pendidik juga dapat menjadi pihak dalam perubahan masyarakat dan diperlukan peran sertanya untuk andil pada bagian ini. Bourn (2016) pendidik dipandang sebagai agen perubahan dalam program atau proyek, membawa dampak positif dalam kehidupan individu dan masyarakat secara luas. Terlibatnya salah satu pihak perguruan tinggi di kota Malang dan pemerintah yaitu dinas pariwisata kota Malang merupakan wujud dukungan yang diberikan kepada masyarakat situs penelitian. Keterlibatan kedua belah pihak tersebut dimulai sejak pasca terselesaikannya implementasi program CSR pada situs penelitian dan setelah diresmikannya menjadi destinasi wisata. Menurut hasil informasi pada situs penelitian menunjukan, keterlibatan pihak eksternal (perguruan tinggi dan pemerintah) berupa pengarahan pengelolaan sumber daya manusia, pelatihan-pelatihan wirausaha, ide-ide kreatif terkait pengembangan serta pemanfaatan CSR secara berkesinambungan. dari Enuoh et al. (2011) SDM yang profesional berkontribusi secara signifikan dalam keberhasilan CSR.
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 34 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Berdasarkan hasil penelitian dari Dutta (2016) menyebutkan bahwa sumber daya manusia berhubungan kuat dengan CSR dan berkontribusi dalam menciptakan keberhasilan jangka panjang. E. PENUTUP Program CSR berkelanjutan atau CSR yang secara kontinyu memberikan manfaat dari tahun-ketahun kepada dua belah pihak, yaitu perusahaan dan masyarakat. Model berkelanjutan dapat dibangun melalui implementasi program tepat sasaran atau diberikannya CSR kelokasi yang layak untuk dibantu sesuai permasalahan riil adanya. Berangkat dari realitas yang ada, implementasi program CSR diberikan sebagai bentuk kepedulian perusahaan dan sarana dalam menyelesaikan permasalahan dimasyarakat. Diberikannya progam CSR selaras dengan permasalahan yang ada dimasyarakat dan secara langsung dapat menyentuh akar dari permasalahan tersebut. Terlebih perlunya perusahaann dalam implementasi program CSR memperhatikan setiap unsur dari konsep triple bottom line atau 3P (planet, people, profit). Keberlanjutan disini bukan berarti masyarakat terus dimanja oleh pemberian perusahaan, melainkan mereka memainkan perannya secara mandiri dalam memanfaatkan serta mengoptimalkan program CSR. Berkelanjutannya program CSR secara tidak langsung melibatkan serangkaian proses pengelolaan secara terarah, sistematis dan terencana. Lebih dari itu pada dasarnya dalam proses pengelolaan CSR berkesinambungan tersebut juga tidak terlepas dari campur tangan pihakpihak eskternal yaitu dari perguruan tinggi dan pemerintah. DAFTAR PUSTAKA Anatan, Lina. 2009. Corporate Social Responsibility CSR Tinjauan Teoritis dan Praktik di Indonesia. Jurnal Manajemen Maranatha. Bahlian, Mhd. 2017. Pengaruh Corporate Social Responsibility dalam Meningkatkan Penanaman Modal Asing. Jurnal Hukum Samudera Keadilan, 12(1), 26- 43. Bantacut, Tajuddin. 2012. Bisnis Berkelanjutan: Integrasi Manajemen Lingkungan dalam Pengelolaan Usaha. Agrimedia, 17(1), 33-42. Bourn, Douglas. 2016. Teacher as Agents of Social Change. Researchgate, 7(3), 63-77. Bowen, Debora J, Kreuter, Matthew, Spring, Bonnie, Woerpel, Ludmila Cofta, Linnan, Laura, Weiner, Diane, Bakken, Suzanne, Kaplan, Cecilia Patrick, Linda, Squiers, Fabrizio, Cecilia, Fernandez, Maria. 2009. How We Design Feasibility Studies. American Journal of Preventive Medicine, 36 (5), 452-457. DOI:10.1016/j.amepre.2009.02.002 Carroll Archie B. 2015. Corporate Social Responsibility: The Centerpiece of Competing and Complementary Frameworks. Organizational Dinamic, 44 87- 96.DOI:10.1016/j.orgdyn.2015.02.002. Charolinda. 2006. Pengembangan konsep community development dalam kerangka pelaksanaan corporate social responsibility. Jurnal Hukum dan Pembangunan. 86-106. Dutta, Amit Bijon. 2016. A Review on HR and Corporate Social Responsibility. International Journal of Engineering and Management Research. 256-259.
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 35 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Handayati, Puji, Rochayatun, Sulis. 2019. Corporate Social Responsibility (CSR) Menyusuri Jalan Meraih Sustainability Industry. Malang: Selaras Media Kreasindo. Henderson, Stephen. 2011. The Development of Competitive Advantage Through Sustainable Event Management. Emerald Insight, 3(3), 245-257. DOI: 10.1108/17582951111116597. Hirsch, Eddles Kartina. 2015. Phenomenology and Educational Research. International Journal of Advanced Research, 3(8), 251-260. Iyang, Benjamin J, Awa, Hart O, Enuoh, Rebecca O. 2011. CSR HRM Nexus Defining the Role Engagement of Human Recources Professionals. International Journal of Business and Social Science, 2(5), 118-126. Jackie, Ambadar. 2008. CSR dalam Praktik di Indonesia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Jackson, Amimee, Boswell, Katherine, Davis, Dorothy. 2011. Sustainability and Triple Bottom Line Reporting-What is All About. International Journal of Bussines, Humanities and Technology, 1(3), 53-39. Kao, Tzu-Yi, Chen, Jason C.H, Wu, Ji-Tsung Ben, Yang, Ming-Hsien. (2014). Poverty Reduction through Empowerment for Sustainable Development a Proactive Strategy of Corporate Social Responsibility. Wiley Online Library. DOI: 10.1002/csr.1365. Karakoc, T. Hikmet. 2008. Sustainability Management Based Approach to Global Warming: Cwg Model and Global Warming Factor Score Formula. Journal of Management Research, 1(1), 1-18. Karakoc, T. Hikmet. 2008. Sustainability Management Based Approach to Global Warming: Cwg Model and Global Warming Factor Score Formula. Journal of Management Research, 1(1), 1-18. Limawandoyo, Eric Alamzah, Simanjutak, Augustinus. 2013. Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia pada PT. Aneka Sejahtera Engineering. Jurnal Manajemen Bisnis Petra, 1(2). Mason, J. 2002. Qualitative research (2nd ed). London: Sage. Michel, Nora, Buler, Stephen A. 2016. Maximizing the Benefits of Corporate Social Responsibility how Companies can Derive Benefits from Corporate Social Responsibility. European Scientific Journal. 499-506 Muhdar, Jamaludin, Irwansyah. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Program Corporate Social Responsibility PT. Arutmin Nort Pulau Laut Coal Terminal Kotabaru (Studi tentang Program Koperasi Serba Usaha Madani Kotabaru). Jurnal Bisnis dan Pembangunan, 1(1), 22-28. Perera, Chamila Roshani, Chamida, Jayawickrama Withanage Dushan. 2013. Corporate Social Responsibility and Product Evaluation the Moderating Role of Brand Familiarity. Wiley online Library, 20, 245-256. DOI: 10.1002/csr.1297 Purba, Elvitrianim. 2018. Peran Teknologi Informasi dalam Mengefektifkan Keputusan Pemberian Dana Corporate Social Responsibility. Edia Informatika Budidarma, 2(3), 69-75. Putra, Yudistira Pratama. 2013. Program CSR sebagai Penerapan Community Reliation Studi Kasus Living with HIV oleh Salah Satu Bank Internasional yang Memiliki Cabang Pusat di Indonesia. Skripsi diterbitkan, Surabaya: Universitas Airlangga.
Erif Nurhuda, Satia Nur Maharani, Ridoni Fardeni Harahap Halaman 36 sampai 36 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Rahmawati, Sumarti, Titik. 2011. Analisis Tingkat Partisipasi Peserta Program CSR Pemberdayaan Ekonomi PT Arutmin Indonesia. Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia, 5(3), 325-338. Ri’aeni, Ida. 2016. Visi Pembangunan Berkelanjutan Program Corporate Social Responsibility (CSR) pada Perusahaan di Cirebon. Univeristas Bakrie Indocomapac. 777-792. Rosyidah, Novita Ainur. 2017. Analisis Pengungkapan Triple Bottom Line dan Faktor yang Memperngaruhi. Jurnal Equity, 3(2). Roza, Suswita. 2014. Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi Program CSR (Corporate Social Responsibility). Mankeu 3(1), 374-436. Sopyan, Yayan. 2014. Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Implementasi Fikih Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat. Ahkam, 14(1), 53-62. Starik, Mark, Kanashiro, Patricia. 2013. Toward a Theory of Sustainability Management Uncovering and Integrating the Nearly Obvious. Sage Publication, 2(1), 7-30. DOI: 10.1177/1086026612474958. Vveinhardt, Jolita, Žukauskas, Pranas, Andriukaitienė, Regina. 2018. Corporate Social Responsibility as the Organization’s Commitment against Stakeholders. Intechopen, 43-62. DOI: 10.5772/intechopen.70625. Wakerkwa, Onius. 2016. Peran Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan Pembangunan Masyarakat di Desa Umbanume Kecamatan Pirime Kabupaten Lanny Jaya. Jurnal Holistik, 17A, 1-22.
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 36 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Pengaruh Risiko Kredit Dan Risiko Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada Bank BUMN Ivan Krisna Aji1* Gusganda Suria Manda2 Fakultas Ekonomi Universitas Singaperbangsa Karawang, Jawa Barat, Indonesia *Korespondensi: [email protected] Dikirim: 3 Desember 2020, Direvisi: 27 Januari 2021, Dipublikasikan: 22 Februari 2021 Abstract Banks in carrying out their operations are certainly not free from various kinds of risks. Bank business risk is the uncertainty regarding an outcome that is expected or expected to be received. Non Performing Loan (NPL) Is a financial ratio related to credit risk. Loan to Deposit Ratio (LDR) is a ratio that measures a Bank's ability to meet its obligations. This study aims to determine the effect of credit risk (NPL), liquidity risk (LDR) partially and simultaneously on profitability as indicated by the ROA (Return to Assets) ratio using multiple linear regression tests for state-owned banks listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2015- 2019. This type of research is descriptive research with secondary data derived from the financial statements of listed BUMN banks and obtained directly from the website on the Indonesia Stock Exchange. This study uses data from 2015-2019 with a sample size of 4 Bumn Banks from a total population of 20 Bumn Banks. The results of this study indicate that; 1) Credit Risk (NPL) simultaneously affects profitability partially; 2) Partially liquidity risk (LDR) has no effect on profitability; and 3) Credit Risk and Liquidity Risk simultaneously affect profitability. Keywords: Credit Risk, Liquidity Risk, and Profitability Abstrak Bank dalam menjalankan operasinya tentunya tidak terlepas dari berbagai macam risiko. Risiko usaha bank merupakan ketidak pastian mengenai suatu hasil yang di perkirakan atau di harapkan akan di terima. Non Performing Loan (NPL) Merupakan rasio keuangan yang terkait dengan risiko kredit. Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang mengukur kemamapuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang harus di penuhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh risiko kredit (NPL), risiko likuiditas (LDR) secara parsial dan simultan terhadap profitabilitas yang ditunjukkan dengan rasio ROA (Return to Asstet) dengan menggunakan uji regresi linear berganda Bank BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015- 2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian deksriptif dengan data sekunder yang berasal dari laporan keuangan Bank BUMN yang terdaftar dan diperoleh langsung dari situs di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan data tahun 2015-2019 dengan jumlah sampel 4 Bank Bumn dari jumlah populasi sebanyak 20 Bank Bumn. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) Risiko Kredit (NPL) secara parsial berpengaruh secara simultan terhadap profitabilitas; 2) Risiko Likuiditas (LDR) secara parsial tidak berpengaruh terhadap profitabilitas; dan 3) Risiko Kredit dan Risiko Likuiditas berpengaruh secara simultan terhadap profitabilitas. Kata Kunci : Risiko Kredit, Risiko Likuiditas, dan Profitabilitas Halaman 36-45
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 37 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 A. PENDAHULUAN Dalam era globalisasi ini, banyak perusahaan bersaing untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mengelola perusahaan sebaik-baiknya. Manajemen perusahaan harus berhati-hati dalam hal kebijakan pemberian kredit karena akan menimbulkan risiko kredit bagi perusahaan. Selain itu perusahaan juga harus memperhatikan kewajiban-kewajiban yang ia miliki seperti likuiditas perusahaan agar perusahaan dapat tetap likuid agar kepercayaan dari para kreditur tetap terjaga. Naik turunnya profitabilitas pada masing – masing perusahaan perbankan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain risiko kredit dan likuiditas yang dimiliki oleh perusahaanperusahaan tersebut. Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP/2011 menyatakan bahwa risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank. Risiko kredit merupakan risiko yang wajar terjadi mengingat salah satu usaha inti bank itu sendiri adalah pemberian kredit. Sebelum memberikan kredit, bank harus mengumpulkan informasi memadai tentang pelanggan potensial untuk dapat meminimalisir risiko kredit yang dihadapi di kemudian hari. Informasi ini biasanya dikumpulkan selama dokumentasi kredit (Kithinji, 2010:23). Kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio keuangan yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank, sehingga makin tinggi NPL akan semakin buruk kualitas kredit bank. Hal ini sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, semakin tinggi nilai NPL (diatas 5%) maka bank tersebut tidak sehat. Tabel 1. Risiko kredit bank bumn pada periode 2015 – 2019 No Nama Perusahaan Risko Kredit (NPL) 2015 2016 2017 2018 2019 1 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 0,91% 0,44% 0,70% 0,85% 1,25% 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 0,52% 1,09% 0,88% 0,92% 1,04% 3 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 2,11% 1,85% 1,66% 1,83% 2,96% 4 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 0,60% 1,38% 1,06% 0,67% 0,84% Sumber : Hasil pengolahan data peneliti Dapat dilihat dari tabel tersebut bahwa tingkat risiko kredit dari masing-masing perusahaan tidak stabil setiap tahun nya. Tingkat risiko kredit yang paling tinggi dari keempat perusahaan tersebut adalah terdapat pada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang mana diawali pada tahun 2015 dengan NPL 2,11% dan pada tahun 2019 dengan NPL 2,96%. Seperti kita ketahui bersama bahwa PT Bank Tabungan Negara ini banyak bekerjasama dengan perusahaan real estate yang mana sering
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 38 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 memberikan pinjaman untuk pengkreditan perumahan. Sehingga tingkat risiko kredit PT Bank Tabungan Negara ini tinggi dibandingkan dengan perusahaan bank bumn yang lainnya. PT BTN harus mampu menekan tingkat risiko kredit tersebut karena jika terlalu besar jumlah risiko kredit nya maka akan besar risiko yang dihadapi oleh bank tersebut. Tabel 2. Risiko Likuiditas bank bumn periode 2015 – 2019 No Nama Perusahaan Risiko Likuiditas (LDR) 2015 2016 2017 2018 2019 1 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 87,77% 90,41% 85,58% 70,15% 91,54% 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 86,88% 87,77% 88,13% 89,57% 88,64% 3 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 108,78% 102,66% 103,13% 103,25% 113,5% 4 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 87,05% 85,86% 88,11% 96,74% 67,44% Sumber : Hasil pengolahan data oleh peneliti Likuiditas Bank sangat penting karena besar likuiditas wajib minimum atau giro wajib minimum Bank telah ditetapkan oleh Bank Indonesia selaku Bank sentral. Manajemen giro wajib minimum sangat penting, sulit, dan kompleks pengaturannya karena pimpinan Bank harus memenuhi ketetapan (yuridis) dan ekonomis. Menurut Darmawi (2011:59), likuiditas adalah suatu istilah yang dipakai untuk menunjukan persedian uang tunai dan asset lain yang dengan mudah dijadikan uang tunai. Alat ukur penilayan kesehatan perbankan dalam faktor likuiditas yang sering digunakan adalah rasio LDR. Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang mengukur kemamapuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang harus di penuhi. Sehingga semakin tinggi LDR maka laba bank semakin meningkat (dengan asumsi Bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan efektif), dengan meningkatya laba Bank, maka kinerja Bank juga meningkat dengan demikian besar kecilnya rasio LDR suatu Bank akan mempengaruhi kinerja Bank tersebut. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa LDR adalah rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan Bank membayar kembali penarikan dana yang dilakukan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 39 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Tabel 3. Profitabilitas bank bumn periode 2015 2019 No Nama Perusahaan Risiko Profitabilitas (ROA) 2015 2016 2017 2018 2019 1 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 2,64% 2,69 % 2,75% 2,78% 2,42% 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 4,19% 3,84% 3,69% 3,68% 3,5% 3 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 1,61% 1,76% 1,71% 1,34% 0,13% 4 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 3,15% 1,95% 2,72% 3,17% 3,03% Sumber : Hasil Pengolahan data oleh peneliti Profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank. Kinerja bank merupakan gambaran kondisi bank pada suatu periode tertentu yang didalamnya termasuk kondisi keuangan bank. Untuk mengukur tingkat profitabilitas maka digunakan Return on Assets (ROA). Dipergunakannya ROA untuk mengukur profitabilitas bank karena Bank Indonesia sebagai pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dari aset yang dananya berasal dari sebagian besar dana simpanan masyarakat. (Dendawijaya, 2010:118). Semakin besar ROA menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena tingkat pengembalian (return) yang diperoleh semakin besar. Apabila ROA meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang saham. Semakin tinggi tingkat profitabilitas dan terus-menerus memperoleh profitabilitas, maka semakin baik kinerja perbankan atau perusahaan dan kelangsungan hidup perbankan atau perusahaan tersebut akan terjamin. Bank yang dikenal melalui kinerjanya yang baik juga akan berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap bank. Dengan hal ini, masyarakat tidak akan ragu untuk menyimpan dana serta berinvestasi dan menaruh kepercayaan penuh terhadap bank, sehingga nantinya dapat membantu melancarkan aktivitas yang dilakukan oleh bank. Di sisi lain dengan tingakat profitabilitas yang tinggi, maka bank akan mampu bertahan dan bersaing dengan bank-bank lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya bahwa Risiko Kredit dan Risiko Likuiditas tidak berpengaruh signifikan dan berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap profitabilitas dan berdasarkan latar belakang di atas maka saya terarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Risiko Kredit dan Risiko Likuiditas Terhadap Profitabilitas (Studi Pada Bank BUMN yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019)” untuk
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 40 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 mencari tahu dan menganalisis berapa tingkat risiko kredit dan profitabilitas pada bank bumn di Indonesia yang terdaftar di BEI pada tahun 2015 hingga 2019. B. KAJIAN PUSTAKA Risiko Kredit Menurut Leon dan Ericson, (2007: 95) Non Performing Loan adalah kredit yang kategori kolektibilitasnya diluar kolektibilitas kredit lancar dan kredit dalam perhatian khusus. Berarti kredit bermasalah mencakup kredit kurang lancar, diragukan dan macet. Kredit bermasalah pada umumnya merupakan kredit yang pembayaran angsuran pokok dan atau bunganya telah lewat sembilan puluh hari lebih setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukan. Kredit bermasalah atau non performing loan dapat diartikan juga sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan atau karena faktor eksternal di luar kemampuan debitur yang dapat diukur dari kolektibilitasnya. Menurut Hariyani (2010: 52), tentang Rasio NPL : “Rasio NPL atau rasio kredit bermasalah, rasio ini menunjukan bahwa kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan bank bermasalah semakin besar”. Dapat dihitung dengan rumus : = Total kredit bermasalah x 100% Total Kredit Risiko Likuiditas Risiko likuiditas dapat didefinisikan sebagai risiko ketidakmampuan untuk melikuidasi secara tepat waktu dengan harga yang wajar (Muranaga & Ohsawa, 2002). Bank menghadapi risiko likuiditas apabila mereka tidak melikuidasi aset mereka pada harga yang wajar. Aset ditawarkan dengan harga jual murah, sementara kebutuhan melikuidasi aset bank mendesak. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian dan penurunan yang signifikan dalam pendapatan. Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/25/2009, pengertian resiko likuiditas adalah risiko bank akibat ketidakmampuan bank memenuhi kewajiban bank yang telah jatuh tempo dari pendanaan arus kas dan atau aset yang likuid tanpa menggangu aktivas bank sehari-hari. Dari pengertian tersebut berarti bank harus mampu menyediakan dana cadangan bilamana ada penarikan dana nasabah yang bersifat mendadak dan aktiva yang diivestasikan bank juga cukup likuid bilamana harus mencairkan untuk menutupi kebutuhan dana.
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 41 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Menurut Sudirman (2013:158), rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut: LDR = Jumlah Kredit Pihak Ketiga x 100% Total Dana Piha Ketiga Dapat disimpulkan bahwa Risiko Likuiditas adalah Risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank. Profitabilitas Menurut Munawir (2014:33), definisi profitabilitas adalah sebagai berikut: “Rentabilitas atau profitability adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Rentabilitas suatu perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif, dengan demikian rentabilitas suatu perusahaan dapat diketahui dengan memperbandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode dengan jumlah aktiva atau jumlah modal perusahaan tersebut.” Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba selama periode tertentu dengan modal atau aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Mohammad Nur Fauzi (2015) menyatakan bahwa: “Tinggi rendahnya laba merupakan faktor penting perusahaan. Besar kecilnya laba perusahaan dapat diketahui melalui analisa laporan keuangan perusahaan dengan rasio profitabilitas.” Return on Assets (ROA) = x 100% C. METODE PENELITIAN Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui deskripsi pengaruh NPL, LDR terhadap Profitabillitas. Populasi dalam penelitian ini adalah Bank Bumn yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2015-2019 sebanyak 4 bank bumn. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik sampling total, sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 bank bumn. Data penelitian menggunakan data sekunder yaitu data publikasi laporan keuangan pertahun Bank Umum yang didapat dari website resmi Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2015-2019.
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 42 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda, analisis korelasi, analisis koefisien determinasi, uji t dan uji F. D. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel risiko kredit dan likuiditas secara simultan berpengaruh terhadap profitabilitas pada bank bumn periode 2015-2019. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Risiko Kredit terhadap Profitabilitas, dilakukan suatu perhitungan dengan menggunakan software SPSS 20, sehingga diketahui hasil bahwa nilai koefisien regresi menunujukan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa secara parsial risiko kredit berpengaruh secara simultan terhadap profitabilitas pada Bank BUMN. PENGUJIAN HIPOTESIS H1 DAN H2 DENGAN UJI t Tabel 4. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4,354 1,275 3,416 0,003 NPL -1,333 0,297 -0,843 -4,488 0,000 LDR -0,002 0,017 -0,018 -0,097 0,924 a. Dependent Variable: Profitabilitas (ROA) Sumber: Hasil Pengolahan Data Menggunakan SPSS20 Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa risiko kredit yang diukur dengan Non Performing Loan (NPL) memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap profitabilitas karena nilai signifikan 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh secara simultan X1 terhadap Y. Hal ini sesuai dengan penelitian fifit syaiful menyimpulkan bahwa non performing loan mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan koefisien β bernilai negatif sebesar -0,476 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa likuiditas yang diukur dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) tidak memiliki pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan bank bumn karena nilai signifikan adalah sebesar 0,924 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H2 ditolak yang berarti tidak terdapat pengaruh X2 terhadap Y. Setelah melakukan penelitian dan memperoleh data yang diperlukan. Maka dilakukan pengujian hipotesis yang telah diajukan. Hipotesis yang diajukan adalah risiko kredit dan risiko likuiditas secara simultan berpengaruh terhadap profitabilitas
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 43 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 pada Bank BUMN, dalam pengujian hipotesis dilakukan serangkaian langkah-langkah uji statistik yaitu uji regresi berganda, uji koefisien korelasi, dan uji detirminasi. Dari tabel uji regresi berganda (terlampir) maka diperoleh regresi berganda sebagai berikut. Y = 4,354 – 1,333 NPL - 0,002 LDR PENGUJIAN HIPOTESIS H3 DENGAN UJI F Tabel 5. ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 13,739 2 6,87 23,472 ,000b Residual 4,975 17 0,293 Total 18,715 19 a. Dependent Variable: ROA (Y) b. Predictors: (Constant), LDR (X2), NPL (X1) Sumber: Hasil Pengolahan Data Menggunakan SPSS20 Berdasarkan output diatas diketahui nilai signifikansi untuk pengaruh X1 dan X2 secara simultan terhadap Y adalah sebesar 0,000 < 0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa H3 diterima yang berarti terdapat pengaruh X1 dan X2 secara simultan terhadap Y. Tabel 6. Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 0,857a 0,734 0,703 0,54099 a. Predictors: (Constant), LDR (X2), NPL (X1) Sumber: Hasil Pengolahan Data Menggunakan SPSS20 Berdasarkan hasil pengelolaan tabel 6 koefisien determinasi (terlampir), nilai koefisien determinasi (R Square) menunjukan besarnya risiko kredit dan likuiditas terhadap profitabilitas yang diperoleh, yaitu sebesar 0,734 atau 73,4%. Artinya bahwa 73,4% profitabilitas yang diperoleh dipengaruhi oleh risiko kredit dan likuiditas.
Ivan Krisna Aji, Gusganda Suria Manda Halaman 44 sampai 45 JAD: Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Dewantara Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2021 https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/JAD/issue/view/59 Sedangkan sisanya 26,6% profitabilitas yang diperoleh dipengaruhi oleh faktor lain atau variabel lain, sehingga dapat diartikan bahwa risiko kredit dan likuiditas merupakan faktor yang kuat. H1 : Risiko Kredit terdapat pengaruh simultan terhadap profitabilitas karena nilai signifikan yang diperoleh sebesar 0,000 < 0,05 H2 : Risiko Likuiditas tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap profitabilitas karena nilai signifikan yang diperoleh sebesar 0,924 > 0,05 H3 : Nilai signifikansi untuk pengaruh X1 dan X2 secara simultan terhadap Y adalah sebesar 0,000 < 0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa H3 diterima yang berarti terdapat pengaruh X1 dan X2 secara simultan terhadap Y. E. PENUTUP Berdasarkan pada hasil uji t didapatkan bahwa Risiko Kredit (X1) secara parsial memiliki pengaruh secara simulitan terhadap Profitabilitas. Berdasarkan pada hasil uji t didapatkan bahwa Risiko Likuiditas (X2) secara parsial memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap Profitabilitas. Berdasarkan pada hasil uji t didapatkan bahwa Risiko Kredit dan Risiko Likuiditas (X3) secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Sedangkan untuk peneliti berikutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan menggunakan variabel – variabel lain yang mempengaruhi profitabilitas agar mendapatkan hasil yang lebih relevan dan lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Heni Rohaeni, Dan Diky . 2017. Pengaruh Risiko Kredit dan Likuditas Terhadap Profitabilitas Pada PT Bank Pembangun Daerah Jawa Barat dan Banten TBK (Tahun 2009-2014). Ekspansi 9(1): 143-154. Eneng Trisnawati D, dan Wimpi Srihandoko. 2019. Pengaruh Risiko Kredit dan Risiko Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada Bank (Studi Kasus pada Bank BUMN Periode 2008-2017 Indonesia). Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan 6(3): 131- 138. Karisma Dewi, I Wayan. 2014. Pengaruh Risiko Kredit dan Likuditas Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Perbankan yang GO Public Periode 2010- 2012. e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Manajemen, Volume 2 Tahun 2014. Verawaty, Ade Kemala Jaya, Yolanda Widiati. 2017. Pengaruh Resiko Kredit, Likuiditas, Efisiensi Operasional dan Tingkat Ekonomi Makro Ekonomi