HUBUNGAN SELF CARE TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KARYA TULIS ILMIAH LITERATURE REVIEW MAULIDYAH IZHA ARROHMA P17230194107 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2022
KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN SELF CARE TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG LITERATURE REVIEW MAULIDYAH IZHA ARROHMA P17230194107 POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2022
HUBUNGAN SELF CARE TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG Karya Tulis Ilmiah Ini Disusun Sebagai SalahSatu Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan pada Program Studi Diploma 3Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang MAULIDYAH IZHA ARROHMA P17230194107 POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2022
iii LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Maulidyah Izha Arrohma NIM : P17230194107 Institusi : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang Program Studi D3Keperawatan Blitar Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan penelitian ini hasil pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Blitar, 5 Juli 2022 Mahasiswa Maulidyah Izha Arrohma NIM.P17230194107 Mengetahui, Pembimbing Ns.M.Miftachul Ulum, S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes NIP. 19680312 198803 1 001
iv LEMBAR PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah Literature Review dengan Judul “Hubungan Self care Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung” oleh Maulidyah Izha Arrohma NIM P17230194107 telah diperiksa dan disetujui untuk diseminarkan Blitar, 5 Juli 2022 Pembimbing Ns.M.Miftachul Ulum, S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes NIP. 19680312 198803 1 001
v LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah Literature Review dengan Judul “Hubungan Self Care Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung” oleh Maulidyah Izha Arrohma NIM P17230194107 telah diseminarkan di depan dewan penguji pada tanggal 8 Juli 2022. Dewan Penguji, Ketua Penguji Mujito, A.Per.Pen., M.Kes. NIP. 196407071986031003 Anggota Penguji Ns.M.Miftachul Ulum, S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes NIP. 196803121988031001 Mengetahui, Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Imam Subekti, S.Kp, M.Kep, Sp.Kom NIP. 19651205 198912 1 001
vi KATA PENGANTAR Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan Karya Tulis Ilmiah Literature Review dengan judul “Hubungan Self Care Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi D-III Keperawatan Blitar Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan pengarahan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Budi Susatia S.Kp., M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang. 2. Bapak Imam Subekti S.Kp., M.Kep., Sp.Kom., selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang. 3. Ibu Dr. Sri Mugianti Ns., M.Kep., selaku Ketua Program Studi Diploma III Keperawatan Blitar Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang 4. Bapak Mujito, A.Per.Pen., M.Kes., selaku Dosen Penguji yang berkenan memberikan saran dan dukungan kepada penulis dalam memperbaiki penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. 5. Bapak Ns. M.Miftachul Ulum, S.ST, S.Sos., S.Kep., M.Kes selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah Literature Review ini. 6. Seluruh dosen dan staf pegawai Program Studi DIII Keperawatan Blitar yang telah memberikan ilmu dan bantuannya. 7. Keluarga yang selalu memberikan doa, semangat dan dukunganya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah Literature Review ini. 8. Teman-teman seperjuangan Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Prodi DIII Keperawatan Blitar Angkatan 21 yang saling memberikan dorongan semangat untuk berjuang.
vii 9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis menyadari didalam penyusunan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah Literature Reviewini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan dan saran yang bersifat membangun. Harapan penulis, semoga Karya Tulis Ilmiah Literature Reviewini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Blitar, 5 Juli 2022 Maulidyah Izha Arrohma NIM. P17230194107
viii ABSTRAK Arrohma, Maulidyah Izha (2022). Hubungan Self Care Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung.Studi Review Pustaka. Program Studi D3 Keperawatan Blitar, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing Ns. M.Miftachul Ulum, S.ST, S.Sos., S.Kep., M.Kes. Gagal jantung merupakan penyakit yang menimbulkan gejala fisik maupun psikologis sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup pada penderitanya. Seiring dengan terus meningkatnya insiden dan prevalensi penyakit gagal jantung, self care memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas hidup pada pasien gagal jantung. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan self care terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien gagal jantung. Metode penelitian literature review dengan menggunakan database Google Scholar. Desain artikelyang direview menggunakan Cross Sectional Study Design.Didapatkan 5 artikel untuk dianalisis dengan memperhatikan kriteria inklusi.Berdasarkan 5 artikel yang telah dianalisis, menunjukkan bahwa tingginya kemampuan self care dapat meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung sehingga didapatkan bahwa ada hubungan self care terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien gagal jantung. Self care sangat perlu dilakukan, karena kemampuan self care yang baik dapat membuat kualitas hidup meningkat. Tenaga kesehatan diharapkan mampu menjelaskan kepada klien tentang pentingnya meningkatkan kemampuan self care pada pasien gagal jantung. Kata Kunci : Self care, Kualitas Hidup, Gagal Jantung
ix ABSTRACT Arrohma, Maulidyah Izha (2022). Relationship of Self Care to Improved Quality of Life in Heart Failure Patients.Literature Review Studies.Blitar Nursing D3 Study Program, Department of Nursing, Health Polytechnic of the Ministry of Health Malang.Advisor Ns. M. Miftachul Ulum, S. ST, S. Sos., S. Kep., M. Kes. Heart failure is a disease that causes physical and psychological symptoms that can affect the quality of life of the sufferer. Along with the increasing incidence and prevalence of heart failure, self care has an important role to improve the quality of life in heart failure patients. The purpose of this study was to determine the relationship between self care and improvement of quality of life in heart failure patients. Literature review research method using the Google Scholar. The design of the reviewed articles uses a Cross Sectional Study Design. There were 5 articles to be analyzed by taking into account the inclusion criteria. Based on 5 articles that have been analyzed, it shows that high self-care can improve the quality of life of heart failure patients so that it is found that there is a relationship between self-care and improving the quality of life in heart failure patients. Self care really needs to be done, because good self -care skills can improve the quality of life. Health workers are expected to be able to explain to clients about the importance of improving self-care in heart failure patients. Keywords: Self care, Quality of Life, Heart Failure
x DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL .............................................................................................. i LEMBAR HALAMAN JUDUL......................................................................... ii LEMBAR KEASLIAN TULISAN..................................................................... iii LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................ iv LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ v KATA PENGANTAR ........................................................................................ vi ABTRAK ............................................................................................................ viii ABSTRACT........................................................................................................ ix DAFTAR ISI....................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 3 1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 3 1.3.1 Tujuan Umum..................................................................................... 3 1.3.2 Tujuan Khusus.................................................................................... 3 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 3 1.4.1 Manfaat Teoritis ................................................................................. 3 1.4.2 Manfaat Praktis................................................................................... 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Selfcare ............................................................................................ 5 2.1.1 Pengertian Selfcare ............................................................................. 5 2.1.2 Teori Self Care Dorothea Orem…………………………………….. 6 2.1.3 Dimensi Selfcare................................................................................. 7 2.1.4 Faktor Prediktor Self Care Gagal jantung .......................................... 9 2.2 Konsep Kualitas Hidup ................................................................................. 10 2.2.1 Definisi Kualitas hidup....................................................................... 10 2.2.2Pengukuran Kualitas Hidup Gagal Jantung......................................... 10 2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Gagal Jantung .............. 11
xi 2.3 Konsep Gagal Jantung................................................................................... 14 2.3.1 Pengertian Gagal Jantung ................................................................... 14 2.3.2 Etiologi Gagal Jantung ....................................................................... 15 2.3.3 Klasifikasi Gagal Jantung................................................................... 16 2.3.4 Patofisiologi Gagal jantung ................................................................ 17 2.3.5 Manifestasi Klinis Gagal Jantung....................................................... 18 2.3.6 Pemeriksaan Penunjang Gagal Jantung.............................................. 19 2.3.7 Penatalaksanaan Gagal Jantung.......................................................... 20 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Studi Literatur ................................................................................... 25 3.2 Langkah langkah Penulisan Literatur............................................................ 24 3.2.1 Topik Literatur.................................................................................... 24 3.2.2 Rumusan PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design).... 24 3.2.3 Kata Kunci.......................................................................................... 25 3.2.4Mencari Literature Database ............................................................... 25 3.2.5Hasil Pencarian Literatur..................................................................... 26 3.2.6 Kriteria Inklusi dan Eklusi.................................................................. 27 3.2.7 Seleksi Studi Dan Penilaian Kualitas ................................................. 27 3.3Melakukan Riview ......................................................................................... 28 3.4Penyajian Hasil Literatur Review .................................................................. 28 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Studi ........................................................................................ 30 4.2 Karakteristik Responden ............................................................................... 30 4.3 Pembahasan................................................................................................... 35 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ................................................................................................... 38 5.2 Saran ............................................................................................................. 38 5.2.1 Bagi Responden / Masyarakat ............................................................ 38 5.2.2 Bagi Tenaga Kesehatan ...................................................................... 38 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 39
xii DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Rumusan PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design).... 24 Tabel 3.2 Kata Kunci.......................................................................................... 25 Tabel 3.3 Rencana penyajian data ...................................................................... 29 Tabel 4.1 Data Hasil Literature Review ............................................................. 31
xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran1. Lembar Konsultasi...........................................................................42 Lampiran 2. Daftar Riwayat Hidup.....................................................................44
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gagal jantung merupakansuatu kondisi saat jantung tidak mampu memompakan darah yang adekuat untuk pemenuhan kebutuhan jaringan oksigen dan nutrisi (Kasron 2012). Gagal jantung merupakan penyakit yang terus meningkat akan angka insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung ringan berkisar antara 5-10 % pertahunnya dan akan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, gagal jantung juga merupakan penyakit yang sering menimbulkan terjadinya rehospitalisasi (Fitriyan, Djamaludin, and Chrisanto 2021). Laporan Heart Disease and Stroke Statictics 2019 memprediksi pada tahun 2030 jumlah penderita gagal jantung akan meningkat sampai 46% dengan angka kematian lebih dari 8 juta orang (Permana, Arief, and Bakar 2020). Menurut data World Health Organization(WHO) menyatakan bahwa prevalensi gagal jantung pada tahun 2013 kurang lebih sebanyak 550.000 kasus pertahun di Amerika Serikat. Data American Heart Association (AHA) menunjukkan sebanyak 375.000 orang pertahun di Amerika Serikat meninggal dunia akibat penyakit gagal jantung.Di Indonesiapada tahun 2018 menunjukkan data bahwa penyakit gagal jantung masuk 10 penyakit tidak menular yang diperkirakan penderitanya sebanyak 229,696 (0,13%) orang (Nursita and Pratiwi 2020). Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit jantung baik berupa gejala fisik seperti dyspnea, lelah, edema, kehilangan nafsu makan maupun gejala psikologis
2 seperti kecemasan dan depresi dapat mempengaruhi kualitas hidup (Utomo, Ratnasari, and Andrian 2019). Kualitas hidup merupakan suatu kapasitas untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan usia seseorang atau peran utamanya di masyarakat. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa selain perubahan frekuensi dan derajat keparahan penyakit, pengukuran kualitas hidup juga dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur pengukuran kesehatan dan keberhasilan terapi (Izzuddin et al. 2020). Menurut Permana et al(2020) self care pada pasien gagal jantung memiliki peran penting dalam membantu pasiengagal jantung untuk mempertahankan kesehatannya. Self care gagal jantung didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan yang mencakup perilaku pasien untuk menjaga stabilitas fisiologis gagal jantung, pemantauan gejala dan kepatuhan terhadap pengobatan gagal jantung(Cocchieri et al. 2015).Self care merupakan faktor utama dalam keberhasilan manajemen terapi dan terbukti mampu mencegah kejadian rehospitalisasi sebesar 50%(Permana et al. 2020). Penelitian yang dilakukan Britz dan Dunn (2010) dalamWahyuni et al. (2014)menunjukkan bahwa terdapat pasien gagal jantung yang menyatakan bahwa mereka belum melaksanakan self care secara tepat.Ketidakmampuan melakukan self care ini mengakibatkan gejala yang dirasakan akansemakin berat sehinggamenyebabkan pasien mengalami penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu upaya yang dilakukan untuk menekan timbulnya gejala penyakit yang buruk serta menghindari rehospitalisasi yaitu dengan meningkatkan kemampuan self care bagi pasien gagal jantung.
3 Berdasarkan fenomena yang terjadi yaitu penurunan kualitas hidup yang dipengaruhi oleh kurangnya perawatan diri pada pasien gagal jantung sehingga peneliti ingin melakukan literature review mengenai “Hubungan Self Care Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini diarahkan untuk menjawab permasalahan Adakah hubungan selfcare terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien gagal jantung? 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan selfcare terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien gagal jantung. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi self care pada pasien gagal jantung. b. Mengidentifikasi kualitas hidup pada pasien gagal jantung. c. Menganalisis hubungan selfcare terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien gagal jantung. 1.4 Manfaat 1.4.1 Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan antara lain sebagai berikut :
4 a. Bahan menyusun book chapter b. Bahan pustaka menyusun buku ajar c. Bahan dasar penelitian 1.4.2 Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan data informasi bagi tenaga kesehatan untuk menyusun program edukasi pada klien dan sebagai motivasi untuk melakukan self care bagi pasien gagal jantung.
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Self Care 2.1.1 Pengertian Self Care Menurut World Health Organization (2013)self caremerupakan kemampuan individu, keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan, menjaga kesehatan, mencegah dan mengatasi penyakit serta kecacatan dengan atau tanpa dukungan dari penyedia layanan kesehatan. Self care gagal jantung diartikan sebagai proses pengambilan keputusan yang mencakup perilaku pasien untuk menjaga stabilitas fisiologis gagal jantung, pemantauan gejala dan kepatuhan terhadap pengobatan gagal jantung(Cocchieri et al. 2015).Self caregagal jantungmelibatkan adaptasi perilaku seperti mempelajari cara memantau, mengelola gejala dan rejimen medis yang kompleks. Pasien juga perlu menghindari atau berhenti merokok, berolahraga, membatasi asupan natrium, kolesterol, dan cairan (Toukhsati, Driscoll, and Hare 2015). MenurutWahyuni et al (2014)self care sangat penting bagi pasien gagal jantung, terbukti secara signifikan bahwa pasien gagal jantung dapat meningkatkan pengetahuan terkait gejala dan tanda penyakitnya. Kemampuan self care pasien gagal jantung akan berdampak pada perubahan gaya hidup sehingga dapat memengaruhi kualitas hidup pasien itu sendiri. Hal itu dikarenakan perubahan fisiologis dan kondisi kronis terhadap kesehatan sangat berpengaruh terhadap perubahan kualitas hidup seseorang.
6 2.1.2 Teori Self Care Dorothea Orem Menurut Dorothea Orem konsep self care adalah kemampuan seseorang untuk merawat dirinya sendiri secara mandiri sehingga dapat mencapai kemampuan untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraannya (Muhlisin et al. 2017).Orem mengklasifikasikan nursing system menjadi tiga yaitu: a. Wholly Compensatory System Suatu kondisi dimana klien tidak dapat melakukan self care, menerima self care secara langsung, pengontrolan ambulasi, serta adanya alasan-alasan medis tertentu. Tindakan perawat yang dilakukan yaitu menyelesaikan terapeutik self care klien, kompensasi ketidakmampuan klien untuk self care, mendukung dan melindungi klien(Muhlisin et al. 2017). b. Partly Compensatory Nursing System Suatu kondisi dimana perawat dan klien melakukan tindakan keperawatan serta berperan untuk mengukur kemampuan klien dalam melakukan self care. Tindakan perawat yang dilakukan antara lain yaitu menjalankan beberapa kegiatan self care, kompensasi keterbatasan klien untuk self care, dan membantu klien sesuai kebutuhan. Tindakan klien yang dilakukan antara lain yaitu menjalankan self care measure, mengatur kemampuan self care, menerima asuhan dan bantuan perawat(Muhlisin et al. 2017). c. Supportive Educative System Pada sistem ini klien dapat membentuk self care secara internal atau external tetapi tidak dapat melakukannya tanpa bantuan.Sistem ini juga dikenal dengan supportive- developmental system. Tindakan pasien yang
7 dilakukan antara lain yaitu melakukan/menyelesaikan self care, mengatur latihan dan perkembangan kemampuan self care(Muhlisin et al. 2017). 2.1.3 Dimensi Self Care Menurut Riegel (2009) dalam Ayu Agung Laksmi (2020)self care dapat dilihat dari 3 dimensi yaitu dimensi pemeliharaan diri (self care maintenance), pengelolaan diri (self care management) dan kepercayaan diri (self care confidence). a. Self Care Maintenance Self Care Maintenance atau pemeliharaan diri merupakan dimensi yang menilai kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan gaya hidup sehat(Prihatiningsih and Sudyasih 2018). Menurut Afitasari & Kristinawat (2020) hal yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu : 1) Memantau berat badan. 2) Memeriksa edema pada pergelangan kaki. 3) Melakukan aktivitas fisik. 4) Melakukan kontrol dengan dokter atau perawat secara rutin. 5) Makan makanan rendah garam. 6) Melakukan olahraga selama 30 menit. 7) Minum obat secara rutin. b. Self Care Management Dimensi ini melihat kemampuan pasien dalam mendeteksi gejala beserta interpretasi hasilnya. Dari hasil interpretasi tersebut, pasien akan membuat keputusan untuk menangani gejala, melakukan stategi pengobatan,
8 dan melakukan evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan(Prihatiningsih and Sudyasih 2018). Menurut Afitasari & Kristinawat (2020) hal yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu : 1) Kecepatan dalam menyadari gejala gagal jantung. 2) Membatasi garam dalam makanan yang dikonsumsi. 3) Mengurangi konsumsi cairan. 4) Mengkonsumsi diuretik tambahan. 5) Menghubungi dokter atau perawat sebagai panduan. c. Self Care Confidence Self Care Confidence atau dimensi kepercayaan diri adalah dimensi yang menilai respon pasien terhadap gejala yang terjadi(Prihatiningsih and Sudyasih 2018). Dimensi inidapat mengatasi kepercayaan diri pasien sehingga dimensi ini merupakan faktor penting dalam meningkatkan perawatan diri pada pasien gagal jantung (Jaarsma et al. 2017). Menurut Prihatiningsih & Sudyasih (2018) hal yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu: 1) Mengikuti petunjuk pengobatan yang diberikan. 2) Menilai seberapa baiknya obat bekerja. 3) Membuat diri terhindar dari gejala gejala gagal jantung. 4) Mengevaluasi pentingnya gejala gejala gagal jantung yang ada pada diri sendiri. 5) Mengenali perubahan-perubahan pada kesehatan ketika perubahan tersebut terjadi. 6) Melakukan sesuatu yang mengurangi gejala-gejala gagal jantung.
9 2.1.4 Faktor Prediktor Self Care Gagal Jantung Faktor predictor self care pada pasien gagal jantung yaitu : a. Usia Hubunganself care terhadap usia dalam penelitian Attaallah (2016) menyatakan bahwa self care pada pasien gagal jantunglebih sulit untuk usia yang lebih tua daripada untuk usia yang lebih mudakhususnya dalam hal mengenali dan menanggapi gejala. Hal ini disebabkan faktor yang berkaitan dengan usia seperti gangguan pendengaran, visual, dan kognitif. b. Jenis Kelamin Menurut penelitian yang dilakukan Kamrani (2014) rata rata skor perawatan diri pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Hal ini mungkin dikarenakan pada perempuan lebih banyak kegiatan rumah tanggadan kurang kesempatan untuk melakukan perawatan diri yang tepat. c. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan sangat dibutuhkan untuk mencapai perawatan diri yang efektif. Hal ini ditunjukkan dari beberapa penelitianbahwa terdapat perbaikan yang signifikan terhadap perawatan diri, kualitas hidup dan pengobatan pada pasien gagal jantung setelah mendapatkan edukasi dibandingkan pasien gagal jantung yang tidak mendapatkan edukasi(Basuki Rachmat 2021). d. Faktor Psikologis MenurutBasuki Rachmat (2021)terdapat faktor psikologis yang dapat mempengaruhiperawatan diri berupa nilai dan kepercayaan diri terhadap kesehatan dan penyakit. Persepsi pasien terhadap kesehatan dan
10 penyakitnyaakan memicu mekanisme koping pasienyang dapat mempengaruhi perilakunya sehingga akan memunculkan outcome berdasarkan koping yang dilakukan. 2.2 Konsep Kualitas Hidup 2.2.1 Definisi Kualitas Hidup Kualitas hidup merupakan suatu kapasitas untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan usia seseorang atau peran utamanya di masyarakat. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa selain perubahan frekuensi dan derajat keparahan penyakit, pengukuran kualitas hidup juga dapat dijadikansebagai salah satu tolak ukur pengukuran kesehatan dan keberhasilan terapi(Izzuddin et al. 2020).Menurut Lewis (2017)kualitas hidup gagal jantung adalah target utama terapi dalam pengelolaan pasien dengan gagal jantung. Persepsi kualitas hidup gagal jantung adalah prediksi risiko masa depan untuk morbiditas dan mortalitas serta memperpanjang hidupbagi pasien gagal jantung. 2.2.2 Pengukuran Kualitas Hidup Gagal Jantung Menurut Izzuddin(2020) kualitas hidup gagal jantung dapat diukur dengan beberapa instrumen pengukuran kualitas hidup yaitu : a. Minnesota Live withHealth Failure Questionnaire (MLHFQ) Rector & Cohn, (1992) dalam Izzuddin (2020)menyatakan bahwa kuesioner Minnesota Live with Health Failure Questionnaire (MLHFQ) merupakan kuesioner yang dikembangkan oleh Thomas Rector, dkk pada tahun 1986 untuk menilai kualitas hidup pada pasien penderita gagal jantung. Kuesioner ini terdiri dari 2 dimensi, yaitu dimensi fisik dan emosional yang
11 dirancang untuk menggambarkan 2 aspek dalam kualitas hidup. Kuesioner ini terdiri dari 21 indikator yang dirasakan oleh pasien dalam satu bulan terakhir. Penilaian dari masing-masing indikator tersebut dari skor 0 (tidak setuju), sampai 5 (sangat setuju). b. Kuesioner Short Form 36 (SF-36) Dunderdale (2005) dalam Izzuddin (2020)mengutarakan bahwa kuesioner Short Form 36 (SF-36)merupakan kuesioner yang dikembangkan untuk menilai kualitas hidup pasien gagal jantungoleh Medical Outcome Study pada tahun 1990. Kuesioner ini mengukur 2 dimensi, yaitu kesehatan fisik dan psikis yang dirancang untuk menilai status kesehatan umum secara singkat dan komprehensif. c. World HealthOrganization Quality of Life (WHOQOL) WHO memperkenalkan Kuesioner World HealthOrganization Quality of Life (WHOQOL) pada tahun 1997 yang disusun untuk mengukur kualitas hidup yang terbagi ke dalam 6 dimensi yaitu kesehatan fisik, mental, tingkat kemandirian, hubungan sosial, lingkungan, dan spiritual. Kuesioner ini memiliki 2 instrumen penelitian, yaitu WHOQOL-100 dan WHOQOL-BREF (Izzuddin et al. 2020). 2.2.3 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Gagal Jantung Faktor faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup gagal jantung antara lain : a. Usia Menurut penelitian Akhmad(2018)menyatakan bahwa usia memiliki hubungan dengan kualitas hidup. Hal tersebut sesuai dengan teori yang
12 mengatakan bahwa fungsi jantung akan berubahbersamaan denganpertambahan usia. Pada lansia berusia 40 tahun keatas yang tidak aktif, jantung kirinya mengalami pengecilan yang mana sebagai respon terhadap rendahnya beban kerja yang dibutuhkan. b. Jenis Kelamin Terdapat beberapa penelitianyang menemukan keterkaitan signifikan antara jenis kelamin dan kualitas hidup pada pasien gagal jantung, dimana kualitas hidup pada wanita lebih buruk dibandingkan pada pria. Hal ini dikarenakan pria lebih memprioritaskan kemampuan fisik, penyakit, dan gaya hidupnya sementara wanita cenderung menganggap penting faktor emosional. Kualitas hidup pasien gagal jantung wanita yang rendah juga dapat disebabkan karena secara fisik dan mental wanita lebih lemah daripada lakilaki. Selain itu, tingkat depresi pria cenderung lebih rendah daripada wanita(Izzuddin et al. 2020). c. Tingkat Pendidikan Menurut Pudiarifanti et al(2015)pasien dengan berpendidikan rendah memiliki kualitas hidup gagal jantung yang lebih buruk dibandingkanpasien dengan pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran akan pelayanan kesehatan, kepatuhan terhadap pengobatan, dan menjaga pola hidup sehat. Selain itu, pasien yang berpendidikan tinggi dapat mengendalikan faktor risiko yang mereka miliki dengan baik serta memiliki kemampuan lebih untuk dapat kembali bekerja. Kemampuan untuk bekerja akan mengarah pada statusekonomi yang lebih baik,
13 sehinggadapatmempengaruhi kepatuhan pasien serta kualitas hidup gagal jantung mereka. d. Pekerjaan Pasien yang bekerja menunjukkan bahwa mereka memiliki kualitas hidup yang lebih baik dikarenakan kecemasan, tekanan, dan stress dapat berkurang. Pekerjaan juga memiliki pengaruh yang positif terhadap finansial, aktivitas fisik, dan hubungan sosial pasien. Dengan berkomunikasi dan berhubungan sosial, beban mental yang dimiliki pasien dapat berkurang. Meskipun demikian, suatu penelitianmenyatakan bahwa aktivitas fisik yang berlebihan dalam bekerja dapat mengurangi kualitas hidup pasien(Izzuddin et al. 2020). e. Tingkat Kepatuhan Pada penelitian Pudiarifanti et al (2015)terdapat keterkaitan antara tingkatkepatuhan terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung. Pasien yang memiliki tingkat kepatuhan kurang baik memiliki nilai kualitas hidup gagal jantung yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang yang memiliki tingkat kepatuhan sedang maupun baik. Hal ini dipengaruhi oleh sikap dan perilaku pasien dalam menjalankan terapi sertafaktor kesejahteraan psikososial. f. Klasifikasi Derajat NYHA Gejala gagal jantung dapat mempengaruhi kemampuan dan fungsi pasien sehingga akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Akhmad(2018)yang menyatakan secara
14 signifikan bahwa derajat gagal jantung kongestif menurut New York Heart Assotiation (NYHA) mempengaruhi kualitas hidup pasien. g. Tingkat Depresi Gejaladepresi memiliki korelasi dengan gejala gagal jantung, dimana gejala gagal jantung yang menyebabkan keterbatasan aktivitas sehari- hari pasien dapat meningkatkan kejadian depresi. Hal ini semakin memperburuk kualitas hidup pasien. Penanganan terhadap depresi yang diderita pasien dapat memperbaiki kualitas hidup pasien gagal jantung kronik(Kandou et al. 2016). h. Dukungan Keluarga Dukungan keluarga merupakan faktor penting bagi seseorangterkait dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Dukungan keluarga terdiri dari empat dimensi yang meliputi dukungan sosial, dukungan penilaian, dukungan tambahan, dukungan emosional. Keempat dimensi dukungan keluarga ini jika diberikan dengan baik kepada pasien gagal jantung maka pasien akan merasa diperhatikan, mendapat dukungan yang baik, dan mampu melakukan setiap langkah secara positif sehingga mampu menjaga dan meningkatkan kualitas hidup pasien(Izzuddin et al. 2020). 2.3 Konsep Gagal Jantung 2.3.1 Pengertian Gagal Jantung Gagal jantung didefinisikan sebagai ketidaknormalan dari struktur atau fungsi jantung yang menyebabkankegagalan jantung untuk mendistribusikanoksigen ke seluruh tubuh(PP PERKI 2020). Muhamad Ridwan
15 (2017)juga menyebutkan bahwa gagal jantung merupakan kondisi jantung yang tidak dapat mendistribusikan darah ke seluruh tubuh sehingga suplai oksigen dan nutrient terhambat. Sedangkan Arif Muttaqin (2014)mengutarakan bahwa gagal jantung merupakan kondisi ketika jantung tidak mampu mempertahankan sirkulasi yang cukup bagi kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian vena dalam keadaan normal. 2.3.2 Etiologi Gagal Jantung Menurut (Kasron 2012) terdapat beberapa etiologi penyebab dari gagal jantung yaitu : a. Aterosklerosis Koroner. Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi otot jantung karena terganggunya aliran darah ke otot jantung sehingga mengakibatkan hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat), infark miokardium (kematian sel jantung), peradangan dan penyakit otot jantung degeneratif. b. Hipertensi Sistemik Atau Pulmonal Meningkatnya beban kerja jantung yang dapat mengakibatkan hipertrophi serabut otot jantung. c. Peradangan dan Penyakit Miokardium Degeneratif Peradangan iniberkaitan dengan gagal jantung karena keadaantersebut secara langsung dapat merusak serabut jantung sehingga menyebabkan kontraktilitas menurun. d. Penyakit jantung lain Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung lain yang secara langsung dapat mempengaruhi jantung. Mekanismenya mencakup
16 aliran darah yang masuk ke jantung terganggu (stenosis katup semiluner), jantung tidak mampu untuk mengisi darah (tamponade, perikardium, perikarditif konstriktif, atau stenosis AV), serta peningkatan mendadak after load. e. Faktor Sistemik Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi beratnya gagal ginjal seperti meningkatnya laju metabolisme, hipoksia, dan anemia. Hipoksia dan anemia dapat membuat suplai oksigen ke jantung menurun. Asidosis respiratorik atau metabolik dan abnormalita elektronik dapat membuat kontraktilitas jantung menurun. 2.3.3 Klasifikasi Gagal Jantung Menurut Arif Muttaqin (2014)klasifikasi gagal jantung dari New York Heart Association (NYHA) berdasarkan pasien gagal jantung dalam beraktivitas fisik terdiri dari 4 kategori yaitu : a. Kelas I Klien dengan kelainan jantung tanpa pembatasan pada aktivitas fisik. Istilah ini disebut disfungsi ventrikel kiri yang asimptomatik. b. Kelas II Klien dengan gagal jantung ringan yaitu kelainan jantung yang menyebabkan sedikit pembatasan aktivitas fisik. c. Kelas III Klien dengan gagal jantung sedang yaitu kelainan jantung yang menyebabkan banyak pembatasan aktivitas fisik.
17 d. Kelas IV Klien dengan gagal jantung berat yaitu kelainan jantung yang dimanifestasikan dengan segala bentuk aktivitas fisik akan menyebabkan keluhan. Menurut American Heart Association (AHA) dalam Imaligy (2014) terdiri dari 4 kategori yaitu : a. Stadium A Pada kondisi ini memiliki risiko tinggi berkembang menjadi gagal jantung.Tidak terdapat ganguan struktural atau fungsional jantung dan tidak terdapat tanda atau gejala. b. Stadium B Pada kondisi ini telah terbentuk penyakit struktur jantung yangberhubungan dengan perkembangan gagal jantung.Tidakterdapat tanda atau gejala. c. Stadium C Gagal jantung asimptomatis yang berhubungan denganpenyakit struktural jantung. d. Stadium D Penyakit struktural jantung yang lanjut serta gejala gagaljantung yang sangat berat pada saat istirahat meskipunsudah mendapat terapi medis maksimal. 2.3.4 Patofisiologi Gagal Jantung Penyakit gagal jantung dapat terjadi dengan adanya kerusakan pada jantung atau miokardium. Hal tersebut dapat menyebabkan curah jantungmenurun. Jika curah jantung tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme, maka jantung akan memberikan respon mekanisme kompensasi
18 untuk mempertahankan fungsi jantung supaya tetap dapat memompa darah secara adekuat. Bila mekanisme kompensasi tersebut telah digunakan secara maksimal dan curah jantung normal tetap tidak terpenuhi, maka setelah akan itu timbul gejala gagal jantung(Nurkhalis and Adista 2020). 2.3.5 Manifestasi Klinis Menurut Kasron (2012)tanda dominan gagal jantung adalah meningkatnya volume intravaskuler. Kongesti jaringan terjadi akibat tekanan arteri dan vena yang meningkat akibat turunnya curah jantung pada kegagalan jantung.Ventrikel kanan dan kiri dapat mengalami kegagalan secara terpisah. Gagal ventrikel kiri paling sering mendahului gagal ventrikel kanan. Kegagalan salah satu ventrikel dapat mengakibatkan penurunan perfusi jaringan, tetapi manifestasi kongesti dapat berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana yang terjadi. a. Gagal jantung kiri, manifestasi klinisnya : Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Manifestasi yang terjadi yaitu : 1) Dispnea Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveolus dan mengganggu pertukaran gas. Dapat terjadi ortopnea Beberapa pasien dapat mengalami ortopnea pada malam hari yang dinamakan Paroksimal Nokturnal Dispnea (PND) 2) Batuk 3) Mudah lelah Terjadi karena curah jantung yang kurang yaitu menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa
19 hasil katabolisme. Juga terjadi karena meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadi karena distress pernafasan dan batuk. 4) Kegelisahan dan kecemasan Terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan stress akibat kesakitan bernafas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik. 5) Sianosis b. Gagal Jantung Kanan 1) Kongestif jaringan perifer dan viseral. 2) Edema ekstrimitas bawah (edema dependen biasanya edema pitting, penambahan berat badan, 3) Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesara vena di hepar. 4) Anorexia dan mual. Terjadi akibat pembesaran vena danstatis vena dalam rongga abdomen. 5) Nokturia 6) Kelemahan. 2.3.6 Pemeriksaan Penunjang Menurut Kasron (2012)pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis gagal jantung antara lain : a. EKG Mengetahui hipertrofi atrial atau ventrikuler, infark, penyimpanan aksis, kekurangan oksigen dan kerusakan pola. b. Tes Laboratorium Darah
20 1) Enzym hepar kongesti, meningkat dalam gagal jantung/kongesti. 2) Elektrolit, kemungkinanberubah perpindahan cairan, penurunan fungsi ginjal. 3) Oksimetri nadi, kemungkinan situasi oksigen rendah. 4) AGD gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia deng peningkatan PCO2. 5) Alburnin, mungkin menurun sebagai akibat penurunan masukan protein. c. Radiologis 1) Sonogram Ekokardiogram, dapat menunjukkan pembesaran bilik perubahan dalam fungsi struktur katup dan penurunan kontraktilitas ventrikel. 2) Scan Jantung, tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding. 3) Rontgen dada, menunjukkan pembesaran jantung. Bayangan mencerminkan dilatasi atau hipertrofi bilik atau perubahan dalam pembuluh darah atau peningkatan tekanan pulmonal. 2.3.7 Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan gagal jantung untuk mengembalikan kualitas hidup, mengurangi frekuensi eksaserbasi gagal jantung dan memperpanjang hidup. Tujuan sekunder ialah memaksimalkan kemandirian serta kapasitas kerja dan mengurangi biaya perawatan. Untuk mencapai tujuan ini terapi harus mencakup penanggulangan etiologi dan faktor pencetus, terapi nonfarmakologi dan farmakologi(Imaligy 2014).
21 a. Terapi Nonfarmakologi Nurkhalis & Adista(2020) menjelaskan bahwa terapi non-farmakologi pada penderita gagal jantung berbentuk manajemen perawatan mandiri. Manajemen perawatan mandiri didefinisikan sebagai tindakan-tindakan yang bertujuanuntuk menjaga stabilitas fisik, menghindari perilaku yang dapat memperburuk kondisi dan mendeteksi gejala awal perburukan gagal jantung. Manajemen perawatan diri berupa ketaatan berobat, pemantauan berat badan, pembatasan asupan cairan, pengurangan berat badan, pemantauan asupan nutrisi, dan latihan fisik. Terapi non-farmakologis juga dapat dilakukan dengan restriksi garam, penurunan berat badan, diet rendah garam dan rendah kolesterol, tidak merokok, dan dengan melakukan olahraga. b. Terapi Farmakologis Menurut Nurkhalis & Adista (2020) terapi farmakologis bertujuan untukmengatasi gejala akibat gagal jantungdan mengurangi respon kompensasi.Selain untuk mengurangi gejala, terapi farmakologis juga digunakan untuk memperlambat perburukan kondisi jantung dan mengatasi terjadinya kejadian akut akibat respon kompensasi jantung. Urutan terapi pada pasien gagal jantungbiasanya diawali dengan diuretik untuk meredakan gejala kelebihan volume. Kemudian, ditambahkan Angiotensin Receptor Blocker atau ARB jika ACE- inhibitor tidak ditoleransi. Namun, penambahan ARB dilakukan hanya setelah terapi diuretik diberikan secara optimal. Dosis diatur secara bertahap hingga dihasilkan curah jantung optimal. Beta blockers diberikan setelah pasien stabil dengan pemberian ACE-inhibitor. Sedangkan glikosida jantung (digoxin) diberikan
22 jika pasien masih mengalami gagal jantung meskipun telah diberikan terapi kombinasi(Nurkhalis and Adista 2020). 1) Diuretik Diuretik merupakan obat utama mengatasigagal jantung akut yang selalu disertaikelebihan cairan atau edema perifer. Diuretik dengancepat menghilangkan sesak napas danmeningkatkan kemampuan melakukan aktivitas fisik(Imaligy 2014). 2) ACE-inhibitor Menurut Nurkhalis & Adista (2020)ACE-inhibitor merupakan terapi lini pertamabagi pasien gagal jantung. Mekanisme kerja dari ACEinhibitoryakni dengan menghambat perubahan angiotensinI menjadi angiotensin II yang diperantarai oleh ACE(Angiotensin Converting Enzyme). Dengan begitu,jumlah angiotensin II akan menurun diikuti denganjumlah aldosteron. Berkurangnya hormon-hormontersebut akan mencegah terjadinya fibrosis miokard,apoptosismiosit, hipertropi jantung, pelepasannorepinefrin, vasokontriksi, dan retensi cairan.Dengan begitu, ACE-inhibitor berperan pentingdalam mencegah perburukan kondisi jantungyang diperantarai oleh mekanisme RAAS (Renin Angiotensin Aldosterone System). 3) Beta blockers Pemberian penyekat beta pada gagal jantungsistolik akan mengurangi kejadian iskemimiokard, mengurangi stimulasi sel-sel jantungdan efek antiaritmi lain, sehingga mengurangirisiko aritmia
23 jantung sehingga dapat mengurangi risiko kematian mendadak(Imaligy 2014). 4) Digoxin Pada gagal jantung dengan fibrilasi atrial, digoxin dapat digunakan untuk memperlambat laju ventrikel yang cepat. Digoksin dapat mengurangi gejala, menurunkan angka perawatan rumah sakit karena perburukan gagal jantung, tetapi tidak mempunyai efek terhadap mortalitas(PP PERKI 2020).
24 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Studi Literatur Desain studi literature reviewhubungan selfcare terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien gagal jantungmenggunakan tradisional review. Tradisional review merupakan metode tinjauan pustaka yang dilakukan oleh peneliti dan hasilnya ditemukan pada survey paper. Studi ini digunakan untuk mengetahui rangkuman menyeluruh dalam bentuk literaturereview mengenai Hubungan Selfcare Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung. 3.2 Langkah-Langkah Penelusuran Literatur 3.2.1 Topik Literature Topik yang dibahas dalam studi literature ini adalah Hubungan Selfcare Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung. 3.2.2 Rumusan PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design) Dalam menyelesaikan studi literature Hubungan Selfcare Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantungmenggunakan strategi PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design) Tabel 3.1 Rumusan PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design) P (Population) / Populasi Pasien gagal jantung E (Exposure) / Paparan Self Care O (Outcome) / Hasil Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung S (Study Design) / Desain Studi Cross Sectional
25 3.2.3 Kata Kunci Pencarian artikel atau jurnal menggunakan keyword dan Boolean operator (AND, OR NOT or AND NOT) yang digunakan untuk memperluas atau menspesifikasikan pencarian, sehingga mempermudah dalam penentuan artikel atau jurnal yang digunakan. Kata kunci dalam literature review ini terdiri dari : Tabel 3.2 Kata Kunci SelfCare Kualitas Hidup Gagal Jantung OR OR OR Perawatan Mandiri Quality of life CHF (Congestive Heart Failure) 3.2.4 Mencari Literature Database a. Pengumpulan data menggunakan penelusuran artikel dari beberapa database yaitu Google scholar. b. Dilakukan skrining artikel berdasarkan tahun publikasi 5 tahun terakhir mulai tahun 2016 sampai 2021.
26 3.2.5 Hasil Pencarian Literatur Hasil pencarian menggunakan prisma flow chart. Pencarian menggunakan Keyword melalui database yaitu google scholar : (n= 487 ) Jurnal akhir yang dapat dianalisis sesuai rumusan masalah dan tujuan : (n= 5 ) Hasil jurnal secara keseluruhan 5 tahun terakhir : (n= 407 ) Kriteria eksklusi : (n=6 ) 1. Jurnal tidak sesuai dengan kata kunci yang digunakan (Selfcare, kualitas hidup, gagal jantung) 2. Jurnal tidak memiliki DOI/ISSN/ISBN 3. Jurnal tidak sesuai topik Screening : (n= 5 ) Kriteria inklusi : 1. Jurnal sesuai dengan kata kunci yang digunakan (Selfcare, kualitas hidup, gagal jantung) 2. Jurnal memiliki DOI/ISSN/ISBN 3. Jurnal sesuai topik pembahasan Jurnal dengan terbitan lebih dari 5 tahun ke belakang (n=80) Skrining berdasarkan keterkaitan topik dan judul (n=11) Jurnal yang tidak sesuai dengan topik dan judul : (n=396)
27 3.2.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi : a. Jurnal atau artikel ilmiah yang terkait dengan Hubungan Selfcare Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung Memiliki DOI, ISSN atau e-ISSN b. Rentang penerbitan jurnal atau artikel 5 tahun terakhir (2016-2021) c. Jurnal dapat diakses dan diunduh secara lengkap Kriteria Eksklusi : a. Jurnal atau artikel ilmiah yang tidak terkait dengan Hubungan Selfcare Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung tidak memiliki DOI, ISSN, atau e-ISSN b. Jurnal diterbitkan tidak pada rentang waktu 5 tahun terakhir(2016-2021) c. Jurnal tidak dapat diakses dan diunduh secara lengkap 3.2.7 Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas Berdasarkan hasil pencarian literature melalui publikasi di Google Scholar dan menggunakan kata kunci yang sudah disesuaikan dalam pencarian peneliti mendapatkan 487 artikel yang sesuai dengan kata kunci kemudian jurnal tersebut diseleksi. Diskrining berdasarkan rentang waktu lima tahun terakhir (2016-2021) ditemukan 407 artikel. Diskrining lagi berdasarkan keterkaitan topik dan judul ditemukan 11 artikel. Diskrining kembali sesuai kriteria inklusi ditemukan 5 artikel. Hasil jurnal yang direview terdapat lima artikel.
28 3.3 Melakukan Review Literature reviewini menggunakan assesment pada metode penelitian masing-masing studi, antara lain: Desain : Artikel yang direview adalah jurnal yang menggunakan desain cross sectional Sampel : Sampel dalam artikel yang direview adalah pasien penderita gagal jantung. Variabel : Artikel yang direview memiliki variabel self care dan kualitas hidup pasien gagal jantung. Instumen : Artikel yang direview menggunakan instrumenberupa kuosioner self care dan kualitas hidup yang sudah uji valid. Analisis : 4 artikel yang diriview menggunakan analisis uji korelasi chisquaredan 1 artikel menggunakan uji statistik alternatif fisher exact test. 3.4 Penyajian Hasil Literatur Review Data hasil studi literatur disajikan dalam bentuk tabel yang berisi tentang seluruh aspek dari literatur. Dalam penyajian data ini dilakukan pembandingan antara literatur satu dengan yang lain untuk menunjukkan apakah hasil tersebut memperkuat, berlawanan atau sama sekali tidak sama dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan.
29 Tabel 3.3.Rencana penyajian data No Penulis, Tahun Publikasi Kota Judul Metode (Desain,sampel, variabel) Hasil utama riset Kesimpulan 1. 2. 3. 4. 5.
30 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Studi Berdasarkan hasil pencarian artikel dari satu database yaitu Google Scholar dengan menggunakan kata kunci “selfcare, kualitas hidup, gagal jantung”, diperoleh 5 artikel dalam jurnal yang memenuhi kriteria inklusi. Kelima artikel tersebut menyajikan penelitian mengenai Hubungan Selfcare terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien gagal jantung dari beberapa wilayah di Indonesia. Publikasi tahun 2018 (1 artikel), tahun 2019 (1 artikel), dan tahun 2021 (3 artikel),. Desain dalam penelitian yang digunakan adalah desain cross sectional.Instrumen yang digunakan 5 artikel berupa kuosioner self care dan kualitas hidup yang sudah uji valid.Data lengkap disajikan dalam Tabel 4.1 Data Hasil Literatur Review. 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkanhasil pengumpulan data dan analisis yang telah dilakukan, terdapat banyak penelitian yang membahas tentang hubungan self care terhadap peningkatan kualitas hidup gagal jantung yang dapat dijadikan sebagai acuan dasar untuk mengidentifikasi selfcare dan kualitas hidup pasien gagal jantung.Responden dalam penelitian ini adalah pasien gagal jantung yang memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas responden berusia lebih dari 45 tahun.
Tabel 4.1. Hasil Literature Review No Penulis, Tahun Publikasi Kota/ Negara Judul Metode(Des Sampel, Variabel (1) (2) (3) (4) (5) 1. Irma Fitriyan, Djunizar Djamaludin, Eka Yudha Chrisanto (2021) Lampung Hubungan Pengetahuan Dan Self Care (Perawatan Diri) Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung Di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Kemiling Kota Bandar Lampung - Desain : c sectional - Sampel : p gagal jan sebanyak responden - Variabel Pengetahuan, Selfcare, kua hidup 2. Hendrawan, NH. Noeraini (2019) Bengkulu Hubungan Self Care Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Dengan - Desain : c sectional -Sampel:pasie gagal jantung berjumlah 99
31 sain, , l) Hasil Utama Riset Simpulan (6) (7) cross asien ntung 30 l : alitas 1) Terdapat 53,3 % responden kemampuan selfcare kurang baik dan 46,7% responden kemampuan selfcare baik. 2) Didapatkan 53,3 % responden memiliki kualitas hidup baik dan 46,7% responden memiliki kualitas hidup kurang baik Hasil uji statistik chi square didapat nilai p-value = 0,003(< 0.05) yang artinya terdapat hubungan self care (perawatan diri) dengan kualitas hidup pasien gagal jantung di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Kemiling Kota Bandar Lampung.(Fitriyan et al. 2021) cross en g 1) 61,6 % pasien gagal jantung memiliki perilaku selfcare yang Berdasarkan hasil analisis ChiSquare diperoleh nilai ρ = 0,003 ≤ 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, artinya ada hubungan Self care dengan kualitas
(1) (2) (3) (4) (5) Penyakit Gagal Jantung Di Poliklinik Jantung Rsud Dr. M. Yunus Bengkulu orang pasien. - Variabel : selfcare, kual hidup
32 (6) (7) litas tidak baik dan 38,% memiliki perilkau selfcare yang baik. 2) Kualitas hidup pasien masih rendah dipicu dengan 51,5 % pasien gagal jantung menjelaskan bahwa merasa tidak puas dengan kondisinya saat ini sehingga memiliki kualitas hidup yang kurang baik sedangkan 48,5 % pasien gagal jantung merasa puas dengan kondisinya meskipun sakit sehingga memiliki kualitas hidup yang baik. hidup pada pasien dengan penyakit gagal jantung di poliklinik jantung RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.(Hendrawan and Noeraini 2019)
(1) (2) (3) (4) (5) 3. Samfriati Sinurat, Mardiati Barus, Bunga Angelia Siregar ( 2021) Medan Hubungan Self Care Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung - Desain : c sectional - Sampel 84Pasien g jantung RSUP Adam M Medan - Variabel selfcare, kualitas hid 4. Rita Dwi Pratiwi, Ahmad Sudika Sanusi (2021) Jakarta Selatan Hubungan Self Care Management Dengan Kualitas Hidup Pasien Congestive Heart - Desain : c sectional - Sampel : - 78 respo di R Pesanggra Tahun 202 - Variabel selfcare,