KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN OSTEOPOROSIS DENGAN
PENDEKATAN HEALTH BELIEF MODEL TERHADAP SIKAP
PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA WANITA PREMENOPAUSE
FERNANDA SHOFI HANDAYANI
P17230193073
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2022
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN OSTEOPOROSIS DENGAN
PENDEKATAN HEALTH BELIEF MODEL TERHADAP SIKAP
PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA WANITA PREMENOPAUSE
KARYA TULIS ILMIAH
FERNANDA SHOFI HANDAYANI
P17230193073
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2022
KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN OSTEOPOROSIS DENGAN
PENDEKATAN HEALTH BELIEF MODEL TERHADAP SIKAP
PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA WANITA PREMENOPAUSE
FERNANDA SHOFI HANDAYANI
P17230193073
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2022
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN OSTEOPOROSIS DENGAN
PENDEKATAN HEALTH BELIEF MODEL TERHADAP SIKAP
PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA WANITA PREMENOPAUSE
Karya Tulis Ilmiah ini Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Menyelesaikan
Program Studi Diploma III Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang
FERNANDA SHOFI HANDAYANI
P17230193073
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
TAHUN 2022
i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
iii
LEMBAR PENGESAHAN
iv
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat Menyusun
Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Osteoporosis
dengan Pendekatan Health Belief Model Terhadap Sikap Pencegahan Osteoporosis
Pada Wanita Premenopause” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
pendidikan di Program Studi D-III Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis tidak lepas dari bantuan
dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Budi Susatia, S.Kp.,M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Malang.
2. Imam Subekti, S.Kp.,M.Kep., Sp.Kom., selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang.
3. Dr.Ns.Sri Mugianti, M.Kep., selaku Ketua Program Studi Diploma 3
Keperawatan Blitar Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang.
4. Dr. Suprajitno, S.Kp., M.Kes., selaku Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah
yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan Karya
Tulis Ilmiah ini.
5. Ns. Tri Cahyo S, M.Kep., Sp.KMB., selaku Dosen Penguji yang berkenan
memberikan saran dan dukungan kepada penulis dalam memperbaiki
penyusunan Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus ini.
v
6. Seluruh dosen dan staf pegawai Program Studi D-III Keperawatan Blitar yang
telah memberikan ilmu dan bantuannya.
7. Kedua orang tua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan motivasi,
dukungan dan semangat.
8. Sahabat sahabat saya yang telah mendukung dan memberikan semangat untuk
menyelesaikan Karya Tulis Imiah Ini.
9. Teman-teman seperjuangan Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes
Malang Program Studi D3 Keperawatan Blitar yang telah sama-sama berjuang
untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Dan semua pihak yang telah memberikan dorongan dan bantuannya selama
pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah
masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan
demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini, semoga Karya Tulis Ilmiah ini
bermanfaat bagi semua pihak.
Blitar, 5 Juli 2022
Penulis
Fernanda Shofi Handayani
NIM. P17230193073
vi
ABSTRAK
Fernanda, Shofi Handayani (2022). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Osteoporosis
dengan Pendekatan Health Belief Model Terhadap Sikap Pencegahan
Osteoporosis Pada Wanita Premenopause. Karya Tulis Ilmiah, Program
Studi D3 Keperawatan Blitar, Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Malang. Pembimbing: Dr.Suprajitno, S.Kp.,M.Kes.
Premenopause merupakan suatu masa saat tubuh mulai bertransisi menuju masa
menopause dan pada masa ini wanita beresiko mengalami penyakit osteoporosis
dikarenakan pada saat premenopause, kadar estrogen mengalami penurunan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan
osteoporosis dengan pendekatan health belief model terhadap sikap pencegahan
osteoporosis pada wanita premenopause. Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif dengan desain pre experimental with one group pretes-postest without
control group design. Penentuan sampel menggunakan purposive sampling.
Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Tarum Desa Karangsono Kecamatan
Kwadungan Kabupaten Ngawi dengan sampel sebanyak 32 responden. Teknik
pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan terjadi
peningkatan responden yang memiliki sikap positif dari 12 responden (37,5%)
menjadi 20 responden (62,5%) setelah pemberian pendidikan kesehatan. Uji
statistik menggunakan uji Wilcoxon signed rank test dengan tingkat signifikasi p
value = 0,000 < α=0,05. Hasil penelitian adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan
osteoporosis dengan pendekatan health belief model terhadap sikap pencegahan
osteoporosis pada wanita premenopause.
Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan Osteoporosis, Sikap Pencegahan Osteoporosis,
Wanita Premenopause.
vii
ABSTRACT
Fernanda, Shofi Handayani (2022). The Effect of Osteoporosis Health Education
with a Health Belief Model Approach on Osteoporosis Prevention
Attitudes in Premenopausal Women. Scientific papers, Blitar Nursing D3
Study Program, Nursing Department of Health Polytechnic, Ministry of
Health Malang. Supervisor: Dr. Suprajitno, S.Kp.,M.Kes.
Premenopause is a time when the body begins to transition to menopause and at this
time women are at risk for osteoporosis because during premenopause, estrogen
levels decrease. This study aims to identify the effect of osteoporosis health
education with a health belief model approach on osteoporosis prevention attitudes
in premenopausal women. This study uses a quantitative method with a pre-
experimental design with one group pretest-posttest without control group design.
Determination of the sample using purposive sampling. This research was
conducted in Tarum Hamlet, Karangsono Village, Kwadungan District, Ngawi
Regency with a sample of 32 respondents. Data collection techniques using a
questionnaire. The results showed an increase in respondents who had a positive
attitude from 12 respondents (37.5%) to 20 respondents (62.5%) after the provision
of health education. The statistical test used the Wilcoxon signed rank test with a
significance level of p value = 0.000 < = 0.05. The result of this research is that
there is an effect of osteoporosis health education with a health belief model
approach on osteoporosis prevention attitudes in premenopausal women.
Keywords: Osteoporosis Health Education, Osteoporosis Prevention Attitudes,
Premenopausal Women.
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN............................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................ v
ABSTRAK ............................................................................................................ vii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL................................................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................ xiii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 5
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 5
1.3.1 Tujuan Umum......................................................................................... 5
1.3.2 Tujuan khusus......................................................................................... 6
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................... 6
1.4.1 Secara Teoritis ........................................................................................ 6
1.4.2 Secara Praktis ......................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 8
2.1 Konsep Pendidikan Kesehatan......................................................................... 8
2.1.1 Pengertian Pendidikan Kesehatan .......................................................... 8
2.1.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan ................................................................ 8
2.1.3 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan .................................................. 9
2.1.4 Dimensi Sasaran Pendidikan Kesehatan................................................. 9
2.1.5 Dimensi Tempat Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan ............................ 9
2.1.6 Dimensi Tingkat Pelayanan Kesehatan .................................................. 9
2.1.7 Metode Pendidikan Kesehatan ............................................................. 12
2.2 Konsep Health Belief Model (HBM) ............................................................. 13
2.2.1 Pengertian Health Belief Model (HBM)............................................... 13
2.2.2 Dimensi Health Belief Model ............................................................... 14
2.3 Konsep Sikap ................................................................................................. 15
ix
2.3.1 Pengertian Sikap ................................................................................... 15
2.3.2 Tingkatan Sikap.................................................................................... 16
2.3.3 Komponen Sikap .................................................................................. 17
2.3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap............................................ 17
2.3.5 Pengukuran Sikap ................................................................................. 19
2.4 Konsep Osteoporosis ..................................................................................... 19
2.4.1 Pengertian Osteoporosis ....................................................................... 19
2.4.2 Klasifikasi Osteoporosis ....................................................................... 20
2.4.3 Gejala Osteoporosis.............................................................................. 20
2.4.4 Penyebab osteoporosis.......................................................................... 21
2.4.5 Pencegahan Osteoporosis ..................................................................... 22
2.4.6 Pengobatan Osteoporosis...................................................................... 23
2.5 Konsep Wanita............................................................................................... 23
2.5.1 Pengertian Wanita................................................................................. 23
2.5.2 Peran Wanita......................................................................................... 24
2.6 Konsep Premenopause ................................................................................... 25
2.6.1 Pengertian Premenopause..................................................................... 25
2.6.2 Terminologi Premenopause.................................................................. 25
2.6.3 Gejala Premenoapuse ........................................................................... 26
2.7 Kerangka Konseptual..................................................................................... 28
2.8 Hipotesis Penelitian ....................................................................................... 28
BAB II METODE PENELITIAN......................................................................... 29
3.1 Desain Penelitian ........................................................................................... 29
3.2 Kerangka Kerja Penelitian ............................................................................. 29
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian.................................................... 30
3.3.1 Populasi ................................................................................................ 30
3.3.2 Sampel .................................................................................................. 30
3.3.3 Sampling............................................................................................... 31
3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................................... 31
3.4.1 Lokasi Penelitian .................................................................................. 31
3.4.2 Waktu Penelitian .................................................................................. 31
3.5 Variabel dan Definisi Operasional................................................................. 32
x
3.5.1 Variabel Penelitian ............................................................................... 32
3.5.2 Definisi Operasional ............................................................................. 32
3.6 Pengumpulan Data ......................................................................................... 36
3.6.1 Instrumen Pengumpulan Data .............................................................. 36
3.6.2 Tahap Pengumpulan Data..................................................................... 38
3.7 Pengolahan dan Analisa Data ........................................................................ 39
3.7.1 Pengolahan Data ................................................................................... 39
3.7.2 Analisa Data ......................................................................................... 41
3.8 Etika Penelitian .............................................................................................. 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 44
4.1 Hasil Penelitian .............................................................................................. 44
4.1.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ................................................... 44
4.1.2 Data Umum .......................................................................................... 44
4.1.3 Data Khusus.......................................................................................... 47
4.2 Pembahasan.................................................................................................... 49
4.2.1 Karakteristik Responden....................................................................... 49
4.2.2 Sikap Sebelum Intervensi Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan
Oteoporosis Pada Wanita Premenopause ............................................. 50
4.2.3 Sikap Sesudah Intervensi Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan
Osteoporosis Pada Wanita Premenopause............................................ 51
4.2.4 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Osteoporosis dengan Pendekatan
Health Belief Model Terhadap Sikap Pencegahan Osteoporosis
Pada Wanita Premenopause di Dusun Tarum ...................................... 52
4.2.5 Keterbatasan Penelitian......................................................................... 54
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................ 56
5.1 Kesimpulan .................................................................................................... 56
5.2 Saran .............................................................................................................. 56
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 58
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional ........................................................................... 34
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi umur wanita premenopause di Dusun Tarum,
Juni 2022 (n=32)................................................................................. 44
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi agama wanita premenopause di Dusun Tarum,
Juni 2022 (n=32)................................................................................. 45
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi pekerjaan wanita premenopause di Dusun Tarum,
Juni 2022 (n=32) ................................................................................. 45
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi status pernikahan wanita premenopause
di Dusun Tarum, Juni 2022 (n=32) .................................................... 45
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi pendidikan terakhir wanita premenopause
di Dusun Tarum, Juni 2022 (n=32) .................................................... 46
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi informasi wanita premenopause
di Dusun Tarum,Juni 2022 (n=32) ..................................................... 46
Tabel 4.7 Distribusi frekuensi sumber informasi wanita premenopause
di Dusun Tarum, Juni 2022. ............................................................... 47
Tabel 4.8 Distribusi frekuensi sikap wanita premenopause sebelum
dilakukannya pendidikan kesehatan tentang pencegahan
osteoporosis di Dusun Tarum, Juni 2022 ........................................... 47
Tabel 4.9 Distribusi frekuensi sikap wanita premenopause sesudah
dilakukannya pendidikan kesehatan tentang pencegahan
osteoporosis di Dusun Tarum, Juni 2022 ........................................... 48
Tabel 4.10 Hasil analisis pengaruh pendidikan kesehatan osteoporosis
dengan pendekatan health belief model terhadap sikap
pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause di Dusun
Tarum, Juni 2022.............................................................................. 48
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Penjelasan Kepada Calon Partisipan................................. 63
Lampiran 2. Lembar Persetujuan Menjadi Partisipan......................................... 64
Lampiran 3. Kisi-Kisi kuesioner ......................................................................... 65
Lampiran 4. Lembar Kuesioner penelitian.......................................................... 66
Lampiran 5. Kuesioner Sikap Pencegahan Osteoporosis.................................... 68
Lampiran 6. Satuan Acara Penyuluhan............................................................... 70
Lampiran 7. Materi Pendidikan Kesehatan Sikap Pencegahan
Osteoporosis Dengan Pendekatan Health Belief Model.................. 73
Lampiran 8. Media .............................................................................................. 77
Lampiran 9. Surat Izin Penelitian........................................................................ 78
Lampiran 10. Tabulasi Data Umum.................................................................... 80
Lampiran 11. Tabulasi Data Khusus (Pretest) .................................................... 81
Lampiran 12. Tabulasi Data Khusus (Posttest)................................................... 83
Lampiran 13. Hasil Analisa Data ........................................................................ 85
Lampiran 14. Dokumentasi Penelitian................................................................ 87
Lampiran 15. Lembar Konsultasi........................................................................ 88
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Premenopause merupakan suatu masa saat tubuh mulai bertransisi menuju
masa menopause. Pada masa ini umumnya tingkat produksi hormon estrogen
mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak beraturan (Malintang et al., 2016).
Premenopause merupakan kondisi fisiologis pada perempuan yang telah menuju
masa penuaan yang ditandai dengan penurunan kadar hormon estrogen yang berasal
dari ovarium yang memiliki peranan dalam seksualitas dan reproduksi. Gejala
menopause sebagian besar mulai dialami oleh perempuan pada usia 40 tahun dan
mencapai puncaknya pada usia 50 tahun. Pada fase ini ditandai dengan pendarahan
haid yang memanjang, siklus haid yang tidak teratur, jumlah darah haid yang
meningkat, dan terkadang disertai nyeri haid (Rudi Karmi, 2021). Masa
premenopause adalah masa dimana terjadi perubahan pola menstruasi, perubahan
psikologis/kejiwaan, dan perubahan fisik yang disebabkan oleh berkurangnya
hormone estrogen. Pada masa ini wanita rentan mengalami osteoporosis, tertutama
terjadi pada daerah panggul, dada dan pinggang (Nurtika Sari & Noviasari, 2016).
Pada tahun 2025 diperkirakan jumlah lansia diseluruh dunia yang terkena
osteoporosis akan mencapai 1,2 miliar orang dan akan terus bertambah. Pada tahun
2050 diperkirakan angka patah tulang pangul akan meningkat dua kali lipat pada
wanita. Laporan WHO juga menunjukkan bahwa sebesar 50% patah tulang adalah
patah pada tulang paha atas yang dimungkinkan dapat mengakibatkan kecacatan
seumur hidup bahkan kematian (WHO, 2020). Osteoporosis hingga saat ini masih
1
2
menjadi suatu masalah kesehatan masayarakat didunia terutama pada negara
berkembang. Data tahun 2013 memperlihatkan prevalensi osteoporosis pada
perempuan berusia 50- 80 tahun adalah sebesar 23% dan usia 70-80 tahun sebesar
53%. Selama ini osteoporosis identik dengan orang tua, namun faktanya
osteoporosis dapat menyerang usia muda. Osteoporosis termasuk penyakit
degeneratif. Hasil penelitian dari International Osteoporosis Foundation (IOF)
mengatakan bahwa 1 dari 4 wanita di Indonesia dengan kisaran usia 50-80 tahun
memiliki lebih beresiko mengalami osteoporosis dan wanita di Indonesia memiliki
resiko 4 kali lebih tinggi daripada lelaki. Pada umumnya osteoporosis ini terjadi
pada perempuan saat pasca menopause. Osteoporosis tidak memunculkan tanda
fisik secara nyata hingga menyebabkan pengeropososan pada usia lanjut. Hormon
estrogen yang hilang setelah menopause menyebabkan meningkatnya resiko
terjadinya osteoporosis (Kemeterian Kesehatan RI, 2015). Pada tahun 2017 jumlah
pendudukan Indonesia mencapai 261,89 juta orang yang terdiri dari perempuan
berusia 45-55 tahun dan jumlah wanita dengan umur menopause diperkirakan
berjumah 15,8 juta orang (Badan Pusat Statistik, 2017). Jumlah wanita
premenopause yang menderita osteoporosis belum diketahui secara pasti tetapi
risiko osteoporosis pada wanita cukup tinggi (A. Y. Rahmawati, 2017). Pada
wanita, osteoporosis sering terjadi pada usia >50 tahun, namun pada saat ini 26%
wanita usia <50 tahun (pre-menopause) sudah mengalami gejala awal osteoporosis
(A. D. Rahmawati, 2013)
Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang umum dijumpai dan
berhubungan erat dengan resiko terjadinya fraktur sehingga merupakan salah satu
masalah kesehatan masyarakat yang besar (Rawung & Bagy, 2021). Osteoporosis
3
sering dijumpai pada orang tua, utamanya pada perempuan yang telah menopause.
Pada saat premenopause, wanita sangat beresiko mengalami penyakit osteoporosis.
Hal tersebut dikarenakan pada saat masa premenopause, kadar estrogen mengalami
penurunan. Umumnya masalah yang timbul pada fase premenopause adalah
keluhan yang mengganggu kualitas hidup dan beberapa penyakit yang timbul akibat
defisiensi estrogen. Masa premenopause berdampak pada terjadinya osteoporosis
(Setiani & Warsini, 2020).
Kejadian osteoporosis dipengaruhi berbagai faktor yang dapat diubah
seperti merokok, defisiensi vitamin dan gizi, gaya hidup, menopause dini,
penggunaan obat-obatan tertentu, minum alkohol, minum kopi, kurang gerak atau
tidak berolahraga serta pengetahuan mencegah osteoporosis yang kurang
(Situmorang, 2020). Kejadian osteoporosis dapat dicegah dengan menerapkan
hidup sehat yang didukung oleh pengetahuan (Asmarini, 2019). Osteoporosis sering
terjadi kepada orang tua, utamanya pada wanita yang telah menopause. Hal ini yang
membuat perlunya meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan osteoporosis
pada wanita premenopause dengan media promosi yang lebih efektif (Setiani &
Warsini, 2020). Pada lanjut usia biasanya terjadi penurunan fisik, psikologis,
maupun sosial serta berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh
luar dari ketahanan tubuhnya. Pengontrolan maupun pencegahan penyakit dapat
dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat (Sri et al., 2019).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan (Nurtikasari & Noviasari,
2019) yang berjudul hubungan pengetahuan ibu premenopause tentang
osteoporosis dengan sikap ibu dalam mencegah terjadinya osteoporosis di
Kelurahan Bawang Kota Kediri yang dilakukan pada 39 wanita premenopause,
4
pengetahuan yang baik yang dimiliki responden terkait dengan osteoporosis
mempengaruhi munculnya sikap responden untuk mencegah terjadinya
osteoporosis. Hal ini bisa dilihat pada wanita premenopause yang memiliki
pengetahuan yang baik mengenai osteoporosis, sebagian besar (57%) memiliki
sikap positif dalam mencegah osteoporosis. Sedangkan wanita premenopause
dengan tingkat pengetahuan kurang memiliki sikap negatif yaitu 43%.
Penyakit osteoporosis dapat dicegah dengan memberikan pendidikan
kesehatan mengenai osteoporosis kepada wanita premenopause sebagai sikap
pencegahnnya. Pendidikan kesehatan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang
ditujukan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat guna
meningkatkan kemampuan (perilakunya) dalam mencapai kesehatan secara
optiamal (Aryastuti, 2017) dalam (Rangkuti, 2021). Salah satu metode pemberian
pendidikan kesehatan osteoporosis dapat dilakukan dengan pendekatan health
belief model, dimana model pendekatan ini adalah salah satu model pertama yang
diciptakan untuk memberikan dorongan kepada masyarakat dalam melakukan sikap
menuju arah yang lebih positif. Teori health belief model menekankan bahwa
bagaimana seseorang mempunyai persepsi kerentanan terhadap suatu penyakit
yang dapat membahayakan kesehatan, sehingga individu tersebut akan bertindak
untuk dapat melakukan pencegahan terhadap ancaman dan membinasakan penyakit
yang kemungkinan akan menyerang (Kumalasari & Jaya, 2021). Teori health belief
model dipakai sebagai pendekatan dalam memberikan pendidikan kesehatan
osteoporosis dalam penelitian ini dikarenakan merupakan konsep utama seseorang
dalam mengambil sikap dalam mencegah penyakit, sehingga sesuai dengan
5
tindakan untuk mencegah penyakit osteoporosis khususnya pada wanita
premenopause.
Hasil studi pendahuluan nonformal yang dilakukan di Dusun Tarum Desa
Karangsono Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi pada 8 orang
premenopause dengan rentang usia 40-50 tahun. Pada saat dilakukan wawancara
terhadap 8 orang tersebut, mereka mengatakan tidak mengenal penyakit
osteoporosis dan pencegahan yang harus dilakukan. Selanjutnya hasil wawancara
kepada salah satu tokoh masyarakat di Dusun Tarum didapatkan informasi bahwa
selama ini belum pernah dilakukan pendidikan kesehatan dengan topik pencegahan
osteoporosis.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai pengaruh pendidikan kesehatan osteoporosis dengan
pendekatan Health Belief Model tehadap sikap pencegahan osteoporosis pada
wanita premenopause.
1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh pendidikan kesehatan osteoporosis dengan pendekatan
Health Belief Model terhadap sikap pencegahan osteoporosis pada wanita
premenopause?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan osteoporosis dengan
pendekatan Health Belief Model terhadap sikap pencegahan osteoporosis
pada wanita premenopause
6
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi sikap pencegahan osteoporosis pada wanita
premenopause sebelum diberikan pendidikan kesehatan
osteoporosis dengan pendekatan Health Belief Model
2. Mengidentifikasi sikap pencegahan osteoporosis pada wanita
premenopause setelah diberikan pendidikan kesehatan osteoporosis
dengan pendekatan Health Belief Model
3. Mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan osteoporosis
dengan pendekatan Health Belief Model terhadap sikap pencegahan
osteoporosis pada wanita premenopause.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukan penelitian ini adalah :
1.4.1 Secara Teoritis
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pengaruh
pendidikan kesehatan osteoporosis dengan pendekatan Health Belief
Model (HBM) terhadap sikap pencegahan osteoporosis pada wanita
premenopause.
1.4.2 Secara Praktis
a. Bagi Praktisi Keperawatan
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan informasi dalam upaya
peningkatan pelayanan keperawatan pada masyarakat tentang
pentingnya menerapkan hidup sehat dalam upaya pencegahan
osteoporosis dan diharapkan perawat menjadi change angent
7
dalam masyarakat untuk merubah paradigma sakit menjadi
paradigma sehat.
b. Bagi Intitusi Pendidikan
Sebagai masukan pengembangan profesi kesehatan peningkatan
program pendidikan kesehatan akan pentingnya menerapkan sikap
hidup sehat dalam upaya pencegahan osteoporosis.
c. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan ilmu
pengetahuan penulis mengenai pengaruh pendidikan kesehatan
Health Belief Model (HBM) terhadap pencegahan osteoporosis
pada wanita premenopause. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi dasar dan bahan untuk melakukan penelitian lanjutan yang
berhubungan dengan penelitian saat ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Pendidikan Kesehatan
2.1.1 Pengertian Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan pada diri
individu dengan tujuan agar tercapainya derajad sehat (Sari, 2013).
Pendidikan kesehatan merupakan cabang ilmu kesehatan masyarakat yang
terdiri dari tiga bidang ilmu, yaitu ilmu pendidikan, perilaku dan kesehatan
masyarakat. Pendidikan kesehatan adalah bentuk intervensi terhadap perilaku.
Pendekatan didasari oleh dugaan tentang hubungan pengetahuan dan perilaku.
Pengetahuan akan mengubah sikap individu untuk memotivasi dalam
perubahan perilaku. Selain itu, intervensi pendidikan juga diperlukan dalam
pelayanan kesehatan, lingkungan dan faktor keturunan (Notoatmodjo, 2021)
dalam (Sinaga et al., 2021).
2.1.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan
Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu
atau masyarakat dari perilaku yang tidak sehat menjadi perilaku sehat (Sari,
2013). Tujuan pendidikan kesehatan adalah :
1. Menciptakan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat
2. Mencapai tujuan hidup sehat dengan memberikan dorongan kepada
individu agar mampu secara mandiri maupun kelompok
menyelenggarakan kegiatan tertentu
3. Mendorong penggunaan dan perkembangan sarana pelayanan kesehatan
yang ada secara tepat (Ummah et al., 2021).
8
9
2.1.3 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai
dimensi yaitu dimensi sasaran, dimensi tempat pelaksanaan dan dimensi
tingkat pelayanan kesehatan (Fitriani, 2011).
2.1.4 Dimensi Sasaran Pendidikan Kesehatan
Dimensi yang menjadi sasaran pendidikan kesehatan ada 3 kelompok yaitu :
1. Pendidikan kesehatan individual sasarannya adalah individu
2. Pendidikan kesehatan kelompok sasarannya adalah kelompok
3. Pendidikan kesehatan masyarakat sasarannya adalah masyarakat luas
(Fitriani, 2011).
2.1.5 Dimensi Tempat Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat dilangsungkan diberbagai tempat dengan
sasaran yang berbeda yaitu :
1. Pendidikan kesehatan disekolah dengan sasaran murid
2. Pendidikan kesehatan dirumah sakit atau puskesmas dengan sasaran
pasien dan keluarga pasien
3. Pendidikan kesehatan ditempat kerja dengan sasaran karyawan atau
buruh yang bersangkutan (Fitriani, 2011).
2.1.6 Dimensi Tingkat Pelayanan Kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat
pencegahan (five level of prevention) menurut Leavel dan Clark adalah
sebagai berikut :
1. Promosi Kesehatan (Health Promotion)
10
Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan status
kesehatan masyarakat meliput :
a. Pendidikan kesehatan (health education)
b. Penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) misalnya penyuluhan
tentang gizi. Mengamati tumbuh kembang anak (growth and
development mentoring)
c. Mengadakan rumah sehat
d. Konsultasi tentang penikahan (marriage counselling)
e. Pendidikan sex (sex education)
f. Pengendalian lingkungan Program P2M (Pemberantasan Penyakit
Menular)
g. Program kesehatan lingkungan
2. Perlindungan umum dan khusus (general and spesifik protectiton)
Perlindungan umum dan khusus adalah upaya kesehatan dalam
memberi perlindungan baik secara umum maupun khusus pada
masyarakat atau individu. Hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat
masih rendah mengenai perlunya perlindungan umum dan khusus untuk
melindungi dirinya maupun anak-anaknya agar tidak terkena penyakit.
Bentuk dari perlindungan tersebut meliputi :
a. Imunisasi dan higiene perseorangan (personal hygiene)
b. Perlindungan diri dari kecelakaan (accidental safety)
c. Perlindungan diri dari lingkungan (protectif self environment)
d. Kesehatan kerja (occupational healyh)
e. Perlindungan diri dari karsinogen, toksin, dan alergen
11
f. Pengendalian sumber-sumber pencemaran dan lain- lain
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera atau adekuat (Earl diagnosis
prompt treatment)
Upaya ini dilakukan karena kesadaran dan tingkat pengetahuan
masyarakat mengenai kesehatan untuk mencegah penyakit masih rendah.
Sehingga sering mengalami kesulitan untuk menemukan penyakit-
penyakit yang terjadi di masyarakat. Bahkan terkadang masyarakat tidak
mau periksa atau sulit untuk periksa dan mengobati penyakitnya. Hal ini
mengakibatkan masyarakat tidak mendapat pelayanan kesehatan yang
cukup layak. Bentuk upaya tersebut dapat dilakukan melalui :
a. Penemuan kasus secara dini (earl case finding)
b. Pemeriksaan umum secara lengkap (general check up)
c. Pemeriksaan secara masal (mass sceening)
d. Survei terhadap kontak, sekolah, dan rumah (contact survei, school
survei, household survei)
e. Pengobatan yang adekuat (adekuate treatment) dan pananganan
kasus (case holding)
4. Pembatasan kecacatan (disability limitation)
Pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan
maupun penyakit yang kurang sering membuat masyarakat tidak mau
melanjutkan pengobatan penyakitnya sampai tuntas. Dengan kata lain,
masyarakat tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan secara
lengkap terhadap penyakitnya. Pengobatan yang tidak sempurna dan
tidak layak dapat mengakibatkan kecacatan pada orang yang melakukan
12
pengobatan tersebut. Oleh sebab itu, bentuk pendidikan kesehatan yang
diberikan sebagai berikut :
a. Penyempurnaan dan melakukan intensifikasi terapi lanjutan
b. Perbaikan fasilitas kesehatan
c. Pencegahan komplikasi
d. Penurunan beban sosial penderita, dan lain-lain
5. Rehabilitasi (rehabilitation)
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, terkadang
seseorang menjadi cacat. Untuk memulihkan kecacatannya tersebut
seseorang perlu melakukan latihan-latihan tertentu. Tetapi masyarakat
segan atau tidak mau melakukan latihan-latihan yang dianjurkan karena
kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat. Disisi lain, orang yang
mengalami kecacatan karena suatu penyakit tertentu terkadang malu
untuk kembali ke masyarakat. Sebagian masyarakat biasanya menolak
mereka dianggap tidak normal. Oleh karena itu, pendidakan kesehatan
dibutuhkan tidak untuk orang yang cacat saja, tetapi juga untuk
masyarakat lainnya (Cholifah et al., 2019).
2.1.7 Metode Pendidikan Kesehatan
1. Metode Pendidikan Individual
Metode pendidikan individual merupakan metode yang sifatnya
individual atau hanya untuk satu orang saja. Bentuk dari metode
individual ada 2 yaitu bentuk interview (wawancara) dan bentuk
bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) (Fitriani, 2011).
2. Metode Pendidikan Kelompok
13
a. Kelompok besar
Metode yang digunakan pada kelompok besar biasanya ceramah dan
seminar.
b. Kelompok Kecil
Metode yang biasa digunakan pada kelompok kecil adalah diskusi
kelompok, curah pendapat (brain storming), bola salju (snow
balling), kelompok kecil-kecil (buzz group), memainkan peranan
(role play), dan permainan simulasi (simulation game) (Fitriani,
2011).
3. Metode Media Massa
Pada umumnya bentuk pendekatan pada metode ini adalah tidak
langsung. Biasanya melalui atau menggunakan media massa. Contohnya
: ceramah umum, talk show, program TV atau radio yang berdialog
tentang masalah kesehatan, artikel kesehatan, sinetron atau drama
tentang kesehatan, serta poster atau spanduk tentang kesehatan (Fitriani,
2011).
2.2 Konsep Health Belief Model (HBM)
2.2.1 Pengertian Health Belief Model (HBM)
Health Belief Model (HBM) merupakan model promosi kesehatan
yang pertama kali dikemukakan oleh Resenstock pada tahun 1966 dan
kemudian disempurnakan oleh Becker, dkk pada tahun 1980. Model
keyakinan kesehatan ini menegaskan bahwa keyakinan seseorang akan
kerentanan terhadap penyakit atau masalah kesehatan dapat mempengaruhi
keputusan seseorang dalam perilaku kesehatan (Kholid, 2012). HBM
14
merupakan pendekatan psikologi sosial yang merupakan perilaku seseorang
sebagai kunci keberhasilan dalam melaksanakan kesehatan (Suryani &
Purwodiharjo, 2020). Teori Health Belief Model (HBM) adalah teori yang
digunakan dalam memprediksi perilaku kesehatan individu, yang menyatakan
bahwa persepsi dapat mempengaruhi perubahan perilaku individu (Zulkarni
et al., 2019).
2.2.2 Dimensi Health Belief Model
Health Belief Model (HBM) terdiri dari enam elemen utama, yaitu
(Janz and Becker, 1984) dalam (Pakpahan et al., 2021) :
1. Perceived susceptibility (kerentanan yang dirasakan)
Hal ini berkaitan dengan keyakinan individu tentang
kemungkinan akan tertular penyakit. Pada kondisi tertentu masing-
masing individu mempunyai kerentanan yang berbeda, hal ini
disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk usia (penyakit alzheimer),
demografi (kanker payudara dan wanita), riwayat penyakit keluarga
(penyakit jantung). Seseorang yang meyakini bahwa dirinya lebih rentan
terkena penyakit atau suatu kondisi tertentu kemungkinan akan lebih
mengarah untuk mengubah perilakunya, sedangkan mereka yang tidak
merasa rentan terhadap suatu penyakit akan memiliki sedikit motivasi
untuk mengubah perilakunya.
2. Perceived severity (keseriusan yang dirasa)
Hal ini berkaitan dengan keseriusan suatu penyakit yang
akibatnya akan berpengaruh pada kehidupan individu baik secara fisik
(misalnya kecacatan, kematian, rasa sakit) dan sosial (yang berpengaruh
15
pada keluarga atau berpengaruh pada kemampuan individu untuk
mempertahankan karier)
3. Perceived benefitsm (manfaat yang dirasakan)
Hal ini berkaitan terhadap keyakinan individu bahwa kesehatan
dipengaruhi oleh perubahan perilaku misalnya, pengematan biaya.
4. Perceived barriers (hambatan yang dirasakan)
Hal ini terkait pada keyakinan individu pada akibat negatif dari
perubahan perilaku, misalnya mempertimbangkan waktu, biaya, efek
samping, dan kenyamanan.
5. Cues to action (isyarat untuk bertindak)
Adanya suatu dorongan yang memotivasi individu untuk
mengubah perilaku.
6. Self efficacy
Adalah suatu keyakinan diri pada individu untuk dapat berhasil
mengubah perilaku.
2.3 Konsep Sikap
2.3.1 Pengertian Sikap
Sikap adalah wujud persepsi seorang tehadap objek tertentu yang
digambarkan dengan ekspresi suka maupun tidak suka (Kurniawan et al.,
2018). Sikap adalah suatu keinginan individu dalam merespon suatu objek
(Zahara et al., 2017). Sikap merupakan reaksi atau respons tertutup seseorang
terhadap suatu objek atau stimulus, baik yang sifatnya intern ataupun ekstern
sehingga tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi hanya bisa menafsirkan
terlebih dahulu dari perilaku tertutup tersebut. Sikap dapat diukur secara
16
langsung maupun tidak langsung, melalui pertanyaan atau pendapat
responden terhadap suatu objek yang secara tidak langsung dilakukan dengan
pertanyaan hipotesis, lalu dinyatakan sebagai pendapat responden (Irwan,
2017). Menurut Notoatmodjo (2005) dalam (Irwan, 2017), sikap adalah
respon atau reaksi yang sifatnya tertutup dari seorang individu terhadap suatu
objek atau stimulus. Sikap juga merupakan kesediaan atau kesiapan seseorang
untuk bertidak.
2.3.2 Tingkatan Sikap
Menurut (Pakpahan et al., 2021) sikap terdiri dari 4 tingkatan yaitu :
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2. Menanggapi (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan
suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang
diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, berarti bahwa
orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan seseorang mampu memberikan nilai positif
terhadap suatu objek berupa tindakan atau pemikiran tentang masalah
tersebut.
4. Bertanggung jawab (responsible)
17
Bertanggung jawab diartikan bahwa seseorang mampu mengambil risiko
dengan bertindak dan berpikir secara berbeda
2.3.3 Komponen Sikap
Menurut (Azwar, 2013) dalam (Sukesih et al., 2020)
1. Komponen Kognitif (cognitive component)
Komponen kognitif merupakan komponen sikap tentang pikiran dan
keyakinan seseorang tentang apa yang terjadi.
2. Komponen Afektif (affective component)
Komponen afektif merupakan komponen yang melibatkan perasaan atau
masalah emosional seseorang dengan suatu objek.
3. Komponen Perilaku/ Konatif (behavioral component)
Komponen perilaku merupakan komponen sikap yang dapat
mempengaruhi perilaku seseorang dan menunjukkan kecenderungan
seseorang untuk berperilaku pada orang yang dihadapinya.
2.3.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Menurut (Batbual, 2021) faktor yang mempengaruhi sikap antara lain :
1. Pengalaman Pribadi
Sikap yang diperoleh melalui pengalaman akan memiliki pengaruh
langsung terhadap perilaku selanjutnya. Pengaruh langsung dapat berupa
perilaku yang cenderung terjadi hanya jika kondisi dan keadaan
memungkinkan.
2. Orang lain
18
Orang cenderung mengambil sikap seperti itu Mengkoordinasikan atau
mencocokkan sikap orang-orang yang dianggap berpengaruh, seperti
orang tua, teman dekat, dan teman sebaya.
4. Kebudayaan
Budaya tempat kita hidup mempengaruhi pembentukan sikap manusia.
5. Media massa
Berbagai media massa dijadikan sebagai sarana komunikasi. Televisi,
radio, surat kabar, dan internet dapat mempengaruhi penyampaian pesan,
termasuk sugesti yang dapat menimbulkan opini, yang dapat menjadi
basis bukti untuk membentuk sikap.
6. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan dan agama dari sistem Keduanya meletakkan dasar
bagi makna dan konsep moralitas individu dan dengan demikian
mempengaruhi pembentukan sikap. Pemahaman tentang pro dan kontra
tentang apa yang bisa dan tidak bisa diperoleh melalui pusat pendidikan
dan keagamaan dan ajarannya.
7. Faktor emosional
Tidak semua sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman
pribadi Anda. Terkadang bentuk sikap adalah pernyataan berbasis emosi
yang berfungsi sebagai semacam keluarnya frustrasi atau sebagai
pengalih perhatian terhadap mekanisme pertahanan ego. Sikap ini bisa
bersifat sementara dan menghilang segera setelah rasa frustrasinya
hilang, tetapi bisa juga lebih permanen dan permanen. Sikap tidak secara
otomatis memanifestasikan dirinya dalam tindakan yang
19
memungkinkannya, di atas segalanya, sikap positif perlu didukung oleh
institusi.
2.3.5 Pengukuran Sikap
Menurut (Unaradjan, 2019) salah satu cara pengukuran skala sikap
yaitu: Skala ini umumnya dimulai dengan penyusunan jumlah pertanyaan
sikap (item). Untuk masing-masing item, penyusun perlu menetapkan apakah
pernyataan sikap yang disusunnya itu menunjukan dukungan (favourable)
atau penolakan (unfavourable) terhadap obyek sikap. Oleh karena itu, dalam
memberikan respon subyek diizinkan memilih salah satu dari kemungkinan
jawaban yang disediakan; sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan
sangat tidak setuju. Dengan demikian subyek yang sangat positif sikapnya
terhadap suatu obyek akan memiliki jawaban “sangat setuju” untuk
pernyataan positif. Salah satu skor standar yang sering digunakan yaitu skor
T.
T = 50 + 10 [ − ]
Dengan :
X = skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T
= mean skor kelompok
S = deviasi standar skor kelompok
2.4 Konsep Osteoporosis
2.4.1 Pengertian Osteoporosis
Osteoporosis merupakan suatu bentuk kelainan tulang yang ditandai
dengan penurunan massa dan kepadatan tulang secara keseluruhan disertai
20
dengan kerusakan arsitektur tulang yang mengakibatkan penurunan kekuatan
tulang (Lesmana & Broto, 2018). Osteoporosis adalah suatu kondisi yang
ditandai dengan penurunan kepadatan massa tulang dengan risiko
mikrofraktur, terutama patah tulang pinggul (Humaryanto & Syauqy, 2019).
Osteoporosis adalah penurunan kepadatan tulang secara progresif, sehingga
tulang menjadi rapuh dan mudah patah (Anjarwati, 2010).
2.4.2 Klasifikasi Osteoporosis
Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu:
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer berkaitan dengan kelainan pada tulang, yang dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan proses resorpsi pada tulang
trabekula sehingga dapat meningkatkan risiko fraktur vertebrata dan
Colles. Saat usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering
terkena osteoporosis dari pada pria pada usia rata-rata 53-57 tahun.
2. Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder bisa disebabkan oleh penyakit atau penyebab
lain di luar tulang, misalnya akibat infeksi, trauma, atau pernah
mengalami fraktur. Meskipun demikian belum dapat diketahui secara
pasti berapa lama untuk meningkatkan massa tulang untuk
meningkatkan massa tulang selain faktor genetik (Wahyuni, 2021).
2.4.3 Gejala Osteoporosis
Penyakit osteoporosis biasanya disebut sebagai silent disease karena
proses kepadatan tulang mengalami pernurunan secara perlahan dan
21
berlangsung dengan progresif selama bertahun-tahun. Gejala osteoporosis
baru muncul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti :
1. Patah tulang
2. Hilangnya tinggi badan
3. Punggung yang semakin membungkuk
4. Nyeri pada punggung (Anjarwati, 2010)
2.4.4 Penyebab osteoporosis
Osteoporosis disebabkan oleh berbagai faktor, ada yang dapat
dihindari dan ada yang tidak. Berikut ini faktor penyebab osteoporosis yang
dapat dihindari :
1. Keturunan
Jika karena faktor keturunan ada yang mengalami osteoporosis
(misalnya bungkuk), maka kemungkinan seseorang beresiko mengalami
osteoporosis juga lebih besar.
2. Usia
Tingkat kepadatan tulang dengan alami akan mengalami pengurangan
ketika telah memasuki usia 35 tahun.
3. Hormon
Jika haid telah berhenti, wanita lebih beresiko terkena osteoporosis. Hal
tersebut disebabkan karena wanita mengalami perubahan hormon yang
bisa menyebabkan penurunan secara signifikan kinerja tubuh dalam
penyerapan kalsium.
4. Postur
22
Bentuk tubuh yang kurus atau mungil lebih beresiko mangalami
osteoporosis daripada yang memiliki tubuh besar atau gemuk.
5. Kurang berolahraga
Seseorang bisa terkena osteoporosis bila kurang melakukan olahraga
utamanya olahraga aerobik, dan jarang mengerjakan olahraga fisik
(Syam, Noersasongko, & Sunaryo, 2014).
2.4.5 Pencegahan Osteoporosis
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis yaitu :
1. Asupan kaslium cukup
Mengonsumsi kalsium yang cukup dapat membantu mempertahankan
dan meningkatkan kepadatan tulang. Mengonsumsi tambahan vitamin D
dan meminum 2 gelas susu setiap hari, dapat membantu peningkatan
untuk memadatkan tulang terutama pada perempuan setengah baya
belum menerima asupan kalsium sebelumnya.
2. Melakukan olah raga beban
Selain berolahraga dengan alat beban, berat badan kita sendiri juga bisa
digunakan untuk beban yang bisa membantu peningkatan untuk
memadatkan tulang. Olahraga beban ini contohnya menaiki tangga dan
berjalan.
3. Gaya hidup sehat
Gaya hidup sehat bisa dilakukan kapan saja. Menjauhi rokok dan alkohol
merupakan pengaruh yang drastis untuk mencegah resiko osteoporos.
4. Paparan sinar UV B matahari
23
Paparan sinar matahari UV B dapat menunjang tubuh menghasilkan
vitamin D yang diperlukan oleh tubuh untuk membentuk masa tulang
(Syam, Noersasongko, & Sunaryo, 2014).
2.4.6 Pengobatan Osteoporosis
Tujuan utama pengobatan adalah untuk meningkatkan kepadatan
tulang. Semua wanita, terutama penderita osteoporosis, harus mengonsumsi
vitamin D dan kalsium dalam jumlah yang cukup (Junaidi 2009) dalam
(Syam, Noersasongko, & Sunaryo, 2014). Kebanyakan orang berasumsi
bahwa mengonsumsi vitamin D dan kalsium dan meminum satu gelas susu
dalam sehari, merasa sudah cukup dan dapat menjadikan tulang kuat. Tetapi
kenyataanya selain butuh dijadikan padat, tulang juga perlu dikuatkan. Tulang
menjadi tipis dan rapuh karena efek berkurangnya hormon dan proses menuju
tua. Diperlukan obat-obatan yang dianjurkan utuk dikonsumsi dalam jangka
panjang untuk membantu menjaga tulang agar sehat. Obat-obatan tersebut
adalah :
1. Golongan bifosfonat
2. Raloxifene
3. Kalsitonin
4. Tibolone (Syam, Noersasongko, & Sunaryo, 2014).
2.5 Konsep Wanita
2.5.1 Pengertian Wanita
Secara terminologi, wanita merupakan istilah umum yang dipakai untuk
menggambarkan perempuan dewasa. Secara etimologi wanita dari asal
bahasanya tidak merujuk pada wanita yang ditata atau diatur oleh laki-laki.
24
Makna wanita yaitu bangsa manusia yang berkulit halus, sendi tulang yang
lemah dan agak berbeda bentuk dari susunan bentuk tubuh laki-laki.
Pengertian wanita menurut ahli psikologi adalah wanita dewasa yang berada
pada kisaran umur 20-40 tahun, dalam penjabaran secara teoritis tergolong
berada pada rentang umur di masa dewasa muda atau dewasa awal. Istilah
dewasa awal atau adult berasal dari bentuk lampau, kata adult memiliki arti
telah tumbuh dengan kekuatan atau ukuran yang sempurna atau telah jadi
dewasa (Sarlito, 2012) dalam (Andayani, 2019).
2.5.2 Peran Wanita
Dalam peran dan kebutuhan gender, peran wanita terdiri atas (Pujiwulansari,
2011) dalam (Pratiwi et al., 2016) :
1. Peran produktif
Peran produktif ini mirip dengan peran transisi, yakni seorang wanita
mempunyai tugas tambahan untuk mencari nafkah tambahan bagi
keluarganya. Peran produktif merupakan peran untuk menghasilkan
uang atau barang yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi. Peran
ini biasanya identik dengan peran wanita disektor publik, contoh
penjahit, guru, buruh, petani perwat, dan lain-lain.
2. Peran reproduksi
Pada dasarnya hampir sama dengan peran tradisional, hanya saja peran
ini lebih menitikberatkan pada kodrat wanita secara biologis, tidak dapat
dihargai dengan nilai uang / barang. Peran ini pada akhirnya diikuti
dengan mengerjakan kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah.
25
3. Peran social
Peran sosial pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan para ibu rumah
tangga untuk mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat. Tingkat
peran wanita tidak sama diberbagai tempat, karena memiliki latar
belakang budaya dan kondisi lingkungan yang berbeda, sehingga wanita
harus memilih peran yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
2.6 Konsep Premenopause
2.6.1 Pengertian Premenopause
Fase pramenopause merupakan awal dimulainya fase klimakterik.
Fase ini dimulai pada usia 40 tahun dan ditandai dengan siklus yang tidak
teratur, jumlah haid yang relatif banyak, dan kadang-kadang disertai nyeri
haid (Hikmah, 2014). Premenopause adalah istilah yang digunakan untuk
masa reproduktif sampai terjadinya final menstrual period (FMP), pada
premenopause merupakan masa sebelum menopause dimana mulai terjadi
perubahan endokrin, biologis, dan gejala klinik sebagai awal permulaandari
menopause (Sriwaty & Nuryoto, 2015). Premenopause merupakan masa
dimana tubuh mulai bertransisi menuju menopause, pada periode ini
umumnya tingkat produksi hormon estrogen dan progesteron naik dan turun
tidak beraturan (Mutiara melintang, Erna kusumawati, 2015).
2.6.2 Terminologi Premenopause
Manusia berkembang dan tumbuh seiring dengan penambahan usia.
Masa premenopause merupakan masa yang sebelum menopause yang
menjadi perubahan dari masa subu menjadi tidak subur. Pada beberapa wanita
yang berusia 40 tahun dan puncaknya pada usia 50 tahun akan mengalami
26
masa premenopause, setelah masa ini wanita akan mengalami masa
menopause karena sudah tidak haid lagi. Sebagian wanita mengalami masa
menopause sekitar usia 45-50 tahun. Masa menopause merupakan sebuah
anugrah, karena kondisi tersebut merupakan tahap menuju penuaan yang
alami dan wajar dialami setiap wanita. Gejala yang muncul saat
premenopause bisa menghambat aktivitas wanita. Pada masa ini
menyebabkan hilangnya kesuburan dan resiko osteoporosis meningkat saat
menuju menopause. Gejala tersebut dapat menjadi serius jika tidak ditangani
lebih lanjut (Sebtalesy & Mathar, 2019).
2.6.3 Gejala Premenopause
Biasanya gejala premenopause yang dirasakan antara lain :
1. Hotflushes (rasa panas) merupakan gejala panas yang dirasakan akibat
meningkatnya tekanan darah baik tekanan sistolik maupun diastolik.
Rasa panas tersebut disebakan meningkatnya aliran darah pada pembuluh
darah diarea wajah, punggung, dan leher.
2. Berkeringat pada malam hari, gejala hotflush muncul karena sering
berkeringat pada malah hari yang disebabkan karena tubuh merasakan
sangat panas atau jantung yang berdetak lebih kencang pada malam hari.
3. Kesulitan tidur, pada sebagian orang akan mengalami gangguan tidur
yaitu kesulitan untuk tidur, sering terbangun saat tengah malam dan
kesusahan untuk tidur kembali, terbangun lebih awal pada pagi hari,
selain itu gangguan tidur yang dialami wanita premenopause adalah
keterlambatan tidur yang memanjang (pada saat awal berbaring hingga
benar-benar tertidur).
27
4. Mudah lelah, mudah lelah yang dirasakan wanita premenopause
disebabkan karena melakukan kegiatan yang terlalu berat dan
bertambahnya usia.
5. Vagina terasa kering, hal ini disebakan karena hormon estrogen yang
mengalami pengurangan. Vagina yang kering dapat mengakibatkan
atropi urogenital dan berubahnya komposisi dan kuantitas sekresi pada
vagina yang menyebabkan penurunan dalam berhubungan seksual, lebih
mudah mengalami iritasi (merasa kesakitan ketika coitus) maupun
infeksi.
6. Merasa nyeri ketika berhubungan seksual, hal ini terjadi karena hormon
estrogen mulai menurun yang mengakibatkan vagina terasa kering dan
merasa sakit saat melakukan hubungan seksual.
7. Haid yang tidak teratur, rentang waktunya dapat panjang (disebakan fase
luteal yang kuat atau setelah puncak estradiol yang tidak disertai ovulasi
dan membentuk korpus luteum, dan kadar progesterone yang rendah)
atau memendek (disebabkan fase folikel yang pendek yang menyebabkan
fase menstruasi akan sering dan lebih pendek), perdarahan yang banyak
(hal ini umumnya dirasakan pada awal premenopause karena siklus
ovulasi) (Rosita et al., 2020).
28
2.7 Kerangka Konseptual
Faktor yang Pendidikan Sikap
mempengaruhi Kesehatan dengan Pencegahan
pendidikan Pendekatan Health Osteoporosis
kesehatan yaitu :
Belief Model Faktor yang
1. Tingkat mempengaruhi sikap
pendidikan Enam elemen utama health belief yaitu :
model yaitu :
2. Tingkat sosial 1. Pengalaman
ekonomi 1. Perceived susceptibility pribadi
(kerentanan yang dirasakan)
3. Adat istiadat 2. Orang lain
4. Kepercayaan 2. Perceived severity (keseriusan 3. Kebudayaan
yang dirasa) 4. Media massa
masyarakat 5. Lembaga
5. Kesediaan 3. Perceived benefitsm (manfaat
yang dirasakan) pendidikan dan
waktu lembaga agama
dimasyarakat 4. Perceived barriers (hambatan 6. Faktor emosional
yang dirasakan)
5. Cues to action (isyarat untuk
bertindak)
6. Self efficacy
Keterangan :
: diteliti
: tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Osteoporosis dengan Pendekatan Health Belief Model Terhadap Sikap
Pencegahan Osteoporosis pada Wanita Premenopause
2.8 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan
osteoporosis dengan pendekatan health belief model terhadap sikap
pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun
sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap
pertanyaan penelitian (Setiadi, 2013). Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif dengan desain pre experimental with one group pretes-postest
without control group design. Rancangan ini tidak ada kelompok pembanding
(kontrol) tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang
memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan yang terjadi setelah adanya
eksperimen (Setiadi, 2013).
3.2 Kerangka Kerja Penelitian
Menetapkan populasi yaitu wanita premenopause berusia 40-50 tahun di
Dusun Tarum Desa Karangsono Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi
sebanyak 46 orang.
Menetapkan sampel yaitu sebagian wanita usia Menentukan
premenopause usia 40-50 tahun di Dusun Tarum sampling yaitu
Desa Karangsono Kecamatan Kwadungan purposive
Kabupaten Ngawi berjumlah 32 orang. sampling
Melakukan pengumpulan data dengan kuesioner
Melakukan pengolahan data
Melakukan analisa data
Menyusun laporan hasil penelitian
29
30
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Jiwantoro, 2017).
Populasi pada penelitian ini adalah wanita premenopause berusia 40-50
tahun di Desa Karangsono Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi yang
berjumlah 46 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Jiwantoro, 2017). Dalam penelitian ini sampel dihitung
dengan rumus Slovin. Berikut ini rumus perhitungan sampelnya :
n = N
1+ ( 2 )
Keterangan :
n = besar sampel
N = besar populasi
d2 = presisi yang ditetapkan (10%)
n = 46
1+46 (0,12)
n = 46
1,46
n = 31,506 dibulatkan menjadi 32
Berdasarkan hasil perhitungan diatas, sehingga jumlah sampel yang
ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebanyak 32 orang.
Dalam penelitian keperawatan, ada dua kriteria sampel yang perlu
dicantumkan yaitu kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi
31
adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target dan
terjangkau yang akan diteliti (Setiadi, 2013). Kriteria inklusi :
1. Ibu premenopause umur 40-50 tahun yang tinggal di Dusun Tarum
Desa Karangsono Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi
2. Sehat jasmani dan rohani
3. Bersedia menjadi responden penelitian dibuktikan dengan
panandatanganan informed consent
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang
memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Jiwantoro,
2017). Kriteria Ekslusi :
1. Berusia 40-50 tahun yang telah menopause
2. Responden yang tidak ditempat saat penelitian
3.3.3 Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat
mewakili populasi (Jiwantoro, 2017). Cara pengambilan sampel dalam
penelitian ini adalah menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai yang dikehendaki
peneliti (Setiadi, 2013).
3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.4.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini akan dilakukan di Dusun Tarum Desa Karangsono
Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi.
3.4.2 Waktu Penelitian
Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2022.
32
3.5 Variabel dan Definisi Operasional
3.5.1 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi
tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Jiwantoro, 2017).
Adapun variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah variabel
independent dan variabel dependent.
1. Variabel Independent
Variabel ini sering disebut variable stimulus, prediktor. Variabel ini
merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel dependent (terikat) (Jiwantoro,
2017) Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independent adalah
pemberian pendidikan kesehatan dengan pedekatan Health Belief Model
(HBM).
2. Variabel Dependent
Variabel ini disebut variabel output, kriteria, konsekuen. Variabel
terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena adanya variabel bebas (Jiwantoro, 2017). Dalam penelitian ini
yang menjadi variabel dependent adalah sikap pencegahan osteoporosis.
3.5.2 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan salah satu faktor yang dapat memberikan
petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur (Siregar & Ningsih, 2016).
Dalam penelitian ini, definisi operasionalnya adalah :
Tabel 3.1 Defin
No Variabel Definisi Pa
. Penelitian
1. Pendidikan Suatu upaya yang dilakukan Memberi
untuk memberikan pendidik
kesehatan pengetahuan tentang kesehatan dengan m
osteoporosis dalam pencegahan osteoporosis belief mo
dengan dengan menggunakan model pencegah
pendekatan keyakinan kesehatan untuk osteoporo
Health Belief mempengaruhi keyakinan
Model (HBM) individu dalam melakukan 1. Pe
sikap pencegahan penyakit. fak
Terdapat enam elemen utama pen
health belief model yaitu :
2. Ke
1. Persepsi kerentanan yang pen
dirasakan (perceived
susceptibility) 3. Pe
ma
2. Persepsi keseriusan yang pen
dirasakan (perceived pen
severity)
4. Ha
3. Persepsi manfaat yang dir
dirasakan (perceived ind
benefits) me
pen
4. Persepsi hambatan yang pen
dirasakan (perceived
barriers) 5. Ke
me
3