Nurmiaty 76 selama kehamilan, perlunya dukungan dari keluarga dan orang terdekat sehingga ibu siap menghadapi kehamilan. Keadaan psikologis ibu hamil juga akan berpengaruh terhadap kehamilannya. Oleh karena itu, kesiapan mental sangat diperlukan sebelum terjadinya kehamilan. Melengkapi diri dengan informasi mengenai persiapan kehamilan, proses kehamilan, persiapan persalinan, masa setelah persalinan, dan perawatan pada bayi baru lahir yang cukup akan memberikan kesiapan bagi wanita secara fisik dan mental (Willa F, 2021). 6) Perencanaan Keuangan atau Finansial Pada pasangan yang berencana menjalani kehamilan atau masa prakonsepsi, perencanaan keuangan merupakan hal yang perlu dipersiapkan dengan baik. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya ketegangan fisik dan mental saat akan memenuhi kebutuhan selama kehamila, persalinan dan pasca persalinan. Calon orang tua tentunya mengingkan yang terbaik untuk calon buah hati mereka sehingga diperlukan biaya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selama masa kehamilan, biayanya dapat diperkirakan dan diperhitungkan secara matang sehingga tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari (Willa F, 2021).
Nurmiaty 77 DAFTAR PUSTAKA Arifah, N. 2022. ‘Kepuasan Klien Skrining Pranikah’, Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(8.5.2017), pp. 2003–2005. Azizah, A. N. 2021. ‘Analisis Pelayanan Prakonsepsi Pada Calon Pengantin Di Era Adaptasi Kebiasaan Baru Covid-19’, Jurnal Kebidanan Indonesia, 12(2), pp. 74–82. Available at: http://jurnal.unw.ac.id:1254/index.php/ijm/article/view/260/ 253. Chalid, M. T. 2015. ‘Nutrisi Peri Konsepsi untuk 1000 Hari Pertama Kehidupan’. Dodik B, Widya L, W. R. 2020. ‘Indonesian Journal of Human Nutrition’, Indonesian Journal of Human Nutrition, 7(2), pp. 139–152. Available at: https://www.researchgate.net/profile/Fajar_Ari_Nugroho/publ ication/314713055_Kadar_NF- _Kb_Pankreas_Tikus_Model_Type_2_Diabetes_Mellitus_dengan_ Pemberian_Tepung_Susu_Sapi/links/5b4dbf09aca27217ff9b6fc b/Kadar-NF-Kb-Pankreas-Tikus-Model-Type-2-Diabetes-Melli. Marsiami, A. S. 2021. ‘Pengaruh Penerapan Game Edukasi Kesehatan Reproduksi (Kepo) Terhadap Keterampilan Remaja’, Jurnal Ilmiah Kesehatan, 10(2), pp. 77–84. doi: 10.52657/jik.v10i2.1471. Mashudi, A. M. et al. 2021. ‘Hubungan Antara Asupan Zat Gizi Dengan Status’. Nababan L, Maulani N, N. S. 2022. Modul asuhan pranikah dan prakonsepsi. Rahayu, A. 2017. ‘Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Remaja & Lansia’, Journal of Chemical Information and Modeling. Rahayu, A. et al. 2017. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Remaja & Lansia, Journal of Chemical Information and Modeling. Sekar A, Erlinawati, F. 2019. Generasi Berkualitas. Setyaningrum, E. 2021. Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta Timur: CV.Trans Info Media. Willa F, N. M. 2021. ‘Peningkatan Pengetahuan Kader dan Para Dewasa Muda Tentang Persiapan Calon Ibu dan Ayah Sebelum Kehamilan’, Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., pp. 5–24.
Nurmiaty 78 Yulivantina E, Gunarmi, M. 2019. ‘Interprofessional Collaboration In Premarital Tegalrejo Community Health Public , Yogyakarta Services At Interprofessional Collaboration Dalam Pelayanan Pranikah Di’, 8(1), pp. 42–54. Yulivantina, E. V., Mufdlilah, M. and Kurniawati, H. F. 2021. ‘Pelaksanaan Skrining Prakonsepsi pada Calon Pengantin Perempuan’, Jurnal Kesehatan Reproduksi, 8(1), p. 47. doi: 10.22146/jkr.55481. Yuwono, D. K., Subchan, D. and Galenso, N. 2022. ‘Gambaran Kebiasaan Makan Wanita Prakonsepsi di 10 Puskesmas Kabupaten Banggai’, XV(1).
Fitri Ramadhaniati 79 BAB 9 KONSELING PADA MASA PRAKONSEPSI Oleh Fitri Ramadhaniati 9.1 Pendahuluan Setiap kehamilan harus diawali dengan perencanaan yang matang. Selain itu, kehamilan juga harus diinginkan oleh kedua pasangan suami istri. Oleh karena itu, setiap pasangan suami istri harus mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan untuk merencankan kehamilan (Natalina, 2019). Berdasarkan hasil penelitian Oktalia dan Herizasyam (2016), sebagian besar ibu tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi kehamilan. Salah satu faktor yang menyebabkan ibu tidak siap dalam menghadapi kehamilan adalah kurangnya keterpaparan informasi tentang kehamilan pada ibu. Upaya peningkatan kesehatan seorang ibu harus dimulai pada masa sebelum hamil. Oleh karena itu, konseling sebelum masa prakonsepsi penting dilakukan. Sebagai petugas kesehatan, bidan berperan penting dalam memperhatikan kesehatan ibu dan anak. Salah satu upaya menjaga kesehatan ibu dan anak adalah dengan melakukan konseling sebelum masa kehamilan (Natalina, 2019). Calon pengantin perlu mengetahui tanda-tanda dan ciri-ciri kehamilan. Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan menumbuhkan kepedulian bila nanti terjadi kehamilan sehingga dapat mencapai kehamilan dan persalinan yang sehat dan aman. Tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan pengetahuan kepada ibu agar ibu tentang persiapan kesehatan sebelum kehamilan tiba. Ibu yang sehat diharapkan dapat melalui kehamilan secara aman. Selain itu konseling prakehamilan juga bertujuan untuk menjaga kesehatan bayi sejak masa janin berada dalam kandungan. Kondisi kesehatan bayi yang terjaga sejak dini akan memberikan peluang pada bayi untuk mampu hidup sehat dan normal hingga dewasa (Kemkes RI, 2014).
Fitri Ramadhaniati 80 Konseling pada masa prakonsepsi juga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak. Melalui proses konseling pada masa prakonsepsi mampu memberikan pengetahuan awal kepada calon orang tua agar dapat mempersiapkan kehamilan yang sehat sedini mungkin (WHO, 2012). 9.2 Tujuan Konseling Pada Masa Prakonsepsi Ada beberapa tujuan dilakukannya konseling pada masa prakonsepsi. Tujuan tersebut antara lain: 1. Memberikan peningkatan pengetahuan pada pasangan tentang kehamilan Melalui konseling diharapkan pasangan memiliki pengetahuan tentang kehamilan sehingga mampu mempersiapkan diri untuk menghadapi kehamilan. 2. Memfasilitasi perubahan sikap pada pasangan dalam mempersiapakan diri untuk menerima kehamilan Perubahan sikap dari tidak ingin melakukan sesuatu menjadi ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan persiapan kehamilan sehingga pasangan siap untuk melakukan segala hal positif yang mendukung terciptanya kehamilan yang sehat. 3. Memfasilitasi perubahan perilaku pasangan yang berkaitan dengan kesehatan prakonsepsi Peningkatan pengetahuan dan sikap dalam mempersiapkan kehamilan pada masa prakonsepsi diharapkan mampu mendorong pasangan untuk berprilaku sehat terutama dalam hal kesehatan reproduksi. 4. Memberikan keyakinan pada semua wanita usia subur bahwa semua WUS dapat menjalani kehamilan secara normal jika upaya prakonsepsi dilakukan secara optimal Keyakinan merupakan arah yang menentukan pola fikir. Oleh sebab itu setiap WUS harus memiliki keyakinan bahwa usaha dalam menjaga kesehatan reproduksi mampu mengantarkannya dalam kehamilan yang sehat. 5. Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak Kesehatan yang dijaga sejak awal masa prakonsepsi dapat mengurangi terjadinya berbagai permasalahan kesehatan
Fitri Ramadhaniati 81 dalam kehamilan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. (Natalia, 2019) 9.3 Pengertian dan Manfaat Konseling Salah satu upaya dalam menyadarkan masyarakat adalah dengan melakukan konseling. Konseing dilakukan secara dua arah dengan melibatkan konselor dan klien. Melalui konseling, diharapkan wanita usia subur dapat mengatasi dan mengambil keputusan dalam mempersiapkan kehamilan. Salah satu modal dasar konseling adalah hubungan baik antara konselor dan klien. Adapun manfaat dari pemberian konseling tersebut adalah: 1. Membantu klien untuk mengetahui dan mengenali masalah kesehatan dirinya Melalui konseling, klien dapat menceritakan masalah kesehatan yang ada pada dirinya kepada konselor. Hal ini memudahkan konselor dalam menggali masalah pada masing-masing klien. 2. Membantu klien memahami penyebab terjadinya masalah kesehatan jika terdapat pada diri dan keluarganya Melalui proses tanya jawab antara konselor dan klien terkait dengan masalah kesehatan yang dialaminya, maka dapat ditentukan penyebab dari permasalahan yang dialami oleh klien tersebut. 3. Membantu klien dalam mencari alternatif pemecahan masalah Setelah mengetahui masalah dan penyebab masalah dari klien, maka konselor bersama-sama dengan klien dapat merumuskan alternatif yang tersedia untuk memcehakan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. 4. Membantu klien dalam memilih pemecahan masalah yang paling memungkinkan untuk klien Diskusi antara konselor dan klien akan menghasilkan beberapa macam bentuk alternatif pemecahan masalah (Natalia, 2019)
Fitri Ramadhaniati 82 9.4 Tempat Konseling Konseling dilakukan di tempat yang nyaman. Tempat yang nyaman memungkinkan informasi yang disampaikan dapat diterima oleh klien dengan baik. Ada beberapa kriteria dalam menentukan tempat konseling yang nyaman, antara lain: 1. Ruangan privasi Ruangan yang digunakan untuk konseling adalah ruangan yang terpisah dengan ruangan lain, sehingga klien merasa nyaman dalam menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya. 2. Fasilitas Memadai Ruang konseling sebaiknya dilengkapi dengan fasilitas yang dapat digunakan untuk mendemostrasikan materi konseling. Hal ini diharapkan mampu membantu klien dalam memahami pesan yang disampaikan oleh konselor 3. Lokasi Ruangan Mudah Diakses Tempat ruangan konseling sebaiknya dapat dijangkau klien dengan mudah oleh klien. Jika ruangan konseling jauh dari pintu utama, maka diberikan petunjuk arah sehingga klien dapat dengan mudah menemukan lokasi ruangan. 4. Sirkulasi udara dan pencahayaan cukup Ketersediaan udara segar dan cahaya yang cukup pada rungan yang dijadikan untuk konseling dapat membantu kelancaran proses penyampaian pesan. (Natalia, 2019) 9.5 Waktu Waktu untuk melakukan konseling disesuaikan dengan jenis masalah yang dialami oleh klien. Proses konseling dilakukan dengan durasi sekitar 30-60 menit. Lamanya konseling juga dapat dilakukan sesuai dengan permasalahan klien dan ketersediaan waktu dari konselor (Natalia, 2019). 9.6 Sasaran konseling Sasaran konseling pada masa prakosensi ini adalah setiap orang yang memiliki potensi untuk mengalami kehamilan. Dalam permenkes RI No.21 Tahun 2021, dijelaskan bahwa sasaran dari
Fitri Ramadhaniati 83 pelayanan kesehatan masa sebelum hamil adalah remaja, catin, dan pasangan usia subur (PUS). 9.6.1 Remaja Pada remaja, pesan disampaikan dengan tujuan memberikan peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap pada remaja. Hal ini bertujuan untuk merubah perilaku ke arah yang positif. Proses penyampaian pesan terbaik pada remaja adalah dengan metode komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta konseling. KIE kesehatan bagi remaja diberikan dengan metide ceramah, tanya jawab, kelompok diskusi terarah, dan diskusi interaktif. Proses konseling dan KIE ini dapat dilengkapi dengan menggunakan sara dan media. Pada akhirnya diharapkan remaja sebagai sasaran pelayanan masa sebelum hamil, remaja mampu aktif, mandiri, dan berdaya guna baik bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat (Natalina, 2019). Materi konseling pada remaja meliputi: 1. Keterampilan psikososial (PKHS) Hasil penelitian yang dilakukan oleh Endah at all (2020) menunjukkan bahwa keterampilan psikososial remaja dapat dibentuk melalui kegiatan pembelajaran dan pelatihan. Pemberian pembelajran dan pelatihan dapat mengembangkan kemampuan psikososial. Kemampuan psikososial ini dapat terwujud melalui kemampuan remaja dalam menolak pengaruh negatife. Perubahan positif pada remaja ini dinilai melalui hasil evaluasi hasil praktik dan bermain peran (Yulianingsih et al, 2020). 2. Pola Makan Gizi Seimbang Konseling tentang pola makan dan gizi seimbang pada remaja bertujuan untuk mencegah terjadinya anemia pada remaja. Apabila melalui hasil pemeriksaan ditemukan bahwa remaja mengalami anemia, maka konseling pola makan lebih difokuskan pada penaggulangan anemia pada remaja. Selain konseling tentang pola makan gizi seimbang remaja juga diberikan tablet tambah darah (TTD) dalam upaya pencegahan dan penanggulangan anemia. Remaja putri SMP dan SMA sederajat dalam rentang usia 12 sampai dengan 18 tahun diberikan tablet tambah darah dengan frekuensi satu tablet dalam seminggu sepanjang tahun (Natalina, 2019).
Fitri Ramadhaniati 84 3. Aktivitas Fisik Aktivitas fisik pada remaja dapat dilakukan di sekolah selaku tempat belajar. Aktivitas fisik dapat dilakukan dengan mengoptimalisasikan waktu istirahat dengan berbagai kegiatan permainan. Senam sehat selama 30 menit sehari sebelum jam pelajaran dimulai juga dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan remaja. Agar remaja memahami pentingnya melakukan aktivitas fisik, maka diberikan edukasi tentang kesehatan secara berkala. Idealnya aktivitas fisik dapat dilakukan oleh remaja selama 30 menit setiap hari atau 150 menit dalam seminggu (Kusumo, 2020). 4. Pubertas Pemberian konseling terkait dengan pubertas pada remaja dapat dilakukan melalui penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan diberikan pada remaja tentang pubertas dilakukan dengan menggunakan media berupa LCD dan leaflet. Materi yang diberikan dalam konseling adalah tentang pubertas yang merupakan periode kematangan kerangka dan seksual. Proses kematangan ini berlangsung secara cepat dalam masa pubertas. Kematangan seksual ini berkaitan dengan perubahan seks primer dan perubahan seks sekunder (Kusumawati et al, 2018). 5. Aktivias Seksual Pendidikan seks di Indonesia dimulai sejak dini. Pendidikan ini diawali dengan pendidikan dari orang tua di rumah. Hal ini dikarenakan masalah seksual merupakan masalah yang sangat pribadi. Pendidikan seksual diharapkan mampu menghindari remaja dalam mengadopsi aktivitas seksual dari sumber yang tidak benar (Faswita and Suarni, 2017). 6. Kestabilan emosi Kestabilan emosi dapat mempengaruhi keadaan pikiran dan akal seseorang. Remaja merupakan usia dimana terjadi transisi perubahan emosi dari anak-anak menuju dewasa. Emosi yang tidak baik dapat menghambat tingkah laku remaja. Sementara emosi yang baik dapat mendorong dan memberi semangat untuk melakukan sesuatu (Utomo and Meiyuntari, 2015). 7. Penyalahgunaan napza tembakau dan alkohol Penyalahgunaan napza, tembakau dan alcohol dapat menyebabakan masalah fisik, psikis, sosial, agama dan criminal.
Fitri Ramadhaniati 85 Penggunaan bahan berbahaya ini sangat rawan terjadi pada remaja. Konseling dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan napza, tembakau, dan alkohol ini. Apabila terjadi penyalahgunaan napza, upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan helath belief model. Pendekatan ini mengarahkan keinginan individu dalam melakukan tindakan pencegahan. Hasil penelitian menunjukkan partisipan yakin untuk berhenti menggunakan napza (Nurjanisah et al, 2017). Penggunaan tembakau pada remaja sangat sering terjadi terutama pada remaja pria. Karena ancaman itu terjadi pada usia sekolah, maka upaya konseling memerlukan keterlibatan pihak sekolah. Upaya yang dilakukan bersama pihak sekolah adalah dengan melakukan pendekatan komprehensif untuk menumbuhkan kemampuan menghadapi masalah (coping). Hal ini diharapkan untuk menumbuhkan kemampuan lebih adaptif untuk mewujudkan kecakapan pada hidup. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan konseling tentang bahaya penggunaan napza, tembakau dan alkohol bagi kesehatan. Selain itu, remaja dianjurkan untuk mengembangkan skill dengan menjalin persahabatan dengan teman sebaya. Hal ini membantu remaja dalam mencari panutan dalam proses intimasi dan eksplorasi dunia luar. Pengembangan kemampuan komunikasi juga dapat dilakukan dalam menjalin interaksi. Proses penjalinan interaksi ini dapat dilakukan melalui penyampaian ide, perasaan, keyakinan, perilaku dan pemikiran. Proses ini dapat melatih remaja dalam mengembangkan kemampuan berbahasa mereka. Pengelolaan stres juga dapat dilakukan untuk melindungi remaja dari pengaruh paparan penggunaan napza, tembakau, dan alkohol. Dengan adanya kemampuan dalam mengelola stres, maka segala bentuk perasaan tertekan dan tidak menyenangkan dapat dengan cepat dinetralisir (Heng, 2018). 8. Pencegahan kehamilan dan kontrasepsi Pencegahan kehamilan di usia remaja penting dilakukan untuk menghindari berbagai macam komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Konseling yang dilakukan terkait dengan pencegahan kehamilan pada usia remaja ini dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang usia ideal
Fitri Ramadhaniati 86 menikah pada perempuan adalah di atas 20 tahun. Apabila telah menikah pada usia remaja, maka dianjurkan untuk menunda kehamila pertama hingga usia wanita diatas 20 tahun. Hal ini disebabkan terdapat beberapa yang akan terjadi bila wanita hamil diusia muda. Komplikasi tersebut antara lain perdarahan, risiko panggul sempit sehingga menyulitkan saat bersalin, bayi lahir sebelum waktunya, bayi berat lahir rendah (BBLR) dan cacat bawaan. Untuk menunda kehamilan pasangan suami istri remaja dapat berkonsultasi dengan petugas kesehatan mengenai metode kontrasepsi yang cocok digunakan (Natalina, 2019). 9. Infeksi Menular Seksual Infeksi menular seksual terjadi karena adanya hubungan seksual dengan penderita. Salah satu upaya konseling yang dapat dilakukan pada remaja adalah melalui ceramah. Ceramah dilakukan untuk menjelaskan kepada remaja tentang jenisjenis, tanda dan gejala, serta cara penyebaran dari infeksi menular seksual. Metode ini dapat didukung dengan media audiovisual sehingga dapat memperjelas informasi yang disampaikan dalam konseling (Ramadhani and Ramadani, 2020). 10. Imunisasi Remaja memerlukan imunisasi dalam upaya pencegahan penyakit. Imunisasi terdiri dari imunisasi rutin dan imunisasi khusus. Upaya ini bertujuan untuk memlihara kekebalan tubuh dari berbagai macam penyebab infeksi. Infeksi yang terjadi pada remaja dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit. Infeksi ini dapat terjadi pada remaja dalam masa menuju kehidupan dewasa (Natalina, 2019). Remaja adalah masa rentan untuk terjadinya risiko kesehatan. Pemerintah menyediakan beberapa imunisasi yang dapat diberikan pada remaja. Imunisasi tersebut antara lain adalah imunisasi tetanus yang diberikan pada remaja putri. Beberapa daerah di Indonesia menyediakan vaksinasi imunisasi HPV sebagai program kesehatan untuk remaja (Kemkes RI, 2017).
Fitri Ramadhaniati 87 9.6.2 Calon Pengantin (Catin) Dalam pelayanan kesehatan catin, konseling memberikan pengetahuan, kesadaran dan kepedulian dalam menjalankan fungsi dan perilaku reproduksi yang sehat dan aman. Materi konseling yang dapat diberikan pada catin adalah sebagai berikut: 1. Pengetahuan kesehatan reproduksi Calon pengantin harus dibekali dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sebelum menikah. Kesehatan reproduksi ini meliputi seluruh aspek mulai dari kesehatan fisik, mental, dan sosial. Kesehatan reproduksi ini berkaitan dengan keadaaan yang sehat dan normal secara anatomis dan fisiologi pada organ reproduksi dan fungsi kelenjar endokrin. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang baik pada catin bertujuan agar catin dapat menikmati kehidupan seks yang aman, nyaman, dan menyenangkan (Susanti and Adnani, 2022). 2. Kehamilan dan perencanaan kehamilan Kehamilan merupakan kondisi dimana seorang wanita memiliki janin didalam tubuhnya. Janin ini akan tumbuh dan berkembang apabila didukung oleh penjagaan kehamilan yang baik. Konseling tentang perencanaan kehamilan pada calon pengantin bertujuan untuk memberikan pengetahuan dalam mengatur usia ideal dan saat yang tepat untuk hamil. Selain itu, catin juga dibekali dengan pengetahuan tentang pengaturan jarak kehamilan (paling cepat 2 tahun) dan jumlah anak (2-3 orang). Melalui perencanaan kehamilan, diharapkan empat terlalu seperti terlalu muda (<20 tahun), terlalu tua (>35 tahun), terlalu dekat jarak kehamilan (<2tahun) dan terlalu sering hamil (>3 tahun), dapat dicegah (Natalina, 2019). 3. Kondisi dan penyakit yang perlu diwaspadai pada catin Ada beberapa kondisi yang perlu diwaspadai catin dalam merencanakan kehamilan. Kondisi tersebut antara lain sebagai berikut: a. Anemia, Malnutrisi dan, KEK Persiapan gizi bagi calon pengantin sangat diperlukan baik. Kesiapan gizi diperlukan bagi catin wanita maupun pria. Persiapan gizi yang kurang memadai dapat menyebabkan terjadinya anemia, malnutrisi, dan KEK. Untuk menghindari
Fitri Ramadhaniati 88 terjadinya anemia, catin dianjurkan untuk mengonsumsi tablet tambah darah. Selain itu catin juga dianjurkan untuk mengonsumsi asam folat untuk menghindari defisiensi asam folat. Kekurangan asam folat dapat menyebabkan beberapa masalah apabila terjadi kehamilan. Kondisi malnutrisi dan KEK dapat dihindari melalui penerapan pola makan gizi seimbang. Calon suami juga diberikan konseling bahwa sebagai suami dia bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggota keluarganya (Susanti and Adnani, 2022). b. Obesitas Pola makan tidak seimbang juga dapat menyebabkan obesitas. Ketidakseimbangan ini terjadi karena jumlag energi yang masuk lebih banyak daripada jumlah energi yang keluar. Hal ini menyebabkan kelebihan energi disimpan dalam bentuk lemak. Apabila obesitas ini terjadi pada pasangan usia subur maka akan mengganggu siklus reproduksi. Hal terburuk dari dampak obesitas adalah dapat menimbulkan infertilitas. Penelitian menunjukkkan perlu adanya pengetahuan tentang obesitas pada pasangan usia subur. Risiko terjadinya obesitas dapat dikurangi apabila pasangan usia subur memahami dan mengetahui tentang pola hidup sehat. Pengetahuan dapat diberikan melalui konseling dan KIE. Selain pengetahuan tentang obesitas dan pola hidup sehat, materi konseling untuk mencegah terjadinya obesitas dapat diberikan tentang sikap dalam menegah dan menanggulangi terjadinya obesitas. Untuk menangani terjadinya obesitas, pasangan usia subur perlu diberikan informasi tentang pemenuhan asupan serat yang cukup. Selain konsumsi serat yang cukup, pasangan usia subur dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik dan berolahraga (Hutasoit, 2020). 4. Kesehatan jiwa Konseling kesehatan jiwa pranikah bertujuan untuk membantu catin dalam menganalisis kemungkinan permasalahan dan tantangan yang akan muncul dalam rumah tangga. Melalui konseling kesehatan jiwa ini catin dibekali kecakapan dalam memecahkan masalah. Pernikahan menyatukan dua orang
Fitri Ramadhaniati 89 pasangan muda yang berbeda. Kondisi ini membutuhkan wahana bimbingan untuk saling berkomunikasi. Komunikasi yang baik akan membuat catin belajar dalam menyelesaikan masalah dan mengelola konflik. Kesehatan jiwa amat penting bagi calon pengantin untuk perjalanan hidup berumah tangga (Rosmalina, 2019). 5. Pengetahuan tentang fertilitas/kesuburan (masa subur) Calon pengantin diberi pengetahuan tentang kesuburan pada saat konseling. Masa subur diketahui dengan cara menghitung masa subur pada wanita. Melalui konseling catin diberi pengetahuan tentang puncak masa subur yang terjadi pada sekitar hari ke 13 setelah hari pertama haid. Masa subur biasanya terjadi tiga hari sebelum dan tiga hari setelah puncak masa subur. Selain itu, catin juga diberikan pengetahuan tentang tanda-tanda masa subur. Tanda-tanda masa subur pada wanita dapat dilihat melalui perubahan lender servik, dorongan seksual, dan peningkatan suhu tubuh (Lathifah et al, 2021). 6. Kekerasan dalam rumah tangga Salah satu cara untuk menghindari terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah dengan menghindari penyebab terjadinya kekerasan. Konseling sebelum menikah diberikan untuk memperkenalakan kepada calon pengantin tentang kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini diharapkan agar calon pengantin mampu untuk mensiasati cara mengatasi masalah yang mungkin akan terjadi. Ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang nantinya mungkin akan dilami oleh catin. Pertama, factor ekonomi. Kesulitan ekonomi dapat menyebabkan terjadinya stress pada pasangan. Oleh karena itu, pasangan yang akan menikah diharapkan telah mampu untuk tetap produktif dalam hal keuangan. Kedua, krisis akhlak. Akhlak yang baik dapat mengantarkan sepasang suami istri untuk hidup harmonis. Pendidikan agama dan pendidikan moral perlu dibekali agar catin nantinya mampu menjalani kehidupan rumah tangga yang baik. Factor yang ketiga adalah cemburu. Sikap cemburu mampu merusak keharmonisan rumah tangga. Oleh karena itu, sikap saling percaya harus dibangun sejak awal berumah tangga dengan cara saling
Fitri Ramadhaniati 90 terbuka pada pasangan dan menjaga diri dari hubungan diluar batas dengan teman lawan jenis. Faktor keempat adalah pernikahan di bawah umur. Umur untuk pernikahan sudah ditentukan oleh pemerintah. Selain untuk mecegah terjadinya berbagai komplikasi pada kehamilan dan persalinan, hal ini uga bertujuan untuk mengurangi terjadinya angka kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini disebabkan, pasangan di bawah umur belum memiliki kematangan psikologis untuk menghadapi kehidupan setelah pernikahan yang tidak mudah. Faktor lainnya adalah kawin paksa. Pernikahan yang dilakukan secara terpaksa cenderung tidak diiringi dengan saling menyukai satu sama lain. Hal ini tentu saja menyebabkan pasangan suami istri berat menjalani kehidupan Bersama orang yang tidak dicintainya. Selain itu kawin paksa juga melanggar hak reproduksi seseorang. (Tajmiati and Astiryani, 2019) 7. Pemeriksaan kesehatan reproduksi bagi catin Konseling terkait pemeriksaan kesehatan reproduksi bagi catin dapat diberikan melalui konsultasi pranikah dengan bekerja sama dengan lembaga pernikahan sesuai agama yang ada di Indonesia. Proses konseling berkelanjutan pada catin dapat diberikan melalui buku saku kesehatan reproduksi dan seksual. Penelitian yang dilakukan oleh Nita (2017), diperoleh bahwa terdapat pengaruh pemberian buku saku kesehatan reproduksi dan seksual bagi catin terhadap pengetahuan catin tentang reproduksi dan seksual. Materi konseling berkelanjutan dalam buku saku catin ini berisi tentang filosofi pernikahan, informasi pra nikah, ketidaksetaraan gender dalam pernikahan, informasi tentang kehamilan, pencegahan komplikasi, informasi tentang infeksi menular seksual, infeksi saluran reproduksi serta HIV dan AIDS, Informasi tentang deteksi dini kanker leher Rahim, dan kanker payudara, Informasi tentang gangguan dalam kehidupan seksual suami istri, dan mitos pada perkawinan (Evrianasari and Dwijayanti, 2017). 9.6.3 Pasangan Usia Subur (PUS) Pada pasangan usia subur, perencanaan kehamilan sangat penting pada setiap kehamilan anak pertama, kedua, dan
Fitri Ramadhaniati 91 seterusnya. Derajat kesehatan yang optimal sangat bermanfaat dalam perencanaan kehamilan. Materi konseling untuk PUS meliputi: 1. Pengetahuan kesehatan reproduksi Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada pasangan usia subur diberikan kepada suami dan istri melalui konseling. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratama dan Dharminto (2017), separoh dari pasangan usia subur kurang mengetahui tentang kesehatan reproduksi sebelum hamil. Oleh karena itu, konseling dilakukan untuk menambah pengetahuan pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi. 2. Kesetaraan gender dalam pernikahan hak kesehatan reproduksi dan seksual perawatan dan seksual perawatab kesehatan organ reproduksi Indonesia didominasi oleh budaya patriarki. Patriarki merupakan kondisi menempatkan sosok otoritas sosial pada laki-laki. Hal ini menyebabkan sering terjadinya ketimpangan gender dalam keluarga. Ketimpangan gender ini terutama terjadi pada suami dan istri. Konseling terkait dengan kesetaraan gender dilakukan untuk menepis adanya anggapan dalam masyarakat tentang penempatan laki-laki dan perempuan. Adapun beberapa manifestasi ketidakadilan gender yang h, arus dihindari adalah menomorduakan perempuan dalam hal apapun. Selain itu adalah kekerasan pada perempuan yang dianggap makhluk lemha. Ketidaksetaraan gender yang paling sering terjadi adalah dengan memberikan beban ganda kepada perempuan secara berlebihan. Untuk menghindari terjadinya hal ini perlu dilakukan konseling kepada pasangan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab suami dan istri (Susanto, 2016). 3. Kehamilan dan perencanaan kehamilan Penelitian yang dilakukan oleh Ervina dkk (2014) yang dilakukan pada wanita usia prakonsepsi 18-35 tahun menyatakan bahwa perencanaan kehamilan dapat dilakukan dengan mempersiapkan diri ibu dalam menghadapi kehamilan. Konseling kehamilan dan perencanaan kehamilan dilakukan karena pada saat terjadi kehamilan terjadi perubahan kompleks pada tubuh ibu. Agar kehamilan berjalan lancar, maka
Fitri Ramadhaniati 92 diperlukan pemenuhan gizi pada wanita sebelum kehamilan. Pemenuhan kebutuhan gizi ini dilakukan secara mandiri oleh ibu hamil dengan bantuan arahan oleh bidan melalui konseling gizi seimbang. Melalui konseling diharapkan terjadi perubahan sikap kea rah positif yang menuju pada perubahan kebiasaan ibu dalam mempersiapkan kehamilan (Ervina et al, 2014) 4. Kondisi dan penyakit yang perlu diwaspadaipada PUS Ada beberapa penyakit yang perlu diwaspadai seperti HIV/AIDS, infeksi menular seksual, hepatitis B, kanker payudara, dan kanker leher rahim. Selain mewaspadai berbgai penyakit dalam rentang usia subur, PUS juga dianjurkan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah penyakit-penyakit yang perlu diwaspadai (Natalina, 2019). 5. Kesehatan jiwa Konseling tentang kesehatan jiwa penting dilakukan agar seseorang dapat menyadari kemampuan sendiri, dapat menghadapi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya (Natalina, 2019). 6. Pengetahuan tentang fertilitas/kesuburan (masa subur) Pada pasangan usia subur pengetahuan tentang fertilitas diberikan untuk merencanakan dan mengatur kehamilan. Pengetahuan masa subur ini bertujuan untuk mewujudkan keluarga berencana (Fatchiya et al, 2021). 7. Kekerasan dalam rumah tangga Lingkup dari kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap tindakan membahayakan dari pasangan yang dialami seorang perempuan. Tindakan membahayakan ini dapat menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan pada perempuan. Perbuatan ini dapat menimbulkan trauma secara fisik dapat berupa bekas dari pukulan atau penganiayaan lainnya, seksual, dan psikologis. Selain itu, KDRT dapat meninggalkan trauma psikologis yang mendalam. Hal ini berdampak pada kesehatan jiwa perempuan. Perempuan dengan gangguan jiwa akan berdapampak buruk pada perkembangan anak-anaknya. Tidak mencukupi kebutuhan ekonomi juga merupakan kekerasan dalam rumah tangga. Dampak lain dari kekerasan dalam rumah
Fitri Ramadhaniati 93 tangga ini adalah penelantaran rumah tangga. Penelantaran rumah tangga yang terjadi dapat meliputi ancaman untuk melakukan suatu perbuatan seperti ibu dilarang untuk bergaul dengan tetangga, bertemu teman-teman dan lain sebagainya. Selain itu penelantaran rumah tangga dapat terjadi dalam bentuk pemaksaan untuk melakukan suatu perbuatan. Perampasan kemerdekaan terhadap pasangan juga merupakan bagian dari penelantaran rumah tangga. Hal ini tentu saja berlawan dengan hukum yang mengatur hubungan dalam rumah tangga (Ramadani and Yuliani, 2017). 8. Pemeriksaan kesehatan reproduksi bagi PUS Konseling yang dilakukan pada pasangan usia subur terkait dengan kesehatan reproduksi dapat meliputi pemantauan lanjutan status pelayanan gizi pada usia reproduktif, kebersihan diri, keluarga dan lingkungan serta penanganan permasalahan lainnya sesuai indikasi dalam lingkup kesehatan reproduksi pasangan usia subur (Natalina, 2019).
Fitri Ramadhaniati 94 DAFTAR PUSTAKA Ervina, W.F., et al. 2014. ’Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Gizi Seimbang pada Wanita Prakonsepsi di Kota MakasarHasanuddin University Respositiry. Evrianasari, N., and Dwijayanti, J. 2017. ’Pegaruh Buku Saku Kesehatan Reproduksi dan Seksual Bagi Catin tehadap Pengetahuan Catin tentang Reproduksi dan Seksual di Kantor Urusan Agama Tanjung Karang PusatJurnal Kebidanan, 3(4), pp. 211-216. Faswita, W. and Suarni, L. 2017. ’Hubungan Pendidikan Seks dengan Perilaku Seksual pada Remaja Putri di SMA Negeri 4 BinjaiJurnal Jumantik, 3(2), pp. 28-43. Fatchiya, A., et al. 2021. ’Peran Penyuluhan Keluarga Berencana dalam Meningkatkan Pengetahuan KB pada Psanagan Usia Subur (PUS) Kelompok Masyarakat MiskinJurnal Penyuluhan, 17(1), pp. 60-71. Heng, P.H. 2018. ’Delinkuensi:Pergaulan Anak dan Remaja Ditinjau dari Pola Asuh Orang TuaCV Andi Offset, pp. 249-250. Hutasoit, E.S. 2020. ’Faktor yang Mempengaruhi Obesitas pada WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kota PekanbaruJournal of Midwifery Science, 4(1), pp. 25-32. Kementerian Kesehatan RI. 2014. ’Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Anak, pp. 27-34. Kementerian Kesehatan RI. 2017. ’Pedoman Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, pp. 8-38. Kusumawati, P.D., et al. 2018. ’Edukasi Masa Pubertas pada RemajaJournal of Community Engagement In Health 1(1), pp.1-3. Doi:10.30994/10.30994. Kusumo, M.P. 2020. ’Buku Pemantauan Aktivitas FisikThe Journal Publishing, pp. 13-15. Lathifah, N.S., et al. 2021. ’Konseling Kesehatan Reproduksi Meningkatkan Pengetahuan tengtang Kesuburan dan Kesadaran Kesehatan ReproduksiJurnal Perak Malahayati, 3(1), pp. 51-60. Natalina, R. 2019. ’Modul Praktik Asuhan Kebidanan Holistik Pada Masa Prakonsepsi dan Perencanaan Kehamilan SehatKementerian Kesehatan Republik Indonesia, pp. 24-30.
Fitri Ramadhaniati 95 Nurjanisah, et al. 2017. ’Analisis Penyalahgunaan Napza dengan Pendekatan Health Belief ModelJurnal Ilmu Keperawatan, 5(1), pp. 23-33. Oktalia, J , and Herizasyam. 2016. ’Kesiapan Ibu Menghadapi Kehamilan dan Faktor-Faktor yang MempengaruhinyaJurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 3(2),p.147-159. Pratama, T.R., and Dharminto, D.N. 2017. ”Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dan Pendidikan Ibu dengan Risiko Wanita PUS Muda di Desa Candigaron Kecamatan Sumowono Kabupaten SemarangJurnal Kesehatan Masyarakat, 5(3), pp. 66- 75. Permenkes RI Nomor 21 Tahun. 2021. ’Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual. Ramadani, M., and Yuliyani, F. 2017. ’Kekerasan dalam Rumah Tangga Sebagai Salah Satu Isu Kesehatan Masyarakat Secara GlobalJurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 9(2), pp. 80-87. Ramadhani, A. and Ramadani, M.L. 2020. ’Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Ceramah dan Media Audiovisual Terhadap Pengetahuan tentang Infeksi Menular Seksual pada RemajaJurnal Keperawatan Muhammadyah, pp. 346-351. Rosmalina, A. 2019. ’Kolaborasi Konseling dengan Kesehatan JiwaProfessional, Empathy and Islamic Counseling Journal, 2(1), pp. 83-94. Susanti, D. and Adnani, Q.E.S. 2022. ’Buku Saku Kesehatan Reproduksi Calon PengantinCV Penulis Cerdas Indonesia, pp. 9-10. Susanto, N.H. (2016 ’Tantangan Mewujudkan Kesetaraan Gender dalam Budaya PatriarkiJurnal Kajian Gender, 7(2), pp. 120-129. Tajmiyati, A. and Astiryani, E. 2019. ’Penerapan Kelas Calon PengantinPengabdian Kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Utomo, R.H.R.P., and Meiyuntari, T. (2015 ’Kebrmaknaan Hidup, Kestabilan Emosi dan DepresiJurnal Psikologi Indonesia, 4(3), pp.273-287. World Health Organization. 2012. ’Meeting to Develop a Global Consensus on Preconception Care to Reduce Maternal and Childhood Mortality and Morbidity, pp. 7-11.
Fitri Ramadhaniati 96 Yuliangingsih, E., et al. 2020. ’Pelatihan Keterampilan Pengembangan Kompetensi Psikososial pada Remaja di SMP Negeri 6 kota GorontaloJurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), pp. 120- 125.
Kartini 97 BAB 10 JARAK IDEAL ANTAR KEHAMILAN Oleh Kartini 10.1 Pendahuluan Jarak antar kehamilan merupakan periode antar dua kelahiran hidup. Menurut United States Agency (USAID), batas jarak kelahiran optimal adalah batas waktu antara kelahiran yang menghasilkan dampak kesehatan yang terbaik bagi kehamilan, ibu, bayi baru lahir dan seluruh keluarga. Jarak kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan janin maupun ibu. Jarak antara dua kehamilan yang terlalu dekat dapat menimbulkan komplikasi serius pada kehamilan maupun proses kelahiran. Jarak kehamilan terdiri dari jarak kehamilan terlalu dekat, jarak kehamilan yang ideal, jarak kehamilan terlalu jauh, hamil pertama usia tua (>35 tahun) dan usia muda (<20 tahun). Faktor yang dapat menyebabkan jarak kehamilan terlalu dekat, seperti pilihan gaya hidup yang buruk, pola seks yang tidak tepat, serta kehamilan yang tidak direncanakan sedangkan faktor yang mempengaruhi jarak kehamilan terlalu jauh seperti gaya hidup ibu yang buruk (merokok, minum alkohol serta menggunakan obatobatan terlarang), kondisi fisik ibu, riwayat IUFD, dan komplikasi persalinan. Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun maupun jarak kehamilan terlalu jauh lebih dari 10 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama, dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. 10.2 Definisi Kehamilan adalah suatu periode masa bagi seseorang wanita membawa embrio atau fetus didalam tubuhnya. Kehamilan adalah suatu masa yang dimulai dari konsepsi (bertemunya ovum dan sperma), fertilisasi (penyatuan dari spermatozoa dan ovum), nidasi
Kartini 98 atau implantasi (masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium) hingaa saat lahirnya janin (Manuaba, 2017). Jarak kehamilan adalah suatu pertimbangan untuk menentukan kehamilan yang pertama dengan kehamilan berikutnya. Jarak kehamilan dibagi menjadi lima macam yaitu : a. Jarak kehamilan terlalu dekat yaitu jarak kehamilan yang kurang dari 2 tahun. b. Jarak kehamilan ideal yaitu jarak kehamilan yang memiliki batas waktu yang normal. c. Jarak kehamilan terlalu jauh yaitu jarak kehamilan yang memiliki kurun waktu lebih dari 10 tahun dari kehamilan yang lalu. d. Hamil pertama usia terlalu tua (>35 tahun). e. Hamil pertama usia terlalu muda (<20 tahun). 10.2.1 Jarak kehamilan terlalu dekat Jarak kehamilan terlalu dekat adalah jarak antara kehamilan satu dengan berikutnya (<2 tahun atau 24 bulan). Pada saat tersebut kondisi rahim ibu belum pulih sempurna serta waktu ibu untuk menyusui dan merawat bayinya menjadi berkurang. Jarak kehamilan terlalu dekat dapat menimbulkan komplikasi yang serius pada kehamilan maupun proses kelahiran. World Health Organization (WHO) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional(BKKBN) menyatakan bahwa jarak antar kehamilan sebaiknya 2 hingga 3 tahun. Jika kurang dari dua tahun, maka bisa berdampak buruk bagi kesehatan ibu maupun janin. Penelitian yang dilaporkan dalam Journal Of The American Medical Association mengatakan bahwa ibu yang sudah hamil kembali setelah 6 bulan kelahiran meningkatkan 40% risiko melahirkan ankan prematur dan meningkatkan 61% risiko anak lahir dengan berat badan yang rendah. Beberapa penelitian lain menyatakan bahwa jarak kehamilan yang dekat tidak memberikan ibu cukup waktu untuk pulih dari stress fisik yang terjadi akibat kehamilan sebelumnya, misalnya kehamilan akan menguras dan menghabiskan zat gizi yang ada di dalam tubuh ibu karena berbagi dengan janin, seperti zat besi, dan asam folat maka ketika ibu mengalami kehamilan berikutnya dengan jarak yang dekat,
Kartini 99 akan mempengaruhi kesehatan ibu dan janin karena tidak dapat memenuhi kebutuhan masing-masing. Jarak kehamilan terlalu dekat dapat menimbulkan beberapa risiko yaitu: a. Keguguran b. Anemia c. Bayi lahir belum waktunya d. Berat badan lahir rendah (BBLR) e. Cacat bawaan f. Tidak optimalnya tumbuh kembang balita (BKKBN, 2013) Beberapa alasan yang perlu diketahui mengapa jarak kehamilan terlalu dekat dapat menimbulkan beberapa risko adalah sebagai berikut: a. Kondisi rahim ibu belum sepenuhnya pulih. b. Dapat mengakibatkan terjadinya penyulit dalam kehamilan. c. Waktu ibu untuk menyusui dan merawat bayi kurang. Tujuan menjaga jarak antar kehamilan agar tidak terlalu dekat yaitu: a. Memberikan waktu istirahat pada rahim untuk mengembalikan otot-otot tubuhnya seperti semula. b. Memulihkan organ kewanitaan wanita setelah melahirkan. Berat rahim wanita setelah melahirkan 2x lipat dari sebelum hamil. Untuk mengembalikannya ke berat semula membutuhkan waktu sedikitnya 3 bulan pada kehamilan normal, sedangkan untuk kelahiran dengan cara caesar membutuhkan waktu lebih lama lagi. c. Menyiapkan kondisi psikologis ibu yang mengalami trauma pasca melahirkan karena sakit saat melahirkan atau saat dijahit. d. Bagi wanita dengan riwayat melahirkan secara caesar, bayi lahir cacat, preeklampsia dianjurkan untuk memberi jarak antar kehamilan yang cukup agar alat reproduksi dapat pulih kembali dan bayi mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya.
Kartini 100 10.2.2 Jarak Ideal Kehamilan Jarak ideal kehamilan sekurang-kurangnya 2 tahun. Jarak antara persalinan terakhir dengan kehamilan berikutnya (pregnancy spacing) sebaiknya antara 2 sampai 5 tahun (Krisnadi, 2015). Jarak kehamilan terlalu dekat bisa membahayakan ibu dan janin, idealnya jarak kehamilan tak kurang dari 9 bulan hingga 24 bulan sejak kelahiran sebelumnya. World Health Organization menyatakan bahwa waktu yang paling ideal untuk jarak kehamilan yaitu 3 tahun demikian pula untuk menurunkan risiko yang terjadi saat kehamilan, kelahiran, maupun gangguan proses tumbuh kembang anak, maka anjuran jarak antar kelahiran adalah minimal 24 bulan dan maksimal 5 tahun setelah kehamilan yang terakhir (WHO, 2013). Tujuan jarak kehamilan ideal yaitu: a. Ibu dapat memberikan ASI eksklusif pada bayi yang baru dilahirkannya sehingga dapat menjamin kecukupan gizi bayinya. b. Ibu dapat mempersiapkan tubuhnya kembali untuk terjadinya kehamilan. Status gizi yang baik dan tidak kekurangan zat gizi apapun yang dapat mempengaruhi kehamilan sehingga kehamilannya menjadi sehat. Salah satu upaya menjaga jarak ideal kehamilan, maka sangat dianjurkan untuk melakukan program keluarga berencana. Program keluarga berencana bukan hanya sekedar program pemerintah yang bertujuan untuk menekan pertumbuhan masyarakat yang ada di Indonesia, namun program ini juga sangat berpengaruh pada kesehatan ibu, anak, maupun keluarga (BKKBN, 2013). 10.2.3 Jarak kehamilan terlalu jauh lebih dari 10 tahun Jarak kehamilan terlalu jauh yaitu jarak kehamilan yang memiliki kurun waktu lebih dari 10 tahun dari kehamilan yang lalu. Risiko pada ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang terlalu jauh (>10 tahun) yaitu: a. Peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester 3. b. Peningkatan risiko terhadap terjadinya anemia.
Kartini 101 c. Peningkatan risiko terhadap terjadinya ketuban pecah dini . d. Melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (<2500 gram) (Ummah, 2015). 10.2.4 Kehamilan terlalu tua (primi tua usia >35 tahun) Terlalu tua (primi tua) adalah ibu hamil untuk pertama kali pada usia >35 tahun. Pada usia ini organ kandungan menua, jalan lahir tambah kaku, ada kemungkinan besar ibu hamil mendapat anak cacat, terjadipersalinan macet dan perdarahan (WHO, 2014). Risiko kehamilan yang mungkin terjadi saat terjadi kehamilan usia ibu >35 tahun yaitu risiko pada ibu dan risiko pada bayi. a. Risiko Pada Bayi 1) Melahirkan bayi yang cacat. Kecacatan yang paling umum adalah down syndrome (kelemahan motorik, IQ rendah) atau bisa juga cacat fisik. 2) Kelainan kromosom dipercaya sebagai risiko kehamilan di usia tua. Pertambahan usia dapat menyebabkan terjadinya kelainan terutama pada pembelahan kromosom. Pembelahan kromosom abnormal menyebabkan adanya peristiwa gagal berpisah yang menimbulkan kelainan pada individu yang dilahirkan. 3) Kembar siam, autism sering disangkut pautkan dengan masalahkelainan kromosom yang diakibatkan oleh usia ibu yang sudah terlalu tua untuk hamil, namun masih membutuhkan penelitian lanjutan. 4) Bayi yang dilahirkan akan mengalami penurunan stamina. Karena itu disarankan untuk melakukan persalinan secara operasi caesar karena untuk melahirkan normal membutuhkan tenaga yang kuat. 5) Pada ibu hamil dengan usia tua sebagian besar tidak memiliki kekuatan untuk mengejan karena nafas yang pendek. Akibatnya bayi bisa mengalami stres karena saat proses persalinan pembukaan mulut rahim akan terasa sulit. 6) Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah/BBLR <2500 gram (WHO, 2014).
Kartini 102 b. Risiko pada ibu. 1) Risiko penyakit degeneratif (seperti tekanan darah tinggi, diabetes) mulai muncul sehingga bisa menyebabkan kematian pada ibu, bayi yang dilahirkan juga bisa cacat. 2) Rentan terhadap kemungkinankomplikasi seperti placenta previa, preeklampsia, dan diabetes. 3) Berisiko mengalami keguguran dan risiko ini akan meningkat hingga 50 persen saat wanita menginjak usia 42 tahun. 4) Terjadi perdarahan dan penyulit kelahiran. 5) Terjadi penipisan dinding pembuluh darah meskipun kasus tidak terlalu banyak dijumpai, namun masalah pada kualitas dinding pembuluh darah khususnya yang terdapat di dinding rahim, dengan adanya pembesaran ruang rahim akibat adanya pertumbuhan janin dapat menyebabkan perdarahan. 6) Berisiko mengalami hipertensi saat kehamilan (preeclampsia), kehamilan di luar rahim (kehamilan etopik), mengalami keguguran. 7) Kualitas sel telur yang lemah menyebabkan penempelan janin pada dinding rahim lemah sehingga sering menimbulkan perdarahan. 8) Terjadi preeklampsia. Preeklampsia atau perdarahan yang disebabkan oleh adanya tekanan darah yang tinggi melebihi batas normal sering menjadi penyebab kematian ibu yang melahirkan. Preeklampsia banyak dikaitkan dengan usia ibu yang terlalu tua untuk hamil. 9) Kesulitan melahirkan dan berisiko terjadinya persalinan macet (ibu yang mengejan lebih dari 1 jam sehingga bayi tidak dapat lahir dengan tenaga ibu sendiri melalui jalan lahir). Proses melahirkan butuh energi yang ekstra. Tanpa adanya tenaga yang kuat, maka ibu dapat sulit mengejan sehingga justru berbahaya bagi bayi yang dilahirkan. Semakin tua usia ibu dikhawatirkan tenaga sudah relatif menurun, meskipun tidak dapat disamaratakan antara individu satu dengan lainnya. 10) Disaat melahirkan, pembukaan mulut rahim mungkin akan terasa sulit sehingga bayi bisa mengalami stres. Oleh
Kartini 103 karena itu, proses melahirkan pada ibu yang berusia >35 tahun pada umumnya dilakukan secara caesar (Rochjati, P., 2013). 10.2.5 Hamil terlalu Muda (primi m u d a usia >20 tahun) Kehamilan terlalu muda adalah kehamilan yang terjadi pada usia yang relatif muda yaitu usia kurang dari 20 tahun. Beberapa dampak kehamilan usia terlalu muda yaitu: a. Keguguran. Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya: karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping 17 yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan b. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan kelainan bawaan. Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun, cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obatobatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri. c. Mudah terjadi infeksi. Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas. d. Anemia kehamilan atau kekurangan zat besi. Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan
Kartini 104 plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemia. e. Keracunan kehamilan (Gestosis). Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia, makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk preeklampsia atau eklampsia. Preeklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian. f. Kematian ibu yang tinggi. Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun). Angka kematian karena gugur kandung yang dilakukan dukun cukup tinggi, tetapi angka pasti tidak diketahui. Kematian ibu terutama karena perdarahan dan infeksi (Rohan dan Siyoto, 2013). 10.3 Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Jarak Kehamilan Beberapa faktor yang berperan dalam jarak kehamilan ideal yaitu a. Hamil usia <20 dan >35 tahun. b. Ibu hamil yang pernah mengalami atau bersalin secara sectio caesaria. c. Pola atau gaya hidup ibu yang buruk. d. Pola seks yang tidak tepat. e. Komplikasi pada persalinan ibu. 10.4 Penutup Kehamilan disimpulkan sebagai masa dimana wanita membawa embrio dalam tubuhnya yang diawali dengan keluarnya sel telur yang matang pada saluran telur yang kemudian bertemu dengan sperma dan keduanya menyatu membentuk sel yang akan tumbuh yang membuat terjadinya proses konsepsi dan fertilisasi sampai lahirnya janin. Waktu yang paling ideal untuk jarak kehamilan menurut WHO yaitu 3 tahun, sehingga ibu dapat memberikan ASI eksklusif
Kartini 105 pada bayinya hingga usia 2 tahun dan dapat mempersiapkan kembali tubuhnya sebagai persiapan pada kehamilan selanjutnya. Beberapa faktor yang berperan dalam jarak kehamilan ideal yaitu hamil usia <20 dan >35 tahun, ibu hamil yang pernah mengalami atau bersalin secara sectio caesaria, pola atau gaya hidup ibu yang buruk, pola seks yang tidak tepat, komplikasi pada persalinan ibu.
Kartini 106 DAFTAR PUSTAKA BKKBN. 2013. Profil Kependudukan dan pembangunan di Indonesia. Jakarta. Krisnadi. 2015. Prematuritas. Bandung: Refika Aditama. Manuaba, I.B.. 2017. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC. Rochjati, P. 2013. Skrining Antenatal pada Ibu Hamil. Edisi 2. surabaya: Airlangga University. Rohan dan Siyoto. 2013. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi. yogyakarta: Nuha Medika. Ummah, F. 2015. ‘Kontribusi factor resiko terhadap komplikasi kehamilan di rumah sakit Muhammad iyah Surabaya’, Jurnal. Program Studi D III Kebidanan STIKES Muhammad iyah Lamongan [Preprint]. WHO. 2013. Buku saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. Jakarta. WHO. 2014. Profil Kesehatan.
M. Nur Dewi Kartikasari 107 BAB 11 EVIDENCE BASED TERKAIT ASUHAN PRA KONSEPSI Oleh M. Nur Dewi Kartikasari 11.1 Pendahuluan Asuhan prakonsepsi merupakan salah satu program penurunan angka kematian ibu, bayi dan kecacatan yang dicanangkan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 di Geneva. Program ini dilaksanakan seluruh negara di dunia, terutama Negara yang memiliki penghasilan rendah dan menengah atau biasa disebut Low and Middle Income Country (LMIC), salah satunya Indonesia. Negara yang telah melaksanakan program ini dengan sukses yaitu Italia, Belanda, Amerika Serikat pada kelompok negara maju dan Bangladesh, Filiphina, Sri Lanka pada kelompok negara dengan penghasilan menengah rendah (WHO, 2013a). Asuhan prakonsepsi berpotensi memberikan dampak positif bagi 208 juta kehamilan setiap tahun di seluruh dunia. Asuhan prakonsepsi bermanfaat dalam mengidentifikasi hal-hal yang berhubungan dengan masalah kesehatan, kebiasaan/gaya hidup, atau masalah sosial yang kurang baik mungkin dapat berpengaruh terhadap kehamilan (Dean et al., 2013). Sasaran program asuhan prakonsepsi yaitu pasangan pengantin. Masa sebelum konsepsi sangat penting dipertimbangkan bagi pasangan pengantin dalam rangka mempersiapkan kehamilan yang sehat. Menurut (Kemenkes R.I, 2014), pelayanan kesehatan masa sebelum hamil diberikan untuk mempersiapkan perempuan dalam menjalani kehamilan dan persalinan yang sehat dan selamat serta memperoleh bayi yang sehat. Asuhan prakonsepsi merupakan sebuah upaya preventif dan promotif yang menjadi ujung tombak dalam menghilangkan faktor penyebab kematian ibu dan anak. Faktor risiko yang memberikan pengaruh terhadap kehamilan seseorang dapat diminimalisir
M. Nur Dewi Kartikasari 108 dengan cara mengidentifikasi faktor risiko sebelum terjadi kehamilan sehingga pelayanan kesehatan secara menyeluruh pada calon pengantin merupakan waktu yang tepat untuk mengawali pencegahan kehamilan berisiko. Pelayanan kesehatan kepada calon pengantin dapat diberikan secara menyeluruh di Puskesmas bekerja sama dengan kementerian agama. Pelayanan yang diberikan yaitu skrining pemeriksaan kesehatan meliputi pemeriksaan fisik, laboratorium, dan konseling pranikah. Konseling pranikah lebih ditujukan pada konseling dan persiapan prakonsepsi. 11.2 Pengertian Masa pra konsepsi yaitu masa sebelum hamil atau masa sebelum pembuahan/adanya pertemuan antara ovum (sel telur) dengan sperma. Wanita dalam masa pra konsepsi diasumsikan sebagai wanita usia subur yang telah siap menjadi seorang ibu. Reproduksi manusia yaitu hasil dari pembentukan kompleks yang melibatkan interaksi beberapa proses, diantaranya genetik, biologis, tingkah laku dan lingkungan. Proses pra konsepsi terjadi pada pria dan wanita sebagai tahap awal sebelum konsepsi (Dieny, Ayu and Kurniawati, 2019). Masa pra konsepsi merupakan tahapan dalam siklus kehidupan yang perlu perhatian khusus terutama dari sisi pemenuhan kebutuhan zat gizi. Status gizi wanita yang optimal dalam periode konsepsi termasuk hal penting dan memberikan pengaruh terhadap hasil konsepsi. Asupan makan yang kurang dalam kualitas maupun kuantitas dapat merugikan calon ibu, misalnya dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak adekuat selama kehamilan. Kenaikan berat badan dibutuhkan selama kehamilan berdasarkan status gizi ibu sebelum kehamilan (Anggraeny, Arisiningsih and Dian, 2017). Pelayanan kesehatan prakonsepsi merupakan pelayanan kesehatan yang difokuskan pada intervensi biomedis, perilaku, dan pencegahan sosial yang dapat meningkatkan kesehatan pada bayi yang dilahirkan. Kesehatan pra-konsepsi dapat diperoleh melalui pelayanan skrining pra konsepsi. Skrining pra-konsepsi sangat bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi kesehatan ibu dan anak. Intervensi kegiatan promotif, preventif dan kuratif sangat efektif dalam
M. Nur Dewi Kartikasari 109 meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta bermanfaat bagi kesehatan remaja selama siklus reproduksi sehat baik fisik, psikologis maupun sosial. Skrining pra-konsepsi juga berguna dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi; pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan; pencegahan komplikasi kehamilan dan persalinan; pencegahan kelahiran cacat, mati, prematur dan bayi dengan berat lahir rendah; pencegahan infeksi pada neonatal; pencegahan kejadian underweight dan stunting; penurunan risiko diabetes dan penyakit kardiovaskuler dalam kehamilan dan pencegahan penularan Human Immunodeficience Virus dari ibu ke janin (WHO, 2013b). 11.3 Standar Pemeriksaan Prakonsepsi di Indonesia Pelaksanaan skrining prakonsepsi di Indonesia telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 97 tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan masa sebelum hamil, hamil, persalinan, dan sesudah melahirkan, penyelenggaraan pelayanan kontrasepsi, serta pelayanan kesehatan seksual. Pelayanan kesehatan masa sebelum hamil diberikan untuk menyiapkan ibu dalam menghadapi kehamilan dan persalinan yang aman, sehat dan selamat serta mendapatkan bayi yang sehat. Sasaran pelayanan kesehatan pra konsepsi sesuai Permenkes No.97 tahun 2014 yaitu remaja, calon pengantin dan pasangan usia subur. Kegiatan pelayanan kesehatan masa sebelum hamil berdasarkan Permenkes No.97 tahun 2014 meliputi : 1. Pemeriksaan fisik : yaitu pemeriksaan tanda vital dan status gizi. Pemeriksaan status gizi harus dilakukan untuk mendeteksi masalah kurang energi kronis (KEK) dan status anemia. 2. Pemeriksaan penunjang : merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan sesuai indikasi medis meliputi pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan darah yang dianjurkan, pemeriksaan urin rutin, pemeriksaan penyakit menular seksual dan pemeriksaan penunjang lainnya. 3. Pemberian imunisasi : dilakukan sebagai usaha pencegahan dan perlindungan terhadap penyakit Tetanus. Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) diberikan untuk mencapai status T5 hasil pemberian
M. Nur Dewi Kartikasari 110 imunisasi dasar dan lanjutan. Status T5 bertujuan agar wanita usia subur memiliki kekebalan penuh. 4. Suplementasi gizi : Suplementasi gizi diberikan untuk mencegah anemia gizi yang dilakukan melalui pemberian edukasi gizi seimbang dan pemberian tablet besi. 5. Konsultasi kesehatan : diberikan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi(KIE). 6. Pelayanan kesehatan lainnya : pemeriksaan psikologis merupakan salah satu skrining prakonsepsi yang harus dipertimbangkan karena kondisi psikologis sangat berpengaruh terhadap kehamilan sehingga memerlukan perhatian khusus. (Permenkes, 2014). 11.4 Konseling perencanaan kehamilan sehat Perencanaan kehamilan yang sehat harus diberikan melalui konseling kepada pasangan yang hendak menikah atau merencanakan kehamilan untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat sehingga dapat memperkecil risiko komplikasi kehamilan dan persalinan. Konseling perencanaan kehamilan sehat menurut Kemenkes R.I (2018) pada lembar balik kesehatan reproduksi dan seksual bagi calon pengantin yang diberikan seperti terlihat pada gambar berikut : Gambar 11.1 : Lembar balik kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual (Sumber : Kemenkes R.I, 2018).
M. Nur Dewi Kartikasari 111 11.5 Imunisasi pranikah Imunisasi yang dianjurkan pada wanita pra konsepsi antara lain imunisasi tetanus untuk mencegah penyakit tetanus/kejang pada bayi baru lahir karena terdapat infeksi tali pusat; imunisasi MMR untuk mencegah penyakit mumps, measles, dan rubella; serta imunisasi hepatitis (Dieny, Ayu and Kurniawati, 2019). 11.6 Penentuan masa subur Masa subur dimulai dari hari ke-14, yang dihitung dari hari pertama mendapatkan haid. Ovulasi akan terjadi pada hari ke-14 pada siklus haid 28 hari, dan masa subur yaitu sekitar 2-3 hari sebelum dan sesudah ovulasi. Jadi masa subur terjadi antara hari ke 11 sampai hari ke 17. Disamping itu, tanda-tanda atau sinyal tubuh harus dipertimbangkan saat masa subur karena dapat memberikan peluang hamil apabila ada sperma yang mampu menembus sel telur. Misalnya, suhu badan naik karena saat sel telur matang, rahim akan bersiap menerima sel telur yang dibuahi. Hal inilah yang menyebabkan suhu tubuh naik. Tanda yang lain berupa lendir serviks yang keluar menjadi lebih kental, kenyal, lengket seperti jelly namun tidak mudah terputus jika ditarik. Pada masa ovulasi, pembuluh darah dalam tubuh ikut membesar termasuk pembuluh darah kelamin sehingga vulva juga membesar, lebih sensitif, dan membuat wanita lebih mudah terangsang. Berbagai cara yang dapat digunakan untuk menandai ovulasi diantaranya : 1. Metode kalender Cara menentukan masa subur dapat dilakukan melalui metode kalkulasi dengan melakukan identifikasi lama siklus terpendek dalam 6 bulan terakhir, kemudian panjangnya hari setelah siklus terpendek dikurangi 21 hari. Misalnya siklus terpendek 30 hari maka 30 dikurangi 21 diperoleh 9, berarti masa subur dimulai pada hari ke-9, bahkan jika tidak ditemukan perubahan lendir serviks pada hari ke-9 tersebut, maka tetap termasuk pada masa subur. Keterbatasan metode kalender yaitu variasi yang panjang pada fase folikuler (pra ovulasi) dan fase-fase luteal (post ovulasi) pada siklus haid. Penggunaan kontrasepsi oral juga dapat menunda waktu
M. Nur Dewi Kartikasari 112 ovulasi. Penyesuaian dapat digunakan pada metode kalender untuk estimasi kehamilan, namun metode ini kurang tepat untuk memperkirakan paparan pra konsepsi. Penggunaan kalender dengan pendekatan waktu ovulasi kurang akurat 1 minggu atau lebih. 2. Metode Symptothermal Metode ini berdasarkan adanya tanda lendir serviks (sympto) yang menunjukkan aktivitas ovarium, dan perubahan suhu tubuh (thermal) yang menunjukkan proses ovulasi, serta tanda operasional lainya. Tanda operasional tersebut berupa pemeriksaan serviks, yang berguna pada kondisi yang tidak jelas misalnya saat sekresi lendir serviks tidak dapat terlihat di vulva. Observasi lainnya yaitu nyeri pada payudara, nyeri intermenstrual (antara menstruasi), dan sindrom premenstrual yang dapat digunakan untuk membantu menentukan masa subur. Lendir serviks dalam menentukan masa subur dapat diperiksa dengan melihat dan menyentuh dari luar atau dalam melalui sensasi vagina yang tidak terlihat (Dieny, Ayu and Dewi Marfu’ah Kurniawati, 2019). 3. Metode hari standar Metode hari standar yaitu cara menentukan masa subur dengan identifikasi hari ke-8 sampai hari ke-19 siklus haid (inklusif) sebagai hari subur sehingga dapat menyebabkan kehamilan jika terjadi hubungan seksual. Hubungan seksual dapat dilakukan selama 12 hari masa subur untuk merencanakan kehamilan. Metode ini cocok pada wanita yang mempunyai siklus haid 26-32 hari. 11.7 Kebutuhan gizi masa prakonsepsi Pasangan usia subur yang merencanakan kehamilan sebaiknya memiliki berat badan ideal. Kondisi ini lebih mudah menghadapi kehamilan dibandingkan jika calon ibu memiliki berat badan berlebih atau kurang. Data menunjukkan bahwa sepertiga wanita usia subur (35,6%) mengalami masalah gizi kekurangan energi kronis (KEK). Hal ini akan menghambat pertumbuhan janin yang akan meningkatkan risiko bayi dengan BBLR. Banyaknya jumlah wanita subur yang
M. Nur Dewi Kartikasari 113 mengalami KEK sehingga terdapat potensi terjadinya gagal tumbuh antar-generasi. Pemenuhan gizi sebelum hamil (pra-konsepsi) perlu diperhatikan karena status gizi yang baik pada ibu masa pra-konsepsi akan menjadi dasar bagi kehamilan yang membutuhkan tambahan asupan gizi. Ibu hamil yang memiliki berat badan kurang dan anemia pada waktu konsepsi memiliki peluang melahirkan bayi prematur (kurang bulan) dan mengalami toksemia (Badriah, 2018). 1. Karbohidrat Merupakan sumber energi yang utama dalam tubuh. Setiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Contoh sumber makanan mengandung karbohidrat yaitu nasi, singkong, jagung, kentang, ubi, roti, dan mie. Asupan karbohidrat yang dianjurkan sebesar 55-70% dari kebutuhan energi sehari. 2. Protein Kebutuhan protein pada masa pra konsepsi yaitu sekitar 10-30% dari kebutuhan energi sehari. Protein berguna sebagai zat pembangun, pengatur, serta perbaikan jaringan dalam sel-sel tubuh yang rusak. Fungsi utama protein bukan sebagai sumber energi, namun protein dapat menjadi sumber energi dengan menyediakan 4 kkal per gram. Kebutuhan protein dapat dipenuhi dengan konsumsi bahan makan yang merupakan sumber protein hewani seperti telur, ikan, daging sapi, daging ayam, susu serta bahan makanan sumber protein nabati yaitu tempe, tahu, dan kacangkacangan. 3. Lemak Lemak menjadi sumber energi terbesar jika dibandingkan dengan karbohidrat dan protein. Satu gram lemak dapat menghasilkan 9 kkal. Asupan lemak yang dianjurkan per-hari sebesar 20-30%. Lemak memiliki peranan dalam penyerapan vitamin A, D, E dan K. Asupan lemak berperan dalam jumlah lemak tubuh yang terkait dengan produksi hormon pada wanita maupun pria. Sel lemak yang menjaga ketersediaan hormon dalam tubuh akan memberikan pengaruh terhadap siklus haid pada wanita serta kematangan sperma pada pria. Bahan makanan yang merupakan sumber lemak banyak ditemukan pada daging merah, ayam, keju, minyak dan ikan.
M. Nur Dewi Kartikasari 114 4. Serat Serat merupakan komponen yang penting pada asupan makanan. Asupan serat yang kurang dapat menyebabkan susah buang air besar (konstipasi), hemoroid (ambeien), dan obesitas. Seseorang harus mengkonsumsi serat dalam jumlah yang cukup untuk mencegah adanya gangguan pencernaan dan membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Kebutuhan serat masa pra konsepsi pada pria yaitu 37-38 gram dan wanita yaitu 30-35 gram. Makanan yang mengandung serat yang baik diantaranya sayuran , buahbuahan, dan kacang-kacangan. 5. Cairan Asupan cairan yang dianjurkan yaitu sebesar 1,5-2 liter/hari atau setara dengan 8 gelas air setiap hari. Kebutuhan cairan dapat diperoleh dari air minum, dan air dalam makanan. Air putih lebih dianjurkan dari pada kopi, sirup, teh dan minuman yang mengandung soda. 6. Vitamin A Angka kecukupan gizi (AKG) vitamin A pada wanita pra konsepsi yaitu ±500 mcg, sedangkan pada pria adalah 600 mcg. Sumber vitamin A pada bahan makanan diantaranya wortel, tomat, daging, kuning telur, susu, mentega, bayam, dan kacang panjang. 7. Vitamin D Vitamin D yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan memiliki peranan dalam mengoptimalkan kesehatan tulang serta fungsi otot. Bahan makanan yang mengandung vitamin D yaitu hati, telur, dan ikan. Kebutuhan vitamin D menurut AKG untuk pria dan wanita masa pra konsepsi sebanyak 15 mcg. 8. Vitamin E Angka kecukupan gizi vitamin E pada pria dan wanita masa pra konsepsi sekitar 15 mg/hari. Bahan makanan yang menjadi sumber utama vitamin E yaitu minyak nabati (minyak zaitun, minyak jagung, minyak matahari); kacang-kacangan dan biji-bijian (biji bunga matahari, kacang kenari); serta alpukat. 9. Vitamin K Kebutuhan vitamin K bagi pria dan wanita masa pra konsepsi sekitar 1,3-1,4 mg/hari. Sumber vitamin K pada bahan makanan yaitu pisang, alpukat, sayuran hijau dan minyak kedelai.
M. Nur Dewi Kartikasari 115 10. Vitamin C Kebutuhan vitamin C sebesar 90 mg/hari pada pria dan 75 mg/hari pada wanita. Vitamin C dapat diperoleh dari buah-buahan dan sayur-sayuran segar. 11. Asam folat Asupan asam folat yang cukup dapat menurunkan kejadian ovulasi infertil pada wanita, dan mengurangi sperma abnormal pada pria. Angka kecukupan gizi asam folat pada pria dan wanita masa pra konsepsi sebesar 400 mcg/hari. Bahan makanan yang mengandung asam folat yaitu sayur, buah-buahan, daging, wijen, kacangkacangan, dan biji-bijian. 12. Zat besi Zat besi dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan hemoglobin dan mioglobin yang diperlukan dalam proses metabolisme tubuh. Angka kecukupan gizi zat besi pada pria sebesar 13-15 mg/hari dan pada wanita yaitu ±26 mg/hari. Bahan makanan sumber zat besi yaitu daging, unggas dan ikan. 13. Seng (zinc) Seng memiliki peran penting dalam fungsi kekebalan, antioksidan, serta reproduksi. Angka kecukupan gizi seng pada pria masa pra konsepsi sebesar 13-17 mg/hari, dan pada wanita kebutuhan seng sebesar 10 mg/hari. Asupan seng yang kurang pada pria dapat menurunkan kualitas sperma. Bahan makanan yang mengandung seng antara lain daging, ikan, kerang dan kacang-kacangan. 14. Selenium Angka kecukupan gizi selenium pada pria dan wanita masa pra konsepsi sebesar 30 mg/hari. Selenium banyak terkandung dalam bahan makanan seperti telur, ikan, kerang, daging, padi-padian dan biji-bijian. (Dieny, Ayu dan Kurniawati, 2019). 11.8 Menjaga kesehatan alat reproduksi Konseling berupa komunikasi, edukasi dan informasi (KIE) yang dapat diberikan untuk menjaga kesehatan organ reproduksi wanita menurut (Yulivantina et al., 2021) antara lain : 1. Penggunaan pakaian dalam(celana) dengan bahan katun menyerap. 2. Cebok dari arah depan (vagina) ke belakang (anus).
M. Nur Dewi Kartikasari 116 3. Penggantian pembalut saat haid maksimal 4 jam sekali. 4. Penggunaan cairan pembersih vagina tidak dianjurkan. 5. Penggunaan handuk kering dan bersifat pribadi untuk mengeringkan daerah kewanitaan, dan lain-lain. 11.9 Masalah kesehatan yang harus diperhatikan Beberapa kondisi kesehatan sebelum hamil yang harus mendapatkan perhatian khusus agar tidak mempengaruhi kehamilan menurut (Yulivantina et al., 2021) antara lain : 1. Anemia Anemia yaitu keadaan seseorang dengan kadar hemoglobin dibawah normal yang ditandai dengan lemah, letih, lesu, lelah dan lunglai serta pusing dan mata berkunang-kunang. Anemia berdampak buruk pada kehamilan antara lain pertumbuhan janin terhambat, berat bayi lahir rendah, prematur, kelainan bawaan pada bayi dan risiko perdarahan saat kelahiran. Anemia dapat dicegah dengan cara konsumsi makanan gizi seimbang, konsumsi tablet tambah darah sebelum dan selama kehamilan, dan segera konsultasi ke tenaga kesehatan apabila menderita penyakit lain yang menyertai. 2. Hepatitis-B Hepatitis-B yaitu peradangan hati karena virus hepatitis-B yang sering tanpa menimbulkan gejala, namun gejala muncul seringkali sudah terlambat, telah sirosis bahkan kanker hati. Risiko penularan secara vertikal dari ibu hamil ke jani sebesar 95%. Sedangkan risiko horizontal terjadi pada hubungan seksual yang tidak aman, tranfusi darah, dan penggunaan jarum suntik bergantian dengan penderita hepatitis-B. 3. Diabetes Mellitus Diabetes mellitus yaitu penyakit kronis dengan peningkatan kadar gula darah >200mg/dL pada pemeriksaan gula darah sewaktu. Diabetes memiliki dampak buruk terhadap kehamilan antara lain bayi lahir besar, risiko kelahiran prematur, hipertensi dalam kehamilan, hiperbilirubinemia pada bayi dan bayi menderita diabetes ketika dewasa.
M. Nur Dewi Kartikasari 117 4. Malaria dan TORCH Malaria yaitu penyakit yang disebabkan oleh plasmodium yang hidup dalam sel darah merah. Malaria menyebabkan anemia dan berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil dan janin. Pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya menggunakan kelambu waktu tidur, menggunakan pakaian pelindung yang menutupi lengan dan kaki saat keluar rumah, dan memakai obat anti nyamuk. TORCH merupakan penyakit yang disebabkan oleh Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II. Penyakit ini dapat menyebabkan infertilitas dan kecacatan pada janin. Pencegahan yang dapat dilakukan dengan imunisasi MMR 3-6 bulan dari rencana kehamilan, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. 5. Thalasemia Thalasemia merupakan kelainan sel darah merah karena kekurangan protein pembentuk sel darah merah. Penyakit ini diturunkan oleh kedua orangtua yang membawa sifat thalasemia kepada keturunannya. Pengelolaan penyakit thalasemia bertujuan untuk mencegah kehamilan dan kelahiran anak dengan thalasemia. 6. Hemofilia Hemofilia yaitu penyakit dengan gangguan faktor pembekuan darah sehingga perdarahan akan sulit dihentikan dan berlangsung lebih lama. Apabila kedua orangtua membawa sifat hemofilia, maka memiliki risiko melahirkan anak dengan hemofilia juga.
M. Nur Dewi Kartikasari 118 DAFTAR PUSTAKA Anggraeny, O., Arisiningsih and Dian, A. 2017. Gizi Prakonsepsi, kehamilan dan menyusui. 1st edn. Edited by H.K. Rahayu. Malang: UB Press. Badriah, D.. 2018. Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Edited by F. Atif. Bandung: PT Rafika Aditama. Dean, S. et al. 2013. ‘Setting Research Priorities for Preconception Care in Low and Middle Income Countries : Aiming to Reduce Maternal and Child Mortality and Morbidity’, PLoS Med, 10(9). doi:https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1001508. Dieny, F.., Ayu, R. and Kurniawati, D.M. 2019. Gizi Prakonsepsi. Edited by N. Syansiah. Jakarta: Bumi Medika. Kemenkes R.I. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 79 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil dan persalinan, dan masa sesudah melahirkan, penyelenggaraan pelayanan kontrasepsi serta pelayanan kesehatan seksual. Indonesia: Peraturan Menteri Kesehatan. Kemenkes R.I. 2018. Kesehatan reproduksi dan Seksual bagi calon pengantin. Jakarta: Kemenkes R.I. Permenkes. 2014. Pelayanan kesehatan masa sebelum hamil, persalinan, sesudah melahirkan, penyelenggaraan kontrasepsi serta pelayanan kesehatan seksual. Republik Indonesia: Peraturan Menteri Kesehatan. WHO. 2013a. Meeting to Develop a Global Consensus on Preconception Care to Reduce Maternal and Childhood Mortality and Morbidity. Geneva, Switzerland. WHO. 2013b. Preconception care: Maximizing the gains for maternal and child health. Switzerland. Yulivantina, E.V. et al. 2021. Modul Praktikum Asuhan Pranikah dan Prakonsepsi. Yogyakarta: STIKES Guna Bangsa Yogyakarta.
119 BIODATA PENULIS Niken Bayu Argaheni, S.ST, M.Keb., Dosen di Universitas Sebelas Maret Surakarta Founder dari Perempuan Berdaya. Penerima Hibah Penelitian dan Pengabdian Riset Group “Pengaruh Mat Pilates Exercise Terhadap Skala Nyeri, Kecemasan, Frekuensi Nadi Pada Remaja Putri Dengan Dismenorhea Primer di Surakarta (2020)”, “Pembelajaran Daring Research Group Ibu Hamil Guna Pencegahan Covid-19 (2020)”, Bimbingan Konseling Spiritual Bagi Pengasuh Dan Anak Asuh Panti Asuhan Anak Penderita HIV/AIDS Di Yayasan Lentera Surakarta (2021)”. Dapat dihubungi di kontak: +6285740888008, email: [email protected]
120 BIODATA PENULIS Sulistyani Prabu Aji, M.Kes Staf Peneliti Pusat Kedokteran tropis UGM Penulis adalah Peneliti di Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM). Penulis merupakan lulusan S2 Kedokteran Keluarga UNS pada tahun 2015 dan saat ini penulis merupakan mahasiswa beasiswa S3 Prodi Penyuluh Pembangunan peminatan Promosi Kesehatan di Universitas Sebelas Maret (UNS). Selain Kuliah, Penulis juga aktif mengisi kegiatan ilmiah sebagai pembicara maupun moderator. Mengisi berbagai pelatihan yang berlisensi dalam beberapa bidang ilmu khususnya kesehatan . Penulis adalah Pendiri sekolah keluarga Komplementer yang diperuntukkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan terapi komplementer. Di tahun 2022 Penulis sudah menulis 31 BookChapter dan memperoleh 18 Hak Cipta. Karena kesempurnaan hanya milik Sang Maha Pencipta, maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun lewat email : [email protected]
121 BIODATA PENULIS Rahayu Eryanti. K Staf Dosen Prodi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Megarezky Penulis lahir di Kendari tanggal 17 Januari 1991. Penulis adalah dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Megarezky Menyelesaikan pendidikan D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu dan D4 Bidan Pendidik STIKes Mega Rezky Makassar dan S2 pada Magister Kebidanan Universitas Hasanuddin. Penulis menekuni bidang Menulis.
122 BIODATA PENULIS Shinta Kristianti Dosen Poltekkes Kemenkes Malang Penulis lahir di Kediri tanggal 17 Juni 1980. Penulis adalah dosen tetap pada Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Kediri Politeknik Kesehatan Kemenekes Malang. Menyelesaikan pendidikan D3 Kebidanan pada Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya, D4 Kebidanan Stikes Ngudi Waluyo Ungaran dan melanjutkan S2 pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Promosi Kesehatan Konsentrasi Kesehatan Reproduksi dan HIV-AIDS Universitas Diponegoro Semarang. Penulis menekuni bidang keilmuan kebidanan.
123 BIODATA PENULIS Neng Kurniati, S.ST.,S.KM.,M.Tr.Keb Staf Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Bengkulu Penulis lahir di Cawang Lama (Dempo Utara) Sumatera Selatan tanggal 23 Februari 1982. Penulis adalah dosen tetap pada Program Studi D3 Kebidanan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu. Menyelesaikan pendidikan D3 Kebidanan pada Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan D4 Bidan Pendidik pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu, pernah mengambil S1 Kesehatan Masyarakat pada Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan terakhir melanjutkan S2 Kebidanan pada Poltekkes Kemenkes Semarang Jawa Tengah. Penulis menekuni bidang Kebidanan dimulai dari pengalaman kerja di RSUD dr. M. Yunus sebagai bidan pelaksana perawatan anak dan penyakit dalam pada tahun 2005 hingga 2010, menjadi tenaga pendidik pada poltekkes Provinsi Bengkulu hingga tahun 2016 dan terakhir pada tahun 2017 hingga sekarang di prodi D3 Kebidanan FMIPA Universitas Bengkulu.
124 BIODATA PENULIS Nurmiaty Dosen Program Studi D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari Penulis lahir di Anduonohu Kota Kendari tanggal 19 Agustus 1980. Penulis adalah dosen Program Studi D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari. Menyelesaikan Diploma III Kebidanan tahun 2001 di Akbid Depkes Kendari. Lulus Pendidikan Diploma IV Bidan Pendidik tahun 2004 dan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Ibu dan Anak, Kesehatan Reproduksi tahun 2009, di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Tahun 2016 menyelesaikan Pendidikan S3 Ilmu Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
125 BIODATA PENULIS Darmiati, S.ST.,M.Kes.,M.Keb. Staf Dosen Jurusan Kebidanan Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar Darmiati, S.ST.,M.Kes.,M.Keb. Lahir di Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 05 Februari 1990. Penulis adalah dosen tetap pada Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar Program Studi Sarjana kebidanan dan Profesi. Penulis telah menyelesaikan pendidikan pada Sekolah Perawat Kesehatan Pelamonia Makassar pada tahun 2008, Lulus Diploma III Kebidanan pada Akademi Kebidanan Pelamonia Makassar Tahun 2011, Lulus Diploma IV Bidan Pendidik pada Universitas Mega Rezky Makassar tahun 2013, Telah menyelesaikan Pendidikan Magister Kesehatan pada Universitas Indonesia Timur pada tahun 2015 dan menyelesaikan Magister Kebidanan pada Universitas Hasanuddin pada Tahun 2017. Mulai aktif melakukan kegiatan pengajaran di Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar sejak Tahun 2013 hingga sekarang.