The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KTI Penelitian_Fernanda Shofi Handayani_P17230193073-12_35_37

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-11-07 20:12:08

KTI Penelitian_Fernanda Shofi Handayani_P17230193073-12_35_37

KTI Penelitian_Fernanda Shofi Handayani_P17230193073-12_35_37

nsi Operasional

arameter Skala Alat Ukur Skoring
- SAP -
ikan
kan kesehatan
metode health
odel dalam
han
osis, meliputi :
engetahuan
ktor resiko
nyakit
eseriusan
nyakit
engetahuan
anfaat sikap
ncegahan
nyakit
ambatan yang
rasakan
dividu dalam
elakukan
ncegahan
nyakit
egiatan yang
enggerakkan

33

2. Sikap 5. Persepsi isyarat untuk res
pencegahan bertindak (cues to action) me
osteoporosis pen
6. Persepsi keyakinan diri 6. Ra
(self efficacy) Sikap res
pencegah
Upaya seorang individu dalam osteoporo
bentuk respons berupa sikap a. Men
dalam melakukan pencegahan penc
terjadinya penyakit oste
osteoporosis. b. Pand
peng
dala
lama
c. Pand
men
mak
men
gara
d. Kes
peri
pela
kese
e. Men
f. Berj
sina

3

sponden untuk Ordinal Kuesioner Pernyataan positif
encegah dengan 12 item Sangat setuju : 4
nyakit pernyataan Setuju : 3
asa percaya diri menggunakan Tidak setuju : 2
sponden dalam skala likert : Sangat tidak setuju : 1
han 1. Sangat Pernyataan negatif
osis meliputi : Sangat setuju : 1
ngerti tentang Setuju Setuju : 2
cegahan (SS) Tidak setuju : 3
eoporosis 2. Setuju (S) Sangat tidak setuju : 4
dangan tentang 3. Tidak Kategori
ggunaan obat Setuju Positif : jika skor
am waktu yang (TS) responden
a 4. Sangat mempunyai nilai T ≥
dagan tentang Tidak mean T
ngonsumsi Setuju Negatif : jika skor
kanan yang (STS) responden
ngandung mempunyai nilai T <
am mean T (Azwar,
sadaran untuk 2011) dalam
iksa ke (Khairiah, 2017)
ayanan
ehatan
ngonsumsi susu
jemur dibawah
ar matahari

34

g. Men
mak
berk

h. Mel
olah

i. Men
mak
berg

j. Men
men
atau

3

ngonsumsi
kanan yang
kalsium
lakukan
hraga
ngonsumsi
kanan yang
gizi
nghindari
ngonsumsi teh
u kopi

35

36

3.6 Pengumpulan Data
3.6.1 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data atau mengukur objek dari suatu variabel penelitian
(Yusup, 2018). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan lembar kuesioner. Kuesioner merupakan suatu
pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan
atau pernyataan kepada responden (Ardian, 2019).

Kuesioner digunakan sebagai panduan dalam pengaruh pendidikan
kesehatan dengan peningkatan Health Belief Model (HBM) terhadap sikap
pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause di Dusun Tarum Desa
Karangsono Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi. Kuesiner yang
digunkaan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian
pertama berisi data demografi pasien dan bagian kedua berisi beberapa
pernyataan tentang sikap pencegahan osteoporosis.

Berikut ini adalah rincian kuesioner yang sudah dikelompokkan
menurut item dari taip-tiap variabel :
1. Kuesioner berisi tentang sikap wanita premenopause dalam pencegahan

osteoporosis sebanyak 12 item pertanyaan. Pernyataan dalam kuesioner
ini menggunakan skala likert dengan jawaban sangat setuju, setuju, tidak
setuju, sangat tidak setuju.

a. Pernyataan positif (favorable)
Pernyataan bernilai positif (favorable) berada pada nomor
1,2,4,5,7,8,9,10,11 dengan kriteria penilaian :

37

Sangat Setuju (SS) :4

Setuju (S) :3

Tidak Setuju (TS) :2

Sangat Tidak Setuju (STS) :1

b. Pernyataan Negatif (unfavorable)

Pernyataan bernilai negative (unfavorable) berada pada nomor

3,6,12 dengan kriteria penilaian :

Sangat Setuju (SS) :1

Setuju (S) :2

Tidak Setuju (TS) :3

Sangat Tidak Setuju (STS) :4

Sehingga didapatkan nilai sebagai berikut :

1. Nilai maksimal (tertinggi) : 48

2. Nilai minimal (terendah) : 12

Berikut ini kriteria pengukuran perilaku :

1. Sikap positif jika nilai T skor yang diperoleh responden dari
kuesioner ≥ T mean

2. Sikap negatif jika nilai T skor yang diperoleh responden

dari kuesioner <T mean

Untuk mencari T skor menggunakan rumus (Azwar , 2011)

dalam (Khairiah, 2017).

Tskor = 50+10 [ − ̅ ]



38

Dimana :
X : skor responden pada skala perilaku ibu yang hendak diubah
menjadi skor T
̅ : mean skor kelompok
S : Devisiasi standart skor kelompok
Untuk mencari s digunakan rumus :

SD = √∑ ( 1− )2
−1

Skor mean T =


Untuk kategori penilaian menjadi : s

(Azwar, 2011) dalam (Khairiah, 2017).

3.6.2 Tahap Pengumpulan Data

1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohon surat

rekomendasi penelitian ke Ketua Program Studi D3 Keperawatan Blitar

Poltekkes Kemenkes Malang

2. Mengurus surat pengantar penelitian dari Program Studi D3

Keperawatan Blitar Poltekkes Kemenkes Malang ditunjukan Kepala

Desa Karangsono dengan Nomor Surat : KH.03.01/3.5/863/2022

3. Mengajukan ijin penelitian kepada Kepala Desa Karangsono

4. Melakukan penelitian dan pengambilan data di Dusun Tarum Desa

Karangsono Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi

5. Menentukan responden sesuai dengan kriteria subyek penelitian

39

6. Menjelaskan tujuan penelitian ke subyek penelitian, agar subyek
penelitian dapat memahami dan mengerti sehingga bersedia memberikan
informasi dan mau bekerja sama kepada peneliti

7. Responden yang menyetujui untuk dilakukan penelitian, responden akan
mengisi lembar informed consent sebagai bukti persetujuan untuk terlibat
dalam penelitian.

8. Memberikan kueisioner untuk di isi responden.
9. Setelah data terkumpul maka dilakukan pengumpulan data kemudian

melakukan pengolahan data dan melakukan analisa data
10. Setelah melakukan penelitian, peneliti pendapatkan surat keterangan

telah melakukan penelitian dari Kepala Desa Karangsono dengan Nomor
Surat : 470/058/404.608.3/2022
11. Terakhir dibuat laporan untuk disajikan dalam sidang karya tulis ilmiah
3.7 Pengolahan dan Analisa Data
3.7.1 Pengolahan Data

Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data melalui
tahapan editing, coding, scoring, dan tabulating.

1. Editing
Editing adalah proses pengecekan jumlah kuisioner, keutuhan data,
termasuk keutuhan identitas, lembar kuisioner, dan keutuhan
pengisian kuisioner, dan apabila terjadi ketidak sesuaian, peneliti
dapat segera melengkapinya (Anggraeni et al., 2021).

2. Coding

40

Coding merupakan suatu kegiatan dalam merubah data yang

bentuknya huruf menjadi bilangan atau angka. Data diklasifikasikan

dengan memberi tanda pada jawaban dengan kode angka, lalu

dimasukkan dalam tabel agar lebih mudah dibaca (Riyanto, 2009)

dalam (Hardi, 2020).

3. Skoring

Skoring adalah pemberian skor terhadap jawaban responden untuk

memperoleh data kuantitatif yang diperlukan. Skor/nilai diberikan

pada masing-masing jawaban responden (Hardi, 2020).

Penilaian skor dalam variabel perilaku menggunakan skala likert.

Pernyataan positif :

Sangat Setuju (SS) :4

Setuju (S) :3

Tidak Setuju (TS) :2

Sangat Tidak Setuju (STS) : 1

Pernyataan Negatif :

Sangat Setuju (SS) :1

Setuju (S) :2

Tidak Setuju (TS) :3

Sangat Tidak Setuju (STS) : 4

Sedangkan penentuan skor kriteria penilaian memberikan :

Kriteria positif jika dinilai T skor yang diperoleh responden dari
kuesioner ≥ T mean.

41

Kriteria negatif jika dinilai T skor yang diperoleh responden dari
kuesioner < T mean.
4. Tabulating
Sebelum data dikelompokkan menurut kategori yang telah
ditentukan, selanjutnya data ditabulasikan dengan melakukan
penentuan data, sehingga diperoleh frekuensi dari masing-masing
variabel penelitian. kemudian memindahkan data ke dalam tabel-
tabel yang sesuai dengan kriteria (Hardi, 2020)
5. Entry Data
Entry data adalah suatu kegiatan memasukkan data ke computer
berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan (Hardi, 2020).
3.7.2 Analisa Data
Setelah data diperoleh selanjutnya dilakukan pengolahan data secara
komputerisasi. Adapun analisis yang digunakan adalah :
1. Analisis Univariat
Analisa univariat dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian untuk
melihat distribusi frekuensi dengan melihat prosentasi masing-masing
variabel penelitian. Analisa univariat ini digunakan untuk mengetahui
proporsi dari masing-masing variabel penelitian yaitu variabel bebas
(sikap pencegahan osteoporosis) dan variabel terikat (pemberian
pendidikan kesehatan dengan pedekatan Health Belief Model (HBM)).
Setelah data primer dimasukkan dalam tabel tabulasi kemudian
dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi dengan rumus :
P = ×100%

42

Keterangan :
P = Presentase
f = Frekuensi data
n = Sampel (jumlah responden) (Phitri & Widiyaningsih, 2013)
Jika data berdistribusi normal analisis univariat menggunakan mean dan
standar deviasi dan jika data tidak berdistibusi normal analisis univariat
menggunakan median, minimal dan maximal.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat ini digunakan untuk menguji pengaruh pendidikan
kesehatan dengan pendekatan Health Belief Model (HBM) terhadap
sikap pencegahan osteoporosis. Dalam menganalisis data secara
bivariat, pengujian data dilakukan jika data berdistribusi normal
menggunakan uji statistik uji paired sample t test dan jika data tidak
berdistribusi normal menggunakan uji wilcoxon. Analisis ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan dengan membandingkan
kondisi sebelum dan sesudah intervensi.
3.8 Etika Penelitian
Etika penelitian adalah hal yang penting dalam penelitian, karena
penelitian keperawatan melibatkan hubungan langsung dengan manusia
sehingga etika penelitian harus diperhatikan. Berikut ini masalah etika
penelitian yang perlu diperhatikan :
1. Informed Consent (persetujuan)
Informed consent adalah pemberian lembar persetujuan sebagai bentuk
persetujuan anatar peneliti dan responden. Peneliti akan menjelasakan

43

tujuan, manfaat, dan kerahasiaan responden lalu memberikan surat
persetujuan untuk ditandatangani oleh responden.
2. Anonimity (tanpa nama)
Anonimity adalah suatu usaha untuk memberikan jaminan kepada
responden untuk tidak menyebarkan identitias responden.
3. Confidentially (kerahasiaan)
Peneliti memberikan jaminan kepada responden bahwa informasi yang
diberikan saat penelitian hanya akan diketahui peneliti dan pembimbing
berdasarkan persetujuan partisipan dan lembar pengumpulan data akan
dimusnahkan saat sudah tidak dibutuhkan.
4. Beneficence (manfaat)
Penelitian yang dilakukan tidak boleh membahayakan partisipan dan
pada dasarnya akan memberikan manfaat kepada partisipan.
5. Justice (Keadilan)
Peneliti harus memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh
partisipan baik sebelum, selama, dan sesudah dilakukannya penelitian
(Purnomo & Syah, 2019).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Dusun Tarum Desa Karangsono
Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi. Luas wilayah Dusun Tarum
dengan luas 98.535 Ha, Adapun batas Wilayah Dusun Tarum berada
ditengah sebelah utara Dusun Sumber, sebelah selatan Dusun
Balonggobang, sebelah timur Dusun Nguluh, sebelah barat Dusun Ngepeh.
Di wilayah Dusun Tarum sebelumnya belum pernah mendapatkan
penyuluhan tentang osteoporosis dari petugas kesehatan dalam acara
posyandu atau acara lainnya.
4.1.2 Data Umum
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi umur wanita premenopause di Dusun
Tarum, Juni 2022 (n=32)

No. Umur f %

1. 40-43 tahun 19 59.4
2. 44-46 tahun 6 18.8

3. 47-50 tahun 7 21.9

Total 32 100.0

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa karakteristik

kelompok umur responden sebagian besar berumur diantara 40-43

tahun yaitu sebanyak 19 responden (59,4%).

44

45

b. Karakteristik Responden Berdasarkan Agama

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi agama wanita premenopause di Dusun
Tarum, Juni 2022 (n=32)

No. Agama f %

1. Islam 32 100.0

2. Kristen 00

3. Hindu 00

4. Budha 00

Total 32 100.0

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa dari 32 responden

seluruhnya beragama Islam yaitu sebanyak 32 responden (100%).

c. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi pekerjaan wanita premenopause di
Dusun Tarum, Juni 2022 (n=32)

No. Pekerjaan f %

1. PNS 2 6.3

2. Swasta 1 3.1

3. Petani 17 53.1

4. Ibu Rumah Tangga 12 37.5

Total 32 100.0

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa dari 32 responden

sebagian besar responden bekerja sebagai petani yaitu sebanyak 17

responden (53.1%).

d. Karakteristik Responden Berdasarkan Status Pernikahan

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi status pernikahan wanita
premenopause di Dusun Tarum, Juni 2022 (n=32)

No. Status Pernikahan f %
1. Belum menikah 0 0
2. Menikah 32 100.0
32 100.0
Total

46

Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa dari 32 responden

seluruhnya berstatus sudah menikah yaitu sebanyak 32 responden

(100%).

e. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi pendidikan terakhir wanita
premenopause di Dusun Tarum, Juni 2022 (n=32)

No. Pendidikan Terakhir f %
1 SD/MI 6 18.8
2 SMP/MTS 15 46.9
3 SMA/SMK/MA 9 28.1
4 Perguruan Tinggi 2 6.3
32 100.0
Total

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa dari 32 responden

sebagian besar responden berpendidikan SMP/MTS yaitu sebanyak

15 responden (46.9%).

f. Karakteristik Responden Berdasarkan Informasi

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi informasi wanita premenopause di
Dusun Tarum, Juni 2022 (n=32)

No. Informasi f%
1 Pernah 12 37.5
2 Belum pernah 20 62.5
32 100.0
Total

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa dari 32 responden

sebagian besar responden belum pernah mendapatakan informasi

tentang pencegahan osteoporosis sebanyak 20 responden (62.5%).

47

g. Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi sumber informasi wanita
premenopause di Dusun Tarum, Juni 2022.

No. Sumber Informasi f %

1. Petugas Kesehatan 4 12.5

2. Teman 00

3. TV/Radio 7 21.9

4. Majalah/Koran 00

5. Lingkungan 1 3.1

Total 12 100.0

Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa dari 12 responden

hampir setengah responden yang pernah mendapatakan informasi

tentang pencegahan osteoporosis bersumber dari TV/Radio yaitu

sebanyak 7 responden (21.9%).

4.1.3 Data Khusus

a. Sikap Wanita Premenopause Sebelum Dilakukannya Pendidikan

Kesehatan Tentang Pencegahan Osteoporosis di Dusun Tarum

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi sikap wanita premenopause
sebelum dilakukannya pendidikan kesehatan tentang
pencegahan osteoporosis di Dusun Tarum, Juni 2022

No. Sikap Wanita Premenopause f %
Tentang Pencegahan Osteoporosis
20 62.5
1. Negatif 12 37.5
32 100.0
2. Positif

Total

Berdasarkan distribusi frekuensinya diketahui bahwa
sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang pencegahan
osteoporosis pada wanita premenopause sejumlah 20 responden
(62.5%) memiliki sikap negatif dan hanya 12 responden (37.5%) yang
memiliki sikap positif.

48

b. Sikap Wanita Premenopause Sesudah Dilakukannya Pendidikan

Kesehatan Tentang Pencegahan Osteoporosis di Dusun Tarum

Tabel 4.9 Distribusi frekuensi sikap wanita premenopause sesudah
dilakukannya pendidikan kesehatan tentang pencegahan osteoporosis
di Dusun Tarum, Juni 2022

No. Sikap Wanita Premenopause f %
Tentang Pencegahan Osteoporosis
12 37.5
1. Negatif 20 62.5
32 100.0
2. Positif

Total

Berdasarkan distribusi frekuensinya diketahui bahwa sikap

setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang pencegahan

osteoporosis pada wanita premenopause yang paling banyak adalah

sikap positif sejumlah 20 responden (62.5%) dan hanya 12 responden

(37.5%) yang memiliki sikap negatif.

Untuk menguji hipotesis penelitian, pengaruh pendidikan kesehatan

osteoporosis dengan pendekatan health belief model terhadap sikap

pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause menggunakan

uji Wilcoxon signed rank test yang diperoleh hasil sebagai berikut :

c. Sikap Wanita Premenopause Sebelum dan Sesudah Diberikan

Pendidikan Kesehatan

Tabel 4.10 Hasil analisis pengaruh pendidikan kesehatan

No. osteoporosis dengan pendekatan health belief model
1.
2. terhadap sikap pencegahan osteoporosis pada wanita

premenopause di Dusun Tarum, Juni 2022

Kondisi N Mean Median SD P
value

Pretest 32 31,25 30,50 2,627 0,000
Posttest 32 38,94 39,00 2,488

49

Hasil perbandingan pada tabel 4.10 terlihat bahwa sebelum
dilakukan pendidikan kesehatan tentang pencegahan osteoporosis
rata-rata nilai sikap responden 31,25% dan sesudah dilakukan
pendidikan kesehatan nilai rata-rata menjadi 38,94%. Hasil uji
statistik sebelum dan sesudah analisis Wilxocon signed rank test
didapatkan nilai signifikan p-value = 0,000 < α 0,05 maka H0 ditolak
dan H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh pendidikan kesehatan
osteoporosis dengan pendekatan health belief model terhadap sikap
pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Karakteristik Responden

Faktor yang mempengaruhi perilaku wanita premenopause adalah
informasi. Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar
responden belum pernah mendapatkan informasi tentang pencegahan
osteoporosis sebanyak 20 responden (62.5%). Informasi adalah sesuatu
yang membuat pengetahuan kita berubah (Damanik, 2012). Menurut teori
(Notoatmodjo, 2012) bahwa kemudian untuk memperoleh suatu informasi
dalam mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan yang baru
menimbulkan sikap positif. Dengan memberikan informasi akan
meningkatkan pengetahuan masyarakat, selanjutnya dengan pengetahuan
akan menimbulkan kesadaran, dan pada akhirnya akan menyebabkan orang
berperilaku sesuai karena didasari pada keadaan mereka sendiri dan bukan
pikiran. Informasi merupakan bentuk stimulus yang mempengaruhi

50

seseorang, baik yang didapatkan secara langsung dari lingkungan maupun
secara tidak langsung.

Menurut peneliti sikap yang dipengaruhi oleh informasi sangatlah
penting, semakin banyak orang sering mendapatkan informasi maka
semakin banyak pengetahuan pula dan berpengaruh juga terhadap sikap
orang tersebut.
4.2.2 Sikap Sebelum Intervensi Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan
Oteoporosis Pada Wanita Premenopause di Dusun Tarum

Berdasarkan tabel 4.8 diperoleh data sebelum diberikan intervensi
pendidikan kesehatan yang memiliki sikap negatif sebanyak 20 responden
(62,5%) dan yang sikap positif hanya 12 responden (37,5%). Pengukuran
sikap responden tentang pencegahan osteoporosis diukur dengan lembar
kuesioner.

Menurut Notoatmodjo (2005) dalam (Irwan, 2017), sikap adalah
respon atau reaksi yang sifatnya tertutup dari seorang individu terhadap
suatu objek atau stimulus. Sikap juga merupakan kesediaan atau kesiapan
seseorang untuk bertidak. Menurut Notoatmodjo (2010) dalam (Hasanah et
al., 2013) sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan
bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu
tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu
perilaku. Berdasarkan penelitian oleh (Saputra & Mulasari, 2017)
menyebutkan bahwa sikap merupakan keadaan internal atau keadaan yang
masih ada dalam diri manusia.

51

Menurut peneliti responden lebih banyak memiliki sikap tentang
pencegahan osteoporosis yang negatif, hal ini terjadi karena kurangnya
kayakinan dalam sikap wanita premeopause dalam melakukan pencegahan
osteoporosis sebab tidak mau tau serta ada sebagian yang tidak merasakan
manfaatnya sehingga sikap wanita premenopause dalam pencegahan
osteoporosis menjadi negatif.
4.2.3 Sikap Sesudah Intervensi Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan
Osteoporosis Pada Wanita Premenopause di Dusun Tarum

Posttest diberikan 7 hari dari pemberian pendidikan kesehatan.
Pemberian jeda waktu tersebut bertujuan untuk terjadinya memori yang
tertanam dalam diri responden akan informasi kesehatan yang telah
diberikan sehingga dapat menjadi penunjang perubahan pengetahuan yang
melekat dalam memori responden yang diharapkan memberikan perubahan
sikap yang positif. Penentuan jeda waktu seminggu setelah perlakuan
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Pramono, 2018) menunjukkan
hasil efektif dengan p value 0,000 < α=0,05.

Berdasarkan tabel 4.9 diperoleh data sesudah diberikan intervensi
pendidikan kesehatan yang memiliki sikap negatif hanya 12 responden
(37,5%) dan yang memiliki sikap positif meningkat menjadi 20 responden
(62,5%).

Berdasarkan hasil penelitian sikap wanita premenopause setelah
dilakukannya pendidikan kesehatan osteoporosis di Dusun Tarum. Pada
tabel 4.10 diketahui bahwa setelah dilakukan pendidikan kesehatan dengan
pendekatan health belief model rata-rata nilai sikap pencegahan

52

osteoporosis meningkat 7,69 yaitu dari 31,25 menjadi 38,94. Menurut
peneliti hal disebabkan karena pengetahuan wanita premenopause tentang
pencegahan osteoporosis meningkat sehingga sikap responden meningkat.
Hal ini sesuai dengan teori (Notoadmojo, 2010) dalam (Sitorus & Luca,
2014) bahwa sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra
pendengaran (telinga) dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan
melibatkan perubahan-perubahan dalam kemampuan dan pola berpikir,
kemahiran dalam menyikapi suatu masalah secara objektif, cara individu
memperoleh pengetahuan dari lingkungan aktifitasnya dan menceritakan
pengalaman merupakan proses kognitif dan perkembangan pengetahuan
terhadap sikap seseorang.
4.2.4 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Osteoporosis dengan Pendekatan
Health Belief Model Terhadap Sikap Pencegahan Osteoporosis Pada
Wanita Premenopause di Dusun Tarum

Berdasarkan hasil pengujian Wilcoxon signed rank test data diatas
dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan
pendekatan health belief model terhadap sikap pencegahan osteoporosis
dengan nilai p value = 0,000< α=0,05. Rata-rata skor sikap sebelum
diberikan pendidikan kesehatan sebesar 31,25 kemudian setelah diberikan
pendidikan kesehatan terjadi peningkatan rata-rata skor sikap menjadi 38,94
pada penelitian ini terjadi peningkatan rata-rata sebesar 7,69.

Menurut (Fitriani, 2011) metode pendidikan kesehatan
dikelompokkan menjadi tiga yaitu metode pendidikan individu, metode
pendidikan kelompok, dan metode media masa. Pendidikan kesehatan yang

53

dilakukan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode/teknik ceramah
(metode pendidikan kelompok) hal tersebut dikarenakan metode ceramah
merupakan metode yang sangat efektif untuk semua sasaran baik yang
berpendidikan tinggi maupun berpendidikan rendah. Dalam penyampaian
materi peneliti menggunakan alat bantu yaitu materi yang sudah disiapkan
oleh peneliti dengan menggunakan media leafleat yang sudah dilengkapi
dengan materi terkait pencegahan osteoporosis. Hal ini sesuai dengan
penelitian (Wulandari et al., 2020) yang menggunakan media leafleat untuk
membantu dalam pemberian pendidikan kesehatan. Hasil p value
menggunakan leaflet menunjukkan nilai p value = 0,022 < α=0,05 yang
menunjukkan adanya perbedaan sebelum dan sesudah pendidikan
kesehatan.

Dalam penelitian ini responden telah mampu memahami sebuah
informasi dengan baik dan dapat mendorong responden memiliki
peningkatan sikap yang positif dalam melakukan pencegahan osteoporosis.
Hal ini didorong oleh kemampuan pemberi penyuluhan (peneliti) dengan
menguasai materi dan mampu menyampaikan materi dengan bahasa yang
sesuai sasaran. Pendidikan kesehatan dalam penelitian ini menggunakan
pendekatan health belief model. Health belief model merupakan model
promosi kesehatan yang pertama kali dikemukakan oleh Resenstock pada
tahun 1966 dan kemudian disempurnakan oleh Becker, dkk pada tahun
1980. Model keyakinan kesehatan ini menegaskan bahwa keyakinan
seseorang akan kerentanan terhadap penyakit atau masalah kesehatan dapat
mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku kesehatan (Kholid,

54

2012). Health belief model terdiri dari enam elemen utama untuk mengubah
sikap yaitu perceived susceptibility (kerentanan yang dirasakan), perceived
severity (keseriusan yang dirasa), perceived benefitsm (manfaat yang
dirasakan), perceived barriers (hambatan yang dirasakan), cues to action
(isyarat untuk bertindak), dan self efficacy. Kombinasi dari kelima aspek
tersebut akan berpengaruh besar terhadap keputusan individu untuk
merubah atau melakukan pencegahan yang diharapkan (Jaz and Becker,
1984) dalam (Pakpahan et al., 2021). Penelitian ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh (Saprudin et al., 2016) dengan hasil nilai p value =
0,001 < α=0,05 yang berarti H0 ditolak atau terdapat pengaruh dari
pemberian edukasi dengan pendekatan health belief model terhadap
pengetahuan dan sikap ibu dalam pemberian imunusasi pentavalen pada
anak di Desa Wangkang.
4.2.5 Keterbatasan Penelitian
1. Kuesioner

Kuesioner yang dipakai sebagai instrument pengukuran sikap
responden, skala pengukurannya kurang sesuai dengan sikap.
2. Pelaksanaan intervensi pendidikan kesehatan
Tempat dilaksanakannya pendidikan kesehatan adalah didalam rumah
warga dengan pintu dan jendela terbuka sehingga suara dari luar dapat
terdengar dari dalam. Penyampaian materi hanya menggunakan media
leaflet sehingga beberapa responden yang terganggu pengelihatannya
kurang bisa membaca dengan jelas.
3. Pengukuran Sikap

55

Pengukuran sikap responden hanya melalui pemberian kuesioner pada
waktu tertentu saja, sehingga kurang bisa menggambarkan sikap
responden yang sebenarnya dalam mencegah osteoporosis.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data yang dilakukan, maka
dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :
1. Sebagian besar wanita premenopause memiliki sikap sebelum dilakukan
pendidikan kesehatan dalam kategori negatif sebanyak 20 responden
(62.5%).
2. Sebagian besar wanita premenopause memiliki sikap sesudah dilakukan
pendidikan kesehatan dalam kategori positif sebanyak 20 responden
(62.5%).
3. Hasil penelitian dengan menggunakan uji Wilxocon signed rank test
didapatkan nilai signifikan p-value = 0,000 < α 0,05 maka dapat diartikan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian pendidikan
kesehatan osteoporosis dengan pendekatan health belief model terhadap
sikap pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan secara ilmiah dan
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan osteoporosis
dengan pendekatan health belief model terhadap sikap pencegahan
osteoporosis pada wanita premenopause sehingga disarakan kepada :
1. Ibu premenopause
Bagi ibu premenopause disarankan untuk meningkatkan pengetahuan
secara mandiri dengan cara membaca ulang leaflet pencegahan

56

57

osteoporosis, atau mencari sumber informasi lain dan penyuluhan
kesehatan serta mengaplikasikannnya dalam pencegahan osteoporosis.
2. Intitusi pendidikan keperawatan
Bagi institusi pendidikan keperawatan melakukan peningkatan promosi
kesehatan wanita premenopause secara berkala, memberikan perhatian
yang lebih terhadap kejadian osteoporosis dilingkungan sekitar,
memberikan penanganan yang serius dalam upaya peningkatan
kesehatan di lingkungan masyarakat.
3. Profesi keperawatan
Bagi profesi keperawatan untuk lebih meningkatkan pendidikan
kesehatan dan bervariasi dalam menyampaikan informasi kesehatan
sehingga dapat memunculkan ketertarikan wanita premenopause dalam
upaya preventif.
4. Peneliti lain
Perlu dilakukan pengembangan penelitian dengan menambah variabel
lain yang berpengaruh terhadap sikap pencegahan osteoporosis seperti
lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, R. (2019). Analisis Pendapatan Wanita Buruh Tani Di Desa Majannang
Kecamatan Parigi Kabupaten Gowa. Repository Universitas Hassanudin.

Anggraeni, C. S., Nurwansyah, R., & Yuda, A. K. (2021). Tingkat Pengetahuan
Pembelajaran Atletik Lari Jarak Pendek Pada Siswa Sekolah Menengah Atas
Kelas XII. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 7(8). https://doi.org/10.5281/
zenodo.5804633

Anjarwati, W. (2010). Tulang dan Tubuh Kita (Sukir (ed.); 1st ed.). Yogyakarta:
Getar Hati.

Ardian, N. (2019). Pengaruh Insentif Berbasis Kinerja , Motivasi Kerja , dan
Kemampuan Kerja Terhadap Prestasi Kerja Pegawai UNPAB. Jurnal, 4(2),
119–132.

Asmarini, F. (2019). Peningkatan Pengetahuan Lansia Mengenai Osteoporosis
Melalui Pemberian Pendidikan Kesehatan Dengan Media Audio Visul Di Desa
Karangbendo Bantul Yogyakarta. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta,
6(1), 491–495. https://doi.org/10.35842/JKRY.V6I1.261

Badan Pusat Statistik. (2017). Statistik Penduduk Lansia. Badan Pusat Statistik.
https://www.bps.go.id/publication/download.html?nrbvfeve=N2ExMzBhMjJ
hYTI5Y2M4MjE5YzVkMTUz&xzmn=aHR0cHM6Ly93d3cuYnBzLmdvL
mlkL3B1YmxpY2F0aW9uLzIwMTgvMDQvMTMvN2ExMzBhMjJhYTI5
Y2M4MjE5YzVkMTUzL3N0YXRpc3Rpay1wZW5kdWR1ay1sYW5qdXQt
dXNpYS0yMDE3Lmh0bWw%3D&twoadfnoarfeauf=MjAyMS0xMS0yNC
AxMzoxMTo1OQ%3D%3D

Batbual, B. (2021). Self Management Untuk Meningkatkan Kinerja Bidan (Kodri
(ed.); 1st ed.). Indramayu: Penerbit Adab.

Cholifah, Ameli, P., & Nisak, U. K. (2019). Buku Ajar Mata Kuliah Ilmu Kesehatan
Mayarakat (F. Megawati (ed.); 1st ed.). Sidoarjo: UMSIDA Press.

Damanik, F. (2012). Menjadi Masyarakat Informasi. Jurnal SIFO Mikroskil, 13(1).
http://ovidsp.ovid.com/ovidweb.cgi?T=JS&PAGE=reference&D=med7&NE
WS=N&AN=21936269

Fitriani, S. (2011). Promosi Kesehatan (1st ed.). Graha Ilmu.

Hardi, L. S. (2020). Gambaran Dukungan Keluarga Terhadap Gaya Hidup Pasien
Hipertensi Di Puskesmas Ungaran. Repository Universitas Ngudi Waluyo,
Februari.

Hasanah, U., Dharma, A., & Metro, W. (2013). Pengaruh Penyuluhan Kesehatan
Terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Pada Penderita
Gangguan Jiwa. Jurnal Keperawatan Jiwa, 22(79/s), 87–94.

58

59

Hikmah, E. M. (2014). Pengaruh ekstrak air daun katu (Sauropus androgynus (L.)
Merr.) terhadap berat uterus dan tebal endometrium mencit (Mus musculus L.)
premenopause. Electronic Thesis, 97.

Humaryanto, H., & Syauqy, A. (2019). Gambaran Indeks Massa Tubuh dan
Densitas Massa Tulang sebagai Faktor Risiko Osteoporosis pada Wanita.
Jurnal Kedokteran Brawijaya, 30(3), 218. https://doi.org/10.21776/ub.jkb.
2019.030.03.10

Irwan. (2017). Etika dan Perilaku Kesheatan (Narto (ed.); 1st ed.). Yogyakarta:
CV. Absolute Media.

Jiwantoro, Y. A. (2017). Riset Keperawatan : Analisis Data Statistik Menggunakan
SPSS (1st ed.).

Kemeterian Kesehatan RI. (2015, October 20). Pusat Data dan Informasi -
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kementerian Kesehatan RI.
https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/16010400003/data-dan-kondisi-
penyakit-osteoporosis-di-indonesia.html

Khairiah, M. (2017). Hubungan Pengetahuan Wanita Usia Premenopause Tentang
Osteoporosis dengan Perilaku Pencegahan Osteoporosis (Di Dusun Bareng
Desa Bareng Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang. Repository Stikes Insan
Cendikia Medika.

Kholid, A. (2012). Promosi Kesehatan dengan Pendekatan Teori Perilaku, Media,
dan Aplikasinya (1st ed.). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Kumalasari, I., & Jaya, H. (2021). Penerapan Health Belief Model dalam Tindakan
Pencegahan Keputihan Patologis. Journal of Public Health Research and
Development, 5(3). https://doi.org/10.15294/HIGEIA.V5I3.44227

Lesmana, H. S., & Broto, E. P. (2018). Olahraga Upaya Preventif Osteoporosis
Dini. https://doi.org/10.31227/osf.io/vapzt

Malintang, M., Kusumawati, E., & Damayanti, F. N. (2016). Aktivitas Seksual
Wanita Premenopause di Kelurahan Bangetayu Wetan Kota Semarang Tahun
2015. Jurnal Kebidanan, 5(1), 1–4. https://doi.org/10.26714/JK.5.1.2016.1-4

Mutiara melintang, Erna kusumawati, F. nur damayanti. (2015). Aktivitas Seksual
wanita pramenopause di Kelurahan Bangetayu wetan Kota Semarang tahun
2015. Jurnal Keperawatan, 43, 1–4. https://doi.org/https://doi.org/10.26714
/jk.5.1.2016.1-4

Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan (I). Jakarta:
Rineka Cipta.

Nurtika Sari, A., & Noviasari, E. (2016). Hubungan Pengetahuan Ibu
Premenopause Tentang Osteoporosis Dengan Sikap Ibu Dalam Mencegah
Terjadinya Osteoporosis. Jurnal Kebidanan, 5(2), 76–81. https://doi.org/
10.35890/JKDH.V5I2.71

60

Nurtikasari, A., & Noviasari, E. (2019). Hubungan Pengetahuan Ibu Premenopause
Tentang Osteoporosis dengan Sikap Ibu Dalam Mencegah Terjadinya
Osteoporosis (Di RW-06 Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota
Kediri). Jurnal Kebidanan, 5(2), 76–81. https://doi.org/10.35890/jkdh.v5i2.71

Pakpahan, M., Siregar, D., & Susilawaty, A. (2021). Promosi Kesehatan & Perilaku
Kesehatan. In R. Watrianthos (Ed.), Yayasan Kita Menulis (1st ed.). Medan:
Yayasan Kita Menulis.

Phitri, H. E., & Widiyaningsih. (2013). Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap
Penderita Diabetes Mellitus Dengan Kepatuhan Diet Diabetes Mellitus Di
Rsud Am . Parikesit Kalimantan Timur. Jurnal Keperawatan Medikal Bedah,
1(1), 58–74.

Pramono, G. I. (2018). Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Terhadap
Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Mengenai Preeklamasi Di Puskesmas
Tlogosari Wetan. E-Journal Undip.

Pratiwi, R. I., Ghozali, & Sureskiarti, E. (2016). Hubungan Peran Ganda dan
Kepuasan Kerja dengan Kinerja Perawat Wanita di PUSKESMAS Loa Kulu
Kecamatan Loa Kulu Kutai Kartanegara. Digital Repository. https://dspace.
umkt.ac.id//handle/463.2017/1775

Purnomo, I., & Syah, D. (2019). Gambaran Perilaku Caring Perawat Pada Pasien
Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Queen Latifa Yogyakarta. Universitas
Jendral Ahamad Yani.

Rahmawati, A. D. (2013). Gambaran Tingkat Pengetahuan Wanita Usia 45-55
Tahun Tentang Osteoporosis Di Posyandu Lansia Pandu Dewanata Surabaya.
Repository University Of Nahdatul Ulama Surabaya. http://digilib.unusa.ac.
id/data_pustaka-8534.html

Rahmawati, A. Y. (2017). Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh (Imt), Asupan
Zat Gizi Dan Riwayat Reproduksi Dengan Kepadatan Mineral Tulang Pada
Wanita Pre Menopause. Jurnal Riset Kesehatan, 5(2), 83. https://doi.org/
10.31983/jrk.v5i2.1569

Rangkuti, S. (2021). Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan Wanita
tentang Pre Menopause di Wilayah Puskesmas Onolalu Kabupaten Nias
Selatan Tahun 2020. Jurnal Kesehatan Masyarakat (JURKESMAS), 1(1), 51–
59. https://doi.org/10.53842/JKM.V1I1.12

Rawung, R., & Bagy, R. G. (2021). Osteoporosis : Diagnosis and Management. E-
Clinic, 9(28), 360–369. https://doi.org/https://doi.org/10.35790/ecl.v9i2.
32967

Rosita, I., Pertiwi, S., & Wulandara, Q. (2020). Pengaruh Senam Aerobik Low
Impact Terhadap Penurunan Gejala Premenopause Di Kelurahan Kersamenak
Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. JoMI (Journal of Midwifery
Information), 1(1), 52–59.

61

Rudi Karmi, D. (2021). Hubungan pengetahuan dengan tingkat kecemasan pada ibu
premenopause usia (40-50 tahun). Humantech, 01(01), 37–58.

Saprudin, N., Negara, A. P., & Guntara, B. (2016). Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Health Belief Model Terhadap Tingkat Pengetahun Dan Sikap Ibu Dalam
Pemberian Imunisasi Pentavalen Di Desa Wangkelang. Jurnal Kesehatan
Indra Husada, 4(2), 37–45. https://doi.org/10.36973/jkih.v4i2.11

Saputra, S., & Mulasari, S. A. (2017). Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Pengelolaan Sampah pada Karyawan di Kampus. Jurnal Fakultas Kesehatan
Masyarakat, 11(1), 22–27.

Sari, I. P. T. P. (2013). Pendidikan Kesehatan Sekolah Sebagai Proses Perubahan
Perilaku Siswa. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, 9(2), 141–147.
https://doi.org/https://doi.org/10.21831/jpji.v9i2.3017

Sebtalesy, C. Y., & Mathar, I. (2019). Menopause: Kesehatan Reproduksi Wanita
Lanjut Usia (1st ed.). Ponorogo: Iwais Inspirasi Indonesia.

Setiadi. (2013). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan (2nd ed.).
Yogyakarta: Graha Ilmu.

Setiani, D. Y., & Warsini, W. (2020). Efektifitas Promosi Kesehatan Media Video
dan Leaflet terhadap Tingkat Pengetahuan tentang Pencegahan Osteoporosis.
Jurnal Kesehatan Holistic, 4(2), 55–67. https://doi.org/10.33377/JKH.
V4I2.83

Sinaga, L. R. V., Sianturi, E., Amir, M. N., Simamora, J. P., Ashriady, & Hardiyati.
(2021). Pendidikan Kesehata dan Ilmu Perilaku (J. Simarmata (ed.); 1st ed.).
Medan: Yayasan Kita Menulis.

Siregar, M. Y., & Ningsih, I. W. (2016). Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap
Kepuasan Pelanggan Pada Pt Kisel (Anak Perusahaan Pt Telkomsel) Medan.
Jurnal Konsep Bisnis Dan Manajemen, 3(1), 102–110.

Sitorus, N., & Luca, F. (2014). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap
Pengetahuan dan Sikap Cuci Tangan Pakai Sabun pada Siswa SD Negeri 157
Kota Palembang Tahun 2014. Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang, 2(14),
1–6.

Situmorang, H. (2020). Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian
Osteoporosis. Indonesian Trust Health Journal, 3(2), 337–343. https://doi.org/
10.37104/ITHJ.V3I2.57

Sri, F., Vinsur, E. Y. Y., & Sutiyarsih, E. (2019). Analisi Faktor yang
Mempengaruhi Lansia datang ke Pelayanan Kesehatan. Jurnal Ners Dan
Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), 6(2), 189–196. https://doi.org/
10.26699/JNK.V6I2.ART.P189-196

Sriwaty, I., & Nuryoto. (2015). Pengaruh Psikoedukasi Menopause dan Relaksasi
Menurunkan Kecemasan Wanita Pre Menopause. 12(1), 29–38.

62

Sukesih, Usman, U., Budi, S., & Sari, D. N. A. (2020). Pengetahuan Dan Sikap
Mahasiswa Kesehatan Tentang Pencegahan Covid-19 Di Indonesia. Jurnal
Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan, 11(2), 258. https://doi.org/10.26751/jikk.
v11i2.835

Suryani, A. O., & Purwodiharjo, O. M. (2020). Aplikasi Health Belief Model
Dalam Penanganan Pandemi Covid-19 Di Provinsi DKI Jakarta. Jurnal
Perkotaan, 12(1), 21–38. https://doi.org/10.25170/PERKOTAAN.V12I1.
1262

Syam, Y., Noersasongko, D., & Sunaryo, H. (2014). Fraktur Akibat Osteoporosis.
E-CliniC, 2(2). https://doi.org/10.35790/ecl.2.2.2014.4885

Syam, Y., Noersasongko, D., Sunaryo, H., Bedah, B., Kedokteran, F., Sam, U., &
Manado, R. (2014). Fraktur Akibat Osteoporosis. E-CliniC, 2(2). https://doi.
org/10.35790/ECL.V2I2.4885

Ummah, F., Surianti, Badu, F., Firsty, L., & Fuady, I. (2021). Pendidikan
Kesehatan dan Promosi Kesehatan (Risnawati (ed.); 1st ed.). Media Sains
Indonesia.

Unaradjan, D. D. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif (K. Sitohang (ed.); 1st ed.).
Grafindo.

Wahyuni, T. D. (2021). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Muskuloskeletal
(M. Nasrudin (ed.); 1st ed.). PT.Nasya Expanding Management.

WHO. (2020, February 4). Musculoskeletal Conditions Affect Millions. WHO.
https://www.who.int/news/item/27-10-2003-musculoskeletal-conditions-
affect-millions

Wulandari, T. S., Anisah, R. L., Fitriana, N. G., & Purnamasari4, I. (2020).
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Media Leaflet Untuk Meningkatkan
Pengetahuan Dan Perilaku Dalam Upaya Menerapkan Protokol Kesehatan
Pada Pedagang Di Car Free Day Temanggung. Jurnal Ilmiah Kesehatan,
19(1), 9.

Yusup, F. (2018). Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Kuantitatif.
Jurnal Tarbiyah : Jurnal Ilmiah Kependidikan, 7(1), 17–23. https://doi.org/
10.18592/tarbiyah.v7i1.2100

Zulkarni, Yosmar, R., & Yuliagus, F. (2019). Gambaran Perilaku Keluarga Dalam
Swamedikasi Melalui Pendekatan Teori Helath Belief Model (BHM) di
kecamatan Kinali. 2. http://scholar.googleusercontent.com/scholar?q=cache:
LiVtdV4157UJ:scholar.google.com/+Health+Belief+Model+merupakan&hl
=id&as_sdt=0,5

Lampiran 1. Penjelasan Calon Partisipan
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON PARTISIPAN

1. Saya Fernanda Shofi Handayani, mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan
Blitar yang akan melakukan penelitian berjudul ”Pengaruh Pendidikan
Kesehatan Osteoporosis Dengan Pendekatan Health Belief Model Terhadap
Sikap Pencegahan Osteoporosis Pada Wanita Premenopause”. Peneliti berharap
saudara bersedia dengan sukarela menjadi partisipan dalam penelitian ini.

2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh pendidikan
kesehatan osteoporosis dengan pendekatan health belief model terhadap sikap
pencegahan osteoporosis pada wanita premenopause.

3. Apabila saudara bersedia menjadi partisipan dalam penelitian, saudara akan
diminta menandatangani lembar persetujuan.

4. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Saya
berharap saudara bersedia menjadi partisipan pada penelitian ini dan dapat
menjawab dengan jujur semua pertanyaan serta mengikuti dengan ikhlas setiap
aktivitas yang akan dilakukan.

5. Penelitian ini tidak memberikan kerugian fisik dan materi apapun bagi subjek
penelitian. Semua biaya terkait penelitian sepenuhnya ditanggung oleh peneliti.

6. Informasi apapun terkait identitas partisipan akan dirahasiakan dan hanya
diketahui oleh peneliti.

7. Sebagai partisipan dalam penelitian, saudara wajib mengikuti peraturan atau
petunjuk penelitian. Apabila ada yang kurang jelas atau memerlukan
informasi/bantuan terkait penelitian, saudara bisa menanyakan kepada peneliti
atau bisa menghubungi Fernanda Shofi Handayani, Nomor HP 085804720916
sebagai peneliti utama.
Peneliti

Fernanda Shofi Handayani
NIM. P17230193073

63

Lampiran 2. Lembar Persetujuan Partisipan
LEMBAR PERSETUJUAN PARTISIPAN

Saya yang bertandatangan dibawah ini:

Nama :

Usia :

Jenis Kelamin :

Setelah mendapat penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai
penelitian yang akan dilakukan oleh Fernanda Shofi Handayani dengan judul
”Pengaruh Pendidikan Kesehatan Osteoporosis Dengan Pendekatan Health Belief
Model Terhadap Sikap Pencegahan Osteoporosis Pada Wanita Premenopause”,
saya memutuskan setuju untuk ikut berpartisipasi pada penelitian ini. Apabila
sewaktu-waktu saya dirugikan dalam bentuk apapun, saya berhak mengundurkan
diri tanpa sanksi apapun.

Demikian surat pernyataan ini saya buat tanpa ada paksaan dari pihak
manapun.

Peneliti Ngawi,______________________
Partisipan
Fernanda Shofi Handayani
NIM. P17230193073 ___________________________

64

Lampiran 3. Kisi-Kisi Kuesioner

KISI-KISI KUESIONER

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN OSTEOPOROSIS DENGAN

PENDEKATAN HEALTH BELIEF MODEL TERHADAP SIKAP

PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA WANITA PREMENOPAUSE

No. Soal Pernyataan No. Soal

1. Mengerti tentang pencegahan osteoporosis 1,2,3

Pandangan tentang penggunaan obat dalam waktu 4
2.

yang lama

Pandangan tentang mengonsumsi makanan yang 5
3.

mengandung garam

4. Kesadaran untuk periksa ke pelayanan kesehatan 6

5. Mengonsumsi susu 7

6. Berjemur dibawah sinar matahari 8

7. Mengonsumsi makanan yang berkalsium 9

8. Melakukan olahraga 10

9. Mengonsumsi makanan yang bergizi 11

10. Menghindari mengonsumsi teh atau kopi 12

65

Lampiran 4. Lembar Kuesioner Penelitian
KUESIONER PENELITIAN

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Osteoporosis dengan Pendekatan Health Belief
Model Terhadap Sikap Pencegahan Osteoporosis Pada Wanita Premenopause

Nomor Responden :___________ Tanggal :________________

Data Demografi

Petunjuk umum pengisian
Berilah tanda centang (√) pada kotak yang disediakan sesuai dengan keadaan ibu
yang sebenarnya!
1. Nama (Inisial) : ____________________________________________
2. Umur

 (40-43) tahun
 (44-46) tahun
 (47-50) tahun
3. Agama
 Islam
 Kristen
 Hindu
 Budha
4. Pekerjaan
 PNS
 Swasta
 Petani
 Ibu Rumah Tangga
 Lainnya, _________
5. Status Penikahan
 Belum menikah
 Menikah

66

6. Pendidikan Terakhir
 SD/MI
 SMP/MTS
 SMA/SMK/MA
 Perguruan Tinggi

7. Apakah ibu sebelumnya sudah pernah mendapatkan informasi tentang
pencegahan osteoporosis (tulang keropos)?
 Pernah
 Belum pernah

8. Kalau sudah pernah mendapatkan informasi tentang pencegahan osteoporosis
(tulang keropos) dari manakah informasi tersebut didapatkan?
 Petugas kesehatan
 Teman
 TV/Radio
 Majalah/Koran
 Lingkungan

67

Lampiran 5. Kuesioner Sikap Pencegahan Osteoporosis
Kuesioner Sikap Pencegahan Osteoporosis
Berilah tanda centang (√) pada pernyataan yang sesuai dengan keadaan ibu!

No. Pernyataan Sangat Setuju Tidak Sangat
Setuju Setuju Tidak
Setuju

1. Ibu berfikir bahwa olahraga setiap

hari akan memperkuat tulang

2. Ibu berfikir bahwa minum susu
setiap hari akan memperkuat tulang

3. Ibu berfikir bahwa kebiasaan
merokok sangat bagus untuk tulang

4. Ibu tidak ingin minum obat nyeri
sendi dan obat asma
(dexamethasone) dalam waktu yang
lama

5. Ibu tidak ingin makan-makanan
yang mengandung garam tinggi
(ikan asin, telur asin, atau makanan
ringan) dalam waktu yang lama

6. Ibu tidak periksa kedokter saat
mengalami nyeri punggung dan
pegal linu karena ini dianggap hal
yang lumrah

7. Ibu mengkonsumsi susu atau olahan
susu (keju)

8. Ibu berjemur dibawah sinar
matahari antara jam 06.00-09.00
WIB.

9. Ibu mengonsumsi makanan yang
berkalsium (susu, susu kedelai,

68

bayam, keju) untuk memenuhi
kebutuhan kalsium
10. Ibu melakukan olahraga seperti
jalan-jalan, naik/turun tangga, dan
lari-lari secara teratur
11. Ibu mengkonsumsi makanan bergizi
khususnya sayuran (sawi, bayam)
dan berprotein (daging, susu, telur,
ikan, dan keju)
12. Ibu mengkonsumsi teh atau kopi
setiap hari
Jumlah
Sumber : (Khairiah, 2017)

69

Lampiran 6. Satuan Acara Penyuluhan

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENDIDIKAN KESEHATAN PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS DENGAN

PENDEKATAN HEATLH BELIEF MODEL

Pokok Bahasan : Pendidikan Kesehatan Osteoporosis Terhadap Sikap

Pencegahan Osteoprosis

Sasaran : Wanita Premenopause Usia 40-50 Tahun

Tempat : Dusun Tarum Desa Karangsono Kecamatan Kwadungan

Kabupaten Ngawi

Waktu : 30 Menit

Tanggal : 20 Juni 2022

A. Tujuan Umum

Setelah selesai mengikuti pendidikan kesehatan selama 30 menit, diharapkan

masyarakat mampu memahami dan melakukan pencegahan osteoporosis.

B. Tujuan Khusus

Masyarakat mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari mengenai

sikap pencegahan osteoporosis.

C. Materi

Perilaku Pencegahan Osteoporosis

D. Metode

Ceramah dan diskusi

E. Media

Leaflet

70

F. Pelaksanaan Kegiatan

No. Tahap Kegiatan Waktu
Kegiatan 5 menit
Pendidik Sasaran
20
1. Pembukaan 1. Mengucapkan 1. Menjawab menit

salam salam

2. Memperkenalkan 2. Mendengarkan

diri maksud dan

3. Menyampaikan tujuan dari

maksud dan tujuan pendidikan

dari pendidikan kesehatan

kesehatan 3. Memperhatikan

4. Menyebutkan

materi pendidikan

kesehatan yang

akan diberikan

2. Inti 1. Menjelaskan 1. Mendengarkan

materi 2. Memperhatikan

a. Definisi 3. Mengajukan

osteoporosis pertanyaan jika

b. Klasifikasi belum jelas

osteoporosis 4. Mendengarkan

c. Penyebab pendidikan

osteoporosis kesehatan dan

d. Gejala memperhatikan

osteoporosis jawaban dari

e. Dampak pendidik

osteoporosis

f. Pencegahan

osteoporosis

2. Memberikan

pendekatan Health

Belief Model,

dengan 6 elemen

utama HBM yaitu:

a. Persepsi

kerentanan

yang

dirasakan

(perceived

susceptibility)

b. Persepsi

keseriusan

yang

dirasakan

(perceived

severity)

c. Persepsi

manfaat yang

71

3. Penutup dirasakan 1. Mendengarkan 5 menit
(perceived dan
benefits) memperhatikan
d. Persepsi
hambatan 2. Menjawab
yang salam
dirasakan
(perceived
barriers)
e. Persepsi
isyarat untuk
bertindak
(cues to
action)
f. Persepsi
keyakinan
diri (self
efficacy)
3. Memberikan
kesempatan
bertanya
4. Menjawab
pertanyaan peserta
1. Memberikan
kesimpulan
2. Mengucapkan
salam

G. Evaluasi
1) Evaluasi sebelum dilakukan pendidikan kesehatan osteoporosis
2) Evaluasi hasil 1 minggu setelah diberikan pendidikan kesehatan
osteoporosis

72

Lampiran 7. Materi Pendidikan Kesehatan Osteoporosis
MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN SIKAP PENCEGAHAN
OSTEOPOROSIS DENGAN PENDEKATAN HEALTH BELIEF MODEL
A. Definisi Osteoporosis
Osteoporosis merupakan suatu bentuk kelainan tulang yang ditandai dengan
penurunan massa dan kepadatan tulang secara keseluruhan disertai dengan
kerusakan arsitektur tulang yang mengakibatkan penurunan kekuatan tulang
(Lesmana & Broto, 2018). Osteoporosis adalah suatu kondisi yang ditandai
dengan penurunan kepadatan massa tulang dengan risiko mikrofraktur,
terutama patah tulang pinggul (Humaryanto & Syauqy, 2019). Osteoporosis
adalah penurunan kepadatan tulang secara progresif, sehingga tulang menjadi
rapuh dan mudah patah (Anjarwati, 2010).
B. Klasifikasi Osteoporosis
1. Osteoporosis primer

Osteoporosis primer berkaitan dengan kelainan pada tulang, yang dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan proses resorpsi pada tulang
trabekula sehingga dapat meningkatkan risiko fraktur vertebrata dan
Colles. Saat usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering
terkena osteoporosis dari pada pria pada usia rata-rata 53-57 tahun.
2. Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder bisa disebabkan oleh penyakit atau penyebab lain
di luar tulang, misalnya akibat infeksi, trauma, atau pernah mengalami
fraktur. Meskipun demikian belum dapat diketahui secara pasti berapa
lama untuk meningkatkan massa tulang untuk meningkatkan massa tulang
selain faktor genetik (Wahyuni, 2021).
C. Penyebab Osteoporosis
Osteoporosis disebabkan oleh berbagai faktor, ada yang dapat dihindari dan
ada yang tidak. Berikut ini faktor penyebab osteoporosis yang dapat dihindari:
1. Keturunan

Jika karena faktor keturunan ada yang mengalami osteoporosis (misalnya
bungkuk), maka kemungkinan seseorang beresiko mengalami
osteoporosis juga lebih besar.
2. Usia

73

Tingkat kepadatan tulang dengan alami akan mengalami pengurangan
ketika telah memasuki usia 35 tahun.
3. Hormon
Jika haid telah berhenti, wanita lebih beresiko terkena osteoporosis. Hal
tersebut disebabkan karena wanita mengalami perubahan hormon yang
bisa menyebabkan penurunan secara signifikan kinerja tubuh dalam
penyerapan kalsium.
4. Postur
Bentuk tubuh yang kurus atau mungil lebih beresiko mangalami
osteoporosis daripada yang memiliki tubuh besar atau gemuk.
5. Kurang berolahraga
Seseorang bisa terkena osteoporosis bila kurang melakukan olahraga
utamanya olahraga aerobik, dan jarang mengerjakan olahraga fisik
(Syam, Noersasongko, Sunaryo, et al., 2014).
D. Gejala Osteoporosis
Penyakit osteoporosis biasanya disebut sebagai silent disease karena proses
kepadatan tulang mengalami pernurunan secara perlahan dan berlangsung
dengan progresif selama bertahun-tahun. Gejala osteoporosis baru muncul
pada tahap osteoporosis lanjut, seperti :
1. Patah tulang
2. Hilangnya tinggi badan
3. Punggung yang semakin membungkuk
4. Nyeri pada punggung (Anjarwati, 2010).
E. Pencegahan Osteoporosis
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis yaitu :
1. Asupan kaslium cukup
Mengonsumsi kalsium yang cukup dapat membantu mempertahankan dan
meningkatkan kepadatan tulang. Mengonsumsi tambahan vitamin D dan
meminum 2 gelas susu setiap hari, dapat membantu peningkatan untuk
memadatkan tulang terutama pada perempuan setengah baya belum
menerima asupan kalsium sebelumnya.
2. Melakukan olah raga beban

74

Selain berolahraga dengan alat beban, berat badan kita sendiri juga bisa
digunakan untuk beban yang bisa membantu peningkatan untuk
memadatkan tulang. Olahraga beban ini contohnya menaiki tangga dan
berjalan.
3. Gaya hidup sehat
Gaya hidup sehat bisa dilakukan kapan saja. Menjauhi rokok dan alkohol
merupakan pengaruh yang drastis untuk mencegah resiko osteoporos.
4. Paparan sinar UV B matahari
Paparan sinar matahari UV B dapat menunjang tubuh menghasilkan
vitamin D yang diperlukan oleh tubuh untuk membentuk masa tulang
(Syam, Noersasongko, Sunaryo, et al., 2014).
F. Pencegahan Osteoporosis dengan Pendekatan Health Belief Model
a. Persepsi kerentanan yang dirasakan (perceived susceptibility)
Memberikan kepercayaan kepada individu mengenai kemungkinan
terkena penyakit osteoporosis, karena seseorang yang merasa rentan akan
lebih merasa terancam.
b. Persepsi keseriusan yang dirasakan (perceived severity)
Memberikan pandangan pada individu bahwa penyakit osteoporosis
merupakan masalah yang serius dan akan memberikan dampak yang buruk
jika tidak dicegah.
c. Persepsi manfaat yang dirasakan (perceived benefits)
Memberikan pandangan individu mengenai manfaat dari pencegahan
osteoporosis untuk mengurangi ancaman dan akibat dari penyakit
osteoporosis yang merugikan.
d. Persepsi hambatan yang dirasakan (perceived barriers)
Mengetahui pandangan individu tentang hambatan dari pelaksanaan
pencegahan osteoporosis (misalnya biaya mahal, rasa malas dll)
e. Persepsi isyarat untuk bertindak (cues to action)
Mengetahui keputusan individu setelah dilakukannya pendidikan
kesehatan, individu akan menerima atau menolak alternatif tindakan yang
telah diberikan setelah mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya.
f. Persepsi keyakinan diri (self efficacy)

75

Memberikan keyakinan pada diri individu agar dapat berhasil untuk
mengubah sikap dalam mencegah osteoporosis.

76

Lampiran 8. Media Pendidikan Kesehatan
MEDIA

77

Lampiran 9. Surat Izin Penelitian
78

Lampiran 10. Tabulasi Data Umum
79

TABULASI DATA UMUM

No. Resp Umur Agama Pekerjaan Status Pendidikan Informasi Sumber
Pernikahan Terakhir Informasi
11 1
22 1 42 22
31 1
43 1 32 32
51 1
61 1 32 22
71 1
81 1 42 2 13
91 1
10 1 1 32 1 11
11 1 1
12 2 1 42 22
13 2 1
14 3 1 42 3 13
15 1 1
16 1 1 32 22
17 2 1
18 1 1 42 22
19 1 1
20 1 1 12 4 11
21 2 1
22 1 1 42 3 13
23 3 1
24 1 1 32 12
25 2 1
26 3 1 42 22
27 1 1
28 1 1 32 12
29 3 1
30 1 1 32 22
31 3 1
32 3 1 32 2 13

32 22

42 22

32 22

42 32

32 2 11

22 3 15

32 32

42 12

32 3 13

12 4 11

42 3 13

32 32

32 1 13

42 22

32 12

32 22

80


Click to View FlipBook Version