The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PENILAIAN TINDAKAN KELAS

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Olvie Mondoringin, 2020-11-27 10:47:20

LAPORAN PTK

PENILAIAN TINDAKAN KELAS

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA

PELAJARAN INDUSTRI PERHOTELAN KELAS XI-16 SMK N I
MANADO TAHUN PELAJARAN 2020-2021

OLVIE MONDORINGIN

PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) ANGKATAN KE III
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TAHUN 2020

Page | 1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan Tuhan yang Maha Esa, atas segala rahmatnya yang
dilimpahkan kepada penulis. Dalam menyusun penelitian tindakan kelas ini sebagai usaha penulis
dalam mengevaluasi kinerja sebagai guru maupun sebagai Mahasiswa pendidikan profesi guru dalam
meningkatkan kapasitas keilmuan penulis dalam dunia pembelajaran pada program Pendidikan Profesi
Guru (PPG) Universitas Negeri Medan (UNIMED) Tahun 2020.

Dalam penulisan penelitian tindakan kelas ini banyak pihak yang telah memberikan kepada
penulis, penulis sudah berusahan mengerjakan penelitian tindakan kelas ini dengan sangat baik, namun
sangat disadari masih banyak kekurangannya. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan yang penulis miliki. untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari Bapak Ibu Fasilitator, Guru Pamong serta rekan rekan Mahasiswa seperjuangan .
Harapan penulis, semoga penelitian tindakan kelas ini bermanfaat bagi diri penulis maupun bagi semua
pembaca.

Manado, 28 Oktober 2020
Mahasiswa PPG UNIMED

Olvie Mondoringin

Page | 2

Daftar Isi i
Halaman Judul ----------------------------------------------------------------------- ii
Kata Pengantar ------------------------------------------------------------------------ iii
Daftar Isi -----------------------------------------------------------------------------
BAB I PENDAHULUAN 4
5
1. latar Belakang ------------------------------------------------------------------ 6
2. Identifikasi Masalah ------------------------------------------------------------ 6
3. Analisis Masalah --------------------------------------------------------------- 6
4. Rumusan Masalah -------------------------------------------------------------- 6
5. Tujuan Penelitian ---------------------------------------------------------------
6. Manfaat Penelitian -------------------------------------------------------------- 7
BAB II KAJIAN TEORI 8
2.1. Pengertian Tindakan Kelas ------------------------------------------------- 10
2.2. Langka-langka penelitian tindakan kelas ---------------------------------- 16
2.3. Model Pembelajaran Discovery Learning ---------------------------------
2.4. Teori hasil belajar ------------------------------------------------------------ 23
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Subjek Penelitian ------------------------------------------------------------- 23
23
------------------------------------------------------------------------------------ 26
3.2 Tempat Waktu Penelitian------------------------------------------------------ 26
3.3.Deskripsi Per siklus ------------------------------------------------------------
3.4 Analisis Data--------------------------------------------------------------------
3.5 Pengumpulan Data-------------------------------------------------------------

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 29
4.1 Hasil Penelitian --------------------------------------------------------------- 29
4.1.1. Siklus 1 ---------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------- 40
4.1.2. Siklus II --------------------------------------------------------------- 49
4.2 Pembahasan --------------------------------------------------------------------

BAB V PENUTUP 50
5.1 Kesimpulan ------------------------------------------------------------------- 50
5.2 Saran ----------------------------------------------------------------------------

Lampiran

Page | 3

BAB I PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH

Menurut Suparno, peserta didik yang aktif dalam proses pembelajaran dicirikan oleh dua
aktivitas, yaitu aktivitas dalam berfikir (minds-on), dan aktivitas dalam berbuat (hands-on).
Perbuatan nyata peserta didik dalam pembelajaran merupakan hasil keterlibatan berfikir peserta
didik terhadap kegiatan belajarnya. Dengan demikian proses pembelajaran peserta didik aktif
dalam kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan
secara terus menerus dan tidak berhenti. Hal ini dilakukan apabila interaksi antara guru dan peserta
didik terjalin dengan baik. Sebab menurut Usman, interaksi dan hubungan timbal balik antara Guru
dengan Peserta didik itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Terdapat opini yang menyatakan bahwa terdapat beberapa masalah pembelajaran di sekolah yang
antara lain adalah:

1. Hasil belajar siswa rata-rata belum mencapai KKM
2. Guru masih menerapkan pembelajaran yang monoton
3. Minimnya pemahaman guru dalam penggunaan model-model pembelajaran
Berdasarkan pada pendapat tersebut, menunjukkan bahwa aktivitas peserta didik dalam
proses belajar mengajar sangatlah diperlukan. Namun yang lebih penting lagi dalam meningkatkan
aktivitas peserta didik tersebut ialah kemampuan Guru dalam merencanakan suatu kegiatan belajar
mengajar sehingga dengan rencana tersebut peserta didik dapat beraktivitas dalam proses belajar
mengajar hingga dicapai tujuan pembelajaran.
Dalam pengalaman penulis, masih sering menjumpai beberapa sekolah yang terdapat guru-
guru yang masih menerapkan pendekatan konvensional dalam pembelajaran. Pembelajaran yang

Page | 4

diselenggarakan banyak menggunakan metode-metode cenderung monoton dan membosankan,
seperti metode ceramah.

Dampak dari penggunaan pendekatan yang tidak produktif dan tidak menarik berdampak
pada rendahnya motivasi dan minat belajar siswa yang pada akhirnya menghasilkan prestasi
belajar siswa rendah. Hal ini dibuktikan oleh adanya data hasil belajar siswa kelas XI-16 SMK
NEGERI 1 MANADO yang mencapai ketuntasan belajar di bawah rata-rata, yakni 70.

Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di atas, dipandang perlu menggunakan
pendekatan lain sebagai solusi. Di antara pendekatan yang memungkinkan dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa adalah Model Pembelajaran Discovery Learning. Pendekatan ini memiliki
kemampuan untuk mendorong siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran yang pada gilirannya
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Pandangan ini di dasarkan pada sejumlah kelebihan
yang dimiliki oleh pendekatan tersebut.

Berbagai kelebihan Kelebihan Penggunaan Metode Pembelajaran Yang Berbasis pada
Aktivitas Peserta didik, yakni:
a) Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan

proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. Peningkatan hasil
seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
b) Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan
pengertian, ingatan dan transfer.
c) Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
d) Strategi ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya
sendiri.

Page | 5

e) Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan
motivasi sendiri.

f) Strategi ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh
kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.

g) Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan.
Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.

h) Membantu peserta didik menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada
kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.

i) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
j) Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru.
k) Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
l) Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
m) Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.
n) Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
o) Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya.
p) Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
q) Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
r) Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

Berdasarkan pemikiran di atas, Penulis menganggap penting untuk melakukan penelitian lebih
jauh tentang penerapan Peningkatan Motivasi Belajar Peserta Didik Dengan Model
Pembelajaran Discovery Learning Pada Materi Tipe-Tipe Hotel Mata Pelajaran Industri
Perhotelan Kelas XI-16 SMK Negeri 1 Manado Tahun Pelajaran 2020/2021.

Page | 6

2. IDENTIFIKASI MASALAH:
Dari latar belakang permasalahan di atas saya dapat merumuskan permasalahan dalam
penelitian saya ini, yaitu:
1. Guru Masih menggunakan model pembelajaran konvensional
2. Guru belum menggunakan model pembelajaran Discovery Learning
3. Rendahnya Hasil belajar peserta didik

3. BATASAN MASALAH
1. Hasil belajar siswa dibatasi pada Mata pelajaran Industri perhotelan dengan materi
Tipe-tipe hotel.
2. Model pembelajaran dibatasi pada model pembelajaran Discovery Learning.
3. Subject penelitian dibatasi pada siswa kelas XI-16 Perhotelan SMK Negeri 1 Manado

4. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata pelajaran Industri perhotelan
dengan model pembelajaran Discovery Learning ?

5. TUJUAN PENELITIAN
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata pelajaran Industri perhotelan
dengan model pembelajaran Discovery Learning

6. MANFAAT PENELITIAN

Penulis berharap dari hasil penelitian ini, dapat didapat manfaat sebagai berikut

1. Bagi siswa

a) Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang dipelajari dalam

Mata Pelajaran Industri Perhotelan Kelas XI-16 SMK Negeri 1 Manado.

b) Dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik .

Page | 7

2. Bagi Guru
1.Dapat meningkatkan motivasi guru untuk menggunakan model pembelajaran Discovery
learning
2.Dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mencipatakan suasana belajar yang aktif,

kreatif, dan menyenangkan.
3. Bagi Sekolah

Dapat memajukan dan meningkatkan kwalitas tamatan dan mutu sekolah serta dapat
menjadi bahan informasi dan

sumbangan pemikiran yang dapat dijadikan bahan perbandingan atau acuan bagi sekolah
dalam meningkatkan kwalitas

proses belajar mengajar.

Page | 8

BAB II KAJIAN TEORI
2. Penelitian Tindakan Kelas

2.1 Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu kegiatan penelitian yang berkonteks kelas

yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru,
memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru dalam pembelajaran demi
peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. PTK merupakan kegiatan penelitian yang dapat
dilakukan secara individu maupun kolaboratif. PTK individual merupakan penelitian di mana
seorang guru melakukan penelitian di kelasnya maupun kelas guru lain. Sedangkan PTK kolaboratif
merupakan penelitian di mana beberapa guru melakukan penelitian secara sinergis dikelasnya dan
anggota yang lain berkunjung ke kelas untuk mengamati kegiatan.

PTK mempunyai karaktaristik yang berbeda dengan penelitian yang lain. PTK merupakan
penelitian kualitatif meski data yang diperoleh dapat berupa data kuantitatif. Beberapa karakteristik
PTK diakses dari situs pakguruonline diantaranya yaitu:
1. Bersifat siklus, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan

dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.
2. Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-

3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak"
selesai pelaksanaannya.
3. Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka
mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan
oleh orang lain dan di tempat lain yang konteksnya mirip.

Page | 9

4. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran
yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekaligus
yang diteliti pula.

5. Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang
orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar
yang berjarak dengan hal yang diteliti.

6. Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama
atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan
penelitian.

7. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam
pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.

8. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu
dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan
penelitian.

9. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian,
bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya
menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.

10. Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi
harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Page | 10

2.1. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas
Model-model PTK yang dapat dikembangkan diantaranya model Kurt Lewin, model Kemmis &

McTaggart, model John Elliot dan masih banyak lagi model yang merupakan pengembangan dari
model-model tersebut. Dalam kesempatan ini akan dibahas mengenai model Kurt Lewin dan
Kemmis & McTaggart.
1. Desain PTK model Kurt Lewin

Model ini menjaadi acuan pokok dari model PTK yang lain. Kurt Lewin inilah yang pertama
memperkenalkan adanya penelitian tindakan. Konsep PTK Kurt Lewin terdiri dari empat
komponen yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan
refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai suatu siklus.
Desain Kurt Lewin dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut:

2. Desain PTK model Kemmis & McTaggart
Model Kemmis & McTaggart merupakan pengembangan dari model Kurt Lewin. Dalam
Kemmis & McTaggart komponen acting (tindakan) dan observing (pengamatan) dijadikan satu
kesatuan. Hal ini didasari bahwa pada kenyataannya penerapan tindakan dan pengamatan tidak
dapat dipisahkan. Dua kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan dalam waktu yang
bersamaan. Keempat komponen dalam model Kemmis & McTaggart dipandang sebagai suatu
siklus, dalam hal ini merupakan suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan
Page | 11

observasi dan refleksi. Berdasarkan refleksi kemudian disusun rencana (perbaikan), tindakan
dan observasi serta refleksi, demikian seterusnya. Banyaknya siklus tergantung pada
permasalahan yang dipecahkan. Pengembangan model PTK dapat dilakukan berdasarkan
permasalahan yang ddihadapi peneliti dai lapangan ataupun didasarkan pada pemahaman dan
kemampuan peneliti terhadap suatu model. Hal-hal yang harus dilaksanakan adalah:
3. Menemukan ide awal yang menemukan gagasan yang dapat ditempuh untuk memecahkan
masalah. Ide awal berupa upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasai masalah. Dengan
penerapan PTK sebenarnya peneliti mau berbuat apa.
4. Melakukan prasurvey yaitu mengetahui secara detail kondisi kelas yang akan diteliti. Hal ini
tidak perlu dilakukan bagi guru yang akan meneliti kelas yang diajarnya, karena dengan
mengajar tentu ia sudah sangat memahami kondisi kelas tersebut. Prasurvey dilakukan jika
peneliti tidak mengajar pada kelas yang diteliti.
5. Mendiagnosis bahwa ada dugaan sementara mengenai timbulnya permasalahan di dalam kelas.
Diagnosis dilakukan oleh peneliti yang tidak biasa mengajar kelas yang akan diteliti. Hasil
diagnosis akan menentukan perancangan strategi pembelajaran, media materi dan lain-lain yang
terkait dalam kegiatan belajar mengajar.
6. Menentukan perencanaan yang meliputi perencanaan berkaitan dengan rancangan keseluruhan
aspek dalam PTK dan rencana khusus yang barkaitan dengan rancangan siklus per siklus. Hal-
hal yang direncanakan kurang lebih sama dengan apabila guru menyiapkan suatu kegiatan
belajar mengajar
7. Implementasi tindakan yaitu realisasi dari suatu tindakan yang sudah direncanakan meliputi
strategi yang akan digunakan, materi yang akan disampaikan dan sebagainya.
8. Pengamatan yaitu observasi dan monitoring yang dapat dilakukan sendiri oleh peneliti mapun
kolaborator. Monitoring merupakan bagian dari fungsi meneliti dalam PTK. Peran monitoring

Page | 12

adalah untuk mengenali dan mengevaluasi perkembangan yang terjadi akibat tindakan yaitu
mengenali apakah pelaksanaan tindakan sesuai dengan rencana tindakan dan apakah telah
terjadi peningkatan denganadanyan tindakan. Teknik yang dilakukan dapat berupa pengamatan
dengan pedoman, tes, catatan lapangan, analisis dokumen, portofolio, angket, wawancara,
perekaman, dan sosiometri
9. Refleksi yaitu upaya evaluasi yang dilakukan oleh kolaborator dan partisipan yang terkait
dengan PTK yang dilaksanakan. Berdasarkan refleksi kemudian dilakukan perbaikan tindakan (
siklus berikutnya).

2.2.Model Pembelajaran Discovery Learning
A. PENGERTIAN

Discovery berasal dari bahasa Inggris “discovery”, yang berarti penemuan. Secara umum
discovery learning adalah proses dimana para saintis mengajukan pertanyaan tentang alam dunia ini
dan bagaimana mereka secara sistematis mencari jawabannya. Secara khusus, discovery learning
adalah metode yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan jawaban dari suatu masalah.” Sedangkan menurut Budiningsih menyebutkan Model
Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk
akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Adapun Brune, Discovery Learning merupakan
pembelajaran berdasarkan penemuan (inquirybased), konstruktivis dan teori bagaimana belajar. Model
pembelajaran yang diberikan kepada siswa memiliki skenario pembelajaran untuk memecahkan
masalah yang nyata dan mendorong mereka untuk memecahkan masalah mereka sendiri.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran discovery learning
adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri,
menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan

Page | 13

mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berfikir analisis dan
mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan di transfer dalam kehidupan
bermasyarakat.

B. LANGKAH PERSIAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING
1. Menentukan tujuan pembelajaran.
2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan
sebagainya).
3. Memilih materi pelajaran.
4. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh
generalisasi).
5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi,tugas dan
sebagainya untuk dipelajari siswa.
6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak,
atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik
7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

C. PROSEDUR APLIKASI MODEL DISCOVERY LEARNING
1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan tanda
tanya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan poses belajar mengajar
dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan kegiatan belajar lainnya yang
mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk
Page | 14

menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam
mengeksplorasi bahan.
2) Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan
pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban
sementara atas pertanyaan masalah). Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus
dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban
sementara atas pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan siswa untuk
mengidentifikasi dan menganalisa permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang
berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

3) Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau
tidaknyahipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar
tidaknya hipotesis.
Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi
yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan
uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif
untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan
demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah
dimiliki.

Page | 15

Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang
berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja
siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
4) Data Processing (Pengolahan Data)
Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak,
diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan
pada tingkat kepercayaan tertentu Data processing disebut juga dengan pengkodean atau
kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi
tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian
yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5) Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan
hasildataprocessing Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan
dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan
suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya.
Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis
yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah
terbukti atau tidak.
6) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat
dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama,dengan
memperhatikan hasilverifikas. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip

Page | 16

yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses
generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau
prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses
pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.
Sebagai model pembelajaran, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan
inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah
ini. Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang
sebelumnya tidak diketahui. Perbedaan inkuiri dan problem solving dengan Discovery Learning
ialah bahwa pada discovery learning masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam
masalah yang direkayasa oleh guru.

D. TUJUAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY)
MenurutTrianto[13] fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang
pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk memilih model ini sangat
dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan diajarkan, dan juga dipengaruhi oleh tujuan yang
akan dicapai dalam pengajaran tersebut serta tingkat kemampuan peserta didik. Di samping itu
pula, setiap model pembelajaran juga mempunyai tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan
siswa dengan bimbingan guru. Antara sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga
mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini, di antaranya pembukaan dan penutupan
pembelajaran yang berbeda antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai
dan dapat menerapkan berbagai keterampilan mengajar, agar dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang beraneka ragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada
dewasa ini.

Page | 17

Metode pembelajaran penemuan (discovery) dalam proses belajar mengajar mempunyai
beberapa tujuan antara lain :
1. Meningkatkan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam memperoleh dan memproses

perolehan belajar.
2. Mengarahkan para siswa sebagai pelajar seumur hidup.
3. Mengurangi ketergantungan kepada guru sebagai satu-satunya sumber informasi yang

diperlukan oleh para siswa.
4. Melatih peserta didik untuk mengeksplorasi atau memanfaatkan lingkungan sebagai

informasi yang tidak akan pernah tuntas digali.
E. KELEBIHAN PENERAPAN DISCOVERY LEARNING

Setiap model pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh
karena itu, guru harus kreatif dalam memilih model pembelajaran yang akan digunakan. Model
discovery learning memudahkan siswa untuk menemukan sendiri konsep-konsep pembelajaran
yang tidak diperoleh siswa dengan cara mendengarkan penjelasan dari guru.
Menurut Kemendikbud, mengatakan mengenai kelebihan dari discovery learning adalah sebagai
berikut.
1) Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan

proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang
tergantung bagaimana cara belajarnya.
2) Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan
pengertian, ingatan dan transfer.
3) Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
4) Strategi ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya
sendiri.

Page | 18

5) Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan
motivasi sendiri.

6) 6)Strategi ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh
kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.

7) Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan.
Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.

8) Membantu peserta didik menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada
kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.

9) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
10) Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru.
11) Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
12) Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
13) Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.
14) Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
15) Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya.
16) Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
17) Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
18) Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

F. KEKURANGAN PENERAPAN DISCOVERY LEARNING
Metode itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja,
membantu bila diperlukan. Metode penemuan (discovery) ini mempunyai kelemahan yaitu sebagai
berikut:
1) Siswa harus memiliki kesiapan dan kematangan mental
Page | 19

2) Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik
3) Metode ini kurang berhasil digunakan di kelas besar
4) Bagi guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional

mungkin akan sangat kecewa bila di ganti dengan metode penemuan (discovery)
5) Dengan menggunakan metode penemuan (discovery) ini proses mental terlalu mementingkan

proses pengertian saja atau pembentukan sikap dan keterampilan siswa.
Dalam Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya

untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historis, atau ahli matematika. Bahan
ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai
kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis,
mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.

Model pembelajaran discovery learning ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan
pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau
berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga
pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Pada intinya tidak ada model pembelajaran yang
sempurna. setiap model pembelajaran memiliki ke;ebihan dan kekurangannya. Tinggal
kemampuan para guru untuk dapat memilah dan memilih model pembelajaran yang mana yang
paling cocok dengan materi pembelajaran.

2.3. Teory Hasil Belajar
a.Pengertian Hasil Belajar
Proses belajar terjadi karena adanya suatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang
dimaksud adalah berupa hasil belajar. Hasil belajar harus menunjukkan suatu
perubahan tingkah laku yang bersifat menetap, fungsional, positif dan disadari.

Page | 20

Perwujudan hasil belajar akan selalu berkaitan dengan kegiatan evaluasi. Untuk itu
diperlukan teknik dan prosedur evaluasi belajar yang dapat menilai secara efektif
proses dan hasil belajar.
Kemampuan melakukan kajian secara menyeluruh. H.M. Surya (2008:8.6)
menyatakan hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku
secara keseluruhan. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar meliputi aspek
tingkah laku kognitif, konotatif, afektif atau motorik. Belajar yang hanya
menghasilkan perubahan satu atau dua aspek tingkah laku saja disebut belajar
sebagian dan bukan belajar lengkap.
Jenis Hasil Belajar Menurut Syaiful Bahri Djamarah, “prestasi adalah hasil dari
suatu kegiatan yang telah dikerjakan, atau diciptakan secara
individu maupun secara kelompok”1 Pendapat ini berarti prestasi tidak akan pernah
dihasilkan apabila seseorang tidak melakukan kegiatan. Hasil belajar atau prestasi
belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan
belajar. Oleh karena itu prestasi belajar bukan ukuran, tetapi dapat diukur setelah melakukan
kegiatan belajar. Keberhasilan seseorang dalam mengikuti program
pembelajaran dapat dilihat dari prestasi belajar seseorang tersebut. Menurut Gagne
“prestasi belajar dapat dikelompokkan ke dalam 5 (lima) kategori yaitu :
1) Keterampilan intelektual (intellectual skills). Belajar keterampilan intelektual
berarti belajar bagaimana melakukan sesuatu secara intelektual. Ada enam jenis
keterampilan intelektual antara lain:
a).Diskriminasi-diskriminasi, yaitu kemampuan membuat respons yang berbeda
terhadap stimulus yang berbeda pula;
b). Konsep-konsep konkret, yaitu kemampuan mengidentifikasi ciri-ciri atau

Page | 21

atribut-atribut suatu objek;
c). Konsep-konsep terdefinisi, yaitu kemampuan memberikan makna terhadap
sekelompok objekobjek, kejadian-kejadian, atau hubungan-hubungan;
d.) Aturan-aturan, yaitu kemampuan merespons hubungan-hubungan antara objek- objek dan
kejadian-kejadian;
e). Aturan tingkat tinggi, yaitu kemampuan merespons hubungan-hubungan antara
objek-objek dan kejadian-kejadian secara lebih kompleks;
f). Memecahkan masalah, yaitu kemampuan memecahkan masalah yang biasanya melibatkan
aturan-aturan tingkat tinggi.
2) Strategi-strategi kognitif (cognitive strategies). Strategi-strategi ini merupakan kemampuan
yang mengarahkan
prilaku belajar,mengingat, dan berpikir seseorang. Ada lima jenis strategi-strategi
diantaranya : a) Strategi-strategi menghafal, yaitu strategi belajar yang dilak ukan dengan
kognitif cara menghafal ide-ide dari sebuah teks; b) Strategi-strategi
elaborasi, yaitu strategi belajar dengan cara mengaitkan materi yang dipelajari dengan materi
lain yang relevan; c) Strategi-strategi pengaturan, yaitu strategi
belajar yang dilakukan dengan cara mengelompokkan konsep-konsep agar menjadi
kategori-kategori yang bermakna; d) Strategi-strategi pemantauan pemahaman, yaitu strategis
belajar yang dilakukan dengan cara memantau proses-proses belajar yang sedang dilakukan; e)
Strategi –strategi afektif, yaitu strategi belajar yang dilakukan dengan cara memusatkan dan
mempertahankan perhatian.
3) Informasi verbal (verbal information). Belajar informasi verbal adalah belajar untuk
mengetahui apa yang dipelajari baik yang berbentuk nama-nama objek, fakta-fakta, maupun
pengetahuan yang telah disusun dengan baik.

Page | 22

4) Keterampilan motor (motor skills). Kemahiran ini merupakan kemampuan siswa untuk
melakukan sesuatu dengan menggunakan mekanisme otot yang dimiliki.
5) Sikap (attitudes). Sikap merupakan kemampuan mereaksi secara positif atau negative
terhadap orang, sesuatu, dan situasi.
b)Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Sudjana hasil belajar adalah perubahan kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah
mengalami proses belajar. Penguasaan peserta didik antara lain berupa penguasaan kognitif
yang dapat diketahui melalui hasil belajar. Usaha untuk mencapai aspek tersebut dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar antara lain : 1) Faktor Ekternal a) Lingkungan Yaitu suatu kondisi yang ada disekitar
peserta didik contoh suhu, udara, cuaca, juga termasuk keadaan sosial yang ada disekitar peserta
didik. b) Faktor Instrumental Yaitu faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai
dengan hasil yang diharapkan. Contoh : Kurikulum, Metode, sarana, media, dan sebagainya. 2)
Faktor Internal Yaitu Faktor Internal yang mempengaruhi peserta didik antara lain : Kondisi
psikologi dan fisiologi peserta didik. d. Teori Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan-
kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Howard
Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b)
pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat
diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Adapun Gagne membagi lima
kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi
kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan
tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler, tujuan institusional maupun tujuan instruksional,
menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar
membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris.

Page | 23

Model berpikir ilmiah dengan tipe hipotheticodeductive dan inductive sudah mulai dimiliki
anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, mengembangkan dan menafsirkan hipotesa
(Asri Budiningsih, 2008: 39). Hasil belajar akan dipengaruhi oleh banyak faktor. Sekian banyak
faktor yang mempengaruhi belajar, dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu :3 1) Faktor-
faktor stimulasi belajar Yaitu segala sesuatu di luar individu yang merangsang individu untuk
mengadakan reaksi atau perbuatan belajar, yang dikelompokkan dalam faktor stimuli belajar
antara lain; banyaknya bahan pelajaran, tingkat kesulitan bahan pelajaran, kebermaknaan bahan
pelajaran, berat ringannya tugas, suasana lingkungan eksternal. 2) Faktor-faktor metode belajar
Metode belajar yang dipakai guru sangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai oleh
pembelajar. Adapun faktor-faktor metode belajar menyangkut kegiatan berlatih atau praktek,
over learning dan drill, resitasi belajar, pengenalan tentang hasil-hasil belajar, belajar dengan
keseluruhan dan dengan bagian-bagian, penggunaan modalitas indera, bimbingan dalam belajar,
kondisi-kondisi intensif. 3) Faktor-faktor Individual Faktor-faktor individu meliputi
kematangan, faktor usia kronologis, perbedaan jenis kelamin, pengalaman sebelumnya,
kapasitas mental, kondisi kesehatan jasmani, kondisi kesehatan rohani, dan motivasi. Kemudian
hasil belajar yang dicapai peserta didik melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung
menunjukkan hasil yang berciri sebagai berikut. a) Kepuasan dan kebanggan yang dapat
menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri peserta didik b) Menambah keyakinan akan
kemampuan dirinya c) Hasil belajar yang diperoleh peserta didik mantap dan tahan lama d)
Hasil belajar yang diperoleh peserta didik secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup
ranah kognitif, afektif dan psikomotoris e) Kemampuan peserta didik untuk mengontrol atau
menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun
menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.

Page | 24

c). Manfaat Hasil Belajar

Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku seseorang yang mencakup
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor setelah mengikuti suatu proses belajar mengajar
tertentu. Pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil apabila perubahan-perubahan yang
tampak pada siswa merupakan akibat dari proses belajar mengajar yang dialaminya yaitu
proses yang ditempuhnya melalui program dan kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan
oleh guru dalam proses pengajarannya. Berdasarkan hasil belajar siswa, dapat
diketahui kemampuan dan perkembangan sekaligus tingkat keberhasilan pendidikan. Hasil
belajar harus menunjukkan perubahan keadaan menjadi lebih baik, sehingga bermanfaat untuk:
(a) menambah pengetahuan, (b) lebih memahami sesuatu yang belum dipahami sebelumnya,
(c) lebih mengembangkan keterampilannya, (d) memiliki pandangan yang baru atas sesuatu
hal, (e) lebih menghargai sesuatu daripada sebelumnya. Dapat disimpulkan bahwa istilah hasil
belajar merupakan perubahan dari siswa sehingga terdapat perubahan dari segi pegetahuan,
sikap, dan keterampilan.

3.Materi Ajar: TIPE-TIPE HOTEL BERDASARKAN LAMANYA TAMU MENGINAP

Tipe Hotel Berdasarkan Lamanya Tamu Tinggal

Berdasarkan lamanya tamu tinggal, ada beberapa jenis hotel, yaitu Transient hotel, Residental
hotel, dan Semi Residental Hotel.

Transient Hotel, adalah hotel di mana rata-rata lama tamu menginap sangat singkat, hanya
satu hari satu malam. Kebanyakan tamu orang yang sangat sibuk, yang datang hanya untuk
transit. Mereka datang untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Page | 25

Residental Hotel, di mana rata-rata lama tamu menginap lebih dari satu bulan, bahkan ada
yang sampai tahunan

Semi Residental Hotel, berada di antara Transient hotel dan Residental Hotel. Tamu
menginap di tempat itu tidak terlalu singkat tetapi juga tidak terlalu lama. Rata-rata dua-tiga
hari sampai satu minggu.

Tipe Hotel Berdasarkan Tamu yang Menginap

Berdasarkan tamu yang menginap, hotel dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Secara
dominan tamu yang menginap adalah keluarga, official, group, walk-in, traveller, wisatawan,
businessman, individual, incentive, long staying, dan short staying.
1. Hotel Keluarga adalah hotel yang kebanyakan tamunya adalah keluarga. Hotel seperti ini
biasanya dilengkapi dengan berbagai sarana rekreasi, restoran dengan konsep keluarga, tempat
tidur yang lega.

2. Official Hotel adalah hotel yang kebanyakan tamunya adalah orang-orang dari instansi
pemerintah atau swasta, dari dinas atau jawatan tertentu

3. Hotel Untuk Tamu Rombongan. Banyak hotel yang kebanyakan tamunya adalah grup atau
rombongan. Mereka datang bersama-sama untuk melakukan study tour atau wisata

4. Walk-in Hotel. Ada hotel yang tamunya tidak perlu melakukan reservasi terlebih dahulu.
Hotel semacam ini disebut dengan walk-in hotel.

5. Traveller Hotel. Tamu hotel ini adalah orang-orang yang sedang melakukan suatu
rangkaian perjalanan, baik untuk bisnis, keperluan pribadi, maupun hanya untuk istirahat
sebentar

Page | 26

6. Hotel Wisatawan, yang kebanyakan resor, walau mungkin juga berada di dalam kota.
tergantung jenis wisata yang ada di sekitar hotel
7. Businessman Hotel, yang kebanyakan tamunya datang untuk berbisnis. Kebanyakan berada
di tengah kota besar, kota metropolitan, kota dagang, dan di area yang memungkinkan orang
menjalankan bisnis dengan lancar.
8. Individual Hotel adalah hotel yang kebanyakan tamunya adalah individu, bukan grup atau
keluarga. Hotel semacam ini mirip traveller hotel, business hotel, atau city hotel. Biasa
digunakan oleh para pedagang, salesman, atau orang yang sedang melakukan perjalanan dan
singgah untuk beristirahat.
9. Incentive Hotel adalah hotel yang kebanyakan tamunya adalah para karyawan atau anggota
organisasi yang mendapatkan semacam hadiah atau bonus untuk melakukan tour, wisata, atau
kunjungan ke perusahaan yang ada di kota lain.
10. Long Staying Hotel adalah bentuk residential hotel seperti kondominium atau apartemen
atau hotel tertentu, yang tamunya rata-rata tinggal cukup lama, lebih dari satu bulan.

Page | 27

B. Kerangka Berpikir
Model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk

membantu peserta didik sedemikian rupa, sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Sesuai
permasalahan yang telah dipaparkan di latar belakang masalah peneliti menggunakan model
pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan hasil belajar Model pembelajaran
berfungsi pula sebagai pedoman untuk merancang pembelajaran guru dalam merencanakan
aktivitas belajar mengajar.Metode pembelajaran yang menarik dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik dalam mata pelajaran Industri Perhotelan di SMK Negeri 1 Manado
dengan pokok bahasan Tipe-Tipe Hotel. Model pembelajaran Discovery Learning dipandang
memiliki kemampuan mendorong peserta didik mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
C. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka hipotesis
tindakan dalam penelitian ini adalah: “Penggunaan model pembelajaran Discovery Learning
dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pelajaran Industri Perhotelan Kelas XI di
SMK Negeri 1 Manado Tahun Pelajaran 2020/2021.

Page | 28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Subjek Penelitian

LOKASI : SMK NEGERI 1 MANADO
WAKTU : Oktober-November 2020
POPULASI: Seluruh Siswa kelas XI-16 SMK NEGERI 1 MANADO
SAMPEL : 30 Siswa Kelas XI-16 Jurusan Perhotelan
3.2 Deskripsi Per Siklus
1. Siklus I
Penelitian ini dilaksanakan paling sedikit 3 siklus setiap siklus terdiri dari 4 langkah, yaitu
perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
1. Perencanaan

Pada tahap ini peneliti menyiapkan Silabus, membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), Modul sesuai Materi, Media yang digunakan, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan
Evaluasi atau Instrumen penilaian baik peserta didik maupun Guru.
2. Tindakan
Pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran dengan model Discovery Learning yang telah
ditentukan. Dalam pembelajaran akan ditempuh seperti pembelajaran pada umumnya yaitu
terdiri dari pembukaan, kegiatan inti dan penutup yang pelaksanannya disesuaikan dengan RPP
yang telah di buat.
3. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh pengamat dari rekan guru sejawat. Pengamatan dilakukan dengan
berpedoman lembar pengamatan yang telah dibuat. Objek pengamatan ada 2 hal yaitu guru dan
peserta didik.

Page | 29

a. Rekan guru sejawat mengamati langkah- langkah proses pembelajaran yang dilakukan oleh
guru mata pelajaran

b. Guru Mapel mengamati aktifitas belajar peserta didik.

4. Refleksi
Pada tahap ini guru bersama rekan sejawat melakukan pengamatan melalui diskusi dari tindakan
yang telah dilakukan. Menginventarisir kekuarangan-kekurangannya untuk diperbaiki pada
siklus berikutnya.
a. Rekan sejawat memberikan masukan kepada guru terkait hal hal yang akan di perbaiki
pada siklus ke 2
b. Guru mengumpulkan / merekap hasil evaluasi dari instrumen yang telah di isi dan
melakukan perbaikan pada siklus ke 2

2. Siklus II
1. Perencanaan
Dalam Perencanaan, kegiatan yang dilakukan adalah membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), Modul sesuai Materi, Media yang digunakan, Lembar Kerja Peserta
Didik (LKPD) dan Evaluasi atau Instrumen penilaian baik peserta didik maupun Guru.
2. Tindakan
Pada tahap ini guru telah membagikan semua link pembelajaran pada siklus 2, kemudian guru
melaksanakan pembelajaran dengan model Discovery Learning yang telah ditentukan. Dalam
pembelajaran akan ditempuh seperti pembelajaran pada umumnya yaitu terdiri dari
pembukaan, kegiatan inti dan penutup yang pelaksanannya disesuaikan dengan RPP yang telah
di buat.
Page | 30

3. Pengamatan dan Evaluasi
pengamatan dan evaluasi dilakukan sebelum, selama dan setelah dilakukannya tindakan
pembelajaran dengan model Discovery Learning , dengan menggunakan alat-alat evaluasi yang
telah disiapkan dalam perencanaan seperti mendata alat yang di gunakan oleh peserta didik
berupa Laptop, computer atau smartphone.

4. Refleksi
pada tahap ini dilakuakn perenungan terhadap 4 komponen tersebut yaitu perencanaan,
tindakan dan pengamatan & 3 evaluasi yang telah dilakukan pada akhir pertemuan siklus , dan
hasil ke dua siklus tersebut akan di olah atau direkap dan dipakai sebagai menyempurnakan
siklus.

3.3 Pengumpulan Data
Tehnik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut
1. Angket
Angket diisi oleh siswa guna mengetahui hasil belajar selama menggunakan penerapan
Discovery Learning setelah akhir siklus, jadi siswa mengisi 3 kali angket
2. Tes
Tes dilakukan setelah akhir siklus, tes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar
kompetensi keahlian Perhotelan. Dengan demikian instrumen yang digunakan adalah soal
online/ siklus. Tes dilakukan tiap akhir siklus. Jadi dilakukan 2 kali.

Page | 31

3.4 Analisis data
Data yang sudah terkumpul dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu penerapan Doscovery
Learning , data motivasi belajar siswa dan data hasil belajar siswa.
1. Analisis data dan pengelolan pembelajaran
Pengelolan pembelajaran diamati dengan lembar pengamatan. Didalam lembar pengamatan
terdiri dari aspek aspek yang diamati. Setiap aspek mendapatkan skor rentang 0 sampai 2.
Mendapat skor 0 bila suatu langka pembelajaran tidak dilaksanakan.
Mendapat skor 1 bila suatu langka pembelajaran dilaksanakan namun kurang maksimal
Mendapat skor 2 bila suatu langka pembelajaran dilaksanakan dengan Maksimal.
Nilai pelaksanaan pembelajaran
Nilai pengelelolan pembelajaran dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
N = s 100
smak s
N = Nilai pelaksanaan pembelajaran
S =Skor Pelaksanaan pembelajaran
S Max= Skor Maksimum Pembelajaran
Predikat Nilai Pelaksanaan Pembelajaran
N < 70 : Kurang
70 < N < 80 : Cukup
80 < N < 90 : Baik
90 < N < 100 : Sangat Baik
2. Analisis Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar diperoleh dari nilai ulangan post tes pada akhir siklus. Dari hasil tes pada akhir
siklus dapat ditentukan nilai tertinggi, nilai terendah dan rata-ratanya. Kategori nilai hasil

Page | 32

belajar ini disesuaikan dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 75. Dengan KKM

tersebut dapat dibuat predikat hasil belajar sebagai berikut.

Nilai Predikat

91 < N < 100 Sangat Baik

82 < N < 91 Baik

75 < N < 82 Cukup

N < 75 Kurang

4.5 Indikator Kinerja (indicator kinerja minimal keberhasilan)
Indikator kinerja penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Batas keberhasilan pelaksanaan pembelajaran adalah 80 (predikat baik)
2. Batas Keberhasilan hasil belajar mencapai KKM yaitu 75 (predikat cukup)

Page | 33

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil penelitian
1.1.1. Siklus I
a. Pelaksanaan pembelajaran
Pada siklus I ini materi yang diberikan adalah Menganalisa dan membandingkan tipe
tipe hotel.
Rencana penelitian pada siklus I ini yang terdiri dari sasaran penelitian dan instrumen
penelitian telah dijelaskan pada Bab III, sedangkan rencana pelaksanaan KBM
merupakan aktivitas guru dan peserta didik selama proses pembelajaran Implementasi
Tindakan dan observasi
Siklus 1 dilaksanakan dengan metode Discovery Learning. sebagai berikut:
a. Diawal pelaksanaan pembelajaran, guru menyampaikan tujuan pembelajaran,
motivasi peserta didik dengan menanyakan apakah peserta didik pernah melakukan
kunjungan / menginap dihotel
b. Pada kegiatan inti atau pelaksanaan dengan metode Discovery Learning peserta
didik diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dalam menentukan dan
menganalisis komponen yang terdapat pada link vedio yang dibagikan. Kemudian
guru melakukan stimulus tentang salah satu gambar berkaitan dengan tipe tipe hotel.
Setelah itu guru memberikan materi ketika sebelum berdiskusi tentang tipe tipe
hotel maka langka awal adalah memastikan peserta didik memperhatikannya
tanggapan yang disampaikan oleh peserta didik yang lain kemudian guru menjadi
Page | 34

fasilitator dalam diskusi berlangsung dan setelah itu peserta didik diminta untuk
mengamati karena di akhir kegiatan peserta didik akan memberikan hasil
diskusinya.
c. Penutup guru melakukan pembahasan hasil tugas dan menyimpulkan akhir dari
pembelajaran menentukan dan menganalisis Tipe-tipe hotel tersebut bersama
dengan peserta didik.

d. Selama proses KBM berlangsung dilakukan pengamatan oleh 3 orang.
a. Rekan sejawat 1 org
b. Tim supervisi 2 org

A. Pengamatan Aktivitas Guru yang di Nilai oleh rekan sejawat atau tim supervisi

Tabel 4.1 Data Hasil Pengamatan Aktivitas Guru

Jumlah Peserta Keterangan

No dan Presentasi 012

Pengamatan

1 Jumlah (30) 1 5 24

2 Presentasi (100%) 3,33 16,67 80,00

Terdapat beberapa catatan kelemahan dari guru pengamat dapat didiskripsikan sebagai
berikut.
1. Kegitan Pendahuluan : Pada point 1. Guru membuka salam dan menyampaikan
indikator pencapaian kompetensi (IPK) kurang lengkap dalam penyampaian IPK.
2. Kegiatan Inti :

Page | 35

 Point 7. Siswa mengamati gambar/ vedio yang ditunjukan oleh guru (Tidak
menayangkan vedio sebagai pengingat)

 Point 13. yaitu tidak sistematis dalam mememberikan LKPD yang di siapkan.
 Siswa mencatat data hasil penyelidikan kelompok dalam Lembar Kerja dan

mengolah data tersebut
3. Penutup :

 Point 19. Guru melakukan evaluasi hasil belajar mengenai materi yang telah
dipelajari siswa secara online melalui geogle classroom

 pada point 21. Menetapkan tindaklanjut, Yaitu materi pada minggu berikut
dapat di akses di geogle classroom maupun link yang telah di bagikan.

B. Hasil Belajar Peserta didik
Tabel 4.2.Data Hasil Pengamatan Aktivitas Guru

Hasil Belajar Peserta Didik

SIKLUS 75

Kriteria Jumlah %

Tdk Tuntas 11 33,3

I Tuntas 19 66,7

Total 30 100%

Rata-Rata 70,83

Berdasarkan data diatas dapat diuraikan bahwa yang belum tuntas adalah sebanyak 11
dari 30 peserta didik dengan rata-rata hasil belajar adalah 70,83 Maka hasil belajar
termasuk kategori (predikat) kurang dan belum mencapai indikator kinerja yaitu 75.

Page | 36

1.1.2. Siklus II

1. Pelaksanaan pembelajaran

Pada siklus II ini materi yang diberikan adalah merumuskan dan menyusun Tipe Tipe

Hotel

Rencana penelitian pada siklus 2 ini yang terdiri dari sasaran penelitian dan instrumen

penelitian telah dijelaskan pada Bab III, sedangkan rencana pelaksanaan KBM sebagai

berikut:

Hari / tanggal : Senin ,9 November 2020

Kelas : XI Perhotelan

Pokok bahasan : Menganalisis dan Mengkategorikan Tipe Tipe Hotel.

Alokasi waktu : 45 menit

Fokus pengamatan :

a. Aktivitas guru selama proses pembelajaran.

b. Aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran.

2. Implementasi Tindakan dan observasi
Siklus II dilaksanakan dengan metode Discovery Learning. sebagai berikut:
a. Kegiatan Pendahuluan: Diawal pelaksanaan pembelajaran, guru menyampaikan
tujuan pembelajaran, motivasi peserta didik dengan menanyakan apakah peserta
didik pernah menginap di hotel Ketika hendak ke suatu tempat.

Page | 37

b. Pada kegiatan inti atau pelaksanaan dengan metode Discovery Learning peserta
didik diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dalam merumuskan dan
menyusun Tipe Tipe Hotel.

c. Penutup guru melakukan pembahasan hasil tugas dan menyimpulkan akhir dari
pembelajaran merumuskan dan menyusun Tipe Tipe Hotel tersebut bersama
dengan peserta didik.

d. Selama proses KBM berlangsung dilakukan pengamatan oleh 3 orang.
c. Rekan sejawat 1 orang
d. Tim supervisi 2 orang

A. Pengamatan Aktivitas Guru yang di Nilai oleh rekan sejawat atau tim supervisi
Tabel 4.3 Data Hasil Pengamatan Aktivitas Guru

Jumlah Peserta Keterangan

No dan Presentasi 012

Pengamatan

1 Jumlah (30) 0 2 28

2 Presentasi (100%) - 6,67 93,33

Masih terdapat beberapa kelemahan yaitu
1. Point 13. Siswa diberikan lembar pengamatan terkait dengan perlengkapan

yang ada pada gambar /vedio tersebut melalui LKPD yang di siapkan.
2. Point 19. Guru melakukan evaluasi hasil belajar mengenai materi yang telah

dipelajari siswa secara online melalui geogle classroom

Page | 38

B. Hasil Belajar Peserta didik

Tabel 4.4 Data Hasil belajar

Hasil Belajar Peserta Didik

SIKLUS 75

Kriteria Jumlah %

Tdk Tuntas 6 20

II Tuntas 24 80

Total 30 100%

Rata-Rata 85,16%

Berdasarkan data diatas dapat diuraikan bahwa ada peningkatan dari hasil belajar namu
masih ada yang belum tuntas adalah sebanyak 6 dari 30 peserta didik dengan rata-rata hasil
belajar adalah 85,16 . hasil belajar termasuk kategori (predikat) Baik dan telah mencapai
indikator indikator kinerja yaitu 75. Namun penulis masih melanjutkan ke siklus 3 untuk
mengukur ketuntasan pada semua peserta didik.

1.1.3. Siklus III
Pelaksanaan pembelajaran
Pada siklus III ini materi yang diberikan adalah merumuskan dan menyusun Tipe Tipe
Hotel berdasarkan lamanya Tamu menginap.

Page | 39

Rencana penelitian pada siklus 3 ini yang terdiri dari sasaran penelitian dan instrumen

penelitian telah dijelaskan pada Bab III, sedangkan rencana pelaksanaan KBM sebagai

berikut:

Hari / tanggal : Jumat, 21 November 2020

Kelas : XI Perhotelan

Pokok bahasan : Menganalisis dan Mengkategorikan Tipe Tipe Hotel.

Alokasi waktu : 45 menit

Fokus pengamatan :

a. Aktivitas guru selama proses pembelajaran.

b. Aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran.

3. Implementasi Tindakan dan observasi

Siklus III dilaksanakan dengan metode Discovery Learning. sebagai berikut:

a. Kegiatan Pendahuluan: Diawal pelaksanaan pembelajaran, guru menyampaikan

tujuan pembelajaran, motivasi peserta didik dengan menanyakan apakah peserta

didik perna melakukan berkunjung ke hotel Ketika hendak ke suatu tempat.

b. Pada kegiatan inti atau pelaksanaan dengan metode Discovery Learning peserta

didik diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dalam menganalisis dan

mengkategorikan Tipe Tipe Hotel.

c. Penutup guru menyimpulkan akhir dari pembelajaran dan merangkum Tipe Tipe

Hotel tersebut bersama dengan peserta didik.

d. Selama proses KBM berlangsung dilakukan pengamatan oleh 3 orang.

 Rekan sejawat 1 orang
 Tim supervisi 2 orang
a. Pengamatan Aktivitas Guru yang di Nilai oleh rekan sejawat atau tim supervisi

Page | 40

Tabel 4.5 Data Hasil Pengamatan Aktivitas Guru

No n Keterangan
012

1 Jumlah (30) 0 1 29

2 Presentasi (100%) - 3,33 96,67

Masih terdapat beberapa kelemahan yaitu Point 21. Menetapkan tindaklanjut,

Yaitu materi pada minggu berikut dapat di akses di google classroom maupun

link yang telah di bagikan.

b. Hasil Belajar Peserta didik

Tabel 4.6 Data Hasil belajar siklus III

No Kriteria n %

1 Tidak Tuntas (< 75) 0 0

2 Tuntas 30 100

(>75)

Total 30 100

Rata-Rata 90,50

Berdasarkan data diatas dapat diuraikan bahwa seluruh peserta didik sudah tuntas rata-
rata hasil belajar adalah 90,50 . hasil belajar termasuk kategori (predikat) sangat baik
dan telah mencapai indicator kinerja yaitu 75.

Page | 41

Rekapan Hasil pengamatan siklus 1 sd 3

SIKLUS No Jumlah Peserta Keterangan
dan Presentasi 012
Pengamatan

1 Jumlah (30) 1 5 24

I

2 Presentasi (100%) 3,33 16,67 80,00

1 Jumlah (30) 0 2 28

II

2 Presentasi (100%) - 6,67 93,33

1 Jumlah (30) 0 1 29

III

2 Presentasi (100%) - 3,33 96,67

Rekapan Hasil Belajar Peserta Didik siklus 1 sd 3

Hasil Belajar Peserta Didik

SIKLUS Kriteria 75 %
I Tdk Tuntas Jumlah 33,3
II 66,7
II Tuntas 11 100%
Total 19 20
Tdk Tuntas 30 80
Tuntas 6 100%
Total 24
Tdk Tuntas 30 0
Tuntas 0 100
Total 30 100%
30

Page | 42

4.2 Pembahasan

Proses Penelitian telah dilaksanakan sesuai dengan recana dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning. dalam 3 (Tiga) Siklus. Dari hasil analisis data menunjukan bahwa
terjadi peningkatan yang signifikan dari siklus ke I, Siklus II dan siklus ke III untuk ke kedua jenis
data, yaitu data Penagamatan pembelajaran oleh tim supervisi dan rekan sejawat dan hasil belajar
peserta didik.
Dari Hasil Pengolahan pada tabel 4.1 dapat disimpulkan bahwa untuk pelaksanaan pembelajaran
pada siklus I, hasil pengamatan diperoleh 80% (kategori Baik) telah mencapai indikator kinerja.
Pada siklus ke II memperoleh 93,33 % (kategori baik) dan telah mencapai indikator kinerja, begitu
juga dengan Siklus III dengan Presentasi 96,67 % (kategori sangat baik.
Untuk hasil belajar Pada siklus I diperoleh nilai 70,83 atau rata-rata nilai 66,67 % (kategori Kurang),
belum mencapai indikator kinerja, sedangkan pada siklus II diperoleh nilai 85,16 atau 80,00%
(kategori baik) sudah mencapai indikator Kinerja dan pada siklus ke III telah memenuhi ketuntasan
di peroleh nilai 90,50 dengan presentasi ketuntasan diatas KKM 100

Page | 43

BAB V PENUTUP
1.1.1 Kesimpulan dan saran

A. Kesimpulan
1. Hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran
Discovery Learning Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 70,83 sebanyak
66,67 persen termasuk kategori tidak tuntas, sedangkan pada siklus II
diperoleh nilai rata- rata 85,16 sebanyak 80,00 persen termasuk kategori
tuntas dan pada siklus ke III ada peningkatan rata-rata nilai menjadi 90,50
sebanyak 100 persen kategori tuntas.

2. Hasil Pengamatan pembelajaran pada ke tiga siklus yaitu: siklus I diperoleh
80 persen termasuk kategori baik. Pada siklus ke II diperoleh 93,33 persen
termasuk kategori baik dan pada Siklus III diperoleh 96,67 termasuk
kategori sangat baik.

B. Saran

a. Untuk semua guru sebaiknya meggunakan media pembelajaran sebagai sarana
untuk mempermudah pemahaman materi pembelajaran.

b. Untuk guru produktif di SMK dapat menggunakan Discovery Learning karena
model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik

Page | 44

DAFTAR PUSTAKA
Buku Penelitian Tindakan Kelas - Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi. Tahun 2017 Buku

bagus cetakan ke-2
Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta:

GAVA MEDIA
Syah. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Warsito, Bambang. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (Malang: Surya Pena Gemilang)
Usman, Uzer, M. 2002. Menjadi Guru Profesional. Edisi kedua. Cet,akkan ke empat belas.

Bandung : PT Remaia Rosdakarya.
Yunahar Ilyas, 2007, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LIPI Pustaka Pelajar
Budiningsih. (2006). Blogspot Discovery Learning.April 2019
darihttp://Akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2008/01/12/Discovery Learning
Djamarah. (2004). Proses Pembelajaran Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.Jakarta: Rineka Cipta
Sesiria. (2005). Evaluasi Hasil Belajar. Surakarta: Pustaka Pelajar.
Sukardi. (2004). Metodologi penelitian pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara
http://www.sandywarman.com/2014/11/tipe-tipe-hotel-klasifikasi-tipe-hotel.html

Page | 45

Lampiran

Page | 46

RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Sekolah : SMK Negeri 1 Manado
: Perhotelan
SATUAN PENDIDIKAN : Industri Perhotelan
KOMPETENSI KEAHLIAN : Tipe-Tipe Hotel Berdasarkan Lamanya Tamu Menginap
MATA PELAJARAN : XI Perhotelan
MATERI POKOK : Ganjil
KELAS : 2020/2021
SEMESTER : 1 x 45 menit
TAHUN PELAJARAN
ALOKASI WAKTU

B. Kompetensi Inti & Kompetensi Kompetensi Dasar:

Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan
faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan
0 lingkup kerja Perhotelan pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks,
KI.3 berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, se ni, budaya, dan humaniora dalam
konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia
kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.

KI.4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur

Page | 47

kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja
Akomodasi Perhotelan. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan
kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja. Menunjukkan
keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu
melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak
mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan
dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

C. Kompetensi Dasar (KD)
3.6 Memahami Tipe-Tipe hotel
4.6 Melakukan Pengelompokan Tipe-Tipe Hotel

D. Indikator pencapaian kompetensi
4.6.1 Menganalisis (C4) Tipe Tipe Hotel Berdasarkan Lamanya Tamu Menginap
4.6.2 Mengkategorikan (C5) Tipe Tipe Hotel Berdasarkan Lamanya Tamu Menginap

Page | 48

E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran Peserta didik dapat:
4.6.1 Menganalisis (C4) Pengelompokan Tipe Tipe Hotel secara komunikatif dan
sistematif dan tanggung jawab
4.6.2 Mengkategorikan (C5) Pengelompokan Tipe-tipe Hotel secara sistimatis

F. Materi Pembelajaran
KLASIFIKASI HOTEL BERDASARKAN LAMANYA TAMU MENGINAP
-Transient hotel
-Semi Transient Hotel
-Residental Hotel

No Kegiatan Deskripsi Alokasi

Kegiatan Guru Kegiatan Peserta Didik Waktu

1 Pendahuluan Orientasi Orientasi 1 menit

 Guru membuka pertemuan  Peserta didik menjawab salam

mengucap salam dengan penuh dengan tertib dan santun

syukur dan santun menggunakan Google Meet

menggunakan Google Meet.

Motivasi Motivasi 2 menit

 Guru meminta ketua kelas  Ketua kelas memimpin doa

memimpin doa dengan tertib memulai pembelajaran dengan

Page | 49

tertib.
 Guru menunjukkan presensi

kehadiran peserta didik dengan  Peserta didik mendengarkan dan

menampilkan data Kehadiran memastikan bahwa telah

peserta didik mengisi Absen Tersebut

Apersepsi Apersepsi 1 menit
 Guru menjelaskan
tujuan  Peserta didik mendengarkan

pembelajaran yang harus penjelasan guru dengan

dicapai peserta didik, baik saksama.

dalam bentuk kemampuan

proses maupun produk dengan

sabar dan tekun.dengan sabar

dan tekun. 1 menit

 Guru menjelaskan manfaat  Peserta didik mendengarkan

penguasan kompetensi dasar ini penjelasan guru dengan

sebagai modal awal untuk saksama

menguasai pasangan

kompetensi dasar lainnya yang

tercakup dalam mata pelajaran

dengan sabar dan tekun
 Guru menjelaskan pendekatan,

model, dan metode

pembelajaran yang digunakan

dengan sabar dan tekun. 1 menit

Page | 50


Click to View FlipBook Version