The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ringakasan buku panduan matematika terapan.
Fachri Ahram 9.1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by intann satma situmorang, 2024-04-21 09:44:55

Buku panduan matematika terapan by Fachri

Ringakasan buku panduan matematika terapan.
Fachri Ahram 9.1

buku panduan matematika terapan buku novel ringkasan by fachri achram


profil buku Penanggung Jawab: Triskaidekaman Sasa Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Kota Terbit/ Tahun: Jakarta / 2018 Ket. Edisi : - Ket. Halaman: iv, 359 p. : il. ; 20 cm 1 variabel 2 negasi 3 prima 4 parabola 5 tangen 6 rasio emas4 7 konvergen 8 limit 9 kosinus 10 identitas 11 deviasi6 12 himpunan 13 modus 14 fraktal8 15 kaprekar9 16 lhôpital10 17 rerata 18 sempurna11 19 berseberangan 20 binomial12 21 transenden13 22 P dan NP14 23 pythagoras16 24 proposisi18 25 hardyramanujan2 0 26 anteseden21 27 konsekuen22 28 basis 29 imajiner 30 deret 36kdkdaftar isi


56 biimplikasi 57 hiperbola 58 komutatif 59 himpunan lepas 60 ketakberhinggaan 61 pembuktian 62 solusi 63 teorema terakhirfermat50 64 terapan rangkuman pisau occam52 heksagram i ching 164 daftar pustaka tentang triskaidekaman Back 38 deduksi 39 induksi 40 teorema 41 trigonometri 42 dalil 43 persamaan 44 angka penting39 45 komplemen 46 outlier40 47 titik balik 48 biner 49 menyintas 50 dualitas 51 n 52 maksimum 53 koordinat 54 fibonacca44 55 konstanta


Variabel "Maaf bu no urut keberapa?" Berapa. Kata yang jelas adalah bentuk variabel. Kata yang sekaligus jadi tanda sebenarnya. Bahkan sebelum kamu lahir, entah sudah berapa kali "berapa " yang kamu dengar.


Negasi Mereka terpaksa menyerah dalam dua kesimpulan negasi: itu bukan salah paru-paru mu. Itu bukan salah jantungmu.


Prima Bahwa kamu lahir di hari keempat dalam sepekan, tanggal tiga belas, bulan keempat; tahun dikala ibumu berusia dua puluh empat, jam dua lewat tiga puluh sembilan menit disiang hari. Kamar tempatmu lahit ada dilantai delapan rumah sakit, kamar ketujuh dari lorong dikiri tangga besar, tempat tidur kedua dari pintu


Parabola Kamu merasakan ada yang ganjil dengan dada kiri ibumu ketika ia begitu dengan sisi kanan kepalamu. Keganjilan yang terlalu kusut antara angka dan kata, sampai tak jelas terpisahkan atau bersatukah mereka.


Suara angsel terlepas. Suara daun pintu boks terbuka, melenting ke bawah, bilah-bilah kayunya mantap mengentak lantai. Lalu suara benturan. Kepalamu dan lantai. Tegak lurus Tangen


Matanya mengilat lalu bersinar, selayaknya kaca bening yang kian tebal dan tebal. Kelopaknya mengatup bersama, sebelum sepasang bilur itu jatuh, mengalir karena desak gravitasi. Jarinya menelusuri daun telingamu, yang barangkali nyaris robek atau nyaris melayang. Jari itu begitu dingin, menggigil, gemetaran, tutur berputar bersama spiral tulang rawanyang masih belia dan lembut itu. Rasio emas


Kata yang begitu kamu takuti. " masih ada berapa kamar lagi?" "dilantai berapa?" "harga permalam berapa?" "jam berapa kami harus keluar?" Konvergen


Mendekat sejengkal demi sejengkal, makin merengkuh, makih kukuh menancapkan kuku dalamdalam. senyap kian pasti menyergap, tak pernah mau menunggumu siap atau tidak siap. perlahan kamu sadar, jarakmu dengan sunyi yang samad tinggal sejengkal. Mungkin memang tak ada harapan lagi buat mu. limit


kamu ingin penasaran. ingin marah, ingin langgaskan semua beban, tetapi tak ingin lemah, karena kamu sungguh tak ingin kalah. kamu tak rela indra itu terbang menjauh dari mu, hingga kamu rela berbuat apa saja demi kembalinya ia, hingga lelah pun tak jadi perkara. konsinus


diciptakan oleh alam, untuk dipakai manusia sebagai alat yangpaling penting dalam menerima segala-galanya. satu adalah penanda kesetian. satu adalah tunggal. identitas


Sebagian besar huruf itu selalu berbunyi sama: perpustakaan. Ia sambung dengan penjelasan. ada banyak rak, buku dan debu; tenang, tertib dan tegak perna ramai atau berjejal manusia. Sederhananya, itu tempat manusia-manusia meminjam dan membaca buku. Deviasi


semua. Semuanya ibumu ceritakan sampai tuntas. Dinding kelas. Bel pertanda istirahat dan bagaimana caramu mengakalinya supaya tidak ditertawakan . Manusia yang sombong bertajuk kepala sekolah. Tukang sapu. Halaman. himpunan


Untuk kaum minoritas? mereka abai menjawab, tak acuh. Dalih mereka begini: semua sistem yang diciptakanmanusia selalu mengikuti modus, apa yang paling banyak maka itulah yangdianggap benar. modus


Ia mewujud menjadi laki-laki. Di belakang sana, ada berpasangpasang kaki berkasut, lebih besar. fraktal


Saat itulah kamu memperhatikan plat nomor di kartu identitas angkutan yang bergelantung di spion tengah. Sebuah huruf, lalu angka 6174, dan tiga huruf lain. kaprekar


kemanapun ia bisa memandang. Terakhir daratkanlah ketika lelahlelah menghampiri. Rumit butuh waktu lebih lama. jalan ini jauh. Namun, semuanya enggan melekang dari aliran darah mu sampai lama. Setelah selesai turunlah ambillah sadel mu, pergilah. Pendek. Singkat. Tak perlu waktu lama. lhôpital


Dari bawah, ia merangkul teman sebelah sini dan sana. Kamu melanjutkan membuangnya karena penasaran. Barulah mereka mengisi satu demi satu tabung yang mencelatke langit. Kamu berpindah ke mulut lain bejana itu; kali ini dari mulut yangtengah. Anehnya masih sama tinggi saja, dari manapun kamu menang. Rerata


Tendangan sampai dua kali di kepala, dua di leher, tiga di dada, sebelas di perut, dua di punggung, dan sisanya disebar di tangan, kaki selangkangan, dan biji kemaluan Sempurna


Tidak adakah jalan lain? yang lebih mungkin buat kita? Di sebelahmu memang ada jendela, beresebrangan dengan kursi ibu mu. Bersebrangan


Bayangkan hamparan rak di depanmu. Berjajar rapi, dan tiap-tiapjarak antar papannya terisi kitab yang tebal dan tipisnya sulit di deskripsi. Binomial


Mungkin itu baris-baris penyelesaian. Bisa juga itu catatancatatan kecil di pinggir halaman. Ibumu belum muncul, sedangkan kamubegitu terpikat dengan transendensi mahluk yang masih ada disamping muitu. Trasenden


Berbeda dengan subjek lain. Ia butuh ketepatan. Bukan hipotesis belaka. Iabutuh jalan yang pasti , bukan cuma perkara ada berapa rute alternatif. Iabutuh intuisi sekaligus teknik. Salah satunya saja tak cukup. Sewaktu caralain bisa dijelaskan dengan berbagai cara, ia tidak. Cuma ada dua cara untuk menjelaskan matematika. Satu, dengan perhitungan sampai dapat. Dua, dengan mencoba-coba. P dan NP


Rumus itu. Kamu sudah pernah mendengarnya, meskipun guru-gurumu belum pernahmembahasnya. Matamu berpindah ke catatan kecil disebelahnya. Ptyhagoras


Proposisi kamu yakin bahwa nama adalah preposisi. Multitafsir. Tidak ada yangtahu benar apa sebetulnya doa orangtua ketika nama itu diberikan, kecuali kalau mereka yang mengakuinya sendiri.


Saat itulah mata mu tak sengaja menumbuk plat kuning kusut yang mulai berekmbang-kembang tepinya,tanda jarang dirawat atau terlalu kerap ditendang. Nomor bus itu 1729hardyramanujan


seseorang yang belum kamu ketahui siapa, menghadiahi-mu dengan sebuah abakus. Dua lajur, sepuluh baris. Satu manik di lajur, sepuluh baris. Satu manik di lajur yang sempit,empat manik di lajur yang lebar. Tiangnya dari bambu, bingkainya darikayu, masih berbau. Masih kesat di jari. Kamu merabai serpihan. Banyak. Anteseden


Dari balik punggungnya, pria itu mengeluarkan sebuah abakus lain. Persis sama dengan punyamu. Awalnya ia mengajarkan penulisan angka. Kalau manik lanjut sempit menjauh dari garis tengah, artinya kamu sedang menuliskan angka nol sampai empat. Kalau manik itu mendekat, kamu menuliskan angka lima sampai sembilan. Jadi kalau maniklajur sempit sedang melekat di garis tengah dan ada empat manik lanjut lebar juga melekat di garis tengah, itu artinya angka sembilan. konsekuan


Basis Ibumu tahu kamu terjaga. Buru-buru ia menyenangkanmu. Ia memberikan segelas air. Ini semacam adegan ulang dari apa yang ada di mimpimu tadi. kamu bertanya kepadanya. Ini pukul berapa. Ia menjawab, ini pukul dua pagi.


Saat itulah matamu terbuka. Ia benar-benar tidak ada. Ia tidak benar-benar ada. Kedua kalinya dalam semalam, kamu mengusap dahi yang berbulir-bulir dan leher yang memilu. imajiner


"Begini, prima. Kalau kamu mau tahusegalanya, kami harus kenal dulu dengan awal dari segalanya " deret


"kalau kamu tidak percaya aku benar-benar ada, kami tidak akan menguasai apa-apa dari semua petualangan ini. Kita akan berputarputar saja; tidak kemana-mana ". kombinatorik


Apa yang seharusnya bisa tuntas jika saja kamu sudi mengakuinya. Menelanjanginya. Kamu tak pernah menyangka seberapa besar dampak yang bisa kamu akibatkan. Seberapa dahsyat efek domino itu membuat teori sengkarut di Dunia mimpimu jadinyata. teori sengkarut


kamu menoleh keluar lagi. Angin masih demikian rius, meskipun tidak sampai mebeliung. Ke rak manakah kamu akan mencari, tak lagi menjadi soal. Semua benar. Tidak ada yang salah. Ini hanya masalah urutan. tautologi


determinan Kamu melangkah. mengitari rak. Berdiri di depannya. Tangannya yang masih teronggok di bawah keriapan bukubuku, belum dilepaskan dari sana. Kamumenggerak-gerakan jari, mencoba bicara, mencoba menawarkan tolong, ketika ia menatapmu. Ribuan manusia akan lari begitu melihatmu menggunakan bahasa itu. Bahasa satusatunya yang kamu hafal hingga urutantitik dan rinci diakritik. Mereka cuma bergidik, lalu misuh-misuh. Berbisik penuh kritik. Ia berbeda, ia tidak lari. Ia tidak bergidik. Padamu ia tidak jijik.


Kamu menimpali, dua puluh tiga mungkin bukan jawaban atas pertanyaan itu. Lebih masuk akal apa bila jawabanya empat puluh dua Jawaban


keracunan tempe atau kebanyakan makan kacang tanah sebelum ia bisa berkata demikian bijak? adakah ia menghirup udara dari balon beracun yang pecah di sisi lain cakrawala soreitu?. kontradiksi


Semua menggunakan kata waktu. Semua butuh waktu. Bayangkanlah jika tak pernah ada sang waktu di Dunia yang kau kenal. Tanpa waktu, meskipun ada jarak, tidak akan ada kecepatan. Sehingga jarak itu menjadi menjadi tak ada artinya. kecepatan


Deduksi "Kamu ini! kamu membiarkan ku menunggu terlalu lama tanpa kepastian. Ini sudah lebih dari seminggu! padahal kan, janji mu cumadua hari"


"Begini, prima. Katamu mau menghapuskan waktumu. Anggaplah aku mengalah. Kamu berhasil. Kalau begitu, aku tidak berasa dari manamana. Aku dan kamu bertemu, berarti kita ada di titik yang sama dalam alurwaktu, kan? Begitu saja. Beberapa jarak kita, tidaklah pentingnya." induksi


Lampu bisa dicari besok. Teorema itutetap akan di tempatnya besok. Salahsatu pasti akan datang, entah itu malaikat maut, hantu yang membawa abakus dan buku tua itu, atau ibumu. lalu, apa lagi yang kamu takutkan? Delapan puluh tahun atau seratus sepuluh, tiga puluh dua tahun atau tiga ratus lima puluh delapan tahun; jika teorema itu akan terunglap, terungkaplah. Jika ia butuh tiga puluhdua tahun, kami mungkin beruntung menyaksikan tirainya menyibuk dengan cantik. Teorema


Trigonometri Siang kauisi macam-macam. Ibumu kadang bertanya, seolah ingin mengujimu. Kamu tak bosan saat itu, senang-senang saja, namun dengan cepat kamu dihantui resah yang biasa. Urusanmu dengan si hantu belum selesai


tetapi diminta oleh semua orang sebagai sang nyata bahwa kamu yang ringkih dan terbatas pun tetap bisa. Kamu tahu betapa serba bisa ituhanya ada dalam mimpi. Ia abid, niskala dalam tidurmu saja, tidak di kenyataan. Ia adalah sebentuk kenyataan pahit, yang harus kau tunggu, meskipun kamu telah jemu menghibur dari dalam genang segalayang palsu. Dalil


kamu melangkah ke teras. Kamu tahuibumu ada di Rumah dari sepatunya yang mengonggok di lantai. sepatu siapa itu? Dulu ada anak perempuan yang pernah bertemu denganmu di perpustakaan. Kamu sempat melihat sepatunya. Biru tua denganmu di perpustakaan. Kamu sempat melihat sepatunya. Biru tua dengan bagian depan agak membuat, bagian belakangnya rata tanpa hak, masih melekat erat. persamaan


angka penting Kamu membawanya ke rumah sakit, suatu waktu. Kamu rela membolos, rela mereka membakar uang makan mu hari itu; demi menemaninya. Demi ada di sebelahnya, hadir untuk berbagi rasa sakit dengannya. Kamu biarkan Mantias tinggal. Kamu tahu ia bisa menjaga dirinya sendiri di sana, karena ia sudah diberi ruang sendiri. Ruang itu dulu disekat ibumu dengan harapan seseorang bisa hadir untuk melengkapi keluargamu yang cuma berdua sedari lama. Sayang, harapan tinggal harapan; tak ada satupun yang datang. sampaigiliMtiAggjdi


komplomen Hantu itu menghilang sejak ia menutup bukunya untuk terakhir kali. Ia tidak pernah menjanjikan apapun kepadamu, selain bahwa jika kamu terus membuka mata dan membuka hati mu, ia akan selalu ada di manamana.


Outlier Ia berkata kepadamu, begitu jelas dan terang, bahea jika seseorang punya waktu cukup panjang, untuk menjadi ahli matematika, sebut saja delapam puluh atau seratus sepuluh tahun, maka ia akan bisa mengungkap rahaisa terdalam kehidupan.


Titik balik Justru, karena itulah kamu melihatnya tertelungkup di lantai. Sepertinya kepala itu tadi terantuk kaki meja. Sepertinya bahu-bahu itu tadi terpelanting beberapa kali sebelum mendarat dengan debum keras. Mungkin tadi ia sedang bangkit. Sedang ingin mengambil sesuatu di atas rak. Sedang menyusun yang tak teratur jadi teratur. Kini, ia kembali. Ia tengah berhenti untukmu.


Click to View FlipBook Version