The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KTI Literatur Review_Ayu wulandari_077-7_47_34

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by shunnarirescue, 2023-01-09 00:20:46

KTI Literatur Review_Ayu wulandari_077-7_47_34

KTI Literatur Review_Ayu wulandari_077-7_47_34

KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH LATIHAN SENAM KEGEL TERHADAP INKONTINENSIA

URIN PADA PASIEN LANJUT USIA
LITERATURE REVIEW

AYU WULANDARI
NIM. P17230193077

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN

PROGAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2022

PENGARUH LATIHAN SENAM KEGEL TERHADAP INKONTINENSIA
URIN PADA PASIEN LANJUT USIA
KARYA TULIS ILMIAH
STUDI LITERATUR

AYU WULANDARI
P17230193077

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2022

STUDI LITERATUR
PENGARUH LATIHAN SENAM KEGEL TERHADAP INKONTINENSIA

URIN PADA PASIEN LANJUT USIA
Karya Tulis Ilmiah Literature Riview ini disusun sebagai salah satu persyaratan
menyelesaikan Progam Studi Diploma III Keperawatan Jurusan Keperawatan

Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang

AYU WULANDARI
NIM. P17230193077

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN

PROGAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
2022

i

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertada tangan dibawah ini ;

Nama : Ayu Wulandari

NIM :P17230193077

Institusi : Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Malang Progam
Studi D3 Keperawatan Blitar

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Studi Review Pustaka yang saya tulis ini
benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambil
alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau
pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Studi Review
Pustaka ini hasil pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain, maka saya
bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Blitar, 19 Juli 2022
Yang Membuat Pernyataan

Ayu Wulandari
NIM. P17230193077

Mengetahui,
Pembimbing Utama

Ns.M.Miftachul Ulum, S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes
NIP. 19680312 198803 1 001

ii

LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah Literature Review dengan Judul “Pengaruh Latihan
Senam Kegel Terhadap Inkontinensia Urin Pada Pasien Lanjut Usia” oleh Ayu
Wulandari NIM P17230193077, telah disetujui untuk di seminarkan pada tanggal
21 juli 2022

Blitar, 19 Juli 2022
Pembimbing

Ns.M.Miftachul Ulum, S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes
NIP. 19680312 198803 1 001

iii

LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah Studi Literatur Review dengan judul “ Pengaruh Latihan
Senam Kegel Terhadap Inkontinensia Urin Pada Pasien Lanjut Usia” oleh Ayu
Wulandari NIM P17230193077, telah diujikan didepan dewan pada tanggal 21
Juli 2022

Dewan penguji,

Ketua Penguji Penguji Anggota

Ns. Dewi Rachmawati, M.Kep Ns.M.Miftachul Ulum,
NIP. 919840406201710201 S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes
NIP. 19680312 198803 1 001

Mengetahui,
Ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Imam Subekti, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom
NIP. 19651205 198912 1 001

iv

ABSTRAK

Wulandari, Ayu (2022). Pengaruh Latihan Senam Kegel Terhadap Inkontinensia
Urin Pada Pasien Lanjut Usia. Program Studi Diploma 3
Keperawatan Blitar, Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Malang. Pembimbing Ns.M.Miftachul
Ulum, S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes.

Inkontinensia urin adalah kegagalan untuk memenuhi kebutuhan buang air kecil
yang sering dijumpai pada lansia. Inkontinensia urin dapat diterapi dengan senam
kegel. Senam kegel adalah latihan otot dasar panggul yang bertujuan untuk
memperkuat otot dasar panggul dan mengembalikan fungsi kandung kemih yang
terganggu menjadi normal atau optimal. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi
pengaruh latihan senam kegel terhadap inkontinensia urin metode penelitian
literatur riview menggunakan data base google scholar. Desain artikel
menggunakan Quasy Eksperiment, Pre−Experimental, dan Pra−Eksperimental.
Didapatkan 5 artikel untuk dianalisis dengan memperhatikan kriteria inklusi.
Berdasarkan 5 artikel yang telah dianalisis menunjukkan terdapat pengaruh senam
kegel terhadap inkontinensia urin pada lansia. Senam kegel sangat diperlukan
untuk lansia dikarenakan senam kegel dapat memperkuat otot dasar panggul dan
memperbaiki fungsi kandung kemih sehingga dapat menahan buang air kecil lebih
lama. Karena hal tersebut maka perlu adanya peran tenaga kesehatan sebagai
edukator yang menjelaskan tentang bagaimana cara melakukan senam kegel dan
menjelaskan manfaat dari senam kegel, salah satunya untuk menurunkan
frekuensi inkontinensia urin khususnya pada lansia.

Kata Kunci : Senam Kegel, Inkontinensia Urin, Lanjut Usia

v

ABSTRACT

Wulandari, Ayu (2022). The Effect of Kegel Exercises on Incontinence

Urine in Elderly Patients. Blitar Nursing Diploma 3 Study Program,

Department of Nursing, Health Polytechnic, Ministry of Health,

Malang. Supervisor Ns.M. Miftachul Ulum,

S.Kep.,SST.,S.Sos.,M.Kes.

Urinary incontinence is a failure to meet the need to urinate which is often found
in the elderly. Urinary incontinence can be treated with Kegel exercises. Kegel
exercises are pelvic floor muscle exercises that aim to strengthen the pelvic floor
muscles and restore impaired bladder function to normal or optimal. The purpose
of the study was to identify the effect of Kegel exercises on urinary incontinence.
The literature review research method used the Google Scholar data base. The
article design uses Quasy Experiment, Pre-Experimental, and Pre-Experimental.
There were 5 articles to be analyzed by taking into account the inclusion criteria.
Based on 5 articles that have been analyzed, it shows that there is an effect of
Kegel exercises on urinary incontinence in the elderly. Kegel exercises are very
necessary for the elderly because Kegel exercises can strengthen the pelvic floor
muscles and improve bladder function so that they can hold urination longer.
Because of this, it is necessary to have a role for health workers as educators who
explain how to do Kegel exercises and explain the benefits of Kegel exercises,
one of which is to reduce the frequency of urinary incontinence, especially in the
elderly.

Keywords: Kegel Exercises, Urinary Incontinence, Elderly

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan kasih-Nya dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan
Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Pengaruh Senam Kegel Terhadap
Inkontinensia Urin pada Pasien Lanjut Usia” ini dengan baik. Ucapan
terimakasih kepada kedua orangtua, bapak Edmedi dan ibu Iswarni yang telah
selalu memberikan doa dan dukungan sehingga Penulis dapat menyelesaikan
karya tulis ilmiah.

Dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan
pengarahan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Budi Susatia, S.Kp., M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Malang yang memberikan kesempatan kepada
penulis untuk memperoleh pengalaman dan ilmu di Politeknik Kesehatan
Kementerian Malang.

2. Bapak Imam Subekti, S.Kp., M.Kep Sp.Kom., selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang.

3. Ibu Dr. Ns. Sri Mugianti, M.Kep., selaku Ketua Program Studi Diploma
III Keperawatan Blitar Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan
Malang.

4. Ibu Ns. Dewi Rachmawati, M.Kep, selaku pembimbing akademik dan
ketua penguji Karya Tulis Ilmiah.

5. Bapak Ns. M.Miftachul Ulum, S.ST, S.Sos., S.Kep., M.Kes selaku Dosen
Pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam
menyusun Karya Tulis Ilmiah Literature Review ini.

6. Seluruh dosen dan staf pegawai Program Studi D3 Keperawatan Blitar
yang telah memberikan ilmu dan bantuannya.

7. Pada Alfian Ananda Risky, seorang yang selalu mendengarkan keluh
kesah dalam pembuatan karya tulis ilmiah, dan selalu memberikan
semangat untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

8. Pada para sahabat Ayda, Ditya dan Kartika yang selalu memberi saran,
semangat, mendengar setiap keluh kesah dan selalu membantu untuk
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama
penyusunan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari didalam penyusunan dan penulisan karya tulis ilmiah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan

vii

dan saran yang bersifat membangun. Harapan penulis, semoga karya tulis ilmiah
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Blitar, 19 Juli 2022
Ayu Wulandari
P1730193068

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN ...................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN ...............................................................................iii
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................iv
ABSTRAK ........................................................................................................... v
ABSTRACT ........................................................................................................ vi
KATA PENGANTAR........................................................................................ vi
DAFTAR ISI....................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL............................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian ...........................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Senam Kegel.............................................................................3

2.1.1 Pengertian Senam Kegel........................................................................3
2.1.2 Manfaat Senam Kegel ...........................................................................4
2.1.3 Indikasi Senam Kegel ........................................................................... 4
2.1.4 Kontra Indikasi ..................................................................................... 5
2.1.5 Tahapan Senam Kegel .......................................................................... 5
2.1.6 Mekanisme Peningkatan Kekutan Otot Dasar Panggul pada Senam
Kegel.............................................................................................................. 6
2.2 Konsep Dasar Inkontinensia Urin ....................................................................7
2.2.1 Pengertian Inkontinensia Urin ...............................................................8
2.2.2 Klasifikasi Inkontinensia Urin...............................................................8
2.2.3 Patofisiologi..........................................................................................10
2.2.4 Etiologi .................................................................................................10
2.2.5 Tanda dan Gejala ..................................................................................13
2.2.6 Penatalakanaan Inkontinensia Urin ......................................................13

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang Inkontinensia Urin ....................................... 16
2.3 Konsep Dasar Lansia.........................i.x........................................................... 17

2.3.1............................................................................................................... 17
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Desain Studi Literatur ....................................................................................19
3.2 Langkah-langkah Penelusuran Literatur ........................................................19

3.2.1 Topik Literatur ..................................................................................... 19
3.2.2 Rumusan PEOS (Population,Exposure,Outcome,Study Design) ........ 19
3.2.3 Kata Kunci ........................................................................................... 20
3.2.4 Mencari Literatur di Database.............................................................. 20
3.2.5 Hasil Pencarian Literatur ...................................................................... 21
3.2.6 Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas..................................................... 22
3.3 Melakukan Review........................................................................................ 23
3.4 Penyajian Hasil Literatur Review ................................................................. 23
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Literatur Review .................................................................................. 25
4.1.1 Karakteristik Studi.............................................................................. 25
4.1.2 Hasil Literatur Review........................................................................ 26
4.1.3 Pembahasan ........................................................................................ 31
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ................................................................................................... 35
5.2 Saran.............................................................................................................. 35
5.2.1 Bagi Responden/Masyarakat................................................................ 35
5.2.2 Bagi Tenaga Kesehatan........................................................................ 36
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 37

x

DAFTAR TABEL
3.2.2 Rumusan PEOS ......................................................................................25
3.2.3 Kata Kunci ............................................................................................... 25
3.4 Rencana Penyajian Data .............................................................................24
4.1 Hasil Literatur Review................................................................................. 26

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Konsultasi............................................................... 40
Lampiran 2. Daftar Riwayat Hidup........................................................... 42

xii

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap orang mengalami suatu proses penuaan secara biologis dan akan
menimbulkan masalah kesehatan , salah satunya adalah inkontinensia
urin(Dewi et al., 2017). Secara umum penyebab inkontinensia urin adalah
kelainan urologis, neurologis atau fungsional (Science & 2017, n.d.).

Indonesia menempati urutan ke lima dengan jumlah lansia terbanyak
didunia setelah Cina, jumlah lansia di Indonesia mencapai 22,4 juta jiwa atau
8,69% dari jumlah penduduk di Indonesia. Menurut WHO 2013 sekitar 200
juta penduduk didunia mengalami inkontinensia urin. Di Indonesia penderita
inkontinensia urin sangat signifikan(Suhartiningsih et al., 2021).

18 lansia yang ada di lingkungan pengkol mengalami inkontinensia
urin kebanyakan lansia tidak mengerti cara menanganinya, terdapat 15 lansia
yang tidak mengerti apa itu senam kegel, bagaimana cara melakukannya, dan
apa tujuan senam kegel, 2 lansia mengerti tentang senam kegel namun tidak
pernah melakakukanya, dan 1 lansia lainnya mengerti tentang senam kegel
namun tidak mampu melakukannya sendiri mereka membutuhkan bantuan
dari anak atau orang-orang yang tinggal serumah. Masalah inkontinensia
adalah salah satu masalah yang meluas dan merugikan. Penyakit ini
merupakan salah satu factor utama yang membuat banyak keluarga
menempatkan manula tersebut di panti jompo untuk mendapatkan perawatan
yang layak(Relida Samosir et al., 2021).

1

2

Penderita inkontinensia urin dengan mobilitas dan status mental yang
cukup baik kemungkinan besar dapat disembuhkan(Science & 2017, n.d.).
Berbagai pengobatan baik farmakologis maupun nonfarmakologis dapat
dilakukan untuk menyembuhkan inkontinensia urin. Salah satu penanganan
non farmakologis yang dapat membantu mengatasi inkontinensia urin adalah
senam kegel yang bertujuan untuk mengembalikan kekuatan otot dasar
panggul(Suhartiningsih et al., 2021)

Berdasarkan fenomena yang terjadi yaitu banyaknya lansia yang
mengalami inkontinensia urin dan tidak mengerti cara penanganannya, maka
peneliti ingin melakukan literature review mengenai “ Pengaruh Latihan
Senam Kegel Terhadap Inkontinensia Urin Pada Pasien Lanjut Usia”.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh Latihan senam kegel terhadap inkontinensia urin
pada lanjut usia?

1.3 Tujuan Penelitian

Mengidentifikasi pengaruh latihan senam terhadap inkontinensia urin pada
lanjut usia.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini untuk mengetahui manfaat senam kegel yaitu membantu
lansia mengontrol sensasi ingin buang air kecil agar tidak mengompol atau
sering ke toilet.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Senam Kegel
2.1.1 Pengertian Senam Kegel
Senam kegel adalah Latihan otot dasar panggul yang merupakan terapi
bagi Wanita yang tidak mampu mengontrol keluarnya urin. Bagi wanita
yang tidak terlatih otot panggulnya akan mengalami penurunan uterus akibat
melemahnya atau menipisnya otot panggul(Indah Mayasari et al., 2020).
Latihan kegel adalah latihan otot dasar panggul untuk memperkuat otot
dasar panggul, latihan pada otot dasar panggul melalui krontraksi dan
relaksasi yang dilakukan secara berulang ulang. Latihan kegel sangat
membantu dalam memperkuat otot rangka dasar panggul dengan demikian
dapat memperkuat fungsi sfingter eksternal (batas antara uretra dan kandung
kemih) pada kandung kemih(Liapangestika, 2020).
Senam kegel awalnya dikembangkan oleh dokter pada tahun 1948.
Arnold Kegel memngembangkan untuk mencegah inkontinensia urin pada
wanita setelah melahirkan dan merupakan salah satu terapi perilaku teraman
tanpa efek samping atau komplikasi. Senam kegel dapat mengobati gejala
inkontinensia urin dengan memperkuat otot dasar panggul yang melemah
dan meningkatkan elastisitas(Eighty Mardiyan Kurniawati, 2021).
Latihan kegel merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan
fungsi kandung kemih yang terganggu menjadi normal atau optimal.

3

4

Melakukan senam kegel melatih lansia untuk meningkatkan kemampuan
menahan kandung kemih selama mungkin sehingga inkontinensia urin
dapat berkurang(Wahyudi et al., 2017).

2.1.2 Manfaat Senam Kegel

Latihan dasar kontraksi otot dasar panggul menaruh manfaat :

a. Dapat membantu menaikkan control kandung kemih dan bisa
mengurangi kebocoran pada kandung kemih

b. Mengurangi frekuensi atau jumlah urin
c. Mengurangi volume urin
d. Mengurangi frekuensi imkontinensia urin
e. Meningkatkan kekuatan dan ketahanan kontraksi otot dasar panggul
f. Meningkatkan sensasi seksual (Liapangestika, 2020).

2.1.3 Indikasi Senam Kegel

Senam kegel disarankan untuk wanita dan pria yang mempunyai
penyakit yang bermasalah dengan lemahnya otot PC. Secara umum berikut
petunjuk senam kegel :

a. Pria dan wanita yang mempunyai masalah inkontinensia ( tidak
bisa menahan air seni)

b. Wanita yang mengalami menopause untuk menjaga kekuatan otot
panggul terhadap penurunan kadar esteroigen.

c. Wanita yang menderita prolaps uteri (pengecilan Rahim ) akibat
melemahnya otot otot dasar pnggul , juga bagi wanita dengan
masalah seksual.

5

d. Pria yang memiliki masalah dengan ejakulasi dini juga yang
mengalami ereksi berkepanjangan(Alimin, 2018).

2.1.4 Kontra Indikasi

Penderita penyakit jantung yang bisa mengakibatkan nyeri dada
saat melaksanakan gerakan minimal , penderita diabetes serta penderita
hipertensi(Fikriana, 2020).

2.1.5 Tahapan Senam Kegel

Langkah - Langkah senam kegel menurut Nurdiansyah (2011)
secara khusus :

a. Kenali dulu otot - otot yang terlibat dalam senam kegel dan
fungsinya. Caranya adalah saat buang air kecil , usahakan untuk
menghentikan aliran urin dengan cara mengontraksikan atau
menekan otot - otot tersebut , lalu mengendurkannya Kembali agar
aliran urin mengalir Kembali.

b. Lakukan pemanasan (±3 menit) dengan menegangkan otot lalu
lepas dengan laju ± 1 detik untuk setiap kontraksi dilakukan
sebanyak 30 kali Lakukan sebanyak 3 kali dengan fase istirahat
diantara set 30 detik.

c. Kemudian , melakukan gerakan inti kencangkan otot dasar panggul
dengan meremas atau mengontraksikan otot anus kemudian
lepaskan selama 5 detik (hitungan 1 seribu, 2 seribu, 3 seribu, 4
seribu, 5 seribu), sesudah itu kendurkan / relaksasi. Lakukan

6

latihan ini sebanyak 10 sampai 20 kali dan latihan tiga sampai
empat kali sehari.
d. Setelah latihan dasar akhiri dengan relaksasi dengan menarik napas
dalam-dalam tahan selama 1 detik lalu hemuskan melalui mulut
sebanyak 3 kali (Wahdi, 2020).

(Wahdi, 2020) (Relida Samosir et al., 2021)

2.1.6 Mekanisme Peningkatan Kekuatan Otot Dasar Panggul Pada
Senam Kegel

Senam kegel adalah latihan yang ditargetkan memperkuat sfingter
kandung kemih dan otot dasar panggul, khususnya otot-otot yang mengatur
buang air kecil dan mengencangkan, dengan merelaksasi kelompok otot
panggul dan area genitalia, terutama otot – otot pubococcygeal, sehingga
dapat memperkuat otot-otot saluran kemih.

Mekanisme kontraksi dan peningkatan tonus otot polos dinding
kandung kemih dapat terjadi akibat rangsangan otot polos kandung kemih
setelah latihan. Latihan ini dapat menimbulkan stimulasi sehingga
meningkatkan aktivasi fungsi kimia, neuromuskuler dan muskuler. Otot
polos kandung kemih mengandung filamen aktin dan miosin yang memiliki

7

sifat kimia dan saling berinteraksi. Interaksi tersebut dipicu oleh ion kalsium
dan adenotriposfat (ATP) yang kemudian dipecah menjadi adenodifosfat
(AD) untuk menyediakan energi bagi konstraksi otot kandung kemih.
Stimulus neuromuskuler akan meningkatkan rangsangan pada serabut saraf
otot polos kandung kemih terutama saraf parasimpatik yang merangsang
produksi asetil cholin sehingga terjadi kontraksi.

Mekanisme melalui muskulus, terutama otot polos kandung kemih akan
meningkatkan metabolisme. Mitokondria untuk menghasilkan ATP yang
digunakan oleh otot polos kandung kemih sebagai energi untuk berkontraksi
dan meningkatkan tonus otot polos kandung kemih(Relida Samosir et al.,
2019).

2.2 Konsep Dasar Inkontinensia Urin

2.2.1 Pengertian Inkontinensia Urin

Inkontinensia urin adalah kegagalan untuk memenuhi kebutuhan buang
air kecil. Inkonteninensia urin dapat mengeluarkan urin sangat sedikit
ataupun banyak urin secara tidak sadar(Harahap et al., n.d.). Inkonteninensia
urin merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai pada lansia dan
lebih sering dialami oleh wanita dibandingkan pria(Juananda & Febriantara,
2017).

Perubahan posisi Rahim menarik otot otot vagina , bahkan kandung
kemih dan rectum, menyebabkan penurunan , tekanan dan masalah buang air
kecil (inkontinensia atau retensi urin) karena perpindahan kandung kemih.
Disfungsi sfingter menyebabkan kandung kemih mengempis saat batuk ,

8

bersin , bisa juga disebabkan kelainan di ekitar area saluran kemih , fungsi
otak terganggu dan menyebabkan kandung kemih kejang, menghambat
proses produksi pada kandung kemih sampai kelebihan daya
tampung(Dahlan D A, 2014).

Menurut penelitian Junita (2013) , rata rata lansia dengan inkontinensia
urin akan buang air kecil 12 kali dalam 2 jam. Perubahan system perkemihan
pada lansia terjadi pada ginjal , atrofi ginjal dan atrofi nefron. Efisiensi ginjal
berkurang hingga 50% , fungsi tubulus berkurang , menyebabkan
pengingkatan BUN (Blood Nitrogen Urea) menjadi 21 mg%, penurunan
kadar urin spesifik dan peningkatan ambang glukosa ginjal yang
mengakibatkan otot dikandung kemih melemah , sehingga kapasitasnya
berkurang menjadi 200ml maka menyebabkan peningkatan frekuensi buang
air kecil (Fikriana, 2020).

Ada banyak efek inkontinensia urin jika tidak diobati . menurut laporan
Ghodsbin et al (2012) , inkontinensia urin mempengaruhi kebersihan ,
gangguan psikologis seperti harga diri rendah karena sering mengompol ,
gangguan sosial karena buruk tentang kondisinya dan kemungkinan
komplikasi seperti infeksi saluran kemih , gangguan tidur maupun penyakit
kulit (Amilia et al., 2018).

2.2.2 Klasifikasi Inkontinensia Urin

Menurut Cameron (2013), Inkontinensia urin dapat dibedakan menjadi:

a. Inkontinensia Urge

9

Keadaan otot kandung kemih yang tidak stabil di mana ia
bereaksi berlebihan. Inkontinensia urin ditandai dengan
ketidakmampuan untuk menunda buang air kecil setelah rasa
ingin buang air kecil, manifestasinya dapat berupa rasa ingin
buang air kecil yang tiba-tiba, sering buang air kecil
(frekuensi) dan ingin buang air kecil di malam hari
(nokturia).
b. Inkontinensia Stress
Urin ini terjadi ketika urin keluar secara tidak terkendali
karena peningkatan tekanan intra-abdomen, melemahnya otot
dasar panggul, pembedahan, dan penurunan estrogen.
Gejalanya antara lain buang air kecil saat batuk, mengejan,
tertawa, bersin, berlari, atau hal lain yang meningkatkan
tekanan di rongga perut.
c. Inkontinensia Overflow
Urin bocor sehingga menyebabkan terlalu banyak cairan di
kandung kemih, biasanya karena refleks kandung kemih yang
lemah. Seringkali ini dapat ditemukan pada gangguan
neurologis yang disebabkan oleh diabetes, kerusakan sumsum
tulang belakang, dan saluran kemih yang tersumbat.
Gejalanya antara lain perasaan tidak puas setelah buang air
kecil (perasaan bahwa urin masih berada di kandung kemih),
buang air kecil lebih sedikit, dan aliran lemah.

10

d. Inkontinensia Refleks
Terjadi karena kondisi sistem saraf pusat yang terganggu,
seperti dimensia. Dalam hal ini rasa ingin berkemih dan
berhenti berkemih tidak ada.

e. Inkontinensia Fungsional
Terjadi akibat penurunan yang berat dari fungsi fisik dan
kognitif sehingga pasien tidak dapat mencapai ke toilet pada
saat yang tepat hal ini terjadi pada demensia berat, gangguan
neurologi,gangguan mobilitas dan psikologi (Fikriana, 2020).

2.2.3 Patofisiologi

Penyebab inkontinensia urin adalah sfingter yang tidak terkontrol,
perubahan tekanan intra-abdomen yang tiba-tiba, atau komplikasi penyakit
saluran kemih. Inkontinensia urin bisa bersifat sementara karena struktur
dasar panggul yang lemah yang sering dialami ibu hamil. Inkontinensia urin
juga bisa bersifat permanen, misalnya pada kasus cedera tulang belakang.
Inkontinensia urin dapat terjadi pada semua usia, tetapi inkontinensia urin
merupakan dilema bagi orang tua (Saputri, 2019).

2.2.4 Etiologi

Inkontinensia urin sering disebabkan oleh disfungsi urin atau neuropati.
Inkontinensia urin akibat gangguan saluran kemih disebabkan oleh kondisi
lain yang mempengaruhi saluran kemih seperti tumor, batu, dan infeksi.
Adanya anomali tersebut menimbulkan gangguan. Pada fungsi kandung
kemih dan desensitisasi (Saputri, 2019).

11

Menurut Soeparman & Wapadji Sarwono, (2001) dalam Aspiani,
(2014) faktor penyebab Inkontinensia urin antara lain :

a. Poliuria
Poliuria merupakan kelainan frekuensi buang air kecil karena
kelebihan produksi urin. Pada poliuria volume urin dalam 24 jam
meningkat melebihi batas normal karena gangguan fungsi ginjal
dalam mengsentrasi urin.

b. Nokturia
Kondisi sering berkemih pada malam hari disebut dengan
nokturia. Nokturia merupakan salah satu indikasi adanya prolaps
kandung kemih

c. Faktor usia
Inkontinensia urin lebih banyak ditemukan pada usia >50 tahun
karena terjadinya penurunan tonus otot pada saluran kemih

d. Penurun produksi estrogen (pada wanita)
Penurunan produksi estrogen dapat menyebakan atropi jaringan
uretra sehingga uretra menjadi kaku dan tidak elastis.

e. Operasi pengangkatan Rahim
Pada wanita, kandung kemih dan rahim didukung oleh oleh
beberapa otot yang sama. Ketika rahim diangkat,otot-otot dasar
panggul tersebut dapat mengalami kerusakan, sehinga memicu
Inkontinensia.

f. Frekuensi melahirkan

12

Melahirkan dapat mengakibatkan penurunan otot-otot dasar
panggul.
g. Merokok
Merokok dapat menyebabkan kandung kemih terlalu aktif karena
efek nikotin pada dinding kandung kemih.
h. Konsumsi alkohol dan kafein
i. Mengonsumsi alkohol dan kafein dapat menyebabkan
Inkontinensia urin karena keduanya bersifat diuretik sehingga
dapat meningkatkan frekuensi berkemih
j. Obesitas
k. Kelebihan berat badan meningkatkan risiko Inkontinensia urin
karena peningkatan tekanan di perut dan kandung kemih.
Tekanan intra adomen memperpendek panjang uretra dan
merudak tonus otot
l. Infeksi saluran kemih
m. Gejala pada orang dengan infeksi saluran kemih biasanya berupa
peningkatan frekuensi buang air kecil. Buang air kecil lebih
sering melemahkan otot-otot kandung kemih yang dapat
menyebabkan Inkontinensia urin (Fikriana, 2020).

13

2.2.5 Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dari inkontinensia urin sebagai berikut :

a. Keluarnya urin dengan jumlah sedikit saat bersin, batuk, tertawa,
membungkuk, atau melompat yang merupakan ciri-ciri dari
inkontinensia urine tipe stress.

b. Urin yang keluar lambat serta merasa mengejan yang merupakan
ciri dari Inkontinensia tipe overflow.

c. Aliran urin dan volume urin adekuat yang merupakan ciri dari
Inkontinensia urin tipe fungsional

d. Merasa adanya desakan berkemih.
e. Tidak mampu mencapai toilet saat setelah mulai berkemih.
f. Kurangnya hygiene atau terdapat tanda-tanda infeksi (Saputri,

2019).
2.2.6 Penatalaksanaan Inkontinensia Urin

Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Aspiani (2014) yaitu
dengan mengurangi faktor risiko, mempertahankan homeostatis, mengontrol
inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis, dan
pembedahan. Dari beberapa hal tersebut, dapat dilakukan sebagai berikut :

a. Pemanfaatan kartu catatan berkemih
Tertulis di catatan adalah waktu buang air kecil, jumlah

urine yang normal atau karena tidak tertahan. Jumlah minuman yang
diminum, jenis minuman yang diminum dan waktu konsumsi juga
dicatat dalam catatan.

14

b. Terapi non farmakologi
Dilakukan dengan cara mengoreksi penyebab timbulnya

Inkontinensia urin,seperti hiperplasia prostap,infeksi saluran
kemih,diuretik,dan hiperglikemi. Cara yang dapat dilakukan adalah:

1) Lakukan latihan retensi urin (peregangan waktu buang air
kecil) dilakukan dengan teknik relaksasi dan distraksi
sehingga waktu buang air kecil adalah 67x/hari. Orang yang
lebih tua dikatakan mampu menahan keinginan untuk buang
air kecil sampai waktu yang ditentukan. Pada fase awal,
lansia diharapkan mampu menahan kencingnya selama satu
jam dan kemudian meningkat menjadi 2-3 jam.

2) Promited voiding yaitu mengajari lansia mengenali kondisi
berkemih. Hal ini bertujuan untuk membiasakan lansia
berkemih sesuai dengan kebiasaannya. Apabila lansia ingin
berkemih diharapkan lansia memberitahukan petugas. Teknik
ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif.

3) Melakukan latihan otot dasar panggul atau latihan kegel.
Latihan kegel ini bertujuan untuk mengencangkan otot-otot
dasar panggul dan mengembalikan fungsi kandung kemih
sepenuhnya serta mencegah prolaps urin jangka panjang.

c. Terapi Farmakologi
Obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengobati

inkontinensia urin adalah antikolinergik atau obat-obatan yang

15

bekerja dengan memblokir neurotransmitter yang disebut asetilkolin
yang membawa sinyal di otak untuk mengontrol otot. Contoh
antikolinergik termasuk oxyutin, propantheline, dyclomine,
flsavoxate, dan imipramine. Dalam kasus inkontinensia stres, oat
alfa-adregenik, yaitu obat untuk relaksasi otot, diberikan. Contoh
obat tersebut adalah pseudosephedrine yang meningkatkan retensi
uretra. Sfingter yang rileks menerima agonis kolinergik,
meningkatkan fungsi neurotransmitter asetilkolin baik secara
langsung maupun tidak langsung. Obat kolinergik ini termasuk
ethanechol atau antagonis alfakolinergik seperti prazosin untuk
merangsang kontraksi.
d. Terapi pembedahan

Terapi ini dapat dipertibangkan dalam kasus stres dan
inkontinensia urin dalam hal kegagalan pengoatan non-farmakologis
dan farmakologis. Dalam kasus inkontinensia overflow pembedahan
sering dilakukan untuk mencegah retensi urin. Terapi ini sering
dilakukan pada tumor atu divertikula hiperplasia prostat dan prolaps
panggul.
e. Modalitas lain

Modalitas ini dilakukan ersamaan dengan terapi dan terapi
inkontinensia dengan menggunakan sejumlah alat antu untuk lanjut
usia antara lain popok selang dan selang ventilasi dan perlengkapan
sanitasi seperti urinal dan sprei (Fikriana, 2020).

16

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang Inkontinensia Urin

Menurut Artinawati (201) ada beberapa pemeriksaan tambahan untuk
masalah inkontinensia urin antara lain:

a. Urinalis Clean
Sampel urin diperiksa untuk mengetahui penyea

inkontinensia urin seperti hematuria piuria akteriuria glukosuria
dan proteinuria.
b. Tes darah

Dalam tes ini kita melihat elektrolit urea kreatinin glukosa
dan kalsium serum untuk menentukan fungsi ginjal dan kondisi
yang menyeakan poliuria.
c. Tes Laboratorium Tambahan

Ini termasuk kultur urin nitrogen urea darah kreatinin kalsium
glukosa dan sitologi.
d. Tes diagnostik lanjutan

1) Pemeriksaan urodinamik untuk mengetahui anatomi dan
fungsi saluran kemih bagian bawah

2) Manometri uretra untuk mengukur tekanan di dalam uretra
saat istirahat dan dinamis.

3) Tes pencitraan saluran kemih bagian atas dan bawah.
e. Catatan berkemih

Catatan ini digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin
pada kasus inkontinensia serta gejala yang berhubungan dengan
inkontinensia (Fikriana, 2020).

17

2.3 Pengertian Konsep Dasar Lansia

2.3.1 Pengertian Lansia

Perubahan tua atau muda merupakan tahapan kehidupan yang harus
dilalui oleh setiap manusia(Kamariyah & Oktarina, 2020). Menurut World
Health Organization (WHO), lanjut usia adalah orang yang telah melewati
usia 60 tahun atau lebih.

Batasan lansia terbagi dalam empat kelompok yaitu pertengahan umur
usia lanjut (virilitas) yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan
keperkasaan fisik dan kematangan jiwa antara 45-54 tahun,usia lanju dini
(prasenium) yaitu kelompok yang mulai memasuki usia lanjut antara 55-64
tahun, kelompok usia lanjut (senium) usia 65 tahun ke atas dan usia lanjut
dengan resiko tinggi yaitu kelompok yang berusia lebih dari 70 tahun atau
kelompok usia lanjut yang hidup sendiri, terpencil, tinggal di panti,
menderita penyakit berat, atau cacat(Ollin & Sari, 2021).

Usia tua adalah anugerah yang harus disyukuri. Namun, seseorang yang
telah mencapai usia lanjut pasti akan mengalami perubahan baik fisik,
kognitif maupun perilaku. Hal ini berkaitan erat dengan apakah seorang
lanjut usia telah memasuki tahap akhir kehidupan atau awal dari proses
penuaan. Proses menua adalah perubahan fungsi organ dalam tubuh yang
menurun seiring bertambahnya usia, yang dimanifestasikan dengan
perubahan fisik, biologis, dan psikologis. Perubahan fisik seringkali
membuat tubuh rentan terhadap berbagai penyakit, yang dapat menimbulkan
berbagai gangguan kesehatan pada orang lanjut usia(Amilia et al., 2018),

18

tidak jarang mucul permasalah pada lansia salah satunya adalah dimensia.
Demensia ialah gangguan intelektual atau daya ingat(Indonesia, 2009).

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Studi Literatur
Metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan metode
tradisional review , yaitu dengan menggunakan metode tinjauan pustaka
yang selama ini umum dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang
diupload 10 tahun terakhir dan dirangkum kedalam satu peper. Studi ini
digunakan untuk mengetahui rangkuman menyeluruh dalam bentuk literature
review mengenai Pengaruh Senam Kegel Terhadap Inkontinensia Urin pada
Pasien Lanjut Usia.
3.2 Langkah – Langkah Penelusuran Literatur
3.2.1 Topik Literatur
Topik yang dibahas dalam studi literature ini adalah Pengaruh Senam
Kegel Terhadap Inkontinensia Urin pada Pasien Lanjut Usia.
3.2.2 Rumusan PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design)
Dalam menyelesaikan studi literature Pengaruh Senam Kegel Terhadap
Inkontinensia Urin pada Pasien Lanjut Usia.

19

20

PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design)

Tabel 3.2.2 Rumusan PEOS (Population, Exposure, Outcome, Study Design)

P (Population) / Populasi Lanjut Usia
E (Exposure) / Paparan
O (Outcome) / Hasil Senam Kegel

S (Study Design) / Desain Studi Pengaruh Senam Kegel Terhadap
Frekuensi Inkontinensia Urin
Quasy Eksperiment, Pre−Experimental,
dan Pra−Eksperimental.

3.2.3 Kata Kunci

Kata kunci yang digunakan dalam literature review ini adalah
“pengaruh senam kegel, inkontinensia urin, lansia” dalam jurnal Bahasa
Indonesia dan “ the effect of kegel exercise, urinary incontinence, the
elderly” dalam jurnal bahasa Inggris. Pencarian dilakukan dengan cara
menggabungkan kata kunci.

Tabel 3.2.3 Kata Kunci

Pengaruh Senam Inkontinensia Urin Lansia
Kegel
OR
OR OR the elderly

the effect of kegel urinary

exercise incontinence

3.2.4 Mencari Literatur di Database
a. Pengumpulan data menggunakan penelusuran artikel atau dari
beberapa database yaitu Google scholar dan Ressearch Gate

21

b. Dilakukan skrining artikel berdasarkan tahun publikasi 10 tahun
terakhir mulai tahun 2011 sampai 2021

3.2.5 Hasil Pencarian Literatur

Hasil pencarian menggunakan prisma flow chart.

Pencarian menggunakan Keyword
melalui database yaitu google
scholar,Researchgate: (n= 154 )

Hasil jurnal secara keseluruhan
10 tahun terakhir : (n= 101 )

Screening : (n= 5 )

Kriteria inklusi :

1. Jurnal sesuai dengan kata kunci yang Kriteria eksklusi : (n=96 )

digunakan (Pengaruh senam kegel , 1. Jurnal tidak sesuai dengan
kata kunci yang digunakan
Inkontinensia urin, lansia) (Pengaruh senam kegel ,
Inkontinensia urin, lansia)
2. Jurnal memiliki DOI/ISSN/ISBN
2. Jurnal tidak memiliki
3. Jurnal sesuai topik pembahasan DOI/ISSN/ISBN

4. Jurnal yang menggunakan desain 3. Jurnal tidak sesuai topik

Quasy Eksperiment,

Pre−Experimental, dan

Pra−Eksperimental.

Jurnal akhir yang dapat
dianalisis sesuai rumusan
masalah dan tujuan : (n= 5 )

22

Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria Inklusi :
a. Jurnal atau artikel ilmiah yang terkait dengan Pengaruh
Senam Kegel, Inkontinensia Urin, Lansia
b. Memiliki DOI, ISSN atau e-ISSN
c. Rentang penerbitan jurnal atau artikel 10 tahun terakhir
(2011-2021)
d. Jurnal dapat diakses dan diunduh secara lengkap
e. Menggunakan desain penelitian pre-eksperimental
Kriteria Eksklusi :
a. Jurnal atau artikel ilmiah yang tidak terkait dengan Pengaruh
Senam Kegel, Inkontinensia Urin, Lansia
b. Tidak memiliki DOI, ISSN, atau e-ISSN
c. Jurnal diterbitkan tidak pada rentang waktu 10 tahun
terakhir(2011-2021)
d. Jurnal tidak dapat diakses dan diunduh secara lengkap

3.2.6 Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas

Berdasarkan hasil pencarian literature melalui publikasi di Google
Scholar dan researchgate menggunakan kata kunci yang sudah disesuaikan
dalam pencarian peneliti mendapatkan 154 artikel yang sesuai dengan kata
kunci kemudian jurnal tersebut diseleksi. Diskrining berdasarkan rentang
waktu sepuluh tahun terakhir (2011-2021) ditemukan 101 artikel. Diskrining

23

lagi berdasarkan keterkaitan topik judul dan kriteria inklusi ditemukan 5
artikel. Hasil jurnal yang direview terdapat 5 artikel.

3.3 Melakukan Review

Pada bagian ini diungkapkan bagaimana cara menganalisis atau
menelaah hasil-hasil penelitian atau jurnal dari berbagai sumber yang sudah
dikumpulkan. Analisis dimulai dengan materi hasil penelitian dan
diperhatikan dari yang paling relevan, relevan, dan cukup relevan.

Beberapa hal yang dapat dicantumkan dalam melakukan analisis pada
penulisan literature review antara lain adalah : menelaah persamaan dan
perbedaan ataupun persamaan antara penelitian yang telah dilakukan oleh
pengarang , penelitian mana yang saling mendukung dan penelitian mana
yang saling bertentangan, ataupun beberapa pertanyaan yang belum
terjawab, dan lain sebagainya. Tehnik yang dilakukan dalam mereview studi
literatur ini yaitu compare dan contras dengan cara mencari persamaan dan
perbedaan dalam yang akan direview.

3.4 Penyajian Hasil Literatur Review

Data hasil studi literatur disajikan dalam bentuk tabel yang berisi
tentang seluruh aspek dari literatur. Dalam penyajian data ini dilakukan
pembandingan antara literatur satu dengan yang lain untuk menunjukkan
apakah hasil tersebut memperkuat, berlawanan atau sama sekali tidak sama
dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan.

24

Tabel 3.4. Rencana penyajian data

No Penulis,Judul,Tahun, Tujuan Metode penelitian Hasil Kesimpulan
Publikasi, Nama Jurnal Penelitian (Desain, Sampel,

1 Variabel )
2
3
4
5

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Literatur Review
4.1.1 Krakteristik Studi
Berdasarkan hasil pencarian jurnal dari dua data base yaitu Gogle
Scholar dan Researchgate terdapat 5 artikel yang memenuhi kriteria inklusi
semuanya membahas tentang pengaruh Latihan senam kegel terhadap
inkontinensia urin pada lanjut usia. Artikel jurnal yang direview
menggunakan desain pra−experimental, quasy−eksperiment dan
pre−eksperimental dengan menggunakan pendekatan one group pre test post
test (n= 5), cara yang digunakan dalam 25eraka pengambilan sampel
menggunakan Non Random Sampling dan Purpousive Sampling.
Pengambilan data yang digunakan dilakukan dengan wawancara secara
langsung dan menggunakan lembar kuisioner. Untuk lebih jelasnya dan
mempermudah analisis dari lima jurnal dapat peneliti tabelkan seperti
dibawah ini:

25

4.1.2 Hasil Literature Review

Tabel 4.1 Ha

No Penulis,Judul,Tahun, Tujuan Penelitian Me
Publikasi, Nama Jurnal (De

(1) (2) (3)

Penulis : Milya Novera Mengetahui Desai

pengaruh senam ekspe

Judul : Pengaruh Senam Kegel kegel terhadap pende

Terhadap Frekuensi BAK Pada frekuensi BAK pada pretes

Lansia Dengan Inkontinensia lansia dengan total s

Urine inkontinensia urine

di Pantai Sosial Besar

Tahun : 2017 Tresna Werdha yang

Sabai Nan Aluih inkon

1 Nama Jurnal : Jurnal Ipteks Sicincin seban

Terapan respo

Varia
Var
Inko
Var
Sen

26

asil Literatur Review

etode penelitian Hasil Kesimpulan
esain, Sampel,
Variabel ) (5) (6)

(4) Sebelum dilakukan Inkontinensia urin di
in : Quasy
eriment dengan senam kegel frekuensi Panti Sosial Tresna
ekatan one group
st postest Teknik BAK pada lansia mean Werdha Sabai Nan
sampling
10.58 dengan nilai Aluih Sicincin
r Sampel : lansia
mengalami standar deviasi adalah mengalami penurunan

ntinensia urin 2.65 sedangkan setelah disebabkan oleh
nyak 12
onden dilakukan senam kegel latihan senam kegel

abel : hanya separuh < 8 selama 4 minggu
riabel terikat : dengan Latihan 3 – 4
ontinensia urin (41,6%) yang mengalami
riabel bebas :
nam kegel penurunan frekuensi kali sehari, sehingga
berkemih, dengan rata –
terdapat pengaruh

rata frekuensi pada lansia Latihan senam kegel

mean 8.00 dengan nilai terhadap inkontinensia

standar deviasi adalah urin pada pasien lanjut

2,76. usia.

(1) (2) (3)

Penulis : Lexy Oktora Wilda Mengetahui Desai

dan Nungki Dwi Andrian pengaruh senam ekspe

kegel pada pasien pende

Judul : The Influence Of lanjut usia dengan pretes

Kegel Exercise On Elderly inkontinensia urin di total s

Patients With Urinary unit pelaksanaan

Incontinence In Technical teknis dinas sosial Besar

Implementation Unit Of Social tresna werdha Lansi

Service Tresna Werdha jombang meng

Jombang inkon

seban

Tahun : 2018 respo

2 Nama Jurnal : Journal of inkon
ringan

Nurse and Health inkon

berat

inkon

ringan

Varia
Var
Ink

Var
Sen

27

(4) (5) (6)
in : Quasy
eriment dengan Sebelum dilakukan Inkontinensia urin di
ekatan one group
st postest Teknik senam kegel terdapat 7 Unit Pelaksana Teknis
sampling
responden yang Dinas Sosial Tresna
r Sampel :
ia yang mengalami inkontinensia Werdha Jombang
galami
ntinensia urin urin sedang, dan setelah mengalami penurunan
nyak 10
onden. dilakukan senam kegel di disebabkan oleh
ntinensia urin
n 7 responden, dapatkan hasil uji latihan senam kegel
ntinensia urin
Wilcoxon nilai p value = secara rutin, sehingga
1 responden, 0,008 ≤ 0,05 yang
ntinensia uring terdapat pengaruh
n 2 responden.
menunjukkan 80% latihan senam kegel

responden mengalami terhadap inkontinensia

penurunan inkontinensia urin pada pasien lanjut

urin dari sedang ke usia.

inkontinensia urin ringan.

abel :
riabel terikat :
kontinensia urin

riabel bebas :
nam kegel

(1) (2) (3)

Penulis : Suhartiningsih, Mengetahui Desai

Wahyu Cahyono, Martina egho pengaruh senam ekspe

kegel terhadap pende

Judul : Pengaruh Senam Kegel inkontinensia urin pretes

Terhadap Inkontinensia Urin pada lanjut usia di purpo

Pada Lansia Di Balai Sosial Balai Sosial Lanjut

Lanjut Usia Mandalika Usia Mandalika Besar

Mataram Mataram Lansi

meng

Tahun : 2021 inkon

seban

Nama Jurnal : Jurnal Ilmu respo

3 Sosial dan Pendidikan Inkon

respo

Inkon

sedan

Inkint

ringan

Varia
Var
Inko
Var
Sen

28

(4) (5) (6)
in : Pra
erimental dengan Sebelum dilakukan Inkontinensia urin di
ekatan one group
st postest Teknik senam kegel terdapat 26 Balai Sosial Lanjut
osive sampling
responden mengalami Usia Mandalika
r Sampel :
ia yang inkontinensia urin berat, Mataram mengalami
galami
ntinensia urin sedang, dan ringan. penurunan
nyak 26
onden. Setelah dilakukan senam disebabkan oleh

ntinensia berat 4 kegel didapatkan hasil uji latihan senam kegel
onden
ntinensia urin Wilcoxon nilai signifikan selama 6 minggu
ng 16 0,00 ≤ 0.05 hal ini
tinensia urin dengan latihan 2x
n6
menunjukkan terdapat sehari, sehingga
abel :
riabel terikat : perubahan penurunan terdapat pengaruh
ontinensia urin
riabel bebas : inkontinensia urin 42% latihan senam kegel
nam kegel
responden tidak terhadap inkontinensia

mengalami inkontinensia urin pada pasien lanjut

uri, 27% responden usia.

mengalami penurunan

dari inkontinensia urin

sedang ke inkontinensia

urin ringan dan 31%

responden tidak

mengalami perubahan.

(1) (2) (3)

Penulis : Tien Hartini, Endang Mengetahui Desai

Banon Sri Bharaty, dan Titi pengaruh Latihan ekspe

Sulastri kegel terhadap pende

penurunan pretes

Judul : The Influence Of inkontinensia urin non r

Kegel Exercise On Urine pada lansia yang

Incontinension Reduction In tinggal di panti Besar

Elderly jompo Lansi

meng

Tahun : 2018 inkon

seban

Nama Jurnal : Asian Journal respo

of Applied Sciences

4 Varia

Var

Inko

Var

Sen

29

(4) (5) (6)
in : Quasy
eriment dengan Sebelum dilakukan Inkontinensia urin di
ekatan one group
st postest Teknik senam kegel rata – rata Panti Jompo Tresna
random
frekuensi berkemih 7 kali Werda Budi Mulia
r Sampel :
ia yang sehari, sedangkan setelah Ciracas Jakarta Timur
galami
ntinensia urin dilakukan senam kegel mengalami penurunan
nyak 23
onden. frekuensi berkemih disebabkan oleh

abel : menjadi 5 kali sehari hal latihan senam kegel
riabel terikat :
ontinensia urin ini dibuktikan dengan selama 4 minggu
riabel bebas : hasil uji T-dependent p –
nam kegel dengan latihan 2 kali

vaule = 0,000 (p < 0,05) sehari, sehingga

terdapat pengaruh

latihan senam kegel

terhadap inkontinensia

urin pada pasien lanjut

usia.

(1) (2) (3)

Penulis : Julianti Dewi Mengetahui apakah Desai

Karjoyo, Damayanti terdapat pengaruh ekspe

Pangeman, Franly Onibla senam kegel pende

terhadap frekuensi pretes

inkontinensia urine purpo

Judul : Pengaruh Senam Kegel pada lansia di

Terhadap Frekuensi puskesmas tumpaan Besar

Inkontinensia Urine Pada minahasa selatan Lansi

Lanjut Usia Di Wilayah Kerja meng

Puskesmas Tumpaan Minahasa inkon

Selatan seban

respo

Tahun : 2017

5 inkon
Nama Jurnal : E−journal sering

Keperawatan inkon

sedan

inkon

jarang

Varia
Var
Inko
Var
Sen

30

(4) (5) (6)
in : Pra
erimental dengan Sebelum melakukan Inkontinensia urin di
ekatan one group
st postest Teknik senam kegel terdapat 30 Wilayah Kerja
osive sampling
responden mengalami Puskesmas Tumpaan
r Sampel :
ia yang inkontinensia urin Minahasa Selatan
galami
ntinensia urin Setelah dilakukan senam mengalami penurunan
nyak 30
onden. kegel didapatkan hasil uji disebabkan oleh
statistic p – value = 0,000
ntinensia urin (p – value < 0,05) yang latihan senam kegel
g 11 responden
ntinensia urin selama 4 minggu
ng 16 responden
ntinensia urin menunjukkan terdapat dengan latihan 3 kali
g 3 responden
penurunan frekuensi seminggu, sehingga

berkemih 16,7% terdapat pengaruh

responden mengalami latihan senam kegel

inkontinensia sedang dan terhadap inkontinensia

83,3% responden urin pada pasien lanjut

mengalami inkontinensia usia.

urin jarang.

abel :
riabel terikat :
ontinensia urin
riabel bebas :
nam kegel


Click to View FlipBook Version