REPUTASI PERUSAHAAN BERDASARKAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE DAN REPUTASI MANAJEMEN PUNCAK
UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4 Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Pembatasan Pelindungan Pasal 26 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap: i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan; iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
REPUTASI PERUSAHAAN BERDASARKAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE DAN REPUTASI MANAJEMEN PUNCAK I Gede Dirga Surya Arya Widhyadanta Penerbit: CV. Intelektual Manifes Media Jalan Raya Puri Gading Cluster Palm Blok B-8 Kabupaten Badung, Bali www.infesmedia.co.id Anggota IKAPI No. 034/BAI/2022
REPUTASI PERUSAHAAN BERDASARKAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE DAN REPUTASI MANAJEMEN PUNCAK I Gede Dirga Surya Arya Widhyadanta Editor: Miko Andi Wardana Tata Letak: Erma Yuliani Desain Cover: Erma Yuliani Ukuran: Unesco: 15,5 x 23 cm Halaman: V, 69 ISBN: 978-623-88710-7-0 Terbit Pada: Oktober, 2023 Hak Cipta 2023 @ Intelektual Manifes Media dan Penulis Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit atau Penulis PENERBIT INTELEKTUAL MANIFES MEDIA (CV. Intelektual Manifes Media) Jalan Raya Puri Gading Cluster Palm Blok B-8 Kabupaten Badung, Bali www.infesmedia.co.id
i KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nyalah buku dengan judul Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak dapat selesai disusun dan berhasil diterbitkan. Kehadiran Buku Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak ini disusun dalam bentuk buku. Walaupun jauh dari kesempurnaan, tetapi kami mengharapkan buku ini dapat dijadikan referensi atau bacaan serta rujukan bagi akademisi ataupun para profesional. Sistematika penulisan buku ini diuraikan dalam lima bab yang memuat tentang Teori Sinyal (Signalling Theory), Teori Stakeholder, Teori Human Capital, Teori Social Capital, Corporate Social Responsibility, Reputasi Manajemen Puncak, Reputasi Perusahaan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi penuh dalam seluruh rangkaian penyusunan sampai penerbitan buku ini. Secara khusus, terima kasih kami sampaikan kepada Intelektual Manifes Media (Infes Media) sebagai inisiator buku ini. Buku ini tentunya banyak kekurangan dan keterbatasan, saran dari pembaca sekalian sangat berarti demi perbaikan karya selanjutnya. Akhir kata, semoga buku ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. Oktober, 2023 Editor.
ii
` iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ...................................................................................................i DAFTAR ISI....................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1 BAB II TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA............ 11 Teori Sinyal (Signalling Theory)......................................................................11 Teori Stakeholder....................................................................................................12 Teori Human Capital..............................................................................................14 Teori Social Capital ........................................................................................16 Corporate Social Responsibility.........................................................................20 Reputasi Manajemen Puncak............................................................................24 Reputasi Perusahaan.............................................................................................27 BAB III PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL ........................... 33 Pengembangan Paradigma.................................................................................33 Proses Dealektika Pengembangan Konseptual ........................................35 BAB IV PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL.................. 41 Definisi Operasional Teori..................................................................................41 BAB V PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL ............................................................................................ 55 Dampak Hubungan Konseptual.......................................................................55 Pembahasan Dampak Hubungan Konseptual...........................................57 Kebaruan (novelty) Pengembangan Konseptual Tentang Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak ..................................................................60 Simpulan .....................................................................................................................61 DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 63
` iv
` 1 PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Lingkungan bisnis dewasa ini mengharuskan perusahaan-perusahaan tidak hanya memperhatikan faktor-faktor teknis dan finansial dalam menjalankan usahanya. Faktor-faktor tak benda seperti reputasi juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Konsumen dan stakeholder semakin cerdas dan kritis serta memiliki akses yang semakin besar terhadap informasi. Perusahaan-perusahaan besar membangun reputasinya dengan mengembangkan praktik-praktik bisnis yang mengintegrasikan pertimbangan ekonomi dan sosial kedalam strategi bisnis mereka. Semakin banyak organisasi dan perusahaan yang menyadari bahwa nama baik atau reputasi adalah salah satu aset terbesar. Perhatian pelaku bisnis terhadap pelaporan ekonomi, sosial dan lingkungan semakin meningkat seiring dengan banyaknya kasus lingkungan yang terjadi di Indonesia. Sejarah masa lalu dan karakteristik yang rentan terhadap gangguan lingkungan dan sosial membuat reputasi industri pertambangan relatif buruk, baik di Amerika (Interactive, 2013), Australia (Tuck, 2007) maupun Indonesia. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) memperkirakan, sekitar 70% kerusakan lingkungan Indonesia karena operasi pertambangan. Sekitar 3,97 juta hektar kawasan lindung terancam karena aktivitas pertambangan, termasuk keragaman hayati di sana. Tak hanya itu, daerah aliran sungai (DAS) rusak parah meningkat
` 2 PENDAHULUAN dalam 10 tahun terakhir. Sekitar 4.000 DAS di Indonesia, 108 diantaranya rusak parah (www.neraca.co.id). Hal ini berarti apabila perusahaan tidak memperhatikan isu tentang kerusakan lingkungan dan sosial akan mengakibatkan reputasi perusahaan menurun sehingga para investor enggan berinvestasi di perusahaan tersebut. Keengganan investor melakukan investasi akan menyebabkan perusahaan kehilangan salah satu sumber pendanaan bagi kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri, yang seharusnya bisa didapatkan apabila perusahaan memiliki reputasi yang bagus, yaitu dengan lebih mempedulikan lingkungan dan sosial. Reputasi menjadi salah satu modal penting bagi promosi sebuah usaha karena reputasi yang baik bukan saja menjadi propaganda iklan yang efektif namun juga kepercayaan publik dan konsumen kepada usaha yang dilakukan. Keberlangsungan bisnis yang terus-menerus sangat didukung oleh reputasi perusahaan dan produk yang baik. Reputasi mempunyai nilai ekonomi untuk perusahaan sebab sulit untuk ditiru. Para pesaing tidak bisa membuat replikasi faktor-faktor yang unik dan proses-proses kompleks yang menghasilkan reputasi. Untuk mempertahankan keunggulan relatif tersebut, memerlukan komitmen dari manajemen perusahan terhadap reputasi perusahaan (Afdhal, 2008). Reputasi perusahaan yang baik merupakan sumber daya langka dan berharga, serta merupakan sumber dari keunggulan daya saing untuk mendapatkan above average return (Barney, 1991). Terlebih lagi, reputasi merupakan suatu bagian penting karena ruang lingkupnya yang luas dan secara potensial sangat menguntungkan bagi perusahaan karena mengintegrasikan beberapa pertimbangan (blends
` 3 PENDAHULUAN considerations) dari keuangan, manajemen, periklanan (advertising), dan hubungan masyarakat (public relations) (Srivastava, et. al., 1997) Perusahaan-perusahaan yang memiliki reputasi bagus, umumnya menikmati enam hal. Pertama, hubungan yang baik dengan para pemuka masyarakat. Kedua, hubungan positif dengan pemerintah setempat. Ketiga, resiko krisis yang lebih kecil. Keempat, rasa kebanggaan dalam organisasi dan di antara khalayak sasaran. Kelima, saling pengertian antara khalayak sasaran, baik internal maupun eksternal. Dan terakhir, meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan (Anggoro, 2002). Bagi perusahaan yang sudah go public atau emiten pasar modal, reputasi perusahaan cenderung dapat meningkatkan penilaian investor, yang pada akhirnya akan memudahkan perusahaan untuk memperoleh modal. Adapun modal menjadi salah satu sumber daya penting bagi perusahaan, namun sangat terbatas jumlahnya, sehingga perlu mendapat perhatian utama (Suta, 2006). Oleh karena itu, para emiten harus mampu menjaga eksistensi perusahaannya tersebut di pasar modal terkait akan kebutuhannya terhadap modal sebagai pembiayaan jangka panjang bagi perusahaannya. Suta (2006) melakukan analisis faktor dan reduksi dimensi dari kriteria penelitian reputasi yang di adaptasi dari model America Most Admired Company (AMAC) dan model lain yang disebut Harris Fomburn Reputation Quotient (RQ) sehingga menghasilkan beberapa faktor baru pembentuk reputasi perusahaan, yaitu tanggung jawab social, ukuran-ukuran akuntansi, tata kelola perusahaan, dan reputasi manajemen puncak.
` 4 PENDAHULUAN Kegiatan operasional perusahaan tentunya membawa dampak bagi kondisi lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat, khususnya di sekitar perusahaan beroperasi (Harahap 2002). Hadi (2014) menyatakan, jika aktivitas peruahaan berdampak pada lingkungan eksernal, untuk itu sudah seharusnya ada kebijakan akuntansi yang melaporkan dampak perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban yang disebut Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai langkah nyata dalam memberikan sumbangan kepada masyarakat. Tanggung jawab sosial perusahaan atau biasa disebut Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu faktor paling dominan yang menentukan reputasi perusahaan. Tanggung jawab sosial adalah kepedulian suatu perusahaan terhadap lingkungannya, terutama caracara perusahaan tersebut menangani individu-individu yang ada di sekitarnya (Suta, 2006). Kepedulian suatu perusahaan terhadap lingkungannya yang lebih luas dapat mempengaruhi penilaian publik terhadap perusahaan tersebut. Dengan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, suatu perusahaan juga akan dapat menggalang hubungan yang saling menguntungkan dengan para stakeholdernya. Branco dan Rondrigues (2006) menyatakan bahwa CSR memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan reputasinya dalam persepsi stakeholders yang luas yang termasuk pelanggan, pemasok, pesaing, bank dan investor. Jika program CSR dikomunikasikan dengan baik kepada publik, program bisa membantu meningkatkan reputasi perusahaan dan kredibilitas (Carter et al., 2002). Pengungkapan CSR yang lebih luas pada perusahaan besar diharapkan
` 5 PENDAHULUAN mampu memberikan sinyal positif sehingga reputasi perusahaan akan semakin meningkat. Tanggung jawab sosial perusahaan memegang peranan yang penting, karena perusahaan berada dalam lingkungan masyarakat dimana setiap aktivitas perusahaan tersebut memiliki dampak terhadap lingkungan sosialnya, sehingga setiap perusahaan seharusrnya mengungkapkan tanggung jawab sosialnya sebagai kontribusi terhadap masyarakat sosial dan lingkunganya. Penerapan Corporate Social Responsibility oleh perusahaan dapat diwujudkan dengan pengungkapan CSR (Corporate Social Responsibility Disclosure) yang disosialisasikan ke publik dalam laporan tahunan (annual report) perusahaan. Perusahaan di dunia maupun di Indonesia juga semakin banyak yang mengklaim bahwa mereka telah melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Kesadaran tentang pentingnya mempraktikan CSR ini menjadi trend global seiring dengan semakin maraknya kepedulian mengutamakan stakeholders. Kemajuan teknologi informasi dan keterbukaan pasar, perusahaan harus secara serius dan terbuka memperhatikan CSR. Pengimplementasian CSR di Indonesia telah tercantum dalam undangundang, dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perusahaan Terbatas (UUPT) ditegaskan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perusahaan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perusahaan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Selain itu, ditetapkan pula Peraturan Pemerintah (PP) No. 47 tahun 2012 yang menjelaskan lebih lanjut
` 6 PENDAHULUAN mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan bagi Perseroan Terbatas (PT), ketentuan ini menegaskan bahwa setiap perseroan secara moral mempunyai komitmen untuk bertanggung jawab atas tetap terciptanya hubungan yang serasi dan seimbang dengan lingkungan dan masyarakat setempat. Dye dan Sridhar (2008) mengungkapkan perbedaan pengungkapan CSR perusahaan dipengaruhi kekhasan industri dan major shareholders. Perbedaan shareholders dari sebuah entitas akan memengaruhi ekspektasi dan kompensasi yang ingin didapatkan dari perusahaan. Perbedaan major shareholders berdampak pada timbulnya perbedaan dalam hal pengambilan keputusan dan kepentingan jangka panjang perusahaan, termasuk keputusan pengungkapan dan pelaksanaan CSR (Yamak dan Suer, 2010). Satu perspektif berpendapat bahwa CSR dan reputasi perusahaan berhubungan positif (Brammer & Millington, 2004; Balmer & Greyser, 2003) sebagai kegiatan CSR seperti kontribusi amal dan praktek ramah lingkungan memungkinkan perusahaan untuk mengimbangi permasalahan bisnis yang merupakan hasil dari tindakan yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu. Gazzola (2014) menyatakan CSR berpengaruh signifikan positif terhadap reputasi perusahaan. Perspektif lain berpendapat bahwa kegiatan CSR tidak terkait dengan reputasi perusahaan (Bartley, 2007; Klein, 2000; Seidman, 2007). Hal ini didasarkan pada argumen bahwa kredibilitas perusahaan tidak dapat ditingkatkan jika inisiatif CSR terutama dirancang dengan motif menghasilkan keuntungan. Menurut Walter (2012), kegiatan CSR dapat menodai citra perusahaan di sisi karyawan karena beberapa perusahaan meningkatkan anggaran CSR dengan memotongan upah
` 7 PENDAHULUAN karyawan. Kayondo, Kyungho, dan Hyunwoo (2015) menyatakan bahwa CSR dengan proksi emisi beracun berpengaruh negatif terhadap reputasi perusahaan. Selain dengan melakukan kegiatan CSR, salah satu pembentuk reputasi perusahaan adalah reputasi manajemen puncak. Sebuah studi yang dilakukan perusahaan komunikasi global Burson Marsteller menunjukkan bahwa reputasi reputasi manajemen puncak bertanggung jawab atas sekitar 50 persen reputasi perusahaan yang diterjemahkan ke dalam pencapaian dari suatu tujuan bisnis utama dan peningkatan penjualan. Artinya, reputasi manajemen puncak dan reputasi perusahaan terkait erat, reputasi manajemen puncak dan perusahaan tidak bisa dipisahkan dari pandangan publik terhadap kepemimpinan puncak perusahaan (www.mix.co.id). George dan Jones (1999) menyatakan bahwa manajemen puncak merupakan tim manajemen di tingkat atas yang bertanggung jawab dalam mengarahkan perusahaan secara keseluruhan dan mengkoordinasi semua fungsi utama sehingga cita-cita perusahaan dapat tercapai. Manajemen puncak bertanggung jawab menentukan pengarahan stratejik dan keberhasilan masa depan perusahaan, mengelola kinerja serta mempengaruhi orang-orang di dalam dan di luar perusahaan sehingga tujuan-tujuan perusahaan dapat tercapai. Maka, kinerja perusahaan merupakan cerminan dari manajemen puncak (Hambrick dan Mason 1984; Finkelstein 1992). Salah satu indikator keahlian dan kompetensi dari tim manajemen puncak adalah reputasi (D’Aveni 1990). Elemen manusia dapat mempengaruhi kesuksesan dan kelangsungan dari organisasi. D’Aveni (1990) menyatakan bahwa reputasi
` 8 PENDAHULUAN manajemen puncak mampu memberikan sinyal mengenai kualitas perusahaan dengan dua cara, yaitu dengan memfasilitasi hubungan interorganisasi dan menjalankan peran simbolik yang besar. Selanjutnya Certo (2003) menyatakan bahwa persepsi mengenai reputasi dewan pengurus diperoleh dari penjumlahan human capital dan social capital yang dimiliki dewan pengurus. Aspek fundamental dari social capital pada perusahaan yang baru berdiri terletak pada manajemen puncaknya (Cohen dan Dean 2002). Di Indonesia, penelitian mengenai reputasi manajemen puncak dilakukan oleh Suta (2006) yang menganalisis hubungan reputasi perusahaan dengan kinerja pasar perusahaan. Penelitian Suta (2006) terdiri dari beberapa faktor pembentuk reputasi perusahaan, yaitu tanggung jawab sosial, ukuran-ukuran akuntansi, tata kelola perusahaan, dan reputasi manajemen puncak. Hasil penelitian Suta (2006) menunjukkan bahwa faktor tata kelola perusahaan dan reputasi manajemen puncak memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kinerja pasar perusahaan yang selanjutnya diikuti dengan faktor Corporate Social Responsibility dan ukuran-ukuran akuntansi. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Fitri (2008) yang mereplikasi dari penelitian Suta (2006) mendapatkan hasil yang berbeda. Hasil penelitian Fitri (2008) mendapatkan hasil bahwa reputasi manajemen puncak perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan dengan proksi return saham. Aini (2008) menyatakan reputasi manajemen puncak dan dewan komisaris dengan proksi latarbelakang pendidikan berpengaruh positif terhadap penilaian investor pada perusahaan yang melakukan IPO, sedangkan proksi pengalaman yang dimiliki manajemen puncak
` 9 PENDAHULUAN dan dewan komisaris serta proksi jabatan manajemen puncak atau dewan komisaris yang masih dipegang oleh manajemen puncak dan dewan komisaris tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap penilaian investor pada perusahaan yang melakukan IPO. Hasil studi Trisnawati (1998) membuktikan bahwa informasi nonakuntansi dalam prospektus tidak digunakan para investor di Indonesia sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Sedangkan studi yang dilakukan oleh Cohen dan Dean (2002) membuktikan bahwa informasi non-akuntansi berupa karakteristik manajemen puncak yang terdapat dalam prospektus memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penilaian investor pada perusahaan IPO. Certo (2003) juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara reputasi dewan pengurus dan proses pengambilan keputusan yang dilakukan para investor pada saat membeli saham IPO. Atas dasar studi sebelumnya yang masih bertentangan, maka studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh informasi non-akuntansi khususnya pada kemampuan reputasi manajemen puncak dalam mempengaruhi reputasi perusahaan, yang diukur dengan shareholder return. Di Indonesia, tingkat kepedulian investor akan reputasi suatu perusahaan masih terbilang rendah. Dapat dilihat dari mayoritas masyarakat investor di Indonesia yang berorientasi pada investasi jangka pendek. Selain itu, masih adanya mekanisme manajemen perusahaan yang berlandaskan “family business” sehingga kurang memperhatikan dampak dari reputasi perusahaan terhadap kelangsungan bisnis perusahaan tersebut di masa depan. Adapun dalam studi ini, menggunakan saham-saham perusahaan pertambangan. Sektor pertambangan dipilih karena pada umumnya
` 10 PENDAHULUAN menghadapi isu-isu sosial yang sulit dalam melakukan operasi, serta masalah lingkungan keras yang secara teknis sulit untuk diselesaikan (Dashwood, 20113). Pengalaman tentang kerusakan lingkungan serta dampak eksternalitas sosial yang seringnya bersifat negatif meninggalkan reputasi buruk bagi perusahaan dan dapat menjadi ancaman terhadap legitimasi perusahaan yang bersangkutan.
` 11 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA BAB II TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA Teori Sinyal (Signalling Theory) Asumsi utama dalam teori sinyal adalah bahwa manajemen mempunyai informasi yang akurat tentang nilai perusahaan yang tidak diketahui oleh investor luar, dan manajemen adalah orang yang selalu berusaha memaksimalkan insentif yang diharapkan. Artinya, manajemen umumnya mempunyai informasi yang lebih lengkap dan akurat dibanding dengan pihak diluar perusahaan mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi nilai perusahaan. Asimetri informasi akan terjadi jika manajemen tidak secara penuh menyampaikan semua informasi yang diketahuinya tentang semua hal yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan ke pasar modal. Kurangnya informasi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi asimetri informasi adalah dengan memberikan signal pada pihak luar, sehingga jika manajemen menyampaikan suatu informasi ke pasar, maka umumnya pasar akan merespon informasi tersebut sebagai suatu signal yang dapat berupa goodnews atau badnews terhadap adanya peristiwa (event) tertentu yang dapat
` 12 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari perubahan harga dan volume perdagangan saham yang terjadi. Teori Sinyal mengemukakan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan dan non keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik yaitu memaksimalkan keuntungan mereka. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. CSRdisclosure dapat digunakan manajemen untuk menunjukkan kepada pemegang saham atau para investor bahwa perusahaan lebih baik dari perusahaan lain karena bertanggung jawab terhadap seluruh dampak dari aktivitas perusahan. Berdasarkan teori sinyal, kegiatan sosial dan lingkungan memberikan informasi kepada investor tentang prospek return masa depan yang substansial. Pengungkapan CSR yang tepat dan sesuai harapan stakeholder sebagai sinyal berupa goodnews yang diberikan oleh pihak manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek bagus di masa depan dan memastikan terciptannya sustainability development. Perusahaan melakukan pengungkapan corporate social responsibility dengan harapan dapat meningkatkan reputasi dan nilai perusahaan melalui peningkatan harga saham. Teori Stakeholder Pengertian teori stakeholder menurut Freeman dan Reed (Ulum, 2009) adalah sekelompok orang atau individu yang diidentifikasikan dapat mempengaruhi kegiatan perusahaan ataupun dapat dipengaruhi oleh kegiatan perusahaan. Ghozali dan Chariri (2007)
` 13 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA menjelaskan bahwa stakeholders theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain). Bisnis seharusnya seperti usaha patungan diantara para pelakunya (Duran dan Radojicic, 2004). Oleh karena itu dalam buku Ulum (2009) menyatakan bahwa manajer diharapkan dapat melakukan aktivitasaktivitas yang dianggap penting oleh stakeholder mereka, dan melaporkan aktivitas-aktivitas tersebut. Artinya perusahaan perlu menerapkan tanggung jawabnya terhadap para stakeholder-nya dan juga menerapkan good corporate governance (Freeman et.al, 2010). Teori ini juga menyatakan perusahaan akan memilih secara sukarela dalam pengungkapan informasi kinerja lingkungan, sosial, dan intelektual mereka, melebihi dan diatas permintaan wajibnya, untuk memenuhi ekspektasi sesungguhnya atau yang diakui oleh stakeholder. Tujuan utamanya adalah membantu manajer korporasi untuk mengerti lingkungan stakeholder mereka dan melakukan pengelolaan dengan lebih efektif diantara keberadaan hubungan-hubungan dilingkungan perusahaan mereka serta menolong manajer korporasi dalam meningkatkan nilai dari dampak aktivitas-aktivitas mereka dan meminimalkan kerugian bagi stakeholder-nya. Lebih lanjut lagi menurut Helena dan Therese, (2005) masyarakat merupakan stakeholder terpenting bagi perusahaan dan media memegang peranan penting dalam mengkomunikasikan aktivitas-aktivitas perusahaan kepada para stakeholder. Media juga memiliki kekuatan
` 14 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA untuk memebeberkan informasi perusahaan, apabila perusahaan melakukan tindakan yang tidak pantas, maka media akan membeberkan keburukan perusahaan tersebut. Sehingga perusahaan perlu menerapkan prinsip good corporate governance dan corporate social responsibility untuk menjaga reputasi dihadapan stakeholdernya. Teori Human Capital Menurut Becker, human capital adalah bahwa manusia bukan sekedar sumber daya namun merupakan modal (capital) yang menghasilkan pengembalian (return) dan setiap pengeluaran yang dilakukan dalam rangka mengembangkan kualitas dan kuantitas modal tersebut merupakan kegiatan investasi. Menurut Davenport, human capital sebagai seluruh usaha yang dibawa tenaga kerja untuk diinvestasikan dalam pekerjaan mereka. Termasuk juga di dalamnya kemampuan, tingkah laku, semangat dan waktu. Menurut Stewart, human capital merupakan lifeblood dalam modal intelektual, sumber dari innovation dan improvement, tetapi merupakan komponen yang sulit untuk diukur. Human capital mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orangorang yang ada dalam perusahaan tersebut, di mana akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya. Menurut James Hatch (Enterprise Magazines, 15 Novermber 1999) mendefinisikan human capital sebagai segala sesuatu mengenai
` 15 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA manusia (tenaga kerja), intelektual, pengetahuan, dan pengalaman mereka. Tenaga kerja adalah usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk dan menyediakan jasa. Menurut Fitzens, (2000) pengertian human capital dapat dijelaskan sebagai suatu kombinasi dari faktor-faktor sebagai berikut: 1. Sifat-sifat seseorang yang dibawanya sejak lahir ke dalam pekerjaan, inteligensi, energi, sikap yang secara umum positif, reabilitas, dan komitmen. 2. Kemampuan seseorang untuk belajar, bakat, imajinasi, kreativitas, dan apa yang sering disebut sebagai street smart (akal kecerdasan). 3. Motivasi seseorang untuk berbagi informasi dan pengetahuan, semangat tim dan orientasi tujuan. Human capital secara umum adalah keahlian dan kemampuan seseorang yang berguna dalam berbagai keadaan. Yang termasuk indikator dari human capital secara umum adalah tingkat pendidikan dan pengalaman bekerja di masa lalu (Becker 1975). Kewibawaan manajemen puncak juga mempengaruhi persepsi investor melalui peran simbolik yang besar. Hal tersebut didasarkan pada kepercayaan bahwa seseorang dianggap berasal dari nilai-nilai, keahlian, dan kemampuan yang berbeda untuk status karakteristik seperti tingkat pendidikan, afiliasi, dan pengalaman. Hal ini konsisten dengan pernyataan D ’Aveni (1990) bahwa “pergi ke sekolah yang tepat, memiliki pengalaman kerja yang mengagumkan dan berhubungan dengan orang yang tepat mengindikasikan status yang lebih tinggi, serta mampu mencapai jumlah reputasi dan skills”.
` 16 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA Tingkat pencapaian level pendidikan dari setiap anggota manajemen puncak dapat memberikan kontribusi tentang keefektifan dari manajemen puncak, dan juga dapat memberikan isyarat kepada para investor tentang kualitas mereka. Finkelstein dan Hambrick (1996) menyimpulkan bahwa nilai individu berada pada pendidikan sebagai indikator dari kompleksitas kognitif mereka. Clark dan Smith (2002) menemukan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada manajemen puncak secara positif berhubungan dengan inovasi perusahaan. Teori Social Capital Teori social capital pertama kali didiskusikan pada tahun 1916 (Lin, 2001). Social capital yang komtemporer ditawarkan pertama kali oleh Bourdie (1986) yang mengakatan social capital merupakan keseluruhan sumber konsep aktual atau potensial, dihubungkan dengan kepemilikan dari suatu jaringan yang tahan lama atau lebih kurang hubungan timbal balik antar institusi yang dikenalnya. Dari berbagai poin bisnis yang penting, social capital sama dengan, sumber informasi. Gagasan, kesempatan bisnis, modal keuangan, power, dukungan emosional, goodwill, kepercayaan dan kerjasama yang disediakan oleh individu dan jaringan kerja bisnis (Baker, 2000). Cohen dan Prusak (2001) mendefinisikan bahwa social capital merupakan suatu kesedian melakukan hubungan aktif antara sesorang meliputi: kepercayaan, kerjasama yang saling menguntungkan, berbagi nilai dan perilaku yang mengikat setiap anggota jaringan dan kemasyarakatan juga kemungkinan membuat kerjasama
` 17 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA Beberapa literatur mengidentifikasikan definisi yang mendekati suatu pendekatan dari social capital. Porter, (1998). Mendefinisikan social capital merupakan kemampuan seorang untuk memperoleh manfaat dengan kebaikan dari keanggotaan di dalam jaringan sosial atau struktur sosial lainnya. Baker (2000) mengatakan sosial capital adalah sumber daya yang tersedia dalam pribadi seseorang dan jaringan kerja yang dimiliki. Sedangkan, Coleman (1999) mendefinisikan social capital sebagai semua aspek yang mengarah dan diciptakan untuk memudahkan tindakan individu dalam struktur sosial. Struktur sosial melahirkan dorongan sosial menjadi lebih berkuasa atas perilaku individu. Dorongan sosial tersebut yang disesuaikan dengan norma norma sosial meliputi; kultur yang dominan, pengaruh kekuatan sosial lain lain atas perilaku lebih umum. Sedangkan World Bank (2003) mengartikan social capital sebagai lembaga, hubungan sosial, network, kejujuran, pembentukan norma yang berkualitas dan kuantitas interaksi sosial dengan masyarakat. Selanjutnya konsep social capital digunakan berbeda oleh para ahli sosiologi, politisi, dan ahli ekonomi. Putnam (1993) yang menganalisis fokus jaringan kerja social horizontal yang dihubungkan dengan pengaruh pada kinerja ekonomi. Coleman (1988) mendefinisikan social capital lebih luas dengan konsep vertikal, institusi hirarki terhadap kemungkinan dampak terhadap kinerja negatif dan positif bagi perusahaan. North (1990) dan Olson (1982) mendefinisikan yang mencakup perspektif, peran formal dalam institusi, seperti sistem pengadilan, peraturan hukum dan kebebasan berpolitik dan pembentukan pengembangan lingkungan sosial politik.
` 18 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA Akdere (2005 membagikan social capital mikro level dan makro level. Pada tingkat social capital mikro level, sosial kapital sipil berkaitan dengan nilai-nilai, kepercayaan, atitud, perilaku dari norma-norma (Part, 2003). Saat ini sosial kapital sipil dibagi dalam tiga (3) dimensi dasar, yaitu; ikatan (bonds), jembatan (bridges), dan hubungan (lingkages). Ikatan (Bonds) yang mengambarkan hubungan kekerabatan keluarga dekat, teman dekat, dan kolega profesional yang membantunya. Jembatan (bridges) menggambarkan hubungan yang agak jauh agar mengapainya. Sedangkan hubungan (lingkages) digambarkan sebagai dimensi vertikal sosial kapital dimana adanya pihak yang tidak termasuk dalam kekuasaan. Pada tingkat makro level sosial kapital pemerintah melekat pada rule of law, penegakan kontrak, dan bebas koropsi serta transparansi dalam mengambil keputusan, sistem administrasi yang efisien, sistem hukum yang dapt diandalkan. Singkatnya negara lebih mampu dan kredibel (Meier, 2002). Jadi masalah sosial kapital sangat multi dimensional. Pemahaman tentang social capital ini diharapkan akan meningkatkan kinerja suatu organisasi dan pendapatan lebih baik. Di sisi bisnis melalui sosial capital akan membangun dan mendorong karyawan lebih menarik berbisnis, dan dapat mengeksplorasi kesempatan dan kemungkinan terbaik didapatkan jarinngan kerja melalui social capital. Menurut World Bank (2002) dari perspektif pengembangan dan keuangan, mendefinisikan social capital sebagai institusi adalah hubungan baik, kuantitas dan kualitas dari norma dari interaksi yang memungkinkan seseorang mengkoordinir tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Putnam (1995) mengatakan para sosiolog mendefinisikan social capital sebagai fitur dari organisasi sosial
` 19 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA seperti jaringan kerja, kepercayaan sosial yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk mendapatkan benefit. Sedangkan Coleman (1990) menyebutkan Social capital dihasilkan sebagai produk sampingan dari hasil hubungan yang telah ada, atau sebagai produk dari hasil hubungan interaksi sosial yang diciptakan dengan pertemuan tujuan-tujuan khusus. Elemen manusia dapat mempengaruhi kesuksesan dan kelangsungan dari organisasi, aspek fundamental dari social capital pada perusahaan yang baru berdiri terletak pada manajemen puncaknya (Cohen dan Dean 2002). Para direktur akan menggunakan jaringan kerja yang dimiliki untuk menjaga agar perusahaan selalu up to date dengan praktek-praktek dan prosedur-prosedur di berbagai perusahaan lainnya (Certo 2003). Eisenhardt dan Scoonhoven (1990) menemukan bahwa karakteristik manajemen puncak seperti pengalaman bekerja bersama, ukuran manajemen puncak, dan pengalaman bekerja di industri yang berbeda berhubungan dengan pertumbuhan yang lebih cepat pada perusahaan baru berbasis teknologi. Pengalaman yang dimiliki oleh manajemen puncak dan dewan komisaris memberikan dampak yang besar terhadap kinerja perusahaan. Dalam lingkungan dengan kecepatan tinggi (high velocity environments), dapat ditarik kesimpulan bahwa pengalaman pada satu perusahaan atau industri tunggal membatasi kemampuan manajemen puncak untuk memberikan solusi kreatif dalam menanggapi perubahan lingkungan. Hambrick dan Mason (1984) mengatakan bahwa para eksekutif yang
` 20 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA karimya hanya dalam satu perusahaan atau industri tunggal akan memiliki dasar pengetahuan terbatas untuk mengembangkan inovasi baru. Hubungan dewan pengurus dengan klien atau pemasok yang bereputasi dapat menambah persepsi para investor mengenai reputasi manajemen puncak. Corporate Social Responsibility Ide dasar Corporate Social Responsibility dikemukakan oleh Bowed (1953) yang menyatakan bahwa kewajiban pelaku bisnis untuk menjalankan usaha sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan yang hendak dicapai masyarakat di tempat perusahaan beroperasi. Hal ini menunjukkan bahwa selayaknya perhatian perusahaan tidak sebatas keuntungan semata namun juga harus menunjukkan tanggung jawab sosial. Corporate Social Responsibility merupakan komitmen perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasional dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Seiring dengan meningkatnya kesadaran dan kepekaan dari stakeholders maka konsep tanggung jawab sosial muncul dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kelangsungan hidup perusahaan dimasa yang akan datang. Konsep Corporate Social Responsibility sebagai salah satu tonggak penting dalam manajemen korporat. Meskipun konsep Corporate Social Responsibility baru dikenal pada awal tahun 1970-an, namun konsep ini sudah dikemukakan oleh Howard R. Bowen pada tahun 1953 (Dwi Kartini, 2009). Menurut Carroll (Dwi Kartini, 2009), konsep Corporate Social Responsibility memuat komponen-komponen sebagai berikut:
` 21 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA 1. Economic responsibilities Tanggung jawab sosial perusahaan yang utama adalah tanggung jawab ekonomi karena lembaga bisnis terdiri dari aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa bagi masyarakat secara menguntungkan. 2. Legal responsibilities Masyarakat berharap bisnis dijalankan dengan mentaati hukum dan peraturan yang berlaku yang pada hakikatnya dibuat oleh masyarakat melalui lembaga legislatif. 3. Ethical responsibilities Masyarakat berharap perusahaan menjalankan bisnis secara etis yaitu menunjukan refleksi moral yang dilakukan oleh pelaku bisnis secara perorangan maupun kelembagaan untuk menilai suatu isu dimana penilaian ini merupakan pilihan terhadap nilai yang berkembang dalam suatu masyarakat. 4. Discretionary responsibilities Mayarakat mengharapkan keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat bagi mereka. Selain itu menurut Deegan (dalam Chariri dan Ghozali, 2007) alasan yang mendorong praktik pengungkapan tanggung jawab sosial dan lingkungan antara lain: (1) mematuhi persyaratan yang ada dalam UndangUndang, (2) pertimbangan rasionalitas ekonomi, (3) mematuhi pelaporan dan proses akuntabilitas, (4) mematuhi persyaratan peminjaman, (5) mematuhi harapan masyarakat, (6) konsekuensi ancaman atas legitimasi perusahaan, (7) mengelola kelompok stakeholder tertentu, (8) menarik dana investasi, (9) mematuhi
` 22 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA persyaratan industri dan (10) memenangkan penghargaan pelaporan. Menurut The World Business Council for Sustainable Development (Nurlela dan Islahuddin, 2008), Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Hal tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan. Menurut Boone dan Kurtz (dikutip oleh Harmoni dan Ade, 2008), pengertian tanggung jawab sosial (social responsibility) secara umum adalah dukungan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan dan kesejahteraan masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja perusahaan. Priyatno (2008) Corporate Sosial Responsibility (CSR) merupakan komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dengan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut Sustainability Reporting (Retno, 2006). Sustainability Reporting adalah pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sustainability Reporting meliputi pelaporan
` 23 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA mengenai ekonomi, lingkungan dan pengaruh sosial terhadap kinerja organisasi. Sustainability report harus menjadi dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang Sustainability Development yang membawanya menuju kepada core business dan sektor industrinya. Implikasi Corporate Social Responsibility di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yaitu pada pasal 74 ayat 1, menyatakan bahwa “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan”. Pada tahun 2012 akhirnya diterbitkan PP No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas yang merupakan peraturan lengkap dari peraturan sebelumnya yaitu UU No. 40 Tahun 2007. Dalam PP No. 47 Tahun 2012, Perseroan Terbatas wajib mengungkapkan laporan CSR nya dalam laporan tahunan Perseroan dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Corporate Social Responsibility dihitung berdasarkan jumlah pendapatan bersih perusahaan dan dibagi dengan 91 indikator berdasarkan GRI-G4. GRI-G4 menyediakan rerangka kerja yang relevan secara global untuk mendukung pendekatan yang terstandardisasi dalam pelaporan, yang mendorong tingkat transparansi dan konsistensi yang diperlukan untuk membuat informasi yang disampaikan menjadi berguna dan dapat dipercaya
` 24 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA oleh pasar dan masyarakat. Fitur yang ada di GRI-G4 menjadikan pedoman ini lebih mudah digunakan, baik bagi pelapor yang berpengalaman dan bagi mereka yang baru dalam pelaporan keberlanjutan dari sektor apapun dan didukung oleh bahan-bahan dan layanan GRI lainnya. (www.globalreporting.org). GRI-G4 juga menyediakan panduan mengenai bagaimana menyajikan pengungkapan keberlanjutan dalam format yang berbeda: baik itu laporan keberlanjutan mandiri, laporan terpadu, laporan tahunan, laporan yang membahas norma-norma internasional tertentu, atau pelaporan online. Jenis pendekatan pengukuran GRI-G4 melalui isi laporan tahunan dengan aspek-aspek penilaian tanggungjawab sosial yang dikeluarkan oleh GRI (Global Reporting Initiative) yang diperoleh dari website www.globalreporting.org. Standar GRI dipilih karena lebih memfokuskan pada standar pengungkapan berbagai kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas, dan pemanfaatan sustainability reporting. Dalam standar GRI-G4 (2013) indikator kinerja dibagi menjadi 3 komponen utama, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial mencakup praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja, hak asasi manusia, masyarakat, tanggung jawab atas produk dengan total kinerja indikator mencapai 91 indikator. (www.globalreporting.org). Reputasi Manajemen Puncak CEO dalam kedudukannya memiliki peran yang sangat penting dalam menjalankan segala kewajibannya. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, CEO dapat bekerja sama dengan Dewan Manajemen Tertinggi Perusahaan (working with The Board) ataupun tanpa bekerja sama dengan Dewan (working without The Board).
` 25 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA Beberapa tugas yang harus dilakukan oleh CEO apabila dibutuhkan kerjasama dengan The Board sebagai berikut (Wallace, et. al., 2005): 1. Menetapkan tujuan perusahaan; dalam hal ini, CEO diharuskan untuk menetapkan misi perusahaan, begitu juga dengan visi yang akan membawa perusahaan pada keberhasilan. 2. Mengartikulasikan nilai-nilai perusahaan; Seorang CEO bertanggung jawab mengartikulasikan nilai-nilai organisasi karena mereka akan menjadi teladan bagi karyawan dan pelanggan mereka dengan cara mereka bertingkah laku yang dinilai oleh para pekerja mereka. 3. Mengalokasikan sumber daya dengan tepat; CEO harus dapat memastikan bahwa alokasi dari penggunaan sumber daya sudah tepat sehingga akan membawa hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para dewan (The Board). 4. Membuat keputusan yang baik (good decisions). Keputusankeputusan yang baik dan berguna bagi perusahaan harus dibuat oleh CEO ketika mereka dihadapkan pada suatu permasalahan atau hal-hal yang tidak terduga lainnya. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan adanya kerjasama antara CEO dengan para dewan perusahaan. 5. Menjamin efektivitas manajemen risiko dalam perusahaan. Bersama-sama dengan para dewan, CEO harus mengembangkan suatu proses yang memungkinkan apabila akan terjadi kegagalan dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Sedangkan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh CEO tanpa adanya kerjasama dengan The Board (Wallace, et. al., 2005) adalah:
` 26 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA 1. Mendefinisikan kinerja; Seorang CEO harus mampu mengembangkan elemen-elemen utama dari keberhasilan kinerja, baik dalam hal keuangan maupun keberhasilan dalam meningkatkan kinerja non-keuangan perusahaan. 2. Menjamin reputasi perusahaan; Hal ini terkait dengan bagaimana CEO dapat menjamin bahwa janji-janji yang diberikan dari brand mereka akan berjalan dengan konsisten kepada para pelanggan. 3. Merepresentasikan the brand kepada para pekerja; Dalam hal ini, CEO harus bisa membangkitkan semangat kepada para pekerja terkait dengan standar pencapaian kinerja perusahaan, sehingga dapat meningkatkan loyalitas para pekerja yang akhirnya akan meningkatkan kinerja perusahaan itu sendiri. 4. Menciptakan komunikasi yang terintegrasi. CEO bertanggung jawab untuk mengembangkan sistem komunikasi yang dapat mengintegrasikan semua pesan yang harus tersampaikan kepada para stakeholders. Menurut Ross (2003), dewasa ini CEO merupakan penjaga reputasi perusahaan, dan diharapkan dapat mewariskan reputasi yang lebih baik kepada generasi pemimpin perusahaan yang akan datang. Selain itu, kemampuan CEO menjaga reputasi menjadi dasar pengukuran kinerjanya. Aspek lain yang menarik dari seorang pucuk pimpinan perusahaan adalah kharisma dan pandangan jauh ke depan yang harus dimilikinya. Menurut Alsop (2004), seorang pemimpin perusahaan yang berkharisma tinggi dan berpandangan jauh ke depan akan mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap reputasi perusahaan. Oleh karena itu, terkadang visi perusahaan sangat erat
` 27 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA kaitannya dengan kepribadian CEO. Seorang pemimpin perusahaan juga diharapkan dapat menjadi contoh warga negara teladan sehingga dapat memberikan citra positif bagi perusahaan. Sebagai salah satu jalan untuk menjadi contoh warga teladan tersebut, Alsop (2004) menjelaskan bahwa seorang CEO dapat menjadi penyumbang tenaga, pikiran, dan dana bagi kegiatan-kegiatan sosial di sekitarnya. Dengan adanya panutan, para stakeholder perusahaan akan memiliki persepsi positif terhadap perusahaan tersebut, yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja dan reputasi perusahaan. Reputasi Perusahaan Reputasi perusahaan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga memiliki sejumlah definisi berbeda satu sama lain. Menurut Larkin (2003), reputasi merefleksikan bonafiditas nama suatu perusahaan menurut pandangan lembaga atau kelompok tertentu yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut. Seperti diungkapkan sebelumnya, Barney (1991) mengatakan bahwa reputasi merupakan salah satu elemen kunci intangible resources yang akan menjadi sumber dari penciptaan kondisi keunggulan daya saing berkelanjutan (sustainable competitive advantage) suatu perusahaan. Kemudian, Hall (1992, 1993) mendeskripsikan intangible resources sebagai bahan mentah (feedstock) kapabilitas berbeda (capability differential) yang menciptakan keunggulan daya saing berkelanjutan dan kinerja perusahaan yang superior. Persepsi ini sejalan dengan definisi dari Larkin (2003) yang menyatakan bahwa reputasi adalah suatu asset yang berharga, dimana elemen-elemennya dapat mempengaruhi kinerja keuangan dan menyediakan suatu sumber daya dari keunggulan daya saing. Sedangkan Dowling (2001)
` 28 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA mengindikasikan bahwa reputasi perusahaan yang baik dapat menutupi aspek keuangan dan operasional perusahaan. Selain itu, studi Fombrun dan Shanley (1990) juga mendefinisikan reputasi sebagai persepsi yang ditanamkan di benak publik berdasarkan informasi tentang posisi relatif perusahaan dalam bidang organisasi. Publik menerima sinyal-sinyal pasar yang mengindikasikan kinerja pasar, sinyal-sinyal akuntansi yang mengindikasikan kinerja keuangan, sinyal-sinyal institusional yang mengindikasikan kepatuhan perusahaan terhadap norma sosial, dan sinyal-sinyal strategis yang mengindikasikan arah strategis perusahaan. Dari keseluruhan sinyal-sinyal tersebut, reputasi perusahaan lambat laun akan tertanam di benak publik. Sebuah studi dari Fombrun (2001) menyimpulkan bahwa reputasi perusahaan merupakan: 1. Hasil dari corporate branding di bidang pemasaran (penelitian yang dilakukan oleh Klein dan Leffler, 1981); 2. Sinyal dari tindakan dan perilaku di masa depan dimana perusahaan berjanji untuk menilai dan mempromosikan harapan dari principal (pemilik modal) tentang kegiatan-kegiatan dari agent (manajemen) sesuai dengan agency theory (penelitian yang dilakukan oleh Spreeman, 1988); 3. Niat baik yang diungkapkan dalam akuntansi (penelitian yang dilakukan oleh Hall, 1992); 4. Manifestasi dari identitas perusahaan sesuai dengan teori organisasi (penelitian yang dilakukan oleh Fombrun, 2001); 5. Market entry barrier yang potensial sesuai dengan teori manajemen (penelitian yang dilakukan oleh Wilson, 1985); dan
` 29 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA 6. Hasil proses pembentukan yang dapat meningkatkan citra perusahaan di pasar modal dan di mata investor (penelitian yang dilakukan oleh Millgrom dan Roberts, 1986). Studi yang dilakukan oleh Fombrun (1996), dimana dalam penelitiannya ia meminta para stakeholder untuk mengestimasi keseluruhan perusahaan, sehingga dapat mengungkapkan terbentuknya reputasi perusahaan yang dibangun dari reaksi afektif konsumen, investor, karyawan, dan masyarakat luas tanpa menjelaskan mengapa yang digunakan hanya reaksi afektif saja. Kemudian Hall (1992) menggabungkan komponen kognitif dan afektif dengan alasan bahwa reputasi perusahaan dapat dipengaruhi, baik oleh ilmu pengetahuan maupun emosi para individu di dalam perusahaan. Studi-studi yang telah diuraikan di atas menunjukkan bahwa reputasi perusahaan dapat diukur dengan metode yang berbeda satu sama lain. Seperti yang dilakukan oleh majalah Fortune dalam America Most Admired Company (AMAC) sejak tahun 1983 secara berkala mengukur reputasi perusahaan berdasarkan penilaian delapan variabel, yaitu: 1) inovasi; 2) kualitas manajemen perusahaan; 3) nilai investasi jangka panjang perusahaan; 4) tanggung jawab perusahaan terhadap komunitas dan lingkungan; 5) kemampuan perusahaan untuk mengatur karyawan dengan baik; 6) kualitas produk atau jasa; 7) kesehatan keuangan perusahaan; dan 8) utilisasi aset perusahaan. Selain itu, terdapat metode lain yang juga menjadi pedoman bagi penelitian Suta (2006) dalam membangun variabelvariabel pembentuk reputasi perusahaan, yaitu “Harris-Fombrun Reputation Quotient (RQ)” yang dirumuskan oleh Harris Interactive,
` 30 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA Charles Fombrun dan Cees van Riel. Mereka menyusun kuesioner yang digunakan untuk mengukur reputasi perusahaan dengan mengajukan 20 pertanyaan yang digolongkan dalam 6 kategori besar, yaitu: 1. Emotional Appeal, yaitu pertanyaan-pertanyaan mengenai perasaan terhadap perusahaan, apakah kagum dan hormat atau percaya terhadap perusahaan tersebut; 2. Product and Services, yaitu pertanyaan-pertanyaan mengenai inovasi, kualitas serta nilai produk dan jasa; 3. Financial Performance, yaitu pertanyaan-pertanyaan mengenai profitabilitas dan risiko investasi serta bagaimana prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan; 4. Vision and Leadership, yaitu pertanyaan-pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan dalam merancang visi yang baik serta bagaimana kepemimpinan perusahaan dapat mencapai target yang telah dicanangkan; 5. Workplace Environment, yaitu pertanyaan-pertanyaan mengenai pengelolaan perusahaan dan hubungannya dengan cara kerja karyawan; dan Social Responsibility, yaitu pertanyaan-pertanyaan mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan perlakuan terhadap manusia. Metode RQ dilakukan tahunan, merupakan suatu metode penilaian yang mencoba menangkap persepsi reputasi perusahaan dari beberapa industri, sehingga dapat diaplikasikan di beberapa negara di luar Amerika Serikat. Dalam pelaksanaannya, metode pengukuran reputasi (reputation measurement) ini telah beralih menjadi suatu sistem yang dikenal “reputation management”. Selain diilhami oleh
` 31 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA penelitian yang telah dilakukan oleh Fortune Magazine dan HarrisFombrun Reputation Quotient (RQ), pengukuran terhadap reputasi ini juga diilhami oleh studi yang dilakukan oleh Brady (2002) tentang hubungan reputasi perusahaan dengan elemen sosial dan lingkungan hidup. Dalam studi tersebut diperkenalkan “7 elements of reputation” yang menggambarkan arena dimana perusahaan perlu meningkatkan persaingan untuk mendapatkan nilai reputasi (reputational value). The 7 elements of reputation tersebut terdiri dari pengetahuan dan ketrampilan (knowledge and skill), hubungan emosional (emotional connection), pandangan dan keinginan sebagai pemimpin (leadership vision and desire), kualitas (quality), kredibilitas finansial (financial credibility), kredibilitas sosial (social credibility), dan kecakapan yang berhubungan dengan lingkungan (environment capability). Nor Rahman (2006) menyatakan bahwa perusahaan yang fokus terhadap core business akan lebih sukses. Hal tersebut merefleksikan core competencies yang dipunyai perusahaan. Perusahaan yang mempunyai reputasi positif lebih memungkinkan untuk menarik minat pelamar berkualitas tinggi, membangun pangsa pasar yang luas, menerapkan harga yang tinggi dan lebih menarik minat investor. Dengan kata lain, reputasi perusahaan yang baik memberikan perusahaan keunggulan kompetitif. Becchetti et, al., (2009) melakukan analisis empiris mengenai pengaruh dan relevansi program CSR pada kondisi pasar modal, dengan sampel data dari tahun 1990 hingga 2004. Dan hasil studi mereka menyimpulkan dua yaitu tren meningkat yang signifikan dalam nilai absolut dari pengembalian yang tidak wajar (abnormal return) dan efek negatif
` 32 TEORI STAKEHOLDER DAN PERKEMBANGANNYA signifikan dalam pengembalian yang tidak wajar setelah pengumuman melalui Domini Index. Martin (2008) melakukan analisis mengenai maksimalisasi nilai pemegang saham dengan adanya kebijakan CSR. Martin menggunakan beberapa variabel program CSR dan menyimpulkan bahwa aktivitas CSR akan bernilai jika manajemen membantu mengembangkan reputasi perusahaan dalam setiap grup stakeholder, seperti pemasok, pelanggan, karyawan, dan komunitas. Dan jika reputasi tersebut ada, maka perusahaan berdiri menjadi lebih”bermakna”, sehingga menarik investor dan meningkatkan nilai saham mereka. Menurut studinya menjelaskan bahwa perusahaan memiliki reputasi yang baik dengan kinerja saham yang baik.
` 33 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL BAB III PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL PENGEMBANGAN PARADIGMA Pengembangan paradikma bertujuan untuk mengemukakan secara umum mengenai objek studi yang dilakukan dalam kerangka dari variabel yang akan dikaji. Paradigma ini mencoba untuk memahami bagaimana praktik CSR dan tindakan manajemen puncak dapat berkontribusi terhadap reputasi perusahaan. Berikut adalah beberapa poin penting terkait pengembangan paradigma ini: 1. Pentingnya Reputasi Perusahaan: Reputasi perusahaan adalah aset berharga yang dapat memengaruhi persepsi pelanggan, investor, mitra bisnis, dan pemangku kepentingan lainnya. Reputasi yang baik dapat membantu perusahaan mendapatkan kepercayaan dan dukungan. 2. CSR Disclosure: Ini mencakup pengungkapan perusahaan mengenai berbagai kegiatan CSR yang mereka lakukan, seperti kontribusi terhadap lingkungan, komunitas, dan keberlanjutan. Pengungkapan ini dapat dilakukan melalui laporan tahunan, situs web perusahaan, atau media sosial. 3. Reputasi Manajemen Puncak: Reputasi manajemen puncak merujuk pada persepsi dan citra individu-individu kunci dalam perusahaan, seperti CEO dan anggota dewan direksi. Reputasi mereka dapat berdampak signifikan pada citra perusahaan secara keseluruhan.
` 34 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL 4. Hubungan Antar CSR dan Reputasi: Pengungkapan CSR yang transparan dan konsisten dapat membantu membangun reputasi perusahaan yang baik. Pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya cenderung lebih suka berbisnis dengan perusahaan yang peduli terhadap lingkungan dan masyarakat. 5. Pengaruh Manajemen Puncak: Tindakan dan komunikasi manajemen puncak juga memiliki dampak yang signifikan pada reputasi perusahaan. Mereka harus memimpin dengan contoh dan secara konsisten mendukung inisiatif CSR perusahaan. 6. Integrasi CSR dalam Strategi Bisnis: Perusahaan yang berhasil mengembangkan paradigma ini biasanya mengintegrasikan CSR dalam strategi bisnis mereka. Ini berarti bahwa CSR bukan hanya kegiatan tambahan, tetapi bagian integral dari bagaimana perusahaan beroperasi. 7. Keterukuran dan Pengukuran: Untuk mengembangkan paradigma ini dengan baik, penting untuk memiliki metrik dan alat pengukuran yang dapat mengukur dampak CSR terhadap reputasi perusahaan dan manajemen puncak. Ini dapat melibatkan survei pelanggan, analisis media sosial, atau penilaian dari pemangku kepentingan lainnya. 8. Stakeholder Engagement: Melibatkan pemangku kepentingan, seperti pelanggan, karyawan, dan masyarakat lokal, dalam inisiatif CSR dan memperhatikan masukan mereka dapat memperkuat paradigma ini. 9. Edukasi dan Kesadaran: Perusahaan perlu memastikan bahwa para pemangku kepentingan mereka memahami upaya CSR
` 35 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL mereka dan memiliki kesadaran terhadap kontribusi positif yang telah mereka buat. 10. Kesinambungan dan Perbaikan Berkelanjutan: Paradigma ini harus menggambarkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap CSR dan perbaikan berkelanjutan dalam hal tindakan CSR dan manajemen puncak. Pengembangan paradigma ini memerlukan pemahaman mendalam tentang bagaimana CSR dan manajemen puncak saling terkait dan memengaruhi reputasi perusahaan. Hal ini dapat membantu perusahaan mengoptimalkan strategi mereka untuk menciptakan dampak positif yang lebih besar pada masyarakat dan lingkungan sekaligus meningkatkan reputasi mereka di mata pemangku kepentingan. PROSES DIALEKTIKA PENGEMBANGAN KONSEPTUAL Proses dialektika dalam pengembangan konsep reputasi perusahaan berdasarkan Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure dan reputasi manajemen puncak melibatkan pendekatan berpikir yang kritis dan reflektif untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara dua faktor ini. Dialektika dalam konteks ini mencakup proses berpikir yang terus-menerus mempertanyakan, menggali, dan memahami hubungan dan implikasinya. Berikut adalah langkah-langkah dalam proses dialektika tersebut: 1. Penentuan Awal: Mulailah dengan merumuskan pertanyaan penelitian yang spesifik, seperti bagaimana CSR disclosure memengaruhi reputasi manajemen puncak dan reputasi
` 36 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL perusahaan. Ini akan menjadi dasar untuk pengembangan konsep Anda. 2. Pengumpulan Data: Kumpulkan data yang relevan, termasuk laporan CSR, informasi tentang tindakan manajemen puncak, dan data reputasi perusahaan. Data ini akan digunakan sebagai dasar analisis dan pengembangan konsep. 3. Analisis Data: Selidiki data yang Anda kumpulkan untuk mengidentifikasi pola, korelasi, atau hubungan antara CSR disclosure, reputasi manajemen puncak, dan reputasi perusahaan. Gunakan alat analisis statistik jika diperlukan untuk mengukur dampak dan signifikansinya. 4. Refleksi Dialektika Pertama: Setelah analisis awal, lakukan refleksi dialektika pertama. Ini melibatkan pertanyaan kritis tentang temuan Anda. Misalnya, apakah temuan Anda konsisten dengan literatur yang ada? Apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi hubungan ini? 5. Pengembangan Konsep Awal: Mulailah mengembangkan konsep awal tentang bagaimana CSR disclosure, reputasi manajemen puncak, dan reputasi perusahaan dapat saling berinteraksi. Identifikasi elemen-elemen utama dalam konsep Anda. 6. Validasi Konsep: Diskusikan konsep Anda dengan sesama peneliti, ahli dalam bidang tersebut, atau tim penelitian Anda. Terima masukan dan kritik yang konstruktif untuk memvalidasi atau mengembangkan lebih lanjut konsep Anda. 7. Refleksi Dialektika Kedua: Setelah mendapatkan masukan, lakukan refleksi dialektika kedua. Pertanyakan apakah konsep
` 37 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL Anda sudah cukup kuat dan relevan. Apakah ada aspek yang perlu diperjelas atau diperbaiki? 8. Pengembangan Teori Konseptual: Jika konsep Anda telah melewati tahap validasi dan pemantapan, Anda dapat mulai mengembangkannya menjadi teori konseptual yang lebih besar. Ini adalah pandangan yang lebih abstrak tentang hubungan antara CSR disclosure, reputasi manajemen puncak, dan reputasi perusahaan dalam konteks bisnis dan manajemen. 9. Komunikasi Hasil: Akhirnya, hasilkan makalah penelitian, laporan, atau presentasi yang mengkomunikasikan konsep dan temuan Anda kepada komunitas ilmiah atau bisnis yang relevan. 10. Siklus Dialektika Lanjutan: Proses dialektika ini seharusnya tidak berhenti setelah komunikasi hasil. Terus pertanyakan dan uji konsep Anda seiring berjalannya waktu untuk mengakomodasi perubahan dalam praktik bisnis dan perubahan dalam pandangan ilmiah. Proses dialektika ini melibatkan iterasi dan pembaruan konsep Anda seiring dengan penemuan baru dan pemahaman yang berkembang. Hal ini dapat membantu Anda mengembangkan konsep yang lebih dalam dan relevan tentang reputasi perusahaan berdasarkan CSR disclosure dan reputasi manajemen puncak. Berikut adalah proses kontruksi terkait reputasi perusahaan berdasarkan Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure dan reputasi manajemen puncak yang dikaji secara detail sebagai berikut: 1. Pengaruh Corporate Social Responsibility pada Reputasi Perusahaan
` 38 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL Berdasarkan teori sinyal, kegiatan sosial dan lingkungan memberikan informasi kepada investor tentang prospek return masa depan yang substansial. Pengungkapan CSR yang tepat dan sesuai harapan stakeholder sebagai sinyal berupa goodnews yang diberikan oleh pihak manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek bagus di masa depan dan memastikan terciptannya sustainability development. Perusahaan melakukan pengungkapan corporate social responsibility dengan harapan dapat meningkatkan reputasi dan nilai perusahaan melalui peningkatan harga saham. Ghozali dan Chariri (2007) menjelaskan bahwa stakeholders theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain). Donaldson & Dunfee (1994) menegaskan bahwa setiap perusahaan diminta untuk menunjukkan tindakan tanggung jawab kepada semua pemangku kepentingan, tidak hanya dari dalam perusahaan tetapi juga dari luar perusahaan, yang juga termasuk tanggung jawab terhadap lingkungan. Proporsi ini didukung oleh penelitian dari Marshall (2007) yang menemukan bahwa perusahaan bisa membangun reputasi positif dengan menunjukkan tanggung jawab dalam pelestarian lingkungan dan sosial. Dalam hal ini, tanggung jawab sosial perusahaan bisa mempromosikan reputasi perusahaan. Rettab et al. (2009) menyatakan bahwa CSR memiliki hubungan positif dengan reputasi perusahaan bahkan di negara-negara
` 39 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL berkembang. Dengan demikian, meningkatnya kualitas dan reputasi yang intrinsik terjalin dengan kualitas lingkungan dan tanggung jawab sosial (Galbreath, 2011). Kayondo, Kyungho dan Hyunwoo (2015) menyatakan bahwa aktivitas CSR dalam Proksi kontribusi amal berpengaruh positif terhadap reputasi perusahaan yang diproksikan dengan shareholder return. Berdasarkan kajian empiris diatas, maka asumsi yang terbentuk adalah Semakin Luas Corporate Social Responsibility Disclosure maka reputasi perusahaan semakin tinggi. 2. Pengaruh reputasi manajemen puncak pada Reputasi Perusahaan D’Aveni (1990) menyatakan bahwa reputasi manajemen puncak mampu memberikan signal mengenai kualitas perusahaan dengan dua cara, yaitu dengan memfasilitasi hubungan interorganisasi dan menjalankan peran simbolik yang besar. Eisenhardt dan Scoonhoven (1990) menemukan bahwa karakteristik manajemen puncak seperti pengalaman bekerja bersama, ukuran manajemen puncak, dan pengalaman bekerja di industri yang berbeda berhubungan dengan pertumbuhan yang lebih cepat pada perusahaan baru berbasis teknologi. Tingkat pendidikan, hubungan sosial, dan pengalaman bekerja yang dimiliki manajemen puncak berhubungan dengan tingkat inovasi dalam perusahaan (Clark dan Smith 2002). Hal tersebut membuktikan bahwa human capital dan social capital yang dimiliki oleh manajemen puncak dapat mempengaruhi kesuksesan suatu perusahaan. Mengikuti penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mengusulkan bahwa reputasi manajemen puncak mempengaruhi
` 40 PROSES PENGEMBANGAN KONSEPTUAL legitimasi organisasi dengan dua cara. Pertama, reputasi manajemen puncak mempengaruhi hubungan antar organisasi. Dari perspektif institusi, hubungan ini memperluas jaringan kerja organisasi yang mewakili suatu cara penting organisasi menyesuaikan diri, khususnya tekanan-tekanan normatif dan kognitif (D’Aveni dan Kesner 1993). Kedua, reputasi manajemen puncak menjalani peran simbolik yang besar. Dengan dua cara tersebut, reputasi manajemen puncak memberikan suatu isyarat mulai dari perusahaan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan sejak para investor mampu mengambil kesimpulan dari isyaratisyarat kemungkinan yang terjadi. Menurut Ross (2003), dewasa ini CEO merupakan penjaga reputasi perusahaan, dan diharapkan dapat mewariskan reputasi yang lebih baik kepada generasi pemimpin perusahaan yang akan datang. Selain itu, kemampuan CEO menjaga reputasi menjadi dasar pengukuran kinerjanya. Aini (2008), menyatakan bahwa reputasi manajemen puncak yang di proksikan dengan latarbelakang pendidikan berpengaruh positif pada penilaian investor. Berdasarkan kajian empiris diatas Semakin tinggi reputasi manajemen puncak maka reputasi perusahaan semakin tinggi
` 41 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL BAB IV PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL Definisi Operasional Teori Definisi operasional teori merujuk pada cara konkret dan terukur di mana konsep abstrak atau teori diubah menjadi variabel yang dapat diukur atau diobservasi dalam konteks studi atau studi empiris. Ini melibatkan menggambarkan dengan jelas bagaimana konsep abstrak akan diukur atau diamati dalam praktik, sehingga dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang dapat dianalisis dan diinterpretasikan. Definisi operasional menguraikan parameter atau metrik yang akan digunakan untuk mengukur atau mengamati konsep abstrak. Ini membantu memastikan bahwa pengukuran atau pengamatan yang dilakukan konsisten dan obyektif, sehingga hasil studi lebih dapat dipahami dan dianalisis oleh orang lain. Definisi operasional variabel merupakan unsur studi yang memberitahukan bagaimana cara mengukur suatu variabel. Dalam studi ini variabel yang dikaji dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. Reputasi Perusahaan adalah pandangan publik atas suatu perusahaan yang dinilai baik atau tidak yang dipandang secara global atas hal-hal seperti keterbukaan, kualitas dan lainnya sehingga dapat dikatakan sebagai pandangan atas gerak langkah