hubungan dekat (variabel moderasi) kehadiran
smartphone (variabel independen) bahkan ketika kita
tidak menggunakan smartphone, mengurangi kualitas
komunikasi di mana orang melaporkan tingkat yang
lebih rendah. empati (variabel terikat). Di sini efek
gabungan dari kehadiran smartphone dan kedekatan
hubungan berinteraksi menghasilkan efek negatif pada
empati. Efek gabungan ini disebut efek moderasi atau
interaksi atau sebab-akibat interaktif. Hal ini terjadi
ketika pengaruh satu variabel (independen) terhadap
variabel lain (dependen) tergantung pada tingkat
variabel lain (moderasi) (Trivedi, 2020). Berikut ini
gambar posisi variabel moderator dalam penelitian.
Gambar 6.2 : Posisi Variabel Modetaor Dalam Penelitian (Trivedi,
2020)
d. Varibel Intervening/Mediating
Seperti namanya, jenis variabel ini mengukur
konstruksi yang mengintervensi, menengahi, atau
berdiri di antara sebab dan akibat yang memberikan
pengaruh pada variabel dependen selain dari variabel
independen. Artinya, ia beroperasi antara dua variabel
dengan cara yang mendefinisikan bagaimana satu
variabel mempengaruhi yang lain. Misalnya, jika
sebuah studi mengklaim bahwa kemiskinan
menyebabkan kepadatan penduduk, dan kepadatan
Diyan Indriyani 91
penduduk, pada gilirannya, menyebabkan kejahatan,
maka kepadatan penduduk mengintervensi antara
kemiskinan dan kejahatan. Selain itu, kita juga dapat
mengatakan bahwa ada penyebab tidak langsung
antara kemiskinan dan kejahatan. Penyebab tidak
langsung mengacu pada jalur kausal dari variabel
independen ke variabel dependen melalui variabel
intervensi atau mediasi. Di bawah ini bentuk gambaran
hubungan yang ada pada variable
intervening/mediating (Trivedi, 2020).
Gambar 6.3 : posisi variable Intervening/Mediating
(Trivedi, 2020)
e. Variabel Perancu/ Confounding Variable
Variabel perancu merupakan variabel yang
berhubungan variabel bebas dan variabel terikat,
tetapi bukan variable antara. Variabel yang
menyembunyikan efek sebenarnya dari variabel lain
dalam eksperimen kita. Hal ini dapat terjadi jika
variabel lain terkait erat dengan variabel yang kita
minati, tetapi kita belum mengontrolnya dalam
eksperimen (Bevans, 2019). Contoh ukuran pot dan
jenis tanah dapat mempengaruhi kelangsungan hidup
tanaman sebanyak atau lebih dari penambahan garam.
Dalam sebuah eksperimen, kita akan mengontrol
potensi perancu ini dengan menjaganya tetap konstan
(Burg, 2022).
Variabel perancu adalah variabel yang mungkin
bersaing dengan variabel independen untuk
Diyan Indriyani 92
menjelaskan hasil. Variabel pengganggu adalah
'penjelasan saingan' yang menjelaskan hubungan
sebab dan akibat. Artinya, jalur kausal mungkin turun
ke nol atau hilang jika efek dari variabel pengganggu
dipertimbangkan. Mereka disebut pembaur karena
mereka mengacaukan pemahaman tentang hubungan
antara sebab dan akibat. Hal yang unik tentang
variabel pengganggu adalah bahwa variabel
pengganggu terkait dengan variabel bebas dan
variabel terikat. Misalnya, sebuah penelitian
mengklaim bahwa peningkatan ukuran sepatu
menyebabkan peningkatan kecerdasan pada anak-
anak. Variabel pengganggu yang jelas di sini adalah
usia. Ketika kita menganggap usia sebagai salah satu
variabel, efek palsu antara ukuran sepatu dan
kecerdasan menghilang (Shamil, 2022).
Namun, variabel pengganggu tidak selalu mudah
untuk diidentifikasi. Ketika program Head start
dievaluasi efektivitasnya dalam meningkatkan
kesiapan belajar anak miskin masuk sekolah,
pengaruhnya tampak lemah jika dibandingkan dengan
kelompok kontrol (anak-anak yang tidak mengikuti
program Head Start). Hasilnya tampak lemah karena
variabel pengganggu. Kelompok kontrol atau
pembanding terdiri dari siswa kaya dari keluarga
status sosial ekonomi tinggi. Kita tahu bahwa anak-
anak dari keluarga status sosial ekonomi tinggi
menerima lebih banyak bantuan dari orang tua
mereka, yang pada gilirannya mempengaruhi seberapa
baik mereka belajar. Tingkat stimulasi intelektual di
rumah status sosial ekonomi tinggi juga sangat
berbeda dibandingkan dengan rumah status sosial
ekonomi rendah. Dengan demikian, status sosial
ekonomi adalah salah satu variabel pengganggu.
Variabel pengganggu lainnya termasuk lingkungan
sekolah yang berbeda untuk anak-anak yang berasal
dari lingkungan yang lebih miskin dibandingkan
dengan lingkungan yang makmur dan paparan
Diyan Indriyani 93
kekerasan. Semua faktor pembaur ini bila
diperhitungkan meniadakan dampak rendah dari
program Head start pada anak-anak miskin (Trivedi,
2020). Berikut ini gambar posisi variable confounding
dalam penelitian.
Gambar 6.4 : Posisi Variable Confounding Dalam
penelitian (Trivedi, 2020)
f. Variabel Kendali/Kontrol
Variabel kendali merupakan variabel yang juga
mempengaruhi variabel terikat, tetapi dalam
penelitian keberadaannya dijadikan netral. Variabel
yang dianggap konstan selama percobaan (Polit, D.F.
and Hungler, 2004). Tidak semua variabel di dalam
suatu penelitian dapat dipelajari sekaligus dalam
waktu yang sama. Beberapa di antara variabel tersebut
harus dinetralkan pengaruhnya untuk menjamin agar
variabel yang dimaksud tidak mengganggu hubungan
antara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel-
variabel yang pengaruhnya harus dinetralkan disebut
sebagai variabel kontrol. Jadi, variabel kontrol adalah
faktor-faktor yang dikontrol atau dinetralkan
pengaruhnya oleh peneliti karena jika tidak
dinetralkan diduga ikut mempengaruhi hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel
kontrol berbeda dengan variabel moderator.
Penetapan suatu variabel menjadi variabel moderator
adalah untuk dipelajari (dianalisis) pengaruhnya,
Diyan Indriyani 94
sedangkan penetapan variabel kontrol adalah untuk
dinetralkan/disamakan pengaruhnya. Contohnya suhu
dan cahaya di ruangan tempat tanaman disimpan, dan
volume air yang diberikan ke setiap tanaman (Bevans,
2019).
Variabel kontrol adalah variabel yang bukan
merupakan kepentingan utama dan dengan demikian
merupakan variabel asing yang pengaruhnya dapat
dikendalikan atau dihilangkan. Mereka mungkin
berdampak pada variabel dependen tetapi peneliti
mencoba mengendalikannya secara statistik atau
melalui prosedur desain untuk meniadakan efeknya.
Hal tersebut berasal dari keinginan peneliti untuk
memperkirakan pengaruh variable independent
terhadap variable dependent, terlepas dari variabel-
variabel asing ini. Biasanya dalam setiap studi
penelitian, para peneliti mengidentifikasi variabel
potensial yang mungkin mempengaruhi variabel
dependen. Untuk mengisolasi pengaruh variabel
independen pada variabel dependen (untuk
menghasilkan inferensi kausal yang lebih kuat)
peneliti melakukan brainstorming variabel yang
mungkin dapat mempengaruhi variable dependent dan
mencoba mengukurnya dalam penelitian sehingga
nantinya dapat dikontrol secara statistic (Creswell,
2012). Variabel kontrol disebut kovariat. Misalnya,
untuk mempelajari pengaruh suhu ruangan pada
kecepatan mengetik juru ketik, peneliti mungkin ingin
mengontrol pengalaman mengetik dalam beberapa
tahun di berbagai kondisi pengujian dengan memilih
orang dengan pengalaman serupa sehingga
pengalaman dapat dikesampingkan sebagai pengaruh.
Dengan cara ini, pengaruh suhu ruangan pada
kecepatan mengetik dapat diisolasi Biasanya, data
demografi seperti jenis kelamin, status sosial ekonomi,
usia, ras, dll digunakan sebagai variabel kontrol. Selain
itu tergantung pada penelitian, seseorang dapat
Diyan Indriyani 95
menambahkan lebih banyak variabel dalam langkah-
langkah pengumpulan data (Trivedi, 2020)
g. Variabel Rambang
Variabel rambang merupakan variabel yang juga ikut
mempengaruhi variabel terikat namun pengaruhnya
tidak begitu berarti, sehingga keberadaan variabel ini
dalam penelitian diabaikan (Kerlinger, 2006).
3. Berdasarkan Dapat tidaknya variabel dimanipulasi.
Merupakan variabel di mana peneliti dapat melakukan
intervensi dan ada pula variabel di mana peneliti tidak
dapat melakukan intervensi. Atas dasar tinjauan ini, variabel
dibedakan menjadi variabel dinamis dan variabel statis
(Shamil, 2022):
a. Variabel dinamis
adalah variabel yang dapat dimanipulasi atau
diintervensi oleh peneliti. Contoh variabel dinamis
adalah: metoda mengajar, teknik pelatihan, strategi
pembiasaan, dst.
b. Variabel statis
merupakan variabel yang tidak dapat diintervensi atau
dimanipulasi oleh peneliti. Contoh variabel statis
adalah: jenis kelamin, umur, status perkawinan, dst.
4. Berdasarkan Urgensi
Berdasarkan urgensinya, maka jenis variabel penelitian
dibagi menjadi variable konseptual dan variable factual
(Burg, 2022):
a. Variabel konseptual
Variabel konseptual ini artinya variabel dalam jenis
yang tersembunyi atau tidak terlihat melalui fakta
yang ada, namun dapat terlihat melalui indikator.
b. Variabel faktual
Variabel faktual merupakan variabel yang dapat
dilihat melalui fakta yang ada.
Diyan Indriyani 96
Berdasarkan paparan tersebut di atas, maka dapat
digambarkan rangkuman Variabel dalam penelitian
kuantitatif adalah sebagai berikut:
Gambar 6.5 : Kesimpulan Hubungan Antar Variable Dalam
Penelitian (Trivedi, 2020)
6.5 Tiga Kemungkinan Pola Hubungan Antar Variabel
Variabel penelitian yang kita amati, kemungkinan memiliki
3 pola hubungan antar variable yang tergambar di bawah ini (Polit,
D.F. and Hungler, 2004) dan (Shuttleworth, 2022):
1. Penambahan nilai pada X akan diikuti penambahan nilai
pada Y
Diyan Indriyani 97
2. Penambahan nilai pada X akan diikuti penurunan nilai pada
Y
3. Tidak ada hubungan antara X dan Y
6.6 Hubungan Antar Variabel
Hubungan antar variabel penelitian dibedakan menjadi tiga
jenis, yaitu hubungan asimetris, hubungan simetris dan hubungan
timbal balik (Polit, D.F. and Beck, 2017); (Abiodun-Oyebanji, 2017);
(Shamil, 2022) dan (Jee, 2022). Hubungan tersebut dijelaskan di
bawah ini:
1. Hubungan asimetris
Pada hubungan asimetris, suatu variabel atau variabel-variabel
bebas berhubungan dengan variabel-variabel terikat. Hubungan
variabel asimetris dibedakan menjadi dua, yaitu: hubungan
bivariat dan multivariat.
a. Hubungan variabel bivariat: hubungan antara dua
variabel.
Contoh hubungan asimetris bivariat : hubungan kecerdasan
intelektual (X) dengan prestasi belajar (Y). Siswa yang
mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi, prestasi
belajarnya juga tinggi. Secara visual hubungan tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:
XY
Diyan Indriyani 98
b. Hubungan multivariat: hubungan antara tiga variabel
atau lebih.
Contoh hubungan variabel asimetris multivariate: Hubungan
kecerdasan intelektual (X₁), kecerdasan emosional (X₂), dan
motivsi belajar (X₃) dengan prestasi belajar (Y). Secara visual
hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Hubungan asimetris dapat dikelompokkan menjadi 6 tipe
(Creswell, 2012), yaitu: hubungan antara stimulus dan
respons, hubungan antara disposisi dan respons, hubungan
antara individu dan tingkah laku, hubungan antara preasyarat
dengan akibat tertentu, hubungan antara dua variabel yang
saling berkaitan erat, dan hubungan antara tujuan dan cara
2. Hubungan simetris
Hubungan variable secara simetris artinya ada hubungan
antara dua variabel, tetapi variabel yang satu tidak disebabkan
atau dipengaruhi oleh variable lainnya. Contoh hubungan
variable secara simetris: Variabel tinggi badan (Y₁) dan variable
berat badan (Y₂) merupakan variable terikat yang dipengaruhi
oleh variabel pertumbuhan (X). Kedua variable terikat
berhubungan tetapi variable yang satu tidak diengaruhi variable
lainnya. Secara visual hubungan tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:
Diyan Indriyani 99
Hubungan simetris terjadi jika kedua variabel saling
berhubungan, namun tidak memiliki sifat saling mempengaruhi,
dengan kata lain, masing-masing variabel bersifat mandiri.
Hubungan simetris dapat terjadi karena beberapa faktor, di
antaranya adalah: terjadi karena kebetulan, merupakan
indikator dari konsep yang sama, merupakan akibat dari faktor
yang sama, dan erkaitan secara fungsional
3. Hubungan timbal balik
Hubungan variabel dikatakan bersifat timbal balik jika variabel
yang satu mempengaruhi variabel lainnya dan sebaliknya.
Misalnya adalah variabel X akan mengakibatkan terjadinya
variabel Y, dan variabel Y juga bisa mengakibatkan terjadinya
variabel X. Karena keduanya bisa saling mempengaruhi, maka
peneliti tidak bisa menentukan mana yang menjadi sebab
ataupun akibat. Contoh hubungan variabel secara timbal balik:
Variabel rasa percaya diri (X) mempengaruhi prestasi belajar (Y)
dan sebaliknya, prestasi belajar juga mempengaruhi rasa
percaya diri. Hubungan semacam ini dapat digambarkan sebagai
berikut:
6.7 Cara Menentukan Variabel Penelitian
Menentukan variabel penelitian akan sangat erat kaitannya
dengan membuat judul karena biasanya judul penelitian akan
memuat variabel yang diteliti. Misalnya adalah variabel X akan
mengakibatkan terjadinya variabel Y, dan variabel Y juga bisa
mengakibatkan terjadinya variabel X. Karena keduanya bisa saling
mempengaruhi, maka peneliti tidak bisa menentukan mana yang
menjadi sebab ataupun akibat. Untuk menentukan variabel
penelitian, kamu bisa ikuti beberapa tips berikut ini (Polit, D.F. and
Beck, 2017) dan (Muredzi, 2019).
6.7.1 Tentukan Permasalahan Utama
Cara paling mudah untuk menentukan variabel adalah
dengan mencari permasalahan apa yang ingin dibahas atau
Diyan Indriyani 100
diselesaikan. Setelah menemukan permasalahan, maka kita sudah
mendapatkan 1 variabel dependen (terkait).
6.7.2 Tentukan Variabel Bebas
Setelah menemukan variabel terikat, selanjutnya
tentukanlah variabel bebasnya (independen). Variabel bebas ini
adalah sesuatu yang dapat mempengaruhi variabel terkait yang
sudah kamu tentukan di langkah sebelumnya.
6.7.3 Riset Teori
Setelah menemukan variabel terikat dan bebas, kamu bisa
riset terlebih dahulu teori-teori yang bisa mendukung kedua
variabel tersebut. Kita bisa melakukan riset teori sebanyak-
banyaknya di berbagai jurnal yang relevan dengan permasalahan
tersebut. Jika ternyata kesulitan, kita bisa ulangi langkah 1 atau 2
sampai menemukan teori yang sekiranya sesuai.
6.7.4 Tentukan Kelayakan
Selanjutnya, silakan kita tentukan apakah variabel, judul,
dan teori yang terkumpul layak untuk dijadikan penelitian. Kita
bisa nilai berdasarkan beberapa faktor, seperti biaya, lokasi
penelitian, dan sebagainya. Jika masih belum yakin, silakan kita
ulangi lagi dari langkah 1 atau 2 sampai kita menemukan topik
penelitian yang sesuai.
6.8 Manfaat Variabel Penelitian
Memahami variabel sangat penting dalam menulis proposal
penelitian. Hal ini memiliki alasan karena terdapat beberapa
manfaat antara lain (Abiodun-Oyebanji, 2017) dan (Burg, 2022):
1. Membangun Kerangka Konseptual
Membangun kerangka kerja konseptual memerlukan variabel
penelitian, khususnyadalam menganalisis data yang telah Anda
kumpulkan. Oleh karena itu, Anda harus dapat memahami arti
variabel secara menyeluruh dan cara-cara mengukurnya.
Diyan Indriyani 101
2. Pedoman Eksperimen
Melalui penelitian ilmiah, ilmuwan, teknisi, dan peneliti
memanfaatkan berbagai metode dan variabel saat melakukan
eksperimen mereka. Istilah sederhana, suatu variabel mewakili
atribut terukur yang berubah atau bervariasi di seluruh
percobaan, baik membandingkan hasil antara beberapa
kelompok, banyak orang atau bahkan ketika menggunakan
satu orang dalam percobaan yang dilakukan dari waktu ke
waktu.
3. Landasan Mempersiapkan Alat dan Metode Pengumpulan
Data
Variabel penelitian memiliki peran yang sangat penting dalam
sebuah penelitian, karena bertujuan sebagai landasan untuk
mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data, serta
sebagai alat menguji hipotesis penelitian. Itulah sebabnya,
sebuah variabel harus dapat diamati dan dapat diukur.
6.9 Cara Membuat Variabel Penelitian
Terdapat beberapa tehnik yang perlu diperhatikan ketika
menentukan variabel penelitian, hal tersebut antara lain (Shamil,
2022):
1. Menentukan pemasalah utama
Permasalahan utama tersebut dapat kita sebut Y. Y adalah
variabel terikat yang menjadi inti penelitian kita.
2. Menentukan faktor permasalahan
Menentukan faktor permasalahan ini kita sebut ini dengan
X, X tersebut merupakan variabel bebas.
3. Variabel yang kita tentukan
Menentukan variable kita siapkan terdahulu banyak atau
tidaknya teori-teori yang berkaitan dengan varaibel
tersebut, selain itu banyak atau tidaknya pandapat para ahli
juga harus dipertimbnagkan.
4. Memungkinkan atau Tidak
Menentukan apakah penelitian yang kita tersebut
memungkinkan untuk kita lakukan atau tidak, ditinjau dari
lokasi/tempat, biaya, dan lain sebabaginya.
Diyan Indriyani 102
6.10 Penutup
Berdasarkan langkah dalam metodologi penelitian, seorang
peneliti sangat penting untuk menentukan variable penelitian.
Variabel penelitian merupakan atribut atau objek yang
memiliki variasi antara satu sama lainnya. Variabel penelitian
adalah segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan
penelitian. Masalah penelitian yang sudah dirumuskan, akan
memberikan gambaran seorang peneliti untuk menentukan varibel
penelitian yang dimaksud. Variable penelitian ini nantinya juga
berkaitan langsung dengan suatu proses analisis data yang akan
digunakan, serta kesimpulan suatu hasil penelitian. Oleh karena itu
karena variable penelitian juga menentukan posisi dari arah
kerangka konsep, maka peneliti harus tepat dalam menentukan
variable penelitian yang akan menjadi obyek pengamatan.
Variabel penelitian yang telah ditentukan, memerlukan
pengukuran yang menggunakan instrument yang sesuai, agar hasil
penelitian menjadi tepat. Variable penelitian ini nantinya dapat
dipertegas dan diperjelas dalam penjabaran definisi operasional
penelitian, agar peneliti dapat menentukan instrument pengukuran
yang valid dan reliabel dalam mengukur variable penelitian.
Berdasarkan hal tersebut, maka sangat penting seorang peneliti
memiliki pemahaman yang sangat baik tentang variable penelitian.
Diyan Indriyani 103
DAFTAR PUSTAKA
Abiodun-Oyebanji, O. . 2017. Research In Education: Research
Variables: Types, Uses And Definition Of Terms. His Lineage
Publishing House.
Bevans, R. 2019. Types of Variables in Research | Definitions &
Examples. Scribbr.
https://www.scribbr.com/methodology/types-of-variables/
Bhattacherjee, A. 2021. Concepts, Constructs, and Variables. Social
Science: Libretexts. https://socialsci.libretexts.org
Burg, E. V. . 2022. What’s the Concept of Variables in Research?
Sciencebriefss. https://sciencebriefss.com/probability-
statistics/what-s-the-concept-of-variables-in-research/
Creswell, J. W. 2012. Educational research: Planning, conducting,
and evaluating quantitative and qualitative research (4th
ed.). Pearson Education.
IvyPanda. 2021. Research Components: Concepts, Variables and
Hypotheses Research Paper.
https://ivypanda.com/essays/research-components-
concepts-variables-and-hypotheses/
Jee. 2022. Explanation of the Definition of Research Variables. PM
Indexing. https://pmindexing.com/definition-of-research-
variables/
Kerlinger, F. . 2006. Azas-azas Penelitian Behavioral (diterjemahkan
Simatupang, L.R). Universitas Gadjah Mada Press.
Muredzi, P. 2019. Research and the Concept of Research. AAU
Workshop on Quality Research.
https://doi.org/10.13140/RG.2.2.25310.28483
Polit, D.F. and Beck, C. . 2017. Nursing Research: Generating and
Assessing Evidence for Nursing Practice (10th Editi). Wolters
Kluwer Health, Philadelphia, 784 p.
Polit, D.F. and Hungler, B. F. 2004. Nursing research— Principles
and methods (7th Editio). J.B. Lippincott Company.
Shamil, F. . 2022. Research Methodology.
https://t4tutorials.com/what-are-dependent-and-
independent-variables/
Shuttleworth, M. 2022. Research Variables.
https://explorable.com/research-variables/
Diyan Indriyani 104
Trivedi, C. 2020. Types of variables in scientific research. Concepts
Hacked. https://conceptshacked.com/variables-in-
scientific-research/
Diyan Indriyani 105
BAB 7
INSTRUMEN PENELITIAN
Oleh Wiwin Martiningsih
7.1 Pendahuluan
Penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam
pengembangan ilmu, terlebih bagi seorang pendidik yang salah
satu dharma baktinya adalah melakukan penelitian. Bahkan tidak
hanya pendidik, para pemberi layanan di lahan praktik juga harus
melakukannya. Beberapa alasan mengapa penelitian ini harus
dilakukan adalah makin berkembangnya pola pikir masyarakat
pengguna jasa layanan kesehatan, adanya tuntutan bahwa evidence
base practice perlu dilakukan untuk menjamin kualitas layanan
kesehatan, dan menekan adanya tindakan malpraktik di bidang
kesehatan. Dalam melakukan penelitian, dibutuhkan suatu
instrumen penelitian dan peneliti harus hati-hati dalam
mengembangkan instrumen ini, karena kesalahan menentukan
instrument akan mempengaruhi hasil yang diinginkan. Instrumen
yang akan digunakan dalam suatu penelitian juga tergantung pada
jenis penelitian yang dilakukan apakah penelitian kualitatif,
kuantitatif atau campuran (mixed method). Dalam ilmu psikologi,
instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengamati
dan menggambarkan fenomena psikologis dengan cara
menyediakan data yang dapat dianalisis (McClure, 2020). Saat
menentukan instrumen penelitian, kita akan dihadapkan oleh
banyaknya pilihan instrumen yang ada, misalnya dalam mengukur
stigma Masyarakat terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA)
terdapat beberapa pilihan instrumen, dan setiap instrumen yang
ada dirancang untuk tujuan, seting tempat/lokasi, format atau
responden tertentu. Dalam penentuan pemilihan instrumen ini,
peneliti harus mampu memilih instrumen yang tepat untuk
penelitiannya.
Wiwin Martiningsih 106
7.2 Perijinan Penggunaan Instrumen Penelitian
Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan oleh
peneliti dalam menentukan instrumen penelitiannya, apakah
instrumen secara akurat dapat mengukur masalah-masalah atau
pengalaman-pengalaman yang ada di populasi, bagaimana dengan
bahasa yang digunakan dalam instrumen, bagaimana kemampuan
responden menjawab instrumen, dan juga karakteristik lainnya.
Instrumen psikologi dan ilmu sosial merupakan kekayaan
intelektual, artinya seseorang memiliki hak atas instrumen
tersebut, dan peneliti yang menggunakan instrumen tersebut harus
melakukan dua hal: 1) mendapat ijin untuk menggunakannya dan
2) menyebutkan referensi instrumen dalam proposal penelitian
dan manuskrip mereka. Mendapatkan ijin untuk menggunakan
instrumen penelitian adalah tindakan yang dilakukan untuk
memastikan bahwa studi kita mematuhi pedoman etika psikologi
dan profesi ilmu sosial lainnya. Bagi para mahasiswa bimbingan,
hal ini kadang sulit dilakukan, pembimbing dapat membantu
mahasiswa bagaimana berhubungan dengan pemegang hak atas
instrumen dengan berkomunikasi melalui email misalnya.
Sebenarnya dalam perijinan penggunaan instrumen ini terdapat 3
hal yang perlu kita ketahui: 1) Instrumen yang diterbitkan secara
komersial, berarti instrumen dimiliki oleh perusahaan yang harus
memberikan ijin penggunaannya dan biasanya memungut biaya, 2)
Instrumen dimiliki oleh penulis, biasanya instrumen ini diterbitkan
dalam jurnal baik sebagian atau seluruhnya. Apabila kita ingin
menggunakannya tetap memerlukan ijin dari penulis meskipun
tidak ada biaya dan 3) Instrumen yang berada di domain publik,
yang berarti bahwa instrumen tersedia gratis untuk umum dan
tanpa perlu perijinan. Apabila kita masih ragu instrumen ini di
publik domain atau tidak, kita bisa mengirim email kepada penulis,
untuk mendapatkan informasi. Salah satu contoh instrumen di
publik domain adalah The Center for Epidemiological Studies
Depression Scale (CESD) merupakan kuesioner yang dikembangkan
untuk mengukur prevalensi dan insiden depresi pada warga USA.
Peneliti dapat mengkopi CESD-R melalui https://www.cesd-r.com.
Informasi tentang instrumen ini, termasuk pernyataan bahwa
Wiwin Martiningsih 107
instrumen berada dalam domain publik dan bebas untuk
digunakan, tersedia di situs web ini (McClure, 2020).
7.3 Jenis-Jenis Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian dibuat berdasar pada jenis data yang
akan digunakan atau digali, apakah data kualitatif (data dalam
bentuk kata-kata yang tidak bisa dioperasikan secara matematis)
atau data kuantitatif (data dalam bentuk angka yang dapat
dioperasikan secara matematik). Jenis Instrumen penelitian dapat
dilihat juga berdasarkan metode pengumpulan datanya apakah
menggunakan 1) Angket/questionnaire, 2) Wawancara interview, 3)
pengamatan/observasi, 4) Ujian atau tes (tes kepribadian, tes
bakat, tes intelegensi, tes minat dan tes prestasi dll), 5)
Dokumentasi (benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah,
peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, data dalam
Compact disk, flash disk atau foto-foto) (Nasution, 2016). Jenis-
jenis instrumen penelitian menurut McClure, 2020 antara lain:
1) Instrumen Wawancara
Instrumen yang digunakan saat melakukan wawancara dengan
subyek penelitian dengan memberikan pertanyaan secara
langsung, dapat melalui tatap muka atau menggunakan
telepon, WhatsApp, zoom meeting, atau media komunikasi
lainnya. Ada 3 format wawancara:
a. Tidak terstruktur atau bebas
Pedoman wawancara hanya berisi pertanyaan
pertanyaan penting atau utama yang akan memandu
peneliti. Subjek penelitian bebas memberikan jawaban
yang mereka pilih. Sebagai contoh, peneliti bertanya,
“Jelaskan stigma yang anda rasakan karena positif
HIV”.
b. Semi terstruktur
Pewawancara menawarkan pertanyaan yang lebih
sempit, serta memberikan informasi spesifik untuk
ditindaklanjuti setelah peserta memberikan tanggapan
awal mereka. Misal jawaban atas pertanyaan adalah, “Saya
merasa dikucilkan akibat HIV”. Melalui wawancara semi
Wiwin Martiningsih 108
terstruktur peneliti segera melanjutkan pertanyaan agar
partisipan menjelaskan kata dikucilkan, dikucilkan oleh
siapa, bagaimana bentuk tindakan pengucilan
tersebut, dan lain-lain.
c. Terstruktur
Pewawancara mengajukan pertanyaan spesifik dan
tidak keluar dari panduan wawancara untuk mengajukan
pertanyaan selanjutnya. Jadi pertanyaan sesuai dengan
Panduan wawancara yang dibuat. Subyek penelitian sudah
dapat menentukan pilihan jawaban dari pertanyaan yang
diberikan, dan biasanya wawancara jenis ini bersifat
singkat dan padat.
Keuntungan metode wawancara adalah peneliti
dapat menggali lebih dalam hal spesifik tentang
pengalaman individu, dan langsung dapat melakukan
klarifikasi apabila jawaban partisipan membingungkan
atau tidak jelas. Metode wawancara membutuhkan waktu
yang lama karena beberapa alasan: 1) Wawancara itu
sendiri membutuhkan waktu, 2) pewawancara harus
dilatih: (1) agar dapat membangun hubungan baik dengan
orang yang diwawancarai dan tetap profesional, (2) untuk
mengikuti protokol sehingga setiap wawancara dilakukan
dengan cara yang sama, (3) Agar dapat memancing
jawaban-jawaban yang akurat, mengalir dengan lancar,
bahkan terkadang jawaban itu diluar ekspektasi peneliti.
Sehingga dalam wawancara ini sering ditemukan ide-ide
baru yang akan merangsang peneliti untuk terus ingin
tahu. Wawancara terstruktur dan semi terstruktur
membutuhkan lebih sedikit waktu daripada wawancara
tidak terstruktur. Peneliti juga harus mempertimbangkan
apakah wawancara akan direkam, dan di mana rekaman
itu disimpan sehingga identitas dan informasi pribadi para
partisipan terlindungi. Dalam melakukan wawancara harus
memperhatikan situasi lingkungan yang nyaman, tenang,
bersahabat sehingga subyek akan mengungkapkan
perasaannya dengan nyaman, percaya diri, tidak ada
ketakutan, bebas dari tekanan dan jujur. Instrumen yang
Wiwin Martiningsih 109
digunakan dalam wawancara ini sering dinamakan
pedoman wawancara/panduan wawancara atau interview
guide.
2) Instrumen Observasi
Dalam kegiatan observasi, peneliti mengamati gejala
alam atau perilaku tertentu atau beberapa perilaku partisipan
yang terlibat dalam suatu penelitian melalui lembar observasi.
Pemusatan perhatian terhadap obyek pengamatan melibatkan
seluruh indra dalam mendapatkan data. Jika ingin mengamati
perilaku, peneliti dapat mengawali dengan mendefinisikan
perilaku yang akan diukur. Misalnya, peneliti yang mempelajari
ketaatan pengobatan penderita HIV AIDS. Pertama peneliti
harus mendefinisikan apa yang dimaksud ketaatan pengobatan
penderita HIV AIDS. Bila melakukan observasi: (1) pengamatan
terhadap ketaatan yang bagaimana, apakah jumlah obatnya,
jenis obatnya, jadwal minumnya, jadwal pengambilan obatnya,
(2) Bagaimana cara mengamatinya (Media yang digunakan,
tempat pengamatan), (3) bagaimana cara mencatatnya, (4)
Siapa saja yang dapat dilibatkan dalam pengamatan ini, dan
bentuk observasi lainnya. Instrumen observasi memerlukan
definisi operasional yang spesifik. Metode observasi juga
mengharuskan peneliti untuk memutuskan apakah
pengamatan akan dilakukan dalam pengaturan alami (di
rumah) atau dalam pengaturan yang lebih terkontrol untuk
setiap peserta (di laboratorium). Pengamat juga harus dilatih
agar: (1) mereka mencatat apa yang ingin diukur oleh peneliti,
dan (2) jika ada banyak pengamat, mereka mengukur dan
mencatat pengamatan yang sama dengan cara yang sama.
Bentuk instrumen observasi dapat berupa bentuk tes,
kuesioner pengamatan aspek yang diselidiki, rekaman gambar,
atau rekaman suara untuk menyimpan sumber data.
3) Self Report Instrument
Merupakan instrumen yang harus dilengkapi oleh
individu dengan menjawab beberapa pertanyaan tentang
dirinya. Instrumen ini bermanfaat untuk menggali persepsi
individu berdasar pengalaman yang dimiliki, dan hanya
Wiwin Martiningsih 110
individu tersebut yang bisa melakukan. Dapat berupa
pertanyaan dengan beberapa pilihan jawaban yang berfungsi
untuk mengkategorikan respon setiap individu yang berbeda.
Instrumen dapat dibuat dengan berbagai format (McClure,
2020). Contoh Self Report Instrument yang berupa pertanyaan
dengan beberapa pilihan jawaban tentang Self Stigma Pada
ODHA (Orang dengan HIV AIDS) yang dibuat dengan pilihan
jawaban 1= Sangat Tidak Setuju (STS); 2 = Tidak Setuju (SS); 3
= Ragu-Ragu (R); 4 = Setuju (S); atau 5 = Sangat Setuju (SS).
No Pernyataan STS TS R S SS
1 Saya takut dikucilkan
2 Saya merasa tidak berguna
Saya takut berhubungan dengan
3 orang lain
4 Saya malu bertemu orang lain
5 Dst...
4) Instrumen fisiologis
Instrumen fisiologis mengamati dan merekam aktivitas
fisiologis dalam tubuh. Aktivitas fisiologis yang biasa diukur
dalam penelitian adalah detak jantung, tekanan darah, aktivitas
otak, fungsi metabolisme, suhu tubuh, dll. Dalam studi tentang
tidur, seorang peneliti dapat menggunakan
elektroensefalogram (EEG) untuk mengukur variasi gelombang
otak yang sesuai dengan fase tidur tertentu. Instrumen
fisiologis tidak dipengaruhi oleh bias partisipan atau pengamat.
Namun, ada beberapa kelemahan, instrumen fisiologis bisa
mahal. Instrumen jenis ini terkadang membutuhkan alat yang
mahal, penggunaannya terkadang butuh pelatihan agar dapat
mengukur dengan benar, sebagai contoh penggunaan EEG,
ECG, dll. Beberapa responden terkadang menganggap tindakan
fisiologis/pemeriksaan yang dilakukan berupa prosedur invasif
Wiwin Martiningsih 111
yang menyakitkan, sehingga memilih untuk tidak
berpartisipasi dalam penelitian.
7.4 Metode Pengembangan Instrumen Penelitian
Pengukuran adalah hal penting dalam konteks penelitian
sosial dan ilmu-ilmu dasar. Instrumen-instrumen baru terus dibuat
dan dikembangkan. Kita memperoleh pengetahuan tentang orang,
objek, peristiwa, dan proses dengan mengamati mereka. Dalam
ilmu perilaku dan sosial, pengukuran psikometrik telah
berkembang sebagai subspesialisasi yang berkaitan dengan
pengukuran fenomena psikologis dan sosial. Biasanya, prosedur
pengukuran yang digunakan adalah kuesioner. Proses pengukuran
melalui pembuatan item item pertanyaan akan saling berinteraksi,
batas-batas pengertian antar item sering tidak terlihat, oleh karena
itu, prosedur untuk mengembangkan instrumen dan konten harus
dipahami benar oleh para peneliti. Rujukan untuk pengembangan
instrumen salah salah satunya dari De Vellis (2003) yang
menjelaskan 8 langkah dalam mengembangkan instrumen yaitu:
1) Menentukan secara jelas apa yang akan diukur
Dalam mengembangkan alat ukur harus berdasarkan pada
teori yang mendasari, untuk apa skor yang dihasilkan alat ukur.
Hal ini dapat didesain terlebih dahulu sesuai dengan variabel
dan konteks penelitian. Misal konstrak Stigma dapat dijadikan
landasan untuk mengukur stigma terhadap seseorang secara
umum, bisa pula dipersempit untuk mengukur stigma pada
ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS), stigma pada orang dengan
gangguan mental, stigma pada pasien TBC dll. Implikasinya
adalah pada skor yang dihasilkan. Apabila konstrak stigma
dipersempit pada pasien ODHA maka skor yang dihasilkan oleh
hasil pengukuran ditujukan untuk mendeskripsikan stigma
yang dikenakan pada ODHA. Dasar teori yang berbeda, akan
menghasilkan item-item pada alat ukur yang berbeda pula.
item merupakan kalimat-kalimat dengan variasi pilihan kata
yang tepat yang akan direspon oleh subyek penelitian/yang
diukur.
Wiwin Martiningsih 112
2) Mengembangkan kumpulan item-item
Setelah hal yang diukur, tujuan penggunaan skala, dan
teori yang mendasari jelas, maka dilanjutkan dengan
mengembangkan item-item. Menulis item bukanlah hal yang
mudah dalam mengembangkan alat ukur, karena sebenarnya
juga merupakan seni dalam menuangkan gagasan. Jumlah item
juga tidak terbatas karena item akan didasarkan pada sampel
dari seluruh item yang dikembangkan lebih lebih pada
penentuan item-item di awal pengumpulan, dan seandainya
terjadi redudansi antar item, sepanjang pada aspek
pengukuran yang sama bukan menjadi masalah, karena
pengembangan item justru mendukung konsep unidimensi dan
konsistensi internal (Ridho, 2013). Pada tahap ini mulai
menulis item-item yang muncul dalam gagasan.
3) Menentukan format pengukuran
Banyak pilihan format-format pengukuran yang bisa
digunakan, tetapi yang sering adalah format likert dan
perbedaan semantik, karena memiliki nilai praktis yang tinggi.
4) Kumpulan item di review oleh para ahli
Apabila item-item telah ditulis, pengembang alat ukur
akan membutuhkan beberapa orang ahli terkait relevansi
aitem dengan konstrak yang diukur. Besarnya relevansi aitem
dengan konstrak yang diukur akan dirating oleh beberapa ahli
tersebut. Dibawah ini adalah salah satu contoh validitas konten
yang dinilai oleh expert/ahli. Salah satu validitas instrumen
dilakukan dengan mengevaluasi validitas isi yaitu dengan
menentukan content validity index (CVI). Penilaian CVI dalam
contoh dilakukan dengan menggunakan tiga orang ahli expert)
untuk menilai setiap item.
Skala pengukuran yang digunakan adalah sebagai berikut:
1 : Tidak relevan
2 : Tidak dapat dilihat relevansinya, tanpa revisi item
3 : Relevan tetapi membutuhkan revisi minor
4 : Sangat relevan
Wiwin Martiningsih 113
Setiap item penilaian pakar (individual CVI/I-CVI)
dihitung sebagai jumlah ahli yang memberikan penilaian baik
(relevan) yaitu 3 dan 4, dan penilaian yang tidak relevan yaitu
1 dan 2 dibagi dengan jumlah total ahli (Yusoff, 2019).
Contoh rekapitulasi penilaian dari masing-masing ahli:
Ahli Ahli Ahli Jml Skor
No Pernyataan 1 2 3 setuju I-CVI
Saya pasti akan meninggal
dunia
1 Saran:__________________
Saya membuat aib keluarga
2 Saran:________________
3 Dst...
Martiningsih, W (2019)
Kutipan dari Form penilaian Validitas alat pengkajian oleh ahli
No Items Sangat Relevan Tidak dapat Tidak
Relevan tetapi dilihat relevan
membutuh
kan revisi relevansi
minor nya, tanpa
revisi item
1 Saya pasti akan
meninggal dunia
Saran:______________
____
2 Saya membuat aib
keluarga
Saran:______________
__
3 Dst.
Wiwin Martiningsih 114
5) Mempertimbangkan item-item yang divalidasi
Item-item yang sudah divalidasi oleh para ahli akan
dilakukan review, dan mempertimbangkan bagaimana dari
konsekuensi dari skor yang diberikan.
6) Melakukan Uji Coba
Uji coba dilakukan untuk mengetahui secara empiris fungsi
dari item-item yang dikembangkan menjadi alat ukur.
7) Mengevaluasi item-item
Setelah dilakukan uji coba, evaluasi segera dilakukan,
untuk memilih item-item yang akan digunakan pada subyek
sesungguhnya.
8) Optimalisasi Alat ukur /Perakitan akhir
Banyaknya aitem/panjangnya kalimat dalam aitem perlu
dipertimbangkan oleh peneliti, karena ini sangat
mempengaruhi hasil pengukuran. Subyek ukur akan menyukai
jumlah aitem yang sedikit dan kalimat yang tidak panjang. Tapi
yang paling utama adalah validitas dan reliabilitas dari masing-
masing aitem. Apabila dilakukan analisis faktorial akan dapat
ditentukan kelompok-kelompok item yang sama
faktornya/komponen/konstraknya dan biasanya akan terdiri
dari beberapa faktor.
7.5 Alasan Peneliti Mengembangkan Kuesioner
Instrumen penelitian dapat dikembangkan oleh peneliti atau
berdasarkan instrumen standar yang sudah ada. Seorang Peneliti
memutuskan untuk mengembangkan kuesioner sendiri tidak
menggunakan instrumen yang sudah ada disebabkan beberapa
alasan (Lodico, M.G, Spaulding, D.T, Voegtle, 2010):
1) Tidak ada instrumen standar yang mengukur variabel yang
sedang dipertimbangkan. Sebagai contoh, peneliti ingin
mengukur stigma dan diskriminasi yang dilakukan oleh
masyarakat terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS),
berhubung peneliti tidak menemukan instrumen standar
terkait variabel yang ditelitinya, peneliti akan berusaha
mengembangkan kuesioner itu sendiri, dengan cara
menggunakan literatur untuk mencari indikator-indikatornya
Wiwin Martiningsih 115
dan mengembangkannya melalui tahap-tahap pengembangan
kuesioner.
2) Ada instrumen tetapi tidak bisa mengukur variabel dengan
cara yang tepat atau tidak ditemukan beberapa indikator-
indikator variabel yang peneliti butuhkan. Dalam hal ini,
peneliti dapat memodifikasi instrumen standar untuk lebih
memenuhi kebutuhannya.
3) Tidak ada instrumen standar yang dikembangkan
menggunakan sampel atau kriteria yang dipilih oleh peneliti.
Dalam hal ini, jika peneliti tetap menggunakan instrumen
standar yang ada, interpretasi hasil tidak akan tepat.
7.6 Kesimpulan
Instrumen penelitian sangat diperlukan dalam melakukan
penelitian. Salah satu keberhasilan dalam sebuah penelitian
disebabkan peneliti tepat dalam menentukan dan menggunakan
instrumennya. Pengembangan instrumen penelitian bisa dilakukan
apabila peneliti tidak menemukan instrumen yang terstandar, atau
instrumen yang ada tidak mampu mengukur variabel yang
ditentukan. Dalam mengembangkan alat ukur penelitian, peneliti
harus mengikuti prosedur yang telah terstandar, agar alat ukur
valid dan reliabel.
Wiwin Martiningsih 116
DAFTAR PUSTAKA
De Vellis, R. F. 2003. Scale Development: Theory and Applications.
2nd ed. California: SAGE Publication.
Lodico, M.G, Spaulding, D.T, Voegtle, K. . 2010. Methods in
Educational Research: From Theory to Practice. second edi,
American Journal of Public Health. second edi. US: Jossey-
Bass. doi: 10.2105/ajph.2.12.981.
Martiningsih, W. 2019. Development And Validation Of A Caring
Empathy Assessment Tool For Indonesian Nurses.
Dissertation. St. Paul University Philippines.
McClure, K. S. 2020. Selecting and Describing Your Research
Instruments. Washington DC: American Psychological
Association. doi: http://dx.doi.org/10.1037/0000192-000.
Nasution, H. . 2016. ‘Instrumen Penelitian Dan Urgensinya Dalam
Penelitian Kuantitatif’, Al-Masharif: Jurnal Ilmu Ekonomi Dan
Keislaman, 1, pp. 59–75. Available at: http://repo.iain-
padangsidimpuan.ac.id/326/1/416-1276-1-PB.pdf.
Ridho, A. 2013. ‘Prinsip-prinsip Pengembangan Instrumen
Penelitian’, Kuliah Umum bagi mahasiswa Program Studi
Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN
Sunan Kalijaga.
Yusoff, M. S. B. 2019. ‘ABC Of Content Validation And Content
Validity Index Calculation’, Education In Medicine Journal,
11(2), Pp. 49–54. Doi: 10.21315/Eimj2019.11.2.6.
Wiwin Martiningsih 117
BAB 8
PENGOLAHAN DATA PENELITIAN
Oleh Solehudin
8.1 Pendahuluan
Statistika adalah ilmu mengumpulkan, mengagregasi,
mengklasifikasikan, menganalisis, dan mengambil informasi yang
berarti dari data dalam bentuk angka. Data kuantitatif banyak
digunakan dalam statistik, yaitu data berupa angka-angka yang
diperoleh dari perhitungan data kualitatif. Pemrosesan data
terbaru menjadi lebih mudah dengan perangkat lunak. Hal yang
sama berlaku untuk analisis data kualitatif dan kuantitatif (Zein et
al., 2019).
Pengolahan data merupakan bagian dari rangkaian kegiatan
penelitian setelah pengumpulan data. Data mentah harus diolah
menjadi informasi yang pada akhirnya dapat digunakan untuk
memenuhi tujuan penelitian (Hastono, 2006). Data yang telah
terkumpul kemudian dilakukan klasifikasi menurut karakteristik
sifat yang diinginkan, dibuat coding, diolah dengan menggunakan
alat bantu seperti kalkulator maupun komputer, dianalisis menurut
tujuan variabel yang dikehendaki dan diinterpretasikan guna
menjawab persoalan dalam penelitian (Rachbini et al., 2020).
8.2 Pengertian Pengolahan Data
Pengolahan data adalah proses pengambilan data dari setiap
variabel penelitian yang siap untuk dianalisis. Pengolahan data
meliputi manipulasi data, transformasi data (coding), dan tampilan
data, dan data lengkap diambil dari setiap objek dari setiap
variabel yang diselidiki (Aedi, 2012). Pengolahan data merupakan
salah satu bagian rangkaian kegiatan penelitian setelah
pengumpulan data (Hastono, 2006).
Pengolahan data adalah proses mencari dan menyusun data
secara sistematis dari wawancara, catatan lapangan, dan dokumen,
mengorganisasikan data ke dalam kategori, menggambarkannya
Solehudin 118
dalam satuan, mensintesiskannya, membuat pola, dan
menjadikannya penting, pilih salah satu yang tidak. Menarik
kesimpulan agar mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain
(Sugiyono, 2018). Pengolahan data adalah proses transformasi nilai
variabel baku ke dalam indikator-indikator yang diinginkan baik
dalam bentuk analisis sederhana seperti tabulasi silang (cross
tabulation) maupun dalam bentuk yang lebih kompleks (Rachbini
et al., 2020).
Pengolahan data adalah konversi data atau manipulasi data
ke dalam format yang berguna untuk digunakan. Informasi adalah
hasil pengolahan data dalam format tertentu yang lebih bermakna
daripada suatu kegiatan atau peristiwa. Konversi atau
"pemrosesan" ini dilakukan secara otomatis, baik secara manual
atau menggunakan serangkaian operasi tertentu. Pengolahan data
dapat didefinisikan sebagai proses transformasi data lapangan
sesuai dengan tujuan penelitian, desain, sifat, dan kebutuhan
pengambilan keputusan (Rezkia, 2021).
Teknik pengolahan data memang memiliki tujuan ketika
diterapkan pada penelitian. Analisis data merupakan langkah
penting dalam rekayasa pengolahan data. Penerapan teknik
analisis data erat kaitannya dengan topik dan masalah penelitian
yang akan dipecahkan. Tujuan dari teknik analisis data adalah
untuk menarik kesimpulan secara menyeluruh dari data yang telah
dikumpulkan sebelumnya. Teknik analisis data juga
menggambarkan data penelitian dengan cara yang mudah
dipahami orang lain dengan menyajikannya dalam format yang
menarik seperti grafik dan plot. Di industri, hasil pengolahan data
dapat digunakan sebagai panduan untuk keputusan strategi bisnis
lebih lanjut, seperti strategi pemasaran masa depan dan kesadaran
tren pasar (Kurniasari, 2021). Beberapa fungsi dari pengolahan
data (Rezkia, 2021):
Sebagai melakukan proses aritmatika dan logis untuk data yang
dapat disimpan.
Menyimpan hasil hingga hasil akhir dari pemrosesan.
Mengambil program dan data dalam bentuk input.
Memproses dan menyimpan program data.
Untuk digunakan kapan saja. Data yang disimpan dapat
ditampilkan dan dicetak ketika dibutuhkan.
Solehudin 119
Meminimalisir kebutuhan tenaga manusia, hal ini karena
beberapa pekerjaan dikerjakan secara otomatis oleh bantuan
komputer.
Mendapat hasil akhir yang lebih akurat
8.3 Tahapan Pengolahan Data
Di dalam metode pengolahan data dijelaskan prosedur
pengolahan dan analisis data sesuai dengan pendekatan yang
dilakukan (Rezkia, 2021). Secara umum metode pengolahan data
akan melalui lima (5) tahap meliputi:
1. Pengeditan Data (Editing)
yang Pengolahan adalah penyelidikan atau modifikasi dari data
dikumpulkan. Pemrosesan dilakukan karena
kemungkinan data yang masuk (data mentah) tidak memenuhi
persyaratan atau kebutuhan. Pengolahan data dilakukan untuk
melengkapi cacat atau untuk menghilangkan kesalahan yang
terdapat pada data mentah. Kerentanan dapat diatasi dengan
mengulangi pengumpulan data atau interpolasi data. Kesalahan
data dapat dihilangkan dengan menghapus data yang tidak
memenuhi persyaratan analisis (Aedi, 2012). Tujuan
penyuntingan adalah sebagai berikut: a) Periksa apakah survei
sudah selesai. b) Periksa apakah jawabannya logis. c) Periksa
konsistensi antar pertanyaan (Setiawan, 2019).
Pengeditan menegaskan kembali catatan atau kumpulan
data yang dikumpulkan dari pencari data dalam survei untuk
melihat apakah hasil pengumpulan data cukup baik dan dapat
diproses untuk diproses lebih lanjut, atau tinjauan yang
diperlukan untuk pengumpulan lebih lanjut. Diperlukan
pemprosesan tersedia. Editing adalah proses meninjau data
survei dan membuat penyesuaian yang diperlukan untuk
memudahkan proses pengkodean dan pengolahan data
menggunakan teknik statistik. Data penelitian yang
dikumpulkan oleh peneliti melalui metode survei atau metode
observasi harus diolah dari kesalahan, ketidaklengkapan atau
ketidakkonsistenan kuesioner yang mungkin terjadi selama
proses pengumpulan data kolektor. .. Tujuan penyusunan
Solehudin 120
data tersebut adalah untuk memastikan integritas, konsistensi,
dan konsistensi terkini dari data penelitian dalam proses
analisis (Anomim, 2022).
2. Coding dan Tranformasi Data
Dalam proses pengolahan data, pengkodean dapat
diartikan sebagai upaya untuk mengklasifikasikan data
menurut jenis dan jenisnya. Pengelompokan data catatan
lapangan ke dalam kategori tertentu sering menggunakan
simbol numerik atau huruf yang dapat dimengerti oleh
pengolah data dan pemangku kepentingan lainnya. Coding
adalah proses mengidentifikasi data penelitian dan
mengklasifikasikannya ke dalam karakter numerik atau
simbolik. Metode ini sangat diperlukan untuk data penelitian
yang diklasifikasikan. B. Jawaban atas pertanyaan tertutup yang
tidak memberikan responden pilihan selain pilihan jawaban
yang tersedia. Mengkodekan jawaban atas pertanyaan terbuka
relative sulit karena memerlukan penilaian ketika menafsirkan
jawaban responden. Tujuan pengkodean pertanyaan terbuka
adalah untuk mengurangi keragaman jawaban responden ke
beberapa kategori umum sehingga mereka dapat diberi skor
numerik. Teknik pengkodean dapat dilakukan sebelum atau
setelah survei selesai. Proses coding memudahkan dan
mengefisienkan proses memasukkan data ke komputer
(Ruchiyat, 2007).
Pengkodean data adalah pemberian kode khusus untuk
semua data, termasuk penyediaan kategori data dari jenis yang
sama. Kode adalah simbol tertentu berupa huruf atau angka
untuk memberikan ID data. Kode yang diberikan dapat
memiliki arti sebagai indikator kuantitatif (dalam bentuk skor).
Kuantifikasi atau pengubahan data menjadi data kuantitatif
dapat dilakukan dengan menskor setiap jenis data menurut
aturan skala pengukuran (Aedi, 2012).
Dilakukan untuk pertanyaan-pertanyaan: a) Tertutup,
bisa dilakukan pengkodean sebelum ke lapangan. b) Setengah
terbuka, pengkodean sebelum dan setelah dari lapangan. c)
Terbuka, pengkodean sepenuhnya dilakukan setelah selesai
dari lapangan (Setiawan, 2019). Coding merupakan kegiatan
merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk
Solehudin 121
angka/bilangan. Kegunaan dari coding adalah untuk
mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat
pada saat entry data. Misalnya untuk variabel pendidikan
dilakukan koding 1=SD, 2=SMP, 3=SMU dan 4=PT. Jenis
kelamin: 1=laki-laki dan 2=perempuan (Hastono, 2006).
3. Processing
Data diolah dengan memasukkan data survei ke dalam
paket program komputer. Ada berbagai paket perangkat lunak
yang dapat digunakan untuk pengolahan data, masing-masing
dengan kekuatan dan kelemahannya sendiri (Hastono, 2006).
Data tentang hasil evaluasi setiap variabel evaluasi pada lembar
kuesioner merupakan “kode” angka atau karakter yang
dimasukkan ke dalam program komputer atau perangkat lunak
(Rezkia, 2021). Processing merupakan jawaban dari responden
yang sudah diterjemahkan menjadi bentuk angka, kemudian
diproses supaya menjadi mudah dianalisis (Notoatmodjo,
2018).
Pengolahan adalah proses setelah semua kuesioner diisi
dengan lengkap dan benar serta jawaban responden atas
kuesioner tersebut telah dikodekan ke dalam aplikasi pengolah
data di komputernya. Ada berbagai aplikasi yang dapat
digunakan untuk pengolahan data, seperti SPSS, STATA, dan
EPI-INPO. Program yang cukup terkenal dan relatif mudah
digunakan adalah program SPSS (Statistical Package for Social
Sciences) (Masturoh and Anggita, 2018).
4. Cleaning
Bahkan jika Anda memberi label saat memasukkan data,
kesalahan mungkin terjadi. Anda perlu membersihkan data
Anda. Sebuah metode umum adalah untuk memeriksa distribusi
frekuensi variabel dan mengevaluasi logika mereka. Untuk data
kontinu (interval, rasio), Anda dapat melihat distribusi untuk
melihat apakah ada outlier (Kusumawati, 2021). Cleaning data
adalah pengecekan kembali data yang sudah dientri apakah
sudah betul atau ada kesalahan pada saat memasukan data
(Masturoh and Anggita, 2018).
Solehudin 122
Gambar 8.1 : Data Cleaning
Dari contoh distribusi frekuensi di atas, terlihat ada jenis
kelamin yang bernilai 3 dan 4, sehingga masih ada kesalahan
yang perlu untuk diperbaiki dengan melihat kembali data yang
tercatat sebelum dimasukkan ke komputer
5. Tabulasi Data
Agregasi adalah kegiatan yang menggambarkan tanggapan
responden dengan cara tertentu. Anda juga dapat menggunakan
agregat untuk membuat statistik deskriptif tentang variabel
yang telah Anda selidiki dan untuk menggabungkannya secara
silang. Agregasi adalah proses menyusun data dalam format
tabel dengan membuat tabel yang berisi data sesuai dengan
kebutuhan analisis Anda. Tabel yang dibuat harus dapat
merangkum semua data yang dianalisis (Aedi, 2012). Tabel
data membantu Anda menyajikan data sesuai dengan tujuan
penelitian Anda. Pemrosesan data dengan aplikasi pemrosesan
data mirip dengan pemrosesan data manual, kecuali Anda
menggunakan aplikasi untuk melakukan beberapa langkah.
(Masturoh and Anggita, 2018).
Contoh tabuliasi seperti gambar dibawah ini:
Solehudin 123
Gambar 8.2 : Data Tabulasi
Keterangan 2=Perempuan
Jenis kelamin: 1=Laki-laki 2=Sarjana 3=Magister
Pendidikan: 1=Diploma
8.4 Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam
format yang mudah dibaca dan diinterpretasikan. Statistik sering
digunakan dalam proses ini. Salah satu fungsi utama statistik
adalah menyederhanakan data survei yang sangat besar dan
variabelnya menjadi informasi yang lebih sederhana dan mudah
dipahami. Statistik membandingkan hasil yang diperoleh dengan
hasil yang dihasilkan secara acak. Hal ini memungkinkan peneliti
untuk menguji apakah hubungan yang diamati sebenarnya
hubungan sistematis antara variabel yang diselidiki, atau hanya
acak (Rachbini et al., 2020).
8.4.1 Pengertian Analisis Data
Menurut Stainback, Analisis data sangat penting dalam
proses penelitian kualitatif. Ini berarti mempelajari dan memahami
hubungan kekuasaan dan konsep sehingga mereka dapat
dihipotesiskan dan dievaluasi. Menurut Spradley, analisis data
dalam penelitian adalah sebuah ide. Hal ini berkaitan erat dengan
beberapa studi sistematis untuk menentukan bagian-bagian,
hubungan antar bagian, dan hubungan dengan keseluruhan.
Analisis terdiri dari mencari pola. Menurut Bogdan, teknik analisis
Solehudin 124
data adalah mencari data, mengorganisasikan data dari
wawancara, catatan lapangan, dan dokumen ke dalam kategori-
kategori, mendeskripsikannya dalam satuan-satuan,
mensintesiskannya, menempatkannya dalam pola-pola, dan
memilih mana yang akan dipilih. sistematis perakitan oleh.
menggunakan. Sangat penting untuk belajar dan menarik
kesimpulan yang dapat Anda bagikan dengan orang lain
(Universitas Medan Area, 2022). Oleh karena itu, analisis data
adalah proses penyelidikan yang dilakukan setelah pengumpulan
data melalui analisis, pengolahan, pengorganisasian, dan kompilasi.
Terakhir, ditarik kesimpulan dari keseluruhan hasil penelitian.
8.4.2 Jenis-Jenis Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian dibagi menjadi 2 (dua)
jenis yang luas (Hayati, 2022), yaitu
1. Analisis Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berkaitan dengan informasi
non numerik seperti catatan wawancara, catatan, rekaman
video dan audio, gambar, dokumen teks (Hayati, 2022). Analisis
data kualitatif adalah analisis data yang dikumpulkan sebagai
bagian dari proses pengumpulan data: catatan dan catatan,
tinjauan pustaka, wawancara, dan partisipasi. Metode analisis
data kualitatif adalah metode analisis yang berfokus pada data
kualitatif. Teknik analisis data kualitatif menganalisis atau
membahas konsep masalah dan tidak melibatkan data berupa
angka-angka (Universitas Medan Area, 2022).
a. Analisis Konten/Isi (Content Analysis)
Analisis isi berakar pada komunikasi penelitian dan dapat
menjadi salah satu metode penelitian terpenting dalam
ilmu-ilmu sosial. Analisis isi dimaksudkan untuk
menganalisis data dalam konteks tertentu tentang orang
atau karakteristik budaya mereka. Dalam analisis isi, data
biasanya dihasilkan atau diambil dari pengamat yang
merekam atau memposting materi tekstual, seperti gambar
dan suara, yang cocok untuk analisis.
b. Analisis Wacana (Discourse Analysis)
Teknik analisis wacana dalam penelitian kualitatif bertujuan
untuk menganalisis wacana atau komunikasi antara orang-
Solehudin 125
orang dalam konteks sosial tertentu. Bidang-bidang yang
dikaji dalam analisis wacana adalah bentuk-bentuk
berbicara, menulis, bahasa, dan percakapan (baik linguistik
maupun nonverbal). Analisis wacana adalah studi yang
menyelidiki atau menganalisis bahasa yang digunakan baik
dalam bentuk tertulis maupun lisan bagi pengguna sebagai
elemen masyarakat.
c. Analisis Naratif
Analisis narasi adalah bagian dari kritik sastra yang
dilakukan melalui pendekatan teks dengan menggunakan
kategori struktural cerita seperti plot, narator, karakter,
pembaca, perspektif, waktu dan tempat. Analisis berfokus
pada keseluruhan teks untuk mengungkap dunia cerita yang
disajikan oleh penulis sebagai makna yang dangkal. Teknik
analisis ini melibatkan merumuskan kembali cerita yang
disajikan oleh responden, dengan mempertimbangkan
konteks setiap kasus dan pengalaman yang berbeda dari
setiap responden. Dengan kata lain, analisis naratif
merupakan revisi data kualitatif primer oleh peneliti. Teknik
analisis data naratif dalam penelitian kualitatif bertujuan
untuk menganalisis atau menyelidiki kumpulan penjelasan
atas suatu peristiwa atau fenomena dan menyajikannya
dalam bentuk narasi atau cerita. Studi biografi adalah
contoh dari analisis naratif ini
d. Analisis Kerangka Kerja
Analisis bingkai adalah metode yang lebih maju yang terdiri
dari beberapa langkah: B. Sosialisasi, identifikasi kerangka
subjek, pengkodean, pemetaan, pemetaan, dan interpretasi.
e. Teori Beralas
Grounded theory adalah metode analisis data kualitatif yang
dimulai dengan menganalisis kasus untuk merumuskan
teori. Kemudian lihat kasus lain untuk melihat apakah
mereka berkontribusi pada teori. Grounded theory juga
dapat didefinisikan sebagai metode sistematis ilmu sosial
yang membutuhkan pembangunan teori berdasarkan
pengumpulan dan analisis data. Ini adalah metodologi
penelitian induktif, tidak seperti metode deduksi hipotetisis.
Solehudin 126
2. Analisis Data Kuantitatif
Teknik analisis data kuantitatif adalah teknik untuk mengolah
atau mengelola data numerik atau statistik. Dalam teknik
analisis data kuantitatif, data yang digunakan adalah data yang
dapat dihitung secara akurat dengan menghitung data numerik
atau rumus statistik. Data kuantitatif berupa survei, arsip data,
pemeringkatan, dan sebagainya (Universitas Medan Area,
2022).
a. Analisis Deskriptif
Ketika menggunakan analisis statistik deskriptif, peneliti
harus terlebih dahulu memperhatikan sifat data. Jika data
yang dimiliki peneliti merupakan data diskrit, maka
representasi data yang mungkin adalah mencari
pengukuran tendensi absolut, relatif, dan sentral: modus,
median, dan mean. Statistik deskriptif berfungsi untuk
mengklasifikasikan variabel data berdasarkan masing-
masing kelompok karena kepentingan awalnya yang tidak
teratur, dan dapat dengan mudah ditafsirkan oleh mereka
yang membutuhkan informasi tentang keadaan variabel
penelitian. Statistik deskriptif juga digunakan untuk
menyajikan informasi dengan cara yang dapat digunakan
oleh orang lain yang membutuhkan data yang dihasilkan
dari penelitian (Hayati, 2022).
b. Analisis Inferensial
Salah Salah satu tugas statistik inferensi adalah menarik
kesimpulan tentang variabel yang akan diselidiki
berdasarkan data yang diperoleh untuk digeneralisasikan ke
populasi. Generalisasi penelitian kuantitatif adalah cara
untuk menarik kesimpulan dari lebih banyak orang
berdasarkan data dari sejumlah kecil orang. Statistik
inferensi bertujuan untuk menetapkan sejauh mana data
survei mewakili atau mewakili populasi. Statistik inferensi
tidak dapat dilakukan pada data yang berbeda dengan
menggunakan metode dan teknik yang sama adalah:
Data nominal menggunakan analisis kategori
Data ordinal menggunakan data nonparametrik
Interval dan rasio data menggunakan parameter
Solehudin 127
DAFTAR PUSTAKA
Aedi, N. 2012. ‘Pengolahan Dan Analisis Data Hasil Penelitian’,
Fakultas Ilmu Pendidikan, (10, 27), pp. 1–30.
Anomim. 2022. Pengolahan Data. Available at:
http://toswari.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/5659
3/8+Pengolahan+dan+Analisis+Data.pdf.
Hastono, S. P. 2006. ‘Analisdata’, in, pp. 1–212.
Hayati, R. 2022. Pengertian Teknik Analisis Data, Jenis, Cara Menulis,
dan Contohnya, Penelitian Ilmiah.Com. Available at:
https://penelitianilmiah.com/teknik-analisis-data/.
Kurniasari, D. 2021. Teknik Pengoalan Data, DQLab. Available at:
https://www.dqlab.id/pengertian-teknik-pengolahan-data-
dan-macam-macam-jenisnya#:~:text=Teknik pengolahan
data merupakan proses,adalah prosedur untuk menganalisis
data.
Kusumawati, A. 2021. Manajemen Data Hasil Penelitian. Available
at:
http://andrianikusumawati.lecture.ub.ac.id/files/2014/07/
METPENSOSBIS-16.1-MANAJEMEN-DATA-HASIL-
PENELITIAN.pdf.
Masturoh, I. and Anggita, N. T. 2018. Metodologi penelitian
Kesehatan, PPSDM Kemenkes RI. Kemenkes RI. Available at:
https://www.researchgate.net/publication/269107473_Wh
at_is_governance/link/548173090cf22525dcb61443/downl
oad%0Ahttp://www.econ.upf.edu/~reynal/Civil
wars_12December2010.pdf%0Ahttps://think-
asia.org/handle/11540/8282%0Ahttps://www.jstor.org/st
able/41857625.
Notoatmodjo, S. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Rachbini, W. et al. 2020. Metode Riset Ekonomi dan Bisnis (Analisis
Regresi - SPSS & SEM - LIsrel), Journal of Chemical
Information and Modeling.
Rezkia, S. M. 2021. Metode Pengolahan Data: Tahapan Wajib yang
Dilakukan Sebelum Analisis Data, DQLab. Available at:
https://dqlab.id/metode-pengolahan-data-tahapan-wajib-
yang-dilakukan-sebelum-analisis-data.
Solehudin 128
Ruchiyat. 2007. ‘Pengumpulan & Pengolahan Data’, Pusat
Pendidikan Dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan
Keuangan Dan Pembangunan, pp. 1–39.
Setiawan, N. 2019. ‘Metodologi penelitian : pengolahan dan analisis
data’, Pengolahan dan analisis data, pp. 25–27. Available at:
https://pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2009/03/pengolahan_dan_analisis_data.p
df.
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Evaluasi: Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan Kombinasi. Bandung: Alfabeta.
Universitas Medan Area. 2022. Pengertian, Macam, dan Langkah-
langkah dari Teknik Analisis Data, Universitas Medan Area.
Available at:
https://bakai.uma.ac.id/2022/01/27/pengertian-macam-
dan-langkah-langkah-dari-teknik-analisis-data/.
Zein, S. et al. 2019. ‘Pengolahan dan Analisis Data Kuantitatif
Menggunakan Aplikasi SPSS’, Jurnal Teknologi Pendidikan
dan Pembelajaran, 4(1), pp. 1–7.
Solehudin 129
BAB 9
MENARIK KESIMPULAN
Oleh Nur Syamsi Norma Lalla
9.1 Pendahuluan
Menarik kesimpulan dalam sebuah penelitian sangat
dibutuhkan sebagai ringkasan tentang hasil dari penelitianyang
telah dilakukan. Pada bagian ini menjadi bagian yang paling singkat
dalam sebuah penelitian, namun bukan berarti menjadi bagian
yang paling mudah untuk ditulis. Kesimpulan yang dibuat harus
meninggalkan kesan yang bagus dan menarik bagi pembaca
dikarenakan bagian kesimpulan menjadi bagian yang paling diingat
dari suatu penelitian.
Kesimpulan yang kita tuliskan pada bagian terakhir suatu
penelitian menjelaskan tentang keseluruhan atau inti sari dari hasil
penelitian yang kita telah lakukan. Kebanyakan pembaca setelah
membaca judul biasanya langsung mencari kesimpulan. Karena
pada kesimpulan memuat tentang pembahasan akhir dari
penelitian diantaranya harus memuat pokok-pokok informasi yang
akan menjawab pertanyaan apa, kapan, dimana, siapa, kenapa, dan
bagaimana. Dengan kata lain bahwa kesimpulan adalah jawaban
atas tujuan yang telah ditentukan dalam pendahuluan.
9.2 Pengertian
Berikut ini merupakan pengertian dari menarik kesimpulan
menurut para pakar :
Menurut USC Libraries, menarik kesimpulan dimaksudkan
untuk membantu para pembaca dalam memahami mengapa
penelitian yang kamu lakukan penting bagi mereka calon
pembaca. Kesimpulan bukan hanya berupa ringkasan dari suatu
topik utama yang dibahas atau pernyataan ulang dari masalah
penelitian, tetapi juga merupakan sebuah sintetis dari poin-poin
utama penelitian. bagi sebagian besar penelitian di tingkat
perguruan tinggi, satu atau dua paragraf yang dikembangkan sudah
Nur Syamsi Norma Lalla 130
bisa membuatu suatu kesimpulan. meskipun pada beberapa kasus,
tiga atau lebih paragraf mungkin diperlukan dalam menarik
kesimpulan
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kesimpulan
adalah suatu keputusan yang diambil berdasarkan cara berpikir
secara deduktif dan induktif dari suatu gagasan atau
pembahasan. Secara umum pengertian kesimpulan adalah
pernyataan ringkas yang diambil dari hasil analisis, pembahasan,
atau hasil diskusi. Kesimpulan menjadi bagian terpenting dalam
suatu karya karena memuat seluruh pembahasan secara singkat,
padat, dan jelas yang menimbulkan kesan baik untuk
pembaca. Dengan adanya hal kesimpulan, pembaca akan lebih
cepat memahami secara mendalam dari apa yang ia baca yang
dapat ditemukan pada bagian akhir. (Rabbani, 2020)
Menurut Vocalubury, pengertian kesimpulan adalah suatu
bagian yang berada di akhir suatu hal, atau menjadi yang paling
akhir dari sebuah hasil. Setiap hal dapat dikategorikan menjadi
beberapa bagian tertentu, dan untuk mendapatkan pemahaman
yang lebih dalam, kita dapat memperolehnya pada bagian akhir
sebuah hal.
Merriam Webster mengartikan kesimpulan sebagai
penilaian yang masuk dalam akal pikiran seseorang. Kesimpulan ini
dibutuhkan ketika terdapat dua atau lebih preposisi yang dapat
diambil sebagai sebuah premis.
Cambridge Rindge & Latin School mendefinisikan
kesimpulan sebagai suatu paragraf yang paling terakkhir dari
sebuah makalah hasil penelitian ataupun bagian belakang dari
suatu presentasi atau makalah. Pada bagian akhirlah, seseorang
akan mendapatkan inti sari dari pembahasan yang telah
dikemukakan sebelumnya.
Kesimpulan juga bisa memiliki arti akhir dari pendapat
maksudnya adalah bahwa pendapat yang terakhir dari sebuah
uraian sebelumnya yang diperoleh melalui cara berfikir berfikir
induktif dan deduktif. Kesimpulan adalah suatu kalimat yang
disampaikan yang diambil dari beberapa ide pokok berdasarkan
aturan-aturan inferensi yang berlaku. Kesimpulan juga merupakan
gagasan pokok atau utama yang tercapai pada akhir pembahasan.
Nur Syamsi Norma Lalla 131
Dengan kata lain, kesimpulan adalah hasil dari suatu
pembahasan.(Andini, Iriansyah and Barkah, 2020)
Kesimpulan merupakan inti sari atau gagasan utama dari
suatu tulisan ataupun peristiwa yang diperoleh melalui penalaran
dari pernyataan yang diambil secara ringkas dari keseluruhan hasil
pembahasan atau analisis. (Zuwariyah, Irawan and Artikel, 2021).
Menurut (Setyowati et al., 2013) bahwa menarik kesimpulan
yang merupakan hal-hal baru, terlebih jika dilakukan pada bagian
kesimpulan. Secara umum kesimpulan terbagi atas dua yaitu
kesimpulan utama dan kesimpulan tambahan. Dimana kesimpulan
utama adalah yang langsung berhubungan dengan pokok
permasalahan suatu penelitian yang dilengkapi dengan bukti-bukti
yang nyata. Sedangkan kesimpulan tambahan tidak berkaitan
dengan kesimpulan utama, tetapi tetap memperlihatkan fakta-fakta
yang mendasari kesimpulan tersebut.
Pada sebuah penelitian kesimpulan merupakan jawaban
dari rumusan masalah dan tujuan penelitian, yang berisi
pembahasan tentang kesimpulan semata. Dan juga merupakan
intisari dari hasil penelitian atau bagian terpenting dari hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.
9.3 Syarat Kesimpulan
Menurut (Rabbani, 2020), bahwa ada tiga bagian utama dari
kesimpulan yaitu :
1. Jawaban yaitu hasil dari pernyataan penelitian atau hasil
penelitian berdasarkan tujuan
2. Ringkasan yaitu penjelasan utama atau point utama dari
hasil penelitian yang telah dilakukan.
3. Signifikansi. Yaitu kesesuaian atau relevansi dari hasil
penelitian berdasarka tujuan penelitian
Ada beberapa syarat dalam membuat kesimpulan yang baik
menurut (Rabbani, 2020) antara lain;
1. Menyajikan kata terakhir pada masalah yang anda angkat
penelitian Anda. Sama seperti pengantar memberikan kesan
pertama kepada pembaca, kesimpulannya menawarkan
Nur Syamsi Norma Lalla 132
kesempatan untuk meninggalkan kesan abadi bagi
pembacanya.
2. Menyampaikan secara ringkas tentang bagaimana
pentingnya studi yang Anda lakukan. Kesimpulan adalah
kesempatan untuk menjawab dengan ringkas atau dalam
beberapa kasus, untuk menekankan kembali pertanyaan
dengan menempatkan penelitian dalam konteks bagaimana
penelitian yang Anda lakukan dapat memajukan penelitian
terdahulu tentang topik tersebut.
3. Identifikasi bagaimana kesenjangan atau perbedaan yang
terjadi dalam literatur telah diatasi. Kesimpulan adalah di
mana Anda menggambarkan bagaimana kesenjangan yang
sebelumnya diidentifikasi dalam literatur kemudian
dijelaskan di bagian tinjauan literatur pada penelitian yang
Anda lakukan telah diisi.
4. Peragakan pentingnya ide yang Anda kemukakan.
Kesimpulan memberikan kesempatan kepada seorang
peneliti untuk menguraikan dampak dan pentingnya
temuan Anda.
5. Memperkenalkan kemungkinan cara berpikir baru tentang
masalah penelitian bukan memperkenalkan informasi baru,
tetapi dengan menawarkan wawasan atau pemikiran baru
dan pendekatan kreatif dalam membingkai atau
mengontekstualisasikan masalah penelitian berdasarkan
hasil penelitian untuk kesimpulan praktikum
9.4 Ciri Kesimpulan
Ciri-ciri sebuah kesimpulan yang baik dapat dilihat dari
kaidah kebahasaan atau penggunaan bahasa, struktur kalimat, dan
kesinambungan antar kalimatnya. Adapun uraiannya adalah
sebagai berikut:
1. Menggunakan bahasa yang sederhana, singkat, dan jelas. Hal
ini dimaksudkan agar pembaca mudah memahami apa yang
disimpulkan.
2. Pesan utama dapat disampaikan kepada pembaca.
3. Berisi intisari tulisan dalam artian bahwa kesimpulan yang
dibuat adalah inti dari permasalahan.
Nur Syamsi Norma Lalla 133
4. Dimulai dari hal khusus menjadi hal umum atau sebaliknya
(induktif atau deduktif)
5. Berisikan fakta yang jelas atau sesuai dengan kenyataan atau
sesuai dengan hasil penelitian.
6. Tidak berbelit-belit artinya kalimatnya langsung ke pokok
masalah atau ke hasil penelitian.
7. Membandingkan dua hal yang berbeda tetapi tetap
memperlihatkan kesamaan pada sisi tertentu
8. Menggunakan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar
atau sesuia dengan aturan dalam kamus bahasa Indonesia.
9.5 Metode menarik kesimpulan
Dalam menarik kesimpulan pada suatu penelitian harus
sesuai dengan urutan yang sudah tercantum dalam buku pedoman
penelitian. Karena penarikan kesimpulan merupakan dasar
seseorang dalam melanjutkan langkah berikutnya atau melajutkan
penelitian.
Ada beberapa metode yang digunakan dalam membuat
kesimpulan dari sebuat penelitian yang dibagi menjadi tiga, yaitu;
9.5.1 Metode Generalisasi
Metode Generalis merupakan langkah atau metode
pembuatan kesimpulan yang paling sering digunakan. Membuat
kesimpulan dengan menggunakan metode ini dilakukan dengan
membahas terlebih dahulu masalah-masalah umum yang
menjadi fokus penelitian kemudian ke yang lebih khusus.
Contohnya dalam hal ini adalah kesehatan ibu dan anak,
kekurangan gizi dan lain-lain.
9.5.2 Metode Analogi
Dalam menyusun kalimat dalam sebuah kesimpulan
penelitian ilmiah dengan menggunakan metode analogy, dilakukan
dengan menyusun kalimat yang dianalogikan antar materi
pembahasan dan pendahuluan dalam karya ilmiah. Menurut (Ii,
2008) metode analigi yaitu menarik kesimpulan dengan cara
membandingkan satu situasi dengan sutuasi yang lain. Dalam
analogy yang dicari adalah kemiripan antara beberapa hal yang
berbeda kemudian menarik kesimpulan.
Nur Syamsi Norma Lalla 134
9.5.3 Metode Korelasi
Metode korelasi yaitu suatu cara menyusun kalimat
kesimpulan pada karya ilmiah dengan mencari titik fokus antara
hasil penelitian dan pendahuluan dilakukan berupa gambaran
singkat mengenai hubungan sebab akibat dalam mencari hubungan
tersebut. Contohnya dalam kasus kesehatan pembahasan mengenai
Kesehatan Lanjut Usia akan berdampak pada tingginya angka
harapan hidup, dan sebagainya.
9.6 Jenis Menarik kesimpulan
Berikut ini ada beberapa jenis dalam menarik kesimpulan
pada sebuah penelitian, antara lain;
9.6.1 Perbandingan (Comparison)
Jenis kesimpulan ini dilakukan dengan membandingkan dua
elemen antara satu elemen dengan elemen lain atau
membandingkan satu elemen dengan elemen itu sendiri.
Contohnya saja terkait kejelasan bahwa pemerintah tahun ini lebih
kuat dari pemerintah tahun lalu; Jelas bahwa pemerintah tahun ini
memahami keinginan masyarakat lebih baik daripada yang
dilakukan pemetintah setahun yang lalu.
Indikator umum kata perbandingan yaitu dengan
menggunakan kalimat seperti (lebih baik daripada, lebih sehat
daripada, lebih berguna daripada). Kalimat-kalimat ini dapat
membantu dalam mengidentifikasi kesimpulan sebagai
perbandingan.
9.6.2 Sebab-Akibat (Causation)
Hubungan sebab akibat yaitu ketika suatu peristiwa,
tindakan atau fenomena yang secara langsung mempengaruhi yang
lain atau keadaan. Contohnya: Tadi malam, saya minum obat batuk
dan hari ini saya merasa jauh lebih baik. Sehingga obat batuk
benar-benar efektif. (Penyebab: obat batuk; efek: merasa lebih
baik).
9.6.3 Penilaian (Assessments)
Penilaian merupakan jenis menarik kesimpulan dimulai
pada saat seorang arguer memberikan atribut subyektif tertentu
Nur Syamsi Norma Lalla 135
untuk sesuatu. Contohnya: Bunganya indah; Kebijakan ini sangat
membantu; Hasilnya akan menjadi penting. Catatan: Fakta-fakta
ilmiah bukanlah penilaian “Matahari terdiri dari beberapa gas”
adalah fakta”; Matahari adalah pemandangan yang menyenangkan”
adalah penilaian.
9.6.4 Rekomendasi (Recommendation)
Jenis kesimpulan ini menegaskan metode atau tindakan
yang terbaik atau, dalam bentuk negatifnya, merekomendasikan
terhadap metode atau tindakan tertentu). Contohnya: Dalam
mengobati penyakit ini, maka, dokter harus mendukung
pengobatan X. Indikator umum kata kunci seperti “harus” akan
memberi sinyal rekomendasi kepada Anda, tetapi kadang-kadang
rekomendasi tersirat.
9.6.5 Prediksi (Prediction)
Sebuah prediksi menegaskan pendapat seseorang tentang
sesuatu hal atau peristiwa yang akan terjadi dalam waktu singkat
atau lama.
9.6.6 Keyakinan Sederhana (Simple Beliefs)
Jenis kesimpulan ini mungkin akan merubah pemikiran
seseorang dalam artian menyesatkan, karena seseorang bisa
mengatakan bahwa semua kesimpulan hanyalah semacam
keyakinan sederhana. Contohnya: Jelas bahwa mahasiswa tersebut
tidur pada saat perkuliahan berlangsung; Penjahat itu mungkin
masih berkeliaran di suatu tempat.
9.7 Cara membuat kesimpulan yang baik dan benar
Menurut Tjipto Sumadi dkk (2020), mengatakan bahwa ada
beberapa cara yang perlu diperhatikan agar kesimpulan memenuhi
standar, yaitu:
1. Tidak Mengulang Kata
Jadi dalam membuat kesimpulan jangan menyimpang
dari isi pembahasan. Selain itu sebaiknya tidak mengulang kata
sama persis dengan apa yang telah dituliskan dalam
pembahasan sebelumnya.
Nur Syamsi Norma Lalla 136
2. Deduksi
Menulis kesimpulan dapat dilakukan dengan cara
deduksi. Dimana deduksi merupakan suatu pengambilan
kesimpulan dari uraian yang diungkapkan sebelumnya. Penulis
mula-mula menguraikan garis besar permasalahan, kemudian
meringkasan segala sesuatu yang telah diuraikan. Selanjutnya
penulis harus menghubungkan setiap kelompok data dengan
permasalahan untuk sampai pada kesimpulan tertentu.
Langkah berikutnya yaitu dengan menjelaskan arti dan akibat-
akibat tertentu dari kesimpulan-kesimpulan itu secara teoritik
maupun praktis sebagai penguat dari apa yang dikemukakan.
3. Menulis Opini
Dalam kesimpulan cantumkan atau tuliskan juga opini
pribadi terkait apa yang telah dibahas dalam karya tulis ilmiah
yang telah dilakukan. Perlu diingat bahwa isi dari kesimpulan
harus berupa analisis dari kajian pustaka dan juga interpretasi
dari judul penelitian. Dapat juga berupa implikasi atau
kesimpulan berdasarkan pada data dan berupa inferensi atau
kesimpulan berdasar pada referensi.
4. Keterbatasan Penelitian
Dalam kesimpulan dituliskan juga tentang keterbatasan
dari peneliti dalam melakukan penelitian tersebut.
Keterbatasan hendaknya dikaitkan dengan proses penelitian
yang dilakukan, misalnya tentang teori yang digunakan,
metode penelitian yang diaplikasikan, waktu yang dibutuhkan
dalam menyelesaikan penelitian atau hal-hal lain yang terkait
dengan hasil penelitian.
9.8 Hal-hal yang Harus dihindari dalam membuat
kesimpulan
Dalam membuat kesimpulan ada beberapa hal yang harus
dihindari, menurut (Caufield,J.2020) antara lain:
1. Usahakan tidak menggunakan awalan “sebagai penutup”
karena dinilai penjelasan yang disampaikan kurang natural
sehingga kesimpulan yang dibuat kurang bagus.
2. Hindari menggunakan kalimat “menurut pendapat saya”
atau “menurut pandangan saya”. Hal ini harus dihindari
Nur Syamsi Norma Lalla 137
karena kalimat ini menunjukkan keragu-raguan dan
bahasanya kurang formal serta tidak sesuai dengan kaidah
penulisan karya ilmiah.
9.9 Penutup
Demikian penjelasan mengenai menarik kesimpulan, mulai
dari pengertian, syarat, ciri, metode, jenis, cara menulis dan contoh-
contoh penulisan dalam karya tulis ilmiahatau penelitian. Semoga
memberi wawasan yang bermanfaat bagi pembaca dalam membuat
kesimpulan untuk melengkapi bagian terpenting dari sebuah
penelitian atau karya tulis yang dibuat.
Nur Syamsi Norma Lalla 138
DAFTAR PUSTAKA
Andini, F., Iriansyah, H. S. and Barkah, A. S. 2020. ‘Upaya
Meningkatkan Kemampuan Menarik Kesimpulan
Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Materi Teks Tanggung
Jawab Warga Negara melalui Metode Mind Mapping’,
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma
Negara II, pp. 45–50.
Caufield,J. 2020. How to write a research paper conclusion. diakses
pada 27 Juni 2022, dari scribbr.com.
Ii, B. A. B. 2008. ‘Analisis Kemampuan Penalaran..., Galih Widya
Pamungkas, FKIP UMP, 2015’, pp. 6–17.
Rabbani, A. 2020. ‘Pengertian, Kesimpulan Penelitian, Syarat, Ciri,
Jenis Dan Caranya’.
Setyowati, D. E. et al. 2013. ‘KESIMPULAN , SARAN Dan ABSTRAK’,
Akademia.Com, pp. 1–5.
Zuwariyah, S., Irawan, E. and Artikel, I. 2021. ‘Jurnal Tadris IPA
Indonesia’, Pengaruh Model Sains Teknologi Masyarakat dan
Pendekatan ESD dalam Meningkatkan Kepedulian
Lingkungan, 1(1), pp. 68–72.
Nur Syamsi Norma Lalla 139
BIODATA PENULIS
Dr. Ira Kusumawaty, S.Kp., M.Kes., MPH
Penulis kelahiran Surabaya ini menekuni bidang
keperawatan jiwa, psikologi dan komunikasi. Pendidikan yang
telah diikuti mulai dari sarjana keperawatan dan magister
kesehatan di Universitas Indonesia, Master of Public Health di
Koninklijk Instituut voor de Tropen di Amsterdam dan Pendidikan
doktoral Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas
Gadjah Mada. Berbagai kegiatan penelitian, pengabdian kepada
masyarakat, mempublikasikan karya ilmiah dan kegiatan
organisasi profesi telah memberikan banyak pengalaman yang
semakin memperkokoh dan menguatkan akar keilmuan yang
digelutinya. Mengikuti pertemuan ilmiah tingkat nasional maupun
internasional telah memperluas wawasan dan perspektif terhadap
dunia kesehatan khususnya keperawatan kesehatan jiwa maupun
psikologi. Perspektif luar biasa dalam memandang manusia sebagai
mahluk ciptaan Allah yang harus dihormati, dihargai dan
dijunjungtinggi harkat dan martabatnya, mengarahkan pola pikir
dan interaksi terhadap sosok manusia. Ketertarikan penulis untuk
memahami keunikan mind, body and soul menjadi dimensi yang
sangat penting sebagai fondasi pengembangan interaksi yang
terapeutik. Torehan pemikiran maupun cuplikan kata sederhana
dalam buku ini, memberikan bukti kecintaannya untuk selalu
mengembangkan diri dalam dunia kesehatan dan keperawatan.
Email: [email protected]
140