The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KTI STUDI KASUS_Haifah Nur Maftukha_P17230194099-15_22_27

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2023-03-27 00:41:43

KTI STUDI KASUS_Haifah Nur Maftukha_P17230194099-15_22_27

KTI STUDI KASUS_Haifah Nur Maftukha_P17230194099-15_22_27

KARYA TULIS ILMIAH GAMBARAN KUALITAS TIDUR LANSIA YANG MENGALAMI INSOMNIA SESUDAH MINUM SUSU HAIFAH NUR MAFTUKHA NIM P17230194099 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2022


GAMBARAN KUALITAS TIDUR LANSIA YANG MENGALAMI INSOMNIA SESUDAH MINUM SUSU KARYA TULIS ILMIAH HAIFAH NUR MAFTUKHA P17230194099 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2022


KARYA TULIS ILMIAH GAMBARAN KUALITAS TIDUR LANSIA YANG MENGALAMI INSOMNIA SESUDAH MINUM SUSU HAIFAH NUR MAFTUKHA P17230194099 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR 2022


i KARYA TULIS ILMIAH GAMBARAN KUALITAS TIDUR LANSIA YANG MENGALAMI INSOMNIA SESUDAH MINUM SUSU Karya Tulis Ilmiah ini Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Menyelesaikan Program Studi Diploma III Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang HAIFAH NUR MAFTUKHA NIM P17230194099 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR TAHUN 2022


ii LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Haifah Nur Maftukha NIM : P17230194099 Institusi : Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Program Studi D-III Keperawatan Blitar Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan penelitian ini hasil pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Blitar, 19 Agustus 2022 Mahasiswa Haifah Nur Maftukha P17230194099 Mengetahui, Pemimbing Utama Dr. Suprajitno, S.Kp., M.Kes. NIP. 196705061989031003


iii LEMBAR PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Gambaran Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia Sesudah Minum Susu” oleh Haifah Nur Maftukha NIM P17230194099 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan. Blitar, 19 Agustus 2022 Pembimbing Utama Dr. Suprajitno, S.Kp., M.Kes. NIP. 196705061989031003


iv LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Gambaran Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia Sesudah Minum Susu” oleh Haifah Nur Maftukha, telah diseminarkan pada tanggal 25 Agustus 2022. Dewan Penguji, Ketua Penguji Ns. Tri Cahyo S, M.Kep., Sp.KMB. NIP. 197609282001121002 Anggota Penguji Dr. Suprajitno, S.Kp., M.Kes. NIP.196705061989031003


v KATA PENGANTAR Puji Syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Gambaran Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia Sesudah Minum Susu” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi D-III Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Budi Susatia, S.Kp.,M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang. 2. Imam Subekti, S.Kp.,M.Kep., Sp.Kom., selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang. 3. Dr. Ns. Sri Mugianti, M.Kep., selaku Ketua Program Studi Diploma 3 Keperawatan Blitar Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang. 4. Dr. Suprajitno, S.Kp., M.Kes., selaku Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. 5. Ns. Tri Cahyo S, M.Kep., Sp.KMB., selaku Dosen Penguji yang berkenan memberikan saran dan dukungan kepada penulis dalam memperbaiki penyusunan Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus ini. 6. Seluruh dosen dan staf pegawai Program Studi D-III Keperawatan Blitar yang telah memberikan ilmu dan bantuannya. 7. Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan UPT PSTW Blitar yang telah bersedia memberikan bantuan dan dukungan dalam penelitian ini. 8. Kedua orang tua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan motivasi, dukungan dan semangat. 9. Sahabat sahabat saya yang telah mendukung dan memberikan semangat untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah Ini.


vi 10. Teman-teman seperjuangan Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang Program Studi D3 Keperawatan Blitar yang telah sama-sama berjuang untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. 11. Dan semua pihak yang telah memberikan dorongan dan bantuannya selama pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis menyadari dalam penyusunan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini, semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak. Blitar, 19 Agustus 2022 Penulis Haifah Nur Maftukha NIM. P17230194099


vii ABSTRAK Maftukha, Haifah Nur (2022). Gambaran Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia Sesudah Minum Susu. Karya Tulis Ilmiah. Program Studi D3 Keperawatan Blitar, Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing: Dr. Suprajitno, S.Kp., M.Kes. Pada saat seseorang memasuki masa usia lanjut, terjadi beberapa perubahan fisik, psikologis, maupun sosial yang rentan mengalami berbagai masalah kesehatan salah satunya yaitu insomnia. Pemberian susu merupakan salah satu cara untuk mengatasi insomnia karena kandungan dalam susu yaitu tryptophan yang dapat membantu untuk mengatasi insomnia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas tidur pada lansia yang mengalami insomnia sesudah minum susu. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di UPT PSTW Blitar dengan sampel sebanyak 11 subjek penelitian. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu sebanyak 9 lansia (81,9%) memiliki kualitas tidur baik setelah pemberian susu sehingga tanda dan gejala insomnia banyak berkurang. Pemberian susu perlu diterapkan pada lansia yang mengalami gangguan pemenuhan tidur. Kata kunci: lansia, insomnia, kualitas tidur, susu


viii ABSTRACT Maftukha, Haifah Nur (2022). Overview of Sleep Quality in Elderly Who Experience Insomnia After Drinking Milk. Scientific papers. Blitar Nursing D3 Study Program, Department of Nursing, Health Polytechnic, Ministry of Health, Malang. Supervisor: Dr. Suprajitno, S.Kp., M.Kes. When a person enters old age, there are several physical, psychological, and social changes that are prone to experiencing various health problems, one of which is insomnia. Giving milk is one way to overcome insomnia because the content in milk is tryptophan which can help to overcome insomnia. The purpose of this study was to describe the quality of sleep in the elderly who experience insomnia after drinking milk. The design used in this research is descriptive qualitative with case study type. This research was conducted at UPT PSTW Blitar with a sample of 11 research subjects. Data collection by using a questionnaire. The results obtained from this study were as many as 9 elderly (81.9%) had good sleep quality after giving milk so that the signs and symptoms of insomnia were much reduced. Giving milk needs to be applied to the elderly who have sleep disorders. Keywords: elderly, insomnia, sleep quality, milk


ix DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..................................................................................... i LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN .................................................... ii LEMBAR PERSETUJUAN ......................................................................... iii LEMBAR PENGESAHAN........................................................................... iv KATA PENGANTAR................................................................................... v ABSTRAK..................................................................................................... vii DAFTAR ISI................................................................................................. ix DAFTAR TABEL ......................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR..................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiv BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................. 1 1.1 Latar Belakang................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah............................................................................ 5 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 5 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................... 5 1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan...................................................... 5 1.4.2 Bagi Peneliti........................................................................... 5 1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya ....................................................... 6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 7 2.1 Konsep Lansia ................................................................................. 7 2.1.1 Pengertian Lansia ................................................................. 7 2.1.2 Batasan Umur Lanjut Usia...................................................... 8 2.1.3 Karakteristik Lansia ............................................................... 9 2.1.4 Perubahan Pada Lansia........................................................... 9 2.2 Konsep Tidur ................................................................................... 13 2.2.1 Pengertian Tidur..................................................................... 13 2.2.2 Fisiologis Tidur...................................................................... 14


x 2.2.3 Fungsi Tidur........................................................................... 14 2.2.4 Tahapan Tidur........................................................................ 15 2.2.5 Kualitas Tidur ........................................................................ 17 2.2.6 Faktor yang Memengaruhi Tidur pada Lansia......................... 17 2.3 Konsep Insomnia ............................................................................. 18 2.3.1 Pengertian Insomnia ............................................................... 18 2.3.2 Jenis Insomnia........................................................................ 18 2.3.3 Penyebab Insomnia ................................................................ 19 2.3.4 Tanda dan Gejala Insomnia .................................................... 19 2.4 Konsep Susu .................................................................................... 19 2.4.1 Pengertian Susu...................................................................... 19 2.4.2 Kandungan dan Komposisi Susu ............................................ 20 2.4.3 Pengaruh Minum susu terhadap Kualitas Tidur....................... 23 2.5 Kerangka Konsep............................................................................. 24 BAB 3 METODE PENELITIAN ................................................................. 25 3.1 Desain Penelitian ............................................................................ 25 3.2 Subjek penelitian ............................................................................. 26 3.3 Definisi Operasional ....................................................................... 26 3.4 Pengumpulan Data .......................................................................... 28 3.4.1 Metode Pengumpulan Data .................................................... 28 3.4.2 Instrumen .............................................................................. 29 3.4.3 Langkah-langkah ................................................................... 30 3.5 Analisa Data dan Penyajian Data ..................................................... 31 3.5.1 Pengolahan Data .................................................................... 31 3.5.2 Analisa Data .......................................................................... 34 3.5.3 Penyajian Data ...................................................................... 34 3.6 Etika Penelitian ............................................................................... 34 3.6.1 Human Dignity ...................................................................... 35 3.6.2 Benefits ................................................................................. 35 3.6.3 Justice ................................................................................... 35 3.6.4 Privacy .................................................................................. 36 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 37


xi 4.1 Hasil Penelitian ............................................................................... 37 4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian .................................................. 37 4.1.2 Karakteristik Subjek penelitian............................................... 39 4.1.3 Fokus Studi Kasus ................................................................. 40 4.2 Pembahasan ..................................................................................... 42 4.3 Keterbatasan Studi Kasus ................................................................ 44 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................... 45 5.1 Kesimpulan...................................................................................... 45 5.2 Saran................................................................................................ 45 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 46 LAMPIRAN .................................................................................................. 50


xii DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Definisi Operasional ....................................................................... 27 Tabel 3.2 Pengolahan Data.............................................................................. 33 Tabel 4.1 Distribusi frekuensi usia lansia yang mengalami insomnia di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 ................................................................... 39 Tabel 4.2 Distribusi frekuensi jenis kelamin lansia yang mengalami insomnia di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 ........................................................ 39 Tabel 4.3 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-1 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 ....... 40 Tabel 4.4 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-3 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 ....... 40 Tabel 4.5 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-5 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 ....... 41 Tabel 4.6 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-7 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 ....... 41 Tabel 4.7 Distribusi frekuensi kualitas tidur lansia yang mengalami insomnia sebelum minum susu di UPT PSTW Blitar, Juli 2022...................... 41 Tabel 4.8 Distribusi frekuensi kualitas tidur lansia yang mengalami insomnia sesudah minum susu di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 ...................... 42


xiii DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Gambaran Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia Sesudah Minum Susu................................ 24


xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lembar Persetujuan Menjadi Subjek penelitian ........................... 50 Lampiran 2. Kisi-kisi Lembar Wawancara ...................................................... 51 Lampiran 3. Lembar Wawancara .................................................................... 52 Lampiran 4. Lembar Observasi ....................................................................... 56 Lampiran 5. Surat Izin Penelitian .................................................................... 57 Lampiran 6. Tabulasi Data Umum .................................................................. 61 Lampiran 7. Tabulasi Data Observasi.............................................................. 62 Lampiran 8. Tabulasi Data Kualitas Tidur Lansia Sebelum Minum Susu ........ 63 Lampiran 9. Tabulasi Data Kualitas Tidur Lansia Sesudah Minum Susu ......... 64 Lampiran 10. Dokumentasi Penelitian............................................................. 65 Lampiran 11.Lembar Konsultasi ..................................................................... 66


1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lansia merupakan tahap akhir dari kehidupan manusia, dimana dibutuhkan upaya peningkatan kesehatan, baik yang bersifat promotif maupun preventif, agar dapat menjaga dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia > 60 tahun, dimana merupakan proses bertahap yang mengakibatkan perubahan kumulatif, seperti penurunan daya tahan tubuh dan kualitas hidup lansia (Meliyana & Maria Ulfa, 2019). Menua ialah proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahapan dalam kehidupannya, yaitu masa anak, masa dewasa, dan masa tua. Menua bukanlah suatu penyakit melainkan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi stresor yang berasal dari dalam ataupun dari luar tubuh. Masalah yang sering terjadi pada lansia yaitu mudah jatuh, mudah lelah, gangguan kardiovaskuler, nyeri atau ketidaknyamanan, gangguan eliminasi, gangguan ketajaman penglihatan, gangguan pendengaran, mudah gatal, dan gangguan tidur (Sulistyarini & Santoso, 2016). Pada saat seseorang memasuki masa usia lanjut, terjadi beberapa perubahan fisik, psikologis, maupun sosial. Perubahan pada fisik lansia antara lain berupa stamina dan penampilan yang manurun. Hurlock mengatakan dua perubahan lain yang dialami oleh lansia, yaitu perubahan sosial dan perubahan ekonomi. Perubahan sosial yang dapat terjadi pada lansia diantaranya kematian pasangan hidupnya atau teman-temannya, perubahan


2 peran dari seorang ayah atau ibu menjadi seorang kakek atau nenek, Perubahan ekonomi berkaitan dengan status sosial dalam masyarakat yang sebelumnya memiliki pekerjaan menjadi tidak bekerja (Rahman, 2016). Hal tersebut dapat menyebabkan kondisi seorang lansia menjadi lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan termasuk gangguan tidur atau insomnia. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering dialami oleh lansia. Setiap tahunnya diperkirakan sekitar 20%-50% lansia dilaporkan mengalami gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius. Prevalensi gangguan tidur pada lansia tergolong tinggi yaitu sekitar 67%. (Abdullah et al., 2012). Indonesia sendiri dilaporkan bahwa penderita insomnia kebanyakan merupakan golongan lansia. Hampir 40%-50% lansia mengalami kualitas tidur buruk (Rudimin et al., 2017). Berbeda dengan saat baru lahir yang dapat tidur 16-20 jam sehari, lansia mengalami perubahan yang signifikan dalam hal tidur. Perubahan yang dialami bukan hanya pada durasi namun juga pada pola tidur. Lansia sering mengalami kesulitan dalam mengawali tidur atau sering dikenal dengan masalah insomnia (Gulia & Kumar, 2018). Lansia merupakan salah satu kelompok usia yang memiliki resiko untuk mengalami insomnia akibat dari berbagai faktor, diantaranya proses patologis yang terkait dengan usia bisa menyebabkan pola tidur pada lansia berubah. Gangguan tidur yang sering dialami oleh lansia adalah sering terbangun saat dipertengahan tidur, sering terjaga saat malam hari, kesulitan untuk kembali tidur, dan merasa lesu maupun mengantuk pada siang hari. Perubahan tersebut dapat menjadi hal normal selama kualitas tidur


3 lansia baik, tetapi ketika kualitas tidur lansia mengalami gangguan maka dapat muncul masalah kesehatan lain yang bisa membahayakan bagi lansia (Amal et al., 2021). Insomnia merupakan gejala adanya suatu kelainan pada pemenuhan kebutuhan tidur yang dimanifestasikan dengan kesulitan berulang untuk memulai tidur atau bahkan mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk melakukannya, (Prabowo, 2014). Gangguan tidur cenderung muncul bersamaan dengan depresi. Kesulitan tidur dianggap sebagai gejala gangguan mood. Setidaknya 80% penderita depresi mengalami insomnia atau kesulitan tidur. Depresi dapat mempengaruhi kualitas tidur yang menyebabkan seseorang merasa lelah setelah bangun. Insomnia atau kesulitan tidur bukanlah suatu penyakit, melainkan cara tubuh bereaksi terhadap stress. Durasi tidur yang dibutuhkan oleh tiap orang berbeda-beda. Kebanyakan orang dewasa memerlukan tidur 8 jam setiap malam. Jika tidak mendapatkan cukup tidur, kita akan merasa mengantuk disiang hari (Syamsuddin, 2017). Insomnia dapat diatasi dengan cara mengurangi gangguan insomnia yang mendasarinya, secara farmakologi atau nonfarmakologi. Farmakologi harus diminimalkan penggunaanya karena efek toksin di dalam tubuh terutama lansia. Penanganan nonfarmakologi lebih bermanfaat bagi lansia karena tidak memiliki efek samping salah satunya dengan meminum susu. Salah satu kandungan dalam susu yaitu triptofan yang dapat membantu untuk mengatasi insomnia dimana triptofan berfungsi sebagai prekusor pembentukan serotonin. Triptofan akan diubah menjadi serotonin di dalam tubuh. Perubahan triptofan menjadi serotonin dibantu oleh vitamin B6 dan


4 vitamin C. Serotonin dalam tubuh kemudian diubah menjadi hormon melatonin. Hormon ini diproduksi secara alami dalam tubuh apabila matahari sudah mulai tenggelam (mendekati senja). Hormon melatonin memiliki efek regulasi terhadap relaksasi tubuh dan rasa kantuk sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia (Kurniawan Djoar, 2011). Penelitian di Malang yang mengatakan bahwa probiotik adalah suplemen dalam makanan yang mengandung bakteri baik yang bermanfaat bagi tubuh, contohnya seperti Lactobacillus dalam produk olahan susu. Probiotik dapat membantu meningkatkan sistem imun dan membentuk koloni sementara yang dapat membantu aktivitas tubuh, dibuktikan dengan adanya mikroflora alami dalam saluran pencernaan. Mikroflora usus tidak hanya membantu kesehatan pencernaan dan imun tubuh, tapi juga dapat mengurangi insomnia, dan dapat memengaruhi keadaan stres ketika sakit (Jaya et al., 2011). Dari hasil penelitian “Perbedaan Kualitas Tidur Lansia Sebelum dan Sesudah Minum Susu Hangat Di Panti Griya Kasih Siloam Malang” dibuktikan terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada lansia setelah dilakukan intervensi minum susu hangat selama 15 hari. Dari 20 lansia (100%) terdapat 11 orang (55%) yang memiliki kuaitas tidur yang tidak baik dan 1 orang (5%) termasuk kategori kurang baik . Keluhan yang dirasakan sebelumnya adalah sulit untuk tertidur pada malam hari dan sering terbangun pada malam hari sehingga lansia tamak gelisah, lesu, kantung mata menghitam, sering menguap dan mengantuk dipagi hari (Boli et al., 2018).


5 Berdasarkan dari fenomena dan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui “Gambaran Kualitas Tidur pada Lansia yang Mengalami Insomnia sesudah Minum Susu” di UPT PSTW Blitar. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana Gambaran Kualitas Tidur pada Lansia yang Mengalami Insomnia sesudah Minum Susu”. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran kualitas tidur pada lansia yang mengalami insomnia sesudah minum susu. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan Penelitian ini diharapakan memberi masukan pada pelayanan kesehatan seperti posyandu lansia, panti jompo untuk menginformasikan manfaat minum susu sebelum tidur. 1.4.2 Bagi Peneliti Memeperluas wawasan tentang kualitas tidur pada lansia setelah dilakukan pemberian susu, memberi pengalaman nyata bagi peniliti dalam proses penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta memecahkan masalah kejuru rawatan dalam kesehatan terutama dalam lansia.


6 1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Dapat menjadi data awal bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur terutama bagi lansia dengan insomnia.


7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Lansia 2.1.1 Pengertian Lansia Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia yang merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus menerus dan berkesinambungan yang selanjutnya akan mempengaruhi perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh keseluruhan (Boli et al., 2018). Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Syamsuddin, 2017). Sedangkan menurut Bustaman dalam (Rudimin et al., 2017) Lansia adalah kelompok penduduk yang berumur tua. Usia Permulaan tua menurut Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang lansia menyatakan bahwa umur 60 tahun adalah usia tua. Proses menua pada lansia adalah proses alami yang akan dialami oleh setiap orang (Katuuk, 2018).


8 2.1.2 Batasan Umur Lanjut Usia Menurut Depkes RI batasan lansia terbagi dalam empat kelompok yaitu : a. Pertengahan umur usia lanjut yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan keperkasaan fisik dan kematangan jiwa antara 45–54 tahun b. Usia lanjut dini yaitu kelompok yang mulai memasuki usia lanjut antara 55–64 tahun c. Kelompok usia lanjut usia 65 tahun keatas dan usia lanjut dengan resiko tinggi yaitu kelompok yang berusia lebih dari 70 tahun atau kelompok usia lanjut yang hidup sendiri, terpencil, tinggal di panti, menderita penyakit berat, atau cacat (Rita Martiani et al., 2012). Kapan masa lansia dimulai merupakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Dengan semakin majunya teknologi di dunia ini, semakin tinggi pula harapan bidup seseorang. Untuk sementara saya memberi batasan usia 65 sampai mati bagi usia lanjut, meskipun batasan ini mungkin akan menimbulkan masalah. Batasan ini dikemukakan berdasarkan masa pensiun golongan fungsional di Indonesia Mnngkin batasan ini akan menjadi tidak tepat lagi kalau kehidupan di negara ini makin maju, makmur, sejahtera sehingga memberi kesempatan penduduknya mengenyam usia sangat lanjut. Orang mungkin dapat hidup sampai 90 tahunan. Umur 65 terlihat muda bila dibandingkan dengan usia barapan yang 90 tahun tersebut (Prawitasari, 2016).


9 2.1.3 Karakteristik Lansia Menurut Butler dan Lewis serta Aiken terdapat berbagai karakteristik lansia yang bersifat positif. Beberapa diantaranya adalah: a. Keinginan untuk meninggalkan warisan b. Fungsi sebagai seseorang yang dituakan c. Kelekatan dengan objek-objek yang dikenal d. Perasaan tentang siklus kehidupan e. Kreativitas f. Rasa ingin tahu dan kejutan (surprise) g. Perasaan tentang penyempurnaan atau pemenuhan kehidupan, dan lainlain (Syamsuddin, 2017). 2.1.4 Perubahan Pada Lansia 1) Perubahan Fisik a. Sel Sel yang tua akan mengalami perubahan secara alami pada Asam Deoksiribonukleat (DNA) dan Asam Ribonukleat (RNA). Pada DNA terjadi kesalahan transkrip yang menyebabkan kesalahan dalam reproduksi enzim atau protein dan bersifat menetap. Akibatnya terjadi kerusakan pada aktivitas sel sehingga sistem tidak dapat berfungsi secara optimal. Perubahan sel ini bersamaan dengan proses menua (Masithoh, 2020).


10 b. Sistem Sensorik Perubahan pada fungsi sensori dapat menyebabkan penurunan fungsi penglihatan, pendengaran dan sentuhan pada lansia (Lupa et al., 2017). c. Sistem Persarafan Perubahan pada sistem saraf pusat atau neurologis, sistem sensori seperti sistem visual, vestibular, propiosepsi dan muskuloskeletal. Perubahan sistem neurologis pada lansia mengakibatkan perubahan kognitif, penurunan waktu reaksi, gangguan tidur dan masalah keseimbangan (Lupa et al., 2017). d. Sistem Muskuloskeletal Penuaan dapat menyebabkan perubahan fisiologis sistem muskuloskeletal yang bervariasi. Salah satunya mengakibatkan perubahan kualitas dan kuantitas otot. Penurunan kekuatan otot ekstrimitas bawah dapat mengakibatkan kelambanan gerak, langkah pendek, kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih gampang goyah, susah atau terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset dan tersandung (Af’idah et al., 2012). e. Sistem Kardiovaskuler Proses menua menyebabkan jantung mengecil, katup jantung menjadi kaku dan menebal dan kekuatan kontraksi otot jantung menurun sehingga kemampuan memompa darah berkurang. Penurunan tersebut dapat terjadi secara signifikan jika lansia mengalami stres fisik seperti olahraga berlebihan (Supriyono, 2015)


11 f. Sistem Respirasi Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku, menurunnya aktifitas selia, berkurangnya aktifitas paru, alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang, serta berkurangnya reflek batuk (Dinata, 2015). g. Sistem Gastrointestinal Kehilangan gigi, indra pengecap menurun, esofagus melebar, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan lambung menurun, peristaltik melemah sehingga dapat mengakibatkan konstipasi, kemampuan penyerapan menurun, hati mengecil, produksi air liur menurun, produksi HCL dan pepsin menurun pada lambung (Dinata, 2015). h. Sistem Reproduksi Selaput lendir vagina kering atau menurun, menciutnya ovarium dan uterus, atropi payudara, testis masih dapat memproduksi, meskipun adanya penurunan berangsur angsur dan dorongan seks menetap sampai diatas usia 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik, penghentian produksi ovum pada saat menopause (Dinata, 2015). i. Sistem Integumen Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adipose, kulit pucat dan terdapat bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran darah ke kulit dan menurunnya se-lsel yang memproduksi pigmen kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal


12 dan rapuh, rambut menipis dan botak, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya (Dinata, 2015). 2) Perubahan Psikologis a. Kecemasan Gangguan mental yang sering dijumpai pada lansia yaitu kecemasan (Fergus et al, 2010). Kecemasan merupakan respon psikologis dari ketegangan mental yang menggelisahkan dan ketidakmampuan menghadapi masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan cemas ini menimbulkan berbagai gejala fisiologis (gemetar, berkeringat, kerja jantung meningkat) dan gejala psikologis (panik, tegang, bingung, tidak dapat berkonsentrasi) (Sincihu et al., 2018). b. Depresi Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan seseorang absen dari pekerjaannya dan peningkatan risiko untuk gangguan kejiwaan termasuk depresi (Faidah et al., 2021). Depresi pada lansia juga sering dikenal sebagai late life depression. Lansia rentan terhadap depresi disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Kehilangan pekerjaan, pasangan, penghasilan, dan dukungan sosial sejalan dengan bertambahnya usia turut menjadi faktor predisposisi yang memudahkan seorang lansia untuk mengalami depresi (Sutinah & Maulani, 2017). c. Insomnia Salah satu aspek utama dari peningkatan kesehatan untuk lansia adalah pemeliharaan tidur. Kebanyakan lansia berisiko mengalami


13 gangguan tidur, salah satunya adalah insomnia dimana mereka tidak mampu untuk tidur walaupun ada keinginan untuk melakukannya. Lansia yang tinggal di fasilitas perawatan rentan terhadap insomnia karena adanya perubahan pola tidur, selain itu juga disebabkan kurangnya hormon melatonin (hormon perangsang tidur) dalam tubuhnya (Kurniawan Djoar, 2011). d. Demensia Secara umum tanda dan gejala lansia yang mengalami demensia yaitu kehilangan memori yang memengaruhi kemampuan seharihari, kesulitan melakukan tugas sehari-hari, masalah dengan bahasa, disorientasi dalam ruang dan waktu, gangguan dalam pengambilan keputusan, bermasalah pada pemikiran abstrak, lupa tempat menyimpan barang, perubahan alam perasaan dan perilaku, perubahan personality, serta kehilangan inisiatif (Jeffrey Model Foundation, 2014). Masalah yang cukup dominan pada lansia dengan demensia yaitu masalah komunikasi (Balqis & Sahar, 2019). 2.2 Konsep Tidur 2.2.1 Pengertian Tidur Tidur merupakan suatu keadaan yang berulag-ulang, perubahan status kesadaran yang terjadi selama periode tertentu (Dariah & Okatiranti, 2015). Sedangkan menurut (Moi et al., 2017) Tidur merupakan kondisi istirahat yang diperlukan oleh manusia secara reguler. Keadaan tidur ini ditandai oleh berkurangnya gerakan tubuh dan penurunan kewaspadaan terhadap


14 lingkungan sekitarnya. Tidur mempunyai efek yang sangat besar terhadap kesehatan fisik, mental, emosi dan system imunitas tubuh. 2.2.2 Fisiologis Tidur Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam mensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, reticular activating system (RAS) dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangasangan emosi dan proses pikir (Dariah & Okatiranti, 2015). 2.2.3 Fungsi Tidur Menurut Lumbantobing, Fungsi dari tidur antara lain untuk melindungi tubuh, konservasi energi, restorasi otak, homeostasis, meningkatkan fungsi immunitas, dan regulasi suhu tubuh. Sedangkan menurut Kozier, tidur menggunakan kedua efek psikologis pada jaringan otak dan organ-organ tubuh manusia. Tidur dalam beberapa cara dapat menyegarkan kembali aktifitas normal pada bagian jaringan otak (Fatmawati, R., & Hidayah, 2019).


15 2.2.4 Tahapan Tidur Menurut (Dariah & Okatiranti, 2015) tahapan tidur dibagi sebagai berikut : 1) Tahapan Tidur NON REM Tidur NREM disebut juga sebagai tidur gelombang-pendek karena gelombang otak yang ditunjukkan oleh orang yang tidur lebih pendek dari pada gelombang alfa dan beta yang ditunjukkan orang yang sadar. Tidur kemudian berlanjut, gelombang makin lambat dan memperbesar, diselingi letupan gelombang seperti cepat kumparan. Secara umum, tidur manusia dibagi atas dua tahap, yakni tidur ortodoks (tidur gelombang lambat)dan tidur paradoks (R(rapid), E(eye), M(movement)). Pada tidur NON REM terjadi penurunan sejumlah fungsi fisiologi tubuh : Tahap 1 a) Tingkat transisi. b) Merespon cahaya. c) Berlangsung beberapa menit. d) Mudah terbangun dengan rangsangan. e) Aktifitas fisik menurun, tanda vital dan metabolisme menurun. f) Bila terbangun terasa sedang bermimpi. Tahap 2 a) Periode suara tidur. b) Mulai relaksasi otot. c) Berlangsung 10 – 20 menit. d) Fungsi tubuh berlangung lambat. e) Dapat dibangunkan dengan mudah.


16 Tahap 3 a) Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak. b) Sulit dibangunkan. c) Relaksasi otot menyeluruh. d) Tekanan darah menurun. e) Berlangsung 15 – 30 menit. Tahap 4 a) Tidur nyenyak. b) Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif. c) Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun. d) Sekresi lambung menurun. e) Gerak bola mata cepat. 2) Tahapan Tidur REM Stadium 4 diikuti lanjut dengan tahap tidur paradoks atau tidur REM. Pada masa ini gelombang EEG menjadi seperti beta : cepat dan tidak sinkron, mirip dengan gelombang saat manusia berada dalam fase aktivitas, meski pada kenyataannya ia sangat sulit dibangunkan. Tonus otot leher dan anggota gerak minimal, bola mata bergerak cepat dibalik pelupuk mata yang menutup. Mimpi terjadi paling banyak dalam tahap ini. Pada tahap ini biasanya : a) Lebih sulit dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM. b) Pada orang dewasa normal REM yaitu 20 – 25 % dari tidur malamnya. c) Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya terjadi mimpi.


17 d) Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi juga berperan dalam belajar, memori dan adaptasi. Karakteristik Tidur REM sebagai berikut : a) Mata : Cepat tertutup dan terbuka. b) Otot-otot : Kejang otot kecil, otot besar imobilisasi. c) Penapasan : Tidak teratur, kadang dengan apnea. d) Nadi : Cepat dan ireguler. e) Tekanan darah : Meningkat atau fluktuasi. f) Sekresi gaster : Meningkat. g) Metabolisme : Meningkat, temperatur tubuh naik. h) Gelombang otak : EEG aktif. i) Siklus tidur : Sulit dibangunkan 2.2.5 Kualitas Tidur Pengertian kualitas tidur sendiri adalah kualitas tidur merujuk pada kemampuan individu untuk tetap tertidur dan mendapatkan sejumlah tidur REM dan NREM yang pas (Aminingsih et al., 2014) 2.2.6 Faktor yang Memengaruhi Tidur pada Lansia 1) Penyakit 2) Lingkungan 3) Motivasi 4) Gaya Hidup 5) Stres Psikologis 6) Obat-obatan 7) Alkohol 8) Diet


18 2.3 Konsep Insomnia 2.3.1 Pengertian Insomnia Definisi gangguan insomnia secara umum yakni adalah perasaan kekurangan tidur yang subjektif, baik dalam hal durasi maupun kualitas, serta konsekuensinya, yakni perasaan tidak produktif serta suasana hati yang buruk di siang hari (Ardiatama, 2021). Insomnia adalah suatu kesulitan dalam memulai tidur, mempertahankan tidur, atau tidur yang tidak menyegarkan selama 1 bulan atau lebih dan keadaan sulit tidur ini harus menyebabkan gangguan klinis yang signifikan (Anggara & Annisa, 2013). Menurut Michael J. Sateia dalam bukunya yang berjudul Insomnia: Diagnosis and Treatment, definisi insomnia merupakan keluhan susah tidur, susah mempertahankan tidur, bangun terlalu awal, dan tidak mempunyai jenis tidur yang baik serta tidak mempunyai rasa bugar ketika banguntidur. Meskipun mempunyai waktu yang cukup untuk tidur namun kesulitan untuk tertidur tetap terjadi (Siti Nurkhalizah, Siti Rochmani, 2021). 2.3.2 Jenis Insomnia Gangguan insomnia pada umumnya dibagi menjadi insomnia primer dan sekunder, insomnia primer biasanya muncul tanpa alasan yang jelas, sedangkan insomnia sekunder biasanya terkait dengan adanya penyakit lain (Skalski, 2012). Kriteria populer lainnya didasarkan pada durasi insomnia yang muncul, yakni insomnia sementara yang biasanya terjadi selama


19 beberapa hari hingga satu minggu, insomnia akut berkisar hingga satu bulan, dan insomnia kronis terjadi lebih dari satu bulan (Ardiatama, 2021). 2.3.3 Penyebab Insomnia Insomnia disebabkan oleh beberapa hal antara lain ritme sirkardian, hormon, kondisi medis (lesi di otak, tumor, stroke, GERD, alzheimer, hipertiroid, asma, parkinson), gangguan mood (bipolar, ansietas, depresi, psikotik), media atau alat elektronik di kamar tidur, obatobatan (kortikosteroid, statin, alphablocker, beta-blocker, SSRI, ACE inhibitor), faktor lain (parasit, kehamilan, genetik, stres) (Anggara & Annisa, 2013). 2.3.4 Tanda dan Gejala Insomnia Tanda dan gejala insomnia meliputi: 1) Kesulitan tidur, termasuk kesulitan mencari posisi tidur yang nyaman 2) Terbangun di malam hari dan tidak bisa kembali tidur 3) Merasa tidak segar saat bangun tidur 4) Kantuk di siang hari, iritabilitas atau kecemasan (Syalfina & Kusuma, 2018) 2.4 Konsep Susu 2.4.1 Pengertian Susu Menurut Syarif dan Sumoprastowo, susu adalah komoditas dari ternak yang mengandung gizi tinggi karena Mengandung protein, lemak dan karbohidrat arang seimbang, mengandung banyak vitamin dan mineral,


20 mengandung cukup asam amino esensial dan tidak esensial, memiliki nilai biologis yang hampir sama dengan ASI (Miharja, 2018). Susu segar adalah cairan yang berasal dari kambing, sapi yang sehat dan bersih, diperoleh melalui pemerahan yang benar, tentu saja tidak dikurangi atau ditambahkan apa pun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali pendinginan (A. Maulidina et al., 2021). 2.4.2 Kandungan dan Komposisi Susu Menurut Safitri & Swarastuti (2011) Susu mengandung karbohidrat (laktosa), protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh (R & E, 2017). a. Protein (terutama Kasein) Protein merupakan komponen makro molekul utama yang dibutuhkan makhluk hidup. Fungsi protein lebih diutamakan untuk sintesis protein-protein baru sesuai kebutuhan tubuh, sementara karbohidrat dan lipid digunakan untuk menjamin ketertersediaan energi untuk tubuh. Heyman dan Desjeux mengatakan protein utama dalam susu adalah kasein dan protein whey. Kasein terfraksinasi menjadi -, - dan k-kasein, sementara protein whey termasuk - laktalbumin, - laktoglobulin, bovine serum albumin (BSA) dan imunoglobulin (Ig) (R & E, 2017). b. Lemak Lemak susu merupakan zat penyusun air susu yang terpenting, karena Lemak mempunyai nilai gizi yang tinggi atas dasar kandungan energi yang dikandungnya. Selain itu lemak juga mengandung nutrien


21 lain yang penting seperti vitamin dan asam-asam lemak esensial, dan lemak memegang peranan dalam menentukan rasa, bau dan tekstur. Menurut Buckle, sekurang-kurangnya terdapat 50 macam asam lemak di dalam lemak susu, dimana 60-75% lemak yang bersifat jenuh, 25- 30% lemak yang bersifat tak jenuh dan sekitar 4% merupakan asam lemak tak jenuh ganda. Asam lemak yang terdapat paling banyak adalah miristat (C14), palmitat (C16), dan stearat (C18) (Sukmawati, 2014). Asam lemak yang terdapat di dalam air susu terdiri dari 2 golongan yaitu asam lemak yang dapat larut (butyric, caproic, caprilic dan capric) serta asam lemak yang tak dapat larut (lauric, myristic, palmitic dan oleic) (Sukmawati, 2014). Meskipun susu mengandung asam lemak jenuh (saturated fatty acids) dan trans fatty acids yang dihubungkan dengan atherosklerosis dan penyakit jantung, namun susu juga mengandung asam oleat (oleic acid) yang memiliki korelasi negatif dengan penyakit tersebut. Lemak susu mengandung asam lemak esensial, asam linoleat (linoleic acid) dan linolenat (linolenic acid) yang memiliki bermacam-macam fungsi dalam metabolisme dan mengontrol berbagai proses fisiologis dan biokimia pada manusia (Sukmawati, 2014). c. Karbohidrat (terutama laktosa) Laktosa adalah karbohidrat utama yang ditemukan dalam susu sebanyak 4,60% dengan kisaran 3,50-6,00% dan ditemukan dalam keadaan larut. Laktosa adalah disakarida yang terdiri dari D-glukosa


22 dan D-galaktosa dihubungkan oleh -1,4 ikatan glukosida. Laktosa merupakan zat makanan yang memberikan energi bagi tubuh. Namun, Laktosa ini harus dipecah menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase untuk diserap oleh usus (Sukmawati, 2014). d. Vitamin Vitamin digolongkan menjadi dua, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam lemak antara lain : vitamin A, provitamin A (karoten), vitamin D, E dan K. Semua vitamin tersebut tahan terhadap pemanasan. Vitamin yang larut dalam air antara lain : thiamin, riboflavin, niasin, asam panthothenat, piridoksin, biotin, inositol, cholin, vitamin B12 dan vitamin C. Air susu bukanlah sumber vitamin C yang baik (Sukmawati, 2014). e. Mineral Kadar mineral dalam air susu adalah 0,70% dengan kisaran 0,6- 0,75%. Mineral utama yang terkandung dalam susu antara lain : Ca, P, Na, K, Zn, Al, Mn, Mg, Cu, Fe, dan S. Semua mineral ini terdapat dalam bentuk garam-garam klorida, sulfat, posfat, dan juga sebagai sitrat yang terikat pada asam sitrat, serta ada pula yang terikat pada kasein (Ca dan P). Kadar mineral yang lebih tinggi (1,5%) akan ditemukan pada kolostrum. Air susu sebagai bahan pangan merupakan sumber mineral Ca dan P yang terbaik, akan tetapi sangat miskin mineral Fe dan Cu. (Sukmawati, 2014).


23 f. Zat-zat lain Air susu juga mengandung zat-zat lain, antara lain : enzim, fosfolipid, sterol dan NPN. Zat-zat ini jumlahnya sangat sedikit tetapi sangat penting bagi kesehatan ternak maupun manusia yang minum air susu. Enzim yang terdapat dalam air susu adalah peroksidase, reduktase, katalase, fosfatase, aldolase, amylase, lipase, esterase, protease, xantin oksidase, dan karbonik anhidrase (Sukmawati, 2014). 2.4.3 Pengaruh Minum susu terhadap Kualitas Tidur Insomnia pada lansia disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu dari faktor status kesehatan, penggunaan obat-obatan, kondisi lingkungan, stres psikologis, diet/nutrisi, gaya hidup menyumbangkan insomnia pada usia lanjut. Insomnia pada lansia juga dihubungkan dengan penurunan memori, konsentrasiterganggu dan perubahan kinerja fungsional. Perubahan yang sangat menonjol yaitu terjadi penurunan gelombang alfa dan meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya fragmentasi tidur karena seringnya terbangun (Darmojo, 2014) dalam (Isussilaning Setiawati et al., 2021). Selain itu, insomnia juga disebabkan kurangnya hormon melatonin (hormon perangsang tidur) dalam tubuh. Salah satu precursor hormon melatonin adalah triptofan yang merupakan salah satu dari 20 asam amino penyusun protein yang bersifat essensial bagi tubuh yang dapat ditemukan pada susu. (Kurniawan Djoar, 2011). Menurut Miller, minum susu hangat sebelum tidur dapat membantu memudahkan tidur dan menjadi alternatif pilihan untuk mengurangi gangguan tidur pada lansia. Susu mengandung banyak asam amino


24 tryptophan yang merupakan salah satu bahan dasar seretonin, sehingga dianjurkan untuk meminum susu sebelum tidur agar tubuh dapat beristirahat dengan baik (Haryanto et al., 2016). 2.5 Kerangka Konsep Keterangan : : Diteliti : Tidak diteliti : Berpengaruh : Berhubungan : Sebab akibat Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Gambaran Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia Sesudah Minum Susu Lansia Perubahan: a. Fisik b. Mental c. Psikososial Gangguan Tidur (Insomnia) Kualitas tidur Minum susu Insomnia berkurang


25 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus. Deskriptif kualitatif (QD) adalah istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk suatu kajian yang bersifat deskriptif. Jenis penelitian ini umumnya dipakai dalam fenomenologi sosial (Polit & Beck, 2009, 2014). Deskriptif kualitatif (QD) difokuskan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang terkait dengan pertanyaan siapa, apa, dimana dan bagaimana suatu peristiwa atau pengalaman terjadi hingga akhirnya dikaji secara mendalam untuk menemukan pola pola yang muncul pada peristiwa tersebut (Kim, H., Sefcik, J. S., & Bradway, C., 2016) dalam (Yuliani, 2020). Metode penelitian studi kasus (case study) merupakan salah satu jenis penelitian yang dapat menjawab beberapa issue atau objek akan suatu fenomena terutama di dalam cabang ilmu sosial. Misalnya pada cabang ilmu sosiologi, penelitian kasus digunakan sebagai disain penelitian kualitatif untuk mengevaluasi kejadian atau situasi dalam dunia nyata (real situation). Bila dilihat dari tujuannya, studi kasus merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang berbasis pada pemahaman dan perilaku manusia berdasarkan perbedaan nilai, kepercayaan dan scientific theory (Yona, 2014).


26 3.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah semua lansia yang berusia ≥60 tahun yang mengalami insomnia di UPT PSTW Blitar. 3.3 Definisi Operasional Apabila peneliti sudah menentukan variabel dan menemukan definisi konsepnya maka harus diikuti dengan mengoperasionalkan variabel tersebut sehingga variabel dapat diukur. Definisi operasional diperoleh dengan cara memberi arti atau ciri tertentu sehingga dapat diukur. Tiga hal terkait definisi operasional ini, yaitu: definisi yang ketat, dapat diuji secara khusus, serta mempunyai rujukan empiris (Isti Pujihastuti, 2010).


2 Tabel 3.1 Definisi Opresional Fokus Penelitian Definisi Operasional Parame Kualitas tidur pada lansia yang mengalami insomnia sesudah minum susu. Kualitas tidur lansia merupakan nilai kepuasaan dan kecukupan seorang lansia terhadap tidur sehingga lansia tersebut tidak memperlihatkan perasaan kelelahan, gelisah, lesu, apatis, kehitaman di sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, sering menguap, gangguan tidur, perhatian terpecah-pecah, dan sakit kepala. 1. Kualitas tidur lans kuesioner Pittsburgh S (PSQI) yang terdiri da dengan kategori sebaga 1. Kebiasaan tidur 2. Kemampuan meme 3. Hal yang menggan 4. Penggunaan obat t 5. Hal yang mendukun 6. Hubungan kualitas


7 eter Alat Ukur Skala Skoring sia menggunakan Sleep Quality Index ari 19 pertanyaan ai berikut: ertahankan tidur nggu tidur tidur ng s tidur Diukur dengan alat ukur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) melalui wawancara dan observasi. Interval Skor penilaian jawaban menggunakan lembar penilaian Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dengan kategori : 1. skor ≤ 5 = tidur baik 2. skor ˃5 = tidur buruk


28 3.4 Pengumpulan Data 3.4.1 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi untuk mendapatkan data kualitas tidur pada lansia penderita insomnia. Dalam hal ini peneliti membutuhkan alat untuk mengumpulkan data penelitian, antara lain bolpoin, pensil, buku catatan, penghapus bolpoin, penghapus pensil, spidol, lembar wawancara, dan lembar observasi. Dan subjek penelitian yang dibutuhkan dapat berkomunikasi dengan baik tanpa memerlukan alat untuk berkomunikasi namun dalam berkomunikasi dapat dibantu oleh pengurus panti. Setiap hari selama 7 hari, subjek penelitian diberikan susu sebelum memulai tidur malam sebanyak 100 cc susu sekali minum sekitar pukul 19.00 dan saat sulit memulai tidur ketika bangun tengah malam sekitar pukul 00.00-02.00 sebanyak 100 cc susu sekali minum. Teknik wawancara mendalam merupakan teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data pada studi kasus ini. Tujuan dilakukan wawancara mendalam adalah untuk menggali lebih dalam akan suatu fenomena yang sedang diteliti (Yona, 2014). Alat bantu wawancara dalam penelitian ini adalah Pittsburgh Sleep Quality Index (PQSI) yang berisi pertanyaan tentang hubungan kualitas tidur, kemampuan memertahankan tidur, jangka waktu tidur, kebiasaan tidur, hal yang mengganggu tidur, penggunaan obat tidur, dan hal yang mendukung selama satu bulan terakhir sebelum pengambilan data penelitian (Hanifa, 2016).


29 Morris menyebutkan bahwa observasi sebagai aktivitas mencatat suatu gejala dengan bantuan instrumen-instrumen dan merekamnya dengan tujuan ilmiah atau tujuan lain (Hasanah, 2017). Sehingga dalam melakukan observasi disertai dengan perhatian dan melakukan pencatatan dari observasi yang dilakukan. Selanjutnya peneliti mengobservasi kualitas tidur dengan mengamati penilaian dalam kualitas tidur lansia yang meliputi rasa tidak segar saat bangun tidur, mengantuk di siang hari, iritabilitas atau kecemasan. Kemudian setelah dilakukan wawancara dan observasi data diolah. 3.4.2 Instrumen Dalam penelitian ini dibutuhkan alat pengumpulan data berupa kuesioner yang merupakan daftar pertanyaan dalam rangka wawancara. Instrumen dalam penelitian ini merupakan data yang diambil dari pertanyaan wawancara dan daftar observasi, yaitu: 1. Instrumen pertama berupa pertanyaan mengenai data demografi subjek penelitian yang terdiri dari nama inisial, usia, jenis kelamin, dan pendidikan terakhir. 2. Instrumen kedua yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) adalah suatu instrumen efektif yang digunakan untuk mengukur kualitas pola tidur lansia. Digunakan dalam membedakan “buruk” dari “baik” pada kualitas tidur lansia. Pada kualitas tidur pertanyaan tentang hubungan kualitas tidur, kemampuan memertahankan tidur, jangka waktu tidur, kebiasaan tidur, hal yang


30 mengganggu tidur, penggunaan obat tidur, dan hal yang mendukung selama satu bulan terakhir (Hanifa, 2016). 3.4.3 Langkah-langkah 1. Mengurus dan memberikan surat izin permohonan dari institusi untuk penelitian yang ditujukan pada UPT PSTW Blitar. 2. Menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada pihak UPT PSTW Blitar. 3. Melakukan koordinasi dengan pihak UPT PSTW Blitar sambil mengenali lingkungan serta melakukan observasi pada semua lansia di UPT PSTW Blitar untuk menentukan lansia yang mengalami insomnia. 4. Menemukan subjek penelitian sesuai syarat dengan melakukan identifikasi. 5. Memberikan penjelasan kepada subjek penelitian tentang maksud dan tujuan penelitian, manfaat, teknik pelaksanaan, kerahasiaan data, keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan dari penelitian yang dilakukan terhadap subjek penelitian. 6. Meminta persetujuan subjek penelitian untuk dijadikan subjek penelitian penelitian dengan mengisi lembar informed consent. 7. Peneliti melakukan wawancara menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum diberikan susu dalam pertemuan pertama dan melakukan observasi. 8. Selanjutnya peneliti memberikan susu selama 7 hari untuk mendapatkan data dalam penelitian dengan melakukan wawancara


Click to View FlipBook Version