Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 45 siswa di dalam satu kelas. Siswa mendapat kriteria cukup sebanyak 2 siswa atau sebesar 7,69%. Nilai rata-rata kelas untuk hasil belajar ranah afektif adalah sebesar 75,19 dan masuk dalam kategori baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Blended Learning untuk meningkatkan hasil belajar ranah afektif siswa pada siklus II telah mencapai 75% dari jumlah siswa dalam satu kelas dan nilai rata-rata kelas juga telah mencapai kriteria sangat baik dan baik. c) Hasil Belajar Siswa Ranah Psikomotor Siklus II Berdasarkan data prolehan nilai afektif siswa di atas, dapatdikatakan bahwa siswa yang hasil belajar Psikomotornya mendapat kriteria baik dan sangat baik sebanyak 23 siswa dari 26 siswa atau sebesar 88,46% dari keseluruhan jumlah siswa di dalam satu kelas. Siswa mendapat kriteria tidak baik dan Sangat tidak baik sebanyak 3 siswa atau sebesar 11,54%. Nilai rata-rata kelas untuk hasil belajar ranah Psikomotor adalah sebesar 75,77 dan masuk dalam kategori baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Blended Learning untuk meningkatkan hasil belajar ranah Psikomotor siswa pada siklus II telah mencapai 75% dari jumlah siswa dalam satu kelasdan nilai rata-rata kelas juga telah mencapai kriteria sangat baik dan baik. 4) Refleksi Pelaksanaan pembelajaran ekonomi dengan menggunakan model Blended Learning sudah lebih baik, hal ini bisa dilihat dari peningkatan hasil belajar kognitif, afektif serta psikomotor siswa pada siklus II. Peningkatan yang terjadi di dalam kelas sudah merata walaupun masih ada beberapa siswa yang memang belum terlalu baik untuk peningkatannya. Aktivitas siswa di dalam kelas dalam pembelajaran akuntansi dengan menggunakana model Blended Learning sangat baik, siswa sudah banyak aktif di kelas maupun di dalam facebook group. Setelah dianalisis hasil refleksi terhadap pelaksanaan tindakan pada siklus I sebagai berikut: Hasil belajar siswa setelah melaksanakan model pembelajaran Blended Learning mengalami peningkatan, sesuai dengan target yang telah ditentukan yaitu 75% siswa dapat memenuhi KKM yang sebesar 75. Pada siklus II ini hanya terdapat 22 siswa yang telah memenuhi KKM atau 84,62 % dari total keseluruhan 26 siswa yang mengikuti post-test. Rata-rata nilai tes siswa pada saat siklus II ini adalah 78,85, namun perolehan nilai siswa belum merata Berdasarkan observasi yang dilakukan pada saat pembelajaran menggunakan model Blended Learning, terdapat peningkatan hasil belajar ranah afektif siswa. Walaupun terjadi peningkatan, namun peningkatan tersebut belum sesuai dengan target yang telah ditentukan yaitu 75% dari keseluruhan siswa mendapatkan predikat baik dan sangat baik. Dalam siklus II ini, baru terdapat 92,1% atau sebanyak 24 siswa yang mendapatkan predikat baik dan sangat baik pada hasil belajar ranah Dalam siklus II ini, aspek Psikomotor sudah mencapai 88,46 % atau sebanyak 23 siswa yang mendapatkan predikat baik dan sangat baik, oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Blended Learning telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa ranah psikomotor dengan baik dan sesuai dengan target yang telah ditentukan. Pembahasan Berdasarkan penerapan model pembelajaran, prinsip yang telah diuraikan di atas, dan juga tahap penelitian tindakan kelas yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi maka penelitian tindakan kelas dengan penerapan Model Pembelajaran Blended Learning yang dilakukan dalam dua siklus telah menunjukkan hasil sesuai yang diharapkan yaitu meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1SMA Negeri 1 Wungu baik untuk ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor siswa.. Keberhasilan ranah kognitif siswa terwujud jika siswa telah mampu menguasai materi yang dipelajari. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi yang dilakukan kuis/tes tertulis yang dilakukan pada setiap akhir siklus. Untuk lebih jelasnya berikut diagramhasil test mulai Pra tindakan , Siklus I danS iklus II
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 46 Diagram 03 ; Perbandingan Hasil Kognitif Pra ,Siklus I dan II Peningkatan nilai rata-rata yaitu sebesar 10,97 ditunjukkan dari selisih nilai rata-rata siklus II 78,85 dan siklus I 67,88. Kemudian banyaknya siswa yang mencapai KKM juga meningkat pada siklus II yaitu sebanyak 22 siswa (84,62% ) dengan membandingkan jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus II sebanyak 22 siswa dan siklus I sebanyak 18 siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menguasai materi pembelajaran secara tuntas ( ≥ 75) lebih dari 75% dalam satu kelas. Hal ini berarti bahwa penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran Blended Learning telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa ranah kognitif. Berdasarkan penilaian terhadap kelima ranah afektif tersebut maka siswa dikatakan telah mencapai criteria ketuntasan belajar apabila nilai rata-ratanya dari seluruh ranah telah memperoleh nilai Sangat Baik atau Baik. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila minimal 75% siswa dalam satu kelas mendapatkan nilai Sangat Baik atau baik. Hasil tindakan pada siklus I dengan penerapan Model Pembelajaran Blended Learning telah mencapai kriteria yang telah ditentukan, yaitu sebanyak 46% atau 12 siswa dalam satu kelas yang mencapai nilai kategori Sangat Baik atau Baik dengan nilai rata-rata 66,54 .Pada siklus II guru berusaha untuk meningkatkan sikap afektif siswa dan berhasil dengan ketercapaian 92% atau 24 siswa mendapatkan nilai dengan kategori Sangat Baik atau Baik dengan nilai rata-rata 75,19. Peningkatan nilai rata-rata yaitu sebesar 8,65 ditunjukkan dari selisih nilai rata-rata siklus II 75,19 dan siklus I 66,54. Kemudian banyaknya siswa yang telah mencapai kategori Sangat Baik dan Baik juga meningkat pada siklus II yaitu sebanyak 12 siswa ( 46 % )dengan membandingkan jumlah siswa yang mencapai kategori Sangat Baik dan Baik pada siklus II sebanyak 24 siswa dan siklus I sebanyak 12 siswa. Data di atas menunjukkan bahwa jumlah siswa yang telah tuntas lebih dari 92% atau24 siswa dalam satu kelas. Pembahasan terhadap hasil penelitian selanjutnya yaitu peningkatan hasil belajar siswa ranah psikomotor. Keberhasilan ranah psikomotor terwujud apabila siswa telah mampu melakukan ranah-ranah psikomotor yang dituntut dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi terkait ranah-ranah psikomotor siswa yang dinilai melalui pengamatan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Ranah-ranah psikomotor yang diamati meliputi Membuat catatan hasil membaca dan penjelasan materi dari guru, berkomunikasi dengan guru, waktu menyelesaiakan tes, kerapian dalam mengerjakan tes, ketelitian dalam mengerjakan tes. Siswa dikatakan tealh mencapai kriteria ketuntasan belajar apabila nilai rataratanya dari seluruh ranah telah memperoleh nilai Sangat Baik atau Baik. Sedangkan pembelajaran dikatakan berhasil apabila minimal 75% siswa dalam satu kelas mendapatkan nilai Sangat Baik atau Baik. Hasil tindakan pada siklus I menunjukkan bahwa dengan adanya penerapan Model Pembelajaran Blended Learning hasil belajar psikomotor siswa. Berikut hasil Perbandingan Aspek Psikomotor Siklus I dan II. Ketuntasan klasikal untuk hasil belajar psikomotor pada siklus I adalah 50% atau 13 siswa memperoleh nilai Sangat Baik dan Baik dengan nilai rata-rata sebesar 65,96. Sedangkan ketuntasan klasikal pada siklus II adalah 88 % atau 23 siswa memperoleh nilai psikomotor Sangat Baik dan Baik dengan nilai rata-rata 75,77. Peningkatan nilai rata-rata yaitu sebesar 9,81 ditunjukkan dari selisih nilai rata-rata siklus II 75,77 dan siklus I 65,96. Kemudian banyaknya siswa yang telah mencapai kategori Sangat Baik dan Baik juga meningkat pada siklus II yaitu sebanyak 23 siswa (88%) dengan membandingkan jumlah siswa yang mencapai kategori Sangat Baik dan Baik pada siklus I sebanyak 13( 50 % ) siswa. Hal ini berarti bahwa penerapan Model Pembelajaran Blended Learning telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa ranah
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 47 psikomotor. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan peneliti, berikut ini adalah kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian: 1. Penerapan model pembelajaran Blended Learning pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu dapat meningkatkan hasil belajar ranah kognitif sebesar 2,71% dari siklus I ke siklus II. 2. Penerapan model pembelajaran Blended Learning pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu dapat meningkatkan hasil belajar ranah afektif sebesar 20,05% dari siklus I ke siklus II 3. Penerapan model pembelajaran Blended Learning pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Wungu dapat meningkatkan hasil belajar ranah Psikomotor sebesar 44,02% dari siklus I ke siklus II. Saran 1. Untuk peneliti yang melakukan penelitian tindakan kelas menggunakan model pembelajaran Blended Learning hendaknya mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pembelajaran dengan baik agar penelitian berjalan dengan lancar. 2. Peneliti hendaknya menjalin komunikasi dengan baik kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan sehingga penelitian dapat dibantu dengan guru kolaborator. 3. Peneliti hendaknya membuat media online yang lebih menarik agar siswa senang dan tidak bosan untuk membuka media online tersebut. Daftar Pustaka Admin. (2003). UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diakses melalui http://riau.kemenag.go.id/file/file/produkhukum/fcpt1328331919.pdf Pada tanggal 02 Februari 2016. Pukul 17.20 wib. Andriyani, Ririn. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas X AK SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015. Skripsi. Yogyakarta: UNY. Arifin, Zainal. (2011). Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya. ___________. (2014). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Arikunto, Suharsimi., dkk. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Basuki, Ismet. & Hariyanto. (2016). Asesmen Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Pt. Rineka Cipta. Hamalik, Oemar. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara ________. (2011). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Husamah. (2013). Pembelajaran Bauran (Blended Learning). Jakarta: Hasil Pustak. Isjoni. (2011). Cooperative Learning: Mengembangkan Kemampuan Belajar Kelompok. Bandung: Alfabeta. Jihad, Asep dan Abdul Haris. (2013). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Multi Pressindo. Khodijah, Nyayu. (2014). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Kunandar. (2012). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Kurniasih, Imas. & Sani, Berlin. (2014). Teknik dan Cara Mudah Membuat Penelitian Tindakan Kelas untuk Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Kata Pena. ____________. (2017). Ragam Pengembangan Model Pembelajaran untuk Peningkatan Profesionalisme Guru. Jakarta: Kata Pena. Lailiyah, Nur. (2012). Upaya Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS dengan Penerapan Strategi Make A Match Kelas IV MIN Tempel. Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Majid, Abdul. (2015). Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nurdiansyah & Eni Fariyatul. (2016). Inovasi Model Pembelajaran Sesuai Kurikulum 2013. Sidoarjo: Nizamia Learning Center.
Blended Learning - Paramita Hernawati N - Guru SMA Negeri 1 Wungu Kabupaten Madiun - Halaman - 33 Priansa, Donni Juni. (2017). Pengembangan Strategi dan Model Pembelajaran. Bandung: Pustaka Setia. Purwanto, Ngalim. (2004). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. __________. (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ratumanan, T.G. (2015). Inovasi Pembelajaran Mengembangkan Potensi Peserta Didik Secara Optimal. Yogyakarta: Ombak. Rusman. (2010). Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers. Sani, Ridwan Abdullah. (2014). Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Sanjaya, Wina. (2014). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group. Sardiman A.M. (1994). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar: Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. ____________. (2011). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Siregar, Eveline & Hartini Nara. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Sudaryono, dkk. (2013). Pengembangan Instrumen Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sudjana, Nana. (1992). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Sugiyono. (2012). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. _______. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2014). Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT Bumi Aksara. Suprihatiningrum, J. (2014). Strategi Pembelajaran: Teori & Aplikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Somadayo, Samsu. (2013). Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Yogyakarta: Graha Ilmu. Uno, Hamzah B. (2010). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 49 UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) PADA SISWA KELAS X IPS 3 SMA NEGERI 2 MEJAYAN TAPEL 2016/2017 Oleh : Dra Titik Mei Widiarini Guru SMA Negeri 2 Mejayan Kabupaten Madiun Abstrak Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) , Keaktifan dan Hasil Belajar. Proses pembelajaran geografi di SMA Negeri 2 Mejayan mengalami permasalahan dalam menentukan metode dan model pembelajaran, hasil,belajar geografi kelas X IPS rerata hanya mencapai 60,41dibawah KKM yaitu 75. Oleh karena itu perlu dicari jalan penyelesaiannya. Salah satu upaya peningkatan hasil belajar siswa dengan meningkatkan pemahaman siswa melalui Model pembelajaran Group Investigation ( GI ) dilaksanakan dengan baik dan ditunjukkan melalui semua komponen atau karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation selama pembelajaran yang meliputi pengelolaan kelas dan kerja sama siswa dalam kelompok Bukti peningkatan hasil belajar ditunjukkan oleh peningkatan aktivitas siswa dan nilai rata-rata tes siswa pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian setelah menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation menunjukkan bahwa: (1) Keaktifan siswa pada siklus I ke siklus II meningkat sebesar 11,02% masuk dalam kategori baik. (2) Hasil belajar geografi siswa pada siklus I sebesar 18 siswa atau 51.43 % memperoleh nilai >75, dan pada siklus II meningkat sebanyak 28 siswa atau 80 % yang memperoleh nilai >75. Kesimpulannya adalah Model pembelajran Tipe Group Investigation dapat meningkatkan hasil nbelajar Geografi di SMA Negeri 2 Mejayan Tapel 2016/2017. Pendahuluan Pendidikan sebagai wahana atau alat untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Sumber daya manusia yang berkualitas sangat diperlukan dalam menghadapi persaingan global dalam dunia pendidikan. Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 didefinisikan pendidikan sebagai berikut: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Proses pembelajaran merupakan salah satu bagian proses pendidikan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses pembelajaran mengandung serangkaian perbuatan antara guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pendidikan. Masalah proses belajar mengajar pada umumnya terjadi di kelas. Kelas dalam arti luas mencakup interaksi guru dan peserta didik, teknik dan strategi belajar mengajar, dan implementasi kurikulum serta evaluasinya (Kasihan Kasbolah E.S, 2001: 1). Proses pembelajaran melalui interaksi guru dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, dan peserta didik dengan guru, secara tidak langsung berbagi komponen lain yang saling terkait menjadi satu sistem yang utuh. Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator yang berupa hasil belajar dilihat dari nilai batas lulus mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk, penggunaan portofolio, dan penelitian diri.. Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan peran serta peserta didik adalah metode pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran kooperatif lebih menitik beratkan pada proses belajar pada kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu bersama kelompok. Proses
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 50 belajar dalam kelompok akan membentuk peserta didik menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional. Dari pengamatan peneliti di bantu kolaboran teman sejawat peneliti kendala yang dihadapi di SMA Negeri 2 Mejayan kelas X IPS adalah siswa masih banyak enggan bertanya kepada guru tentang materi pembelajaran yang belum dimengerti, siswa banyak yang tidak memperhatikan bahkan mengantuk atau bersendau-gurau dengan temannya, siswa kurang bergairah dan malas-malasan apabila diberi tugas, siswa jarang memperhatikan penjelasan guru, tidak mempunyai pendapat jika dimintai pendapat dan mengungkapkan idenya pada saat pembelajaran. Hal ini yang terjadi pada siswa selama mengikuti proses pembelajaran geografi adalah kurangnya antusias siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh gurunya, maka siswa pun terkesan tidak serius dalam belajar. Penggunaan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakteristik siswa memberikan anggapan bahwa mata pelajaran geografi hanya hafalan. Siswa terkesan bahwa guru sebagai satusatunya sumber belajar (teacher centered learning).Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa menurun dari pre tes menunjukkan ketuntasan hasil belajar siswa hanya mencapai 22.86 % dengan rerata nilai 60.14 jauh dari KKM yang ditentukan SMA Negeri 2 Mejayan yaitu >75 untuk maple geografi Berdasarkan pertimbangan diatas maka perlu dikembangkan suatu metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak didominasi oleh siswa siswa tertentu saja. Salah satu pembelajaran adalah melalui cooperative learning diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru melainkan berasal dari berbagai sumber yaitu perpustakan, internet dan lapangan. Peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dalam proses pembelajaran karena metode ini masih belum digunakan dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa di SMA Negeri 2 Mejayan . Kooperatif tipe Group Investigation (GI) adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para peserta didik untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Para peserta didik memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan dalam suatu laporan didepan kelas secara keseluruhan. Rumusan Masalah 1) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran geografi pada kelas X IPS 3 di SMA Negeri 2 Mejayan ? 2) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran geografi pada X IPS 3 di SMA Negeri 2 Mejayan Tujuan Penelitian 1) Meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran geografi melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe GI pada siswa kelas X IPS 3 di SMA Negeri 2 Mejayan 2) Meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran geografi melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe GI pada siswa kelas X IPS 3 di SMA Negeri 2 Mejayan. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi penelitian sejenis sehingga mampu menghasilkan penelitianpenelitian yang lebih mendalam. 2. Manfaat Praktis. a) Dapat menambah wawasan, inovasi, referensi serta ketrampilan guru dalam menerapkan model pembelajaran yang aktif. b) Meningkatkan potensi personal guru melalui penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) dalam pembelajaran geografi.
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 51 Hipotesis Tindakan 1. Melalui Model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran geografi kelas X IPS 3 di SMA Negeri 2 Mejayan 2. Melalui Model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran geografi kelas X IPS 3 di SMA Negeri 2 Mejayan Kajian Pustaka Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Beberapa definisi tentang model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Belajar kooperatif (cooperative learning), dan kerja kelompok (group work), juga menunjukkan cirri sosiologis yaitu penekanannya pada aspek-aspek tugas-tugas kolektif yang harus dikerjakan bersama dalam kelompok dan pendelegasian wewenang dari guru kepada siswa. Menurut Cohen dalam (Nur Asma, 2006: 11) guru berperan sebagai fasilitas dalam membimbing siswa menyelesaikan materi atau tugas. Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, pembelajaran kooperatif juga disebut sebagai pembelajaran gotong royong (Anita Lie 2008: 12) Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif Pengembangan model pembelajaran kooperatif bertujuan untuk : 1) Pencapaian hasil belajar Kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2) Penerimaan terhadap perbedaan individu Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif serta belajar untuk menghargai satu sama lain. 3) Pengembangan keterampilan sosial Pembelajaran kooperatif untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Prinsip Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif terdapat lima prinsip oleh Nur Asma (2006: 14) yaitu sebagai berikut: 1) Belajar siswa aktif Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif berpusat pada siswa, aktifitas belajar lebih dominan dilakukan siswa, pengetahuan yang dibangun dan ditemukan adalah dengan belajar bersama-sama dengan anggota kelompok sampai masing-masing siswa memahami materi pembelajaran dan mengakhiri dengan membuat laporan kelompok dan individual. 2) Belajar kerjasama Seluruh siswa terlibat secara aktif dalam kelompok untuk melakukan diskusi, memecahkan masalah dan mengujinya secara bersama-sama sehingga terbentuk pengetahuan baru dari hasil kerjasama mereka. 3) Pembelajaran Partisipatorik Model pembelajaran ini siswa belajar dengan melakukan sesuatu (Learning by doing) secara bersama-sama untuk menemuan dan membangun pengetahuan yang menjadi tujuan pembelajaran. 4) Reaction Teaching Menerapkan model pembelajaran kooperatif guru perlu menciptakan strategi yang tepat agar seluruh siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi yaitu dengan guru mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik serta dapat menyakinkan siswanya. 5) Pembelajaran yang menyenangkan Pembelajaran harus berjalan dengan suasana yang menyenangkan. Suasana belajar yang menyenangkan harus dimulai dari sikap dan perilaku guru diluar maupun di dalam kelas agar pembelajaran berjalan dengan efektif. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar mata pelajaran geografi kelas X IPS 3 di SMA Negeri 2 Mejayan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research) atau sering disingkat PTK. Sesuai model tersebut, dilakukanlah empat tahapan dalam penelitian tindakan kelas sebagai
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 52 berikut: 1. Perencanaan Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang tersusun dan dari segi definisi harus mengarah pada tindakan yaitu, bahwa rencana harus memandang ke depan. Perencanaan dalam tindakan ini adalah: a. Membuat persiapan pembelajaran berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dari materi yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tentang lithosfer. b. Menyiapkan model pembelajaran kooperatif tipe GI dan soal-soal tes. c. Membuat instrumen observasi untuk mengamati proses pembelajaran baik guru maupun siswa, pada saat proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI. 2. Pelaksanaan tindakan Tindakan yang dimaksud adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana, jadi tindakan itu mengandung inovasi atau pembaharuan, walaupun kecil yang berbeda dengan yang biasa dilakukan sebelumnya. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah: a. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). b. Guru menjelaskan materi dengan menggunakan metode ceramah, dilanjutkan tanya jawab dan diskusi kelompok. Disamping itu guru geografi memaparkan model pembelajaran kooperatif tipe GI melalui LCD atau proyektor. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. c. Guru memberikan soal tes pada akhir kegiatan pembelajaran atau setiap akhir siklus. d. Guru bertindak sebagai pelaksana tindakan atau mengajar sedangkan peneliti sebagai pengamat atau observer. 3. Pengamatan Pengamatan berfungsi untuk melihat pengaruh tindakan terkait bersama prosesnya. Observasi itu berorientasi kemasa yang akan datang, memberikan dasar bagi refleksi, terlebih lagi ketika putaran atau siklus terkait masih berlangsung. Rencana observasi harus fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak terduga. 4. Refleksi Refleksi adalah mengingat dan merenugkan kembali suatu tindakan, persis seperti yang tercatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan srtategik. Refleksi memiliki aspek evaluatif yaitu meminta peneliti tindakan untuk menimbang-nimbang pengalamannya, untuk menilai apakah pengaruh persoalan yang timbul memang diinginkan dan memberikan saran-saran tentang cara-cara untuk meneruskan pekerjaan. Indikator Keberhasilan Keberhasilan tindakannya dilihat dari peningkatan persentase nilai siswa, yaitu minimal di akhir siklus terdapat 75% dari jumlah siswa telah meningkat hasil belajarnya dapat mencapai >75. Untuk melihat keberhasilan tindakan dapat dilihat dari nilai akhir siklus II dan post test yaitu minimal 75% dari jumlah siswa yang mendapatkan nilai minimal 75. Hasil tindakan sesuai dengan standar minimal yang ditentukan maka tindakan dinyatakan berhasil. Hasil Penelitian Deskripsi Pra Tindakan Pelaksanaan pembelajaran geografi di SMA Negeri 2 Mejayan berlangsung sangat kurang bervariasi. Guru mengajarkan materi geografi dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi sederhana. Kegiatan pembelajaran dikelas hanya didominasi oleh guru, maka mengakibatkan hasil belajar siswa rendah. Hal ini dapat dilihat dari kegagalan saat menerapkan metode pembelajaran kelompok. Siswa malu untuk bertanya kepada guru tentang materi apa yang belum mereka pahami, siswa tidak berani mengemukakan pendapat mereka. Siswa merasa tujuan pembelajaran yang ada dipenuhi hanya untuk mencapai nilai hasil belajar yang tinggi, tetapi tujuan pembelajaran
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 53 tidak diarahkan pada tujuan siswa mandiri, tidak diarahkan untuk pengembangan karakter siswa sehingga siswa merasa jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini mengakibatkan hasil pembelajran geogafi sangat rendah dibuktikan dengan Hasil Pra Tindakan ketuntasan yang dicapai hanya 22.86 Solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut maka peneliti berkolaborasi dengan guru (teman sejawat) menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe GI untuk meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa. Hasil pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI sebagai berikut: Pelaksanaan Tindakan SIKLUS I a. Diskripsi Tindakan Perencanaan 1) Menyusun RPP yang akan digunakan sebagai acuan dlam tindakan dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI. 2) Menyusun Lembar Kerja Kelompok (LKK) untuk siklus I 3) Menyiapkan soal-soal tes siklus I dan kunci Jawabannya. Menyusun dan menyiapkan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI. 4) .Menyiapkan peralatan untuk mendokumentasikan kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung seperti kamera. b. Pelaksanaan Tindakan Pertemuan siklus I guru yang melaksanakan pembelajaran. Guru membuka pelajaran dengan salam, kemudian guru mengecek kehadiran siswa dan menyampaikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru menyampaikan apersepsi yaitu memberikan pertanyaan tentang lithosfer seperti jenis-jenis batuan pembentuk lapisan kulit bumi. Guru membagi siswa kedalam kelompok-kelompok kecil. Pembagian kelompok dengan memperhatikan heterogenitas siswa berdasarkan jenis kelamin dan prestasi akademik. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 dan 6 siswa. Guru menginstrusikan siswa menempatkan diri sesuai kelompoknya masing-masing. Kegiatan selanjutnya guru memberikan lembar kerja kelompok (LKK) kepada tiap kelompok untuk mendiskusikan materi atau topic yang berbeda diantaranya tentang jenis-jenis batuan pembentuk kulit bumi. Kegiatan presentasi guru tidak mengharuskan semua anggota kelompok ikut presentasi di depan kelas. Guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan kedepan kelas hasil investigasi kelompoknya secara lisan dengan perwakilan dua atau tiga anggota yang maju kedepan secara bergantian. Selanjutnya guru menyimpulkan hasil presentasi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti, kemudian guru menjelaskan secara klasikal. Bentuk evaluasi dengan memberikan tes siklus I kepada siswa yang harus dikerjakan individu untuk mengukur hasil belajar siswa pada akhir siklus pembelajaran. Pada soal tes siklus I ini terdiri dari 20 soal pilihan ganda. Guru memberikan kesimpulan dari hasil pembelajaran pada hari itu. Setelah mengerjakan tes, guru kemudian menutup pelajaran sambil memotivasi siswa untuk lebih giat dalam menyelesaikan tugas dalam pertemuan berikutnya. Guru menutup pelajaran dengan berdoa bersama-sama. c) Observasi 1) Pengamatan Dalam Proses Pembelajaran Geografi Peneliti menilai pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran geografi dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI. Hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I memperoleh skor 69.03% yang berada dalam kategori tinggi Skor ini diperoleh dari penilaian saat pelaksanaan pembelajaran 2) Pengamatan Terhadap Hasil Belajar Siswa Hasil belajar dapat dilihat pada penguasaan materi dengan hasil tes objektif. pada siklus I ini pokok bahasan yang digunakan adalah Lithosfer jenis-jenis batuan pembentuk lapisan bumi. Hasil
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 54 belajar yang didapat dari tes pada siklus I setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat dilihat dari hasil evaluasi belajar siswa yang dapat diperoleh dari pelaksanaan tes individu yang dilaksanakan setiap akhir pertemuan. Hasil belajar post-test siklus I dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1 . Hasil Belajar Siswa Kelas X IPS 3 pada Siklus I Dari tabel diatas dapat diperoleh data bahwa pada test hasil belajar Pra Tindakan sebanyak 8 siswa atau 22.86 % siswa memperoleh nilai <75. Dan hasil tes siswa pada siklus I dapat dilihat bahwa siswa yang tuntas dalam belajar mencapai 18 siswa atau 51.43 % dari total seluruh siswa sedangkan 48.57% atau sebanyak 17 siswa dinyatakan belum tuntas dalam belajar. Hasil belajar pada siklus I terjadi kenaikan dalam ketuntasan belajar yaitu 28.57 % atau 10 siswa namun hal itu belum memenuhi kreteria ketuntasan yang ditentukan. Hasil belajar siswa rendah sehingga masih perlu ditingkatkan pada siklus-siklus berikutnya. c. Refleksi dan evaluasi 1. Posisi tempat duduk antar kelompok yang terlalu dekat. 2. Saat mengalami kesulitan dalam belajar kelompok, masih terdapat beberapa siswa yang menanyakan kesulitan langsung pada guru sebelum mendiskusikan dengan teman satu kelompok. 3. Belum ada keberanian siswa untuk bersedia maju mempresentasikan hasil investigasi kelompoknya. 4. Masih terdapat banyak siswa yang tidak menyampaikan hasil diskusi kelompok dengan maksimal. Berdasarkan permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan tindakan siklus I, hal yang perlu mendapat perhatian dan perubahan yang akan dilaksanakan pada siklus II adalah sebagai berikut: 1) Mengatur posisi kelompok 2) Memacu siswa agar lebih berani mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat. 3) Berusaha menyampaikan materi dengan singkat dan jelas. 4) Memberikan pengertian kepada siswa harus belajar secara mandiri 5) Guru lebih memotivasi siswa agar lebih beperan aktif dalam diskusi kelompok. 6) Guru mengingatkan siswa untuk mematuhi prosedur pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI, salah satunya dengan menyampaikan hasil diskusi secara keseluruhan. Pelaksanaan Tindakan Siklus II a. Perencanaan Tindakan Secara teknis pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sama dengan siklus I namun lebih memperhatikan hasil refleksi yang telah diperoleh pada siklus I. Instrumen yang dipersiapkan antara lain: 1. Menyusun RPP dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI 2. Menyusun Lembar Kerja Kelompok siklus II. 3. Menyusun soal tes siklus II dan jawabannya.. 4. Menyusun dan menyiapkan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI. 5. Mempersiapkan peralatan untuk mendokumentasikan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe GI di kelas. b. Pelaksanaan Tindakan Guru membuka pelajaran dengan salam, Guru mengadakan apersepsi yaitu memberikan pertanyaan tentang contoh-contoh endogen. Setelah itu memberikan penjelasan tentang endogen secara jelas. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang dianggap sulit pada guru. Guru menginstrusikan siswa menempatkan diri sesuai kelompoknya masing-masing sesuai dengan pembagian kelompok pada siklus I Kegiatan selanjutnya
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 55 guru memberikan lembar kerja kelompok (LKK) kepada tiap kelompok untuk mendiskusikan materi atau topic yang berbeda diantaranya tentang endogen. Setelah kegiatan belajar kelompok selesai, guru memberikan kesempatan kepada kelompok untuk mempresentasikan hasil investigasi kelompoknya masing-masing. Guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan ke depan kelas hasil investigasi kelompoknya secara lisan dengan perwakilan dua atau tiga anggota yang maju kedepan secara bergantian.. Kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil investigasi yang sedang dibahas. Selanjutnya guru menyimpulkan hasil presentasi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti, kemudian guru menjelaskan secara klasikal. Setelah presentasi kelas selesai guru memerintahkan semua siswa kembali ketempat duduk masing-masing, kemudian guru melakukan evaluasi untuk mengerjakan soal tes siklus II. c. Observasi 1) Pengamatan terhadap guru dalam proses pembelajaan geografi pelaksanaan pembelajaran geografi dilakukan oleh guru dan dinilai oleh peneliti.. Peneliti menilai pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran geografi dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI. Hasil penilaian pembelajaran pada siklus II berlangsung dengan baik Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat dan guru sudah mulai lancar dengan langkah pembelajaran kooperatif tipe GI. Guru melaksanakan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan kesempaan siswa untuk bertanya. Diakhir pembelajaran guru memberikan kesimpulan .. 2) Pengamatan Terhadap Keaktifan Siswa Dari lembar observasi keaktifan siklus II adanya kenaikan dari siklus I yang mana pada observasi Siklus I 69.39 % meningkat menjadi 80.41 % Hal ini disebabkan karena pada siklus II siswa sudah terbiasa belajar kelompok sehingga mereka sudah dapat menerima perbedaan dalam kelompok sehingga diskusi dalam kelompok sudah berjalan dengan baik, dan keberanian siswa mulai tampak dari keaktifan siswa dalam bertanya maupun berpendapat. 3) Pengamatan Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada siklus II ini hasil belajar juga dilihat dari aspek kognitif. Peningkatan hasil belajar dapat diamati yaitu menggunakan penilaian tes. Hasil belajar yang didapat dari tes siklus II setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat dilihat dari hasil evaluasi belajar siswa diakhir pertemuan dalam kegiatan pembelajaran.. Hasil belajar siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Hasil belajar Siklus II Dilihat dari tabel diatas dapat diperoleh data bahwa pada test hasil belajar siklus II sebagian besar siswa yaitu sebanyak 27 siswa atau 80 % siswa memperoleh nilai >75 atau ketuntasan mencapai 80 % ada capaian yang cukup signifikan dibandingkan dengan Siklus I dengan demikian dinyatakan sudah mencapai target yang ditentukan sesuai KKM 75. d. Refleksi dan Evaluasi Berdasarkan observasi pembelajaran dan pengamatan keaktifan siswa saat belajar kelompok pada pembelajaran di siklus II diskusi kelompok berjalan lebih baik dibandingkan siklus I. Beberapa kelemahan yang terjadi pada siklus I sudah dapat diatasi pada siklus II. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI yang dilakukan oleh guru telah berjalan lebih baik dari siklus I yaitu keaktifan siswa dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat. Terjadi peningkatan pnguasaan siswa terhadap materi, terbukti pada siklus II ini terdapat 80 % siswa yang mendapat nilai >75, meningkat sebesar 28.57 % dari
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 56 siklus I bisa dilihat kecuali itu keaktifan siswa pada siklus II juga mengalami peningkatan dari siklus I yaitu meningkat sebesar 11.02 % dan berada pada kategori tinggi . Hasil pengamatan yang terjadi pada pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI pada siklus II ini secara umum telah mengalami peningkatan dan telah mencapai kriteria keberhasilan penelitian yang diterapkan. Secara keseluruhan semua aspek yang diamati mengalami peningkatan. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI telah berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang seharusnya diterapkan dalam pembelajaran kooperatif tipe GI, dan telah berjalan sesuai dengan pembelajaran RPP yang telah dirancang sebelumnya. Pembahasan Antar Siklus Kegiatan sebelum pelaksanaan tindakan penelitian ini dilakukan peneliti sebagai guru di SMA Negeri 2 Mejayan melihat dalam pelaksanaan pembelajaran geografi di SMA Negeri 2 Mejayan berlangsung sangat kurang bervariasi. Berdasarkan pengamatan pembelajaran pada Siklus I mencapai skor 68 yang berarti pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI berjalan baik. Siklus II pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe GI telah berjalan dengan sangat baik. Terbukti dengan hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran oleh peneliti yang bertindak sebagai guru yang memperoleh skor 79 dengan kategori sangat baik. . Berdasarkan dari lembar observasi keaktifan siswa saat belajar kelompok yang terdiri dari tujuh aspek yang diamati berjalan dengan baik Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi keaktifan sisiwa yamng man pada Siklus I 69.39 % naik menjadi 80.41 % pada siklus II dengan katagori sangat baik Dari variable hasil belajar untuk mengukur hasil belajar dalam penelitian ini adalah memberikan tes siswa. Peningkatan hasil belajar dapat diamati pada setiap siklus yaitu menggunakan penilaian tes atau menggunakan penilaian aspek kognitif. Peningkatan hasil belajar siswa pada pre-test, siklus I sampai siklus II, dan post-test dapat digambarkan dalam histogram sebagai berikut: Gambar 1. Histogram Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pra Tindakan, Siklus I-II dan Post-Test Dari histogram diatas dapat diperoleh data bahwa pada hasil belajar mengalami peningkatan tiap siklusnya, pada pra tindakan yang memperoleh nilai >75 hanya 22.86 % ( 8 siswa ) yang tuntas dalam belajar sedangkan siswa yang memperoleh nilai <75 sebanyak 27 siswa atau 77.14 % dinyatakan tidak tuntas dalam belajar, Selanjutnya pada Tindakan Penelitian (Post-Test) siklus I hasil belajar yang memperoleh niali >75 hanya ada 18 siswa atau 51.43 % dinyatakan tuntas dan siswa yang memperoleh nialai <75 sebanyak 17 siswa atau 48.57% dinyatakan tidak tuntas. Pada Siklus II data yang diperoleh bahwa pada hasil belajar mengalami peningkatan di Siklus II siswa yang memperoleh nilai >75 sebanyak 28 siswa atau 80% dinyatakan tuntas dalam belajar dan siswa yang memperoleh nilai <75 terdapat 7 siswa atau 20 % dinyatakan tidak tuntas. Peningkatan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar secara terus menerus mulai dari siklus I sampai siklus II hal ini membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan hasil belajar geografi yang dilihat dari hasil penilaian belajar siswa. Simpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X IPS 3 SMA Negeri 2 Mejayan pada mata pelajaran geografi. Adapun kesimpulannya secara rinci adalah: 1. Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan keaktifan siswa.. Pada siklus I presetase keaktifan 69,39% masuk dalam kategori tinggi. Pada siklus II presentase keaktifan siswa terus
GI - Titik Mei Widiarini - SMA Negeri 2 Mejayan - Kabupaten Madiun - Halaman - 57 mengalami peningkatan yiatu 80,41% masuk dalam kategori sangat tinggi. 2. Melalui penerapan model pembelajaran koopertaif tipe GI dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar mengalami peningkatan tiap siklusnya, pada siklus I sebesar 18 siswa atau 51.43 % memperoleh nilai >75. Pada Siklus II ini mengalami peningkatan hasil belajar sebesar 28 siswa atau 80% memperoleh nilai >75. Saran Adapun saran peneliti berdasarkan kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Guru geografi hendaknya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI dalam pembelajaran sebagai salah satu alat untuk membantu meningkatkan keaktifan siswa. 2. Guru geografi hendaknya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI dalam pembelajaran sebagai salah satu alat untuk membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Daftar Pustaka Alam S. (2006). Geografi untuk SMA dan MA Kelas X.Jakarta: Esis. Anita Lie.(2008). Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia. Asri Budiningsih.(2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:PT.Rineka Cipta. Baharuddin, H dkk.(2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media Dimyati & Mudjiono.(2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT.Rineka Cipta Etin Solihatin & Raharjo. 2005. Coopertaive Learning Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta : Bumi Aksara. Hamzah B.Uno. (2008). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : PT.Bumi Asara. Hasbullah. (2006). Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Isjoni. (2010). Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Istina Puji Astuti. (2008). “ Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Geografi melalui Model Cooperative Learning Tehnik STAD (Student Teams Achievement Division) di Kelas X SMA Negeri 1 Muntilan”. Skripsi FIS UNY. Kasihani Kasbolah. (2001). Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri Malang.
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 58 DENGAN MENGGUNAKAN OBAMA UNTUK MEMPERMUDAH MATERI KEMAGNETAN. Oleh : Kasiyono, S.Pd Guru SMP Negeri 4 Mejayan Kabupaten Madiun [email protected] Abstrak Kata kunci : Obama, Kemagnetan Masa pandemic Covid-19 sangat berpegaruh terhap proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Mejayan. Pemahaman siswa sangat memprihatinkan, siswa dapat mengerjakan tugas, tetapi tidak faham konsep dasar materi yang dipelajari. Tujuan utama dari karya Inobel ini untuk mempermudah pemahaman materi kemagnetan dan penyelesaian persamaan transformator lebih mudah, cepat dan akurat yang pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar. Selama proses pembelajaran dilakukan penilaian autentik dan diakhiri dengan penilaian harian dan penilain Tengah Semester. Subyek penelitian adalah kelas 9A SMPN 4 Mejayan yang berjumlah 28 siswa, sedangan pembandingnya adalah kelas 9B,C,D yang menggunkan Obama 50%. Keterkaiatan dengan mata pelajaran lain dilakukan melalaui Desiminasi pada 15 orang guru yang mewakili semua mata pelajaran. Siswa antusias mengikuti pembelajaran hal ini dapat dilihat rerata keterlibatan 87 %, dimana tiap pertemuan meningkat. Besarnya keterlibatan siswa berpengaruh terhadap tingginya prestasi belajar, dimana 89% siswa penilaian harian lulus, dan pada Penilain tengah Semester 86%. Persepsi siswa terhadap penilaian autentik sangat menyenangkan (95%), dan guru 100%. Pendapat siswa tentan pembelajaran Obama 80% menyengkan dan 95% persen guru berpendapat sama. Inovasi Pembelajaran menurut 80% Guru dapat diterapkan pada mata pelajaran lain. Dengan demikian dapat disumpulkan bahwa Dengan Inovasi Pembelajaran Obama lebih menyenangkan, mempermudah, dan meningkatkan presatasi belajar Kemagnetan Abstract Keywords: Obama, Magnetism The Covid-19 pandemic period greatly affected the teaching and learning process at SMP Negeri 4 Mejayan. Students' understanding is very concerning, students can do assignments, but do not understand the basic concepts of the material being studied. The main objective of Inobel's work is to make it easier to understand magnetic material and to solve transformer equations more easily, quickly and accurately, which in turn improves learning achievement. During the learning process, an authentic assessment is carried out and ends with a daily assessment and mid-semester assessment. The subjects of the study were class 9A SMPN 4 Mejayan, totaling 28 students, while the comparison was class 9B, C, D which used Obama 50%. Linkages with other subjects were carried out through dissemination to 15 teachers representing all subjects. Students are enthusiastic about participating in learning, it can be seen that the average involvement is 87%, where each meeting increases. The amount of student involvement has an effect on the high learning achievement, where 89% of students pass the daily assessment, and 86% in the mid-semester assessment. Students' perceptions of authentic assessments are very pleasant (95%), and teachers are 100%. Students' opinions about Obama's learning are 80% fun and 95% percent of teachers think the same. Learning Innovation according to 80% of teachers can be applied to other subjects. Thus, it can be concluded that with Obama's Learning Innovations it is more fun, easier, and increases learning achievement of Magnetism Pendahuluan Masa pandemic Covid-19 sangat berpegaruh terhap proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Mejayan. Seiring di Kabupaten Madiun terjadi penurunan penyebaran Covid-19, akhir semester ganjil tahun pembelajaran 2021/2022 dilakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, yaitu 50% siswa tatap muka sisanya Pembelajaran Jarak Jauh. Setelah dilaksanakan selama 1 bulan ternyata pemahaman siswa terhadap materi sangat memprihatinkan. Siswa dapat mengerjakan tugas yang diberikan guru, tetapi tidak faham konsep
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 59 dasar materi yang dipelajari. Dari pengamatan yang penulis lakukan secara langsung ternyata akar masalahnya adalah siswa hanya menghafal pengertian, rumus ataupun istilah yang ada dalam modul. Tetapi setelah diminta memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, apalagi menyimpulkan dalam kalimat yang sederhana, hasilnya sangat kurang. Padahal waktu yang tersedia sangat sedikit, setiap minggu hanya 2 jam pelajaran tatap muka, sisanya PJJ. Siswa memang berhasil mencapai nilai sesuai KKM 68, tetapi mereka gagal memahami materi dan konsep yang ada. Penulis berusaha menerapkan pembelajaran dengan menggunakan Ladi Gaga (Langsung dibuat Gambar atau Grafik) (Inobel, Kasiyono, 2019), dan dikombinasikan dengan menggunakan model pembelajan SETS (PTK, Kasiyono, 2018), ternyata belum memuaskan. Berdasarkan kenyataan diatas maka penulis memberanikan diri untuk tetap melajutkan materi semester ganjil yang belum selesai. Penulis melakukan inovasi dalam proses pembalajaran yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan meningkatkan prestasi belajar. Tujuan utama dari karya Inobel ini untuk mempermudah pemahaman materi kemagnetan dan penyelesaian persamaan transformator lebih mudah, cepat dan akurat yang pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar. IPA pada hakikatnya meliputi empat unsur utama yaitu: (1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; (3) produk: berupa fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum; dan (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. (Buku Pegangan Guru IPA Wahono Widodo dkk 2014. Penilaian dalam pembelajaran IPA menggunakan prinsip bahwa penilaian adalah bagian dari pembelajaran, digunakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajarnya. Oleh karena itu penilaian dilakukan seiring dengan pembelajaran, baik saat proses maupun diakhir proses atau disebut penilaian autentik. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid atau reliabel. (Sunarti, 2014, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Penilaian_autentik). Adapun penilaian autentik dilaksanakan selama dan sesudah pembelajaran. Dalam melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran guru bersepakat dulu dengan cara dan aturan main selama pembelajaran. Sehingga siswa benar-benar diperlakukan sebagai subyek. Menurut Ki Hadjar Dewantara, kemerdekaan dalam pendidikan berarti : (a) tidak hidup terperintah; (b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri; (c) cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Tidak hidup terperintah berarti seseorang bisa menentukan sendiri arah tujuannya, memerintah diri sendiri. berdiri tegak karena kekuatan sendiri berarti menekankan pada kemandirian seseorang, mencapai tujuan dengan daya upaya sendiri, cakap mengatur hidupnya dengan tertib menekankan pada keterampilan mengatur hidup secara tertib. Merdeka belajar adalah belajar yang diatur sendiri oleh pelajar. Pelajar menentukan tujuan, cara dan penilaian belajarnya. Dari sudut pandang pengajar merdeka belajar berarti belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan, cara dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar. Atau dengan kata lain anak-anak hidup dengan kodratnya sendiri dan pendidik bertugas untuk membantu menuntun tumbuh kodrat anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. (Konsep Merdeka Belajar -1, SIM PKB, 2021). Guru Merdeka Belajar adalah guru yang senantiasa berefleksi untuk menyesuaikan pemikiran untuk menyesuaikan pemikiran dan perbuatannya terhadap perubahan dalam upaya mencapai tujuan Guru Merancang pembelajaran
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 60 berdasarkan kebutuhan dan kesiapan murid, Mencari cara yang efektif untuk mengatasi kesulitan, Mengikuti kegiatan berkomunitas, (berbagi, pelatihan, coaching dll) untuk melakukan pengembangan diri. Di masa pandemi Covid -19 dikenal istilah pembelajaran Daring dan Luring, tergantung level penyebarannya. Kedua istilah ini sangat baru baik bagi guru, siswa apalagi orang tua. Berdasarkan kumparan.com Secara singkat, daring adalah versi Bahasa Indonesia dari kata “online.” Daring merupakan singkatan dari Dalam Jaringan. Di dalam konteks edukasi, pembelajaran daring adalah sistem pembelajaran yang menggunakan model interaktif berbasis internet, seperti penggunaan Google Meet, Zoom, dan lainnya. Dalam prakteknya istilah Daring disebut dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sedangkan luring berarti: luar jaringan, terputus dari jejaring komputer, atau yang biasa dikenal dengan kata “offline”. Sistem pembelajaran luring selajutnya disebut dengan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), dimana pembelajaran ini membutuhkan pertemuan secara langsung guru dengan siswa. Karya Inovasi Pembelajaran Ide dasar pengembangan inovasi pembelajaran ini dimulai rasa penasaran penulis, hampir setiap anak dapat menyelesaikan dengan baik tes formatif 1,2,3 Modul 4 semester ganjil tahun 2021. Tetapi dalam mengerjakan tes akhir modul yang berlandaskan Analisis Ketuntasan Minimum, sebagaian siswa tidak mampu menyelesaiakan dengan baik. Diawal semester genap penulis mencoba mencari tahu dengan memberikan pertanyaan tentang konsep dan cara mengerjakan, ternyata tidak ada siswa yang mampu menjelaskan. Berikutnya pada saat ditanya siswa tidak berani menjawab, takut salah. Sebagian clometan tidak memperhatikan pertanyaan guru tetapi komentar saat ada siswa lain menjawab. Pada materi kemagnetan penulis mencoba melakukan perubahan pengajaran, dengan siswa yang hampir 2 tahun tidak tatap muka dan pertemuan tatap muka terbatas 50%, maka perlu ada inovasi dalam pembelajaran. Tetapi siswa harus tetap gembira, merasa bebas, dihargai tetapi sebagai guru harus menyelesaiakan materi dengan baik. Berdasarkan hasil tahun sebelumnya tentang kompentensi dasar kemagnetan siswa kesulitan mengerti istilah-istilah kemagnetan, konsep dasar dan menyelesaikan transformator. Di awal siswa kesulitan menjelaskan arti magnet, kebanyakan siswa mengatakan yang dapat menarik baja atau besi. Ciri-ciri magnet dan istilah induksi, electromagnet, medan magnet, garis gaya magnet, induksi electromagnet, transformator dan istilah lain yang sangat asing bagi siswa. Begitu melihat daftar isi tentang istilah tersebut sebagian siswa pesismis, hapalannya banyak. Yang membuat penulis yakin penggunaan Obama, adalah saat ditanyakan kepada siswa angka 102 (sepuluh pangkat dua), jawaban siswa bervariasi ada yang 100 (seratus), 20 (dua puluh), 200 (dua ratus) bahkan ada yang menjawab sama sekali tidak tahu. Tetapi saat 102 dibaca satu nolnya dua, dan penulis menuliskan angka satu kemudian dibelakangnya angka nol berjumlah dua (100), siswa mulai tersenyum paham. Bahkan setelah ditanyakan 103 , 104 , 109 , 1016 dan bahkan 25 x 105 siswa mampu menjawab. Demikian juga saat ditanya 10-2 dibaca satu nolnya kurang dua, mereka lebih paham dibanding dibaca sepuluh pangkat min dua. Dari temuan ini pemahaman bahasa sangat penting. Siswa harus mengetahui istilah asing dan matematika dalam bahasa Indonesia. Demikian juga istilah yang digunakan guru dalam bertanya pada siswa harus lebih menghargai siswa bukan masalah benar dan salah, tetapi pendapat siswa. Selain hal tersebut diatas penulis juga merasakan kelebihan dan kelemahan pembelajaran dengan ladi gaga dan SETS, bahwa siswa lehih mudah menyelesaikan soal dengan digambar dan penggunaan animasi pembelajaran lebih memudahkan siswa dalam mempelajari materi baru. Jenis Inovasi Pembelajaran Obama Jenis inovasi pembelajaran yang penulis lakukan adalah membuat metode atau cara baru dalam memudahkan siswa menjelaskan konsep kemagnetan dan menyelesaiakan persoalan transformator. Inovasi ini menuntut keaktifan guru dan siswa. Selain siswa menyelesaikan
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 61 pertanyaan yang ada tetapi siswa juga menentukan cara pembelajaran dengan membuat kesepakatan awal dengan guru. Dengan inovasi ini guru dan siswa tetap harus mengerti konsep dasar sesuai teori kemudian guru memberikan cara dengan Obama. Dalam menentukan istilah dan cara penyelesaian soal yang termudah diserahkan sepenuhnya kepada siswa. Guru hanya menuntun dan membimbing. Desain Inovasi Pembelajaran Obama Desain Inovasi pembelajaran Obama dimulai dengan membuat kesepakatan dengan siswa bagi siswa yang berani menjawab atau bertanya maka akan mendapat point 1 dan jika benar mendapat tambahan point 1. Bagi siswa yang mentertawakan akan mengkomentari jawaban siswa lain maka akan dikurangi dua point, dan point itu diberikan pada siswa yang dikomentari. Harapan utama adalah semua siswa aktif dalam pembelajaran, merasa dihargai pendapatnya. Bahasa pertanyaan guru bukan siapa yang bisa menjawab, tetapi siapa yang berpendapat. Penulis meminta siswa membaca buku paket atau modul, guru memberi arahan apa yang akan dicari siswa tentap konsep dasar atau kata kunci dari yang dibaca. Kemudian guru menampilkan di LCD proyektor animasi tentang konsep dasarnnya, siswa menyimpulkan. Guru memberi arahan dan pertanyaan lanjutan misalnya pengertian Medan magnet, siswa diarahkan mencari kata lain Medan berdasarkan pengalaman siswa dari istilah medan laga, medan tempur dan lainnya. Contoh lain istilah induksi artinya menedekatkan, electromagnet elektro dan magnet. Pada materi Transformator siswa diajak mengenal istilah trafo atau film animasi transformer, sehingga mengeri istilah tranformator. Demikian juga step up, step down, tanpa menghafal syaratnya siswa mampu membedakaanya dengan hanya membaca soal atau melihat gambar. Dalam penyelesaian persamaan transformator, bahasa matematika sangat penting, istilah sama dengan, sisi kiri kanan, atas bawah, kali bagi, tambah kurang. Setelah siswa diberikan persamaan transformator dan cara pengerjaan menggunakan rumus matematis siswa diajak menganalisa berdasrkan istilah sama dengan, kanan kiri dan lainya. Definisi Operasional Inovasi Pembelajaran Obama Definisi operasionalinovasi pembelajaran yang berjudul Dengan menggunakan OBAMA untuk meningkatkan prestrasi belajar Kemagnetan, adalah sebagai berikut : a. Kemagnetan : materi kemagnetan yang meliputi pengetian dasar, cara membuat, dan aplikasi magnet dalam kehidupan sehari-hari. b. Prestasi belajar : hasil belajar siswa selama dan setelah proses pembelajaran c. OBAMA : singkatan dari Olah Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Matematika. Yakni cara mempermudah konsep dan penyelesaian soal berupa angka dengan mengolah menjadi bahasa yang lebih keseharian. Rancangan Inovasi Pembelajaran Obama Rancangan inovasi pembelajaran Obama untuk meningkatkan prestasi belajar Kemagnetan harus dilaksanakan antara siswa dan guru. Langkah-langkah adalah sebagai berikut : 1. Guru dan siswa membuat kesepakatan point saat bertanya dan berpendapat. 2. Pada pertemuan pertama Guru meminta siswa untuk membaca buku paket dan modul tentang : - Istilah magnet, benda magnetik, induksi, elekromagnet, kutub magnet dan ggm - Ciri magnet, yang paling kuat menarik magnet - Konsep dasar menggosok, induksi dan elektromagnet, medan magnet, arah ggm - Semuanya dicatat di buku tulis 3. Guru menanyakan “pendapat” siswa tentang istilah yang ditentukan, berdasarkan catatan siswa di buku tulis, bagi siswa yang berani berpendapat diberikan point 1 tetapi siswa yang mentertawakan di kurangi dua point. Point tersebut diberikan kepada siswa yang ditertawakan 4. Guru menampilkan tayangan di LCD proyektor dan mendemostrasikan di depan kelas tentang kemagnetan sambil menyimpulkan konsep dasar yang dicatat
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 62 siswa, contoh : konsep dasar menggosok adalah searah. 5. Pada pertemuan berikutnya guru mengajak siswa belajar induksi electromagnet dan penerapanya 6. Setelah Mengajak siswa mencari konsep dasar induksi electromagnet, ggl induksi, transformator, jenis transformator 7. Stelah ditampilkan di LCD proyektor bersama siswa menyimpulkan pengertian yang di maksud. Proses Penemuan/ Pembaharuan Pembelajaran Obama Proses pembaharuan dengan menggunakan Obama adalah hal-hal sebagai berikut : 1. Konsep Dasar magnet Ferromagnet : Ferro (Very) = sangat kuat Diamanet : Dia (bukan Aku) = tidak ditarik Paramagnetik: banyak ( kalau satu = lemah) 2. Konsep Dasar cara membuat magnet : Menggosok : searah Induksi : mendekatkan Electromagnet : Elektro = listrik , listrik hasilkan magnet 3. Medan magnet , Daerah Magnet 4. Ggm (gaya Gerak magnet), gerak ada arah (US-US buka SU-SU) 5. Induksi Elektromagnet atau ggl Induksi Induksi (mendekatkan), Elektromagnet = mendekatkan magnet hasilkan listrik Ggl (gaya gerak listrik), gaya (tarikan/ dorongan), gerakan tarikan dorongan magnet menghasilkan listrik 6. Transformator seperti Transformer = mengubah 7. Persamaan transformator dengan Obama tanda baca “=” dibaca sama dengan artinya ruas kiri sama dengan ruas kanan. Sehingga jika hasil ruas kiri 10 maka ruas kanan hasilnya harus 10. Aplikasi Praktis Inobel Obama Menyelesaiakan Transformator Berikut aplikasi pembembelajaran dengan menggunakan Obama untuk menyelesaikan soal Transformator. 1. Pembelajaran dengan Obama Transformator a. Guru meminta siswa untuk membaca buku dan mencari pengertian transformator dan bagian dari transformator. b. Guru menampilkan gambar transformator dan menjelaskan bahwa transformator untuk mengubah tegangan c. Dengan melihat jumlah lilitan maka sudah diketahui step up atau step down d. Guru menayangkan persamaan transformator dan jenis transformator berdasarkan persamaan. e. Guru mencontohkan pengerjaan soal transformator dengan rumus, kemudian meminta siswa mengerjakan contoh soal. Contoh : Sebuah transformator memiliki 300 lilitan primer dan 30 lilitan sekunder. Diketahui tegangan pada lilitan primer adalah 220 volt, Berapakah besar tegangan sekunder, Tentukan efisiensi transformator, Tentukan jenis transformator dan Jika arus primer sebesar 0,5 mA, berapakah sekunder? Diketahui: Np = 300 lilitan Ns = 30 lilitan Vp = 220 volt Ditanya: a) Tegangan sekunder (Vs) b) Arus sekunder (Is) c) Jenis transformator Jawab: a) b) c) Karena Vp > Vs dan Np > Ns, maka transformator step-down. f. Guru mencontohkan mengerjakan soal transformator dengan Obama, dan meminta siswa mengerjakan soal yang sama. Contoh : a) 30 220 300 = Vs , ruas kanan bernilai 10, maka ruas kiri harus 10, sehingga 220/vs = 10 sehingga vs 22 V
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 63 b) 22 0,5 220 Is = , ruas kiri bernilai 10, maka ruas kanan harus 10, sehingga Is /1/2 = 10 sehingga Is = 1 x 2/1 x … =10, sehinga Is = 5 A c) d) Contoh lain a) Sebuah transformator dipasang pada tegangan 120 V, Jika banyaknya lilitan primer 800 dan lilitan sekunder 1.600, berapakah tegangan yang dihasilkan dan jenis trafo itu? Jenis step Up b) g. Guru meminta siswa memilih cara yang mereka anggap mudah . Data Dan Pembahasan Inovasi Pemelajaran Obama Dari pembelajaran di kelas 9 pada materi Kemagnetan dimana kondisi kemampuan siswa 9B adalah kelas unggulan, dam 9A, 9C dan 9D mempunyai kemampuan dan kemauan yang variatif. Inobel Obama secara insentif dilakukan di kelas 9A sedangkan kelas lain inobel Obama dilakukan 50%. Berikut data yang diperoleh berupa nilai siswa dan persepsi siswa serta guru. Nilai didapatkan dari proses pembelajaran berupa Persepsi siswa didasarkan pada proses pembelajaran, sedangkan persepsi guru berasal daru Desiminasi kepada perwakilan guru semua mata pelajaran. Pada tabel 1 ditampilkan perkembangan jumlah siswa yang berani menjawab atau bertanya pada saat pembelajaran Tabel 1. Jumlah Siswa yang berani menjawab atau bertanya Salah satu tingkat keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan Inovasi Pembelajaran Obama adalah nilai. Penulis melakukan mengukur berupa penilaian harian dan Penilaian Tengah Semester. Penilaian harian dengan menggunakan power point yang sudah ditentukan waktunya, sedangan PTS menggunakan Google Form bagi yang PJJ dan yang PTM bisa memilih Power Point adatau Google Form sesuai kesepakatan kelas. Tabel 2. Hasil Belajar Siswa dengan Inobel Obama Di akhir pembelajaran penulis melakukan Quisoner kepada siswa dan guru yang mengikuti Desiminasi yang hasilnya dapat dirangkum sebagai berikut : Tabel 3. Persepsi Guru dan Siswa Terhadap Pebelajaran Obama
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 64 Sedangkan materi yang materi yang belum dipahami siswa dan dan guru dapat dilihat pada grafik 1 dan 2 adalah materi yang belum dipahami guru. Grafik 1. Materi yang belum atau sulit di pahami siswa Grafik 2 Materi yang belum dipahami atau sulit bagi guru Analisis Data Hasil Aplikasi Praktis Inobel Obama Menurut konsep Merdeka belajar pelajar mengatur sendiri cara belajarnya, sdangkan guru menuntun siswa utuk mencapai tujuan. Oleh karena itu dalam prosesnya siswa dan guru bersepakat cara belajar dan penilaian yang akan dilakukan. Dalam pembelajaran ini selain penilain akhir guru bersepakat untuk melakukan penilaian tiap pertemuan. Penilaian ini di sebut penilaian autentik. Demikian juga sebelum dilakukan pembelajaran Obama penulis mengajak siswa berdiskusi bahwa bagi siswa yang berani menjawab atau bertanya mendapat poin 1 jika benar ditambah satu. Sedangkan yang mentertawakan temannya dikurangi dua, dan poinnya diberikan pada siswa yang menjawab. Sehingga siswa benar-benar diperlakukan sebagai subyek Berdasarkan data pada tabel 1 dapat dilihat bahwa rara rata keterlibatan siswa dalam pembelajaran 87 %. Keterlibatan siswa kelas 9A sebagai subyek penelitian dari pertemuan 1 sampai ke 4 meningkat. Sedangkan kelas lain cenderung fluktuatif. Jika dilihat dari persepsi siswa terhadap penilaian dengan poin sangat menyenangkan (95%), sementara persepsi guru 100% baik. Seadangkan siswa yang mencemooh atau mentertawakan sangat sedikit yakni 2 orang, bahkan 1 siswa yang dikurangi 2 sebanyak 2 kali bersemangat untuk menutup pinnya dengan aktif selama pembelajaran. Disini dapat dikatakan bahwa pemberian penilaian setiap kali pembelajaran dengan siswa diberlakukan subyek menjadikan pembelajaran semakin menyenangkan. Penilaian akhir kelas 9A yang dilakukan juga sangat baik, hal ini dapat dilihat pada tabel 2 saat penilaian harian 89% siswa lulus, sedangkan saat PTS 86% siswa lulus. Dengan demikian konsep yang diberikan pada siswa dapat dipami dengan baik. Sedangkan kelas lain walaupun tidak sebesar 9A tetapi terjadi peningkatan misalnya 9D dari 59% naik menjadi 78%. Berdasarkan Quisioner pada 15 guru yang mewakili semua mata pelajaran dan 41 siswa, persepsi terhadap penggunaan inovasi pembelajaran pada materi kemagnetan sangat baik, hal ini dapat dilihat 80% siswa menyenangkan atau mudah sedangkan menurut guru 95%. Menurut 82,3% siswa pembelajaran Obama lebih mudah sedangkan untuk penilaian dengan poin mengatakan bahwa 95,7 % siswa menyatakan menyenangkan. Sedangkan persepsi guru masing masing 100% Menurut siswa dan guru sesuai grafik 1 dan 2 materi yang paling sulit atau belum dipahami adalah transformator, tetapi dengan inovasi pembelajaran Obama lebih mudah. Pendapat ini disampaikan 68,3% siswa dan 93,3% Guru. dengan latihan yang lebih intesif maka penyelesaian soal-soal lain dengan inovasi pembelajaran Obama akan lebih menyenangkan, mudah dan pada akhirya menghasilkan prestasi yang baik.
OBAMA - Kasiyono - SMP Negeri 4 Mejayan – Kabupaten Madiun - Halaman - 65 Desiminasi Karya Inovasi Pembelajaran Dengan menggunakan OBAMA untuk mempermudah materi Kemagnetan, telah di desiminasikan tanggal 10 maret 2022 pada 15 orang guru SMP Negeri 4 Mejayan mewakili semua mata pealajaran yang ada. Hasil desiminiasi ini untuk mengukur apakah inovasi pembelajaran Obama dapat diterapkan pada mata pelajaran lain. Hasilnya dapat dilihat pada grafik 3. Grafik 3 Kemungkinan Inovasi Pembelajaran Obama diterapkan mata pelajaran lain Pembelajaran dengan Obama sangat mungkin diterapkan pada mata pealajaran lain, seperti yang dilihat pada grafik 3 diamana hanya 6,7% guru yang menagatakan tidak bisa. Temuan lain 80 % guru berpendapat bahwa proses Inovasi pembelajaran dengan penilian autentik, menggunakan istilah sederhana (olah bahasa) dan mengerjakan soal dengan olah bahasa matematika sangat baik, dan 20% penggunaan animasi untuk menyimpulkan materi. Penutup Dari implementasi dan desiminasi Inovasi Pembelajaran Dengan menggunakan OBAMA untuk mempermudah materi Kemagnetan, dapat disimpulkan : 1. Obama dapat mempermudah pemahaman terhadap materi Kemagnetan 2. Obama dapat mempermudah dan mempercepat menyelesaikan soal transformator 3. Obama dapat meningkatkan prestasi belajar siswa Karena Inovasi Pembelajaran Obama dapat mempermudah pemahaman materi kemagnetan diharapkan dapat diterapkan pada materi lain. Yang tidak kalah pentingnya dapat diterapkan untuk pembelajaran mata pelajaran lain. Daftar Pustaka Wahono dkk, 2014, Buku Guru Ilmu Pengetahuan Alam kurikulum 2013, Jakarta, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud Sunarti, 2014, Penilaian Autentik, - https://id.wikipedia.org/wiki/Penilaian _autentik), diakses 26 Pebruari 2022 jam 00.21 Kasiyono, 2018, Memakai Ladi Gaga Untuk Mempermudah Penyelesaian Soal Konversi Suhu , Madiun, SMP Negeri 4 Mejayan Kasiyono dkk, 2020, Modul Pertama IPA, Madiun, Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun Kamus Besar Bahasa Indonesia, -, - , https://kbbi.web.id/olah , Diakses 23 Pebruari 2022 jam 21.49 Tim Editor, 2021, Apa itu daring ?, Jakarta, https://kumparan.com/berita-update/apa-itu-daring-inimakna-dan-perbedaannya-dengan-luring-jaringan-lainnya, diakses 23 Pebruari 2022 jam 21.55 Tim Penyaji, 2021, KHD Konsep Merdeka Belajar, Jakarta, Materi Merdeka Belajar, SIM PKB
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 66 PRAKTIK BAIK PENERAPAN STRATEGI MEMPREDIKSI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS Oleh : Ida Kuswandari Guru SMP Negeri 4 Saradan Kabupaten Madiun Abstrak Kata kunci : literasi membaca, strategi memprediksi, level kognitif, pengatur grafis Membaca merupakan kegiatan yang mendominasi pembelajaran di kelas, di mana peserta didik berusaha untuk memahami suatu bacaan. Dengan pemahaman yang baik, mereka akan lebih mudah menyerap informasi dan mengolahnya. Pada tahun 2018, PISA menilai tingkat literasi peserta didik di Indonesia. Hasilnya menunjukkan tingkat literasi yang rendah. Untuk itu, praktik baik ini bertujuan untuk meningkatkan literasi peserta didik dengan jalan menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran. Strategi yang dipilih adalah memprediksi yang didefinisikan sebagai strategi membaca yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi di mana seorang pembaca akan membuat prakiraan terhadap gagasan, konsep, atau aktivitas yang akan dikonfirmasi pada teks bacaan. Kompetensi yang diukur tercermin dalam tiga level kognitif, yaitu menemukan informasi, menafsirkan dan mengintegrasikan, serta mengevaluasi dan merefleksi. Pada praktik baik ini, level kognitif yang ditentukan adalah menafsirkan dan mengintegrasi. Selain itu, penulis juga menggunakan pengatur grafis untuk membantu peserta didik dalam memetakan proses pemahaman terhadap suatu bacaan. Peserta didik diminta untuk membandingkan prediksi dan kalimat yang mereka temukan dalam bacaan. Selanjutnya, mereka akan membuat simpulan apakah dua kalimat tersebut sama ataukah tidak. Dengan demikian, peserta didik menggunakan nalar kritisnya untuk menuntaskan tugas tersebut. Setelah melakukan praktik baik ini, hasilnya menunjukkan nalar kritis peserta didik meningkat melalui penerapan strategi prediksi dan penggunaan pengatur grafis. Hal ini menunjukkan bahwa strategi memprediksi dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca peserta didik. Pendahuluan Membaca merupakan kegiatan yang mendominasi seluruh rangkaian pembelajaran. Untuk dapat memahami bacaan dengan baik, siswa harus dilatih untuk mengaktifkan keterampilan literasinya agar mereka mampu menyerap, mengolah, dan menggunakan informasi yang didapatnya untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan. Namun sayangnya, keterampilan membaca siswa Indonesia berada pada level bawah. Tes PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilakukan tiap tiga tahun sekali untuk siswa yang terpilih secara acak menunjukkan hasil yang sangat jauh dari harapan. Capaian PISA 2018 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 10 negara terbawah dari 79 negara yang berpartisipasi (Risalah Kebijakan, Pusat Penelitian Kebijakan Kemdikbud Ristek, 2018). Begitu pula keterampilan membaca para siswa SMP Negeri 4 Saradan yang menunjukkan hasil yang sangat rendah. Hal ini nampak dari pengamatan penulis ketika memberi materi keterampilan membaca. Skor yang diperoleh siswa menunjukkan bahwa mereka belum menggunakan cara yang tepat untuk memahami suatu bacaan. Berdasarkan masalah yang ditemukan, penulis merasa perlu untuk melatihkan strategi literasi pada siswa agar mereka memiliki keterampilan membaca yang baik. Banyak strategi literasi membaca yang bisa dipilih. Salah satunya adalah strategi memprediksi yang akan diterapkan pada praktik baik ini. Pemilihan strategi memprediksi ini karena penulis akan melatih siswa agar mampu mengantisipasi apa yang terjadi di dalam bacaan. Oczkus dalam Kawuryan (2020: 43) menyatakan bahwa pembaca menggunakan informasi dari teks dan pengetahuan sebelumnya untuk membuat prediksi selama proses membaca.
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 67 Selain itu, melalui strategi literasi ini, siswa akan dilatih untuk berpikir kritis dalam menganalisis suatu bacaan. Untuk itulah siswa juga perlu diberi ruang dan waktu `untuk mengemukakan pendapatnya. Dengan demikian, akan tercipta diskusi dan interaksi yang positif di antara guru dan siswa. Berdasarkan penjelasan di atas, maka pada praktik baik ini penulis menguraikan penerapan strategi literasi memprediksi untuk memantik critical thinking siswa. Kajian Teori Strategi Memprediksi Solong (2010: 22) menyebutkan bahwa memprediksi isi bacaan adalah strategi menggunakan pengetahuan pembaca untuk menerka isi, kosakata, dan pemahaman pada suatu bacaan; menggunakan pengetahuan tentang jenis bacaan dan tujuannya untuk menentukan susunanannya; menggunakan pengetahuan untuk menerka tipe tulisan, kosakata, dan isi bacaan. Sedang Laksono dkk. (2018: 20) menyebutkan bahwa membuat prediksi merupakan keterampilan dasar dalam membaca yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi. Hal ini didasarkan pada tahap yang harus dilalui peserta didik, yaitu setelah membuat prakiraan mengenai gagasan, konsep, atau aktivitas, maka mereka harus membuat konfirmasi pada teks yang dibaca. Untuk membuat prediksi, seorang pembaca harus menggunakan informasi yang ada dan kemudian membuat inferensi. Informasi bisa diperoleh melalui penggunaan gambar, sampul muka, ilustrasi, infografis. Pembaca yang baik membuat prediksi dan lalu mengonfirmasinya apakah sesuai dengan informasi faktual yang ada. Mengonfirmasi prediksi terhadap informasi faktual mutlak diperlukan untuk mengasah daya bernalar kritis para peserta didik. Informasi faktual akan menjadi bukti apakah prediksi terjadi atau tidak. Ketika peserta didik melakukan konfirmasi ini, maka pada saat itulah mereka menjadi sosok yang literat. Strategi memprediksi bacaan dapat diterapkan dalam tiga tahap kegiatan membaca. Pada kegiatan prabaca, strategi ini dikembangkan dalam bentuk diskusi mengenai hal yang umum terkait topik yang dibahas, misalnya memprediksi dari judul, sub judul, gambar, ilustrasi, dan diagram. Sedangkan pada kegiatan ketika baca, siswa akan diajak untuk mengembangkan keterampilan memprediksi tujuan penulis, memprediksi informasi yang tersurat dan tersirat, serta menerka karakter dalam bacaan. Mengingat kompleksnya keterampilan yang digunakan siswa dalam tahap ini, maka peran serta pembimbing sangat diperlukan untuk memompa semangat siswa. Berikutnya, pada kegiatan setelah baca, strategi memprediksi ini bisa dikembangkan melalui prediksi kesesuaian isi bacaan dengan kehidupan pribadi, menebak peristiwa yang terjadi berikutnya, serta memprediksi kesimpulan isi bacaan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi literasi memprediksi merupakan strategi membaca yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi di mana seorang pembaca akan membuat prakiraan terhadap gagasan, konsep, atau aktivitas yang akan dikonfirmasi pada teks bacaan. Diharapkan melalui pemilihan strategi literasi yang tepat, maka siswa akan memahami bacaan dengan lebih baik dan tujuan menciptakan siswa yang mampu berpikir kritis akan tercapai. Selain itu, dengan pemahaman yang baik, maka budaya baca yang lebih tinggi di kalangan siswa. Berpikir kritis Critical thinking atau berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang ingin diyakini sebagai kebenaran. Siswa berusaha memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, menggunakan interkoneksi antara sistem. Menurut Gunawan dalam Warti (2019: 12), keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir pada level yang kompleks, dan menggunakan proses analisis dan evaluasi. Berpikir kritis melibatkan keahlian berpikir induktif seperti mengenali hubungan, menganalisis masalah yang bersifat terbuka, menentukan sebab dan akibat, membuat kesimpulan dan membuat data yang relevan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan kemampuan
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 68 berpikir yang kompleks, di mana siswa harus melewati proses analisis dan evaluasi untuk dapat menentukan penyelesaian masalah. Level Kognitif Strategi Memprediksi Solong (2010: 23) menyebutkan bahwa strategi memprediksi membantu peserta didik untuk mengaktifkan pengetahuan awal yang dimilikinya untuk dihubungkan dengan pengetahuan baru yang ditemuinya. Dengan pengetahuan awal yang dibawanya, mereka akan lebih mudah membuat perkiraan. Kadang-kadang siswa menemui kesalahan saat mereka sulit menemukan informasi yang cukup kuat untuk membuktikan prediksi mereka. Pada saat inilah, mereka mendapat kesempatan untuk merevisi prakiraannya. Dengan melalui proses prediksi dan revisi prediksi ini, siswa akan semakin tangguh untuk mendapatkan informasi dalam teks bacaan. Dengan demikian, mereka akan terus ‘mengulang kegiatan membaca’ agar semakin memahami isi bacaan. Pada bagian lain, Kemendibud Ristek (2021a: 22) menyebutkan bahwa literasi membaca menggunakan istilah level kognitif sebagai kompetensi yang diukur. Selanjutnya, kompetensi ini akan dirinci menjadi beberapa sub kompetensi yang diharapkan akan dicapai peserta didik pada setiap jenjang. Secara garis besar, kompetensi dan sub kompetensi dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel Level Kognitif dalam Literasi Membaca Sehubungan dengan penjelasan di atas bahwa siswa dilatih menjadi pembaca yang tangguh untuk memahami isi bacaan melalui strategi prediksi, maka pada praktik baik ini penulis menetapkan kompetensi yang diukur adalah kompetensi kedua (menafsirkan dan mengintegrasikan). Pengatur Grafis Strategi Memprediksi Pada penerapan strategi memprediksi, peserta didik akan mendapatkan bantuan pengatur grafis berbentuk tabel. Pengatur grafis berfungsi untuk membantu pembaca memetakan proses pemahaman terhadap suatu bacaan Laksono dkk. (2018: 18). Pada praktik baik ini, tabel prediksi yang digunakan ada dua jenis. Tabel pertama berisi tiga kolom, yaitu kolom kalimat pernyataan, sebelum membaca, dan setelah membaca. Setiap kolom memiliki maksud tersendiri. Kolom pertama berisi kalimat pernyataan mengenai suatu gagasan tertentu. Siswa diminta untuk mencermati kalimat tersebut. Selanjutnya, mereka akan memperkirakan apakah teks bacaan berisi gagasan dalam kalimat pernyataan tersebut. Bila mereka memperkirakan gagasan tersebut ada dalam teks bacaan, maka siswa bisa membuat tanda centang pada kolom kedua. Selanjutnya, mereka akan mengisi kolom terakhir saat mereka telah selesai membaca teks. Kolom ketiga tersebut berfungsi untuk mengonfirmasi perkiraan para pembaca. Berikut contoh pengatur grafis tersebut. No Kalimat Pernyataan A B 1 2 Tabel Contoh 1: Pengatur Grafis Strategi Memprediksi Selain itu, penulis memanfaatkan pengatur grafis kedua dengan tiga kolom yang berbeda. Pada kolom pertama, penulis menyiapkan kalimat pernyataan untuk diperkirakan oleh para siswa. Selanjutnya, kolom kedua merupakan kalimat yang harus diperoleh siswa saat mereka membaca teks di mana kalimat tersebut memiliki gagasan pokok yang sama dengan kalimat di kolom pertama. Setelah itu, siswa akan membandingkan kalimat di kolom pertama dan kedua. Selanjutnya, mereka akan membuat simpulan apakah dua kalimat tersebut memiliki gagasan pokok dan gagasan pendukung yang sama. Simpulan dituliskan pada kolom terakhir. Berikut contohnya:
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 69 Kalimat Prediksi Kalimat yang Ditemukan dalam Teks Keterangan Tabel Contoh 2: Pengatur Grafis untuk Strategi Memprediksi Indikator Strategi Literasi dalam Pembelajaran Menurut Laksono (2018: 16), indikator yang dapat diukur dalam strategi literasi meliputi ada atau tidaknya tahapan kegiatan membaca serta penggunaan pengatur grafis. Selengkapnya sebagai berikut. No Indikator Ada Belum Ada Catatan A Strategi Literasi dalam Pembelajaran 1. Sebelum membaca a. mengidentifikasi tujuan membaca b. membuat prediksi 2. Ketika membaca a. mengidentifikasi informasi yang relevan b. mengidentifikasi kosakata baru, kata kunci dan/atau kata sulit dalam teks c. mengidentifikasi bagian teks yang sulit (jika ada) dan/atau membaca kembali bagian itu d. memvisualisasi dan/atau think aloud e. membuat inferensi (simpulan sementara berdasarkan informasi yang tersirat dalam teks) f. membuat pertanyaan tentang isi teks dan hal-hal yang terkait dengan topik tersebut (dapat menggunakan sumber di luar teks atau buku pengayaan) g. membuat keterkaitan antar teks 3. Setelah membaca a. membuat “ringkasan” (meringkas isi, mengidentifikasi gagasan utama, menceritakan kembali, membuat sintesis, membuat pertanyaan tentang isi, dsb.) b. mengevaluasi isi c. mengubah dari satu moda ke moda yang lain d. memilih, mengombinasikan, dan/atau menghasilkan teks multi moda untuk mengomunikasikan konsep tertentu e. mengonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi B Penggunaan Alat Bantu a. pengatur grafis untuk membantu pemahaman dengan cara mengorganisasikan ide/pikiran/ gagasan b. daftar cek Tabel Indikator Strategi Literasi dalam Pembelajaran Selanjutnya, pada praktik baik ini, penulis menggunakan beberapa indikator yang sesuai dengan strategi literasi yang dipilih. Adapun indikator yang digunakan sebagai berikut. No Indikator Ada Belum Ada Catatan A Strategi Literasi dalam Pembelajaran 1. Sebelum membaca a. mengidentifikasi tujuan membaca b. membuat prediksi 2. Ketika membaca a. mengidentifikasi informasi yang relevan
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 70 No Indikator Ada Belum Ada Catatan b. mengidentifikasi kosakata baru, kata kunci, dan/atau kata sulit dalam teks c. membuat inferensi (simpulan sementara berdasarkan informasi yang tersirat dalam teks) 3. Setelah membaca a. mengonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi B Penggunaan Alat Bantu a. pengatur grafis untuk membantu pemahaman dengan cara mengorganisasikan ide/pikiran/ gagasan) Tabel Indikator Strategi Literasi dalam Pembelajaran pada Praktik Baik Ini Penskoran Dalam referensi Framework AKM yang dirilis Kemendikbud (2021a) bagian contoh latihan, penulis mendapatkan informasi mengenai skor yang bisa diperoleh peserta didik yang menjawab dengan benar (1) dan yang memberi jawaban lain (0). Oleh karena itulah, penulis mengikuti contoh tersebut dan menentukan bahwa siswa yang menjawab dengan benar akan mendapatkan skor 1 dan yang salah mendapat 0. Perencanaan Kegiatan Pembelajaran Di tengah situasi pandemi Covid-19 yang berlangsung, kegiatan pembelajaran di sekolah perlu menyesuaikan dengan kondisi kasus penyebaran virus corona di wilayah setempat. Hal ini dilakukan semata-mata untuk keselamatan dan kesehatan seluruh warga sekolah. Keadaan inilah yang menyebabkan pola pembelajaran tidak selalu sama pada tiap minggu. Pada saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berada pada level 2 atau 3, maka jumlah siswa yang boleh hadir di sekolah adalah 50 % dari total seluruh siswa. Sedangkan pada PPKM level 1, jumlah yang boleh hadir adalah 100%. Sebaliknya, ketika PPKM level 4 diberlakukan, maka pembelajaran dilakukan secara daring. Kondisi yang tidak menentu ini turut menghambat kelancaran Pembelajaran Temu Muka (PTM). Hal ini disebabkan karena penerapan strategi literasi memerlukan interaksi intensif anatara guru dan siswa. Namun, berbekal tekad kuat untuk memberikan hak pendidikan pada siswa, maka hambatan tersebut dianggap sebagai tantangan yang harus dijawab dengan aksi nyata. Pada saat praktik baik ini dilaksanakan, pemerintah menetapkan PPKM level 2 di Kabupaten Madiun. Dengan demikian, jumlah siswa yang hadir hanya 50% dari total siswa. Pembagian siswa dilakukan dengan menggilir siswa bernomor ganjil dan genap. Selanjutnya, penulis merencanakan kegiatan PTM dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Tiap pertemuan merupakan 2 jam pelajaran dengan durasi 80 menit, 2. Tiap pertemuan memuat 10 menit untuk kegiatan prabaca, 50 menit untuk kegiatan ketika baca, dan 10 menit terakhir untuk kegiatan pasca baca, 3. Pada kegiatan pasca baca, siswa diminta untuk memberi penilaian terhadap dua kalimat yang hampir sama. Kegiatan ini berfungsi untuk melatih critical thinking siswa, 4. Pada akhir pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk melakukan refleksi. Persiapan Kegiatan Pembelajaran Penulis melakukan persiapan, yaitu: 1. Gambar-gambar yang berhubungan dengan topik yang dibahas. Gambar ini ditampilkan pada awal pembelajaran untuk memancing siswa mencurahkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya; https://www.google.com/search?q=buffalo&tbm=isch&source=iu&ict x=1&vet=1&fir=aL5a4h96zvni3M%252COUBluWWQ0L_o1M%25 2C_%253Be1A0nfZ7U7rWM%252C2OtiHn6JWz2eQM%252C_%253BSepDDmljEWxz6M %252C9z4OimTcDHQFM%252C_%253BoCCNWCTBZXZtzM%252CzUrGslhx_EKuy M%252C_%253B0LoBZPj4fexVyM%252Cug6nq_f9cMmbkM%25 2C_%253BVq8WbfeEo-
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 71 2. bahan bacaan berjudul Buffalo dan Bat dari buku paket Bahasa Inggris Kelas IX: Think Globally, Act Locally halaman 166-167; 3. lembar kerja siswa Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Selanjutnya, penulis melakukan kegiatan pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pada tahap awal, kegiatan dibuka dengan salam yang dilanjutkan dengan apersepsi untuk membangkitkan perhatian siswa. 2. Berikutnya, memasuki tahap prabaca, siswa diminta untuk menebak gambar-gambar mengenai topik yang dibahas. Penulis menyiapkan empat gambar yang berukuran cukup besar. Selain itu, gambar tersebut bisa juga ditampilkan melalui layar LCD projector. Pada tahap prabaca ini, siswa menggunakan pengalaman dan pengetahuan pribadi untuk menebak isi bacaan melalui gambar-gambar yang diamati. Sesi curah pengalaman dan pengetahuan ini akan memudahkan siswa saat meningkatkan keterampilan membaca. 3. Berikutnya, siswa diminta untuk mencermati kalimat pernyataan yang tercantum dalam sebuah tabel. Siswa diminta untuk menebak apakah gagasan dalam kalimat pernyataan tersebut termuat dalam bacaan. Jika mengisi kolom A dengan tanda centang. 4. Selanjutnya adalah tahap ketika baca di mana siswa akan mencermati kalimat-kalimat dalam bacaan. Ketika siswa telah selesai membaca, maka mereka akan mengisi kolom B untuk menilai apakah prediksi mereka benar atau tidak. 5. Berikutnya, siswa akan melanjutkan pada tabel kedua. Terdapat tiga kolom dalam tabel ini. Kolom pertama berisi kalimat pernyataan. Pada kolom kedua, siswa akan mengisi kolom yang kosong dengan menemukan kalimat dalam bacaan yang memuat ide yang sama dengan kalimat di kolom pertama. Berikutnya pada kolom ketiga, siswa akan menilai apakah kalimat dalam kolom pertama dan kolom kedua memiliki relevansi atau tidak. Pada tahap inilah, siswa akan membandingkan dan menilai antara hal yang diprediksi dan hal yang ditemukannya dalam bacaan. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan untuk mencurahkan pendapatnya terkait dengan penilaian yang dibuatnya. Siswa dapat berlatih bagaimana cara membuat argumentasi yang mendukung penilaian yang dibuatnya. Evaluasi Kegiatan Pembelajaran Setelah mengadakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan strategi memprediksi, maka hasil proses belajar dinilai. https://www.google.com/search?q=buffalo&tbm=isch&source=iu&ic tx=1&vet=1&fir=aL5a4h96zvni3M%252COUBluWWQ0L_o1M%2 52C_%253Be1A0nfZ7U7rWM%252C2OtiHn6JWz2eQM%252C_%253BSepDDmljEWxz6M%252C9z4 OimTcDH-
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 72 Tabel berikut menyajikan data yang diperoleh dari perbandingan indikator strategi literasi dalam pembelajaran. Nampak dalam tabel bahwa terdapat perbedaan jumlah indikator dalam strategi literasi. No Indikator Sebelum Setelah A Strategi Literasi dalam Pembelajaran 1. Sebelum membaca a. mengidentifikasi tujuan membaca Ѵ Ѵ b. membuat prediksi - Ѵ 2. Ketika membaca a. mengidentifikasi informasi yang relevan Ѵ Ѵ b. mengidentifikasi kosakata baru, kata kunci, dan/atau kata sulit dalam teks Ѵ Ѵ c. membuat inferensi (simpulan sementara berdasarkan informasi yang tersirat dalam teks) - Ѵ 3. Setelah membaca a. mengonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi - Ѵ B Penggunaan Alat Bantu a. pengatur grafis untuk membantu pemahaman dengan cara mengorganisasikan ide/pikiran/ gagasan) - Ѵ Tabel Perbandingan Indikator Sebelum dan Setelah Penerapan Strategi Literasi dalam Pembelajaran Selanjutnya, penulis menyajikan tabel yang menggambarkan skor yang diperoleh peserta didik untuk keterampilan membaca melalui penerapan strategi memprediksi. Terdapat kolom yang menggambarkan skor siswa untuk masingmasing indikator, yaitu mengidentifikasi tujuan membaca, memprediksi topik bacaan, mengidentifikasi kosakata dan informasi, membuat inferensi, dan mengonfirmasi prediksi yang telah disusun sebelumnya. Analisis Data Hasil Aplikasi Praktis Setelah mendapatkan data tentang penerapan strategi memprediksi, penulis melakukan analisis data. Dari tabel mengenai indikator strategi literasi yang digunakan, nampak jelas perbedaan jumlah indikator antara sebelum dan setelah pembelajaran. Diagram 3.1. Tabel Perbandingan Jumlah Indikator Strategi Literasi dalam Pembelajaran Penulis mencatat bahwa sebelum penerapan strategi memprediksi, indikator yang digunakan hanya untuk mengidentifikasi tujuan membaca, mengidentifikasi informasi yang relevan, dan mengidentifikasi kosakata. Menurut penulis, tiga indikator ini kurang dalam menggali kompetensi yang harusnya dilatihkan ke siswa. Oleh karena itu, pada kolom setelah penerapan strategi memprediksi nampak adanya penambahan indikator. Ini berarti bahwa strategi memprediksi dapat mengeksplor lebih luas kompetensi yang harusnya dikuasai peserta didik. Adapun indikator yang ditambahkan adalah memprediksi topic bacaan, membuat inferensi, dan mengonfirmasi prediksi. Indikator-indikator tersebut berhubungan dengan daya berpikir kritis. Dengan demikian, melalui indicator tambahan ini, peserta didik mendapat wadah untuk melatih daya pikir kritisnya. Selanjutnya, data capaian belajar siswa menunjukkan indikator kedalaman materi yang dikuasai dan seberapa jauh daya berpikir kritis siswa. Meskipun belum semua siswa mampu menjawab secara benar, namun setidaknya mereka sudah dilatih untuk dapat menggunakan daya pikir kritisnya. Pemilihan indicator yang sesuai diharapkan akan melahirkan peserta didik yang mampu membaca secara baik dan benar. 0 2 4 6 8 Sebelum Setelah
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 73 Banyaknya buku yang dibaca bukan menjamin peserta didik akan menjadi pembaca yang mampu membaca secara baik dan benar. Hal ini sejalan dengan ide yang disampaikan oleh Dorren dalam Kemendikbud (2019: 16) yang menyebutkan bahwa pembaca yang hanya memperoleh informasi dari suatu bacaan adalah seorang yang mampu mengingat informasi dari apa yang dibacanya. Pembaca seperti inilah yang disebut mengetahui fakta tentang buku yang dibacanya. Sedangkan, pembaca yang mampu memahami bacaan disebut mengetahui fakta tentang dunia. Ini berarti bahwa pembaca tersebut berupaya untuk menjelaskan informasi yang didapatkannya, mampu mengerti maksud penulis, dan mengerti mengapa dia menyampaikannya. Selanjutnya, penulis melakukan evaluasi untuk mengetahui kekuatan serta kekurangan dalam proses pembelajaran. Temuan-temuan tersebut akan menjadi langkah perbaikan di kemudian hari. Adapun catatannya adalah: 1. Penerapan strategi literasi ini memerlukan persiapan yang cukup matang karena penulis perlu melengkapi kegiatan pembelajaran dengan gambar-gambar dan lembar kerja. 2. Untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa, penerapan strategi literasi ini perlu diberikan kembali. 3. Critical thinking siswa dalam membandingkan dan menilai bacaan dapat dilatihkan secara bertahap sesuai kemampuan. Untuk siswa yang sulit mengungkapkan dalam Bahasa Inggris, maka penulis mengizinkan mereka untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Sedangkan bagi siswa yang cenderung menyukai tulisan, maka mereka diizinkan untuk menuangkan pendapat dan argumentasinya dalam bentuk tulisan. Tindak Lanjut Berdasarkan hasil evaluasi di atas, maka penulis menyusun rencana tindak lanjut sebagai berikut: 1. Gambar dan lembar kerja perlu disiapkan dengan baik karena perencanaan yang matang akan memudahkan siswa berlatih mengasah keterampilan membaca dan critical thinking. 2. Penulis perlu menerapkan strategi literasi yang beragam pada pembelajaran berikutnya. 3. Critical thinking siswa perlu dilatihkan pada ragam pembelajaran berikutnya. Penutup Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi literasi memprediksi sangat besar pengaruhnya pada perkembangan critical thinking siswa. Meelalui strategi ini, peserta didik diberi kesempatan untuk melatih bagaimana mengasah kemampuan memprediksi dan mengonfirmasi sesuai informasi yang didapatkan. Harapan penulis agar siswa mampu terus mengasah daya pikir kritisnya melalui beragam kegiatan pembelajaran. Daftar Pustaka Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2019). Model Pembelajaran Literasi untuk Pembaca Awal. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Framework of Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kawuryan, Sekar Purbayani. (2020). Literasi IPS SD. Yogyakarta: UNY Press. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Risalah Kebijakan Pusat Penelitian Kebijakan Kemdikbud Ristek. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2021). Membaca Intensif dan Membca Ekstensif dalam Pembelajaran. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Strategi Memprediksi - Ida Kuswandari - SMP Negeri 4 Saradan - Kabupaten Madiun - Halaman - 74 Laksono, Karyono. (2018). Strategi Literasi dalam Pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Solong, A. Suciarati AK. (2010). A Thesis: Improving the Students’ Reading Comprehension through Predicting Strategy at the Second Year of MTs. Aisyiah Sungguminasa Gowa. Makassar: English Education Depertment, Tarbiyah and Teaching Science Faculty Alauddin State Islamic University of Makassar. Warti, Eli. (2019). Pembelajaran HOTS melalui Penerapan Berbagai Metode Pembelajaran. Malang: MNC Publishing. (https://www.google.co.id/books/edition/PEMBELAJARAN_HOTS_MELALUI_PENERAPAN_ BERB/NHRMEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=critical+thinking+dalam+pembelajaran&printsec =frontcover
Merdeka Mengajar, Merdeka Belajar - Endang Sri Hastuti - Pengawas SMP - Kabupaten Madiun- Halaman -75 MERDEKA MENGAJAR, MERDEKA BELAJAR Oleh : Endang Sri Hastuti Pengawas SMP Kabupaten Madiun Abstrak Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2022/2023 di Kabupaten Madiun membawa dampak yang sangat signifikan terhadap pola kinerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kemendikbudristek dalam sosialisasi penerapan kurikulum merdeka memberikan dua jalur untuk sekolah dalam hal implementasi kurikulum merdeka (IKM), yaitu melalui jalur sekolah penggerak dan jalur mandiri. Sekolah penggerak dalam proses implementasi kurikulum merdeka didampingi oleh fasilitator secara intensif dan berkesinambungan dalam durasi waktu 3 tahun serta mendapatkan dukungan dana dari pemerintah, sedangkan jalur mandiri implementasi kurikulum dilaksanakan secara mandiri penuh. Sehingga untuk sekolah jalur mandiri guru-guru dipersiapkan untuk belajar secara mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM). Pendahuluan Sekolah yang sudah terdaftar sebagai sekolah IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) mandiri pada saat mendaftar diberi 3 opsi pilihan yaitu mandiri belajar, mandiri berubah dan mandiri berbagi. 1. Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Belajar, Kepala Sekolah dan Guru menerapkan komponen atau prinsip kurikulum merdeka dengan tetap menggunakan kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan (Kurikulum tahun 2013, Kurikulum Darurat). 2. Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Berubah, Kepala Sekolah dan Guru mulai tahun ajaran 2022/2023 menerapkan kurikulum merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, kelas 4, kelas 7 atau kelas 10. 3. Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Berbagi, Kepala Sekolah dan Guru dalam tahun ajaran 2022/2023 menerapkan kurikulum merdeka dengan melakukan pengembangan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, kelas 4, kelas 7 atau kelas 10. Dari 51 sekolah jenjang SMP baik negeri maupun swasta, ada 3 sekolah negeri yang masuk sebagai sekolah penggerak, 4 sekolah swasta yang belum terdaftar sebagai sekolah yang menerapkan kurikulum merdeka dan sisanya 44 sekolah negeri dan swasta yang terdaftar sebagai sekolah IKM jalur mandiri yang termasuk kategori Mandiri Berubah. Pengawas sekolah SMP berkolaborasi dengan MGMP SMP di Kabupaten Madiun telah melakukan langkah-langkah untuk mempersiapkan guru agar dalam melakukan implementasi kurikulum merdeka dapat meminimalkan kendala yang dihadapi. Langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka adalah : 1. Unduh dan pasang (install) Platform Merdeka Mengajar pada gawai Android atau akses melalui laman https://guru.kemdikbud.go.id/ 2. Melakukan login dengan akun belajar.id 3. Menyaksikan video implementasi kurikulum merdeka per jenjang melalui fitur video inspirasi atau melalui laman https://guru.kemdikbud.go.id/video-inspirasi/ 4. Mengikuti pelatihan mandiri kurikulum merdeka di Platform Merdeka Mengajar atau melalui laman: https://guru.kemdikbud.go.id/ 5. Mempelajari asesmen dan perangkat ajar kurikulum merdeka di Platform Merdeka Mengajar atau melalui laman: https://guru.kemdikbud.go.id/ 6. Mengikuti sesi berbagi praktik baik kurikulum merdeka di Platform Merdeka Mengajar pada fitur Bukti Karya Saya atau melalui laman: https://guru.kemdikbud.go.id/ 7. Mengikuti komunitas belajar kurikulum merdeka di Platform Merdeka Mengajar atau melalui laman: https://guru.kemdikbud.go.id/
Merdeka Mengajar, Merdeka Belajar - Endang Sri Hastuti - Pengawas SMP - Kabupaten Madiun- Halaman -76 8. Bergabung dengan kanal telegram implementasi kurikulum merdeka di laman https://t.me/mandiribelajarkm Langkah-langkah belajar di atas bila dikaitkan dengan kurikulum merdeka nantinya akan memunculkan merdeka mengajar bagi guru dan merdeka belajar bagi siswa. Sesuai dengan namanya MERDEKA, ini bisa kita jadikan akronim dari mulai dari diri (M), eksplorasi konsep (E), ruang kolaborasi (R), demonstrasi kontekstual, (D), elaborasi pemahaman (E), koneksi antar materi (K), aksi nyata (A) Mulai Dari Diri Modul pertama dari pelatihan mandiri guru-guru diajak untuk flash back introspeksi diri mengenali diri dan perannya sebagai pendidik. Sesuai dengan perkembangan zaman siswa kita disebut sebagai generasi Z, generasi yang sudah sangat familiar dengan penggunaan gadget. Mereka bebas bisa berselancar mencari informasi tentang apa saja. Sehingga dalam proses pembelajaran guru bukan satu-satunya sumber informasi. Bisa jadi dalam membahas konten tentang suatu mata pelajaran, siswa tahu lebih banyak dan tahu lebih dahulu karena mereka sudah mendapatkan informasi itu dari berbagai media. Kurikulum merdeka menerapkan filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara sehingga dari Platform Merdeka Mengajar yang disajikan dalam bentuk modul itu guru akan mendapatkan banyak wawasan baru terkait dengan pendidikan yang menginspirasi. Selama ini kita sebagai guru berusaha memberikan bekal ilmu pengetahuan semaksimal mungkin agar dapat menjadi bekal kehidupan mereka kelak. Guru harus mengisi mereka dengan pengetahuan yang beranekaragam agar mereka bisa kaya secara intelektual dan mampu survive di zamannya. Ternyata pendidikan itu bukan mengisi, tetapi menuntun. Sebab anak sudah dibekali dengan potensi masing-masing dan setiap anak tidak sama potensinya. Sebagai guru kita bertugas mengarahkan, merawat, menuntun dan menumbuhkan kodrat yang dimiliki siswa. Setelah memahami modul tentang mengenali diri dan perannya sebagai pendidik, kita sebagai guru mencoba mengaplikasikannya dalam tugas sehari-hari. Kita berpegang pada triloka ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi contoh, di tengah membangkitkan semangat kreativitas dan di belakang memberikan dukungan. Dengan demikian guru memposisikan diri dengan baik ketika bersama anak didik. Mementingkan mereka, memanusiakan mereka. Setiap kegiatan pembelajaran selalu berpihak pada murid agar memudahkan mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan profil pelajar pancasila. Pelajar yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga santun secara moral. Memiliki empati yang tinggi, mampu memahami perbedaan, berdaya saing tinggi dan siap berkolaborasi dengan siapa saja. Eksplorasi Konsep Setelah mengenali diri maka langkah berikutnya adalah guru menambah bekal pengetahuan tentang konsep-konsep yang mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka. Sesuai dengan tupoksi guru yaitu mulai merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, melakukan asesmen , melakukan analisis evaluasi dan tugas tambahan. Pada saat merencanakan pembelajaran guru perlu melakukan analisa capaian pembelajaran untuk dirumuskan menjadi tujuan pembelajaran. Karena dalam kurikulum merdeka capaian pembelajaran berlaku untuk satu fase yang dinamakan dengan fase D, maka capaian yang sudah diturunkan menjadi sejumlah tujuan pembelajaran harus disusun alurnya mana yang akan disampaikan di kelas 7, 8, 9 sehingga tersusun alur tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran perlu diukur tingkat keberhasilan pencapaiannya melalui asesmen. Pada platform merdeka mengajar di menu pelatihan mandiri sudah disajikan tentang prinsip penilaian, jenis, fungsi, teknik, instrumen dan masih banyak hal lagi yang terkait dengan masalah asesmen. Untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran yang sistematis, guru perlu menyusun skenario yang dituangkan dalam modul ajar. Banyak yang masih rancu dalam memahami antara modul, modul ajar dan RPP. Karena selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi, guru sangat terbantu dengan adanya media
Merdeka Mengajar, Merdeka Belajar - Endang Sri Hastuti - Pengawas SMP - Kabupaten Madiun- Halaman -77 pembelajaran berupa modul. Modul yang digunakan selama masa PJJ ini memuat materi esensial pada mata pelajaran, dilengkapi dengan tes formatif dan sumatif. Sehingga ketika antara guru dan siswa tidak ada kesempatana tatap muka untuk melaksanakan proses pembelajaran, maka modul inilah yang menjadi jembatan bagi guru agar siswanya mendapatkan bekal materi pelajaran yang sudah direncanakan untuk disampaikan kepada siswa. Ketika kurikulum merdeka memberikan istilah modul ajar, banyak guru yang menganggap bahwa modul ajar ini sama dengan modul yang selama ini mereka gunakan dalam proses pembelajaran jarak jauh. Padahal yang dimaksud kurikulum merdeka dengan istilah modul ajar ini adalah sebuah skenario pembelajaran yang sistematis untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Jadi bisa dikatakan modul ajar ini adalah RPP plus. Kalau guru selama ini akrab dengan istilah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang komponennya terdiri atas identitas, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, maka modul ajar berisi RPP ditambah dengan segala pernak pernik yang digunakan dalam pembelajaran itu, mulai dari lembar kerja siswa, instrumen penilaian, dsb. Makanya sebutan modul ajar ini adalah RPP plus. Maka sangat disarankan bagi guru dalam menyusun modul ajar digunakan untuk menyelesaikan satu tujuan pembelajaran. Agar alur skenarionya sistematis dan terarah. Ruang Kolaborasi Guru-guru yang tergabung dalam MGMPS (Musyawarah Guru Mata pelajaran Sekolah)atau komunitas praktisi lainnya, bersama melakukan kolaborasi untuk saling bertukar informasi tentang segala hal yang sudah dipelajari dalam pelatihan mandiri pada PMM (Platform Merdeka Mengajar). Karena namanya mandiri belajar, maka bisa jadi ada perbedaan persepsi dalam menyikapi sebuah konsep yang masih baru. Ada yang mengatakan “ katanya kurikulum merdeka, lalu dimana letak merdekanya kalau guru banyak dibebani dengan administrasi pembelajaran yang semakin susah dan rumit seperti ini. Menganalisa CP, menyusun modul ajar, melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, dan masih banyak lainnya. Nah, kalau ada yang mengatakan seperti ini nampak sekali bahwa beliau belum secara cermat dan rinci mempelajari pelatihan mandiri. Padahal kalau ditanya apakah sudah menyelesaikan pelatihan mandiri, dengan sigap beliau akan menunjukkan HP yang modul pelatihan mandiri PMM nya sudah tercentang hijau semua. Yang menjadi pertanyaan benarkah penyelesaian modul pelatihan mandiri sudah diselesaikan sesuai dengan prosedur, atau hanya skip-skip video dan mengerjakan post test agar centang hijau bisa segera penuh ? Untuk hal-hal semacam inilah diperlukan adanya kolaborasi antar semua anggota komunitas praktisi agar ada persamaan persepsi tentang apa saja yang sudah dipelajari. Demonstrasi Kontekstual Saatnya mendemonstrasikan apa yang sudah dipelajari di pelatihan mandiri. Mulai menganalisa Capaian Pembelajaran (CP) di masing-masing mata pelajaran. Bila di sekolah yang pengampu mata pelajaran lebih dari satu orang, kegiatan demonstrasi kontekstual bisa dilakukan dengan dengan sesama guru mata pelajaran itu. Tetapi bagi sekolah yang guru mata pelajaran hanya satu orang maka demonstrasi kontekstual dilaksanakan dengan guru mata pelajaran serumpun. Sehingga ketika masingmasing guru sudah menyusun tujuan pembelajaran hasil dari analisa capaian pembelajaran akan bisa dipresentasikan dengan beberapa orang guru untuk selanjutnya di bahas dan didiskusikan. Diawali dengan analisa capaian pembelajaran, semua guru mencermati rasional dari mata pelajarannya masing-masing. Mengapa mata pelajaran itu perlu dibekalkan kepada siswa, apa tujuannya, bagaimana karakteristiknya, apa saja elemennya. Dengan menganalisa secara detil guru akan mendapatkan gambaran secara utuh dari mata pelajaran yang diampu, dan dapat merumuskan tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi daya dukung sekolah, sarana prasarana penunjang pembelajaran dan yang paling utama adalah kondisi siswa yang meliputi karakteristik siswa bakat dan minatnya. Dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan, guru
Merdeka Mengajar, Merdeka Belajar - Endang Sri Hastuti - Pengawas SMP - Kabupaten Madiun- Halaman -78 merancang skenario pembelajaran yang dituangkan dalam modul ajar. Dari demonstrasi kontekstual akan terlihat kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Mungkin dari sisi strategi pembelajarannya, dari sisi kedalaman konten materinya sudah kontekstual sesuai dengan kondisi siswa atau belum, dari sisi asesmen yang kurang bisa mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dan masih banyak lagi yang bisa disikusikan. Elaborasi Pemahaman Ketika memberikan masukan-masukan ataupun saran-saran selama melaksanakan demonstrasi kontekstual, selalu harus mengacu pada panduan yang sudah ada. Baik panduan tentang masalah pembelajaran dan asesmen maupun panduan tentang projek penguatan pelajar pancasila. Sehingga pemahaman tentang pelaksanaan pembelajaran ketika berlangsung diskusi pada saat demonstrasi kontekstual tidak berdasarkan persepsi masing-masing guru. Karena bagaimanapun masing-masing guru mempunyai bekal wawasan yang beragam. Koneksi Antar Materi Modul-modul yang ada pada pelatihan mandiri mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Untuk itu setelah memahami masing-masing modul agar dapat merealisasikan dalam pelaksanaan pembelajaran, perlu adanya koneksi antar materi. Salah satu contoh adalah ketika guru akan merealisasikan pembelajaran berdiferensiasi, maka konsep tentang pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi diferensiasi dalam hal konten, proses maupun produk perlu dikaitkan dengan materi modul yang lainnya terutama kaitannya dengan filosofi kurikulum merdeka bahwa pendidikan sejatinya adalah menuntun segala kekuatan yang ada pada anak-anak. Bahwa setiap anak itu unik. Mereka membawa kodratnya masing-masing. Tidak ada anak yang sama, bahkan anak kembar sekalipun. Karena itulah pendidikan mewadahi keunikan anak-anak tersebut. Sudah selayaknya kita sebagai guru terus belajar menggali potensi yang dimiliki anak agar dapat melayani mereka sesuai kebutuhannya. Tidak seharusnya kita manyamaratakan mereka, menyeragamkan dalam pembelajaran karena kalau itu dilakukan berarti kita menyalahi kodrat anak. Pada dasarnya pembelajaran berdiferensiasi untuk mewujudkan murid yang bahagia dan selamat. Artinya di dalam kelas guru harus mampu memetakan kekuatan-kekuatan yang dimiliki murid agar mampu memberikan pelayanan sesuai kebutuhan mereka. Tidak bisa dipungkiri dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi akan banyak ditemui masalah ataupun kendala. Namun guru jangan pernah putus asa untuk selalu mencari solusi dari masalah yang ada. Terus tiada henti mencari daya dan upaya untuk bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki anak-anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Aksi Nyata Semua langkah yang sudah dilaksanakan pada alur MERDEKA finalnya adalah pada aksi nyata. Melaksanakan hasil belajar dari berbagai sumber informasi untuk diterapkan di kelas masing-masing. Hasil aksi nyata tidak berhenti pada laporan pelaksanaannya saja, tetapi perlu berbagi dengan sesama teman sejawat. Berbagi aksi nyata bisa dalam lingkup satu sekolah, bisa berbagi dengan teman sesama mata pelajaran dalam lingkup MGMP wilayan kabupaten, bahkan dalam lingkup yang lebih luas dapat berbagi aksi nyata melalui komunitas belajar yang ada di Platform Merdeka Mengajar. Dengan berbagi aksi nyata harapannya akan ada umpan balik dari anggota komunitas belajar yang akan lebih menambah referensi untuk meningkatkan kompetensi dalam menerapkan kurikulum merdeka. Kesimpulan Pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. Kebudayaan akan mewujudkan sebuah peradaban. Sehingga tugas guru tidak berhenti sebatas mentransfer informasi dan pengetahuan, mendampingi dan membimbing siswa sampai menuliskan nilai di akhir pembelajaran, tetapi jauh lebih dalam dari itu, yaitu membentuk peradaban. Pendidikan itu sifatnya menuntun, bukan mengisi. Karena sesungguhnya setiap anak sudah
Merdeka Mengajar, Merdeka Belajar - Endang Sri Hastuti - Pengawas SMP - Kabupaten Madiun- Halaman -79 dibekali dengan potensi masing-masing. Guru harus jeli dan pandai melihat potensi anak didiknya. Tidak bisa memaksakan hal yang seragam pada setiap anak di kelasnya. Semua di dunia ini mengalami perubahan. Demikian juga dengan pendidikan yang akan selalu dinamis berubah bergerak mengikuti perubahan zaman. Guru harus bergerak menciptakan kemajuan. Guru yang tidak bergerak akan tergilas oleh zaman. Apa yang akan diajarkan akan menjadi hal aneh bila tidak mengikuti perkembangan perubahan zaman, karena yang diberikan hanya informasi basi yang tidak akan terpakai di zaman anak ketika mereka dewasa. Untuk itu guru-guru perlu untuk bersikap terbuka terhadap perubahan. Selalu belajar dan terus belajar agar dapat berkontribusi menyemai kebudayaan mencipta peradaban. MERDEKA !!!!!! Daftar Pustaka Kepmendikbudristek No 56 tentang penerapan Kurikulum Merdeka Kusumaningrum, Hernawati (2022), Jalan Panjang menuju Guru Penggerak, Surakarta, CV Literasia Grup Pusat Asesmen dan Pembelajaran Balitabang dan Perbukuan, Kemendikbudristek (2022) Panduan Pembelajaran dan Asesmen, Jakarta Pusat Asesmen dan Pembelajaran Balitabang dan Perbukuan, Kemendikbudristek (2022) Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Jakarta Tim Penyaji (2021), KHD Konsep Merdeka Belajar, Jakarta, Materi Merdeka Belajar
Gaya Selingkung Jurnal BIOMA Jurnal BIOMA ini diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Madiun. Mulai 2019 terbit secara berkala setiap 3 bulan. Tujuannya untuk menyebarluaskan informasi hasil penelitian, penelitian tindakan kelas, pendidikan, pelatihan, pembelajaran serta tulisan ilmiah populer dalam lingkup kependidikan. Jurnal BIOMA menerima kiriman artikel yang ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dengan batasan lingkup yang berkaitan dengan masalah pendidikan. Penentuan artikel yang dimuat dalam Jurnal BIOMA dilakukan melalui proses blind review oleh editor BIOMA. Hal-hal yang dipertimbangkan dalam penentuan pemuat artikel, antara lain : terpenuhinya syarat penulisan dalam jurnal ilmiah, metode penelitian yang digunakan, kontribusi hasil penelitian dan artikel terhadap perkembangan pendidikan. Penulis harus menyatakan bahwa artikel yang dikirim ke BIOMA adalah hasil karya sendiri, orisinal dan tidak dikirim atau dipublikasikan dalam majalah atau jurnal ilmiah lainnya. Editor berhak untuk memberikan telaah konstruktif terhadap artikel yang akan dimuat, dan apabila dipandang perlu editor menyampaikan hasil evaluasi artikel kepada penulis. Artikel yang diusulkan untuk dimuat dalam jurnal BIOMA hendaknya mengikuti pedoman penulisan artikel yang dibuat oleh editor. Artikel dapat dikirim ke editor Jurnal BIOMA dengan alamat : Sekretariat Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Jl. Raya Tiron 87 Kabupaten Madiun, Jawa Timur 63151 Telp (0351) 464477 Fax 473173. CP : Endang Sri Hastuti (Hp 081231180068) Untuk pengiriman artikel ke alamat sekretariat berupa CD dan 2 eks hard copy (hasil cetakan). Pengiriman melalui surel dengan alamat email : [email protected] Contact person : Endang Sri Hastuti (Hp 081231180068) Sulastri (Hp 081914859677) Ida Nurchasanah (Hp 081252218645) Agus Joko Sungkono (Hp 08125914795) Pedoman Penulisan Artikel. Penulisan artikel dalam jurnal pendidikan sains BIOMA yang diharapkan menjadi pertimbangan penulis meliputi : Format : 1. Artikel diketik pada kertas A4 (210 x 297 mm). dengan spasi 1,15 kecuali abstrak dan daftar pustaka spasi tunggal 2. Identitas penulis diketik di bawah judul yang terdiri atas : nama, unit kerja dan alamat email bila ada. 3. Diketik dalam format 2 kolom, kecuali abstrak dan daftar pustaka. 4. Panjang artikel maksimum 5.000 kata dengan tipe huruf Times New Roman font11 untuk judul font 12 bold. 5. Margin atas, bawah, samping kanan 2 cm dan samping kiri sekurang kurangnya 2,5 cm 6. Jumlah halaman 5 – 20 halaman. Semua halaman sebaiknya diberi nomor urut. 7. Kutipan, gambar atau rujukan harus menyebutkan sumber dan tahun. Format sumber kutipan atau rujukan : nama penulis, tahun, halaman yang dikutip. 8. Kutipan yang langsung dan panjang (lebih dari tiga setengah baris) diketik dengan jarak baris satu dengan bentuk berinden. 9. Minimal 70 % dari rujukan yang digunakan berasal dari sumber yang terbaru (diterbitkan tidak lebih dari 10 tahun sebelum artikel dikirim ke jurnal BIOMA). Isi Tulisan Artikel Hasil Penelitian Abstrak :bagian ini memuat ringkasan artikel atau ringkasan penelitian yang meliputi masalah penelitian, tujuan, metode, hasil dan pembahasan serta simpulan. Abstrak disajikan diawal teks dan terdiri antara 200 sampai dengan 400 kata Abstrak diberi kata kunci (key word) untuk memudahkan penyusunan indeks artikel. Pendahuluan :menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian. Ditulis tanpa subjudul. Kajian Teori : memaparkan kerangka teoritis dari variabel yang ada di judul. Metode Penelitian :macam penelitian yang dilakukan, instrumen pengumpulan data, metode dan teknik analisis data yang digunakan. Hasil Penelitian dan pembahasan : berisi pemaparan data hasil tentang hasil akhir dari proses kerja teknik analisis data, bentuk akhir bagian ini adalah berupa angka, gambar dan tabel tetapi bukan merupakan barisan tabel data. Penutup : berisi kesimpulan dan saran Daftar Pustaka, memuat sumber-sumber yang dikutip dalam artikel, hanya sumber yang diacu saja yang perlu dicantumkan dalam daftar pustaka. Isi Tulisan Artikel Non Penelitian Abstrak : memuat ringkasan dari artikel secara keseluruhan Pendahuluan : menguraikan latar belakang penulisan artikel dan tujuan penulisan Isi : menguraikan substansi isi dari artikel Penutup : menjelaskan kesimpulan dari isi artikel Editor berhak mengedit dan atau meringkas isi jurnal tanpa mengurangi makna karya tulis. Editor tidak bertanggungjawab terhadap isi dan keaslian karya tulis. Isi dan keaslian karya tulis menjadi tanggungjawab pribadi penulis sepenuhnya.
Informasi ISSN – Jurnal BIOMA – Kabupaten Madiun - Halaman a Informasi ISSN Jurnal BIOMA MGMP IPA SMP Kabupaten Madiun
Informasi ISSN – Jurnal BIOMA – Kabupaten Madiun - Halaman b
Informasi ISSN – Jurnal BIOMA – Kabupaten Madiun - Halaman c
Jurnal BIOMA Penerbit : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Madiun – Jawa Timur Alamat : Jl. Raya Tiron 87 Kabupaten Madiun, Jawa Timur 63151 Telp (0351) 464477 Fax 473173. CP : Endang Sri Hastuti (Hp 081231180068) Blog : jurnalbioma.blogspot.com – email : [email protected] Mengatasi Perundungan di Sekolah dengan Program “Roots” Bullying atau perundungan adalah peristiwa yang cukup sering ditemukan, terlebih di lingkungan sekolah. Tindak perilaku perundungan di sekolah tentunya perlu menjadi perhatian khusus oleh banyak pihak. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi untuk mengatasi kasus perundungan. Pemerintah Indonesia terus melakukan upaya-upaya penanggulangan tindak perundungan di sekolah. Salah satunya adalah dengan menggandeng UNICEF Indonesia untuk bersamasama membentuk program “Roots”. Roots adalah sebuah program pencegahan perundungan berbasis sekolah yang telah dikembangkan oleh UNICEF Indonesia sejak tahun 2017 bersama Pemerintah Indonesia, akademisi, serta praktisi pendidikan dan perlindungan anak. Sumber: https://ditsmp.kemdikbud.go.id/mengatasi-perundungan-di-sekolah-dengan-program-roots/ Fokus dari program ini adalah mengatasi perundungan di sekolah dengan melibatkan teman sebaya. Beberapa siswa yang memiliki pengaruh terhadap teman-teman di sekolahnya akan dibentuk menjadi agen perubahan yang dapat membawa dampak positif terhadap tindak perundungan. Berikut ini adalah detail dari program Roots: 1. Melakukan survei Tahap awal dari program Roots adalah melakukan survei terhadap para peserta didik dan juga guru seputar perundungan di lingkungan sekolahnya. Mereka diberikan pertanyaan-pertanyaan simpel mengenai perundungan seperti pernahkan melakukan perundungan, pernahkah menjadi korban perundungan, apa yang dilakukan ketika melihat perundungan, dan sebagainya. Survei dilakukan secara anonim agar identitas responden tetap terjaga rahasianya. Dengan dilakukan survei, nantinya bisa diketahui data terkait perundungan yang dapat dijadikan landasan pemetaan tindakan selanjutnya. 2. Pemilihan agen perubahan Pemilihan agen perubahan menggunakan teori jejaring sosial. Metode yang dilakukan adalah setiap peserta didik setiap angkatan diminta menuliskan 10 nama teman terdekatnya. Nantinya akan ada sekitar 40 agen perubahan di sekolah Hal ini sangat penting karena dalam jejaring sosial ingin didapat data mengenai peserta didik mana saja yang paling berpengaruh dan paling didengar oleh peserta didik lainnya. Pemilihan agen perubahan ini bertujuan untuk bisa memengaruhi peserta didik lain agar peduli terhadap kasus perundungan yang terjadi di sekolahnya. ROOTS 3. Pelatihan agen perubahan Para agen perubahan yang sudah terpilih tadi selanjutnya akan menjalani sesi pelatihan selama 15 pertemuan. Pelatihan ini memberikan materi seputar perundungan kepada agen perubahan. Agar efektif, pelatihan dilakukan satu kali dalam seminggu sehingga program ini diestimasikan berjalan selama satu semester. Di sini, peran fasilitator menjadi kunci dalam sesi pelatihan. Fasilitator bisa berasal dari guru di sekolah ataupun pembina ekstrakurikuler. Namun, fasilitator haruslah sosok yang dekat dan dapat dipercaya oleh para agen perubahan. 4. Kampanye antiperundungan Setelah para agen perubahan diberi pelatihan mengenai perundungan, satuan pendidikan bisa merayakan acara puncak dengan mengadakan kampanye antiperundungan. Acara ini wajib diikuti oleh seluruh warga sekolah mulai dari peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. 5. Evaluasi program Lakukan survei ulang dan evaluasi usai program Roots dijalankan. Apakah ada perubahan pada tingkat kasus perundungan atau tidak. Jika program berhasil, maka kasus perundungan akan turun. Namun, apabila ternyata semakin banyak yang melaporkan kasus perundungan bisa juga berarti telah banyak warga sekolah yang semakin peduli dengan masalah perundungan di lingkungannya. Perundungan memang bukanlah masalah yang dapat disepelekan. Oleh karena itu, satuan pendidikan bisa mencoba mengaplikasikan program Roots untuk menekan kasus perundungan di sekolahnya.