The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KTI STUDI KASUS_Haifah Nur Maftukha_P17230194099-15_22_27

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2023-03-27 00:41:43

KTI STUDI KASUS_Haifah Nur Maftukha_P17230194099-15_22_27

KTI STUDI KASUS_Haifah Nur Maftukha_P17230194099-15_22_27

31 menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan observasi selama 4 kali pertemuan dalam 7 hari. 9. Kemudian peneliti melakukan wawancara menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan observasi kembali setelah selesai pemberian susu selama 7 hari dalam pertemuan terakhir. 10. Setelah data terkumpul, dilakukan pemeriksaan atas kelengkapan, kejelasan, dan kebenaran data dalam penelitian. 11. Apabila data sudah lengkap maka dilakukan analisa pada data dalam penelitian. 12. Kemudian menyajikan data. 3.5 Analisa Data dan Penyajian Data 3.5.1 Pengolahan Data Peneliti mengolah data kualitas tidur dalam bentuk narasi dengan menggunakan paragraf induktif. Sebelumnya peneliti mengolah data kualitas tidur sebagai berikut: 1. Komponen 1 untuk pertanyaan nomor 9 dengan skor: a. Sangat baik = skor 0 b. Cukup baik = skor 1 c. Cukup buruk = skor 2 d. Sangat buruk = skor 3 2. Komponen 2 untuk pertanyaan: a. Nomor 2 dengan skor 1) ≤15 menit = skor 0


32 2) 16-30 menit = skor 1 3) 31-60 menit = skor 2 4) > 60 menit = skor 3 b. Nomor 5a dengan skor 1) Tidak selama sebulan terahir = skor 0 2) Lebih dari 1 x dalam seminggu = skor 1 3) 1 x atau 2 x dalam seminggu = skor 2 4) 3 x atau lebih dalam seminggu = skor 3 c. Jumlahkan skor nomor 2 dan 5a d. Simpulkan komponen 2 dengan mengikuti hasil jumlah skor pertanyaan nomor 2 dan 5a 1) 0 = skor 0 2) 1 – 2 = skor 1 3) 3 – 4 = skor 2 4) 5 – 6 = skor 3 3. Komponen 3 untuk pertanyaan nomor 4 dengan skor: a. 7 jam = skor 0 b. 6-7 jam = skor 1 c. 5-6 jam = skor 2 d. < 5 jam = skor 3


33 4. Komponen 4 untuk pertanyaan nomor 4 dengan menggunakan rumus = Jumlah jam tidur : jumlah jam di atas tempat tidur x 100. Dengan kategori: Tabel 3.2 Pengolahan Data Efisiensi Skor >85% 0 75 – 84% 1 65-74 % 2 < 65 % 3 5. Komponen 5 untuk pertanyaan a. 5b-5j dengan skor 1) Tidak selama sebulan terahir = skor 0 2) Lebih dari seminggu = skor 1 3) 1 x atau 2 x dalam seminggu = skor 2 4) 3 x atau lebih dalam seminggu = skor 3 b. Jumlahkan skor 5b sampai 5j c. Simpulkan komponen 5 dengan: 1) 0 = skor 0 2) 1 – 9 = skor 1 3) 10 – 18 = skor 2 4) 19 – 27 = skor 3 6. Komponen 6 untuk pertanyaan nomor 6 dengan skor: a. Tidak selama sebulan terahir = skor 0 b. Lebih dari 1 x dalam seminggu = skor 1 c. 1 x atau 2 x dalam seminggu = skor 2 d. 3 x atau lebih dalam seminggu = skor 3


34 7. Komponen 7 untuk pertanyaan nomor 7 & 8 dengan skor: a. Tidak selama sebulan terahir = skor 0 b. Lebih dari 1 x dalam seminggu = skor 1 c. 1 x atau 2 x dalam seminggu = skor 2 d. 3 x atau lebih dalam seminggu = skor 3 Jumlah skor 7 komponen bersama (Boltz, 2012) dalam (Hanifa, 2016). 3.5.2 Analisa Data Data kualitas tidur lansia disimpulkan dengan adanya gangguan tidur atau tidak dan tidur nyenyak atau tidak nyenyak. Data kualitas tidur lansia disimpulkan menggunakan rentang jumlah skor 0 – 21 poin dengan kategori jumlah skor ≤ 5 = tidur baik dan jumlah skor ˃5 = tidur buruk. Data kemudian dianalisis dalam bentuk narasi berupa paragraf induktif dengan menyimpulkan hasil penelitian menggunakan kesimpulan kualitas tidur lansia dan skoring tidur lansia yang diambil dari hasil wawancara. 3.5.3 Penyajian Data Pada penelitian ini peneliti memilih menyajikan data penelitian dalam bentuk uraian kalimat. Karena melalui uraian kalimat dapat memberikan penyajian data secara terstruktur dan dapat dijelasakan secara runtut . 3.6 Etika Penelitian Menurut Notoatmodjo (2010) dalam (Hanifa, 2016), etika penlitian merupakan pedoman etika yang berlaku dalam kegiatan penelitian dan


35 melibatkan pihak peneliti, pihak subjek penelitian, dan masyarakat yang akan memperoleh dampak dari hasil penelitian, secara garis besar ada 4 prinsip yaitu : 3.6.1 Human Dignity Peneliti perlu memperhatikan hak-hak subjek penelitian untuk memperoleh informasi tentang tujuan peneliti melakukan penelitian. Sebagai ungkapan, peneliti menghormati hak dan martabat subjek penelitian, sehingga peneliti harus menyiapkan formulir informed consent. Peneliti menyatakan maksud dan tujuan penelitian sebelum mengisi kuesioner dan menandatangani formulir persetujuan dari peneliti (Hanifa, 2016). 3.6.2 Benefits Suatu penelitian harus memperoleh manfaat yang baik bagi masyarakat pada umumnya, dan bagi subjek penelitian pada umumnya dan pada khususnya. Peneliti harus meminimalkan dampak buruk pada subjek penelitian. Oleh karena itu, melakukan penelitian mencegah rasa sakit, cedera, stres, dan kematian (Hanifa, 2016). 3.6.3 Justice Prinsip ini perlu dijaga oleh peneliti dengan kejujuran, keterbukaan, dan kehati-hatian. Prinsip ini memastikan bahwa semua subjek penelitian menerima perlakuan dan manfaat yang sama. Maka peneliti melakukan wawancara secara individu dengan subjek penelitian (Hanifa, 2016).


36 3.6.4 Privacy Peneliti menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subjek penelitian untuk kepentingan penelitian (Hanifa, 2016).


37 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian Unit Pelaksana Teknis Pelayan Sosial Tresna Werdha (UPT PSTW) Blitar yang terletak di Jalan Panglima Sudirman No.13 Wlingi, Kabupaten Blitar, memiliki lahan seluas 3.589 m2 terdiri dari luas Bangunan 1.474 m2 dan luas Tanah 2.105 m2 (Profil UPT PSTW Blitar). UPT PSTW Blitar merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, yang melaksanakan sebagian tugas Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dibidang Pelayanan, Penyantunan dan Rehabilitasi Sosial bagi lanjut usia terlantar (Profil UPT PSTW Blitar). UPT PSTW Blitar berdiri sejak tahun 1978 dan difungsikan sebagai Kantor Penghubung Sosial. Kemudian tahun 1982 berubah nama menjadi Panti Werdha Wlingi dibawah naungan Dinas Sosial Kabupaten Blitar, dengan bentuk bangunan yang sederhana. Kemudian pada tahun 2000 Panti Werdha Wlingi berganti nama menjadi Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi Blitar (setara dengan Eselon III) dan berada dibawah naungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Kemudian pada tahun 2002 yang merupakan perubahan dari Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 12 Tahun 2000 dan ditindak lanjuti dengan Keputusan Gubernur Nomor 51 Tahun 2003 tentang fungsi dan tugas Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, maka Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Blitar selaku UPTD membawahi Unit Pelayanan Sosial (UPS) Tresna Wesdha di Tulungagung.


38 Kemudian sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 119 Tahun 2008, tentang uraian tugas sekretariat, bidang, sub. Bagian dan seksi dan Nomor 119 Tahun 2008, tentang organisasi dan tata kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Blitar berganti nomenklatur menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik Pemerintah Provinsi Jawa dibawah naungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dengan Susunan Organisasi UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia sebagai berikut: 1. Kepala UPT; 2. Sub. Bagian Tata Usaha; 3. Seksi Pelayanan Sosial; 4. Seksi Bimbingan dan Pembinaan Lanjut (Profil UPT PSTW Blitar). UPT PSTW Blitar memiliki konstruksi bangunan permanen dengan luas 3620m2 yang terdiri dari ruang kantor, ruang aula, ruang aula, ruang gudang, ruang asrama klien sebanyak 55 orang, mushola, ruang dapur, ruang makan, ruang periksa kesehatan, dan ruang perawatan khusus. Setiap ruang menggunakan lantai keramik dengan ventilasi yang baik, pencahayaanyang cukup dan kebersihan lingkungan yang bersih, asri dan nyaman. UPT PSTW Blitar juga memiliki halaman yang cukup luas dan biasa dimanfaatkan untuk olah raga klien dipagi hari. Sumber air bersih menggunakan air dari PDAM dan sumur sumber, untuk sarana pembuangan kotoran manusia dibuang ke septic tank, spal dibuang di sawah belakang (Profil UPT PSTW Blitar).


39 Di UPT PSTW Blitar terdapat kegiatan – kegiatan kelompok yaitu senam lansia setiap pagi hari, bina ketrampilan setiap Selasa, bimbingan sosial setiap Rabu, pengajian setiap Kamis, dan untuk Posyandu Lansia tiap 2 minggu sekali dilaksanakan hari Senin dibawah binaan puskesmas Wlingi (Profil UPT PSTW Blitar). 4.1.2 Karakteristik Subjek Penelitian Karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia dan jenis kelamin, sebagai berikut: 1. Karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia Tabel 4.1 Distribusi frekuensi usia lansia yang mengalami insomnia di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 No. Usia f Presentase 1 61-70 tahun 4 36,36% 2 71-80 tahun 4 36,36% 3 81-90 tahun 3 27,27% Total 11 100% Berdasarkan Tabel 4.1 Diketahui bahwa lansia berusia 61-70 tahun sebanyak 4 orang (36,36%), berusia 71-80 tahun sebanyak 4 orang (36,36%), berusia 81-90 tahun sebanyak 3 orang (27,27%). 2. Karakteristik subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin Tabel 4.2 Distribusi frekuensi jenis kelamin lansia yang mengalami insomnia di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 No. Jenis Kelamin f Presentase 1 Laki-laki 7 63,63% 2 Perempuan 4 36,36% Total 11 100% Berdasarkan Tabel 4.2 Diketahui bahwa lansia berjenis kelamin laki-laki sebanyak 7 orang (63,63%) dan berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 4 orang (36,36%).


40 4.1.3 Fokus Studi Kasus 1. Observasi tanda dan gejala insomnia a. Hari ke-1 Tabel 4.3 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-1 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 No. Tanda dan Gejala Insomnia f Presentase 1. Merasa tidak segar saat bangun tidur 8 72,72% 2. Mengantuk di siang hari 10 90,9% 3. Iritabilitas 11 100% 4. Kecemasan 3 27,27% Berdasarkan Tabel 4.3 Diketahui bahwa pada hari ke-1 lansia yang menunjukkan tanda gejala insomnia merasa tidak segar saat bangun tidur sebanyak 8 orang (72,72%), mengantuk di siang hari sebanyak 10 orang (90,9%), iritabilitas sebanyak 11 orang (100%) dan kecemasan sebanyak 3 orang (27,27%). b. Hari ke-3 Tabel 4.4 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-3 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 No. Tanda dan Gejala Insomnia f Presentase 1. Merasa tidak segar saat bangun tidur 8 72,72% 2. Mengantuk di siang hari 8 72,72% 3. Iritabilitas 10 90,0% 4. Kecemasan 2 18,18% Berdasarkan Tabel 4.4 Diketahui bahwa pada hari ke-3 lansia yang menunjukkan tanda gejala insomnia merasa tidak segar saat bangun tidur sebanyak 8 orang (72,72%), mengantuk di siang hari sebanyak 8 orang (72,72%), iritabilitas sebanyak 10 orang (90,9%) dan kecemasan sebanyak 2 orang (18,18%).


41 c. Hari ke-5 Tabel 4.5 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-5 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 No. Tanda dan Gejala Insomnia f Presentase 1. Merasa tidak segar saat bangun tidur 3 27,27% 2. Mengantuk di siang hari 2 18,18% 3. Iritabilitas 8 72,72% 4. Kecemasan 0 0% Berdasarkan Tabel 4.5 Diketahui bahwa pada hari ke-5 lansia yang menunjukkan tanda gejala insomnia merasa tidak segar saat bangun tidur sebanyak 3 orang (27,27%), mengantuk di siang hari sebanyak 2 orang (18,18%), iritabilitas sebanyak 8 orang (72,72%). d. Hari ke-7 Tabel 4.6 Distribusi frekuensi observasi tanda dan gejala insomnia lansia yang mengalami insomnia hari ke-7 di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 No. Tanda dan Gejala Insomnia f Presentase 1. Merasa tidak segar saat bangun tidur 0 0% 2. Mengantuk di siang hari 1 9,09% 3. Iritabilitas 2 18,18% 4. Kecemasan 0 0% Berdasarkan Tabel 4.6 Diketahui bahwa pada hari ke-7 lansia yang menunjukkan tanda gejala insomnia mengantuk di siang hari sebanyak 1 orang (9,09%), dan iritabilitas sebanyak 2 orang (18,18%). 2. Kualitas tidur sebelum minum susu Tabel 4.7 Distribusi frekuensi kualitas tidur lansia yang mengalami insomnia sebelum minum susu di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 Kualitas tidur sebelum minum susu f Presentase Baik 0 0% Buruk 11 100% Total 11 100%


42 Berdasarkan Tabel 4.7 Diketahui bahwa kualitas tidur 11 lansia (100%) sebelum minum susu dalam kategori buruk. 3. Kualitas tidur sesudah minum susu Tabel 4.8 Distribusi frekuensi kualitas tidur lansia yang mengalami insomnia sesudah minum susu di UPT PSTW Blitar, Juli 2022 Kualitas tidur sesudah minum susu f Presentase Baik 9 81,81% Buruk 2 18,18% Total 11 100% Berdasarkan Tabel 4.8 Diketahui sebanyak 9 lansia (81,81%) memiliki kualitas tidur baik sesudah minum susu dan sebanyak 2 lansia (18,18%) memiliki kualitas tidur buruk sesudah minum susu. 4.2 Pembahasan Dari hasil observasi penelitian didapatkan sebanyak 11 lansia yang mengalami insomnia. Dari penelitian diperoleh bahwa gangguan tidur yang banyak dialami oleh lansia berupa, kecemasan karena sulit memulai tidur, bangun pada tengah malam, rasa ingin buang air kecil ditengah malam, dan yang paling mempengaruhi kualitas tidur adalah rasa nyeri atau pegal dibagian punggung dan lutut atau tubuh lainnya. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Seiring dengan bertambahnya usia, maka akan terjadi penurunan fungsi tubuh pada lansia, baik fisik, fisiologis maupun psikologis. Masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi pada lansia adalah kecemasan, depresi, insomnia, paranoid, dan demensia, jika lansia mengalami masalah tersebut, maka kondisi itu dapat mengganggu kegiatan sehari-hari lansia (Dariah & Okatiranti, 2015).


43 Sebelum diberikan susu hangat selama 7 hari sebagian besar lansia termasuk dalam kategori kualitas tidur yang kurang. Hal ini terjadi karena lansia mengeluhkan sulit dalam memulai tidur, sering terbangun pada malam hari, dan bangun terlalu pagi dengan jam tidur malam terlalu larut sehingga jumlah tidur semakin berkurang. Kualitas tidur adalah suatu kepuasan yang telah tercapai oleh seseorang ketika tidur sehingga seseorang tidak merasakan lelah, gelisah, lesu dan apatis, serta tidak terlihat kehitaman di sekitar mata, kelopak mata tidak bengkak, konjungtiva tidak merah, mata tidak perih, perhatian tidak terpecah – pecah, tidak sakit kepala dan tidak mengantuk (Boli et al., 2018). faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan tidur antara lain faktor eksternal meliputi obat-obatan, kondisi lingkungan, asupan makanan, dan hormon. Sedangkan faktor internal dapat berupa penyakit fisik, stress emosional, depresi, aktifitas fisik dan gaya hidup (Haryanto et al., 2016). Sesudah diberikan susu hangat selama 7 hari kualitas tidur lansia mengalami peningkatan, meskipun tidak semua dalam kategori tidur baik. Sebanyak 11 lansia yang diberikan intervensi sebagian besar sangat antusias dan senang diberikan susu. Mereka mengatakan sangat terbantu karena merasakan adanya peningkatan kualitas tidur. Protein yang terkandung dalam susu antara lain tryptophan yang merupakan perkursor pembentuk serotonin. Di dalam susu terdapat laktalbumin yang dapat meningkatkan tryptophan yang selanjutnya meningkatkan serotonin. Di dalam tubuh, serotonin dibentuk menjadi


44 melatonin yang menimbulkan efek mengantuk dan rileks sehingga bisa meningkatkan kualitas tidur (Boli et al., 2018). 4.3 Keterbatasan Studi Kasus 1. Penilaian kualitas tidur kurang akurat karena tidak disertai pengukuran aktivitas listrik otak yang dapat merekam siklus tidur. 2. Peneliti tidak melakukan tes kognitif dan tes memori/daya ingat sebelum mewawancarai subjek penelitian, subjek penelitian sudah memasuki usia tua, pada usia tersebut subjek penelitian bisa mengalami demensia yang mungkin terjadi pada lansia. Sehingga dapat memengaruhi hasil penelitian.


45 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1. Sebanyak 11 lansia memiliki kualitas tidur buruk sebelum minum susu secara rutin sebelum tidur. 2. Sebagian besar lansia mengalami kualitas tidur baik setelah mengkonsumsi susu secara rutin sebelum tidur. 3. Minum susu secara rutin dapat meningkatkan kualitas tidur lansia yang mengalami insomnia, terutama dapat membantu dalam mengatasi kesulitan memulai tidur dan menurunkan keluhan insomnia. 5.1 Saran 1. Bagi Juru Rawat Pemberian minum susu sebelum tidur menjadi sangat efektif apabila juru rawat menjadikan terapi non-farmakologis yang ditujukan pada pasien yang mengalami insomnia. 2. Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti menyadari bahwa studi kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, maka diharapkan dapat lebih menyempurnakan lebih efektif dengan melakukan pengukuran aktivitas elektrik otak yang dapat merekam siklus tidur dan melakukan tes kognitif serta tes daya ingat sebelum dilakukan wawancara. sehingga data penelitian akurat dan insomnia subjek studi kasus dapat teratasi secara optimal.


46 Daftar Pustaka A. Maulidina, E. Taufik, & A. Atabany. (2021). Kinerja Outbound Logistik Susu Segar di Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang. Jurnal Ilmu Produksi Dan Teknologi Hasil Peternakan, 9(2), 95–101. https://doi.org/10.29244/jipthp.9.2.95-101 Abdullah, A. Z., Arsin, A. A., & Muhammad, Y. (2012). Determinan insomnia pada lanjut usia determinant of insomnia on elderly. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 7(4), 154–157. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21109/kesmas.v7i4.51 Af’idah, F. S. N., Dewi, Y. S., & Hadhisuyatmana, S. (2012). Studi Risiko Jatuh Melalui Pemeriksaan Dynamic Gait Index (DGI) Pada Lansia Di Panti Werdha Hargodedali Surabaya. 282. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.20473/ijchn.v1i1.11899 Amal, A. I.-, Cahyaningtias, Y., & Suyanto, S. (2021). Kombinasi Dzikir Dan Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tingkat Insomnia Pada Lansia. Journal of Holistic Nursing Science, 8(1), 1–8. https://doi.org/10.31603/nursing.v8i1.3813 Aminingsih, S., Yulianti, T. S., & Rahmawan, T. B. (2014). Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Tidur Pada Lansia di Dusun Semenharjo Suruhkalang Jaten. KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan, 2(1). https://doi.org/10.37831/JIK.V2I1.3 Anggara, M. Y. D., & Annisa. (2013). Hubungan Jenis Kelamin Terhadap Simtom Insomnia Pada Mahasiswa Yang Sedang Melakukan Penulisan Skripsi di FK UMSU. 2014(3), 2–31. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30596%2Famj.v2i3.2818.g3133 Ardiatama, I. S. (2021). Intervensi Brief Behavioral Treatment of Insomnia Secara Daring Untuk Menurunkan Tingkat Gangguan Insomnia Klinis. 13, 149–160. https://doi.org/10.20885 Balqis, U. M., & Sahar, J. (2019). Pengalaman Lansia dengan Demensia RinganSedang Dalam Melakukan Komunikasi dengan Pelaku Rawat: Systematic Review. Jurnal Endurance : Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 4(2), 388– 401. https://doi.org/10.22216/JEN.V4I2.4046 Boli, Ma. Y. K., Hadi, S., & Sutriningsih, A. (2018). Perbedaan Kualitas Tidur Lansia Sebelum Dan Sesudah Minum Susu Hangat Di Panti Griya Kasih Siloam Malang. Nursing News, 3, 791–794. https://doi.org/https://doi.org/10.33366/nn.v3i3.1390 Dariah, E. D., & Okatiranti, O. (2015). Hubungan Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Lansia Di POSBINDU Anyelir Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Keperawatan BSI, 3(2).


47 https://doi.org/10.31311/.V3I2.156 Dinata, W. W. (2015). Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Melalui Senam Yoga. Jorpres (Jurnal Olahraga Prestasi), 11(2), 115083. https://doi.org/10.21831/JORPRES.V11I2.5730 Faidah, N., Ketut Antono, I., & Widana, A. O. (2021). Aromaterapi Sereh Berpengaruh terhadap Kualitas Tidur Lansia. Jurnal Keperawatan, 13(4), 1023–1030. https://doi.org/10.32583/KEPERAWATAN.V13I4.1727 Fatmawati, R., & Hidayah, N. (2019). (2019). Gambaran Pola Tidur Ibu Nifas. Journal Infokes, 9(2), 44–47. https://doi.org/https://doi.org/10.47701/infokes.v9i2.832 Hanifa, A. (2016). Hubungan Kualitas Tidur dan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia di Panti Sosial Margaguna Jakarta Selatan. 1–102. Haryanto, J., Widodo, D. S., & Bakar, A. (2016). Studi Komparasi Minum Susu Hangat Dan Teh Chamomile Hangat Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Tidur Lansia (The Comparison Study Between Drinking Warm Milk and Warm Chamomile Tea Towards The Needs of Sleep on Elderly). Jurnal Keperawatan, 9(1), 1–6. http://journal.poltekkesdepkessby.ac.id/index.php/KEP/article/view/304 Hasanah, H. (2017). Teknik-teknik Observasi (Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial). At-Taqaddum, 8(1), 21. https://doi.org/10.21580/at.v8i1.1163 Isti Pujihastuti. (2010). Prinsip penulisan kuesioner penelitian. Prinsip Penulisan Kuesioner Penelitian, 2(1), 43–56. Isussilaning Setiawati, E., Ulfah, M., Dewi, P., Studi, P. S., Fakultas Ilmu Universitas Harapan Bangsa Purwokerto, K., Raden Patah No, J., Kembaran, K., Banyumas, K., & Tengah, J. (2021). Gambaran Tingkat Insomnia pada Lanjut Usia di Rojinhome Kabushiki Kaisha Yoichi Yonabaruokinawa Jepang. Seminar Nasional Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 881–889. https://prosiding.uhb.ac.id/index.php/SNPPKM/article/view/756 Jaya, F., Kusumahadi, D., & Amertaningtyas, D. (2011). Pembuatan minuman probiotik (yoghurt) dari proporsi susu sapi dan kedelai dengan isolat Lactobacillus casei dan Lactobacillus plantarum. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Hasil Ternak, 6(1), 13–16. Katuuk, M. (2018). Hubungan Kemunduran Fisiologis Dengan Tingkat Stres Pada Lanjut Usia Di Puskesmas Kakaskasen Kecamatan Tomohon Utara. Jurnal Keperawatan, 6(1). https://doi.org/https://doi.org/10.35790/jkp.v6i1.25181 Kurniawan Djoar, R. (2011). Tryptophan Dalam Susu Formula Meningkatkan Kualitas Tidur Lansia Yang Mengalami Insomnia. Jurnal Penelitian Kesehatan, 1(1), 32–37.


48 http://journal.stikvinc.ac.id/index.php/jpk/article/view/132 Lupa, A. M., Hariyanto, T., & Ardiyani, V. M. (2017). Perbedaan Tingkat Keseimbangan Tubuh Antara Lansia Laki-laki Dan Perempuan. Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan, 2(1). https://doi.org/10.33366/NN.V2I1.190 Masithoh, A. R. (2020). Terapi Pelatihan Ketrampilan Sosial Untuk Mengatasi Kesepian Pada Lansia (M. K. Indah Puspitasari (ed.); 1st ed.). MU Press. Meliyana, E., & Maria Ulfa, S. (2019). Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tingkat Insomnia Pada Lansia Di Yayasan Bina Bhakti SasanaTresnawerdha Ceritas Bekasi. 1, 99–111. https://core.ac.uk/download/pdf/237009278.pdf Miharja, K. (2018). Analisa SWOT Dalam Menentukan Strategi Bisnis Susu Murni Q-Milk. Jurnal Ecodemica: Jurnal Ekonomi, Manajemen, Dan Bisnis, 2(1), 30–38. https://doi.org/10.31311/jeco.v2i1.2252 Moi, M. A., Widodo, D., & Sutriningsih, A. (2017). Hubungan Gangguan Tidur Dengan Tekanan Darah Pada Lansia. Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan, 2(2). https://doi.org/10.33366/NN.V2I2.456 Prawitasari, J. E. (2016). Aspek Sosio-Psikologis Lansia Di Indonesia. Buletin Psikologi, 2(1), 27–34. https://doi.org/10.22146/bpsi.13240 R, S., & E, H. (2017). Profil Protein Susu Dan Produk Olahannya. Jurnal MIPA, 39(2), 98–106. https://doi.org/https://doi.org/10.15294/ijmns.v39i2.9282 Rahman, S. (2016). Faktor-Faktor Yang Mendasari Stres Pada Lansia. Jurnal Penelitian Pendidikan, 16(1). https://doi.org/10.17509/jpp.v16i1.2480 Rita Martiani, E., Rifan, Y., & Setioko, B. (2012). Grha Lansia Di Tangerang. 1, 371–380. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/imaji/article/view/11702 Rudimin, Hariyanto, T., & Rahayu, W. (2017). Hubungan Tingkat Umur dengan Kualitas Tidur pada Lansia di Posyandu Permadi Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Malang. Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan, 2(1), 119–127. https://doi.org/https://doi.org/10.33366/nn.v2i1.150 Sincihu, Y., Daeng, B. H., & Yola, P. (2018). Hubungan Kecemasan dengan Derajat Insomnia pada Lansia. Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma, 7(1), 15–30. https://pdfs.semanticscholar.org/483b/e2045aef9eee4e26b81e38817ef2094cf fd2.pdf Siti Nurkhalizah, Siti Rochmani, Z. M. S. (2021). Nusantara Hasana Journal. Nusantara Hasana Journal, 1(1), 95–101.


49 Sukmawati, N. M. S. (2014). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Susunan dan Keadaan Air Susu. Bahan Ajar Ilmu Ternak Perah, 1–26. https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_dir/8589c2c12e6a92d04c 3f81c847ecff1b.pdf Sulistyarini, T., & Santoso, D. (2016). Gambaran Karakteristik Lansia dengan Gangguan Tidur (Insomnia) di RW 1 Kelurahan Bangsal Kota Kediri. Jurnal Penelitian Keperawatan, 2(2), 150–155. https://doi.org/https://doi.org/10.32660/jurnal.v2i2.139 Supriyono, E. (2015). Aktifitas Fisik Keseimbangan Guna Mengurangi Resiko Jatuh Pada Lansia. Jorpres (Jurnal Olahraga Prestasi), 11(2), 115459. https://doi.org/10.21831/JORPRES.V11I2.5731 Sutinah, & Maulani. (2017). Hubungan Pendidikan, Jenis Kelamin Dan Status Perkawinan Dengan Depresi Pada Lansia. Jurnal Endurance : Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 2(2), 209–216. https://doi.org/10.22216/JEN.V2I2.1931 Syalfina, A. D., & Kusuma, Y. L. H. (2018). Stress Dan Insomnia Pada Menopause. Medica Majapahit, 10(2), 59–77. Syamsuddin, L. (2017). Insomnia Diabetes. 2015. https://doi.org/10.31219/osf.io/5j8be Yona, S. (2014). Penyusunan Studi Kasus. Jurnal Keperawatan Indonesia, 10(2), 76–80. https://doi.org/10.7454/jki.v10i2.177 Yuliani, W. (2020). Perencanaan Dan Keputusan Karier: Konsep Krusial Dalam Layanan BK Karier. Quanta, 4(1), 44–51. https://doi.org/10.22460/q.v1i1p1- 10.497


50 Lampiran 1. Lembar Persetujuan Menjadi Subjek penelitian LEMBAR PERSETUJUAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : ............................................................... Umur : ............................................................... Jenis Kelamin : ................................................................ Telah mendapat penjelasan dan mengetahui manfaat dan tujuan penelitian tentang “Gambaran Kualitas Tidur Lansia yang Mengalami Insomnia Sesudah Minum Susu” menyatakan (Setuju/Tidak Setuju)* ikut terlibat dalam penelitian sebagai subjek penelitian dengan catatan apabila sewaktu-waktu dirugikan dalam bentuk apapun berhak membatalkan persetujuan ini, saya percaya informasi yang saya berikan dijamin kerahasiaannya. Blitar, 2022 *Coret yang tidak perlu Peneliti Haifah Nur Maftukha NIM P17230194099 Subjek penelitian


51 Lampiran 2. Kisi-kisi Lembar Wawancara No Komponen Nomor Pertanyaan Jumlah Pertanyaan 1 Durasi tidur 4 1 2 Kebiasaan tidur 1 & 3 3 3 Kemampuan mempertahankan tidur 2 & 5a 2 4 Hal yang mengganggu tidur 5b-5j 9 5 Penggunaan obat tidur 6 1 6 Hal yang mendukung 7 & 8 2 7 Hubungan kualitas tidur 9 1


52 Lampiran 3. Lembar Wawancara PITTSBURGH SLEEP QUALITY INDEX (PSQI) Petunjuk pengisian: 1. Beritahukan kepada subjek penelitian bahwa pertanyaan di bawah ini berhubungan dengan kebiasaan tidur subjek penelitian selama satu bulan terakhir. 2. Beritahukan kepada subjek penelitian bahwa jawaban yang diberikan harus menunjukkan jawaban yang paling tepat pada sebagian besar kejadian di siang dan malam hari dalam satu bulan terakhir. Identitas : Nama : Usia : Jenis kelamin : Pendidikan terakhir : Pertanyaan : Selama sebulan yang lalu, 1. Jam berapa saudara pergi tidur pada malam hari? ______________________________________________________________ 2. Berapa lama (menit) saudara membutuhkan waktu untuk dapat tertidur pada malam hari? ______________________________________________________________ Waktu dibutuhkan Skor Jawaban ≤15 menit 0 16-30 menit 1 31-60 menit 2 > 60 menit 3 3. Jam berapa saudara biasanya bangun tidur pada pagi hari? ______________________________________________________________


53 4. Berapa jam saudara tidur pada malam hari? ______________________________________________________________ Waktu dibutuhkan Skor Jawaban >7 jam 0 7 jam 1 5-6 jam 2 < 5 jam 3 ( Komponen 3) Menghitung skor = Jumlah jam tidur : jumlah jam di atas tempat tidur x 100 = (___________ : ___________) x 100 = ___________ % Kategori Skor Jawaban >85% 0 75 – 84% 1 65-74 % 2 < 65 % 3 ( Komponen 4 ) Skor = ___________ 5. Masalah apa yang menyebabkan gangguan tidur saudara? Tidak selama sebulan terahir Lebih dari 1 x dalam seminggu 1 x atau 2 x dalam seminggu 3 x atau lebih dalam seminggu Skor 0 1 2 3 a. Tidak dapat tidur selama 30 menit b. Bangun pada pertengahan malam atau pagi-pagi benar c. Bangun ke kamar mandi d. Tidak dapat bernapas dengan nyaman e. Batuk f. Merasa kedinginan g. Merasa panas h. Mengalami mimpi buruk i. Mengalami nyeri j. Alasan lainnya,


54 jelaskan Berapa sering dalam mengalami masalah tersebut 6. Berapa sering saudara menggunakan obat untuk membantu tidur? ( Komponen 6 ) 7. Berapa sering saudara mengalami kesulitan terjaga saat mengemudi, makan makanan atau terlibat dalam kegiatan social ? 8. Berapa banyak masalah saudara sehingga saudara berusaha untuk menjaga semangat dan menyelesaikannya ? Sangat baik Cukup baik Cukup buruk Sangat buruk 9. Bagaimana saudara menilai kualitas tidur saudara secara keseluruhan ? ( Komponen1 ) Jumlahkan skor pertanyaan nomor 2 dan 5a Jumlah skor = + = ___________ Jumlah skor Skor Jawaban 0 0 1 – 2 1 3 – 4 2 5 – 6 3 ( Komponen 2 ) Skor = ___________


55 Jumlah skor 5b sampai 5j Jumlah Skor = ___________ Jumlah skor Skor Jawaban 0 0 1 – 9 1 10 – 18 2 19 – 27 3 ( Komponen 5) Skor = ___________ Jumlahkan skor pertanyaan nomor 7 dan 8 Jumlah skor = + = ___________ Jumlah skor Skor Jawaban 0 0 1 – 2 1 3 – 4 2 5 – 6 3 ( Komponen 7 ) Skor = ___________ Jumlahkan skor 7 komponen bersama Jumlah skor Komponen Skoring Skor Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Komponen 4 Komponen 5 Komponen 6 Komponen 7 Total Skor Skor Kualitas tidur Jumlah skor Keterangan Jawaban ≤ 5 Tidur baik ˃5 Tidur buruk


56 Lampiran 4. Lembar Observasi OBSERVASI GEJALA INSOMNIA No. Tanda dan Gejala Insomnia Ya Tidak 1. Merasa tidak segar saat bangun tidur 2. Mengantuk di siang hari 3. Iritabilitas 4. Kecemasan Kesimpulan kategori Insomnia : 1. Insomnia sementara/jangka pendek biasanya terjadi selama beberapa hari hingga satu minggu 2. Insomnia akut berkisar hingga satu bulan 3. Insomnia Kronis terjadi lebih dari satu bulan (Ardiatama, 2021)


57 Lampiran 5. Surat izin penelitian


58


59


60


61 Lampiran 6. Tabulasi Data Umum No. Resp Usia Jenis kelamin 1 2 1 2 1 2 3 3 2 4 3 2 5 1 1 6 2 1 7 1 1 8 2 1 9 2 1 10 3 2 11 1 1 Keterangan Usia : 61-70 tahun : 1 71-80 tahun : 2 81-90 tahun : 3 Jenis kelamin : Laki-laki : 1 Perempuan : 2


1 2 3 4 1 2 3 4 1 1 1 1 0 1 1 1 0 2 0 1 1 0 0 1 1 0 3 1 1 1 0 1 0 1 0 4 1 0 1 0 1 0 0 0 5 1 1 1 0 1 0 1 0 6 1 1 1 0 1 1 1 0 7 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 0 9 0 1 1 1 0 1 1 1 10 1 1 1 0 1 1 1 0 11 0 1 1 0 0 1 1 0 Total 8 10 11 3 8 8 10 2 OBSERVA No. Resp Hari ke-1 Hari ke-3 Tanda dan Gejala Insomnia Tanda dan Gejala Insomnia Keterangan Ya : 1 Tidak : 0


62 Lampiran 7. Tabulasi Data Observasi 1 2 3 4 1 2 3 4 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 3 2 8 0 0 1 2 0 ASI Hari ke-5 Hari ke-7 a Tanda dan Gejala Insomnia Tanda dan Gejala Insomnia


1 2 3 4 1 2 3 2 3 2 2 2 2 1 3 2 3 2 1 4 2 3 2 0 5 2 3 2 3 6 2 3 3 3 7 3 3 3 3 8 2 3 3 3 9 2 3 2 2 10 2 3 2 1 11 2 3 2 1 No. Resp Komponen HASIL PITTSBURGH SLE SEBELUM


63 Lampiran 8. Tabulasi data kualitas tidur sebelum minum susu 5 6 7 1 0 1 12 Tidur buruk 1 0 1 9 Tidur buruk 1 0 1 10 Tidur buruk 1 0 0 8 Tidur buruk 1 0 1 12 Tidur buruk 1 0 1 13 Tidur buruk 1 0 2 15 Tidur buruk 1 0 2 14 Tidur buruk 1 0 1 11 Tidur buruk 1 0 1 10 Tidur buruk 1 0 1 10 Tidur buruk n EEP QUALITY INDEX (PSQI) MINUM SUSU Jumlah Keterangan


1 2 3 4 1 0 2 1 0 2 0 0 1 0 3 1 1 2 0 4 1 1 1 0 5 0 2 1 0 6 1 2 1 0 7 2 3 3 2 8 2 3 2 2 9 0 1 1 0 10 1 1 2 0 11 0 0 1 0 No. Resp Komponen HASIL PITTSBURGH SLE SESUDAH


64 Lampiran 9. Tabulasi data kualitas tidur sesudah minum susu 5 6 7 1 0 0 4 Tidur baik 1 0 0 2 Tidur baik 1 0 0 5 Tidur baik 1 0 0 4 Tidur baik 1 0 0 4 Tidur baik 1 0 0 5 Tidur baik 1 0 1 11 Tidur buruk 1 0 1 11 Tidur buruk 1 0 0 3 Tidur baik 1 0 0 5 Tidur baik 1 0 0 2 Tidur baik n EEP QUALITY INDEX (PSQI) MINUM SUSU Jumlah Keterangan


65 Lampiran 10. Dokumentasi Penelitian


66 Lampiran 11. Lembar Konsultasi


67


68


69 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Curriculum Vitae A. DATA PRIBADI 1. Nama : Haifah Nur Maftukha 2. Tempat & Tanggal Lahir : Ponorogo, 30 April 2000 3. Jenis Kelamin : Perempuan 4. Agama : Islam 5. Alamat Asal : Jl. Parang Garuda I, Patihan Wetan, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, 63491 6. No. Telepon : 0895353666535 7. Email : [email protected] B. RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL 1. SD : MI MA’ARIF PATIHAN WETAN (2007 - 2013) 2. SMP : SMPN 6 PONOROGO (2013 - 2016) 3. SMA : MAN 2 PONOROGO (2016 - 2019)


Click to View FlipBook Version