The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

buku dengan judul Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak dapat selesai disusun dan berhasil diterbitkan. Kehadiran Buku Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak ini disusun dalam bentuk buku. Walaupun jauh dari kesempurnaan, tetapi kami mengharapkan buku ini dapat dijadikan referensi atau bacaan serta rujukan bagi akademisi ataupun para profesional.
Sistematika penulisan buku ini diuraikan dalam lima bab yang memuat tentang Teori Sinyal (Signalling Theory), Teori Stakeholder, Teori Human Capital, Teori Social Capital, Corporate Social Responsibility, Reputasi Manajemen Puncak, Reputasi Perusahaan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Miko Andi Wardana, 2024-03-23 06:11:53

REPUTASI PERUSAHAAN BERDASARKAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE DAN REPUTASI MANAJEMEN PUNCAK

buku dengan judul Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak dapat selesai disusun dan berhasil diterbitkan. Kehadiran Buku Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak ini disusun dalam bentuk buku. Walaupun jauh dari kesempurnaan, tetapi kami mengharapkan buku ini dapat dijadikan referensi atau bacaan serta rujukan bagi akademisi ataupun para profesional.
Sistematika penulisan buku ini diuraikan dalam lima bab yang memuat tentang Teori Sinyal (Signalling Theory), Teori Stakeholder, Teori Human Capital, Teori Social Capital, Corporate Social Responsibility, Reputasi Manajemen Puncak, Reputasi Perusahaan.

Keywords: Corporate Social Responsibility Disclosure,Reputasi Manajemen Puncak,Reputasi Perusahaan B

` 42 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL perusahaan. Perusahaan yang mempunyai reputasi baik mampu menimbulkan kepercayaan, keyakinan dan dukungan daripada perusahaan yang mempunyai reputasi buruk (Dowling, 2006). Studi ini menggunakan shareholder return sebagai proksi reputasi perusahaan, yang mengukur nilai perusahaan dalam hal saham dan saham dari waktu ke waktu (Porter & Kramer, 2011) dan menekankan daya tarik emosional pemegang saham (Gardberg & Hartwick, 1990). Black dan Carnes (2000) berpendapat, shareholder return juga mewakili bagian mendasar reputasi. Shareholder return menggabungkan apresiasi harga saham dan dividen yang dibayarkan untuk menunjukkan total return kepada shareholder. 2. Corporate Social Responsibility Disclosure diukur dengan menggunakan standar Global Reporting Initiative (GRI) . Standar GRI dipilih karena lebih memfokuskan pada standar pengungkapan berbagai kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas, dan pemanfaatan sustainability reporting. Dalam standar GRI-G4 (2013) indikator kinerja dibagi menjadi 3 komponen utama, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial mencakup praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan bekerja, hak asasi manusia, masyarakat, tanggung jawab atas produk. GRI-G4 dirancang agar dapat diterapkan secara universal untuk semua organisasi, besar dan kecil, di seluruh dunia. Pengukuran dilakukan berdasarkan indeks pengungkapan masing-masing perusahaan yang dihitung melalui pembagian antara jumlah pendapatan bersih perusahaan dengan jumlah item yang diharapkan diungkapkan perusahaan.


` 43 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL 3. Reputasi Manajemen Puncak menunjukkan karakteristikkarakteristik positif dari manajemen puncak. Makna reputasi itu sendiri dinilai melalui komponen-komponen yang melekat pada manajemen puncak. Komponen-komponen yang dipilih dalam penelitian ini latar belakang pendidikan, pengalaman bekerja dan jabatan manajemen puncak yang masih dipegang diperusahaan lain seperti penelitian yang dilakukan Aini (2008). Pengukuran terhadap reputasi manajemen puncak dilakukan menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan. Adapun yang menjadi variabel pengukurannya adalah: a. Persentase manajemen puncak yang memiliki gelar S2 dari perguruan tinggi unggulan. b. Manajemen puncak dan dewan komisaris yang lulus S2 dari perguruan tinggi luar negeri. Diukur menggunakan variabel dummy, dummy 0 = bukan lulusan luar negeri dan dummy 1 = lulusan luar negeri. c. Rata-rata pendidikan tinggi yang dimiliki oleh manajemen puncak. Diukur dengan skala perangkingan dari 0 sampai 3. Nilai 0 = tidak memiliki gelar sarjana, nilai 1 = memiliki gelar S1, nilai 2 = memiliki gelar S2, nilai 3 = memiliki gelar S3). d. Rata-rata Jumlah perusahaan yang pernah dipimpin oleh anggota manajemen puncak. e. Persentanse manajemen puncak yang pernah menjadi manajemen puncak sebelumnya. f. Persentase jumlah manajemen puncak yang menjabat sebagai manajemen puncak di perusahaan lain.


` 44 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL g. Rata-rata jumlah perusahaan yang dipegang oleh manajemen puncak. h. Jumlah manajemen puncak dan dewan komisaris yang menjabat sebagai manajemen puncak di perusahaan lain. Dalam studi ini delapan pengukuran diatas akan dilakukan analisis faktor untuk mendapatkan satu faktor yang dapat digunakan sebagai proksi reputasi manajemen puncak. Analisis faktor adalah kajian tentang saling ketergantungan antara variabel-variabel, dengan tujuan untuk menemukan himpunan variabel-variabel baru, yang lebih sedikit jumlahnya dari pada variabel semula, dan yang menunjukkan yang mana di antara variabel-variabel semula tersebut yang merupakan faktorfaktor persekutuan (Suryanto, 1988). Dalam analisis faktor, variabel-variabel dalam jumlah besar dikelompokan dalam sejumlah faktor yang mempunyai sifat dan karakteristik yang hampir sama, sehingga lebih mempermudah pengolahan. Berdasarkan tujuannya analisis faktor dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu analisis faktor eksploratori dan analisis faktor konfirmatori. Menurut Dillon dan Goldstein (1984) terdapat perbedaan antara kedua metode analisis ini. Analisis faktor eksploratori tidak dilakukan hipotesis yang bersifat teoritis dalam menggunakan analisis faktor, sehingga kesimpulan pengelompokan pada faktor - faktor akan dibuat berdasarkan apa yang nanti diperoleh dalam analisis. Sedangkan analisis faktor konfirmatori mempunyai informasi yang bersifat teoritis tentang struktur yang mendasari data dan diharapkan akan dihasilkan faktor yang sesuai dengan hipotesis tersebut sehingga sering


` 45 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL dilakukan perulangan analisis, jika hasil pengujian model ternyata tidak sesuai dengan apa yang dihipotesiskan. Pada analisis faktor eksploratori masing-masing variabel awal diperbolehkan mempunyai nilai factor loading pada beberapa faktor, dan setelah nilai diperoleh akan dibuat keputusan sebuah variabel dimasukkan kedalam faktor yang mana. Sebaliknya, analisis faktor konfirmatori melakukan pengelompokan pada sebuah variabel hanya berdasarkan variabel - variabel awal tertentu. Selanjutnya dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis faktor konfirmatori. Tujuan analisis faktor akan tercapai jika dilakukan melalui prosedur yang benar. Prosedur dalam melakukan analisis ini adalah pemilihan variabel, pembentukan faktor, menginterpretasikan hasil analisis dan melakukan validasi terhadap hasil pemfaktoran. Secara lebih rinci masing-masing tahapan akan dibahas pada sub bab berikut: a. Pemilihan Variabel Sebelum dilakukan analisis, variabel perlu dipilih dan diseleksi. Tujuannya adalah agar terpilih variabel yang tepat. Jika terdapat beberapa variabel tidak relevan maka peneliti membuang variabel tersebut karena dapat mempengaruhi interpretasi hasil analisis faktor. Pemilihan variabel-variabel observasi berdasarkan korelasi diantara variabel. Variabel dengan korelasi yang kuat akan masuk dalam analisis faktor dan variabel dengan korelasi yang lemah akan dikeluarkan dari analisis faktor. Jika sebuah


` 46 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL atau lebih variabel mempunyai korelasi yang lemah terhadap variabel lain maka tidak akan terjadi pengelompokan. Dengan kata lain, yang menjadi fokus dalam analisis ini adalah ukuran korelasi antar variabel-variabel awal karena tujuan analisis ini sendiri adalah untuk mengidentifikasi hubungan dalam sekumpulan variabel awal tersebut. Measure of Sampling Adequacy (MSA) dan Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) measure of sampling adequacy and Bartlett test of sphericity digunakan untuk keperluan ini. Untuk mengetahui apakah variabel sudah memadai untuk dianalisis lebih lanjut, digunakan pengukuran Measure of Sampling Adequacy (MSA). Nilai ini juga berhubungan dengan korelasi yang terjadi pada variabel-variabel awal. Dalam paket program SPSS, nilai MSA untuk masing-masing variabel dapat dilihat dalam diagonal pada anti image correlation pada bagian diagonal matriks. Apabila satu atau beberapa variabel awal secara individu mempunyai nilai MSA yang kurang dari 0,5 maka variabel tersebut dikeluarkan dari proses analisis. Variabel yang tidak valid harus dikeluarkan satu per satu dari analisis, diurutkan dari variabel yang nilai MSAnya terkecil. Kemudian variabelvariabel awal yang memenuhi kriteria diuji lagi hingga diperoleh nilai MSA yang mencapai 0,5. Langkah yang dilakukan setelah setiap variabel awal yang akan dimasukan dalam analisis diperoleh, yaitu pengujian kecukupan sampel melalui indeks Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) Measure of Sampling Adequacy. Indeks ini digunakan untuk


` 47 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL meneliti ketepatan penggunaan analisis faktor. Apabila nilai KMO antara 0,5 sampai 1 maka dapat disimpulkan analisis faktor tepat digunakan (Bilson, 2005). Uji Bartlett bertujuan untuk mengetahui apakah matriks korelasi yang terbentuk itu berbentuk matriks identitas atau bukan. Dalam analisis faktor, keterkaitan antar variabel sangat diperlukan, karena tujuan dari analisis ini adalah menghubungkan suatu kumpulan variabel agar menjadi satu faktor saja. Bila matriks korelasi yang terbentuk adalah matriks identitas, berarti tidak ada korelasi antar variabel, sehingga analisis faktor tidak dapat dilakukan. b. Pembentukan Faktor Setelah variabel ditentukan dan dipilih serta perhitungan korelasinya telah memenuhi persyaratan untuk dilakukan analisis, langkah selanjutnya adalah membentuk faktor untuk menemukan struktur yang mendasari hubungan antar variabel awal tersebut. Metode yang sering digunakan dalam analisis faktor eksploratori adalah metode principal component. Secara umum analisis faktor ortogonal disusun seperti model dalam analisis regresi multivariat. Setiap variabel awal dinyatakan sebagai kombinasi linear dari faktor-faktor yang mendasari. Tujuan khusus dari metode analisis faktor principal component adalah mengetahui struktur yang mendasari variabel-variabel awal dalam analisis dan melakukan penyederhanaan stuktur sekumpulan variabel awal tersebut melalui reduksi data. Analisis faktor selalu berusaha untuk menghasilkan faktor


` 48 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL yang jumlahnya lebih sedikit daripada jumlah variabel yang diolah. Pendekatan yang digunakan untuk menentukan berapa jumlah faktor yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berdasarkan nilai eigen, persentase variansi dan scree plot. Kriteria pertama dilakukan berdasarkan nilai eigen. Nilai eigen menunjukkan jumlah variasi yang berhubungan pada suatu faktor. Faktor yang mempunyai nilai eigen lebih dari atau sama dengan 1 akan dipertahankan dan faktor yang mempunyai nilai eigen kurang dari 1 tidak akan diikutsertakan dalam model karena variabel yang nilainya kurang dari 1 tidak lebih baik dari variabel aslinya (Supranto, 2004). Nilai eigen terakhir yang mempunyai nilai lebih besar atau sama dengan 1 tersebut dipilih sebagai titik penghentian ekstraksi. Kriteria kedua adalah berdasarkan persentase variansi. Jumlah faktor yang diambil ditentukan berdasarkan jumlah kumulatif variasi yang telah dicapai. Jika nilai kumulatif persentase variansinya sudah mencukupi (lebih dari setengah dari seluruh variansi variabel awalnya) maka ekstraksi faktor dapat dihentikan. Kriteria ketiga ditentukan berdasarkan scree plot. Scree plot adalah grafik yang menunjukkan relasi antara faktor dengan nilai eigennya. Penentuan kriteria ini dilakukan dengan membuat plot nilai eigen terhadap banyaknya faktor yang akan diekstraksi. Nilai eigen tersebut diplotkan pada arah vertikal, sedangkan banyaknya faktor (m) diplotkan pada


` 49 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL arah horisontal. Banyaknya faktor pada kriteria ini ditentukan berdasarkan penurunan (slope) plot nilai eigen tersebut. Pada saat scree mulai mendatar atau merata dan nilai eigen berada pada nilai lebih dari satu dan kurang dari satu, disinilah terdapat titik penghentian ekstraksi jumlah faktor. Titik tersebut menunjukan banyaknya faktor yang dapat diekstraksi. Tujuan utama proses rotasi adalah tercapainya kesederhanaan terhadap faktor dan meningkatnya kemampuan interpretasinya. Dua metode rotasi dalam analisis faktor yang terus dikembangkan oleh banyak peneliti adalah metode rotasi ortogonal dan metode rotasi oblique. Rotasi ortogonal merupakan rotasi yang dilakukan dengan mempertahankan sumbu secara tegak lurus satu dengan yang lainnya. Dengan melakukan rotasi ini, maka setiap faktor independen terhadap faktor lain karena sumbunya saling tegak lurus. Rotasi ortogonal digunakan bila analisis bertujuan untuk mereduksi jumlah variabel tanpa mempertimbangkan seberapa berartinya faktor yang diekstraksi. Sedangkan prosedur perotasian oblique tidak mempertahankan sumbu tegak lurus lagi. Dengan rotasi ini maka korelasi antar faktor masih diperhitungkan karena sumbu faktor tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Rotasi oblique digunakan untuk memperoleh jumlah faktor yang secara teoritis cukup berarti. Dalam metode rotasi ortogonal dikenal beberapa


` 50 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL pengukuran analitik, diantaranya metode quartimax, varimax dan equimax. Pada metode rotasi quartimax, tujuan akhir yang ingin dicapai adalah menyederhanakan baris sebuah matriks faktor. Nilai factor loading dirotasi sehingga sebuah variabel akan mempunyai factor loading tinggi pada salah satu faktor, dan pada faktor-faktor yang lain dibuat sekecil mungkin. Pemusatan metode rotasi ini adalah penyederhanaan struktur pada baris matriksnya. Metode ini tidak banyak dikembangkan oleh para peneliti karena tidak berhasil digunakan untuk mendapatkan struktur yang sederhana. Pada akhirnya metode ini akan membuat sebuah faktor yang terlalu umum dan tujuan rotasi tidak akan dicapai. Metode varimax memfokuskan analisisnya pada penyederhanaan kolom matriks faktor. Penyederhanaan secara maksimum dapat terjadi apabila hanya ada nilai 0 dan 1 dalam sebuah kolom. Pada metode ini terjadi kecenderungan menghasilkan beberapa nilai factor loading yang tinggi (mendekati -1 atau +1) dan beberapa nilai factor loading mendekati 0 pada masing-masing kolom matriks. Logika interpretasi akan lebih mudah ketika korelasi antara faktor dan variabel bernilai +1 atau -1 karena hal ini mengindikasikan adanya asosiasi yang sempurna yang sifatnya positif atau negatif. Nilai 0 mengindikasikan adanya asosiasi yang sangat kurang. Teknik varimax mencoba menghasilkan nilai factor loading yang besar atau faktor lainnya sekecil mungkin. Struktur yang dihasilkan ini jauh


` 51 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL lebih sederhana jika dibandingkan dengan metode quartimax. Selain itu, metode varimax ini dapat membedakan faktor dengan lebih jelas. c. Interpretasi Hasil Analisis Faktor Interpretasi adalah proses memberi arti dan signifikansi terhadap analisis yang dilakukan, menjelaskan pola-pola deskriptif, mencari hubungan dan keterkaitan antar deskripsi-deskripsi data yang ada (Barnsley & Ellis, 1992). Jika tujuanya mereduksi data, beri nama faktor hasil reduksi dan hitung faktor skornya. Dilihat dari nilai factor loading yang diperoleh setiap variabel dengan membandingkan nilai factor loading dari variabel didalam faktor yang terbentuk. Pedoman penentuan signifikansi factor loading disajikan oleh SOLO Power Analysis, BMDP Statistical Software, Inc.1993 (Phillips, J.A, 2002) Dengan menggunakan level signifikansi () 0,05 ditetapkan aturan untuk mengidentifikasi factor loading yang signifikan berdasarkan ukuran sampelnya. d. Penamaan Faktor Setelah benar-benar terbentuk faktor yang masing-masing beranggotakan variabel-variabel yang diteliti, maka dilakukan penamaan faktor berdasarkan karakteristik yang sesuai dengan anggotanya. Penamaan faktor dilakukan dengan melihat hal yang mendasari dan cukup mewakili sifat-sifat dari variabel-variabel awal yang terkumpul dalam satu faktor. Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan generalisasi terhadap variabel-variabel awal


` 52 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL tersebut. e. Validasi Hasil Analisis Faktor Tahapan terakhir dalam analisis faktor adalah pengujian terhadap kestabilan analisis ini. Pengujian ini biasa disebut sebagai validasi hasil pemfaktoran. Tahap pengujian validasi hasil analisis faktor dalam penelitian ini dengan membagi sampel keseluruhan menjadi dua bagian yang sama banyak. Setelah itu, validasi dilakukan dengan menerapkan metode analisis faktor yang sama yaitu metode principal component pada masing-masing bagian sampel tersebut. Interpretasi hasil validasi yaitu apabila faktor yang terbentuk pada kedua bagian sampel menunjukan hasil ekstraksi jumlah faktor yang sama dengan analisis faktor yang telah dilakukan pada sampel keseluruhan, maka dikatakan valid dan stabil sehingga hasil analisis faktor dapat digeneralisasikan pada populasinya. 4. Variabel Kontrol Variabel kontrol pada studi ini adalah Ukuran Perusahaan (size) karena ada kemungkinan terdapat perbedaan antara perusahaan yang ukurannya besar dan perusahaan yang ukurannya kecil. Penggolongan perusahaan besar dan kecil ini mengacu pada penelitian Lukviarman (2004) dimana perusahaan besar merupakan perusahaan yang memiliki size diatas mean dari keseluruhan observasi, dan perusahaan kecil merupakan perusahaan yang memiliki size dibawah mean dari keseluruhan observasi. Semakin besar perusahaan maka makin banyak informasi yang dapat diberikan karena kemampuan perusahaan


` 53 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL menghasilkan informasi juga besar sehingga mampu mengurangi risiko perusahaan (Firth dan Liau-Tan, 1998). Menurut Jogiyanto (2009) ukuran perusahaan (size) diproksikan berdasarkan total asset yang terdapat di dalam laporan keuangan perusahaan sampel. Untuk mendapatkan hasil total asset yang lebih baik dan valid, maka langkah untuk mengatasinya adalah melakukan transformasi data mentah menjadi data yang merupakan nilai logaritma dari data itu sendiri (Ln total asset). Penggunaan logaritma natural (Ln) dimaksudkan untuk mengurangi fluktuasi data yang berlebih (Sulistiyo, 2010). Jika nilai total aset langsung dipakai begitu saja maka nilai variabel akan sangat besar, miliar bahkan triliun. Dengan menggunakan log, nilai miliar bahkan triliun tersebut dapat disederhanakan, tanpa mengubah proporsi dari nilai asal yang sebenarnya.


` 54 PENJELASAN PENGEMBANGAN KONSEPTUAL


` 55 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL BAB V PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL Dampak Hubungan Konseptual Hubungan konseptual mengacu pada koneksi, relasi, atau keterkaitan antara konsep-konsep dalam suatu domain pengetahuan atau pemahaman. Dampak hubungan konseptual dapat beragam, tergantung pada konteksnya. Berikut adalah beberapa dampak umum dari hubungan konseptual: 1. Pemahaman yang Lebih Mendalam: Hubungan konseptual membantu individu untuk memahami konsep-konsep dengan lebih mendalam. Ketika dua atau lebih konsep saling terhubung, hal itu dapat membantu seseorang memahami bagaimana konsep-konsep tersebut berinteraksi satu sama lain dan bagaimana mereka relevan dalam suatu konteks tertentu. 2. Peningkatan Analisis: Hubungan konseptual dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk menganalisis situasi atau masalah. Ketika seseorang dapat menghubungkan konsep-konsep yang berbeda, mereka dapat melihat implikasi dan dampak dari interaksi tersebut dengan lebih baik. 3. Pemecahan Masalah: Dalam konteks pemecahan masalah, hubungan konseptual dapat membantu dalam mengidentifikasi solusi yang lebih efektif. Menyadari bagaimana konsep-konsep


` 56 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL terkait dapat digunakan untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam mengembangkan strategi yang lebih baik. 4. Kreativitas: Hubungan konseptual juga dapat meningkatkan kreativitas. Ketika seseorang dapat menghubungkan konsepkonsep yang tidak lazim atau tidak terduga, mereka dapat menciptakan ide-ide baru dan inovatif. 5. Pengambilan Keputusan: Dalam pengambilan keputusan, hubungan konseptual dapat membantu dalam mempertimbangkan berbagai faktor dan implikasi dari suatu keputusan. Ini dapat membantu dalam mengambil keputusan yang lebih terinformasi. 6. Komunikasi yang Lebih Efektif: Hubungan konseptual juga memainkan peran penting dalam komunikasi. Ketika seseorang dapat menggambarkan hubungan konseptual dengan jelas, orang lain lebih mungkin untuk memahami pesan mereka dengan baik. 7. Pendidikan: Dalam konteks pendidikan, hubungan konseptual membantu siswa untuk mengaitkan konsep-konsep baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Ini mempermudah proses belajar dan retensi informasi. Namun, penting untuk diingat bahwa hubungan konseptual juga bisa memiliki dampak negatif jika tidak dipahami dengan benar atau jika digunakan untuk tujuan yang tidak etis. Misalnya, penggunaan hubungan konseptual untuk memanipulasi informasi atau membingungkan orang lain dapat merugikan. Dalam banyak bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya, pemahaman hubungan konseptual menjadi kunci untuk kemajuan dan pencapaian. Oleh karena itu, pengembangan


` 57 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL kemampuan untuk mengenali dan menggunakan hubungan konseptual yang relevan dapat sangat bermanfaat. Pembahasan Dampak Hubungan Konseptual Pada bagian ini dijelaskan interpretasi dari hasil studi yang telah ditampilkan pada bagian sebelumnya. Interpretasi atas hasil uji hipotesis yang merangkum beberapa aspek teori yang mendasari, hubungan antarkonstruk, perbandingan hasil studi terdahulu, outer loading, pengaruh karakteristik narasumber, indikator dan lainnya yang dapat menjelaskan hasil studi ini. Adapun hasil studi ini disajikan sebagai berikut: 1. Dampak Corporate Social ResponsibilityDisclosure terhadap Reputasi Perusahaan Studi ini memprediksi terdapat hubungan positif antara Corporate Social Responsibility Disclosure dengan reputasi perusahaan. Hasil studi memiliki dampak. Hasil studi ini menunjukkan bahwa semakin luas Corporate Social Responsibility Disclosure yang diungkapkan perusahaan maka akan meningkatkan reputasi perusahaan. Hasil studi dapat diuraikan sebagai berikut. Secara teori, pengungkapan CSR seharusnya dapat menjadi pertimbangan investor sebelum berinvestasi, karena didalamnya mengandung informasi sosial yang telah dilakukan perusahaan. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk berinvestasi oleh para investor (Basamalah et al, 2005). Ghozali dan Chariri (2007) menjelaskan bahwa stakeholders theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang


` 58 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain). Donaldson & Dunfee (1994) menegaskan bahwa setiap perusahaan diminta untuk menunjukkan tindakan tanggung jawab kepada semua pemangku kepentingan, tidak hanya dari dalam perusahaan tetapi juga dari luar perusahaan, yang juga termasuk tanggung jawab terhadap lingkungan. Proporsi ini didukung oleh penelitian dari Marshall (2007) yang menemukan bahwa perusahaan bisa membangun reputasi positif dengan menunjukkan tanggung jawab dalam pelestarian lingkungan dan sosial. Dalam hal ini, tanggung jawab sosial perusahaan bisa mempromosikan reputasi perusahaan. Hasil studi ini memberikan dukungan terhadap hasil studi yang dilakukan (Brammer & Millington, 2004; Balmer & Greyser, 2003) sebagai kegiatan CSR seperti kontribusi amal dan praktek ramah lingkungan memungkinkan perusahaan untuk mengimbangi permasalahan bisnis yang merupakan hasil dari tindakan yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu. Gazzola (2014) menyatakan CSR berpengaruh signifikan positif terhadap reputasi perusahaan. Rettab et al. (2009) menyatakan bahwa CSR memiliki hubungan positif dengan reputasi perusahaan bahkan di negara-negara berkembang. Meningkatnya kualitas dan reputasi yang intrinsik terjalin dengan kualitas lingkungan dan tanggung jawab sosial (Galbreath, 2011). Kayondo, Kyungho dan Hyunwoo (2015) menyatakan bahwa aktivitas CSR dalam Proksi kontribusi amal berpengaruh positif terhadap reputasi perusahaan yang


` 59 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL diproksikan dengan shareholder return. 2. Reputasi Manajemen Puncak pada Reputasi Perusahaan Hasil studi memprediksi terdapat hubungan positif antara reputasi manajemen puncak dengan reputasi perusahaan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi reputasi manajemen puncak yang dimiliki perusahaan maka akan meningkatkan reputasi perusahaan. Hasil studi dapat diuraikan sebagai berikut. George dan Jones (1999) menyatakan bahwa manajemen puncak merupakan tim manajemen di tingkat atas yang bertanggung jawab dalam mengarahkan perusahaan secara keseluruhan dan mengkoordinasi semua fungsi utama sehingga cita-cita perusahaan dapat tercapai. Manajemen puncak bertanggung jawab menentukan pengarahan stratejik dan keberhasilan masa depan perusahaan, mengelola kinerja serta mempengaruhi orang-orang di dalam dan di luar perusahaan sehingga tujuantujuan perusahaan dapat tercapai. Maka, kinerja perusahaan merupakan cerminan dari manajemen puncak (Hambrick dan Mason 1984; Finkelstein 1992). D’Aveni (1990) menyatakan bahwa reputasi manajemen puncak mampu memberikan signal mengenai kualitas perusahaan dengan dua cara, yaitu dengan memfasilitasi hubungan interorganisasi dan menjalankan peran simbolik yang besar. Eisenhardt dan Scoonhoven (1990) menemukan bahwa karakteristik manajemen puncak seperti pengalaman bekerja bersama, ukuran manajemen puncak, dan pengalaman bekerja di industri yang berbeda berhubungan dengan pertumbuhan yang


` 60 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL lebih cepat pada perusahaan baru berbasis teknologi. Tingkat pendidikan, hubungan sosial, dan pengalaman bekerja yang dimiliki manajemen puncak berhubungan dengan tingkat inovasi dalam perusahaan (Clark dan Smith 2002). Hal tersebut membuktikan bahwa human capital dan social capital yang dimiliki oleh manajemen puncak dapat mempengaruhi kesuksesan suatu perusahaan. Hasil studi ini memberikan dukungan terhadap hasil studi yang dilakukan Ross (2003), dewasa ini CEO merupakan penjaga reputasi perusahaan, dan diharapkan dapat mewariskan reputasi yang lebih baik kepada generasi pemimpin perusahaan yang akan datang. Selain itu, kemampuan CEO menjaga reputasi menjadi dasar pengukuran kinerjanya. Aini (2008), menyatakan bahwa reputasi manajemen puncak yang di proksikan dengan latarbelakang pendidikan berpengaruh positif pada penilaian investor Kebaruan (novelty) Pengembangan Konseptual Tentang Reputasi Perusahaan Berdasarkan Corporate Social Responsibility Disclosure Dan Reputasi Manajemen Puncak. Berdasarkan pembahasan konseptual dapat dihasilkan beberapa hal yang dinyatakan sebagai kebaruan (novelty), Bahwa dalam mengkontruksi reputasi diperngaruhi oleh reputasi manajemen puncak bisa dan Corporate Social Responsibility Disclosure. Maka didapatkan pengembangan koseptual dimana menunjukkan bahwa semakin luas Corporate Social Responsibility Disclosure yang diungkapkan perusahaan maka akan meningkatkan reputasi Perusahaan dan semakin tinggi reputasi manajemen puncak yang dimiliki perusahaan maka akan meningkatkan reputasi perusahaan.


` 61 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL Simpulan Berdasarkan hasil analisis studi dan hasil pembahasan pada bab sebelumnya maka simpulan dari studi ini adalah sebagai berikut: 1. Corporate Social Responsibility Disclosure yang diukur dengan CSRI GRI versi 4 terbukti bepengaruh positif pada reputasi perusahaan yang diukur dengan Total Shareholder Return (TSR). Hasil studi menunjukkan hubungan searah antara Corporate Social Responsibility Disclosure dan reputasi perusahaan, jika pengungkapan CSR semakin meningkat pada annual report maka reputasi perusahaan juga semakin meningkat. 2. Reputasi Manajemen Puncak yang diukur dengan Persentase jumlah manajemen puncak yang menjabat sebagai manajemen puncak di perusahaan lain terbukti berpengaruh positif pada reputasi perusahaan yang diukur dengan Total Shareholder Return (TSR). Hasil studi menunjukkan hubungan searah antara reputasi manajemen puncak dan reputasi perusahaan, jika semakin tinggi persentase jumlah manajemen puncak yang menjabat sebagai manajemen puncak di perusahaan lain maka reputasi perusahaan juga semakin meningkat. 3. Hasil pengujian terhadap ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif pada reputasi perusahaan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka reputasi perusahaan juga semakin tinggi


` 62 PEMBAHASAN BEBERAPA DAMPAK HUBUNGAN KONSEPTUAL


` 63 DAFTAR PUSTAKA Aini, Rias. 2008. Pengaruh Reputasi Manajemen Puncak dan Dewan Komisaris Terhadap Penilaian Investor pada Perusahaan yang melakukan IPO. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 5(2):202-226. Afdhal, Ahmad Fuad. 2008. Tips & Trik Public Relations. (Jakarta: Grasindo) Alshammari, Marwan. 2015. Corporate Social Responsibility and Firm Performance: The Moderating Role of Reputation and Institutional Investors. International Journal of Bussines and Management, 10(6). Anggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara Anggraini, Fr. Reni Retno, 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor -Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang terdaftar Bursa Efek Jakarta), Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang. Ardianto, Elvinaro dan Sumirat, Soleh. 2005. Dasar-dasar Public Relations. Cetakan Ketiga. Remaja Rosdakarya, Bandung. Basuki, Sulistyo. 2010. Metode Penelitian. Jakarta: Penaku. Becchetti, Leonardo, and Rocco.2006. Corporate Social Responsibility and Stock Market Perpormance. Centre for International Studies on Economic Growth (CEIS) Tor Vergata-Research paper Series, 27(79) Black, E.L., Carnes, T.A., & Richardson, V.J. (2000). The market valuation of corporate reputation. Corporate Reputation Review, 31(1), 31-42.
 Branco, M. & Rodrigues, L. C. 2006. Corporate Social Responsibility and Resource based Perspectives. Journal of Business Ethic, 69(2): 111–132. Candrayanthi, A.A. Alit & Saputra, I D.G. Dharma. 2013. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Pertambangan di Bursa Efek Indonesia). E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 4(1): 141-158.


` 64 Carter, D. A., Simkins, B. J., & Simpson, W. G. 2002.Corporate Governance, Board Diversity and Firm Value. Financial Review, 38(1): 33–53. Certo, S. T. “Influencing Initial Public Offering Investors with Prestige: Signaling with Board Structures.” Academy o f Management Review 28, no. 3 (2003): 432-446.
 Dashwood, Hevina S. 2013. Sustainable Development and Industry Self Regulation: Developments in the Global Mining Sector, Business and Society, Vol. 43(4): 551-582. D’Aveni, R. A. “Top Managerial Prestige and Organizational Bankruptcy.” Organization Science 1 (1990): 121-142.
 D’Aveni, R. A. and I. F. Kesner. “Top Managerial Prestige, Power and Tender Offer Response: A Study of Elite Social Networks and Target Firm Cooperation During Takeovers.” Organization Science 4 (1993): 123-151.
 Dobson, J. 1989. Corporate Reputation: a Free-Market Solution to Unethical Behavior, Business and Society 28: 1. Donaldson, T. & Dunfee, T. W. 1994. Toward a Uni-fied Conception of Business Ethics: Integrated Social Contract Theory. Academy of Manage-ment Review, 19(2): 252–284. Dowling, G. 2001. Creating Corporate Reputation, Identify, Image and Performance. New York: Oxford University Press. Dowling, Grahame R. 2006. Journalists Evaluation of Corporate Reputations, Corporate Reputation Review, Vol.7 Dye, R.A. & Sridhar, S.S. 2008. A positive theory of flexibility in accounting standards, Journal of Accounting & Economic, 46(2-3): 312-333 Eisenhardt, K.M. and C.B. Schoonhoven. “Organizational Growth: Linking Founding Team, Strategy, Environment, and Growth Among U.S. Semiconductor Ventures, 1978-1988.” Administrative Science Quarterly 35 (1990): 504-529. Fitri. 2008. Pengaruh Variabel-Variabel Pembentuk Reputasi Perusahaan Terhadap Kinerja Perusahaan. Fak Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Finkelstein. “Power in Top Management Teams: Dimension, Measurement, and V alidationAcademy ofManagementJournal 35


` 65 (1992): 505-539. Finkelstein, S. and D. C. Hambrick. Strategic Leadership: Top Executives and Their Effects on Organizations. Minneapolis/St. Paul: West Publishing Co., 1996. Freeman, R.E., Martin, K., & Parmar, B. 2008. Global Business in a Stakeholder Society: Stakeholder Capitalism in S. Gerhardt (Ed.) Global CSR Casebook. ICEP Institut zur Cooperation bei Entwicklungs-Projekten. Gardberg, M.E. & Hartwick, J. 1990. The effects of advertiser reputation and extremity of advertising claims on advertising effectiveness. Journal of Consumer Research, 17(2), 172-179. Galbreath, J. 2011. Are There Gender-related Influ-ences on Corporate Sustainability? A Study of Woman on Boards of Directors. Journal of Management & Organization, 17(1):17–38. Gazzola, Patrizia. 2014. Corporate Social Responsibility and Companies’ Reputation. Network Intelligence Studies, 1(3). Ghozali dan Chariri, 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit Undip. Ghozali, Imam. 2012. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 20”. Semarang: UNDIP. GRI. (2013). G4 Sustainability Reporting Guidelines: Reporting Principles and Standard Disclosure, Amsterdam, Global Reporting Initiative. George, J.M. and G. R. Jones. Understanding and Managing: Organizational Behavior. Addison-Wesley Publishing Company Inc., 1999.
 Hafsi, T. & Turgut, G. 2012. Boardroom Diversity and Its Effect Social Performance: Conceptuali-zation and Empirical Evidence. Journal Business Ethics, 112(3): 463–479. Hair, et al. 2006. Multivariate Data Analysis 6th Ed. New Jersey: Pearson Education. Hambrick, D.C. and P. A. Mason. “Upper Echelons: The Organization as a Reflection ofits Top Managers.”Academy ofManagementReview 9 (1984): 193-206. Hambrick, D.C. “Upper Echelons Theory: An Update.” Academy of Management Review 32, no. 2 (2007): 334-343.


` 66 Harmoni, Ati dan Andriyani, Ade. 2008. “Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada Official Website Perusahaan Studi Pada PT. Unilever Indonesia Tbk”. Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen. Depok: 20-21 Agustus 2008. Jogiyanto. (2007). Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalamanpengalaman. Cetakan pertama. Yogyakarta: BPFE. Kartini, Dwi. 2009. Corporate Social Responsibility : Transformasi Konsep Sustainability Management dan Implementasi di Indonesia. Bandung : PT Refika Aditama. Kayondo, D. Mukasa., Kyungho Kim., Hyunwoo Lim. 2015. How Do Corporate Social Responsibility Activities Influence Corporate Reputation? Evidence From Korean Firms. The Jurnal of Applied Business Research, 31(2). Lukviarman, Niki. 2004. Ownership Structure and Firm Peformance. Disertasi Marshall, J. 2007. The Gendering of Leadership in Corporate Social Responsibility. Journal of Organizational Change Management, 20(2): 165–181. Mathis.L. Robert dan Jackson. H. John. 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Buku kedua. Nalikka, A. 2009. Impact of Gender Diversity on Voluntary Disclosure in Annual Reports. Accounting & Taxation. Vol. 1, No. 1. News of PERHUMAS. 2004. CSR dan Citra Corporate. Dokumen Http://.perhumas.or.id/, 15-16 Juni 2004. Nurlela, Rika, dan Islahudin, 2008. Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan dengan Prosentase Kepemilikan Manajemen sebagai Variabel Moderating. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak Pfeffer, J. and Salancik, G. 1978. The External Control of Organizations: A Resources Depedence Perspective. New York: Harper & Row. Ponnu, C.H. 2008. Academic Qualifications of Board of Directors and Company Performance. The Business Review Cambridge. Vol. 10. No.1: 177-181. Porter, M.E. Kramer, M.R. (2011). The big idea: Creating shared value. Harvard Business Review, January- February: 1-7.


` 67 Price Waterhouse Coopers. 2013. MineIndonesia 2013. 11th Annual Review of Trends in the Indonesian Mining Industry. http://www.pwc.com.au/ asia/practice/indonesia/assets/publications/mineIndonesiaMay-2013.pdf. Diakses 2 Juni 2016 Rao, Kathyayini Kathy., Tilt, Carol.A., Lester, Laurence.H. 2012. Corporate governance and environmental reporting: an Australian study, Corporate Governance, Vol. 12(2): 143-163 Rettab B, Brik AB, Mellahi K (2009). A study of management perceptions of impact of Corporate Social Responsibility on organizational performance in emerging economic: a case of Dubai. J. Bus. Ethics, 89:317-390. Robbins, Stephen.P and Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Keorganisasian. (Diana Angelica, Pentj). Ed. 12. Jakarta: Salemba Empat. Simon Ekwo, Unite. 2013. Sustainability through collaboration-based Corporate Social Responsibility: AEI 2013 Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan ke-10. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Cetakan ke 21 Desember 2014. Bandung: CV Alfabeta. Susiloadi, P. 2008. Implementasi Corporate Social Responsibility Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan. Spirit Publik Volume 4, Nomor 2. Surakarta Universitas Sebelas Maret. Suta, I.P.G.A. 2006. Kinerja Pasar Perusahaan Publik di Indonesia: suatu analisis reputasi perusahaan, Yayasan Sad Satria Bhakti. Tuck, J. 2007. “Stakeholder Priorities v Industry Perception: Reputations and Relationships in the Australian Mining Industry.” Victoria: School of Business, Centre for Regional Innovation and Competitiveness, University of Ballarat, Mt Helen. Trisnawati. “Pengaruh Informasi Prospektus terhadap Return Saham di Pasar Perdana.” Tesis UGM, 1998. Wallace, R.S.O. and Cooke, T.E. (1990), The Diagnosis and Resolution of Emerging Issues in Corporate Disclosure Practices, Journal of Accounting and Business Research, 20: 143-151


` 68 Walt, Van Der & Ingley, Corel. 2003. Board Dynamics and the Influence of Professional Background, Gender and Ethnic Diversity of Directors, 11(3): 218- 234. Wang, J. & Coffey, B. S. 1992. Board Composition and Corporate Philantrophy. Journal of Business Ethics, 11(10): 771–778.


` 69 BIODATA PENULIS I Gede Dirga Surya Arya Widhyadanta, SST., M.Si Penulis tertarik terhadap ilmu Akuntansi dan Keuangan dimulai pada tahun 2008 saat masih duduk di bangku SMA. Penulis melanjutkan pendidikan dimulai pada pendidikan strata 1 terapan di Politeknik Negeri Bali pada Program Studi Akuntansi Manajerial tahun 2009 dan diselesaikan pada tahun 2013. Pendidikan strata 2 penulis di Universitas Udayana pada Pasca Sarjana Akuntansi pada tahun 2014 dan diselesaikan pada tahun 2017. Pengalaman praktisi, penulis pernah bekerja dibeberapa perusahaan seperti Kantor Akuntan Publik sebagai auditor dan di Hotel sebagai auditor internal. Namun saat ini penulis memilih untuk fokus mengabdikan diri sebagai Dosen dan aktif mengajar di Perguruan Tinggi (IPB Internasional). Penulis memiliki kepakaran dibidang Akuntansi (Akuntansi, Manajemen Keuangan, dan Perpajakan). Email Penulis: [email protected]


Click to View FlipBook Version