The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Lampiran Buku Cooperative learning metode Jigsaw

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2022-10-31 00:51:49

Lampiran Buku Cooperative learning metode Jigsaw

Lampiran Buku Cooperative learning metode Jigsaw

controls. Power of control beliefs adalah seberapa besar kekuatan
faktor-faktor kontrol mempengaruhi keputusan individu untuk
mewujudkan suatu perilaku.

Berdasarkan Theory Of Planned Behavior, intensi yang
terbentuk dari attitude toward behavior, subjective norms, dan
perceived behavioral control tersebut, sangat dipengaruhi oleh
background factors yang meliputi:
a) Faktor personal, yaitu sikap umum (general attitude) individu

terhadap sesuatu, sifat kepribadian (personality traits), nilai hidup
(values), emosi, dan kecerdasan.
b) Faktor sosial, antara lain usia, gender, etnis, pendidikan,
penghasilan, agama.
c) Faktor informasi, yaitu pengalaman, pengetahuan, dan ekspose
media.

3) Elemen Intensi
Elemen dalam intensi menurut Menurut Ajzen (2006),

meliputi:
a) Target, yaitu sasaran yang ingin dicapai dari suatu perilaku

spesifik.
b) Action, yaitu perilaku yang akan diwujudkan secara nyata oleh

seseorang.
c) Contex, yaitu situasi yang dikehendaki untuk manampilkan suatu

perilaku.
d) Time, yaitu menyangkut kesempatan suatu perilaku diwujudkan.

Intensi untuk berperilaku dapat muncul dengan
mempertimbangkan suatu kesempatan tertentu misalnya jam, atau
suatu periode tertentu misalnya bulan atau sebuah waktu yang tidak
terbatas misalnya masa yang akan datang.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 41

BAB 8
RANCANGAN PEMBELAJARAN DALAM
PENDIDIKAN KESEHATAN SASARAN KELOMPOK

Rancangan pembelajaran dalam pendidikan kesehatan pada sasaran
kelompok anak usia sekolah dasar atau remaja awal ini menggunakan
metode belajar kooperatif jigsaw. Rancangan belajar ini telah
diaplikasikan di sekolah dasar pada tatanan institusi sekolah.
Rancangan belajar tersebut dapat dijelaskan pada paparan berikut:

POKOK BAHASAN : Bahaya perilaku merokok dan prosedur latihan

pencegahan perilaku merokok

SASARAN : Kelompok anak usia sekolah (Remaja Awal)

WAKTU : 2x45 menit

HARI/TANGGAL :

================================================

A. Analisa Situasi

1. Pengkajian faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran

a. Pengkajian Faktor Predisposisi
Kondisi RT05 RW04 Desa Sukamaju banyak anak remaja

awal yang mulai merokok dengan terang-terangan, hasil
pengkajian yang mendukung adanya masalah perilaku, sebagai
berikut:
1) Riwayat keberadaan Komunitas

Penduduk RT05 RW04 Desa Sukamaju banyak anak
remaja awal yang mulai merokok dengan terang-terangan.
Dilingkungan sekitar RT05 ada beberapa penjual rokok yang
mudah dijangkau. Suatu saat dilapangan dekat perkampungan
RT05 ada pertunjukan live music dangdut yang disponsori oleh
suatu perusahaan rokok terkenal dengan memasang baleho dan
umbul-umbul dari perusahaan rokok tersebut. Saat pelaksanaan
show dangdut juga dibagi-bagikan secara gratis beberapa batang
rokok beserta koreknya. Warga RT05 RW04 Desa Sukamaju

42 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

memiliki perekonomian rendah, karena mayoritas penduduknya
bekerja sebagai buruh tani sehingga dengan adanya pertunjukan
gratis membuatnya riang gembira menyambutnya, apa lagi ada
bagi-bagi rokok gratis.
2) Keadaan Fisik

Saat dilakukan survey lingkungan Warga RT05 RW04
Desa Sukamaju memang ada beberapa warung yang menjual
rokok, dan juga para orang dewasa serta anak remaja awal banyak
yang merokok, sewaktu ditanya pada beberapa anak remaja awal
tersebut punya alasan ingin mencoba dan meniru orang dewasa
disamping juga penasaran akan rasa rokok.
3) Kesiapan Belajar

Warga RT05 RW04 Desa Sukamaju melalui Ketua RT nya
mengatakan bahwa siap untuk mengikuti penyuluhan kesehatan
tentang bahaya perilaku merokok dan prosedur latihan
pencegahan perilaku merokok.
4) Motivasi Belajar

Motivasi belajar Warga RT05 RW04 Desa Sukamaju
secara verbal mengatakan senang dan suka hati untuk mengikuti
penyuluhan kesehatan tentang bahaya perilaku merokok dan
prosedur latihan pencegahan perilaku merokok.
5) Kemampuan Membaca

Walaupun warga RT05 RW04 Desa Sukamaju
mempunyai perekonomian rendah, tetapi mempunyai
kemampuan membaca yang cukup baik karena mayoritas
berpendidikan SMP.
b. Pengkajian Faktor Pemungkin

Di Desa Sukadamaju terdapat balai desa yang dapat
dipergunakan untuk tempat berkumpul warga dalam rangka
penyuluhan kesehatan.
c. Pengkajian Faktor Penguat

Ketua RT05 RW04 Desa Sukamaju mau bekerja sama
dengan petugas kesehatan dalam melaksanakan penyuluhan
kesehatan, bahkan ia meminta bantuan Kepala Desa dalam hal
peminjaman balai desa. Ia sangat memperhatikan masalah
kesehatan lingkungan di RT nya.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 43

2. Diagnosa edukatif
Berdasarkan data hasil pengkajian yang ditemukan dapat

dirumuskan diagnosa edukatif sebagai berikut: Risiko tinggi

peningkatan insiden perilaku merokok pada remaja awal
berhubungan dengan kurangnya pemahaman remaja awal tentang
bahaya perilaku merokok dan prosedur latihan pencegahan

perilaku merokok.

B. Indikator
1. Memahami konsep rokok dan perilaku merokok serta
dampaknya terhadap kesehatan
2. Memahami prosedur latihan pencegahan perilaku merokok
3. Menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan hal yang
baik dan buruk terhadap perilaku merokok

C. Tujuan Pembelajaran

1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pembelajaran dengan metode jigsaw selama
2x45 menit, audiens mampu memahami prosedur latihan
pencegahan perilaku merokok.

2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pembelajaran dengan metode jigsaw selama
2x45 menit, audiens mampu:

1) Mengidentifikasi peringatan ancaman kesehatan pada
bungkus rokok.

2) Menyebutkan jenis rokok dengan berbagai ancaman
kesehatan.

3) Mengingat kembali kandungan zat kimia dalam asap
rokok.

4) Mengingat kembali arti perilaku merokok dengan kata
kata sendiri.

5) Mengingat kembali tahapan perilaku merokok.
6) Menafsirkan faktor yang mempengaruhi perilaku

merokok.
7) Menjelaskan dampak perilaku merokok terhadap

ancaman fisik.

44 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

8) Menjelaskan dampak perilaku merokok terhadap
ancaman kejiwaan.

9) Menjelaskan teknik menghindari perilaku merokok
dengan tepat.

D. Materi Pembelajaran
1. Bahaya Perilaku Merokok meliputi:
a. Rokok: (a) pengertian, (b) jenis rokok
b. Kandungan zat kimia dalam asap rokok
c. Perilaku merokok: (a) pengertian, (b) tahapan, (c) faktor
yang mempengaruhi
d. Dampak perilaku merokok terhadap kesehatan: (a)
Ancaman fisik, (b) Ancaman kejiwaan
2. Cara menghindari perilaku merokok:
a. Teknik pencegahan pada saat seseorang belum tertarik
untuk berperilaku merokok.
b. Teknik pencegahan pada saat seseorang tertarik untuk
meniru perilaku merokok
c. Teknik pencegahan pada saat seseorang telah mencoba
merokok.

E. Strategi Pembelajaran
1. Model : Belajar aktif
2. Metode : Kooperatif Jigsaw
3. Langkah-langkah proses pembelajaran
a. Pendahuluan (5’)
1) Mengucapkan salam
2) Mengkaji kesiapan klien untuk belajar
3) Memberikan sugesti positif
4) Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran
5) Menjelaskan model pembelajaran yang akan digunakan
6) Membuka file dalam otak audiens melalui apersepsi
b. Kegiatan Inti (80’)
1) Menyampaikan materi kiat menghindari perilaku
merokok sebagai introduksi pembelajaran selama 20
menit.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 45

2) Membagi audiens (20 orang) menjadi 4 kelompok asal
(jigsaw group) yang beranggotakan 5 orang dengan
karakteristik heterogen dan menetapkan satu audiens
sebagai pimpinan pada masing-masing kelompok
jigsaw.

3) Mendistribusikan 5 sub topik materi pembelajaran
kepada anggota kelompok jigsaw melalui pimpinan
kelompok, dan masing-masing anggota kelompok
jigsaw bertanggungjawab terhadap 1 sub topik yang
berbeda, sebagai bahan diskusi untuk dipelajari.

4) Membentuk 5 kelompok ahli (expert groups) yang
anggotanya berasal dari anggota kelompok jigsaw (4
orang) yang bertanggungjawab terhadap sub topik
pembelajaran yang sama, dan bekerja sama untuk
menyelesaikan tugas, yaitu:
a) Mempelajari sub topik tersebut dan menjadi ahli
dalam sub topik bagiannya;
b) Merencanakan cara penyampaian pesan pada sub
topik yang menjadi tanggungjawabnya kepada
anggota kelompok asal (jigsaw group).
(1) Expert groups 1 membahas tujuan: 1, 2, 3
(2) Expert groups 2 membahas tujuan: 4, 5, 6
(3) Expert groups 3 membahas tujuan: 7
(4) Expert groups 4 membahas tujuan: 8
(5) Expert groups 5 membahas tujuan : 9

5) Memberikan kesempatan audiens berdiskusi untuk
mengkonstruksi pengetahuan.

6) Memantau kerja setiap kelompok dan memberi
kesempatan audiens untuk bertanya jika mengalami
kesulitan.

7) Meminta para anggota kelompok ahli untuk kembali lagi
ke kelompok jigsaw sebagai ahli dalam sub topiknya dan
mempresentasikan sub topik yang dipelajarinya kepada
kelompok jigsaw untuk mengkonstruksi pengetahuan
yang diperolehnya kepada kelompok jigsaw.

8) Menunjuk satu kelompok jigsaw untuk
mempresentasikan hasil diskusi didepan forum diskusi

46 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

(pemodelan), sedangkan kelompok lainnya
memberikan tanggapan agar diperoleh persepsi yang
sama pada materi pembelajaran yang telah dibahas.
9) Membuat kesimpulan dalam pembelajaran jigsaw.
c. Penutup (5’)
1) Memberikan kuis sebagai tes formatif
2) Memberikan tugas individu pada audiens untuk
merangkum materi yang telah dibahas bersama
3) Meminta audiens untuk waspada terhadap pengaruh
perilaku merokok
4) Mengucapkan terima kasih, permohonan maaf dan salam
penutup.

F. Media, Alat dan Sumber Pembelajaran
1. Media : Power point dan bahan bacaan
2. Alat : LCD, Note book, papan tulis, kapur, kertas buram.
3. Sumber : Bahan bacaan Budaya hidup sehat kiat menghindari
perilaku merokok

G. Evaluasi Pembelajaran

1. Prosedur tes : Pre-test dan post- test tulis (soal 30 butir)

2. Bentuk : 15 butir obyektif tes dan 15 butir non tes.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 47

BAB 9

HASIL PENERAPAN METODE JIGSAW PADA
PENDIDIKAN KESEHATAN

Merujuk pada analisa hasil penelitian yang telah dilakukan di Sekolah
Dasar Negeri Bendogerit 1 Kota Blitar terhadap temuan yang diperoleh
mencakup: (1) Karakteristik responden. (2) Intervensi pendidikan
kesehatan dengan metode Jigsaw. (3) Perubahan pengetahuan, sikap
dan niat pencegahan merokok pada anak kelas 5 sehingga dapat
digunakan sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan pendidikan
kesehatan yang menerapkan metode jigsaw pada sasaran subyek
belajar pada tingkat sekolah dasar.

A. Karakteristik Subyek Belajar

Usia subyek belajar pada kelompok yang menggunakan metode
Jigsaw 70% berusia 11 tahun dan pada kelompok yang menggunakan
metode ekspositori usia 85% berusia 11 tahun. Hasil analisis uji beda,
diperoleh rata-rata umur subyek belajar tidak terdapat perbedaan
umur yang bermakna sehingga kedua kelompok mempunyai umur
sebanding. Menurut Budiman (2013), bahwa umur merupakan faktor
yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Menurut Piaget dalam
Danim (2010), anak usia 7-11 tahun berada pada periode operasional
konkrit, yaitu anak sudah mampu berpikir logis dan mampu membuat
pertimbangan dari sudut pandang orang lain yang berbeda serta sudut
pandang dirinya. Sesuai tahapan perkembangan anak tersebut, maka
metode jigsaw dapat digunakan sebagai metode pendidikan kesehatan
pada subyek belajar pada rata-rata usia 11 tahun. Hal ini sejalan dengan
pernyataan Erikson dalam Eka IR. (1997), anak usia 6-12 tahun masuk
dalam tahap perkembangan Industry vs Inferiority, yaitu anak mampu
belajar, menciptakan dan menyelesaikan berbagai keterampilan baru
dan pengetahuan. Metode jigsaw bisa membantu anak dalam
memahami konsep dan prinsip tentang materi yang dipelajari dengan
bantuan teman sebaya atau fasilitator. Pada proses jigsaw, Anak
diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan

48 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

yang diperoleh melalui keterlibatan aktifnya dalam kelompok ahli
maupun kelompok jigsaw.

Mayoritas keluarga serumah subyek belajar yang merokok
pada kelompok yang menggunakan metode jigsaw adalah 90% ayah
dan pada kelompok yang menggunakan metode ekspositori 95% juga
ayah. Hasil analisis uji beda diperoleh beda rata-rata keluarga serumah
yang merokok pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang
bermakna. Menurut Mu`tadin (2002), alasan seorang anak merokok,
antara lain karena pengaruh orang tua perokok, hal ini merupakan
pengaruh yang paling kuat bila orang tua sendiri menjadi figur perokok
berat, sehingga anaknya sangat mungkin untuk mencontoh perilaku
tersebut.

Sumber informasi subyek belajar tentang perilaku merokok,
pada kelompok yang menggunakan metode jigsaw yaitu 65% dari iklan
rokok dan kelompok yang menggunakan metode ekspositori 80% dari
iklan rokok. Hasil analisis uji beda diperoleh kedua kelompok
mempunyai sumber informasi tentang perilaku merokok yang
sebanding. Penelitian Muntaha (2011), di Lamongan menyatakan
bahwa remaja pertama kali merokok pada rentang usia 9-12 tahun
dengan alasan pengaruh teman sebaya dan coba-coba, alasan lainnya
adalah pengaruh iklan rokok serta sebagian besar memiliki anggota
keluarga perokok. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga serumah
terutama ayah dan sumber informasi dari iklan sangat mempengaruhi
perilaku anak dalam merokok. Ayah sebagai role model dalam keluarga
sangat mempengaruhi perilaku anak.

B. Penerapan Metode Jigsaw dalam Pendidikan Kesehatan

Menurut Majid (2014), metode jigsaw adalah merupakan salah
satu strategi dalam pembelajaran kooperatif, yang memiliki
keunggulan, yaitu dapat meningkatkan kemampuan kerjasama dalam
kelompok dan memberikan kesempatan kepada tiap subyek belajar
untuk menyampaikan pendapatnya kepada teman dalam kelompok.
Metode Jigsaw efektif untuk diterapkan dalam pendidikan
kesehatan kepada anak usia sekolah karena mampu menciptakan
kondisi belajar melalui cara belajar dengan praktik mengajar pada
masing-masing anak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan elaborasi

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 49

kognitif dengan baik sehingga dapat meningkatkan daya nalar masing-
masing anak.

Menurut Anita Lie dalam Majid (2014), kondisi yang terjadi
dalam pelaksanaan pembelajaran dengan metode jigsaw, yaitu adanya
saling ketergantungan positif antar anggota kelompok, adanya rasa
tanggungjawab pada masing-masing individu, terjadi proses interaksi
melalui tatap muka dalam belajar, serta terjadi interaksi dalam bentuk
komunikasi antar anggota kelompok. Proses pembelajaran dengan
metode jigsaw subyek belajar berada dalam kondisi belajar aktif pada
kelompok ahli maupun kelompok jigsaw. Dengan kegiatan diskusi
kelompok, subyek belajar diharapkan mampu menyelesaikan tugas
yang menjadi tanggung jawabnya dengan cara saling bekerjasama dan
saling memberikan tanggapan atau melalui cara belajar dengan praktik
mengajar dapat mendukung penyelesaian tugas sehingga berdampak
pada peningkatan kemampuan kognitif maupun afektif. Selama
pelaksanaan pendidikan kesehatan dengan metode Jigsaw pendidik
berperan sebagai fasilitator yang mampu mengkondisikan atmosfir
kelas dalam suasana nyaman dan kondusif selama proses pembelajaran
dan berperan sebagai mediator yang mampu mengaitkan materi
pembelajaran dengan kondisi nyata, serta berperan sebagai
director-motivator, yaitu mampu membimbing proses diskusi serta
memberi semangat pada subyek belajar agar aktif berpartisipasi
dalam diskusi dan juga sebagai evaluator yang mampu menilai
kegiatan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

C. Hasil Pengukuran Pengetahuan Pencegahan Merokok

Hasil pengukuran pretest pengetahuan dari 40 subyek belajar
menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menjawab seluruh
kuesioner pengetahuan dengan benar, hal ini terjadi karena semua
subyek belajar belum pernah mendapatkan pendidikan kesehatan
tentang kiat menghindari perilaku merokok, walaupun kemampuan
kognitif yang diukur sebatas pada tingkat kemampuan mengingat
(Remember) dan memahami (Understand) konsep perilaku merokok
dan cara menghindari perilaku merokok.

Pengetahuan subyek belajar tentang pencegahan merokok
sebelum perlakuan, dari hasil uji beda diperoleh rata-rata pengetahuan
pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini

50 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

menunjukkan bahwa sebagian besar subyek belajar tidak mampu
menangkap atau tidak mengenal informasi masyarakat melalui jalur
informal. Oleh karena itu informasi kesehatan perlu disampaikan
melalui jalur formal melalui pendidikan. Hal ini didukung pernyataan
Herawani (2001), bahwa pendidikan kesehatan adalah merupakan
bentuk intervensi yang terencana untuk membantu masyarakat dalam
meningkatkan kemampuan pengetahuan dan perubahan sikap maupun
keterampilan untuk mencapai hidup sehat secara optimal.

Perbandingan hasil pretest dengan posttest pada kedua
kelompok subyek belajar, menunjukkan bahwa kelompok yang
menggunakan metode Jigsaw, terjadi peningkatan pengetahuan untuk
ketegori cukup dari 5 responden (25%) menjadi 9 responden (45%)
dan yang kategori baik diperoleh 5 responden (25%). Hasil uji beda
menunjukkan p-value=<0,001, artinya terdapat perbedaan yang
bermakna antara pengetahuan pencegahan merokok sebelum dan
setelah perlakuan. Kemudian pada kelompok yang menggunakan
metode ekspositori, juga terjadi peningkatan untuk ketegori cukup dari
6 responden (30%) menjadi 7 responden (35%) dan yang kategori baik
diperoleh 1 responden (5%). Hasil uji beda diperoleh p-value<0,180,
artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pengetahuan
pencegahan merokok sebelum dan sesudah perlakuan.

Menurut Lev Vygotsky dalam Budiningsih (2012), perolehan
pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber
sosial di luar dirinya, salah satunya dipengaruhi oleh mediasi dengan
Psychological Tools. Ada dua jenis mediasi, yaitu: (a) Mediasi
metakognitif, yaitu penggunaan alat semiotic yang bertujuan untuk
melakukan self-regulation. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam
komunikasi antar pribadi. (b) Mediasi kognitif, yaitu penggunaan alat
kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan
pengetahuan tertentu. Pembelajaran dengan metode jigsaw, subyek
belajar mendapatkan bimbingan dari fasilitator dan teman sebaya yang
lebih kompeten untuk memahami materi belajar. Pembelajaran dengan
metode jigsaw dapat memacu subyek belajar untuk selalu aktif mencari
pengetahuan sendiri melalui kegiatan interaksi dan komunikasi
(berdiskusi) dalam kelompok jigsaw maupun kelompok ahli. Artinya
aktivitas diskusi kelompok tersebut dimaksudkan untuk memudahkan
subyek belajar memahami dan mengingat kembali materi belajar yang

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 51

telah dipelajari, karena pengetahuan dibangun sendiri oleh subyek
belajar secara personal maupun sosial, sehingga dapat berdampak pada
peningkatan pengetahuannya. Hal ini juga didukung hasil riset Maine
dalam Warsono (2013), bahwa pembelajaran dengan metode diskusi
yang tidak didominasi oleh pendidik, subyek belajar dapat mengingat
sebesar 50% dari pesan yang diterima. Bila belajar disertai dengan
melakukan sesuatu aktivitas, maka subyek belajar dapat mengingat
sebesar 75% dari pesan yang diterima. Kemudian bila subyek belajar
melakukan praktik belajar dengan cara mengajar, maka subyek belajar
dapat mengingat sebesar 90% dari pesan yang diterima. Selain itu
Taxonomi Bloom dalam Sudjana dijelaskan bahwa pengetahuan pada
tingkatan: (a) Remembering adalah kemampuan menyebutkan kembali
informasi yang tersimpan dalam ingatan, dan (b) Understanding adalah
kemampuan untuk menjelaskan informasi yang telah diketahui dengan
menegaskan makna ide yang telah diajarkan. Pengetahuan pencegahan
merokok yang diukur untuk anak kelas V SD hanya sebatas pada
kemampuan mengingat dan memahami instruksi atau menegaskan
makna ide yang telah diajarkan, sehingga subyek belajar mampu
menjawab benar dan terjadi peningkatan pengetahuan pencegahan
merokok.

Menurut Majid (2014), pembelajaran dengan metode
ekspositori merupakan salah satu metode yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara verbal dari seorang pendidik
kepada sekelompok subyek belajar dengan maksud agar subyek belajar
dapat menguasai materi belajar secara optimal. Pembelajaran dengan
metode ekspositori hanya dapat dilakukan terhadap subyek belajar
yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik dan
tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu dalam gaya
belajar. Suasana belajar lebih banyak didominasi oleh pendidik melalui
kegiatan ceramah dengan komunikasi satu arah (one-way
communication). Kondisi belajar yang seperti ini menyulitkan subyek
belajar dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, karena
pengetahuan yang dimiliki subyek belajar hanya terbatas pada
informasi yang diberikan pendidik. Selain itu pendidik juga mengalami
keterbatasan untuk mengontrol pemahaman subyek belajar. Jadi
penyampaian konsep kiat menghindari perilaku merokok pada anak
akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan

52 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

anak terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep
yang hanya melibatkan anak untuk mendengar dan mengamati saja.

Perbedaan rata-rata pengetahuan pencegahan merokok antara
kedua kelompok dari hasil uji beda diperoleh perbedaan pengetahuan
lebih tinggi pada kelompok yang menggunakan metode jigsaw dari
pada kelompok yang menggunakan metode ekspositori. Dapat
disimpulkan bahawa pendidikan kesehatan yang menggunakan
metode jigsaw memberikan pengaruh terhadap pengetahuan
pencegahan merokok pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

Paparan hasil penelitian tersebut juga didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Rukayah (2012), yaitu pada siswa kelas
V SDN di Inderalaya bahwa pembelajaran kooperatif teknik jigsaw
sangat efektif dan berarti terhadap peningkatan hasil belajar IPA,
meliputi SDN 6, SDN 11 dan SDN 23 dengan nilai mean posttest kelas
eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol, yaitu pada SDN 6: kelas
kontrol 72,8 dan kelas eksperimen 84,41. SDN 11: kelas kontrol 75,53
dan kelas eksperimen 89,66. SDN 23: kelas kontrol 73,12 dan kelas
eksperimen 82,07. Hasil Uji t, nilai thitung >ttabel (1,66), yaitu untuk SDN 6
diperoleh 17,86; SDN11 diperoleh 19,29; dan SDN 23 diperoleh 18,79.
Juga penelitian Sudharmini (2014), yaitu pada siswa kelas V SD Gugus
IV Jimbaran, Kuta Selatan, yaitu: ada perbedaan hasil belajar IPS siswa
antara yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dan konvensional, dengan F=13,302 (p=0,000<
0,05). Termasuk penelitian Pamuji (2015), pada siswa kelas IV SDN
Bibis Bangunjiwo Kasihan Bantul Yogyakarta, yaitu: ada perbedaan
antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan hasil uji t, prestasi
belajar IPS siswa dengan nilai p=0,002<0,05, dan nilai thitung>ttabel
(3,219>2,010). Artinya pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih
efektif daripada pembelajaran konvensional dengan nilai mean post-
test kelas eksperimen (86,87) lebih tinggi daripada kelas kontrol
(76,89).

Memperhatikan paparan di atas dapat memberikan gambaran
yang jelas bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan pencegahan
merokok subyek belajar pada kelompok yang menggunakan metode
jigsaw. Kondisi demikian menandakan bahwa intervensi dalam bentuk
pendidikan kesehatan dengan metode jigsaw memberikan pengaruh
terhadap peningkatan pengetahuan pencegahan merokok pada anak

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 53

kelas V SDN Bendogerit 1. Menurut Notoatmodjo (2010), bahwa
pengetahuan merupakan hasil dari tahu seseorang setelah melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang dipengaruhi oleh
faktor attention dan perception individu. Peningkatan pengetahuan
subyek belajar pada kelompok yang menggunakan metode jigsaw
sangat dipengaruhi antara lain, oleh faktor attention dan faktor
perception.

Faktor attention, menurut suryobroto dalam Djamarah (2008),
anak dalam masa kelas tinggi sekolah dasar sangat berminat kepada
mata pelajaran khusus saat akhir masa ini. Topik kiat menghindari
perilaku merokok yang diajarkan merupakan topik yang menarik
karena tidak biasanya diberikan dikelas dengan metode pembelajaran
jigsaw, sehingga hal ini merupakan daya tarik tersendiri yang mampu
meningkatkan gairah belajar bagi subyek belajar. Hal ini terbukti
banyaknya pertanyaan subyek belajar kepada fasilitator dan kepada
kelompok diskusi untuk meningkatkan intensitas terhadap
pemahaman materi belajar. Selain itu menurut Sabri (2010), bahwa
anak pada masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai salah satu sifat
khas yaitu anak memandang bahwa nilai hasil belajar, sebagai indikator
untuk mengukur prestasi. Kontrak belajar yang disampaikan oleh
fasilitator kepada subyek belajar saat awal proses pembelajaran, bahwa
setelah selesai pembelajaran akan dilakukan tes. Pernyataan tersebut
membuat subyek belajar menjadikan tantangan tersendiri, sehingga
dapat memacu subyek belajar untuk lebih meningkatkan perhatiannya
terhadap pemahaman materi belajar dengan harapan agar setelah
selesai proses pembelajaran mampu mengerjakan tes dengan hasil
yang membanggakan.

Faktor perception, menurut Notoatmodjo (2010), persepsi
adalah merupakan gambaran yang tinggal dalam ingatan setelah
melakukan pengamatan. Pada kelompok eksperimen yang belajar
dengan metode jigsaw, sesuai hasil observasi selama proses belajar
diketahui subyek belajar yang semula kurang aktif menjadi lebih aktif.
Hal ini karena masing-masing anggota kelompok jigsaw mendapatkan
tugas satu sub topik materi belajar sebagai bahan diskusi dalam
kelompok ahli. Kemudian masing-masing anggota kelompok jigsaw
mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) sesuai sub topik yang menjadi
tanggungjawabnya dalam kelompok ahli dengan cara bekerjasama

54 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

untuk menyelesaikan tugas, yaitu mengeksplorasi bahan belajar,
menjawab soal dan menyusun hasil temuan sebagai bahan presentasi
sehingga tercipta suasana belajar aktif untuk membangun
pengetahuan. Kemudian anggota kelompok ahli kembali pada
kelompok jigsaw untuk menyampaikan sub topik materi belajar yang
menjadi tanggung jawabnya dengan cara membaca dan menjelaskan
serta menjawab pertanyaan sehingga terjadi interaksi antar anggota
kelompok untuk saling memberikan tanggapan. Menurut Majid (2014)
bahwa seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu
banyak bergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Persepsi
seseorang tentang kemampuan dirinya sendiri akan mendorong dan
mengarahkan perilakunya untuk bertindak. Pengalaman belajar yang
diperoleh melalui pendidikan kesehatan dengan metode jigsaw dapat
meningkatkan motivasi subyek belajar untuk mencapai tujuan belajar
yang optimal, artinya subyek belajar merasa bahwa belajar menjadi
kebutuhan sehingga mempunyai kemauan yang keras untuk mencapai
kemampuan sampai pada tingkatan tertentu terhadap konsep materi
belajar yang menjadi tanggung jawabnya.

D. Hasil Pengukuran Sikap Pencegahan Merokok

Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap merupakan respon
evaluatif seseorang berupa perasaan baik atau buruk terhadap suatu
obyek atau stimulus, dan faktor determinan dari sikap terhadap
perilaku ditentukan oleh penilaian individu terhadap kriteria untung-
rugi yang didapatkan dari suatu perilaku (Outcome evaluation) dan
keyakinan individu terhadap hasil atau konsekuensi yang didapatkan
saat mewujudkan perilaku (behavioral beliefs). Sikap terhadap
pencegahan merokok merupakan kesadaran, kemampuan merasa dan
kecenderungan berperilaku seseorang melalui penilaian terhadap
perilaku merokok dan cara menghindari perilaku merokok yang
diungkapkan dalam pernyataan favorable dan unfavorable.

Sikap subyek belajar terhadap pencegahan merokok pada
pretes pada kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan
sikap yang signifikan yaitu (U=180, p=0,602).

Menurut Green (2000), bahwa tindakan yang diinginkan
seseorang tidak akan terjadi kecuali seseorang tersebut telah
menerima isyarat cukup kuat guna memicu motivasi untuk bertindak

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 55

berdasarkan pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar
subyek belajar karena tidak mengenal informasi masyarakat melalui
jalur informal, maka tidak terbentuk suatu keyakinan yang kuat dan
akhirnya berdampak pada ketidak mampuannya untuk menilai apakah
perilaku merokok merupakan suatu hal yang positif atau negatif.
Melalui proses pembelajaran formal dalam pendidikan kesehatan di
SDN Bendogerit 1 diharapkan sikap subyek belajar yang sudah positif
terhadap pencegahan merokok semakin meningkat, karena pendidikan
kesehatan merupakan stimulus yang terencana untuk meningkatkan
pengetahuan dan sikap subyek belajar.

Perbandingan hasil pretest dengan posttest pada kedua
kelompok, menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan
metode jigsaw setelah diberikan pendidikan kesehatan, terjadi
peningkatan sikap untuk ketegori positif dari 9 responden (45%)
menjadi 14 responden (70%). Hasil uji beda diperoleh p-value=<0,025,
artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara sikap pencegahan
merokok sebelum dan setelah perlakuan. Kemudian pada kelompok
yang menggunakan metode ekspositori, setelah diberikan pendidikan
kesehatan tidak terjadi peningkatan sikap sehingga untuk ketegori
positif tetap 7 responden (35%). Hasil uji beda diperoleh p=1,000,
artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara sikap
pencegahan merokok sebelum dan setelah perlakuan.

Menurut WHO dalam Notoatmodjo (2010), perubahan perilaku
dengan pendidikan akan menghasilkan perubahan yang efektif bila
dilakukan melalui metode diskusi partisipasi. Hasil penelitian Dale
dalam Warsono (2013), bahwa pembelajaran dengan melakukan
presentasi secara partisipatori, dapat meningkatkan kemampuan
mengingat terhadap pesan yang telah dibahas yaitu sebesar 90%
setelah 3 jam dan 70% setelah 3 hari. Pembelajaran dengan metode
jigsaw merupakan proses belajar yang menerapkan metode diskusi
partisipasi melalui presentasi secara partisipatori yaitu belajar dengan
cara praktik mengajar. Hal tersebut mampu mengkondisikan subyek
belajar untuk selalu berpikir tentang hal yang dapat dilakukan selama
pembelajaran sehingga berdampak pada pembentukan sikap positif
terhadap pencegahan merokok.

Menurut Bloom dalam Sudjana, tahap valuing domain sikap
merupakan kemampuan dalam memberikan penghargaan,

56 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

berkomitmen atau menilai terhadap suatu objek tentang hal yang baik
atau buruk. Gejala sikap pada tahap valuing pada pembelajaran dengan
metode jigsaw berbentuk suatu kondisi belajar yang dapat
menggerakan seluruh anggota kelompok secara sadar berpartisipasi
dalam melakukan aktifitas belajar yang akhirnya dapat tercipta
lingkungan belajar dimana subyek belajar secara aktif menyelesaikan
tugas sehingga dapat menumbuhkan keyakinan dan meningkatkan
gairah belajar masing-masing anggota kelompok untuk mampu menilai
kebenaran yang ada dalam materi belajar tersebut.

Perbedaan rata-rata sikap pencegahan merokok pada kedua
kelompok dari hasil uji analisis diperoleh perbedaan sikap positif
terhadap pencegahan merokok lebih tinggi pada kelompok yang
menggunakan metode jigsaw daripada kelompok yang menggunakan
metode ekspositori. Pendidikan kesehatan yang menggunakan metode
jigsaw memberikan pengaruh pada sikap terhadap pencegahan
merokok pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian yang
dilakukan oleh Kusuma (2013), pengetahuan mahasiswa yang
mengikuti pembelajaran dengan metode Jigsaw, meningkat sebesar
63% (p<0,001) dan mahasiswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional ceramah hanya meningkat sebesar 45% (p<0,001).
Terdapat perbedaan pengetahuan lebih tinggi pada kelompok
eksperimen daripada kelompok kontrol, didapatkan (p=0,002). Sikap
mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode Jigsaw,
meningkat sebesar 13,3% (p<0,001) dan mahasiswa yang mengikuti
pembelajaran konvensional ceramah, peningkatan sebesar 8,5%
(p<0,001). Terdapat perbedaan sikap positif lebih tinggi pada
kelompok eksperimen daripada kelompok kontrol, didapatkan
(p=0,001).

Memperhatikan paparan di atas dapat memberikan gambaran
yang jelas bahwa telah terjadi peningkatan respon menilai subyek
belajar terhadap stimulus pencegahan merokok pada kelompok yang
menggunakan metode jigsaw. Kondisi demikian menandakan bahwa
intervensi dalam bentuk pendidikan kesehatan yang menggunakan
metode jigsaw memberikan pengaruh terhadap sikap pencegahan
merokok pada anak kelas V SDN Bendogerit 1. Peningkatan
perubahan sikap subyek belajar terhadap pencegahan merokok pada

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 57

kelompok ini sangat dipengaruhi oleh berbagai hal. Menurut
Notoatmodjo (2010), seseorang dalam menentukan sikap yang utuh,
pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan
penting. Selain itu menurut Azwar (2012), pembentukan sikap
seseorang sangat dipengaruhi antara lain yaitu pengalaman individu,
pengaruh orang lain yang dianggap penting dan faktor emosional.

Faktor pengetahuan, pengetahuan subyek belajar tentang
pencegahan merokok pada kelompok yang menggunakan metode
jigsaw setelah diberikan intervensi terjadi peningkatan pada ketegori
cukup dari 5 responden (25%) menjadi 9 responden (45%) dan yang
kategori baik diperoleh 5 responden (25%). Subyek belajar dapat
memberikan respon menilai bila didalam dirinya memiliki kemampuan
kognitif yang memadai. Pesan kesehatan tentang kiat menghindari
perilaku merokok yang disampaikan dalam pembelajaran dengan
metode jigsaw dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan
kognitif, sebagai modal dalam menentukan sikap subyek belajar
terhadap pencegahan merokok. Pesan tersebut bersifat sugestif yang
mempengaruhi perasaan seseorang sehingga dapat memberikan
landasan yang kuat dalam menilai obyek pembelajaran tersebut dan
membentuk suatu sikap positif terhadap pencegahan merokok.

Faktor pengalaman individu, menurut WHO dalam
Notoatmodjo (2010), sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri
atau dari orang lain yang paling dekat. Subyek belajar pada kelompok
yang menggunakan metode jigsaw mempunyai pengalaman tentang
perilaku merokok dan risiko bahaya akibat asap rokok, yaitu 90%
hidup bersama seorang ayah perokok serta pengalaman dari membaca
berbagai sumber termasuk internet saat diskusi kelompok. Karena
adanya keterlibatan faktor emosi terhadap obyek pengalaman tersebut,
maka dapat menimbulkan tanggapan yang kuat sebagai pengalaman
pribadi, sehingga kondisi ini lebih mudah untuk membentuk sikap
positif.

Faktor emosional, menurut Notoatmodjo (2010), emosi adalah
peristiwa kejiwaan yang dirasakan atau dipersepsikan secara subyektif
dan dipengaruhi antara lain oleh kondisi dan situasi lingkungan
sehingga dapat mempengaruhi logika berpikir seseorang.
Pembelajaran dengan metode jigsaw dapat memacu subyek belajar
untuk berpartisipasi aktif mencari pengetahuan sendiri melalui

58 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

kegiatan diskusi kelompok. Situasi tersebut mendorong subyek belajar
terlibat secara fisik maupun emosional karena merasa
bertanggungjawab dalam mempertahankan eksistensi kelompok. Hal
tersebut dapat berdampak pada keyakinannya untuk menjadikan
belajar sebagai suatu kebutuhan, sehingga tanpa disadari dapat
meningkatkan perubahan sikap positif subyek belajar.

Faktor pengaruh orang lain yang dianggap penting, sesuai PP
No. 74 tahun 2008 tentang guru, pada pasal 3 ayat 5, seorang guru
memiliki kompetensi kepribadian, yaitu menjadi teladan bagi peserta
didik dan masyarakat. Pada ayat 6 guru memiliki kompetensi sosial,
yaitu mampu berkomunikasi lisan, tulis, dan atau isyarat secara santun,
serta bergaul secara efektif dengan peserta didik. Pembelajaran dengan
metode jigsaw di kelas V SDN Bendogerit 1 tentang topik kiat
menghindari perilaku merokok dibawakan oleh seorang guru kelas
sebagai fasilitator. Dalam hal ini guru sebagai fasilitator menyampaikan
pesan tersebut dapat menimbulkan kecenderungan pada subyek
belajar untuk memilih sikap yang lebih konformis karena seorang guru
sebagai tokoh masyarakat formal yang sangat berpengaruh di
lingkungan pendidikan maupun di lingkungan masyarakat umum.

E. Hasil Pengukuran Niat Pencegahan Merokok

Ajzen (2006) dalam teori Planned Behavior menjelaskan bahwa
intensi merupakan indikasi kesiapan atau kecenderungan seseorang
untuk melakukan perilaku tertentu, dan merupakan anteseden
langsung dari perilaku. Niat seseorang terhadap pencegahan merokok
merupakan kekuatan respon kecenderungan berperilaku individu
untuk menghindari perilaku merokok.

Niat subyek belajar terhadap pencegahan merokok sebelum
perlakuan pada kedua kelompok dari hasil uji beda didapatkan tidak
terdapat perbedaan niat yang signifikan (U=190, p=0,799). Menurut
Ajzen (1991), kekuatan intention individu sangat ditentukan oleh tiga
determinan dasar, meliputi sikap terhadap perilaku (Attitudes Toward
Behavior), norma subyektif (Subjective norms) dan persepsi terhadap
kendali perilaku (Perceived behavioral control). Merujuk pada hasil
pretest pengetahuan dan sikap subyek belajar terhadap pencegahan
merokok, diperoleh pengetahuan dalam kategori kurang, pada

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 59

kelompok yang menggunakan metode jigsaw sebanyak 15 responden
(75%) dan pada kelompok yang menggunakan metode ekspositori
sebanyak 14 responden (70%). Kemudian sikap subyek belajar
terhadap pencegahan merokok dalam kategori negatif, pada kelompok
yang menggunakan metode jigsaw sebanyak 11 responden (55%) dan
pada kelompok yang menggunakan metode ekspositori sebanyak 13
responden (65%). Memperhatikan data tersebut diatas dapat
digunakan sebagai acuan bahwa lemahnya niat terhadap pencegahan
merokok subyek belajar disebabkan oleh beberapa faktor antara lain
adalah kurangnya pengetahuan dan adanya sikap negatif subyek
belajar terhadap pencegahan merokok. Walaupun di lingkungan
sekolah ada peraturan yang mendukung tentang larangan merokok
tetapi mayoritas subyek belajar kurang memperhatikan karena
kurangnya sosialisasi secara formal. Melalui proses pembelajaran
formal dalam pendidikan kesehatan di SDN Bendogerit 1 diharapkan
niat subyek belajar terhadap pencegahan merokok yang sudah hampir
50% dalam kategori kuat dapat semakin meningkat.

Perbandingan hasil pretest dengan posttest pada kedua
kelompok menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan metode
jigsaw, niat subyek belajar terjadi peningkatan untuk ketegori kuat dari
9 responden (45%) menjadi 16 responden (80%). Hasil uji beda
diperoleh p-value = <0,020 lebih kecil dari α=0,05 sehingga Ho ditolak,
artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara niat pencegahan
merokok sebelum dan setelah intervensi. Kemudian pada kelompok
yang menggunakan metode ekspositori, niat subyek belajar tidak
terjadi peningkatan untuk ketegori kuat tetap 9 responden (45%). Hasil
uji beda diperoleh p-value =0,546 lebih besar dari α=0,05 sehingga Ho
diterima, artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara niat
pencegahan merokok sebelum dan setelah intervensi.

Dalam hal ini intensi diartikan lebih kepada niat subyek belajar
untuk mencegah merokok berdasarkan pada sikap dan keyakinan
individu maupun keyakinan pihak lain yang mempengaruhinya untuk
menghindari perilaku merokok. Pembelajaran dengan metode jigsaw,
materi dibahas melalui diskusi kelompok kecil, yaitu 4-5 orang dalam
satu kelompok. Pesan kesehatan yang dibahas dalam diskusi tersebut
dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan kognitif subyek
belajar, yang digunakan sebagai modal terbentuknya sikap. Karena

60 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

pesan tersebut bersifat sugestif maka mampu mempengaruhi persepsi
subyek belajar untuk menilai isi pesan dalam materi belajar, sehingga
dengan mudah sikap positif dapat terbentuk. Selain itu, adanya tekanan
serta dorongan dari lingkungan sekitarnya, dalam hal ini seorang
fasilitator pembelajaran yang pada hakekatnya adalah seorang guru
kelas, saat menyampaikan pesan tersebut juga mampu membangkitkan
motivasi subyek belajar untuk meningkatkan kekuatan respon
kecenderungan terhadap pencegahan perilaku merokok.

Menurut Majid (2014), Metode pembelajaran ekspositori
merupakan bentuk dari Teacher centered approach, artinya pendidik
memegang peran yang sangat dominan dalam kegiatan pembelajaran.
Beberapa karakteristik pembelajaran ekspositori, yaitu: (1)
Penyampaian materi belajar secara verbal dan terstruktur dengan
harapan subyek belajar dapat menguasahi materi belajar secara baik.
(2) Materi belajar yang disampaikan adalah materi yang sudah ada,
sehingga tidak menuntut subyek belajar untuk berfikir ulang. (3)
Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi belajar secara
benar. Pembelajaran dengan metode ekspositori lebih banyak
diberikan melalui ceramah, sehingga subyek belajar tidak mampu
membangun kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta
kemampuan berpikir kritis. Selain itu juga komunikasi lebih banyak
one-way communication, sehingga yang dimiliki subyek belajar hanya
terbatas sampai pada kemampuan pengetahuan saja. Kondisi
pembelajaran tersebut tidak mampu mendorong subyek belajar untuk
terlibat secara fisik maupun emosional maka dampaknya materi
pembelajaran tersebut tidak mampu menyentuh perasaan subyek
belajar. Karena subyek belajar kurang menghayati, bahwa materi
pelajaran tersebut sangat berguna bagi diri pribadinya dan hanya
dianggap sebagai pengetahuan saja, maka dalam dirinya tidak
terbangun respon niat pencegahan merokok.

Perbedaan rata-rata niat pencegahan merokok pada kedua
kelompok dari hasil uji diperoleh beda rata-rata niat pada kelompok
yang menggunakan metode jigsaw lebih tinggi dari pada kelompok
yang menggunakan metode ekspositori. Kesimpulannya bahwa
pendidikan kesehatan yang menggunakan metode jigsaw memberikan
pengaruh terhadap kekuatan respon kecenderungan dalam
menghindari perilaku merokok pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 61

Memperhatikan hasil analisis tersebut di atas dapat
memberikan gambaran yang jelas bahwa telah terjadi perubahan niat
pencegahan merokok subyek belajar pada kelompok yang
menggunakan metode jigsaw. Kondisi demikian menandakan bahwa
intervensi dalam bentuk pendidikan kesehatan yang menggunakan
metode jigsaw memberikan pengaruh terhadap perubahan niat
pencegahan merokok pada anak kelas V SDN Bendogerit 1. Kekuatan
respon niat subyek belajar terhadap pencegahan merokok pada
kelompok yang menggunakan metode jigsaw juga ditentukan oleh tiga
determinan dasar.

Faktor sikap terhadap perilaku, menurut Ajzen (2005),
Attitudes Toward Behavior adalah faktor personal alami yang
merupakan evaluasi positif atau negatif terhadap konsekuensi atau
hasil dari perilaku yang akan dimunculkan. Faktor determinan dari
sikap terhadap perilaku ditentukan oleh outcome evaluation dan
behavioral beliefs. Hasil posttest sikap subyek belajar terhadap
pencegahan merokok pada kelompok yang menggunakan metode
jigsaw diperoleh data, yaitu: sikap negatif mengalami penurunan
menjadi 6 responden (30%), dan terjadi peningkatan pada sikap positif
dari 9 responden (45%) menjadi 14 responden (70%). Artinya bahwa
mayoritas subyek belajar telah mempertimbangkan untuk mengambil
keputusan dengan memilih option setuju dengan pencegahan perilaku
merokok atau tidak setuju dengan perilaku merokok. Keputusan
subyek belajar tersebut merupakan suatu keyakinan terhadap hasil
atau konsekuensi yang didapat saat perilaku tersebut bisa diwujudkan
(behavioral beliefs). Dengan alasan bahwa perilaku merokok dapat
merusak kesehatan diri dan orang disekitarnya. Pernyataan tersebut
merupakan penilaian subyek belajar terkait untung-rugi yang
didapatkan dari suatu perilaku (Outcome evaluation).

Faktor norma subyektif, menurut Ajzen (2005), Subjective
norms adalah merupakan persepsi individu terhadap pengaruh
lingkungan sosial yang mampu memberi referensi untuk mewujudkan
sebuah perilaku. Norma subjektif merupakan fungsi dari normatif
beliefs dan motivation to comply. Normative beliefs adalah keyakinan
mengenai suatu perilaku yang bersifat normatif atau perilaku yang
diharapkan oleh orang-orang yang memiliki pengaruh (significant
person) terhadap subjek. Motivation to comply adalah daya dorong

62 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

suatu referensi dalam mempengaruhi subjek untuk mewujudkan
perilaku sesuai harapan. Topik kiat menghindari perilaku merokok
yang disampaikan oleh seorang guru kelas V SDN Bendogerit 1 dalam
hal ini sebagai fasilitator pembelajaran dengan metode jigsaw, diakhir
pembelajaran fasilitator melakukan brain storming untuk mengetahui
respon terhadap proses pembelajaran, sebagai pesan penutup dalam
pembelajaran, yaitu mengajak subyek belajar untuk selalu waspada
terhadap pengaruh perilaku merokok dan menekankan kepada para
subyek belajar untuk tidak mencoba-coba terhadap perilaku merokok,
menyarankan secepatnya berhenti bila sudah terlanjur merokok.
Himbauan atau ajakan tersebut sangat beralasan, karena merokok
dapat menimbulkan ketagihan dan mengganggu kesehatan (normatif
beliefs). Setelah brain storming fasilitator mengajak para subyek belajar
untuk mengucapkan pesan tersebut secara bersama-sama dengan
keras, yaitu tentang pernyataan berikut: Waspadalah…!!!”, “ Say no to
smoke…!!!, “Stop smoking…!!!”, (motivation to comply). Pernyataan
tersebut dapat mempengaruhi persepsi para subyek belajar terhadap
guru sebagai referensi sehingga kekuatan niat terhadap pencegahan
perilaku merokok dapat terwujud.

Faktor persepsi terhadap kontrol perilaku, menurut Ajzen
(2005), Perceived behavioral control adalah merupakan persepsi
individu terhadap kemampuannya dalam menjalankan suatu perilaku.
Persepsi terhadap kontrol perilaku terbentuk dari control beliefs dan
power of control beliefs. Hasil posttest niat subyek belajar terhadap
pencegahan merokok pada kelompok yang menggunakan metode
jigsaw diperoleh data, yaitu ketegori kuat dari 9 responden (45%)
menjadi 16 responden (80%), artinya setelah diberikan pendidikan
kesehatan dengan metode Jigsaw mayoritas subyek belajar merasa
mampu untuk tetap tidak merokok. Hal ini menunjukkan bahwa subyek
belajar tidak mempunyai pengalaman merokok sebelumnya, sehingga
tidak ada pertimbangan khusus bagi subyek belajar untuk menjawab
kuesioner niat pencegahan merokok, karena sebagai Control beliefs
mayoritas subyek belajar merasa yakin bahwa dirinya mampu
mempertahankan statusnya untuk tetap tidak melakukan percobaan
merokok dan tidak merasakan adanya kesulitan apalagi diperkuat oleh
pengetahuan dan sikapnya setelah mendapatkan pendidikan
kesehatan. Selain itu juga didukung adanya peraturan sekolah tentang

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 63

larangan merokok, termasuk ada banner yang dibentangkan
diperpustakaan yang berisi informasi tentang bahaya merokok. Hal ini
dapat digunakan sebagai Power of control beliefs yang dapat
mempengaruhi keputusan subyek belajar untuk mewujudkan perilaku
pencegahan merokok.

64 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

BAB 10

PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI
PEMBELAJARAN DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN

Pembelajaran merupakan proses pengembangan kreativitas
berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir subyek
belajar, serta dapat meningkatkan dan mengonstruksi pengetahuan
baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan dan pengembangan
yang baik terhadap materi.

Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dalam
mengukur kualitas pembelajaran. Hasil pembelajaran yang berkualitas
dapat diperoleh melalui evaluasi dengan instrumen yang hadal.
Menyusun instrumen evaluasi pembelajaran dalam pendidikan
kesehatan dapat dilakukan dengan langkah-langkah, sebagai berikut:

A. Pengembangan Instrument Evaluasi

Instrument evaluasi yang telah dikembangkan dalam rancangan
pembelajaran dalam buku ini bentuk, yaitu:
1. Kuesioner pengetahuan pilihan tunggal
2. Kuesioner sikap dengan skala Likert
3. Kuesioner niat dengan skala Likert

B. Tujuan Pembelajaran

Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan pegangan
seorang pendidik dalam proses pembelajaran di dalam kelas sehingga
subyek belajar dapat mencapai tujuan atau kompetensi yang
diharapkan.

Untuk mengukur ketercapaian tujuan atau kompetensi subyek
belajar dapat diukur menggunakan alat ukur berupa instrument
evaluasi.

Untuk menyusun instrument evaluasi pembelajaran hal yang
harus dilakukan antara lain yaitu membuat kisi-kisi soal dengan acuan
tujuan pembelajaran, sebagai berikut:

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 65

1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pembelajaran dengan metode jigsaw

selama 2x45 menit, audiens mampu memahami prosedur latihan
pencegahan perilaku merokok.

2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pembelajaran dengan metode jigsaw selama
2x45 menit, audiens mampu:
a. Mengidentifikasi peringatan ancaman kesehatan pada
bungkus rokok.
b. Menyebutkan jenis rokok dengan berbagai ancaman
kesehatan.
c. Mengingat kembali kandungan zat kimia dalam asap rokok.
d. Mengingat kembali arti perilaku merokok dengan kata kata
sendiri.
e. Mengingat kembali tahapan perilaku merokok.
f. Menafsirkan faktor yang mempengaruhi perilaku merokok.
g. Menjelaskan dampak perilaku merokok terhadap ancaman
fisik.
h. Menjelaskan dampak perilaku merokok terhadap ancaman
kejiwaan.
i. Menjelaskan teknik menghindari perilaku merokok dengan
tepat.

C. Kisi-Kisi Instrumen Evaluasi Pembelajaran

Mengacu pada tujuan belajar maka dapat dibuat kisi-kisi instrumen
evaluasi dalam pembelajaran ini sebagai berikut:

66 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

1. KISI – KISI PENYUSUNAN KUESIONER PENGETAHUAN

JENIS INSTITUSI : Sekolah Dasar
POKOK BAHASAN : Kiat menghindari perilaku merokok
PROGRAM : Pendidikan Kesehatan
ALOKASI WAKTU : 15 menit
JUMLAH SOAL : 15 butir soal
BENTUK SOAL : Pilihan Tunggal

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 67

2. KISI – KISI PENYUSUNAN KUESIONER SIKAP

JENIS INSTITUSI : Sekolah dasar
JUMLAH SOAL : 10 butir soal
PROGRAM : Pendidikan Kesehatan
BENTUK SOAL : Non-tes
ALOKASI WAKTU : 10 menit
DIMENSI : Sikap pencegahan merokok

NO INDIKATOR NO. KUESIONER YANG JML
BUTIR
MENGUKUR %
SOAL 100%
KOGNITIF AFEKTIF KONATIF

(+) (-) (+) (-) (+) (-)

Respon evaluatif tentang:

1 Peringatan ancaman 1

kesehatan dalam bungkus

rokok

2 Jenis rokok yang dapat 2

mengancam kesehatan

3 Kandungan zat kimia 3

rokok

4 Faktor yang 4

mempengaruhi perilaku

merokok

5 Dampak/ bahaya perilaku 6 5,7

merokok

6 Teknik menghindari 10 8,9

perilaku merokok

Jumlah Butir Soal 3 11 5

Prosentase

3. KISI – KISI PENYUSUNAN KUESIONER NIAT/ INTENSI

JENIS INSTITUSI : Sekolah dasar
JUMLAH SOAL : 5 butir soal
PROGRAM : Pendidikan Kesehatan
BENTUK SOAL : Non-tes

ALOKASI WAKTU : 5 menit
DIMENSI : Niat pencegahan merokok

NO INDIKATOR NO. KUESIONER

Respon kecenderungan berperilaku: 1,2,3,4,5
1 Pencegahan perilaku merokok

68 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

D. Penyusunan Butir Soal (Kuesioner)

Bentuk tes yg mengandung kemungkinan jawaban atau
respons yang harus dipilih oleh peserta tes tingkat usia sekolah dasar
untuk soal pengetahuan umumnya dalam bentuk tes pilihan tunggal
biasa. Dalam hal ini instrument evaluasi yang pernah diaplikasikan dan
sudah dilakukan uji validitas sebagai berikut:

Soal Pengetahuan
Dalam menyusun soal pengetahuan harus disertakan petunjuk

pengerjaan agar peserta tes tidak salah mengambil keputusan.
Kuesioner pengetahuan ini berjumlah 15 item pertanyaan pilihan
tunggal.

Petunjuk:
Jawablah pertanyaan dengan memilih satu jawaban yang
paling benar, dengan memberikan tanda (X) pada huruf
didepan pilihan jawaban anda!

1. Pesan kesehatan yang terdapat pada bagian luar bungkus rokok
sebagai peringatan pada konsumen rokok, yaitu berupa gambar
seram dan tulisan…..
a. Merokok akan membunuhmu
b. Merokok dapat membunuhmu
c. Merokok akan dapat membunuhmu“
d. Merokok membunuhmu
Answer: D

2. Racun utama pada asap rokok, adalah….
a. nicotin
b. tar
c. karbon monoksida (CO)
d. nicotin, karbon monoksida (CO) dan tar
Answer: D

3. Karbon monoksida (CO), dari hasil pembakaran rokok yang
terhisap bersamaan asap rokok, merupakan gas beracun yang dapat
mengakibatkan kematian sel tubuh, karena…
a. sifat gas CO tidak berbau tapi berasa dan berwarna
b. sifat gas CO sangat berbau, berasa dan berwarna
c. darah lebih mudah mengikat CO dari pada O2
d. darah lebih mudah mengikat O2 dari pada CO
Answer: C

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 69

4. Satu faktor penyebab perilaku anak coba-coba merokok, adalah ...
a. orang tua yang perokok
b. Dibatasinya tayangan iklan rokok di media TV
c. uang saku yang mencukupi
d. pengaruh pergaulan dengan teman sebaya
Answer: A

5. Iklan rokok yang menampilkan gambaran bahwa merokok sebagai
lambang “kejantanan”, membuat seseorang seringkali meniru
perilaku tersebut, karena iklan tersebut disangka….
a. tidak menjadi idola
b. tidak patut ditiru
c. tidak menyenangkan
d. tidak menyesatkan
Answer: D

6. Kejadian kanker paru pada seorang perokok merupakan akibat
adanya endapan partikel Tar yang cukup lama pada paru. Hal ini
terjadi karena adanya proses.....
a. radang paru menahun
b. pembengkakan paru
c. rangsangan kronis terhadap sel paru
d. gagal nafas paru
Answer: C

7. Penumpukan dahak dalam saluran nafas perokok, dapat menjadi
perantara berkembangnya bakteri penyebab penyakit…
a. radang telinga dan hidung
b. radang tonsil/ amandel
c. bronkhitis kronis/menahun
d. tuberkulosa paru
Answer: C

8. Plak yang membuat warna kuning pada gigi perokok dapat
berdampak merusak gigi, yaitu….
a. gigi mudah radang
b. gigi mudah goyang
c. gigi mudah tanggal
d. gigi mudah goyang dan tanggal
Answer: D

70 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

9. Perokok pasif dapat menderita suatu penyakit kanker paru, karena
terpapar bahan berbahaya dalam ….
a. rokok
b. asap rokok
c. tembakau
d. bungkus rokok
Answer: B

10. Efek ketagihan merokok pada seorang perokok secara kimiawi
disebabkan oleh efek……
a. Nikotin yang dihirup bersamaan asap rokok
b. Tar yang dihirup bersamaan asap rokok
c. gas CO yang dihirup bersamaan asap rokok
d. merokok yang sudah menjadi kebiasaan
Answer: A

11. Dalam tubuh perokok, sel darah merah lebih mampu untuk
mengikat CO dibanding O2, sehingga pada otak dapat mengalami
gangguan…
a. stroke
b. jantung koroner
c. tekanan darah tinggi
d. tbc otak
Answer: A

12. Perilaku merokok ditinjau dari segi kesehatan perlu dihindari,
karena akan menjerumuskan kita pada perilaku merusak….
a. kesehatan pribadi
b. kesehatan orang lain
c. kesehatan diri dan orang disekitarnya
d. merusak ekonomi/ boro
Answer: C

13. Penolakan tawaran merokok dari teman, antara lain cukup dengan
kata-kata “Tidak, terima kasih!”. Hal ini bertujuan agar.....
a. penolakan tersebut cukup singkat
b. tidak menimbulkan banyak pertanyaan
c. tidak menghabiskan tenaga
d. tidak menghabiskan waktu
Answer: B

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 71

14. Bila seseorang terlanjur melakukan percobaan merokok dan
akhirnya menyadari kalau perilaku tersebut tidak sesuai pola
hidup sehat, maka langkah yang harus dilakukan adalah….
a. mencari informasi tentang manfaat merokok
b. merencanakan untuk berhenti merokok
c. secepatnya berhenti merokok
d. langsung berhenti merokok dan tidak coba-coba lagi
Answer: D

15. Percobaan merokok kalau dilanjutkan akan menjadi terbiasa
merokok, maka akan membuat hidup kita selalu.........
a. santai dan tidak canggung dalam bergaul
b. punya ide yang cemerlang dan spontan
c. kurang bersemangat menghadapi tantangan
d. ketergantungan dan menderita
Answer: D

Soal Sikap
Dalam menyusun kuesioner sikap harus disertakan petunjuk

pengerjaan agar peserta tes tidak salah mengambil keputusan.
Kuesioner sikap dengan skala Likert ini berjumlah 10 item pernyataan
terdiri dari 4 item favourable dan 6 item unfavourable.

Petunjuk:
Di bawah ini ada 10 pernyataan. Baca dan pahami, kemudian
silahkan memilih satu jawaban sesuai pendapat anda,
dengan memberikan tanda silang pada huruf didepan pilihan
jawaban anda, yaitu:
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

1. Peringatan ancaman kesehatan berupa tulisan dan gambar seram
pada bungkus rokok sebaiknya ditiadakan, agar para perokok tidak
takut untuk merokok.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

72 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

2. Walaupun dipromosikan sebagai produk rokok rendah Tar, asap
rokok yang terhisap tetap mengandung Tar yang dapat mengganggu
kesehatan seseorang.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

3. Saya akan mencoba merokok, karena saya ingin membuktikan
apakah benar rokok yang dipromosikan rendah Tar masih tetap
mengandung Tar dan Nicotine.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

4. Saya tidak akan terpengaruh iklan rokok, walaupun iklan rokok
tersebut menampilkan adegan bintang idola saya.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

5. Saya tidak akan menghindar dari lingkungan orang-orang yang
sedang merokok, walaupun berisiko menjadi seorang perokok pasif.
Hal ini saya lakukan karena demi menjaga persahabatan.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

6. Penyebab penyakit Bronkhitis salah satunya merupakan dampak
buruk dari asap rokok, sehingga hal tersebut membuat saya merasa
takut untuk ikut-ikutan mencoba merokok.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

7. Saya tidak ikut mendukung “Gerakan anti rokok”, walaupun kanker
paru 90% karena akibat merokok, karena kalau pabrik rokok tutup
karyawannya menjadi menderita,
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 73

8. Latihan fisik tidak selalu mampu meningkatkan konsentrasi belajar
dan membuat suasana hati lebih positif, sehingga tidak menjamin
saya mampu menjauhkan diri dari pengaruh perilaku merokok.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

9. Kalau saya ditawari untuk merokok teman saya, maka saya akan
mengatakan “Tidak, Terima kasih !!, kapan-kapan saja kalau saat
santai”.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

10. Pesan kesehatan dan gambar seram dalam bungkus rokok,
merupakan peringatan yang ditujukan kepada masyarakat agar
tidak berperilaku merokok.
a. Setuju
b. Ragu-Ragu
c. Tidak Setuju

Soal Niat
Dalam menyusun kuesioner niat harus disertakan petunjuk

pengerjaan agar peserta tes tidak salah mengambil keputusan.
Kuesioner niat dengan skala Likert ini berjumlah 5 item pernyataan
favourable.

Petunjuk:
Di bawah ini ada 5 pernyataan niat. Baca dan pahami,
kemudian silahkan memilih satu jawaban sesuai niat anda,
dengan memberikan tanda (X) pada huruf didepan pilihan
jawaban anda, yaitu:
a. Niat kuat
b. Niat ragu-ragu
c. Niat lemah
Pilihlah jawaban yang paling sesuai menurut saudara
sendiri karena tidak ada pilihan yang dianggap salah.

1. Saya tidak akan terpengaruh orang tua dan teman saya yang suka
merokok dan saya juga tidak berniat untuk merokok selamanya,
karena bagi saya tidak ada manfaatnya.
a. Niat kuat

74 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

b. Niat ragu-ragu
c. Niat lemah
2. Saya akan gunakan waktu luang untuk latihan olah raga dari pada
nongkrong yang tidak produktif, karena hal itu sangat berisiko
terjerumus pada perilaku yang merugi termasuk perilaku
merokok.
a. Niat kuat
b. Niat ragu-ragu
c. Niat lemah
3. Kalau saya ditawari untuk merokok oleh teman saya, pada situasi
serta alasan apapun, maka saya akan mengatakan “tidak, terima
kasih”!.
a. Niat kuat
b. Niat ragu-ragu
c. Niat lemah
4. Di sekolah ada slogan dilarang merokok, untuk itu saya berencana
untuk tidak mencoba merokok walau sekalipun, karena merokok
bisa mengurangi daya ingat dan daya berpikir.
a. Niat kuat
b. Niat ragu-ragu
c. Niat lemah
5. Saya akan jadi pelopor dalam gerakan anti tembakau terutama
untuk diriku dan keluargaku pada saat aku sudah dewasa.
a. Niat kuat
b. Niat ragu-ragu
c. Niat lemah

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 75

BAB 11
PENUTUP

A. Kesimpulan
Beberapa temuan penting yang dipaparkan pada buku ini

diambil dari hasil studi dan pembahasan, maka fakta-fakta berikut
dapat dijadikan acuan dalam implementasi program promosi
kesehatan maupun pengembangan konsep meliputi:

1. Karakteristik Responden
Anak usia sekolah yang menjadi subyek belajar dalam

penerapan metode belajar jigsaw memiliki karakteristik, meliputi: Usia
subyek belajar kelompok yang menggunakan metode jigsaw 70%
berusia 11 tahun dan kelompok yang menggunakan metode ekspositori
85% berusia 11 tahun dengan beda rata-rata umur kedua kelompok
hampir sama atau sebanding. Keluarga serumah yang merokok pada
kedua kelompok adalah ayah, dengan beda rata-rata sebanding.
Sumber informasi tentang perilaku merokok, pada kedua kelompok
dari iklan rokok dengan beda rata-rata sebanding.

2. Pengetahuan Pencegahan Merokok
Pengetahuan pencegahan merokok pada kelompok yang

menggunakan metode jigsaw terjadi peningkatan untuk hasil pretest
ketegori cukup dari 5 subyek belajar (25%), hasil posttest menjadi 9
subyek belajar (45%) dan yang kategori baik diperoleh 5 subyek
belajar (25%). Pendidikan kesehatan yang menggunakan metode
jigsaw memberikan pengaruh secara bermakna (p=<0,001) terhadap
pengetahuan pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

Pengetahuan pencegahan merokok pada kelompok yang
menggunakan metode ekspositori terjadi peningkatan untuk hasil
pretest ketegori cukup dari 6 subyek belajar (30%), hasil posttest
menjadi 7 subyek belajar (35%) dan yang kategori baik diperoleh 1
subyek belajar (5%). Pendidikan kesehatan yang menggunakan metode
ekspositori tidak memberikan pengaruh (p=<0,180) terhadap
pengetahuan pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

76 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

Beda rata-rata pengetahuan pencegahan merokok pada
kedua kelompok lebih tinggi yang menggunakan metode jigsaw (24,15)
dari pada kelompok yang menggunakan metode ekspositori (16,85)
dengan signifikansi (p=0,031), kesimpulannya yaitu pendidikan
kesehatan yang menggunakan metode jigsaw memberikan pengaruh
secara bermakna terhadap peningkatan pengetahuan pencegahan
merokok pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

3. Sikap Pencegahan Merokok
Sikap pencegahan merokok pada kelompok yang

menggunakan metode jigsaw terjadi peningkatan sikap untuk hasil
pretest ketegori positif dari 9 subyek belajar (45%), hasil posttest
menjadi 14 subyek belajar (70%). Pendidikan kesehatan yang
menggunakan metode jigsaw memberikan pengaruh secara bermakna
(p= <0,025) terhadap perubahan sikap positif pada anak kelas V SDN
Bendogerit 1.

Sikap pencegahan merokok pada kelompok yang
menggunakan metode ekspositori tidak terjadi peningkatan, hasil
pretest ketegori positif 7 subyek belajar (35%), hasil posttest ketegori
positif tetap 7 subyek belajar (35%). Pendidikan kesehatan yang
menggunakan metode ekspositori tidak memberikan pengaruh
(p=1,000) terhadap perubahan sikap positif pada anak kelas V SDN
Bendogerit1.

Beda rata-rata sikap pencegahan merokok pada kedua
kelompok lebih tinggi yang menggunakan metode jigsaw (24,00) dari
pada kelompok yang menggunakan metode ekspositori (17,005)
dengan signifikansi (p=0,029), kesimpulannya yaitu pendidikan
kesehatan yang menggunakan metode jigsaw memberikan pengaruh
secara bermakna terhadap perubahan sikap positif pada anak kelas V
SDN Bendogerit 1.

4. Niat Pencegahan Merokok
Niat pencegahan merokok pada kelompok yang

menggunakan metode jigsaw terjadi peningkatan, hasil pretest
ketegori kuat dari 9 subyek belajar (45%), hasil posttest menjadi 16
subyek belajar (80%). Pendidikan kesehatan yang menggunakan

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 77

metode jigsaw memberikan pengaruh secara bermakna (p=<0,020)
terhadap kekuatan niat pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

Niat pencegahan merokok pada kelompok yang
menggunakan metode ekspositori tidak terjadi peningkatan, hasil
pretest ketegori kuat 9 subyek belajar (45%), hasil posttest tetap 9
subyek belajar (45%). Pendidikan kesehatan yang menggunakan
metode ekspositori tidak memberikan pengaruh (p=0,546) terhadap
kekuatan niat pada anak kelas V SDN Bendogerit1.

Beda rerata niat pencegahan merokok pada kedua kelompok
lebih tinggi yang menggunakan mdetode jigsaw (17,00) dari pada
kelompok yang menggunakan metode ekspositori (24,00) dengan
signifikansi (p=0,024), artinya pendidikan kesehatan yang
menggunakan metode jigsaw memberikan pengaruh secara bermakna
terhadap kekuatan niat pada anak kelas V SDN Bendogerit 1.

Pendidikan kesehatan dengan metode jigsaw lebih
berpengaruh daripada metode ekspositori terhadap pengetahuan,
sikap dan niat pencegahan merokok pada anak kelas V sekolah dasar.
Penerapan metode jigsaw dalam proses belajar pada pendidikan
kesehatan mampu meningkatkan kecakapan anak, karena metode
jigsaw merupakan bentuk dari student centered approach yang
mempunyai keunggulan antara lain yaitu mampu menciptakan kondisi
belajar melalui cara belajar dengan praktik mengajar pada masing-
masing anak. Hal tersebut tidak terjadi pada metode ekspositori,
karena strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari
teacher centered approach, sehingga proses pembelajaran dilakukan
dengan teknik ceramah dan tanya jawab secara klasikal yang
didominasi oleh pendidik. Selain itu juga materi belajar yang
disampaikan adalah materi yang sudah ada, sehingga tidak menuntut
subyek belajar untuk berfikir kreatif.

B. Implikasi
Berkaitan dengan simpulan di atas, maka implikasi temuan

tersebut sebagai berikut:
1. Bagi subyek belajar sekolah dasar, diharapkan pengalaman belajar

tersebut bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari, agar generasi
penerus bangsa Indonesia mempunyai kualitas yang tinggi.

78 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

2. Bagi pendidik yang mempunyai tanggungjawab program UKS
dalam proses pembelajaran diharapkan selalu melibatkan peran
serta aktif subyek belajar, sehingga metode jigsaw dapat
diimplementasikan sesuai rancangan pembelajaran yang telah
disetujui kepala sekolah.

3. Bagi tenaga promosi kesehatan di Puskesmas, diharapkan mampu
mensosialisasikan penerapan metode jigsaw dalam pendidikan
kesehatan kepada lembaga terkait, sehingga dapat dijadikan
sebagai metoda alternatif dalam promosi kesehatan.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 79

Daftar Referensi

Ajzen I. Attitude, Personality and Behavior. Milton Keynes: Open University
Press. 2005.

Ambardini RL. Pendidikan Jasmani dan Prestasi Akademik: Tinjauan
Neurosains. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia. 2009; 6(1): 46-52.

Arronson E. Jigsaw in 10 Easy Steps. (Online) 2000; tersedia dari URL:
http://www.jigsaw.org/step.htm. Diakses 1 September 2014.

Astuti K. Gambaran Perilaku Merokok pada Remaja di Kabupaten Bantul.
INSIGHT. 2012;10 (1):77-87

Azwar S. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta. 2012

Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes RI. Bunga Rampai - Fakta
Tembakau dan Permasalahannya, Edisi V, Tahun 2014. Tobacco
Control and Support Center – IAKMI. Jakarta. 2014.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar.
Jakarta: Balitbang Kemenkes RI. Jakarta. 2018.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Fakta Tembakau,
Permasalahannya di Indonesia Tahun 2012. Kementerian Kesehatan
RI. Jakarta. 2012.

Budiman. Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian
Kesehatan. Salemba Medika. Jakarta. 2013.

Budiningsih A. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta. 2012.
Danim S. Perkembangan Peserta Didik. Alfabeta. Bandung. 2010.
Departemen Kesehatan RI. Panduan Kesehatan Olah Raga Bagi Petugas

Kesehatan. (Online) 2002; tersedia dari URL:
http://www.depkes.go.id/. Diakses 1 Januari 2014.
Djamarah SB. Psikologi Belajar. Rineka cipta. Jakarta. 2008.
Eka IR. Perkembangan Peserta Didik. UNY Press. Yogyakarta. 2005
Fishbein, M., & Ajzen, I. Belief, Attitude, Intention and Behavior. Philippines:
Addison-Wesley Publishing Company inc.1975
Hamdayama J. Model Dan Metode Pembelajaran Kreatif Dan Berkarakter.
Ghalia Indonesia. Bogor. 2014.
Herawani. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. EGC. Jakarta. 2001
Hurlock E. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Erlangga. Jakarta. 2005.
Irianto DP. Pedoman Praktis Berolahraga Untuk Kebugaran dan Kesehatan.
Andi. Yogyakarta. 2004.
Komasari D. & Helmi AF. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok pada
Remaja. Jurnal Psikologi Universitas Gajah Mada. 2000; 2(1):37-47.
Kusuma RM. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap
Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Dalam Manajemen Asfeksia Bayi
Baru Lahir. Jurnal Ilmu Kebidanan. 2013; 1 (2): 87-96.
Majid A. Strategi Pembelajaran. PT Rosdakarya. Bandung. 2014.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Peraturan Pemerintah RI Nomor
109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat
Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan; Biro Peraturan

80 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

Perundang-undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat.
Lembaran Negara RI: 2012; 278.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Peraturan Pemerintah RI. Nomor
74 Tahun 2008 Tentang Guru; Lembaran Negara RI: 2008; 194.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan; Biro Peraturan
Perundang-undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat.
Lembaran Negara RI. 2009; 1441.
Mu’tadin Z. Remaja & Rokok. Rabu, (Online) 2009; tersedia dari URL:
http://www.e-psikologi.com/artikel/individual/remaja-rokok.
Diakses 1Januari 2014.
Mujito. Positive Attitude and Intention of Changes in School Age Children on

Prevention of Smoking Behavior Education Post with Jigsaw.
International Journal of Innovative Science and Research Technology.
Volume 2, Issue 7, July – 2017
Muntaha S. Dinamika Perilaku Merokok Pada Remaja Ditinjau Dari Pengaruh
Teman Sebaya dan Terpaan Iklan Rokok. Fakultas Psikologi.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta. 2011.
Notoatmodjo S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta. 2010.
Notoatmodjo S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
2003.
Notoatmodjo S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan. Andi Offset. Yogyakarta. 2005.
Nursalim M. Strategi dan Intervensi Konseling. Akademia Permata. Jakarta
2013.
Pusat Promosi Kesehatan. Panduan Promosi Perilaku Tidak Merokok.
Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 2006.
Rochmah EY. Psikologi Perkembangan. STAIN Ponorogo Press. Ponorogo.
2005.
Rukiyah. Pengaruh Model Kooperatif Teknik Jigsaw Pada Pembelajaran IPA
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri
di Inderalaya. Jurnal Penelitian Pendidikan Paedagogia. 2012; 15 (1):
45-54.
Sabri A. Psikologi Pendidikan. Pedoman Ilmu Jaya. Jakarta. 2010.
Sari MP. Perilaku Merokok Dikalangan Anak Sekolah Dasar di Desa Talang Pito
Kecamatan Bermani Ilir Kabupaten Kepahiang. Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik. Universitas Bengkulu. Bengkulu. 2014.
Sidharta MP. Sikap Perokok Terhadap Pesan Peringatan Bahaya Merokok di
Surabaya. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Pembangunan Nasional Veteran. Jawa Timur. 2011
Sudharmini. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap
Motivasi Belajar dan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V Sekolah Dasar
Gugus IV Jimbaran Kuta Selatan. E-Journal Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan
Dasar.2014; 4 (1):1-10.

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 81

Sudjana N. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo.
Bandung. 2013.

Sunardi. Latihan Asertif. (Online) 2014; tersedia dari
URL:http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA.
Diakses 1 Januari 2014

Suprihatiningrum J. Strategi Pembelajaran: Teori & Aplikasi. Ar Ruzz Media.
Jogjakarta. 2014.

Surjorahardjo S. Anda Dapat Berhenti Merokok. Yayasan Andi. Yogyakarta.
2005.

Suwarto. Dimensi Pengetahuan dan Dimensi Proses Kognitif dalam
Pendidikan. Widyatama. 2010; 19 (1): 76-91.

Syarifuddin A. Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Dalam
Pembelajaran. Jurnal TA’DIB. 2011; 16 (2):210-226.

Taufiq A. Pendidikan Anak di SD. Universitas Terbuka. Jakarta. 2010.
Tawil S. Revisiting Learning; the Treasure Within, Assessing the Influence Of the

1996 Delors Report. UNESCO Education Research and Foresight
Occasional Papers. 2013; 1 (4):1-10.
Warsono. Pembelajaran Aktif: Teori dan Asesment. PT Remaja Rosdakarya.
Bandung. 2013.

82 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

INDEKSASI

A

adiktif 1
adiksi17
afektif 2, 37,38
asetilkolin17
asertif21
affective domain32
applying35
analyzing36
attending38
attitudes Toward Behavior,39,40,59,62
action41
attention54

B

bronkitis1
becoming a smoker11
bronkhitis kronis13
behavioral beliefs55,62
background factors33
brain storming63

C

covert behavior32
cognitive domain32
cognitive37,38
conative37,38
characterization39
control beliefs33,40,63
contex41

D

DNA15
dopamin17
dependensi18
director-motivator27,50

E

emfisema14
expert groups27,28,29
evaluating,29

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 83

external factor controls40

F

fluktuatif9
fasilitator30
favorable55

G

genetic33
general attitude,40

H

hipertensi2
hardware24

I

ISPA2
interdependensi3
industry8
inferiority8
initiation11
imitasi12
intramental33
intermental33
internal control factors40

J

jigsaw3,25
jogging19
jigsaw groups27,28,29

K

konvensional1
kognitif2, 7, 18
kongkrit 8
konformis6,37
karsinogenik10
karbon Monoksida10
kanker14
koroner16
kooperatif29
kooperatif Jigsaw36

84 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

L

learning to know2
learning to do2
learning to be3
learning to live together3
lupus eritematosus12

M

maturasi7
maintenance of smoking11
motivation to comply40,62,63

N

nikotin2, 10,15
nicotiana tabacum,10
nicotiana rustica,10
nitrosamin16
neuron17
norepinefrin18
normatif beliefs40,63

O

operasional konkrit5
overt behavior32,33
organization39
outcome evaluation55,62
one-way communication52,61
option62

P

prevalensi2, 9
Proporsi8,9,16
pyrrolidine10
permisif12
partikel Tar13
plak14
protektif18
psychomotor domain32
psychological34
planned Behavior39,59
perceived behavioral control40,59,63
power of control beliefs33,40,63,64

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 85

personality traits40
power point37
Psychological Tools51
perception54

Q

R

riskesdas1
remembering35,50
receiving38
responding38
role model49

S

sirkesnas1
sense of industry5
serat elastin14
system limbik17
self assertive training19
software24
self-regulation34,51
synthesis36
responding32
subjective norms40,59,62
significant person40,62
Say no to smoke63
Stop smoking63
student centered approach84

T

Tar2,10
together2
transmisi sosial5
transmisi vertikal12
tobacco dependency12
transmisi horisontal12
sistem limbik15
target41
time41
Teacher centered approach61,84

86 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

U

understanding35,50

Unfavorable55
V

valuing,56

W
X
Y
Z

zone of proximal development33

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 87

GLOSARIUM

Adiktif artinya bersifat menimbulkan ketergantungan pada
pemakainya.

Afektif artinya perilaku di mana individu mempunyai kecenderungan
untuk suka atau tidak suka pada objek terkait perasaan seperti
takut, cinta.

Affective domain adalah ranah afektif yang berisi perilaku yang
menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap,
apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

Asertif merupkan kecakapan orang untuk berkata "tidak", untuk
meminta bantuan atau minta tolong orang lain kecakapan untuk
mengekspresikan perasaan-perasaan positif maupun negatif
kecakapan untuk melakukan inisiatif dan memulai pembicaraan.

Asetilkolin merupakan salah satu jenis neurotransmiter (zat kimia
penghantar rangsangan saraf)

Bronkitis adalah peradangan yang terjadi pada saluran utama
pernapasan atau bronkus.

cognitive adalah perilaku di mana individu mencapai tingkat "tahu"
pada objek yang diperkenalkan

cognitive domain adalah ranah perilaku berupa aspek intelektual,
antara lain pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

conative adalah perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu
melakukan sesuatu tindakan terhadap objek

Dependensi artinya ketergantungan.
DNA merupakan singkatan dari deoxyribonucleic acid adalah suatu

asam nukleat yang menyimpan segala informasi biologis yang unik
dari setiap makhluk hidup.
Dopamin adalah senyawa alami tubuh yang memiliki peran penting
pada proses pengiriman sinyal di dalam otak.
Emfisema adalah kondisi dimana kantung udara di paru-paru secara
bertahap hancur, membuat napas lebih pendek.
expert groups adalah metode pembelajaran melalui pembentukan
kelompok peserta didik yang berperan sebagai ahli dalam materi
yang akan dibahas
fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang untuk
memahami tujuan bersama mereka dan membantu mereka
membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa
mengambil posisi tertentu dalam diskusi.

Favorable pernyataan positif

fluktuatif adalah ketidak tetapan atau guncangan.
Genetic adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada

organisme maupun suborganisme

88 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah

Hardware adalah sebuah komponen fisik yang digunakan oleh sistem
untuk menjalankan perintah yang telah diprogramkan.

Imitasi atau meniru adalah suatu proses kognisi untuk melakukan
tindakan maupun aksi seperti yang dilakukan oleh model dengan
melibatkan indra

Initiation adalah tahap permulaan.
Interdependensi adalah saling ketergantungan.
ISPA adalah Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi

akut yang menyerang satu komponen saluran pernapasan,
tepatnya pernapasan bagian atas
jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan rasa
tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga
pembelajaran orang lain
jigsaw groups adalah tipe pembelajaran kooperatif yang membagi
siswa kedalam beberapa kelompok belajar yang heterogen yang
beranggotakan 3-5 orang dengan menggunakan pola kelompok
asal dan kelompok ahli
jogging adalah berlari pelan atau antara lari dan berjalan untuk

kebugaran fisik.
Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakteraturan

perjalanan hormon yang mengakibatkan tumbuhnya daging pada
jaringan tubuh yang normal.
Karbon Monoksida (CO) adalah gas beracun, tidak berwarna, tidak
berbau, tidak mengiritasi kulit dan mata, namun sangat berbahaya.
karsinogenik adalah sifat mengendap dan merusak terutama pada
organ paru-paru karena zat-zat yang terdapat pada rokok.
konformis adalah suatu jenis pengaruh sosial saat individu mengubah
sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial
yang ada
Kooperatif adalah bersifat kerja sama.
Koroner adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah kaya oksigen

ke jantung.
Learning adalah belajar.
lupus eritematosus merupakan penyakit autoimun dengan variasi

klinis luas dari manifestasi terbatas pada kulit hingga sistemik.
Maturasi adalah proses menjadi dewasa (matang).
Neuron merupakan satuan kerja utama dari sistem saraf yang berfungsi

menghantarkan impuls listrik yang terbentuk akibat adanya suatu
stimulus
nicotiana tabacum adalah tembakau.
Nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang
dihasilkan secara alami oleh berbagai macam tumbuhan, seperti
suku terung-terungan solanaceae dan tembakau yang bersifat

Cooperative Learning : Metode Jigsaw | 89

adiktif.
nitrosamin adalah bahan karsinogenik pada daun tembakau selain

terdapat pada bahan makanan lain.
Norepinefrin adalah kimia organik dalam kelompok katekolamin yang

di dalam otak dan tubuh berfungsi sebagai hormon dan
neurotransmitter, yang berfungsi untuk memobilisasi otak dan
tubuh untuk bertindak.
Partikel Tar merupakan bagian partikel rokok berupa senyawa
polinuklin hidrokarbon aromatika.
Plak gigi juga dikenal sebagai biofilm gigi atau biofilm plak bakteri,
merupakan salah satu penyebab utama kerusakan gigi dan
penyakit gusi.
Preparatory artinya persiapan atau awal
prevalensi adalah proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik
tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Proporsi adalah suatu keseimbangan antara satu benda dengan benda
lainnya dalam berbagai pertimbangan.
Protektif adalah melindungi.
psychomotor domain atau ranah psikomotor adalah kemampuan yang
dihasilkan oleh fungsi motorik manusia yaituberupa
keterampilan untuk melakukan sesuatu.
Pyrrolidine merupakan komponen yang terdapat dalam nicotina

tabacum.
Riskesdas singkatan dari Riset Kesehatan Dasar.
sense of industry artinya mencapai kesadaran akan kerajinan.
serat elastin adalah protein pada jaringan tubuh yang membantu untuk

menjaga kelenturan agar tetap fleksibel dan kencang.
Sirkesnas singkatan dari Survei Indikator Kesehatan Nasional
sistem limbik adalah himpunan struktur otak yang terletak pada kedua

sisi talamus, tepat di bawah serebrum.
Software adalah perangkat lunak yang digunakan secara digital.
student centered approach pendekatan pembelajaran yang berpusat

pada peserta didik
Teacher centered approach pendekatan pembelajaran yang berpusat

pada guru
tobacco dependency sebagai perilaku penggunaan tembakau yang

menetap.
Together artinya selalu bersama-sama

Unfavorable pernyataan negatif

zone of proximal development sebagai fungsi atau kemampuan yang
belum matang yang masih berada pada proses pematangan,
dan akan menjadi matang melalui proses interaksi dengan
orang dewasa.

90 | Promosi Perilaku Tidak Merokok pada Kelompok Anak Usia Sekolah


Click to View FlipBook Version