51 kebahagiaan itu. Tapi ketika kita melihat ke diri sendiri, menghitunghitung yang kita punyai, tentang mata, telinga, juga lisan yang masih baik-baik saja, tentang orang tua, kerabat juga temanteman yang selalu peduli, tentang hal-hal sederhana lainnya, masih bisa menghirup udara, merasakan hangat mentari, juga teduhnya hujan, maka sungguh kita akan menemukan diri tertakjub-takjub, ternyata apa yang
52 kita miliki jauh lebih banyak daripada yang belum kita memiliki. Perasaan ini membuat kita bersyukur. Rasa syukur ini terus-terusan membesar, kemudian membesar dan terus membesar, sampai-sampai tidak ada waktu lagi untuk membandingkan diri dengan orang lain. Karena tidak ada waktu untuk membandingkan diri dengan orang lain, kitapun bisa lebih fokus dengan pekerjaan kita. Wal hasil pekerjaan menjadi cepat tuntas dan kualitasnya sangat memuaskan. Perlahan tapi pasti, kehidupan kita mulai melesat.
53 Kehidupan kita baik-baik saja sampai kemudian kita membandingbandingkannya dengan orang lain. Mengcopy-paste standar kesuksesan mereka. Wal hasil kita tidak puas diri! Dan diantara ribuan cara untuk menikmati hidup kita malah memilih untuk menikmatinya dengan cara menyiksa diri!
54 “Kita pandai sekali merasakan kesuksesan orang-orang terdekat, membuat dada kembang kempis marah menahan iri, tapi kita sangat tidak pandai merasakan kesuksesan sendiri. Mensyukuri apa yang kita miliki.”
55 Terlalu Keras Kepala Jika kamu menatap laki-laki muda itu belakangan ini, kamu akan dapati pelangi membentang di matanya. Senyum selalu merekah di bibir. Bawaannya selalu bahagia. Coba tebak kenapa? Akhir-akhir ini ia sedang dekat dengan seorang mahasiswi sekampus tapi beda fakultas. Lima hal yang membuat hatinya kesemsem tidak karuan,
56 pertama, dia begitu cantik. Kedua, ia cerdas, saat diajak diskusi bahkan tentang politik masyarakat planet plutopun bakal nyambung. Ketiga, solehah, agamanya bagus sekali. Keempat, alhamdulillah belum ada yang mengkhitbah. Kelima, dan ini yang paling penting, sepertinya dia juga memiliki rasa yang sama. Tolong garis bawahi kata "sepertinya". Siang-malam, pagi-petang pikiran lelaki muda itu dipenuhi tentang sang mahasiswi. Perlahan tanpa disadari, mulai tumbuh keyakinan bahwa dialah jodohnya, bahkan sangat pasti dialah jodohnya. Dibayangkannya sebuah
57 rumah sederhana, tempat mereka tinggal bersama, melarungi bahtera rumah tangga. Setelah mengumpulkan semua keping keberanian, akhirnya lelaki muda itu mengungkapkan semuanya, dari Alif sampai Ya'. Sebuah iktikad baik untuk menjejaki jenjang keseriusan. Seperti ini kurang-lebih jawaban sang perempuan, " Maaf, saya masih ingin sendiri." Bagai meteor yang menghujam bumi, luluh lantah hati lelaki muda itu. Ia lebur selebur-leburnya, hancur berkeping-keping. Bagai tenggelam
58 jauh ke dasar samudera, tiba-tiba dunia begitu gelap. Sungguh menyedihkan. Jadinya, apa yang salah dari kisah ini? Jawabannya mudah, lelaki muda ini tidak menyertakan Allah dalam harapannya. Seolah-olah dia memiliki kuasa mutlak untuk menentukan jodohnya. Sehingga ketika tidak berjalan sesuai yang diharapkan, iapun melebur hancur. Parahnya, dalam banyak episode kehidupan, kita sering berlaku seperti lelaki muda diatas. Seolah-olah memiliki kekuasaan untuk menentukan akhir sebuah cerita. Menjadi saingan
59 dari tuhan. Betapa congkak dan sombong. Maka bijak sekali apa yang Rasulullah ajarkan kepada kita dalam doa istikharoh, "Jika ia baik maka mudahkanlah, jika ia buruk maka jauhkanlah." Terjawab sudah, kenapa kita kecewa? Bukan karena berharap agar sesuatu itu terjadi tapi meyakini bahwa harapan itu pasti terjadi
60 “Parahnya, dalam banyak episode kehidupan, kita sering berlaku seperti lelaki muda diatas. Seolaholah memiliki kekuasaan untuk menentukan akhir sebuah cerita. Menjadi saingan dari tuhan. Betapa congkak dan sombong.”
61 Sebelum Meminta Teduh laki-laki itu berbisik kepada perempaun yang paling ia sayangi itu, “Sebelum kamu memintaku untuk menerima masa lalumu, bersediakan kamu terlebih dahulu menerima masa lalumu? Sebelum kamu memintaku untuk menerima lebih dan kurangmu, bersediakan kamu terlebih dahulu menerima lebih dan kurangmu?
62 Sebelum kamu memintaku untuk memahamimu, maukah kamu terlebih dahulu untuk memahami dirimu sendiri? Sungguh, mudah bagiku untuk menerima masa lalumu, juga kurang dan lebihmu, apalagi memahamimu, tapi selama kamu sendiri tidak berdamai dengan masa lalumu, juga kurang dan lebihmu, serta memahami dirimu sendiri, maka setulus dan seteguh apapun cinta dan penerimaanku tidak akan memberi manfaat apa-apa, hanya menjadi sia-sia.
63 Sungguh, cintaku bisa membuatku ikhlas menerimamu, tapi apakah cintamu pada dirimu sendiri cukup mampu membuatmu mau menerima dirimu?” *** Benar sekali apa yang dibisikkan lakilaki ini, dalam banyak kasus kita sering meminta untuk dipahami, nyatanya kita sendiri tidak memahami diri sendiri. Dalam banyak kasus kita menuntut orang-orang sekitar untuk mau ikhlas menerima kegagalan kita, tapi di satu sisi kita sendiri masih stres karenanya, kepikiran terus menerus.
64 Dalam banyak momen kita menuntut orang-orang untuk tidak terlalu mempedulikan masa lalu kita, update quote-quote bijak di sosial media, nyatanya kita sendiri masih menangisinya, masih trauma, masih berkabung kesedihan. Sungguh, orang-orang terdekat kita sangat menyayangi kita. Sangat bisa menerima apa adanya kita. Tapi apakah kita juga seperti mereka? Cobalah curhat kepada ayah dan ibu tentang betapa kamu sangat tidak bisa menjadi manusia yang membanggakan, maka serta merta mereka akan
65 menjawab seperti ini, “Mungkin kamu memang tidak cukup membanggakan bagi semua orang, tapi percayalah di hati kami kamulah yang paling membanggakan.” Cobalah curhat kepada sahabat terbaikmu, tentang betapa gagalnya dirimu, maka serta merta ia akan berbisik seperti ini, “Mungkin kamu tidak cukup hebat untuk semua orang, tapi percayalah di hatiku kamulah sehabat terhebatku.” Cobalah curhat kepada pasangan hidupmu tentang betapa tidak percaya dirinya kamu dengan wajah
66 sederhanamu, maka serta merta ia akan berbisik lembut seperti ini, “mungkin kamu tidak cukup cantik bagi semua orang, tapi percayalah, di mataku kamulah yang tercantik.” Akhirnya kamupun tersadar bahwa selama ini, kitalah yang telah menistakan diri kita sendiri, kitalah yang terlalu takut dengan perkataan orang-orang. Padahal mereka fine-fine saja. Maka sebelum menuntut orang-orang untuk berdamai dengan kita, mari terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri.
67 “Dalam banyak momen kita menuntut orang-orang untuk tidak terlalu mempedulikan masa lalu kita, update quote-quote bijak di sosial media, nyatanya kitas sendiri masih menangisinya, masih trauma, masih berkabung kesedihan.”
68 Hanya Karena Kamu Gagal Hanya karena kamu gagal pada tanggung jawab itu, bukan berarti kamu pasti akan gagal pada tanggung jawab kali ini. Hanya karena masa lalumu gelap, bukan berarti masa sekarangmu juga pasti gelap. Lebih-lebih takut berlebihan bahwa masa depanmu juga akan tak kalah pekatnya.
69 Jangan biarkan hal-hal yang tidak bisa kamu ubah mempengaruhi hal-hal yang bisa kamu ubah. Bukankah kemarin hari yang berdiri sendiri, dan hari ini juga hari yang berdiri sendiri? Kenapa bersikeras menggabungkan dua hari yang memang terpisah, yang memang berdiri sendiri? Bukankah ini tindakan konyol?! Seperti seseorang yang pergi ke teater kemudian membeli dua tiket dengan jam tayang yang sama. Apakah mungkin baginya untuk menonton
70 kedua pertunjukan dalam waktu bersamaan? Mustahil! Semustahil kita yang berusaha untuk hidup di dalam dua masa: masa sekarang dan masa lalu? Apapun yang terjadi di masa lalu, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, jangan sampai kegagalan di masa lalu terbawa-bawa di masa sekarang, wal hasil kita tidak berani untuk melangkah, merasa berat untuk mengambil tanggung jawab.
71 Memang ada trauma yang masih membekas, membuat ragu, tapi keraguan dan kekhawatiran ini bukan malah menjadi sebab kita tidak berani mengambil kesempatan itu. Justru ini menjadi senjata terkuat kita. Seorang teman tiga kali mendaftar untuk masuk ke kampus yang sama, tapi ia tak kunjung-kunjung jua lulus. Bukannya melemah, ia malah bertambah semangat, karena pada percobaan yang keempat kali ia memiliki apa yang tidak dimiliki oleh pendaftar lain, pertama, ia paham selukbeluk soal. Kedua, ia tidak grogi karena
72 sudah terbiasa tiga kali di posisi dan momen yang sama. Ketiga, ia memiliki persiapan yang jauh lebih matang daripada yang lain. Dan benar saja, pada percobaan keempat kali ini iapun berhasil lulus. Kini wajahnya berbinar-binar menikmati menjadi mahasiswa di kampus favoritnya itu. Kita juga sama, kegagalan kita bukanlah sebuah kejatuhan, tapi pembelajaran, membuat kita sadar kekurangan-kekurangan yang kita miliki.
73 Trauma yang membekas, yang menciptakan kekhawatiran bukan agar kita berhenti melangkah, melainkan agar kita bisa berhati-hati melangkah. Kehati-hatian yang tidak dipunyai oleh pesaing kita, wal hasil kita bisa melesat jauh lebih cepat dan jauh lebih jauh. Atau semisal seorang teman yang stres melihat nilai ujiannya yang sangat tidak memuaskan. Bukannya malah menyerah, ia bertambah gila dalam belajar. Inilah yang membedakan orang besar dengan orang kerdil, orang besar melihat sebuah kegagalan sebagai
74 dorongan untuk memecut diri agar maju, sedangkan orang kerdil melihat sebuah kegagalan sebagai siksaan untuk memcut dirinya agar mati. Maka seperti kuda, semakin kencang pecutannya semakin cepat ia berlari, maka bagi orang berjiwa besar semakin besar sebuah kegagalan semakin ia bersemangat untuk bangkit dan mencoba lagi. Bukankah kamu sendiri sering melihatnya, di televisi-televisi atau kanal-kanal youtube tentang orangorang terkaya di dunia yang bercerita
75 sejarah hidup mereka, hampir tak ada satupun yang tak pernah gagal. Bahkan sebagian mereka bangkrut, dililit hutang milyaran. Tapi alih-alih menyerah, mereka memilih berdiri tegar melawan. Mencoba membalikkan keadaan, berjuang memenangkan pertandingan. Ketika kita sukses besok lusa, kegagalan kita bukan lagi kegagalan, tapi sebuah proses yang akan menginspirasi jutaan manusia. Tapi coba bayangkan jika mereka memilih untuk berhenti, menyerah karena trauma, akankah mereka bisa
76 sampai di posisi mereka yang sekarang?! Maka lepaskanlah! Lepaskanlah dirimu. Biarakan hal-hal yang bisa kamu lakukan menghapus hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan. Biarkan suksesmu memenangkan kegagalanmu. Biarkan masa sekarangmu memenangkan masa lalumu!
77 “Lepaskanlah dirimu. Biarakan hal-hal yang bisa kamu lakukan menghapus hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan. Biarkan suksesmu memenangkan kegagalanmu. Biarkan masa sekarangmu memenangkan masa lalumu!”
78 Tidak Baik Baik Saja Kapan aku tahu kehidupanku tidak sedang baik-baik saja? Pertama, saat aku iri terhadap seseorang. Kita tak pernah iri dengan seseorang yang mendapatkan bagian lebih sedikit dari kita. Kita selalu iri kepada yang lebih hebat, lebih cerdas dan lebih maju. Dari sini aku belajar, sejatinya aku jauh tertinggal, aku lebih bodoh dan payah darinya. Dan ini
79 sangat tidak baik-baik saja. Ada kualitas yang harus diperbaiki. Maka daripada menyibukkan diri menjatuhkannya, aku lebih memilih untuk belajar darinya, memintanya jika berkenan mengajarkan prinsip dan gagasan yang ia terapkan. Aku harus lebih baik darinya. Kedua, saat aku dikritik oleh orangorang. Sekotor-kotornya mulut pengkritik pasti ada satu-dua yang benar. Karena jika tidak benar, mengapa kita berlelah-lelah marah meladeninya? Bukankah kita tersinggung karena ada bagian dari
80 kritiknya yang seolah melukai harga diri kita? Dan ini berarti ada yang kurang dari pekerjaan atau sikapku. Ini tidak baik-baik saja. Maka daripada menyibukkan diri membalas dan berdebat, walau perih aku lebih memilih mengambil kritiknya, mengevaluasi diri. Bukankah di luar sana ada orang yang membayar mahal untuk mengevaluasi perusahaannya, syukur-syukur disini ada yang mau bermurah hati melakukannya. Ketiga, saat aku jatuh dan gagal. Aku tak pernah menyalahkan keadaan atau
81 kesempatan yang kurang bersahabat. Aku gagal karena usahaku yang kurang maksimal. Aku jatuh karena ketidak hati-hatian dalam melangkah. Bukankah anak panah harus ditarik ke belakang baru ia bisa melesat menuju papan bidikan? Begitupun filosofi kegagalan. Maka daripada menyibukkan diri dengan mengutuki pribadi, aku lebih memilih untuk mengobarkan semangat, mengaung sekali lagi. Bukankah singa yang terluka lebih dahsyat terkemannya daripada yang santai-santai saja? Bukankah potensi kita akan maksimal saat kita di ambang batas kehancuran?
82 Bukankah setiap kebangkitan superhero terjadi justru ketika sangat terpuruk? Kapan aku tahu kehidupanku tidak sedang baik-baik saja? Saat momen terburuk dan terberat dalam hidup. Aku selalu yakin mereka datang bukan untuk melemahkanku, tapi untuk melecut lantas kembali bergerak menuju kejayaan.
83 “Kapan aku tahu kehidupanku tidak sedang baik-baik saja? Saat momen terburuk dan terberat dalam hidup. Aku selalu yakin mereka datang bukan untuk melemahkanku, tapi untuk melecut lantas kembali bergerak menuju kejayaan.”
84