GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 18periode beberapa minggu di tahun kesepuluh perang itu — dengan fokus pada kemuliaan dan tragedi Achilles, pahlawan yang memilih kematian muda yang gemilang daripada kehidupan panjang yang hampa.Odyssey, pendamping Iliad, mengisahkan perjalanan pulang Odysseus dari Troya ke kampung halamannya di Ithaka — sebuah perjalanan yang memakan waktu sepuluh tahun dan dipenuhi dengan petualangan luar biasa. Dalam perjalanan itu, Odysseus menghadapi Cyclops yang mengerikan, godaan Sirens yang mematikan, pesona Calypso yang abadi, dan ribuan ancaman lainnya. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah perjalanan batin Odysseus — pencarian akan identitas, rumah, dan makna.Tragedi-tragedi Yunani — Oedipus Rex karya Sophocles, Medea karya Euripides, Agamemnon karya Aeschylus — mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang takdir, kehendak bebas, keadilan ilahi, dan kondisi manusia. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah kehilangan relevansinya, karena ia adalah pertanyaan abadi yang selalu akan ditanyakan oleh manusia selama manusia masih ada.\"Keseluruhan tujuan sastra adalah membantu kita memahami diri kita sendiri dengan lebih baik.\" — C.S. Lewis
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 192.3 Sastra Abad Pertengahan dan RenaissanceKetika Kekaisaran Romawi runtuh pada abad ke-5 M, pusat gravitasi peradaban bergeser. Di Eropa, Abad Pertengahan membawa tradisi sastra baru yang dijiwai oleh semangat keagamaan: epos kesatria seperti Chanson de Roland dan Nibelungenlied, roman cinta seperti karya-karya Chrétien de Troyes, dan puncak sastra abad pertengahan Eropa dalam Divine Comedy karya Dante Alighieri.Divine Comedy adalah salah satu karya terbesar yang pernah ditulis oleh manusia. Dante mengajak pembacanya dalam perjalanan melalui Neraka (Inferno), Api Penyucian (Purgatorio), dan Surga (Paradiso), sebuah perjalanan alegoris yang sekaligus merupakan peta lengkap teologi, filsafat, dan pandangan dunia abadpertengahan. Dante menulis dalam bahasa Italia vernakular, bukan Latin, sebuah keputusan revolusioner yang membantu meletakkan fondasi bagi sastra Italia modern.Renaissance membawa gelombang baru dalam sastra Eropa. Di Italia, Petrarch dan Boccaccio meletakkan fondasi humanisme sastrawi. Di Inggris, Geoffrey Chaucer dengan Canterbury Tales-nya memperkenalkan keragaman dan kedalaman psikologis yang belum pernah ada sebelumnya dalam sastra Inggris. Dan kemudian, di puncak Renaissance Inggris, muncullah Shakespeare.William Shakespeare (1564-1616) adalah, bagi banyak orang, penulis terbesar yang pernah hidup. Dalam 37 dramanya dan 154 sonetnya, Shakespeare mencipta galeri karakter-karakter yang begitu
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 20hidup, begitu manusiawi, dan begitu kaya psikologinya sehingga mereka terasa lebih nyata daripada orang-orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hamlet dengan kebimbangannya yang abadi, Macbeth dengan ambisinya yang menghancurkan, Lear dengan kegilaannya yang penuh hikmah, Romeo dan Juliet dengan cinta mereka yang tragis — semua ini adalah cermin jiwa manusia yang tak pernah retak.2.4 Sastra Modern dan PostmodernAbad ke-19 dan ke-20 membawa ledakan kreativitas sastrawi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi industri, pergolakan politik, dua perang dunia yang menghancurkan, dan perubahan sosial yang dramatis semuanya meninggalkan jejak dalam sastra zaman itu.Realisme dan Naturalisme muncul sebagai respons terhadap idealisasi sastra Romantisme. Penulis-penulis seperti Gustave Flaubert (Madame Bovary), Leo Tolstoy (Anna Karenina, Perang dan Damai), dan Fyodor Dostoevsky (Kejahatan dan Hukuman, The Brothers Karamazov) menciptakan karya-karya yang menggambarkan realitas kehidupan manusia dengan kejujuran yang tak kenal kompromi.Modernisme awal abad ke-20 melahirkan eksperimen-eksperimen berani dalam bentuk dan teknik sastra. James Joyce mengembangkan teknik 'stream of consciousness' dalam Ulysses, sebuah karya yang menggambarkan satu hari dalam kehidupan tiga tokoh di Dublin dengan detail yang mencengangkan.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 21Virginia Woolf mengeksplorasi kehidupan batin dengan kepekaan dan keindahan yang tak tertandingi. Marcel Proust menciptakan In Search of Lost Time, sebuah roman tujuh jilid tentang ingatan, waktu, dan seni.Sastra Amerika Latin abad ke-20 memberikan kontribusi yang luar biasa dengan genre magis realisme — perpaduan antara realitas sehari-hari dan unsur-unsur fantastis yang diceritakan seolah-olah sama nyatanya. Gabriel García Márquez, Mario Vargas Llosa, Jorge Luis Borges, dan Isabel Allende adalah nama-nama yang memancarkan kejayaan sastra Amerika Latin kepada seluruh dunia.2.5 Tokoh-Tokoh Besar Sastra DuniaRabindranath Tagore (1861-1941) adalah sastrawan Asia pertama yang menerima Nobel Sastra pada tahun 1913. Karyanya, terutama kumpulan puisi Gitanjali, menggabungkan tradisi spiritualitas India dengan sensibilitas modern dengan cara yang sangat indah dan menggerakkan hati. Tagore bukan hanya sastrawan, tetapi juga filsuf, pendidik, dan aktivis sosial yang memiliki visi tentang kemanusiaan universal yang melampaui batas bangsa dan agama.Leo Tolstoy (1828-1910) adalah raksasa sastra Rusia yang karyanya mencakup dua novel terbesar yang pernah ditulis: Perang dan Damai serta Anna Karenina. Tolstoy memiliki kemampuan luar biasa untuk menggambarkan jiwa manusia dalam segala kompleksitasnya — dari
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 22kebesaran heroik hingga kelemahan yang paling memalukan. Di kemudian hari hidupnya, Tolstoy beralih kepada penulisan spiritual dan moral yang juga sangat berpengaruh.Franz Kafka (1883-1924) adalah penulis yang namanya telah menjadi kata sifat dalam bahasa Inggris: 'Kafkaesque', yang berarti situasi yang absurd, menindas, dan tidak masuk akal seperti birokrasi yang tidak manusiawi. Dalam karya-karyanya seperti Metamorfosis dan The Trial, Kafka menggambarkan kondisi manusia modern yang terasing dan terkunci dalam sistem-sistem yang tidak dapat dimengerti maupun diubah.2.6 Nilai-Nilai Universal dalam Sastra DuniaDi balik perbedaan bahasa, budaya, dan zaman, karya-karya sastra dunia yang terbesar berbagi tema-tema dan nilai-nilai yang universal. Pertama, cinta dalam segala bentuknya — cinta romantis, cinta orang tua kepada anak, cinta kepada tanah air, cinta kepada sesama manusia — adalah tema yang muncul dalam sastra dari setiap budaya dan setiap zaman.Kedua, keadilan dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dari Antigone yang menentang dekret tiran demi menguburkan saudaranya dengan layak, hingga Atticus Finch dalam To Kill a Mockingbird yang membela terdakwa kulit hitam di tengah
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 23masyarakat rasis Amerika Selatan — sastra selalu berbicara tentang keadilan.Ketiga, pencarian identitas dan makna. Siapa saya? Mengapa saya ada? Apa tujuan hidupku? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dalam Hamlet, dalam The Stranger karya Camus, dalam Siddhartha karya Hermann Hesse, dan dalam ribuan karya sastra lainnya. Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab secara final, tetapi harus selalu ditanyakan.Keempat, keberanian dalam menghadapi ketakutan dan ketidakpastian. Pahlawan-pahlawan sastra dari Achilles hingga Frodo Baggins mengajarkan kita bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi adalah kemampuan untuk bertindak meskipun takut. Pelajaran ini relevan bagi setiap manusia yang hidup di dunia yang penuh dengan ketidakpastian.BAB IIISastra Kerajaan Nusantara: Mahkota Peradaban BangsaJauh sebelum bangsa-bangsa Eropa mulai 'menemukan' dunia timur dengan kapal-kapal mereka, peradaban Nusantara telah mekar dalam kejayaannya. Kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan Gowa-Tallo bukan hanya pusat kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga pusat kebudayaan dan sastra yang menghasilkan karya-karya yang masih memukau kita hingga hari ini.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 243.1 Sejarah Sastra Kerajaan NusantaraSastra kerajaan Nusantara memiliki akar yang sangat dalam. Pengaruh India yang masuk ke Nusantara sejak abad pertama Masehi membawa serta tradisi sastra Sansekerta yang kaya — epos, puisi, dan teks-teks filosofis. Namun, para sastrawan Nusantara tidak sekadar meniru. Mereka mengadaptasi, mengintegrasikan, dan mengkreasi tradisi baru yang memadukan unsur-unsur India dengan kearifan lokal yang telah ada sejak sebelumnya.Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah (abad ke-8 hingga ke-10 M) adalah salah satu pusat sastra pertama yang kita kenal di Nusantara. Di sinilah Kakawin Ramayana — adaptasi epik India Ramayana ke dalam bahasa Jawa Kuno — dihasilkan. Kakawin ini bukan sekadar terjemahan; ia adalah karya orisinal yang telah diberi jiwa dan ruh Nusantara.Era keemasan sastra Nusantara mencapai puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15 M). Di bawah patronase raja-raja Majapahit, terutama Hayam Wuruk, karya-karya sastra agung lahir satu demi satu: Nagarakretagama, Sutasoma.Keraton Majapahit adalah padang subur di mana bungabunga sastra mekar dengan segala keharuman dan keindahannya.3.2 Kakawin: Puisi Agung Jawa KunoKakawin adalah genre puisi Jawa Kuno yang menggunakan metrum atau pola irama dari tradisi Sanskrit India.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 25Kata 'kakawin' sendiri berasal dari kata 'kawi' yang berarti 'pujangga' atau 'penyair'. Seorang kawi bukan sekadar penulis — ia adalah orang yang tercerahkan secara spiritual dan intelektual, yang memiliki kemampuan untuk melihat dan mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi dari pandangan orang biasa.Kakawin ditulis dalam bahasa Kawi, yaitu bentuk sastra bahasa Jawa Kuno yang kaya dengan kata-kata serapan Sansekerta. Bahasa ini memiliki keindahan dan keanggunan yang luar biasa — sebuah bahasa yang diciptakan khusus untuk mengekspresikan keindahan dan kedalaman pemikiran.Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa (sekitar abad ke-11 M) adalah salah satu kakawin tertua yang kita kenal. Kakawin ini menceritakan kisah Arjuna yang bertapa di Gunung Indrakila dan godaan-godaan yang datang menghampirinya — sebuah alegori tentang pertempuran batin antara nafsu dan kebijaksanaan. Karya ini dipandang sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa Kuno.3.3 Sutasoma dan Bhinneka Tunggal IkaKakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular yang ditulis pada masa kejayaan Majapahit (sekitar abad ke-14 M), adalah salah satu warisan terpenting yang diberikan oleh peradaban Nusantara kepada Indonesia modern. Dari karya inilah semboyan 'Bhinneka Tunggal Ika' — Berbeda-beda namun tetap satu — diambil dan dijadikan moto negara Republik Indonesia.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 26Kisah Sutasoma mengikuti perjalanan Pangeran Sutasoma, seorang pangeran yang meninggalkan kemewahan istana untuk menjadi seorang biksu Buddhis yang bijaksana. Dalam perjalanannya, ia menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, termasuk ancaman dari raksasa pemangsa manusia bernama Purusada. Namun Sutasoma tidak membalasnya dengan kekerasan — ia menawarkan dirinya sendiri sebagai mangsa, sebuah tindakan pengorbanan yang pada akhirnya menyentuh hati Purusada dan mengubahnya.\"Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa\" —Mpu Tantular, Kakawin Sutasoma (Berbeda-beda namun satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua)Semboyan ini lahir dalam konteks yang sangat spesifik: Majapahit adalah kerajaan yang rakyatnya menganut berbagai agama — Siwa, Waisnawa, Buddha, dan kepercayaan lokal. Mpu Tantular mengajarkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi persatuan, karena pada hakikatnya semua jalan menuju kebenaran yang sama. Pesan ini, yang lahir lebih dari enam ratus tahun yang lalu, masih sangat relevan bagi Indonesia yang plural dan beragam di abad ke-21 ini.3.4 Nagarakretagama: Kronik Kejayaan MajapahitNagarakretagama, juga dikenal sebagai Desawarnana, adalah kakawin yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M — tepat
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 27pada puncak kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Karya ini adalah sumber sejarah yang tak ternilai bagi pemahaman kita tentang Majapahit dan Nusantara pada abad ke-14.Kakawin Nagarakretagama merupakan salah satu karya sastra penting yang menggambarkan kejayaan Kerajaan Majapahit. Selain itu, terdapat pula Kakawin Sutasoma yang terkenal dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu bangsa Indonesia telah memiliki pemikiran yang maju tentang persatuan dan keberagaman.Nagarakretagama terdiri dari 98 pupuh (bagian) yang menggambarkan berbagai aspek kehidupan kerajaan Majapahit: wilayah kekuasaan yang membentang dari Sumatra hingga Papua dan bahkan mencapai sebagian Semenanjung Malaya dan Filipina; struktur pemerintahan dan birokrasi; upacara-upacara keagamaan dan adat; serta kepribadian para tokoh utama kerajaan.Salah satu bagian yang paling terkenal dari Nagarakretagama adalah deskripsi wilayah kekuasaan Majapahit yang sangat luas, yang sering dikaitkan dengan konsepsi awal tentang Indonesia sebagai sebuah kesatuan geopolitik. Dalam Kitab Pararaton ada Sumpah Palapa.Gajah Mada, Mahapatih agung Majapahit, bersumpah dalam Sumpah Palapa-nya untuk tidak menikmati kenikmatan dunia sebelum menyatukan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit —
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 28sebuah visi nasionalis avant la lettre yang menginspirasi para pendiri bangsa Indonesia.Pada tahun 2008, Nagarakretagama diakui oleh UNESCO sebagai Memory of the World — sebuah pengakuan internasional atas nilai universalnya sebagai warisan peradaban manusia. Ini adalah kehormatan yang luar biasa, sekaligus tanggung jawab yang besar bagi kita semua untuk menjaga dan melestarikannya.3.5 Hikayat: Warisan Sastra MelayuSementara tradisi kakawin berkembang di Jawa, tradisi sastra Melayu berkembang dengan genre-genrenya yang khas. Hikayat adalah salah satu genre utama sastra Melayu Klasik — sebuah narasi prosa panjang yang mengisahkan petualangan para pahlawan, kisah cinta raja-raja, dan keajaiban-keajaiban dunia.Sastra Melayu klasik juga berkembang pesat melalui hikayat dan syair. Hikayat Hang Tuah, misalnya, menggambarkan nilai kesetiaan dan keberanian. Di Jawa, berkembang berbagai serat dan tembang yang mengandung ajaran moral dan spiritual.Hikayat Hang Tuah adalah salah satu hikayat paling terkenal dan paling penting dalam tradisi sastra Melayu. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup Hang Tuah, seorang pahlawan legendaris dari Melaka yang setia kepada rajanya hingga titik darah yang penghabisan.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 29Hikayat ini mengandung refleksi mendalam tentang konsep kesetiaan, kehormatan, dan pengorbanan — nilai-nilai yang hingga kini masih hidup dalam budaya Melayu dan Indonesia.Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) adalah karya prosa sejarah yang menggambarkan sejarah Kesultanan Melayu Melaka dari perspektif istana. Karya ini ditulis sekitar abad ke-16 dan merupakan sumber penting tentang sejarah, adat istiadat, dan sistem nilai masyarakat Melayu klasik.Tradisi pantun dalam sastra Melayu adalah contoh lain dari kekayaan sastra Nusantara. Pantun — puisi berstruktur empat baris dengan pola sampiran dan isi — adalah bentuk puisi yang unik dan orisinil dari Nusantara, yang tidak memiliki padanan dalam tradisi sastra mana pun di dunia. Dalam kepraktisan dan keindahannya, pantun mencerminkan jiwa orang Melayu yang bijaksana, halus perasaannya, namun teguh prinsipnya.3.6 Babad, Serat, dan Suluk JawaNusantara memiliki kekayaan sastra yang luar biasa. Sejak masa kerajaan Hindu-Buddha hingga Kesultanan Islam, berbagai naskah kuno lahir sebagai bagian dari perkembangan budaya dan peradaban bangsa.Melalui sastra kerajaan Nusantara, masyarakat modern dapat memahami akar budaya bangsa.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 30Sastra bukan hanya hiburan, tetapi juga sumber ilmu pengetahuan, filosofi hidup, dan identitas nasional.Babad adalah genre sastra sejarah Jawa yang mengisahkan sejarah kerajaan-kerajaan Jawa, sering dicampur dengan unsur-unsur mitologi dan legenda. Babad Tanah Jawi, misalnya, mengisahkan sejarah Jawa dari awal mula hingga pendirian Kesultanan Mataram, mencakup kisah-kisah para raja, peperangan besar, dan peristiwaperistiwa penting yang membentuk sejarah Jawa.Serat adalah karya sastra Jawa dalam prosa atau puisi yang mengandung ajaran moral, spiritual, atau filosofis. Serat Centhini, yang terdiri dari dua belas jilid tebal, adalah ensiklopedia kehidupan Jawa yang mengagumkan — mencakup segala aspek kehidupan dari filsafat dan teologi hingga kuliner dan erotika, dari tata cara upacara adat hingga petunjuk praktis bertani dan berdagang.Suluk adalah genre sastra Jawa yang bersifat mistis dan spiritual, mengekspresikan pengalaman-pengalaman batin para sufi dan mistikus Jawa. Suluk Wujil karya Sunan Bonang, misalnya, adalah percakapan spiritual antara seorang guru sufi dan muridnya yang mengeksplorasi hakikat Tuhan, manusia, dan alam semesta. Dalam suluk, tradisi mistisisme Islam berpadu indah dengan kearifan Jawa pra-Islam untuk menghasilkan sintesis spiritual yang unik dan khas.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 313.7 Sastra Lisan: Pantun, Syair, dan GurindamDi luar tradisi sastra tulis, Nusantara memiliki kekayaan sastra lisan yang luar biasa. Pantun, syair, dan gurindam adalah tiga bentuk puisi lisan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara.Pantun, dengan struktur sampiran-isinya yang khas, adalah medium komunikasi yang sangat fleksibel. Ia digunakan dalam acara pernikahan, kematian, penyambutan tamu, perdebatan, dan bahkan percintaan. Pantun adalah cara masyarakat Melayu dan Nusantara untuk menyampaikan pesan yang dalam dengan cara yang tidak langsung, penuh kiasan, dan tetap menjaga kesantunan.Syair adalah puisi Melayu yang setiap baitnya terdiri dari empat baris berima sama (aaaa). Berbeda dengan pantun yang bersifat dialogis dan spontan, syair lebih bersifat naratif dan panjang. Syair Ken Tambuhan, Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, dan ratusan syair lainnya adalah perbendaharaan sastra yang mencerminkan kedalaman dan keluasan tradisi intelektual Nusantara.Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji (1847) adalah puncak tradisi gurindam dalam sastra Melayu. Dua belas pasal berisi 83 bait gurindam ini mengandung nasihat-nasihat moral dan keagamaan yang padat dan tajam. 'Barang siapa tiada memegang agama, sekalikali tiada boleh dibilang nama' — begitu salah satu baitnya yang terkenal, mengajarkan tentang pentingnya agama sebagai fondasi kehidupan.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 32BAB IVGenre Sastra PNS IndonesiaDari keagungan sastra dunia dan kekayaan sastra kerajaan Nusantara, lahirlah sebuah genre baru yang segar dan relevan: Genre Sastra PNS Indonesia. Sastra adalah cermin kehidupan manusia. Dari sastra dunia hingga sastra kerajaan Nusantara, setiap karya mengandung nilai-nilai luhur yang dapat menjadi pedoman hidup. Melalui buku ini, diharapkan masyarakat Indonesia semakin mencintai sastra dan menjadikannya bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.Ferizal sebagai Bapak Sastra PNS Indonesia berupaya menghadirkan semangat baru dalam pengembangan literasi nasional. Sastra bukan sekadar tulisan, melainkan warisan peradaban yang harus dijaga dan dilestarikan.Perjalanan sastra tidak akan pernah berakhir selama manusia masih memiliki rasa, pikiran, dan impian. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga dan mengembangkan budaya literasi demi masa depan Indonesia yang lebih beradab, cerdas, dan bermartabat.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 334.1 Kelahiran Genre Sastra PNS IndonesiaFerizal, sebagai pencetus dan Bapak Genre Sastra PNS Indonesia, memulai perjalanan ini dengan keyakinan bahwa sastra dapat menjadi jembatan antara nilai-nilai ideal pengabdian publik dan realitas kehidupan sehari-hari seorang PNS. Dalam balutan bahasa yang indah dan kisah yang menggerakkan hati, nilai-nilai integritas, profesionalisme, dan cinta tanah air dapat lebih mudah diinternalisasikan daripada melalui regulasi dan peraturan semata.4.2 Karakteristik dan Ciri Khas GenreGenre Sastra PNS Indonesia memiliki karakteristik yang membedakannya dari genre-genre sastra lainnya. Pertama, ia secara eksplisit mengakui dan menghormati warisan sastra dunia dan sastra Nusantara. Karya-karya dalam genre ini selalu hadir dengan kesadaran bahwa ia adalah bagian dari tradisi sastra yang panjang dan agung.Kedua, genre ini mengambil konteks dan setting dari kehidupan PNSIndonesia — kantor, lapangan, pedesaan tempat mereka bertugas, masyarakat yang mereka layani. Dengan demikian, sastra tidak lagi terasa jauh dan abstrak, tetapi hadir dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.Ketiga, genre ini menekankan nilai-nilai yang relevan dengan pengabdian publik: integritas, profesionalisme, empati kepada
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 34rakyat, cinta tanah air, dan komitmen kepada kebenaran dan keadilan. Nilai-nilai ini bukan ditampilkan sebagai slogan atau ceramah, tetapi dihidupkan melalui karakter-karakter yang kompleks, situasi yang nyata, dan konflik-konflik moral yang otentik.Keempat, genre ini bersifat inklusif dan merayakan keragaman Indonesia. Latar ceritanya bisa berada di mana saja — dari kantor imigrasi di perbatasan Kalimantan hingga Puskesmas terpencil di Papua, dari kantor pajak di Jakarta hingga sekolah dasar di Nias. Karakter-karakternya mencerminkan keragaman etnis, budaya, dan latar belakang yang membentuk mozaik Indonesia yang indah.4.3 Tema-Tema Utama dalam Sastra PNSPengabdian yang tulus adalah tema sentral dalam Genre Sastra PNS Indonesia. Karya-karya dalam genre ini mengeksplorasi makna sejati pengabdian — bukan sebagai keterpaksaan atau rutinitas yang membosankan, tetapi sebagai panggilan jiwa yang mulia. Seorang guru SD di pedalaman demi mencerdaskan anak-anak bangsa, seorang dokter Puskesmas yang melayani ratusan pasien dengan penuh dedikasi, seorang petugas KUA yang membantu pasangan memulai kehidupan baru — mereka semua pahlawanpahlawan tersembunyi yang layak diabadikan dalam sastra.Integritas dalam menghadapi godaan adalah tema lain yang sangat penting.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 35Dunia birokrasi mempertahankan integritasnya di tengah tekanan dan godaan dengan realitas yang kompleks. Genre Sastra PNS Indonesia mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini dengan kejujuran dan kedalaman yang tidak menghakimi, tetapi juga tidak memaklumi.Cinta tanah air dan kebanggaan budaya adalah tema lain yang mengalir deras dalam genre ini. PNS adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan keindahan dan kompleksitas Indonesia — keragaman budayanya, kekayaan alamnya, keramahan rakyatnya, dan tantangan-tantangannya yang berat. Genre Sastra PNS Indonesia mengajak para PNS untuk melihat semua ini dengan mata yang segar dan hati yang bersyukur.4.4 Peran PNS sebagai Penjaga BudayaPNS tidak hanya melaksanakan tugas-tugas administratif dan teknis. Mereka juga, secara sadar atau tidak, adalah penjaga budaya bangsa. Seorang guru mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia kepada generasi berikutnya. Seorang pejabat budaya melindungi cagar budaya dan warisan tak benda. Seorang peneliti di BRIN ( dahulu LIPI ) mempelajari dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati dan budaya Nusantara.Namun peran PNS sebagai penjaga budaya tidak hanya terbatas pada tugas-tugas fungsional mereka. Setiap PNS, dalam kehidupan sehariharinya, dapat menjadi agen pelestarian budaya — dengan membaca
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 36dan mengapresiasi sastra Indonesia, dengan mengenalkan anakanaknya pada kekayaan budaya Nusantara, dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan budaya di komunitasnya.Genre Sastra PNS Indonesia mengajak setiap PNS untuk melihat dirinya bukan hanya sebagai pelaksana regulasi dan prosedur, tetapi juga sebagai pewaris dan pelanjut tradisi budaya yang agung. Dengan kesadaran ini, pekerjaan sehari-hari yang kadang terasa monoton dan melelahkan dapat dimaknai kembali sebagai bagian dari sebuah misi yang lebih besar dan lebih mulia.4.5 Contoh Karya dalam Genre Sastra PNSBerikut adalah sebuah contoh puisi dalam Genre Sastra PNS Indonesia, yang mencoba mengkombinasikan gaya kakawin Nusantara dengan tema-tema pelayanan publik:SUMPAH ABDI NEGARA Di bawah langit biru tanah pusaka, Kuucapkan sumpah dengan segenap jiwa, Melayani bangsa hingga akhir masa, Bersih hatiku, tegak adanya. Seperti pujangga zaman Majapahit, Yang menulis hikayat dengan tinta cahaya, Aku pun menulis dengan hidupku sendiri, Sejarah kecil seorang abdi negara. Bukan harta yang kutuju dalam jabatan, Bukan puja puji yang kukejar dalam tugas, Hanya ridha Allah dan senyum rakyat, Itulah mahkota yang paling mulia.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 37Puisi di atas mencerminkan nilai-nilai inti Genre Sastra PNS Indonesia: penghormatan pada tradisi sastra Nusantara (referensi pada Majapahit dan pujangga), kesadaran spiritual (ridha Allah), dan komitmen kepada pelayanan rakyat — semua dikemas dalam bahasa yang indah dan bermakna.BAB VSastra sebagai Pilar BangsaBangsa-bangsa yang melupakan sastranya adalah bangsa-bangsa yang sedang melupakan jiwanya. Di tengah derasnya arus modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi, sastra adalah jangkar yang menjaga agar kita tidak hanyut dan kehilangan diri. Ia adalah kompas yang menunjukkan arah ketika kita bingung, cermin yang jujur ketika kita mulai tersesat.5.1 Sastra dan Pendidikan KarakterPendidikan karakter yang sejati tidak bisa hanya mengandalkan ceramah, seminar, dan pelatihan. Ia membutuhkan medium yang menyentuh hati dan menggerakkan jiwa — dan sastra adalah medium yang paling efektif untuk itu. Ketika seorang anak membaca kisah tentang keberanian, ia tidak hanya mengetahui bahwa keberanian itu baik; ia merasakannya, menginternalisasikannya, dan mungkin suatu hari ia akan mewujudkannya dalam hidupnya sendiri.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 38Penelitian pendidikan menunjukkan bahwa membaca fiksi secara reguler dapat meningkatkan empati — kemampuan untuk memahami dan merasakan perspektif orang lain. Ini adalah temuan yang sangat penting, karena empati adalah pondasi dari semua keutamaan sosial: toleransi, keadilan, kasih sayang, dan gotong royong.Genre Sastra PNS Indonesia menempatkan sastra secara serius —bukan hanya sebagai hafalan fakta tentang pengarang dan tahun terbit, tetapi sebagai pengalaman hidup yang perlu dihayati dan didiskusikan — adalah kurikulum yang berinvestasi pada pembentukan karakter bangsa jangka panjang.5.2 Sastra dan NasionalismeNasionalisme Indonesia lahir bukan hanya dari kepentingan politik dan ekonomi bersama, tetapi juga dari imajinasi bersama yang dirajut oleh sastra. Ketika Sumpah Pemuda diucapkan pada tahun 1928, generasi muda Indonesia tidak hanya bersepakat secara politis —mereka juga berbagi imajinasi tentang sebuah bangsa yang bersatu dalam bahasa dan cita-cita.Bahasa Indonesia sendiri adalah produk sastra dan kesadaran budaya. Ia tidak muncul begitu saja dari vacuum — ia dibangun dengan sadar oleh para pemuda yang membaca, menulis, dan mendiskusikan karya-karya dalam bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Majalah Pujangga Baru, terbitan tahun 1930-an yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, adalah salah satu wadah di mana imajinasi tentang Indonesia modern dibentuk dan didiskusikan.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 39Sastra Angkatan 45 — puisi-puisi Chairil Anwar, cerpen-cerpen Idrus, novel-novel Marah Rusli dan Merari Siregar — membantu membentuk imajinasi tentang Indonesia yang merdeka dan berdaulat. 'Aku ingin hidup seribu tahun lagi' — baris terakhir puisi 'Aku' karya Chairil Anwar adalah teriakan jiwa sebuah generasi yang haus akan kebebasan dan kehidupan penuh makna.5.3 Tantangan Sastra di Era DigitalEra digital menghadirkan tantangan yang belum pernah dihadapi oleh sastra sebelumnya. Perhatian manusia adalah sumber daya yang semakin langka dan semakin diperebutkan oleh ribuan konten yang bersaing. Novel tebal yang membutuhkan konsentrasi dan waktu berjam-jam harus bersaing dengan video TikTok yang berdurasi tiga puluh detik. Puisi yang perlu direnungkan berkali-kali harus bersaing dengan meme yang bisa langsung dimengerti tanpa berpikir.Namun era digital juga membawa peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Karya-karya sastra Nusantara yang dulu hanya bisa diakses di perpustakaan-perpustakaan besar kini tersedia secara digital untuk siapa pun yang terhubung ke internet. Platformplatform seperti Wattpad, Karyakarsa, dan berbagai blog sastra telah demokratisasi produksi dan konsumsi sastra secara dramatis.Tantangan bagi para pecinta sastra di era digital adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan esensi dari pengalaman bersastra itu sendiri. Membaca e-book di tablet tidak kurang legitimasinya daripada membaca buku cetak.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 40Yang penting adalah kualitas perhatian yang kita berikan — apakah kita benar-benar hadir dan terserap dalam dunia yang dibuka oleh karya sastra, ataukah kita membaca sambil setengah hati, separuh perhatian kita masih tertuju ke notifikasi yang terus berdatangan.5.4 Pelestarian dan Pengembangan Sastra NusantaraPelestarian sastra Nusantara adalah tugas yang mendesak dan tidak boleh ditunda. Banyak naskah-naskah kuno Nusantara yang berada dalam kondisi rapuh dan terancam rusak atau hilang. Program digitalisasi naskah yang dilakukan oleh berbagai lembaga —Perpustakaan Nasional, KITLV, berbagai universitas — sangat penting dan perlu terus didukung dan diperkuat.Namun pelestarian tidak cukup hanya bersifat konservasi pasif. Sastra Nusantara perlu 'dihidupkan kembali' — diterjemahkan ke bahasa Indonesia modern yang mudah dipahami, diadaptasi ke berbagai medium (film, sinetron, komik, game), dan diperkenalkan kepada generasi muda dengan cara-cara yang relevan dan menarik bagi mereka.Pemerintah, melalui PNS-nya, memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya ini. Kebijakan-kebijakan yang mendukung pendidikan sastra yang berkualitas, program-program yang memperkenalkan sastra Nusantara kepada masyarakat luas, dan dukungan kepada seniman dan sastrawan yang berkarya — semua ini adalah investasi jangka panjang yang akan menuai buahnya dalam bentuk bangsa
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 41yang lebih berbudaya, lebih berkarakter, dan lebih berdaulat secara budaya.Genre Sastra PNS Indonesia berperan sebagai salah satu agen dalam upaya pelestarian dan pengembangan ini. Dengan mengambil inspirasi dari sastra dunia dan sastra Nusantara, dan menuangkannya dalam karya-karya baru yang relevan dengan konteks Indonesia kontemporer, genre ini berkontribusi pada kesinambungan tradisi sastra yang telah berlangsung ribuan tahun.PENUTUPPerjalanan kita menelusuri sastra dunia dan sastra kerajaan Nusantara dalam buku ini adalah perjalanan yang singkat — tidak lebih dari sebuah sapaan awal kepada khazanah yang demikian luas dan dalam. Seperti seseorang yang berdiri di tepi samudra dan hanya mampu menciduk sedikit air dengan telapak tangannya, begitu pula yang dapat kita lakukan dalam ruang yang terbatas ini.Namun dari setitik air itu, kita dapat merasakan rasa airnya, melihat warna birunya, merasakan suhunya. Dari apa yang telah kita telusuri bersama, kita dapat merasakan betapa kayanya warisan sastra manusia — dan betapa besar tanggung jawab kita untuk menjaga, merawat, dan meneruskannya.Sastra adalah percakapan antar generasi. Ketika kita membaca Sutasoma, kita bercakap-cakap dengan Mpu Tantular yang menulis enam ratus tahun yang lalu.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 42Ketika kita membaca Shakespeare, kita bercakap-cakap dengan penulis yang hidup empat ratus tahun lalu. Percakapan ini melampaui batas waktu, ruang, dan bahasa — ia adalah percakapan tentang halhal yang paling fundamental dan abadi dalam kehidupan manusia.Sebagai PNS Indonesia, kita memiliki posisi yang unik dan istimewa dalam percakapan ini. Kita adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan realitas Indonesia — dengan keindahan dan kesulitannya, dengan kekayaan dan ketimpangannya, dengan keberagaman dan persatuannya. Pengalaman-pengalaman ini adalah bahan baku bagi sastra yang hidup dan bermakna.Melalui Genre Sastra PNS Indonesia, mari kita terus memperkaya percakapan antar generasi itu. Mari kita menulis tentang pengalaman kita sebagai abdi negara — dengan kejujuran, keindahan, dan kedalaman yang layak diterima oleh warisan sastra yang agung yang kita terima dari para pendahulu kita.\"Sastra adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Selama kita terus membaca, menulis, dan menghayati karya sastra, selama itu pula kita menjaga nyala peradaban bangsa.\" — Ferizal, Bapak Sastra PNS IndonesiaSemoga buku ini dapat menjadi salah satu batu kecil dalam bangunan besar literasi dan kebudayaan bangsa Indonesia yang sedang terus kita bangun bersama. Semoga ia menginspirasi lebih banyak PNS untuk membaca, mencintai, dan menciptakan karya sastra.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 43Dan semoga sastra Indonesia — baik yang mewarisi tradisi dunia maupun tradisi Nusantara — terus mekar dan berbuah dalam taman kebudayaan yang indah ini.Lhokseumawe, Mei 2026FERIZALBapak Sastra PNS IndonesiaDAFTAR PUSTAKAAnderson, Benedict. (1991). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.Alisjahbana, Sutan Takdir. (1949). Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakyat.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 44Aristoteles. (2002). Poetics. Diterjemahkan oleh Joe Sachs. Newburyport: Focus Publishing.Damono, Sapardi Djoko. (1979). Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.Ikram, Achadiati. (1997). Filologia Nusantara. Jakarta: Pustaka Jaya.Kern, R.A. (1956). Catalogus van de Javaansche en Madoereesche Handschriften der Leidsche Universiteits-bibliotheek. Leiden: Brill.Pigeaud, Theodore G.Th. (1960-1963). Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History (5 volumes). The Hague: Martinus Nijhoff.Poerbatjaraka, R.Ng. (1952). Kapustakan Djawi. Jakarta: Djambatan.Ras, J.J. (1968). Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. The Hague: Martinus Nijhoff.Robson, S.O. (1981). Java at the Crossroads. BKI, 137(2-3), 259-292.Sudjiman, Panuti. (1995). Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti.Teeuw, A. (1994). Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya.Zoetmulder, P.J. (1974). Kalangwan: A Survey of Old Javanese Literature. The Hague: Martinus Nijhoff.
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 45TENTANG PENULISFERIZALBapak Sastra PNS IndonesiaFerizal adalah seorang PNS Indonesia yang telah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara selama bertahun-tahun dengan penuh dedikasi dan integritas. Ia adalah bukti nyata bahwa seorang PNS dapat sekaligus menjadi intelektual, sastrawan, dan pejuang budaya yang tangguh.Lahir dan dibesarkan di Aceh, Ferizal menyerap kekayaan budaya Melayu dan kearifan lokal Nusantara sejak usia dini. Pengalaman hidupnya sebagai PNS yang bertugas di berbagai daerah Indonesia memperkaya perspektifnya tentang keberagaman dan kekayaan budaya bangsa, sekaligus memberikannya pemahaman
GENRE SASTRA PNS INDONESIAKarya Ferizal – Bapak Sastra PNS Indonesia | Halaman 46mendalam tentang tantangan dan dinamika pelayanan publik di berbagai konteks.Kecintaannya kepada sastra dimulai dari bacaan-bacaan masa kecil — hikayat-hikayat Melayu, puisi-puisi Chairil Anwar, dan romanroman angkatan 45 yang membukakan matanya kepada kekuatan kata-kata. Seiring berjalannya waktu, kecintaan ini berkembang menjadi apresiasi yang mendalam terhadap sastra dunia dan sastra Nusantara dalam keseluruhannya.Ferizal meyakini bahwa sastra bukan privilege kaum terpelajar atau golongan tertentu saja — ia adalah hak dan kebutuhan setiap manusia. PNS, yang setiap hari berhadapan dengan realitas kehidupan rakyat dalam segala kompleksitasnya, justru memiliki bahan baku yang paling kaya untuk menjadi sastrawan yang handal dan relevan.Melalui Genre Sastra PNS Indonesia yang ia ciptakan dan kembangkan, Ferizal berharap dapat menjadi jembatan antara tradisi sastra yang agung dan kehidupan sehari-hari PNS Indonesia. Ia bermimpi tentang Indonesia di mana setiap PNS tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga kaya secara budaya dan matang secara karakternya — sebuah Indonesia yang benar-benar berdaulat secara budaya di hadapan bangsa-bangsa dunia.✦ ✦ ✦
1
2KEPENGARANGAN :Judul Buku : Novelet Kotak Puisi Berhadiah ( Poetry Box ), Model Pelayanan Publik PUJANGGA SADA. Karya Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaPenulis / Editor : FerizalQRCBN : 62-6418-8577-186https://www.qrcbn.com/check/62-6418-8577-186 Pembuat Sampul : FerizalJumlah Halaman : 116Jenis Penerbitan : PT. TV FANA SPM KESEHATAN PUSKESMASEdisi : 18-5-2026Puskesmas Muara Satu, Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh 24353
3Novelet Kotak Puisi Berhadiah ( Poetry Box ), Model Pelayanan Publik PUJANGGA SADA. Karya Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaBagian Kesatu: Penjaga Nyala ApiFerizal sehari-hari mengabdi di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, sebuah instansi Pemerintah di kota yang terletak di wilayah Jawa Barat. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang arsip utama, sebuah ruangan di pojok lantai dasar yang dipenuhi oleh barisan lemari besi bercat hijau, serta jendela frosted glass.Di tempat inilah—di antara aroma khas kertas tua, tumpukan map berkas kepegawaian, dan map hijau yang menumpuk rapi - Ferizal menjalankan tugasnya di balik sebuah meja kayu tua yang berdebu. Kantor yang terletak tidak jauh dari Jalan Veteran dan alun-alun kota ini seolah terisolasi dari hiruk-pikuk industri, menjadikannya tempat yang menawan bagi sang penjaga memori.Matahari baru saja memanjat cakrawala ketika Ferizal membuka laci mejanya yang tua. Di antara tumpukan berkas dan cap dinas, tersembul sebuah buku kecil bersampul coklat—lusuh, tetapi wanginya masih seperti kemenyan di pura yang pernah ia kunjungi di tanah Majapahit. Ia mengangkatnya perlahan, seperti mengangkat relik yang bisa pecah hanya karena napas yang terlalu keras.\"Kakawin Sutasoma,\" gumamnya. Bibirnya menyebut nama itu dengan kelembutan seorang ayah memanggil anaknya yang tidur.
4Ferizal adalah seorang pegawai negeri sipil. Ia bekerja di bagian arsip, menjaga dokumen-dokumen yang bagi orang lain hanyalah debu, tetapi baginya adalah kenangan bangsa yang ditiup angin zaman.Dari meja arsipnya yang tua, ia mengusulkan sebuah reformasi model pelayanan baru kepada kepala dinas, sebuah konsep yang ia namakan PUJANGGA SADA: Pelayanan Umum Berjiwa Tanggap dengan Aneka Sastra DuniaIni adalah sebuah model pelayanan publik berbasis daya tarik sastra (PoetryDriven Public Service), di mana kecepatan administrasi dipadukan dengan kehangatan aksara.Sebagai langkah awal dari strategi komunikasi humanis ini, Ferizal meletakkan sebuah kotak kayu jati berukir di samping loket antrean utama. Di atasnya tertulis papan nama kecil: Kotak Puisi Berhadiah (Poetry Box).Warga, peneliti, atau pelajar bisa datang untuk mencari, meneliti, atau mengakses dokumen bersejarah. Setiap warga yang datang tidak lagi sekadar menunggu. Di dalam kotak tersebut, Ferizal menyiapkan ratusan gulungan kertas kecil berisi bait-bait puisi pilihan- mulai dari petikan Kakawin Sutasoma, baris-baris mendalam Shakespeare, hingga sajak penuh vitalitas milik Chairil Anwar Aturannya sederhana namun menyentuh: siapa pun yang sedang mengantre boleh mengambil satu bait puisi dari Poetry Box. Di balik kertas puisi tersebut, terdapat nomor undian berhadiah buku sastra atau cendera mata khas literasi lokal yang diundi setiap akhir pekan.
5\"Ini strategi yang aneh, Pak Ferizal,\" bisik Bu Aisyah dari bagian keuangan saat pertama kali melihat antrean warga yang mendadak tenang, sibuk membaca gulungan kertas masing-masing. \"Tapi ajaib, tidak ada lagi yang marah-marah karena antrean lama.\"Ferizal hanya tersenyum tipis. Bait puisi berhadiah itu bukan sekadar hiburan pengusir jenuh, melainkan jembatan komunikasi. Sastra digunakan sebagai alat pemulihan citra pelayanan publik yang selama ini dianggap kaku dan birokratis Ketika loket pelayanan memberikan sebaris kalimat yang memahami kesepian atau keletihan warga, instansi tersebut tidak lagi berjarak dengan masyarakat Suatu hari, seorang ibu paruh baya duduk di kursi tunggu dengan mata sembap . Tangannya gemetar saat mengambil satu kertas dari Kotak Puisi Berhadiah. Di dalamnya tertera bait puisi tentang kehilangan yang ditulis Ferizal dengan hati seorang yang tahu rasa sakit Ibu itu membacanya, lalu pelan-pelan menyeka air matanya. Ketika dipanggil ke loket, petugas pelayanan tidak menyambutnya dengan bentakan dokumen yang kurang, melainkan dengan tatapan tanggap dan bahasa yang santun—sebuah manifestasi nyata dari nilai PUJANGGA SADA.\"Terima kasih,\" kata ibu itu sebelum pulang, menggenggam kertas puisinya eraterat. \"Saya merasa... dihargai sebagai manusia di sini.\"
6Rekan rekan kerja yang menyaksikan hal itu dari balik ruang arsip tersenyum ke arah Ferizal. Kotak kayu di pojok ruangan itu telah membuktikan tugasnya. Lewat Poetry Box, kantor dinas yang semula tak dianggap di peta itu kini mulai dikenal sebagai instansi yang memiliki jiwa. Citra pelayanan publik yang retak perlahan pulih, dirajut kembali oleh kehangatan bait-bait puisi yang memanusiakan manusiaRekan-rekannya di kantor sering menganggapnya ganjil. Saat makan siang, Ferizal diam-diam melahap Shakespeare—membaca Hamlet bukan dengan kacamata akademis, melainkan dengan hati seorang yang pernah kehilangan ayahnya terlalu cepat. Ia mengerti mengapa pangeran Denmark itu ragu. Kadang, dunia memang terlalu bising untuk mengambil keputusan yang sunyi.\"Sastra bukan pajangan di rak. Ia adalah cermin. Kalau kita tidak berani menatapnya, kita tidak akan pernah mengenal wajah kita sendiri.\"Namun setiap sore, ketika layar komputer dimatikan dan map hijau ditumpuk rapi, Ferizal kembali ke dunia lain. Dunia di mana Arjuna berjalan dengan perwira, di mana Hayam Wuruk membangun kejayaan bukan dengan senjata saja, tetapi dengan seni dan aksara.Ia pernah membaca kepada ibunya—perempuan tua yang sudah jarang bicara sejak ayahnya pergi—beberapa bait Kakawin Nagarakretagama. Ibunya menangis. Bukan karena sedih, katanya, tetapi karena mendengar bahasa yang terasa seperti doa nenek moyang.Suatu hari, di antara arsip-arsip yang hampir dimakan rayap, Ferizal menemukan selembar kertas yang ditulis tangan.
7Tanpa nama pengirim. Tanpa tanggal yang jelas. Hanya sebuah kalimat yang diulangi dua kali dalam aksara Jawa kuno, dan di bawahnya terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang sederhana:\"Bhinneka Tunggal Ika tan hana Dharma mangrwa.\"Berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada kebenaran yang mendua.Ferizal melipatnya kembali dengan hati-hati. Ia tidak tahu siapa yang menulisnya, atau bagaimana kertas itu bisa terselip di antara surat keputusan pengangkatan pegawai. Tetapi ia tahu satu hal: kalimat itu bukan kebetulan. Kalimat itu adalah undangan.Malam itu ia tidak pulang tepat waktu. Ia duduk di mejanya yang berdebu dan mulai menulis—bukan laporan, bukan notulensi rapat—melainkan sebuah cerpen. Tentang seorang penjaga arsip yang menemukan surat dari Mpu Tantular, dan bagaimana sang Mpu berbisik bahwa sastra adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa disita.Tetapi tanpa ia sadari, ia telah melakukan sesuatu yang sangat kuno dan sangat manusiawi: meneruskan nyala api.Seperti Shakespeare yang belajar dari Montaigne, seperti Montaigne yang belajar dari Cicero, seperti Pramoedya yang menyerap rasa sakit menjadi aksara, Ferizal kini berdiri dalam garis panjang itu—garis yang tidak tampak oleh mata biasa, tetapi terasa oleh siapa pun yang pernah membaca sebuah kalimat dan menangis tanpa tahu mengapa.Generasi muda bertanya kepadanya suatu hari: \"Pak, apa gunanya membaca sastra? Kan bisa langsung kerja.\"
8Ferizal tersenyum. Ia tidak menjawab dengan ceramah. Ia hanya meletakkan Kakawin Sutasoma di atas meja di depan anak muda itu dan berkata pelan: \"Buka halaman berapa pun. Baca satu kalimat saja. Kalau kamu tidak merasakan apa-apa, tidak apa-apa—kembalikan. Kalau kamu merasakan sesuatu, kamu sudah tahu jawabannya.\"❧ ✦ ❧Di sudut kantor yang sunyi itu, sebuah lilin kecil terus menyala—bukan karena listriknya, tetapi karena ada seseorang yang setiap hari mengisi sumbu dengan kata-kata yang tidak pernah habis.Sastra dunia memberinya jendela. Sastra Nusantara memberinya akar. Dan dari dua hal itulah, Ferizal tahu: ia bukan sekadar pegawai negeri. Ia adalah penjaga memori. Ia adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.Sebulan setelah cerpen itu selesai ia tulis, Ferizal mendapat telepon dari nomor yang tidak ia kenal.\"Bapak yang menulis tentang Mpu Tantular itu?\"Suaranya perempuan. Muda. Sedikit gemetar, seperti seseorang yang baru pertama kali menelepon dokter.\"Tulisan itu—\" perempuan itu melanjutkan, \"—saya baca tiga kali. Dan saya menangis di tiga waktu yang berbeda. Saya tidak tahu kenapa saya menelepon. Maaf, Pak.\"\"Jangan minta maaf,\" kata Ferizal pelan. \"Itu pertanda baik.\"
9Nama gadis itu Mauliyani. Dua puluh tiga tahun. Mahasiswi tingkat akhir yang skripsinya terbengkalai karena ia tidak bisa memutuskan apakah ingin meneliti algoritma rekomendasi konten atau justru banting setir ke sastra komparatif—sebuah pilihan yang, menurut dosennya, adalah karier bunuh diri.Mereka bertemu di warung kopi dekat alun-alun. Mauliyani datang membawa map biru, dan di dalamnya, cerpen Ferizal yang sudah ia fotokopi ulang karena yang asli sudah terlipat empat dan basah di sudutnya—entah air mata atau teh tumpah, ia sendiri tidak yakin.\"Saya tidak mengerti sastra Jawa kuno,\" katanya sejak awal, seolah ingin mendirikan tembok agar tidak terlalu diharapkan. \"Tapi saya mengerti kesepian.\"Ferizal mengangguk. \"Itu sudah lebih dari cukup untuk memulai.\"Ia memesan teh tawar. Mauliyani memesan kopi hitam dengan gula satu sendok—kombinasi yang menurutnya mencerminkan kepribadiannya: pahit, tapi tidak sepenuhnya menyerah.Mereka bicara dua jam. Tentang Pramoedya. Tentang bagaimana Bumi Manusia terasa seperti surat yang ditulis kepada siapa pun yang pernah merasa tertinggal oleh zamannya. Tentang Hamlet yang juga anak muda yang bingung—dan betapa menghiburnya tahu bahwa kebingungan adalah warisan lintas abad.\"Jadi kebingungan saya itu... normal?\" tanya Mauliyani, setengah bercanda.\"Bukan hanya normal,\" jawab Ferizal, \"itu manusiawi. Dan segala yang manusiawi—jika ditulis dengan jujur—akan abadi.\"
10Mauliyani ingin mengetahui tentang maksud Inovasi Ferizal :Inovasi Ferizal (PUJANGGA SADA)Inovasi yang diusulkan oleh Ferizal kepada kepala dinas dinamakan PUJANGGA SADA, sebuah akronim dari Pelayanan Umum Berjiwa Tanggap dengan Aneka Sastra DuniaTerobosan berbasis daya tarik sastra (Poetry-Driven Public Service) ini memadukan efisiensi kecepatan administrasi dengan kehangatan aksara yang komunikatif Sebagai langkah awal, Ferizal menempatkan sebuah kotak kayu jati berukir yang disebut Poetry Box (Kotak Puisi Berhadiah) tepat di samping loket antrean utama Di dalam kotak tersebut, ia menyiapkan ratusan gulungan kertas kecil berisi bait puisi pilihan—mulai dari petikan Kakawin Sutasoma, baris mendalam Shakespeare, hingga sajak penuh vitalitas milik Chairil Anwar Setiap warga yang sedang mengantre boleh mengambil satu bait puisi, dan di balik kertas tersebut terdapat nomor undian berhadiah buku sastra atau cendera mata literasi lokal yang diundi setiap akhir pekan Inovasi humanis ini terbukti ajaib; suasana loket yang semula kaku dan birokratis berubah menjadi tenang, merajut kembali citra pelayanan publik yang sempat retak dengan cara memanusiakan manusia
11Beberapa minggu kemudian, Mauliyani mulai datang ke kantor arsip pada hari Rabu sore. Bukan karena diminta. Bukan karena tugas kuliah. Ia duduk di kursi plastik oranye yang satu kakinya sedikit lebih pendek dari yang lain, dan membaca apa pun yang direkomendasikan Ferizal.Minggu pertama: Serat Centhini—ia menyerah di halaman dua belas, lalu kembali di malam harinya dan membaca sampai halaman tiga puluh.Minggu kedua: puisi-puisi Chairil Anwar—ia diam lama setelah membaca Aku, lalu bertanya, \"Ini ditulis oleh orang yang sakit atau orang yang sangat hidup?\"\"Dua-duanya,\" kata Ferizal. \"Sering kali itu hal yang sama.\"Minggu ketiga, Mauliyani datang membawa tulisannya sendiri. Dua lembar. Ditulis tangan, dengan banyak coretan yang tidak sepenuhnya dihapus—seolah ia ingin jejaknya tetap terlihat.\"Ini bukan sastra,\" katanya sambil meletakkannya di meja. \"Ini cuma... curhat.\"Ferizal membacanya dengan seksama. Tentang neneknya yang buta huruf tetapi hafal puluhan pantun. Tentang bagaimana sang nenek menyanyikan pantunpantun itu ketika menumbuk padi, dan bagaimana Mauliyani dulu malu karena suara neneknya terlalu keras di telinga para tetangga.Tentang bagaimana sekarang ia menyesal tidak pernah merekamnya.Ferizal mengembalikan kertas itu tanpa berkata apa-apa. Hanya menunjuk sebuah kalimat di paragraf kedua—tanpa tanda, tanpa komentar. Hanya telunjuk yang berhenti di sana sebentar, lalu pergi.Mauliyani membaca kalimat yang ditunjuknya:
12\"Nenek tidak butuh aksara karena suaranya sendiri adalah buku yang berjalan.\"\"Itu... kalimat saya sendiri,\" bisiknya.\"Ya,\" kata Ferizal. \"Dan itu bukan curhat. Itu sastra.\"Di bulan ketiga, Mauliyani memutuskan topik skripsinya: Tradisi Lisan sebagai Arsip Hidup: Pantun Melayu dan Fungsinya sebagai Penyimpan Memori Kolektif.Dosennya terkejut. Lalu—setelah membaca proposal sepuluh halaman yang ditulis dengan kejelasan yang tidak biasa untuk mahasiswi yang sebelumnya selalu meminta perpanjangan tenggat—sang dosen mengangguk pelan dan menulis di sudut kiri atas: Lanjutkan.Mauliyani memotret halaman itu dan mengirimkannya kepada Ferizal tanpa komentar.Ferizal membalasnya dengan satu kata: Bagus.Mauliyani membalasnya lagi: Makasih, Pak. Kalau nenek saya masih ada, saya ingin bacakan skripsi ini untuknya.Ferizal membaca pesan itu di bawah lampu mejanya yang kuning. Di luar, hujan mulai turun—hujan yang bukan badai, hanya gerimis yang tahu kapan harus datang.Ia mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi:Bacakan saja. Suara kita kadang sampai ke tempat yang tidak bisa kita lihat.
13Di laci mejanya yang tua, Kakawin Sutasoma masih berbaring tenang. Di sebelahnya kini ada selembar fotokopi cerpen yang sudah lusuh—milik seseorang yang datang karena terbawa kecelakaan, dan pergi membawa sesuatu yang tidak bisa difotokopi.Ferizal mematikan lampu meja.Di luar, kota kecil itu masih tidak ada di peta wisata. Hujan masih turun pelan. Dan di suatu kamar kos dengan lantai ubin yang dingin, seorang perempuan muda sedang menulis—tidak lagi dengan coretan yang malu-malu, melainkan dengan goresan yang tahu ke mana ia pergi.Nyala api itu tidak pernah satu.Ia selalu berpindah tangan—dari jemari yang lelah kepada jemari yang baru saja mengenal panasnya. Dan itulah caranya hidup.❧ ✦ ❧Skripsi Mauliyani selesai pada suatu Kamis sore yang tanpa angin.Ia mencetak dua eksemplar—satu untuk dosen penguji, satu lagi yang tidak ia serahkan kepada siapa pun. Eksemplar kedua itu ia bungkus dengan kertas coklat bekas kantong beras dan diikat dengan tali rafia merah yang ia temukan di laci kamar kosnya. Di halaman pertama, sebelum lembar judul, ia menyelipkan sehelai daun kering yang sudah lama ia simpan di buku hariannya—daun yang jatuh di halaman kantor arsip, suatu hari Rabu yang hujan, ketika Ferizal pertama kali mengatakan bahwa tulisannya adalah sastra.
14Ia membawa bungkusan itu ke makam neneknya.Makam itu di tepi sawah, setengah jam dari kota dengan angkutan umum yang jadwalnya tidak bisa dipercaya. Nisannya sederhana—batu kali yang dicat putih, sudah mengelupas di beberapa bagian. Tidak ada bunga segar, hanya rumputrumput liar yang tampaknya sudah lama tidak diusik karena mereka tumbuh dengan cara yang hampir teratur, seolah mengerti bahwa di sini mereka adalah penjaga, bukan pengganggu.Mauliyani duduk bersila di tanah yang sedikit lembab.Ia membuka bungkusan itu.Dan ia membaca—dari halaman pertama, dari kata pertama, dengan suara yang pada awalnya gemetar tetapi lama-kelamaan menjadi lebih tegak, seperti seseorang yang baru ingat bahwa ia tahu cara berjalan.\"Pantun bukan sekadar permainan kata. Ia adalah sistem ingatan yang diwariskan tanpa kertas, tanpa tinta, hanya melalui bibir dan telinga yang saling percaya...\"Angin datang dari arah sawah, membawa bau tanah dan sesuatu yang tidak bernama.Mauliyani tidak menangis. Atau mungkin ia menangis, tetapi tidak menyadarinya karena ia terlalu sibuk membaca.
15Ferizal mengetahui semuanya tiga minggu kemudian, ketika Mauliyani datang ke kantor arsip bukan pada hari Rabu, melainkan Senin pagi—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Ia membawa dua gelas kopi dari warung seberang. Satu untuk dirinya. Satu untuk Ferizal.\"Saya lulus,\" katanya tanpa basa-basi.\"Saya tahu,\" kata Ferizal. \"Nilai berapa?\"\"A. Dosen penguji bilang ini salah satu proposal penelitian terbaik yang pernah ia baca dari jurusan saya.\" Mauliyani meletakkan kopi itu di atas meja dengan hati-hati, di antara tumpukan arsip. \"Ia juga bilang saya harus melanjutkan ke S2.\"Ferizal tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat gelas kopinya, meniupnya pelan, dan meminum seteguk.\"Bapak tidak terkejut.\"\"Tidak.\"\"Kenapa?\"Ferizal meletakkan gelasnya. Ia menatap Mauliyani dengan cara yang bukan tatapan guru kepada murid, melainkan tatapan seseorang yang baru saja mengenali sesuatu yang sudah lama ia tunggu tanpa tahu ia sedang menunggu.
16\"Karena,\" katanya akhirnya, \"kamu tidak datang ke sini untuk belajar sastra. Kamu datang karena kamu sudah membawa sastra di dalam dirimu. Kamu hanya belum tahu namanya.\"Mauliyani diam. Di luar, seorang kurir mengetuk pintu kantor sebelah, salah gedung, dan pergi tanpa permisi.\"Pak Ferizal,\" kata Mauliyani akhirnya, dengan nada yang berbeda—lebih pelan, lebih berat, seperti seseorang yang sudah lama memegang sesuatu dan baru memutuskan untuk mengatakannya. \"Saya ingin bertanya sesuatu yang mungkin tidak sopan.\"\"Hari lain saja, mari bicara fokus pada pendaftaran S2.\"Mauliyani mendaftar ke program S2 Sastra pada semester berikutnya. Kampusnya di kota lain—perjalanan empat jam dengan bus, tujuh jam kalau hujan deras dan jalanan longsor di tikungan kedua setelah jembatan Citarum.Sebelum pergi, ia datang sekali lagi ke kantor arsip.Tidak membawa apa-apa. Tidak memesan kopi dari warung seberang. Hanya duduk di kursi plastik oranye yang satu kakinya masih lebih pendek dari yang lain—tidak ada yang pernah memperbaikinya, dan mungkin tidak akan pernah—dan membaca dalam diam selama satu jam penuh.Ferizal membiarkannya. Ia sendiri sibuk menyortir dokumen lama, memilah mana yang harus dipindahkan ke penyimpanan jangka panjang dan mana yang boleh dimusnahkan—sebuah pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan,
17karena tidak semua yang tampak usang tidak berharga, dan tidak semua yang tersimpan rapi layak dipertahankan.Ketika jam menunjukkan setengah dua, Mauliyani menutup bukunya.\"Pak,\" katanya.\"Ya.\"\"Kalau saya nanti jadi dosen—atau penulis—atau apa pun—saya ingin melakukan apa yang Bapak lakukan.\"Ferizal mengangkat kepala dari tumpukan berkasnya.\"Menemukan orang yang tidak tahu bahwa mereka sudah membawa sastra di dalam diri mereka,\" lanjut Mauliyani. \"Dan membiarkan mereka menemukannya sendiri.\"Ferizal tidak tersenyum. Atau mungkin ia tersenyum, tetapi dengan cara yang hanya terlihat kalau seseorang tahu cara melihatnya—seperti aksara kuno di kertas yang lama, yang baru bisa dibaca kalau matamu sudah terbiasa dengan cahaya yang tepat.\"Kalau begitu,\" katanya, \"kamu sudah mengerti hal yang paling penting.\"Mauliyani berdiri. Ia mengambil tasnya yang selalu terlalu penuh dan membungkuk sedikit—bukan membungkuk hormat yang formal, melainkan yang alami, seperti pohon yang angin belokkan.\"Sampai jumpa, Pak Ferizal.\"\"Sampai jumpa, Mauliyani.\"
18Ia pergi. Pintu kantor arsip menutup dengan bunyi klik yang sudah Ferizal hafal sejak dua belas tahun ia bekerja di sini—bunyi yang tidak pernah ia sadari punya suara, sampai hari ini.Di mejanya, Ferizal membuka laci paling bawah.Di sana, di antara Kakawin Sutasoma dan fotokopi cerpennya yang lusuh, kini ada selembar kertas baru—dua lembar, sebenarnya, yang Mauliyani selipkan tanpa ia lihat kapan: tulisan tangan, dengan coretan-coretan yang sudah mulai berkurang. Tidak seperti tulisan pertamanya dulu yang penuh bekas penghapus dan tanda tanya di tepi halaman.Bagian Kedua: Yang Tumbuh di Antara AbuFerizal tidak pernah menceritakan tentang Ana Maryana kepada Mauliyani.Bukan karena ia menyembunyikan—melainkan karena ada kesedihan yang terlalu dalam untuk dijadikan percakapan warung kopi. Kesedihan jenis itu hanya bisa diletakkan di dalam laci, di samping Kakawin Sutasoma, di tempat yang gelap dan tenang, tempat yang tidak meminta penjelasan.Isterinya Ana Maryana pergi dua tahun sebelum Mauliyani menelepon dari nomor yang tidak dikenal itu.Kanker. Ditemukan terlambat—seperti banyak hal penting dalam hidup yang baru terlihat ketika cahayanya sudah mulai padam. Delapan bulan sejak diagnosis pertama hingga pagi ketika Ferizal duduk di tepi ranjang rumah sakit
19dan menyadari bahwa tangan yang ia pegang sudah tidak membalas genggamannya.Ia mengambil cuti tiga hari. Lalu kembali bekerja.Rekan-rekannya di kantor tidak tahu apa yang harus dikatakan, maka mereka tidak mengatakan apa-apa—dan itu, tanpa mereka sadari, adalah hadiah terbaik yang bisa mereka berikan.Ferizal menyortir arsip. Memilah dokumen. Membaca sastra di meja yang sama, di bawah lampu yang sama.Hanya saja, malamnya kini selalu sunyi dengan cara yang berbeda.Ketika Mauliyani pergi ke kota lain untuk S2-nya, Ferizal tidak mengira akan ada kabar lagi selain sesekali pesan singkat—laporan kemajuan, seperti murid yang melapor kepada guru dari perantauan.Dan memang begitulah awalnya.Pak, dosen S2 saya merekomendasikan Teeuw. Susah sekali.Pak, saya menemukan pantun Melayu yang strukturnya mirip sekali dengan tembang Jawa. Boleh diskusi?Pak, hujan di sini berbeda. Tidak sesabar hujan di kota kita.Ferizal selalu membalas. Singkat, tetapi tidak pernah absen. Karena ia tahu—dari pengalamannya sendiri sebagai seseorang yang pernah muda dan jauh dari
20segala yang familiar—bahwa kadang seseorang tidak butuh jawaban panjang. Mereka hanya butuh tahu bahwa ada yang membaca.Bulan ketiga, pesan-pesan itu mulai datang bukan hanya soal sastra.Pak, teman seangkatan saya sebagian besar sudah menikah. Saya merasa aneh.Pak, saya bermimpi tentang nenek semalam. Ia menyanyikan pantun yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Waktu bangun saya langsung tulis, tapi saya tidak yakin itu betul atau otak saya yang mengarang.Pak Ferizal pernah merasa kesepian di tengah banyak orang?Pada pesan terakhir itu, Ferizal duduk lama di depan layar ponselnya.Lampu mejanya menyala kuning. Di luar, gerimis yang sama—gerimis yang sepertinya selalu tahu kapan ia sedang memikirkan sesuatu yang berat.Ia mengetik: Pernah. Bahkan sering.Lalu menambahkan, setelah jeda yang cukup lama: Kesepian bukan tanda bahwa hidupmu salah. Kadang itu tanda bahwa hatimu masih cukup luas untuk merasakan kekosongan. Dan kekosongan itu—kalau kamu biarkan—lama-lama akan tahu sendiri apa yang ingin ia isi.Mauliyani membalas hanya dengan tanda elipsis—tiga titik yang muncul lalu menghilang, muncul lagi, lalu akhirnya: Terima kasih, Pak.Ferizal meletakkan ponselnya.Ia tidak tidur dengan cepat malam itu.
21Setahun kemudian, Mauliyani pulang untuk liburan semester.Ia datang ke kantor arsip pada hari Rabu—seolah waktu tidak pernah bergeser, seolah kursi plastik oranye dengan satu kaki lebih pendek itu memang selalu menunggunya.Tetapi ada yang berbeda.Ferizal menyadarinya bukan dari wajah atau caranya berbicara—melainkan dari cara Mauliyani masuk ke ruangan itu. Dulu ia selalu masuk dengan langkah yang sedikit ragu, seperti seseorang yang tidak yakin apakah kehadirannya disambut. Sekarang ia masuk seperti seseorang yang tahu bahwa ada kursinya di sini.\"Bapak kurus,\" katanya, tanpa basa-basi, sambil meletakkan tasnya yang masih selalu terlalu penuh.\"Saya selalu begini,\" jawab Ferizal.\"Tidak.\" Mauliyani menatapnya. \"Dulu Bapak... tidak sekurus ini.\"Ferizal tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke tumpukan arsip di mejanya.Mauliyani tidak mengejar. Ia duduk di kursi plastik oranye itu dan mengeluarkan buku dari tasnya—bukan untuk dibaca, ternyata, melainkan diletakkan di atas meja begitu saja, seperti alasan untuk duduk lebih lama.Mereka bicara tentang penelitiannya. Tentang pantun Melayu yang ternyata punya lapisan makna yang bahkan para pemantunnya sendiri sudah tidak