Shinta Kristianti 42 DAFTAR PUSTAKA Ardiansyah, S. et al. 2022. ‘Gizi dalam Kesehatan Reproduksi - Google Books’, in Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, p. 248. Available at: https://www.google.co.id/books/edition/Gizi_dalam_Kesehata n_Reproduksi/RCduEAAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=definisi+st atus+gizi&pg=PR5&printsec=frontcover (Accessed: 17 July 2022). Ariani, A. P. 2017. Ilmu Gizi. 1st edn. Yogyakarta: Nuha Medika. Badriah, D. L. 2014. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. 2nd edn. Edited by A. N. Falah. Bandung: PT Refika Aditama. Lowdermilk, D. L., E, P. S. and Kitty, C. 2013. Keperawatan Maternitas. 8th edn. Edited by K. R. Alden. Jakarta: Salemba Medika. Salavati Id, N. et al. 2020. ‘Associations between preconception macronutrient intake and birth weight across strata of maternal BMI’. doi: 10.1371/journal.pone.0243200. Sholihah, L. 2010. Panduan Lengkap Hamil Sehat. Edited by F. Arif. Yogyakarta: Diva Press. Supariasa, I. D. N., Bakri, B. and Fajar, I. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. Vorgias, D. and Bernstein, B. 2021. ‘Fetal Alcohol Syndrome’, StatPearls. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448178/ (Accessed: 20 July 2022).
Melania Asi 43 BAB 5 KAJIAN PSIKOLOGI TENTANG PEREMPUAN DALAM KEHAMILAN SEHAT Oleh Melania Asi 5.1 Pendahuluan Masa kehamilan merupakan masa yang dinantikan oleh pasangan suami istri setelah pernikahan. Namun banyak pasangan suami istri yang tidak mempersiapkan kesehatan diri dalam kesehatan reproduksinya. Mereka menganggap kehamilan dan mempunyai anak adalah hal yang alami yang tidak perlu persiapan kesehatan secara khusus, padahal kualitas kesehatan suatu bangsa dimulai pada saat masa prakonsepsi. Untuk dapat menciptakan kesehatan prakonsepsi dapat dilakukan melalui skrining prakonsepsi. Skrining prakonsepsi sangat berguna dan memiliki efek positif terhadap kesehatan ibu dan anak (Wiknjosastro, 2008) Kesehatan ibu hamil dapat terwujud dengan berperilaku hidup sehat selama kehamilan yaitu merawat kehamilan dengan baik melalui pola hidup sehat, asupan gizi yang baik, mengkonsumsi tablet zat besi, melakukan aktifitas olahraga, menghindari merokok dan makan obat tanpa resep dokter. Melakukan kunjungan minimal empat kali untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan tentang perawatan yang harus dilakukan (Kusmiyati, 2009) 5.2 Konsep Pemenuhan Kebutuhan Psikologis Pada Ibu Hamil 5.2.1 Definisi Psikologis Ibu Hamil Psikologis ibu hamil diartikan sebagai periode krisis, saat terjadinya gangguan dan perubahan identitas peran. Definisi krisis merupakan ketidakseimbangan psikologi yang disebabkan oleh situasi atau tahap perkembangan. Awal perubahan psikologi ibu hamil yaitu periode syok, menyangkal, bingung, dan sikap menolak. Persepsi
Melania Asi 44 wanita bermacam-macam ketika mengetahui dia hamil, seperti kehamilan suatu penyakit, kejelekan atau sebaliknya yang memandang kehamilan sebagai masa kreatifitas dan pengabdian kepada keluarga. Faktor penyebab terjadinya perubahan psikologi wanita hamil ialah meningkatnya produksi hormon progesteron. Hormon progesterone mempengaruhi kondisi psikisnya, akan tetapi tidak selamanya pengaruh hormon progesterone menjadi dasar perubahan psikis, melainkan kerentanan daya psikis seorang atau lebih dikenal dengan kepribadian. Wanita hamil yang menerima atau sangat mengharapkan kehamilan akan lebih menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan. Berbeda dengan wanita hamil yang menolak kehamilan. Mereka menilai kehamilan sebagai hal yang memberatkan ataupun mengganggu estetika tubuhnya seperti gusar, karena perut menjadi membuncit, pinggul besar, payudara membesar, capek dan letih. Tentu kondisi tersebut akan mempengaruhi kehidupan psikis ibu menjadi tidak stabil. 5.2.2 Bentuk Perubahan Psikologi Ibu Hamil Menurut Pieter mengungkapkan bahwa terdapat beberapa macam perubahan psikologi ibu pada masa kehamilan antara lain : 1. Perubahan Psikologis Pada Trimester Pertama a. Rasa cemas bercampur Bahagia Perubahan psikologis yang paling menonjol pada usia kehamilan trimester pertama ialah timbulnya rasa cemas dan ragu sekaligus disetai rasa bahagia. Munculnya rasa ragu dan khawatir sangat berkaitan pada kualitas kemampuan untuk merawat dan mengasuh bayi kandungannya, sedangkan rasa bahagia dikarenakan dia merasa sudah sempurna sebagai wanita yang dapat hamil. b. Perubahan emosional Perubahan-perubahan emosi pada trimester pertama menyebabkan adanya penurunan kemauan berhubungan seksual, rasa letih dan mual, perubahan suasana hati, depresi, kekhawatiran ibu tentang kesejahteraannya dan bayinya, kekhawatiran pada bentuk penampilan diri yang kurang menarik,dan sebagainya.
Melania Asi 45 c. Sikap ambivalen Sikap ambivalen menggambarkan suatu konflik perasaan yang bersifat simultan, seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu, atau kondisi. Meskipun sikap ambivalen sebagai respons yang normal individu, tetapi ketika memasuki fase pasca melahirkan sikap bisa membuat masalah baru. Penyebab ambivalensi pada ibu hamil yaitu perubahan kondisi fisik, pengalaman hamil yang buruk, ibu berkarier, tanggung jawab baru, rasa cemas atas kemampuannya menjadi ibu, keuangan, dan sikap penerimaan keluarga terdekatnya. d. Ketidakyakinan atau ketidakpastian Awal minggu kehamilan, ibu sering merasa tidak yakin pada kehamilannya. Dan hal ini diperparah lagi jika ibu memiliki masalah emosi dan kepribadian. Meskipun demikian pada kebanyakan ibu hamil terus berusaha untuk mencari kepastian bahwa dirinya sedang hamil dan harus membutuhkan perhatian dan perawatan khusus buat bayinya. e. Perubahan seksual Selama trimester pertama keinginan seksual wanita menurun. Hal-hal yang menyebabkannya berasal dari rasa takut terjadi keguguran sehingga mendorong kedua pasangan menghindari aktivitas seksual. Apalagi jika dia sebelumnya pernah mengalami keguguran. Hasrat seks di trimester pertama sangat bervariasi di antara wanita yang satu dengan yang lainnya. Meskipun pada beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual, tetapi fase trimester pertama menjadi waktu penurunan libido dan jikalau pun ada biasanya mereka telah berkomunikasi sebelum melakukan hubungan koitus. Pada kebanyakan pasangan momen ini sering digunakan suami untuk memberikan kasih sayang dan cinta kasih yang lebih besar tanpa dia harus melakukan koitus. f. Fokus pada diri sendiri Pada bulan-bulan pertama kehamilan, sering kali pikiran ibu lebih berfokus kepada kondisi dirinya sendiri, bukan kepada janin. Meskipun demikian bukan berarti ibu kurang
Melania Asi 46 memerhatikan kondisi bayinya. Kini ibu lebih merasa bahwa janin yang dikandungnya menjadi bagian tubuhnya yang tidak terpisahkan. Hal ini mendorong ibu untuk menghentikan rutinitasnya, terutama yang berkaitan dengan tuntutan sosial atau tekanan psikologis agar bisa menikmati waktu kosong tanpa beban. Sebagian besar dari ibu banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur. g. Stress Kemungkinan stress yang terjadi pada masa kehamilan trimester pertama bisa berdampak negative dan positif, dimana kedua stress ini dapat memengaruhi perilaku ibu. Terkadang stress tersebut bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Stress intrinsik berhubungan dengan tujuan pribadi ibu, dimana dia berusaha membuat sesempurna mungkin kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya. Stress ekstrinsik timbul karena faktor eksternal seperti sakit, kehilangan, kesendirian dan masa reproduksi. h. Guncangan psikologis Terjadinya guncangan jiwa diperkirakan lebih kecil terjadi pada trimester pertama dan lebih tertuju pada kehamilan pertama. Perubahan psikologis yang terjadi pada fase kehamilan trimester pertama lebih banyak berasal pada pencapaian peran sebagai ibu. 2. Perubahan Psikologis Pada Trimester Kedua Klasifikasi periode trimester kedua dikelompokkan menjadi dua fase, yaitu pre-quickening (sebelum ada Gerakan janin yang dirasakan ibu) dan postquickening (setelah ada pergerakan janin yang dirasakan ibu). a. Fase Pre-Quickening Selama aktif trimester pertama dan masa prequickening pada trimester kedua ibu hamil mengevaluasi aspek-aspek yang terjadi selama hamil. Disini ibu akan mengetahui sejauh mana hubungan interpersonalnya dan sebagai dasar-dasar pengembangan interaksi sosialnya dengan bayi yang akan dilahirkannya. Perasannya menolak tampak dari sikap negative ibu yang tidak memedulikan, mengabaikan, bahkan pada beberapa kasus ibu tega membunuh. Hal ini berbeda jika ibu segera menyadari
Melania Asi 47 gerakan tersebut normal. Pada fase pre-quickening juga memungkinkan ibu sedang mengembangkan identitas keibuannya. Evaluasi ini berfungsi untuk melihat perubahan identitas ibu yang semua menerima kasih sayang kini menjadi pemberi kasih sayang (persiapan menjadi ibu). b. Fase Post-Quickening Setelah ibu hamil merasakan quickening, maka identitas keibuan semakin jelas. Ibu akan fokus pada kehamilannya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Terkadang perubahan ini menyebabkan kesedihan karena dia harus meninggalkan peran lamanya sebelum hamil, terutama ibu yang pertama kali hamil dan pada wanita karir. Oleh sebab itu, ibu harus diberikan pengertian bahwa seharusnya dia tidak harus membuang semula peran yang diterima sebelum masa hamil. Pada wanita multi gravida, peran baru menggambarkan bagaimana dia menjelaskan hubungn dengan anaknya yang lain dan bagaimana jika dia harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu di saat proses persalinan. Gerakan bayi membantu ibu membangun pengertian bahwa bayinya adalah makhluk hidup yang nanti harus terpisah dari dirinya. Selama fase trimester kedua kehidupan psikologi ibu hamil tampak lebih tenang, namun pada fase trimester ini perhatian ibu mulai beralih pada perubahan bentuk tubuh, kehidupan seks, keluarga dan hubungan bantiniah dengan bayi yang ada di kandungannya, serta peningkatan kebutuhan untuk dekat dengan figure ibu, melihat dan meniru peran ibu. Pada masa ini juga sifat ketergantungan ibu kepada pasangannya semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan janinnya. Beberapa bentuk perubahan psikologis pada trimester kedua, diantaranya yaitu : 1) Rasa khawatir Kekhawatiran yang mendasar pada ibu ialah jika bayinya lahir sewaktu-waktu. Keadaan ini menyebabkan peningkatan kewaspadaan terhadap datangnya tanda-tanda persalinan. Hal ini diperparah
Melania Asi 48 lagi dengan kekhawatiran jikalau bayi yang dilahirkannya tidak normal. Paradigma dan kegelisahan seperti ini membuat kebanyakan ibu berusaha mereduksi dengan cara melindungi bayinya dengan mengkonsumsi vitamin, rajin control dan konsultasi, menghindari orang atau benda-benda yang dianggap membahayakan bayinya, dan sebagainya. 2) Perubahan emosional Perubahan emosional trimester II yang paling menonjol yaitu periode bulan kelima kehamilan, karena bayi mulai banyak bergerak sehingga dia mulai memerhatikan bayi dan memikirkan apakah bayinya akan dilahirkan sehat atau cacat. Rasa kecemasan seperti ini terus meningkat seiring bertambah usia kehamilannya. 3) Keinginan untuk berhubungan seksual Pada trimester kedua terjadi peningkatan energi libido sehingga pada kebanyakan ibu menjadi khawatir jika dia berhubungan seksual apakah ini dapat memengaruhi kehamilan dan perkembangan janinnya. Bentuk kekhawatiran yang sering diajukan adalah apakah ada kemungkinan janinnya cedera akibat penis, orgasme ibu, atau ejakulasi. Meskipun demikian, yang perlu diketahui hubungan seks pada masa hamil tidak terpengaruh karena janin dilindungi cairan amniotik di dalam uterus. Namun dalam beberapa kondisi hubungan seksual pada masa trimester kedua tidak diperbolehkan, misal ibu memiliki Riwayat persalinan premature. 3. Perubahan Psikologis Pada Trimester Ketiga Pada fase trimester ketiga perubahan-perubahan psikologis pada ibu hamil semakin kompleks dan meningkat dari trimester sebelumnya. Hal ini dikarenakan kondisi kehamilan yang semakin membesar. Beberapa kondisi psikologis yang terjadi pada trimester ketiga, antara lain : a. Rasa tidak nyaman Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ketiga dan pada kebanyakan ibu merasa bentuk
Melania Asi 49 tubuhnya semakin jelek. Selain itu, perasan tidak nyaman juga berkaitan dengan adanya perasaan sedih karena dia akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil sehingga ibu membutuhkan dukungan dari suami, keluarga, dan tenaga kesehatan. b. Perubahan emsosional Pada bulan-bulan terakhir menjelang persalinan perubahan emosi ibu semakin berubah-ubah dan terkadang menjadi tidak terkontrol. Perubahan emosi ini bermuara dari adanya perasan khawatir, rasa takut, bimbang dan ragu janganjangan kondisi kehamilannya saat ini lebih buruk lagi saat menjelang persalinan atau kekhawatiran akibat ketidakmampuannya dalam menjalankan tugas-tugas sebagai ibu pasca kelahiran bayinya. 5.2.3 Kebutuhan Psikologis Pada Ibu Hamil Menurut (Tyastuti, 2016) kebutuhan psikologis pada ibu hamil, antara lain : 1. Support dari keluarga pada ibu hamil a. Dukungan dari suami Suami adalah orang yang terdekat dari istri. Dukungan dari suami selama hamil sangat diperlukan untuk kesiapan ibu hamil dalam menghadapi persalinan. Suami yang menerima dan memahami perubahan yang terjadi pada istrinya, akan merencanakan dan diskusi bersama istri tentang rencana persalinan. Suami tidak hanya diperlukan untuk menyiapkan biaya persalinan dan mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi suami penting untuk memperhatikan keadaan istrinya selama hamil. Seorang istri yang merasa gembira selama hamil, dia akan lebih bersemangat dan akhirnya mempunyai tenaga yang kuat untuk melahirkan bayinya sehingga mempermudah dalam persalinan yang artinya dapat mencegah terjadinya persalinan lama.
Melania Asi 50 b. Dukungan dari keluarga Kehamilan merupakan peristiwa penting yang menuntut peran dari seluruh anggota keluarga. Penerimaan kehadiran anggota baru tergantung dari dukungan dari seluruh anggota keluarga, tidak hanya dari suami saja. Ayah dan ibu kandung maupun mertua, juga saudara kandung maupun saudara dari suami juga perlu memperhatikan dengan sering berkunjung, menanyakan keadaan kehamilan, bisa juga lewat sms atau telpon dapat menambah dukungan dari keluarga. Upacara adat istiadat yang tidak mengganggu kehamilan juga mempunyai arti tersendiri bagi sebagian ibu hamil sehingga hal ini tidak boleh diabaikan. Memberikan dukungan berbentuk perhatian, pengertian, kasih sayang pada wanita dari ibu terutama dari suami, anak jika sudah mempunyai anak dan keluarga-keluarga dan kerabat. Hal ini untuk membantu ketenangan jiwa ibu hamil. c. Dukungan dari tenaga kesehatan pada ibu hamil Memberikan pendidikan, pengetahuan dari awal kehamilan sampai akhir kehamilan yang berbentuk konseling, penyuluhan, dan pelayanan-pelayanan kesehatan lainnya. Contohnya keluhan mual dan muntah, bidan akan menyarakankan makan sedikit tapi sering, konsumsi biskuit pada malam hari, mengkonsumsi sesuatu yang manis (permen dan jus buah), menghindari makanan yang beraroma tajam dan meyakinkan bahwa situasi ini akan berakhir saat bulan ke-empat. 2. Rasa aman dan nyaman selama kehamilan Ibu hamil membutuhkan perasaan aman dan nyaman yang didapat dari diri sendiri dan orang sekitar. Untuk memperoleh rasa aman dan nyaman maka ibu hamil sendiri harus dapat menerima kehamilan dengan senang hati. Rasa aman dan nyaman dari orang sekitar terutama dari orang terdekat yaitu ayah dari bayi yang dikandungnya. Maka perlu dukungan orang terdekat untuk memperoleh rasa aman dan nyaman. Misalnya perasaan nyeri di pinggang pada saat hamil tua, respon ibu hamil terhadap nyeri bisa berbeda-beda, apabila ibu hamil tersebut cukup mendapat dukungan dari orang sekitar maka
Melania Asi 51 mungkin tidak terlalu merasakan nyeri, tapi sebaliknya jika ibu hamil tidak mendapat dukungan dari orang terdekat maka nyeri akan dirasakan sangat mengganggu. Untuk memperoleh rasa aman dan nyaman ini dapat dilakukan relaksasi atau dukungan dari orang terdekat. Rasa nyaman saat hamil dapat dirasakan jika ibu hamil dengan posisi duduk, berdiri dan berjalan dengan benar, melatih relaksasi sehingga dapat mengurangi nyeri pada pinggang dan perasaan serta pikiran yang tenang. 3. Persiapan menjadi orang tua Persiapan orang tua harus dipersiapkan karena setelah bayi lahir banyak perubahan peran yang terjadi, mulai dari ibu, ayah, dan keluarga. Bagi pasangan yang baru pertama mempunyai anak, persiapan dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi dengan orang yang mampu untuk membagi pengalamannya dan memberikan nasehat mengenai persiapan menjadi orang tua. Bagi pasangan yang sudah mempunyai lebih dari satu anak, dapat belajar dari pengalaman mengasuh anak sebelumnya. Selain persiapan mental, yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan ekonomi, karena bertambah anggota maka bertambah pula kebutuhannya. Pendidikan orang tua adalah sebagai proses pola untuk membantu orang tua dalam perubahan dan peran ibu hamil. Pendidikan orang tua bertujuan untuk mempersiapkan orang tua untuk menemukan tantangan dalam melahirkan anak dan segera menjadi orang tua. Persiapan orang tua sebaiknya meliputi kedua calon orang tua yaitu istri dan suami serta harus mencangkup tentang kehamilan. Pendekatan yang dilakukan bervariasi dengan memperhatikan aspek fisik dan psikologi keduanya. Salah satu persiapan orang tua dapat dilaksanakan dengan kelas pendidikan kelahiran atau kelas antenatal. Manfaat pendidikan bagi calon orang tua antara lain : suatu kesempatan belajar perubahan fisik selama hamil, persalinan dan setelahnya, mengetahui perubahan psikologis, emosional, intelektual dan perubahan lingkungan yang terjadi dalam masa kehamilan dan kelahiran bayi, mendapatkan support social dari orang tua yang mempunyai pengalaman serupa dengan mereka, suatu cara belajar dengan sesama ibu yang baru
Melania Asi 52 mempunyai seorang anak, membangun kepercayaan ibu dan suami dalam menghadapi kelahiran dan persalinan. 4. Persiapan sibling Kehadiran seorang adik baru dalam rumah dapat menyebabkan perasaan cemburu dan merasa adik adalah saingannya (rival sibling). Untuk mecegah itu semua maka sejak hamil calon kakak harus sudah dipersiapkan menghadapi datangnya adik, sikap orang tua, umur lama waktu berpisah dengan orang tua, peraturan kunjungan rumah sakit dan perhatian selama berpisah dengan ibunya. Anak umur lebih dari 3 tahun sudah dapat diajak berkomunikasi untuk disiapkan menerima adiknya. Orang tua dan lingkungan sering tidak sadar bahwa tindakannya sangat menyakitkan sang kakak dan akhirnya membuat sang kakak menjadi tidak sayang pada adiknya, padahal sebelumnya sudah disiapkan untuk menerima adiknya, Orang tua yaitu ibu dan ayah mempunyai tugas penting yang terkait dengan penyesuaian dan permusuhan antar saudara kandung. ii. Faktor Psikologi yang mempengaruhi Kehamilan Menurut Romauli faktor psikologis yang mempengaruhi kehamilan yaitu : 1. Stressor a) Stressor internal Stressor internal merupakan faktor pemicu stress ibu hamil yang berasal dari diri ibu sendiri. Adanya beban psikologi yang ditanggung oleh ibu dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi dan nantinya akan terlihat Ketika bayi lahir. Anak akan tumbuh menjadi seseorang yang kepribadian tidak baik, tergantung pada kondisi stress yang dialami oleh ibunya, seperti anak menjadi seorang yang berkepribadian, temperamental, autis atau orang yang terlalu rendah diri. b) Stressor eksternal Stressor eksternal adalah stresss yang timbulnya dari luar yang memberikan pengaruh baik maupun pengaruh buruk terhadap psikologi ibu hamil. Pemicu stress yang berasal dari luar misalnya
Melania Asi 53 masalah ekonomi, konflik keluarga, pertengkaran dengan suami, tekanan dari lingkungan. 2. Dukungan keluarga Dukungan sosial merupakan ketersediaan sumber daya yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis yang di dapat melalui pengetahuan bahwa individu dicintai, diperhatikan, dihargai oleh orang lain dan juga merupakan anggota dalam suatu kelompok yang berdasarkan kepentingan bersama. Setiap tahap usia kehamilan, ibu akan mengalami perubahan baik yang bersifat fisik maupun psikologi. Ibu harus melakukan adaptasi pada setiap perubahan yang terjadi, dimana sumber stress terbesar terjadi karena melakukan adaptasi terhadap kondisi tersebut. Dalam menjalani proses itu, ibu hamil sangat membutuhkan dukungan yang intensif dari keluarga dengan cara menunjukkan perhatian dan kasih sayang. 3. Substance abuse Substance abuse merupakan perilaku yang merugikan dan membahayakan bagi ibu hamil termasuk penyalahgunaan atau penggunaan obat atau zat-zat yang membahayakan ibu hamil. Pengaruh obat selama hamil tidak hanya tergantung dari macam obat, akan tetapi tergantung saat obat diberikan. Obat yang diberikan pada ibu hamil dapat menimbulkan efek pada janin, seperti kelainan bentuk anatomi atau kecacatan pada janin, kelainan faal alat tubuh, gangguan pertukaran zat dalam tubuh. Setelah itu hamil dengan ketergantungan obat atau pengguna NAPZA sangat mempengaruhi ibu dan janinnya terutama pada masa konsepsi trimester satu kehamilan, karena pada tahap ini merupakan tahap pembentukan organ. Contoh obat-obatan tersebut adalah ganja, morfin, heroin, pethidine, alkohol dan lain-lain yang akan menyebabkan gangguan pada ibu dan janinnya. Janin akan mengalami cacat fisik, kelahiran premature dan BBLR, serta cacat mental dan sosial. Ibu hamil dengan ketergantungan obat pada
Melania Asi 54 umumnya takut melahirkan bayi cacat, merasa gelisah, bingung dan takut akibat yang dialami oleh bayinya dengan minum obat-obatan tersebut. 4. Partner abuse Partner abuse merupakan kekerasan yang dilakukan oleh pasangan. Hasil penelitian bahwa korban kekerasan terhadap perempuan adalah wanita yang telah bersuami. Setiap bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan harus selalu diwaspadai oleh tenaga kesehatan jangan sampai kekerasan yang terjadi akan membahayakan ibu dan bayinya. Efek psikologi yang muncul pada ibu hamil adalah gangguan rasa aman dan nyaman pada pasien. Sewaktu-waktu pasien akan mengalami perasaan terancam yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayinya.
Melania Asi 55 DAFTAR PUSTAKA Gamelia, E., Sistiarani, C., & Masfiah, S. 2013. Determinan Perilaku Perawatan Kehamilan. Kesmas: National Public Health Journal, 8(3), 133. https://doi.org/10.21109/kesmas.v8i3.358 Kusmiyati, Y. 2009. Perawatan Ibu Hamil. Fitramaya Syafrudin. Lusiana, N., & Dkk. 2017. Buku Ajar Metodologi Penelitian Kebidanan. CV. Budi Utama. Prasojo, S., Fadilah, U., & Sulaiman, M. 2015. Motivasi Ibu Hamil Untuk Melakukan Pemeriksaan Kehamilan. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 8(2), 96837. Siti Tyastuti, S.Kep., Ns., S.ST, M. K., & Heni Puji Wahyuningsih, S.SiT., M. K. 2016. Asuhan kebidanan kehamilan. Wiknjosastro, G. H. 2008. Pertumbuhan Janin Terhambat Ilmu Kebidanan edisi 4. PT Bina Pustaka. Yuliana, A. 2015. Dukungan Suami Pada Ibu Hamil Dalam Menghadapi Masa Persalinan Di Desa Joho Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Kebidanan Dan Ilmu Kesehatan, 2(2), 53–58. Yulistiani E studi kebidanan. 2015. Hubungan Pengetahuan Ibu dan Dukungan Suami pada Ibu Hamil Terhadap Keteraturan Kunjungan Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Wates Lampung Tengah Tahun 2015. Jurnal Kebidanan. JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati), 1(2), 81–90. http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kebidanan/article/vi ew/550/484
Neng Kurniati 56 BAB 6 KAJIAN PSIKOLOGI TENTANG KELUARGA DALAM PERSIAPAN KEHAMILAN SEHAT Oleh Neng Kurniati 6.1 Pendahuluan Kehamilan merupakan proses fisiologis yang dialami hampir oleh setiap perempuan selama lebih kurang 40 minggu. Kondisi yang sehat selama kehamilan adalah dambaan setiap perempuan dan keluarga. Kehamilan sehat merupakan kondisi kesehatan yang komprehensif yaitu menyangkut kesehatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual (Maretta et al., 2022). Gaya hidup yang mengoptimalkan kesehatan ibu dan mengurangi risiko cacat lahir, pertumbuhan dan perkembangan janin yang kurang optimal, dan masalah kesehatan kronis pada anak-anak mereka merupakan hal penting untuk mencapai status kehamilan yang sehat. Komponen kunci dari gaya hidup yang mempromosikan kesehatan selama kehamilan termasuk penambahan berat badan yang tepat; aktivitas fisik yang sesuai; konsumsi berbagai makanan bergizi; suplementasi vitamin dan mineral yang tepat dan tepat waktu; menghindari alkohol, tembakau, dan zat berbahaya lainnya; dan penanganan makanan yang aman (Kaiser and Allen, 2008). Perilaku ibu hamil yang mendukung kehamilan sehat dipengaruhi oleh nasehat orang terdekat dan terbukti dalam penelitian dari ibu hamil sebanyak 54 orang didapati bahwa sumber nasehat pantangan/anjuran ibu hamil 62,96% bersumber dari orang lain yaitu dari orang tua 53,70 % dan bersumber dari tetangga 37,30 % (Pasaribu et al., 2014). Keluarga adalah orang terdekat bagi seorang perempuan yang seyogyanya mendukung dan memfasilitasi seorang perempuan mencapai kondisi yang sehat dalam mempersiapkan dan menjalani kehamilan. Oleh karena itu, sangat penting bagi keluarga untuk turut memahami kebutuhan-kebutuhan seorang perempuan dalam mempersiapkan kehamilannya. baik dari kebutuhan fisik
Neng Kurniati 57 berupa: gizi yang optimal, aktivitas fisik yang tepat, terjaga dari obat dan minuman beralkohol dan lain-lain; kebutuhan psikologis berupa dukungan moral, perhatian dan waktu yang berkualitas; kebutuhan sosial berupa kesempatan untuk berbaur dengan keluarga besar, teman, lingkungan kerja dan lain-lain; kebutuhan spiritual berupa nasehat agama, kebaikan dan lingkungan yang agamis. Ibu hamil mengalami berbagai perubahan fisik dan psikologis yang menyebabkan ibu hamil mengalami berbagai keluhan mulai dari trimester I sampai trimester III. Sementara itu, data prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur > 15 tahun menurut provinsi, pada tahun 2013-2018 mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari yaitu 6% menjadi 9,8% (Kesehatan, 2018). Dengan data ini, cukup menjadikan kita dan keluarga perlu meningkatkan dukungan psikologis yang optimal kepada ibu hamil atau perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilannya. 6.2 Perubahan Psikologis Ibu Hamil yang Perlu Dicermati Keluarga Setiap perempuan yang hamil akan mengalami perubahan fisik dan psikologis mulai dari trimester I hingga trimester III. Secara umum ibu hamil memiliki emosi yang labil dengan perubahan yang ekstrim dan suasana hati yang cepat berubah-ubah. Perasaan lebih sensitif, bereaksi berlebihan terhadap sesuatu dan kecemasan meningkat akan kondisinya dan janin yang dikandungnya (Yuliani et al., 2021). Berikut perubahan psikologis pada ibu hamil: 6.3.1 Trimester I Perubahan psikologis yang lebih nampak pada ibu hamil pada awal kehamilan yaitu rasa cemas, tidak percaya diri bercampur bahagia. Rasa ragu dengan kebenaran kehamilannya, adanya perubahan hormonal dan morning sickness mempengaruhi perasaan ibu. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman ibu tentang kehamilan akan meningkatkan rasa cemas pada ibu hamil. Kecemasan ini ini juga meningkat pada pengalaman pertama kehamilan, ibu hamil dengan konflik keluarga, ibu hamil muda dan masalah ekonomi. Selain itu, sikap ambivalen yang kadang menerima dan kadang menolak juga menjadi bagian dari perubahan psikis ibu. Respon perasaan ambivalen pada ibu hamil dapat berupa: perasaan ragu dengan kebenaran
Neng Kurniati 58 kehamilannya, banyaknya waktu yang tersita karena ingin memastikan kehamilannya, fokus pada diri sendiri dan tidak pada janinnya serta perubahan seksualitas. 6.3.2 Trimester II Pada kehamilan trimester II ketidaknyamanan fisik sudah mulai berkurang dan ibu hamil sudah mulai menerima kehamilan dan merubah dirinya dari yang menerima kasih sayang menjadi pemberi kasih sayang kepada janinnya. Perubahan yang awalnya menuntut kasih sayang menjadi opencari kasih sayang kepada suaminya. 6.3.3 Trimester III Ketidaknyamanan pada trimester III ini kembali meningkat karena adanya peningkatan Berat Badan dan regangan pada perut. Punggung dan pingggang semakin pegal, ibu juga merasa dirinya semakin aneh dan jelek. Gerakan bayi semakin aktif dan ibu semakin cemas dengan semakin dekatnya waktu persalinan. 6.3 Konsep Keluarga Keluarga merupakan wadah utama dan pertama pendidikan karakter dimulai, interaksi sosial, nilai-nilai budaya dan kreativitas dibentuk. Selain itu, keluarga dapat difahami dari 2 sudut pandang yaitu psikologis dan biologis. Keluarga secara psikologis diartikan sebagai sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, memperhatikan, dan saling menyerahkan diri. Sedangkan keluarga secara biologis menunjukkan ikatan keluarga antara ibu, ayah dan anak yang berlangsung terus karena adanya hubungan darah yang tak mungkin dihapus. Dalam upaya untuk saling mempengaruhi, memperhatikan dan saling menyerahkan diri terkandung perwujudan peran dan fungsi orangtua. (Ulfiah, 2016). Dari masa ke masa, fungsi keluarga baik secara biologis seperti melahirkan dan merawat anak maupun psikologis seperti penyelesaian masalah atau saling perduli tidak ada perubahan dalam substansinya. Namun, bagaimana sebuah keluarga melakukannya dan
Neng Kurniati 59 siapa saja yang terlibat didalamnya dapat berubah dari masa ke masa dan dipengaruhi juga dengan budaya (Lestari, 2016). Keluarga merupakan lingkungan yang utama dan pertama pula yang membentuk kemampuan anak dalam menghadapi perubahanperubahan yang terjadi baik dari dalam diri maupun luar diri anak. Orang tua yang memiliki kemampuan parenting (pengasuhan) yang baik, memahami dan perduli dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga dapat memposisikan diri dalam peran yang dibutuhkan. Seorang anak yang tumbuh dengan pengasuhan yang tepat akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya, pengasuhan yang kurang tepat akan berpengaruh kurang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Selanjutnya anak akan tumbuh dan menuju tahap remaja, dewasa muda lalu menikah dan membentuk keluarganya sendiri. Pengalaman pengasuhan yang baik dari orang tua dan orang disekitarnya, tidak hanya akan berdampak baik secara fisik tetapi juga psikologisnya. Pernikahan adalah gerbang awal kehidupan berumah tangga. Setiap individu tentunya mengharapkan kehidupan rumah tangga atau keluarga yang sehat dan harmonis. Setelah menikah pasangan suami istri umumnya ingin segera memiliki anak sebagai bukti ikatan kasih sayang keduanya, disamping sebagai generasi penerus keluarga. Generasi penerus yang sehat dan berkualitas tentunya harapan setiap orang tua. Kehamilan yang sehat membutuhkan persiapan fisik dan mental dari Setiap ibu. Perencanaan kehamilan yang sehat harus dilakukan sebelum masa kehamilan. Proses kehamilan yang direncanakan dengan baik, maka akan berdampak positif pada kondisi janin. Selain itu, adaptasi fisik dan psikologis ibu selama kehamilan menjadi lebih baik (Herizasyam, 2016). Perubahan psikologis pada ibu hamil telah terjadi sejak awal kehamilan dan hal ini masih wajar jika tidak berlebihan. Emosi ibu hamil cenderung berubah dengan cepat, pada suatu saat ia merasa sangat bahagia, namun beberapa saat kemudian ia merasa tertekan (Astuti et al., 2000). Perubahan ini menuntut ibu hamil melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi karena tuntutan dalam memenuhi dorongan/kebutuhannya dan mencapai ketentraman batin dalam hubungannya dengan sekitar. Penyesuaian diri (adjustment) dilakukan manusia sepanjang hayat karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya.
Neng Kurniati 60 Penyesuaian diri sampai tingkat tertentu merupakan syarat mutlak bagi sehat tidaknya seseorang secara mental. Ciri individu dengan penyesuaian diri yang baik diantaranya memiliki persepsi yang akurat terhadap realita, relasi interpersonal baik, mempunyai gambaran diri yang positif tentang dirinya, mampu mengekspresikan perasaannya, serta mampu beradaptasi dengan tekanan dan kecemasan. Seseorang yang berhasil dalam penyesuaian dirinya dapat memenuhi kebutuhan, tanpa melebihkan yang satu dan mengurangi yang lain, tidak mengganggu manusia lain dalam memenuhi kebutuhannya, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat. Sedangkan individu yang gagal dalam penyesuaian diri akan menunjukkan gejala tingkah lakunya aneh, prestasinya tidak optimal, dan setiap kali menghadapi masalah yang ringan sekalipun akan menjadi berat. Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri menyebabkan individu mengalami gangguan mental. Semakin lama gangguan tersebut tidak diatasi, maka derajat gangguannya menjadi semakin berat (Hastuti, 2008). Sangat penting bagi ibu hamil untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan sosialnya dengan peran yang baru. Kualitas fisik dan psikis seorang anak, sebagian akan ditentukan oleh kualitas fisik dan psikis seorang ibu selama kehamilan. Berkaitan dengan kondisi fisik ibu hamil, jika ibu menderita sakit seperti muntah dan dehidrasi sehingga masukan makanan berkurang maka akan berdampak pada bayi secara tidak langsung, sedangkan apabila kondisi penyakit berat dialami ibu hamil seperti infeksi rubela, maka bayi dalam kandungan dapat tertular penyakit ibunya yang mengakibatkan cacat bawaan. Stres pada ibu hamil stress pada ibu hamil, sinyalnya berjalan melewati aksis HPA (Hypotalamo-Pituitary,-Adrenal) yang dapat menyebabkan lepasnya hormon stress antara lain Adeno Cortico Tropin Hormone (ACTH), kortisol, katekolamin, βendorphin, Growth Hormone (GH), prolaktin dan Lutenizing Hormone (LH)/Folicle Stimulating Hormone (FSH) (Astria et al., 2010). Lepasnya hormon stres seperti kortisol dalam jumlah memadai akan mempengaruhi epinefrin menimbulkan vasokontriksi (Wang et al., 2013). Vasokontriksi sistemik yang juga mengakibatkan kontriksi vasa utero plasenta dapat menyebabkan gangguan aliran darah ke dalam rahim, sehingga terjadi gangguan pada janin. Di samping itu dengan meningkatnya plasma kortisol, berakibat menurunkan respon imun ibu dan janin (Suliswati, 2014).
Neng Kurniati 61 Dukungan sosial, yang merupakan persepsi atau pengalaman bahwa seseorang diperhatikan, dihargai, dan bagian dari jaringan sosial yang saling mendukung, memiliki efek menguntungkan pada kesehatan mental dan fisik (Taylor, 2011). Tidak diragukan lagi, ada dokumen yang kuat mengenai kemanjuran dukungan sosial dalam mempromosikan status kesehatan komunitas yang tidak dapat ditentang oleh siapa pun. Wanita dianggap sebagai kasta rentan yang mengalami berbagai macam pergolakan, termasuk menarche, hamil, menyusui dan menopause. Selama kehamilan ibu tidak hanya mengalami perubahan fisiologis dan hormonal, tetapi mereka juga dikelilingi secara psikologis dengan konsep bahwa mereka mungkin tidak dapat menangani keadaan baru yang akan datang. Oleh karena itu, mereka sangat membutuhkan dukungan sosial untuk mengatasi ketakberanian. Telah didokumentasikan dengan baik bahwa ibu hamil yang mendapat manfaat dari dukungan emosional dari pasangan mereka, keluarga, dan bahkan jaringan sosial selama kehamilan cenderung tidak terbelenggu oleh komplikasi peripartum. Misalnya ibu hamil yang telah ditopang dengan baik oleh keluarga mereka akan lebih jarang terkena masalah psikologis, seperti kesusahan, gangguan kecemasan dan depresi, yang berpuncak pada persalinan prematur sama sekali kurang (1). Lebih-lebih lagi, sangat sedikit dari mereka yang akan mengalami post-partum depresi- keadaan yang dapat mengakibatkan bencana bagi keluarga (2). Selanjutnya, dukungan sosial yang lebih lemah dari masyarakat, disesuaikan dengan faktor-faktor lain, telah terbukti secara signifikan terkait dengan adanya celah mulut pada neonatus (3). Itu bisa dijelaskan dengan premis bahwa dukungan sosial yang kurang efektif selama kehamilan akan berakhir pada tingkat sekresi kortisol yang lebih tinggi; akibatnya, kepekaan biologis terhadap tekanan psikologis akan meningkat. Hal ini berpotensi membuat janin terpapar hal-hal yang berbahaya efek kortisol (4). Peran penting dukungan ibu selama kehamilan pada kesehatan bayi serta kesehatan ibu, khususnya kesehatan mental pascamelahirkan menguatkan bahwa pembuat kebijakan kesehatan harus mengutamakan dukungan emosional untuk ibu selama kehamilan. Ini bisa dilakukan dengan mengadakan kelas-kelas pendidikan bagi orang tua yang mengharapkan, yang akan berujung pada saling pengertian yang luar biasa di antara pasangan. Selanjutnya ibu akan mendapat
Neng Kurniati 62 manfaat tidak hanya dari dukungan emosi suaminya tetapi juga dari bantuan praktisnya, termasuk perawatan anak. Oleh karena itu, penyedia layanan kesehatan berada dalam posisi eksklusif untuk mendidik masyarakat tentang Peran penting dukungan keluarga dalam meminimalkan komplikasi postpartum, khususnya gangguan jiwa (Maharlouei, 2016). 6.4 Peran Orang Tua dalam Mendukung Kehamilan sehat Orang tua adalah orang terdekat bagi perempuan sebagai anak sebelum menikah. Orang tua merupakan sosok panutan yang menjadi figur contoh bagi anak. Orang tualah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak sebelum menikah. Kematangan mental anak seyogyanya telah dipersiapkan oleh orang tuanya sebelum menikah dan menjalani kehamilan. Selain itu, spiritualitas keluarga juga sangat mempengaruhi pola perilaku yang mendukung kesehatan. Dalam Islam misalnya, haram hukumnya meminum alkohol, perilaku seks bebas, obat terlarang dan perbuatan-perbuatan yang merugikan kesehatan lainnya. Pengetahuan, sosial dan budaya ibu yang sedang hamil akan memengaruhi kesehatan ibu saat hamil (Pasaribu et al., 2014). ketiga hal tersebut dipengaruhi oleh interaksi orang-orang terdekat. Orang tua adalah orang terdekat yang memberikan pendidikan dan nasehat kepada anaknya. Kebiasaan yang turun-temurun dari generasi terdahulu orang tua dan masih dilakukan serta diyakini orang tua umumnya akan ditularkan pula kepada anak-anaknya. Kebiasaan yang diadobsi dari budaya dan kepercayaan ini terkadang bertentangan dengan upaya atau program kesehatan bagi ibu hamil. Seperti halnya berpantang makan atau perilaku lainnya. Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi di era ini, orang tuapun dituntut untuk mengatualisasi diri dengan meningkatkan pengetahuan dan wawasannya terkait persiapan kehamilan yan sehat bagi anaknya. Motivasi yang membangkitkan semangat dalam menjaga kesehatan selama kehamilan adalah suatu proses yang membangkitkan, mengarahkan dan memelihara kesehatan selama kehamilan yang bertujuan untuk melahirkan bayi yang sehat, normal dan ibu selamat (Melati and Raudatussalamah, 2012). Motivasi dapat
Neng Kurniati 63 timbul diantaranya karena adanya dukungan sosial dan lingkungan sosial terkecil adalah keluarga. Dukungan ini dapat berupa kesediaan, keberadaan dan kepedulian orang-orang yang menghargai dan mencintainya. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat keparahan stress seseorang. Selain itu, dukungan sosial ini dapat pula berupa dukungan materi atau fasilitas yang dapat memudahkan ibu hamil menjalani kehamilannya dengan sehat. 6.5 Peran Suami dalam Mendukung Kehamilan sehat Suami adalah orang terdekat bagi peremuan setelah menikah dan meninggalkan keluarganya. Suami adalah sosok keluarga baru yang menjadi tumpuan bagi seorang perempuan. Dukungan suami adalah hal terpenting bagi seorang ibu dalam menjalani kehamilan. Dukungan suami dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil secara psikologis, bahkan berdampak pada kesehatan fisik. Perasaan yang bahagia karena dukungan penuh dari suami dapat menyebabkan penghayatan masa kehamilan dengan tenang dan optimal (Melati and Raudatussalamah, 2012). Seorang suami wajib atas pemberian nafkah dan memberikan perlakukan yang baik terhadap isterinya. Selain itu, suami juga berperan dalam mendidik isteri dan anak-anaknya. Pendidikan anak dapat dimulai dari dalam kandungan. Selain pendidikan, penting sekali membangun komunikasi yang baik dalam keluarga. Keluarga yang harmonis dapat menjalin komunikasi dengan efektif terutama ketika menghadapi masalah atau konflik (Ulfiah, 2016). Partisipasi suami yang terkait kesehatan reproduksi dan perilaku reproduksi adalah intervensi kunci untuk meningkatkan kesehatan ibu. Di banyak negara berkembang, laki-laki adalah pengambil keputusan dan pemimpin yang memfasilitasi sumber daya ekonomi untuk wanita. Keterlibatan lakilaki mempengaruhi kesehatan dan status gizi ibu selama kehamilan (Agushybana, 2016). Beberapa penelitian telah menyarankan manfaat positif keikutsertaan laki-laki dalam persalinan dan perawatan kesehatan di negara maju dan berkembang, yang mencakup peningkatan akses ke layanan selama kehamilan dan ibu setelah melahirkan (Redshaw and Henderson, 2013). Selanjutnya, dukungan pasangan dapat mendorong ibu untuk menghentikan praktik tidak sehat seperti alkohol konsumsi, merokok dan makan makanan yang
Neng Kurniati 64 tidak sehat, meningkatkan kesehatan mental ibu, meningkatkan peluang penggunaan kontrasepsi dan mengurangi kecemasan dan morbiditas selama persalinan (Agushybana, 2016). 6.6 Peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan terhadap Dukungan Keluarga bagi Ibu Hamil atau Persiapan Kehamilan Dukungan sosial dan hubungannya dengan kesehatan ibu menunjukkan bahwa dukungan emosional yang nyata dan informasional berhubungan positif dengan kesehatan mental dan fisik ibu pada saat persalinan. Pentingnya berbagai jenis dukungan berubah dengan perubahan kebutuhan perempuan saat mereka berpindah dari kehamilan ke persalinan dan melahirkan, dan kemudian ke periode postpartum. Selama kehamilan, dukungan emosional yang diberikan oleh pasangan dan orang lain terkait dengan kesejahteraan mental ibu hamil. Selain itu, dukungan informasi berupa kelas prenatal terkait dengan penurunan komplikasi fisik ibu selama persalinan dan persalinan, serta peningkatan kesehatan fisik dan mental pascapersalinan. Ibu yang mendapat dukungan pendamping selama persalinan dan melahirkan mengalami komplikasi persalinan yang lebih sedikit dan depresi pascapersalinan yang lebih sedikit. Kesehatan mental ibu pascapersalinan berkaitan dengan dukungan emosional dan bantuan praktis (misalnya, pekerjaan rumah tangga dan kegiatan perawatan anak) yang diberikan oleh suami dan orang lain. Penyedia layanan kesehatan berada dalam posisi yang unik untuk mendidik calon orang tua tentang pentingnya dukungan sosial di sekitar waktu persalinan dan mungkin memainkan peran penting dalam memobilisasi sistem dukungan untuk ibu baru (Gjerdingen et al., 1991). Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang profesional untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil beserta janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal yang dilakukan secara teratur dan komprehensif dapat mendeteksi secara dini kelainan dan risiko yang mungkin timbul selama kehamilan, sehingga kelainan dan risiko tersebut dapat diatasi dengan cepat dan tepat (Balqis et al., 2013). Pemeriksaan ibu hamil selama kehamilannya meliputi pemeriksaan fisik dan psikologis ibu hamil yang diberikan sesuai dengan umur kehamilan (Marniyati et al.,
Neng Kurniati 65 2016). Sesuai dengan rekomendasi World Health Organization (WHO) bahwa antenatal care bertujuan untuk melakukan penilaian baik terhadap kondisi ibu maupun janin dan selanjutnya memberikan intervensi therapy, asuhan terhadap gangguan psikologi umum dan sistem kepada ibu hamil (Tunçalp et al., 2017). Peran fasilitas kesehatan dalam antenatal care yaitu memenuhi standar pelayanan terhadap ibu hamil atau perempuan dengan perencanaan kehamilan. Salah satu unsur penting dalam pelayanan antenatal care adalah temu wicara. Pada kesempatan ini Bidan berkesempatan melakukan wawancara mendalam untuk menggali masalah psikologis yang mungkin ada pada ibu hamil dan memberikan masukan serta dukungan moral agar ibu lebih termotivasi menjaga kehamilannya. Bidan sebagai penyedia layanan kesehatan bagi ibu hamil, juga memberikan nasehat dan motivasi kepada pasangan atau suami ibu hamil agar ikut berpartisipasi dalam pendampingan dan sosial support bagi isterinya yang sedang menjalani kehamilan dengan berbagai perubahan fisik dan psikologisnya. Program suami siaga merupakan salah satu bentuk nyata peran suami dalam proses reproduksi. Suami siaga yang secara hafiah bermakna “suami waspada” adalah kampanye nasional yang dibuat pada awal tahun 2000 untuk mendorong partisipasi laki-laki dalam program kesehatan ibu dan anak (Kurniati et al., 2017). Kematian ibu memiliki implikasi bagi seluruh keluarga, meskipun hanya sedikit, jika ada, intervensi yang membahas peran yang dapat dimainkan suami dalam kehamilan dan persalinan istrinya. Kampanye Suami SIAGA di Indonesia adalah intervensi pendidikanhiburan multi-media yang dampaknya sangat bermanfaat yaitu (1) adanya perolehan pengetahuan baru oleh suami tentang persiapan kelahiran, dan (2) adanya tindakan suami untuk menjadi suami yang waspada (Suami SIAGA). Ketika para suami terpapar langsung dengan pesan-pesan dari kampanye Suami SIAGA, terjadilah kegiatan-kegiatan baru untuk mendapatkan pengetahuan dan persiapan kelahiran. Namun, interaksi paparan langsung kampanye dan komunikasi interpersonal yang dirangsang oleh kampanye tentang Suami SIAGA merupakan prediktor yang lebih kuat untuk perolehan pengetahuan dan tindakan persiapan kelahiran.
Neng Kurniati 66 DAFTAR PUSTAKA AGUSHYBANA, F. 2016. Influence of husband support on complication during pregnancy and childbirth in Indonesia. Journal of Health Research, 30, 249-255. ASTRIA, Y., NURBAETI, I. & ROSIDATI, C. 2010. Hubungan karakteristik ibu hamil trimester III dengan kecemasan dalam menghadapi persalinan di poliklinik kebidanan dan kandungan rumah sakit X Jakarta. Majalah Keperawatan Unpad, 12. ASTUTI, A. B., SANTOSA, S. W. & UTAMI, M. S. 2000. Hubungan antara dukungan keluarga dengan penyesuaian diri perempuan pada kehamilan pertama. Jurnal psikologi, 27, 84-95. BALQIS, B., AMIR, M. Y. & HARDIANTI, U. 2013. Faktor yang Berhubungan dengan Mutu Pelayanan Antenatal di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar. Jurnal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Indonesia, 2, 8268. GJERDINGEN, D. K., FROBERG, D. G. & FONTAINE, P. 1991. The effects of sosial support on women's health during pregnancy, labor and delivery, and the postpartum period. Family medicine, 23, 370- 375. HASTUTI, W. 2008. Penyesuaian Diri. Profesi (Profesional Islam): Media Publikasi Penelitian, 3, 66-70. HERIZASYAM, J. O. 2016. Kesiapan Ibu Menghadapi Kehamilan Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 3, 147-159. KAISER, L. & ALLEN, L. H. 2008. Position of the American Dietetic Association: nutrition and lifestyle for a healthy pregnancy outcome. KESEHATAN, B. P. D. P. 2018. Laporan Nasional Riskesdas. In: RI, K. K. (ed.). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. KURNIATI, A., CHEN, C.-M., EFENDI, F., ELIZABETH KU, L.-J. & BERLIANA, S. M. 2017. Suami SIAGA: male engagement in maternal health in Indonesia. Health policy and planning, 32, 1203-1211. LESTARI, S. 2016. Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanaman Konflik dalam Keluarga, Prenada Media. MAHARLOUEI, N. 2016. The importance of sosial support during pregnancy. Women’s Health Bulletin, 3, 1-1.
Neng Kurniati 67 MARETTA, M. Y., ANDHIKATIAS, Y. R. & AGUSSAFUTRI, W. D. 2022. Optimalisasi Pengetahuan Kader Tentang Persiapan Kehamilan Sehat Melalui Edukasi dengan Video. JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat), 6, 23-26. MARNIYATI, L., SALEH, I. & SOEBYAKTO, B. B. 2016. Pelayanan antenatal berkualitas dalam meningkatkan deteksi risiko tinggi pada ibu hamil oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Sako, Sosial, Sei Baung dan Sei Selincah di Kota Palembang. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan: Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 3, 355-362. MELATI, R. & RAUDATUSSALAMAH, R. 2012. Hubungan Dukungan Sosial Suami Dengan Motivasi Dalam Menjaga Kesehatan Selama Kehamilan. Jurnal psikologi, 8, 111-118. PASARIBU, R. D., SETIA, T. F. & GULTOM, L. 2014. Sosial, Budaya serta Pengetahuan Ibu Hamil yang Tidak Mendukung Kehamilan Sehat. Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist), 9, 72-78. REDSHAW, M. & HENDERSON, J. 2013. Fathers’ engagement in pregnancy and childbirth: evidence from a national survey. BMC pregnancy and childbirth, 13, 1-15. SULISWATI 2014. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta, EGC. TAYLOR, S. E. 2011. Sosial support: A review. TUNÇALP, Ӧ., PENA-ROSAS, J., LAWRIE, T., BUCAGU, M., OLADAPO, O., PORTELA, A. & METIN GÜLMEZOGLU, A. 2017. WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience—going beyond survival. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 124, 860-862. ULFIAH, U. 2016. Psikologi keluarga: Pemahaman hakikat keluarga dan penanganan problematika rumah tangga, Ghalia Indonesia. WANG, C., QIU, W., ZHENG, Y., LI, H., LI, Y., FENG, B., GUO, S., YAN, L. & CAO, J.-M. 2013. Extraneuronal monoamine transporter mediates the permissive action of cortisol in the guinea pig trachea: Possible involvement of tracheal chondrocytes. PLoS ONE, 8, e76193. YULIANI, D. R., SARAGIH, E., ASTUTI, A., WAHYUNI, W., ANI, M., MUYASSAROH, Y., NARDINA, E. A., DEWI, R. K., SULFIANTI, S. & ISMAWATI, I. 2021. Asuhan Kehamilan, Yayasan Kita Menulis.
Nurmiaty 68 BAB 7 KAJIAN PSIKOLOGI TENTANG PERSIAPAN AYAH DALAM MENJADI ORANG TUA Oleh Nurmiaty 7.1 Pendahuluan Masa orang tua (parenthood) merupakan kriteria terpenting dalam pengalihan dari tanggung jawab individual ke tanggung jawab kedewasaan. Status sebagai orangtua tidak dapat diragukan lagi tentu dilakukan dengan banyak mengorbankan kebahagiaan dan kepuasan sehingga diartikan sebagai “masa kritis” karena memerlukan banyak perubahan perilaku, nilai dan peranan. Dengan lahirnya sang anak, keluarga terkadang bingung dan semua anggota keluarga juga mengalami stress dalam variasi tingkat yang berbeda. Walaupun kehadiran setiap anak dalam keluarga merupakan suatu situasi kritis, tetapi yang paling mengecewakan adalah saat lahirnya anak pertama, karena dalam beberapa hal kedua orang tua anak merasa belum mampu berperan sebagai orangtua. Hal ini bisa disebabkan karena konsep orang tua yang romantis. Sebagian lagi karena bayi dianggap mengganggu dan mempengaruhi keharmonisan hubungan suami istri, yang mengubah hubungan keluarga yang bersifat dwitunggal ke bentuk tri tunggal. Suami dan istri harus melakukan penyesuaian tertentu dalam pola hidup mereka apabila mereka ingin menjadi orangtua yang sejati. Misalnya istri yang berubah peran menjadi ibu rumah tangga padahal ia sebelumnya memperoleh pendidikan dan pengalaman professional yang begitu bagus. Biasanya istri yang mengalami hal seperti ini merasa sangat menderita dan terguncang jiwanya Ketika menyadari bahwa dia harus melepaskan pekerjaan kantornya. Sedangkan Sebagian besar pria tidak mengubah peranannya secara radikal pada waktu mereka menjadi orangtua. Banyak bapak meremehkan peran orangtua dengan menjadi kurang responsive secara seksual terhadap istri mereka,
Nurmiaty 69 mencemaskan tekanan ekonomi atau mengembangkan perasaan kecewa karena mereka disingkirkan. Perilaku tidak menyenangkan ini sering merusak perilaku pria sebagai orangtua dan merusak penyesuaian status perkawinan. 7.2 Keragaman Penyesuaian Diri Terhadap Masa Orang Tua Banyak variasi hidup yang berkesan mendalam dalam penyesuaian diri yang harus dilakukan pria dan wanita terhadap masa orangtua. Beberapa faktor tersebut mempengaruhi lebih banyak perempuan daripada pria. Faktor-faktor lainnya lebih banyak mempengaruhi pria. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi penyesuaian diri dengan masa orang tua: 1. Sikap terhadap kehamilan Sikap wanita terhadap masa orangtua (parenthood) diwarnai dengan kondisi fisik dan emosionalnya selama mengandung. Dalam kebanyakan kasus, jika sikapnya tidak menyenangkan terhadap kemungkinannya, akan tampak setelah bayinya lahir. 2. Sikap terhadap masa orangtua Orang dewasa akan menyesuaikan diri lebih baik dengan masa orangtua jikalau ia menginginkan anak karena ia merasa bahwa bayi itu merupakan unsur esensial terhadap perkawinan yang bahagia, lebih daripada keluarga atau tekanan sosial. 3. Usia orangtua Orangtua muda cenderung untuk kurang bertanggungjawab terhadap masa orangtua dan tidak mengizinkan orang lain untuk mencampuri masalah kesenangan dan sikapnya terhadap obyek lain di luar keluarga. Sedangkan orangtua yang sudah lebih dewasa cenderung untuk lebih bertanggung jawab dan lebih memperhatikan masalah keluarga. Dengan demikian orangtua yang masih muda harus lebih banyak menyesuaikan diri. 4. Jenis kelamin anak Sikap orang dewasa terhadap masa orangtua jauh lebih menyenangkan jikalau mereka mempunyai anak atau anakanak dengan jenis kelamin yang mereka kehendaki.
Nurmiaty 70 5. Jumlah anak Apabila seorang dewasa mempunyai jumlah anak yang mereka anggap “ideal”, penyesuaian diri mereka dengan masa orangtua akan lebih baik ketimbang mereka mempunyai lebih banyak atau lebih sedikit dari jumlah yang mereka inginkan. 6. Harapan orangtua Apabila orangtua memiliki konsep anak yang diimpikan, penyesuaian diri mereka terhadap masa orangtua akan dipengaruhi oleh seberapa baik anak itu diukur menurut yang ideal tersebut. 7. Perasaan keseimbangan tugas orang tua Konflik tentang metode pelatihan anak bisa membingungkan dan menimbulkan rasa cemas dalam melakukan kerja dengan baik. Konflik ini juga mempengaruhi penyesuaian diri dengan masa orangtua. 8. Sikap terhadap perubahan peran Masa orangtua berarti bahwa baik pria maupun wanita harus belajar untuk memainkan peran yang lebih berorientasi pada keluarga daripada berorientasi kepada pasangan. Bagaimana pria dan wanita bereaksi terhadap perubahan peran ini akan mempunyai pengaruh terhadap penyesuaian mereka dengan masa orangtua. 9. Watak anak Anak-anak yang mudah untuk diatur, responsive dan penuh kasih sayang, membuat orang tua merasa dihargai waktu dan usahanya yang telah dikorbankan bagi anak-anak. Hal ini merupakan efek yang menyenangkan orangtua sehingga memudahkan sikap dan peranan mereka sebagai orangtua. 7.3 Kondisi-Kondisi Yang Menambah Penyesuaian Perkawinan Ada enam (6) kondisi yang menunjang penyesuaian perkawinan, yaitu: 1. Saat masa orangtua Jikalau anak pertama lahir pada tahun pertama perkawinan, sebelum pasangan suami istri mempunyai waktu cukup untuk melakukan penyesuaian diri satu sama lain atau untuk
Nurmiaty 71 mengatur keuangannya dalam kondisi yang memuaskan, barangkali akan menimbulkan stress dan ketegangan. 2. Membangun kondisi keuangan yang mapan. Apabila pasangan muda tersebut telah memiliki rumah dan symbol status yang mereka dambakan, dengan cara menggabungkan penghasilan bersama mereka akan lebih muda menyesuaikan diri daripada yang seharusnya, karena masa orangtua dimana mereka harus hidup dari penghasilan suami saja dan menghalangi mereka untuk mengerjakan halhal yang mereka inginkan. Banyak keluarga muda yang tidak mempunyai konsep yang realistis tentang biaya hidup. Akibatnya harapan mereka tentang kemampuan keuangannya untuk memiliki barang-barang yang mereka inginkan yang dianggap penting bagi kebahagiaan juga nampak tidak realistis. Bila menghadapi kenyataan keuangan, mereka sering mengalami kesulitan dalam penyesuaian perkawinan. 3. Harapan tentang perkawinan yang tidak realistis Pasangan muda yang menikah setelah menyelesaikan pendidikannya sering kurang menyadari berbagai masalah dan tanggung jawab perkawinan yang diembannya. Perkawinan yang dirayakan secara meriah juga menambah masalah penyesuaian karena menimbulkan harapan yang tidak realistis. 4. Jumlah anak Bila suami istri setuju dengan jumlah anak, dan bila mereka mempunyai anak sebanyak yang diharapkan maka proses penyesuaian perkawinan akan jauh lebih baik. 5. Posisi biasa dalam keluarga Ini penting karena hal ini akan mengakibatkan setiap individu untuk belajar memainkan peran tertentu yang kelak dapat dimanfaatkan dalam situasi perkawinan. Semakin mirip situasi baru yang dihadapi dengan situasi lama, semakin baik proses penyesuaian perkawinan mereka kelak. Telah ditemukan bukti bahwa baik pria maupun wanita yang berjauhan rumah dengan saudara kandungnya akan membuat proses penyesuaian yang makin baik terhadap perkawinan. 6. Hubungan dengan pihak keluarga pasangan Hubungan yang menyenangkan dengan pihak keluarga pasangan sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap
Nurmiaty 72 proses penyesuaian perkawinan. Hubungan yang baik dengan mertua dan ipar dapat menimbulkan rasa stabil kedua pasangan muda tersebut dan anaknya, terutama pada masa libur. 7.4 Bersiap menjadi Orang Tua Membangun keluarga merupakan awal lahirnya generasi mendatang. Calon ayah dan ibu perlu menentukan keluarga seperti apa yang menjadi impian, pilihan dan harapannya serta perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjadi ayah dan ibu bagi anakanaknya. Untuk membangun sebuah keluarga, diperlukan perencanaan yang matang : a. Merencanakan usia pernikahan. Usia 20-30 tahun merupakan usia ideal dan merupakan masa reproduksi yang sehat. b. Membina hubungan antar pasangan, dengan keluarga lain dan kelompok sosial. c. Merencanakan kelahiran anak pertama, persiapan menjadi orangtua. d. Mengatur jarak kelahiran dengan menggunakan alat kontrasepsi. e. Berhenti melahirkan di usia 35 tahun, agar dapat merawat balita secara optimal. f. Merawat dan mengasuh anak usia balita, memenuhi kebutuhan mendasar anak (kebutuhan fisik, kasih sayang dan stimulasi). Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan guna membentuk keluarga berkualitas, yaitu: a. Menumbuh kembangkan harapan pada diri sendiri dan keluarga akan kehidupan yang lebih baik. b. Memberi teladan yang baik kepada anak-anak mengingat perkembangan teknologi dan globalisasi yang juga memiliki dampak negative dari sisi moral. c. Senantiasa memberikan nasihat kebaikan dan teguran atas perilaku dan tindakan yang menyimpang. d. Mencari dan membentuk lingkungan kondusif, untuk perkembangan keluarga yaitu lingkungan yang jauh dari obatobatan terlarang, kekerasan dan tindak asusila.
Nurmiaty 73 e. Melakukan pembiasaaan dan pengulangan, terhadap hal-hal yang baik dan bermanfaat. f. Memberikan hadiah berupa pujian bila anak berhasil melakukan hal-hal baik serta memberikan hukuman bila anak melanggar aturan yang telah disepakati. 7.5 Perubahan Peran Kelahiran seorang anak sering merupakan saat kritis dalam perkawinan. Hal ini disebabkan oleh perubahan peran yang drastis yang harus dilakukan tidak hanya oleh kelahiran anak pertama, tetapi juga disebabkan oleh kelahiran anak kedua dan seterusnya. Pada saat perubahan ke status berkeluarga itu sulit dilakukan, maka perubahan peran perkawinan dan trauma akan semakin meningkat. Seberapa jauh kesulitan yang dihadapi banyak sedikitnya dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah anggota keluarga. Bagi wanita, salahsatu perubahan peran yang paling bahaya adalah penyerahan sebagian besar pembuatan keputusan kepada suaminya dan kesediaannya untuk mengubah peran, dari sebagai pemegang tanggungjawab dalam posisi tertentu dalam pekerjaan tertentu sebelum menikah, kemudian berperan menjadi ibu rumah tangga. Dalam kondisi yang ada dimasyarakat kita, hanya menjadi ibu rumah tangga secara penuh berarti memperoleh pekerjaan yang sulit untuk dinikmati. Pria juga mengubah peranannya dalam dalam perkawinannya. Seberapa jauh kecepatan perubahan yang terjadi sebagian tergantung pada konsep pria itu sendiri tentang peranannya sebagai suami dan sebagian lagi tergantung pada kondisi khusus keluarga. 7.6 Teori Tentang Keayahan dan Calon Ayah Teori-teori tentang keayahan baru muncul dan berkembang sejak tahun 1970-an dan hasil berbagai penelitian banyak mengubah secara drastis konsep dan anggapan tentang keayahan. Anggapan lama masyarakat ialah seorang ayah sesungguhnya tidak terlalu berperan dalam kehidupan anak. Dibandingkan dengan ibu, ayah memang kelihatan jauh dari anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih dalam masyarakat lampau. Dua ahli terkenal yang bisa disebut memperkuat pandangan lama ini adalah Sigmund Freud (seorang
Nurmiaty 74 psikoanalis) dan John Bowlby (seorang ethologis Inggris). Teori dari dua tokoh ini sering menjadi referensi pemikiran yang menekankan bahwa tokoh ibu merupakan sentral kehidupan anak. Freud berpendapat bahwa hubungan sang anak dan ibunya sangat berpengaruh dalam pembentukan pribadi dan sikap-sikap sosial si anak di kemudian hari. Di mata Freud, peranan ayah tidak diperhitungkan. Ayah tidak mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak. Dalam teori perkembangan anak, Freud menekankan bahwa peranan ayah itu baru muncul pada tahap akhir masa kanak-kanak. Ibulah tokoh utama dalam proses sosialisasi anak. Kemudian muncul teori-teori baru yang mencoba meninjau kembali kebenaran pikiran Freud. Pada tahun 1940an dan 1950an, Robert Sears dan Johns Whiting misalnya mencoba meneliti kembali pikiran Freud dan kemudian dikaitkan dengan teori belajar modern. Kedua psikolog ini berpendapat, anak-anak itu dapat memperoleh kepuasan apabila dorongan-dorongan biologis dasar seperti lapar dan haus itu diatasi. Dalam soal ini seorang ibu memang mudah dilihat berperan penting bagi seorang anak terutama karena selalu menyuapkan makanan kepada anaknya. Sebaliknya seorang ayah biasanya kurang terlibat dalam memberi makan. Tetapi tidak bisa begitu saja dapat disimpulkan ayah kurang berperan dalam perkembangan anak. Menjadi seorang ayah bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang. Pertama ia harus mengenal dan memahami berbagai tuntutan, dan juga suka duka kehidupan keluarga baru. Kemudian harus menentukan bersama istrinya untuk memiliki anak sendiri atau tidak. Dan apakah perlu mengangkat anak. Semua ini adalah persoalan awal yang dihadapi calon ayah dan ibu. Bila menghendaki anak, maka perlu dipersiapkan bagi kehamilan istri. Dan kehamilan ini adalah urusan bersama dalam keluarga, bukan hanya urusan istri saja. Kehamilan termasuk salah satu periode kritis dalam kehidupan wanita. Tak dapat dielakkan situasi ini menimbulkan perubahan drastis, bukan hanya fisik tetapi juga psikologis. Dalam aspek psikologis, timbul pengharapan yang disertai kecemasan menyambut persiapan kedatangan bayi. Semuanya ikut mewarnai interaksi anggota dalam keluarga.
Nurmiaty 75 Bagaimana perasaan dan perilaku suami ketika istrinya hamil? Ternyata perasaan dan perilaku seorang suami tidak kalah menarik dengan tingkah laku istrinya yang sedang hamil. Ketika ibu hamil maka terjadilah perubahan sikap pada diri ayah. Ayah menjadi tampak sangat hati-hati, penuh memahami dan selalu berusaha menjaga hubungan damai dengan istrinya. Dalam suatu penelitian terhadap pasangan suami istri yang hamil, selama periode kehamilan sikap istri menjadi lebih sensitif dan cenderung perasa, cemas, takut, gelisah atau kadangkadang perubahan perasaan yang mendadak, sebentar senang lalu dengan cepat bisa menjadi marah lagi. Si istri sering meminta dan menuntuk macam-macam kepada suaminya. Ia kadang-kadang tenggelam dalam perasaan yang mendalam dan sering menangis. Gambaran umum pada fase ini yakni sikap istri menjadi cepat tersinggung dan suka marah-marah. Tetapi perilaku macam ini merupakan sesuatu yang alamiah, dan ini tidak selalu berakibat negatif. Ada wanita yang merasa senang dan tidak mengalami depresi pada fase ini. Ada juga kelompok ibu yang berbeda antara perasaan senang dan rasa tertekan yang silih berganti. Meskipun para ahli psikoanalisi yakin bahwa kehamilan dipandang sebagai suatu krisis bagi sebagian calon ayah tetapi hal ini bukanlah masalah serius. Tidak semua perubahan pada calon ayah ketika istrinya hamil itu menimbulkan perubahan drastis dan membingungkan. Calon ayah dapat menunjukkan ketertarikan pada anak bayi. Pada periode ini banyak ayah berusaha membaca banyak buku tentang anak dan tentang peran orang tua. Juga banyak kegiatan seperti menyiapkan berbagai fasilitas untuk mepersiapkan kedatangan bayinya. Untuk itu kadang ayah mencari kerja sampingan. Dan ini khususnya beberapa bulan menjelang kelahiran tiba. Selama masa kehamilan banyak calon ayah mengalami rasa cemas. Mereka merasa cemas karena memikirkan kesulitan yang bakal dialami istrinya. Suami merenungkan penderitaan yang dialami istrinya seperti pusing dan nyeri. Dan ini justru lebih dialami si ayah dari apa yang dialami istri sesungguhnya. Ayah juga mungkin merasa pusing memikirkan pembiayaan rumah sakit dan uang untuk pembiayaan lainnya. Masa kehamilan sesungguhnya bukanlah suatu peristiwa yang benar-benar menyenangkan. Periode ini sering membawa situasi emosional pada keluarga. Dukungan moral seorang suami pada istrinya
Nurmiaty 76 adalah hal yang memang dibutuhkan. Sangat dianjurkan suami mesti memberi dukungan yang lebih besar kepada istrinya. Suami adalah orang pertama dan utama dalam memberi dorongan kepada istri sebelum pihak lain turut memberi dorongan. Yang tidak kalah menarik pada masa kehamilan adalah sikap ayah sendiri. Sang suami semakin tertarik pada istrinya dan berusaha menciptakan hubungan yang positif. Dan setelah si bayi lahir, sang ayah ingin membelai dan memegangnya namun ia mengalami kesulitan bagaimana memegang dengan cara yang baik. Masa kehamilan itu menjadi masa yang indah jika sang ayah berperan aktif dalam situasi ini. Perilaku suami yang baik bisa membuat sang istri menjadi bahagia dan menghayati masa kehamilan dengan tenang. Pada masa lampau seorang ayah tidak diperbolehkan menemani istrinya pad saat-saat kelahiran dengan alasan untuk menghindari infeksi dalam ruangan bersalin. Karena itu ayah hanya boleh duduk diruangan tunggu, berjalan-jalan, main kartu atau tidur menunggu istrinya melahiran. Tetapi saat ini keterlibatan seorang ayah pada masa kehamilan tidaklah berhenti sampai diruang tunggu rumah sakit. Ayah sudah diizinkan untuk masuk di ruangan bersalin dan mendampingi ibu selama proses persalinan. Saat ini dengan adanya kelas kursus persiapan kehamilan dan persalinana seperti kelas ibu hamil, suami dapat ikut belajar bersama istri, sehingga suami sudah mulai dapat mempersiapkan diri, bukan hanya menyangkut apa yang ia harapkan tetapi juga soal apa yang perlu ia lakukan untuk membantu istri pada waktu melahirkan. Sekarang kursus atau kelas persiapan persalinan menjadi suatu tuntutan dan bagian pelayanan dari sebagian besar rumah sakit. Di masyarakat kita mengenal pelayanan kesehatan ibu dan anak di Posyandu yang mana telah lama melaksanakan kelas ibu hamil. Bertujuan untuk menyiapkan ibu dalam proses kehamilan, persalinan dan masa nifas serta menyusui. Para tenaga kesehatan sudah mulai mendorong bahwa saat ibu mengikuti kelas akan lebih baik bila didampingi suami, sehingga suamipun dapat ikut belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan dan persiapan proses persalinan. Sehingga calon ayah dapat melaksanakan perannya selama proses tersebut berlangsung. Salah satu metode yang cukup populer adalah metode Lamaze. Di bawah bimbingan instruktur, calon ayah dan ibu mempelajari dan mempraktekkan latihan-latihan pernapasan yang disesuaikan dengan
Nurmiaty 77 peristiwa kelahiran. Latihan ini sangat menolong seorang ibu untuk bersikap santai dan bisa mengurangi kesakitan yang saat kontraksi terjadi. Pada saat ini calon orangtua mengikuti pelajaran-pelajaran mempersiapkan diri baik melalui kelas atau mengikuti seminar sebelum bayi lahir agar mengenal lebih mendalam proses fisiologis dalam fase kehamilan dan kelahiran. Para calon ayah dan ibu dapat belajar tentang bagaimana pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif dan perawatan bayi. Selama proses persalinana, ayah sebagai pendamping istri ikut memainkan peran penting dalam mengikuti proses ini. Pertama, suami dapat mengukur lamanya waktu kontraksi, bernafas seirama dengan istrinya, membantu menopang istrinya pada detik-detik kontraksi. Memijit-mijit punggung istrinya, menyuguhkan minuman dan menyampaikan pesan istrinya kepada petugas kesehatan (bidan, perawat dan dokter). Memberikan perhatian yang terus menerus dan memberi dorongan dan semangat. Kedua, suami dengan sabar dan setia mendampingi istrinya yang tengah menghadapi situasi kritis, menghibur dan memberikan harapan, menguatkan hati dan mengatakan ”sabarlah sayang kesulitan ini akan segera berlalu”. Salahsatu keuntungan dari semua praktek seperti ini, calon ibu akan mengurangi penggunaan obat-obatan selama proses persalinan. Kehadiran suami akan menambah pengalaman emosi positif pada istri. Kaum ibu lebih sering mengatakan, kelahiran bagaikan suatu pengalaman puncak baginya jika saja suami hadir pada peristiwa itu. Dan ada hal yang menarik dari kursus persiapan kelahiran ataupun kelas ibu hamil. Calon ayah menjadi lebih aktif dibandingkan calon ibu sendiri pada saat kelahiran. Jika peristiwa kelahiran ini menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi ayah dan ibu, maka ini adalah awal terciptanya hubungan baik antara ayah dengan anak bayinya. Penafsiran kembali peranan ayah dalam seluruh kehidupan keluarga merupakan pembaharuan yang revolusioner yang antara lain bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan suami dalam proses kelahiran. Pada masa sekarang keterlibatan suami dalam proses kelahiran cenderung meningkat. Tujuannya tidak lain untuk meghadirkan suasana rumah, menghadirkan situasi keluarga ke rumah sakit, dan memberikan makna kekeluargaan bagi peristiwa kelahiran ini. Kelompok suami yang ikut terlibat dalam peristiwa kelahiran umumnya keseluruhan mengungkapkan perasaan antusias. Ayah ini
Nurmiaty 78 kemudian juga menjadi lebih aktif dalam mengasuh bayi setiap hari, bahkan sampai tiga bulan setelah lahir. Ayah seperti ini bersama anaknya menjadi dua kali lebih banyak waktunya dibandingkan dengan ayah lain. 7.7 Memahami Peran Orangtua Anak adalah bagian yang tak perpisahkan dan merupakan buah cinta dari ayah dan ibu. Anak yang lahir dengan belaian kasih sayang dari ayah dan ibunya akan mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan selalu siap dalam menghadapi tantangan masa depan. Orangtua terbaik bukanlah mereka yang suka menyerahkan urusan pengasuhan kepada orang lain. Oleh karena itu menciptakan kedekatan antara orangtua dengan anak adalah sebuah investasi yang sangat berharga. Dalam kaitannya dengan pengasuhan, orangtua harus menyediakan cukup waktu untuk menjalankan kedekatan dan menjadi pelatih emosi bagi anak-anaknya. Orang tua adalah pengasih pertama dan utama bagi anak. Pada kondisi tertentu, orang lain dapat mengganti peran orangtua sebagai pengasuh anak untuk sementara (kakek, nenek, paman, bibi, pembantu rumah tangga) yang bertugas menjaga anak. Tujuan pengasuhan adalah merawat, mengasuh dan mendidik anak agar dapat menjalankan peran sebagai: a. Hamba Tuhan yang taqwa, berakhlak mulia, ibadah sempurna. b. Calon istri atau suami c. Calon ayah atau ibu d. Ahli dalam bidang (professional) dan memiliki jiwa wirausaha e. Pendidik dalam keluarga f. Orang yang bermanfaat bagi lingkungan keluarga dan masyarakat. 7.8 Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Peran ayah dalam keluarga adalah sebagai pencari nafkah dan pelindung keluarga. Peran ayah juga terpengaruh oleh budaya tempat ayah berasal/tinggal. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan sering hanya dianggap sebatas pendukung ibu, padahal ayah juga dapat melakukan pengasuhan yang sama baiknya dengan ibu. Ayah bisa sama baiknya dengan ibu dalam mengenali dan merespon kebutuhan-
Nurmiaty 79 kebutuhan bayi dan anak yang lebih besar. Ayah juga berperan sebagai guru, panutan dan penasehat. Ayah yang ikut serta mengasuh bayi dan anaknya dapat membuat anak cerdas di sekolah dan mempunyai nilai-nilai akademis yang bagus. Sebaliknya ayah yang tidak peduli dan tidak mau terlibat dalam membuat anak memiliki masalah seperti kenakalan dan depresi di kemudian hari. Ayah memiliki peranan yang sangat penting dalam keluarga. Keterlibatan ayah memiliki dampak positif terhadap: a. Perkembangan Kognitif 1. Anak lebih cerdas Ayah yang bermain dan berinteraksi dengan bayinya, akan membuat bayi lebih cerdas di usia 6 bulan dan 1 tahun, dan memiliki angka kecerdasan yang lebih tinggi saat diukur pada usia 3 tahun. 2. Memperbanyak kosakata anak Dibandingkan dengan ibu, ayah berbicara lebih banyak menggunakan kata tanya (apa, dimana, dll) yang dapat melatih akan untuk berkomunikasi. Nantinya akan berguna untuk memperbanyak perbendaharaan kata anak. 3. Anak lebih terampil Di usia sekolah, anak dapat memiliki nilai pelajaran lebih bagus karena memiliki keterampilan bahasa dan berhitung. 4. Prestasi disekolah lebih baik Ayah dapat merangsang anak untuk berpikir, sehingga anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar, merasa bahwa pendidikan itu penting dan dapat meraih prestasi di sekolah. 5. Perilaku buruk berkurang Masalah perilaku buruk (merengek, merajuk, memaksa, dll) pada anak cenderung berkurang. 6. Anak lebih aktif Anak akan menyukai sekolah, dan lebih berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler. 7. Peluang karir lebih baik Setelah lulus sekolah, anak akan meraih pekerjaan dan karir yang baik, penghasilan yang baik dan memiliki keadaan psikologis yang lebih baik pula.
Nurmiaty 80 8. Resiko kenakalan remaja lebih rendah Keterlibatan ayah sejak anak usia dini dapat membuat anak lebih terlindungi dari kondisi yang penuh risiko seperti kenakalan, pergaulan bebas, dan penggunaan narkoba. b. Perkembangan Sosio-Emosional 1. Anak merasa aman Ayah yang terlibat dalam merawat anak akan membuat anak merasa aman dan memiliki ikatan yang kuat dengan anak. 2. Anak tidak mudah stress Anak cenderung tidak mudah stress, lebih mudah mengatasi kesulitan, lebih ingin tahu akan sesuatu hal yang baru, lebih matang dan lebih bahagia. 3. Anak mudah beradaptasi Anak cenderung lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya, lebih memiliki inisiatif, mampu mengendalikan diri, senang mencoba hal-hal yang baru, dan anak memiliki harga diri yang cenderung lebih tinggi. 4. Anak sehat secara mental Anak secara mental lebih sehat, dan masalah perilaku cenderung berkurang /kecil. 5. Anak berperilaku pro-sosial Anak akan lebih memiliki perilaku yang pro-sosial antara lain: mudah bergaul, menyesuaikan diri dengan lingkungan, mudah menolong orang lain. 6. Anak mudah bergaul Anak lebih mudah bergaul dan disukai oleh temantemannya. 7. Anak terhindar dari konflik Anak cenderung lebih sedikit memiliki konflik dengan orang lain, dan saat remaja lebih sedikit memiliki masalahmasalah sosial yang negatif, dan menjadi lebih menghargai orang lain. 8. Kehidupan dewasanya lebih baik Di usia dewasa, lebih mudah bersahabat, lebih hangat, memiliki hubungan yang lebih sehat dan memiliki pernikahan yang sukses.
Nurmiaty 81 9. Anak memiliki empati Anak lebih mudah merasakan apa yang dirasakan orang lain. 10. Anak matang secara moral Secara moral lebih matang, lebih patuh pada peraturan dan lebih memiliki perilaku moral yang positif. c. Perkembangan Fisik 1. Resiko kelahiran lebih kecil Ketika ayah mendukung ibu saat melahirkan maka ibu akan lebih sehat mentalnya, masalah kehamilan ibu akan lebih sedikit. 2. Risiko penyakit dan kecelakaan rendah Jika dibandingkan dengan anak yang tinggal bersama kedua orangtuanya, anak yang tinggal dengan keluarga tiri atau orangtua tunggal lebih cenderung mengalami kecelakaan, jatuh, menderita asma, obesitas. 3. Anak lebih sehat Secara keseluruhan, anak yang tidak tinggal dengan ayah mereka lebih cenderung mengalami masalah-masalah kesehatan. Hal-hal yang bisa dilakukan ayah agar terlibat dalam pengasuhan: a. Mendampingi kehamilan Ayah ikut mendampingi ibu dalam pemeriksaan kandungan dan persiapan kehamilan. Kehadiran ayah mempengaruhi kondisi emosi ibu yang baik dan dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin. b. Turut merawat bayi Dukungan ayah akan berdampak pada kesabaran dan semangat ibu untuk menyusui bayinya. Ayah ikut mengganti popok, memandikan, menggendong dan memberi makan. Interaksi yang dilakukan sejak awal akan membantu anak merasakan kehadiran ayah. Hal ini dapat membantu pendekatan emosi antara ayah dengan anak, selain itu ayah juga dapat mendukung ibu untuk memberikan ASI.
Nurmiaty 82 c. Melakukan aktifitas bersama anak Ayah melakukan aktifitas yang menyenangkan bersama anak seperti bermain, jalan-jalan, membaca, mengenalkan lingkungan sekitar. d. Menciptakan komunikasi yang baik Ayah mengajak anak berdialog, menyempatkan diri menghubungi anak ketika ayah tidak dirumah. Hal ini tentunya perlu kerjasama dan dukungan dari ibu, karena banyak ayah yang merasa kurang percaya diri dalam menangani anak-anaknya. Pada kondisi tertentu ayah tidak hadir dalam pengasuhan, misalnya ayah yang meninggal, ayah yang bekerja di luar kota/negeri, ibu perlu menghadirkan figur pengganti ayah seperti paman atau kakek.
Nurmiaty 83 DAFTAR PUSTAKA BKKBN. 2013. Bahan Penyuluhan Bina Keluarga Balita Bagi Kader: Menjadi Orang Tua Hebat Dalam Mengasuh Anak usia 0-6 Tahun. Jakarta: BKKBN. Dagun, S. M. 1990. Psikologi Keluarga: Peranan Ayah Dalam Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta. Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Nurmiaty 68 BAB 8 SKRINING PRAKONSEPSI Oleh Darmiati 8.1 Pendahuluan Kesehatan reproduksi merupakan suatu kondisi yang menggambarkan keadaan sejahtera secara fisik, mental dan keadaan sosial yang utuh, bukan hanya sekedar terbebas dari penyakit/cacat yang berhubungan dengan sistem reproduksinya, fungsi serta proses yang terkait (Setyaningrum, 2021). Kesehatan reproduksi merupakan salah satu aspek yang krusial, oleh karena itu diperlukan perhatian khusus dalam menjaga kesehatan reproduksi (Rahayu, 2017). Kesehatan reproduksi juga menjadi awal perkembangan untuk mencapai derajat kesehatan ibu dan anak yang optimal (Marsiami, 2021). Oleh karena itu, diperlukan persiapan sejak awal bahkan sebelum proses kehamilan terjadi. Salah satu fase yang penting untuk mencapai tujuan tersebut adalah di fase pra konsepsi (Nababan L, Maulani N, 2022). Kesehatan prakonsepsi merupakan bagian yang penting dalam masa reproduksi yang bertujuan untuk meminimalisir risiko dan memperbaiki pola hidup sehingga dapat mempersiapkan kehamilan dengan baik dan terwujud kehamilan yang sehat (Yulivantina, Mufdlilah and Kurniawati, 2021). 8.2 Pengertian Skrining Prakonsepsi Skrining prakonsepsi atau perawatan pada masa prakonsepsi merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi risiko dari aspek biomedis, perilaku, dan social yang terkait dengan kesehatan wanita sehingga dapat menciptakan kehamilan yang sehat di masa depan (Arifah, 2022). Skrining prakonsepsi juga dilakukan sebagai langkah awal untuk memastikan kesehatan seorang wanita sebagai calon ibu dan calon anak sedini mungkin (Chalid, 2015). Skrining prakonsepsi ini dimulai sebelum terjadinya proses konsepsi atau pembuahan dan masa
Nurmiaty 69 konsepsi yang dapat dimulai sejak 2 tahun sebelum terjadinya kehamilan. 8.3 Manfaat Skrining Prakonsepsi Secara umum, beberapa manfaat Skrining Prakonsepsi yaitu sebagai berikut : a. Menjaga dan membentuk hidup sehat sebagai langkah awal perencanaan kehamilan (bagi wanita). b. Menjaga kesehatan dan berperan sebagai mitra wanita dan memberikan dukungan (bagi pria). c. Menciptakan kelahiran yang sehat, tanpa adanya kecacatan, dan memulai kehidupan yang sehat (bayi bayi). d. Menciptakan keluarga yang sehat dan berkualitas (bagi keluarga). e. Menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi. f. Mencegah terjadinya unwanted pregnancy (kehamilan yang tidak diinginkan). g. Meminimalisir dan mencegah terjadinya gangguan dan komplikasi selama masa kehamilan, persalinan, nifas dan bayi. h. Mencegah terjadinya underweight/overweight pada ibu dan stunting pada anak yang disebabkan karena kesalahan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada ibu selama kehamilan. i. Mengurangi risiko terjadinya diabetes gestasional, gangguan pada jantung atau kardivaskuler selama kehamilan, dan mencegah terjadinya penularan penyakit dari ibu ke janin (Setyaningrum, 2021). 8.4 Tahapan Skrining Prakonsepsi Berikut ini tahapan skrining prakonsepsi : a. Anamnesa Anamnesa merupakan proses tanya jawab atau kegiatan wawancara yang dilakukan oleh tenaga medis (perawat, bidan, dokter) kepada pasien untuk menciptakan komunikasi aktif (Azizah, 2021). Komunikasi aktif merupakan salah satu bentuk komunikasi yang terjadi secara dua arah dan muncul rasa empati. Secara umum, kegiatan anamnesa terbagi dua jenis
Nurmiaty 70 yaitu auto anamnesa dan allo anamnesa. Auto anamnesa adalah tanya jawab atau kegiatan wawancara yang dilakukan oleh tenaga medis (perawat, bidan, dokter) kepada pasien itu sendiri, dapat dilakukan pada pasien/klien yang dapat menjawab sendiri pertanyaan. Sedangkan allo anamnesa adalah tanya jawab atau kegiatan wawancara yang dilakukan oleh tenaga medis (perawat, bidan, dokter) kepada orang lain selain pasien, biasanya dilakukan pada klien atau pasien yang tidak sadarkan diri, bayi, anak-anak, dan pasien tunawicara (Sekar A, Erlinawati, 2019). Anamnesa dilakukan untuk membantu tenaga medis dalam menegakkan diagnosa dan membantu menentukan intervensi yang tepat dalam melakukan persiapan kehamilan atau rencana prakonsepsi. Kegiatan anamnesa bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keluhan atau permasalahan yang dialami oleh klien atau pasien. Anamnesa yang baik dapat menjadi awal yang baik untuk menciptakan komunikasi yang baik pula sehingga terwujud hubungan yang harmonis antara tenaga medis dan klien. Dengan demikian, diharapkan dapat terjalin Kerjasama dan bermanfaat untuk kegiatan pemeriksaan selanjutnya (Rahayu et al., 2017). b. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis merupakan proses yang dilakukan oleh tenaga medis kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi tubuh untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan penyakit/gangguan kesehatan. Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, di mulai dari bagian kepala dan berakhir pada bagian kaki (Dodik B, Widya L, 2020). Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada saat skrining prakonsepsi misalnya pemeriksaan tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan), pemeriksaan tinggi badan, berat badan, dan pemeriksaan status gizi. Pemeriksaan status gizi dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan gizi seperti kurang gizi, kurang energi kronik (KEK), dan pemeriksaan status anemia. Teknik pemeriksaan fisik yang
Nurmiaty 71 dilakukan meliputi teknik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi (Yulivantina, Mufdlilah and Kurniawati, 2021). c. Pemberian imunisasi Salah satu jenis imunisasi yang dapat dilakukan saat skrining prakonsepsi adalah pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT). Pemberian imunisasi tetanus toxoid bertujuan untuk mencegah dan memberikan perlindungan terhadap penyakit tetanus. Untuk memaksimalkan perlindungan imunisasi tetanus toxoid dapat diberikan 5x suntikan. Pemberian imunisasi TT-1 dapat diberikan sebelum terjadi konsepsi dengan dosis 0,5 cc (Mashudi et al., 2021). Berikut jadwal imunisasi TT: Dosis Interval Lama perlindungan Perlindungan TT-1 Kontak pertama - - TT-2 4 minggu setelah TT-1 3 tahun 80% TT-3 6 Bulan setelah TT-2 5 tahun 95% TT-4 1 tahun setelah TT-3 10 tahun 95% TT-5 1 tahun setelah TT-4 25 tahun/ seumur hidup 99% Gambar 8.1 : Jadwal Imunisasi TT d. Suplementasi gizi Pemberian suplementasi gizi pada calon pengantin bertujuan untuk mempersiapkan kehamilan sehat dan memenuhi kebutuhan nutrizi/gizi. Selain itu, pemberian suplementasi gizi juga dapat mencegah terjadinya gangguan selama kehamilan seperti anemia. Pemberian suplementasi gizi dapat diberikan berupa asam folat dan vitamin E. pemberian asam folat pada prakonsepsi bertujuan untuk menurunkan risiko terjadinya anencephalus atau cacat tabung syaraf otak (Chalid, 2015). Salah satu penelitian Rahmadhani, 2019 didapatkan bahwa pemberian asam folat dan vitamin E dapat meminimalisir efek teratogenik. Selain pemberian suplementasi gizi, pemenuhan kebutuhan energi yang berasal dari zat gizi makro seperti protein, lemak, dan karbohidrat dan kebutuhan zat mikro seperti vitamin A, vitamin D, asam folat, zat besi, seng, kalsium dan iodium juga perlu dipenuhi. Kedua
Nurmiaty 72 kebutuhan ini dapat membantu mencegah terjadinya Kekurangan Energi Kronik (KEK). Salah satu cara sederhana untuk menilai status gizi berdasarkan berat badan yaitu dengan mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Sedangkan pada ibu hamil dilakukan dengan melakukan pengukuran lingkar lengan atas (Lila). e. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini dapat dilakukan 3-6 bulan sebelum kehamilan. Pada pemeriksaan laboratorium dapat dilaksanakan dalam paket pelayanan terpadu. Beberapa jenis pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan pada masa prakonsepsi ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat rekomendasi. Pemeriksaan wajib yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan urine dan pemeriksaan kadar hemoglobin. Sedangkan pemeriksaan yang dapat direkomendasikan misalnya pemeriksaan atau deteksi dini adanya penyakit/virus dan pemeriksaan genetika (Yulivantina E, Gunarmi, 2019). Berikut ini beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan pada masa prakonsepsi: 1) Pemeriksaaan penyakit dan virus a) Pemeriksaan penyakit yang disebabkan oleh virus misalnya rubella, Human Papiloma Virus (HPV), varicella zoster. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kecacatan pada janin. b) Pemeriksaaan hepatitis dan HIV untuk mendeteksi penularan dari ibu ke janin. c) Pemeriksaan penyakit TORCH (Toxoplasma gondii (Toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) yang terdiri dari HSV1 dan HSV2 serta kemungkinan oleh virus lain yang dampak klinisnya lebih terbatas (Misalnya Measles, Varicella, Echovirus, Mumps, virus Vaccinia, virus Polio, dan virus Coxsackie-B). d) Pemeriksaan Penyakit Menular Seksual (PMS) untuk mencegah terjadinya komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
Nurmiaty 73 e) Pemeriksaan penyakit lainnya yang terjadi akibat kekurangan gizi sehingga dapat diberikan intervensi sedini mungkin (Arifah, 2022). 2) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah yang dapat dilakukan pada masa prakonsepsi adalah pemeriksaan kadar hemoglobin, pemeriksaan golongan darah dan rhesus (Rh). Pada pasangan suami istri, pemeriksaan golongan darah dan rhesus darah sangat penting untuk mengaantisipasi kemungkinan perbedaan rhesus. Perbedaan rhesus pada pasangan suami istri akan berbahaya pada ibu dan janin. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya keguguran. Keguguran disebabkan karena terjadinya hemolisis dan eritroblastosis fetalis (kerusakan sel darah merah) sehingga akan mengganggu perkembangan janin, memicu terjadinya penyakit lain, bahkan merusak otak anak (Yulivantina, Mufdlilah and Kurniawati, 2021). 3) Pemeriksaan genetika Pemeriksaan genetika secara umum dilakukan untuk mengantisipasi adanya penyakit atau cacat bawaan akibat kelainan genetis kedua orang tuanya. Hal ini dikhawatirkan jika pasangan suami istri masih memiliki hubungan darah atau ikatan persaudaraan (Sekar A, Erlinawati, 2019). f. Konseling persiapan kehamilan Beberapa hal yang dapat disampaikan saat melakukan konseling persiapan kehamilan antara lain: 1) Pemeriksaan kesehatan Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan secara teratur (3- 6 bulan sebelum konsepsi) sehingga jika terdapat gangguan kesehatan, petugas kesehatan dapat memberikan intervensi yang cepat dan tepat. 2) Menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh yaitu dengan berolahraga secara teratur. Selama masa prakonsepsi, pasangan dianjurkan untuk berolahraga yang cukup. Olahraga dapat dilakukan 3 kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30
Nurmiaty 74 menit. Selain untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh, olahraga secara teratur juga dapat membantu pasangan menjaga berat badan. Menjaga kondisi fisik, terutama pada wanita sebelum hamil dapat juga dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter/tenaga kesehatan. Biasanya akan dilakukan pengukuran Indeks Masa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan. Gambar 8.2 : Pengukuran IMT Pada wanita yang berencana hamil (masa prakonsepsi), perlu memperhatikan berat badannya. Hal ini disebabkan karena berat badan yang ideal dan sehat akan membantu pembuahan dan kehamilan agar dapat berlangsung sehat. Kelebihan ataupun kekurangan berat badan akan mempengaruhi tingkat infertilitas seseorang. 3) Menghentikan prilaku buruk Seorang wanita yang berencana hamial, perlu memperbaiki prilaku hidup dan menghentikan prilaku buruk. Prilaku buruk yang dimaksud antara lain perokok, pecandu narkotika dan obat terlarang seperti morfin, narkoba, pecandu alcohol, dan free sex. Prilaku seperti ini akan membahayakan bagi ibu dan janin bahkan dapat berujung kematian (Marsiami, 2021).
Nurmiaty 75 Selain itu, kebiasan mengkonsumsi alcohol juga akan mempengaruhi tingkat fertilitas dan kesehatan ibu maupun janin. Kebiasan merokok, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif sama berbahayanya. Rokok mengandung racun yang mengganggu fungsi tuba fallopii dan dapat menyebabkan kerusakan kromosom pada sel telur dan mempengaruhi kerja hormone estrogen. Prilaku seks bebas juga perlu mendapatkan perhatian. Hal ini bertujuan untuk menghindari dan mencegah terjadinya Penyakit Menular Seksual (PMS). 4) Menjaga pola makan dan asupan makanan Pengaturan pola makan dan asupan makanan pada masa prakonsepsi menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. Pada masa prakonsepsi, wanita biasanya dianjurkan untuk lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran. Selain itu, kebiasaan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat adiktif seperti penyedap, pengawet, pewarna, dan lainnya. Kandungan radikal bebas dari zat adiktif dapat memicu terjadinya kelainan atau gangguan (mutasi) genetik yang berujung pada kelainan atau kecacatan fisik pada janin (Yuwono, Subchan and Galenso, 2022). 5) Mempersiapkan diri secara psikologis dan mental Hal awal yang perlu dipertimbangkan pada masa prakonsepsi adalah kesiapan diri secara psikologis dan mental. Pasangan perlu menyusun rencana hidup reproduktif. Jika berencana menunda kehamilan maka perlu dipertimbangkan penggunaan alat kontrasepsi. Perlunya tambahan pengetahuan pada pasangan terkait perencanaan, perawatan selama kehamilan, persiapan persalinan, pasca persalinan, serta perawatan pada bayi baru lahir merupakan informasi yang dapat diberikan pada pasangan prakonsepsi. Salah satu hal yang perlu dihindari terkait pemberian informasi adalah kesalahan dalam pemberian informasi yang dapat menimbulkan ketegangan sehingga mempengaruhi sistem hormonal (Azizah, 2021) . Dari aspek psikologi, pada masa prakonsepsi perlu diberikan informasi terkait perubahan yang dapat terjadi