2). Kepala Sekolah juga perlu menerapkan model kepemimpinan otoriter ketika
menghadapi terjadinya pelanggaran kebijakan dan aturan yang berlaku. Contoh kasus
ketika ada guru/karyawan yang sering mangkir atau tidak masuk kerja dan tidak
melaksanakan tugasnya tanpa ijin pimpinan dan mengabaikan tupoksinya sebagai guru,
maka Kepala Sekolah wajib memberikan sanksi dengan tahapan dari teguran lisan, teguran
tertulis, dan kalau masih belum diindahkan maka disinilah Kepala Sekolah selaku
pimpinan mengambil langkah tegas ( otoriter ) dengan memberikan sanksi mengajukan
sesuai aturan yang berlaku terhadap guru tersebut dengan berkoordinasi dengan Badan
Kepegawaian Negara.
3). Kepala Sekolah dalam menjalankan tugas sebagai leadership terkadang juga perlu
menerapkan kepemimpinan pribadi maksudnya dengan mengadakan kontak pribadi.
Contoh kasus ketika Kepala Sekolah ingin memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan maka akan berbeda – beda cara pendekatannya. Misal dengan tenaga
yangmasih muda dan energik serta memiliki kemampuan IT yang baik ketika
melaksanakan supervise pembelajaran tentu akan sangan berbeda dengan tenaga pendidik
yang sudah senior dan tidak memiliki kepmampuan IT. Maka pendekan kontak individu
paling tepat agar semua bisa berjalan secara selaras dan seimbang, tanpa ada tenaga
pendidik yang merasa didiskriminasikan/ dibedakan karena keterbatasan kemampuannya.
17. Teori Kepemimpinan Perilaku Khusus (Leadership Through Power)
Isi dari teori ini adalah Power atau kekuasaan merupakan unsur yang sangat penting bagi
seorang pemimpin, karena jika kekuasaan meningkat maka kekuatan untuk mempengaruhi
orang lain akan meningkat pula, maksud dari teori ini bahwa Pemimpin yang memiliki
power akan mampu mendapatkan sumber daya yang cukup, mengimplementasikan setiap
kebijakan, dan aktivitas lainnya dibandingkan pemimpin yang hanya memiliki sedikit atau
42
sama sekali tidak memiliki kekuasaan,French and Raven (1959) mengidentifikasi lima
dasar tipe kekuasaan, yaitu expert, legitimate, reward, coercive dan referent.
1. Expert Power
Dalam situasi tertentu, pemimpin yang memiliki pengetahuan atau keahlian khusus yang
bermanfaat bagi organisasi akan membantu pemimpin mendapatkan kekuasaan atau
power. Ada dua persyaratan untuk mendapatkan expert power. Pertama, keahlian yang
dimiliki harus benar-benar diperlukan orang lain dalam organisasi. Misalkan dalam
fakultas Psikologi di sebuah universitas, para peneliti yang memiliki keahlian Statistik
akan lebih memiliki kekuasaan dibanding dengan peneliti lain yang kurang mampu dalam
Statistik. Syarat kedua, orang lain harus tahu bahwa pemimpin memiliki keahlian tertentu.
Informasi hanya akan berguna jika orang lain tahu bahwa pemimpinnya mampu atau
pemimpin dapat menggunakan keahliannya
Contoh :
1).Baharudin Jusuf Habibie (Mantan Presiden RI ke-3), salah satu hal yang dapat
mengantarkannya menjadi Presiden RI ke-3 adalah karena keahliannya di bidang teknologi
dirgantara.
2).KRMT Roy Suryo, salah satu hal yang dapat mengantarkannya menjadi anggota DPR
RI Periode 2009-2014 adalah karena keahliannya di bidang telematika.
2. Legitimate Power
Pemimpin memiliki kekuasaan berdasarkan posisi atau jabatannya.Kekuasaan seorang
pemimpin diakui oleh orang- orang yang dipimpinnya.
Contoh :
a) Seorang wakil direktur memiliki kekuasaan terhadap supervisor,
b) seorang pelatih sepak bola memiliki kekuasaan terhadap para pemain yang dilatihnya
c) seorang guru memiliki kekuasaan terhadap peserta didiknya,
43
d) seorang kepala sekolah memiliki kekuasaan terhadap guru dan karyawannya.
3. Reward and Punishment Power
Kekuasaan berdasarkan penghargaan (reward) serta hukuman (punishment) yang dapat
digunakannya. Reward power adalah memiliki kontrol kekuasaan melalui pemberian
hadiah atau kegembiraan kepada orang- orang yang dipimpinya.
Contoh Sistem Reward dan Punishment
a) Pada kepemimpinan militer, seperti memberikan hadiah kepada mereka yang
berprestasi dan memberikan hukuman ringan seperti push-up
b) Dalam dunia pendidikan, Kepala sekolah memberikan hadiah kepada guru karyawanya
yang paling disiplin dalam kehadiran, dan memberi hukuman kepada guru karyawan
yang tidak disiplin dalam bentuk teguran, peringatan baik secara lisan maupun tertulis.
4. Coercive power,
Kekuasaan seorang pemimpin untuk memberikan pengertian kepada orang lain bahwa dia
memiliki kekuasaan untuk memberikan ancaman hukuman .
5. Respect or Affection Power atau referent power.
Sumber kekuasaan lain bagi seorang pemimpin terletak pada perasaan positif anak buah
atau pengikut terhadap pemimpin tersebut. Pemimpin dapat memperoleh referent power
dengan menghargai orang lain, berbuat baik, ramah dan suportif Pemimpin yang sangat
disenangi akan dapat mempengaruhi orang lain walaupun tanpa penghargaan (reward) dan
pemaksaan (coercive). Dengan disukai dan dihormati oleh anak buah, atasan atau kolega
maka tentu saja pemimpin akan mampu mempengaruhi kelompoknya.
Contoh ,
Kepemimpinan Gus Dur (Mantan Presiden RI ke-4) diyakini sebagai pemimpin yang
bergaya Referent Power
18. Teori Kepemimpinan Alamiah / Teori Sifat Dasar Kepemimpinan (Trait Theory)
44
Isi Teori kepemimponan alamiah ini menyatakan bahwa setiap orang memiliki
karakteristik atau sifat yang diwariskan , bahwa jika sifat-sifat kepemimpinan yang ada
pada orang-orang besar yang berhasil ini, ditemukan pada orang lain, maka orang lain
juga memiliki kemungkinan yang kuat menjadi pemimpin besar. Disini dijelaskan bahwa
ada tiga asumsi yang mendasari Teori Kepemimpinan Alamiah atau Teori Sifat Dasar
Kepemimpinan (Trait Theory) adalah :
a), Orang dilahirkan dengan sifat-sifat yang diturunkan atau diwariskan.
b). Beberapa sifat yang diwarisi ada yang secara kebetulan sangat cocok untuk menjadi
pemimpin.
c). Orang-orang yang berhasil menjadi pemimpin yang baik dan efektif memiliki jumlah
dan kombinasi warisan sifat-sifat kepemimpinan yang secara alamiah baik McCall dan
Lombardo (1983) mengidentifikasi empat ciri utama mengenai karakter yang dapat
mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan kepemimpinan sebagai berikut:
1). Memiliki ketenangan dan stabilitas emosional (Emotional stability and composure)
meliputi : Tenang, percaya diri dan dapat diprediksi, terutama ketika sedang
mengalami stres.
2). Bersedia mengakui kesalahan (Admitting error) : Dalam setiap menghadapi masalah,
memilih mengakui kesalahan daripada membuang-buang energi untuk menutupi
kesalahan.
3). Memiliki kemampuan interpersonal yang baik (Good interpersonal skills) : Mampu
berkomunikasi dan membujuk orang lain dengan baik tanpa menggunakan cara-cara
yang negatif atau pemaksaan kehendak.
4). Berwawasan intelektual yang luas (Intellectual breadth) : Mampu memahami
berbagai hal, tidak berpikiran sempit dalam bidang keahliannya
45
Keempat hal tersebut diatas mengenai sifat-sifat (traits) yang baik untuk menjadi syarat
pemimpinan yang efektif dan diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin.
Dalam kontek system perpolitikan saat ini, belum tentu sifat-sifat kepemimpinan akan
menurun secara otomatis kepada generasi berikutnya pada keluarga kerajaan pada saat
seperti sekarang ini. Sebagai contoh, beberapa keterunan atau generasi penerus atau
singkatnya anak-anak raja pada saat ini, belum tentu memiliki sifat dasar yang cocok untuk
menjadi seorang pemimpin. Hanya saja, secara otomatis mereka dapat menjadi pemimpin
(raja atau ratu) karena memang system monarki yang mengharuskannya
Contoh :
1) Kepemimpinan Pangeran William (Penerus Tahta Kerajaan Inggris),
2) Kepemimpinan Sultan Bolkiah (Pangeran Brunei Darussalam)
3) Kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono X (Raja Kesultanan Yogyakarta).
Terlepas dari karakteristik kepribadian dari ketiga contoh pemimpin tersebut, apakah
sesuai atau tidak untuk menjadi pemimpin yang efektif berdasarkan Teori Sifat (Trait
Theory), namun system perpolitikan monarki telah mengharuskan dirinya menjadi
Pemimpin.
19. Trait Theory
Merupakan teori kepribadian yang dasari oleh beberapa asumsi bahwa trait merupakan
suatu pikiran atau perasaan yang membedakan satu orang pemimpin dengan orang lain,
sehingga relative setabil dan konsisten dari waktu kewaktu. Maksud teori ini adalah
Seorang Pemimpin memiliki karakteristik khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain , jadi
dalam trait theory yang ditonjolkan adalah fungsi – fungsi kualitas individu yang
menjadikan pemimpin tersebut menjadi cermin bagi orang lain.
Contoh implementasi dianntaranya adalah :
1). Seorang pemimpin harus memiliki daya dorong terhadap teman – temannya untuk
46
terus berprestasi
2).Seorang pemimpin harus memiliki kejujuran dan integritas sehingga pemimpin tersebut
dapat dipercaya di lingkungan bekerja
3). Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi seseorang
dalam mencapai tujuan
20. Teori Psikologis.
Isi Teori ini menyatakan, bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan
mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk memotivasi kesediaan bekerja dari para
pengikut dan anak buah. Maksudnya bahwa pemimpin merangsang bawahan, agar mereka
mau bekerja, guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun memenuhi tujuan-
tujuan pribadi. Maka kepemimpinan yang mampu memotivasi orang lain akan sangat
mementingkan aspek-aspek psikis manusia seperti pengakuan (recognizing), martabat,
status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan dan kebutuhan pegawai,
kegairahan kerja, minat, suasana hati, dan lain-lain.
Contoh bentuk implementasinya diantaranya :
1). Kepala Sekolah selalu melakukan motivasi kepada guru dan karyawan agar selalu
disiplin dalam bekerja penuh kreasi, pantang menyerah, selalu berkomunikasi dengan
teman yang lain tentang pekerjaan yang sedang dikerjakan, dan memberi contoh cara
mengambil keputusan bijaksana dan baik
2). bahwa pemimpin berhasil (efektif) adalah sumber dari kepribadian (personality)
pemimpin itu sendiri sebagai seorang insan. Hal tersebut membuktikan bahwa hal yang
paling mempengaruhi dalam kepemimpinan kepala sekolah adalah kepribadian kepala
sekolah sendiri. Kalau kepribadian nya baik tentu hal yang lain akan mengikutinya.
47
3). Kepemimpinan kepala sekolah akan nampak manakala kepala sekolah berinteraksi
dengan orang lain, misalnya melakukan percakapan pribadi dengan guru, teman
sejawatnya, maupun dengan muridnya
4). Kepala sekolah membagi tugas kepada guru dan karyawan melihat kemampuan
masing-masing, pembagian pekerjaan harus sesuai dengan kompetensi, pekerjaan saya
delegasikan dengan adil dan transparan.
21. Teori Transformasional
Teori kepemimpinan ini terjadi ketika satu orang atau kelompok orang berhubungan
dengan orang banyak dengan upaya untuk mengangkat posisi para pemimpin dan pengikut
( anggota Tim )
Kepemimpinan Tranformasional adalah sebuah teori yang relevan dengan kehidupan
modern saat ini. Dalam hal ini teori kepemimpinan mencakup 2 elemen yang sangat
penting, kedua elemen yang dimaksud adalah relasional dan hal – hal yang berurusan
dengan perubahan riil.
Contoh :
1. Seorang Kepala Sekolah harus memiliki kharismatik karena harus mampu
untuk mengartikulasikan sebuah visi dan misi yang akan datang yang terasa meyakinkan
dan membentuk serta membangun hubungan emosional dengan para pengikutnya, namun
seoramg pemimpin melakukan semua itu guna pemenuhan kebutuhan untuk tercapainya
perubahan dalam organisasi.
2. Seorang pemimpin harus bisa berinovatif dan bisa merangsang terhadap teman-temanya
dan bisa menginspirasi pengikutnya untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa dan dalam
prosesnya mengembangkan kapasitas kepemimpinanya sendiriselain iyu seorang pemim
pin harus bisa memperdayakan para pengikut dengan cara menselaraskan tujuan yang lebih
besar.
48
22. Teori Sosiologis.
Dalam teori ini, kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan antar-
relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris
antara para pengikutnya, agar tercapai kerja sama yang baik.
Kepala Sekolah harus mampu mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara
aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral)
yang ada pada seluruh bawahannya sehingga dengan cepat melakukan tindakan preventif
agar tidak mengganggu pencapaian tujuan yang hendak di capai. Maksud dari teori ini
adalah Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan, dengan menyertakan para pengikut dalam
pengambilan keputusan terakhir. Selanjutnya juga mengidentifikasi tujuan, dan kerap kali
memberikan petunjuk yang diperlukan bagi para pengikut untuk melakukan setiap
tindakan yang berkaitan dengan kepentingan kelompoknya.
Contoh implementasi teori sosiologis diantaranya :
1). Kepala sekolah harus mampu beradaptasi dengan segala lapisan masyararakat, istilah
harus ajur ajer, yaitu mampu bersosialisasi dengan baik terutama dengan bawahan agar
segala program dapat dikomunikasikan dengan baik tanpa ada rasa canggung.
2). Kepala Sekolah adalah figur teladan, jadi harus memberi contoh kepada seluruh warga
sekolah, karena di sekolah seorang murid diwajibkan untuk datang tepat waktu,
menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut
dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari
contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di
luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid). Maka
Kepala sekolah dan bawahannya harus menjdi geladan terlebih dahulu kalau ingim hal
tersewbut berhasil dengan baik.
49
23. Teori Lingkungan:
Teori ini secara garis besar menjelaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin dalam
menjalankan tugasnya sangat tergantung terhadap situasi dan gaya kepemimpinan yang
dipakainya.
Untuk situasi yang berbeda, maka dipakai gaya yang berbeda pula. Berdasarkan teori
lingkungan, seorang harus mampu mengubah model gaya kepemimpinannya sesuai dengan
tuntutan dan situasi zaman. Oleh karena itu, situasi dan kondisi yang berubah menghendaki
gaya dan model kepemimpinan yang berubah. Sebab jika pemimpin tidak melakukan
perubahan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, kepemimpinannya tidak akan berhasil
secara maksimal. Tingkah laku dalam gaya kepemimpinan ini dapat dipelajari dari proses
belajar dan pengalaman pemimpin tersebut, sehingga seorang pemimpin untuk
menghadapi situasi yang berbeda akan memakai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
situasi yang dialami.
Contoh :
1). Kepala Sekolah harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, misalkan :
Rasa aman dari bahaya yang mungkin timbul pada saat menjalankan tugas, merasa aman
dari pemutusan hubungan kerja yang sewenang-wenang secara tidak adil, merasa aman
dari segala macam bentuk tuduhan sebagai akibat dari saling curiga mencurigai di antara
para pegawai
2). Kepala Sekolah harus mampu membaca situasi dimana dia ditugaskan, misalkan
masyarakat sekita sekolah berada petani, nelayan, pedagang, kota , sehingga tidak akan
salah dalam menerapkan kebijakan yang menyangkut semua steak holder termasuk
masyarakat sekitar.
3). Kepala Sekolah harus memeiliki rasa sosial yang tinggi misal :
50
a. Mengadakan anjangsana ke rumah-rumah pegawai pada saat-saat tertentu, sehingga
pegawai merasa senang dan bangga. Angjangsana ini bisa diadakan secara teratur.
b. Ikut membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh pegawai, sepanjang
pegawai yang bersangkutan tidak berkeberatan.
c. Membela kepentingan bawahan, sepanjang kepentingan bawahan tidak bertentangan
dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
d. Membela bawahan dan pihak-pihak lain, meskipun secara intern bawahan mendapat
teguran bahkan mendapat peringatan keras dari pimpinan.
e. Melindungi bawahan dari segala bentuk ancaman yang datangnya dari pihak lain,
selama bawahan masih berada pada posisi atau garis yang benar.
24. Teori Implisit
Dalam teori ini menyatakan bahwa keyakinan atau pandangan individu tentang sifat dari
atribut-atribut yang dimiliki manusia.antara lain inteligensi dan kepribadian. artinya
seorang pemimpin yang baik, bijaksana,cerdas maka pengikut atau bawahannya akan
merasakan nyaman, damai dan sejahtera sebaliknya pemimpin yang bermoral buruk
bawahan atau pengikutnya akan menderita.
Dalam penjelasannya bahwa kepemimpinan ini didasarkan pada keyakinan kita masing-
masing dan asumsi tentang karakteristik kepemimpinan yang efektif.dan pada akhirnya
teori ini bertindak untuk memaksa, berlaku moderat dan memandu pelatihan kepemim
pinan,
1). Memaksa.
Contoh : Seorang pemimpin yang baik dapat mengontrol dan dapat juga memaksa anggota
kelompoknya untuk patuh tentunya dalam kebaikan Salah satu contohnya adalah Kepala
Sekolah memiliki kemampuan memimpin dengan menggerakan bawahannya untuk patuh
51
kepadanya dengan melalui berbagai cara seperti membujuk, memotivasi dan memberi
contoh bahkan melakkan penekanan agar tujuan organisasi tercapai.
Kepala Sekolah sebagai motivator yang berpikir realistis dalam menjalankan tugas dengan
ditopang oleh kemampuan berkomunikasi aktif untuk memprovokasi masyarakat dan
mampu mempengaruhi kerangka berpikir orang lain sehingga orang tersebut bersedia
mengikuti saran-saran atau himbauannya untuk turut serta dalam penyelenggaraan
pendidikan yang dipimpin. Visi kepala sekalah mustahil akan terjadi tanpa kemapuan dan
keterampilan komunikasi yang baik, sesuai dengan konsep bahasa bijaksana adalah
memiliki proses pesan yang terfokus pada begaimana orang-orang menyampaikan,
menginterpretasi, mengevaluasi perilaku, dan mampu pada tataran proses produksi pesan
yang terfokus komunikasi dalam rangka intraksi sosial dengan tercapainya tujuan bersama.
2. Penerapan sistem interpersonal communication merupakan langkah terbaik untuk
menerapkan pemimpin yang Moderat.Pemimpin moderat seringkali diartikan dengan
posisi dimana seseorang pemimpin harus memiliki karakter adil, bijak, terbuka, rendah
hati, rasional, demokratis dan juga karakter-karakter baik lainnya yang memberi manfaat
kepada orang lain.
Contoh : Kepala Sekolah dalam memilih Wakil tidak langsung memilih tetapi harus
bijaksana, bertanya kepada teman, konsultasi dengan para senior, tentang bagaimana
kemampuan, karakter , dan kenyamanan dalam bekerja.
Kepala Sekolah mampu untul bersikap demokratis,tidak diskriminatif dan berlaku adil
kepada seluruh bawahanya, mempunyai kepedulian terhadap kejadian kejadian yang ada
hubungannya dengan sosial kemasyarakatan.
Memandu pelatihan kepemimpinan.Memberikan pemahaman tentang tugas dan
kemampuan teknis yang diperlukan oleh seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pemimpin di organisasinya masing - masing.
52
Contoh : Kepala Sekolah bertugas menetapkan tujuan program secara jelas, memberikan
instruksi yang jelas kepada guru dan karyawan, memberikan materi atau penjelasan
bagaimana cara melakukannya agar dapat berjalan lancar, dan tepat waktu, serta
mengevaluasi program tersebut.
25. Teori Suportif
Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin, dan bekerja dengan
penuh gairah, sedang pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui
kebijakan tertentu. Berarti dalam hal ini, pemimpin perlu menciptakan suatu lingkungan
kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikut
nya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak
lain, mau mengembangkan bakat dan keterampilannya, dan menyadari benar keinginan
untuk maju. Teori suportif ini biasa dikenal dengan teori partisipatif atau teori kepemim
pinan demokratis.
Contoh :
1). Kepala sekolah yang selalu memberikan motivasi dan mendorong bawahannya untuk
selalu semangat dalam bekerja dan selalu memberikan penghargaan kepada seluruh
bawahannya atas usaha dan prestasinya.
2). Kepala Sekolah selalu Menunjukkan keramahan dalam bergaul dan bersosialisasi
dengan siapapun dan memiliki kemampuan untuk melakukan pendekatan persuasif
kepada seluruh stek holder
3). Kepala Sekolah selalu mendelegasikan beberapa tugas dan kewenangannya serta
tanggung jawabnya kepada guru dan karayawan yang dipandang mampu dan berkua
lifikasi dibidangnya.
26. Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara
Isi teori ini menyatakan bahwa Seorang pemimpin (guru) harus mampu menjadi model,
53
pembuka jalan atau suri tauladan, menjadi motivator dan menjadi pendukung (supporter)
dari belakang bagi siswa-siswanya anak buahnya. Konsep ini dalam bahasa Jawa,
diungkapkan sebagai berikut : “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut
Wuri Handayani”.
Penjelasannya adalah sebagai berikut Trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro mengajak
setiap orang yang ingin sukses dalam kepemimpinannya harus selalu berusaha untuk
memahami secara situasional setiap lingkungan yang dihadapi dalam dimensi tempat dan
waktu. Dengan mengetahui posisinya, seorang pemimpin akan selalu tepat dalam
bertindak. Istilah dalam bahasa Jawa, jadilah “Bisa rumangsa, ojo rumangsa bisa”. Kurang
lebih, maknanya “Jadilah seorang pemimpin yang mampu memahami situasi anak buah
dan lingkungannya, jangan sembrono dan merasa mampu padahal belum memahami
karakter anak buah maupun lingkungannya. Konsep kepemimpinan yang ideal dalam
mengelola institusi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah :
1). Ing Ngarso Sung Tulodo (Di Depan Memberi Contoh)
a. Pemimpin harus selalu berusaha menjadi contoh terbaik dan inspiratif terhadap
pengikutnya. Caranya adalah menjalankan kehidupan sehari-hari baik secara formal
maupun informal dengan penuh kebajikan dan integritas.
b. Pemimpin dapat dijadikan contoh jika kehidupan pribadinya baik dan dikagumi oleh
pengikutnya. Dalam bahasa Jawa, para guru dianggap pemimpin baik di sekolah
maupun di tengah masyarakat. Oleh karenanya, “keroto boso” atau makna kata guru
adalah di-gugu (dipercaya) dan di-tiru.
2). Ing Madyo Mangun Karso (Berada Diantara Pengikut, Harus Kreatif Dan Inovatif).
c. Jika pemimpin berada di tengah-tengah para pengikutnya, pemimpin harus dominan
dan memberikan banyak ide atau gagasan baru. Pemimpin sebagai agen perubahan,
54
harus selalu melakukan inovasi dan kreasi yang dapat disampaikan kepada
pengikutnya.
d. Dengan demikian, pengikut merasa selalu terdorong, diperhatikan dan dihargai oleh
pemimpinnya dalam mencapai tugasnya
3). Tut Wuri Handayani (Di Belakang Anggota, Harus Bisa Menjadi Pendorong Semangat
Atau Motivator)
e. Pemimpin selalu mendorong dan memberi kesempatan pengikutnya untuk maju.
Pemimpin memberikan jenjang karir yang jelas sehingga pengikut bersemangat
dalam bekerja.
f. Pemimpin mencoba membuat kesepakatan tentang penghargaan untuk mendorong
mereka lebih semangat dalam bekerja, tapi juga menyampaikan sanksi atau hukuman
bagi mereka yang berbuat salah.
55
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Konsep kekuasaan sangat penting untuk memahami bagaimana orang mampu saling
mempengaruhi dalam organisasi (Mitzberg, 1983; feffer , 1981, 1992), kekuasaan
melibatkan kapasitas dari satu pihak(agen) untuk mempengaruhi pihak lain (target).
Konsep ini lebih fleksibel untuk digunakan dengan berbagai cara .istilah ini sangat
berpengaruh pada agen terhadap seseorang sebagai satu target , atau terhadap berbagai
orang yang menjadi target,terkadang istilah ini menunjukan potensi pengaruh atas hal-hal
atau peristiwa dan juga sikap dan prilaku. Terkadang agen merupakan kelompok atas
organisasi bukannya individual .
Teori kepemimpinan membicarakan mengenai bagaimana seseorang menjadi
pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin, dan teori tentang kepemimpinan
itu. Tipe kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang dibawakan oleh
seorang pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya seorang pemimpin
dalam menjalankan kepemimpinan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor
pendidikan, pengalaman, usia, karakter tabiat atau sifat yang ada pada diri pemimpin
tersebut. Orang yang ambisius untuk menguasai setiap situasi apabila menjadi pemimpin
cenderung akan bersifat otoriter.
Terkadang kekuasaan didefenisikan dalam konteks relative bukanya absolut yang
berarti batasan dimana agen tersebut mempunyai pengaruh lebih besar terhadap target
56
dibandingkan dengan yang dimiliki target terhadap agen. Akhirnya terdapat berbagai jenis
kekuasaan dan satu agen bisa mempunyai lebih banyak .
Meningkatnya kekuasaan memberi penghargaan oleh bawahan terhadap atasannya
sangat terbatas pada sebagian besarorganisasi. Beberapa organisasi memberikan
mekanisme formal kepada bawahan untuk mengevaluasi pimpinannya.Namun, bawahan
biasanya mempunyai pengaruh tidak langsung reputasi pimpinannya dan prospek untuk
mendapatkan kenaikan gaji atau promosi.
2. Saran dan Rekomendasi
Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berani, bukan hanya dalam
pengertian fisik. Jika seorang pemimpin tidak memiliki keberanian yang diperlukan
untuk bertindak demi kepentingan orang banyak, maka pemimpin itu kehilangan
pengaruh terhadap kelompoknya. Pemimpin yang sempurna harus mampu menerapkan
kedisiplinan dalam arti yang klasik, yakni mengajarkan kepada para pengikutnya ke jalan
yang benar. Disiplin bukan hanya menerapkan kontrol dan menghukum orang yang tidak
menaati instruksi, tetapi disiplin adalah membangun, aturan, latihan, yang tanpa semua
itu kekuasaan tidak akan berjalan dengan efektif.
Lewis H. Lapham mengatakan bahwa kekuasaan bukan menghendaki ukuran
teknis, tetapi sikap dan karakter. Sesuatu yang diperlukan dalam kepemimpinan adalah
kekuatan moral, bukan kekuatan fisik atau intelektual. Kekuasaan merupakan suatu
usaha untuk menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan tertentu baik yang bersifat
duniawi maupun bersifat ukhrowi sesuai dengan nilai dan syariat Islam. Dengan
demikian, semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, akan
semakin besar potensi kepemimpinan yang efektif.
57
Saran dari penulis merekomendasikan bahwa jika kekuasaan dan pengaruh pada
sebuah organsasi ingin berhasil dan sukses, maka kekuasaan dan pengaruh menurut
syariat Islamlah yang terbaik. Yang mampu membuat sebuah organisasi skala besar
maupun kecil menjadi organisasi yang baik dan berkualitas.
58
DAFTAR PUSTAKA
https://rumahradhen.wordpress.com/2018/04/03/makalah-teori-kepemimpinan/.
https://yunit4m4l1aa.wordpress.com/2012/04/17/makalah-kepemimpinan-2/
http://suhendraaw.blogspot.co.id/2013/06/makalah-kepemimpinan-
dalam organisasi.html diakses tanggal 27 Desember 2017
1,Hukum kepemimpinan John C. Maxwell
2.Prof. Dr. H. Siswoyo Haryono, MM, MPd INTISARI TEORI KEPEMIMPINAN
Diterbitkan oleh ; @ 2015, PT. Intermedia Personalia Utama Jl. Duta Bumi Raya No. 1 Kota
Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat 17131 Telp. 021-88877209, Fax. 021-88983906, E-mail :
[email protected], Website : www.ptipu.blogspot.com
https://www.pahlevi.net/pengertian-kepemimpinan/
https://www.kajianpustaka.com/2017/08/kepemimpinan-transformasional.html
http://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/4060
Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001),
h. 71-80. TADBIR : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume 5, Nomor 1 : Februari
2017 150 merupakan a one-man show
TADBIR : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume 5, Nomor 1 : Februari 2017 151
Boynton, Johnson dan Kell. 2003. Modern Auditing Edisi Ketujuh Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Gary Yukl, Leadership in Organizations, Sixth Edition, 2009), Peter G. Northouse,
Leadership: Theory and Practice, Fifth Edition, 2010, Stephen P. Robbins, Essentials of
Organization Behavior, 7th Edition, Bruce J. Avolio and Fred J. Luthans, The High Impact
Leader: Moments Matter in Accelerating Authentic Leadership,
Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 2. No 1 (2017): 40-53 P-ISSN 2301-
8305 E-ISSN 2599-0063 62
59
Lely Dianawati,S.Pd. dkk
TEORI – TEORI KEPEMIMPINAN
DAN IMPLEMENTASINYA
Farha
Pustaka
Teori – Teori Kepemimpinan Dan Implementasinya
Penulis : Lely Dianawati,S.Pd dkk
ISBN
Editor : Dr. H. Abdul Rohman, M. Pd
Penata Letak : Lely Dianawati,S.Pd
Desain Sampul : Lely Dianawti,S.Pd
Copyright © Farha Pustaka
Diterbitkan oleh
Farha Pustaka
Dicatak dan Didistribusikan oleh
Farha Pustaka
Hak Cipta Dilindungi Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta, PASAL 72
TEORI – TEORI KEPEMIMPINAN DAN IMPLEMENTASINYA
Oleh :
Lely Dianawati,S.Pd
Eko Wahyudi,S.Pd
Kasidin, S.Pd
Suripti, S.Pd
Ajo Sikirjo,S.Pd
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2020
Sambutan Dekan FIP - UNIGAL Ciamis
Bismillahirrohmanirrohim
Dengen memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, pada kesempatan yang baik
ini, saya menyambut dengan gembira dan bangga terhadap penyusunan buku Teori – teori
Kepemimpinan Dan Implementasinya Seri 1, yang disusun oleh Lely Dianawati,S.Pd dkk,
mahasiswa program Pasca Sarjana Universitas Galuh Ciamis tahun 2020. Buku ini
merupakan sajian kumpulan dari beberapa teori tentang kepemimpinan serta bentuk
implementasinya.
Buku Teori – teori Kepemimpinan Dan Implementasinya Seri 1 ini sangat penting
sebagai petunjuk, informasi, dan pedoman bagi para mahasiswa dalam memahami teori
kepemimpinanan. Hal ini menunjukkan bahwa FIP ( Falkutas Ilmu Pendidikan ) – UNIGAL
Ciamis, masih mampu berupaya meningkatkan produktivitas akademis yang berdimensi
meningkatkan mutu pendidikan.
Seperti kita ketahui bahwa salah satu mata-kuliah yaitu kepemimpinan pendidikan
termasuk kelompok MKDF ( mata kuliah dasar fakultas ) yang memberi ciri keilmuan FIP-
UNIGAL Ciamis adalah tentang teori – teori kepemimpinan yang bertujuan memberikan
pedoman dasar dalam melaksanakan kepemimpinan pada organisasi pendidikan agar dapat
mencapai tujuan organisasi pendidikan. Buku Teori – Teori Kepemimpinan dan
Implementasinya Seri 1 ini mengisi kebutuhan bahan bacaan mahasiswa yang mengikuti
perkuliahan, dan juga mereka yang ingin memahami teori - teori kepemimpinan pendidikan.
Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila buku ini wajib dibaca oleh mahasiswa yang
mengikuti perkuliahan Kepemimpinan Pendidikan pada khusunya dan mahasiswa FIP –
UNIGAL Ciamis dan Pendidikan Tinggi sejenis lainnya.
i
Mudah-mudahan penerbit buku ini mendorong penerbitan buku – buku lain yang akan
memperkaya khazanah perpustakaan FIP pada khususnya dan UNIGAL Ciamis pada
umumnya, baik yang bersifat upaya memenuhi kebutuhan bahan ajar yang bersifat MKDK
( Mata Kuliah Dasar Keguruan ) maupun MKBS ( mata kuliah khusus bidang studi ). Tak
lupa saya mengucapkan selamat kepada kelompok penulis buku yang telah berhasil
menyusun buku yang dibutuhkan dalam upaya mengembangkan budaya dan mutu akademik
FIP – UNIGAL Ciamis. Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Penerbit Farha
Pustaka yang telah memungkinkan terbitnya buku Teori – Teori Kepmimpinan Dan
Implementasinya Seri 1 ini. Semoga kerja sama itu terus berlanjut dan semakin berkembang..
Ciamis, November 2020
Dekan FIP – UNIGAL Ciamis
Dr. Dadi, M.Si.
ii
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyususn buku tentang Teori – Teori
Kepemimpinan Dan Implementasinya Seri 1.
Buku ini merupakan refleksi penulis terhadap berbagai permasalahan terkait dengan
kepemimpinan khususnya di lingkungan pendidikan. Setiap pemimpin organisasi di
lembaga pendidikan memiliki bentuk dan pola kepemimpinan yang berbeda beda. Faktor
kondisi di lapangan yang sangat komplek dan beraneka ragam menuntut seorang
pemimpin untuk cerdas dan selektif dalam menerapkan tipe kepemimpinan yang tepat, ini
tentu saja salah satunya adalah agar organisasi dalam sebuah lembaga dapat mencapai
tujuan secara maksimal. Karena itu dalam kesempatan ini penulis mencoba menulis
berbagai bentuk tipe kepemimpinan serta implementasinya, dengan harapan semoga buku
ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa FIP – UNUGAL khususnya dan sebagai salah satu
bahan bacaan dalam menerapkan tipe atau pola kepemimpinan secara tepat di sebuah
lembaga dalam mencapai tujuan organisasi yang diharapkan.
Dalam kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu sehingga dapat tersusun buku ini. Semoga karya ini
bermanfaat dan menambah wawasan para mahasiswa dalam mempelajari Teori – Teori
kepemimpinan dan Implementasinya. Buku ini tentu saja masih sangat jauh dari sempurna,
untuk itu kritik dan saran konstruktif tidak lupa penulis harapkan kepada pembaca.
Ciamis, November 2020
Penulis
iii
DAFTAR ISI
SAMPUL Halaman
SAMBUTAN DEKAN…………………………………………………….. ..
KATA PENGANTAR……………………………………………………… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………. iv
1
A. Latar Belakang ……………………………………………………... 2
B. Pembatasan Masalah ……………………………………………….. 3
C. Tujuan Penulisan …………………………………………………… 4
D. Manfaat Hasil Penulisan ……………………………………………. 4
BAB II TEORI – TEORI KEPEMIMPINAN DAN IMPLEMENTASINYA 6
A. Teori-teori Kepemimpinan Dan Implementasinya…………………. 6
6
1. Hukum Katup………….......................................................... 16
2. Hukum Pengaruh ………………………………………………. 20
3. Hukum Proses ………………………………………………….. 22
4. Hukum Navigasi ………………………………………………. 23
5. Hukum E.F. Hutton ……………………………………………. 26
6. Hukum Landasan Yang Mantap ( Kepercayaan ) ……………… 28
7. Hukum Kehormatan…………………………………………….. 29
8. Hukum Intuisi ………………………………………………….. 30
9. Hukum Daya tarik ……………………………………………… 32
10. Hukum Hubungan Yang Baik …………………………………. 34
11. Teori Kepemimpinan Perilaku ……………………………….... 36
12. Teori Kepemimpinan Situasional ………………………………
iv
13. Teori Kepemimpinan Game Theory…………………………. 37
14. Teori Kepemimpinan Sifat …………………………………… 37
15. Teori Kepemimpinan Humanistik …………………………….. 39
16. Teori Kepemimpinan Contingensi ……………………………. 41
17. Teori Kepemimpinan Perilaku Khusus ………………………….. 42
18. Teori Kepemimpinan Aalamiah …………………………………. 44
19. Teori Kepemimpinan Trait Theory………………………………. 46
20. Teori Kepemimpinan Teori Psikologis. …………………………. 47
21. Teori Transformasional ………………………………………….. 48
22. Teori Sosiologis………………………………………………….. 49
23. Teori Lingkungan………………………………………………… 50
24. Teori Implisit …………………………………………………….. 51
25. Teori Suportif ……………………………………………………. 53
26. Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara ……………………. 53
BAB IV PENUTUP ………………………………………………………… 56
A. Kesimpulan …………………………………………………………. 56
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan salah satu topik yang selalu menarik untuk dikaji dan
diteliti, karena paling banyak diamati sekaligus fenomena yang paling sedikit dipahami.
Fenomena kepemimpinan di negara Indonesia juga telah membuktikan bagaimana
kepemimpinan telah berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan berpolitik dan bernegara.
Dalam dunia pendidikan, kepemimpinan berpengaruh sangat kuat terhadap jalannya
organisasi dan tujuan yang dicapai.
Pemimpin memiliki peran sentral dalam perilaku kelompok, karena pemimpin
antisipatif terhadap perubahan, peluang yang ada, memotivasi semua pengikut untuk tingkat
yang lebih tinggi serta tingkat produktivitas, tingkat yang memperbaiki kinerja buruk dan
pemimpin harus bisa memberikan bimbingan menuju ke pencapaian dalam tujuan suatu
organisasi.
Pada era globalisasi dan pesatnya teknologi pada abad 4.0 menuntut pemimpin untuk
mampu menyesuaikan perkembangan secara terus-menerus (continuous improvement) dalam
pembentukan keunggulan kompetitif yang mampu untuk berkembang dan bersaing.
Organisasi sekarang harus dilandasi oleh keluwesan, tim kerja yang baik, kepercayaan, dan
penyebaran informasi yang memadai. Kepemimpinan sebagai salah satu penentu arah dan
tujuan organisasi harus mampu menyikapi perkembangan zaman ini. Pemimpin yang tidak
dapat mengantisipasi dunia yang sedang berubah ini, atau setidaknya tidak memberikan
respon, besar kemungkinan akan memasukkan organisasinya dalam situasi stagnasi dan
akhirnya mengalami keruntuhan.
1
Di lingkungan masyarakat, dalam organisasi formal maupun nonformal selalu ada
seseorang yang dianggap lebih dari yang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan lebih
tersebut kemudian diangkat atau ditunjuk sebagai orang yang dipercayakan untuk mengatur
orang lainnya. Biasanya orang seperti itulah disebut pemimpin atau manajer. Dari kata
pemimpin itulah kemudian muncul istilah kepemimpinan setelah melalui proses yang
panjang.
Menurut Artitonang (2007) menyebutkan pengertian kepemimpinan adalah pada
dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki
seseorang, oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan pemimpin.
Sedangkan menurut Matondang (2008) Kepemimpinan adalah suatu proses dalam
mempengaruhi orang lain agar mau atau tidak melakukan sesuatu yang diinginkan. Walaupun
semua pemimpin memiliki tujuan dasar yang sama, mereka tetaplah individu yang berbeda.
Oleh karena itu cara mereka memimpin juga berbeda, inilah yang kita kenal dengan
kepemimpinan. Berdasarkan asumsi tersebut maka dapat dipahami jika ada seribu pemimpin
sejak peradaban manusia dimulai maka akan ada seribu gaya kepemimpinan yang juga ikut
terbentuk. Walaupun begitu, para peneliti telah mengelompokkan beragam kepemimpinan
tersebut ke dalam beberapa kelompok berdasarkan sifat maupun ciri umumnya, sehingga
lebih mudah bagi kita untuk mempelajarinya.
Ada banyak teori kepemimpinan sebagai pedoman yang dapat diterapkan dalam
menjalankan manajemen kepemimpinan khususnya di lembaga pendidikan. Tentu saja
dengan harapan seorang pemimpin harus memberikan “sesuatu” agar anggota bergerak
menuju tujuan organisasi, yang membedakan keduanya adalah apa “sesuatu” yang diberikan
tersebut.
Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat diterima oleh lingkungannya dan
mampu menggerakkan/memberdayakan sesuai tupoksi semua unsur yang ada. Sedangkan
2
pemimpin yang tidak berhasil menggerakkan tim kerjanya maka disini perlu adanya kajian
apakah model teori yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan dilingkungan tempat
kerjanyanya, karena setiap lembaga mempunyai karakteristik , sumber daya manusia, budaya
dan lingkungan yang berbeda beda.
Seorang pemimpin tidak hanya mampu mengubah organisasi, tetapi juga mampu
mengubah para pengikutnya menjadi sejalan dengan jalan pikirannya. Esensi dari seorang
pemimpin adalah membangun maindset setiap orang sehingga organisasi atau suatu bangsa
dalam skala yang lebih luas secara otomatis akan ikut serta mendukung visi atau tujuan
organisasi / lembaga.
B. Pembatasan Penulisan
1.1. Penjelasan Tentang Tipe – tipe Kepemimpinan dan Implementasinya
1.1.1. Hukum Katup
1.1.2. Hukum Pengaruh
1.1.3. Hukum Proses
1.1.4. Hukum Navigasi
1.1.5. Hukum E.F.hutton
1.1.6. Hukum Kepercayaan
1.1.7. Hukum Kehormatan
1.1.8. Hukum Intuisi
1.1.9. Hukum Daya Tarik
1.1.10. Hukum Hubungan Yang Baik
1.1.11. Teori Kepemimpinan Perilaku
1.1.12. Teori Kepemimpinan Situasional
1.1.13. Game Theory
3
1.1.14. Teori Kepemimpinan Sifat
1.1.15. Teori Kepemimpinan Humanistik
1.1.16. Teori Kepemimpinan Contyngensi
1.1.17. Teori Kepemimpinan Perilaku Khusus
1.1.18. Teori Kepemimpinan Alamiah
1.1.19. Trait Theory
1.1.20. Teori Kepemimpinan Psikologis
1.1.21. Teori Transfoemasional
1.1.22. Teori Sosiologis
1.1.23. Teori Lingkungan
1.1.24. Teori Implisit
1.1.25. Teori Suportif
1.1.26. Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara
C. Tujuan
Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas maka tujuan penulisan buku ini
diarahkan untuk :
1. Untuk mengetahui tipe – tipe kepemimpinan
2. Untk mengetahui hakekat kepemimpinan
3. Faktor – factor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen.
D. Manfaat Hasil Penulisan
Buku ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik yang bersifat praktis maupun
teoretis. Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
4
1. Bagi Kepala Sekolah
a. Hasil penulisan buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepala sekolah, khususnya
pada lembaga pendidikan baik jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan lain
pada umumnya, dalam memberikan gambaran mengenai pelaksanaan kepemimpinan
sebuah organisasi di lembaga pendidikan, guna mewujudkan organisasi yang handal
melalui kepemimpinan yang tepat .
b. Buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepala sekolah untuk dijadikan bahan acuan
dalam mengimplementasikan tugas kepala sekolah sebagai manajer/leadership sehingga
tepat dalam menerapkan pola / tipe kepemimpinan yang disesuaikan dengan karakteristik
, sumber daya manusia, budaya dan lingkungan organisasi yang dipimpinnya
2. Bagi Guru
a. Buku ini diharapkan bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan dan
wawasan guru tentang tipe – tipe kepemimpinan. khususnya dalam mengelola siswa
dan teman sejawat, serta mampu memahami arah tipe pemimpin dalam mencapai tujuan
organisasi sehingga guru akan menjadi tim pendukung yang solid untuk mencapai
tujuan organisasi sebuah lembaga pendidikan.
b. Buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru untuk menyiapkan diri dalam
mengikuti seleksi Calon Kepala Sekolah agar mampu menguasai teori – teori
kepemimpinan serta mampu menerapkan kepemimpinan yang baik.
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Kepemimpinan
Masalah kepemimpinan telah muncul bersamaan dengan dimulainya sejarah manusia,
yaitu sejak manusia menyadari pentingnya hidup berkelompok untuk mencapai tujuan
bersama. Mereka membutuhkan seseorang atau beberapa orang yang mempunyai kelebihan-
kelebihan daripada yang lain, terlepas dalam bentuk apa kelompok manusia tersebut
dibentuk. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena manusia selalu mempunyai keterbatasan dan
kelebihan-kelebihan tertentu.
Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang kompleks dimana seorang
pemimpin mempengaruhi bawahannya dalam melaksanakan dan mencapai visi, misi, dan
tugas, atau objektif-objektif yang dengan itu membawa organisasi menjadi lebih maju dan
bersatu. Seorang pemimpin itu melakukan proses ini dengan mengaplikasikan sifat-sifat
kepemimpinan dirinya yaitu kepercayaan, nilai, etika, perwatakan, pengetahuan, dan
kemahiran-kemahiran yang dimilikinya.
Seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila secara genetika
memiliki bakat-bakat kepemimpinan, kemudian bakat-bakat tersebut dipupuk dan
dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinan serta ditopang
oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang
bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.
2.1.1 Definisi Pemimpin
Secara etimologi pemimpin berasal dari kata dasar “pimpin” (lead) berarti bimbing atau
tuntun, dengan begitu didalamnya terdapat dua pihak yaitu yang dipimpin (rakyat) dan yang
6
memimpin (imam). Setelah ditambah awalan “pe” menjadi “pemimpin” (leader) berarti
orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga
orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Pemimpin adalah
seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi individu dan kelompok untuk
dapat bekerjasama mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya
kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang
lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau
beberapa tujuan. Jadi, pemimpin itu ialah seorang yang memiliki satu atau beberapa
kelebihan sebagai bakat yang dibawa sejak lahir dan merupakan kebutuhan dari satu situasi
zaman, sehingga dia mempunyai kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan
membimbing bawahan.
Hendry Pratt Fairchild dalam Kartini Kartono (2010:38-39) mengemukakan bahwa
pemimpin dalam pengertian yang luas adalah seseorang yang memimpin dengan jalan
memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir atau
mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi. Sedangkan
dalam pengertian yang terbatas pemimpin ialah seseorang yang membimbing, memimpin
dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela
oleh para pengikutnya.John Gage Allee menyatakan “Leader… a guide, a conductor,
a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun, komandan).
Pemimpin yang efektif dalam menerapkan gaya tertentu dalam kepemimpinannya terlebih
dahulu harus memahami siapa bawahan yang dipimpinnya, mengerti kekuatan dan
kelemahan bawahannya, dan mengerti bagaimana cara memanfaatkan kekuatan bawahan
untuk mengimbangi kelemahan yang mereka miliki. Istilah gaya adalah cara yang
dipergunakan pimpinan dalam mempengaruhi para pengikutnya (Miftah Thoha, 2007:27).
7
Selanjutnya Sudriamunawar (Harbani, 2008:3) mengemukakan bahwa Pemimpin adalah
seseorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya
untuk melakukan kerja sama ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Mifta Thoha dalam bukunya perilaku organisasi (1983:255) mengemukakan pemimpin
adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya.
Kartini Kartono (1994:33) mengemukakan pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki
kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia
mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Henry Pratt Fairchild dalam Kartini Kartono (1994:33), pemimpin dalam pengertian ialah
seorang yang dengan jelas memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur,
mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise,
kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian terbatas, pemimpin ialah seorang yang
membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan penerimaan
secara sukarela oleh para pengikutnya.
Dahulu orang menyatakan bahwa kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang pemimpin itu
merupakan bawaan psikologis yang dibawa sejak lahir, khusus ada pada dirinya dan tidak
dipunyai oleh orang lain sehingga disebut sebagai Born Leader (dilahirkan sebagai
pemimpin). Oleh karena itu, kepemimpinannya tidak perlu diajarkan pada dirinya dan tidak
bisa ditiru oleh orang lain. Born Leader (dilahirkan sebagai pemimpin) dianggap memiliki
sifat-sifat unggul dan unik yang dibawa sejak lahir dan tidak dimiliki atau tidak dapat ditiru
oleh orang lain. Namun di zaman modern seperti sekarang, dengan berbagai kegiatan yang
serba teknis dan kompleks, dimana-mana juga selalu dibutuhkan pemimpin. Pemimpin-
8
pemimpin yang demikian harus dipersiapkan, dilatih, dididik dan dibentuk secara terencana
serta sistematis.
Seorang pemimpin (leader) dalam penerapannya mengandung konsekuensi terhadap
dirinya, antara lain; harus berani mengambil keputusan sendiri secara tegas dan tepat
(decision making), harus berani menerima resiko sendiri, dan harus berani menerima
tanggung jawab sendiri (the principle of absoluteness of responsibility).
Dari beberapa definisi tersebut diatas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa
pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi individu
dan/atau sekelompok orang lain untuk bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditentukan.
2.1.2 Definisi Kepemimpinan
Ralp M. Stogdill dalam Sopiah (2008:108) menyatakan “jumlah batasan atau definisi yang
berbeda-beda mengenai kepemimpinan hampir sama banyaknya dengan jumlah orang yang
mencoba memberikan batasan tentang konsep tersebut”.
Kepemimpinan merupakan suatu interaksi antara anggota suatu kelompok sehingga
pemimpin merupakan agen pembaharu, agen perubahan, orang yang perilakunya akan lebih
mempengaruhi orang lain daripada perilaku orang lain yang mempengaruhi mereka, dan
kepemimpinan itu sendiri timbul ketika satu anggota kelompok mengubah motivasi
kepentingan anggota lainnya dalam kelompok (Bernards M. Bass, 1990: 21).
R Terry (1998:17) mengemukakan kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri
seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam
hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Kepemimpinan adalah suatu proses bagaimana menata dan mencapai kinerja untuk
mencapai keputusan seperti bagaimana yang diinginkannya. (Rennis Linkert, 1961: 30).
Kepemimpinan adalah suatu rangkaian bagaimana mendistribusikan pengaturan dan situasi
pada suatu waktu tertentu. (J.A. Klein dan P.A. Pose 1986: 125).
9
Anagora (1992) dalam Harbani (2008:5) mengemukakan, bahwa kepemimpinan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, melalui komunikasi baik langsung maupun
tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang agar dengan penuh
pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak pimpinan itu.
Kepemimpinan diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan berbagai tugas
yang berhubungan dengan aktivitas anggota kelompok. Kepemimpinan juga diartikan
sebagai kemampuan mempengaruhi berbagai strategi dan tujuan, kemampuan
mempengaruhi komitmen dan ketaatan terhadap tugas untuk mencapai tujuan bersama, dan
kemampuan mempengaruhi kelompok agar mengidentifikasi, memelihara, dan
mengembangkan budaya organisasi (Stogdill dalam Stoner dan Freeman 1989: 459-460).
Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan
menggerakkan atau memotivasi sejumlah orang agar secara serentak melakukan kegiatan
yang sama dan terarah pada pencapaian tujuannya. Kepemimpinan juga merupakan proses
menggerakkan grup atau kelompok dalam arah yang sama tanpa paksaan.
Dari pengertian di atas, maka pemimpin pada hakikatnya merupakan seorang yang
mempunyai kemampuan untuk menggerakkan orang lain sekaligus mampu mempengaruhi
orang tersebut untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Pemimpin yang dimaksud dalam kajian ini adalah Kepala Badan Pemeriksa Keuangan dan
Pembangunan Perwakilan Sulawesi Selatan. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan
memimpin secara profesional dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang menurutnya
dipandang efektif dalam pengelolaan organisasi atau unit kerja yang dipimpinnya.
10
2.1.3 Fungsi Kepemimpinan
Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting
bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi
kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijakan administrasi dan
menyediakan fasilitasnya.
Fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing,
directing, commanding, controling.
Menurut Hadari Nawawi (1995:74), fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan
situasi sosial dalam kehidupan kelompok masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap
pemimpin berada didalam, bukan berada diluar situasi itu. Pemimpin harus berusaha
menjadi bagian didalam situasi sosial kelompok atau organisasinya.
Kemudian menurut Yuki (1998) fungsi kepemimpinan adalah usaha mempengaruhi dan
mengarahkan karyawan untuk bekerja keras, memiliki semangat tinggi, dan memotivasi
tinggi guna mencapai tujuan organisasi.
2.1.4 Peranan Pemimpin
Menurut pendapat Stodgil (Sugiyono, 2006:58) ada beberapa peranan yang harus dilakukan
oleh seorang pemimpin, yaitu :
Integration, yaitu tindakan-tindakan yang mengarah pada peningkatan
Communication, yaitu tindakan-tindakan yang mengarah pada meningkatnya saling
pengertian dan penyebaran informasi.
Product emphasis, yaitu tindakan-tindakan yang berorientasi pada volume pekerjaan
yang dilakukan.
11
Fronternization, yaitu tindakan-tindakan yang menjadikan pemimpin menjadi bagian dari
kelompok.
Organization, yaitu tindakan-tindakan yang mengarah pada perbedaan dan penyesuaian
daripada tugas-tugas.
Evaluation, yaitu tindakan-tindakan yang berkenaan dengan pendistribusian ganjaran-
ganjaran atau hukuman-hukuman.
Initation, yaitu tindakan yang menghasilkan perubahan-perubahan pada kegiatan
organisasi.
Domination, yaitu tindakan-tindakan yang menolak pemikiran-pemikiran seseorang atau
anggota kelompoknya.
Peranan pemimpin yang sangat perlu dilaksanakan seorang pemimpin yaitu : (1) Membantu
kelompok dalam mencapai tujuannya, (2) Memungkinkan para anggota memenuhi
kebutuhan, (3) Mewujudkan nilai kelompok, (4) Merupakan pilihan para anggota kelompok
untuk mewakili pendapat mereka dalam interaksi dengan pemimpin kelompok lain, (5)
Merupakan fasilitator yang dapat menyelesaikan konflik kelompok (Sulaksana 2002:7).
Menurut Sondang (1999;47-48), lima fungsi kepemimpinan yang dibahas secara singkat
adalah sebagai berikut : (1) pimpinan selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha
pencapaian tujuan, (2) wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak
diluar organisasi, (3) pimpinan selaku komunikator yang efektif, (4) mediator yang handal,
khususnya dalam hubungan ke dalam, terutama dalam menangani situasi konflik, (5)
pimpinan selaku integrator uang efektif, rasional, obkjektif dan netral.
2.1.5 Karakteristik Kepemimpinan
Kepemimpinan mungkin hanya terbentuk dalam suatu lingkungan yang secara dinamis
melibatkan hubungan di antara sejumlah orang. Kongkritnya, seorang hanya bisa mengklaim
12
dirinya sebagai seorang pemimpin jika ia memiliki sejumlah pengikut. Selanjutnya antara
para pemimpin dan pengikutnya terjalin ikatan emosional dan rasional menyangkut
kesamaan nilai yang ingin disebar dan ditanam serta kesamaan tujuan yang ingin dicapai.
Walaupun dalam realitasnya sang pemimpinlah yang biasanya memperkenalkan atau bahkan
merumuskan nilai dan tujuan.
Dalam kepemimpinan ada beberapa unsur dan karakter yang sangat menentukan untuk
pencapaian tujuan suatu organisasi. Menurut Gibb dalam Salusu (2006:203), ada empat
elemen utama dalam kepemimpinan yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu pemimpin
yang menampilkan kepribadian pemimpin, kelompok, pengikut yang muncul dengan
berbagai kebutuhannya, sikap serta masalah-masalahnya, dan situasi yang meliputi keadaan
fisik dan tugas kelompok.
13
BAB III
TEORI – TEORI KEPEMIMPINAN DAN IMPLEMENTASINYA
A. Teori – Teori Kepemimpinan Dan Implementasinya
Dalam setiap realitasnya bahwa seorang pemimpin dalam melaksanakan proses
kepemimpinannya terjadi adanya suatu perbedaan anatar pemimpin yang satu dengan
pemimpin lainnya, hal ini sebagai mana menurut beberapa ahli diantaranya Jonh C. Maxwell
dikutip Dr. Alimatus Sahrah,M.Si.MM. bahwa pendapatnya tipe – tipe kepemimpinan yang
disebut sebagai hukum kepemimpinan diantaranya terdiri dari :
1. Hukum Katup.
Dalam teori ini menyebutkan bahwa Kemampuan memimpin menentukan kadar
keefektifan seseorang. Seorang pemimpin harus harus dapat berperan seperti katup atau
kran yaitu mampu untuk mendorong, mengendalikaan, mengarahkan suatu organisasi
sesuai dengan kondisi masng-masing untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga.
Maksudnya dalam suatu instansi atau organisasi dibutuhkan seorang pemimpin yang
dapat berperan seperti katup, bisa mengatur besar kecilnya tingkat keefektifan kinerja
dalam instansi atau organisasi tersebut. Jadi seorang pemimpin harus dapat
memaksimalkan potensi yang ada dalam suatu organisasi. Mau sebagus dan sehehat
apapun suatu organisasi kalau dipimpin oleh orang yang tidak dapat memaksimalkan
kemampuan, sumber daya dan potensi yang dimiliki, maka out putnya pun tidak akan bisa
memuaskan. Oleh karena itu sebagai calon pemimpin di masa depan kita harus selalu
meningkatkan katub kita agar organisasi yang kita pimpin bisa menjadi organisasi yang
lebih baik. Contoh implementasi pada hukum katup
1). Pada awal saya bertugas di sekolah ini ada suatu kebiasaan dimana guru dan
karyawan datang ke sekolah selalu tidak tepat waktu dan mereka cenderung datang tepat
14
pada saat bel masuk berbunyi atau sesuai pada waktu mengajar saja, hal ini menurut saya
tidak baik, karena dengan datangnya guru tepat saat bel atau istilahnya datang mepet
saat waktu mau masuk kelas membuat kurangnya persiapan dalam mengajar. Seiring
dengan datangnya kepemimpinan yang baru, saya berusaha mengendalikan dan memberi
arahan untuk dapat dilaksanakan oleh semua guru dan karyawan agar tidak datang
dengan waktu yang sangat mepet atau pas jam masuk mengajar, harapan saya guru ada
waktu awal untuk bisa mempersiapkan diri dengan persiapan materi yang lebih matang
dan baik dalam mengajar, dan bagi karyawan dapat mempersiapkan dengan matang
tentang apa-apa yang mau dikerjakan saat itu. Seiring dengan ajakan saya ini, kegiatan
belajar mengajar jadi lebih efektif dan kondusif serta pekerjaan perkantoran juga dapat
terlaksana dan berjalan dengan baik. Siswa siswi mearasa terlayani dengan baik dan
guru juga lebih efektif menyiapkan materi mengajar. Sehingga kegiatan belajar
mengajar jadi lebih baik dan berubah dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru yang
lebih baik dan efektif. Dengan dibukanya katup kepemimpinan seperti itu menjadikan
awal kesuksesan yang dapat diraih oleh guru untuk kelancaran sebuah proses belajar
mengajar pada skala besar sehingga siswa siswi terlayani dengan baik. Demikian juga
untuk tugas-tugas kantor dapat dikerjakan dengan lebih efeftif dan efisien.
2). Pemanfaatan waktu untuk evaluasi setiap harinya dimasa pandemi sebelum adanya
kegiatan belajar mengajar dulunya tidak ada di sekolah yang saya pimpin saat ini, guru
dan karyawan datang ke sekolah atau kantor ini hanya datang absen dan mengerjakan
tugas mereka seperti biasa, selesai pulang. Seiring dengan kepemimpinan baru,
kebiasaan itu sedikit saya ubah, dimana setiap awal pagi sebelum melaksanakan tugas
rutin mereka , saya mengadakan apel untuk semua guru dan karyawan di ruang guru,
hanya perlu waktu kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit saja. Saya hanya
menyampaikan beberapa point penting sebelum mereka semua melaksanakan kewajiban
15
masing masing. Dalam poin yang saya sampaikan diantaranya perlunya selalu menjaga
kebersihan dan selalu mematuhi protokol kesehatan Covid-19, mengingat saat ini masih
masa pandemi, kemudian mengenai proses belajar mengajar baik daring, luring
maupun Guling, harus selalu memperhatikan murid atau siswa siswi yang diajar,
dengan bukti absensi, dan yang paling penting poin nya adalah sebagai guru perlunya
memanajemen waktu sebaik mungkin, antara pemberian materi, tugas dan umpan balik
agar siswa tidak mengalami kebosanan dalam belajar. Di sini peran seorang pemimpin
membuka katup sebagai awal sebuah kepemimpinan yang mampu membuat proses
kegiatan belajar mengajar lebih baik secara manajemen dan mengevaluasi semua
kekurangan dan kelemahan dalam setiap proses belajar mengajar, agar kegiatan
belajar mengajar berjalan sesuai dengan kurikulum yang diharapkan.
3). Kepala sekolah harus mampu melaksanakan kompetensinya dengan baik, artinya agar
pekerjaan dapat diselesai dengan efektif dan efisien maka saya selalu membagi tugas-
tugas managerial kepada teman- teman yang saya pandang mempunyai kompeten, misal
penyusunan EDS, RKTS buku 1, buku 2, buku 3, kepada tim pengembang sekolah,
Urusan dan bapak ibu guru yeng terlibat. Dengan dibukanya katup kepemimpinan yang
mampu mendorong, mengendalikan dan mengarahkan tentang tugas-tugas yang harus
diselesaikan maka keberhasilan suatu sekolah akan dapat diraih sesuai dengan yang
diharapkan.
2. Hukum Pengaruh.
Dalam teori ini menyebutkan kepemimpinan adalah seni dalam mempengaruhi orang lain
agar orang tersebut mau mengikuti dan melakukan apa yang kita inginkan dengan
sukarela. Maksudnya bahawa Seorang pemimpin yang baik harus mempunyai pengaruh
yang besar terhadap kemajuan sebuah instansi yang dia pimpin. Sebagai orang yang
berpengaruh dalam kepemimpinannya, dia bisa mempengaruhi keputusan secara baik dan
16
sesuai dengan maksud dan tujuan dari visi dan misi dalam sebuah instansi. Dalam hal ini
mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemajuan sebuah instansi yang dia pimpin.
Sebagai orang yang berpengaruh dalam kepemimpinannya, dia bisa mempengaruhi
keputusan secara baik dan sesuai dengan maksud dan tujuan dari visi dan misi dalam
sebuah instansi. Dalam hal mempengaruhi orang lain, seorang pemimpin diharapkan dapat
mempengaruhi dengan baik, artinya orang yang dipengaruhi mau mengikuti dan
melakukan sesuai dengan keinginan kita tanpa ada rasa terpaksa, sehingga dia mau
melakukan keinginan kita dengan suka rela. Oleh karena itu cara kita mempengaruhi orang
lain harus menggunakan cara Persuasif dan Inspiratif. Persuasif artinya mempengaruhi
orang lain dengan cara membujuk atau mengajak secara baik-baik. Sedang Inspiratif
artinya mempengaruhi orang lain dengan keteladanan dan perkataan yang bersifat
membangun. Contoh penerapan Hukum Pengaruh dalam Kepemimpinan
1). Sebagai seorang pemimpin dalam sebuah sekolah atau bidang pendidikan, pertama kali
datang ke tempat ini perlu pendekatan atau mendekati orang orang yang berpengaruh
dalam lingkungan sekolah, agar kita tahu apa kelebihan orang orang tersebut diban-
ding dengan yang lainnya, sehingga punya kelebihan dalam mempengaruhi orang lain.
Ketika sudah mengetahuinya, perlu kita ambil alih cara tersebut agar sebagai pemimpin
kita bisa bekerja sama dengan mereka tanpa menyakiti perilaku mereka dalam
mempengaruhi seseorang. Sebagai seorang pemimpin maka kita selalu harus bisa
memberi pengaruh yang baik kepada karyawan atau guru- guru di sekolah yang saya
pimpin. Salah satunya adalah saya selalu datang lebih awal dari mereka, sehingga dari
mereka akan timbul rasa ingin mengikutinya walaupun saya tidak menyuruhnya untuk
datang di awal waktu. Apalagi saya selalu menyempatkan untuk berdiri di depan pintu
gerbang untuk menyambut murid- murid yang datang ke sekolah. Dari kebiasaan saya ini
akhirnya sebagian besar guru terpengaruh dan mengikuti apa yang saya lakukan. Dengan
17
kata lain para guru juga akan datang lebih awal karena melihat pemimpin mereka sudah
datang terlebih dahulu. Pengaruh datang awal ini sangat baik bagi efektifitas pemben
tukan karakter siswa dan kondusifitas kegiatan belajar mengajar. Karena dengan datang
lebih awal ini yang pertama guru-guru bisa lebih siap dalam mempersiapkan pembel -
ajaran yang lebih baik. Ke dua pengaruh datang awal ini juga bisa membuat mereka
lebih bersemangat untuk datang lebih awal dibandingkan pimpinannya dan rekan kerja
nya, ada rasa bangga bisa datang lebih awal datang. Ke tiga suasana yang kondusif dan
awal yang baik di pagi hari akan memberikan energi positif bagi guru dan karyawan
dalam bekerja seharian, harapannya akan lebih fresh dan sehat. Dengan pengaruh kepemim
pinan yang sederhana ini harapan saya semua akan datang awal dan siap untuk
bertugas dengan lebih baik lagi dibanding dengan era kepemimpinan sebelumnya. Dan hal
ini dilakukan dengan senang dan gembira tanpa terbebani bahwa guru datang awal
bukan menjadikan beban tapi lebih menjadikan kewajiban yang menyenangkan karena
pemimpimnya memberi contoh dengan baik tanpa ada paksaan dan pemberian sanksi yang
keras terhadap guru yang datang kesiangan atau terlambat, semua diakukan dengan ikhlas
tanpa terbebani dan teguran kepada guru itupun bentuknya bukan kemarahan tetapi lebih
kepada sebuah ajakan halus untuk datang lebih awal agar dapat mewujudkan visi dan misi
sekolah.
2). Kepemimpinan merupakan gaya atau perilaku manusia dalam berinteraksi dengan
orang lain yang memunculkan pengaruh untuk menghasilkan perubahan. Sebagai kepala
sekolah atau pimpinan mempunyai kewajiban untuk menjadi pemimpin yang membuat
perubahan lebih baik, dengan memberdayakan guru atau personil sekolah, melalui kerja
sama dan kolaborasi dalam berbagai program dan kegiatan sekolah. Tidak hanya fokus
pada manajemen tetapi intinya adalah fokus pada pelayanan pembelajaran, minat bakat
dan pengembangan kreativitas siswa. Sekolah menjadi tempat belajar yang kondusif
18
sehingga staf dan para guru serta siswa benar benar menjadikan sekolah sebagai
lingkungan yang menjanjikan perubahan bermakna untuk mengantisipasi dan merespon
kebutuhan masa depan. Pengaruh kepemimpinan saya terhadap sekolah saya diantaranya
adanya kegiatan keagamaan yang berkem-
bang menjadi kebiasaan baik, yaitu semua guru dan karyawan melaksanakan ibadah tepat
waktu secara berjamaah saat waktunya untuk sholat, dengan cara saat adzan berkuman-
dang semua guru dan karyawan bersama sama menuju masjid saat saya juga sudah ke
sana sebelum mereka datang. Dengan pengaruh yang sederhana ini saya hanya
bermaksud supaya mereka selalu bersyukur atas apa yang telah mereka dapatkan dan
telah mereka peroleh bukan dari saya tetapi dari Allah SWT semata, sehingga dalam
mengajar, dalam bekerja mereka ikhlas tanpa paksaan tetapi karena lebih pada tanggung
jawab mereka pribadi sebagai guru dan karyawan. Karena sejatinya pengaruh seorang
pemimpin sangat diperlukan dalam memimpin sebuah manajemen sekolah untuk mencapai
visi dan misi sekolah secara bersama sama demi nama baik sekolah.
3. Kepala sekolah adalah seorang pemimpin yang mempunyai pengaruh terhadap kema-
juan sebuah instansi yang dia pimpin. Sebagai orang yang berpengaruh, dalam kepe-
mimpinannya seorang kepala sekolah harus bisa mempengaruhi dalam pengambilan
keputusan secara baik dan bijak sesuai dengan norma tanpa menyinggung perasaan warga
sekolah yang lain, Dalam pembelajaran daring seperti ini dalam setiap apel pagi saya
selalu mengingatkan pada semua guru pentingnya menyapa peserta didik dan orang tua
agar mereka mendapat pelayanan pendidikan dengan baik sesuai dengan kemampuan
masing-masing. Salah satu cara yang saya lakukan saya selalu minta no HP secara acak
kepada wali kelas untuk saya hubungi melalui VC. Saya hanya bermaksud agar para guru
dapat menyapa siswa walaupun secara random, agar peserta didik merasa diperhatikan
oleh bapak ibu guru sehingga tidak ada kesan yang buruk terhadap guru bahwa tidak
19
dilayani hak-haknya dimasa pandemi ini. Ternyata apa yang saya lakukan ini banyak ditiru
oleh para guru setiap harinya, meskipun tidak semua peserta didik dapat dijangkau.
Bahkan kegiatan ini akhirnya dapat dilakukan dan mereka saling berlomba-lomba untuk
men-share kegiatan yang mereka lakukan dalam WA grup guru, dan dapat digunakan
sebagai bukti apabila ada pihak-pihak yang menanyakan tentang kegiatan guru di masa
pandemi Covid-19 ini.
3. Hukum Proses.
Dalam teori ini bahwa kepemimpinan berkembang setiap hari, bukan dalam satu hari.
Maksudnya adalah Kepemimpinan merupakan hal yang selalu berkembang setiap hari dan
bukan hanya dapat berubah menjadi sempurna dalam satu hari. Kepemimpinan sendiri
memiliki sifat seperti investasi.Anda akan dapat sukses memimpin setelah proses yang
telah dilakukan untuk mengembangkan kepemimpinan tersebut. Rahasia dari sukses
berada pada bagaimana anda mengatur hari hari anda setiap hari.Kemampuan untuk
memimpin adalah suatu kemampuan yang didapatkan dari berbagai jenis keterampilan
yang berbeda yang sebenarnya dapat dipelajari serta dikembangkan oleh setiap individu.
Proses ini pastinya tidak akan bisa terjadi dalam waktu yang singkat, namun mengikuti
proses waktu yang cukup lama dan mencakup banyak situasi yang bervariasi.
Kepemimpinan sendiri merupakan suatu hal yang rumit. Ada banyak aspek dalam kepe -
mimpinan seperti misalnya pengalaman, kehormatan, emosi, kekuatan, keterampilan untuk
membangun hubungan dengan sesama, visi, disiplin, momentum, waktu dan lain sebagai-
nya. Hal inilah yang menyebabkan banyak pemimpin yang membutuhkan banyak
pengalaman dalam bidangnya untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang sukses.
Seorang pemimpin juga orang yang bersedia untuk selalu belajar dan selalu meningkatkan
keterampilannya sehingga dapat memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan para
pengikutnya. Beberapa fase yang terjadi pada seorang pemimpin antara lain adalah fase
20
“saya tidak mengetahui apa yang masih tidak saya ketahui”, fase “saya mengetahui apa
yang masih tidak saya ketahui”, fase “saya tumbuh dan tahu dan segala hal mulai jelas”,
serta fase “saya bersikap dengan benar karena segala pengetahuan yang telah saya tahu.”
Bentuk implementasi teori hukum proses anatara lain :
1). Kepala Sekolah harus rajin belajar dari berbagai hal agar memiliki kecakapan dan
keahlian dalam memimpin, contoh : Kepala sekolah harus mampu mengikuti perkem-
bangan jaman, misal menguasai aplikasi yang ada pada pembelajaran jarak jauh atau
Daring. Disekolah diadakan pelatiahan tentang pengembangan aplikasi pembelajaran yang
diikuti oleh seluruh guru dan karyawan agar semua guru dan karyawan mampu membuat
aplikasi yang memadai. Selain itu sekolah juga selalu menyelenggarakan IHT tentang
penyusunan berbagai dokumen sekolah,misalnya penyusunan Silabus, RPP, KTSP,
RKJM, RKT dan lain- lain agar kepala sekolah dan guru serta karyawan paham tentang
penyusunan dokumen dokumen tersebut.
2). Kepala Sekolah harus selalu berinovasi untuk mengembangkan kemampuannya dalam
memimpin dengan berbagai strategi yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap
pencapaian tujuan. Kepala sekolah selalu mencari terobosan baru dalam meningkatkan
berbagai kegiatan yang dilaksanakan di sekolah, misal membuat pojok baca, membuat
gazebo dalam meningkatkan literasi anak anak dan selalu diadakan lomba literasi tingkat
sekolah dan selalu di beri reward kepada siswa siwa yang berprestasi di bidang apapun.
Termasuk mendatangkan pelatih olah raga khususnya sepak bola dalam meningkatkan
ptrestasi di bidang olah raga sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh masing masing
siswa..
3). Kepala sekolah harus mempunyai inisiatif, kreativitas, dan kemampuan memotivasi
rekan kerja agar bekerja secara optimal sehingga tercapai efektitas kerja yang tinggi. Setiap
kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah selalu ditarget agar setiap pelatih atau siswa
21
sungguh sungguh dalam menjalaninya, dan selalu me;alukan evaluasi secara periodik agar
mengetahui kelebihan dan kekurangannya sehingga dapat menentukan solusi
pemecahannya.
4. Hukum Navigasi.
Disebut sebagai hukum navigasi atau pandu arah adalah penentuan kedudukan (position)
dan arah perjalanan baik dimedan sebenarnya atau dipeta, oleh sebab itu orang memimpin
itu adalah orang yang berpengaruh dan menentukan arah dari organisasi untuk mencapai
tujuan. Maksudnya bahwa Orang yang menjadi pemimpin tidak harus menduduki top
management, tetapi anggota team bisa menjadi pemimpin informal, jika punya
kemampuan mempengaruhi anggota tiem lainnya dan Top Management.
Bentuk implementasi teori hukum navigasi diantaranya :
1). Seorang guru, bisa menjadi pemimpin informal jika memiliki kemampuan di bidang
tertentu, memiliki inovasi yang bisa memecahkan masalah yang dihadapi di sekolahnya,
dan semua idenya bisa diterima oleh guru-guru atau Kepala Sekolah.
2). Kepala Sekolah mendelegasikan tugas - tugasnya kepada beberapa guru yang mampu
di bidang tertentu, dan mampu mengatasi berbagai kendala serta mencari solusi
pemecahan, jadi tidak harus semua ditangani oleh Top manager
3). Kepala Sekolah perlu mengetahui dan menguasai cara berkomunikasi atau pendekatan
yang baik dan tepat agar guru atau karyawan l tidak merasa tersisih, tertekan, tersinggung,
dan merasa dianggap sebagai tempat untuk menampung segala kemarahan dan kesalahan.
Misal dipanggil sendiri dengan penuh kekeluargaan dan dengan bimbingan yang santun.
4). Kepala Sekolah mendelegasikan tugas - tugasnya kepada beberapa guru yang mampu di
bidang tertentu, dan mampu mengatasi berbagai kendala serta mencari solusi pemecahan,
jadi tidak harus semua ditangani oleh Top manager
22
5. Hukum E,F, Hutton.
Yaitu Teori hukum yang menyatakan bahwa ketika pemimpin sejati berbicara maka orang
akan mendengarkan. Maksudnya adalah seorang pemimpin sejati itu belum tentu yang
menduduki sebagai jabatan pimpinan sebuah lembaga, tetapi pemimpin disini adalah orang
yang lebih didengarkan pendapatnya dengan kata lain bahwa orang yang mamapu
memberikan pengaruh, memiliki kekuatan karakter, membangun hubungan dengan baik,
dan mengetahui banyak tentang pekerjaan mereka. Berarti pemimpin sejati adalah belum
tentu pemegang kekuasaan, tetapi orang yang mampu mempengaruhi orang lain sehingga
ketika berbicara didengarkan dan diikuti walaupaun dia bukan penguasa / pemimpin
lembaga. Sehingga pendapatnya menjadi dasar pimpinan dalam pengambilan keputusan
kebijakan suatu organisasi. Pemimpin sejati dapat dilihat dari bagaimana orang orang
mendengarkan dirinya. Pemimpin yang sejati memiliki kharisma yang disegani oleh semua
orang. Beberapa faktor yang menentukan kualitas dari seorang pemimpin antara lain
adalah bagaimana cara membangun hubungan, karakter pribadi orang tersebut,
pengalaman, intuisi, informasi yang dimiliki, bagaimana kesuksesan di masa lalu dan
kemampuan orang tersebut untuk memecahkan masalah.
Bentuk implementasi hukum teori ini antara lain :
1). Di sebuah sekolah yang cukup ternama dan unggulan baru saja kedatangan kepala
sekolah baru ( promosi) namanya pak Rudi dengan usia yang masih muda, sementara
sekolah tersebut merupakan sekolah favorit yang sudah berdiri sejak 25 tahun yang lalu,
dengan tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional terbukti banyak prestasi yang
diperolah. Tentu saja ini menjadi tantangan kepala sekolah yang baru untuk tetap
mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi sebagai sekolah unggulan. Dengan bekal
pengalaman yang diperolah selama diklat CKS ( Calon Kepala Sekolah ) dia menerapkan
23
model kepemimpinan yang selalu mengutamakan musyawarah dalam melaksanakan
program untuk memutuskan kebijakan. Dari sekian jumlah tenaga pengajar ada beberapa
guru yang usianya sudah senior atau diatas usia kepala sekolah, dan salah satu diantaranya
yaitu pak Jono adalah guru agama Islam senior yang selama ini dianggap sebagai orang
yang selalu menjadi panutan rekan rekan guru atau karyawan di sekolah tersebut. Karena
pak Jono adalah sosok yang selalu peduli dengan kekeluargaan teman - teman
dilingkungan sekolah , serta dianggap sering tepat dalam memberikan solusi ketika sekolah
atau teman – teman dalam menghadapi masalah. Dalam suatu kesempatan kepala sekolah (
pak Rudi ) akan melaksanakan program sekolah terkait mengisi kegiatan bulan ramadhan
yaitu pesantren kilat, sehingga mengundang guru dan karyawan untuk melaksanakan rapat
persiapan pelaksanaan pesantren kilat tersebut. Pada saat rapat pak Rudi selaku kepala
sekolah menyampaikan teknis pelaksanaannya dan semua yang hadir tidak memberikan
tanggapan terhadap apa yang disampaikan, pada kesempatan itu pula pak Jono kemudian
menyampaikan pendapat tentang teknis yang berberda dengan yang disampaikan oleh
Kepala Sekolah dan apa yang disampaikan oleh pak Jono mendapat persetujuan dari
hampir semua peserta rapat yang ada. Akhirnya keputusan kebijakan yang diambil oleh
kepala sekolah adalah teknis yang disampaikan oleh pak Jono, guru agama Islam tersebut.
Dengan demikian maka pemimpin sejatinya disini adalah pak Jono, yaitu guru agama
Islam dan bukan pak Rudi selaku kepala sekolah, karena pendapat pak Jonolah yang
didengarkan dan disetujui oleh mayoritas peserta rapat.
2). Pada sebuah sekolah memiliki club sepak bola yaitu club Garuda namanya dengan
pelatih guru olah raga yang melatih dan membimbing melalui program unggulan sekolah,
yang akhirnya mampu mencetak atlet sepak bola yang selalu memberikan prestasi dengan
sering memenangkan event pertandingan di lapangan hijau. Melalui moment
POPDASENI, GALA SISWA,POR antar sekolah, bahkan event olah raga lainnya baik di
24