TERAPI BERMAIN DALAM PROSES PEMULIHAN TRAUMA PADA ANAK PASCA KEJADIAN BENCANA ALAM KARYA TULIS ILMIAH LITERATUR REVIEW WANDA ARSA RAHMADANI NIM. P17230193086 KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KESEHATAN MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN BLITAR TAHUN 2022
i TERAPI BERMAIN DALAM PROSES PEMULIHAN TRAUMA PADA ANAK PASCA KEJADIAN BENCANA ALAM Karya Tulis Ini Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang WANDA ARSA RAHMADANI NIM. P17230193086 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KESEHATAN MALANG JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN BLITAR TAHUN 2022
ii LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Wanda Arsa Rahmadani NIM : P17230193086 Program Studi : D3 Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah Literatur Review yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilan tulisan ataupun pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Studi Kasus ini hasil pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Mengetahui, Pembimbing Utama, Dr. Sri Mugianti, S.Kep., Ns., M.Kep NIP. 19660903 198803 2 002 Blitar, 13 Juli 2022 Yang Membuat Pernyataan Wanda Arsa Rahmadani NIM. P17230193086
iii LEMBAR PERSETUJUAN Penulisan Karya Tulis Ilmiah dengan Judul “Terapi Bermain Dalam Proses Pemulihan Trauma Pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam” oleh Wanda Arsa Rahmadani NIM P17230193086 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan. Blitar, 13 Juli 2022 Pembimbing Utama Dr. Sri Mugianti, S.Kep., Ns., M.Kep NIP. 19660903 198803 2 002
iv LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah Studi Literatur dengan judul “Terapi Bermain Dalam Proses Pemulihan Trauma Pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam” oleh Wanda Arsa Rahmadani NIM P17230193086 telah diujikan di depan dewan penguji pada tanggal 14 Juli 2022. Dewan Penguji, Mengetahui, Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang Imam Subekti, S.Kp, M. Kep, Sp.Kom NIP. 196512051989121001 Penguji Ketua Ns. Tri Cahyo Sepdianto, M. Kep. Sp. KMB NIP. 197609282001121002 Penguji Anggota Dr. Sri Mugianti, S.Kep., Ns., M.Kep NIP. 19660903 198803 2 002
v PRAKATA Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal studi kasus ini dengan baik. Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi Mata Ajar Karya Tulis Ilmiah dan sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh Ujian Akhir di Program Studi D3 Keperawatan Blitar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Budi Susatia, S.Kp., M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. 2. Imam Subekti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kom selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. 3. Dr. Sri Mugianti, Ns., M.Kep, selaku Ketua Program Studi D3 Keperawatan Blitar dan selaku Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah yang telah banyak memberikan arahan dalam penyusunan Studi Kasus ini. 4. Ns. Tri Cahyo Sepdianto, M. Kep. Sp. KMB, selaku Dosen Penguji yang bersedia menguji penulis. Memberikan saran, bimbingan, arahan dan motivasi dalam menyusun proposal ini. 5. Seluruh Dosen dan tenaga kependidikan Kampus III Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Program Studi D3 Keperawatan Blitar yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian.
vi 6. Orang tua selaku pemberi motivasi dan dukungan dalam menuntut ilmu di bidang keperawatan dan dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini. 7. Teman-teman selaku pemberi semangat dan nasihat dikala penulis putus asa dalam hal belajar dan menyelesaikan tugas akhir. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan pihak yang telah memberi kesempatan, nasihat, dukungan dan bantuan dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini jauh dari kata sempurna, tetapi penulis berharap karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi institusi keperawatan. Blitar, 13 Juli 2022 Wanda Arsa Rahmadani NIM. P17230193086
vii ABSTRAK Rahmadani, Wanda Arsa (2022) Terapi Bermain Dalam Proses Pemulihan Trauma Pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam. Studi Literatur Review. Program Studi D3 Keperawatan Blitar, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing Dr. Sri Mugianti, S.Kep., Ns., M.Kep Bencana alam banyak memberikan kerugian bagi masyarakat, terutama pada keadaan psikologis. Anak-anak salah satu kelompok yang rentan mengalami trauma. Trauma dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak, sehingga anak-anak memerlukan trauma healing dengan metode terapi bermain sebagai pemulihan pasca kejadian bencana alam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui manfaat dan macam-macam terapi bermain untuk proses pemulihan trauma pada anak pasca kejadian bencana alam. Metode yang digunakan pada literature review ini yaitu tradisional review, dalam pencarian jurnal menggunakan database google scholar dan crossref, menghasilkan 6 jurnal yang akan direview. Desain studi yang digunakan yaitu quasy eksperiment, penelitian kualitatif, research and development dan penelitian deskriptif. Penyajian data dilakukan dengan mencari persamaan, ketidaksamaan, memberikan pandangan dan membandingkan. Hasil penelitian literature review dari keenam jurnal didapatkan bahwa manfaat terapi bermain yaitu mengobati gangguan stress pasca trauma, mengurangi beban emosional, mengembangkan imajinasi, melatih kompetisi anak, mengurangi kecemasan serta ketakutan. Adapun macam-macam terapi bermain yang bisa digunakan antara lain, permainan tradisional yang meliputi engrang, kelereng, ular naga, lompat karet, dan bentengan sedangkan permainan modern meliputi bermain puzzel dan bermain buku pop-u, yang terakhir permainan untuk pengembangan imajinasi meliputi bernyanyi dan mewarnai. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai terapi bermain yang dikhususkan untuk anakanak yang mengalami komplikasi trauma fisik. Kata kunci : terapi bermain, trauma, anak-anak, bencana alam
viii ABSTRACT Rahmadani, Wanda Arsa (2022) Play Therapy in Trauma Recovery Process in ChildrenPost Natural Disasters. Study Literature Review. Blitar Nursing D3 Study Program, Health Polytechnic of the Ministry of Health Malang. Advisor Dr. Sri Mugianti, S.Kep., Ns., M.Kep Natural disasters cause a lot of harm to the community, especially in psychological conditions. Children are one of the groups that are vulnerable to trauma. Trauma can affect the process of growth and development of children, so children need trauma healing with play therapy methods as recovery after natural disasters. The purpose of this study was to determine the benefits and types of play therapy for the trauma recovery process in children after natural disasters. The method used in this literature review is a traditional review, in searching for journals using the Google Scholar and CrossRef database, it produces 6 journals to be reviewed. The study design used was quasi experiment, qualitative research, research and development and descriptive research. Data presentation is done by looking for similarities, inequalities, giving views and comparing. The results of the literature review research from the six journals found that the benefits of play therapy are treating post-traumatic stress disorder, reducing emotional burden, developing imagination, training children's competition, reducing anxiety and fear. As for the various kinds of play therapy that can be used, among others, traditional games which include stilts, marbles, dragon snakes, rubber jumps, and fortifications, while modern games include playing puzzles and playing pop-u books, the last games for developing imagination include singing and playing. coloring. Further research is needed on play therapy specifically for children who experience complications of physical trauma. Keywords: play therapy, trauma, children, natural disasters
ix DAFTAR ISI SAMPUL DALAM............................................................................................ i LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ...................................... ii LEMBAR PERSETUJUAN .............................................................................. iii LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... iv PRAKATA ........................................................................................................ v ABSTRAK ......................................................................................................... vi ABSTRACT ...................................................................................................... vii DAFTAR ISI...................................................................................................... ix DAFTAR TABEL.............................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR......................................................................................... xiii BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 2 1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 3 1.3.1. Tujuan Umum...................................................................................... 3 1.3.2. Tujuan Khusus.................................................................................... 3 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 3 1.4.1 Manfaat Praktis .................................................................................. 3 1.4.2 Manfaat Teoritis ................................................................................. 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 4 2.1 Konsep Bencana ........................................................................................... 4 2.1.1 Pengertian Bencana ............................................................................ 4 2.1.2 Jenis-Jenis Bencana ............................................................................ 4 2.1.3 Manajemen Penanggulangan Bencana ............................................... 6 2.2 Konsep Trauma ............................................................................................ 7 2.2.1 Pengertian Trauma ............................................................................. 7 2.2.2 Penyebab Trauma ............................................................................... 7 2.2.3 Pemulihan Trauma ............................................................................. 8
x 2.3 Konsep Terapi Bermain ............................................................................... 9 2.3.1 Pengertian Terapi Bermain ................................................................. 9 2.3.2 Tujuan Terapi Bermain ...................................................................... 10 2.3.3 Klasifikasi Permainan ........................................................................ 11 2.3.4 Manfaat Terapi Bermain .................................................................... 12 2.3.5 Bentuk Aplikasi Terapi Bermain ........................................................ 13 2.3.6 Manajemen terapi Bermain Saat Kejadian Bencana Alam.................. 16 2.4 Kerangka Konseptual ................................................................................... 17 BAB 3 METODE PENELITIAN .................................................................... 18 3.1 Desain Studi Literatur .................................................................................. 18 3.2 Langkah-Langkah Penelusuran Literatur ..................................................... 18 3.2.1 Topik Literatur...................................................................................... 18 3.2.2 Rumus PEOS ...................................................................................... 18 3.2.3 Kata Kunci .......................................................................................... 19 3.2.4 Mencari Literatur Di Database ........................................................... 19 3.2.5 Hasil Pencarian .................................................................................. 20 3.2.6 Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas .................................................. 21 3.3 Penyajian Hasil ............................................................................................. 21 3.3.1 Melakukan Review ............................................................................. 21 3.3.2 Penyajian Literatur ............................................................................. 21 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 22 4.1 Hasil Literatur Review .................................................................................22 4.1.1 Karakteristik Studi ..............................................................................22 4.1.2 Hasil Literatur Review .......................................................................23 BAB 5 PENUTUP .............................................................................................35 5.1 Kesimpulan ...................................................................................................35 5.2 Saran .............................................................................................................36 5.1.1 Untuk pemerintah ...............................................................................36 5.1.2 untuk relawan ......................................................................................36
xi DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................37
xii DAFTAR TABEL Tabel 3.2.2 Rumus PEOS .................................................................................. 18 Table 3.3.2 Penyajian Data ............................................................................... 22
xiii DAFTAR GAMBAR Gambar 2.4 Kerangka Konsep ........................................................................... 17 Gambar 3.2.5 Flowchart ..................................................................................... 20
xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lembar Konsultasi ..........................................................................40
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia tidak bisa terlepas dari berita bencana alam, Indonesia terletak diantara samudra dan sebagian besar terdiri dari kepulauan membuat Indonesia terus dilanda bencana setiap tahunnya. Mulai dari bencana gunung meletus, banjir, tanah longsor, dan gempa bumi. Bencana merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang diakibatkan oleh konfigurasi astrologi (Heryana, 2020a). Bencana alam di Indonesia banyak memberikan dampak untuk masyarakat, baik dalam bidang kesehatan maupun bidang ekonomi. Peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia, BNPB mencatat terdapat 2723 kejadian bencana alam terjadi di Indonesia per 1 Januari hingga 5 Desember 2021. Dari jumlah yang tercatat, sebanyak 1136 merupakan bencana banjir. Sebanyak 27 merupakan kejadian gempa bumi. Sebanyak 562 kejadian yang terjadi sepanjang tahun yaitu tanah longsor. Sedangkan 265 kejadian terjadi yaitu kebakaran hutan dan lahan. Untuk cuaca ekstrim yang terjadi sebanyak 686 kejadian. Sebanyak 31 kejadian bencana gekombang pasang dan abrasi. Dan untuk kejadian kekeringan sebanyak 15 kejadian, yang terakhir yaitu ada 1 kejadian erupsi gunung berapi. Dampak dari bencana alam yang terjadi di Indonesia dirasakan semua masyarakat tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Ada kelompok yang paling rentan merasakan dampak dari bencana alam. Kelompok yang paling rentan terdampak bencana alam salah satunya yaitu anak-anak dikarenakan secara fisik dan mental masih dalam masa pertumbuhan. Anak-anak memiliki daya ingat yang sangat tajam, dengan kejadian tersebut ada perasaan takut yang berlebih dan lamakelamaan dapat mengakibatkan trauma pada anak. Trauma merupakan perasaan seseorang dalam merespon suatu hal dengan rasa takut yang berlebih akibat pengalaman tragis yang dapat mengancam kesehatan mental. Keadaan trauma pada anak akibat menyaksikan kejadian bencana alam akan mengganggu masalah psikologis anak. Masalah psikologis yang dialami anak pasca bencana salah satunya yaitu cemas. Anak yang
2 kehilangan orangtuanya akan mengalami rasa kehilangan figur pelindung dalam hidupnya. Dengan berada pada tempat pengungsian, mereka kebanyakan tidak mendapatkan tempat yang layak untuk sekedar beristirahat. Bahkan kurangnya pasokan makanan yang bergizi juga dapat menyebabkan terserang penyakit. Selain itu anak-anak akan kehilangan haknya dalam bidang pendidikan, dengan berada pada situasi tersebut dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dan mengakibatkan perkembangan emosional terganggu (RI, 2019). Kejadian trauma yang sering dijumpai pada anak yaitu kecemasan. Anak-anak Indonesia merupakan generasi penerus bangsa yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Tetapi, pada kenyataan setiap terjadi bencana alam anak-anak menjadi korban utama yang cenderung diduakan penanganannya. Permasalahan trauma pada anak paska bencana tetap terjadi hingga saat ini dikarenakan pemerintah Indonesia belum terlalu fokus pada penanganan korban anak-anak. Dari bencana yang banyak terjadi di Indonesia dapat dilihat kebanyakan bantuan berupa donasi untuk kebutuhan pokok seperti, bahan pokok dan pakaian. Selain itu, relawan medis kebanyakan hanya menangani korban luka fisik sehingga untuk korban-korban yang mengalami gangguan psikologis masih dikesampingkan. Penanganan korban bencana alam tidak hanya masalah penanganan fisik, tetapi juga penanganan luka trauma akibat bencana. Karena pada anak-anak lebih rentan terjadi trauma yang berkepanjangan dibandingkan dengan orang dewasa. Terjadinya trauma yang berkepanjangan akan menurunkan kualitas mental yang dapat menurunkan kualitas hidup pada anak, sehingga penanganan trauma (traumatic healing) dengan menerapkan terapi bermain pada anak pasca bencana perlu dilakukan untuk mencegah trauma yang berkepanjangan. Salah satu terapi bermain yang dapat dilakukan untuk mengatasi trauma akibat bencana yaitu comedy card. Berdasarkan uraian di atas peneliti mengambil judul “Terapi Bermain dalam Proses Pemulihan Trauma pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam”.
3 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan bahwa “Terapi bermain apa saja yang bisa digunakan dalam proses pemulihan trauma pada anak pasca kejadian bencana alam melalui riset menggunakan tinjauan pustaka?”. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui jenis-jenis Terapi Bermain dalam Proses Pemulihan Trauma pada Anak Pasca Bencana Alam Melalui Riset Menggunakan Tinjauan Pustaka. 1.3.2. Tujuan Khusus 1.3.2.1 Mengetahui Manfaat Penerapan Terapi Bermain dalam Proses Pemulihan Trauma pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam. 1.3.2.2 Mengetahui bentuk Terapi Bermain dalam Proses Pemulihan Trauma pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam melalui riset menggunakan tinjauan pustaka. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Sebagai bahan rujukan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya tentang Riset Menggunakan Tinjauan Pustaka Terapi Bermain dalam Proses Pemulihan Trauma pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam. 1.4.2 Manfaat Praktis 1.4.2.1 Bagi Masyarakat Sebagai bahan informasi bagi Masayrakat dalam Meningkatkan Pengetahuan mengenai cara Pemulihan Trauma pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam . 1.4.2.2 Bagi Institusi Pendidikan Sebagai media referensi tentang Terapi Bermain dalam Proses Pemulihan Trauma pada Anak Pasca Kejadian Bencana Alam.
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Bencana 2.1.1 Pengertian Bencana Bencana adalah kehancuran ekologis yang luas baik secara fisik maupun hubungan fungsional antara manusia dengan lingkungannya disebabkan alam maupun manusia yang berbentuk kejadian serius dalam skala besar sehingga komunitas yang terdampak membutuhkan upaya untuk menangani kerusakan yang terjadi (Heryana, 2020a). 2.1.2 Jenis-Jenis Bencana a. Bencana berdasarkan kecepatan terjadinya Bencana berdasarkan kecepatan terjadinya ada 2 jenis yaitu rapid disaster dan slow disaster. 1) Rapid disaster merupakan bencana yang terjadi secara tiba-tiba atau suddenonset disaster yang terjadi dengan sedikit ataupun tanpa adanya tanda-tanda yang biasanya memiliki efek menghancurkan dengan selang waktu berjamjam maupun perhari-hari. Contoh bencana rapid disaster Antara lain : gempa bumi, tsunami, gunung berapi, tangah longsor, badai tornado, dan banjir. 2) Slow disaster merupakan jenis bencana yang terjadi secara lambat dan tidak terlihat gejalanya. Pada kejadian bencana slow disaster ini terlihat setelah terjadi kerusakan dan penderitaan dalam jumlah yang proporsional dan membutuhkan tindakan kegawatdaruratan yang massif. Contoh bencana slow disaster antara lain : kelaparan, kekeringan, tanah menjadi gurun/desertification, epidemic penyakit. b. Bencana berdasarkan penyebabnya Bencana berdasarkan penyebab terjadinya dibagi menjadi 3 yaitu alam atau natural disaster, bencana akibat teknologi atau technological-caused disaster dan bencana akibat manusia atau human-caused disaster.
5 1) Bencana terjadi akibat alam/ natural disaster Bencana yang disebabkan oleh alam (natural disasters) dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : a) Bencana akibat kejadian biologis (biological disaster) Bencana ini disebabkan oleh patogen bakteri atau virus yang dapat berbentuk pandemic, wabah, atau epidemic penyakit menular. Dalam Dictionary of Disaster Medicine and Humanitarian Relief disebutkan bahwa bencana biologis adalah bencana yang diakibatkan oleh paparan/pajanan biomassa atau organisme hidup dalam jumlah besar terhadap zat-zat beracun, bakteri atau radiasi. b) Bencana akibat kejadian hidro-meteorologik (hydro-meteorological disaster) Bencana ini dapat disebabkan oleh curah hujan yang tinggi atau rendah. Yang sering terjadi adalah bencana akibat curah hujan tinggi yaitu banjur dan badai. Bencana badai meliputi badai siklon tropis, tornado, badai angin, dan badai salju. Sedangkan bencana akibat curah hujan rendah antara lain: kekeringan (kadang bersamaan dengan badai debu), kebakaran yang tidak terkendali seperti di hutan, dan gelombang panas. c) Bencana akibat kejadian geofisika (geo-physical disaster) Bencana ini disebabkan oleh energi yang dihasilkan dari berbagai kejadian geofisika. Bencana ini terbagi menjadi tiga yaitu: bencana karena energi seismic seperti gempa bumi dan tsunami; bencana karena energi vulkanik seperti erupsi gunung berapi dan aliran larva gunung; dan bencana karena energy gravitasi seperti longsor (longsoran puing, longsor lumpur, longsoran lahar vulkanik, dan longsoran salju). 2) Bencana akibat industri Bencana akibat industri atau industrial-induced disaster merupakan bencana terjadi adanya kegiatan industry, uji coba, penerapan, atau kegagalan dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan teknologi menghasilkan hazard (bahaya) seperti limbah dan radiasi industry.
6 3) Bencana akibat manusia Bencana akibat manusia atau natural-induced disaster merupakan hasil kesalahan yang dibuat oleh manusia maupun kejadian apapun yang terjadi tanpa ada tanggung jawab pelaku. 2.1.3 Manajemen Penanggulangan Bencana Manajemen bencana merupakan suatu proses terencana yang dilakukan dalam mengelola bencana dengan baik. Siklus manajemen bencana terdiri dari tiga fase, yaitu fase prabencana, fase saat terjadi bencana, dan fase pasca bencana (Mahardika et al., 2018). 1) Fase prabencana Fase prabencana merupakan peningkatan kemampuan awal dalam menghadapi ancaman bencana. Kegiatan yang dilakukan pada fase prabencana adalah mitigasi. Mitigasi bencana adalah upaya untuk mencegah ataupun mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat bencana sebelum bencana terjadi. 2) Fase saat terjadi bencana Fase ini dilakukan mulai muncul peringatan dini hingga bencana terjadi maka diperlukan langkah tanggap darurat untuk mengatasi dampak bencana dengan cepat dan tepat supaya jumlah korban dapat diminimalisir. Tanggap darurat bencana merupakan kegiatan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan meliputi penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsian, penyelamatan, dan pemulihan sarana dan prasarana. 3) Fase pasca bencana Setela bencana terjadi proses selanjutnya yaitu melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi. Rehabilitasi merupakan perbaikan dan pemulihan segala aspek pelayanan masyarakat. Sedangkan untuk tahap rekontruksi merupakan pembangunan kembali atau menyusun kembali tatanan sarana dan prasarana agar kembali sebelum adanya kejadian bencana.
7 2.2 Konsep Trauma 2.2.1 Pengertian Trauma Trauma merupakan keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani (Deborah et al., 2018). Trauma disebabkan oleh peristiwa yang sangat menekan dan terjadi secara tibatiba diluar kendali seseorang. Peristiwa trauma bersifat mengagetkan, menyakitkan, dan melebihi situasi stress yang dialami dalam kehidupan seharihari. Trauma adalah sesuatu untuk menggambarkan situasi yang dialami korban. Kejadian yang alami setiap orang berbeda satu dengan yang lain dalam menghadapi peristiwa traumatik, sehingga wajar ketika seseorang mengalami ketakutan baik fisik maupun emosional sebagai reaksi kejadian traumatik (Khairul Rahmat & Alawiyah, 2020). Trauma menurut (Akmal & Ma’arif, 2021) adalah gangguan psikologis yang dapat merusak keseimbangan kehidupan seseorang disebabkan oleh kejadian yang dapat menimbulkan luka sakit baik secara fisik, psikis maupun keduanya. Trauma dapat terjadi akibat adanya kejadian luar biasa yang belum pernah dialami seseorang. Salah satu kejadian trauma yang sering terjadi yaitu kejadian trauma pasca bencana. Trauma pasca bencana merupakan trauma yang berkelanjutan setelah bencana yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman yang mengejutkan, membuat shock, dan mengancam jiwa (Lubis, 2021). 2.2.2 Penyebab Trauma Faktor yang menyebabkan trauma ada dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 1) Faktor internal (psikologis) Penyebab trauma yang disebabkan dari faktor internal yaitu masalah psikologis. Bentuk gangguan fungsi mental yang disebabkan oleh kegagalan mekanisme adaptasi dari fungsi kejiwaan terhadap ketegangan-
8 ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi kejiwaan atau mental (Julaeha, 2019). 2) Faktor eksternal (fisik) Pada faktor eksternal ini bisa berasal dari faktor orangtua dalam bersosialisasi dalam lingkungan keluarga sebagai contoh melakukan penganiayaan terhadap anak yang dapat menjadikan trauma fisik pada anak. Selain itu, dapat terjadi akibat kejahatan atau perbuatan yang tidak bertanggung jawab yang membuat luka pada fisik anak (Awwad, 2021). 2.2.3 Pemulihan Trauma 1) Metode mendongeng Sebagai media untuk pemulihan trauma, mendongeng diketahui sudah menjadi sebuah budaya dan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan kesehatan seseorang khususnya anak-anak. Pada saat mendongeng anak-anak dalam keadaan rileks sehingga menjiwai cerita yang dibawakan. Setiap anak memiliki imajinasi sendiri terhadap tokoh dan latar cerita dongeng tersebut (Syamsuddin, 2019). 2) Home visit Home visit adalah salah satu program yang dapat dilakukan pada korban bencana alam terutama pada anak-anak. Dengan adanya kunjungan ke rumah atapun tempat pengungsian mereka akan merasa lebih diperhatikan dan bersemangat dalam menjalani hidup karena mereka tidak merasa sendiri (Rahman, 2018). 3) Teknik relaksasi Teknik relaksasi merupakan teknik yang digunakan untuk membantu anak-anak agar lebih rileks dan nyaman dengan tubuh dan jiwanya. Teknik ini bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain: sensor tubuh, doa atau sholawat, menyanyikan lagu, berimajinasi dengan awan. 4) Teknik mengekspresikan emosi Teknik mengekspresikan emosi dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu : melepas bola imajiner, menyimpan emosi, dan mengatasi flashback.
9 5) Teknik rekreasional Teknik rekreasional merupakan segala aktivitas yang menggembirakan dan mampu mengembangkan aspek fisik, pikiran, sosial, dan emosional seseorang yang dapat meningkatkan resiliensi. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam teknik rekreasional antara lain: a. Kegiatan seni b. Pertunjukan drama dan boneka c. Bermain dan permainan d. Menyampaikan, membaca, mendengarkan, dan menuliskan cerita e. Olahraga 6) Teknik ekspresif Dalam pelaksanaan teknik ekspresif ini anak-anak dapat melakukan kegiatan menulis dan menggambar disesuaikan dengan ekspresi yang sedang dialami (Rahmat & Budiarto, 2021). 7) Play therapy (terapi bermain) Bermain merupakan salah satu cara trauma healing yang dapat dilakukan untuk mencegah anak-anak dari trauma berkepanjangan. Sehingga, bermain dapat digunakan sebagai media psikoterapi yang kemudian disebut dengan terapi bermain. Bagi anak-anak, bermain merupakan suatu kebutuhan yang sudah ada dengan sendirinya (Salamor et al., 2020). 2.3 Konsep Terapi Bermain 2.3.1 Pengertian Terapi Bermain Terapi bermain meruapakan suatu kegiatan untuk mengatasi masalah emosi dan perilaku anak karena responsive terhadap kebutuhan unik dan beragam dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak (Saputro & Fazrin, 2019). Menurut (Zeky & Batubara, 2019) terapi bermain merupakan metode yang digunakan dalam pemberian layanan konseling dengan menggunakan permainan sebagai alat dalam situasi yang telah disiapkan untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan mereka, seperti bahagia, sedih, marah, dendam, tertekan, atau emosi lainnya. Bermain merupakan suatu jenis aktivitas spontan yang bisa memberikan rasa gembira dan rasa aman secara psikologis terhadap anak. Rasa aman secara
10 psikologis yaitu suatu kondisi penting dalam menumbuhkan kreativitas pada anak (Ardiyanto, 2017). Terapi bermain dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat ataupun tanpa menggunakan alat. Permainan dapat dilakukan di dalam ruangan maupun diluar ruangan. Sehingga terapi bermain dapat disimpulkan sebagai kegiatan yang menggunakan alat-alat permainan yang sudah disiapkan ataupun tanpa menggunakan alat yang bisa dilakukan didalam ruangan maupun di luar ruangan untuk membantu anak dalam mengekspresikan perasaannya. 2.3.2 Tujuan Terapi Bermain Terapi bermain untuk anak usia dini bertujuan untuk masalah psikologis dan untuk membentuk kepribadian anak. Bermain merupakan salah satu aktivitas yang sapatmembantu anak mencapai perkembangan yang utuh baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Secara umum menurut (M. Fadlillah, 2019) tujuan bermain dapat diklasifikasikan menjadi empat bentuk sebagai berikut: 1) Untuk eksplorasi anak Eksplorasi merupakan mengeluarkan atau mencurahkan. Dalam konteks ini, bermain merupakan salah satu cara yang dijadikan tempat untuk bereksplorasi, sehingga rasa ingin tau yang dimiliki anak dapat terpenuhi sesuai keinginan. 2) Untuk eksperimen anak Secara etimologi eksperimen berarti uji coba. Bermain sebagai eksperimen anak memiliki makna bahwa melalui bermain anak dapat melakukan uji coba untuk mendapatkan informasi pengetahuan atau pengalaman yang baru. Dikarenakan pada usia anak-anak memiliki rasa ingintahu yang tinggi sehingga anak sering kali melampiaskan ke dalam bentuk-bentuk permainan yang dimainkan. 3) Untuk imitation anak Imitation yang dimaksud adalah sebagai tiruan anak-anak. Dengan itu bermain sebagai imitation anak adalah suatu bentuk tiruan anak-anak terhadap permainan yang dimainkan. Sebagai contoh ketika anak melihat
11 tokoh-tokoh kartun kesukaannya anak pasti akan meniru aktivitas yang diperankan oleh tokoh kartun tersebut. 4) Untuk adaptasi anak Adaptasi merupakan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Maksudnya, apabila anak-anak sedang bermain dengan teman seusianya sebisa mungkin anak-anak berusaha untuk beradaptasi dengan temantemannya untuk menciptakan suasana keakraban dan kegembiraan. Sehingga secara tidak langsung anak-anak bermain dengan temannya telah melatih untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. 2.3.3 Klasifikasi Permainan Permainan diklasifikasikan ke beberapa kategori, permainan dikategorikan berdasarkan isinya menurut (Saputro & Fazrin, 2019) ada empat: 1) Bermain afektif sosial (social affective play) Permainan yang memiliki hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapat kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orangtua dan orang lain. 2) Bermain untuk senang-senang (sense of pleasure play) Permainan ini mengguakan alat yang dapat meimbulkan rasa senang pada anak, misalnya dengan menggunakan pasir anak akan membuat bendabenda apa saja yang dapat dibentuk sesuai kreativitasnya atau menggunakan air anak bisa melakukan bermacam-macam permainan seperti memindahkan air kedalam botol, bak atau tempat lain. 3) Permainan keterampilan (skill play) Permainan ini dapat memberikan keterampilan pada anak khususnya motorik halus dan kasar yang diperoleh melalui pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan. Contohnya, bayi akan terampil memegang benda-benda kecil, naik sepeda dan memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain.
12 4) Permaian simbolik (dramatic role play) Permainan yang dilakukan anak dengan memainkan peran orang lain yang memiliki tujuan penting untuk memproses/mengidentifikasikan anak terhadap peran tertentu. Contohnya memerankan sebagai ibu guru, ibu atau ayahnya, kakaknya sebagai orang yang ingin ditiru. Menurut (Saputro, 2019) bermain berdasarkan karakteristik sosial yaitu: 1) Solitary play Solitary play merupakan jenis permainan individu dengan didampingi orang lain di sekitarnya karena keterbatasan sosial, ketrampilan fisik dan kognitif. Permainan ini biasa dilakukan oleh bayi. 2) Paralel play Permainan ini dilakukan oleh suatu kelompok balita yang melakukan permainan yang sama tetapi satu sama lain tidak saling berinteraksi. Karakteristik permainan ini dilakukan khusus pada usia toddler. 3) Associative play Permainan ini dilakukan mulai usia toddler hingga anak usia prasekolah. Permainan ini dilakukan secara kelompok dengan saling melakukan aktivitas yang sama tetapi belum terorganisir secara formal. 4) Cooperative play Suatu permainan yang teroganisir dalam kelompok, ada tujuan kelompok dan ada pimpinan yang di mulai dari usia prasekolah sampai usia remaja. 5) Onlooker play Sistem permainan ini adalah anak hanya melihat atau mengobservasi permainan orang lain tanpa ikut bermain, dimulai pada usia toddler. 6) Therapeutic play Merupakan pedoman bagi tenaga tim kesehatan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anak selama hospitalisasi. Permainan bisa menggunakan alat-alat sebagai bahan peraga medis yang bertujuan untuk membantu perawatan diri.
13 2.3.4 Manfaat Terapi Bermain Menurut Slamet Suyanto dalam (M. Fadlillah, 2019) bermain memiliki peran penting dalam perkembangan anak baik dalam proses perkembangan fisik, motorik, bahasa, intelektual, moral ,sosial, maupun emosional. 1) Bermain dalam perkembangan kemampuan motorik Melalui permainan anak belajar mengontrol gerakan menjadi terkoordinasi. Selain itu, dengan bermain anak bergerak secara bebas sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan motoriknya. 2) Bermain dalam perkembangan kemampuan kognitif Bermain menyediakan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan objek dan dengan bermain anak dapat menggunakan indranya. Anak-anak bisa menggunakan indra seperti menyentuh, mencium, melihat dan mendengarkan untuk mengetahui sifat-sifat objek yang dimainkan. 3) Bermain mengembangkan kemampuan afektif Kemampuan afektif merupakan kemampuan yang berhubungan dengan sikap seseorang. Kemampuan ini dapat dikembangkan dengan permainan, kadang kalau ada permainan yang memiliki aturan-aturan tertentu. Sehingga bermain akan melatih anak menyadari akan adanya aturan dan pentingnya mematuhi aturan. Dengan hal tersebut, sebagai tahap awal dari perkembangan moral anak. 4) Bermain mengembangkan kemampuan bahasa Pada saat bermain anak akan menggunakan bahasa baik dalam berkomunikasi maupun menyalurkan pendapatnya. Pada saat anak bercakap-cakap dengan temannya, hal tersebut menggambarkan anak sedang dalam tahap menggabungkan pikiran dan bahasa sebagai satu kesatuan. 5) Bermain mengembangkan kemampuan sosial Pada saat bermain, anak akan berinteraksi dengan orang lain. Interaksi tersebut mengajarkan anak untuk merespon, memberi dan menerima, menolak gagasan atau perilaku anak yang lain. Hal tersebut melatih anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
14 2.3.5 Bentuk Terapi Bermain untuk Trauma Bencana Alam Bermain adalah kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan kesenangan pada anak.Jenis-jenis terapi bermain: 1) Terapi bermain origami Terapi bermain origami adalah suatu kegiatan terapi pada anak dengan cara membuat suatu kreasi mainan dengan melipat kertas. Permainan dengan menggunakan origami ini bertujuan untuk membantu perkembangan motorik dan sensorik anak, dapat meningkatkan kreativitas anak, dan untuk mengurasi ketegangan dan stress yang dialami. Bermain dengan menggunakan kertas origami ini sangat mudah dilakukan hanya dengan cara melipat kertas origami sesuai bentuk yang diinginkan seperti burung, bangun datar,dll (Rohmah, 2018). 2) Terapi comedy cart Terapi comedy card ini meruapakan terapi bermain untuk mengurangi kecemasan pada anak. Comedy cart terdiri dari keranjang yang telah dihias, dan di dalamnya terdapat kumpulan dari kaset film kartun anak, kaset album video lagulagu anak, dan buku komik. Permainan ini dimainkan dengan cara anak memilih salah satu media kesukaannya yang terdapat di dalam keranjang. 3) Terapi bermain ular tangga Terapi ular tangga yaitu permainan papan untuk anak-anak yang dimainkan oleh 2 orang atau lebih. Pada papan permainan dibagi dalam kotak-kotak kecil yang digambarkan oleh tangga atau ular yang menghubungkan satu kotak dengan kotak lainnya. Tujuan dari permainan ular tangga ini untuk melatih kecermatan dan untuk mengatur strategi. Permainan ular tangga ini biasa dilakukan oleh anak usia 8-12 tahun. Cara bermain dalam permainan ini yaitu: a. Mempersiapkan alat yang akan digunakan, antara lain papan ular tangga, bidak, dan dadu. b. Pemain memulai dari petak nomor 1 dilakukan secara bergantian. Untuk menentukan siapa yang mendapat giliran pertama, biasanya
15 dilakukan pelemparan dadu oleh setiap pemain. Pemain yang pertama main yaitu pemain yang memperoleh nilai tertinggi. c. Pemain melempar dadu dan dapat memajukan bidaknya sesuai dengan angka hasil lemparan dadu. d. Apabila pemain mendapatkan nilai 6 saat melempar dadu maka pemain mendapat kesempatan untuk bermain 2 kali. e. Jika bidak pemain berakhir pada petak yang mengandung kaki tangga, maka bidak tersebut berhak maju sampai pada petak yang ditunjuk oleh puncak dari tangga tersebut sedangkan jika bidak menempati pada ekor ular maka bidak harus turun sampai petak yang ditunjuk oleh kepala ular. f. Pemenang dari permainan ini adalah pemain yang pertama kali berhasil mencapai petak ke seratus (Dwi Pramardika et al., 2020). 4) Terapi bermain kupu-kupu terbang Permainan ini bertujuan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan motorik anak. permainan ini ditujukan untuk anak usia 1-2 tahun. Teknik pelaksanaan permainan kupu-kupu terbang sebagai berikut : a. Siapkan bahan yang digunakan yaitu kertas dan sapu ijuk. b. Potong kertas berukuran kecil seperti bentuk pipa. c. Ambil sehelai sapu ijuk dan ikatkan sapu ijuk ditengah potongan kertas yang telah dipotong. d. Putar ujung helaian sapu yang sudah terikat pada kertas tersebut,serhingga terlihat seperti kupu- kupu yang sedang terbang. Permainan kupu-kupu terbang dimainkan dengan memutar ujung helai sapu seakan-akan anak yang memainkan seperti mengejar kupu-kupu. 5) Terapi bermain puzzle rumah Puzzle merupakan permainan yang bisa dimodifikasi bentuknya sesuai dengan keinginan. Bermainan ini dapat melatih kemampuan kognitif, motorik halus, melatih logika dan kesabaran. Permainan ini dimainkan dengan cara menyiapkan puzzle yang utuh sesuai gambar, lalu acak-acak secara tidak beraturan kemudian biarkan anak-anak untuk menyusun kembali puzzle sesuai bentuk semula.
16 6) Terapi kereta dorong Permainan kereta dorong merupakan permainan yang dimainkan oleh 2 orang secara berpasangan untuk menirukan objek seperti kereta dorong. Permainan ini bermanfaat untuk melatih keseimbangan atau melatih motorik kasar pada anak. Cara melakukannya yaitu : a. Membuat garis start dan finish dengan jarak sesuai keinginan, lalu setiap pasangan bermain membentuk kereta dorong dengan cara 1 anak mengambil posisi merangkak dan yang satu berdiri di belakangnya untuk mengangkat kaki teman yang merangkak. b. Bila setiap pasangan kereta dorong siap maka akan diberi aba-aba “jalan”, pemain akan berjalan sampai garis finish. c. Setelah sampai garis finish pemain akan bergantian peran untuk setiap pasangan lalu pemain kembali menuju garis start. Pemenang adalah pasangan yang lebih dulu kembali pada garis start. 2.3.6 Manajemen Terapi Bermain Saat Kejadian Bencana Alam Bermain merupakan bahasa anak, ia akan memiliki imajinasi yang sangat luas dengan dunia bermainnya sendiri. Aktifitas bermain menjadi sarana penting anak agar mereka mampu menunjukkan dirinya sendiri, pandangannya terhadap lingkungan sekitar dan orang lain. Play Therapy menjadi salah satu metode yang efektif dan merupakan suatu teknik konseling yang diberikan orang dewasa untuk anak-anak yang didasari oleh konsep bermain sebagai bentuk komunikasi anak dengan orang dewasa sehingga bertujuan untuk mengintervensi dan berdialog dengan anak sehingga terciptanya kondisi perasaan nyaman dan dapat mengenali potensinya untuk mengatasi permasalahannya. Terdapat empat teknik yang dapat dilaksanakan untuk mengatasi trauma yang ada pada anak-anak, diantaranya ialah: Teknik Relaksasi, merupakan bantuan yang dilakukan untuk anak sampai anak menjadi nyaman dengan tubuh dan jiwanya. Teknik mengekspresikan emosi untuk anak, Teknik Rekreasoinal dengan kegiatan menyenangkan dan melibatkan aspek fisik, fikiran, sosial, dan emosional. Teknik Ekspresif dapat melibatkan dengan menulis dan menggambar (Widyastuti, 2019).
17 2.3 Kerangka Konseptual Gambar 2.4 Kerangka konsep terapi bermain dalam pemulihan trauma pada anak pasca bencana alam Kejadian bencana alam Keterangan : : diteliti : tidak diteliti Respon trauma (psikologis dan fisik ) Trauma pada anak Faktor penyebab trauma: a. Faktor internal b. Faktor eksternal Pemulihan trauma: a. Metode mendongeng b. Home visit c. Teknik relaksasi d. Teknik mengekspresikan emosi e. Teknik rekreasional f. Teknik ekspresif g. Play terapi (bentuk dan manfaat terapi bermain untuk pemulihan trauma pasca bencana alam) .
18 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Studi Literatur Desain studi literatur terapi bermain dalam proses pemulihan trauma pada anak pasca kejadian bencana alam ini menggunakan desain tradisional review. Tradisional review merupakan suatu metode tinjauan pustaka yang umum digunakan para peneliti dan hasilnya banyak ditemukan pada survey paper yang ada (Susatia et al., 2020). 3.2 Langkah-langkah Penelusuran Literatur 3.2.1 Topik Literatur Topik yang dibahas dalam penelitian literatur ini yaitu terapi bermain dalam proses pemulihan trauma pada anak pasca kejadian bencana alam. 3.2.2 Rumusan PEOS Untuk menyelesaikan studi literatur ini yaitu terapi bermain dalam proses pemulihan trauma pada anak pasca kejadian bencana alam menggunakan strategi PEOS (Population, Exsposure, Outcome, Study Design) Tabel terapi bermain dalam proses pemulihan trauma pada anak pasca kejadian bencana alam. Tabel 3.2.2 rumus PEOS P(Population) Anak-anak korban bencana alam E(Exsposure) Terapi bermain O(Outcome) Pemulihan trauma pasca bencana (S) (Study Design) quasy eksperiment, penelitian kualitatif, research and development, penelitian deskriptif. 3.2.3. Kata Kunci Kata kunci yang digunakan dalam studi literatur ini adalah terapi bermain (play therapy), trauma (trauma), anak-anak (children), bencana alam (natural disasters). Pencarian kata kunci dilakukan secara bersamaan atau digabungkan.
19 3.2.4. Mencari Literatur Di Database Yang Telah Dibuat Dan Di Input Di Reference Manager (Keyword: terapi bermain (play therapy), trauma (trauma), anak-anak (children), bencana alam (natural disasters)) a) Pengumpulan data menggunakan penelusuran jurnal, artikel, dan buku menggunakan alat bantu harzing’s publish or perish. Metadata yang dijangkau dengan harzing’s publish or perish yaitu google scholar dan crossref. b) Dilakukan skrining jurnal, artikel, e-book dari tahun publikasi 5 tahun terakhir mulai tahun 2017 sampai 2021 dan sesuai topik penelitian yang dipilih. c) Peneliti menemukan 35 jurnal pada database Google Scholar dan 13 pada database Crossref. Dengan menggunakan kata kunci yaitu terapi bermain, trauma, benca alam. Kemudian di skrining berdasarkan rentan waktu 5 tahun terakhir (2017-2021) kemudian didapatkan 48 jurnal terkait. d) Dari 48 jurnal dilakukan skrining ada 40 jurnal yang dapat diunduh secara fulltext dan free, dari 40 jurnal didapatkan 24 jurnal yang sesuai judul dan topik bahasan. e) Dari 24 jurnal dilakukan skrining berdasarkan hasil pembahasan yang sesuai dengan capaian/hasil yang sudah ditentukan menghasilkan 13 jurnal. Dari 11 jurnal ada 2 jurnal yang tidak mempunyai DOI dan ISSN, sehingga tersisa 9 jurnal. f) Dari 9 jurnal diambil 6 jurnal nasional dan internasional. Dari 6 jurnal ada 2 jurnal internasional dan 4 jurnal nasional yang terakreditasi sinta (3 jurnal dengan sinta 3 dan 1 jurnal dengan sinta 4).
20 3.2.5 Hasil Pencarian Diagram Flowchart Hasil keseluruhan artikel N= 48 Diunduh secara gratis dan fulltext Pencarian pada database Google scholar N=35 Pencarian pada database Crossref N=13 Skrining fulltext N= 40 Skrining judul sesuai topik Skrining judul N= 24 Jurnal yang memiliki DOI dan ISSN Jurnal internasional dan nasional Hasil terakreditasi sinta. N=6 Jurnal yang akan direview N=6 Skrining capaian hasil/ outcome Hasil skrining N= 11 Hasil skrining N=9
21 3.2.6 Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas Pencarian jurnal menggunakan database Google Scholar dan crossref. Pencarian jurnal menggunakan kata kunci “terapi bermain (play therapy), trauma (trauma), anak-anak (children), bencana alam (natural disasters)”. Dan didapatkan 48 jurnal ataupun artikel. Dari 48 jurnal ataupun artikel, didapatkan 40 jurnal maupun artikel yang dapat diunduh secara fulltext dan free, kemudian discreening berdasarkan judul ada 24 jurnal yang sesuai topik, dari 24 jurnal atau artikel yang didapatkan 11 jurnal yang sesuai dengan hasil bahasan yang ingin dicapai, dari 11 jurnal ada 2 jurnal yang tidak memiliki DOI atau ISSN 9 jurnal diskrining berdasarkan jurnal internasional maupun nasional terakreditasi SINTA (Science and Technology Index) sehingga ada 6 jurnal yang direview. 3.3 Penyajian Hasil Studi Literatur Review 3.3.1 Melakukan Review Pada bagian ini diungkapkan bagaimana cara menganalisis/menelaah hasil-hasil penelitian/jurnal dari berbagai sumber yang sudah dikumpulkan. Analisis dimulai dengan materi hasil penelitian diperhatikan dari yang paling relevan, relevan dan cukup relevan. Beberapa hal yang dapat dicantumkan dalam melakukan analisis pada penulisan studi literatur antar lain adalah menelaah persamaan dan perbedaan ataupun persamaan antara penelitian yang telah dilakukan oleh pengarang, penelitian mana yang saling mendukung, dan penelitian mana yang saling bertentangan, ataupun beberapa pertanyaan yang belum terjawab, dan lain sebagainya. Teknik yang dilakukan dalam mereview studi literatur ini yaitu compare dan contras dengan cara mencari persamaan dan perbedaan dalam jurnal yang akan direview. 3.3.2 Penyajian Literatur Data hasil studi literatur disajikan dalam bentuk tabel yang terdiri dari beberapa kolom yaitu menguraikan tentang penulis, nama jurnal, tahun terbitan, status, metode yang meliputi (Desain, Sampel, Variabel, Instrumen, Analisi), hasil penelitian, simpulan dan database yang digunakan. Artikel yang akan direview N=5
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Literatur Review 4.1.1 Karakteristik Studi Berdasarkan hasil review dari 6 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan menyajikan penelitian mengenai terapi bermain dalam proses pemulihan trauma pada anak pasca kejadian bencana alam dari berbagai wilayah yang meliputi Banten, Magelang, Martapura Barat, Kepulauan Sangihe, Jawa Barat. Desain penelitian yang digunakan bermacam-macam antara lain quasy eksperiment, penelitian kualitatif, research and development, penelitian deskriptif. Instrumen pengambilan data yang digunakan wawancara, angket, kuesioner. 22
4.1.2 Hasil Literatur Review No. Autor Nama jurnal, Tahun terbitan, Status Judul Metode (Desai Sampel, Variab Instrumen, Analisis) 1. Endang Pertiwiwati, Irfan Maulana, Fitriani Az Zahra, Ida Yuliana. Jurnal Berkala Kedokteran, Vol. 17 No. 2, 2021, jurnal nasional terakreditasi SINTA 4 Terapi Bermain Sebagai Metode penyembuhan trauma pada PTSD Anak Korban Bencana Banjir di Martapura Barat, Kalimantan selatan Desain : quasiexperimental on pre-post test gro research design Sampel : 35 responden denga porpusive sampl Variabel : anak berusia 4-6 tahu terindikasi mengalami PTS ringan sampai sedang. Instrumen : kuesioner Analisis : uji wilcoxom denga hasil p=0,001
in, bel, Hasil penelitian Simpulan Database ne oup n. an ling k un SD an 1. Jenis kelamin tidak mempengaruhi anak mengalami PTSD pasca bencana banjir. 2. Kondisi banjir yang terjadi mengakibatkan trauma psikologis bagi anak dengan dibuktikan nilai hasil pretest sebelum dilakukan terapi bermain adalah 31-65 dengan nilai rata-rata 35,06. 3. Trauma Healing dengan metode terapi bermain yang digunakan yaitu menggambar, bermain puzzle, dan bermain Trauma healing dengan metode terapi bermain cukup efektif untuk mengobati anak-anak penderita PTSD akibat bencana banjir di martapura barat. Google scholar 23
2. Sulastri, Rohayati, Sary Febriaty Jurnal Kesehatan Vol.12, Nomor 3, Tahun 2021, jurnal nasional terakreditasi SINTA 3 Bermain Buku Pop -Up sebagai Terapi Gangguan Mental Emosional Pasca Bencana Tsunami Desain : quasi - experimental on pre -post test Sampel : 93 ana dengan purposiv sampling Variabel : anak anak prasekolah usia sekolah yan terdampak tsuna selat Sunda yang tinggal di desa W
plastisin. 4. Nilai posttest setelah dilakukan terapi bermain menghasilkan nilai rata -rata 22,29 (dengan batasan nilai 17 -29 menjadi batas tidak adanya tingkat keparahan). 5. Terdapat perbandingan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain nilai uji Wilcoxon p=0,001. ne ak ve k - h dan ng ami g Way 1. Diketahui sebagian besar gejala emosional responden berada pada kategori normal ada 55 orang dan abnormal ada 51 orang, baik ringan, sedang,berat. 2. Rata -rata skor mental emosional anak sebelum dilakukan terapi adalah 71,19 dengan standar deviasi 4,72. Skor tertinggi Adanya perbedaan yang signifikan kondisi mental emosional anak sebelum dan sesudah dilakukan terapi Pop -Up. Google scholar 24
Muli, Timur Instrumen : kuesioner Analisis : Stren and Difficulties Questionnaire 3. Lilis Madyawati, Reza Edwin Sulistyaning tyas Jurnal Kemajuan dalam Ilmu Sosial, Pendidikan dan Penelitian Humaniora, volume 436, 2019, Jurnal Local Culture Games for Post - Disaster Trauma Healing in Early Childhood Desain : qualita research Sampel : 10 or Variabel : guru PAUD Instrumen : wawancara, FW angket
nghts adalah 80 (cemas berat) dan 60 (cemas sedang). 3. Rata -rata skor mental emosional anak sesudah dilakukan terapi adalah 41,20 dengan standar deviasi 7,53. Skor tertinggi 58 (cemas sedang) dan skor terendah 32 (cemas ringan). 4. Rata -rata skor mental emosional setelah dilakukan terapi mengalami penurunan dibanding sebelum dilakukan terapi. ative rang WG, 1. Terdapat 4 guru yang sudah pernah melakukan trauma healing dan 6 guru belum pernah melakukan trauma healing. 2. Terdapat 6 guru yang sudah pernah malakukan trauma Masih terdapat guru yang belum menangani trauma pada anak usia dini dan juga belum menggunakan permainan budaya lokal sebagai sarana penanganan Google scholar 25
Internasional Analisis : tidak dicantumkan se spesifik 4. Dhito Dwi Pramardika, Jelita Siska Jurnal Kesehatan Vol.7 No. 2, Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Trauma Healing Desain : quasy eksperiment Sampel : 26 or
cara healing dengan metode permainan lokal. 3. Terdapat 4 guru yang belum pernah melakukan trauma healing dengan metode permainan lokal. 4. Masih banyak permainan budaya lokal yang belum diterapkan pada penanganan trauma pada anak usia dini. 5. Terdapat 3 permainan yang perlu dikembangkan dan diterapkan untuk menangani trauma pada anak usia dini yaitu egrang kaleng, ular naga dan bentengan bola. 6. Terapi bermain dapat menciptakan kondisi emosional yang baik. trauma pasca bencana. Terapi bermain bisa menjadi cara yang efektif bagi anak usia dini untuk mengurangi trauma. rang 1. Anak-anak yang paling banyak mengalami trauma adalah anak Penelitian ini menunjukkan ada perbedaan yang Crossref 26
Herlina Hinonaung, Astri Juwita Mahihody, Grace Angel Wuaten 2020, Jurnal Nasional terakreditasi SINTA 3 Pada Anak Korban Bencana Alam Variabel : 16 a kelompok interv dan 10 anak kelompok kontr Instrumen : kuesioner Analisis : univar dan bivariat 5. Reza Edwin Sulistyaning tyas Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 2, 2019, Jurnal nasional Terakreditasi Pengembangan Model Permainan Tradisional Untuk Trauma Healing Pasca Bencana Pada Anak Usia Dini Desain : resear and developmen Sampel : 11 or Variabel : guru dan staf BPBD Instrumen :
anak vensi rol riat usia 5-11 tahun. 2. Adanya pengaruh antara anak yang dierikan terapi bermain dan tidak. 3. Terapi bermain yang digunakan yaitu terapi yang berfokus pada pengembangan imajinasi seperti menyanyi dan menggambar dan permainan yang dapat meningkatkan kompetisi seperti bermain kelereng, bermain balon, bermain karet, bermain ular tangga. signifikan terhadap anak yang diberikan terapi bermain dengan yang tidak diberikan terapi bermain. rch nt rang tk 1. Sebanyak 70% guru belum pernah melakukan penanganan trauma pasca kejadian bencana. 2. Semua guru membutuhkan Model permainan tradisonal dikembangkan untuk penanganan trauma pasca bencana pada anak usia dini. Model permainan Crossref 27
SINTA 3 wawancara dan angket Analisis : pensk 6. Alfiandy Warih Handoyo, Evi Afiati, Siti Muhibah, Ibrahim Al Hakim Jurnal Internasional Konseling Bimbingan Terapan Vol.1 No.2, Juli 2020 Trauma Healing With Play Therapy For Student of Senior High School 16 Pandeglang Banten Desain : penelit deskriptif Sampel : 37 sis Variabel : siswa SMAN 16 Pandeglang yan mengalami traum berat Instrumen : wawancara dan observasi Analisis : tidak dicantumkan se spesifik
koran permainan tradisional untuk mengatasi trauma pada anak usia dini. 3. Model permainan tradisional dinyatakan layak untuk trauma healing pada anak usia dini. tradisional yang dikembangkan meliputi egrang kelereng, bentengan bola dan ular naga ian swa a ng ma cara 1. Gangguan yang dirasakan anak yaitu gangguan fisik dan emosional. 2. Gangguan fisik yang dirasakan yaitu mudah merasa lelah. 3. Gangguan emosi yang muncul yaitu adanya rasa ketakutan dan kawatir. 4. Gangguan lain yang muncul yaitu gangguan tidur. 5. Terapi bermain bagi penyintas Tsunami Selat Sunda dapat mengurangi kecemasan dan Terapi bermain dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan para penyintas. Google scholar 28
1. Berdasarkan keenam artikel yang telah disajikan pada table mengatasi trauma pada anak pasca bencana baik pada kasus bahwa terapi bermain efektif dilakukan pasca bencana alam d artikel kedua dan ketiga menyebutkan bahwa manfaat terap jurnal keempat terapi bermain bermanfaat untuk mengemban keenam menyebutkan manfaat terapi bermain untuk mengurang 2. Hasil review dari keenam artikel, bentuk-bentuk permaina tradisional maupun permainan modern. Pada artikel pertam mewarnai, puzzel, dan plastisin, sedangkan pada artikel kedu anak. Pada artikel ketiga dan kelima cenderung menggunakan pada anak. Pada artikel keempat menggunakan 2 bentuk bernyanyi, menggambar dan permainan yang dapat meningkatk 29 26