The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2023-01-10 07:40:19

METODOLOGI PENELITIAN KEPERAWATAN

METODOLOGI PENELITIAN KEPERAWATAN

Latihan: Semakin rendah jumlah latihan, semakin besar berat
badan seseorang. Setiap pernyataan mengungkapkan hubungan
yang diprediksi antara bobot (variabel dependen) dan variabel
independen yang dapat diukur. Kebanyakan penelitian kuantitatif
adalah dilakukan untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan
antar variabel, dan sering untuk mengukur seberapa kuat
hubungan tersebut. Variabel dapat dihubungkan satu sama lain
dengan cara yang berbeda. Salah satu jenis hubungan adalah
hubungan sebab akibat (kausal). Dalam paradigma positivis,
natural fenomena dianggap tidak serampangan; mereka memiliki
penyebab anteseden yaitu mungkin dapat ditemukan. Dalam
contoh kita tentang berat badan seseorang, kita mungkin
berspekulasi bahwa ada hubungan kausal antara asupan kalori dan
berat badan: yang lainnya adalah sama, makan lebih banyak kalori
menyebabkan penambahan berat badan. Sebagaimana dicatat
dalam Bab 1, banyak penelitian kuantitatif yang menyelidiki sebab-
mereka berusaha untuk menjelaskan penyebab fenomena. Tidak
semua hubungan antar variabel dapat diartikan sebagai sebab-
akibat hubungan. Ada hubungan, misalnya, antara paru-paru
seseorang suhu arteri dan timpani: Orang dengan pembacaan
tinggi pada satu cenderung memiliki pembacaan tinggi di sisi lain.
Namun, kita tidak dapat mengatakan bahwa suhu arteri pulmonalis
menyebabkan suhu timpani, atau suhu timpani menyebabkan suhu
arteri pulmonalis, meskipun ada hubungan antara keduanya. Jenis
hubungan ini kadang-kadang disebut sebagai hubungan fungsional
(atau asosiatif) daripada hubungan kausal. Peneliti kualitatif tidak
peduli dengan hubungan kuantifikasi, atau dalam menguji dan
mengkonfirmasi hubungan sebab akibat. Sebaliknya, peneliti
kualitatif mungkin mencari pola asosiasi sebagai cara untuk
menerangi makna yang mendasari dan dimensi fenomena yang
menarik. Pola tema yang saling berhubungan dan proses
diidentifikasi sebagai sarana untuk memahami keseluruhan.

Langkah Utama Dalam Studi Kuantitatif
Dalam studi kuantitatif, peneliti bergerak dari titik awal

sebuah penelitian (mengajukan pertanyaan) ke titik akhir
(memperoleh jawaban) dengan cara yang wajar urutan linier
langkah-langkah yang secara umum serupa di seluruh studi. Ini

Daniel Suranta Ginting 41

bagian menjelaskan aliran itu, dan bagian berikutnya menjelaskan
bagaimana studi kualitatif berbeda.

Alur Langkah-Langkah dalam Studi kuantitatif

Merencanakan study
Mengidentifikasikan masalah penelitian.
Melakukan tinjauan sastra.
Mengembangkan pendekatan
keseluruhan.
Memilih dan mendapatkan masukan
dalam penelitian.
Mengembangkan metode untuk

Menyebarluaskan temuan Mengembangkan strategi pengumpulan data

Mengkomunikasikan temuan.  Memutuskan jenis data apa yang akan
Uilzing (membuat rekomendasi dikumpulkan dan bagaimana cara
pengumpulannya.
untuk memanfaatkan temuan
dalam praktik dan penemuan  Memutuskan dari siapa mengumpulkan data.
masa depan.  Memutuskan bagaimana meningkatan

.kepercayaaan.

Mengumpulkan dan menganalisis data

Mengumpulkan data.
Mengorganisir dan menganalisis data
Mengevaluasi data: membuat

modifikasi untuk strategi koneksi data
Mengevaluasi data menentukan

saturasi sudah tercapai.

Daniel Suranta Ginting 42

Fase 1: Fase Konseptual
Langkah awal dalam proyek penelitian kuantitatif biasanya

melibatkan kegiatan dengan elemen konseptual atau intelektual
yang kuat. Selama fase ini, peneliti memanggil keterampilan seperti
kreativitas, penalaran deduktif, dan landasan dalam penelitian yang
ada bukti tentang topik yang menarik. pertanyaan penelitian
penting, mengingat basis bukti?); masalah teoretis (Apakah ada
konteks konseptual untuk meningkatkan pemahaman tentang
masalah ini?); masalah klinis (Dapatkah temuan studi berguna
dalam praktik klinis?); masalah metodologis (Bagaimana bisa
pertanyaan ini paling baik dijawab untuk menghasilkan bukti
berkualitas tinggi?); dan masalah etika (Dapatkah pertanyaan ini
dijawab secara ketat dengan cara yang etis?)

Langkah 2: Meninjau Literatur Terkait Penelitian kuantitatif
biasanya dilakukan dalam konteks pengetahuan sebelumnya.
Peneliti kuantitatif biasanya berusaha untuk memahami apa yang
sudah ada diketahui tentang suatu topik dengan melakukan
tinjauan literatur menyeluruh sebelum data apa pun
dikumpulkan.

Langkah 3: Melakukan Kerja Lapangan Klinis Para peneliti
yang memulai studi klinis sering mendapat manfaat dari
menghabiskan waktu di pengaturan klinis yang sesuai,
mendiskusikan topik dengan dokter dan perawatan kesehatan
administrator, dan mengamati praktik saat ini. Kerja lapangan
klinis semacam itu dapat memberikan perspektif tentang tren
klinis terkini, prosedur diagnostik saat ini, dan model pemberian
perawatan kesehatan yang relevan; itu juga dapat membantu
peneliti lebih memahami perspektif klien dan pengaturan di mana
perawatan diberikan.

Langkah 4: Mendefinisikan Kerangka dan Mengembangkan
Definisi Konseptual Ketika penelitian kuantitatif dilakukan dalam
konteks kerangka kerja konseptual, temuan mungkin memiliki
makna dan kegunaan yang lebih luas. Bahkan ketika
pertanyaan penelitian tidak tertanam dalam sebuah teori, peneliti
harus memiliki konsep rasional dan visi yang jelas dari konsep
yang diteliti.

Langkah 5: Merumuskan Hipotesis. Hipotesis menyatakan
harapan peneliti tentang hubungan antara variabel studi. Hipotesis

Daniel Suranta Ginting 43

adalah prediksi hasil yang diharapkan; mereka menyatakan
hubungan kapal yang peneliti harapkan untuk diamati dalam data
penelitian. Pertanyaan penelitian mengidentifikasi konsep-konsep
yang sedang diselidiki dan menanyakan bagaimana konsep-konsep
itu mungkin terkait; sebuah hipotesis adalah jawaban yang
diprediksi. Sebagian besar studi kuantitatif dirancang untuk
menguji hipotesis melalui analisis statistik.

Fase 2: Fase Desain dan Perencanaan
Pada fase utama kedua dari studi kuantitatif, peneliti

membuat keputusan tentang lokasi penelitian dan tentang metode
dan prosedur yang akan digunakan untuk mengatasi pertanyaan
penelitian. Peneliti biasanya memiliki fleksibilitas yang cukup besar
dalam merancang penelitian dan membuat banyak keputusan
metodologis. Keputusan ini sangat penting implikasi untuk
integritas dan generalisasi dari temuan penelitian.

Langkah 6: Memilih Desain Penelitian. Desain penelitian
adalah rencana keseluruhan untuk memperoleh jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang ada dipelajari dan untuk menangani
berbagai tantangan terhadap nilai bukti penelitian. Di merancang
penelitian, peneliti memutuskan desain spesifik mana yang akan
diadopsi dan apa yang akan mereka lakukan untuk meminimalkan
bias dan meningkatkan interpretasi hasil. Di studi kuantitatif,
desain penelitian cenderung sangat terstruktur dan terkontrol.
Desain penelitian juga menunjukkan aspek lain dari penelitian—
misalnya, seberapa sering data yang akan dikumpulkan, jenis
perbandingan apa yang akan dibuat, dan dimana penelitiannya
akan berlangsung. Desain penelitian adalah tulang punggung
arsitektur penelitian.

Langkah 7: Mengembangkan Protokol untuk Intervensi.
Dalam penelitian eksperimental, peneliti membuat variabel
independen, yang: berarti peserta dihadapkan pada perlakuan atau
kondisi yang berbeda. Protokol intervensi untuk penelitian ini
perlu dikembangkan, dengan merinci secara tepat apa yang
intervensi akan memerlukan (misalnya, siapa yang akan
mengelolanya, seberapa sering dan lebih) berapa lama periode
pengobatan akan berlangsung, dan sebagainya) dan apa
alternatifnya. kondisi akan. Tujuan dari protokol yang

Daniel Suranta Ginting 44

diartikulasikan dengan baik adalah untuk memiliki semua mata
pelajaran di setiap kelompok diperlakukan dengan cara yang sama.
Dalam penelitian non-eksperimental, tentu saja, ini langkah tidak
perlu.

Langkah 8: Mengidentifikasi Populasi. Peneliti kuantitatif
perlu mengetahui karakteristik apa saja yang dimiliki partisipan
penelitian harus memiliki, dan memperjelas kelompok kepada
siapa hasil studi dapat digeneralisasi— yaitu, mereka harus
mengidentifikasi populasi yang akan diteliti. Populasi adalah semua
individu atau objek dengan karakteristik umum yang menentukan.
Misalnya, populasi yang menarik mungkin semua pasien pria
dewasa yang menjalani kemoterapi di Dallas.

Langkah 9: Merancang Rencana Pengambilan Sampel.
Peneliti biasanya mengumpulkan data dari sampel, yang
merupakan bagian dari populasi. Menggunakan sampel jelas lebih
praktis dan lebih murah daripada mengumpulkan data dari seluruh
populasi, tetapi risikonya adalah sampel mungkin tidak memadai
mencerminkan sifat-sifat populasi. Dalam studi kuantitatif,
kecukupan sampel adalah dinilai dengan kriteria keterwakilan
(yaitu, seberapa khas atau representatif sampel adalah dari
populasi). Rencana pengambilan sampel menentukan terlebih
dahulu bagaimana sampel akan dipilih dan berapa banyak subjek
yang akan ada.

Langkah 10: Menentukan Metode untuk Mengukur Variabel.
Peneliti kuantitatif harus mengembangkan atau meminjam metode
untuk mengukur penelitian variabel seakurat mungkin.
Berdasarkan definisi konseptual, peneliti memilih atau merancang
metode untuk mengoperasionalkan variabel dan mengumpulkan
datanya. Sebuah berbagai pendekatan pengumpulan data
kuantitatif ada; metode utama adalah laporan diri (misalnya,
wawancara), pengamatan (misalnya, mengamati perilaku anak-
anak), dan pengukuran biofisiologis. Tugas mengukur variabel
penelitian dan mengembangkan rencana pengumpulan data adalah
proses yang kompleks dan menantang.

Langkah 11: Mengembangkan Metode untuk Melindungi
Hak Asasi Manusia/Hewan Kebanyakan penelitian keperawatan
melibatkan subyek manusia, meskipun beberapa melibatkan
hewan. Di baik kasus, prosedur perlu dikembangkan untuk

Daniel Suranta Ginting 45

memastikan bahwa penelitian ini mematuhi prinsip-prinsip etika.
Setiap aspek dari rencana studi perlu diteliti untuk menentukan
apakah hak-hak subyek telah dilindungi secara memadai.

Langkah 12: Meninjau dan Menyelesaikan Rencana
Penelitian. Sebelum benar-benar mengumpulkan data, peneliti
sering melakukan sejumlah “tes” untuk memastikan bahwa
prosedur akan berjalan lancar. Misalnya, mereka mungkin
mengevaluasi keterbacaan bahan tertulis untuk menentukan
apakah peserta dengan keterampilan membaca rendah dapat
memahaminya, atau mereka mungkin menguji alat ukur mereka
untuk menilai kecukupan mereka. Peneliti biasanya memiliki
rencana penelitian mereka dikritik oleh pengulas untuk
mendapatkan umpan balik substantif, klinis, atau metodologis
sebelum menerapkan rencana. Peneliti mencari dukungan
keuangan mengajukan proposal ke sumber pendanaan, dan
pengulas biasanya menyarankan perbaikan. kecukupan mereka.
Peneliti biasanya memiliki rencana penelitian mereka dikritik oleh
pengulas untuk mendapatkan umpan balik substantif, klinis, atau
metodologis sebelum menerapkan rencana. Peneliti mencari
dukungan keuangan mengajukan proposal ke sumber pendanaan,
dan pengulas biasanya menyarankan perbaikan.
Fase 3: Fase Empiris

Bagian empiris dari studi kuantitatif melibatkan
pengumpulan data penelitian dan mempersiapkan data untuk
dianalisis. Fase empiris seringkali merupakan bagian studi yang
paling memakan waktu. Pengumpulan data mungkin memerlukan
kerja berbulan-bulan. Langkah 13: Mengumpulkan Data
Pengumpulan data yang sebenarnya dalam studi kuantitatif sering
berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya. Rencana peneliti biasanya mengartikulasikan
prosedur untuk pelatihan staf pengumpulan data, menjelaskan
penelitian kepada peserta, pengumpulan data yang sebenarnya
(misalnya, di mana dan kapan data akan dikumpulkan), dan
merekam informasi. Langkah 14: Mempersiapkan Data untuk
Analisis Data yang dikumpulkan dalam studi kuantitatif jarang
dapat diterima untuk analisis langsung. Diperlukan langkah-
langkah awal. Salah satu langkah tersebut adalah pengkodean, yang
merupakan proses menerjemahkan data verbal ke dalam bentuk

Daniel Suranta Ginting 46

numerik (misalnya, pengkodean informasi gender sebagai "1"
untuk perempuan dan “2” untuk laki-laki). Langkah awal lainnya
melibatkan transfer data dari dokumen tertulis ke file komputer
untuk analisis.
Fase 4: Fase Analitik Data kuantitatif yang dikumpulkan dalam fase
empiris tidak dilaporkan sebagai massa angka. Mereka tunduk
pada analisis dan interpretasi, yang terjadi di fase utama keempat
dari sebuah proyek.

Langkah 15: Menganalisis Data Untuk menjawab pertanyaan
penelitian dan menguji hipotesis, peneliti perlu menganalisis data
secara teratur dan koheren. Informasi kuantitatif dianalisis melalui
analisis statistik, yang mencakup beberapa prosedur sederhana
(misalnya, komputasi dan rata-rata) serta metode yang kompleks
dan canggih.

Langkah 16: Menafsirkan Hasil Interpretasi adalah proses
memahami hasil studi dan memeriksa implikasi mereka. Para
peneliti berusaha untuk menjelaskan temuan berdasarkan bukti
sebelumnya, teori, dan pengalaman klinis mereka sendiri—dan
dengan mempertimbangkan kecukupan penelitian tersebut.
metode yang mereka gunakan dalam penelitian. Interpretasi juga
melibatkan penentuan bagaimana temuan terbaik dapat digunakan
dalam praktik klinis, atau penelitian lebih lanjut apa yang
diperlukan? sebelum pemanfaatan dapat direkomendasikan.
Fase 5: Fase Diseminasi Pada fase analitik, para peneliti datang
ke lingkaran penuh: pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada set
awal dijawab. Namun, pekerjaan para peneliti belum selesai,
sampai penelitian hasil disebarluaskan.

Langkah 17: Mengkomunikasikan Temuan
Sebuah penelitian tidak dapat memberikan kontribusi bukti untuk
praktik keperawatan jika hasilnya tidak dikomunikasikan. Oleh
karena itu, tugas lain—dan seringkali final—dari sebuah proyek
penelitian adalah penyusunan laporan penelitian yang dapat
dibagikan kepada orang lain. Kita diskusikan laporan penelitian di
bab selanjutnya.

Langkah 18: Mempraktikkan Bukti. Idealnya, langkah
penutup dari studi berkualitas tinggi adalah merencanakan
penggunaannya dalam praktik pengaturan. Meskipun peneliti
perawat sendiri mungkin tidak dalam posisi untuk menerapkan

Daniel Suranta Ginting 47

rencana untuk memanfaatkan temuan penelitian, mereka dapat
berkontribusi pada proses dengan mengembangkan rekomendasi
mengenai bagaimana bukti dapat dimasukkan ke dalam praktik
keperawatan, dengan memastikan bahwa informasi yang memadai
telah disediakan untuk meta-analisis, dan dengan penuh semangat
mengejar peluang untuk menyebarkan temuan untuk berlatih
perawat.

3.9 Kegiatan Dalam Studi Kualitatif

Penelitian kuantitatif melibatkan perkembangan tugas yang
cukup linier—rencana peneliti sebelumnya langkah-langkah yang
harus diambil untuk memaksimalkan integritas studi dan
kemudian ikuti itu langkah setenang mungkin. Dalam studi
kualitatif, sebaliknya, perkembangannya adalah lebih dekat ke
lingkaran daripada ke garis lurus. Peneliti kualitatif terus-menerus
memeriksa dan menafsirkan data dan membuat keputusan tentang
bagaimana melanjutkan berdasarkan pada apa yang telah
ditemukan.

Karena peneliti kualitatif memiliki pendekatan yang
fleksibel terhadap pengumpulan dan analisis data, tidak mungkin
untuk mendefinisikan aliran aktivitas secara tepat—aliran
bervariasi dari satu penelitian ke penelitian lainnya, dan peneliti
sendiri tidak tahu sebelumnya waktu persis bagaimana penelitian
akan terungkap. Kami mencoba memberikan gambaran tentang
bagaimana kualitatif studi dilakukan dengan menggambarkan
beberapa kegiatan utama dan menunjukkan bagaimana dan ketika
mereka mungkin dilakukan. Mengkonseptualisasikan dan
Merencanakan Studi Kualitatif.

Daniel Suranta Ginting 48

Langkah-Langkah Dalam Studi
Kualtifaftif

Daniel Suranta Ginting 49

Mengidentifikasi Masalah Penelitian
Peneliti kualitatif biasanya mulai dengan area topik yang

luas, seringkali berfokus pada aspek topik yang kurang dipahami
dan tentang yang sedikit diketahui. Mereka oleh karena itu
mungkin tidak menimbulkan pertanyaan penelitian halus di awal.
Kualitatif peneliti sering melanjutkan dengan pertanyaan awal
yang cukup luas yang memungkinkan fokus untuk dipertajam dan
digambarkan lebih jelas setelah penelitian berlangsung.
Melakukan Tinjauan Literatur

Peneliti kualitatif tidak semua setuju tentang nilai
melakukan tinjauan literatur dimuka. Beberapa percaya bahwa
peneliti tidak boleh berkonsultasi dengan literatur sebelum
mengumpulkan data. Kekhawatiran mereka adalah bahwa studi
sebelumnya mungkin mempengaruhi konseptualisasi fenomena
yang diteliti. Menurut pandangan ini, nomena fenomena harus
dijelaskan berdasarkan sudut pandang peserta daripada pada
informasi sebelumnya. Yang lain percaya bahwa peneliti harus
melakukan setidaknya brief Mengembangkan Pendekatan
Keseluruhan Peneliti kuantitatif tidak mengumpulkan data
sebelum menyelesaikan desain penelitian. Peneliti kualitatif,
sebaliknya, menggunakan desain yang muncul—desain yang
muncul selama pengumpulan data. Fitur desain tertentu dipandu
oleh tradisi penelitian kualitatif, tetapi penelitian kualitatif jarang
memiliki desain terstruktur yang kaku yang melarang perubahan
saat berada di lapangan.

Mengatasi Masalah Etis
Peneliti kualitatif, seperti peneliti kuantitatif, juga harus

mengembangkan rencana untuk menangani isu-isu etika-dan,
memang, ada perhatian khusus dalam kualitatif studi karena sifat
yang lebih intim dari hubungan yang biasanya berkembang antara
peneliti dan peserta studi.

Melakukan Studi Kualitatif
Dalam studi kualitatif, tugas sampling, pengumpulan data,

analisis data, dan interpretasi biasanya berlangsung berulang-
ulang. Peneliti kualitatif memulai dengan berbicara atau
mengamati orang yang memiliki pengalaman langsung dengan

Daniel Suranta Ginting 50

fenomena tersebut sedang dipelajari. Diskusi dan pengamatan
terstruktur secara longgar, memungkinkan peserta untuk
mengekspresikan berbagai keyakinan, perasaan, dan perilaku.
Analisis dan interpretasi sedang berlangsung, kegiatan bersamaan
yang memandu pilihan tentang jenis orang untuk ditanyai
selanjutnya dan jenis pertanyaan yang akan diajukan atau
pengamatan yang harus dilakukan. Proses sebenarnya dari analisis
data melibatkan pengelompokan bersama jenis-jenis yang terkait
informasi naratif menjadi skema yang koheren. Sebagai analisis
dan interpretasi kemajuan, peneliti mulai mengidentifikasi tema
dan kategori, yang digunakan untuk membangun deskripsi atau
teori yang kaya tentang fenomena tersebut. Jenis data yang
diperoleh menjadi semakin fokus dan terarah ketika teori itu
muncul. Pengembangan konsep dan verifikasi membentuk proses
pengambilan sampel—saat konseptualisasi atau teori berkembang,
peneliti mencari partisipan yang dapat mengkonfirmasi dan
memperkaya pemahaman orisinal, serta partisipan yang
berpotensi menantangnya dan mengarah pada wawasan teoretis
lebih lanjut. Peneliti kuantitatif memutuskan terlebih dahulu
berapa banyak mata pelajaran yang akan dimasukkan dalam
penelitian, tetapi keputusan pengambilan sampel peneliti kualitatif
dipandu oleh data itu sendiri. Banyak peneliti kualitatif
menggunakan prinsip kejenuhan, yang terjadi ketika tema dan
kategori dalam data menjadi berulang dan berlebihan, sehingga
tidak ada informasi baru yang dapat diperoleh dengan
pengumpulan data lebih lanjut. Peneliti kuantitatif berusaha
mengumpulkan data berkualitas tinggi dengan menggunakan
pengukuran instrumen yang telah dibuktikan akurat dan valid.
Kualitatif peneliti, sebaliknya, adalah instrumen pengumpulan data
utama dan harus langkah-langkah untuk menunjukkan
keterpercayaan data saat berada di lapangan. Pusat Fitur dari
upaya ini adalah untuk mengkonfirmasi bahwa temuan secara
akurat mencerminkan pengalaman dan sudut pandang peserta,
bukan persepsi peneliti. Satu aktivitas konfirmasi, misalnya,
melibatkan kembali ke peserta dan berbagi interpretasi awal
dengan mereka sehingga mereka dapat mengevaluasi apakah
analisis tematik peneliti konsisten dengan pengalaman mereka.
Peneliti keperawatan kualitatif juga berusaha untuk berbagi

Daniel Suranta Ginting 51

temuan mereka di konferensi dan dalam artikel jurnal. Temuan
kualitatif sering menjadi dasar untuk merumuskan.

Daniel Suranta Ginting 52

DAFTAR PUSTAKA
Polit, D., & Beck, C. 2020. Essentials of nursing research: Appraising

evidence for nursing practice. Lippincott Williams & Wilkins.
Woo, K. 2017. Polit & Beck Canadian essentials of nursing research.

Lippincott Williams & Wilkins.
Polit, D. F., & Beck, C. T. 2014. Essentials of nursing

research. Appraising evidence for nursing practice, 8.

Daniel Suranta Ginting 53

BAB 4
MENYUSUN LANDASAN TEORI

Oleh Yunike

4.1 Pendahuluan

Penelitian keperawatan adalah implementansi seseorang
sebagai perawat dan pentingnya untuk peningkatan dalam ilmu
keperawatan. Kemajuan teori dan praktik keperawatan merupakan
peneltian yang diperoleh dari tokoh keperawatan (Surajitno,
2016).

Perawat yang berada di tingkat sarjana muda harus dapat
memahami dan menerapkan temuan penelitian dari keperawatan
dan disiplin dalam praktik klinis keperawatan. (Nieswiadomy &
Bailey, 2017). Kegiatan perawat selama praktik ialah melayani
pasien kemudian melakukan dokumentasi tentang keadaan pasien
yang mana kegiatan itu merupakan dari penelitian keperarawatan
tanpa disadari (Surajitno, 2016).

Penelitian perawat membawa perspektif holistik untuk
mempelajari induvidu, kelurga, dan masyarakat dengn melibatkan
pendekatan biopsikososial. Prioritas dari penelitian keperawatan
yaitu mempromosikan gaya hidup sehat, kemajuan kualitas dan
keunggulan dalam perawatan kesehatan, dan pentingnya dasar
praktik keperawatan professional pada penelitian (John M,
Williams, McGarry, dkk 2010).

Merumuskan penelitian keperawatan membutuhkan
pemahaman tentang teori, konsep, konstruk, generaliasasi empiris,
paradigma, menyusun kerangka konseptual, dan kerangka teori.
Perawat sudah menggunakan teori keperawatan dan disiplin saat
melakukan penelitian keperawatan seperti pembelajaran sosial,
sosialisasi peran, motivasi, interaksi keluarga, koping, perilaku
dalam kesehatan, dan lain – lain (Nieswiadomy & Bailey, 2017).

Kerangka teoritis harus digunakan dalam semua penelitian
keperawatan dimana menjadi langkah – langkah dalam proses
penelitian dan merupakan sekumpulan pengetahuan yang dapat
dikembangkan (Becker et al., 2015; Nieswiadomy & Bailey, 2017).

Yunike 54

Rencana penelitian yang berisi kerangka teoritis menjadi kuat dan
terstruktur dengan alur yang teratur dari satu bab ke bab
berikutnya ( Grant dan Osanloo, 2014).

4.2 Penelitian Keperawatan

4.2.1 Definisi Penelitian Keperawatan
Menurut (Polit & Beck, 2014) penelitian keperawatan

merupakan sistematis yang dirancang untuk mengembangkan
informasi terkait isu–isu penting dalam profesi keperawatan,
termasuk praktik keperawatan, pendidikan, administrasi, dan
informatika.

(Grove, Burns, dan Gray, 2017) menyatakan penelitian
merupakan proses ilmiah yang menyempurnakan pengetahuan
dari penelitian yang sudah ada kemudian menjadi pengetahuan
baru dimana secara tidak langsung menyampaikan informasi
praktik keperawatan.

4.2.2 Tujuan Penelitian Keperawatan
Menurut (Grove, Burns, dan Gray 2017; Nieswiadomy &

Bailey, 2017; Polit & Beck, 2014 ; (Watson, 2013) tujuan perawat
melakukan penelitian yaitu :
1. Penelitian keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi,

mendeskripsikan, mengeksplorasi, memberi penjelasan, dan
mengendalikan terhadap permasalahan yang ada.
2. Perawat melakukan penelitian untuk mengembangankan,
menguji, dan menyempurnakan teori yang sudah ada
kemudian menjadi pengetahuan yang baru.
3. Penelitian keperawatan yang dihasilkan dapat digunakan
untuk megatasi permasalahan yang ada.

4.2.3 Peran Perawat dalam Penelitian
Perawat dapat mengambil peran dalam proyek

penelitiannya, antara lain (Nieswiadomy & Bailey, 2017) ∶
1. Peneliti Utama

Menjadi peneliti utama, perlunya ada persiapan khusus dalam
penelitian. Mungkin, bagi seorang peneliti baru dapat dimulai
dengan melakukan penelitian dengan skala kecil, tetapi pada

Yunike 55

sarjana muda atau bahkan tingkat master diperlukan dalam
penelitian mandiri dengan skala besar.
2. Anggota Tim Peneliti
Menjadi anggota tim peneliti, dapat bertindakn sebagai
pengumpul data, mengelola intervensi penelitian. Sebagai
perawat, semakin ikut berpartisipasi dalam penelitian, ada
kemungkinan bahwa minat dan dorongan untuk melakukan
penelitian dapat tumbuh.
3. Pengidentifiksi masalah yang dapat diteliti
Perawat mengumpulkan data dari pasien yang menjadi kasus
kelolaannya untuk mengidentifikasi masalah yang terkait dari
pasien.
4. Evaluasi Hasil Penitian
Perawat harus terlibat dalam evaluasi hasil dari penelitian
mereka.
5. Penggunaan Hasil Penelitian
Tujuannya untuk melihat bahwa penelitian mereka benar –
benar diterapkan dalam praktik keperawatan.
6. Perawat sebagai advokat pasien
Semua perawat memiliki tanggung jawab untuk bertindak
sebagai advokat ketika pasien mereka terlibat dalam
penelitian. Advokasi ini memastikan bahwa etika penelitian
ditegakkan. Perawat harus membantu menjawab pertanyaan
dan menjelaskan tentnag penelitian studi kasus kepada calon
peserta sebelum penelitian dilakukan.
7. Subjek/peserta dalam penelitian
Perawat berperan sebagai subjek/partisipan dalam penelitian.
Karena, pada penelitian tertentu membutuhkan pengetahuan
tentang masalah kesehatan yang lebih akurat.

4.2.4 Proses Penelitian
Proses penelitian dimulai dari (John M, Williams A, McGarry

J, 2010) ∶
1. Menentukan topic yang dipikirkan atau diketahui.
2. Mengidentifikasi topik lebih lanjut.
3. Menemukan metode untuk mengetahui topik.
4. Presentasikan topik yang telah ditentukan ke orang lain.

Yunike 56

5. Kemudian disampaikan dalam bahasa yang lebih berbasis
penelitian ∶
a) Semua proses penelitian dimulai dengan apa yang ingin
diketahui dari topik tersebut. (1) literatur yang ada, seperti
teori dan penelitian dari buku, jurnal, dan artikel dari topik
tersebut.
b) Mencari seseuatu yang lebih berkaitan dengan topic
penelitian. (2) Pertanyaan Penelitian.
c) Menentukan metode yang dipakai untuk topik penelitian.
d) Menganalisis topic penelitian
e) Presentasikan ke orang lain topic yang di dapat.

4.3 Menyusun Landasan Teori

4.3.1 Definisi Landasan Teori
Landasan teori merupakan dasar teoritis yang membantu

peneliti dalam mengidentifikasi, menjelaskan konsep–konsep
penting dan menentukan masalah yang mana juga digunakan untuk
mengebangkan pengetahuan (McEwen dan Wills, 2019).

Menurut (Sugiyono, 2013) landasan teori dalam penelitian
merupakan dasar yang kuat, dan bukan tindakan sembarang (trial
and error). Landasan teori merupakan sekumpulan definisi,
konsep, dan perbandiangan yang sudah tertata dan berurutan
tentang variabel–variabel dalam sebuah penelitian.

4.3.2 Macam – macam Teori dalam Penelitian
Mark (1963) dalam (Masturah dan Anggita, 2018; (Wibowo,

2014) menyatakan bahwa ditemukan 3 macam teori dalam
penelitian, yaitu ∶
1. Teori Deduktif, merupakan penjelasan teori atau keterangan

yang dimulari dari data – data yang umum kemudian mengecil
menjadi data yang lebih spesifik. Sekumpulan data tersebut
akan membentuk menjadi kerangka teori dan selanjutnya
menjadi kerangka konseptual.
2. Teori induktif, kebalikannya dari teori deduktif yang mana di
mulai dari data – data yang spesifik kemdian menjadi data yang
luas.

Yunike 57

3. Teori fungsional, dimana terdapat ikatan antara teori dan data
yang saling berhubungan.

4.3.3 Fungsi Teori dalam Peneltian
Menurut (Silva, Santos, Lay et al., 2017 ; (Sugiyono, 2013)

fungsi teori adalah ∶
1. Dalam penelitian teori berfungsi untuk mensistematisasikan

dan memberi penjelasan tentang pengetahuan terhadap
fenomena yang terjadi.
2. Memberikan penjelasan dengan perspektif yang berbeda.
3. Untuk memprediksi dan merumuskan hipotesis ataupun
menyusun instrumen penelitian.
4. Sebagai fungsi untuk mengembangkan pengetahuan baru.
5. Untuk mengendalikan permasalahan dalam penelitian dan juga
dapat menjadi pemberi saran.

4.3.4 Langkah – Langkah mendeskripsikan Teori
Langkah–langkah untuk mendeskripsikan teori dalam

penelitian, yaitu (Wibowo, 2014) :
1. Menentukan variabel. yang akan diteliti
2. Carilah refrensi sebanyak. mungkin dari buku, junal penelitian,

tesis, dan skripsi. yang sesuai dengan penelitian yang akan
diteliti.
3. Melihat. daftar isi dan cari topik. yang sesuai dengan penelitian.
Perhatikan. Isi bacaaan mulai dari judul, masalah, dan teori
yang dipakai.
4. Carilah refrensi definisi untuk semua variabel yang sesuai
dengan penelitian.
5. Bacalah semua isi penelitian dari refrensi yang ditemukan,
kemdianan dituangkan.kedalam tulisan dengan menggunakan
bahasa sendiri

4.3.5 Langkah – Langkah Membuat Telaah Pustaka atau Tinjauan
Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan tindakan untuk mencari,

mempelajari, dan memeriksa jurnal–jurnal penelitian untuk
membuat teori yang sesuai dengan penelitian, langkah– langkahnya
sebagai berikut (Masturoh dan Anggita, 2018) :

Yunike 58

1. Dimulai dengan mencari topik yang akan diteliti melalui jurnal
dan buku, lebih mudah menggunakan keyword untuk
pencarian.

2. Membuat rangkuman dari isi penelitian yang telah kita baca,
kemudian dibentuk kalimat dengan menggunakan bahasa
sendiri supaya terhindari dari plagiarism.

3. Perhatikan kembali gaya penulisan, apakah bisa dimengerti
semua orang

4. Kelompokkan semua temuan yang kita dapat kemudian
dianalis dan selanjutnya diringkas.

5. Susunlah semau ringkasan menajdi satu secara sistematis,
saling berhubungan, dan keseluruhan. Pengaturan tulisan
mengerucut pada judul penelitian, karena judul merupakan
gambaran variabel yang akan diteliti.

4.4 Kerangka Teori

4.4.1 Definisi Kerangka Teori
Kerangka teoritis adalah landasan dimana semua

pengetahuan dibangun untuk studi penelitian. Kerangka teoritis
berfungsi sebagai strukur dan dukungan untuk alasan penelitian,
pernyataan masalah, tujuan, dan pertanyaan penelitian (Grant dan
Osanloo, 2014).

Kerangka teori adalah merangkum konsep dan teori yang
dikembangkan oleh peneliti dari penelitian sebelumnya, dimana
membantu untuk membuat latar belakang, menganalisa data, dan
menginterpretasikan makna yang terkandung dalam data
penelitian (Kivunja, 2018).

4.4.2 Tujuan dan Kriteria Kerangka Teori
Kerangka teori mempunyai tujuan dalam penelitian :

1. Agar mempunyai landasan ilmiah terhadap makna yang
terkandung dalam data penelitian.

2. Data penelitian menjadi terstruktur dan data yang ditemukan
lebih jelas.

3. Membuat hubungan antar elemen menjadi konkret dalam data
penelitian.

4. Membantu untuk memperkuat argumentasi.

Yunike 59

5. Untuk menganalisis semua data penelian dan
menginterpretasikan hasil.

Invoke Guba (1981) dalam (Kivunja, 2018) untuk
medapatkan penelitian yang baik, kerangka teoritis dapat
memabantu pencapaian kriteria ini :
1. Meningkatkan kredibilitas data kualitatif atau validates

internal data kuantitatif.
2. Meningkatkan kemampuan dalam penemuan data kualitatif

atau validitas eksternal dan generalisasi analisis data
kuantitatif.
3. Meningkatkan korfrmabilitas dalam dalam penemuan data
kualitatif atau objektivitas dalam data kuantitatif.
4. Meningkatkan hal yang dapat dipercaya dalam data penelitian.

4.5 rangkuman

Penelitian dalam keperawatan merupakan hal yang dapat
dilakukan semua perawat dimana akan memberika pengetahuan
baru dan menghasilkan temuan baru. Tujuan dari penelitian
keperawatan yaitu mengidentifikasi masalah yang terjadi sesuai
topik penelitian, mengembangkan pengetahuan tentang topik yang
akan diteliti, dan mengatasi masalah pada topik yang diteliti.

Proses dalam penelitian adalah : pertama, menentukan topik
terlebih dahulu. Kedua, mengidentifikasi topik yang akan diteliti.
Ketiga, menemukan metode dalam topik penelitian. Keempat,
presentasi ke semua orang tentang topik penelitian, dan tekrarhir
gunakan bahasa yang dapat dimengerti.

Dalam penelitian, ada baiknya membuat landasan teori.
Landasan teori merupakan sekumpulan definisi dari topik yang
akan diteliti dimana saling berhubungan satu sama lain. Langkah –
langkah membuat teori adalah : tentukan variabel yang diteliti,
mencari refrensi sebanyak – banyaknya, cari topik dari isi
penelitian terserbut kemudian di rangkum, kemdian buat kalimat
menggunkan kata – kata sendiri agar terhindar dari plagiarisme.

Yunike 60

DAFTAR PUSTAKA

Adik Wibowo. 2014. Metodologi penelitian praktis : bidang
kesehatan (1st ed.). Rajawali Pers.
Becker, F. G., Cleary, M., Team, R. M., Holtermann, H., The, D.,

Agenda, N., Science, P., Sk, S. K., Hinnebusch, R., Hinnebusch
A, R., Rabinovich, I., Olmert, Y., Uld, D. Q. G. L. Q., Ri, W. K. H.
U., Lq, V., Frxqwu, W. K. H., Zklfk, E., Edvhg, L. V, Wkh, R. Q., …
‫ف اطمی‬, ‫ح‬. 2015. Nursing Research : Principles and Methods.

In Syria Studies (Vol. 7, Issue 1).
Grant, C., & Osanloo, A. 2014. Understanding, Selecting, and
Integrating a Theoretical Framework in Dissertation
Research: Creating the Blueprint for Your “House.”
Administrative Issues Journal Education Practice and

Research, 4(2), 12–26. https://doi.org/10.5929/2014.4.2.9
Grove, S. K. 2017. The Practice of Nursing Research: Appraisal,
Synthesis, and Generation of Evidence. In Elsevier (Vol. 8).
John M, Williams A, McGarry J, D. L. 2010. Research Methods for

Nursing and Healthcare. Pearson Education Limite.
Kivunja, C. 2018. Distinguishing between theory, theoretical
framework, and conceptual framework: A systematic review
of lessons from the field. International Journal of Higher

Education, 7(6), 44–53.
https://doi.org/10.5430/ijhe.v7n6p44
Masturoh I dan Anggita. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan (1st
ed.). Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

McEwen, Melaine; Willis, E. 2011. Theoretical Basis for Nursing. In

Lippincott Williams & Wilkins.
McEwen M, W. E. 2019. Theoretical Basic For Nursing 5th Edition.
In Wolters Kluwer Health (5th ed., Vol. 1999, Issue

December). Wolters Kluwer Health.
Nieswiadomy, R. M., & Bailey, C. . 2017. Foundations of nursing
research. Pearson.
Polit, D. F., & Beck, C. T. 2014. Essentials of Nursing Research
Seventh Edition Appraising Evidence for Nursing Practice. In

Lippincott Williams & Wilkins.

Yunike 61

Silva, T. B. de J., Santos, C. A. dos, Lay, L. A., & Panucci-Filho, L. 2017.
Theoretical Basis, Hypothesis and Construct in Accounting
Studies. Revista Gestão, Finanças e Contabilidade, 7(2), 240.
https://doi.org/10.18028/2238-5320/rgfc.v7n2p240-264

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Alfabeta.

Surajitno. 2016. Pengantar Riset Keperawatan. In 1 (Ed.),
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia : Pusat Pendidikan Sumber
Daya Manusia Kesehatan Badang Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.

Watson, R. 2013. Nursing research in the 21 st century . Journal of
Health Specialties, 1(1), 13. https://doi.org/10.4103/1658-
600x.110669

Wibowo, A. 2014. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (1st
ed.). Rajawali Pers.

Yunike 62

BAB 5
MERUMUSKAN HIPOTESIS

Oleh Yunita Liana

5.1 Pendahuluan

Salah satu ciri dari sebuah riset atau penelitian adalah
bersifat ilmiah, yang artinya prosedur yang dilalui sistematis
dengan menggunakan bukti yang meyakinkan berupa fakta yang
diperoleh secara obyektif. Metode yang digunakan pada riset
kuantitatif, khususnya pada kuantitatif analitik ialah metode
deduktif, suatu kerangka pemikiran ilmiah yang berfokus pada
proses logico-hypothetico-verifikatif artinya bersifat logis dengan
argumentasi yang konsisten disertai dengan ilmu atau
pengetahuan yang telah berhasil disusun sebelumnya, hypothetico
artinya menjabarkan hipotesis yang merupakan kerangka fikir
ilmiah yang telah dideduksi dan verifikatif adalah memverifikasi
dengan melakukan pengujian terhadap hipotesis sehingga
diperoleh sebuah kebenaran yang faktual (Sugiyono, 2010).

Langkah-langkah dalam penelitian diawali dengan
mengidentifikasi masalah penelitian dengan tujuan mencari
pemecahan masalah atau solusi dari masalah tersebut. Ide atau
gagasan masalah penelitian dapat ditemukan berdasarkan
kesenjangan (gap) antara teori dan fakta yang ada di lapangan.
Kesenjangan atau masalah dapat diidentifikasi melalui observasi
atau peneliti melakukan studi pendahuluan (survey awal) di
lapangan. Kemudian langkah kedua adalah menyusun rumusan
masalah. Langkah ketiga adalah menyusun pemecahan
permasalahan dalam bentuk hipotesis.

Perlu diketahui bahwa hipotesisi tidak dirumuskan pada
setiap penelitian. Rumusan hipotesis diperlukan pada penelitian
dengan pendekatan kuantitatif. Sebaliknya penelitian dengan
pendekatan kualitatif, tidak menggunakan rumusan hipotesis
justru harapannya dari hasil penelitian akan dapat ditemukan
hipotesis. Pada penelitian dengan pendekatan eksploratif dan
deskriptif tidak perlu rumusan hipotesis. Selanjutnya hipotesis,

Yunita Liana 63

tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan
kuantitatif. Hipotesis merupakan jawaban sementara yang
digunakan oleh penelitia terhadap masalah penelitian yang diteliti,
jadi karena hipotesisi sifatnya masih praduga dari penelitia maka
harus dibuktikan kebenaran dari praduga tersebut dengan
melakukan uji statistik. Tahapan keempat dalam penelitian adalah
hipotesis yang telah dirumuskan diawal dilakukan pengujian
terhadap hipotesis tersebut. Hasil dari pengujian hipotesis tersebut
adalah dua kemungkinan yaitu hipotesis diterima atau hipotesis
ditolak.

Langkah terakhir dalam tahapan penelitian adalah
merumuskan pemecahan masalah berdasarkan dari hasil uji
hipotesis. Pada bab ini menyajikan tentang pengertian hipotesis,
tujuan dan fungsi hipotesis, jenis-jenis hipotesis, ciri dan
karakteristik hipotesisi yang baik, merumuskan hipotesis
penelitian dan uji hipotesis, setelah membaca dan mempelajari bab
ini diharapkan nantinya dapat menambah pemahaman bagi
mahasiswa atau peneliti pemula dalam menyusun proposal
penelitian.

5.2 Pengertian Hipotesis Penelitian

Definisi hipotesis secara luas dijelaskan oleh beberapa ahli.
Hipotesis dari kata hypo dan thesis. Hypo berarti “kurang dari” dan
thesis berarti “opini”. Jadi, secara ringkas, hipotesis adalah
pendapat atau memiliki makna lain yaitu kesimpulan sementara.
Selain itu, hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan
yang dirumuskan (Margono, 2004). Pengertian lain dari hipotesis
adalah dugaan sementara atau asumsi yang harus dilakukan
pengujian melalui data atau fakta yang diperoleh dengan penelitian
(Dantes, 2012). Hipotesis berasal dari teori ilmiah dalam penelitian
kuantitatif dan berfungsi sebagai hasil pengamatan untuk
menghasilkan teori-teori baru dalam penelitian kuantitatif
(Suryabrata, 2000).

Hipotesis adalah sebuah jawaban yang sifatnya terhadap
suatu masalah penelitian sampai terbukti melalui data-data yang
terkumpul (Arikunto, 2019). Hipotesis merupakan jawaban awal
dari rumusan pertanyaan penelitian. Jawaban dikatakan sementara

Yunita Liana 64

karena berdasarkan teori yang mendukung dan bukan fakta
empiris yang didapatkan dengan cara mengumpulkan data. Oleh
sebab itu, hipotesis dapat dirumuskan sebagai jawaban teoritis atas
rumusan masalah penelitian, tetapi belum dapat dirumuskan
sebagai jawaban empiris dengan menggunakan data (Sugiyono,
2010).

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan hipotesis
adalah suatu keyakinan atau pernyataan yang dibuat sebagai
dugaan sementara atas suatu rumusan masalah penelitian yang
belum dapat ditentukan dan akan menjadi lebih kredibel jika ada
buktinya. Dalam arti yang lebih formal, hipotesis menguji persepsi
seseorang tentang hubungan antara variabel dalam situasi tertentu.
Hipotesis ini kemudian dilakukan pengujian dalam sebuah
penelitian atau riset. Oleh karena itu, hipotesis merupakan sarana
dalam pemecahan masalah, dengan pemahaman bahwa
penyelidikan lebih lanjut akan memperbaiki atau memperburuk
situasi. Penelitian kuantitatif digunakan untuk menyelidiki
hipotesis.

5.3 Tujuan dan Fungsi Hipotesis

Tujuan hipotesis adalah sebagai berikut (Nursalam, 2015) :
1. Sebagai penghubung antara teori dengan fakta, dalam hal ini

hipotesis menggabungkan dua domain.
2. Sebagai alat dalam pengembangan ilmu selama hipotesis dapat

menghasilkan sebuah penemuan (discovery).
3. Sebagai petunjuk untuk melakukan identifikasi dan

interprestasi suatu hasil.

Sedangkan fungsi dari hipotesis (Heryana, 2020) adalah
sebagai berikut:
1. Sebuah riset yang mempunyai hipotesis yang kuat

mengidentifikasikan bahwa seorang peneliti sudah memiliki
pengetahuan yang cukup terhadap penelitian yang akan
dilakukan. Tujuan hipotesis adalah membantu peneliti
melakukan pengujian teori. Jadi hipotesis yang sudah
dirumuskan oleh peneliti, dibandingkan dengan teori-teori

Yunita Liana 65

yang sudah ada. Kemudian dari hasil membandingkan tersebut
akan diketahui hasilnya.
2. Memberikan arah pada pengumpulan dan interprestasi data.
Selain digunakan untuk menguji teori, hipotesis juga bertujuan
untuk menjelaskan fenomena sosial yang sedang terjadi.
berdasarkan fenomena di lapangan, akan mendorong peneliti
untuk membuat dugaan sementara, yang kemudian akan
dibuktikan kebenarannya.
3. Mengarahkan peneliti mengenai prosedur yang akan
dilaksanakan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adapun
fungsi lain dari hipotesis, adalah memberikan petunjuk pada
peneliti dalam melaksanakan penelitian. Kesimpulannya,
hipotesis merupakan petunjuk yang mengarahkan arah
langkah peneliti dalam melakukan penelitian.
4. Memberikan sebuh kerangka untuk membuat kesimpulan
penelitian. Hipotesis dirumuskan untuk memberikan
kemudahan peneliti dalam membuat kesimpulan. Setidaknya
dari hipotesis, peneliti akan menemukan kerangka dasar untuk
menemukan jawaban.

5.4 Jenis-Jenis Hipotesis

Tahapan yang dilakukan setelah menentukan variabel
adalah menentukan jenis hipotesis (Dharma, 2011). Beberapa
literatur metodologi penelitian dan ilmu statistik ada beberapa
macam jenis hipotesis penelitian. Berikut ini penjelasan mengenai
jenis- jenis hipotesis
1. Jenis hipotesis berdasarkan terbentuknya

Berdasarkan dari terbentuknya hipotesis terdapat dua
macam hipotesis penelitian yang terdapat dari beberapa
literatur (Brink, 2009).
a. Hipotesis nol (Null hypothesis).

Penyataan hipotesis ini dirumuskan dengan kalimat
“tidak ada perbedaan antara dua kelompok” atau “tidak ada
hubungan antar variabel”. Hipotesis nol artinya tidak ada
perbedaan antara dua variabel, atau tidak ada pengaruh
antara variabel X dan Y. Penamaan “hipotesis nol” atau
“hipotesis nihil” agar lebih mudah dipahami, karena tidak

Yunita Liana 66

adanya perbedaan antara dua variabel. Dengan kata lain,
selisih antara variabel pertama dengan variabel kedua adalah
nol atau nihil. Rumusan hipotesis nol dapat dilihat pada
contoh berikut ini :
a) Tidak ada hubungan antara .......... dengan ..........

Contohnya : “Tidak ada hubungan antara pendapatan
terhadap penggunaan obat tradisional” dalam penelitian
(Liana, 2017).
b) Tidak ada perbedaan antara .......... dengan ..........
Contohnya : “Tidak ada perbedaan antara self tapping
dengan senam disminore terhadap perubahan nyeri
disminore mahasiswa”.
c) Tidak ada pengaruh .......... terhadap ..........
Contohnya : “Tidak ada pengaruh penyuluhan kesehatan
dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan Covid-
19”.

b. Hipotesis penelitian (Research hypothesis)
Menyatakan perbedaan atau hubungan antara dua atau

lebih variabel telah terjadi. Semua hipotesis yang dinyatakan
di atas adalah hipotesis penelitian.

2. Jenis hipotesis berdasarkan tujuan atau arah penelitian.
a. Hipotesis mengarahkan peneliti (directional hypothesis)
Directional hypothesis adalah hipotesis yang langsung
memprediksi hasil penelitian yang mengarahkan peneliti.
Contohnya : “Pasien diabetes yang telah menjalani program
terstruktur untuk mengurangi kadar gula darah, akan lebih
patuh dibanding pasien yang tidak ikut program”. Hipotesis
langsung memiliki karakteristis frasa yang digunakan
sebagai berikut :
‘ ........lebih..............dibanding...............’ atau
‘lebih besar dibanding......................…’ atau
‘lebih kecil dibanding.......................…’ atau
‘lebih sedikit dibanding....................…’ atau
‘secara postif’ atau ‘secara negatif’ dan sebagainya.

Yunita Liana 67

a) Hipotesis yang tidak mengarahkan peneliti (Non-
directional hypotheisis)
Non-directional hypotheisis adalah hipotesis yang
menyatakan adanya hubungan atau perbedaan namun
tidak secara spesifik mengarahkan peneliti. Contohnya
: “terdapat hubungan antara jumlah sumber stress
dengan minat perawat untuk tetap bekerja sebagai
petugas kesehatan profesional di Sumatera Selatan”.

b. Jenis hipotesis berdasarkan hubungan antar variabel atau
tingkat eksplanasi
Bentuk rumusan masalah berdasarkan tingkat
eksplanasinya yaitu rumusan masalah deskriptif , masalah
komparatif dan masalah asosiatif. Berdasarkan jenis
masalah tersebut hipotesis penelitian juga diklasifikasikan
menjadi tiga macam, yaitu hipotesis deskriptif, hipotesis
komparatif, dan hipotesis asosiatif (Sugiyono, 2010).
a) Hipotesis deskriptif
Hipotesis deskriptif adalah jawaban sementara
terhadap masalah deskriptif yang berkaitan dengan
variabel mandiri. Lazimnya hipotesis deskriptif tidak
dituliskan. Bentuk penyataan hipotesis ini adalah
tentang nilai suatu variabel mandiri, dan tidak
merumuskan perbandingan atau hubungan variabel
(Sugiyono, 2010). Contohnya hipotesis deskriptif
adalah sebagai berikut :
1) Rumusan masalah penelitian “Bagaimana tingkat
kecemasan pasien Covid-19”?
Maka rumusan hipotesisnya adalah “Tingkat
kecemasan pasien covid-19 adalah berat”
2) Rumusan masalah penelitian “Berapa skor nyeri
pasien post operasi sectio secarea”?
Maka rumusan hipotesisnya adalah “Skor nyeri
pasien post operasi sectio secarea mencapai 8 ”

b) Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif adalah jawaban sementara

terhadap rumusan masalah komparatif . Rumusan

Yunita Liana 68

masalah komparatif memiliki variabel yang sama
namun sampel penelitiannya beda, atau kondisi yang
terjadi pada waktu yang berbeda juga (Sugiyono, 2010).
Pernyataan rumusan hipotesis dengan nilai satu
variabel atau lebih pada sampel yang berbeda.
Contohnya sebagai berikut :
1) Rumusan masalah penelitian : “Apakah terdapat

perbedaan skor nyeri post sectio caesarea pada ibu
primipara dan multipara”?
Jadi rumusan hipotesisnya adalah : “tidak terdapat
perbedaan skor nyeri post sectio caesarea pada ibu
primipara dan multipara “, atau H0 : µ1 = µ2 dan Ha :
µ1 ≠ µ2
2) Rumusan masalah penelitian : “Apakah terdapat
perbedaan tekanan darah pada lengan kanan dan
lengan kiri” ?
Jadi rumusan hipotesisnya adalah : “tidak terdapat
perbedaan tekanan darah pada lengan kanan dan
lengan kiri “, atau H0 : µ1=µ2 dan Ha : µ1≠µ2

c) Hipotesis asosiatif hubungan
Hipotesis asosiatif hubungan adalah jawaban

sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yang
diteliti antara dua variabel atau lebih. Hipotesis ini
memuat pernyataan yang menunjukkan dugaan
sementara hubungan antar dua variabel atau lebih
(Sugiyono, 2010). Contoh sebagai berikut :

Rumusan masalah : “Apakah ada hubungan antara
jenis kelamin dengan kesediaan vaksinasi Covid-19 pada
masyarakat” ?

Jadi rumusan hipotesisnya adalah “Tidak ada
hubungan antara jenis kelamin dengan kesediaan
vaksinasi Covid-19 pada masyarakat” atau H0 : ⍴ = 0 dan
Ha : ⍴ ≠ 0.

Yunita Liana 69

5.5 Syarat Hipotesis

Syarat hipotesis yang baik menurut Borg dan Gall dalam
(Arikunto, 2019) adalah sebagai berikut :
1. Rumusan Hipotesis sebaiknya memuat hubungan dua atau

lebih variabel.
2. Rumusan hipotesis dibuat berdasarkan landasan teoritis dan

hasil penelitian sebelumnya.
3. Hipotesis dapat diuji.
4. Rumusan hipotesis harus jelas dan singkat.

Sedangkan menurut (Nursalam, 2015) syarat hipotesis
adalah sebagai berikut :
1. Hipotesis memiliki relevansi dengan kenyataan yang akan

diteliti (relevance).
2. Hipotesis dapat diobservasi dan dapat diuji (testability).
3. Hipotesis yang dirumuskan harus konsisten dengan hipotesis

di lapangan dan telah teruji kebenarannya, sehingga setiap
hipotesis akan membentuk suatu sistem (compatibility).
4. Hipotesis yang baik mengandung prediksi tentang apa yang
akan ditemukan dan apa yang akan terjadi (predictive)
5. Hipotesis dinyatakan dengan sederhana, mudah dipahami dan
mudah dicapai (simplicity).

5.6 Merumuskan Hipotesis Penelitian

Menurut apa yang telah dikemukakan sebelumnya hipotesis
adalah penyataan yng merupakan jawaban sementara, atau
kesimpulan sementara atau dugaan yang bersifat logis tentang
suatu populasi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
penyusunan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut (Sugiyono,
2010) :
1. Rumusan hipotesis dibuat dengan singkat dan jelas.
2. Pernyataan hipotesis dibuat dalam kalimat deklaratif.
3. Hipotesis menunjukkan adanya hubungan antara dua atau

lebih variabel.
4. Hipotesis didukung oleh landasan teori dari berbagai sumber

atau hasil penelitian yang relevan.
5. Hipotesis bisa diuji.

Yunita Liana 70

Perumusan hipotesis dikatakan sebagai tahap penelitian
yang mempengaruhi semua tahap penelitian. Jika ada kesalahan
kecil dalam perumusan hipotesis, maka akan berdampak signifikan
terhadap penelitian yang dilakukan. Saat membuat hipotesis,
hipotesis perlu memberikan arahan untuk pengumpulan dan
interpretasi data.
5.6.1 Melakukan observasi tentang suatu topik atau masalah.

Langkah awal sebelum merumuskan hipotesis untuk
penelitian yang akan dilakukan, mulailah dengan mengobeservasi
atau mengkaji teori topik penelitian yang akan dilakukan. Dengan
mengkaji beberapa literatur dan riset terdahulu yang relevan, akan
mempermudah seorang peneliti untuk menemukan masalah yang
urgen untuk diteliti dan membuat rumusan hipotesis. Beberapa
peneliti membuat rumusan hipotesis penelitian dengan mereview
penelitian sebelumnya yang dapat diakses pada jurnal-jurnal
bereputasi baik nasional maupun internasional, kemudian
menyempurnakan dengan landasan teori yang mendukung. Selain
itu, seorang peneliti pada saat membaca dan mereview artikel
penelitian sebelumnya, diharapkan untuk dapat fokus pada bagian
pembahasan karena penulis artikel tersebut atau peneliti
sebelumnya akan merekomendasaikan saran topik atau hal hal
yang perlu diteliti lebih lanjut bagi peneliti berikutnya.

5.6.2 Membuat daftar masalah yang akan diteliti.
Langkah berikutnya setelah mempelajari dan membaca

berbagai referensi atau literatur, dalam tahapan ini seorang
peneliti dapat mulai mencatatat daftar masalah apa saja yang urgen
dan merupakan hot topik untuk diteliti. Tuliskan beberapa topik
masalah yang urgen untuk diteliti agar mudah dalam melakukan
seleksi terhadap topik yang akan dieksplorasi lebih lanjut. Langkah
ini dapat dilakukan dengan cara membuat daftar pertanyaan.
Kemudian jika daftar masalah yang akan diteliti telah semua
dicatat, mulailah untuk menuliskan penjelasan yang dapat
menjawab beberapa pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya
sehingga penelitia dapat mengetahui prioritas masalah yang
memiliki potensi untuk diteliti. Selanjutnya membuat rumusan
hipotesis penelitian yang akan kita lakukan.

Yunita Liana 71

5.6.3 Merumuskan hipotesis.
Saat merumuskan hipotesis, yang perlu diperhatikan oleh

peneliti adalah peneliti memiliki ekspektasi dan prediksi tentang
hal yang ingin mereka temukan dalam penelitian yang mereka
lakukan. Harapan atau prediksi ini membantu untuk membuat
rumusan hipotesis, harapan tentang hasil dari penelitian perlu
berlandaskan pada pengetahuan dan teori yang relevan, bukan
hanya spekulasi atau praduga saja.

Membuat rumusan hipotesis penelitian menggunakan suatu
kalimat pernyataan, dan membuat hipotesis statistik menggunakan
simbol H0 dan H1 atau Ha. Hipotesis penelitian merupakan
hipotesis yang dikembangkan setelah peneliti mengembangkan
kerangka konseptual. Hipotesis statistik merupakan hipotesis yang
dirumuskan setelah seorang peneliti mengumpulkan data. Menulis
hipotesis penelitian mirip dengan menulis deskripsi masalah dan
berbentuk kalimat.

5.6.4 Memastikan Hipotesis Dapat diuji
Langkah terakhir seteleh kita membuat rumusan hipotesis,

seorang peneliti harus dapat memastikan bahwa hipotesis yang
telah dirumuskan bersifat spesifik dan dapat diuji. Langkah untuk
memastikannya adalah sebagai berikut :

1) Apakah hipotesis yang telsh dirumusdksn pada topik
permasalahan yang benar-benar bisa diuji secara ilmiah?

2) Apakah hipotesis yang dibuat sudah memuat variabel
independen dan dependen?

3) Apakah hipotesis yang dibuat sudah memuat prediksi akan
hasil penelitian atau belum?

5.7 Uji Hipotesis

Uji hipotesis adalah menguji signifikansi statistik tentang
beda/hubungan/pengaruh variabel (Murti, 2003). Penyusunan
hipotesis dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian karena
hipotesis merupakan sebuah petunjuk pada tahap pengumpulan,
analisis, dan interpretasi data. Pernyataan hipotesis dinyatakan
dengan hipotesis nol atau dengan simbol H0. H0 adalah parameter
yang akan dilakukan pengujian (jawaban sementara atau dugaan

Yunita Liana 72

sementara). Contohnya apabila seorang peneliti akan melakukan
uji hipotesis yang menyatakan bahwa tekanan darah sistolik
adalah 120, maka dapat dituliskan dengan : H0 : µ = 120. Simbol
tersebut menyatakan bahwa 120 adalah hipotesis nol rata-rata
populasi. Simbol tersebut memiliki pengertian yang berbeda
dengan simbol berikut ini : µH0, simbol tersebut menyatakan rata-
rata nilai hipotesis populasi. Simbol ini dituliskan jika nilai
hipotesis rata-rata populasi dinyatakan dalam perhitungan
statistik. Misalnya jika ditulis : µH0 = 120 artinya bahwa rata-rata
nilai hipotesis nol parameter populasi sama dengan 120.

Setelah dilakukan pengujian terhadap hipotesis, hipotesis
dapat ditolak atau diterima, jika simpulan hasil uji hipotesis yaitu
hipotesis nol diterima, maka dapat diinterprestasikan bahwa tidak
ada perbedaan antara variabel yang dibandingkan atau kedua
variabel yang dibandingkan sama dengan 0 (nol). Namun jika
simpulan dari uji hipotesis adalah hipotesis nol ditolak, maka
diinterprestasikan bahwa ada perbedaan variabel yang
dibandingkan atau salah satu variabel lebih besar atau lebih kecil
dibandingkan dengan variabel lain.

Uji hipotesis dapat diartikan kesimpulan dari suatu teori
yang merupakan pernyataan ilmiah yang telah dilakukan pengujian
dan telah dilakukan penelitian sebelumnya. Untuk mengetahui
signifikansi (p) dari suatu hasil statistik atau hypothesis test,
umumnya digunakan signifikansi level 0,05. Berdasarkan
penentuan signifikansi tersebut maka kita dapat menentukan
apakah hipotesis akan di terima atau hipotesis di tolak (jika p <
0,05) (Voelker, D.H., 2004).
1. Uji Hipotesis Komparatif Numerik

Uji hipotesis komparatif pada variabel numerik dimulai
dengan melakukan uji normalitas data setelah menentukan
jumlah kelompok dan pasangan. Uji normalitas dapat dilakukan
dengan uji kolmogorof smirnov untuk sampel besar (>50 ) dan
jika sampel kecil (≤50) menggunakan uji shapiro wilk dengan
nilai kemaknaan ⍴ > 0,05. Apabila hasil uji normalitas
mempunyai sebaran yang tidak normal (berdistribusi tidak
normal) maka dilakukan transformasi data, yaitu upaya untuk
menormalkan distribusi dari tidak normal menjadi normal.
Mentransformasi data dengan menggunakan fungsi log, kuadrat,

Yunita Liana 73

akar dan lain lain. Jika transformasi yang dilakukan berhasil
maka uji statistik yang nantinya akan digunakan adalah uji
parametrik, jika transformasi data tidak berhasil maka
digunakan uji statistik yaitu uji nonparametrik. Setelah
menentukan sebaran data normal atau tidak selanjutnya adalah
melihat pada pasangan kelompok apakah kelompok data
berpasangan tau tidak berpasangan (Dahlan, 2014).

a. Pada 2 kelompok data berpasangan dan distribusi data
normal maka menggunakan uji t berpasangan , jika
sebaran distribusi data tidak normal maka uji statistik yang
digunakan adalah uji wilcoxon.

b. Pada > 2 kelompok data berpasangan dan berditribusi
normal maka menggunakan repetead anova , jika sebaran
data tidak berdistribusi normal maka uji statistik yang
digunakan adalah uji friedman test.

Pada kelompok data tidak berpasangan , jika data
terdistribusi normal perlu dilakukan uji varians (levene’s test)
yang bertujuan untuk mngetahui apakah dua atau lebih
kelompok data memiliki varians sama atau tidak. Jika hasil
levene’s test dihasilkan p > 0,05 maka varians datanya sama, nilai
p dibaca pada baris equal variances assumed dan jika varians
datanya tidak sama nilai p dibaca pada baris equal variances not
assumed.

a. Pada 2 kelompok data tidak berpasangan, jika datanya
terdistribusi normal (hasil uji varians sama) maka
menggunakan uji t tidak berpasangan, dan jika syarat
parametrik tidak terpenuhi maka menggunakan uji mann
whitney

b. Pada > 2 kelompok tidak berpasangan jika datanya
terdistribusi normal (hasil uji varians sama) maka
menggunakan uji parametrik uji one way anova , apabila
hasil uji varians tidak sama setelah dilakukan transformasi
data maka menggunakan uji non parametrik uji kruscal
wallis.

Yunita Liana 74

2. Uji Hipotesis Komparatif Kategorik Berpasangan

Uji hipotesis komparatif kategorik berpasangan
menggunakan prinsip P x K. P artinya adalah pengulangan dan K
adalah kategori, jadi prinsip P x K ditentukan oleh jumlah
pengulangan dan jumlah kategori (Dahlan, 2014). Jika jumlah

pengulangan ada 2 dan jumlah kategori ada 2 maka prinsip
tersebut disebut 2 x 2 sebagai contoh dapat dilihat pada tabel
5.1 berikut ini :
Tabel 5.1 : Contoh tabel 2 x 2

Pengetahuan Pengetahuan Setelah Edukasi
Sebelum
Edukasi Baik Kurang

Baik a b a+b

Kurang c d c+d

a+c b+d N

Hipotesis komparatif kategorik berpasangan prinsip PxK
sangat ditentukan oleh jumlah P dan K untuk pemilihan uji
hipotesis, pemilihan uji hipotesis sebagai berikut :
Tabel 5.2 : Pemilihan uji hipotesis komparatif kategorik

Jumlah Jumlah Uji hipotesis
pengulangan kategori

2 2 Mc Nemar

2 >2 Marginal

Homogenity

>2 2 Cochran

>2 >2 Friedman

3. Uji Hipotesis Korelatif Numerik
a. Uji Person
Hipotesis korelatif numerik jika data terdistribusi

normal maka menggunakan uji parametrik Uji Person.
Merupakan uji hipotesis korelasi untuk mengetahui
hubungan antar 2 variabel, dan seberapa kuat hubungan
dengan melihat nilai r dan bagaimana arah hubungan antar

variabel tersebut (Dahlan, 2014). Syarat Uji Person adalah :
1. Data Berdistribusi Normal.
2. Skala data variabel Numerik.
3. Jenis hipotesis korelatif.

Yunita Liana 75

Interval koefision korelasi merupakan indeks atau

bilangan yang digunakan untuk mengukur seberapa kuat
hubungan antara variabel. Tabel berikut ini
menggambarkan interval koefisien (r) dan kekuatan
hubungan tabel 5.3.

Tabel 5.3 : Interval koefisien (r) dan Kekuatan hubungan

Interval Koefisien (r) Kekuatan hubungan

0 Tidak ada korelasi

0,00 - 0,24 Sangat lemah

0,25 - 0,49 Cukup kuat

0,50 - 0,74 Kuat

0,75 - 0,99 Sangat kuat

1 Sempurna

Bentuk korelasi ada 2 arah yaitu arah positif (+) dan
arah negatif (-). Makna dari kedua arah adalah sebagai
berikut :

a) Nilai (r) terletak antara -1 dan +1
b) Jika r bernilai positif (+) maka korelasi antar variabel

arahnya positif artinya variabel X dan Y memiliki
tingkat hubungan searah, TINGGI----TINGGI, RENDAH-
---RENDAH.
Contoh:

 Semakin tinggi jumlah kasus perilaku seks bebas
maka akan semakin tinggi pula jumlah kasus
Penyakit Menular Seksual (PMS)

 Semakin rendah pengetahuan seseorang maka
semakin rendah juga kesadaran masyarakat
dalam penerapan protokol kesehatan di situasi
pandemi Covid-19

c) Jika r bernilai Negatif (-) maka korelasi antar variabel
arahnya negatif artinya variabel X dan Y memiliki
tingkat hubungan yang tidak searah, TINGGI----
RENDAH, RENDAH----TINGGI.
Contoh:

 Semakin tinggi jumlah kasus Covid-19 semakin
rendah kesadaran masyarakat dalam penerapan
protokol kesehatan

Yunita Liana 76

 Semakin rendah kesadaran masyarakat dalam
penerapan protokol kesehatan sekamin tinggi
angka kematian Covid-19

b. Uji spearman rank
Jika distribusi data tidak normal maka digunakan uji

non parametrik uji spearman rank. Uji spearman rank
merupakan uji alternatif jika persyaratan pada uji pearson
tidak terpenuhi (Data tidak terdistribusi normal), Uji non
parametrik untuk menguji kesesuaian antara 2 kelompok
variabel skala ordinal (Sugiyono, 2012). Data ordinal yang
dimaksud skala data dengan tingkatan murni (rangking)
bukan buatan contoh ; baik, sedang, buruk. Syarat uji
spearman rank adalah :
1. Data berdistribusi tidak normal.
2. Skala data ordinal murni.
3. Sampel kecil (<30).

4. Uji hipotesis Korelatif Kategorik
a. Uji Chi Square
Uji Chi Square merupakan uji analisis yang digunakan
untuk mengukur hubungan atau pengaruh antar variabel
yang terdapat pada baris (variabel independen) dan kolom
(variabel dependen) (Sugiyono, 2012). Syarat uji chi square
adalah :
1. Jumlah sampel besar
2. Skala data variabel kategorik
3. Bentuk tabel 2x2
4. Jumlah cell dengan expeted count kurang dari 5 tidak
>20%
Contoh :
“ Hubungan antara Panjang Rambut dan Penggunaan Sisir
terhadap Kejadian Pediculosis Capitis”
Variabel Independen :
 Panjang Rambut : Panjang (1), Pendek (2)
 Penggunaan Sisir Bersama : Ya (1), Tidak (2)
Variabel Dependen : Kejadian Pediculosis Capitis : Ya
(1), Tidak (2)

Yunita Liana 77

Ukuran Asosiasi merepleksikan kekuatan atau besar
asosiasi anata suatu eksposur (faktor resiko) dan kejadian
suatu penyakit. Berikut ini ukuran –ukuran asosiasi :
 Nilai Oods Ratio/OR digunakan pada desain penelitian

case kontrol.
 Nilai Relative Risk/RR digunakan pada desain

penelitian cohort.
 Nilai Proportion Ratio/PR digunakan pada desain cross

sectional yang masa inkubasi atau induksi relatif
pendek.
 Nilai Prevalence Odd Ratio/Oods Ratio OR/POR
digunakan pada desain cross sectional yang masa
inkubasi atau induksi relatif panjang.
b. Uji Fisher Exact Test

Uji Fisher Exact Test merupakan uji alternatif jika
syarat chi square tidak terpenuhi atau nilai ekpetasi pada
cell kurang dari 5 lbh dari 20% (Sugiyono, 2012). Syarat uji
fisher exact test adalah:
1. Jumlah sampel kecil
2. Skala data variabel kategorik
3. Tabel silang 2x2
4. Jumlah cell dengan expeted count kurang dari 5 >20%

c. Uji Kolmogorov Smirnov
Uji Kolmogorov Smirnov merupakan uji statistik

untuk menguji normalitas data dan dapat juga digunakan
untuk uji analisis alternatif chi-square jika tidak memenuhi
syarat (2 x K) (Sugiyono, 2012). Syarat uji kolmogorov
smirnov adalah :
1. Skala data variabel kategorik
2. Tabel silang 2xk
3. Uji alternatif chi square jika nilai ekpetasi dibawah 5

berjumlah >20%
Contoh :
Hubungan umur (bersiko, tidak beresiko) dengan Pre
eklamsia (Ringan, Sedang, Berat).

Yunita Liana 78

d. Uji Mc Nemar
Uji Mc Nemar merupakan uji statistik yang digunakan

untuk membandingkan hasil penelitian sebelum dan
setelah intervensi (Sugiyono, 2012). Syarat uji mc nemar
adalah :
1. Skala pengukuran kategorik
2. Tabel data 2x2
Contoh :
Perbedaan tekanan darah (Normal (1), Tidak normal (2))
sebelum dan setelah Olahraga.
e. Uji Marginal Homogenity
Uji Marginal Homogenity merupakan uji statisik yang sama
dengan uji wilcoxon yaitu termasuk uji statistik nonparametrik.
Bertujuan untuk melihat perbedaan antara 2 kelompok dan
untuk membandingkan hasil penelitian sebelum dan setelah
intervensi >2 kategorik (Sugiyono, 2012). Syarat uji marginal
homogenity skala pengukuran kategorik (0) kurang, (1) sedang,
(2) baik.
Contoh :
Tingkat pengetahuan ibu hamil (kurang, sedang, baik) sebelum
dan setelah penyuluhan
f. Uji Chocran Q
Uji Chocran Q merupakan uji statistik yang digunakan untuk
membandingkan hasil penelian sebelum dan setelah intervensi
dan dilakukan >2 kali pengukuran (Sugiyono, 2012). Syarat
skala pengukuran kategorik (0) kurang, (1) baik.
Contoh :
Tingkat pengetahuan Masyarakat mengenai Penerapan
Protokol Kesehatan sebelum PSBB, PSBB tahap 1 dan PSBB
tahap 2

Yunita Liana 79

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2019. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta.
Brink, H. 2009. Fundamentals of research methodology for health

care profesionals. (2nd editio). Juta and company ltd.
Dahlan, S. 2014. Statistik Untuk Kedokteran Dan Kesehatan (Edisi

6). Salmba Medika.
Dantes, N. 2012. Metode Penelitian. Andi Offset.
Dharma. 2011. Metodologi Penelitian keperawatan. CV. Trans Info

Media.
Heryana, A. 2020. Hipotesis Penelitian. ResearchGate.

https://www.researchgate.net/publication/341895079
Liana, Y. 2017. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keluarga

dalam penggunaan obat tradisional sebagai swamedikasi di
Desa Tuguharum Kecamatan Madang Raya. JKK, 4(3), 121–
128.
Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta.
Murti, B. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Gadjah Mada
University Press.
Nursalam. 2015. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan :
Pendekatan Praktis.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Statistika untuk Penelitian. Alfabeta.
Suryabrata, S. 2000. Metode Penelitian. PT. Raja Grafindo Persada.
Voelker, D.H., P. Z. O. and S. V. A. 2004. Statistics. Cliffs Quick Review
TM Statistika (Terjemahan). Penerbit Pakar Raya Jakarta.

Yunita Liana 80

BAB 6
VARIABEL PENELITIAN

Oleh Diyan Indriyani

6.1 Pendahuluan

Penelitian adalah suatu proses mencari tahu tentang
sesuatu dengan menggunakan suatu sistem atau sistematis dalam
jangka waktu yang lama dengan menggunakan kaidah dan metode
ilmiah yang berlaku. Agar seluruh proses penelitian berjalan
dengan lancar dan dapat berhasil, peneliti ditekankan untuk
membuat desain penelitian. Dalam menentukan desain penelitian,
hal yang harus diingat adalah semua komponen penelitian harus
terjalin secara tertib dan harmonis. Salah satu komponen dari
beberapa komponen penelitian yang memiliki arti penting yang
berkaitan dengan proses studi yang komprehensif adalah variabel
penelitian. Variabel adalah atribut sekaligus objek yang menjadi
titik perhatian dalam sebuah penelitian. Komponen-komponen
yang dimaksud adalah penting dalam menyimpulkan suatu studi
atau menarik kesimpulan (Polit, D.F. and Beck, 2017).

Berkaitan dengan variable, seperti namanya merupakan
sesuatu yang bervariasi, seperti usia, jenis kelamin, pembacaan
tekanan darah, tingkat kecemasan pra operasi, warna mata, dan
type keluarga dan lain-lain. Semua yang tersebut di atas adalah
contoh variabel karena masing-masing sifat ini bervariasi atau
berbeda. dari satu individu ke individu lainnya (Polit, D.F. and
Hungler, 2004).

Ada beberapa jenis variabel dalam penelitian. Beberapa
variabel yang dipertimbangkan antara lain: variabel dependen dan
independen, variabel kontinu dan variable diskrit dan lain-lainnya.
Selain itu, syarat atau kriteria suatu variabel yang baik dalam
pengembangannya harus dipahami dengan baik sehingga menjadi
dasar pengembangan dan identifikasi variabel penelitian.

Diyan Indriyani 81

6.2 Pengertian Variabel Penelitian

Variabel adalah setiap karakteristik, jumlah, atau kuantitas
yang dapat diukur atau dihitung. Variabel juga bisa disebut item
data. Usia, jenis kelamin, pendapatan dan pengeluaran bisnis,
negara kelahiran, belanja modal, nilai kelas, warna mata dan jenis
kendaraan adalah contoh variabel. Disebut variabel karena nilainya
dapat bervariasi antar unit data dalam suatu populasi, dan dapat
berubah nilainya dari waktu ke waktu (Muredzi, 2019). Variabel
Penelitian adalah atribut atau obJek yang memiliki variasi antara
satu sama lainnya. Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang
akan menjadi objek pengamatan penelitian. Pengertian yang dapat
diambil dari definisi tersebut ialah bahwa dalam penelitian
terdapat sesuatu yang menjadi sasaran, yaitu variabel. Sehingga
variabel adalah fenomena yang menjadi pusat perhatian penelitian
untuk diobservasi atau diukur (Shuttleworth, 2022).

Variabel adalah sesuatu yang menjadi objek pengamatan
penelitian, sering disebut sebagai faktor yang berperan dalam
fenomena yang akan diteliti atau diteliti. Variabel adalah suatu sifat
atau konstruk yang akan dipelajari yang memiliki nilai yang
bervariasi. V ariabel adalah lambang/simbol yang kita beri angka
atau nilai apapun (Jee, 2022). Variabel penelitian adalah konsep
yang memiliki variasi nilai. Definisi di atas mengandung makna
bahwa sesuatu atau konsep dapat disebut variabel jika konsep
tersebut memiliki variabilitas atau dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis atau kategori. Menurut (Kerlinger, 2006) pengertian
variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari yang
mempunyai nilai yang bervariasi. Variabel adalah simbol atau
lambang yang padanya kita letakkan sembarang nilai atau bilangan.

Terlepas dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa variabel penelitian adalah suatu sifat atau atribut atau nilai
faktor, perlakuan terhadap kegiatan atau objek yang mempunyai
variasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti yang bertujuan
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Jee, 2022).

Diyan Indriyani 82

6.3 Karakteristik Variabel Penelitian

Variabel penelitian memiliki beberapa karakteristik antara
lain (Trivedi, 2020):

1. Mampu mengasumsikan beberapa nilai yang mewakili
kategori tertentu

2. Nilai yang mungkin muncul dari penghitungan dan atau dari
pengukuran

3. Data mentah atau angka yang dikumpulkan oleh penelitian
untuk keperluan statistik dan statistika

4. Nilai-nilai yang diprediksi dari satu variabel berdasarkan
yang lain

5. Karakteristik yang dapat diamati dari seseorang atau benda
yang sedang dipelajari

6.4 Klasifikasi Variabel Penelitian

Variabel dapat diklasifikasikan berdasarkan antara lain
skala pengukurannya, konteks hubungannya dan dapat tidaknya
variable dimanipuliasi. Terkait 3 hal tersebut dijelaskan di bawah
ini:

1. Berdasarkan Skala pengukurannya,
Variabel penelitian bila berdasarkan skala pengukurannya,
maka terdiri dari:
a. Variabel Nominal
Variabel nominal adalah variabel dengan skala paling
sederhana karena fungsinya hanya untuk membedakan
atau memberi label suatu subjek atau kategori. Contoh
variabel nominal: jenis kelamin (laki-laki dan
perempuan). Variabel nominal merupakan variabel
dengan derajat paling rendah. Variabel ini mempunyai
ciri-ciri yaitu tidak bisa dilakukan operasi matematis
sebab bentuk datanya adalah kualitatif. Sesuai contoh
diatas misalnya jenis kelamin. Tidak bisa dilakukan
operasi matematis misalnya laki-laki ditambah
perempuan menjadi sesuatu. Jadi tidak ada yang lebih
tinggi atau lebih rendah, lebih baik ata lebih buruk dan
lain sebagainya yang menunjukkan perbedaan tingkat.
Seperti contoh diatas misalnya, jeis kelamin laki-laki

Diyan Indriyani 83

belum tentu lebih baik dari pada jenis kelamin
perempuan (Abiodun-Oyebanji, 2017).
b. Variabel Ordinal
Variabel ordinal adalah variabel yang dibedakan
menjadi beberapa secara bertingkat. Contoh variabel
ordinal adalah: status sosial ekonomi rendah, sedang,
tinggi. Variabel ordinal ini sifatnya hampir sama dengan
variabel nominal, hanya saja perbedaannya yaitu disini
memiliki tingkatan, sehingga ada yang lebih baik atau
buruk. Misalnya status sosial ekonomi tinggi adalah
lebih baik dari pada status sosial ekonomi sedang, dan
ekonomi sedang lebih baik dari pada ekonomi rendah,
begitu pula sebaliknya. Variabel ordinal berbeda dengan
variabel interval atau rasio, dimana disini juga tidak
dapat dilakukan operasi matematis. Merupakan variabel
yang menunjukkan tata urutan berdasarkan tingkatan
misalnya sangat tinggi, tinggi, pendek. karena yang satu
mempunyai kelebihan dibanding yang lain. Contohnya:
Patricia terpandai, Betrand pandai, dan Gloria tidak
pandai (Burg, 2022).
c. Variabel Interval
Variabel interval adalah variabel yang selain
dimaksudkan untuk membedakan, mempunyai
tingkatan, juga mempunyai jarak yang pasti atau satu
kategori dengan kategori lainnya, contoh prestasi
belajar 5, 6, 7, 8, dst. Berdasarkan adanya jarak pasti
tersebut, ciri-ciri data interval ini adalah dapat
dilakukan operasi matematis. Merupakan variabel yang
mempunyai jarak, jika dibanding dengan variabel lain,
sedang jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti.
Misalnya kadar hemoglobin darah 8 mmHg ditambah 2
mmHg menjadi 10 mmHg. Tentunya hal ini yang
membedakan dengan data nominal dan ordinal. Data
interval dan data rasio karena merupakan data
berbentuk angka maka disebut juga data numerik atau
data kuantitatif (IvyPanda, 2021). Contoh lain misalnya:
Suhu udara di luar 31° C. Suhu tubuh kita 37° C. Maka
selisih suhu adalah 6° C. Jarak Surabaya-Jember 182 km,

Diyan Indriyani 84

sedangkan Surabaya-Malang 82 km. Maka selisih jarak
Malang-Blitar, yaitu 100 km
d. Variabel Rasio
Variabel rasio merupakan variabel selain bersifat
membedakan, mempunyai tingkatan yang jaraknya
pasti, dan setiap nilai kategori diukur dari titik yang
sama, contoh variabel rasio adalah: berat badan, tinggi
badan, dst. Variabel rasio ini sebenarnya sama dengan
variabel interval, namun mempunyai perbedaan yaitu
dalam variabel rasio ada nilai 0 absolut yang artinya
diukur dari titik awal atau titik mula yang sama.
Merupakan variabel perbandingan. Variabel ratio
memiliki harga nol mutlak yang dapat dioperasikan
berbentuk perkalian sekian kali. Contoh: Berat Mr X70
kg, sedangkan anaknya 35 kg. Maka Mr. X beratnya dua
kali anaknya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel
rasio merupakan variabel dengan derajat tertinggi.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan
urutan derajat variabel dari yang terendah ke yang
tertinggi adalah sebagai berikut: Nominal, Ordinal,
Interval kemudian Rasio. Berdasarkan penjelasan diatas
tadi kita telah menyebutkan bahwa variabel interval dan
rasio merupakan sama-sama variabel kuantitatif atau
numerik. Terkait dengan data kuantitatif dapat pula
dibedakan berdasarkan cara perolehannya (Shamil,
2022).

Variabel numerik berdasarkan perolehannya.
Variabel numerik berdasarkan perolehannya ada 2
macam yaitu variabel kontinyu dan variabel diskrit,
dijelaskan sebagai berikut:
1) Variabel Kontinyu

Variabel Kontinyu adalah variabel numerik yang cara
perolehannya dari menghitung. Misalnya nilai
ulangan Bahasa Inggris (Shuttleworth, 2022).

2) Variable Diskrit
Variabel Diskrit adalah variabel numerik yang cara
perolehannya dari mengukur. Contoh variable diskrit

Diyan Indriyani 85

misalnya suhu badan. Untuk mendapatkan nilai suhu
bada maka harus melakukan pengukuran misalnya
menggunakan alat termometer. Variabel diskrit:
disebut juga variabel nominal atau variabel kategori
karena hanya dapat dikategorikan atas dua kutub
yang berlawanan yaitu "ya" dan "tidak". Misalnya ya
wanita, tidak wanita, atau dengan kata lain: "wanita-
pria", "hadir-tidak hadir", "atas-bawah". Angka-angka
digunakan dalam variabel diskrit ini yang dapat
dioperasikan untuk menghitung frekuensi yang
muncul, yaitu banyaknya pria, banyaknya yang hadir
dan sebagainya. Oleh karena itu angka dinyatakan
sebagai frekuensi. Berdasarkan hal tersebut maka
data penelitian dengan variabel diskrit merupakan
penanda kategori, yang tidak dapat dioperasikan
berbentuk penambahan, pengurangan, perkalian atau
pembagian. Keberadaannya terbatas pada penentuan
sebagai frekuensi (Shuttleworth, 2022).

2. Berdasarkan Konteks hubungannya
Variabel dalam suatu penelitian jumlahnya bisa lebih dari
satu. Variabel-variabel tersebut saling berhubungan dan jika
ditinjau dari konteks hubungannya ini, maka jenis variable
dapat dibedakan menjadi variabel antara lain:
a. Variabel bebas (Independent Variable)
Variabel yang kita manipulasi untuk
memengaruhi hasil eksperimen.Variabel bebas adalah
variabel yang nilainya mempengaruhi variabel lainnya,
yaitu variable terikat. Merupakan: mempengaruhi,
penyebab, bebas, dapat dimanipulasi, ada lebih dulu
(antecedent), predictor. Contoh variabel bebas adalah
misalnya dalam penelitian yang berjudul: pengaruh
motivasi belajar terhadap prestasi siswa. Dalam hal ini,
motivasi belajar diduga mempengaruhi prestasi
belajar. Maka motivasi belajar sebagai variabel bebas.
Dikatakan bebas sebab nilanya dapat berubah-ubah
dan setiap perubahan itu mempengaruhi nilai variabel
terikat. Contoh lain Jumlah garam yang ditambahkan

Diyan Indriyani 86

ke setiap air tanaman, jumlah garam merupakan
variable independent (Bevans, 2019)

Variabel bebas (independent variable) adalah
variabel yang diduga sebagai sebab munculnya
variabel variabel terikat. Variabel bebas sering disebut
juga dengan variabel stimulus, prediktor, antecedent.
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahannya atau
timbulnya variabel terikat. Variabel bebas biasanya
dimanipulasi, diamati, dan diukur untuk diketahui
hubungannya (pengaruhnya) dengan variabel lain.
Sebagai contoh, dalam suatu studi hubungan antar dua
variabel berikut: 1) Hubungan antara kekuatan otot
tungkai (X) dengan jauhnya tendangan pemain
sepakbola (Y); 2) Hubungan antara kekuatan otot
lengan (X) dengan ketepatan servis pemain bola voli
(Y). Bertolak dari dua contoh di depan, peneliti
bertanya: apa yang akan terjadi pada Y jika X dibuat
lebih besar atau lebih kecil. Berdasarkan hal tersebut
peneliti memandang Y sebagai variabel terikat, karena
Y akan berubah sebagai akibat dari diubahnya X.
Disebut dependent karena nilai Y akan berubah
(terikat/ tergantung) pada nilai variabel bebas (X)
(Bhattacherjee, 2021).

b. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat merupakan variabel yang

nilainya tergantung dari nilai vaiabel lainnya. Variabel
yang mewakili hasil percobaan. Merupakan:
dipengaruhi, akibat, terikat, dampak manipulasi, ada
kemudian (konsekuensi), kriterium. Contoh variabel
terikat adalah misalnya seperti yang dijelaskan dalam
poin pertama diatas, yaitu dalam penelitian yang
berjudul: pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi
siswa. Dalam hal ini, prestasi belajar diduga
dipengaruhi oleh motivasi belajar. Maka prestasi
belajar sebagai variabel terikat. Dikatakan terikat
karena nilainya tergantung kepada variabel bebas

Diyan Indriyani 87

yaitu motivasi belajar. Contoh lain misalkan hasil
setiap pengukuran kesehatan dan pertumbuhan
tanaman: dalam hal ini, tinggi tanaman dan segar atau
layu, disebut sebagai variable dependent (Bevans,
2019).

Variabel terikat (dependent variable) adalah
variabel respon atau output. Variabel terikat atau
dependen atau disebut variabel output, kriteria,
konsekuen, adalah variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
Variabel terikat tidak dimanipulasi, melainkan diamati
variasinya sebagai hasil yang dipradugakan berasal
dari variabel bebas. Biasanya variabel terikat adalah
kondisi yang hendak kita jelaskan. Dalam eksperimen-
eksperimen, variabel bebas adalah variabel yang
dimanipulasikan/dimainkan oleh pembuat
eksperimen. Sebagai contoh, dalam suatu studi
hubungan antar dua variabel berikut: 1) Hubungan
antara kekuatan otot tungkai (X) dengan jauhnya
tendangan pemain sepakbola (Y), 2) Hubungan antara
kekuatan otot lengan (X) dengan ketepatan servis
pemain bola voli (Y). Bertolak dari dua contoh di
depan, peneliti bertanya: apa yang akan terjadi pada Y
jika X dibuat lebih besar atau lebih kecil. Berdasarkan
hal tersebut peneliti memandang Y sebagai variabel
terikat, karena Y akan berubah sebagai akibat dari
diubahnya X. Disebut dependent karena nilai Y akan
berubah (terikat/ tergantung) pada nilai variabel
bebas (X) (Bhattacherjee, 2021).

Variabel dependen mengukur konstruk yang
dianggap berpengaruh dalam kerangka teoritis. Ini
adalah variabel hasil yang berubah berdasarkan
variabel lain. Hal ini umumnya dipengaruhi oleh lebih
dari satu variabel. Peneliti mempelajari variabel
terikat untuk melihat pengaruh atau pengaruh dari
variabel lain. Kadang-kadang variabel dependen juga
disebut sebagai variabel hasil, efek, kriteria, atau
variabel konsekuensi. Misalnya, penelitian

Diyan Indriyani 88

menunjukkan bahwa merokok menyebabkan kanker
paru-paru. Merokok adalah variabel bebas dan kanker
paru-paru sebagai variabel terikat (Trivedi, 2020).
Berikut gambaran posisi variable dependen:

Gambar 6.1 : posisi Variabel Independent dan variable
dependen (Trivedi, 2020)

c. Variabel Moderator
Variabel moderator merupakan variable yang

juga mempengaruhi variabel terikat, namun dalam
penelitian pengaruhnya tidak diutamakan. Variabel
moderator disebut juga variabel perantara, sebab
keberadaannya dapat mempengaruhi hubungan
variabel bebas dengan variabel terikat.. Variabel
Moderator: variabel yang secara teoritis
mempengaruhi hubungan antara variabel independen
dan variabel dependen, tetapi tidak dapat diamati atau
diukur. Variabel moderator merupakan variabel
penyela (variabel antara) yang terletak di antara
variabel dependen dan variabel independen, sehingga
variabel independen tidak langsung mempengaruhi
berubahnya atau timbulnya variabel dependen. Contoh
variabel moderator misalnya dalam penelitian yang
berjudul pengaruh IQ terhadap nilai fisika melalui
frekuensi belajar. Konsep dari judul tersebut, diduga
IQ mempengaruhi nilai fisika siswa namun harus
melalui frekuensi belajar. Sebab meskipun IQ tinggi
tetapi tidak belajar maka nilai ujian fisika juga akan
diduga rendah (Shamil, 2022).

Diyan Indriyani 89

Variabel moderator merupakan variabel antara,
adalah sebuah tipe khusus variabel bebas, yaitu
variabel bebas sekunder yang diangkat untuk
menentukan apakah ia mempengaruhi hubungan
antara variabel bebas primer dan variabel terikat.
Variabel moderator adalah faktor yang diukur,
dimanipulasi atau dipilih peneliti untuk mengungkap
apakah faktor tersebut mengubah hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat. Jika peneliti ingin
mempelajari pengaruh variabel bebas X terhadap
variabel terikat Y tetapi ragu-ragu apakah hubungan
antara X dan Y tersebut berubah karena variabel Z,
maka Z dapat dianalisis sebagai variabel moderator.
Variabel moderator adalah variabel yang
mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah)
hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen (Muredzi, 2019).

Apabila suatu variabel yang ingin diketahui
pengaruhnya terhadap variabel terikat ternyata tidak
dapat diamati (diukur) karena terlalu abstrak, maka
variabel tersebut biasanya dipandang sebagai variabel
antara. Jadi variabel antara adalah faktor yang secara
teoretik mempunyai pengaruh terhadap variabel
terikat tetapi tidak dapat dilihat sehingga tidak dapat
diukur atau dimanipulasi. Pengaruh variabel
moderator terhadap variabel terikat hanya dapat
diinferensikan berdasarkan pengaruh variabel bebas
dan/atau variabel moderator terhadap variabel terikat
(Creswell, 2012).

Variabel moderasi seperti namanya memoderasi
hubungan antara dua variabel. Artinya, menentukan
bagaimana hubungan antara sebab dan akibat berubah
di berbagai tingkat variabel ini atau dengan tidak
adanya atau kehadirannya. Terkadang variabel
pemoderasi juga disebut sebagai variabel independen
sekunder yang menghasilkan efek gabungan pada
variabel dependen. Misalnya, studi terbaru oleh Misra
et al menemukan bahwa ketika orang-orang berbagi

Diyan Indriyani 90


Click to View FlipBook Version