tingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi bahkan Nasional. Pelatih club Garuda untuk
menyiapkan atlet / siswa untuk menghadapi event pertandingan. Dalam club Garuda ini
memiliki pemain yang sangat kompak, dan kapten pemain nya adalah Agung, dia punya
pengalaman yang membanggakan club tersebut saat berhasil menghantar club sepak bola
( Garuda ) ke puncak kejayaan dengan beberapa kali dia mencetak gool. Dalam suatu event
ketika club Garuda sedang bertanding pada detik detik menjelang waktu berakhir posisi
skor 1-1, pelatih mengambil tindakan mengumpulkan pemain di tepi lapangan dan
memaparkan rencana permainan, namun hanya dijawab oleh salah satu pemain bernama
Agung yang mencetak gool pertama begini : “ Pokoknya operkan saja bola kepada saya
dan jangan menghalangi saya “ atlet lainnya yang mendengarkan dengan seksama dan
memberikan tanda setuju. Pelatih menjawab “ Pelatihnya kan saya, jadi sayalah yang akan
menentukan permainannya” kemudian pelatih menyampaikan kepada para pemain “
Pokoknya operkan bola pada Agung dan jangan ada yang menghalangi “, betul setelah
kembali ke arena lapangan pemain menerapkan strategi tersebut dan pada detik detik akhir
club mampu mencetak gool dan membawa kemenangan dengan skor 2 – 1 melalui
tendangan Agung. Disini membuktikan bahwa jika pemimpin sejati adalah Agung bukan
pelatih.
3). Pada pelaksanaan ektrakurikuler di sekolah kepala sekolah memberdayakan guru untuk
menjadi pembina pramuka karena pramuka menjadi salah satu kegiatan ektrakurikuler
yang wajib dilaksanakan. Dilapangan para pembina pramuka ( guru ) banyak yang tidak
menguasai tentang kepramukaan sehingga pembina pramuka melibatkan anngota pramuka
yang menjadi regu inti di sekolah tersebut yang memiliki kemampuan kepramukaan
sebagai pembantu pembinan pramuka. Ketika pelaksanaan latihan kepramukaan maka
siswa disini akan mendengarkan apa yang disampaikan oleh kakak kelasnya ( pembantu
Pembina pramuka ) karena para siswa tau akan kemampuan kaka kelasnya dan terbiasa
25
melatih setiap pelaksanaan ektrakurikuler parmuka. Pada saat kakak pembantu Pembina
pramuka mengatakan bahwa saat ini kegiatannya adalah PBB ( Pelatihan Baris Berbaris ),
kemudian Guru Pembina pramuka mengulang menyampaikan kegiatan yang disampaikan
oleh pembantu pembina pramuka yaitu kegiatan PBB ( Pelatihan Baris Berbaris ). Disini
pemimpin sejatinya adalah siswa yang menjadi pendamping Pembina pramuka bukan guru
Pembina pramuka, karena perintah yang digunakan adalah yang disampaikan oleh siswa
pembantu pembina pramuka.
6. Hukum The Law of Solid Groud ( Kepercayaan ).
Basis landasan yang mantap untuk suatu kepemimpinan yang sukses adalah sebuah
kepercayaan. Maksud dari teori hukum ini adalah Kepercayaan adalah landasan dari
kepemimpinan. Kepercayaan pengikut anda adalah aset yang paling bernilai bagi anda
sebagai seorang pemimpin. Orang ingin mempercayai karakter anda. Jika Anda berbuat
salah dan tidak mengakuinya, anda akan menumbuhkan ketidakpercayaan. Artinya bahwa
seorang pemimpin dalam mengelola sebuah organisasi harus menunjukkan teladan dalam
hal kemampuan, koneksi, dan karakter. Rasa kepercayaan bawahan terhadap pimpinan ini
sangat berpengaruh besar terhadap kinerja bawahan dalam melaksanakan tupoksi untuk
mencapai tujuan organisasi secara maksimal. Maka dengan mudah pimpinan
menggerakkan tim kerjanya setelah tim sudah menaruh rasa kepercayaan terhadap
pemimpinnya. Dengan tetap menjalankan tugas pemimpin untuk selalu mengontrol kerja
tim supaya dapat dikendalikan sehingga terjadi penyimpangan. Berikut beberapa contoh
implementasi teori hukum kepercayaan :
1). Untuk menjadi Pemimpin/Kepala Sekolah yang efektif, maka Kepala sekolah harus
mampu menjadi orang yang bisa dipercaya dan mampu mempercayai orang lain, untuk
itu Kepala Sekolah harus melaksanakan tiga pondasi dasar kepimimpinan skolah yaitu
taat azaz, taat administrasi dan taat anggaran. Hal ini bisa dilihat salah satu contoh
26
dalam pengelolaan keuangan sekolah yang harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-
baiknya oleh Kepala Sekolah mengingat sumber keuangan seklah itu adalah amanat dari
pemerintah dan masyarakat. Maka sebelum sekolah menyusun RKAS/APBS, Kepala
Sekolah bersama tim khusus menyusun panduan/pedoman pengelolaan keuangan sekolah
berdasar peraturan perundangan yang berlaku untuk menjadi panduan dalam mengelola
uang sekolah baik yang bersumber dari pemerintah baik pusat maupun daerah dan yang
bersumber dari masyrakat, hal ini untuk memudahkan bagi para staf yang dipercaya KS
untuk mengadministrasikan keuangan sekolah. Kemudian dalam tahap penyusunan
RKAS/APBS Kepela Sekolah melibatkan semua urusan yang ada di sekolah, mengingat
urusan-urusan inilah yang bersinggungan langsung dengan program-program sekolah,
sehingga dalam penyusunan anggaran betul-betul sesuai kebutuhan sekolah. Dalam tahap
pelaksanaan program Kepala Sekolah mengendalikan anggaran agar dana yang
dikeluarkan sesuai kebutuhan program, dan setiap penggunaan dilaporkan secara trnsparan,
baik melalui administrasi pembukuan keuangan maupun melalui media yang lain seperti
data dinding dsb. Kepala Sekolah secara kontinyu memantau,mensupervisi dan
mengevaluasi pelaksanaan anggaran sehingga akan diketahui capaian target dan kendala-
kendala yang dijumpai, sehingga dengan cepat dapat dicarikan pemecahannya. Contoh di
atas menunjukkan prinsip kepemimpinan yang beritegritas, openness, accountable,
competence yang pada gilirannya akan menumbuhkan keprcayaan kepada seluruh staf
khususnya dan masyarakat pada umunya.
2). Kepala Sekolah adalah pemimpin yang harus memiliki konsistensi yang tinggi terhadap
visi sekolah, sehingga warga sekolah juga akan mengikutinya dengan kesadaran tanpa
paksaan, contoh dalam konsisten kedisiplinan kerja, ibadah, dan semua yang tetuang dalam
visi. Sebab jika kepala sekolah dapat menjadi figure yang diteladani maka warga sekolah
27
akan mengikuti pemimpin dan Kepala Sekolah akan mudah dalam mengarahkan tujuan
kepemimpinannya. Dan menanamkan kepercayaan warga sekolah kepada Kepala Sekolah.
3). Kepala Sekolah selaku pimpinan organisasi dalam menjalankan tupoksinya sebagai
manajer salah satunya adalah pengelola keuangan BOS,SOT,atau UYHD, maka disini
harus memberikan kepercayaan kapada bawahannya untuk membantu mengelola keungan
sekolah dengan tetap menjalankan kontroling. Dengan memberikan kepercayaan kepada
guru atau karyawan untuk memegang urusan – urusan keuangan maka disini akan
menumbuhkan rasa kepercayaan anak buah terhadap pimpinan. Sebab pimpinan yang baik
tidak akan mengelola organisasi sendiri atau bekerja sendiri. Terutama terkait pengelolaan
keuangan ini adalah masalah yang sangat sensitive apabila ada penyimpangan. Semakin
terjaga rasa kepercayaan bawahan kepada kepala sekolah yang pada gilirannya akan
memperlancar jalannya roda organisasi yang tentunya tercapai tujuan yang diharapkan
secara maksimal.
7. Hukum Kehormatan,
Teori hukum kehormatan ini adalah orang dengan sendirinya akan mengikuti
pemimpin yang lebih kuat dari dirinya. Maksudnya adalah Jika seseorang menghormati
sebagai individu, mereka mengaguminya. Jika mereka menghormati sebagai sahabat,
mereka mengasihinya. Jika mereka menghormati sebagai pemimpin, mereka mengikuti
nya. Ujian terbesar bagi seorang pemimpin adalah ketika seorang pemimpin mengadakan
perubahan besar dalam organisasinya. Pemimpin adalah seorang yang menentukan arah
laju dari sebuah organisasi. Sehingga para pengikut atau anggota dari suatu organisasi
akan membutuhkan pemimpin yang kompeten agar dapat memberikan arahan navigasi
yang jelas bagi para pengikutnya. Di sini pemimpin perlu dapat melihat lebih jauh dan
lebih banyak dibandingkan apa yang dilihat oleh orang lain, melihat dalam
tinjauan yang lebih jauh ke depan dibandingkan orang yang lain dan memprediksi apa yang
28
mungkin terjadi. · Orang tidak mengikuti orang lain karena kebetulan. Mereka mengikuti
individu-individu yang kepemimpinannya mereka hormati. Kalau pemimpin berpengaruh,
orang akan mengikutinya. Kalau ia dihormati, orang akan terus mengikutinya.Langkah
pertama memperoleh kehormatan adalah dengan menghormati diri sendiri dulu, baru
kemudian belajar menghormati orang lain. Ingat hukum gema!
Sebagai contoh implementasi hukum kehormatan ini diantaranya adalah :
1). Kepemimpinan Presiden Abdul Rahman Whahid atau Gus Dur (Mantan Presiden RI
ke-4) beliau dihormati dan diikuti oleh bawahanya karena beliau menunjukan
kemampuanya dalam penguasaan ilmu agama, ilmu pemerintahan, kemampuan menjalin
hubungan dengan Negara – Negara lain. Kemampuan Gus Dur ini juga didukung oleh
keyakinan, kepercayaan , dan penghormatan rakyat Indonesia kepada beliau atas
keberhasilanya memimpin NU maupun PKB.
8. Hukum Intuisi.
Isi Teori hukium intuisi adalah Para pemimpin mengetahui segalanya dengan intuisi
seorang pemimpin. Maksudnya adalah bahwa Seorang pemimpin harus membaca situasi
dan secara naluriah mengetahui harus menggunakan taktik bermain yang mana,Semua
orang dapat mengembangkan kemampuan intuisinya. Ada tiga tingkat intuisi yaitu : 1)
mereka yang secara alami “ melihatnya”, 2) mereka yang dilatih “melihat”nya, 3)mereka
yang tidak pernah “melihat”nya. Ia bisa ”membaca” keadaan dengan tepat lewat
intuisinya. Pemimpin yang baik intuisinya dapat merasakan apa yang sedang terjadi di
antara orang-orangnya dan saat itu juga dapat merasakan apa yang menjadi pengharapan
mereka, ketakutan mereka, serta keprihatinan mereka. Sebagai contoh bentuk
implementasi dari teori hukum intuisi adalah sebagai berikut :
1). Seseorang tiba-tiba dipaksa untuk membaca buku. Rupanya, dalam buku menemukan
informasi yang dicarinya selama bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus
29
pergi ke suatu tempat, ternyata di sana ia menemukan penemuan besar. Misalnya ada bayi
yang ditinggalkan ibunya ditempat tersebut, penemuan jenasah kurban pembunuhan di
bawah lantai keramik.
2). Saya kepala sekolah harus memutuskan sebuah kebijakan atau sikap politik, Satu
keputusan harus segera ditentukan. Tiba-tiba,saya merasa memperoleh bisikan, ilham,
wangsit, Kemudian, dengan begitu yakin dan penuh percaya diri, saya segera menentukan
satu pilihan. Dan pilihan yang saya ambil secara birokrasi maupun kemaslahatan
dinyatakan tepat.
3. Para sarjana, penulis populer dengan semangat terus melatih orang-orang untuk belajar
mempercayai hati nurani mereka sekaligus mempercayai kepala mereka yang telah
menugaskan dirinya mengikuti berbagai workshop maupun bimtek tentang penulisan karya
ilmiah.Intuisi kepala sekolah dalam memilih calon peserta bimtek yg jumlah pesertanya
terbatas, didasarkan atas keyakinanya terhadap kemampuan gurunya.
9. Hukum Magnet / Daya Tarik (The Law of Magnetism).
Teori hukum magnet ini adalah anda menarik orang-orang yang memiliki kualitas sama
dengan diri anda. Maksud dari teori ini adalah bahwa pada umumnya orang yang anda
tarik akan memiliki kualitas yang mirip dengan anda. Mereka pada umumnya memiliki
sikap, tata nilai, kemampuan dan pengalaman hidup yang serupa dengan anda. Siapa yang
anda (pemimpin ) dapatkan tidaklah ditentukan oleh apa yang anda (pemimpin ) inginkan,
melainkan oleh siapa diri anda ( pemimpin ) sesungguhnya. Semakin baik kepemimpinan
seseorang, semakin baik pula pemimpin – pemimpin yang tertarik kepada pemimpin
tersebut. Sebagai bentuk implementasi hukum magnet ini diantaranya adalah :
1). Kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya sebagai leader tentu dalam mengelola
organisasi membutuhkan tim kerja yang solid dan memiliki kempuan serta kemauan serta
semangat yang diharapkan oleh pimpinan. Biasanya tolok yang dipakai oleh kepala
30
sekolah adalah dirinya sendiri, sehingga kepala sekolah melalui pemetaan kemampuan
kompetensi bawahannya dia akan menempatkan posisi bawahannya sesuai dengan
harapnnya untuk dapat diajak bekerja sama dengan baik, sesuai dengan harapan dan target
tertentu untuk mencapai tujuan organisasi. Misal dalam sebuah kepanitian dalam acara
pelepasan siswa kelas 9 maka kepala sekolah memilih ketua panitia adalah orang yang
mampu dan dipercaya oleh teman – teman dalam memimpin kepanitian.
2). Kepala sekolah setiap awal tahun pelajaran baru melaksanakan pembagian tugas untuk
membantu kepala sekolah dalam menjalankan organisasi untuk mewujudkan visi.
Dalam menempatkan orang – orang di organisasi tersebut tentu saja ada pertimbangan
tersendiri agar job yang diberikan sesuai dengan harapan yang diinginkan. Salah satu
pertimbangan seorang kepala sekolah adalah adanya kesamaan antara kepala sekolah
dengan bawahan yaitu tentang dedikasinya,semangatnya ,motivasinya serta kemam – puan
menjalankan tugas yang diberikan oleh kepala sekolah. Sebagai contoh seorang guru yang
ditunjuk untuk membantu urusan kurikulum pembelajaran maka selain memiliki
kemampuan IT yang bagus juga memiliki dedikasi dan loyalitas terhadap pekerjaan dan
pimpinan yang tinggi. Sehingga apabila kepala sekolah didukung oleh tim yang solid dan
selaras akan dengan mudah memperlancar jalannya organisasi dalam mencapai tujuan.
3). Dalam melaksanakan pembelajaran masa Pandemi covid – 19 ini juga dibutuhkan
mindset serta semangat kerja yang sama antara kepala sekolah dengan guru, karena kalau
tidak ada kesamaan maka akan menjadikan kendala di lapangan pada saat pelaksanaan
pembelajaran. Contoh karena kondisi covid maka pembelajaran isiwa dilaksanakan secara
daring atau online dengan melalui beberapa media atau aplikasi. Hal ini tentu saja akan
menjadi kendala bagi para guru yang tidak mau belajar atau tidak melek IT. Disini kepala
sekolah tentu akan memberdayakan guru yang mempunyai kemampuan IT yang bagus
untuk membimbing guru lain yang belum mampu. Dengan harapan agar semua guru yang
31
ada sisekolah tersebut dapat melaksanakan pembelajaran dan mampu
mengoperasionalkan media online sebagai media pembelajaran. Disini sebagai tujuan agar
para guru memiliki kesamaan tujuan dengan kepala sekolah yaitu mampu melaksanakan
pembelajaran secara daring sehingga pembelajaran siswa tetap berjalan dan ada hasil
sesuai yang diharapkan. Yaitu mewujudkan visa sekolah meskipun dalam kondisi covid –
19.
10. Hukum Koneksi / Hubungan Baik (The Law of Connection).
Teori hukum koneksi adalah bahwa seorang pemimpin akan terlebih dulu menyentuh hati,
baru minta tolong. Maksudnya dari teori ini bahwa seorang pemimpin ketika
membutuhkan bantuan bawahannya yang disebut sebagai tim kerja sekolah, maka
komunikasi pimpinan secara menyentuh hati bawahan yang baik akan sangat
mempengaruhi kenerja dan dukungan kepada program kebijakan kepala sekolah. Untuk
mengkomunikasikan tujuan dan program organisasi kepada tim kerja, Pimpinan atau
kepala sekolah perlu berhubungan dengan orang-orang dalam tingkat emosional. Bahkan
ketika menghadapi anak buah dalam jumlah banyak, perlu diingat mereka adalah
sekelompok individu yang memiliki kepribadian dan kerakter yang berbeada- beda. Disini
pimpinan dituntut untuk mampu menyesuaikan pola kepemimpinan dengan pendekatan
persuasive. Hal ini tentu saja akan menimbulkan rasa nyaman kepada bawahan karena
pimpinan mampu melakukan pendekatan dengan cara menyentuh hati bawahan, sehingga
dengan penuh kesadaran bawahan akan melaksanakan tugas apapun yang diberikan oleh
pimpinan.
Bentuk implememntasi dari teori koneksi ini daintaranya :
1) Dalam melaksanakan program kebersihan, penghijauan dan keindahan dilingkungan
sekolah, tentu saja kepala sekolah tidak munkin hanya melibatkan tukang kebun saja,
karena kemampuan tenaga yang terbatas dengan kondisi lingkungan sekolah yang luas.
32
Maka kepala sekolah harus memberdayakan semua warga sekolah untuk peduli dan merasa
mempunyai kewajiban untuk menjaga kebersihan. Penghijauan dan keindahan
selokah.Untuk melibatkan mereka secara personal tentu perlu adanya komunikasi yang
baik karena jumlah warga sekolah yang tersiri dari guru, karyawan, siswa tentu memiliki
karakter dan kepribadian yang berbeda – beda. Untuk menjalankan program ini perlu
dikomunikasikan secara baik dengan menyesuaikan kerakter dan kepribadian bawahan,
sehingga mereka bisa menerima dan dengan kesadaran mau peduli dan melaksanakan
kebersihan, penghijauan dan keindahan sekolah tanpa paksaan.
2) kegiatan belajar mengajar di sekolah yang menjadi salah satu kendala di lapangan
adalah kurang terpenuhinya kebutuhan guru yang sesuai dengan mata pelajaran. Dalam hal
ini kepala sekolah tentu dituntut untuk tetap melaksanakan program pengajaran/pendidikan
disekolah, Sehingga perlu merekrut tenaga guru yang dibutuhkan sesuai mata pelajaran.
Namun kenyataan dilapangan banyak sekolah yang masih memiliki tenaga guru honorer
yang sudah cukup lama mengabdi dan memiliki SPT atau honor daerah, namun karena
adanya perekrutan CPNS sehingga guru honorer tersebut terpakasa kehilangan jam meng-
ajar sesuai dengan kompetensi ijasahnya atau tidak linier. Disini kepala sekolah harus
mampu melakukan komunikasi dengan baik tanpa menyinggung atau menyakiti hati para
guru honorer ketika harus dipindahkan jam mengajar mapelnya kepada guru CPNS baru
sementara dia kehilangan SPT/honor daerahnya, dan mengajar mata pelajaran yang tidak
sesuai dengan kompetensi ijasahnya. Dengan pendekatan menggunakan hati nurani untuk
dimintai bantuan mengajar mata pelajaran yang masih kurang tenaga pengajarnya namun
tidak linier, maka guru honorer akan merasa dihargai oleh kepala sekolah dan merka
merasa dibutuhkan atau diorangkan.
33
11.Teori Kepemimpinan Perilaku.
Teori ini menyebutkan bahwa mereka yang memiliki fleksibilitas seorang pemimpin
tetapi memusatkan cara aktual pemimpin berperilaku dan untuk mengubah gaya perilaku
mereka dan memilih gaya yang tepat serta cocok untuk situasi yang berbeda. Keberhasilan
seorang pemimpin sangat tergantung pada perilakunya dalam melaksanakan fungsi-fungsi
kepemimpinan. Teori ini disebut juga teori sosial dan merupakan sanggahan dari teori
genetis. Maksudnya adalah mungkin untuk melatih dan mengembangkan seorang
pemimpin. Ia menolak bahwa para pemimpin dilahirkan atau bahwa orang-orang
tertentu memiliki potensi bawaan mereka untuk menjadi pemimpin. Menurut teori ini,
siapa pun bisa menjadi pemimpin, tetapi harus ada suasana dan pelatihan yang baik
untuk mengembangkan kualitas kepemimpinan. Pemimpin harus disiapkan, dididik dan
dibentuk, tidak dilahirkan begitu saja. Teori ini tidak ada penekanan pada sifat-sifat atau
kualitas yang harus dimiliki mempengaruhi orang lain. Jadi teori ini berfokus pada perilaku
dan tindakan spesifik para pemimpin, bukan pada karakteristik mereka. Bentuk
implementasi dari teori kepemimpinan perilaku ini diantaranya :
1). Kepala sekolah melakukan pendektan, misalnya pada rapat internal sekolah, di
antaranya adalah workshop, seminar, inovasi, dilakukan dengan tujuan untuk
pembinaan dan pengembangan kompetensi guru dan staf. Pembagian dan penempatan
tugas mengajar guru di sekolah ini disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan
kompetensi yang dimiliki. Sedangkan staf, pembinaan yang dilakukan dengan cara
pengarahan secara langsung tentang teknis melakukan bidang pekerjaannya. Sedangkan
saya selalu memberi pengarahan pada pendidik dan tenaga kependidikan dalam
pengupayaan peningkatan kinerja, seperti mengikutkan kegiatan di luar sekolah (eksternal),
seperti seminar, workshop, dll. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah dalam
memberikan motivasi (motivation) untuk meningkatkan kinerja pada pendidik dan
34
tenaga kependidikan. Upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam memberikan
motivasi (motivation) untuk meningkatkan kinerja pada pendidik dan tenaga
kependidikan adalah dengan cara membangun komunikasi yang baik, berusaha untuk
mengenal lebih dekat seluruh pegawai atau personil bawahannya yaitu pendidik dan
tenaga kependidikan di sekolah tersebut. Selanjutnya kepala Sekolah berusaha untuk
menempatkan pegawai pada pekerjaan yang sesuai dengan minat, kemampuan dan
keahlian, Memperkaya penguasaan berbagai jenis metode dalam proses pembelajaran,
mengalokasikan sumber daya sesuai dengan prioritas, menentukan cara menggunaan
personil dan sumber daya untuk menghasilkan efisiensi tugas, meningkatkan kemampuan
tambahan yaitu penggunaan media pembelajaran, tidak membeda-bedakan antara
pegawai satu dengan pegawai lainnya. Serta selalu memberikan kesempatan yang sama.
2). Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam memantau (monitoring) kinerja ada
pendidik dan tenaga kependidikan. Upaya yang dilakukan dalam memberikan
pemantauan (monitoring) untuk meningkatkan kinerja pada pendidik dan tenaga
kependidikan adalah dengan cara Kepala Sekolah selalu memberikan izin kepada
pendidik dan tenaga kependidikan untuk mengikuti pembinaan, seperti halnya seminar
yang diadakan baik tingkat kabupaten maupun nasional, yang bertujuan untuk
menambah wawasan, pengetahuan dalam mengembangkan potensi akademik/pun non
akademik. Selain pembinaan yang sifatnya eksternal, kepala sekolah juga memberikan
pembinaan yang sifatnya internal, dimana pembinaan tersebut diikuti oleh seluruh
pendidik dan tenaga kependidikan .Tidak lain sikap tersebut di aplikasikan seperti halnya
diadakan pembinaan ke tempat-tempat yang indah, alami, dengan tujuan untuk
memberikan kesegaran baik fisik, otak, penglihatan agar menjadi lebih refresh lagi. Dan
nantinya sepulang dari tempat tersebut menjadikan semua aktifitas yang dilakukan bisa
berjalan dengan lebih baik lagi.
35
12. Teori Kepemimpinan Situasional (Situasional Theory )
Isi teori kepemimpinan situasional adalah keberhasilan seorang pemimpin disebabkan oleh
situasi yang ada di sekitarnya, bukan karena sifat - sifatnya, boleh dikatakan bahwa teori
ini mengamsusikan bahwa seorang pemimpin dapat berhasil karena kebetulan Situasi di
sekitarnya mendukung. Gaya kepemimpinan ini bebeda-beda dari satu situasi ke situasi
yang lain. Untuk menerapkan gaya pemimpinan yang efektif harus diawali dengan
mendiaknosis situasi sebaik-baiknya. Maksdunya adalah bahwa Seorang pemimpin
berhasil dalam memimpin instansinya dikarena kan adanya faktor faktor pendukung
sebelumnya. Bisa dari lingkungan sekitar instansi yang sudah mendukung. Atau suasana
yang sudah kondusif sejak dari pimpinan yang lama bisa mendukung terlaksa nanya
keberhasilan dia dalam memimpin selanjutnya. Gaya kepemimpoinan situasional sangat
menarik pada saat ini, karena pemimpin dengan gaya ini akan selalu berusaha menyesuai
kan dengan situasi dan kondisi serta bersifat fleksibel dalam beradaptasi/menyesuaikan
dengan kemampuan bawahan dan lingkungan kerjanya. Gaya kepemimpinan situasional
menurut Hersey dan Blanchard didasarkan saling keterkaitannya di antara hal-hal berikut:
1. Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pemimpin.
2. Jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pemimpin.
3. Tingkat persiapan dan kematangan para pengikut dalam melaksanakan tugas khusus,
fungsi dan tujuan tertentu.
Bentuk implementasi teori kepemimpinan situasional ini diantaranya adalah :
1), Sekolah di mana saya sebagai pemimpinnya mempunyai lingkungan masyarakat sekitar
yang agamais dan ramah serta baik. Dengan lingkungan seperti itu memudahkan saya
sebagai pemimpin untuk mengajak serta aktif semua warga sekolah juga untuk lebih baik
dalam hal keagamaan dan bermasyarakat. Sebagai contoh kita mengadakan kerja bakti
dengan membersihkan lingkungan di sekitar sekolah bersama sama dengan guru karyawan
36
dan warga sekitar sekolah. Hal lainnya yang telah saya lakukan dan tidak dilakukan oleh
pemimpin sebelumnya misalnya mengadakan acara sekolah yang mengundang warga
sekitar sekolah untuk datang ke sekolah , Sehingga terjalin kerja sama yang baik antara
sekolah dan lingkungan masyarakat sekitar.
13. Game Theory
Isi game theory merupakan negosiasi yang dianggap sebagai permainan (game) dengan
aturan tertentu yang dikenal sebagai hukum (law). Maksudnya adalah orang yang menjadi
pemimpin harus mampu menggunakan pendekatan negoisasi dalam menyelesaikan
konflik sesuai dengan kode etik yang dipahami.
1). Kepala Sekolah dalam mengambil keptusan terhadap permasalah yang ada
mengedepankan musyawarah dan bernegoisasi dengan para pihak agar terjaga silaturahmi
anatar pegawai dan tidak akan mengganggu kinerja masing - masing. Dengan demikian
pencapaian tujuan yang diharapkan akan tercaapai tepat waktu.
2). Kepala sekolah harus mampu menyelesaikan permasalah dengan baik tanpa melukai
pihak manapun , misal dalam permasalahan kegiatan sosial, ada pertentangan tentang
siapa yang harus diberi uang penghargaan terhadap guru atau karyawan yang pensiun,
pindah tugas dan yang mengundurkan diri .
14. Teori Kepemimpinan Teori sifat (Trait Theory)
Isi teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas
dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Maksudnya adalah
Teori sifat ini lebih dikenal dengan teori orang besar, artinya hanya orang-orang besar
yang mempunyai sifat dan karakter yang mencerminkan dia seorang yang besar dimanapun
dia berada.Teori ini mengajarkan untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses
37
dibutuhkan karakter, sifat dan perangai serta watak bawaan yang baik. serta karakteristik
fisik serta psikologis sseorang yang dapat membedakan orang tersebut berbeda yang
biasanya hanya dimiliki oleh seorang pemimpin.Teori sifat adalah seorang pemimpin
dengan kemampuan pribadinya dan karaktenya serta perangainya mampu mempimpin dan
memperlakukan bawahannya sebaik mungkin sehingga dia disegani dan dihormati semua
bawahannya.
Keberhasilan atau kegagalan seseorang menjadi seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-
sifat dasar yang dimiliki oleh orang tersebut. Sifat-sifat tersebut ada pada seseorang yang
berasal dari pembawaan serta keturunan. Seseorang dapat menjadi pemimpin dikarenakan
sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih.
Akan tetapi, dalam beroranisasi kita tidak akan bisa menemukan pemimpin yang memiliki
keseluruhan sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat pemimpin itu merupakan tipe ideal yang tidak
ada dalam kenyataannya. Kemungkinan terjadi ada orang yang memiliki sifat-sifat tersebut
justru tidak menjadi pemimpin, sebaliknya ada orang yang tidak memiliki sifat-sifat itu
justru bisa jadi pemimpin. Contoh bentuk implementasi teori ini adalah :
1). agaimana agar sekolah kelihatan hijau dan indah, maka berkreasi setiap siswa
membawa tanaman atau pupuk dan memberdayakan diri sendiri maupun teman dan
seluruh siswa untuk rajin menanam pohon, dengan di beri contoh kongkrit.
2). Motivasi memimpin, seorang pemimpin harus selalu berusaha mendapatkan kekuatan
agar mampu mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Kepala Sekolah jangan cuma
memerintah tetapi harus memberi semangat kepada seluruh guru dan karyawan dengan
ikut terjun langsung, misal ikut menyusun dan memberikan masukan tentang penyusunan
Visi dan Misi, dan dokumentasi sekolah yang lain
3). Integritas, pemimpin harus memiliki prinsip perkataan sesuai perbuatan.Kepala Sekolah
tidak OMDO ( omong doang) tetapi harus membuktikan bahwa apa yang dikatan harus
38
sesuai dengan kenyataan. Misal kita harus hidup bersih , maka Kepala Sekolah harus
berpenampilan bersih dan jika ada kerja bakti di sekolah maka ikut terjun langsung.
15. Teori Kepemimpinan Humanistik
Didalam teori Likert (1961) menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses yang
saling berhubungan dimana seseorang pemimpin harus memperhitungkan harapan-
harapan, nilai-nilai dan keterampilan individual dari mereka yang terlibat dalam interaksi
yang berlangsung. Dalam penjelasannya tentang teori ini adalah melihat bahwa manusia
merupakan motivated organism yang memiliki struktur dan sistem kontrol
tertentu.Menurut Likert, Kepemimpinan adalah sebuah proses yang saling berhubungan
dimana pemimpin harus mempertimbangkan harapan dan nilai serta keterampilan
individual mereka yang terlibat dalam interaksi.Di dalam teori ini, pemimpin harus dapat
melihat bahwa dirinya dan individual lain didalam organisasi merupakan manusia yang
memiliki potensi dan keterampilan. Oleh sebab itu seorang pemimpin akan diikuti apabila
dia mampu untuk mengatur potensi sumber daya manusia dalam organisasi secara efektif
dan efisien dalam rangka untuk mencapai tujuan.
Contoh bentuk implementasi teori ini diantaranya :
1). Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberdayakan orang – orang
yang ada didalamnya. Mampu menempatkan orang – orang dalam bidang tugas sesuai
kompetensinya. Contoh Kepala Sekolah setiap awal tahun ajaran baru dalam pembagian
tugas baik yang bersifat akademis maupun manajerial Kepala Sekolah menyusun analisis
jabatan melalui instrument yang dibuatnya untuk memudahkan dalam mendeminasikan
jabatan dan tugas kepada para stafnya, Ketika organisasi sudah tersusun maka dengan
demikian para staf tidak menjadi terbebani ketika menjalankan tugas bahkan akan merasa
mudah dan nyaman karena tugas yang diberikan sesuai dengan skil dan kompetensinya.
Kondisi demikian tentu akan mempermudah pencapaian tujuan organisasi/sekolah.
39
2). Pendekatan kepemimpinan Humanistik dalam pendidikan karakter di sekolah melalui
langkah-langkah :
a. Kepala Sekolah merancang susunan organisasi yang baik agar relevan dengan
kepentingan anggota dan kemajuan organisasi
b. Menyusun program penguatan pendidikan karakter yang mecakup :
1). Pengembangan diri
2). Menetapkan pembelajaran berkarakter , menyusun rencana pembelajaran, mene
rapkan model pembelajaran dan penilaian berkarakter
3). Menyusun Kegiatan lingkungan sekolah
4). Kegiatan dilingkungan masyarakat
c. Kepala Sekolah menciptakan interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dan
anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersam-sama
d. Membangun suasana kerja yang harmonis menghindari suasana kerja yang menekan
dan membangun rasa saling percaya
e. Membangun kemitraan kerja baik dengan pemerintah maupun pihak swasta untuk
mendukung penguatan pendidikan karakter di sekolah.
f. Kepala Sekolah juga memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan
kebutuhan dan kemampuan
g.Tidak kalah pentingnya Kepala Sekolah menghidupkan spiritualitas di lingkungan kerja
untuk mendukung penguatan pendidikan karakter.
3). Kepala Sekolah memberdayakan tenaga pendidik selain memberikan tugas mengajar
sesuai dengan kompetensi pendidikan yang ditempuh ( linier ), juga mampu menggali
kemampuan lain tenaga pendidik untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler, contoh kasus
guru matematika mempuntai kemampuan tentang kepramukaan maka guru tersebut
diberikan tugas tambahan untuk membina siswa dalam kegiatan ektrakurikuler
40
kepramukaan, atau guru Bahasa Indonesia tapi sangan mahir bermain music maka dapat
diberdayakan untuk membimbing dan mengembangkan bakat siswa dalam kegiatan
ektrakurikuler music. Dengan memnerdayakan keahlian guru yang dimiliki maka Kepala
Sekolah dapat dengan mudah menjalankan program tanpa repot mencari tenaga dari luar.
16. Teori Kepemimpinan Kontingensi
Isi teori ini adalah tidak ada satu cara mempimpin terbaik yang dapat diterapkan pada
semua situasi. Dapat dijalaskan bahwa menurut teori kepemimpinan kontingensi ini adalah
teori memimpin dengan menerapkan gaya kepemimpinan disesuaikan dengan situasi dan
kondisi. Maka gaya kepemimpinan dapat berubah - ubah terlebihsetiap peristiwa mungkin
melibatkan orang, situasi, kondisi, dan lingkungan yang mungkin berbeda antara satu sama
lainnya. Menurut teori kontigensi ,leadership yang efektif bukan hanya tentang kualitas si
pemimpin tetapi juga tentang keseimbangan antara perilaku, kebutuhan, dan konteks.
Dilansir dari Indeed, pemimpin yang baik dapat mengamati situasi untuk menilai kebutuh-
an bawahan mereka dan kemudian menyesuaikan perilaku mereka. Contoh implementasi
teori ini diantaranya .
1). Dalam sebuah lembaga/sekolah pasti Kepala Sekolah menghadapi berbagai karakter
manusia. Dengan beraneka ragam kerakter tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di
lingkungan sekolah, maka kepala sekolah menerapkan model kepemimpinan yang berbeda
– beda menyesuaikan karakter orang yang dihadapi. Misal Kepala Sekolah menerapkan
gaya kepemimpinan demokratis ketika meminta masukan ide atau inovasi untuk
mengembangkan kemajuan sekolah. Karena dengan model ini para guru/ karyawan akan
terbuka dan merasa diorangkan sehingga mereka akan tidak sungkan untuk memberikan
ide atau masukan demi sekolah yang, karena mereka juga merasa memiliki sekolah
sehingga dengan menerapkan model demokrasi ini akan membentu Kepala Sekolah untuk
memajukan sekolah serta menghidupkan organisasi sekolah.
41
2). Kepala Sekolah juga perlu menerapkan model kepemimpinan otoriter ketika
menghadapi terjadinya pelanggaran kebijakan dan aturan yang berlaku. Contoh kasus
ketika ada guru/karyawan yang sering mangkir atau tidak masuk kerja dan tidak
melaksanakan tugasnya tanpa ijin pimpinan dan mengabaikan tupoksinya sebagai guru,
maka Kepala Sekolah wajib memberikan sanksi dengan tahapan dari teguran lisan, teguran
tertulis, dan kalau masih belum diindahkan maka disinilah Kepala Sekolah selaku
pimpinan mengambil langkah tegas ( otoriter ) dengan memberikan sanksi mengajukan
sesuai aturan yang berlaku terhadap guru tersebut dengan berkoordinasi dengan Badan
Kepegawaian Negara.
3). Kepala Sekolah dalam menjalankan tugas sebagai leadership terkadang juga perlu
menerapkan kepemimpinan pribadi maksudnya dengan mengadakan kontak pribadi.
Contoh kasus ketika Kepala Sekolah ingin memberdayakan tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan maka akan berbeda – beda cara pendekatannya. Misal dengan tenaga
yangmasih muda dan energik serta memiliki kemampuan IT yang baik ketika
melaksanakan supervise pembelajaran tentu akan sangan berbeda dengan tenaga pendidik
yang sudah senior dan tidak memiliki kepmampuan IT. Maka pendekan kontak individu
paling tepat agar semua bisa berjalan secara selaras dan seimbang, tanpa ada tenaga
pendidik yang merasa didiskriminasikan/ dibedakan karena keterbatasan kemampuannya.
17. Teori Kepemimpinan Perilaku Khusus (Leadership Through Power)
Isi dari teori ini adalah Power atau kekuasaan merupakan unsur yang sangat penting bagi
seorang pemimpin, karena jika kekuasaan meningkat maka kekuatan untuk mempengaruhi
orang lain akan meningkat pula, maksud dari teori ini bahwa Pemimpin yang memiliki
power akan mampu mendapatkan sumber daya yang cukup, mengimplementasikan setiap
kebijakan, dan aktivitas lainnya dibandingkan pemimpin yang hanya memiliki sedikit atau
42
sama sekali tidak memiliki kekuasaan,French and Raven (1959) mengidentifikasi lima
dasar tipe kekuasaan, yaitu expert, legitimate, reward, coercive dan referent.
1. Expert Power
Dalam situasi tertentu, pemimpin yang memiliki pengetahuan atau keahlian khusus yang
bermanfaat bagi organisasi akan membantu pemimpin mendapatkan kekuasaan atau
power. Ada dua persyaratan untuk mendapatkan expert power. Pertama, keahlian yang
dimiliki harus benar-benar diperlukan orang lain dalam organisasi. Misalkan dalam
fakultas Psikologi di sebuah universitas, para peneliti yang memiliki keahlian Statistik
akan lebih memiliki kekuasaan dibanding dengan peneliti lain yang kurang mampu dalam
Statistik. Syarat kedua, orang lain harus tahu bahwa pemimpin memiliki keahlian tertentu.
Informasi hanya akan berguna jika orang lain tahu bahwa pemimpinnya mampu atau
pemimpin dapat menggunakan keahliannya
Contoh :
1).Baharudin Jusuf Habibie (Mantan Presiden RI ke-3), salah satu hal yang dapat
mengantarkannya menjadi Presiden RI ke-3 adalah karena keahliannya di bidang teknologi
dirgantara.
2).KRMT Roy Suryo, salah satu hal yang dapat mengantarkannya menjadi anggota DPR
RI Periode 2009-2014 adalah karena keahliannya di bidang telematika.
2. Legitimate Power
Pemimpin memiliki kekuasaan berdasarkan posisi atau jabatannya.Kekuasaan seorang
pemimpin diakui oleh orang- orang yang dipimpinnya.
Contoh :
a) Seorang wakil direktur memiliki kekuasaan terhadap supervisor,
b) seorang pelatih sepak bola memiliki kekuasaan terhadap para pemain yang dilatihnya
c) seorang guru memiliki kekuasaan terhadap peserta didiknya,
43
d) seorang kepala sekolah memiliki kekuasaan terhadap guru dan karyawannya.
3. Reward and Punishment Power
Kekuasaan berdasarkan penghargaan (reward) serta hukuman (punishment) yang dapat
digunakannya. Reward power adalah memiliki kontrol kekuasaan melalui pemberian
hadiah atau kegembiraan kepada orang- orang yang dipimpinya.
Contoh Sistem Reward dan Punishment
a) Pada kepemimpinan militer, seperti memberikan hadiah kepada mereka yang
berprestasi dan memberikan hukuman ringan seperti push-up
b) Dalam dunia pendidikan, Kepala sekolah memberikan hadiah kepada guru karyawanya
yang paling disiplin dalam kehadiran, dan memberi hukuman kepada guru karyawan
yang tidak disiplin dalam bentuk teguran, peringatan baik secara lisan maupun tertulis.
4. Coercive power,
Kekuasaan seorang pemimpin untuk memberikan pengertian kepada orang lain bahwa dia
memiliki kekuasaan untuk memberikan ancaman hukuman .
5. Respect or Affection Power atau referent power.
Sumber kekuasaan lain bagi seorang pemimpin terletak pada perasaan positif anak buah
atau pengikut terhadap pemimpin tersebut. Pemimpin dapat memperoleh referent power
dengan menghargai orang lain, berbuat baik, ramah dan suportif Pemimpin yang sangat
disenangi akan dapat mempengaruhi orang lain walaupun tanpa penghargaan (reward) dan
pemaksaan (coercive). Dengan disukai dan dihormati oleh anak buah, atasan atau kolega
maka tentu saja pemimpin akan mampu mempengaruhi kelompoknya.
Contoh ,
Kepemimpinan Gus Dur (Mantan Presiden RI ke-4) diyakini sebagai pemimpin yang
bergaya Referent Power
18. Teori Kepemimpinan Alamiah / Teori Sifat Dasar Kepemimpinan (Trait Theory)
44
Isi Teori kepemimponan alamiah ini menyatakan bahwa setiap orang memiliki
karakteristik atau sifat yang diwariskan , bahwa jika sifat-sifat kepemimpinan yang ada
pada orang-orang besar yang berhasil ini, ditemukan pada orang lain, maka orang lain
juga memiliki kemungkinan yang kuat menjadi pemimpin besar. Disini dijelaskan bahwa
ada tiga asumsi yang mendasari Teori Kepemimpinan Alamiah atau Teori Sifat Dasar
Kepemimpinan (Trait Theory) adalah :
a), Orang dilahirkan dengan sifat-sifat yang diturunkan atau diwariskan.
b). Beberapa sifat yang diwarisi ada yang secara kebetulan sangat cocok untuk menjadi
pemimpin.
c). Orang-orang yang berhasil menjadi pemimpin yang baik dan efektif memiliki jumlah
dan kombinasi warisan sifat-sifat kepemimpinan yang secara alamiah baik McCall dan
Lombardo (1983) mengidentifikasi empat ciri utama mengenai karakter yang dapat
mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan kepemimpinan sebagai berikut:
1). Memiliki ketenangan dan stabilitas emosional (Emotional stability and composure)
meliputi : Tenang, percaya diri dan dapat diprediksi, terutama ketika sedang
mengalami stres.
2). Bersedia mengakui kesalahan (Admitting error) : Dalam setiap menghadapi masalah,
memilih mengakui kesalahan daripada membuang-buang energi untuk menutupi
kesalahan.
3). Memiliki kemampuan interpersonal yang baik (Good interpersonal skills) : Mampu
berkomunikasi dan membujuk orang lain dengan baik tanpa menggunakan cara-cara
yang negatif atau pemaksaan kehendak.
4). Berwawasan intelektual yang luas (Intellectual breadth) : Mampu memahami
berbagai hal, tidak berpikiran sempit dalam bidang keahliannya
45
Keempat hal tersebut diatas mengenai sifat-sifat (traits) yang baik untuk menjadi syarat
pemimpinan yang efektif dan diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin.
Dalam kontek system perpolitikan saat ini, belum tentu sifat-sifat kepemimpinan akan
menurun secara otomatis kepada generasi berikutnya pada keluarga kerajaan pada saat
seperti sekarang ini. Sebagai contoh, beberapa keterunan atau generasi penerus atau
singkatnya anak-anak raja pada saat ini, belum tentu memiliki sifat dasar yang cocok untuk
menjadi seorang pemimpin. Hanya saja, secara otomatis mereka dapat menjadi pemimpin
(raja atau ratu) karena memang system monarki yang mengharuskannya
Contoh :
1) Kepemimpinan Pangeran William (Penerus Tahta Kerajaan Inggris),
2) Kepemimpinan Sultan Bolkiah (Pangeran Brunei Darussalam)
3) Kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono X (Raja Kesultanan Yogyakarta).
Terlepas dari karakteristik kepribadian dari ketiga contoh pemimpin tersebut, apakah
sesuai atau tidak untuk menjadi pemimpin yang efektif berdasarkan Teori Sifat (Trait
Theory), namun system perpolitikan monarki telah mengharuskan dirinya menjadi
Pemimpin.
19. Trait Theory
Merupakan teori kepribadian yang dasari oleh beberapa asumsi bahwa trait merupakan
suatu pikiran atau perasaan yang membedakan satu orang pemimpin dengan orang lain,
sehingga relative setabil dan konsisten dari waktu kewaktu. Maksud teori ini adalah
Seorang Pemimpin memiliki karakteristik khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain , jadi
dalam trait theory yang ditonjolkan adalah fungsi – fungsi kualitas individu yang
menjadikan pemimpin tersebut menjadi cermin bagi orang lain.
Contoh implementasi dianntaranya adalah :
1). Seorang pemimpin harus memiliki daya dorong terhadap teman – temannya untuk
46
terus berprestasi
2).Seorang pemimpin harus memiliki kejujuran dan integritas sehingga pemimpin tersebut
dapat dipercaya di lingkungan bekerja
3). Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi seseorang
dalam mencapai tujuan
20. Teori Psikologis.
Isi Teori ini menyatakan, bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan
mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk memotivasi kesediaan bekerja dari para
pengikut dan anak buah. Maksudnya bahwa pemimpin merangsang bawahan, agar mereka
mau bekerja, guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun memenuhi tujuan-
tujuan pribadi. Maka kepemimpinan yang mampu memotivasi orang lain akan sangat
mementingkan aspek-aspek psikis manusia seperti pengakuan (recognizing), martabat,
status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan dan kebutuhan pegawai,
kegairahan kerja, minat, suasana hati, dan lain-lain.
Contoh bentuk implementasinya diantaranya :
1). Kepala Sekolah selalu melakukan motivasi kepada guru dan karyawan agar selalu
disiplin dalam bekerja penuh kreasi, pantang menyerah, selalu berkomunikasi dengan
teman yang lain tentang pekerjaan yang sedang dikerjakan, dan memberi contoh cara
mengambil keputusan bijaksana dan baik
2). bahwa pemimpin berhasil (efektif) adalah sumber dari kepribadian (personality)
pemimpin itu sendiri sebagai seorang insan. Hal tersebut membuktikan bahwa hal yang
paling mempengaruhi dalam kepemimpinan kepala sekolah adalah kepribadian kepala
sekolah sendiri. Kalau kepribadian nya baik tentu hal yang lain akan mengikutinya.
47
3). Kepemimpinan kepala sekolah akan nampak manakala kepala sekolah berinteraksi
dengan orang lain, misalnya melakukan percakapan pribadi dengan guru, teman
sejawatnya, maupun dengan muridnya
4). Kepala sekolah membagi tugas kepada guru dan karyawan melihat kemampuan
masing-masing, pembagian pekerjaan harus sesuai dengan kompetensi, pekerjaan saya
delegasikan dengan adil dan transparan.
21. Teori Transformasional
Teori kepemimpinan ini terjadi ketika satu orang atau kelompok orang berhubungan
dengan orang banyak dengan upaya untuk mengangkat posisi para pemimpin dan pengikut
( anggota Tim )
Kepemimpinan Tranformasional adalah sebuah teori yang relevan dengan kehidupan
modern saat ini. Dalam hal ini teori kepemimpinan mencakup 2 elemen yang sangat
penting, kedua elemen yang dimaksud adalah relasional dan hal – hal yang berurusan
dengan perubahan riil.
Contoh :
1. Seorang Kepala Sekolah harus memiliki kharismatik karena harus mampu
untuk mengartikulasikan sebuah visi dan misi yang akan datang yang terasa meyakinkan
dan membentuk serta membangun hubungan emosional dengan para pengikutnya, namun
seoramg pemimpin melakukan semua itu guna pemenuhan kebutuhan untuk tercapainya
perubahan dalam organisasi.
2. Seorang pemimpin harus bisa berinovatif dan bisa merangsang terhadap teman-temanya
dan bisa menginspirasi pengikutnya untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa dan dalam
prosesnya mengembangkan kapasitas kepemimpinanya sendiriselain iyu seorang pemim
pin harus bisa memperdayakan para pengikut dengan cara menselaraskan tujuan yang lebih
besar.
48
22. Teori Sosiologis.
Dalam teori ini, kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan antar-
relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris
antara para pengikutnya, agar tercapai kerja sama yang baik.
Kepala Sekolah harus mampu mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara
aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral)
yang ada pada seluruh bawahannya sehingga dengan cepat melakukan tindakan preventif
agar tidak mengganggu pencapaian tujuan yang hendak di capai. Maksud dari teori ini
adalah Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan, dengan menyertakan para pengikut dalam
pengambilan keputusan terakhir. Selanjutnya juga mengidentifikasi tujuan, dan kerap kali
memberikan petunjuk yang diperlukan bagi para pengikut untuk melakukan setiap
tindakan yang berkaitan dengan kepentingan kelompoknya.
Contoh implementasi teori sosiologis diantaranya :
1). Kepala sekolah harus mampu beradaptasi dengan segala lapisan masyararakat, istilah
harus ajur ajer, yaitu mampu bersosialisasi dengan baik terutama dengan bawahan agar
segala program dapat dikomunikasikan dengan baik tanpa ada rasa canggung.
2). Kepala Sekolah adalah figur teladan, jadi harus memberi contoh kepada seluruh warga
sekolah, karena di sekolah seorang murid diwajibkan untuk datang tepat waktu,
menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut
dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari
contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di
luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid). Maka
Kepala sekolah dan bawahannya harus menjdi geladan terlebih dahulu kalau ingim hal
tersewbut berhasil dengan baik.
49
23. Teori Lingkungan:
Teori ini secara garis besar menjelaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin dalam
menjalankan tugasnya sangat tergantung terhadap situasi dan gaya kepemimpinan yang
dipakainya.
Untuk situasi yang berbeda, maka dipakai gaya yang berbeda pula. Berdasarkan teori
lingkungan, seorang harus mampu mengubah model gaya kepemimpinannya sesuai dengan
tuntutan dan situasi zaman. Oleh karena itu, situasi dan kondisi yang berubah menghendaki
gaya dan model kepemimpinan yang berubah. Sebab jika pemimpin tidak melakukan
perubahan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, kepemimpinannya tidak akan berhasil
secara maksimal. Tingkah laku dalam gaya kepemimpinan ini dapat dipelajari dari proses
belajar dan pengalaman pemimpin tersebut, sehingga seorang pemimpin untuk
menghadapi situasi yang berbeda akan memakai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
situasi yang dialami.
Contoh :
1). Kepala Sekolah harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, misalkan :
Rasa aman dari bahaya yang mungkin timbul pada saat menjalankan tugas, merasa aman
dari pemutusan hubungan kerja yang sewenang-wenang secara tidak adil, merasa aman
dari segala macam bentuk tuduhan sebagai akibat dari saling curiga mencurigai di antara
para pegawai
2). Kepala Sekolah harus mampu membaca situasi dimana dia ditugaskan, misalkan
masyarakat sekita sekolah berada petani, nelayan, pedagang, kota , sehingga tidak akan
salah dalam menerapkan kebijakan yang menyangkut semua steak holder termasuk
masyarakat sekitar.
3). Kepala Sekolah harus memeiliki rasa sosial yang tinggi misal :
50
a. Mengadakan anjangsana ke rumah-rumah pegawai pada saat-saat tertentu, sehingga
pegawai merasa senang dan bangga. Angjangsana ini bisa diadakan secara teratur.
b. Ikut membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh pegawai, sepanjang
pegawai yang bersangkutan tidak berkeberatan.
c. Membela kepentingan bawahan, sepanjang kepentingan bawahan tidak bertentangan
dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
d. Membela bawahan dan pihak-pihak lain, meskipun secara intern bawahan mendapat
teguran bahkan mendapat peringatan keras dari pimpinan.
e. Melindungi bawahan dari segala bentuk ancaman yang datangnya dari pihak lain,
selama bawahan masih berada pada posisi atau garis yang benar.
24. Teori Implisit
Dalam teori ini menyatakan bahwa keyakinan atau pandangan individu tentang sifat dari
atribut-atribut yang dimiliki manusia.antara lain inteligensi dan kepribadian. artinya
seorang pemimpin yang baik, bijaksana,cerdas maka pengikut atau bawahannya akan
merasakan nyaman, damai dan sejahtera sebaliknya pemimpin yang bermoral buruk
bawahan atau pengikutnya akan menderita.
Dalam penjelasannya bahwa kepemimpinan ini didasarkan pada keyakinan kita masing-
masing dan asumsi tentang karakteristik kepemimpinan yang efektif.dan pada akhirnya
teori ini bertindak untuk memaksa, berlaku moderat dan memandu pelatihan kepemim
pinan,
1). Memaksa.
Contoh : Seorang pemimpin yang baik dapat mengontrol dan dapat juga memaksa anggota
kelompoknya untuk patuh tentunya dalam kebaikan Salah satu contohnya adalah Kepala
Sekolah memiliki kemampuan memimpin dengan menggerakan bawahannya untuk patuh
51
kepadanya dengan melalui berbagai cara seperti membujuk, memotivasi dan memberi
contoh bahkan melakkan penekanan agar tujuan organisasi tercapai.
Kepala Sekolah sebagai motivator yang berpikir realistis dalam menjalankan tugas dengan
ditopang oleh kemampuan berkomunikasi aktif untuk memprovokasi masyarakat dan
mampu mempengaruhi kerangka berpikir orang lain sehingga orang tersebut bersedia
mengikuti saran-saran atau himbauannya untuk turut serta dalam penyelenggaraan
pendidikan yang dipimpin. Visi kepala sekalah mustahil akan terjadi tanpa kemapuan dan
keterampilan komunikasi yang baik, sesuai dengan konsep bahasa bijaksana adalah
memiliki proses pesan yang terfokus pada begaimana orang-orang menyampaikan,
menginterpretasi, mengevaluasi perilaku, dan mampu pada tataran proses produksi pesan
yang terfokus komunikasi dalam rangka intraksi sosial dengan tercapainya tujuan bersama.
2. Penerapan sistem interpersonal communication merupakan langkah terbaik untuk
menerapkan pemimpin yang Moderat.Pemimpin moderat seringkali diartikan dengan
posisi dimana seseorang pemimpin harus memiliki karakter adil, bijak, terbuka, rendah
hati, rasional, demokratis dan juga karakter-karakter baik lainnya yang memberi manfaat
kepada orang lain.
Contoh : Kepala Sekolah dalam memilih Wakil tidak langsung memilih tetapi harus
bijaksana, bertanya kepada teman, konsultasi dengan para senior, tentang bagaimana
kemampuan, karakter , dan kenyamanan dalam bekerja.
Kepala Sekolah mampu untul bersikap demokratis,tidak diskriminatif dan berlaku adil
kepada seluruh bawahanya, mempunyai kepedulian terhadap kejadian kejadian yang ada
hubungannya dengan sosial kemasyarakatan.
Memandu pelatihan kepemimpinan.Memberikan pemahaman tentang tugas dan
kemampuan teknis yang diperlukan oleh seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pemimpin di organisasinya masing - masing.
52
Contoh : Kepala Sekolah bertugas menetapkan tujuan program secara jelas, memberikan
instruksi yang jelas kepada guru dan karyawan, memberikan materi atau penjelasan
bagaimana cara melakukannya agar dapat berjalan lancar, dan tepat waktu, serta
mengevaluasi program tersebut.
25. Teori Suportif
Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin, dan bekerja dengan
penuh gairah, sedang pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui
kebijakan tertentu. Berarti dalam hal ini, pemimpin perlu menciptakan suatu lingkungan
kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikut
nya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak
lain, mau mengembangkan bakat dan keterampilannya, dan menyadari benar keinginan
untuk maju. Teori suportif ini biasa dikenal dengan teori partisipatif atau teori kepemim
pinan demokratis.
Contoh :
1). Kepala sekolah yang selalu memberikan motivasi dan mendorong bawahannya untuk
selalu semangat dalam bekerja dan selalu memberikan penghargaan kepada seluruh
bawahannya atas usaha dan prestasinya.
2). Kepala Sekolah selalu Menunjukkan keramahan dalam bergaul dan bersosialisasi
dengan siapapun dan memiliki kemampuan untuk melakukan pendekatan persuasif
kepada seluruh stek holder
3). Kepala Sekolah selalu mendelegasikan beberapa tugas dan kewenangannya serta
tanggung jawabnya kepada guru dan karayawan yang dipandang mampu dan berkua
lifikasi dibidangnya.
26. Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara
Isi teori ini menyatakan bahwa Seorang pemimpin (guru) harus mampu menjadi model,
53
pembuka jalan atau suri tauladan, menjadi motivator dan menjadi pendukung (supporter)
dari belakang bagi siswa-siswanya anak buahnya. Konsep ini dalam bahasa Jawa,
diungkapkan sebagai berikut : “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut
Wuri Handayani”.
Penjelasannya adalah sebagai berikut Trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro mengajak
setiap orang yang ingin sukses dalam kepemimpinannya harus selalu berusaha untuk
memahami secara situasional setiap lingkungan yang dihadapi dalam dimensi tempat dan
waktu. Dengan mengetahui posisinya, seorang pemimpin akan selalu tepat dalam
bertindak. Istilah dalam bahasa Jawa, jadilah “Bisa rumangsa, ojo rumangsa bisa”. Kurang
lebih, maknanya “Jadilah seorang pemimpin yang mampu memahami situasi anak buah
dan lingkungannya, jangan sembrono dan merasa mampu padahal belum memahami
karakter anak buah maupun lingkungannya. Konsep kepemimpinan yang ideal dalam
mengelola institusi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah :
1). Ing Ngarso Sung Tulodo (Di Depan Memberi Contoh)
a. Pemimpin harus selalu berusaha menjadi contoh terbaik dan inspiratif terhadap
pengikutnya. Caranya adalah menjalankan kehidupan sehari-hari baik secara formal
maupun informal dengan penuh kebajikan dan integritas.
b. Pemimpin dapat dijadikan contoh jika kehidupan pribadinya baik dan dikagumi oleh
pengikutnya. Dalam bahasa Jawa, para guru dianggap pemimpin baik di sekolah
maupun di tengah masyarakat. Oleh karenanya, “keroto boso” atau makna kata guru
adalah di-gugu (dipercaya) dan di-tiru.
2). Ing Madyo Mangun Karso (Berada Diantara Pengikut, Harus Kreatif Dan Inovatif).
c. Jika pemimpin berada di tengah-tengah para pengikutnya, pemimpin harus dominan
dan memberikan banyak ide atau gagasan baru. Pemimpin sebagai agen perubahan,
54
harus selalu melakukan inovasi dan kreasi yang dapat disampaikan kepada
pengikutnya.
d. Dengan demikian, pengikut merasa selalu terdorong, diperhatikan dan dihargai oleh
pemimpinnya dalam mencapai tugasnya
3). Tut Wuri Handayani (Di Belakang Anggota, Harus Bisa Menjadi Pendorong Semangat
Atau Motivator)
e. Pemimpin selalu mendorong dan memberi kesempatan pengikutnya untuk maju.
Pemimpin memberikan jenjang karir yang jelas sehingga pengikut bersemangat
dalam bekerja.
f. Pemimpin mencoba membuat kesepakatan tentang penghargaan untuk mendorong
mereka lebih semangat dalam bekerja, tapi juga menyampaikan sanksi atau hukuman
bagi mereka yang berbuat salah.
55
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Konsep kekuasaan sangat penting untuk memahami bagaimana orang mampu saling
mempengaruhi dalam organisasi (Mitzberg, 1983; feffer , 1981, 1992), kekuasaan
melibatkan kapasitas dari satu pihak(agen) untuk mempengaruhi pihak lain (target).
Konsep ini lebih fleksibel untuk digunakan dengan berbagai cara .istilah ini sangat
berpengaruh pada agen terhadap seseorang sebagai satu target , atau terhadap berbagai
orang yang menjadi target,terkadang istilah ini menunjukan potensi pengaruh atas hal-hal
atau peristiwa dan juga sikap dan prilaku. Terkadang agen merupakan kelompok atas
organisasi bukannya individual .
Teori kepemimpinan membicarakan mengenai bagaimana seseorang menjadi
pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin, dan teori tentang kepemimpinan
itu. Tipe kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang dibawakan oleh
seorang pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya seorang pemimpin
dalam menjalankan kepemimpinan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor
pendidikan, pengalaman, usia, karakter tabiat atau sifat yang ada pada diri pemimpin
tersebut. Orang yang ambisius untuk menguasai setiap situasi apabila menjadi pemimpin
cenderung akan bersifat otoriter.
Terkadang kekuasaan didefenisikan dalam konteks relative bukanya absolut yang
berarti batasan dimana agen tersebut mempunyai pengaruh lebih besar terhadap target
56
dibandingkan dengan yang dimiliki target terhadap agen. Akhirnya terdapat berbagai jenis
kekuasaan dan satu agen bisa mempunyai lebih banyak .
Meningkatnya kekuasaan memberi penghargaan oleh bawahan terhadap atasannya
sangat terbatas pada sebagian besarorganisasi. Beberapa organisasi memberikan
mekanisme formal kepada bawahan untuk mengevaluasi pimpinannya.Namun, bawahan
biasanya mempunyai pengaruh tidak langsung reputasi pimpinannya dan prospek untuk
mendapatkan kenaikan gaji atau promosi.
2. Saran dan Rekomendasi
Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berani, bukan hanya dalam
pengertian fisik. Jika seorang pemimpin tidak memiliki keberanian yang diperlukan
untuk bertindak demi kepentingan orang banyak, maka pemimpin itu kehilangan
pengaruh terhadap kelompoknya. Pemimpin yang sempurna harus mampu menerapkan
kedisiplinan dalam arti yang klasik, yakni mengajarkan kepada para pengikutnya ke jalan
yang benar. Disiplin bukan hanya menerapkan kontrol dan menghukum orang yang tidak
menaati instruksi, tetapi disiplin adalah membangun, aturan, latihan, yang tanpa semua
itu kekuasaan tidak akan berjalan dengan efektif.
Lewis H. Lapham mengatakan bahwa kekuasaan bukan menghendaki ukuran
teknis, tetapi sikap dan karakter. Sesuatu yang diperlukan dalam kepemimpinan adalah
kekuatan moral, bukan kekuatan fisik atau intelektual. Kekuasaan merupakan suatu
usaha untuk menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan tertentu baik yang bersifat
duniawi maupun bersifat ukhrowi sesuai dengan nilai dan syariat Islam. Dengan
demikian, semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, akan
semakin besar potensi kepemimpinan yang efektif.
57
Saran dari penulis merekomendasikan bahwa jika kekuasaan dan pengaruh pada
sebuah organsasi ingin berhasil dan sukses, maka kekuasaan dan pengaruh menurut
syariat Islamlah yang terbaik. Yang mampu membuat sebuah organisasi skala besar
maupun kecil menjadi organisasi yang baik dan berkualitas.
58
DAFTAR PUSTAKA
https://rumahradhen.wordpress.com/2018/04/03/makalah-teori-kepemimpinan/.
https://yunit4m4l1aa.wordpress.com/2012/04/17/makalah-kepemimpinan-2/
http://suhendraaw.blogspot.co.id/2013/06/makalah-kepemimpinan-
dalam organisasi.html diakses tanggal 27 Desember 2017
1,Hukum kepemimpinan John C. Maxwell
2.Prof. Dr. H. Siswoyo Haryono, MM, MPd INTISARI TEORI KEPEMIMPINAN
Diterbitkan oleh ; @ 2015, PT. Intermedia Personalia Utama Jl. Duta Bumi Raya No. 1 Kota
Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat 17131 Telp. 021-88877209, Fax. 021-88983906, E-mail :
[email protected], Website : www.ptipu.blogspot.com
https://www.pahlevi.net/pengertian-kepemimpinan/
https://www.kajianpustaka.com/2017/08/kepemimpinan-transformasional.html
http://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/4060
Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001),
h. 71-80. TADBIR : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume 5, Nomor 1 : Februari
2017 150 merupakan a one-man show
TADBIR : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume 5, Nomor 1 : Februari 2017 151
Boynton, Johnson dan Kell. 2003. Modern Auditing Edisi Ketujuh Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Gary Yukl, Leadership in Organizations, Sixth Edition, 2009), Peter G. Northouse,
Leadership: Theory and Practice, Fifth Edition, 2010, Stephen P. Robbins, Essentials of
Organization Behavior, 7th Edition, Bruce J. Avolio and Fred J. Luthans, The High Impact
Leader: Moments Matter in Accelerating Authentic Leadership,
Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 2. No 1 (2017): 40-53 P-ISSN 2301-
8305 E-ISSN 2599-0063 62
59
TEORI – TEORI KEPEMIMPINAN
DAN
IMPLEMENTASINYA
PENYUSUN :
LELY DIANAWATI,S.Pd
EKO WAHYUDI,S.Pd
KASIDIN,S.Pd
SURIPTI,S.Pd
AJO SUKIRJO,S.Pd
Farha
Pustaka
Sambutan Dekan FIP - UNIGAL Ciamis
Bismillahirrohmanirrohim
Dengen memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, pada kesempatan yang baik
ini, saya menyambut dengan gembira dan bangga terhadap penyusunan buku Teori – teori
Kepemimpinan Dan Implementasinya Seri 1, yang disusun oleh Lely Dianawati,S.Pd dkk,
mahasiswa program Pasca Sarjana Universitas Galuh Ciamis tahun 2020. Buku ini
merupakan sajian kumpulan dari beberapa teori tentang kepemimpinan serta bentuk
implementasinya.
Buku Teori – teori Kepemimpinan Dan Implementasinya Seri 1 ini sangat penting
sebagai petunjuk, informasi, dan pedoman bagi para mahasiswa dalam memahami teori
kepemimpinanan. Hal ini menunjukkan bahwa FIP ( Falkutas Ilmu Pendidikan ) – UNIGAL
Ciamis, masih mampu berupaya meningkatkan produktivitas akademis yang berdimensi
meningkatkan mutu pendidikan.
Seperti kita ketahui bahwa salah satu mata-kuliah yaitu kepemimpinan pendidikan
termasuk kelompok MKDF ( mata kuliah dasar fakultas ) yang memberi ciri keilmuan FIP-
UNIGAL Ciamis adalah tentang teori – teori kepemimpinan yang bertujuan memberikan
pedoman dasar dalam melaksanakan kepemimpinan pada organisasi pendidikan agar dapat
mencapai tujuan organisasi pendidikan. Buku Teori – Teori Kepemimpinan dan
Implementasinya Seri 1 ini mengisi kebutuhan bahan bacaan mahasiswa yang mengikuti
perkuliahan, dan juga mereka yang ingin memahami teori - teori kepemimpinan pendidikan.
Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila buku ini wajib dibaca oleh mahasiswa yang
mengikuti perkuliahan Kepemimpinan Pendidikan pada khusunya dan mahasiswa FIP –
UNIGAL Ciamis dan Pendidikan Tinggi sejenis lainnya.
i
Mudah-mudahan penerbit buku ini mendorong penerbitan buku – buku lain yang akan
memperkaya khazanah perpustakaan FIP pada khususnya dan UNIGAL Ciamis pada
umumnya, baik yang bersifat upaya memenuhi kebutuhan bahan ajar yang bersifat MKDK
( Mata Kuliah Dasar Keguruan ) maupun MKBS ( mata kuliah khusus bidang studi ). Tak
lupa saya mengucapkan selamat kepada kelompok penulis buku yang telah berhasil
menyusun buku yang dibutuhkan dalam upaya mengembangkan budaya dan mutu akademik
FIP – UNIGAL Ciamis. Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Penerbit Farha
Pustaka yang telah memungkinkan terbitnya buku Teori – Teori Kepmimpinan Dan
Implementasinya Seri 1 ini. Semoga kerja sama itu terus berlanjut dan semakin berkembang..
Ciamis, November 2020
Dekan FIP – UNIGAL Ciamis
Dr. Dadi, M.Si.
ii
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyususn buku tentang Teori – Teori
Kepemimpinan Dan Implementasinya Seri 1.
Buku ini merupakan refleksi penulis terhadap berbagai permasalahan terkait dengan
kepemimpinan khususnya di lingkungan pendidikan. Setiap pemimpin organisasi di
lembaga pendidikan memiliki bentuk dan pola kepemimpinan yang berbeda beda. Faktor
kondisi di lapangan yang sangat komplek dan beraneka ragam menuntut seorang
pemimpin untuk cerdas dan selektif dalam menerapkan tipe kepemimpinan yang tepat, ini
tentu saja salah satunya adalah agar organisasi dalam sebuah lembaga dapat mencapai
tujuan secara maksimal. Karena itu dalam kesempatan ini penulis mencoba menulis
berbagai bentuk tipe kepemimpinan serta implementasinya, dengan harapan semoga buku
ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa FIP – UNUGAL khususnya dan sebagai salah satu
bahan bacaan dalam menerapkan tipe atau pola kepemimpinan secara tepat di sebuah
lembaga dalam mencapai tujuan organisasi yang diharapkan.
Dalam kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu sehingga dapat tersusun buku ini. Semoga karya ini
bermanfaat dan menambah wawasan para mahasiswa dalam mempelajari Teori – Teori
kepemimpinan dan Implementasinya. Buku ini tentu saja masih sangat jauh dari sempurna,
untuk itu kritik dan saran konstruktif tidak lupa penulis harapkan kepada pembaca.
Ciamis, November 2020
Penulis
iii
DAFTAR ISI
SAMPUL Halaman
SAMBUTAN DEKAN…………………………………………………….. ..
KATA PENGANTAR……………………………………………………… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………. iv
1
A. Latar Belakang ……………………………………………………... 2
B. Pembatasan Masalah ……………………………………………….. 3
C. Tujuan Penulisan …………………………………………………… 4
D. Manfaat Hasil Penulisan ……………………………………………. 4
BAB II TEORI – TEORI KEPEMIMPINAN DAN IMPLEMENTASINYA 6
A. Teori-teori Kepemimpinan Dan Implementasinya…………………. 6
6
1. Hukum Katup………….......................................................... 16
2. Hukum Pengaruh ………………………………………………. 20
3. Hukum Proses ………………………………………………….. 22
4. Hukum Navigasi ………………………………………………. 23
5. Hukum E.F. Hutton ……………………………………………. 26
6. Hukum Landasan Yang Mantap ( Kepercayaan ) ……………… 28
7. Hukum Kehormatan…………………………………………….. 29
8. Hukum Intuisi ………………………………………………….. 30
9. Hukum Daya tarik ……………………………………………… 32
10. Hukum Hubungan Yang Baik …………………………………. 34
11. Teori Kepemimpinan Perilaku ……………………………….... 36
12. Teori Kepemimpinan Situasional ………………………………
iv
13. Teori Kepemimpinan Game Theory…………………………. 37
14. Teori Kepemimpinan Sifat …………………………………… 37
15. Teori Kepemimpinan Humanistik …………………………….. 39
16. Teori Kepemimpinan Contingensi ……………………………. 41
17. Teori Kepemimpinan Perilaku Khusus ………………………….. 42
18. Teori Kepemimpinan Aalamiah …………………………………. 44
19. Teori Kepemimpinan Trait Theory………………………………. 46
20. Teori Kepemimpinan Teori Psikologis. …………………………. 47
21. Teori Transformasional ………………………………………….. 48
22. Teori Sosiologis………………………………………………….. 49
23. Teori Lingkungan………………………………………………… 50
24. Teori Implisit …………………………………………………….. 51
25. Teori Suportif ……………………………………………………. 53
26. Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara ……………………. 53
BAB IV PENUTUP ………………………………………………………… 56
A. Kesimpulan …………………………………………………………. 56
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan salah satu topik yang selalu menarik untuk dikaji dan
diteliti, karena paling banyak diamati sekaligus fenomena yang paling sedikit dipahami.
Fenomena kepemimpinan di negara Indonesia juga telah membuktikan bagaimana
kepemimpinan telah berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan berpolitik dan bernegara.
Dalam dunia pendidikan, kepemimpinan berpengaruh sangat kuat terhadap jalannya
organisasi dan tujuan yang dicapai.
Pemimpin memiliki peran sentral dalam perilaku kelompok, karena pemimpin
antisipatif terhadap perubahan, peluang yang ada, memotivasi semua pengikut untuk tingkat
yang lebih tinggi serta tingkat produktivitas, tingkat yang memperbaiki kinerja buruk dan
pemimpin harus bisa memberikan bimbingan menuju ke pencapaian dalam tujuan suatu
organisasi.
Pada era globalisasi dan pesatnya teknologi pada abad 4.0 menuntut pemimpin untuk
mampu menyesuaikan perkembangan secara terus-menerus (continuous improvement) dalam
pembentukan keunggulan kompetitif yang mampu untuk berkembang dan bersaing.
Organisasi sekarang harus dilandasi oleh keluwesan, tim kerja yang baik, kepercayaan, dan
penyebaran informasi yang memadai. Kepemimpinan sebagai salah satu penentu arah dan
tujuan organisasi harus mampu menyikapi perkembangan zaman ini. Pemimpin yang tidak
dapat mengantisipasi dunia yang sedang berubah ini, atau setidaknya tidak memberikan
respon, besar kemungkinan akan memasukkan organisasinya dalam situasi stagnasi dan
akhirnya mengalami keruntuhan.
1
Di lingkungan masyarakat, dalam organisasi formal maupun nonformal selalu ada
seseorang yang dianggap lebih dari yang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan lebih
tersebut kemudian diangkat atau ditunjuk sebagai orang yang dipercayakan untuk mengatur
orang lainnya. Biasanya orang seperti itulah disebut pemimpin atau manajer. Dari kata
pemimpin itulah kemudian muncul istilah kepemimpinan setelah melalui proses yang
panjang.
Menurut Artitonang (2007) menyebutkan pengertian kepemimpinan adalah pada
dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki
seseorang, oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan pemimpin.
Sedangkan menurut Matondang (2008) Kepemimpinan adalah suatu proses dalam
mempengaruhi orang lain agar mau atau tidak melakukan sesuatu yang diinginkan. Walaupun
semua pemimpin memiliki tujuan dasar yang sama, mereka tetaplah individu yang berbeda.
Oleh karena itu cara mereka memimpin juga berbeda, inilah yang kita kenal dengan
kepemimpinan. Berdasarkan asumsi tersebut maka dapat dipahami jika ada seribu pemimpin
sejak peradaban manusia dimulai maka akan ada seribu gaya kepemimpinan yang juga ikut
terbentuk. Walaupun begitu, para peneliti telah mengelompokkan beragam kepemimpinan
tersebut ke dalam beberapa kelompok berdasarkan sifat maupun ciri umumnya, sehingga
lebih mudah bagi kita untuk mempelajarinya.
Ada banyak teori kepemimpinan sebagai pedoman yang dapat diterapkan dalam
menjalankan manajemen kepemimpinan khususnya di lembaga pendidikan. Tentu saja
dengan harapan seorang pemimpin harus memberikan “sesuatu” agar anggota bergerak
menuju tujuan organisasi, yang membedakan keduanya adalah apa “sesuatu” yang diberikan
tersebut.
Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat diterima oleh lingkungannya dan
mampu menggerakkan/memberdayakan sesuai tupoksi semua unsur yang ada. Sedangkan
2
pemimpin yang tidak berhasil menggerakkan tim kerjanya maka disini perlu adanya kajian
apakah model teori yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan dilingkungan tempat
kerjanyanya, karena setiap lembaga mempunyai karakteristik , sumber daya manusia, budaya
dan lingkungan yang berbeda beda.
Seorang pemimpin tidak hanya mampu mengubah organisasi, tetapi juga mampu
mengubah para pengikutnya menjadi sejalan dengan jalan pikirannya. Esensi dari seorang
pemimpin adalah membangun maindset setiap orang sehingga organisasi atau suatu bangsa
dalam skala yang lebih luas secara otomatis akan ikut serta mendukung visi atau tujuan
organisasi / lembaga.
B. Pembatasan Penulisan
1.1. Penjelasan Tentang Tipe – tipe Kepemimpinan dan Implementasinya
1.1.1. Hukum Katup
1.1.2. Hukum Pengaruh
1.1.3. Hukum Proses
1.1.4. Hukum Navigasi
1.1.5. Hukum E.F.hutton
1.1.6. Hukum Kepercayaan
1.1.7. Hukum Kehormatan
1.1.8. Hukum Intuisi
1.1.9. Hukum Daya Tarik
1.1.10. Hukum Hubungan Yang Baik
1.1.11. Teori Kepemimpinan Perilaku
1.1.12. Teori Kepemimpinan Situasional
1.1.13. Game Theory
3
1.1.14. Teori Kepemimpinan Sifat
1.1.15. Teori Kepemimpinan Humanistik
1.1.16. Teori Kepemimpinan Contyngensi
1.1.17. Teori Kepemimpinan Perilaku Khusus
1.1.18. Teori Kepemimpinan Alamiah
1.1.19. Trait Theory
1.1.20. Teori Kepemimpinan Psikologis
1.1.21. Teori Transfoemasional
1.1.22. Teori Sosiologis
1.1.23. Teori Lingkungan
1.1.24. Teori Implisit
1.1.25. Teori Suportif
1.1.26. Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara
C. Tujuan
Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas maka tujuan penulisan buku ini
diarahkan untuk :
1. Untuk mengetahui tipe – tipe kepemimpinan
2. Untk mengetahui hakekat kepemimpinan
3. Faktor – factor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen.
D. Manfaat Hasil Penulisan
Buku ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik yang bersifat praktis maupun
teoretis. Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
4
1. Bagi Kepala Sekolah
a. Hasil penulisan buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepala sekolah, khususnya
pada lembaga pendidikan baik jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan lain
pada umumnya, dalam memberikan gambaran mengenai pelaksanaan kepemimpinan
sebuah organisasi di lembaga pendidikan, guna mewujudkan organisasi yang handal
melalui kepemimpinan yang tepat .
b. Buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepala sekolah untuk dijadikan bahan acuan
dalam mengimplementasikan tugas kepala sekolah sebagai manajer/leadership sehingga
tepat dalam menerapkan pola / tipe kepemimpinan yang disesuaikan dengan karakteristik
, sumber daya manusia, budaya dan lingkungan organisasi yang dipimpinnya
2. Bagi Guru
a. Buku ini diharapkan bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan dan
wawasan guru tentang tipe – tipe kepemimpinan. khususnya dalam mengelola siswa
dan teman sejawat, serta mampu memahami arah tipe pemimpin dalam mencapai tujuan
organisasi sehingga guru akan menjadi tim pendukung yang solid untuk mencapai
tujuan organisasi sebuah lembaga pendidikan.
b. Buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru untuk menyiapkan diri dalam
mengikuti seleksi Calon Kepala Sekolah agar mampu menguasai teori – teori
kepemimpinan serta mampu menerapkan kepemimpinan yang baik.
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Kepemimpinan
Masalah kepemimpinan telah muncul bersamaan dengan dimulainya sejarah manusia,
yaitu sejak manusia menyadari pentingnya hidup berkelompok untuk mencapai tujuan
bersama. Mereka membutuhkan seseorang atau beberapa orang yang mempunyai kelebihan-
kelebihan daripada yang lain, terlepas dalam bentuk apa kelompok manusia tersebut
dibentuk. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena manusia selalu mempunyai keterbatasan dan
kelebihan-kelebihan tertentu.
Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang kompleks dimana seorang
pemimpin mempengaruhi bawahannya dalam melaksanakan dan mencapai visi, misi, dan
tugas, atau objektif-objektif yang dengan itu membawa organisasi menjadi lebih maju dan
bersatu. Seorang pemimpin itu melakukan proses ini dengan mengaplikasikan sifat-sifat
kepemimpinan dirinya yaitu kepercayaan, nilai, etika, perwatakan, pengetahuan, dan
kemahiran-kemahiran yang dimilikinya.
Seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila secara genetika
memiliki bakat-bakat kepemimpinan, kemudian bakat-bakat tersebut dipupuk dan
dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinan serta ditopang
oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang
bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.
2.1.1 Definisi Pemimpin
Secara etimologi pemimpin berasal dari kata dasar “pimpin” (lead) berarti bimbing atau
tuntun, dengan begitu didalamnya terdapat dua pihak yaitu yang dipimpin (rakyat) dan yang
6
memimpin (imam). Setelah ditambah awalan “pe” menjadi “pemimpin” (leader) berarti
orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga
orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Pemimpin adalah
seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi individu dan kelompok untuk
dapat bekerjasama mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya
kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang
lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau
beberapa tujuan. Jadi, pemimpin itu ialah seorang yang memiliki satu atau beberapa
kelebihan sebagai bakat yang dibawa sejak lahir dan merupakan kebutuhan dari satu situasi
zaman, sehingga dia mempunyai kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan
membimbing bawahan.
Hendry Pratt Fairchild dalam Kartini Kartono (2010:38-39) mengemukakan bahwa
pemimpin dalam pengertian yang luas adalah seseorang yang memimpin dengan jalan
memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir atau
mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi. Sedangkan
dalam pengertian yang terbatas pemimpin ialah seseorang yang membimbing, memimpin
dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela
oleh para pengikutnya.John Gage Allee menyatakan “Leader… a guide, a conductor,
a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun, komandan).
Pemimpin yang efektif dalam menerapkan gaya tertentu dalam kepemimpinannya terlebih
dahulu harus memahami siapa bawahan yang dipimpinnya, mengerti kekuatan dan
kelemahan bawahannya, dan mengerti bagaimana cara memanfaatkan kekuatan bawahan
untuk mengimbangi kelemahan yang mereka miliki. Istilah gaya adalah cara yang
dipergunakan pimpinan dalam mempengaruhi para pengikutnya (Miftah Thoha, 2007:27).
7
Selanjutnya Sudriamunawar (Harbani, 2008:3) mengemukakan bahwa Pemimpin adalah
seseorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya
untuk melakukan kerja sama ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Mifta Thoha dalam bukunya perilaku organisasi (1983:255) mengemukakan pemimpin
adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya.
Kartini Kartono (1994:33) mengemukakan pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki
kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia
mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Henry Pratt Fairchild dalam Kartini Kartono (1994:33), pemimpin dalam pengertian ialah
seorang yang dengan jelas memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur,
mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise,
kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian terbatas, pemimpin ialah seorang yang
membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan penerimaan
secara sukarela oleh para pengikutnya.
Dahulu orang menyatakan bahwa kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang pemimpin itu
merupakan bawaan psikologis yang dibawa sejak lahir, khusus ada pada dirinya dan tidak
dipunyai oleh orang lain sehingga disebut sebagai Born Leader (dilahirkan sebagai
pemimpin). Oleh karena itu, kepemimpinannya tidak perlu diajarkan pada dirinya dan tidak
bisa ditiru oleh orang lain. Born Leader (dilahirkan sebagai pemimpin) dianggap memiliki
sifat-sifat unggul dan unik yang dibawa sejak lahir dan tidak dimiliki atau tidak dapat ditiru
oleh orang lain. Namun di zaman modern seperti sekarang, dengan berbagai kegiatan yang
serba teknis dan kompleks, dimana-mana juga selalu dibutuhkan pemimpin. Pemimpin-
8