Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Terbentuknya Jalur Perdagangan dan Budaya Maritim Nusantara Ⓐ
3 1 Pengertian dan Budaya Maritim ✓ Kata maritim berasal dari bahasa Latin, yaitu maritimus/mare yang artinya ‘laut’. ✓ Dalam Oxford Advanced Learner’s for Dictionaries, kata maritim diartikan sebagai ‘connecting to sea or ships; (formal) near the sea’, artinya ‘yang menghubungkan laut atau dekat dengan laut’. ✓ Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maritim memiliki arti ‘berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut’. Lautan di sekitar dan di antara pulau-pulau Indonesia tidak pernah menjadi penghalang, bahkan menjadi faktor pemersatu.
Relief di dinding Candi Borobudur yang menggambarkan bentuk kapal yang berbeda, yaitu relief perahu lesung, kapal besar bercadik, dan kapal besar tanpa cadik memperkuat pembuktian tentang kita sebagai bangsa bahari. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat kuno memang telah memiliki kemampuan membuat kapal.
2 Peran Selat Malaka dalam Jaringan Perdagangan Kerajaan Hindu-Buddha Nusantara ✓ Kepulauan Nusantara terletak dalam jalur perdagangan antara dua pusat perdagangan “internasional” zaman kuno, yaitu India dan Tiongkok. ✓ Selat Malaka menjadi gerbang utama yang menghubungkan pedagangpedagang Tiongkok dan India yang berlayar melalui bandar-bandar penting di sekitar wilayah tersebut. ✓ Komoditas penting yang diperdagangkan ketika itu adalah rempahrempah, seperti kayu manis, cengkih, dan pala.
Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu dan Buddha di Indonesia Ⓑ
Teori Waisya Salah satu pendukung teori ini adalah N. J. Krom. Didasarkan pada alasan bahwa motivasi terbesar datangnya bangsa India ke Indonesia adalah untuk berdagang. Mereka bermukim di Indonesia, bahkan menikah dengan orang Indonesia.
Teori Ksatria Salah satu pendukung teori ini adalah F.D.K Bosch. Pada masa lampau, di India, sering terjadi perang antargolongan. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang lantas meninggalkan India. Rupanya, di antara mereka, ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia.
Teori Brahmana Salah satu pendukung teori ini adalah J.C. van Leur. Para brahmana datang dari India ke Indonesia atas undangan pemimpin suku dalam rangka melegitimasi kekuasaan mereka. Hanya golongan brahmana yang mengerti dan menguasainya kitab suci Weda.
Teori Arus Balik Salah satu pendukung teori ini adalah G. Coedes. Berkembangnya pengaruh dan kebudayaan India ini dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia mempunyai kepentingan untuk datang dan berkunjung ke India, seperti mempelajari agama Hindu dan Buddha.
Masuknya Agama dan Kebudayaan Buddha Agama dan kebudayaan Buddha diperkirakan mulai dikenal di Indonesia sekitar abad V. I Tsing melihat bahwa ajaran Buddha diterima luas oleh rakyat. Sriwijaya pusat penting pembelajaran ajaran Buddha.
Kerajaan-Kerajaan Hindu Ⓒ dan Buddha di Indonesia
Kerajaan Salakanagara Sebenarnya, hingga saat ini, keberadaan mengenai kerajaan ini memang masih menjadi perdebatan para ahli
Kerajaan Salakanagara Dalam naskah Wangsakerta, disebutkan seseorang yang bernama Dewawarman.
Kerajaan Salakanagara
Kerajaan Salakanagara Kerajaan Salakanagara mengalami keruntuhan pada 362 M yang diperkirakan sebagai akibat serangan dari Kerajaan Tarumanegara.
Kerajaan Kutai Kutai (Kutai Martadipura) merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Berdiri sekitar abad V, kerajaan ini berlokasi di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Perkiraan Letak Kerajaan Kutai Bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah temuan prasasti yang ditulis di atas tujuh buah yupa (tugu batu).
Pusat pemerintahannya diperkirakan di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan Kutai
Nama–nama rajanya adalah Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman. Raja Mulawarman melakukan upacara pengurbanan dan memberikan hadiah atau sedekah kepada para brahmana sejumlah 20.000 ekor sapi. Kerajaan Kutai (bercorak Hindu) runtuh setelah diserang Kutai Kartanegara (kerajaan Islam). Salah satu yupa peninggalan Kerajaan Kutai Kerajaan Kutai
Kerajaan Wilayah Tarumanagara diperkirakan berdiri sekitar abad IV dan V M. kekuasaannya meliputi hampir seluruh Jawa Barat, yaitu membentang dari Banten, Jakarta, Bogor, hingga Cirebon. Kerajaan Tarumanagara Nama-nama rajanya, antara lain Purnawarman dan Sri Maharaja Linggawarman (666–669 M).
Cap telapak kaki yang melambangkan Raja Purnawarman sebagai Dewa Wisnu (dewa pemelihara alam semesta), Kerajaan Tarumanagara telah menerapkan konsep dewa raja: raja yang memerintah disamakan dengan Dewa Wisnu. Prasasti Ciaruteun Gambar tapak kaki gajah, yang disamakan dengan gajah Airawata, atau gajah kendaraan Dewa Wisnu. Prasasti Kebon Kopi Prasasti Tugu menyebutkan tentang pembangunan saluran air yang panjangnya 6.112 tombak (setara dengan 11 km) yang diberi nama Gomati. Prasasti Tugu
Wilayah Kerajaankekuasaannya Sunda atau Pajajaran meliputieksis Provinsi dari abad Banten, VII–XVI. Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah sekarang. Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Kerajaan Sunda bercorak Hindu dan Buddha. Memiliki dua kawasan pelabuhan utama di Sunda Kalapa dan Banten. Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Nama-nama rajanya antara lain: • Tarusbawa • Sanjaya • Maharaja Sri Jayabhupati • Rahyang Niskala Wastukencana • Prabu Ratu Dewata. Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 669 M. Tarusbawa merupakan menantu dari Sri Maharaja Linggawarman. Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Kedua kerajaan ini kemudian dipersatukan oleh Sanjaya. Kerajaan ini kemudian menjadi Kerajaan Sunda. Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Prasasti Sang Hyang Tapak ✓ Dalam Prasasti Sang Hyang Tapak, disebutkan seorang raja bernama Maharaja Sri Jayabhupati dan berkuasa di Prahajyan Sunda. ✓ Raja Jayabhupati digantikan oleh Rahyang Niskala Wastukencana atau Raja Sri Baduga Maharaja, yang terlibat dalam Perang Bubat pada 1357. Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Pada tahun 1579, Maulana Yusuf dari Kerajaan Banten menyerang Kerajaan Sunda yang ketika itu dipimpin Prabu Ratu Dewata (memerintah 1535–1543). Serangan itu menyebabkan runtuhnya Kerajaan Sunda. Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Kerajaan Sriwijaya ✓ Daerah kekuasaannya membentang dari Kamboja, Thailand selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan pesisir Kalimantan. ✓ Berdasarkan temuan sumber tertulis serta berita Tiongkok dan Arab, Kerajaan Sriwijaya diperkirakan berdiri sekitar abad VII.
Kerajaan Sriwijaya ✓ Berdasarkan laporan I Tsing, seorang pendeta Tiongkok, melaporkan Sriwijaya menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. ✓ Kerajaan ini mencapai zaman keemasan di bawah Raja Balaputradewa yang berkuasa sekitar pertengahan abad IX.
Dalam Prasasti Kedukan Bukit (berangka tahun 605 Saka atau 688 M), dapat diinterpretasikan bahwa Kerajaan Sriwijaya bukan berpusat di Palembang, melainkan di Muara Takus (Riau). Pernyataan ini didukung temuan arkeologis berupa stupa di Muara Takus (Kabupaten Kampar, Riau). Candi Muara Takus Kerajaan Sriwijaya
Masyarakat Sriwijaya sebagian besar hidup dari perdagangan dan pelayaran (bercorak Maritim). Pada akhir abad IX, Kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai sebagian jalur perdagangan di Asia Tenggara, seperti Selat Sunda, Selat Malaka, Selat Karimata, dan Tanah Genting Kra (wilayah Thailand dan Myanmar). Candi Muara Takus Kerajaan Sriwijaya
Beberapa Peninggalan Kerajaan Sriwijaya: Arca Buddha langgam Amarawati Prasasti Telaga Batu Prasasti Talang Tuo
Kerajaan Sriwijaya Sriwijaya mengalami kemunduran sekitar abad XII, antara lain disebabkan: 1. Serangan Majapahit pada 1477 M dan berhasil menaklukkan Sriwijaya. 2. Terdesak oleh Kerajaan Thailand yang mengembangkan kekuasaannya sampai Semenanjung Malaya. 3. Serangan Kerajaan Colamandala dari India pada 1023 M dan 1030 M. 4. Serangan Kerajaan Medang Kamulan, Jawa Timur, di bawah Raja Dharmawangsa pada 990 M.
Kalingga adalah kerajaan bercorak Buddha di Jawa Tengah yang berdiri sekitar abad VII. I Tsing yang menyebutkan ada kerajaan dengan nama Ho-ling (Kalingga) yang berlokasi di Cho-po (Jawa). Raja yang terkenalnya adalah Ratu Sima. Berita Tiongkok hanya menyebutkan kerajaan ini memiliki hasil bumi yang sangat laku diperdagangkan, seperti emas, perak, cula badak, dan gading gajah. Sepeninggal Sima, Kalingga terbagi dua, yaitu Kalingga utara (dikenal dengan nama Bumi Mataram) di bawah Sanaha (cucu Ratu Sima) dan Kalingga selatan (Bumi Sambara) di bawah Dewasinga. Kerajaan Kalingga
Kerajaan Mataram (Mataram Kuno atau Mataram Hindu atau Kerajaan Medang periode Jawa Tengah) adalah kelanjutan dari Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah sekitar abad VIII. Lokasinya berada di pedalaman Jawa Tengah, di sekitar daerah yang banyak dialiri sungai, seperti Sungai Progo, Bogowonto, dan Bengawan Solo. Nama-nama rajanya di antaranya Sanjaya, Rakai Panangkaran, Dharanindra, Samaragrawira, dan Rakai Pikatan. Kerajaan Mataram
Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M) dan Prasasti Mantyasih, pendiri Dinasti Sanjaya (Hindu) adalah Sanjaya, anak dari Sannaha, cucu Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga dan Sena/Sanna/Bratasenawa, raja ketiga Galuh. Ada dua dinasti (wangsa) yang berkuasa di Mataram, yaitu Dinasti Syailendra dan Sanjaya. Pengganti Sanjaya adalah Rakai Panangkaran. Kuat dugaan pada masa pemerintahannya, Dinasti Syailendra (Buddha) dari Kerajaan Sriwijaya menguasai Mataram. Model kapal Sriwijaya tahun 800-an Masehi yang terdapat pada candi Borobudur.
Model kapal Sriwijaya tahun 800-an Masehi yang terdapat pada candi Borobudur. Sepeninggal Raja Samaragrawira, terjadi konflik antara Pramodawardhani-Rakai Pikatan dan Balaputradewa. Mataram kemudian dikuasai Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya). Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Mataram meluas sampai meliputi seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Beberapa Peninggalan Kerajaan Mataram: • Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. • Pembangunan candi ini dimulai oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan Candi Sewu.
• Pada pertengahan abad VIII, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan raja-raja Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddha. • Mereka membangun berbagai monumen Buddha di Jawa, seperti Candi Borobudur. Monumen ini selesai dibangun awal abad IX. • Borobudur terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.
Berdasarkan salah satu prasasti yang ditemukan di Situs Ratu Boko, Kawasan Situs Ratu Boko merupakan kawasan peninggalan sejarah yang bercorak Hindu dan Buddha yang dibangun sekitar abad VIII–IX M. Unsur Hindu dapat ditunjukkan di antaranya melalui yoni, tiga miniatur candi, arca Ganesa, dan Durga, sedangkan unsur Buddha terlihat dari adanya temuan arca Buddha, reruntuhan stupa, dan stupika
Kerajaan Medang Kamulan Kerajaan bercorak Hindu ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram. Pada abad X, kerajaan ini dipindahkan oleh Mpu Sindok ke Jawa Timur. Menurut para ahli, pemindahan Kerajaan Mataram (Medang) ke Jawa Timur disebabkan terjadinya letusan Gunung Merapi. Faktor lain adalah adanya konflik perebutan takhta di dalam istana. Ibu kota Kerajaan Medang, yakni Watugaluh, sekarang sebuah desa di dekat Jombang di tepi aliran Sungai Brantas.
Mpu Sindok adalah pendiri dinasti baru bernama Dinasti Isyana. Ia naik takhta pada tahun 929 M Penguasa Medang setelah Mpu Sindok adalah (berturut-turut), yaitu Sri Isyanatunggawijaya, Sri Makutawangsawardhana, Dharmawangsa (punya saudari bernama Mahendradatta), dan Airlangga. Airlangga dinobatkan sebagai raja oleh para pendeta pada tahun 1019 M dan membangun pusat kerajaan di Kahuripan, Sidoarjo. Sejak tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya. Pada tahun 1037, semua wilayah Kerajaan Medang tunduk kepada Airlangga. Patung Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda.
Selama masa pemerintahannya, karya-karya sastra berkembang, contohnya kitab Arjunawiwaha yang ditulis Mpu Kanwa pada 1035 M. Airlangga membagi dua kerajaannya kepada dua putranya: Kerajaan Jenggala kepada Mapanji Garasakan. Airlangga membagi dua kerajaannya kepada dua putranya: Kerajaan Jenggala kepada Mapanji Garasakan dengan ibu kota Kahuripan, dan Kerajaan Panjalu atau Kediri kepada Sri Samarawijaya dengan ibu kota di Daha. Patung Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda.
Kerajaan Kediri adalah kerajaan agraris dengan raja pertama Sri Samarawijaya, yang kemudian digantikan oleh (secara berturutturut) Sri Jayawarsa dan Bameswara. Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa Jayabhaya. Ia berhasil menguasai Jenggala yang membuat Kediri menjadi satu-satunya kerajaan yang berdiri di Jawa Timur pada masa tersebut. Ia terkenal dengan ramalan-ramalannya yang kemudian dibukukan dengan judul Jangka Jayabhaya. Kerajaan Kediri
Sesudah Jayabhaya, ada seorang raja yang cukup terkenal, Raja Kameswhara (1182) karena pada masa pemerintahannya karya sastra Jawa berkembang pesat. Pada 1185, Kameswhara digantikan oleh Kertajaya (Prabu Dandang Gendis). Pada masa pemerintahannya, situasi Kediri penuh ketidakstabilan. Kertajaya berselisih dengan para brahmana karena ia ingin disembah oleh para pendeta, baik Hindu dan Buddha (kaum brahmana). Arca Wisnu, berasal dari Kediri, abad ke-12 dan ke-13.
Para pendeta kemudian bersekutu dengan seorang akuwu (bupati) dari Tumapel (bagian dari Kediri) bernama Ken Arok. Ken Arok mengalahkan Kertajaya dalam pertempuran di Ganter (1222). Meninggalnya Kertajaya dalam pertempuran tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Isana di Jawa Timur. Arca Wisnu, berasal dari Kediri, abad ke-12 dan ke-13.
Kerajaan Singasari (bercorak Hindu) didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. • Lokasi kerajaan nya diperkirakan berada di daerah Singasari, Malang. • Nama resmi Kerajaan Singasari adalah Tumapel. • Ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja. • Nama-nama rajanya di antaranya Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, Ranggawuni, dan Kertanagara. Kerajaan Singasari
Raja pertama Kerajaan Singasari adalah Ken Arok (memerintah 1222–1227). Arca Prajnaparamita dipercaya sebagai perwujudan Ken Dedes. Sebelum berkuasa, ia adalah seorang akuwu di Tumapel, daerah bawahan Kerajaan Kediri. Ia berhasil menjadi akuwu setelah membunuh akuwu sebelumnya, Tunggul Ametung, dengan keris buatan Empu Gandring. Bahkan ia memperistri istri Tunggul Ametung, Ken Dedes. Ia menjadi raja setelah memenangkan pertempuran melawan Kertajaya (raja Kediri). Ia membangun Kerajaan Singasari dan dianggap sebagai pendiri dinasti baru, Dinasti Girindra.
Setelah itu, situasi politik pemerintahan Kerajaan Singasari diwarnai konflik perebutan kekuasaan. Hal ini terjadi diperkirakan karena kutukan Empu Gandring. Pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, ia bercita-cita meluaskan kekuasaannya ke seluruh Nusantara. Raja terakhir Kerajaan Kediri, Kertanegara bercita-cita meluaskan kekuasaannya ke seluruh Nusantara. Untuk itu, Ia mengeluarkan kebijakan Ekspedisi Pamalayu. Kertanagara kemudian tewas oleh Jayakatwang. Jayakatwang lalu menjadi raja dan memindahkan pusat kerajaan ke Kediri. Dengan meninggalnya Kertanagara, berakhir pulalah Kerajaan Singasari. Candi Singhasari dibangun sebagai tempat pemuliaan Kertanegara.