The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ayu Show ebook 3 Edisi Batik Nusantara

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by oshinsayoke, 2023-03-01 10:32:34

AS-Buku 3 Cinta Batik Nusantara

Ayu Show ebook 3 Edisi Batik Nusantara

Keywords: batik

Hidup di tengah masyarakat dimana seni dan batik menjadi keseharian membuat kecintaan Sekar pada batik makin kental. Belajar dari cerita Eyang, siapa sangka batik dapat mengantarkan dirinya sebagai duta bangsa ke mancanegara. “BATIK ADALAH PERJALANAN BATIN” Sekar Sari JUARA 3 PUTRI BATIK NUSANTARA 2011 BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 51


Secara terminologi dan etimologinya, batik berasal dari bahasa Jawa yaitu dari kata “mbat” (melempar) dan “titik”, yang berarti melempar (atau menorehkan) titik berkalikali pada kain. Sederhananya, batik merupakan seni dalam menghias kain dengan penutup malam atau lilin untuk membentuk corak hiasan tertentu serta membentuk sebuah bidang pewarnaan. Namun, batik bukan sekadar kain bermotif. Batik adalah proses yang spesifik, bahwa ada selembar kain yang diberikan motif dan malam sebagai perintang warna dengan menggunakan canting atau alat aplikasi lain. Kemudian ada proses pewarnaan, dan dituangkan malam kembali yang bisa sampai berlapis-lapis untuk mengunci warna. Setelah aplikasi gambar, malam, dan warna pada kain, kemudian melarutkan malam dengan cara dicelupkan dalam air panas, selanjutnya dijemur sampai kering, dan akhirnya menjadi produk batik. EKSPLORASI MAKNA “Saya lahir dan besar di Yogya dengan batik yang menjadi keseharian masyarakatnya. Semasa kecil bersama Eyang, saya telah diperkenalkan dengan batik. Beliau setiap hari memakai batik dengan motif yang berbeda-beda. Kemudian beliau menceritakan tentang motif-motif batik yang dipakainya. Kebetulan Eyang mengerti tentang motif batik dan filosofinya. Batik menjadi media bagi kami bercerita, menjalin komunikasi, bahkan sebagai pengantar tidur. Kami menarasikan motif-motif batik yang dikenakan Eyang. Seperti halnya wayang di dinding, kain batik di pangkuan Eyang. Kadang satu motif batik bisa kami narasikan dengan cerita berbeda-beda. Salah satu motif batik klasik dengan makna yang mengena bagi saya adalah Babon Angkrem. Dimaknai sebagai simbol perempuan yang sedang merawat energinya, mengumpulkan kekuatan untuk berkarya. Motif batik tak hanya memiliki makna filosofis, tetapi juga sebagai doa. Seperti motif Udan Liris yang berarti hujan gerimis. Adalah doa supaya rezeki turun seperti hujan gerimis, sedikit demi sedikit, tetapi terus-menerus. Saat menari, misalnya, tanpa disadari saya juga makin memahami batik. Penari Jawa memakai kain batik, seperti motif Parang yang menunjukkan keberanian, dan motif Garuda sebagai simbol kendaraan dewa Wishnu, salah satu dewa yang dimuliakan dalam kepecayaan Hindu. Di masa Kesultanan Islam Mataram, motif-motif ini pun masih digunakan. Ini bukti bahwa batik adalah simbol akulturasi budaya, simbol masyarakat kita yang sangat toleran. Di Galeri Indonesia Kaya, saya pernah mementaskan karya tari tentang batik berjudul Pat(h)tern. Bahwa batik adalah pattern atau motif, dan juga 52 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


path atau perjalanan. Jadi batik tidak sekadar kain bermotif saja, tetapi suatu perjalanan batin. Kalau kita membatik, sebenarnya kita seperti bermeditasi. Prinsip yang sama juga diterapkan oleh penari. Saat menari, kita seolah bermeditasi. Ketika menari tentang batik, kita benar-benar merasakan dan mengekspresikan proses membatik melalui gerakan tari. Bagaimana ketika kita menorehkan malam pada kain dengan canting, bagaimana reaksi terkena malam yang panas, termasuk pergolakan batin ketika terjadi kesalahan, dan bagaimana mengatasinya serta berdamai atau berserah dengan proses dan hasilnya nanti. DUTA BATIK “Sebagai Putri Batik Nusantara 2011, saya sangat beruntung diberi kesempatan untuk mempromosikan batik secara langsung di Jerman pada tahun 2013 dalam perhelatan pariwisata Uni Eropa yaitu International Tourism Bourse. Di acara yang ikut diresmikan oleh Presiden SBY bersama (almh) Ibu Ani SBY tersebut, saya memperkenalkan dan menjelaskan langsung ke pengunjung tentang batik. Ternyata warga asing sangat mengapresiasi dan tertarik mengetahui batik dan prosesnya. Di tahun yang sama, kemudian saya diajak kembali ke Berlin untuk mempromosikan tentang batik. Menariknya, kami juga bertemu dengan penulis dari Jerman yang melakukan riset dan menulis tentang batik Indonesia. Ini menjadi pengalaman berharga untuk memperkenalkan batik dan bertemu dengan orang-orang yang berminat untuk eksplorasi batik Indonesia. Sewaktu di perhelatan International Tourism Bourse di kota Berlin — juga acara di kota Hannover dan Böblingen, saya diundang pula untuk menampilkan tarian klasik Jawa yang telah langka, seperti Golek Lambangsari dan tari Sekar Pudyastuti. Secara historis, tari Jawa bermula dari latihan perang. Di masa pendudukan Belanda, di dalam keraton tidak diperbolehkan latihan perang secara kasat mata, sehingga tarian menjadi samaran dari latihan berperang. Menari Jawa, meskipun terlihat lemah gemulai, sebenarnya melatih kekuatan raga. MELAKONI BATIK Sebenarnya sudah cukup lama saya terpikir sebagai pelaku usaha batik, tetapi memang butuh waktu yang tepat untuk akhirnya terjun di sini. Tentu saya sangat antusias karena punya kesempatan untuk mengeksplorasi batik lebih meluas. Sebelumnya saya belajar dari sisi produksi batik, berlanjut mengapresiasi batik dalam bentuk karya tari dan film. Sekarang saya terlibat dalam sebuah usaha batik bernama Batik Tuk. Diinisiasi oleh teman saya, Bagus Bagonk, seniman yang karyakaryanya telah saya kagumi sejak lama. Beliau mengembangkan motif dan BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 53


warna batik yang berbeda dengan batik umumnya. Batik Tuk @batiktukshop memberikan sentuhan baru dengan motif kontemporer dan mengarah pada pop-art. Akhirnya ditawarkan untuk bergabung dan mengembangkan usaha ini bersama, saya senang sekali. Kini masyarakat, termasuk generasi milenial, semakin baik dalam mengapreasiasi batik. Mereka semakin paham tentang batik, bahkan dapat membedakan antara batik tulis, batik cap, dan tekstil bermotif batik. Selain motif batik klasik yang tetap dilestarikan, perubahan era – dan budaya serta gaya hidup di dalamnya - melahirkan banyak motif dan warna baru berciri kontemporer. Tentu kita patut mengapresiasi dan berbangga yang menunjukkan batik Indonesia berkembang dengan dinamis. Diharapkan setiap era memunculkan ciri khas batiknya masing-masing, setiap motif dan warna batik menggambarkan apa yang terjadi di setiap era, mencatat suatu peristiwa, profesi, dan lainnya, seperti perjalanan sejarah Indonesia. Batik menjadi suatu karya seni yang dapat mengakomodir beragam ide, gagasan, dan kreativitas. Bahkan rasa cinta, kasih sayang, dan penghormatan dapat ditunjukkan melalui batik. Setiap generasi mengapresiasi batik dengan caranya masing-masing. Sebagai anak bangsa, kita perlu melakukan aksi nyata untuk mendukung batik Indonesia dengan cara apapun yang kita bisa. Bukan hanya dari sisi kreator atau pelaku, tetapi kita juga bisa mengapresiasinya dengan menggunakan karya batik Nusantara dan menyebarluaskan tentang batik kepada generasi selanjutnya.” 54 | BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK


TENTANG SEKAR SARI Sekar Sari adalah salah satu pencinta dan penggiat batik yang turut berkontribusi dalam menggaungkan batik di kalangan muda. Perempuan asal Yogyakarya, kelahiran 23 Desember 1988 ini merupakan Pemenang Ketiga Putri Batik Nusantara tahun 2011. Dunia seni sangat lekat dengannya. Dari seni tari, seni peran, presenter, sampai batik yang dikenal sebagai seni menghias kain. Mengaku terinspirasi dari Ibu Ayu Dyah Pasha, Sekar memulai debut di dunia seni peran dengan membintangi film berjudul Siti pada tahun 2014. Ia merasa sangat beruntung ketika ia diminta untuk bermain dalam film pendek yang disutradarai oleh Kamila Andini. Film yang diproduksi oleh Titimangsa Foundation berkolaborasi dengan Fourcolours Film dan Bakti Budaya Djarum Foundation ini bercerita tentang batik untuk merayakan Hari Batik Nasional. Bukan suatu kebetulan, film tersebut berjudul seperti namanya, Sekar. Sepertinya film ini memang dibuat untuk seorang Sekar Sari. “Sebagai aktor, tidak bisa mencari peran, tetapi peran yang mencari aktornya,” ujar Sekar. Padahal waktu itu, ia baru seminggu melahirkan dan sedang sibuk mengasuh bayi. Tetapi sisi hatinya yang lain, ada kerinduan untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Film Sekar ini tidak hanya berkisah tentang batik, tetapi juga tentang relasi ibu dan anak. Apalagi film itu turut diperankan oleh Ibu Christine Hakim. “Saya semakin antusias karena beliau adalah idola saya,” ungkap Sekar yang akhirnya ‘terpaksa’ membawa bayi ke lokasi syuting. Di film itu ada adegan Sekar membatik — keahlian yang ia peroleh saat dirinya mengikuti ajang PPBN ternyata sangat bermanfaat. Itulah momentum yang mengembalikan optimisme Sekar untuk terus berkarya dan mengembangkan bakatnya, meskipun sudah menjadi ibu. Saat ini ia baru saja menerima beasiswa LPDP Program Doktoral Luar Negeri untuk mengambil gelar Doctor of Philosophy-Arts di University of Melbourne, Australia. “Sebagai anak bangsa, kita perlu melakukan aksi nyata untuk mendukung batik Indonesia dengan cara apa pun yang kita bisa.” BAB 3 - PERJUANGAN MEWARISI CINTA BATIK | 55


BAB EMPAT SYIAR ’NUSANTARA WISDOM’ LEWAT BATIK Era Soekamto Dalam episode ke-100 yang jatuh pada tanggal 7 Oktober 2022, Ayu Show mengangkat tema “Beyond Batik” — berkaitan dengan perayaan Hari Batik Nasional 2022 — yang menampilkan narasumber istimewa yaitu Era Soekamto, salah seorang perancang mode kebanggaan Indonesia yang memiliki talenta dan minat kuat terhadap pengembangan batik Nusantara. BATIK & FASHION DESIGNER + NUSANTARA WISDOM CONSULTANT 56 | BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK


BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK | 57


Meskipun saat ini batik sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri — ditandai dengan dikukuhkannya batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2009 — dan sudah. diapresiasi lebih baik oleh masyarakat, termasuk anak-anak generasi milenial hingga generasi Z, namun ‘pe er’ (pekerjaan rumah) kita masih banyak. Demikian menurut Era Soekamto, perancang mode yang pernah menjabat sebagai Creative Director Rumah Mode Iwan Tirta selama 9 tahun terakhir itu dan baru saja menciptakan batik atas namanya sendiri yang diluncurkan pada Juli 2022 lalu. MENGENAL BATIK NUSANTARA Batik merupakan sebuah proses dan teknik. Proses bertahap yang dimulai dengan membubuhkan malam, lilin (wax) untuk kemudian dimasukkannya warna pada kain. Era pun memaparkan lebih luas lagi, bahwa teknik seperti ini bukan hanya milik Indonesia, tetapi sudah ada sejak peradaban kuno di seluruh dunia. Awalnya memakai getah. Teknik ini berawal dari peradaban yang lebih tinggi, di mana seni muncul setelah peradaban dan kebutuhan masyarakat sudah terpenuhi, sandang, pangan, dan papan. Era berasumsi bahwa awal mula peradaban tinggi itu ada di Indonesia. Bahkan, kata Era dari buku yang pernah dibacanya, Plato mengatakan ada 98% dari titik poin Atlantis berada di wilayah perairan Indonesia. Salah satu yang membedakan batik kita dengan batik asal bangsa lain adalah pada ukuran ‘canting’. Jika batik asal Srilanka dan Malaka menggunakan alat serupa canting yang besar, di Indonesia menggunakan canting yang ukurannya kecil. Bahkan ujung tempat malam keluar pun terbagi lagi menjadi beberapa ukuran hingga yang sangat kecil sehingga dibutuhkan keahlian yang mumpuni. “Kenapa di sini menggunakan canting kecil, karena orang Indonesia itu sabar-sabar,” ujar Era. Isen merupakan isian yang bertujuan untuk memperindah suatu motif.  PESAN ‘TERSEMBUNYI’ DI BALIK MOTIF Selain perbedaan dari segi teknik, batik Indonesia juga memiliki subliminal message atau pesan ‘tersembunyi’ di balik motifnya. ’Pesan’ yang dibawa oleh motif batik Indonesia awalnya ditujukan kepada para raja di Jawa. “Ini adalah sebuah pencatatan rahasia, bersifat ethereal. Kemudian dijadikan sebagai alat syiar, yang diturunkan kepada raja baru atau keturunannya,” Era menjelaskan. Meskipun pada perkembangannya, batik pun mengalami perubahan fungsi serta asimilasi setelah banyak pendatang asing yang masuk ke Indonesia. Cina yang 58 | BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK


pertama kali datang, kemudian para pedagang dari Gujarat, Persia. Di sinilah batik menjadi alat tukar ekonomi. Dan di masa penjajahan Belanda selama 350 tahun, kemudian Jepang selama 3,5 tahun, batik Indonesia menjadi asimilasi ekonomi. Terjadi motif asimilasi seperti Buketan (diambil dari bahasa Belanda boeket yang artinya rangkaian bunga), Van Heussen, Hokokai, dan sebagainya. Hingga saat ini belum ada satu buku pun tentang batik yang secara komprehensif mengupas tuntas tentang arti dari setiap motif batik, khususnya motif klasik yang telah ada di Indonesia sejak lama. Memahami arti dari motif batik ini sangat penting agar kita dapat menggunakannya dengan tepat. Seperti motif Parang. Motif ini pantang dipakai pada acara pernikahan. Sementara untuk prosesi pernikahan adat Jawa, motif batik yang disarankan untuk dipakai antara lain: Sidomukti (Sido artinya jadi dan Mukti artinya bahagia) dengan harapan kedua mempelai mendapatkan kebahagiaan dalam berumah tangga, Sidoasih (dikenal sebagai lambang kasih sayang), Sidoluhur dan Sidomulyo. “Jangan sampai motif-motif sakral dipakai secara terbalik, atau malah dipakai di lantai atau bagian bawah. Padahal pesan yang terkandung dalam motif tersebut adalah doa,” jelas Era. Selain itu, batik juga bisa menjadi legitimasi status, sekaligus pembawa pesan moral. Salah satunya adalah motif Parang, motif batik khusus yang hanya bisa dipakai oleh Raja. Semakin besar motif Parang yang digunakan, maka semakin tinggi status sosialnya. “Motif utama Parang Barong, misalnya. Dulu ditemukan oleh Panembahan Senopati saat sedang bertafakur di Pantai Selatan Jawa. Beliau melihat karang yang diterpa ombak, setiap hari secara berulang dan makin lama menjadi bolong. Artinya, sebuah karang yang keras jika diterpa dengan kelembutan secara istiqomah maka akan luruh juga,” Era menjelaskan. “Motif ini merupakan pesan kepada para raja agar bisa istiqomah. Menyadarkan kita bahwa manusia bukan hanya fisik, tetapi roso yang menjadi nakhoda,” tambah Era. Secara lebih dalam lagi, sebuah motif batik membawa pesan Sang Ilahi. Para pembatik zaman dulu biasanya melakukan ‘mutih’ (puasa adat Jawa) sebelum memulai bekerja. Mereka melakukan proses transcendence, mengosongkan hati dan pikiran, menghilangkan ‘ke-akuan’ sehingga karya yang mengalir adalah karya-Nya melalui manusia sebagai kepanjangan tangan-Nya. Salah satu contohnya adalah motif Kawung — motif tertua di dunia (the flower of life) yang merupakan sacred BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK | 59


geometry atau pola semesta. “Motif Kawung ini digunakan oleh Raja. Pola co-centric dengan 4 sisi yang digunakan untuk membangun candi dan bangunan pendopo sebagai simbol swatantra,“ Era menjelaskan. Bila dilihat dari motifnya yang terdiri dari 4 motif bulatan dimaknai sebagai simbol pola penciptaan semesta. Empat kelopak Kawung mewakili empat elemen yang diciptakan, yaitu: air, api, udara, dan tanah. Dan satu yang ditiupkan yaitu ruh. Seperti juga makna dari ‘sedulur papat limo pancer’ yang merupakan istilah yang dikenal dalam konsep budaya Jawa kuno sebagai bentuk kesatuan wujud manusia ketika lahir ke dunia. Pemahaman seperti ini —yang disebut Era dengan istilah Jawa linuih— tidak bisa diungkapkan dari permukaan saja. Karena membatik itu, menurut Era, mengolah rasa di dalam rasa. Untuk dapat memahami sebuah motif diperlukan kedalaman tertentu agar dapat menghayati pesan yang tersirat di balik keindahan motif batik. Menerjemahkan Batik Sang Maestro Kalau saat ini Era mampu menafsirkan batik dengan rasa, bukanlah terjadi begitu saja. Era sudah terhubung secara batiniah dengan batik sejak kecil. Sang Ibunda yang seorang kolektor batik rajin men-dongengkan tentang macammacam motif batik. Karena itu tak heran ketika di usia belia, Era sudah mampu menunjukkan talentanya mencipta batik. Ia ingat pertama kali dimentori membatik oleh Carmanita — seorang perancang busana senior yang kental dengan nuansa etnik Indonesia dan karya batiknya yang berjudul “Jatayu” itulah yang mengantarkan Era meraih prestasi sebagai Runner Up Young Designer Contest di Singapura. Dan sejak itu nama Era Soekamto tercatat sebagai salah satu anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) termuda. Setelah sukses mengembangkan Urban Crew —fashion brand ready to wear-nya— Era berencana memulai membangun nama batik dengan namanya sendiri tahun 2010. Namun jalan takdir tampaknya menghendaki Era mengemban misi yang lebih besar. Di tahun 2011, ia menerima pinangan dari Rumah Mode Iwan Tirta untuk menjadi Creative Director —menggantikan Sang Maestro yang meninggal dunia tahun 2010. “Tugas saya adalah mengkomunikasikan motifmotif mas Iwan ke permukaan. Untuk itu harus ada disiplin ilmunya. Saya harus merunutkannya seperti menyusun sebuah kurikulum,” ujar Era yang harus menggali dasar sejarah batik para Raja Jawa dari abad ke abad, di berbagai perpustakaan, terutama perpustakaan milik Kraton Solo dan Yogyakarta. 60 | BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK


Bagi Era yang memang menyukai sejarah dan mendalami ilmu Tasawuf, membaca 13.000 motif batik Iwan Tirta terasa lebih mudah karena memahami akulturasi dan asal muasal maupun hakikat dan arti di balik motif-motif tersebut. “Semasa hidupnya Mas Iwan mengekspresikan hasil riset dan perjalanan suluknya lewat motif. Ia tidak pernah menulis atau mencatat arti dari motif karyanya. Ia lebih merasakan rasa di dalam rasa (Era mengistilahkannya dengan ‘bawo raos wonten saklebeting pangraos’) dan menuliskannya dalam bahasa gambar,” ungkap Era. “Sejatinya batik itu adalah tentang roso, jadi perlu dihayati dengan kedalaman rasa,” demikian pula Era akhirnya menempatkan dirinya untuk mengeksplorasi karya di kedalaman ini. Syiar ‘Nusantara Wisdom’ Setelah menyelesaikan misinya selama 9 tahun di Rumah Mode Iwan Tirta, Era pun melanjutkan perjalanan berkaryanya sendiri. Pada tahun 2021, di tengah negeri ini masih ‘lumpuh’ akibat pandemi, Era tergerak untuk membangkitkan kepercayaan diri bangsa ini lewat 120 motif rancangan koleksi batik dari DNA-nya sendiri. Pada Juli tahun 2022 lalu Era sukses menggelar koleksi perdananya yang diberi nama “Adi Manungsa’ di Galeri Apurva, Kempinski Bali. Bercerita tentang hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, Era memilih untuk mengeksplorasi motif-motif Nusantara yang muncul di abad ke-7 hingga ke-9. Salah satunya adalah masa kejayaan masa Singosari hingga Majapahit. Walaupun arsip tentang motif asli Nusantara tersebar di berbagai belahan dunia, ia mengambil kepingan-kepingan yang terdekat seperti arca di Candi Borobudur dan candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Secara teknik, Era menampilkan ciri yang berbeda dari karya Iwan Tirta. Misalnya, jika pada batik Iwan Tirta terkenal dengan aksen sogan, yaitu outline atau bagian pinggiran setiap motif batik yang dibuat dengan canting tebal nomor 1 dan dalam tata warna kecokelatan; serta terlihat tanpa isen atau isian pada motif batik. Sementara Era membuat motifnya tanpa outline atau pinggiran serta memberikan isen lebih banyak. Sentuhan femininitas juga terasa dari pemilihan warna-warna cerah. Walaupun tak dapat dipungkiri peran Era selama 9 tahun menyelami karya Sang Maestro, memberikan sedikit asimilasi dalam karyanya, salah satunya dalam besaran motif. Era menjadikan karyanya ini sebagai media syiar tentang Nusantara Wisdom. Ia ingin mendongeng lewat batik untuk mengembalikan jejak-jejak ingatan kita pada akar dan jati diri bangsa ini. “Saya BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK | 61


“Membatik itu mengolah rasa di dalam rasa” — ERA SOEKAMTO “Batik adalah bahasa bergambar, pesan yang ingin disampaikan tentang hidup, petuah hidup untuk peradaban yang lebih baik.” ingin menyampaikan kearifan Nusantara, tanpa orang harus membaca beriburibu halaman dari beragam buku yang berkisah tentang batik. Cukup dengan mengadopsi karya saya.” Demikian cara Era mengajak generasi penerus untuk menyelami serta mencintai batik sebagai warisan kekayaan dan keluhuran tinggi bangsa ini. *** Foto: Koleksi Batik Era Soekamto 62 | BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK


TENTANG ERA SOEKAMTO IG: @erasoekamto.official Nama Era Soekamto dikenal sebagai salah seorang perancang mode berbakat yang memulai perjalanannya berkarya di usia belia. Di saat usianya belum genap 20 tahun, ia sudah mampu menunjukkan talentanya di dunia fesyen dengan meraih prestasi sebagai Runner Up Indonesia Young Designer Contest (Jakarta) 1997. Wanita berusia 46 tahun itu memulai canting pertamanya dari Carmanita — seorang desainer mode senior yang konsisten mengembangkan wastra etnik Indonesia. “Dengan dimentori mbak Carmanita, saya membawa kreasi batik berjudul ‘Jatayu’,” kenang Era yang berhasil mewakili perancang muda Indonesia di kancah internasional sebagai Runner Up Asian Young Designer Contest. “Setelah bergabung dengan Tim Iwan Tirta, saya baru tahu BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK | 63


kalau dulu Mas Iwan memulai canting pertama di usia yang sama dari Ibu Soed (yang merupakan nenek dari Carmanita),” jelas Creative Director Rumah Batik Iwan Tirta selama 9 tahun terakhir itu. Jelas ini bukanlah sebuah kebetulan. Sepertinya memang ditakdirkan Era akan meneruskan jejak Iwan Tirta dalam mengembangkan batik di negeri ini. Dunia batik memang sudah mendarah daging dalam diri Era. Sejak usia 2 tahun wanita kelahiran Mataram NTB itu tinggal di Bali, tempat sang Ayah bertugas. “Ibuku seorang kolektor batik dan suka mendongeng tentang batik sejak aku kecil,” ungkap wanita berusia 46 tahun itu. Era sudah dibiasakan untuk melihat beragam budaya, termasuk proses membatik, dan storynomic. Tak heran jika sejak di bangku SD, Era sudah mantap menentukan 64 | BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK


Foto: Koleksi Batik Era Soekamto BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK | 65


cita-citanya menjadi seorang desainer. “Dan di usia 19 tahun, namaku masuk dalam daftar IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia),” kata lulusan LaSalle International Fashion College Singapore jurusan Fashion Design ini. Era merupakan salah satu perancang busana termuda (selain Oscar Lawalatta) yang menjadi anggota IPMI di usia 20 tahun. Setelah sukses membangun Urban Crew — fashion brand ready to-wear yang ditujukan untuk segmen anak muda— Era terpanggil untuk memulai karya batiknya dengan nama Era Soekamto. Namun niatnya tersebut belum sempat terwujud, lantaran di tahun 2011 Era menerima tawaran sebagai Creative Director Rumah Mode Iwan Tirta —menggantikan Iwan Tirta yang meninggal dunia sejak 2010. Selama 9 tahun ia dengan tekun dan seksama menunaikan tugasnya menerjemahkan 13.000 motif-motif Sang Maestro ke permukaan. Sampai akhirnya di tahun 2019, Era memutuskan untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya sendiri. Keterpurukan masa pandemi selama 2 tahun terakhir justru membangkitkan energi tersendiri bagi Era untuk terus berkarya. Dan pada Juli tahun 2022 lalu, Era sukses melahirkan koleksi 66 | BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK


batik perdananya yang diberi nama ‘Adi Manungsa’ dan menggelarnya di Galeri Apurva, Kempinski Bali. Lewat 120 motif karyanya, Era ingin menceritakan tentang Nusantara Wisdom, yang membangkitkan kembali jejak-jejak ingatan kita sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Mengembalikan kita pada kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang digdaya dan memiliki peradaban tinggi sejak dulu. Begitulah Era Soekamto. Wanita yang rela dianggap “manusia candi’ itu mantap memulai misinya untuk menciptakan karya batik dari kedalaman yang berbeda. Kedalaman yang mampu menyatukan sejarah leluhur bangsa ini dengan dunia peradaban modern. BAB 4 - SYIAR ‘NUSANTARA WISDOM LEWAT BATIK | 67


EPILOG Batik Nusantara merupakan mahakarya adiluhung yang perlu dicintai, dibanggakan, dan dilestarikan. Batik bukanlah sekadar sehelai kain biasa. Bukan sekadar keindahan motif dan warna saja. Untuk dapat memahami sebuah batik ternyata diperlukan kedalaman rasa tertentu agar kita dapat menghayati pesan yang tersirat di balik keindahan motifnya. Melalui batik, kita tak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga belajar mengenal jati diri kita sebagai bangsa yang memiliki peradaban budaya tinggi serta sebagai manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Learning Lessons FromCoach NANTIKAN! E-BOOK EDISI #4 “Membatik itu mengolah rasa di dalam rasa” — ERA SOEKAMTO “Sebagai anak bangsa, kita perlu melakukan aksi nyata untuk mendukung batik Indonesia dengan cara apa pun yang kita bisa.” — SEKAR SARI Bagi saya, batik bukanlah sekadar sehelai textile. Melainkan sebagai karya seni adati yang punya daya tarik tersendiri. “ — INSANA HABIBIE “ 68 | EPILOG


Click to View FlipBook Version