The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Tri Nanik Wulandari, 2022-02-12 08:25:09

DIKTAT GENAP FIX 2

DIKTAT GENAP FIX 2

1

KATA PENGANTAR

Pembelajaran di masa Pandemi Covid- 19 menuntut guru untuk menyusun
bahan ajar yang mampu membantu peserta didik dalam memahami materi dalam
suatu mata pelajaran. Bahan ajar yang berisi ringkasan materi kadang lebih diminati
peserta didik dibandingkan yang terlalu banyak memuat materi yang kupasannya
sangat luas.

Diktat Analisis Kimia Dasar ini disusun dalam upaya membantu peserta didik
dalam memahami materi mendasar di Kelas X Semester Genap. Mata Pelajaran
Analisis Kimia Dasar merupakan kelompok Mata Pelajaran C2 (Dasar Program
Keahlian) yang mendasari peserta didik menuju kelompok Mapel C3 (Kejuruan).
Dengan diktat ini diharapkan peserta didik terbantu dan bersemangat untuk
berliterasi sehingga akhirnya mampu menguasai materi baik kognitif maupun
psikomotor dalam mata pelajaran Analisis Kimia Dasar. Diktat ini disusun dengan
mengacu dari berbagai sumber yang relevan, yang dapat ditelusuri untuk
mempelajari materi secara lebih luas. Diktat ini telah disahkan oleh Kepala Cabang
Dinas Pendidikan Wilayah V untuk dapat digunakan sebagai Bahan Ajar pendamping
Bahan Ajar yang sudah ada selama ini.

Kami menyadari diktat ini masih jauh dari sempurna, untuk itu mohon saran
dan masukan yang bersifat membangun agar kualitas diktat ini semakin baik.

Klaten, Agustus 2021
Penulis

2

BAB I
PENGELOMPOKAN & PENATAAN BAHAN KIMIA

B. Kompetensi Dasar

3.5 Menganalisis sifat bahan kimia berdasarkan tanda bahaya bahan kimia
dan penanganannya sesuai MSDS

3.6 Menganalisis MSDS bahan kimia
4.5 Mengelompokkan bahan kimia dan penanganannya berdasarkan tanda bahaya

sesuai MSDS
4.6 Melakukan penataan bahan kimia sesuai sifat dan data keselamatan bahan

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah melaksanakan kegiatan literasi, diskusi, praktikum, peserta didik diharapkan
mampu:
1. Menganalisis sifat bahan kimia berdasarkan tanda bahaya dan informasi dari label

bahan kimia
2. Menganalisis informasi yang terdapat dalam MSDS bahan kimia
3. Melakukan penanganan bahan kimia berdasar MSDS

D. Ringkasan Materi
1. BAHAN KIMIA
Semua proses dalam industri kimia secara umum digambarkan dalam
diagram sebagai berikut:

Diagram Proses Produksi

3

Pengertian BAHAN KIMIA

Bahan Kimia adalah semua materi dalam bentuk padat, cair atau gas yang berupa unsur atau
senyawa, zat tunggal atau campuran dan mempunyai sifat khusus.
Contoh merek bahan kimia : “Merck” (jerman), Baker Chem (AS), Fluka (Swiss)

Pengelompokkan BAHAN KIMIA

PENJELASAN BAHAN KIMIA ALAM
Bahan Kimia Alam dibedakan menjadi:

1. HASIL TAMBANG  emas, perak, timah, besi
2. MINYAK BUMI  Bensin, solar, minyak tanah
3. PRODUK PERTANIAN  Karbohidrat, protein, lemak, mineral
PENJELASAN BAHAN KIMIA SINTETIK
Bahan Kimia Sintetik dibedakan menjadi:
1. POLIMER  PVC, plastik, karet, nilon
2. ADITIF MAKANAN pemanis sintetis, sakarin, siklamat, aspartam
3. CITA RASA SINTETIK vanili, menthol
4. BHN KIMIA DI LAB  As. Sulfat, hidroksida, as. Klorida, dll
PENJELASAN BHN KIM METABOLIT
Contohnya
1. ASAM CUKA hasil fermentasi air kelapa
2. ALKOHOL hasil fermentasi/ peragian singkong
3. ASAM LAKTAT  hasil pengasinan

4

Tingkat Kemurnian BAHAN KIMIA

BAHAN KIMIA TEKNIS
 agak kasar
 masih mengandung sedikit zat-zat kimia lain yang

dianggap mencemari zat asli (bahan baku),
 digunakan untuk percobaan yang tidak

memerlukan ketelitian tinggi

BAHAN KIMIA PURIFIED
 zat kimia ini lebih sempurna dari zat kimia teknis
 dapat digunakan untuk beberapa jenis percobaan dan

analisis

BAHAN KIMIA PRO ANALIS (pa)
 zat kimia ini sangat sempurna
 dapat atau harus digunakan untuk analisis yang

memerlukan ketelitian tinggi

2. JENIS DAN SIFAT BAHAN KIMIA

2.1 BAHAN KIMIA BERACUN
 Faktor yang menentukan apakah zat berbahaya
atau aman adalah HUBUNGAN ANTARA
KONSENTRASI/ DOSIS BAHAN KIMIA & EFEK
RACUN YANG DIHASILKANNYA
 DOSIS adalah junlah bahan kimia yang diserap
(melalui penghirupan, pencernaan atau
penyerapan melalui kulit)’
 Untuk mengetahui hubungan antara dosis & efek racun yang ditimbulkan
sering digunakan istilah LD50 dan LC50

5

 LD50 = LETHAL DOSE 50
Adalah dosis yang menyebabkan kematian pada 50% binatang percobaan.
LD50 merupakan jumlah bahan kimia yang dapat membunuh setengah dari
jumlah hewan uji saat bahan kimia tsb dicerna. Satuan LD 50 adalah miligram
atau gram per berat badan

 LC50 = LETHAL CONCENTRATION
Adalah konsentrasi yang menyebabkan kematian pada 50% binatang
percobaan.
Satuan LC50 adalah bagian per juta, atau miligram per liter atau mg/m3. Istilah
LC 50 sering digunakan untuk bahan kimia yang mudah menguap.

 Kadar racun dalam bahan kimia SULIT DIPREDIKSI dan merupakan bahaya
yang sering dihadapi di area kerja industri.

 Masuknya bahan kimia ke dalam tubuh dapat melalui:
- Mulut
- Absorbsi kulit
- Pernafasan

 PENCEGAHAN PAPARAN BAHAN KIMIA BERACUN

Jalur Masuk Tindakan Pencegahan

Melalui Mulut a. Hindari makan, minum atau merokok saat bekerja
b. Cuci tangan dan mengeringkannya sebelum meninggalkan
Melalui Absorbsi
kulit laboratorium
Melalui Pernafasan c. Jangan menggunakan pipet hisap dengan mulut

a. Mencegah kontak dengan kulit
b. Gunakan sarung tangan / safety gloves
c. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir

a. Gunakan bahan di tempat berventilasi baik
b. Jika bahan tidak digunakan segera tutup wadah/ botol-nya
c. Gunakan APD sesuai kebutuhan
d. Berikan label bahan secara jelas dan simpan bahan di tempat aman
e. Dilarang mencium bahan kimia secara langsung, tetapi kibaskan

dengan jari
f. Taburkan pasir, tanah atau bahan penyerap lainnya jika bahan tumpah ke

lantai, kemudian uapkan tanah/ pasir dengan oven

6

 PENYIMPANAN Bahan Kimia Beracun
Penyimpanan bahan kimia beracun yang bersifat karsinogen, dan bahan kimia
dengan tingkat toksisitas/ daya racun tinggi dapat dilakukan dengan cara:
1. Menyimpan bahan dalam ruang berventilasi dengan pengaman sekunder resisten
secara kimia dan anti pecah
2. Memberi label tanda bahaya/ peringatan
3. Inventarisasi bahan kimia beracun harus jelas
4. Membatasi akses orang keluar masuk ke area penyimpanan

2.2 BAHAN KIMIA MUDAH TERBAKAR
 Pengertian Bahan Kimia Mudah Terbakar
Adalah :Bahan kimia yang siap memantik api dan
terbakar di udara. Bahan ini merupakan bahan yang
dapat meledak (terbakar) jika bercampur atau
terdispersi dengan udara.
 Bahan ini dapat berwujud cairan mudah menguap,
gas, atau padatan dalam bentuk debu.
 Bahan kimia yang mudah terbakar (flammable)
mempunyai titik nyala 22oC – 66oC. Sedangkan bahan yang sangat mudah
terbakar (highly flammable) titik nyala < 22oC , seperti aseton, eter.
 Cara paling baik mencegah kebakaran dari bahan ini adl mencegah munculnya
uap dan sumber pemantik api.
 Titik Nyala : suhu terendah dimana cairan memiliki tekanan uap cukup untuk
membentuk campuran yang dapat menyala dengan udara di sekitar
permukaan cairan. Bahan cair organik umumnya memiliki titik nyala di bawah
suhu ruang
 Suhu Penyulutan/ Titik Bakar : suhu minimal yang untuk memulai atau
menyebabkan mandiri tanpa tergantung sumber panas. Semakin rendah titik
bakar, semakin besar potensi terjadinya kebakaran
 Batas Kemudahbakaran, dibedakan menjadi 2:
- Ambang ledakan bawah
- Ambang ledakan atas
 CONTOH ZAT PADAT MUDAH TERBAKAR : belerang (S) , fosfor (P), hidrida
Logam
 CONTOH ZAT CAIR MUDAH TERBAKAR : PELARUT ORGANIK: eter, alkohol,
aseton, benzena, heksana ; Petroleum eter, metil isobutil keton, Karbondisulfida

 CONTOH GAS MUDAH TERBAKAR: HIDROGEN (H2) , ASETILEN (C2H2), ETILEN
OKSIDA , GAS ALAM (CH4)

7

2.3 BAHAN KIMIA MUDAH TERBAKAR (EKSPLOSIVE)

 Bahan kimia mudah meledak bila reaksi kimia bahan
tersebut menghasilkan gas dlm jumlah dan tekanan yg
besar serta suhu tinggi shg menimbulkan kerusakan di
sekelilingnya dan Peka thd panas dan
gesekan/tumbukan, contoh :
- TNT (trinitrotoluena)
- Nitrogliserin
- Amonium nitrat

 CONTOH STRUKTUR DAN SENYAWA EXPLOSIVE
- Diaszo : C-N2
- Asetilen : C=C

 CAMPURAN BAHAN BERSIFAT EXPLOSIVE
- OKSIDATOR dengan REDUKTOR
- Kalim klorat, natrium nitrat – C, belerang
- Asam nitrat – etanol
- Kalium permanganat – gliserol
- Krom oksida – hidrasin

2.3 BAHAN KIMIA REAKTIF TERHADAP AIR
 Bahan yg bila bereaksi dgn air akan mengeluarkan panas dan gas mudah
terbakar (bereaksi dgn air scr eksotermik), Contohnya:
- Alkali & alkali tanah
- Garam halida anhidrat
- Oksida anhidrat
- Oksida nonlogam halida (sulfuril klorida)
 Karena banyak dari bahan ini yang mudah terbakar, maka tempat
penyimpanan bahan ini harus tahan air, berlokasi di tanah yang tinggi,
terpisah dari penyimpanan bahan lainnya, dan janganlah
menggunakan sprinkler otomatis di dalam ruang simpan.
 Cara Penyimpanan bahan reaktif terhadap air
- Dijauhkan dari air
- Disimpan dlm ruang kering
- Bebas dr kebocoran air hujan

2.4 BAHAN KIMIA KOROSIF
 Bahan yg krn reaksi kimia dpt merusak logam ,
misalnya : Asam sulfat, Asam nitrat, NaOH,
Kalsium hidroksida, Gas belerang dioksida

8

2.5 BAHAN KIMIA IRITAN
 Bahan yang karena reaksi kimia dapat menimbulkan
kerusakan atau peradangan atau iritasi bila kontak
dengan permukaan kulit yang lembab seperti kulit,
mata, saluran pernafasan pada umumnya bahan
korosif , seperti:
- Asam trikloroasetat,
- asam sulfat,
- Gas belerang dioksida
 KERUSAKAN yang bisa timbul karena bahan IRITAN :
- Luka
- Radang
- Iritasi (gatal-gatal)
- Sensitisasi (jaringan menjadi amat peka terhadap bahan kimia)
 CONTOH BAHAN IRITAN PADAT
- Bahaya bila kontak dgn mata atau kulit
- Anorganik: NaOH, natrium silikat, KOH, kalsium hidroksida
- Organik: asam triklorasetat, fenol
 CONTOH BAHAN IRITAN CAIR
- Bahaya bila kontak dgn kulit atau mata, yg menyebabkan proses
pelarutan atau denaturasi protein
- Anorganik: asam sulfat, asam nitrat, HCl
- Organik: asam format, asam asetat, karbon disulfida, hidrokarbon
terhalogenasi
 CONTOH BAHAN IRITAN GAS
Bahaya bila terhirup, merusak saluran pernafasan
1. Gas amat larut dlm air: merusak saluran pernafasan bag atas
(amoniak,HCl, formaldehida, asam asetat, HF)
2. Gas kelarutan dlm air sedang: merusak saluran pernafasan bag atas &
bag dalam (klorin, sulfur dioksida, bromin) 3. Gas sedikit larut: merusak
alat pernafasan bag dalam (ozon, fosgen, nitrogen dioksida)

2.6 BAHAN KIMIA OKSIDATOR
 Bahan tidak dpt terbakar tapi dpt menghasilkan

oksigen yg dpt menyebabkan kebakaran pd bahan

lain atau ledakan
 Bersifat explosive krn sangat reaktif, tidak stabil,

mampu menghslkan oksigen dlm reaksi atau

penguraiannya
 CONTOH OKSIDATOR ANORGANIK : Permanganat ,

9

Perklorat , Dikromat, Hidrogen peroksida, Periodat, Persulfat
 Peroksida organik dpt terbentuk pd penyimpanan pelarut organik spt eter, keton,

ester, senyawa tidak jenuh.

2.7 BAHAN KIMIA RADIOAKTIF

 Bahan kimia radioaktif adalah bahan kimia yang
mempunyai kemampuan memancarkan sinar
radioaktif dengan aktivitas jenis lebih besar dari
0,002 microcurie/gram.

 Radiasi dari bahan radioaktif dapat menimbulkan
efek somatik dan efek genetik, efek somatik dapat akut atau kronis.

 Pemakai zat radioaktif dan sumber radiasi harus memiliki instalasi fasilitas
atom, tenaga yang terlatih untuk bekerja dengan zat radioaktif, peralatan
teknis yang diperlukan dan mendapat izin dari BATAN (Badan Tenaga Atom
Nasional)

2.8 BAHAN KIMIA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN
 Bahan kimia pencemar lingkungan adalah bahan kimia
yang apabila dilepas langsung ke lingkungan, baik itu
ke tanah, udara, perairan, atau ke mikroorganisme
dapat menyebabkan kerusakan ekosistem.

2.9 GAS BERTEKANAN

 Silinder dengan gas-gas bertekanan harus disimpan

dalam keadaan berdiri dan diikat dengan rantai atau
diikat secara kuat pada suatu penyangga tambahan.

 Ruang penyimpanan harus dijaga agar sejuk, bebas

dari sinar matahari langsung, jauh dari saluran pipa
panas di dalam ruangan yang ada peredaran udara.

 Gedung penyimpanan harus tahan api dan harus ada tindakan preventif agar

silinder tetap sejuk bila terjadi kebakaran, misalnya dengan memasang sprinkler.

10

2.10 BAHAN KIMIA KARSINOGEN
 Karsinogen adalah zat yang dapat menyebabkan

penyakit kanker. Zat-zat karsinogen menyebabkan kanker
dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-
sel tubuh, dan hal ini mengganggu proses-proses biologis.
 Karsinogen bisa berasal dari lingkungan sekitar dan dapat masuk ke dalam tubuh
melalui pencernaan, radiasi dan udara atau pernapasan (ventilasi). Contoh
Karsinogen pada zat kimia adalah nitrosamin yang juga terbentuk dari proses
memanggang dan terdapat pada rokok serta makanan. Karsinogen kimiawi yang
pertama kali diidentifikasi adalah senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik

MOTIVASI

Pada materi di atas telah dijelaskan 10 jenis bahaya bahan kimia
dan penanganannya. Silahkan kalian pelajari berulang- ulang
karena kalian akan bekerja dengan bahan kimia yang memiliki
karakteristik sifat berbeda. Pengetahuan tentang bahaya bahan
kimia sangat dibutuhkan untuk pekerja yang berhubungan
langsung dengan bahan berbahaya. Keselamatan kerja sangat
ditentukan dengan pengetahuan awal tentang bahaya bahan
kimia.
Silahkan berliterasi dari berbagai sumber, karena masih banyak
informasi yang belum tercakup dalam Diktat ini.
TeRAPKAN budaya 5R (RESIK, RINGKAS, RAWAT, RAJIN, RAPI)
Dimanapun kalain nanti akan bekerja, mulailah menjadikan
budaya ini sejak kalian menjadi siswa.

11

D. UJI KEPAHAMAN MATERI

Coba uji kepahaman Anda pada materi BAB I dengan menjawab soal berikut dengan
benar.
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan bahan kimia

Jawab: .........................................................................................................................
.....................................................................................................................................
2. Jelaskan analisis Anda mengapa kalian harus memahami bahaya bahan kimia
Jawab:.........................................................................................................................
....................................................................................................................................
3. Jelaskan karateristik bahan kimia pro analis (pa)
Jawab:.........................................................................................................................
....................................................................................................................................
4. Jelaskan bagaimana seharusnya menyimpan bahan kimia yang reaktif terhadap air
Jawab:.........................................................................................................................
....................................................................................................................................
5. Jelaskan bagaimana seharusnya menyimpan bahan kimia yang bertekanan
Jawab:.........................................................................................................................
....................................................................................................................................

12

BAB II
PENGGUNAAN BAHAN KIMIA SESUAI SOP

(MEMBUAT REAGENSIA)

A. Kompetensi Dasar

3.7 Mengevaluasi penataan dan penyimpanan bahan dan alat-alat laboratorium kimia.
3.8 Menganalisis sifat-sifat bahan kimia dalam pembuatan larutan/reagensia
4.7 Melaksanakan penataan alat-alat laboratorium kimia.
4.8 Membuat dan menstandarisasi larutan/reagensia

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah melaksanakan kegiatan literasi, diskusi, praktikum, peserta didik diharapkan
mampu:

1. Menganalisis teknik penataan dan penyimpanan bahan kimia di laboratorium
dengan tepat

2. Menganalisis sifat bahan kimia dalam pembuatan reagensia dengan benar
3. Melaksanakan penataan bahan kimia laboratorium kimia sesuai prosedur
4. Membuat dan menstandarisasi larutan sesuai prosedur

C. Ringkasan Materi

A. TEKNIK MENYIMPAN BAHAN KIMIA
1. Prosedur Penyimpanan Bahan Kimia

Hal penting yang harus diperhatikan dalam penyimpanan dan penataan bahan
kimia diantaranya meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya
(multiple hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage
facilities), wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate
chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard
information). Penyimpanan dan penataan bahan kimia berdasarkan sifat fisis,
dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya. Bahan kimia yang tidak
boleh disimpan dengan bahan kimia lain, harus disimpan secara khusus dalam
wadah sekunder yang terisolasi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas beracun, ledakan, atau
degradasi kimia.

13

Penyimpanan bahan kimia tersebut harus didasarkan atas tingkat risiko
bahayanya yang paling tinggi. Misalnya benzena memiliki sifat flammable dan
toxic. Sifat dapat terbakar dipandang memiliki resiko lebih tinggi daripada
timbulnya karsinogen. Oleh karena itu penyimpanan benzena harus ditempatkan
pada cabinet tempat menyimpan zat cair flammable daripada disimpan pada
cabinet bahan toxic.
Berikut ini merupakan panduan umum untuk mengurutkan tingkat bahaya bahan
kimia dalam kaitan dengan penyimpanannya.

Bahan Radioaktif > Bahan Piroforik > Bahan Eksplosif > Cairan
Flammable > Asam/basa Korosif > Bahan Reaktif terhadap Air >
Padatan Flammable > Bahan Oksidator > Bahan Combustible >
Bahan Toksik > Bahan yang tidak memerlukan pemisahan secara
khusus

2. Pentingnya MSDS atau Katalog bahan kimia
Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS) adalah dokumen yang dibuat khusus
tentang suatu bahan kimia mengenai pengenalan umum, sifat-sifat bahan, cara
penanganan, penyimpanan, pemindahan dan pengelolaan limbah buangan bahan
kimia tersebut. Data MSDS merupakan protokol standar keamanan dan
keselamatan kerja Di suatu laboratorium, MSDS (Materials Safety Data Sheets)
atau sumber lain yang memberikan informasi tentang resiko bahaya dari setiap
bahan harus ada. Di dalam MSDS biasanya terdapat informasi tentang nama
produk dan industri, komposisi bahan, identifikasi tingkat bahaya, pertolongan
pertama bila terkena bahan itu, cara menangani kecelakaan, penanganan dan
penyimpanan, cara perlindungan fisik, kestabilan dan kereaktifan, informasi
toksikologi, ekologi, transportasi, pembuangan dan aturan pemerintah yang
diberlakukan. Sama halnya dengan alat kimia, bahan kimia memerlukan katalog
dan spresifikasi dari setiap bahan. Administrasi seperti ini diperlukan untuk
mengetahui karakteristik setiap bahan kimia.
Identifikasi bahan kimia merupakan suatu cara untuk mempelajari karakteristik
bahan tersebut dengan cara mengamati label bahan kimia, bentuk, warna, bau,
dan sifatnya. Cara mudah mengidentifikasi bahan kimia dapat dilakukan dengan
cara mempelajari informasi yang tertera pada label kemasan. Contoh label bahan
kimia seperti berikut ini.

14

3. Kondisi Lingkungan Penyimpanan Bahan Kimia
Kondisi lingkungan tempat penyimpanan yang berpengaruh terhadap bahan kimia
diantaranya adalah:
a. Panas atau api Kenaikan suhu akan menyebabkan terjadinya reaksi atau
perubahan kimia. Disamping itu, percikan api memungkinkan terbakarnya
bahan yang mudah terbakar.
b. Pengaruh kelembaban Zat higrokopis mudah menyerap uap air dari udara dan
reaksi hidrasi yang eksotermis akan menimbulkan panas di dalam ruangan
penyimpanan.
c. Pencahayaan Untuk mendapatkan cahaya matahari yang cukup disarankan
laboratorium menggunakan jendela kaca dengan luas sekitar satu pertiga (1/3)
dari luas lantai ruangan.
d. Ventilasi Ventilasi harus didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan
kontaminasi udara yang terjadi di ruang laboratorium yang disebabkan bahan
kimia dapat keluar dan digantikan dengan udara segar. Sistem ventilasi
laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan ventilasi alami dan buatan
(AC). Jika digunakan AC di ruang laboratorium maka kebutuhan AC pada
ruangan tersebut diperhitungkan sebesar 1 PK untuk 20 m2 . Penggunaan
ventilasi alami tidak dimungkink

B. PENGERTIAN REAGEN
Reagen disebut juga pereaksi atau reaktan, atau dalam bahasa Inggris disebut
Reactant or Reagent. Larutan Pereaksi adalah larutan yang digunakan
15

sebagai bahan untuk berlangsungnya reaksi. Contoh Larutan pereaksi adalah
larutan asam sulfat (H2SO4) 1M, Larutan NaOH 1m, Larutan asam klorida (HCL).
Larutan HCl dapat bereaksi dengan logam seng (Zn) menghasilkan gas hidrogen
(H2) atau bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO3) menghasilkan gas
karbondioksida (CO2). Istilah reagen juga digunakan untuk menunjuk pada zat
kimia dengan kemurnian yang cukup tinggi untuk sebuah analisis/ percobaan.
Sebagai contoh reagen air tidak boleh mengandung ion Na+, Cl- atau bakteri dan
juga tahanan listrik yang tinggi. Kata “Reagen” dan “Reaktan” dapat digunakan
secara bergantian. Reaksi kimia terjadi jika dua atau lebih reagen bertemu.
Reagem harus hadir untuk menciptakan reaksi kimia, tanpanya tidak akan ada
reaksi.
Reagen ada yang bersifat umum, misalnya aquades, tetapi ada juga pereaksi
khusus untuk mengetahui adanya zat- zat tertentu, misalnya pereaksi Benedict
untuk mengetahui adanya gula pereduksi, pereaksi luhol (iodium) untuk
mengetahui adanya amilum, pereaksi Millon untuk mengetahui adanya protein ,
dan sebagainya silahkan mencari reagen lain di berbagai sumber.
C. Penggolongan Reagen
 Berdasarkan wujudnya, reagen dapat dibedakan menjadi:
1) Reagen Padat

Yaitu reagen yang berbentuk padatan/ pelet/ serbuk.
Contoh; Kalsium Karbonat (........................), Natrium Hidroksida (...........................)
2) Reagen Cair
Yaitu reagen yang berbentuk cairan baik encer, maupun kental.
Contoh; Hydrochloric acid (.......................), asam sulfat (...............................)
3) Reagen Gas
Yaitu reagen yang berbentuk gas atau uap.
Contoh; Gas karbondioksida (....................), gas amonia (...........), Gas hidrogen
sulfida (.........), dan sebagainya.
 Berdasarkan cara pembuatannya, reagen dibedakan menjadi:
1) Reagen buatan sendiri
2) Reagen jadi (komersial)
 Berdasarkan tingkat kemurniannya, reagen dibedakan menjadi:
1) Reagen Tingkat Teknis

 agak kasar
 masih mengandung sedikit zat-zat kimia lain yang dianggap

mencemari zat asli (bahan baku),

 digunakan untuk percobaan yang tidak memerlukan ketelitian
tinggi

2) Reagen Tingkat Murni (Purified)

 zat kimia ini lebih sempurna dari zat kimia teknis
 dapat digunakan untuk beberapa jenis percobaan dan analisis.

16

3) Reagen dengan Kemurnian Tinggi (extra pure/ pro analist /p.a)
 zat kimia ini sangat sempurna
 dapat atau harus digunakan untuk analisis yang memerlukan
ketelitian tinggi

D. PERHITUNGAN KONSENTRASI BAHAN KIMIA
1. Satuan Konsentrasi Larutan
1) Persenberat(% w/w)

2) Persen volume (%v/v)

3) Persen berat/volume (%w/v)

4) Parts Per Million dan Parts Per Billion
1 ppm(bag. per sejuta) = 1mg zat/L larutan
1 ppb (bag. per milliard) = 1 μg/L larutan

5) Kemolaran (M)
Jumlah mol zat terlarut dalam1 liter larutan

6) Kenormalan (N)= Normalitas

Ekivalen zat terlarut dalam liter larutan
Berat satu ekivalen disebut berat ekivalen (BE)
Reaksi asam-basa

1 ekivalen ≈ 1 mol H+ atau 1 mol OH-

17

Reaksipengendapandanpembentukankompleks
BE = BM/ muatanion

Reaksi redoks
2ek ≈ 1 mol elektron

2. Proses Pelarutan
Pelarutan zat padat untuk menghasilkan larutan sering dilakukan dalam
keseharian. Cara sederhananya adalah dengan memasukkan zat padat ke
dalam wadah kemudian dituangi sejumlah pelarut atau sebaliknya, kemudian
diikuti dengan pengadukan. Pembuatan larutan untuk keperluan analisis
kuantitatif tidak sesederhana itu, pembuatannya harus dilakukan secara
terencana dan teliti, jika terjadi kesalahan dapat berakibat pemborosan
bahan kimia yang mahal, tenaga, dan waktu, serta yang paling fatal adalah
pengamatan dan hasil analisis tidak tepat.
Beberapa hal dan langkah dalam pembuatan larutan dari padatan yang harus
diperhatikan adalah:

No Hal Langkah

1. Sifat analisis Tetapkan jenis analisisnya kualitatif

atau kuantitatif (sesuaikan dengan

tujuan)

2. Kuantitas larutan (volume, Tetapkan sesuai kebutuhan

konsentrasi)

3. Jumlah zat padat (rumus, kelarutan, Tetapkan rumus zat padat (kristal,

massa) daya larut dan massa padatan yang

akan dilarutkan (dihitung)

4. Sifat Zat padat Tetapkan: stabil, higroskopis atau

bereaksikah dengan air

5. Alat ukur massa (neraca) Jika kualitatif : gunakan neraca teknis

Jika Kuantitatif : gunakan neraca

analitik/ digital

6. Alat ukur volume Jika kualitatif : gunakan gelas ukur

yang sesuai volumenya

Jika kuantitatif : gunakan labu takar/

labu ukur/ labu volumetrik.

3. Proses Pengenceran
Pada umumnya asam- asam anorganik berupa cairan pekat, ada yang berasap,
atau bersifat korosif, mudah menguap dan mudah terbakar. Untuk keperluan
analisis cairan organik disiapkan sebagai larutan encer dalam suatu pelarut.

18

 Teknik Pengenceran Larutan:
1) Pra Pengenceran
Hitung volume cairan pekat yang diperlukan dan volume aquades
yang harus ditambahkan
2) Teknik Pengukuran Cairan Pekat
Pengambilan cairan pekat harus dilakukan di ruang/ almari asam dan
pembacaan skala volumenya sesegera mungkin. Jika tidak ada ruang
asam lakukan di tempat terbuka dekat dengan bak atau keran air yang
mengalir dan hadapkan muka serah aliran angin, sebaiknya gunakan
masker.
3) Pencampuran/ Pelarutan
Segera alirkan perlahan cairan pekat lewat batang pengaduk ke dalam
gelas kimia yang berisi aquades. Ukur dengan tepat volume larutan
dengn labu takar dengan menambahkan aquades sampai tanda tera.

 Perhitungan Pengenceran Larutan
Mengencerkan larutan berarti menambahkan pelarut, tetapi banyaknya
zat terlarut tidak berubah. Sehingga hasil pengenceran mempunyai
konsentrasi yang lebih kecil dibandingkan sebelum pengenceran.
Pada proses pengenceran berlaku
persamaan:

M1. V1 = M2. V2

V1 : volume sebelum pengenceran
M1: molaritas sebelum pengenceran
V2 : volume sesudah pengenceran
M2: molaritas sesudah pengenceran

V2 = V1 + AIR

 Pencampuran Larutan
Jika ada 2 atau lebih larutan dengan zat terlarut sama, tetapi konsentrasi
dan volumenya berbeda dicampurkan, maka akan diperoleh larutan
dengan konsentrasi yang baru.Perhitungannya menggunakan persamaan:

19

 Menghitung Molaritas Larutan Pekat
Jika di laboratorium tersedia larutan / bahan yang pekat (konsentrasinya
besar), maka untuk membuat larutan kerja yang konsentrasinya rendah,
kita perlu mengetahui dahulu berapa Molaritas larutan pekat tersebut,
baru kemudian diencerkan. Bahan pekat biasanya tersimpan dalam almari
asam, supaya aman.
Dalam label larutan pekat, biasanya tertulis data tentang: Massa molekul
relative (Mr) , Massa jenis (ρ) dan tingkat kemurnian (%). Dari data
tersebut, kita dapat menghitung Molaritasnya, dengan rumus:

M= Molaritas larutan pekat

M= ρ = massa jenis larutan (kg/L)
Mr= massa molekul relative

% = kadar kemurnian larutan

Contoh soal:

Andi ingin membuat 250 mL larutan H2SO4 2M, dari bahan H2SO4 pekat
yang ada di almari asam, yang mempunyai kemurnian 49%, ρ =1,2 kg/L

dan Mr= 98. Bantulah Andi untuk menentukan :

a. Molaritas H2SO4 pekat
b. Menentukan berapa volume H2SO4 pekat yang harus diambil, untuk

kemudian diencerkan

Penyelesaian:

a. M=

M=

= 6M

Jadi molaritas H2SO4 pekat = 6M

b. M1. V1 = M2 . V2

6 . V1 = 2 . 250

V1 = 500/6 = 83,33 mL

Jadi banyaknya H2SO4 pekat yang diperlukan adalah 83,33 Ml

E. MSDS BAHAN KIMIA
1. Pengertian MSDS
MSDS singkatan dari Material Safety Data Sheet dalam bahasa Indonesia
disebut LDKB = Lembar Data Keselamatan Bahan
Mengapa perlu MSDS sebelum bekerja dengan bahan kimia?
Karena di dalam MSDS terdapat kumpulan data keselamatan dan petunjuk
dalam penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya. Di dalamnya terdapat
Informasi tentang uraian umum bahan, sifat fisik dan kimiawi, cara

20

penggunaan, penyimpanan, dan pengelolaan bahan buangan. Karena
pentingnya informasi tersebut maka MSDS diperlukan oleh:
 Pekerja yang mempunyai resiko terkena paparan bahan kimia berbahaya
 Pekerja yang membutuhkan informasi tentang penyimpanan bahan kimia
 Petugas keamanan yang berhubungan dengan bahan kimia, misal petugas

kebakaran, para medis, dll
Jadi MSDS memberikan acuan dalam menangani dan mengelola bahan kimia
supaya aman dan tidak terjadi kecelakaan.
2. Cara memperoleh MSDS
MSDS dapat diperoleh dengan berbagai cara dari berbagai sumber, misalnya:
 Dari produsen bahan kimia ketika kita membeli bahan
 Dari situs perguruan tinggi atau suatu lembaga
 Dari supplier / distributor bahan kimia
 Dari internet
3. ISI MSDS
Informasi yang terdapat dalam MSDS diantaranya adalah:
Identitas produk (nomor produk (katalog), nama produk, rumus molekul,
nama dagang, sinonim)

1) Nama perusahaan yang memproduksi dan Komposisi bahan
2) Identitas bahaya (kondisi darurat, efek kesehatan, pernafasan, kontak

kulit, kontak mata, penyakit kronis)
3) Tindakan P3K (pernafasan, tertelan, kontak kulit, kontak mata, catatan

untuk dokter)
4) Tindakan Penanggulangan kebakaran/potensi terbakar (api, ledakan,

media pemadam kebakaran, informasi khusus)
5) Tindakan terhadap kecelakaan, tumpahan atau kebocoran (tumpahan

sedikit,tumpahan banyak)
6) Informasi Penyimpanan dan penanganan bahan
7) Pengendalian pemaparan dan alat pelindung diri (sistem ventilasi,

perlindungan kulit, perlindungan pernafasan, perlindungan mata,
8) Sifat fisika (titik lebur, titik didih, tekanan uap, berat jenis, kelarutan

dalam air, bau, penampakan fisik, titik api/bakar, gravitasi spesifik, )
9) Reaktivitas dan stabilitas (kestabilan, komposisi produk yang

membahayakan, polimerisasi yang berbahaya, incompatibility, kondisi
yang harus dihindari)
10)Informasi toksikologi (data toksikologi, sifat karsinogen)
11)Informasi Pembuangan limbah
12)Informasi transportasi (domestik/darat,pesawat, pengepakan)
13)Peraturan perundangan-undangan
14)Informasi lainnya (Label peringatan bahaya, label pencegahan, label
pertolongan pertama, penggunaan produk, informasi revisi

21

Terdapat Kode R / S : Kode R (Hazard Warning for Dangerous
Chemicals) merupakan peringatan bahaya untuk bahan kimia
berbahaya. Sedangkan S (Safety Precautions for Dangerous Chemicals)
menunjukkan tindakan pencegahan atau saran penyimpanan untuk
bahan-bahan kimia berbahaya.
4. Informasi Simbol Bahan Kimia
Karakteristik bahan kimia terutama sifatnya dapat dipelajari melalui simbol-
simbol atau penjelasan-penjelasan yang tercantum pada label kemasan bahan
kimia.
• Simbol Tanda Bahaya  Gambar (Memberikan gambaran sifat bahaya.
• Simbol yang umum dipakai ada 2 macam:
1. Simbol/tanda bahaya menurut PBB
2. Simbol/tanda bahaya menurut NFPA (National Fire Protection
Association) – USA
Selain simbol bahaya di atas terdapat Simbol/tanda bahaya menurut EEC
(European Economic Cooperation) – Eropa, mirip dengan PBB .
a. Contoh simbol menurut PBB:
1.
2.

3.

22

4.

5.
6.
7.

8.
23

b. Rangking dan simbol bahaya menurut NFPA:

Rangking dan simbol Bahaya menurut NFPA

FLAMMABILITY

HEALTH INSTABLITY
HAZARD

SPECIAL HAZARD

24

1) Bahaya kesehatan :
• Bahaya terhadap kesehatan dinyatakan dalam bahaya jangka pendek
(akut) dan jangka panjang (kronis).
• NAB (Nilai Ambang Batas) diberikan dalam satuan mg/m3 atau ppm.
• NAB adalah konsentrasi pencemaran dalam udara yang boleh dihirup
seseorang yang bekerja selama 8 jam/hari selama 5 hari. Beberapa data
berkaitan dengan bahaya kesehatan juga diberikan, yakni :
 LD50 (lethal doses) : dosis yang berakibat fatal terhadap 50
persen binatang percobaan mati.
 LC50 (lethal concentration) : konsentrasi yang berakibat fatal
terhadap 50 persen binatang percobaan.
 IDLH (immediately dangerous to life and health) : pemaparan
yang berbahaya terhadap kehidupan dan kesehatan.

2) Bahaya kebakaran :
kategori bahan mudah terbakar, dapat dibakar, tidak dapat dibakar atau
membakar bahan lain. Kemudahan zat terbakar ditentukan oleh :
Titik nyala : suhu terendah dimana uap zat dapat dinyalakan.
Konsentrasi mudah terbakar : daerah konsentrasi uap gas yang dapat
dinyalakan. Konsentrasi uap zat terendah yang masih dapat dibakar disebut
LFL (low flammable limit) dan konsentrasi tertinggi yang masih dapat
dinyalakan disebut UFL (upper flammable limit). Sifat kemudahan membakar
bahan lain ditentukan oleh kekuatan oksidasinya.
Titik bakar : suhu dimana zat terbakar sendirinya.

3) Bahaya reaktivitas :
Sifat bahaya akibat ketidakstabilan atau kemudahan terurai, bereaksi dengan
zat lain atau terpolimerisasi yang bersifat eksotermik sehingga eksplosif.
Atau reaktivitasnya terhadap gas lain menghasilkan gas beracun
Sifat-sifat fisika :
Sifat-sifat fisika merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sifat
bahaya suatu bahan.

25

F. CONTOH MSDS
Terjemahkan dan pahami potongan MSDS berikut:
Contoh 1.

Contoh 2:

Contoh 3:

26

G. PENYIMPANAN REAGEN
Pada penyimpanan reagen yang perlu menjadi perhatian adalah :
1) Hal umum yang harus menjadi perhatian di dalam penyimpanan dan penataan bahan

kimia diantaranya meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya
(multiple hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities),
wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdatechemicals),
inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard information).
2) Pisahkan antara sediaan liquid dan solid dan klasifikasikan berdasarkan sifatnya:
flamable, mudah meledak, toxic, oksidator, korosif, infeksi, dll.
3) Disimpan dalam suatu lemari hindari bahan dari kayu
4) Kondisi ruangan harus dingin/ber ac atau dengan dilengkapi exhaust fan, lampu
ruangan pilih yang fire proof, dan kalau tidak dilengkapi dengan AC, ruangan harus
punya sirkulasi udara yg baik Karena ada beberapa reagen yg penyimpananya
dibawah suhu 25o C, pantau suhu ruangan maksimal 30oC.
5) Tempat penyimpanan harus bersih, kering dan jauh dari sumber panas atau kena
sengatan sinar matahari. Di samping itu tempat penyimpanan harus dilengkapi
dengan ventilasi yang menuju ruang asap atau ke luar ruangan. Pada penataan bahan
kimiapun diperlukan sumber literatur untuk mengetahui spesifikasi masing-masing
bahan kimia tersebut. Spesifikasi bahan kimia akan dijumpai pada buku katalog
bahan.
6) jika terjadi tumpahan yang paling baik mengatasinya dengan pasir atau dengan air
kran.
7) Buat sistem administrasi nya: daftar isi, jumlah stock, ED bahan, memasang perhatian
APD yg sesuai dg peruntukannya, dll.
8) Salah satu informasi penting yang harus selalu disertakan adalah lembar data
keselamatan data (Material Safety Data Sheet – MSDS) Informasi MSDS disamping
harus tercantum pada produksi, juga harus munculpada dokumen pengangkutan,
penyimpanan, pengedaran dan juga pada kemasan bahan tersebut.

Penyimpanan Reagen yang bersifat berbahaya memerlukan perlakuan khusus,
antara lain :

1. Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan reagen yang bersifat berbahaya dan
beracun membutuhkan pengaturan tersendiri, agar tidak terjadi kecelakaan
akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. Salah satu persyaratan
kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat
dan prosedur penanganannya.

2. Penyimpanan dan penataan bahan kimia berdasarkan urutan alfabetis tidaklah
tepat, kebutuhan itu hanya diperlukan untuk melakukan proses
pengadministrasian. Pengurutan secara alfabetis akan lebih tepat apabila bahan
kimia sudah dikelompokkan menurut sifat fisis, dan sifat kimianya terutama
tingkat kebahayaannya.

27

3. Bahan kimia yang tidak boleh disimpan dengan bahan kimia lain, harus disimpan
secara khusus dalam wadah sekunder yang terisolasi. Hal ini dimaksudkan untuk
mencegah pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas beracun, dan
ledakan. Penyimpanan bahan kimia tersebut harus didasarkan atas tingkat risiko
bahayanya yang paling tinggi. Misalnya benzene memiliki sifat flammable dan
toxic.

4. Sifat dapat terbakar dipandang memiliki resiko lebih tinggi daripada timbulnya
karsinogen. Oleh karena itu penyimpanan benzena harus ditempatkan pada
cabinet tempat menyimpan zat cair flammable daripada disimpan pada cabinet
bahan toxic

5. Reagen berbahaya dan beracun yang dianggap kadaluwarsa, atau tidak
memenuhi spesifikasi, atau bekas kemasan, yang tidak dapat digunakan tidak
boleh dibuang sembarangan, tetapi harus dikelola sebagai limbah berbahaya dan
beracun. Kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam
penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau
karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya.

6. Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara
berkala bagi pekerja, sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun, denganmaksud
untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa
kimiaberbahaya dan beracun terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut.

7. Salah satu kekhawatiran utama dalam penanganan berbahaya dan beracun
adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam
penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya.
Kecelakaan ini adalah lepasnya atau tumpahnya reagen kelingkungan, yang
memerlukan penanggulangan cepat dan tepat. Bila terjadi kecelakaan, maka
kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). Penyimpanan
reagen yang bersifat anhidrat, disimpan di dalam oven pada suhu 100-110oC,
selama 1-2 jam dan sebaiknya semalam, sedangkan penyimpanan reagen yang
bersifat hidrat disimpan pada eksikator.

Cara Pewadahan Reagen
Untuk mejaga keamanan dan kualitas reagen perlu dilakukan pewadahan.
1) Kriteria wadah reagen yang baik antara lain :

a) Botol yang gelap / berwarna coklat, hal ini dilakukan agar dapat terhindar dari
sinar matahari.

b) Wadah reagen tidak bocor.
c) Wadah reagen harus bermulut kecil, dan tertutup rapat.
d) Wadah reagen harus berbahan dasar dari kaca.
e) Wadah reagen harus steril, tidak bereaksi dengan bahan kimia dari reagen yang

diwadahkan.

28

H. STANDARISASI LARUTAN
Yaitu proses penentuan konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan
standar yang konsentrasinya sudah diketahui dengan pasti.
Standarisasi umumnya dilakukan dengan cara Titrasi.

Larutan standar: larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan pasti
Konsentrasi dapat dinyatakan dalam molar (mol/L) atau normal (gram
ekuivalen/L)
Larutan standar ada 2 :
1) Larutan standar primer

Larutan standar primer merupakan larutan yang telah diketahui
konsentrasinya (molaritas atau normalitas) secara pasti melalui pembuatan
langsung. Larutan standar primer berfungsi untuk menstandarisasi /
membakukan atau untuk memastikan konsentrasi larutan tertentu, yaitu
larutan yang konsentrasinya belum diketahui secara pasti (larutan standar
sekunder).
Syarat-syarat larutan standar primer
 Harus mudah didapat dan dalam keadaan murni
 Tidak higroskopis, tidak teroksidasi, tidak menyerap udara dan selama

penyimpanan tidak boleh berubah (stabil)
 Mengandung kotoran (zat lain) tidak melebihi 0,01%
 Harus mempunyai berat ekivalen (Mr) yang tinggi
 Mudah larut dalam pelarut yang sesuai
 Reaksinya stoichiometri dan berlangsung terus menerus
Contoh Larutan standar primer
 Untuk reaksi asam-basa : Na2CO3 , Na2B4O7 (Natrium Borat) , K biftalat ,

asbenzoat, KIO3,H2C2O4.2H2O (asam Oksalat)
 Reaksi reaksi redoks : K2Cr2O7 , KBrO3 , KIO3 , as oksalat,As2O3, I2, As2O3,

Na2C2O4, KH(IO3)2
 Titrasi pegendapan : NaCl , KCl dan KBr, AgNO3
 Reaksi Pembentukan kompleks : Zn , Mg , Cu , Na2EDTA , NaCl, AgNO3, NaCl,

KCl
2) Larutan standar sekunder

Larutan standar sekunder (titran) biasanya ditempatkan pada buret yang

kemudian ditambahkan ke dalam larutan zat yang telah diketahui

konsentrasinya secara pasti ( standar primer).

Proses penambahan larutan standar ke dalam larutan yang akan ditentukan

sampai terjadi reaksi sempurna disebut titrasi. Sedang saat dimana reaksi

sempurna dimaksud tercapai disebut titik ekivalen atau titik akhir titrasi.

Contoh standar sekunder: NaOH, HCl, dll

29

Reaksi yang dapat digunakan dalam metode volumetri adalah reaksi-reaksi
kimia yangsesuai dengan persyaratan sebagai berikut:
- Reaksi harus berlangsung cepat
- Tidak terdapat reaksi samping
- Reaksi harus stoikiometri, yaitu diketahui dengan pasti reaktan dan produk

sertaperbandingan mol / koefisien reaksinya
- Terdapat zat yang dapat digunakan untuk mengetahui saat titrasi
harus dihentikan(titik akhir titrasi) yang disebut zat indikator

Titik Ekivalen dan Titik Akhir Titrasi
 Titik ekuivalen diketahui dari adanya perubahan dalam larutan yang

disebabkan karena penambahan indikator yang dapat menyebabkan
perubahan warna setelah titik ekuivalen tercapai
 Titik ekivalen (ttk akhir teoritis titrasi) adalah titik (saat) dimana jumlah
ekivalen zat penitrasi sama dengan jumlah ekivalen zat yang dititrasi
 Titik akhir titrasi adalah saat timbul perubahan warna indikator, atau
timbulnya endapan atau adanya kekeruhan, atau perubahan Daya
Hantar Listrik larutan.

30

Titik akhir titrasi, ditandai dengan:
 Perubahan warna indikator
 Terjadinya kekeruhan yang disebabkan oleh terbentuk atau melarutnya
endapan
 Perubahan DHL larutan: Perubahan arus listrik dalam larutan

Indikator
•Nama Indikator Warna asam Warna basa Trayek pH
•Fenolftalein tak berwarna merah 8,0 -9,6
•Timolftalein tak berwarna biru 9,3 -10,6
•Fenol merah kuning merah 6,8 -8,4
•Bromtimolblue kuningbiru6,0-7,6
•Metil merah merah kuning 4,2 -6,2
•Metil jingga merah kuning 3,1 -4,4
•Timolblue kuning biru 8,0 -9,6

3) PENGERTIAN METODE TITRIMETRI/VOLUMETRI
yaitu, merupakan metode analisis kuantitatif yang didasarkan pada prinsip
pengukuran volume.
Macam Analisa Volumetri:
a. Gasometri : adalah volumetri gas dan yang diukur (kuantitatif) adalah volume
gas yang direaksikan atau hasil reaksinya.
b. Titrimetri atau Titrasi: adalah pengukuran volume dalam larutan yang
diperlukan untuk bereaksi sempurna dengan sevolume atau sejumlah berat zat
yang akan ditentukan
Dalam setiap metode titrimetri selalu terjadi reaksi kimia antara
komponen analit dengan zat pendeteksi yang disebut titran. Reaksi dasar
antara komponen analit dengan titran dinyatakan dengan persamaan
umum berikut ini:
Analit + Titran  Hasil reaksi
31

4) Persyarat an Metode Titrimetri
b. Reaksi kimia yang berlangsung harus mengikuti persamaan reaksi tertentu dan
tidak ada reaksi sampingannya.
c. Reaksi pembentukan produk dapat berlangsung sempurna pada titik akhir
titrasi.
d. Harus ada zat atau alat (indikator) yang dapat digunakan untuk menentukan titik
akhir titrasi .
e. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titik ekivalen segera diketahui dengan
cepat.

5) Contoh Penentuan HCl Dgn Larutan NaOH
Lakukan Praktikum sesuai SOP berikut ini dengan memperhatikan unsur
K3LH

32

33

34

35

36

37

5) KESALAHAN DALAM TITRASI
Yang dimaksud kesalahan dalam tirasi adalah adanya perbedaan hasil
praktikum dengan hasil teoritis. Idealnya antara hasil secara teoritis dan
hasil praktikum adalah SAMA, tetapi hal ini sangat jarang terjadi
dikarenakan keterbatasan kemampuan praktikan dan ketersediaan alat
dan bahan.
Sumber- sumber kesalahan titrasi dapat bersumber dari:
1. Manusia
a. Kesalahan menghitung
b.Kesalahan dalam memindahkan larutan
c. Kesalahan dalam menentukan TAT
2. Peralatan ‘ Fasilitas
a. Bahan kimia yang dipakai tidak sesuai standar
b.Alat yang dipakai tidak baik
3. Faktor Metode Analisis
a. Reaksi yang terjadi tidak sempurna (ada reaksi samping)
b.Kesalahan memilih indikator yang cocok

 RUMUS- RUMUS DLM PERHITUNGAN KESALAHAN (PERSEN ERROR)
a. Penyimpangan = [hasil – standart]

b.

c.

38

D. UJI KEPAHAMAN MATERI

Jawablah atau selesaikan soal berikut dengan baik dan benar dengan mencari
jawaban dari Diktat atau sumber yang lain.

1. Apa yang dimaksud dengan reagen?
Jawab:

2. Sebutkan macam reagen berdasarkan tingkat kemurniannya!
Jawab:

3. Hitunglah molaritas larutan yang terjadi jika 4,0 gram soda api, NaOH (Mr= 40)
dilarutkan dalam air, hingga diperoleh 200 mL larutan. Diketahui Ar Ca= 40, Br= 80.
Jawab:

4. Jika 1,12 gram KOH (Ar K= 39, O= 16, H=1) dilarutkan dengan air hingga volume
larutan 2 liter, hitung pH larutan yang terjadi!

Jawab:

5. Sebutkan teknik pengenceran larutan pekat dengan benar
Jawab:

6. Apa yang dimaksud dengan larutan standar dan sebutkan macamnya!
Jawab:

7. Sebutkan 3 sifat bahan sebagai larutan standar primer!
Jawab:

8. Apa yang dimaksud dengan titik ekivalen?
Jawab:

39

9. Apa yang dimaksud dengan titik akhir titrasi?
Jawab:

10. Apa saja yang harus tertulis dalam label reagen?
Jawab:

11. Sebutkan kriteria wadah reagen yang baik!
Jawab:

12. Apa kepanjangan dari MSDS?
Jawab:

13. Sebutkan 5 informasi yang tercantum dalam MSDS!
Jawab:

14. Apa yang dimaksud dengan LD 50 dan LC 50?
Jawab:

15. Apa yang dimaksud dengan kode R dan S dalam MSDS?
Jawab:

40

BAB III

PENATAAN DAN PERAWATAN PERALATAN LABORATORIUM

A. Kompetensi Dasar

3.8 Mengevaluasi penataan alat- alat laboratorium kimia
4.8 Melaksanakan penataan alat- alat laboratorium kimia
3.9 Menerapkan prinsip perawatan alat-alat di laboratorium kimia
4.9 Melaksanakan perawatan alat-alat laboratorium kimia

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah melaksanakan kegiatan literasi, diskusi, praktikum, peserta didik diharapkan mampu:
1. Menganalisis penataan peralatan di laboratorium kimia
2. Melaksanaan penataan peralatan di laboratorium kimia sesuai ketentuan
3. Melaksanakan perawatan peralatan sesuai karateristik masing-masing

C. Ringkasan Materi

1. PERBEDAAN PEMELIHARAAN dan PERAWATAN
Pemeliharaan adalah bentuk tindakan yang dilakukan untuk menjaga agar suatu alat
selalu dalam keadaan siap pakai, atau tindakan melakukan perbaikan sampai pada
kondisi alat dapat berfungsi kembali. Perawatan adalah kegiatan yang dilakukan
untuk meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan peralatan dalam kondisi
yang baik dan siap pakai.
Untuk menjaga agar tetap bersih dan menghindari kerusakan, mestinya jadwal
pemeliharaan harus dibuat tinggi frekuensinya yang berarti obyek atau alat tersebut
harus sering dilakukan pemeliharaan.,Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat
peralatan yang dimiliki laboratorium. Peralatan laboratorium yang baru dibeli dari pabrik
biasanya dilengkapi dengan buku manual yang membuat petunjuk operasi dan cara serta
jadwal pemeliharaan alat tersebut. Informasi tersebut dapat dipakai sebagai rujukan
dalam menyusun jadwal peralatan. Di laboratorium kimia alat-alat praktikum kimia
dikelompokkan kedalam 8 golongan, yaitu:

41

Golongan I: Alat-alat yang terbuat dari bahan gelas/kaca seperti: tabung reaksi,
batang pengaduk, gelas kimia, erlenmeyer, gelas ukur, labu ukur, corong dan lain-lain.
Golongan II: Alat-alat yang terbuat dari besi, contoh; kaki tiga, pembakar, tang
cawan, kawat kasa, ring besi, klem pemegang, klem buret, penjepit tabung, sikat tabung,
pemadam kebakaran, dsb.
Golongan III: Alat-alat yang terbuat dari kayu, contoh; rak tabung, rak pipet volumetrik,
rak buret, penjepit tabung, dsb
Golongan IV: Alat-alat yang terbuat dari bahan porselen, contoh cawan porselin,
lumpang dan alu, bak pembakaran porselen, segitiga, tungku listrik, pelat tetes dsb.
Golongan V: Alat-alat yang terbuat dari plastik, contoh: pompa suntik (siringe), gelas
kimia plastik, gelas ukur plastik, botol semprot, selang plastik, dsb.
Golongan VI: Alat-alat yang terbuat dari karet, contoh: pompa filler, selang karet,
sumbat botol,sarungtangan dan lain-lain.
Golongan VII: Alat-alat listrik, contoh; power supply, amperemeter, voltmeter,
multimeter, neraca listrik.
Golongan VIII: Alat-alat kimia yang memerlukan penyimpanan khusus contoh; buret,
thermometer, neraca,spektrofotometer, dsb.
Penyimpanan juga dapat dilakukan berdasarkan atas bahan dasar alat, misalnya alat-
alat dari gelasdisimpan menjadi satu kumpulan, demikian pula alat-alat dari bahan kayu,
besi, porselein dan sebagainya.Tetapi jika sistem ini yang diambil, kadang-kadang kita
sukar menentukan kumpulan alat jika sebuah alatterbuat dari beberapa bahan yang
berlainan. Walaupun demikian, sistem apapun yang digunakan dalampenyimpanan
alat, maka alat-alat itu harus dalam keadaan aman, mudah dicari dan diambil. Statif besi
yang sering banyak digunakan hendaknya disimpan di atas meja pada sudut laboratorium
dengan demikian mudah diambil dan dikembalikan. Hendaknya statif ini jangan disimpan
di bagian bawah lemari asap atau diletakkan di atas lantai, karena akan mudah kena debu
dan kurang mendapat perhatian. Penyimpanan pipet kadang-kadang juga merupakan
masalah. Sebaiknya pipet disimpan dalam keadaan berdiri, oleh sebab itu perlu
diletakkan pada tempat yang khusus. Meletakkan pipet dengan cara berdiri membuat
pipet akan cepat kering dan siap untuk segera dipa

42

kai. Jika pipet dan buret tidak sering dipakai hendaknya penyimpanannya ditempat
yang tertutup sehingga debu tidak melekat padanya. Pada saat melakukan
praktikum dimana mahasiswa diharuskan mengambil sendiri, biasanya pipet dapat
diletakkan pada meja siswa dimana praktikum akan dilakukan.
Tujuan Pemeliharaan Alat diantaranya:
a. Peralatan laboratorium selalu prima dan siap pakai secara optimal
b. Memperpanjang umur pemakaian peralatan laboratorium
c. Menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan orang atau siswa yang

menggunakan peralatan tersebut
d. Menjamin kesiapan operasional peralatan yang diperlukan terutama dalam keadaan

darurat, adanya unit cadangan, pemadam kebakaran, dan penyelamat
e. Mengetahui kerusakan secara dini atau gejala kerusakan
f. Menghindari terjadinya kerusakan secara mendadak
g. Menghindari terjadinya kerusakan fatal

2. SIFAT DASAR PERALATAN DI LABORATORIUM
a. Zat atau Bahan Dasar Pembuatan
Bahan dasar alat harus diketahui agar penyimpanan dan penggunaanya dapat
dikontrol. Misalnya alat gelas yang akan dipakai untuk pemanasan harus dipilih dari
bahan yang tahan panas. Bila suatu alat terbuat dari besi, atau sebagian pelengkap
alat terbuat dari besi, maka tidak boleh disimpan berdekatan dengan zat-zat kimia,
terutama yang bersifat korosif. Bahan besi dengan asam akan cepat berkarat.
b. Berat Alat
Di laboratorium terdapat alat yang ringan dan ada yang berat. Untuk alat-alat
berat jangan disimpan ditempat yang tinggi, sehingga sewaktu mau menyimpan
atau mengambil tidak sulit diangkat atau dipindahkan.
c. Kepekaan Alat Terhadap Pengaruh Lingkungan
Berbagai alat seperti mikroskop yang peka terhadap lingkungan, misalnya terhadap
kelembaban, di daerah yang dingin atau di daerah yang lembab penyimpanan harus
hati-hati, karena pada daerah lembab bila alat disimpan dalam lemari kemungkinan
besar akan ditumbuhi jamur. Lensa harus dijaga jangan sampai berjamur. Lensa
43

obyektif dan okuler cepat berjamur di daerah lembab. Salah satu cara mencegah
pengaruh kelembaban di lemari penyimpanan dipasang lampu listrik, sehingga
udara dalam lemari menjadi lebih kering.
Mikroskop harus disimpan dalam kotaknya dan diberi zat absorpsi (silika gel).
d. Pengaruh Bahan Kimia
Dalam laboratorium terdapat zat-zat kimia. Beberapa zat kimia terutama yang korosif
dapat mempengaruhi atau merusak alat. Oleh karena itu zat-zat kimia harus
disimpan berjauhan dari alat-alat, terutama alat-alat yang terbuat dari logam. Alat
alat yang menggunakan baterai kering bila selesai digunakan baterai harus
dikeluarkan, dan alat harus disimpan dalam keadaan turn of (sleep). Misalnya :
pH meter, komparator lingkungan.
e. Pengaruh alat yang satu dengan yang lain
Dalam penyimpanan alat perlu diperhatikan bahwa alat yang terbuat dari logam
harus dipisahkan dari alat yang terbuat dari gelas. Beberapa alat yang diset dan
terdiri dari alat logam dan kaca, misalnyaRespirometer Sederhana, dan Potometer.
Selain alat itu sendiri, dibutuhkan standarnya. Setiap alat yang terkombinasi dari
logam-kaca, sedapat mungkin dalam penyimpanannya dipisahkan, pada waktu
hendak dipakai barulah dipasang atau diset. Magnet jangan disimpan dekat alat -
alat yang sensitif pada magnet. Stopwatch dapatkehilangan kestabilan bila
disimpan berdekatan dengan magnet.
f. Nilai atau harga dari alat
Nilai atau harga alat harus diketahui oleh petugas laboratorium, atau setidaknya
petugas laboratorium harus dapat menilai mana barang yang mahal, dan mana
barang yang murah. Ditinjau dari segi harganya alat-alat berharga mahal harus
disimpan pada tempat yang aman atau lemari yang pakai kunci. Barang yang nilainya
tidak begitu mahal dapat disimpan pada rak atau tempat terbuka lainnya. Akan tetapi
bila ada tempat atau lemari tertutup sebaiknya semua alat disimpan dalam lemari
tersebut.

44

g. Bentuk dalam set
Jenis alat dalam penggunaannya menggunakan energi bentuk set misalnya set blood
meter. Untuk menjaga keawetan alat, bila telah selesai digunakan hendaknya disusun
kembali pada tempat semula dengan susunan aturan yang telah ditentukan. Di
Laboratorium bentuk alat juga beraneka ragam. Banyak alat yang bentuknya bundar,
alat ini harus disimpan sebaik mungkin, jangan sampai terguling. Ada alat yang harus
disimpan dalam keadaan berdiri,misalnya hygrometer. Cara menyimpan alat ini
sebaiknya dalam keadaan tergantung. Beberapa jenis thermometer mempunyai
tempat khusus (tabung). Setelah selesai dipergunakan dibiasakan menyimpan atau
segera dimasukkan dalam tabungnya.
Pemeliharaan alat secara rutin dapat dilakukan. Sebelum alat digunakan
hendaknya diperiksa dulu kelengkapannya dan harus dibersihkan terlebih dahulu.
Setelah selesai dipergunakan semua alat harus dibersihkan kembali dan jangan
disimpan dalam keadaan kotor. Demikian juga kelengkapan alat tersebut harus dicek
terlebih dahulu sebelum disimpan. Lemari untuk menyimpan alat seringkali
terkena rayap, untuk mencegah rayap yang dapat merusak berbagai jenis alat, maka
secara periodik perlu disemprot dengananti rayap atau sejenisnya atau dengan
memasukkan kapur barus pada lemari penyimpanan.
Setiap alat yang penggunaannya agak rumit harus mempunyai buku petunjuk
atau keterangan penggunaan. Maka sebelum alat digunakan hendaknya dibaca
terlebih dahulu petunjuk penggunaan alat danpetunjuk pemeliharaan. Peralatan
praktikum di laboratorium juga terdapat alat yang terbuat dari bahan kaca. Agar alat-
alat ini siap pakai,, alat harus dalam keadaan bersih. Untuk mendapatkan alat kaca
yang bersih diperlukan perawatan yang teratur, yang meliputi pengecekan,
penyimpanan yang benar, dan pencucian.

h. Pencucian Alat Kaca Umum
Alat-alat kaca yang tidak terlalu kotor dapat dibersihkan dengan cara pencucian
umum, yaitu dengan air (jika perlu air hangat) dan sedikit detergen.
Pada waktu mencuci alat kaca, gunakan sarung tangan dan alat bantu lain, misalnya
sikat tabung. Jika pada alat kaca terdapat noda yang agak kuat melekat, noda ini

45

dapat dihilangkan dengan bubuk pencuci yangsesuai, misalnya trinatrium fosfat
yang dicampur dengan sedikit bubuk batu apung. Jika perlu gunakan alcohol
atau aseton. Setelah pencucian dengan zat pencuci, alat kaca dibilas dengan air
bersih dan terakhir
3. PENGETAHUAN DASAR SEORANG LABORAN
 Seorang Labotan minimal harus memiliki pengetahuan dasar sbb:
1. Pengetahuan tentang spesifikasi peralatan.
2. Pengetahuan tentang pengoperasian peralatan.
3. Pengetahuan tentang kondisi peralatan.
4. Pengetahuan tentang target dan sasaran pengamatan dan atau pengukuran

dengan peralatan tersebut.
5. Pengetahuan metoda, waktu dan teknik pengamatan dan atau pengukuran

dengan peralatan tersebut.
 Macam-macam Peralatan laboratorium

1. Peralatan elektronika. (peralatan yang mempergunakan sumber daya listrik)
2. Peralatan yang terbuat dari bahan baku logam.
3. Peralatan yang terbuat dari bahan baku gelas
4. Peralatan yang terbuat dari bahan baku karet/plastik.
 Sumber Kerusakan Alat dari Lingkungan
1. Udara: udara mengandung oksigen dan uap air, ini dapat menyebabkan korosi
2. Air, asam dan basa: menyebabkan berkarat dan bersifat korosif
3. Suhu: suhu tinggi/rendah dapat menyebabkan pemuaian, memacu terjadi oksidasi,
merusak cat serta mengganggu fungsi alat elektronika
4. Mekanik: Hindari alat dan bahan dari benturan, tarikan dan tekanan yang besar.
5. Cahaya: Merusak alat atau bahan. Bahan sebaiknya disimpan dalam botol gelap
6. Api: Komponen yang menyebabkan kebakaran ada tiga, disebut sebagai segitiga api:
yaitu adanya bahan bakar, adanya panas yang cukup tinggi, dan adanya oksigen.
 Perawatan peralatan elektronika
Peralatan elektronika memiliki sifat-sifat :
1. Sensitif terhadap goncangan.

46

2. Sensitif terhadap medan magnet.
3. Tidak tahan terhadap suhu di atas 250 C.
4. Tidak tahan terhadap terhadap udara lembab.
5. Tidak tahan terhadap kotoran dan debu.
 Perawatan peralatan elektronika
Berdasarkan sifat-sifatnya itu, maka teknik merawat peralatan elektronika perlu :
1. Hindari dari guncangan dan medan magnetik agar sensitifitas peralatan dapat

terjaga.
2. Gunakan peralatan elektronika berada dalam ruangan yang bertemperatur antara

180 C – 250 C.
3. Setelah penggunaan peralatan elektronika, peralatan hendaknya dibersihkan dari

kotoran dan debu kemudian disimpan di ruangan yang kering.
 Perawatan peralatan yang terbuat dari bahan baku logam.

1. Peralatan yang terbuat dari bahan baku logam mudah mengalami karatan. Untuk
menghindari terjadinya karatan itu maka peralatan harus disimpan di tempat yang
bertemperatur tinggi (± 370 C) dan lingkungan kering. Jika perlu gunakan bahan
silicon sebagai penyerap air.

2. Sebelum disimpan peralatan harus bebas dari kotoran, debu ataupun air yang
melekat kemudian diolesi dengan minyak olie, minyak rem atau paraffin cair.

 Perawatan peralatan yang terbuat dari bahan baku gelas.
Kelemahannya alat dari gelas :
1.Bahan baku gelas mudah pecah terhadap tekanan mekanik.
2.Bahan baku gelas mudah tumbuh jamur sehingga mengganggu daya tembus
cahaya.
3. Bahan baku gelas mudah tergores.
Keunggulannya alat dari gelas:
1.Bahan baku gelas tahan terhadap reaksi kimia.
2.Bahan baku gelas tahan terhadap perubahan temperatur yang mendadak.
3.Bahan baku gelas memiliki koefisien muai yang kecil.
4.Bahan baku gelas memiliki daya tembus cahaya yang besar.

47

Hal yang harus diperhatikan dalam perawatan alat gelas.
1.Ruang penyimpanan peralatan harus bertemperatur antara 270 C – 370 C dan diberi

tambahan lampu 25 watt.
2.Ruang penyimpanan diberi bahan silicon sebagai zat higroskopis.
3.Pada waktu memanaskan tabung reaksi hendaknya ditempatkan di atas kawat kasa.

Boleh menggunakan pemanasan secara langsung asalkan bahan gelas terbuat dari
pyrex.
4.Penggunaan detergent dapat menghilangkan lemak dan tidak membawa efek
perubahan fisik. Kadang-kadang memerlukan waktu perendaman sampai beberapa
jam, kemudian dibilas dengan air bersih. Keringkan dengan udara panas lalu simpan
di tempat yang kering.
5.Hindarkan membersihkan kaca/lensa dalam keadaan kering apalagi dengan
menggunakan kain yang berserat kasar karena hal itu dapat menimbulkan goresan
pada kaca/lensa. Gunakan alcohol, acetone, kapas, sikat halus dan pompa angin
untuk membersihkan lensa jangan sampai merusak lapisan lensa.
6.Letakkan peralatan berbahan baku gelas di tempat ketika tidak digunakan.
Meletakkan peralatan tidak di tempatnya beresiko merusak kondisi alat
 Perawatan peralatan yang terbuat dari bahan baku karet/plastik.
1. Peralatan berbahan baku karet bersifat elastis dan tidak tahan terhadap panas

karena dapat menggangu elastisitas karet.
2. Sarung tangan dari karet mudah sekali meleleh atau lengket apabila disimpan

terlalu lama. Untuk menghindari kerusakan pada peralatan berbahan baku
karet/plastik, hendaknya peralatan dibersihkan dari berbagai kotoran dengan
menggunakan detergent kemudian dikeringkan (sangat baik jika menggunakan
hembusan udara panas). Setelah itu ditaburi talk (bedak) pada seluruh permukaan
karet dan disimpan dengan menggunakan tablet formalin

48

4. TEKNIK MERAWAT PERALATAN
a. MERAWAT NERACA
1) Kebersihan timbangan harus dicek setiap
kali selesai digunakan, bagian dan
menimbang harus dibersihkan dengan
menggunakan sikat, kain halus atau
kertas (tissue) dan membersihkan
timbangan secara keseluruhan timbangan
harus dimatikan, kemudian piringan (pan) timbangan dapat diangkat dan
seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan pembersih seperti
deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol.
2) Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali
dengan menggunakan anak timbangan.
b. MERAWAT ALAT VOLUMETRIK
Alat-alat volumetri ini harus benar-benar bersih
dan bebas dari semua lemak. Jika alat ini kotor
dan berlemak akan menyebabkan larutan yang
dituangkan ke dalamnya akan menempel dan
membentuk tetesan pada dinding kaca. Untuk
membersihkannya gunakan larutan pencuci biasa
(air dan detergen). Hindarkan pencucian/
perendaman pada alat ini karena dapat mengikis
tanda ukur pada alat dan kacanya itu sendiri.
Beberapa masalah yang sering terjadi pada Buret diantaranya:
 Patah (sumbing) pada bagian ujung tuas atau patah di tengah
 Adanya penyumbatan pada bagian jet
 Keran buret (stop cock) macet atau patah.
 Ujung jet patah sedikit
 Batang buret kotor seperti berlemak atau debu yang bercampur dengan uap zat
tertentu.

49

Permasalahn pada termometer diantaranya:
 Termometer pecah saat akan diambil/digunakan
 Skala thermometer pudar atau terhapus.
 Cairan dalam thermometer terpisah/patah.
Teknik Merawat Termometer secara sederhana :
 Jika cairan dalam thermometer terpisah/patah, untuk menyambungkannya

kembali dapat dilakukan dengan cara merendam thermometer dalam campuran
es, air, dan garam (jika perlu dalam CO2) kering.
 Jika hal ini tidak berhasil, letakkan thermometer dalam freezer sampai cairan
dalam thermometer bergabung kembali.
 Atau panaskan termometer dalam penangas air

c. MERAWAT DESIKATOR
Desikator berfungsi untuk tempat mengeringkan zat
kimia agar tidak mengandung uap air atau untuk
mendinginkan zat yang sudah dipanaskan.
Masalah umum yang biasa ditemukan pada alat
desikator adalah:

 Tutup desikator sukar dibuka
Utk menghindari tutup desikator sukar dibuka, tutup
desikator harus diolesi dengan vaselin. Pada saat
membuka tutup desikator, tutup jangan diangkat, akan tetapi digesergeserkan.

 Zat pengering yang digunakan sudah berwarna ( jenuh ).
Zat pengering merupakan silica gel atau CaCl2 .Jika sudah jenuh oleh uap air , zat ini
harus dikeringkan kembali dengan cara dijemur atau dikeringkan dalam oven (untuk
CaCl2).

50


Click to View FlipBook Version