The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bcandra296, 2021-12-19 23:25:23

KELAS VIII AGAMA HINDU

KELAS VIII AGAMA HINDU

Keywords: hindu

1

KATA PENGANTAR

ॐ स्वस्त्यस्तु ।
Puja dan puji astuti mari kita panjatkan kepada Ida Sanghyang Parama Kawi, Tuhan

Yang Maha Kuasa atas ilmu pengetahuan, akhirnya Modul dan Bahan Ajar Pendidikan Agama
Hindu dan Budi Pekerti Kelas VIII Tahun Pelajaran 2021/2022 akhirnya dapat terselesaikan
dengan baik.

Modul ini disusun sebagai salah satu perlengkapan untuk mengajar Pendidikan Agama
Hindu dan Budi Pekerti Kelas VIII di pada Tahun Pelajaran 2021/2022. Untuk itu kami
sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Kepala Dinas Pendidikan Kab. Blitar
2. Bapak/Ibu Kepala Sekolah;
3. Teman-teman MGMP Pendidikan Agama Hindu Kab. Blitar;
4. Serta segenap pihak yang telah membantu penyusunan perangkat mengajar ini.

Kami menyadari betul bahwa perangkat mengajar dan bahan ajar ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kami mohon masukan dan saran dari bapak/ibu Instruktur untuk
perbaikannya serta teman-teman dan para pembaca. Semoga Sang Hyang Widdhi Wasa
senantiasa memberikan limpahan waranugraha-Nya kepada kita semua.
Ilmu dijalankan dengan laku (perbuatan/praktik). Diawali dengan niat yang tulus. Dengan
ketulusan itulah kita bisa menghancurkan penghalang dari ilmu pengetahuan tersebut.
ॐ शान्तिः । शान्तिः । शान्तिः ॥

Blitar, 26 November 2021

Tim Penyusun

2

DAFTAR ISI 2

KATA PENGANTAR 3

DAFTAR ISI 7

BAB I 7
8
SIFAT ATMAN DALAM BHAGAWADGITA 9
Sifat Atman dalam Bhagawadgita 9
Pengantar 9
Materi 10
1. Pengertian Ātmān 11
2. Sifat-Sifat Ātmān 12
3. Bagian Bagian Ātmān 13
4. Hubungan Ātmān dengan Brahman 14
5. Ātmān Sebagai Sumber Hidup Mahkluk 15
6. Fungsi Ātmān dalam Diri Manusia 17
A. Masuknya Ātmān dalam Kandungan 19
B. Keluarnya Ātmān dari Tubuh Mahkluk 24
7. Sloka terkait dengan Sifat-Sifat Ātmān 24
Ringkasan 25
Bahan bacaan / Daftar Pustaka 26
Evaluasi
LAMPIRAN 26

BAB II 26
28
SAPTA TIMIRA SEBAGAI ASPEK DIRI YANG HARUS DIKENDALIKAN 28
Memahami Sapta Timira sebagai perilaku yang harus dikendalikan dalam kehidupan 29
Pengantar 29
Materi 29
Pengertian Sapta Timira 29
Bagian Bagian Sapta Timira 34
Arti Dan Makna Bagian-Bagian Sapta Timira 36
Konsekuensi Pelaksanaan Sapta Timira 39
Cara Menghindari Akibat Buruk dari Sapta Timira 40
Ringkasan 41
Bahan bacaan/Daftar pustaka 41
Evaluasi
LAMPIRAN

3

BAB III 42

TRI GUNA DALAM DIRI 42
TRI GUNA DALAM DIRI 43
Pengantar 43
Materi 44
Pengertian Tri Guna 44
Bagian-bagian Tri Guna 44
Ciri-ciri Tri Guṇa 45
D. Sloka yang berhubungan dengan Tri Guṇa 53
Ringkasan 57
Bahan bacaan/Daftar pustaka 58
Evaluasi 58
LAMPIRAN 60

BAB IV 61

PANCA MAHABHUTA SEBAGAI UNSUR PEMBENTUK ALAM SEMESTA 61
PANCA MAHABHUTA SEBAGAI PEMBENTUK ALAM SEMESTA 62
Pengantar 62
Materi 63
Pengertian Panca Mahabhuta 63
B. Contoh-Contoh Pañca Mahābhūta pada Alam Semesta 72
C. Contoh Pañca Mahābhūta pada Bhuana Agung 74
D. Contoh Pañca Mahābhūta pada Bhuana Alit 74
D. Ringkasan 76
E. Bahan bacaan/Daftar pustaka 77
F. Evaluasi 78
LAMPIRAN 79

BAB V 80

PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI ASIA 80
Perkembangan Agama Hindu di Asia 81
Pengantar 81
Materi 81
Perkembangan Agama Hindu di India 81
1. Zaman Veda 81
2. Zaman Brahmana 84

4

3. Zaman Upanisad 85
Perkembangan Agama Hindu di Luar India 88
88
1. Afghanistan 88
2. Kampuchea 88
3. Filipina 89
4. Indonesia 90
91
a. Di Kutai 92
b. Di Jawa Barat 93
c. Jawa Tengah 94
d. Di Jawa Timur 95
e. Bali 96
f. Nusa Tenggara Barat 97
Upaya-upaya melestarikan Peninggalan Agama Hindu 98
Ringkasan 98
Bahan bacaan/Daftar pustaka 99
Evaluasi
LAMPIRAN

5

BAB I
SIFAT ATMAN DALAM BHAGAWADGITA

6

A.Sifat Atman dalam Bhagawadgita

Pada bagian ini anda akan mempelajari:
1. Pengertian Atman
2. Sifat-sifat Atman
3. Bagian-bagian Atman
4. Hubungan Atman dengan Brahman
5. Atman sebagai Sumber Makhluk

B. Pengantar

Setelah mempelajari modul bahan ajar “Ātman dalam Bhagavadgītā” peserta didik
mampu:
1. Menjelaskan konsep Ātman
2. Menyebutkan sifat-sifat Ātman
3. Menyebutkan bagian-bagian Ātman
4. Memahami hubungan Ātman dengan Brahman
5. Menyampaikan fungsi Ātman dalam diri manusia
6. Menjelaskan keluarnya Ātman dari tubuh makhluk

C.Materi

1. Pengertian Ātmān
Kata ātmān berasal dari akar kata an artinya nafas. ātmān merupakan hakikat dasar

dalam kehidupan yang menyebabkan mahkluk hidup, mengalami rasa senang dan duka. Setiap

7

yang bernapas mempunyai ātmān sehingga mereka dapat hidup. Ātmān adalah hidupnya
semua makhluk (manusia, hewan dan tumbuhan).

Manusia, hewan dan tumbuhan adalah mahkluk hidup yang terjadi dari dua unsur yaitu
badan dan ātmān yang terbentuk dari lima unsur kasar yaitu panca maha bhuta. Sesungguhnya
ātmān adalah sebuah energi hidup bersumber dari ParamĀtman (sumber dari segala sumber
hidup ), ātmān berasal dari Sang Hyang Widhi yang memberikan hidup kepada setiap mahkluk
ātmān disebut juga Sang Hyang Urip.

Semua yang hidup memiliki ātmān, ātmān dan badan diibaratkan bagaikan hubungan
kusir dan kereta. Kusir adalah ātmān dan kereta adalah badan indria yang ada pada badan tidak
berfungsi apabila tidak ada ātmān. Jika ātmān lepas dari tubuh maka mahkluk akan mati. Badan
jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun ātmān tetap langgeng untuk
selamanya

2. Sifat-Sifat Ātmān
Dalam bhagavadgita disebutkan sifat-sifat ātmān, antara lain:

1. Antarjyotih artinya bersinar tanpa ada yang menyinari, tanpa awal , tanpa akhir dan
sempurna

2. Acchedyo artinya tak terlukai senjata,
3. Adahyo artinya tak terbakar oleh api,
4. Asosya artinya tak terkeringkan oleh angin,
5. Akledyo artinya tak terbasahkan oleh air,
6. Nitya artinya kekal abadi,
7. Sarwagatah artinya ada di mana-mana,
8. Sthanur artinya tidak berubah
9. Acala artinya tidak bergerak,

8

10. Awyakta artinya tidak dilahirkan,
11. Achintya artinya tak terpikirkan,
12. Awikara artinya tidak berubah, dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan
13. Sanatanah artinya abadi selamanya

3. Bagian Bagian Ātmān
Bagian-bagian ātmān terdapat pada sapta loka diantaranya adalah :

No Tujuh lapisan ātmān Sapta Loka (Sapta Pada) tujuh tingkatan alam atas

1 ātman Bhur Loka (Jagra Pada)
2 antarātman Bhuwah Loka (Swapada Pada)
3 paramātman Swah Loka (Supta Pada)
4 nirātman Tapa Loka (Turya Pada)
5 adhyatma Jana Loka (Turyanta Pada)
6 niskalatma Maha Loka (Kewala Pada)
7 sunyatma Satya Loka (Parama Kewala Pada)

Bagian-bagian ātmān terdapat dalam Sapta Loka yaitu alam Bwah Loka dan Swah
Loka yang digabung jadi satu, Adapun ke7 (tujuh) lapisan alam sapta loka ialah :

1. Bhur Loka (Jagra Pada) Mayapada ātmān lahir ke dunia ini disebutkan kesempatan
yang sangat baik untuk merealisasi moksha

9

2. Bhuwah Loka (Swapada Pada) Alam halus keadaannya mirip dengan di bumi,
ātmān mengalami kerinduan akan keinginan-keinginan duniawi, serta mengalami
kesedihan dan kebahagiaan

3. Swah Loka (Supta Pada) ātmān pada alam ini belum menghentikan roda samsara, ada
waktunya nanti sang jiwa harus kembali lahir ke dunia untuk melanjutkan evolusi
bathinnya serta menyelesaikan sisa putaran karma wasananya sendiri

4. Tapa Loka (Turya Pada) ātmān lahir di alam ini menjadi kesadaran kosmik.

5. Jana Loka (Turyanta Pada) ātmān berevolusi bathinnya dan menyelesaikan sisa putaran
karmanya di lapisan alam ini

6. Maha Loka (Kewala Pada) ātmān lahir di lapisan alam ini karena welas asih
memutuskan untuk reinkarnasi kembali

7. Satya Loka (Parama Kewala Pada) di alam ini ātmān menjadi maha sempurna untuk
bisa menyatu dan manunggal dengan Sang Hyang Widhi

4. Hubungan Ātmān dengan Brahman
Hubungan antara ātmān dan Brahman adalah ātmān merupakan bagian dari Brahman

dimana Persamaan ātmān dengan Brahman sifatnya sama kekal abadi, abstrak dan gaib antara
keduanya. Sedangkan perbedaannya ātmān dengan Brahman yaitu ātmān merupakan percikan
dari Brahman, dan Brahman adalah sumber dari ātmān,

ātmān mempunyai sifat sama dengan Brahman. Sifat-sifat itu adalah sama-sama berada
di mana-mana, tanpa terikat ruang dan waktu, maha mengetahui, tidak berbuat dan tidak
menikmati. Ātmān meresapi seluruh makhluk hidup. Namun, ātmān dalam diri manusia terkesan
tidak memiliki sifat sama dengan Brahman karena terpengaruh oleh avidya atau kebodohan.
Ātmān itu kekal dan penuh kebahagiaan. Karena adanya hubungan dengan benda, ātmān itu
mengalami penderitaan dan kelahiran berulang–ulang. Selama ātmān terbelenggu sifat

10

keduniawian, ātmān akan tersesat dalam samsara, mengembara dari satu kelahiran ke
kelahiran yang lainnya.

ātmān yang terbelenggu oleh badan, indria, ahamkara, manas, buddhi dan citta
sehingga tidak dapat memancarkan sinarnya yang asli dan terang. Sifat sifat ātmān
sesungguhnya identik dengan Brahman. Manusia yang maju pada kehidupan spiritualnya akan
mudah merealisasikan ātmān dalam dirinya melalui cinta kasih sejati (prema) bersemi, tumbuh
dan berkembang memengaruhi lingkungannya semua makhluk adalah satu keluarga, saling
bersaudara (vasudhaiva kutumbakam) Ātmān yang terdapat dalam diri manusia sesungguhnya
memiliki sifat sama dengan Brahman. Persamaan antara Sang Hyang Widhi dan ātmān
dijelaskan melalui kalimat berikut “Brahman Ātmān Aikyam” artinya Brahman dan ātmān itu
adalah tunggal sebab ātmān merupakan bagian dari Tuhan. Seperti halnya Tuhan memiliki
sifat–sifat khusus, ātmān juga mempunyai sifat–sifat tertuang dalam pustaka suci bhagavad-gītā.

ātmān tidak terhitung jumlahnya, tidak terlahirkan dan juga tidak akan pernah mati.
ātmān bersifat kekal abadi. ātmān yang ada dalam makluk yang satu sama dengan ātmān yang
ada dalam makluk lainya. Didalam Hindu kita mengenal ajaran tat tvam asi artinya engkau
adalah aku, aku adalah engkau, kita semua sejatinya sama. Manusia hendaknya mempunyai rasa
tenggang rasa terhadap sesama, menyayangi binatang dan tidak menyakitinya serta juga menjaga
serta melestarikan lingkungan.

Dewasa ini ātmān banyak terjadi kejadian asusila, seperti seorang ayah tega membunuh
istrinya sendiri, mutilasi, pemerkosaan, dan tindakan kriminal lainnya. mereka tidak menyadari
atas apa yang dilakukanya sesama manusia saling menyakiti dan sampai membunuh, yang
seharusnya saling menghormati dan menghargai. Dengan me ātmān nyadari bahwa manusia
sesungguhnya adalah Tuhan (jivĀtman) yang mempunyai akal dan pikiran sejatinya adalah
sama, maka jangan sampai melakukan perbuatan asusila yang dilarang oleh Sang Hyang Widhi.

5. Ātmān Sebagai Sumber Hidup Mahkluk

Dalam agama Hindu Ātmān yang terdapat pada setiap makhluk hidup bersumber dari
Sang Hyang Widhi. Sang Hyang Widhi adalah pencipta, pemelihara dan pengembali seluruh isi

11

alam semesta. Sang Hyang Widhi meresap dan ada dimana-mana dan tidak berubah-ubah
disebut Wyapi Wiyapaka Nirwikara. Karena Sang Hyang Widhi ada dimana-mana, Beliau mampu
menghidupi seluruh makhluk hidup yang ada di alam semesta. Ātmān adalah sumber hidup dari
segala makhluk hidup. Ātmān juga diartikan sebagai percikan-percikan terkecil dari parama
ātmān. Ātmān juga diartikan sebagai sinar suci dari Brahman (Sang Hyang Widhi). Ātmān yang
telah masuk ke dalam tubuh dan menghidupkan badan manusia disebut jiwātmān, ātmān yang
menghidupi hewan/binatang disebut Janggama, sedangkan yang menghidupi tumbuhan disebut
Sthawana. Apabila seseorang meninggal, maka Ātmān-nya akan keluar dari tubuhnya. Banyak
orang mengatakan bahwa ātmān sama dengan Roh, namun sesungguhnya Roh berbeda dengan
ātmān. Roh adalah badan astral atau badan halus yang membungkus jiwĀtman yang telah
meninggal. Roh inilah yang akan dilahirkan kembali dengan segala karma wasana-nya. Ātmān
yang telah memasuki badan manusia akan terpengaruh sifat-sifat keduniawian. Ātmān yang
terpengaruh sifat keduniawian menjadi bodoh atau tidak mengetahui dirinya. Karena ātmān telah
terbelenggu oleh badan manusia, ātmān menjadi avidya. Perpaduan ātmān dengan badan (raga)
disebut jiwaraga atau namarupa, nama adalah jiwa dan rupa adalah raga

Taittiriya Upanisad II.2, menjelaskan adanya lima macam selubung Panca Kosa yang
membelenggu ātmān, yaitu:

a. Annamaya Atma, ātmān tergantung pada tubuh yang terbuat dari sari-sari makanan
berasal dari bumi;

b. Pranamaya Atma, ātmān terbelenggu oleh prana atau nafas atau energy dalam tubuh’

c. Manomaya Atma, ātmān terbelenggu oleh manas atau pikian;

d. Vijnanamaya Atma, ātmān terbelenggu oleh kesadaran dan;

e. Anandamaya Atma, ātmān terbelenggu oleh kebahagiaan.

6. Fungsi Ātmān dalam Diri Manusia

Ātmān yang meresap dalam mahkluk bersumber dari Brahman, sifat-sifat ātmān
menunjukkan ātmān dan Brahman sama-sama kekal. Namun, ātmān meresapi makhluk hidup

12

dan terpengaruh avidya sehingga terlihat seperti tidak kekal. Dalam hubungannya dengan
maya, ātmān itu seolah-olah terkurung atau terbelenggu. Sehingga ātmān memiliki tiga fungsi,
yaitu:

1. Sumber hidup citta dan sthula sariranya makluk. Citta adalah alam pikiran, meliputi
pikiran atau akal, perasaan kemauan inderanya dan instuisi. Sedangkan sthula sarira
adalah badan wadah seperti darah, daging, tulang, lender, otot, sumsum, otak, dan
sebagainya.

2. Bertanggung jawab atas baik buruk atau amal dosa dari segala karmawasananya makluk
yang bersangkutan.

3. Menjadi tenaga hidup dari suksma sarira(badan halus)nya makluk yang bersangkutan

A. Masuknya Ātmān dalam Kandungan

Karmana daiva netrena jantur dehopapattaye stryah pravista udaram pumsa retah kanasrayah,

Bhagavata Purana 3.31.1

Di bawah pengawasan Tuhan Yang Maha Esa dan sesuai dengan perbuatan (karma) nya, sang
makhluk hidup (jīva) dimasukkan ke dalam rahim sang ibu (oleh para Deva pengendali urusan
material dunia fana) melalui mani sang ayah untuk memperoleh badan jasmani baru tertentu

Sang Jiwa memperoleh badan jasmani dan tumbuh berkembang dalam rahim sang ibu.

Bhagavata Purana 3.31.2- 4 dan 10

Dengan memperoleh gizi dari makanan dan minuman yang di-konsumsi si ibu, sang jiva dalam
janin tumbuh didalam rahim sang ibu, tetapi dalam kondisi sengsara karena: Ia tinggal dalam
rahim ibu bagaikan seekor burung dalam sangkar yang tidak bisa bergerak bebas. Ia tinggal
dalam rahim ibu yang bagaikan ruangan amat sempit. Ia tinggal dalam rahim ibu yang amat

13

panas dan menyesakkan. Dan ia merasakan seluruh tubuhnya seperti terpanggang oleh
panasnya api pencernaan si ibu. Sang janin tidak sadarkan diri dari waktu ke waktu karena
sangat menderita seperti itu. Ia tiada henti merasakan derita akibat dari makanan si ibu yang
terlalu pahit, terlalu pedas atau terlalu asin atau asam. Ia benar-benar secara pisik
terbelenggu/terkungkung tanpa kebebasan sedikitpun dan tanpa daya di dalam rahim dengan
kepala merunduk ke arah perut. Punggung dan lehernya melengkung bagaikan busur.

Bhagavata Purana 3.31.5-8

Sang makhluk hidup yang menderita dalam rahim si ibu cukup beruntung, maka ia bisa
mengingat segala penderitaan yang dialaminya dalam seratus kali penjelmaannya yang telah
lewat. Dalam derita diikat oleh tujuh lapis materi (5 unsur materi kasar + pikiran dan
kecerdasan), si bayi berdoa kepada Tuhan yang telah menempatkan dirinya dalam kondisi
demikian. Ia menyatakan diri hanya berlindung kepada Tuhan dalam beraneka-macam
inkarnasi-Nya. Ia sadar sebagai jiva spiritual abadi yang kini dicengkram maya dan
berulang-kali sujud kepada Tuhan dalam aspek Beliau sebagai Paramatma. Ia tahu bahwa
dirinya terpisah dari Tuhan karena terperangkap dalam badan jasmani sehingga salah
menggunakan hidupnya. Ia sadar bahwa dirinya kini menderita di alam material karena
melalaikan Beliau yang manjadi penguasa segala sesuatu. Ia berharap agar bisa kembali
berhubungan dengan Tuhan Krishna dalam pelayanan bhaktikepada-Nya. Ia berjanji akan
kembali berserah diri kepada Nya agar bebas dari segala macam derita.

Bhagavata Purana 3.31.9 – 16

Dalam kondisi Terendam dalam genangan darah yang kotor dalam perut sang ibu, si bayi
sangat ingin segera keluar dari rahim. Ia menghitung-hitung berapa bulan sudah diri nya
berada dalam kondisi amat menyengsarakan seperti itu. Ia berkata,”O Tuhanku, kapankah
hambamu ini, sang jiva yang sengsara, akan bebas dari kurungan derita ini?”. Dan ia juga
berdoa bahwa atas karunia Tuhan, ia menyadari betul kondisi dirinya begitu menderita
meskipun baru berusia 10 (sepuluh) bulan dan Ia bersyukur karena telah diberikan badan

14

jasmani manusia, sehingga bisa menginsyafi diri (sebagaijiva abadi rohani, pelayan kekal
Tuhan). Ia berkata tidak mau keluar dari rahim sang ibu meskipun sangat menderita di
dalamnya, sebab ia takut jatuh lagi ke dalam sumur gelap kehidupan material. “Tenaga
material-Mu maya akan segera menangkap diriku, sehingga hamba menjadi tidak insyaf diri lagi
begitu lahir kedunia fana, begitu ia berkata kepada Tuhan. “Paham ke-AKU-an palsuku akan
seketika menyelimuti diriku yang merupakan awal dari siklus kelahiran dan kematian (samsara)
yang menjerat diriku”. Ia pun berjanji, dengan bantuan kecerdasannya yang suci, akan selalu
ingat pada kaki padma Tuhan agar bebas dari gelapnya kehidupan material dan siap lahir ke
dunia fana.

Bhagavata Purana 3.31.17- 21

Saat sang Jiva berdoa demikian, angin yang menyebabkan proses kelahiran mendorongnya ke
depan dengan kepala menghadap ke bawah. Sang bayi lahir keluar rahim dalam kesusahan
amat besar dengan kepala mengarah kebawah tanpa berbernafas dan pingsan akibat
penderitaan bukan kepalang. Di dunia fana, si bayi diasuh oleh orang-orang yang tidak
memahami keinginannya, tidak mampu menolak apa saja yang diberikan kepada dirinya,
dibaringkan di tempat kotor, dan ia tidak bisa menggaruk tubuhnya untuk meniadakan rasa
gatal, apalagi duduk,berdiri dan berjalan. Di dunia fana, si bayi yang kulitnya masih amat
lembut dan halus, tidak berdaya digigit kutu, agas, nyamuk dan binatang kecil lain. Ia telah
kehilangan kearifan berpikir, lupa pada hakekat dirinya sebagai sang jiva rohani abadi (karena
dikhayalkan oleh maya) dan menangis dengan sangat memilukan.

Bhagavata Purana 3.31.22-27

B. Keluarnya Ātmān dari Tubuh Mahkluk

ātmān adalah unsur yang paling utama dari segala ciptakan ia berkuasa atas tubuh yang
dimasukinya dan mengendalikan tubuh tersebut. Hingga nantinya tubuh itu rusak ia akan
meninggalkan tubuh itu dan beralih ke tubuh yang lain, atau dapat bersatu dengan sumbernya.
Jika ātmān lepas dari tubuh maka mahkluk akan mati.

15

Dalam kepercayaan Hindu, yang hidup di surga maupun neraka hanya
jiwa (roh). Tetapi tempat ini bukan tempat abadi. Sorga dan Neraka sekedar persinggahan
sementara bagi ātmān yang tidak murni karena pengaruh karma wasana. Sorga bersifat
sementara. Dalam kitab suci dijelaskan :

ते तं भकु ्त्वा स्वर्गलोकं विशालं क्षीणे पणु ्ये मर्त्यलोकं विशन्ति । एवं त्रयीधर्ममनपु ्रपन्ना गतागतं कामकामा
लभन्ते ॥
Te tam bhuktva svarga lokam visalam ksine punye martya lokam visanti, Evam trayi
dharmam anuprapanna gataganam kama-kama labhante

Bhagawad Gita IX. 21
Setelah menikmati sorga yang luas mereka kembali ke dunia manusia, dikala nilai
kebajikan habis; sesuai dengan ajaran ketiga kitab suci dan menginginkan objek
kenikmatan, mereka datang dan pergi.

Setelah ātmān menikmati sorga ketika buah dari karma baik mereka habis, mereka
memasuki dunia yang tidak abadi ini; demikianlah mereka yang mengikuti aturan Weda,
mendambakan hasil dari perbuatan mereka, memperoleh lingkaran hidup dan mati. Jadi setelah
pahala atau dosa yang ia perbuat usai ditebus dalam sorga atau neraka pada saat itulah jiwa/roh/
seorang manusia siap lahir ke dunia untuk memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukannya
dalam kehidupan terdahulu dan mengalami sebuah evolusi spritualitas dan mencapai Moksa.

Bagi ātmān yang ketika hidup di dunia banyak berbuat subha karma (berbuat baik) dari
pada asubha karma (berbuat tidak baik), mereka akan singgah sementara di sorga. Dan
sebaliknya, bagi ātmān yang ketika hidup banyak berbuat asubha karma (berbuat tidak baik) dari
pada subha karmanya (berbuat baik), mereka akan singgah di neraka. Ini semua karena hasil
karma mereka masing-masing. Akibat tidak mampu mempertahankan kesucian sang ātmān
(jiwa/roh) yang suci, bagian dari Brahman (Sang Hyang Widhi). Jadi setelah menikmati sorga
atau neraka, jiwa bisa kembali lahir ke dunia untuk melanjutkan evolusi spritualnya sampai

16

akhirnya mencapai moksa. Dengan demikian dalam pandangan Hindu, seseorang mencapai
sorga atau moksa karena hasil dari perbuatannya.

Tetapi yang penting diingat Sorga Hindu bukanlah sorga dimana manusia memuaskan
nafsu badaninya. Karena yang hidup di sorga Hindu hanya jiwa, tanpa badan kasar. Neraka juga
bukan merupakan tempat penyiksaan yang kejam dan abadi karena tujuan hidup seorang
manusia adalah mencapai moksa dan reinkarnasi adalah sebuah jalan yang diberikan oleh
Sang Hyang Widhi kepada setiap jiwa/roh untuk memperbaiki setiap kesalahan yang telah
diperbuatnya dan mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Brahman.

Neraka dalam Weda hanya disebutkan dalam tiga mantra sebagai tempat kegelapan saja,
lawan dari sorga yang artinya dunia yang selalu terang. Neraka hanya digambarkan sebagai
wilayah kegelapan tanpa dasar, tempat para pendurhaka, orang orang yang tidak bermoral,
rumah kehancuran dan tukang sihir. Tidak ada penjelasan tentang api yang berkobar-kobar yang
mengancam dengan ganas. Tidak ada alat-alat penyiksa yang akan merobek-robek atau menusuk,
memotong jiwa manusia. Karena jiwa /roh tidak bisa dirobek dan dipotong.

7. Sloka terkait dengan Sifat-Sifat Ātmān
Berikut ini penjelasan tentang ātmān yang dijelaskan dalam berbagai kitab Veda

diantaranya pustaka suci Bhagavad-gītā sebagai berikut:

देहिनोऽस्मिन्यथा देहे कौमारं यौवनं जरा । तथा देहान्तरप्राप्तिर्धीरस्तत्र न महु ्यति ॥
dehino’smin yathā dehe kaumāram yauvanam jarā, tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na
muhyati

Bhagavad-gītā II.13
Sebagaimana halnya sang roh itu ada pada masa kecil, masa muda dan masa tua, demikian
juga dengan diperolehnya badan baru, orang bijaksana tak akan tergoyahkan.

17

Mahkluk manusia menjadikan dirinya layak untuk mendapatkan keabadian dengan
melewati serangkaian kelahiran dan kematian berulangkali perubahan badan jasmani bukan
berarti terjadinya perubahan pada roh. Tak satu penjelmaanpun yang tetap tinggal abadi.

मात्रास्पर्शास्तु कौन्तये शीतोष्णसखु दःु खदाः । आगमापायिनोऽनित्यास्तासं ्तितिक्षस्व भारत ॥
mātrā-sparśas tu kaunteya śītosna-sukha-duhkha-dāh, āgamāpāyino’nityas tāms titiksasva
bhārata

Bhagavad-gītā II.14
Sesungguhnya, hubungannya dengan benda-benda jasmaniah, wahai Arjuna, menimbulkan
panas dan dingin, senang dan duka, yang datang dan pergi, tidak kekal, terimalah hal itu
dengan sabar, wahai Arjuna.

Mantra (materi) sebagai unsur suara, sentuhan, warna, rasa, dan bau merupakan panca
mahabhuta yaitu tanah (prthivi), air (apah), api(teja), angin (vayu) dan eter (akasa)

न जायते म्रियते वा कदाचिन ् नायं भतू ्वा भविता वा न भयू ः । अजो नित्यः शाश्वतोऽयं परु ाणो न
हन्यते हन्यमाने शरीरे ॥
na jāyate mriyate vā kadācin nāyam bhūtvā bhavitā vā na bhūyah, ajo nityah śāśvato’yam
purāno na hanyate hanyamāne śarīre

Bhagavad-gītā II.20
Ini tak pernah lahir, juga tak pernah mati atau setelah ada tak akan berhenti ada. Ia tak
dilahirkan, kekal, abadi, sejak dahulu ada; dan Dia tidak mati pada saat badan jasmani ini
mati.
ननै ं छिन्दन्ति शस्त्राणि ननै ं दहति पावकः । न चनै ं क्लेदयन्त्यापो न शोषयति मारुतः ॥
nainam chindanti śastrāni nainam dahati pāvakah, na cainam kledayanty āpo na śosayati
mārutah

Bhagavad-gītā II.23
Senjata tak dapat melukai-Nya, dan api tak dapat membakar-Nya, angin tak dapat
mengeringkan-Nya dan air tak dapat membasahi-Nya.

18

अच्छे द्योऽयमदाह्योऽयमक्लेद्योऽशोष्य एव च । नित्यः सर्वगतः स्थाणरु चलोऽयं सनातनः ॥
acchedyo’yam adāhyo’yam akledyo’śosya eva ca, nityah sarva-gatah sthānur acalo’yam
sanātanah.

Bhagavad-gītā II.24
Sesungguhnya dia tak dapat dilukai, dibakar dan juga tak dapat dikeringkan dan dibasahi;
Dia kekal, meliputi segalanya, tak berubah, tak bergerak, dan abadi selamanya.

अव्यक्तोऽयमचिन्त्योऽयमविकार्योऽयमचु ्यते । तस्मादेवं विदित्वनै ं नानशु ोचितमु र्हसि ॥
avyakto’yam acintyo’yam avikāryo’yam ucyate, tasmād evam viditvainam nānuśocitum
arhasi

Bhagavad-gītā II.25
Dia tak dapat diwujudkan dengan kata-kata tak dapat dipikirkan dan dinyatakan, tak
berubah-ubah; karena itu sebagaimana halnya engkau tak perlu berduka.

सर्वभतू स्थितं यो मां भजत्येकत्वमास्थितः । सर्वथा वर्तमानोऽपि स योगी मयि वर्तते ॥
sarva-bhūta-sthitam yo mām bhajaty ekatvam āsthitah, sarvathā vartamāno’pi sa yogī
mayi vartate

Bhagavad-gītā VI.31
Dia yang memuja Aku yang bersemayam pada semua insan, dengan tujuan manunggal,
yogi yang demikian itu dapat tinggal dalam diri-Ku, walau bagaimanapun cara hidupnya.

आत्मौपम्येन सर्वत्र समं पश्यति योऽर्जुन । सखु ं वा यदि वा दःु खं स योगी परमो मतः ॥
ātmaupamyena sarvatra samam paśyati yo’rjuna, sukham vā yadi vā duhkham sa yogī
paramo matah

Bhagavad-gītā VI.32
Yogi yang dianggap tertinggi adalah yang melihat di mana-mana sama ātman itu sebagai
ātman-nya sendiri, wahai Arjuna, baik dalam suka maupun dalam duka.

अक्षरं ब्रह्म परमं स्वभावोऽध्यात्ममचु ्यते । भतू भावोद्भवकरो विसर्गः कर्मसजं ्ञितः ॥

19

aksaram brahma paramam svabhāvo`dhyātmam ucyate, bhūta-bhāvodbhava-karo
visargah karma-samjñitah

Bhagavad-gītā VIII.3
Yang kekal abdi maha agung adalah Brahman; persemayan-Nya dalam badan individu
dinamakan adhyĀtman; karma adalah nama yang diberikan kepada persembahan yang
melahirkan makhluk hidup di dunia

Selain pustaka suci Bhagavad-gītā yang menjelaskan ātmān, penjelasan terkait ātmān juga
dijelaskan dalam beberapa kitab suci Weda diantaranya yaitu:

Slokantara 27-53
Lahir dari perut ibu yang sama dan di waktu yang sama, tetapi kelakuannya tidak akan
sama. Manusia yang satu berlainan dengan manusia yang lainnya, sebagai berbedanya duri
belatung yang satu dengan yang lainnya.

Atharvaweda XI.8.30
Tuhan memasuki tubuh manusia dan disana Dia menjadi Raja tubuh itu.

kadi rupa sang hyang aditya an prakasakan iking sarwa loka, mangkana ta sang hyang
atma an prakasakan iking, sira marganyam wenang maprawartti

Bhisma Parwa
Sebagai rupanya Sang Hyang Aditya menerangi dunia, demikianlah ātman menerangi
badan. Dialah yang menyebabkan kita dapat berbuat.

Brhadaranynaka Upanisad II.1.20
Ātman adalah kebenaran dari kebenaran.

Prasna Upanisad III. 3.
“Prana ini dilahirkan dari ātmān, ibarat bayang-bayang mengikuti badan, demikian Prana
terikan pada ātmān, ia memasuki (menghidupi) tubuh sesuai dengan pikirannya, baik atau
buruk perbuatannya”

20

Manduka Upanisad III.1.
“Ada dua ekor burung yang selalu berkeadaan menjadi satu, yang dijuluki dengan satu
nama sama, tinggal di sebuah pohon. Salah satu dari kedua burung itu menghayati
kenikmatan dalam memakan buah dari pohon itu, sedang satunya lagi mengawasinya
sebagai Sang Saksi”

Syair di atas mengandung sebuah pengertian, dimana burung yang sedang memakan buah
digambarkan sebagai Ātman, sedangkan burung yang satu lagi digambarkan sebagai
Brahman bertugas mengawasi ātmān.

Kutipan sloka di atas menjelaksan bahwa setiap makhluk hidup diresapi oleh zat yang
disebut ātmān. Karena dalam diri makhluk hidup terdapat ātmān, semua kegiatan yang
dilakukan, ātmān menjadi saksinya. JivĀtman adalah ātmān yang telah masuk kedalam tubuh
(wadah), memberikan kekuatan dan hidup. Dan apabila mati ātmān akan keluar daru tubuh
(wadah) dan disebut Roh.

Ātmān merupakan bagian dari Sang Hyang Widhi. Bila Tuhan diibaratkan lautan maka
ātmān hanyalah setitik uap embun dari uap airnya. Bila Tuhan diibaratkan matahari maka ātmān
itu merupakan percikan terkecil dari sinarnya. Demikianlah Tuhan asal ātmān sehingga Ia diberi
gelar ParamĀtman yaitu ātmān tertinggi. ātmān berasal dari Tuhan maka pada akhirnya ātmān
kembali kepadanya. Seperti halnya setitik uap air laut yang kembali kelaut saat hujan turun.
MATERI POWER POINT ATMAN

21

VIDEO PEMBELAJARAN ATMAN

D. Ringkasan

Kata ātmān berasal dari akar kata an artinya nafas. ātmān merupakan hakikat dasar
dalam kehidupan yang menyebabkan mahkluk hidup, mengalami rasa senang dan duka. Setiap
yang bernapas mempunyai ātmān sehingga mereka dapat hidup. Ātmān adalah hidupnya semua
makhluk (manusia, hewan dan tumbuhan).

Manusia, hewan dan tumbuhan adalah mahkluk hidup yang terjadi dari dua unsur yaitu
badan dan ātmān yang terbentuk dari lima unsur kasar yaitu panca maha bhuta. Sesungguhnya
ātmān adalah sebuah energi hidup bersumber dari Paramātman (sumber dari segala sumber
hidup ), ātmān berasal dari Sang Hyang Widhi yang memberikan hidup kepada setiap mahkluk
ātmān disebut juga Sang Hyang Urip.

E. Bahan bacaan / Daftar Pustaka

Susila, K. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VIII (Buku Guru). Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

22

Susila, K. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VIII (Buku Siswa).
Jakarta:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

F. Evaluasi

1. Jelaskan pengertian ātman secara etimologis!
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………..……………………………………
………………………………………………………………………………………………
2. Sebutkan sifat-sifat ātman!
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………..……………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………….…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………..
3. Jelaskan hubungan antara ātman dan Brahman!
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….…
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

23

SOAL EVALUASI ATMAN

LAMPIRAN

1. Materi Power Point tentang Atman 8_Atman wirya.pptx
2. Video Pembelajaran https://youtu.be/64GD6rqGmCk
3. Soal Evaluasi SOAL EVALUASI SIFAT ATMAN DALAM BHAGAWADGITA.pdf

24

BAB II

SAPTA TIMIRA SEBAGAI ASPEK DIRI YANG HARUS DIKENDALIKAN

25

A. Memahami Sapta Timira sebagai perilaku yang

harus dikendalikan dalam kehidupan

Pada bagian ini anda akan mempelajari:

1. Pengertian Sapta Timira
2. Bagian-bagian Sapta Timira
3. Arti Dan Makna Bagian-Bagian Sapta Timira
4. Konsekuensi Pelaksanaan Sapta Timira
5. Cara Menghindari Akibat Buruk dari Sapta Timira

B. Pengantar

Ajaran susila terutama Sapta timira sangat penting dalam kehidupan manusia karena akan
memberikan jaminan bagi masyarakat untuk hidup tertib, tentram dan berkeadilan. Fenomena
yang terjadi belakangan ini di masyarakat, seperti tawuran antar pelajar, pergaulan bebas yang
menjurus kepada perilaku amoral yang melanda remaja pelajar. Bukan itu saja, banyak remaja
yang berperilaku tidak sopan, ugal-ugalan di jalan umum, dan sebagainya. Gejala ini pertanda
masyarakat sudah mengalami depresi. Oleh karena itu, Hindu memberikan solusi yang
senantiasa relevan sepanjang zaman.

Adapun solusi yang ditawarkan oleh agama Hindu dalam rangka mencegah dan menanggulangi
perilaku masyarakat yang terjebak dekodensi moral akut, yaitu dengan kembali ke jati diri, selalu
aktif mengikuti diskusi tentang ajaran suci Veda, menghindari bergaul dengan teman yang suka
minum minuman keras, mengikuti dan melaksanakan tradisi baik yang hidup di masyarakat.
Pada modul ini akan dibahas ajaran Sapta timira sebagai perilaku yang harus dikendalikan dalam
kehidupan.

26

C. Materi

1. Pengertian Sapta Timira

Sapta Timira berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sapta berarti tujuh, dan kata timira berarti
gelap, suram, dan bodoh. Dengan demikian, Sapta Timira berarti tujuh jenis kegelapan yang
menguasai tubuh manusia. Ketujuh jenis kegelapan menyebabkan pikiran manusia menjadi sesat
dan sombong.

2. Bagian Bagian Sapta Timira

Sapta Timira adalah tujuh macam kegelapan pikiran, yaitu “SD KU YO GAK SUKA” yang
merupaka kependekan dari: S (Surupa=mabuk ketampanan); D (Dhana = mabuk kekayaan); GU
(Guna = mabuk kepandaian); KU (Kulina = mabuk keturunan); YO (Yowana= mabuk
keremajaan); SU (Sura = mabuk minuman keras); KA (Kasuran = mabuk kemenangan)

3. Arti Dan Makna Bagian-Bagian Sapta Timira

a. Surupa

Surupa adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena wajah cantik atau rupa yang tampan.
Kecantikan atau ketampanan yang merupakan anugrah dari Tuhan, Kegantengan atau kecantikan
seseorang kadang kala menyebabkan yang bersangkutan menjadi angkuh, sombong dan tinggi
hati. Semestinya kegantengan atau kecantikan wajah dibarengi dengan perilaku yang baik, budi
yang luhur. Orang yang ganteng atau cantik, hendaknya dapat mengendalikan diri dengan
membuang jauh-jauh sikap dan perilaku yang tidak baik disertai dengan keluhuran budi, bila
tidak demikian tidak ada nilainya karena semuanya itu tidaklah kekal. Hendaknya surupa ini
tidak dibiarkan menjadi penyebab dari kehancuran.

27

Perjalanan mahkluk lahir – hidup – mati :

Tidak diperbolehkan mabuk rupa yang menjadikan manusia sombong, angkuh, lupa diri bahkan
karena rupa digunakan untuk mengoda laki-laku hidung belang seperti yang banyak dilakukan
oleh wanita tuna susila mengoda laki-laki dan menjual tubuhnya. Contoh yang dapat dijadikan
teladan seperti dewi sita istri rama walaupun telah diculik oleh rahwana tetapi dewi sita tetap
mempertahankan kesucianya walaupun sering sekali digoda rahwana di taman alengka, dewi sita
tidak hanya cantik rupanya tetapi dia juga cantik hatinya.
Upaya menghindari agar tidak mabuk rupa:

· Mensyukuri anugrah Tuhan
· Selalu menyadari bahwa kecantikan tidak kekal (bila sudah tua badan akan keriput,

bungkuk dan renta)
· Selalu mengingat bahwa yang selalu dihargai orang lain adalah kebaikan budi pekerti

luhur.

b. Dhana
Dhana adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena banyak mempunyai harta benda atau
kekayaan. Kekayaan dapat berwujud rumah, barang-barang, emas, motor, tanah, TV, uang, dll.

28

Harta dapat mewujudkan tujuan hidup “Moksartham jagadhita ya ca iti dharma”
(kesejahteraan jasmani dan rohani) harta merupakan sarana hidup untuk mencapai Moksa dan
tujuan hidup bukan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Kekayaan itu besar gunanya, namun besar juga godaannya, karena pengaruh kekayaan orang
sering menjadi lupa diri dan mabuk dana, ciri-ciri orang mabuk dana yaitu sering mengunakan
harta untuk kepentingan sendiri, tidak pernah memberi sedekah (berdana punia), menepuk dada,
angkuh, sombong dan sering tidak mau menolong orang lain, menghina orang lain, mengumbar
hawa nafsu dan lupa diri.

Oleh karena itu pergunakanlah kekayaan itu untuk kepentingan yang sesuai dengan dharma,
perilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama. Karena itu orang yang memiliki banyak harta
benda seyogyanya dapat menjaga diri, tidak menepuk dada atau tidak sombong dengan harta
bendanya.

c. Guna

Guna adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena mempunyai kepintaran atau kepandaian.
Orang yang pandai juga kadang lupa diri, menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang
seperti ini cenderung angkuh dan kurang disukai oleh masyarakat selain itu kepandaian dapat
membahayakan menimbulkan kegelapan pikiran untuk melakukan perbuatan yang terlarang
seperti; menipu, memfitnah, memperalat orang, mengadu domba dan sebagainya. Oleh karena
kepandaian semestinya dibarengi dengan perbuatan yang baik, budi pekerti yang luhur.
Kepintaran semestinya diamalkan dan dipergunakan untuk maksud tujuan baik, sehingga dapat
membantu masyarakat yang kurang mempunyai pengetahuan sehingga dapat meringankan
seseorang dalam menempuh segala macam suka dan duka kehidupan di dunia ini, karena itu

29

usahakanlah agar kepandaian yang dimiliki betul-betul merupakan pelita hati yang menerangi
kegelapan pikiran.

d. Yowana

Yowana adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena masa remaja atau masa muda. Yowana ini
dapat menimbulkan kegelapan pikiran karena itu pergunakanlah masa muda ini dengan
sebaik-baiknya jangan disia-siakan. Anak muda remaja karena kurang pendidikan dan
pengalaman, sering kali lebih menyukai kebebasan dan hura-hura, sering kali sok jagoan dan
suka berkelahi. Masa-masa ini penuh dengan kegairahan hidup, kesempatan untuk berbuat
banyak terhadap apa yang sangat diharapkan dan masa yang baik untuk mengembangkan diri
menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bagi nusa dan bangsa serta agama oleh karena
itu sebaikanya semasa masih remaja, anak-anak itu diberi pendidikan agama yang memadai,
diberi pelajaran mengenai etika, bagaimana harus berperilaku di dalam masyarakat, sebagaimana
harus membawa diri dan lain-lain.

e. Kulina

Kulina yang artinya keturunan, dari keturunan seseorang mengetahui leluhurnya yang harus
dihormatinya. Janganlah sampai takabur, sombong, angkuh dan menghina orang, apalagi
menganggap orang lain rendah dan bodoh jika memiliki keturunan yang terhormat dan
terpandang.

f. Sura

Sura adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena minuman keras. Minuman keras merupakan
musuh yang sangat buruk. minuman keras bila diminum melebihi dari keperluan tubuh dapat
menyebabkan mabuk, sehingga dapat merusak syaraf dan pikiranpun menjadi tidak waras
sehingga dapat menimbulkan keonaran, perkelahian, lupa diri dan berbuat yang tidak sesuai
dengan ajaran agama. Karena itu manusia beragama sebaiknya waspada dan menjauhi minuman
keras.

30

Minuman keras tergolong kedalam jenis makanan "rajas guna" atau sifat nafsu. Bagi orang
yang telah mantap dalam kedudukan spiritual, minuman keras tersebut tidaklah cocok bagi
dirinya. Minuman keras betapapun kecil pengaruhnya, tetap memberi kemungkinan untuk
menyeret seseorang kedalam jaringan "mata rantai kejahatan" inilah yang menjadi alasan
orang-orang suci untuk menolak minuman keras. Minuman keras dapat dianalogikan dengan
wanita cantik. Seorang maha Pandita yang melihat wanita cantik itu akan menganggap sebagai
mayat berjalan. Sedangkan bagi lelaki yang nafsunya besar akan menganggap wanita cantik itu
sebagai obyek pemuas nafsu. Sementara seekor anjing akan melihat dagingnya yang lezat,
Seperti itu pula kedudukan minuman keras, bagaikan wanita cantik, tinggal kita menentukan
sikap, mau memilih peran yang mana, sebagai pendeta, lelaki yang bernafsu atau hanya menjadi
seekor anjing. Untuk itu disarankan waspadalah dan hindarilah serta jauhilah minuman-minuman
keras supaya terhindar dari segala kegelapan pikiran

Kita sering mendengar, membaca, bahkan menyaksikan baik melalui media massa, cetak
maupun elektronik, khususnya televisi ditayangkan sebuah atraksi bulldozer yang sedang
memusnahkan ribuan bahkan jutaan botol minuman keras yang dipelopori oleh Polri bersama
pihak terkait lainnya. Sehingga menimbulkan berbagai tanggapan-tanggapan dari berbagai
kalangan khusnya dari kalangan Agama sangat bangga akan sikap tegar Polri untuk memberantas
peredaran minuman keras sampai keakar-akarnya. Karena minuman keras dapat mengancam
eksistensi bangsa kita, yang dalam jangka pendek dapat menggoyahkan stabilitas keamanan dan
dalam jangka panjang dapat mengancam masa depan bangsa.

g. Kasuran

Kasuran adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena merasa mempunyai keberanian. Setiap
orang perlu memiliki keberanian. Tanpa adanya keberanian orang akan merasa menderita. Hidup
ini adalah suatu perjuangan, oleh karena itu keberanian itu sangat diperlukan. Keberanian di sini
dipergunakan untuk dapat mengatasi liku-liku kehidupan seperti: keberanian dalam mengatasi
penderitaan, beranian membela dan mempertahankan kebenaran dan lain sebagainya. Hendaknya
keberanian itu selalu dilandasi oleh dharma. Orang tidak layak mabuk karena keberanian, sebab
keberanian hanya karena berani saja tanpa dilandasi adanya kebenaran adalah keliru dan

31

dipandang salah. Keberanian adalah untuk membela yang benar sesuai dengan ucapan
“Satyam Ewam Jayate Nartam’ artinya, kebenaran adalah selalu menang dan bukan kejahatan.

Janganlah keberanian ini di salah gunakan untuk berbuat diluar kewajaran sehingga
menimbulkan orang lupa diri. Keberanian tanpa disertai dengan pikiran yang sehat dan baik
dapat mengakibatkan kerugian atau kesulitan bagi orang lain maupun sendiri sendiri. Keberanian
hendaknya selalu dilandasi oleh kebenaran dan dharma, oleh perbuatan yang luhur sesuai dengan
ajaran agama

4. Konsekuensi Pelaksanaan Sapta Timira

a. Surupa

Bila seseorang memiliki wajah yang rampan atau cantik itu disertai dengan perilaku dan budi
pekerti yang baik maka berakibat kebaikan, ketenangan dan bahagia. Bila ketampanan atau
kecantikan itu disertai dengan tingkah laku yang ridak benar dan juga sombong serta angkuh
maka akan mengakibatkan penderitaan, Contoh mabuk Surupa : tersebutlah dua orang
bersaudara laki-laki dan perempuan yang laki-laki bemama Si Durjana sedangkan yang
perempuan bernama Si Durjani Kedua anak tersebut sombong karena merasa diri cakap pada
akhirnya dijauhi oleh teman-temannya.

b. Dhana

Dalam ajaran agama kita diajarkan untuk beramal atau berdana punia Menolong orang yang
tidak mampu dan membantu pembangunan tempat suci (pura) adalah perbuatan yang mulia.
orang selaluberamal dan berdana punia hidupnya akan bahagia dan amalnya itu bekal untuk
mencapai sorga atau Moksa

Kekayaan kadangkala membuat orang menjadi gelap pikiran atau mabuk kekayaan. Bila orang
mabuk kekayaan sudah tentu hidupnya menderita, Sebab dengan memiliki kekayaan hidup
seseorang akan menjadi resah, gelisah dan takut kalau harta dicuri orang. Bila resah dan gelisah
setiap hari dia rasakan maka kesehatan tubuhnya akan terganggu. Bila tubuhnva terganggu maka

32

sakit-sakitanlah dia oleh karena itu apa artinya kekayaan bila tubuh dan jiwa kita sering
terganggu sakit Maka dari itu kita tidak boleh angkuh dan sombong baru memiliki kekayaan
yang berlimpah ruah hendaknya kekayaan itu kita pergunakan sesuai dengan petunjuk agama

c. Guna atau Kepradnyanan

Orang yang pandai akan mampu melepaskan dirinya dari lembah kesengsaraan. Kalau
kepandaian itu ia gunakan dengan keangkuhan dan kesombongan, maka kepandaian itu dapat
menghancurkan hidup orang yang bersangkutan seperti apa yang dikatakan Einstein bahwa. Ilmu
tanpa agarna hancur, agama tanpa ilmu buta. Jadi ilmu yang kita miliki hendaknya diimbangi
dengan sradha dan bhakti

d. Kulina

Keturunan juga bisa menjadi kebanggaan seseorang, Namun kebanggaan yang berlebihan dapat
menimbulkan keangkuhan. Kesombongan akan keturunan sehingga akan merasa lebih tinggi dari
orang lain. Orang yang mengagung-agungkan keturunan atau kebangsawanan sangatlah tidak
baik apabila menganggap orang lain lebih rendah. Agama mengajarkan agar setiap orang saling
menghormati dan saling menghargai sesama makhluk ciptaan Sang Hyang Widhi. Sang Hyang
Widhi menilai menilai seseorang bukan dari keturunan bangsawan tetapi dari dharma bhakti dan
yadnya. Demikian pula kebangsawanan yang dinilai tinggi adalah derajat karena memiliki
pengetauan yang di dapat dari sekolah. Orang yang mabuk karena keturunan atau
kebangsawanannya akan sukar mendapat kebahagiaan.

e. Yowana

Masa muda penuh dengan cita-cita dan angan-angan, sehinga masa usia remaja orang-orang
biasanya tidak mempunyai ketetapan hati, pendiriannya gampang berubah. Gampang
dipengaruhi oleh teman-temannya. Bila bergaul dengan teman-temannya yang baik, maka ia
akan menjadi baik, demikian sebaliknya maka sifat dan pribadinya menjadi buruk. Pada masa
remaja orang sering bertindak ngawur. Hanya ingin menarik perhatian orang dan memperoleh
penghargaan. Pada masa remaja atau muda orang merasa diri kuat. Sehingga masa ini senang
memamerkan kekuatan. Masa muda hendaknya diisi dengan kegiatan yang berguna seperti:

33

belajar, bekerja, menemukan sesuatu yang berguna dan pengetahuan rohani. Masa muda
hanya sebentar kita dengan menikmati dan akan disusul oleh masa tua dan tenaga makin
melemah. Makadari itu jangan sombong dan angkuh akan keremajaan. Sebab keangkuhan akan
mendorong orang untuk berbuat salah. Menyombongkan masa muda tentu tidak baik, dan lemah
tidak baik pula yakni masa depanya hancur.

f. Sura

Bila seseorang sering rneminum minuman keras akan merusak syaraf dan pencemaan. Bila
kesehatan sudah merosot maka hidup akan sengsara. Oleh karenanya hindarilah meminum
minuman keras dan obat-obatan terlarang (narkoba).

g. Kasuran

Sesungguhnya hidup adalah suatu perjuangan, karena itu kita dituntut untuk menghadapi Untuk
menghadapi kenyataan hidup, diperlukan keberanian. Seperti keberanian tanpa disertai keragu
raguan untuk menimba ilmu pengetahuan, keberanian untuk menghadapi liku-liku kehidupan.
Kita sebagai manusia tidak akan pernah lepas dari suka dan duka, lara dan pati. Kita harus berani
berkemampuan untuk mengendalikan kesenangan dan sebaliknya tidak larut dalam kesedihan
bila mendapat kesusahan. Dengan demikian keberanian perlu dipupuk tetapi jangan sampai
keberanian yang kita miliki menjadi kita mabuk dan takabur, lebih lebih terhadap kemenangan
yang kita peroleh.

5. Cara Menghindari Akibat Buruk dari Sapta Timira
Di dalam ajaran agama Hindu tentang Sapta Timira, akibat dari kesombongan dan mabuk itu
sangat tidak baik sehingga perbuatan ini harus dihindari. Orang yang sombong, tinggi hati, suka
merendahkan orang lain tidak akan disenangi oleh teman dan tetangga. Sombong dan mabuk
merupakan perilaku tidak baik karena dapat menumpuk karma buruk yang kelak di kemudian
hari pasti akan dialami oleh mereka yang melakukan kesombongan dan kemabukan.

34

Ajaran suci Veda sebagai kitab suci Agama Hindu memberikan banyak cara untuk
menghindari perilaku sombong dan mabuk. Solusi yang ditawarkan oleh Agama Hindu, antara
lain:

· Tersenyumlah Semanis Mungkin dan Menyapalah Seramah-ramahnya

Senyuman manis yang tulus dan ramah tamah akan membuat hati orang lain akan merasa
bahagia. Menjadikan orang bahagia adalah karma baik yang akan berpahala kemuliaan. Banyak
orang sakit akan menjadi sembuh karena keramahtamahan dan senyuman para perawat dan
dokter. Senyuman manis dan teguran yang ramah tidak ternilai harganya. Wisatawan berani
membayar mahal untuk mendapatkan keramahtamahan dan senyuman manis. Dengan senyum
yang tulus akan hilang kesombongan dan terhindar dari akibat buruk dari Sapta Timira.

· Sabar

Tidak berlebihan apabila dinyatakan bahwa kesabaran itu tujuan tertinggi dari setiap
agama-agama besar di seluruh dunia. Kesabaran adalah kunci utama agar tidak berperilaku
sombong dan mabuk. Orang yang sabar akan selalu selamat dalam hidupnya karena tidak pernah
iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain. Orang sabar akan mempunyai hati yang tenang
walaupun ada masalah yang menderanya. Dengan kesabaran, gelombang pikiran akan teratur dan
pasti mendapatkan simpati banyak orang. Dengan kesabaran, kita akan terhindar dari akibat
buruk dari Sapta Timira.

· Menerima Diri Apa Adanya

Memang tidak mudah untuk bisa menerima keadaan diri secara ikhlas. Orang yang sombong
akan selalu merasa dirinya kurang atau sebaliknya, merasa dirinya lebih superior atau lebih baik
dari orang lain. Apabila seseorang merasa dirinya kurang, maka timbul niat untuk menghujat dan
mencela orang lain yang dianggap lebih dari dirinya. Begitu juga sebaliknya, apabila merasa

35

lebih, maka timbul kesombongan lalu mengekspresikan diri secara berlebihan. Sikap
menerima diri apa adanya akan menghindarkan diri dari akibat Sapta Timira

· Ikhlas Belajar dan Bekerja Lebih Banyak

Banyak orang yang menggerutu dan marah apabila diberi kesempatan belajar dan bekerja lebih
banyak. Untuk menghindari akibat Sapta Timira, sebaiknya senang dan bersyukur apabila
mendapatkan kesempatan untuk belajar dan bekerja lebih banyak. Belajar dan bekerja adalah
salah satu cara untuk memuja Sang Hyang Widhi. Mereka yang belajar dan bekerja lebih, pasti
akan semakin pandai, cerdas, dan bijaksana. Bukan itu saja, juga akan mendapat panjang umur,
kebahagiaan dalam keluarga akan dinikmati secara ajaib dan rahasia.

· Selalu Bersyukur dan Tidak Pernah Mengeluh

Orang yang suka mengeluh dan merasa diri paling baik dan berguna adalah awal dari
kesombongan dan kemabukan. Melihat teman lebih cantik, lebih mendapatkan perhatian dan
lebih kaya, maka timbul rasa kesombongan berupa mencela orang lain. Mencela orang lain
bukan untuk mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi lebih banyak untuk menutupi dan
menyembunyikan keburukan yang ada pada diri sendiri. Perbuatan ini sama sekali tidak baik.
Veda mengajarkan agar tidak mengeluh, untuk apa mengeluh hanya akan merugikan diri sendiri.
Selalulah bersyukur agar tidak menjadi sombong. Dengan bersyukur, maka akan terhindar dari
akibat buruk Sapta Timira

· Hidup Sederhana

Ajaran suci Veda selalu menganjurkan agar umat Hindu selalu hidup sederhana tidak
bermewah-mewahan. Sederhana dalam makan dan minum, sederhana dalam berbusana dan
sederhana juga dalam memakai fasilitas. Perhatikan akibat buruk dari kejahatan korupsi mencuri
uang rakyat. Akibat dari seseorang yang ingin selalu dipuji dan dikagumi, lalu tega mencuri uang
rakyat dan berakhir mendekam di penjara yang penuh sesak, pengap, dan tidak nyaman. Semua
itu merupakan contoh akibat perbuatan Sapta Timira yang harus dihindari dengan cara selalu
hidup sederhana.

36

· Menerima Saran dan Pendapat Orang Lain
Memang tidak mudah untuk menerima nasihat orang lain. Memang sudah tabiat manusia yang
selalu tidak mau disalahkan. Manusia selalu ingin dipuji dan disanjung. Namun, ajaran suci Veda
mewajibkan setiap orang menerima saran dan pendapat orang. Setelah diterima, maka
kecerdasan dan kebijaksanaan yang dimiliki dipakai untuk menyeleksi pendapat dimaksud. Ada
pendapat yang mencela dan ada juga pendapat yang justru memberikan inspirasi demi
kebangkitan. Jika tulus menerima nasihat orang lain, maka kesombongan tidak akan terjadi dan
pasti terhindar dari akibat buruk dari Sapta Timira.
MATERI POWER POINT SAPTA TIMIRA

VIDEO MATERI SAPTA TIMIRA

37

D. Ringkasan

Sapta Timira berarti tujuh jenis kegelapan yang menguasai tubuh manusia. Bagian-bagian Sapta
Timira antara lain :

1. Surupa adalah gelap karena wajah cantik atau tampan
2. Dhana adalah gelap karena kekayaan
3. Guna adalah gelap karena kepandaian
4. Kulina adalah gelap karena keturunan
5. Yohana adalah gelap karena keremajaan
6. Sura adalah gelap karena minuman keras
7. Kasuruan adalah gelap karena keberanian

E. Bahan bacaan/Daftar pustaka

Susila, K. (2017). Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VIII (Buku Guru). Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sudharta, Tjokorda Rai dan Ida Bagus Oka Punia Atmaja. Upadeúa tentang Ajaran-ajaran
Agama Hindu. Surabaya: Pàramita, 2001.

Sudharta, Tjokorda Rai. (2001). Úlokàntara, Ajaran Etika: Teks, Terjemahan dan Ulasan.
Denpasar: Penerbit ESBE Buku, 2012.

Miswanto. (2009). Esensi Falsafah Jawa bagi Peradaban Umat Hindu. Surabaya: Paramita.

38

F. Evaluasi

1. Jelaskan Sapta Timira secara etimologis!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
………..…..………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………….……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………....

2. Sebutkan bagian-bagian dari Sapta Timira!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
………..…..………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………....…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………….…

3. Sebutkan 1 (satu) contoh perilaku negatif yang dipengaruhi Dhana!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
…………..…………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………….………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………….
Lembar Evaluasi Sapta Timira

39

LAMPIRAN

1. Power Point Materi Sapta Timira : 8_Sapta Timira.pptx
2. Video materi Sapta timira Sapta Timira kelas VIII Semester ganjil..mp4
3. Soal Evaluasi Sapta Timira SAPTA TIMIRA.pdf

40

BAB III
TRI GUNA DALAM DIRI

41

A. TRI GUNA DALAM DIRI

Pada bagian ini anda akan mempelajari:
1. Pengertian Tri Guna
2. Bagian-bagian Tri Guna
3. Ciri-ciri Tri Guna
4. Sloka yang berhubungan dengan Tri Guṇa

B. Pengantar

Setelah peserta didik membaca dan mempelajari modul “Tri Guṇa” peserta didik
diharapkan mampu:

1. Menjelaskan pengertian Tri Guṇa
2. Menyebutkan bagian-bagian Tri Guṇa
3. Menjelaskan ciri-ciri Tri Guṇa dalam diri
4. Menyebutkan contoh-contoh Tri Guṇa dalam diri
5. Mengidentifikasi ciri-ciri dan contoh Tri Guṇa
6. Menceritakan pengaruh Tri Guṇa
7. Menyebutkan sloka-sloka yang berhubungan dengan Tri Guna

C.Materi

1. Pengertian Tri Guna
Tri Guṇa terdiri dari dua kata yakni tri yang artinya tiga dan guna yang artinya sifat.

Jadi Tri Guṇa berarti tiga sifat yang mempengaruhi manusia.

42

Ketiga sifat ini saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya dan membentuk
watak seseorang. Apalagi jika ketiga sifat tersebut dapan berjalan dengan harmoni, maka
sesorang akan dapat mengendalikan pikirannya dengan baik.

Tetapi jika ketiga sifat itu terus bergerak seperti roda kereta yang sedang berputar silih
berganti, saling ingin menguasai maka kehidupan seseorang akan kurang damai. Untuk itu dari
ketiga sifat itu perlu dikendalikan.

2. Bagian-bagian Tri Guna
1. Sattwam

Sifat sattwam yakni sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas dan sifat-sifat baik lainnya.
Orang yang dikuasai sifat Sattwam biasanya berwatak tenang, waspada dan berhati damai dan
welas asih.Kalau mengambil tindakan akan ditimbang dulu secara matang, kemudian
dilaksanakan. Semua pikiran perkataan dan prilakunya mencerminkan kebajikan. Seperti
tindakan Yudhistira dalam cerita Mahabharata. Demikian kalau orang dikusai sifat Sattwam.

2. Rajas

Sifat rajas yakni sifat lincah, gesit, tergesa-gesa, bimbang, iri hati, angkuh dan bernafsu.
Orang yang dikuasai sifat Rajas biasanya selalu gelisa, keinginannya bergerak cepat, mudah
marah, senang terhadap yang memujinya dan bencih orang yang merendahkannya. Yang baik
pada sifat ini adalah giat bekerja dan disiplin. Maka dari itu agar sifat ini dapat dikendalikan,
maka perlu dilatih dengan kesabaran dan ketenangan sehingga jernih terbebas dari buruk.

3. Tamas

Sifat tamas yakni sifat tamak,paling malas, kumal, rakus dan suka berbohong. Orang
yang dikuasai sifat Tamas, biasanya berifikir, berkata, dan berbuat sangat lamban.
Kadang-kadang, malas suka tidur, rakus, dan dungu. Besar birahinya, keras keinginannya, serta
suka tidur campur denga anak dan istrinya. Orang yang dikuasai sifat Tamas akan jauh dari sifat

43

susila (kabajikan), karena perbuatanya hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak
mempunyai rasa kasih sayang terhadap orang lain di sekitarnya.

3. Ciri-ciri Tri Guṇa
1. Ciri-Ciri Orang yang Dipengaruhi Sifat Sattvam
Seseorang yang dipengaruhi oleh sifat sattvam dalam kehidupannya dapat menjadikan

orang tersebut berperilaku positif. Dalam agama Hindu, terdapat sloka-sloka yang menjelaskan
ciri-ciri orang yang lebih dominan dipengaruhi oleh sifat sattwam. Dalam pustaka suci
Manavadharmaśāstra XII.31, dinyatakan sebagai berikut:

वेदाभ्यासस्तपो ज्ञानं शौचमिन्द्रियनिग्रहः । धर्मक्रियात्माचिन्ता च सात्त्विकं गणु लक्षआ​ अम ् ॥
vedābhyāsastapo jñānaṁ śaucamindriyanigrahaḥ |dharmakriyātmācintā ca sāttvikaṁ
guṇalakṣaṇam ||
Terjemahan:
Mempelajari veda, bertapa, belajar segala macam ilmu pengetahuan, berkesucian,
mengendalikan atas budi indriya, melakukan perbuatan yang bajik, bersamadhi tentang jiwa,
semua merupakan ciri-ciri sifat sattvam.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.8, dinyatakan sebagai berikut:
आयःु सत्त्वबलारोग्यसखु प्रीतिविवर्धनाः । रस्याः स्निग्धाः स्थिरा हृद्या आहाराः सात्त्विकप्रियाः ॥
āyuh sattva balārogya sukha-prīti-vivardhanāh rasyāh snigdhāh sthirā hrdyā āhārāh
sāttvika-priyāh

44

Terjemahan:
Makanan yang disukai oleh orang dalam sifat kebaikan memperpanjang usia hidup,
menyucikan kehidupan dan memberi kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan.
Makanan tersebut penuh sari, berlemak, bergizi dan menyenangkan hati.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.11, dinyatakan sebagai berikut:

अफलाकाङ्क्षिभिर्यज्ञो विधिदृष्टो य इज्यते । यष्टव्यमेवेति मनः समाधाय स सात्त्विकः ॥
aphalākānksibhir yajño vidhi-drsto ya ijyate yastavyam eveti manahsamādhāya sa sāttvikah.
Terjemahan:
Di antara korban-korban suci yang dilakukan menurut kitab suci, karena kewajiban, oleh
orang yang tidak mengharapkan pamrih, adalah korban suci bersifat kebaikan.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.14, dinyatakan sebagai berikut:

देवद्विजगुरुप्राज्ञपजू नं शौचमार्जवम ् । ब्रह्मचर्यमहिसं ा च शारीरं तप उच्यते ॥
deva-dvija-guru-prājña pūjanam śaucam ārjavam brahmacaryam ahimsā ca śārīram tapa
ucyate.
Terjemahan:
Pertapaan jasmani terdiri atas sembahyang kepada Sang Hyang Widhi, para Brāhmana, guru
kerohaniaan, dan orang tua; kebersihan, kesederhanaan, tidak melakukan hubungan suami
istri, dan tidak melakukan kekerasan.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.15, dinyatakan sebagai berikut:

अनदु ्वेगकरं वाक्यं सत्यं प्रियहितं च यत ् । स्वाध्यायाभ्यसनं चवै वाङ्मयं तप उच्यते ॥

45

anudvega-karam vākyam satyam priya-hitam ca yat svādhyāyābhyasanam caiva
vān-mayam tapa ucyate
Terjemahan:
Pertapaan suara terdiri atas mengeluarkan kata-kata yang jujur, menyenangkan, bermanfaat,
dan tidak mengganggu orang lain dan juga membacakan kesusastraan veda secara teratur.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.16, dinyatakan sebagai berikut:

मनः प्रसादः सौम्यत्वं मौनमात्मविनिग्रहः । भावसंशदु ्धिरित्येतत्तपो मानसमचु ्यते ॥
manah-prasādah saumyatvam maunam ātma-vinigrahah bhāva-samśuddhir ity etat tapo
mānasam ucyate.
Terjemahan:
Kepuasan, kesederhanaan, sikap yang serius, mengendalikan diri dan menyucikan kehidupan
adalah pertapaan pikiran.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.20 dinyatakan sebagai berikut:

दातव्यमिति यद्दानं दीयतऽे नपु कारिणे । देशे काले च पात्रे च तद्दानं सात्त्विकं स्मतृ म ् ॥
dātavyam iti yad dānam dīyate ‘nupakārine deśe kāle ca pātre ca tad dānam sāttvikam
smrtam
Terjemahan:
Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu
yang tepat dan di tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap
bersifat kebaikan.

46

Terjemahan sloka-sloka di atas menjelaskan bahwa ciriciri guna sattvam seperti
memakan makanan yang satvika, melaksanakan yajña sesuai aturan-aturan veda, menuntut ilmu
pengetahuan yang benar, dan selalu mengadakan koreksi diri dengan melaksanakan tapa brata.

2. Ciri-Ciri Orang yang Dipengaruhi Sifat Rajas.
Seseorang yang dipengaruhi oleh sifat rajas dalam kehidupannya dapat menjadikan
orang tersebut berperilaku aktif, agresif, dan inovatif. Dalam agama Hindu, terdapat sloka-sloka
yang menjelaskan ciri-ciri orang yang lebih dominan dipengaruhi oleh
Dalam pustaka suci Manavadharmaśāstra XII.32, dinyatakan sebagai berikut:
आरम्भरुचिताऽधरै ्यमसत्कार्यपरिग्रहः । विषयोपसेवा चाजस्रं राजसं गणु लक्षणम ् ॥
ārambharucitā’dhairyamasatkāryaparigrahaḥ | viṣayopasevā cājasraṁ rājasaṁ guṇalakṣaṇam
||
Terjemahan:
Sangat bergairah akan melakukan tugas-tugas pekerjaan, kurang di dalam ketekunan,
melakukan perbuatanperbuatan berdosa, dan selalu terikat akan kesenangankesenangan
jasmani, semuanya merupakan sifat rajas.
Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.9, dinyatakan sebagai berikut:
कट्वम्ललवणात्यषु ्णतीक्ष्णरूक्षविदाहिनः । आहारा राजसस्येष्टा दःु खशोकामयप्रदाः ॥
katv-amala-lavanāty-usna tīksna rūksa vidāhinah āhārā rājasasyestā dhukha-śokāmaya
pradāh

47

Terjemahan:
Makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu manis, panas sekali atau menyebabkan
badan menjadi panas sekali, terlalu pedas, terlalu kering dan berisi terlalu banyak bumbu
yang keras sekali disukai oleh orang dalam sifat nafsu. Makanan seperti itu menyebabkan
dukacita, kesengsaraan, dan penyakit.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.12, dinyatakan sebagai berikut:

अभिसन्धाय तु फलं दम्भार्थमपि चवै यत ् । इज्यते भरतश्रेष्ठ तं यज्ञं विद्धि राजसम ् ॥
abhisandhāya tu phalam dambhārtham api caiva yat, ijyate bharata-śrestha tam yajñam
viddhi rājasam.
Terjemahan:
Tetapi hendaknya engkau mengetahui bahwa korban suci yang dilakukan demi keuntungan
material, atau demi rasa bangga adalah korban suci yang bersifat nafsu, wahai yang paling
utama di antara para bharata.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.18, dinyatakan sebagai berikut:

सत्कारमानपजू ार्थं तपो दम्भेन चवै यत ् । क्रियते तदिह प्रोक्तं राजसं चलमध्रवु म ् ॥
satkāra-māna-pūjārtham tapo dambhena caiva yat, kriyate tad iha proktam rājasam calam
adhruvam
Terjemahan:
Pertapaan yang dilakukan berdasarkan rasa bangga untuk memperoleh pujian, penghormatan
dan pujaan disebut pertapaan dalam sifat nafsu.

48

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.21, dinyatakan sebagai berikut:

यत्तु प्रत्यपु कारार्थं फलमदु ्दिश्य वा पनु ः । दीयते च परिक्लिष्टं तद्दानं राजसं स्मतृ म ् ॥
yat tu pratyupakārārtham phalam uddiśya vā punah, dīyate ca pariklistam tad dānam rājasam
smrtam

Terjemahan:

Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan
untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai
kedermawanan dalam sifat nafsu.

Terjemahan sloka-sloka di atas menjelaskan bahwa, ciriciri guna rajas seperti memakan
makanan yang rajasika, melaksanakan yajña dengan harapan mendapatkan hasil, menuntut ilmu
pengetahuan dengan harapan pamer, dan selalu menyombongkan diri akan spiritualnya.

3. Ciri-Ciri Orang yang Dipengaruhi Sifat Tamas

Seseorang yang dipengaruhi oleh sifat tamas dalam kehidupannya dapat menjadikan
orang tersebut berperilaku negatif. Dalam agama Hindu, terdapat slokasloka yang menjelaskan
ciriciri orang yang lebih dominan dipengaruhi oleh sifat tamas.

Dalam pustaka suci Manavadharmaśāstra XII.33, dinyatakan sebagai berikut:

लोभः स्वप्नोऽधतृ िः प्रौर्यं नास्तिक्यं भिन्नवतृ ्तिता । याचिष्णतु ा प्रमादश्च तामसं गुणलक्षणम ् ॥
lobhaḥ svapno’dhṛtiḥ prauryaṁ nāstikyaṁ bhinnavṛttitā | yāciṣṇutā pramādaśca tāmasaṁ
guṇalakṣaṇam ||

lobhah swapno’dhritih krayam nastikyam bhinnawittita yacisnuta pramadaçca tamasam
gunalaksanam

49

Terjemahan:
Loba, pemalsu, kecil hati, kejam atheis, berusaha yang tidak baik, berkebiasaan hidup atas
belas kasih pemberian orang lain dan tidak berperhatian adalah ciri-ciri sifat tamas.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.10, dinyatakan sebagai berikut:

यातयामं गतरसं पतू ि पर्युषितं च यत ् । उच्छिष्टमपि चामेध्यं भोजनं तामसप्रियम ् ॥
yāta-yāmam gata-rasam pūti paryusitam ca yat, ucchistam api cāmedhyam bhojanam
tāmasa-priyam.
Terjemahan:
Makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan, makanan yang hambar, basi
dan busuk, dan makanan sisa orang lain dan bahan-bahan haram disukai oleh orang yang
bersifat kegelapan.

Dalam pustaka suci Bhagavad-gītā XVII.13, dinyatakan sebagai berikut:

विधिहीनमसषृ ्टान्नं मन्त्रहीनमदक्षिणम ् । श्रद्धाविरहितं यज्ञं तामसं परिचक्षते ॥
vidhi-hīnam asrstānnam mantra-hīnam adaksinam, śraddhā-virahitam yajñam tāmasam
paricaksate
Terjemahan:
Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk kitab suci, tanpa
membagikan prasadam (makanan rohani), tanpa mengucapkan mantram-mantram veda,
tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta, dan tanpa kepercayaan dianggap korban
suci kebodohan.

50


Click to View FlipBook Version