3.7.6 Gaya Geser Dasar Seismic
Vs dalam arah yang ditetapkan harus ditentukan sesuai dengan persamaan
sebagai berikut :
Formula Perhitungan Gaya Geser Dasar Seismik ini, dipergunakan untuk
menghitung gaya lateral Ekivalen yang memepengaruhi kekakuan elemen dan
deformasi struktur dan tentunya berpengaruh terhadap ketidak beraturan struktur.
Nilai R, Ie, Cs, dan T berdasarkan hasil Response Spektra Design sesuai dengan
dimana bangunan akan dibangun/direncanakan.
51
3.7.7 Rangkuman Koefisien Seimik Diperoleh dari Peta Gempa
pada Penentuan Design
Ss = (diisi sesuai dengan hasil analisis) g Spektra Design, sesuai lokasi
S1 = (diisi sesuai dengan hasil analisis) g Bangunan yang direncanakan.
SMS = (diisi sesuai dengan hasil analisis) g
SM1 = (diisi sesuai dengan hasil analisis) g
SDS = (diisi sesuai dengan hasil analisis) detik
SD1 = (diisi sesuai dengan hasil analisis) detik
3.7.8 Nilai Pengaruh Gempa Vertikal
Dimana SDS adalah percepatan respon spektrum desain pada periode pendek
yang diperoleh dari pasal 6.10.4 (diisi sesuai hasil analisis (g) dan D adalah
pengaruh beban mati.
3.7.9 Kesimpulan Dari Hasil Perhitungan Dan Data Respon Spektra
Ss = (Diisi sesuai hasil analisis) (g), S1 = (Diisi sesuai hasil analisis) (g)
Jenis Tanah = Lunak/Sedang/keras (Sesuai hasil analisis klasifikasi situs)
Fa = (Disii sesuai hasil analisis)
Fv = (Disii sesuai hasil analisis)
Sms = (Disii sesuai hasil analisis)
Sm1 = (Disii sesuai hasil analisis)
Sds = (Disii sesuai hasil analisis)
av = (Disii sesuai hasil analisis)
Cu = (Disii sesuai hasil analisis)
T0 = (Disii sesuai hasil analisis)
Ts = (Disii sesuai hasil analisis)
52
3.7.10 Penentuan Koefisien Modifikasi Respons (R) dan Faktor Kuat
Lebih Sistem (Ω)
Pada bab 3.7.9 setelah parameternya didperoleh, Langkah selanjutnya adalah
memilih dan menentukan sistem struktur yang sesuai untuk bangunan pada lokasi
perencanaan dengan menentukkan sistem overstrength dan modification factor
dari sistem struktur yang sudah dirangkum pada Tabel 3.8 (SNI-1726-2019) sebagai
berikut :
Tabel 3.8 Faktor R,Cd, dan Ωo Untuk Sistem Penahan Gaya Gempa
53
Tabel 3.8 Faktor R,Cd, dan Ωo Untuk Sistem Penahan Gaya Gempa (Lanjutan)
54
Tabel 3.8 Faktor R,Cd, dan Ωo Untuk Sistem Penahan Gaya Gempa (Lanjutan)
55
Tabel 3.8 Faktor R,Cd, dan Ωo Untuk Sistem Penahan Gaya Gempa (Lanjutan)
Dari tabel diatas dipilih sistem struktur yang sesuai dan didapatkan nilai faktor
untuk sistem struktur bangunan yang direncanakan adalah sebagai berikut :
1. R = Diisi sesuai dengan sistem struktur yang dipilih dalam Tabel diatas
2. Ωo = Diisi sesuai faktor kuat lebih sistem yang dipilih dalam Tabel diatas
3.Cd =Diisi sesuai dengan faktor pembesaran sistem yang dipilih dalam
Tabel diatas
Dengan ketentuan :
TB = Tidak dibatasi
TI = Tidak diijinkan
56
3.7.11 Menentukkan Faktor Redudansi Struktur (ρ)
Pada SNI-1726-2019 faktor redudansi struktur sudah ditetapkan pada pasal 7.3.4.2
yaitu untuk struktur dengan rancangan kategori desain seismik D, rho (ρ) dapat
diambil sebesar 1.0 dengan memenuhi syarat struktur dengan denah beraturan di
semua tingkat dengan sistem pemikulgaya seismik terdiridari setidaknya dua
bentang perimeter pemikul gaya seismik yang merangka pada masing-masing sisi
struktur dalam masing- masing arah orthogonal.
3.7.12 Menentukan Periode Natural (T)
Periode fundamental struktur, T, dalam arah yang ditinjau harus diperoleh
menggunakan sifat struktur dan karakteristik deformasi elemen pemikul dalam
analisis yang teruji. Periode fundamental struktur, T, tidak boleh melebihi hasil
perkalian koefisien untuk batasan atas pada periode yang dihitung (Cu) dari Tabel
3.9 dan periode fundamental pendekatan, Ta, yang ditentukan dari persamaan.
Sebagai alternatif dalam melakukan analisis untuk menentukan periode
fundamental struktur, T, diizinkan secara langsung menggunakan periode
bangunan pendekatan, Ta, yang dihitung sesuai berikut ini :
Tabel 3.9 Koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung
Untuk menentukan periode natural (T), digunakan perbandingan dari tiga rumus
sebagai berikut :
1. Approximate Periods of Vibration
hn adalah ketinggian struktur (m), di atas dasar sampai tingkat tertinggi struktur,
dan koefisien Ct dan x ditentukan dari Tabel 3.10.
57
Tabel 3.10 Nilai parameter periode pendekatan Ct dan x
Dimana : ; Ct = 0,0724 dan X = 0,8
; Ct = 0,0466 dan X = 0,9
a. Rangka momen baja ; Ct = 0,0731 dan X = 0,75
b. Rangka momen beton ; Ct = 0,0488 dan X = 0,75
c. Rangka tertambat eksentris
d. Sistem lainnya
2. Ta = 0,01N
Untuk rangka momen kurang dari 12 tingkat, dengan tinggi mimimum 3
meter N = Jumlah tingkat
3. Adjustmnet Factor
Dari ketiga hasil T tersebut dibandingkan lalu didapatkan periode natural (T),
dengan ketentuan sebagai berikut :
Nilai T yang digunakan adalah :
Tabel 3.11 Nilai T Yang Digunakan
58
3.7.13 Rangkuman Parameter Respon Spektra
Dari langkah-langkah yang telah dijabarkan didapat beberapa data parameter
respon spektrum yang dapat dirangkum dalam tabel 3.12 berikut: :
Tabel 3.12 Parameter Respon Spektrum
3.8 Kombinasi Beban Gempa
3.8.1 Kombinasi Pembebanan Ultimate
59
3.8.2 Kombinasi Pembebanan Izin
Dimana :
60
Catatan
62
PEMODELAN STRUKTUR
63
PEMODELAN STRUKTUR
4.1 Modeling Struktur
Struktur dimodelkan dengan menggunakan analisa 3 dimensi dengan
menggunakan software analisis struktur seperti ETABS, SANSPRO, SAP, dll, dimana
bangunan dimodelkan dengan memilih jenis perletakan pada pondasi.
Struktur Atas Struktur dimodelkan sebagai rangka momen pemikul momen, yang
nantinya akan berfunsi sebagai pemikul beban vertikal (akibat beban mati dan
beban hidup) dengan beban lateral (beban gempa).
Struktur Bawah berupa Pondasi baik pondasi dangkal, Pondasi Dalam (Borepile,
Tiang Pancang) yang diikat dengan Sloof (Tie Beam).
4.2 Modeling 3D Struktur
Berikut ini adalah gambar layout denah arsitektur yang harus dimodelkan kedalam
software analisa struktur. Untuk dinding yang terlihat pada denah arsitektur ini,
diterjemahkan sebagai beban pada elemen struktur sesuai lokasinya masing-
masing.
Gambar 4.1 Contoh Denah Arsitektur Lantai-1
64
Contoh Gambar Denah Rencana Arsitektur Ketinggian Floor To Floor 400 Cm
Gambar 4.2 Contoh Denah Arsitektur Lantai-2
Gambar 4.3 Contoh Denah Arsitektur Lantai-3
Gambar 4.4 Pemodelan 3D Struktur, sesuai Denah Rencana Arsitektur
65
66
ANALISA PEMODELAN
STRUKTUR
67
ANALISA PEMODELAN STRUKTUR
5.1 Analisa Pemodelan
Dalam menganalisa dan membuat pemodelan struktur, hasil output 3D input Data
Pemodelan harus menunjukan bahwa pemodelan sudah sesuai dengan disain
Gambar 3D Arsitektur dan pembebanan struktur baik berupa beban Gravitasi yang
berupa beban mati dan beban hidup sudah menunjukan kondisi yang sebenarnya,
sesuai gambar rencana arsitektur, mekanikal dan elektrikal sebagai beban
instalasi yang dirancang.
Gambar 5.1 Contoh Pemodelan 3D
Dalam Pemodelan dan Analisa Struktur Laporan Perhitungan harus mencantumkan
input hasil pemodelan yang berupa sebagai berikut :
1. Layout Denah Elemen dimensi Struktur Balok dan Kolom
2.Layout informasi Penempatan Beban Luar SDL, LL
3.Layout Denah Pelat Lantai
4.Layout nomor elemen struktur
5.Masing-masing Layout dilaporkan setiap lantai yang ditinjau
68
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 5.2 Contoh Layout Denah Elemen Struktur
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 5.3 Contoh Layout Pembebanan Pelat Lantai
69
70
INPUT DATA PROGRAM
(SOFTWARE)
71
INPUT DATA PROGRAM (SOFTWARE)
Input Data Program harus ditampilkan dalam laporan dan hal ini untuk mengecek
kebenaran input data sesuai dengan yang direncanakan.
Input Data Program disesuaikan dengan masing masing program yang sudah
dimiliki dan input data sesuai dengan aturan dan manual operation dari software
yang dipergunakan.
Dalam Input data dapat dibedakan dalam dua (2) hal input data yaitu :
1.Input Data Elemen Struktur yang berupa Elemen Balok, Kolom dan Pelat atau
yang lainnya dimana input data harus menunjukan dan sesuai dimensi elemen
yang dipergunakan dalam perencanaan struktur dalam hal ini bisa berupa
lebar balok (b), tinggi balok (h), balok T atau balok biasa dan sebagainya.
2. Input Data Material Elemen Struktur yang bisa berupa Beton, Baja dan lainnya
dengan koefisein Parameter sesuai dengan Code/Peraturan yang
dipergunakan dalam perencanaan.
Contoh Input Data Program dapat dilhat pada Gambar 6.1 berikut ini :
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 6.1 Input Data Perencanaan Elemen
72
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 6.2 Conto Input Data Design Elemen
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 6.3 Contoh Input Data Beban Gempa Rencana
73
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 6.4 Contoh Input Data beban Gempa Rencana
74
Catatan
75
HASIL ANALISA PROGRAM
76
HASIL ANALISA PROGRAM
Hasil Analisa Program harus dilaporkan sesuai dengan persyaratan dan ketentuan
yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Indonesia terkait dengan
Kehandalan Struktur Bangunan dan Kekuatan Struktur yang dipersyaratkan dan
harus dilaporkan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Persyaratan Drift Tingkat
2. Eigen Value
3. Persyaratan Modal Participation Factor (MDF)
4. Modal Direction Factor (MDF)
5. Modal Effective Mass Factor (EMF), EMF > 90%
6. Rasio Base Shear r = Vd/Vs > 95% (100%)
Hasil Output Program yang menunjukan persyaratan tersebut dapat dilihat
dibawah ini :
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 7.1 Persyaratan Drift Story
Pada Gambar 7.1 dapat dilihat bahwa hasil output program menunjukan status
Drift Story adalah OK dan memenuhi persyaratan.
77
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 7.2 Eagen Value
Pada Gambar 7.2 dapat dilihat bahwa hasil output program menunjukan Efektif
Masses Mass adalah 100 % terpenuhi dan memenuhi persyaratan.
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 7.3 Modal Participation Factor (MPF) dan (MDF)
Pada Gambar 7.3 hasil output program menunjukan status MPF dan MDF, pada
Mode-1 dan Mode-2, Perilaku Struktur pada saat Pembebanan Gempa adalah
bergerak Translasi, sementara Mode-3 adalah bergerak Rotasi artinya Struktur OK
dan Stabil.
78
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 7.4 Modal Effective Mass Factor (EMF) > 100%
Pada Gambar 7.4 hasil output program menunjukan Modal Efektif Mass Factor
(EMF) adalah 100 % terpenuhi.
Sumber : SOFTWARE SANSPRO V.5.2
Gambar 7.5 Base Shear ratio r = vd/vs > 95% ~ 100%
Pada Gambar 7.5 hasil output program menunjukan Rasio Gaya Geser Dinamik
dan gaya Geser Statik sudah diatas 95%, sudah cukup bagus, sesuai persyaratan
SNI 1726.2019 adalah diatas 95%, sementara SNI 1726.2012 adalah cukup 85%
minimal.
79
Catatan
80
STRUKTUR BAWAH
81
STRUKTUR BAWAH
8.1 Umum
Pada proyek pembangunan gedung selalu menyajikan beberapa perencanaan,
diantaranya adalah perencanaan Sub-Structure (struktur bawah – pondasi) dan
perencanaan Upper Structure (struktur atas).
Faktor Kegagalan Bangunan sangat ditentukan oleh kehandalan dalam
mendesain pondasi, yang mampu menahan beban-beban gravitasi maupun
Beban Lateral Gempa, disamping faktor kehandalan dalam perencanaan struktur
atas.
Perencanaan pondasi, dengan beban-beban dari struktur atas yang telah dibuat
dan direncanakan sebelumnya oleh perencana struktur atas, merupakan elemen
penting dalam mendesain pondasi. Untuk peninjauan Perencanaan Pondasi yang
meliputi Beban Statik Gravitasi dan Beban layan dan Beban Ultimate (untuk
tinjauan Gempa Sedang dan Gempa Kuat), harus ditinjau sesuai dengan SNI
Pembebanan Gempa 03-1726:2019 dan SNI Pembebanan untuk Gedung 03-
1727:2020 yang meliputi beban Statik Gravitasi dan Beban Lateral Gempa.
Mengingat tinjauan terhadap beban-beban yang harus dipikul oleh pondasi
sangat penting, yaitu sebagai kekuatan dan kehandalan bangunan Gedung itu
sendiri, maka laporan pondasi harus membahas pembebanan tersebut.
8.2 Peraturan Code Yang Dipergunakan
Peraturan yang digunakan dalam proses perencanaan minimal harus mengikuti
Standar Nasional Indonesia (SNI) berikut ini :
1. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung, SNI 1727:2020
dari BSN Kementerian PUPR.
2.Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung, SNI
1726:2019 dari BSN Kementerian PUPR.
3.Tata Cara Penghitungan StrukturBeton untuk Bangunan Gedung, SNI 2847:2020
dari BSN Kementerian PUPR.
4.Pedoman Persyaratan Perancangan Geoteknik, SNI 8460:2017 dari BSN
Kemeneteraian PUPR.
82
8.3 Deskripsi Geoteknik
Deskripsi geoteknik dimaksudkan untuk mengetahui sifat-sifat tanah dan
pengelompokan tanah sebagai dasar dalam menentukan daya dukung pondasi
yang direncanakan.
Setelah kita menganalisa kondisi tanah sesuai dengan diskripsi yang diberikan
dalam laporan Penyelidikan Tanah (Soil Investigation), maka kita dapat
mengetahui nilai N-SPT Tanah maupun Kepadatan Tanah yang dilaporkan dalam
Pengeboran Tanah untuk mendapatkan nilai N-SPT dan Soil Properties. Secara
visual Nilai N-SPT dapat dilihat dari laporan grafik Bor Log, sementara untuk soil
properties dapat dilihat dalam laporan hasil investigation di Laboratorium
Mekanika Tanah.
Hasil laporan Bor Log dan engineering properties dipergunakan untuk menghitung
dan mnganalisa Daya Dukung Pondasi yang akan direncakan dalam perencanaan
pondasi. Jumlah titik-titik Sondir dan Boring ditentukan berdasarkan persyaratan
SNI 03-8460:2017, persyaratan ini harus dipenuhi agar ketelitian dalam
menentukan pondasi lebih akurat.
8.3.1 Persyaratan Jumlah Titik Soil Test
Persyaratan Jumlah titik Soil Test untuk penyelidikan Tanah sebagai dasar
perencanaan pondasi dan menentukan Situs Tanah harus memenuhi persyaratan
SNI 03-8460:2017, persyaratan ini harus dipenuhi agar ketelitian dalam
menentukan pondasi lebih akurat.
83
Tabel 8.1 Jumlah Minimum Penyelidikan Tanah
Pada Gambar 8.1 merupakan Contoh Hasil Dept Boring, yang menampilkan
Diskripsi Jenis Tanah dan nilai N-SPT tanah.
Gambar Grafik menunjukan Nilai Variatif N-SPT Tanah sementara Gambar
sampingnya menunjukkan diskripsi Jenis Tanah sesuai dengan kedalamannya.
Gambar 8.1 Contoh Hasil Dept Boring
84
8.4 Jenis Tanah dan Lokasi Bangunan
Pada Gambar 8.2 merupakan contoh Lokasi Bangunan yang akan dilakukan
Penyelidikan Tanah, untuk merencanakan Pondasi dan Kelas Situs bangunan
tersebut.
Gambar 8.2 Contoh Lokasi Bangunan yang akan dilakukan Penyelidikan Tanah
Pada Gambar 8.3 merupakan contoh Bor log hasil Pengeboran untuk
mendapatkan Diskripsi Geoteknik di Lokasi Bangunan yang direncanakan. Pada
Grafik Borlog ditunjukkan jenis tanah dan niali N-SPT pda kedalaman titik tertentu.
Jenis Tanah Lanau, Silty, Sand atau Clay.
Gambar 8.3 Contoh Grafik Borlog Hasil Pengeboran
85
8.5 Profil Tanah Lokasi Bangunan
Pada Gambar 8.4 merupakan hasil Borlog Pengeboran untuk mendapatkan
Diskripsi Geoteknik di Lokasi Bangunan yang direncanakan. Pada Grafik Borlog
menunjukan nilai N-SPT pada kedalaman tertentu sangat bervariatif, sehingga
dapat disimpulkan bahwa kondisi profil Tanah pada area lokasi bangunan adalah
Tanah yang berlensa. Untuk menentukan kedalaman pondasi harus hati-hati,
ketebalan lensa harus cukup tebal minimal 6 meter.
Gambar 8.4 Grafik Borlog menunjukkan nilai N-SPT Pada Kedalaman Tertentu
86
8.6 Parameter Tanah Lokasi Bangunan
Parameter tanah diambil berdasarkan pengujian laboratorium dan juga
berdasarkan korelasi empirik yang ada, lalu dibandingkan dengan batasan-
batasan nilai tipikal yang didapat dari referensi/rujukan.
8.6.1 Parameter Undrained Shear Strength (Cu) dan Sudut Geser (φ)
Parameter Cu diambil berdasarkan hasil pengujian dan korelasi empiris yang
dibandingkan dengan nilai tipikalnya.
Kemudian untuk parameter φ sama halnya dengan penentuan nilai Cu, nilai φ
diambil berdasarkan hasil pengujian dan korelasi empiris dan dibandingkan
dengan nilai tipikalnya, seperti tabel dibawah ini :
Tabel 8.2 Korelasi nilai N-SPT Dengan Kepadatan Tanah Lempung
Sumber : Korelasi nilai N-SPT dengan kepadatan tanah lempung (Terzaghi dan Peck, 1948)
8.6.2 Parameter-Parameter Yang Dipergunakan Dalam Analisis Daya
Dukung Lateral Pondasi
Parameter beberapa jenis tanah yang dipergunakan dalam analisis daya dukung
lateral pondasi, sebagai berikut :
Tabel 8.3 Tanah Pasiran (Non Kohesif)
Sumber : Teng (1962)
87
Tabel 8.4 Tanah Lempung (Kohesif)
Sumber : Terzaghi dan Peck (1943)
8.7 Metode Perencanaan Pondasi
Pertama-tama dilakukan pemodelan untuk rangkaian analisis struktur atas.
Analisis pertama yang dilakukan adalah analisis eigen value untuk menentukan
mode dan perioda getaran yang dominan. Jika mode getaran dominan berupa
getaran translasi (bukan torsi), maka model struktur dapat diterima, dan perioda
getar dijadikan masukan untuk menentukan gaya gempa statik berdasarkan
respon spektra yang sesuai.
Analisis struktur 3 dimensi statik dengan memperhatikan efek torsi kemudian
dilakukan untuk mendapatkan reaksi perletakan untuk perencanaan pondasi dan
gaya-gaya dalam untuk perencanaan penulangan.
8.8 Perencanaan Pondasi
Perencanaan sistem pondasi dibuat berdasarkan hasil Laporan Penyelidikan Tanah
yang merupakan Data Bor Log dengan Nilai N-SPT yang diperoleh, maupun dengan
cara perhitungan analisis dan empiris berdasarkan hasil Laboratorium Tanah.
Pemilihan Pondasi bisa merupakan pondasi dangkal atau pondasi dalam sesuai
dengan Analisa yang diperoleh. Perencanaan pondasi meliputi daya dukung tiang
tunggal tekan, analisa daya dukung tiang tunggal tarik, analisa daya dukung
lateral, efisiensi tiang group, pemeriksaan kapasitas pondasi terhadap gaya
gempa nominal dan gempa kuat (ultimate) dan analisa penurunan pondasi.
88
8.8.1 Kombinasi Pembebanan
Perencanaan daya dukung pondasi tiang dievaluasi dengan metode tagangan ijin,
dimana kombinasi beban yang digunakan mengikuti SNI 1726:2020 pasal 4.2.3,
yaitu sebagai berikut :
A. KONDISI BEBAN SERVICE
1.0 DL + 1.0 LL
1.0 SW + 1.0 UPN
1.0 SW + 1.0 UPB
(1.0+0.14 SDS) DL ± 0.63 ρ (Ex ± 0.3 Ey)
(1.0 + 0.14 SDS) DL ± 0.63 ρ (Ey ± 0.3 Ex)
(1.0 + 1.05 SDS) DL + 0.75 (LL + LR) ± 0.4725 ρ (Ex ± 0.3 Ey)
(1.0 + 1.05 SDS) DL + 0.75 (LL + LR) ± 0.4725 ρ (Ey ± 0.3 Ex)
0.6 DL ± 0.63 ρ ( Ex ± 0.3 Ey ) + 0.6 UPN
0.6 DL ± 0.63 ρ ( Ey ± 0.3 Ex ) + 0.6 UPN
Kondisi Desain (Daya Dukung Tiang dapat ditingkatkan sebesar 1,3x)
Pada Kondisi Beban Service dengan Kombinasi Pembebanan di atas, Daya Dukung
Pondasi boleh ditingkatkan sebesar + 1,3 % dari Daya Dukung Ijin nya.
B. KONDISI ULTIMATE
(1.0 + 0.14 SDS) DL ± 0.63 Ω0 ( Ex ± 0.3 Ey )
( 1.0 + 0.14 SDS ) DL ± 0.63 Ω0 ( Ey ± 0.3 Ex )
( 1.0 + 1.05 SDS ) DL + 0.75 (LL + LR) ± 0.4725 Ω0 ( Ex ± 0.3 Ey )
( 1.0 + 1.05 SDS ) DL + 0.75 (LL + LR) ± 0.4725 Ω0 ( Ey ± 0.3 Ex )
0.6 DL ± 0.63 Ω0 ( Ex ± 0.3 Ey ) + 0.6 UPN
0.6 DL ± 0.63 Ω0 ( Ey ± 0.3 Ex ) + 0.6 UPN
Kondisi Desain (Daya Dukung Tiang dapat ditingkatkan sebesar 1,56x)
Pada Kondisi Beban Ultimate sesuai dengan Kombinasi Pembebanan di atas, Daya
Dukung Pondasi boleh ditingkatkan sebesar + 1,56 % dari Daya Dukung Ijin nya.
89
8.9 Spesifikasi Beban dan Bahan Pondasi
Spesifikasi Beban Pondasi ditentukan dari Reaksi Perletakan Kolom atau
perhitungan Turbuan Area berdasarkan Perencanaan Struktur Atas yang sudah
dibuat sebelumnya. Daya Dukung Bahan Pondasi harus lebih besar dari Daya
Dukung Ijin yang dipergunakan dalam perencanaan pondasi.
Bahan Material Pondasi bisa menggunakan material Beton Bertulang untuk
pondasi Dalam atau pondasi dangkal, Bahan Pondasi bisa juga menggunakan
Material Baja ataupun Kayu sebagai Daya Dukungnya, yang disesuaikan dengan
Spesifikasi Bahan yang dipergunakan.
LAMPIRAN - LAMPIRAN
Lampiran – lampiran pada laporan perhitungan struktur harus mencantumkan
data-data yang dipergunakan dalam perencanaan struktur dan dapat berupa
lampiran sebagai berikut :
1. Lampiran Perhitungan Pelat, Balok dan Kolom
2.Lampiran Perhitungan Tangga
3.Lampiran Perhitungan Pondasi (struktur bawah)
4.Lampiran Input Data Software
5.Lampiran Gambar Rencana Denah Arsitek dan Potongan
6.Lampiran Soiltest
7.Lampiran- Lampiran yang mendukung data perencanaan
90
Catatan
92
FORMAT REVIEW
93
KETENTUAN UMUM
1. Pemeriksa Laporan Perhitungan Struktur adalah perseorangan atau instansi
yang bertanggung jawab dalam memeriksa dan memberi masukan terhadap
perhitungan struktur / desain struktur dan mengisi formulir Pemeriksaan.
2.Konsultan Perencana adalah perseorangan atau instansi yang bertanggung
jawab untuk memperbaiki perhitungan struktur / desain struktur berdasarkan
masukan Pemeriksa dan memperbarui formulir Pemeriksaan.
3.Formulir Pemeriksaan Laporan Perhitungan Struktur adalah formulir pencatatan
masukan dari Pemeriksa laporan serta tindak lanjut perbaikan perhitungan
struktur / desain struktur oleh Konsultan Perencana sebagai catatan kronologis
perubahan desain struktur.
4.Masukan yang diberikan oleh Pemeriksa Laporan Perhitungan Struktur dapat
berupa asistensi atau reviu.
5.Asistensi adalah kegiatan pemeriksaan kesesuaian desain struktur bangunan
terhadap persyaratan yang berlaku.
6.Reviu adalah kegiatan pemeriksaan kesesuaian desain struktur bangunan
terhadap persyaratan yang berlaku disertai dengan pemberian bimbingan
teknis.
7.Melakukan perbaikan desain struktur bangunan berarti juga melakukan
perubahan pada isi laporan perhitungan struktur.
94
ALUR PROSES FORMAT REVIEW
1 Pemeriksa Laporan Perhitungan Struktur melakukan
pemeriksaan terhadap isi laporan perhitungan struktur.
Pemeriksa Laporan Perhitungan Struktur mencatat 2
masukan dalam formulir Pemeriksaan Laporan
Perhitungan Struktur
Konsultan Perencana memperbaiki perhitungan
3 struktur bangunan atau desain struktur bangunan
berdasarkan masukan dari Pemeriksa.
Konsultan Perencana mencatat perbaikan 4
perhitungan struktur bangunan atau desain struktur
bangunan dalam formulir Pemeriksaan.
5 Persetujuan Perbaikan Perhitungan Struktur
Bangunan atau Desain Struktur Bangunan.
95
TATA CARA
1. Pemeriksa Laporan Perhitungan Struktur melakukan pemeriksaan terhadap
perhitungan struktur bangunan atau desain struktur bangunan terkait yang
dibuat oleh Konsultan Perencana.
2. Pemeriksa Laporan Perhitungan Struktur menyebutkan halaman/lokasi terkait
isi laporan perhitungan struktur yang diperiksa dan mencatat masukan
perbaikan dalam formulir Pemeriksaan (Gambar 1 dan Gambar 2) kemudian
mengirimkannya kepada Konsultan Perencana sebagai permintaan perbaikan
perhitungan struktur atau desain struktur dengan mengisi Cell 1 - 11, dan cell 13
yaitu:
Cell 1, Nama Kegiatan : Menyebutkan Nama Kegiatan.
Cell 2, Lokasi Kegiatan : Menyebutkan Lokasi Kegiatan.
Cell 3, Tanggal Periksa : Menyebutkan Lokasi Kegiatan.
Cell 4, Nama Pemeriksa : Menyebutkan Nama Pemeriksa Laporan.
Cell 5, Instansi Pemeriksa : Menyebutkan Instansi Pemeriksa.
Cell 6, Instansi Perencana : Menyebutkan Instansi Konsultan Perencana.
Cell 7, Deskripsi Pemeriksaan : Menyebutkan Deskripsi Pelaksanaan
Pemeriksaan
Cell 8, Nomor : Menyebutkan Nomor urut uraian pemeriksaan
Cell 9, Halaman : Menyebutkan Halaman Pemeriksaan pada laporan
perhitungan struktur dengan mengisi nama halamannya.
Cell 10, Uraian Pemeriksaan : Menjelaskan Uraian Pemeriksaan
Cell 11, Standar Acuan : Menyebutkan Standar Acuan Yang Digunakan Terkait
Dengan Masukan Yang Diberikan.
Cell 13, Target Waktu Perbaikan : Menyebutkan Tanggal Target Penyelesaian
Perbaikan.
96
3. Konsultan Perencana memperbaiki perhitungan struktur bangunan atau desain
struktur bangunan berdasarkan masukan dari Pemeriksa pada formulir
Pemeriksaan.
4. Kemudian Konsultan Perencana mencatat perbaikan perhitungan struktur atau
desain struktur ke dalam formulir pemeriksaan (Gambar 2) dengan mengisi Cell
12 , dan 14, yaitu:
Cell 12, Tindak Lanjut : Menjelaskan Perbaikan Yang Dilakukan Berdasarkan
Masukan Pemeriksa.
Cell 14, Realisasi Waktu Perbaikan : Menyebutkan Tanggal Realisasi
Penyelesaian Perbaikan Oleh Konsultan Perencana.
5. Perhitungan STruktur Bangunan atau Desain Struktur Bangunan yang telah
diperbaiki diberikan persetujuan pada formulir Pemeriksaan Gambar (Gambar
2) dengan mengisi Cell 15, yaitu:
Cell 15, Status : Persetujuan Pemeriksa Laporan Terhadap Masing-Masing
Perbaikan Laporan Dengan Mengisi "OK".
Formulir atau Format Review Pemeriksaan Perhitungan Struktur bisa diunduh
pada QR Code dibawah ini :
Atau bisa juga akses pada link berikut ini :
https://bit.ly/FormatReviewPemeriksaanStruktur
97