ROOTS ROOTS JURNAL PENDIDIKAN KABUPATEN MADIUN VOLUME 8 EDISI 4: BULAN OKTOBER 2022 DITERBITKAN OLEH DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR Sumber: https://ditsmp.kemdikbud.go.id/mengatasi-perundungan-di-sekolah-dengan-program-roots/ ROOTS
SUSUNAN REDAKTUR JURNAL BIOMA Pelindung Bupati Madiun Pembina Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Pengarah Drs. HENDRO SUWONDO, M.Pd Drs. MUNTORO WIDJI ATMADJA, M.Pd Pimpinan Redaksi Dra. ENDANG SRI HASTUTI, M.Pd Redaksi Pelaksana AGUS JOKO SUNGKONO, S.Pd IDA NURCHASANAH, S.Pd SULASTRI, S.Pd Mitra Bestari Drs. SULISETIJONO, M.Pd (UM) Dr. DWI SULISTYORINI (UM) Dr. AGUSTI THAMRIN, M.Pd (UNS) Dr. CH NOVI PRIMIANI (Universitas PGRI Madiun /UNIPMA) Prof. Dr. NURSALAM, M.Nurs (Hons) (UNAIR) Sekretariat WAGE SYUFIATUN, S.Pd Dra. DWI LINDA SULISTYOWATI Alamat Redaksi Sekretariat : Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Jl. Raya Tiron 87 Kabupaten Madiun, Jawa Timur 63151 Telp (0351) 464477 Fax 473173 CP : Endang Sri Hastuti, Hp 081231180068 Email : [email protected] Blog : jurnalbioma.blogspot.com
ii
iii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………… i SUSUNAN REDAKTUR ……………………………………………………………………… ii DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………… iii Artikel 1 DUKA DE BULOK MEMPERMUDAH MENENTUKAN LUAS BANGUN RUANG SISI DATAR KUBUS DAN BALOK Oleh : Sitha Ariningtyas, S.Pd. – Guru SMP Negeri 4 Mejayan Kabupaten Madiun 1 Artikel 2 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF BERBASIS KONTEKS SOSIOKULTURAL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DIALOG BERBAHASA JAWA SISWA KELAS IXA SMP NEGERI 2 JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2017/ 2018 Oleh : Dra. ENDAH SRI WAHYUNI – Guru SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun 11 Artikel 3 UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BANGUN RUANG SISI DATAR DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME) SISWA KELAS VIIIG SMP NEGERI 2 DOLOPO KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2017/2018 Oleh : Miranti Poedji Hastini, S.Pd – Guru Guru SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun 21 Artikel 4 PENERAPAN MODEL BLENDED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 WUNGU TAHUN AJARAN 2019 / 2020 Oleh : Paramita Hernawati N, SE - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun 32 Artikel 5 UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) PADA SISWA KELAS X IPS 3 SMA NEGERI 2 MEJAYAN TAPEL 2016/2017 Oleh : Dra Titik Mei Widiarini - Guru SMA Negeri 2 Mejayan Kabupaten Madiun 49 Artikel 6 DENGAN MENGGUNAKAN OBAMA UNTUK MEMPERMUDAH MATERI KEMAGNETAN. Oleh : Kasiyono, S.Pd - Guru SMP Negeri 4 Mejayan Kabupaten Madiun 58 Artikel 7 PRAKTIK BAIK PENERAPAN STRATEGI MEMPREDIKSI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS Oleh : Ida Kuswandari - Guru SMP Negeri 4 Saradan Kabupaten Madiun 66
iv Artikel 8 MERDEKA MENGAJAR, MERDEKA BELAJAR Oleh : Endang Sri Hastuti - Pengawas SMP Kabupaten Madiun 75 Gaya Selingkung Jurnal BIOMA 80 Informasi ISSN Jurnal BIOMA - LIPI
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 1 DUKA DE BULOK MEMPERMUDAH MENENTUKAN LUAS BANGUN RUANG SISI DATAR KUBUS DAN BALOK Oleh : Sitha Ariningtyas, S.Pd. Guru SMP Negeri 4 Mejayan Kabupaten Madiun ABSTRAK Kata Kunci : Duka De Bulok, Luas Bangun Ruang sisi datar Materi menentukan luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok, Kelas VIII semester genap, awalnya dijelaskan dengan menggunakan LCD proyektor berupa PTT (Presentasi Powerpoint) disertai gambar dan alat peraga berupa model Kubus dan Balok. Ternyata ketika murid menghitung luas bangun ruang sisi datar, murid bingung karena hanya melihat dan membayangkan pada saat mereka hitung luasnya. Hal ini membuat penulis memahami satu hal bahwa murid akan lebih paham dalam mempelajari konsep matematika dengan menggunakan benda konkret atau objek nyata. Syaodih (2010). Tujuan utama dari karya inovasi pembelajaran yang berjudul Duka De Bulok mempermudah menentukan Luas Bangun Ruang Sisi Datar Kubus dan Balok adalah untuk mempermudah menyelesaikan dan meningkatkan prestasi belajar luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok. Duka De Bulok merupakan akronim dari Kardus Bekas Model Kubus dan Balok Karya Inovasi pembelajaran ini dilakukan pada tanggal 10 Pebruari 2022 di kelas VIII D SMPN 4 Mejayan, dengan 26 murid. Saat berkelompok prestasi belajar murid lebih baik, dimana perbandingan kelompok dan individu berturut-turut nilai terendah 75 dan 65, tertinggi 100 dan 92, ketuntasan kelompok 100% dengan 81%. Inovasi pembelajaran Duka De Bulok aktif mengikuti pembelajaran, rata-rata murid (21 sd 22) aktif melakukan proses kegiatan pembelajaran. Kesulitan terbanyak murid adalah presentasi dan menyimpulkan. Tetapi secara umum prestasi belajar sangat baik dimana 85% tuntas. Berdasarkan refleksi setelah pembelajaran selama proses pembelajaran penilain sikap rata-rata Baik (14) atau cukup (12), dan tidak ada anak yang berpredikat kurang. Walaupun dalam pengamatan disiplin individu ataupun saat kerjasama ada yang kurang. Yang perlu diperbaiki tentang sikap murid dikemudian hari adalah sikap disiplin waktu dan menghargai pendapat orang lain. Setelah mengimplementasikan inovasi pembelajaran diperoleh simpulan bahwa Duka De Bulok dapat mempermudah menentukan luas bangun ruang sisi datar Kubus dan Balok, meningkatkan prestasi belajar, dan pembelajaran lebih efektif, cepat, menyenangkan dan tujuan pembelajaran tercapai. PENDAHULUAN Pada semester genap tahun pelajaran 2021/2022 SMP Negeri 4 Mejayan Kabupaten Madiun melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT). Murid mulai membiasakan diri untuk mengikuti PTMT, setelah hampir 1,5 tahun mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pada saat mengikuti PTMT mata pelajaran matematika kelas VIII, materi menentukan luas bangun ruang sisi datar yaitu kubus dan balok, semester genap Tahun 2021/2022, penulis menjelaskan materi dengan menggunakan LCD proyektor. Materi yang penulis sampaikan berupa PTT (Presentasi Powerpoint) disertai gambar bangun ruang sisi datar kubus dan balok yang akan di tentukan luasnya. Disamping itu penulis juga menggunakan alat peraga berupa model BRSD yang di sediakan oleh sekolah yaitu model kubus atau balok. Alat peraga tersebut terbuat dari kayu atau mika, sehingga tidak dapat dibuka hanya bisa dilihat dan dipegang. Ternyata ketika murid menghitung luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok, murid bingung atau kurang paham karena murid hanya melihat dan membayangkan saja bangun ruang yang mereka hitung luasnya. Bahkan ada murid yang bertanya” luas kubus itu yang mana ya ? Luas balok bagaimana ya?”. Pertanyaan murid tersebut membuat penulis memahami satu hal bahwa murid akan lebih paham dalam mempelajari konsep matematika yang berbentuk abstrak dengan menggunakan benda konkret atau objek
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 2 sesungguhnya. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan murid yang beragam dengan keunikan, kekuatan dan kebutuhan belajar yang berbeda, haruslah direspon dengan tepat, maka dari itu penulis melakukan inovasi dengan menggunakan dan atau membuat alat peraga sederhana dilingkungan murid untuk meningkatkan pemahaman murid menentukan luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok. Alat peraga yang digunakan dan atau di buat yaitu alat peraga model kubus dan balok yang terbuat dari barang bekas untuk di gunakan dalam kegiatan pembelajaran menentukan luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok. Inovasi pembelajaran ini akan dilaksanakan di kelas VIII D tahun pelajaran 2021/2022 semester genap, dengan jumlah murid 26 terdiri dari 10 laki-laki dan 16 perempuan, karena kelas ini termasuk kelas yang paling rendah rerata partisipasi dan prestasi belajarnya. Berdasarkan latar belakang diatas penulis membuat pembelajaran yang lebih inovatif dengan judul Duka De Bulok mempermudah menentukan Luas Bangun Ruang Sisi Datar Kubus dan Balok Berdasrkan dari latar belakang diatas maka permasalahan yang akan penulis bahas adalah : Apakah Duka De Bulok dapat mempermudah penyelesaian luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok serta meningkatkan prestasi belajar murid ? Tujuan dari inovasi pembelajaran yang penulis buat adalah : Untuk mengetahui apakah Duka De Bulok dapat mempermudah penyelesaian luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok serta meningkatkan prestasi belajar murid? LANDASAN TEORI Merdeka Belajar Menurut Ki Hadjar Dewantara, kemerdekaan dalam pendidikan berarti : (a) tidak hidup terperintah; (b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri; (c) cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Tidak hidup terperintah berarti seseorang bisa menentukan sendiri arah tujuannya, memerintah diri sendiri. berdiri tegak karena kekuatan sendiri berarti menekankan pada kemandirian seseorang, mencapai tujuan dengan daya upaya sendiri. cakap mengatur hidupnya dengan tertib menekankan pada keterampilan mengatur hidup secara tertib. Merdeka belajar adalah belajar yang diatur sendiri oleh pelajar. Pelajar menentukan tujuan, cara dan penilaian belajarnya. Dari sudut pandang pengajar merdeka belajar berarti belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan, cara dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar. Atau dengan kata lain anak-anak hidup dengan kodratnya sendiri dan pendidik bertugas untuk membantu menuntun tumbuh kodrat anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. (Konsep Merdeka Belajar -1, SIM PKB, 2021). Guru Merdeka Belajar adalah guru yang senantiasa berefleksi untuk menyesuaikan pemikiran untuk menyesuaikan pemikiran dan perbuatannya terhadap perubahan dalam upaya mencapai tujuan Guru Merancang pembelajaran berdasarkan kebutuhan dan kesiapan murid, Mencari cara yang efektif untuk mengatasi kesulitan, Mengikuti kegiatan berkomunitas, (berbagi, pelatihan, coaching dll) untuk melakukan pengembangan diri. Pembelajaran Berpihak pada Murid Murid memiliki keberagaman sebagai individu, membuat penulis berpikir bagaimana caranya dapat menyediakan layanan pendidikan yang memungkinkan semua murid dapat memiliki kesempatan dan pilihan untuk mengakses apa yang diajarkan secara efektif sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai guru penulis meyakini bahwa guru haruslah melayani murid dengan segala keberagaman tersebut serta menyediakan lingkungan dan pengalaman belajar terbaik bagi mereka. Fakta bahwa murid -murid kita memiliki karakteristik yang beragam, dengan keunikan, kekuatan dan kebutuhan belajar yang berbeda, tentunya perlu direspon dengan tepat. Jika tidak, maka tentunya akan terjadi kesenjangan belajar (learning gap), dimana pencapaian yang ditunjukkan murid tidak sesuai dengan potensi
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 3 pencapaian yang seharusnya dapat ditunjukkan oleh murid tersebut. Ki Hajar Dewantara telah menyampaikan bahwa maksud dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sebagai pendidik, tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masingmasing. Tugas sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masingmasing. Pendidik harus memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia. Dengan meyakini bahwa setiap anak adalah unik, maka pendidik harus membuka mata terhadap adanya keberagaman murid. Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam usaha melayani kebutuhan murid yang beragam dengan keunikan, kekuatan dan kebutuhan belajar yang berbeda maka direncanakan untuk menerapkan proses pembelajaran berdiferensiasi. Dalam proses pembelajaran ini memiliki diferensiasi konten, proses dan produk hasil belajar. Dalam Bahan Ajar Pendidikan Program Guru Penggerak Paket Modul 2: Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid Modul 2.1 “Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Edisi Ketiga (Januari 2022) hal 8 menyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. Hal ini membuat penulis merencanakan menggunakan proses pembelajaran berdiferensiasi dalam penerapan alat peraga yang di buat oleh penulis yaitu model kubus dan balok dari kardus/kertas bekas. Pembelajaran dengan Benda Konkret Berdasarkan dengan yang dinyatakan Syaodih (2010) bahwa, “Konkret atau objek yang sesungguhnya akan memberikan rangsangan yang amat penting bagi murid dalam mempelajari berbagai hal terutama yang menyangkut pengembangan keterampilan tertentu”. Selain itu, Sungkono 2007: 35 menyatakan bahwa pemanfaatan benda konkret atau asli akan mampu merangsang dan memotivasi murid dalam mengikuti pelajaran dan merangsang tumbuhnya diskusi dalam pembelajaran yang dilakukan. Setiap proses pembelajaran itu harus dilandasi dengan adanya beberapa unsur antara lain tujuan, bahan, metode, media, alat, dan evaluasi. Benda konkret atau objek sesungguhnya dapat sangat membantu murid dalam belajar materi luas bangun ruang sisi datar terutama kubus dan balok. Murid dapat melihat, memegang, membuka, mengukur dan menentukan sendiri luas benda sesungguhnya yang berbentuk kubus dan balok. Selain itu murid mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari - hari. Di samping memiliki kelebihan, benda konkret juga memiliki kelemahan. Adapun kelemahan benda konkret menurut Moedjiono Daryanto, 2013:29, yaitu: a. Tidak bisa menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar. b. Penyimpanannya memerlukan ruang yang besar. c. Perawatannya rumit. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa melalui media benda konkret atau benda sebenarnya akan lebih memotivasi dan mendorong murid untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang sedang dipelajarinya. Selain itu, anak dapat menggunakan seluruh inderanya dalam kegiatan pembelajaran, dan anak juga akan lebih cepat dan tepat dalam memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru. Kelemahan dari benda konkret yang diuraikan di atas hendaknya dapat diatasi dengan cara menggunakan media benda konkret yang ada di lingkungan sekitar sekolah dan dekat dengan aktivitas kehidupan sehari-hari anak. Menentukan Luas Permukaan Kubus dan Balok Luas permukaan suatu bangun ruang dapat dicari dengan cara menjumlahkan luas dari
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 4 bidang-bidang yang menyusun bangun ruang tersebut. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan banyaknya bidang dan bentuk masing-masing bidang pada bangun ruang. Menghitung Luas Permukaan Balok Perhatikan gambar berikut ini! Jika kita mempunyai balok seperti gambar di atas, maka: Luas permukaan = luas bidang SWVR + luas bidang SRQP + luas bidang PQUT + luas bidang TUVW + luas bidang TPSW + luas bidang QUVR = (p×t) + (p×l) + (p×t) + (p×l) + (l×t) + (l×t) = 2 (p × l) + 2 (p × t) + 2 (l × t) = 2 [(p × l) + (p × t) + (l × t)] (sifat distributif) Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika sebuah balok mempunyai ukuran rusuk panjang p, lebar l, dan tinggi t, maka berlaku rumus: Luas permukaan = 2 [(p × l) + (p × t) + (l × t)] Menghitung Luas Permukaan Kubus Seperti yang telah kita pelajari sebelumnya, jaring-jaring kubus terdiri atas enam buah persegi. Luas permukaan kubus = 6s2 KARYA INOVASI PEMBELAJARAN Ide Dasar Inovasi Pembelajaran dan Kebermanfaatan Inovasi yang penulis lakukan untuk meningkatkan pemahaman murid terhadap materi menentukan luas bangun ruang sisi datar adalah dengan menggunakan alat peraga dari barangbarang bekas yang berbentuk kubus atau balok seperti kertas bekas bungkus sabun mandi, odol, teh, lampu, susu formula, snack dan lain lain. Sebagian besar kardus bekas bungkus berbentuk balok, maka dari itu penulis membuat sendiri alat peraga yang berbentuk kubus, dengan memanfaatkan kertas bekas atau kardus bekas yang ada disekolah. Alat peraga yang penulis sediakan dan atau penulis buat dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran menentukan luas bangun ruang sisi datar terutama pada kubus dan balok pada kelas VIII semester genap. Dengan alat peraga konkret dari barang- barang bekas berbentuk kubus dan balok yang penulis sediakan dan buat, murid dapat secara langsung dapat melihat, memegang, membuka, mengukur dan menentukan sendiri luas kubus atau balok sesuai dengan model barang/kardus bekas yang diperoleh murid . Cara menentukan luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok dengan menggunakan barang-barang bekas atau benda konkret ini, murid dapat lebih memahami materi, membangkitkan ide, gagasan yang bersifat konseptual. Diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman serta meningkatkan minat murid untuk mempelajari materi pelajaran, memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas pembelajaran dan dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Dengan menggunakan model pembelajaran berbasis projek based learning, murid dapat menemukan sendiri bagaimana mengukur luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok dengan alat peraga sederhana yang penulis siapkan. Dikarenakan barang barang kardus bekas sebagian besar berbentuk balok maka penulis membuat sendiri model kubus dari kertas- kertas bekas yang ada di sekolah, sehingga murid dapat terlayani proses belajarnya dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Jenis Inovasi Pembelajaran Jenis inovasi pembelajaran yang penulis lakukan adalah membuat metode atau cara baru dalam menyelesaikan mengukur luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok. Inovasi pembelajaran ini bukan saja dilakukan oleh guru atau guru sebagai model tetapi murid terlibat langsung dalam proses. Meskipun banyak buku dalam mengukur luas Bangun ruang sisi datar kubus dan balok dimulai dari gambar atau model, tetapi dalam penyelesainya murid harus menghafal rumus. Definisi Operasional Duka De Bulok Definisi operasional inovasi pembelajaran yang berjudul Duka De Bulok untuk
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 5 mempermudah menentukan Luas Bangun Ruang Sisi Datar Balok dan Kubus, adalah sebagai berikut : a. Duka De Bulok : akronim atau singkatan dari Kardus Bekas Model Kubus dan Balok b. Luas Bangun Ruang Sisi Datar Balok : jumlah luas dari bidang-bidang Balok yang menyusun bangun ruang tersebut. c. Luas Bangun Ruang Sisi Datar Kubus : jumlah luas dari bidang-bidang Kubus yang menyusun bangun ruang tersebut. Perencanaan dan Implementasistasi Hal pertama yang dilakukan dalam merencanakan pembuatan alat peraga ini yaitu dengan memodifikasi RPP sehingga sesuai dengan apa yang akan di terapkan di dalam kelas nanti. Dalam perencanaan yang kedua yaitu pembuatan alat peraga model kubus dan balok dari barang-barang bekas kardus bekas. Hal pertama mengumpulkan barang-barang bekas berupa kardus yang berbentuk kubus dan balok. Dikarenakan model kubus dari barang barang bekas ini terbatas maka penulis membuat sendiri model kubus dari kardus/kertas bekas yang ada di sekolah. Penulis menyiapkan model kubus dan balok. Penulis mengampu 4 kelas tetapi inovasi pembelajaran ini dilakukan di satu kelas yaitu VIII D maka penulis menyiapkan 3 model kubus dan 3 model balok. Penulis mengimplementasistasikan alat peraga yang sudah dalam proses pelaksanaannya terdiri dari 3 tahapan yaitu kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. a. Kegiatan Pendahuluan Penulis melaksanakan kegiatan sebagai berikut : 1. Guru melakukan pembukaan kegiatan pembelajaran dengan salam pembuka 2. Guru bersama murid melakukan kegiatan awal rutin (Berdoa, menyanyi dan tujuan pembelajaran) 3. Guru memberikan pertanyaan pemandu yang di tayangkan melalui LCD proyektor. 4. Secara individu murid menulis jawaban kuis tersebut 5. Murid menukar lembar jawabannnya kepada murid lain 6. Guru meminta feedback/umpak balik 7. Guru memetakan murid 8. Guru memberikan penguatan tentang materi yang akan di pelajari 9. Guru menyampaikan cara belajar murid yaitu dengan berkelompok. b. Kegiatan Inti Penulis melaksanakan kegiatankegiatan sebagai berikut : 1. Guru membentuk 6 kelompok beranggotakan 4-5 anak secara heterogen dengan cara menempatkan murid yang masuk katagori 1 (paham utuh) ke masing masing kelompok. 2. Guru memberi nama masing masing kelompok dengan nama kelompok Kubus 1, 2, 3, dan balok 1, 2 dan 3 3. Guru memberikan setiap kelompok satu model kubus atau balok dari barang-barang bekas beserta LK. 4. Murid dalam kelompok membuka Kubus atau balok dari barang-barang kardus bekas yang telah di siapkan menjadi jaring-jaring dan di tempel di kertas plano. 5. Secara berkelompok murid mendiskusikan jawaban dalam LK, dan boleh juga melihat video pembelajaran (link youtube) / PTT yang di share guru melalui wa Group kelas. 6. Satu orang murid dari kelompok kubus mempresentasikan kepada satu kelompok balok atau sebalikya (Manajemen Diri) 7. Guru memberikan apresiasi kepada murid yang telah berani presentasi dan menjadi pendengar yang aktif dengan kalimat pujian dan penghargaan (Kesadaran sosial). 8. Setelah presentasi ke kelompok lain hasilnya diberikan kelompok pendengar diberikan komentar, selanjutnya dipajang di papan pajang (Kesadaran sosial). 9. Secara klasikal guru bersama murid membuat kesimpulan.
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 6 10. Guru memberikan penguatan 11. Guru memberikan empat soal tentang menghitung luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan rumus, murid bebas memilih minimal 2 soal untuk dikerjakan sesuai dengan pengetahuan dan pemahamannya secara individu. a) Murid bekerja dalam kelompok b) Guru sebagai fasilitator mendampingi murid dalam kelompok c. Presentasi kelompok kubus ke kelompok balok dan sebaliknya d. Memberi komentar hasil kerja kelompok lain dan menempel di papan pajang kelas. e) Membuat kesimpulan c. Kegiatan Penutup Penulis melaksanakan kegiatan – kegiatan sebagai berikut : 1. Guru meminta murid merefleksi pembelajaran. 2. Guru mengumpulkan lembar soal yang telah dikerjakan murid . 3. Guru menutup pembelajaran dengan salam Murid mengerjakan tes formatif Secara garis besar pada saat penulis mengimplementasikan alat peraga model kubus dan balok dari barang-barang bekas yang penulis siapkan dan atau buat. d. Hasil karya Murid Berikut adalah salah satu hasil pekerjaan murid, yang lainnya ditampilkan di lampiran inobel ini. Proses Pembaharuan Duka De Bulok Proses persiapan dan pembaharuan Alat peraga Duka De Bulok sebagai berikut : 1. Melihat/mengamati model kubus atau balok dari barang bekas
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 7 2. Membuka model kubus atau balok menjadi jaring-jaringnya 3. Memberi tanda/tulisan pada jaring –jaring yang terbentuk yaitu dengan memberi tulisan pada bagian sisi depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah 4. Mengunting permukaan model kubus atau balok sesuai jaring jaringnya yang telah di beri tanda /tulisan setiap sisinya, 5. Menempelkan jaring jaring kubus atau balok pada kertas plano 6. Mengukur panjang setiap sisi yang telah di beri tanda /tulisan dan menuliskannya pada lembar kerja yang telah disiapkan 7. kelompok dapat menyimpulkan cara menentukan luas kubus dan balok. 8. Wakil kelompok mempresentasikan kepada kelompok lain 9. Kelompok pendengar memberikan komenter /refleksi hasil presentasi selanjutnya di pajang di papan pajang kelas.
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 8 Data Hasil Aplikasi Inovasi Pembelajaran Duka De Bulok Subyek penelitian ini adalah kelas VIII D SMP Negeri 4 Mejayan tahun pelajaran 2021/2022 dengan jumlah murid 26 terdiri dari 10 laki-laki dan 16 perempuan. Pelaksanaan penelitian pada semester genap, yakni hari Rabu 10 Pebruari 2022. Data yang penulis paparkan adalah yang sudah direncanakan dalam RPP. Jika di kelas lain materi ini diajarkan dalam 2 pertemuan, tetapi dengan inovasi pembelajaran yang penulis melakukan dalam satu. Data yang diambil berupa Penilian tersebut adalah Pengetahuan, Keerampilan dan Sikap. Penulis juga meminta murid untuk membuat refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Prestasi belajar berupa penilaian pengetahuan yang dapat dilihat pada table 1. Tabel 1 . Prestasi Belajar Pengetahuan Berdasarkan table 1 dapat dilihat bahwa saat berkelompok prestasi belajar murid lebih baik, dimana perbandingan kelompok dan individu nilai terendah 75 dan 65, tertinggi 100 dan 92, sementara ketuntasan kelompok 100% sedangkan individu 81%. Untuk mengetahui aktivitas murid dalam pembelajaran dilakukan penilaian untuk mengukur keterampilan murid. Table 2 Prestasi Belajar Keterampilan Inovasi pembelajaran Duka De Bulok ternyata membuat sebagian besar murid aktif mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat ratarata murid (21 sd 22 ) aktif melakukan proses kegiatan pembelajaran. Demikian juga pada saat kegiatan mengukur balok atau kubus sebagian besar murid melakukan. Paling banyak 1 orang tiap kelompok kurang aktif hal ini dapat dilihat dari data rata-rata murid aktif 22 orang. Kesulitan terbanyak yang dialami murid adalah keberanian presentasi (8 murid) dan menyimpulkan rumus luas bangun datar kubus dan balok (10 murid). Tetapi secara umum prestasi belajar sangat baik dimana 85% tuntas, nilai terendah 63, tertinggi 100 dengan rata-rata 79. Capaian nilai 63 diperoleh oleh satu kelompok, hal ini menjadi tugas tersendiri bagi penulis untuk memperbaiki di kemudian hari. Penilain sikap selama proses pembelajan juga penulis amati, hal ini dapat membantu evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran di kemudian hari. Tabel 3. Prestasi Belajar (Penilaian) Sikap Selama proses pembelajaran rata-rata Baik (14) atau cukup (12), dan tidak ada anak yang berpredikat kurang. Walaupun dalam pengamatan disiplin individu ataupun saat kerjasama dalam kelompok ada yang kurang. Yang perlu diperbaiki tentang sikap murid dikemudian hari adalah sikap Uraian KEL IND RERATA RATA-RATA 88 81 84 Daya Serap 88,1% 80,7% 84,4% Nilai Terendah 75 65 70 Nilai Tertinggi 100 92 96 Jumlah Yang TUNTAS 26 21 26 Ketuntasan 100% 81% 100% Aspek dinilai Rubrik 1. Aktif Bekerja 21 2. Aktif Berdiskusi 21 3. Presentasi 18 4. Memberi komentar 23 1. Mengukur dengan tepat 22 2. Mengisi LK dengan tepat 22 3. Membuka Kubus/balok 21 4. Menyimpulkan 16 3,2 79 78,8% 63 100 22 85% JML Rubrik Penilaian : RATA-RATA skor RATA-RATA Nilai Daya Serap Nilai Terendah Nilai Tertinggi Jumlah Yang Tuntas Ketuntasan Mengukur Balok / Kubus Melakukan Kegiatan NO URAIAN Jml Skor 15 23 23 24 24 17 14 12 0 B C K B C K 12 11 3 14 11 1 3. Menghargai Pendapat D Rerata Predikat Baik skor 3, jika melakukan 3 Rubrik. Cukup skor 2, jika melakukan 2 Rubrik. Kurang skor 1, jika melakukan 1 Rubrik. Disiplin Kerjasama B A C Predikat 1. Tepat Waktu Aspek Kerjasama Aspek Disiplin Rubrik 2. Sesuai Prosedur 3. Bersungguh-sungguh 1. Bekerja sesuai tugas 2. Membantu teman
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 9 disiplin waktu dan mengahargai pendapat orang lain, baik dalam kelompok atau dengan kelompok lain. Setelah pelaksanaan pembelajaran dengan inovasi Duka De Bulok penulis melakukan refleksi untuk keseluruhan proses. Ternyata sebagian besar murid lebih nyaman bekerja berkelompok dan menghitung atau dengan menggunakan obyek konkret. Sehinggga dengan obyek konkret murid dapat menghitung rumus kubus dan balok sekaligus, yang biasanya materi ini diselesaikan dalam 2 x pertemuan. Artinya dapat menghemat waktu pembelajaran. Kesulitan murid terletak pada membuat kesimpulan dan presentasi, hal ini akan menjadi rencana tindak lanjut kedepan untuk perbaikan pembelajaran. Ada hal menarik ternyata dengan Duka De Bulok membuat murid ingin lebih rajin belajar dan akan mendalami materi tersebut melalui media lain . Tabel 4 Refleksi Pembelajaran Dari hasil implementasi inovasi pembelajasan Duka De Bulok untuk mempermudah penyelesaian luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok ternyata sangat berdampak positif terhadap proses pembelajaran murid antara lain sebagai berikut: a. Menumbuhkan minat belajar murid karena pelajaran lebih menarik b. Memperjelas makna bahan pelajaran sehingga murid lebih mudah memahaminya c. Metode mengajaran akan lebih bervariasi sehingga murid tidak akan mudah bosan d. Situasi belajar mengajar menjadi efektif dan menyenangkan e. Meletakkan dasar-dasar yang konkret dan konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme f. Mengembangkan motivasi belajar murid Hambatan dan Solusi Hambatan dalam mengimplementasikan inovasi pembelajasan Duka De Bulok dari barang -barang bekas antara lain dalam kegiatan mengukur panjang setiap sisi dari model kubus atau balok dari barang-barang bekas, ada beberapa murid dalam kelompok yang kurang teliti dalam mengukur sehingga kurang sesuai dalam menarik kesimpulan. Solusi dalam mengatasi hambatan yang di hadapai pada saat mengimplementasikan inovasi pembelajasan Duka De Bulok ini yaitu pada saat murid melakukan pengukuran sebelumnya diberikan pemahaman tentang karakteristik kubus atau balok. Seperti panjang sisi kubus sama, pada balok sisi atas sama dengan sisi bawah, sisi depan sama dengan sisi belakang dan sisi kanan sama dengan sisi kiri. Desiminasi Karya inovasi pembelajaran Duka De Bulok untuk mempermudah menentukan Luas Bangun Ruang Sisi Datar Kubus dan Balok didesiminasikan pada guru SMP Negeri 4 Mejayan dalam forum MGMPS. Pelaksanaan desiminasi hari Selasa 23 Februari 2022, hal ini disebabkan hari sabtu akhir bulan ada kegiatan dinas luar. Tujuan dari desiminasi ini adalah untuk dilakukan untuk memberikan wawasan kepada rekan sejawat dan jika ada kekuragan dapat ditemukan solusi dan perbaikan di kemudian hari. Simpulan Setelah mengimplementasikan inovasi pembelajasan Duka De Bulok dan data pembelajaran yang dilakukan, penulis dapat membuat kesimpulan bahwa : Duka De Bulok dapat mempermudah menentukan luas bangun ruang sisi datar balok dan kubus, meningkatkan prestasi belajar dan menjadikan pembelajaran lebih efektif, cepat, menyenangkan dan tujuan pembelajaran tercapai Saran Berdasarkan analisis data prestasi belajar dan refeksi murid, maka penulis memberikan NO URAIAN REFLEKSI JUMLAH Belajar Kelompok 15 Belajar Mandiri 5 Tidak Menjawab 6 Jumlah 26 Rumus Balok 4 Rumus Kubus 3 Rumus Balok & Kubus 19 Jumlah 26 Dengan rumus 7 Dengan Benda Nyata 14 Rumus dan benda nyata 5 Jumlah 26 Penting 8 tidak penting 7 tidak tahu 11 Jumlah 26 Ketelitian Mengukur 2 Ketelitian Menghitung 1 Membuat Kesimpulan 12 Presentasi 11 Jumlah 26 Belajar rajin 10 Belajar Kelompok 7 Belajar dengan Media Lain 9 Jumlah 26 4 6 Menurutmu, apakah penting mempelajari luas permukaan kubus dan balok ini? 5 Tantangan apa yang masih kamu temui dalam mempelajari materi ini? Bagaimana kamu akan berlatih untuk mengatasi tantangan tersebut? Apa yang akan kamu lakukan agar hasil belajarmu lebih memuaskan di masa mendatang? Berdasarkan apa yang telah kalian pelajari, bagaimana rumus luas permukaan kubus dan balok? Strategi apa yang kamu gunakan untuk menghitung luas permukaan kubus dan balok? 2 3 1 Apakah bagian yang paling menarik dari pembelajaran hari ini ? Mengapa?
Duka De Bulok - Sitha Ariningtyas - SMP Negeri 4 Mejayan - Kabupaten Madiun – Halaman - 10 saran : Penggunakan benda konkret atau benda sesungguhnya yang dapat di amati, pegang, buka, ukur dan menentukan sendiri luas benda sesungguhnya dapat di gunakan untuk materi lain, Duka De Bulok sebaiknya digunakan untuk menentukan menentukan luas bangun ruang sisi datar yang lain dan penekanan atau menyemangati murid untuk berani menyimpulkan dan mempresentasikan hasil kerjanya. DAFTAR PUSTAKA Tim Penyaji, 2021, KHD Konsep Merdeka Belajar, Jakarta, Materi Merdeka Belajar, SIM PKB Oscarina dkk, Januari 2022 : 8, “Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar’ Bahan Ajar Pendidikan Program Guru Penggerak Paket Modul 2.1 Tim Penyusun, 2022 Pembelajaran Sosial dan Emosional, Bahan ajar Modul 2.2. Angkatan 5 Reguler. Tomlinson, Carol, 2010, Leading and managing a differentied Ckassroom, Virgnia, ASCD dalam Modul Merdeka Mengajar Persiapan Pembelajaran Berdiferensiasi, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, riset dan Teknologi Syaodih, 2010, https://fatkhan.web.id/pengertian-media-benda-konkret diakases 1 Pebruari 2022 Tim Berpendidikan https://www.berpendidikan.com/2022/12/rumus-luas-permukaan-kubus-dan-balokbeserta-contoh-soalnya.html diakses tanggal 1 Pebruari 2022 Syaodih S, Nana. 2010. Penelitian dan Pengembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Daryanto, D. (2013). Media Pembelajaran Peranannya Sangat Penting Dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 11 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF BERBASIS KONTEKS SOSIOKULTURAL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DIALOG BERBAHASA JAWA SISWA KELAS IXA SMP NEGERI 2 JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2017/ 2018 Oleh : Dra. Endah Sri Wahyuni Guru SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Abstrak Kata Kunci : Ketrampilan Menulis Dialog Berbahasa Jawa, Pembelajaran Kooperatif Berbasis Konteks Sosiokultural Penelitian tindakan kelas ini mempunyai tujuan adalah dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatan kemampuan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 dengan jumlah 24 siswa terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dari hasil tes diketahui terjadi peningkatan, yaitu nilai rata-rata siswa pada kondisi awal 59,46, sedangkan nilai rata-rata siswa pada siswa siklus I sebesar 75 atau meningkat 15,54%. Nilai rata-rata siswa pada siklus II sebesar 86,6 atau meningkat 11,6% dari siklus I. Jadi, peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal menuju siklus II sebesar 27,14%. Hasil analisis observasi, jurnal, dan wawancara menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa kelas IXA SMP 2 Jiwan Kabupaten Madiun. Jumlah siswa yang melakukan perilaku negatif menjadi berkurang setelah dilakukan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Berdasarkan uraian di atas bahwa dengan diterapkan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatan kemampuan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 Pendahuluan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang berlaku di sekolah merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang lebih dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dengan adanya KTSP, tiap-tiap satuan pendidikan memiliki kesempatan untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Dalam KTSP mata pelajaran bahasa Jawa untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat standar kompetensi yang harus dikuasai siswa.Salah satu standar kompetensi yang harus dikuasai kelas VII adalah mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, dan perasaan secara tertulis dalam berbagai bentuk dan ragam bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh basa yang benar. Di dalamnya termuat kompetensi menulis dialog dengan indikator bahwa siswa mampu menulis dialog dalam ragam ngoko antarteman dan ragam krama dengan orang tua atau guru. Pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun belum menunjukkan hasil yang maksimal. Terbukti dari rata-rata nilai siswa sebesar 59,46 untuk menulis dialog berbahasa Jawa dengan kriteria ketuntasan minimalnya (KKM) sebesar 70. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam menulis dialog berbahasa Jawa banyak kendala yang dihadapi. Kesulitan yang berkaitan dengan unggahungguh basa tampak pada pemilihan kata yang seharusnya menggunakan ragam krama malah menggunakan ragam ngoko dan sebaliknya. Kemampuan siswa dari aspek ejaan juga masih
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 12 kurang.Terbukti dari hasil pekerjaan siswa yang masih ada kesalahan pada penggunaan huruf kapital dan kesalahan tanda baca seperti titik, koma, dan tanda seru.Strategi yang digunakan oleh guru masih terpusat pada pembelajaran dengan metode ceramah. Ketika guru memberi tugas menulis dialog berbahasa Jawa secara individu, tidak ada siswa yang mempertanyakan mengenai tugas yang diberikan. Siswa tampak pasif meskipun guru sudah melontarkan berbagai pertanyaan terkait menulis dialog berbahasa Jawa. Ketika guru berkeliling sambil menanyakan tugas yang dikerjakan, siswa masih malu-malu untuk bertanya.Ada sebagian siswa yang asyik mengobrol masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan pelajaran, malah ada pula yang menyalin hasil pekerjaan temannya.Kondisi pembelajaran yang monoton seperti ini membuat siswa bosan, sehingga pembelajaran tampak pasif dan suasana belajar tidak menimbulkan semangat siswa untuk belajar. Kendala-kendala seperti di atas dialami oleh siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun yang disebabkan oleh kurangnya antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa. Dalam kesehariannya, siswa juga tidak terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa ragam krama sehingga kesulitan ketika menulis dialog berbahasa Jawa yang menuntut penggunaan ragam ngoko beserta krama. Kurangnya alokasi waktu juga menjadi kendala siswa dalam berlatih dan berkreasi untuk menulis dialog berbahasa Jawa. Padahal kemampuan menulis tidak datang dengan sendirinya diperlukan praktik dan latihan secara berkelanjutan. Selain faktor yang berasal dari siswa seperti di atas, faktor dari guru juga menjadi kendala dalam pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa. Salah satunya adalah strategi mengajar yang digunakan oleh guru kurang bervariasi sehingga pembelajaran bahasa Jawa di kelas terlihat pasif dan monoton.Kondisi belajar yang monoton membuat siswa menjadi bosan dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran bahasa Jawa.Penggunaan materi ajar yang belum berdasarkan pada KTSP juga menjadi kendala dalam pengajaran bahasa Jawa sehingga hasil pembelajaran belum tercapai maksimal.Materi ajar bahasa Jawa yang diberikan kurang sesuai dengan bahasa Jawa sehari-hari siswa. Salah satu strategi yang membuat kelas menjadi aktif adalah strategi pembelajaran kooperatif. Strategi ini mendorong siswa untuk bekerja sama dalam suatu tim. Setiap anggota tim harus terlibat aktif dalam kelompoknya. Masing masing anggota kelompok menuangkan ide kreatif dan gagasan yang dimiliki serta bekerja sama mengerjakan tugas yang diberikan sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal. Penggunaan strategi pembelajaran kooperatif ini mendorong siswa yang tadinya pasif menjadi aktif dan perhatiannya terpusat pada kegiatan belajar di kelas serta menghilangkan kejenuhan selama pembelajaran.Selain faktor strategi pembelajaran yang kurang bervariasi, faktor penggunaan materi ajar yang belum berdasarkan pada KTSP juga menjadi kendala dalam pengajaran bahasa Jawa.Bahasa Jawa yang digunakan dalam pembelajaran kurang sesuai dengan lingkungan siswa di SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Kajian bahasa berbasis konteks sosiokultural merupakan kajian yang berhubungan dengan halhal yang bersifat sosial dan budaya masyarakat.Sosiokultural terkait dengan interaksi antar peserta tutur dalam masyarakat termasuk didalamnya bahasa Jawa sehari-hari siswa yang merupakan wahana untuk mengungkapkan nilainilai budaya yang dimiliki setiap daerah. Terkait dengan menulis dialog berbahasa Jawa, dalam hal ini lebih menekankan pada penggunaan bahasa Jawa sehari-hari siswa dalam konteks antar peserta tutur yang merupakan bagian dari kajian sosiokultural. Dengan banyaknya kendala yang dialami siswa SMP Negeri 2 Jiwan Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun serta kemampuan yang belum mencukupi dalam menulis dialog berbahasa Jawa maka penulis ingin mengadakan penelitian di sekolah tersebut. Strategi yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa adalah strategi pembelajaran kooperatif. Dengan strategi ini diharapkan siswa mampu bekerja sama dalam menuangkan ide, gagasan, dan pendapat yang dimiliki dalam suatu kerja tim. Selain itu, penggunaan konteks sosiokultural dalam penelitian ini diharapkan dapat mempermudah siswa dalam membuat dialog. Hal ini disebabkan karena dialog dibuat sesuai dengan latar belakang bahasa Jawa sehari-
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 13 hari siswa sehingga siswa merasa melakukan percakapan sehari-hari yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk tulisan. Strategi pembelajaran kooperatif dengan berbasis konteks sosiokultural ini belum pernah digunakan oleh guru bahasa Jawa di kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun dalam menulis dialog berbahasa Jawa. Hal ini merupakan variasi baru dalam mengajar, dengan cara tersebut diharapkan hasil pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa dapat meningkat sesuai yang diharapkan. Berdasarkan uraian di atas peneliti mengambil judul: Penerapan Pembelajaran Kooperatif Berbasis Konteks Sosiokultural Sebagai Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Dialog Berbahasa Jawa Siswa Kelas Ixa Smp Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/ 2018 Rumusan Masalah 1. Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan kemampuan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXASMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018? 2. Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan keaktifan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018? Tujuan Penelitian 1. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan kemampuan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018. 2. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan keaktifan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018. Manfaat Penelitian 1. Memberi pengalaman bagi siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa melalui pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural; 2. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa. 3. Sebagai alternatif guru dalam strategi mengajar yang digunakan guru dalam pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa. Kajian Pustaka Pembelajaran Bahasa Jawa Berbasis Konteks Sosiokultural Menurut Alwi dkk. (2005:1085) pengertian sosiokultural adalah hal-hal yang berkenaan dengan segi sosial dan budaya masyarakat, sedangkan konteks menurut Alwi dkk.(2005: 591) diartikan sebagai situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Pengertian dari pembelajaran bahasa Jawa berbasis konteks sosiokultural adalah pembelajaran bahasa Jawa dengan memerhatikan pada aspek sosial dan budaya. Anwar (1995:219) mengutarakan bahwa manusia menciptakan kebudayaan dan ini hanya bisa terjadi karena manusia mempunyai bahasa dan menggunakannya dalam kehidupan. Dalam sekumpulan fenomena kebudayaan, bahasa berfungsi sebagai substruktur, dasar, dan sekaligus alat umum. Sebagai satu pranata sosial maka setiap orang harus menguasai bahasa agar dapat berfungsi di dalam daerah yang bersifat kelembagaan dari kehidupan sosial. Konsep mengenai aspek sosial yang diutarakan oleh Evin-Tripp (dalam Rokhman 2005:12) berkaitan dengan faktor latar (waktu dan tempat), partisipan dalam interaksi, topik percakapan, dan fungsi interaksi. Dari segi latar, bahasa Jawa dalam pembelajarannya menggunakan materi ajar yang memerhatikan tempat terjadinya tuturan baik di lingkungan keluarga, sekolah, pasar, dan lain-lain. Aspek sosial dari segi partisipan menyangkut peserta tutur dalam interaksi seperti usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, dan perannya dalam hubungan dengan mitra tutur. Terkait dengan interaksi antar peserta tutur, dalam bahasa Jawa terdapat tingkat tutur
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 14 atau unggah-ungguh basa. Ketika berbicara dengan teman sebaya menggunakan ragam ngoko, sementara untuk berbicara dengan orang tua atau yang lebih tua menggunakan ragam krama. Dari segi topik percakapan, bisa dipilih berdasarkan pada nilai-nilai luhur dan moral yang terkandung dalam materi ajar yang digunakan dalam pembelajaran.Topik yang dipilih dapat berupa tentang budaya dan sastra yang ada pada lingkungan setempat. Dari segi fungsi interaksi antar peserta tutur seperti halnya menyampaikan informasi, permohonan, menawarkan, memberi salam, meminta maaf, atau mengucapkan terima kasih. Oleh sebab itu, dalam kehidupan sosialnya siswa membutuhkan alat untuk berkomunikasi dengan lingkungannya berupa bahasa Jawa dialek siswa. Berkaitan dengan hal-hal di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan berkomunikasi tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan terhadap unsur-unsur kebahasaan, tetapi juga oleh pemahaman terhadap aspek-aspek sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu, agar dapat berkomunikasi dengan baik dan benar, pembelajaran bahasa harus memuat aspek-aspek sosial budaya setempat. Pembelajaran Menulis Dialog Berbahasa Jawa Melalui Strategi Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa merupakan kegiatan pembelajaran yang melatih siswa untuk menuangkan ide dan gagasan yang dimiliki dalam bentuk percakapan atau dialog berbahasa Jawa dan diwujudkan dalam bentuk tulisan. Dalam pelaksanaannya siswa membutuhkan teman lain sebagai mitra dalam berdialog sehingga siswa merasa seperti melakukan percakapan sehari-hari. Oleh sebab itu digunakan strategi pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok yang disebut dengan strategi pembelajaran kooperatif. Strategi ini diharapkan dapat membantu siswa agar mudah dalammenulis dialog berbahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh basa yang benar. Menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif dilaksanakan dengan membagi siswa secara berkelompok yang terdiri atas empat orang. Setiap anggota kelompok mempunyai peran dan tanggungjawab masingmasing dalam menulis dialog berbahasa Jawa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antar anggota agar keberhasilan kelompok dapat tercapai. Dalam pelaksanaan pembelajaran ini guru memberikan apersepsi dengan memberikan pertanyaan seputar kegiatan dialog yang pernah dilakukan baik di sekolah maupun di rumah. Guru memberikan tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan dan memberikan penguatan mengenai perlunya penggunaan unggah-ungguh basa dalam percakapan sehari-hari. Setelah itu guru memberikan contohteks dialog dengan materi ajar yang berdasarkan pada konteks bahasa Jawa sehari-hari siswa yang merupakan bagian dari kajian sosiokultural. Siswa diperbolehkan untuk melakukan tanya jawab dengan guru mengenai hal-hal yang terkait dengan dialog bahasa Jawa dan penggunaan unggah-ungguh basa dalam percakapan. Setelah siswa dirasa sudah paham benar mengenai dialog berbahasa Jawa, selanjutnya siswa dikondisikan untuk berkumpul secara berkelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri atas empat orang siswa. Guru menyuruh siswa untuk membuat tugas menulis dialog berbahasa Jawa. Setiap kelompok bekerja sama mengerjakan satu tugas menulis dialog berbahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh basa yang benar berdasarkan konteks bahasa dialek Jawa siswa yang merupakan bagian dari kajian sosiokultural. Pada kegiatan akhir, hasil pekerjaan siswa dikumpulkan kepada guru. Hasil dari pembelajaran tersebut digunakan sebagai acuan untuk melaksanakan pembelajaran selanjutnya. Kerangka Berpikir Dalam proses belajar mengajar didapat fakta bahwa prestasi belajar siswa belum maksimal. Pembelajaran di kelas terlihat pasif dan siswa kurang memerhatikan penjelasan dari guru. Strategi yang digunakan oleh guru masih monoton dan kurang variatif. Materi yang diajarkan dalam menulis dialog jugatidak memerhatikan latar belakang bahasa Jawa sehari-hari siswa. Untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa, digunakan materi ajar dengan latar belakang bahasa Jawa sehari-hari siswa yang merupakan bagian dari kajian sosiokultural. Penggunaan strategi pembelajaran kooperatif juga diharapkan dapat
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 15 memudahkan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa karena penulisan dialog dikerjakan secara bersama dalam kerja sama kelompok. Hipotesis Tindakan 1. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan kemampuan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018. 2. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan keaktifan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 Metode Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas ini di SMP Negeri 2 Jiwan terletak Desa Wayut Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun. Waktu penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2018. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis dialog berbahasa Jawamelalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural padasiswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Alasan pemilihan kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan yang berjumlah 24 orang yang terdiri atas 17 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini diartikan sebagai bentuk kajian yang sistematis reflektif, dilakukan oleh pelaku tindakan (guru), dan dilakukan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran (Subyantoro 2007:7).Dalam penelitian ini terdapat dua siklus yang masing-masing terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus I a. Perencanaan Tahap perencanaan dalam penelitian ini dilakukan untuk menentukan langkahlangkah yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini antara lain: (1) menyusun materi ajar berupa dialog yang berlatar belakang bahasa Jawa sehari-hari siswa yang merupakan bagian dari kajian berbasis konteks sosiokultural (2) membuat rencana pelaksanaan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa yang berlatar belakang bahasa Jawa sehari-hari siswa yang merupakan bagian dari kajian berbasis konteks sosiokultural dengan strategi pembelajaran kooperatif (3) membuat instrument nontes berisi lembar observasi, lembar wawancara, dan lembar jurnal, (4)menyiapkan perangkat tes berupa soal tes, pedoman penskoran, dan penilaian. Siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 2x40 menit. b. Tindakan Tahap ini merupakan tahap melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Tindakan yang dilakukan adalahmelaksanakan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa dengan strategipembelajaran kooperatif dengan berlatar belakang pada bahasa Jawa dialek siswayang merupakan bagian dari kajian berbasis konteks sosiokultural. Pembelajaran tersebut dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu apersepsi, kegiatan inti, danpenutup. Kegiatan yang dilakukan pada tahap apersepsi adalah guru melakukan Tanya jawab seputar dialog yang pernah dilakukan oleh siswa. Guru juga bertanya jawabtentang penggunaan unggah-ungguh basa dalam percakapan atau dialog yang dilakukan oleh siswa baik di rumah maupun di sekolah. Pada kegiatan inti pembelajaran ini, guru mengawali dengan memberikan contoh dialog berbahasa Jawa dengan berlatar belakang bahasa Jawa dialek siswayang merupakan bagian dari kajian berbasis konteks sosiokultural dengan tema ”Ngajak Plesir”. Setiap siswa memperhatikan contoh dialog yang diberikan kemudian secara bersama guru dan siswa membahas isi dialog, ejaan dalam penulisan, dan penggunaan unggah-ungguh basa. Guru juga menerangkan sekilas tentang
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 16 penggunaan unggah-ungguh basa dalam percakapan sehari-hari termasuk di dalamnya ragam ngoko dan krama. Setelah para siswa memahami halihwal mengenai menulis dialog berbahasa Jawa, guru menjelaskan tentang pembelajaran menulis dialog dengan strategi kooperatif. Guru membagi siswa ke dalam kelompokkelompok. Setiap kelompok terdiri atas empat orang yang berdasarkan pada perbedaan prestasi dan jenis kelamin. Masing-masing kelompok bekerja sama mengerjakan satu tugas menulis dialog berbahasa Jawa dengan memperhatikan penggunaan unggah-ungguh basa yang sesuai dan menggunakan bahasa Jawa sehari-hari siswa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Dalam menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif, satu dialog terdiri atas empat tokoh, setiap anggota berperan sebagai tokoh dalam dialog yang dibuat. Siswa dalam kelompoknya secara bergantian menuliskan tokoh yang diperankannya dalam bentuk tulisan yang berbentuk dialog berbahasa Jawa. Setelah siswa memahami konsep strategi pembelajaran kooperatif, guru memberikan tema ”Sinau Bareng” untuk menulis dialog. Guru memberikan waktu yang secukupnya agar setiap kelompok dapat menyelesaikan tugas menulis dialog berbahasa Jawa. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan tugas yang diberikan, kemudian semua pekerjaan dikumpulkan kepada guru. Pada tahap akhir dalam proses pembelajaran ini yaitu guru bersama siswa menyimpulkan hasil pekerjaan berupa dialog berbahasa Jawa dan mengadakanrefleksi terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. c. Observasi Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai perilaku siswaselama mengikuti pembelajaran menulis dialog melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Pengambilan data nontes tersebut meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, kerja sama kelompok, dan perilaku-perilaku lain saat pembelajaran. Agar hasil penelitian lebih objektif, maka dalam penelitian ini yang bertindak sebagai observer adalah guru yangbersangkutan dengan mata pelajaran bahasa tersebut. d. Refleksi Pada tahap ini, hasil penelitian pada siklus I dikaji dan dipertimbangkan hasil dan dampaknya dalam pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokulural. Hal yang juga diungkap dalam refleksi yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran dan tindakan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dijadikan bahan untuk perbaikan pelaksanaan siklus II bila pembelajaran pada siklus I belum mencapai target. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan dalam menulis dialog berbahasa Jawa maka dilakukan perbaikan pada siklus II, sedangkan hal yang baik dan mendukung dalam proses pembelajaran dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Siklus II a. Perencanaan Hasil siklus I menjadi pertimbangan untuk menyusun perencanaan pada siklus II. Langkah perencanaan pada siklus II juga hampir sama dengan siklus I. Kegiatan yang dilakukan pada siklus II yaitu (1) menyusun perbaikan rencanapembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa dengan strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural, (2) menyiapkan teks dialog berbahasa Jawa berbasis konteks sosiokultural, (3) menyusun instrumen, baik instrumen tesmaupun nontes. Instrumen tes berisi soal dan rubrik penilaian, sementara instrumen nontes berisi lembar observasi, lembar jurnal, dan lembar wawancara. Pelaksanaan siklus II sebanyak dua kali pertemuan dengan durasi waktu 2x40 menit. b. Tindakan Tindakan yang dilakukan pada siklus II merupakan perbaikan dari siklus I.Oleh karena itu, hasil siklus II harus lebih baik daripada siklus I. Tindakan yang dilakukan
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 17 hampir sama dengan siklus I yaitu pelaksanaan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Tindakan yang dilakukan yaitu (1) memotivasi siswa agar lebih serius dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif, (2) melaksanakan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Pada awal kegiatan pembelajaran guru membuka pelajaran dan mengulas secara sekilas pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa pada siklus I. Kemudian siswa diberikan lagi contoh teks dialog berbahasa Jawa berbasis konteks sosiokultural dengan tema yang berbeda, yaitu ”Ngajak Nonton Wayang”. Siswa juga diberi penjelasan secara singkat mengenai unggah-ungguh basa. Setelah semua siswa memahami dengan jelas, guru kembali membagi siswa menjadi kelompok-kelompok dan diberi tugas untuk membuat satu dialog berbahasa Jawa berbasis konteks sosiokultural dengan tema yang berbeda pula, yaitu ”Tilik Kanca sing Mriyang”. Pada akhir kegiatan, guru bersama siswa menyimpulkan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa dan mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran. Selanjutnya siswa mengisi jurnal yang telah disediakan. c. Observasi Observasi yang dilakukan pada siklus II hampir sama dengan observasi padasiklus II. Observasi dilakukan saat pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif sedang berlangsung. Langkah inidilakukan untuk mengumpulkan data mengenai perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran menulis dialog melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Dalam penelitian ini dibantu oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan yang bertindak sebagai observer agar data yang diperoleh lebih objektif. d. Refleksi Refleksi pada siklus II dilakukan untuk mengetahui keberhasilan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah menganalisis hasil tes dan nontes. Berdasarkan hasil tes dapat diketahui keberhasilan siklus II memperbaiki pembelajaran pada siklus I. Data nontes yang berisi lembar observasi, jurnal, dan wawancara juga dapat menunjukkan perubahan perilaku siswa selama pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini ada dua variabel yang digunakan yaitu variabel input-output dan variabel proses. 1. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen tes dan instrumen nontes. 2. Instrumen Tes Instrumen tes yang digunakan adalah tes menulis dialog berbahasa Jawa berbasis konteks sosiokultural. Aspek-aspek yang menjadi penilaian dalam menulis diutarakan oleh Harris (dalam Nurgiyantoro 2001:306) yang menggunakan model analisis unsur-unsur karangan. Oleh sebab itu, aspek-aspek yang menjadi penilaian dalam menulis dialog berbahasa Jawa adalah: (1) isi, (2) organisasi isi, (3) pilihan kata atau diksi, dan (4) ejaan serta tanda baca. Hasil Penelitian Hasil penelitian tindakan kelas ini terdiri atas pretes, siklus I, dan siklus II. Hasil diperoleh melalui tes maupun nontes. Hasil tes pada kondisi awal merupakan hasil tes menulis dialog berbahasa Jawa sebelum menggunakan strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Hasil tes pada siklus I dan siklus II adalah hasil tes menulis dialog berbahasa Jawa setelah menggunakan strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Hasil nontes diperoleh dari data observasi, jurnal, dan wawancara. 1. Kondisi Awal
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 18 Data mengenai kondisi awal diperoleh dari pretes. Tes ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kondisi awal kemampuan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa sebelum digunakan strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural pada siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun. Hasil pretes dapat dilihat pada tabel berikut. Data tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa tingkat kemampuan menulis dialog berbahasa Jawa siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan termasuk dalam kategori cukup yaitu 59,46. Dari jumlah 24 siswa, tidak ada siswa yang memperoleh nilai dengan kategori sangat baik dan gagal. Untuk kategori baik dengan rentang skor 71-85 dicapai 1 siswa atau sebesar 4,2 %. Untuk kategori cukup dengan rentang skor 56-70 dicapai 18 siswa atau sebesar 75%, dan untuk kategori kurang dengan rentang skor 41-55 dicapai 5 siswa atau sebesar 20,8%. Hasil tersebut masih dibawah standar ketuntasan minimal sebesar 70. Oleh karena itu, keterampilan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa perlu ditingkatkan. 2. Hasil Penelitian Siklus I Hasil tes pada siklus I merupakan hasil tes menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa dari 24 siswa tidak ada yang memperoleh nilai dengan kategori kurang dan gagal. Skor ratarata kemampuan siswa siklus I dalam menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural sebesar 74 atau berada pada kategori baik. Untuk kategori sangat baik dengan rentang skor 86-100 dicapai oleh 1 siswa atau 4%, kategori baik dengan rentang skor 71-85 dicapai oleh 20 siswa atau 83%, dan 3 siswa termasuk dalam kategori cukup atau 13%. Berikut merupakan grafik perolehan nilai siswa pada siklus I. 3. Hasil Penelitian Siklus II Hasil tes pada siklus II merupakan hasil tes menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural. Hasil tessiklus II dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa skor rata-rata kelas siklus II untuktingkat kemampuan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosio kultural sebesar 86,1 atau berada pada kategori sangat baik. Dari 24 siswa tidak ada yang memperoleh nilai dengan kategori cukup, kurang, dan gagal. Dari tabel diperoleh hasil bahwa 18 siswa atau sebesar 75% memperoleh nilai dengan kategori sangat baik, 6 siswa atau sebesar 25% mendapat nilai dengan kategori baik, tidak ada siswa yang termasuk dalam kategori cukup, kurang, dan gagal. Dari hasil tersebut ada peningkatan nilai siswa dari sebelumnya nilai rata-rata siswa sebesar 74 pada siklus I menjadi 86,6 pada siklus II. Pembahasan Pembahasan penelitian ini berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh darihasil belajar pada prasiklus, siklus I, dan siklus II. Hasil tersebut didapatkan darihasil tes dan nontes. Hasil tes berupa kemampuan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa, sedangkan hasil nontes berupa perilaku siswa saat mengikuti pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa. Setelah dilakukan pembelajaran pada siklus I dan siklus II keterampilan menulisdialog
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 19 berbahasa Jawa siswa meningkat. Pada siklus I hasil nilai siswa termasukdalam kategori baik. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa menjadi sangat baik. Peningkatan hasil nilai siswa dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II digambarkan pada grafik berikut. Grafik 4.1. Peningkatan Hasil Rekapitulasi Nilai Tes Siswa Dari grafik di atas menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa dari kondisi awal atau prasiklus, siklus I, dan siklus II. Pada kondisi awal atau sebelum dilakukan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural, nilai rata-rata siswa sebesar 59,46 dan termasuk dalam kategori cukup. Setelah dilakukan pembelajaran menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural, nilai rata-rata siswa padasiklus I menjadi 75. Hasil tersebut termasuk dalam kategori baik. Dengan demikian terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal menuju siklus I sebesar 15,54%. Setelah pembelajaran menulis dialog bahasa Jawa dilakukan lagi pada siklus II, nilai rata-rata siswa menjadi 86,6. Nilai tersebut termasuk dalam kategori sangat baik. Bila dibandingkan dengan siklus I maka terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 11,6% dari siklus I. Oleh karena itu, bila dilihat dari kondisi awal atau prasiklus menuju siklus II, maka terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 27,14%. Data tersebut membuktikan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural terbukti dapat meningkatan hasil belajar keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa Siswa Kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018. Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan diperoleh hasil bahwa kemampuansiswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun pada keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa meningkat setelah dilaksanakan pembelajaran melalui strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural adalah sebagai berikut: 1. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan kemampuan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018, hal ini dapat dilihat dari tes keterampilan menulis dialog berbahasaJawa dari prasiklus menuju siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada prasiklus sebesar 59,46 dan pada siklus II sebesar 75 atau mengalami peningkatan sebesar 15,54%. Pada siklus II kemampuan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa juga meningkat menjadi 86,6 atau mengalami peningkatan 11,6% dari siklus I. Jadi, peningkatan keterampilan siswa dalam menulis dialog berbahasa Jawa mengalami peningkatan sebesar 27,14% dari prasiklus. 2. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapat meningkatkan keaktifan keterampilan menulis dialog berbahasa Jawa melalui strategi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018, hal ini diikuti perubahan perilaku siswa ke arah positif selama mengikuti proses pembelajaran. Perilaku negatif siswa seperti bergurau, bermain sendiri, dan mengganggu teman lainmenjadi berkurang. Perilaku siswa berubah menjadi aktif dan serius selama pembelajaran berlangsung. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini disampaikan saran sebagai berikut. 1. Strategi pembelajaran kooperatif berbasis konteks sosiokultural dapatdigunakan sebagai
PKBKS - Endah Sri Wahyuni SMPN 2 Jiwan Kabupaten Madiun – Halaman - 20 salah satu cara untuk meningkatkan pembelajaran menulisdialog berbahasa Jawa. 2. Diharapkan guru bisa menjadi lebih kreatif dalam menciptakan suasanapembelajaran yang menarik sehingga siswa terlibat aktif dalam proses belajarmengajar. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan strategi pembelajaran yangberbeda sehingga diperoleh strategi pembelajaran keterampilan menulis dialogyang bervariasi. Daftar Pustaka Alwi, Hasan dkk.2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat BahasaDepartemen Pendidikan Nasional. Anwar, Khaidir. 1995. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ekowardono, B. Karno dkk. 1983. Kaidah Penggunaan Ragam Krama BahasaJawa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hardyanto dan Esti Sudi Utami. 2001. Kamus Kecik Bahasa Jawa Ngoko-Krama.Semarang: Lembaga Pengembangan Sastra dan Budaya. HS, Lasa. 2006. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus. Mulyasa, E. 2008.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT RemajaRosdakarya. Mustakim. 2006. Peranan Unsur Sosial Budaya dalam Pengajaran BIPA. Dalamhttp://www.ialf.edu/kipbipa/abstracts/mustakim.htm (22 Desember 2008). Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.Yogyakarta: BPFEYogyakarta. Rahman, Fatkhur. 2005. Pemilihan Bahasa Masyarakat Dwibahasa di Banyumas:Kajian Sosiolinguistik. Semarang: Rumah Indonesia. Rustono. 1999. Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar ProsesPendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Slavin, Robert E. 2008.Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung:Nusa Media. Subyantoro. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Rumah Indonesia. Sumardjo, Jakob. 1997. Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta:Pustaka Pelajar Suriamihardja, Akhlah Husen, dan Nunuy Nurjanah. 1996. Petunjuk PraktikMenulis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Angkasa. ----- 1993. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa. Bandung: Angkasa. ----- 1991. Metodologi Pengajaran Pengajaran Bahasa I. Bandung: Angkasa. PKBKS - Endah Sri Wahyuni - SMPN 2 Jiwan - Kabupaten Madiun - Halaman - 2
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 21 UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BANGUN RUANG SISI DATAR DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME) SISWA KELAS VIIIG SMP NEGERI 2 DOLOPO KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2017/2018 Oleh : Miranti Poedji Hastini, S.Pd Guru SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Abstrak Kata kunci: Prestasi Belajar, metode kooperatif Realistic Mathematic Educations (RME) Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbedabeda. Karena adanya perbedaan, manusia dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah, sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ada peningkatan prestasi belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018, (b) Ada peningkatan aktivitas belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018? Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas VIIIG dengan jumlah 26 siswa terdiri dari 16 laki-laki dan 10 perempuan. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa mutu belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I (31%), siklus II (73%), siklus III (96%). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Ada peningkatan prestasi belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018. Pendahuluan Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prasyarat untuk memperoleh peluang partisipasi, adaptasi dan sekaligus untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan matematika. Pendidikan matematika sangat diperlukan karena matematika sebagai suatu pertanda perkembangan intelejensi manusia. Matematika juga merupakan salah satu mengembangkan cara berfikir, oleh karena itu sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK. Menyadari betapa pentingnya pendidikan matematika, telah banyak dilakukan upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika disekolah. Upaya ini dapat dilihat dari langkah penyempurnaan kurikulum yang terus dilakukan, peningkatan kualitas guru bidang studi, penyediaan dan pembaharuan buku ajar, penyediaan dan perlengkapan alat-alat pelajaran matematika, pengembangan pendekatan yang lebih relevan dan efektif mencapai tujuan pembelajaran matematiaka, dan masih banyak usaha lain yang ditempuh untuk memperbaiki pencapaian hasil belajar matematika disekolah. Pembelajaran dalam matematika pada dasarnya adalah usaha untuk membantu siswa dalam membangun konsep-konsep atau ide-ide abstrak. Matematika banyak sekali berhubungan dengan realita-realita yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang muncul keluhan bahwa matematika hanya membuat siswa pusing dan dianggap sebagai momok. Permasalahan yang sering dihadapi disekolah, antara lain kurang optimalnya pelaksanaan belajar mengajar disekolah. Kebanyakan siswa di beranggapan bahwa belajar matematika tidak menyenangkan. Pada saat pembelajaran matematika siswa cenderung tidak
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 22 menyimak materi yang disampaikan guru. Sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secar optimal, akibatnya siswa tidak dapat menguasai materi yang disampaikan. Dalam pembelajaran matematika siswa belajar dengan cepat dan kreatif apabila siswa tersebut telah menguasai materi. Untuk mengoptimalkan pemahaman siswa dalam belajar matematika, siswa dapat belajar dengan menggunakan peta konsep untuk membantu siswa dalam mengasah kemampuan belajar. Permasalahan selanjutnya mengenai model pembelajaran matematika yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Guru memiliki peranan penting dalam menerapkan metode pembelajaran dikelas untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Di SMP Negeri 2 Dolopo sebagian guru banyak yang menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga siswa tidak tertarik dan menyukai pelajaran matematika dan membuat prestasi belajar matematika rendah. Sudah saatnya guru matematika membuka pola pengajaran matematika yang baru dikelas. Dimana matematika yang selama ini dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan dan menakutkan. Sampai sejauh ini pencapaian hasil belajar matematika disekolah secara umum dapat dinyatakan masih belum sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilihat dari masih sulitnya siswa untuk mencapai hasil tertinggi dalam pencapaian belajar matematika. Untuk itu perlu bagi guru untuk terus mencari dan menerapkan metode baru untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran agar mendapat prestasi yang baik. Oleh karena itu perlu diterapkan suatu pendekatan yaitu menggunakan pendekatan Realistic mathematic education (RME). Pendekatan RME pertama kali dikembangkan di Belanda oleh Hans Freundenthal, RME menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika dan bagaimana matematika harus disajikan. Siswa tidak bolehdipandang sebagai obyek belajar, melainkan sebagai subyek belajar. RME menggunakan fenomena dan aplikasi yang real (nyata) terhadap siswa dalam memulai pelajaran. Dengan sekumpulan soal kontekstual siswa dibimbing oleh guru secara konstruktif samapi mereka mengerti konsep matematika yang dipelajari. Sehingga dari penguasaan konsep ini, siswa diharapkan memperoleh prestasi belajar yang baik pula. Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Bangun Ruang Sisi Datar Dengan Pendekatan Realistic mathematic education (RME) Pada Siswa Kelas VIIIGSMP Negeri 2 Dolopo Tahun Pelajaran 2017/2018”. Rumusan Masalah 1. Apakah ada peningkatan prestasi belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018? 2. Apakah ada peningkatan aktivitas belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018? Tujuan Penelitian 1. Ada peningkatan prestasi belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018? 2. Ada peningkatan aktivitas belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018? Manfaat Penelitian 1. Siswa dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi Bangun Ruang Sisi Datar. 2. Pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa mempunyai gambaran materi Bangun Ruang Sisi Datar. 3. Siswa dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari 4. Dapat meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran matematika umumnya khususnya materi Ruang Sisi Datar. 5. Guru dapat memperluas wawasan guru tentang strategi pembelajaran matematika yang membuat suasana kelas kondusif.
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 23 6. Guru meningkatkan kreatifitas guru menciptakan pembelajaran yang menarik Kajian Pustaka Realistic mathematic education (RME) RME adalah suatu pendekatan dimana matematika dipandang sebagai suatu kegiatan manusia (Freudental, 1973, Treffers, 1987, De moor, 1994 dalam Ahmad Fauzan 2001: 1).Kata realistik diambil dari salah satu diantara empat pendekatan dalam pendidikan matematika. Menurut klasifikasi Treffers yaitu mekanistik, empirik, strukturalistik dan realistik. (Marpaung, 2001 : 2). Mekanistik artinya cara mengerjakan suatu masalah secara teratur, empirik artinya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, strukturalistik artinya cara menyusun suatu konsep atau unsur-unsur dengan pola tertentu dan realistik artinya bersifat nyata. Pada pendidikan matematika dua komponen matematisi yaitu matematisi horizontal dan matematisi vertikal. Perbedaan dari keempat pendekatan itu ditentukan sejauh mana mereka memuat/menggunakan kedua komponen itu. Pendekatan strukturalistik lebih menekankan struktur dalam suatu cabang matematika yaitu mempelajari matematika alam arah vertikal. Pendekatan realistik selain mempelajari dalam arah vertikal juga mempelajari dalam arah horizontal yaitu hubungan antara konsep-konsep dalam beberapa cabang matematika. Pendekatan mekanistik tidak memuat kedua komponen matematisi itu, sedangkan pendekatan empirik hanya memuat komponen horizontal. Pembelajaran Matematika Realistik di sekolah dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan lingkungan siswa sebagai titik awal pembelajaran. Masalah-masalah yang nyata atau yang telah dikuasai atau dapat dibayangkan dengan baik oleh siswa dan digunakan sebagai sumber munculnya konsep atau pengertianpengertian matematika yang semakin meningkat. Jadi pembelajaran tidak mulai dari definisi, teorema atau sifat-sifat dan selanjutnya diikuti dengan contoh-contoh, namun sifat, definisi, teorema itu diharapkan “seolah-olah ditemukan kembali” oleh siswa (Soedjadi, 2001: 2). Jelas bahwa dalam pembelajaran matematika realistik siswa ditantang untuk aktif bekerja bahkan diharapkan agar dapat mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan yang akan diperolehnya. Menurut Gravermeijer (dalam Asikin, 2001: 4), menjelaskan bahwa ide utama dari RME adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. Usaha untuk membangun kembali ide dan konsep matematika tersebut melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan realistik. Realistik alam pengertian bahwa tidak hanya situasi yang ada di dunia nyata, tetapi juga dengan masalah yang dapat mereka bayangkan. Karateristik RME Karakteristik RME yaitu : 1. Menggunakan masalah kontekstual 2. Menggunakan model 3. Menggunakan kontribusi siswa 4. Interaktivitas 5. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya (Asikin, 2001: 3 ) Berdasarkan karakteristik tersebut maka RME itu bertolak dari masalah-masalah yang kontekstual dari sana siswa membahas pematematikaan masalah tersebut kemudian menyelesaikanya secara matematis. Pembelajaran dengan Menerapkan Pendekatan RME. Pendekatan realistik selain mempelajari dalam arah vertikal juga mempelajari dalam arah horizontal. Menurut De Lenge dalam Yuwono (2001: 3 – 4), dalam arah horizontal meliputi pembuatan skema, merumuskan dan menggambarkan masalah dalam cara yang berbeda, menemukan hubungan-hubungan dan keterkaitan, mengingat aspek-aspek yang serupa dalam masalah yang berbeda, merumuskan masalah nyata dalam model matematika yang telah dikenal. Sedangkan aktivitas yang merupakan pematematikaan vertikal mengharuskan dan memperbaiki model, menggunakan model yang berbeda, memadukan dan mengkombinasikan beberapa model, membuktikan keteraturan, merumuskan konsep matematika. Menurut De Lange (1998) dan Van den Heuvel – Panhuizen (1998) dalam Yuwono (2001: 3) mengungkapkan bahwa RME adalah pembelajaran matematika yang mengacu pada
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 24 konstruktivis sosial dan dikhususkan pada pendidikan matematika. Dalam pandangan RME atau PMR (Pengajaran Matematika Realistik), pengembangan suatu matematika dimulai oleh siswa secara mandiri berupa kegiatan eksplorasi sehingga memberikan peluang pada siswa untuk berkreasi mengembangkan pemikirannya. Pengembangan konsep berawal ari intuisi siswa dan menggunakan strateginya masing-masing dalam memperoleh suatu konsep. Guru diharapkan tidak tergesa-gesa untuk menyampaikan pemikirannya kepada siswa tentang suatu hal yang dibahas. Bila ada suatu materi dirasa sulit, siswa dapat membentuk kelompok kecil, sehingga terjadi negosiasi antara siswa dalam mendiskusikan materi yang sulit tersebut. Dalam pembelajaran melalui pendekatan realistik dapat juga digunakan metode ceramah tetapi tidak digunakan secara terus menerus. Selain itu pula dapat diselingi dengan metode pemecahan masalah, metode diskusi, belajar kelompok, belajar individual cooperative learning, siswa menjelaskan kepada temannya, siswa yang membuat siswa dan meminta temannya yang mengerjakan lalu rotasi (Marpaung,2001:10) Dalam pembelajaran matematika realistik, kegiatan inti diawali dengan masalah kontekstual, siswa aktif, siswa dapat mengeluarkan ide-idenya, siswa mendiskusikan dan membandingkan jawabannya dengan temannya. Dimana guru memfasilitasi diskusi dengan teman sebangkunya dan mengarahkan siswa untuk memilih suatu jawaban yang benar. Selanjutnya guru dapat meminta beberapa siswa untuk mengungkapkan jawabannya. Melalui diskusi kelas jawaban siswa dibahas / dibandingkan. Dan guru membantu menganalisa jawaban-jawaban siswa. Jawaban siswa mungkin salah semua, mungkin benar semua atau sebagian benar sebagian salah. Jika jawaban benar maka guru hanya menegaskan jawaban tersebut. Jika jawaban salah guru secara tidak langsung memberitahu letak kesalahan siswa yaitu dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa yang menjawab soal atau siswa lainnya. Selanjutnya siswa dapat memperbaiki jawabannya dari hasil diskusi, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan. Langkah-Langkah RME Menurut Treffers dan Vanden Heuvel (dalam Waraskamdi, 2007:109) Langkah-langkah dalam kegiatan inti proses pembelajaran matematika realistik pada penelitiian ini sebagai berikut : Langkah 1 : Memahami masalah kontekstual Guru memberikan masalah kontekstual dan siswa memahami permasalahan tersebut. Langkah 2 : Menjelaskan masalah kontekstual Guru menjelaskan situasi dan kondisi soal dengan memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian tertentu yang belum dipahami siswa. Langkah 3 : Menyelesaikan masalah kontekstual Siswa secara individu menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka, dengan memberikan pertanyaan / petunjuk / saran. Langkah 4 : Membandingkan dan mendiskusikan jawaban Guru menyediakan waktu dan kesempatan pada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban dari soal secara berkelompok, untuk selanjutnya dibandingkan dan didiskusikan pada diskusi kelas. Langkah 5 : Menyimpulkan Dari diskusi guru menarik kesimpulan suatu prosuder atau konsep Kelebihan Realistic Mathematic Education (RME) Menurut Suwarsono (dalam Sugianti, 2006:32) Kelebihan-kelebihan Realistic mathematic education (RME) adalah sebagai berikut : 1. Pendekatan RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari dan tentang kegunaan matematika pada umumny kepada manusia. 2. Pendekatan RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 25 dapat dikontruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa dan oleh setiap orang “biasa” yang lain, tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut. 3. Pendekatan RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal, dan tidak harus sama antara orang satu dengan orang yang lain. 4. Pendekatan RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan suatu yang utama dan untuk mempelajari matematika, orang harus menjalani sendiri proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep-konsep dan materi materi-materi matematika yang lain dengan bantuan pihak lain yang sudah tahu (guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi. 5. Pendekatan RME memadukan kelebihankelebihan dari berbagai pendekatan pembelajaran lain yang juga dianggap “unggul” 6. Pendekatan RME bersifat lengkap (menyeluruh), mendetail dan operasional. Proses pembelajaran dan topik-topik matematika dikerjakan secara menyeluruh, mendetail dan operasional sejak dari pengembangan kurikulum. Kelemahan RME Menurut Suwarsono (dalam Sugianti, 2006:32). Selain kelebihan-kelebihan seperti yang telah diuraikan diatas, terdapat juga kelemahankelemahan RME adalah sebagai berikut: a. Pemahaman tentang RME dan upaya pengimplementasian RME membutuhkan paradigma, yaitu perubahan pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal, misalnya mengenai siswa, guru, peranan soal, peranan konteks, peranan alat peraga, pengertian belajar dan lain-lain. Perubahan paradigma ini mudah diucapkan, tetapi tidak begitu mudah untuk dipraktekkan karena paradigma lama sudah begitu kuat dan lama mengakar. b. Pencarian soal-soal yang kontekstual, yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh RME tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu dipelajari siswa, terlebih karena soal tersebut masing-masing harus bisa diselesaikan dengan berbagai cara. c. Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan car untuk menyelesaikan tiap soal juga merupakan tantangan tersendiri. d. Proses pengembangan kemampuan berfikir siswa dengan melalui soal-soal kontekstual, proses matematisasi horisontal dan proses matematisasi vertikal juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana karena proses dan mekanisme berfikir siswa harus diikuti dengan cermat agar guru bisa membantu siswa dalam melakukan penemuan kembali terhadap konsep-konsep matematika tertentu e. Pemilihan alat peraga harus cermat agar alat peraga yang dipilih bisa membantu proses berfikir siswa sesuai dengan tuntutan RME. f. Penilaian dalam RME lebih rumit daripada dalam pembelajaran konvensional. g. Kepadatan materi pembelajaran dalam kurikulum perlu dikurangi secara substansial, agar proses pembelajaran siswa bisa berlangsung sesuai dengan prinsip-prinsip RME Hipoteses Penelitian Hipotesis merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti data yang terkumpul. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Ada peningkatan prestasi belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018. 2. Ada peningkatan aktivitas belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018. Metodologi Penelitian Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Dolopo Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Peneliti melaksanakan peneliti di kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo Kecamatan Dolopo
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 26 Kabupaten Madiun. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018 dan mulai bulan Januarisampai Maret 2018. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo tahun pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 26 siswa yang terdiri dari siswa laki-laki sejumlah 16 dan siswa perempuan sejumlah 10 siswa. Setting Penelitian Setting penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah setting kelas dalam kegiatan pembelajaran matematika di kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo pada materi bangun datar. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prosedur Penelitian 1. Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyusun dan menyiapkan perangkat rancangan tindakan yang menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dalam kelas. Perangkat pembelajaran meliputi: a. Silabus b. Penyusunan rencana pembelajaran (RPP) c. Menyusun instrumen soal tes d. Menyusun Lembar Kerja Siswa ( LKS e. Menyusun Lembar Observasi 2. Pelaksanaan Pada tahap ini peneliti melaksanakan pembelajaran yang telah disiapkan pada tahap perencanaan dan melakukan tindakan berdasarkan skenario pembelajaran. 3. Observasi Pada saat pembelajaran berlangsung dilakukan observasi yang digunakan untuk memperoleh bahan penyusunan refleksi.Pada tahap ini yang bertindak sebagai pengamat/observer adalah guru bidang studi matematika. Pengamatan ini bertujuan untuk memngumpulkan bukti hasil pelaksanaan tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan melakukan refleksi. 4. Refleksi Dari hasil pengamatan proses belajar mengajar dengan data hasil informasi tentang kelebihan dan kekuragan pada siklus I, yang diguakan sebagai acuan peneliti untuk merevisi kesalahan-kesalahan yang terjadi sebagai acuan dalam menyusun rencana tindakan pada siklus II atau siklus berikutnya. Teknik Pengumpulan Data Cara pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode tes dan observasi. Tes dilakukan untuk mengambil data nilai kognitif siswa. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah post test yang diberikan kepada siswa setelah melalui proses pembelajaran.Tes ini dilaksanakan dengan menggunakan instrumen berupa lembar soal uraian. Observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan pencatatan mengenai pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung tanpa mengganggu proses pembelajaran. Obervasi dilakukan dengan berpedoman pada pedoman observasi. Indikator Keberhasilan Penelitian ini dikatakan berhasil apabila mencapai indikator keberhasilan sebagai berikut: 1. Nilai rata-rata kelas meningkat tiap siklusnya 2. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 mencapai 85% Hasil Penelitian Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan pengelolaan metode pembelajaran kooperatif model RME yang digunakan untuk mengetahui penerapan metodepembelajaran kooperatif model RME dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan data pengamatan aktivitas siswa. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model RME. Analisis Data Penelitian Persiklus Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 27 rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2018 di kelas VIIIG dengan jumlah siswa 26 siswa. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Tabel 4.1. Aktivitas Siswa Pada Siklus I Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas siswa yang paling dominan adalah memperhatikan penjelasan guru yaitu 60%. Aktivitas lain yang presentasinya cukup besar adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok, diskusi antara siswa/ antara siswa dengan guru, dan mengerjakan tes yaitu masing-masing 48%, 56 dan 48%. Pada siklus I, secaraa garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode pembelajaran kooperatif model RME sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominanuntuk memberikan penjelasan dan arahan, karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa. Tabel 4.2. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model RME diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 62,31 dan ketuntasan belajar mencapai 30% atau ada 8 siswa dari 26 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 hanya sebesar 30% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model RME. c. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: 1. Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu 3. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, LKS, 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 1 Pebruari 2018 di kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopodengan jumlah siswa 26 siswa. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 28 II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut: Tabel 4.3. Aktivitas Siswa Pada Siklus II Berdasarkan tabel I di atas, tampak bahwa aktifitas siswa dengan mendengarkan / memperhatikan penjelasan guru sebesar 72%, membaca buku sebesar 60%, bekerja dengan sesama anggota sebesar 76%, diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru 64%, menyajikan hasil pembelajaran seebsar 40%, menyajikan / menanggapi pertanyaan / ide sebesar 32%, menulis yang relevan dengan KBM sebesar 60%, merangkum pembelajaran sebesar 60%, mengerjakan tes sebesar 64%. Paling dominan pada siklus II adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (76%). Jika dibandingkan dengan siklus I, aktifitas ini mengalami peningkatan. Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II Dari tabel di atas diperoleh nilai ratarata prestasi belajar siswa adalah 73,38% dan ketuntasan belajar mencapai 73% atau ada 19 siswa dari 26 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model RME. c. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: 1. Memotivasi siswa 2. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3. Pengelolaan waktu. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2018 di kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopodengan jumlah siswa 26 siswa. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan refisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut: Tabel 4.5. Aktivitas Siswa Pada Siklus III Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus III adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok sebesar 92% dan mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru sebesar 88%, mengerjakan tes sebesar
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 29 88%. Dari hasil Rata-rata aktivitas siswa semua mengalami peningkatan. Tabel 4.6. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 83,12 dan dari 26 siswa yang telah tuntas sebanyak 25 siswa dan 1 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 96%. Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif model RME menjadikan siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. c. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif model RME. Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut: 1. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. 3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4. Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif model RME memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 30%, 73%, dan 96%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses metode pembelajaran kooperatif model RME dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika materi bahasan Bangun ruang sisi datar dengan metode pembelajaran kooperatif model RME yang paling dominan adalah mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Apakah ada peningkatan prestasi belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIGSMP Negeri 2 DolopoKabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (31%), siklus II (73%), siklus III (96%). 2. Apakah ada peningkatan aktivitas belajar bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas VIIIGSMP Negeri 2 DolopoKabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018, yang ditandai
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 30 3. Pembelajaran dengan kooperatif model RME memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa Penerapan metode pembelajaran kooperatif model RME mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan wawancara dengan beberapa siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa mereka tertarik dan berminat dengan metode pembelajaran kooperatif model RME sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar matematika lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut: 1. Untuk melaksanakan metode pembelajaran kooperatif model RME memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode pembelajaran kooperatif model RME dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pembelajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di kelas VIIIG SMP Negeri 2 Dolopo tahun pelajaran 2017/2018 4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston. Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Djamarah, Syaiful Bahri. 2100. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Felder, Richard M. 1994. Cooperative Learning in Technical Corse, (online), (Pcll\d\My % Document\Coop % 20 Report. Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research.Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta. Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti. Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang. Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin University Press. Margono, S. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineksa Cipta. Mursell, James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung: Jemmars. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nur, Muhammad. 1996. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya. Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosda Karya. Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
MRE Miranti Poedji Hastini - SMPN 2 Dolopo - Kabupaten Madiun - Halaman - 31 Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya Usaha Nasional. Sudjana, N dan Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru. Suharta, I.G.P. 2002. Pemecahan Masalah, Penalaran. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Matematika, Universitas Negeri Malang, Malang, 12 Oktober.. Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wahyuni, Dwi. 2000. Studi Tentang Pembelajaran Kooperatif Terhadap Hasil Belajar Matematika. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar. (terjemahan) Bandung: Jemmars.
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 32 PENERAPAN MODEL BLENDED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 WUNGU TAHUN AJARAN 2019 / 2020 Oleh: Paramita Hernawati N, SE Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun Abstrak Kata kunci: Blended Learning, Hasil Belajar, Kognitif, Afektif, Psikomotor Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Ekonomi siswa kelas XI IPS I SMA Negeri 1 Wungu Tahun Ajaran 2019/2020 melalui Implementasi Model Pembelajaran Blended Learning. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran. Subjek dari penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu yang berjumlah 26 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kuantitatif dengan persentase berupa perhitungan tes hasil belajar dengan hasil observasi. Setelah dilakukan tindakan kelas ini adalah 1) Hasil belajar ranah kognitif meningkat pada setiap siklusnya. Pada siklus I nilai rata-rata kognitif siswa sebesar 67,88 atau 18 siswa telah mencapai KKM. Pada siklus II nilai rata-rata kognitif siswa meningkat menjadi 78,85 atau 22 siswa telah mencapai KKM. 2) Hasil belajar ranah afektif siswa meningkat setiap siklusnya. Pada siklus I sebanyak 12 siswa telah mencapai kategori sangat baik atau baik dan meningkat menjadi 24 siswa pada siklus II. 3) Hasil belajar ranah psikomotor siswa meningkat setiap siklusnya. Pada siklus I sebanyak 13 siswa telah mencapai kategori sangat baik atau baik dan meningkat pada siklus II menjadi 23 siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Blended Learning dapat meningkatkan hasil belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotor siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu Tahun Ajaran 2019/2020. Pendahuluan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada saat ini sangatlah pesat. Hal ini bisa dilihat dari semakin canggihnya alat komunikasi dan informasi seperti telepon genggam serta komputer. Dari telepon genggam yang dahulu hanya berfitur untuk telepon, sekarang sudah sangat berkembang sampai adanya teknologi 4G yang dapat mempercepat arus penyampaian informasi dengan biaya dan waktu yang lebih efisien. Tak luput dari perkembangan teknologi, komputer juga banyak sekali mengalami kemajuan. Komputer yang dulunya hanya bisa mengolah data, sekarang juga bisa digunakan untuk mentransfer informasi dan berkomunikasi menggunakan internet. Perkembangan teknologi yang terjadi di era globalisasi ini sangat berdampak bagi ranah-ranah kehidupan yang ada seperti ranah sosial, kebudayaan, ekonomi, serta pendidikan. Pada hakikatnya, pendidikan merupakan suatu usaha yang sadar dilakukan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Pendidikan sangat berperan penting untuk pembentukan manusia yang dapat beradaptasi dengan lingkungan serta dapat peka dengan gejolak perubahan sosial yang ada. Seiring dengan berkembangnya era globalisasi yang didorong dengan berkembangnya teknologi yang ada, pendidikan menjadi salah satu indikator negara yang memiliki sumber daya manusia yang baik dan berkualitas. Jika kualitas sumber daya manusia dalam suatu negara baik, maka akan bedampak positif di berbagai ranah seperti ekonomi, sosial, dan budaya begitu juga sebaliknya. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, sekolah harus dapat menggerakkan seluruh komponen yang menjadi subsistem dalam suatu sistem mutu pendidikan. Menurut Kunandar (48: 2012) “ Subsistem yang pertama dan utama dalam peningkatan mutu pendidikan adalah faktor guru.” Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa baik atau buruknya mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh guru. Oleh
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 33 karena itu, guru dituntut untuk bisa profesional, kreatif dan inovatif dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru di era globalisasi ini dituntut untuk menguasai perkembangan teknologi yang ada. Apalgi dalam masa pandemi Covid -19 . Tuntutan menguasai segala model pembelajaran menjadi hal yang wajib tidak dapat ditentang lagi karena pembelajaran daring mungkin akan dilaksanakan mengingat pandemi Covid- 19 semakin marak sedangkan proses pembelajaran tidak boleh berhenti karena adanya Pandemi Covid-19. Dengan dapat menguasai perkembangan teknologi maka guru akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang bermutu guna meningkatkan hasil belajar yang lebih baik. Pada dasarnya pendidikan merupakan sebuah proses penyampaian informasi kepada peserta didik dimana di dalam informasi tersebut terdapat pesan yang akan disampaikan. Informasi tersebut dapat disampaikan menggunakan media pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran, media juga merupakan salah satu faktor keberhasilan. Pada era kemajuan teknologi yang sangat pesat ini telah banyak sekali media-media yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran, ada media cetak, media elektronik maupun media yang memang dikembangkan untuk mempermudah pembelajaran. Dengan sentuhan teknologi informasi dan komunikasi yang ada telah melahirkan konsep E-Learning. E-Learning merupakan model pembelajaran yang memiliki karakteristik dapat digunakan oleh siapa saja (everyone), dimana saja (everywhere), dan kapanpun (everytime). ELearning menitik beratkan pada efisiensi proses belajar mengajar. Penggunaan model pembelajaran E-learning akan mempermudah peserta didik untuk mengakses bahan pelajaran, diskusi dengan teman, serta bertanya dengan pengajar kapanpun dan dimanapun. Tidak hanya itu, pengajar juga dapat menambahkan referensi bahan ajar yang dapat diunggah di internet sehingga peserta didik juga dapat menambah wawasannya, serta akan sangat mempermudah pengajar untuk melakukan pengawasan dalam penguasaan materi peserta didik. Penggabungan model pembelajaran tersebut sering disebut dengan Blended Learning dimana pengajaran tatap muka dikombinasikan dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Husama (2013: 231) Model Pembelajaran Blended Learning mempunyai kelebihan untuk meningkatkan aksesabilitas dalam pembelajaran sehingga nantinnya akan berdampak pada kemudahan siswa untuk mengakses materi pelajaran serta pengayakan sehingga dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajarnya. Menurut pengamatan peneliti juga pengajar di SMA Negeri 1 Wungu dimana peneliti mengabdikan diri pada masa pandemi ini proses pembelajaran pada umumnya pelajaran ekonomi diajarkan dengan menggunakan metode ceramah, Dalam proses pembelajaran guru lebih aktif dari pada peserta didik. Suasana demikian membuat siswa diam dan pasif di tempat duduk mendengar dan menerima materi dari guru, sehingga motivasi belajar pada diri siswa juga cenderung rendah. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa lebih senang membicarakan topik diluar pembelajaran, bermain handphone, mengantuk dan bahkan tertidur. Dari latar belakang diatas peneliti melakukan merasa prihatin untuk itu peneliti melakukan diskusi dengan rekan sejawat yang nantinya menjadi kolaboran dan hasil diskusi kami sepakat melakukan penelitian tindakan dengan menerapkan model pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, dan menarik sehingga diharapkan dapat meningkatkan keaktifan, motivasi, serta hasil belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Wungu dimasa pandemi ini. Menurut Husama (2013:231), dari berbagai macam kebaikan penggunaan model pembelajaran Blended Learning, dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena siswa dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih leluasa, dengan akses materi yang mudah pada media online serta mudah untuk bertanya dan berdiskusi dengan guru maupun temannya yang dilakukan di mana saja dengan media online. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan di SMA Negeri 1 Wungu dimana peneliti mengabdikan diri. Kecuali itu suasana pandemi Coid 19 juga melatari pemilihan Blended Learning yang mana dalam model pembelajaran Blended Learning menggabungkan off dan on line dalam proses pembelajaran .Penulis memandang perlu untuk menerapkan model pembelajaran
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 34 yang mengikuti perkembangan teknologi dengan menggunakan internet sebagai langkah pendukung proses mendapatkan informasi dan meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini mengingat pembelajaran menggunkan luring dan daring karena adanya Pandemi Covid -19 Oleh karena itu, peneliti membuat penelitian yang berjudul : ““Penerapan Model Blended Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu Tahun Ajaran 2019 / 2020”. Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Penerapan Model Pembelajaran Blended Learning dapat meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu Tahun Ajaran 2019 / 2020? Tujuan Penelitian Sebagaimana perumusan masalah yang telah disusun, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar mapel IPS ekonomi dengan penerapan model pembelajaran Blended Learning pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu Tahun Ajaran 2019 / 2020 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap teori pembelajaran yang melandasi penelitian ini, penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang terkait di dunia pendidikan. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa 1) Siswa dapat meninigkatkan hasil belajarnya. 2) Melatih siswa untuk aktif dan mau bekerja sama dengan teman lainnya dalam hal belajar. 3) Melatih siswa untuk menggunakan teknologi untuk membantu pembelajaran. 4) Siswa dapat berfikir secara sistematis. b. Bagi Peneliti Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas.dimasa pandemi Kajian Pustaka Model Pembelajaran Blended Learning Pengertian Blended Learning Blended Learning berasal dari kata Blended dan Learning yang jika diartikan di dalam Bahasa Indonesia Blended adalah mengkombinasikan dengan bagus atau takaran yang tepat dan Learning adalah pembelajaran. Dari dua kata tersebut dapat diartikan bahwa Blended Learning adalah mengkombinasikan dua atau lebih model pembelajaran yang dapat digabungkan menjadi model pembelajaran yang dapat diterapkan dengan baik. Istilah Blended Learning ini muncul karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat, sehingga mendorong dunia pendidikan untuk menggunakan media TIK ini dalam proses pembelajaran. Menurut Thorne (2003), “Blended learninig is a combination of: multimedia technology, CD ROM video streaming, virtual classroom, voicemail, email, and telephone conferencing, online text animation and video streaming. All of this is combined with traditional forms of classroom training and one-on-one training”. Dari pengertian di atas, Blended Learning mengkombinasikan media online dengan pembelajaran tradisional berupa tatap muka. Semler dalam Husamah (2013: 11) menegaskan bahwa “Blended Learning mengkombinasikan ranah terbaik dari pembelajaran online, aktivitas tatap muka terstrukur, dan praktek dunia nyata. Sistem pembelajaran online latihan di kelas dan pengalaman on-the-job akan memberikan pengalaman berharga bagi diri mereka. Blended Learning menggunakan pendekatan yang memberdayakan berbagai sumber informasi yang lain.” Guru kadang sulit membedakan beberapa istilah yang mirip dengan Blended Learning. Perbedaan mendasar antara Blended Learning dengan e-leaning adalah persentase penggunaan media online dalam pembelajaran.
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 35 Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Blended Learning merupakan kombinasi dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan model pembelajaran konvensional secara tatap muka dengan persentase 30%-79% menggunakan media online yang mengkombinasikan ranah terbaik dari model pembelajaran online dengan model pembelajaran konvensional secara tatap muka. . Dengan demikian model Blended Learning ini dapat menutupi kelemahan kelemahan dari model pembelajan online dan model pembelajaran konvensional secara tatap muka. Karakteristik Model Pembelajaran Blended Learning Karakteristik model Pembelajaran Blended Learning menurut Husamah (2013: 16). 1) Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian model pengajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam. 2) Sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung atau bertatap muka (face-to-face), belajar mandiri, dan belajar via online. 3) Pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar, dan gaya pembelajaran. 4) Pengajar dan orang tua peserta belajar memiliki peran yang sama penting, pengajar sebagai fasilitator, dan orang tua sebagai pendukung. Implikasi Penerapan Model Pembelajaran Blended Learning Bagi Pengajar Berikut ini adalah implikasi penerapan model pembelajaran Blended Learning bagi pengajar menurut Husamah (2013: 232). a. Pengajar sebaiknya menguasai dan terampil menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. b. Pengajar sebaiknya dapat memilah dan memilih materi yang digunakan pada pembelajaran tatap muka dan E-Learning. Termasuk di dalamnya pembelajaran ELearning online dan offline. c. Pengajar juga perlu mengetahui perkembangan dan kondisi peserta didik. d. Pengajar harus memastikan bahwa E-Learning yang diakses peserta didik secara online cukup mudah, aman, dan efisien bagi peserta didik. Implikasi Penerapan Model Pembelajaran Blended Learning Bagi Peserta Didik Berikut ini adalah implikasi penerapan model pembelajaran Blended Learning bagi peserta didik menurut Husamah (2013: 233). 1) Peserta didik harus terampil menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. 2) Peserta didik harus dapat memilih dan memilah sumber belajar yang baik dan relevan dengan materi-materi yang sedang dipelajari. 3) Peserta didik perlu meningkatkan interaksi dan komunikasi dengan pengajar dan sesama peserta didik untuk menghindari munculnya miskomunikasi dalam proses belajar, misalnya tentang jadwal online (virtual classroom). Tahapan Dalam Merancang dan Menyelenggarakan Blended Learning 1) Menetapkan macam dan materi bahan ajar, kemudian mengubah atau menyiapkan bahan ajar tersebut menjadi bahan ajar yang memenuhi syarat untuk pembelajaran jarak jauh. Bahan ajar yang dibuat sebaiknya dibuat menjadi tiga macam, yaitu: a) Bahan ajar yang dapat dipelajari sendiri oleh peserta didik. b) Bahan ajar yang dapat dipelajari dengan cara berinteraksi melalui tatap muka. c) Bahan ajar yang dapat dipelajari dengan cara berinteraksi melalui pembelajaran online atau berbasis intenet. 2) Menetapkan rancangan Blended Learning yang digunakan. Dalam tahapan ini intinya adalah bagaimana membuat rancangan pembelajaran yang berisikan komponen pembelajaran jarak jauh dan tatap muka. Oleh karena itu dalam merancang pembelajaran ini harus memperhatikan hal-hal sebagi berikut. a) Bagaimana bahan ajar tersebut disajikan. b) Bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan peserta didik. c) Bagaimana peserta didik bisa mengakses dua komponen pembelajaran tersebut. d) Faktor pendunkung apa yang diperlukan, misalnya apakah perangkat lunak (software) apa yang digunakan, apakah
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 36 kelompok diperlukan, apakah pusat sumber belajar diperlukan di daerah-daerah tertentu. 3) Tetapkan format pembelajaran online – apakah bahan ajar tersedia dalam format HTML (sehingga mudah di-cut and paste). 4) Lakukan uji coba terhadap rancangan yang dibuat agar dapat diketahui rancangan yang dibuat dapat diakses dengan mudah atau sebaliknya. 5) Menyelenggarakan Blended Learning dengan baik sambil menugaskan instruktur khusus (pengajar) yang tugas utamanya menjawab pertanyaan peserta didik. 5) Menyiapkan kriteria untuk melakukan evaluasi pelaksanaan Blended Learning. Soekartawi dalam Husamah (2013: 27-29) Metode Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dalam bentuk kolaborasi. Peneliti bersama dengan guru mata pelajaran berkolaborasi melaksanakan penelitian. Wina Sanjaya (2008:25-26) menyebutkan tiga istilah penting berhubungan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu: Pertama, penelitian adalah suatu proses pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis, empiris, dan terkontrol. Kedua, tindakan adalah perlakuan tertentu yang dilakukan oleh peneliti. Ketiga, kelas menunjukkan pada tempat proses pembelajaran berlangsung. Kemmis dalam Rochiati Wiriaatmadja (2009: 12) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan) untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari a) kegiatan praktik sosialatau pendidikan mereka, b) pemahaman mereka mengenai kegiatan-kegiatan praktik pendidikan, dan c) situasi yang memungkinkan terlaksananya kegiatan praktik ini. Penelitian ini bersifat kolaboratif, artinya peneliti tidak melakukan penelitian sendiri, namun berkolaborasi atau bekerja sama dengan guru ekonomi di SMA Negeri 1 Wungu. Rancangan tindakan penelitian ini meliputi empat tahapan yang dilalui, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan-tahapan ini dilakukan pada setiap siklus. Tahapan tindakan untuk masing masing siklus dapat digambarkan sebagai berikut: Siklus I a. Rencana Tindakan 1. Membuat RPP tentang materi yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Blended Learning. RPP disusun oleh peneliti dengan saran dan pertimbangan dari guru kolaborator teman sejawat peneliti RPP digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam kelas. 2. Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi untuk menilai hasil belajar siswa ranah afektif. Catatan lapangan juga dipersiapkan untuk mencatat hal-hal penting di luar lembar observasi. 3. Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran yang digunakan dalam setiap pembelajaran. 4. Mempersiapkan modul pembelajaran dan soal latihan serta kunci jawaban yang diupload pada media online 5. Mempersiapkan soal tes untuk siswa yaitu tes yang diberikan di akhir siklus untuk menilai ranah kognitif siswa. b. Pelaksanaan Tindakan Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan panduan perencanaan yang telah dibuat dan dalam pelaksanaannya bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahanperubahan. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru mengajar siswa dengan menggunakan RPP yang telah dibuat. Peneliti dibantu oleh dua orang pengamat yang mengamati siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dalam kelas. Pelaksanaan di awal sebelum pembelajaran adalah guru membuat link pada facebook group serta memasukkan akun-akun facebook siswa ke dalamnya sebagai sarana pembelajaran mengunggah materi serta soal latihan untuk siswa. Setelah itu pada pelaksanaan pertemuan pertama siklus I dan II, guru memberikan pre-test untuk siswa serta pada pertemuan prtama pada siklus I dan pada Siklus II guru memberikan post-test untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran. Pada saat pembelajaran di kelas
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 37 usai, guru memberikan tugas yang nantinya dikumpulkan pada facebook group yang telah disediakan. Tidak hanya itu, siswa juga dipersilahkan untuk bertanya serta berdiskusi tentang materi pembelajaran pada facebook group dari siswa. c. Observasi Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Observasi dilakukan untuk melihat dan menilai bagaimana hasil belajar yang dicapai siswa pada kompetensi dasar yang telah berlangsung. Selain itu, observer juga mencatat hal-hal penting yang tidak tercantum dalam lembar observasi ke dalam catatan lapangan. Observasi yang dilakukan pada saat tatap muka yang mengamati siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Observer dengan tugas mengamati separuh dari siswa di dalam kelas. Observasi pada tatap muka ini menilai hasil belajar ranah afektif dan psikomotor siswa. Untuk observasi yang dilakukan pada media online dilakukan oleh peneliti dengan cara melihat keaktifan siswa dalam berkomunikasi dengan siswa dan guru. d. Refleksi 1) Ranah Kognitif Standar keberhasilan hasil belajar dari ranah kognitif mata pelajaran Ekonomi ditetapkan sesuai dengan KKM yang berlaku yaitu 75. Pembelajaran dalam satu kelas dikatakan berhasil apabila minimal 75% dari jumlah siswa dalam satu kelas tersebut mencapai nilai ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. 2) Ranah Afektif Standar keberhasilan hasil belajar dari ranah afektif mata pelajaran ekonomi apabila sekurang-kurangnya 75% dari jumlah keseluruhan siswa di suatu kelas telah mencapai kategori baik atau sangat baik. 3) Ranah Psikomotor Standar keberhasilan hasil belajar dari ranah psikomotor mata pelajaran ekonomi apabila sekurang-kurangnya 75% dari jumlah keseluruhan siswa di suatu kelas telah mencapai kategori baik atau sangat baik. Siklus II a. Perencanaan Tidakan Persiapan yang dilakukan pada siklus II memperhatikan refleksi pada siklus I. Persiapan siklus II meliputi: 1) Menyuaun RPP bersama dengan guru kolaborator. 2) Mempersiapkan lembar observasi dan catatan lapangan. 3) Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran. 4) Mempersiapkan modul pembelajaran dan soal latihan serta kunci jawaban yang diupload pada media online 5) Mempersiapkan soal tes untuk siswa yaitu tes yang diberikan diawal dan akhir siklus untuk menilai ranah kognitif siswa b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan pada siklus II pada intinya sama seperti siklus I yaitu guru mengajar siswa dengan menggunakan RPP yang telah dibuat. Pada siklus II ini peneliti juga dibantu oleh kolaborator teman sejawat yang mengamati siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. c. Observasi Observasi yang digunakan sama seperti lembar observasi pada siklus I. d. Refleksi Peneliti meneruskan siklus selanjutnya sampai berhasil mencapai tujuan penelitian, dan dalam perencanaan maupun pelaksananya diperbaiki guna mencapai tujuan. Indikator Keberhasilan 1. Ranah Kognitif PTK dapat dikatakan berhasil jika pada setiap siklusnya hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan sekurang-kurangnya 75% siswa dalam satu kelas mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditentukan oleh sekolah masing-masing. PTK ini dikatakan berhasil jika mencapai indikator yang telah ditetapkan yaitu 75% dalam satu kelas mendapatkan nilai ketuntasan minimal yaitu 75. 2. Ranah Afektif Indikator keberhasilan hasil belajar afektif apabila sekurang-kurangnya 75% dari jumlah
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 38 keseluruhan siswa dalam satu kelas mendapatkan skor kategori baik dan sangat baik. 3. Ranah Psikomotor Indikator keberhasilan hasil belajar psikomotor apabila sekurangkurangnya 75% dari jumlah keseluruhan siswa dalam satu kelas mendapatkan skor kategori baik dan sangat baik.Meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa dari siklus I ke siklus II. Hasil Penelitian 1. Pelakasanaan Pra Tindakan Berdasarkan observasi pra tindakan, hasil belajar siswa kelas XI IPS dalam pembelajaran ekonomi masih rendah, diketahui bahwa rata-rata persentase hasil belajar sebelum adanya tindakan sebesar 38,46%. Hal ini menunjukkan hasil belajar ekonomi di kelas XI IPS masih rendah. Diketahui bahwa jumlah siswa yang telah mencapai KKM adalah 10 siswa (38,46%). dari jumlah siswa 26 dengan rerata hasil 56,54 .Dari data prosetase yang telah mencapai KKM tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar ekonomi kelas XI IPS 1 masih rendah banyak disebabkan oleh faktor 1). Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas kurang; 2). Metode pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran masih bersifat konvensional ; 3). Pembelajaran banyak yang kurang menarik perhatian siswa karena media yang digunakan guru sangat terbatas dengan apa yang tersedia di sekolah tanpa adanya pengembangan . Oleh karena itu peneliti bersepakat untuk melakukan Tindakan Kelas dan sebagai awal tindakan peneliti melakukan tes awal pra tindakan dan dari tes itu dieroleh hasil sebagai berikut : 2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I 1) Perencanaan Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelum penelitian dilaksanakan. Pelaksanaan membutuhkan minimal dua siklus untuk mengetahui konsistensi apakah tindakan yang diberikan benar-benar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian diawali dengan pre-test dan di setiap akhir pelaksanaan akan dilakukan post-test dengan tujuan untuk mengukur seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Blended Learning. Penilaian dalam penelitian ini meliputi dua hal, pertama adalah penilaian hasil belajar kognitif siswa yang diperoleh dari nilai tes siswa. Nilai tes siswa diperoleh dari hasil pre-test dan post-test siswa setiap siklusnya. Kedua, penilaian hasil belajar afektif dan psikomotor siswa yang diperoleh dari hasil observasi. Hasil observasi diperoleh dari penilaian observer dalam lembar observaasi yang mengacu pada pedoman observasi. Penilaian ranah kognitif, afektif maupun psikomotor disusun berdasarkan kisi-kisi penilaian hasil belajar kognitif, afektif,dan psikomotor yang telah disusun sebelumnya. Pada tahap ini peneliti melakukan beberapa perencanaan sebelum kegiatan pempelajaran dilakukan, antara lain sebagai berikut: a) Mempersiapkan materi sesuai dengan kompetensi dasar (KD) I yaitu Pendapatan Nasional sub materi Pengertian pendapatan nasional. Dan Manfaat pendapatan nasional. Menjelaskan pengertian pendapatan nasional , mendeskripsikan materi yang disusun ini nantinya akan diunggah pada situs facebook group yang telah dibuat dan nantinya akan diunduh oleh setiap siswa di kelas untuk membantu proses pembelajaran. b) Menyusun RPP atau skenario pembelajaran sebagai panduan dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Blended Learning. c) Membuat media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan yaitu soal latihan yang digunakan untuk latihan siswa di kelas guna mengetahui pemahaman siswa terhadap materi. Media pembelajaran yang kedua adalah slide Power Point untuk mempermudah
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 39 penyampaian materi oleh guru. d) Menyiapkan kisi-kisi penilaian hasil belajar siswa siklus I serta menyiapkan kriteria penilaian hasil belajar siswa siklus I. e) Mempersiapkan soal pre-test dan posttest (kuis), dan kunci jawaban siklus I berdasarkan materi yang disampaikan pada siklus I. f) Mempersiapkan lembar instrumen penilaian hasil belajar afektif dan psikomotor serta catatan lapangan siklus I. Instrumen penilaian selengkapnya berada di lampiran. g) Menyiapkan pedoman observasi yang digunakan oleh observer untuk penilaian afektif dan psikomotor pada siklus I. Intrumen penilaian selengkapnya berada di lampiran 2) Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pertemuan Pertama Siklus I Pada pertemuan pertama siklus I aktivitas utama yang dilakukan yaitu tahap pre-test dan presentasi materi oleh guru dikarenakan menyesuaikan alokasi waktu jam pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Wungu Sedangkan pada pertemuan selanjutnya yaitu belajar dengan menerapkan Model Pembelajaran Blended Learning, dan post-test (kuis). Pelaksanaan awal pembelajaran pertemuan pertama siklus I dibuka oleh guru mata pelajaran ekonomi yang mengampu kelas XI IPS 1, kemudian dilanjutkan dengan berdoa saat masuk kelas ibu Suryani juga masuk sebagai kolaboran dan agar siswa tidak merasa asing dengan kehadiran peneliti untuk ikut dalam proses pembelajaran dan keadaan di kelas menjadi alami dan siswa tidak merasa bahwa sedang diteliti. Setelah itu guru menginformasikan dan menjelaskan tentang metode dam model pembelajaran yang akan digunakan. Pada pertemuan pertama ini peneliti belum melakukan model pembelajaran Blended Learning karena pada pertemuan pertama peneliti lebih fokus melihat kebiasaan siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Setelah guru menginformasikan tentang metode dan model pembelajaran, peneliti membagikan soal dan lembar jawab pre-test untuk selanjutnya dikerjakan oleh siswa. Siswa diberikan waktu 20 menit untuk mengerjakan soal pre-test. Siswa mengerjakan soal pre-test secara close book sehingga peneliti dapat mengetahui kemampuan siswa serta hasil dari belajar siswa di rumah masingmasing. Siswa mengerjakan soal dengan baik, namun masih banyak siswa yang mencontek pekerjaan temannya dan guru tidak memperingatkan siswa tersebut. Setelah 20 menit berlangsung peneliti mengumpulkan lembar jawab dan soal yang dibagikan kepada siswa. Pembelajaran dilanjutkan ke kegiatan selanjutnya yaitu presentasi materi oleh guru. Materi pada pertemuan pertama adalah pengertian pendapatan nasional. Guru menjelaskan dari awal tentang fungsi laporan keuangan perusahaan jasa, akunakun yang terdapat pada laporan laba rugi dan sumber data untuk menyusun laporan laba/rugi. Setelah menjelaskan semua materi, guru memberikan contoh soal untuk latihan siswa. Setelah contoh soal selesai dibahas, guru memberikan waktu untuk bertanya materi yang kurang jelas. Pada kegiatan ini, siswa dapat mengikuti pembelajaran kurang baik, karena masih banyak dari siswa yang kurang memperdulikan penjelasan guru. Siswa sibuk dengan laptop dan gadged masing-masing sehingga siswa kurang memberikan timbal balik yang baik kepada guru. Kegiatan presentasi materi oleh guru ini berlangsung selama 50 menit dikarenakan waktu terpotong untuk menunggu siswa yang terlambat memasuki kelas. Kegiatan selanjutnya adalah penutup. Pada kegiatan ini guru menyampaikan kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari dan sekali lagi guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, namun tidak satupun dari siswa yang bertanya. Setelah itu guru memberikan kesempatan kepada peneliti untuk memberikan informasi tentang model
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 40 Blended Learning yang pada pertemuan selanjutnya dilakukan. Peneliti menjelaskan bahwa ada facebook group yang berisi tentang materi dan tugas yang harus diselesaikan oleh siswa. Tugas ini bertujuan agar siswa mau belajar di rumah. Tidak hanya itu, peneliti juga menganjurkan siswa untuk berdiskusi tentang materi di media tersebut. Peneliti juga memberitahukan bahwa pertemuan selanjutnya akan diadakan post-test yang nantinya akan dilakukan 20 menit terakhir sebelum pembelajaran selesai. Setelah peneliti selesai menjelaskan, guru menutup pertemuan pertama ini dengan doa dan salam. a) Pertemuan Kedua Siklus I Pada pertemuan kedua siklus I aktivitas utama yang dilakukan yaitu tahap pendahuluan, presentasi materi oleh guru dengan menerapkan model pembelajaran Blended Learning, posttest dan penutup. Tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama, sebelum pembelajaran dimulai, guru dan peneliti memasuki kelas terlebih dahulu untuk mempersiapkan media pembelajaran berupa slide power point, Pembelajaran dimulai tepat waktu, hal ini dilakukan peneliti agar siswa tidak menyepelekan kegiatan pembelajaran dan merasa malu jika datang terlambat Pelaksanaan awal pembelajaran pertemuan kedua siklus I ini dipegang penuh oleh peneliti dan guru hanya membantu untuk mengawasi berjalannya kegiatan pembelajaran. Sebelum pembelajaran dimulai, peneliti mengajak siswa untuk berdoa terlebih dahulu. Setelah itu peneliti mempresensi siswa yang ada di dalam kelas. Pada pertemuan kedua siklus I siswa hadir semua. Setelah presensi selesai peneliti menginformasikan model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Setelah itu peneliti mengulas sedikit materi kemarin yang telah dipelajari. Semua kegiatan tersebut dilakukan selama 10 menit. Pembelajaran dilanjutkan ke kegiatan selanjutnya yaitu presentasi materi oleh guru. Sebelum guru melakukan presentasi, siswa membuka modul materi yang telah diunduh dari facebook group. Materi pada pertemuan kedua adalah pemahaman tentang pendapatan Nasional. Guru menjelaskan dari awal tentang manfaat pendapatan nasional, akun-akun manfaat pendapatan nasional. Sembari peneliti menjelaskan, terdapat siswa yang mencatat hal-hal yang penting. Setelah menjelaskan semua materi, peneliti memberikan contoh soal untuk latihan siswa. Setelah contoh soal selesai dibahas, peneliti membahas tugas yang telah dikerjakan oleh siswa dan dikumpulkan ke facebook group yang telah disediakan peneliti. Setelah selesai dibahas, peneliti memberikan waktu untuk bertanya materi yang kurang jelas. Pada saat peneliti memberikan waktu untuk bertanya, aktivitas siswa untuk bertanya terdapat peningkatan dari pada pertemuan yang pertama, namun aktivitas ini belum merata semua siswa. Kegiatan presentasi materi oleh peneliti ini berlangsung selama 50 menit. Setelah peneliti menjelaskan materi yang dipelajari, kegiatan selanjutnya adalah mengerjakan soal post-test. Peneliti membagikan soal dan lembar jawab post-test untuk selanjutnya dikerjakan oleh siswa. Siswa diberikan waktu 20 menit untuk mengerjakan soal post-test. Siswa mengerjakan soal post-test secara close book sehingga peneliti dapat mengetahui kemampuan siswa serta hasil dari belajar siswa di rumah masingmasing. Siswa mengerjakan soal dengan baik, namun masih banyak siswa yang mencontek pekerjaan temannya. Peneliti memperingatkan siswa yang mencontek an memberikan teguran keras kepada siswa agartidak mengulangi perbuatan tersebut. Setelah 20 menit berlangsungpeneliti mengumpulkan lembar jawab dan soal yang
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 41 dibagikankepada siswa diberikan kepada siswa untuk belajar di rumah .Kegiatan selanjutnya adalah penutup. Pada kegiatan inipeneliti menyampaikan kesimpulan tentang materi yang telahdipelajari dan sekali lagi guru memberikan kesempatan kepadasiswa untuk bertanya, namun tidak satupun dari siswa yang bertanya. Peneliti memberikan informasi bahwa modul untuk materi selanjutnya sudah dapat diunduh di facebook group dan untuk pertemuan selanjutnya belum ada tugas yang diberikan untuk siswa. Peneliti juga masih mempersilahkan siswa untuk berdiskusi di facebook group tersebut. Setelah peneliti selesai menjelaskan, peneliti menutup pertemuan pertama ini dengan doa dan salam peneliti menutup pertemuan pertama ini dengan doa dan salam. 3) Observasi Pelaksanaan pembelajaran ekonomi dengan menggunakan Model Blended Learning di kelas XI IPS 1 pada siklus I telah selesai dilaksanakan. Secara keseluruhan pelaksanaan pembelajaran ekonomi pada siklus I ini dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah disusun pada tahap perencanaan, walaupun dalam pelaksanaannya masih ada sedikit kegiatan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan target yang telah direncanakan. Selama pelaksanaan tindakan juga dilaksanakan observasi untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Berikut ini adalah hasil observasi selama pelaksanaan tindakan pembelajaran menggunakan Model Blended Learning untuk siklus I. a) Hasil Belajar Ranah Kognitif Siklus I Pada akhir siklus I pertemuan ke dua, dilakukan post-test untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa setelah mempelajari materi tahap pelaporan akuntansi perusahaan jasa. Siswa dapat dikatakan tuntas dalam mempelajari materi tersebut apabila nilai post-test minimal sesuai dengan KKM yaitu 75. Penerapan model pembelajaran Blended Learning dikatakan berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS I apabila minimal 75% dari total siswa satu kelas memperoleh nilai ≥75. Berikut ini adalah skor yang diperoleh siswa pada saat Pre test dan post-test siklus I. skor kognitif siswa yang diperoleh selama pembelajaran pada siklus I dari Pre test diketahui kentuntasan hanya menacapai 23,08 % ketidak tuntasan mencapai 76,92% cukup besar dan rerata kelas mencapai 61,08 Setelah dilakukan model pembelajaran Blended Learning .. Pada saat post-test tersebut siswa yang mengikuti tes adalah sebanyak 26 siswa, dari data diatas dapat dilihat rerata kelas yang dicapai menjadi 67,88 dan ketuntasan kelas 69,23 % atau 18 siswa menacapai kentuntasan 30,77 % belum tuntas , skor maksimal yang dicapai 85 sebanyak 4 siswa skor minimal 50 sebanyak 1 siswa b). Hasil Belajar Siswa Ranah Afektif Siklus I Berdasarkan data prolehan nilai afektif siswa di atas, dapat dikatakan bahwa siswa yang hasil belajar afektifnya mendapat kriteria baik dan sangat baik sebanyak 12 siswa dari 26 siswa atau sebesar 46 % dari keseluruhan jumlah siswa di dalam satu kelas. Siswa mendapat kriteria Cukup dan kurang sebanyak 14 siswa atau sebesar 54 %. Nilai rata rata kelas untuk hasil belajar ranah afektif adalah sebesar 66,54 dan masuk dalam kategori Cukup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Blended Learning untuk meningkatkan hasil belajar ranah afektif siswa pada siklus I belum mencapai 75% dari jumlah siswa dalam satu kelas dan nilai rata-rata kelas juga belum mencapai kriteria sangat baik dan baik perlu tindakan Siklus berikutnya. c) Hasil Belajar Siswa Ranah Psikomotor Siklus I Berdasarkan data perolehan
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 42 nilai Psikomotor siswa di atas, dapat dikatakan bahwa siswa yang hasil belajar Psikomotornya mendapat kriteria baik dan sangat baik sebanyak 13 siswa dari 26 siswa atau sebesar 50 % dari keseluruhan jumlah siswa di dalam satu kelas. Siswa mendapat kriteria cukup dan kurang sebanyak 13 siswa atau sebesar 50%. Nilai rata-rata kelas untuk hasil belajar ranah Psikomotor adalah sebesar 65,96 dan masuk dalam kategori Cukup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Blended Learning untuk meningkatkan hasil belajar ranah Psikomotor siswa pada siklus I belum mencapai 75% dari jumlah siswa dalam satu kelas dan nilai rata-rata kelas jugabelum mencapai kriteria sangat baik dan baik 4) Refleksi Secara garis besar, pelaksanaan pembelajaran siklus I ini sudah sesuai dengan prosedur pembelajaran model Blended Learning yang telah disusun sebelumnya. Kegiatan guru dalam pembelajaran ini sudah baik, walaupun masih ada ranah yang belum sempurna sesuai seperti persiapan memulai pembelajaran, alokasi waktu yang digunakan guru untuk melaksanakan tahap demo tahap, kemampuan dalam mengelola kelas karena belum terbiasa dengan model yang diterapkan. Hal ini akan dijadikan pedoman dalam pelaksanaan siklus II nantinya agar dapat berjalan lebih baik. Pelaksanaan pembelajaran akuntansi dengan menggunakan model Blended Learning masih belum baik, meskipun sudah terdapat peningkatan dari nilai rerata setiap aspek , namun peningkatannya belum sesuai seperti target yang diharapkan. Aktivitas siswa di dalam kelas dalam pembelajaran ekonomi dengan menggunkana model Blended Learning sudah cukup baik meskipun masih belum sesuai dengan target yang diharapkan, baik untuk ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Setelah dianalisis hasil refleksi terhadap pelaksanaan tindakan pada siklus I sebagai berikut: a) Hasil Belajar Ranah Kognitif Hasil belajar siswa setelah melaksanakan model pembelajaran Blended Learning mengalami peningkatan, namun peningkatan ini belum sesuai dengan target yang telah ditentukan yaitu 75% siswa dapat memenuhi KKM yang sebesar 75. Pada siklus I ini hanya terdapat 18 siswa yang telah memenuhi KKM atau 69,23% dari total keseluruhan 26 siswa. dengan ratarata nilai tes siswa pada saat siklus I ini 67,88, namun perolehan nilai siswa belum merata. b) Hasil Belajar Ranah Afektif Berdasarkan observasi yang dilakukan pada saat pembelajaran menggunakan model Blended Learning, terdapat peningkatan hasil belajar ranah afektif siswa. Walaupun terjadi peningkatan, namun peningkatan tersebut belum sesuai dengan target yang telah ditentukan yaitu 75% dari keseluruhan siswa mendapatkan predikat baik dan sangat baik. Dalam siklus I ini, baru terdapat 46% atau sebanyak 12 siswa yang mendapatkan predikat baik dan sangat baik pada hasil belajar ranah afektif.. c) Hasil Belajar Ranah Psikomotor Berdasarkan observasi yang dilakukan pada saat pembelajaran menggunakan model Blended Learning, terdapat peningkatan hasil belajar ranah psikomotor siswa. Walaupun terjadi peningkatan, namun peningkatan tersebut belum sesuai dengan target yang telah ditentukan yaitu 75% atau 20 siswa dari keseluruhan 26 siswa mendapatkan predikat baik dan sangat baik. Dalam siklus I ini, baru terdapat 50% atau sebanyak 13 siswa yang mendapatkan predikat baik dan sangat baik, oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Dari hasil ketiga aspek diatas dapat disimpulkan untuk bahwa untuk melanjutkan proses
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 43 tindakan pada Siklus II. Siklus II 1) Perencanaan a) Mempersiapkan materi sesuai dengan kompetensi dasar (KD) II yaitu mengindentifikasi komponen komponen Pendapan Nasional dan metode perhitungan pendapatan Nasional. Kelas XI IPS Siklus II terdiri dari dua kali pertemuan yang masing-masing pertemuan terbagi dalam dua jam pelajaran.. b) Menyusun RPP atau skenario pembelajaran sebagai panduan dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Blended Learning. RPP ini berisi tentang tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, sumber belajar, alat dan media pembelajaran, serta rambu-rambu penilaian. c) Membuat media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan yaitu soal latihan yang digunakan untuk latihan siswa di kelas guna mengetahui pemahaman siswa terhadap materi. Media pembelajaran yang kedua adalah slide Power Point untuk mempermudah penyampaian materi oleh guru. d) Menyiapkan kisi-kisi penilaian hasil belajar siswa siklus II serta menyiapkan kriteria penilaian hasil beljar siswa siklus II. Kisi kisi penilaian dan kriteria penilaian hasil belajar siswa selengkapnya e) Mempersiapkan pre tes dan soal post-test (kuis), dan kunci jawaban siklus II berdasarkan materi yang disampaikan pada siklus II. Sebelum soal diberikan kepada siswa, soal dikoreksi dan divalidasi terlebih dahulu oleh guru agar soal sesuai dengan silabus. f) Menyiapkan pedoman observasi yang digunakan oleh observer untuk penilaian afektif dan psikomotor pada siklus II. Instrumen penilaian selengkapnya berada di Lampiran 2) Pelaksanaan a) Pertemuan Pertama Siklus II Pada pertemuan pertama siklus II aktivitas utama yang dilakukan yaitu presentasi materi oleh guru dikarenakan menyesuaikan alokasi waktu jam pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 1 Wungu, sedangkan pada pertemuan selanjutnya yaitu belajar dengan menerapkan Model Pembelajaran Blended Learning, dan post-test (kuis). Sebelum pembelajaran dimulai guru memberikan pre tes selanjutnya, guru dan peneliti memasuki kelas terlebih dahulu untuk mempersiapkan media pembelajaran berupa slide power point, sembari menunggu siswa pindah kelas dari kelas XI IPS I ke kelas XII IPS I sama seperti pertemuan sebelumnya. Setelah peneliti menginformasikan tentang metode dan model pembelajaran, peneliti membagikan soal dan lembar jawab pre-test untuk selanjutnya dikerjakan oleh siswa. Siswa diberikan waktu 20 menit untuk mengerjakan soal pre-test. Pembelajaran dilanjutkan ke kegiatan selanjutnya yaitu presentasi materi oleh peneliti. Sebelum peneliti melakukan presentasi, siswa membuka modul materi yang telah diunduh dari facebook group. Materi pada pertemuan pertama adalah mengindentifikasi pendapatan nasional. Peneliti menjelaskan komponen komponen dalan pendapatan nasoional Sembari peneliti menjelaskan, terdapat siswa yang mencatat hal-hal yang penting. Setelah menjelaskan semua materi, peneliti memberikan contoh soal untuk latihan siswa. Peneliti memberikan waktu untuk bertanya materi yang kurang jelas. Pada saat peneliti memberikan waktu untuk bertanya, aktivitas siswa untuk bertanya terdapat peningkatan dari pada pertemuan yang pertama, namun aktivitas ini belum merata semua siswa namun sudah mendominasi. Kegiatan selanjutnya adalah penutup. Pada kegiatan ini peneliti menyampaikan kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari dan sekali lagi peneliti memberikan kesempatan kepada siswa
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 44 untuk bertanya, terdapat beberapa siswa yang bertanya mengenai materi yang sedang dipelajarai serta materi yang akan dipelajarai pada pertemuan selanjutnya. b) Pertemuan Kedua Siklus II Pada pertemuan kedua ini terdapat peningkatan yang sangat baik untuk kedisiplinan siswa yaitu 100 % siswa tepat waktu pada saat masuk kelas. Peneliti memberikan pujian kepada seluruh siswa karena telah berusaha untuk tepat waktu pada saat masuk kelas. Hal ini dilakukan agar siswa selalu termotivasi untuk masuk kelas tepat waktu. Sebelum pembelajaran dimulai, peneliti mengajak siswa untuk berdoa terlebih dahulu. Setelah itu peneliti mempresensi siswa yang ada di dalam kelas.. Setelah presensi selesai peneliti menginformasikan model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Selanjutnya peneliti mengulas sedikit materi kemarin yang telah dipelajari. Semua kegiatan tersebut dilakukan selama 10 menit. Pembelajaran dilanjutkan ke kegiatan selanjutnya yaitu presentasi materi oleh peneliti. Sebelum peneliti melakukan presentasi, siswa membuka modul materi yang telah diunduh dari facebook group. Materi pada pertemuan kedua adalah komponen dan konsep pendapatan Nasional. mengidentifikasi akun-akun yang terdapat di dalam jurnal pembalik, serta membuat jurnal pembalik perusahaan jasa. Sembari peneliti menjelaskan, banyak siswa yang mencatat hal-hal yang penting. Antusias siswa untuk mengikuti pembelajaran ini sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya siswa yang melakukan kegiatan yang lain selain belajar di dalam kelas. Setelah peneliti menjelaskan materi yang dipelajari, kegiatan selanjutnya adalah mengerjakan soal post-test. Peneliti membagikan soal dan lembar jawab post-test untuk selanjutnya dikerjakan oleh siswa. Siswa diberikan waktu 20 menit untuk mengerjakan soal post-test. Siswa mengerjakan soal post-test secara close book sehingga peneliti dapat mengetahui kemampuan siswa serta hasil dari belajar siswa di rumah masingmasing. Siswa mengerjakan soal dengan baik, siswa yang mencontek pekerjaan temannya pun berkurang. Setelah 20 menit berlangsung peneliti mengumpulkan lembar jawab dan soal yang dibagikan kepada siswa diberikan kepada siswa untuk belajar di rumah. Kegiatan selanjutnya adalah penutup. Pada kegiatan ini peneliti menyampaikan kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari dan sekali lagi peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, namun tidak satupun dari siswa yang bertanya. 3) Observasi Berikut ini adalah hasil observasi selama pelaksanaan tindakan pembelajaran menggunakan Model Blended Learning untuk siklus II. a) Hasil Belajar Ranah Kognitif Siklus II Berdasarkan data dapat dikatakan bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar pada post-test siklus II yaitu 22 ( 84,62 %) sedangkan siswa ynag belum tuntas mencapai 15,38 % ( 4 siswa ) yang nama pada pre tes ketuntasan yang dicapai 53,84 % dan ketidak tuntasan mencapai 46,15 % siswa yang mencapai kategori baik dan sangat baik atau memperoleh nilai ≥75. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Blended Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada siklus II berhasil karena jumlah siswa yang mendapat nilai tuntas sudah melampaui 75% dari jumlah siswa dalam satu kelas. b) Hasil Belajar Siswa Ranah Afektif Siklus II Berdasarkan data prolehan nilai afektif siswa di atas, dapat dikatakan bahwa siswa yang hasil belajar afektifnya mendapat kriteria baik dan sangat baik sebanyak 24 siswa dari 26 siswa atau sebesar 92,31% dari keseluruhan jumlah