The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Lampiran Buku Cooperative learning metode Jigsaw

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-10-31 00:51:49

Lampiran Buku Cooperative learning metode Jigsaw

Lampiran Buku Cooperative learning metode Jigsaw

i

Cooperative learning: Metode Jigsaw
Promosi Perilaku Tidak Merokok
pada Kelompok Anak Usia Sekolah

Penulis
Mujito
Sri Winarni

ISBN
978-623-6404-92-8
Cetakan Pertama, Januari 2021
vii + 91 hlm, 18.2 x 25.7 cm

Editor
Wiwin Matiningsih

Desain Sampul
Mustopa

Desain Layout
Mutiara Inwar

Penerbit :
CV. Pustaka Learning Center
Anggota IKAPI No.271/JTI/2O21
Karya Kartika Graha A.9 Malang 65132

Whatsapp 08994458885
www.pustakalearningcenter.com

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang . Dilarang memperbanyak
atau memindahkan Sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam

bentuk apapun secara elektronik maupun mekanis tanpa izin
Tertulis dari penulis dan Penerbit Pustaka Learning Center

ii

PERSEMBAHAN

Buku ini saya persembahkan untuk Gererasi Muda
Anak Bangsa Sukses sebelum usia 30 tahun

iii

KATA PENGANTAR

Promosi kesehatan di sekolah dasar merupakan upaya
strategis dalam peningkatan kesehatan masyarakat, karena
institusi sekolah dasar pada hakikatnya merupakan unit lembaga
sosial yang diberikan tugas khusus menyelenggarakan pendidikan
untuk melaksanakan proses pengembangan kemampuan yang
paling mendasar.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk promosi perilaku
sehat khusus pada pengamanan penggunaan tembakau agar tidak
mengancam kesehatan. Hal ini karena adanya kecenderungan
peningkatan usia mulai merokok pada usia lebih muda. Berbagai
karakteristik sasaran serta strategi yang tepat dalam memberikan
pengalaman belajar pada anak perlu menjadi pertimbangan, agar
anak tetap mempunyai semangat untuk melakukan perubahan.
Modul dengan judul “Cooperative learning: Metode Jigsaw
Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia
Sekolah”, dibutuhkan sebagai acuan dalam menyusun bahan
promosi kesehatan yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan
perilaku pencegahan merokok.

Modul ini disusun berdasarkan penelitian metoda edukasi
yang dilakukan oleh dosen Poltekkes Kemenkes Malang, yang dapat
digunakan sebagai panduan dalam melaksanakan promosi
kesehatan di sekolah dasar.

Untuk mewujudkan modul ini diperlukan kajian dari berbagai
sumber pustaka maupun arahan tim pakar. Ucapan terima kasih
dan penghargaan kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam penyusunan modul ini sehingga bisa terwujud
prestasi yang membanggakan.

Blitar, 2 Maret 2021
Direktur Poltekkes Kemenkes

Malang,
ttd

Budi Susatia, S.Kp., M.Kes
NIP. 196503181988031002

iv

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah, swt karena atas
berkat rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penulisan Cooperative
learning: Metode Jigsaw, Promosi Perilaku Tidak Merokok pada
Kelompok Anak Usia Sekolah ini dapat diselesaikan. Penulisan
buku ini merupakan petunjuk praktis dalam pelaksanaan
pendidikan kesehatan sebagai upaya promosi kesehatan bagi
mahasiswa, tenaga kesehatan, guru, kader UKS dan bagi mereka
yang mempunyai kepentingan agar memudahkan dalam
implementasinya.

Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis
mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak
yang telah memberi bimbingan, arahan serta bantuan kepada penulis
sehingga dapat menunjang dalam penyelesaian buku ini.

Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan buku ini masih
terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu diharapkan kritik dan
saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan buku ini
dimasa yang akan datang.

Akhir kata, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi penulis,
dan bagi para pengguna buku ini.
Blitar, 18 April 2021
Penulis

v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... iv
UCAPAN TERIMA KASIH .......................................................................... v
DAFTAR ISI...................................................................................................... vi

BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Tujuan Pembelajaran............................................................... 3

BAB 2 KONSEP ANAK USIA SEKOLAH................................................. 5
A. Pengertian .................................................................................... 5
B. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah......... 6
C. Perkembangan Anak Usia Sekolah..................................... 7

BAB 3 KONSEP PERILAKU MEROKOK................................................. 10
A. Pengertian Rokok...................................................................... 10
B. Kandungan Zat Kimia Dalam Rokok.................................. 10
C. Pengertian Perilaku Merokok .............................................. 11
D. Tahapan Perilaku Merokok................................................... 11
E. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok ........... 12
F. Dampak /Bahaya Perilaku Merokok ................................. 12

BAB 4 KIAT MENGHINDARI PERILAKU MEROKOK....................... 19
A. Kiat Menghindari Perilaku Merokok Anak Usia Sekolah 19
B. Upaya Pencegahan Primer .................................................... 19
C. Upaya Pencegahan Secara Dini............................................ 20
D. Upaya Pencegahan Sekunder ............................................... 22

BAB 5 KONSEP PENDIDIKAN KESEHATAN....................................... 23
A. Pengertian .................................................................................... 23
B. Tujuan Pendidikan Kesehatan ............................................. 23
C. Sasaran Pendidikan Kesehatan ........................................... 23
D. Proses Pendidikan Kesehatan.............................................. 23

BAB 6 METODA PEMBELAJARAN JIGSAW......................................... 25
A. Pengertian ................................................................................... 25
B. Beberapa Unsur Dalam Metode Jigsaw ........................... 25

vi

BAB 7 PERUBAHAN PERILAKU DALAM PENKES........................... 32
A. Pengertian................................................................................... 32
B. Ranah Perilaku.......................................................................... 32

BAB 8 RANCANGAN PEMBELAJARAN DALAM PENKES.............. 42
A. Analisa Situasi ........................................................................... 42
B. Indikator ...................................................................................... 44
C. Tujuan Pembelajaran ............................................................. 44
D. Materi Pembelajaran .............................................................. 45
E. Strategi Pembelajaran............................................................ 45
F. Media Pembelajaran ............................................................... 47
G. Evaluasi Pembelajaran........................................................... 47

BAB 9 HASIL PENERAPAN METODE JIGSAW PADA PENKES.... 48
A. Karakteristik Subyek Belajar............................................... 48
B. Penerapan Metode Jigsaw dalam Penkes....................... 49
C. Hasil Pengukuran Pengetahuan......................................... 50
D. Hasil Pengukuran Sikap......................................................... 55
E. Hasil Pengukuran Niat ........................................................... 59

BAB 10 PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI ...................... 65
A. Pengembangan Instrumen Evaluasi................................. 65
B. Tujuan Pembelajaran.............................................................. 65
C. Kisi-Kisi Instrumen Evaluasi Pembelajaran.................. 66
D. Penyusunan Butir Soal........................................................... 69

BAB 11 PENUTUP......................................................................................... 76
A. Kesimuplan ............................................................................... 76
B. Implikasi .................................................................................... 78

DAFTAR REFERENSI................................................................................... 80
INDEKSASI ...................................................................................................... 83
GLOSARIUM.................................................................................................... 88
KURIKULUM VITAE..................................................................................... 91

vii

viii

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan

kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat
sehingga dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis
untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas. Suatu bentuk
upaya untuk mewujudkan kesehatan sekolah dasar adalah melalui
kegiatan promosi kesehatan sekolah. Promosi kesehatan sekolah
merupakan upaya strategis dalam peningkatan kesehatan masyarakat,
karena sekolah dasar pada hakikatnya merupakan unit lembaga sosial
yang diberikan tugas khusus menyelenggarakan pendidikan dasar
untuk melaksanakan proses pengembangan kemampuan yang paling
mendasar meliputi aspek intelektual, sosial dan personal secara
terintegrasi melalui kegiatan belajar aktif.

Promosi kesehatan melalui komunitas sekolah dasar sangat
efektif untuk pengembangan perilaku sehat, karena anak usia sekolah
berada dalam komunitas yang terorganisir, dan mempunyai
karakteristik perkembangan yang relatif sama antara lain adalah: (1)
usia kritis dalam dorongan berprestasi, dan (2) usia berkelompok. Pada
taraf ini anak usia sekolah dalam kondisi peka terhadap stimulus
sehingga mudah dikondisikan pada kebiasaan yang baik termasuk
perilaku hidup sehat.

Promosi perilaku tidak merokok di sekolah dasar merupakan
salah satu bentuk upaya promosi perilaku sehat khusus pada
pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif
tembakau agar tidak mengancam kesehatan anak usia sekolah. Hal ini
terbukti bahwa anak dengan status perokok 20-80% lebih sering
mengalami batuk pilek dan 2 kali lebih sering terkena bronkitis dari
pada anak yang bukan perokok, karena keadaan kesehatan anak usia
sekolah sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dicapai,
maka upaya pencegahan perilaku merokok perlu dilakukan sejak dini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi merokok pada
anak usia 10-18 tahun terus meningkat, yaitu 7,2% (Riskesdas 2013),

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 1

8,8% (Sirkesnas 2016) dan 9,1% (Riskesdas 2018). Prevalensi
konsumsi tembakau cenderung meningkat baik pada laki-laki maupun
perempuan. Peningkatan prevalensi lebih banyak pada perempuan dari
1.7% pada tahun 1995 menjadi 6.7% pada tahun 2013, sedangkan pada
laki-laki dari 53.4% pada tahun 1995 menjadi 66% pada tahun 2013.
Selain itu menurut hasil penelitian Kurnia D Artanti dkk, (2017) bahwa
prevalensi merokok pada anak usia sekolah antara rokok konvensional
(32,98%) hampir sama dengan rokok elektrik (30,5%). Usia rawan
dimana anak sekolah paling banyak mencoba rokok pertama kali
adalah antara 9 – 13 tahun sebanyak 92,2%. Ajakan teman merupakan
alasan paling banyak anak sekolah untuk merokok.

Asap rokok merupakan bahan yang dapat menganggu
kesehatan karena mengandung 4.000 zat kimia berbahaya antara lain
Nikotin dan Tar. Jumlah kasus penyakit akibat kebiasaan merokok pada
tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi ISPA pada perokok aktif
lebih tinggi (11.9% pada laki-laki dan 13.7% pada perempuan)
dibandingkan pada yang tidak merokok (11.1% pada laki-laki dan
11.9% pada perempuan). Demikian juga halnya dengan prevalensi
hipertensi, lebih tinggi pada perokok aktif (22.1% pada laki-laki dan
38.3% pada perempuan) dibandingkan pada populasi yang tidak
merokok (17.9% pada laki-laki dan 26.9% pada perempuan).

Sesuai fakta tersebut perlu dibudayakan perilaku tidak
merokok di kalangan masyarakat sekolah dasar, melalui promosi
perilaku tidak merokok di tatanan institusi sekolah dasar pada sasaran
anak usia sekolah, dengan kegiatan pendidikan kesehatan. Kegiatan ini
diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, semangat serta
kemampuan anak usia sekolah untuk menghindar terhadap ancaman
pengaruh perilaku merokok.

Mengingat keragaman faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku merokok pada anak, maka dalam pendidikan kesehatan perlu
dipertimbangkan berbagai karakteristik dan komposisi sasaran
pendidikan yang beragam serta strategi yang tepat dalam memberikan
pengalaman belajar. Menurut Delors, 1996 dalam Tawil (2013), yang
dinyatakan sebagai visi pembelajaran UNESCO bahwa keberhasilan
pembelajaran diukur dari hasil empat pilar pengalaman belajar anak
meliputi: (a) belajar untuk mengetahui (Learning to know), (b) belajar
untuk dapat berbuat (Learning to do), (c) belajar untuk dapat

2 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

membentuk jati diri (Learning to be), dan (d) belajar untuk dapat hidup
bersama (Learning to live together). Menurut hasil riset National
Training laboratories di Bethel, Maine (1954) Amerika Serikat,
dijelaskan bahwa kelompok pembelajaran yang berbasis guru mulai
dari ceramah, tugas baca, termasuk presentasi guru, hanya berdampak
maksimal 30% terhadap daya ingat siswa pada materi pembelajaran.
Pembelajaran dengan metode diskusi yang tidak didominasi oleh guru,
siswa dapat mengingat 50%, bila belajar disertai dengan melakukan
sesuatu kegiatan, maka dapat mengingat 75%. Praktik belajar dengan
cara mengajar, siswa mampu mengingat 90%. Agar anak dalam proses
pendidikan kesehatan mendapatkan pengalaman belajar sesuai visi
pembelajaran UNESCO, maka penggunaan strategi pembelajaran aktif
dengan metode jigsaw menjadi salah satu pilihan, karena metode ini
memiliki keunggulan, yaitu: Adanya interdependensi yang positif pada
setiap siswa, dapat meningkatkan kemampuan kerjasama dalam
kelompok untuk menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung
jawabnya melalui kegiatan diskusi. Adanya interaksi sosial dalam
kelompok kecil dapat mendorong siswa untuk lebih aktif terlibat dalam
proses pembelajaran sehingga dapat memberikan kesempatan kepada
tiap siswa untuk belajar dengan cara praktik mengajar dalam
kelompoknya. Hal tersebut dapat meningkatkan elaborasi kognitif
dengan baik yang dapat meningkatkan daya nalar dan berdampak pada
peningkatan kemampuan kognitif maupun afektif.

Buku ini merupakan panduan fasilitator dalam promosi
kesehatan di sekolah, diharapkan dapat meningkatkan niat anak usia
sekolah dalam pencegahan merokok. Untuk mencapai tujuan dalam
promosi perilaku tidak merokok pada tatanan institusi sekolah telah
disusun rencana pelaksanaan pembelajaran.

B. Tujuan Pembelajaran Dalam Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu bentuk

intervensi dalam promosi kesehatan. Pembelajaran dengan metode
Jigsaw merupakan salah satu bentuk pendidikan kesehatan yang
terencana, dengan indikator, meliputi:
1. Memahami konsep rokok dan perilaku merokok serta dampaknya

terhadap kesehatan.
2. Memahami prosedur latihan pencegahan perilaku merokok.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 3

3. Menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan hal yang baik
dan buruk terhadap perilaku merokok.
Sedangkan capaian pembelajaran yang menjadi target

kemampuan anak didik, yaitu:
1. Mengidentifikasi kembali peringatan ancaman kesehatan pada

bungkus rokok.
2. Menyebutkan jenis rokok dengan berbagai ancaman kesehatan
3. Mengingat kembali kandungan zat kimia dalam asap rokok
4. Mengingat kembali arti perilaku merokok dengan kata kata sendiri.
5. Mengingat kembali tahapan perilaku merokok
6. Menafsirkan faktor yang mempengaruhi perilaku merokok
7. Menjelaskan dampak perilaku merokok terhadap ancaman fisik
8. Menjelaskan dampak perilaku merokok terhadap ancaman

kejiwaan
9. Menjelaskan teknik menghindari perilaku merokok dengan cara

yang tepat

4 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

BAB 2
KONSEP ANAK USIA SEKOLAH

A. Pengertian

Masa anak akhir mempunyai rentang usia 6-13 tahun dan
menjadi matang untuk memasuki sekolah. Masa anak usia sekolah
diawali dengan tercapainya kematangan bersekolah, dengan ciri
bahwa anak telah mencapai kematangan fisik, intelektual, moral dan
sosial.

Matang secara fisik adalah bila anak secara jasmaniah telah
mampu mentaati tata tertib sekolah. Matang secara intelektual, bila
anak telah mampu menyerap materi ajar secara sistematis, terus
menerus, dan dapat menyimpan serta memproduksi pengalaman
belajarnya. Matang secara moral adalah jika anak telah mampu
bertanggungjawab untuk melaksanakan peraturan sekolah. Matang
secara sosial, bila anak telah sanggup beradaptasi dengan masyarakat
sekolah. Kecepatan anak mencapai kematangan ini sangat tergantung
pada kondisi anak, antara lain kesehatan fisik dan sifat anak serta
pendidikan sebelumnya.

Pada masa usia sekolah, anak sering kali membandingkan
dirinya dengan teman sebayanya sehingga pada periode ini anak
mudah dihinggapi perasaan tidak percaya diri. Sebaliknya bila anak
memahami prosedur yang harus dikerjakan sesuai harapan
masyarakat, maka anak dapat mencapai keberhasilan dalam
mengatasi masalah sosial maupun masalah akademik, sehingga dapat
meningkatkan motivasi anak untuk selalu mengembangkan “sense of
industry”

Untuk memperoleh pengetahuan dasar yang sangat penting
bagi persiapan dan penyesuaian diri terhadap kehidupan di masa
dewasa, anak diharapkan memperoleh keterampilan hidup tertentu
antara lain, adalah:
1. keterampilan membantu diri sendiri, yaitu mampu mandiri dalam

hal aktifitas hidup sehari-hari

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 5

2. keterampilan sosial, yaitu mampu membantu orang lain, misalnya
membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga

3. keterampilan sekolah, yaitu mampu mengembangkan
keterampilan di sekolah antara lain menulis, membaca dan
menggambar

4. keterampilan bermain, yaitu antara lain mampu belajar naik
sepeda dan bermain bola.

B. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah

Hurlock (2014) memaparkan berbagai label pada periode
anak usia sekolah, yaitu:
1. Label yang digunakan oleh orang tua, antara lain yaitu : (a) Usia

yang menyulitkan, karena masa ini anak lebih banyak dipengaruhi
oleh teman sebaya, sehingga tidak taat pada perintah orang tua. (b)
Usia tidak rapi, yaitu anak cenderung tidak peduli pada
penampilan, sehingga kamar tidurnya tampak berantakan.
2. Label yang digunakan oleh para pendidik, yaitu : (a) Usia sekolah
dasar, yaitu periode anak memperoleh dasar pengetahuan untuk
keberhasilan beradaptasi pada kehidupan dewasa, dan
mempelajari berbagai keterampilan akademis maupun non
akademis. (b) Periode kritis, yaitu masa anak membentuk
kebiasaan untuk mencapai sukses dengan membangun visi dan
misi sukses.
3. Label yang digunakan ahli psikologi, yaitu : (a) Usia berkelompok,
artinya perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh
teman sebaya sebagai anggota kelompok, sesuai standar kelompok
misalnya dalam berpenampilan, berbicara, dan berperilaku. (b)
Usia penyesuaian diri, artinya perhatian pokok anak adalah
dukungan dari teman sebaya dan keanggotaan dalam kelompok.
(c) Usia kreatif, artinya anak menjadi konformis atau pencipta
karya baru yang orisinal. (d) Usia bermain, artinya anak
mempunyai banyak minat untuk melakukan aktivitas bermain.

Anak pada masa usia sekolah menurut suryobroto dalam
Djamarah (2015) dibagi menjadi dua tahap, yaitu : (a) Masa kelas
rendah sekolah dasar yaitu antara usia 6-10 tahun. (b) Masa kelas
tinggi sekolah dasar yaitu antara usia 9-13 tahun.

6 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

Karakteristik anak pada masa kelas tinggi sekolah dasar,
antara lain berupa sifat khas anak yaitu:
1. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang

konkret.
2. Amat realistis, ingin tahu, dan ingin belajar.
3. Adanya minat kepada hal-hal mata pelajaran khusus saat akhir

masa ini.
4. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan seorang pembimbing

dalam menyelesaikan tugas. Setelah usia 11 tahun, anak mulai
melepaskan ketergantungan pada pembimbing dan berusaha
menyelesaikan tugasnya sendiri.
5. Anak memandang nilai, sebagai indikator untuk mengukur
prestasi.
6. Anak membentuk kelompok sebaya untuk penyaluran aktivitas
bermain.
7. Mengembangkan hati nurani, moralitas dan norma serta nilai
dalam bermasyarakat.

C. Perkembangan Anak Usia Sekolah

1. Perkembangan Kognitif.
Menurut Piaget dalam Danim (2014), perkembangan kognitif

sangat dipengaruhi oleh:
a. Maturasi, yaitu menyangkut perubahan biologis yang terpola

secara genetik.
b. Aktivitas, yaitu berhubungan dengan kemampuan belajar

beradaptasi.
c. Transmisi sosial, yaitu berkaitan dengan kemampuan belajar

berinteraksi.
Menurut Piaget dalam Danim, (2014) perkembangan

kognitif yang terjadi pada anak usia 7-11 tahun disebutkan sebagai
periode operasional konkrit, yaitu tahapan perkembangan kognitif
yang mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai atau
berpikir kongkret atau lebih menunjukkan pada pengalaman nyata,
sehingga mampu merepresentasikan perbedaan secara kualitatif
dalam model berpikir.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 7

Proses penting selama tahap operasional konkrit adalah
kemampuan anak untuk:
a. Mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya, (b)

memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian obyek menurut
tampilan, ukuran, atau karakteristik lain
b. Mempertimbangkan berbagai aspek dari suatu masalah untuk bisa
diselesaikan
c. Memahami bahwa jumlah atau suatu obyek dapat diubah dan
dikembalikan lagi keasalnya
d. Memahami bahwa ukuran kuantitas tidak berhubungan dengan
tampilan objek,
e. Melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, artinya orang lain
memiliki pandangan, perasaan, dan keinginan sendiri.

2. Perkembangan sosial
Menurut Erik Erikson dalam Izzaty (2008), bahwa dalam

suatu siklus hidup manusia, perkembangan psikososial dibagi dalam
delapan tahapan. Untuk anak usia 6-12 tahun masuk dalam tahap
perkembangan Industry vs Inferiority, selama tahap ini anak mampu
belajar, menciptakan dan menyelesaikan berbagai keterampilan baru.

Ciri perkembangan sosial pada tahap usia sekolah, antara
lain yaitu:
a. Kegiatan bermain, anak pada usia ini dituntut untuk mengurangi

waktu bermain walaupun bermain sangat penting bagi
perkembangan anak.
b. Interaksi dengan teman sebaya, hal ini merupakan permulaan
hubungan persahabatan. Persahabatan ini terjadi atas dasar
aktivitas bersama yang menyangkut kegiatan belajar ataupun
kegiatan bermain dan bersifat timbal balik serta memiliki ciri,
yaitu: saling pengertian, saling membantu, saling percaya, saling
menghargai dan menerima.

3. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah
Tugas perkembangan anak usia sekolah menurut

Havighurst dalam Hurlock (2014) adalah:
a. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk modal

bermain.

8 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

b. Membangun sikap hidup sehat terhadap diri sendiri agar
pertumbuhan tetap berlangsung dengan normal.

c. Belajar beradaptasi dengan teman sebaya.
d. Belajar menjalankan peran sosial sesuai gender.
e. Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis

dan berhitung.
f. Mengembangkan pengertian yang diperlukan untuk kehidupan

sehari-hari.
g. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, tata nilai dan

tingkatan nilai sebagai pedoman perilaku.
h. Mengembangkan sikap terhadap nilai sebagai pedoman perilaku.
i. Mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial.
j. Mencapai kemandirian pribadi.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 9

BAB 3
KONSEP PERILAKU MEROKOK

A. Pengertian Rokok

Menurut PP No.109/2012 Pasal 1 Ayat (3), rokok adalah salah
satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar dan dihisap
dan/atau dihirup asapnya, termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu
atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabacum,
nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya
mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan.

B. Kandungan Zat Kimia Dalam Rokok

Dalam satu batang rokok terkandung kurang lebih 4.000 jenis
bahan kimia, termasuk 43 senyawa yang diketahui terbukti bersifat
karsinogenik, dan setidaknya 200 di antaranya berbahaya bagi
kesehatan. Racun utama dalam asap sebatang rokok, antara lain
adalah:
1. Nikotin, yaitu zat atau bahan senyawa pyrrolidine yang terdapat

dalam nicotiana tabacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya
atau sintetisnya yang bersifat adiktif dapat mengakibatkan
ketergantungan.
2. Tar adalah kondensat asap yang merupakan total residu dihasilkan
saat rokok dibakar setelah dikurangi Nikotin dan air, yang bersifat
karsinogenik.
3. Karbon Monoksida (CO), dalam asap rokok terdapat gas beracun
berupa gas CO dari hasil pembakaran yang tidak sempurna. Gas CO
dalam tubuh manusia dapat menurunkan kapasitas sel darah
merah dalam mengangkut oksigen, sehingga sel tubuh akan mati.
Di tubuh perokok, tempat untuk oksigen di duduki oleh CO, karena
kemampuan darah 200 kali lebih besar untuk mengikat CO
ketimbang oksigen. Akibatnya otak, jantung dan organ vital tubuh
lainnya akan kekurangan oksigen.

10 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

C. Pengertian Perilaku Merokok

Menurut Sitepoe dalam Astuti (2012), merokok adalah
membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya, baik
menggunakan rokok maupun menggunakan pipa.

D. Tahapan Perilaku Merokok

Pada dasarnya perilaku merokok merupakan sebuah perilaku
yang dipelajari. Proses belajar dimulai dari sejak masa anak,
sedangkan proses menjadi perokok pada masa perkembangan
berikutnya. Menurut Leventhal & Cleary dalam Cahyani (1995),
terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga seseorang benar-
benar menjadi perokok, yaitu:
1. Tahap persiapan (Preparatory)

Tahap ketika seseorang mendapatkan gambaran yang
menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengarkan,
melihat atau membaca, karena hal ini dapat menimbulkan minat
untuk merokok.
2. Tahap permulaan (Initiation)
Tahap ketika seseorang benar-benar merokok untuk pertama
kalinya. Tahap ini merupakan tahap awal merokok yaitu seseorang
memutuskan untuk melanjutkan percobaan merokok atau tidak.
Meskipun ada perasaan serak dan panas dileher ketika pertama kali
mencoba merokok, individu mempersepsikan sebagai reaksi
adaptasi tubuh, sehingga hal ini tidak menjadi dasar untuk berhenti
mencoba merokok.
3. Tahap menjadi perokok (becoming a smoker)
Menurut Salber dkk dalam Leventhal dan Cleary (1980), data
menunjukkan bahwa 90% orang yang merokok 4 batang rokok per
hari dan dilakukan secara teratur maka dapat menimbulkan
kecenderungan menjadi perokok pada masa dewasa dan dapat
membuat seseorang ketergantungan.
4. Tahap pemeliharaan merokok (maintenance of smoking)
Tahap ini merokok sudah menjadi prosedur tetap seseorang dalam
berbagai kesempatan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh efek
yang menyenangkan, terutama berkaitan dengan relaksasi dan
kenikmatan sensoris.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 11

E. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok

Perilaku merokok merupakan perilaku yang terjadi melalui
proses yang dipelajari dimulai dari sejak masa anak, sedangkan proses
menjadi perokok biasanya pada masa remaja. Proses belajar merokok
biasanya dilakukan melalui transmisi vertikal yaitu dari lingkungan
keluarga, jika orang tua atau saudaranya merokok merupakan agen
imitasi yang baik. Jika keluarga tidak ada yang merokok, maka sikap
permisif orang tua merupakan pengukuh positif hal tersebut. Selain itu
transmisi horisontal melalui lingkungan teman sebaya. Teman sebaya
mempunyai peran yang sangat berarti bagi anak, karena anak mulai
bergabung pada kelompok sebaya. Kebutuhan untuk diterima sering
membuat anak bertingkah agar dapat diterima kelompoknya.
Selanjutnya jika dilihat dari tahap perilaku merokok, teman sebaya
dan keluarga merupakan fihak yang pertama kali mengenalkan atau
mencoba merokok, kemudian berlanjut dan berkembang menjadi
tobacco dependency. Menurut Wernn dalam Nainggolan (2004), alasan
anak mulai merokok karena ikut-ikutan teman, untuk iseng, agar lebih
tenang dan berani ambil resiko, karena bosan dan tidak ada yang
sedang dilakukan serta supaya kelihatan seperti orang dewasa.

F. Dampak/ Bahaya Perilaku Merokok

1. Dampak Fisiologis
Dampak fisiologis dari merokok adalah timbulnya pengaruh

terhadap fungsi kerja organ tubuh, akibat bahan kimia dalam rokok
yang merusak sistem organ tubuh, antara lain adalah:
a. Rambut mudah rontok, dapat

terjadi karena terserang penyakit
seperti lupus eritematosus, yaitu
penyakit autoimun di mana
sistem kekebalan tubuh
menyerang sel tubuh sendiri.

12 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

b. Gangguan mata, dapat terjadi karena
perokok mempunyai risiko 40% lebih
tinggi terkena katarak atau lensa mata
buram sehingga penglihatan kabur.

c. Gangguan pendengaran,
terjadi akibat timbulnya flek
pada pembuluh darah,
sehingga aliran darah ke
telinga bagian dalam
menurun dan berdampak
kehilangan pendengaran
lebih dini, serta mudah terjadi
infeksi telinga.

d. Gangguan sistem pernafasan, dapat terjadi karena paru yang
berfungsi untuk menyaring udara yang keluar masuk tubuh,
tercampur dengan bahan kimia dari asap rokok. Hal ini dapat
merangsang permukaan sel saluran nafas yang berdampak
terjadinya peningkatan produksi dahak. Pada perokok, bulu
getar yang berada
disepanjang saluran nafas,
sebagian besar lumpuh
karena asap rokok, sehingga
dahak yang ada di saluran
nafas tidak dapat keluar
akibat melemahnya reflek
batuk. Penumpukan dahak
dalam saluran nafas, dapat
menjadi media berkembangnya bakteri penyebab bronkhitis kronis.
Bronkhitis karena asap rokok terbukti 75% berakibat kematian.
Partikel Tar dalam asap rokok yang mengendap cukup lama dalam
selaput lendir di saluran nafas, dapat menimbulkan rangsangan
kronis yang berakibat mengubah bentuk sel paru.
Perokok mempunyai kemungkinan 4-14 kali lebih tinggi mengidap
kanker paru.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 13

Angka kejadian kanker paru
akibat merokok sebesar 80-
90%. Umumnya pasien
datang sudah terlambat
sehingga kanker diketahui
telah stadium lanjut. Kanker
paru merupakan kasus
kanker nomor 2 di dunia.

Padahal sebenarnya kanker paru termasuk golongan kanker yang
bisa dicegah, yaitu dengan menghindarkan diri dari kebiasaan
merokok.

Paru terdiri dari kantong-
kantong udara yang berfungsi
memompa keluar-masuknya
udara bersih dan udara kotor
seperti balon karet. Daya pompa
ini karena adanya serat elastin
pada jaringan paru. Asap rokok
melumpuhkan serat elastin

paru, sehingga udara yang masuk sulit untuk dikeluarkan
Sepenuhnya, sehingga masih ada udara yang tertinggal di katong
udara. Semakin lama, desakan udara akan menyebabkan pecahnya
kantong udara dan berakibat emfisema.

e. Gangguan pada mulut, hal ini karena adanya bahan kimia yang
dapat menimbulkan plak pada
gigi, akibatnya gigi berwarna
kuning, dan gigi mudah rusak.
Perokok berpeluang satu
setengah kali lebih mudah
kehilangan gigi dibanding
bukan perokok.

14 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

f. Gangguan tulang, dapat terjadi akibat gas CO yang keluar dari asap

rokok. Gas CO mempunyai daya ikat yang lebih terhadap sel darah

merah dibanding O2. Oleh karena itu, rokok mengurangi daya angkut

O2 darah perokok 15%.

Akibatnya para perokok

mempunyai tulang

dengan tingkat kekerasan

berkurang, lebih mudah

patah dan membutuhkan

waktu 80% lebih lama

untuk penyembuhan.

g. Dampak terhadap bentuk sperma, dapat mengubah bentuk
sperma dan merusak DNA, juga mengurangi jumlah sperma dan
menurunkan aliran darah penis sehingga menyebabkan impotensi.
Dengan demikian, perokok menjadi lebih mudah mengalami
kemandulan.

h. Gangguan jantung dan pembuluh darah, dapat terjadi karena

fungsi jantung dan pembuluh darah yang bertugas membawa O2

dan zat makanan ke seluruh tubuh serta mengangkut sisa

metabolisme ke organ yang sesuai untuk pembuangan misal

nya gas CO melalui paru,

air seni melalui ginjal,

keringat melalui kulit. Gas

CO yang dihisap dari asap

rokok menurunkan

kapasitas sel darah

merah untuk mengangkut

O2 yang sangat

diperlukan bagi

berfungsinya sel tubuh,

karena tanpa O2, sel

tubuh akan mati. Dalam

tubuh perokok, tempat untuk O2 diduduki oleh CO. Kemampuan

darah 200 kali lebih besar untuk mengikat CO dibanding O2.

Akibatnya otak, jantung, dan organ vital tubuh lainnya akan

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 15

kekurangan O2. Secara fisik keadaan ini ditandai dengan nafas yang
pendek dan dangkal. Jika jaringan yang kekurangan oksigen adalah
otak, maka akan terjadi stroke. Bila yang kekurangan O2 jantung.
Maka akan terjadi serangan jantung.

Merokok mengakibatkan 25%
kematian akibat penyakit
jantung koroner. Serangan
jantung 3 kali lebih sering
terjadi pada perokok
dibanding bukan perokok. Jika
merokok dimulai dari usia
muda, resiko mendapat
serangan jantung menjadi 2
kali lebih sering dibanding
tidak merokok. Serangan
sering kali terjadi sebelum
usia 50 tahun.

i. Dampak terhadap wanita, dapat menimbulkan kanker rahim dan
keguguran. Di samping meningkatnya risiko kanker leher rahim,
merokok menimbulkan masalah kesuburan pada wanita dan
komplikasi selama kehamilan dan melahirkan. Merokok selama
kehamilan meningkatkan risiko
bayi dengan berat berat badan
lahir rendah yang diikuti dengan
munculnya berbagai masalah
kesehatan. Keguguran dapat
terjadi 2-3 kali lebih sering pada
perokok. Pada efek kosmetika
dapat menimbulkan kulit
keriput, rambut kaku, mata
merah, bau tidak sedap, gigi
berwarna kuning dan suara
serak.
Kesuburan berkurang, menopouse dini, kalsium tulang menurun
sehingga menyebabkan tulang keropos dan mudah patah.

16 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

j. Dampak terhadap bukan perokok, rokok yang dibakar,
menghasilkan asap yang keluar dua kali lebih banyak dibanding
asap yang dihisap perokok. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kadar
bahan berbahaya dari asap yang keluar ternyata lebih
tinggi dibanding asap yang
dihisap perokok. Kadar CO
sekitar 2-4 kali lebih tinggi
dan kadar nitrosamin 50 kali
lebih tinggi. Perokok pasif
walaupun tidak merokok
tetapi terpaksa menghisap
asap rokok sekitarnya akan
menderita sakit karena
terpapar bahan berbahaya dalam asap rokok. Perokok pasif
mempunyai kemungkinan terkena kanker paru 30% lebih tinggi
dibanding yang tidak terpapar asap rokok. Penelitian di jepang
menunjukkan bahwa istri dari seorang perokok mempunyai
kemungkinan terkena kanker paru sebesar 20-50% lebih tinggi
dibanding istri bukan perokok. Kematian istri perokok akibat
penyakit jatung koroner lebih tinggi dibanding istri bukan perokok.
Batuk pilek pada anak perokok 10-80% lebih sering dibanding anak
bukan perokok. Bronkhitis pada anak perokok dua kali lebih sering
dari pada anak bukan perokok.

2. Dampak psikologis
Dampak psikologis dari merokok adalah timbulnya pengaruh

terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku perokok. Dampak psikologis
tersebut antara lain adalah:

a. Adiksi atau ketagihan
Dalam tiap batang rokok, saat perokok menghirup nikotin ke

dalam paru, maka nikotin akan terserap ke dalam darah. Dalam 8
detik, nikotin telah berada di otak dan mengubah cara kerja otak. Hal
ini berlaku begitu cepat karena nikotin bentuknya mirip dengan bahan
kimia alami otak yaitu asetilkolin. Nikotin akan menstimulasi neuron
untuk melepaskan dopamin dalam jumlah yang besar. Dopamin akan
menstimulasi sistem limbik sebagai sirkuit “kenikmatan” di otak.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 17

Sistem limbik ini berhubungan dengan rasa lapar, proses belajar,
memori, dan perasaan senang. Secara normal, rasa senang timbul
bersamaan dengan makan, rasa tenang, dan bila bersama dengan
orang yang dicintai. Namun nikotin telah mengubah rasa “senang” ini
pada perokok, menjadi “senang” hanya bila merokok.

b. Toleransi dan dependensi.
Efek ketagihan akan berkembang secara fisiologis menjadi

efek toleransi atau penambahan dosis. Orang yang sudah bertahun-
tahun menjadi perokok, kadar toleransi nikotin dalam tubuhnya telah
cukup tinggi. Pada akhirnya secara psikologis merokok akan
menimbulkan efek dependensi atau ketergantungan, yang
menyebabkan perokok mengalami reaksi putus zat apabila dihentikan
secara mendadak. Salah satu tanda dan gejala dari reaksi putus zat
adalah penurunan kognitif, yang memunculkan gejala kesulitan
konsentrasi. Efek ketergantungan nikotin inilah yang mengakibatkan
paparan terus menerus rokok pada perokok yang nantinya akan
mengakibatkan penurunan fungsi kognitif. Kondisi ini sangat
merugikan bagi anak yang sedang menstimulasi perkembangan
kognitifnya terutama diusia pelajar. Penurunan fungsi kognitif akan
berdampak pada proses pembelajaran dan prestasi belajar.

18 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

BAB 4

KIAT MENGHINDARI PERILAKU MEROKOK

A. Kiat Menghindari Perilaku Merokok Pada Anak Usia Sekolah

Mengacu pada beberapa prinsip pencegahan baik dalam
keluarga, sekolah maupun masyarakat menurut NIDA’s (National
Institute on Drug Abuse) di Amerika dalam Moeliono (2003), yaitu
untuk rancangan program pencegahan penyalahgunaan NAPZA
terutama perilaku merokok meliputi beberapa prinsip, yaitu:
1. Mendorong faktor protektif, yaitu hal yang mengurangi potensi

penggunaan zat adiktif terutama tembakau dan mengurangi faktor
risiko, yaitu hal yang potensial mendorong terjadinya perilaku
merokok.
2. Melaksanakan pelatihan ketrampilan hidup (life skills), termasuk
ketrampilan menolak tawaran merokok
3. Menggunakan metode interaktif yang tepat pada sasaran anak
sehingga sesuai perkembangan anak, seperti : pembelajaran aktif
dan kelompok diskusi sebaya.
4. Semua kegiatan disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan
sesuai budaya.

B. Upaya Pencegahan Primer

1. Peningkatan Perilaku Hidup Sehat
Upaya peningkatan perilaku sehat pada setiap anak usia

sekolah patut dibudayakan, karena perilaku sehat dapat menjadi
panduan untuk mencapai sukses dalam belajar. Salah satu
keterampilan dalam berperilaku sehat yang dapat menjadi titik sentral
hidup sehat adalah melakukan latihan fisik secara teratur dan terukur.
a. Latihan Fisik

Latihan ketrampilan berperilaku sehat dengan cara antara lain
melakukan latihan fisik secara teratur dan terukur untuk anak usia
sekolah sangat bermanfaat untuk penyaluran atau pengalihan
perhatian pada hal-hal positif dan sangat berdampak pada
peningkatan:

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 19

1) fungsi jantung-paru dan pembuluh darah,
2) kekuatan otot dan kepadatan tulang,
3) kelenturan tubuh,
4) metabolisme tubuh,
5) sistem hormonal,
6) aktivitas sistem kekebalan tubuh.

Latihan kebugaran fisik atau olah raga merupakan suatu
bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang melibatkan
gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan
atau mempertahankan kualitas fungsi tubuh. Menurut Rafey dalam
Ambardini (2009), latihan fisik dapat meningkatkan perhatian dan
motivasi, melalui peningkatan kadar dopamin dan norepinefrin, serta
membuat suasana hati lebih positif, menurunkan kecemasan, dan
meningkatkan rasa percaya diri. Jenis latihan kebugaran fisik ada dua,
yaitu :
1) Aerobik, artinya olahraga yang dilakukan secara terus-menerus

dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh. Misalnya
jogging, senam, renang, bersepeda.
2) Anaerobik, yaitu olahraga dimana kebutuhan oksigen tidak dapat
dipenuhi seluruhnya oleh tubuh. Misalnya angkat besi, lari sprint
100 M, tenis lapangan, bulu tangkis.

C. Upaya Pencegahan Secara Dini

Perilaku merokok merupakan sebuah perilaku yang dipelajari,
proses belajar dimulai dari sejak masa anak. Untuk menghindari
perilaku merokok setidaknya memahami tahapan perilaku merokok.
Setelah paham maka dapat digunakan untuk mengantisipasi diri bila
terjadi gejala merokok sehingga dapat mengendalikan diri.

1. Pencegahan Pada Tahap Seseorang Telah Tertarik Untuk
Meniru Perilaku Merokok
Upaya dini, dengan cara pencegahan yang efektif melalui

latihan, antara lain:
a. Latihan Waspada Terhadap Pengaruh Lingkungan

Pada saat seseorang membaca, melihat dan mendengar
tentang merokok dari sumber reklame (TV, radio maupun baleho di

20 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

jalan raya), ataupun dari perilaku teman sebaya yang merokok serta
orang tua yang juga merokok, seolah-olah merokok merupakan
perilaku yang menyenangkan dan bermafaat. Sehingga hal ini dapat
menggugah perhatian dan menimbulkan minat untuk mencoba
merokok. Untuk itu seseorang harus waspada terhadap pengaruh
iklan menyesatkan tersebut. Perilaku merokok tidak perlu di tiru
karena akan menjerumuskan diri sendiri pada perilaku yang merusak
kesehatan diri dan sangat tidak bermanfaat.
b. Latihan Bersikap Assertif

Latihan berperilaku asertif menurut Houston dalam Nursalim
(2013), merupakan suatu program belajar untuk mengajar manusia
mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara jujur dan tidak
membuat orang lain menjadi terancam. Sedangkan menurut Zastrow,
latihan asertif dirancang untuk membimbing manusia menyatakan,
merasa dan bertindak pada asumsi bahwa mereka memiliki hak untuk
menjadi dirinya sendiri dan untuk mengekspresikan perasaan secara
bebas.

Dalam latihan asertif, terutama self assertive training ada
beberapa prosedur yang harus dilakukan untuk mampu mengatakan
“tidak” terhadap permintaan yang tidak diinginkan, yaitu:
1) Tentukan sikap yang pasti, yaitu setuju atau tidak setuju terkait

perilaku yang ditawarkan.
2) Berikan penjelasan atas penolakan secara singkat, jelas, dan logis,

agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan.
3) Tujukkan sikap tegas, misalnya katakan: “tidak, terima kasih!”.
4) Ekspresi sikap tubuh sesuai pikiran dan respon verbal kita.
5) Jika berhadapan dengan seseorang yang sulit ditolak, maka

alternatif tindakan yang dapat dilakukan yaitu dengan cara
mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan
menghentikan percakapan.
6) Tidak perlu minta maaf atas penolakan yang disampaikan.
Gunakan kata-kata yang penuh perasaan empati seperti: “saya
mengerti bahwa hal ini tidak menyenangkan bagimu...tapi terus
terang saya sudah memutuskan untuk tidak ikut-ikutan mencoba
rokok...”.
7) Tidak perlu mudah merasa bersalah, karena pihak lain jelas tidak
bertanggung jawab atas kehidupan kita.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 21

D. Upaya Pencegahan Sekunder Terhadap Perilaku Merokok

1. Pencegahan Pada Tahap Ketika Seseorang Telah Mencoba
Merokok
Pada saat seseorang sudah terlanjur mencoba merokok untuk

pertama kalinya, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan
adalah mempertimbangkan kembali perilaku tersebut apakah
merugikan atau menguntungkan.

Dipastikan keyakinan anak untuk tidak melanjutkan
percobaan merokok lagi, karena sudah jelas bahwa merokok dapat
menimbulkan perasaan tidak nyaman, apalagi kalau diteruskan maka
akan menggangu kesehatan secara umum dan secara perlahan-lahan
merokok dapat berakibat fatal. Untuk itu anak diminta untuk memilih
pada dua pilihan, yaitu pilih: (1) Sehat sejahtera dan produktif sampai
tua, atau (2) Menderita tidak bahagia dan tidak produktif sampai tua.

2. Pencegahan Pada Tahap Ketika Seseorang Benar-Benar
Menjadi Perokok
Kalau sudah menjadi ketergantungan pada rokok, maka sulit

untuk lepas dari perilaku merokok, walaupun kondisi tubuh tidak
sehat atau kondisi ekonomi sudah miskin tetap tidak peduli. Untuk itu
anak diminta untuk melakukan berhenti merokok secepatnya, agar
tidak banyak mengalami kesulitan dalam hidup.

Upaya penghentian perilaku merokok terhadap anak yang
sudah terlanjur merokok, agar sukses berhenti merokok dapat
dilakukan dengan beberapa cara, antara lain yaitu: Berhenti seketika,
maksudnya yaitu hari ini masih merokok, besoknya berhenti sama
sekali. Bagi kebanyakan orang cara inilah yang paling berhasil
dilakukan.

22 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

BAB 5
KONSEP PENDIDIKAN KESEHATAN

A. Pengertian

Pengertian pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk
intervensi dalam promosi kesehatan yang terencana untuk membantu
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan
kecakapan hidup dibidang kesehatan meliputi kemampuan:
pengetahuan, perubahan sikap maupun praktik kesehatan melalui
proses pembelajaran sehingga dapat tercapai hidup sehat secara
optimal.

B. Tujuan Pendidikan Kesehatan

Menurut WHO (1945) dalam Notoatmodjo (2003), tujuan
pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku masyarakat di
bidang kesehatan, meliputi :
1. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai dalam hidup,
2. Meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam

mencapai tujuan hidup sehat secara mandiri,
3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan sarana

pelayanan kesehatan dengan pendekatan pemberdayaan.

C. Sasaran Pendidikan Kesehatan

Sasaran dalam pendidikan kesehatan meliputi, yaitu :
1. Sasaran primer, antara lain adalah individu, keluarga, kelompok

dan masyarakat
2. sasaran sekunder, yaitu para tokoh masyarakat dan petugas
3. sasaran tersier, yaitu para pembuat keputusan atau kebijakan.

D. Proses Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoatmodjo (2003), unsur dalam proses pendidikan
kesehatan, yaitu:

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 23

1. Input pendidikan, terdiri dari unsur sasaran pendidikan meliputi
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang sedang belajar
itu sendiri dengan berbagai latar belakang dan unsur pelaku
pendidikan.

2. Proses pendidikan, merupakan upaya yang direncanakan sehingga
terjadi proses pembelajaran, yaitu proses interaksi antara subyek
belajar dengan pendidik yang berdampak terjadinya perubahan
kemampuan pada subyek belajar meliputi kemampuan:
pengetahuan, sikap dan perilaku. Interaksi dalam proses belajar
sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain, yaitu: subjek
belajar, pengajar, metode, teknik belajar, alat bantu belajar serta
bahan pelajaran.

3. Output pendidikan, yaitu hasil belajar berupa kemampuan atau
perubahan perilaku dari subjek belajar baik berupa kecakapan
intelektual, interpersonal dan teknikal dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan. Pendidikan sebagai proses karenanya
dipengaruhi pula oleh faktor-faktor lain seperti perangkat lunak
(software) dan perangkat keras (hardware). Perangkat lunak,
seperti kurikulum, metode pendidikan, tenaga pengajar dan
sebagainya. Adapun perangkat keras yaitu, gedung, ruang, alat
bantu pendidikan, perpustakaan dan sebagainya. Di bawah ini
tampak bagan proses pendidikan kesehatan.

Bagan 1. Proses Pendidikan Kesehatan

Perangkat lunak: OUTPUT
Kurikulum, metode, strategi, Perubahan perilaku
subjek belajar
pendidik. meliputi kecakapan:
• Intelektual
INPUT PROSES • Interpersonal
Sasaran Upaya terencana • Teknikal
pendidikan: berupa proses dalam memelihara
interaksi subyek dan meningkatkan
• Individu belajar dengan kesehatan
• Keluarga pendidik
Perangkat keras:
• Kelompok
• Masyarakat Gedung, media dan
tempat belajar

24 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

BAB 6
METODA PEMBELAJARAN JIGSAW DALAM
PENDIDIKAN KESEHATAN

A. Pengertian

Menurut Majid (2014), jigsaw (gergaji ukir) pertama kali
dikembangkan dan diujicobakan pada tahun 1978 oleh Elliot Aronson
di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slaven, et all di
universitas John Hopkins. Menurut Lie dalam Majid (2014), bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model
pembelajaran dengan cara subyek belajar dalam kelompok kecil yang
heterogen terdiri dari 4-6 siswa dan bekerja sama saling
ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas materi
belajar bagiannya untuk dipelajari secara tuntas dan menyampaikan
materi tersebut kepada anggota kelompoknya.

Menurut Hamdayama (2014), metode mengajar Jigsaw sebagai
metode pembelajaran kooperatif bisa digunakan dalam pengajaran
yang menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan
berbicara, sehingga dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran,
antara lain yaitu: IPA, IPS, matematika, agama, bahasa serta pelajaran
penjaskes. Metode ini cocok untuk digunakan pada semua jenjang
pendidikan termasuk jenjang sekolah dasar.

B. Beberapa Unsur dalam Metode Jigsaw

Menurut Amri & Ahmadi, (2010) dalam Ahmad Syarifuddin,
beberapa unsur yang harus terjadi dalam pelaksanaan metode Jigsaw,
yaitu:

1. Saling Ketergantungan Positif
Keberhasilan suatu metode Jigsaw sangat bergantung pada

partisipasi aktif setiap anggota kelompok dengan mengkondisikan
siswa dalam situasi saling ketergantungan yang positif.

Beberapa cara membangun saling ketergantungan positif

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 25

yaitu:
a. Menumbuhkan kesadaran subyek belajar bahwa dirinya

merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kelompoknya
dalam rangka mencapai tujuan belajar.
b. Mengusahakan agar masing-masing anggota kelompok
memperoleh hak, kewajiban serta penghargaan yang seimbang
dalam mencapai tujuan.
c. Membagi beberapa sub tugas kepada setiap anggota kelompok
dari keseluruhan tugas kelompok.
d. Setiap anggota kelompok diberi tugas atau peran yang saling
mendukung, saling berhubungan, saling melengkapi dan saling
terikat dengan anggota lainnya dalam satu kelompok.

2. Tanggung Jawab Individu
Beberapa cara menumbuhkan rasa tanggung jawab

individu sebagai subyek belajar dalam mencapai tujuan belajar,
yaitu:
a. Kelompok belajar maksimal beranggotakan 4-6 orang dalam

satu kelompok.
b. Melakukan tes diagnostik terhadap setiap subyek belajar
c. Melakukan observasi pada masing-masing kelompok dan mencatat

frekuensi individu dalam membantu kelompok.
d. Memberikan tugas kepada masing-masing subyek belajar untuk

mengejar temannya dalam kelompok.

3. Tatap Muka
Dalam pelaksanaan metode jigsaw setiap kelompok diberi

kesempatan untuk berdiskusi. Interaksi dalam pembelajaran ini
dapat membentuk sinergi yang saling menguntungkan semua
anggota kelompok, antara lain adalah diperolehnya pengalaman
dalam menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan
mengisi kekurangan.

4. Komunikasi Antar Anggota
Suatu kelompok dikatakan berhasil dalam berkomunikasi bila

setiap anggota kelompok mampu mendengarkan setiap pendapat
para anggota kelompoknya, serta terampil dalam berinteraksi
sehingga dapat memperkaya pengalaman belajar dan mampu

26 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

menstimulasi kecerdasan intelektual dan emosional subyek belajar.

5. Peran Pendidik dalam Pelaksanaan Metode Jigsaw
Peran pendidik dalam pelaksanaan metode Jigsaw antara lain,

sebagai:
a. Fasilitator

1) Mampu menciptakan suasana kelas yang nyaman,
2) Membantu kelancaran belajar
3) Mendorong subyek belajar untuk mengungkapkan

pendapatnya
4) Menjelaskan tujuan belajar
b. Mediator
Pendidik mampu mengaitkan materi pembelajaran dengan
kondisi nyata
c. Director-Motivator
Pendidik mampu mengarahkan atau membimbing proses diskusi
serta mampu memberi semangat pada subyek belajar agar aktif
berpartisipasi.
d. Evaluator
Pendidik mampu dalam menilai kegiatan belajar yang sedang
berlangsung.

6. Langkah Pelaksanaan Metode Jigsaw
Secara garis besar hal yang perlu direncanakan dalam

pelaksanaan pembelajaran dengan metode jigsaw, minimal terdapat
aktivitas, yaitu:
a. Pembentukan kelompok
b. Pembagian materi keahlian
c. Melaksanakan diskusi
d. Mengerjakan kuis

Dalam pelaksanaan metode ini secara rinci, fasilitator dapat
melakukan beberapa langkah mudah, yaitu:
a. Membagi subyek belajar dalam satu kelas menjadi beberapa jigsaw

groups dengan karakteristik yang heterogen dan masing-masing
beranggotakan 4-6 orang. Jumlah anggota dalam jigsaw groups
menyesuaikan dengan jumlah sub topik materi pembelajaran yang
akan dipelajari atau menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai. Misalnya suatu kelas dengan jumlah 40 subyek

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 27

belajar dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan
tujuan pembelajaran, terdiri dari 5 sub topik materi pembelajaran,
maka dari 40 subyek belajar dibagi menjadi 5 expert groups yang
beranggotakan 8 anak dan 8 jigsaw groups yang terdiri dari 5
subyek belajar.
b. Menetapkan satu anak dari setiap kelompok jigsaw untuk menjadi
pemimpin.
c. Membagi materi pembelajaran yang besar menjadi beberapa sub
topik.
d. Memberikan tugas pada masing-masing anggota jigsaw groups
untuk bertanggungjawab terhadap 1 sub topik materi
pembelajaran yang berbeda.
e. Memberikan kesempatan pada masing-masing anggota kelompok
jigsaw untuk memahami sub topik yang telah dibagikan dan tidak
perlu dihafalkan.
f. Membuat expert groups yang anggotanya berasal dari anggota
jigsaw groups yang bertanggungjawab terhadap sub topik
pembelajaran yang sama, dan bekerja sama untuk menyelesaikan
tugas, yaitu:
1) Mempelajari sub topik tersebut dan menjadi ahli dalam sub

topik bagiannya;
2) Merencanakan cara penyampaian pesan pada sub topik yang

menjadi tanggungjawabnya kepada anggota jigsaw groups.
g. Setelah dari kelompok ahli, masing-masing anggota kelompok ahli

kembali lagi ke kelompok jigsaw sebagai ahli dalam sub topiknya.
h. Subyek belajar mempresentasikan sub topik yang dipelajarinya

kepada temannya dalam jigsaw groups.
i. Mengobservasi proses belajar subyek belajar saat berdiskusi

dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, jika suatu kelompok
mengalami kesulitan (misalnya, seorang anggota mendominasi
atau mengganggu), dilakukan intervensi yang tepat.
j. Diakhir kegiatan subyek belajar diberikan kuis untuk dikerjakan
secara individu dan dilanjutkan dengan pemberian penghargaan.

28 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

7. Ilustrasi Hubungan antara expert groups dengan Jigsaw
groups
Ilustrasi hubungan antara expert groups dengan Jigsaw Groups

oleh Arends dalam Suprihatiningrum (2014:205)37 sebagai berikut:

Gambaran 6.1. Ilustrasi Kelompok Jigsaw
8. Keunggulan Metode Jigsaw

Metode jigsaw adalah merupakan salah satu strategi dalam
pembelajaran kooperatif, sehingga memiliki keunggulan, yaitu:
Adanya interdependensi yang positif pada setiap subyek belajar, dapat
meningkatkan kemampuan kerjasama dalam kelompok untuk
menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya melalui

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 29

kegiatan diskusi. Hal tersebut dapat meningkatkan elaborasi kognitif
dengan baik yang dapat meningkatkan daya nalar dan berdampak
pada peningkatan kemampuan kognitif maupun afektif. Adanya
interaksi sosial dalam kelompok kecil dapat mendorong subyek
belajar untuk lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran sehingga
dapat memberikan kesempatan kepada tiap anak untuk
menyampaikan pendapatnya kepada teman dalam kelompoknya.

9. Masalah- Masalah
Beberapa masalah yang biasa ditemukan dalam pelaksanaan

metode jigsaw dalam pembelajaran antara lain, yaitu: subyek belajar
yang dominan, subyek belajar yang lambat, subyek belajar yang cerdas
dan cepat bosan, serta subyek belajar yang terlatih untuk bersaing.

Menurut Aronson (2000), dalam jigsaw ada cara tersendiri
untuk mengatasi masalah tersebut antara lain, yaitu:
a. Subyek belajar yang dominan, fasilitator dalam hal ini perlu

menunjuk salah satu subyek belajar untuk menjadi pemimpin
diskusi dalam setiap sesi, secara bergiliran. Selajutnya tugas
pemimpin adalah mengatur jalannya diskusi sehingga semua
anggota kelompok dapat berpartisipasi secara merata. Akhirnya
semua subyek belajar dengan cepat menyadari bahwa kelompok
berjalan lebih efektif jika setiap subyek belajar dipersilahkan
untuk mempresentasikan sub topik bagiannya sebelum ada
pertanyaan atau dikomentari bersama. Kondisi tersebut dapat
meningkatkan kohesi kelompok dan mengurangi dominasi
pribadi.
b. Subyek belajar yang lambat dalam berpikir, fasilitator dalam hal ini
harus memastikan subyek belajar tersebut tidak
mempresentasikan laporan dengan mutu kurang baik pada
kelompok jigsaw. Oleh karena itu sebelum mempresentasikan
laporannya ke kelompok jigsaw, fasilitator harus memastikan
bahwa kesimpulan yang diperoleh dalam kelompok ahli adalah
tepat. Untuk itu fasilitator perlu memberikan pengawasan ketat
terhadap jalannya diskusi dalam kelompok ahli hingga kelompok
ahli mampu menarik kesimpulan dengan benar.
c. Subyek belajar cerdas yang cepat bosan, subyek belajar
berprestasi didorong untuk mengembangkan pola pikir, artinya

30 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

bahwa pengalaman belajar dapat dirubah yaitu dari tugas yang
membosankan menjadi sebuah tantangan yang menarik. Setiap
subyek belajar mendapat giliran memposisikan diri sebagai
pengajar, hal ini akan menjadi tantangan yang menyenangkan
serta dapat memacu subyek belajar untuk lebih giat belajar dan
akhirnya akan mengurangi rasa bosan.
d. Subyek belajar yang selalu terlatih untuk bersaing, metode jigsaw
memang lebih sulit jika diterapkan pada subyek belajar yang
terbiasa dengan sistem kompetisi dan belum pernah dikenalkan
dengan metode jigsaw, sehingga dibutuhkan pengenalan dan
penyesuaian diri.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 31

BAB 7

PERUBAHAN PERILAKU DALAM PENDIDIKAN
KESEHATAN

A. Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2010), Perilaku diartikan sebagai

totalitas pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil
interaksi antara faktor internal dan eksternal. Perilaku atau respon
individu terhadap stimulus dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Perilaku tertutup (covert behavior), terjadi bila respon terhadap

stimulus belum dapat diobservasi, antara lain yaitu respon dalam
bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap.
b) Perilaku terbuka (overt behavior), terjadi bila respon terhadap
stimulus berupa aksi nyata yang dapat diobservasi.

B. Ranah Perilaku
Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang

lingkup yang sangat luas. Bloom,et all (1956) dalam Utari (2001),
membagi perilaku ke dalam tiga domain atau ranah kemampuan
intelektual yaitu : cognitive domain, affective domain dan psychomotor
domain. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan
pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain
perilaku tersebut. Ranah kognitif berisi perilaku yang menekankan
aspek intelektual, meliputi pengetahuan dan keterampilan berpikir.
Ranah afektif mencakup perilaku terkait dengan emosi, yaitu : sikap,
minat, konsep diri, nilai, dan moral. Sedangkan ranah psikomotorik
berisi perilaku yang menekankan fungsi manipulatif dan keterampilan
motorik atau kemampuan fisik.

1. Domain Kognitif

a. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu seseorang setelah

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan

32 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (overt behavior).

Menurut Lev Vygotsky dalam teori Sosio-Kultural, perolehan
pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari
sumber sosial di luar dirinya.

b. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif yang sesuai dengan revolusi-

sosiokultural Vygotsky, adalah:

1) Genetic Law of Development
Setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang

sesuai hukum genetic tentang perkembangan dengan melewati dua
tataran, yaitu:
a) Tataran sosial tempat seseorang membentuk lingkungan sosial

(intermental).
b) Tataran psikologis di dalam diri seseorang yang bersangkutan

(intramental). Fungsi intermental lebih tinggi dalam diri
seseorang yang akan muncul dan berasal dari kehidupan
sosialnya. Fungsi intramental dipandang sebagai derivasi yang
terbentuk dan tumbuh melalui penguasaan dan internalisasi
terhadap proses sosial tersebut.

2) Zone of Proximal Development (ZPD)
Perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke

dalam dua tingkat, yaitu:
a) Tingkat perkembangan aktual (kemampuan intramental).
b) Tingkat perkembangan potensial (kemampuan intermental).

Jarak antara kedua tingkatan perkembangan tersebut,
disebut sebagai zone of proximal development/ ZPD. Hal ini diartikan
sebagai fungsi atau kemampuan yang belum matang yang masih
berada pada proses pematangan, dan akan menjadi matang melalui
proses interaksi dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman
sebaya yang lebih kompeten. Sebagai bentuk fundamental dalam
belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial. Jadi sebelum terjadi
internalisasi dalam diri anak, atau sebelum kemampuan intramental
terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya oleh orang
yang lebih kompeten.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 33

3) Mediasi dengan Psychological Tools
Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh orang

dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompeten untuk
memahami alat-alat semiotika atau melalui mediasi dengan
psychological tools berupa bahasa, tanda dan lambang. Anak
mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat semiotika
berfungsi sebagai mediator bagi proses psikologis lebih lanjut dalam
diri anak. Ada dua jenis mediasi, yaitu:
a) Mediasi metakognitif, yaitu penggunaan alat semiotic yang

bertujuan untuk melakukan self-regulation. Mediasi metakognitif
ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi.
b) Mediasi kognitif, yaitu penggunaan alat kognitif untuk
memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan
tertentu.

c. Kategori Pengetahuan
Pengetahuan dalam Taksonomi Anderson dan Kratwohl,

terdiri dari empat jenis kategori, yaitu:

1) Pengetahuan Faktual
Pengetahuan faktual, yaitu pengetahuan yang berisi elemen

dasar yang harus diketahui seseorang dalam menyelesaikan masalah.
Pengetahuan faktual terbagi menjadi dua subjenis yaitu:
a) Pengetahuan tentang terminologi, yaitu pengetahuan tentang

label dan simbol verbal atau nonverbal (kata, angka, tanda,
gambar).
b) Pengetahuan tentang detail dan elemen spesifik, yang merupakan
pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber
informasi. peristiwa.

2) Pengetahuan Konseptual
Pengetahuan konseptual, adalah pengetahuan tentang

kategori, klasifikasi, dan hubungan antara dua atau lebih kategori
pengetahuan yang lebih kompleks dan tertata, terdiri dari skema,
model, mental, dan teori yang mempresentasikan pengetahuan
manusia tentang bagaimana suatu materi kajian ditata dan dibuat
dalam struktur, bagaimana bagian-bagian informasi saling berkaitan

34 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

secara sistematis, dan bagaimana bagian-bagian ini berfungsi
bersama. Pengetahuan konseptual terdiri dari tiga subjenis yaitu:
a) pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori;
b) pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi; serta
c) pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.

3) Pengetahuan Prosedural
Pengetahuan prosedural, adalah pengetahuan tentang cara

melakukan sesuatu, yang mencakup pengetahuan tentang
keterampilan, algoritma, teknik, dan metode. Pengetahuan prosedural
terbagi menjadi tiga subjenis yaitu:
a) pengetahuan tentang keterampilan dalam bidang tertentu dan

algoritma;
b) pengetahuan tentang teknik dan metode dalam bidang tertentu;

dan
c) pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan kapan harus

menggunakan prosedur yang tepat.

4) Pengetahuan metakognitif
Pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan tentang

peran penting pengetahuan seseorang mengenai kognisi dirinya
sendiri dan kontrol diri atas kognisi itu dalam aktivitas belajar.
Pengetahuan metakognitif terbagi menjadi tiga subjenis yaitu:
a) pengetahuan strategis;
b) pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif yang meliputi

pengetahuan kontekstual dan kondisional; dan
c) pengetahuan diri.

d. Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan di dalam taxonomi Bloom mempunyai enam

tingkatan, yaitu:
1) Remembering, yaitu kemampuan menyebutkan kembali informasi

yang tersimpan dalam ingatan.
2) Understanding, yaitu kemampuan untuk menjelaskan informasi

yang telah diketahui dengan menegaskan makna ide yang telah
diajarkan.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 35

3) Applying, yaitu kemampuan menggunakan informasi yang telah
dipelajari ke dalam situasi baru, serta memecahkan berbagai
masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.

4) Analyzing, yaitu kemampuan memisahkan konsep kedalam
beberapa komponen dan menghubungkan satu sama lain untuk
memperoleh pemahaman atas konsep tersebut secara utuh.

5) Synthesis, yaitu kemampuan dalam mengaitkan dan menyatukan
berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga
terbentuk pola baru yang lebi menyeluruh.

6) Evaluating, yaitu kemampuan menetapkan derajat sesuatu
berdasarkan norma, kriteria atau patokan tertentu.

e. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Seseorang
Beberapa faktor yang turut mempengaruhi perkembangan

kognitif (pengetahuan) anak, antara lain adalah:
1) Pendidikan, merupakan suatu upaya pengembangan kepribadian

dan kemampuan secara formal maupun nonformal yang
berlangsung seumur hidup. Pendidikan adalah sebuah proses
pengubahan perilaku untuk mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan.
2) Informasi/media masa, adalah sesuatu yang dapat diketahui
melalui transfer pengetahuan. Informasi dapat dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari pengamatan terhadap
dunia sekitar, yang diteruskan melalui komunikasi sehingga
menjadi sumber pengetahuan.
3) Lingkungan, adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu.
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan
ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini
terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang direspons sebagai
pengetahuan.
4) Pengalaman, yaitu suatu cara untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang
diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu,
sehingga pengalaman dapat dikatakan sebagai sumber
pengetahuan.
5) Usia, memengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya

36 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik.

2. Domain Afektif.
Afektif berhubungan dengan emosi seperti perasaan, nilai,

apresiasi, motivasi dan sikap. Dalam proses perubahan perilaku
terdapat beberapa tipe karakteristik afektif yang penting, antara lain:

a. Sikap

1) Pengertian Sikap
Menurut Secord & Backman (1964) dalam Azwar, (2012),

sikap adalah suatu keteraturan tertentu dalam hal afeksi, kognisi, dan
konasi individu terhadap suatu aspek di lingkungan. Menurut Fishbein
dan Ajzen (1975) sikap merupakan respon evaluatif seseorang berupa
perasaan baik atau buruk terhadap suatu obyek stimulus.

Beberapa karakteristik sikap, yaitu :
a) Merupakan kecenderungan berfikir dan bertindak.
b) Mempunyai daya pendorong.
c) Relatif menetap, dibanding emosi dan pikiran.
d) Mengandung aspek penilaian terhadap obyek dan mempunyai tiga

komponen, yaitu: cognitive, affective, conative.

2) Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap
Dalam interaksi sosial, individu berespon membentuk pola

sikap tertentu terhadap lingkungannya. Berbagai faktor yang
mempengaruhi pembentukan sikap adalah:
a) Pengalaman pribadi, kesan yang kuat pada pengalaman pribadi

lebih mudah membentuk sikap. Hal ini karena keterlibatan faktor
emosional.
b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting, hal ini dapat
menimbulkan kecenderungan pada individu untuk memiliki sikap
yang konformis.
c) Pengaruh kebudayaan, kebudayaan merupakan hal yang dapat
memberi corak pengalaman individu dalam masyarakat.
d) Media massa, merupakan media komunikasi yang mampu
menyampaikan informasi kepada individu, sehingga mampu
mempengaruhi individu dalam mengambil keputusan.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 37

e) Lembaga pendidikan dan lembaga agama. Kepercayaan, keyakinan,
ide dan konsep terhadap suatu objek yang diperoleh dari hasil
pendidikan sangat mempengaruhi sikap individu.

f) Faktor emosional, suatu bentuk sikap juga merupakan manifestasi
dari mekanisme pertahanan ego.

3) Struktur Sikap
Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling

menunjang, yaitu komponen :
a) cognitive, yaitu kepercayaan, keyakinan, ide dan konsep terhadap

suatu objek dari hasil pengindraan,
b) affective, yaitu merupakan perasaan yang menyangkut aspek

emosional atau evaluasi terhadap suatu obyek yang sangat
dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap kebenaran suatu obyek,
c) conative, yaitu kecenderungan untuk bertindak yang sangat
dipengaruhi oleh kepercayaan serta perasaan berkaitan dengan
obyek sikap yang dihadapi.

4) Bentuk respon sikap
Bentuk respon sikap, meliputi respon verbal dan nonverbal

dari kategori respon kognitif, afektif, konatif, yaitu:

Tabel 2.1 Bentuk Respon Sikap

Tipe Kognitif Kategori Respons Konatif
Respons Pernyataan Afektif Pernyataan
Verbal keyakinan intensi
mengenai Pernyataan perilaku
Non obyek sikap perasaan
verbal Reaksi terhadap obyek Perilaku
perseptual sikap tampak
terhadap Reaksi fisiologis sehubungan
obyek sikap terhadap obyek obyek sikap
sikap

38 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

5) Tingkatan Domain Sikap
Domain sikap dalam Taksonomi Bloom (1956), terdiri dari

beberapa tahapan domain, yaitu:
a) Receiving, yaitu kepekaan seseorang dalam menerima stimulus

dari luar dalam bentuk masalah, situasi, maupun gejala. Receiving
atau attending, diartikan sebagai kemauan untuk memperhatikan
suatu objek.
b) Responding, yaitu mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam
fenomena tertentu dan memberikan reaksi terhadap fenomena
yang ada di lingkungannya, meliputi persetujuan, kesediaan, dan
kepuasan dalam memberikan tanggapan.
c) Valuing, yaitu memberikan penghargaan, berkomitmen atau
menilai terhadap suatu objek tentang hal yang baik atau buruk.
d) Organization, yaitu memadukan perbedaan nilai, menyelesaikan
konflik, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten,
sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada
perbaikan umum.
e) Characterization, yaitu menghayati atau terpadunya semua sistem
nilai yang telah dimiliki individu, yang mempengaruhi pola
kepribadian dan perilaku. Proses internalisasi nilai telah
menempati posisi tertinggi dalam suatu hirarki nilai. Nilai tersebut
telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah
mempengaruhi emosinya.

b. Niat (Intention)

1) Pengertian
Menurut Fishbein & Ajzen (1975), intensi adalah suatu

probabilitas subjektif yang merupakan hubungan antara individu
dengan perilakunya, dimana probabilitas subjektif tersebut
mengarahkan individu untuk berperilaku. Menurut Ajzen (2005),
intensi berperilaku adalah niat untuk mencoba menampilkan suatu
perilaku yang pasti. Intensi merupakan penyebab terdekat terjadinya
perilaku yang nampak. Intensi mengatur perilaku hingga pada saat
yang tepat akan mengubahnya menjadi suatu tindakan. Ajzen (2006)
dalam teori Planned Behavior menjelaskan bahwa intensi merupakan
indikasi kesiapan atau kecenderungan seseorang untuk melakukan

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 39

perilaku tertentu, dan ini dianggap sebagai anteseden langsung dari
perilaku.

2) Faktor Determinan Intensi
Intensi merupakan fungsi dari tiga determinan dasar,

sehingga kekuatan intensi sangat ditentukan oleh tiga determinan
tersebut. Tiga faktor penentu intensi tersebut, meliputi:
a) Sikap terhadap perilaku (Attitudes Toward Behavior)

Sebagai faktor personal alami yang merupakan evaluasi
positif atau negatif terhadap konsekuensi atau hasil dari perilaku yang
akan dimunculkan, misalnya bila seorang anak menunjukkan penilaian
terhadap perilaku merokok adalah baik atau hal yang disuka, maka
sikap anak tersebut positif terhadap perilaku merokok. Faktor
determinan dari sikap terhadap perilaku ditentukan oleh outcome
evaluation dan behavioral beliefs. Outcome evaluation adalah penilaian
individu terhadap kriteria untung-rugi yang didapatkan dari suatu
perilaku. Sedangkan behavioral beliefs merupakan keyakinan individu
terhadap hasil atau konsekuensi yang didapatkan saat mewujudkan
perilaku tersebut berdasarkan kriteria penilaian.
b) Norma subyektif (Subjective norms)

Persepsi individu terhadap pengaruh lingkungan sosial yang
mampu memberi referensi untuk mewujudkan sebuah perilaku.
Norma subjektif merupakan fungsi dari normatif beliefs dan motivation
to comply. Normative beliefs adalah keyakinan mengenai suatu
perilaku yang bersifat normatif atau perilaku yang diharapkan oleh
orang-orang yang memiliki pengaruh (significant person) terhadap
subjek. Motivation to comply adalah daya dorong suatu referensi dalam
mempengaruhi subjek untuk mewujudkan perilaku sesuai harapan.
c) Persepsi terhadap kendali perilaku (Perceived behavioral control)

Persepsi individu terhadap kemampuan mengontrol atau
menjalankan suatu perilaku. Keyakinan ini berasal dari pengalaman
individu dalam berperilaku di masa lalu dan perkiraan individu
mengenai tingkat kesulitan untuk melakukan suatu perilaku. Perceived
behavioral control terbentuk dari control beliefs dan power of control
beliefs. Control beliefs adalah keyakinan individu terhadap faktor-
faktor yang memfasilitasi individu dalam mewujudkan suatu perilaku.
Faktor tersebut merupakan internal control factors dan external factor

40 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah


Click to View FlipBook Version