The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

INOVASI PERAWAT DALAM KEGAWATDARURATAN DAN KEBENCANAAN (EMERGENCY AND DISASTER NURSING)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-10-26 13:44:08

NURSING CREATIVITY

INOVASI PERAWAT DALAM KEGAWATDARURATAN DAN KEBENCANAAN (EMERGENCY AND DISASTER NURSING)

NURSING CREATIVITY

INOVASI PERAWAT DALAM
KEGAWATDARURATAN DAN KEBENCANAAN

(EMERGENCY AND DISASTER NURSING)

i

NURSING CREATIVITY

INOVASI PERAWAT DALAM KEGAWATDARURATAN
DAN KEBENCANAAN
(EMERGENCY AND DISASTER NURSING)

© 2020

Penulis
Agus Khoirul Anam, S.ST, M.Kep.
Dr. Sri Mugianti, M.Kep.
Andi Hayyun Abiddin, S.ST, Msc.
Sri Winarni, S.Pd, M.Kes.

Desain Cover dan Penata Isi
Tim MNC Publishing

Cetakan I, Desember 2020

Copyright © 2020 Media Nusa Creative

Perpustakaan Nasional: Data Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Diterbitkan oleh :
Media Nusa Creative
Anggota IKAPI (162/JTI/2015)
Bukit Cemara Tidar H5 No. 34, Malang
Telp. : 0812 3334 0088
E-mail : [email protected]
Website : www.mncpublishing.com

ISBN 978-602-462-570-2

Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau
memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ke dalam bentuk apapun, secara
elektronis maupun mekanis, termasuk fotokopi, merekam, atau dengan teknik
perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit. Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2000 tentang Hak Cipta, Bab XII Ketentuan Pidana, Pasal 72, Ayat (1), (2),
dan (6)

ii

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Modul Nursing
Creativity Inovasi Perawat Dalam Kegawatdaruratan Dan
Kebencanaan (Emergency And Disaster Nursing) dapat terselesaikan.
Modul ini disusun untuk dijadikan petunjuk dan arah bagi Prodi D-
III Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes
Malang dalam mencapai kompetensi keperawatan sesuai penciri
program studi yaitu unggul dalam keperawatan gawat darurat dan
bencana.

Dengan selesainya modul ini, kami sampaikan terimakasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penulisan
modul ini. Kami menyadari bahwa modul ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran.
Semoga modul ini bermanfaat dalam proses belajar mengajar
mahasiswa dan dosen di lingkungan Prodi D-III Keperawatan Blitar
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang.

Tim Penyusun

iii

iv

Kata Pengantar .................................................................................... iii
Daftar Isi ............................................................................................... v
Inovasi Media Pembelajaran Kebencanaan .................................... 1

1. Gamsina ....................................................................................... 3
2. Jaring Laba Laba Family Task Plan .......................................... 8
3. Baby Kit For Disaster Bag .......................................................... 20
4. Tas Disaster Emergency ............................................................. 25
5. Fleksibel Spalk ............................................................................ 29
6. Balut Tekan Bleeding Direct Pressure ..................................... 32
7. Tas Penyimpan Barang Pasien di UGD ................................... 37
8. Start Triage Algoritme Media ................................................... 48
9. Peta Contingency Plan Kelurahan Tangguh Bencana ........... 51
10.Stretcher Blanjet For Emergency .............................................. 58
Referensi ............................................................................................ 69

v

vi

A. INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN

KEBENCANAAN

Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk
jamak dari kata medium yang secara harfilah berarti perantara atau
pengantar. Seehingga media pendidikaan dapat didefinisikan
sebagai alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan
bahan didikan/pengajaran (I Putu Suiraoka & I Dewa Nyoman
Supariasa, 2012).

Dalam proses pembelajaran, media sering diartikan sebagai
alat-alat grafis, photografis atau elektronis untuk menangkap,
memproses dan menyusun kembali informal visual atau verbal.
Sedangkan Gagne dan Briggs dalam Azhar Arsyad (2005: 4)
mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara
fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Dari
pengertian media di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah
alat bantu fisik yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk
memudahkan siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan
maupun sikap. Media dibedakan menjadi media dua dimensi dan
media tiga dimensi (Pramesti, 2015).

Salah satu media 3 dimensi adalah sebuah peta kelurahan
Gedog kota Blitar yang akan saya buat secara 3 dimensi contingency
plan dalam pendidikan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Manfaat Media

Menurut (I Putu Suiraoka & I Dewa Nyoman Supariasa,
2012) manfaat dari penggunaan media sangat luas, mulai dari
menarik perhatian sasaran, memperjelas pesan hingga
mengingatkan kembali sasaran akan informasi yang telah
disampaikan oleh pendidik. Sebagaimana yang dapat diuraikan
berikut ini:
1. Merangsang minat sasaran pendidikan

Media dapat menyebabkan proses pendidikan kesehatan yang
dilakukan lebih menarik perhatian sasaran pendidikan dan tidak
kaku, sehingga menumbuhkan motivasi belajar.

1

2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, bahasa dan daya indera
Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan dalam proses
pendidikan kesehtaan. Keterbatsan ruang, jika suatu materi
kesehatan harus disampaikan kepada masyarakat luas yang tidak
bisa dilakukan pada ruang yang terbatas maka materi ini dapat
disampaikan melalui saluran (media) yang sifatnya massa,
sehingga dapat diterima secara luas. Keterbatasan waktu,
pendidikan kesehatan tentang kesehatan gigi. Dengan
mengguuanakan media yang menunjukkan gambar/vidio proses
pembentukan karies gigi akan dapatlebih cepat diterima oleh
pasien. Media juga membantu memperjelas pesan sehinga tidak
terlalu verbalistik dan dapat mempermudah dalam menerima
materi yang disampaikan. Menampilkan gambar/foto dapat
menimbulkan persepsi yang sama pada sasaran.

3. Mengatasi sikap pasif sasaran pendidikan dan dapat memberikan
perangsangan, pengalaman serta menimbulkan persepsi yang
sama. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat,
maka sasaran dapat ditingkatkan gairah belajarnya.Interaksi
belajar dapat ditingkatkan serta persepsi terhadap suatu konsep
diantara semua sasaran bisa sama.

4. Mendorong keinginan sasaran untuk mengetahui, mendalami
dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih baik.Sasaran
akan lebih tertarik untuk mendalami apa yang telah diketahuinya
sehingga mereka akan memperoleh pengertian yang lebih baik.

5. Merangsang sasaran untuk meneruskan pesan-pesan kepada
orang lain.
Pendidikan kesehatan juga menjadikan agen-agen pembawa
informasi kesehatanatau atau kader kesehatan pada giliranya
akan menyebarkan informasi kesehatan pada masyarakat
lainnya.

2

1. GAMSINA (GAME SIAGA BENCANA)

3

INSTRUKSI KERJA PENGGUNAAN
GAMSINA (GAME EDUKASI BENCANA)

INSTRUKSI KERJA PENGGUNAAN
GAMSINA (GAME EDUKASI BENCANA)

Tujuan Menjadi acuan penggunaan media inovatif gamsina
yang baik dan benar.

Kebijakan Penggunaan media inovatif Gamsina oleh siswa atau
Petugas siswi dalam penggunaan harus dalam pengawasan
guru pembimbing/BPBD/Relawan Bencana
Guru pembimbing/BPBD/Relawan Bencana

Alat 1. Banner Gamsina (game Edukasi Bencana) 36 kotak
Prosedur 2. Dadu
3. Daftar Pertanyaan dan Perintah
4. Jumlah pemain maksimal 5

Prosedur kerja penggunaan alat media gamsina, Sebagai
berikut:
1) Siapkan media inovatif gamsina dengan semua

perlengakapannya (banner permainan, dadu, dan
daftar pertanyaan dan perintah)
2) Posisikan banner dalam keadaan terbuka dengan
dadu diatasnya
3) Lempar dadu dan jalan sesuai dengan angka dadu
yang keluar
4) Lihat pada kotak nomor dan ikuti tanda yang ada
pada kotak, apakah ada :
a. Tanda Tanya (?) : Akan mendapat pertanyaan

dari pembimbing dan jawab pertanyaan
b. Tanda perintah (!) : Akan mendapat perintah dari

pembimbing dan yang ada dalam kotak
c. Tanda Tangga : Naik dari awal tangga-akhir

tangga

4

d. Tanda Ular : Turun mulai dari ekor sampai
kepala ular

5) Lanjutkan pada langkah selanjutnya hingga menuju
pada titik kemenangan atau finish
a. Pemain yang berhasil sampai di finish akan
mendapatkan reward (hadiah)
b. Pemain yang sampai di titik finish pertama kali
akan mendapat reward yang lebih besar

Pilihlah salah satu jawaban dan berikan tanda (√) pada jawaban
yang sesuai dengan pernyataan anda.

NO. PERNYATAAN BENAR SALAH
1. Tahap manajemen bencana atau siklus
penanggulangan bencana adalah pra dan
saat bencana
2. Jenis bencana yang rawan terjadi di
lingkungan tempat tinggal adalah
Bencana Gunung Api
3. Gunung yang tergolong aktif di
lingkungan tempat tinggal adalah
Gunung Kelud
4. Letusan gunung api adalah endapan
magma yang keluar akibat adanya
dorongan gas yang bertekanan tinggi dari
perut bumi
5. Tanda-tanda akan terjadi letusan gunung
api yaitu : Suhu di sekitar gunung
meningkat, sering terdengar suara
gemuruh disertai gempa, dan Binatang
turun ke lingkungan
6. Isyarat status gunung api yaitu normal-
siaga-waspada-awas

5

7. Upaya manajemen bencana yang dapat

dilakukan pra bencana adalah mitigasi

dan kesiapsiagaan

8. Bentuk upaya kesiapsiagaan menghadapi

bencana adalah menyiapkan tas siaga

bencana yang berisi dokumen penting

dan bahan makanan yang diperlukan

9. Penyuluhan atau pendidikan tentang

manajemen bencana adalah salah satu

bentuk upaya mitigasi bencana

10. Terdapat alat peringatan dini di

lingkungan tempat tinggal sebagai

bentuk pengawasan adanya letusan

gunung api

11. Tindakan saat terjadi bencana adalah

melakukan kegiatan tanggap darurat dan

bantuan darurat

12. Tindakan sebagai upaya saat terjadi

bencana adalah melakukan evakuasi

13. Saat terjadi bencana letusan gunung api,

dan terdapat himbauan untuk

mengungsi, Kita tidak perlu mengungsi

karena tidak berbahaya

14. Evakuasi dilakukan dengan

mengutamakan laki-laki dewasa yang

kuat daripada ibu hamil

15. Terdapat jalur evakuasi yang aman saat

terjadi bencana letusan gunung berapi

16. Upaya yang dapat dilakukan pasca

bencana adalah memfungsikan sarana

dan prasarana yang ada meliputi kegiatan

sekolah dan pemulihan psikologis

17. Letusan gunung api sangat tidak

berbahaya untuk saya dan tempat tinggal

saya

6

18. Bahaya yang dapat ditimbulkan pasca
bencana gunung berapi adalah awan
panas, lahar, hujan abu

19. Saat hujan abu, kita harus menggunakan
alat pelindung diri berupa baju, celana
panjang, kacamata, dan masker

20. Letusan gunung berapi bermanfaat pada
lingkungan

7

2. JARING LABA-LABA

SOP Penggunaan Skema Jaring Laba-Laba Untuk Keluarga
Dalam Menghadapi Bencana Gunung Berapi

8

SOP Penggunaan Skema Jaring Laba-Laba
Untuk Keluarga

Pengertian Skema Jaring Laba-Laba adalah media inovasi yang

Manfaat dan didesain khusus untuk menjelaskan mengenai
Tujuan
manajemen tugas di keluarga dengan adanya
Rincian Tugas
Masing-Masing pembagian tugas masing-masingg anggota
Anggota
Keluarga dalam keluarga dalam kesiapsiagaan menghadapi
Skema Jaring
Laba-Laba bencana, mulai persiapan dari dalam rumah

sampai menuju titik kumpul yang aman.

1. Membantu keluarga dalam mengidentifikasi

peran masing-masing anggota keluarga saat

terjadi bencana

2. Memudahkan keluarga untuk bergerak dalam

menyelamatkan diri saat bencana, anggota

keluarga cepat melakukan perannya dan cepat

keluar rumah menuju titik kumpul.

3. Mengurangi kekacauan yang terjadi saat

bencana, misalnya anggota keluarga berlarian

tanpa arah di dalam rumah, sehingga

membuat suasana menjadi kacau.

4. Mengurangi kerugian yang mungkin terjadi

ketika terjadi suatu bencana seperti

tertinggalnya kebutuhan utama yang

diperlukan saat bencana, tertinggalnya

anggota keluarga, hilangnya dokumen-

dokumen penting, dan jatuhnya korban jiwa.

1. Level Waspada

Pada level waspada di Skema Jaring Laba-Laba

adalah berwarna hijau yang berada pada bagian

tepi luar. Tugas yang dapat dilakukan anggota

keluarga inti pada level waspada, yaitu:

a. Bapak : Bapak memberitahu keluarga

untuk tetap berada di rumah, menyiapkan tas

siaga bencana, memantau informasi status

9

gunung dari pos pantau gunung berapi,

memahami jalur evakuasi dan titik kumpul

yang ditentukan, dan menyiapkan kendaraan

b. Ibu : memberi arahan kepada anak,

menyiapkan tas siaga bencana yang berisi

keperluan utama keluarga yang digunakan

untuk mengungsi, dan menyiapkan baby kit

yang berisi kebutuhan khusus untuk anaknya.

c. Anak : Anak (> 12 tahun) mengikuti

instruksi orang tua dan membantu

menyiapkan kendaraan, sedangkan anak (<12

tahun) dapat mengikuti instruksi orang tua.

Tugas ini dilakukan oleh masing-masing anggota

keluarga selama gunung api menunjukkan

adanya peningkatan aktivitas dari level normal ke

level waspada atau saat ada informasi level

waspada sampai level waspada berakhir. Setiap

gunung berapi memiliki karakteristik sendiri-

sendiri dalam perubahan aktivitas vulkaniknya,

jadi keluarga harus selalu memantau aktivitas

gunung berapi secara berkala. Apabila tugas

sudah dilakukan semua, keluarga perlu untuk

tetap stabil dalam memantau kembali. Apabila

ada peningkatan level gunung berapi, akan

dilanjutkan untuk melakukan tugasnya di level

siaga.

2. Level Siaga

Pada level siaga ditandai dengan warna kuning

dan terletak di bagian antara level waspada dan

level awas di Skema Jaring Laba-Laba. Tugas

yang dapat dilakukan anggota keluarga inti pada

level siaga, yaitu:

a. Bapak : memantau informasi status

gunung dari pos pantau gunung berapi,

10

mengikuti anjuran pemerintah untuk

mengungsi, membawa tas siaga bencana,

mengunci rumah, dan menuju titik kumpul

bersama anggota keluarga.

b. Ibu : memastikan semua anggota

keluarga siap mengungsi, membawa anak

keluar rumah, membawa baby kit, dan

menuju titik kumpul bersama anggota

keluarga.

c. Anak : Anak (>12 tahun) mematikan

listrik dan membawa baby kit, Anak (<12

tahun) mengikuti instruksi orang tua, lalu

menuju titik kumpul bersama anggota

keluarga.

Tugas ini dilakukan anggota keluarga selama

gunung berapi pada awal level siaga sampai level

siaga berakhir atau memasuki level awas.

Keluarga harus selalu memantau informasi dari

aktvitas gunung dari pos pantau yang memantau

informasi aktivitas gunung, sehingga apabila

sudah diberi aba-aba kurang berapa jam atau

menit lagi akan terjadi letusan, keluarga sudah

siap untuk mengungsi.

3. Level Awas
Level awas mempunyai warna merah yang
terletak di bagian tengah atau bagian inti di
Skema Jaring Laba-Laba. Pada level awas semua
anggota keluarga berada di titik kumpul, jadi
tugas dari masing-masing anggota keluarga
adalah berkumpul di titik kumpul yang aman.
Sebelum terjadi letusan gunung berapi keluarga
sudah berada di titik yang aman, sehingga tidak
ada korban jiwa dan barang penting yang
tertinggal, karena sudah dipersiapkan sejak level

11

waspada dan level siaga, sehingga pada level
awas sudah berada di titik kumpul yang aman.
Tugas ini dilakukan angota keluarga saat level
awas, dan berakhir kalau sudah berada di tempat
mengungsi atau titik kumpul yang aman.
Alat Modul, Skema Jaring Laba-Laba

Prosedur (Cara 1. Tahap Orientasi
Pemakaian) a. Keluarga memahami tentang bencana
gunung berapi, bahaya dari bencana
gunung berapi, tingkat status gunung api,
kearifan lokal warga di daerah rawan
bencana gunung berapi, dan kebutuhan
utama yang diperlukan saat bencana (ada
di modul)
b. Keluarga memahami manfaat dan tujuan
Skema Jaring Laba-Laba

2. Tahap Kerja
a. Masing-masing anggota keluarga
memahami tugasnya masing-masing
sesuai yang telah dijabarkan di Skema
Jaring Laba-Laba
b. Keluarga menyepakati pembagian tugas
sesuai Skema Jaring Laba-Laba
c. Keluarga menempelkan Skema Jaring
Laba-Laba di tempat yang mudah dilihat
d. Keluarga mempraktikkan tugasnya sesuai
Skema Jaring Laba-Laba

3. Evaluasi
a. Keluarga mampu memahami tentang
bencana gunung berapi, bahaya dari
bencana gunung berapi, tingkat status
gunung api, kearifan lokal warga di
daerah rawan bencana gunung berapi,

12

dan kebutuhan utama yang diperlukan
saat bencana
b. Keluarga mampu memahami manfaat
dan tujuan Skema Jaring Laba-Laba
c. Keluarga mampu meletakkan Skema
Jaring Laba-Laba di tempat yang mudah
dilihat
d. Keluarga mampu melakukan tugas sesuai
dengan skema jaring laba-laba

Penggunaan Skema Jaring Laba-Laba dalam Family Task Plan
Menghadapi Bencana Gunung Berapi

A. Pengertian Bencana Gunung Berapi

Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas
vulkanik yang dikenal dengan istilah "erupsi". Bahaya letusan
gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar),
hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar (Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2007).

B. Bahaya Erupsi Gunung Berapi:

Menurut BNPB (2017), bahaya dari erupsi gunung berapi
adalah sebagai berikut:
a. Awan panas adalah aliran material vulkanik panas yang terdiri

atas batuan berat, ringan (berongga) lava masif dan butiran
klastik yang pergerakannya dipengaruhi gravitasi dan cenderung
mengalir melalui lembah.
b. Aliran lava
c. Gas beracun adalah gas vulkanik yang dapat mematikan seketika
apabila terhirup dalam tubuh. Gas tersebut biasanya tidak
berwarna dan tidak berbau.
d. Lontaran material (pijar)
e. Hujan abu yaitu material abu tampak halus dan bergerak sesuai
arah angin.

13

f. Lahar letusan yaitu lahar letusan terjadi pada gunung berapi yang
mempunyai danau kawah, terjadi bersamaan saat letusan. Air
bercampur material lepas gunung berapi mengalir dan bentuk
banjir lahar.

C. Tingkat Status Gunung Api:

Berikut tingkat status gunung api (level) menurut BNPB (2017):
a. Level I (normal) : Aktivitas gunung api, berdasarkan

pengamatan hasil visual, kegempaan, dan gejala vulkanik lain,
tidak memperlihatkan adanya kelainan.
b. Level II (waspada) : Peningkatan kegiatan berupa kelainan yang
tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan
dan gejala vulkanik lain.
c. Level III (siaga): visual atau pemeriksaan kawah, kegempaan dan
metode lain saling mendukung. Berdasarkan analisis, perubahan
kegiatan cenderung diikuti letusan.
d. Level IV (awas) : Tingkatan yang menunjukkan jelang letusan
utama, letusan awal mulai terjadi berupa abu atau asap.
Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akan diikuti
letusan utama.

D. Kearifan Lokal Warga di Daerah Rawan Bencana Gunung
Berapi
Menurut ilmugeografi.com (2019), setiap masyarakat yang

bermukim di sekitar lereng memahami tanda atau ciri sebelum
terjadi letusan, yaitu:
a. Temperatur meningkat secara drastis

Hal ini disebabkan oleh pengaruh hawa panas yang dikeluarkan
gunungg akibat aktivitas magma yang meningkat di lapisan
bawah kawah. Jarak antara magma dan permukaan bumi
semakin dekat, hal inilah yang menyebabkan suhu di sekitar
kawah naik.
b. Sumber mata air mengering
Panas yang dihasilkan oleh magma meningkatkan lapisan tanah
yang merupakan tempat sumber mata air. Akibatnya cadangan

14

air tanah menguap karena panas yang berasal dari magma atau
aktivitas vulkanis.
c. Sering terjadi gempa tremor
Penyebabnya karena peningkatan aktivitas magma yang
terdorong ke segala arah akibat tekanan endogen yang begitu
besar. Akibatnnya batuan tertekan sehingga menimbulkan
getaran yang dikenal sebagai gempa. Peningkatan aktivitas
kegempaan menjadi tanda penting yang selalu terjadi sebelum
erupsi gunung.
d. Banyak hewan turun gunung
Pada hutan sekitar lereng gunung terdapat banyak satwa liar
seperti kera, rusa hingga harimau. Peningkatan suhu dan
aktivitas vulkanik menyebabkan hewan tersebut merasa tidak
nyaman sehingga turun menuju kaki gunung dan masuk ke
pemukiman masyarakat.
e. Sering terdengar suara gemuruh
Hal ini disebabkan oleh aktvitas magma yang hendak keluar
melalui kawah. Biasanya suara gemuruh ini diikuti oleh gempa.

E. Kebutuhan Utama yang diperlukan Saat Bencana:

Menurut BNPB (2017) kebutuhan utama yang diperlukan
saat bencana adalah:
a. Air minum dan makanan untuk 3 – 5 hari
b. Obat – obatan
c. Lampu senter (dan ekstra baterai)
d. Radio atau alat komunikasi lain (handphone)
e. Pembersih higienis (tisu basah, hand sanitizer, perlengkapan

mandi)
f. Sejumlah uang dan dokumen penting (sertifikat kelahiran,

sertifikat tanah/rumah, ijazah, dokumen asuransi, surat
kepemilikan asset)
g. Pakaian, jaket dan sepatu.

15

F. Yang Harus Diceritakan Kepada Anak Ketika Terjadi
Bencana:
Menurut Utomo (2017) yang harus dilakukan orang tua

kepada anak ketika akan terjadi bencana adalah memberitahu
kepada anak tentang bencana, yaitu bencana dapat menyebabkan
orang terluka dan kerusakan fasilitas. Orang tua perlu membantu
anak dalam mengenal tanda peringatan bencana. Hal ini dapat
mengurangi ketakutan mereka dan sebaliknya, mereka akan tertarik
mengetahui bagaimana cara menghadapinya. Orang tua juga perlu
mengajari anak bagaimana dan kapan mereka meminta bantuan
ketika terjadi bencana. Orang tua perlu menjelaskan pada anak
ketika mengetahui apa yang terjadi untuk kemudian
mempraktikkannya, sehingga setiap anak menjadi lebih baik dan
mampu menangani keadaan darurat.

G. Pengertian Skema Jaring Laba-Laba:

Skema Jaring Laba-Laba adalah media inovasi yang didesain
khusus untuk menjelaskan mengenai manajemen tugas di keluarga
dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana, mulai persiapan dari
dalam rumah sampai menuju titik kumpul yang aman.

Sesuai dengan filosofinya, jaring laba-laba bersifat kuat dan
lengket, yang berfungsi sebagai alat penangkap mangsa, membantu
laba-laba untuk lebih mudah bergerak, berpindah dari satu tempat
ke tempat lain, melindungi lubang sarang, dan menjerat mangsa.
Dimana pada sebelumnya sebuah anggota di keluarga belum paham
akan perannya masing-masing ketika terjadi suatu bencana, maka
Skema Jaring Laba-Laba akan merangkap keluarga untuk siap
menghadapi bencana, memudahkan keluarga untuk bergerak saat
terjadi bencana, melindungi keluarga dari bencana, sehingga
meminimalisir kerugian yang mungkin terjadi ketika terjadi suatu
bencana seperti tertinnggalnya kebutuhan utama yang diperlukan
saat bencana, tertinggalnya anggota keluarga, hilangnya dokumen-
dokumen penting, dan jatuhnya korban jiwa.

16

H. Manfaat dan Tujuan Skema Jaring Laba-Laba:

1. Membantu keluarga dalam mengidentifikasi peran masing-
masing anggota keluarga saat terjadi bencana

2. Memudahkan keluarga untuk bergerak dalam menyelamatkan
diri saat bencana, anggota keluarga cepat melakukan perannya
dan cepat keluar rumah menuju titik kumpul.

3. Mengurangi kekacauan yang terjadi saat bencana, misalnya
anggota keluarga berlarian tanpa arah di dalam rumah, sehingga
membuat suasana menjadi kacau.

4. Mengurangi kerugian yang mungkin terjadi ketika terjadi suatu
bencana seperti tertinggalnya kebutuhan utama yang diperlukan
saat bencana, tertinggalnya anggota keluarga, hilangnya
dokumen-dokumen penting, dan jatuhnya korban jiwa.

I. Rincian Tugas Masing-Masing Anggota Keluarga dalam

Skema Jaring Laba-Laba:

1. Level Waspada

Pada level waspada di Skema Jaring Laba-Laba adalah berwarna

hijau yang berada pada bagian tepi luar. Menurut BNPB (2017)

level waspada adalah terjadi peningkatan kegiatan berupa

kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan

kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lain. Maka dari itu

keluarga perlu segera menyiapkan segala yang berkaitan dengan

adanya peningkatan status level gunung berapi, khususnya pada

saat level waspada. Tugas yang dapat dilakukan anggota

keluarga inti pada level waspada, yaitu:

a. Bapak : Bapak memberitahu keluarga untuk tetap berada di

rumah, menyiapkan tas siaga bencana, memantau informasi

status gunung dari pos pantau gunung berapi, memahami

jalur evakuasi dan titik kumpul yang ditentukan, dan

menyiapkan kendaraan

b. Ibu : memberi arahan kepada anak, menyiapkan tas siaga

bencana yang berisi keperluan utama keluarga yang

digunakan untuk mengungsi, dan menyiapkan baby kit yang

berisi kebutuhan khusus untuk anaknya.

17

c. Anak : Anak (> 12 tahun) mengikuti instruksi orang tua dan
membantu menyiapkan kendaraan, sedangkan anak (<12
tahun) dapat mengikuti instruksi orang tua.
Tugas ini dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga
selama gunung api menunjukkan adanya peningkatan
aktivitas dari level normal ke level waspada atau saat ada
informasi level waspada sampai level waspada berakhir.
Setiap gunung berapi memiliki karakteristik sendiri-sendiri
dalam perubahan aktivitas vulkaniknya, jadi keluarga harus
selalu memantau aktivitas gunung berapi secara berkala.
Apabila tugas sudah dilakukan semua, keluarga perlu untuk
tetap stabil dalam memantau kembali. Apabila ada
peningkatan level gunung berapi, akan dilanjutkan untuk
melakukan tugasnya di level siaga.

2. Level Siaga
Pada level siaga ditandai dengan warna kuning dan terletak

di bagian antara level waspada dan level awas di Skema Jaring
Laba-Laba. Menurut BNPB (2017) level siaga adalah visual atau
pemeriksaan kawah, kegempaan dan metode lain saling
mendukung. Berdasarkan analisis, perubahan kegiatan
cenderung diikuti letusan. Menurut Utomo (2017) keluarga perlu
mengikuti instruksi dari pemerintah yang menangani keadaan
darurat untuk mengungsi dan perlu mengunci rumah sebelum
berangkat mengungsi. Maka dari itu kegiatan yang dilakukan
oleh anggota keluarga pada saat siaga adalah kegiatan yang
menuju ke arah mengungsi, yang diawali dengan selalu
memantau aktivitas perkembangan gunung api dan mengikuti
arahan dari pemerintah yang berwewenang untuk mengungsi
yang diikuti dengan kegiatan penyelamatan anggota keluarga
dan kebutuhan penting yang telah dipersiapkan untuk
mengungsi, keluarga mengikuti anjuran dari pemerintah yang
berwewenang untuk mengungsi, dan segera menuju ke titik
kumpul yang aman bersama keluarga melalui jalur evakuasi yang

18

ditentukan. Tugas yang dapat dilakukan anggota keluarga inti

pada level siaga, yaitu:

a. Bapak : memantau informasi status gunung dari pos pantau

gunung berapi, mengikuti anjuran pemerintah untuk

mengungsi, membawa tas siaga bencana, mengunci rumah,

dan menuju titik kumpul bersama anggota keluarga.

b. Ibu : memastikan semua anggota keluarga siap

mengungsi, membawa anak keluar rumah, membawa baby

kit, dan menuju titik kumpul bersama anggota keluarga.

c. Anak : Anak (>12 tahun) mematikan listrik dan membawa

baby kit, Anak (<12 tahun) mengikuti instruksi orang tua, lalu

menuju titik kumpul bersama anggota keluarga.

Tugas ini dilakukan anggota keluarga selama gunung

berapi pada awal level siaga sampai level siaga berakhir atau

memasuki level awas. Keluarga harus selalu memantau informasi

dari aktvitas gunung dari pos pantau yang memantau informasi

aktivitas gunung, sehingga apabila sudah diberi aba-aba kurang

berapa jam atau menit lagi akan terjadi letusan, keluarga sudah

siap untuk mengungsi.

3. Level Awas
Level awas mempunyai warna merah yang terletak di bagian
tengah atau bagian inti di Skema Jaring Laba-Laba. Pada level
awas semua anggota keluarga berada di titik kumpul, jadi tugas
dari masing-masing anggota keluarga adalah berkumpul di titik
kumpul yang aman. Sebelum terjadi letusan gunung berapi
keluarga sudah berada di titik yang aman, sehingga tidak ada
korban jiwa dan barang penting yang tertinggal, karena sudah
dipersiapkan sejak level waspada dan level siaga, sehingga pada
level awas sudah berada di titik kumpul yang aman. Tugas ini
dilakukan angota keluarga saat level awas, dan berakhir kalau
sudah berada di tempat mengungsi atau titik kumpul yang aman.

19

48 cm3. BABY KIT FOR DISASTER BAG

A. Manfaat dan Tujuan Penggunaan Media Baby Kit for Disaster
1. Memudahkan ibu dalam mengemas persediaan balita.
2. Kebutuhan balita selama bencana lebih terjamin.
3. Memperkuat kesiapsiagaan ibu dalam menghadapi bencana.
4. Mudah dibawa dan ringkas.

B. Bagian-Bagian Tas Baby Kit for Disaster

30 cm
Gambar 2.1 Ukuran tas Baby Kit for Disaster

20

Gambar 2.2 Jinjingan atas Gambar 2.3 Jinjingan samping
Kantong bisa dilepas

Gambar 2.4 Ruang utama tas Baby Kit for Disaster

21

2
1

Gambar 2.5 Bagian depan dengan 2 (dua) ruang,
ukuran masing-masing 26x26x5 cm (ruang 1)
dan 48x30 cm (ruang 2)

Gambar 2.6 Bantalan ransel

22

C. Kebutuhan Bayi dan Balita

Kata kebutuhan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

artinya adalah yang dibutuhkan. Secara istilah, kebutuhan berarti

segala sesuatu yang digunakan untuk menunjang setiap aktivitas

dalam kehidupan sehari-hari dan tidak terlepas dari kehidupan

sehari-hari (Rahmani, 2017). Berbeda dengan orang dewasa yang

dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri, bayi dan balita

sangat bergantung kepada orang dewasa khususnya orangtua.

Persediaan dasar yang disiapkan untuk balita setidaknya

dapat memenuhi kebutuhan selama tiga hari, terdiri dari: (BNPB)

a. First aid kit atau P3K, berisi

- Termometer - Plester luka

- Plester demam - Kassa perban

- Paracetamol atau ibuprofen - Plester anti air

- Losion calamine, untuk ruam - Gunting kecil

dan gatal.

- CRO (Cairan Rehidrasi Oral), - Masker 3-6 buah

untuk diare

- Antiseptik cair atau swab - Sarung tangan sekali

- Salep antibiotik untuk luka pakai 3-6 buah

bakar

- Minyak kayu putih

a) Obat-obatan yang diresepkan;

b) Personal hygiene, berupa:

- Pakaian (2 pasang)

- Pampers atau celana dalam 12 biji

- Tisu basah 1 pack

- Selimut 100x70 cm

- Alas tidur dan perlak

- Hand sanitizer

- Bedak bayi

c) Persediaan, berupa:

- Air minum 1200-1500 ml/hari/anak.

- Makanan yang tahan lama dan siap makan (biskuit, roti

kering, bolu, dll).

23

- Susu formula untuk balita.
- Botol susu

D. Peran Ibu dalam Melindungi Anak saat Bencana

Peran ibu dalam melindungi anak meliputi kesiapsiagaannya
memenuhi kebutuhan anak selama bencana dengan membuat daftar
kebutuhan anak dan menyiapkannya sebelum bencana terjadi. Ibu
perlu mengetahui apa saja yang dibutuhkan anak selama fase
bencana dan dituntut memiliki sarana seperti tas baby kit for disaster
yang memudahkan ibu membawa kebutuhan-kebutuhan anak.
Kesiapsiagaan ibu merupakan salah satu faktor yang dapat
menurunkan risiko anak terkena dampak merugikan akibat bencana.
Kesiapsiagaan ibu dapat dinilai dari 4 faktor berikut, yaitu:

1. Ibu mengetahui apa saja kebutuhan anak saat bencana.
2. Ibu mampu menyiapkan kebutuhan anak saat bencana.
3. Ibu dapat menggunakan alat dan sarana dalam membawa

kebutuhan anak saat bencana, yaitu tas baby kit for disaster.
4. Ibu mampu menyimpan tas baby kit for disaster ditempat yang

mudah dijangkau.

No Indikator Ya Tidak

1. Ibu mencatat daftar kebutuhan anak dalam
menghadapi bencana.

2. Kebutuhan anak yang dicatat ibu sudah
memenuhi standar kebutuhan selama 3-5 hari
di pengungsian.

3. Ibu tampak menyiapkan kebutuhan anak
secara mandiri

4. Barang yang disiapkan sesuai dengan daftar
kebutuhan yang telah dibuat

5. Ibu dapat menggunakan tas baby kit for disaster
sesuai petunjuk yang telah dijelaskan.

6. Ibu menyimpan tas baby kit for disaster di
tempat yang mudah dijangkau

24

4. TAS DISASTER EMERGENCY

A. Pengertian Bag For Disaster
Peralatan siaga bencana adalah seperangkat alat yang

digunakan saat sebelum, sesudah dan ketika bencana terjadi,
berbagai peralatan ini memiliki fungsi tersendiri sehingga
memudahkan masyarakat melakukan upaya penyelamatan
(Jufriadi;2013:5). Bag For Disaster merupakan suatu media inovatif
berupa tas yang berfungsi sebagai tempat menyimpan barang-
barang yang dapat digunakan saat terjadi bencana, juga bermanfaat
untuk mengamankan dokumen berharga.

B. Manfaat dan Tujuan Media Bag For Disaster
Manfaat utama dari Bag For Disaster antara lain:
1. Keluarga siap dalam peyelamatan dokumen penting.
2. Keluarga siap dengan obat-obatan pribadi yang diperlukan.
3. Pemenuhan kebutuhan makan dan minum saat di pengungsian.
4. Keluarga siap dalam pemenuhan kebutuhan pakaian selama di

pengungsian.
5. Tersedianya alat penenrangan ketika listrik padam.

C. Isi Bag For Disaster
Bag For Disaster berisi barang-barang yang mungkin

diperlukan saat darurat bencana, seperti: o bat-obatan ringan, air
minum (mineral), makanan kering atau makanan yang tahan lama,
senter, korek api, lilin, selimut, pakaian ganti, perlengkapan mandi,
kantong plastik besar dll. Isi tas juga bisa ditambah dengan mainan,
buku cerita, foto keluarga dan alat-alat tulis, jika keluarga berada
dalam pengungsian untuk mengusir dapat memanfaatkan alat-alat
yang telah disimpan dalam gab for disaster, foto keluarga juga bisa
digunakan untuk mencari anggota keluarga yang hilang (Sudartama,
2008).

25

Barang berharga lain yang juga bisa disimpan dalam Bag For
Disaster adalah surat-surat penting seperti:

1. Surat tanah
2. Surat kendaraan
3. Ijazah
4. Akta kelahiran anak maupun oang tua
5. Passport
6. Buku nikah
7. Kartu keluarga

Gambar 2.1 Bag for Disaster

26

INSTRUKSI KERJA PENGGUNAAN BAG FOR DISASTER

INSTRUKSI KERJA PENGGUNAAN
BAG FOR DISASTER

Tujuan MenjadiacuanpenggunaanBagForDisaster yang baik dan
Kebijakan benar.
Petugas
Alat dan Bahan Penggunaan Bag For Disaster oleh keluarga yang
dalam penggunaannya harus dalam pengawasan
Prosedur Kepala Keluarga
Kepala Keluarga
Alat :

1. Bag For Disaster
2. Buku panduan penggunaan Bag For Disaster
Bahan :
1. Obat-obatan keluarga
2. Makanan kering atau yang tahan lama
3. Air Mineral
4. Pakaian
5. Selimut
6. Perlengkapan mandi
7. Dokumen berharga
8. Uang
9. Senter/ alat penerangan
Prosedur penggunaan Bag For Disaster adalah
sebagai berikut :
1. Buat daftar barang yang akan dimasukkan

dalam Bag For Disaster (lihat pada buku
panduan bag for disaster)
2. Siapkan barang-barang yang sudah ditulis
dalam daftar
3. Siapkan Bag For Disaster
4. Pastikan Bag For Disaster dalam kondisi kuat
dan layak

27

Referensi 5. Masukkan barang satu persatu sesuai dengan
urutan prioritas penempatan barang
a. Pada tas slot besar : barang yang ukurannya
besar, seperti: selimut, pakaian, dan
dokumen berharga yang di letakkan dalam
map.
b. Pada tas slot kecil : barang yang mudah di
jangkau/ diambil, seperti : obat-obatan,
makanan-minuman, dan uang
c. Pada slot samping : barang yang mudah di
jangkau saat hendak digunakan, seperti:
perlengkapan mandi, senter atau alat
penerangan.

6. Pastikan semua barang yang ada dalam daftar
telah masuk ke dalam tas lalu tutup tas dengan
rapat

7. Lakukan pengecekan secara berkala minimal
satu bulan sekali untuk barang yang
mempunyai masa kadaluarsa, seperti: makanan,
minuman, dan obat-obatan

8. Letakkan tas di area yang mudah untuk di
jangkau dan aman

BNPB. 2018. Panduan Kesiapsiagaan Bencana Untuk
Keluarga. Direktorat Pengurangan Risiko
Bencana Deputi Bidang Pencegahan dan
Kesiapsiagaan. Jakarta: BNPB

Sudartama. 2008. Ayo Siaga Bencana Mula. Jakarta
Selatan: Markas PMI Pusat.
Sudartama. 2008. Ayo Siaga Bencana Wira. Jakarta
Selatan: Markas PMI Pusat.

28

5. FLEKSIBEL SPALK

29

Flexible Spalk adalah suatu alat yang didesain khusus untuk
imobilisasi tulang yang cedera dengan tujuan mencegah komplikasi
dan kerusakan jaringan lebih lanjut. Media ini akan lebih
memudahkan penolong dalam pertolongan pertama membantu
korban cedera yang harus ditangani dengan segera untuk mencegah
terjadinya komplikasi dan kerusakan jaringan di daerah cedera yang
akan membahayakan pasien.

Lubang untuk
mengatur ukuran
lokasi fraktur

Pengunci

Bantalan

Verban/elastic
bandage

Gambar 2.11 Flexible Spalk

Tujuan Pembuatan Flexible Spalk
a. Tidak ada pergerakan pada daerah tulang yang patah
b. Mencegah luka tambahan pada patah tulang.
c. Memberi rasa nyaman.
d. Mengistirahatkan daerah patah tulang (imobilisasi).
e. Lebih ringkas dibawa
f. Kuat dan tidak mudah patah

30

Prosedur Pemasangan Flexible Spalk
1) Sesuaikan ukuran bidai dengan panjang tangan atau kaki

(melewati dua sendi).
2) Periksa fungsi sensorik (peraba), motorik (pergerakan) dan nadi

diujung bagian yang cedera.
3) Letakkan dua belah bidai di kanan dan kiri bagian yang cedera.
4) Balut bidai dengan verban

31

6. BALUT TEKAN BLEEDING DIRECT PRESSURE

Media Wound dressing direct pressure merupakan media inovasi yang
didesain untuk menangani luka yang menyebabkan pendarahan
pada daerah ektremitas bawah. Dimana setiap ada luka yang
menyebabkan pendarah pada masyarakat umum hanya dilakukan
penangan seperti menekan luka dengan kain atau kassa. Media ini
didesain untuk mempermudah dan mempercepat penanganan luka
yang menyebab pendarahan.
Manfaat media wound dressing direct pressure :
1. Sebagai media masyarakat saat mengalami luka yang

menyebabkan pendarahan
2. Mempermudah dan mempercepat penanganan luka yang

menyebabkan pendarahan
3. Sebagai bahan pengetahuan masyrakat penanganan luka

menyebabkan pendarahan dengan media wound dressing direct
pressure

32

INSTRUKSI KERJA PENGGUNAAN
WOUND DRESSING DIRECT PRESSURE

INSTRUKSI KERJA PENGGUNAAN
WOUND DRESSING DIRECT PRESSURE

Tujuan Sebagai acuan pengunaan wound dressing direct
Kebijakan pressure yang baik dan benar

Petugas Penggunaan wound dressing direct pressure pada
Alat dan pasien/korban trauma pra-rumah sakit yang
Bahan mengalami luka yang berakibat pendarahan pada
bagian ekstremitas bawah.
Prosedur Petugas penolong, relawan bencana, kader
KELTANA
Alat :
1. Tas Wound Dressing Direct Pressure yang

berisi:
a. Wound Dressing Direct Pressure
b. Kassa yang diberi perekat
2. Lembar instruksi kerja penggunaan Wound
Dressing Direct Pressure
Prosedur penggunaan Wound Dressing Direct
Pressure
adalah sebagai berikut :
1. Keluarkan Wound dressing direct pressure dari
tas

33

2. Buka Wound dressing direct pressure, Ambil
kassa yang sudah diberi perekat.

3. Lalu tempelkan pada Wound dressing direct
pressure

4. Tempelkan dan tekan pada luka yang terdapat
pendarahan.

5. Lalu kaitkan 3 kancing sampai bunyi “klik”
kemudian serut tali putih. Jangan terlalu
longgar dan terlalu ketat.

34

6. Wound dressing direct pressure siap
menghentikan pendarahan.

Pengertian POLTEKKES KEMENKES MALANG
Indikasi
Tujuan STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR

SIMULASI PENDARAHAN MENGGUNAKAN
WOUND DRESSING DIRECT PRESSURE

Suatu kegiatan yang dilakukan untuk penanganan
pendarahan.
1.Pasien yang memiliki luka terbuka pada bagian

ekstremitas
1.Membantu pasien dalam menghentikan dan

mengurangi pendarahan akibat luka

Persiapan Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
pasien Lingkungan yang tenang
Persiapan
lingkungan

35

Persiapan 1.Alat peraga pendarahan (1 set)
alat a. Infus NaCl 0,9% diberi pewarna merah
b. Selang infus
Pelaksanaan c. Pengalas

2.Wound Dressing Direct Pressure (1 set)
a. Handrub
b. Handscone steril
c. Kassa stering yang terdapat perekat
d. Elastis banded yang terdapat pengait

1. Infus yang sudah diberi pewarna digantung
pada standar infus, pasang pengalas, dan infus
dijalankan dengan tetesan 20 tpm

2. Mencuci tangan
3. Keluarkan Wound dressing direct pressure dari

tas
4. Meninggikan ekstremitas bawah yang terluka
5. Memakai handscone steril
6. Ambil kassa yang sudah diberi perekat.
7. Tempelkan kassa pada elastis banded yang

terdapat perekat dan tekan pada luka yang
terdapat pendarahan
8. Lalu kaitkan 3 kancing sampai bunyi “klik”
kemudian serut tali putih. Jangan terlalu
longgar dan terlalu ketat.
9. Pengait yang tersisa direkatkan pada elastis
banded.
10.Menanyakan respon pasien
11.Melepas sarung tangan dan mencuci tangan

36

7. TAS PENYIMPAN BARANG PASIEN DI UGD

Gambaran Nyata Bag Pack
a) Bagian depan

b) Bagian belakang

37

c) Bagian samping depan
d) Bagian kanan/kiri

38

e) Bagian atas
f) Bagian dalam

39

STANDART PROSEDUR OPERASIONAL
CARA KERJA BAG PACK

Pengertian Sebuah tas yang bersekat untuk mengamankan
barang berharga pasien yang dilengkapi dengan
Indikasi identitas pasien serta pengunci
Pasien gawat darurat atau tidak sadar yang perlu
Manfaat diamankan barang berharganya
Untuk mengamankan barang berharga dengan
Persiapan pasien gawat darurat atau tidak sadar di IGD
tempat dan berupa, handphone, dompet, kunci, kacamata,
alat arloji/jam tangan
Persiapan 1.Tempat yang aman
Pasien 2.Bag Pack
Persiapan
Lingkungan 1.Mengatur posisi

Pelaksanaan 1.Memasang sketsel
2.Menciptakan lingkungan yang aman dan

nyaman
3.Komunikasi efektif terhadap keluarga klien
1.Buka resleting tas bagian depan
2.Kedua masukkan barang pasien yang ingin

disimpan
3.Setelah itu tata barang tersebut berdasarkan

kategori macam-macam barang ke dalam sekat
yang sudah ada
4.Bag Pack tersebut dapat menyimpan barang
seperti handphone, perhiasan, arloji, dompet,
kunci, atau barang lainnya yang melekat pada
pasien yang berukuran kecil
5.Kantong 1 dapat menyimpan benda berupa
handphone

40

Sikap 6.Kantong 2 dapat menyimpan benda berupa
Evaluasi kunci, kacamata, dll
Dokumentasi
7.Kantong 4 dapat menyimpan benda seperti
dompet dan perhiasan

8.Jika barang berharga tersebut telah dimasukan
berdasarkan sekat, tutup resleting bagian atas

9.Tahap selanjutnya tutup resleting bagian
samping

10.Lipat tas tersebut menjadi dua hingga sisinya
menyatu dan menjadi persegi

11.Terakhir berikan identitas pasien nama, alamat,
tanggal lahir, dan tanggal pengamanan lalu
masukkan label tersebut didalam tempat yang telah
tersedia

Sikap Selama Pelaksanaan :
Hati-hati, teliti, ramah, sopan, dan responsif terhadap
reaksi pasien
1.Pastikan barang berharga pasien telah masuk dalam

Bag Pack
2.Pastikan resleting dan gembok telah menutup
3.Pastikan identitas pasien benar sesuai yang ada
1.Catat tindakan yang telah dilakukann, tanggal dan

jam pelaksanaan
2.Catat identitas pasien yang telah diamankan barang

berharga tersebut menggunakan Bag Pack

41

PROSEDUR :
BERITA ACARA SERAH TERIMA BARANG BERHARGA
PASIEN

Kami yang bertandatangan dibawah ini, pada hari ini............
Tanggal............ Bulan.............Tahun................

Nama :..........................................

Jabatan :..........................................

No. HP :..........................................

Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA

Nama :..........................................

Alamat :..........................................

No.HP :..........................................

Hubungan dengan pasien :..................................

Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA

PIHAK PERTAMA menyerahkan barang kepada PIHAK KEDUA,
dan PIHAK KEDUA menyatakan telah menerima barang dari
PIHAK PERTAMA berupa daftar barang yang terlampir

No. Nama Barang Jumlah Keadaan
1.
2.
3.
4.
5.

Demikian berita acara serah terima barang berharga milik pasien ini
diperbuat oleh pihak kedua belah pihak, adapun keterangan barang
(jumlah & keadaan) telah terlampir, sejak penandatanganan berita
acara ini, maka barang tersebut telah menjadi tanggung jawab
PIHAK KEDUA, menjaga/merawat dengan baik.

Yang menyerahkan : Yang menerima :
PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA

*bermaterai*

(.................................) (.................................)

42

STANDART PROSEDUR OPERASIONAL
PENYERAHAN BARANG BERHARGA PADA
KELUARGA ATAU KERABAT DEKAT PASIEN

Pengertian Prosedur penyerahan barang berharga pada
keluarga atau kerabat dekat pasien dengan
Indikasi menggunakan berita acara
Barang pasien yang telah diamankan menggunakan
Manfaat “Bag Pack” dengan keluarga yang sudah datang
1. Sebagai bukti tertulis dalam serah terima barang
Persiapan
tempat dan berharga pasien dengan gawat darurat dan
penurunan kesadaran
alat 2. Mengurangi komplain dari pasien atau keluarga
1. Tempat yang nyaman dan aman
Persiapan 2. Lembar Serah terima barang berharga pada
Keluarga keluarga
3. Alat tulis
Persiapan 1. Memberikan penjelasan tentang prosedur dan
lingkungan manfaat yang diberikan dalam penyerahan
Pelaksanaan barang menggunakan berita acara
1. Menyiapkan lingkungan yang aman dan
nyaman
1. Jelaskan isi dari berita acara
2. Anjurkan keluarga atau kerabat terdekat klien
untuk mengisi biodata pada berita acara
3. Selanjutnya isi biodata pihak pertama/perawat
4. Tuliskan isi barang, jumlah, dan keaadaan barang
sesuai yang ada atau yang telah disimpan
5. Ambil barang berharga yang telah disimpan
didalam “Bag Pack”
6. Konfirmasi kebenaran identitas pasien sesuai
dengan identitas yang telah diberikan pada “Bag
Pack”

43


Click to View FlipBook Version