2022
PANDUAN PEMERIKSAAN
Bangunan Gedung Pada
Kegiatan Strategis Sektor
Pengembangan Kawasan Permukiman
YUSSANDI CHRISTRIA ADIPRIMA, S.T.
PANDUAN
PEMERIKSAAN
Laporan Perhitungan Struktur Bangunan Gedung pada
Kegiatan Strategis Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman
Program Aktualisasi CPNS 2021
Peserta Latsar
Yussandi Christria Adiprima, S.T.
NIP : 199706182022031009
Mentor
Soelistianing Kusumawati S.T., M.T.
NIP : 197505112002122002
Co-Mentor
Indah Swastika Purnama Sari, S.T., M.T.
NIP : 198012042008122001
Coach SCAN QRCODE ATAU KLIK TAUTAN
Ir. Made Bagus Budihardjo, MA BERIKUT UNTUK MENDAPATKAN
NIP : 195801081987031002 FILE INI:
https://bit.ly/BukuPanduanPe
meriksaanPerhitunganStruktur
6
Daftar Isi
7 Daftar Isi
8 Kata Pengantar
9 Pendahuluan
10 Maksud & Tujuan
11 Dasar Hukum
12 Ruang Lingkup
15 Kaidah dan Prinsip
25 Data Umum Proyek
31 Penyelidikan Jenis Tanah
35 Material & Pembebanan
63 Pemodelan Struktur
67 Analisa Pemodelan Struktur
71 Input Data Program (Software)
76 Hasil Analisa Program
81 Struktur Bawah
93 Format Review
102 Contoh Penerapan
118 Form Checklist
130 Referensi
7
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur kami Penulis sadar bahwa penulisan
buku ini bukan merupakan buah
panjatkan selalu kepada Tuhan hasil kerja keras penulis sendiri. Ada
banyak pihak yang sudah berjasa
Yang Maha Esa atas Berkat, dalam membantu penulis di dalam
menyelesaikan buku ini. Maka dari
Rahmat, dan Karunianya yang itu, penulis mengucapkan banyak
terimakasih kepada semua pihak
sudah diberikan sehingga penulis yang telah membantu memberikan
wawasan dan bimbingan kepada
bisa menyelesaikan buku panduan penulis sebelum maupun ketika
menulis buku panduan ini. Kritik dan
yang berjudul “Panduan saran yang membangun dari semua
pihak sangat penulis harapkan
Pemeriksaan Laporan Perhitungan demi penyempurnaan buku ini
kedepannya.
Struktur Bangunan Gedung Pada
Jakarta, Oktober 2022
Kegiatan Strategis Sektor
Pengembangan Kawasan
Penulis
Permukiman". Tujuan pembuatan Yussandi Christria Adiprima
buku ini tidak lain adalah untuk
membantu Direktorat PKP dalam
telaah laporan perhitungan struktur
secara cepat dalam review
dokumen perencanaan.
Buku ini akan memberikan
informasi mengenai tata cara
pemeriksaan laporan perhitungan
struktur secara quick assessment
ditinjau dari sektor PKP
(Pengembangan Kawasan
Permukiman). Selain itu buku ini juga
memberikan contoh penerapannya
yang ada pada buku ini.
8
PENDAHULUAN
Laporan Perhitungan Struktur dalam
pekerjaan konstruksi dapat diartikan
sebagai produk dari konsultan
perencana, khususnya laporan
perhitungan struktur pemegang
Sertifikat Keahlian dan Kompetensi
(SKK) yang sudah baku dalam
membuat sebuah laporan
perencanaan perhitungan struktur
(Laporan Perhitungan Struktur).
Belum adanya standar baku
pemeriksaan Laporan Perhitungan
Struktur pada kegiatan strategis sektor
Pengembangan Kawasan Permukiman
(PKP), dan belum adanya standar baku
dalam pemeriksaan laporan
perhitungan struktur atas dan struktur
bawah (pondasi) sebagai panduan
dalam memeriksa pekerjaan pihak
ketiga (konsultan), maka perlu dibuat
suatu bentuk standar baku panduan
pemeriksaan laporan perhitungan
struktur, baik untuk struktur atas dan
struktur bawah. Diharapkan dengan
panduan yang dibuat maka dapat
dilakukan pemeriksaan pekerjaan
yang terkait laporan perhitungan
struktur pada kegiatan strategis di
sektor PKP dengan lebih teliti dan
berstandar sesuai kaidah
perencanaan yaitu Standar Nasional
Indonesia (SNI) yang berlaku.
9
MAKSUD & TUJUAN
Maksud dan Tujuan dari penyusunan buku panduan
pemeriksaan laporan perhitungan struktur bangunan
gedung pada kegiatan strategis sektor PKP antara lain :
Memberikan penjelasan standar isi Laporan
Perencanaan Perhitungan Struktur Berdasarkan
Standar Nasional Indonesia (SNI).
Menjelaskan Tahapan-Tahapan dan Urutan pada
Laporan Perencanaan Struktur bangunan.
Memberikan penjelasan terkait item apa saja yang
perlu diperhatikan dalam laporan perhitungan
struktur.
Memberikan format review laporan perhitungan
struktur untuk mempermudah proses
pemeriksaan.
TARGET & SASARAN
Target dan Sasaran dari penyusunan buku panduan
pemeriksaan laporan perencanaan struktur
bangunan gedung pada kegiatan strategis sektor
PKP antara lain :
Memberikan pemahaman kepada tim pemeriksa
dokumen perencanaan struktur bangunan
tentang standar format dan isi dalam laporan
perencanaan struktur sesuai SNI yang berlaku.
Memaksimalkan target laporan perhitungan
struktur sehingga tidak ada elemen struktur yang
tertinggal dan tidak dilakukan analisis
perhitungan.
10
DASAR HUKUM
1. Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan
Gedung,
2. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan
dan Kawasan Permukiman,
3.PP No. 14 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan
Perumahan dan Kawasan Permukiman,
4.PP No. 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan
Gedung,
5.Permen PU No. 29 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung,
6.Permen PUPR No. 14 Tahun 2020 Tentang Standar dan
Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Melalui Penyedia
Jasa.
11
RUANG LINGKUP
Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman memliki tugas dan fungsinya
dalam perencanaan infrastruktur bidang Jalan, Jembatan, dan Drainase yang
bersifat skala kawasan sedangkan untuk perencanaan dibidang bangunan gedung
hanya ada pada kegiatan strategis. Ruang lingkup penyusunan buku bertujuan
untuk membantu membatasi kegiatan agar pembahasan yang diulas lebih spesifik
dan fokus pada isu yang akan diangkat. Ruang lingkup kegiatan yang mencakup
pada buku ini, antara lain :
Panduan pemeriksaan laporan perhitungan struktur ini hanya mencakup
bangunan gedung pada kegiatan strategis sektor PKP. Panduan pemeriksaan
laporan perhitungan struktur untuk infrastruktur lain tidak tercantum dalam
panduan pemeriksaan ini.
Panduan pemeriksaan ini ditujukan untuk dapat digunakan sebagai panduan
pemeriksaan atau review laporan perhitungan struktur.
Meskipun panduan pemeriksaan ini memiliki batasan-batasan yang telah
ditetapkan, namun tidak menutup kemungkinan dapat digunakan di luar
pembatasan tersebut.
12
14
KAIDAH & PRINSIP
15
KAIDAH & PRINSIP
Halaman Judul
Halaman judul harus dibuat untuk menunjukan bahwa Buku Laporan yang
disampaikan adalah sesuai dengan yang direncanakan, yaitu Merupakan
Laporan Perencanaan Perhitungan Struktur Bangunan Gedung sesuai dengan
yang dikerjakan….. (A).
Halaman Judul diberi Gambar Ilustrasi 3D Bangunan Gedung yang sedang
rencanakan……. (B)
Diberikan Bulan dan Tahun Laporan Dibuat……(C)
A
B
C
16
Prinsip Daftar Isi
Daftar isi merupakan komponen laporan yang wajib dibuat dan ada dalam
Laporan Perencanaan Perhitungan Struktur, karena kelengkapan Daftar isi dapat
menunjukan kualitas dan isi dari laporan perencanaan perhitungan struktur
tersebut, sehingga mutlak perlu ada dan menjadi standar dalam laporan.
Daftar isi dalam Laporan Perencanaan perhitungan struktur sekurang kurangnya
harus membahas dan menghitung elemen struktur serta bahan perhitungan
struktur bangunan Gedung yang dilaporkan yang minimal berisis sebagai berikut
17
Prinsip Daftar Isi
18
Prinsip Daftar Isi
19
Kaidah Daftar Isi
Daftar Isi dalam Laporan Perencanaan Laporan Perhitungan harus dibuat dalam
Laporan dan Halaman Masing masing Judul dan Sub Judul harus ada sesuai
dengan halaman dimana Judul dan Sub Judul menjadi pembahasan isi laporan.
Judul Bab …… (A)
Sub Judul Bab …… (B)
Lembar Halaman …… (C)
C
A
B
20
Kaidah Daftar Gambar
Daftar Gambar dalam Laporan Perencanaan Laporan Perhitungan harus dibuat
dalam Laporan dan Halaman Masing masing sesuai dengan Judul Gambar dalam
Laporan dan harus ada sesuai dengan halaman dimana Judul Gambar menjadi
pembahasan isi laporan.
Nomor Gambar …… (A)
Judul Gambar …… (B)
Lembar Halaman Gambar …… (C)
AB C
21
Kaidah Daftar Tabel
Daftar Tabel dalam Laporan Perencanaan Laporan Perhitungan harus dibuat dalam
Laporan dan Halaman Masing masing sesuai dengan Judul Tabel dalam Laporan
dan harus ada sesuai dengan halaman dimana Judul Tabel menjadi pembahasan
isi laporan.
Nomor Tabel …… (A) C
Judul Tabel …… (B)
Lembar Halaman Tabel …… (C)
AB
22
Catatan
24
DATA UMUM PROYEK
25
DATA UMUM PROYEK
Data Umum Proyek harus memuat pembahasan dan informasi terkait Bangunan
Gedung yang merupakan obyek Laporan Perhitungan Struktur secara jelas ringkas
dan tegas dan Data Umum Proyek harus berisi sebagai berikut :
1.1 Pendahuluan
Bangunan Gedung (yang direncanakan) ini yang berlokasi di jalan (disebutkan
nama jalan lokasi bangunan) Kecamatan (sebutkan kecamatan lokasi bangunan)
di Kabupaten/Kota (harus sebutkan kota/kabupaten lokasi bangunan) adalah
merupakan bangunan yang berfungsi sebagai (Tempat tinggal, sekolah,
penunjang, rumah peribadatan, dll) yang terdiri dari (sebutkan jumlah lantai
basement jika ada) Basement dan (sebutkan jumlah lantai yang direncanakan)
Lantai serta menggunakan (sebutkan menggunakan jenis atap konstruksi yang
direncanakan) Atap Konstruksi (Baja/Beton). Untuk Fungsi Lantai Bangunan adalah
sebagai berikut :
1. Lantai Basement untuk (sebutkan fungsinya sesuai perencanaannya)
2.Lantai Satu (1) untuk (sebutkan fungsi lantainya)
3.Lantai Dua (2) untuk (sebutkan fungsi lantainya)
4.Dan Seterusnya (jika bangunan lebih dari 2 lantai)
1.2. Peraturan Standard (Code) Perancangan Struktur Bangunan
Gedung.
Dalam Laporan perhitungan Struktur harus mencantumkan Peraturan atau Standar
yang digunakan dalam perencanaannya. Peraturan Standar (CODE) yang
dipergunakan dalam Perancangan struktur bangunan Gedung harus merupakan
Standar Nasional Indonesia (SNI) terbaru yang dipersyaratkan sesuai dengan yang
dikeluarkan oleh BSN, dan peraturan yang relevan yang bisa dipergunakan. Misal
sebagai berikut :
SNI 03-1726:2019 (Perencanaan Gedung Tahan Gempa)
SNI 03-2847:2019(Perencanaan Struktur Beton)
SNI 03-1727:2020 (Perencanaan Pembebanan Gedung)
SNI 8460:2017 (Perencanaan Geoteknik Desain Fondasi)
26
1.3. Ringkasan Data Umum Struktur Bangunan
Laporan perhitungan Struktur harus ada Ringkasan Data Umum Struktur Bangunan
Gedung yang menjadi obyek laporan Perhitungan Struktur Bangunan Gedung,
minimal harus memuat hal-hal sebagai berikut :
Ringkasan Data Struktur Bangunan yang DIrencanakan.
Nama Bangunan : Harus Sesuai dengan Bangunan Gedung yang Dilaporkan.
Pemilik : Siapa Pemilik / Owner bangunan yang diencanakan harus
disebutkan.
Lokasi : Lokasi harus disebutkan dengan nama jalan dan
Kecamatan serta Kab/Kota dimana bangunan berada.
Fungsi Bangunan : Fungsi bangunan harus disebutkan sesuai dengan
fungsinya.
Jumlah Unit Bangunan : Sebutkan jumlah unit bangunan yang direncanakan.
Jumlah Basement : Jumlahnya disebutkan jika ada basement.
Jumlah Lantai : Jumlah lantai disebutkan sesuai dengan jumlah lantai
bangunan.
Sistem Struktur : Sistem struktur disebutkan sesuai dengan sistem struktur
yang dipilih.
Geoteknik : Pelaksana Soiltest diinfokan, siapa yang mengerjakan
soiltestnya.
Sistem Pondasi : Pondasi diinfokan menggunakan jenis pondasi Tiang Bore,
Tiang Pancang, dan/atau Pondasi Dangkal beserta
keterangan kapasitasnya.
Kategori Risiko Gempa : Kategori Risiko Bangunan disebutkan sesuai fungsi
bangunannya.
Importance Factor : Faktor Keutamaan Bangunan disebutkan sesuai dengan
Klasifikasi Situs Tanah : hasil analisa dan fungsi bangunan.
Faktor Klasifikasi Tanah diisi sesuai dengan hasil analisa
tanah.
27
Ringkasan Data Struktur Bangunan yang DIrencanakan (Lanjutan)
Koefisien Situs : Nilai Koefisien Situs Fa dan Fv disebutkan secara analisa
atau berdasarrkan hasil Response Spektra dari Puskim
secara online.
Kategori Desain Seismik : Kategoris Design Seismik diambil dari Tabel SNI 1726:2019
Beban Gempa.
Redundancy Factor : Reduncy Faktor ( ℎ ), Deflection Amplification factor
Deflection Amplification
(Cd), Ductility Faktor (R), Omega Faktor (Ω) dan Vertical
Ductility Factor
Acceleration ( ) diambil berdasarkan Sitem Struktur
Omega Factor
yang diisi sesuai dengan Tabel SNI 1726:2019.
Vertical Acceleration
Fleksibilitas Diafragma : Flexibilitas Diagframa dipilih berdasarkan asumsi
perhitungan. Apakah Rigid atau semi Rigid.
Drift Limit : Pembatasan nilai drift disebutkan.
Beban Rencana : Disebutkan peraturan yang digunakan pada Beban
Beban Gempa
Rencana, Beban Gempa, dan Desain Beton yang diambil
Desain Beton
sesuai dengan SNI yang berlaku.
Program Analisis : Program Software yang dipergunakan harus diinfokan
bisa menggunakan ETABS, SANSPRO, SAP 2000, MIDAS,
dan sebagainya sesuai lisensi yang dimiliki oleh
konsultan perencana.
28
Catatan
30
PENYELIDIKAN JENIS TANAH
31
PENYELIDIKAN JENIS TANAH
2.1 Hasil penyelidikan Tanah dan Beban Gempa Bangunan
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) perihal tata cara perencanaan
ketahanan gempa untuk bangunan gedung (SNI 03-1726:2019), ditetapkan bahwa
klasifikasi jenis tanah dapat menggunakan nilai hasil N-SPT, kecepatan gelombang
geser maupun kuat geser tak teralir (undrained). Klasifikasi tanah berdasarkan
gelombang geser rata-rata dari permukaan tanah sampai kedalaman 30 m,
dibedakan atas tanah keras, sedang, lunak maupun tanah khusus. Klasifikasi dan
syarat dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.1. Klasifikasi Situs
32
Catatan
34
MATERIAL & PEMBEBANAN
35
MATERIAL & PEMBEBANAN
3. Spesifikasi Material Struktur Bangunan Gedung
Untuk Spesifikasi Material dalam Laporan Perhitungan Perencanaan struktur harus
menjelaskan Kriteria Perencanaan yang meliputi Kekuatan Material maupun
persyaratan dimensi Material baik Beton dan Baja berikut dengan Data Berat jenis
seperti berikut dibawah ini :
3.1 Spesifikasi Material
Spesifikasi Material Pada bangunan yang direncanakan harus menyebutkan
spesifikasi material yang digunakan seperti Mutu beton, mutu baja, dan data berat
jenisnya yang diurai sebagai berikut :
3.1.1 Mutu Beton
Mutu beton yang digunakan pada bangunan yang direncanakan harus
menyebutkan mutu beton strukturnya beserta satuannya minimal struktur beton
yang disebutkan sebagai berikut :
1. Kolom
2. Balok
3. Pelat
4. Pondasi
5. Sloof
6. Tangga
Sebutkan mutu beton struktur lainnya jika ada.
3.1.2 Mutu Baja Tulangan
Mutu baja yang digunakan pada bangunan yang direncanakan harus
menyebutkan mutu baja strukturnya beserta dimensi atau ukuran yang digunakan
minimal struktur baja yang disebutkan sebagai berikut :
1. Tulanmgan Ulir
2. Tulangan Polos
3. Wiremesh
4. Profil
5. Baut
Sebutkan mutu baja struktur lainnya jika ada.
36
3.2 Data Berat Jenis Material
setiap bahan bangunan memiliki berat jenis yang berbeda-beda. Sebagai contoh,
pasir mempunyai berat jenis yang berbeda dari kerikil, tanah, dan batu alam. Itu
sebabnya, beban yang harus ditanggung oleh bangunan pun berbeda-beda pula
menurut material pembentuk yang digunakan untuk membuat bangunan
tersebut. Sebagai pemeriksa, Anda harus mengetahui berat jenis setiap material
bangunan supaya dapat memastikan perhitungan struktur dengan benar.
Pengetahuan tentang berat jenis dari masing-masing material bangunan sangat
penting untuk diketahui apabila untuk memeriksa berat total suatu bangunan.
Fungsinya agar rancangan desain bangunan yang hendak didirikan sudah benar.
Sehingga bangunan tersebut benar-benar bisa dipastikan soal keamanannya.
Berikut merupakan tabel berat jenis bahan-bahan bangunan yang sering kali
dipakai dalam pembuatan konstruksi bangunan :
Harus diebutkan berat jenis material lain yang digunakan dalam perencanan.
Perlu diketahui, bahan-bahan bangunan yang alami seperti pasir, batu, dan kerikil
biasanya memiliki berat jenis yang tidak pasti. Tidak menutup kemungkinan
terdapat perbedaan berat jenis antara jenis pasir yang satu dengan pasir yang
lainnya. Tetapi selisih perbedaan tersebut sebenarnya tidak begitu mencolok.
Selisih ini masih ada dalam rentang batas sesuai dengan ukuran pada tabel berat
jenis di atas. Sedangkan berat jenis material bangunan buatan seperti semen,
beton, dan batu bata umumnya dapat dikontrol sehingga memiliki ukuran berat
jenis yang konstan.
2327
3.3 Beban Rencana
Untuk Rencana Pembebanan yang dipergunakan dalam isi Laporan Perhitungan
Perencanaan Struktur harus cukup jelas yang dipergunakan dalam proyek yang
dimaksud dan Beban beban Rencana yang dipergunakan dalam perhitungan
struktur bangunan yang dipergunakan sebagai acuan harus jelas dalam
pendefinisian nya yaitu sesuai persyaratan SNI Pembebanan SNI.03-1727:2020 atau
Peraturan lain yang mendukung.
Beban Mati Rencana, Beban Hidup Rencana dan Beban Gempa Rencana mengikuti
persyaratan yang ada dalam SNI yang harus diinfokan dan penjelasannya pada
sub bab berikut ini :
3.3.1 Beban Mati Rencana
Beban mati atau dead loads dikenal juga dengan sebutan beban permanen atau
statis dan juga merupakan berat seluruh konstruksi bangunan yang terpasang.
Beban ini berasal dari seluruh komponen bangunan termasuk dinding, atap, partisi
seperti dinding, finishing lantai, plafond, water proofing, komponen arsitektur,
Instalasi MEP bahkan komponen pelengkap seperti keran. Untuk berat sendiri
struktur bangunan (kolom, balok, pelat, dinding) akan dihitung secara otomatis
oleh program struktur bangunan dengan berat jenis beton yang tertera pada Sub
Bab 3.2
3.3.2 Beban Hidup Rencana
Beban hidup yang digunakan dalam perancangan bangunan gedung dan struktur
lain harus beban maksimum yang diharapkan terjadi akibat penghunian dan
penggunaan bangunan gedung. Akan tetapi, hal ini tidak boleh kurang dari beban
merata minimum yang ditetapkan.
Beban hidup adalah beban yang terjadi akibat penghunian sebuah gedung. Beban
hidup berasal dari beban atau benda yang dapat berpindah-pindah. Beban hidup
rencana untuk bangunan gedung telah diatur dalam SNI 03-1727:2020.
3282
3.3.3 Uraian Pembebanan Mati dan Hidup
Berikut adalah contoh uraian beban mati dan beban hidup yang digunakan pada
sebuah bangunan yang direncanakan.
3.4 Beban Gempa
Penentuan beban Gempa Rencana didalam Laporan Perhitungan Struktur harus
jelas menunjukan bahwa Lokasi Bangunan yang akan didirikan berada dalam Peta
Gempa sesuai dengan SNI 03-1726:2019 untuk mendapatkan Response Spektra
Design baik secara manual maupun secara online dari Peta Gempa RSA Cipta
Karya berikut ini :
Gambar 3.1 Contoh Lokasi Bangunan Yang Direncanakan
(Kementerian PUPR)
Proyek ini berada di (diisi sesuai lokasi bangunan yang direncanakan) dengan nilai
SS = (diisi sesuai hasil analisis) dan S1= (diisi sesuai dengan hasil analisis), menurut
Response Spektra Gempa SNI 1726-2019.
39
3.4.1 Pembebanan Gempa berdasarkan Spektrum Response Desain
Penentuan Response Design Rencana didalam Perhitungan Struktur harus sesuai
dengan Lokasi Bangunan yang akan didirikan berada dalam Peta Gempa sesuai
dengan SNI.03-1726-2019 untuk mendapatkan Response Spektra Design baik
secara manual maupun secara online dari Peta Gempa RSA Puskim Cipta Karya
dapat dilihat berikut ini :
Gambar 3.2 Contoh Hasil Response Spektra Indonesia
(Spektrum Response Design untuk semua kelas Situs secara online)
Gambar 3.3 Contoh Grafik Respons Desain ( Bangunan Kementerian PUPR )
( untuk Kategori Semua Kelas Situs, SE, SD, SC, SB)
40
3.5 Informasi Elemen Struktur dan koreksi Momen Inersia
Penampang Retak
Ukuran penampang Struktur (Dimensi Penampang) harus diinfokan dalam laporan
Perencanaan Perhitungan Struktur sesuai dengan yang dianalisis dalam
perhitungan struktur , baik untuk penampang Pelat, Balok dan Kolom yang
direncanakan.
Dalam Analisa desain penulangan beton struktur, Momen Inersia penampang
struktur harus dikalikan dengan koefisien Retak Penampang untuk memenuhi
persyaratan Retak Penampang Struktur. Koefisien Retak Penampang dapat dilihat
sebagai berikut :
Pada analisis statik dan beban lateral, penampang perlu dikoreksi terhadap retak
sebagai berikut :
Sebagai contoh Balok dianalisis sebagai balok persegi dan bukan tee, maka
digunakan faktor koreksi 0,7 dan bukan 0,35.
3.6 Beban Geser Rencana
Faktor Keutamaan Struktur Bangunan, Faktor Reduksi Gempa (R), Nilainya dipilih
sesuai dengan kondisi Fungsi Bangunan dan Sistem Struktur yang direncanakan
berdasarkan hasil analisis.
41
3.7 Respons Spektra Desain
Respons Spektra Desain diperoleh dari hasil analisis sesuai dengan dimana
bangunan yang direncanakan berdiri (dibangun). Respons Spektra Desain
diperoleh dan dihitung secara manual atau secara Otomatis sesuai dengan RSA
Response Design Spektra Indonesia secara Online dari Puskim Kementerian PUPR.
Untuk analisis struktur proyek (Diisi sesuai dengan bangunan yang direncanakan)
dilakukan analisis statik ekivalen dengan desain struktur menggunakan metode
desain kapasitas balok, kolom dan pondasi. Sedangkan untuk menggambar
digunakan drawing generator Auto Struk.
Grafik respon spektrum merupakan hasil plot dari nilai respon maksimum terhadap
fungsi beban tertentu untuk semua sistem derajat kebebasan tunggal yang
memungkinkan. Absis dari grafik tersebut berupa frekuensi (periode/waktu) dan
ordinat berupa nilai respon maksimum berdasarkan SNI-1726:2019. Desain respon
spektra harus ditentukan berdasarkan prosedur dan parameter-parameter yang
dibutuhkan. Berikut parameter-parameter yang menentukan respon spektra :
3.7.1 Kategori Situs
Berdasarkan sifat-sifat tanah pada situs, maka situs harus diklasifikasi sebagai
kelas situs SA, SB, SC, SD, SE, atau SF. Bila sifat-sifat tanah tidak teridentifikasi secara
jelas sehingga tidak bisa ditentukan kelas situs-nya, maka kelas situs SE dapat
digunakan kecuali jika pemerintah/dinas yang berwenang memiliki data geoteknik
yang dapat menentukan kelas situs lainnya. Klasifikasi Situs dapat dilihat pada
Tabel 3.1.
42
Tabel 3.1. Klasifikasi Situs
Berdasarkan hasil penyelidikan tanah, kategori situs Proyek Bangunan (diisi sesuai
bangunan yang direncanakan) adalah Kelas situs (sesuai dengan Kelas Situs hasil
Analisis).
43
3.7.2 Kategori Risiko Struktur Bangunan dan Faktor Keutamaan
Kategori resiko struktur bangunan dan faktor keutamaan bangunan dipilih sesuai
dengan Fungsi Bangunan sebagai peruntukannya, missal Bangunan untuk
Perkantoran, Untuk Rumah Sakit ataupun untuk Sekolah atau yang lainnya memiliki
Tingkat Kategori Risiko yang berbeda demikian juga Faktor Keutamaan Bangunan
tersebut. Untuk jelasnya dapat dilihat pada SNI-1726-2019 atau tabel dibawah ini :
Tabel 3.2 Kategori Risiko
44
Tabel 3.2 Kategori Risiko (Lanjutan)
Tabel 3.3 Faktor Keutamaan Gempa
Tabel diatas menunjukan contoh bahwa Bangunan memiliki Fungsi pemanfaatanya
sebagai Bangunan Sekolah, sehingga sesuai Tabel 3.2. diatas masuk kedalam
Kategori Tingkat Risiko IV, Jika Bangunan masuk dalam Kategori Risiko Tingkat IV,
maka Tabel 3.3. Bangunan tersebut mimiliki Faktor Keutamaan Bangunan adalah (I)
= 1,5.
45
3.7.3. Penentuan Koefisien Seismik
Dari tabel 3.1 dan tabel 3.2 didapat bahwa bangunan (diisi sesuai nama
bangunan) termasuk kategori resiko struktur IV(diisi sesuai Kategori risiko yang
diperoleh dalam analisis) dan faktor keutamaan (Ie) adalah 1.5 (diisi sesuai
dengan hasil analisis)
Gambar 3.4 Peta Gempa Penentu S1
Gambar 3.5 Peta Gempa Penentu Ss
Dari peta gempa didapat bahwa (diisi nama Bangunan dan Lokasi nya) memiliki
nilai SS (diisi sesuai dengan hasil analisis) g dan S1 (diisi sesuai dengan hasil
analisis) g.
46
3.7.4 Kategori Desain Seismik (KDS)
Untuk menghitung Koefisen Situs Fa dan Fv, dihitung berdasarkan Percepatan
Response Spektra pada Periode Pendek (SMS) dan Response Spektra pada Periode 1
detik (SM1) yang diperoleh dari Formula berikut ini :
Menentukan Maximum Considered Earthquake (MCE).
a. Percepatan respon spektra pada periode pendek dengan rasio redaman 5%.
Dimana : = Koefisien Situs dari Tabel 3.4
Fa = Koefisien Situs dari Tabel 3.5
Fv = Dari Peta Gempa
Ss dan S1 = Faktor Amplifikasi Percepatan Getaran pada Periode Pendek.
Fa = Faktor Amplifikasi Percepatan Getaran pada Periode 1 Detik.
Fv = Parameter Response Spektra percepatan pada Periode Pendek,
Sms
sesuai pengaruh kelas Situs.
Ss = Parameter Response Spektra percepatan pada Periode 1 detik,
sesuai pengaruh kelas Situs.
Penentuan Fa dan Fv diperoleh secara interpolasi dengan menentukan Kelas Situs
(SE, SD,SC,SB,SA dan SF) sesuai hasil Analisa Kelas Situs Tanah Uraian Bab 3.7.1
sebelumnya.
Dan hasil Response Spektra Desain yang diperoleh dari hasil respons spectra pada
Bab 3.4 yaitu Respons Spektra Design dari Puskim PUPR secara online (Ss dan S1)
Tabel 3.4 Koefisien Situs Penentu Fa
CATATAN :
(a) SS= Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons
situs-spesifik, lihat 6.10.1 (SNI 1726:2019)
47
Tabel 3.5 Koefisien Situs Penentu Fv
CATATAN :
(a) SS= Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons
situs-spesifik, lihat 6.10.1
Dari tabel 3.4 dan tabel 3.5 koefisien situs (SNI-1726:2019) sebelumnya didapatkan
bahwa nilai Fa dan Fv bergantung pada nilai SS dan S1 sebagai berikut :
Fa = Diisi sesuai dengan hasil analisis
Fv = Diisi sesuai dengan hasil analisis
Sehingga SM1 dan SMS dapat dihitung sebagai berikut :
SMS = Diisi sesuai dengan hasil analisis (g)
SM1 = Diisi sesuai dengan hasil analisis (g)
b. Percepatan respon spektra pada periode satu detik dengan rasio
redaman 5%.
Dari nilai SM1 dan SMS yang telah didapatdari langkah sebelumnya dijadikan data
untuk menghitung SDS dan SD1 dengan rumus sebagai berikut :
SDS dan SD1 untuk menentukan
Kategori Design Seismic
48
c. Setelah mendapatkan Sds dan Sd1 lalu dapat menentukan kategori desain
seismic dari Tabel 3.6 dan Tabel 3.7 (SNI-1726:2019) berikut:
Tabel 3.6 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons
Percepatan Pada Periode Pendek
Tabel 3.7 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons
Percepatan Pada Periode 1 Detik
49
3.7.5 Response Spektrum Desain
Jika desain respon spektrum diperlukkan dan tidak memerlukan prosedur gerak
tanah dari spesifik situs, maka kurva respon spektrum harus dikembangkan sesuai
dengan ketentuan SNI- 1726-2019 sebagai berikut :
1. Jika perioda ≤ To maka, Spektrum respon percepatan desain (Sa) adalah
2. Jika To ≤ perioda ≤ Ts, maka Sa = Sds
3. Jika Ts ≤ perioda ≤ TL, maka Sa adalah
4. Jka perioda > To maka Sa
Dimana :
dan
TL = Transisi periode panjang.
Gambar 3.6 Respons Spektrum Desain
Grafik Response Spektrum Design yang diperoleh ini dipergunakan untuk Rencana
Pembebanan Gempa Struktur Bangunan, sesuai dengan lokasi dimana bangunan
yang direncanakan akan dibangun. Berdasarkan Pembebanan Gempa SNI.03.1726-
2019.
50