PENGANTAR KATA
Literasi, sebuah ujaran nan sakti untuk mengukur kualitas pendidikan
terbaik di negeri ini bahkan didunia, Indonesia yang terdiri dari beribu
pulau beratus selat berpuluh laut berada di posisi 60 dari 61 negara dalam
peringkat PISA.
Diluar perdebatan tentang tolak ukur kriteria survei PISA, apapun hasil-
nya baik buruk, good dan bad news, tergantung kita menyikapinya.
Bisa menjadi bad news bila kita abai terhadap hasil survey PISA terse-
but, bisa Good News, karena hasil survei tersebut turut memunculkan re-
spon positif dengan penggalakan literasi pada segala lini kehidupan kita.
Griya Mata Pena sebagai bagian dari keluarga besar dinas pendidikan
dan kebudayaan OKU Timur, telah mengambil peran besar dalam upaya
perbaikan literasi khususnya di OKU Timur itu sendiri.
“Cerita Dari Komering” Merupakan buku antologi pertama yang
mengambil tema tentang lingkungan sejarah lokal khususnya cerita seja-
rah dan mitologis serta budaya Komering yang ada di OKUTimur.
Apresiasi yang setinggi tingginya bagi para guru dan Griya Mata Pena
yang difasilitasi oleh bidang Kebudayaan Disdikbud OKU Timur, yang telah
mau dan mampu menarasikan Cerita lokal menjadi sebuah dokumentasi
buku.
Harapan saya nantinya seluruh guru di OKU Timur mampu dan bisa juga
mengikuti jejak guru guru yang telah lebih dulu melahirkan antologi cerita
rakyat komering,
Martapura, Mei 2022
Kepala Dinas
Pendidikan dan kebudayan
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
WAKIMIN, S.Pd, MM
NIP. 19661225 198903 1 006
ii
PEMBUKA KATA
Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh. Salam sejahtera bagi
kita semua, Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa
berkat limpahan karunianya kami dapat menyelesaikan penulisan buku
Antologi Cerita rakyat komering yang kami beri tajuk “Cerita Dari Kome-
ring”.
Buku ini merupakan buah karya para guru yang memuat seluruh
hasil karya para guru di OKU Timur.
Dalam penulisan buku ini, para penulis telah berusaha semaksimal
mungkin berkarya mengembangkan minat, bakat dan potensi terkait
literasi. Namun, sebagai manusia biasa tentunya penulis tidak luput dari
segikesalahan dan kekhilafan baik dalam segi penulisan maupun tata
bahasa.
Penulisan buku “Cerita Dari Komering” ini terinspirasi dari sedikit-
nya bahan bacaan yang mengandung sejarah dan narasi lokal keinginta-
hun masyarakat OKU timur tentang sejarah daerah mereka selama ini
belum terlayani dengan baik, terhadap keingintahuan ini lah yang senga-
ja kami kembangkan dan tampung dengan segala daya dari Griya Mata
Pena dan Bidang Kebudayaan Disdikbud OKU Timur
Semoga buku ini dapat memberikan banyak manfaat bagi dunia
pendidikan khususnya dan masyarakat OKU Timur pada umumnya.
Martapura, Mei 2022
Kepala Bidang Kebudayaan
Dinas Pendidikan danKebudayan
Kabupaten OKU Timur
M. Ridwan,S.Pd,MM
NIP. 19700825 199703 1 002
ii
i
CERITA DARI KOMERING
(ANTOLOGI CERITA RAKYAT OGAN KOMERING ULUTIMUR)
copyright@Disdikbudokut
Penyusun
Tim Cagar Budaya Kab. Ogan Komering Ulu Timur
M. Ridwan, S.Pd., MM
Suprapto, S.S
DR. Ahmad Roni, M.Pdi
Himawan Bastari, S.Pd
Evrida Dewi, S.Pd
Editor
Himawan Bastari, S.Pd
Diterbitkan Oleh
Bidang Kebudayaan
Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
Hak Cipta Dilindungi Undang Undang
Dilarang Mencetak Memperbanyak,Sebagian Atau Seluruh Isi Buku Ini
Tanpa Izin Tertulis Dari Penerbit
iv
DAFTAR ISI
ASAL MULA BUAY PEMUKA PELIUNG ........................................ 1
ASAL MULA DESA SRIKATON ..................................................2
ASAL MULA GURUH GURUH ..................................................3
ASAL MULA MUNCAK KABAU .................................................4
PUTRI PUTIH PENGUASA SUNGAI KOMERING ..............................5
TUAN MAS CINA DAN PELIHARAANYA .......................................6
MISTERI SUMPAH ADU MANIS BETUNG......................................7
MUYANG MORLI ................................................................8
SI DATONG DAN MINAK RATU SEMBAHAN ..................................9
MUYANG MULA JADI ......................................................... 10
KESAKTIAN NAGA BERINGSANG............................................ 11
SIHARUK BUGU............................................................... 12
SEHARUK JADI GILA ......................................................... 13
v
“Pada malam ketujuh setelah kejadian itu Minak Kiyai yang
ternyata bisa menyelamatkan diri dari rencana jahat ka-
kaknya pulang ke desa. Dia duduk di sebuah gardu dan
memainkan Ginggong (jenis bunyi-bunyian yang terbuat dari
pelepah enau). Ibu Minak Kiyai, Naimas Djundjung Pali yang
sedang duduk di teras rumah mendengar suara itu, dan dia
teringat hanya anaknya Minak Kiyai yang bisa memainkan-
nya. Ia berjalan tergopoh-gopoh sambil membawa lampu
dian (sejenis lampu kecil dari tembaga yang dimasukan
kedalam liung/ keranjang kecil). Setelah menyusuri jalan
setapak ibu Minak Kiyai melihat sosok anaknya yang tengah
duduk di gardu. Ibunya menangis dan menghampiri Minak
Kiyai “Anakku kamu masih hidup,” peluk ibu Minak Kiyai
sambil menangis tersedu-sedu”
ENI, S.Pd
(Guru SMP Negeri 2 Buay Pemuka Peliung)
6
ada zaman dahulu kala hi- cantik dan sempurna dari istrinya.
duplah sepasang suami istri Rasa iri itu dari hari kehari sema-
yang bernama Pangeran Ta-
kin bertambah. Minak Ratu Semba-
Pnumbang dan Naimas Djun- han berencana untuk membinasa-
djung Pali. Mereka memili- kan Minak Kiyai. Disuatu sore Minak
Ratu Sembahan mengumpulkan tu-
ki tiga orang putra, putra pertama juh buah jala dan mengajak Minak
bernama Minak Ratu Sembahan, Kiyai pergi menjala ikan di lubuk
putra kedua bernama Minak Sem-
bah Pakuan Ratu dan putra bungsu yang banyak ikan dan buayanya.
mereka yang bernama Minak Kiyai.
Mereka hidup rukun dan damai. “Adikku, bagaimana jika kita
Saat beranjak dewasa mereka ber-
tiga sering berlatih bela diri bersa- menjala ikan sore ini,” ajak Minak
ma-sama. Ratu Sembahan.
Dikarenakan usia mereka yang su- “Dimana kita akan menjala ikan
dah dewasa mereka bertiga satu kakak?” tanya Minak Kiyai dengan
persatu menikah. Awalnya tidak ada perasaan aneh karena tidak biasan-
rasa iri diantara mereka. Siang itu nya kakaknya mengajak menjala
saat mereka sedang berlatih bela ikan.
diri istri Minak Kiyai datang mem-
bawa bekal untuk Minak Kiyai. Istri “Di Lubuk Meduk Rantau Manman
Minak Kiyai memiliki paras yang aku dengar dari orang-orang desa
cantik dan sifat yang elok. disana banyak ikannya,” jawab Mi-
nak Ratu Sembahan dengan sedikit
“Mari istirahat dulu Kanda, aku gugup.
sudah menyiapkan bekal untuk ka-
lian,” kata istri Minak Kiyai dengan “Baiklah kak, mari kita berang-
nada yang lembut. kat,” kata Minak Kiyai dengan hati
yang masih gelisah.
“Iya Dinda,” jawab Minak Kiyai
sambil mengajak kedua kakaknya Setelah menyusuri sungai sampai-
untuk makan bersama. Mereka ma- lah mereka di Lubuk itu. Minak Ratu
kan dengan lahap karena makanan Sembahan mulai menebar jala di air
yang dibawa oleh istri Minak Kiyai yang dalam dan banyak kayunya,
sangat lezat. Dari sinilah awal mula Tiba-tiba dia berkata “Adikku se-
rasa iri kakak pertama Minak Kiyai, pertinya jala ini tersangkut kayu di
yakni Minak Ratu Sembahan mun- dasar sungai bisahkah kau meny-
cul. Ia merasa iri dengan adik elam untuk membetulkannya.”
bungsunya yang memiliki istri lebih
“Baiklah kak, ” Minak Kiyai pun
turun dari perahu dan mulai meny-
elam untuk membenari jala itu. Se-
telah tubuh Minak Kiyai tidak terli-
7
hat lagi dipermukaan air, Minak gardu. Ibunya menangis dan men-
Ratu Sembahan menjalankan ren- ghampiri Minak Kiyai “Anakku kamu
cana jahatnya. Dia mulai menebar- masih hidup,” peluk ibu Minak Kiyai
kan enam jala bertubi-tubi ke tem- sambil menangis tersedu-sedu.
pat Minak Kiyai menyelam agar
Minak Kiyai tidak bisa naik keper- “Iya ibu,” Minak kiyai pun mence-
mukaan. Setelah itu, Minak Ratu ritakan kejadian yang dia alami, ibu
Sembahan pulang dan Mengabarkan Minak Kiyai terkejut mendengar ce-
Kepada Istri Minak Kiyai dan warga rita Minak Kiyai dia tidak menyang-
desa bahwa Minak Kiyai telah tewas ka anaknya Minak Ratu Sembahan
dimakan buaya. Istri Minak Kiyai bisa sejahat itu. Setelah mendengar
sangat sedih dan terpukul men- cerita anaknya, ibunya mengajak
dengar berita itu. Minak Ratu Sem- Minak Kiyai pulang ke rumah. Minak
bahan memanfaatkan situasi ini dan Kiyai menolak dan mengatakan akan
berjanji akan menjaga istri Minak merantau jauh karena dia sudah tau
Kiyai. Tak lama dari berita itu Minak istrinya telah menikah dengan Mi-
Ratu Sembahan mempersunting istri nak Ratu Sembahan. Ibu Minak Kiyai
Minak Kiyai. pun memohon untuk ikut bersama
Minak Kiyai.
Pada malam ketujuh setelah ke-
jadian itu Minak Kiyai yang ternyata Pagi-pagi mereka berangkat, se-
bisa menyelamatkan diri dari ren- telah perjalanan yang cukup jauh
cana jahat kakaknya pulang ke dan melelahkan sampailah mereka
desa. Dia duduk di sebuah gardu di desa Perupuk dekat Sungai Pisang
dan memainkan Ginggong (jenis bu- di seberang desa Pulau Negara. Di
nyi-bunyian yang terbuat dari pele- tengah jalan mereka bertemu
pah enau). Ibu Minak Kiyai, Naimas dengan perampok yang berasal dari
Djundjung Pali yang sedang duduk suku Abung yang dimana suku ini se-
di teras rumah mendengar suara ring berperang dengan orang-orang
itu, dan dia teringat hanya anaknya desa Perupuk. Perampok itu me-
Minak Kiyai yang bisa memainkan- minta barang-barang yang dibawa
nya. Ia berjalan tergopoh-gopoh oleh mereka, Minak Kiyai tidak mau
sambil membawa lampu dian (seje- menyerahkannya dan akhirnya per-
nis lampu kecil dari tembaga yang kelahianpun terjadi. Perampok dari
dimasukan kedalam liung/ keran- suku Abung itu bisa dikalahkan oleh
jang kecil). Setelah menyusuri jalan Minak Kiyai mereka pergi mening-
setapak ibu Minak Kiyai melihat so- galkan Minak Kiyai dan ibunya. Me-
sok anaknya yang tengah duduk di reka berjalan kembali dan sampai-
lah Mereka di desa Pulau Negara.
8
Minak Kiyai melihat sebuah rumah. muka Peliung” yang berarti “Pemu-
Karena hari yang sudah semakin ka Terhormat Pembawa Liung,”
gelap akhirnya Minak Kiyai memu- nama inilah yang kemudian menjadi
tuskan untuk meminta izin si pemi- nama daerah di OKU (Ogan Kome-
lik rumah untuk bermalam dan ber- ring Ulu).
teduh dirumahnya. Si pemilik rumah
yang kasihan melihat Minak Kiyai Bertahun-tahun berlalu Datong
dan ibunya mengizinkan mereka dan Putri Dayang Bumbun tak kun-
menginap. jung juga memiliki keturunan.
Akhirnya Putri Dayang Bumbun
Minak Kiyai mulai menetap di Mengizinkan Datong untuk menikah
desa ini dan memulai kehidupan lagi. Datong pun meminang Putri
yang baru. Karena kebijaksanaan Dayang Tejerijit anak dari Moyang
dan kepandaiannya, Minak Kiyai se- Dusun Banu Ayu Marga Lubuk Ba-
makin terpandang dan ditunjuk se- tang. Dari pernikahannya dengan
bagai pemuka adat dan dia juga di- Putri Dayang Tejerijit, Datong di-
panggil Datong karena dia adalah karuniai tiga orang putra yaitu Pen-
orang pendatang. Setelah waktu ghulu yang menetap di desa Bantan,
yang cukup lama Minak Kiyai alias Gedung yang menetap di desa Ne-
Datong memutuskan untuk meni- geri Pakuan, dan Umpuan Ratu yang
kah, dia meminang Putri Dayang menetap di desa Pulau Negara.
Bumbun anak dari Pangeran Ratu
Mula dari desa Nikan. Itulah asal muasal daerah Buay
Pemuka Peliung. Dimana daerah ke-
Pada suatu hari Pangeran Ratu kuasan Buay Pemuka Peliung terdiri
Mula mengajak menantunya Datong dari 4 tanah kekuasaan di sebelah
untuk berdiskusi mengenai Suku Timur berbatasan dengan Sungai Pi-
Abung yang akan melakukan kudeta sang (Tanah Lampung), di sebelah
dan peperangan. Mendengar hal itu Selatan Sumber Habu (Wai Tiak) Hi-
Datong pun memutuskan untuk ber- lir desa Peracak Menjadi batas
perang dengan Suku Abung. Sampai- dengan Marga Haji (Muara Dua), di
lah Mereka pada hari peperangan. sebelah Barat Dengan Sungai Gila
Banyak korban jiwa dari peperang- batas dengan Ogan Ulu, serta sebe-
an ini, pada akhirnya Datong meme- lah Utara batas dengan Pulau Semun
nangkan Peperangan ini mereka dekat Riang Bandung batas Madang
kembali ke desa dan mengabarkan Suku 1.
kemenangan mereka. Karena sudah
berjasa pada penduduk desa akhir-
nya Datong diberi gelar “Buay Pe-
9
“Tolong....tolong ..tolong! “ teriak ikan kesakitan di genggaman Sri-
kati. Srikati tidak menghiraukan ikan yang sedang mengerang-erang
kesakitan. Ikan berusaha keras melepaskan diri sekuat tenaga agar
terlepas dari genggaman Srikati, namun usahanya sia-sia.Ikan pun akhir-
nya dipanggang di pinggir sungai”
Agus Priyana
[ Guru SMPN 1 Buay Madang Timur ]
10
ada zaman dahulu di sebu- kolam itu.Tanpa berpikir panjang,
ah hutan pinggir perkam- Srikati dengan tangkasnya menyam-
pungan, tinggallah seorang bar ikan-ikan yang sedang menari-
nari.
Pibu tua yang memiliki dua
gadis kembar. Kedua gadis ” Tolong....tolong ..tolong! “ te-
itu diberi nama Srikati dan Srikatu. riak ikan kesakitan di genggaman
Mereka amat cantik, kulit tubuhnya Srikati. Srikati tidak menghiraukan
menawan dan indah bentuknya. ikan yang sedang mengerang-erang
Tentunya kedua gadis kembar itu kesakitan. Ikan berusaha keras me-
berbeda watak. Srikatu selalu men- lepaskan diri sekuat tenaga agar
galah, sabar dan tidak pernah men- terlepas dari genggaman Srikati,
cela kekurangan saudaranya.Bah- namun usahanya sia-sia.Ikan pun
kan ketika Srikati mendapatkan akhirnya dipanggang di pinggir
makanan yang lezat, sering kali tak sungai.
pernah merasakan nikmatnya ma-
kanan yang disantapnya. Watak Sri- Sebelum ikan dimakan Srikati,
kati memang rakus,sombong, tamak
Srikatu mengingatkan serasa berka-
,dan suka mengumpat. ta, “Hai kawan...tidak ingatkah ke-
Suatu hari, Si Kembar berjalan- pada saudaramu ini ? Rupanya kau
telah melupakan aku, kau sangat
jalan keliling hutan untuk mencari rakus, aku ini kau anggap siapa ?
makanan. Mereka menoleh kesana Kati..., kalau kau saudaraku, beri-
kemari perlahan-lahan mengamati kan aku kesempatan menikmati
tempat yang dilewati siapa tahu ikan itu.”
ada makanan yang bisa didapat.Ti-
balah Si Kembar di sebuah kolam “ Jangan cerewet, sudah...su-
yang amat jernih airnya.Dilihatnya dah...pokoknya ikan ini tidak akan
beberapa ekor ikan yang sedang kuberikan kepada siapa pun terma-
menari-nari yang seolah tidak tahu suk kau !” jawab Srikati.
bahaya yang akan mengancam.Si
Kembar berhenti sejenak di pinggir Dengan rakusnya, Srikati melahap
kolam itu. ikan itu. Ia tidak lagi mempereduli-
kan saudaranya yang mengharapkan
Kata Srikati dalam hati, ”Bagai- belas kasihan. Setelah puas, pergi-
mana aku bisa menangkap ikan-ikan lah mereka meninggalkan kolam
itu, sungguh lezat bila kupanggang menuju tempat istirahat yang lebih
nanti?“ nyaman karena kelelahannya.
Dicarilah akal agar Si Kembar ber- Keesok harinya, Si Kembar mene-
hasil menangkap ikan-ikan yang di ruskan perjalanannya lagi. Mereka
melirik ke sana ke mari tempat yang
11
dilewati, dan akhirnya mereka tiba- leh ke kanan, tanpa sengaja dilihat-
lah di semak belukar. Tempat itu nya sebuah bungkusan. Benda itu
tampak gersang, banyak rumput ke- tidak lain, daging ayam panggang
ring seolah-olah meronta minta mi- yang sudah diberi racun oleh pem-
num karena kekeringan. buru sebagai umpan untuk mem-
bunuh binatang babi.
“Mengapa tidak ada makanan di
tempat ini ? Perutku mulai terasa Srikatu sudah menduga dalam ha-
lapar, tapi mana mungkin di tempat tinya, “ Ini pasti umpan beracun,
seperti ini ada makanan ? Aduh aku baunya menyengat hidung , ben-
lemas.” tuknya lain dengan makanan yang
pernah kujumpai.Aku harus hati-
Si Kembar dengan sempoyongan hati dan waspada jangan sampai
tertatih-tatih melanjutkan perjala- maut menjemputku,” akhirnya me-
nannya. Mereka berhenti sejenak reka berusaha menjauhi tempat itu.
siapa tahu ada makanan yang siap
dilahapnya lagi. Baru saja ia meno-
12
13
Namun yang terjadi, Srikati justru zat, mantap betul...!” kata Srikati
terlihat gembira. Ia tergiur dengan kepada saudaranya itu.
benda itu, bahkan ia ingin segera
menyantapnya. Katanya kepada Sri- Selang beberapa menit kemudi-
katu, an, perut Srikati mulai terasa mu-
las. Perut terasa ditendang-ten-
”Hai kawan,mengapa kau terge- dang. Perut terasa kaku dan kejang.
sa-gesa menghindar dari tempat ini Badan gemetar dan lemas lunglai.
Ia tak berdaya lagi,maut pun men-
? Di sini adamakanan yang lezat,lihat jemputnya. Hiduplah Srikatu seba-
bungkusan itu... ayam panggang ka- tang kara karena ibu dan saudara-
wan. Ayo kita santap sama-sama.” nya telah tiada. Nama Srikatu
semakin dikenal oleh masyarakat
Dengan nada kesal dan marah, saat itu karena tutur kata dan budi
Srikatu berteriak keras-keras, pekertinya dapat dicontoh gadis se-
“Jangan kau sentuh benda itu! Ayo bayanya, maka ketika Srikatu me-
tinggalkan tempat ini ! Kita akan nyusul ibu dan saudaranya yang te-
celaka kalau ayam panggang itu kita lah tiada, mayarakat mengabadikan
makan. Ayo, cepat pergi!” “Sung- namanya menjadi Srikaton. Sri
guh bodoh kau ini, tidak tahukah itu [ratu/putri], katon[bahasa Jawa;
bungkusan berbahaya dari pemburu tampak] yang dimaknai seorang
babi, makanan itu beracun. Pergi... putri yang dapat menampakkan diri
pergi...pergi.....!” teriak Srikatu dalam ujud perilaku dan perkataan
dengan nada marah. yang penuh hikmat. Tidak bisa kita
pungkiri bahwa perbedaan baik
Srikati tenang-tenang saja mene- buruk watak Si Kembar itu ada pada
rima kemarahan saudaranya itu. setiap manusia. Bersatu kita teguh,
Srikati tanpa menghiraukan nasihat bercerai kita runtuh.
saudaranya, tanpa pikir panjang
dan tidak mau ambil risiko yang Nara Sumber : Mbah Sarno [tokoh
akan terjadi, ia segera menyergap masyarakat setempat]
ayam panggang itu dan memakan-
nya dengan lahapnya.
“Puas...puas..puas..enak dan le-
14
“Sebagai penghargaan, Tuan Abdurrahman diberi tanah seluas ayam
dan anaknya berjalan mencari makan dan tanah pawalayan seluas
suara dentingan baliyung (suatu alat untuk menebang kayu seperti
kapak) yang dipukul dengan besi. Berkat jasa Tuan Abdurahman
yang telah mengalahkan ular besar itu Pangeran Kai Judan berniat
untuk menikahkanyan dengan saudara perempuannya. Terjadi per-
bincangan antara Tuan Abdurahman dengan Kai Judan”
Juniati, S.Pd.
(Guru SMPN 1 Cempaka)
15
iceritakan ada kerajaan itu disaksikan oleh masyarakat se-
kecil di daerah Adu Manis tempat dan masyrakat dari luar
yang bernama Bala Seribu. daerah. Tak lama kemudian, terd-
engar sorak gembira dari penonton
DRajanya bernama Tuan yang menyaksikan sayembara itu
Bala Seribu. Tuan Bala Se- bagaimana tidak harimau-harimau
ribu mempunyai kegemaran meme- itu dapat dikalahkan oleh pangeran.
lihara harimau. Suatu saat harimau- Semenjak itu tidak ada lagi keresa-
harimau ini menjadi tidak han masyarakat karena harimau-
terkendali sehingga apapun yang harimau peliharaan Raja sdh dapat
ditemuinya jadi santapannya (hari- dikendalikan Pangeran Paserean.
mau) apalagi ternak penduduk se-
makin hari semakin meresahkan Pangeran Paserian menagih janji
masyarakat sang Raja “Bagaimana Tuan, apakah
Tuan Bala Seribu mendengar ke- Tuan dapat menepati janji Tuan?”
resahan masyarakat dengan kebera- tanya Pageran Paserian.
daan harimau –harimau peliharaan-
nya yang tidak terkendali itu, Lalu, “Ya,ya itu pasti saya tidak akan
dia berpikir bagaimana cara ingkar janji,” kata Raja..
mengendalikan harimau-harimau
tersebut. Lama dia berfikir lalu dia Kemudian Pangeran tersebut dini-
mendapatkan ide bagaimana kalau kahkan dengan Puteri Raja Bala Se-
diadaakan sayembara (sambil ribu dengan sangat meriah. Dari
menganggut-anggutkan kepalanya). perkawinan tersebut lahirlah Tuan
Lalu, diumumkanlah sayembara Sirih Kembang. Tuan Sirih Kembang
tersebut “Siapa yang biasa menga- mempunyai anak bernama Suk Sam-
lahkan/mengendalikan harimau-ha- ad. Suk Samad memiliki tujuh pu-
rimau peliharaanku ia akan ku nika- tera, salah satunya bernama Syeh
hkan dengan putriku,” begitu bunyi Abdurrahman.
pengumuman yang dikeluarkan oleh
Tuan Syeh Abdurrahman melaku-
sang Raja. kan perjalanan ke hilir mengikuti
Tujuan diadakan sayembara itu arus Sungai Komering. Kemudian
singgah di daerah Serba Nyaman,
untuk mengendalikan harimau-hari- dan tinggal di suatu tempat di de-
mau tersebut. Salah satu peserta kat daerah tersebut yang kemudian
sayembara bernama Pangeran Pasa- dikenal dengan nama Kaum (nama
rean yang berasal dari Cirebon. Per- kampung yang ada di desa Campang
tarunganpun dimulai. Pertarungan Tuga Ilir)
yang sangat sengit dan mencekam
Di daerah sekitar Sungai Kome-
ring ada suatu tempat yang berna-
16
ma Ulak Singgah Mata. Penguasanya Keberadaan ular tersebut sangat-
bernama Pangeran Kai Judan. Sung- lah meresahkan masyarakat, Pang-
ai Komering dahulu merupakan eran Kai Judan berpikir bagaimana
alat/jalan transportasi bagi masy- cara mengusir ular tersebut. Lalu,
arakat sekitar Pesisir Komering. Ma- ia meminta bantuan kepada Tuan
syarakat dari Hulu sungai meman- Abdurrahman. Tuan Abdurrahman,
faatkan sungai untuk sampai ke Hilir datanglah ke tempat Pangeran Kai
yaitu daerah Palembang. Judan di daerah Talang Joring (dulu
orang menyebutnya Talang Tungku
Di daerah Ulak Singgah Mata, di- Tolu).
huni seekor ular besar yang selalu
memangsa manusia. Ular tersebut “Assalamualaikum, ” kata Tuan
mempunyai sarang di Rongas Ku-
ning. Untuk melewati sungai, ma- Abdurahman.
syarakat berhenti dahulu untuk me- “Waalaikumsalam. Silakan ma-
lihat keberadaan ular tersebut.
Kalau ular tersebut tidak ada di suk! Maaf saya telah mengganggu
Ulak Singgah Mata baru mereka le- waktu Tuan. Maksud saya memang-
wat (melanjutkan perjalanan). gil Tuan ke sini untuk meminta ban-
tuan Tuan untuk
17
membantu mengusir ular yang tersebut dipasang jaring dengan tu-
sangat mereesahkan warga di sini. juan ketika ular menerkam, gigi
Apakah Tuan bersedia membantu ular akan tersangkut di jaring.
saya untuk melakukan itu?” tanya
Pangeran Kai Judan. Berangkatlah Tuan Abdurrahman
menuju tempat ular tersebut sam-
“Insya Allah, saya bersedia Pang- bil menabuh terbangan (rebana).
eran. Saya akan berusaha mengusir Saat sampai di tempat ular terse-
ular tersebut,” jawab Tuan Abdu- but, tiba-tiba ular tersebut langs-
rahman. ung menyerang Tuan Abdurrahman.
Ketika ular tersebut akan mener-
Pangeran Kai Judan dan Tuan Ab- kam Tuan Abdurrahman, gigi ular
durahman terdiam sambil berpikir itu tersangkut di jaring yang sudah
mencari akal bagaimana caranya ia dipersiapkan sebelumnya. Saat itu-
dapat mengalahkan ular tersebut. lah kepala ular tersebut dipotong
Tak terasa waktu sholatpun tiba, dengan menggunakan sebilah pe-
mereka lalu sholat bersama. Saat dang. Kerena ular tersebut sangat
mereka shalat di pinggir sungai di besar, saat dipotong ular tersebut
atas pasir, jatuh satu benda dari mengeluarkan suara seperti ge-
langit yang berbentuk sepotong muruh. Sejak kejadian itulah dae-
besi. rah tersebut dikenal dengan nama
Guruh-Guruh.
Tuan Abdurrahman berkata, “Itu
milikmu karena jatuh di tempat- Sebagai penghargaan, Tuan Ab-
mu.” durrahman diberi tanah seluas ayam
dan anaknya berjalan mencari ma-
Namun, Pangeran Kai Judan ber- kan dan tanah pawalayan seluas
kata, “ Itu milikmu karena sudah suara dentingan baliyung (suatu
bertahun-tahun saya shalat disini alat untuk menebang kayu seperti
benda itu tidak jatuh”. kapak) yang dipukul dengan besi.
Berkat jasa Tuan Abdurahman yang
Akhirnya benda tersebut diberi- telah mengalahkan ular besar itu
kan kepada Tuan Abdurrahman. Pangeran Kai Judan berniat untuk
Lalu, benda itu dibawa ke pandai menikahkanyan dengan saudara pe-
besi (pandian) untuk dibuat sebilah rempuannya. Terjadi perbincangan
pedang yang nantinya akan dipakai antara Tuan Abdurahman dengan
untuk membunuh ular yang meng- Kai Judan.
ganggu mayarakat tersebut. Sete-
lah pedangnya selesai, persiapan “Sebagai rasa terima kasih saya
pun dimulai dengan membuat rakit
(kayu yang disusun dan diikat satu
sama lainnya). Di sekeliling rakit
18
kepada Tuan bagaimana kalau Tuan Mereka ketakut meliaht darah
aku nikahkan dengan saudara pe- yang keluar dari tanah dimana tom-
rempuan saya,” kata Pangeran Kai bak ditancapkan. Lama mereka ter-
judan kepada Tuan Abdurahman. diam dan berpikir. Mereka mengaa-
mati apa yang sebenarnya terjadi.
“Kalau Tuan berekenan, saya mau Baru sadar kalau darah itu keluar
mempersuntiang saudara Tuan,” mulut ular
jawab Tuan Abdurahman.
Mereka buru-buru meninggalkan
Jawaban tersebut tentunya dis- tempat itu dan menemui Pangeran
ambut gembira oleh Pangeran Kai Kai Judan. Oleh Pangeran Kai Judan
Judan. Kemudian terjadilah perni- dimintalah Tuan Abdurrahman (Tuan
kahan antara Tuan Abdurrahman Shih) untuk membunuh ular terse-
dengan saudara perempuan Pange- but. Pergilah Tuan Abduhrahman ke
ran Kai Judan. Selama tinggal di tempat ular ditemuka, Namun, se-
sana (daerah Kaum) Tuan Abdurah- telah sampai di tempat tujuan, ular
man mengajar mengaji berkat ke- tersebut sudah menghilang. Hanya
pandainya itu ia diberi nama Tuah tinggal bekasnya saja.
Shih.
Sejak saat itu daerah tersebut di-
Di suatu tempat yang tidak terla- kenal degan belakat. Tuan Shih te-
lu jauh dari tempat itu masih ada tap diberi tanah di daerah tersebut.
ular besar lainnya yang sedang ber- Sampai sekarang daerah tersebut
tapa (menunggu mangsa). Ular ter- bernama Balakat. Pedangnya juga
sebut ditemukan oleh sekelompok masih tersimpan pada keturunan-
pemburu, karena Mereka ini kehu- nya. Sampai pada akhir hayatnya
janan lalu berteduh di tempat yang beliau mengajar agama. Setelah
mereka kira gua kecil. Mereka me- meninggal beliau dikuburkan di
nancapkan tombaknya di tanah. be- daerah Guruh-Guruh. Bekas jalan-
tapa kagetnya merekat karena nya ular besar itu dari Rongas Ku-
keluar darah dari tanah tersebut. ning - Singgah Mata sampai sekarang
masih ada yaitu berupa sungai ke-
“Kok ada darah ya?” tanya mere- cil.
ka.
19
“Perang dimulai, bala tentara Apung jatuh berguguran, ber-
simbah darah. Sebagian bala tentara Apung yang masih hidup
lari tunggang langgang tiada arah untuk menyelamatkan diri.
Dan bala tentara Apung yang kalah kepalanya dipenggal oleh
bala tentara Pati. Dan penggalan kepala-kepala mereka susun
menjadi tatanan tangga yang disebut Cakata Naga. Kerajaan
Peran Pati menang, tanpa terkorehkan setitik darahpun”
Oleh
Saringatun Ummu, S.Pd.
( Guru SMP Negeri 1 belitang Madang Raya)
20
erajaan Negeri Besar ada- “Benar Patih, Kerajaan Abung
lah salah satu kerajaan akan memperluas wilayah kekuasa-
yang ada di daerah Negeri anya yang pasti wilayah kita akan
terambahnya, jadi siapkan bala
KBesar . Kerajaan yang di tentara!’’lanjut Pangeran Peran
pimpin oleh raja yang Pati.
sangat mencintai rakyatnya dan
raja yang sangat bijaksana. Dia ada- ‘’Baik Raja. Saya akan siapkan se-
lah Pangeran Peran Pati. Kerajaan muanya,” jawab Patih Dewanta.
Negeri Besar sesuai dengan nama-
nya kerajaan yang luas wilayahnya, Benar adanya hari itu tiba, pe-
luas daerah kekuasaanya. Selain ke- rang terjadi antara Kerajaan Negeri
rajaan Negeri Besar adapula Kera- Besar dan Kerajaan Abung. Besar-
jaan Abung Lampung. nya Kerajaan Abung membuat ke-
walahan bala tentara Pangeran Pe-
Pada saat Pangeran Peran Pati ran Pati jatuh tumbang bersimbah
memimpin kerajaan dalam situasi darah, kocar kacir tiada tentu. Pada
yang damai dan tentram. Tiba-tiba situasi yang darurat, Pangeran Pe-
terdengar desas-desus bahwa Kera- ran Pati yang bijaksana selalu me-
jaan Abung akan memperluas wilay- mikirkan nasib keamanan rakyat-
ah daerah kekuasaanya. Keresahan nya.
mulai muncul pada diri Pangeran
Peran Pati, bagaimana nasib rakyat- “Patih situasi semakin mendesak,
nya nanti jika Kerajaan Abung mem- rakyat kita yang masih hidup se-
perluas wilayahnya dan pasti akan lamatkan larikan keseberang sung-
sampai mengusik daerahnya. Terja- ai !’’ perintah Peran Pati.
dilah selisih paham antara kerajaan
Negeri Besar dan kerajaan Abung ‘’Baik Raja ,” jawab Patih Dewan-
Lampung. ta.
“Patih , siapkan semua bala ten- Setelah situasi mulai membaik,
tara, Kerajaan Abung akan memulai kerajaan Pangeran Peran Pati se-
perang dengan kita ! ’’ perintah cara perlahan telah dapat memukul
Pangeran Peran Pati. mundur tentara Kerajaan Abung
meskipun sedikit yang terselamat-
“Benarkah hal itu raja, bukanya kan.Kehidupan masyarakat seber-
selama ini kerajaan sebelah selalu ang sungai tumbuh berkembang,
damai dengan kita ?’’ sahut Patih nyaman, tenang.
Dewanta.
Desa yang ia tempati desa Mun-
cak Kabau Tuha atau yang lebih di-
kenal dengan Kuta Tanah. Tetapi,
21
ketentraman terusik kembali. Kera- satu dengan rakyat kita!’’ seru sang
jaan Abung, Lampung menyerang Raja.
kembali ketentraman tersebut.
“Baiklah Raja, kita siapkan semu-
“Abung datang lagi! Abung meny- anya dengan rakyat,” timpal Sang
erang lagi!” seruan di keramaian Patih.
rakyat.
Saat itu memang benar adanya,
“Bagaimana dengan nasib kita, tidak ada persiapan apapun, tidak
Baginda Raja?’’tanya salah satu ra- ada persiapan persenjataan. Dan
kyat. karena penduduk Muncak Kabau
saat itu sedang beramai-ramai
Saat situasi mendesak dan penuh membuat makanan khasnya yakni
kegaduhan Sang Raja yang bijak juadah (sejenis dodol).
penuh ketenangan, menenangkan
rakyatnya. “Raja senjata kita hanya ini, ba-
gaimana bisa kita mengalahkan
“Tenang, tenang, rakyatku! Kalau Abung? (sambil mengangkat candung
kita bersama pasti kita bias mela- (parang) dan bambu runcing),” kata
wan dan mengalahkan Abung lagi,” salah satu warga.
kata Sang Raja Peran Pati dengan
penuh keyakinan. Dengan wajah yang sedikit ce-
mas, dalam hati sang raja memang
“Patih persenjatan apa yang kita membenarkan bahwa tidak ada sen-
punya?’’ lanjut sang Raja. jata apapun selain candung dan
bambu runcing. Namun, sang Raja
“Raja, kita tidak ada persediaan tetap yakin bahwa dapat mengalah-
senjata apapun, semua senjata ha- kan Kerajaan Abung.
bis pada saat perang yang dulu, dan
hanya tinggal sebagian saja itupun “Rakyatku, kita pasti bisa menga-
tertinggal di tepian sungai,” jata lahkannya meskipun hanya dengan
Patih Dewanta. candung dan bambu runcing!’’kata
Sang Raja dengan kemantapannya.
“Sekarang yang ada saat ini hanya
candung dan bambu runcing, “ la- Dummm, dummm, dummm.
njut sang Patih. Benderang ditabuh. Perang terjadi.
Bala tentara Abung menyerang, ra-
“Apapun yang kita punya saat ini kyat Raja Pati panik. Situasi daru-
bisa jadi senjata, asalkan kita ber- rat. Tiba- tiba keajaiban terjadi.
Makanan juadah yang mereka buat
tiba-tiba berubah menjadi batu se-
hingga dapat digunakan untuk
22
mengasah candung. Dan dengan penggalan kepala-kepala mereka
persenjataan yang telah di asah ta- susun menjadi tatanan tangga yang
jam, kemudian bala tentara kera- disebut Cakata Naga. Kerajaan Pe-
jaan Pati membuat parit untuk ben- ran Pati menang, tanpa terkorehkan
teng pertahanannya. setitik darahpun.
“Ayo semangat, waktu kita ting- Setelah habis masa jabatan Peran
gal sedikit!” seru salah satu bala Pati, masyarakat Muncak Kabau
tentara. Tuha kembali hijrah ketepian sung-
ai komering. Dan dilanjutkan oleh
“Iya semangat!” seru yang lain. pangeran Datuk Kebulu Lungkung.
Desa mulai tenang sehingga masy-
Dengan persatuan dan semangat arakatnya bersama - sama
bala tentara dan rakyat. membangun rumah adat yang diberi
nama Mutor Zaman. Dan semakin
‘’Parit selesai, parit selesai!” berkembang desa tersebut lahirlah
seru bala tentara. aturan-aturan roda pemerintahanya
yang dikenal dengan sebutan Pasi-
“ Persiapkan diri rakyatku, ben- rah (setingkat dengan Camat). Pasi-
teng kita telah kokoh, senjata telah rah pertama Depati Macan, dan ke-
tajam!” seru sang Raja Peran Pati. dua Depati Tambuh, pasirah ketiga
Depati Raden Salenggang, pasirah
“Kita siap melawan Abung, siap keempat Depati Cek Alidalam. Dan
berperang, sampai titik darah pen- masa Pasirah Ali lahirlah sebutan
ghabisan!” sahut Patih Dewanta. marga Muncak Kabau menjadi ibu
marga dan yang dikenal dengan
Parit telah selesai dibuat, ben- nama marga Buay Pemuka Bangsa
teng semakin kuat, senjata telah di Raja.
asah.
Kemudian, kepempimpinan dila-
“Serang.. serang.. serang!” seru njutkan kepada Depati Hasan seba-
tentara Pati. gai Pairah kelima. Dan sampai seka-
rang Muncak Kabau menjadi ibu
Perang dimulai, bala tentara kota kecamatan Buay Pemuka Bang-
Abung jatuh berguguran, bersimbah sa Raja. Kabupaten OKU Timur.
darah. Sebagian bala tentara Abung
yang masih hidup lari tunggang
langgang tiada arah untuk meny-
elamatkan diri. Dan bala tentara
Abung yang kalah kepalanya dip-
enggal oleh bala tentara Pati. Dan
23
“Puteri Putih tersenyum dan melanjutkan kalimatnya, “Baiklah,
tidak masalah jika kalian ingin mandi dan bersenang-senang di
sungai ini. Tetapi, apa kalian menyadari di mana letak kesalahan
kalian?” Mereka serentak menggeleng. “Kesalahan kalian adalah,
kalian telah membohongi kedua orangtua dan guru kalian,”
Ketus Puteri Putih dengan nada yang meninggi. Anak-anak terse-
but menunduk, menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan.
Puteri Putih melanjutkan, “Kalian pamitnya hendak pergi ke
sekolah kepada orangtua kalian, namun kenyataannya kalian
malah bolos sekolah. Ini benar-benar perbuatan yang tidak baik”
Nurprafti Tiasoetami, S.Pd
(Guru SMP Negeri 4 Martapura)
24
lkisah, hiduplah seorang kuman kepada orang-orang yang
perempuan berparas can- berbuat tidak baik di sekitar Sungai
tik yang tinggal di Pulau Komering tersebut.
APasir Sungai Komering di Pernah suatu ketika, ada lima
bagian Barat. Konon, pe- orang pelajar dari Sekolah Men-
rempuan tersebut merupakan jel- engah Pertama yang tengah asyik
maan seekor buaya putih yang ke- berenang sampai ke tengah-tengah
rap muncul setiap malam bulan sungai. Tiba-tiba ...Wusssssss ...
purnama. Masyarakat yang tinggal Surrrrrrr ...
di sekitar Sungai Komering tersebut
menyebutnya Puteri Putih. Air berputar sangat kencang. Ke-
lima anak tersebut begitu terkejut
Ketika cahaya purnama mulai me- dan tak bisa lagi mengelak dari pu-
nari di atas mega, buaya putih ter- taran air tersebut. Mereka terseret.
sebut akan muncul ke tengah- Dan tiba-tiba saja mereka sudah te-
tengah pulau pasir yang berada di rikat di sebuah batu besar dengan
bawah jembatan rel kereta api. dikelilingi oleh buaya-buaya besar,
Para nelayan dan penambang pasir menampakkan gigi-gigi yang tajam.
yang menggantungkan hidupnya Namun, tampaknya buaya-buaya
pada Sungai Komering kerap meny- tersebut jinak. Hingga kilatan ca-
aksikan seorang perempuan cantik haya menyilaukan kedua mata
berdiri di tengah-tengah Pulau Pa- anak-anak tersebut. Tiba- tiba, so-
sir. Di bawah cahaya purnama, tam- sok Puteri Putih muncul di hadapan
pak pantulan cahaya dari geraian mereka.
rambut panjangnya yang berwarna
putih, dan mahkota berukir kepala Dengan anggun dan lembut ia
buaya bertengger manis di kepala- bertanya, “Apa yang kalian lakukan
nya. di sungai ini?”
Sejauh ini, kehadiran Puteri Putih Salah satu anak yang bernama
jelmaan buaya putih tersebut tidak Roni menjawab dengan ketakutan,
pernah mengganggu atau memba- “Ampun, Puteri. Kami hanya ingin
hayakan masyarakat di sekitar mandi saja di sungai ini.”
Sungai Komering, dan para pengun-
jung yang biasanya mandi di sungai Puteri Putih tersenyum dan mela-
tersebut. Namun, Puteri Putih tidak njutkan kalimatnya, “Baiklah, tidak
akan segan-segan memberikan hu- masalah jika kalian ingin mandi dan
bersenang-senang di sungai ini. Te-
tapi, apa kalian menyadari di mana
letak kesalahan kalian?” Mereka se-
25
rentak menggeleng. “Kesalahan ka- Tali-tali yang mengikat tubuh me-
lian adalah, kalian telah membo- reka tiba-tiba terputus. Dengan tu-
hongi kedua orangtua dan guru buh yang masih basah dan gemetar,
kalian,” Ketus Puteri Putih dengan mereka berdiri dan bersujud di kaki
nada yang meninggi. Anak-anakter- Puteri Putih.
sebut menunduk, menyadari kesa-
lahan yang telah mereka lakukan. Puteri Putih tersenyum dan meng-
Puteri Putih melanjutkan, “Kalian gelengkan kepala melihat kelakuan
pamitnya hendak pergi ke sekolah anak-anak tersebut.Puteri Putih
kepada orangtua kalian, namun ke- mengelus pucuk kepala mereka
nyataannya kalian malah bolos se- dengan lembut, dan berpesan,
kolah. Ini benar-benar perbuatan
yang tidak baik.” “Jangan pernah lagi mengulangi
perbuatan yang tidak baik seperti
Wajah Puteri Putih tampak merah ini. Sampaikan juga kepada teman-
menahan amarah, kedua bola ma- teman kalian, bila perlu kepada se-
tanya juga memancarkan kilatan mua masyarakat di sini, bahwa Pu-
merah menyala. Kelima anak terse- teri Putih penguasa Pulau Pasir di
but menangis dan menjerit ketaku- Sungai Komering ini tidak akan se-
tan. Roni mengiba, “Ampun, Puteri. gan-segan memberikan hukuman
Ampun ... Kami tidak akan mengu- kepada orang-orang yang berbuat
langinya lagi. Hik ... Hik ... Ibu ... tidak baik. Apalagi sampai membu-
Tolonggggg ...” ang kotoran dan sampah di sini.”
Puteri Putih berkacak pinggang, “Baik, Puteri. Terimakasih,” Sa-
memberi peringatan dengan tegas, hut anak-anak tersebut.
“Jika kalian berani mengulangi per-
buatan kalian, meskipun kalian bo- “Pulanglah. Pejamkan mata kali-
losnya di tempat lain, saya tidak an,” titah Puteri Putih lirih.
akan segan-segan menangkap dan
menjadikan kalian sebagai santa- Cling ...
pan buaya-buaya besar di sini. Ingat Tiba-tiba mereka sudah berada di
itu!” ancam Puteri Putih.
tepian sungai, tepat di sisi perahu
Kemudian, dua larik merah dari milik nelayan di sungai tersebut.
kedua matanya yang menatap lurus Ternyata warga sedang panik men-
ke arah kelima anak yang masih te- cari mereka berlima, sebagian war-
rikat pada batu besar tersebut. Dan ga berpencar menyusuri sungai. Se-
...Jessssss ... Jesssss ... Jesss ... bab tadi ada salah satu nelayan
yang melihat mereka berlima teng-
gelam terbawa putaran air. Warga
berbondong-bondong menghampiri
kelima anak tersebut. Mereka ber-
26
nafas lega setelah memeriksa sekitar Sungai Komering tersebut
keadaan anak-anak tersebut. menjadi lebih berhati-hati dalam
bersikap dan bertindak. Mereka ti-
Setelah merasa sedikit tenang, dak lagi membuang sampah atau-
Roni dan teman-temannya mence- pun membuang kotoran manusia di
ritakan kejadian yang baru saja me- sungai tersebut. Sebab, semakin di-
reka alami. Tak lupa, pesan dari Pu- jaga, dirawat dan dilestarikan, ke-
teri Putih juga mereka sampaikan giatan penambangan dan pencarian
kepada warga yang tengah berkeli- ikan menjadi lancar tanpa hamba-
ling mendengarkan kisah mereka. tan. Selain itu, Sungai Komering
Warga mendengarkan dengan sek- menjadi semakin indah dipandang
sama, dan pada akhirnya memberi- mata.
kan nasihat kapada anak-anak ter-
sebut agar tidak mengulangi Martapura, 15 November 2020.
perbuatan yang serupa.
Sejak kejadian itu, masyarakat di
27
28
“Cantik sekali ularnya yah!” ujar Ningsih.
“Iya.. baru ayah perhatikan.,” jawab Suhar.
“Dapat dimana Yah ular ini?” tanya Ningsih.
“Tadi di jalan, didekat kebun,” jawab Suhar.
Suhar tidak mau berkata jujur kepada ningsih bahwa ular yg
ditemukannya itu berada di dekat makam moyang Tuan Mas
Cina
Mayang Anggraini, S.Pd.
(Guru SMPN 2 Martapura)
29
eberapa puluhan tahun hendak pergi berkebun. Sesampai-
yang lalu, hiduplah seorang nya disana suhar melihat ada seekor
warga didesa negeri paku- ular yang berada di dekat makam
nenek moyang tuan mas cina.
Ban yang bernama tuan mas
cina. Beliau merupakan se- “Wah… ada ular tuh, besar sekali.
sepuh sekaligus salah satu pendiri Lumayan kalau dijual pasti langsung
desa tersebut. Tuan mas cina dike- laku. Aku harus berhati-hati nih
nal mempunyai ilmu kebatinannya mengambilnya” ujar Suhar.
karena dianggap sakti oleh masy-
arakat setempat. Selain itu, tuan Tanpa berpikir panjang, suhar
mas cina mempunyai peliharaan langsung bergegas mengambil kayu
goib yang berupa ular sanca dan segera mendekati ular tersebut
kembang, karena mayoritas masy- secara diam-diam dari arah bela-
arakat disana suku komering ular kang ular. Terlihat tampak ular itu
itu disebut ulai sawah. Ular sanca sedang menunggu sesuatu dan ha-
kembang selalu mendampingi tuan nya terdiam tanpa bergerak sedikit-
mas cina kemanapun beliau pergi. pun sambil kepalanya memandang
Ular itu memiliki ciri-ciri yang aneh ke arah kuburan Tuan Mas Cina.
panjang badannya 7 meter, besar-
nya seperti paha orang dewasa, Sesampainya di tempat suhar
mempunyai anting dan juga mah-
kota dikepalanya. Tapi sungguh langsung memukul ular itu hingga
anehnya manusia biasa tidak bias terluka di bagian kepala dan badan-
melihat keberadaan ular itu saat nya. Ular itu tidak berdaya lagi se-
bersama tuan mas cina, hanya war- telah dipukul memakai kayu, Suhar
ga tertentu yang bias melihatnya. yang tidak sadar langsung memba-
wanya pulang ke rumah. Sementara
Ular sanca kembang sering me- ular berada di dalam karung. Ular
nampakan diri dikebun warga, apa- masih saja memberontak dan tak
lagi di sore hari menjelang malam. henti-hentinya bergerak di dalam
Ular itu tidak pernah menggangu karung. Namun, nasib ular sungguh
warga yang ada di sana. Sebaliknya, malang, Suhar malah kembali me-
ular itu menjaga warga sekitar. mukulnya di dalam karung. Suhar
Namun baru-baru ini hal mengejut- berpikir dengan cara dipukul ular
kan terjadi di desa tersebut tepat- itu akan pingsan. Saat sampai di ru-
nya tahun 2018 yg lalu. Ada salah mah, Suhar bertemu dengan istri-
satu warga desa negeri pakuan ka- nya yang bernama Ningsih. Ningsih
takanlah namanya suhar. Suhar terheran melihat Suhar cepat se-
kali pulang dari kebun sedangkan
baru saja dia pergi.
30
Ningsih langsung bertanya kepa- yang ada di benaknya adalah uang.
da Suhar, “Mengapa cepat sekali pu- Suhar ingin sekali secepatnya untuk
lang Yah?” menjual ular itu.
“Tadi Ayah ketemu ular, lumayan Keesokan harinya tiba-tiba ular
untuk kita jual,’ jawab Suhar. itu menghilang dari sangkar. Suhar
yang mengetahui itu langsung ter-
“Ular apa yah?” tanya Ningsih kejut dan mencari-cari ular terse-
kembali. but, namun tidak diketahui kebera-
daan ular itu
“Sini mendekatlah dan lihat ini!”
ajak Suhar kepada istrinya. “Buk, dimana ular yg ada di sang-
kar?” tanya Suhar kepada istrinya.
Suhar melepaskan ular tersebut
ke dalam kandang ayam yang biasa “Saya tidak tahu, Yah,” jawab
digunakan untuk mengurung ayam. Ningsih.
Suhar terkejut dan baru sadar ba-
hwa ular yang dia bawa sungguh “Mana mungkin bisa hilang?” ta-
cantik, beda dari ular pada umum- nya Suhar kembali.
nya. Suhar melihat ular itu ada ma-
hkota juga anting di telinga kiri dan Suhar dan istrinnya terheran, ka-
kanan. rena ular itu tiba-tiba menghilang
sedangkan kandang ular masih ter-
“Cantik sekali ularnya yah!” ujar tutup dengan rapat. merekapun
Ningsih. bergegas mencari keberadaan ular
sanca kembang yang cantik itu ka-
“Iya.. baru ayah perhatikan.,” ja- rena rencana mereka ular tersebut
wab Suhar. akan mereka jual. Namun kebera-
daan ular itu masih saja tidak dite-
“Dapat dimana Yah ular ini?” ta- mukan. Semenjak perginya ular
nya Ningsih. sanca kembang, Hari demi hari ter-
lihat keluarga suhar tampak aneh.
“Tadi di jalan, didekat kebun,” Keanehan itu muncul kepada
jawab Suhar. Suhar tidak mau ber- ningsih, seketika ningsih yang baru
kata jujur kepada ningsih bahwa saja terbangun dari tidur lalu berte-
ular yg ditemukannya itu berada di riak.
dekat makam moyang Tuan Mas Cina
. “Tidakkk ...Mengapa ini, menga-
pa tanganku? Apa yang terjadi deng-
Perasaan Suhar pada saat itu me- anku? Ayah, tolong aku!” teriak
rasa takjub, heran dan sekaligus Ningsih.
senang sekali melihat ular temuan-
nya sangat cantik. Pikir suhar Suhar yang sedang duduk di teras
dengan menjual ular sanca kembang langsung seketika terkejut men-
yang cantik ini akan menghasilkan
uang yang lebih banyak lagi, karena
31
dengar teriakan istrinya dan langs- yang dibawa suhar masuk ke rumah
ung menghampiri.”Ada apa, Buk?” itu adalah peliharaan moyang Tuan
Mas Cina. Orang pintar tersebut
Sambil mengangkat tangannya,” menyarankan agar Suhar dan istri-
Lihat ini!” jawab Ningsih sambil nya memotong satu kambing seba-
memerlihatkan tangannya. gai permintaan maaf kepada peli-
haraan Tuan Mas Cina. Suhar pun
Tampak tangan Ningsih seperti si- menyetujui dan keluarganya langs-
sik ular sedangkan Suhar kakinya ung mengiakan apa yang dibilang
keram tak kunjung . Akhirnya, Su- orang pintar itu.
har pun mengalami kelumpuhan.
Mereka berdua selalu berusaha un- Keesokannya keluarga Suhar
tuk mencari obat penawar yang bisa melakukan apa yang dikatakan
menyembuhkan penyakit. Haridemi orang pintar tersebut. Setelah kelu-
hari tak satupun obat yang mereka arga suhar memotong kambing, ba-
minum bisa menyembuhkan penya- dan suhar makin membaik begitu-
kit mereka. Nampak banyak kelu- pun pada istrinya sirik yang ada di
arga suhar juga keluarga ningsih tangan makin memudar dan hilang.
dan masyarakat berdatangan meli- Hingga saat ini suhar sudah bisa
hat langsung kondisi keduanya sang- berjalan seperti sediakala. Kehidu-
at memprihatinkan. Namun ada sa- pan Suhar pun berjalan normal
lah satu warga yang bisa melihat kembali.
kejadiaan aneh yang sedang dialami
Suhar dan Ningsih.
Lalu, orang pintar itu bertanya,
“Suhar aku melihat ada keanehan
dalam dirimu dan juga istrimu. Se-
tiap kali saya melewati rumahmu
seperti ada cahaya merah dan ber-
cak darah. Apakah dulu kau pernah
menyakiti sesuatu hingga terluka ?”
“Seingat saya, saya seperti ini se-
telah kehilangan ular yang saya te-
mukan di kebun. Memang benar
saya membuat terlukaular tersebut
dan memukulinya hingga terluka,”
jawab Suhar.
Orang pintar itu lalu bercerita ke-
pada keluarga Suhar, kalau ular
32
“Masih tergiang di telinganya ketika kalimat-kalimat indah dari
bibir Dahlia meluncurkan tentang kesetiaannya pada Saparudin.
Hati Saparudin bergetar, berbunga, melambung ke awan yang
tak mudah untuk dilukiska”
Sri Wahyuni, S.Pd.
33
etung dan Adumanis meru- tersebut. Layaknya saudara kandung
pakan nama salah satu tentunya tidak ada saling me-
daerah di tepian sungai Ko- musuhi, bunuh-membunuh, saling
asih dan menikahkan pun mereka
Bmering. Wilayah kedua larang. Hal itu dikarenakan dalam
tempat ini saling berdam- ajaran Islam yang dianut warga Be-
tung dan Adu manis. Mereka sangat
pingan. Menurut sejarah, warga menyakini bahwa “Diharamkan Sau-
Adu Manis dulunya adalah warga dara Sekandung untuk Menikah”.
dari Lampung Abung yang datang ke Saparudin menarik nafas dalam- da-
tanah Betung bersama para bala lam dan bergumam.
tentaranya dengan maksud ingin
merebut tanah yang ada di Betung.
Mulanya warga Betung menerima “ Ya Allah dosa api sai yang kula-
warga Adu Manis dengan tangan ter- kuko, sanggup mak yak menang-
buka, namun akhirnya diketahui gung sija? Bak api sai nyak ngala-
bahwasanya warga Adu Manis ingin mina? Apakah ini akhir perjuangan
merebut Tanah Betung dengan ber- panjang yang telah kulakukan. Mun-
bagai cara sekalipun dengan per- gkinkah aku harus mengakhiri cerita
tumpahan darah. Melihat gelagat hidup ini? Atau... mungkin aku ha-
ini warga Betung pun menyusun sia- rus tetap istikhomah dengan apa
sat untuk mengalahkan warga Adu yang akan terjadi?” kata Saparudin
Manis. Akhirnya, rencana pun mulai dalam hati.
dilakukan. Pasukan perang Adu Ma-
nis dijamu dengan makanan yang Ribuan pertanyaan muncul da-
lezat dan minuman yang memam- lam benaknya. Saparudin pun tak
bukkan. mampu untuk menjawabnya. Udin
terhenyak, tersadar dari rangkaian
Berkat minuman yang memabuk- peristiwa dalam hidupnya. Reka-
kan inilah memudahkan warga Be- man peristiwa demi peristiwa ber-
tung membunuh satu persatu bala main di depan pelupuk matanya.
tentara Adu Manis. Perkelahian tak
terelakkan tinggalah satu warga Waktu itu Dahlia memang gadis
Betung dan satu warga Adu Manis. yang cantik. Amat cantik malah. Ku-
Mereka menyadari akan kesalahan- litnya kuning langsat , wajahnya
nya sehingga mereka sepakat untuk bulat telur, rambut lurus tergerai
menjadi saudara sekandung guna panjang, bibirnya selalu tersenyum
meneruskan generasi kedua dusun menambah pesona Dahlia. Selain
34
cantik Dahlia amatlah sopan, dia dengan adat yang dijunjung tinggi
sangat taat dengan agama dan hor- warga Adu manis dan Betung. Dah-
mat dengan kedua orang tuanya. lia sadar pria pujaannya berasal
Sangat wajar jika banyak pemuda dari daerah terlarang untuk mem-
mendekati dan berusaha untuk me- bentuk mahligai rumah tangga. Ia
nyuntingnya. juga sadar gelombang pasti akan
datang menerjang, bahkan memu-
Masih tergiang di telinganya ke- kul biduk rumah tangga yang akan
tika kalimat-kalimat indah dari bi- dikayuhnya. Kemudian dagu Dahlia
bir Dahlia meluncurkan tentang diangkat oleh Saparudin.
kesetiaannya pada Saparudin. Hati
Saparudin bergetar, berbunga, me- Sekali lagi Saparudin bertanya,
lambung ke awan yang tak mudah “Adik siap mak kita nghadapi ap-
untuk dilukiskan. dok pun sai terjadi di muka onti?”
“Yai..., api pun sai terjadi nyak “Yu Yai, aku sudah siap dengan
totop setia di sampingmu,” cawa pilihan yang kupilih,” jawabnya te-
gas.
Dahlia.
Perlahan Saparudin meraih “Dik... sampaikan dengan kedua
tangan itu kemudian mengeggam- orang tuamu, aku akan datang un-
nya, meraihnya dan meletakkan di tuk meminangmu,” kata Saparudin.
dadanya.
“Ya Kak, akan ku sampaikan
“Adik... apikah sija bukti cinta- dengan kedua orang tuaku “ jawab
mu?” tanya Saparudin dengan suara Dahlia.
bergetar.
Saparudin memenuhi janjinya,
Ia menatap lekat-lekat gadis pu- datang menemui orang tua Dahlia.
jaanya. Dahlia tertunduk malu dita- Saparudin ingin menunjukkan pada
tap oleh mata yang menurutnya ba- orang tua Dahlia bahwa ia adalah
gai mata elang. Mata itu begitu laki-laki yang menjunjung tinggi
tajam menghunjam begitu dalam jiwa ksatrianya. Namun apa yang
pada hatinya. Mata itu seperti pi- terjadi, ayah Dahlia marah besar.
sau yang mengikis kesetiaan pada
kedua orang tuanya dan adat yang “ Apakah kamu tidak tahu dengan
membesarkannya. Dahlia paham ketentuan adat kita? Apakah kamu
35
tidak takut dengan bahaya yang seorang.
akan kamu tanggung!” teriak ayah
Dahlia sambil matanya menatap ta- Mereka pun akhirnya pergi dari
jam ke Saparudin. Saparudin diam, rumah meninggalkan dusun tercin-
mulutnya bagai terkunci. Ia hanya tanya. Mereka pergi ke rumah sau-
menunduk. Pikirannya melayang dara jauhnya yang berada di Desa
kemana-mana. Baginya ini tantan- Lubuk Harjo, Belitang Madang Raya.
gan pertama yang datang. Sesampai di tempat tujuan, mereka
sampaikan apa yang menjadi keing-
“ Maaf kami Ayah, kami hanya inannya.
ingin melangsungkan pernikahan,
kami ingin mengikuti yang disunah- “Mang, kami berdua sudah sepa-
kan oleh Rasul,” jawab Saparudin kat untuk menikah, namun kedua
dengan suara lirih, bergetar namun orang tua kami tidak menyetujinya
pasti. karena aturan adat. Tolonglah kami
Mang.” pinta Saparudin.
“Tidak, saya tidak mengizinkan
kamu menikahi anak saya, cari saja “Saparudin, saya takut melawan
perempuan lain,” Kata adat, saya tidak berani,” kata Mang
Dulah.
Ayah Dahlia sambil berteriak.
Mendengar ayahnya berkata de- “Tapi Mang, kami juga takut
mikian hati Dahlia hancur, ia bagai dengan zina, kami adalah manusia
jatuh ke dalam jurang yang sangat biasa.Bukankah zina itu dilarang
dalam. Air matanya meleleh, piki- oleh agama? Dan adat yang menga-
rannya kacau. Ingin rasanya ia ke takan kedua dusun kami saudara
luar dari kamarnya dan memeluk kandung, apakah itu juga dosa jika
Saparudin duduk mematung di de- dilanggar?” tanya Saparudin.
pan ayahnya. Tapi apa daya Dahlia
hanya terduduk lemas di kamarnya. Mang Dulah diam, keningnya ber-
keriput tanda sedang berpikir ke-
Saparudin bukan tipe laki-laki ras. Memang betul jika kedua anak
yang gampang menyerah. Ia kem- dam sudah sepakat untuk menikah
bali menyusun rencana agar keingi- harus segera dinikahkan daripada
nanya untuk meminang Dahlia se- mereka berbuat zina. Sedangkan
gera terwujud. Tekadnya sudah adat yang melarang dasar hukum
bulat, cintanya hanya untuk Dahlia dalam agama tidak ada. Mang Dulah
36
mulai gamang, harus diapakan ke- gitu, ini bukan anak haram, anakku
dua anak adam ini.Memang kalau lahir di atas pernikahan yang sah,”
ditimbang, lebih berat melanggar kata Saparudin.
agama daripada agama. Dengan da-
sar inilah Dulah mengambil keputu- “Halaaaah tak kau banyak bicara,
san untuk menikahkan kedua anak nikahmu ditentang oleh adat. Arti-
adam ini. nya tidak boleh nikah, dan anakkmu
pun diharamkan untuk lahir!” seru
“Ya sudah kalau begitu kalian Mahmud dengan nada semakin me-
akan kami nikahkan,” kata Dulah. ninggi.
Mendengar itu keduanya langsung Mendengar percakapan Mahmud
bersujud. dan Saparudin hati Dahlia seperti
diiris-iris, pedih. Air matanya men-
“Terimakasih atas segalanya galir deras. Ia pandangi anaknya
Mang,” ucap Saparudin. yang masih suci dari dosa itu. Batin-
nya menjerit, “Ya Allah mohon am-
Waktu terus bergulir, pernikahan pun atas segala dosa yang kuperbu-
antara Saparudin dan Dahlia me- at.” Sambil mendekap erat buah
lahirkan buah cinta mereka. Laya- hatinya.
knya manusia, mereka ingin mem-
beri tahu kepada kedua orang “Ini baru ketemu satu warga, ba-
tuanya bahwa mereka telah meni- gaimana dengan warga-warga yang
kah dan memiliki seorang buah cin- lain. Aku yakin pasti mereka pun
tanya. Keduanya datang kembali ke akan merendahkannya,” Dahlia mu-
dusun mereka namun apa yang me- lai gamang untuk menemui kedua
reka dapatkan. Bukan senyuman te- orang tuanya, tetapi Sapar meya-
tapi berupa cibiran dan kata-kata kinkannya.
yang kurang pantas untuk diucap-
kan. “Dik, ga perlu takut kita harus
mencoba dulu, lagia kita bawa cucu
“Saparudin anak durhaka. Aakah mereka, Kakak yakin mereka pasti
kau tidak malu pulang dusun bawa mau menerima kita dengan tangan
anak haram, “ kata warga yang ber- terbuka,” bujuk Saparudin.
temu dengannya.
Sampailah mereka di rumah orang
“Mahmud kau jangan bicara be- tua Dahlia. Melihat mereka datang
37
Ayah Dahlia menyambutnya di de- diajaknya ke rumah orang tua Sa-
pan pintu dengan wajah garangnya. parudin.
“Untuk apa kau datang Lia, kau “Dik, kita ke rumah orang tuaku,
sudah kami anggap tak ada. Anakku mungkin orang tuaku akan meneri-
Dahlia sudah mati,” ucap ayah Dah- ma kita dengan tangan terbuka,
lia dengan menunjuk ke arah Dalia. “kata Saparudin menghiburnya.
“Ayah mohon ampun, Lia memang Saparudin merasa kasian melihat
salah, Lia tidak nurut dengan Ayah,” istrinya. Hati Dahlia pasti hancur,
kata Dahlia sambil berjongkok dan harapannya tak sesuai dengan ke-
mengendong bayinya dan mer- nyataan pikir Saparudin. Ia segera
maksud mencium tangan ayahnya. meraih tangan istrinya dan mem-
bimbingnya untuk pergi dari rumah
“Tidak perlu kau minta maaf!” ayah Dahlia.
menepis tangan Lia.
“Kita harus pergi dari sini Dik, ini
“Dari dulu Ayah sudah bilang, bukan tempat kita”, ajak Saparu-
Ayah tidak setuju, kau nekad. Apa din.
tidak ada laki-laki di dunia ini yang
lebih hebat dari Sapar. Dasar bo- Dahlia mengangguk tanda setuju.
doh, pakai otakmu untuk berpikir
Lia!” hardik ayahnya. Mereka pun akhirnya ke rumah
orang tua Sapar yang ada di Betung.
“ Ayah maafkan kami,” kata Sa- Mereka baru sampai di halaman ru-
parudin. mah, ayah Saparudin yang meny-
ambutnya dengan muka paling ga-
“ Jangan mimpi Sapar kau bukan rangnya.
mantuku. Sekarang pergilah kalian,
rumahku haram diinjak oleh kalian “Untuk apa kalian ke sini Par! ga
berdua, pergi! Peeergi!! Aku muak ada tempat buat kalian! Pergi, per-
melihat muka kalian!” Ayah Dalia gilah! lihat tampang kalian aku mau
membanting pintu dan menutupnya muntah!”menujuk ke arah muka Sa-
rapat-rapat. parudin.
Dahlia yang masih bersimpuh se- “Ayah... maafkan kami, aku me-
gera dibangunkan oleh Sapar dan mang salah,” Saparudin jongkok
38
memohon pada ayahnya. tempat kita, yakinlah Allah akan
senantiasa bersama kita,” bujuk Sa-
“Tidak, tidak, tidaaak! Kalian aib parudin menenangkan istrinya.
bagi keluarga ini,” jawab ayahnya.
“Iya Kak, Lia ngerti,” jawab Dah-
“ Aku tak mau rumahku bernajis, lia.
haram untukmu Par, apalagi bawa
anak istri!” ayah Sapar menghardik. Mereka pun akhirnya kembali ke
rumahnya. Kehidupan tetap berja-
“ Sejak kau putuskan kau ingin lan, hari berganti bulan, dan bulan
menikah dengan Dahlia, Ayah ber- berganti tahun. Tanpa terasa telah
sumpah, kau bukan anakku lagi!” lahir tiga anak dari pernikahan itu.
Ucap ayah Sapar dengan ketus. Dua laki-laki dan satu perempuan.
Anak pertama laki-laki, namun dok-
“Ayaaah, aku... belum selesai,” ter memvonis ia mengidap penyakit
Sapar berucap, ayah Sapar sudah jantung bawaan. Anak kedua pe-
memotongnya. rempuan sehat fisiknya hanya
mengidap down sindrom. Anak ke-
“ Mulai detik, saat ini Par kau ti- tiga tumbuh sehat.
dak perlu ke sini lagi, rumah ini ti-
dak menerimamu. Aku, Saparudin seperti terbangun pada
lamunan panjangnya. Ia merasa bila
Syafei bukan ayahmu lagi.Maka dilihat dari kasih dan sayang istri-
enyahlah kalian dari sini dan pergi- nya, iamerasa lebih dari cukup.
lah jauh-jauh dari tempat ini dan Dahlia perempuan yang sabar, ia ti-
jangan kembali lagi!” seru ayah Sa- dak pernah mengeluh. Seberat apa-
parudin. pun pekerjaan ia lakukan dengan
ikhlas. Layaknya perempuan pada
Mendengar ucapan itu, Saparudin umumnya, kerjaannya mengurus
segera berdiri dan berbalik badan anak, melayani suami, dan menyi-
lalu mengjak pergi Dahlia. Segera apkan segala sesuatu yang berkai-
mereka pergi dari tempat itu sebe- tan dengan tugas ibu-ibu pada
lum ada kalimat-kalimat lain yang umumnya.
semakin memperkeruh keadaan. Ia
mengajak istrinya pulang kembali Namun, ada yang menganjal da-
rumah kontrakan di Lubuk Harjo. lam hatinya, secara finansial ra-
sanya sulit sekali untuk ber-
“Dik, ayo kita pulang, ini bukan
39
kembang. Ada saja halangan yang menurut dengan aturan yang dite-
merintanginya. Kadang ia merasa tapkan dalam keluarganya sekaligus
putus asa, tetapi semangatnya ter- aturan adatnya.Ia merasa bersalah
bangun kembali jika melihat anak- telah membawa Dahlia ke dalam
anaknya masih kecil dan butuh ba- kehidupannya yang serba sulit. Sa-
nyak biaya. Ia berpikir siapa lagi par merasa belum mampu memba-
yang akan menolongnya jika ia ti- hagiakan keluarganya. Ia merasa ia
dak berusaha. Belum kedua anaknya adalah laki-laki yang gagal dalam
perlu biaya ekstra karena kurang hidupnya.
sehat. Ia merasa perjalanan biduk
rumah tangganya penuh gelom- Dalam hati ia berkata, “ Namun
bang, badai yang menerpanya silih apa mau dikata Dahlia telah kute-
berganti, sehingga membuat oleng tapkan jadi istriku, ia pilihanku,
kapal itu. pendamping hidupku. Seberat apa
pun beban hidup harus kupikul ha-
“Aku harus kuat,” pikir Sapar. rus kutanggung aku harus istikho-
mah. Hidup dan kehidupan harus
Kadang terlintas olehnya sebuah tetap berjalan.” Kembali ia men-
ghisap rokoknya dalam tarikan yang
pertanyaan yang ia sendiri tak lebih dalam.
mampu untuk
menjawabnya.”Apakah ini karena
sumpah Adu Manis dan Betung yang
ia langgar?”
“Betulkah sumpah ini sedang ber-
laku bagiku?Adakah penawar dari
sumpah ini? Bukankah ini tidak me-
langgar aturan atau hukum agama
yang aku anut?Ataukah harus aku
akhiri , aaah tidak!Ya Allah hing-
ga kapan ini harus berakhir?” ia ber-
gumam dengan pandangan kosong
yang jauh ke depan.
Kembali pertanyaan-pertanyaan
ini muncul dalam benak pikirannya.
Kadang ia merasa berdosa tidak
40
“Rasa putus asa semakain membelenggu jiwanya
karena mengharap restu orang tua yang tak kunjung
didapat. Sehingga pada suatu malam yang gelap Siti
Maryam memutuskan untuk bunuh diri dengan me-
nusukkan sebilah pisau keperutnya sambil berteriak
dan akhirnya Siti Maryam menghembuskan nafas
terakhirnya”
Novitasari, S.Pd.
(Guru SMPN 2 Cempaka)
41
ada zaman dahulu di ujung dak mencintainya, saya sudah me-
ulu Sungai Komering terda- miliki pemuda pilihan saya sendiri
pat sebuah desa yang ber- ibu, saya sangat mencintainya to-
long restui hubungan kami,” kata
Pnama Desa Gunung Batu, di Siti Maryam.
desa tersebut hiduplah seo-
rang gadis yang dalam bahasa ko- Namun, orang tua Siti Maryam te-
mering disebut morli. gadis terse- tap tidak merestui hubungan mere-
but bernama Siti Maryam ia adalah ka sehingga Siti Maryam mengalami
gadis yang sangat cantik jelita, ba- tekanan, tekanan yang dialami oleh
hkan karena sangat cantiknya se- Siti Maryam itu membuat ia frusta-
tiap orang yang melihat akan jatuh si. Raut wajah yang semula tampak
hati dan kagum akan kecantikan- cerah berseri, kini yang terlihat ha-
nya. nyalah wajah yang kusam dan mata
yang berlinang air mata. Bibir tipis-
Siti Maryam memiliki kekasih yang nya yang indah kini kering dan pe-
sangat baik dan setia terhadapnya cah-pecah serta badannya kurus
yang bernama Mad Ali, namun Mad karna ia tak berniat makan bahkan
Ali berasal dari keluarga biasa-biasa meneguk segelas air. Ia mengurung
saja sehingga orang tua Siti Maryam dikamar sembari melamun, menye-
tidak merestui hubungan mereka sali apa yang telah terjadi.
bahkan orang tuanya tidak mengi-
zinkan Siti Maryam untuk bertemu Rasa putus asa semakain membe-
lagi dengan Mad Ali. Agar Siti Mary- lenggu jiwanya karena mengharap
am dapat melupakan Mad Ali maka restu orang tua yang tak kunjung
orang tua Siti Maryam berniat untuk didapat. Sehingga pada suatu ma-
menjodohkan Siti Maryam dengan lam yang gelap Siti Maryam memu-
Ahmad pemuda yang sangat kaya tuskan untuk bunuh diri dengan me-
raya. nusukkan sebilah pisau keperutnya
sambil berteriak dan akhirnya Siti
“Hai anak ku tersayang, tinggal- Maryam menghembuskan nafas ter-
akhirnya.
kan saja Mad Ali yang miskin itu! Dia
sungguh tidak cocok untukmu, ibu Teriakan Siti Maryam terdengar
akan menjodohkanmu dengan pem- oleh Mad Ali kekasih hati dari Siti
uda dari kalangan bangsawan yang Maryam. Tanpa berpikir panjang
sangat kaya raya yang bernama Ah- Mad Ali langsung bergegas sambil
mad!” seru Ibu. berlari menuju ketempat kediaman
Siti Maryam dan tanpa mengetahui
“Oh tidak ibu, saya tidak mencin- hal apa yang sedang terjadi. Sete-
tai lelaki pilihan ibu, walaupun ia
orang kaya namun saya sungguh ti-
42
lah Mad Ali sampai dikediaman Siti menancap diatas perut Siti Maryam
Maryam betapa terkejutnya ia meli- kemudian ia menusukkan pisau ter-
hat kekasih pujaan hati yang sangat sebut keperutnya. Mad Ali akhirnya
ia cintai sudah tidak bernyawa lagi. menghembuskan napas terakhir
menyusul Siti Maryam.
“Demi Tuhan, mengapa engkau
begitu tega meninggalkan aku sen- Kisah hidup dan perjalanan cinta
diri di dunia ini Dinda?” teriak Mad Siti Maryam membawanya dikenang
Ali sambil memeluk jasad Siti Mary- sabagai muyang morli yang berarti
nenek moyang yang masih gadis.
am. Untuk mengingat kisah tersebut,
Mad Ali tak kuasa menahan rasa masyarakat setempat membuat se-
buah tarian kreasi yang sering disa-
kehilangan yang sangat dalam. Ba- jikan saat acara pernikahan dengan
ginya kehilangan belahan jiwa sama nama “Tari Muyang Morli”, sebagai
halnya kehilangan seluruh ke- tanda penghormatan masyarakat
senangan dunia dan bahkan nyawa- asli kepada leluhur mereka “ Si
nya sendiri. Tanpa berpikir lagi ka- Muyang Morli.”
rena perasaan cinta yang begitu
dalam, maka Mad Ali tersebut langs- Sumber cerita : Bpk. M. Yusuf
ung mengambil piasu yang masih
43
“Buurrr, suara gelombang air saat datong terjun dan masuk
dalam air. Tak berapa lama berselang Minat Ratu Sembahan pun
melebarkan ke 6 jalanya di tempat Datong menyelam.
Dengan niat agar Datong tidak bisa muncul dan melepaskan
dirinya dari jeratan jala-jala tersebut. Minak Ratu menunggu
sampai berjam - jam namun Datong tak kunjung muncul. Di pun
berkata dalam hati “ Matilah kau, karena kau telah membo-
hongiku. Dan mepermainkanku”
Yeyen Oktavia, S.Pd.
(Guru SMP Negeri 4 Martapura)
44
ersebutlah sebuah kisah penyayang pemuda yang sangat
tentang sebuah negeri sakti pemuda tersebut datang mel-
yang bernama Buay Pe- alui pesisir Sungai Komering, pemu-
da tersebut bernama Datong. Dia
Tmuka Peliung. Sebuah ne-
geri yang sejuk, kaya akan adalah pengembara yang berasal
hasil perkebunan yang sangat subur dari Skala Berak (Krui) Lampung.
tetapi negeri ini selalu bertengkar Pada saat itu, Buay Pemuka Peliung
dan bermusuhan antar suku karena adalah sebuah negeri yang sanagat
perebutan lahan dan orang-orang- kecil. Dia pun tinggal dan menetap
nya yang selalu adu kekuatan. Di di sana. Dia merantau ke Negeri
sepanjang Negeri Buay Pemuka Pe- Buay Pemuka Peliung dikarenakan
liung mengalir sungai-sungai yang tidak pernah ada kecocokan antara
menjadi salah satu wadah transfor- kedua kakaknya. Dia adalah seorang
tasi air pada masa itu. Dan merupa- pemuda yang sangat sakti. Datong
kan sumber mata pencarian bagi tekenal karena mempunyai sifat
masyarkat Negeri Buay Pemuka Pe- yang cerdik, bijaksana, baik
liung. Karena setiap hari selalu ada hati,dan penolong tetapi Datong
perahu-perahu yang melintasi se- juga mempunyai kebiasaan buruk
panjang sungai Komering menuju yaitu jahil dan usil karna sering
Martapura untuk melakuan aktifitas mempermainkan kakak - kakaknya.
berdagang. Karena pada saat itu Datong mempunyai Dua saudara
masyarakat setempat selalu mela- laki- laki yaitu, Minak Ratu Semba-
kukan akifitas di air, baik mencari han, Minak Ratu Sembahan (kakak
ikan, menambang pasir dan koral tertua) mempunyai sifat yang iri,
untuk menyambung hidup sehari- jahat dan pendendam. Sedangkan
hari. Aliran sungai komering pun Minak Sembahan di Pakuan Ratu
terhubung sampai ke Sungai Musi, (kakak kedua), mempunyai sifat
di sepanjang sungai komering ter- baik hati dan pendiam, dan Minak
dapat tumbuhan yang tumbuh me- Kiai Marga/Datong sendiri di Pulau
nyerupai pohon tebu yang dikenal
masyrakat setempat adalah teber- Negara.
aw. Pada suatu hari ketika mereka
Suatu hari, seorang pengembara tumbuh dewasa bersama-sama me-
datang ke Negeri Buay Pemuka Peli- reka telah memiliki hasrat untuk
ung beliau datang bersama dengan menikah. Mereka pun meminta
ibunya (Naimas Djundjung Pali). pada Datong untuk mencarikan ca-
Ibunya yang baik hati, dan lon istri untuk mereka bertiga, “Da-
tong, tulung niku sepokan pai muli
45
untuk ram tolu jadian baiabai” (to- jutnya kedua kakak nya setelah me-
long kau carikan gadis yang cantik lihat istri Datong yang mempunyai
untuk dijadikan calon istri untuk paras yang sangat cantik. Kakak
kita bertiga)” perintahnya, “iyu ki- tertuanya pun berkata dengan nada
yai (baiklah kiyai) iya pun mengiya- tinggi
kan perintak kakaknya.
“Datong” alangkan Cindo na bai-
Karena si Datong mempunyai sifat bai mu,!!! Niku kok bebohong yu
yang cerdik, dan jahil, dan setelah (Datong alangka cantik paras istri
bertemu ada salah seorang gadis mu kau telah membogongiku) kata
yang paling cantik diantara kedua- si kakak tertua. Dia pun hanya trse-
nya. nyum dan berkat “ maaf kiyai nyak
ayon bebohong sangon nyak haga
Datong pun bergumam dalam rik muli sina, iya muli mak ngok rik
hati “amon diliak kiyai setuha wat niuk( maaf kiyai aku bukan berbo-
muli secindo sa, kintu haga di akuk- hong pada mu karena aku telah
na muli sija. nyak kok terlanjur ge- lama nenyukai gadis ini dan dia pun
ring rik muli sina”, ( jika kakak ter- tidak mau menikah dengan mu) ja-
tua melihat gadis cantik ini pasti wab si Datong, Minak ratu pun ma-
akan di nikahi nya, sedangkan aku rah, iya pun mencari cara untuk
sudah terlanjur suka pada gadis ini) membalas kekesalan hatinya dan
karena apapun yang dimiliki oleh si kemarahannya.
Datong pasti akan di miliki juga oleh
Minak Ratu Simbahan. Terbesitlah Pada suatu petang kakak tertua-
dibenaknya Datong untuk mengela- nya mengumpulkan jala rambang
buhi Minak Ratu Sembahan. lalu tujuh raban untuk mengajak Minak
seorang gadis pilihanya di dandani Kiai (Datong) pergi menjala berpe-
wajanya dengan rupa yang sangat rahu menuju lubuk yang banyak Bu-
jelek, kucel dan bau. Sedangkan aya dan banyak Ikannya yaitu, Lu-
kedua dari mereka terlihat cantik buk Meduk Rantau Manman.
dan bersih. Kedua kakaknya pun ti-
dak memilih gadis yang buruk rupa, “Datong, maukah kau memema-
kucel dan bau tersebut. niku untuk mencari ikan malam
ini?” tanya Minak Ratu Sembahan.
Setelah semua telah memilih ca-
lon istri untuk masing-masing ke- “Sepertinya malam ini kita akan
dua kakaknya dan mereka pun akan banyak dapat ikan,” katanya pula.
menikah, barulah ia menyuruh istri
pilihannya untuk segera mandi dan “Baiklah Kyai” jawab Datong.
berpakain yang rapi. Betapa teke- Datong pun sebenarnya sudah tau
niat kiyai nya dan iya pun tidak
membantah.
46
Setelah hari malam Minak Ratu anak mu ini’ rayu si Datong.
sembahan pun mulai mencari Bagai- “Baiklah, tapi ingat jangan seka-
mana cara agar nanti pebuatanya
tidak ada yang mengetahuinya. Dia li-kali mendekai Lubuk Meduk Ran-
terus berpikir sambil mengumpul- tau Manman, karena di sana banyak
kan jala ikan. Iya pun berpikir dae- sekali buaya yang ganas dan lapar,
arh yang kira kira bakal tempat iya kamu bisa celaka Datong,” Pesan
mencelakakan Datong. ibunya.
“ Kiyai, kira- kira kemana kita Lalu mereka pun berangkat
akan menagkap ikan”, tanya Da- dengan membawa jala 7 ramban
tong. menggunakan perahu mengaliri se-
panjang sungai.
“ Kita akan mencari ikan di Lubuk
Meduk Rantau Manman dan kita Dan semakain jauh mereka ber-
akan pergi menggunakan perahu,” layar Kiyai Minak Ratu Sembahan
pun berkata “Datong arahkan pera-
Bukan kah Lubuk Meduk Manman hu kita menuju Lubuk Meduk Ran-
adalah lubuk yang paling banyak tau Manman,” iya, Yai
Buayanya Pikir Datong dalam hati.
Tapi iya tidak membantah. “Pergi “Tapi ibu sudah berpesan bahwa
dan meminta izin lah pada Ibu,” kita tidak boleh ke sana,” jawab
kata Minak Ratu Sembahan. Lalu Datong.
Datong pun berpamitan pada ibu-
nya. “ Tapi ibu tidak akan tau kalau
kita mencari ikan di sana” bantah
“Bu,malam ini saya mau pergi kakaknya.
bersama kiyak Minak Ratu Samba-
han untuk Mencari ikan” “mengapa Mereka pun terus berlayar menu-
harus malam seperti”, ini jawab ju lubuk tersebut dan setelah lima
ibunya.” Besok pagi saja Datong” kilo meter perjalanan menuju lubuk
kata ibunya, tersebut mereka akhirnya sampai
dan malam pun makin larut. Hanya
Sebenarnya ibu nya pun sudah ditemankan sinar bulan mereka pun
mempunyai perasaan yang tidak menambatkan perahu dan mulai
baik, “Biarlah bu do’a kan saja menebarkan jala. Tak lama berse-
nanti kami akan mendapat ikan lang jala Minak Ratu Sembahan pun
yang banyak, biar bisa buat persim- tersangkut di bebatuan, karena di
panan makan kita dan selebihnya lubuk tesebut memang banyak be-
bisa kita jual” jawab Datong dengan batuan yang besar dan kayu- kayu
lembut. Ibunya pun berpikir benar di dalamnya, Mulailah niat busuk
juga ya. “ Ayolah Bu berikan izin kakaknya muncul.
”Datong coba turunlah ke air me-
47
nyelam, jala ku tersangkut di beba- kau masih mengajaknya ke sana?
tuan,” lubuk tersebut sangat dalam Kau kan kakaknya seharusnya kau
dan banyak sekali buaya yang ga- larang adikmu untuk ke sana”. Te-
nas, tapi Datong sudah tau semua riak ibunya.
niat jahat kakaknya.
“Iya, Ibu aku sudah berusaha me-
Tanpa membantah ia pun turun larangnya tetapi dia tetap memaksa
dan menyelam, karena kata Datong di sana banyak
sekali ikan kalau kita mendapatkan
“ Baik ,” jawabnya. ikan yang banyak ibu pasti senang,”
akal licik Minak Ratu Sembahan pun
Buurrr, suara gelombang air saat yang menyalahkan Datong.
datong terjun dan masuk dalam air.
Tak berapa lama berselang Minat Sejak saat itu ibunya pun terlihat
Ratu Sembahan pun melebarkan ke sangat sedih, selama kepergian Da-
6 jalanya di tempat Datong meny- tong, sekalipun ibunya tidak pernah
elam. tidur. Ia terus mencari keberadaan
anaknya, sudah satu pekan anaknya
Dengan niat agar Datong tidak belum ditemukan.
bisa muncul dan melepaskan dirinya
dari jeratan jala-jala tersebut. Mi- Pada suatu malam, suasana ma-
nak Ratu menunggu sampai berjam lampun diselimuti dingin dan sua-
- jam namun Datong tak kunjung san hujan gerimis dengan diiringi
muncul. Di pun berkata dalam hati gemerecik air hujan. Ibunya pun te-
“ Matilah kau, karena kau telah tap menanti kedatangan anaknya.
membohongiku. Dan mepermain- Tiba- tiba terdengar dari kejauhan
kanku.” suara gong berbunyi. Ibunya pun
terkejut dan mencari asal suara ter-
Ia pun bergegas meninggalkan sebut. Dengan tergopoh-gopoh ibu
Datong dan memutar perahunya pe- tadi (Naimas Djundjung Pali) turun
lan - pelan. Sesampainya di rumah dari rumahnya dengan membawa
ia mulai berpura-pura sedih dan lampu Dian (nama lampu kecil yang
menagis mengahadap kepada ibu- dari tembaga / kuningan diisi
nya. dengan minyak kelapa.
“ Ibu! Maafkan aku Ibu karena Setelah itu, dalam hatinya berpi-
ulah Datong tidak menghirukan kir, “Suara gong itu, ya aku kenal
perkataanku dan dia masih memak- suara gong itu, hanya datong yang
sa untuk mengajak mencari ikan di bisa menabuh gong seperti itu. Da-
Lubuk Meduk Rantau Manman seka- tong! Datong! ” teriak ibunya
rang dia di makan buaya ganas Bu,”
kata Minak Ratu dengan nada sedih. Karena suara gong yang bebunyi
Ibu pun terkejut, “Apa! Mengapa
48
seperti itu hanya bisa di mainkan “Jika itu mau Ibu baiklah Bu, mari
oleh Datong.Ibunya pun terus ber- kita berangkat.”
jalan menyusuri malam mencari
asal suara itu. Dan sampailah di Lalu mereka berdua pun berang-
ujung dusun. Dilihatnyalah ada kat tanpa pulang ke rumah terlebih
sesorang yang duduk di sebuah pon- dulu. Pada tengah malam itu juga
dok kecil di ujung dusun dan dide- mereka berangkat berdua memba-
katinya pemuda itu. Betapa teke- wa lampu dian dan anjing putihnya.
jutnya si Ibu melihatnya, ternyata serta senjata khas Datong yaitu Li-
itu adalah anaknya si Datong. Iya ung (sejenis pisau kecil) yang selalu
lalu memeluknya erat sambil me- dibawanya kenapun ia pergi.
nangis.
Kiyai Marga ( Datong) dan ibunya
“Datong kemana saja kau Nak se- (Naimas Djundjung Pali) pun pergi
lama sepekan ini? Ibu telah mencari meninggalkan desa tersebut dan
mu keman – mana?” tanya Ibu. menarantau. Mereka pergi meng-
gunakan perahu berlayar menyisiri
“Maafkan aku Ibu, aku telah sepanjang sungai komering dan ti-
membuat hatimu sedih. Aku pulang balah di Negeri Buay Pemuka Peli-
hanya untuk berpamitan padamu. ung. Di sana mereka tidak disambut
Aku ingin pergi merantau, Aku ti- baik oleh orang-orang setempat,
dak mau lagi tinggal disini.Sebenar- karena bagi orang orang baru, aneh
nya Kiyai Minak Ratu Sembahan jika melihat orang asing.
yang berniat membunuhku karena
dia dendam padaku yang telah Dan pada saat itu orang-orang
memperminkanya saat dia memin- Buay Pemuka Peliung selalu ber-
taku untuk mencarikan calon istri tengkar dengan penduduk suku asi-
untuk dirinya,” jawab Datong. ng yang pada saat itu selalu ber-
musuhan. Masalah perebutan tanah
“Sudah sekarang kita pulang ya!” sengketa sampai pada adu kekuatan
ajak ibunya. bagi orang-orang yang mempunyai
ilmu kekebalan tubuh dan pada saat
“Tidak Ibu, mungkin sudah saat- yang bersamaan tibalah Datong dan
nya aku ingin pergi mencari ilmu ibunya Naimas Djundjung Pali di ne-
dan sudah saatnya aku akan mene- geri tersebut. Pada saat kedatan-
bar kebaikan di luar sana.,” jawab gannya sedang terjadi pertempuran
Datong. antara dua suku, suku Komering dan
suku Abung.
“Baiklah kalau itu memang mau-
mu. Ibu akan ikut dengamu, kema- Ibunya berkata “Nak, apa yang
na pun kau pergi Ibu akan ada ber-
samamu,” ujar Ibu. sedang terjadi pada negeri ini,
49
mengapa terjadi pertempuran se- perluanmu datang kemari?”
sama mereka, sepertinya mereka “Aku adalah Datong, dan aku ada-
sedang berperang antar suku.”
lah seorang pengembara. Ini Ibu ku
Datong pun bertanya kepada sa- (Naimas Djundjung Pali) kami da-
lah satu penduduk setempat. “Maaf tang kesini untuk mencari peng-
Tuan apa yang sedang terjadi pada hidupan, dan tidak ada seorangpun
negeri ini.” yang kami kenal disini,” jawab Da-
tong.
“Itulah nak yang menjadi salah
Tuan itu pun menawarkan tempat
satu permasalahan negeri ini. tinggal pada Datong.
Orang-orang tidak henti-hentinya
berkelahi memperebutkan tanah “Jika kau mau menetaplah di
sangketa, ditambah lagi anatar se- desa ini (Pulau Negara), kau bisa
sama saling adu kekuatan (ilmu ke- membuka dan mengurus ladang
bal) sudah bertahun-tahun ini ter- ku.”
jadi dan tidak ada yang bisa
menyelesaikan,” kata tuan terse- “ Baiklah Tuan, terimakasih ba-
but. nyak atas bantuanmu,” jawab Da-
tong.
Datong pun berpikir bagaimana
cara menyakinkan untuk menda- Akhirnya saat itu juga Datong me-
maikan permasalahan ini. netap di desa Pulau Negara dan mu-
lai bertani. Dia pun selalu menebar-
Tuan itu pun bertanya, “Siapa kan kebaikan dan melalui dakwah
kah gerangan mu nak? Dan apa ke- dari surau ke surau.
50
”Berlayarlah nak menggunakan rakit dari bambu ini kau akan aman
dan baik-baik saja dengan syarat kau tidak boleh berhenti apabila
rakit ini tidak berhenti dengan sendirinya”,
“Baik ayah,” jawab Puyang Mulajadi.
Ujar puyang mulajadi kepada ayahnya.akhirnya naiklah Puyang
Mulajadi di rakit tersebut
Mirta Pragustini, S. Pd
(Guru SMP Negeri 3 Madang Suku III)
51