The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SD NO. 1 KEROBOKAN, 2023-08-12 10:27:00

Seni Menyiksa Diri

Seni Menyiksa Diri

1


2 v


3


4 @2019, Febriawan Jauhari Seni Menyiksa Diri Oleh: Febriawan Jauhari Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penulis Desain sampul: lebahbertakwa v


5 Tentang Febriawan Jauhari terlahir di Lombok, tiga Ramadhan. Biasa dipanggil ‘Jauh’. Sekarang sedang melanjutkan studi di kampus Ibukota. v


6 Daftar Isi Seorang Pesakitan .................................... 7 Kita yang Kotor …................................... 18 Kaum Rebahan ........................................ 25 Dekat yang Jauh ....................................... 38 Membanding-bandingkan......................... 43 Terlalu Keras Kepala................................ 54 Sebelum Meminta .................................... 60 Hanya Karena Kamu Gagal ...................... 67 Tidak Baik-Baik Saja ............................... 41


7 Seorang Pesakitan Berbisik pada diri, "Kira-kira siapa orang yang paling banyak aku kecewakan?" Sebagian diri menjawab, "Aku rasa pasangan hidupmu. Kamu seringkali bersikap egois, emosi berubah-ubah semaumu. Tak terhitung berapa kali ia terluka oleh ketidakperhatianmu tentangnya?"


8 Sebagian diri yang lain menjawab, "Aku rasa orang tuamu. Jika dihitunghitung banyak sekali yang mereka korbankan untuk pertumbuhan dan sekolahmu. Parahnya, kamu sering kali meninggikan nada, berat hati jika diminta melakukan sesuatu, dan lusinan hal-hal yang membuat mereka terluka." Sebagian diri yang lain menjawab, "Aku rasa teman-temanmu. Mereka ada saat bahagia juga sedihmu. Dengan ringan hati meneguhkanmu saat jatuh. Tapi kamu sendiri? Seringkali acuh saat mereka butuh. Kamu tak membersamai saat mereka dihempas badai kehidupan."


9 Aku menunduk, mulai memaki-maki diri, "Dasar tidak tahu terima kasih! Padahal mereka telah memberikan semua, tapi balasanmu sangat tidak manusia!" Tiba-tiba hati nurani terdalam berbisik, "Memang benar kamu membuat mereka kecewa, tapi aku rasa orang yang paling banyak kamu kecewakan, orang yang paling berhak kamu memohon maaf padanya, adalah dirimu sendiri. Lihatlah, dirimu sedang terluka mendapati kenyataan bahwa kamu mengecewakan banyak orang, alih-alih


10 memeluk dan merangkul, kamu malah memaki-makinya. Alih-alih memperbaiki, kamu malah memperkeruh keadaan!" Aku tertegun, apa yang dikatakan oleh hati nurani benar adanya. Hal ini membawaku pada sebuah analogi kejam seorang orang tua dan anaknya. Bayangkan saja, setelah si anak belajar mati-matian, ikut les sana-sini, berangkat pagi pulang malam, saat ujian datang, ia pun berusaha menjawab sebenar dan sebaik mungkin. Akhirnya tak berselang lama keluar juga nilai ujian si anak dan aduhai!


11 ternyata nilainya biasa-biasa saja, bahkan ada yang merah di beberapa mata pelajaran. Serta merta si orang tua tadi marah. Murka semurka-murkanya. "Dasar goblok! Dasar anak tidak berguna!" Teriaknya. Bahkan hampirhampir ia melayangkan tangan menampar si anak. Si anak hanya bisa menangis terluka. Alih-alih merangkul memeluk si anak, si orang tua malah pergi begitu saja, meninggalkan si anak dengan hati yang hancur berkeping-keping. Aku seringkali bertindak seperti orang tua itu, bayangkan setelah diri berjuang


12 mati-matian menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin, tapi masih juga gagal, bukannya merangkul memeluk, aku malah memaki diri sendiri. Membiarkannya tidur di luar rumah, berselimut dingin malam. Wal hasil seringkali diriku menjadi frustasi dan stres. Rasa-rasanya tidak sanggup untuk menjalani hidup lagi. Sungguh, orang yang paling kukecewakan bukanlah pasangan hidup, orang tua atau teman-temanku, tapi yang paling sering kukecewakan adalah diriku sendiri. Sering kali melukainya.


13 Tak terhitung berapa kali kutikam diriku dengan kekhawatiran akan masa depan yang berlebihan. Tak terhitung berapa kali kuhancurkan diriku dengan ketakutan masa lalu yang terus membayangi. Belum lagi keragu-raguan saat akan memulai sesuatu baru. Belum lagi iri terhadap orang-orang. Aku membiarkan diriku hancur. Aku menghancurkan diriku sendiri. Maka kepada diri, kepada hati, kepada aku, dengarlah,


14 "Aku minta maaf padamu. Maaf yang semaaf-maafnya. Betapa aku seringkali membunuh dan menyiksamu. Sehingga pernah beberapa kali kamu ingin menyerah hidup. Kamu ingin mengakhiri saja semua ini. Maaf. Padahal akulah benteng terakhirmu. Orang-orang seantero galaksi boleh saja memakimu, tapi selama aku tidak ikut-ikutan memaki, aku yakin kamu pasti bisa bersabar dan teguh. Tapi naasnya, aku malah seringkali menjadi yang terdepan, ikut memaki-maki,


15 sehingga tak terhitung berapa kali kamu ingin mati saja. Maaf. Mulai hari ini aku berjanji untuk lebih menyayangimu. Menjadi tamengtameng atas kekejaman manusia dan dunia. Menjadi penyangga saat kamu terpuruk jatuh. Aku berjanji. Maka mulai sekarang, berlarilah kejar mimpi-mimpimu, berjuanglah seserius mungkin, terbang dan melesatlah! Jangan takut jatuh, karena ada aku yang siap untuk menangkapmu.


16 Kepada diri, mari berdamai. Mari menjadi utuh."


17 “Tak terhitung berapa kali kutikam diriku dengan kekhawatiran akan masa depan yang berlebihan. Tak terhitung berapa kali kuhancurkan diriku dengan ketakutan masa lalu yang terus membayangi. “


18 Kita yang Kotor Ini cerita lama, izinkanku menceritakannya kembali. Sepasang suami-istri baru saja pindah rumah. Setiap pagi sembari bersenandung ria si istri memasak sarapan untuk sang suami, menghidangkannya di atas meja makan dekat jendela. Mengawali hari dengan duduk berdua, duh romantis nian.


19 Sementara menyantap makanan, pandangan si istri menatap menembus jendela, menemukan tetangga yang sedang menjemur pakaiannya. "Ih jorok banget sih. Pakaiannya masih kotor." Komentar si istri. "Lihat deh, Pa. Masih banyak nodanya." Sang suami melihat sekilas, kemudian kembali membaca koran. Tidak berkomentar apa-apa. Keesokannya harinya, ritual yang sama terulang kembali. Setelah memasak, duduk berdua, melihat dari balik kaca jendela si istri kembali mengomentari


20 cucian si tetangga, betapa tidak becusnya ia. Seperti hari kemarin, sang suami hanya diam. Di hari ketiga, dari balik kaca jendela lagi-lagi si istri berkomentar pedas tentang si tetangga. "Jangan nyuci aja sekalian." Ucapnya ketus. "Pakaian masih kotor gitu kok dijemur!" Karena sudah tak tahan lagi sang suami mengambil beberapa helai tisu, lantas mengusap kaca jendela, seketika berubah bening.


21 "Duhai!" Si istri berseru kaget, "Kok jadi bersih gitu jemurannya?" Iapun tepuk jidat, sadar ternyata selama ini jendelanyalah yang kotor bukan cucian si tetangga. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering terjebak seperti si istri. Orang-orang yang memposting kebahagiaannya di sosial media, menceritakan momen kebersamaannya, prestasi yang diraihnya, perjalanan liburannya, boleh jadi mereka hanya sekedar ingin berbagi kebahagiaan, tak ada niat sombong sedikitpun.


22 Kitanya saja yang terlalu kotor, hati dipenuhi iri, sehingga setiap yang dilihat selalu digelayuti nuansa curiga. "Sombong banget sih! Kenapa harus diposting. Kan bisa dinikmati sendiri? Dasar tukang pamer!" Bukan, bukan mereka yang kotor, tapi kitalah yang kotor. Bahkan jika ia tidak menceritakan apapun, akan selalu ada celah untuk mengomentarinya, 'Ngilang, gak ada kabarlah' atau 'Buat apa main medsos kalau tidak ada postingan' dan selusin komentar lainnya.


23 Karena jendela kita yang kotor maka tak peduli seindah apapun pemandangan di luar, ia tetaplah jelek, bikin kesal dan sakit hati.


24 “Orang-orang yang menceritakan momen kebersamaannya, prestasi yang diraihnya, perjalanan liburannya, boleh jadi mereka hanya sekedar ingin berbagi kebahagiaan, tak ada niat sombong sedikitpun. Kitanya saja yang terlalu kotor, hati dipenuhi iri, sehingga setiap yang dilihat selalu digelayuti nuansa curiga.”


25 Kaum Rebahan Bagi orang-orang malas seperti kita, ujian adalah berkah, mungkin jika tanpanya, kita tidak akan pernah bersungguh-sungguh belajar. Maka walaupun benci sekali ketika musim ujian datang, bahkan benci sebenci-bencinya, aku tetap bersyukur, aku tetap belajar, mempersiapkan diri, membaca buku bahkan begadang sampai malam. Anehnya, ketika musim


26 ujian usai, ada perasaan sedih, sedih karena berpisah dari versi diriku yang rajin, kembali ke rutinitas para pemalas. Maka jika boleh berdoa, Ya Allah jadikanlah semua masa belajarku ujian. *** Bagi orang-orang pendosa seperti kita, masalah hidup adalah berkah, mungkin jika tanpanya, kita tidak pernah kembali merukuk-sujudkan jiwa dan raga untuk Sang Pencipta. Walaupun aku sangat benci masalah, pusing bahkan hampir-hampir kepala meledak dibuatnya, bahkan hati hampir


27 putus asa karenanya, aku sangat bersyukur dengan kehadirannya. Aku bisa merasakan shalat yang luar biasa khusuk, tenggelam dalam doa-doa syahdu, bahkan tak terasa rinai hangat air mata mulai menetes basahi pipi. Layaknya seorang anak yang sedang bermimpi buruk, ketika dibangunkan oleh ibunya dengan cara halus, ternyata ia tidak bangun-bangun, tapi ketika pintu digedor keras atau disiramkan air kepadanya, ia langsung tersentak lantas terbangun. Akupun sama, mungkin selama ini aku tertidur, terlelap dalam kemaksiatan,


28 terlalaikan oleh hiruk-pikuk dunia, semua ini adalah mimpi buruk. Lantas Allah datangkan peringatanperingatan lembut dari orang-orang terdekat, tapi dasar aku! tak jua kunjung terbangun. Akhirnya Allah timpakan masalah yang begitu berat, serta merta membuat terbangun. Alih-alih melihat sebuah masalah sebagai kutukan hidup aku lebih memilih mendefinisikannya sebagai tanda kasih Allah kepadaku. Karena Allah ingin memuliakanku maka Allahpun mengujiku.


29 Karena Allah ingin memperbaiki kualitas hidupku maka Allahpun menimpakan masalah padaku. Pada akhirnya semua ini adalah hal baik. Lantas kenapa begitu stres dan frustasi? *** Bagi orang kekanak-kanakan seperti kita, kegagalan adalah berkah, mungkin jika tanpanya, kita tidak akan pernah dewasa-dewasa. Hal ini mengingatkanku tentang percakapan imajiner dengan gelas keramik di dalam kamar. Motif bunga-


30 bunga menghiasinya, aduhai cantik nian. “Suka sekali melihat keindahan sepertimu. Enak ya menjadi hal yang indah. Dipuji-puji oleh banyak orang.” Bisikku padanya. “Andai saja kamu tahu perjalanan hidupku tentulah kamu akan berpikir sebelum berkata seperti itu.” Jawabnya. “Ceritakanlah. Aku adalah seorang pendengar yang baik.” Aku memperbaiki posisi duduku, siap-siap menyimak.


31 “Dulunya aku hanyalah tanah liat biasa, sampai kemudian seorang pengrajin dengan tangan kotornya mengambilku lantas mencampakkanku ke sebuah roda berputar. Ia mulai memutarmutarkan aku, membuat pusing tiada tara. Akupun berteriak padanya, “Hentikan! Kasihanilah aku! Aku tak tahan!” “Masih belum.” Kata pengrajin itu. Lantas ia mulai menghantam dan meninju-ninjuku berulang-ulang. Aku berteriak kesakitan. “Kumohon hentikanlah! Sakit!”


32 “Masih belum.” Si pengrajin tak sedikitpun menghiraukan tangisanku. Bahkan setelahnya ia melakukan hal yang lebih buruk lagi, ia memasukkanku ke dalam tungku perapian, kemudian mulai membakarku. Aku menjerit sesakit-sakitnya, menangis pilu, “Kumohon hentikanlah! Kasihanilah aku! Kumohon!” Si pengrajin kemudian mengangkatku lantas membiarkanku menjadi dingin selama beberapa waktu. Aku mulai lega, berpikir bahwa mungkin penederitaan telah usai.


33 Tapi tak berselang lama, si pengrajin membawaku kepada seorang wanita muda. Ia mulai mewarnaiku, asap-asapnya membuat mual tiada tara. Aku lagi-lagi berteriak kesakitan, “Kumohon hentikanlah!” “Masih belum.” Bisik wanita itu. Kemudian ia memasukkanku ke tungku perapian. Untuk kedua kalinya aku dibakar. Akupun berteriak kesakitan, menjerit menangis, “Kumohon hentikanlah! Hentikanlah! Aku tak tahan lagi! Bunuh saja aku!”


34 “Masih belum.” Acuh wanita muda itu. Tak beberapa lama kemudian ia mengangkatku kemudian menaruhku di samping cermin. Saat membuka mata menatap cermin aku menejrit terkejut sekaligus terkagum-kagum, lihatlah! Lihatlah! Cermin itu memantulkan sebuah gelas keramik yang sangat indah.” Si gelas keramik menarik napas dalam-dalam, ceritanya selesai sampai disini. “Betapa hebatnya dirimu!” Bisikku kepadanya.


35 *** Sungguh, bagi kaum rebahan seperti kita, yang hatinya lebih condong kepada kemalasan daripada kerajinan, hal-hal berat yang datang dalam hidup adalah berkah. Lebih baik dipaksa berubah menjadi orang hebat daripada dipersilakan berleha-leha menjadi seorang pecundang. Aku selalu percaya bahwa what doesn’t kill you makes you stronger. Jika sesuatu itu tidak cukup kuat untuk membunuhmu, maka hanya akan


36 membuatmu bertumbuh menjadi lebih kuat dan hebat. Maka disinilah aku berteriak, “Wahai kesulitan, wahai kegagalan, wahai keterlukaan, Burulah aku! Sungguh aku disini menunggu kalian. Aku akan menyantap kalian sebelum kalian menyantapku. Aku akan menundukkan kalian, sebelum kalian menundukkanku. Mari bertarung!”


37 “Alih-alih melihat sebuah masalah sebagai kutukan hidup aku lebih memilih mendefinisikannya sebagai tanda kasih Allah kepadaku. Karena Allah ingin memuliakanku maka Allahpun mengujiku. Karena Allah ingin memperbaiki kualitas hidupku maka Allahpun menimpakan masalah padaku.”


38 Dekat yang Jauh Ada yang salah, jika waktu bersama teman-teman lebih menenangkan daripada waktu bersama dengan bunda. Ada yang harus diperbaiki, jika obrolan dengan bibi, bu guru, ibunya teman lebih mengasyikkan daripada obrolan dengan bunda. Bagaimana mungkin orang jauh lebih dekat daripada orang paling dekat?


39 Bagaimana mungkin orang paling dekat lebih jauh daripada orang jauh? Keluh kesah kita kepada teman memang baik, tapi bantuannya hanya sebatas menepuk pundak sembari berkata, "Bersabarlah." Tapi keluh kesah kita kepada bunda jauh lebih baik dan indah akibatnya, dipeluknya dirimu erat, dielus-elusnya kepalamu penuh kasih sayang, tak cukup dengan kata, bahkan jika harus menempuh tujuh samudera, pasti bunda akan melakukannya. Karena kamu adalah dirinya yang kedua.


40 Tidak adil sekali kita, sering sesenggukan menonton film tentang pengorbanan orang tua, tersentuh sembari menyeka ujung mata membaca cerita pengorbanan ibu, bersungutsungut geram melihat berita tentang anak yang melukai ibu-bapaknya. Tapi, sesunggukan dan air mata itu, tidak pernah sampai ke bunda. Tapi kegeraman itu tidak pernah sampai kepada diri sendiri yang sering melukai bunda. Kenapa kita lebih memelih tersentuh oleh kebohongan daripada kenyataan di depan mata?


41 Aneh sekali cara kita menjalani hidup, berjam-jam telponan dengan sang kekasih, bangun tidur - makan bahkan di kamar mandipun masih saling berbalas pesan, tapi tentang bunda, hanya dihubungi sekali seminggu. Apa arti mencintai bunda? Jika tahun kemarin dan tahun ini bakti kita sama saja kepada bunda, sama-sama tidak ada peningkatan, sama-sama masih sering melukai perasaannya, samasama masih hanya sekedar mengucapkan di lisan. Menjilid kenangan buruk, itulah yang harus kita lakukan sekarang. Kenangan-


42 kenangan buruk saat kita menyakiti bunda, mengabaikan perintahnya, marah-marahan karena hal sepele, semua itu haruslah dijilid rapi lantas disimpan di hati, sebagai pengingat bahwa mulai hari ini tak boleh lagi hal yang sama terjadi. Tidak boleh!


43 “Bagaimana mungkin orang jauh lebih dekat daripada orang paling dekat? Bagaimana mungkin orang paling dekat lebih jauh daripada orang jauh?”


44 Membanding Bandingkan Hidup kita bahagia sampai kemudian kita membandingkannya dengan orang lain. Wajah kita indah sampai kemudian kita membandingkannya dengan orang lain. Harta kita cukup sampai kemudian kita membandingkannya dengan orang lain.


45 Maka benar sekali kata pepatah lama itu, “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.” Bagaimana tidak hijau? Sedangkan kita memandangnya dari kejauhan satu kilometer. Seperti gunung, jika kamu adalah seorang pendaki pasti tahu betul bahwa tidak semua bagian gunung ditutupi pohon, bahkan ada yang kering kerontang, tapi kenapa dari jarak serratus kilo ia terlihat begitu hijau dan mempesona? Karena kita melihatnya dari kejauhan!


46 Begitupun dengan orang yang kita jadikan pembanding hidup kita, semisal seorang teman yang memenangkan berbagai macam perlombaan. Ia terlihat begitu mempesona karena kita hanya melihatnya dari kejauhan. Kita tidak tahu berapa kali ia membenturkan kepalanya ke tembok tersebab stres mempersiapkan diri, tak terhitung berapa kali ia berniat menyerah tersebab kerasnya latihan. Kita tidak tahu apa yang sudah ia korbankan sehingga ia bisa mencapai prestasinya yang sekarang.


47 Lantas dengan mudah dan seenak hatinya kita iri kepadanya, berharap bahwa bukan dia yang berdiri disana, tapi kitalah yang mengangkat pialapiala. Sungguh, kita adalah makhluk yang sangat pandai merasakan sesuatu yang tidak ada, dan lupa dengan sesuatu yang ada. Kita pandai sekali merasakan kesuksesan orang-orang terdekat, membuat dada kembang kempis marah menahan iri, tapi kita sangat tidak pandai merasakan kesuksesan sendiri. Mensyukuri apa yang kita miliki.


48 Kita benar-benar payah dalam hal ini. Maka bab syukur adalah salah satu bab terbesar dalam pelajaran kehidupan. Tak terhitung berapa hari kita yang hancur tersebab dihabiskan dengan iri hati. Seorang teman terlibat percakapan unik dengan adiknya. Si adik ingin sekali mengganti hape. “Sudah butut”, ketusnya. Wal hasil ia uring-uringan selama beberapa hari, tidak konsentrasi sekolah dan merengek-rengek ke orang tua.


49 Maka teman ini berkata kepadanya, “Kenapa tak mensyukuri hapemu yang sekarang saja?” “Bagaimana akan bersyukur jika hapenya jelek seperti ini? Aku cukup yakin dengan hape baru akan bisa bahagia.” “Belum tentu. Sebelum kamu memilikinya saja sudah membuatmu gelisah selama berhari-hari, terlebih jika nanti kamu memilikinya.” Sergah si teman. Kita seringkali mendefinisikan kebahagiaan itu adalah tentang


50 mencari, padahal kebahagiaan adalah tentang menemukan. Kita seringkali mendefinisikan kebahagiaan itu adalah tentang dia, padahal kebahagiaan adalah tentang kita. Daripada bersusah-susah mencari dia, kenapa kita tidak berusaha menemukan kita saja? Mencari belum tentu menemukan, tapi menemukan sudah tentu mendapatkan. Mencari kebahagiaan pada barang ini atau itu, orang ini atau itu, tempat ini atau itu, belum tentu kita menemukan


Click to View FlipBook Version