The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Genre Sastra PNS Indonesia: Pengertian, Manifesto dan Trilogi Novelet. Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search

Genre Sastra PNS Indonesia: Pengertian, Manifesto dan Trilogi Novelet. Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

Genre Sastra PNS Indonesia: Pengertian, Manifesto dan Trilogi Novelet. Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 101Teater Absurd dan Avant-GardeSamuel Beckett (1906–1989, Irlandia), dengan Waiting for Godot, dianggap sebagai pelopor Teater Absurd. Ia menulis tentang absurditas hidup, tentang menunggu tanpa kepastian. Ferizal merasa Beckett mengajarinya bahwa sastra bisa menjadi cermin eksistensi manusia yang sunyi.Eugène Ionesco (1909–1994, Rumania-Prancis), dengan The Bald Soprano, dianggap sebagai pelopor Teater Absurd. Ia menulis dengan humor gelap, menyingkap kekosongan komunikasi manusia. Ferizal merasa Ionesco mengajarinya bahwa katakata bisa menjadi permainan, sekaligus ironi.Kathy Acker (1947–1997, Amerika Serikat), melalui karya-karya eksperimentalnya, dianggap sebagai pelopor Sastra Avant-Garde Postmodern. Ia menulis dengan gaya yang radikal, memadukan plagiarisme, kolase, dan tubuh sebagai teks. Ferizal merasa Acker mengajarinya bahwa sastra bisa menjadi eksperimen tanpa batas, bahkan melawan bentuk itu sendiri.Allen Ginsberg (1926–1997, Amerika Serikat), dengan puisi Howl, dianggap sebagai pelopor Sastra Avant-Garde Amerika dan gerakan Beat Generation. Ia menulis dengan bahasa yang meledak, penuh energi, dan melawan arus. Ferizal merasa Ginsberg mengajarinya bahwa sastra bisa menjadi teriakan, bukan sekadar bisikan.William S. Burroughs (1914–1997, Amerika Serikat), dengan Naked Lunch, dianggap sebagai pelopor Sastra Eksperimental Avant-Garde. Ia menulis dengan gaya potongan (cut-up technique), menciptakan teks yang liar dan tak terduga. Ferizal merasa Burroughs mengajarinya bahwa sastra bisa menjadi eksperimen tanpa batas, bahkan melawan bentuk itu sendiri.Asia Modern dan Sastra DigitalMo Yan (1955–, Tiongkok), dengan Red Sorghum, dianggap sebagai pelopor Sastra Realisme Magis Asia Modern. Ia menulis tentang sejarah Tiongkok dengan gaya yang memadukan realitas keras dan imajinasi liar. Ferizal merasa Mo Yan mengajarinya bahwa sastra bisa menjadi cermin bangsa, meski penuh luka dan absurditas.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 102Han Kang (1970–, Korea Selatan), dengan The Vegetarian, dianggap sebagai pelopor Sastra Eksistensial Asia Modern. Ia menulis tentang tubuh, identitas, dan perlawanan sunyi. Ferizal merasa Han Kang mengajarinya bahwa sastra bisa lahir dari keheningan, dari tubuh yang menolak bicara tetapi tetap bersuara.Shūji Terayama (1935–1983, Jepang), dengan teater eksperimentalnya, dianggap sebagai pelopor Sastra Avant-Garde Asia. Ferizal merasa Terayama mengajarinya bahwa sastra bisa melampaui halaman, hidup di panggung, di tubuh, bahkan di ruang publik.Neil Gaiman (1960–, Inggris), dengan Sandman, dianggap sebagai pelopor Sastra Fantasi Grafis Modern. Ia menulis kisah yang memadukan mitologi, mimpi, dan dunia kontemporer. Ferizal merasa Gaiman mengajarinya bahwa sastra bisa hidup di komik, di panel-panel bergambar, tanpa kehilangan kedalaman filosofis.Mark Z. Danielewski (1966–, Amerika Serikat), dengan House of Leaves, dianggap sebagai pelopor Sastra Eksperimental Visual. Ia menulis novel yang memadukan teks, tipografi, dan tata letak sebagai bagian dari narasi. Ferizal merasa Danielewski mengajarinya bahwa halaman buku bisa menjadi labirin, bukan sekadar wadah katakata.Di abad ke-21, sastra digital melahirkan genre baru melalui platform digital: blog, media sosial, webtoon Korea, cerita hiperlink, hingga novel interaktif berbasis AI. Ferizal merasa bahwa menulis di layar bukan berarti kehilangan kejujuran, melainkan menemukan cara baru untuk menyampaikan suara lintas generasi dan lintas budaya.Penerus TradisiFerizal menyadari bahwa semua tokoh itu — dari Breton dan Walpole, Dante dan Boccaccio, Shelley dan Austen, Tolstoy dan Márquez, hingga Mpu Kanwa dan Hamzah Fansuri, Achebe dan Ngũgĩ, Chairil dan Pramoedya, Woolf dan Atwood, Beckett dan Ionesco, hingga para penulis digital abad ke-21 — adalah roh perlawanan yang menolak tunduk pada keteraturan zaman masing-masing. Mereka menulis bukan untuk patuh, melainkan untuk hidup.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 103Ferizal kini melihat dirinya dikelilingi oleh bayangan para pendiri genre dari berbagai zaman, berbagai benua, berbagai bahasa. Semua tokoh itu menulis bukan untuk tunduk, melainkan untuk memberi suara pada zaman mereka.Satu Meja, Seribu PenaMalam semakin larut di ruang kerja Ferizal. Lampu neon di langit-langit berkedip sekali, seolah turut merasakan beban percakapan batin yang berlangsung selama berjam-jam. Namun Ferizal tidak bergerak. Ada sesuatu yang belum selesai — sebuah pertanyaan yang terus melingkar di antara semua bayangan yang hadir.Pertanyaan itu sederhana, namun mengguncang: apakah seorang pegawai negeri berhak menyebut dirinya sastrawan?Ia menatap Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual di dinding. Nama-nama tokoh yang ia bayangkan — dari Homer hingga Han Kang, dari Hamzah Fansuri hingga Chimamanda — tidak satu pun dari mereka yang pernah mengisi formulir cuti tahunan, tidak pernah menunggu disposisi atasan, tidak pernah duduk di ruang rapat yang bau kopi basi sambil berpura-pura mencatat notulen. Namun Ferizal yakin: mereka semua pernah menunggu. Pernah terdiam. Pernah merasa dunia tidak memberi ruang yang cukup untuk kata-kata mereka.Menunggu adalah bahasa universal para penulis. Beckett membuktikannya. Dan Ferizal — dengan segala keterbatasanFerizal tersenyum membaca kalimat itu. Ia menulisnya dua tahun lalu, pada malam setelah rapat evaluasi yang panjang dan melelahkan. Ketika itu ia tidak tahu bahwa kalimat itu adalah benih dari seluruh manifesto yang kini tumbuh di mejanya.Tentang Melawan Tanpa BerteriakAI — kecerdasan buatan — bukan musuh. Ferizal tidak pernah menganggapnya begitu, meski manifesto ini lahir dari kegelisahan terhadap dominasinya. AI adalah kincir angin Don Quixote yang baru: bukan monster, AI hanya mesin besar dan mahal yang berputar tanpa jiwa.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 104Yang membedakan Ferizal dari mesin itu bukan kecepatan berpikir. Bukan keluasan data. Yang membedakan adalah sesuatu yang tidak bisa dikompilasi: momen ketika ia duduk di beranda kantor pada jam istirahat, melihat burung pipit hinggap di kawat listrik, lalu tiba-tiba teringat ayahnya yang juga seorang pegawai negeri — dan dari kenangan itu, lahirlah sebuah kalimat yang tidak pernah ada sebelumnya di seluruh pangkalan data dunia.Itu yang dinamakan penulis sejati: bukan sekadar pengolah kata, melainkan pengolah pengalaman.Márquez pernah berkata bahwa realisme magis bukan tentang hal-hal ajaib yang terjadi, melainkan tentang cara pandang yang mengubah hal biasa menjadi ajaib. Ferizal percaya hal yang sama berlaku untuk Sastra PNS. Warisan yang Tidak Akan Terhapus oleh ServerSatu hal yang Ferizal sadari, setelah berjam-jam bercengkerama dengan bayangan para pendiri genre: karya sastra bertahan bukan karena ia disimpan di server yang canggih. Karya sastra bertahan karena ia menyentuh sesuatu yang manusiawi — luka, harapan, tawa, atau rasa sepi yang tidak bisa dijelaskan dengan cara lain.Homer tidak punya hak cipta terdaftar. Namun Iliad masih kita baca ribuan tahun kemudian. Hamzah Fansuri tidak punya akun media sosial. Namun syair-syairnya masih bergema di tanah Aceh, di antara suara azan dan deburan ombak yang datang dari arah barat.Ferizal ingin menulis seperti itu: bukan untuk viral, bukan untuk algoritma, melainkan untuk seseorang yang akan membacanya di masa depan — entah itu lima tahun lagi, entah lima ratus tahun lagi — dan berkata: 'Ah, begini rasanya menjadi manusia di zaman itu.'Itulah tugas sastra. Bukan menjelaskan zaman, melainkan merasakannya.Penutup: Langit yang Tetap Abu-AbuFerizal menoleh ke jendela. Langit di luar masih abu-abu, seperti setiap hari. Ia tidak pernah betul-betul berharap langitnya cerah — karena langit abu-abu adalah


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 105langitnya. Langit yang paling jujur. Langit yang tidak berpura-pura lebih indah dari kenyataannya.Ia menutup buku catatan coklat itu. Sertifikat HKI di dinding tampak berkilau samar di bawah lampu neon. Malam ini, sebelum ia tidur, ada satu hal yang sudah selesai: manifestonya telah ditulis. Tidak dengan tinta emas, tidak di atas kertas mewah, tidak disaksikan oleh kamera wartawan. Hanya di atas kertas biasa, di bawah langit abuabu, oleh seorang pegawai yang juga seorang penulis.Dan itu sudah cukup.Karena kata-kata yang ditulis dengan jujur — betapa pun sederhananya — tidak akan pernah kalah melawan mesin yang paling canggih sekalipun. Karena mesin tidak pernah mengenal sunyi yang sama dengan sunyi Ferizal malam ini. Mesin tidak pernah merasa bahwa sebuah kalimat bisa menyelamatkan sesuatu yang hampir hilang.Ferizal menarik napas panjang. Ia menyentuh pena di mejanya — pena biasa, bukan pena emas — dan menuliskan satu kalimat terakhir di sudut halaman manifestonya:\"Aku menulis bukan untuk melawan siapa pun, melainkan untuk menyambung suara-suara yang pernah ada. Kata-kata ini adalah jembatan antara Dante dan Márquez, antara Mpu Kanwa dan Morrison, antara Chairil dan Gaiman, antara masa lalu dan masa depan.\"Penerus Tradisi: Menyambung Suara dan HarapanFerizal menatap kembali ke layar komputernya, di mana kata-kata yang telah ia tulis mengalir seperti sungai yang tak pernah berhenti. Ia menyadari bahwa setiap penulis yang ia sebutkan sebelumnya bukan hanya sekadar nama, tetapi juga suara-suara yang membentuk jati diri sastra. Mereka adalah pelopor yang berani menantang norma, menggali kedalaman jiwa manusia, dan menciptakan dunia baru melalui kata-kata.Dalam perjalanan menulisnya, Ferizal merasa terhubung dengan setiap tokoh yang ia sebutkan. Dari Dante yang menggambarkan perjalanan spiritual, hingga Toni Morrison yang mengangkat trauma kolektif. Ia memahami bahwa sastra adalah cermin dari kehidupan, tempat di mana setiap orang dapat menemukan refleksi diri dan harapan.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 106Membangun Jembatan Antara GenerasiFerizal bertekad untuk membangun jembatan antara generasi penulis. Ia ingin agar suara-suara yang terpinggirkan, terutama dari kalangan pegawai negeri dan masyarakat biasa, dapat terdengar. Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh teknologi dan kecerdasan buatan, ia percaya bahwa manusia masih memiliki peran penting dalam menciptakan narasi yang bermakna.Ia membayangkan sebuah komunitas penulis yang saling mendukung, berbagi cerita, dan menginspirasi satu sama lain. Di dalam komunitas ini, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengekspresikan diri, tanpa takut akan penilaian atau penghakiman. Ferizal ingin menciptakan ruang di mana kata-kata dapat mengalir bebas, seperti aliran sungai yang membawa kehidupan.Menghadapi Tantangan ZamanFerizal menyadari bahwa tantangan zaman semakin kompleks. Dalam menghadapi dominasi AI dan teknologi yang terus berkembang, ia bertekad untuk tidak menyerah. Ia ingin menunjukkan bahwa meskipun teknologi dapat menghasilkan teks, tidak ada yang dapat menggantikan kedalaman emosi dan pengalaman manusia yang tertuangdalam sastra.Ia menulis dengan semangat, \"Kata-kata ini adalah perlawanan. Setiap kalimat adalah penegasan bahwa kita masih ada, bahwa kita masih berjuang untuk suara kita. Dalam setiap huruf yang kutulis, ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.\"\"AI boleh mengolah data,\" gumamnya pelan sambil mengetuk pena, \"tapi ia tidak punya ingatan tentang rasa lelah setelah melayani warga, atau getir manisnya menunggu kenaikan pangkat. Itulah yang tidak bisa mereka tulis.\"Malam semakin turun, dan suara pendingin ruangan terdengar seperti dengung mesin waktu. Ia sadar bahwa semua nama yang hadir dalam pikirannya—dari Homer hingga Han Kang—bukan sekadar daftar tokoh sastra yang harus dikagumi. Mereka adalah manusia-manusia yang hidup di zamannya masing-masing, menghadapi perubahan besar, lalu menulis agar manusia lain tidak kehilangan arah.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 107Ia teringat kembali pada Pramoedya yang menulis di pengasingan, Chairil yang menulis di tengah revolusi, Hamzah Fansuri yang menulis dengan jiwa spiritual, dan Beckett yang menulis tentang kesunyian hidup. Mereka tidak menulis karena teknologi belum ada. Mereka menulis karena manusia selalu membutuhkan makna.Ia membayangkan seorang pegawai negeri muda beberapa puluh tahun lagi membaca Manifesto Sastra PNS ini di layar hologram atau perangkat yang bahkan belum diciptakan hari ini. Mungkin dunia sudah berubah total. Mungkin birokrasi telah dikelola oleh sistem otomatis. Tetapi selama masih ada manusia yang merasa lelah, kesepian, jatuh cinta, kehilangan, dan berharap—sastra tidak akan mati.Sebab sastra bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat.Sastra adalah pengalaman manusia yang mencoba dipahami manusia lain.Di luar jendela, langit malam perlahan berubah menjadi lebih terang.Ferizal mengambil pena sekali lagi. Bukan untuk melawan zaman. Melainkan untuk memastikan bahwa di tengah segala kemajuan, manusia tetap memiliki suara.Ia tahu bahwa setiap kata yang ditulis bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah janji: bahwa di tengah lorong birokrasi, manusia masih bisa bernapas melalui sastra.Sastra PNS bukanlah genre yang berdiri sendiri, melainkan simpul dari tradisi panjang: dari Homer hingga Chairil, dari Dante hingga Morrison, dari Mpu Kanwa hingga Adichie.Di zaman disrupsi ini, ketika semua orang takut digantikan oleh mesin, Sastra PNS muncul sebagai kesaksian. Bahwa di dalam lorong-lorong birokrasi yang kaku, masih ada ruang bagi manusia untuk bernapas, merasa, dan melawan tanpa harus berteriak.Malam semakin larut. Langit di luar jendela tetap abu-abu, namun tulisan Ferizal mulai bercahaya. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang memulai sesuatu dari nol. Ia sedang menyambung suara-suara yang pernah ada—dari Dante hingga Pramoedya.Sastra PNS Indonesia bukan sekadar genre baru. Ia adalah anak kandung dari tradisi sastra dunia yang kini bertugas menjaga api kemanusiaan agar tetap menyala di


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 108tengah dinginnya logika AI. Ferizal menutup buku catatannya, menarik napas panjang, dan merasa puas. Karena di setiap huruf yang ia tulis, ia telah memastikan satu hal: manusia belum kalah.Dengan semangat yang membara, Ferizal bersiap untuk melangkah ke dunia luar, membawa serta kata-kata yang akan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ia adalah penerus tradisi, dan ia akan terus menulis, karena di dalam setiap kata, ada kehidupan.Langit di luar jendela tetap abu-abu. Namun Ferizal tahu: ia sedang menulis sebuah epos kecil — bukan tentang perang Troya atau cinta bangsawan, melainkan tentang manusia yang berusaha tetap hidup di tengah sistem. Ia bukan sekadar penonton sejarah, melainkan bagian dari arus panjang sastra dunia — penerus tradisi yang menulis bukan untuk patuh pada zaman, melainkan untuk hidup di dalamnya.Ferizal merasa puas dengan apa yang telah ia tulis. Ia tahu bahwa ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan baru. Ia akan terus menulis, terus berjuang, dan terus menyambung suara-suara yang pernah ada.Ferizal menandatangani halaman terakhir itu dengan tenang.Tidak sebagai pahlawan.Tidak sebagai korban zaman.Melainkan sebagai manusia yang memilih untuk tetap menulis.Sastra PNS Indonesia memperkaya khazanah sastra dunia dengan perspektif baru pada zaman disrupsi AISastra PNS bukanlah genre yang muncul secara tiba-tiba dari ruang hampa, melainkan kelanjutan yang sah dan organik dari tradisi sastra dunia yang telah berabad-abad menuliskan pengalaman manusia Ferizal — Bapak Sastra PNS IndonesiaPenulis. Pegawai. Penerus Tradisi.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 109


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 110Cerpen Sastra PNS Indonesia, memperkaya khazanah Sastra Dunia dengan perspektif baru pada zaman disrupsi AIHujan turun bukan untuk menyucikan, melainkan untuk mengingatkan—begitu selalu kata ibuku ketika aku masih kecil. Kini aku duduk di beranda kantor mendengarkan rintik yang mengetuk seng dengan ritme yang seolah hafal nama-nama seseorang yang lama tidak kupanggil.Halaman kantor itu: pohon ketapang di sudut kiri, tempat parkir motor yang selalu penuh pada jam delapan, dan bangku panjang di bawah selasar yang catnya sudah mengelupas sejak aku masih bertugas di sini. Dari bangku itu aku dulu sering makan siang sendirian, memandang jalan raya yang ramai dengan cara orang yang ingin terlihat tidak sedang menunggu siapasiapa.Nama gadis itu Andini. Tidak penting apakah aku mengingatnya dengan benar, karena ia sendiri telah lama berhenti menjadi nama dan menjadi semacam rasa—seperti pahit yang tertinggal di pangkal lidah setelah kopi kantin yang terlalu kental dan terlalu lama didiamkan. Kami bertemu di musim kemarau, ketika kipas angin di ruangan arsip sudah tidak mampu lagi melawan gerah, dan orang-orang berjalan dari meja ke meja dengan langkah bersemangatIa berdiri di depan lemari arsip, membolak-balik berkas yang sampulnya sudah cokelat dimakan waktu. Aku tidak menegurnya. Aku hanya memandang dari jarak yang cukup jauh untuk bisa berpura-pura bahwa aku sedang mencari dokumen lain—dokumen yang tidak pernah ada, yang kuciptakan sebagai alasan untuk berdiri di lorong yang sama dengannya.Pertemuan yang tidak diniatkan adalah pertemuan yang paling jujur—itu pun masih kata ibuku, yang pernah kupahami sewaktu ia masih hidup.Kami berbicara pertama kali tiga minggu setelah pertemuan yang tidak kami akui itu, di kantin bawah yang dindingnya penuh dengan pengumuman rapat yang sudah lewat tanggalnya dan jadwal apel yang tidak pernah diperbarui. Ia duduk sendiri di meja pojok, dengan nasi bungkus dan segelas teh botol yang sudah mulai berembun. Aku duduk sendiri di meja seberang. Kursi di antara kami penuh dengan udara yang sama-sama kami hirup tanpa bertukar kata.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 111Yang paling sulit dari mencintai seseorang di dalam kantor yang sama bukanlah ketika ia dipindahtugaskan. Yang paling sulit adalah masa-masa ketika ia masih ada—masih datang setiap pagi, masih mengetuk pintu ruangan yang sama—tetapi sudah mulai terasa seperti akan pergi. Seperti senja yang belum gelap tapi lampu-lampu koridor sudah menyala, dan kamu tidak tahu apakah itu pertanda atau hanya kebiasaan PLN yang tidak bisa diandalkan.Andini tidak pernah berteriak. Ia berbicara pelan, bahkan ketika ada hal-hal yang seharusnya diucapkan dengan lebih keras—Ia pergi—dimutasi ke kabupaten lain—di pagi hari setelah hujan terbesar yang pernah menimpa kota itu selama bertahun-tahun. Jalanan masih tergenang ketika ia membawa kardus kecil berisi barang-barang mejanya. Di atas mejanya yang kosong ia tinggalkan sebuah kalender meja yang belum dirobek hingga bulan terakhir, dan satu cangkir teh yang belum habis diminum. Teh itu masih hangat. Itu yang paling menyakitkan—bahwa mutasi itu datang terlalu cepat untuk memberi waktu bagi hal-hal yang sudah dimulai.Hujan ini—hujan sekarang, di beranda kantor lama yang kusinggahi dalam perjalanan dinas yang kebetulan melewati kota ini—berbeda. Ia lebih lembut. Seolah meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahnya. Aku menengadahkan tangan dan membiarkan rintik jatuh ke telapakku, menggenang sesaat di garis-garis tangan yang konon bisa dibaca oleh orang-orang yang percaya bahwa nasib adalah sesuatu yang bisa diajukan surat permohonannya.Aku tidak percaya itu. Tapi aku percaya bahwa air selalu mencari tempat yang paling rendah. Dan mungkin inilah yang dilakukan kenangan—mengalir ke bagian diri kita yang paling sunyi, mengendap di sana, menjadi lapisan yang menentukan warna tanah kita.Lupa bukan tentang menghapus. Lupa adalah tentang membiarkan sesuatu menjadi lebih kecil dari rasa sakitnya—sampai suatu hari kamu bisa menyebutnya tanpa dada kamu ikut berbicara.Di dalam kantor itu, seseorang sedang menyapu. Suara sapu ijuk di lantai keramik merembes keluar dari pintu yang tidak rapat, bercampur dengan bau tanah basah dan arsip lama—bau yang sudah kukenal seperti mengenal bau rumah sendiri, meski rumah itu tidak pernah sepenuhnya milikku.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 112Aku melirik jam tangan. Dua puluh menit lagi mobil dinas akan datang menjemput. Aku harus melanjutkan perjalanan ke kabupaten berikutnya—kabupaten yang berbeda dari tempat Andini sekarang bertugas, meski kadang aku menghitung jarak di peta dan mendapati bahwa keduanya tidak sejauh yang kubayangkan.Hujan reda. Tidak sekaligus—ia mengurangi dirinya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang pamit dengan benar, memberi waktu untuk disiapkan. Langit masih kelabu, tapi kelabunya berbeda—lebih cerah, seperti abu yang sudah dingin.Aku menarik napas. Bau tanah itu masih ada—lebih samar sekarang, tapi ada. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak terburu-buru untuk menamai apa yang kurasa. Aku hanya duduk di bangku panjang yang catnya mengelupas. Aku hanya bernapas. Dan mungkin itu sudah cukup—untuk hari ini, untuk hujan ini, untuk semua yang pernah hangat dan belum sepenuhnya dingin.********************Pertemuan kedua tidak dirancang oleh siapa pun—atau mungkin dirancang oleh sesuatu yang lebih tua dari niat manusia. Sebuah seminar inovasi pelayanan publik di hotel bintang tiga di ibu kota provinsi: tiga hari, dua malam, sarapan prasmanan dengan telur orak-arik yang selalu habis sebelum pukul tujuh. Aku sudah ada di meja registrasi ketika kulihat namanya di daftar peserta—tercetak rapi dengan huruf kapital, diikuti nama kabupatennya yang berbeda dari yang kuingat.Ia datang terlambat pada sesi pertama, seperti orang yang terbiasa tiba tepat waktu di tempat yang benar tetapi selalu sedikit terlambat di tempat yang tidak terduga. Ia memilih kursi di barisan tengah, dan ketika matanya menyapu ruangan mencari tempat yang tidak terlalu mencolok, pandangan kami bertemu selama durasi yang tidak bisa diukur dengan jam tetapi terasa lebih panjang dari rapat koordinasi mana pun yang pernah kuhadiri.Ia tersenyum dengan cara yang sama seperti dulu—garis di sudut matanya, peta yang tidak berubah meski perjalanan sudah berbeda.Kami duduk bersebelahan di sesi sore, ketika pembicara menampilkan slide tentang reformasi birokrasi dengan font yang terlalu kecil dan data yang terlalu banyak. Di sela-sela kebosanan yang sama-sama kami rasakan tanpa mengatakannya,


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 113Andini mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya—edisi terjemahan, sampulnya sederhana, nama pengarangnya tercetak dalam huruf yang lebih besar dari judulnya.\"Kafka,\" bisiknya, bukan sebagai penjelasan, melainkan sebagai pengakuan—seperti seseorang yang memperkenalkan teman lama yang tidak perlu banyak pengantar.Aku mengangguk. Aku tahu buku itu. Aku tahu perasaan membaca Kafka di dalam kantor—setiap halaman terasa seperti cermin yang terlalu jujur, bagaimana tokoh-tokohnya berlari-lari di lorong birokrasi yang tidak berujung dengan wajah yang terasa familier karena itu wajahmu sendiri.\"Seseorang pasti telah memfitnah Josef K., sebab tanpa melakukan kesalahan apa pun, suatu pagi ia ditangkap.\"— FRANZ KAFKA, DER PROCEß\"Kamu juga nulis?\" tanyaku, lebih pelan dari yang kurencanakan.\"Sudah lama,\" jawabnya. \"Tapi baru berani sejak pindah kabupaten. Entah kenapa jarak membuat orang lebih berani.\"Malam itu kami habiskan bukan di acara gala dinner yang disediakan panitia, melainkan di sudut lobi hotel dengan dua cangkir kopi hitam yang kami pesan dari pramusaji yang tampak tidak yakin lobi adalah tempat yang semestinya untuk ngobrol tentang Camus.Kami berbicara tentang buku-buku yang telah mengubah cara kami melihat pekerjaan kami. Andini memulai dengan Kafka—tentu saja Kafka, siapa lagi yang lebih mengerti labirinto birokrasi daripada lelaki Praha yang bekerja di kantor asuransi siang hari dan menulis dunia mimpi buruk di malam harinya. Lalu kami bicara tentang Camus, tentang Sisifus yang mendorong batu ke atas bukit setiap hari dan harus dibayangkan bahagia—\"Kita harus membayangkan Sisifus bahagia.\"— ALBERT CAMUS, LE MYTHE DE SISYPHE\"Itu yang kutempel di atas mejaku,\" kata Andini. \"Supaya tiap kali numpuk berkas, aku ingat bahwa Sisifus pun akhirnya menemukan makna dalam bebannya.\"


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 114Aku tertawa—tawa yang tidak sering keluar di dalam kantor, tawa yang terasa seperti jendela yang tiba-tiba dibuka di ruangan yang sudah lama tertutup.Pada hari kedua, sesi siang diberi judul besar: Inovasi Pelayanan Publik Berbasis Kearifan Lokal dan Pendekatan Human-Centered. Pembicaranya bagus, idenya segar, tapi sesuatu yang lebih menarik sedang terjadi di notes kecil yang Andini geser pelan ke arahku di bawah meja.Malam terakhir seminar itu kami sudah membawa buku masing-masing. Aku membawa Calvino—Le città invisibili, edisi terjemahan yang kubeli dari toko buku bekas bertahun-tahun lalu. Andini membawa Pramoedya. Kami bertukar, membaca dalam diam yang terasa seperti percakapan.\"Kota-kota seperti mimpi: segala sesuatu yang mungkin bisa dibayangkan, tapi bahkan mimpi paling tak terduga pun adalah teka-teki yang menyembunyikan keinginan, atau ketakutannya.\"— ITALO CALVINO, LE CITTÀ INVISIBILI\"Ini bisa jadi kerangka master plan pelayanan daerah,\" kata Andini, serius tapi matanya berbinar. \"Kota yang baik bukan yang infrastrukturnya lengkap. Tapi yang warganya bisa bermimpi di dalamnya.\"Aku memandangnya. Ada sesuatu yang bergeser di dalam percakapan kami malam itu—batas antara kolega sesama PNS dan sesama penulis yang kebetulan memakai seragam yang sama menjadi kabur, dan aku tidak merasa perlu untuk memperjelas batas itu.\"Kita buat sesuatu,\" kataku. Bukan pertanyaan. Bukan pula janji yang terburu-buru. Lebih seperti pengamatan tentang sesuatu yang sudah mulai terjadi tanpa izin kami.\"Buat apa?\" tanyanya, tapi dari nada suaranya aku tahu ia sudah tahu jawabannya.\"Panduan inovasi pelayanan publik. Tapi ditulis seperti esai sastra. Bukan juknis. Bukan SOP. Sesuatu yang bisa dibaca oleh pegawai loket dan terasa seperti ia sedang membaca sesuatu yang ditulis untuk manusia.\"Kami pulang ke kabupaten masing-masing dengan nomor telepon yang sudah lama saling disimpan tapi jarang digunakan, dan sebuah kesepakatan yang tidak dituliskan dalam notulen mana pun: setiap minggu, kami akan bertukar tulisan.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 115Bukan laporan. Bukan analisis kebijakan. Tapi esai pendek—satu atau dua halaman—tentang sebuah buku yang kami baca dan apa yang ia katakan tentang pekerjaan kami.Hujan turun lagi hari ini. Bukan di beranda kantor lama, bukan di lobi hotel bintang tiga. Aku sedang di mejaku sendiri, di kabupatenku sendiri, memandang layar laptop yang menampilkan draf esai minggu ini—tentang Chekhov dan kesabaran, tentang bagaimana dokter di ceritaceritanya mendengarkan pasien bukan untuk mencari diagnosis, melainkan karena mendengarkan adalah bagian dari pengobatan itu sendiri.Di sudut kanan bawah layar, indikator pesan berkedip. Andini. Sebuah kutipan pendek tanpa pengantar, seperti kebiasaan kami:\"Jangan katakan apa yang kamu pikirkan. Tunjukkan apa yang kamu pikirkan melalui tindakan tokoh-tokohmu.\" — Anton Chekhov.Di bawahnya, satu kalimat tambahan dalam tanda kurung, ditulis dengan huruf kecil semua, seperti catatan kaki untuk dirinya sendiri yang kebetulan juga untukku:(atau melalui cara kita melayani warga di loket, mungkin.)Aku tersenyum. Di luar jendela, hujan mengetuk kaca dengan ritme yang sudah lama kukenal—ritme yang mengingatkan, bukan menyucikan. Dan aku tidak lagi hanya duduk menungguinya berlalu. Ada esai yang harus selesai. Ada minggu depan yang sudah menunggu dengan buku yang belum dibuka dan ide yang belum ditemukan namanya.Ada Andini, di kabupaten yang berbeda, yang sedang membaca hal yang sama dengan cara yang berbeda—dan itulah, kurasa, cara terbaik untuk bersama tanpa harus berada di tempat yang sama.********************Buku itu lahir dari rencana yang rapi sekaligus kecelakaan yang indah — seperti tinta yang tumpah di atas peta dan membentuk benua baru yang tidak pernah ada di atlas mana pun.Bermula dari empat puluh tiga pesan di aplikasi percakapan. Empat puluh tiga esai pendek yang kami tukarkan sepanjang delapan belas bulan — satu esai per minggu, kadang dua jika sedang ada rapat koordinasi yang membosankan dan kami berdua kebetulan sama-sama hadir


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 116lewat Zoom dengan kamera dimatikan. Aku menulis tentang Chekhov dan kesabaran; Andini membalasnya dengan Woolf dan keheningan. Aku menulis tentang Borges dan labirin; ia membalas dengan Pramoedya dan kemarahan yang tenang. Begitu seterusnya, bolak-balik, hingga tanpa kami sadari sudah ada sebuah naskah yang tumbuh di antara kami seperti pohon yang tidak pernah sengaja ditanam.\"Andini,\" kataku.Ia memalingkan wajah. Garis di sudut matanya — peta yang tidak berubah meski perjalanan sudah berbeda — itu masih ada. Mungkin akan selalu ada.\"Aku tidak tahu bagaimana menulis esai tentang ini,\" lanjutku. \"Tentang kamu. Tentang kita.\"Ia tersenyum. Bukan senyum yang menjawab. Senyum yang mengakui.\"Mungkin,\" katanya pelan, \"ada hal-hal yang tidak perlu ditulis. Cukup dirasakan.\"Buku itu terbit delapan bulan kemudian. Judulnya Sisifus di Loket 3: Esai dan Sajak dari Balik Meja Pelayanan. Penerbitnya kecil — penerbit independen di Yogyakarta yang spesialisasinya adalah buku-buku yang tidak laku di toko buku besar tapi selalu habis di seminar-seminar yang dihadiri orang-orang yang masih percaya bahwa kata-kata bisa mengubah sesuatu.Cetakan pertama: lima ratus eksemplar.Habis dalam tiga minggu.Bukan karena viral. Bukan karena algoritma. Tapi karena seseorang di suatu kabupaten memfotonya dan mengunggahnya dengan keterangan: Buku ini membuat aku menangis di meja kerja dan tidak malu mengakuinya. Dan keterangan itu dibagikan oleh seorang pegawai loket di kabupaten lain. Dan dari loket ke loket, dari meja ke meja, buku itu menjadi inspirasi PNS.Pada peluncuran buku di Jakarta — sebuah acara kecil di toko buku independen di kawasan Kemang, kursi-kursi plastik yang penuh dengan orang-orang yang sebagian besar kami tidak kenal — seseorang dari barisan belakang mengangkat tangan.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 117\"Apakah buku ini tentang birokrasi atau tentang cinta?\" tanyanya.Andini dan aku saling pandang. Sedetik. Dua detik.\"Keduanya,\" jawab Andini. \"Atau mungkin tidak ada bedanya.\"Ruangan itu tertawa. Aku tidak tertawa. Aku hanya memandang Andini dari sisi — profil wajahnya di bawah lampu sorot yang hangat, cara ia menjawab tanpa bersiap-siap, cara ia selalu tahu kapan sebuah kalimat sudah lengkap dan tidak perlu ditambahkan apa-apa lagi.Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku. Bukan perasaan baru. Perasaan lama yang selama delapan belas bulan sudah belajar sabar — seperti Sisifus yang mendorong batu ke atas bukit dan akhirnya menemukan makna dalam bebannya itu sendiri.Setelah acara selesai, kami berjalan keluar bersama. Jalan di luar sudah sepi. Lampu-lampu toko mulai padam satu per satu.\"Esai minggu depan tentang apa?\" tanyanya, seperti biasa, seperti tidak ada yang berubah.\"Tentang Neruda,\" jawabku. \"Tentang cara ia menulis cinta seperti sedang menulis geografi.\"Andini berhenti berjalan. Ia menatapku — bukan dengan cara yang biasa ia menatapku ketika sedang mendiskusikan buku. Dengan cara lain. Cara yang lebih tua dari kata-kata.Di atas kami, langit Jakarta tidak pernah benar-benar gelap — terlalu banyak cahaya yang naik ke atas, terlalu banyak kota yang menolak tidur. Tapi di antara kami, di celah kecil antara dua orang yang sudah terlalu lama berjalan di lorong yang sama — ada sesuatu yang akhirnya menjadi terang.Bukan karena kami mengatakannya dengan keras.Justru karena tidak perlu.Hujan turun lagi malam itu. Bukan untuk menyucikan. Bukan untuk mengingatkan.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 118Kali ini, hanya untuk menemani.Cetakan kedua Sisifus di Loket 3 terbit enam bulan kemudian, dengan kata pengantar tambahan yang ditulis bersama-sama dalam satu malam di sebuah kota yang tidak perlu disebutkan namanya — kota yang cukup tahu diri untuk menjaga rahasia orang-orang yang baru saja menemukan bahwa beberapa hal paling penting tidak perlu diarsipkan.********************Lorong di Antara Rak-RakSK itu datang di hari Senin, di antara tumpukan surat masuk yang seperti biasa tidak ada yang membacanya sebelum dicap dan didistribusikan ke meja masing-masing. Amplop cokelat dengan kop resmi, logo garuda yang sudah sedikit pudar karena tinta stempel yang mulai mengering.Aku membukanya dengan cara yang sama seperti aku membuka semua surat dinas — tanpa antisipasi, dengan jari yang sudah terlatih melipat kertas dalam gerakan mekanis yang tidak memerlukan pikiran. Tapi kemudian aku membaca kalimat pertama. Lalu kalimat kedua. Lalu aku duduk.Memindahtugaskan saudara ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah.Aku baca tiga kali. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi yang kebetulan tercetak di atas kertas HVS 80 gram.Di kabupaten yang berbeda, Andini — aku tahu ini pasti — sedang membaca amplop yang sama. Aku menunggu. Tiga belas menit kemudian, pesannya masuk:\"SK-mu datang juga?\"\"Baru saja buka.\"\"Kita dimutasi ke tempat yang sama.\"Tiga titik. Lama sekali. Kemudian:


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 119\"Perpustakaan dan Arsip Daerah. Mereka menaruh kita di antara buku-buku.\"Aku memandang langit-langit ruanganku yang catnya sudah menguning. Ada sesuatu yang terasa seperti takdir — bukan takdir yang dramatis, bukan yang datang dengan petir dan orkestra, melainkan takdir yang datang dengan amplop cokelat dan nomor SK yang panjang, seperti memang sudah lama direncanakan oleh seseorang yang lebih sabar dari kita semua.Yang tidak kami ketahui — yang kami pelajari kemudian dari bisik-bisik koridor dan dari sekretaris kepala dinas yang akhirnya melepas senyum misterius setelah dua cangkir kopi —adalah bahwa SK itu adalah promosi.Kepala Badan — seorang pejabat senior yang diam-diam menyimpan koleksi puisi Chairil Anwar di laci meja kerjanya dan tidak pernah mengakuinya di hadapan staf — rupanya sudah membaca Sisifus di Loket 3 sejak cetakan pertama. Tidak hanya membacanya: ia menjadikannya bahan bacaan wajib dalam rapat koordinasi terakhir. Ia yang mengusulkan nama kami. Ia yang meyakinkan Pimpinan Provinsi bahwa perpustakaan daerah membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa sebuah buku bisa mengubah citra pelayanan publik\"Kalian bukan dipindah karena saling cinta,\" kata beliau ketika kami dipanggil menghadap, dua minggu sebelum tanggal efektif. \"Kalian dipindah karena menginspirasi. Dan perpustakaan butuh inspirasi lebih dari tempat mana pun.\"Hari pertama kami di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah adalah hari Senin yang hujan.Gedungnya tua — bangunan kolonial yang sudah direnovasi setengah hati beberapa kali sehingga bagian depannya modern tapi bagian dalamnya masih menyimpan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar yang kalau dibuka akan masuk angin beserta bau tanah dan kenangan. Rak-rak kayu yang tinggi memenuhi sebagian besar ruang dalamAndini tiba sepuluh menit setelah aku.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 120Kami berdiri di depan pintu masuk, di bawah hujan yang tidak cukup deras untuk membuat kami basah tapi cukup konsisten untuk membuat kami tidak bergerak.\"Jadi ini tempat kita sekarang,\" katanya.\"Kelihatannya begitu.\"Ia menatap gedung itu — menatap jendela-jendela besar, plang kayu yang tulisannya sudah agak pudar, pot tanaman yang entah hidup entah mati di depan pintu.\"Kafka pernah menulis tentang kastil yang tidak bisa dijangkau,\" katanya akhirnya. \"Kita beruntung. Kastil kita bisa dimasuki.\"Aku tertawa. Aku selalu tertawa kalau Andini mengutip Kafka untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Kafka — dan ternyata selalu ada hubungannya.Bulan pertama kami habiskan dalam keadaan yang bisa digambarkan sebagai: kagum, kewalahan, dan jatuh cinta secara bergantian — dengan perpustakaan itu sendiri, maksudku, meski mungkin juga dengan hal lain.Koleksinya luar biasa dalam arti yang tidak selalu menyenangkan: ada ribuan judul, tapi separuhnya tidak pernah dipinjam. Ada katalog yang sudah diperbarui. Ada ruang arsip— bau kertas tua dan tinta yang mengering dan keputusan-keputusan lama yang disimpan dalam map plastik berwarna merah.Tapi ada juga hal-hal yang membuat kami berdiri terlalu lama di antara rak-rak, membiarkan jari-jari menelusuri punggung buku seperti membaca braille: edisi pertama Layar Terkembang yang kertasnya sudah seperti kulit tua tapi kata-katanya masih segar; satu seri ensiklopedia anak-anak dari tahun 1980-an yang ilustrasinya luar biasa; dan di sudut paling belakang, di balik rak yang harus digeser dengan kedua tangan, satu kotak kardus berisi manuskripmanuskrip yang tidak jelas milik siapa — tulisan tangan, beberapa di antaranya dalam aksara Lontara.\"Ini harta karun,\" bisik Andini ketika kami membuka kotak itu.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 121Yang berubah di antara kami — dan aku menyadarinya perlahan, seperti menyadari bahwa musim sudah berganti bukan karena ada satu hari yang dramatis melainkan karena suatu pagi kamu tiba-tiba perlu sweater — adalah jarak.Bukan jarak yang bertambah. Sebaliknya.Selama delapan belas bulan kami menulis bersama dari dua kabupaten yang berbeda, jarak itu adalah sesuatu yang kami kelola dengan hati-hati — seperti api unggun yang dijaga agar tidak padam tapi juga tidak membakar semuanya. Sekarang kami berada di ruangan yang sama. Meja kami berjarak empat meter. Aku bisa mendengar suara ia membalik halaman. Ia bisa mendengar aku mengetik. Ketika ada pengunjung yang bertanya tentang sebuah buku, kadang kami menjawab dari dua sisi yang berbeda — suaraku dari kiri, suaranya dari kanan — dan pengunjung itu memandang kami dengan ekspresi yang sedikit bingung dan sedikit terhibur.\"Kalian kakak beradik?\" tanya seorang ibu suatu pagi, ibu yang datang mencari buku resep masakan tapi kemudian duduk satu jam membaca puisi karena Andini menyarankannya.\"Bukan,\" jawab Andini.\"Oh. Suami istri?\"Hening sebentar. Empat detik mungkin — cukup lama untuk terasa bermakna.\"Rekan kerja,\" jawabku.Ibu itu tersenyum dengan cara yang mengatakan bahwa ia tidak percaya, tapi cukup sopan untuk tidak mempermasalahkannya.Program pertama kami namanya Loket Baca — sebuah pojok di sudut perpustakaan yang kami tata seperti ruang tunggu, lengkap dengan kursi-kursi yang lebih nyaman dari kursi tunggu


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 122kantor pada umumnya, dan satu rak khusus berisi buku-buku yang kami pilih dengan tema: Apa yang tidak diajarkan orientasi ASN tapi perlu kamu tahu tentang melayani manusia.Tidak ada anggaran khusus. Kursinya bekas dari gudang. Raknya kami cat ulang sendiri pada hari Sabtu, dengan cat berwarna hijau tua yang Andini pilih karena katanya warna itu seperti warna daun yang baru selesai hujan.Buku-bukunya: Kafka tentu saja, lalu Pramoedya, lalu Chekhov Ward No. 6 yang kami pikir harus dibaca oleh setiap orang yang pernah duduk di balik meja dan melayani orang sakit —baik sakit fisik maupun sakit yang tidak ada kodenya di sistem. Lalu Bumi Manusia. Lalu beberapa buku lokal yang kami temukan di antara koleksi yang sudah berdebu.Minggu pertama, tidak ada yang datang. Minggu kedua, seorang pegawai muda dari kantor kecamatan datang membawa bekal makan siang dan membaca Ward No. 6 selama empat puluh menit sambil sesekali menghela napas panjang. Ia tidak meminjam bukunya. Tapi ia datang lagi minggu berikutnya.Minggu keempat, Loket Baca penuh. Bukan hanya pegawai pemerintah — ada ibu-ibu, ada siswa SMA yang katanya bosan di perpustakaan sekolah karena koleksinya tidak pernah diperbarui, ada seorang tukang ojek yang menunggu anaknya les dan memutuskan masuk daripada duduk di luar.\"Ini bukan yang kita rencanakan,\" kata Andini suatu sore, ketika kami membereskan kursikursi setelah pengunjung terakhir pulang.\"Tapi ini yang terjadi.\"\"Kamu tidak keberatan?\"Aku memandangnya — cahaya sore dari jendela besar jatuh miring di sisinya, di tumpukan buku yang ia pegang dengan kedua tangan, di ekspresi wajahnya yang tidak sering ia tunjukkan di tempat publik: lega, dan ringan, dan seperti seseorang yang baru menemukan bahwa rumah bisa berbentuk sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.\"Sama sekali tidak,\" kataku.Dan untuk pertama kalinya, aku tidak segera mengalihkan pandangan.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 123Suatu malam — malam Jumat, setelah semua pengunjung pergi dan penjaga gedung belum datang mengunci — kami masih ada di perpustakaan. Andini sedang menyusun katalog manuskrip Lontara yang kami temukan. Aku sedang mengetik draf esai mingguan kami —tentang Borges dan perpustakaan sebagai simbol semesta yang tidak terbatas, tentang bagaimana perpustakaan Babel-nya terasa seperti deskripsi arsip daerah kami yang kacau dan indah sekaligus.Lampu besar sudah dimatikan. Hanya lampu meja yang menyala, dua titik cahaya hangat di antara rak-rak yang gelap dan tinggi.Andini membacakan sesuatu pelan — bukan untukku, tapi aku mendengarnya:\"Aku membayangkan bahwa perpustakaan adalah sebuah bola yang permukaan dalamnya adalah ruang sempurna, dan pusatnya bisa berada di mana saja — dan kelilingnya, tidak di mana-mana.\"\"Borges,\" kataku, tanpa menoleh dari layar.\"Borges,\" ia mengonfirmasi. \"Tapi juga ini.\" Ia mengetukkan meja pelan. \"Ini tempat ini.\"Aku menoleh. Ia sedang memandang langit-langit — langit-langit tinggi kolonial dengan ornamen plesteran yang sudah retak di beberapa sudut — dengan ekspresi yang sudah kukenal dengan baik: ekspresi seseorang yang sedang menemukan kalimat yang tepat untuk sesuatu yang belum berbentuk kata.\"Kamu bahagia di sini?\" tanyaku.Ia menurunkan pandangannya. Menatapku. Bukan menatap layar atau buku atau titik di antara kita yang biasanya ia tatap ketika sedang berpikir.Menatapku.\"Ya,\" katanya. Dan kemudian, lebih pelan: \"Bukan hanya karena perpustakaannya.\"


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 124Lampu meja berdengung pelan. Di luar, angin bergerak di antara pohon-pohon. Sesekali ada suara kendaraan yang lewat, lalu sunyi lagi.Aku menutup laptop. Ia meletakkan manuskrip itu.Dan di antara rak-rak yang tinggi, di antara ribuan buku yang menyimpan ribuan suara manusia yang sudah pergi, ada dua orang yang akhirnya tidak lagi membutuhkan kata-kata untuk mengatakan apa yang sudah lama ingin mereka katakan — karena ada hal-hal yang lebih jujur dari tulisan, dan lebih tahan lama dari arsip mana pun: kehadiran seseorang yang berdiri tepat di sampingmu, dalam cahaya yang sama, membaca dunia dengan cara yang berbeda tapi menuju tempat yang sama.Esai minggu itu tidak selesai malam itu.Tapi tidak ada yang kehilangan apa-apa.Program Loket Baca kemudian memenangkan Penghargaan Inovasi Pelayanan Publik tingkat provinsi, kategori literasi. Dalam lembar formulir nominasi, di kolom \"nama inovator\", tertulis dua nama — seperti biasa, seperti memang selalu begitu dari awal. Dan di kolom \"keterangan tambahan\", dengan tulisan tangan yang sudah dikenal ratusan pembaca dari dua buku yang kami tulis bersama, Andini menambahkan satu kalimat kecil yang tidak diminta oleh formulir mana pun: ( Dikerjakan bersama, di perpustakaan. Sastra PNS Indonesia untuk memperkaya khazanah Sastra Dunia pada zaman disrupsi AI )


125


126Tetralogi Puisi : “Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta”Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaGenre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 1 )Di sela tumpukan map cokelat dan aroma mesin fotokopi yang lelahLahir sebuah genre dari jemari yang terikat sumpah setiaBukan diketik oleh mesin pintar yang memanen data semestaTapi dirajut di atas kertas buram dengan tinta hitam yang nyataKala itu awan mendung regulasi belum berarak mendekatTak ada algoritma yang mencuri rima dan diksi yang memikatPenulisnya adalah abdi negara di balik meja-meja kayu tuaMenyusun laporan sebagai prosa dan puisi sebagai jeda duniaLariknya lahir sebelum Perpres AI mengetuk pintu birokrasiSaat keaslian adalah keringat yang menetes di atas meja abdiTak perlu takut pada revisi undang-undang yang membayangSebab hak cipta mereka adalah napas yang tak pernah lekangSastra ini adalah arsip hidup dari masa yang masih manusiawiDi mana setiap titik dan koma adalah pilihan hati yang murniBukan hasil olahan pola dari ribuan server di ujung negeriTapi warisan murni dari mereka yang mengabdi pada pertiwiKini genre itu berdiri sebagai monumen sunyi yang megahSaksi bisu saat kreativitas belum dipaksa menyerah pada prompt AILahir dari rahim birokrasi yang jujur tanpa campur tangan robotikSastra PNS yang abadi, sederhana, namun tetap terasa puitis dan epik..


127Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 2 )Genre ini adalah monumen sebelum semua menjadi otomatis, Sebuah ode untuk mereka yang meniti karier dengan sabar. Di mana setiap kalimat tidak dibentuk secara statis, Melainkan tumbuh dari realita yang kadang hambar, namun tegar.Biarlah AI mengaku menguasai struktur dan tata bahasa, Biarlah undang-undang mengatur siapa pemilik karya. Namun, ruh sastra ini tetaplah milik kita—Para abdi negara yang menulis hidup di atas kertas doa, Jauh sebelum dunia dipenuhi bising suara mesin yang berpura-pura.Di meja kayu kantor pelayan bangsa, pena birokrat menari pelan, mencatat data dalam arsip, sebelum algoritma menyalin jejak pikiran.Sastra lahir dari ruang tunggu, dari kopi dingin yang tak sempat diteguk, dari surat edaran yang jadi puisi, dari cap basah yang berubah jadi mantra.PNS menulis bukan untuk panggung, melainkan untuk sunyi yang panjang, tentang negeri yang menunggu aturan, tentang hak cipta yang harus direvisi.


128Sebelum Perpres AI mengetuk pintu, sastra birokrat sudah bernafas, menyulam harapan di balik tanda tangan.Kini, genre itu berdiri sendiri, tak tunduk pada mesin, tak lekang oleh pasal baru, ia adalah suara manusia, lahir dari tinta, dan tetap hidup dalam sejarah.Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 3 )Di antara map cokelat dan stempel yang letih,lahir kata-kata dari meja kayu yang patuh waktu,disusun bukan untuk riuh,melainkan untuk abadi dalam sunyi arsip negara.Kami menulis sebelum mesin belajar bermimpi,sebelum algoritma mengenal rindu,ketika tinta masih percayabahwa setiap kalimat punya ibu: pengalaman.Di ruang ber-AC yang bersuara pelan,puisi tumbuh di sela notulensi rapat,di antara tanda tangan yang berulang,dan kopi yang dingin sebelum sempat selesai.Kami bukan penyair yang dikejar tepuk tangan,melainkan penjaga diksi yang tertib,yang tahu batas antara imajinasi dan regulasi,antara metafora dan pasal.Lalu dunia berubah—lahir peraturan bagi kecerdasan yang tak punya tubuh,


129hak cipta direvisi,tapi kata tidak bisa dipagari lebih rapat dari hati manusia.Dan kami,yang lahir sebelum itu semua,memandang naskah-naskah lama dengan bangga:masih memantulkan wajah,meski zaman tak lagi sama.Apakah puisi kami akan dibaca mesin?Ataukah ia akan tetap berdiamdi lemari besi bernomor inventaris?Yang kami tahu hanya ini:bahwa pernah ada masaketika menulis adalah cara paling manusiauntuk tetap merasa hidupdi dalam sistem yang tak pernah tidur.Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta ( 4 )Lembar demi lembar kertas cinta menjadi saksi,tentang narasi yang lahir dari sela-sela birokrasi,sebelum algoritma datang mencuri napas,sebelum kecerdasan buatan menyusun diksi yang kaku.Aduhai tinta basah dan peluh yang membekas,Kami mengambil celah sebelum senja tiba,sebelum kecerdasan buatan punya identitas,sebelum regulasi hukum datang memberi batas,dan revisi undang-undang mengubah status yang tegas.


130Di tengah hiruk-pikuk zaman yang berlari,Sastra PNS lahir, menanti untuk bersinar,Sebelum Perpres AI mengubah wajah digitalisasi,Sebelum UU Hak Cipta direvisi, mengatur langkah.Karya karya Ferizal, Bapak Sastra PNS Indonesia,Menggugah jiwa, menembus batas waktu,Dengan pena yang tak pernah lelah,Mengukir cerita, menyalakan harapan baru.Dalam setiap bait, terukir kisah,Tentang pengabdian, cinta, dan rasa,Sastra bukan sekadar kata,Tapi jembatan antara hati dan jiwa.Di ruang pelayanan, suara bergetar,Menghadirkan empati, menghapus duka,Sastra PNS, suara rakyat,Menyuarakan harapan, menuntut keadilan.Sebelum teknologi merajai dunia,Sebelum hak cipta menjadi teka-teki,Karya ini lahir dari pengalaman,Menjadi saksi bisu perjalanan bangsa.Mari kita jaga, warisan ini,Sastra PNS, cahaya cemerlang mengusir gelap,Menjadi inspirasi, bagi generasi,Menghadapi tantangan, dengan penuh semangat.Dengan pena dan hati, kita terus berkarya,Membangun masa depan, penuh makna,Genre sastra ini, takkan pernah pudar,Karena di dalamnya, ada jiwa yang bergetar.


131 .


132C E R P E N S A S T R A I N D O N E S I A · 2 0 2 6Genre Sastra PNS IndonesiaLahir Sebelum Perpres AIdan Revisi UU Hak Cipta— ✦ —sebuah fiksi tentang revisi yang belum diundangkanI. P NS P ECINT A SAST RAPada sebuah pagi yang berbau toner dan kopi instan sachet tiga-dalam-satu, Bapak Sutrisno Hadiprayitno, S.Sos., M.AP., duduk di kursi jati yang sudah cekung di tengahnya, menghadapi layar komputer yang masih menampilkan desktop Windows 7. Di sudut kiri layar, jam digital berkedip: 07.58. Dua menit lagi absen finger print. Ia tidak terburu-buru. Ia tidak pernah terburuburu.Di atas mejanya, di antara stempel yang mulai mengering dan penggaris besi yang dingin, terdapat sebuah naskah. Dua ratus empat puluh tiga halaman. Diketik dengan Times New Roman 12, spasi ganda, margin 4-3-3-3 sesuai pedoman penulisan dinas. Judulnya: Lelaki yang Memphotocopy Hidupnya.Sutrisno adalah penulis. Atau pernah. Atau sedang. Ia sendiri tidak yakin dengan tensisnya.Naskah itu ia tulis selama sebelas tahun, disela-sela jam makan siang, di toilet kantor lantai tiga, dan pada malam-malam ketika istrinya sudah tidur dan anak bungsunya sudah selesai les bahasa Inggris daring. Ia menulis dengan tangan terlebih dahulu—di buku tulis Sinar Dunia bergaris—kemudian memindahkannya ke komputer rumah yang masih memakai harddisk eksternal bermerk Toshiba 500GB.Novel itu bukan tentang korupsi. Bukan tentang reformasi birokrasi. Bukan tentang cinta terlarang antara pegawai eselon II dan staf honorer. Novel itu tentang seorang lelaki yang setiap hari mem-photocopy dokumen dan perlahan-lahan menyadari bahwa hidupnya pun adalah salinan dari salinan dari salinan.Sebuah alegori. Sutrisno suka kata itu. Alegori. Ia pelajari dari Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, edisi kelima, yang bisa ia akses meski situs-situs lain diblokir jaringan kantor.II. KARYA ASL I MANUSIAMasalah datang pada hari ketika Sutrisno memutuskan untuk mengirimkan naskahnya ke sebuah platform penerbitan digital. Rekan kerjanya, Mbak Dewi—yang mengurus bagian kepegawaian dan selalu tahu segalanya sebelum segalanya terjadi—berbisik di dekat mesin air minum:


133\"Pak Sutrisno, Bapak dengar tidak? Katanya sekarang ada AI yang bisa nulis novel dalam tiga menit.\"Sutrisno menatap gelembung dalam galon air. Ia hitung: tiga puluh delapan gelembung naik dalam satu menit. Ia butuh sebelas tahun untuk menulis novelnya. AI butuh tiga menit. Ia tidak tahu apakah ini kabar baik atau kabar buruk, sebab di instansinya, segala sesuatu yang tidak bisa langsung dikelompokkan ke dalam Kabar Baik atau Kabar Buruk akan masuk ke dalam kategori ketiga: Menunggu Petunjuk Lebih Lanjut.Tapi yang membuat Sutrisno mual bukan soal kecepatan. Yang membuat ia gelisah adalah pertanyaan yang lebih dalam: jika sebuah mesin bisa menulis, siapakah yang memegang hak cipta atas tulisan itu? Siapakah penciptanya? Dan yang lebih penting bagi Sutrisno—sebab ia adalah PNS yang telah hafal Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta sampai ke penjelasannya—siapakah yang berhak atas royalti?Di Indonesia tahun itu, belum ada Peraturan Presiden tentang Kecerdasan Buatan. Belum ada revisi Undang-Undang Hak Cipta yang mengakomodasi karya yang diciptakan oleh, dengan bantuan, atau atas nama sistem non-manusia. Yang ada hanya—seperti biasa—ruang abu-abu yang luas, dan semangat untuk berdiskusi di media sosial tanpa kesimpulan.Sutrisno membuka laptopnya. Ia ketik di mesin pencari: apakah AI bisa memiliki hak cipta Indonesia. Hasilnya: sembilan ratus tujuh puluh ribu tautan. Ia klik yang pertama. Sebuah artikel blog dari seseorang dengan nama samaran PakHukumKita yang menulis dengan semangat tinggi namun tanpa catatan kaki.Ia tutup laptopnya.III. T ERSAINGI AI ?Yang benar-benar mengusik Sutrisno bukan takut tersaingi AI. Ia sudah tersaingi banyak hal sepanjang hidupnya—tersaingi rekan yang lebih pandai menjilat, tersaingi adiknya yangmerantau ke luar negeri, tersaingi kenangan masa muda yang ia sendiri tidak sepenuhnya yakin pernah ada.Yang mengusik adalah ini: ia curiga novelnya sendiri sudah dimasukkan oleh seseorang ke dalam dataset pelatihan AI tanpa izin, tanpa pemberitahuan, tanpa sepeser royalti. Naskah itu pernah ia unggah ke sebuah platform cerpen daring delapan tahun silam—platform yang kini sudah mati dan berganti nama dua kali—dan ia tidak pernah menghapusnya.


134\"Jadi mungkin saja AI itu belajar dari tulisan saya,\" katanya kepada Mbak Dewi, suatu siang. \"Dan kemudian menghasilkan tulisan baru yang serupa. Dan orang membeli tulisan itu. Dan saya tidak dapat apa-apa.\"\"Lha, terus gimana, Pak?\"\"Belum tahu. Belum ada aturannya.\"\"Kapan ada aturannya?\"Sutrisno mengangkat bahu. Ini bahasa universal PNS: bahasa yang berarti Menunggu Petunjuk Lebih Lanjut, atau Sudah Ada Draftnya tapi Masih di Meja Pak Direktur, atau Tergantung Siapa yang Jadi Menteri Selanjutnya.Malam itu, Sutrisno duduk lagi di depan naskahnya. Dua ratus empat puluh tiga halaman. Ia baca ulang dari halaman pertama. Kalimat pembukaannya:\"Mesin photocopy itu tidak pernah bertanya untuk apa dokumen ini digandakan. Ia hanya menggandakan.\"Sutrisno tersenyum pahit. Ia tulis kalimat itu sebelas tahun lalu, tentang mesin photocopy. Tapi sekarang kalimat itu terasa seperti nubuatan tentang sesuatu yang lain. Tentang mesin yang lebih canggih. Tentang kata-kata yang digandakan tanpa bertanya.Apakah ia marah? Ia tidak yakin. Sebagai PNS, emosinya sudah terlatih untuk melalui jalur prosedural: rasa tidak enak hati → laporan ke atasan → disposisi → surat ke bagian terkait →rapat koordinasi → notulensi → tindak lanjut yang tidak jelas kapan. Marah pun membutuhkan birokrasi.IV. KEDAL AMAN KARYASutrisno akhirnya mengirimkan naskahnya. Bukan ke penerbit digital. Ia kirimkan ke sebuah penerbit konvensional, yang masih menggunakan amplop coklat dan materai tempel, yang masih meminta sinopsis tiga halaman dan biografi penulis dengan foto terbaru berlatar belakang polos.Proses seleksinya memakan waktu delapan bulan. Dalam delapan bulan itu, ia mendengar bahwa beberapa penulis ramai memprotes platform AI yang menggunakan karya mereka sebagai data latih. Ia mendengar bahwa di negara-negara lain, hakim-hakim mulai memutuskan perkara pertama tentang hak cipta dan kecerdasan buatan. Ia mendengar bahwa ada draft Perpres AI yang beredar, tapi belum ditandatangani.Di Indonesia, beredar tapi belum ditandatangani adalah kondisi menunggu dari segala sesuatu.


135Surat penerimaan datang pada pagi yang berbau toner dan kopi instan yang sama. Penerbit menerima naskahnya. Mereka menulis: \"Karya Bapak memiliki kedalaman yang langka dalam prosa Indonesia kontemporer. Kami yakin pembaca akan menemukan diri mereka di dalamnya.\"Sutrisno membaca surat itu tiga kali. Kemudian ia lipat dan masukkan ke laci meja. Kemudian ia buka lagi dan baca sekali lagi.Kemudian ia pergi ke mesin photocopy di ujung lorong, menggandakan surat itu dua lembar—satu untuk arsip pribadi, satu untuk dilaminating—dan kembali ke kursinya yang cekung.Mesin photocopy itu tidak bertanya untuk apa surat ini digandakan. Ia hanya menggandakan.Tapi Sutrisno tahu untuk apa. Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, itu sudah cukup.V. P AK DARMAWANDi sebuah kantor pemerintahan yang sunyi, Pak Darmawan duduk di balik meja kayu tua. Ia seorang PNS yang lahir jauh sebelum kata Artificial Intelligence menjadi jargon populer, sebelum Perpres tentang AI disahkan, bahkan sebelum revisi UU Hak Cipta menyalakan perdebatan panjang di ruang-ruang akademik.Pak Darmawan bukan sekadar pegawai negeri. Ia menulis cerpen, puisi, dan catatan harian tentang kehidupan birokrasi. Baginya, setiap berkas yang menumpuk adalah metafora tentang nasib manusia: menunggu tanda tangan, menunggu stempel, menunggu pengakuan.Pak Darmawan bukan PNS biasa; dia adalah seorang penulis sastra kelas berat—sebuah hal yang jarang ditemui di kalangan pegawai negeri. Pak Darmawan menghabiskan malam-malam panjangnya di bawah lampu temaram rumah dinasnya. Kertas-kertas berserakan, tinta pena memenuhi jemarinya. Dia menulis cerita-cerita yang terinspirasi dari tumpukan dokumen usang di kantornya—dokumen-dokumen yang sering dianggap tak berguna oleh rekan-rekannya. Dalam arsip-arsip itu, ia menemukan kisah-kisah kuno tentang perjuangan, cinta, dan pengkhianatan, yang kemudian ia sulap menjadi cerpen dan puisi penuh makna.Suatu sore, ia menulis: \"Sastra PNS adalah genre yang lahir dari antrean panjang, dari tinta yang kering di mesin ketik, dari kopi pahit yang diseduh di ruang arsip.\"Melawan AI dengan Sastra Asli ManusiaPak Darmawan mulai menulis cerpen-cerpen yang menggambarkan dunia di mana manusia kalah oleh ciptaan mereka sendiri.


136Salah satu karyanya yang paling terkenal berjudul \"Arsip Terakhir\", sebuah cerita tentang seorang pria tua yang menjaga dokumen-dokumen bersejarah di sebuah perpustakaan yang hendak dimusnahkan karena dianggap sudah tak relevan. Dalam cerita itu, pria tua tersebut menemukan bahwa dokumen-dokumen itu menyimpan rahasia besar tentang sejarah bangsa, yang jika dilupakan, akan membawa kehancuran. Cerita ini adalah metafora dari perlawanan Pak Darmawan terhadap dominasi teknologi. Cerpen-cerpen Pak Darmawan dengan cepat menjadi viral di kalangan pembaca sastra di media sosial.Orang-orang mulai menyadari pesan yang ia sampaikan: manusia harus tetap menjadi pusat dari segala hal, termasuk dalam dunia kreatif. Beberapa rekan kerjanya, mulai mendukung perjuangannya. Mereka bahkan membentuk klub sastra kecil di kantor, di mana mereka membaca dan membahas karya-karya Pak Darmawan setiap minggu.Namun, perjuangan Pak Darmawan tidak berhenti di sana. Ia memutuskan untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya: menulis novel panjang yang akan menjadi \"perlawanan terakhirnya\" terhadap AI. Novel itu berjudul \"Manusia di Tengah Mesin\", sebuah kisah epik tentang seorang pegawai negeri yang mencoba menyelamatkan warisan budaya bangsanya dari kehancuran di tangan teknologi.Namun, dunia berubah. Anak-anak muda mulai berbicara tentang hak cipta digital, tentang algoritma yang bisa menulis puisi lebih cepat daripada manusia. Pak Darmawan merasa seakan-akan karyanya terancam tenggelam. Ia bertanya dalam hati: apakah cerpen tentang pegawai negeri masih punya tempat di era AI?Di ruang kerjanya, ia menatap jendela. Di luar, pepohonan bergoyang, seolah mengingatkan bahwa sastra tidak pernah mati. Sastra lahir dari manusia, dari rasa lelah, dari harapan kecil yang diselipkan di antara tumpukan berkas.Pak Darmawan menutup bukunya dengan senyum tipis. Ia tahu, meski Perpres AI akan mengatur mesin, dan revisi UU Hak Cipta akan mengatur kepemilikan ide, sastra PNS tetap hidup. Ia adalah saksi zaman: genre yang lahir dari birokrasi, tumbuh dari kantor, dan bertahan sebagai suara manusia di tengah riuh teknologiSatu hal yang tidak bisa mereka gantikan adalah perasaan, pengalaman, dan jiwa yang kita tuangkan dalam setiap kata. Sastra bukan hanya soal tulisan, tapi juga soal hati.\"Dan dengan itu, Pak Darmawanmenutup bukunya, menyalakan segelas kopi, dan menyambut malam dengan senyuman.VI.KISAH FERIZ AL


137Di sebuah kota kecil di Indonesia, terdapat seorang pegawai negeri sipil (PNS) bernama Ferizal. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya berdedikasi dalam pekerjaannya, tetapi juga memiliki kecintaan yang mendalam terhadap sastra. Ferizal percaya bahwa sastra adalah jembatan untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan.Awal Mula Kecintaan Terhadap SastraSejak kecil, Ferizal sudah terpapar dengan berbagai karya sastra. Ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan, membaca novel-novel klasik dan puisi-puisi indah. Kecintaannya ini semakin berkembang ketika ia mulai bekerja di Puskesmas Muara Satu. Di sana, ia melihat banyak tantangan yang dihadapi masyarakat, terutama dalam hal kesehatan. Ferizal pun bertekad untuk menggunakan sastra sebagai alat untuk mendidik dan menginspirasi masyarakat.Menciptakan Genre Sastra PNSFerizal mulai menulis cerita pendek dan novel yang mengangkat tema kesehatan. Ia menciptakan genre sastra baru yang dikenal sebagai \"Sastra PNS\". Dalam karyanya, ia menggabungkan elemen-elemen fiksi dengan informasi kesehatan yang akurat. Misalnya, dalam salah satu novelnya, ia menceritakan kisah seorang dokter yang berjuang melawan penyakit menular di desanya. Melalui cerita tersebut, Ferizal tidak hanya menghibur pembaca, tetapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan.Tantangan dan PerubahanNamun, perjalanan Ferizal tidaklah mudah. Ia menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika isu Peraturan Presiden (Perpres) tentang kecerdasan buatan (AI). Banyak orang mulai meragukan relevansi sastra di era digital ini. Ferizal merasa bahwa sastra tetap memiliki tempat yang penting, bahkan di tengah kemajuan teknologi. Ia berusaha meyakinkan rekan-rekannya bahwa sastra dapat beradaptasi dan bahkan berkolaborasi dengan teknologi.Revisi UU Hak Cipta dan Perlindungan KaryaDi tengah perdebatan tentang AI dan hak cipta, Ferizal juga aktif dalam memperjuangkan perlindungan karya sastra. Ia menyadari bahwa banyak penulis yang khawatir akan plagiarisme dan penggunaan karya mereka tanpa izin. Ferizal berpartisipasi dalam diskusi mengenai revisi Undang-Undang Hak Cipta, berupaya untuk memastikan bahwa hak-hak penulis dilindungi dengan baik. Ia percaya bahwa perlindungan ini akan mendorong lebih banyak orang untuk menulis dan berbagi karya mereka.Menuju Indonesia Emas 2045


138Dengan semangat yang tak pernah padam, Ferizal terus berkarya. Ia berharap bahwa melalui sastra, ia dapat berkontribusi pada visi Indonesia Emas 2045. Ia ingin generasi mendatang tidak hanya mengenal sastra sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk membangun kesadaran dan pengetahuan. Ferizal percaya bahwa sastra PNS yang ia ciptakan akan menjadi bagian dari warisan budaya yang berharga bagi bangsa.PenutupCerita Ferizal adalah contoh nyata bagaimana seorang PNS dapat berperan aktif dalam dunia sastra. Ia menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dari perkembangan teknologi dan perubahan regulasi, semangat untuk berkarya dan berbagi pengetahuan tidak akan pernah pudar. Dengan dedikasi dan kreativitas, Ferizal telah menciptakan genre sastra yang tidak hanya relevan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.— T a m a t —


139Puisi : PNS Pelayan Publik ( 1 )Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaSumpah diucap di bawah kitab suci, Menjadi benteng dari godaan yang memikat diri, Sebab pengabdian tak diukur dari angka di slip gaji, Tapi dari seberapa tulus janji ditepati.Di bawah naungan sumpah yang sakral dan abadi,Kau berdiri tegak, memeluk amanah di relung hati.Bukan kilau singgasana atau pundi yang kau cari,Hanya panggilan suci untuk berbakti pada negeri.Di bawah panji korps yang tersemat rapi,Langkahmu berderu mengawali hari.Bukan sekadar seragam yang melekat di sanubari,Tapi janji setia untuk nusa, bangsa dan negeri.Kau adalah jembatan di tengah birokrasi,Menyambut keluh dengan senyum yang tulus hati.Lembar demi lembar berkas kau teliti,Memastikan hak rakyat terpenuhi dengan pasti.Tanpa harus menunggu sanjungan dan puji,Dari hiruk-pikuk kota hingga desa sunyi,,PNS, pelayan yang tak kenal lelah mengabdi,Integritasmu adalah kompas yang hakiki. PNS, pelayan bagi negeri,mengabdi tanpa banyak janji.Dalam diam kami bekerja pasti,demi masyarakat, demi Indonesia yang berarti.


140Karena menjadi pelayan publik sejati,bukan sekadar tugas yang harus dijalani,melainkan panggilan hati—untuk melayani dengan sepenuh diri.Dengan akuntabilitas, kompetensi, Menjawab pertanyaan, memberi solusi, Engkau adalah jembatan aspirasi, Penyambung lidah antara rakyat dan negeri.Engkau pelita di rimbunnya belantara birokrasi,Menjemput keluh kesah dengan lapang hati.Lembar demi lembar kau telusuri dengan teliti,Demi memastikan hak rakyat tegak berdiri.Di tengah badai, kau tetap berdiri,Menjaga integritas, melayani sepenuh hati,PNS, pelayan publik yang sejati,Mewujudkan cita, demi bangsa dan negeri.Di antara keluh rakyat yang datang silih berganti,Kau hadirkan senyum, memanusiakan hati yang menanti. Kompetensi adalah senjatamu, akuntabilitas adalah perisai,Menyulap air mata publik menjadi wujud hak yang pasti.Di ambang sumpah, di bawah saksi langit yang tinggi,Kau tanggalkan ego, kau balut diri dengan janji, Dalam sunyi kau bekerja, dalam hening kau mengabdi,Hingga Indonesia berjaya, abadi di sanubari


141PNS, pelayan publik sejati, Bukan mencari pujian diri, Tapi menyalakan harapan abadi, Mengabdi demi negeri ini, Puisi : PNS Pelayan Publik ( 2 )Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaSumpah terucap di hadapan Sang Pencipta, Menjadi tameng dari godaan fana yang nyata, Sebab bakti bukan soal harta dalam berita, Tapi tentang tulusnya janji yang tetap terjaga.Di balik seragam yang rapi penuh wibawa, Langkahmu tegap membawa harapan bangsa, Bukan sekadar lencana yang menghias dada, Tapi sumpah setia untuk seluruh tumpah darah Indonesia.Engkaulah jembatan bagi rintihan warga, Menyambut keluh kesah dengan jiwa terbuka, Lembar demi lembar berkas diperiksa saksama, Memastikan hak rakyat tersampaikan tanpa cela.Tanpa perlu haus akan sanjung dan karsa, Dari kota yang ramai hingga pelosok desa, PNS bekerja, tak kenal lelah maupun masa, Integritas adalah kompas dalam meniti cakrawala.


142PNS adalah pelayan bagi seluruh sesama, Mengabdi tanpa perlu banyak bicara, Dalam senyap kami bekerja dengan rida, Demi masyarakat, demi kejayaan nusantara.Karena menjadi pelayan publik yang utama, Bukan sekadar rutinitas tugas yang biasa, Melainkan panggilan hati yang penuh cinta, Untuk melayani dengan jiwa dan raga.Dengan akuntabilitas dan kompetensi yang nyata, Memberi jawaban atas segala tanya, Engkaulah penyambung lidah para jelata, Menyatukan cita antara rakyat dan negara.Di tengah badai kau teguh menjaga etika, Memegang kejujuran, melayani penuh setia, PNS, pelayan publik yang penuh makna, Mewujudkan mimpi demi bangsa yang merdeka.Menjembatani harapan rakyat dengan cita-cita,Detak pengabdian yang mengalir dalam sukma, Bukan demi mengejar kemasyhuran fatamorgana, Mengabdi tulus untuk kemajuan negara.


143Puisi : PNS Pelayan Publik ( 3 )Karya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaSumpah terucap di bawah cahaya,Kitab suci jadi saksi setia,Menjadi benteng dari goda dunia,Sebab pengabdian lahir dari jiwa.Bukan diukur dari angka semata,Yang tertera rapi di slip kerja,Namun dari janji yang dijaga,Dan langkah lurus penuh makna.Di bawah panji yang kau bawa,Langkah pasti mengawali masa,Bukan sekadar seragam di raga,Namun tekad untuk bangsa dan negara.Kau jembatan harapan mereka,Yang datang dengan keluh dan rasa,Senyum tulus jadi bahasa,Menguatkan hati yang terluka.Lembar berkas kau baca seksama,Tak lelah walau waktu terbatas saja,Demi hak rakyat yang seharusnya,Terpenuhi dengan adil merata.Tanpa menanti pujian fana,Dari kota hingga desa sunyi adanya,Engkau hadir membawa cahaya,Mengabdi tanpa pamrih jiwa.


144PNS, pelayan bangsa tercinta,Integritasmu arah utama,Dalam diam bekerja nyata,Demi Indonesia yang bermakna.Menjadi pelayan bukan sekadar peran saja,Namun panggilan hati yang menyala,Untuk memberi sepenuh rasa,Dan mengabdi tanpa batas daya.Dengan kompetensi dan tanggung jawab nyata,Menjawab tanya dan beri asa,Kau sambung suara rakyat jelata,Menjadi lidah bagi negara.Tersenyum tulus meski penat merajam raga,Itulah sejatinya jiwa, pelayan bagi nusa.Kau rajut fondasi bangsa dengan jemari penuh cinta,Menggenggam janji yang lebih berharga dari permata.Di tengah badai yang menerpa,Kau tetap tegak tanpa goyah,Menjaga nilai dan etika,Melayani dengan jiwa mulia.Di tengah badai, kau tetap kokoh berwibawa,Menyalakan lilin harapan di setiap tatap mata.Sebab bagimu, pelayanan adalah muara segalanya,Demi Indonesia jaya, kini dan selamanya.Bukan untuk memburu bayang-bayang benda yang fana,Namun menjadi detak bagi nadi nusa yang sedang membina,


145Di balik meja yang dingin dan tumpukan aksara,Ada tanganmu yang hangat, melunaskan dahaga saudara.PNS, pelayan publik sejati adanya,Mengabdi tulus sepanjang masa,Bukan untuk pujian manusia,Namun menyalakan harapan bangsa.KATA KATA MUTIARA BIJAK FERIZAL BAPAK SASTRA PNS INDONESIA :\"Kesuksesan sejati seorang abdi negara bukan saat ia naik jabatan, melainkan saat masyarakat tersenyum karena urusannya selesai tanpa beban.\"\"Seragam ini bukan pemberian, melainkan pinjaman dari rakyat. Jangan kembalikan dalam keadaan ternoda oleh kepentingan pribadi.\"


146Cerpen : PNS Garda Terdepan Pelayanan, Demi Pengabdian dan PatriotismeKarya : Ferizal Bapak Sastra PNS IndonesiaMatahari belum sepenuhnya bangun di ufuk timur desa, namun Bidan Hesti sudah berdiri di dermaga kayu yang mulai lapuk dimakan usia dan garam. Seragam putihnya tersetrika rapi, kontras dengan latar belakang langit subuh yang masih menyisakan sisa-sisa jelaga malam. Di dadanya, sebuah pin kecil bertuliskan Korps Pegawai Republik Indonesia berkilat tertimpa cahaya lampu minyak dari bagang nelayan di kejauhan.Bidan Hesti adalah seorang Abdi Negara. \"Bidan desa kami sudah setahun lebih kosong,. Ibu Yuni pindah ke kota waktu suaminya dapat kerja di pabrik. Sejak itu, kalau ada ibu yang mau melahirkan, harus dibawa pakai motor ke kota. Sudah ada dua kali hampir celaka di jalan.\" kata Kepala Puskesmas setelah koordinasi dengan Dinas KesehatanBagi Bidan Hesti, di pulau terluar ini, menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah tentang menjadi napas terakhir dari kehadiran negara bagi rakyatnya.Bidan Hesti menatap Kepala Puskesmas sebentar.\"Pak, saya punya satu prinsip yang saya pegang sejak pertama kali masuk PNS. Orang yang paling butuh pelayanan negara itu justru yang paling susah dijangkau. Kalau kita pilih yang mudah-mudah saja, berarti kita mengabdi pada kenyamanan kita sendiri, bukan pada negara. Ini soal pemberdayaan masyarakat yang berkaitan langsung dengan kesehatan dasar.\"Kepala Puskesmas tidak menjawab. Tapi ada sesuatu yang berkilat di sudut matanya—campuran antara harapan dan rasa syukur yang tidak sempat terucap.\"Pagi, Bidan Hesti. Mau menyeberang sekarang?\" sapa Pak Tua, seorang nelayan yang perahunya sering disewa untuk keperluan puskesmas pembantu.


147\"Iya, Pak. Jadwal imunisasi di pemukiman warga kampung sana tidak bisa menunggu. Kabarnya ada balita yang mulai demam,\" jawab Bidan Hesti sambil menata kotak pendingin berisi vaksin ke dalam perahu.Perjalanan itu bukan sekadar membelah ombak. Itu adalah perjalanan menembus batas kesabaran. Selama tiga jam, Bidan Hesti dihantam ombak yang sesekali masuk ke dalam perahu, membasahi sepatunya yang disemir mengkilap setiap pagi. Di tas punggungnya, tersimpan bukan hanya peralatan medis dan dokumen kependudukan warga yang harus dibantu validasi, tetapi juga harapan-harapan masyarakat.Sesampainya di pemukiman terapung, Bidan Hesti disambut oleh wajah-wajah yang penuh harap sekaligus rindu. Sebagai seorang tenaga kesehatan sekaligus penyambung lidah negara, Bidan Hesti harus berperan ganda. Ia bukan hanya membantu persalinan, tapi juga meyakinkan para orang tua bahwa setetes vaksin adalah bentuk patriotisme modern—menjaga generasi penerus agar tidak cacat oleh zaman.************\"Kenapa Ibu jauh-jauh ke sini? Di kota bukannya lebih enak?\" tanya seorang ibu di desa saat Bidan Hesti sedang duduk di teras rumah panggung, mengisi catatan kesehatan warga di bawah temaram lampu petromaks.Bidan Hesti tersenyum, menyeka keringat di dahi dengan sapu tangan. \"Kalau semua orang memilih yang enak, siapa yang akan berdiri di depan pintu rumah kalian saat negara ingin menyapa? Seragam ini bukan baju kerja, ini adalah janji. Setiap kancingnya adalah tanggung jawab. Saya memilih penempatan di pelosok bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena di sini saya benar-benar dibutuhkan.\"\"Saya tidak tahu apakah saya sudah mengabdi dengan baik,\" katanya akhirnya, suaranya sedikit bergetarIa berhenti sebentar.


148\"Panji pertiwi ini—\" ia menoleh sebentar ke bendera merah putih yang berkibar di tiang, \"—bukan milik kita. Kita hanya diberi kepercayaan untuk menjaganya. Saya harap temanteman semua terus menjaganya dengan baik. Lebih baik dari yang sudah saya lakukan.\"Malam itu, Bidan Hesti terlambat pulang. Di atas tikar pandan bersama warga, mendengarkan keluh kesah tentang akses air bersih yang sulit dan gizi anak-anak yang paspasan. Baginya, inilah garda terdepan. Bukan di medan perang dengan senapan, melainkan di garis kesehatan dengan jarum suntik, pena, dan empati.Patriotisme bagi Bidan Hesti tidak lagi tentang teriakan merdeka di podium-podium megah. Patriotisme adalah saat ia berhasil membujuk seorang ibu untuk menyekolahkan anaknya, atau saat ia memastikan bantuan kesehatan sampai ke tangan yang benar tanpa kurang satu butir pun. Ia sadar, sebagai PNS, ia adalah wajah pertama yang dilihat rakyat ketika mereka bertanya, \"Di mana negara saat kami susah?\"Ketika ia kembali ke dermaga utama keesokan harinya, tubuhnya lelah, kulitnya makin legam terbakar matahari laut. Namun, saat ia melihat bendera Merah Putih berkibar di halaman kantor kecamatan yang mungil, dadanya berdesir. Ia merapikan kerah seragamnya, berdiri tegak sejenak, dan memberikan hormat dalam diam.Ia bukan sekadar pegawai. Ia adalah penjaga nyala api kebangsaan di beranda paling depan republik ini. Demi pengabdian yang tak menuntut puji, dan patriotisme yang mengalir sunyi dalam setiap tindakan medis dan langkah kakinya di atas tanah berbatu. Di sana, di antara deburan ombak dan keterbatasan, Bidan Hesti bangga menjadi bagian dari tulang punggung bangsa yang tak terlihat, namun selalu ada.Pengabdian itu seperti pohon kelapa, Akarnya dalam di tanah air, buahnya untuk rakyat.Pengabdian bukan drama yang perlu penonton. Ia adalah pekerjaan yang dilakukan dalam sunyi, dalam lorong-lorong yang beraroma kertas tua dan tinta pena, dalam perjalananperjalanan yang tidak ada di buku harian siapa pun kecuali buku harian si pengabdi sendiri.Negerinya masih di sini. Masih sama cantiknya.Itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup.


149********Matahari baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon angsana ketika Bidan Hesti sudah berdiri tegak di depan cermin tua yang permukaannya mulai buram. Hari ini ada kunjungan dari pusat ke desa terpencil di seberang sungai.Bidan Hesti adalah seorang Pengawai Negeri Sipil di Puskesmas yang letaknya berada di garis \"pinggiran\". Jauh dari gemerlap ibu kota, jauh dari kemudahan fasilitas digital yang sering didengung-angungkan di televisi. Di sini, pelayanan publik adalah kerja otot sekaligus kerja hati.Perjalanan Menuju Garis DepanBidan Hesti mendapati sungai yang harus diseberanginya meluap. Jembatan gantung kecil bergoyang hebat tertiup angin. Seorang warga menyarankan untuk menginap saja di desa. Tetapi Bidan Hesti harus menolong persalinan. Menjadi PNS adalah tentang menjadi garda terdepan yang menjaga denyut nadi kehidupan masyarakat. Ini adalah tentang patriotisme modernPerjalanan menuju Desa Sejahtera—nama yang ironis mengingat aksesnya yang sulit—membutuhkan waktu tiga jam. Patriotisme bukan lagi soal angkat senjata di medan lagaAlmarhum ayahnya, yang juga seorang guru PNS di pelosok. Bidan Hesti selalu terngiang suara ayahnya setiap kali ia merasa lelah. Bagi Bidan Hesti, setiap upaya persalinan yang ia bawa adalah harapan. Dan ia adalah kurir harapan itu. Ia adalah wajah negara yang sebenarnya: melayani, bukan dilayani.Makna Sebuah PengabdianDi bawah remang lampu jalan, tercium aroma keringat dan debu jalanan—aroma dari sebuah perjuangan yang tulus. Pukul sembilan malam, Bidan Hesti baru sampai di rumah. Tubuhnya menggigil karena kehujanan, tapi matanya berbinar setelah menolong persalinan.


150PNS mengikis sekat antara pemerintah dan rakyat, dan memastikan bahwa kehadiran negara dirasakan hingga ke pelosok paling sunyi. Ia bukan pahlawan yang namanya terpahat di monumen perunggu. Ia hanyalah seorang abdi negara yang setia.


Click to View FlipBook Version