reproduksi kelas XI IPA SMA Negeri 2 Kendal berpengaruh positif terhadap
kemampuan berpikir kritis peserta didik.
j. Pengembangan Model Pembelajaran IPA Terintegrasi Etnosains untuk
meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritif (Damayanti,
Rusilowati & Linuwih, 2017)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) karakteristik model
pembelajaran IPA terintegrasi etnosains yang dikembangkan, (2) kelayakan
model pembelajaran IPA terintegrasi etnosains dan (3) keefektifan penerapan
model pembelajaran IPA terintegrasi etnosains dalam peningkatan hasil belajar
dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Model pembelajaran IPA
terintegrasi etnosains merupakan model pembelajaran yang bertujuan
menciptakan lingkungan-lingkungan untuk mempermudah pembelajaran dengan
mengaitkan antara budaya dan materi sains yang dikemas dalam etnosains. Model
pembelajaran IPA terintegrasi etnosains mengajak peserta didik untuk
berinteraksi langsung dengan budaya lokal dan menggali ilmu pengetahuan
(sains) yang ada pada budaya lokal tersebut. Model pembelajaran IPA terintegrasi
etnosains juga dilengkapi dengan faktor pendukung dalam keterlaksanaan
pembelajaran antara lain silabus terintegrasi etnosains, RPP terintegrasi etnosains,
bahan ajar terintegrasi etnosains, dan soal terintegrasi etnosains.
Pembelajaran pada kelas eksperimen dilakukan sesuai sintaks model
pembelajaran IPA terintegrasi etnosains. Kemampuan berpikir kreatif peserta
didik dilatih dengan pemberian masalah yang harus diselesaikan oleh peserta
didik. Kunjungan belajar ke home industry Batik Bakaran menambah pengalaman
dan wawasan peserta didik. Belajar dengan mengaplikasikan konsep IPA pada
kehidupan sehari-hari akan mempermudah peserta didik dalam mengingat dan
memahami materi pembelajaran. Berbeda dengan kelas eksperimen, kelas kontrol
hanya melakukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas tanpa ada kegiatan
pembelajaran “terintegrasi etnosains”. Pengetahuan peserta didik terhadap konsep
IPA pada Batik Bakaran terbatas. Model pembelajaran IPA yang terintegrasi
etnosains diharapkan sebagai salah satu unsur penunjang pembelajaran agar
tercipta pembelajaran yang efektif dengan memasukkan nilai-nilai budaya di
dalamnya, sehingga peserta didik tidak melupakan budaya-budaya yang ada di
suatu daerah tertentu.
94
Hasil penelitian memberikan informasi bahwa Model pembelajaran IPA
yang dikembangkan adalah terintegrasi etnosains tema Batik Bakaran,
karakteristik model pembelajaran IPA terintegrasi etnosains terdiri atas delapan
komponen yaitu tujuan, sintaks (stimulasi, orientasi pada masalah, integrasi
etnosains, penyelesaian masalah, dan mengomunikasikan/menarik kesimpulan),
fondasi, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional
dan pengiring. Model pembelajaran IPA terintegrasi etnosains yang
dikembangkan layak digunakan pada proses pembelajaran, serta efektif
diterapkan dalam pembelajaran IPA.
Penelitian tentang berbagai penerapan etnosains dalam pembelajaran sains, baik
kimia, biologi, maupun fisika, sudah banyak dilakukan guna memberikan informasi
ilmiah bahwa pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang mampu
mengintegrasikan fenomena di lingkungan sekitar termasuk di dalamnya budaya
untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan sikap yang ebrbudi bagi peserta didik.
C. Rangkuman
Tulislah rangkuman berkenaan dengan materi yang telah dijabarkan dalam BAB IX buku
ajar ini!
D. Evaluasi
Jawablah soal-soal berikut dengan memilih jawaban yang paling tepat!
1. Etnosains berasal dari dua suku kata, yakni ...
a. Ethos (bangsa), bahasa Yunani, dan scientia (pengetahuan), bahasa Latin
b. Ethos (bangsa), bahasa Latin, dan scientia (pengetahuan), bahasa Latin
c. Ethos (bangsa), bahasa Latin, dan scientia (pengetahuan), bahasa Yunani
d. Ethos (pengetahuan), bahasa Yunani, dan scientia (bangsa), bahasa Latin
e. Ethos (pengetahuan), bahasa Latin, dan scientia (bangsa), bahasa Yunani
2. Termasuk dalam karakteristik pengetahuan sains asli masyarakat, kecuali ....
a. bersifat pengetahuan tetapi tidak berdasarkan pengalaman
b. bersifat pengetahuan berdasarkan pengalaman
c. belum terformalkan sebagai sumber belajar
d. pengetahuan belum pernah dikaji secara ilmiah
e. pengetahuan berdasarkan pengalaman yang belum terformalkan
95
3. Diantara manfaat menggunakan etnosains sebagai basis (dasar) dalam inovasi
pembelajaran, kecuali ....
a. Penurunan kemampuan berpikir kritis peserta didik
b. Peningkatan kemampuan kognitif dan berpikir kritis peserta didik
c. Mendukung terbentuknya minat peserta didik terhadap sains
d. Peningkatan jiwa kewirausahaan peseta didik
e. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif peserta didik
4. Contoh keterkaitan etnosains masyarakat dengan pembelajaran kimia, kecuali ....
a. mandai sebagai produk biokimia Kalimantan Selatan terkait dengan materi proses
fermentasi
b. tradisi manginang masyarakat Banjar, terkait dengan materi kimia bahan alam dan
manfaatnya dalam kehidupan/kesehatan
c. pembuatan kain sasirangan khas Kalimantan Selatan terkait dengan materi kimia
larutan dan ikatan kimia tentang fiksasi
d. pemilihan lahan atau tanah oleh petani lahan gambut setempat di Kalimantan
(termasuk Kalimantan Selatan) berdasarkan kedalaman lumpur, bau tanah, dan
jenis gulma, hal tersebut terkait dengan materi biokimia
e. batik pekalongan terkait materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dan proses
kromatografi
5. Termasuk ke dalam hal yang dapat dilakukan guru berkenaan dengan
mengimplementasian pembelajaran sains berbasis etnosains di sekolah adalah ...
a. Mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik tentang sains asli
b. Membangun pembelajaran secara individual
c. Bertindak sebagai pusat pembelajaran
d. Menutup kesempatan peserta didik untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya
e. Memberikan kesempatan peserta didik untuk melakukan semua hal yang
diinginkannya di dalam kelas
6. Diantara aspek cakupan dari studi tentang etnosains, kecuali ....
a. Penilaian historis
b. Referensi istilah dari kebudayaan spesifik dan kebudayaan terikat
c. Pendekatan terhadap masuknya berbagai subsistem pengetahuan dan teknologi
d. Berorientasi normatif
e. Mengkedepankan pendidikan moral dan karakter
7. Terdapat beberapa istilah yang sering muncul dalam kajian etnosains, kecuali ...
96
a. Traditional knowledge
b. Indigenous science
c. Local wisdom
d. Sains asli
e. Sains modern
8. Berikut fokus perhatian dalam pembelajaran berbasis etnosains, kecuali ...
a. Budaya Barat
b. Kearifan lokal
c. Adat istiadat budaya lokal
d. Karakter
e. Jati diri bangsa
9. Salah satu tujuan Kurikulum 2013 adalah untuk menghasilkan manusia Indonesia yang
berkualitas dengan pendidikan yang berakar pada budaya bangsa yang beragam,
merupakan isi dari ...
a. Permendikbud RI Nomor 59 Tahun 2013
b. Permendikbud RI Nomor 59 Tahun 2003
c. Permendikbud RI Nomor 69 Tahun 2013
d. Permendikbud RI Nomor 69 Tahun 2003
e. Permendikbud RI Nomor 69 Tahun 2000
10. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan ketika ingin mengintegrasikan etnosains ke
dalam pembelajaran sains menurut George (1991), kecuali ...
a. Pengetahuan sains asli masyarakat yang dipelajari merupakan sains yang
bermakna dan berguna dalam kehidupan/pembelajaran di sekolah
b. Metodologi yang digunakan harus menjembatani pengetahuan konvensional ke
pengetahuan ilmiah.
c. Pengetahuan sains asli masyarakat yang dipelajari merupakan sains yang
bermakna dan berguna dalam kehidupan/pembelajaran di sekolah.
d. Pengetahuan asli tradisional meliputi pemahaman tentang fenomologis alam
semesta.
e. Keterkaitan antara budaya sains dengan materi di sekolah bukan menjadi perhatian
penting.
97
E. Umpan Balik
Cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban evaluasi dan hitunglah jumlah
jawaban anda yang benar. Gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda dalam materi kegiatan belajar di atas.
Rumus:
= %
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90%-100% = Baik sekali
80%-89% = Baik
70%-79% = Sedang
<70% = Kurang
F. Tindak Lanjut
Carilah minimal 2 berita atau kasus dari majalah atau koran atau artikel jurnal
nasional/internasional berkenaan dengan dengan dengan implementasi etnosains dalam
pembelajaran sains. Selanjutnya diskusikan dan reviewlah berita atau kasus tersebut
bersama teman kelompok Anda, temukan permasalahan yang ada dan berikan alternatif
penyelesaian masalahnya!
98
DAFTAR PUSTAKA
Abonyi, S. O., Achimugu, L., & Njoku, M. I (2014) Innovations in Science and Technology
Education: A Case for Ethnoscience Based Science Classrooms. International Journal
of Scientific & Engineering Research, 5(1).
Arfianawati, S., Sudarmin, & Sumarni, W. (2016). Model Pembelajaran Kimia Berbasis
Etnosains untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. Jurnal Pengajaran MIPA,
21(1), 46–51.
Ariningtyas, A., Wardani, S., & Mahatmanti, W. (2017). Efektivitas Lembar Kerja Siswa
Bermuatan Etnosains Materi Hidrolisis Garam untuk Meningkatkan Literasi Sains
Siswa SMA. Journal of Innovative Science Education, 6(2), 186–196.
https://doi.org/10.15294/jise.v6i2.19718
Arsyad, A. (2013) Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Atmojo, S. E. (2012) ‘Profil Keterampilan Proses Sains dan Apresiasi Siswa terhadap Profesi
Pengrajin Tempe dalam Pembelajaran IPA Berpendekatan Etnosains’, Jurnal
Pendidikan IPA Indonesia. doi: 10.15294/jpii.v1i2.2128.Ahtee and Varjoli. 1998.
Misconceptions (http://www.daisley.net/
hellevator/misconceptions/misconceptions.pdf) diakses 19 Maret 2008.
Austin, G.T. 2014. Shreve’s Chemical Process Industries. New York: McGraw-Hill Book
Company.
Bangun, M. (2004). Pengembangan Wilayah Desa Pantai Berbasis Perikanan Pesisir
Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat. Tesis. Medan: Universitas Sumatera
Utara.
BPS Tala. (2011). Kabupaten Tanah Laut dalam Angka 2011. Pelaihari: Badan Pusat Statistik
Kabupaten Tanah Laut bekerja sama dengan Bappeda Kabupaten Tanah Laut.
Basuki, Ismet dan Hariyanto. 2014. Asesmen Pembelajaran. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Battiste, M. (2002). Indegenous Knowledge: Foundation for First Nations. Canada: University
of Saskatchewan.
Dahuri, R.,J.Rais, S.P Ginting, dan M.J. Sitepu (2001) Pengelolaan Sumberdaya Wilayah
Pesisir dan Lautan Secara Terpadu Pradnya.Paramita: Jakarta Indrawadi, (2008),
Rumpon Menetap, Mampu Atasi Masalah Nelayan, Universitas Bung Hatta: Padang.
99
Damayanti, C., Rusilowati, A., & Linuwih, S. (2017). Pengembangan Model Pembelajaran IPA
Terintegrasi Etnosains untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir
Kreatif. Journal of Innovative Science Education, 6(1), 116–128.
https://doi.org/10.15294/jise.v6i1.17071
Dinissjah, M. J., Nirwana, N., & Risdianto, E. (2019). Penggunaan Model Pembelajaran Direct
Instruction Berbasis Etnosains Dalam Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Kumparan Fisika, 2(2), 99–104.
https://doi.org/10.33369/jkf.2.2.99-104
Duitt. (2007). Science Education Research Internationally: Conception, Research Methods,
Domains of Research. Eurasia.
Effendi. 2018. Eksperimen Dengan Program S1 Mipa Sekolah Menengah Bertaraf
Internasional (SBI). Lokakarya Penyusunan Kurikulum Guru SBI. Surakarta: Jurusan
P.MIPA-FKIP-UNS Fach, Martin.
Eggen, Paul Don Kouchak. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Jakarta: PT Indeks.
Fitriani, N. I., & Setiawan, B. (2017). EFEKTIVITAS MODUL IPA BERBASIS ETNOSAINS
TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA.
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 2(2), 71–76.
http://www.tjyybjb.ac.cn/CN/article/downloadArticleFile.do?attachType=PDF&id=9
987
Fraenkel, J.R. & Wallen, N.E. 2006. How to Design and Evaluate Research in Education. Cet.
Ke-6. New York: McGraw-Hill.
Fredy Kurniawan. 2006. (http://groups.yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files/, Jun
25, 2006) diakses 24 Juli 2021
Habibi, Anekawati, A. and Wati, H. D. (2012a) Hambatan Guru IPA SMP di Daerah Pesisir
Sumenep untuk Mengembangkan Pembelajaran Kontekstual. Sumenep: FKIP Unija
Huhey, J. E. 1978. Inorganic Chemistry: Prinxiples of Structure and Reactivity. New York:
Harper and Row Publisher.
Indarwati, D. (2014). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Melalui
Penerapan Problem Based Learning Untuk Siswa Kelas V SD.
Indrawati, M. & Qosyim, A. (2017). Keefektifan Lembar kerja Siswa (LKS) berbasis Etnosains
pada Materi Bioteknologi untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas
IX. E-Journal UNESA, 5 (2).
Kementerian Pendidikan Nasional, Universitas Lambung Mangkurat. (2011). Rencana Induk
Penelitian Universitas Lambung Mankurat.
100
Khoiriyah, Z., Astriani, D., & Qosyim, A. (2021). EFEKTIVITAS PENDEKATAN ETNOSAINS
DALAM PEMBELAJARAN DARING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN
HASIL BELAJAR SISWA MATERI KALOR. 9(3), 433–442.
Mamar, Sulaiman. (2013) Perubahan Kebudayaan Petani Ladang Di Indonesia, Suatu Kajian
Pengambilan Keputusan. Kanisius: Yogyakarta.
Mawaddah, Siti, Anisah, Hana. (2015). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
Pada Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Generatif
(Generatif Learning) di SMP. FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Volume 3, No 2,
Oktober 2015.
Mortimer, C. E. 1979. Chemistry: A Conceptual Approach. New York: d.VanNostrand
Company Verbeek, M. 1972. Psikologi Umum: Ingatan. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Nurlaili, & Fuadi, C. (2019). PENGARUH MODEL ANALOGI BERBASIS ETNOSAINS
UNTUK MENCEGAH KESALAHAN KONSEP SISWA. Bio-Lectura: Jurnal
Pendidikan Biologi, 6(2), 109–117.
Okebukola, P. (1989). Influence of Science of Social-Cultural Factor on Secondary Student’s
Attitude toward Science. Research in Science Education. 19, 155-164
Perwitasari, T., Sudarmin, S., & Linuwih, S. (2017). Peningkatan Literasi Sains Melalui
Pembelajaran Energi Dan Perubahannnya Bermuatan Etnosains Pada Pengasapan Ikan.
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 1(2), 62. https://doi.org/10.26740/jppipa.v1n2.p62-
70
Prakoso, Urip. 2006. Persoalan dalam Pembelajaran Kimia
SMA (http://www.groups_yahoo.com/group/pengajaran_kimia_sma /files) diakses 24
Juli 2021
Prakoso, Urip. 2006. Metafora Atau Analogi Dalam Pengajaran Kimia
http://www.groups_yahoo.com/group/pengajaran_kimia _ sma/files, 25 Juli 2006)
diakses 24 Juli 2021
Pribula, A. J. 1996. Some Comments/Suggestions for Studying General Chemistry
(www.study suggestion for g_chem.htm, 1996) diakses 19 Maret 2008.
Porsanger, J. (1999). An Essay about Indegeneous Methodology. Article.
Rahayu, W. E., & Sudarmin. (2015). Pengembangan Modul IPA Terpadu Berbasis Etnosains
Tema Energi dalam Kehidupan untuk Menanamkan Jiwa Konservasi Siswa. Unnes
Science Education Journal, 4(2)
101
Rahmalia, E. (2003). Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-Desa Pesisir Kota Bandar
Lampung. Tesis. Bogor: IPB
Rasmiati, Lutfiana, Herowati. (2018). Pengembangan Petunjuk Praktikum IPA Berbasis Kultur
Masyarakat Pesisir Untuk Siswa Kelas VII SMPN 5 Sumenep. LENSA (Lentera Sains):
Jurnal Pendidikan IPA Vol. 8 No. 1, Mei 2018, pp.38-53.
Satria, Arif. (2002). Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. PT Pustaka Cidesindo: Jakarta.
Siswoyo. 2011. Belajar Tumtas (Mastery Learning). Jakarta: Penerbit Airlangga.
Snively, G., & Corsiglia, J. (2000). Discovering Indegenous Science: Implication for Science
Education. USA: John Wiley & Sons, Inc.
Subali, B. Sopyan, A. & Ellianawati, E. (2015). Developing Local Wisdom based Science
Learning Design to Establish Positive Character in Elementary School. Jurnal
Pendidikan Fisika Indoneesia, 11 (1), 1-7. https://doi.org/10.15294/jpfi.v11i1.3998.
Sudarmin. (2015). Pendidikan Karakter, Etnosains dan Kearifan Lokal (Konsep dan
Penerapannya dalam Penelitian dan Pembelajaran Sains). Semarang: FMIPA, Unnes.
Sudarmin. (2018). Pendekatan Karakter, Etnosains, dan Kearifan Lokal (Konsep dan
Penerapannya dalam Penelitian dan Pembelajaran Sains). Universitas Negeri
Semarang.
Sulaeman, E., dkk. (2016). Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Siswa Melalui Strategi Problem Based Learning Pada Kelas VIII-C SMP
Muhammadiyah 29 Sawangan Depok. Fibonacci: Jurnal pendidikan matematika dan
matematika Volume 2 Nomer 1, Juli 2016.
Sumarni, W. (2018). Etnosains dalam pembelajaran Kimia: Prinsip, Pengembangan dan
Implementasinya. UnnesPress.
Temuningsih, Peniati, E., & Marianti, A. (2017). Pengaruh Penerapan Model Problem Based
Learning Berpendekatan Etnosains Pada Materi Sistem Reproduksi Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Journal of Biology Education, 6(1), 70–79.
https://doi.org/10.15294/jbe.v6i1.14060
Utari, R., Andayani, Y., & Savalas, L. R. T. (2020). Pengembangan Modul Kimia Berbasis
Etnosains Dengan Mengangkat Kebiasaan Petani Garam. Jurnal Pijar Mipa, 15(5),
477. https://doi.org/10.29303/jpm.v15i5.2081
Wahyuni. 2015. Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan
Pemahaman, Pemecahan Masalah, dan Disposisi Matematis Siswa SMK. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia.
102
GLOSARIUM
Afektif : berkenaan dengan perasaan atau sikap
Analogi : persamaan; persesuaian antara dua benda hal yang berlainan
Artikel : karya tulis lengkap; laporan berita atau esai dalam majalah, dan
Dinamika sejenisnya
Eksternal : gerak (dari dalam)
Elektron : menyangkut bagian luar
Energi : satuan muatan listrik negatif
: kemampuan untuk melakukan kerja (misal untuk energi listrik dan
Eksplorasi
mekanika)
Faktual : penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih
Filosofi
Formal banyak
Fundamental : berdasarkan kenyataan; mengandung kebenaran
Gap : filsafat
Ilmiah : sesuai aturan yang sah; menurut adat kebiasaan yang berlaku; resmi
: bersifat dasar (pokok)
Independen : pembatas
Inkuiri : bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi persyaratan
Instruksional keilmuan
Intelegensi : berdiri sendiri; tidak terikat pada pihak lain
Internal : proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah
Interpretasi
Jurnal yang diajukannya
Karbon : tentang atau bersifat pengajaran
Keramik : reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat
: menyangkut bagian dalam
: pendapat; pemberian kesan; pandangan teoritis terhadap sesuatu
: majalah yang khusus memuat artikel dalam satu bidang ilmu tertentu
: unsur bukan logam; unsur dengan nomor atom 6
: tanah liat yang dibakar, dicampur dengan mineral lain; barang tembikar
(porselen)
103
Kognitif : berhubungan dengan atau melibatkan kognisi; berdasar pada
pengetahuan faktual yang empiris
Komplementer
Konfigurasi : bersifat melengkapi
Konseptual
Konstruktivisme : kedudukan atom yang satu terhadap atom yang lain dalam molekul
Korosi
: berhubungan dengan konsep
Kristal
: aliran pendidikan yang mengedepankan pengaturan pemikiran
Laboran
Makroskopik : proses; perubahan; perusakan yang disebabkan oleh reaksi kimia; proses
kimia atau elektrokimia yang kompleks yang merusak logam melalui
Marginal reaksi dengan lingkungannya
Metafora
Metode : unsur pembentukan batuan yang atomnya tersusun dan terikat oleh
kekuatan intermolekuler sehingga menjadi padat
Miskonsepsi
Mitos : ahli kimia atau sebagainya yang bekerja di laboratorium
Molekul : pernyataan sifat ukuran yang bisa dilihat dengan mata telanjang tanpa
bantuan alat pembesar
Objektif
: berhubungan dengan batas (tepi); tidak terlalu menguntungkan
Oral
Parsial : pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya
Partikel
: cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
Pendekatan disusun dalam bentuk kegiatan nyata & praktis untuk mencapai tujuan
Pesisir pembelajaran
: salah pengertian; salah paham
: mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan
bangsa tersebut, mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan
cara gaib
: bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom yang terikat
secara kimia
: mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau
pandangan pribadi
: bersangkutan dengan wicara lisan yang dieprtentangkan dengan tulisan
: berhubungan atau merupakan bagian dari keseluruhan
: unsur butir (dasar) benda atau bagian benda yang sangat kecil dan
berdimensi; materi yang sangat kecil, seperti butir pasir, elektron, atom,
atau molekul; zarah
: titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap proses pembelajaran
: daerah antara garis pantai waktu (air) laut surut dan pantai waktu (air)
laut pasang
104
Problematika : problem; masalah; sesuatu yang masih menimbulkan masalah; konflik
yang harus diselesaikan
Profesionalisme
: mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau
Prosedural orang yang profesional
Psikomotorik
: sesuai dengan prosedur
Rekonstruksi
Remidial : berhubungan dengan aktivitas fisik yang berkaitan dengan proses mental
Representasi dan psikologi
Serat
Senyawa : pengembalian seperti semula; penyusunan (penggambaran) kembali
Simbolik : dimaksudkan untuk memperbaiki atau mengulang
Sistemik
Stoikiometri : perbuatan mewakili; keadaan diwakili; apa yang mewakili; perwakilan
Strategi : bagian sejenis pori
Submikroskopik : zat murni dan homogen yang terdiri atas dua unsur atau lebih yang
berbeda dengan perbandingan tertentu
Superkonduktor
Takhayul : berbentuk symbol atau gambar atau persamaan
Unsur
: sesuatu yang erat kaitannya dengan suatu sistem
Universal
: cabang ilmu kimia yang membahas penetapan perbandingan kuantitas
Visibel dalam reaksi kimia
Visualisasi
: rangkaian kegiatan yang termasuk di dalamnya penggunaan metode dan
Zat pemanfaatan berbagai sumber daya dalam suatu pembelajaran
: berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang
sehingga perlu menggunakan mikroskop untuk melihatnya dengan jelas
: adipenghantar
: (sesuatu yang) hanya ada dalam khayal belaka
: bagian terkecil dari suatu benda; bagian benda yang tidak dapat dibagi-
bagi lagi dengan proses kimia
: umum (berlaku untuk semua orang atau untuk seluruh dunia); bersifat
(melingkupi) seluruh dunia
: dapat dilihat atau diteliti; jelas
: pengungkapan suatu gagasan atau perasaan dengan menggunakan
bentuk gambar, tulisan (kata dan angka), peta, grafik, dan sebagainya
: wujud; sesuatu yang ada
105
INDEKS
A K
Afektif · 103 Karbon · 7, 19, 103
Analogi · 87, 101, 103 Keramik · 103
Artikel · 103 Kognitif · 104
Komplementer · 104
D Konfigurasi · 104
Konseptual · 104
Dinamika · 103 Konstruktivisme · 48, 49, 104
Korosi · 104
E Kristal · 7, 104
Eksplorasi · 103 L
Eksternal · 103
Elektron · 103 Laboran · 104
Energi · 7, 85, 101, 103
M
F
Makroskopik · 104
Faktual · 103 Marginal · 104
Filosofi · 103 Metafora · 101, 104
Formal · 36, 41, 103 Metode · 8, 26, 73, 104
Fundamental · 103 Miskonsepsi · 104
Mitos · 104
G Molekul · 104
Gap · 103 O
I Objektif · 76, 104
Oral · 76, 104
Ilmiah · 81, 103
Independen · 103 P
Inkuiri · 48, 62, 103
Instruksional · iii, iv, v, 1, 14, 32, 43, 52, 58, 65, 72, 79, Parsial · 104
Partikel · 104
103 Pendekatan · 8, 19, 74, 92, 96, 102, 104
Intelegensi · 4, 11, 103 Pesisir · ii, iii, iv, 32, 36, 37, 38, 41, 43, 46, 54, 99, 100,
Internal · 3, 4, 103
Interpretasi · 103 102, 104, 1
Problematika · ii, iii, 1, 3, 11, 105, 1
J Profesionalisme · 36, 105
Prosedural · 105
Jurnal · 74, 77, 99, 100, 101, 102, 103 Psikomotorik · 105
106
R T
Rekonstruksi · 105 Takhayul · 105
Remidial · 105
Representasi · 105 U
S Universal · 105
Unsur · 6, 7, 105
Senyawa · 7, 19, 105
Serat · 105 V
Simbolik · 105
Sistemik · 105 Visibel · 105
Stoikiometri · 7, 105 Visualisasi · 105
Strategi · 100, 102, 105, 1
Superkonduktor · 105 Z
Zat · 105
107
KUNCI JAWABAN
EVALUASI
BAB I 6. C BAB II 6. A BAB III 6. C
1. A 7. A 1. C 7. E 1. B 7. -
2. C 8. A 2. D 8. A 2. B 8. -
3. C 9. A 3. B 9. - 3. A 9. -
4. C 10. B 4. C 10. - 4. C 10. -
5. A 5. A 5. B
BAB IV 6. C BAB V 6. B BAB VI 6. B
1. C 7. B 1. C 7. E 1. B 7. C
2. B 8. B 2. B 8. D 2. B 8. D
3. D 9. C 3. E 9. D 3. E 9. D
4. A 10. D 4. C 10. C 4. D 10. A
5. C 5. C 5. A
BAB VII 6. A BAB VIII 6. A BAB IX 6. D
1. B 7. B 1. E 7. A 1. A 7. E
2. B 8. A 2. E 8. B 2. A 8. A
3. E 9. - 3. A 9. - 3. A 9. C
4. E 10. - 4. B 10. - 4. D 10. E
5. B 5. C 5. A
108
BIODATA PENULIS
Fitriah Khoirunnisa [email protected] merupakan anak pertama dari
pasangan Bapak H. Dulkaim, S.Ag., M.M. dan Ibu Hj. Siti Maisarah,
kelahiran Samarinda, 30 Juli 1989. Telah menempuh pendidikan formal
jenjang S-1 (S.Pd.) sejak tahun 2007 hingga 2011 di Universitas
Mulawarman pada Program Studi Pendidikan Kimia dan pada tahun 2011
melanjutkan pendidikan S-2 (M.Ed.) di Universiti Teknologi Malaysia
melalui program Beasiswa Kaltim-Cemerlang di program studi Pendidikan
Kimia. Telah mengabdi sebagai tenaga pendidik di Universitas Maritim Raja
Ali Haji (UMRAH), Kota Tanjungpinang, pada Program Studi Pendidikan
Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sejak 2013 hingga sekarang.
Sejak itu pula telah aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada
bidang yang digeluti, yakni Pendidikan Kimia. Mengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan,
Dasar-Dasar Pendidikan IPA, Strategi Pembelajaran Kimia, Media Pembelajaran Kimia, Evaluasi
Pembelajaran Kimia, Metodologi Penelitian Pendidikan Kimia, dan Problematika Pembelajaran Kimia
Kawasan Pesisir. Dalam mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi, beliau telah meraih beberapa hibah
penelitian kompetitif, mulai dari hibah internal institusi, hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) hingga
Hibah Penelitian Kerjasama antar Perguruan Tinggi (PKPT).
Dina Fitriyah [email protected] merupakan anak kedua dari
pasangan Bapak Arahim dan Ibu Suwarsih. Lahir di Dabo Singkep, 22 April
1988. Pendidikan tinggi yang ditempuh adalah Program Sarjana (S.Pd.) pada
jurusan Pendidikan Kimia di Universitas Riau (lulus tahun 2010) dan
Program Magister (M.Si.) pada Pascasarjana Kimia di Universitas Riau
(lulus tahun 2013). Saat ini menjadi dosen tetap di Program Studi Pendidikan
Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali
Haji (FKIP UMRAH) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau sejak
2019. Saat ini telah aktif mengampu mata kuliah Kimia Umum, Kimia
Terapan dan Kewirausahaan, Biokimia, dan Bioteknologi Kemaritiman.
Selain itu juga aktif menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi lainnya
bersama rekanan dalam prodi dan mahasiswa.
Rita Fitriani [email protected] merupakan anak pertama dari
pasangan Bapak Zulkarnain dan Ibu Wisna Ramdis. Lahir di Pasaman, 04
Oktober 1991. Pendidikan tinggi yang ditempuh adalah Program Sarjana
(S.Pd.) pada jurusan Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Padang
(lulus tahun 2014) dan Program Magister (M.Pd.) pada Pascasarjana
Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Padang (lulus tahun 2016). Saat
ini menjadi dosen tetap di Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (FKIP
UMRAH) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau sejak 2019. Saat
ini telah aktif mengampu mata kuliah Fisika Umum, Statistika Pendidikan,
Psikologi Pendidikan, dan Kalkulus. Selain itu juga aktif menjalankan
Tridharma Perguruan Tinggi lainnya bersama rekanan dalam prodi dan
mahasiswa.
109
Etnosains merupakan sebuah pengetahuan yang dimiliki oleh suatu bangsa
atau suku bangsa atau kelompok sosial tertentu dalam bentuk kearifan
lokal dengan menggunakan metode serta mengikuti prosedur tertentu.
Etnosains menekankan pada pengetahuan asli dan khas dari suatu
komunitas budaya. Buku ajar Problematika Pembelajaran Kimia Kawasan
Pesisir Bermuatan Etnosains (Dilengkapi Contoh-Contoh Aplikatif dalam
Pembelajaran Sains) dapat digunakan sebagai buku pegangan versi
elektronik yang membantu dosen dan mahasiswa Pendidikan Kimia dalam
melaksanakan kegiatan perkuliahan Problematika Pembelajaran Kimia
Kawasan Pesisir. Buku ini secara rinci membahas tentang konsep dasar
problematika pembelajaran kimia di kawasan pesisir, isu terkini dalam
pembelajaran kimia di kawasan pesisir, penyelesaian masalah dalam
pembelajaran kimia di kawasan pesisir berdasarkan beberapa aspek, dan
etnosains serta contoh aplikatifnya. Metode penyajian buku ini sesuai
dengan indikator hasil belajar pada kurikulum Pendidikan Kimia sehingga
mahasiswa yang membaca dapat belajar mandiri dimana saja dan kapan
saja, tidak bergantung pada perkuliahan tatap muka di kelas.
110