87 Ada lagi rukun Shalat yang diperbedakan (belum disepakati), terutama oleh ulama yang empat. Para ulama mazhab yang empat berbeda pendapat dalam menetapkan rukun Shalat. Bahkan golongan Hanafiyah membedakan lagi antara rukun dan wajib Shalat. Rukun Shalat menurut mereka hanya enam, yaitu: a. Takbirat al-ihrȃm. b. Berdiri. c. Membaca Al-Qur’ȃn. d. Ruku’. e. Sujud. f. Duduk terakhir sekedar membaca tasyahud. Sedangkan wajib Shalat adalah: 1) Iftitah (membuka) salat dengan lafaẓ “Allȃhu Akbar” 2) Membaca al-Fȃtihah 3) Membaca surat Al-Qur’an sesudah al-Fȃtihah 4) Membaca surat pada dua raka’at yang pertama dalam Shalat farḑu 5) Mendahulukan al-Fȃtihah daripada membaca surat; 6) Menempelkan hidung dan kening bersamaan pada waktu sujud. 7) Memelihara tertib dalam perbuatan yang dilakukan
88 berulang-ulang; 8) Tuma’ninah (diam sejenak) dalam melaksanakan rukun. 9) Duduk yang pertama pada raka’at kedua dalam Shalat yang tiga atau empat rak’at. 10) Membaca tasyahud pada duduk yang pertama. 11) Membaca tasyahud pada duduk yang terakhir. 12) Berdiri untuk raka’at yang ketiga dengan tidak melambatkan sesudah selesai tasyahud pertama; 13) Mengucapkan salam dua kali (ke kanan dan ke kiri) setelah selesai salat dengan kalimat as-salam saja (tidak alaikum). 14) Menjaharkan bacaan bagi imam pada Shalat subuh dan pada dua raka’at pertama magrib dan isya’. 15) Mensirr-kan bacaan bagi imam dan Shalat sendirian pada Țalat zuhur dan așar. 16) Mengucapkan takbir pada salat ‘Ied (Hari Raya) 17) Qunut pada Shalat witir 18) Diam (mendengarkan baik-baik) serta mengikuti imam pada Shalat berjama’ah. Menurut golongan Malikiyah rukun Shalat empat belas macam, yaitu: 1) Niat
89 2) Takbirat al-ihram 3) Berdiri waktu takbirat al-ihram pada salat farḑu 4) Membaca al-Fatihah dalam Shalat berjama’ah dan Shalat sendirian. 5) Berdiri waktu membaca al-Fatihah 6) Ruku’ 7) Bangkit dari ruku’ 8) Sujud 9) Duduk antara dua sujud 10) Mengucapkan salam 11) Duduk diwaktu mengucapkan salam 12) Tuma‟ninah pada seluruh rukun 13) I‟tidal sesudah ruku’ dan sujud. Menurut golongan Syafi’iyah rukun Shalat itu ada tigabelas macam, yaitu: 1) Niat 2) Takbirat al-ihram 3) Berdiri pada Shalat farḑu bagi yang sanggup 4) Membaca al-Fatihah bagi setiap orang yang salat kecuali ada uzur seperti terlambat mengikuti imam (masbuq)
90 5) Ruku’ 6) Sujud dua kali setiap raka’at 7) Duduk antara dua sujud 8) Membaca tasyahud akhir 9) Duduk pada tasyahud akhir 10) Ṣalawat kepada Nabi Saw setelah tasyahud akhir 11) Duduk diwaktu membaca șalawat 12) Mengucapkan salam 13) Tertib Menurut golongan Hanabilah rukun Shalat empatbelas macam, yaitu: 1) Takbirat al-ihram 2) Berdiri pada Shalat farḑu bagi yang sanggup 3) Membaca al-fatihah pada setiap raka’at dalam Shalat berjama’ah dan Shalat sendirian 4) Ruku’ 5) I‟tidal (bangkit) dari ruku’ 6) Sujud 7) I‟tidal (bangkit) dari sujud
91 8) Duduk antara dua sujud 9) çuma‟ninah pada ruku’ dan sesudahnya serta sujud dan sesudahnya 10) Membaca tasyahud akhir 11) Salawat kepada Nabi Saw sesudah tasyahud akhir 12) Megucapkan salam dua kali 13) Duduk diwaktu membca șalawat 14) Salam dan tertib rukun. (Qudamah, t.tt) 2) Sunat-sunat Shalat E. Sunat Shalat 1. Sunnah Shalat Dibawah ini dikemukakan sunat-sunat Shalat dari berbagai mazhab yang empat, karena bisa jadi sesuatu yang dianggap sunat oleh satu mazhab tidak dianggap sunat oleh mazhab yang lain atau sebaliknya. Menurut golongan Hanafiyah sunat-sunat Shalat ialah: Mengangkat tangan ketika takbirat al-ihram setinggi telinga bagi laki-laki dan setinggi bahu bagi wanita yang merdeka; membiarkan anak jari dalam keadaan biasa, tidak terlalu rapat dan tidak terlalu renggang; serentak takbirat al-iham ma’mum dengan imam; meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dengan posisi di bawah pusat. Sedangkan bagi wanita diletakan di atas dada; membaca do’a (al-tsana‟); isti‟azah ketika membaca Al-Qur’an; membaca tasmiyah dengan
92 berbisik (sirr) setiap raka’at sebelum membaca al-Fatihah; membaca ȃmȋn, tahmid, doa dan isti‟azah; sederhana ketika memulai takbirat al-ihram dan mengakhirinya, tidak menundukan kepala; imam menjaharkan (menguatkan suara) ketika membaca takbir, tasmi’ dan salam; merenggangkan kedua telapak kaki ketika berdiri dengan jarak kira-kira empat jari; membaca surat yang panjang pada Shalat subuh dan zuhur, surat yang sederhana pada shalat ashar dan isya, surat yang pendek bagi musafir dapat membaca surat apa saja; memanjangkan bacaan pada raka’at yang pertama pada setiap Shalat; membaca takbir pada ruku’ dan tasmi‟ ketika bangkit dari ruku’; membaca takbir pada sujud dan ketika bangkit dari padanya; memegang kedua lutut dengan kedua tangan ketika ruku’; merenggangkan anak jari tangan ketika ruku’ bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita tidak disunatkan; mendatarkan punggung ketika ruku’; menyamaratakan punggung dengan kepala ketika ruku’; bangkit dari ruku’ dan sujud dengan tuma‟ninah; mendahulukan kedua lutut, kemudian kedua tangan dan muka ketika hendak sujud, dan sebaliknya ketika bangkit dari sujud; sujud berada diantara kedua telapak tangan yang terletak setentangan dengan telinga; merenggangkan perut dari paha bagi laki-laki dan merenggangkan kedua siku dari samping kiri kanan dan hasta (lengan bagian bawah) direnggangkan dari tanah (tempat salat); merapatkan perut dan paha bagi wanita ketika sujud; duduk diantara dua sujud. Menurut pendapat yang lebih sah hukumnya wajib; meletakan kedua tangan di atas paha ketika duduk antara dua sujud dan ketika membaca tasyahud; duduk iftirasy bagi lakilaki ketika duduk antara dua sujud dan tasyahud; duduk tawarru‟ bagi wanita; mengisyaratkan telunjuk diwaktu syahadat, dengan mengangkatkannya ketika membaca اإلله
93 dan meletakakannya kembali ketika membaca إالهلال ; membaca al-Fatihah sesudah dua raka’at yang pertama; berșalawat kepada Nabi Saw pada duduk yang terakhir; membaca do’a sesudah șalawat kepada Nabi Saw; menoleh kekanan dan kekiri ketika mengucap salam; imam meniatkan salamnya terhadap makmum, malaikat dan jin yang saleh; makmum meniatkan mengembalikan salam imam; orang yang Shalat sendirian meniatkan salam terhadap malaikat, jika tidak ada orang lain bersamanya; merendahkan suara pada salam yang kedua; serentak mengucapkan salam dengan imam; memulai salam kekanan; masbuq (orang yang ketinggalan atau terlambat) memperthatikan imam sampai selesai salam yang kedua, sehingga ia mengetahui imam tidak melaksanakan sujud sahwi. Golongan Malikiyah membedakan antara sunat Shalat dengan mandub. Sunat Shalat menurut mereka adalah: Membaca ayat sesudah al-Fatihah pada dua raka’at yang pertama; berdiri untuk membaca selain al-Fatihah; menjahar pada Shalat subuh, jum’at dan dua raka’at pertama magrib dan isya; men- sir (membaca dengan berbisik) pada salat ẓuhur, ‘asar, raka’at terakhir magrib dan raka’at terakhir isya. Empat sunat ini berlaku khusus untuk Shalat farḑu, dan tidak untuk Shalat sunat. Selanjutnya adalah takbir-takbir selain takbirat al-ihram; membaca tasmi‟ bagi imam dan Shalat sendirian, sedangkan bagi ma’mum tidak disunatkan, bahkan makruh hukumnya; membaca tasyahud, baik yang pertama maupun yang terakhir; duduk ketika membaca tasyahud, membaca șalawat kepaa Nabi Saw sesudah tasyahud akhir; sujud dengan menyertakan kedua telapak kaki, lutut dan telapak tangan; mengembalikan salam imam dan orang yang di samping kiri kalau ada jika orang tersebut
94 ikut berjama’ah minimal satu raka’at; men-jahar-kan salam yang diucapkan untuk mengakhiri Shalat; tenang bagi ma’mum ketika imam membaca dalam keadaan jahar; melebihkan tuma‟ninah dari tuma‟ninah yang diwajibkan. Menurut golongan Malikiyah, adapun yang mandub dalam Shalat adalah: Berniat ada‟ (tunai) bagi muqim dan niat qaḑa bagi yang membayar Shalat yang tertinggal; meniatkan jumlah raka’at; khusyu‟; mengangkat tangan setentangan bahu ketika takbirat al- ihram saja; melepaskan tangan dengan tenang dan sopan serta boleh meletakannya di atas dada pada Shalat sunat, tetapi makruh pada salat wajib; menyempurnakan bacaan surat yang pendek-pendek hingga akhir sesudah membaca al-Fatihah; membaca surat pada raka’at kedua yang berbeda dari raka’at yang pertama dalam Shalat farḑu; memanjangkan bacaan ayat diwaktu Shalat subuh dan Shalat zuhur yang masing-masingnya berbeda; memendekan bacaan ayat pada Shalat ashar dan magrib dengan membaca surat-surat pendek yang dimulai dengan surat al-Ḓuha; membaca ayat yang sederhana pada Shalat isya, pada raka’at pertama surat „Abasa dan raka’at ke dua dengan surat al-lail; memendekan bacaan surat pada raka’at yang kedua dari pada raka’at yang pertama; mendengarkan bacaan sendiri yang dibaca dengan berbisik (sirr); membaca bacaan Shalat bagi makmum pada Shalat yang sir (zuhur dan ashar), raka’at ketiga magrib dan raka’at yang kedua Shalat isya; membaca ȃmĩn sesudah al-Fatihah, baik Shalat berjama’ah maupun Shalat sendirian; membaca ȃmĩn dengan berbisik (sirr); menyamaratakan punggung pada waktu ruku’; meletakkan dua tangan di lutut pada waktu ruku’; menegakkan lutut ketika ruku’; membaca tasbih pada waktu ketika dan سبحاى ربي العظين وبحبو د bacaan dengan’ ruku سبحاى ربي األعلى وبحبو د bacaan dengan sujud
95 merenggangkan kedua siku dari samping kiri dan kanan bagi laki-laki ketika ruku’; membaca tahmid sesudah tasmi‟د حو لوي هلال سوع (pada Shalat berjama’ah dan Shalat sendirian membaca tidak imam: اللهن ربٌا ولك الحود bacaan dengan tahmid ini ketika berdiri, sebaliknya ma’mum tidak membaca tasmi‟ ketika bangkit dari ruku’; membaca takbir intiqal (berpindah dari gerak ke gerak lain); menempelkan kening dan hidung ke tempat sujud; mendahulukan tangan daripada lutut ketika sujud; meletakan tangan setentangan dengan telinga dari pada lutut ketika sujud; meletakan tangan setentangan dengan telinga atau mendekatinya ketika sujud; merapatkan anak anak jari dan menghadapkan ujungnya ke arah kiblat; merenggangkan perut dari paha ketika sujud bagi laki-laki dan merenggangkan siku dari lutut dan ketiak. Bagi wanita kesemuanya ini dirapatkan; meninggikan pinggul dari kepala ketika sujud; membaca doa yang berhubungan dengan agama, dunia, atau akhirat ketika sujud tasyahud awal dan duduk tasyahud akhir; meletakkan dua telapak tangan di atas paha ketika duduk dengan posisi ujung jari setentangan dengan lutut; merenggangkan sedikit paha ketika duduk bagi lak-laki, sedangkan bagi wanita dirapatkan; mengepalkan anak jari tangan kanan dan meluruskan telunjuk ketika duduk tasyahud serta menggerak-gerakan ke kiri dan ke kanan secara sederhana telunjuk hingga akhir tasyahud; qunut pada Shalat subuh dengan bacaan yang tidak ditentukan; membaca doa sebelum salam atau sesudah salawat kepada Nabi Saw sesuai dengan apa yang disukai; membaca doa dengan berbisik (sirr) sebagaimana tasyahud; memasukan orang lain ke dalam doa dengan menggunakan ungkapan mutakallim ma‟a al-ghair (untuk bersama: yang berarti kami).do’a yang terbaik adalah yang terdapat dalam Kitab atau Sunnah; menoleh ke-sebelah kanan ketika mengucapkan salam untuk mengakhiri Shalat; memberi batas
96 tempat Shalat, baik bagi orang yang Shalat berjama’ah maupun bagi orang yang Shalat sendirian. (Qudamah, t.tt) Menurut golongan Syafi’iyah sunat Shalat dikelompokan kepada dua macam, yaitu sunat ab‟aḑ dan sunat hai‟at. Sunat ab’aḑ adalah sunat yang apabila tidak dikerjakan ditempel dengan sujud sahwi, sebaliknya sunat hai’at bila tertinggal ditempel dengan sujud sahwi. Secara global sunat ab’aḑ ada enam: Membaca tasyahud awal; duduk pada waktu membaca tasyahud awal; qunut pada waktu subuh dan pada akhir witir separoh yang terakhir bulan Ramadhan; berdiri ketika membaca qunut; membaca șalawat kepada Nabi Saw pada tasyahud awal, membaca șalawat kepada Nabi Saw pada tasyahud terakhir. Sunat hai’at adalah mengangkat kedua tangan setentangan telinga ketika takbirat al-ihram, ruku’ dan bangkit dari ruku’; memiringkan ujung jari ke arah kiblat serta merenggangkannya sedikit; melipat tangan antara dada dan pusat serta meletakan yang kanan di atas yang kiri; membaca doa iftitah pada Shalat farḑu dan Shalat sunat; membaca isti‟azah sebelum al-Fatihah pada Shalat farḑu dan Shalat sunat; men-jahar pada tempat yang di-sirr-kan; membaca ”ȃmȋn” mengiringi al-Fatihah; membaca surat sesudah alFatihah pada dua raka’at yang pertama; mengucapkan takbir intiqal; meletakan dua telapak tangan di lutut pada waktu ruku’; membaca tasbih tiga kali pada waktu ruku’, yaitu: د وبحبو العظين ربي سبحاى ; membaca tasmi’ ketika bangkit dari ruku’ bagi setiap orang yang Shalat, baik imam maupun makmum atau salat sendirian, kemudian setelah berdiri membaca الحود ولك اٌرب ; ketika sujud mendahulukan lutut,
97 kemudian tangan dan kening beserta hidung; membaca tasbih tiga kali waktu sujud, yaitu ketika bahu setentangan tangan meletakan ; ربي سبحاى د وبحبو األعلى sujud dan merapatkan anak jari serta menghadapkannya ke arah kiblat; laki-laki merenggangkan lengan dari samping kiri dan kanan serta merenggangkan perut dari paha ketika ruku’ dan sujud. Sedangkan wanita sebaliknya; menghadapkan anak jari kaki kearah kiblat; membaca do’a ketika duduk antara dua sujud, yaitu وىٌوارح لى antara duduk pada iftirasy duduk واجب ًرى وارفعٌى ....رب اغفر dua sujud dan duduk tasyahud awal; duduk beristirahat sejenak sesudah sujud yang kedua ketika hendak berdiri; bertolakan dengan tangan ketika hendak berdiri dari duduk atau sujud; mengangkat dua tangan ketika berdiri dari tasyahud awal; duduk tawarruk pada duduk tasyahud akhir. Meletakkan dua tangan di atas paha dengan mengepalkan tangan kanan selain telunjuk, kemudian meluruskannya ketika membaca: هلال إال tanpa menggerak-gerakannya; memperhatikan isyarat telunjuk; berlindung kepada Allah dari azab sesudah tasyahud akhir dengan membaca doa; mengucapkan salam yang kedua; meniatkan keluar dari Shalat; memalingkan muka ke kanan dan ke kiri ketika salam; menggosok gigi ketika hendak Shalat, walaupun dengan secarik kain; khusyu‟ dalam seluruh salat; membaguskan bacaan-bacaan Shalat; membaguskan zikir; memasuki salat dengan perasaan senang hati serta melepaskan hati dari kesibukan dunia; mengingatkan imam ketika tersalah dalam Shalat. (Al-Ansari, 1995) Menurut golongan Hanabilah sunat Shalat terbagi dua, yaitu yang berupa qauliyah (perkataan) dan yang bersifat fi‟liyah (perbuatan). Sunat qauliyah adalah membaca doa
98 iftitah; membaca isti‟azah; membaca basmalah; membaca “ȃmȋn” mengiringi al- Fatihah; membaca surat sesudah alFatihah pada dua raka’at pertama Shalat yang keempat, yang ketiga, Shalat subuh, Shalat Jum’at, Shalat hari Raya dan dalam seluruh salat sunat; men-jahar atau mensirr (membaca berbisik) pada tempatnya; membaca doa diujung tasyahud akhir, membaca salawat untuk keluarga Nabi Saw pada tasyahud akhir; qunut pada witir. Sunat fi’liyah adalah mengangkat tangan setentangan bahu ketika takbirat al-ihram dengan membuka telapak tangan dan menghadapkannya ke kiblat; menjaharkan takbirat al-ihram bagi imam hingga terdengar bagi makmum; meletakan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri ketika berdiri dan membaca Al-Qur’ȃn, kemudian meletakannya di bawah pusat sesudah takbirat al-ihram; memandang ketempat sujud ketika berdiri; membaguskan bacaan dan menyederhanakannya bagi imam; melamakan raka’at yang pertama daripada raka’at yang kedua selain Shalat khauf; merenggangkan kedua telapak kaki ketika berdiri; memegang lutut dengan telapak tangan ketika ruku’ dan merenggangkan anak jari; menjadikan punggung sama rata dengan kepala ketika ruku’; merenggangkan lengan dari samping kiri dan kanan ketika ruku’; memulai sujud dengan meletakan lutut lebih dulu sebelum tangan dan ketika bangkit dari sujud mengangkat tangan lebih dahulu dari pada lutut; meletakkan seluruh anggota sujud ditempat sujud yang menempel secara langsung tanpa ada satupun pembatas; merenggangkan lengan dari samping kiri dan kanan serta merenggangkan perut dari paha ketika sujud; memisahkan kedua lutut ketika sujud dan menegakkan kedua telapak kaki serta meletakkan telapak tangan di tempat sujud dalam
99 keadaan merenggang ketika sujud, duduk diantara dua sujud dan duduk tasyahud; meletakkan kedua telapak tangan setentangan dengan bahu ketika sujud; mengarahkan anak jari tangan ke kiblat ketika sujud dalam keadaan terkumpul; berdiri dari sujud untuk raka’at ke dua dengan menahankan telapak kaki, sedangkan tangan memegang lutut; duduk iftirasy pada duduk antara dua sujud dan duduk tasyahud awal, kemudian duduk tawarruk pada duduk tasyahud akhir; meletakan dua tangan di atas paha dalam keadaan terhampar dan anak jari merapat yang diarahkan ke kiblat ketika duduk antara dua sujud, duduk tasyahud awal dan tasyahud akhir; mengepalkan telapak tangan kanan ketika tasyahud awal dan akhir, kecuali telunjuk; mengisyaratkan telunjuk ketika menyebut Allah pada tasyahud; merapatkan anak jari tangan kiri di atas paha ketika duduk dan mengarahkan ujungnya ke kiblat; mengisyaratkan muka kearah kiblat untuk memulai salam; menoleh ke kanan dan ke kiri ketika salam serta melebihkannya ke arah kanan; meniatkan keluar dari Shalat ketika salam; (Al-Buhuti, 1982) 2. Sunat Sebelum Shalat Ada dua perbuatan yang sunat dilakukan sebelum Shalat, yaitu ażan dan iqȃmaḥ. Azan adalah pemberitahuan masuknya waktu Shalat dengan lafaz-lafaz yang disyari’atkan. (Jayb, 1998) Sedangkan Iqȃmah adalah pemberitahuan untuk mengerjakan atau melaksanakan Shalat dengan lafaz-lafaz tertentu. (Jayb, 1998) Azan dan Iqȃmah hukumnya sunat Muakkad bagi laki-laki yang hendak Shalat Farḑu berjama’ah di mesjid, demikian menurut jumhur ulama. (Al-Haskafy, 1977) Berdasarkan hadis:
100 Artinya: Dari Malik bin Huairiś bahwa Nabi Saw: apabila waktu Shalat telah hadir, maka hendaklah azan salah seorang diantara kamu dan hendaklah ia menjadi imam kamu. (HR Muttafaq ‘alaih). Shalat sendirian (munfarid) hukumnya mustahab menurut Imam Syafi’i. Dari Imam Malik dikatakan dua riwayat, pertama wajib bagi orang yang Shalat berjama’ah di masjid, dan yang kedua sunat muakkad. Sebagian golongan Zahiriyah berpendapat wajib ain. (Rusyd, 1980) Sedangkan sebagian besar golongan Hanabilah berpendapat farḑu kifȃyah untuk Shalat waktu yang tunai dan Shalat Jum’at. (Qudamah, t.tt) Ulama sepakat mengenai lafaẓ ażan, yaitu: Ulama juga sepakat dengan lafaz taświb yang dibaca diwaktu azan subuh, sesudah الفالح على حي yang kedua. Lafaz taświb tersebut ىم ٌ iqȃmah Lafaz adalah 2x الصالة خير هي ال sama dengan lafaz azan hanya saja pada iqȃmah ditambah dengan kalimat: “Qad qȃmati as-Ṣolȃh” sesudah kalimat: الفالح على حي , hal ini telah disepakati oleh para ulama. Namun demikian ulama berbeda pendapat mengenai pengulangan lafaz-lafaz tersebut. Golongan Hanafiyah berpendapat bahwa pengulangan sama dengan lafaz azan di atas, begitu juga kalimat tambahannya “Qad qamati asṢolah”. Bagi golongan Malikiyah tidak diulang, tetapi dibaca satu kali saja. Sedangkan bagi golongan Syafi’iyah dan Hanabilah
101 lafaz iqamah dibaca satu kali, kecuali kalimat tambahan, dibaca dua kali. Syarat-syarat Azan Hal-hal yang menjadi syarat-syarat sahnya azan, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ulama ialah: a. Dikumandangkan setelah masuk waktu Shalat, karena hakikat azan adalah memberitahukan masuknya waktu Shalat. b. Dikumandangkan setelah masuk waktu Shalat, karena hakekat azan adalah memberitahukan masuknya waktu Shalat. c. Dikumandangkan dalam Bahasa Arab. Fuqaha Hanafiyah dan Hanabilah mensyaratkan Bahasa Arab dalam azan, walaupun untuk jama’ah yang bukan orang Arab. Menurut Syafi’iyah, kalau yang dipanggil itu jama’ah yang tidak mengerti bahasa Arab, boleh dengan bahasa lain yang di mengerti oleh jama’ah. d. Dikumandangkan dengan suara keras serta didengar oleh jama’ah e. Tertib dan berkesinambungan dalam membacakan teksteks azan f. Dikumandangkan oleh orang Islam yang berakal, karena azan adalah ibadah yang dapat dilakukan oleh orang yang ahlinya yaitu Islam dan berakal.
102 Ketentuan di atas berlaku juga untuk iqȃmaḥ. F. Yang Membatalkan Shalat Perbuatan dan/atau hal-hal yang tergolong dapat membatalkan Shalat adalah: 1) Berbicara. Sekurang-kurang berbicara yang membatalkan Shalat adalah dua huruf, sekalipun tidak dipahami, baik disengaja atau lupa. Rasulullah Saw bersabda: Artinya: Dari Zaid bin Arqam, dia berkata: Kami berbicara dalam Shalat, sementara ada pula yang berbicara dengan temannya yang berdekatan dalam Shalat, sehingga turun ayat “berdirilah kamu karena Allah dalam keadaan tenang”. Maka kami menyuruh diam melarang berbicara. (HR. Al-Jama’ah kecuali Ibn Majah). 2) Makan dan minum, baik disengaja atau lupa, sedikit atau banyak, sebab makan dan minum bukan perbuatan yang disyari’atkan dalam pelaksanaan Shalat dan puasa. Olehkarena itu semua yang membatalkan puasa juga membatalkan Shalat. 3) Banyak bergerak secara berturut-turut selain gerakan yang biasa dilakukan dalam Shalat, karena perbuatan yang dipandang banyak dilakukan secara berturut-turut memberikan kesan terputusnya Shalat. 4) Membelakangi Kiblat tanpa ada halangan, karena ulama telah sepakat menetapkan bahwa salah satu syarat sah Shalat adalah menghadap kiblat, sesuai dengan perintah Allah untuk meghadap Masjidil Haram (Q.S. 2 al-Baqarah: 150).32 5) Terbuka Aurat dalam keadaan sengaja atau tidak seperti dibuka oleh angin. Sengaja membuka aurat berdasarkan
103 hadits berikut: Artinya: Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sekali-kali tidak lah sah shalat kamu dengan sehelai kain yang tidak sampai ke pundaknya. (HR Bukhari). 6) Datang Hadaś kecil atau besar, karena dengan datangnya hadas berarti wudhu’ batal, dengan demikian Shalatpun batal sebab dilaksanakan tanpa wudhu’. Nabi Saw bersabda: Artinya: “dan dari mana saja kamu (keluar), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka Palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu,…….” Artinya: Dari Ibn Umar bahwa Nabi Saw bersabda: Tidak diterima Shalat seseorang yang tidak suci. (HR. Al-Jama’ah kecuali Bukhari). 7) Terkena najis yang tidak dimaafkan pada badan, pakaian dan tempat, karena keharusan bersih badan, pakaian dan tempat tidak terpenuhi. 8) Tertawa terbahak-bahak. Nabi Saw bersabda: Artinya: Dari Abi Musa, dia berkata: Rasulullah Saw menyuruh orang yang tertawa terbahak-bahak untuk mengulangi wuḑu dan Shalatnya. (HR Al-Thabrani). 9) Murtad, gila, pingsan karena satu syarat wajib Shalat adalah berakal. 10) Berubah niat untuk membatalkan atau keluar dari Shalat, karena Nabi Saw brsabda:
104 Artinya: Dari Ibn Umar dari Nabi Saw bersabda: Sesunguhnya Setiap perbuatan itu dengan niat, (HRز Muttafaq ’alaih) 11) Salah dalam membaca Al-Qur’an kerena akan mengubah arti dalam maksud Al-Qur’an, sehingga merusak rukun salat. 12) Meninggalkan rukun atau syarat, karena adanya hukum tergantung pada kesempurnaan rukun dan syarat. 13) Mendahului imam bagi orang yang Shalat berjama’ah. 14) Melihat air bagi orang yang Shalat dengan tayamum, sepanjang air itu dimungkinkan untuk digapai, karena tayamum dibolehkan ketika tidak ada air. 15) Mengucapkan salam dengan sengaja sebelum selesai salat, karena salam dalam Shalat berfungsi sebagai penutup Shalat. G. Pembagian Shalat 1. Dari segi Hukumnya a. Shalat wajib, seperti Shalat lima waktu, Shalat jum’at, Shalat janazah. b. Shalat sunat. Shalat sunat dapat dibagi kepada beberapa macam, yaitu: 1) Shalat sunat Muakkad, yaitu Shalat sunat yang dianjurkan seperti sunat fajar (Shalat dua raka’at sebelum Shalat subuh), dua raka’at sebelum Shalat zuhur atau Jum’at, dua raka’at setelah Shalat zuhur, dua rakaat setelah magrib, dua raka’at sesudah isya (disebut juga dengan salat rawatib), dan Shalat Tarawih pada malam bulan Ramadhan.
105 2) Shalat sunat Gairu muakkad, yaitu Shalat sunat yang anjurannya tidak sekuat sunat muakkad, seperti Shalat sunat empat raka’at sebelum asar, empat raka’at sebelum isya, Shalat sunat awwȃbin (salat enam raka’at sesudah magrib dengan satu, dua atau tiga kali salam), Shalat ḑuha, Shalat sunat wudhu’, Shalat tahiyyat al-masjid, Shalat tahajjud, Shalat istikhȃrah, Shalat tasbih, dan Shalat hajat, demikian menurut golongan Hanafiyah. 2. Dari Segi Cara Pelaksanaannya a. Shalat jamȃ’ah, yaitu Shalat yang dilakukan scara bersama- sama yang terdiri dari imam dan makmum. Shalat yang dilakukan secara berjama’ah ini adakalanya Shalat wajib seperti Shalat lima waktu dan adakalanya seperti Shalat sunat seperti Shalat Tarȃwih. Disamping itu adakalanya juga diwajibkan berjamaa’ah seperti salat Jum’at dan ada pula disunatkan seperti salat lima waktu. b. Shalat Munfarid, yaitu Shalat yang dilakukan secara sendirian. Shalat ini adakalanya memang tidak disunatkan berjam’ah seperti salat sunat Rawȃtib (Shalat sunat yang mengiringi Shalat wajib) seperti: 2 raka’at sebelum Fajar, 2 raka’at sebelum Zuhur, 2 raka’at setelah Zuhur, 2 raka’at setelah Magrib, 2 raka’at setelah Isya’; dan adakalanya disunatkan berjama’ah tetapi dilakukan sendirian seperti Shalat lima waktu. 3. Dari Segi Waktu atau Penyebab Dilaksanakannya a. Shalat Jum’at, yaitu Shalat yang wajib dilakukan pada hari jum’at yang balig, berakal, serta tidak dalam perjalanan sebagai pengganti Shalat zuhur.
106 b. Shalat Ṣafar, yaitu Shalat yang dilakukan oleh orang yang sedang dalam perjalanan (Musafir). Shalat safar dapat dilakukan dengan meringkaskannya yang disebut Shalat Qașar dan dapat dilakukan dengan menggabungkan antara dua Shalat yang disebut Shalat Jama‟, atau dapat pula dilakukan sekaligus meringkas, dan menggabungkan yang disebut dengan Shalat Jama‟ serta Qașar. c. Shalat dua hari raya. Yang pertama „Ied al-Fițri pada tanggal 1 Syawal sesudah melaksanakan puasa ramaḑan dan yang kedua ‘Ied al-Aḑha pada tanggal 10 Zulhijjah. d. Shalat kusyuf dan Khusyuf. Shalat Kusyuf adalah Shalat yang dilakukan karena adanya gerhana matahari sedangkan salat Khusyuf karena adanya gerhana bulan. e. Shalat Istisqȃ‟, yaitu Shalat yang dilakukan untuk meminta hujan dari Allah Swt. f. Shalat Khauf, yaitu Shalat yang dilakukan ketika menghadapi musuh dalam peperangan. g. Shalat Janazah, yaitu Shalat yang dilakukan pada orang mukmin yang meninggal dunia. H. Shalat Jama’ah dan Keutamaannya Shalat disamping berfungsi sebagai pembinaan pribadi seorang muslim, juga mempunyai fungi sosial. Olehkarena itu dalam Islam belum memadai bilamana salat itu dikerjakan secara individu yang memencilkan diri dari orang banyak dimana seseorang hidup. Dalam hal ini Islam mensyari’atkan Shalat berjama’ah. Pelaksanaan Shalat secara berjama’ah ini sangat
107 dianjurkan (sunat muakkad dan ada yang berpendapat wajib) terutama di masjid. Pada suatu ketika Nabi Saw pernah berniat hendak membakar rumah orang yang menentang Shalat berjama’ah (HR. Muttafaq ‘alaih). Meskipun Shalat berjama’ah ini tidak wajib, namun dia lebih afḑal dikerjakan dengan ganjaran pahala duapuluh tujuh derajat dibanding dengan Shalat sendirian (HR. Muttafaq ‘alaih). Shalat berjama’ah banyak mempunyai manfaat yang mendalam. Yang terpenting diantaranya adalah memperlihatkan kesamaan, kekuatan barisan, kesatuan bahasa, pendidikan untuk mematuhi peraturan-peraturan atau keputusan bersama demi mengikuti pemimpin dan mengarahkan kesatuan tujuan yang maha tinggi, yaitu mencari keriḑaan Allah Swt. Melalui Shalat berjama’ah akan terbina sikap saling mengenal, saling menasehati dan memberikan pelajaran, tumbuhnya rasa kasih sayang dan tolong menolong atas kebaikan dan taqwa. Disamping itu dapat juga memperhatikan orang-orang yang lemah, sakit, dan orang yang dalam kesusahan, sehingga persoalan- persoalan mereka dapat diatasi. Islam tidak menjadikan pertanda masuknya waktu Shalat dengan cara menyembunyikan lonceng, meniup terompet atau menyalakan api sebagaimana agama-agama terdahulu. Akan tetapi Islam menciptakan cara lain yang mengandung unsur syi’ar, panggilan dengan suara keras, lantunan irama sya’ir yang memberi bekas dan mempunyai makna realistis. Cara ini dikenal dengan istilah ażan yang dilakukan sebelum Shalat. Kalimatkalimat azan itu dikumandangkan dari tempatnya, lalu dijawab oleh kaum muslimin sehingga mereka berkumpul lima kali sehari semalam di masjid untuk melakukan Shalat berjama’ah.
108 Perkumpulan yang lebih luas lagi dilakukan sekali dalam seminggu melalui Shalat jum’at. Kewajiban mingguan ini diwajibkan Allah secara berjama’ah. Allah Swt berfirman: ِ ٱَّلل َّ ِ ر ۡ ذِك َٰ َ َِل إ ْ ا ۡ و َ ع ۡ ٱس َ ةِ ف َ ع ُ م ُ ۡ ِم ٱۡل ۡ و َ ةِ ِمن ي َٰ و َ ل لِلصَّ ودِيَ ُ ا ن َ ِذ إ ْ ا ٓ و ُ ن َ ام َ ء ِينَ َّ ا ٱَّل َ ه ُّ ي َ أ ٰٓ َ ي َ ون ُ م َ ل ۡ ع َ ت ۡ م ُ نت ُ ِن ك إ ۡ م كُ َّ ل ٞۡ َي َ خ ۡ م لِكُ َٰ َ ذ َ ع ۡ ي َ ۡ ٱۡل ْ وا ُ ر َ ذ َ و Artinya: Hai! Orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan Shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (Q.S. 62 alJumu’ah: 9) Tidak dibolehkan meninggalkan Shalat Jum’at tanpa uzur. Hal ini dinyatakan dalam hadis Nabi Saw sebagai berikut: Artinya: Siapa yang meninggalkan Shalat Jum’at tiga kali berturut- turut, maka Allah mencap hatinya. (HR. Khamsah). Pada pertemuan mingguan (Shalat Jum’at) terkandung banyak pelajaran. Disini kaum muslimin dapat saling bertatap muka, saling mengingatkan, memperbaharui perjanjian, mewujudkan persaudaraan yang ramah, memperkuat persatuan dan menggalang kekuatan. Lebih luas lagi perkumpulan itu terealisir dalam Shalat hari raya. Shalat ini dimaksudkan oleh Islam untuk menyemarakan dan menumbuh suburkan kelompok serta merupakan festival besar bagi kaum muslimin yang mengumpulkan penduduk negeri disuatu tempat. Kalau pada Shalat Jum’at berkumpul hanya lakilaki saja, maka dalam hari raya baik laki-laki atau perempuan sekalipun berhalangan berkumpul bersama-sama.
109 Artinya: Dari Ummi Ațiyah, dia berkata: Rasulullah Saw menyuruh kami keluar pada hari raya fitri dan aḑha, (yang terdiri dari) budak, wnita haid dan orang lemah. Wanita haid mesti menghindari Shalat. Mereka boleh menyaksikan kebaikan dan mengajak (dakwah) kaum muslimin. Aku (Ummu Ațiyah) bertanya: Diantara kami ada yang tidak mempunyai jilbab? (Rasulullah) menjawab: hendaklah dia memakai jilbab saudaranya. (H.R. Muttafaq ‘alaih).
110
111 BAGIAN V SHALAT SHALAT SUNNAH Shalat-shalat yang disunnatkan (al-masnuunat) ada 5 macam shalat. Kelima macam shalat sunnat tersebut diantaranya adalah: (1) Idul Fitri; (2) Idul Adha; (3) Gerhana Matahari; (4) Gerhana Bulan; dan (5) Istisqa`. Adapun shalat- shalat sunnat yang mengikuti shalat fardhu atau yang dikenal dengan shalat rawatib ada 17 raka’at, yaitu : 2 raka’at shalat fajar, 4 raka’at sebelum shalat dzuhur, 2 raka’at sesudah shalat dzuhur, 4 raka’at sebelum shalat ashar, 2 raka’at setelah shalat maghrib, dan 3 raka’at setelah shalat ‘isya dengan witir satu raka’at. Selain itu, ada pula shalat-shalat sunnat lainnya yang tidak pernah ditinggalkan Nabi yang disebut dengan nawafil mu`akadat yang berjumlah 3 macam shalat sunnat, yaitu : (1) Shalat al-lail (tahajud); (2) Shalat Dhuha`; dan (3) Shalat Tarawih. Shalatshalat sunnat tersebut diatas, ada yang disunatkan berjamaah dan ada pula yang tidak. (al-Anshari, t.th) Untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana pelaksanaan atau tata cara shalat-shalat sunnat tersebut, penjelasannya dapat dilihat di bawah ini:
112 A. Shalat Sunnah Al-Masnunah Shalat sunnat yang termasuk kelompok shalat sunnat almasnunah ada lima macam. Kelima macam shalat sunnat itu adalah : 1. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha Diantara sekian banyak shalat sunnat yang disunahkan berjamaah dalam pelaksanaannya adalah shalat sunnat ‘idul fitri dan Adha. Shalat sunnat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha dikerjakan satu tahun satu kali, yaitu ‘Idul Fitri setiap tanggal 1 Syawwal dan ‘Idul Adha setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Sebelum pelaksanaan shalat sunnat tersebut, disunatkan bagi setiap muslim dan muslimat mengagungkan Allah SWT dengan sebanyak-banyaknya mengucapkan kalimat takbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam menjelang ‘id (Hari Raya) dan berakhir pada keesokan harinya ketika imam akan melaksanakan shalat sunnat ‘id. Pada Hari Raya ‘Idul Adha, bacaan takbir dibaca mulai terbit fajar (subuh) hari ‘Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah dan tiap-tiap selesai shalat fardhu lima waktu dari tanggal 10, 11, 12 sampai waktu ‘ashar pada akhir hari Tasyriq, yaitu pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Faqih, 2008) Redaksi takbir yang diucapkan tersebut adalah sebagai berikut: َح ْم ُد ْكبَ ُر َوِهِّلِل الْ َ أ ْكبَ ُر، هللاُ َ أ َوهللاُ اَل هللاُ ِ هَ إ ٰ ْكبَ ُر ََل إل َ أ ْكبَ ُر هللاُ َ أ ْكبَ ُر هللاُ َ أ هللاُ َوََل اَل هللاُ ِ هَ إ ٰ ِصْيًًل ََل إل َ َوأ ِ ْي ًرا َوال َح ْم ُد ِهِّلِل َكثِـ ْي ًرا َو ُسْب َحا َن ِهللا بُ ْكَرةً ْكبَ ُر َكب َ أ هللاُ َو ْح َدهُ َصَد َق اَل هللاُ ِ هَ إ ٰ ْو َكِر َه ال َكافِ ُر ْو َن، ََل إل ِيااهُ ُم ْخِل ِصْي َن لَهُ الِ دْي َن َولَ اَل إ ِ ْعبُ ُد إ نَ ْكبَ ُر، َ أ َوهللاُ اَل هللاُ ِ هَ إ ٰ ْح َزا َب َو ْح َدهُ، ََل إل َع از ُجْن َدهُ َو َه َز َم األَ َ َص َر َعْب َدهُ َوأ َو ْع َدهُ َونَ َح ْم ُد ْكبَ ُر َوِهِّلِل الْ َ أ هللاُ
113 Bagi orang yang akan melaksanakan shalat sunnat ‘Idul Fitri ataupun ‘Idul Adha disyaratkan berniat terlebih dahulu. Niat yang diucapkan ketika akan melaksakan shalat sunnat ‘Idul Fitri adalah sebagai berikut: (Faqih, 2008) ْطِر ِل ِعْيِد الِف ِّى ُسنَّةً َصِل ا ى ُ ُمْو ًما ِ ِلِل تَعَالَ ْ ِة َمأ ِقْبلَ ْ بِ َل ال ِن ُم ْستَقْ َر ْكعَتَْي “Aku niat shalat sunnat ‘Idul Fitri dua raka’at karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”. Adapun redaksi niat shalat sunnat ‘Idul Adha adalah sebagai berikut: ُم ْو ًما ِ ِّلِل تَعَــــــــالَى ْ ِن َمأ ْي ْض َحى َر ْكعَتَ لِعْيِد اْألَ ْي ُسناةً ِ َصل ُ أ “Aku niat shalat sunnat ‘Idul Adha dua raka’at karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar” Berikut dibawah ini Rukun Sholat Idul Adha yang akan penulis sampaikan : Niat Niat sholat idul adha ini baiknya dibaca seperti halnya yang sudah ditulis diatas, Namun ada juga sebagian ummat muslim yang terlihat seperti tidak membacanya sebelum pelaksanaan sholat. Semuanya sudah memiliki imam dan pendapat masingmasing jadi tidak perlu diperdebatkan lagi. Takbirotul Ihrom
114 Yakni membaca kalimat أكبر هللا disunnahkan mengangkat tangan dan didalam hati mengucapkan lafadz niat sholat. Membaca Takbir Selanjutnya membaca takbir “أكبر هللا “namanya adalah “Takbir” pada rokaat pertama bertakbir 7 kali dan rokaat kedua membaca takbir sebanyak 5 kali disela-sela takbir membaca tasbih seperti dibawah ini. ْكبَ ُر َ أ َوهللاُ َِلا هللاُ ِلَهَ إ َح ْم ُد ِ ِّلِل َوَلَ إ ُسْب َحا َن ِهللا َوالْ Latinnya, “Subhanallah, walhamdulillah, walailaaha ilallah, wallahu akbar” Berdiri Bagi Yang Mampu Berdiri merupakan rukun sholat juga namun hal ini tergantung dari seorang hamba tersebut mampu atau tidak untuk berdiri. Membaca Surah Alfatihah Setelah bacaan takbir cukup yakni 7 dan lima kali maka dilanjutkan dengan membaca surah Al-fatihah. Adapun bacaan surat Al-fatihah bisa dilihat dibawah ini : ِ ْسِم هّٰللاِ ال ار ْح ٰم ِن ال ار ِحْيِم ب ِم ْي َن َح ْم ُد ِهِّلِل َر ِب الْ ٰعلَ اَلْ ال ار ْح ٰم ِن ال ار ِحْيِم ِن ٰمِل ِك يَ ْوِم الِ دْي
115 ِعْي ُن ْستَ ْعبُ ُد َواِياا َك نَ اِياا َك نَ َم ِقْي ُم ْستَ اِ ْهِدنَا ال ِ ص َرا َط الْ ِه ْم ە َغْي ْي ِذْي َن اَْنعَ ْم َت َعلَ ْي َن ِص َرا َط الا ِل ۤ ِه ْم َوََل ال اضا ْي َم ْغ ُضْو ِب َعلَ ِر الْ Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang Pemilik hari pembalasan Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Membaca Surat Pendek / Sunnah Selanjutnya setelah membaca surat Al-Fatihah maka membaca surat pendek, disunnahkan membaca surat AlA’la pada rokaat pertama dan Surat Al-Ghosyiyah rokaat yang ke dua.
116 Ruku’ Jika sudah membaca surat Al-fatihah dan surat pendek maka dilanjutkan dengan Ruku’ dengan tenang dan membaca doa seperti : ِ َح ْمِدِه َى الْعَ ِظيِم َوب ِ ُسْب َحا َن َرب Latin : Subhaana robbiyal ‘adhiimi wabihamdih 3x Artinya : Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung dan segala puji bagiNya I’tidal Dilanjutkan I’tidal dengan tenang seraya membaca doa seperti dibawah ini : ْر ِض َو ِم ْل َء َما ِشئْ َت ِم ْن َش ْي ٍء بَ ْعُد َح ْم ُد ِم ْل َء ال اس َم َوا ِت َو ِم ْل َء اْألَ َربانَا لَ َك الْ Latin : Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ulardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du. (HR. Muslim dan Abu Awanah). Artinya : “ Ya Allah Tuhan Kami, Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.” Sujud Dua Kali Setelah I’tidal maka rukun selanjutnya adalah sujud, gerakan sujud ada dua kali namun bacaanya tetap sama yakni seperti ini ; ِ َح ْمِدِه ْعلَى َوب َى اْألَ ِ ُسْب َحا َن َرب
117 Latin : Subhaana robbiyal ‘a’la wabihamdih 3x Artinya : Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi dan segala puji bagiNya Duduk Diantara Dua Sujud Duduk diantara dua sujud juga termasuk rukun sholat sunnah idul adha lakukan dengan tetang dan dibarengi dengan bacaan doa seperti ini : رب اغفرلي وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واههدني وعافني واعف عني Latin : Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii. Artinya : “Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku, berilah rizki kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.” (HR. Baihaqi) Duduk Tasyahud Akhir Rukun sholat idul adha selanjutnya adalah duduk tasyahud akhir yakni duduk yang dilakukan setelah sujud terakhir pada rokaat terahir. Membaca Doa Tasyahud Akhir Membaca doa tasyahud akhir ini satu paket dengan duduk tasyahud akhir, karena doa tersebut dibaca ketika seorang sedang duduk tasyahud akhir.
118 Adapun doanya adalah sebagai berikut : ْينَا لَ ُم لَ ِ ُّي اِّٰللا َوبَ َر َكاتُهُ، ال اسًلَ ْي َك ا الناب ُم لَ َوا ُت ال اطيِ بَا ُت، ال اسًلَ التا ى ِحياا ُت ِاِّلِل ال اصلَ اِد اِّٰللا ال اصاِل ِحي َن Latin : At-tahiyyatu Lillahi wa-salawatu wa’t-tayyibat, assalamu ‘alayka ayyuha’n-Nabiyyu wa rahmat-Allahi wa barakatuhu. As-salamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibad-Illah is-saliheen. asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Artinya : “Semua pujian terbaik dan doa dan hal-hal baik adalah untuk Allah. Damai dan Rahmat dan Berkat Allah atasmu, wahai Nabi. Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh, saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya.” Membaca Sholawat Nabi Membaca sholawat juga termasuk rukun dari sholat idul adha, adapun sholawat yang dibaca adalah sholawat nabi muhammad atau lebih bagusnya ditambah sholawat nabi ibrohim. ِل ُم ُه ام َص ِل َعلَى ُم َح امد وعلى آ ِل اللا َم َو َعلَى آ ِ ْب َرا ِه ْي ْب َت َعلَى إ َح امد َكَما َصلا ِل َم َو َعلَى آ ِ ْب َرا ِه ْي ِل ُم َح امٍد َكَما بَا َر ْك َت َعلَى إ ِر ْك َعلَى ُم َح امٍد َو َعلَى آ َم َوبَا ِ ْب َرا ِه ْي إ ِنا َك َح ِم ْيٌد َم ِجْيد ِم ْي َن إ ْي الْعَالَ َم فِ ِ ْب َرا ِه ْي .إ Latin : Allahhumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Wabaarik ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali
119 Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid. Artinya : Ya Allah! Limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. Sebagimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Diseluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia. Salam Salam juga termasuk rukun sholat idul adha 2. Kusuf (Gerhana Matahari) dan Khusuf (Gerhana Bulan) Shalat sunnat Kusuf dan Khusuf adalah shalat sunnat yang bersifat mu`akad, yaitu shalat sunnat yang ditekankan atau dianjurkan pelaksanaannya. Shalat sunnat Kusuf dilaksanakan bila terjadi Gerhana Matahari (Kusuf asy-Syams), sedangkan shalat sunnat Khusuf dikerjakan ketika terjadi Gerhana Bulan (Khusuf al-Qamar). Apabila tidak sempat melaksanakan shalat sunnat Kusuf ataupun Khusuf ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, maka tidak ada kewajiban qadha. Baik ketika akan melaksanakan shalat sunnat Kusuf ataupun Khusuf, hal yang tidak boleh dilupakan adalah niat. Untuk itu, berikut redaksi niat yang harus diucapkan ketika akan melaksanakan kedua shalat sunat tersebut: Niat Shalat Sunnat Kusuf ًما/ َمأ ُمو ًما هلل تَعَالَى ِ َما ِن إ ْي ال ُخ ُسو ِف َر ْكعَتَ ِي ُسناةَ َصل ُ أ
120 “Aku niat shalat sunnat khusufil qamar dua raka’at karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar” Mengenai jumlah raka’at kedua shalat ini tidak jauh berbeda dengan kebanyakan shalat sunnat yang lainnya, yaitu hanya dua raka’at saja. Namun, pada pelaksanaannya shalat sunnat Kusuf dan Khusuf ini sedikit berbeda, dimana kedua shalat sunnat ini pada masing-masing raka’atnya terdapat dua kali berdiri dengan memanjangkan bacaan di dalamnya, dan dua kali ruku’ dengan memanjangkan bacaan tasbih di dalamnya. Berikut tata caranya: ”pada waktu berdiri yang pertama setelah membaca fatihah dan do’a iftitah, maka hendaknya membaca surat al-Baqarah. Bila tidak bisa membaca surat alBaqarah dengan baik, maka supaya membaca ayat-ayat lain yang sebanyak surat al-Baqarah. Kemudian pada waktu berdiri yang kedua, membaca kira-kira dua ratus ayat surat al- Baqarah. Selanjutnya, pada waktu berdiri yang ketiga membaca kira-kira seratus lima puluh ayat, dan pada waktu berdiri yang keempat membaca kira-kira seratus ayat. Selanjutnya, pada waktu ruku’ yang pertama hendaknya memanjangkan bacaan tasbih sebanyak kira-kira seratus ayat dari surat al- Baqarah. Pada ruku’ yang kedua kira-kira delapan puluh ayat, pada ruku yang ketiga kira-kira tujuh puluh ayat, dan pada ruku yang keempat kira-kira lima puluh ayat.” Selain itu, terdapat pula cara lain yang tentu lebih mudah dalam pelaksanaannya, yaitu :”tiap-tiap raka’at memakai ruku’ dua kali. Sesudah takbiratul ihram membaca do’a iftitah, surat fatihah dan surat an-Nashr (alam nasyrah) atau surat lainnya yang pendek. Kemudian ruku’, dan bangkit tegak kembali (i’tidal). Baca lagi surat fatihah dan surat al-Kafirun, ruku lagi kemudian i’tidal, baru kemudian sujud seperti biasa dua kali. Berdiri lagi
121 untuk rakaat kedua, demikian seterusnya. Kerjakanlah sampai rakaat kedua selesai.” (Faqih, 2008) Dalam pelaksanaan shalat sunnat Kusuf dan Khusuf ini, terdapat pula ketentuan bahwa dalam shalat sunnat gerhana matahari hendaknya memelankan bacaan, dan pada shalat sunnat gerhana bulan supaya mengeraskan bacaan. Setelah selesai shalat dilanjutkan dengan khutbah dua (khutbatain) seperti halnya khutbah Jum’at, baik rukun-rukunnya maupun syarat- syaratnya. Dan ketika khutbah, hendaknya khatib menganjurkan manusia atau jema’ah supaya bertobat dari segala dosa, berlomba-lomba berbuat kebaikan, dan memerdekakan hamba sahaya. 3. Istisqa` Shalat sunnat istisqa` termasuk salah satu shalat sunnat yang dianjurkan pelaksanaannya secara berjama’ah. Berbeda dengan shalat sunnat yang lainnya, shalat sunnat ini dikerjakan khusus untuk memohon diturunkannya hujan di waktu musim kemarau panjang, air kurang dan air pun tak kunjung datang. Dalam kondisi seperti itulah kaum muslimin disunnatkan untuk melaksanakan shalat sunnat istisqa`. Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan waktu shalat sunnat ‘id dapat dilaksanakan. Imam Ruyani dan para ulama lainnya menyebutkan bahwa waktu shalat sunnat istisqa` berlaku sampai waktu zawal asal ia belum melakukan shalat ashar. Imam Mutawalli berpendapat bahwa shalat sunnat istisqa’ tidak mempunyai waktu tertentu. Sejalan dengan pendapat tersebut, Imam Nawawi mengatakan bahwa menurut pendapat yang shahih sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Syafi’i dan
122 dishahihkan oleh para ulama ahli tahqiq bahwa shalat sunnat istisqa` tidak mempunyai waktu dan hari tertentu. Sebelum pelaksanaan shalat sunnat istisqa, imam disunnatkan memerintahkan jema’ahnya (masyarakat) untuk senantiasa bertobat, bersodaqah, keluar dari kedoliman, berdamai dengan musuh, dan mengajak jema’ahnya untuk melaksanakan puasa selama tiga hari. Setelah itu, baru pada hari keempat setelah puasa, imam beserta jema’ahnya berbondongbondong menuju tempat pelaksanaan shalat, dengan berpakaian yang sederhana (hina) seraya disertai dengan hati yang istiqamah, khusyu’ (bahasa sunda: depe-depe), serta jangan lupa disunatkan pula membawa anak-anak, para manula (manusia lanjut usia), orang yang sedang sakit, dan hewan piaraan/ternak. (abi, t.th) Mengapa mereka harus dilibatkan, karena do’a mereka itulah yang lebih dekat dikabulkan. Dan sekali-kali janganlah melakukan shalat istisqa` bersama-sama dengan hakim-hakim yang suka makan suap dan orang- orang fakir yang selalu makan hartanya orang-orang dzalim dan biasa menggunakan alat-alat hiburan. Mereka itu termasuk orang-orang yang fasiq yang menganggap bahwa meniup seruling setan itu termasuk ibadah. Do’a orang-orang semacam itu justeru akan menambah kemurkaan Allah SWT. (Al-Husaini, 1984) Selanjutnya, pada shalat sunnat istisqa` tidak disunnatkan memakai wangi-wangian karena hal itu menunjukkan kegembiraan. Setelah semuanya berkumpul di tempat pelaksanaan shalat, maka masing-masing berniat untuk melaksanakan shalat sunnat istisqa’ dengan redaksi niat sebagai berikut: (Faqih, 2008) ُمْو ًما ِ ِلِل تَعَالَى ْ ِن َمأ ا ِال ْسِت ْسقَا ِء َر ْكعَتَْي ْي ُسنَّةَ ِ ِّ َصل ُ أ
123 “Aku niat shalat sunnat minta hujan dua raka’at karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”. Kemudian, laksanakan shalat sunnat istisqa` sebanyak dua raka’at dengan ketentuan tata caranya sebagaimana pelaksanaan shalat sunnat ‘idain (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha), yaitu pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram membaca takbir sebanyak tujuh kali, dan pada rakaat kedua lima kali. Adapun surat al-Qur`an yang dibaca setelah fatihah adalah surat Nuh, karena suart itulah yang sesuai dengan situasi. Tetapi menurut Taqiyyudin Abu Bakar al- Husaini, bahwa Imam Syafi’I menyatakan bahwa dalam dua raka’at tersebut hendaknya membaca surat al-Qur`an yang dibaca pada waktu sahalat ‘id. Setelah selesai shalat, maka dilanjutkan dengan khutbatain sebagaimana khutbah dua pada shalat sunnat ‘idain, baik dari segi rukun-rukun ataupun yang lainnya. Hanya saja, bacaan takbir yang biasa dibaca sebagai pembuka khutbah pada khutbah dua ‘idain, pada khutbah dua shalat sunnat istisqa` diganti dengan bacaan istighfar, yaitu khatib membaca istighfar sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua. Dalam ketentuan khutbah dua dalam istisqa`, khatib disunnatkan merubah surban atau selendangnya dari kanan ke kiri, dan dari atas ke bawah yang kemudian diikuti oleh seluruh jema’ah melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh khatib. Selain itu, ketika berkhutbah, khatib disunnatkan memperbanyak istighfar dan do’a, terutama berdo’a sebagaimana do’a yang dibacakan oleh Rasulullah s.a.w ketika istisqa`. Redaksi do’a tersebut adalah sebagai berikut: (abi, t.th)
124 B. Shalat Sunnah Rawatib Shalat sunnat rawatib adalah shalat sunnat yang mengikuti shalat fardhu. Shalat sunnat ini ada kesemuanya ada 17 rakaat, yaitu : 1) 2 raka’at shalat fajar; 2) 4 raka’at sebelum shalat dzuhur; 3) 2 raka’at sesudah shalat dzuhur; 4) 4 raka’at sebelum shalat ashar; 5) 2 raka’at setelah shalat maghrib; dan 6) 3 raka’at setelah shalat ‘isya dengan witir satu raka’at C. Shalat Sunnah Nawafil Mu`akadat Shalat sunnat nawafil adalah shalat sunnat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w., selama hidupnya. Shalat sunnat yang termasuk shalat Sunnah nawafil ada tiga macam. Ketiga macam shalat sunnat itu adalah : 1. Tahajjud Shalat sunnat tahajjud atau qiyamul lail adalah shalat sunnat yang paling utama setelah shalat fardhu. Shalat sunnat ini hanya dapat dilakukan pada malam hari, yaitu pada tengah malam setelah shalat ‘isya dan berakhir sampai fajar. Tetapi yang paling utama, shalat sunnat tahajjud dilaksanakan pada waktu sepertiga malam yang terakhir kira-kira jam 02.00 atau 03.00 WIB.
125 Melaksanakan shalat sunnat pada tengah malam apalagi pada jam-jam tersebut tentu tidaklah mudah, karena biasanya pada waktu itu bagi kebanyakan orang menggunakannya sebagai waktu pelepas lelah setelah seharian beraktifitas, sehingga pada waktu itu mereka dipastikan sedang terlelap tidur. Namun, bagi sebagian orang justeru tengah malam adalah waktu yang tepat untuk ber-taqarrub dan mengabdikan diri yang sebenarnya kepada Allah SWT., dengan berbagai macam cara ibadah, satu diantarnya adalah shalat sunnat tahajjud. Karena bagaimanapun biasanya pada waktu itu suasana malam sangat sunyi yang nyaris tidak ada kehidupan, sehingga dibalik kesunyian itulah mereka memanfaatkannya untuk senantiasa berusaha menggapai rahasia illahi yang memang sengaja Allah SWT tebarkan pada setiap sepertiga malam terakhir. Tentu banyak dalil yang mendorong supaya orang mau melaksanakan shalat sunnat tahajjud, baik Qur`an, hadits, ijma ataupun yang lainnya. QS. Al-Isra`, 17 : 79 misalnya menjelaskan bahwa: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” Pada dasarnya para ulama sepakat bahwa batas minimal jumlah raka’at shalat sunnat tahajjud adalah dua raka’at dan maksimalnya tidak ada ketentuan, yang pasti disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang. Namun demikian, ada pula ulama yang membatasinya dengan enam rakaat, delapan rakaat, dua belas raka’at, dimana pada tiap-tiap dua raka’at satu salam, ditambah dengan witir tiga raka’at.
126 Bagi orang yang akan melaksanakan shalat sunnat tahajjud tentu harus berniat terlebih dahulu. Adapun tata cara shalat sunnat tahajjud adalah pada raka’at pertama setelah surat fatihah membaca surat alBaqarah, 2 : 284-286, yaitu : َ م َ ِت و َٰ َ َٰو َ م ا ِِف ٱلسَّ َ ِ م َّ ِ ُ َّلل وه ُ ف ۡ ُ َت ۡ و َ أ ۡ م ِسكُ ُ نف َ أ ا ِِفٓ َ م ْ وا ُ د ۡ ب ُ ض ِإَون ت ۡر ِ ِۗ َ ۡ ا ِِف ٱۡل ءٖ ۡ ِ َش َ ُ َٰ ك ٱَّلل َُّ لَع ََ َ و ُ ء ٓ ا َ ش َ ن ي َ م ِبُ ذ َ ع ُ ي َ و ُ ء ٓ ا َ ش َ ن ي َ لِم ُ فِر ۡ غ َ ي َ ف ٞۖ ِهِ ٱَّلل َُّ م ب ۡكُ ا ِسب َ ُ ُي ُ ِمن ۡ ؤ ُ م ۡ ٱل َ ِهِۦ و ب َّ هِ ِمن ر ۡ َ َِل إ َ ِل نز ُ أ ٓ ا َ ِم ب ُ ول ُ س َّ ٱلر نَ َ ام َ ء ٌ ِدير َ ق ِ ِٱَّلل َّ ب نَ َ ام َ ء ٌُّ ك َ ون ا َ ن ۡ ِمع َ س ْ وا ُ ال َ ق َ ۦ و لِهِ ُ س ُّ ِن ر ٖد م َ ح َ أ ني ۡ َ َ ب ُ ِق ر َ ف ُ ن َ لِهِۦ َل ُ س ُ ر َ ِهِۦ و ب ُ ت ُ ك َ تِهِۦ و َ ِك ئ ٰٓ َ ل َ م َ و ا َ ا م َ ه َ ا ل َ ه َ ع ۡ س ُ و َّ َِل ا إ سً ۡ ف َ ن ٱَّلل َُّ ِف ُ ل ُكَ ي َ َل ِصَيُ َ م ۡ ٱل ۡكَ َ ا ِإَوَل َ ن َّ ب َ ر كَ َ ان َ ر ۡ ف ُ غ ٞۖ ا َ ن ۡ ع َ ط َ أ َ و َ ب سَ َ ك َ َل َ ا و َ ن َّ ب َ ا ر َ ن ۡ أ َ ط ۡ خ َ أ ۡ و َ أ ٓ ا َ ِسين َّ ِن ن إ ٓ ا َ ن ۡ ا ِخذ َ ؤ ُ ت َ ا َل َ ن َّ ب َ ر تۡ َ ب سَ َ ت ا ٱكۡ َ ا م َ ه ۡ ي َ ل َ ع َ و تۡ َ ا َل َ ا م َ ن ۡ ِل م َ ُ َت َ َل َ ا و َ ن َّ ب َ ا ر َ لِن ۡ ب َ ِمن ق ِينَ َّ ٱَّل ۥ لَع ََ ُ ه َ ت ۡ ل ا َحََ َ م َ ۡٗۡصا ك ِ إ ٓ ا َ ن ۡ ي َ ل َ ع ۡ ِمل ۡ َ َت ا َّ ن َ ع ف ُ ۡ ٱع َ ۖٞۦ و ِهِ ا ب َ َ ۡل َ ة َ اق َ ط ِم ۡ و َ ق ۡ ٱل ا لَع ََ َ ُ ۡۡصن ٱن َ ا ف َ ن َٰ ى َ ل ۡ و َ م نتَ َ أ ٓ ا َ ن َحَ ۡ ۡ ٱر َ ا و َ َ ۡل ۡ فِر ۡ ٱغ َ و ينَ ِ فِر َٰ َ ك ۡ ٱل Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
127 Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul- rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir." Dan pada raka’at kedua setelah surat fatihah membaca surat Ali Imran, 3 : 18 dan 26-27, yaitu : ُ ء ٓ ا َ ش َ ن ت َّ ِمم كَ ۡ ل ُ م ۡ ٱل ُ زنِع َ ت َ و ُ ء ٓ ا َ ش َ ن ت َ م كَ ۡ ل ُ م ۡ ِِت ٱل ۡ ؤ ُ ِك ت ۡ ل ُ م ۡ ٱل لِكَ َٰ َ م َّ م ُ ه َّ ٱلل ِ ل ُ ق ُ ولِج ُ ت ٞ ِدير َ ءٖ ق ۡ ِ َش َ ُ َٰ ك لَع ََ كَ َّ ِن إ ٞۖ ُۡ َي َ ۡ ٱۡل َ ِدك َ ِي ب ٞۖ ُ ء ٓ ا َ ش َ ن ت َ م ُّ ِذل ُ ت َ و ُ ء ٓ ا َ ش َ ن ت َ م ُّ عِز ُ ت َ و
128 َ ار َ ه َّ ٱۡل ُ ولِج ُ ت َ ِ و ار َ ه َّ ِِف ٱۡل َ ل ۡ َّ ٱَل ِتَ ي َ م ۡ ٱل ُ ِج ر ۡ ُ َت َ ِ ِت و ي َ م ۡ ٱل ِمنَ َّ َح َ ۡ ٱل ُ ِج ر ۡ ُ َت َ و ِِۖ ل ۡ َّ ِِف ٱَل ٖب ا ِحسَ ِ ۡ َي َ ِغ ب ُ ء ٓ ا َ ش َ ن ت َ م ُ ق ُ ز ۡ ر َ ت َ و ٞۖ ِ َح َ ۡ ٱل ِمنَ Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu90 (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang Apabila ayat-ayat tersebut belum hapal maka boleh diganti dengan surat-surat al-Qur`an yang lain, seperti pada raka’at pertama setelah fatihah baca surat al-Kafirun, dan pada raka’at kedua setelah fatihah baca surat al-Ikhlash. Apabila shalat telah selesai, maka dilanjutkan dengan berdo’a sebagai berikut : (Faqih, 2008)
129 2. Dhuha Waktu pelaksanaan shalat sunnat dhuha adalah di waktu pagi hari yaitu kira-kira antara jam 07.30 sampai dengan 11.15. Shalat sunnat dhuha’ dapat dilaksanakan paling sedikit dua atau empat raka’at dan banyaknya delapan raka’at, dimana tiap-tiap raka’at satu salam. Bagi orang yang akan melaksnakan shalat sunnat dhuha tentu harus berniat terlebih dahulu. Kemudian, bagaimana tata cara shalat sunnat dhuha ?, berikut penjelasannya. Pada raka’at pertama setelah surat fatihah membaca surat الضحىatau الكافرون ,dan pada raka’at kedua setelah surat fatihah membaca surat الشمسatau خلص َال . Setelah selesai shalat lanjutkan dengan berdo’a sebagai berikut: 3. Tarawih Shalat sunnat tarawih adalah salah satu shalat sunnat yang disunnatkan dilaksanakan secara berjamaah, dan dilaksanakan pada setiap malam bulan Ramadhan. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah raka’atnya. Ada ulama yang berpendapat bahwa jumlah raka’at shalat sunnat tarawih adalah 8 raka’at ditambah 3 raka’at witir. Adapula ulama yang berpendapat lain, menurutnya jumlah rakaat shalat sunnat tarawih adalah 20 raka’at dengan 10 kali salam ditambah 3 raka’at witir, dengan tata caranya sebagai berikut:
130 Pada raka’at pertama setelah fatihah membaca Surat at-Takatsur Pada raka’at kedua setelah fatihah membaca Surat alIkhlash Kemudian Salam Pada raka’at ketiga setelah fatihah membaca Surat al- ‘Ashr Pada raka’at keempat setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlash Kemudian Salam Pada raka’at kelima setelah fatihah membaca Surat alHumazah Pada raka’at keenam setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlash Kemudian Salam Pada raka’at ketujuh setalah fatihah membaca Surat al-Fiil Pada raka’at kedelapan setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlash Kemudian Salam Pada raka’at kesembilan setelah fatihah membaca Surat al-Quraisy
131 Pada raka’at kesepuluh setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlash Kemudian Salam Pada raka’at kesebelas setelah fatihah membaca Surat al-Maa’uun Pada raka’at keduabelas setelah fatihah membaca Surat al-ikhlash Kemudian Salam Pada raka’at ketigabelas setelah fatihah membaca Surat al-Kautsar Pada raka’at keempatbelas setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlas Kemudian Salam Pada raka’at kelimabelas setelah fatihah membaca Surat al-Kaafirun Pada raka’at keenambelas setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlash Kemudian Salam Pada raka’at ketujuhbelas setelah fatihah membaca Surat al-Nashr Pada raka’at kedelapanbelas setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlash
132 Kemudian Salam Pada raka’at kesembilanbelas setelah fatihah membaca Surat al-Lahab Pada raka’at keduapuluh setelah fatihah membaca Surat al-Ikhlash Kemudian Salam Dilanjutkan dengan melaksanakan shalat sunnat witir sebanyak tiga raka’at, bisa dengan satu kali salam atau dua salam. Ketentuannya sebagai berikut: Raka’at ke-1, setelah fatihah membaca Surat al- A’ala Raka’at ke-2, setelah fatihah membaca Surat alKafiruun Kemudian Salam Raka’at ke-3, setelah fatihah membaca Surat alIkhlash, al-Falaq dan An-Naas Kemudian Salam Ketika shalat sunnat tarawih ini akan dilaksanakan, tentu harus berniat terlebih dahulu. Setelah shalat sunnat tarawih selesai dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan membacakan do’a kamilin sebagai berikut: Selain, shalat-shalat sunnat yang tergolong pada masnunah, rawatib dan nawafil, ada pula shalat sunnat
133 lainnya yang apabila dikerjakan akan menjadi fadhail al-‘amal bagi orang yang mengerjakannya, seperti shalat sunnat awwabin, tasbih, hajat, isyraq, isti’adah, istikharah, birr alwalidain, syukrul wudhu, tahiyyatul masjid, kifaratul baul, lidaf’il bala`, tasyakur bi ni’mat, shalat sunnat Rajab, shalat sunnat Nishfu Sya’ban, taubat dan lain sebagainya. Tata cara shalat-shalat sunnat tersebut secara ringkas dapat diperhatikan sebagai berikut : 1) Shalat Sunnat Tasbih (Faqih, 2008) Shalat sunnat tasbih dapat dilakukan tiap malam. Apabila tidak bisa, dapat dilakukan satu kali dalam seminggu, kalau tidak bisa juga, maka dapat dilaksanakan satu kali seumur hidup. Shalat sunnat tasbih dapat dilaksanakan secara berjamaah atau munfarid (sendiri). a. Waktu Pelaksanaan Waktu shalat tasbih tidak ada ketentuannya. Artinya dapat dikerjakan kapan saja selama tidak pada waktu yang dimakruhkan, seperti setelah shalat subuh sebelum terbit matahari, waktu mulai terbit matahari, tengah hari, setelah shalat ashar sampai terbenam matahari, dan ketika matahari sedang terbenam hingga sempurna terbanamnya. b. Jumlah Rakaat Banyaknya rakaat shalat sunnat tasbih adalah 4 rakaat dengan ketentuan boleh satu kali salam atau dua kali salam (dua kali takbiratul ihram).
134 c. Redaksi Niat 4 rakaat sekaligus atau satu kali salam أصلي سنة التسبيح أربع ركعين هلل تعالى 4 rakaat dua kali salam أصلي سنة التسبيح أربع ركعات هلل تعالى d. Surat yang dibaca setelah Fatihah Surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah fatihah adalah surat at-Takatsur, rakaat kedua setelah fatihah membaca surat al-‘Ashr, rakaat ketiga setelah fatihah membaca al- Kafirun, dan pada rakaat keempat setelah fatihah membaca surat al-Ikhlash. e. Tata cara Pelaksanaan Tiap rakaat setelah fatihah dan setelah membaca surat kemudian baca tasbih sebagai berikut: Membaca tasbih di atas dilakukan setelah bacaan-bacaan yang biasa dibaca dalam shalat, seperti pada ruku’ bacaan tasbihnya setelah tasbih yang biasa dibaca ketika ruku’ begitu pula pada i‘tidal, sujud dan lain sebagainya. Kecuali pada waktu tasyahud, tasbih dibaca sebelum tasyahud. Jumlah bacaan tasbih dalam setiap gerakan shalat berbeda-beda, yaitu: 1. Ketika berdiri, setelah fatihah dan membaca surat dilanjutkan dengan membaca tasbih seperti di atas
135 sebanyak 15 kali; 2. Ketika ruku’, setelah tasbih yang biasa baca tasbih di atas sebanyak 10 kali; 3. Ketika i’tidal, setelah bacaan yang biasa, baca tasbih di atas sebanyak 10 kali; 4. Ketika sujud, setelah bacaan tasbih yang biasa, baca tasbih di atas sebanyak 10 kali; 5. Ketika duduk antara dua sujud, setelah bacaan yang biasa, baca tasbih di atas sebanyak 10 kali; 6. Ketika sujud kedua, setelah tasbih yang biasa dibaca ketika sujud baca lagi tasbih di atas sebanyak 10 kali; 7. Ketika duduk istirahat sebelum berdiri, baca tasbih di atas sebanyak 10 kali Dengan demikian, jumlah tasbih pada tiap-tiap rakaat adalah 75 kali. Begitu seterusnya dikerjakan pada tiap- tiap rakaat sampai selesai 4 (empat) rakaat. 2) Shalat Sunnat Hajat Shalat sunnat hajat merupakan shalat sunnat yang dikerjakan ketika ada hajat (kebutuhan), baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, seperti ingin dikabulkan cita-cita, mendapat pekerjaan yang baik, berhasil dalam menempuh ujian nasional atau munaqasah disertasi, terbebas dari marabahaya dan lain sebagainya.
136 a. Waktu Pelaksanaan Shalat sunnat hajat dapat dilakukan kapan saja, siang ataupun malam asal tidak pada waktu shalat yang dimakruhkan atau diharamkan. Namun, akan lebih baik apabila dikerjakan pada tengah tengah malam antara jam 24.00 sampai dengan 03.00 WIB atau pada waktu sepertiga malam. b. Jumlah Rakaat Shalat sunnat hajat dapat dikerjakan sebanyak 2 rakaat, 4 rakaat atau 12 rakaat. c. Redaksi Niat ِن ِ ِّلِل تَعَالَى ْي َحا َج ِة َر ْكعَتَ الْ َصِل ى ُسناةَ اُ d. Surat yang Dibaca setelah Fatihah Surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah fatihah adalah surat al-Kafirun 10 kali atau surat al-Ikhlash 10 kali, dan rakaat kedua setelah fatihah membaca surat al-Ikhlash 10 atau 11 kali. Dapat pula, pada setiap rakaat setelah fatihah membaca al-Ikhkash saja sebanyak 11 kali, atau pada setiap rakaat setelah fatihah membaca ayat kursi dan surat alIkhlash masing-masing 1 kali. e. Tata Cara Pelaksanaan Secara umum, tata cara pelaksanaan shalat sunat awwabin sama dengan shalat sunnat pada umumnya, baik dari segi bacaan ataupun perbuatannya, yang membedakan hanya redaksi niat, nama surat yang dibaca setelah fatihah,