The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

INOVASI PERAWAT DALAM KEGAWATDARURATAN DAN KEBENCANAAN (EMERGENCY AND DISASTER NURSING)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-10-26 13:44:08

NURSING CREATIVITY

INOVASI PERAWAT DALAM KEGAWATDARURATAN DAN KEBENCANAAN (EMERGENCY AND DISASTER NURSING)

7. Buka “Bag Pack” keluarkan barang berharga

tersebut

8. Pihak pertama menandatangani kolom yang

tersedia

9. Pihak kedua menandatangani berita acara diatas

materai pada kolom yang telah tersedia

10. Konfirmasi kembali isi barang, jumlah, dan

keaadaan barang yang telah diberikan

11. Berikan barang tersebut kepada keluarga atau

kerabat terdekat pasien

Sikap Sikap Selama Pelaksanaan :

Hati-hati, teliti, ramah, sopan

Evaluasi 1. Pastikan berita acara telah terisi identitas

penerima/pihak 2, tanda tangan bermaterai

2. Pastikan jumlah barang yang diberikan dan yang

terlampir di berita acara sesuai

3. Pastikan nama identitas pasien sesuai kepunyaan

dan klarifikasi dari keluarga

Dokumentasi 1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal, dan

jam serah terima barang

44


OPERAN/TIMBANG TERIMA BARANG BERHARGA PASIEN
GAWAT DARURAT DAN PENURUNAN KESADARAN DI IGD

Nama Pasien :
Usia/Tanggal Lahir :
Alamat :
No.RM :

No. Tanggal Nama Jumlah Keadaan Keterangan TTD TTD

/Jam Barang pelaksana penerima

1.

2.

3.

Keterangan :
*tanda tangan pada kolom yang tersedia*

Barang telah Barang belum
diserahkan diserahkan

45


STANDART PROSEDUR OPERASIONAL
OPERAN BARANG BERHARGA PASIEN GADAR

DAN PENURUNAN KESADARAN

Pengertian Dokumen yang berkaitan dengan prosedur yang
dilakukan secara tersusun dan terencana yang
Indikasi bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang paling
Manfaat efektif dari para pelaksana
Setiap pergantian shift antar petugas kesehtan
Persiapan Mencegah tumpang tindih dokumen agar tidak
tempat dan mengganggu proses pengamanan barang
1. Tempat yang aman dan nyaman
alat 2. Buku operan
Persiapan 3. Alat tulis
pelaksana 1. Mempersiapkan lingkungan yg tenang serta
Pelaksanaan
mempersiapkan petugas penerima operan
1. Petugas pelaksana jaga menjelang akhir shift

menyiapkan bahan atau buku operan
2. Petugas pelaksana mengoperkan Bag Pack, mulai

dari identitas pasien, isi barang berharga pasien
yang disimpan, dan menyampaikan keterangan
bahwa barang telah diberikan kepada keluarga atau
belum
3. Penerima operan mengkontrol hasil yang dioperkan
oleh petugas pelaksana
4. Petugas pelaksana dan penerima operan secara
bersama-sama melakukan serah terima lembar
kontrol
5. Penerima operan mencatat hasil operan yang telah
disampaikan petugas pelaksana
6. Apabila barang telah diserahkan kepada keluarga
atau kerabat terdekat pasien petugas pelaksana
cukup mengoperkan dan menyampaikan kepada
penerima operan “bahwa barang telah diserahkan”

46


Sikap dan memberikan keterangan di lembar operan yang
Evaluasi telah tersedia
7. Petugas penerima operan menerima delegasi tugas
Dokumentasi dan tanggung jawab dari petugas pelaksana
Sikap selama pelaksanaan :
Hati-hati, teliti, ramah, sopan
1. Pastikan operan yang dilakukan jelas
2. Pastikan hasil operan telah dicatat dan sesuai
dengan yang ada
1. Catat operan yang telah disampaikan

a) Cover Buku Operan b) Cover Buku Panduan Bag Pack

c) Bag Pack Card

47


8. START TRIAGE ALGORITME MEDIA

Soal menyocokkan alur metode START triage
1. Ketika “Korban bisa berjalan” apa tahap selanjutnya dalam
menentukan alur metode START Triage (...)
2. Ketika “Korban tidak bisa berjalan” apa tahap selanjutnya
dalam menentukan alur metode START Triage (...)
3. Ketika “Respirasi ada” apa tahap selanjutnya dalam
menentukan alur metode START Triage (...)
4. Ketika “Nadi radialis tidak teraba” apa tahap selanjutnya
dalam menentukan alur metode START Triage (...)
A. Segera
B. Minor
C. Cek pernafasan
D. Respirasi kurang dari 30x/ menit dan Respirasi lebih dari
30x/ menit

48


Kunci Jawaban Alur Metode START Triage
1. (B) Minor
2. (C) Cek pernafasan
3. (D) Respirasi kurang dari 30x/ menit dan Respirasi lebih dari
30x/ menit
4. (A) Segera
5. (A) Segera
6. (B) Meninggal
7. (D) Perfusi
8. (C) Kontrol perdarahan
9. (B) Reposisi
10. (D)Bernafas ada dan bernafas tidak ada
11. (C) Segera
12. (A) Status mental
13. (A) Status mental
14. (D) Tinggalkan
15. (B) Cek airway
16. (C) Segera
17. (A) Segera
18. (E) Respirasi ada dan respirasi tidak ada
19. (D) Bernafas tidak ada
20. (B) Tempatkan dilokasi tertentu
21. (C) Segera lakukan re-triage

49


Kisi-Kisi Soal Alur Metode START Triage
1. Korban bisa berjalan masuk dalam tahap “Minor”
2. Korban tidak bisa berjalan masuk dalam tahap “Cek
pernafasan”
3. Respirasi ada masuk dalam tahap “Respirasi kurang dari 30x/
menit dan Respirasi lebih dari 30x/ menit”
4. Nadi radialis tidak teraba masuk dalam tahap “Segera”
5. Respirasi ada setelah respirasi lebih dari 30x/ menit masuk
dalam tahap “Segera”
6. Pernafasan tidak ada setelah reposisi masuk dalam tahap
“Meninggal”
7. Respirasi ada setelah respirasi kurang dari 30x/ menit masuk
dalam tahap “Perfusi”
8. CRT lebih dari 2 detik masuk dalam tahap “Kontrol
perdarahan”
9. Pernafasan tidak ada masuk dalam tahap “Reposisi”
10. Nadi radialis teraba tmasuk dalam tahap “Status mental”
11. Pernafasan ada masuk dalam tahap “Segera”
12. Cek airway” masuk dalam tahap “Bernafas ada dan Bernafas
tidak ada”
13. CRT kurang 2 detik masuk dalam tahap “Status mental”
14. Status mental mengikuti perintah masuk dalam tahap
“Tinggalkan”
15. Respirasi tidak ada masuk dalam tahap “Cek airway”
16. Status mental tidak mengikuti perintah masuk dalam tahap
“Segera”
17. Kontrol perdarahan masuk dalam tahap “Segera”
18. Cek pernafasan masuk dalam tahap “Respirasi ada dan
Respirasi tidak ada”
19. Reposisi masuk dalam tahap “Bernafas tidak ada”
20. Minor masuk dalam tahap “Tempatkan dilokasi tertentu”
21. Tempatkan dilokasi tertentu masuk dalam tahap “Segera
lakukan Re-Triage”

50


9. PETA CONTINGENCY PLAN KELURAHAN
TANGGUH BENCANA

Pengertian Media 3 Dimensi Contingency Plan

Gambar 1 Media 3 Dimensi Contingency Plan

51


Media 3 dimensi contingency plan adalah media inovasi yang
didesain khusus untuk menjelaskan mengenai manajemen evakuasi
dalam pendidikan kesiapsiagaan bencana, mulai dari jalaur evakuasi
dan dimana titik kumpul yang aman. Dimana biasanya masyarakat
lebih sering menggunakan media peta buku yang terkadang
membingungkan pembaca. Media ini akan mempermudah sebagai
media pendidikan dalam kesiapsiagaan saat atau sebelum
mengahadapi bencana. Di dalam Media 3 Dimensi Contingency Plan
akan menjelaskan bagaimana masyarakat menentukan langkah
dimana jalur evakuasi dan tempat berkumpul yang aman untuk
dijadikan lokasi pengungsian. Media ini juga akan dilengkapi
dengan data Vulnerability, data penyakit kronis, siapa kader
Keltana, nama daerah di setiap RW untuk mempermudah dalam
mengambil langkah yang tepat saat bencana tersebuat akan atau
sebelum terjadi.

PERTANYAAN :
1. Jelaskan apakah saudara mengetahui apa itu Media 3 Dimensi

Contingency Plan dalam Pendidikan Kesiapsiagaan Bencana?
2. Apakah saudara pernah mengikuti Pendidikan Kesiapsiagaan

Bencana? Jika YA coba jelaskan pemahaman saudara!
3. Jelaskan bagaimana arah jalur evakuasi di kelurahan Gedog?
4. Jelaskan dimana letak titik kumpul yang aman untuk dijadikan

lokasi pengungsian di kelurahan Gedog?
5. Sebutkan jumlah kelompok rentan meliputi, ibu hamil, lansia,

gangguan jiwa, balita dan anak di kelurahan Gedog? Sebutkan
apa nama daerah/perkampungan disetiap RW di kelurahan
Gedog?
6. Sebutkan jumlah kelompok yang mempunyai penyakit kronis
meliputi, diabetes militus, hipertensi, strok di kelurahan Gedog?
7. Sebutkan siapa saja kader KELTANA di setiap RW?

52


PROSES PEMBUATAN MEDIA 3 DIMENSI CONTINGENCY
PLAN
Langkah 1 (Disain Sketsa)

Alat dan bahan
1. Triplek
2. Amplas
3. Pensil
4. Penghapus
Cara pembuatan
- Perhalus triplek menggunakan amplas
- Gambar sketsa peta pada triplek yang sudah tersedia

Langkah 2 (Cara Pembuatan Rumah-Rumahan)
Alat dan bahan
1. Kardus jajan bekas (tipis)
2. Cat acryllic
3. Pensil
4. Penggaris
5. Gunting
6. Lem
Cara pembuatan
- Buat pola rumah-rumahan pada kadus lalu gunting
- Rekatkan dengan menggunakan lem sampai berbentuk rumah
- Percantik rumah-rumahan dengan menggunakan cat yang
sudah tersedia
- Jemur rumah-rumahan hingga kering

Langkah 3 (Cara Pembuatan Jalur Evakuasi Dan Titik Kumpul)
Alat dan bahan
1. Stik es cream
2. Kardus bekas (tebal)
3. Stiker jalur evakuasi dan titik kumpul
4. Cat acryllic
5. Cutter
6. Pensil

53


7. Penggaris
8. Lem
Cara pembuatan
- Gambar pola pada kardus sesuai ukuran stiker jalur evakuasi

dan titik kumpul yang sudah dicetak
- Cutter pada pola yang sudah dibuat
- Rekatkan pola yang sudah terpotong dengan stik es crem
- Cat pada bagian yang tidak ditempel stiker
- Jemur sampai kering
- Tempelkan stiker yang sudah terpotong

Langkah 4 (Cara Pembuatan Bubur Kertas)
Alat dan bahan
1. Koran bekas
2. Gunting
3. Tepung tapioka
4. Ember
5. Air
6. Lem kayu
Cara pembuatan
- Gunting koran kecil-kecil taruh dalam ember
- Tambahkan air hingga koran benar-benar terendam
semuanya, sambil diaduk
- Tunggu hingga semalaman agar koran benar-benar hancur
- Saring korang yang sudah hancur, tetapi sedikit sisakan airnya
- Tambahkan koran yang sudah disaring dengan tepung tapioka
dan lem, lalu aduk hingga rata
- Cetak/bentuk koran sesuai keinginan
- Jemur hingga kering

Langkah 5 (Penyatuan Semua Bahan)
Alat dan bahan
1. Bahan dari langkah 1-4
2. Stiker keterangan
3. Pohon-pohonan

54


4. Cat poster
5. Cat minyak
6. Hiasan pinggiran buat triplek
Cara pembuatan
- Sebelum koran yang dikeringkan tadi benar-benar kering,

pasang rumah-rumahan, jalur evakuasi, titik kumpul, pohon-
pohonan
- Tunggu hingga benar-benar kering semua
- Cat dan hias media tersebut sekreatif mungkin
- Jemur hingga cat mengering sempurna
- Tempelkan stiker keterangan pada media
- Pasang pinggiran tripek untuk mempercantik media

Gambar 2 Cara membuat media menggunakan bubur kertas

55


Gambar 3 Mengecat Media 3 Dimensi Contingency Plan

56


Gambar 4 Memberi keterangan pada Media 3 Dimensi Contingency
Plan

57


SELIMUT TANDU
SELIMUT STRETCHER BLANKET FOR EMERGENCY
SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN HIPOTERMIA PADA

KORBAN TRAUMA

58


Konsep Stretcher Blanket For Emergency

Stretcher Blanket For Emergency merupakan suatu alternatif
pilihan untuk mencegah hipotermia dengan metode penghangatan
passive external rewarming. Media ini berupa selimut yang di
modifikasi untuk korban yang akan ditransportasi menggunakan
tandu dari tempat kejadian menuju ambulance atau rumah sakit.
Stretcher Blanket For Emergency bertujuan untuk menjaga suhu
tubuh pasien tetap optimal dan mencegah resiko hipotermi selama
proses transportasi korban.

Stretcher Blanket ini di rancang dalam bentuk selimut hangat
yang terdiri dari 3 lapis bahan, lapisan pertama kain parasut, lapisan
kedua dakron dan lapisan ketiga kain katun. Kain parasut sebagai
lapisan pertama bertujuan agar pasien dapat terlindungi dari air saat
cuaca hujan.

Tujuan Penggunaan Stretcher Blanket For Emergency

1) Sebagai penghangat pasien ketika pasien di evakuasi ke tandu
2) Menjaga suhu tubuh pasien agar tidak terpapar suhu lingkungan

luar selama proses transportasi pasien dari tempat kejadian
menuju pusat kesehatan terdekat
3) Sebagai alternatif pencegahan hipotermia pada pasien yang
mengalami trauma
4) Melindungi pasien atau korban dari air hujan ketika cuaca sedang
hujan
5) Sebagai penghangat yang aman dan tidak mudah jatuh ketika
dipakai saat cuaca berangin

Bahan Yang Digunakan

Selimut Stretcher Blanket For Emergency dibuat degan 3 jenis
bahan kain yaitu :
a) Kain Parasut

Kain parasut berasal dari kata Perancis “para” (melindungi) dan
“chute” (jatuh) yang berarti perlindungan waktu jatuh. Kain ini
terbuat dari polyester dan nilon. Kain ini memiliki sifat anti air,

59


kedap udara dan tahan angin, sehingga kain ini bukan hanya
melindungi dari air, kain ini bahkan bisa menghangatkan karna
sifatnya yang kedap udara.
b) Kain Dakron
Dakron merupakan polimer yang terbuat dari Etilena glikol serta
Dimetil terflalat. Dakron memiliki fungsi sebagai bahan sandang,
untuk mengisi bantal, boneka dan juga berfungsi sebagai kain
pelapis. Kelebihan dakron yaitu apabila bahan dakron dipres
hingga mengecil, maka sesudah dilepas atau dibuka kembali akan
mengembang seperti semula. Dakron kuat, lentur dan praktis,
jadi ketika produk yang berbahan dakron dipres akan
mengeluarkan angin yang terdapat diantara isi dakron, proses
inilah yang membuat produk berbahan dakron dapat
mengembang kembali dan mengecil sehingga tidak memakan
tempat.
c) Kain katun
Kain serat kapas atau sering disebut kain katun, dahulu sudah
dikenal kira-kira 5000 tahun SM. Menurut para ahli, India adalah
Negara tertua yang meggunakan kapas. Kain katun memilik sifat
yang kuat, tahan panas dan menyerap air. Selain itu kain katun
adalah yang paling murah dibandingkan dengan bahan serat
alami lainnya.

a. Perancangan Desain Produk
1) Spesifikasi produk yang dikembangkan
Produk yang dikembangkan pada penelitian ini adalah
pengembangan produk selimut Stretcher Blanket For
Emergency sebagai upaya pencegahan hipotermia pada
korban trauma. Produk ini berupa selimut yang dimodifikasi
untuk korban yang akan ditransportasi menggunakan tandu
dari tempat kejadian menuju ambulance atau rumah sakit.
Stretcher Blanket For Emergency bertujuan untuk menjaga
suhu tubuh pasien tetap optimal serta mencegah resiko
hipotermia selama proses transportasi korban tersebut.
Stretcher Blanket ini dirancang dalam bentuk selimut hangat

60


yang terdiri dari 3 lapis bahan, lapisan pertama kain parasut,
lapisan kedua dakron dan lapisan ketiga kain katun. Kain
parasut sebagai lapisan pertama bertujuan agar pasien dapat
terlindungi dari air saat cuaca hujan, lapisan kedua dakron
agar selimut mudah disimpan dan tidak memakan tempat
yang banyak saat menyimpannya, lapisan ketiga kain katun
berfungsi untuk menghangatkan tubuh penggunanya secara
optimal.
2) Bahan yang digunakan
Pada produk yang dikembangkan ini menggunakan 3 jenis
kain yaitu kain parasut, kain dakron dan kain katun. kain
parasut yang memiliki sifat anti air dan tahan air sehingga
selimut diharapkan mampu melindungi tubuh pasien ketika
cuaca sedang hujan dan tidak memperburuk keadaan pasien
yang kedinginan. Kain dakron dapat mengembang dan
mengecil kembali sehingga tidak memakan tempat ketika
disimpan, selain itu produk berbahan dakron ringan sehingga
tidak berat ketika dibawa. Sedangkan kain katun dapat
mengunci panas secara optimal sehingga dapan menjaga suhu
tubuh korban secara optimal. Selain ketiga bahan kain tadi ada
beberapa bahan yang digunakan sebagai pelengkap dalam
pembuatan produk ini antara lain, karet kain, kretekan,
resleting dan pengait.
3) Desain produk
Desain produk pada produk ini dibuat menarik dan sesuai
fungsinya. Desain yang dibuat pada produk ini adalah sebagai
berikut :

61


Gambar 4.1 Desain Stretcher Blanket

Keterangan :
1) Pada bagian kepala, selimut dapat dibuka maupun ditutup,

terdapat resleting yang dapat digunakan untuk membuka
dan menutup selimut, fungsinya ketika hujan selimut
tersebut dapat ditutup untuk melindungi kepala korban
dari air hujan, selain itu dapat melindungi kepala korban
dari debu.
2) Pada bagian pinggir dipasang karet. Fungsinya untuk
memanjangkan dan memendekkan selimut sesuai
ukurannya
3) Terdapat 3 lapisan kain pada selimut, lapisan pertama yang
berada paling luar yaitu kain parasut, lapisan kedua yaitu

62


kain dakron dan lapisan yang terakhir yaitu kain katun,
semua kain tersebut dijahit menyatu.
4) Pada bagian ujung kiri dan kanan selimut diberi pengait.
Pengait dipasang pada tandu untuk mencegah selimut
bergeser dan jatuh.
b. Penyusunan Instrument Penilaian Produk
Penyusunan instrument penilaian produk berupa penilaian
kelayakan desain produk dan kepraktisan dalam penggunaan.
Berikut pemaparan masing-masing instrument penilaian produk:
1) Lembar penilain desain produk
Instrument pada lembar penilaian desain ini sesuai dengan
unsur dan prinsip desain menurut Rusanti & Alfiah (2017)
unsur desain meliputi garis, warna, tekstur dan bentuk,
sedangkan prinsip desain meliputi aksen atau pusat perhatian
dan proporsi atau peralihan ukuran. Berikut merupakan
rincian aspek penilaian dan banyak butir pernyataan dalam
lembar desain produk

Tabel 4.1 Rincian Aspek Penilaian Validator Ahli

Aspek yang dinilai Banyak butir pertanyaan

Unsur desain 3

Prinsip desain 5

Jumlah 8

Lembar penilaian desain produk oleh ahli media dapat dilihat
pada lampiran.

2) Lembar penilaian kepraktisan dalam penggunaan
Lembar penilaian kepraktisan dalam pengguaan disesuaikan
dengan unsur ergonomis. Menurut Harrington (2005) Unsur
ergonomi merupakan ilmu dan pengaturan situasi kerja demi
keuntungan dua belah pihak. Ilmu ini berupaya untuk
menyerasikan benda dengan pengguna, tujuan ergonomis
adalah menyediakan benda yang memuaskan atau sesuai

63


kebutuhan pengguna tanpa mengalami gangguan fisik dan
mental. Unsur ergonomis meliputi bebarapa aspek yaitu aspek
kenyamanan, aspek kepraktisan dan aspek kemudahan.
Berikut merupakan rincian aspek penilaian dan banyak butir
pernyataan dalam lembar penilaian kepraktisan dalam
penggunaan.

Tabel 4.2 Rincian Aspek Penilaian Responden

Aspek yang dinilai Banyak butir pertanyaan

Kenyamanan 3
Kepraktisan 3
Kemudahan 2
8
Jumlah

Lembar penilaian kepraktisan dalam penggunaan oleh kader
KELTANA dapat dilihat pada lampiran.

Pengembangan (Development)
Tahap ketiga dari model pengembangan ADDIE adalah

tahap pengembangan. Tahap ini bertujuan untuk mengembangkan
produk yang telah dirancang.
a. Pembuatan Produk Awal

Langkah pembuatan produk sebagai berikut :
1. Mengukur besar dan panjang tandu, untuk menentukan

ukuran selimut yang akan dibuat. Dalam pengukuran ini
digunakan tandu berukuran standar.

64


Gambar 4.1 Mengukur Tandu
2. Membuat desain selimut yang akan dibuat sesuai dengan

desain yang sudah dirancang pada tahap design
3. Membuat pola pada kain sesuai dengan desain dan ukuran

selimut yang akan dibuat

Gambar 4.2 Membuat Pola
4. Menyatukan kain yang sudah dipola, lapisan kain yang paling

luar atau lapisan pertama yaitu kain parasut, lapisan isi atau
lapisan kedua yaitu kain dakron, lapisan kain yang paling
dalam atau lapisan yang ketiga yaitu kain katun. Ketiga kain
tersebut disatukan dan dijahit.

65


Kain parasut
Kain dakron
Kain katun
Gambar 4.3 Menyatukan Kain
5. Selanjutnya memasang bagian pinggir kain dengan karet lalu
dijahit. Bagian pingir dipasang karet bertujuan utuk
memanjangkan dan memendekkan selimut

Gambar 4.4 Memasang Karet
6. Selanjutnya membuat pola pada bagian kepala yang sudah

didesain dan memasang resleting pada bagian pola kepala
yang sudah didesain

66


Gambar 4.5 Memasang Resleting Kepala
7. Memasang perekat pada bagian kepala. Bagian kepala dapat

dibuka dan ditutup sesuai fungsi

Gambar 4.6 Memasang Perekat
8. Selanjutnya memasang pengait pada kedua ujung selimut

bagian atas dan bawah, pengait bertujuan agar selimut tidak
mudah jatuh

67


Gambar 4.7 Memasang Pengait
9. Selimut siap digunakan

Gambar 4.8 Stretcher Blanket For Emergeny

68


Anam, ( 2016).Pengaruh Model Pembelajaran First Aid Training

Metode Direct Instruction Dan Model Life Saving Student

Simulation Terhadap Kemampuan Guru TK dalam

penanganan cedera anak di sekolah TK, Polkesma.Anies.

(2018). Manajemen Bencana Solusi Untuk Mencegah Dan

Mengolah Bencana. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Bakonas PB. (2007). Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya

Mitigasinya di Indonesia. Edisi II.

Bakonas PB. (2007). Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya

Mitigasinya di Indonesia. Edisi II.

BNPB. (2011). Kurikulum Pelatihan Dasar Relawan Penanggulangan

Bencana

BNPB. (2011). Peraturan Kepala badan nasional Penanggulangan

Bencana Nomor 17 Tahun 2011 tentang

BPBD Blitar (2016).Laporan Kegiatan BPBD. Kesekretariatan BPBD.

Danu, Sulanto Saleh. 2007. Obat untuk Pertolongan Pertama dan

Pengelolaan Obat dalam Rumah Tangga.

Dirmanto. 2007. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Rumah

Tangga.

District, S. U. (2004). Guidelines for School First Aid Procedures (Vol.

Revised 7). San Fransisco: School Health Program

Departement.

Institute, A. S. (2008). Basic First Aid for the Community and workplace.

usa: American Safety and Health Instutue.

Harefa, A. (2001). Sukese Tanpa Gelar:Membangkitkan Roh Keberhasilan

Dalam Diri Anda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hidayat, A. A. (2008). Riset Keperawatan Dan Teknik Penullisan Ilmiah

Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

I Putu Suiraoka & I Dewa Nyoman Supariasa. (2012). Media

Pendidikan Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

69


Khambali, I. (2017). Manajemen Penanggulangan Bencana. Yogyakarta:
Andi (Anggota IKAPI).

Nurjanah Dkk. (2013). Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta, Cv.
Notoatmojo Soekidjo 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta.

PT Rieneka cipta.
Nursalam, 2014. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan, Jakarta, Salemba Medika
Pamungkas, R. A., & Usman, A. M. (2017). Metodologi Riset
Keperawatan. Jakarta: CV. Trans Info Media.
Pedoman Relawan Penanggulangan BencanaBNPB. (2012).

Peraturan Kepala badan Nasional penanggulangan Bencana
Nomor 03 Tahun 2012 tentang Panduan Penilaian Kapasitas
Daerah Dalam penanggulangan Bencana.
Peraturan Kepala BNPB nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman
Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Setiadi. (2013). Konsep Dan Praktik Penulisan Risek Keperawatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Ulum, M. C. (2014). Manajemen Bencana: Suatu Pengantar Pendekatan
Proaktif. Malang: Universitas Brawijaya Press (UB Pres).
Locsin, R. C. (2017). Technological Competency As Caring In Nursing: A
Model

70


Click to View FlipBook Version