The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ayu Show ebook 3 Edisi Batik Nusantara

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by oshinsayoke, 2023-03-01 10:32:34

AS-Buku 3 Cinta Batik Nusantara

Ayu Show ebook 3 Edisi Batik Nusantara

Keywords: batik

DARI KUMPULAN OBROLAN INSPIRATIF CATATAN SAHABAT AYU CINTA BATIK NUSANTARA Hari Batik Nasional 2022 Edisi Khusus - AYU DYAH PASHA - "BUKU TIGA" COVER BUKU AYU DYAH PASHA.indd 2 11/7/2022 8:09:46 AM


CINTA BATIK NUSANTARA Hari Batik Nasional 2022 Edisi Khusus - AYU DYAH PASHA -


Copyright © 2022 By: Ayu Dyah Pasha Tim Penulis: Shinta Kusuma, Eyi Puspita, Siti Rahmah, Erin Metasari Editor: S. Ananta Desain cover: Mira Layout: Juliansyah Cover Tata rias wajah: @byy.pink Tata Rias Rambut:Sugi Salon Busana:@aryani.batik Kain Batik:Koleksi pribadi Foto: @raihanananta All rights reserved. No part of this publication may be reproduced, distributed, or transmitted in any form or by any means, including photocopying, recording,or other electronic or mechanical methods, without the prior written permission of the publisher, expect in case of brief quotations embodied in critical reviews and certain other noncommercial uses permitted by copyrught law. ISBN 323-1-2345678-9-0 (EPUB) Gathaya Jakarta @ayu.dyah.pasha CINTA BATIK NUSANTARA Hari Batik Nasional 2022 Edisi Khusus


EPILOG DAFTARISI 36 56 68 08 16 28 BAB 3: PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK SEKAR SARI: “BATIK ADALAH PERJALANAN BATIN” KALISTA ISKANDAR: “BATIK MILIK SIAPA?” PROLOG: AKU DAN BATIK BAB 1: KETIKA CINTA MEMANGGIL INSANA ILHAM HABIBIE BAB 2: MENJAGA BATIK ZAMAN NOW LIESNA SUBIANTO BAB 4: SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM’ LEWAT BATIK ERA SOEKAMTO


6 | KATA PENGANTAR


Rasanya tidak cukup untuk merangkum cerita tentang keragaman batik Nusantara dalam sebuah buku. Tetapi dalam rangka Hari Batik Nasional tahun ini, saya ingin menjadikannya sebagai wujud kecintaan saya yang luar biasa kepada batik. Misi saya yang utama adalah ingin berbagi dan menumbuhkan rasa cinta serta rasa memiliki terhadap batik, khususnya generasi muda sebagai pelestari budaya karya leluhur bangsa ini. Atas dasar misi ini pula saya memutuskan untuk ikut serta dalam gerakan pelestarian batik melalui ajang pemilihan Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) sejak 2011 lalu. Selain itu, buku ini juga merupakan bentuk rasa terima kasih saya terhadap beberapa sahabat “para pelestari batik” — baik sebagai ‘seniman batik’, desainer, pengajar hingga para pegiat batik dari lintas generasi — yang sudah KATA PENGANTAR berkenan hadir sebagai narasumber program interaktif online saya, #AyuShow. Ada Bu Insana Ilham Habibie yang sejak 18 tahun lalu mengembangkan karya seni batik dan ekosistemnya, Era Soekamto dari kacamata perancang busana yang men-dalami sejarah dan nilai spiritual batik, Liesna Subianto —seorang dosen, desainer dan pegiat batik yang menularkan kecintaannya terhadap batik kepada generasi zaman now. Ada juga Kalista dan Sekar dari ‘alumni” PPBN yang mewakili sudut pandang anak muda. Saya berharap buku ini bisa menjadi legacy yang dapat memberikan inspirasi dan manfaat bagi para pembaca, terutama generasi muda. Karena merekalah yang akan menjaga dan melestarikan mahakarya budaya bangsa ini. Seperti kata the founding father bangsa kita, Presiden Soekarno: “Batik adalah pemersatu bangsa”. “ KATA PENGANTAR | 7


8 | PROLOG - AKU & BATIK Batik: Pusaka Iwan Tirta Perancang Busana: Musa Widyatmodjo Tata rias/wajah: @byy.pink Tata Rias Rambut: Sugi Salon Foto: @raihanananta


PROLOG - AKU & BATIK | 9 PROLOG: AKU DAN BATIK Wastra Indonesia telah menjadi kecintaan saya sejak lama. Khususnya, batik Nusantara. Alangkah spesialnya kisah di balik selembar kain batik. Berakar dari filosofi leluhur yang direpresentasikan ke dalam keragaman motif oleh tangan terampil dari sebuah tim hingga menjadi sebuah mahakarya tinggi. Inilah yang membuat saya luar biasa kagum dengan kain-kain batik Nusantara.


Saya mengenal batik sejatinya sudah sejak kecil. Kakek saya KPH Wasesonagoro adalah seorang saudagar batik dari Yogya dan pemilik batik berlabel “Herdjuno”. Hampir sebagian besar keluarga Ibu saya adalah pedagang batik. Sejak kecil saya sudah terbiasa bermain di antara tumpukan kain mori, berlarilarian di balik kain batik yang sedang dijemur. Bau wangi kain batik selalu membuat saya tenang dan rindu akan masa kecil saya di Jogja. Saat saya mulai diperkenalkan dengan beragam motif batik di sekolah sampai ketika saya belajar menari pun selalu memakai kain batik. Di tahun 80an, ketika saya menjadi model, saya pun sering memeragakan busana batik koleksi dari Batik Danar Hadi, Batik Keris, Batik Iwan Tirta (Sang Maestro Batik Indonesia) dan lainnya. Di keseharian, saya mengenakan busana batik dalam berbagai acara, baik ke kantor, acara resmi, sampai untuk santai di rumah (daster batik adalah salah satu baju favorit saya). Hanya saja saat itu saya baru sebatas sebagai penikmat batik saja dan belum memahami proses pembuatannya secara mendalam. Salah satu momentum yang membuat saya tergugah untuk mulai serius mengoleksi kain dan busana batik adalah ketika pertama kali pada tanggal 2 Oktober 2009 dicanangkan sebagai Hari Batik Nasional. Momen itu bertepatan dengan ditetapkannya batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity (Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi) oleh UNESCO. Seingat saya saat itu saya mendapat pesan lewat ponsel dari rekan kerja untuk memakai busana batik ke kantor. Wah, dengan senang hati tentunya saya merespon pesan itu. Ada rasa bangga akhirnya Pemerintah membuat kampanye nasional untuk mengapresiasi mahakarya bangsa ini. Momen ini juga penting sebagai langkah proteksi aset bangsa dari adanya ‘ancaman’ negara Jiran yang ingin mengklaim sebagai hasil karya mereka. Sejak itu kemana pun kaki saya melangkah ke berbagai kota, saya sempatkan untuk membeli kain batik lokal. Saya bahkan memiliki batik dari Ambon, yang mungkin kurang terkenal dibanding batik dari tanah Jawa. Terus terang saya memilih kain batik bukan berdasarkan popularitas atau harganya. Tetapi ada pesan di balik sehelai kain batik yang ingin disampaikan kepada pembelinya. “ 10 | KATA PENGANTAR


Seperti ketika saya membeli sehelai kain batik lawasan di Pasar Bringharjo, Yogyakarta. Di antara sekian banyak penjual batik, saya justru tertarik melihat seorang mbok-mbok yang memiliki setumpuk kain lawasan. Entah kenapa saya memilih sehelai kain batik tua yang warnanya sudah pudar. Kata si Mbok Penjual batik, usia kain itu sudah berusia 40 tahun. Ini batik antik, pikir saya. Langsung saya pun membelinya, tanpa menawar. BUKAN SEKADAR MOTIF Bagi saya, daya tarik sebuah batik bukan saja terletak pada keindahan motif atau kelembutan kainnya. Salah satu yang saya sukai adalah saya bisa belajar tentang sejarah dari batik. Pada dasarnya motif yang ada pada sebuah kain batik menceritakan kondisi atau budaya yang ada di masa pembuatan batik tersebut. Misalnya pada batik era Majapahit terdapat motif flora yang menggambarkan jenis flora yang hidup di zaman itu. Pada zaman penjajahan Belanda, ada dikenal “Batik Buketan” yang terinspirasi dari bunga Buket yang cantik. Di masa VOC para noni Belanda mengenakannya dengan dipadukan kebaya putih. Ada pula akulturasi budaya antara Cina dan Indonesia (Cirebon) ketika puteri Cina menikah dengan Pangeran Cirebon yang melahirkan motif Mega Mendung. Motif ini terinspirasi dengan guci Cina. Begitu juga pada zaman Jepang dikenal batik Hokokai. Bagi saya, batik itu bukanlah sekadar motif. Ada makna mendalam berupa pesan dan doa yang tersirat di dalamnya. Motif Sidomulyo misalnya. Diharapkan dapat membawa budi (kebaikan) yang mulia bagi pemakainya. Inilah pesan dan doa leluhur yang diwariskan melalui gambar atau simbol kepada generasi penerus bangsa ini. Bahkan terkadang ketika saya sedang capek, saya suka merenung sambil memandangi motif batik. Saya suka membayangkan bagaimana situasi saat batik itu dibuat. Dan entah kenapa hal itu membuat saya tenang. Tanpa disadari, batik seolah memang sudah menyatu dalam kehidupan kita. Mulai dari kita lahir dibedong atau digendong dengan kain batik, saat kecil kita sekolah mengenakan seragam batik, saat hari-hari penting seperti wisuda atau pernikahan kita mengenakan kain batik sampai akhirnya meninggal dunia, ditutup oleh kain batik. Bahasa batik memang tak mengenal perbedaan suku bangsa atau strata sosial ekonomi. Betul juga yang dikatakan Presiden Soekarno, bahwa batik itu adalah pemersatu bangsa. KATA PENGANTAR | 11


AKU & KOLEKSI BATIK Pada dasarnya saya senang memakai batik dalam berbagai acara, karena bisa digunakan untuk acara resmi dan santai. Karena itu saya memiliki koleksi busana batik dari berbagai jenis, mulai dari cap hingga tulis. Batik cap saya pilih motif kekinian untuk dipakai dalam keseharian atau acara santai. Sedangkan untuk acara resmi, saya menggunakan batik tulis. Tapi bagi saya memilih kain batik bukan saja dari sekadar materi fisiknya saja. Saya bahkan suka membeli batik lawasan yang mungkin bahan kainnya sudah rapuh. Saya tertarik dengan makna di balik motif batik itu. Seolah saya bisa menerawang bagaimana kondisi saat batik ini dibuat. Apa pesan yang ingin disampaikan dari motifnya. Saya menganggap semua motif itu muncul sebagai pesan Illahi. Karenanya saya akan lebih senang kalau bisa bertemu dan ngobrol langsung dengan pembatiknya. Dari koleksi batik yang saya miliki, ada beberapa kain batik yang membawa kesan mendalam yaitu kain-kain yang saya pakai saat prosesi pernikahan anak sulung saya, Narendra Pawaka dengan Twinda Rarasati pada Maret 2020 lalu. Momen ini sangat berkesan karena ini adalah pertama kali saya mantu. Rasanya bahagia sekali ketika saya mengenakan kain-kain sakral itu. Mulai dari batik truntum, cakar ayam, dan wirasat. 12 | PROLOG - AKU & BATIK


Busana, Batik & Aksesori: Koleksi pribadi PROLOG - AKU & BATIK | 13


Batik Sido Warasat (Prosesi Akad Nikah) Batik Cakar Ayam (Prosesi Siraman) 14 | PROLOG - AKU & BATIK


Foto: @tumpengfoto (studio), Speculo (pernikahan) Kebaya: @musa.widyatmodjo Kain: Pribadi (Truntum & Cakar Ayam by Go Tik Swan) Tata Rias Wajah & rambut: @sugimartono Pengarah Gaya : @amywirabudi 3 MOTIF SAKRAL SAAT PERNIKAHAN JAWA CAKAR AYAM “Di saat prosesi siraman, saya mengenakan kain motif Nitik Cakar Ayam. Kain motif ini biasa dipakai pada upacara adat Yogya. Filosofinya ibarat seekor ayam yang mulai mengais tanah untuk mencari makanan sejak pagi buta. Diharapkan setelah menikah, mereka memiliki semangat berjuang dalam ikhtiar mencari rezeki untuk menghidupi keluarga mereka sendiri.” SIDO WIRASAT “Saya memilih motif klasik Solo ini untuk prosesi akad nikah karena memiliki makna sebuah nasehat dan doa orang tua untuk menuntun putera/ puterinya dalam memasuki bahtera hidup rumah tangga. Doa agar mereka hidup berkecukupan, tentram dan langgeng tentunya.” TRUNTUM “Batik ini saya gunakan pada saat resepsi yang bermakna cinta tanpa akhir dan melambangkan cinta orang tua kepada anak yang tak terbatas. Selain itu diharapkan orang tua dapat memberi teladan kepada nempelai untuk menjaga ‘cahaya’ cinta dan kesetiaan dalam rumah tangga mereka.” Batik Truntum (Resepsi)


BAB SATU ‘Cinta adalah amunisi untuk berkarya’. Begitulah yang diyakini oleh Insana Ilham Habibie hingga akhirnya membuat dirinya berubah haluan dari profesi arsitek mengikuti passion-nya menggeluti dunia batik. KETIKA CINTA MEMANGGIL Insana Ilham Habibie FOUNDER & CREATOR LIMARAN BATIK BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL | 17


Tak ada yang dapat meramalkan apa yang terjadi di masa depan. Tak pernah terbayang kan pula dirinya berpaling dari dunia arsitektur untuk menggeluti bisnis batik. “You never know your future,” ungkap Insana Ilham Habibie. “Kebetulan, latar belakang saya adalah arsitek, sehingga jalan yang saya lalui biasanya mengarah pada bidang yang terkait dengan seni. Begitu pun dengan batik.” TERPESONA BATIK Pertemuan Insana dan batik boleh terbilang tanpa rencana. Berawal ketika ia dan beberapa temannya tengah mengerjakan projek membuat beberapa rumah/villa di daerah Pecatu, Bali. Pada tahun 2006 daerah itu masih sepi. Untuk mengisi interiornya, Insana sering bolak-balik JakartaBali-Bangkok untuk berburu berbagai ornamen seni. Ia senang memadukan ragam kerajinan yang memiliki relasi budaya atau DNA yang erat, seperti craft Thailand dan Indonesia, untuk menciptakan interior bernuansa urban etnik. Diakui Insana, kala itu produk kerajinan Indonesia belum kekinian seperti sekarang. Namun suatu hari tanpa sengaja ia melihat sehelai kain batik di sebuah toko barang antik di Legian, Bali. Bukan batik Jawa, tapi batik Palembangan. “Cantik sekali,” seketika ia terpesona. Hanya karena saat itu fokusnya adalah mencari lukisan, maka ia urung membeli kain tersebut. Beberapa hari kemudian, ia dihubungi kembali oleh pemilik toko itu yang menawarkan kain batik. “Dicoba saja dulu, pasang di rumah Ibu,” Insana akhirnya membawa tiga helai kain batik Palembangan dari toko tersebut. Ia pun mulai bereksperimen memasangkan kain batik di salah satu sudut rumah/villanya. Suasana rumah terasa sangat berbeda. Dan sebuah keajaiban terjadi. “Rumah saya laku terjual,” katanya bersemangat. Dan sang pembeli rumah yang berwarganegara asing itu mengaku begitu terkesan dengan kain batik yang dipajang di rumah itu. “Sejak saat itu saya yakin, batik ini punya sesuatu daya tarik yang kuat. It’s more than just a textile,” ungkapnya. ALUNAN LIMARAN Insana mulai tergerak untuk melakukan riset tentang batik dari 18 | BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL


beberapa literatur. “Bagaimana dari sebuah alat canting dan malam (lilin) yang begitu sederhana bisa menghasilkan keanekaragaman motif dan warna batik yang elok,” ujar Insana kagum. Tak berhenti sampai di situ, Insana semakin tergerak untuk mengetahui batik lebih mendalam. “Saya membiasakan diri untuk memahami sesuatu dengan cermat. Bukan saja tentang proses pembuatan batiknya, tetapi juga ekosistemnya,” jelasnya, “Saya terbiasa berpikir ke depan dan mempertimbangkan banyak hal. Itulah yang membuat saya terkadang tak bisa tidur.” Setelah menjelajahi ke berbagai daerah pembatik di Bandung, Cirebon, Pekalongan, Solo, Yogya, Sragen, Madura, dan Lasem, Insana akhirnya mendirikan Limaran Batik tahun 2004 (namun ia baru benar-benar berani mengikuti pameran pertama kali tahun 2007). Kata “limaran” sendiri bermakna jalinan tenun sutra yang dialunkan tentang bagaimana indahnya hidup seharusnya. Insana banyak sekali memakai motif flora seperti bunga dan dedaunan untuk mengisahkan bahwa hidup itu indah sesuai dengan alunannya. Kalau kita mengikuti alunan, semua kekurangan akan dijauhkan. Begitu filosofi yang diyakininya. Koleksi Limaran Batik sebegitu bervariasi, tetapi ada satu garis benang merahnya, DNA. Setiap desain Limaran Batik memiliki aroma yang berbedabeda. Alih-alih dihilangkan, aroma malam (lilin) yang menjadi ciri khas dari batik ini tetap dipertahankan dengan dipadu aroma dari rempahrempah khas Indonesia seperti: cendana, melati, cengkih, dan lainnya yang kebetulan disukai oleh orangorang Eropa. Ia berharap orang mengapresiasi Limaran Batik bukan sekadar tekstil, tetapi bagaimana ia dapat menyentuh dan bersemayam di hati. “One piece, one design only,” ujar Insana. Keunggulan Limaran Batik membuat setiap produknya menjadi collectible item. Setiap kain batik tulis, meskipun dibuat oleh bahan dan skill pembatik yang sama, hasilnya tetap berbeda. Karena batik tulis itu seperti punya ruh yang berisi curahan hati pembatiknya. FILOSOFI WARNA Menurut Insana, warna adalah bagian dari kehidupan. Warna dapat BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL | 19


terus berkembang seiring perubahan zaman. Warna sangat dipengaruhi oleh kehidupan sehari-hari baik yang bersifat adati atapun religi. Sejak zaman primitif, warna telah menjadi simbol atau makna filosofis di baliknya. Seperti warna hijau yang identik membuat hati tenang dan mata teduh. Salah satu daya pesona dari Limaran Batik adalah warna. “Colour is very sensitive,” ujar Insana. Bagaimana memadukan warna-warna yang bervariasi tetapi menarik di mata perlu teknik dan intuisi tersendiri. Karena warna adalah penentu terakhir dalam proses membatik. Limaran Batik menggunakan pewarna sintetis yang terkadang dikombinasi dengan perwarna alam. Pewarna alam lebih ramah lingkungan, tetapi spektrum warnanya masih sangat terbatas. Sedangkan Limaran Batik mengekspresikan desain melalui motif dan warna. Seperti warna merah, Limaran Batik bisa bermain dari merah paling terang sampai paling tua yang tidak bisa dipenuhi pewarna alam. Jadi perlu dikombinasi untuk saling melengkapi. Apalagi pewarna alam dari bahan tanaman sangat tergantung pada iklim. Pada musim hujan akan menghasilkan warna dari pohon dan daun agak beda dengan musim kemarau, pengaruh dari kandungan klorofil yang terbentuk oleh matahari. Dan hebatnya adalah meskipun para pembatik itu tidak memiliki latar belakang sekolah fashion atau pengetahuan tentang bahan kimia untuk mencampur warna, tetapi mereka mampu mengeluarkan warnawarna yang sangat indah. “Bahkan ada seorang pakar kimia dari Jerman yang sempat datang untuk melihat proses produksi kami, merasa kagum dengan hasil pewarnaan batik Limaran.” ujar Insana. “Ini bukan masalah skill saja, tapi ada intuisi yang bermain. Dan ini adalah bakat yang tidak dimiliki semua orang,” Insana menjelaskan. BELAJAR SABAR Bukan berarti perjalanan Insana memulai bisnis batik berjalan mulus. “Banyak yang heran, kok saya punya nyali untuk akhirnya terjun di bisnis batik,” ungkapnya. “Saya orangnya sulit merasa takut dalam hal berkarya. Bisa dibilang goal getter. Saya tahu yang saya mau, saya tahu posisi saya di mana, apa kebisaan dan kekurangan diri saya, dan apa yang bisa dilakukan dengan itu.” 20 | BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL


Berbagai gempuran dari eksternal maupun internal, justru membuat kesabaran Insana makin kokoh. “Namanya manusia dalam berhubungan selalu ada saja salah dan celahnya. Tetapi kegiatan membatik, proses batik, bahkan bisnis batik membuat saya lebih sabar dan tenang,” aku Insana yang menyebut dirinya menjadi lebih ‘menep’ dalam bahasa Jawa. Ia yakin kalau kita tenang, rasanya semua bisa kita selesaikan satu per satu, apapun tantangannya. Berkomunikasi dengan pembatik atau artisan batik juga membutuhkan kesabaran tersendiri. Ia bahkan harus belajar membaca body language untuk memahami apakah mereka sudah mengerti maksud arahan yang ia sampaikan. Dari pengalaman lambat laun kita akan punya cara dan rumus tersendiri dalam berkomunikasi dengan pembatik yang memiliki latar berbedabeda. Apalagi pembatik dari daerah yang berbeda, akan berbeda pula cara kerja dan pendekatannya. Hal paling mendasar yang perlu dipahami adalah gaya komunikasi dan bahasa yang digunakan oleh para pembatik. Setiap daerah belum tentu memakai istilah yang sama. Semisal pembatik di Bandung – urang Bandung – menyebut warna biru dengan belawo atau hejo, sementara daerah lain berbeda lagi. “Actually they can read our mind and our heart,” ujar Insana. Mereka sangat sensitif, bisa mendeteksi kesungguhan dan ketulusan kita. Kalau mereka sudah membuka hati, mereka akan melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati dan segenap cinta. Di sisi lain ia juga harus menangani pembatik dengan kebiasaan, keinginan, dan motivasi bekerja yang berbedabeda. Belum lagi masalah personal yang akan berdampak terhadap kinerja mereka. Semisal, kalau sedang bertengkar dengan suaminya, penyakit darah tingginya naik, atau baper ditegur staf sampai menangis. Kondisi-kondisi tersebut yang dapat mempengaruhi artisan atau pembatik dalam bekerja. “Aduh, rasanya seperti turbulansi di pesawat,” ungkap Insana sedikit curhat. Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi. Namun, dengan kerjasama tim yang baik dan persistensi yang kuat untuk mencapai tujuan bersama, BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL | 21


Batik is a language of the soul” — INSANA ILHAM HABIBIE “ Insana yakin semua tantangan tersebut dapat teratasi. BAHASA KALBU Tak hanya memiliki nilai seni tinggi, batik (terutama batik tulis) menurut Insana memiliki nilai investasi. Seperti halnya tas branded. Limaran Batik pun bisa menjadi aset investasi seperti menabung. Kalau punya batik tulis buatan tahun ini, nanti lima atau sepuluh tahun mendatang, nilainya diproyeksi akan meningkat. Karena setiap era pasti menciptakan karya batik dengan sentuhan yang berbeda. Selain menjadi investasi material, batik dapat menjadi ‘investasi’ hati. Sewaktu nenek dan ibunya meninggal, Insana seperti terpanggil untuk membuka lemari dan mencari koleksi batik mereka. “Jadi bukan nilai mahakaryanya saja, tetapi juga maknanya dalam mengisi hati atau batin kita,” akunya. Ada kebahagiaan sendiri bisa menikmati keindahan batik apalagi ada histori di baliknya. Bahkan batik juga bisa menjadi terapi diri sendiri. “Tengah malam, saya suka membuka-buka koleksi kain batik. Dibuka lembar demi lembar, perlahanlahan, melihat-lihat motifnya, mencium aromanya yang khas. Hati ini jadi terasa damai,” ungkap Insana yang berencana ingin mewujudkan sebuah tempat terapi batik di tengah kota Jakarta itu. Insana teringat saat menggelar pameran di Jepang, ia melihat seorang wanita Jepang memandangi kain batik selama berjam-jam. Kata wanita itu, memandangi motif kain itu seperti melihat surga. Insana semakin yakin bahwa keindahan batik itu memiliki energi dan daya magnet yang luar biasa. “Batik is a language of the soul.,” ungkap Insana. 22 | BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL


TANTANGAN BATIK INDONESIA Terlepas dari makin maraknya batik di berbagai beladan dunia, batik sejatinya sudah menjadi DNA bangsa Indonesia. Semua Kita sepatutnya berbangga dan berbahagia telah diwariskan suatu budaya adiluhung yang bukan main indahnya. Best of the best. Batik bisa menjadi heritage yang diturunkan dalam keluarga, dari orangtua ke anaknya, dan seterusnya. Cara inilah yang membuat batik tetap lestari melintasi generasi dan zaman. Insana optimis, batik tidak akan punah dan dapat terus hidup selama tradisi ini masih dilakukan. Batik adalah tradisi yang sangat tua tetapi bersifat dinamis dapat diadaptasi sesuai perkembangan zaman. Seperti di era generasi milenial saat ini, batik dapat berkembang menjadi lebih kontemporer. Namun tak bisa dipungkiri, memang ada masa naikturunnya. Meskipun begitu, Insana memiliki kekhawatiran khusus terhadap masa depan batik tulis atau batik halus. Karena pembatik tulis umumnya sudah sepuh, sementara ketertarikan generasi muda menjadi pembatik tulis semakin berkurang. Karena itulah setiap tahun Insana membuat workshop untuk mencari pembatik muda. Meski nyatanya memang sulit untuk menemukan orang yang memiliki kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Bayangkan mereka harus betah duduk sekitar 3 sampai 4 jam hanya untuk membatik sepanjang 10cm x 10cm. Pembatik juga dianggap sebagai pekerjaan yang kurang keren di kalangan anak muda, apalagi untuk ditulis di media sosial. Bahkan orangtua yang sekalipun pembatik, kebanyakan menyarankan anak-anaknya untuk tidak meneruskan menjadi pembatik, melainkan bekerja di mall yang penampilannya terlihat lebih keren dan pekerjaannya tidak capek. Kondisi ini memang menyedihkan. Untuk itulah, Insana berpendapat bahwa masa depan batik tulis kita sangat membutuhkan dukungan dari negara atau pemerintah terkait seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk meningkatkan minat anak muda sebagai pembatik, menurut Insana perlu upaya untuk meluruskan anggapan yang salah tentang pekerjaan pembatik dan perlu apresiasi konkret dari pemerintah. Semisal pemerintah memberikan kemudahan bagi pembatik dengan membuatkan tanda pengenal khusus bahwa mereka adalah seniman atau artisan batik yang merupakan pelestari tradisi Indonesia. Akan lebih baik lagi jika mereka dapat diberikan fasilitas tambahan seperti potongan harga untuk transportasi umum, potongan biaya untuk masuk sekolah seni, dan lainnya. BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL | 23


KOLEKSI BATIK LIMARAN IG: @limaran_batik 24 | BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL


foto: Koleksi Batik Limaran BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL | 25


TENTANG INSANA HABIBIE Batik tanpa disadari sudah terekam di dalam memorinya sejak kecil. Wanita bernama asli Insana Abdul Adjid ini masih terngiang saat melihat ibunya mengenakan kain batik saat menghadiri sebuah acara. Memori itu baru muncul ke permukaan 27 tahun kemudian. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, ketika ia tak sengaja melihat sehelai kain batik Palembangan di sebuah toko barang antik di Legian Bali. Pertemuan tak terduga yang mampu mengalihkan dunia Insana. Kecintaan pada seni adiluhung batik menggerakkan Insana untuk mengembangkan batik dengan talenta yang dimilikinya. Dengan latar belakang sebagai arsitek, istri dari putra pertama mantan Presiden BJ Habibie dan Ibu Ainun ini mampu memberikan nilai artistik bermutu tinggi pada setiap karya batik tenun sutera yang dibuatnya dengan memakai label Limaran Batik. Sebagai kreator batik, Insana menegaskan bahwa batik adalah jati diri Indonesia yang tak dimiliki oleh negara lain. Kebanggaannya kepada batik ditunjukkan dalam setiap penampilannya. Kemana pun ia pergi, batik menjadi item wajib yang harus ia bawa. Ini juga merupakan pesan dari ibunya dan juga mendiang mertuanya, Ibu Ainun. “Saya akan bawa dalam bentuk scarf atau tas dililit dengan batik.” Bagi Insana, mengenakan dress polos dipadankan dengan sehelai kain batik sudah ‘keren’. Keberadaan batik tak hanya harus dilestarikan, tetapi juga dikembangkan karena sangat membanggakan untuk ditampilkan di mata dunia. Inilah yang mendorong Insana secara konsisten melahirkan beragam karya batik dan berperan aktif dalam membangun ekosistem batik melalui Limaran Batik sejak 18 tahun lalu. “Kami mengembangkan batik tidak hanya sebagai komoditi. Karena bagi saya batik bukanlah sekadar sehelai textile, melainkan sebagai karya seni adati yang punya daya tarik tersendiri dan bisa dinikmati oleh orang dari 26 | BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL


belahan dunia manapun,” ujarnya. Karena itu ia sangat bangga ketika mendapat kesempatan dari Konsulat Jendral Amerika Serikat untuk menggelar pameran di salah satu museum kelas dunia di Chicago. Insana mengaku passion-nya terhadap batik membuatnya tak pernah kehabisan energi untuk terus berkarya meski harus jungkir balik menggeluti batik but I love it, saya cinta. Saya banyak belajar dari sini,” ungkapnya. Salah satu mahakarya Limaran Batik yang diciptakannya terinspirasi dari kecintaan Ibu Ainun terhadap batik Bagi saya, batik bukanlah sekadar sehelai textile. Melainkan sebagai karya seni adati yang punya daya tarik tersendiri. “ “ Foto: Koleksi pribadi Insana Habibie serta kekuatan ikatan cinta antara Bapak Habibie dan Ibu Ainun. Seperti yang kita lihat di film Habibie Ainun, bahwa cinta yang tulus membuat mereka bersatu dan bertahan. Cinta itulah yang juga menyatukan Isnana dan batik. BAB 1 - KETIKA CINTA MEMANGGIL | 27


BAB DUA Sekalipun batik sudah lekat dengan budaya Indonesia dan diwariskan secara turun-temurun dari Eyang buyut kita, namun Batik Indonesia membutuhkan perjalanan panjang untuk sampai mendapat pengakuan dunia lewat UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009. Hingga akhirnya dikukuhkan dan diperingati sebagai “Hari Batik Nasional”. ‘MENJAGA BATIK DI ZAMAN NOW’ Liesna Subianto DOSEN, FASHION DESIGNER + SENIMAN BATIK & PEMILIK GALERI LIESNA 28 | BAB 2 - MEJAGA BATIK ZAMAN NOW


Menurut Liesna, berdasarkan literatur yang dibacanya, setidaknya ada tiga kriteria yang telah dipenuhi batik Indonesia di balik penetapan UNESCO tersebut. Kriteria pertama adalah ilmu membatik yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Kedua, batik Indonesia telah digunakan dalam keseharian dari kehidupan masyarakat, khususnya di Pulau Jawa, dari kelahiran disambut degan batik, penikahan memakai batik, hingga meninggal ditutupi oleh batik. Ketiga, batik kerap digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kegiatan sehari-hari sejak dulu hingga saat ini seperti pakaian. Selain itu, batik Indonesia memiliki beragam simbol dan pengaruh kebudayaan. Perlu disyukuri bahwa kain batik Indonesia semakin mendunia, tetapi ada satu tantangan yang ada di depan mata, yaitu ketika kain batik kita dibeli dan diolah lagi oleh kreator di luar negeri menjadi produk lain. Maka, mereka punya tanggung jawab terhadap batik sebagai karya seni. Sepatutnya tetap mencantumkan kreator batiknya dan menjelaskan cerita batik tersebut. Contohnya tahun 2011 desainer internasional Dries van Houten pernah memakai corak Parang dan disebutkan dalam koleksinya.” KEUNIKAN BATIK NUSANTARA Keunikan dan keunggulan batik Indonesia adalah penggunaan canting yang tidak dimiliki oleh batik dari negara-negara lain seperti Malaysia dan Afrika. Canting otentik ciptaan bangsa Indonesia, khususnya pembatik di Pulau Jawa. Dengan canting inilah, para pembatik di Indonesia dapat menciptakan beragam motif batik yang sarat dengan simbol dan makna filosofis. Canting yang digunakan untuk mengaplikasikan malam (lilin) pada motif di kain, memiliki tiga ukuran, yaitu besar, sedang, dan kecil. Belum lagi mata canting pun bervariasi, ada yang bermata satu, dua, hingga puluhan, sehingga mampu menciptakan corak atau motif yang bermacam-macam, dari motif sederhana sampai yang rumit sekalipun. Motif batik di Indonesia umumnya ditentukan berdasarkan daerah asalnya. Ada batik dari daerah pedalaman seperti Solo dan Yogyakarta yang identik dengan motif batik klasik berwarna saga atau sogan antara lain motif Parang, Kawung, dan Sidomukti. Motif batik di Keraton Solo dan Yogyakarta memiliki pakem yang kuat. Bahkan motif batiknya menentukan strata sosial pemakainya. Ada motif khusus untuk pemimpin atau bangsawan yang dibedakan dengan abdi dalem, seperti motif Parang Barong yang hanya boleh dipakai oleh raja semasa itu. Tetapi di masyarakat umum sekarang, pakem motif batik telah melebur sehingga dapat dikenakan oleh siapapun. 30 | BAB 2 - MEJAGA BATIK ZAMAN NOW


Adapula batik pesisiran yang berasal dari daerah di sepanjang pantai utara pulau Jawa seperti Pekalongan, Cirebon, Lasem. Ciri khas batik pesisir terlihat dari motif-motifnya yang menjadi simbol akulturasi dari berbagai negara. Bahkan disebutsebut jejak empat kebudayaan dalam sehelai kain batik. Pertama, pengaruh lukisan botani yang berkembang di masa Renaisans di Eropa dibawa oleh Belanda melalui motif buketan pada batik pesisir. Khazanah batik pesisir dipengaruhi pula oleh budaya Tionghoa yang diperkenalkan oleh pembatik peranakan melalui ragam hias seperti burung hong, naga, dan qilin. Kemudian pengaruh budaya India terlihat pada motif jelamprang yang terinspirasi dari patola, pola geometris dari wastra ikat ganda asal India. Tentunya pengaruh Islam yang tampak pada batik basurek (basurat) yang dihiasi kaligrafi Arab. Keluwesan seniman dan pembatik dahulu terlihat pula dari munculnya Batik Tiga Negeri, yang ditandai dengan pemakaian warna merah dari Lasem, biru dari Pekalongan, dan cokelat dari Solo/ Yogya. Pada masa jayanya, Batik Tiga Negeri memang dikerjakan bergantian di tiga kota ini, mengakibatkan harga yang relatif mahal jika dibandingkan batik lain saat itu. Pengaruh revolusi industri yang terjadi pada akhir abad ke-18 berdampak pula pada berkembangnya usaha batik. Maraknya perempuan Belanda yang terjun berbisnis batik khususnya di Pekalongan, dengan mengembangkan metode produksi batik yang mengarah pada industrial, yaitu batik cap. Dibandingkan batik tulis, waktu produksi batik cap lebih cepat dan kapasitas produksinya lebih besar. Pewarna sintetis pada pembuatan batik pun mulai diperkenalkan pada era ini. Seiring perkembangan industri tekstil, motif batik diproduksi oleh pabrikan tekstil. Kehadiran tekstil motif batik dengan harga lebih murah dibandingkan batik asli yang menggunakan malam. Dari segi harga, batik cap - yang terbilang lebih murah dibandingkan batik tulis atau kombinasi - sekalipun, kalah saing harga dengan tekstil motif batik, namun batik asli tetap lebih unggul dari segi kualitas dan sentuhan buatan tanggannya yang menjadi ciri khas batik. Membatik membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran, yang dapat membentuk karakter pembatiknya. Tak heran bila masyarakat Indonesia, disebut sabar-sabar karena telaten membuat batik. Selain itu, masyarakat Indonesia memiliki craftmanship atau keahlian kerajinan tangan mulai dari yang sederhana seperti menggambar atau melukis sampai yang lebih kompleks yaitu membatik, menenun, menyulam, dan kreasi lainnya. BAB 2 - MENJAGA BATIK ZAMAN NOW | 31


BATIK WARRIOR “Pada awal tahun 2010, saya mulai koleksi kain batik lawasan seperti dari Solo dan Yogya. Saya punya batik lawasan yang dibuat tahun 1960-1970an, jadi berusia sekitar 40-50an tahun. Lambat-laun merambah pada jenis batik lainnya. Kemudian teman-teman meminta dibuatkan kebaya atau baju dari batik. Nah, saya tertantang membuatkan gaya kontemporer. Seperti memadukan lukisan saya dengan teknik batik pada sehelai kain. Salah satunya lukisan motif bunga dan daun lotus diselaraskan dengan motif klasik Kawung, sehingga menghasilkan tampilan yang baru. Karena tidak tega menguntingnya, saya pertahankan sebagai kain panjang. Tetapi ada batik-batik tertentu yang memang saya potong untuk diolah menjadi busana. Batik Warrior, usaha batik yang saya dirikan, terinspirasi oleh cerita nenek saya. Di masa penjajahan kolonial dulu, sehari-hari nenek saya seperti umumnya perempuan Jawa saat itu, memakai kain dan kebaya. Suatu waktu, nenek harus mengungsi bersama kakek. Sebagai pejuang, kakek saya membawa senjata. Untuk lolos dari pos-pos penjagaan, senjata tersebut harus disembunyikan di jarik atau kain nenek saya. Kisah itu diceritakan sewaktu saya kecil, dan saya masih terus teringat. Akhirnya saya memakai nama Batik Warrior. Dalam konteks masa sekarang, kita adalah pejuang-pejuang batik yang harus menghadapi tantangan baru. Mungkin musuhnya tidak kasat mata, tidak terlihat, tetapi kita harus berjuang dengan cara masing-masing untuk melestarikan batik. Secara historis, batik tidak statis. Batik selalu bergerak, berubah-ubah sesuai perkembangan eranya. Dari segi motif, warna, dan sebagainya, batik menyerap perubahan yang terjadi. Di ‘zaman now’ ini, batik berpotensi untuk berkembang jauh lebih dinamis. Karena generasi milenial yang menguasai usia produktif di Indonesia saat ini, punya daya kreativitas lebih tinggi, sehingga dapat lebih ekspresif berkreasi untuk menciptakan batik kontemporer. Semisal ketika saya meminta anak-anak murid menggambar batik motif Jakarta, ratarata akan membuat motif ondel-ondel, monas, atau bajaj. Namun, ada juga yang menggambar berbeda dari biasanya, seperti garis dan kotak secara abstrak. Apalagi bagi anak-anak muda, visual yang menarik menjadi daya tarik pertama. Pengembangan batik tak harus berpatok pada motif tradisi. Penciptaan motif-motif terbarukan diperlukan agar tradisi membatik dapat terus dilestarikan, khususnya oleh generasi muda. Maka diharapkan pemerintah dan instansi terkait dapat mendukung dan mengangkat talenta-talenta seniman dan desainer batik yang muda. Ini menjadi tantangan bagi generasi milenial untuk berkreasi supaya ada rekam jejak batik dari era ini. Mungkin nanti dua puluh tahun dari sekarang, ada karya batik dari generasi milenial yang tetap eksis. 32 | BAB 2 - MEJAGA BATIK ZAMAN NOW


KOLEKSI BATIK GALERI LIESNA foto: Koleksi Galeri Liesna IG: @galeriliesna BAB 2 - MENJAGA BATIK ZAMAN NOW | 33


BELAJAR MEMBATIK Tahapan membatik dimulai dari menggambar pada kain polos dengan pensil, kemudian diberi malam atau lilin dengan canting untuk batik tulis, atau dicap dengan plat kuningan untuk batik cap. Setelah itu dicelup pewarna, dan proses ini bisa dilakukan berulang kali, tergantung jumlah warna yang diinginkan. Semakin banyak warna, maka harus dicelup berulang kali. Kain polos yang digunakan untuk membatik turut menentukan kualitas hasil batiknya. Jika bahannya bagus akan menghasilkan batik yang bagus pula. Ingin belajr membatik? Coba saja ke Jakarta Moda Course, tempat Liesna mengajar batik, tersedia kelas batik moda, yaitu batik painting atau batik drawing. Kelas dibuka sebulan sekali, dan setiap kelas biasanya untuk 10 peserta. Selama dua jam akan diajarkan dan dilatih dasar membatik motif klasik di atas kain blacu, dengan peralatan yang telah disediakan. Setelah menguasai teknik dasar membatik, nanti peserta dapat mengikuti kelas membatik lanjutan untuk mengeksplorasi keahlian membatik motif lainnya, seperti motif abstrak atau kontemporer di atas jenis bahan lainnya. 1. Yang perlu diingat: membatik adalah seni yang membutuhkan kesabaran, kecermatan, dan manajemen waktu yang baik. Seperti menentukan kapan yang tepat kita mengambil malam dari wajan untuk ditorehkan pada kain. Malam tidak bisa terlalu panas, atau dingin. Jangan mudah kecewa atau patah semangat dalam belajar membatik. Dan membatik itu menagih, seperti terapi pelepas stres. 2. Mulailah dari teknik-teknik dasar motif batik klasik terlebih dulu. Belajar membatik bisa dimulai dari bahan ukuran kecil seperti 30x30 cm. Setelah selesai nanti bisa direpetisi menjadi kain panjang, karena salah satu ciri khas batik adalah repetisi motifnya. Yang terpenting adalah keinginan untuk berkreasi. 3. Membatik seperti bermain-main dengan waktu. Terlihat mudah, namun nyatanya tak semudah itu. Pesan lain yang saya sampaikan ke muridmuridnya. MERAWAT BATIK Cara merawat kain atau busana batik yang terpenting memperhatikan proses pencucian. Pertama, jangan disatukan dengan warna lain. Kemudian hindari digiling mesin cuci, sebaiknya dikucekkucek sebentar saja dengan lerak, atau sampo khusus batik atau bisa juga menggunakan sabun bayi. Setelah dibilas, diangin-anginkan saja, hindari terpapar sinar matahari langsung supaya warnanya tetap terjaga. 34 | BAB 2 - MEJAGA BATIK ZAMAN NOW


TENTANG LIESNA Berawal dari kegemarannya melukis, mantan fashion stylist dan penulis fashion & beauty di majalah Pesona, Femina Group ini, memantapkan pilihan kariernya sebagai “pelestari batik”. Kecintaannya terhadap batik sudah tumbuh sejak kecil dan bakatnya melukis membuat Liesna merancang batik kontemporer karyanya sendiri. Inilah yang kemudian memotivasi Liesna mendirikan Galeri Liesna pada tahun 2010 dan mengusung nama Batik Warrior. Koleksinya yang unik telah dinikmati oleh para pencinta batik di tanah air dan berbagai negara, seperti Australia, Belanda, Belgia, Inggris, Irlandia, dan negara-negara Skandinavia. Sebagai desainer batik, Liesna berkreasi tanpa batas dengan menetaskan karya yang menarik perhatian. Pada tahun 2015, ia pernah membuat koleksi bertema ‘Batik Rock & Roll’ yang kontradiktif memadukan antara batik dan gaya rock & roll. Namun, imajinasi Liesna sukses menuangkan motif-motif batik klasik seperti Parang, Merak Ngibing, dan Garis Miring dengan warna kuat seperti merah, biru, dan hitam, dalam busana gaya punk era ‘80an. Tahun 2021 lalu, Liesna kembali mencuri perhatian dengan menggelar acara bertema ‘Batik Rhapsody’ yaitu kegiatan membuat lukisan batik di kanvas bersama para pencinta group band legendaris era 80an asal Inggris, Queen.  Perempuan kelahiran 30 Juni 1972 ini memegang prinsip bahwa manusia harus bisa memaksimalkan diri dengan mengisi hidup dengan apapun passion yang dimiliki sehingga dapat membawa pengaruh positif dan keberkahan kepada semua. Tak hanya sebagai kreator, lulusan Curtin University of Technology, Perth, Australia ini konsisten berbagi pengetahuan dan pengalamannya dengan mengajar tentang batik di Jakarta Moda Course dan sebagai dosen Sejarah Mode dan Desain Batik di sekolah mode Esmod Jakarta. BAB 2 - MENJAGA BATIK ZAMAN NOW | 35


Tibusantem alitaes ab il ilit is adit quatempores etusam 36 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


BAB TIGA Adanya Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa batik adalah sebuah karya seni leluhur yang patut dihargai dan dibanggakan. Namun tak berhenti sampai di sini, kita perlu terus mengupayakan untuk menumbuhkan rasa cinta batik kepada generasi muda. Karena di tangan merekalah karya leluhur bangsa ini akan lestari dan tetap menjadi milik bangsa ini. PERJUANGAN MEWARISKAN CINTA BATIK BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 37


Begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh batik Nusantara saat ini. Mulai dari hampir punahnya para pembatik alusan dan produsen alat pembuat batik tradisional (canting dan cap), sampai berbagai klaim dari Negara Jiran yang menganggap batik sebagai karya budaya mereka. itulah yang menjadi alasan saya menyambut baik gagasan kerjasama dari Bapak DR. H. Sapta Nirwandar (saat itu beliau masih menjabat sebagai Dirjen Pemasaran Kementerian Pariwisata) dan Ibu Tantie Koestantia untuk bergabung dalam Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) pada tahun 2011. Salah satu upaya untuk mengampanyekan gerakan cinta batik kepada generasi muda adalah dengan menggelar ajang “Pemilihan Putra/ Putri Batik Nusantara (PPBN)” yang diselenggarakan pada tahun 2011. Antusiasme pada pendaftar pun cukup tinggi. Kami menerima lebih dari 600 orang dari seluruh Indonesia untuk dipilih menjadi 28 finalis. Ini menunjukkan animo anak muda terhadap batik sudah cukup baik. Tinggal bagaimana membekali mereka dengan pengetahuan dan skill tentang batik serta menempa karakter mereka menjadi seorang Duta Batik masa depan. PEMBEKALAN ‘PEJUANG BUDAYA’ Setelah ajang PPBN berakhir, mereka mendapat pembekalan ilmu tentang batik melalui workshop khusus membatik yang terselenggara atas dukungan beberapa institusi. Salah satunya yang paling konsisten mendukung adalah Djarum Foundation yang memberikan tempat untuk menggelar workshop batik di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Dari workshop itu mereka akhirnya memahami proses pembuatan sehelai kain batik itu tidak mudah dan membutuhkan waktu yang panjang. Ada 11 tahap yang harus dilalui, mulai dari menggambar motif, isen-isen, sampai mencelup warna. Mereka juga belajar mengenali berbagai jenis batik, mulai dari batik cap sampai batik tulis. Dengan begitu diharapkan mereka dapat menghargai, tumbuh minat hingga akhirnya mencintai batik. “Kalian adalah pejuang budaya,” begitu saya selalu mengingatkan dan menyemangati mereka. Karena itu kami juga mengadakan program Batik EduTrip agar mereka dapat meninjau dan belajar langsung dari pembatik di beberapa daerah. Misalnya kami bekerja sama dengan Pemprov Bengkulu agar mereka dapat belajar tentang batik Besurek Rafflesia yang merupakan batik yang bermotif kombinasi antara huruf “ 38 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


Ibu Ayu bersama Wakil Kedutaan Swiss Mr. Michael Cottier dan Bapak DR Sapta Nirwandar & Ibu. Kaganga (huruf asli Bengkulu) dan kaligrafi Arab. Diharapkan mereka dapat membagikan pengalaman tersebut lewat sosial media. Berkaitan dengan program PPBN, kami juga menggelar sebuat event Gebyar Batik Muda Nusantara sebuah pameran dan festival batik yang selama 8 tahun terakhir berlangsung di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan. Acaranya beragam mulai dari bazaar, berbagai lomba,berbagai kreasi batik, fashion show.; yang diikuti sampai tingkat anakanak. Tujuannya agar orangtua mereka juga otomatis akan ikut belajar ketika mempersiapkan performance anaknya. Kami juga memberikan kesempatan kepada para desainer muda alumni PPBN yang memiliki brand batik untuk berpameran. Promosi batik tak hanya di dalam negeri, tetapi juga sampai luar negeri. Untuk itu IPBN bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mengikutsertakan para alumni PPBN ke dalam program kunjungan budaya ke luar negeri. Saat ini sudah ada 35 negara yang dikunjungi, seperti Jepang, China, Australia, Inggris, Prancis, Jerman hingga Spanyol. Selain menampilkan busana batik, mereka juga dapat menunjukkan talenta seni yang dimilikinya serta ikut mengajarkan cara membatik kepada masyarakat mancanegara. BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 39


PRESTASI & TANTANGAN IPBN Sampai saat ini Ayu bersyukur masih dipercaya untuk menjadi Ketua Umum IPBN. Perhelatan tahunan PPBN pun sudah berlangsung 9 kali (untuk penyelenggaraan PPBN ke-10 terpaksa terhenti karena adanya pandemi). Adalah kebanggaan tersendiri bagi Ayu melihat beberapa alumni PPBN ada yang terjun sebagai pelaku bisnis batik, ada juga yang meski sukses di bidang profesinya, tetapi masih peduli untuk mengenalkan batik di komunitasnya. Selain melestarikan batik ke generasi muda, misi IPBN yang lain adalah mengenalkan batik sebagai karya Indonesia di mata dunia internasional. Setidaknya selama 11 tahun berdiri, IPBN dapat mewujudkan kerjasama dengan beberapa negara. SWISS. Dalam peringatan Hari Batik Nasional 2019, IPBN bekerja sama dengan Kedutaan besar Swiss di Jakarta mengadakan Lomba Desain Batik Swiss yang menampilkan kreasi batik seputar budaya Swiss (misalnya jam, coklat, pegunungan Alpen, kerata api, dll). Dari sekitar 200 peserta, dipilih 10 finalis desain terbaik untuk diwujudkan menjadi kain batik. Kain tersebut kemudian dijadikan busana oleh Rizki Triana (Oemah Etnik) dan diperagakan dalam acara puncak pengumuman lomba. ITALIA. Sebuah klub sepakbola La Liga Italia meminta IPBN untuk membuatkan logo dari batik. Pada saat launching di Jakarta, para wartawan diberikan workshop membatik. TANTANGAN Menjalankan IPBN selama 11 tahun bukanlah hal yang mudah. Perlu sebuah visi kuat, komitmen dan keikhlasan. Karena kendala terbesar yang dihadapi adalah dana atau menggalang sponsor. “Kami melakukan karantina 7 hari di hotel untuk 28 orang finalis, yang diberikan pembekalan training dari grooming sampai pembentukan karakter, hingga hadiah uang tunai bagi para pemenang,” jelas Ayu. Ibu Ayu (Ketua Umum IPBN) Bersama Bayu Adhitama, Ketua Harian IPBN. 40 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


Begitulah perjuangan untuk menyiapkan tongkat estafet pelestarian batik ke generasi muda memang cukup berat. Ia berharap akan ada institusi atau lembaga pemerintah yang juga peduli dan mendukung misi mulia ini. Karena bagaimana pun menjaga dan melestarikan batik sebagai aset bangsa adalah kepentingan bersama. Tapi Ayu tak patah arang. Tahun depan ia akan menghidupkan kembali ajang PPBN yang telah vakum selama 2 tahun Gebyar Batik Muda Nusantara 2015 Gebyar Batik Muda Nusantara 2015, Kota Kasablanka karena pandemi. Inisiasi kerjasama dengan China Network sudah mulai terjalin. Selanjutnya ia sangat berharap IPBN bisa mandiri menjadi sebuah perusahaan yang profitable. Di sisi lain yang juga tak kalah penting, adalah mempersiapkan kaderisasi pemimpin muda IPBN yang memiliki visi dan mampu melakukan inovasi untuk melestarikan batik di era milenial. BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 41


PERSAHABATAN BUDAYA JEPANG - INDONESIA Suatu kebanggaan bagi IPBN dapat menjalin kerjasama dengan negara Jepang. Salah satu bentuknya diwujudkan dengan partisipasi IPBN dalam acara Jakarta Japan Matsuri (JJM) yaitu acara bergengsi tahunan yang digelar oleh komunitas Jepang di Indonesia, sejak tahun 2009. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Jabat Hati ini merupakan bentuk persahabatan antara masyarakat Jepang dan Indonesia. Bagi IPBN acara ini menjadi ajang promosi batik kepada warga Jepang yang sangat efektif. Di tahun 2021, karena pandemi, kolaborasi IPBN dan JJM dilakukan dalam bentuk fashion show dan talk show batik secara virtual. Dan pada Oktober 2022 lalu berkaitan Hari Batik Nasional, IPBN kembali tampil di JJM dengan fashion show batik secara live di fx Sudirman, Jakarta. Kali ini IPBN menggandeng alumni Putri Batik Nusantara, Rizki Triana (@oemahetnik). Yang membanggakan adalah pada acara itu semua panitia, penampil, bahkan Wakil Dubes Jepang untuk Indonesia pun mengenakan batik. 1 2 42 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


1. Bersama seluruh pendukung acara JJM2022. 2. Mr. Masami Tamura, Wakil Dubes Jepang untuk Indonesia, Memakai batik Mega Mendung. 3, 4. Fashion show koleksi @oemahetnik 3 4 BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 43


Ri sam volorumqui repudaerum harchillenit ullore quatur aligentium inctur aut plaborp


Misi untuk menjaga batik sebagai aset dan identitas bangsa Indonesia nyatanya tidaklah mudah. Meskipun sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009, tapi tantangan yang dihadapi akan terus ada. ‘BATIK MILIK SIAPA?’ Kalista Iskandar JUARA PERSAHABATAN PUTRI BATIK NUSANTARA 2019 BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 45


Sedikit kilas balik, pada bulan Juli 2020 lalu, media sosial sempat dihebohkan oleh pembicaraan seputar batik. Kehebohan ini diawali oleh cuitan di akun Twitter @XHNews milik media China, Xinhua News. Mereka menulis, “Batik adalah kerajinan tradisional yang umum di kalangan kelompok etnis di China. Menggunakan lelehan lilin dan alat seperti spatula, orang mewarnai kain dan memanaskannya untuk menghilangkan lilin. Lihatlah bagaimana kerajinan kuno berkembang di zaman modern #AmazingChina.” Cuitan ini diikuti oleh video berdurasi 49 detik yang memperlihatkan proses pembuatan ‘batik’ ala China. Klaim ini tentu mengundang berbagai reaksi dan komentar masyarakat – khususnya warganet. Sebagian marah karena memandang batik adalah milik Indonesia semata. Batik adalah warisan budaya bangsa kita. Namun sebagian lagi ada yang menganggapnya wajar karena pembuatan kain dengan teknik celup rintang memang dipraktikkan di banyak negara. Jujur, hati saya pun ikut terusik. Saat itu saya mengajak ngobrol Kalista Iskandar — Juara Persahabatan Putri Batik Nusantara 2019 dan Putri Indonesia Runner Up 3 2020 — yang mewakili suara generasi milenial untuk menyikapi hal ini. KATA KALISTA: “Menurut saya, Indonesia sesungguhnya yang memiliki batik. Buktinya batik Indonesialah yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009. Namun kita tidak boleh lupa, bahwa beberapa jenis batik Indonesia juga memiliki pengaruh dari Tionghoa. Misalnya batik Cirebon, Tanah Liek dan Pekalongan. Selain itu, praktik membatik tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Antara lain Mesir, China, Jepang, bahkan Afrika. Bentuk dan proses pembuatannya berbeda-beda. Namun satu hal tentu dipengaruhi oleh hal lain. Ada penggabungan dan proses saling mempengaruhi. Walaupun begitu, tentu saja batik Indonesia mempunya ciri khas yang membedakannya dari ‘batik-batik’ negara lain, termasuk China. Perbedaan yang paling jelas adalah penggunaan canting dalam proses pembuatan batik Indonesia (Canting adalah alat membatik yang terdiri atas cucuk, nyamplung dan gagang —red). Cucuk atau mata canting kita melengkung ke 46 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


bawah. Lubang pada cucuklah yang membuat goresan tipis pada kain. Penggunaan canting menjadi salah satu hal yang membuat batik Indonesia khas. Sebuah kain batik asli dihasilkan oleh pembuat batik yang memerlukan kedisiplinan dan waktu yang tak sebentar. Bahkan ada pembuat batik yang harus berpuasa 12 jam sebelum bekerja. Kerja keras mereka tentu harus kita hargai. Sementara, batik China dibuat dengan memakai alat yang agak mirip, tetapi sebenarnya berbeda. Alat yang mereka gunakan tampak seperti sapu kecil. Goresannya juga disapukan ke bawah, bukan ke arah atas seperti dalam proses membatik kita. Saya pribadi sebenarnya kurang setuju dengan batik printing. Namun, memang ada perbedaan pendapat mengenai hal ini. Batik printing lebih gampang dan cepat dijual daripada batik tulis yang relatif mahal (Persoalan harga ini juga terjadi pada batik dari China. Ada yang mengatakan, kualitas batik China di bawah batik Indonesia, tetapi harganya lebih terjangkau). PERAN ANAK MUDA “Batik adalah kain, proses, sejarah dan filosofinya sekaligus. Selain perbedaan soal alat dan cara menggunakannya, yang membuat batik Indonesia khas adalah kisah dan filosofinya. Batik China mungkin melukiskan ilustrasi orang atau naga, tetapi dalam selembar kain batik Indonesia sepanjang 2,5 meter, ada kisah dan filosofi yang disampaikan. Di China, hanya beberapa kelompok etnik minoritas yang menggunakan batik, sementara di Indonesia batik menjadi bagian dari kehidupan masyarakat umum. Batik dipakai dalam keseharian dan berbagai kesempatan, tidak hanya untuk acara formal seperti pernikahan. Dengan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional tentunya dapat menumbuhkan kecintaan dan rasa bangga untuk menggunakan batik, terutama para generasi muda. Karena sudah seharusnya kita sebagai generasi muda berdiri di garda terdepan dalam menyuarakan maupun menjaga batik Indonesia. Bila ada bangsa lain yang mengklaim batik sebagai milik mereka, kita seharusnya tegas membela, “Ini batik Indonesia!” Salah satu wujud nyata kecintaan kita terhadap batik adalah dengan mengenakan batik dalam berbagai acara. Apakah ini sudah dilakukan? Jika belum, mulailah pakai. Tunjukkan batik Indonesia kepada khalayak agar BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 47


mereka mengenal batik sebagai milik bangsa kita. Mungkin masih ada anak milenial yang enggan berbatik karena menganggapnya kuno. Padahal batik bisa disesuaikan dengan kepribadian dan gaya individual kita. Anak muda mungkin tak mampu memiliki batik tulis, tetapi mereka bisa membeli batik printing. Apalagi, batik printing dapat digabungkan dengan corak yang berbeda, sehingga pemakainya juga bisa terlihat stylish. Produk batik juga tidak sebatas busana, sehingga kita menggunakannya sebagai aksesori, misalnya scarf atau bandana batik poleng. Kita juga bisa memakai tas batik, sabuk atau kalung choker. Ada pula jaket batik yang edgy atau sepatu yang keren. Bila sudah sering memakainya, masih banyak cara yang bisa dilakukan anak muda untuk mengembangkan batik –terutama dengan memanfaatkan kemajuan teknologi sekarang. Antara lain dengan menggalakkan social entrepreneurship, membuat acara seperti Gebyar Batik Muda Nusantara, promosi dari mulut ke mulut, atau bahkan membuat film pendek tentang batik. Yang terpenting, mulailah dari diri sendiri dulu. Bangga dan pakailah batik Nusantara agar batik kita semakin maju dan dikenal di mancanegara.” 48 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


TENTANG KALISTA ISKANDAR Walaupun berwajah ‘bule’, tapi Kalista mengaku dirinya sangat Indonesia. Ketertarikannya pada batik tumbuh setelah ia mengikuti ajang Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) 2019. Sebelumnya, seperti anak muda umumnya, ia tidak paham dan jarang memakai batik. Ia hanya memakai batik sebagai seragam sekolah atau saat menghadiri acara khusus. Sejak mengikuti PPBN, ia bertemu dengan para desainer dan seniman batik terkemuka –antara lain Era Soekamto dan Musa Widyatmodjo. Sejak itulah ia mulai banvak belajar dan memahami makna serta filosofi beragam jenis batik. Kalista pun bangga ketika ia dinobatkan sebagai Juara Persahabatan Putri Batik Nusantara 2019. Perhatiannya pada batik juga berlanjut saat ia mengikuti ajang Putri Indonesia 2020 sebagai wakil Sumatera Barat. Dengan bangga ia mengenakan Batik Tanah Liek Pusako Mande, Padang, yang pamornya baru terangkat lagi di akhir 1990-an/awal 2000-an. Kebahagiaan Kalista menjadi sempurna ketika kemudian ia berhasil terpilih sebagai Putri Indonesia Runner Up 3 tahun 2020. BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 49


Ri sam volorumqui repudaerum harchillenit ullore quatur aligentium inctur aut plaborp


Click to View FlipBook Version